P. 1
HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM.docx

HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM.docx

|Views: 293|Likes:
Published by usamah irham

More info:

Published by: usamah irham on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2015

pdf

text

original

HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi. selanjutnya menulis. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka. kecuali faham fiqh muamalah 3 . Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita. ―Fiqh muamalah ekonomi. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. tanpa ia sadari. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM. Husein Shahhatah. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu.R. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis.

Dan Syu‟aib berkata. Ia berkata. (Hud : 84. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. “Hai Kaumku sembahlah Allah.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”.Sehubungan dengan itulah Dr. “Hai Syu‟aib. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah.Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami utus saudara mereka. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini. Artinya : Mereka berkata. Syu‟aib. Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. 4 . Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.

asuransi) 7. Hak Milik. (Baca tulisan Prof. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. (hlm. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah.Ayat ini berisi dua peringatan penting. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4. sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. tanpa aturan syari‘ah. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6.Yusuf Qardhawi. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. Harta. Prof. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati.Ali Ash-Sjabuni. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖. Prof Muhammad Akram Khan). Muamalah adalah Sunnah Para Nabi. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. yang disebut dengan syari‘ah.16). Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. yaitu aqidah dan muamalaH. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. Prof Umar Chapra. Syirkah (tentang perkongsian) 5 . Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. Adh-Dhaman (jaminan. Hiwalah (pengalihan hutang) 5. Berdasarkan ayat-ayat di atas. Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. agar tak muncul salah faham tentang syariah.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

alat-alat musik. berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ". Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad.seperti khomer. maka apabila mengenai suatu baju.. dan seekor burung yang terbang di udara. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". seekor unta yang kabur. dan patung (Mutafaq alaihi). dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. susu dalam kantonggnya. Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis.Saudi Arabia) 9 . maka itu (harganya0 sekian. 2. bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai. 3. atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya. maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku.". maka tidak sah jual belinya. atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. mengharamkan babi dan harganya". maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. maka beliau berata. karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri. sedangkan penipuan terlarang. khomer. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi . Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai). karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. mengharamkan bangkai dan harganya.

maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Karena itu. mendirikan shalat. Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. pada waktu pagi dan waktu petang. melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah. Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. 24:36-37-38)." (QS. Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu). Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Al Jumu‘ah : 9). dan membayarkan zakat. dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka." (QS. yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. 10 . Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. Demikian juga shalat fardhu lainnya. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian. Maka. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran." Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman.Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. 977. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya.. Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖. begitupun sebaliknya. Shahih Al Jami‘ : 2778). Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan. Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖. seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah." (QS. (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota). Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. (Shahih Tirmidzi.‖(Mutafaq alaihi). Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. pent). Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya. Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268. Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya. 4:141). ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖.

Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan. seseorang menjual barang seharga Rp 20. dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline. Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah). http://www.salafy. Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if . Lc.000 kontan.Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―. Adapun harga Rp 20. Misalnya. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam).id/print.‖ (Silsilah As Shahihah : 11.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih).000 dengan cara kredit. sampai kalian kembail kepada agama kalian. Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. padahal intinya adalah riba.php?id_artikel=66) 12 . sehingga kalian meninggalkan jihad. kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit.or. Diarsipkan al akh Fikri Thalib. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15. dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian. Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya.

BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. begitu pula di Malaysia. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. baik bonus bulanan. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. baik pada produknya atau pada sistemnya. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus. Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). tahunan ataupun bonus-bonus lainnya. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. Keadaan mereka yang demikian itu. Dalam istilah MLM. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM.000 an. 13 . Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. dengan menggunakan konsep syariah. Menurut data di internet. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10. yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29. misalnya riba dan gharar. itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas.

MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. sistem pengelolaan. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. dan urusannya (terserah) kepada Allah. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. Dengan demikian. distribusi. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. hukum muamalah. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. Ketiga. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. seperti perbedaan motivasi dan niat. Kelima. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia.maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Orang yang kembali (mengambil riba). misi. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. visi. Keempat. maupun konsumennya. Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖. pengawasan dan sebagainya. Ketiga. kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. Dalam MLM Syari‘ah. Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. Keempat. Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. prinsip. Kedua. Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. harus menggunakan kekuatan jaringan. Kedua. orientasi. Pertama. komoditi. adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. Sedangkan misinya adalah: Pertama. mereka kekal di dalamnya‖. mengangkat derajat ekonomi umat. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. mengutamakan produk dalam negeri. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. bisa diwujudkan. akhlak. Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘). memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. baik jaringan produksi. Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini.

Keenam.menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran. meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No. kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini. 15 . U-299/DSN-MUI/XI/2007. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan.com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah. Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis. PT UFO. Saat ini.

Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah. lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. lalu penyempurnaan wasiatnya. Tatkala Islam datang. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah. Irwa-ul Ghalil no: 1667. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205).” (QS an-Nisaa‘: 11). Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 . ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). dan itulah kemenangan yang besar. khususnya dalam hal warisan.” (QS an-Nisaa‘: 13-14).” (QS alBaqarah: 237). sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. dan kepada orang-orang dewasa. ketentuan. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. dan disebut pula “Faridhah. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1. Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia. niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12). dan baginya adzab yang menghinakan. Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. sedang mereka kekal di dalamnya. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195. Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah. dan tidak diberikan anak-anak kecil. barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. dan tidak diberikan kepada perempuan. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.

Allah swt berfirman: 17 . ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab. Muslim III: 1233 no: 1614.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. 5 dan 6. Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. 2. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. Tirmidzi III: 286 no: 2189. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas." (QS An Nisaa‘: 11). Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645). Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. 3 dan 4. “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim. bukan menjadi miliknya. 3. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. Dan datuk termasuk ayah." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315.‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157.” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Irwa-ul Ghalil no: 1672. Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan. dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.2. maka ia menjadi milik tuannya juga. Baihaqi X: 292). ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892)." (QS An Nisaa‘: 11). ia bersabda. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. 3. Muslim III: 1400 no: 1776. Mustadrak Hakim IV: 341.

Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud. 5. Ibu dan nenek. bagi masing-masing seperenam. 7. Perempuan yang memerdekakan budak. Isteri." (QS An Nisaa‘: 11). Suami. Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Saudara perempuan. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. Paman dan anaknya serta seterusnya. Sabda Nabi saw: 18 . 9. 7 dan 8." (QS An Nisaa‘: 176). Laki-laki yang memerdekakan budak. Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). 3 dan 4. Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. Muslim III: 1233 no: 1615. Sunan Ibnu Majah II: 915 no. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan." (QS An Nisaa‘: 176). kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit). 2740)." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. 6. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak." (QS An Nisaa‘: 12). Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. 10." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732." (QS An Nisaa‘: 12). ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881." (QS An Nisaa‘: 11). jika ia tidak mempunyai anak.

Muslim II: 1141 no: 1504. maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan." (QS An Nisaa‘: 11). jika kamu tidak meninggalkan anak. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. 79) 4." (QS An Nisaa‘: 12). Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. Isteri." (QS An Nisaa‘: 176) B. jika mereka tidak meninggalkan anak. maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. 2. Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok. (kelima) sepertiga. maka ia dapat separuh. ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. jika suami tidak meninggalkan anak." (QS An Nisaa‘: 12). (ketiga) seperdelapan. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. (kedua) seperempat. Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan. (keempat) dua pertiga." (Al Ijma‘ hal. "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. bila si mayyit tidak meninggalkan anak. Yang dapat 1/2: 1. Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki. tanpa mempunyai saudara perempuan. 2. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri). Cucu perempuan. yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya). dan 5. C. dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456. Suami dapat seperempat. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. 19 ."Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya. dan (keenam) seperenam. dua orang. A." (QS An Nisaa‘: 12)." (QS An Nisaa‘: 12). kedua. Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. Ibnu Mundzir berkata. Seorang anak perempuan. Yang dapat 1/4 . padahal ia tidak mempunyai anak. karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham). Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. 1. 3. jika suami meninggalkan anak. jika isteri yang wafat meninggalkan anak. Yang dapat 1/8. hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan.

Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. 4. Yang dapat 2/3. maka ibunya dapat seperenam. Yang dapat 1/6. bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan." (QS An Nisaa‘: 176). jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara. jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 12). Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. empat orang 1 dan 2. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak. maka ibunya dapat sepertiga. Cucu perempuan. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan." (QS An Nisaa‘: 11). Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. E. bila si mayyit tidak meninggalkan ibu. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam." (QS An Nisaa‘: 11). "Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). ada tujuh orang: 1. maka bagi ibunya sepertiga. Seorang saudara seibu. dua orang: 1. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. 84). Ibu dapat seperenam. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. Ibnul Mundzir menegaskan. 2. jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang. dapat seperenam." (QS An Nisaa‘: 11). Nenek. 2. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu.D." Maka ia menjawab. jika yang meninggal itu mempunyai anak." (Al Ijma‘ hal. jika ia tidak mahjub (terhalang). tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu)." (QS An Nisaa‘: 12). 3. baik laki-laki ataupun perempuan. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan. dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. F. Ibu. Yang dapat 1/3. ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata.

jika (anak itu) mempunyai anak. 84). 797 . Saudara perempuan sebapak. 6. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh. Tirmidzi III: 285 no: 2173. http://alislamu.‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.808. Datuk (kakek) dapat seperenam. bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya. terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah). namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir). Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi.. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan." (Al Ijma‘ hal. dan sisanya untuk saudara perempuan. 7. Bapak dapat seperenam.‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. Fathul Bari XII: 17 no: 6736. maka Abu Musa kemudian berkomentar. Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya.com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan. hlm. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan. karena dikiaskan kepada cucu perempuan. buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya).sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). ‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). 5." (QS An Nisaa‘: 11). ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian.html ) 21 . "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah. jika si mayyit meninggalkan anak.

―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang. Sehingga. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka.‖ 4] 22 . ha`. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. dalam bahasa Arab. ―Huruf ra`. yaitu sesuatu yang digadaikan. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. suburnya usaha-usaha pegadaian. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖. ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. Ada yang menyatakan. Sebagai akibatnya. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri. dengan dasar firman Allah.[2] Ibnu Faris menyatakan. di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖. kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari. khususnya di zaman kiwari ini. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). Definisi ar-Rahn Rahn. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut.” (Qs. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia. Ironisnya. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. Karena itulah.

apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya. bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya.‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut.‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar. Dalil al-Quran adalah firman Allah. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Akan tetapi. 2513 dan Muslim no. Al-Bukhari no. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya.[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. as-Sunnah. baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap). jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn). dan beliau menggadaikan baju besinya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang.” (Qs. dan ijma‘ kaum muslimin.” (Hr.―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut. ―Tidak 23 . maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Imam al-Qurthubi menyatakan. 1603) Demikian juga. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. “Sesungguhnya.

seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). [11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi.ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ibnu Qudamah menyatakan. karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan.‖ Akan tetapi. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. Syafi‘iyah.‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. Pendapat pertama. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian). Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan. maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn). sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. Al-Bukhari no. para ulama berselisih dalam dua pendapat. Wallahu A‘lam. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.” (Hr. ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini. karena ar-rahn adalah jaminan utang. sehingga tidak wajib untuk diserahkan. ‗Ar-rahn itu tidak ada. ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. Selain itu. dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. tidak wajib. 2512). Malikiyah. karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. 24 . ad-Dhahak. Ia menyatakan. dan Daud (az-Zahiri). maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim. Demikian juga. Ibnul Mundzir menyatakan. dan Hambaliyah). [8] Demikian juga Ibnu Hazm. tidak wajib pada keseluruhannya. Ibnu Qudamah berkata. kecuali dalam keadaan safar.

Lalu. sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang. Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. ada yang kaya dan ada yang miskin. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda. maka dia batil walaupun ada seratus syarat. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah. Namun dalam keadaan itu. dengan ketentuan. Al-Bukhari) Mereka menyatakan. wajib dalam keadaan safar. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. dia meminjam darinya. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya.” (Hr. “Akan tetapi. Bisa jadi pula. dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya. sehingga wajib untuk mengamalkannya.” (Qs.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah.Pendapat kedua. hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya. 25 . Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. ―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. AlBaqarah: 283) Demikian juga. terkadang di suatu waktu.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya.‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. Wallahu a‘lam. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. sehingga dia tertolak. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya.

Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan). Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah. jenis. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. dan masyarakat. karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang). Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. berakal. memperkecil permusuhan. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya.Oleh karena itu. dan sifatnya. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur). yaitu baligh. Untuk rahin. ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. pemberi utangan (murtahin). Shighah. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia. [19] c.[17] 2. menghilangkan kegundahan di hatinya. [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn. yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . Dua pihak yang bertransaksi. yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. 3. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. [15] 4. Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). Bila ia berniat baik. Adapun murtahin (pihak pemberi utang). Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis.[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat. Al-marhun bih (utang). dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. dan melapangkan penguasa. [20] 3. yaitu: 1. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. 2. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. [18] b. Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.

barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. serta Mazhab Zahiriyah. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. Demikian juga menurut Imam Malik. [22] Pendapat kedua. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh). Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―. bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang. Dalam ayat ini. Dr. dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya.Pendapat pertama. pertumbuhan barang gadai. Dengan demikian. Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima). maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. [23] Prof. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. Selain itu. 27 . seperti rumah dan tanah. Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). Dalam ayat ini. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. Ada kalanya pula. sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. dihitung bila barangnya dapat dihitung.

serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang. pemegang barang gadai. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.pemanfaatan. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. TIrmidzi. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. karena itu adalah miliknya. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). pen). di antaranya: Pertama. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai. ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai. TIrmidzi. Pada asalnya barang. Tentunya. ―Menurut kesepakatan ulama. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan.” (Qs.‖ Demikian juga. sebagaimana firman Allah. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam.” (Hr. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas.” (Hr. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan. hadits shahih) Kedua. [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan. biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut).

Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah.” (Hr. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. no. dan hewan tersebut. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Sehingga. adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). yaitu mengendarai dan memeras susunya.‖ 27] Ketiga. pertumbuhan barang gadai. Malikiyah. serta untuk kemaslahatan penggadai. Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya. analogi (qiyas). [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. maka murtahin mengambil manfaat. 2512). maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. Bila tergabung. berdasarkan tuntutan keadilan. karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat. pemegang barang gadai (murtahin). dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. maka ia termasuk dalam barang gadai. Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah. Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai. tanpa izin dari penggadai. ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. Al-Bukhari.(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai.karena dalil hadits shahih tersebut. dengan kesepakatan 29 . maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. seperti (bertambah) gemuk. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah.” (Hr. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak.

berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. [29] Demikianlah. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. Pada zaman jahiliyah dahulu. maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. 30 . maka murtahin melepas barang tersebut. maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. serta yang menyepakatinya. Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. Adapun bila dia terpisah. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya. Kemudian. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. serta yang menyepakatinya. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. Hanya saja. maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. Karenanya. berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. [28] Keempat. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui.ulama. Abu hanifah dan Imam Ahmad.

Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. tahun 1425 H. KSA.Apabila dia tidak juga menjualnya. Referensi: 1. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. sampai ia menjual barang gadainya. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. Dr. juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. 3. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. Prof. 2. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. Maktabah al-Asadi. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. tahun 1423 H. tahun 1422 H. Makkah.Com 31 . maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. bahkan mungkin berlipat-lipat. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. Dr. Kairo. [30] Yang rajih. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. Artikel: EkonomiSyariat. dalam rangka meniadakan kezaliman. Wallahul Muwaffiq. Mughni. tahqiq Dr. cetakan kedua. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. Imam Nawawi. Syekh Abdullah al-Bassam. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. 4. Qismul Muamalah. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. cetakan pertama. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. 5. Selain itu. dan Dr. tidak seperti realita yang banyak berlaku. cetakan tahun 1419 H. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. KSA. Riyadh. cetakan kelima. cetakan pertama. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. Mesir. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Ibnu Qudamah. Madar alWathani lin Nasyr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. Prof. tahun 1412 H. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. Beirut. Penerbit Hajar. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang.

tahun 1425H. hlm. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. tahun 1412 H. Makkah. 117. cetakan kedua. hlm. hlm. tahun 1422 H. hlm. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. Syekh Abdullah Al Bassam. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. tahqiq Dr. 6/443. KSA. 32 . [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. 116. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. cetakan pertama. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. Beirut. 4/460. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. [22]Al-Mughni: 6/446. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. 116. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm. [2] Lisan al-Arab. Kairo. Dr. [10]Fathul Bari: 5/140. dan Dr. 116. Mesir. Ibnu Qudamah. hlm. dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. tahun 1423. 6/102. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. hlm. al-Fiqh al-Muyassar hlm. 115. 117. Prof. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. Prof. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107. Imam Nawawi. [11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. Riyadh. atau berupa perbuatan. cetakan pertama. 12/299—300. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. 119. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. Madar al-Wathani lin Nasyr. KSA. 116. cetakan tahun 1419 H. [26]Al-Fiqh al-Muyassar. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. penerbit Hajar. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. 116. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. [5] Lihat: Mughni. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. hlm. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. [12]Al-Mughni: 6/444. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. Qismul Mu‘amalah. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. cetakan kelima. Maktabah al-Asadi.

3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. mark up harga. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil. Dengan defenisi ini. penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli. sehingga ia mencari jasa seorang perantara.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd. Dalam akad ini. kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. laba) dari harga asal yang telah disepakati. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". Dalam murabahah. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan). murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya. 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 . ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory).[3] Ivan Rahmawan A. 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'. 2 bulan.[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan. Dalam ilmu fiqh.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I. Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil.[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.[1] Secara terminologis. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan. Jadi. II. Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'.[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi.

. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw. Hadis Nabi saw. Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah. adanya kerelaan di antara keduanya. hutang piutang.S.. 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk).. "... III.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman. hendaklah kamu menuliskannya. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ .. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh.. Q... al-Baqarah [2]: 275." ..nasabah) atau dengan kata lain. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3. "Hai orang-orang yang beriman. bukan untuk dijual. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf. R.." .‫. muqaradhah (mudharabah).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 ..[9] 1. karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa. َ ْ .. Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum.. Q.وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw.. apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli. Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang.S.. Ibnu Majah).... maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah.dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.S... bersabda. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah." 2. mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] . Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q." (H. al-Baqarah [2]: 282. al-Maidah [5]: 1..

al-Baqarah [2]: 275. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut. "Pada dasarnya. 2.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan kaidah usul al-fiqh berikut. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 4. Q." 4. ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ .. yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. al-Maidah [5]: 1. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'.S. .S. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah". ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah".‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. 3. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . di sana terdapat hukum Allah. 3. Q. Q. an-Nisa' [4]: 29. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz).[11] 1. Hadis tersebut adalah sebagai berikut. 5 (kaidah yang pertama). yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih. {سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6. ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. bahwasanya Rasulullah saw.S. Hadis Nabi saw. Demikian pula. bersabda."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. al-Maidah [5]: 2.S." ." 6. Q. Hadis Nabi saw. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2. Kaidah Usul al-Fiqh." 5. 5) Hadis Nabi saw. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya.

datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan. 3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain). sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'.)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli). َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . 36 . 2) Pembeli (musytari). maka Rasulullah saw.. Profil Singkat tentang Murabahah 1. ‫. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'. ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain. Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah. Kaidah Usul al-Fiqh. ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. 1) Penjual (ba'i). Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd. 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz).)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut.‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya." 8. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 7. Hadis Nabi saw. 4) Harga (saman).ٓ‫ىٌَ تَحو. ٌِ‫. فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. ‫. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim). 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i). 3) Barang/ objek (mabi'). 1) Para pihak (al-'aqidan. 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain).[13] 2.[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah. berkata. 5) Ijab qabul (sigat). 'Wahai Nabi Allah. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." .‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV.

Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri. Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. )[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti.[18] I. batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya.[15] Di samping syarat-syarat di atas. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang. Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual. Dalam hal ini. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah). Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas. 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang. 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian.1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah). dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. bank harus 37 . terdapat juga syarat-syarat khusus. 5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim). rekening listrik. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi.[17] 3. dan semacamnya. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual. membayar biaya overhead. 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar). 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya. dan 4) pembayarannya ditangguhkan.

nasabah wajib melunasi kekurangannya III. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut. maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. karena secara hukum.memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 .

Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5.   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. 1. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI. Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. murabahah yang naqdan tidak ada. tidak terdapat pembayaran secara kontan.[20] No. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja). di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 . Oleh karena itu. Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. atau berdasarkan kesepakatan. Jadi. dapat dilihat tabel berikut.(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Eropa. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil. murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil". Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2. seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali. 4. karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). Adapun murabahah.[21] No. Karim. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah. yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. 2. secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). Dalam penerapannya diperbankan. Australia. Asia. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.

maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . 8. 7. Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu. sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN). 11.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada).3. floating. diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat. 4. promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual.  Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan. 5. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap. 9. 6. harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan. yang besarnya merupakan anusitas. 10.  Berkurang sebesar pembayaran dsb. bank mengalami rugi.

atau membayar pokok saja. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran. 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya. bank Islam paling awal pada sektor swasta. sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. meliputi 75% dari total kekayaan mereka. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 . demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS. Sejumlah alasan tersebut adalah. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. Bahkan. karena bank bukanlah mitra nasabah. 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang.12. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS.[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah. di Pakistan. uang muka  Jika dilaksanakan. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an. dst. V. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama. Oleh karena itu. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. 73 % pembiayaannya adalah murabahah. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. bagi Islamic Development Bank (IDB). 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. selama lebih 10 tahun periode pembiayaan. Pada kasus Dubai Islamic Bank. Sejak tahun 1984. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh. bukan setelah penjualan dilakukan. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan.

Daftar Pustaka Antonio. 198. 1999). Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang. terj. Jual Beli Murabahah. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. 2005 Saeed. Jakarta: Gema Insani Press. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya. Dana Bhakti Prima Yasa. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah. 2001 Karim. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. Yogyakarta: EKONISIA. 2004). terj. Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong. Adiwarman A.T. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. saling menguntungkan. 1999 Rahmawan A. Yogyakarta: Pilar Media. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P. Ichwan dkk. hlm. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi.. Yogyakarta: UII Press.[26] VI. Heri. Dana Bhakti Prima Yasa. [1]Abdullah 42 . dan Muhammad Syafi'i Antonio. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi.jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Jakarta: PARAMADINA. 2004 Wiroso. Jakarta: Gema Insani Press. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. 6. M. Yogyakarta: P. terj. Ivan. Abdullah.[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Arif Maftuhin.. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah. Intermasa. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Jakarta: P. Abu Umar Basyir. 2003 Sudarsono. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. [2]Karanaen A.T. Jakarta: Darul Haq. 2004 Sam. Apa dan Bagaimana Bank Islam. Muhammad Syafi'i. Karanaen A. 2004 Perwataatmadja. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. 2006 al-Mushlih. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah. 2001 Muhammad. Yogyakarta: UII Press.).T. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. 25. hlm. (ed.

Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. [22]Abdullah Saeed. [19]Adiwarman A. hlm. [14]Print out.. hlm.cit. hlm. Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA.cit. 94-95.. [24]Abdullah Saeed.. Ichwan Sam dkk. hlm. 54-55.. hlm. 113. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. 99-100. 97. 119. lo. op. [10]Ibid. [6]Abdullah Saeed.Syafi'i Antonio.. hlm.. 83-85. 2001).. hlm. 101. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media. op.cit.. 2003). [13]Ivan. [20]Wiroso..cit. 198-199. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA. 146-148. hlm. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. op. hlm. [3]Muhammad 43 . hlm. 112-113. op. hlm.. hlm. 2004). op. 59.cit. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah. [26]Abdullah . 121-122 dan Muhammad. hlm. 2005). Lihat ibid. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. op. [5]Heri Sudarsono.. hlm. [11]Ibid. [18]Wiroso... hlm. terj. Intermasa.cit.. hlm. [9]M. [23]Ibid. Syamsul Anwar.. 94. hlm.. [25]Abdullah Saeed..cit.. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. 56.cit.. hlm. 2005).). Karim. [15]Ibid. 49. 126 dan Muhammad.cit. 2006). 2001). tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum. hlm.. 90. [16]Ibid.. hlm. hlm. [21]Ibid. hlm. op. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press. op. [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. 123-124 dan Muhammad. hlm.. [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. 62.op. hlm 120 dan Muhammad. op. [7]Ibid. [4]Ivan Rahmawan A. 58.52.T. [17]Abdullah Saeed. 121 dan Muhammad..cit. 99-100. 93. 102. op. 4749. hlm. (ed.. 2004). Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah. op.cit..cit.cit. hlm. hlm.

Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan).S. al-Mughni. ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. (Q. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Mughni al-Muhtaj. Juz 5. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. PENGERTIAN 1. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. (Muhammad asy-Syarbini. (Alauddin al-Kasani. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. hal. Juz 2. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah. 44 . Al-Qur’an Allah Swt berfirman. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat). Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin.BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. 332) c. hal. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖. Menurut syara’ (terminologi) a. 2. Juz 4. B. 174) b. hal. Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. Juz 4. DASAR HUKUM 1. 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. hal. Sewa digunakan untuk benda.

―Berbekamlah kamu. Adapun menurut jumhur ulama. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3.S. al-ikhtira‘ dan al-ikra. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda.S. al-isti‘jar. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. (HR. 45 . (Q. C. beritahukanlah upahnya‖. (Q. aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). RUKUN Menurut ulama Hanafiyah. (HR. Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. Ujrah (upah) 4. Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman. rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. (HR. (HR.ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖. Al-Qashash 28 : 26) 2. tidak disyaratkan harus baligh. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja). Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam.

seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Juz 4. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. (Alauddin al-Kasani. 179) Allah Swt berfirman. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. Ibnu Majah) 4. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta. 3. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. hal. (HR.S. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. (Syarh al-Kabir li Dardir. (Muhammad asy-Syarbini. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. Mughni al-Muhtaj. hal. Juz 4. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. hal. Juz 2. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. (Q.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda. (HR. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. 2.

sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi.Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . c. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. hal. ―Saya sewa selama sebulan‖. Akad yang benar adalah dengan berkata. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. hal. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. f. (Abu Ishaq asy-Syirazi. Juz 4. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. juz 2. (Muhammad asy-Syarbini. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. (Alauddin al-Kasani. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan. 195) . 182) e. Jadi. hal. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. Mughni al-Muhtaj. Para ulama sepakat melarang ijarah.. h. al-Muhadzdzab. Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya. (Alauddin al-Kasani. b. (Ibnu Rusyd. Tidak sah dengan berkata. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama. 396) d. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah. Juz 4. Juz 1. seseorang tidak boleh berkata. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya. 218) g. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. Juz 2. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah. hal. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. hal. Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘.

Jika tidak dijelaskan. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya. dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. shaum dan lain-lain. HUKUM IJARAH 1. hal. ijarah dipandang rusak. (Alauddin al-Kasani. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya. alMughni. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a. d. (Ibnu Qudamah. ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad. Juz 4. hal. Cara memanfaatkan barang sewaan . Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah. b. c. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum. 449) E. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat.a. b. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah. Juz 5. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. 48 . .

Contohnya seperti jasa menjahit pakaian. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b. Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa.Menyerahkan kunci. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan. Juz 4. haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja.. jika yang disewa rumah . kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : . UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. 49 . Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . hal. haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya. 209) . ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖. ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela.Jika yang disewa kendaraan. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖. Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut. haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. azan. membangun rumah dan lain-lain. c. shaum. shaum. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain.Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G. jika barang yang disewakan rusak. Adapun hal-hal kecil. Rasulullah Saw bersabda. pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Rasulullah Saw bersabda.Mempercepat tanpa adanya syarat . Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. qamat dan menjadi imam. Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat. seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. Hukumnya. d.

khat. fiqih. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. qamat. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. membangun masjid. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah. sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. 4. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara. shalat dan ibadah yang lainnya. Namun. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. H. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. shalat. qamat. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an.S. (Q. Allah Swt berfirman. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. Madzhab Maliki. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. apabila seorang muslim wafat. azan dan badal Haji. sastra. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. fiqh. bahasa. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. 2. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. mereka diberi upah. hadits. haji. hadits. 3. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. menggali kuburan. shaum. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. mengajarkan Al-Qur‘an.Perbuatan seperti azan. hadits dan fiqih. Bila tidak ada pekerjaan lain.

maka dia harus mempertanggungjawabkannya. sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. lebih kecil atau sama. ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. 51 . I. Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak. Seperti penyewaan seekor kerbau. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. Menurut madzhab Maliki. gempa dll. Jika menyewa barang. Bila ada kerusakan pada benda yang disewa. J. baik disengaja ataupun tidak. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. Ibnu Majah) 2. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. maka ulama berbeda pendapat. (HR. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak. kebakaran.

berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5.blogspot. kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah.Misalnya menyewa mobil. PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. Jika barang itu dapat dipindahkan. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap). Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. 3. musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan. seperti rumah menjadi runtuh. K. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1.html) 52 . Rusaknya barang yang disewakan. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L. Menurut Hanafiyah. seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2. (Sumber http://pasar-islam.

salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya. Menurut Malik. Abu Tsaur. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. Oleh karena itu. fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya. Ahmad. Abu Hanifah. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan. Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I. Akan tetapi. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut.BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 . Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. dan Dawud. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah.

Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian. Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit. Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C. Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . HIBAH A. Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah.‖ B. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal.

Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. Hibah barang 2. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). Menyempurnakan pemberian 9. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini. untukmu dan keturunanmu‖. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. dan sekelompok fuqaha lainnya. Tanpa adanya pengganti 5. Sah menerimanya 7. hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli. maka hibah tersebut batal. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. 55 . Kedua. ‗ariyyah (pinjaman). Syafi‘i. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. Ketiga. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. Apabila barang tidak diterima. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. maka pemberi hibah tidak terikat. apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Apabila orang tersebut meninggal dunia. Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. Menurut Malik. dan minhah (pemberian). Harta yang diperjualbelikan 4. Abu Hanifah. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. D. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. dan mukallaf) 11. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. Ahmad. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. selama umurku masih ada. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. Tidak disertai syarat waktu 10. dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah.1. ats-Tsauri. Macam-macam Hibah 1. Orang yang sah memilikinya 6. Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. Terpilih dan sungguh-sungguh 3.

Selain itu.‖ (HR. Sebab. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya.‖ (HR. Akan tetapi. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat.a. Kedua. 56 . hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r. dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali. Dalam hal ini. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini.a. Oleh karena itu. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. jangan kalian berikan seumur hidup. hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r. ― Wahai golongan Anshar. b. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti. yang diberi hibah harus ridha. Hukum Hibah a. sebaliknya. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan. ada dua hal : Pertama. Hanya saja. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah.a. tahanlah untukmu hartamu.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis.a. Dan hadis Malik dari Jabir r. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. Dengan demkian. hadis Abu Zubair dari Jabir r. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit.‖ (HR. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. E.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya.

pemberi yang disyaratkan dalam akad. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. 2. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil. yaitu : yang melarang wahib 1. Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah.pengganti yang diakhirkan.pahala dari Allah.‖ E. Penerima maknawi . dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah. Barang yang dihibahkan rusak. Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah . sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi. Hanabilah. Dalam pada itu. 3.Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Salah seorang yang akad meninggal. apabila ayah masih hidup. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali.pemberian dalam rangka silaturahmi. seperti dijual kepada orang lain. b.yakni untuk memperolah keridaan Allah. Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan. seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. Penerima membrikan ganti . Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4. Masalah Hibah 1. kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan. 57 . 5. 6. Ulama Malikiyah.pemberian dalam hubungan suami istri. c.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh. a. b. a. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram). Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya.

242246 Ibnu Rusyd. Bidayatul Mujtahid. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. cet. 3 Karim. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. Helmi. Bidayatul Mujtahid. Bandung : Pustaka Setia. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. edisi 1. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. Bidayatul Mujtahid. Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. jilid. Menurut Syafi‘I. 2007. 3. 73 Rachmat Syafe‘i. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. 3 Syafe‘i. Bandung : Pustaka Setia. 2. Jakarta : Putaka Amani. 2. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. Fiqh Muamalah. cet. 351358 Rachmat Syafe‘i. 350361 (Sumber: Puspita. hal. 2 Helmi Karim. 3. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Ibnu. 96 Ibnu Rusyd.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum). Fiqh Muamalah. hal. cet. jilid. hal. hal. 247249 Ibnu Rusyd. hal. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. Jakarta : Putaka Amani. Bandung : Pustaka Setia. menurut-islam. 2006. 3. Menurut Malik. 2006. jilid.‖ (HR.blogspot. 374375 Helmi Karim. 3. Rachmat. jilid. cet. 2007. 2007. Fiqh Muamalah.com/2009/06/hibah- 58 . Jakarta : Putaka Amani. Jakarta : Putaka Amani. cet. Ahmad.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 1997. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh.html) http://puspitagiana. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah. 2006. 3. Fiqh Muamalah. Fiqh Muamalah. DAFTAR PUSTAKA Rusyd. Fiqh Muamalah. edisi 1. 1997. 1997. 2007. Syafi‘I. hal. edisi 1. 3. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan. Bukhari dan Nasai) 2. hal. cet.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi.‖ (HR. Bidayatul Mujtahid.

WAKALAH 1. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. menggadaikan barang. menyembelih hewan kurban dan sebagainya. Masalah / Urusan yang dikuasakan. sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. 2.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. mewakilkan memberi zakat. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah. Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa. Al Kahfi : 19).. b. Rasulullah SAW.Rukun dan Syarat Wakalah a. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. 3. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra. Misalnya mewakilkan jual beli. Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. Allah SWT. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. 59 . Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat. Bukhari). c. Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A.

B. Salah satu pihak meninggal dunia 2. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa. Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa. 2. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain. Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. Al Hujurat : 10).d. Habisnya Akad Wakalah 1. Jika salah satu pihak menjadi gila 3. SULHU 1. Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai. “Perdamaian itu amat baik” (QS. b. 2. 5. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). 60 . didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. 3. c. An Nisa‟ : 128). sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. 4. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama. Hikmah Wakalah a. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. Akad (Ijab Qabul). Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4.

Perdamaian antar sesama muslim 2. dapat menghadirkan pihak ketiga. 4. Dapat menghilangkan rasa dendam. Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum. 61 . Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada paksaan. d. 5. 4. b. 5. 4. 5. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. c. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. angkara murka dan perselisihan diantara sesama. Jika dipandang perlu. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. 2. Al Hujurat). Rukun dan Syarat Sulhu a. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. sulhu macamnya sebagai berikut : 1. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). Hikmah Sulhu 1. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. 3.3. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Perdamaian antara suami istri. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain.

BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. dalam hal ini Perusahaan Asuransi. Penanggung. yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b. 4. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. baik itu berbentuk imbalan. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. B. pihak penanggung dan pihak tertanggung. sebagaimana firman Allah SWT. yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. 2.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. 3. yang artinya:―Dan tidak 62 . Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. diantaranya adalah: 1. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. Tertanggung.

Allah telah menyiapkan bahan mentah. Wahab Khalaf. · Saling menguntungkan kedua belah pihak. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup. karena pemegang polis. II. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. S. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum.  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis. mencarinya dan mengikhtiarkannya.ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya.  Asuransi mengandung unsur riba/renten. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria). temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. S. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah). dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga. apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. 63 . · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak. Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir). S. dan Abd.  Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba. yaitu: I. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash.‖ (Q.  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. bukan bahan matang. Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania). akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi.‖ (Q. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi. Manusia masih perlu mengolahnya. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Jalan alternatif baru yang ditawarkan. 4. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah. tolong menolong. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam.‖ (HR. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan.‖ 2. 3. diantaranya adalah Sbb: 64 .Dari uraian di atas dapat dipahami. 6. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo). harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. B.Dalam keadaan begini.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. Apabila uang itu akan dikembangkan. saling menjamin. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). sehingga sukar untuk menentukan. Kalau terjadi peristiwa. yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan. tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ). Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. maka diselesaikan menurut syariat. 5. dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh).Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh. maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i. bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman.‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.III. adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh.

Juga meningkatkan efesiensi. 2. 7. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota. 65 . diantaranya sbb: 1. Jika diamati dengan seksama. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. dan kalau ada imbalan. 5. E. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad.masing pihak. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. Atau jika tidak tabarru‘. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. D. Pemerataan biaya. waktu. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak.1. Sebagai tabungan. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). C. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. 3. dengan tidak kurang dan tidak lebih. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak.Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. 8. 5. 6. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. 4. 2. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4. dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba. yaitu: 1. 3. dan biaya. Manfaat asuransi syariah. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. 2. 4. Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong.

Sedangkan dalam asuransi konvensional. (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . 1. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan. investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. Jika tak ada klaim. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. 3. maka hal itu tidak mendapat perhatian. 6. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. 2. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). 5. premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. Sedangkan pada asuransi konvensional. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola. dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal. Dari perbandingan di atas. Sedangkan pada asuransi konvensional. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional. keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. nasabah tak memperoleh apa-apa. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. dengan prinsip bagi hasil.Dibandingkan asuransi konvensional.wordpress. 4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->