ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN HEMATOLOGI

 Pengrusakan oleh limpa:Hiperslenisme. b. Meningkatnya pemecahan eritrosit. 4. Fungsi sel induk (stem cel)terganggu  Anemia aplastik  Leukemia/mieloproliferatif d.trauma. Khronik:perdarahan saluran cerna. a. Gangguan/penurunan eritrosit.malaria. c. a. Akut:perdarahan . .menorragi. Kombinasi dari ketiganya. a. Hemolise(kerusakan intrakorpuskuler)  Membren:hereditary spherocytosis  Hemoglobin:sickle cell trait/disease  Glikosis:pyruvate kinase  Oksidasi:kekurangan G6PD b. Perubahan sintesa hemoglobin  Kekurangan besi.  Anemia pernisiosa(kekurangan B12 dan folat). 2.  Infeksi:klaustridia .  Trauma pada eritrosit:sindroma hemolitik-uremik.ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN ANEMIA. Perubahan sintesa DNA sebagai akibat kekurangan nutrient. Klasifikasi anemia ditinjau dari sebab-sebab: 1. b.  Anemia karena infeksi khronik. Kehilangan darah. Hemolise(kerusakan ekstrakorpuskuler)  Mekanisme immun:antibody panas/antibody dingin. Meningkatnya pemecahan eritrosit.  Talassemia. Keterangan : 1. Infiltrasi sumsum tulang  Karsinoma  Limfoma 2. 3. 3. Kehilangan darah. Definisi : Adalah suatu keadaan dimana jumlah total eritrosit yang beredar berkurang atau terjadi penurunan baik kwalitas maupun kwantitas dari hemoglobin. Gangguan produksi eritrosit.

diet kurang besi. Pada anemia dimana terjadi penurunan jumlah eritrosit yang beredar. (congenital terjadi efek dari sintesa globin ) 3.  Anemia kurang besi : kekurangan besi untuk pembentukan hemoglobin. jantung harus memompa darah lebih cepat dan lebih kuat. Meskipun mekanisme kompensasi cukup untuk mempertahankan volume darah. siklus metabolisme besi terganggu). tetapi terjadi penurunan viskositas darah atau pengenceran.  Anemia aplastik : kurangnya eritropoisis ( aplasi sumsum tulang. dan kadar hemoglobin dalam eritrosit menurun.  Anemia kurang folat:menyebabkan kematian premature dari sel(kekurangan dalam diet) 2. mudah rusak. sehingga kadar hemoglobin tidak cukup ( perdarahan kronik.  Talasemia : ganggua sintesa rantai alfa dan beta dari hemoglobin A.  Anemia karena penyakit kronis : kebutuhan yang meningkat dari eritrosit ( infeksi khronik. bentuk abnormal. lisis dan difagositosis ( konenital disfungsi dari sintesa hemoglobin ). . Karena pengenceran ini maka darah akan mengalir lebih cepat dan turbolensipun meningkat. Untuk kompensasi penurunan volume darah. sehingga volume plasma bertambah.  Anemia pasca perdarahan  Anemia hemolitik : kehancuran eritrosit secara prematur. tetapi pelaksanaan kompensasi mengikutsertakan system-sistem lain seperti kardiovaskuler. GEJALA KLINIK Timbul dan beratnya gejala tergantung pada kemampuan tubuh untuk mengadakan kompensasi terhadap penurunan kemampuan darah mengangkut oksigen. Darah kembali ke jantung juga meningkat ( venous retrn meningkat ).  Anemia pernisiosa:kekurangan vitamin B12 untuk pembentukan eritrosit . Anemia makrositik normokromik:sel besar .  Anemia sel sickle : sintesa hemoglobin abnormal.bentuk eritrosit abnormal. masuklah cairan dari extravaskuler ke dalam pembuluh darah.Klasifikasi anemia sesuai dengan bentuk morfologi.  Aemiasideroblastik : terjadi kesalahan dari pengambilan besi oleh eritroblas dan juga gangguan pembentukan porfirin dan heme ( congenital terjadi gangguan metabolisme besi dalam eritroblas ). Anemia mikrositik hipokromik : sel kecil. Anemia normositik normokromik : pengrusakan atau kehabisa normal erotoblas atau eritrosit. Meskipun sebenarnya anemia penyakit darah. misalnya pasca perdarhan mengakibatkan perubahan volume dan isi darah.tetapi konsentrasi hemoglobin normal.(congenital /didapat/kelainan genetic. untuk memenuhi kebutuhan normal oksigen dan mencegah pembendungan dalam system kardiovaskuler. 1. obatobatan ).terjadi sintesa DNA dan RNA yang abnormal dan kematian premature dari sel. bentuk abnormal. pernafasan dan system hematopoisis itu sendiri. keganasan ).

Semua kompensasi ini dapat menimbulkan payah jantung bila melampaui batas kemampuannya. tidak ada infeksi. Meningkatnya frekwensi dan dalamnya pernafasan untuk mendapatkan oksigen yang lebih banyak bagi sisa eritrosit yang ada. • Saluran cerna dapat timbul nyeri perut. Contoh anemia kurang besi. bila penyebabnya adalah hemolise. maka mekanisme yang biasanya terjadi nafas pendek atau sesak nafas. dengan hasil terjadi retensi garam d an air ( produksi air seni menurun. timbulah gejala-gejala : • Ginjal. tidak kekurangan protein. akan menyebabkan kompensasi berupa konstriksi pembuluh darah tepi. Hipoksia jaringan mempunyai efek yang lain pada jantung dan paru-paru. Anemia berat yang terjadi mendadak. sebagai respon terjadilah aktifasi rennin angiotensin. Gejala yang timbul parastesi ( gringgingan ). akut kronik dan penyebabnya. tidak selau dibutuhkan transfusi darah. bahkan dapat menyebabkan putus atau lepasnya saraf dari batang spinal. maka dapat diterapi dengan pemberian besi sambil mengawasi kadar Hb penderita. . tidak ada kekurangan gizi. selaput lender. muntah dan hilangnya nafsu makan PENATALAKSANAAN : Pengobatan anemia tergantung pada berat ringannya. • Peredaran darah perifer. Menurunnya pengiriman oksigen ke dlaam kulit akan menyebabkan lambannya penyembuhan luka dan kurangnya elastisitas kulit. kulit. mual. penurunanan alairan darah dirasakan oleh ginjal. maka akan menyebabkan terjadi degenerasi d ari myelin. kelemahan ekstremitas. bila penyebab anemia adalah kekurangan vitamin B12. meskipun kadar Hb < 6 g/dl. spastisitas dan dapat pula timbul reflex-reflex abnormal. Bila anemia cukup berat. • Sistem saraf. bahkan kadang-kadang tampak kekuningan karena tertimbunnya produk pemecahan sel darah merah bilirubin. dan perlu melakukan perbaikan perfusi. konjungtiva. gangguan melangkah. si penderita akan merasa pusing dan lelah meskipun dalam keadaan istirahat. bibir dan kuku akan tampak pucat yang disebabkan oleh menurunnya kandungan hemoglobin. Saat ini jantung akan cepat berdenyut. bila keadaan fisik penderita baik. dan darah diutamakan mengalir ke organ-organ vital.

d. 2. Observasi adanya kerja fisik berlebih dan keletihan untuk merencanakan istirahat yang tepat b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Tetap bersama anak selama tes dan memulai transfuse untuk memberikan dukungan dan observasi pada kemungkinan komplikasi. penurunan pengiriman oksigen ke jaringan. d. Manifestasi ( Data subyektif dan obyektif  Kelemahan otot  Mudah Lelah  Sering beristirahat  Nafas pendek  Proses megisap yang buruk pada bayi  Kulit pucat  Sakit kepala  Pusing  Perfusi perifer buruk  Kulit lembab dan dinginPeningkatan frekwensi jantung  Hasil analisa elemen darah abnormal Rencana Asuhan Keperawatan ( Dona. Intervensi dan rasional : a. Siapkan anak untuk tes untuk menghilangkan rasa takut c. Pilih teman sekamar yang sesuai dengan usia anak dengan minat yang sama dan memerlukan aktivitas terbatas untuk mendorong kepatuhan pada kebutuhan istirahat.2004 ) 1. Beri aktivitas bermain pengalihan yang meningkatkan istirahat dan tenang tetapi mencegah kebosanan dan menarik diri. Wong . tes diagnostic dan pengobatan. L.ASUHAN KEPERAWATAN . tes diagnostic dan pengobatan. . Antisipasi dan Bantu dalam melakukan kativitas seharihari yang mungkin di luar batas toleransi anak untuk mencegah kelelahan c.dengan hasil yang diharapkan : anak dan keluarga mununjukkan ansietas minimal dan menunjukkan pemahaman tentang agngguan. Intervensi : b. anak tidak menunjukkan tanda-tanda keletihan. Ansietas/takut berhbungan dengan prosedur diagnostic/transfusi Sasaran pasien ( keluarga ): a. Pasien ( keluarga mendapat pengetahuan tentang gangguan. Sasaran 1 : Pasien mendapat istirahat yang adekuat dengan hasil yang diharapakan anak bermain dan istirahat dengan tenang dan melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Jelaskan tujuan pemberia komponen darah untuk meningkatkan pemahaman terhadap gangguan. tes diagnostik dan pengobatan.

jangan berikan bersama susu ata antasida karena bahan ini akan menurunkan absorpsi besi. Beri oksigen suplemen untuk meningkatkan oksign ke jaringan. Pertahankan posisi semi fowler untuk pertukaran udara yang optimal b. Ajari anak yang lebih besar tentang pentingnya besi adekuat untuk mendorong kepatuhan Sasaran paien 2 : pasien mengkonsumsi suplemen besi Intervensi dan rasional : a. b. karena vitamin c memudahkan absorbsi besi. dll . Berikan preparat besi sesuai ketentuan b. Berikan konseling diet khususnya mengenai sumber zat besi dari makanan. Berikan tindakan kenyamanan seperti menimang. Ukur tanda-tanda vital Sasaran 3 : Pasien mengalami stress emosional minimal Intervensi dan rasional . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan besi yamg dilaporkan. Instruksikan keluarga tentang pemberian preparat besi oral yang tepat misalnya berikan dg jus buah atau preparat multivitamin. Dorong ortu untuk tetap bersama anak untuk meminimalkan stress karena perpisahan b. kurang pengetahuan menegani makanan yang diperkaya zat besi. Sasaran 1 :Pasien mendapat suplai besi adekuat Intervensi dan rasional : a. a. c. Bantu pada aktivitas yang memerlukan kerja fisik. musik untuk meminimalkan stres 4. Sasaran 2 : Pasien menu jukkan pernafasan normal Intervensi dan rasional : a.e. Rencanakan aktivitas keperawatan untuk memberikan istirahat yang cukup f.

kelaiana kromosom. Manifestasi klinis ( data subyektif dan obyektif ) a. Anoreksia d. Etiologi : ( belum pasti ) Faktor predisposisi : Faktor geetik. Merupakan proliferasi patologis pada sel pembuat darah yang bersifat sistemik.ASKEP PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA Definisi : 1. Demam c. memar tanpa sebab f.2000). Pucat. BB menurun e. Nyeri abdomen h. Hepatosplenomegali . Proliferasi sel darah putih yang masih immature dalam jaringan pembentuk darah ( Suriadi. radiasi. 2. Ptechiae. Nyeri tulang g. lesu b.

limpa Meningitis Eritrosit Leukosit Faktor pembekuan Anemia Infeksi perdarahan Demam Resiko injuri Kemoterapi :  Resiko kurang volume cairan  Kerusakan integritas kulit .Patofisiologi Proliferasi sel kanker Persaingan dengan sel normal Sel normal digantikan sel kanker Depresi susum tulang ( pembemtukan sel darah abnormal ) Infiltrasi extra medula Ifiltrasi SSP Pembesara hati.

Kolaborasi pemberian infuse 4. Tempatkan anak dalam ruangan khusus untuk menghindari anak terpapar sumber infeksi b. Anjurkan pengunjung dan staf melakukan tehik cuci tanga yang baik da benar c. Gunakan sikat gigi yang lembut e. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kemoterapi Intervensi : a. Evaluasi kulit dan membrane mukosa setiap hari b. Anjurkan intake dengan kalori dan protein adekuat . Hindari memberikan makanan yang memiliki aroma yang dapat merangsang mual dan muntah c. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sisitem pertahanan tubuh Intervesi: a. Kolaborasi pemberian antibiotik 2. Monitor tanda-tanda perdarahan d. Berikan perawatan kulit khususnya mulut c. Ganti posisi secara berkala d. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering d. Resiko injuri : perdarahan berhubungan dengan perubahan factor pembekuan Intervensi : a. Resiko kurang volme cairan berhubungan dengan mual dan muntah ( efek kemoterapi ) Intervensi : a. Beri antiementik sebelum kemoterafi b. Gunaka tehnik aseptk untk selurh prosedur d.DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI 1. Gunakan jarum kecil untuk injeksi c. Monitor tanda vital e. Lakukan pemeriksaan darah secara teratur 3. Kaji tanda-tanda kerusakan integrita kulit b. Monitor jumlah lekosit f.

Penyebab kerusakan tersebut karena hemoglobin yang tidak normal ( Ngastiyah. Suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai oleh defisiensi produksi rantai globin pada hemoglobin ( Suriadi.1997 ). biasanya tidak menimbulkan gejala klinis ETIOLOGI Faktor herediter .ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN THALASEMIA DEFINISI : 1. menurut hukum Mendel ( Rusepno Hasan. Thalasemia minor .2000 ) 2. 1997 ) Secara Klinis talasemia dibagi dalam 2 golongan : 1. Penyakit anemia hemilitik dimana terjadi kerusakan sel darah merah di dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek ( kurang dari 100 hari ). 3. Talasemia Mayor ( homozigot ) memberikan gejala klinis yang jelas 2. Penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan dari kedua orang tua kepada aak-anaknya secara resesif.

sirosis .gagal jantung Liver .Patofisiologi Thalasemia ß : Defisiensi rantai ß Kerusakan pembentukan Hb Hemolisis Anemia Komponen seluler penghantar O2 << Kebutuhan dan suplay O2 ≠ seimbang Nafsu makan menurun Perubahan perfusi jaringan Intolerasi aktivitas Perubahan nutrisi < kebutuhan Transfusi berulang Hemolisis Kadar fe dalam darah meningkat Gangguan fungsi organ ( hemokromatosis) Limpa splenomegali Penumpukan di berbagai organ Jantung.

Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan dampak penyakit terhadap fungsi keluarga. Motivasi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Monitor tanda-tanda vital selama dan setelah aktivitas c. . Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi 4. Jelaskan tentang kondisi anak c. gelisah c. O2. Nilai kemampuan anak dalam beraktivitas b. Berikan bantuan dalam aktivitas bila diperlukan d. kaji pengisian kapiler. Intervensi : a. Catat kelhan dingin.DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI 1. pemberian sel darah merah. Monitor tanda-tanda vital. warna kulit. Observasi adanya keterlambatan respon verbal. Bantu keluarga melakuka penyesuaian terhadap kondisi kritis anak d. Intervensi : a. membrane mukosa. 2. Konsultasi gizi g. Ijinkan anak ntuk makan makanan yang ditoleransi anak b. kebingungan. pertahankan suhu lingkungan hangat sesuai indikasi e. kelelahan. kuku. 3. Evaluasi BB e. Kolaborasi pemerikaan laboratorium. Beri informasi pada keluarga/ pasien untuk menghentikan aktivitas bila : nafas cepat. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan dan suplay O2 Intervensi : a. pusing. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantar O2/ zat nutrisi ke sel Intervensi : a. Rencanakan perbaikan kualitas gizi saat selera makan meningkat c. Berikan dan Bantu hygiene mulut f. b. Berikan dukudngan pada keluarga b. Selidiki keluhan nyeri dada d. Ijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubngan dengan nafsu makan yang menurun.

PTT ( Plasma prothrombin Time ). perdarahan ke dalam siku. Kelainan ini merupakan satu defisiensi factor VIIIc yang diturunkan secara x. lutut dan pergelangan tangan yang menimbulkan nyeri dan pembengkakan serta membatasi gerakan sendi 5. Hematoma setelah suntikan 2. Hemartrosis . Ringan : Didapatkan aktifitas factor VIIIc 6 % . Memar berlebih akibat trauma kecil 3. Hematuria spontan. penghitungan jumlah trombosit serta waktu perdarhan normal. Berat Didapatkan aktifitas factor VIIIc hanya 1 % Perdarahan terjadi spontan atau tanpa diketahui adanya trauma PATOFISIOLOGI : Aktivitas/ kadar factor VIII c menurun menyebabkan koagulasi tidak terjadi sehingga perdarahan mudah terjadi / sulit dihentikan. Hemofilia adalah gangguan perdarahan yang disebabkan oleh defiiensi herediter dari factor darah esensial untuk koagulasi ( Donna L.50 % Perdarahan terjadi bila ada trauma berat atau pembedahan 2.dll PRINSIF PENATALAKSANAAN : Tundakan pada waktu perdarahan Pengobatan pencegahan HE di rumah . Wong. Hemofilia adalah suatu kelainan koagulasi yang bersifat herediter karena adanya defisiensi factor VIII c. APTT ( Aktivated Partial Tromboplastine Time ) memanjang 2.5 % Perdarahan terjadi bila ada trauma ringan 3. Laserasi lidah/bibir yang tetap berdarah selama berjam-jam 4. GEJALA KLINIS : 1.linked recessive karena sistesis molekul abnormal sehingga menyebabkan aktivitas pembekuan terganggu. LABORATORIUM : 1. Sedang Didapatkan aktifitas factor VIIIc 1 % . KLASIFIKASI : 1. 2004 ) 2.ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEMOFILIA DEFINISI : 1.

Lakukan latihan gerak aktif setelah fase akut karena hal ini memungkinkan anak untuk megontrol derajat latihan sesuai dengan tingkat ketidaknyamanan. Ajari keluarga dan anak yang lebih besar bagaimana caranya mengenali dan mengendalikan perdarahan. Ciptakan lingkungan seaman mungkin dengan pengawasan ketat untuk meminimalkan cidera tanpa menghambat perkembangan. f. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan hemoragi Intervensi : a. b. . Rujuk untuk konseling genetic b. relaksasi ) untuk membantu anak mengatasi nyeri b. Lakukan strategi non farmakologis ( distraksi. c. 2. Anjurkan aktivitas untuk mengejar intelektualitas untk memberikan alternative yang aman e. Kolaborasi dalam pemberian anlgesik sesuai indikasi. 3. Latih sendi dan otot yang sakit untuk mempertahankan mobilitas c.DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI : 1. Konsultasi dengan ahli terapi fisik mengenai program latihan untuk meningkatkan fungsi maksimum sendi dan bagian tubuh yang tidak sakit. Intervensi dan rasional a. 4. Lakukan tindakan penunjang untuk mengendalikan perdarahan  Berikan tekanan pada area selama 10 – 15 menit untuk memungkinkan pembentukan pembekuanImobilisasikan dan tinggikan area di atas jantung untuk menurunkan aliran darah  Beri kompres dingin untuk meingkatkan vasokonstriksi  Anjurkan keluarga untuk menyiapkan kantong es atau kantong dingin di freezer agar dapat digunakan dengan segera. d. Rujuk pada lembaga khusus/ kelompok yang memberikan pelayanan pada keluarga dengan hemofilia. Nyeri berhubungan dengan perdarahan jaringan dan sendi. Resiko gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan efek hemoragi dalam sendi dan jaringan lain Intervensi : a. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius. Gunakan sikat gigi yang kecil dan lembut. Intervensi dan rasioal : a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful