STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

Mila Fadilah Utami. and the staged 4 . 2008. raw material conditioning (cane). From the obtained result. such as SWOT analysis. supervising on raw materials and products. Dipl. Ir. extending market. St. Msc. Rembang District). The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. Ing. Brown cane sugar industry owned by Mrs. technical and technological aspect. and also the financial aspect. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. increasing market share. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. F3403056. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. Those strategies were carried out supportively one to another. WO. Suprihatin. and Dr. Muhammad Romli. Ir. capitalization. marketing aspect. supporting facility. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. gave four alternative strategies (SO. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. and the development strategy. ST and WT). Supervised by Dr. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. The strategy was done by increasing product quality. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. and application effective technology. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects.

89 year. 158. The criteria of investment feasibility for each condition in order were. 364. 264. 218.000. 195.025. PBP of 2. which was supported by the other investment criteria.8 tons per day.00 and Rp. IRR of 40. Based on the results.865.400.00 or 45. Production capacity for the present condition was 2. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition.285.968.476. brown cane sugar industry was feasible on both conditions.12 %.00.1 tons per day and the development condition was 2.968.925.471.497.00 production cost. 46. 308.60 % and 51. 257. the development condition had much better NPV than present condition. But if viewed from NPV indicator.filtering of cane sap from extraction. While for the development condition total investment required was Rp. 854.00 which divided into Rp.00 fixed cost. Total investment required for the present condition was Rp. 5 .97 and 3.96 year and 1.721.00 or 59.900.831.34.349 kgs/year. and. NPV of Rp.801.00 fixed cost. which divided into Rp.00 production cost. BEP of Rp.384 kgs/year and Rp.801. and Rp. Net B/C of 1. 56. Rp.791.497.761.000.00.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

Ing. St Pembimbing Akademik I Dr. Dipl.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Muhammad Romli. Pembimbing Akademik II 7 . MSc. Bogor. Suprihatin. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Januari 2008 Dr. Ir. Ir.

Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 . kecuali yang dengan jelas rujukannya. Bogor.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan.

Dipl. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Suprihatin. MSc. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. kepada keluarga dan para sahabatnya. 5. Ir. Lili Aliah.. 9 . Muhammad Romli. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Dr. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. Ir. yaitu kepada : 1. 3. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. 4. Ing. M. 6. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya.. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. St. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. Ayahanda tercinta H. 2. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Ir. Eng. Yandra Arkeman. dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Dr.. Dr. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian.

7. Endang. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. Aa Dudi. Naqoer. Da Hendrick. Umi. Januari 2008 Penulis 10 . Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. 12. Idesh. Mas Umam. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Aa Indra. Aa Ijey. Mb Ida. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. 10. Popo Iskandar. Ana. ST yang selalu memberikan dukungan. Bung Amet. 9. Bogor. atas dukungan. Bang Affan. Sahabat-sahabat penulis. Lucia. Para Lawalata-Ers. atas dukungan. Teman-teman TIN 40. Bunda. Mamin. Aa Bayu. dan Bung Fardian. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Om Ucup. Mayang wo. 8. Windi. Endah. Dika. 11. perhatian dan ketegaran kepada penulis. Dita. Yuyu.

........................................................................ 11 C. iii DAFTAR TABEL................................................ 3 B........ 4 1............................................................... MUTU GULA MERAH... 15 3.................................................................. KARAKTERISTIK INDUSTRI...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... 6 2........ vii I.......... v DAFTAR GAMBAR........................................................... 14 2.......................... PERBAIKAN PROSES............. 12 D....................... 27 2.................................................................... METODOLOGI.......................... GULA MERAH............................................................ 2 II............. ASPEK PEMASARAN...............................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...................... ASPEK FINANSIAL................................................... 30 11 ... USAHA KECIL......................... 19 IV......... KERANGKA PEMIKIRAN........................ i DAFTAR ISI.. PENDAHULUAN................................. TUJUAN....... vi DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................................................................................................. 13 1.......................................... 16 F............................................ 18 A.............. 1 A. PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU. SWOT................ 24 1.................. KARAKTERISTIK WILAYAH.................................................... 9 3.................................. TINJAUAN PUSTAKA................... 1 B................................... NIRA......................... ASPEK LEGALITAS................................................................................... LATAR BELAKANG.................................................... 24 A.................................. 3 A............................................................... TATA LAKSANA............... 17 III..................................................... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS............... PROSES MANAGEMEN STRATEGIS........................................... 18 B......................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS........................ HASIL DAN PEMBAHASAN......................... 15 E............................................................

.................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS...... 80 B...............32 2................................................ KESIMPULAN...... SARAN.. 82 DAFTAR PUSTAKA......... 46 2....................................... 32 1..................................................... 46 1............................ ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS........................... KESIMPULAN DAN SARAN.... 83 LAMPIRAN.......................................................................................................................... ANALISIS SWOT.........71 V....................41 C.. ASPEK PEMASARAN.................... ASPEK FINANSIAL............................. ASPEK PEMASARAN..............................................................39 3........................................................................... 68 4............................................. 86 12 ........................................ ASPEK FINANSIAL..........................................57 3................................................................................................ 80 A..............B.......................... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU................................................. ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU.......

................... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ............................ Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu....................................51 Tabel 18........................... Tabel 5.......................................... Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu....... 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu . 25 Tabel 8..... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu................................................ 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ..................................................................................................................... Tabel 4.......................... Matriks Analisis SWOT.......................................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha................... Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ........... 24 Tabel 7............ 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 .....................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.. Tabel 3........................................ 47 Tabel 16........................................ Perincian Laba Bersih......43 Tabel 13....... Matriks Internal Eksternal............................49 Tabel 17................................... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu.... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu................................. Luas Areal. 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah ..........................................68 13 ..............53 Tabel 20................................................ Produksi...........43 Tabel 12......42 Tabel 11.................................................................................................. 52 Tabel 19..............................44 Tabel 15.................................44 Tabel 14. Tabel 2. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu.................... Tabel 9........... Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 .......................................... Tabel 6.... 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 .................... 40 Tabel 10...............................................................

......... Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha.......................75 Tabel 25...... Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha.........................Tabel 21....................................................................... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah................................. 76 Tabel 27...................................... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha...................................75 Tabel 24.......... 76 Tabel 26................. Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan.................................................. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha.................................... 79 14 ....73 Tabel 22................................74 Tabel 23.. Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha .

............................................ Nira Tebu Yang Mulai Mengental.11 Gambar 2..... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu................................................ 60 Gambar 12.. 63 Gambar 13...... 64 Gambar 14..... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap................35 Gambar 6.................................................................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur..... 65 Gambar 15.........................................................33 Gambar 4..................... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap.................................................................................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1............. 59 Gambar 11........... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak.......... 66 Gambar 16...................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu....... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2...................................................................................40 Gambar 10.. Boiler dan Wajan Uap...................................... Proses Penirisan Gula...............38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu................................. Proses Penggilingan....................... Proses Penggilingan.....................................................25 Gambar 3.......36 Gambar 7................................... Alat Penyaringan Nira Tebu....................... 67 15 ............................................................................ Gula Merah Tebu..35 Gambar 5......................37 Gambar 8.......................... Bahan Baku Usaha (Tebu)..................

................................................................. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2.................... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1........ Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2....... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2........................................................................89 Lampiran 5.............. 105 Lampiran 16..................................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1..........................................................87 Lampiran 3................. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung.... Biaya Operasional pada Skenario 1...............96 Lampiran 10........................ Perhitungan Biaya Bahan Baku..................................... Biaya Operasional pada Skenario 2... Kriteria Investasi Skenario 1................................ 107 Lampiran 17.................. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1............. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1...........91 Lampiran 7...............94 Lampiran 9......................88 Lampiran 4.......................97 Lampiran 11................ 103 Lampiran 15........................................ Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit.... 109 Lampiran 18............................................. Kriteria Investasi Skenario 2................90 Lampiran 6............................. 101 Lampiran 14......................92 Lampiran 8.... Komposisi Modal Tetap Skenario 1........................... 110 16 .................. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2............... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2..............................99 Lampiran 12............. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1...................... Komposisi Modal Tetap Skenario 2..............................100 Lampiran 13......86 Lampiran 2....

17 .140. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. coklat.488 hektar. kadar abu dan kekerasannya.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. variasi bahan baku. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Menurut Rosby (2004). Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. yaitu warna.86 hektar. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda.555 ton. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. sementara produksi hanya sekitar 2. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. merah. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. dan bahkan ada yang cenderung hitam. Namun. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional.127. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. mulai dari kuning. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. 2005). 2002). Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. PENDAHULUAN A. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.6 juta ton/ tahun. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.I.

Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. serta aspek finansial. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan.Selain warna dan kekerasan. aspek teknis dan teknologis. dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. Menurut Herman (1987). b. 18 . yang mencakup analisis SWOT. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. aspek pemasaran. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. B. pasir. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu.

yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. 19 . Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.1992). TINJAUAN PUSTAKA A. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. disamping nira yang kurang baik (Herman. pengadukan selama pemasakan. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. tergantung pada jenis tebu. Santoso (1993) menyatakan bahwa. 1979). Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. dan berlendir. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam.5-6. tingkat kematangan. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses.0. berbuih putih. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. 2003). asam-asam organik.II. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. kondisi geografis. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. 2002). 1987). Menurut Puri (2005). NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. rasanya asam serta baunya menyengat. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. dan lemak). protein. 1986).

5-5.05 3.0 2.0-94. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri.50 0.15 75.04-0. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso.5 1.5 1. 1993). Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa. (1998) dalam Reece (2003). Tabel 1. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap.0 70.0 1.5 B.5-0.0-4. lemak dan fosfolipid 0.0 2.18 0. aren.0 0. dan tebu (Dachlan. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.0-4.5-2.5 1.6 0. tauco. produk cookies.0-3. Gula merah banyak 20 .0-4.1-3.0 0. 1984). lontar atau siwalan.03-0.5-4.001-0. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga.Menurut Poel et al. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1.001-0.0-90.

0 0. Dilihat dari segi kesehatan.0 5.0 0.0 0. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder.0 3.0 9.Merah Tebu (mg) 356.0 0. supermarket.0 G. 1981).0 0. hingga pabrik anggur.0 5.9 0. B2 Vit. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.3 0.0 9.2 0.0 0.0 0.0 35.0 4. (Warastri.0 0. C Air Sumber: Tan.0 0.0 3.0 76. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori.6 0. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3.02 0. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir). Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.4 Madu (mg) 294 0.0 0.0 20.Kelapa (mg) 386.4 G.0 0.0 0. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya.0 0.0 0. Tabel 2.0 10.0 37.0 0.5 5. Pasir (mg) 364. B1 Vit. 21 .0 2.0 G.0 0. A Vit.0 75.0 94.0 1.03 0.0 44.0 0. yaitu 364 per 100 gram.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.4 0. pabrik kecap ekspor.0 0. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 95. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan. 2006).0 7.0 76.0 10.0 04.0 79..Aren (mg) 386.0 16. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih.6 51.0 0.5 90.diminati di Jerman dan Jepang. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”. industri perhotelan.1 0. 2006).

22 . 1993). Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. dan kekerasannya. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal.Tabel 3. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. warna. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. yaitu rendahnya teknologi pengolahan. non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. warna. maupun kadar kotoran. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. yaitu bentuk. 1993). tidak keras sehingga mudah dipatahkan. kekeringan. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN).

03 Maks 0.0 Maks 10. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa). dalam Nurlela (2002).timbal (Pb) mg/kg . 23 .Tabel 4.warna . Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.rasa . Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela.0 Maks 40.0 Maks 40.0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 8. b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet . gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.residu mg/kg . Mengenai warna.timah (Sn) mg/kg .03 Maks 0. a.0 Maks 40.0 Maks 2.seng (Zn) mg/kg .tembaga (Cu) mg/kg . disamping nira yang diolah kurang baik. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.0 Maks 0. Menurut Shallenberg et al.0 Maks 0. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 40.bau . b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa).benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .0 Maks 2.raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1. 1 Keadaan .1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5. b/b 3 Air. 2002).penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.

jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. c. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. 1993). 1989). Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. 1993). Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. 1997). Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. 24 . Semakin baik mutu nira.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. dan kadar lemak. b. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. protein. kadar air.. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. seperti mutu nira. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. basa. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. dan lemak dalam nira.

Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. 1993). Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. 2. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. 1984). Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. d. 25 . 1990). Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. dan berbau karamel. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. 2006). gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. sedikit asam.

2006). maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. 1993). minyak kelapa. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. 2002). Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. Apabila suhunya terlalu tinggi. Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. 26 . dan serangga. Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. 1993). Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. daun kering. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. 1986). atau kemiri yang dihaluskan.

Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah.5 – 5. dan pengemasan produk (Sardjono. 1986). 27 . proses produksi. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3. dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5.6. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal. Menurut penelitian Nurlela (2002).Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. keras.

033%. meliputi suhu dan waktu pengolahan. total kotoran 50. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2.13%. pengadukan selama pemasakan.43%. kadar protein 64. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. 290C-0. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 . dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. 200 juta. intensitas pengadukan.100%. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil.067%.067%. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. yaitu : 1.18%.100%. dan kadar lemak 67. serta kebersihan alat. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3. 750C-0. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. C. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp.69%.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. 1 milyar atau kurang.58%. kadar glukosa 76. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0.067% dengan alasan praktis dan efisien.10%. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). 290C-0. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. kadar abu 37. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.84%. 750C-0.

Bidang usaha industri pertanian 3. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. D. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. 4. Bidang usaha industri non pertanian 4. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. yaitu : 1. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). 3. 3. Bidang usaha perdagangan 2. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. 2. 2. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. mengimplementasikan.4. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut.

Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. 2004). 1998). manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. 3. 2. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Selain itu. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. 1998). Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. menetapkan sasaran jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. Sesuai dengan pendapat David (2004). Menurut Jauch (1998). 1. yaitu: 1. 30 . 1998). Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. baik besar maupun kecil.fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan.

2000).2. Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. 1997). Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. 2000). Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. 1998). Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. 31 . 1997). Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. 2005). 3. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti.

2003). pemberian merek. 2005). dan promosi (Umar. E. dan teknologi untuk produksi. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. yang mencakup mutu. dan pengemasan produk. serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. 2004). rancangan.menawarkan. Menurut Kotler (2005). dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. 2000). Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. harga. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. Bagi pemasaran produk barang. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. fitur. 32 . 2005). yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. 2003). peralatan. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. serta pemilihan mesin. yaitu produk. distribusi. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis.

sumber dana dan biaya modal. 1992).. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. estimasi aliran kas proyek. dan analisis sensitivitas (Gray et al. Pay Back Period (PBP). Break Event Point (BEP). 33 . baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Internal Rate of Return (IRR). Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana.F. 2000). yaitu metode Net Present Value (NPV).

Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. antara lain analisis SWOT. 34 . KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. volume produksi tebu. METODOLOGI A. serta aspek finansial. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. Namun. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. aspek pemasaran. Oleh karena itu. untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. dan harga gula merah tebu lebih murah. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan.III. aspek teknis dan teknologis.

dan literatur lainnya. pengamatan langsung. BPS. aspek pemasaran. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. kebutuhan finansial 2. Jawa Tengah. Tabel 5. bahan tambahan. konsumen. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Data Primer 1. internet. Tahun 2007. Konsumsi gula merah tebu 3. Kondisi wilayah 2. dan aparat setempat. pedagang (distributor). dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. TATA LAKSANA 1. internet. pedagang (distributor). Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Data Sekunder 1. proses produksi). Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Aspek teknis teknologis (bahan baku. alat. Kabupaten 35 . dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. jurnal. Jenis Data I. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI.B. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Informasi lain 2. Lembaga Swadaya Informasi IPB. Kualitas gula merah tebu II. Data primer diperoleh melalui eksperimen. petani tebu. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah.

BEP. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. 3.Rembang digunakan sebagai rujukan. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. dan PBP.. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. 1992). Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. 5. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. Net B/C. 4. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . pengadaan bahan baku. proses produksi. a. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. IRR.

. n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. b. 2000). 3.. 1.. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. yaitu : 1. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. 2.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya. n) 37 . Menurut Gray et al... Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. 2. 3.. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. 3. 1. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad.. 2. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi.. Jika nilai NPV sama dengan nol.

maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. 3. c.. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak.. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. 2. 1. b. 38 . Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan.. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. maka proyek layak untuk dilaksanakan.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. c. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu.

sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad. 2003). Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. 2000). Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis).d. BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 . Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya. Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan.

250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.859 353 75 185 57 40 64 4. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. Sulang. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.IV.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1.127.127 686 462 397 2. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6. HASIL DAN PEMBAHASAN A.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Tabel 6.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 . Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1.140.86 hektar.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.

produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006.718 11.130 3. Tabel 7.697 3. Luas areal. P5 864 dan BZ 148.380 3.300 322. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas.390 722.960 3.994 1.015 1.791. Produksi.390 619.070 3.300 23.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3.390 62. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi.917.221. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.582 12.000 3.360 392.951.235 503 29 52 439 10 47 2. Pada umumnya 41 .948 3.140 4. Luas areal.488 hektar.398 3. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.701 1.305 109 181 554 27 119 6.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.020 3.050.9.582 566. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.462 90.955 3.767 16.127.700 3.700 3.997 4.510 3.720 3.555 3. Produksi.353. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.420 1.672 369.462 3.

Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. Bagi para pengusaha gula merah tebu. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. 42 . Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Gambar 2. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan.. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. Namun. sebagai media komunikasi. Menurut Soentoro et al.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi.

43 . yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.B. Pada awalnya. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Selain gula tumbu. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. Namun. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Menurut Soentoro et al. proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Di Kabupaten Rembang. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. (1999). Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional.

bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. 3. Sebaliknya. PG Trangkil 800 ha.200. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. 44 . rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Namun. berdiri dan berkembang sendiri. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu.550.00. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. perawatan. pengendalian.00-Rp. 4.Tabel 8.

Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Revitalisasi Alat 3. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. diantaranya yaitu : 1. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Pembentukkan Paguyuban. misalnya industri makanan dan minuman (PT. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. ABC dan PT. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. yang dilakukan oleh suatu LSM. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. PT. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. 45 . Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. Indofood. Cap Orang Tua). dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. Data terakhir diperoleh.

dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu.2. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. Menurut BPS (2003). Dalam prakteknya. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. 46 . Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang.

Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. yaitu 8 – 12 bulan. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. yaitu tebu 864 dan BZ 148. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. rendemen tebu masih relatif rendah. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. 10 ha lahan sewa. yaitu berkisar 7 – 8%. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. Mulai tahun 1998. Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut).C. Pada tahun 1991. Ibu Arini membuat gula tumbu. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. Pada awal produksinya. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. dan sisanya membeli dari para petani lain. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Pada awal panen. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. 47 . PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Selama satu periode panen. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%.

Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu.1. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi.12–0.13 ha). Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. tetapi 4–5 kali pemasakan. sehingga nira tebu dapat terekstrak. dua orang di bagian pemasakan. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. Dalam satu hari kerja. pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. dua orang di bagian penggilingan. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. 48 . Pada umumnya. Selanjutnya. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan.

Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. maka debu dan kotoran (daun. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. 2003).Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Pada prinsipnya. Proses Penggilingan b. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. Gambar 4. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. 2006). Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. 49 . Apabila suhunya terlalu tinggi. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari.

Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. 50 . Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Untuk melihat apakah nira sudah matang. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. kemudian mengangkatnya. ketika nira mulai dipanaskan. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. 1993). maka gulali tersebut sudah matang. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. 2006).

Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. biasa disebut dengan meja. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan).Gambar 5. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Nira Tebu yang Mulai Mengental d. Sebelum gula dipindahkan. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . 1985). Gambar 6. serta membentuk benang-benang gula. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat.

Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. e. Pengadukan untuk meratakan panas. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Gambar 7. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. 2002). Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. Gula Merah Tebu 52 . f.

Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7.

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

00. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. PT. Indofood. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur. perusahaan kecap dan permen. 100. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. diantaranya gula dengan mutu baik. Cap Orang Tua.00Rp. 3. 200.100. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota. Kudus. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. antara lain Rembang. sedang dan jelek. dan Yogyakarta. PT.00. 4. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp.550.00 dan gula merah tumbu Rp. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang.00-Rp. Pasuruan. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah.2.00Rp.600. ABC. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. 3.600. Jadi. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. Remaja sebagai pengumpul besar. sebagai pihak ketiga. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp.00. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. 150.2. Oleh karena itu.00Rp.200. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. 55 . Pati. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. industri penghasil jenang (dodol). Semarang.

Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Kecamatan Pamotan. Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. yang terletak di Desa Japerejo. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Remaja. Remaja. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 .

Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. a.025. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha.3. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. seperti bank. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. pendirian bangunan. 57 . Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. estimasi aliran kas proyek. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218.00. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. sumber dana dan biaya modal. 1997). 2000). Pada tahapan awal.000. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. b. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1.

000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. kemasan. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.000 Total Modal Tetap 218. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.000. biaya variabel (biaya bahan baku. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi.000 6.000. depresiasi.825. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.) 110.025.000 50. 58 . administrasi dan telepon).200.Tabel 10.000.000 49. tenaga kerja langsung.000 2. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. pemeliharaan. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.

497 264. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000 46.) 218.925.497 B.000.Tabel 11.921 737.601.500.497 c.100 4.497.421 5.299.472 2.925.400 37.000 498.900.000 46. 59 . Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp. Tabel 12. seperti terlihat pada Tabel 12. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A.835. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.900.00. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.076 31. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.000 335.000 4.604 600.025.693. C.

) 78. Internal Rate of Return (IRR).Tabel 13.179 139. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).657.431.839 109.450.851 144.249 132.910.462. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.294 142. Tabel 14.749 Modal Sendiri (Rp) 109.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.500 23.212. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14. Break Event Point 60 . Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).012.429.500 23. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. d.621 138.462.450.064 137.537.284.490 133.736 141. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.409 e.790. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13.249 132.596 135.031.012.163.

Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol). Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %.00 atau 59.384 Kg/tahun.791. 61 .97. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %.969 Kg/tahun. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. diperoleh NPV Rp 257. dan Pay Back Period (PBP).968.00. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1.968. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Titik impas tercapai pada saat produksi 63.96 tahun.60 %.(BEP). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek.831.

serta kebersihan dan kesehatan produk. legalitas perusahaan. sosial. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. 62 . pesaing. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. teknologi proses yang akan digunakan. pasar.D. ekonomi. pemasok bahan baku. kegiatan pemasaran. yang meliputi kebijakan pemerintah. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. kegiatan operasional. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. kondisi keuangan. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. lokasi pabrik. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. dan teknologi. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15.

Produk belum distandarkan 11. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Proses produksi sederhana 3. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Kualitas SDM yang rendah 8. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Teknologi manual dan sederhana 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Diversifikasi produk 5. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Harga BBM naik 5. Ketersediaan modal terbatas 7. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Bahan baku mudah 4. Belum berbadan hukum 6. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Potensi pengembangan 6. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.Tabel 15. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1.

bangunan pabrik tidak permanen. produk belum sesuai dengan SNI. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. 64 . memanfaatkan tenaga kerja lokal. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis.816. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. ketersediaan modal terbatas. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. lokasi pabrik cukup strategis. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. proses produksi tidak konsisten. belum berbadan hukum. kualitas SDM yang rendah. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir.a.

Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.054 0.138 0.184 0. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5.107 0.054 0.161 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.000 2.057 0. Produk belum distandarkan 11.054 0.061 0.069 0. Proses produksi sederhana 3.207 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.184 0.054 0.042 0.100 0.042 0.169 0. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Ketersediaan modal terbatas 7.816 65 .215 0.069 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.184 0. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0.Tabel 16.057 0.061 0.161 0. Bangunan pabrik tidak permanen 10.172 0. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.084 0. Kualitas SDM yang rendah 8. Teknologi manual dan sederhana 2.054 0.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1. Belum berbadan hukum 6.207 0.050 0.172 0. Internal Kekuatan (Strengths) 1.069 0.215 0.061 0.

Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. penampakkan produk yang kurang menarik. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). memiliki langganan. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG). 66 . didapatkan total skor sebesar 2. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. bahan baku mudah. ketersediaan lahan dan bahan baku.b. harga BBM naik. pajak dan ijin usaha. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. harga bahan baku di PG lebih tinggi. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah.686. diversifikasi produk. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. dan gula merah telah populer di masyarakat. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu.

080 0.221 Ancaman (Threats) 1.090 0.077 0. Bahan baku mudah 4.686 67 . Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.083 0.Tabel 17.154 0. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B.083 0.167 0.279 0. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0. Diversifikasi produk 5.080 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Harga BBM naik 5.080 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.099 0. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.080 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.250 0.269 0.240 0.240 0. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.083 0.333 0. Potensi pengembangan 6.077 0.154 0.000 2.093 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.298 0.

Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk.0 Rata-rata 2. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V.0 Lemah 1.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE. perluasan pasar.Tabel 18. dapat disusun matriks IE. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.0 Rendah II III V IV VI VII 1. 68 .0 I 3. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.0 Tinggi Kuat 3. melalui kerjasama dengan pihak lain. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2.

Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2.Teknologi manual dan sederhana 2. Belum berbadan hukum 6. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku. Memperluas daerah pemasaran 3. Meningkatkan kualitas produk 7.Tabel 19. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Ketersediaan modal terbatas 7. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Proses produksi sederhana 3. 2. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Bahan baku mudah 4. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Membina SDM yang dimiliki 6. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Tenaga kerja lokal 4. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Diversifikasi tebu 5. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Potensi pengembangan 6. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Kualitas SDM yang rendah 8. Produk belum distandarkan 11. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Menerapkan goodhouse keeping 5. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.

Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. industri pengguna gula merah. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). untuk konsumsi rumah tangga. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. 70 . Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan.Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. 1. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. Kudus. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). 2000). pengumpul dan industri pengguna gula merah. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Memperluas daerah pemasaran. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. serta pedagang eceran. serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. dan Semarang). Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul.

Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Selain itu. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. 71 .2. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. mempermudah akses pemasaran. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. 3. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Membentuk kelompok usaha bersama. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. mengoptimalkan pembagian kerja.

kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. pengontrolan dan pemantauan. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. Menerapkan goodhouse keeping. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Membina SDM yang dimiliki. dan dapat bekerja efektif serta efisien. mengorganisasikannya. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Tujuan 72 . serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. proses pengolahan yang optimal. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Selain itu. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. ulet. dan penggunaan teknologi yang sesuai. Meningkatkan kualitas produk. agar menjadi lebih terampil. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas.

Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. 4. mempertahankan dan mengembangkan usaha. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. 73 . Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. memperkuat posisi produk dan perusahaan. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. dan memperluas pangsa pasar. 2. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran.

yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. a. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. a. dibersihkan dengan arit atau pisau. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel.2. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling.1. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat).a. 74 .

Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Alat Penyaringan Nira Tebu a. diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung).Gambar 10. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. menyelimuti dan memanaskan wajan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Selain itu. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang.3. Air 75 . Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan.

PS 864 dan BZ 148. dengan harga solar Rp. Boiler dan Wajan Uap a.500. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. bahan bakar solar dan oli. dan air sumur.00/ liter.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. 4. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler.4. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. Selain itu. Karena menggunakan air sumur. Bahan baku yang 76 . Gambar 11. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. b.

Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. 77 . minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan.000. Pemberian dosis kapur. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. dan umur tanaman. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. 2005).digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa.050. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. kondisi perkebunan.000. c.00/ ton tebu. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan.00-Rp. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu. 130. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan.997 kg. 150. dengan umur tebu 8-10 bulan.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. kondisi batang.

Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras.1. Selanjutnya. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. letak drum di atas bak penyaringan pertama. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. d.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). 1984). 78 . yaitu sebelum masuk ke wajan. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. Proses Produksi d. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama.

Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. lapisan bagian luar dan bagian dalam. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung.2. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Gambar 12. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Proses Penggilingan d. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan.

Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Karena jika tidak dibuang. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Gambar 13. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. kemudian mengangkatnya. ketika nira mulai dipanaskan.untuk proses pemasakan berikutnya. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Untuk melihat apakah nira sudah matang. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. dengan menggunakan mesin pompa air. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk.

Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Sebelum gula dipindahkan. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat.3.d. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. serta membentuk benang-benang gula.4. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. Pengadukan untuk meratakan panas. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Gambar 14. 1985). Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu.

Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. Sedangkan. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). Proses Penirisan Gula d. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer.masih berlangsung dapat segera terhenti. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. 2002). Selanjutnya karung yang telah diisi gula.5. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. d. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. Gambar 15. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. 82 . dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela.6.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

Menurut Kotler (2005). dan promosi (promotion). Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . harga (price). Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100.3. rasa dan kekerasan oleh pengusaha. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.600.00. tempat (place). Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3.550. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan.00-Rp 150.00-Rp 3. Tabel 20. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap. sedang dan jelek. yang mencakup mutu.200. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Seperti yang dijelaskan sebelumnya. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar.600.00 dan gula merah tumbu Rp 2. Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. rancangan. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi.00. pemberian merek. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan.00-Rp 4. dan pengemasan produk. fitur. Penerapan pengembangan teknologi di atas.00-Rp 200. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20.00.

Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. harga cenderung turun. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. Ketika harga jual gula merah rendah. Namun pada saat awal panen. Sedangkan pada masa puncak panen. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. Distribusi gula merah relatif sederhana. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. harga gula merah tinggi. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. yaitu permintaan langsung dan 85 . Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 . Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22. pemeliharaan.000 120. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. tenaga kerja langsung. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.000 Total Modal Tetap 308.000 6.000. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. pendirian bangunan.000.000. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.) 110. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi.00. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.000 2. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.085.000. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. Tabel 22.285. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.285. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.000 70.200.c. administrasi dan telepon). depresiasi. kemasan. biaya variabel (biaya bahan baku.

690.00 seperti terlihat pada Tabel 24.285.500.000 4.865. Jangka waktu pengembalian modal 91 .522 839.611. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.476.000 56. Tabel 24.240 5.400.140 982. Tabel 23.300 46.429.561 42.801 364.476.000.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.000 56. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.000 826.808. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.801 d.039 2.761.800 2.000 391. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.

Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.380.759 327.238.643.713. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.977 319.400 182.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.482. Tabel 25.826.573 315.564 325.955 92 . Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.238. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7. ) 190.424.782 317.500 28.509 312.493 259.173 321.540.500 28. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.142.142.900 Modal Sendiri (Rp) 154.656.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.380. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.598.771.368 323. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. e.400 182.446. Tabel 26.

Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Internal Rate of Return (IRR). yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan.12 %.400. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. sehingga layak dilaksanakan. dan Pay Back Period (PBP). Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Nilai IRR-nya adalah 51. Break Event Point (BEP). 93 .721. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.865.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol).34 memiliki nilai lebih dari 1.349 Kg/tahun. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Nilai yang diperoleh yaitu 3.00 atau 45. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158.349 Kg/tahun.f. Maka layak untuk dilaksanakan.471.

Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1.89 tahun. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. 94 . termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Selain itu. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya.

500.791. BEP : Rp 158. pemasakan gula tidak konsisten .801.00 (59.Tabel 27. IRR : 51. Pati.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.Tidak dilakukan promosi .Bahan bakar bagas .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .00 (45. PBP : 2. Net B/C : 1.925. dan Yogyakarta .Konsumen industri dan rumah tangga . Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.Promosi . Pasuruan.Produk . IRR : 40. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1. dan jelek) .497.Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .100 kg/hari .349 Kg/tahun).60 %.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .865.471.Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler . Pemasaran .89 tahun Modal : Rp 364.384 Kg/tahun).Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Distribusi ke daerah Rembang.761.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .00.34.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.Harga . Net B/C : 3. Produksi : 2. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854. Semarang.96 tahun Modal : Rp 264.00) . pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2.721.12 %. BEP : Rp 195.Penyimpanan produk di tempat terbuka . Teknis dan teknologis .831.Proses pengolahan . PBP : 1.Distribusi .Harga produk lebih rendah (Rp 3.00.800 kg/hari 3.968.Sanitasi pabrik .00) .300. sedang.Bahan baku .Konsumen industri .00.Penyimpanan produk .400.Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .Harga produk lebih tinggi (Rp 3.Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri . Produksi : 2.Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) .Bahan bakar bagas berundak).97.968.00. Kudus.Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar .

Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. meningkatkan pangsa 96 .955 ton. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. Selain itu. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk.015 Ha. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. serta sarana dan prasarana lainnya. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. rendahnya teknologi pengolahan. memperluas pasar. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. yang meliputi warna. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. WO strategi dan WT strategi. sedang dan jelek. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. diantaranya variasi bahan baku. pengawasan bahan baku dan produk. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. melakukan pengawasan bahan baku dan produk.050.V. melalui kerjasama dengan pihak lain. rasa dan kekerasan. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. KESIMPULAN DAN SARAN A. ST strategi. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. serta sanitasi dalam proses pengolahan. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). Berdasarkan hasil yang diperoleh. yaitu SO strategi.

968. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha. IRR sebesar 40.000.pasar.000.285. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.12 %. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.384 Kg/tahun dan Rp 158. BEP sebesar Rp 195. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.497.97 dan 3. NPV sebesar Rp 257.471.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.89 tahun. Dalam basis waktu operasi satu hari.721. PBP sebesar 2.791. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.801.96 dan 1.497. 97 . Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan.476.865.00.60 %.831.900. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.00 atau 59.00 atau 45.761.025. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364.801.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218. dan 51.34. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan.925. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada. Berdasarkan hasil tersebut.400.00. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Namun jika ditinjau dari indikator NPV. Net B/C sebesar 1.968.00 dan modal kerja Rp 46. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.349 Kg/tahun.00.00 dan Rp 854. dan menerapkan teknologi tepat guna.00 dan modal kerja Rp 56. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.

Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. 98 . SARAN 1. 2.B. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). 3.

S dan Hendri. Jackson. S. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Husnan. 1990. S. Skripsi. PT. dan Muhammad. SNI 01-6237-2000. 1985. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Ma’arif . Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. Pengantar Evaluasi Proyek. 2002. Industri Gula Merah. Agro Industri Press. Jakarta. Dasar Pengolahan Gula 1. 2003. N. Simanjuntak. 2005. 2000. IPB. Dachlan. S. Bellante. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Indeks Kelompok Gramedia. 1992. Gramedia Pustaka Utama. P. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Goutara dan S. FATEMETA. Jakarta. edisi 10. Universitas Andalas. Wijandi. Studi Kelayakan Proyek. C. Jakarta. LPFE UI. Kotler. P. 1987. Padang. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. 2005. 2004. Salemba Empat. Indeswari. 1984. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. P. Jakarta. 2005. D dan M. Badan Standarisasi Nasional. PT. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Jakarta. A. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. 2006. 2000. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. David. M. Ekonomi Ketenagakerjaan. 1997. Badan Standarisasi Nasional. F. Indeks Kelompok Gramedia. Manajemen Operasi. Dyanti. Manajemen Strategis. Fakultas Teknologi Pertanian. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Ashari. Proses Pembuatan Gula Merah. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Grasindo. Bogor. Laporan Penelitian. PT. Kotler. Kotler. Yogyakarta. Bogor. Jakarta. P.. 99 . Bogor.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. BBHIP. Gray. IPB. PT.. Artikel. Indeks Kelompok Gramedia. Gula Merah Tebu.

Teknik Membedah Kasus Bisnis. 1998. Bogor. Pdf. 1993. 2005. N. 1979. Skripsi. Ozdemir. Skripsi. Program Studi Ilmu Pangan. M. IPB. B. Yogyakarta. Palungkun. Sardjono. Gramedia Pustaka Utama. Aneka Produk Olahan Kelapa. Bogor.. Bogor. K. 2000. R. Departemen Teknologi Industri Pertanian. R. Pembuatan Gula Kelapa. Santoso. Soejardi. http:/www. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. Rachmat. Institut Pertanian Bogor. 2002. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. M. Nengah. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. http:/etd. PAU Pangan dan Gizi IPB. Jakarta. Reece. 1993. 100 . 1992. dan Sugiyono. Institut Pertanian Bogor. T. Jakarta. Jakarta. 1990. B. USA. N. Lousiana State University. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Swadaya. Fakultas Pasca Sarjana. Fakultas Teknologi Pertanian. Jakarta. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Bogor.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. P. A. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. Nurlela. Bogor. IPB. Forum Penelitian Agro Ekonomi. H. E. Bogor. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta.lsu. Kanisius. Analisis SWOT. 1997. Puri. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian. F. 1992.Muchtadi. Analisis SWOT. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Thesis. Foods Browning and Its Control. Okyanus Danismanlik. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa.okyanusbigiambari.sde/docs/available Rangkuti. PT. Tesis. I. Gramedia Pustaka Utama. PT. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. 1986.

1996. Wirioadmodjo. IPB. 1999. Umar. 1989. Utami. 1984. Penerbit Liberty. Bogor. Gramedia Pustaka Utama. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. H. B.Sudarmadji. PT. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Bambang H.. Pasuruan. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi.. Syukur. S. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. 101 . Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Gula Indonesia Vol. Jakarta. Suhardi. XXI/2:22-25. Bibliografi. S dan Sumarno. Yogyakarta. 2003. Studi Kelayakan Bisnis.

000 1.000.000 30.000.000 5.000 1.000 500.000 300.000 10.000 300.000 50.000 1.000.000 600.000 100.000 15.000 500.000 50.000 180. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 1.000 60.000.000.000 218.000.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .Lampiran 1.000 2.000 500.000 600.000.000 500.000 675.000 2.000 250.000 210.000.000 2.000 No.000 30.000 200.000 50.000 35.000.000 1.000 600.000.000 Sub Total (Rp) 110.025.000 100.500.000 100.000. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000 25.000 20.000.500.000.

000.000 5.500.000 20.000 20.000 80.000 600.000 2.000 308.000.000 500.000 1.000 1.000 2.000.000 25.000 100.000.000.000 500.000.000 600.000 1.000 1.000 2.925.000 45.000.000 100.000.000.000 50.000 250.000 180.285. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000 700.000 No.000 70.000 25.000 1.000 Sub Total (Rp) 110.000 10.000 200. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000 103 .000 70.000 80.000 275.000.000 1.000.000.000 500.000.000 500.Lampiran 2.000.000.000.

000 Bumbung Penahan 675.000 10.000 60.500.000 Serok 180.000 600 20.000 Meja Penirisan 1.000 135.000 30.808.400 2.000 2.857.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 2.000 27.000.000 Sodet 210.500 135.000.000 1.000 Listrik 2.000 625.333 150.000 3.000.700 360.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.000.000 60.000 Total 216.982.000 75.000 Ember Stainless 300.000 18.500 150.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.000 587.000 Drum 600.000 6 6 6 50.000 10 25.000 Sub Total 6.200.000 Timbangan 1.000 54.000 1.400 5.000 140.000 Sub Total 49.700 10.000 3.000 50.000.876 104 .000 21.000 100.887.000 (Rp) 110. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.350.500 204.000 4.000 6.800 54.920.000 Kursi 600.000.000 1.543 8.143 18.000 Tungku 30.000 182.800 3.000 90.000 Instalasi Air/Pompa 1.500.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.500.000 202.500.000 90.000 67.000 Alat Penyaring 60.400 8.000 Selang 300.025.500 1.000.000 150.000 90.902.825.000 20.000 8.400 18.900 45.000 1.000.000 100.500 141.000 18.500.000 83.974.000 10 6 10 60.000.Lampiran 3.000.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.000.000 Lemari 1.800 2.000 5.000 30.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

500 32.000 2.270.800 9.383.288.120 1.808.000 2.412.376 4 12.076.496 108 .000 20.000 8.368.500 32.376 Tahun Ke.120 2.876 10.288.960.500.076.079.000 2.500 32.200 20.602 1.000 129.876 10.000 129.383.808.000 711.288.708.500.610.500.000 20.383.978 1.376 B C 749.474.000 2.046.974.041.600.500.000 7.974.974.000 2.500.120 1.600.383.974.800 84.120 881.120 17.000 8.578 2.000 110.376 5 12.000 8.602 881.954 2 12.876 10.610.500 32.496 1.200 676.500.500. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.037.041.496 1.153.808.960.610.350.076.000 129.041.270.412.876 10.000 6.376 573.000 2.000 2.500.000 2.000 919.270.466.153.600.960.153.974.000 8.000 9.894.000 885.808.267.(Rp) 3 12.Lampiran 7.500.383.808.120 881.600.500 32.000 9.600.412.000 8.962.876 10.825.500.578 13.

000 7 12.974.500 32.153.000 2.076.600.500 32.041.288.041.876 10.500.500.000 1.376 881.974.376 881.960.496 1.120 20.000 129.974.000 9.412.876 10.076.041.000 10 12.808.960.600.120 2.076.000 2.000 9.500 32.Lanjutan Lampiran 7.000 8.376 881.500.600.412.270.120 1.120 20.610.383.500.500.000 8.808.120 1.000 2.288.383.412.600.041.000 9.500.(Rp) 8 12.610.076.153.496 1.000 129.153.974.496 109 .000 2.496 1.376 881.960.500.876 10.288.000 129.383.000 Tahun Ke.000 129.000 8.500.000 2.808.041.600.876 10.120 1.000 2.270.270.500.383.270.000 9 12.000 129.960.610.000 1. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.376 881.974.000 2.496 1.000 2.960.000 8.000 8.120 1.500 32.610.876 10.288.270.120 20.412.808.000 2.153.412.120 20.288.120 20.610.000 9.153.000 B C 9.500.076.500 32.808.383.

700 42.142.700 42.174.600 10.216.500.236.500.400 23.760.500.760.093 2 12.000 2.000 77.700 42.000 884.000 77.000 77.724.097.690.335.880 1.772.156.716.800 1.000 2.002.600.800 2.960.852.000 2. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.877.544.000 2.772.102.216.093 4 12.877.520 998.877.000 14.096.000 2.174.500.335.000 2. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.082.393 15.393 15.877.043.133.580.973 1.210.000 27.960.852.102.800 1.700 42.000 7.000 50.400 9.000 10.836.000 2.(Rp) 3 12.600 27.500.290.580.102.772.174.000 14.Lampiran 8.852.800 17.600.000 2.500.000 10.393 15.290.700 42.580.760.093 5 12.680 1.836.093 Tahun Ke.893 1.893 1.413 1.580.500.102.877.000 66.580.600.500.500.000 14.335.600.000 14.000 2.800 1.800 1.393 15.320 1.000 27.960.290.000 839.600.216.093 B C 763.836.393 15.102.000 14.893 110 .500.

960.760.772.500.102.960.335.600.600.290.000 14.393 15.000 14.700 42.000 1.800 1.000 77.772.335.000 14.000 27.500.000 2.174.760.772.000 27.800 1.836.393 15.102.000 2.000 10.800 2.000 14.500.290.174.580.093 9 12.852.102.500.852.000 14.760.000 2.960.000 2.000 2.000 10.393 15.600.580.800 1.800 1.290.700 42.000 2.836.836.760.000 2.800 1.000 77.852.893 1.000 2.102.093 Tahun Ke.700 42.960.216.000 27.500.800 1.877.(Rp) 8 12.800 1.877.893 C 111 .102.893 1.335.093 B 1.500.600.216.174.000 1.960.393 15.093 10 12.700 42.216.893 1.000 10.000 2.800 27.290.893 1.216.393 15.836. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.000 77.852.800 1.000 27.772.700 42.174.093 7 12.000 77.174.000 10.216.580.580.500.600.877.000 77.000 10.877.852.500.500.877.500.580.Lanjutan Lampiran 8 No.290.760.772.335.836.335.

000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.100 4.240 5.000 4.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.000 56.921 737.000. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.200.000 56.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000.000.801 112 .476.000 826.140 982.076 31.000 391.865.000.300 46.500.801 B.601.000 335.000 2.604 600. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.000.835.000 120.200.000 70.500.421 5.000 4.000.561 42.000 498.Lampiran 9.000 49.611.000 46.497 264.800 2.925. C.808.000 6.000.825. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.801 364.000 46.100 100.085.900.000.039 2.472 2.000 50.761.693.476.299.000 6.000 2.522 839.429.900.400 37.

000 10.825 65.012.816.816.901.111.223.500 109.600 54.250 10.811.249 23.250 7.630.250 54.605.735.500 65.773.633.012.925 21.030 10.675 16.886.750.500 10.250 5.250 17.500 10.249 28.450.787.249 7.700 10.962.380.506.901.622.901.250 3.275 87.012.037.924.308.900 132.045 12.500 109.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.633.210.599.901.674.900 18.814.462.450.250 15.012.407.250 10.221.250 98.250 10.750 7.750 10.660.150 32.250 19.750 10.800 26.506.250 1.238.750 32.375 43.407.499 15.407.697.500 109.142.500 154.750 4.500 154.636.500 10.703.794 15.000 87.380.308.250 13.450.050 76.225 12.499 7.802.750 76.816.750 2.450.450 14.863.250 9.779 7.249 23.848.561.400 23.750 7.901.605.901.500 98.901.749 182.712.901.015 9.816.825.901.250 10.210.Lampiran 10.500 21.250 11.750 1.000 10.249 28.802.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.350 22.250 30.500 Modal Kerja 23.111.000 43.901.816.901.523.450.238.901.703.025 28.012.462.125 20.142.575 24.400 Jumlah 132.749 182.

971.250 Bunga 27.085 22.412.549.414.385.142.500 15.500 1 154.414.728.414.414.750 15.380 15.640 77.250 15.323.414.647.414.500 32.238.899.485.800 3 9.400 28.250 15.412.872.098.071.314.500 20.600 2 18.800 9.304 11.412.745.412.801.728.750 23.737.610.142.414.750 34.260 8.694.250 5 92.142.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.495.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.250 4 107.390 13.695 5.071.800 3.650 24.414.314.159.250 2 138.414.335 123.828.287.130 2.912 14.250 7 61.250 18.800 5.900 138.250 10 15.657.250 6 77.657.825 11.770 107.107.825.188.825.075 61.408 9.414.205 92.500 43.250 15.242.250 3 123.774.000 15.836.955 16.512.500 15.945 30.400 9.520 19.400 1 28.250 40.608 12.250 9 30.510 46.250 29.238.104 0 114 .414.500 15.000 37.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.750 15.250 8 46.485.800 1.963.414.899.421.196.712 18.412.828.061.000 15.238.082.000 26.388.242.600 9.

000 378.300 3.883.700 321.897 2.120 1.602 1.883.300 3.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.270. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.883.376 34.883.300 3.847 2.376 34.883.300 3.120 1.041.578 885.376 34.Lampiran 11.847 2.120 1.079.847 2.300 3.863 2.041.270.120 1.000 378.883.883.000 378.120 1.376 34.000 378.376 34.376 34.000 378.300 3.000 378.847 2.270.376 Biaya Variabel (Rp) 676.041.847 2.300 3.376 34.883.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.270.300 3.120 1.883.000 378.847 2.300 3.847 2.270.270.120 1.300 378.041.000 Harga Pokok/Kg 2.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .270.825.041.041.270.041.376 34.376 34.041.883.

772.080.500 3.093 45.772.500 3.093 45.093 45.772.093 45.772.772.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.800 1.500 3.080.080.290.000 504.080.651 2.290.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .000 504.500 3.093 Biaya Variabel (Rp) 839.080.080.651 2.651 2.651 2. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.800 1.320 1.500 3.080.093 45.290.651 2.002.000 504.880 1.080.097.000 504.093 45.500 3.800 1.772.699 2.Lampiran 12.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.800 1.093 45.290.080.500 3.666 2.093 45.600 428.290.800 1.080.800 1.000 504.772.500 3.290.000 504.772.290.800 1.000 504.651 2.400 504.156.651 2.290.000 Harga Pokok/Kg 2.500 3.093 45.

163.825.000 32.810.352.041.010.773.270.978 17.247.250 4.689 8.596 4 100% 378.843.376 676.045 23.784.653.000 32.120 1.788 78.247.073.025 2.030 33.773.247.757.400.660.876 168.208.954 19.064 5 100% 378.805 33.000 1.973.496 11.120 1.055 122.407.575 13.974.000 1.247.383.409 137.429.751 8.627 8. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.000 1.496 15. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.742 135.700 810.247.974.350 11.985.000 1.300 1.616.104.697.030 20.079.490 Tahun ke3 100% 378.929 8.120 1.295 77.195.876 165.602 917.270.073.876 86.810.073. Laba Setelah Pajak 65% 245.974.565 32.400.400.970 133.000 1.353 109.383.041.290.015 17.622.462.270.431.839 2 85% 321.376 1.000 810.641.815 156.790.898.212.154 8.376 1.578 709.876 131.327.800 1.735.376 885.814.383.876 170.474.653.Lampiran 13.974.290.000 1.496 13.575 160.184.247. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.383.350 161.974.400.376 1.000 32.000 1. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 32.621 117 .732.041.653.060.000 32.060.948.735. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.843 21.967 8.519.383.221.400.400.

073.120 1.383.876 180.000 1.120 1.270.897.400.000 1.537.000 1.383.876 172.759.496 9.400.073.000 1.935.270.653.930 36.077 138.120 1.872.383.962.247.496 1.496 1.383. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.379 8.000 378.400.400.400. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.376 32.125 163.000 1.876 178.675 167.450 3.744 139.125 9.120 1.961.480 34.400.412 141.910. Uraian 6 A.653.400.376 32.974.155 36.179 7.079 142.924.653.811.604 8.876 174.247.000 378.041.876 176.496 1.962.270.400.376 32.000 32.974.859.834.031.974.736 5.073.247.653.294 3.000 378.041.675 5.284.373.225 171.705 35.886.073.041.073.000 378.784.000 1.657.000 1.409 118 .247.225 1.041.848.247.900 165.000 1.376 1.247.247.376 32.450 169.247.496 1.279 8.054 8.270.120 1. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.000 1.796.886.041.974.139.747 144.974.924.247.270.829 8.383.811.822.900 7.247.910. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.851 1.255 34.653.400.550.000 1. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.Lanjutan Lampiran 13.727.848.400.

393 426.093 42.421.359.352.000 1.764 315.390 413.545 110.771.393 421.333.421.283 14.619.196.890.446.764.509 22.877.772.000 1.973 1.893 1.600. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.000.877.085 3.955 19.093 42.800 881.877.877.093 839.000 1.580.764.304 23.573 19.000 1.877.413 1.520 1.000 504.133 317.354.000.693 331.493 24.000 1.333.000.180.764.400.303.727 86.580.562 232.025 14.647.893 27.647.971.990.418 56.097.000.499.676 108.388.290.082.736.877.102.163.352.828.320 1.582.146.633.772.002.334 14.800 1.717 14.000 1.745.330.000 504.955 411. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.643.139.499.390 16.093 42.352.156.600 428.093 42. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.189.999.110 111.Lampiran 14.713.000 1.393 346.393 428.393 247.893 1.824 406.580.000.608 28.218 259.290.400 504.225.782 16.290.580. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.000 1.000 42.764.152 14.772.977 119 .400.912 32.066.764.880 1.694.600.000.000 1.333.000 1.800 1.826.756.146. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.764.580.103 312.925 190.650 5. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.

393 442.352.492.200.393 431.242 323.000.000.130 425.000.393 439.260 Tahun ke8 100% 504.000 1.000 42.333.290.130 10 100% 504.323.800 1.290.000 42.290.333.000.800 1.800 1.000 42.324.565 427.580.580.675 111.290.772.000 1.695 9 100% 504. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.424.893 11.098.772.000 1.598. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.000 1.975.000 42.000.000.000 1.000.540. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.764.549.825 416.323.764.549.352.764.393 434.764.872.764.764. Uraian 6 A.995.352.000 42.893 8.000.098.877.240 112.825 7 100% 504.000.173 11.000 1.323.764.000.893 5.580.000 1.877.764.893 13.872.000 1.774.333.548.368 8.877.935 115.000 1.847 14.772.097.Lanjutan Lampiran 14.564 5.093 1.800 1.580.093 1.260 419.426.282 14.333.503 319.805 113.093 1.774.651.877.695 422.542 14.759 2.000 1.893 2.660.827.764.656.482.093 1.877.290. Laba Setelah Pajak 100% 504.611 325. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.774.764.772.565 13.352.977 14.580.749.772.872.352.872 321.393 437.955 120 .981 327.333.412 14.800 1.093 1.370 114.

773.925.497 218.944. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.061 121 .350 6.536 95.536 119.295 54.429. Laba bersih 3.474.544 -264.621 0 0 0 137.483.060 -114.483.218.925. Kas keluar 1.497 -264.295 23.839 0 0 0 78.750 130.555.999 3 4 135.429.374 265.064 0 0 13.212.596 0 0 17.735.912. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.025.815 13.912. Modal sendiri 5.822. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.497 0 -264. Arus kas awal tahun E.061 134.497 1 78.790.696.462.750 129. Nilai sisa 4.Lampiran 15. Arus kas bersih D.497 0 264.843.490 0 0 0 109.218.871 134.055 13.497 -210.428.953 Tahun ke2 109.925.462.925.596 0 0 0 133.953 -114.369. Kas masuk 1.555.490 0 0 20.245 133.621 0 0 11.790.314 4.749 264.954 -210. Biaya modal tetap 2.431.374 5 137.571.104.163. Biaya modal kerja 3.925.212.575 6.839 0 0 23.900.163. Modal pinjaman Total kas masuk B.999 4.735.064 0 0 0 135.732.431.822.749 132.000 46.843.696.

848.909 0 0 1.284.159 802.294 0 0 0 141.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141. Kas keluar 1.660 666.943. Kas masuk 1.125 6.463 122 .409 141.428.660 9 142.657.504.674 531. Laba bersih 3.218.736 0 0 0 139.179 0 0 9.218.203 802.304 10 144.504.284.943.082.203 Uraian A.438.179 0 0 0 138.924.902.851 0 0 0 142.500 0 0 285.101 666.750 279.736 0 0 7.438.986 397.225 6.658.218.450 6.429 265.674 7 139.746.715.537.439.746.691.065.657.886.031. Arus kas bersih D. Biaya modal kerja 3.851 0 0 3. Modal pinjaman Total kas masuk B.962.933. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.811.750 132. Arus kas akhir tahun 6 138.900 6.245 397. Modal sendiri 5.544 531.675 6.750 133. Nilai sisa 4. Biaya modal tetap 2.218.910.910.218.537.318.750 136.304 1.750 135.294 0 0 5. Arus kas awal tahun E.

930 -364.390 301.509 0 0 0 259.946 3 4 315. Biaya modal tetap 2.752.801 -364.108 312.390 16.826.643.946 313.761.824 23.425.890.695 609.349.782 0 0 19.977 0 0 0 317.955 19. Kas keluar 1.421.285. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.828.801 -207. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.900 364.828.801 0 364.421.000 56.801 308.573 0 0 0 312.521 5 317.509 0 0 28.521 910.647.476.801 1 190.143.322. Laba bersih 3.143. Aliran kas awal tahun E.900 182.493 0 0 32.761.562 157.562 32.870 tahun ke2 259.890.425.955 296.359.573 0 0 23.647.380.492.466.761.713.066.782 0 0 0 315.749 24.801 0 -364.587 609.771.446.761.693 231. Kas masuk 1.693 28. Modal sendiri 5.075.380.816 -207.826.617.761.446.322.870 24.771.977 0 0 16.824 288.713. Aliran kas bersih D.359.075.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A.643. Biaya modal kerja 3. Nilai sisa 4.695 123 . Modal pinjaman Total kas masuk B.493 0 0 0 190.827 313.

Modal pinjaman Total kas masuk B.424.598.161.526.565 13.841.759 0 0 0 325.173 0 0 0 319.500.456 1.841.565 305.368 0 0 0 321.108 1.173 7 321.260 8.428.783. Biaya modal tetap 2.774.598.004.130 2.926.275. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.656.130 2.695 5.061 1.108 315.629 484.656. Kas masuk 1.955 159.872.549. Modal sendiri 5.951 124 .926.774.098. Biaya modal kerja 3.348 310.540.492.540.098.825 11.825 11. Aliran kas bersih D.775. Nilai sisa 4.992.078.564 1.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.759 10 327.872.853.260 8.992.216.061 2.500 0 0 486.368 8 323.933.482.564 1. Aliran kas awal tahun E. Kas keluar 1.161.526.216.275.456 1.564 0 0 0 323.432 2.549.695 5.323. Arus Kas Akhir Tahun 6 319. Laba bersih 3.890 910.323.216.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13.432 2.775.482.869 319.646.564 9 325.

035 4.847 0.715.051 6.476 45.060 129.932.874.108 14.60 1.969.735.968.544 136.658.024 6.156 20.732.437 0.188.075.) Atau 195.925.831 40.275.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.497 54.311.420 0.159 NPV Nilai 257.429.497 0.496.912.96 Akumulasi -264.236.203 802.061 134.101 279.925.544 95.404 0.258 -50.428.831.000 -264.210 49.925.429 133.589 30.628 257.000 0.949 0.919 41.915 0.024 53.314 0.944.065.808.986 135.831 DF PV i = 45 % 1.609 0.454 66.504.103 0.718 0.483.438.674 531.571.497 46.917 72.065 0.925.871 132.237.885 68.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.911.516 0.761.968.822.97 2.082.497 -210.660 666.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.999 4.920.339 0.690 37.374 265.953 -114.314 130.014.370 0.968.746.555.237 0.691.439.304 1.753.943.954 119.791 59.443.318.328 39.245 397.266 0.815.261 35.074 9.798 0.369.225 0.442 57.191 PV -264.384 Kg/tahun 125 .532.226 29.

869 319.646.629 484.291.000 0.749 296.732 67.992.492.275 854.718 0.500.587 305.695 609.314 0.425.801 133.432 2.89 BEP (Rp) atau 158.000 0.865 51.143.526.108 0.476 0.021 110.752.980 113.108 1.215 32.801 -207.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.743.349 Kg/ tahun 126 .131.471.328 0.035 0.853.490.900.865 DF i = 45 % 1.266 0.721.370 0.226 0.564 1.859.216.191 PV -364.473.051 0.456 1.863 175.598.761.827 301.516 0.216.471.161.154 11.930 231.775.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.970.926.617.690 0.761.004.040.075.232 94.801 157.225 0.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.890 NPV Akumulasi -364.796 97.717 72.130.061 2.838 152.761.801 108.235.464 157.946 313.847 0.091.794 46.108 315.066.751 23.466.870 24.782.841.979 92.348 310.609 0.34 1.903.039.156 0.322.715.12 3.521 910.933.517 166.173 16.402 11.078.761.275.024 PV -364.783.437 0.757 83.702.271.816 288.074 0.944 131.574.349.400 45.

10. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. 2. Menetapkan tujuan perusahaan. kapasitas produksi. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. Memperkuat permodalan. 8. 6. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. 3. 12. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). 4. Melakukan pelatihan bagi pekerja. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. 9. 127 . misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. 5. 13. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. kandungan nira. waktu kerja. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. antara lain : 1. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. 11. terutama di bagian pemasakan. Mengurus perijinan usaha (legalitas). dan kebersihan tebu). Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. fasilitas produksi.Lampiran 19. Memperbaiki proses pengolahan. 7. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja.

128 . Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 15. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga.14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful