STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. Those strategies were carried out supportively one to another. F3403056. Supervised by Dr. Brown cane sugar industry owned by Mrs. WO. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. technical and technological aspect. and also the financial aspect. Muhammad Romli. Ir. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. and the staged 4 . SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. such as SWOT analysis. 2008. Msc.Mila Fadilah Utami. The strategy was done by increasing product quality. ST and WT). raw material conditioning (cane). The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. Rembang District). Suprihatin. Ir. St. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). Ing. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. From the obtained result. and application effective technology. capitalization. extending market. and Dr. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. gave four alternative strategies (SO. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. supervising on raw materials and products. marketing aspect. and the development strategy. Dipl. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. supporting facility. increasing market share.

364.00.761. and Rp. PBP of 2. BEP of Rp. 46.497. Production capacity for the present condition was 2.791. 56. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition.00 or 59.471. 854.8 tons per day.12 %.721. The criteria of investment feasibility for each condition in order were.968.900. 195.97 and 3.00 or 45.60 % and 51.000.89 year.000.00 fixed cost.34.497. NPV of Rp.400.968.00 which divided into Rp. 264. 158.025.349 kgs/year. which divided into Rp. 308.865. But if viewed from NPV indicator. 5 . and.476. the development condition had much better NPV than present condition.96 year and 1.831. 257. While for the development condition total investment required was Rp.801. which was supported by the other investment criteria.801. IRR of 40. 218. Total investment required for the present condition was Rp.925. Rp.285. brown cane sugar industry was feasible on both conditions.00.00 fixed cost.1 tons per day and the development condition was 2.00 and Rp. Based on the results.00 production cost.384 kgs/year and Rp.filtering of cane sap from extraction. Net B/C of 1.00 production cost.

Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan.

Januari 2008 Dr. Ir. Ir.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Pembimbing Akademik II 7 . MSc. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. St Pembimbing Akademik I Dr. Ing. Muhammad Romli. Dipl. Bogor. Suprihatin.

Bogor. Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. kecuali yang dengan jelas rujukannya.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 .

Dr. dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Suprihatin. Ing. Muhammad Romli. Eng. 9 . serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. Ir. 6.. Ayahanda tercinta H. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Lili Aliah. MSc. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. St. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. kepada keluarga dan para sahabatnya. Dr. Dr.. 5. yaitu kepada : 1. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. Ir. 4. Ir. Yandra Arkeman. 2. M. 3. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya.. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Dipl.

Dika. Para Lawalata-Ers. Mamin.7. Dita. Windi. 8. Da Hendrick. Mb Ida. perhatian dan ketegaran kepada penulis. Naqoer. Bunda. Yuyu. Bang Affan. Om Ucup. ST yang selalu memberikan dukungan. Idesh. Januari 2008 Penulis 10 . Popo Iskandar. 10. Aa Ijey. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. 12. atas dukungan. Ana. Teman-teman TIN 40. Aa Bayu. Aa Indra. Lucia. Endah. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. dan Bung Fardian. Endang. Sahabat-sahabat penulis. 9. pengalaman dan kebersamaan selama ini. Aa Dudi. Mayang wo. atas dukungan. Mas Umam. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. 11. Umi. Bogor. Bung Amet.

....... PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU....... 24 1............................... 16 F.............................................................. 13 1................. KARAKTERISTIK INDUSTRI... PERBAIKAN PROSES.................. METODOLOGI........... TUJUAN.......................................................................................... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS......... 4 1............. 15 3............................ 1 A............................................. 30 11 .................. NIRA...................................................................................................................... 19 IV........ USAHA KECIL............................................. 18 B............................................................................... 14 2......................... 12 D........................................................................................................................................................................................................... 27 2..................................... 6 2.......... vii I................... 3 B... 2 II...................... TINJAUAN PUSTAKA................ 1 B...................... KERANGKA PEMIKIRAN........ ASPEK FINANSIAL........................ LATAR BELAKANG............... 18 A................................... 24 A..... 9 3................ KARAKTERISTIK WILAYAH.............. TATA LAKSANA... iii DAFTAR TABEL.................................................... GULA MERAH......................... 15 E.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. ASPEK LEGALITAS. i DAFTAR ISI............................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS........ v DAFTAR GAMBAR............................................................................................................................................................... 3 A...... vi DAFTAR LAMPIRAN....................................................... PROSES MANAGEMEN STRATEGIS......... PENDAHULUAN.....................................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR.......................... 11 C..................... 17 III...................... HASIL DAN PEMBAHASAN..... ASPEK PEMASARAN........................... SWOT............................................................................................. MUTU GULA MERAH......................

..................41 C............................................................................................... 68 4.................................71 V.............. 32 1.............. 80 B..................................................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.............................................. SARAN............ KESIMPULAN..... ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU.............................. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..............................................39 3............ 86 12 .... ASPEK FINANSIAL...................... KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................................................................................................. 46 2................................57 3...... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU......... 80 A.............32 2............. ANALISIS SWOT.... ASPEK PEMASARAN...............B.... ASPEK PEMASARAN..................................................................... ASPEK FINANSIAL.................................................................................................... 46 1........... 82 DAFTAR PUSTAKA...... 83 LAMPIRAN........................................

....... Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu........................... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ........................................................43 Tabel 12....... 40 Tabel 10...... Perincian Laba Bersih........... Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 ............ Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu............................................... 24 Tabel 7.68 13 ...... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ......... Matriks Analisis SWOT...........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1....... Tabel 5.................................. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu............................................................. Tabel 3........... Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 .. Tabel 4.....44 Tabel 15........ Tabel 6.. Matriks Internal Eksternal... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ................... 52 Tabel 19....................................... Luas Areal........................................................................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.......................... 47 Tabel 16..............................49 Tabel 17.............................. 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu ..................................................................53 Tabel 20................. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu........................ Produksi................43 Tabel 13................................................................. 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .............. Tabel 9.................................................. Tabel 2.51 Tabel 18..................... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah .................................................................................. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha..............................44 Tabel 14...... Komposisi Padatan dalam Nira Tebu .......................................................................................... 25 Tabel 8............................42 Tabel 11.... Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu....................................... Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu.

.............. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah................... 79 14 .............................................................................................. Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan....... Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha............. Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ............................. Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha....75 Tabel 25........73 Tabel 22.. 76 Tabel 26......................................74 Tabel 23.........75 Tabel 24.............................. 76 Tabel 27.......................... Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha..........Tabel 21.................................................................................... Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha.....

........ 59 Gambar 11..............................................25 Gambar 3.......................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu.........................................................40 Gambar 10.................... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap.36 Gambar 7...................... 63 Gambar 13...................................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur................... 60 Gambar 12............ Alat Penyaringan Nira Tebu......................................................................... 67 15 ...35 Gambar 6..... Proses Penggilingan........................37 Gambar 8..... Proses Penirisan Gula............................33 Gambar 4...........................................35 Gambar 5.........38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu................................................ Gula Merah Tebu...... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak................................ Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2............................................................................... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap.... Boiler dan Wajan Uap............................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu.......... 65 Gambar 15................................................................................................ 64 Gambar 14................11 Gambar 2................................. Bahan Baku Usaha (Tebu)...... Proses Penggilingan.............................................. 66 Gambar 16..DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1............ Nira Tebu Yang Mulai Mengental..................

...... 105 Lampiran 16...DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.......................94 Lampiran 9..... Perhitungan Biaya Bahan Baku......96 Lampiran 10..... Komposisi Modal Tetap Skenario 1............86 Lampiran 2......................................................... Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit...99 Lampiran 12................................... Biaya Operasional pada Skenario 1............. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1....................................................... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung.................. Biaya Operasional pada Skenario 2......................................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1.... 110 16 ...... Kriteria Investasi Skenario 1.......................................................................... 107 Lampiran 17............................................. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2......... Komposisi Modal Tetap Skenario 2............................................................... 101 Lampiran 14...100 Lampiran 13.........89 Lampiran 5...............92 Lampiran 8...........................................97 Lampiran 11................... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1................................................ 109 Lampiran 18................................................................. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2...............................91 Lampiran 7........................... Kriteria Investasi Skenario 2.........90 Lampiran 6.... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1..... 103 Lampiran 15....88 Lampiran 4......... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2........................................................ Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2......................... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2........87 Lampiran 3......

dan bahkan ada yang cenderung hitam. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. 2002). merah.140. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah.6 juta ton/ tahun. 17 .555 ton. mulai dari kuning. variasi bahan baku. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal.488 hektar. yaitu warna. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. 2005). Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. Namun. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda. kadar abu dan kekerasannya. dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi.I. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi.0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI.127. Menurut Rosby (2004). yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. sementara produksi hanya sekitar 2.86 hektar. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. PENDAHULUAN A. coklat. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya.

aspek pemasaran. B. b. dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya.Selain warna dan kekerasan. serta aspek finansial. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. yang mencakup analisis SWOT. 18 . sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. Menurut Herman (1987). aspek teknis dan teknologis. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. pasir.

berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. 19 . Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi. Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. kondisi geografis.II. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari.5-6. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. 2003). Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. disamping nira yang kurang baik (Herman. Santoso (1993) menyatakan bahwa. 1979). 2002). Menurut Puri (2005). tingkat kematangan. Kerusakan nira banyak sekali macamnya. protein. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. 1987). Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. berbuih putih. dan lemak). serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece.1992). 1986). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. asam-asam organik. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam. tergantung pada jenis tebu. pengadukan selama pemasakan. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. TINJAUAN PUSTAKA A. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. rasanya asam serta baunya menyengat. dan berlendir.0.

lontar atau siwalan. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.5 1.18 0. 1993).0-4. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.0 2. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap.0-3. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1.0 0. 1984).001-0.05 3.5-2.0-94. lemak dan fosfolipid 0. Gula merah banyak 20 .Menurut Poel et al.6 0.001-0.0-4.0-4. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga. dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri. Tabel 1.5 B. aren.0 2. produk cookies. tauco.0-90.5-0.5-4.5 1.03-0.5-5. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin.04-0.1-3.50 0.0 1.5 1.15 75. (1998) dalam Reece (2003).0 70. dan tebu (Dachlan.0 0.

A Vit. C Air Sumber: Tan. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini. 2006). namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya.0 10.0 0.Merah Tebu (mg) 356.0 10.0 5. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih.0 0.0 0. 21 . walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan. 2006).4 0.0 0.0 75. hingga pabrik anggur.0 16. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir).0 76. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi.0 2.0 0.0 0.4 G. industri perhotelan.0 95. (Warastri.0 3. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.9 0. B2 Vit.2 0.0 G.Aren (mg) 386. Tabel 2.0 9.0 35.diminati di Jerman dan Jepang.6 0.0 0.0 20.0 37.0 0.0 9. 1981). Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.4 Madu (mg) 294 0.0 0.0 0.02 0. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 44. pabrik kecap ekspor. B1 Vit.0 G.0 3. supermarket.0 94. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.5 5.0 0.0 4.0 0.0 5. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi.0 0.0 04. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3.1 0.3 0.6 51.0 0.0 1. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi..0 0. Pasir (mg) 364.5 90.0 7. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.0 0.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.03 0.0 0.0 76. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al.0 79. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori.0 0. yaitu 364 per 100 gram.0 0.Kelapa (mg) 386. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder. Dilihat dari segi kesehatan.

22 . yaitu rendahnya teknologi pengolahan. 1993). dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. dan kekerasannya. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). 1993). tidak keras sehingga mudah dipatahkan. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. kekeringan. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. yaitu bentuk. warna. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. maupun kadar kotoran. non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan).Tabel 3. warna. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam.

b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa). 23 . b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet . Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela.Tabel 4.warna . Menurut Shallenberg et al.timah (Sn) mg/kg . 1 Keadaan . disamping nira yang diolah kurang baik. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.0 Maks 8.0 Maks 10.penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.tembaga (Cu) mg/kg . a. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa).03 Maks 0.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.benzoat mg/kg 7 Cemaran logam .0 Maks 40.03 Maks 0.0 Maks 0.seng (Zn) mg/kg . dalam Nurlela (2002).0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5. 2002).bau . gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek.0 Maks 40. Mengenai warna. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.0 Maks 0. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2.raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 40.0 Maks 2.timbal (Pb) mg/kg . b/b 3 Air.residu mg/kg .rasa .0 Maks 40.0 Maks 2. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.

Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. 1993). yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. 24 . Semakin baik mutu nira. b. kadar air. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah.. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. dan kadar lemak. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. protein. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. c. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. basa. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. 1997). seperti mutu nira. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. 1989). 1993). dan lemak dalam nira. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras.

Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. d. 2006). Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. 25 . Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso. 1993).Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. sedikit asam. dan berbau karamel. 2. 1990). Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. 1984). Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt.

26 . Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. daun kering. Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. 1993). atau kemiri yang dihaluskan. 2006). Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. 1993). Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila suhunya terlalu tinggi. 1986). minyak kelapa. 2002). Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. dan serangga.

keras.6. 1986). yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. 27 . dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5.5 – 5. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal. dan pengemasan produk (Sardjono. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. Menurut penelitian Nurlela (2002). proses produksi.

100%.13%. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik.033%. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 . pengadukan selama pemasakan. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah.43%. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. dan kadar lemak 67. kadar protein 64.18%. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan.067% dengan alasan praktis dan efisien.10%. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp.58%. 290C-0. yaitu : 1. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. total kotoran 50. 200 juta. intensitas pengadukan. 1 milyar atau kurang. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. 750C-0. serta kebersihan alat.067%.84%. kadar glukosa 76. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil. meliputi suhu dan waktu pengolahan. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0.69%. 290C-0.067%. 750C-0.100%. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. kadar abu 37. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial. C.

Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. 4. D. Bidang usaha perdagangan 2. 3. mengimplementasikan.4. Bidang usaha industri non pertanian 4. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. 2. yaitu : 1. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. 2. 3. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Bidang usaha industri pertanian 3. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi.

Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. 1998). 2004). Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. Menurut Jauch (1998). manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. yaitu: 1. Sesuai dengan pendapat David (2004). baik besar maupun kecil. 1. 3. 30 . Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. 2. Selain itu. menetapkan sasaran jangka panjang. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan.fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. 1998). Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. 1998).

2. 1998). Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. 1997). 3. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. 2005). Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti. 31 . SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. 2000). Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. 1997). 2000). Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler.

rancangan. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. 2000). Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi.menawarkan. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. yaitu produk. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. 32 . Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. 2003). distribusi. harga. pemberian merek. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. peralatan. 2004). Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Menurut Kotler (2005). Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. 2003). serta pemilihan mesin. serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan. dan teknologi untuk produksi. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. Bagi pemasaran produk barang. fitur. 2005). dan promosi (Umar. dan pengemasan produk. 2005). yang mencakup mutu. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. E.

2000). serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Pay Back Period (PBP). 33 . Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). estimasi aliran kas proyek. Internal Rate of Return (IRR). sumber dana dan biaya modal. dan analisis sensitivitas (Gray et al. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja..F. yaitu metode Net Present Value (NPV). Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. Break Event Point (BEP). Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi. 1992).

untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. volume produksi tebu. aspek pemasaran. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Oleh karena itu. 34 . KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. serta aspek finansial. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. antara lain analisis SWOT. aspek teknis dan teknologis.III. METODOLOGI A. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. dan harga gula merah tebu lebih murah. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. Namun. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik.

Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Tahun 2007. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. pengamatan langsung. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. Aspek teknis teknologis (bahan baku. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. Data Primer 1. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Data primer diperoleh melalui eksperimen. Konsumsi gula merah tebu 3. dan literatur lainnya. Kualitas gula merah tebu II. Informasi lain 2. dan aparat setempat. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. konsumen. internet. alat. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang.B. BPS. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Jawa Tengah. Data Sekunder 1. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. kebutuhan finansial 2. aspek pemasaran. bahan tambahan. internet. Jenis Data I. proses produksi). petani tebu. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. pedagang (distributor). Kabupaten 35 . Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. jurnal. pedagang (distributor). dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Tabel 5. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. TATA LAKSANA 1. Kondisi wilayah 2. Lembaga Swadaya Informasi IPB.

Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. Net B/C. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. proses produksi. 3. BEP. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al..Rembang digunakan sebagai rujukan. a. dan PBP. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . IRR. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. 1992). 5. 4. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. pengadaan bahan baku. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan.

. 1.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi.. 3. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. n) 37 . 2. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. yaitu : 1... Jika nilai NPV sama dengan nol. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. 3.. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. b... maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya. 2. 2000). terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi. 2. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. 3. Menurut Gray et al. 1... Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan.

. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku.. 1. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. Jika nilai Net B/C kurang dari satu.Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku.. maka proyek layak untuk dilaksanakan. 38 . 3. b. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0. 2. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. Jika nilai Net B/C sama dengan satu.. c. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. c. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan.

Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan. Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya. sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp. Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 .d. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. 2003). 2000).

Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. Tabel 6.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 . Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1.127.140.IV.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.859 353 75 185 57 40 64 4. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang.127 686 462 397 2. HASIL DAN PEMBAHASAN A.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6. Sulang.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan.86 hektar.

087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.390 722. Luas areal.701 1.994 1. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.305 109 181 554 27 119 6.015 1. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.948 3.420 1. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.997 4.718 11.300 322.9.697 3.140 4. P5 864 dan BZ 148.700 3.127.353.555 3.582 566.130 3.488 hektar.917.380 3.235 503 29 52 439 10 47 2.767 16.000 3. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.955 3.050.700 3.070 3.390 62. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.462 90.672 369.791. Luas areal.390 619.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3.360 392.582 12.951. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi.510 3.221. Produksi.020 3.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas.398 3.300 23. Tabel 7.960 3.720 3. Pada umumnya 41 . Produksi.462 3. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.

Namun. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. Gambar 2. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu. sebagai media komunikasi. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. Bagi para pengusaha gula merah tebu. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. Menurut Soentoro et al. 42 . Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering.. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal.

Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8.. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Pada awalnya. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Selain gula tumbu. Menurut Soentoro et al. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. Di Kabupaten Rembang. 43 . (1999). Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak.B. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. Namun. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Namun. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. 3. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya.200.00-Rp. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. 44 . 4. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. perawatan. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang.Tabel 8. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha.550. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG.00. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. pengendalian. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. PG Trangkil 800 ha. Sebaliknya. berdiri dan berkembang sendiri. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci.

Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. Indofood. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. Pembentukkan Paguyuban. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. misalnya industri makanan dan minuman (PT. Cap Orang Tua). diantaranya yaitu : 1. PT. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. yang dilakukan oleh suatu LSM. Data terakhir diperoleh. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. 45 . Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. ABC dan PT. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Revitalisasi Alat 3. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5.

misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. 46 . Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja.2. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Menurut BPS (2003). perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. Dalam prakteknya. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu.

Ibu Arini membuat gula tumbu. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Pada tahun 1991. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Pada awal produksinya. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. yaitu tebu 864 dan BZ 148. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. rendemen tebu masih relatif rendah. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik.C. yaitu 8 – 12 bulan. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Mulai tahun 1998. yaitu berkisar 7 – 8%. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. 10 ha lahan sewa. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. dan sisanya membeli dari para petani lain. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. Selama satu periode panen. Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. 47 . Pada awal panen.

pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). 48 . Selanjutnya. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. dua orang di bagian penggilingan. Dalam satu hari kerja. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. Pada umumnya. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. tetapi 4–5 kali pemasakan. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase).13 ha).1. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. sehingga nira tebu dapat terekstrak. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. dua orang di bagian pemasakan. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat.12–0. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0.

Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. 2006). proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. 2003). ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. Apabila suhunya terlalu tinggi. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. maka debu dan kotoran (daun. Proses Penggilingan b.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Gambar 4. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. 49 . Pada prinsipnya.

kemudian mengangkatnya. agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. 50 . Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). 1993). Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. 2006). Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. ketika nira mulai dipanaskan. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. maka gulali tersebut sudah matang. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari.

Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Gambar 6. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. biasa disebut dengan meja. Sebelum gula dipindahkan. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Nira Tebu yang Mulai Mengental d. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. 1985).Gambar 5. serta membentuk benang-benang gula. Kegiatan pengadukan tersebut 51 .

Gula Merah Tebu 52 . Gambar 7. f. 2002). butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Pengadukan untuk meratakan panas.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. e.

Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7.

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

3. 150. Oleh karena itu. 4. 55 . perusahaan kecap dan permen. dan Yogyakarta. Indofood. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. sedang dan jelek. Pati.600. industri penghasil jenang (dodol). 200.00. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT.00Rp. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga.2.00.00 dan gula merah tumbu Rp. yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. Kudus. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp.550. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota.2. Remaja sebagai pengumpul besar. ABC. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam. Semarang. Pasuruan. diantaranya gula dengan mutu baik. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak.00. PT. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah.00-Rp. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. sebagai pihak ketiga. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur.00Rp. antara lain Rembang. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp.00Rp. 3.100. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. PT.200. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. 100. Jadi. Cap Orang Tua.600.

Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. yang terletak di Desa Japerejo.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Tabel 9. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Remaja. Kecamatan Pamotan. Remaja. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 .

Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. Pada tahapan awal. baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. 57 . Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. a. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. 1997).00. b. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.000. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. pendirian bangunan. seperti bank. estimasi aliran kas proyek. sumber dana dan biaya modal.3. 2000).025.

Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.000 6. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000 Total Modal Tetap 218. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. 58 . kemasan.000 49. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. administrasi dan telepon). tenaga kerja langsung.825.025.000.000 50.200.000. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.Tabel 10. depresiasi.000 2. biaya variabel (biaya bahan baku. pemeliharaan.000. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.) 110.

000 46.076 31. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.472 2.835. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.601.500.000 498.100 4. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13.Tabel 11. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.000.025. seperti terlihat pada Tabel 12.497 264.693.900. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.925.921 737. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A. 59 .000 4. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.00. Tabel 12.925.900.497 c.421 5.299.497.000 335.497 B.) 218. C.400 37.604 600.000 46. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.

596 135.212.409 e.462. d.Tabel 13. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).736 141.490 133. Internal Rate of Return (IRR).500 23.) 78.910.749 Modal Sendiri (Rp) 109.249 132. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13.790.031.657.012.163. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.839 109. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7. Tabel 14.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.450.179 139.500 23.537.249 132.284.851 144.294 142.462. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).064 137.012. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu.450.431.429. Break Event Point 60 .621 138.

Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. dan Pay Back Period (PBP). Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.384 Kg/tahun. 61 .968.831.00.00 atau 59. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.60 %. diperoleh NPV Rp 257. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195.791.968. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.(BEP). Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek.96 tahun.969 Kg/tahun.97. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Titik impas tercapai pada saat produksi 63. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol).

Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. pasar. ekonomi. serta kebersihan dan kesehatan produk. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. 62 . legalitas perusahaan. teknologi proses yang akan digunakan. dan teknologi. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. kegiatan operasional. sosial. yang meliputi kebijakan pemerintah. pesaing. kegiatan pemasaran. lokasi pabrik. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. pemasok bahan baku.D. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. kondisi keuangan.

Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Harga BBM naik 5. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Diversifikasi produk 5. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Potensi pengembangan 6. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Belum berbadan hukum 6. Produk belum distandarkan 11. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4.Tabel 15. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Kualitas SDM yang rendah 8. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Ketersediaan modal terbatas 7. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Proses produksi sederhana 3. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Teknologi manual dan sederhana 2. Bahan baku mudah 4.

proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. 64 . tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. kualitas SDM yang rendah.816. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. belum berbadan hukum. memanfaatkan tenaga kerja lokal. bangunan pabrik tidak permanen. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana.a. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. proses produksi tidak konsisten. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. lokasi pabrik cukup strategis. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. ketersediaan modal terbatas. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. produk belum sesuai dengan SNI.

061 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0.816 65 .057 0.100 0.207 0.042 0.184 0.172 0.172 0.054 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.061 0. Belum berbadan hukum 6. Proses produksi sederhana 3.050 0. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.161 0.169 0.215 0. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Internal Kekuatan (Strengths) 1.138 0.054 0.069 0.199 Kelemahan (Weaknesses) 1. Kualitas SDM yang rendah 8.057 0. Bangunan pabrik tidak permanen 10.Tabel 16. Produk belum distandarkan 11.184 0.107 0.054 0.069 0. Ketersediaan modal terbatas 7. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.054 0.042 0.084 0. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4.000 2.207 0.069 0.054 0. Teknologi manual dan sederhana 2.215 0.061 0.184 0.161 0. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A.

beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG). penampakkan produk yang kurang menarik. didapatkan total skor sebesar 2. dan gula merah telah populer di masyarakat. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. ketersediaan lahan dan bahan baku.686. bahan baku mudah. memiliki langganan. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. harga bahan baku di PG lebih tinggi. 66 .b. harga BBM naik. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. diversifikasi produk. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. pajak dan ijin usaha.

077 0.250 0.080 0. Potensi pengembangan 6. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.154 0.221 Ancaman (Threats) 1. Diversifikasi produk 5. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.167 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.093 0.090 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.298 0.080 0.099 0.686 67 .080 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.154 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0.083 0.279 0.240 0.083 0. Harga BBM naik 5.Tabel 17.074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0. Bahan baku mudah 4. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B.080 0. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.240 0.333 0.269 0.000 2.083 0.077 0.

0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2. melalui kerjasama dengan pihak lain. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4.0 Rata-rata 2. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE.Tabel 18. 68 . perluasan pasar.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. dapat disusun matriks IE.0 I 3.0 Lemah 1. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.0 Rendah II III V IV VI VII 1. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan.0 Tinggi Kuat 3.

Menerapkan sistem penjadwalan 3. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Memperluas daerah pemasaran 3. Ketersediaan modal terbatas 7. Membina SDM yang dimiliki 6. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Belum berbadan hukum 6. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Proses produksi sederhana 3. Tenaga kerja lokal 4. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.Tabel 19. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1. Produk belum distandarkan 11. Diversifikasi tebu 5. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Kualitas SDM yang rendah 8. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Potensi pengembangan 6. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Menerapkan goodhouse keeping 5.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Meningkatkan kualitas produk 7. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. 2. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku.Teknologi manual dan sederhana 2. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Bahan baku mudah 4.

untuk konsumsi rumah tangga. 70 . selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. dan Semarang). industri pengguna gula merah. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Kudus. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). serta pedagang eceran. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. 2000). 1. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Memperluas daerah pemasaran. pengumpul dan industri pengguna gula merah.Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa.

Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. 71 . Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. mengoptimalkan pembagian kerja. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Selain itu. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan.2. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. Membentuk kelompok usaha bersama. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. 3. mempermudah akses pemasaran. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar.

sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. agar menjadi lebih terampil. dan dapat bekerja efektif serta efisien. ulet. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). dan penggunaan teknologi yang sesuai. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. pengontrolan dan pemantauan. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Meningkatkan kualitas produk. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. mengorganisasikannya. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. Menerapkan goodhouse keeping. Membina SDM yang dimiliki. Tujuan 72 . kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. Selain itu. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. proses pengolahan yang optimal. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas.

Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. dan memperluas pangsa pasar. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. memperkuat posisi produk dan perusahaan. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. 4. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. 73 . mempertahankan dan mengembangkan usaha. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. 2. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen.

yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. a. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi.2. 74 . perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. dibersihkan dengan arit atau pisau. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. a. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan.1. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan.a. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa.

Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan.3. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Air 75 .Gambar 10. menyelimuti dan memanaskan wajan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Selain itu. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Alat Penyaringan Nira Tebu a. yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang.

Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. dan air sumur. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu.4. Gambar 11. b. dengan harga solar Rp.500. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. Karena menggunakan air sumur. Selain itu. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. PS 864 dan BZ 148. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. bahan bakar solar dan oli.00/ liter. 4. Bahan baku yang 76 . Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. Boiler dan Wajan Uap a.

minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan.000. dengan umur tebu 8-10 bulan.050. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. 150. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. Pemberian dosis kapur. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. kondisi batang. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. kondisi perkebunan. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. 130.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa.00/ ton tebu. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. 2005). Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. c.000. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal.997 kg. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan.00-Rp. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu. 77 . dan umur tanaman.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu.

1. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. d. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. 1984). Selanjutnya. larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. letak drum di atas bak penyaringan pertama. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. 78 . penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. Proses Produksi d. yaitu sebelum masuk ke wajan. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk.

Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 . Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung.2. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. lapisan bagian luar dan bagian dalam. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Gambar 12. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. Proses Penggilingan d. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang.

Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Karena jika tidak dibuang. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira.untuk proses pemasakan berikutnya. kemudian mengangkatnya. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Gambar 13. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. dengan menggunakan mesin pompa air. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. ketika nira mulai dipanaskan. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih.

Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. serta membentuk benang-benang gula. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu.4. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono.d. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Sebelum gula dipindahkan. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. 1985). pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. Gambar 14. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus.3. Pengadukan untuk meratakan panas.

5. bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. 82 . Gambar 15. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Sedangkan. 2002). Selanjutnya karung yang telah diisi gula. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer.masih berlangsung dapat segera terhenti. Proses Penirisan Gula d. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur).6. d. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

pemberian merek. rancangan. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. dan pengemasan produk.600. sedang dan jelek. rasa dan kekerasan oleh pengusaha. fitur. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna. dan promosi (promotion). bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. yang mencakup mutu. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap.00. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.00-Rp 200.00-Rp 150.00-Rp 4. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan.00. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. harga (price). Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 .00 dan gula merah tumbu Rp 2.3. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan. tempat (place). Penerapan pengembangan teknologi di atas. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi. Tabel 20. Menurut Kotler (2005). Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik.200. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product).00.550. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100.00-Rp 3.600. Seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. harga cenderung turun. harga gula merah tinggi. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. Distribusi gula merah relatif sederhana. yaitu permintaan langsung dan 85 . Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Namun pada saat awal panen. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu.karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. Sedangkan pada masa puncak panen. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Ketika harga jual gula merah rendah. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

depresiasi.200. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. administrasi dan telepon). tenaga kerja langsung.000 120. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.000. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Tabel 22. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi.000 Total Modal Tetap 308. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 .) 110. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. biaya variabel (biaya bahan baku.000 70. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22. kemasan.000 2.00.000. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308.285. pendirian bangunan.285.c.000 6. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.000. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja.085. pemeliharaan.

beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.808.476.500.400.285. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.039 2.000 56.000. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.000 391. Tabel 23.300 46.611.561 42.690.000 826.000 4. Jangka waktu pengembalian modal 91 .801 d.140 982.801 364. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 24.761.522 839.865.429.000 56.00 seperti terlihat pada Tabel 24.240 5.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.800 2.476. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.

656.446.238.482.493 259.400 182.564 325.424. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.142.400 182.782 317. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14.826.368 323.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.509 312.573 315.380.643.955 92 .771. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.142.173 321.380. Tabel 26. Tabel 25. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.238.500 28.500 28.540. e. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.759 327. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.977 319.598.900 Modal Sendiri (Rp) 154. ) 190. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.713.

Break Event Point (BEP). Internal Rate of Return (IRR).349 Kg/tahun. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. sehingga layak dilaksanakan. Nilai IRR-nya adalah 51.721.12 %.34 memiliki nilai lebih dari 1.865. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan. Nilai yang diperoleh yaitu 3. Maka layak untuk dilaksanakan. dan Pay Back Period (PBP). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %.349 Kg/tahun. 93 . Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).471.00 atau 45. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek.f. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.400.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol). BEP yang diperoleh yaitu Rp 158.

Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. Selain itu. 94 . Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek.89 tahun. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini.

00.721.60 %. pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2. IRR : 51.925. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .831.349 Kg/tahun).00) .Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .865.Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) .Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.801. IRR : 40. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No.500.Tabel 27.Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) .00. dan Yogyakarta .Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.471.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .34.300.Proses pengolahan . Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1.Bahan bakar bagas berundak).Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .Penyimpanan produk di tempat terbuka .Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan .Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .Konsumen industri .Distribusi .00 (59. Net B/C : 1. Pemasaran .00) . Pati.97.Bahan bakar bagas . Pasuruan.Distribusi ke daerah Rembang.89 tahun Modal : Rp 364.Bahan baku .Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.Konsumen industri dan rumah tangga . Net B/C : 3.Produk . PBP : 2.00.00. BEP : Rp 158.968.761. PBP : 1.Promosi .Sanitasi pabrik .800 kg/hari 3.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .400. pemasakan gula tidak konsisten .96 tahun Modal : Rp 264. BEP : Rp 195.Penyimpanan produk .Harga produk lebih tinggi (Rp 3.Tidak dilakukan promosi .Harga .Harga produk lebih rendah (Rp 3. Produksi : 2.100 kg/hari . sedang.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257. Kudus.497.00 (45.384 Kg/tahun).Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar . Semarang. Teknis dan teknologis .791. Produksi : 2. dan jelek) .968.12 %.

dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. sedang dan jelek. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. Berdasarkan hasil yang diperoleh. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Selain itu. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. yaitu SO strategi. diantaranya variasi bahan baku. pengawasan bahan baku dan produk. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. WO strategi dan WT strategi. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal.050. serta sarana dan prasarana lainnya.955 ton. ST strategi.V. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. yang meliputi warna. strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal.015 Ha. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. memperluas pasar. rendahnya teknologi pengolahan. KESIMPULAN DAN SARAN A. serta sanitasi dalam proses pengolahan. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. rasa dan kekerasan. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. meningkatkan pangsa 96 . melalui kerjasama dengan pihak lain. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas.

yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.801. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364.pasar.471. NPV sebesar Rp 257.384 Kg/tahun dan Rp 158.89 tahun.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.00.00 dan modal kerja Rp 46. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung.831.968. dan 51.00 dan Rp 854.00 dan modal kerja Rp 56. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.761. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.96 dan 1. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu.476.97 dan 3. 97 .00.400. Dalam basis waktu operasi satu hari. BEP sebesar Rp 195. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal. Berdasarkan hasil tersebut. IRR sebesar 40.025. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu.497.791.900. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini.349 Kg/tahun.968. PBP sebesar 2. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.000. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.000. Net B/C sebesar 1.00.285.00 atau 45. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada.60 %.34. dan menerapkan teknologi tepat guna. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.00 atau 59.721.12 %. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.865.925.801.497.

98 . 3. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan.B. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). 2. SARAN 1.

2003. Gray. 1990. Padang. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. 2005. 2006. Dachlan. PT. PT. David.. Bogor. Manajemen Operasi. 1984. 2000. Bogor. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Jakarta. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Proses Pembuatan Gula Merah. BBHIP. Kotler. C. P. Jakarta. 2004. Indeks Kelompok Gramedia. 2005. IPB. Yogyakarta. P. S. F. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Industri Gula Merah. Dyanti. Bogor. Skripsi. Indeks Kelompok Gramedia. edisi 10. Gramedia Pustaka Utama. Grasindo. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. M. Indeks Kelompok Gramedia. Jackson. S dan Hendri. Manajemen Strategis. Fakultas Teknologi Pertanian. Gula Merah Tebu.. Jakarta. Wijandi. 2002. 1987. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. PT. N. Bellante. Universitas Andalas. IPB. 1997. 1992. 2005. D dan M. Manajemen Pemasaran Jilid 1. 2000. Simanjuntak. Salemba Empat. Badan Standarisasi Nasional. LPFE UI. Pengantar Evaluasi Proyek. PT. Artikel. Laporan Penelitian. Kotler. Jakarta. Indeswari. Husnan. Manajemen Pemasaran Jilid 1. 99 . Manajemen Pemasaran Jilid 1. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. dan Muhammad. A. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. Studi Kelayakan Proyek. FATEMETA. Jakarta. 1985. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Agro Industri Press. Jakarta. Dasar Pengolahan Gula 1. Jakarta. Ekonomi Ketenagakerjaan. S. Kotler. Goutara dan S. P. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Ma’arif . S. Ashari. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. SNI 01-6237-2000. P.

Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. M. Santoso. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. 1979. M. Pembuatan Gula Kelapa. PT. 2000. Skripsi. Reece. 1997. Bogor. Fakultas Teknologi Pertanian. http:/etd. Bogor. Palungkun. Swadaya. Analisis SWOT. Fakultas Pasca Sarjana. PAU Pangan dan Gizi IPB.lsu. 1986. Rachmat. H. 1992. Nengah. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. 2005. E. Yogyakarta. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. IPB. Okyanus Danismanlik. Bogor. USA. Thesis. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). PT. N. Teknik Membedah Kasus Bisnis. P. Ozdemir. 1993. Pdf. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. B. Kanisius. Lousiana State University. Departemen Teknologi Industri Pertanian. I. R. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. Fakultas Teknologi Pertanian. 1992. 1990. 1993.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. Bogor. dan Sugiyono. T.okyanusbigiambari. Jakarta. Soejardi. 100 . Puri.. Foods Browning and Its Control. Bogor. F. IPB. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Sardjono. A. Aneka Produk Olahan Kelapa. 1998. Bogor. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Analisis SWOT. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. http:/www. Jakarta. Nurlela.Muchtadi. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Institut Pertanian Bogor. N. Jakarta. B. Tesis. K. 2002. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. Program Studi Ilmu Pangan.sde/docs/available Rangkuti. Gramedia Pustaka Utama. R. Jakarta. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah.

1989. Umar. 1996. Bibliografi. Pasuruan. Penerbit Liberty. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. S dan Sumarno. Studi Kelayakan Bisnis. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. IPB.. PT. Suhardi. H. Bogor. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. 101 . XXI/2:22-25. Syukur. 2003. 1999.Sudarmadji. 1984. Wirioadmodjo.. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. Utami. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Gula Indonesia Vol. Bambang H. S. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. B.

000.500.000 50.000 1.000 300.000.000 5.000.000.000.000 1.000 1.000 210.000 50.000 250.000 10.000 180.000 Sub Total (Rp) 110.000 500.000 675.000.000 60.000. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000 200. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.Lampiran 1.000 2.000 No.000 600.000.000 300.000 20.000 15.000 30.000 100.000 500.000 35.000 1.000 30.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000.500.000.000 500.000.000 25.025.000.000 2.000 2.000.000 600.000 218.000 500.000 100.000 100.000 600.000 1.000 50.

000 308.000.500.000 2.000 2.000 100.000 45.000 20. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.285.000 500.000.000 2.000 1.000 25.000 500.000 275.000 50.000.000 500.000.000 200.000 103 .000.000.000 1.000 80.000 10.000.000.000 5.000 600.000 100.000 25.925.000 700.000 1.000 No.000 180.Lampiran 2. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.000.000.000 70.000 80.000.000 500.000.000.000.000 Sub Total (Rp) 110.000 250.000.000 1.000 70.000 1.000 20.000 1.000 600.000.

900 45.200.400 18.000 Tungku 30.000 587.000 Instalasi Air/Pompa 1.400 8.000.000 8.000 1.000.000 1.000.000 60.808.000 100.000 50.000 90. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 6.000 Kursi 600.000 5.025.000 1.800 54.000 2.350.000.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.825.800 3.000 Ember Stainless 300.000 18.902.000 67.000 202.000 Selang 300.000 90.000.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.000 140.000 3.000 625.000 Total 216.500.000 2.000 4.800 2.500 1.000 (Rp) 110.000 100.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.143 18.000 Sub Total 49.000 Sodet 210.920.500.000 75.000 27.982.000 10.400 2.000 Timbangan 1.500 135.000 60.857.000 30.000 10 6 10 60.000 1.400 5.876 104 .000 Drum 600.000 135.700 10.000.974.500 204.333 150.700 360.000 90.500 150.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.000 20.000.000 6 6 6 50.000.Lampiran 3.000 Sub Total 6.000 18.000.000 83.500.000 Alat Penyaring 60.000 21.000 Listrik 2.000 54.000.887.000 182.000 Lemari 1.000 Bumbung Penahan 675.543 8.500 141.000 3.500.000.500.000 Meja Penirisan 1.000 30.000 Serok 180.000 600 20.000 10 25.000 150.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

500.412.120 1.376 B C 749.500.046.876 10.041.610.000 129.120 881.383.000 2.808.000 129.600.153.288.000 7.500.000 2.474.376 Tahun Ke.600.000 8.876 10.500. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.974.808.974.962.500.383.500 32.500.383.808.153.000 20.000 2.894.076.000 2.974.466.602 1.200 676.876 10.120 881.376 4 12.076.600.500 32.270.610.076.041.496 108 .978 1.368.600.412.600.500 32.270.708.496 1.000 9.500.000 2.500.578 2.000 919.120 2.000 110.800 9.383.825.000 8.079.000 8.153.000 8.974.000 885.960.500.876 10.270.954 2 12.602 881.000 8.200 20.383.960.000 129.808.000 6.610.876 10.500 32.000 2.120 1.578 13.000 20.376 5 12.376 573.496 1.(Rp) 3 12.037.500 32.288.000 2.000 9.Lampiran 7.267.500.800 84.974.000 711.960.808.412.350.000 2.041.288.120 17.

270.270.076.000 129.288.500.120 1.383.000 2.000 8.496 1.383.000 8.500 32.500.500.960.610. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.153.376 881.076.500.120 20.610.500.270.496 1.153.120 1.120 20.153.000 1.000 B C 9.000 1.600.000 2.000 9.120 2.076.412.000 129.000 9.270.876 10.808.000 2.041.000 129.000 129.412.412.500.876 10.000 8.288.041.000 7 12.500 32.000 9.383.808.600.120 1.270.600.500.120 1.Lanjutan Lampiran 7.000 2.974.876 10.000 2.974.(Rp) 8 12.974.120 20.376 881.076.500.000 2.288.383.808.000 2.376 881.041.000 2.153.120 20.000 2.496 109 .500 32.876 10.041.376 881.000 9 12.153.500.496 1.496 1.076.120 20.876 10.610.000 8.288.000 Tahun Ke.960.974.000 129.000 9.808.000 8.376 881.500.600.041.960.960.412.383.000 10 12.600.500 32.288.974.610.412.808.960.610.500 32.

210.580.000 66.000 2.852.082.973 1.600 10.877.000 2.500.393 15.000 14.000 50.000 839.000 77.716.174.877.Lampiran 8.960.852.836.093 5 12.690.877.880 1.500.500.700 42.093 4 12.000 77.000 10.000 14.236.800 2.580.000 2.290.800 1.000 7.335.852.680 1.600.893 1.700 42.580.093 Tahun Ke.000 14.290.174.836.142.393 15.096.102.393 15.216.836.600.000 77. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.600.000 2.000 2.335.000 10.500.800 17.500.877.500.216.000 2.093 B C 763.760.102.772.800 1.000 884.580.960.(Rp) 3 12.290.400 23.760.400 9.893 110 .156.544.800 1.133.000 2.102.000 27.700 42.600.102.772.000 2.216.043.700 42.413 1.174.500.580.393 15.093 2 12.000 27.600 27. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.000 2.097.960.002.760.500.102.500.000 14.877.500.393 15.893 1.335.320 1.772.724.520 998.600.700 42.000 14.800 1.

893 1.174.600.000 1.700 42.000 77.290.836.893 1.000 10.000 14.000 10.000 77.800 27.700 42.000 2.760.580.600.800 1.893 1.772.093 10 12.800 1.102.093 9 12.500.500.772.102.600.836.893 1.960.760.335.000 77.580.580.772.216.000 10.000 14.174.960.102.(Rp) 8 12.700 42.877.800 1.760.000 1.000 2.877.800 1.000 2.852.960.000 77.700 42.000 27.216.093 B 1.500.000 2.500.960.093 Tahun Ke.290.760.393 15.893 C 111 .335.800 1.000 2.800 2.174.600.800 1.Lanjutan Lampiran 8 No.216.852.393 15.000 2.335.500.000 10.000 27.000 14.393 15.836.393 15.852.290.836.500.290.174.800 1.877.772.000 14.000 2.000 10.393 15.335.600.836.852.800 1.335.102.290.700 42.580.216.000 2.877. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.102.000 77.960.877.216.772.760.174.852.500.500.000 2.000 27.500.093 7 12.000 27.500.000 14.580.

761.000.522 839.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.076 31.000 120.000 46.808.100 100.693.561 42.000 50.476. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.000 498.604 600.000.000 6.000.000 49.Lampiran 9.500.000 56.200.801 112 .000 70.825.000. C.497 264.800 2.140 982.601.000.900.500.000 6.611.000 56.000 335.000 2.472 2.000.900.476.429.000 826.200.421 5.240 5. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.000 46.921 737.801 B.000 2.000 4.100 4.000.085.000 391.865.000 4.039 2.801 364.299.000.400 37.925.835. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.300 46.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.

450.636.450.407.250 11.210.111.901.703.025 28.750 2.962.050 76.901.700 10.462.250 3.816.901.221.500 109.142.750.750 10.037.000 43.900 132.901.400 Jumlah 132.012.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.712.407.350 22.125 20.250 7.599.901.750 4.275 87.901.499 15.633.500 109.500 65.600 54.250 17.142.773.249 23.250 10.901.816.500 10.523.111.500 Modal Kerja 23.825.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .901.787.750 10.250 9.450.375 43.450.250 10.506.499 7.308.900 18.825 65.500 21.380.500 154.802.238.250 10.000 87.400 23.750 7.450 14.150 32.000 10.250 13.250 19.633.500 10.250 30.500 109.750 32.802.450.380.015 9.225 12.500 154.249 7.814.012.012.250 15.250 5.674.750 1.500 98.901.925 21.800 26.660.848.210.816.675 16.630.735.Lampiran 10.249 23.250 54.863.250 98.012.506.250 10.749 182.622.816.750 76.561.308.407.462.012. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.816.030 10.238.605.500 10.249 28.901.811.000 10.575 24.901.749 182.250 1.750 7.249 28.223.901.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.045 12.886.703.779 7.794 15.605.697.924.

142.390 13.071.385.414.098.900 138.647.250 5 92.899.971.250 18.142.250 2 138.512.737.250 10 15.500 1 154.414.750 15.287.412.801.196.500 32.414.250 Bunga 27.000 26.400 28.104 0 114 .485.238.412.750 34.323.728.800 5.130 2.610.520 19.388.260 8.825 11.188.085 22.000 37.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.412.250 3 123.380 15.000 15.250 7 61.828.695 5.250 15.314.640 77.657.955 16.414.421.800 1.414.774.408 9.912 14.414.238.728.414.242.400 9.745.000 15.205 92.250 15.412.650 24.250 40.608 12.899.510 46.500 43.872.400 1 28.657.828.414.159.825.082.600 2 18.071.304 11.414.242.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.414.836.500 15.412.075 61.335 123.750 15.750 23.500 15.800 9.314.500 15.945 30.800 3 9.250 29.414.485.600 9.963.250 15.500 20.495.549.800 3.250 8 46.770 107.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.238.107.250 9 30.712 18.061.250 4 107.414.250 6 77.825.142.694.

883.883.000 378.300 3.863 2.120 1.300 378.270.300 3.000 378.300 3.120 1.376 34.270.883.578 885.079.270.041.300 3.041.376 34.897 2.847 2.883.376 Biaya Variabel (Rp) 676.041.376 34.376 34.041.041.376 34.300 3.041.847 2.825.300 3.270.700 321.847 2.Lampiran 11.883.883.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.883.376 34.120 1.000 378.847 2.270.120 1.041.041.376 34.300 3.376 34. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.270.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.270.883.847 2.000 Harga Pokok/Kg 2.883.000 378.883.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .000 378.847 2.120 1.847 2.300 3.300 3.120 1.376 34.120 1.000 378.602 1.270.000 378.

500 3.093 45.800 1.080.320 1.651 2.093 45.080.080.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.290.500 3.080.651 2.500 3.093 45.000 504.000 Harga Pokok/Kg 2.080.880 1.000 504.290.093 45.651 2.772.500 3.002.800 1.500 3.772.600 428.000 504.080.800 1.800 1.666 2. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.651 2.290.156.500 3.093 45.080.800 1.500 3.000 504.500 3.400 504.000 504.093 45.290.000 504.290.772.500 3.800 1.772.290.699 2.093 45.097.651 2.290.093 45.080.290.093 Biaya Variabel (Rp) 839.772.772.Lampiran 12.000 504.080.772.651 2.800 1.651 2.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.772.080.093 45.

270.757. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.409 137.400.653.295 77. Laba Setelah Pajak 65% 245.929 8.790.120 1.000 1.815 156.000 32.000 1.839 2 85% 321.773.970 133.496 13.653.290.000 32.000 32.974.575 160.788 78.627 8.496 11.825.578 709.985.383.025 2.732. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.622.000 1.431.697.400.954 19.247.300 1.876 86.462.350 11.805 33.974.041.208.247.041.064 5 100% 378.948.876 168.974.876 165.120 1.030 20.751 8.616.876 170.735.621 117 .967 8.195.010.000 32.353 109.898.073.973.104.247.400.843 21.407.060.376 1.376 1.490 Tahun ke3 100% 378.814.270.876 131.015 17.376 676.045 23.154 8.270.700 810.773.073.350 161.660.843.784.974.000 810.800 1.383.383.000 1.079.602 917.575 13.400.742 135.429.120 1.383.163.400. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.810.073.030 33.000 1.376 1.221.496 15.041.000 32.474.327.641.974.212.978 17.000 1.055 122. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.352.689 8. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.810.400.247.653.735.250 4.247.565 32.376 885.060.184.596 4 100% 378.519.383.290.Lampiran 13.247.000 1.

120 1.811.705 35.247.747 144.225 1.294 3.653.077 138.496 9.120 1.876 178.974.000 378.409 118 .657.247.376 32.255 34.974.400.759.376 1.400.550.675 5.537.Lanjutan Lampiran 13.000 1.886.727.054 8.125 163.376 32.910.179 7.859.383.935.041.962.400.376 32.974.848.247. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.924.000 1.496 1.073.383.000 1. Uraian 6 A.496 1.675 167.653.279 8.000 1.073.270.247.000 1.000 378.247.961.000 1.910.383.876 172.225 171.120 1.930 36.031.073.496 1.886.736 5.041.400.400.974.000 378.383.155 36.811.041.073.120 1.400.139.604 8.247.496 1.000 378.876 180.247.120 1.079 142.851 1.450 169.897.000 1.796.270.900 165.270.400.073.000 1.822. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.900 7. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.834. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.876 174.247.450 3.974.247.962.400.876 176.041.653.872.400.000 1.784.247. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.744 139.383.848.829 8.270.379 8.400.000 1.653.284.041.125 9.270.480 34.373.924.376 32.412 141.653.000 32.

694.400.633.000.333.352.333.152 14.393 421.600. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.000 1.000.390 413.764.000 1.180.582.973 1.877.352.283 14.772.330.826.196.890.093 42.693 331.771.103 312.600 428.764.764.647.400 504.352.189.499.000 42.600.146.772.393 247.509 22.218 259.824 406.971.717 14.000 1.290. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.133 317. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.573 19.925 190.097.000.413 1.000 1.000 1.736.800 881.877.110 111.163.334 14.446.093 42.764.580.493 24.002.562 232.877.066.877.225.421.977 119 .000 504.156.828.390 16.545 110.000 504.764.676 108.782 16.139.800 1.619.650 5.000 1.085 3.320 1.955 411.800 1.082.146.000 1.102.393 428.990.000.304 23.893 1.499.393 426. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 1.955 19.877.764 315.520 1.772.025 14.893 27.093 42.000.093 839.727 86.388.608 28.093 42.Lampiran 14.290.647.000 1.580.580.877.764.912 32.580.000 1. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.303.290.400.580. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.745.643.000.418 56.393 346.713.359.880 1.354.999.893 1.333.756.421.

393 431.333.598.893 13.580.098.800 1.564 5.893 2.000.827.000.000 42.877.772.000.000.000 42.872.872.093 1.000 1.290.000 1.000 42.772.660.000 42.565 13.893 5.093 1.540.393 434. Uraian 6 A.549.764.847 14.877.955 120 .393 439.000 1.611 325.097.548.282 14.651.503 319. Laba Setelah Pajak 100% 504.333.000 1.130 425.656.000.764.000 1.800 1.877.290.764.000.695 422.825 7 100% 504.764.352.580.000.242 323.774.580.000 1.130 10 100% 504.759 2.995.549.260 419.774.323.412 14.877.805 113.200.800 1.981 327.977 14.872.542 14.424.772.772.000 1.492. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.000 1.290.772.093 1.426.695 9 100% 504.260 Tahun ke8 100% 504.000 42.333.749.393 442.093 1.764.877.093 1.370 114.Lanjutan Lampiran 14.893 8.352.000 1.774.872 321.580.323.764.098.482.000.000.764.675 111.324.975. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.893 11.800 1.764. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.352.368 8.352.173 11.393 437.935 115.764. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.290.352.800 1.000.323.580.240 112.000 1.825 416.333.565 427.333.290.764.

944.925.431.696.429.025. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.497 218.350 6.843.314 4.925.061 121 .369.839 0 0 0 78.732.822.815 13.163. Kas masuk 1. Arus kas bersih D.000 46.749 132.925.571.790.912.536 119.735.790.953 Tahun ke2 109.596 0 0 0 133.999 3 4 135.374 265.900.104.163.750 130. Modal pinjaman Total kas masuk B.490 0 0 0 109.Lampiran 15. Modal sendiri 5.497 -210. Laba bersih 3.536 95.490 0 0 20.953 -114.544 -264.954 -210.431.925.555.696.474.462. Biaya modal kerja 3.483.912. Kas keluar 1.999 4.218.212.497 0 -264.621 0 0 11.621 0 0 0 137.295 23. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.483.497 -264.575 6.295 54.497 1 78.218.839 0 0 23.925.555.462.843. Biaya modal tetap 2.245 133.212.749 264.773.497 0 264.428.064 0 0 0 135.064 0 0 13.429. Nilai sisa 4.596 0 0 17.735.374 5 137.822.061 134. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.871 134.750 129.060 -114.055 13. Arus kas awal tahun E.

245 397.218.848.438. Arus kas awal tahun E.660 666.750 135.537. Biaya modal tetap 2.439.159 802.851 0 0 3. Modal sendiri 5. Arus kas akhir tahun 6 138. Kas keluar 1.409 141.675 6.750 133.544 531.450 6.429 265.463 122 .658.294 0 0 5.125 6.736 0 0 0 139.910.225 6.902.715.504.746.179 0 0 9.318.218. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.986 397.284.750 136.910. Laba bersih 3. Arus kas bersih D.851 0 0 0 142. Biaya modal kerja 3.294 0 0 0 141.065.746.811.943.218.660 9 142. Modal pinjaman Total kas masuk B.031.909 0 0 1.674 7 139.537.657.082.962.438.284.500 0 0 285.179 0 0 0 138.218.428.736 0 0 7. Nilai sisa 4.886.750 132.203 802.943.924.933.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.674 531.504. Kas masuk 1.304 10 144.218.691.203 Uraian A.101 666.750 279.900 6.657.304 1.

643.108 312.801 -364.801 1 190. Kas masuk 1.870 24.466. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.562 32.824 288.977 0 0 0 317.066.946 313.075. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.771. Kas keluar 1.761. Laba bersih 3.693 28.647.900 364.782 0 0 19.390 301.955 296. Aliran kas awal tahun E.000 56.509 0 0 28.143.827 313.826.380.824 23.617.359.322.521 5 317. Modal pinjaman Total kas masuk B.955 19.816 -207.900 182.421.713.446.587 609.801 0 -364.421.693 231.476.562 157.771.930 -364.643.801 308.349.573 0 0 23.761.870 tahun ke2 259.425.713.390 16.761.380.493 0 0 0 190.359.492.695 609. Nilai sisa 4.826.647.285.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A. Modal sendiri 5.521 910.828.075.801 0 364.977 0 0 16. Biaya modal kerja 3.828.143.749 24.752.782 0 0 0 315.695 123 .890.573 0 0 0 312.446. Aliran kas bersih D.425.509 0 0 0 259.761.322.801 -207.761. Biaya modal tetap 2.493 0 0 32.890.946 3 4 315.

872.260 8.825 11.646.890 910.500 0 0 486.872.564 0 0 0 323.061 1.130 2.598.216.841.482. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.564 9 325.456 1.432 2.775.992.348 310. Kas keluar 1.540. Aliran kas bersih D.130 2.549. Biaya modal tetap 2.695 5. Biaya modal kerja 3.564 1.951 124 .926.992.775.695 5.549.323.428.492.598.774.432 2.482.565 305. Kas masuk 1.526.565 13.869 319.216.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.173 0 0 0 319.275.853.841.173 7 321.783.456 1.368 8 323.774. Aliran kas awal tahun E.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Laba bersih 3. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.098.260 8.216.656.161.500.004.656. Modal pinjaman Total kas masuk B.564 1.368 0 0 0 321.540.825 11.926. Nilai sisa 4.955 159.078.061 2.629 484.526.161.759 10 327.323.098. Modal sendiri 5.933.108 315.108 1.759 0 0 0 325.275.424.

442 57.986 135.011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.443.968.544 136.691.060 129.609 0.061 134.690 37.999 4.454 66.60 1.885 68.822.258 -50.949 0.968.497 54.497 46.589 30.718 0.245 397.925.746.932.437 0.014.555.314 130.311.496.516 0.915 0.944.261 35.954 119.369.024 53.943.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.753.420 0.429 133.831 40.024 6.314 0.370 0.439.476 45.428.065.798 0.917 72.000 0.674 531.159 NPV Nilai 257.925.715.925.761.791 59.532.874.968.497 0.912.082.236.628 257.318.97 2.156 20.000 -264.103 0.953 -114.237 0.188.384 Kg/tahun 125 .969.304 1.483.735.925.815.035 4.108 14.404 0.831 DF PV i = 45 % 1.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.96 Akumulasi -264.504.497 -210.210 49.203 802.808.266 0.051 6.275.328 39.237.919 41.732.438.920.065 0.) Atau 195.075.911.847 0.660 666.831.871 132.544 95.074 9.191 PV -264.658.226 29.429.339 0.225 0.374 265.571.101 279.

000 0.946 313.629 484.715.173 16.191 PV -364.108 0.732 67.775.108 315.718 0.863 175.970.757 83.751 23.476 0.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.500.349.471.761.108 1.130.847 0.865 DF i = 45 % 1.154 11.646.040.322.226 0.992.827 301.143.944 131.761.271.039.859.865 51.617.349 Kg/ tahun 126 .801 133.473.752.980 113.869 319.838 152.490.794 46.695 609.432 2.841.400 45.903.526.853.933.091.890 NPV Akumulasi -364.348 310.521 910.471.761.598.275.466.078.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.783.216.721.743.131.12 3.749 296.021 110.074 0.000 0.34 1.926.702.796 97.266 0.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.782.587 305.717 72.930 231.801 108.061 2.464 157.024 PV -364.275 854.328 0.801 157.425.215 32.314 0.89 BEP (Rp) atau 158.235.156 0.609 0.225 0.456 1.801 -207.291.564 1.574.161.370 0.075.004.035 0.402 11.232 94.900.690 0.516 0.761.517 166.437 0.066.492.216.051 0.979 92.816 288.870 24.

kandungan nira. 7. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. Memperkuat permodalan. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. 6. 3. Mengurus perijinan usaha (legalitas). Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. 5. Memperbaiki proses pengolahan. 2. 10. fasilitas produksi. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki.Lampiran 19. 11. dan kebersihan tebu). 4. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. terutama di bagian pemasakan. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. 12. Menetapkan tujuan perusahaan. kapasitas produksi. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. 13. antara lain : 1. Melakukan pelatihan bagi pekerja. 9. waktu kerja. 127 . Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). 8. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja.

14. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. 15. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. 128 .