STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

Mila Fadilah Utami. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. ST and WT). extending market. WO. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. Muhammad Romli. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. such as SWOT analysis. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. Ir. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). Ing. raw material conditioning (cane). Supervised by Dr. and also the financial aspect. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. Brown cane sugar industry owned by Mrs. marketing aspect. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. F3403056. 2008. supervising on raw materials and products. and the development strategy. Suprihatin. From the obtained result. The strategy was done by increasing product quality. and application effective technology. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. supporting facility. capitalization. Rembang District). Ir. increasing market share. Dipl. St. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. Msc. technical and technological aspect. and the staged 4 . The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. Those strategies were carried out supportively one to another. gave four alternative strategies (SO. and Dr.

497.00 or 59. 46. The criteria of investment feasibility for each condition in order were.000. Rp. Production capacity for the present condition was 2. 56. Total investment required for the present condition was Rp. Based on the results.00 fixed cost.721.831. 308.400. brown cane sugar industry was feasible on both conditions.025.791. IRR of 40.761. 5 .filtering of cane sap from extraction. BEP of Rp.285.900. 364.000. But if viewed from NPV indicator.00 or 45.00 fixed cost.476.968.12 %. 195. and.865. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition. the development condition had much better NPV than present condition. 264.497.60 % and 51. 158. 257.00 and Rp.925.97 and 3. 854.00.00 which divided into Rp.00 production cost.968.00.89 year. and Rp.801.801.96 year and 1. which was supported by the other investment criteria.349 kgs/year. Net B/C of 1.1 tons per day and the development condition was 2.34.8 tons per day.384 kgs/year and Rp. NPV of Rp. While for the development condition total investment required was Rp.471. 218. PBP of 2. which divided into Rp.00 production cost.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

St Pembimbing Akademik I Dr. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Pembimbing Akademik II 7 . Ir. Ing. Muhammad Romli. Ir. MSc. Dipl. Januari 2008 Dr. Suprihatin.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Bogor.

Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 . kecuali yang dengan jelas rujukannya. Bogor.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing.

5. Ayahanda tercinta H. Dr. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang.. yaitu kepada : 1. Lili Aliah. Muhammad Romli. Ir. Yandra Arkeman. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Ir. 3..KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. 2. St. 9 . Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Ing. Ir. Dipl. MSc.. Dr. kepada keluarga dan para sahabatnya. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. 6. 4. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. Suprihatin. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. Eng. M. Dr. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya.

Endang. Aa Bayu. Para Lawalata-Ers. Aa Indra. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Mayang wo. 11. Mb Ida. perhatian dan ketegaran kepada penulis. Da Hendrick. 10. Popo Iskandar. 12. Aa Dudi. Endah. Lucia. Mas Umam. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. 8. Om Ucup. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. Bunda. Umi. atas dukungan. Sahabat-sahabat penulis. Idesh. 9. ST yang selalu memberikan dukungan. Januari 2008 Penulis 10 . Bogor. Naqoer. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini.7. Dika. Bang Affan. Yuyu. Teman-teman TIN 40. Ana. dan Bung Fardian. Windi. atas dukungan. Bung Amet. Aa Ijey. Dita. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. Mamin.

..................................................................... LATAR BELAKANG... TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 12 D....... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS............. ASPEK FINANSIAL............................................................................................... NIRA........... 2 II...... ASPEK PEMASARAN....................................... 30 11 ....................................................................... 1 B................ iii DAFTAR TABEL......................................... 3 A..... TUJUAN.. ASPEK LEGALITAS...................... vi DAFTAR LAMPIRAN.............................................................. 24 A.......................................................................................................................... 9 3....... vii I.......................................... HASIL DAN PEMBAHASAN......................................... PERBAIKAN PROSES................................................................................ MUTU GULA MERAH...................... 11 C.................. 18 A......... 17 III.......................................................................................... SWOT............................................ PROSES MANAGEMEN STRATEGIS..................................................... 24 1................ 15 3............................ GULA MERAH............................................................................................................................... TATA LAKSANA........................................... KARAKTERISTIK INDUSTRI............................... USAHA KECIL....................................... 4 1......................... PENDAHULUAN....... 18 B.......................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS...................................... KERANGKA PEMIKIRAN................................................ i DAFTAR ISI....................... 3 B.................................................. 6 2........................................................... 13 1............................................................................................................... v DAFTAR GAMBAR......................................... KARAKTERISTIK WILAYAH............ PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU..... 16 F......... 15 E............................................... 1 A.................................. METODOLOGI.................................................................................................. 14 2............. 27 2...................................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR........... 19 IV...........

....................................................... KESIMPULAN DAN SARAN...... ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU....................................................................................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS... KESIMPULAN... ASPEK PEMASARAN......... ASPEK FINANSIAL....41 C............................ 46 1.................................. ASPEK PEMASARAN.........................................................................57 3................................. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU..................................................B.................................. 32 1...........39 3..... 82 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 80 B.71 V....................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..... 86 12 ...................... ASPEK FINANSIAL. 83 LAMPIRAN....... 46 2............................... SARAN...................32 2.......................................................................................................................................... 80 A...... 68 4..................................... ANALISIS SWOT...........................

.................................................... 25 Tabel 8.......... Matriks Analisis SWOT......... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha. Tabel 4........... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu.. 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu .............................................. Tabel 5............................. Tabel 6.................................................................................... Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu......... Produksi................43 Tabel 12.................... Tabel 3.......DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.....43 Tabel 13....... Matriks Internal Eksternal............. Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ... 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula ............... Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu.................................68 13 ............ Luas Areal..................51 Tabel 18.............................................. Tabel 9............. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu.......................................................... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 ............. 52 Tabel 19.......................53 Tabel 20..... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ........................................ 40 Tabel 10.......................................... 47 Tabel 16......49 Tabel 17............................... Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu.................... Perincian Laba Bersih.................. 24 Tabel 7............................ Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ......................... Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu.....................................................................44 Tabel 15... Tabel 2.......................... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ..... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.................................. 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ..............................................................................................................................44 Tabel 14...42 Tabel 11........... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah ...........................................................

.74 Tabel 23........... Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha.. Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan.......................75 Tabel 24.......................................................................................................................................... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah............... 79 14 ...........................................Tabel 21.............. Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha............. Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha.... 76 Tabel 26................ Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha .................... 76 Tabel 27..........75 Tabel 25....................................73 Tabel 22...........................................

......................................... Boiler dan Wajan Uap................... 64 Gambar 14...............DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1............................................................................................... Alat Penyaringan Nira Tebu... 63 Gambar 13. Gula Merah Tebu...... Proses Penggilingan.......................................................................... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap..................35 Gambar 5..............................................................................................36 Gambar 7................................................................11 Gambar 2.............. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu.............. Proses Penirisan Gula................... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap. 65 Gambar 15...... 60 Gambar 12................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu.... 67 15 .......38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu............................... Proses Penggilingan................................ Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2....................33 Gambar 4..................................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur............... Nira Tebu Yang Mulai Mengental...........................35 Gambar 6.......... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak........................................ Bahan Baku Usaha (Tebu).....37 Gambar 8........................................................... 59 Gambar 11........................... 66 Gambar 16......40 Gambar 10.....................................25 Gambar 3..................

........................... Komposisi Modal Tetap Skenario 1............................ Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1......86 Lampiran 2......89 Lampiran 5........................... Kriteria Investasi Skenario 1................... 109 Lampiran 18...................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2...... Komposisi Modal Tetap Skenario 2........................................................88 Lampiran 4...............................87 Lampiran 3..... Perhitungan Biaya Bahan Baku......90 Lampiran 6. 110 16 ....... Biaya Operasional pada Skenario 1........ Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung........... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1......................................................92 Lampiran 8.........................99 Lampiran 12.........100 Lampiran 13....97 Lampiran 11.......................... Kriteria Investasi Skenario 2......... 103 Lampiran 15...................................................................................... Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit...... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2........................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1... Biaya Operasional pada Skenario 2......................... 101 Lampiran 14............................................91 Lampiran 7..... 105 Lampiran 16............................ Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1.... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2.........94 Lampiran 9.............................................................................................................96 Lampiran 10...................... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2............................................................................................ 107 Lampiran 17..... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2...........

Menurut Rosby (2004). LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. PENDAHULUAN A. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. sementara produksi hanya sekitar 2. 17 . merah. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. dan bahkan ada yang cenderung hitam. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. coklat. mulai dari kuning.488 hektar. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. 2002). Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.86 hektar. Namun.140. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi.6 juta ton/ tahun. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. 2005). Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.I. yaitu warna.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda. kadar abu dan kekerasannya.127. variasi bahan baku.555 ton. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. Menurut Herman (1987). TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. aspek pemasaran. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. serta aspek finansial. 18 . Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. aspek teknis dan teknologis. yang mencakup analisis SWOT. B.Selain warna dan kekerasan. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. b. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. pasir.

Santoso (1993) menyatakan bahwa. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. kondisi geografis. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. tergantung pada jenis tebu. 2003). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi.1992). Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen.5-6.II. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. 1979). dan berlendir. disamping nira yang kurang baik (Herman. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. 1987). Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. rasanya asam serta baunya menyengat. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. dan lemak). tingkat kematangan. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. 19 .0. pengadukan selama pemasakan. TINJAUAN PUSTAKA A. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. Menurut Puri (2005). asam-asam organik. protein. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. berbuih putih. serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. 1986). 2002). Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan.

5 1. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso.05 3. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1.0 1.04-0.0 70.0-3.5 1.0-4. produk cookies. 1984).5 1.5 B.6 0.0 0.5-5. (1998) dalam Reece (2003).5-2. lontar atau siwalan.50 0. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.0 2.001-0. Gula merah banyak 20 .0 2. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.Menurut Poel et al. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga.001-0. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin. 1993). Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri.1-3.0-90.5-4. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap.15 75. dan tebu (Dachlan.03-0. tauco.0-4. aren. lemak dan fosfolipid 0.18 0.5-0.0-4.0 0.0-94. Tabel 1.

0 3.0 0.9 0.0 79.0 95.0 9.diminati di Jerman dan Jepang. 2006).0 10.0 4.0 0.0 5. 1981).3 0.0 76. supermarket.0 94. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.Merah Tebu (mg) 356. industri perhotelan.0 G. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi.0 0. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al.0 0.6 51. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G. 21 . 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.02 0. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder.0 3. Tabel 2.2 0. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya. pabrik kecap ekspor.0 0.0 1.5 90.0 0. hingga pabrik anggur.0 0. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih.0 20.0 0. B1 Vit.0 76.0 75.0 0.0 10. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 0. A Vit. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3. B2 Vit.4 G. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.0 5.0 0. C Air Sumber: Tan.0 7.Kelapa (mg) 386.1 0.0 9. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 0.0 16.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit. yaitu 364 per 100 gram. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir).0 0.0 0..0 G.03 0.4 0.Aren (mg) 386.0 37.0 0.0 0.0 2.6 0.0 0. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan.5 5.0 0. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi. Dilihat dari segi kesehatan.0 44. (Warastri.0 04. Pasir (mg) 364. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi.4 Madu (mg) 294 0.0 35.0 0. 2006).

Tabel 3. 1993). adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. warna. maupun kadar kotoran. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). warna. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. yaitu bentuk. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). kekeringan. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. dan kekerasannya. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. 1993). non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. 22 . yaitu rendahnya teknologi pengolahan. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya.

b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa).0 Maks 2. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa).bau . dalam Nurlela (2002). gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.0 Maks 10. 2002).0 Maks 2.0 Maks 40.0 Maks 0.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2. b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet . Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.0 Maks 40. Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.rasa . a.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.0 Maks 8.penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. Mengenai warna.benzoat mg/kg 7 Cemaran logam . disamping nira yang diolah kurang baik.03 Maks 0.0 Maks 40. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.residu mg/kg .seng (Zn) mg/kg . Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.timah (Sn) mg/kg .0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2. 23 .warna . Menurut Shallenberg et al.tembaga (Cu) mg/kg .0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5.raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.03 Maks 0.Tabel 4. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela. 1 Keadaan .0 Maks 40.timbal (Pb) mg/kg .0 Maks 0. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi. b/b 3 Air.

1997). Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. basa. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor.. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. kadar air. dan lemak dalam nira. 1989). 1993). Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. b.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. Semakin baik mutu nira. c. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. protein. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. 1993). seperti mutu nira. 24 . Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. dan kadar lemak. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al.

Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. 1990). Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. 1993). sedikit asam. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. 25 . d. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. 1984). Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. 2006). Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. 2. dan berbau karamel. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso.

2002). Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. atau kemiri yang dihaluskan. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. Apabila suhunya terlalu tinggi. 1993). 2006). Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. dan serangga. 1993). 26 . Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. daun kering. Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. 1986). Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. minyak kelapa.

5 – 5. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. keras. proses produksi. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3.6. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. 1986). Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku. 27 . dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. dan pengemasan produk (Sardjono. Menurut penelitian Nurlela (2002).

290C-0.84%.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 . serta kebersihan alat. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. dan kadar lemak 67. Menurut penelitian Yustiningsih (2006).69%. kadar protein 64. 200 juta. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan.100%. 750C-0. intensitas pengadukan.067%. meliputi suhu dan waktu pengolahan. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata.033%.18%. kadar glukosa 76. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). kadar abu 37. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0.58%. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik. yaitu : 1. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.067% dengan alasan praktis dan efisien.067%. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52.43%.10%. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial.100%. 750C-0.13%. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. pengadukan selama pemasakan. 1 milyar atau kurang. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. C. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. total kotoran 50. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. 290C-0.

3. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. 2. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. Bidang usaha perdagangan 2. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. 2. 3. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen.4. mengimplementasikan. D. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. Bidang usaha industri pertanian 3. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Bidang usaha industri non pertanian 4. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). 4. yaitu : 1. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 .

Sesuai dengan pendapat David (2004).fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. 30 . Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. menetapkan sasaran jangka panjang. 1. 1998). Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. 3. yaitu: 1. Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. baik besar maupun kecil. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. Menurut Jauch (1998). menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. Selain itu. 2004). Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. 1998). 1998). 2.

31 . 1997). 2005). 1997). Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). 3. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. 2000). namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. 1998). 2000).2.

dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. 2003). serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. Menurut Kotler (2005). Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis.menawarkan. Bagi pemasaran produk barang. yaitu produk. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. 2005). Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. pemberian merek. 2003). peralatan. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. dan teknologi untuk produksi. dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. harga. 2000). rancangan. yang mencakup mutu. 2004). alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. fitur. dan promosi (Umar. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. dan pengemasan produk. 2005). E. 32 . serta pemilihan mesin. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. distribusi. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler.

Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. yaitu metode Net Present Value (NPV). estimasi aliran kas proyek. Pay Back Period (PBP). 1992). sumber dana dan biaya modal. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja.. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. 33 . Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Internal Rate of Return (IRR). 2000).F. dan analisis sensitivitas (Gray et al. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Break Event Point (BEP).

volume produksi tebu. serta aspek finansial.III. aspek teknis dan teknologis. 34 . Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Namun. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. METODOLOGI A. untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. aspek pemasaran. Oleh karena itu. dan harga gula merah tebu lebih murah. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. antara lain analisis SWOT. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu.

alat. TATA LAKSANA 1. kebutuhan finansial 2. bahan tambahan. pedagang (distributor). Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. pengamatan langsung. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Data Primer 1. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. Informasi lain 2. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Data Sekunder 1. Lembaga Swadaya Informasi IPB. Jawa Tengah. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. dan literatur lainnya. proses produksi). dan aparat setempat. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. pedagang (distributor). Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. jurnal. BPS. Aspek teknis teknologis (bahan baku. petani tebu. konsumen. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Data primer diperoleh melalui eksperimen. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Konsumsi gula merah tebu 3. Tahun 2007. Kabupaten 35 . Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. aspek pemasaran. Kondisi wilayah 2. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Jenis Data I. Tabel 5. internet. Kualitas gula merah tebu II. internet.B. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung.

Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan.. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. 5. IRR. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. pengadaan bahan baku. Net B/C. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu.Rembang digunakan sebagai rujukan. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. 1992). dan PBP. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. 3. 4. a. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. proses produksi. BEP.

. Jika nilai NPV sama dengan nol...Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. 2. 3. 3. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al... n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. 1. 3. 2000). 1. yaitu : 1.. 2. 2. n) 37 . b. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol... maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi. Menurut Gray et al. maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya..

(1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. b. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a.. Jika nilai Net B/C sama dengan satu. 38 . 2. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. maka proyek layak untuk dilaksanakan. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. 1. c. maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. 3.. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al.. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. c.

BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. 2003). 2000). Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 . Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.d. sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan.

250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat.140.127 686 462 397 2.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 . Tabel 6. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1.859 353 75 185 57 40 64 4. Sulang. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.127.IV. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.86 hektar. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.

948 3. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.390 722.462 90. Tabel 7.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas.488 hektar.720 3.555 3.791.020 3.130 3.235 503 29 52 439 10 47 2.070 3. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006.015 1.390 619.300 322.510 3.050.305 109 181 554 27 119 6.360 392.994 1.300 23.420 1.9.462 3.917. P5 864 dan BZ 148.700 3.140 4.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3.701 1. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.697 3.390 62.960 3.398 3. Luas areal. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.221.700 3.951. Produksi. Pada umumnya 41 .000 3. Produksi.997 4.127.672 369.955 3.582 12. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.353.718 11. Luas areal.767 16.380 3.582 566.

42 .kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. Namun. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Bagi para pengusaha gula merah tebu. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu.. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. Menurut Soentoro et al. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. sebagai media komunikasi. Gambar 2. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal.

Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. Selain gula tumbu. Menurut Soentoro et al. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. (1999). Pada awalnya. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase.B. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. 43 . Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Di Kabupaten Rembang. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. Namun.. proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi.

usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. berdiri dan berkembang sendiri. PG Trangkil 800 ha. 44 . serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu.00. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan.00-Rp. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. 3. Namun. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). 4.Tabel 8. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. perawatan.200. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. pengendalian. Sebaliknya. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus.550. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya.

bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. Pembentukkan Paguyuban. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. misalnya industri makanan dan minuman (PT. Revitalisasi Alat 3. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. Indofood. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. ABC dan PT. PT. 45 . Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Data terakhir diperoleh. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. yang dilakukan oleh suatu LSM. Cap Orang Tua). Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. diantaranya yaitu : 1. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2.

2. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. Dalam prakteknya. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Menurut BPS (2003). Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. 46 .

penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. 47 . rendemen tebu masih relatif rendah. Selama satu periode panen. Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. Mulai tahun 1998. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. Ibu Arini membuat gula tumbu. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). yaitu 8 – 12 bulan. Pada tahun 1991. Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. Pada awal panen. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993.C. 10 ha lahan sewa. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). yaitu berkisar 7 – 8%. dan sisanya membeli dari para petani lain. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. Pada awal produksinya. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. yaitu tebu 864 dan BZ 148.

Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. Pada umumnya. 48 . Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7.13 ha). pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Dalam satu hari kerja. Selanjutnya. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. dua orang di bagian pemasakan.1. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8.12–0. sehingga nira tebu dapat terekstrak. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. tetapi 4–5 kali pemasakan. dua orang di bagian penggilingan.

Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. 2003). maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). 49 . sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. Gambar 4. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Proses Penggilingan b. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. Pada prinsipnya. Apabila suhunya terlalu tinggi. maka debu dan kotoran (daun. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. 2006).

selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. 2006). Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. maka gulali tersebut sudah matang. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. ketika nira mulai dipanaskan. kemudian mengangkatnya. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. 50 . yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. 1993). Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun.

Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Sebelum gula dipindahkan. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Kegiatan pengadukan tersebut 51 . Gambar 6. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. 1985). Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat.Gambar 5. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. serta membentuk benang-benang gula. biasa disebut dengan meja. Nira Tebu yang Mulai Mengental d.

Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Gambar 7.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. 2002). Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. f. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. e. butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Pengadukan untuk meratakan panas. Gula Merah Tebu 52 . Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk.

Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

Semarang.00.2. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. Indofood. Pati. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. sedang dan jelek. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah. Oleh karena itu.550. Cap Orang Tua. Jadi. PT. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota. ABC. 55 . Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp.00Rp.00 dan gula merah tumbu Rp. antara lain Rembang. industri penghasil jenang (dodol).00. PT. Pasuruan. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 100. sebagai pihak ketiga.00Rp. diantaranya gula dengan mutu baik.00.100. dan Yogyakarta. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur. perusahaan kecap dan permen. Kudus.2. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang.00-Rp.600. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp.200. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen.00Rp. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. 3. 150. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. 200.600. 4. Remaja sebagai pengumpul besar. 3. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya.

Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 . Kecamatan Pamotan. yang terletak di Desa Japerejo. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Tabel 9. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Remaja. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Remaja.

00.025. b. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. 57 . serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana.000. 1997). a. pendirian bangunan. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. estimasi aliran kas proyek. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. 2000). Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. sumber dana dan biaya modal. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. seperti bank.3. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha.

depresiasi.000 Total Modal Tetap 218. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. biaya variabel (biaya bahan baku. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.000 2. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.000.000 49. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.000 50.000.825. tenaga kerja langsung.200.) 110.025. kemasan. 58 . administrasi dan telepon). Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.000.Tabel 10. pemeliharaan.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi.000 6. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.

00.000 46.925.925.472 2. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.604 600.421 5.400 37. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.299.025. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.497.000 4.693.) 218. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13. seperti terlihat pada Tabel 12.835.Tabel 11.000 498.497 c.900.000 335. 59 .601.100 4. Tabel 12. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.497 B.921 737. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.000.000 46.500.076 31. C.497 264. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.900.

012.031.409 e.012.212.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.462. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).462. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).450. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14. Break Event Point 60 .064 137. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu.) 78.596 135.736 141.429.450.537.790.284.839 109. d.163. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. Internal Rate of Return (IRR). Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.294 142.621 138. Tabel 14.500 23.490 133.Tabel 13.910.249 132.500 23.249 132.749 Modal Sendiri (Rp) 109.431.657. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.179 139.851 144.

diperoleh NPV Rp 257.00. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. 61 .384 Kg/tahun.968. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1.60 %.96 tahun. Titik impas tercapai pada saat produksi 63. dan Pay Back Period (PBP).969 Kg/tahun. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %.831.00 atau 59. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek.(BEP).968.97.791. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol). Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.

Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. dan teknologi. pemasok bahan baku. teknologi proses yang akan digunakan. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. lokasi pabrik. legalitas perusahaan. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. kegiatan pemasaran. ekonomi. yang meliputi kebijakan pemerintah. 62 . sosial. kegiatan operasional. kondisi keuangan. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan.D. pesaing. pasar. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. serta kebersihan dan kesehatan produk.

Teknologi manual dan sederhana 2. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Bahan baku mudah 4. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Kualitas SDM yang rendah 8. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Proses produksi sederhana 3. Diversifikasi produk 5. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Belum berbadan hukum 6. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Ketersediaan modal terbatas 7. Produk belum distandarkan 11.Tabel 15. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Harga BBM naik 5. Potensi pengembangan 6. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.

Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. kualitas SDM yang rendah. produk belum sesuai dengan SNI. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan.a. lokasi pabrik cukup strategis. proses produksi tidak konsisten. bangunan pabrik tidak permanen. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16.816. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. 64 . belum berbadan hukum. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. memanfaatkan tenaga kerja lokal. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. ketersediaan modal terbatas. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana.

Kondisi proses produksi tidak konsisten 3.184 0.184 0.061 0.069 0.057 0.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.161 0.054 0.184 0. Belum berbadan hukum 6.000 2.042 0.207 0.061 0.054 0.215 0.069 0.172 0.816 65 .107 0.054 0. Bangunan pabrik tidak permanen 10.100 0.054 0. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Kualitas SDM yang rendah 8. Teknologi manual dan sederhana 2.084 0.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.161 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Produk belum distandarkan 11.215 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.050 0.054 0. Proses produksi sederhana 3.057 0.061 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.Tabel 16. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.169 0.042 0.172 0. Ketersediaan modal terbatas 7. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.069 0.138 0.207 0.

diversifikasi produk. 66 . pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). ketersediaan lahan dan bahan baku. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah. bahan baku mudah. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. penampakkan produk yang kurang menarik. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. harga BBM naik. memiliki langganan. dan gula merah telah populer di masyarakat. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat.b.686. pajak dan ijin usaha. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG). didapatkan total skor sebesar 2. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. harga bahan baku di PG lebih tinggi. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu.

Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.Tabel 17. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.083 0.080 0. Diversifikasi produk 5.083 0.090 0.154 0.269 0. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.080 0.167 0.298 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.080 0. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Harga BBM naik 5. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.154 0.093 0.077 0.080 0.083 0. Potensi pengembangan 6. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B.279 0.240 0. Bahan baku mudah 4.099 0.333 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.221 Ancaman (Threats) 1.250 0.686 67 .077 0.000 2.240 0.

0 Lemah 1.0 Rendah II III V IV VI VII 1.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2.Tabel 18. melalui kerjasama dengan pihak lain. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2. dapat disusun matriks IE. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2.0 I 3. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. 68 .0 Tinggi Kuat 3. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. perluasan pasar.0 Rata-rata 2.

Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Kualitas SDM yang rendah 8.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Menerapkan goodhouse keeping 5. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Potensi pengembangan 6. Belum berbadan hukum 6. Bahan baku mudah 4. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Ketersediaan modal terbatas 7. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1.Tabel 19.Teknologi manual dan sederhana 2. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Meningkatkan kualitas produk 7. Produk belum distandarkan 11. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Diversifikasi tebu 5. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Membina SDM yang dimiliki 6. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Proses produksi sederhana 3. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas daerah pemasaran 3. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. 2. Tenaga kerja lokal 4.

Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. serta pedagang eceran. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. dan Semarang). Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. untuk konsumsi rumah tangga. 70 .Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. 1. Memperluas daerah pemasaran. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. industri pengguna gula merah. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. Kudus. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). pengumpul dan industri pengguna gula merah. 2000). serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen.

Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk.2. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. mengoptimalkan pembagian kerja. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. Membentuk kelompok usaha bersama. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. 3. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. Selain itu. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. 71 . mempermudah akses pemasaran. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi.

Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. proses pengolahan yang optimal. pengontrolan dan pemantauan. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. Selain itu. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. mengorganisasikannya. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Membina SDM yang dimiliki. dan penggunaan teknologi yang sesuai. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. dan dapat bekerja efektif serta efisien. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Meningkatkan kualitas produk. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. agar menjadi lebih terampil. Menerapkan goodhouse keeping. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. Tujuan 72 . ulet. Menurut Syamsul dan Hendri (2003).

Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. 73 . sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. 2. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. mempertahankan dan mengembangkan usaha. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. memperkuat posisi produk dan perusahaan. dan memperluas pangsa pasar. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. 4.

Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. dibersihkan dengan arit atau pisau. 74 . nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan.1. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. a. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu.2. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat).a. a.

diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Air 75 .Gambar 10.3. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Selain itu. Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang. Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. menyelimuti dan memanaskan wajan. selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. Alat Penyaringan Nira Tebu a. yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan.

Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik.500.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu.4. PS 864 dan BZ 148. Karena menggunakan air sumur. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. Selain itu. b. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. dan air sumur. Gambar 11.00/ liter. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. bahan bakar solar dan oli. Boiler dan Wajan Uap a. Bahan baku yang 76 . Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. dengan harga solar Rp. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. 4.

c. 77 . Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu.050.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. kondisi perkebunan.00-Rp.000.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. 150. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. 130.00/ ton tebu.997 kg. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. dan umur tanaman. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. 2005). Pemberian dosis kapur. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton.000. dengan umur tebu 8-10 bulan. kondisi batang. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan.

1984). larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. d. yaitu sebelum masuk ke wajan. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras.1. Selanjutnya. letak drum di atas bak penyaringan pertama. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Proses Produksi d. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. 78 . Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember.

yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Gambar 12. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . lapisan bagian luar dan bagian dalam. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Proses Penggilingan d. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air.2. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding.

Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Karena jika tidak dibuang. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan.untuk proses pemasakan berikutnya. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. kemudian mengangkatnya. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. ketika nira mulai dipanaskan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. Gambar 13. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. dengan menggunakan mesin pompa air. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. temperatur dan jumlah air dalam boiler.

Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. Pengadukan untuk meratakan panas. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan.d. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Sebelum gula dipindahkan. Gambar 14. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. 1985). permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan.3. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. serta membentuk benang-benang gula.4. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan).

Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Selanjutnya karung yang telah diisi gula. Proses Penirisan Gula d. 2002). Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). 82 . d. Sedangkan.5. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. Gambar 15. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai.masih berlangsung dapat segera terhenti. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur.6.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

fitur. pemberian merek. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. sedang dan jelek. yang mencakup mutu. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar.00.3.600.00-Rp 4. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. Penerapan pengembangan teknologi di atas.00. Seperti yang dijelaskan sebelumnya.00-Rp 200. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. dan promosi (promotion). rasa dan kekerasan oleh pengusaha. tempat (place).00-Rp 150. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi. Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. Menurut Kotler (2005). McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Tabel 20.00-Rp 3. dan pengemasan produk.00 dan gula merah tumbu Rp 2.600. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan.550.00.200. rancangan. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100. harga (price).

Ketika harga jual gula merah rendah. harga cenderung turun. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Distribusi gula merah relatif sederhana. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. yaitu permintaan langsung dan 85 . atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. harga gula merah tinggi. Namun pada saat awal panen. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Sedangkan pada masa puncak panen. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

285. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.285. tenaga kerja langsung.000 Total Modal Tetap 308.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. administrasi dan telepon). Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu.200. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.085. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 .00. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. pemeliharaan. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Tabel 22.000 2. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308.000. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.000. depresiasi. biaya variabel (biaya bahan baku.c.000 120.000. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.000.000 70. kemasan. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. pendirian bangunan.) 110.000 6.

476. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.808.611. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.561 42. Tabel 23. Jangka waktu pengembalian modal 91 . Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.000.801 364.000 826.000 391. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.522 839.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.000 4.500.476.285. Tabel 24.400.240 5. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.000 56.801 d.800 2.690.00 seperti terlihat pada Tabel 24.761.039 2.429.865.140 982.000 56.300 46.

) 190.424.782 317.759 327.482.238. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.446.713.400 182. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.238.900 Modal Sendiri (Rp) 154.643.598.771.142.573 315.142.500 28.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.380.368 323.564 325.540. Tabel 26. Tabel 25.400 182.826.173 321.380. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.500 28. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.977 319. e.656.493 259. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.955 92 .509 312. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.

00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol).865.349 Kg/tahun.349 Kg/tahun.00 atau 45. 93 .471. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.721. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Internal Rate of Return (IRR). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Maka layak untuk dilaksanakan. Break Event Point (BEP). BEP yang diperoleh yaitu Rp 158. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.400. Nilai IRR-nya adalah 51. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Nilai yang diperoleh yaitu 3.f. sehingga layak dilaksanakan. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854.34 memiliki nilai lebih dari 1.12 %. dan Pay Back Period (PBP).

Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1.89 tahun. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Selain itu. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. 94 . untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai.

Pati.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .300. sedang.00.865.00 (45.831.Konsumen industri dan rumah tangga . Pemasaran . Teknis dan teknologis . IRR : 40. dan Yogyakarta . BEP : Rp 158. BEP : Rp 195.800 kg/hari 3.Tidak dilakukan promosi .Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.Bahan baku .384 Kg/tahun).Sanitasi pabrik .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.34.925.96 tahun Modal : Rp 264.97.968.Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar .Bahan bakar bagas berundak).Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .Harga produk lebih rendah (Rp 3.Distribusi ke daerah Rembang.100 kg/hari . PBP : 2.761.Harga produk lebih tinggi (Rp 3.00.89 tahun Modal : Rp 364. PBP : 1. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.00) .Promosi .Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) . Net B/C : 3. Semarang.Harga . pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2.Bahan bakar bagas .471.500.00) .Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .Proses pengolahan .801. Produksi : 2. dan jelek) .60 %.Penyimpanan produk .12 %. pemasakan gula tidak konsisten .968. Pasuruan.497.Distribusi .349 Kg/tahun).Konsumen industri .00 (59.00.791. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .00.721.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku . IRR : 51.Produk . Produksi : 2.Tabel 27.Penyimpanan produk di tempat terbuka . Kudus.Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .400. Net B/C : 1.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.

Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3.015 Ha. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang.V. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal.955 ton. serta sarana dan prasarana lainnya. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. Berdasarkan hasil yang diperoleh. diantaranya variasi bahan baku. yang meliputi warna. pengawasan bahan baku dan produk. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. rendahnya teknologi pengolahan. WO strategi dan WT strategi. serta sanitasi dalam proses pengolahan. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. sedang dan jelek. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha.050. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). Selain itu. rasa dan kekerasan. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. ST strategi. KESIMPULAN DAN SARAN A. memperluas pasar. meningkatkan pangsa 96 . yaitu SO strategi. melalui kerjasama dengan pihak lain.

Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364.400.89 tahun. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada.00. dan menerapkan teknologi tepat guna.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218. PBP sebesar 2.000. Net B/C sebesar 1.497.925.285. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung.476.384 Kg/tahun dan Rp 158.497.471.00 dan modal kerja Rp 56. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan.34.pasar. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. IRR sebesar 40.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu.00 dan modal kerja Rp 46. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264. dan 51. Dalam basis waktu operasi satu hari.761.900. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.00 dan Rp 854.96 dan 1.349 Kg/tahun. BEP sebesar Rp 195.968.00. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha.721.831. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.791.00 atau 45. NPV sebesar Rp 257.968. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.000.801.00. Berdasarkan hasil tersebut. 97 . kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.00 atau 59.865.60 %. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.97 dan 3. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.801. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.12 %.025.

98 . 2. SARAN 1.B. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. 3. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu.

PT. Jakarta. Jakarta. Industri Gula Merah. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. IPB. Studi Kelayakan Proyek. Goutara dan S. 2003. D dan M. Jakarta. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. S. Manajemen Pemasaran Jilid 1. A. edisi 10. Kotler. Padang. Gramedia Pustaka Utama. 1992.. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Skripsi. 1987. 2004. Bogor. BBHIP. Indeswari. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. Bogor. Jakarta. Bellante. Grasindo. Dyanti. SNI 01-6237-2000. Ekonomi Ketenagakerjaan. dan Muhammad. Salemba Empat. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Fakultas Teknologi Pertanian. Laporan Penelitian. Agro Industri Press. Gula Merah Tebu. 2005. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. PT. Ma’arif . N. Indeks Kelompok Gramedia. PT. Indeks Kelompok Gramedia. S dan Hendri. Jakarta. P. FATEMETA. Gray. Universitas Andalas. David. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. Proses Pembuatan Gula Merah. 1990. Husnan. 99 . Dasar Pengolahan Gula 1. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional. 2000. 2000. C. Jakarta. S. P. 1997. P. Manajemen Operasi. Ashari. Bogor. F. 2005. Simanjuntak. 1984. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Jackson. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Yogyakarta. Kotler. 1985. P. M. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Indeks Kelompok Gramedia. Artikel. Wijandi. 2006. 2005. IPB. PT. Badan Standarisasi Nasional.. Manajemen Pemasaran Jilid 1. S. 2002. Jakarta. Manajemen Strategis. Kotler. LPFE UI. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Dachlan.

Puri. IPB. Pembuatan Gula Kelapa. Foods Browning and Its Control. Analisis SWOT. Jakarta. R. Bogor. N. 1992. PT. Palungkun. Nurlela. Institut Pertanian Bogor. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. R.Muchtadi. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. IPB. Bogor. 1998. F. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). E. dan Sugiyono. P. M. Skripsi. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Reece. B. Bogor. B. Lousiana State University. 1990. PT. Okyanus Danismanlik. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. 2000. Analisis SWOT. N. Sardjono. Bogor. Rachmat. Santoso. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. Swadaya. I. PAU Pangan dan Gizi IPB. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. Pdf. Institut Pertanian Bogor.lsu. Fakultas Pasca Sarjana. 1993. Nengah. Soejardi. Yogyakarta.. Ozdemir. 1986. Bogor. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. T. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa.okyanusbigiambari. Fakultas Teknologi Pertanian. Tesis. 1979. H. Jakarta. Kanisius. Gramedia Pustaka Utama. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. K. 100 .sde/docs/available Rangkuti. M. Thesis. USA. Aneka Produk Olahan Kelapa. 2002. Skripsi. Bogor. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Jakarta. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. http:/www. http:/etd. 1992. A. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Fakultas Teknologi Pertanian. 1997. 2005. Gramedia Pustaka Utama. Program Studi Ilmu Pangan. Jakarta. 1993.

Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Yogyakarta. IPB. 101 . Pasuruan. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi.Sudarmadji. Gramedia Pustaka Utama. Gula Indonesia Vol. Syukur. B. 2003. Utami. 1989. Bambang H. 1996. S. Bibliografi. XXI/2:22-25.. PT. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Bogor. 1999. Wirioadmodjo.. Umar. Jakarta. Suhardi. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. Studi Kelayakan Bisnis. 1984. H. S dan Sumarno. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Penerbit Liberty.

000 No.000.000 15.000 30.000 Sub Total (Rp) 110.000.000 250.000 1.000 50.025.000 1.000 218. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 35.000 100.000.000.000 500.000 25.000.000 5.500.000 675.000 500.000 600.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000 20. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000 50.000.000 10.000 30.000.000.000.000 50.000 180.000 1.000 300.500.000 2.000 500.000 1.000 2.000 1.000.000 60.000 300.Lampiran 1.000.000.000 100.000.000 2.000 600.000 600.000 200.000 100.000 500.000 210.

000 103 .000 2.000.000 10.000 600.500.000 1.000 20.000 Sub Total (Rp) 110.000 250.000.000 70.000 100.000.000 50.000 1. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000 2.000.000 70.000.000 308.000 20.000.000.000 80.000.000 1.000.000 25.000 600.000 80.000.000 25.000 No.000 45.000 200.000 180.000 500. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000.000 500.000 5.000 2.Lampiran 2.000 1.000.000.925.000.285.000 500.000 1.000.000 700.000 100.000.000 500.000 275.000 1.

400 8.000 140.000 60.000 18.500 135.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.800 3.000 Timbangan 1.000.000.000 Bumbung Penahan 675.900 45.000 30.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.000.000 625.000 2.000 Serok 180.000 4.000 1.143 18.000 54.000 21.000 20.000 8.500.000 Selang 300.000 60.500 141.200.000 90.000 2.000 100.808.400 5.000 135.000 83.000 Tungku 30. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 10.700 10.000 150.500 204.000 75.982.000 Drum 600.000.000 182.000.974.000 27.000 Kursi 600.000 (Rp) 110.000 10 25.000 3.000.000 50.400 2.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.500.Lampiran 3.876 104 .902.000 10 6 10 60.000 90.000 Lemari 1.000 100.400 18.000 67.500 1.000 30.000 Listrik 2.025.500.000.000 587.000 6.500 150.543 8.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.857.700 360.350.000 3.000 Alat Penyaring 60.887.000 Sodet 210.000 6 6 6 50.000 1.500.000 Sub Total 6.000 Instalasi Air/Pompa 1.333 150.000 Total 216.000 1.000.000 202.000 Ember Stainless 300.000.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 600 20.000.000 1.500.000 5.000 90.825.000 Meja Penirisan 1.920.000 18.800 54.000.800 2.000 Sub Total 49.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

578 13.000 129.876 10.974.000 8.000 7.960.000 6. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.041.496 1.376 5 12.270.474.960.383.076.000 2.350.076.288.466.376 573.000 919.412.000 885.808.120 2.825.270.120 17.000 8.000 2.383.120 1.808.500.153.368.079.500 32.000 711.978 1.000 9.000 129.974.600.000 110.500.120 881.500.000 20.153.288.500 32.000 8.500.000 2.500.808.894.037.041.496 108 .876 10.200 20.808.270.153.610.602 881.267.076.046.500 32.000 20.876 10.962.Lampiran 7.383.383.578 2.500 32.876 10.000 129.000 2.383.412.960.120 1.000 2.496 1.708.000 8.(Rp) 3 12.602 1.974.288.000 9.500 32.000 2.500.800 84.500.412.000 2.500.974.000 2.500.610.610.200 676.000 8.808.376 4 12.600.600.974.800 9.600.376 B C 749.500.120 881.041.600.954 2 12.376 Tahun Ke.876 10.

808.000 2.600.876 10.383.383.270.000 8.974.000 7 12.383.000 1.153.000 9 12.412.974.808.500.076.120 20.120 1.153.270.383.960.376 881.383.808.120 20.120 20.270.876 10.496 1.120 2.000 129.000 9.500.600.500 32.120 1.876 10.960.808.960.076.000 9.000 129.000 2.000 9.000 2.041.000 129. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.412.376 881.974.076.500 32.610.000 129.288.974.500.500 32.288.000 B C 9.376 881.000 1.000 2.376 881.(Rp) 8 12.960.270.153.153.412.288.496 109 .041.610.500.000 2.120 1.000 2.000 8.496 1.974.496 1.000 8.000 10 12.000 8.270.000 2.076.Lanjutan Lampiran 7.876 10.600.496 1.153.808.500.876 10.500.288.610.000 8.041.120 1.120 20.288.500 32.000 9.500.000 129.600.076.376 881.000 2.500.041.412.960.000 Tahun Ke.500.041.120 20.000 2.610.412.500.600.610.500 32.

102.500.852.335.400 23.800 17.877.000 14.877.400 9.544.000 2.335.600.000 10.000 2.(Rp) 3 12.800 1.102.000 10.760.500.082.500. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.690.877.216.000 2.102.093 5 12.335.000 14.096.393 15.852.960.000 77.973 1.393 15.290.142.800 1.600.500.580.700 42.000 27.216.580.836.000 14.877.000 2.500.000 14.Lampiran 8.800 1.580.216.102.893 1.102.500.000 884.413 1.772.960.393 15.680 1.000 27.043.000 77.156.724.133.500. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.500.000 50.600.093 Tahun Ke.580.000 77.000 66.852.800 2.600.393 15.174.700 42.700 42.174.000 2.893 1.002.236.760.093 2 12.000 2.580.093 4 12.500.836.500.760.772.290.174.210.000 14.600 27.393 15.000 839.880 1.700 42.097.000 2.093 B C 763.000 7.700 42.716.000 2.290.877.800 1.520 998.836.893 110 .320 1.600 10.600.772.960.000 2.

580.393 15.000 27.102.000 14.216.700 42.174.000 14.893 C 111 .600.600.960.836.852.877.000 14.000 1.000 2.093 9 12.700 42.216.000 10.000 2.836.102.893 1.000 77.500.500.393 15.852.000 2.800 1.000 10.760.393 15.700 42.800 1.800 1.600.500.893 1.216.836.093 Tahun Ke.500.800 2.093 10 12.772.580.290.836.500.000 10.(Rp) 8 12.760.000 14.000 2.000 77.174.500.852. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.877.000 2.000 77.960.580.290.000 77.800 27.600.000 27.000 1.800 1.772.216.580.760.000 10.960.000 2.000 77.174.393 15.500.760.093 7 12.800 1.335.836.800 1.290.000 10.Lanjutan Lampiran 8 No.960.772.102.174.893 1.580.393 15.600.000 27.000 27.500.335.800 1.174.335.000 2.852.760.700 42.877.700 42.290.216.800 1.772.290.000 2.877.893 1.000 2.877.500.102.852.772.960.500.093 B 1.102.335.335.000 14.

925.240 5.421 5.000 46.801 B.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.476.000 826.522 839.200.601. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.611. C.429.000.865.200.000 4.000.000.000 50.000 6.000 4.085.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.500.000 498.000.693.000. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.900.801 112 .300 46.100 100.076 31.000.476.000 391.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.800 2.808.801 364.561 42.500.000 2.472 2.299.140 982.921 737.000 56.000 70.039 2.000 6.000 49.761.835.000 2.000 56.Lampiran 9.497 264.000.000 46.400 37.000.825.900.100 4.000 120. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.604 600.000 335.

500 10.901.250 7.750 4.012.499 7.901.380.249 28.142.750 32.275 87.450 14.249 23.750 7.500 98.250 11.500 Modal Kerja 23.037.Lampiran 10.462.500 154.238.633.506.450.012.500 65.142.450.012.674.735.380.250 30.249 23.250 5.700 10.111.600 54.825.000 10.901.221.773.050 76.506.901.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.000 10.750 7.250 19.012.250 15.308.633.816.015 9.901.000 87.750 76.886.225 12.250 54.816.816.825 65.250 10.675 16.407.636.575 24.000 43.779 7.787.450.250 3.500 109.250 98.561.500 10.210.848.749 182.150 32.925 21.750 2.125 20.863.025 28.250 17.962.605.750.901.814.901.750 1.811.012.750 10.450.375 43.924.400 23. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.462.250 9.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .749 182.750 10.901.249 7.900 18.210.901.630.794 15.660.800 26.250 13.901.500 21.816.802.500 109.250 10.238.223.901.045 12.622.111.599.712.250 10.500 10.816.407.500 154.605.249 28.407.703.350 22.308.400 Jumlah 132.900 132.030 10.250 1.703.523.250 10.802.901.500 109.499 15.697.450.

250 40.770 107.104 0 114 .500 32.250 15.250 7 61.828.414.728.414.400 28.836.657.242.647.380 15.314.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.250 2 138.945 30.640 77.912 14.142.414.414.737.250 Bunga 27.130 2.963.520 19.412.728.323.414.412.774.196.159.287.600 9.085 22.825.390 13.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.082.500 15.260 8.510 46.900 138.485.250 29.750 15.414.098.188.400 1 28.800 5.250 18.712 18.400 9.800 3 9.250 9 30.061.107.304 11.250 5 92.750 34.412.828.800 3.750 15.657.610.800 9.250 15.955 16.385.250 10 15.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.608 12.412.238.801.745.421.414.314.825.071.650 24.388.500 43.500 1 154.250 15.500 15.971.495.412.250 6 77.000 37.000 15.142.750 23.000 26.500 20.075 61.825 11.250 8 46.250 4 107.408 9.071.414.000 15.800 1.512.485.899.242.500 15.414.600 2 18.238.549.335 123.414.238.250 3 123.899.414.872.142.414.695 5.205 92.694.

041.578 885.376 34.883.825.700 321.120 1.120 1.376 34.120 1.300 3.000 378.883. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.270.376 34.883.270.376 Biaya Variabel (Rp) 676.041.847 2.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.Lampiran 11.300 3.041.270.847 2.000 378.300 3.847 2.883.120 1.376 34.270.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .270.883.300 3.000 378.041.376 34.270.883.897 2.000 378.847 2.863 2.300 3.041.041.300 3.000 378.376 34.300 3.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.000 378.120 1.041.041.847 2.300 3.300 3.883.847 2.000 Harga Pokok/Kg 2.000 378.602 1.270.883.376 34.847 2.079.300 378.270.120 1.883.376 34.376 34.120 1.883.

800 1.000 Harga Pokok/Kg 2. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.500 3.500 3.772.000 504.772.800 1.080.290.800 1.772.290.290.290.699 2.290.772.002.080.290.651 2.600 428.290.097.080.290.651 2.000 504.080.093 45.772.772.500 3.800 1.093 45.080.Lampiran 12.080.651 2.156.093 45.500 3.093 Biaya Variabel (Rp) 839.651 2.080.000 504.651 2.500 3.800 1.500 3.000 504.000 504.500 3.880 1.800 1.093 45.500 3.666 2.320 1.000 504.651 2.800 1.772.093 45.000 504.093 45.500 3.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.093 45.093 45.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.080.080.400 504.080.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .772.651 2.093 45.

350 11.353 109.025 2.431. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.653.474.041.079.622.519.041.376 1.843 21.742 135.400.383.973.700 810.270.974.000 1.383.660.247.290. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.383.060.751 8.184.000 810.810.978 17.948.247.496 13.810.247.876 131.653.773.376 1.Lampiran 13.383.030 20.000 32.000 32.616.985.496 15.970 133.653.735.000 1.876 165.815 156.974.790.000 1.212.757.045 23.383.967 8.898.839 2 85% 321.041.689 8.221.060.773.247.784.073.575 13.575 160.163.015 17.490 Tahun ke3 100% 378.120 1.195.030 33.800 1.300 1.270.247.064 5 100% 378. Laba Setelah Pajak 65% 245.409 137.974.825.641.327.596 4 100% 378.154 8.000 32.000 1.055 122.000 1.350 161.000 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.496 11.876 86.974.104.565 32.208.627 8.120 1.974.000 32.400.247.429. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.400.376 885.876 170.290.010.843.697.000 32.400.621 117 .073.376 676.073.929 8.000 1.602 917.814.805 33. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.120 1.732.407.954 19.250 4.400.270.295 77.352.578 709.400.788 78.376 1.876 168.735.462.

962.400.924.480 34.000 1. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.179 7.073.653.910.Lanjutan Lampiran 13.961.744 139.139.747 144.675 5.400.537.876 174.000 378.930 36.373.041.000 32.000 378.073.872.270.886.822. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.284.974.247.077 138. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.376 32.031.120 1.125 163.383.924.876 176.496 9.270.000 1. Uraian 6 A.041.247.900 165.247.379 8.247.073.247.383. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.496 1.851 1.759.974.897.000 378.000 1.079 142.041.376 32.247.400.653.409 118 .225 1.876 172.848.376 32.000 1.935.859.155 36.383.675 167.876 178.604 8.247.073.784.125 9.225 171.727.041.496 1.054 8.376 32.657.000 1.705 35.247.450 3.000 1.000 378.000 1.120 1.962.120 1.000 1.653.811.736 5.270.653.876 180.000 1.247.383.279 8.496 1.383.120 1.653.900 7.496 1.829 8.247.270.450 169.294 3.550.974.412 141.910.400.400.400.000 1.811.400.376 1.120 1.270.834.974.400.400.796.073.848.886.400.974.041.255 34.

545 110.000.330.000 1.352.000 1.093 839.000 504.218 259.877.393 426.093 42.333.085 3.000. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.600.608 28.647.771.693 331.400 504.093 42.400.893 1.146.290.694.066.973 1.103 312.990.393 346.756. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.000 1.893 1.152 14.333.520 1.509 22.955 411.000 1.890.893 27.393 421.163.093 42. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.146.717 14.826.877.580.025 14.999.772.000.000 1.912 32.334 14.955 19.580.877.580.333.000 1.877.713.446.102.800 881.764.000 42.388. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.573 19.877.304 23.000.139.225.971.925 190.562 232.189.764.676 108.880 1.097.320 1.002.421.499.764 315.782 16.000 1.824 406.110 111.647.000.390 16.000 504.650 5.133 317.093 42.493 24.180.352.290.764.359.393 247.290.772.764.400.196.082.421.000 1.600.000 1.745.828.Lampiran 14.619.727 86.580.643.977 119 .418 56.303.156.499.352. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.764.633.800 1. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.772.800 1.600 428.283 14.580.000.354.764.877.413 1.582.393 428.736.000 1.390 413.

130 425.352.975.097.977 14.800 1.877.333.580.492. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 42.000 1.130 10 100% 504.872.611 325.323.282 14.000.412 14.772.173 11.827.549.352.393 434.260 Tahun ke8 100% 504.772.774.774. Laba Setelah Pajak 100% 504.764.352.759 2.000 1.749.772.656.764.764.000.482.651.565 427.290.333.323.290.000 42.695 9 100% 504.093 1.764.825 416.660.000 42.800 1.290.333.877.598.893 11.093 1.764.893 2.565 13.893 8.Lanjutan Lampiran 14.200.764.000 1. Uraian 6 A.098.424.290.772.800 1.333.872. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.764.540.000.877.000 1.426.825 7 100% 504.935 115.580.580.549.580.323.368 8.000. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.260 419.774.000 42.503 319.580.352.000.240 112.093 1.352.995.893 5.872.370 114.772.548.393 431.000.393 439.333.290. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.000 1.877.000.955 120 .000 42.324.093 1.764.542 14.564 5.675 111.000 1.893 13.393 437.242 323.000.000 1.093 1.981 327.764.805 113.764.000.847 14.800 1.000 1.872 321.000 1.877.000.393 442.000 1.098.695 422.800 1.

773. Kas keluar 1.749 132.953 Tahun ke2 109.790.750 130.374 265.474.295 54.544 -264. Nilai sisa 4.555.596 0 0 0 133.025. Biaya modal tetap 2.925.999 4.055 13.061 121 .431. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.245 133.429.790.912.925.064 0 0 13.621 0 0 0 137.843.497 -210.060 -114.735.912.350 6.429.822.163.218.104.536 95.925.483. Modal sendiri 5.925.490 0 0 20.749 264.369.212.536 119.314 4.462.064 0 0 0 135.843. Arus kas awal tahun E.061 134.555.218.483.462.497 218.497 0 -264. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.163.839 0 0 23.428. Arus kas bersih D.497 0 264.Lampiran 15.999 3 4 135. Kas masuk 1.696. Modal pinjaman Total kas masuk B.815 13.750 129.839 0 0 0 78.925.431.571.596 0 0 17.944.732. Laba bersih 3.871 134.497 -264.295 23.490 0 0 0 109.212.497 1 78. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.696. Biaya modal kerja 3.621 0 0 11.822.374 5 137.575 6.900.954 -210.000 46.735.953 -114.

886.304 1. Modal pinjaman Total kas masuk B. Arus kas awal tahun E.851 0 0 3.848.750 135.218.438.851 0 0 0 142. Nilai sisa 4.284.750 133.065.284.900 6.218.750 136.218.715.463 122 . Biaya modal tetap 2.428.225 6. Laba bersih 3.409 141.159 802.537.943.101 666.245 397.658.736 0 0 0 139.657.674 531.811.910.924.450 6. Biaya modal kerja 3.504. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.750 279.909 0 0 1. Kas keluar 1.203 Uraian A.746.962.438.660 666.218.218.304 10 144.504.429 265. Kas masuk 1.179 0 0 0 138.736 0 0 7.500 0 0 285.318. Arus kas bersih D.657.750 132.544 531.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.294 0 0 0 141.933.910.179 0 0 9.943.660 9 142.031.125 6.082.537.986 397.203 802.674 7 139.294 0 0 5. Arus kas akhir tahun 6 138.691. Modal sendiri 5.746.902.439.675 6.

359.573 0 0 0 312.562 32.827 313.493 0 0 32.826.390 301.066.761.425.761.587 609.108 312. Aliran kas bersih D.425.349.466.476. Kas masuk 1.801 -364.421.826. Biaya modal tetap 2.713.801 0 -364.521 910.801 308.955 19.977 0 0 0 317.693 231.562 157.573 0 0 23.900 182.782 0 0 0 315.492.870 24.617.380.870 tahun ke2 259.824 23.521 5 317.801 0 364.752.890.816 -207.647.801 -207.647. Aliran kas awal tahun E.900 364.771. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.143.695 123 .421. Modal sendiri 5.946 313.930 -364.000 56.075.143.771. Laba bersih 3.955 296.285.761.359.761.643.693 28.322.801 1 190.643.946 3 4 315.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A. Modal pinjaman Total kas masuk B.761.824 288.509 0 0 28. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.828. Nilai sisa 4.828.977 0 0 16.782 0 0 19. Biaya modal kerja 3.322.509 0 0 0 259.380.695 609.713.493 0 0 0 190. Kas keluar 1.446.075.390 16.749 24.446.890.

598.061 1.432 2.825 11.492.424.656.774.368 0 0 0 321.260 8.951 124 .629 484.161.540.275.841.004.955 159. Biaya modal tetap 2. Aliran kas bersih D.526.656.869 319.933. Aliran kas awal tahun E.775.841.108 1.872.926. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.695 5.565 305.216. Nilai sisa 4.108 315.216.598.564 0 0 0 323.759 0 0 0 325.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.482.130 2.564 1.275. Modal pinjaman Total kas masuk B. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.098.565 13.992.173 0 0 0 319.130 2.825 11.428.695 5.992.926. Kas keluar 1.549.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Laba bersih 3.161.500 0 0 486.456 1.323.348 310.078.098.646.549.540.061 2.500.482.432 2.456 1.775.216.774.368 8 323.853.323.759 10 327.564 1. Biaya modal kerja 3.783.173 7 321.526.890 910. Kas masuk 1. Modal sendiri 5.564 9 325.872.260 8.

237 0.609 0.96 Akumulasi -264.159 NPV Nilai 257.715.275.000 -264.103 0.314 0.225 0.428.516 0.917 72.746.496.328 39.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.761.384 Kg/tahun 125 .156 20.497 -210.497 0.075.831 40.374 265.266 0.943.237.497 46.831 DF PV i = 45 % 1.571.847 0.311.925.051 6.304 1.831.108 14.437 0.968.925.628 257.885 68.061 134.035 4.429.497 54.911.188.483.969.074 9.245 397.318.968.429 133.97 2.439.932.014.925.476 45.735.532.798 0.968.404 0.065.791 59.944.808.589 30.815.920.258 -50.101 279.024 6.454 66.718 0.) Atau 195.919 41.954 119.949 0.986 135.060 129.261 35.953 -114.658.691.925.024 53.874.732.504.822.60 1.674 531.370 0.753.369.999 4.082.915 0.203 802.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.660 666.191 PV -264.555.871 132.442 57.314 130.226 29.544 136.443.000 0.544 95.236.210 49.420 0.912.690 37.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.438.065 0.339 0.

926.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.869 319.853.609 0.492.702.456 1.903.598.761.091.108 315.078.847 0.646.629 484.796 97.191 PV -364.717 72.801 108.156 0.944 131.066.021 110.816 288.783.34 1.587 305.12 3.757 83.732 67.715.761.801 -207.322.564 1.143.471.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.216.464 157.471.275 854.863 175.131.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.266 0.349.761.432 2.865 51.801 157.695 609.349 Kg/ tahun 126 .526.402 11.718 0.004.061 2.980 113.108 1.000 0.225 0.328 0.801 133.275.130.751 23.425.870 24.794 46.051 0.865 DF i = 45 % 1.970.039.890 NPV Akumulasi -364.216.235.979 92.075.437 0.271.521 910.841.761.000 0.466.314 0.775.516 0.690 0.173 16.370 0.154 11.024 PV -364.490.400 45.992.500.617.721.89 BEP (Rp) atau 158.108 0.930 231.900.040.517 166.473.749 296.752.743.476 0.859.074 0.035 0.574.782.291.161.838 152.232 94.946 313.933.215 32.827 301.226 0.348 310.

3. 11. 4. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). 2. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. kandungan nira. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. 10. misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). terutama di bagian pemasakan. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. 127 . 9. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. 13. 6. dan kebersihan tebu). Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. antara lain : 1. Mengurus perijinan usaha (legalitas). 8. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. waktu kerja. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. Melakukan pelatihan bagi pekerja. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. 12. Memperkuat permodalan. 5. Memperbaiki proses pengolahan.Lampiran 19. fasilitas produksi. Menetapkan tujuan perusahaan. 7. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. kapasitas produksi.

15. 128 . Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga.14. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful