HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. selanjutnya menulis. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka. maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian. Husein Shahhatah. seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. ―Fiqh muamalah ekonomi. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. kecuali faham fiqh muamalah 3 . maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim.R. tanpa ia sadari.

Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”. “Hai Kaumku sembahlah Allah. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik.Dan Syu‟aib berkata. Artinya : Mereka berkata.Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.Sehubungan dengan itulah Dr. (Hud : 84. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. “Hai Syu‟aib. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. 4 . Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya. Kami utus saudara mereka. Syu‟aib.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan. Ia berkata.

sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. yang disebut dengan syari‘ah. Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas. Hiwalah (pengalihan hutang) 5. Adh-Dhaman (jaminan. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. (Baca tulisan Prof. agar tak muncul salah faham tentang syariah.16). Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6. Prof. Prof Muhammad Akram Khan). Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah.Yusuf Qardhawi. Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2. Hak Milik. Prof Umar Chapra. Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Syirkah (tentang perkongsian) 5 . maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. (hlm. tanpa aturan syari‘ah.Ali Ash-Sjabuni. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4.Ayat ini berisi dua peringatan penting. Harta. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Muamalah adalah Sunnah Para Nabi. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. asuransi) 7. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. yaitu aqidah dan muamalaH. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. Berdasarkan ayat-ayat di atas.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

mengharamkan babi dan harganya".Saudi Arabia) 9 . dan seekor burung yang terbang di udara. mengharamkan bangkai dan harganya. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai. seekor unta yang kabur. karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram. 2. maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku. maka apabila mengenai suatu baju. berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ".. susu dalam kantonggnya. alat-alat musik. atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai).seperti khomer. maka itu (harganya0 sekian. maka tidak sah jual belinya. khomer. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi . sedangkan penipuan terlarang. maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. maka beliau berata. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis. dan patung (Mutafaq alaihi). Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya.". Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya. seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri. karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. 3.

Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. mendirikan shalat. tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. pada waktu pagi dan waktu petang. melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman. dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. 10 . Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu). tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. Al Jumu‘ah : 9). Karena itu. Maka. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya." (QS. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. 24:36-37-38). (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. Demikian juga shalat fardhu lainnya. Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya." (QS. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu.

Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman. 977. Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖. Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. begitupun sebaliknya.. 4:141). Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan." (QS. (Shahih Tirmidzi. Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya. Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran. Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268. Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya." Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya.‖(Mutafaq alaihi). Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah. Shahih Al Jami‘ : 2778). (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota). Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah. pent). Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya. Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖. seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh.Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya. ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖.

Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if . dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian.salafy. padahal intinya adalah riba. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah. dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline. tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15.Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. Lc. Misalnya. Diarsipkan al akh Fikri Thalib. Adapun harga Rp 20. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan.php?id_artikel=66) 12 . kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). sehingga kalian meninggalkan jihad. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam). Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah). sampai kalian kembail kepada agama kalian. Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13. http://www.id/print. seseorang menjual barang seharga Rp 20. Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya.000 kontan.‖ (Silsilah As Shahihah : 11.000 dengan cara kredit.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan.or. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―.

dengan menggunakan konsep syariah. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. baik bonus bulanan. gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. misalnya riba dan gharar. Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas. Dalam istilah MLM. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. baik pada produknya atau pada sistemnya. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. begitu pula di Malaysia. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29.BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini.000 an. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). tahunan ataupun bonus-bonus lainnya. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus. Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. Keadaan mereka yang demikian itu. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan. Menurut data di internet. 13 . Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya.

Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. distribusi. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. baik jaringan produksi. Kelima. Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘). Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam. Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. seperti perbedaan motivasi dan niat. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia. Keempat. Orang yang kembali (mengambil riba). misi. Dalam MLM Syari‘ah. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). Keempat. orientasi. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . maupun konsumennya. hukum muamalah.maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. Ketiga. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. Ketiga. dan urusannya (terserah) kepada Allah. Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖. Pertama. mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. mereka kekal di dalamnya‖. Kedua. visi. prinsip. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. maka bertebaranlah kamu di muka bumi. akhlak. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. bisa diwujudkan. mengangkat derajat ekonomi umat. komoditi. sistem pengelolaan. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. Sedangkan misinya adalah: Pertama. kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. mengutamakan produk dalam negeri. Dengan demikian. MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. harus menggunakan kekuatan jaringan. memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. Kedua. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. pengawasan dan sebagainya. Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini.

Keenam. kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini.com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional. PT UFO. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. U-299/DSN-MUI/XI/2007. Saat ini. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No. Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis. Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan. Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran.menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. 15 . meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib.

lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. Irwa-ul Ghalil no: 1667. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. dan baginya adzab yang menghinakan. dan disebut pula “Faridhah. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu. sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah. Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah.” (QS an-Nisaa‘: 13-14). barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. dan tidak diberikan kepada perempuan.” (QS alBaqarah: 237). lalu penyempurnaan wasiatnya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12). Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Tatkala Islam datang. khususnya dalam hal warisan.” (QS an-Nisaa‘: 11). Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. dan tidak diberikan anak-anak kecil. ketentuan. Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 . dan kepada orang-orang dewasa. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). sedang mereka kekal di dalamnya. dan itulah kemenangan yang besar. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205). Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah. Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.

Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. Dan datuk termasuk ayah. Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645).” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Allah swt berfirman: 17 . “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris. 5 dan 6. “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim. Tirmidzi III: 286 no: 2189. 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 11). Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. Mustadrak Hakim IV: 341. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. ia bersabda. dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab. 3.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Muslim III: 1233 no: 1614. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. maka ia menjadi milik tuannya juga. Baihaqi X: 292). Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu." (QS An Nisaa‘: 11). Irwa-ul Ghalil no: 1672. Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. 2.2. Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315.‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Muslim III: 1400 no: 1776. sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892). 3. bukan menjadi miliknya.

Isteri. Saudara perempuan." (QS An Nisaa‘: 176)." (QS An Nisaa‘: 12)." (QS An Nisaa‘: 11). 7 dan 8. Ibu dan nenek. Sunan Ibnu Majah II: 915 no. 7. 9. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. 10." (QS An Nisaa‘: 12). Perempuan yang memerdekakan budak. Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881. Paman dan anaknya serta seterusnya. Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. Sabda Nabi saw: 18 ." (QS An Nisaa‘: 176). Muslim III: 1233 no: 1615."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). 5. bagi masing-masing seperenam. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732. jika ia tidak mempunyai anak." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. Laki-laki yang memerdekakan budak. Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Suami. Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak. 6. Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit). 2740). 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 11).

Yang dapat 1/2: 1. maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. (keempat) dua pertiga." (QS An Nisaa‘: 176) B." (QS An Nisaa‘: 11)."Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya. dan 5. Yang dapat 1/4 . tanpa mempunyai saudara perempuan. maka ia dapat separuh. Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok." (QS An Nisaa‘: 12). Cucu perempuan. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. jika mereka tidak meninggalkan anak. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri). yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya). Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. Isteri. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. (ketiga) seperdelapan. Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. jika kamu tidak meninggalkan anak. A. Seorang anak perempuan. karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. padahal ia tidak mempunyai anak. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan. jika isteri yang wafat meninggalkan anak. (kedua) seperempat. jika suami meninggalkan anak. Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia." (QS An Nisaa‘: 12). ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham). Yang dapat 1/8. C. 2. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456." (Al Ijma‘ hal. 1. jika suami tidak meninggalkan anak. 79) 4. 19 . ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. Suami dapat seperempat. 3. Ibnu Mundzir berkata. dua orang. dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan. bila si mayyit tidak meninggalkan anak. (kelima) sepertiga. 2." (QS An Nisaa‘: 12). dan (keenam) seperenam." (QS An Nisaa‘: 12). Muslim II: 1141 no: 1504. "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. kedua. jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki.

Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. E. maka ibunya dapat sepertiga. Seorang saudara seibu. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak. empat orang 1 dan 2. "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). jika ia tidak mahjub (terhalang). maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam. 84). "Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). Ibu." (QS An Nisaa‘: 12). jika yang meninggal itu mempunyai anak. dua orang: 1." (QS An Nisaa‘: 11). tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu. jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara. Cucu perempuan. "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan. Nenek." (QS An Nisaa‘: 11). Yang dapat 2/3. maka bagi ibunya sepertiga. Ibnul Mundzir menegaskan. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu. 3. Yang dapat 1/3." (QS An Nisaa‘: 176). ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata. dapat seperenam. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 11). jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak." (QS An Nisaa‘: 12). "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. maka ibunya dapat seperenam. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). F. ada tujuh orang: 1. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). 4. 2." (Al Ijma‘ hal. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). Yang dapat 1/6.D. maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). bila si mayyit tidak meninggalkan ibu. baik laki-laki ataupun perempuan." Maka ia menjawab. 2. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. Ibu dapat seperenam.

‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. ‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873. Saudara perempuan sebapak. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah). jika (anak itu) mempunyai anak.. Datuk (kakek) dapat seperenam. (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi. Tirmidzi III: 285 no: 2173. 5. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya. http://alislamu. 797 .808. cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya). hlm. Fathul Bari XII: 17 no: 6736. 7. jika si mayyit meninggalkan anak. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan. dan sisanya untuk saudara perempuan. 6." (QS An Nisaa‘: 11). Bapak dapat seperenam. ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian. bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. terj. "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah.com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan." (Al Ijma‘ hal.‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh.sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. karena dikiaskan kepada cucu perempuan. maka Abu Musa kemudian berkomentar. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya.html ) 21 . atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. 84). namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir).

Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat.[2] Ibnu Faris menyatakan. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri. Definisi ar-Rahn Rahn. Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini.” (Qs. Sehingga. Ironisnya.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. Sebagai akibatnya. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. ―Huruf ra`. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. ha`. suburnya usaha-usaha pegadaian. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama. Karena itulah. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini. dengan dasar firman Allah.‖ 4] 22 . ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. dalam bahasa Arab. yaitu sesuatu yang digadaikan. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. ―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia. kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖. khususnya di zaman kiwari ini. Ada yang menyatakan. di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia.

“Sesungguhnya.” (Qs. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar.” (Hr. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis.[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. as-Sunnah. dan beliau menggadaikan baju besinya. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. ―Tidak 23 . apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya.‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Akan tetapi. Dalil al-Quran adalah firman Allah. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian.‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut. karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn). maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). dan ijma‘ kaum muslimin. baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap). 2513 dan Muslim no. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. 1603) Demikian juga.―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Al-Bukhari no. Imam al-Qurthubi menyatakan. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum.

baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. tidak wajib. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn). [8] Demikian juga Ibnu Hazm. ad-Dhahak. Wallahu A‘lam. Pendapat pertama. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). 24 . ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. Selain itu. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. Ibnul Mundzir menyatakan. karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan. dan Daud (az-Zahiri). al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. [11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). Ia menyatakan.‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. tidak wajib pada keseluruhannya. Al-Bukhari no. dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. karena ar-rahn adalah jaminan utang. Ibnu Qudamah menyatakan. maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim.ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini. Syafi‘iyah. Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan. Demikian juga. Ibnu Qudamah berkata. ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. para ulama berselisih dalam dua pendapat. sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). kecuali dalam keadaan safar. sehingga tidak wajib untuk diserahkan. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. Malikiyah.” (Hr. 2512).‖ Akan tetapi. dan Hambaliyah). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). ‗Ar-rahn itu tidak ada. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama. 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan.

Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang. 25 .” (Qs. terkadang di suatu waktu. Al-Bukhari) Mereka menyatakan. maka dia batil walaupun ada seratus syarat. padahal harta sangat dicintai setiap jiwa.” (Hr. dengan ketentuan. ada yang kaya dan ada yang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya. Bisa jadi pula.Pendapat kedua. Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. AlBaqarah: 283) Demikian juga. hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya. “Akan tetapi. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. sehingga dia tertolak. Namun dalam keadaan itu. Wallahu a‘lam. Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. dia meminjam darinya. Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda.‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya. sehingga wajib untuk mengamalkannya. ―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah. Lalu. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. wajib dalam keadaan safar.

[17] 2. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. jenis. 3. dan melapangkan penguasa. yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang). Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i. Al-marhun bih (utang). [19] c. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. dan masyarakat. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. Bila ia berniat baik.Oleh karena itu. dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur). [15] 4. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. dan sifatnya. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib. dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. menghilangkan kegundahan di hatinya. Untuk rahin. memperkecil permusuhan. yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. 2. Dua pihak yang bertransaksi. yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. yaitu: 1. Adapun murtahin (pihak pemberi utang). [20] 3. Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah. Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. berakal.[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat. Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis. ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. [18] b. Shighah. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan). yaitu baligh. karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. pemberi utangan (murtahin).

serta Mazhab Zahiriyah. Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. Dengan demikian. dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang. Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya. serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. Ada kalanya pula. maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Demikian juga menurut Imam Malik. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―. 27 . ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli.Pendapat pertama. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh). bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. pertumbuhan barang gadai. Dalam ayat ini. [22] Pendapat kedua. dihitung bila barangnya dapat dihitung. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. seperti rumah dan tanah. barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. [23] Prof. sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima). Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya. karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. Dalam ayat ini. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. Dr. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. Selain itu.

“Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis.” (Qs. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. karena itu adalah miliknya. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . di antaranya: Pertama.‖ Demikian juga. Tentunya. pen). Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. hadits shahih) Kedua. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. TIrmidzi. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya.” (Hr. biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas. TIrmidzi. ―Menurut kesepakatan ulama. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan.pemanfaatan. serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang. sebagaimana firman Allah.” (Hr. hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan. Pada asalnya barang. pemegang barang gadai. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai. maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut).

maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat. maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah. ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak. Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. berdasarkan tuntutan keadilan. analogi (qiyas).karena dalil hadits shahih tersebut. pertumbuhan barang gadai. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Sehingga. no. maka ia termasuk dalam barang gadai. dan hewan tersebut. Malikiyah. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. tanpa izin dari penggadai. seperti (bertambah) gemuk. pemegang barang gadai (murtahin).‖ 27] Ketiga. Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai. yaitu mengendarai dan memeras susunya.(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah. maka murtahin mengambil manfaat. Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah.” (Hr. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. dengan kesepakatan 29 . serta untuk kemaslahatan penggadai. [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan. dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. Al-Bukhari. Bila tergabung. 2512). Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah. “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya.” (Hr.

maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya. serta yang menyepakatinya. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. [28] Keempat. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. Hanya saja. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. Kemudian. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. Pada zaman jahiliyah dahulu. serta yang menyepakatinya. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. maka murtahin melepas barang tersebut. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. Karenanya. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya.ulama. Abu hanifah dan Imam Ahmad. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui. Adapun bila dia terpisah. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. 30 . Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. [29] Demikianlah. karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini.

Selain itu. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. Qismul Muamalah. [30] Yang rajih. Madar alWathani lin Nasyr. Syekh Abdullah al-Bassam. Wallahul Muwaffiq. KSA. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai. cetakan pertama. 5. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Ibnu Qudamah. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah.Com 31 . Imam Nawawi. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. Prof. 4. KSA. cetakan tahun 1419 H. dan Dr.Apabila dia tidak juga menjualnya. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. sampai ia menjual barang gadainya. Dr. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. Artikel: EkonomiSyariat. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. 2. tahun 1422 H. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. Kairo. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. cetakan kedua. Mughni. Prof. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. tahun 1412 H. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. tidak seperti realita yang banyak berlaku. Beirut. Referensi: 1. 3. cetakan kelima. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. dalam rangka meniadakan kezaliman. Mesir. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. Makkah. maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. tahqiq Dr. bahkan mungkin berlipat-lipat. tahun 1423 H. Dr. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. tahun 1425 H. Penerbit Hajar. Maktabah al-Asadi. juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. Riyadh. cetakan pertama. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah.

hlm. [12]Al-Mughni: 6/444. [26]Al-Fiqh al-Muyassar. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. Ibnu Qudamah. KSA. Kairo. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. [10]Fathul Bari: 5/140. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. 116. 116. Madar al-Wathani lin Nasyr. 32 . cetakan pertama. 115. hlm. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. tahun 1423.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. Prof. [5] Lihat: Mughni. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. hlm. Beirut. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. Makkah. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. dan Dr. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. penerbit Hajar. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. [2] Lisan al-Arab. 117. 116. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. Maktabah al-Asadi. 12/299—300. 4/460. 116. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. [11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. cetakan tahun 1419 H. cetakan kelima. Prof. tahun 1412 H. hlm. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. cetakan pertama. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. KSA. dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. [22]Al-Mughni: 6/446. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. hlm. Imam Nawawi. 119. Dr. [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. 6/443. hlm. Qismul Mu‘amalah. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107. tahun 1422 H. cetakan kedua. tahun 1425H. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. al-Fiqh al-Muyassar hlm. atau berupa perbuatan. 6/102. 117. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. Syekh Abdullah Al Bassam. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. Riyadh. [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. Mesir. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. 116. tahqiq Dr. hlm.

maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd. sehingga ia mencari jasa seorang perantara. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I. Jadi. laba) dari harga asal yang telah disepakati. 3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah.[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri.[3] Ivan Rahmawan A. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory).[1] Secara terminologis. Dalam akad ini. yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'. Dalam ilmu fiqh. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya. penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli. Dalam murabahah. mark up harga. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. II. Dengan defenisi ini.[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi. Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'. 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal.[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan). 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 . 2 bulan.

..... hutang piutang. Q." . R. Ibnu Majah). III..... muqaradhah (mudharabah).. mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] . maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum. "Hai orang-orang yang beriman. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.S.‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 ..." (H.S. karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa. apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli." 2. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman. adanya kerelaan di antara keduanya.. Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh.. Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q.. Q. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3.. Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan.وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw. Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang.dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. al-Baqarah [2]: 275.. hendaklah kamu menuliskannya.. ". Hadis Nabi saw..." .[9] 1.[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah.. bukan untuk dijual. al-Maidah [5]: 1..S. bersabda.nasabah) atau dengan kata lain. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . َ ْ . al-Baqarah [2]: 282. 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk). dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah.‫.

5) Hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut." 6. 3. al-Baqarah [2]: 275.S. Q. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya. Q. 5 (kaidah yang pertama)." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah". 3.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ. an-Nisa' [4]: 29. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah. Q. yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'. Hadis Nabi saw. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah"." 4. Demikian pula.S. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . Hadis tersebut adalah sebagai berikut. 4. bersabda. ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ. Q.S.S.. . "Pada dasarnya. yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih. al-Maidah [5]: 1. di sana terdapat hukum Allah. dan kaidah usul al-fiqh berikut."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2. ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ . bahwasanya Rasulullah saw.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan." .[11] 1. {سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6." 5. al-Maidah [5]: 2. 2.‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. Hadis Nabi saw. Kaidah Usul al-Fiqh.

"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. 1) Para pihak (al-'aqidan. ‫. فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. 2) Pembeli (musytari).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya.[13] 2. Hadis Nabi saw. 1) Penjual (ba'i).[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah. 3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain). 4) Harga (saman). sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'. َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . Profil Singkat tentang Murabahah 1. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 3) Barang/ objek (mabi')." . 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). maka Rasulullah saw. 'Wahai Nabi Allah. 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli).‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV.ٓ‫ىٌَ تَحو. berkata. 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i). Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'. Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu. yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz). ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim)." 8.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd. 5) Ijab qabul (sigat). Kaidah Usul al-Fiqh. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. ‫. 36 . 7.)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd. 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain)..)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd. ٌِ‫.

5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim). )[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual. Dalam hal ini. Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual. batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas. 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar). Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah). 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang.[17] 3. 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual. dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya. Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli. misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan. membayar biaya overhead. dan semacamnya.1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah). dan 4) pembayarannya ditangguhkan.[15] Di samping syarat-syarat di atas. rekening listrik. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. bank harus 37 . Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri. terdapat juga syarat-syarat khusus. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang.[18] I.

memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V. ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli. karena secara hukum. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. nasabah wajib melunasi kekurangannya III. maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II. Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 .

murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur. dapat dilihat tabel berikut. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah. secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). murabahah yang naqdan tidak ada. atau berdasarkan kesepakatan. 2. Jadi. Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5. Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 .   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. 4. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI. Adapun murabahah. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja). Asia. Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya.(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali.[21] No. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil. Eropa. Australia. yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. Oleh karena itu.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. tidak terdapat pembayaran secara kontan. Karim. sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil". Dalam penerapannya diperbankan. karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2. seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A. 1. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.[20] No.

 Berkurang sebesar pembayaran dsb. bank mengalami rugi. Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya. yang besarnya merupakan anusitas. floating.3. 4. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu. 11. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank. maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . 6. 5.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada). promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual. 10. karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat. 8. harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap.  Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan. sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. 9. 7. bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN).

73 % pembiayaannya adalah murabahah. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989. pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. Sejak tahun 1984. meliputi 75% dari total kekayaan mereka. V. uang muka  Jika dilaksanakan. atau membayar pokok saja. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar. sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran.12. 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa.[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. bukan setelah penjualan dilakukan. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan. yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. dst. di Pakistan. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas. Pada kasus Dubai Islamic Bank. Sejumlah alasan tersebut adalah. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an. bank Islam paling awal pada sektor swasta. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. Oleh karena itu. bagi Islamic Development Bank (IDB). 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama. karena bank bukanlah mitra nasabah. selama lebih 10 tahun periode pembiayaan.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 . dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. Bahkan.

Abdullah.T.. Heri. Muhammad Syafi'i. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi. Jakarta: P. Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. terj. Yogyakarta: Pilar Media. terj.. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. 2001 Karim. [1]Abdullah 42 . Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah. dan Muhammad Syafi'i Antonio. 2004 Perwataatmadja. Jakarta: Gema Insani Press. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. terj. 2004 Sam. Dana Bhakti Prima Yasa. 1999 Rahmawan A. Ivan. Yogyakarta: P. M. Intermasa. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya. 25.jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. 2001 Muhammad. 2004 Wiroso. (ed. 6. Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P. Yogyakarta: UII Press. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. Karanaen A. 2005 Saeed. saling menguntungkan. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. Adiwarman A. Yogyakarta: UII Press. hlm. Jual Beli Murabahah. 1999).[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Dana Bhakti Prima Yasa. hlm.T. 198. Abu Umar Basyir. Yogyakarta: EKONISIA. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. Jakarta: Gema Insani Press.T. Arif Maftuhin. 2004). 2003 Sudarsono. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. 2006 al-Mushlih. Daftar Pustaka Antonio.[26] VI. Jakarta: PARAMADINA. Jakarta: Darul Haq. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. [2]Karanaen A. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah. Apa dan Bagaimana Bank Islam. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. Ichwan dkk.). Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong.

cit. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media.52.cit. op.. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press. terj. hlm.. 56. hlm. Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah.cit. [5]Heri Sudarsono. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. hlm. hlm. [7]Ibid.. 121 dan Muhammad. 94-95. 101. op. hlm. 4749. 58...T. hlm.Syafi'i Antonio. op.. hlm.). op. hlm.. hlm. Karim. [14]Print out. hlm. [9]M. 2003). hlm.. hlm. 2001). [15]Ibid. [24]Abdullah Saeed.. hlm. 113. [20]Wiroso.cit. 93. 2004). 102. [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. 2005). op. tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum. hlm.. [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. [17]Abdullah Saeed...cit.. op.. hlm.cit. Syamsul Anwar. op. 90. Intermasa.. [21]Ibid. [13]Ivan. (ed. 112-113. 49. [22]Abdullah Saeed.op. hlm. hlm. [10]Ibid. 94. hlm. 123-124 dan Muhammad. 2005). Ichwan Sam dkk..cit. lo. [18]Wiroso. [4]Ivan Rahmawan A. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. [3]Muhammad 43 . hlm. 121-122 dan Muhammad. 97. [26]Abdullah . op. 2006). Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis.. 198-199. [19]Adiwarman A. 119. hlm. hlm. hlm. op. [25]Abdullah Saeed.cit. hlm.cit. 62.. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA. 54-55. 59.. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah.. 146-148.cit.cit. hlm. [11]Ibid. 83-85. [23]Ibid. 126 dan Muhammad... op. 99-100. hlm. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. [16]Ibid. op. Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA. hlm. Lihat ibid. 99-100. [6]Abdullah Saeed...cit.cit. 2001). 2004).. hlm 120 dan Muhammad.

Juz 4. PENGERTIAN 1. Menurut syara’ (terminologi) a. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. Juz 4. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. 174) b. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin. Juz 5. (Alauddin al-Kasani. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat). Al-Qur’an Allah Swt berfirman. Juz 2. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. (Muhammad asy-Syarbini. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. 332) c. hal. 2. DASAR HUKUM 1.S. hal. Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖. 44 . 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. Mughni al-Muhtaj. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. al-Mughni. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. B. hal. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. Sewa digunakan untuk benda. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. hal.BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. (Q. Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan). Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah.

S. As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman. ―Berbekamlah kamu. beritahukanlah upahnya‖. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja). Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. al-ikhtira‘ dan al-ikra. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖.S. 45 . (HR. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. (Q. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D. C. Ujrah (upah) 4. rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. Adapun menurut jumhur ulama. „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. (HR. Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3. aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. (Q. Al-Qashash 28 : 26) 2. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). RUKUN Menurut ulama Hanafiyah. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. tidak disyaratkan harus baligh. (HR.ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖. al-isti‘jar. (HR.

3. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. 2. Juz 4. Ibnu Majah) 4. Mughni al-Muhtaj.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. (HR. hal. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. (Alauddin al-Kasani. (HR. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.S. Juz 2. (Syarh al-Kabir li Dardir. Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. 179) Allah Swt berfirman. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. (Muhammad asy-Syarbini. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. hal. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda. Juz 4. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. hal. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta. (Q.

(Alauddin al-Kasani. (Muhammad asy-Syarbini. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya. juz 2. h. Juz 4. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya. 182) e. ―Saya sewa selama sebulan‖.Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . Jadi. Juz 1. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. (Abu Ishaq asy-Syirazi. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad. 396) d. Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘. Para ulama sepakat melarang ijarah. Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. hal. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. hal. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. Akad yang benar adalah dengan berkata. (Ibnu Rusyd. hal. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama. Juz 2. hal. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. b. 195) . f. seseorang tidak boleh berkata. c.. 218) g. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. hal. Juz 4. sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. (Alauddin al-Kasani. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. al-Muhadzdzab. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Tidak sah dengan berkata. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. Mughni al-Muhtaj.

Cara memanfaatkan barang sewaan . baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. (Ibnu Qudamah. Juz 4. Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2. dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. 449) E. hal. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya. alMughni. b. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum.a. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. 48 . hal. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat. d. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. Juz 5. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad. b. shaum dan lain-lain. c. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah. ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. HUKUM IJARAH 1. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. . (Alauddin al-Kasani. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah. Jika tidak dijelaskan. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. ijarah dipandang rusak.

pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. azan. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a.Jika yang disewa kendaraan. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa. seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. Juz 4. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani. haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. hal. UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b. Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain.Menyerahkan kunci. d. jika barang yang disewakan rusak. kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : . haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya. shaum.Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖.Mempercepat tanpa adanya syarat . c. Adapun hal-hal kecil. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. Rasulullah Saw bersabda. Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat. Rasulullah Saw bersabda. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat. Contohnya seperti jasa menjahit pakaian. haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut. 49 . ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖. qamat dan menjadi imam. 209) . ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela. membangun rumah dan lain-lain.. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. jika yang disewa rumah . Hukumnya. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut. seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. shaum.

menggali kuburan. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. khat. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. apabila seorang muslim wafat. (Q. Madzhab Maliki. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. hadits. Bila tidak ada pekerjaan lain.S. qamat. Namun.Perbuatan seperti azan. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. Allah Swt berfirman. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. sastra. shalat. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara. haji. fiqh. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. 3. hadits dan fiqih. shalat dan ibadah yang lainnya. fiqih. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. 2. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung. sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. mereka diberi upah. 4. H. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. azan dan badal Haji. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. qamat. hadits. shaum. membangun masjid. bahasa. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. mengajarkan Al-Qur‘an. maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain.

Menurut madzhab Maliki. Seperti penyewaan seekor kerbau. Jika menyewa barang. maka ulama berbeda pendapat. Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. gempa dll. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. baik disengaja ataupun tidak. I. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. 51 . Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. maka dia harus mempertanggungjawabkannya. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak. Ibnu Majah) 2. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. Bila ada kerusakan pada benda yang disewa. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. J. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. kebakaran. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. lebih kecil atau sama. (HR. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.

(Sumber http://pasar-islam. musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap). Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. 3. berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5. Jika barang itu dapat dipindahkan. seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. K. PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir. Menurut Hanafiyah.blogspot.Misalnya menyewa mobil. Rusaknya barang yang disewakan. seperti rumah menjadi runtuh.html) 52 . kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L.

Oleh karena itu. Ahmad. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit. maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I.salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Abu Hanifah. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia. Menurut Malik. dan Dawud. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya. Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya.BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 . apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah. Abu Tsaur. Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. Akan tetapi.

Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C. apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya. Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian.‖ B. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal. HIBAH A. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga. Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr. Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit. Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu.

dan mukallaf) 11. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). maka pemberi hibah tidak terikat. Menurut Malik. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini. Kedua. Macam-macam Hibah 1. Apabila barang tidak diterima. maka hibah tersebut batal. Orang yang sah memilikinya 6. Ahmad. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. 55 . maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. dan sekelompok fuqaha lainnya. D. selama umurku masih ada. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. Syafi‘i. Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. Menyempurnakan pemberian 9. hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. Tidak disertai syarat waktu 10. dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah. Sah menerimanya 7. Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. Abu Hanifah. Apabila orang tersebut meninggal dunia. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. untukmu dan keturunanmu‖. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. Hibah barang 2. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. ats-Tsauri. dan minhah (pemberian). hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli. Harta yang diperjualbelikan 4. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Terpilih dan sungguh-sungguh 3. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. Ketiga.1. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. ‗ariyyah (pinjaman). Tanpa adanya pengganti 5.

b.a. jangan kalian berikan seumur hidup. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. Selain itu. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali.a. dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit. Sebab. Hanya saja. 56 . tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. Dengan demkian.‖ (HR. dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw. Akan tetapi. Oleh karena itu.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya. Kedua. ― Wahai golongan Anshar.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. Hukum Hibah a. E. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. Dalam hal ini. hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r.a. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah.‖ (HR.a. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. hadis Abu Zubair dari Jabir r. yang diberi hibah harus ridha. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. Dan hadis Malik dari Jabir r. tahanlah untukmu hartamu.‖ (HR. ada dua hal : Pertama. sebaliknya.

kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. 57 .pemberi yang disyaratkan dalam akad. Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. a. seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah. yaitu : yang melarang wahib 1.yakni untuk memperolah keridaan Allah.pemberian dalam hubungan suami istri. Penerima membrikan ganti . b. Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. Barang yang dihibahkan rusak. 3. Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil. apabila ayah masih hidup. Ulama Malikiyah. Penerima maknawi .pahala dari Allah. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan. seperti dijual kepada orang lain. 5. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. a. Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah . Masalah Hibah 1.pemberian dalam rangka silaturahmi.Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan.pengganti yang diakhirkan.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh. dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram). Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4. c. 6. sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi. Salah seorang yang akad meninggal. Hanabilah. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali. b. Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang.‖ E. Dalam pada itu. 2.

3. Jakarta : Putaka Amani. 374375 Helmi Karim. 3. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah. cet. edisi 1. 2. 2007. 96 Ibnu Rusyd. Bidayatul Mujtahid. 2006. Bandung : Pustaka Setia. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh. jilid. Bidayatul Mujtahid. cet. Menurut Malik. Syafi‘I. Rachmat. 1997. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. cet. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. 3 Syafe‘i. menurut-islam. Fiqh Muamalah. 242246 Ibnu Rusyd. Ibnu.‖ (HR. jilid. Jakarta : Putaka Amani. hal.com/2009/06/hibah- 58 . 247249 Ibnu Rusyd. Bandung : Pustaka Setia. 2. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. hal. DAFTAR PUSTAKA Rusyd.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. 351358 Rachmat Syafe‘i. Jakarta : Putaka Amani. edisi 1. Bidayatul Mujtahid. 2 Helmi Karim. 3.html) http://puspitagiana.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi. 2006. 3. 1997. Jakarta : Putaka Amani. 2007. Fiqh Muamalah.blogspot. hal. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. 2007. 1997. cet. Fiqh Muamalah. Fiqh Muamalah. 2006. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya. edisi 1. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan. 3. hal. Helmi. 350361 (Sumber: Puspita. Fiqh Muamalah.‖ (HR. Bukhari dan Nasai) 2. 3 Karim. jilid. cet. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. Bidayatul Mujtahid. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. Ahmad. hal. Menurut Syafi‘I. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. hal. Fiqh Muamalah. 3. 2007. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. jilid. cet.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum). 73 Rachmat Syafe‘i. Bandung : Pustaka Setia. hal.

3. WAKALAH 1. menyembelih hewan kurban dan sebagainya. Al Kahfi : 19). 2. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa.Rukun dan Syarat Wakalah a.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A. Allah SWT. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. Rasulullah SAW. Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. Misalnya mewakilkan jual beli. Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut. Bukhari). memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain. Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR. 59 . Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. c. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan. b. sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. menggadaikan barang.. Masalah / Urusan yang dikuasakan. mewakilkan memberi zakat. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah.

SULHU 1. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama. 5. Hikmah Wakalah a. Akad (Ijab Qabul). Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara.d. 4. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. Jika salah satu pihak menjadi gila 3. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. b. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa. B. Salah satu pihak meninggal dunia 2. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. 3. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. 60 . 2. 2. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai. Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. “Perdamaian itu amat baik” (QS. c. An Nisa‟ : 128). Habisnya Akad Wakalah 1. Al Hujurat : 10). Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa.

61 . b. 4. Al Hujurat). Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum. dapat menghadirkan pihak ketiga. 5. Jika dipandang perlu. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. Hikmah Sulhu 1. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Rukun dan Syarat Sulhu a. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. angkara murka dan perselisihan diantara sesama. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain. 3. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. d. sulhu macamnya sebagai berikut : 1. Tidak ada paksaan. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai.3. 4. 5. Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. Dapat menghilangkan rasa dendam. Perdamaian antar sesama muslim 2. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. 2. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). 5. Perdamaian antara suami istri. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). c. maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. 4.

Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. diantaranya adalah: 1. 3. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam.BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. B. dalam hal ini Perusahaan Asuransi. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. yang artinya:―Dan tidak 62 . Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya. Penanggung. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. Tertanggung. merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. 2. 4. baik itu berbentuk imbalan. Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. pihak penanggung dan pihak tertanggung. yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b. sebagaimana firman Allah SWT.

mencarinya dan mengikhtiarkannya.  Asuransi mengandung unsur riba/renten.  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.‖ (Q. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. S. 63 . Allah telah menyiapkan bahan mentah. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi. karena pemegang polis. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). Manusia masih perlu mengolahnya. S. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah). Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga. Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania). Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. bukan bahan matang.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash. · Saling menguntungkan kedua belah pihak. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria). Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir).  Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba. termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. II. dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti.‖ (Q. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup. akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). dan Abd. yaitu: I. yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari.ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya. S.  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis. Wahab Khalaf. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum.

masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. saling menjamin.Dari uraian di atas dapat dipahami. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo).III. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan.‖ 2. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). sehingga sukar untuk menentukan. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. Apabila uang itu akan dikembangkan.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. diantaranya adalah Sbb: 64 . Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh. dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh). Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ). Allah SWT berfirman. Kalau terjadi peristiwa. 5. Jalan alternatif baru yang ditawarkan.‖ (HR. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. 4. maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i. Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. 6. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. maka diselesaikan menurut syariat. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A. B. oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali.‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. 3. tolong menolong.Dalam keadaan begini. yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar.

Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. 2. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba. dan biaya. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. Atau jika tidak tabarru‘. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. dengan tidak kurang dan tidak lebih. 3. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota. dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. diantaranya sbb: 1. C. 2. Pemerataan biaya. E. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4. 4. 5. Jika diamati dengan seksama. 65 . Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. yaitu: 1. dan kalau ada imbalan. 8. Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. Manfaat asuransi syariah. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. 6. waktu. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah.masing pihak. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Juga meningkatkan efesiensi. 7. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong. 5. D. 3. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.1. 4. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. 2. Sebagai tabungan.

maka hal itu tidak mendapat perhatian. Sedangkan dalam asuransi konvensional. asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal. Dari perbandingan di atas. dengan prinsip bagi hasil. 5.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . 1. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan. Sedangkan pada asuransi konvensional. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. 6. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola.wordpress. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). 4. nasabah tak memperoleh apa-apa. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. Sedangkan dalam asuransi konvensional. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. 3. investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. Adapun dalam asuransi konvensional. Jika tak ada klaim. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah).Dibandingkan asuransi konvensional. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Sedangkan pada asuransi konvensional. (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful