STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

1

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

2

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

3

supporting facility. marketing aspect. which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. Those strategies were increasing well-qualified production capacity. Muhammad Romli. WO. F3403056. and application effective technology. Those strategies were carried out supportively one to another. 2008. Rembang District). The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects. St. gave four alternative strategies (SO. Brown cane sugar industry owned by Mrs. Ir. SUMMARY The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource. developing technology and production facilities by cooperating with other instances. Dipl. applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). extending market. ST and WT). and the development strategy. Ir. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. From the obtained result. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process. Supervised by Dr. Msc. capitalization. The strategy was done by increasing product quality. supervising on raw materials and products. Ing. such as SWOT analysis. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict. technical and technological aspect. Suprihatin. raw material conditioning (cane). increasing market share. and Dr. and also the financial aspect.Mila Fadilah Utami. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang. and the staged 4 . The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar.

400. NPV of Rp.00 production cost. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition. 195.00.285.476.89 year. 364. the development condition had much better NPV than present condition.801. which was supported by the other investment criteria.025. 308.900. But if viewed from NPV indicator. The criteria of investment feasibility for each condition in order were.97 and 3.791.000.721. PBP of 2.801.00 fixed cost. 5 .497.384 kgs/year and Rp.761. BEP of Rp. 158.00 or 45.831.349 kgs/year.497.00 which divided into Rp.34. IRR of 40.00 fixed cost.00 and Rp.96 year and 1. 257. Based on the results.968. which divided into Rp. Total investment required for the present condition was Rp.925. 218. Production capacity for the present condition was 2.filtering of cane sap from extraction.8 tons per day.000.00 or 59.12 %. 264. While for the development condition total investment required was Rp.60 % and 51.1 tons per day and the development condition was 2. Net B/C of 1.471.00 production cost. Rp.865.968. 854. 46. 56. brown cane sugar industry was feasible on both conditions. and.00. and Rp.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Kabupaten Rembang) Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 6 .

MSc. Ing. Ir. Bogor. St Pembimbing Akademik I Dr. Pembimbing Akademik II 7 . Muhammad Romli. Dipl. Suprihatin. Kabupaten Rembang) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056 Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang Tanggal lulus : Januari 2008 Disetujui. Ir. Januari 2008 Dr.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan.

PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan. Bogor. Januari 2008 Mila Fadilah Utami F 34103056 8 . Kabupaten Rembang)” adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing. kecuali yang dengan jelas rujukannya.

dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Suprihatin.KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini. Lili Aliah. 3. Ir.. Dr. Eng. Skripsi yang berjudul “Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang” disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang. Yandra Arkeman. Ir. Dr. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. MSc. sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. 5. 9 .. Ayahanda tercinta H. Ing. sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. Dr. Muhammad Romli. Dipl. sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. yaitu kepada : 1. Ir. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. kepada keluarga dan para sahabatnya.. 6. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. St. 2. 4. segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya. M. Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga.

9. Teman-teman TIN 40. Para Lawalata-Ers. Naqoer. Endah. Aa Ijey. Da Hendrick. 12. 11. Bogor. Sahabat-sahabat penulis. dan Bung Fardian. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. Popo Iskandar. Bung Amet. Aa Bayu. Endang. Mayang wo. Bang Affan. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. 10. Ana. Januari 2008 Penulis 10 . Dita. pengalaman dan kebersamaan selama ini. atas dukungan. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. Mamin.7. Aa Indra. Aa Dudi. 8. Yuyu. Lucia. Dika. perhatian dan ketegaran kepada penulis. perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. Mas Umam. Bunda. Idesh. ST yang selalu memberikan dukungan. Mb Ida. atas dukungan. Umi. Om Ucup. Windi.

...... vi DAFTAR LAMPIRAN........ ASPEK PEMASARAN......................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR.............................. 27 2..................................... GULA MERAH.................... 1 A....................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS................................................................................................................. LATAR BELAKANG................................ HASIL DAN PEMBAHASAN.................................... 9 3.............................................................................................................. TUJUAN................................................................ PROSES MANAGEMEN STRATEGIS....................................... PERBAIKAN PROSES.......................... 14 2.................................. PENDAHULUAN............................................................................... ASPEK LEGALITAS..... KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS................................................................................................. KERANGKA PEMIKIRAN................................................................................................. METODOLOGI...................................................... 18 B................. 15 E............................... 3 B................ 24 1................................................................... USAHA KECIL....... i DAFTAR ISI.......................................................... 1 B.......... v DAFTAR GAMBAR........................... iii DAFTAR TABEL. 13 1.................... 18 A............... 11 C................................................................... vii I................. ASPEK FINANSIAL............................................. 19 IV.......... PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU... 15 3......................... 12 D................................................................................................................................................ 24 A.......................... SWOT....................... 6 2..... 3 A................. 4 1........ MUTU GULA MERAH................................................ TINJAUAN PUSTAKA.............................. KARAKTERISTIK WILAYAH.................. KARAKTERISTIK INDUSTRI.......................... 16 F.......................................................................................................................... NIRA...... TATA LAKSANA............ 2 II.................................................................................................. 17 III........................... 30 11 .........................................................................

............................. 46 1.......... PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU.........................39 3..... KESIMPULAN.......71 V.... 46 2............................. ANALISIS SWOT..................... 80 B........................................... ASPEK PEMASARAN........................... ASPEK FINANSIAL........ ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..................................................................................................... 82 DAFTAR PUSTAKA................................................................... ASPEK FINANSIAL........................................................... 32 1......................................................... ASPEK PEMASARAN............... 68 4............. 80 A... SARAN...B.................................................................................41 C.... 83 LAMPIRAN........................57 3.................................................... ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS..............................................................32 2...................................... KESIMPULAN DAN SARAN................................ ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU........................................ 86 12 ........................................................

...................... Tabel 9........................................................................ Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu... Produksi...44 Tabel 14...........................................................................................53 Tabel 20.51 Tabel 18........................... 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula .............................. Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 .... 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 .......... Matriks Analisis SWOT... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah .. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.......................................................................... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ........43 Tabel 13........................ Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ....49 Tabel 17............................... Tabel 4............. 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu ..... 24 Tabel 7............... 25 Tabel 8................ Tabel 5.............................................................................. Perincian Laba Bersih.................. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu.................................... 52 Tabel 19........ Matriks Internal Eksternal.68 13 ................................... Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.............. Tabel 6... Tabel 2......................................................................................42 Tabel 11.............43 Tabel 12.................44 Tabel 15.......................... 40 Tabel 10......... 47 Tabel 16..... Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu.........................................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.............................................................................................. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu......................................... Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ...... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 ................ Tabel 3............................ Luas Areal............................................. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu...................... Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu......

.......................................................................... Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha........ Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan............73 Tabel 22.................. 76 Tabel 27..................Tabel 21.......... 76 Tabel 26............................................................... Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah.. Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ........................................ Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha..................................74 Tabel 23............ Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Usaha..... 79 14 .................... Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha.....................................................75 Tabel 24.....................75 Tabel 25..

...................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu. Nira Tebu Yang Mulai Mengental...... Proses Penggilingan............... Proses Penirisan Gula.......33 Gambar 4................................................ Alat Penyaringan Nira Tebu.... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak... Proses Penggilingan........ 64 Gambar 14...........................................25 Gambar 3................................................................................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu....................... Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur................................................................................................... 60 Gambar 12..............38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu..........40 Gambar 10............................. 59 Gambar 11.............DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1...35 Gambar 5.........................................................................................37 Gambar 8....... Boiler dan Wajan Uap...................................................... Pemasakan Nira dengan Wajan Uap..... 67 15 ......... 63 Gambar 13......................................................... Bahan Baku Usaha (Tebu)............................35 Gambar 6....................... 65 Gambar 15....... Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap............. 66 Gambar 16.....................................................36 Gambar 7........................................11 Gambar 2............. Gula Merah Tebu. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2................................................................................

... Komposisi Modal Tetap Skenario 1.....94 Lampiran 9. Komposisi Modal Tetap Skenario 2................................100 Lampiran 13.................... Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1........ 107 Lampiran 17.........................................................88 Lampiran 4........................... 105 Lampiran 16.....92 Lampiran 8....................... Perhitungan Biaya Bahan Baku....................87 Lampiran 3........ Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1..................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1....................... Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2.................................... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1.............. Kriteria Investasi Skenario 1..................................................................... Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2.......................... Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2...........96 Lampiran 10....................................86 Lampiran 2......................................................... 110 16 ................................97 Lampiran 11..............................................89 Lampiran 5................... 109 Lampiran 18..................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1......................... Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2................................................... Biaya Operasional pada Skenario 2........ 101 Lampiran 14.............. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2................................99 Lampiran 12... Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung....................................... Kriteria Investasi Skenario 2..... 103 Lampiran 15.............................. Biaya Operasional pada Skenario 1....91 Lampiran 7.........90 Lampiran 6...............................

yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan.127. yaitu warna. yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3. ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela.I. 2002). Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23. 2005). mulai dari kuning.6 juta ton/ tahun. PENDAHULUAN A. Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. variasi bahan baku. kadar abu dan kekerasannya. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar.86 hektar. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6. proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. sementara produksi hanya sekitar 2. Menurut Rosby (2004). dengan luas potensi lahan kering sebesar 9. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya.555 ton. 17 .0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI. Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia.140. dan bahkan ada yang cenderung hitam. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. coklat.488 hektar. merah. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi. dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya. Namun.

TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait. pasir. Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang. tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. yang mencakup analisis SWOT. 18 . B.Selain warna dan kekerasan. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu. dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu. b. Menurut Herman (1987). aspek pemasaran. aspek teknis dan teknologis. sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah. serta aspek finansial.

tingkat kematangan. namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari. yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Santoso (1993) menyatakan bahwa. Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses. serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela. Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor. asam-asam organik. 1986). 1987). Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. dan berlendir. 2003). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis. berbuih putih. Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama. pengadukan selama pemasakan. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air. TINJAUAN PUSTAKA A. kondisi geografis. dan lemak). protein. Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. tergantung pada jenis tebu. nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam.0. disamping nira yang kurang baik (Herman. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi. 19 . Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi.1992). rasanya asam serta baunya menyengat. 2002). Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan. 1979).II. berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5.5-6. Menurut Puri (2005). serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece. Kerusakan nira banyak sekali macamnya.

0 70.5-0.15 75. tauco.0 2.0-4.0-4.5 1.Menurut Poel et al.6 0.5-4.5-5.5-2. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa.0-90. Tabel 1.04-0.0 0. aren. dan tebu (Dachlan.1-3.0-4. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin.0-94.001-0. lontar atau siwalan.5 1.0 1.05 3.001-0.0-3.5 B. produk cookies.0 0.18 0. komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1. Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga. gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua.50 0. Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri. (1998) dalam Reece (2003).03-0. lemak dan fosfolipid 0.0 2. 1993). 1984). dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso. Gula merah banyak 20 .5 1.

Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori.0 0.3 0.0 Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit.0 0.0 04. B2 Vit.4 Madu (mg) 294 0. namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi.0 0. walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih.0 5.0 0.0 0. industri perhotelan. pabrik kecap ekspor.0 9. supermarket. 2006).03 0.4 0. gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir).0 0.0 79.0 37.0 7.0 20. A Vit. Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini.0 2. 21 .0 0. 1980 Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih.0 0.0 94.5 90.0 0.0 10. B1 Vit. Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3.0 G.0 76. Pasir (mg) 364.0 4. Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.6 0.Kelapa (mg) 386. namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya.0 G.0 0.0 9. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi..02 0.Merah Tebu (mg) 356.0 0.0 76.2 0.0 0. sedangkan gula putih mengandung 396 kalori. (Warastri. 2006).0 5. C Air Sumber: Tan. para ahli gizi biasa menyebutnya dengan ”sumber kalori kosong”.0 10. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi.0 0.0 44.0 35. 1981).0 16.0 0.1 0. hingga pabrik anggur. walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder.Aren (mg) 386. yaitu 364 per 100 gram.0 0.0 0. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.0 0.9 0. Tabel 2.0 3.4 G. Dilihat dari segi kesehatan.0 1.0 3.6 51.0 0.diminati di Jerman dan Jepang.0 0.5 5.0 75.0 95.

dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso. Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada 1. yaitu bentuk. warna. 22 . 1993). 1993). non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian.Tabel 3. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak. adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso. kekeringan. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya. maupun kadar kotoran. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam. tidak keras sehingga mudah dipatahkan. warna. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. ditinjau dari segi keawetan (daya simpan). karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari. dan kekerasannya. yaitu rendahnya teknologi pengolahan.

residu mg/kg .penampakan Bagian yang tak larut dalam % air. b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa).Tabel 4.1 Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian.0 Maks 2.bau . Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan. Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan.03 Maks 0.0 Maks 8.0 Maks 10. Menurut Shallenberg et al.0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5. b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa). Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek.rasa . disamping nira yang diolah kurang baik. a.0 Maks 40.0 Maks 40.timbal (Pb) mg/kg .benzoat mg/kg 7 Cemaran logam . 23 . 2002).warna . gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No.0 Maks 0.0 Maks 40. b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet .0 Min 60 Maks 14 Maks 20 Maks 200 Maks 2. Mengenai warna. b/b 3 Air.0 Maks 40.timah (Sn) mg/kg .tembaga (Cu) mg/kg .03 Maks 0. 1 Keadaan .0 Maks 0. dalam Nurlela (2002).seng (Zn) mg/kg .raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.0 Maks 2. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi.1 Maks 20 Maks 200 Maks 2. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela.

Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. 1989). c. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor. seperti mutu nira.kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. protein. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. basa. b. Semakin baik mutu nira. 1997). Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. kadar air. 24 . Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam. dan lemak dalam nira. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi. dan kadar lemak. jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah. yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi. dan pemanasan tanpa air (Ozdemir. 1993).. Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi. 1993).

Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering. 1993). Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. 1984). Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya. 1990). sedikit asam. dan berbau karamel. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. 25 . Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. 2006). Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah. d.Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. 2. karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso.

1986). 2006). Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1. dan serangga. minyak kelapa. 2002). Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun. Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. 26 . Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. 1993). Apabila suhunya terlalu tinggi. 1993). Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa.Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti. atau kemiri yang dihaluskan. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso. daun kering.

yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. dan pengemasan produk (Sardjono. proses produksi.Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan Gula merah tebu Gambar 1. 27 . pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal. 1986). dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku.5 – 5. keras. Menurut penelitian Nurlela (2002). Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu 3.6.

Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. kadar protein 64.18%. serta kebersihan alat.13%. 750C-0.Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. 1 milyar atau kurang. bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial.69%. yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp.84%. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT). serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52. kadar glukosa 76. total kotoran 50. dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. intensitas pengadukan. 200 juta. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang 28 .58%. yaitu : 1. dan kadar lemak 67. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0. kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0.067%. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil.100%.43%. 750C-0. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik.033%. 290C-0. Menurut penelitian Yustiningsih (2006). serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan. meliputi suhu dan waktu pengolahan.067%.100%. pengadukan selama pemasakan. C.067% dengan alasan praktis dan efisien. proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2. 290C-0. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang 3. definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan. kadar abu 37.10%.

Bidang usaha industri non pertanian 4. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM). dan mengevaluasi keputusan lintas 29 . Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi. 4. D. yaitu : 1. mengimplementasikan. Industri dan Dagang Besar (ID Besar) : 100 orang ke atas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar. Bidang usaha industri pertanian 3. 2. yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. 3. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi.4. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan. 2. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM. 3. Bidang usaha perdagangan 2.

manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch. Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch. 30 . Selain itu. 3. Sesuai dengan pendapat David (2004). 1998). 2004). 1998). menetapkan kekuatan dan kelemahan internal. yaitu: 1. mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan. Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch. 1998). Menurut Jauch (1998). menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis. manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. 2. manajemen strategi terdiri dari tiga tahap. Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi.fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David. 1. baik besar maupun kecil. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan. menetapkan sasaran jangka panjang.

Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). 1997). SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti.2. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti. 2000). 3. Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. 2005). 1997). Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti. 2000). Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler. 31 . 1998). Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler. rancangan. Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi. dan teknologi untuk produksi. Menurut Kotler (2005). alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis. 2005). perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. pemberian merek. yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. 2005). Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi. serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler. distribusi. yang mencakup mutu. dan promosi (Umar. dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar. 2003). 2003). yaitu produk. 2000). E. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. 2004). manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen. dan pengemasan produk. 32 .menawarkan. harga. peralatan. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler. Bagi pemasaran produk barang. serta pemilihan mesin. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. fitur. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan.

1992). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja.. estimasi aliran kas proyek. yaitu metode Net Present Value (NPV). Pay Back Period (PBP). dan analisis sensitivitas (Gray et al. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Internal Rate of Return (IRR). 2000).F. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad. 33 . Break Event Point (BEP). sumber dana dan biaya modal. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi.

untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah.III. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan. aspek pemasaran. Namun. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga. serta aspek finansial. Oleh karena itu. serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. aspek teknis dan teknologis. 34 . antara lain analisis SWOT. ketersediaan bahan baku dan potensi lahan. volume produksi tebu. METODOLOGI A. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. dan harga gula merah tebu lebih murah. pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi.

Wawancara dilaksanakan dengan pengolah. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu. Aspek teknis teknologis (bahan baku. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. internet. alat. Lembaga Swadaya Informasi IPB. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang. pedagang (distributor). Kabupaten 35 . Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. kebutuhan finansial 2. bahan tambahan. dan wawancara atau pengisisan kuesioner. aspek pemasaran. Konsumsi gula merah tebu 3. dan Instansi-Instansi lain yang terkait. proses produksi).B. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung. jurnal. pedagang (distributor). Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI. internet. petani tebu. Tabel 5. Tahun 2007. Data Sekunder 1. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Jawa Tengah. pengamatan langsung. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Analisis SWOT Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian. Data Primer 1. konsumen. BPS. dan aparat setempat. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang. Informasi lain 2. Data primer diperoleh melalui eksperimen. dan literatur lainnya. Kondisi wilayah 2. Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan hasil 4. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan. seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. dan literatur lain Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. TATA LAKSANA 1. Jenis Data I. Kualitas gula merah tebu II.

Net B/C. pengadaan bahan baku. proses produksi. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. 4. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. dan PBP. BEP. 3. 5. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. NPV dihitung dengan rumus : NVP = ∑ Bt − Ct (1 + i )t 36 . 1992).Rembang digunakan sebagai rujukan. a. IRR. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana..

2. 1. n) n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut. 3. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. b. sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. 3. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad.. 1992) adalah : ∑ (1 + i ) dimana : Bt − Ct t = 0 atau ∑ (1 + i ) =∑ (1 + i ) t Bt Ct t Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0... maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi. maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan.. n) 37 . 2. Menurut Gray et al. 1. Jika nilai NPV lebih besar dari nol. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol.... maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya.Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. Jika nilai NPV sama dengan nol. 2. yaitu : 1. 2000). terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi. oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. 3..

c. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. b. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak...Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. 38 . Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :  B − Ct NetB / C =  ∑ t  (1 + i )t  dimana :   / investasi _ awal   Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0.. Jika nilai Net B/C kurang dari satu. Jika nilai Net B/C sama dengan satu.. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku. c. 3. n) n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan. maka proyek layak untuk dilaksanakan. sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku. 1. 2. maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak menguntungkan. maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Gray et al.

sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad. 2003). Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar. Break Event Point (BEP) Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). BEP dirumuskan sebagai berikut : BEP % = BT x100% R − BV BEP( Rp.d. Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan. Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.) = dimana : BT 1 − (BV / R ) BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan BV = jumlah biaya variabel e. 2000). Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut : PBP = Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih 39 .

Sulang. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah Luas (Ha) 117 968 459 108 113 1. Tabel 6. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.859 353 75 185 57 40 64 4. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %.IV.488 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005 Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.127 686 462 397 2.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9. KARAKTERISTIK WILAYAH Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang.140.398 Potensi Lahan Pengembangan (Ha) 673 1. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.127. Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. dengan luas potensi lahan kering sebesar 40 .86 hektar. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

235 503 29 52 439 10 47 2.948 3.127.582 566.390 619.130 3.000 3.9.140 4.050. produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006.871 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Berdasarkan data statistik di atas. Produksi.305 109 181 554 27 119 6. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.700 3.997 4. Produksi.420 1. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah.353. Luas areal.015 1.488 hektar. diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.960 3.020 3.701 1.984 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004 341 167 213 19 90 3. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851.917.994 1. Pada umumnya 41 .462 3.380 3. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi. Tabel 7.555 3.510 3.700 3.221.070 3.390 722. Luas areal.951.390 62.672 369.300 322.955 3.398 3.300 23.791.582 12.767 16.718 11.720 3. P5 864 dan BZ 148.360 392.697 3.462 90.

Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan. sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Menurut Soentoro et al. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. Gambar 2.. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. sebagai media komunikasi. baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah. kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. 42 . Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone. pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa.kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering. Namun. Bahan Baku Usaha (Tebu) Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya. Bagi para pengusaha gula merah tebu. termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu.

pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional. sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Di Kabupaten Rembang. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. (1999). Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Sejarah dan Perkembangan Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Selain gula tumbu. pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Namun. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut. yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. 43 . proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi. Pada awalnya. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot.B. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Menurut Soentoro et al. salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar..

Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000 Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006 Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan. diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing. 3. para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG. pengendalian. yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Sebaliknya. PG Trangkil 800 ha. usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah.550.200. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang. serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya. 44 . Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap. 4. perawatan.00-Rp. berdiri dan berkembang sendiri.Tabel 8. bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu.00. Namun.

Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan. di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT. Cap Orang Tua). Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. PT.Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang. berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. yang dilakukan oleh suatu LSM. jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. ABC dan PT. misalnya industri makanan dan minuman (PT. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Data terakhir diperoleh. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu. Pembentukkan Paguyuban. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya. bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan pendampingan terhadap usaha gula tumbu. Revitalisasi Alat 3. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. Indofood. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. diantaranya yaitu : 1. 45 .

misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. 46 . Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari pemerintahan terhadap industri gula merah tebu.2. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Menurut BPS (2003). hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha. Dalam prakteknya. seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu. perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja. institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Aspek Legalitas Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja.

C. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis. 10 ha lahan sewa. tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan. Ibu Arini membuat gula tumbu. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang. yaitu berkisar 7 – 8%. yaitu 8 – 12 bulan. rendemen tebu masih relatif rendah. selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 – 12%. 47 . Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). dan sisanya membeli dari para petani lain. yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri. Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 – 6 bulan. namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Mulai tahun 1998. mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. Ibu Arini mulai membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen. Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu. yaitu tebu 864 dan BZ 148. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu ± 10 ha. Pada tahun 1991. yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Pada awal produksinya. akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. Produksi gula merah pada awal musim panen (Juni–Juli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus – September). Pada awal panen. Selama satu periode panen.

Pemasakan nira dari 7–8 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 7–8 kwintal gula merah tebu setiap harinya. tetapi 4–5 kali pemasakan. Aspek Teknis dan Teknologis Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi. biasanya disebut dengan satu kali gulingan. 48 . dua orang di bagian penggilingan. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap.1. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 7–10 hari pengolahan. dua orang di bagian pemasakan. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7. Pada umumnya. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. satu unit pengolahan mampu mengolah 7–8 ton tebu (setara dengan luasan panen 0. Dalam satu hari kerja. sehingga nira tebu dapat terekstrak.12–0. pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu (± 5 ton). nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut. Selanjutnya. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt.13 ha). Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu. dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase).

Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah. maka debu dan kotoran (daun. ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira. Proses Penggilingan b. 2003). proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari. Gambar 4. 2006). Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. 49 . maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari. sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Apabila suhunya terlalu tinggi.Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas). Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Pada prinsipnya.

agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula. kemudian mengangkatnya. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain.Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif. maka gulali tersebut sudah matang. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak). Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. ketika nira mulai dipanaskan. Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun. 1993). selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. 2006). Untuk melihat apakah nira sudah matang. 50 . Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun.

Kegiatan pengadukan tersebut 51 . Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. biasa disebut dengan meja.Gambar 5. Sebelum gula dipindahkan. Gambar 6. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat. 1985). Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Nira Tebu yang Mulai Mengental d. serta membentuk benang-benang gula.

2002). Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). Gambar 7. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela. Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk.bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Pengadukan untuk meratakan panas. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. e. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. f. Gula Merah Tebu 52 . butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan.

Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Penggumpalan Pencetakan pada Tumbu Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu 53 .

Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu 54 .Batang tebu Bagase Penggilingan Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 8.

Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam.00.100.550. 3. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur.00 dan gula merah tumbu Rp. tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. sebagai pihak ketiga.600. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. dan Yogyakarta.600. Semarang. Pati. 3. diantaranya gula dengan mutu baik. 4. 200. Kudus.2.200. 55 . Jadi. PT. antara lain Rembang. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota. Pasuruan. sedang dan jelek. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. industri penghasil jenang (dodol). yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang.00Rp. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda. perusahaan kecap dan permen. Aspek Pemasaran Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang. gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah.2. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp.00. 150.00. 100. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar. Cap Orang Tua. PT. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. Remaja sebagai pengumpul besar. ABC.00-Rp.00Rp. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. Oleh karena itu. dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga.00Rp. Indofood.

Tabel 9. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur) Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9. Pedagang pengumpul besar Industri Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri Industri Gambar 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu 56 . Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Remaja. Remaja. Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. yang terletak di Desa Japerejo. Kecamatan Pamotan.Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT.

Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. 57 . Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. seperti bank. estimasi aliran kas proyek. maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi. a. sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik.3. 1997). Pada tahapan awal. 2000). baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10.000. sumber dana dan biaya modal. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik. kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana. pendirian bangunan. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218. Permodalan Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan.025. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan. b.00. Aspek finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung kebutuhan dana. serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad.

825. kemasan. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung.000.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik. tenaga kerja langsung. administrasi dan telepon).Tabel 10. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.000 2.000. depresiasi. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas.025.000 50. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11. pemeliharaan.200.000 Total Modal Tetap 218.000 6. 58 .) 110. biaya variabel (biaya bahan baku. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.000 49.

Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A.835. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.925. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700. Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.000 46.472 2. 59 .Tabel 11. C. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13.693.000 4. Tabel 12.497.601.00. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.900. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.100 4. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank.000 498.604 600.921 737.299.000 46.400 37.000.497 B.000 335.925.497 264.025.497 c.900. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.421 5. seperti terlihat pada Tabel 12.076 31.) 218.500.

) 78.Tabel 13.163.431.462.429.749 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama.500 23.736 141.284. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13. Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu.462.749 Modal Sendiri (Rp) 109.249 132.031. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).012.409 e.657.537.450. Tabel 14.621 138. Break Event Point 60 . Internal Rate of Return (IRR). Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.596 135.790.012. d.839 109.910.294 142.490 133.249 132. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.064 137.179 139.851 144. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.500 23.450. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).212.

60 %.(BEP).831.791. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2. Nilai IRR yang diperoleh adalah 40. diperoleh NPV Rp 257.97. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1.384 Kg/tahun. Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek.00 atau 59.969 Kg/tahun. Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.00. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195. dan Pay Back Period (PBP). Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Titik impas tercapai pada saat produksi 63.96 tahun. 61 . Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.968. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol).968.

D. Analisis SWOT Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. kegiatan operasional. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15. legalitas perusahaan. kondisi keuangan. pasar. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. pemasok bahan baku. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. lokasi pabrik. dan teknologi. ekonomi. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan. serta kebersihan dan kesehatan produk. dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. kegiatan pemasaran. 62 . sosial. pesaing. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini. teknologi proses yang akan digunakan. yang meliputi kebijakan pemerintah.

Internal Kekuatan (Strengths) 1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Eksternal Peluang (Opportunities) 1. Bahan baku mudah 4. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Ketersediaan modal terbatas 7. Belum berbadan hukum 6. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Produk belum distandarkan 11. Diversifikasi produk 5. Proses produksi sederhana 3. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Potensi pengembangan 6. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan B. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Teknologi manual dan sederhana 2. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Harga BBM naik 5. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu Faktor A. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Kualitas SDM yang rendah 8.Tabel 15. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah 63 . Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4.

ketersediaan modal terbatas.a. produk belum sesuai dengan SNI. sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin.816. kesadaran terhadap keamanan produk rendah. memanfaatkan tenaga kerja lokal. memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas. proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana. proses produksi tidak konsisten. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2. tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis. 64 . Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE) Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. bangunan pabrik tidak permanen. dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. belum berbadan hukum. kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis. lokasi pabrik cukup strategis. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16. dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. kualitas SDM yang rendah.

Ketersediaan modal terbatas 7.199 Kelemahan (Weaknesses) 1.138 0. Teknologi manual dan sederhana 2. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu Faktor A. Belum berbadan hukum 6.207 0.057 0.161 0.054 0.050 0.054 0.061 0. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9.169 0.215 0. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2.172 0.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang Total 1.172 0.215 0. Proses produksi sederhana 3. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4.054 0.184 0.069 0.084 0. Produk belum distandarkan 11.057 0.816 65 .000 2.100 0.069 0.161 0.061 0.054 0.054 0.061 0.042 0.042 0. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3.207 0. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Bobot Faktor (BF) Rating Bobot * Rating 0. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6.184 0. Internal Kekuatan (Strengths) 1. Kualitas SDM yang rendah 8. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.107 0.050 1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4 0.069 0.Tabel 16.184 0.

Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu. beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG). penampakkan produk yang kurang menarik. harga bahan baku di PG lebih tinggi. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE) Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah.686. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17. didapatkan total skor sebesar 2. memiliki langganan. 66 . dan gula merah telah populer di masyarakat. harga BBM naik. pajak dan ijin usaha. diversifikasi produk. pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman). Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar. bahan baku mudah.b. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat. ketersediaan lahan dan bahan baku.

Potensi pengembangan 6.077 0. Bahan baku mudah 4.154 0. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4.083 0.279 0.686 67 .074 3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3 0.221 Ancaman (Threats) 1.154 0. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3.240 0. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah Total 1.083 0.080 0.080 0. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Bobot Faktor (BF) Rating Bobot* Rating 0. Harga produk ditentukan oleh pasar 2.250 0.080 0. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7.240 0.269 0. Harga BBM naik 5.093 0. Eksternal Peluang (Opportunities) 1.333 0.080 0.000 2.Tabel 17.077 0. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3.083 0.167 0.099 0. Diversifikasi produk 5. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu B.298 0.090 0.

Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas.Tabel 18.816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk.0 Rata-rata 2. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2.0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit.0 Tinggi Kuat 3. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi.686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V.0 I 3. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. melalui kerjasama dengan pihak lain.0 Lemah 1. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. 68 .0 Rendah II III V IV VI VII 1.0 VIII IX Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE. dapat disusun matriks IE. perluasan pasar.

Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5.Teknologi manual dan sederhana 2. Ketersediaan modal terbatas 7. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Matriks Analisis SWOT Faktor Internal Strengths (S) 1. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Weaknesses (W) 1. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Tenaga kerja lokal 4. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan Faktor Eksternal Opportunities (O) 1.Tabel 19. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Produk belum distandarkan 11. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Menerapkan goodhouse keeping 5. Bahan baku mudah 4. pengumpul dan industri pengguna gula merah Srategi WO 1. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. 2. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran 69 . Potensi pengembangan 6. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Strategi SO 1. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku. Membina SDM yang dimiliki 6. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Menbentuk kelompok usaha bersama Strategi WT 1. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Proses produksi sederhana 3. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Memperluas daerah pemasaran 3. Kualitas SDM yang rendah 8. Belum berbadan hukum 6. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Tidak adanya perhatian pemerintah Strategi ST 1. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Memanfaatkan KUK Threats (T) 1. Diversifikasi tebu 5. Meningkatkan kualitas produk 7.

Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Kudus. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri.Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO). Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Memperluas daerah pemasaran. strategi kelemahan dan peluang (strategi WO). mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan. karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST). dan Semarang). serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. 1. terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul. selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati. industri pengguna gula merah. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. untuk konsumsi rumah tangga. Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. serta pedagang eceran. 2000). 70 . pengumpul dan industri pengguna gula merah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan.

Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku. sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu.2. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. mengoptimalkan pembagian kerja. mempermudah akses pemasaran. 71 . Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. 3. hingga penyimpanan dan pemasaran produk. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan. Membentuk kelompok usaha bersama. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya. Selain itu. dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi.

dan dapat bekerja efektif serta efisien. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman. Membina SDM yang dimiliki. dan penggunaan teknologi yang sesuai. sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan. serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya. Menurut Syamsul dan Hendri (2003). Menerapkan goodhouse keeping.Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk. menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya. Tujuan 72 . Meningkatkan kualitas produk. pengontrolan dan pemantauan. serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal. ulet. serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas. Selain itu. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. proses pengolahan yang optimal. agar menjadi lebih terampil. mengorganisasikannya.

Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu. memperbaiki sistem manajerial dan keuangan.dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). memperkuat posisi produk dan perusahaan. terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah. 4. sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. 2. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. Aspek Teknis dan Teknologis Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. mempertahankan dan mengembangkan usaha. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Teknologi yang akan diterapkan pada pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha. dan memperluas pangsa pasar. 73 . Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran.

a. Penyaringan Nira Secara Bertahap Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. 74 . Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. dibersihkan dengan arit atau pisau. Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi. perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. Alternatif Upaya Pengembangan Penggunaan bahan baku yang bersih. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh.1. penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa. a. sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan.2. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak.a. Sebelum di masukkan ke dalam wajan. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan. yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi. yang dapat mengotori nira hasil gilingan. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat).

Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Air 75 . Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Wajan dengan Pemanasan Uap Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Selain itu. Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang. Alat Penyaringan Nira Tebu a. diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan. di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. menyelimuti dan memanaskan wajan. dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor) menghasilkan uap dan tetesan air. yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan.3.Gambar 10.

500.tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. Gambar 11. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. b. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Bahan baku yang 76 . Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. PS 864 dan BZ 148. Boiler dan Wajan Uap a. bahan bakar solar dan oli. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia.00/ liter. Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik. 4.4. dengan harga solar Rp. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer. dan air sumur. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. Karena menggunakan air sumur. Selain itu. dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis.

dan umur tanaman.997 kg. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda. minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan. 150. 2005). Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp.digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa.00-Rp.000.955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3.050. minyak kelapa dan Natrium Benzoat. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram. Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan. dengan umur tebu 8-10 bulan. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira. Pemberian dosis kapur. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan. tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. kondisi perkebunan. misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. kondisi batang.00/ ton tebu. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. 77 . 130. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November.000. c.

Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. yaitu sebelum masuk ke wajan.1. letak drum di atas bak penyaringan pertama. 1984). Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan. Proses Produksi d. Selanjutnya. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir. 78 . larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin.Menurut Goutara dan Wijandi (1985). Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring. d. sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua.

lapisan bagian luar dan bagian dalam. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse) 79 .2. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Wajan terdiri dari dua lapisan dinding.Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira. sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Proses Penggilingan d. Gambar 12. Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih. yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan.

biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan. dengan menggunakan mesin pompa air. ketika nira mulai dipanaskan. temperatur dan jumlah air dalam boiler. Gambar 13. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang.untuk proses pemasakan berikutnya. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. kemudian mengangkatnya. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. Untuk melihat apakah nira sudah matang. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap 80 . Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak. maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Karena jika tidak dibuang. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang.

Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap d. 1985). serta membentuk benang-benang gula.3. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan.4. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat.d. Gambar 14. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono. pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Sebelum gula dipindahkan. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang 81 . Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan. Pengadukan untuk meratakan panas. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus.

bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. 2002). sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur). Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela.5. Selanjutnya karung yang telah diisi gula.masih berlangsung dapat segera terhenti. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten. ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Proses Penirisan Gula d. selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai. Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur. d.6. gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Sedangkan. 82 . Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja. Gambar 15. gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel.

Batang tebu yang telah dibersihkan Bagase Penggilingan Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran Pengentalan Natrium Benzoat Penirisan Penyusukan Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler 83 .

600.00-Rp 150.3.200.00-Rp 3.00-Rp 200. bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3. Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih 84 . Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap.00. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100. Menurut Kotler (2005). Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100. alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar. dan pengemasan produk. dan promosi (promotion).00 dan gula merah tumbu Rp 2.550. Tabel 20.00-Rp 4. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna. rancangan. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan. tempat (place). Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik. rasa dan kekerasan oleh pengusaha. pemberian merek. yang mencakup mutu. fitur.600. Aspek Pemasaran Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product). Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20. sedang dan jelek.00. harga (price).00. Penerapan pengembangan teknologi di atas.

para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan penyimpanan (penimbunan). harga cenderung turun. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada masa puncak panen. pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September. yaitu permintaan langsung dan 85 .karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. Ketika harga jual gula merah rendah. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah. pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Namun pada saat awal panen. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat. harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. harga gula merah tinggi. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan. terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik. Distribusi gula merah relatif sederhana.

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan – 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan – 100.000.000)

89

administrasi dan telepon).000 70. karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi.285.000 2. biaya variabel (biaya bahan baku. Tabel 22. pemeliharaan. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan.) 110.000 Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali.000. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya.000 6. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi. depresiasi.085.c. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik 90 . tenaga kerja langsung. kemasan. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.000 Total Modal Tetap 308. pendirian bangunan.000 120.285. pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik.000. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.00.000.200. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22.000.

801 d.500.611.240 5. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %.000 4. Jangka waktu pengembalian modal 91 .) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.808.000.561 42.000 56. Sumber dan Struktur Pembiayaan Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan.801 Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.761.522 839.300 46. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.400.00 seperti terlihat pada Tabel 24.429.476.beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional.140 982.285.039 2.801 364.000 391.865. Tabel 23. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.000 56.000 826.476.690.800 2. Tabel 24. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700.

500 28.380.173 321.656.900 Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14. e. ) 190.493 259.826.977 319.771.713.759 327. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun.598.564 325.482.380.509 312.238.540.400 182.643. Tabel 25.782 317.142.900 Modal Sendiri (Rp) 154. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154.238. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.955 92 . Proyeksi Laba Rugi Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.368 323. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. Tabel 26.573 315.500 28.446.400 182. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.424.142. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun.

Internal Rate of Return (IRR). BEP yang diperoleh yaitu Rp 158. yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu. Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854. dan Pay Back Period (PBP).721.349 Kg/tahun. Nilai yang diperoleh yaitu 3. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek.12 %. sehingga layak dilaksanakan. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %. Maka layak untuk dilaksanakan. Titik impas tercapai pada saat produksi 45. Break Event Point (BEP).400. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan.865.471. Nilai IRR-nya adalah 51.00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol).34 memiliki nilai lebih dari 1. 93 .f. Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan.349 Kg/tahun. Kriteria Kelayakan Investasi Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV).00 atau 45.

Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1. untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan.Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu.89 tahun. termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. Selain itu. 94 . pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya. aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial.

Pati. Net B/C : 1.100 kg/hari .300.Sanitasi pabrik .12 %.00.96 tahun Modal : Rp 264.Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) .400.968. BEP : Rp 195.500.Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk.00. Net B/C : 3.00) .Distribusi . Teknis dan teknologis .00.Promosi . Pemasaran .Konsumen industri .Bahan bakar bagas berundak).60 %. pemasakan gula tidak konsisten .Harga produk lebih rendah (Rp 3.00 (59.471.Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku .761.Harga .Proses pengolahan .831. IRR : 51.Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler .Tabel 27.Tidak dilakukan promosi .968.Distribusi ke daerah Rembang.801. Semarang.89 tahun Modal : Rp 364. Finansial (Kriteria kelayakan investasi) 95 .Penyimpanan produk .34.Harga produk lebih tinggi (Rp 3.Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257. Produksi : 2. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1.Bahan baku .Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) . pemajangan produk dan kemasan menarik) Pengembangan (Skenario 2) 2.Dilakukan penyaringan nira secara bertahap .349 Kg/tahun).Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar .384 Kg/tahun).800 kg/hari 3. BEP : Rp 158. Produksi : 2. dan Yogyakarta .Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) . IRR : 40.791. dan jelek) .Konsumen industri dan rumah tangga .721.Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan . PBP : 2.497.Bahan bakar bagas .Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik.00 (45.Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854. PBP : 1.97. Kudus. Pasuruan.Produk . sedang.925.00.00) .865.Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri .Penyimpanan produk di tempat terbuka .

strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. serta sarana dan prasarana lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal.955 ton. dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan. rasa dan kekerasan. sedang dan jelek. Selain itu.015 Ha. KESIMPULAN Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah. meningkatkan pangsa 96 . Berdasarkan hasil yang diperoleh. pengembangan teknologi dan fasilitas produksi. serta sanitasi dalam proses pengolahan. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. memperluas pasar. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal. dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha. pengawasan bahan baku dan produk. KESIMPULAN DAN SARAN A. potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. rendahnya teknologi pengolahan.V. WO strategi dan WT strategi. ST strategi. Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3. yang meliputi warna.050. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12. industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal). melalui kerjasama dengan pihak lain. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk. diantaranya variasi bahan baku. yaitu SO strategi. melakukan pengawasan bahan baku dan produk. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik.

968. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364.000.89 tahun.791. kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini.34.000.925. BEP sebesar Rp 195.285.00 atau 59. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu.400.12 %. perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. IRR sebesar 40.471. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264.00 atau 45.025.96 dan 1. kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal.801. yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya. sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu.721.900. Net B/C sebesar 1.497. PBP sebesar 2.384 Kg/tahun dan Rp 158. Namun jika ditinjau dari indikator NPV.831.476.00 dan modal kerja Rp 56. yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan.00.865.00. usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi.pasar. Berdasarkan hasil tersebut.801. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada. Dalam basis waktu operasi satu hari.968. NPV sebesar Rp 257. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha.00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.497.00 dan Rp 854. kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. dan menerapkan teknologi tepat guna.761.00.60 %. dan 51.349 Kg/tahun.00 dan modal kerja Rp 46.97 dan 3. 97 .

98 .B. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi. seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. 2. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu. SARAN 1. 3.

Indeks Kelompok Gramedia. edisi 10. Bogor. Manajemen Strategis. Goutara dan S. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Manajemen Operasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. 1990. Badan Standarisasi Nasional. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Pengantar Evaluasi Proyek. Indeks Kelompok Gramedia. 2000. Jakarta. 1984. Agro Industri Press.. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. Husnan. Manajemen Pemasaran Jilid 1. SNI 01-6237-2000. Jakarta. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. S. 1987. PT. S dan Hendri. Manajemen Pemasaran Jilid 1. D dan M.. Jackson. 2006. A. Jakarta. M. Indeswari. Wijandi. Artikel. BBHIP. Bellante. Dasar Pengolahan Gula 1. Jakarta. S. Laporan Penelitian. C. Fakultas Teknologi Pertanian. LPFE UI. Dachlan. Ekonomi Ketenagakerjaan. Bogor. P. Gray. Jakarta. 1997. F. 2005. N. Skripsi. PT. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN. P. 1985.DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. Kotler. Kotler. Ma’arif . Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. P. Salemba Empat. IPB. Yogyakarta. Padang. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Jakarta. 2002. Universitas Andalas. 2005. dan Muhammad. Indeks Kelompok Gramedia. 2000. Industri Gula Merah. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. S. 2005. Jakarta. Jakarta. PT. PT. FATEMETA. Gula Merah Tebu. Studi Kelayakan Proyek. Manajemen Pemasaran Jilid 1. Proses Pembuatan Gula Merah. Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Simanjuntak. 2003. 2004. Ashari. Grasindo. P. Dyanti. 99 . Bogor. Kotler. IPB. Gramedia Pustaka Utama. 1992. David.

Okyanus Danismanlik. N. Jakarta. Thesis. M. 1998. Puri. USA. N. 2005. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. PT. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. 1993.sde/docs/available Rangkuti. 100 . dan Sugiyono. Foods Browning and Its Control. Jakarta. Fakultas Teknologi Pertanian. PT. Lousiana State University. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Analisis SWOT. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian.. Sardjono. Institut Pertanian Bogor. F. P. Nurlela. Fakultas Pasca Sarjana. T. R.lsu. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Ozdemir. IPB. Bogor.okyanusbigiambari. Bogor. Aneka Produk Olahan Kelapa. PAU Pangan dan Gizi IPB. 1986. Reece. 1997. E. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. Institut Pertanian Bogor. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. Bogor. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. Pdf. 2000. IPB. Program Studi Ilmu Pangan. Teknik Membedah Kasus Bisnis.Muchtadi. Santoso. B. Soejardi. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Jakarta. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Skripsi. R. I. Rachmat. Swadaya. 1979. Fakultas Teknologi Pertanian. M. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). Analisis SWOT. Yogyakarta. H. Gramedia Pustaka Utama. http:/etd. 1990. Nengah. K. Palungkun. Bogor. Pembuatan Gula Kelapa. Kanisius. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. 1992. Bogor. A. 2002. 1992. 1993. Jakarta. Bogor. http:/www. B. Gramedia Pustaka Utama.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. Tesis. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta.

Pasuruan.. Utami. H. Wirioadmodjo. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. 1989. S dan Sumarno. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. XXI/2:22-25. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Suhardi. Syukur. Studi Kelayakan Bisnis. 1984.Sudarmadji. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. S. B. Bogor. 1996.. Bibliografi. Penerbit Liberty. IPB. Umar. Bambang H. Gramedia Pustaka Utama. 1999. Jakarta. 101 . 2003. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. Gula Indonesia Vol. Yogyakarta. PT.

000.000 180.000 500.000 10.000 600.000 50.000 200.000 5.000 1.000 500.000.000 1.000. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100.000 60.000 No.000 100.000.000 Sub Total (Rp) 110.000 1.000 300.000 50.500.000 1.000.000 500.100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap 102 .000 30.000 675.000 500.000.000 250.000 25.000 2.Lampiran 1.000 2.000 218.000 15.000 100.000 100.000 210.000.000 600.000.000 50.000.000.000 30.000 20.000.000.000 35. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1.000 2.500.000 300.000 600.000 1.025.000.

000.000 45.000 275.000 2.000 1.000.000 103 .000 Sub Total (Rp) 110.000 500.000 No.000 25.000.000 308.000 200.000 1.000.000 1.000 20.000 2.000 100.000 70.000 20.Lampiran 2.000 700.000 600.000.000 80.000. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap 200.000.000.000 500.000 1. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100.285.925.000 2.500.000 250.000 80.000.000 10.000.000 500.000 180.000.000 1.000 50.000 500.000.000 25.000.000 70.000.000 100.000 5.000.000 1.000.000 600.

000 100.000 1.500 141.500.000 2.000.000 3.000 1.000 182.000 Serok 180.000 6 6 6 50.000 Tungku 30.000 54.333 150.500.000 3.000 10 6 10 60.982.000 6.500 150.000.808.000 67.000 Lemari 1.500.000 587.000 Total 216.000 Biaya 1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500.500.000 30.000 Timbangan 1.000 Meja Penirisan 1.000 Bumbung Penahan 675.000 (Rp) 110.000 Sub Total 6.000 60.000 Perlengkapan Kantor Meja 600.000 Ember Stainless 300.000 1.350.000 600 20.000 135.000 Selang 300.400 18.000 50.000 100.000 Sodet 210.900 45.000 90.825.000 83.000 10.000 20.000 90.143 18.000.000.400 8.902.700 10.000. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110.000 Alat Penyaring 60.800 3.000 140.000 625.500 1.000 4.333 10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10 1.800 54.000 10 25.000 Listrik 2.000 8.000 Kursi 600.000.920.000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15.000 90.000 150.500.857.025.887.400 2.543 8.876 104 .000.800 2.000 Instalasi Air/Pompa 1.000 Sub Total 49.000 18.200.000 27.974.000.000 30.000 1.000 18.Lampiran 3.500 135.000 Drum 600.000 202.000.000 60.000.000 75.400 5.000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10.000 2.700 360.000 21.500 204.000 5.000.

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

000 2.808.376 B C 749.376 Tahun Ke.383.270.000 2.037.000 711. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.412.876 10.267.500.962.876 10.376 573.288.610.578 13.000 9.120 1.466.270.120 881.383.368.800 9.978 1.876 10.500 32.000 885.974.496 1.076.876 10.000 9.383.000 8.000 129.079.960.500 32.000 919.200 676.041.496 108 .500.000 110.500.000 2.954 2 12.120 17.974.000 8.500 32.808.000 129.000 2.500.500.708.120 2.474.800 84.000 129.000 2.600.(Rp) 3 12.600.808.000 20.041.808.000 20.376 4 12.960.270.000 2.894.000 2.153.000 6.500.000 8.076.974.041.000 8.120 1.602 1.412.376 5 12.500 32.500.076.496 1.602 881.000 7.974.825.610.Lampiran 7.120 881.500.288.288.610.808.600.500.383.000 8.876 10.500.383.200 20.600.500 32.153.350.153.974.578 2.960.000 2.046.600.412.

000 2.412.000 9.500.000 9.500 32.808.500.041.000 2.610.412.000 9.610.000 129.000 8.076.076.412.076.383.000 2.610.500 32.000 9. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.120 20.383.120 1.120 1.974.974.000 129.000 8.(Rp) 8 12.120 2.120 20.000 129.960.376 881.153.876 10.500 32.153.120 1.153.496 1.288.288.270.500.383.500.600.500.000 2.076.120 20.412.376 881.153.041.000 2.000 1.000 2.000 2.Lanjutan Lampiran 7.808.808.041.600.960.412.120 1.383.000 129.270.153.808.876 10.600.876 10.876 10.000 2.500.000 129.000 10 12.270.610.000 Tahun Ke.376 881.500.974.500 32.000 9 12.000 1.376 881.496 1.500.376 881.974.000 B C 9.076.270.288.500.288.960.270.610.383.496 1.496 109 .500 32.808.120 20.000 8.876 10.974.120 20.000 8.041.960.600.000 8.041.496 1.600.288.000 2.500.000 7 12.960.

600 10.216.290.580.500.960.000 2.000 2.093 2 12.600.600.000 27.836.852.973 1.760.960.216.960.000 2.500.393 15.877.772. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.880 1.102.520 998.580.000 50.093 5 12.700 42.000 2.320 1.000 27.500.724.000 14.893 1.000 77.700 42.500.290.580.877.174.000 14.760.413 1.000 884.500.500.800 2.(Rp) 3 12.335.000 77.102.043.174.500.500.580.836.290.000 2.335.500.700 42.000 14.000 2.210.000 2.800 1. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No.216.800 1.600.393 15.680 1.877.393 15.000 2.097.393 15.600.500.852.893 1.093 Tahun Ke.877.142.102.600.690.772.002.000 14.760.174.580.156.544.000 66.335.236.082.000 2.096.600 27.700 42.133.000 10.852.000 14.000 10.400 23.000 77.893 110 .000 7.836.000 839.800 1.700 42.102.800 17.093 B C 763.102.Lampiran 8.716.800 1.400 9.093 4 12.393 15.877.772.

335.216.290.852.393 15.290.700 42.760.877.500.000 2.800 1.000 14.836.877.893 1.290.102.800 1.960.960.500.335.174.772.600.216.174.600.836.772.000 2.000 10.000 10.000 77.580.852.960.800 1.852.000 14.093 7 12.000 2.000 10.000 2.000 14.772.836.335.500.393 15.877.800 1.700 42.000 10.174.216.836.102.893 C 111 .760.500.Lanjutan Lampiran 8 No.174.102.600.772.(Rp) 8 12.580.500.000 77.000 14.500.760.093 10 12.000 2.800 2.093 Tahun Ke.102.700 42.500.000 27.335.600.580.800 1.000 2.174.836.000 1.000 27.600.290.102.960.216.393 15. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12.852.852.000 14.800 1.216.800 1.000 2.760.960.093 B 1.500.760.500.580.000 27.500.000 2.000 77.877.800 27.000 2.290.000 77.893 1.893 1.000 10.893 1.000 27.772.000 1.700 42.700 42.877.393 15.800 1.393 15.093 9 12.335.580.000 77.

421 5.800 2.801 112 .000 2. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A.085.921 737.808. C. Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1.000.604 600.100 4.000 4.000 46.900.000 6.000.000.429.522 839.000.472 2.076 31.400 37.476.300 46.611.900.925.039 2.000 56.497 Sub Total (Rp) Pengembangan 110.000 2.000 4.693.825.561 42.200.801 B.601.000 Sub Total (Rp) Saat Ini 110.497 264.835.000 6.000 49.000.865. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000 120.240 5.200.000 56.476.000 70.761.801 364.000.140 982.500.497 Nilai (Rp) Penegembangan 700.000 826.100 100.000 335.000.000.000 391.000 46.000 50.000 498.299.500.Lampiran 9.

012.901.802.250 19.764 0 Tahun 0 1 2 3 113 .901.475 0 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23.111.500 21.825 65.750.250 30.901.050 76.000 10.901.622.015 9.773.749 182.450.250 1.700 10.750 10.735.500 Modal Kerja 23.250 15.811.045 12.750 7.238.225 12.210.249 28.250 3.825.925 21.750 32.506.500 65.794 15.250 10.901.037.816.125 20.450.901.575 24.633.142.750 10.249 28.816.250 10.901.407.605.012.500 98.703.500 109.660.712.901.499 15.150 32.499 7.142.750 7.462.561.250 17.111.450.462.749 182.250 5.779 7.380.901.250 98.697.250 10.787.816.210.400 23.500 109.450.380.000 87.500 154.250 11.450 14.605.750 2.924.900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109.703.249 23.962.450.223.012.901.275 87.523.863.249 7.250 54.750 1.802.500 10.238.400 Jumlah 132.599.630.900 132.500 154.250 9.633.901.407.886.816.221.308.814.600 54.900 18.308.506.636.250 10.000 43.000 10.500 10.Lampiran 10.250 13.674.848.350 22.375 43.500 109.249 23.012.901.025 28.500 10.030 10.800 26.012.675 16.407.750 4.250 7.816.750 76. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109.

657.825.500 43.500 15.250 15.640 77.414.912 14.250 9 30.414.414.412.250 15.694.745.250 8 46.238.414.380 15.899.800 3.650 24.107.695 5.512.412.608 12.000 26.314.500 20.250 40.414.510 46.142.750 34.188.712 18.828.414.728.205 92.549.400 28.800 5.737.238.142.388.250 10 15.159.500 1 154.414.801.130 2.800 1.750 15.872.485.750 23.071.400 1 28.250 15.260 8.485.600 9.520 19.500 15.565 Pembayaran Sisa Kredit 154.414.500 32.828.414.414.250 29.963.250 7 61.335 123.082.955 16.610.104 0 114 .314.000 37.421.774.075 61.815 0 Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28.728.238.412.196.900 138.825 11.250 2 138.304 11.770 107.825.250 5 92.647.657.287.800 3 9.412.250 4 107.242.000 15.142.Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154.971.408 9.385.250 3 123.945 30.323.836.800 9.061.414.242.250 6 77.098.390 13.000 15.412.085 22.750 15.600 2 18.250 18.495.400 9.414.250 Bunga 27.071.500 15.899.

883.270.847 Harga Jual/Kg (Rp) 3.270.578 885.883.700 321.376 34.120 1.883.376 34.847 2.376 Biaya Variabel (Rp) 676.847 2.120 1.300 Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 115 .041.300 378.000 378.825.300 3.300 3.000 378.376 34.300 3.270.883.270.000 378.120 1.041.300 3.376 34.300 3.000 378.000 378.376 34.883.270.847 2.863 2.000 378. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34.847 2.300 3.120 1.847 2.376 34.883.883.883.602 1.041.Lampiran 11.000 378.270.897 2.000 Harga Pokok/Kg 2.120 1.847 2.120 1.270.270.847 2.041.120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245.376 34.041.120 1.300 3.041.041.300 3.041.883.300 3.079.376 34.376 34.883.

290.093 45.000 504.080.000 504.772.651 2.000 504.666 2.320 1.290.651 2.093 45.080.080.290.000 504.772.Lampiran 12.400 504.500 Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi 116 .699 2.000 504.290.290.093 45.097.000 Harga Pokok/Kg 2.772.093 45.800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327.290.772.500 3.290.093 45.800 1.800 1.800 1.080.651 2.651 2.156.093 45.500 3.772.500 3.002.500 3.500 3.290.500 3.651 2.800 1.093 45.600 428.880 1.500 3.500 3.093 45.093 45.651 2.772.651 2.080.800 1.080.772. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45.080.080.800 1.772.000 504.080.800 1.093 Biaya Variabel (Rp) 839.500 3.000 504.080.651 Harga Jual/Kg (Rp) 3.

974.376 1.000 1.376 1.247.154 8.000 32.400.000 32.519.751 8. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.352.810.622.212.295 77. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.030 33.104.627 8.575 160.462.247.735.773.000 32.045 23.742 135.978 17.735.055 122.Lampiran 13.788 78.616.041.195.376 676.653.596 4 100% 378.578 709.300 1.967 8.000 32.400.350 161.247.474.400.247.843 21.073.000 810.970 133. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.757.073.184.290.247.898.383.973.270.000 1.876 131.383.221.000 1.208.060.383.810.876 86.496 15.429.270.000 1.000 32.843.653.120 1.689 8.000 1.575 13.948. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A.350 11.120 1.030 20.641.327.073.383.490 Tahun ke3 100% 378.974. Laba Setelah Pajak 65% 245.876 165.041.653.839 2 85% 321.270.974.496 13.079.496 11.815 156.431.954 19.825.247.974.407.773.163.060. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.376 885.015 17.790.985.010.876 170.000 1.400.353 109.876 168.800 1.700 810.400.064 5 100% 378.697.660.290.621 117 .250 4.784.814.376 1.000 1.041.732.929 8.602 917.409 137.025 2.565 32.400.974.383.120 1.805 33.

247.139.054 8.000 1.179 7.270.000 1.247.727.412 141.376 32.247.480 34.876 172.744 139.876 178.974.073.822.400.000 378.876 174.924.270.900 7.225 1.000 1.930 36.653.270.961.550.120 1.000 1.000 1.876 180.376 1.247.270.041.000 1.125 9.155 36.383.041.496 1.974.924.872.974.000 1.000 1.376 32. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.125 163.400.736 5.653.000 1.897.000 378.383.400.247.496 1.120 1.450 169.784.284.400.000 32.886.811.496 9.747 144.376 32.073.077 138.910.974.383.073.247.041.935.886.834.383.829 8.225 171.400.079 142.294 3.851 1.496 1.675 5.675 167.848.910.657.000 378.811.120 1.900 165.962.653.400.383. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.653.247.450 3.796.247.653.041.376 32. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 378.400.848.759.073.859.537.120 1.000 1.041. Uraian 6 A.400.400.705 35.604 8. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.255 34.379 8.409 118 .073.876 176.Lanjutan Lampiran 13.974.247.031.496 1.400.373. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8 9 10 100% 100% 100% 100% 100% 378.247.279 8.962.270.120 1.

334 14.Lampiran 14.163.764.582.600 428.580.000 1.000 1.764.727 86.320 1.600.133 317. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A.545 110.580.608 28.499.000 1.189.388.580.093 42.499.333.304 23.303.000 1. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.393 247.580.097.152 14.000.421.146.694.877.390 413.955 411.676 108.772.103 312.736.643.977 119 .650 5.283 14.093 839.180.421.400.418 56.800 1.893 27.647.619.082.446.333.102.647. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.093 42.772.713.764.000 1.000.562 232.925 190.225.400.509 22.000.330.290.877.912 32.764.093 42.290.580.093 42.393 428.352. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.000 1.764.971.025 14.973 1.393 421.893 1.085 3.000.877.990.717 14.771.000 1.756.772.955 19.633.764 315.764. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.393 426. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3 4 5 65% 85% 100% 100% 100% 327.000.290.139.146.218 259.156.002.393 346.573 19.877.828.800 881.000 1.333.877.826.520 1.880 1.800 1.000.600.000 42.824 406.999.352.877.413 1.000 504.893 1.000 504.493 24.390 16.110 111.352.890.066.745.693 331.000 1.359.196.782 16.400 504.354.000 1.

Uraian 6 A.935 115.772.542 14.764.580.540.827.290.893 5.173 11.774.749.200.825 7 100% 504.352.333.764.000.893 8.093 1.764.393 442.412 14.877.290.000 42.764.323.000 1.324.290.000.393 437.Lanjutan Lampiran 14.872 321.424.893 13.565 427.000 1.000 42.000 1.393 431.800 1. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D.772.564 5.955 120 .130 10 100% 504.000 1.352.093 1.093 1.000.764.290.800 1.611 325. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C.492.333.368 8.548.764.323.093 1.333.000.503 319.130 425.000 42.000 42.759 2.290.426.260 419.764.805 113.800 1.000.000 1.393 434. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E.242 323.660.651.872.093 1.772.977 14.000.352.352.872.598.877.695 9 100% 504. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B.995.260 Tahun ke8 100% 504.333.098.323.000 1.877.370 114. Laba Setelah Pajak 100% 504.098.975.549.764.000.580.774.549.764.000.580.000 42.240 112.097.000.000.774.893 2.580.764.675 111.580.772.800 1.352.872.000 1.893 11.656.000 1.877.000 1.482.333.695 422.847 14.000 1.981 327.800 1.393 439.565 13.877.282 14.825 416.772.

900.064 0 0 0 135.925. Arus kas bersih D. Nilai sisa 4. Kas keluar 1. Arus kas awal tahun E.953 -114.912.431.815 13.000 46.212.575 6.025.749 264.061 121 .544 -264.055 13. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132.773.295 23.497 -210.732.428.483. Laba bersih 3.843.497 0 264. Modal sendiri 5.925.925.369.536 95.925.064 0 0 13.621 0 0 0 137.474.060 -114. Biaya modal kerja 3.163.749 132.497 0 -264.596 0 0 17.839 0 0 23.953 Tahun ke2 109.497 218.497 -264.555.954 -210.295 54.999 3 4 135.429.536 119.314 4.750 129.429.750 130.735. Kas masuk 1. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A.596 0 0 0 133.571.843.483.822.462.497 1 78.912.621 0 0 11.350 6.061 134.218.696. Biaya modal tetap 2.374 265.944. Angsuran pinjaman Total kas keluar C. Modal pinjaman Total kas masuk B.790.790.Lampiran 15.431.374 5 137.735.163.490 0 0 20.104.218.822.212.696.839 0 0 0 78.490 0 0 0 109.462.999 4.245 133.555.871 134.925.

909 0 0 1.750 135.886.746.429 265.851 0 0 0 142.848.750 133.811.943.658.284.304 10 144.203 Uraian A.657.962.438.900 6.674 7 139.750 132.660 9 142.218.715.746.500 0 0 285.101 666.031.179 0 0 0 138.910.736 0 0 0 139.691.065.179 0 0 9.Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141.428. Arus kas akhir tahun 6 138.450 6. Modal pinjaman Total kas masuk B. Biaya modal tetap 2.218. Arus kas bersih D.504.225 6. Laba bersih 3.933.203 802.159 802.986 397.439. Kas masuk 1.409 141.674 531.924.736 0 0 7. Biaya modal kerja 3. Kas keluar 1.943.537.657.675 6. Nilai sisa 4.245 397.750 136.660 666.910.504. Arus kas awal tahun E.902.851 0 0 3.125 6.463 122 .284. Modal sendiri 5.294 0 0 5. Angsuran pinjaman Total kas keluar C.218.537.544 531.218.082.438.304 1.318.750 279.294 0 0 0 141.218.

359.322.801 -207. Kas keluar 1.521 5 317. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.695 123 .801 0 364. Aliran kas bersih D.801 -364.900 182.816 -207. Aliran kas awal tahun E.828.890. Laba bersih 3. Biaya modal kerja 3.587 609.955 19.143.509 0 0 28.108 312.573 0 0 0 312.075.359.749 24.946 313.693 28.977 0 0 0 317.826.075.425.890.425.380.771.509 0 0 0 259.761.521 910.380.349.285.617.492.824 23.390 16.695 609.870 24.493 0 0 32.446.322.824 288. Modal sendiri 5.693 231.828.752.782 0 0 19.Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian A.771.647.955 296.421.421.977 0 0 16.713.390 301.930 -364.713.643.493 0 0 0 190.801 0 -364.761.761.466.476.900 364.761.801 308.826.562 157. Kas masuk 1.870 tahun ke2 259. Nilai sisa 4.573 0 0 23. Modal pinjaman Total kas masuk B.827 313.801 1 190.446.946 3 4 315.143.066. Arus Kas Akhir Tahun 0 0 0 182.000 56.562 32.643.782 0 0 0 315. Biaya modal tetap 2.761.647.

872.078.629 484.598.216. Biaya modal kerja 3.Lanjutan Lampiran 16 Tahun ke- Uraian A.549.656.108 1.853.173 7 321.526.783.455 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13.890 910.646.926.540.260 8.564 9 325. Modal pinjaman Total kas masuk B.500.061 1.564 1.564 0 0 0 323.348 310. Biaya modal tetap 2.323.500 0 0 486.775.775.564 1.260 8.428.951 124 .825 11.456 1.492.841. Aliran kas bersih D.130 2.456 1. Aliran kas awal tahun E.216.774.549.695 5.161.173 0 0 0 319.216.368 0 0 0 321.656. Kas keluar 1.424.992.004.130 2.098.108 315.759 10 327.598.992.161.526.774.872. Arus Kas Akhir Tahun 6 319.368 8 323.323. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C.482.432 2. Laba bersih 3. Nilai sisa 4.759 0 0 0 325.482.275.565 305.825 11.061 2.432 2.869 319. Kas masuk 1.841.540.926.098. Modal sendiri 5.275.955 159.933.565 13.695 5.

660 666.051 6.497 -210.065 0.999 4.871 132.Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.328 39.024 53.791 59.203 802.690 37.589 30.035 4.925.245 397.925.516 0.454 66.555.674 531.156 20.715.571.497 46.628 257.103 0.798 0.968.000 -264.831 DF PV i = 45 % 1.831.932.191 PV -264.917 72.949 0.318.314 130.226 29.236.237 0.718 0.504.463 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) BEP (Rp.96 Akumulasi -264.483.374 265.061 134.188.746.847 0.497 0.944.384 Kg/tahun 125 .011 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -264.986 135.920.074 9.101 279.420 0.925.953 -114.210 49.822.159 NPV Nilai 257.885 68.082.815.314 0.304 1.075.258 -50.753.225 0.691.497 54.761.024 6.237.544 95.108 14.60 1.060 129.439.) Atau 195.732.442 57.428.311.429 133.438.496.911.969.476 45.968.658.968.808.609 0.915 0.443.339 0.404 0.370 0.369.000 0.919 41.925.831 40.544 136.874.014.266 0.97 2.532.943.735.912.065.429.437 0.954 119.275.261 35.

040.695 609.161.400 45.870 24.761.715.466.108 0.979 92.061 2.432 2.456 1.232 94.191 PV -364.000 0.944 131.609 0.074 0.215 32.598.783.437 0.348 310.930 231.794 46.271.216.732 67.743.Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.617.131.859.980 113.138 Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bt-Ct -364.903.89 BEP (Rp) atau 158.130.718 0.322.235.751 23.275.863 175.853.587 305.775.500.933.328 0.796 97.869 319.761.091.471.761.690 0.890 NPV Akumulasi -364.266 0.841.021 110.314 0.761.801 108.078.173 16.946 313.34 1.717 72.075.574.782.490.425.847 0.801 157.521 910.349.291.464 157.629 484.721.838 152.004.000 0.024 PV -364.108 1.225 0.749 296.516 0.370 0.473.646.865 51.143.526.752.970.801 133.275 854.900.051 0.039.12 3.402 11.349 Kg/ tahun 126 .757 83.154 11.816 288.226 0.492.035 0.156 0.865 DF i = 45 % 1.471.827 301.216.517 166.702.476 0.066.801 -207.108 315.926.992.951 Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun) Nilai 854.564 1.

6. Melakukan pengawasan kegiatan produksi. dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. Menetapkan tujuan perusahaan. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang). jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja. 7. 8. 9. 11. 12. 3. fasilitas produksi. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari. antara lain : 1. diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap. 10. pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki. perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. terutama di bagian pemasakan. kandungan nira. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif. waktu kerja. kapasitas produksi. 4. tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. 2. Melakukan pelatihan bagi pekerja. misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. Memperbaiki proses pengolahan. dan kebersihan tebu). Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis.Lampiran 19. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu. pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. 127 . Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. 13. Memperkuat permodalan. 5. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain. Mengurus perijinan usaha (legalitas).

14. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. 15. 128 . Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful