P. 1
Komposisi Gula Merah Lengkap

Komposisi Gula Merah Lengkap

|Views: 948|Likes:
Published by Mala Strife Fair

More info:

Published by: Mala Strife Fair on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2014

pdf

text

original

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

Rembang District). technical and technological aspect. St. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. raw material conditioning (cane). and also the financial aspect. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. and application effective technology. The strategy was done by increasing product quality. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. supporting facility. extending market. gave four alternative strategies (SO. F3403056. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. Ir. Supervised by Dr. Ing. Those strategies were carried out supportively one to another. Msc. supervising on raw materials and products. Muhammad Romli. and Dr. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. such as SWOT analysis. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. Brown cane sugar industry owned by Mrs. and the development strategy. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. ST and WT). Dipl. From the obtained result. and the staged 4 . applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). 2008. capitalization. marketing aspect. WO. Suprihatin. Ir. increasing market share.Mila Fadilah Utami.

471. NPV of Rp. 854. and Rp.400.968. which was supported by the other investment criteria. the development condition had much better NPV than present condition. Rp.900.00 which divided into Rp.968.025. But if viewed from NPV indicator. Production capacity for the present condition was 2.00 fixed cost.497. The criteria of investment feasibility for each condition in order were.00 production cost. Based on the results. Net B/C of 1. BEP of Rp.497.00 or 59.384 kgs/year and Rp. brown cane sugar industry was feasible on both conditions. While for the development condition total investment required was Rp. and.801.791. 56. 158.000. PBP of 2.00 and Rp.97 and 3. 308.831. IRR of 40.8 tons per day.12 %.89 year.00.801. 218.filtering of cane sap from extraction. 264.476.96 year and 1.1 tons per day and the development condition was 2.34.285. 257. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition. 364.925.761. 195.721.000.00 or 45.00 production cost. Total investment required for the present condition was Rp.865. 5 .60 % and 51. 46.349 kgs/year.00. which divided into Rp.00 fixed cost.

Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan.

Pembimbing Akademik II 7 . St Pembimbing Akademik I Dr. MSc. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Muhammad Romli. Ir. Suprihatin. Ir.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Januari 2008 Dr. Ing. Bogor. Dipl.

kecuali yang dengan jelas rujukannya. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 .PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. Bogor.

3. Ir. Ayahanda tercinta H. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya.. dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Dr. 5. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. St. Ir.. kepada keluarga dan para sahabatnya. M. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. Dr. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Muhammad Romli. Ing. Lili Aliah. Dipl. 6.. MSc. Eng. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. 4. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. yaitu kepada : 1. Ir. 9 . sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. Dr. Yandra Arkeman. Suprihatin. 2. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini.

Aa Ijey. Idesh. Popo Iskandar. Mas Umam. 10.7. Bung Amet. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Endah. Mamin. Mb Ida. Da Hendrick. Januari 2008 Penulis 10 . dan Bung Fardian. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. atas dukungan. Endang. Dika. Dita. ST yang selalu memberikan dukungan. Lucia. perhatian dan ketegaran kepada penulis. 8. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. Bogor. Bunda. 11. Sahabat-sahabat penulis. 12. Aa Dudi. Bang Affan. Mayang wo. 9. Windi. Teman-teman TIN 40. Ana. Para Lawalata-Ers. Om Ucup. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Yuyu. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. Aa Indra. Umi. Aa Bayu. Naqoer. atas dukungan.

............................................. GULA MERAH... USAHA KECIL........................................... PROSES MANAGEMEN STRATEGIS.................................................................. 30 11 .DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR........................................................... MUTU GULA MERAH..................... 24 1......... 9 3.. LATAR BELAKANG................. 3 A........................................... 18 B.................. 14 2.................. KARAKTERISTIK INDUSTRI................ METODOLOGI.................................. TATA LAKSANA......... 1 B.................................................. 27 2............................................................................................................................................................ iii DAFTAR TABEL........................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..... ASPEK PEMASARAN........................................................................ 1 A................................................................................................................................................................................................................................................... TUJUAN...................................................................... 12 D........................................................... NIRA................................... 17 III......................................... vii I................................................. PENDAHULUAN........................... vi DAFTAR LAMPIRAN........................... 2 II.......................................................................................................... SWOT......................................... 3 B................................ ASPEK LEGALITAS................... KERANGKA PEMIKIRAN.................................... 18 A.......................................... 13 1.......... 6 2......................................................... 4 1........................ i DAFTAR ISI......... 15 E......................................................... 11 C............................................. HASIL DAN PEMBAHASAN..................................... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS............................................................................ KARAKTERISTIK WILAYAH.............................. ASPEK FINANSIAL.................................... v DAFTAR GAMBAR....... 16 F..................... TINJAUAN PUSTAKA................................... PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU.................................... 19 IV...................................... 15 3.................. PERBAIKAN PROSES.... 24 A..

........................................... SARAN.......... 46 2.......................................B...... 83 LAMPIRAN................................................................................................. 68 4................ 82 DAFTAR PUSTAKA....... ASPEK FINANSIAL........................ 32 1....................................... 86 12 ........... 80 A............................39 3.......................... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU.................................................57 3.......41 C.................................................... ASPEK PEMASARAN.................................................................................................................................................. ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU............. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.............32 2......................... ANALISIS SWOT............................. ASPEK PEMASARAN.................................... 46 1. KESIMPULAN DAN SARAN.. ASPEK FINANSIAL......................... 80 B...........................................................................................71 V...... KESIMPULAN........................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS...............................

............................. 47 Tabel 16....... 40 Tabel 10......... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu. Matriks Analisis SWOT...................... Produksi.............................44 Tabel 14............... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ........................ Matriks Internal Eksternal... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ........... Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu............... Tabel 3..........44 Tabel 15...................................... 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu ................ 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah . 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ................... Luas Areal.................................. Tabel 5....... Tabel 2................... 52 Tabel 19.........................42 Tabel 11......................................................................51 Tabel 18.............................................. Tabel 4.......... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.................. Tabel 6................................................................................................................................................... 25 Tabel 8..... Perincian Laba Bersih............................................... Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu.................................. Komposisi Padatan dalam Nira Tebu .............. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.............................................. 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .....53 Tabel 20.................................. Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ..............................49 Tabel 17..........................43 Tabel 12...DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1................ 24 Tabel 7..43 Tabel 13...................................... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu............................................................68 13 .......... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 ........... Tabel 9......................................... Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu.......................................................... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu.

..................73 Tabel 22...........................................75 Tabel 25.........................................74 Tabel 23................. Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan................................................................... 76 Tabel 27. Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha.................................................................... 76 Tabel 26...........................75 Tabel 24......Tabel 21........................ Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha........................................ 79 14 ..... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah...... Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha.... Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha.... Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha .....................

................................33 Gambar 4............................................ Pemasakan Nira dengan Wajan Uap..................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1................................................................................... 63 Gambar 13..... Proses Penggilingan..................................................................................... Proses Penirisan Gula... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap........................ Boiler dan Wajan Uap................... 65 Gambar 15......................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2....................................38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu........................................... 67 15 ..................36 Gambar 7.... Bahan Baku Usaha (Tebu)... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur................ 66 Gambar 16........ Alat Penyaringan Nira Tebu.......... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak...37 Gambar 8......................................................................................35 Gambar 6.............. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu.................................. Nira Tebu Yang Mulai Mengental.........................35 Gambar 5................................11 Gambar 2......... Gula Merah Tebu..............................................................40 Gambar 10.. Proses Penggilingan...................... 64 Gambar 14. 59 Gambar 11...... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu....................... 60 Gambar 12............................25 Gambar 3.......................................................

.................................... Komposisi Modal Tetap Skenario 1......................................................... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1.............. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1................................... Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit............................................................................92 Lampiran 8.......................... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2..........99 Lampiran 12...................... 109 Lampiran 18....94 Lampiran 9...................................................................................... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2............................ 110 16 .......87 Lampiran 3... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1...................................... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung..................... 101 Lampiran 14.... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1........................ 103 Lampiran 15.............. Komposisi Modal Tetap Skenario 2................... 105 Lampiran 16... Biaya Operasional pada Skenario 1..............................................88 Lampiran 4..... 107 Lampiran 17....97 Lampiran 11............. Kriteria Investasi Skenario 1.......................................... Perhitungan Biaya Bahan Baku........ Kriteria Investasi Skenario 2.....91 Lampiran 7........................................96 Lampiran 10...............86 Lampiran 2.............89 Lampiran 5.............. Biaya Operasional pada Skenario 2.............90 Lampiran 6.....100 Lampiran 13.................................................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1................................ Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2.......... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2...........

dan bahkan ada yang cenderung hitam. coklat. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional.6 juta ton/ tahun. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. 2002). Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Menurut Rosby (2004).127. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. mulai dari kuning. yaitu warna. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. 2005). Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda.488 hektar. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.I.86 hektar.140. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya. merah. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. 17 . yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. sementara produksi hanya sekitar 2. PENDAHULUAN A. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi.555 ton. Namun.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI. variasi bahan baku. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. kadar abu dan kekerasannya. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal.

b. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. Menurut Herman (1987). dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. pasir. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. aspek teknis dan teknologis. 18 . Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. aspek pemasaran. B. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. yang mencakup analisis SWOT. serta aspek finansial. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah.Selain warna dan kekerasan. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu.

derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. 2003). Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.1992). rasanya asam serta baunya menyengat.II. disamping nira yang kurang baik (Herman. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. dan berlendir. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. 1986). Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. Menurut Puri (2005). nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. tergantung pada jenis tebu. pengadukan selama pemasakan. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. tingkat kematangan. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis.0. protein. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. Santoso (1993) menyatakan bahwa.5-6. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. dan lemak). 19 . berbuih putih. 2002). asam-asam organik. 1987). serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. 1979). Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. kondisi geografis. TINJAUAN PUSTAKA A. Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen.

aren. Tabel 1.Menurut Poel et al. Gula merah banyak 20 .0 1.0 2.6 0.03-0. lemak dan fosfolipid 0. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.0 2.04-0. 1993).15 75.50 0.5-2. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua. lontar atau siwalan.0 0.0 70. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri. 1984).5 1.001-0.0-4. dan tebu (Dachlan.0-4.5 B. (1998) dalam Reece (2003).0-90. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin.0 0.05 3.18 0.5 1. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap.001-0.0-94.5-0. tauco.1-3.5-5. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga.5 1.0-4.5-4.0-3. produk cookies.

0 94.0 0.0 0. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya.0 95.0 9.0 3.0 1. supermarket.0 44.0 2.0 0.0 G.0 35. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan.0 0.6 0.0 76. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2. pabrik kecap ekspor.6 51. 21 .0 4.. hingga pabrik anggur.4 0.0 16.9 0.1 0. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi.0 0.0 9.0 10.0 0.0 20.0 0.0 3.diminati di Jerman dan Jepang.5 90. C Air Sumber: Tan. yaitu 364 per 100 gram.0 76.0 5.0 75. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 0.0 0. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori. 1981).0 0. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.02 0.2 0.4 Madu (mg) 294 0.Merah Tebu (mg) 356.Aren (mg) 386. 2006).3 0. 2006).0 0. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.0 79.0 0.03 0.0 04.5 5. B2 Vit.Kelapa (mg) 386.0 0.0 7.0 0. Dilihat dari segi kesehatan.4 G. industri perhotelan. A Vit.0 0. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 0. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3. (Warastri.0 G.0 5.0 0. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi. Pasir (mg) 364.0 37. B1 Vit.0 0. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir). Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi. Tabel 2.0 10.0 0.

Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. dan kekerasannya. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. yaitu bentuk. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.Tabel 3. 1993). ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). maupun kadar kotoran. yaitu rendahnya teknologi pengolahan. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). 22 . 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. warna. kekeringan. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. warna. 1993).

seng (Zn) mg/kg .03 Maks 0. 23 .penampakan Bagian yang tak larut dalam % air.0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 2.0 Maks 40.timbal (Pb) mg/kg .raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2. dalam Nurlela (2002). Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .warna .timah (Sn) mg/kg . a. Menurut Shallenberg et al.0 Maks 40.0 Maks 40. b/b 3 Air. b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa).0 Maks 0.rasa . b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet .0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.Tabel 4. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan. 2002). disamping nira yang diolah kurang baik.tembaga (Cu) mg/kg . b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa). gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.0 Maks 8.bau .0 Maks 0.0 Maks 10.0 Maks 40.residu mg/kg .0 Maks 2. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi. 1 Keadaan .03 Maks 0. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Mengenai warna.

Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. 24 . kadar air. Semakin baik mutu nira. 1989). 1997). sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. dan lemak dalam nira. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. seperti mutu nira..kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. b. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. dan kadar lemak. c. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. protein. 1993). yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. 1993). Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. basa. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam.

Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. dan berbau karamel. 1990). sedikit asam. 2.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. 1993). 2006). d. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. 25 . Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. 1984). Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering.

Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. dan serangga. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. atau kemiri yang dihaluskan. Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. Apabila suhunya terlalu tinggi. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. 2006). 1993). 1986). Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. minyak kelapa. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. daun kering. Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. 26 . 2002). 1993). Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti.

Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. dan pengemasan produk (Sardjono.5 – 5.6. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal. dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5. Menurut penelitian Nurlela (2002). yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. 1986). 27 . proses produksi. keras.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku.

69%. pengadukan selama pemasakan. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. 200 juta.18%. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. 290C-0. C. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. serta kebersihan alat. kadar abu 37. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0. kadar glukosa 76.100%.58%.84%.43%. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.067% dengan alasan praktis dan efisien. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3.033%. kadar protein 64.067%. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. 290C-0. 750C-0. total kotoran 50. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. 750C-0. yaitu : 1.10%.067%. 1 milyar atau kurang. meliputi suhu dan waktu pengolahan. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik. intensitas pengadukan.13%. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. dan kadar lemak 67.100%. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 .

Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. 3. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. 3. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. D. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. mengimplementasikan. 2. Bidang usaha perdagangan 2. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi.4. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. yaitu : 1. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. 4. 2. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Bidang usaha industri non pertanian 4. Bidang usaha industri pertanian 3. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar.

menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. yaitu: 1. 3. Sesuai dengan pendapat David (2004). Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis.fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. 2004). Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. Menurut Jauch (1998). Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. 1998). 1. 30 . baik besar maupun kecil. 1998). 2. Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. 1998). Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Selain itu. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. menetapkan sasaran jangka panjang.

Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). 2000). 2000). Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. 1997). 1997).2. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. 2005). 3. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. 31 . 1998). Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti.

keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. serta pemilihan mesin. rancangan. dan promosi (Umar. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. Bagi pemasaran produk barang. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. E. pemberian merek. yaitu produk. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. yang mencakup mutu. peralatan. harga. serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler.menawarkan. 2000). 2003). dan teknologi untuk produksi. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. 2005). 2004). Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. 32 . Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. Menurut Kotler (2005). Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. fitur. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. dan pengemasan produk. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. 2003). Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. 2005). distribusi.

estimasi aliran kas proyek. Pay Back Period (PBP). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Internal Rate of Return (IRR). sumber dana dan biaya modal. dan analisis sensitivitas (Gray et al. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. yaitu metode Net Present Value (NPV). 33 .F.. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. 2000). serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. 1992). Break Event Point (BEP).

34 . volume produksi tebu. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu. serta aspek finansial. untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. antara lain analisis SWOT. METODOLOGI A. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. aspek teknis dan teknologis. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. dan harga gula merah tebu lebih murah. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum.III. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Namun. aspek pemasaran.

Informasi lain 2. kebutuhan finansial 2. internet. dan aparat setempat. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. proses produksi). Aspek teknis teknologis (bahan baku. Data Primer 1. alat. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. Data primer diperoleh melalui eksperimen. petani tebu. Konsumsi gula merah tebu 3. aspek pemasaran. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. bahan tambahan.B. dan literatur lainnya. jurnal. Jawa Tengah. Kondisi wilayah 2. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. konsumen. pedagang (distributor). Tahun 2007. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data Sekunder 1. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Kabupaten 35 . Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. BPS. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. Kualitas gula merah tebu II. pedagang (distributor). TATA LAKSANA 1. Jenis Data I. internet. Tabel 5. pengamatan langsung. Lembaga Swadaya Informasi IPB. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. 5.Rembang digunakan sebagai rujukan. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. dan PBP. a. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. proses produksi. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. 3. pengadaan bahan baku. IRR. BEP.. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. Net B/C. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. 1992). 4.

. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. 3.. Menurut Gray et al. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. n) 37 .. Jika nilai NPV sama dengan nol.. 3. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad. 3. b. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi.. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. 1. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. 2. maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi.. yaitu : 1. 2.. 2. 1.. 2000). n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut.

maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Jika nilai Net B/C kurang dari satu.. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. 1. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan.. 38 . b. maka proyek layak untuk dilaksanakan. 3. 2. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek... sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. c. c. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku.

2000). BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan. sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad.d. 2003). Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 .) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.

488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan. Tabel 6.140.IV. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.127 686 462 397 2. Sulang.86 hektar.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 .555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.127. HASIL DAN PEMBAHASAN A.859 353 75 185 57 40 64 4.

087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.994 1.050. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006. P5 864 dan BZ 148.235 503 29 52 439 10 47 2.353.697 3.955 3.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3. Pada umumnya 41 .462 90. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.948 3. Luas areal. Produksi.390 62. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi.960 3.951.300 23.398 3.582 12.127.582 566.510 3.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas.390 722.130 3.305 109 181 554 27 119 6.9.462 3.360 392.701 1. Produksi. Tabel 7. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.390 619.020 3.420 1.300 322.221. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.791. Luas areal.488 hektar.015 1.997 4.720 3.555 3.380 3. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.700 3.700 3. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.070 3.140 4.672 369.718 11.000 3.917.767 16.

Bagi para pengusaha gula merah tebu. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan.. sebagai media komunikasi. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. 42 . Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Namun. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. Menurut Soentoro et al. Gambar 2. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha.

yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. (1999). Selain gula tumbu. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Pada awalnya. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. 43 . proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir.B. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. Menurut Soentoro et al. Di Kabupaten Rembang. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar.. Namun. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu.

44 . perawatan. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. pengendalian.00-Rp. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. 3. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. berdiri dan berkembang sendiri. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. Namun. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya.550. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. PG Trangkil 800 ha. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir.Tabel 8.200. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. 4.00. Sebaliknya.

PT. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. Cap Orang Tua). Revitalisasi Alat 3. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Data terakhir diperoleh. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. Indofood. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. ABC dan PT. yang dilakukan oleh suatu LSM. misalnya industri makanan dan minuman (PT. diantaranya yaitu : 1. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. 45 .Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Pembentukkan Paguyuban. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2.

Menurut BPS (2003). seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. 46 . Dalam prakteknya. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian.2. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan.

Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. yaitu tebu 864 dan BZ 148. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. 47 . yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan).C. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. Pada awal produksinya. dan sisanya membeli dari para petani lain. 10 ha lahan sewa. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Ibu Arini membuat gula tumbu. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. rendemen tebu masih relatif rendah. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. yaitu 8 – 12 bulan. Pada tahun 1991. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Selama satu periode panen. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. Pada awal panen. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Mulai tahun 1998. yaitu berkisar 7 – 8%. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang.

Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. tetapi 4–5 kali pemasakan. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. sehingga nira tebu dapat terekstrak. dua orang di bagian penggilingan. dua orang di bagian pemasakan. Pada umumnya.1.12–0. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. Selanjutnya. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Dalam satu hari kerja. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. 48 . biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt.13 ha). Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a.

Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Pada prinsipnya. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. Gambar 4. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. Proses Penggilingan b. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. 2006). Apabila suhunya terlalu tinggi. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. maka debu dan kotoran (daun.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. 49 . 2003).

ketika nira mulai dipanaskan. agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). 50 . Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. kemudian mengangkatnya. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Untuk melihat apakah nira sudah matang. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. 1993). Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. 2006). Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. maka gulali tersebut sudah matang.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk.

Nira Tebu yang Mulai Mengental d.Gambar 5. serta membentuk benang-benang gula. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. 1985). biasa disebut dengan meja. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Gambar 6. Sebelum gula dipindahkan. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan.

baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Gambar 7. e. Gula Merah Tebu 52 . Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Pengadukan untuk meratakan panas. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). f. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. 2002). Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti.

Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

Kudus.00-Rp. 3. antara lain Rembang. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. Jadi. industri penghasil jenang (dodol).00Rp. sedang dan jelek.00Rp. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. ABC. 55 . Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. Oleh karena itu.00. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang.100. Semarang. diantaranya gula dengan mutu baik. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah. Cap Orang Tua.550. Pati. dan Yogyakarta.2. 100. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur. PT.00. 150. Indofood. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. 200. perusahaan kecap dan permen. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. sebagai pihak ketiga. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT.600. Remaja sebagai pengumpul besar. 4. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya.200. Pasuruan. PT. 3.00Rp.2.00.00 dan gula merah tumbu Rp. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp.600.

yang terletak di Desa Japerejo. Kecamatan Pamotan. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Remaja. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Remaja. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 . Tabel 9.

Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. 1997). pendirian bangunan.000. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. sumber dana dan biaya modal. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. seperti bank. b. Pada tahapan awal. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. estimasi aliran kas proyek. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. 57 . Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.00. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang.025. 2000). a. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.3.

Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.000 49.000 2.Tabel 10. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.000.000 Total Modal Tetap 218. 58 . bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.000. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. kemasan. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. tenaga kerja langsung.825. pemeliharaan. biaya variabel (biaya bahan baku.000 50. depresiasi.025. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.) 110. administrasi dan telepon). Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.000.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000 6.200.

Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.500. 59 .835.) 218.900.472 2. C. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.601.900.925. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.400 37. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.921 737.693.925.000 335. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A.497. Tabel 12.100 4.299.421 5. seperti terlihat pada Tabel 12.000. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.Tabel 11.604 600.076 31. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.497 264. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13.497 B.497 c.000 46.00.000 4.000 498.025.000 46.

Internal Rate of Return (IRR).851 144.790.163.490 133.064 137.) 78. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).450.839 109. d.Tabel 13. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu.294 142.284.462.212.431. Tabel 14.736 141.500 23.621 138.249 132.012.031.179 139.749 Modal Sendiri (Rp) 109.429.596 135.910. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.537.462.500 23.012.450. Break Event Point 60 . Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.657. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.249 132.409 e. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).

60 %. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol).968.791. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.96 tahun.(BEP).384 Kg/tahun. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195. Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. 61 .97.00. Titik impas tercapai pada saat produksi 63. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. dan Pay Back Period (PBP).831.969 Kg/tahun. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. diperoleh NPV Rp 257.968.00 atau 59.

Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. dan teknologi. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. pesaing. 62 . kondisi keuangan. yang meliputi kebijakan pemerintah. ekonomi. kegiatan pemasaran.D. legalitas perusahaan. lokasi pabrik. sosial. kegiatan operasional. teknologi proses yang akan digunakan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. pasar. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. pemasok bahan baku. serta kebersihan dan kesehatan produk. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan.

Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A.Tabel 15. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Kualitas SDM yang rendah 8. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Diversifikasi produk 5. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Proses produksi sederhana 3. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Bahan baku mudah 4. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Produk belum distandarkan 11. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Teknologi manual dan sederhana 2. Ketersediaan modal terbatas 7. Harga BBM naik 5. Belum berbadan hukum 6. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Potensi pengembangan 6.

bangunan pabrik tidak permanen. kualitas SDM yang rendah. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. proses produksi tidak konsisten. lokasi pabrik cukup strategis. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2.816. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. produk belum sesuai dengan SNI. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. 64 .a. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. memanfaatkan tenaga kerja lokal. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. belum berbadan hukum. ketersediaan modal terbatas.

042 0.061 0. Kualitas SDM yang rendah 8.172 0.057 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.138 0.069 0.061 0.184 0. Belum berbadan hukum 6. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.207 0. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.061 0.054 0.042 0.057 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.184 0.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.054 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0.050 0.107 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.215 0.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.054 0. Teknologi manual dan sederhana 2. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Internal Kekuatan (Strengths) 1.161 0.069 0.207 0. Proses produksi sederhana 3.Tabel 16.816 65 .069 0.000 2. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5.172 0. Ketersediaan modal terbatas 7.054 0.054 0.169 0. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3.084 0.215 0.184 0. Produk belum distandarkan 11.100 0.161 0.

Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. harga bahan baku di PG lebih tinggi. penampakkan produk yang kurang menarik. harga BBM naik. diversifikasi produk. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). 66 . ketersediaan lahan dan bahan baku. didapatkan total skor sebesar 2. memiliki langganan. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG).b. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. bahan baku mudah. dan gula merah telah populer di masyarakat. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. pajak dan ijin usaha. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar.686.

240 0.000 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.080 0. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.077 0.099 0.298 0. Harga BBM naik 5.090 0.077 0.080 0. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0.333 0. Diversifikasi produk 5.686 67 . Eksternal Peluang (Opportunities) 1.154 0.240 0. Potensi pengembangan 6.083 0.167 0.083 0.080 0.221 Ancaman (Threats) 1.093 0.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.154 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Bahan baku mudah 4. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.Tabel 17.083 0.269 0.279 0. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.250 0.080 0. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.

686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V.0 Rendah II III V IV VI VII 1. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2.0 Lemah 1.0 I 3.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE. dapat disusun matriks IE.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2. 68 . Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.Tabel 18.0 Rata-rata 2. melalui kerjasama dengan pihak lain.0 Tinggi Kuat 3. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. perluasan pasar.

Belum berbadan hukum 6. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Tenaga kerja lokal 4. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Membina SDM yang dimiliki 6. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Ketersediaan modal terbatas 7. 2.Tabel 19. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Potensi pengembangan 6. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Proses produksi sederhana 3. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Diversifikasi tebu 5. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Bahan baku mudah 4. Meningkatkan kualitas produk 7. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Memperluas daerah pemasaran 3. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Menerapkan goodhouse keeping 5. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Produk belum distandarkan 11. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1.Teknologi manual dan sederhana 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku. Kualitas SDM yang rendah 8. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Harga gula merah tebu lebih murah 2.

Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap.Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. untuk konsumsi rumah tangga. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. serta pedagang eceran. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Kudus. 70 . Memperluas daerah pemasaran. selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. 2000). industri pengguna gula merah. dan Semarang). 1. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. pengumpul dan industri pengguna gula merah. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan.

Membentuk kelompok usaha bersama. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga.2. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Selain itu. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. 3. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. 71 . Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. mengoptimalkan pembagian kerja. mempermudah akses pemasaran. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan.

ulet. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. proses pengolahan yang optimal. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. dan penggunaan teknologi yang sesuai. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. Tujuan 72 . Selain itu. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. Meningkatkan kualitas produk. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. dan dapat bekerja efektif serta efisien. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. pengontrolan dan pemantauan. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). agar menjadi lebih terampil.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Membina SDM yang dimiliki. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. mengorganisasikannya. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Menerapkan goodhouse keeping.

kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. dan memperluas pangsa pasar. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. mempertahankan dan mengembangkan usaha. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). 73 . Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. 4. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. memperkuat posisi produk dan perusahaan. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha. 2. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu.

Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. a.2. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. a. dibersihkan dengan arit atau pisau. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. 74 . Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh.1. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak.a.

Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Alat Penyaringan Nira Tebu a. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. menyelimuti dan memanaskan wajan. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang.3. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Selain itu.Gambar 10. Air 75 . selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya.

Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling.00/ liter. Bahan baku yang 76 . Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. Karena menggunakan air sumur. bahan bakar solar dan oli. Selain itu. dengan harga solar Rp. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. Boiler dan Wajan Uap a. 4. PS 864 dan BZ 148. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. dan air sumur. b. Gambar 11. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler.4.500.

kondisi batang. dengan umur tebu 8-10 bulan. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu. 130.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. 150.050. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November. dan umur tanaman.997 kg. Pemberian dosis kapur.00/ ton tebu. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton.00-Rp.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. 77 . tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. kondisi perkebunan. c.000.000.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. 2005). Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda.

Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. yaitu sebelum masuk ke wajan. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. d. letak drum di atas bak penyaringan pertama. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). 78 . 1984). Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Proses Produksi d.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. Selanjutnya.1. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih.

Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . lapisan bagian luar dan bagian dalam. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Proses Penggilingan d. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. Gambar 12. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral.2. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan.

untuk proses pemasakan berikutnya. kemudian mengangkatnya. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Gambar 13. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. dengan menggunakan mesin pompa air. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. ketika nira mulai dipanaskan. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. Karena jika tidak dibuang. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam.

Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan.3.4. serta membentuk benang-benang gula. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. 1985). Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Sebelum gula dipindahkan. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Pengadukan untuk meratakan panas. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan.d. Gambar 14.

masih berlangsung dapat segera terhenti. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Gambar 15. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Sedangkan. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Selanjutnya karung yang telah diisi gula. d. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. 2002). Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur).6.5. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel. Proses Penirisan Gula d. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. 82 .

Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16.

Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi.00-Rp 150.00-Rp 4. rancangan. tempat (place).00-Rp 200.00. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20.600.00. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100.00-Rp 3. dan promosi (promotion).00 dan gula merah tumbu Rp 2. Tabel 20. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik.3.550.600. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. Penerapan pengembangan teknologi di atas. pemberian merek. rasa dan kekerasan oleh pengusaha. dan pengemasan produk. Menurut Kotler (2005). sedang dan jelek. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . fitur. yang mencakup mutu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. harga (price).200.00.

harga gula merah tinggi. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan).karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. yaitu permintaan langsung dan 85 . Distribusi gula merah relatif sederhana. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Ketika harga jual gula merah rendah. Sedangkan pada masa puncak panen. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. harga cenderung turun. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. Namun pada saat awal panen.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.000. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. administrasi dan telepon). Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp. biaya variabel (biaya bahan baku. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang.000. kemasan.285. pendirian bangunan. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.000 Total Modal Tetap 308. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.085.) 110. pemeliharaan. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22.200.000 2. depresiasi.00.000 6.000 70.000. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 . tenaga kerja langsung.c.000. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308. Tabel 22. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.285. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.000 120.

Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.00 seperti terlihat pada Tabel 24.000 826.500.690.000 56.476.000 4.865.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.285.808.000.039 2.800 2.240 5.000 391. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.561 42. Tabel 24.000 56.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.300 46.761. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.522 839.611.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.801 d.476.400.140 982. Jangka waktu pengembalian modal 91 . Tabel 23.429.801 364.

Tabel 25. Tabel 26.493 259. e.713.900 Modal Sendiri (Rp) 154.380.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.955 92 .509 312. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.759 327.643. ) 190. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.380. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.142.424.368 323.142.540.656. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.500 28.238.826.173 321. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.564 325.500 28.782 317.977 319.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.400 182. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.598.771. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.446.482.573 315.238.400 182. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.

dan Pay Back Period (PBP).721. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR-nya adalah 51.865. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158.349 Kg/tahun.400.12 %. 93 . Maka layak untuk dilaksanakan. Internal Rate of Return (IRR).f. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.349 Kg/tahun. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek.471.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol). Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Nilai yang diperoleh yaitu 3.00 atau 45. sehingga layak dilaksanakan.34 memiliki nilai lebih dari 1. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Break Event Point (BEP). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.

Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. Selain itu.89 tahun. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. 94 . aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan.

Penyimpanan produk .Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .00) .Distribusi ke daerah Rembang.00.Tabel 27.925. Produksi : 2.00.800 kg/hari 3.00. Pasuruan.400.500. IRR : 51. BEP : Rp 195. Net B/C : 3.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.89 tahun Modal : Rp 364.968.Bahan baku .Harga produk lebih rendah (Rp 3.Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar . dan jelek) .34.349 Kg/tahun). Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.Distribusi . IRR : 40.831.471. pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1.12 %.Sanitasi pabrik .761.968.00) .00 (59. Teknis dan teknologis .Harga .60 %. Kudus.Bahan bakar bagas berundak).Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) . Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .96 tahun Modal : Rp 264. Net B/C : 1. dan Yogyakarta .Produk .Harga produk lebih tinggi (Rp 3.865. Produksi : 2.791.97.100 kg/hari . BEP : Rp 158.Konsumen industri .Bahan bakar bagas . pemasakan gula tidak konsisten .Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .300.Tidak dilakukan promosi . PBP : 2.00 (45. sedang. Semarang.Promosi . PBP : 1.Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .721.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .00. Pati.497.Proses pengolahan .384 Kg/tahun).Penyimpanan produk di tempat terbuka .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .Konsumen industri dan rumah tangga .Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler . Pemasaran .801.

melalui kerjasama dengan pihak lain. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. rendahnya teknologi pengolahan.050. KESIMPULAN DAN SARAN A. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. rasa dan kekerasan. WO strategi dan WT strategi. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. Berdasarkan hasil yang diperoleh.V. yaitu SO strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah.955 ton. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. sedang dan jelek. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. memperluas pasar. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Selain itu. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal.015 Ha. serta sanitasi dalam proses pengolahan. ST strategi. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. diantaranya variasi bahan baku. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. yang meliputi warna. meningkatkan pangsa 96 . pengawasan bahan baku dan produk. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. serta sarana dan prasarana lainnya. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12.

00. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.968.349 Kg/tahun. IRR sebesar 40.801. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.00 dan Rp 854. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364. NPV sebesar Rp 257.00.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.00 atau 59.400.pasar.721.000.791. Berdasarkan hasil tersebut. 97 .925. dan 51. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.900.801.000.60 %.97 dan 3.00. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini.761.968. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. dan menerapkan teknologi tepat guna. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha.471. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.34. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. BEP sebesar Rp 195. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.831.384 Kg/tahun dan Rp 158.476.89 tahun. PBP sebesar 2.285.96 dan 1. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu.497.00 dan modal kerja Rp 56. Net B/C sebesar 1.12 %. Dalam basis waktu operasi satu hari. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.497.00 dan modal kerja Rp 46.865. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung.025.00 atau 45.

Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan.B. 3. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). 2. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. SARAN 1. 98 .

N. S. D dan M. Bogor. 2005. M. 1987. Badan Standarisasi Nasional. PT. Laporan Penelitian. Ekonomi Ketenagakerjaan. 99 . Dachlan. Kotler. 2006. Gramedia Pustaka Utama. edisi 10. Kotler. Simanjuntak. 2003. S. Fakultas Teknologi Pertanian. dan Muhammad. PT. Husnan. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Gula Merah Tebu.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. Industri Gula Merah. David. F. 1984. 2004. Agro Industri Press. Indeks Kelompok Gramedia. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Indeswari. 2000. Jakarta. 2005. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Proses Pembuatan Gula Merah. Universitas Andalas. BBHIP. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. Bogor. P. Yogyakarta. Kotler. Manajemen Operasi. Indeks Kelompok Gramedia. 2000. Ma’arif .. IPB. 2005. Jakarta. Artikel. Wijandi. Bogor. C. Ashari. Grasindo. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. LPFE UI. P. Jakarta. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Badan Standarisasi Nasional. Padang. S dan Hendri. Jakarta. S. PT. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. A. Gray. 1985. 2002. Jakarta. Jakarta. FATEMETA.. Jackson. Studi Kelayakan Proyek. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Dasar Pengolahan Gula 1. 1990. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jakarta. Salemba Empat. P. Jakarta. IPB. P. PT. Skripsi. 1992. 1997. SNI 01-6237-2000. Manajemen Strategis. Dyanti. Goutara dan S. Indeks Kelompok Gramedia. Bellante.

A. Analisis SWOT. dan Sugiyono. Fakultas Teknologi Pertanian. PT. Skripsi. Foods Browning and Its Control.sde/docs/available Rangkuti. Gramedia Pustaka Utama. IPB. 1992. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). Okyanus Danismanlik. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Gramedia Pustaka Utama. Institut Pertanian Bogor. http:/www. 2002. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. R. PAU Pangan dan Gizi IPB. Aneka Produk Olahan Kelapa. E. 1979. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah.okyanusbigiambari. Tesis. H. 1993. Santoso. Bogor. Bogor. 1992. 2000. Rachmat. Bogor. 1993. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Yogyakarta. Swadaya. Reece. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Pdf. 1986. Puri. B. Jakarta. Analisis SWOT. Program Studi Ilmu Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Jakarta. 1997. M. Nengah. K. Bogor. Fakultas Pasca Sarjana. Sardjono. M.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. Ozdemir. 100 . USA. 2005. 1998.Muchtadi. T. N. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. F. Nurlela. Fakultas Teknologi Pertanian. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Lousiana State University. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. Jakarta. Skripsi. Bogor. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. Kanisius. I. http:/etd. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. B. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. N. Thesis.. 1990. IPB. Jakarta. Pembuatan Gula Kelapa.lsu. R. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Palungkun. P. Soejardi. PT.

1999. Penerbit Liberty. 2003. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. B. Wirioadmodjo.Sudarmadji. Bibliografi. Yogyakarta. 101 . Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Umar. Studi Kelayakan Bisnis. Gula Indonesia Vol. Utami. Bogor. IPB. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Suhardi. PT.. Bambang H. Syukur. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Pasuruan.. S dan Sumarno. Gramedia Pustaka Utama. 1989. H. S. 1996. XXI/2:22-25. 1984. Jakarta. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi.

000 1.000 600.000. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000.000 250.000 35.000 100.000 600.Lampiran 1.500.000 60.000 500.000 30.000 20.000 300.000 218.000 2.000.000 30.000 100.000 500.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000 50.000.000.000.000 1.500.000 2.000 25.000 600.000 1.000.000 50.000.000 50.000 1.000 500.000.000 2.000 No.000 15.000.000 500.025.000 5. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000.000 Sub Total (Rp) 110.000 675.000 300.000 100.000.000 10.000 210.000.000 1.000 180.000 200.

000.000 80.285.000 70.000 1.000 1.000.000 5.000 Sub Total (Rp) 110.000 275.000 250.000.925.000 600.000 700.000 50.000 200.000.000 500.000.500.000.000 70.Lampiran 2.000 1.000 500.000 No.000.000 20.000. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000 1.000.000 103 .000 45.000 600.000.000 2.000 80.000.000.000 500.000.000 1.000.000 180.000 100.000 2.000 20.000 25.000 2.000 308.000.000 500.000.000 1. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000 25.000 100.000 10.

000 Drum 600.000 140.000 Sub Total 6.000 1.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.700 360.000 10.000 Meja Penirisan 1.000 75.000.400 5.000 182. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 2.000 600 20.000 135.000 10 6 10 60.500.000 1.000 5.543 8.920.000 27.000 Alat Penyaring 60.000 Bumbung Penahan 675.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.500 135.000 18.000.500 1.400 2.500 150.000 Sodet 210.000 Kursi 600.025.000.000 60.333 150.800 2.800 3.000 18.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 67.500.000 8.000 Serok 180.000 Listrik 2.000 100.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.000 30.825.143 18.808.887.000 1.000.000.000 Instalasi Air/Pompa 1.Lampiran 3.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.000 Tungku 30.000 6 6 6 50.974.000 (Rp) 110.000 90.000 3.500.982.000 20.500.000 10 25.000 30.400 18.000 587.000 1.400 8.000 625.000 Selang 300.500 141.000 3.000.876 104 .500 204.000.000 Sub Total 49.000 60.500.000 150.700 10.857.350.000.000.000 100.902.900 45.000 50.000.000 83.000 2.000 Ember Stainless 300.000 Lemari 1.800 54.000 90.000 4.000 Timbangan 1.000 90.000.200.000 Total 216.000 6.000 54.000 202.000 21.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

000 129.076.383.041.270.267.000 6.Lampiran 7.602 881.288.120 17.000 8.500 32.000 8.974.894.(Rp) 3 12.000 2.876 10.412.000 110.350. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.000 8.500 32.708.876 10.376 B C 749.876 10.600.602 1.000 129.383.000 2.978 1.962.076.000 2.153.600.000 8.376 Tahun Ke.825.000 8.383.500 32.000 2.500.000 885.974.808.153.974.288.876 10.474.500.500.383.037.496 1.000 7.800 9.876 10.376 573.600.288.500 32.041.041.466.500.120 2.000 9.496 1.000 2.500.000 2.808.600.000 2.808.500.153.600.076.000 20.954 2 12.412.500 32.500.610.079.000 919.000 2.200 20.120 1.960.000 20.412.368.120 881.496 108 .960.000 711.578 13.974.500.120 1.808.383.120 881.376 4 12.578 2.200 676.270.500.270.610.808.000 129.000 9.974.960.800 84.610.500.376 5 12.046.

600.376 881.500.808.000 129.500.412.120 20.960.808.120 20.000 2.120 20.120 20.000 2.974.041.288.120 20.041.610.600.000 129.876 10.000 2.270.496 1.500 32.500.876 10.500 32.270.383.496 1.974.000 2.960.808.288.500 32.412.876 10.808.600.974.376 881.500.000 2.000 9 12.500.076.376 881.076.808.000 2.153.610.376 881.500.610.600.(Rp) 8 12.076.500.000 9.270.000 7 12.000 8.412. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.500.Lanjutan Lampiran 7.960.974.600.412.120 1.500 32.000 129.000 Tahun Ke.120 2.270.041.974.000 B C 9.500.120 1.288.288.383.153.412.000 2.383.000 8.500.876 10.153.960.000 8.270.376 881.120 1.876 10.041.076.000 8.000 1.496 1.610.000 10 12.041.000 9.000 2.000 8.610.288.496 109 .000 9.000 1.120 1.383.000 2.076.000 9.960.153.000 129.383.496 1.500 32.153.000 129.

093 B C 763.700 42.102.174.393 15.700 42.093 5 12.393 15.800 2.600.600.093 Tahun Ke.500.700 42.877.102.102. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.800 1.500.000 14.216.000 2.000 7.393 15.772.320 1.580.096.500.836.000 839.877.760.600.082.600.400 9.335.000 14.580.393 15.000 10.500.290.093 4 12.760.290.500.600 27.393 15.142.836.893 1.Lampiran 8.893 110 .216.000 27.877.772.800 1.852.000 2.133.544.000 14.097.500.290.413 1.000 2.600 10.893 1.800 1.216.880 1.000 77.836.156.000 50.700 42.600.500.335.102.580.716. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.500.043.174.000 2.877.000 77.772.000 2.520 998.580.210.000 2.236.960.000 27.800 1.093 2 12.000 14.700 42.002.000 2.000 2.973 1.335.400 23.852.852.174.800 17.680 1.000 14.960.760.000 77.500.000 2.724.000 884.580.(Rp) 3 12.960.000 66.000 10.877.102.500.690.

393 15.500.290.335.836.500.290.852.000 1.700 42.760.960.852.000 2.000 14.893 1.000 10.000 14.174.772.000 10. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.174.093 Tahun Ke.500.216.800 1.290.772.216.800 1.102.000 10.580.000 2.600.000 14.500.580.(Rp) 8 12.836.580.836.000 77.852.960.393 15.800 1.102.600.000 2.580.877.102.893 1.580.174.600.960.500.772.800 1.174.000 14.760.000 10.000 2.852.800 1.093 7 12.000 27.290.500.216.000 77.800 2.960.000 27.000 2.760.877.760.000 10.393 15.000 77.000 2.500.093 B 1.335.836.600.393 15.000 77.174.216.700 42.893 1.877.800 1.600.000 2.000 2.772.500.290.335.700 42.000 14.700 42.760.877.000 27.893 1.700 42.102.335.000 77.800 1.093 9 12.102.500.000 27.335.960.216.393 15.000 2.800 1.877.836.800 27.000 1.772.093 10 12.Lanjutan Lampiran 8 No.500.893 C 111 .852.

085.300 46.801 364.000.000.000.000 4.561 42.000 56.100 4.Lampiran 9.000 2.000. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.000 56.000 2.476.611. C.000 46.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.429.825.299.000.604 600.000 50.240 5.921 737. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.140 982.000 4.000 49.000.000.421 5.500.000 335.000 6.925.801 112 .000 120.476.865.497 264.000 6.400 37. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.835.808.761.200.500.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000 498.039 2.000 46.900.000 70.801 B.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.076 31.000 826.472 2.200.601.900.100 100.522 839.693.800 2.000 391.000.

773.962.901.500 98.750 7.500 154.450.012.787.630.500 Modal Kerja 23.250 10.523.901.450.811.901.600 54.794 15.816.250 3.924.249 23.050 76.275 87.000 43.249 28.380.375 43.749 182.250 17.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.037.500 154.210.250 10.700 10.636. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.633.250 19.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.750 10.499 7.506.012.150 32.450.125 20.674.900 18.223.462.814.350 22.901.749 182.400 Jumlah 132.221.750 10.506.250 98.863.750 4.750 2.250 7.703.407.816.249 23.901.249 28.500 109.802.250 54.575 24.750 76.380.012.697.779 7.675 16.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .622.500 109.500 10.012.250 1.400 23.450.802.901.308.045 12.250 9.660.250 15.712.015 9.142.308.250 11.735.750.238.462.901.750 1.901.703.000 10.250 10.Lampiran 10.450 14.816.238.750 7.500 109.825 65.901.901.500 10.210.901.500 10.030 10.025 28.250 13.816.450.925 21.901.000 87.900 132.000 10.250 30.800 26.605.499 15.561.886.825.111.249 7.012.250 10.816.142.599.750 32.407.250 5.500 65.225 12.605.111.407.848.500 21.633.

071.801.899.314.657.549.608 12.250 Bunga 27.745.323.510 46.414.238.647.945 30.250 40.250 7 61.750 15.250 15.694.390 13.650 24.750 23.414.412.414.485.412.250 3 123.750 34.825.000 37.750 15.899.205 92.250 8 46.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.695 5.188.500 43.414.380 15.770 107.400 28.414.800 3 9.000 15.500 15.250 6 77.250 18.600 9.414.421.495.000 26.260 8.900 138.061.082.130 2.500 15.500 1 154.414.196.828.520 19.825 11.414.142.304 11.828.408 9.414.238.287.412.238.610.728.712 18.250 4 107.872.250 2 138.414.104 0 114 .142.414.412.250 10 15.955 16.250 15.107.075 61.640 77.414.500 20.600 2 18.250 5 92.250 9 30.657.098.500 32.971.800 3.963.242.400 1 28.912 14.314.512.388.412.836.242.737.250 29.825.728.085 22.142.800 9.000 15.774.071.500 15.800 5.385.800 1.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.335 123.159.400 9.485.250 15.

000 378.376 34.883.300 3.300 378.000 378.270.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.376 34.300 3.270.270.300 3.300 3.120 1.883.000 378.000 378.376 34.883.376 Biaya Variabel (Rp) 676.847 2.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .883.300 3.270.602 1.041.847 2.041.000 378.847 2.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.120 1.376 34.847 2.000 378.270.825.376 34.300 3.847 2.883.041.000 Harga Pokok/Kg 2.120 1.847 2.847 2.041.883.Lampiran 11.300 3.883.376 34.120 1.120 1.883.883.120 1.041.376 34.863 2.578 885.300 3.041.883.897 2.700 321.270.000 378.041.270.270.079.300 3. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.376 34.041.376 34.120 1.

772.000 504.000 504.093 45.651 2.080.000 Harga Pokok/Kg 2.500 3.080.080.290.320 1.093 45.500 3.772.290.Lampiran 12.097.600 428.800 1.500 3.156.772.800 1.500 3.093 45.093 45.000 504.651 2.093 45.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .290.093 45.080.290. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.500 3.651 2.772.290.290.880 1.772.651 2.080.651 2.080.651 2.093 45.699 2.772.080.500 3.093 45.000 504.093 45.400 504.651 2.772.080.666 2.290.772.800 1.500 3.800 1.080.800 1.000 504.080.800 1.500 3.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.500 3.290.000 504.800 1.093 Biaya Variabel (Rp) 839.000 504.002.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.

327.000 1.622.000 1.000 32.876 168.060.270.015 17.653.041.800 1.970 133.735.409 137.247.247.948.353 109.788 78.575 160.000 1.000 1.376 1.079.400.383.462.985.742 135.653.810.621 117 .383.751 8.120 1.973.Lampiran 13. Laba Setelah Pajak 65% 245.978 17.519.041.270.578 709.773.383.400.784.602 917.653.120 1.055 122.247.490 Tahun ke3 100% 378.974.212.000 32.350 161.000 32.400. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.073.376 885.496 15.300 1.041.247.974.163.350 11.565 32.641.154 8.000 1.929 8.060.496 13.876 86.697.000 810.208.627 8.596 4 100% 378.876 131.825.352.250 4. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.184.376 676.295 77.843.247.030 33.104.974.290.290.954 19.270.429.383.814.030 20.431.616.810.575 13.064 5 100% 378.376 1.732.000 32.000 1.221.898.474.010.247.407.025 2.843 21.000 1.815 156.000 32.073.376 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.790.839 2 85% 321. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.496 11.400.073.400.383.876 170.195.045 23.660.974. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.974.805 33.120 1.735.876 165.773.967 8.689 8.400.700 810.757.

247.400.247.962.383.480 34.872.376 32.910.962.653.886.284.225 1. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 378.935.270.247.270.376 1.675 167.747 144.653.379 8.247.125 9. Uraian 6 A.000 1.376 32.924.383.383.270.744 139. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.041.829 8. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.784.247.900 165.120 1.247.000 378.376 32.653.653.000 1.247.400.000 1.139.400.225 171.961.924.247.000 1.900 7.604 8.270.400.247.120 1.400.657.000 1.450 3.727.073.373.876 180.400.876 178.400.496 1.550.653.496 9.000 1.279 8.073.120 1.705 35.974.876 174.834.041.974.910.876 176.000 378.000 1.294 3.496 1.974.412 141.736 5.125 163.851 1.537.120 1.247.886.876 172.974.031.930 36.848.759. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.409 118 .897.496 1.400.822.000 1.000 1.675 5.383.848.811.496 1.073.073.041.255 34.400.383.000 378.000 32.796.041.079 142.Lanjutan Lampiran 13.077 138.859.000 1.974.450 169.400. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.073.811.054 8.179 7.376 32.120 1.041.270.155 36.

421.400 504.000 504.352.826.000.133 317.800 881.066.333.782 16.000.800 1.736.388.000 42.000 1.955 411.000 1.085 3.745.647.393 346.717 14.676 108.Lampiran 14.290.999. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.973 1.772.000 1.977 119 .608 28.000.764.110 111.828.925 190.000 1.877.893 27.189.619.582.304 23.196.800 1.877.764.025 14.093 42.352.580.756.180.000 1.352.393 421.573 19.146.694.093 42.764.600 428.413 1.824 406.446.354.600.499.562 232.333.390 16.764.545 110. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.290.955 19.893 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.400.499.218 259.764 315.000 1.359.334 14.000.082.877.893 1.000. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.393 426.509 22.633.713.764.390 413.103 312. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.421.333.225.580.520 1.877.772.000 504.600.330.000 1.493 24.093 42.393 247.303.772.647.097. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.393 428.093 839.771.643.877.580.102.290.163.093 42.156.139.890.000 1.002.283 14.418 56.912 32.152 14.971.000 1.400.727 86.990.880 1.764.580.580.146.320 1.693 331.000 1.877.650 5.000.

800 1.995.877.565 13.800 1.282 14.000.675 111.981 327.764.872.660.877.000 1.368 8.893 11. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.975.492.872. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.580.098.651.093 1.564 5.580.000.324. Laba Setelah Pajak 100% 504.426.200.000 1.000 1.000.611 325.093 1.000.000.893 13.093 1.774.800 1.825 7 100% 504.877.772.935 115.000.393 431.580.000 42.333.000 1.323.352.333.482.805 113.000 42.893 8.772.759 2.352.290.173 11.825 416.097.955 120 .290.542 14.000 42.774.000.749.000.764.412 14.503 319.000 1. Uraian 6 A.240 112.323.877.290.656.695 9 100% 504.764.764.847 14.774.695 422.549.000 42.242 323.764.130 10 100% 504.764.000 1.352.393 439.598.000.872 321.093 1.548.333.772.580.893 5.393 442.000 1.772.540.877.393 434.333.098.580.352.352.000 42.549.977 14.000.893 2.260 Tahun ke8 100% 504.772.370 114.000 1.290.764.000 1.323.093 1.764.000 1.260 419.393 437.800 1.565 427.424.800 1.764.827.Lanjutan Lampiran 14.764.130 425. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.872.333. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.290.

163.953 -114.462.925. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.790.839 0 0 23.212.163.999 4.815 13.060 -114.944.822.490 0 0 0 109.429.497 0 -264.953 Tahun ke2 109. Modal sendiri 5.490 0 0 20.374 5 137.571.104.954 -210.790.497 0 264.575 6.696.314 4.696. Nilai sisa 4.Lampiran 15.925.483.218. Kas keluar 1. Arus kas bersih D.900. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.431.596 0 0 17.055 13.925.596 0 0 0 133. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.822.369.735.429.871 134.925.061 121 . Biaya modal kerja 3.839 0 0 0 78.536 95.245 133.749 132.544 -264. Kas masuk 1.621 0 0 11.735.497 -210.000 46.064 0 0 13.374 265.212.750 129.555.555.497 -264. Modal pinjaman Total kas masuk B.483.497 1 78.621 0 0 0 137.497 218.061 134. Laba bersih 3.462.843.536 119. Biaya modal tetap 2.912. Arus kas awal tahun E.295 23.773.431.843.750 130.025.295 54.428.999 3 4 135.350 6.925.732.474.064 0 0 0 135.749 264.912.218.

218.438.304 10 144.962.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.179 0 0 0 138.851 0 0 3.245 397. Arus kas bersih D.125 6.065.736 0 0 0 139.658.910. Arus kas akhir tahun 6 138.031. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.943.500 0 0 285. Modal pinjaman Total kas masuk B.463 122 .811.750 279.294 0 0 5.943.750 132.504.544 531. Kas keluar 1.428.537.218.886.318.218.082. Kas masuk 1.284. Biaya modal tetap 2. Nilai sisa 4.429 265.674 531.218.674 7 139.715.294 0 0 0 141.900 6.848.304 1.450 6.746.439.660 9 142.910.159 802.924. Arus kas awal tahun E.933.203 802.909 0 0 1.691.986 397.736 0 0 7.750 133. Modal sendiri 5.409 141.101 666.746.225 6.203 Uraian A. Laba bersih 3.660 666.657.438.218.657.851 0 0 0 142.537.179 0 0 9.504.284.750 136.675 6.902. Biaya modal kerja 3.750 135.

752. Aliran kas awal tahun E.870 24.930 -364.359. Biaya modal kerja 3.801 0 -364.108 312. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.828.521 5 317.446.285.824 288.828.492.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A.801 1 190.824 23.695 609.900 182.359.380.647.000 56.771.801 -364. Modal sendiri 5.446.749 24.782 0 0 0 315.466.827 313.713.493 0 0 0 190.771.955 296.476.801 -207.761.562 32.509 0 0 28.643.977 0 0 16.695 123 .349.521 910.075.075.713.826.390 301.693 28. Laba bersih 3.977 0 0 0 317.890.421.509 0 0 0 259.573 0 0 23.573 0 0 0 312.143.425.647. Biaya modal tetap 2.761. Kas keluar 1.493 0 0 32.587 609. Modal pinjaman Total kas masuk B.870 tahun ke2 259.946 3 4 315.955 19.801 308.143.562 157. Nilai sisa 4.322. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.946 313.643.421.066.782 0 0 19.617.425.900 364.761. Kas masuk 1.761.801 0 364.761.693 231.322.826.390 16.890.380. Aliran kas bersih D.816 -207.

926.646. Modal pinjaman Total kas masuk B. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.526.564 0 0 0 323.775.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A. Aliran kas bersih D.549.872.061 2.869 319.841.598.368 8 323.161.841.161.260 8.482.424.951 124 .061 1.695 5.565 13. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C. Kas keluar 1.482.759 0 0 0 325.565 305.108 315.323.955 159.540.783. Laba bersih 3.216.428. Nilai sisa 4.432 2.695 5. Biaya modal tetap 2.368 0 0 0 321.348 310.992.275.500.774.549.275.775.130 2.108 1.260 8.598.456 1.564 1. Kas masuk 1.492.656.872.774.098.432 2.564 1. Biaya modal kerja 3.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13.926.656.216.500 0 0 486.456 1. Aliran kas awal tahun E.173 7 321.130 2.078.853.933.216.098.759 10 327.564 9 325.526.825 11.629 484. Modal sendiri 5.004.992.173 0 0 0 319.323.825 11.890 910.540.

404 0.969.156 20.674 531.735.831 40.919 41.428.261 35.236.497 0.245 397.589 30.968.504.237.203 802.082.609 0.339 0.439.715.949 0.060 129.024 6.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.925.374 265.885 68.101 279.051 6.544 95.917 72.108 14.074 9.628 257.791 59.266 0.831.275.544 136.314 0.454 66.226 29.968.000 0.) Atau 195.314 130.437 0.97 2.311.476 45.915 0.429.912.732.442 57.159 NPV Nilai 257.660 666.954 119.718 0.304 1.000 -264.061 134.210 49.798 0.808.943.953 -114.370 0.746.60 1.496.932.024 53.920.831 DF PV i = 45 % 1.191 PV -264.438.532.986 135.384 Kg/tahun 125 .497 -210.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.944.571.369.237 0.911.925.328 39.065 0.658.761.691.925.075.516 0.874.999 4.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.258 -50.968.429 133.753.188.497 46.815.822.847 0.014.035 4.497 54.443.420 0.555.065.96 Akumulasi -264.690 37.871 132.225 0.318.483.103 0.925.

143.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.717 72.749 296.471.609 0.000 0.051 0.743.226 0.500.863 175.021 110.516 0.801 -207.039.629 484.732 67.870 24.173 16.587 305.761.061 2.349 Kg/ tahun 126 .761.074 0.322.775.232 94.091.859.517 166.078.930 231.890 NPV Akumulasi -364.314 0.402 11.801 133.526.521 910.040.980 113.492.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.574.349.370 0.328 0.801 157.490.869 319.271.275.108 1.903.757 83.816 288.718 0.801 108.564 1.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.827 301.933.617.432 2.598.216.216.752.437 0.108 315.865 51.34 1.456 1.348 310.761.794 46.838 152.473.275 854.690 0.970.12 3.476 0.266 0.130.944 131.225 0.215 32.131.783.946 313.235.471.721.992.004.865 DF i = 45 % 1.796 97.075.761.782.024 PV -364.000 0.154 11.425.702.466.646.191 PV -364.751 23.695 609.89 BEP (Rp) atau 158.108 0.066.035 0.853.161.400 45.715.464 157.291.979 92.900.847 0.926.841.156 0.

kandungan nira. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. 3. Memperbaiki proses pengolahan.Lampiran 19. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. 11. terutama di bagian pemasakan. 9. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. 13. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. dan kebersihan tebu). 7. 6. Mengurus perijinan usaha (legalitas). 127 . Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. Menetapkan tujuan perusahaan. 4. 12. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. antara lain : 1. 2. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. Melakukan pelatihan bagi pekerja. 8. waktu kerja. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. 5. 10. fasilitas produksi. Memperkuat permodalan. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. kapasitas produksi.

15. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.14. 128 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->