P. 1
ASKEP DERMATOMIOSISTIS

ASKEP DERMATOMIOSISTIS

|Views: 168|Likes:
Published by Fransisca Winandari
selamat belajar :)
selamat belajar :)

More info:

Categories:Types, Maps
Published by: Fransisca Winandari on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2013

pdf

text

original

A.

KONSEP DASAR

1. Pengertian

a. Dermatomiositis adalah salah satu penyakit kulit yang mengenai

jaringan kulit, subkutis dan otot-otot dengan disertai tanda-tanda edema, dermatitis, peradangan dan degenerasi otot (Siregar, 2002 hal 223).
b. Dermatomiositis merupakan penyakit peradangan yang menyerang

sekelompok otot lurik, biasanya secara simetris (Price, S.A dan L.M. Wilson, 1985).
c. Dermatomiositis merupakan penyakit multi sistem yang ditandai oleh

peradangan tidak bernanah dari otot lurik dan lesi kulit khusus (Jane G.S, 1996 hal 842)
d. Dermatomiositis adalah suatu penyakit multisistem, yang terutama

ditandai oleh radang non-supuratif pada otot rangka (Richard E.B dan Victor C.V, 1988)

2. Anatomi Fisisologi

a. Kulit Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung,
1

bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat. EPIDERMIS Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) : 1) Stratum Korneum. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. 2) Stratum Lusidum Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis. 3) Stratum GranulosumDitandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel Langerhans. 4) Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans. 5) Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke

2

permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit. Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin”. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :
• •

Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang. Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan

bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi SUBKUTIS

3

Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbedabeda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.

VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis FISIOLOGI KULIT Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi

4

lingkungan, sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas.

b. Sistem Imun Sistem pertahanan asing manusia atau sebagai serangan perlindungan organism infeksi dari virus makromolekul termasuk

,bakteri,protozoa,dan parasit. System kekebalan juga berperan sebagai perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas dan melawan sel yang teraberasi. FUNGSI DARI ISTEM IMUN: 1) Nodus Limfe Dalam tubuh manusia ada semacam angkatan kepolisian dan organisasi intel kepolisian yang tersebar di seluruh tubuh. Pada sistem ini terdapat juga
5

kantor-kantor polisi dengan polisi penjaga, yang juga dapat menyiapkan polisi baru jika diperlukan. Sistem ini adalah sistem limfatik dan kantor-kantor polisi adalah nodus limfa. Polisi dalam sistem ini adalah limfosit. Sistem limfatik ini merupakan suatu keajaiban yang bekerja untuk kemanfaatan bagi umat manusia. Sistem ini terdiri atas pembuluh limfa-tik yang terdifusi di seluruh tubuh, nodus limfa yang terdapat di beberapa tempat tertentu pada pembuluh limfatik, limfosit yang diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli di sepanjang pembuluh limfatik, serta cairan getah bening tempat limfosit berenang di dalamnya, yang bersirkulasi dalam pembuluh limfatik. Cara kerja sistem ini adalah sebagai berikut: Cairan getah bening dalam pembuluh limfatik menyebar di seluruh tubuh dan berkontak dengan jaringan yang berada di sekitar pembuluh limfatik kapiler. Cairan getah bening yang kembali ke pembuluh limfatik sesaat setelah melaku-kan kontak ini membawa serta informasi mengenai jaringan tadi. Infor-masi ini diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada pembuluh limfatik. Jika pada jaringan mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini akan diteruskan ke nodus limfa melalui cairan getah bening. 2) Timus

Selama bertahun-tahun timus dianggap sebagai organ vestigial atau organ yang belum berkembang sempurna dan oleh para ilmuwan evolusionis
6

dimanfaatkan sebagai bukti evolusi. Namun demikian, pada tahun-tahun belakangan ini, telah terungkap bahwa organ ini merupakan sumber dari sistem pertahanan kita.

3) Sumsum Tulang Sumsum tulang janin di rahim ibunya tidak sepenuhnya mampu memenuhi fungsinya memproduksi sel-sel darah. Sumsum tulang mam-pu mengerjakan tugas ini hanya setelah lahir. Akankah bayi ini terkena anemia saat di dalam kandungan ? Tidak. Pada tahap ini, limpa akan bermain dan memegang kendali. Merasakan bahwa tubuh mem-butuhkan sel darah merah, trombosit, dan granulosit, maka limpa mulai memproduksi sel-sel ini selain memproduksi limfosit yang merupakan tugas utamanya. 4) Limpa Unsur menakjubkan lainnya dari sistem pertahanan kita adalah limpa. Limpa terdiri dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang baru dibuat di pulp putih mula-mula dipindahkan ke pulp merah, lalu mengikuti aliran darah. Kajian saksama mengenai tugas yang dilak-sanakan organ berwarna merah tua di bagian atas abdomen ini menying-kapkan gambaran luar biasa. Fungsinya yang sangat sulit dan rumitlah yang membuatnya sangat menakjubkan. Keterampilan limpa tidak hanya itu. Limpa menyimpan sejumlah ter-tentu sel darah (sel darah merah dan trombosit). Kata “menyimpan” mungkin menimbulkan kesan seakan ada ruang terpisah dalam limpa yang dapat dijadikan tempat penyimpanan. Padahal limpa adalah organ kecil yang tak memiliki tempat untuk sebuah gudang. Dalam kasus ini limpa mengembang supaya ada tempat tersedia untuk sel darah merah dan trombosit. Limpa yang

7

mengembang disebabkan oleh suatu penyakit juga memungkinkan memiliki ruang penyimpanan yang lebih besar

3. Penyebab Penyebab dermatomiositis tidak diketahui, namun faktor-faktor berikut telah terlibat. Sebuah komponen genetik dapat menyebabkan rentan terhadap dermatomiositis. Dermatomiositis jarang terjadi pada beberapa anggota keluarga. . Namun, link ke leukosit antigen tertentu manusia (HLA) tipe (misalnya, DR3, DR5, DR7 mungkin ada Polimorfisme faktor nekrosis tumor mungkin terlibat;. Khusus, kehadiran-308A alel terkait dengan fotosensitifitas pada orang dewasa dan calcinosis pada anak. Kelainan imunologi yang umum pada pasien dengan dermatomiositis. Pasien sering telah beredar autoantibodi. Abnormal T aktivitas sel mungkin terlibat dalam patogenesis kedua penyakit kulit dan penyakit otot. Selain itu, anggota keluarga mungkin memanifestasikan penyakit lainnya yang berhubungan dengan autoimunitas. Antibodi antinuclear (ANAs) dan antibodi terhadap antigen sitoplasma (yaitu, antitransfer RNA sintetase) mungkin ada. Meskipun kehadiran mereka dapat membantu untuk menentukan subtipe dermatomiositis dan polymyositis, peran mereka dalam patogenesis tidak pasti. Agen infeksi, termasuk virus (misalnya, coxsackievirus , parvovirus , echovirus , human T-cell lymphotropic virus tipe 1 [HTLV-1], HIV ) dan toksoplasma dan spesies Borrelia, telah diusulkan sebagai pemicu kemungkinan dermatomiositis. Beberapa kasus obat-induced dermatomiositis telah dilaporkan. Perubahan kulit Dermatomyositislike telah dilaporkan dengan HU pada pasien dengan leukemia myelogenous kronis atau trombositosis penting . Obat lain yang
8

dapat memicu penyakit ini termasuk penisilamin, obat statin, quinidine, dan fenilbutazon. Dermatomyositis dapat dimulai atau diperburuk oleh implan payudara silikon atau injeksi kolagen, namun bukti untuk ini adalah anekdot dan belum diverifikasi dalam studi kasus-kontrol. Satu laporan perbedaan HLA rinci kalangan perempuan di antaranya miopati inflamasi berkembang setelah mereka menerima implan silikon. Penyebab dermatomiositis tidak diketahui. Para ahli pikir mungkin karena infeksi virus pada otot atau masalah dengan sistem kekebalan tubuh. Hal ini juga dapat kadang-kadang terjadi pada pasien yang memiliki kanker perut, paru-paru atau daerah tubuh lainnya. Siapa pun dapat mengembangkan dermatomiositis, tetapi paling sering terjadi pada anak usia 5 - 15 orang dewasa dan usia 40 - 60. Wanita mengalami kondisi ini lebih sering daripada pria. Polymyositis adalah kondisi mirip, tapi gejala terjadi tanpa ruam kulit.

4. Klasifikasi Dermatomiositis adalah jenis autoimun penyakit jaringan ikat. Hal ini terkait dengan polimiositis dan myositis inklusi tubuh . Ada suatu bentuk gangguan yang menyerang anak-anak, yang dikenal sebagai dermatomiositis remaja (JDM). Untuk dermatomiositis Juvenile paling bagian adalah sama dengan bentuk dewasa, tetapi hubungan dengan kanker jauh lebih rendah, atau tidak ada.

5. Epidemiologi

9

Di Amerika Serikat, dermatomiositis dihubungkan dengan poliomiositis dan miopati inflamasi idiopatik. Kejadiannya dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Di Spanyol, kejadiaan tahunan dermatomiositis telah ditetapkan sebanyak 4,9 per juta. Dermatomiositis lebih banyak menyerang pertempuan daripada laki-laki, dengan rasio 2:1. Usia yang palingbanyak diserang 40-60 tahun. Dermatomiositis 3x lebih sering terjadi pada penduduk kulit hitam daripada penduduk putih. Pada anak-anak, rata-rata terjadi pada usia 5-10 tahun.

6. Patofisiologi

Penyakit

Zat Antibodi Antigen

Bakteri, Virus Toksin

Cukup

Kurang

Sehat

Gangguan pada sistem imun/autoimun

Menyebar melalui darah

Timbul gejala seperti : Ruam, kulit

10

Kelemahan otot

Dermatomiositis

Dermatomiositis dianggap hasil dari serangan humoral terhadap otot kapiler dan arteriol kecil (endotelium pembuluh darah endomysial). Sejak tahun 1966, telah ada bukti yang mendukung sebuah microangiopathy berlangsung. Penyakit ini dimulai ketika antibodi putatif atau faktor lain mengaktifkan C3, membentuk fragmen C3b dan C4b yang mengarah pada pembentukan serangan C3bNEO dan membran complex (MAC), yang disimpan di pembuluh darah endomysial. Melengkapi C5b-9 MAC disimpan dan diperlukan dalam mempersiapkan sel untuk kehancuran dalam antibodimediated penyakit. Sel B dan CD4 (helper) sel juga hadir dalam kelimpahan dalam reaksi inflamasi yang berhubungan dengan pembuluh darah. Sebagai penyakit berlangsung, kapiler adalah hancur, dan otot-otot menjalani microinfarction. Atrofi Perifascicular terjadi pada awalnya, namun karena kemajuan penyakit, serat nekrotik dan degeneratif hadir seluruh otot. Patogenesis komponen kulit dari dermatomiositis kurang dipahami. Studi tentang patogenesis komponen otot telah kontroversial. Beberapa menyarankan bahwa miopati di dermatomiositis adalah pathogenetically berbeda dengan di polymyositis. Yang pertama mungkin disebabkan oleh komplemen yang diperantarai (terminal serangan kompleks) vaskular peradangan, yang terakhir oleh efek sitotoksik langsung CD8 limfosit + pada otot. Namun, penelitian sitokin lainnya menunjukkan bahwa beberapa proses inflamasi mungkin mirip. Satu laporan telah menghubungkan tumor necrosis factor (TNF) kelainan dengan dermatomiositis.

11

7. Tanda dan gejala

Tanda-tanda paling umum dan gejala dermatomiositis meliputi: • Perubahan kulit, ruam merah violet berwarna kehitaman atau berkembang, paling sering pada wajah dan kelopak mata dan area di sekitar kuku, bukubuku jari, siku, lutut, dada dan punggung. Ruam, yang dapat merata dengan perubahan warna ungu kebiruan, sering menjadi tanda pertama dermatomiositis. • Kelemahan otot. Kelemahan otot yang progresif melibatkan otot-otot yang paling dekat dengan batang, seperti di pinggul, paha, bahu, lengan atas dan leher. Kelemahan adalah simetris, mempengaruhi sisi baik kiri dan kanan tubuh Anda, dan cenderung untuk secara bertahap memburuk. • Munculnya ruam pada kelopak mata, pipi, hidung, punggung, dada bagian atas, siku, lutut dan buku-buku jari • • Kulit bersisik, kering atau kasar Kesulitan bangkit dari posisi duduk, atau bangun setelah jatuh

Gejala • Ruam menyakitkan dan / atau gatal disebabkan oleh peradangan pembuluh darah di bawah kulit dan otot. Tiba-tiba atau progresif kelemahan pada otot di otot leher, pinggul, punggung dan bahu. • • Kesulitan menelan (disfagia), perasaan tersedak Benjolan mengeras atau lembaran kalsium, yang disebut calcinosis, di bawah kulit

12

Perubahan suara (disfonia), terutama suara serak

Tanda-tanda dermatomiositis dan gejala lain yang mungkin terjadi meliputi: • • • • Kesulitan menelan (disfagia) Nyeri otot atau nyeri Kelelahan, demam dan penurunan berat badan Hardened deposit kalsium di bawah kulit (calcinosis), terutama pada anakanak • Gastrointestinal bisul dan perforasi usus, juga lebih sering terjadi pada anak • Masalah paru

8. Pemeriksaan Diagnostik

Tes darah untuk mendeteksi mengangkat enzim otot yang beredar: creatine kinase (CK) dan terkadang Aldolase, dehidrogenase aspartate aminotransferase (AST) & laktat (LDH).

13

Biopsi kulit ruam: penampilan mikroskopis mirip dengan lupus eritematosus.

Biopsi otot : Sepotong kecil jaringan otot diangkat melalui pembedahan untuk analisis laboratorium. Pada dermatomiositis, sel-sel inflamasi mengelilingi dan merusak pembuluh darah kapiler di otot. Biopsi otot dapat mengungkapkan peradangan pada otot atau masalah lain, seperti kerusakan atau infeksi. Sampel jaringan juga dapat diperiksa untuk adanya protein abnormal dan diperiksa untuk kekurangan enzim.

Elektromiografi (EMG) : pengujian perubahan dalam pola aktivitas listrik dapat mengkonfirmasi penyakit otot.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan otot : Scanner menciptakan gambar penampang otot Anda dari data yang dihasilkan oleh medan magnet kuat dan gelombang radio.

Pemeriksaan khusus pada jaringan otot mungkin diperlukjan untukl menyingkirkan penyakit otot lain.

Pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan yang menggunakan serum, pemeriksaan serologi yang tersedia adalah pemeriksaan antigen NS I, IgAAnti dengue, Antibodi Dengue IgG dan IgM.

Creative Protein (CRP) adalah protein yang dihasilkan oleh hati, pada kerusakan jaringan dan peradangan.

Rheumatoid Arthritis Factor (RAF) adalah pemeriksaan penyaring untuk mendeteksi adanya antibody golongan IgM, IgG dan IgA.

Thyroxine (T4) Didalam aliran darah ada dalam bentuk free T4 yang terikat dengan protein free T4 ini merupakan suatu uji lab yang paling baik untuk mengetahui adanya disfungsi kelenjar tiroid.

Anti Tyroglobulin antibody adalah auto antibody terhadap tiroglobulin dihasilkan oleh kelenjar tiroid.

14

9. Komplikasi Oleh Mayo Clinic staff Komplikasi yang mungkin terjadi dermatomiositis meliputi: a. Kelemahan otot Dermatomiositis kelemahan otot dapat menyebabkan:

Kesulitan menelan. Jika otot-otot di kerongkongan Anda terpengaruh, Anda akan memiliki masalah menelan (disfagia), yang dapat menyebabkan penurunan berat badan dan kekurangan gizi.

Aspirasi pneumonia. Kesulitan menelan juga dapat menyebabkan Anda untuk bernapas (aspirasi) makanan atau cairan, termasuk air liur, ke paruparu Anda, yang dapat menyebabkan pneumonia.

Masalah pernapasan. Jika otot dada Anda yang terkena penyakit, Anda mungkin mengalami masalah pernapasan, seperti sesak napas.

Masalah pencernaan. Ulkus dapat membentuk dan perdarahan dapat terjadi.

b. Kulit Masalah yang terkait dengan dermatomiositis yang dapat mempengaruhi kulit meliputi: • Kalsium deposito. Simpanan kalsium dapat terjadi pada otot, kulit dan jaringan ikat (calcinosis) sebagai kemajuan penyakit. • Infeksi. Dermatomiositis menempatkan Anda pada peningkatan risiko infeksi, terutama dari pernapasan dan pencernaan.

c. Associated kondisi
15

Dermatomyositis dapat menyebabkan kondisi lain, atau menempatkan Anda pada risiko lebih tinggi terkena mereka. Kondisi ini termasuk:

Fenomena Raynaud. Ini adalah kondisi di mana jari-jari Anda, jari kaki, pipi, hidung dan telinga pucat bila terkena suhu dingin.

Penyakit jaringan ikat lainnya. Kondisi lain, seperti lupus, rheumatoid arthritis, skleroderma dan sindrom Sjogren, dapat terjadi dalam kombinasi dengan dermatomiositis.

Penyakit kardiovaskular. Dermatomyositis dapat menyebabkan otot jantung Anda menjadi meradang (miokarditis). Dalam sejumlah kecil orang yang memiliki dermatomiositis, gagal jantung kongestif dan aritmia jantung bisa terjadi.

Penyakit paru-paru. Sebuah kondisi yang disebut penyakit paru interstisial dapat terjadi dengan dermatomiositis. Penyakit paru interstisial mengacu pada sekelompok gangguan yang menyebabkan jaringan parut (fibrosis) dari jaringan paru-paru, sehingga paru-paru kaku dan tidak elastis. Tanda dan gejala termasuk batuk kering dan sesak napas.

Kanker. Dermatomiositis pada orang dewasa telah dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan kanker, terutama dari leher rahim, paru-paru, pankreas, payudara, indung telur dan saluran pencernaan. Risiko kanker meningkat dengan usia, meskipun tampaknya mendatar tiga tahun atau lebih setelah diagnosis dermatomiositis. Diagnosis kanker juga dapat terjadi sebelum Anda mengembangkan dermatomiositis.

d. Kekhawatiran selama kehamilan Kehamilan dapat memperburuk tanda dan gejala pada wanita dengan penyakit aktif. Dermatomiositis Aktif juga dapat meningkatkan risiko

16

kelahiran prematur atau kelahiran mati. Jika penyakit ini dalam pengampunan, risikonya tidak sebesar.

10. Penatalaksanaan Medis

Perawatan dan obat-obatan Tidak ada obat untuk dermatomiositis, tetapi pengobatan dapat diberikan untuk memperbaiki kulit dan fungsi kekuatan otot. Tidak ada pendekatan tunggal yang terbaik, dokter akan menyesuaikan strategi pengobatan berdasarkan gejala dan seberapa baik penyakit tersebut menanggapi terapi.

Kortikosteroid Bagi kebanyakan orang, langkah pertama dalam pengobatan

dermatomiositis adalah menggunakan obat kortikosteroid. Untuk mnegatasi dermatomiositis, obat yang dipilih biasanya adalah prednison. Kortikosteroid adalah obat-obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, membatasi produksi antibodi, mengurangi peradangan otot, serta meningkatkan kekuatan dan fungsi otot. Dokter mungkin juga meresepkan kortikosteroid oles untuk kulit.

17

Dokter mungkin akan mulai dengan resep kortikosteroid dosis tinggi dan kemudian menurun jika tanda dan gejalanya membaik. Pemulihan umumnya membutuhkan waktu sekitar dua sampai empat minggu, tetapi pasien dapat tetap meminum obat untuk beberapa bulan. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat memiliki efek samping yang serius, itulah sebabnya mengapa dokter secara bertahap menurunkan dosis obat ke tingkat yang lebih rendah. Dokter mungkin akan merekomendasikan suplemen kalsium dan vitamin D untuk mengurangi efek samping tersebut.

Tambahan terapi imunosupresif Jika obat kortikosteroid tidak akan bekerja secara efektif, dokter mungkin menyarankan untuk menambah atau beralih ke obat lain, yaitu;

1) Kortikosteroid-sparing. Ketika dikombinasi dengan kortikosteroid, obat kortikosteroid-sparing dapat menurunkan dosis dan efek samping kortikosteroid. Obat-obat ini antara lain adalah azathioprine (Azasan, Imuran) atau metotreksat (Trexall, Metotreksat, Rheumatrex).

Dokter mungkin meresepkan azathioprine atau metotreksat bersama dengan prednison jika penyakit sangat progresif atau pasien memiliki faktor komplikasi. Beberapa dokter meresepkan obat-obat ini sebagai pengobatan pertama untuk orang-orang yang tidak dianjurkan menggunakan kortikosteroid.

2) Imunoglobulin intravena (IVIG).

18

IVIG adalah darah yang mengandung antibodi murni sehat dari ribuan donor darah. Antibodi sehat dalam IVIG dapat memblokir antibodi yang menyerang otot dan kulit pada dermatomiositis. Pengobatan ini diberikan dengan cara diinfuskan melalui pembuluh darah. Efek IVIG bermanfaat tetapi tidak berlangsung lama. Infus perlu diulangi lagi setiap enam sampai delapan minggu.

3) Obat imunosupresif lainnya. Tacrolimus (Prograf) adalah obat yang dapat bekerja untuk menghambat sistem kekebalan tubuh. Tacrolimus oles sering digunakan untuk mengobati dermatomiositis dan masalah kulit lainnya. Bentuk sediaan oralnya bermanfaat mengobati dermatomiositis yang berkomplikasi dengan penyakit paru interstisial.

Terapi biologi Jika kasusnya parah dan pilihan pengobatan lainnya gagal, dokter dapat merekomendasikan salah satu pengobatan garis ketiga untuk mengobati dermatomiositis: a. Rituximab (Rituxan) telah diteliti pada sejumlah kecil penderita polymyositis dan dermatomyositis mampu meningkatkan kekuatan otot, mengatasi komplikasi paru-paru, dan ruam kulit. b. Tumor necrosis factor (TNF) inhibitor seperti etanercept (Enbrel) dan infliximab (Remicade) adalah obat yang menargetkan protein kunci penyebab peradangan.

Belum ada penelitian ilmiah yang ada sampai saat ini tentang efektivitas obat-obat untuk dermatomiositis. Jika dokter meresepkan salah
19

satu obat, ia akan memantau pasien untuk memastikan obat bekerja dan memeriksa efek sampingnya.

Pendekatan lain Pilihan pengobatan lain yang bisa direkomensdasikan dokter meliputi:

a. Obat antimalaria. Untuk ruam, dokter mungkin meresepkan obat antimalaria seperti hydroxychloroquine (Plaquenil) atau klorokuin (Aralen). b. Penghilang nyeri. Obat-obatan seperti aspirin, ibuprofen (Advil, Motrin, others) dan acetaminophen (Tylenol, orang lain) dapat digunakan untuk mengobati nyeri. Jika hal ini tidak memadai, dokter mungkin meresepkan pereda nyeri yang lebih kuat seperti kodein. c. Terapi fisik. Seorang terapis fisik dapat menunjukkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot dan menyarankan aktifitas yang sesuai.
d. Terapi wicara. Jika pasien mengalami masalah menelan, terapi

wicara dapat membantunya belajar bagaimana mengkompensasi perubahan tersebut. e. Penilaian Dietetic. Ketika mengunyah dan menelan makanan menjadi lebih sulit. Ahli makanan dapat mengajarkan bagaimana mempersiapkan makanan yang mudah dikonsumsi. f. Bedah. Operasi dapat menjadi pilihan untuk menghilangkan penimbunan kalsium yang menyakitkan dan mencegah infeksi kulit berulang kembali.

20

11. Pencegahan a. Memastikan hidrasi cukup dengan minum banyak air putih dan cairan elektrolit. b. Menyusun rencana gizi seimbang (4Sehat 5empurna) c. Mendapatkan istirahat yang cukup d. Medical chek up dengan dokter secara rutin. e. Mempertahankan berat badan ideal.

12. Prognosis Kebanyakan pasien dengan dermatomiositis bertahan hidup, dalam hal ini mereka dapat mengembangkan kelemahan sisa dan cacat. Anak-anak dengan dermatomiositis parah dapat mengembangkan kontraktur. Penyakit ini secara spontan dapat mengirimkan dalam sebanyak 20% dari pasien yang terkena. Sekitar 5% pasien memiliki program progresif fulminan dengan kematian akhirnya. Oleh karena itu, banyak pasien membutuhkan terapi jangka panjang. Pasien dengan dermatomiositis yang memiliki keganasan, keterlibatan jantung, atau keterlibatan paru atau yang sudah lanjut usia (yaitu> 60 tahun) memiliki prognosis yang lebih buruk. Dermatomyositis dapat menyebabkan kematian karena kelemahan otot atau keterlibatan kardiopulmoner. Pasien dengan keganasan yang terkait mungkin meninggal karena keganasan. Calcinosis dapat mempersulit dermatomiositis. Sangat jarang pada orang dewasa tapi lebih sering terjadi pada anak dan telah dikaitkan dengan keterlambatan diagnosis dan untuk kurang-agresif terapi. Kontraktur dapat terjadi jika pasien bergerak.
21

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN Riwayat Kesehatan : 1. Infeksi dan imunisasi ♦ Tanyakan ststus imunisasi pasien ♦ Kontak yang dialami terhadap infeksi ♦ Riwayat alergi dimasa lalu ♦ Tanggal dan tipe terapi yang pernah dialami 2. Alergi ♦ Riwayat alergi termasuktipe allergen ♦ Riwayat pemeriksaan atau pengobatan 3. Kelaianan autoimun Kepada pasien di tanyakan kelainan autoinun.misalnya eritematosus 4. Neoplasma Riayat kanker dalam keluarga ,tipe kanker (maternal/paternal dengan kelurga yang menderita kanker) 5. Riwayat penggunan Obat (antibiotic,kortikosteroid,salisilat) Lupus

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Nyeri akut b/d inflamasi dan peningkatan aktifitas penyakit ,keadaan mudah lelah b. Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak ,kelemahan otot,keterbatasan ketahanan fisik
22

c. Gangguan citra tubuh b/d perubahan dan ketrgantungan fisikserta psikologis yang diakibatkan oleh penyakit kronik. d. Koping tidak efektif b/d gaya hidup aktual atau yang dirasakan oleh perubahan peranan pasien

3. INTERVENSI KEPERAWATAN a. Nyeri akut b/d inflamasi dan peningkatan aktifitas penyakit ,keadaan mudah lelah NO 1. INTERVENSI Pantau nyeri RASIONAL (karakteristik, Nyeri adalah pengalaman subyektif durasi), catat yang tampil dalam variasi respon verbal sehingga perlu digambarkan secara rinci untuk menetukan intervensi yang tepat 2. Laksanakan semua tindakan yang Rasa nyeri dapat pesponsif terhadap memberiakan posisi,istirahat 3. Dorong pasien untuk mengutarakan Pengungkapan sifat kronik penyakitnya 4 koping dalam kata –kata kenyamanan:kompres intervensisperti latihan fisik,teknik panas atau dingin,masase ,perubahan relaksasi dan bentuk-bentuk terapi suhu

lokasi,intensitas,

setiap respon verbal/non verbal, non verbal yang juga bersifat individual perubahan hemo-dinamik

perasaannya tentang rasa nyeri serta merupakan tahap yang penting dalam

Kolaborasi dalam pemberian analgetik Nyeri responsive terhadap pemberian dan antiinflamasi obat

b. Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak ,kelemahan otot,keterbatasan ketahanan fisik. NO INTERVENSI
23

RASIONAL

1.

Dorong

verbalisasi

yang Penurunan

mobilitas konsep

dapat diri

berkenaan dengan ketrbatasan mempengaruhi dalam mobilitas pasien 2.

pasien dan membawa isolasi

Kaji kebutuhan akan konsultasi Mempertahankan mobilitas yang terapi optimal pasien mengenali Memudahkan mobilitas

3.

Bantu

rintangan di lingkungannya 4. Dorong mobilitas lemandirian dalam Mempercepat mobilitas

c. Gangguan citra tubuh b/d perubahan dan ketrgantungan fisikserta psikologis yang diakibatkan oleh penyakit kronik. NO 1 INTERVENSI RASIONAL

Bantu pasien untuk mengenali Konsep diri seseorang dapat unsur-unsur pengendalian gejala diubah penyakit dan penananganannya oleh penyakit atau penanganannya. seseorang

2.

Dorong

verbalisasi

perasaan Strategikoping dirinya

,persepsi dan rasa takut

menunjukan kekuatan konsep

d. Koping tidak efektif b/d gaya hidup aktual atau yang dirasakan oleh perubahan peranan pasien NO 1. INTERVENSI RASIONAL

Kenali bagian –bagian kehidupan Dampak penyakit kurang lebih yang dipengaruhi oleh penyakit. dapat ditangani setelah penyakit Jawab pertannyaan
24

dan diidentifikasi

dan dieksplorasi

hilangkan mitos yg mungkin secara masuk akal terdapat 2 Buat rencana untuk pelaksanaan Dengan mengambil tidakan dan gejala dan membuat teman untuk daftar melibatkan orang lain secar dukungan keluarga dan teman- tepat, pasien dapat mengatasi meningkatkan masalahnya fungsi harian

C. FUNGSI ETIK DAN LEGAL Sebagai sorang perawat kita harus hati-hati dalam melakukan suatu tindakan,dalam kasus ini perawat harus membuat suatu perjanjian dengan keluarga agar mempunyai bukti cukup,dan yang lebih penting lagi adalah mendokumentasikan tentang penyakit pasien dengan benar dan spesifik dari masuk hingga pasien meninggal sehingga kita punya bukti yang cukup tentang riwayat penyakit pasien yang nanti akan dipertanggungjaabkan kepada keluarga atau kerabat pasien  berbuat baik Sorang pereawat yang professional harus beruhasaha untuk berbuat baik kepada siapapun.dalam kasus ini perawat harus berbuat semaksimal mungkin untuk menyelematkan nyawa pasien meskipun pasien pasien tidak bias tertolongi lagi akan tetapi kita melakukan perawatan yang baik kepada pasien.  kejujuran Seorang perawat harus jujur agar pasien ataupun keluarga tidak menaruh curuga pada kita.Di kasus ini perawat harus mengatakan yang sebenarnya tentang penyakit pasien kepada keluarga agar kelurga atau kerabat pasien tidak menaruh curiga.

25

D. JURNAL Keganasan di dermatomiositis dewasa Abstrak: Dermatomiositis latar belakang telah dilaporkan dikaitkan dengan keganasan pada 15% -34% pasien di negara-negara Barat, tetapi dalam sebanyak dua pertiga pasien di Singapura. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah ukuran diagnostik dapat membantu dalam diagnosis keganasan pada pasien dengan dermatomiositis. Metode ini merupakan studi retrospektif atas 38 pasien dewasa dengan dermatomiositis yang terlihat selama periode 6-tahun 1989-1994. Hasil Semua pasien disajikan dengan fitur kulit yang menunjukkan diagnosis klinis dermatomiositis, namun tidak semua kasus menampilkan semua fitur kunci dari penyakit. Dari pasien yang diteliti, 86,8% yang tercatat memiliki fotosensitifitas sebagai presentasi kulit kunci. Tiga puluh (78,9%) dari pasien kami berada di atas usia 40 tahun, dan 12 (31,6%) dari mereka ditemukan memiliki keganasan yang terkait. Karsinoma nasofaring adalah kanker yang paling sering dikaitkan (38,4%) pada populasi penelitian kami. Kesimpulan : Dalam populasi penelitian kami, skrining otorhinolaryngologic adalah investigasi penting untuk evaluasi dermatomiositis dalam hubungan dengan keganasan.

26

E. PENDIDIKAN KESEHATAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Tema Sub Tema Sasaran Tempat

: Penyakit Dermatomiositis : Perjalanan Penyakit Dermatomiositis : Keluarga An.Atika : Di rumah sakit

Hari/Tanggal : Senin, 16 Maret 2012 Waktu : 30 Menit

A.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga An.Atika dapat mengetahui perjalanan penyakit Dermatomiositis

B.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat:
• •

Menjelaskan Latar Belakang penyakit Dermatomiositis Menyebutkan Pengertian penyakit Dermatomiositis
27

Menyebutkan

penyebab

yang

dapat

menimbulkan

penyakit

Dermatomiositis
• •

Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit Dermatomiositis Mengerti Patofisiologi penyakit Dermatomiositis Materi Latar belakang penyakit Dermatomiositis Pengertian Dermatomiositis Faktor penyebab dari Dermatomiositis Tanda/gejala Dermatomiositis Patofisiologi Dermatomiositis

C.
1. 2. 3. 4. 5.

D. 1. 2.

Metode Ceramah Tanya jawab

E.

Kegiatan Penyuluhan Penyuluh • Salam pembuka • Menyampaikan tujuan penyuluhan Mendengarkan, menjawab pertanyaan Peserta • Menjawab salam • Menyimak, 5 Menit Waktu

No Kegiatan 1. Pembukaan

28

2. Kerja/ isi

Penjelasan & patofisiologi

Mendengarkan

pengertian, gejala • Dermatomiositis Memberi

penyebab,dengan penuh perhatian

kesempatan peserta untuk bertanya • Menjawab pertanyaan • • Menanyakan Memperhatikan hal-20 menit hal yang belum jelas jawaban dari penceramah • Menjawab

• • 3. Penutup •

Evaluasi Menyimpulkan Salam penutup

pertanyaan • • Mendengarkan Menjawab salam 5 Menit

F.
1.

Media Leaflet : Tentang penyakit Dermatomiositis

G.

Sumber/Referensi

http://aymasana.blogspot.com/2012/02/dermatomyositis.html

H.

Evaluasi :
1. Klien dapat menjelaskan latar belakang penyakit Dermatomiositis 2. Klien mampu menjelaskan Pengertian penyakit Dermatomiositis

Formatif

29

3.

Klien

mampu

menjelaskan

faktor

penyebab

penyakit

Dermatomiositis
4. Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit Dermatomiositis 5.

Klien

mampu

menjelaskan

patofisiologi

penyakit

Dermatomiositis Sumatif : Klien dapat mengetahui perjalanan penyakit Dermatomiositis

Yogyakarta, Senin 16 Maret 2012 Pembimbing, Penyuluh,

Daftar Pustaka http://aymasana.blogspot.com/2012/02/dermatomyositis.html http://aymasana.blogspot.com/2012_02_01_archive.html http://dermnetnz.org/immune/dermatomyositis.html http://www.mayoclinic.com/health/dermatomyositis/DS00335/DSECTION =coping-and-support http://www.myositis.org/about_myositis/dermatomyositis.cfm

30

http://health.detik.com/read/2011/11/07/072458/1761505/770/dermatomio sitis-kelemahan-otot-akibat-peradangan? lbbank:;;::http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000839.htm& usg=ALkJrhg5URnv6kxtF7gsadhsosbBzDl3yw

http://www.mayoclinic.com/health/dermatomyositis/DS00335/DSECTION =coping-and-support http://www.myositis.org/about_myositis/dermatomyositis.cfm http://dermnetnz.org/immune/dermatomyositis.html http://www.mayoclinic.com/health/dermatomyositis/DS00335/DSECTION =coping-and-support

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->