STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

Muhammad Romli. Ing. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. and the staged 4 . The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. WO. and also the financial aspect. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. From the obtained result. Those strategies were carried out supportively one to another. increasing market share. and application effective technology. F3403056. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. supporting facility. Dipl. marketing aspect. Msc. Suprihatin. supervising on raw materials and products. such as SWOT analysis.Mila Fadilah Utami. extending market. raw material conditioning (cane). Ir. Supervised by Dr. Brown cane sugar industry owned by Mrs. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. and Dr. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). gave four alternative strategies (SO. and the development strategy. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. 2008. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. ST and WT). St. Ir. capitalization. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. Rembang District). technical and technological aspect. The strategy was done by increasing product quality.

349 kgs/year. 5 .1 tons per day and the development condition was 2. brown cane sugar industry was feasible on both conditions.497.60 % and 51.400.00 production cost.285.025. NPV of Rp. 854.89 year. 46. 195.00 and Rp.8 tons per day. 56. 158.00.497. While for the development condition total investment required was Rp.471. BEP of Rp. 308. Net B/C of 1. which was supported by the other investment criteria.00 production cost. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition.00 which divided into Rp.00.925. Total investment required for the present condition was Rp. Based on the results.34.865. 264.12 %.761.791.968. 218. 364.968.801. and.801. Production capacity for the present condition was 2.96 year and 1.000. IRR of 40.97 and 3.00 fixed cost.000.00 or 59.00 fixed cost.721. the development condition had much better NPV than present condition. and Rp.00 or 45. But if viewed from NPV indicator. The criteria of investment feasibility for each condition in order were. PBP of 2.900.476. which divided into Rp.filtering of cane sap from extraction.384 kgs/year and Rp. Rp.831. 257.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

Muhammad Romli. St Pembimbing Akademik I Dr. Bogor. Pembimbing Akademik II 7 . Ir. MSc.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Dipl. Ir. Januari 2008 Dr. Ing. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Suprihatin.

Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. Bogor. kecuali yang dengan jelas rujukannya. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 .PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan.

Suprihatin. 2. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. MSc. Ir. 5. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Dr. Dr. kepada keluarga dan para sahabatnya. Lili Aliah. Dr. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. St. Dipl. Ir. M. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Ing. 4. yaitu kepada : 1. Muhammad Romli. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. Ir. dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang.. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. 3.. Ayahanda tercinta H. Yandra Arkeman. 6. 9 . Eng.. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj.

7. 9. Umi. Januari 2008 Penulis 10 . Endah. Da Hendrick. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. Dita. Mayang wo. Dika. Mamin. Windi. Aa Ijey. Om Ucup. Bogor. Aa Dudi. Para Lawalata-Ers. Mb Ida. 11. Ana. perhatian dan ketegaran kepada penulis. Yuyu. Sahabat-sahabat penulis. Teman-teman TIN 40. Naqoer. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Aa Indra. Bung Amet. ST yang selalu memberikan dukungan. atas dukungan. Lucia. atas dukungan. dan Bung Fardian. Endang. Mas Umam. Idesh. Popo Iskandar. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Bunda. 12. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. 8. Aa Bayu. Bang Affan. 10.

.... NIRA............................................................................... GULA MERAH................................................................................................. 24 1.... ASPEK PEMASARAN....... TUJUAN.................................... PERBAIKAN PROSES............ 18 A................................................................................................. ASPEK FINANSIAL......................... 1 A................. MUTU GULA MERAH...................................................... PENDAHULUAN.................................................................................................................................................................................................... ASPEK LEGALITAS........... 18 B....................................................................................... 1 B......... LATAR BELAKANG......................................... 24 A........... 6 2................... 17 III................... 13 1............................................................................ SWOT........ USAHA KECIL......................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS................................... vii I.......................................................................................................... 3 A....... 15 3............................ KARAKTERISTIK WILAYAH............................. i DAFTAR ISI........................................................................................... 14 2..................... 27 2..... 30 11 .................................................................................. 19 IV....................................................... 3 B........... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS..................................... v DAFTAR GAMBAR.................... 12 D.......................... TATA LAKSANA....................... KARAKTERISTIK INDUSTRI............ 11 C.............. 9 3......... 4 1........................ 2 II........... HASIL DAN PEMBAHASAN........................................... TINJAUAN PUSTAKA.................... METODOLOGI............ iii DAFTAR TABEL........... PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU.................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR............................................................................................................................................ PROSES MANAGEMEN STRATEGIS.................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN... KERANGKA PEMIKIRAN....................... 16 F..... 15 E.................

....................... ASPEK FINANSIAL............. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU................39 3....................................... 32 1.............................................................. 83 LAMPIRAN...................................................................... KESIMPULAN DAN SARAN..... ANALISIS SWOT...........................41 C...................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.................... 46 2...............................B...................57 3............................................................................ 46 1..... ASPEK FINANSIAL....................................................................................... 68 4.............. ASPEK PEMASARAN.................................. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.......... 86 12 ..... 82 DAFTAR PUSTAKA............................................................................ 80 A................................... 80 B............................................................................................................................. KESIMPULAN....... SARAN................71 V.... ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU..................... ASPEK PEMASARAN..........32 2...........

.................. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha........................ Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ..................... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah ............................................... Matriks Internal Eksternal...........42 Tabel 11..........................................................53 Tabel 20..........43 Tabel 13.................................................................................................................. Tabel 4. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu..................43 Tabel 12....... 47 Tabel 16.. Perincian Laba Bersih............. Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 .... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ................... Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu....... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ..DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1..................................... 24 Tabel 7....... Tabel 3....................................................... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ................... Produksi................44 Tabel 14................................. 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu ..................................... Tabel 2............68 13 ...........51 Tabel 18............................................................................................... Tabel 6....... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu...................................................................... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu....................................... Luas Areal...........44 Tabel 15............................. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha............................... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu. Tabel 9..................................................................................... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 .. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu............. 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .... 40 Tabel 10............ Matriks Analisis SWOT............... 52 Tabel 19........... Tabel 5..............49 Tabel 17.. 25 Tabel 8..............................................................

..... Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha............................... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha...............73 Tabel 22........ Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ..............75 Tabel 24...... Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha.............Tabel 21................................................. 76 Tabel 26............. 76 Tabel 27......................................................................................................................... Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha........ 79 14 ...................... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah..74 Tabel 23..........................................75 Tabel 25.... Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan.......................................

.. Alat Penyaringan Nira Tebu...................................... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap............................................................ Nira Tebu Yang Mulai Mengental................................................................................11 Gambar 2.......... Proses Penggilingan......... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu... Proses Penirisan Gula........ 63 Gambar 13....................................................... Bahan Baku Usaha (Tebu).............................. 67 15 ........................................33 Gambar 4.......................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1....... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2...................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu..35 Gambar 5... 66 Gambar 16..........................................25 Gambar 3.. 65 Gambar 15......37 Gambar 8.......................................................... Boiler dan Wajan Uap.......... 60 Gambar 12................. Proses Penggilingan..............36 Gambar 7........... 59 Gambar 11.......... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap...38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu........... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur..................40 Gambar 10........................................ 64 Gambar 14.........................................................................................................................35 Gambar 6.......................................................................................................... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak................ Gula Merah Tebu.

.........DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.................................. 101 Lampiran 14............................. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit........................................... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2......................................................................................... Biaya Operasional pada Skenario 2..............................91 Lampiran 7..................... Komposisi Modal Tetap Skenario 2. 109 Lampiran 18.........89 Lampiran 5..99 Lampiran 12........ 103 Lampiran 15..96 Lampiran 10..................... Kriteria Investasi Skenario 1........................................... Komposisi Modal Tetap Skenario 1............... Kriteria Investasi Skenario 2........................................................................................................... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2...............88 Lampiran 4...... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1.............. Biaya Operasional pada Skenario 1....... Perhitungan Biaya Bahan Baku................................... 105 Lampiran 16.........94 Lampiran 9..... 107 Lampiran 17....................................87 Lampiran 3................................................86 Lampiran 2......................... 110 16 ..92 Lampiran 8.................................................... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1.................. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2............................ Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2......................... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1.97 Lampiran 11.......................................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1.................90 Lampiran 6.........100 Lampiran 13.... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2.......

Namun. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. PENDAHULUAN A.127. sementara produksi hanya sekitar 2. mulai dari kuning. 2002). pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.140. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda. coklat. dan bahkan ada yang cenderung hitam. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal.6 juta ton/ tahun.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. yaitu warna. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia.555 ton.I. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. 2005). Menurut Rosby (2004). Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.86 hektar. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. kadar abu dan kekerasannya. 17 . variasi bahan baku. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional.488 hektar. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. merah. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya.

Menurut Herman (1987). Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. pasir. B. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. yang mencakup analisis SWOT. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. aspek teknis dan teknologis.Selain warna dan kekerasan. serta aspek finansial. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. aspek pemasaran. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. b. dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. 18 .

Santoso (1993) menyatakan bahwa. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. 2003). Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. dan berlendir. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. pengadukan selama pemasakan. 19 . 2002). Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. 1986).1992). kondisi geografis. tergantung pada jenis tebu. Menurut Puri (2005). 1987). Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. 1979).5-6. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. TINJAUAN PUSTAKA A. protein. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela.0. disamping nira yang kurang baik (Herman. rasanya asam serta baunya menyengat. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. asam-asam organik.II. dan lemak). derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. tingkat kematangan. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. berbuih putih.

03-0.0-94.0-4.1-3.001-0.18 0.001-0.0 2. dan tebu (Dachlan. 1984).Menurut Poel et al.05 3. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri.5-5.5 1.0-90. lemak dan fosfolipid 0.5 1. (1998) dalam Reece (2003).0 0. Gula merah banyak 20 . Tabel 1. tauco.0 1. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.0-4.04-0.15 75. lontar atau siwalan. produk cookies.0 70. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin.0-3. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.5-2.0 2. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga.5 1. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso. aren.5-0.5 B.6 0. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1. 1993).0-4.50 0.5-4.0 0.

Aren (mg) 386.0 0.0 0. 21 .2 0.0 0. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 37.0 10.03 0.0 0. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya.0 0.0 0.02 0.0 04.0 4.0 5. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori.diminati di Jerman dan Jepang.0 35.0 75. 2006).0 0.5 5. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.0 G.9 0.0 0.0 1.1 0.0 0. pabrik kecap ekspor.0 20. B1 Vit.3 0.Kelapa (mg) 386. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan.0 10.0 0. 2006).0 0. A Vit. supermarket. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi.0 G. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih. B2 Vit. industri perhotelan. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder.0 0. Tabel 2. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al.0 0. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.4 0. 1981). (Warastri.0 76.0 7.0 3.0 9. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi.0 9.6 0.0 0.0 0. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.0 76. Dilihat dari segi kesehatan.0 0.0 79.0 3.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir).0 0.0 0. hingga pabrik anggur.4 Madu (mg) 294 0.0 44.5 90. yaitu 364 per 100 gram.6 51. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.0 2. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3.4 G.Merah Tebu (mg) 356. C Air Sumber: Tan..0 95.0 16. Pasir (mg) 364. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 5.0 0.0 94.

1993). Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). warna. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. 22 . Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. kekeringan. maupun kadar kotoran. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. yaitu rendahnya teknologi pengolahan. warna. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). yaitu bentuk.Tabel 3. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. 1993). dan kekerasannya. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso.

03 Maks 0. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.0 Maks 40. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa). 2002).raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.0 Maks 10. Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.bau .rasa . b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet . Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela. a.warna . b/b 3 Air.0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.03 Maks 0.0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 8. gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.Tabel 4.timah (Sn) mg/kg . 23 . Menurut Shallenberg et al.0 Maks 40.timbal (Pb) mg/kg . dalam Nurlela (2002).0 Maks 2. disamping nira yang diolah kurang baik.residu mg/kg .0 Maks 40.0 Maks 0. 1 Keadaan .0 Maks 40.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian. b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa). Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. Mengenai warna.0 Maks 0. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.seng (Zn) mg/kg .tembaga (Cu) mg/kg .benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .0 Maks 2.

c. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. dan lemak dalam nira. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam.. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. Semakin baik mutu nira. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. b. protein. kadar air. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. 1989). Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. basa. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. dan kadar lemak. seperti mutu nira. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. 1993). 24 . 1997). 1993). dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah.

Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. 2006). Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. 2. 25 . 1990). Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. sedikit asam.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. 1993). d. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. dan berbau karamel. 1984).

Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. 1993). 1986). Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. dan serangga. Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Apabila suhunya terlalu tinggi. 2002). Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. 1993). daun kering. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. atau kemiri yang dihaluskan. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. 26 . 2006). Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. minyak kelapa. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan.

Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal. dan pengemasan produk (Sardjono. Menurut penelitian Nurlela (2002). proses produksi. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. keras.6.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5. 1986). Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3.5 – 5. 27 .

C. 290C-0. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0. kadar glukosa 76.58%. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.100%.067% dengan alasan praktis dan efisien. meliputi suhu dan waktu pengolahan. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil.18%. kadar abu 37. kadar protein 64.10%. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial. 750C-0. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik. serta kebersihan alat. yaitu : 1.067%. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. intensitas pengadukan. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan.033%. total kotoran 50. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. 290C-0. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp.69%.100%. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3. dan kadar lemak 67. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. pengadukan selama pemasakan.13%.84%. 200 juta.067%. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52.43%. 1 milyar atau kurang. 750C-0. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 .Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses.

Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. 3.4. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. D. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. 3. Bidang usaha perdagangan 2. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. 2. 2. Bidang usaha industri pertanian 3. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. yaitu : 1. 4. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). Bidang usaha industri non pertanian 4. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. mengimplementasikan. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan.

Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. 30 . menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. 1998). Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Selain itu. yaitu: 1. 1998). mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. 3. menetapkan sasaran jangka panjang. 2. 2004). baik besar maupun kecil. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. 1998). manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. 1. Menurut Jauch (1998). Sesuai dengan pendapat David (2004).fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David.

2005). 1997). Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. 2000). 1998). Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities).2. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. 31 . Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. 1997). Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. 3. 2000).

Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. 2003). dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. 2005). 2004). 32 . manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. rancangan. dan promosi (Umar. serta pemilihan mesin. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. 2003). kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. Bagi pemasaran produk barang. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. distribusi. dan pengemasan produk.menawarkan. yaitu produk. peralatan. pemberian merek. dan teknologi untuk produksi. harga. Menurut Kotler (2005). E. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. fitur. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. 2005). 2000). Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. yang mencakup mutu. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain.

1992). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). estimasi aliran kas proyek. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad..F. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. dan analisis sensitivitas (Gray et al. yaitu metode Net Present Value (NPV). Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. 33 . 2000). Internal Rate of Return (IRR). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Break Event Point (BEP). sumber dana dan biaya modal. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. Pay Back Period (PBP).

untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Oleh karena itu. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. Namun. dan harga gula merah tebu lebih murah. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. METODOLOGI A. aspek pemasaran.III. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. serta aspek finansial. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. aspek teknis dan teknologis. 34 . antara lain analisis SWOT. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. volume produksi tebu.

Aspek teknis teknologis (bahan baku. TATA LAKSANA 1. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Jenis Data I. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Data Sekunder 1. Data Primer 1. Lembaga Swadaya Informasi IPB. aspek pemasaran. konsumen. Tabel 5. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. internet. pedagang (distributor). pedagang (distributor). proses produksi). dan literatur lainnya. kebutuhan finansial 2. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. dan aparat setempat. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. alat. internet. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Jawa Tengah. pengamatan langsung.B. Informasi lain 2. petani tebu. Data primer diperoleh melalui eksperimen. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. BPS. Konsumsi gula merah tebu 3. Kabupaten 35 . seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. bahan tambahan. jurnal. dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Kualitas gula merah tebu II. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Tahun 2007. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. Kondisi wilayah 2. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang.

dan PBP. 1992). proses produksi. IRR. pengadaan bahan baku. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. 4. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV.. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. a. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Net B/C. 3. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. BEP.Rembang digunakan sebagai rujukan. 5.

Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. 3. 2. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. yaitu : 1. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. 2. 2000).. n) 37 . maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi. 3. Menurut Gray et al. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. Jika nilai NPV sama dengan nol. 1. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. 3. 1.. Jika nilai NPV lebih besar dari nol.. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. b.. 2.....

maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al... maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. 2. 3. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. c. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. c. 38 . 1. maka proyek layak untuk dilaksanakan.. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. b. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku.

) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 . sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad.d. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya. 2003). 2000). Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan.

Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.IV. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan.127 686 462 397 2. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.859 353 75 185 57 40 64 4.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.127.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Tabel 6. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 . Sulang.140.86 hektar.

Luas areal.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.9.582 12.390 62.000 3.070 3.997 4. P5 864 dan BZ 148.488 hektar.050.300 322.951. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.720 3.300 23.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3.360 392.697 3.420 1.015 1.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi.555 3. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.305 109 181 554 27 119 6.960 3.130 3.235 503 29 52 439 10 47 2. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.700 3. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.700 3. Luas areal.020 3.510 3. Produksi. Tabel 7. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.955 3.462 90.380 3.917.791. Produksi.701 1. Pada umumnya 41 .398 3.582 566.140 4.390 722.767 16.127.994 1.353. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.390 619.718 11. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.948 3.462 3.221.672 369.

Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Namun. sebagai media komunikasi. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. 42 . pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Menurut Soentoro et al. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit.. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. Gambar 2.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Bagi para pengusaha gula merah tebu.

proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. 43 . pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. Di Kabupaten Rembang. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. (1999). pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi.B. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. Selain gula tumbu. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Pada awalnya. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Menurut Soentoro et al. Namun. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot.. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. 3. PG Trangkil 800 ha. 44 . PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. Sebaliknya. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). perawatan. 4. Namun. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci.00-Rp. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang.00. berdiri dan berkembang sendiri. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp.200. pengendalian. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang.Tabel 8.550. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap.

ABC dan PT. yang dilakukan oleh suatu LSM. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. PT. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Cap Orang Tua). Data terakhir diperoleh. Indofood. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Pembentukkan Paguyuban. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Revitalisasi Alat 3. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. 45 . Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. diantaranya yaitu : 1. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. misalnya industri makanan dan minuman (PT.

Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu.2. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. Menurut BPS (2003). Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Dalam prakteknya. 46 .

Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Pada tahun 1991. yaitu tebu 864 dan BZ 148. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri.C. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. dan sisanya membeli dari para petani lain. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. Pada awal panen. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. 47 . yaitu berkisar 7 – 8%. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. Pada awal produksinya. Mulai tahun 1998. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. yaitu 8 – 12 bulan. 10 ha lahan sewa. rendemen tebu masih relatif rendah. dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Selama satu periode panen. Ibu Arini membuat gula tumbu. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha.

12–0. 48 . Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. sehingga nira tebu dapat terekstrak. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. Dalam satu hari kerja. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. dua orang di bagian penggilingan. Pada umumnya. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. dua orang di bagian pemasakan.1. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Selanjutnya.13 ha). Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. tetapi 4–5 kali pemasakan. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7.

Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Pada prinsipnya. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. 49 . 2003). Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. 2006). Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Gambar 4. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Proses Penggilingan b. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. maka debu dan kotoran (daun. Apabila suhunya terlalu tinggi.

yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. 1993). 2006). kemudian mengangkatnya. maka gulali tersebut sudah matang. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Untuk melihat apakah nira sudah matang. 50 . Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. ketika nira mulai dipanaskan. selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun.

Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Nira Tebu yang Mulai Mengental d. 1985). Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Gambar 6. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat.Gambar 5. Sebelum gula dipindahkan. biasa disebut dengan meja. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . serta membentuk benang-benang gula. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono.

Pengadukan untuk meratakan panas. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. 2002). Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Gambar 7. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). e. Gula Merah Tebu 52 . f. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan.

Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

ABC.100. perusahaan kecap dan permen. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. 100.550. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. dan Yogyakarta. Pasuruan. 150. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. Jadi.00.00-Rp.00Rp. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. Kudus. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur.00. antara lain Rembang. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 200. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. sedang dan jelek. 3. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. Remaja sebagai pengumpul besar. 3. 55 . industri penghasil jenang (dodol).00Rp.200. Semarang. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. Cap Orang Tua. Oleh karena itu. sebagai pihak ketiga.600.2. 4.00Rp. PT. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. diantaranya gula dengan mutu baik. Pati. Indofood. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp.2. PT. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar.00 dan gula merah tumbu Rp. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota.00.600.

Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Kecamatan Pamotan. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. yang terletak di Desa Japerejo. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Remaja. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Remaja. Tabel 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 . Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan.

1997). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. a. 57 . Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10.025. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. 2000). seperti bank. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. b. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.3.000. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. sumber dana dan biaya modal. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. estimasi aliran kas proyek. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. pendirian bangunan. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana.00.

000 2. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. depresiasi.000 Total Modal Tetap 218.000. tenaga kerja langsung.000.000 6.) 110. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.025. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.825. biaya variabel (biaya bahan baku. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.200. kemasan. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11. pemeliharaan.000 50.000. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. administrasi dan telepon).Tabel 10.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000 49. 58 .

Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.921 737.925.472 2. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.601.497 264. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.299. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000 498. seperti terlihat pada Tabel 12. Tabel 12. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264. C. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A.497 c.421 5.900.000 46.000.497 B.025.000 4.900.Tabel 11. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.693. 59 .925.835.00.076 31.604 600.100 4.) 218.400 37.000 335.500.497.000 46.

462.910.462. Internal Rate of Return (IRR). Tabel 14.851 144.621 138.012. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13.Tabel 13.657.490 133.249 132.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.249 132.450. d.790.179 139.163.294 142.284. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.031.409 e.429.012.) 78.500 23.537. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).736 141.500 23. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.212.450.749 Modal Sendiri (Rp) 109. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14. Break Event Point 60 .431. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.064 137.596 135.839 109.

00. dan Pay Back Period (PBP).00 atau 59.96 tahun.968.(BEP).60 %. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195.969 Kg/tahun. Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.791.831. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Titik impas tercapai pada saat produksi 63. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.968.97. 61 . Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol). diperoleh NPV Rp 257. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %.384 Kg/tahun.

ekonomi. kegiatan pemasaran. teknologi proses yang akan digunakan. pemasok bahan baku. yang meliputi kebijakan pemerintah. serta kebersihan dan kesehatan produk. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. dan teknologi. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. lokasi pabrik. kondisi keuangan. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. kegiatan operasional. pasar. sosial. pesaing. legalitas perusahaan.D. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. 62 .

Potensi pengembangan 6. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Proses produksi sederhana 3. Ketersediaan modal terbatas 7. Belum berbadan hukum 6. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.Tabel 15. Harga BBM naik 5. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Produk belum distandarkan 11. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Teknologi manual dan sederhana 2. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Diversifikasi produk 5. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Bahan baku mudah 4. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kualitas SDM yang rendah 8. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.

sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. bangunan pabrik tidak permanen. proses produksi tidak konsisten. 64 . kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. kualitas SDM yang rendah. produk belum sesuai dengan SNI. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. memanfaatkan tenaga kerja lokal. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. lokasi pabrik cukup strategis. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. ketersediaan modal terbatas. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana.816.a. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. belum berbadan hukum.

050 0. Proses produksi sederhana 3.042 0.161 0. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.172 0.215 0.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.054 0. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.061 0.184 0. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0.107 0.057 0.000 2.069 0.161 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.084 0. Ketersediaan modal terbatas 7. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.054 0.207 0.172 0.054 0.184 0.042 0. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Internal Kekuatan (Strengths) 1.184 0. Kualitas SDM yang rendah 8.816 65 .069 0.Tabel 16.215 0.100 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.138 0.061 0.061 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Teknologi manual dan sederhana 2.207 0. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.169 0. Produk belum distandarkan 11. Belum berbadan hukum 6.054 0.069 0.054 0.057 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0.

penampakkan produk yang kurang menarik. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG). Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. diversifikasi produk. bahan baku mudah. memiliki langganan. didapatkan total skor sebesar 2. 66 . dan gula merah telah populer di masyarakat. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah.b.686. harga BBM naik. pajak dan ijin usaha. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). ketersediaan lahan dan bahan baku. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. harga bahan baku di PG lebih tinggi. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar.

080 0. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Potensi pengembangan 6. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B.250 0.Tabel 17.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.333 0.083 0.298 0.240 0.154 0.077 0.240 0.090 0.080 0.000 2.269 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.099 0.154 0.080 0.083 0.077 0. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0. Bahan baku mudah 4.686 67 .221 Ancaman (Threats) 1. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Harga BBM naik 5. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.093 0. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2.080 0. Diversifikasi produk 5.279 0.167 0.083 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.

0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2. dapat disusun matriks IE.0 Tinggi Kuat 3.Tabel 18.0 I 3.0 Rata-rata 2. melalui kerjasama dengan pihak lain. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. perluasan pasar. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk. 68 . Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.0 Lemah 1.0 Rendah II III V IV VI VII 1.

Ketersediaan modal terbatas 7. Proses produksi sederhana 3. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Membina SDM yang dimiliki 6. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Tenaga kerja lokal 4. 2. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku.Teknologi manual dan sederhana 2. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Belum berbadan hukum 6. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Bahan baku mudah 4. Menerapkan sistem penjadwalan 3. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Menerapkan goodhouse keeping 5. Potensi pengembangan 6.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Memperluas daerah pemasaran 3. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Produk belum distandarkan 11. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5.Tabel 19. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Kualitas SDM yang rendah 8. Meningkatkan kualitas produk 7. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Diversifikasi tebu 5. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1.

Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. 2000). selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. untuk konsumsi rumah tangga. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO).Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. 70 . Memperluas daerah pemasaran. Kudus. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. 1. serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). pengumpul dan industri pengguna gula merah. dan Semarang). Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. serta pedagang eceran. industri pengguna gula merah.

Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. Selain itu. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar.2. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. mempermudah akses pemasaran. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. 71 . Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. 3. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Membentuk kelompok usaha bersama. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. mengoptimalkan pembagian kerja. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu.

Membina SDM yang dimiliki. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. Menerapkan goodhouse keeping. ulet. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. Selain itu. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. Meningkatkan kualitas produk. mengorganisasikannya. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. proses pengolahan yang optimal. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. pengontrolan dan pemantauan. agar menjadi lebih terampil. dan dapat bekerja efektif serta efisien. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. dan penggunaan teknologi yang sesuai. Tujuan 72 .

Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. 4. mempertahankan dan mengembangkan usaha. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. 73 . Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. 2. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. memperkuat posisi produk dan perusahaan. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. dan memperluas pangsa pasar. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha.

dibersihkan dengan arit atau pisau. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak.a. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. a. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. 74 . nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu.1. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar.2. a. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan.

Air 75 . yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Selain itu. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan.Gambar 10. Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya.3. menyelimuti dan memanaskan wajan. selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. Alat Penyaringan Nira Tebu a. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang.

Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. 4. Karena menggunakan air sumur. Boiler dan Wajan Uap a. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. Bahan baku yang 76 . Gambar 11.500. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. bahan bakar solar dan oli. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. b. dengan harga solar Rp.4.00/ liter. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Selain itu. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. dan air sumur. PS 864 dan BZ 148. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler.

Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. kondisi batang. 130. c.00-Rp. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. dengan umur tebu 8-10 bulan.050. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. 2005). Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu.00/ ton tebu. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan.000. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. kondisi perkebunan. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. Pemberian dosis kapur. dan umur tanaman. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. 150.000. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp.997 kg. 77 . minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12.

78 . letak drum di atas bak penyaringan pertama.1. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. 1984). Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). d. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. Selanjutnya. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). Proses Produksi d. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. yaitu sebelum masuk ke wajan.

sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. Gambar 12. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. lapisan bagian luar dan bagian dalam. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut.2. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. Proses Penggilingan d. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan.

Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. ketika nira mulai dipanaskan. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Karena jika tidak dibuang. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Gambar 13. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun.untuk proses pemasakan berikutnya. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. kemudian mengangkatnya. dengan menggunakan mesin pompa air. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Untuk melihat apakah nira sudah matang.

baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Gambar 14.3. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Sebelum gula dipindahkan. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. serta membentuk benang-benang gula.d. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Pengadukan untuk meratakan panas. 1985).4. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat.

Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Proses Penirisan Gula d. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. d. 82 . Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup.masih berlangsung dapat segera terhenti. 2002). selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk.5. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. Sedangkan. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel.6. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Selanjutnya karung yang telah diisi gula. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Gambar 15.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

00-Rp 3. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. yang mencakup mutu.600.600.200.00. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna.00-Rp 4.550. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar.00. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100.00. harga (price). Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap.00-Rp 200. pemberian merek. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Tabel 20. Penerapan pengembangan teknologi di atas.3. rancangan. rasa dan kekerasan oleh pengusaha. fitur. dan promosi (promotion). bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. dan pengemasan produk. Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 .00 dan gula merah tumbu Rp 2.00-Rp 150. tempat (place). Menurut Kotler (2005). sedang dan jelek.

yaitu permintaan langsung dan 85 . Namun pada saat awal panen.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. Sedangkan pada masa puncak panen. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. Ketika harga jual gula merah rendah. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. harga gula merah tinggi. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. Distribusi gula merah relatif sederhana. harga cenderung turun.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. tenaga kerja langsung.285. kemasan.085. pemeliharaan. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.000. Tabel 22.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000 2. biaya variabel (biaya bahan baku. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.000 70.000. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308.200.000 120. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.00. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. administrasi dan telepon). Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. pendirian bangunan. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 .285. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi.000. depresiasi.000 6.c. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang.000.000 Total Modal Tetap 308.) 110. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.

801 d. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.429.240 5.00 seperti terlihat pada Tabel 24.000 56.285.800 2.000.522 839.690. Jangka waktu pengembalian modal 91 . Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.801 364.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.808.400. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.561 42.611.140 982.476.000 56. Tabel 23.039 2.300 46.865. Tabel 24.000 826.476.500.000 391.761.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.000 4. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.

643. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.826.400 182.955 92 .656.500 28.380.142.142. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.900 Modal Sendiri (Rp) 154.446. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.573 315. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26. Tabel 26.509 312.380.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.782 317.173 321. e.424. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.368 323.540.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Tabel 25.564 325.759 327.238.598.977 319. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.493 259.500 28.238. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.713.400 182.482.771. ) 190.

471.721. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158. 93 . Nilai IRR-nya adalah 51. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Nilai yang diperoleh yaitu 3. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Maka layak untuk dilaksanakan. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan. dan Pay Back Period (PBP).349 Kg/tahun.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol). Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854.349 Kg/tahun. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Break Event Point (BEP). Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. sehingga layak dilaksanakan. Internal Rate of Return (IRR).400. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.00 atau 45.f.34 memiliki nilai lebih dari 1.865. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.12 %.

94 . Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. Selain itu. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah.89 tahun. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan.

Harga produk lebih rendah (Rp 3.Bahan baku .791.Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Tidak dilakukan promosi .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar . dan jelek) .Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) .Bahan bakar bagas berundak).Distribusi .00) . Net B/C : 1.00 (45.00 (59.00) . Net B/C : 3. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk. dan Yogyakarta .Penyimpanan produk di tempat terbuka .Penyimpanan produk . sedang. BEP : Rp 158.Distribusi ke daerah Rembang.Sanitasi pabrik . IRR : 51.Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.497.00. Pemasaran .384 Kg/tahun).831.Harga produk lebih tinggi (Rp 3.Bahan bakar bagas . Semarang.800 kg/hari 3.349 Kg/tahun).865.34.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap . pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2.471.Proses pengolahan .968.Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) . Pasuruan.500. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .89 tahun Modal : Rp 364.12 %.968. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1.300.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku . BEP : Rp 195.100 kg/hari . Kudus.00.925.801.00.96 tahun Modal : Rp 264.00. Teknis dan teknologis .721. Produksi : 2.761. Pati. IRR : 40.Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .Promosi .Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .Produk . pemasakan gula tidak konsisten .97.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.Konsumen industri dan rumah tangga .Tabel 27. PBP : 1.400. Produksi : 2.60 %.Harga . PBP : 2.Konsumen industri .

Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. serta sanitasi dalam proses pengolahan.955 ton. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. rendahnya teknologi pengolahan. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. serta sarana dan prasarana lainnya. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. ST strategi. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. sedang dan jelek. melalui kerjasama dengan pihak lain. pengawasan bahan baku dan produk. WO strategi dan WT strategi.050. Selain itu.V. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. yang meliputi warna.015 Ha. rasa dan kekerasan. memperluas pasar. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Berdasarkan hasil yang diperoleh. KESIMPULAN DAN SARAN A. yaitu SO strategi. meningkatkan pangsa 96 . dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. diantaranya variasi bahan baku. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah.

865.968.497.pasar.497.384 Kg/tahun dan Rp 158.000. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.761.12 %. NPV sebesar Rp 257. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364. PBP sebesar 2.285.925.00 atau 59. 97 .00 dan Rp 854. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.721.831. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.00 atau 45.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.000. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. IRR sebesar 40.400.349 Kg/tahun.00. Dalam basis waktu operasi satu hari. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya. BEP sebesar Rp 195. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.791. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu. Net B/C sebesar 1.00 dan modal kerja Rp 56. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. dan 51.00.89 tahun. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.00 dan modal kerja Rp 46. dan menerapkan teknologi tepat guna. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha.471.025.97 dan 3.801.801.60 %. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan.968.900.34. Berdasarkan hasil tersebut.96 dan 1. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.00.476.

SARAN 1. 3. 98 .B. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. 2.

Indeks Kelompok Gramedia. edisi 10. 1990. S. Manajemen Operasi. 2005. Ma’arif . Salemba Empat. 2004. Kotler. 2000. 1985. PT. Ekonomi Ketenagakerjaan. 2002. 99 . Badan Standarisasi Nasional. Indeks Kelompok Gramedia. IPB. D dan M. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Skripsi. Dachlan. S dan Hendri. Simanjuntak. Goutara dan S. A. Gula Merah Tebu. Jakarta. P. Yogyakarta. Jakarta. N. Grasindo. S. 2005. 2000. P. Kotler. Dyanti. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Jakarta. Ashari. Husnan. Jakarta. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. P. Jakarta. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Kotler. Studi Kelayakan Proyek. Jakarta. Manajemen Pemasaran Jilid 1. BBHIP. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Indeswari. David. 1992.. 1984. Bogor. LPFE UI. Proses Pembuatan Gula Merah.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional. Dasar Pengolahan Gula 1. Padang. Universitas Andalas. dan Muhammad. 2003. Laporan Penelitian. Indeks Kelompok Gramedia. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. P. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. 1987. Artikel. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Jackson. 2005. Wijandi. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Bellante. Gray. Agro Industri Press. SNI 01-6237-2000.. F. Industri Gula Merah. Bogor. PT. Pengantar Evaluasi Proyek. Manajemen Pemasaran Jilid 1. FATEMETA. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. 1997. Bogor. Manajemen Strategis. Fakultas Teknologi Pertanian. PT. 2006. S. PT. Jakarta. IPB. C. M.

A. Puri. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Nengah. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. Bogor. Palungkun. Sardjono. K. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. P. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Rachmat. USA. E. B. Yogyakarta. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Fakultas Teknologi Pertanian. I. Bogor. dan Sugiyono. http:/etd. Okyanus Danismanlik.Muchtadi. Thesis. B. Ozdemir. Lousiana State University. 1992. 1992. 1986. T. Bogor. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. 1993. IPB. Tesis. PT. Fakultas Pasca Sarjana. Jakarta. Analisis SWOT. 2000. R. 1990. Program Studi Ilmu Pangan. F. 100 . Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. R. Bogor. Jakarta. 1993. Analisis SWOT. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Teknik Membedah Kasus Bisnis. M. N. Aneka Produk Olahan Kelapa. 1979. Kanisius. Bogor. Gramedia Pustaka Utama. M. PAU Pangan dan Gizi IPB. H. PT. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. Swadaya. Pdf. 1998. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Skripsi. 2002. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow).. 2005. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. Jakarta. Santoso.okyanusbigiambari. IPB. Nurlela. Skripsi. Pembuatan Gula Kelapa. http:/www. Gramedia Pustaka Utama. Bogor. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. 1997. Soejardi. Foods Browning and Its Control. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Reece.lsu. N.sde/docs/available Rangkuti. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian.

. Umar. B. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Studi Kelayakan Bisnis. IPB. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Gramedia Pustaka Utama. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Jakarta. Syukur. H. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. 1999. 1984. Yogyakarta. 2003. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. 1996. Utami. Suhardi.Sudarmadji. Wirioadmodjo. Gula Indonesia Vol. Bogor. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. 101 . Pasuruan. 1989. PT. S. Penerbit Liberty.. Bambang H. XXI/2:22-25. Bibliografi. S dan Sumarno.

000 500.000 1.000. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000 50.000 300.000 Sub Total (Rp) 110.000 500.000.000 100.000 30.025.000.000 5.000 600.000.000 2.000.000.000 1.000 25.000 2.000 218.000 200.000 500.000 15.000.000 20.000 35.000 600.000.000 600.000.000 100.000 250.000.000.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000 180.500.Lampiran 1.000 300.000.000 30.000 1.000 60.000 10.000 1.000 50.000.000 1.000 100.000 50. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 2.000 500.000 210.000 675.500.000 No.

000 1.000.500.000.000 70.000.000 No.000 50.000.000.000 1.000 1.000 180.285.000 700.000 1.000 70.000 100.000 1.925.000 80.000 25.000 275.000.000 2.000 10.000 100.Lampiran 2.000 500.000.000.000 103 .000 200.000.000 500.000 250.000 1.000 500.000 20.000.000 5.000.000.000 80.000 500.000 308.000 45.000.000 Sub Total (Rp) 110.000 2.000. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000 2.000 20.000 600.000. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000 600.000.000 25.

000.000 Selang 300.000 Total 216.143 18.000 67.350.000 10 6 10 60. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.974.000.000 2.543 8.000 1.000 30.000 Bumbung Penahan 675.825.000.876 104 .500 1.000 Tungku 30.000 140.000.000 18.000.000 3.700 360.920.857.000 Alat Penyaring 60.000 Lemari 1.500 204.000.000 Sub Total 6.500.000.025.000 18.000 100.000.000 6.400 2.500.000 100.000 6 6 6 50.200.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 2.000 27.000 202.000 4.000 Ember Stainless 300.000 10.000 83.000 21.Lampiran 3.000 Instalasi Air/Pompa 1.000.000 625.000 8.000 30.000 Drum 600.000 54.000.000 (Rp) 110.000 150.000 60.000 1.800 3.000 90.400 5.000 587.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.808.000 50.000 135.000 Kursi 600.333 150.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.700 10.000 182.000 75.000 1.500 135.000 90.400 8.500.000 Serok 180.000.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.000 20.000 600 20.000 1.900 45.500 150.500.500 141.000 Sodet 210.800 54.500.000 5.000 10 25.887.902.000 3.800 2.000 Meja Penirisan 1.000 Timbangan 1.000 Sub Total 49.000 Listrik 2.000 90.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.400 18.982.000 60.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

466.974.000 6.600.000 2.383.(Rp) 3 12.962.000 919.288.120 2.376 Tahun Ke.376 4 12.500.000 2.500.500.120 881.037.000 885.974.200 676.000 129.808.500 32.200 20.000 2.500.876 10.000 9.610.610.000 8.041.808.500.974.708.000 2.876 10.076.800 9.960.000 8.120 881.000 129.600.000 7.496 108 .876 10.500.825.808.000 2.120 1.800 84.500.960.041.288.000 8.496 1.496 1.000 711.270.000 2.954 2 12.600.974.120 1.974.602 1.578 13.000 2.000 20.876 10.412.500 32.000 9.153.474.041.288.383.076.267.350.500.046.500.500 32.610. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.376 B C 749.500 32.Lampiran 7.000 110.960.808.578 2.412.412.600.600.120 17.076.000 2.894.153.000 8.808.500.376 5 12.602 881.270.978 1.376 573.383.383.153.000 8.000 129.000 20.270.079.500 32.368.876 10.383.

000 1.500.000 8. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.500.610.600.412.270.041.974.500 32.500.974.876 10.270.000 2.288.000 2.000 129.500.500 32.000 9 12.288.041.000 B C 9.496 1.076.076.876 10.974.000 2.610.496 1.960.974.120 1.376 881.000 2.120 1.500.041.153.270.000 129.600.076.960.120 20.500 32.876 10.960.270.(Rp) 8 12.412.000 9.153.500.500 32.383.496 1.270.412.000 2.120 20.153.808.376 881.876 10.000 8.041.000 2.000 8.288.000 129.376 881.600.000 9.412.383.000 Tahun Ke.120 2.500.808.000 2.808.120 1.041.496 109 .153.000 7 12.974.496 1.383.153.500 32.960.808.500.Lanjutan Lampiran 7.500.808.076.000 9.383.120 20.610.600.000 1.412.000 9.383.120 1.120 20.000 2.120 20.000 8.288.500.000 129.000 2.288.610.876 10.960.376 881.000 129.600.610.000 10 12.376 881.000 8.076.

000 2.960.000 10.000 2.772.413 1.800 1.580.000 66.973 1.000 839.852.174.500.836.000 14.852.700 42.760.000 77.716.760.400 23.500.500.093 B C 763.772.216.290.724.093 5 12.335.877.690.960.893 110 .102.393 15.320 1.000 7.400 9.600.097.000 2.000 2.700 42.520 998.700 42.236.500.156.335.580.600.142.000 14.760.500.600.174.580.000 2.500.000 2.335.852.000 14.102.000 27.393 15.093 4 12.000 14.210.880 1.836.133.500.893 1.102.877.102.772.000 77.680 1.580.093 2 12.700 42.216.Lampiran 8.800 1.393 15.600.000 2.000 10.800 2.000 77.544.700 42.877.600.(Rp) 3 12.800 1.877.290.290.500.500.174.002.800 17.800 1.000 2.500.093 Tahun Ke.893 1.102.096.836.600 10.000 50.000 14.000 27.043.000 2.600 27.393 15.393 15.580.082.216. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.877.000 884.960.

335.000 2.000 10.800 1.772.600.093 9 12.800 2.772.700 42.(Rp) 8 12.893 1.393 15.000 10.102.700 42.000 77.893 C 111 .335.174.877.000 77.000 77.500.580.772.000 2.800 1.500.893 1.174.000 1.836.290.600.960.600.216.000 27.216.102.700 42.000 10.500.393 15.393 15.290.580.960.102.760.000 27.700 42.500.000 2.800 1.290.000 10.000 2.000 14.800 1.000 2.852.290.800 1.393 15.093 7 12.000 2.000 2.960.760.093 10 12.800 1.335.000 14.093 B 1.000 2.877.772.600.600.393 15.852.000 14. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.852.093 Tahun Ke.174.216.500.800 1.836.580.000 10.000 14.893 1.290.500.877.335.102.000 2.000 27.893 1.174.836.852.772.000 27.800 27.960.877.760.174.500.000 1.852.760.335.000 77.500.877.800 1.960.500.216.216.000 14.102.836.500.000 77.760.700 42.Lanjutan Lampiran 8 No.580.580.836.

000 70.800 2.000.801 B.801 364.000 50.429. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.835. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.601.240 5.100 100.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.921 737. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.693.200.000.825.000 391.300 46.000 4.000 826.200.500.611.000.085.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.472 2.000 56.400 37.000 56.Lampiran 9.000.000 2.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000 120.808.000.000 4.000 46.497 264.900.039 2.000 6. C.100 4.865.900.000.000.000 498.000 46.476.000 6.561 42.500.140 982.801 112 .421 5.299.476.000 49.604 600.761.000 2.522 839.000 335.076 31.925.000.

750 2.816.901.561.375 43.787.407.622.500 109.223.901.773.238.750 7.125 20.901.605.210.750 10.750 76.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.848.901.308.250 15.142.605.Lampiran 10.350 22.500 10.400 23.250 5.523.462.210.962.380.250 7.499 15.111.600 54.660.825.630.750 32.250 9.400 Jumlah 132.924.712.794 15.250 1.407.450.308.816.506.238.450 14.802.250 11.050 76.749 182.750 4.499 7.506.249 28.500 10.500 10.901.901.111.811.380.012.901.249 23.250 98.012.037.000 10.012.450.500 109.703.250 17.825 65.500 65.142.025 28.450.000 43.249 28.633.750 7.250 10.802.250 13.901.250 10.750 1.275 87.901.886.749 182.407.750.814.900 132.816.000 87.012.816.500 98.674.800 26.750 10.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .150 32.500 154.250 10. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.636.250 30.221.250 54.779 7.250 3.633.500 Modal Kerja 23.735.700 10.225 12.901.250 19.703.675 16.925 21.599.462.250 10.697.015 9.575 24.816.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.249 23.450.000 10.901.012.500 109.030 10.500 21.863.500 154.450.045 12.901.249 7.900 18.

205 92.250 3 123.250 5 92.828.196.082.610.408 9.380 15.770 107.737.390 13.500 15.000 37.520 19.825.899.800 3 9.800 3.801.421.071.955 16.728.250 4 107.412.899.414.314.750 15.600 2 18.800 1.872.414.250 Bunga 27.385.142.500 32.242.238.107.750 23.414.400 28.250 29.412.825.608 12.500 20.745.250 8 46.512.549.650 24.061.142.098.657.287.250 18.412.130 2.836.314.414.414.500 1 154.335 123.250 10 15.323.250 9 30.728.159.694.250 40.414.825 11.104 0 114 .495.485.912 14.712 18.945 30.695 5.800 9.075 61.250 15.250 15.500 15.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.260 8.510 46.238.414.414.000 26.963.188.414.412.388.400 9.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.250 2 138.657.414.085 22.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.250 6 77.242.000 15.238.750 34.142.000 15.971.774.250 15.414.900 138.500 15.800 5.414.828.304 11.071.250 7 61.485.750 15.600 9.647.640 77.412.400 1 28.500 43.

041.270.120 1.270.883.000 378.883.000 378.376 34.041.000 378.847 2.847 2.300 3.041.120 1.300 3.847 2.376 34.120 1.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .376 34. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.000 Harga Pokok/Kg 2.883.578 885.863 2.300 3.376 34.041.825.079.376 34.602 1.270.300 3.041.270.Lampiran 11.300 3.883.376 34.270.300 3.120 1.300 3.120 1.883.847 2.376 34.000 378.847 2.883.300 378.300 3.300 3.847 2.376 34.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.041.270.376 Biaya Variabel (Rp) 676.000 378.041.120 1.120 1.700 321.270.000 378.847 2.000 378.883.883.376 34.883.041.270.897 2.883.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.

800 1.290.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.000 504.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .080.800 1.651 2.666 2.500 3.290.080.093 45.772.093 45.093 45.290.500 3.500 3.500 3.093 45.800 1.290.651 2.000 504.772.000 Harga Pokok/Kg 2.800 1.800 1.651 2.772.651 2.500 3.093 45.000 504.290.000 504.080.880 1.080.080.800 1.000 504.080.093 45.400 504.600 428.651 2.772.156.097.093 45.772.800 1.500 3.080.080.500 3.772.500 3.290.Lampiran 12.000 504.320 1.772.772.093 Biaya Variabel (Rp) 839.290.651 2.002.651 2.080.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.000 504.080.093 45.290.699 2.500 3.093 45.

247.000 1.653.843.295 77.641.742 135.376 885.474.247.376 1.898.622.208.000 1.290.970 133.350 11.575 13.790.697.876 131.621 117 .400.784.376 1.073.300 1.060.757.839 2 85% 321.974.815 156.496 11.974.800 1.660.000 32.462.120 1.270.876 86.212. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.073.383.876 168.773.407.400.575 160.565 32.519.602 917.810.967 8.825.104.876 170.041. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.000 1.383.000 32.929 8.352.751 8.270.400.000 32.948.247.000 1.974.154 8.496 15.627 8.353 109.120 1.250 4.025 2.689 8.735.431.400.350 161.270.079.041.876 165.653.060.000 32.974.978 17.120 1.773.041.383. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.376 676.596 4 100% 378.805 33.814.010.400.073.000 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.000 810.974.383.015 17.163.376 1.000 32.985.496 13.578 709.735.409 137.195.055 122.247.383.290.247.788 78.327.221.843 21. Laba Setelah Pajak 65% 245.Lampiran 13.184.429.030 33.400.000 1.954 19.247.064 5 100% 378.973.000 1.030 20.045 23. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.616.810.700 810.653.732.490 Tahun ke3 100% 378.

962.041.412 141.179 7.876 180.383.376 1.930 36.400.376 32.000 378.000 1.294 3.073.270.270.000 1.247.653.848.400. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 1.480 34.000 1.974.000 1.041.373.496 1.675 5.120 1.247.450 169.851 1.876 178.073.247.247.450 3.900 165.041.962.935.604 8. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.496 1.383.120 1.000 378.859.496 1.000 378.537.400.848.653.000 32.400.155 36.270.834.400.910.077 138.383.225 171.000 1.400.376 32.736 5.031.225 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.876 172.247.910.900 7.657.784.247.496 9.000 1.383.974.974.400.759.811.897.041.822.876 174.796.247.924.811.961.247.000 1.747 144.727. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.279 8. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.872.496 1.247.000 378.829 8.247.550.675 167.653.284.383.409 118 .886.379 8.924.376 32.000 1.653.120 1.705 35.876 176.974.120 1. Uraian 6 A.270.054 8.125 9.886.400.653.073.125 163.974.Lanjutan Lampiran 13.376 32.255 34.079 142.400.041.744 139.073.000 1.139.270.400.073.120 1.

764.973 1.393 421.756.608 28.764.727 86.421.400.828.647.764.085 3.418 56.000 1.000.000 1.509 22.000 504.000.771.580.800 1. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.647.000 1.097.693 331.390 413.000 1.600.225.890.893 1.163.619.Lampiran 14.093 42.893 1.218 259.283 14.146.400 504.880 1.093 42.877.977 119 .146.877.717 14.000 1.877.102.600 428.990. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.000 504.413 1.290.000.333.999.000 1.772.103 312.745.600.352.352.764.713.393 346.545 110.352.000 42.782 16.676 108.893 27.971.772.000.393 247.330.580.499. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.093 42.359.493 24.580.826.333.093 839.643.764.133 317.925 190.196.390 16.093 42.000.000 1.580. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.152 14.955 19.562 232.877.082.772.877.393 426.421.334 14.764 315.066.499.000.139.110 111.180.912 32.824 406.000 1.633.955 411.388.764.580.877.520 1.800 881.400. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.800 1.354.446.393 428.290.736. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.002.304 23.025 14.582.290.000 1.320 1.650 5.573 19.000 1.189.156.333.303.694.

893 11.093 1. Uraian 6 A.200.764.290. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.580.093 1.482.977 14.000 1.764.565 13.000 42.393 442.000 1.000.370 114.542 14.827.333.000.352.611 325.805 113.774.000 42.651.098.260 419.000 1.935 115.290.580.324.000 1.290.893 5.764.764.333.764.749.000 1.000.981 327.549.424.774.352.872 321.260 Tahun ke8 100% 504.695 9 100% 504.995.800 1.352.352.580.000 42.000 1.772.393 437.333.098.598.000 42.503 319.000 1. Laba Setelah Pajak 100% 504.Lanjutan Lampiran 14.675 111.000.333.955 120 .000.660.800 1.764.800 1.240 112.000.549.323.764.772.000 1.000.097.000 1.695 422.877.772.000 42.565 427.764.580.130 425.093 1.656.000.872.847 14.772.800 1.764.130 10 100% 504.877.242 323.000 1.877.093 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.426.893 2.352.000.323.290.564 5.580.800 1.975.774.282 14. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.393 434.093 1.492.368 8.877.548.323.825 416.290.393 439.759 2.540.893 8.877.872.393 431.764.000.173 11.333.893 13.825 7 100% 504.872.772.412 14. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.

104.790.Lampiran 15.555.060 -114.429.431.999 3 4 135.163.218.621 0 0 0 137.163.571. Kas keluar 1. Kas masuk 1.245 133.944.212.696.555.925.497 218.474.822.483.490 0 0 0 109.735.295 23.295 54.750 129.925.900.749 132.218.953 -114.350 6.064 0 0 0 135.428.429.536 119. Nilai sisa 4. Biaya modal tetap 2.871 134.497 0 264.374 265.925.749 264.912.536 95. Biaya modal kerja 3.790. Laba bersih 3.462.212. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.374 5 137.497 1 78.483.839 0 0 0 78.497 0 -264.431.497 -210.497 -264.061 134.843.696.732.596 0 0 0 133. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.815 13.750 130.061 121 . Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.000 46.575 6.621 0 0 11.544 -264.925.822. Modal sendiri 5.314 4.953 Tahun ke2 109.462.596 0 0 17.369. Modal pinjaman Total kas masuk B.490 0 0 20.912.843. Arus kas bersih D.735.064 0 0 13.773.954 -210.999 4.055 13.925.839 0 0 23. Arus kas awal tahun E.025.

Laba bersih 3.910.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.159 802.179 0 0 0 138.203 Uraian A.544 531.675 6.294 0 0 5.715. Arus kas bersih D.284.101 666.179 0 0 9.924.657. Biaya modal kerja 3.428.851 0 0 3.886.933.986 397.746.909 0 0 1. Modal pinjaman Total kas masuk B.304 1.900 6. Kas keluar 1.943.218.736 0 0 0 139.294 0 0 0 141.660 9 142.660 666.304 10 144. Modal sendiri 5.746.750 132.082.902.218.318. Arus kas akhir tahun 6 138.218.245 397.225 6. Biaya modal tetap 2. Kas masuk 1.500 0 0 285.438.284.750 135.943.910.463 122 . Angsuran pinjaman Total kas keluar C.674 531.657.537.065.429 265.438. Nilai sisa 4.658.811.450 6.439.504.691.125 6.848.409 141.537.750 133.504.851 0 0 0 142.203 802.218.674 7 139. Arus kas awal tahun E.750 136.736 0 0 7.962.031.750 279.218.

824 23.801 -364. Aliran kas awal tahun E.761.828.359.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A.782 0 0 19.425. Kas masuk 1.643.900 364.826.390 301.285.930 -364.824 288. Kas keluar 1.870 24.955 19. Modal sendiri 5.493 0 0 32.349.828.492.713.946 3 4 315.390 16.509 0 0 28.782 0 0 0 315.752.617.870 tahun ke2 259.827 313. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.322.322.761. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C. Nilai sisa 4.771.509 0 0 0 259.826.380.143.647.562 157.977 0 0 16.562 32.801 0 364. Modal pinjaman Total kas masuk B.066.476.900 182.425.421.761.771.693 28.000 56.359.761.143. Laba bersih 3.521 910.446.695 123 .761.647. Biaya modal tetap 2. Biaya modal kerja 3.108 312.955 296.693 231.643. Aliran kas bersih D.977 0 0 0 317.890.816 -207.380.075.801 0 -364.446.801 308.695 609.075.946 313.587 609.801 1 190.466.493 0 0 0 190.573 0 0 0 312.421.713.801 -207.573 0 0 23.521 5 317.890.749 24.

260 8.564 0 0 0 323. Biaya modal kerja 3.492.456 1.549.432 2.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13.173 7 321.161.275.775.926.526.598.955 159.526.825 11.774.482.841.348 310. Nilai sisa 4.825 11.482.500.368 0 0 0 321.629 484.432 2.061 2.216.216.061 1.783.323.500 0 0 486.078.853.098.424.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.598.646.108 1.540. Modal sendiri 5.695 5.992. Aliran kas awal tahun E. Biaya modal tetap 2.161.130 2.428.456 1. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.260 8.173 0 0 0 319.872. Laba bersih 3.565 305.549.216.759 0 0 0 325.869 319.841.564 1.759 10 327.656.108 315.275.323.368 8 323. Kas masuk 1.951 124 .695 5.775.992. Modal pinjaman Total kas masuk B. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.774.926.565 13.564 1.004.890 910.130 2.564 9 325.872.933.656.098.540. Kas keluar 1. Aliran kas bersih D.

571.429 133.917 72.429.544 136.103 0.831.024 53.497 -210.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.60 1.555.944.258 -50.609 0.311.370 0.949 0.628 257.035 4.061 134.791 59.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.925.516 0.438.024 6.953 -114.496.915 0.999 4.226 29.439.437 0.920.660 666.065.718 0.96 Akumulasi -264.925.735.191 PV -264.969.925.304 1.156 20.075.065 0.261 35.885 68.000 -264.225 0.188.954 119.504.690 37.808.925.454 66.328 39.968.912.476 45.822.919 41.589 30.428.203 802.369.314 130.658.374 265.318.082.497 54.968.544 95.746.101 279.074 9.532.237.314 0.060 129.051 6.014.798 0.815.986 135.236.932.000 0.245 397.691.210 49.497 46.266 0.847 0.831 40.275.339 0.911.108 14.715.943.761.497 0.968.483.384 Kg/tahun 125 .237 0.420 0.159 NPV Nilai 257.831 DF PV i = 45 % 1.871 132.753.404 0.442 57.674 531.874.732.) Atau 195.443.97 2.

903.078.349 Kg/ tahun 126 .761.718 0.743.232 94.370 0.130.564 1.900.432 2.021 110.400 45.838 152.775.801 157.751 23.476 0.992.517 166.500.12 3.215 32.816 288.061 2.801 133.34 1.629 484.000 0.348 310.051 0.091.040.859.266 0.291.004.521 910.847 0.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.721.979 92.075.732 67.761.191 PV -364.516 0.827 301.890 NPV Akumulasi -364.782.000 0.717 72.715.761.143.801 108.926.930 231.349.490.690 0.761.587 305.471.216.865 DF i = 45 % 1.801 -207.154 11.226 0.783.863 175.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.402 11.108 315.466.275 854.131.749 296.314 0.702.108 0.617.328 0.425.108 1.456 1.156 0.870 24.89 BEP (Rp) atau 158.492.471.066.869 319.039.574.796 97.609 0.225 0.841.173 16.946 313.695 609.853.271.473.322.035 0.598.794 46.437 0.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.464 157.216.235.161.074 0.752.275.646.024 PV -364.944 131.757 83.980 113.933.526.970.865 51.

Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). 9. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. Melakukan pelatihan bagi pekerja. kandungan nira. 3. Mengurus perijinan usaha (legalitas). waktu kerja. Memperkuat permodalan. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. fasilitas produksi.Lampiran 19. 10. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. 4. Memperbaiki proses pengolahan. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. kapasitas produksi. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. 12. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. 11. antara lain : 1. terutama di bagian pemasakan. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. Menetapkan tujuan perusahaan. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. 6. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). 7. dan kebersihan tebu). 8. 2. 13. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. 5. 127 .

128 . 15. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.14. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga.