HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi.R. kecuali faham fiqh muamalah 3 . ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita. karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM. Husein Shahhatah. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli. seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. tanpa ia sadari. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis. ―Fiqh muamalah ekonomi. selanjutnya menulis.

Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Ia berkata. Syu‟aib. Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. (Hud : 84. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. Artinya : Mereka berkata.Dan Syu‟aib berkata. Kami utus saudara mereka. Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan.Sehubungan dengan itulah Dr. “Hai Kaumku sembahlah Allah. 4 . “Hai Syu‟aib.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah. apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi).Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.

tanpa aturan syari‘ah. Hiwalah (pengalihan hutang) 5. Adh-Dhaman (jaminan. Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. Prof Umar Chapra. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. yang disebut dengan syari‘ah. yaitu aqidah dan muamalaH. Berdasarkan ayat-ayat di atas. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6. Syirkah (tentang perkongsian) 5 .Yusuf Qardhawi. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati. (hlm. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. Prof. Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2. Prof Muhammad Akram Khan).16). Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. (Baca tulisan Prof.Ayat ini berisi dua peringatan penting. Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas. Hak Milik. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4. sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. asuransi) 7. maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah. Harta.Ali Ash-Sjabuni. agar tak muncul salah faham tentang syariah. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Muamalah adalah Sunnah Para Nabi.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

Saudi Arabia) 9 . mengharamkan babi dan harganya".. bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai. mengharamkan bangkai dan harganya. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya. seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi .seperti khomer. dan patung (Mutafaq alaihi). maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. 3. atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri.". 2. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. maka tidak sah jual belinya. berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ". seekor unta yang kabur. Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. dan seekor burung yang terbang di udara. sedangkan penipuan terlarang. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. khomer. Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai). Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis. maka beliau berata. alat-alat musik. maka apabila mengenai suatu baju. susu dalam kantonggnya. maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. maka itu (harganya0 sekian. karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada.

Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. Al Jumu‘ah : 9). Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. dan membayarkan zakat." (QS. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. 10 . pada waktu pagi dan waktu petang. 24:36-37-38). Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman. tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. Karena itu. Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu). yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu. mendirikan shalat. dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat." (QS. Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Demikian juga shalat fardhu lainnya. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. Maka. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

" Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya.. begitupun sebaliknya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh." (QS. 977. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya.‖(Mutafaq alaihi). (Shahih Tirmidzi. Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan. ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖. Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya.Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman. 4:141). Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖. Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah. Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya. Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖. Shahih Al Jami‘ : 2778). Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota). pent). Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268. Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah.

sampai kalian kembail kepada agama kalian. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam). maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline.‖ (Silsilah As Shahihah : 11. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―. http://www. padahal intinya adalah riba. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15. Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if . Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih).000 dengan cara kredit. Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah).Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah. Diarsipkan al akh Fikri Thalib.salafy. Adapun harga Rp 20. dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian.or.php?id_artikel=66) 12 .000 kontan. Lc.id/print. seseorang menjual barang seharga Rp 20. sehingga kalian meninggalkan jihad. kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya. Misalnya. tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi.

yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. begitu pula di Malaysia. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. baik pada produknya atau pada sistemnya. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Menurut data di internet. Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia.BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. baik bonus bulanan. gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. misalnya riba dan gharar. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus. dengan menggunakan konsep syariah. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10. tahunan ataupun bonus-bonus lainnya. Keadaan mereka yang demikian itu.000 an. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM. Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas. 13 . Dalam istilah MLM. Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang.

dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini. komoditi. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia. Dalam MLM Syari‘ah. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘). Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. Keempat. memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. baik jaringan produksi. Keempat. hukum muamalah. sistem pengelolaan. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. mengangkat derajat ekonomi umat. Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖.maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. misi. Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. prinsip. bisa diwujudkan. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. akhlak. orientasi. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. dan urusannya (terserah) kepada Allah. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. Orang yang kembali (mengambil riba). distribusi. visi. maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Pertama. Kelima. mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. Kedua. Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. maupun konsumennya. harus menggunakan kekuatan jaringan. pengawasan dan sebagainya. ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). Dengan demikian. Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. Sedangkan misinya adalah: Pertama. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. Ketiga. Kedua. mereka kekal di dalamnya‖. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. mengutamakan produk dalam negeri. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . seperti perbedaan motivasi dan niat. Ketiga.

Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis.menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No.com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). Keenam. PT UFO. Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah. Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional. 15 . U-299/DSN-MUI/XI/2007. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan. meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib. Saat ini. Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran.

sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205). dan tidak diberikan anak-anak kecil. sedang mereka kekal di dalamnya. barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. dan tidak diberikan kepada perempuan.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah.” (QS an-Nisaa‘: 13-14). niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. ketentuan. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu. lalu penyempurnaan wasiatnya. lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. dan disebut pula “Faridhah.” (QS alBaqarah: 237). dan baginya adzab yang menghinakan. dan itulah kemenangan yang besar.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195. ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya. Tatkala Islam datang. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). Irwa-ul Ghalil no: 1667. Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah. Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia. niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. dan kepada orang-orang dewasa. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12). Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah.” (QS an-Nisaa‘: 11). Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. khususnya dalam hal warisan.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 . Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.

maka ia menjadi milik tuannya juga.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda. Muslim III: 1233 no: 1614. Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak. “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim. ia bersabda. Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. Baihaqi X: 292).‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157.2. Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. Tirmidzi III: 286 no: 2189.” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. 3 dan 4. bukan menjadi miliknya. Allah swt berfirman: 17 ." (QS An Nisaa‘: 11). dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436. Dan datuk termasuk ayah. Muslim III: 1400 no: 1776. 5 dan 6. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah. ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab. 2. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892). 3. “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris." (QS An Nisaa‘: 11). sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. 3. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Mustadrak Hakim IV: 341. Irwa-ul Ghalil no: 1672. Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645).

Saudara perempuan."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Laki-laki yang memerdekakan budak. 3 dan 4. Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. 5. kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit)." (QS An Nisaa‘: 176). Sunan Ibnu Majah II: 915 no." (QS An Nisaa‘: 176). Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. jika ia tidak mempunyai anak. Muslim III: 1233 no: 1615." (QS An Nisaa‘: 11)." (QS An Nisaa‘: 11). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. Sabda Nabi saw: 18 . 6. Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud. Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan. 9. Paman dan anaknya serta seterusnya. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881." (QS An Nisaa‘: 12). 2740). Suami." (QS An Nisaa‘: 12). Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. 10. 7. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. Isteri. Ibu dan nenek. 7 dan 8. bagi masing-masing seperenam. Perempuan yang memerdekakan budak.

"Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya. Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan. maka ia dapat separuh." (QS An Nisaa‘: 12). (ketiga) seperdelapan. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya)." (QS An Nisaa‘: 12). 3. hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan. Yang dapat 1/8. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). bila si mayyit tidak meninggalkan anak. dan (keenam) seperenam. jika mereka tidak meninggalkan anak." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456. dan 5. Suami dapat seperempat. Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu. ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham). (kelima) sepertiga. (keempat) dua pertiga. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. 19 . ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. A. Cucu perempuan. 1. jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki. tanpa mempunyai saudara perempuan. C. Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. jika suami meninggalkan anak. Seorang anak perempuan. Ibnu Mundzir berkata." (QS An Nisaa‘: 176) B. Yang dapat 1/2: 1. 2. maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. jika suami tidak meninggalkan anak. kedua. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. dua orang. Yang dapat 1/4 . 2. karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. Isteri. jika kamu tidak meninggalkan anak. Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. (kedua) seperempat. padahal ia tidak mempunyai anak." (QS An Nisaa‘: 11). dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan. 79) 4." (Al Ijma‘ hal. "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. jika isteri yang wafat meninggalkan anak." (QS An Nisaa‘: 12). Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok." (QS An Nisaa‘: 12). Muslim II: 1141 no: 1504. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri).

Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak." Maka ia menjawab. empat orang 1 dan 2. maka ibunya dapat seperenam." (QS An Nisaa‘: 12). Yang dapat 1/6.D. tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak. Seorang saudara seibu. "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan. F. Yang dapat 2/3. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). Ibnul Mundzir menegaskan. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). Nenek. jika ia tidak mahjub (terhalang). "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. Ibu. jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. maka bagi ibunya sepertiga. dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata. ada tujuh orang: 1. 3 dan 4. Yang dapat 1/3." (QS An Nisaa‘: 11). Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara. "Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . 84). maka ibunya dapat sepertiga. 2. baik laki-laki ataupun perempuan. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan." (Al Ijma‘ hal. 3. Ibu dapat seperenam. jika yang meninggal itu mempunyai anak. E. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya." (QS An Nisaa‘: 11). maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu. bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). bila si mayyit tidak meninggalkan ibu." (QS An Nisaa‘: 176). Cucu perempuan. maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). 2. dua orang: 1. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam." (QS An Nisaa‘: 12). jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. 4. Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang." (QS An Nisaa‘: 11). dapat seperenam. dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak.

Fathul Bari XII: 17 no: 6736. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan. buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya).com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan. Saudara perempuan sebapak.‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. 7. maka Abu Musa kemudian berkomentar. dan sisanya untuk saudara perempuan. namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir). hlm. Bapak dapat seperenam.808. 84). atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh. 5. jika si mayyit meninggalkan anak. ‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873. 6. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3).‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah). terj.." (Al Ijma‘ hal.html ) 21 . (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi.sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah. http://alislamu. Datuk (kakek) dapat seperenam. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya. Tirmidzi III: 285 no: 2173. 797 ." (QS An Nisaa‘: 11). jika (anak itu) mempunyai anak. karena dikiaskan kepada cucu perempuan. bila si mayyit tidak meninggalkan bapak.

ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. suburnya usaha-usaha pegadaian. khususnya di zaman kiwari ini. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut. dengan dasar firman Allah. Definisi ar-Rahn Rahn. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini. yaitu sesuatu yang digadaikan. Sehingga. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖. Ada yang menyatakan.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat. di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia. Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. ―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang.[2] Ibnu Faris menyatakan. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖. kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia.‖ 4] 22 . Sebagai akibatnya. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. ―Huruf ra`. Ironisnya. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama. Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya. Karena itulah. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil. dalam bahasa Arab.” (Qs. ha`. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut.

dan beliau menggadaikan baju besinya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum. baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap). ―Tidak 23 .―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut.[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. Al-Bukhari no. bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. dan ijma‘ kaum muslimin. 1603) Demikian juga.‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar.” (Hr. Akan tetapi. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. as-Sunnah. “Sesungguhnya. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Dalil al-Quran adalah firman Allah. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. Imam al-Qurthubi menyatakan. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.” (Qs. 2513 dan Muslim no. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian. karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn).‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya.

[11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. 2512). Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). ad-Dhahak. atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini. Ibnu Qudamah berkata. Wallahu A‘lam. kecuali dalam keadaan safar. Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan. Syafi‘iyah. sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn).‖ Akan tetapi. maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. Demikian juga. dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama.ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. Pendapat pertama. tidak wajib. Selain itu. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. Al-Bukhari no. ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. dan Daud (az-Zahiri). ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. Ibnu Qudamah menyatakan. dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. para ulama berselisih dalam dua pendapat. Ia menyatakan. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan. Ibnul Mundzir menyatakan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.” (Hr. karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. 24 . 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). karena ar-rahn adalah jaminan utang. [8] Demikian juga Ibnu Hazm. dan Hambaliyah). tidak wajib pada keseluruhannya. Malikiyah. ‗Ar-rahn itu tidak ada. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. sehingga tidak wajib untuk diserahkan.‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian).

hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya. Lalu. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. sehingga dia tertolak. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda. 25 . sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. sehingga wajib untuk mengamalkannya. maka dia batil walaupun ada seratus syarat. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. dengan ketentuan. AlBaqarah: 283) Demikian juga. dia meminjam darinya. ada yang kaya dan ada yang miskin. Bisa jadi pula.” (Qs. Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. Namun dalam keadaan itu. Al-Bukhari) Mereka menyatakan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Wallahu a‘lam. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya. “Akan tetapi. terkadang di suatu waktu.Pendapat kedua. ―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. padahal harta sangat dicintai setiap jiwa.” (Hr. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya.‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya. wajib dalam keadaan safar. dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya.

Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya. pemberi utangan (murtahin). dan masyarakat. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur).[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat. yaitu: 1. dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. [20] 3. Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis. 2. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). 3. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib. jenis. [15] 4. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. [19] c. yaitu baligh. karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. menghilangkan kegundahan di hatinya. yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang). dan melapangkan penguasa. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn.[17] 2. Untuk rahin. yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. Dua pihak yang bertransaksi. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). Bila ia berniat baik. Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan).Oleh karena itu. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. Shighah. Al-marhun bih (utang). Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia. [18] b. berakal. Adapun murtahin (pihak pemberi utang). dan sifatnya. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. memperkecil permusuhan. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.

Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. pertumbuhan barang gadai. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―. Dalam ayat ini. bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. Dr. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. Demikian juga menurut Imam Malik. sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya. 27 . Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. Dalam ayat ini. [22] Pendapat kedua. sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. Selain itu. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. [23] Prof. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. Dengan demikian. seperti rumah dan tanah. Ada kalanya pula. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. dihitung bila barangnya dapat dihitung. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima).Pendapat pertama. Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. serta Mazhab Zahiriyah. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh). Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya.

TIrmidzi. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. pemegang barang gadai. [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang.‖ Demikian juga. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). pen). kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas. biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam.” (Qs. di antaranya: Pertama. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai. hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan.” (Hr. Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. sebagaimana firman Allah.” (Hr. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. Tentunya.pemanfaatan. TIrmidzi. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut). hadits shahih) Kedua. karena itu adalah miliknya. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . Pada asalnya barang. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. ―Menurut kesepakatan ulama. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai.

analogi (qiyas). ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah.karena dalil hadits shahih tersebut. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. dan hewan tersebut. karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. dengan kesepakatan 29 . “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak. Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. berdasarkan tuntutan keadilan.‖ 27] Ketiga. [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan. maka ia termasuk dalam barang gadai. yaitu mengendarai dan memeras susunya. seperti (bertambah) gemuk. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. Sehingga.” (Hr. dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. Malikiyah. Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). 2512). adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah. serta untuk kemaslahatan penggadai. maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. maka murtahin mengambil manfaat. tanpa izin dari penggadai.” (Hr. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. no. pertumbuhan barang gadai. pemegang barang gadai (murtahin). maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. Bila tergabung. Al-Bukhari. dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai.

ulama. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. Hanya saja. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. Karenanya. maka murtahin melepas barang tersebut. serta yang menyepakatinya. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. Adapun bila dia terpisah. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. Kemudian. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. 30 . karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya. serta yang menyepakatinya. maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. [29] Demikianlah. Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. [28] Keempat. dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. Pada zaman jahiliyah dahulu. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. Abu hanifah dan Imam Ahmad. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut.

Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. Wallahul Muwaffiq. Prof. Dr. Madar alWathani lin Nasyr. cetakan tahun 1419 H. Imam Nawawi. Artikel: EkonomiSyariat. dan Dr. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. cetakan kedua. Mesir. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. dalam rangka meniadakan kezaliman. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. Maktabah al-Asadi. Mughni. Beirut. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. 4. Qismul Muamalah. cetakan pertama. Kairo. tidak seperti realita yang banyak berlaku. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Syekh Abdullah al-Bassam. Selain itu. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya.Com 31 . tahun 1412 H. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang. tahun 1425 H. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. Prof. 2.Apabila dia tidak juga menjualnya. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. cetakan pertama. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. 3. Riyadh. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. tahun 1423 H. Dr. KSA. Ibnu Qudamah. Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. KSA. Makkah. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah. tahun 1422 H. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. bahkan mungkin berlipat-lipat. sampai ia menjual barang gadainya. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. cetakan kelima. 5. Referensi: 1. [30] Yang rajih. tahqiq Dr. Penerbit Hajar.

[11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. [2] Lisan al-Arab. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. [22]Al-Mughni: 6/446.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. hlm. [10]Fathul Bari: 5/140. KSA. 12/299—300. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. hlm. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. cetakan kedua. [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. penerbit Hajar. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. cetakan pertama. 119. Riyadh. Mesir. tahun 1425H. hlm. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. 116. [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. tahun 1412 H. Kairo. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. [26]Al-Fiqh al-Muyassar. Madar al-Wathani lin Nasyr. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107. [5] Lihat: Mughni. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. 115. Prof. Dr. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. 6/102. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. Ibnu Qudamah. hlm. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. 116. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. 116. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. cetakan kelima. KSA. dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. Makkah. 116. Beirut. tahun 1423. hlm. Maktabah al-Asadi. hlm. dan Dr. hlm. Syekh Abdullah Al Bassam. cetakan tahun 1419 H. Qismul Mu‘amalah. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. 6/443. Prof. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. tahun 1422 H. atau berupa perbuatan. 117. [12]Al-Mughni: 6/444. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. cetakan pertama. 116. 4/460. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. 117. al-Fiqh al-Muyassar hlm. 32 . tahqiq Dr. Imam Nawawi. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm.

maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil.[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya.[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.[1] Secara terminologis. Dalam murabahah. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional. Dengan defenisi ini. Dalam ilmu fiqh. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". mark up harga. laba) dari harga asal yang telah disepakati. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd.[3] Ivan Rahmawan A. 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 . Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'. Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. sehingga ia mencari jasa seorang perantara. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah. II. ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah. di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. Jadi.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I. Dalam akad ini. 2 bulan. 3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'. murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan).[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi. yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan. 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory).

al-Maidah [5]: 1.... hendaklah kamu menuliskannya... karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan..dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw." (H. 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk)... bukan untuk dijual.. Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q. al-Baqarah [2]: 282.‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 . ".. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh." .[9] 1. al-Baqarah [2]: 275. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw. mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] .. muqaradhah (mudharabah). Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan. Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman. Q.S. adanya kerelaan di antara keduanya.. maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah..‫.S.. hutang piutang. Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang." . R.. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum. "Hai orang-orang yang beriman..[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah. bersabda. III. َ ْ .. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram..‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3." 2..nasabah) atau dengan kata lain. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . Q. Ibnu Majah).. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf. apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli.S. Hadis Nabi saw...

S. 5 (kaidah yang pertama). {سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6.S. Q. Kaidah Usul al-Fiqh. yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. "Pada dasarnya. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . di sana terdapat hukum Allah. dan kaidah usul al-fiqh berikut. Q. 3. al-Maidah [5]: 1. فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ. yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra." .‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. bahwasanya Rasulullah saw. Q.S. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah". 3." 5. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2. ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ." 6. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Q. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). al-Baqarah [2]: 275.[11] 1. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya. 5) Hadis Nabi saw.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ .S. 2. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'. Hadis Nabi saw. . Hadis tersebut adalah sebagai berikut." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah. an-Nisa' [4]: 29.. ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah". Demikian pula." 4. bersabda. ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan. 4. Hadis Nabi saw.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. al-Maidah [5]: 2.

َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ .ٓ‫ىٌَ تَحو. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 2) Pembeli (musytari).)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd. ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd. 7. berkata. 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i). Kaidah Usul al-Fiqh. 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya. ٌِ‫. Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV. ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. 1) Para pihak (al-'aqidan. 4) Harga (saman). yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz). Hadis Nabi saw. Profil Singkat tentang Murabahah 1.[13] 2. Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah. 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli). 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). ‫. فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. 3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain).)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 36 ." . 1) Penjual (ba'i). ‫.[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'. maka Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut.." 8. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim). 'Wahai Nabi Allah. 3) Barang/ objek (mabi'). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 5) Ijab qabul (sigat). datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan.

terdapat juga syarat-syarat khusus. rekening listrik. Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. 5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim). dan semacamnya. 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang. bank harus 37 .[18] I. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas.1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah). Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya. membayar biaya overhead. 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya.[15] Di samping syarat-syarat di atas. dan 4) pembayarannya ditangguhkan. Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli. Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual.[17] 3. )[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah). 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar). misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan. Dalam hal ini. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual.

nasabah wajib melunasi kekurangannya III. ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 . maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut.memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. karena secara hukum. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V.

murabahah yang naqdan tidak ada. tidak terdapat pembayaran secara kontan. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil.   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya. Asia. secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 . yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI.[20] No. 4. Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5. Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. Australia. Adapun murabahah. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah. seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A. karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). Jadi. Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. Oleh karena itu. Dalam penerapannya diperbankan.(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja). 1. Eropa.[21] No. atau berdasarkan kesepakatan. Karim. di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2. sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil". Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. 2. dapat dilihat tabel berikut. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali.

diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu. bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN). 7. 11. promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual. 10. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank.  Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap. 4.3. yang besarnya merupakan anusitas.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada). karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. bank mengalami rugi. sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . 9. 8. 5. harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan. floating. 6.  Berkurang sebesar pembayaran dsb. Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya.

yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa. sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. Sejumlah alasan tersebut adalah. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar. bank Islam paling awal pada sektor swasta. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 . 73 % pembiayaannya adalah murabahah. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. dst. di Pakistan. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran. meliputi 75% dari total kekayaan mereka.[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah. 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. karena bank bukanlah mitra nasabah. Sejak tahun 1984. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. bagi Islamic Development Bank (IDB). 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya. Oleh karena itu. Pada kasus Dubai Islamic Bank. selama lebih 10 tahun periode pembiayaan. V. Bahkan. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). bukan setelah penjualan dilakukan. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. atau membayar pokok saja.12. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. uang muka  Jika dilaksanakan. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989.

Yogyakarta: UII Press. Yogyakarta: P. (ed. 2004 Wiroso. Adiwarman A. Ichwan dkk.T. Yogyakarta: EKONISIA. 6. Jakarta: Gema Insani Press. 2001 Muhammad. Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. dan Muhammad Syafi'i Antonio. Jakarta: Gema Insani Press. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi. 25.. Abdullah. 2004 Perwataatmadja. hlm. 2003 Sudarsono. 198. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. Apa dan Bagaimana Bank Islam. Jual Beli Murabahah. Muhammad Syafi'i. M. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. 2004 Sam. Intermasa. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. Dana Bhakti Prima Yasa. Abu Umar Basyir. Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P. 1999). terj. Jakarta: P. Karanaen A.T. Jakarta: PARAMADINA. terj. Arif Maftuhin. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. Yogyakarta: UII Press. 2005 Saeed. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah. 2001 Karim. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. saling menguntungkan. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah.[26] VI. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut.).jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. Dana Bhakti Prima Yasa. terj. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. Jakarta: Darul Haq. Heri. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. Yogyakarta: Pilar Media.[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Ivan. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah. [2]Karanaen A.. 2004). Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang. [1]Abdullah 42 . hlm. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya. Daftar Pustaka Antonio. 2006 al-Mushlih.T. 1999 Rahmawan A.

121-122 dan Muhammad.... Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA.cit. 49. 112-113. hlm. 2004). hlm.cit. [15]Ibid. 2005).. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. [16]Ibid. [3]Muhammad 43 . [6]Abdullah Saeed. [11]Ibid. hlm..cit... hlm. 54-55. hlm. lo. hlm.cit. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media. 2003). [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. [13]Ivan. op.cit. 119. hlm. [7]Ibid.cit. 146-148.cit. hlm. Ichwan Sam dkk.op. 93..T. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. 62... 102.. 97.. hlm. 90. hlm. [23]Ibid. op.. Intermasa.. 101. 126 dan Muhammad. Karim... [24]Abdullah Saeed. hlm... hlm. hlm. [17]Abdullah Saeed. [5]Heri Sudarsono. terj.52. [26]Abdullah . Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA. 2006). 2001).cit. 113. op. (ed. 99-100. hlm. op. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. 83-85.). [18]Wiroso.. op. Lihat ibid. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. hlm. 94. [10]Ibid. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press. hlm.. 121 dan Muhammad. [4]Ivan Rahmawan A.. op. hlm. [20]Wiroso. [14]Print out. [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. hlm. hlm. Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah. op. op. 123-124 dan Muhammad.. hlm.cit. hlm. [22]Abdullah Saeed. op. 94-95.. 2005). hlm.cit.. hlm 120 dan Muhammad. 99-100.cit. [21]Ibid. 4749. hlm. 56. 2004).. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah. hlm. hlm. 198-199.cit. hlm. Syamsul Anwar. [19]Adiwarman A. [9]M.cit. op.Syafi'i Antonio. [25]Abdullah Saeed. 58. 59. op. tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum. 2001).

BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. hal. 2. DASAR HUKUM 1. Berdasarkan definisi-definisi di atas. (Q. Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. Al-Qur’an Allah Swt berfirman. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Juz 4. 174) b. Juz 4. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. hal. Menurut syara’ (terminologi) a. Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan). al-Mughni. B. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. hal. (Alauddin al-Kasani. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat). agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin. Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖. (Muhammad asy-Syarbini. ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. 332) c.S. Juz 5. hal. 44 . Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. Sewa digunakan untuk benda. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. PENGERTIAN 1. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. Mughni al-Muhtaj. Juz 2.

al-isti‘jar. (HR. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. (Q. (HR.S. C. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. al-ikhtira‘ dan al-ikra. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam. Ujrah (upah) 4. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja). ―Berbekamlah kamu. tidak disyaratkan harus baligh. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. Al-Qashash 28 : 26) 2. (HR. rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. RUKUN Menurut ulama Hanafiyah. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. (HR. Adapun menurut jumhur ulama. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda. Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3. Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D.S. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita).ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖. 45 . (Q. Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. beritahukanlah upahnya‖. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman.

janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. (Alauddin al-Kasani. 3. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan. Ibnu Majah) 4. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. (Muhammad asy-Syarbini. hal. Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. (HR. hal. (Syarh al-Kabir li Dardir. Juz 4. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda. Juz 2. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. 2. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta. 179) Allah Swt berfirman.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. Juz 4. (Q. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. Mughni al-Muhtaj.S. sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. hal. (HR. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖.

Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘. 396) d. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. hal. Jadi. (Muhammad asy-Syarbini. hal. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad. Juz 4. (Ibnu Rusyd. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama. Akad yang benar adalah dengan berkata. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. 195) . h. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Juz 2. Mughni al-Muhtaj. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah. al-Muhadzdzab. Juz 1. 182) e. hal. hal. ―Saya sewa selama sebulan‖. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. seseorang tidak boleh berkata. 218) g.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah. c. (Abu Ishaq asy-Syirazi. hal. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. f. (Alauddin al-Kasani. Juz 4. juz 2. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya. Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi. (Alauddin al-Kasani.Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . b. Tidak sah dengan berkata. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. Para ulama sepakat melarang ijarah. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya.. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal.

c. 449) E. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a. dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah. ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad.a. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya. shaum dan lain-lain.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya. 48 . d. Jika tidak dijelaskan. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum. Juz 4. alMughni. (Ibnu Qudamah. hal. Juz 5. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. (Alauddin al-Kasani. hal. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. Cara memanfaatkan barang sewaan . b. Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2. . b. Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. HUKUM IJARAH 1. ijarah dipandang rusak. baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya.

azan. 49 .. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a. Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut.Jika yang disewa kendaraan. haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Contohnya seperti jasa menjahit pakaian. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. Juz 4. seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖. kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : .Menyerahkan kunci. qamat dan menjadi imam. ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan. membangun rumah dan lain-lain. Rasulullah Saw bersabda. UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat. d. Hukumnya. jika yang disewa rumah . Rasulullah Saw bersabda. Adapun hal-hal kecil. c. hal. ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela. Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat. shaum. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya. Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani.Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G. haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya.Mempercepat tanpa adanya syarat . Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat. shaum. Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. 209) . jika barang yang disewakan rusak. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i.

shalat. bahasa. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. shalat dan ibadah yang lainnya. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an. sastra.S. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara.Perbuatan seperti azan. mengajarkan Al-Qur‘an. menggali kuburan. Namun. H. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. fiqih. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. qamat. azan dan badal Haji. sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. fiqh. 2. haji. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. membangun masjid. shaum. hadits dan fiqih. Madzhab Maliki. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. apabila seorang muslim wafat. (Q. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an. mereka diberi upah. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung. Allah Swt berfirman. Bila tidak ada pekerjaan lain. khat. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. 4. hadits. qamat. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. 3. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. hadits.

Bila ada kerusakan pada benda yang disewa. Menurut madzhab Maliki. Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. J. gempa dll. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan. maka ulama berbeda pendapat. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). Ibnu Majah) 2. sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. baik disengaja ataupun tidak. 51 . ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Seperti penyewaan seekor kerbau. lebih kecil atau sama. (HR. ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. maka dia harus mempertanggungjawabkannya. kebakaran. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. I. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. Jika menyewa barang. bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad.

Menurut Hanafiyah. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap). Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman.blogspot. seperti rumah menjadi runtuh.html) 52 . PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir. seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. Jika barang itu dapat dipindahkan.Misalnya menyewa mobil. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. 3. K. berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah. musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. (Sumber http://pasar-islam. Rusaknya barang yang disewakan.

apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. Akan tetapi. Oleh karena itu. Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit. fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya.salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurut Malik. Abu Tsaur. Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 . persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima.BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. Abu Hanifah. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya. maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. dan Dawud. Ahmad.

HIBAH A.‖ B. Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr. Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela. Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit.

Menyempurnakan pemberian 9. maka hibah tersebut batal. ‗ariyyah (pinjaman). Ahmad. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli. Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. Terpilih dan sungguh-sungguh 3. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. untukmu dan keturunanmu‖. Kedua. Macam-macam Hibah 1. dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. D. Syafi‘i. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. Sah menerimanya 7. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). Apabila orang tersebut meninggal dunia. hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. maka pemberi hibah tidak terikat. Apabila barang tidak diterima. Abu Hanifah. Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini. Hibah barang 2. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. Tanpa adanya pengganti 5. dan mukallaf) 11. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. Orang yang sah memilikinya 6. Ketiga. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. 55 . Harta yang diperjualbelikan 4. dan sekelompok fuqaha lainnya.1. maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. selama umurku masih ada. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. ats-Tsauri. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. dan minhah (pemberian). Menurut Malik. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. Tidak disertai syarat waktu 10.

Dengan demkian.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis. Dan hadis Malik dari Jabir r.‖ (HR.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik. hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r. Akan tetapi. tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. Hanya saja. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. ada dua hal : Pertama. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini. Hukum Hibah a. 56 . Selain itu.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup. Sebab. ― Wahai golongan Anshar. sebaliknya. jangan kalian berikan seumur hidup.a. Dalam hal ini. dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan.‖ (HR. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat. yang diberi hibah harus ridha. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit.a. Kedua. E. Oleh karena itu. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan.a. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali.a. tahanlah untukmu hartamu. hadis Abu Zubair dari Jabir r. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. b.‖ (HR.

c. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali. Penerima maknawi . Hanabilah. Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang. Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah . Dalam pada itu.pemberian dalam hubungan suami istri. dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah.‖ E. Barang yang dihibahkan rusak. b. Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan.pengganti yang diakhirkan. 5. sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh. kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya.pemberian dalam rangka silaturahmi.pahala dari Allah. Ulama Malikiyah. Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4.pemberi yang disyaratkan dalam akad. Masalah Hibah 1. seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. apabila ayah masih hidup.Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan.yakni untuk memperolah keridaan Allah. Penerima membrikan ganti . seperti dijual kepada orang lain. 6. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram). b. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan. Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. a. 2. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. yaitu : yang melarang wahib 1. Salah seorang yang akad meninggal. a. Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah. 3. 57 .

350361 (Sumber: Puspita.‖ (HR. edisi 1. cet. Menurut Malik. 2007. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh.‖ (HR. 2007. menurut-islam. 242246 Ibnu Rusyd. cet. 2. Fiqh Muamalah. Bandung : Pustaka Setia. 3. Fiqh Muamalah. 2006.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi. hal. Helmi. Ahmad. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. 2007. Menurut Syafi‘I. Jakarta : Putaka Amani. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. Fiqh Muamalah. Ibnu. Bidayatul Mujtahid. Fiqh Muamalah. 374375 Helmi Karim. Rachmat. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. 2006. hal. 2. Fiqh Muamalah. hal.com/2009/06/hibah- 58 . cet. jilid. hal.html) http://puspitagiana. 2006. Bidayatul Mujtahid. 351358 Rachmat Syafe‘i. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya. 3. 3 Karim. Bidayatul Mujtahid. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. Syafi‘I. Jakarta : Putaka Amani. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. 1997. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.blogspot. Bidayatul Mujtahid. Fiqh Muamalah. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan. Jakarta : Putaka Amani. 1997. hal. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah. hal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Bandung : Pustaka Setia. cet. jilid. 73 Rachmat Syafe‘i. 3. cet. 1997. jilid. 3. Jakarta : Putaka Amani. 96 Ibnu Rusyd. 2 Helmi Karim. cet.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum). DAFTAR PUSTAKA Rusyd. 247249 Ibnu Rusyd. 2007. hal. 3 Syafe‘i. 3. jilid. edisi 1. Bukhari dan Nasai) 2. Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. 3. edisi 1. Bandung : Pustaka Setia.

c. Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR.Rukun dan Syarat Wakalah a. Al Kahfi : 19). Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. 2. b.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A. WAKALAH 1. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra. Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain. Masalah / Urusan yang dikuasakan. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. menggadaikan barang. sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. Rasulullah SAW.. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. Allah SWT. 59 . Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. Misalnya mewakilkan jual beli. Bukhari). 3. mewakilkan memberi zakat. menyembelih hewan kurban dan sebagainya.

Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. “Perdamaian itu amat baik” (QS. Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama. didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. b. 2. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. 60 . Hikmah Wakalah a.d. An Nisa‟ : 128). Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4. SULHU 1. 2. Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. 4. Jika salah satu pihak menjadi gila 3. Salah satu pihak meninggal dunia 2. Al Hujurat : 10). c. 5. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). Akad (Ijab Qabul). Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. Habisnya Akad Wakalah 1. 3. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain. Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. B. sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa.

2. maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS.3. Rukun dan Syarat Sulhu a. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. b. 5. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain. c. d. 5. 4. Jika dipandang perlu. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. 61 . Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum. Perdamaian antara suami istri. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. Al Hujurat). Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai. sulhu macamnya sebagai berikut : 1. 5. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. 4. Hikmah Sulhu 1. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. Perdamaian antar sesama muslim 2. Dapat menghilangkan rasa dendam. dapat menghadirkan pihak ketiga. 3. 4. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. angkara murka dan perselisihan diantara sesama. Tidak ada paksaan.

Tertanggung. yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b. yang artinya:―Dan tidak 62 . Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. dalam hal ini Perusahaan Asuransi. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah.BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. 2. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. baik itu berbentuk imbalan. B. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional. diantaranya adalah: 1. sebagaimana firman Allah SWT.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. 4. 3. Penanggung. yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya. pihak penanggung dan pihak tertanggung. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya.

II. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga. Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash. · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum.  Asuransi mengandung unsur riba/renten. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria). dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah). yaitu: I. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. 63 .  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis.‖ (Q. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. S.  Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba. S.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. Manusia masih perlu mengolahnya. Wahab Khalaf. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup. dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah.  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi.ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. mencarinya dan mengikhtiarkannya. · Saling menguntungkan kedua belah pihak. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. S. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir). termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. dan Abd. temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. karena pemegang polis. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. Allah telah menyiapkan bahan mentah. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania). yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari. bukan bahan matang.‖ (Q.

3. dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh). adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A. sehingga sukar untuk menentukan. bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i. Apabila uang itu akan dikembangkan. Kalau terjadi peristiwa. Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. B.‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ). harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar.Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh.Dalam keadaan begini. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. 6. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah. diantaranya adalah Sbb: 64 . Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. maka diselesaikan menurut syariat. saling menjamin. tolong menolong. 4.III. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman. masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan.Dari uraian di atas dapat dipahami. 5. oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo).‖ 2.‖ (HR. Jalan alternatif baru yang ditawarkan.

dan kalau ada imbalan. 5. 2. Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah. Manfaat asuransi syariah. dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu. 8.Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. Atau jika tidak tabarru‘. Sebagai tabungan.masing pihak. 3. 7. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. yaitu: 1. 65 . Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. 6. 4. dan biaya. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Juga meningkatkan efesiensi. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. 5. 4. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. C. D. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. 3. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. diantaranya sbb: 1. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4.1. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. E. waktu. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. Jika diamati dengan seksama. 2. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. 2. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Pemerataan biaya. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota.

Jika tak ada klaim. 6. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Adapun dalam asuransi konvensional. 2. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. nasabah tak memperoleh apa-apa. premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. 5.wordpress. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan dalam asuransi konvensional. 1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. 4. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). dengan prinsip bagi hasil. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . Sedangkan pada asuransi konvensional. dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan. Sedangkan pada asuransi konvensional.Dibandingkan asuransi konvensional. 3. maka hal itu tidak mendapat perhatian. Dari perbandingan di atas. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Sedangkan dalam asuransi konvensional.