STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

Ir. supporting facility. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. St. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. marketing aspect. 2008. Msc. gave four alternative strategies (SO. Dipl. Brown cane sugar industry owned by Mrs. Supervised by Dr. and application effective technology. capitalization. technical and technological aspect. and Dr. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. extending market. increasing market share. supervising on raw materials and products. Those strategies were carried out supportively one to another.Mila Fadilah Utami. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. such as SWOT analysis. and also the financial aspect. ST and WT). Suprihatin. Rembang District). developing technology and production facilities by cooperating with other instances. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. Ing. and the staged 4 . and the development strategy. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. raw material conditioning (cane). SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. Ir. The strategy was done by increasing product quality. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. WO. F3403056. From the obtained result. Muhammad Romli.

PBP of 2.00 fixed cost.96 year and 1. While for the development condition total investment required was Rp.925. 195.476. 854. 364.00 which divided into Rp. IRR of 40.968.900. Total investment required for the present condition was Rp.00.761. 5 .349 kgs/year. But if viewed from NPV indicator. 158.000. which was supported by the other investment criteria.400.filtering of cane sap from extraction. Rp.865.60 % and 51. 264. the development condition had much better NPV than present condition.025. Production capacity for the present condition was 2.12 %.8 tons per day.00.000. which divided into Rp.00 production cost.968. and. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition.497.00 or 59.285. NPV of Rp. Based on the results.97 and 3. 218.00 production cost.471.384 kgs/year and Rp.801. 56.00 and Rp. 308. The criteria of investment feasibility for each condition in order were. brown cane sugar industry was feasible on both conditions.00 fixed cost. 46. Net B/C of 1.791.1 tons per day and the development condition was 2. 257. and Rp.831.497.00 or 45.89 year.34. BEP of Rp.801.721.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

St Pembimbing Akademik I Dr. Suprihatin.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Ing. Januari 2008 Dr. Dipl. Muhammad Romli. Bogor. Ir. Pembimbing Akademik II 7 . Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. MSc. Ir.

kecuali yang dengan jelas rujukannya. Bogor.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 .

Dr. St. Ir. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. Dr. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Ing. Ayahanda tercinta H. 4. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. Ir.. kepada keluarga dan para sahabatnya. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. Lili Aliah. Ir. 9 . Dr. dukungan dan kasih sayang tanpa batas.. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. M. 3. yaitu kepada : 1. 2. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. MSc. 6. Dipl. Suprihatin.. Muhammad Romli. Yandra Arkeman. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Eng. 5.

Mamin. Para Lawalata-Ers. perhatian dan ketegaran kepada penulis. Aa Dudi. Bogor. Dita. ST yang selalu memberikan dukungan. Bunda. 8. Endang. Ana. Teman-teman TIN 40. Idesh. Om Ucup. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Aa Ijey. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. Bang Affan. atas dukungan. Popo Iskandar. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. 12. 11. Naqoer. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. Lucia. Windi. atas dukungan. Sahabat-sahabat penulis. Aa Bayu. Umi. 10. Mas Umam. Da Hendrick. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Dika. Aa Indra.7. dan Bung Fardian. Endah. Januari 2008 Penulis 10 . Mb Ida. Mayang wo. Bung Amet. 9. Yuyu.

.................... KARAKTERISTIK WILAYAH..................................................................... 11 C............................................................................... 24 1. KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS............................................... vi DAFTAR LAMPIRAN.................. 13 1......................................................... ASPEK PEMASARAN...................................................... 16 F........... PERBAIKAN PROSES.. 27 2........................................................................................................................................ NIRA.................. vii I............................................................. TUJUAN.............. 15 3... METODOLOGI....................... 15 E.. SWOT............................. PROSES MANAGEMEN STRATEGIS..................................................... ASPEK FINANSIAL............................................. 18 B.......................... 19 IV.............. TATA LAKSANA............................................ 14 2............................................ 18 A........................................................ KERANGKA PEMIKIRAN..................................................................................................... MUTU GULA MERAH... 9 3............. 4 1............. LATAR BELAKANG................... ASPEK LEGALITAS.................................................................. 3 A................... HASIL DAN PEMBAHASAN.................................. 30 11 ...................... iii DAFTAR TABEL.................... v DAFTAR GAMBAR.......................................................................................................................................................................................... TINJAUAN PUSTAKA..................... PENDAHULUAN.............. 1 B. KARAKTERISTIK INDUSTRI.................. 17 III.... 24 A..................................................................... 12 D.................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR......................................................... GULA MERAH........................ 1 A........................................................................ 2 II...................................................................... 6 2.................................................. PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU....... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..................................................................................................... i DAFTAR ISI............................................. 3 B......................................................................................... USAHA KECIL..

................................................................ SARAN................................................32 2................................................................... KESIMPULAN DAN SARAN.B........ ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU.......................................................................... 80 B......................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS........................................................................................................... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU........... ANALISIS SWOT.....71 V............................. KESIMPULAN....... 82 DAFTAR PUSTAKA............ 83 LAMPIRAN. ASPEK PEMASARAN............ ASPEK FINANSIAL.................................39 3............ ASPEK PEMASARAN................................................................................................. 68 4..41 C................................................... ASPEK FINANSIAL.............................. 32 1......57 3.......... 46 2.................................. 80 A................................................................. 86 12 ..... 46 1....................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS............................

..................... Matriks Internal Eksternal.......................................................................... 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu .............................. 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ...... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu.......... Tabel 6................. Luas Areal..... 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula ........... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ...................42 Tabel 11. 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ......................... Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ...... Perincian Laba Bersih. Tabel 5.......................68 13 .................................................................. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu................................................... Tabel 4...... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu................ 47 Tabel 16...... 40 Tabel 10.51 Tabel 18................ Tabel 2................................................43 Tabel 12....... 52 Tabel 19........................43 Tabel 13.............................. Matriks Analisis SWOT........... Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu.... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah ....... Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ......................44 Tabel 14........................................................................................................... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu..............49 Tabel 17......................................................................................................................................... Tabel 3.................................................. 24 Tabel 7.. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha............................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1................. Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 ............................ Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu.................................53 Tabel 20....................... 25 Tabel 8................................................44 Tabel 15............... Tabel 9................. Produksi...................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.

.............Tabel 21.......... Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ........... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha........................... 76 Tabel 26.. Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha............ Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha..................................74 Tabel 23....................75 Tabel 25................ 79 14 ........................................ Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah..............................................73 Tabel 22................................................................... 76 Tabel 27.................75 Tabel 24.................. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha.......... Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan.................................................

...38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu................ 63 Gambar 13.............................40 Gambar 10..... 66 Gambar 16................................................... Gula Merah Tebu. Proses Penirisan Gula................... 60 Gambar 12................................................................... 59 Gambar 11..................................................... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap...... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak........11 Gambar 2...........................................................................................35 Gambar 5..................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu................................................... 67 15 ......................... Boiler dan Wajan Uap............. Proses Penggilingan.......................... Nira Tebu Yang Mulai Mengental................................................. Alat Penyaringan Nira Tebu.................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.......35 Gambar 6............................ Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap...... Bahan Baku Usaha (Tebu).................................................25 Gambar 3.................................................... 64 Gambar 14.............. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur......33 Gambar 4................................................................................36 Gambar 7....37 Gambar 8............................ Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu......... Proses Penggilingan.................... 65 Gambar 15.... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2....................................................

..............99 Lampiran 12............ Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1.........97 Lampiran 11..... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1....... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1. Biaya Operasional pada Skenario 1....................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2............ Kriteria Investasi Skenario 1....... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2.........96 Lampiran 10.. Perhitungan Biaya Bahan Baku............................................................. 107 Lampiran 17.................. 109 Lampiran 18. 103 Lampiran 15........ 110 16 .. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit....94 Lampiran 9.................... Biaya Operasional pada Skenario 2.............. 101 Lampiran 14..............................................................................................................86 Lampiran 2......................100 Lampiran 13.... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2.....................87 Lampiran 3....................90 Lampiran 6.................. Komposisi Modal Tetap Skenario 2..................................................................92 Lampiran 8.......... Komposisi Modal Tetap Skenario 1.................................................... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2......................................... 105 Lampiran 16.................... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1.......................91 Lampiran 7................................................................89 Lampiran 5..................... Kriteria Investasi Skenario 2................................................................................................... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung..................................88 Lampiran 4.........DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.....

6 juta ton/ tahun. Namun. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. 2002). Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. coklat. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.140.555 ton. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. sementara produksi hanya sekitar 2. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. kadar abu dan kekerasannya. variasi bahan baku. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. dan bahkan ada yang cenderung hitam. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. yaitu warna. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. 17 . serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. 2005). mulai dari kuning. merah.I. Menurut Rosby (2004). LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI.127. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. PENDAHULUAN A. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.488 hektar. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah.86 hektar. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda.

Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. B. Menurut Herman (1987). dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. b. 18 . dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. aspek teknis dan teknologis. yang mencakup analisis SWOT.Selain warna dan kekerasan. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. serta aspek finansial. aspek pemasaran. pasir. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah.

nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. kondisi geografis. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. 1986). Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. 2002). pengadukan selama pemasakan. Menurut Puri (2005). berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. asam-asam organik. dan berlendir. protein. Kerusakan nira banyak sekali macamnya.II. 1987). Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. tingkat kematangan. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. tergantung pada jenis tebu.0. TINJAUAN PUSTAKA A. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. berbuih putih. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. disamping nira yang kurang baik (Herman. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela.1992).5-6. dan lemak). 2003). Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. rasanya asam serta baunya menyengat. Santoso (1993) menyatakan bahwa. 1979). 19 . Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis.

50 0. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri. 1984).001-0.0-3.5 1.0 1.5 B.05 3. dan tebu (Dachlan. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.0-90.0 2. lontar atau siwalan.0 0. (1998) dalam Reece (2003). produk cookies. lemak dan fosfolipid 0. Gula merah banyak 20 . Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga.5-0.04-0. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap.5 1. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.0 70.0-4.Menurut Poel et al.0-4. aren.15 75.0-4.0-94.5-2.0 0.5-5.1-3.5 1.0 2.5-4.001-0. 1993). Tabel 1. tauco.03-0. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin.18 0.6 0.

Merah Tebu (mg) 356.0 0. C Air Sumber: Tan.02 0.9 0. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi. supermarket. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan. pabrik kecap ekspor. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al.0 0.0 0.0 0. 21 . Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi.0 16.Kelapa (mg) 386.0 75. B1 Vit. Tabel 2. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.0 0.2 0.0 35.0 0. Pasir (mg) 364.0 0.1 0.0 9. hingga pabrik anggur.Aren (mg) 386.0 3.5 90.0 0.0 95. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih..0 79.0 0.0 4.0 76.0 76.0 94.4 G.0 0. 2006). sedangkan gula putih mengandung 396 kalori. A Vit.0 0.0 9.0 3. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi. (Warastri. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.0 1. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3. yaitu 364 per 100 gram.0 7.0 0.0 2.0 20.0 37.03 0.0 5.0 0.0 44. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.0 0.0 0.0 04. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder.3 0.6 0.0 5. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 G. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 G.0 0.0 0.4 0.diminati di Jerman dan Jepang. industri perhotelan.4 Madu (mg) 294 0.0 10.0 0. Dilihat dari segi kesehatan.0 10. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya. 2006). B2 Vit.0 0.5 5.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.6 51. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir). 1981).

Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). 1993). Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. warna. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. dan kekerasannya. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). yaitu rendahnya teknologi pengolahan. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. warna. maupun kadar kotoran. yaitu bentuk. non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian.Tabel 3. kekeringan. 1993). Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. 22 . Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal.

Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.warna . Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2.tembaga (Cu) mg/kg . b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet .seng (Zn) mg/kg .penampakan Bagian yang tak larut dalam % air.0 Maks 2. gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek. Menurut Shallenberg et al.0 Maks 0.0 Maks 8. 2002). 23 .0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5.0 Maks 40.0 Maks 40.benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .0 Maks 2. b/b 3 Air. 1 Keadaan .residu mg/kg .bau . dalam Nurlela (2002). disamping nira yang diolah kurang baik.03 Maks 0. b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa). Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.timah (Sn) mg/kg .0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.Tabel 4. Mengenai warna.0 Maks 40.0 Maks 0.rasa .timbal (Pb) mg/kg . Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa).1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.0 Maks 40. a.03 Maks 0.0 Maks 10. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela.

Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. 1993). Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. protein. c. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. dan lemak dalam nira. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. 1997). dan kadar lemak. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. seperti mutu nira. Semakin baik mutu nira. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam.. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. kadar air. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. 24 . Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. 1993). sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. b. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. basa. 1989).

2006). 2. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. 1993). sedikit asam. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. 1990). 25 . Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. d. Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. 1984). Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. dan berbau karamel. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering.

maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. 26 . Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. dan serangga. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. 1986). Apabila suhunya terlalu tinggi. 2006). Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. atau kemiri yang dihaluskan. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. 1993). minyak kelapa. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. 2002). Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. daun kering. Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. 1993).

yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. 27 . dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5.6. keras. Menurut penelitian Nurlela (2002). dan pengemasan produk (Sardjono. proses produksi. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3. 1986).5 – 5. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku.

13%. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. kadar protein 64. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. kadar abu 37. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). 750C-0. meliputi suhu dan waktu pengolahan. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial.58%. total kotoran 50. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 .84%.067%.067%. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2.43%. C. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil.10%. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0. 200 juta. dan kadar lemak 67. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. kadar glukosa 76. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik. 290C-0.100%. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. intensitas pengadukan.18%.100%. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. 290C-0.69%. pengadukan selama pemasakan. 1 milyar atau kurang. 750C-0. yaitu : 1.067% dengan alasan praktis dan efisien.033%. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. serta kebersihan alat.

mengimplementasikan. 3. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. 2. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Bidang usaha industri pertanian 3. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. yaitu : 1. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). 2. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. Bidang usaha perdagangan 2. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. D. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. 4. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. 3.4. Bidang usaha industri non pertanian 4. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi.

yaitu: 1. 2004). 30 . manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. 1998). Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. 2. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. Selain itu. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. Sesuai dengan pendapat David (2004). menetapkan sasaran jangka panjang. 3. Menurut Jauch (1998). Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. 1998). baik besar maupun kecil. 1. 1998).fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch.

Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. 3. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler.2. 2005). 31 . Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. 2000). Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. 1998). 1997). Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. 1997). 2000).

yang mencakup mutu. rancangan. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. 2003). dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. peralatan. yaitu produk. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. dan pengemasan produk. Bagi pemasaran produk barang. dan teknologi untuk produksi. pemberian merek. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. 32 . harga.menawarkan. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. distribusi. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Menurut Kotler (2005). Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. 2005). 2003). Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. serta pemilihan mesin. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. 2005). serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. E. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. dan promosi (Umar. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. 2000). fitur. 2004).

sumber dana dan biaya modal.. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). dan analisis sensitivitas (Gray et al. 33 . Pay Back Period (PBP). serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. 2000).F. yaitu metode Net Present Value (NPV). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. Break Event Point (BEP). Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. 1992). Internal Rate of Return (IRR). Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. estimasi aliran kas proyek.

dan harga gula merah tebu lebih murah. antara lain analisis SWOT. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. aspek pemasaran. METODOLOGI A. Oleh karena itu. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. aspek teknis dan teknologis. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. volume produksi tebu. 34 .III. Namun. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. serta aspek finansial.

dan wawancara atau pengisisan kuesioner. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. internet. pengamatan langsung. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. kebutuhan finansial 2. jurnal. proses produksi). aspek pemasaran. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Jawa Tengah. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. bahan tambahan. konsumen.B. Informasi lain 2. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. internet. Konsumsi gula merah tebu 3. Jenis Data I. Data Sekunder 1. Tahun 2007. TATA LAKSANA 1. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Lembaga Swadaya Informasi IPB. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. petani tebu. Kualitas gula merah tebu II. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Kabupaten 35 . BPS. pedagang (distributor). Data primer diperoleh melalui eksperimen. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. dan literatur lainnya. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. dan aparat setempat. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. pedagang (distributor). Tabel 5. Aspek teknis teknologis (bahan baku. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Kondisi wilayah 2. Data Primer 1. alat.

Net B/C.Rembang digunakan sebagai rujukan. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. a. 5. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. 4. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. 1992). dan PBP. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. 3. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. proses produksi. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. pengadaan bahan baku. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. IRR. BEP..

1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. 1. 3. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi.. b. yaitu : 1. maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. Menurut Gray et al. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad.... n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Jika nilai NPV lebih besar dari nol.. 2000). oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas.. 3. 2. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol.. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. 2.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. 2. n) 37 .. 1. 3. Jika nilai NPV sama dengan nol.

c. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. 38 . maka proyek layak untuk dilaksanakan. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. 3. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al. c.. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. b. 2. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan.. maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. 1. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek.. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan..

Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 .d. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). 2000). Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad. 2003). Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.

Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.86 hektar. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Sulang. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tabel 6. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1.IV.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat.140.127. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 .127 686 462 397 2.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.859 353 75 185 57 40 64 4.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1.

718 11. Luas areal. P5 864 dan BZ 148.720 3.701 1. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi.948 3.994 1.380 3.462 3.791. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.300 23.020 3.000 3.360 392.767 16. Produksi. Produksi. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.9.697 3.672 369.127.070 3.960 3. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.390 619.305 109 181 554 27 119 6.398 3.221. Tabel 7.140 4.050.015 1.951.555 3.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.510 3.462 90.997 4. Luas areal. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.420 1.700 3. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.582 566. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.130 3.390 62.955 3.700 3.917.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas.488 hektar.390 722. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.582 12. Pada umumnya 41 .235 503 29 52 439 10 47 2.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3.353.300 322.

Menurut Soentoro et al. sebagai media komunikasi. Bagi para pengusaha gula merah tebu. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit.. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Gambar 2. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Namun. 42 . Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha.

. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. Di Kabupaten Rembang. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. 43 . Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Namun. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. (1999). Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu.B. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. Selain gula tumbu. Menurut Soentoro et al. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Pada awalnya. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8.

diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. pengendalian. Namun. 4. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. perawatan. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. 44 .00. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). 3. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. PG Trangkil 800 ha. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp.00-Rp. Sebaliknya.Tabel 8.550.200. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. berdiri dan berkembang sendiri. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap.

Cap Orang Tua). Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Revitalisasi Alat 3. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. 45 . Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. misalnya industri makanan dan minuman (PT. yang dilakukan oleh suatu LSM. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. PT. Data terakhir diperoleh. ABC dan PT. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. diantaranya yaitu : 1. Pembentukkan Paguyuban. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. Indofood. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang.

Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. Dalam prakteknya. 46 . sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata.2. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). Menurut BPS (2003). misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah.

dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. rendemen tebu masih relatif rendah. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. Selama satu periode panen. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu.C. 47 . Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Pada tahun 1991. Pada awal produksinya. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. yaitu tebu 864 dan BZ 148. dan sisanya membeli dari para petani lain. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). 10 ha lahan sewa. yaitu berkisar 7 – 8%. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Mulai tahun 1998. yaitu 8 – 12 bulan. Pada awal panen. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Ibu Arini membuat gula tumbu. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%.

nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7.12–0. tetapi 4–5 kali pemasakan. pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. dua orang di bagian penggilingan. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. 48 . satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. Pada umumnya. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. sehingga nira tebu dapat terekstrak.1. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. dua orang di bagian pemasakan. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Dalam satu hari kerja. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8.13 ha). Selanjutnya. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya.

Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. 2003).Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Proses Penggilingan b. 49 . Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. 2006). Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. Gambar 4. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. Apabila suhunya terlalu tinggi. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Pada prinsipnya. maka debu dan kotoran (daun.

Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. kemudian mengangkatnya. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. ketika nira mulai dipanaskan. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. maka gulali tersebut sudah matang. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. 50 . Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. 2006). Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. 1993). Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira.

Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . biasa disebut dengan meja. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder.Gambar 5. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. 1985). Gambar 6. Nira Tebu yang Mulai Mengental d. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Sebelum gula dipindahkan. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. serta membentuk benang-benang gula.

sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. Gambar 7. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. e. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. 2002). Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Gula Merah Tebu 52 . Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). f. Pengadukan untuk meratakan panas.

Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7.

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

600. 200.00-Rp. Cap Orang Tua. PT.200. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp. perusahaan kecap dan permen. diantaranya gula dengan mutu baik. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. Indofood. Pasuruan. 100. sebagai pihak ketiga. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur. Oleh karena itu. antara lain Rembang.550. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT.2. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. 4.00. ABC. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah. sedang dan jelek.00.2. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. dan Yogyakarta. PT. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. 3. Semarang. Remaja sebagai pengumpul besar. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam.00Rp.100. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. Pati.600. 150. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota.00 dan gula merah tumbu Rp. 3. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. 55 . Kudus. industri penghasil jenang (dodol). Jadi. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen.00Rp.00Rp. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya.00.

yang terletak di Desa Japerejo. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Remaja. Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Tabel 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 .Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Kecamatan Pamotan. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Remaja. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9.

kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. pendirian bangunan. Pada tahapan awal.000. sumber dana dan biaya modal.3. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. estimasi aliran kas proyek. a. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. 1997). 57 . 2000).00. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. b.025. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. seperti bank. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad.

000 49. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.000 Total Modal Tetap 218. pemeliharaan. 58 . Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.Tabel 10. depresiasi. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. tenaga kerja langsung. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. kemasan. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.200.000.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.) 110.825.000 2.000 6.025. administrasi dan telepon). biaya variabel (biaya bahan baku.000 50. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.000.000.

Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.693.000 46. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.000 4.100 4.925.) 218.497 c.000 46. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.472 2. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.421 5.497.000.604 600.025.Tabel 11.835. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.00. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.925.400 37. Tabel 12.900.000 335.076 31.299. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A.497 264. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %. C. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13. 59 .601.000 498. seperti terlihat pada Tabel 12.921 737.900.497 B.500.

Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.249 132.294 142. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).012.790. Internal Rate of Return (IRR). Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.462.851 144.) 78. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13. d.537.450.012.462.Tabel 13.249 132.409 e.179 139.657. Break Event Point 60 .500 23.429.212.064 137.284. Tabel 14. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu.596 135.749 Modal Sendiri (Rp) 109.839 109.490 133.500 23.431.031. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.163.621 138. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.736 141.910.450. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).

831.00. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. diperoleh NPV Rp 257.968. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.384 Kg/tahun.60 %.791. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol). Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek.00 atau 59.96 tahun. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Titik impas tercapai pada saat produksi 63.968. 61 . dan Pay Back Period (PBP).97. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1.(BEP).969 Kg/tahun. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2.

Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. dan teknologi. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15.D. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. sosial. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. serta kebersihan dan kesehatan produk. lokasi pabrik. ekonomi. pesaing. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. legalitas perusahaan. kegiatan operasional. 62 . pemasok bahan baku. teknologi proses yang akan digunakan. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. pasar. yang meliputi kebijakan pemerintah. kondisi keuangan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. kegiatan pemasaran.

Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Bahan baku mudah 4. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Proses produksi sederhana 3. Potensi pengembangan 6. Diversifikasi produk 5. Harga BBM naik 5. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Belum berbadan hukum 6. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Produk belum distandarkan 11. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Kualitas SDM yang rendah 8.Tabel 15. Ketersediaan modal terbatas 7. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Teknologi manual dan sederhana 2.

kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas.816.a. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. ketersediaan modal terbatas. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. proses produksi tidak konsisten. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. memanfaatkan tenaga kerja lokal. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. belum berbadan hukum. 64 . produk belum sesuai dengan SNI. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. lokasi pabrik cukup strategis. bangunan pabrik tidak permanen. kualitas SDM yang rendah.

816 65 .069 0. Produk belum distandarkan 11.061 0.172 0. Belum berbadan hukum 6. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.161 0.057 0.050 0.000 2. Kualitas SDM yang rendah 8.107 0.054 0.100 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0.138 0.184 0.042 0. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.084 0.215 0.161 0.199 Kelemahan (Weaknesses) 1. Bangunan pabrik tidak permanen 10.184 0. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Proses produksi sederhana 3. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3.169 0.061 0.054 0.054 0.057 0.215 0.069 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.207 0.172 0. Ketersediaan modal terbatas 7.054 0. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.069 0.207 0. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.061 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.042 0.054 0. Teknologi manual dan sederhana 2. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0.Tabel 16.184 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.

dan gula merah telah populer di masyarakat. penampakkan produk yang kurang menarik. ketersediaan lahan dan bahan baku. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). harga BBM naik. memiliki langganan. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. 66 . Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. harga bahan baku di PG lebih tinggi.b. diversifikasi produk. didapatkan total skor sebesar 2. bahan baku mudah. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG).686. pajak dan ijin usaha. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah.

240 0.000 2.099 0. Potensi pengembangan 6. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.221 Ancaman (Threats) 1. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.090 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2.269 0.279 0.083 0.083 0.077 0.154 0.083 0.093 0. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.250 0.298 0.077 0.240 0.Tabel 17. Diversifikasi produk 5. Bahan baku mudah 4.154 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.167 0. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0.080 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.080 0.333 0.080 0.080 0.686 67 . Harga BBM naik 5.

Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2.0 Rendah II III V IV VI VII 1. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4.0 Rata-rata 2. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.Tabel 18. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. dapat disusun matriks IE. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2. melalui kerjasama dengan pihak lain. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. perluasan pasar.0 Lemah 1.0 I 3.0 Tinggi Kuat 3. 68 . pengembangan teknologi dan fasilitas produksi.

Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. 2. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Belum berbadan hukum 6. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Proses produksi sederhana 3. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.Tabel 19. Membina SDM yang dimiliki 6. Ketersediaan modal terbatas 7. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Memperluas daerah pemasaran 3. Tenaga kerja lokal 4. Bahan baku mudah 4.Teknologi manual dan sederhana 2. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Potensi pengembangan 6. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Produk belum distandarkan 11. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Meningkatkan kualitas produk 7. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Diversifikasi tebu 5. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Kualitas SDM yang rendah 8. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Menerapkan goodhouse keeping 5. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku.

industri pengguna gula merah. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. 1. serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. dan Semarang). Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan.Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Memperluas daerah pemasaran. serta pedagang eceran. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). Kudus. Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. untuk konsumsi rumah tangga. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. pengumpul dan industri pengguna gula merah. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. 2000). Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). 70 .

Membentuk kelompok usaha bersama. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. hingga penyimpanan dan pemasaran produk.2. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. Selain itu. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. 3. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. mengoptimalkan pembagian kerja. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. 71 . Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. mempermudah akses pemasaran.

Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. mengorganisasikannya. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). agar menjadi lebih terampil. proses pengolahan yang optimal. pengontrolan dan pemantauan. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. Selain itu. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. ulet. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. dan penggunaan teknologi yang sesuai. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. Menerapkan goodhouse keeping. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Meningkatkan kualitas produk. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. Membina SDM yang dimiliki. Tujuan 72 . dan dapat bekerja efektif serta efisien. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik.

Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. 2. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. 73 . Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. memperkuat posisi produk dan perusahaan. 4. mempertahankan dan mengembangkan usaha. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. dan memperluas pangsa pasar.

nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi.2. 74 . a. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. a.1. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. dibersihkan dengan arit atau pisau. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi.a. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh.

yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. menyelimuti dan memanaskan wajan. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air.Gambar 10.3. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang. Air 75 . Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Selain itu. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Alat Penyaringan Nira Tebu a. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak.

Bahan baku yang 76 . Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. 4. dengan harga solar Rp. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. bahan bakar solar dan oli. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. Boiler dan Wajan Uap a. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Karena menggunakan air sumur. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Selain itu. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Gambar 11.00/ liter. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air.500. b. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. PS 864 dan BZ 148. dan air sumur.4. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851.

Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira.00/ ton tebu. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Pemberian dosis kapur. kondisi batang.997 kg. c. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November. dan umur tanaman. 77 . kondisi perkebunan. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. 2005).000. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. 150.050. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. dengan umur tebu 8-10 bulan. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. 130.000. minyak kelapa dan Natrium Benzoat.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3.00-Rp. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram.

Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. letak drum di atas bak penyaringan pertama. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring.1. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. 1984). Selanjutnya. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. yaitu sebelum masuk ke wajan. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. d. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. 78 . penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). Proses Produksi d. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan.

Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. Gambar 12. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. lapisan bagian luar dan bagian dalam.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Proses Penggilingan d. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan.2. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu.

ketika nira mulai dipanaskan.untuk proses pemasakan berikutnya. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. kemudian mengangkatnya. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. Karena jika tidak dibuang. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. dengan menggunakan mesin pompa air. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. Gambar 13.

pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . serta membentuk benang-benang gula. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. Pengadukan untuk meratakan panas.3. Sebelum gula dipindahkan. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja.4.d. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. 1985). permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Gambar 14. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus.

gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela.5. 2002). selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Gambar 15.masih berlangsung dapat segera terhenti. d. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel. Selanjutnya karung yang telah diisi gula.6. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Sedangkan. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Proses Penirisan Gula d. 82 . Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

rancangan. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. tempat (place).00-Rp 200.00 dan gula merah tumbu Rp 2.600.00-Rp 4. harga (price). Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Tabel 20. dan pengemasan produk. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. dan promosi (promotion). rasa dan kekerasan oleh pengusaha. fitur. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna.200. sedang dan jelek. Penerapan pengembangan teknologi di atas.600. yang mencakup mutu. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan.00-Rp 150.00.00. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). pemberian merek. Menurut Kotler (2005). Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap.00-Rp 3.00.550. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100.3. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi.

Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. Sedangkan pada masa puncak panen. harga gula merah tinggi. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Distribusi gula merah relatif sederhana. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Namun pada saat awal panen. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. harga cenderung turun. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. yaitu permintaan langsung dan 85 . yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. Ketika harga jual gula merah rendah. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

depresiasi.000 120. tenaga kerja langsung. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. pendirian bangunan. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. kemasan.285. Tabel 22.000 Total Modal Tetap 308. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.000.085. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 . karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.000 70.000 6.00. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. biaya variabel (biaya bahan baku.c.000.285.200.000 2. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.000. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. pemeliharaan.) 110. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22.000. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. administrasi dan telepon).

801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.000 391.285.801 364. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700. Jangka waktu pengembalian modal 91 .240 5.000 826.476.000.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.522 839. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.865.140 982.300 46.00 seperti terlihat pada Tabel 24.476. Tabel 23.800 2.400.000 56.429. Tabel 24.801 d.761.500.561 42.000 4.690.000 56.039 2.808.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.611. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.

e.713.782 317.598.400 182. ) 190.771. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.500 28.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.446.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.500 28.643.482.826.424.173 321. Tabel 25.977 319. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.509 312.400 182. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.493 259.368 323.573 315.142. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.955 92 .540.759 327.900 Modal Sendiri (Rp) 154.142.238.564 325. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.656.380. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.238. Tabel 26.380.

f.721. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Maka layak untuk dilaksanakan. Break Event Point (BEP). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol). sehingga layak dilaksanakan.349 Kg/tahun.400. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.865. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). 93 . Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.34 memiliki nilai lebih dari 1. dan Pay Back Period (PBP).349 Kg/tahun. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. Internal Rate of Return (IRR). Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Nilai IRR-nya adalah 51. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan.471.12 %.00 atau 45. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158. Nilai yang diperoleh yaitu 3.

Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. 94 . Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. Selain itu.89 tahun. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha.

349 Kg/tahun). Pemasaran .Konsumen industri . IRR : 40.Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) . PBP : 2.865.00. PBP : 1. dan jelek) .800 kg/hari 3.Tidak dilakukan promosi .801.Bahan baku .831.Promosi .500.Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .Distribusi .Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .968.721. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1.00) .Harga produk lebih rendah (Rp 3.761.384 Kg/tahun).00 (59.60 %.Distribusi ke daerah Rembang.Bahan bakar bagas berundak). BEP : Rp 195.Harga .Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .96 tahun Modal : Rp 264.00.968.925.00 (45.34.Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar .Penyimpanan produk di tempat terbuka . Semarang.Konsumen industri dan rumah tangga .00. dan Yogyakarta .12 %.Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .100 kg/hari .791. IRR : 51.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Penyimpanan produk . Teknis dan teknologis . Produksi : 2.Sanitasi pabrik . Net B/C : 3. Pati. pemasakan gula tidak konsisten . Kudus.Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .00) .00.Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) . Pasuruan.400.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk. Produksi : 2.497.89 tahun Modal : Rp 364. pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No. BEP : Rp 158.Tabel 27. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .Produk .Proses pengolahan .Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.Bahan bakar bagas .Harga produk lebih tinggi (Rp 3.97. Net B/C : 1.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .300. sedang.471.

ST strategi. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. meningkatkan pangsa 96 . Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal.015 Ha. WO strategi dan WT strategi. memperluas pasar. KESIMPULAN DAN SARAN A. serta sarana dan prasarana lainnya.955 ton. Berdasarkan hasil yang diperoleh. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. rendahnya teknologi pengolahan. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. sedang dan jelek.V. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. melalui kerjasama dengan pihak lain. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. pengawasan bahan baku dan produk. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. yaitu SO strategi. yang meliputi warna.050. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. rasa dan kekerasan. diantaranya variasi bahan baku. serta sanitasi dalam proses pengolahan. Selain itu.

000. NPV sebesar Rp 257. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Berdasarkan hasil tersebut.12 %. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.pasar. PBP sebesar 2. 97 . Net B/C sebesar 1. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.791. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada.968. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.025. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu.476. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.00.900. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.497.400. BEP sebesar Rp 195.97 dan 3.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.89 tahun.801.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.00 dan Rp 854.384 Kg/tahun dan Rp 158.000.471. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung.00.60 %.831. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu.968.801.00 atau 59.00 dan modal kerja Rp 46.285.925. IRR sebesar 40.00 atau 45. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.497.349 Kg/tahun.00.34.96 dan 1. dan menerapkan teknologi tepat guna. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.00 dan modal kerja Rp 56. Namun jika ditinjau dari indikator NPV. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini.721. Dalam basis waktu operasi satu hari. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya. dan 51.865.761.

seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. SARAN 1. 98 .B. 2. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. 3.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. SNI 01-6237-2000. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. C. 2004. Jakarta. LPFE UI. 1990. Jakarta. Kotler. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Jakarta. Indeks Kelompok Gramedia. Gula Merah Tebu. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Industri Gula Merah. Goutara dan S. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. PT. S dan Hendri. Badan Standarisasi Nasional. Laporan Penelitian.. 1987. N. Salemba Empat. Bogor. P. Manajemen Strategis.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. BBHIP. Agro Industri Press. 2005. 1984. Jakarta. Dyanti. Padang. Jakarta. Gray. Proses Pembuatan Gula Merah. P. Jakarta. Wijandi. Indeswari. David. Jakarta. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Indeks Kelompok Gramedia.. dan Muhammad. A. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Bogor. 99 . Ekonomi Ketenagakerjaan. 2003. 1985. S. Jakarta. Dachlan. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. 2002. S. Simanjuntak. IPB. Jackson. Bellante. M. Dasar Pengolahan Gula 1. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Manajemen Operasi. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. 1992. P. Kotler. P. Bogor. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Andalas. Artikel. 2005. Husnan. PT. Skripsi. Gramedia Pustaka Utama. 2000. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Studi Kelayakan Proyek. Fakultas Teknologi Pertanian. FATEMETA. Pengantar Evaluasi Proyek. Yogyakarta. Ashari. 2000. edisi 10. 1997. PT. Manajemen Pemasaran Jilid 1. F. Jakarta. 2006. S. 2005. D dan M. Ma’arif . IPB. Kotler. Grasindo. Badan Standarisasi Nasional.

lsu. Jakarta. 1992. 2002. Soejardi. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Nengah. Institut Pertanian Bogor. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. Gramedia Pustaka Utama. 1997. B. 2000. Palungkun. Pdf. PT. Foods Browning and Its Control. Tesis. Jakarta. 1990. Analisis SWOT. Yogyakarta. Bogor. 1986. Sardjono. P.sde/docs/available Rangkuti. I. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. Bogor. Kanisius. Rachmat.Muchtadi. Bogor. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Swadaya. PT. Lousiana State University.. Fakultas Pasca Sarjana. Puri. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. M. Aneka Produk Olahan Kelapa. Institut Pertanian Bogor. http:/etd. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). Reece. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. Departemen Teknologi Industri Pertanian. 1998. Bogor. N.okyanusbigiambari. 2005. F. Pembuatan Gula Kelapa. A. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Thesis. Jakarta. http:/www. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Okyanus Danismanlik. 1992. Santoso. H. T. Gramedia Pustaka Utama. Skripsi. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Bogor. R. Ozdemir. 1993. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. 1993. USA. Jakarta. B. dan Sugiyono. M. 100 . IPB. Program Studi Ilmu Pangan. IPB. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Bogor. K. Skripsi. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. E.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. 1979. Nurlela. Fakultas Teknologi Pertanian. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. R. Analisis SWOT. PAU Pangan dan Gizi IPB. Fakultas Teknologi Pertanian. N.

IPB. Bambang H. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. 1984. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. PT. 1989. H. XXI/2:22-25.. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Liberty. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. Gula Indonesia Vol. Bibliografi. Umar. Utami. Syukur. 1999.Sudarmadji. Yogyakarta.. Suhardi. S. Pasuruan. Wirioadmodjo. S dan Sumarno. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. B. Bogor. Jakarta. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. 1996. 101 .

000.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000 100.000 10.000 300.000 500. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 2.000.000.000 60.000 25.000 675.000.000.000 20.000 35.000 180.000 15.000 100.000 218.000 200.Lampiran 1.000.500.000 50.000 30.000.000 210.000 2.000 1.000.000 300.500.000 100.000.000 50.000 2.000 500.000 1.000.000 1.000 600.000 250.000 5.000 30.000 500.000 50.000 No.000.000.025.000.000 600.000 Sub Total (Rp) 110.000 1.000 600.000 1.000 500.

000 1.000 70.000.285.000.000 500.000.000 20.000 20.000.000 1.000 80.000.000.000 70.000 25.000.000 No.000 45.000 600.000 200.000 250.000.000.000 5.000 2.000 2.000 500.Lampiran 2.000 600.500.000 500.000.000 10.000 1.000 500. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000 180.000 Sub Total (Rp) 110.000 700.000.000.000 1. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000 50.000 2.000 100.000 103 .000 25.000.925.000 275.000 100.000.000 1.000 1.000.000 80.000 308.000.

000 8.000 150.000 6 6 6 50.000.000 5.000 2.000.500 135.500 204.143 18.000 54.025.000.333 150.000 Drum 600.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.887.400 2.000.000 1.000.825.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.500.800 54.800 2.900 45.857.000 10.000 67.876 104 .700 10.000 21.000 Serok 180.000 135.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.000 Alat Penyaring 60.000 Sub Total 6.000 Sub Total 49.000 100.000.000 600 20.000 Kursi 600.000 100.000 2.974.000 6.500.000.000 10 25.902.500.000 202.000 Tungku 30.000 625.000 60.000 1.000 50.200.000 587.000 Selang 300.808.000 Lemari 1.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.500 150.920.000 27.000 10 6 10 60.000 30.000.000 90.982.000.000 Instalasi Air/Pompa 1.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 3.000 83.000 4.500 141.000 60.000 18. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 30.000 1.000 Sodet 210.000 90.000.000 75.000 Meja Penirisan 1.400 8.000 1.500.700 360.350.000 182.000 Listrik 2.500 1.000 18.500.000 90.000 (Rp) 110.000 140.000 3.000 Ember Stainless 300.000 20.543 8.000 Total 216.400 5.000 Bumbung Penahan 675.800 3.400 18.000 Timbangan 1.000.Lampiran 3.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

000 885.376 4 12.500.000 20.000 6.000 2.496 1.000 9.267.610.383.120 17.808.500.412.288.500.000 2.376 Tahun Ke.412.500 32.876 10.500 32.376 5 12.200 20.270.076.808.000 129.800 84.800 9.500.000 129.500.000 20.000 8.368.974.708.960.600.825.974.270.000 8.270.602 1.876 10.500.041.Lampiran 7. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.974.(Rp) 3 12.041.500 32.960.076.974.383.496 108 .000 9.076.046.000 2.000 2.610.288.602 881.962.153.000 711.500.120 1.120 1.600.041.808.000 2.350.000 8.500.466.000 7.000 129.200 676.974.808.383.376 B C 749.120 881.876 10.000 110.500.474.600.000 2.037.978 1.153.376 573.894.383.120 881.500.000 2.960.610.383.000 919.000 2.500 32.500 32.000 8.578 2.000 8.954 2 12.153.288.412.876 10.600.876 10.600.079.808.496 1.578 13.120 2.

500.270.974.000 7 12.500 32.000 9.383.288.383.600.496 1.000 129.000 8.376 881.000 2.500.041.876 10.500 32.600.610.808.500.974.270.270.960.000 8.000 9.876 10.076.041.000 129.500.000 9 12.960.120 20.500.000 2.500 32.288.412.412.000 2.120 20.960.500.153.000 B C 9.610.(Rp) 8 12.600.120 20.153.412.600.876 10.153.Lanjutan Lampiran 7.000 8.500.500.600.120 1.876 10.974.041.974.076.041.076.876 10.288.000 2.808.000 2.500.000 1.000 9.000 8.153.496 1.000 129.000 2.496 1.120 20.376 881.153.610.000 129.000 Tahun Ke.000 1.120 2.974.120 1.041.120 1.496 1.376 881.376 881.076.000 8.960.808.500.120 1.376 881.000 2.500 32.120 20.000 2.270.000 129.383.808.412.270.000 2.383.076.412.610.808.000 10 12.500 32.000 9.610.288.496 109 . No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.288.383.960.

893 1.093 2 12.700 42.877.290.393 15.877.580.000 2.216.000 14.600 10.500.000 14.156.880 1.800 1.210.836.216.000 2.002.335.500.400 9.093 4 12.836.000 7.600.877.320 1.724.096.335.000 2.500.393 15.500.690. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.393 15.093 Tahun Ke.500.836.102.580.102.000 839.102.580.852.236.716.500.877.000 2.893 1.600.000 2.600.000 2.520 998.(Rp) 3 12.500.000 884.290.000 27.000 2.082.000 66.000 50.760.600.852.102.700 42.000 14.000 77.893 110 . Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.960.800 1.580.500.000 77.772.000 14.393 15.772.852.800 1.877.413 1.102.Lampiran 8.800 2.400 23.393 15.772.760.290.500.000 77.700 42.600 27.000 10.700 42.335.580.174.142.544.174.500.960.600.000 2.174.000 14.093 B C 763.960.093 5 12.973 1.216.680 1.000 27.800 17.000 10.133.097.700 42.760.000 2.043.800 1.

000 10.290.216.500.877.093 7 12.000 2.393 15.216.000 14.102.960.000 77.174.852.877.500.393 15.500.800 1.000 2.580.600.174.836. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.800 1.393 15.000 27.102.000 2.836.Lanjutan Lampiran 8 No.000 2.335.174.760.800 1.000 2.500.093 Tahun Ke.000 77.836.893 1.600.000 2.760.500.102.600.580.500.174.700 42.093 9 12.893 1.852.500.772.000 10.102.000 27.290.290.800 27.393 15.800 1.000 14.000 14.216.893 1.000 27.000 2.700 42.290.800 1.000 10.000 1.960.772.000 1.000 10.772.290.877.(Rp) 8 12.877.600.335.852.000 10.760.836.500.800 1.760.852.500.800 1.960.580.000 77.000 14.772.700 42.800 2.500.960.600.960.216.000 2.760.335.102.893 1.216.700 42.772.335.393 15.000 27.580.000 2.852.700 42.000 77.093 10 12.893 C 111 .000 14.000 77.836.335.580.877.174.093 B 1.800 1.

000 46.000.835.000 49.000 46.400 37.429.000 6.801 112 .Lampiran 9.100 4.000.000 4.100 100.000.000 4.500.299.604 600.200.808. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.000 391.000.000 70.601.925.000.801 B.900.140 982.076 31.761.000 6.497 264.865.039 2. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1. C.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.240 5.472 2.561 42.000 2.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000 2.000 498.693.921 737.000.000 50.000 120.800 2.421 5.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.000 335.000 826.611.825.476.500.801 364.085.200. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000.000.476.522 839.300 46.900.000 56.000 56.

750 76.506.250 15.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .015 9.749 182.250 10.250 9.111.750 10.111.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.735.000 87.250 11.012.250 5.025 28.816.380.238.500 109.400 Jumlah 132.499 15.633.250 17.Lampiran 10.506.249 23.703.400 23.221.407.450.802.450. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.561.000 10.773.660.816.901.675 16.500 98.500 10.901.407.210.750 7.750 4.750 2.523.500 Modal Kerja 23.250 30.901.375 43.901.500 21.816.630.500 154.600 54.037.500 10.249 7.500 154.250 7.816.249 28.599.962.250 1.750 7.450 14.275 87.925 21.605.407.500 109.012.250 10.000 43.901.901.225 12.712.750 32.308.450.012.500 65.500 10.825.825 65.697.816.900 132.462.142.901.238.350 22.800 26.250 13.901.030 10.050 76.462.848.794 15.749 182.125 20.000 10.633.250 98.605.499 7.900 18.250 54.150 32.814.750 10.811.012.210.249 28.863.250 19.703.250 3.380.250 10.012.308.700 10.779 7.622.223.901.924.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.787.450.250 10.901.802.636.450.901.750.886.575 24.901.142.249 23.500 109.750 1.045 12.674.

412.610.899.872.188.414.695 5.414.608 12.250 Bunga 27.801.159.400 1 28.414.728.900 138.250 8 46.750 15.142.250 5 92.250 18.800 9.304 11.828.071.414.390 13.414.955 16.107.250 7 61.250 15.238.774.250 15.800 3.640 77.082.000 15.800 1.071.495.500 20.250 40.142.400 9.657.500 1 154.737.800 3 9.600 2 18.260 8.750 23.500 43.196.075 61.712 18.421.314.238.104 0 114 .142.412.750 15.520 19.414.485.242.380 15.825.250 9 30.335 123.657.647.510 46.485.250 3 123.250 10 15.971.000 26.770 107.388.414.242.412.250 4 107.694.728.061.500 32.000 37.945 30.650 24.408 9.314.963.825 11.414.130 2.250 15.414.828.400 28.745.500 15.287.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.836.549.250 6 77.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.098.238.085 22.414.414.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.825.500 15.412.250 29.500 15.205 92.800 5.899.250 2 138.323.414.912 14.600 9.512.412.385.000 15.750 34.

883.300 3.300 3.300 378.041.376 34.883.376 34.883.847 2.300 3.376 34.300 3.825.120 1.079.120 1. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.883.270.863 2.041.270.270.897 2.578 885.270.041.041.Lampiran 11.602 1.041.000 378.700 321.270.000 378.120 1.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .376 34.300 3.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.000 378.883.041.041.847 2.883.847 2.270.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.041.300 3.000 378.883.376 34.376 34.376 34.120 1.300 3.883.847 2.000 Harga Pokok/Kg 2.847 2.847 2.376 34.847 2.270.120 1.883.000 378.120 1.000 378.120 1.300 3.000 378.376 34.300 3.883.376 Biaya Variabel (Rp) 676.270.

290.000 504.290.651 2.290.772.651 2.500 3.772.500 3.000 504.093 45.290. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.080.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.093 45.080.772.080.002.097.290.500 3.651 2.772.772.500 3.Lampiran 12.400 504.500 3.080.093 Biaya Variabel (Rp) 839.093 45.290.880 1.000 504.699 2.800 1.651 2.080.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .666 2.500 3.000 Harga Pokok/Kg 2.080.500 3.500 3.093 45.500 3.772.080.772.290.800 1.093 45.800 1.000 504.800 1.156.600 428.800 1.651 2.093 45.093 45.320 1.000 504.772.651 2.000 504.080.800 1.080.800 1.000 504.080.093 45.651 2.093 45.290.

376 1.247.616.876 168.250 4.073. Laba Setelah Pajak 65% 245.565 32.Lampiran 13.653.300 1.400.327.773. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.376 1.383.496 13.290.073.350 161.000 1.876 131.060.742 135.352.000 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.948.790.400.596 4 100% 378.041.575 160.000 32.247.015 17.653.010.496 11.431.221.400.195.973.000 810.815 156.000 1.974.353 109.967 8.383.735.060.247.247.400.876 165.350 11.041.383.825.876 86.732.843.407.295 77.290.000 32.970 133.154 8.247.689 8.000 1.120 1.575 13.974.751 8.376 885. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.929 8.490 Tahun ke3 100% 378.184.814.810.429.000 1.876 170.621 117 .810.073.784. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.805 33.000 1.519.898.400.700 810.627 8.000 32.376 676.270.030 33.978 17.757.000 32.383.800 1.247.270.641. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.045 23.697.208.843 21.773.104.602 917.064 5 100% 378.653.578 709.735.270.462.030 20.839 2 85% 321.000 1.120 1.212.974.041.376 1.383.985.496 15.788 78.409 137.974.025 2.622.474.954 19.163.400.974.000 32.660.079.120 1.055 122.

736 5.872.247.383.247.848.496 1.537. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.400.876 180.496 1.073.376 32.961.073.930 36.000 32.876 174.379 8.041.041.974.383.000 1.675 167.811.876 178.247.247.373.400.247.653.496 1.900 7. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.744 139.120 1.155 36.270.962.834.000 1.000 1.450 169.910.376 32.962.054 8.000 378.120 1.496 9.000 378.000 378.657.279 8. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.400.727.550.179 7.Lanjutan Lampiran 13.031.073.000 1.376 32.859.255 34.225 1.247.450 3.400.383.247.974.876 176.604 8.480 34.924.247.270.270.120 1.974.974.000 1.496 1.886.400.073.073.876 172.376 1. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.400.125 163.900 165.077 138.400.247.974.747 144.796.376 32.120 1.653.653.383.120 1. Uraian 6 A.851 1.000 378.675 5. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.400.041.935.125 9.000 1.653.000 1.784.705 35.400.822.000 1.897.848.000 1.139.653.412 141.294 3.041.924.270.829 8.079 142.270.811.383.759.409 118 .041.000 1.225 171.910.400.886.284.247.

580.608 28.925 190.647.800 1.163.388.955 19.093 42.390 16.000.877.333.745.600.619.580.545 110.393 421.493 24.085 3.334 14.973 1.877.764.000 42.727 86.304 23.418 56.650 5.580.330.880 1.103 312.421.676 108.400.000 1.093 839.093 42.000 1.955 411.352.600 428.446.000 1.000 1.826.390 413.152 14.283 14.772.764.971.421.320 1.218 259.893 27.912 32. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.893 1.102.146.764.000.580.772.303.000 1.000 504.225.990.290.977 119 .877.352.877.393 247.082.499. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.736.097.000.139.000 1.764.393 428. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.756.647.333.582.782 16.800 1.352.066.000 1.000.000 504.573 19.877.196.Lampiran 14.393 346.000 1.633.359.771.002.890.713.400 504.509 22.146.000.000 1.600.717 14.580.520 1.893 1.333.110 111.828.290.764 315.499.093 42.413 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.393 426.764. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.400.093 42.764.824 406. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.800 881.156.562 232.180.025 14.354.643.000 1.000.133 317.290.694.877.772.693 331.999.189.

097.000. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.540.772.774.800 1.872.426.764.000 42.000 42.333.580.893 13.130 10 100% 504.800 1.482.098.000 42.764.995.000 1.877.240 112.774.352.877.695 9 100% 504.651.173 11. Laba Setelah Pajak 100% 504.098.764.611 325.093 1.774.282 14.827.000.000.000.000.352.872.093 1.825 7 100% 504.000.549.764.893 11.333.805 113.764.290.324.352.200. Uraian 6 A.981 327.412 14.548.749.000 1.847 14.000.323.695 422.764.764.290.542 14.000 1.580.000 1.424.675 111.393 431.323.565 427.000 42.893 2.260 419.093 1.935 115.580.393 434.000.093 1.764.580.565 13.893 8.000 1.549.000.000 1.772.877.352.656.333.772.000 1.955 120 .333.893 5.000 42.260 Tahun ke8 100% 504.242 323.872 321.000 1.975.290.290.000 1.370 114.093 1.580.393 442.598.492.660.872.393 437.368 8.977 14.772.772.764.000 1.130 425. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.352.800 1.564 5.800 1.877.323.Lanjutan Lampiran 14.503 319.393 439. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.825 416. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.764.759 2.290.877.333.800 1.000.

900.462.474.953 -114. Biaya modal tetap 2.490 0 0 0 109.295 23.212.925.497 0 264. Arus kas bersih D.163.621 0 0 0 137.374 265.000 46.497 -264.954 -210.839 0 0 23.295 54.429.790.815 13. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.497 218.483.163.912.871 134.944.245 133. Nilai sisa 4.822. Laba bersih 3.429.497 0 -264.621 0 0 11.218.497 1 78.843.773.912.953 Tahun ke2 109.749 132.061 121 . Modal pinjaman Total kas masuk B.596 0 0 0 133.536 95.060 -114.212.483.735.536 119. Kas keluar 1.497 -210.055 13.Lampiran 15.369.696.431.822.104.431.490 0 0 20.750 129.749 264.064 0 0 13.025.925.732.314 4.925.218.544 -264.555.843.064 0 0 0 135. Kas masuk 1.750 130.575 6.735. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.696.428.790.925.350 6.374 5 137. Modal sendiri 5.999 3 4 135. Arus kas awal tahun E.999 4.555.596 0 0 17. Biaya modal kerja 3. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.925.571.061 134.839 0 0 0 78.462.

657.924.504.304 10 144.218. Biaya modal tetap 2.318.851 0 0 0 142. Nilai sisa 4.674 531.750 133.218.179 0 0 0 138.933.986 397.450 6.065.429 265.159 802. Modal sendiri 5.962.500 0 0 285. Arus kas awal tahun E.715.225 6.851 0 0 3.900 6.294 0 0 0 141.691.750 136. Kas masuk 1.439.218. Kas keluar 1.750 135.660 9 142.736 0 0 0 139.082.746. Angsuran pinjaman Total kas keluar C. Arus kas akhir tahun 6 138.902.544 531.943.848.284. Modal pinjaman Total kas masuk B.304 1.746.657.245 397.101 666.537.660 666.750 279.428.218.943.910.218.284.675 6.294 0 0 5.031.203 Uraian A.125 6.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.504.658. Biaya modal kerja 3.438.438.409 141.179 0 0 9.537.463 122 .203 802.910. Arus kas bersih D.886.674 7 139. Laba bersih 3.736 0 0 7.811.750 132.909 0 0 1.

573 0 0 0 312.446.509 0 0 28.322.421.493 0 0 32.771. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.826.930 -364. Aliran kas awal tahun E.643.801 0 364.977 0 0 16.521 5 317.824 288.890.643.359.761.828.801 308.955 19.946 3 4 315.693 231.771. Kas keluar 1.446.143.900 182.946 313.493 0 0 0 190.977 0 0 0 317.466.108 312.521 910. Modal sendiri 5.573 0 0 23.749 24. Modal pinjaman Total kas masuk B.562 157.322.695 123 .870 tahun ke2 259.509 0 0 0 259. Nilai sisa 4.801 -207.828.562 32. Biaya modal tetap 2.492.870 24.761.693 28.752.782 0 0 0 315.713.890.713.647.380. Laba bersih 3.143.801 -364.827 313.390 301. Aliran kas bersih D.476.359.816 -207.075.425.955 296.587 609.066.380.000 56.826.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A.782 0 0 19.801 0 -364.761.425.801 1 190. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.617. Biaya modal kerja 3.421.285.761.695 609.900 364.075.349.824 23. Kas masuk 1.761.647.390 16.

598.173 7 321.130 2.368 8 323.108 315.500 0 0 486.549.216.161.216.926.526.098.564 0 0 0 323.456 1.260 8.564 1.260 8.061 1.955 159. Laba bersih 3.130 2.004.078.872.825 11.540.456 1.841.173 0 0 0 319.783.500.933.216. Kas masuk 1.775.565 13.841.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.323.432 2.656.695 5.108 1.825 11. Aliran kas awal tahun E.368 0 0 0 321.951 124 .646. Modal sendiri 5.098.926. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.629 484.323.565 305.992.890 910.774.482.348 310.061 2.853.774.526.564 9 325.872. Nilai sisa 4.275.775.598.492. Modal pinjaman Total kas masuk B.992. Biaya modal tetap 2. Aliran kas bersih D.656.540.275. Kas keluar 1.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Biaya modal kerja 3.695 5.428.869 319. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.161.432 2.564 1.759 0 0 0 325.482.759 10 327.424.549.

304 1.328 39.691.943.210 49.314 130.404 0.925.968.718 0.831 DF PV i = 45 % 1.483.532.628 257.544 95.968.108 14.885 68.370 0.060 129.97 2.191 PV -264.917 72.024 53.103 0.915 0.96 Akumulasi -264.735.443.226 29.384 Kg/tahun 125 .798 0.660 666.311.497 -210.261 35.245 397.815.024 6.374 265.188.555.000 0.051 6.589 30.203 802.258 -50.690 37.314 0.429.999 4.225 0.075.497 46.035 4.791 59.504.159 NPV Nilai 257.944.439.732.437 0.061 134.237.925.101 279.609 0.949 0.275.339 0.986 135.074 9.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.420 0.932.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.912.476 45.822.571.847 0.919 41.808.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.544 136.438.911.442 57.953 -114.000 -264.014.874.925.156 20.369.065.920.318.753.082.925.496.969.266 0.497 54.065 0.428.497 0.658.236.954 119.454 66.715.871 132.761.516 0.) Atau 195.237 0.674 531.746.60 1.831 40.429 133.968.831.

517 166.979 92.000 0.348 310.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.863 175.847 0.108 0.425.061 2.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.074 0.816 288.040.890 NPV Akumulasi -364.473.761.859.143.216.526.757 83.775.490.970.801 -207.617.646.108 1.216.266 0.078.598.761.865 DF i = 45 % 1.743.500.466.024 PV -364.629 484.131.291.154 11.946 313.827 301.492.695 609.761.235.000 0.992.035 0.782.869 319.12 3.156 0.314 0.225 0.004.161.761.275.926.715.900.108 315.732 67.021 110.437 0.039.609 0.370 0.801 157.476 0.328 0.464 157.749 296.721.349 Kg/ tahun 126 .564 1.783.801 108.456 1.400 45.702.521 910.051 0.091.215 32.173 16.870 24.432 2.349.471.130.944 131.322.471.516 0.933.075.232 94.801 133.751 23.903.717 72.865 51.574.275 854.690 0.271.796 97.89 BEP (Rp) atau 158.853.066.841.752.980 113.838 152.34 1.930 231.718 0.794 46.191 PV -364.402 11.587 305.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.226 0.

13. 4. dan kebersihan tebu). 3. kandungan nira. 5. Mengurus perijinan usaha (legalitas). 7. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. Memperbaiki proses pengolahan. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. 2. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. terutama di bagian pemasakan. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. 8. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. 6. antara lain : 1. waktu kerja. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). fasilitas produksi. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. 12. Menetapkan tujuan perusahaan. 10. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. Memperkuat permodalan. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. kapasitas produksi.Lampiran 19. 11. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Melakukan pelatihan bagi pekerja. 127 . 9. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik.

Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 15. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. 128 .14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful