STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. 2008. From the obtained result. Ing. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. and Dr. Those strategies were carried out supportively one to another. Dipl. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. Suprihatin. Ir. raw material conditioning (cane). supervising on raw materials and products. and application effective technology. and the staged 4 . applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. marketing aspect. Rembang District). Ir. Muhammad Romli. technical and technological aspect. F3403056. such as SWOT analysis. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. and also the financial aspect. increasing market share. The strategy was done by increasing product quality. capitalization. gave four alternative strategies (SO. Brown cane sugar industry owned by Mrs. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. Supervised by Dr. ST and WT). which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. Msc. St.Mila Fadilah Utami. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. supporting facility. WO. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. and the development strategy. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. extending market.

400.791.000.900. brown cane sugar industry was feasible on both conditions. 257. 218.60 % and 51.89 year. the development condition had much better NPV than present condition.filtering of cane sap from extraction. 5 . Net B/C of 1. Production capacity for the present condition was 2.00.1 tons per day and the development condition was 2.925.384 kgs/year and Rp. IRR of 40. NPV of Rp.968.00 fixed cost. and.721.968. 854.476. PBP of 2.34. 56.497. 308. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition. But if viewed from NPV indicator. which was supported by the other investment criteria. 264. Rp. Based on the results.865. The criteria of investment feasibility for each condition in order were. 158.00 production cost. 364.761.00 which divided into Rp.025. 195.471.00 fixed cost. BEP of Rp.285. which divided into Rp.97 and 3.00.00 production cost.000.831.12 %.801. 46.00 or 45. Total investment required for the present condition was Rp.497.801.00 or 59.349 kgs/year.00 and Rp.96 year and 1. and Rp.8 tons per day. While for the development condition total investment required was Rp.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

Ir. MSc.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Januari 2008 Dr. Pembimbing Akademik II 7 . St Pembimbing Akademik I Dr. Ir. Muhammad Romli. Bogor. Dipl. Suprihatin. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Ing.

Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. Bogor.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. kecuali yang dengan jelas rujukannya. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 .

kepada keluarga dan para sahabatnya. MSc. Ir. 5. 9 .. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya. dukungan dan kasih sayang tanpa batas.. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Suprihatin..KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. 3. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. Dr. Dipl. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Ir. Ing. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. 2. Ir. Dr. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. Yandra Arkeman. yaitu kepada : 1. Ayahanda tercinta H. Eng. Muhammad Romli. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. 4. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Lili Aliah. 6. Dr. M. St. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya.

Bung Amet. 10. Naqoer. Om Ucup. Windi. Teman-teman TIN 40. Endang. Aa Indra. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. Idesh. 8. dan Bung Fardian. Para Lawalata-Ers. Dika. Mamin. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Aa Bayu. Mb Ida. Endah. Januari 2008 Penulis 10 . Bunda. 11. Da Hendrick.7. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. atas dukungan. ST yang selalu memberikan dukungan. Aa Dudi. Bang Affan. Dita. perhatian dan ketegaran kepada penulis. 12. Popo Iskandar. Yuyu. Mayang wo. Aa Ijey. Bogor. Ana. Umi. 9. Mas Umam. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. atas dukungan. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. Lucia. Sahabat-sahabat penulis.

. 6 2.................................................................................................................. 2 II................................................. 3 A. 9 3....................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS................... METODOLOGI................................................................................................. 19 IV...... 18 B....................................... PENDAHULUAN......DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR................... 15 E................. TUJUAN................................. 24 A..................................................... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS..... 18 A........ v DAFTAR GAMBAR........................................... iii DAFTAR TABEL....... 3 B.............. NIRA............................... 4 1................. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................................................................... 1 B................................................... PROSES MANAGEMEN STRATEGIS....................................................... KARAKTERISTIK INDUSTRI......................................... 24 1................. TATA LAKSANA........................................................ 27 2......................... i DAFTAR ISI.............. MUTU GULA MERAH................. 17 III................................................. 12 D..................................................................... SWOT................ ASPEK LEGALITAS...... PERBAIKAN PROSES........................................ GULA MERAH................ 1 A........................................................................................................................................................................... 30 11 ............ KARAKTERISTIK WILAYAH............................................... vii I........................................... ASPEK FINANSIAL................................... vi DAFTAR LAMPIRAN............. 15 3................................................................................................................. 14 2.......... ASPEK PEMASARAN........... PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU.................... 11 C................................................................ HASIL DAN PEMBAHASAN............ 16 F......................... KERANGKA PEMIKIRAN.......................... LATAR BELAKANG............... USAHA KECIL................................................................... 13 1...............................................................................................................................................

.................39 3................... 82 DAFTAR PUSTAKA..............71 V.......................................................................41 C..................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS........... 46 2.................................................. ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU.....................................................B.................32 2................... ANALISIS SWOT................................................................................. 68 4.............................................. KESIMPULAN DAN SARAN....................... 83 LAMPIRAN................................. ASPEK FINANSIAL............................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS............... 80 B............................ SARAN......... ASPEK FINANSIAL...................57 3.................... ASPEK PEMASARAN........... 86 12 ................................. KESIMPULAN............................................... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU...................................... 32 1......................... 46 1.................. 80 A...................................................................... ASPEK PEMASARAN............................

............... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu.............. 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ...........................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.............. Tabel 4.......51 Tabel 18.... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu.............................................................53 Tabel 20.................. Matriks Internal Eksternal...... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu............ Tabel 3................................ Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu............................... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ................ Matriks Analisis SWOT................ Tabel 5............... Tabel 2.................. Tabel 9. Tabel 6...... Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu........49 Tabel 17....................... 25 Tabel 8.......... Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ............................... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 ........................ 24 Tabel 7..............43 Tabel 12.......................................................................... Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu.....................................................43 Tabel 13............. 52 Tabel 19. 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu ..... 47 Tabel 16.......44 Tabel 14.............................68 13 ........ 40 Tabel 10........................................ Luas Areal............................................................................................. 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ..............42 Tabel 11.... Komposisi Padatan dalam Nira Tebu .................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.................................................................................... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah ......................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.............................................................. Perincian Laba Bersih......................................................................................................44 Tabel 15................................. 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .. Produksi..............

......75 Tabel 24..................... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha.......... 76 Tabel 27.....................73 Tabel 22..... 76 Tabel 26...................................................................74 Tabel 23..................... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah........................Tabel 21..... Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha.......................................... Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha................................. Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha.......75 Tabel 25................ 79 14 .......................................... Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ........................................................ Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan................

......................... 65 Gambar 15............37 Gambar 8............ Gula Merah Tebu....................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap....36 Gambar 7............................. Alat Penyaringan Nira Tebu................................................. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu.... Bahan Baku Usaha (Tebu)................................. 59 Gambar 11......... 64 Gambar 14...................................................25 Gambar 3........................................................................ Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2............................ 66 Gambar 16........... Nira Tebu Yang Mulai Mengental............. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur...................................................................... Proses Penirisan Gula...............11 Gambar 2...........................................35 Gambar 5....................................................................38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu........40 Gambar 10........................33 Gambar 4............................................... 67 15 .... Proses Penggilingan............... 60 Gambar 12....................35 Gambar 6... Boiler dan Wajan Uap................................................................ 63 Gambar 13........ Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap................................................... Proses Penggilingan.................................. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak......... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu......................................................

...............86 Lampiran 2....90 Lampiran 6........... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1.................96 Lampiran 10.........100 Lampiran 13.......................88 Lampiran 4................................. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2..................... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1....................................................92 Lampiran 8............................ Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung...................89 Lampiran 5.....................................................................97 Lampiran 11.............. Biaya Operasional pada Skenario 2... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2.................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.......... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2.................................................................. 107 Lampiran 17. 109 Lampiran 18................... 110 16 ............... Kriteria Investasi Skenario 1.............. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1............... Komposisi Modal Tetap Skenario 1.99 Lampiran 12............................................................................. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit............................. Komposisi Modal Tetap Skenario 2.............94 Lampiran 9............................ Perhitungan Biaya Bahan Baku...........87 Lampiran 3............. 105 Lampiran 16....................................... 103 Lampiran 15............................................................ Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1..... Biaya Operasional pada Skenario 1................................................91 Lampiran 7.. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2... Kriteria Investasi Skenario 2.......... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2............................... 101 Lampiran 14........

140. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. dan bahkan ada yang cenderung hitam. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI.555 ton. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. 17 . PENDAHULUAN A. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. Menurut Rosby (2004).I. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal. variasi bahan baku.6 juta ton/ tahun. 2002). Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. mulai dari kuning. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya. sementara produksi hanya sekitar 2. Namun. 2005). merah. kadar abu dan kekerasannya. yaitu warna.488 hektar. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela.86 hektar. coklat. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten.127.

Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu.Selain warna dan kekerasan. Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. yang mencakup analisis SWOT. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. b. aspek pemasaran. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 18 . dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. pasir. serta aspek finansial. aspek teknis dan teknologis. B. Menurut Herman (1987).

disamping nira yang kurang baik (Herman. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. 2002). 19 . 1986). yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya.0. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. rasanya asam serta baunya menyengat.1992). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. pengadukan selama pemasakan. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. protein. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses.5-6. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. dan lemak). Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan.II. tingkat kematangan. 1987). Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. tergantung pada jenis tebu. Menurut Puri (2005). 2003). NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. dan berlendir. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. TINJAUAN PUSTAKA A. asam-asam organik. Santoso (1993) menyatakan bahwa. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. berbuih putih. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. kondisi geografis. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. 1979). namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece.

Tabel 1. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri.001-0.0-90.6 0. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1.5 1.0-4.05 3.50 0.0 0.001-0. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap. lemak dan fosfolipid 0. lontar atau siwalan.5-5.5-4. 1993). Gula merah banyak 20 . Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga. tauco.5 1. aren.0-3.0-4.03-0.0 70.04-0. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa. 1984).0 2. (1998) dalam Reece (2003).5 B.1-3.18 0.0 1.15 75. produk cookies. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.0 2.0-94. dan tebu (Dachlan.5-0.5 1.0-4.0 0. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso.5-2.Menurut Poel et al.

industri perhotelan.0 G.6 0.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.0 9.0 7. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan.0 G.0 79.0 0.0 0. C Air Sumber: Tan.0 0.2 0. hingga pabrik anggur. supermarket.0 0.0 95.0 0.0 76.0 0. yaitu 364 per 100 gram.0 76. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori. B2 Vit.0 0.0 04. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.03 0.Merah Tebu (mg) 356.0 9.0 2.0 94. B1 Vit.0 0. (Warastri..0 10. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.0 0.0 0.0 3.0 0.0 37.0 5. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.4 Madu (mg) 294 0.0 0. A Vit.0 3.02 0.0 5.0 0.6 51. Pasir (mg) 364.0 0.0 16. 2006).0 44.0 1. 2006).0 4.3 0. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al.1 0.0 0.5 5. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir). Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.Kelapa (mg) 386.Aren (mg) 386.0 75.0 20.0 35.0 0. Dilihat dari segi kesehatan.9 0.4 G.0 0. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori.0 0. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi.0 0.diminati di Jerman dan Jepang.0 10.5 90. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi. pabrik kecap ekspor. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder. 21 . Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih. Tabel 2.4 0. 1981).

kekeringan. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. 1993). karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. maupun kadar kotoran. dan kekerasannya. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. warna. warna. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. 22 . Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. 1993). non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak.Tabel 3. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. yaitu bentuk. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. yaitu rendahnya teknologi pengolahan.

0 Maks 40.penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa). 23 .03 Maks 0.timbal (Pb) mg/kg .0 Maks 8.0 Maks 2.bau . Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela. disamping nira yang diolah kurang baik. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.0 Maks 40. a. Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 0.03 Maks 0.warna . 2002).1 Maks 20 Maks 200 Maks 2. b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa).0 Maks 40.seng (Zn) mg/kg . Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.0 Maks 40.0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.0 Maks 0.0 Maks 2.residu mg/kg . gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.timah (Sn) mg/kg .benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .rasa . Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.tembaga (Cu) mg/kg . 1 Keadaan . Mengenai warna. b/b 3 Air. b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet . Menurut Shallenberg et al.raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.Tabel 4.0 Maks 10. dalam Nurlela (2002).

Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. 24 .kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor.. 1997). b. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. 1989). 1993). Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. dan lemak dalam nira. protein. kadar air. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. seperti mutu nira. Semakin baik mutu nira. c. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. 1993). Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. basa. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. dan kadar lemak. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu.

Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. 1993).Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. 1984). Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. sedikit asam. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. 1990). dan berbau karamel. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. 2. 2006). gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. d. 25 . Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan.

2006). Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila suhunya terlalu tinggi.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. 1993). Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. dan serangga. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. 1986). 26 . Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. daun kering. minyak kelapa. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. 2002). 1993). Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. atau kemiri yang dihaluskan. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari.

Menurut penelitian Nurlela (2002). keras. proses produksi. dan pengemasan produk (Sardjono. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku. 27 . 1986).5 – 5. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1.6. dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal.

Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3.43%. 290C-0. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata.067%.067% dengan alasan praktis dan efisien. 290C-0. yaitu : 1. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. kadar abu 37.84%. intensitas pengadukan. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja.10%. dan kadar lemak 67. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses.033%.100%.067%. total kotoran 50. kadar glukosa 76. kadar protein 64. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik.58%. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0. pengadukan selama pemasakan. 1 milyar atau kurang. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil. 200 juta. serta kebersihan alat. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 . C. 750C-0. 750C-0.100%. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2.69%. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.13%. meliputi suhu dan waktu pengolahan.18%. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial.

3. 3. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . 2. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. 4. yaitu : 1. 2. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. mengimplementasikan. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. Bidang usaha industri pertanian 3. Bidang usaha industri non pertanian 4.4. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. Bidang usaha perdagangan 2. D. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar.

fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. 1998). menetapkan sasaran jangka panjang. Sesuai dengan pendapat David (2004). Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. 3. Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. 30 . Menurut Jauch (1998). manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. 2004). Selain itu. menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. baik besar maupun kecil. 1998). 2. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. 1998). 1. yaitu: 1. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan.

Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. 2000). 31 . 1997). 2005). Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. 2000).2. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. 1997). Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. 3. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. 1998). Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan.

perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. 2004). kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. fitur. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. harga. distribusi. dan teknologi untuk produksi. E. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Bagi pemasaran produk barang. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. 2000). dan promosi (Umar. 2003). serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. peralatan. 2005). dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. Menurut Kotler (2005). dan pengemasan produk.menawarkan. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. 32 . 2003). serta pemilihan mesin. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. rancangan. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. yang mencakup mutu. yaitu produk. pemberian merek. 2005). baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad.

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Break Event Point (BEP). dan analisis sensitivitas (Gray et al. estimasi aliran kas proyek. 33 .. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. yaitu metode Net Present Value (NPV). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. 1992). Internal Rate of Return (IRR). Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. sumber dana dan biaya modal.F. Pay Back Period (PBP). 2000).

ketersediaan bahan baku dan potensi lahan.III. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. serta aspek finansial. antara lain analisis SWOT. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. dan harga gula merah tebu lebih murah. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. aspek pemasaran. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. METODOLOGI A. aspek teknis dan teknologis. Namun. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. 34 . untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. volume produksi tebu. Oleh karena itu.

Kabupaten 35 . Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Data Sekunder 1. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. pedagang (distributor). jurnal. dan aparat setempat. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Data Primer 1. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. internet. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Jawa Tengah. Tabel 5. Tahun 2007. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. kebutuhan finansial 2.B. TATA LAKSANA 1. Informasi lain 2. internet. Lembaga Swadaya Informasi IPB. konsumen. Kondisi wilayah 2. aspek pemasaran. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. alat. pengamatan langsung. Aspek teknis teknologis (bahan baku. BPS. Jenis Data I. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. bahan tambahan. dan wawancara atau pengisisan kuesioner. proses produksi). Data primer diperoleh melalui eksperimen. pedagang (distributor). Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Kualitas gula merah tebu II. petani tebu. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. dan literatur lainnya. Konsumsi gula merah tebu 3. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut.Rembang digunakan sebagai rujukan. proses produksi. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. 3.. Net B/C. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. pengadaan bahan baku. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. dan PBP. 5. a. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. 4. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. BEP. 1992). IRR. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 .

maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. 1. 3. n) 37 . Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. 3.... Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. 1. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol.. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. 2000)... n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi. maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya. Jika nilai NPV sama dengan nol. 2... 3. 2. 2. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad.. yaitu : 1. Menurut Gray et al. b.

. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. c. b. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. 38 .. c. 3. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku.. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek layak untuk dilaksanakan. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. 2.. 1. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.

d. Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan. 2000). BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad. 2003). Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 .

HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1.859 353 75 185 57 40 64 4. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 . Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.127. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. Sulang.86 hektar.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan. Tabel 6.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.127 686 462 397 2.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.140.IV.

087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.020 3. Luas areal.9.955 3. Produksi.390 722.221.380 3.720 3.948 3.488 hektar.015 1. P5 864 dan BZ 148.360 392.140 4.000 3.700 3.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.700 3.997 4.951.672 369.050.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.555 3.510 3.791.462 90.390 619.917.353.994 1.127.235 503 29 52 439 10 47 2. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006.462 3. Tabel 7. Produksi. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.582 566.300 322.130 3.300 23.718 11. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya. Luas areal.960 3.398 3.305 109 181 554 27 119 6.767 16.582 12.420 1. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.697 3.390 62.070 3. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada umumnya 41 .701 1.

kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. sebagai media komunikasi. 42 . baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Bagi para pengusaha gula merah tebu. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. Namun. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Gambar 2. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan.. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Menurut Soentoro et al.

Selain gula tumbu. Menurut Soentoro et al. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi.. proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. (1999). Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Namun.B. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. Di Kabupaten Rembang. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Pada awalnya. 43 . yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut.

usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. 3. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG.Tabel 8. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. PG Trangkil 800 ha. perawatan. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing.00-Rp. bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir.00. pengendalian. 4. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. 44 . Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. Sebaliknya. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Namun. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja).550. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. berdiri dan berkembang sendiri. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp.200. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya.

Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. misalnya industri makanan dan minuman (PT. Indofood. PT. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. Pembentukkan Paguyuban. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. ABC dan PT. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Cap Orang Tua). yang dilakukan oleh suatu LSM. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. Revitalisasi Alat 3. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Data terakhir diperoleh. diantaranya yaitu : 1. 45 . Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu.

Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Dalam prakteknya. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Menurut BPS (2003). Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. 46 . Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan.2. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu.

Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. Pada tahun 1991. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. 47 . mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). rendemen tebu masih relatif rendah. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Selama satu periode panen. 10 ha lahan sewa. yaitu berkisar 7 – 8%. yaitu tebu 864 dan BZ 148. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. dan sisanya membeli dari para petani lain. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. yaitu 8 – 12 bulan. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993.C. Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Pada awal produksinya. dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. Pada awal panen. Mulai tahun 1998. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Ibu Arini membuat gula tumbu.

pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). dua orang di bagian penggilingan. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. sehingga nira tebu dapat terekstrak. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Pada umumnya. dua orang di bagian pemasakan. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. Selanjutnya. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a.12–0.1. 48 . dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus.13 ha). Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Dalam satu hari kerja. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. tetapi 4–5 kali pemasakan. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7.

Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Apabila suhunya terlalu tinggi. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. 2003). 2006). proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. maka debu dan kotoran (daun. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. Pada prinsipnya. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. Gambar 4. Proses Penggilingan b. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. 49 . Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja.

agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. 50 . 1993). Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. maka gulali tersebut sudah matang. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. ketika nira mulai dipanaskan. selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. 2006). Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). kemudian mengangkatnya.

Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. biasa disebut dengan meja. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan.Gambar 5. Gambar 6. 1985). Nira Tebu yang Mulai Mengental d. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Sebelum gula dipindahkan. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. serta membentuk benang-benang gula. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu.

2002). baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. f. Gambar 7. Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. Gula Merah Tebu 52 . Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. e. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Pengadukan untuk meratakan panas.

Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

00.00Rp. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. industri penghasil jenang (dodol).00Rp. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. Semarang. 55 . 200. PT. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur. 150. 3. diantaranya gula dengan mutu baik. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. perusahaan kecap dan permen. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. 4. Jadi. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen.00Rp. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. Cap Orang Tua. Pati. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya.600. 100. Pasuruan.2. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp. Remaja sebagai pengumpul besar. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota. dan Yogyakarta. ABC. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar.550. Kudus. PT.200. antara lain Rembang. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. sedang dan jelek.600. Indofood.00. sebagai pihak ketiga. Oleh karena itu.00.2.00-Rp.100. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. 3. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah.00 dan gula merah tumbu Rp.

Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 . Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Kecamatan Pamotan. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Remaja. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Remaja. yang terletak di Desa Japerejo. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9.

Pada tahapan awal. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. 2000).3.000. sumber dana dan biaya modal.00. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. b. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. seperti bank. 57 . baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. pendirian bangunan. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. a. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10.025. estimasi aliran kas proyek. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. 1997). Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.

000. tenaga kerja langsung. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.000.000 Total Modal Tetap 218. 58 . Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. depresiasi. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.000.200.000 49. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi.000 6.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.825. pemeliharaan.000 2.Tabel 10.) 110. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.000 50. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. kemasan.025. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. biaya variabel (biaya bahan baku. administrasi dan telepon).

seperti terlihat pada Tabel 12. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.925. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.497 B.000 335. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. 59 .900. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.500.693.900.601.604 600.497 264.000 4.421 5.925.400 37.) 218.299.000.472 2.835.000 46. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. C.497 c. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.000 46.00. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.076 31.921 737.497.025.100 4.Tabel 11. Tabel 12.000 498.

Tabel 14. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.031.012. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.790.450.910.429.284.249 132.) 78.657.462.851 144.163.431.212. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.409 e.839 109.736 141.450.596 135.Tabel 13.462. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13.490 133. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu. d. Break Event Point 60 .012. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).179 139.537.621 138. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7. Internal Rate of Return (IRR).249 132.064 137.500 23.749 Modal Sendiri (Rp) 109.294 142.500 23.

Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol).(BEP). Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.969 Kg/tahun.96 tahun.968.384 Kg/tahun. diperoleh NPV Rp 257. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195.97.60 %.00.968. dan Pay Back Period (PBP).831. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %.00 atau 59. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Titik impas tercapai pada saat produksi 63.791. 61 . Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1.

Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. pemasok bahan baku. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. sosial. yang meliputi kebijakan pemerintah. ekonomi. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. dan teknologi. kegiatan pemasaran. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. kondisi keuangan. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1.D. pasar. lokasi pabrik. teknologi proses yang akan digunakan. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. kegiatan operasional. pesaing. legalitas perusahaan. 62 . serta kebersihan dan kesehatan produk. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan.

Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Proses produksi sederhana 3. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Teknologi manual dan sederhana 2. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Diversifikasi produk 5. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Harga BBM naik 5. Belum berbadan hukum 6. Produk belum distandarkan 11. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Potensi pengembangan 6. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Bahan baku mudah 4. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Ketersediaan modal terbatas 7. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Kualitas SDM yang rendah 8. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4.Tabel 15.

kualitas SDM yang rendah. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. produk belum sesuai dengan SNI. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. lokasi pabrik cukup strategis. bangunan pabrik tidak permanen. 64 . Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. proses produksi tidak konsisten. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. ketersediaan modal terbatas. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.816. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. belum berbadan hukum. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir.a. memanfaatkan tenaga kerja lokal.

161 0.054 0.138 0.054 0.061 0.107 0.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.207 0.057 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0.161 0.184 0. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.054 0.184 0.Tabel 16.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.042 0.054 0.215 0. Belum berbadan hukum 6.042 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Teknologi manual dan sederhana 2.816 65 . Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.000 2.069 0. Ketersediaan modal terbatas 7. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0.172 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.169 0.184 0.215 0.100 0. Bangunan pabrik tidak permanen 10.057 0.084 0. Internal Kekuatan (Strengths) 1.050 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.061 0.061 0.207 0. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Produk belum distandarkan 11.069 0. Proses produksi sederhana 3. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.172 0.069 0.054 0. Kualitas SDM yang rendah 8.

ketersediaan lahan dan bahan baku. 66 . serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah. dan gula merah telah populer di masyarakat.b.686. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. didapatkan total skor sebesar 2. diversifikasi produk. memiliki langganan. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). bahan baku mudah. penampakkan produk yang kurang menarik. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. harga bahan baku di PG lebih tinggi. pajak dan ijin usaha. harga BBM naik. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG).

298 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.080 0.093 0.240 0.077 0. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.154 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Diversifikasi produk 5.269 0. Bahan baku mudah 4.221 Ancaman (Threats) 1.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.279 0.167 0.099 0.083 0.080 0.250 0.240 0. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.080 0.090 0. Harga BBM naik 5.686 67 .000 2.083 0. Potensi pengembangan 6.Tabel 17.077 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.083 0.154 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.080 0.333 0.

0 Lemah 1.Tabel 18. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. melalui kerjasama dengan pihak lain.0 Tinggi Kuat 3. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas.0 Rata-rata 2.0 I 3.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2.0 Rendah II III V IV VI VII 1.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. perluasan pasar. 68 . Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. dapat disusun matriks IE. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2.

2. Memperluas daerah pemasaran 3. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Membina SDM yang dimiliki 6. Diversifikasi tebu 5. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Bahan baku mudah 4. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Menerapkan goodhouse keeping 5.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Belum berbadan hukum 6.Teknologi manual dan sederhana 2. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.Tabel 19. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Ketersediaan modal terbatas 7. Potensi pengembangan 6. Tenaga kerja lokal 4. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Meningkatkan kualitas produk 7. Produk belum distandarkan 11. Proses produksi sederhana 3. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Kualitas SDM yang rendah 8.

Memperluas daerah pemasaran. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. 1. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. serta pedagang eceran. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. industri pengguna gula merah. untuk konsumsi rumah tangga. 70 . serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. 2000). pengumpul dan industri pengguna gula merah. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST).Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). dan Semarang). Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Kudus.

Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. mengoptimalkan pembagian kerja. mempermudah akses pemasaran. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. Membentuk kelompok usaha bersama. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. Selain itu. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan.2. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. 71 . hingga penyimpanan dan pemasaran produk. 3. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi.

Menerapkan goodhouse keeping. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). pengontrolan dan pemantauan. agar menjadi lebih terampil. dan penggunaan teknologi yang sesuai. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. Meningkatkan kualitas produk. ulet. mengorganisasikannya. proses pengolahan yang optimal. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Membina SDM yang dimiliki. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. dan dapat bekerja efektif serta efisien. Selain itu. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. Tujuan 72 . karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk.

kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. mempertahankan dan mengembangkan usaha. 2. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. memperkuat posisi produk dan perusahaan. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. 73 . Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). 4. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. dan memperluas pangsa pasar. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas.

2. dibersihkan dengan arit atau pisau. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. 74 . yang dapat mengotori nira hasil gilingan. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan.1. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan.a. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. a. a. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan.

yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). menyelimuti dan memanaskan wajan. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. Air 75 . Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang. Selain itu. Alat Penyaringan Nira Tebu a.Gambar 10. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer).3.

dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Bahan baku yang 76 . dengan harga solar Rp. 4. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. PS 864 dan BZ 148.500.4. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. Karena menggunakan air sumur. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. b. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Boiler dan Wajan Uap a. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Selain itu. dan air sumur. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. bahan bakar solar dan oli. Gambar 11.00/ liter. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia.

dan umur tanaman. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. c.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. 150. Pemberian dosis kapur. dengan umur tebu 8-10 bulan. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. 2005). kondisi perkebunan.00/ ton tebu. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu.997 kg. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan.00-Rp. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November.000.050. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. 130. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. 77 . Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton.000. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. kondisi batang.

Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Selanjutnya. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira.1. 78 . penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). d. Proses Produksi d. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. letak drum di atas bak penyaringan pertama. yaitu sebelum masuk ke wajan. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. 1984). Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember.

yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Gambar 12. Proses Penggilingan d. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas).Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. lapisan bagian luar dan bagian dalam. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu.2. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut.

Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. ketika nira mulai dipanaskan. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Gambar 13. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. kemudian mengangkatnya. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Karena jika tidak dibuang. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. dengan menggunakan mesin pompa air. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan.untuk proses pemasakan berikutnya. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan.

4. serta membentuk benang-benang gula. Pengadukan untuk meratakan panas. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan.3. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan.d. Sebelum gula dipindahkan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. 1985). Gambar 14. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan.

gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Sedangkan. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. Selanjutnya karung yang telah diisi gula. d.5. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. 2002).masih berlangsung dapat segera terhenti. 82 . Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela.6. Proses Penirisan Gula d. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. Gambar 15. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel. Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

550.00-Rp 200. Penerapan pengembangan teknologi di atas.00. sedang dan jelek. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. dan promosi (promotion). harga (price). Menurut Kotler (2005). Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. pemberian merek. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan.00. fitur. dan pengemasan produk.00 dan gula merah tumbu Rp 2.00-Rp 3. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna.600.00-Rp 150. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. tempat (place). Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. rancangan. yang mencakup mutu. Tabel 20.00. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.3. Seperti yang dijelaskan sebelumnya.200. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100. rasa dan kekerasan oleh pengusaha.600. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi.00-Rp 4.

maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. harga cenderung turun. Namun pada saat awal panen.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. harga gula merah tinggi. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada masa puncak panen. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Ketika harga jual gula merah rendah. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Distribusi gula merah relatif sederhana. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. yaitu permintaan langsung dan 85 . Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. tenaga kerja langsung. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.285.285. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Tabel 22. administrasi dan telepon).000. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22.000. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi.000. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 . depresiasi. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. biaya variabel (biaya bahan baku.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.c. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.000.00. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.) 110. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang.000 70. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.000 Total Modal Tetap 308.200. pemeliharaan.000 120. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.000 6.000 2. pendirian bangunan. kemasan.085.

240 5.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.000 826.000 4.429. Tabel 24.140 982.400.690.300 46.801 d.800 2.00 seperti terlihat pada Tabel 24.000.865.000 56.611.808. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.522 839. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp. Tabel 23.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.000 56.761.801 364.561 42.000 391.476. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Jangka waktu pengembalian modal 91 .476.285.039 2.500. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.

509 312.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.482. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.643. e.771.500 28.424. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.573 315.238.713.598.493 259.142.900 Modal Sendiri (Rp) 154.977 319. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.380.955 92 . Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.540. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Tabel 26.500 28.142.368 323.238.446.782 317. ) 190.759 327. Tabel 25.400 182.564 325.656.380.826.173 321.400 182. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.

Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek.721. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158.00 atau 45. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Maka layak untuk dilaksanakan. 93 .349 Kg/tahun.349 Kg/tahun.34 memiliki nilai lebih dari 1. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Nilai yang diperoleh yaitu 3. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan.471. sehingga layak dilaksanakan. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Internal Rate of Return (IRR).865.400. Nilai IRR-nya adalah 51. dan Pay Back Period (PBP). Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Break Event Point (BEP).f.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).12 %.

Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. Selain itu. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. 94 . untuk memperkuat keberadaan suatu usaha.89 tahun. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini.

300.Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar .Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.Distribusi ke daerah Rembang.00.00.Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .791.800 kg/hari 3. Net B/C : 3.Harga produk lebih rendah (Rp 3.Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Tabel 27.968.Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.00) . Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan . PBP : 1.Harga . BEP : Rp 195. Pati.Sanitasi pabrik .34. Pemasaran .Proses pengolahan .100 kg/hari . PBP : 2.349 Kg/tahun).Tidak dilakukan promosi . Net B/C : 1.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .Konsumen industri .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .96 tahun Modal : Rp 264.Penyimpanan produk di tempat terbuka . dan Yogyakarta .801. Pasuruan. Produksi : 2. IRR : 40.400.Distribusi .497. Kudus.Produk .Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.00 (45. BEP : Rp 158.97.Bahan bakar bagas berundak). sedang.00.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .Promosi . Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1. Semarang.Bahan bakar bagas .831.968. Produksi : 2.761. Teknis dan teknologis .Konsumen industri dan rumah tangga .60 %. pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2.Penyimpanan produk .500.Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) .471.384 Kg/tahun).00. dan jelek) .Harga produk lebih tinggi (Rp 3.Bahan baku .12 %. IRR : 51.89 tahun Modal : Rp 364.865.721. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .00 (59.Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .925. pemasakan gula tidak konsisten .00) .

yang meliputi warna. WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. meningkatkan pangsa 96 . KESIMPULAN DAN SARAN A. rasa dan kekerasan. diantaranya variasi bahan baku. serta sanitasi dalam proses pengolahan. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12.015 Ha. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi.V. melalui kerjasama dengan pihak lain. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). sedang dan jelek. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. ST strategi.955 ton. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik.050. yaitu SO strategi. Selain itu. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. memperluas pasar. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. Berdasarkan hasil yang diperoleh. rendahnya teknologi pengolahan. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. serta sarana dan prasarana lainnya. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. pengawasan bahan baku dan produk.

yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan.497.801.025. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.00. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari.00.pasar.925. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. IRR sebesar 40. dan 51.60 %.00 dan modal kerja Rp 46. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan.865. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu. NPV sebesar Rp 257. Berdasarkan hasil tersebut.00 dan modal kerja Rp 56.000.89 tahun.00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.471.400. PBP sebesar 2.791. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.34. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.12 %.831.476.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.968.801.721.900. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini.349 Kg/tahun.96 dan 1. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.285. BEP sebesar Rp 195.761.384 Kg/tahun dan Rp 158.000. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.00 atau 45.97 dan 3.00 dan Rp 854. Net B/C sebesar 1. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. 97 . usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi. dan menerapkan teknologi tepat guna.00 atau 59.968.497. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu.

2. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. 3. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi.B. SARAN 1. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). 98 .

IPB. Wijandi. FATEMETA. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. P. Kotler. Indeks Kelompok Gramedia. 1984. Ashari. SNI 01-6237-2000. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. N. Bogor. F. 2005. David. Manajemen Strategis. Kotler. Dachlan. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Jakarta.. C. Bogor. 1985. Jackson. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Pengantar Evaluasi Proyek. 2006. 1997. Fakultas Teknologi Pertanian. 1992. P. Jakarta. BBHIP. Laporan Penelitian. Dyanti. 2000. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jakarta. Universitas Andalas. LPFE UI. Jakarta. Gray. Manajemen Operasi. 2000. 2005. Jakarta. Yogyakarta. P. Simanjuntak. S. Ma’arif . Ekonomi Ketenagakerjaan. Bellante. Studi Kelayakan Proyek.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. 2004. Salemba Empat. Badan Standarisasi Nasional. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. P. Jakarta. PT. Gula Merah Tebu. Gramedia Pustaka Utama. IPB. 1987. 2003. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Artikel. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jakarta. Indeks Kelompok Gramedia. Husnan. Jakarta. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Agro Industri Press. PT. Industri Gula Merah. S. Goutara dan S. S dan Hendri. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Kotler. dan Muhammad. Jakarta. Skripsi. Indeswari. 1990. Dasar Pengolahan Gula 1. M. Badan Standarisasi Nasional. PT. Padang. Proses Pembuatan Gula Merah. 2005. Grasindo. A. PT. 99 . 2002. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. S. Indeks Kelompok Gramedia. Bogor. edisi 10.. D dan M. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi.

P. Reece. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. M.sde/docs/available Rangkuti. N. Ozdemir. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Pembuatan Gula Kelapa. K. 100 . 1992. Santoso. N. PAU Pangan dan Gizi IPB. R. Bogor. Tesis. USA. 2002. Institut Pertanian Bogor. http:/www. PT. Thesis. Fakultas Teknologi Pertanian. Gramedia Pustaka Utama. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). M. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Analisis SWOT. 1986.okyanusbigiambari. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian.. A. Okyanus Danismanlik. Teknik Membedah Kasus Bisnis. IPB. Foods Browning and Its Control. Swadaya. T. Aneka Produk Olahan Kelapa. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Rachmat. Institut Pertanian Bogor. E. 1979. Palungkun. Yogyakarta. I. Soejardi. 2005. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Lousiana State University. Jakarta. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Jakarta. IPB. PT. Bogor. 1993.Muchtadi. B. Pdf. Puri. 1992.lsu. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Jakarta. dan Sugiyono. Bogor. H. 1993. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. Fakultas Teknologi Pertanian. Sardjono. Jakarta. 1997. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Skripsi. Bogor. Analisis SWOT. 1990. B. Program Studi Ilmu Pangan. 1998. Bogor. Nengah. http:/etd. 2000. Kanisius. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. F. Skripsi. R. Gramedia Pustaka Utama. Nurlela. Bogor. Fakultas Pasca Sarjana.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods.

. 1984. Penerbit Liberty. Gula Indonesia Vol. XXI/2:22-25. B. 1999. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. Wirioadmodjo.. S. Studi Kelayakan Bisnis. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Umar. Syukur. Jakarta. H.Sudarmadji. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. 1989. PT. Bambang H. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Gramedia Pustaka Utama. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. Bogor. 2003. Pasuruan. IPB. 101 . S dan Sumarno. Bibliografi. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Yogyakarta. Utami. Suhardi.

000 300.000 35.000 2.000 30.000 25.000 No.000.000 600.000.000 60.000.000 30.000 210.500.000 5.000 50.000 500.500.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000.000 1.000 20.000 600.000.000 15.000 2.Lampiran 1.000 100.000 2.000.000 300.000 Sub Total (Rp) 110.000. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 200.000.000 500.000 180.025.000 250. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000.000.000 1.000.000 600.000 50.000 100.000 675.000 1.000 1.000 1.000 500.000 10.000 500.000.000 218.000 50.000 100.000.

000 1.000 1.000 250.000 45. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.925.000 25.000 500.000.000 600.000 308.285.000 1.000 80.000.000 Sub Total (Rp) 110.000.000 100.000 80.000.000 25.000 20.000 5.000 70.000.000 2.000 No.000.000 500.000 20.000 700.000 2.500.000.000.000.000 500.000 1.000 70. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000.000 2.000 600.000 10.000.000 180.000.000 500.000 200.000 103 .000 50.000.000 1.Lampiran 2.000 275.000.000 100.000.000 1.000.

500.000 202.800 2.000 182.000 10 6 10 60.000.000 60.500.000 150.974.000 135.000.543 8.000 6 6 6 50.000 54.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.000 2.700 360.400 5.000 100.500.000 2.887.000 Meja Penirisan 1.000 10 25.000 10.000 587.000 90.000 50.000.Lampiran 3.500 204.000 (Rp) 110.000 Selang 300.143 18.900 45.000 Bumbung Penahan 675.000.500.000 Sub Total 49.000 600 20.000.000 Tungku 30.825.000 18.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.000 3.000.000 Ember Stainless 300.000.000 140.000 Kursi 600.500.400 8.000.000 100.000.000.920.000 3.400 18.800 54.000 625.000 30.000 1.000 Lemari 1.000 Instalasi Air/Pompa 1.333 150.000 Sub Total 6.000 21.808.000.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.000 Sodet 210.000 Serok 180.000 30.000 Timbangan 1.000 90.000 1.000 Total 216.500 141.000 6.000 90.000 Alat Penyaring 60.025.000 18.000 27.500 135.700 10.000 1.000 20.982.000 5.000 67. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 8.000 Listrik 2.000 Drum 600.000 83.800 3.350.000 60.000 1.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.857.500 1.000 75.902.400 2.500 150.876 104 .000 4.200.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

974.808.000 110.000 2. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.000 2.383.383.153.000 8.500.153.120 1.288.876 10.376 5 12.500.041.960.808.466.960.383.120 1.600.000 919.076.270.825.041.500.079.076.578 13.350.578 2.000 9.610.376 Tahun Ke.000 20.412.500.000 8.496 108 .876 10.602 881.412.000 20.496 1.153.500.200 676.000 2.270.602 1.376 573.974.500 32.000 8.368.600.474.800 84.000 7.600.978 1.000 129.120 2.000 9.383.500.000 2.500 32.000 2.500 32.894.000 129.960.974.610.876 10.000 2.288.000 129.808.037.000 711.120 881.000 8.974.500.500.808.500.376 B C 749.288.954 2 12.808.600.(Rp) 3 12.000 8.610.120 881.876 10.200 20.000 2.876 10.600.376 4 12.962.270.041.496 1.500 32.412.500.000 6.708.383.800 9.974.046.076.267.000 885.500 32.120 17.Lampiran 7.000 2.

041.500 32.000 9 12.000 8.000 Tahun Ke.376 881.600.500.000 7 12.960.288.500 32.960.876 10.960.500.076.600.000 10 12.120 20.610.041.876 10.000 8.496 1.610.000 129.120 1.041.412.808.974.000 2.153.496 1. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.383.(Rp) 8 12.600.000 129.076.500 32.412.153.383.120 1.876 10.000 129.120 20.500 32.500.000 129.288.270.270.Lanjutan Lampiran 7.960.808.000 1.610.808.000 2.376 881.610.376 881.000 2.496 1.153.041.076.383.270.000 2.000 2.500.120 20.500.876 10.974.076.120 20.120 1.376 881.000 9.120 20.288.960.000 1.412.153.000 8.270.974.153.000 8.000 2.041.000 9.000 2.500.610.808.600.288.000 9.000 129.076.120 1.500.000 B C 9.500.500.974.412.000 2.000 8.974.383.120 2.496 109 .496 1.808.500.000 2.288.412.000 9.876 10.270.500 32.376 881.600.383.

000 14.600 27.102.093 B C 763.500.097.216.102.700 42.000 77.500.960.893 110 .102.500.335.142.600.960.093 4 12.413 1.043.800 1.000 2.133.600.580.772.600.000 839.600 10.174.800 1.700 42.772.102.216.Lampiran 8.000 2.000 2.600.093 5 12.500.000 66.800 1.852.800 17.600.836.174.000 2. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.893 1.580.093 Tahun Ke.852.500.393 15.580.000 14.335.877.544.772.800 1.335.290.082.880 1.500.000 884.000 10.290.(Rp) 3 12.096.000 77.680 1.320 1.000 2.000 2.156.700 42.000 10.760.000 7.393 15.000 27.000 77.877.852.000 27.102.000 2. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.210.000 2.800 2.500.836.893 1.700 42.000 14.760.393 15.580.877.724.690.580.700 42.093 2 12.877.000 50.973 1.000 14.500.000 14.174.400 9.500.393 15.216.393 15.716.236.877.290.000 2.400 23.960.520 998.760.002.836.500.

700 42.000 77.000 14.500.000 77.000 2.960.600.290.852.000 27.760.000 14.000 27.772.960.580.000 14.093 10 12.836.500.000 77.760.960.800 1.580.000 10.893 1. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.000 77.000 1.000 14.174.216.760.772.877.800 1.216.290.893 1.800 1.893 1.000 77.960.580.000 10.174.000 2.174.500.000 2.000 10.700 42.093 B 1.335.216.500.335.852.700 42.852.000 2.393 15.000 14.700 42.800 2.102.335.600.600.000 2.393 15.Lanjutan Lampiran 8 No.393 15.800 1.772.836.580.216.836.500.852.500.500.174.877.102.000 2.000 27.102.000 2.290.800 1.700 42.800 1.093 9 12.000 27.093 7 12.(Rp) 8 12.893 C 111 .800 27.760.000 2.600.877.852.000 1.290.335.290.500.093 Tahun Ke.877.000 10.500.580.772.600.772.335.960.216.893 1.102.500.800 1.760.102.836.877.174.836.393 15.000 10.393 15.800 1.000 2.

000 2.497 264.925.601.900.825.100 4. C.000 4.865.900.522 839.300 46.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.476.000 6.000.561 42.200.808.000 2.000 120.421 5. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.299.800 2.921 737.500.000 46.693.801 364.000 50.076 31.611.000.761.Lampiran 9.604 600.400 37. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.240 5.000.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.085.429.472 2.476.000 6.000 498. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000 46.200.000.000 4.801 112 .000.000.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000 49.000 335.000.100 100.835.000.801 B.000 56.000 56.500.000 70.140 982.000 391.039 2.000 826.

500 Modal Kerja 23.450.407.407.250 13.250 7.462.750 76.605.703.630.825 65.250 17.848.816.825.901.375 43.750 1.675 16.703.450.380.450.750.249 7.450.012.506.249 28.575 24.802.605.779 7.500 98.012.000 10.750 10.450.000 87.238.250 10.499 15.225 12.500 109.636.749 182.249 23.811.500 109.499 7.400 Jumlah 132.250 30.674.802.210.150 32.Lampiran 10.025 28.015 9.142.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .814.816.773.111.523.600 54.901.749 182.000 10.400 23.249 28.500 10.750 10. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.863.250 15.407.787.735.750 7.925 21.037.901.249 23.500 109.250 10.250 5.901.250 10.633.250 98.308.111.250 1.030 10.924.142.506.500 154.275 87.901.900 132.250 3.794 15.712.500 21.622.697.750 7.599.223.000 43.500 10.901.901.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.901.750 4.221.450 14.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.901.250 54.012.633.962.380.012.886.250 11.238.500 154.901.210.816.500 65.012.900 18.250 9.700 10.250 19.462.045 12.901.125 20.816.561.750 2.308.500 10.350 22.250 10.050 76.800 26.750 32.660.816.901.

314.385.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.250 15.205 92.082.495.142.107.142.250 8 46.250 6 77.250 29.250 15.238.899.260 8.304 11.945 30.098.250 9 30.828.400 28.800 5.075 61.250 2 138.485.650 24.971.000 15.600 2 18.610.287.414.250 7 61.142.250 3 123.250 Bunga 27.899.414.828.196.414.085 22.510 46.414.414.000 37.242.000 26.412.000 15.825.750 34.500 32.500 15.500 20.071.712 18.250 4 107.250 5 92.414.640 77.408 9.414.728.421.745.657.412.600 9.314.900 138.647.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.800 3.800 1.414.520 19.414.188.801.390 13.825 11.061.335 123.500 15.071.800 3 9.657.414.323.500 43.238.250 40.512.412.250 10 15.388.500 1 154.694.872.770 107.955 16.412.380 15.750 15.104 0 114 .608 12.737.695 5.400 1 28.750 15.750 23.836.485.912 14.549.728.963.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.825.250 18.130 2.774.500 15.159.250 15.414.242.412.800 9.238.400 9.414.

863 2.883.079.Lampiran 11.270. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.270.847 2.000 378.041.847 2.883.883.041.883.120 1.041.602 1.883.041.883.847 2.578 885.120 1.270.376 34.300 3.000 378.270.376 34.000 378.847 2.883.847 2.000 378.376 34.376 34.120 1.883.300 3.376 34.270.883.120 1.376 34.847 2.120 1.847 2.883.300 3.000 378.376 34.270.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.300 3.120 1.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .041.000 378.700 321.300 3.000 378.041.300 3.120 1.300 378.270.825.270.300 3.376 34.041.041.376 34.300 3.376 Biaya Variabel (Rp) 676.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.897 2.000 Harga Pokok/Kg 2.300 3.

290.651 2.080.093 45.290.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.772.000 504.500 3.500 3.651 2.093 45.000 504.000 504.290.600 428.000 Harga Pokok/Kg 2.290.093 45.772.093 45.800 1.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .080.080. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.290.772.699 2.500 3.500 3.093 45.080.000 504.880 1.651 2.080.651 2.080.500 3.Lampiran 12.500 3.651 2.093 45.156.651 2.093 45.097.093 Biaya Variabel (Rp) 839.800 1.500 3.400 504.320 1.800 1.666 2.093 45.772.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.080.800 1.800 1.000 504.772.080.000 504.290.651 2.290.002.500 3.772.800 1.800 1.093 45.080.500 3.772.772.290.000 504.080.

400.120 1.409 137.621 117 .596 4 100% 378. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.000 1.898.565 32.400.967 8.954 19.376 1.843 21.400. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.000 32.773.208.184. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.025 2.000 32.376 1.732.376 676.000 1.010.496 13.974.212.247.773.876 86.400.735.700 810.876 165.250 4.120 1.247.973.575 160.805 33.247.735.653.Lampiran 13.073.985.030 33.376 1.154 8.120 1.825.073.431.474.350 11.974.496 15.000 32.660.602 917. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.876 168.790.350 161.810.742 135.000 1.270.327.429.060.073.876 170.383. Laba Setelah Pajak 65% 245.030 20.400.383.064 5 100% 378.000 1.616.000 1.290.000 1.757.060.045 23.383.383.653.876 131.104.627 8.055 122.810.270.839 2 85% 321.353 109.970 133.641.490 Tahun ke3 100% 378.247.041.575 13.788 78.578 709.689 8.974.519.290.247.041.978 17.041.407.948.000 810.247.974.974.462.400.929 8.352.000 32.814.653.496 11.163. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.376 885.622.270.295 77.843.751 8.383.800 1.015 17.195.697.000 32.300 1.784.815 156.000 1.221.079.

Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.120 1.294 3.383.225 1.705 35.657.270.961.247.247.247.383.000 32.759. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.031.247.270.400.400.653.400.120 1.Lanjutan Lampiran 13.400.974. Uraian 6 A.000 1.910.675 5.000 378.653.000 1.962.000 1.496 1.675 167.079 142.000 378.412 141.876 174.383.000 1.041.000 1.744 139.073.974.811.279 8.409 118 .796.073.376 1.379 8.400.400.247.000 1.125 163.727.120 1.496 1.829 8.784.073.872.924.537.041.653.120 1.041.000 378.496 1.373.900 165.400.653.876 180.876 176.400.653.400.073.376 32.054 8.974.155 36.834.550.848.120 1.851 1.139.077 138.000 378.247.480 34. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.900 7.910.376 32.255 34.974.876 178.848.962.247.179 7.496 1.886.822.811.897.930 36.383.924.073. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.041.376 32.000 1.604 8.247.876 172.247.376 32. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.935.270.270.450 169.496 9.747 144.041.125 9.284.000 1.270.000 1.247.859.400.383.450 3.225 171.736 5.000 1.974.886.

990.000.764.582.000 504.334 14.000 42. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.025 14.877.085 3.771.893 1.925 190.093 42.000 1.580.303.600 428.093 42.000 1.000 1.000 504.772.880 1.000.354.413 1.390 413.139. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.418 56.877.509 22.002.499.000 1.600.133 317.877.421.890.493 24.727 86.977 119 .764.520 1.971.826. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.562 232.877.893 27.102.955 411.146.764.764 315.000.608 28.283 14.093 42.800 1.000.330.000 1.156.304 23.189.400.713.388.218 259.421.400.446.782 16.Lampiran 14.955 19.573 19.764.736.000 1.893 1.000 1.643.676 108.499.290.393 421.110 111.393 247.163.000. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.180.082.647.580.000 1.912 32.352.333.352.745.333.877.393 428.390 16.772.999.800 881.352.580.290.152 14.290.393 426.824 406.000 1.633.600.400 504. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.359.717 14.146.647.580.772.756.764.693 331.694.828.000 1.225.066.320 1.764. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.333.800 1.973 1.093 839.650 5.580.093 42.619.196.097.393 346.000.877.103 312.545 110.

893 5.800 1.995.774.764. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.093 1.290.323.772.000.847 14.800 1.333.872.000 42.764.352. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.393 439.130 425.000 1.764.260 Tahun ke8 100% 504.000.955 120 .893 8.549.000 42.333.290.977 14.893 2.000.564 5.352. Laba Setelah Pajak 100% 504.290.540.548.580.173 11.000 42.368 8.772.393 431.000 1.333.Lanjutan Lampiran 14.323.393 442.565 427.598.000 1.975.482.877.935 115.200.290.323.000 1.825 416.000 1.772.877.872.000.426.695 9 100% 504.542 14.000 1.393 434.000 42.611 325.651.877.827.492.352.877. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.098.872.759 2.764.877.825 7 100% 504.000.290.660.580.393 437.370 114.324.240 112.764.764.333.764.800 1.000.772.893 13.352.695 422.764.000 1.565 13.333.800 1.093 1.580.352.260 419.549.242 323.097.580.093 1.130 10 100% 504.412 14.580.424.656.805 113.000.893 11.000.872 321.000 1.675 111.000 42.098.774.000.981 327. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.503 319.282 14.749.000 1.093 1.093 1.000 1.000.772.774.764. Uraian 6 A.800 1.764.

839 0 0 23. Biaya modal kerja 3.735.843.749 132.790.060 -114.431.822.497 218.843.104.790. Modal sendiri 5.839 0 0 0 78.245 133.536 95.575 6. Angsuran pinjaman Total kas keluar C. Arus kas awal tahun E. Laba bersih 3.064 0 0 13.483.483.212.555.925.925.055 13.429.295 54.773.000 46. Arus kas bersih D.350 6. Biaya modal tetap 2.064 0 0 0 135.696.490 0 0 0 109.218.497 -210.474.061 134.596 0 0 0 133.822.621 0 0 0 137.025.Lampiran 15. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.163.497 -264.374 265.750 129.912. Modal pinjaman Total kas masuk B.900.925.944.735.999 3 4 135.696.490 0 0 20. Nilai sisa 4.925.428.544 -264.374 5 137.497 0 264.536 119.555.815 13.462.999 4.953 -114. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.732.431.061 121 . Kas keluar 1.621 0 0 11.462.571.295 23. Kas masuk 1.497 0 -264.212.163.429.497 1 78.314 4.954 -210.871 134.369.925.953 Tahun ke2 109.596 0 0 17.749 264.218.912.750 130.

082.504.031.750 135.848. Kas masuk 1.544 531.463 122 .660 666.746.159 802.218.675 6.203 802.304 10 144. Modal pinjaman Total kas masuk B.179 0 0 9.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.225 6.909 0 0 1.658.715.504.962. Nilai sisa 4.750 136.910.245 397.537.910.500 0 0 285.450 6.304 1.409 141. Biaya modal kerja 3. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.902.065.294 0 0 0 141.284.439.746.674 7 139.736 0 0 7.691.750 279. Biaya modal tetap 2.736 0 0 0 139.428.886.294 0 0 5. Arus kas bersih D.750 133.660 9 142. Arus kas akhir tahun 6 138.933.284.943.218.811.943.125 6.203 Uraian A.986 397. Laba bersih 3.218.900 6. Modal sendiri 5.318.218.674 531.657.924.429 265.218.101 666.537. Kas keluar 1.851 0 0 3.438.750 132.851 0 0 0 142. Arus kas awal tahun E.657.179 0 0 0 138.438.

900 182.771.380.390 301.713.977 0 0 16.826.466.421.761.573 0 0 0 312.816 -207.761.143.695 609.824 23.562 32.066.930 -364.587 609.075.890.977 0 0 0 317.771. Aliran kas awal tahun E. Modal pinjaman Total kas masuk B.752.108 312.801 0 364.801 308.693 28.713.446. Laba bersih 3.643.521 5 317. Kas keluar 1.801 -207.493 0 0 0 190.695 123 . Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.900 364.617.824 288.827 313.492.801 -364. Biaya modal tetap 2.359.143.562 157.322.509 0 0 28.390 16.380.946 313.890. Nilai sisa 4.509 0 0 0 259.647.749 24.693 231.000 56.425.826. Kas masuk 1.828.285.476.761.647.761.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.322.643.573 0 0 23.421.955 296.828.425.359. Biaya modal kerja 3.521 910.870 24.782 0 0 0 315.493 0 0 32.870 tahun ke2 259.446.955 19.349.075. Aliran kas bersih D.946 3 4 315.782 0 0 19.761. Modal sendiri 5.801 1 190.801 0 -364.

775. Kas masuk 1.500.260 8. Nilai sisa 4. Aliran kas awal tahun E.173 0 0 0 319.629 484.540.951 124 .432 2.564 1.216.841.759 10 327.869 319.275. Laba bersih 3.890 910. Biaya modal kerja 3.825 11.492.853.061 2.526.564 1.992.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13.926.872.130 2.774.992.540.456 1.564 9 325.061 1.564 0 0 0 323.098.424.783. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.656.549. Aliran kas bersih D.955 159.482.216.695 5.098.933.926.598.004.500 0 0 486.646.526.216. Modal pinjaman Total kas masuk B.872.428. Kas keluar 1.323.695 5.432 2.078.565 13.565 305.759 0 0 0 325.275.173 7 321.161.348 310.108 1.774.323.775.841.130 2.656.368 8 323.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.108 315. Modal sendiri 5.260 8.482.598.368 0 0 0 321.456 1.549. Biaya modal tetap 2.825 11.161.

674 531.245 397.454 66.258 -50.051 6.439.328 39.339 0.532.108 14.237.) Atau 195.925.925.442 57.024 53.953 -114.497 -210.986 135.404 0.060 129.074 9.925.374 265.314 130.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.628 257.544 95.949 0.384 Kg/tahun 125 .304 1.746.437 0.311.370 0.237 0.660 666.496.314 0.191 PV -264.968.97 2.428.103 0.504.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.911.808.000 -264.516 0.101 279.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.210 49.369.156 20.065.188.885 68.831 40.225 0.932.266 0.203 802.831.954 119.60 1.226 29.96 Akumulasi -264.944.943.715.061 134.912.915 0.691.999 4.497 0.014.544 136.555.871 132.847 0.420 0.822.919 41.917 72.831 DF PV i = 45 % 1.497 54.658.968.065 0.753.497 46.732.318.476 45.483.969.798 0.075.275.000 0.968.690 37.261 35.024 6.236.791 59.589 30.609 0.443.735.429.815.571.429 133.874.718 0.920.761.438.035 4.925.082.159 NPV Nilai 257.

156 0.370 0.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.863 175.761.500.000 0.783.051 0.143.040.039.801 133.801 108.275 854.322.718 0.400 45.516 0.946 313.841.782.425.131.078.930 231.075.629 484.291.154 11.476 0.702.191 PV -364.715.587 305.690 0.490.827 301.108 1.617.796 97.775.646.865 51.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.903.471.232 94.074 0.492.061 2.432 2.933.751 23.598.761.108 0.574.853.275.794 46.89 BEP (Rp) atau 158.816 288.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.000 0.216.865 DF i = 45 % 1.992.271.173 16.024 PV -364.801 157.314 0.130.609 0.749 296.870 24.838 152.980 113.161.226 0.348 310.349 Kg/ tahun 126 .926.717 72.970.732 67.091.761.266 0.517 166.761.471.757 83.035 0.216.235.721.526.12 3.521 910.437 0.859.215 32.847 0.564 1.473.890 NPV Akumulasi -364.869 319.900.801 -207.402 11.979 92.752.456 1.004.464 157.225 0.34 1.349.466.066.695 609.743.021 110.328 0.944 131.108 315.

fasilitas produksi. 5. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. kapasitas produksi. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. Memperkuat permodalan. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. dan kebersihan tebu). 8. 7. 4. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. 6. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. Mengurus perijinan usaha (legalitas). jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif.Lampiran 19. 11. Menetapkan tujuan perusahaan. antara lain : 1. terutama di bagian pemasakan. 10. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. Melakukan pelatihan bagi pekerja. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). kandungan nira. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. 12. 13. 9. 127 . waktu kerja. 2. 3. Memperbaiki proses pengolahan.

Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 128 . 15.14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful