HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis. ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. tanpa ia sadari. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim. maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. ―Fiqh muamalah ekonomi. seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana. Husein Shahhatah. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini. kecuali faham fiqh muamalah 3 . Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM.R. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. selanjutnya menulis. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi. kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas.

“Hai Kaumku sembahlah Allah.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”. karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan. (Hud : 84. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Syu‟aib. Ia berkata. Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini. “Hai Syu‟aib. Kami utus saudara mereka.Sehubungan dengan itulah Dr. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.Dan Syu‟aib berkata. 4 . Artinya : Mereka berkata.

Prof Muhammad Akram Khan).Ali Ash-Sjabuni.Yusuf Qardhawi. Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas.16). Berdasarkan ayat-ayat di atas. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. tanpa aturan syari‘ah. Harta. maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah. Prof Umar Chapra. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖. yang disebut dengan syari‘ah. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. Hak Milik. yaitu aqidah dan muamalaH. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. (hlm. Syirkah (tentang perkongsian) 5 . Prof. (Baca tulisan Prof.Ayat ini berisi dua peringatan penting. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6. Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2. Adh-Dhaman (jaminan. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. agar tak muncul salah faham tentang syariah. Hiwalah (pengalihan hutang) 5. asuransi) 7. Muamalah adalah Sunnah Para Nabi.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku. maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi . berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ". Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis. karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). maka itu (harganya0 sekian. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai. seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri.. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. seekor unta yang kabur. alat-alat musik. atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri. 2. sedangkan penipuan terlarang. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". 3. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya. mengharamkan bangkai dan harganya.". karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada. susu dalam kantonggnya. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya. dan patung (Mutafaq alaihi). maka tidak sah jual belinya.seperti khomer. khomer. dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. maka apabila mengenai suatu baju. dan seekor burung yang terbang di udara. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram.Saudi Arabia) 9 . mengharamkan babi dan harganya". maka beliau berata. Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai).

Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. dan membayarkan zakat. pada waktu pagi dan waktu petang. Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu). Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. mendirikan shalat. yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. 10 . Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. Al Jumu‘ah : 9). dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Karena itu. tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. 24:36-37-38). Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Maka." (QS. Demikian juga shalat fardhu lainnya. Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir. 4:141). Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin." Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya. Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya. Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah. seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh. 977. ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah. pent). Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan. Shahih Al Jami‘ : 2778).. (Shahih Tirmidzi.‖(Mutafaq alaihi). Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim.Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. begitupun sebaliknya." (QS. Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖. Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖. (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota). Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya.

000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan.or. http://www.salafy. tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. sehingga kalian meninggalkan jihad. Adapun harga Rp 20.000 kontan.‖ (Silsilah As Shahihah : 11.php?id_artikel=66) 12 . Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya. sampai kalian kembail kepada agama kalian. Misalnya. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam). seseorang menjual barang seharga Rp 20. Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah). Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13. Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if . kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah.id/print. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15. dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline. padahal intinya adalah riba. Lc. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―. Diarsipkan al akh Fikri Thalib.000 dengan cara kredit.Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian.

itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. tahunan ataupun bonus-bonus lainnya.000 an. yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. baik pada produknya atau pada sistemnya. Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. Menurut data di internet. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29. baik bonus bulanan. Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia. dengan menggunakan konsep syariah. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus.BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini. 13 . Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. begitu pula di Malaysia. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. misalnya riba dan gharar. Keadaan mereka yang demikian itu. Dalam istilah MLM. lalu terus berhenti (dari mengambil riba).

kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. akhlak. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini. mengutamakan produk dalam negeri. Keempat. mengangkat derajat ekonomi umat. baik jaringan produksi. dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. maka bertebaranlah kamu di muka bumi. memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. mereka kekal di dalamnya‖. Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Ketiga. misi. Orang yang kembali (mengambil riba). Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. Kedua. seperti perbedaan motivasi dan niat. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. distribusi. komoditi. orientasi. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. visi. Kelima. dan urusannya (terserah) kepada Allah. Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. Kedua. Keempat. MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. hukum muamalah. maupun konsumennya. Dalam MLM Syari‘ah. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. Ketiga. Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam. prinsip. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. Sedangkan misinya adalah: Pertama. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). sistem pengelolaan. harus menggunakan kekuatan jaringan. Dengan demikian. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘).maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. bisa diwujudkan. mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. Pertama. pengawasan dan sebagainya.

com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib. U-299/DSN-MUI/XI/2007. Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. Keenam. kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini. PT UFO. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah.menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis. Saat ini. 15 . Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan. Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. khususnya dalam hal warisan. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 .” (QS an-Nisaa‘: 13-14). dan tidak diberikan anak-anak kecil. Tatkala Islam datang. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12). sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. dan baginya adzab yang menghinakan. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205). niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah. Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu. dan itulah kemenangan yang besar. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah.” (QS an-Nisaa‘: 11). dan kepada orang-orang dewasa. Irwa-ul Ghalil no: 1667. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1. niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. sedang mereka kekal di dalamnya. ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir. lalu penyempurnaan wasiatnya. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia.” (QS alBaqarah: 237). dan tidak diberikan kepada perempuan. barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah. dan disebut pula “Faridhah. Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. ketentuan.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195.

ia bersabda. 2. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892). Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. 3.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Baihaqi X: 292). bukan menjadi miliknya. Mustadrak Hakim IV: 341. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. 3 dan 4. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645). Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Muslim III: 1233 no: 1614. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. 3. dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315. Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu." (QS An Nisaa‘: 11). “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris. ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab." (QS An Nisaa‘: 11).2.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436.‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157. Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda. Irwa-ul Ghalil no: 1672. Allah swt berfirman: 17 . “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim. Muslim III: 1400 no: 1776. sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan.” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Dan datuk termasuk ayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. maka ia menjadi milik tuannya juga. 5 dan 6. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. Tirmidzi III: 286 no: 2189.

" (QS An Nisaa‘: 11). Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak. Suami."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan)." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732. 7." (QS An Nisaa‘: 11). Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. 10. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. Paman dan anaknya serta seterusnya. 5." (QS An Nisaa‘: 176). kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit). Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud. Muslim III: 1233 no: 1615. Sunan Ibnu Majah II: 915 no." (QS An Nisaa‘: 12). 7 dan 8. Isteri. Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. bagi masing-masing seperenam. 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 176). 2740)." (QS An Nisaa‘: 12). Laki-laki yang memerdekakan budak." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. Sabda Nabi saw: 18 . Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881. jika ia tidak mempunyai anak. 6. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. 9. Saudara perempuan. Ibu dan nenek. Perempuan yang memerdekakan budak. Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan.

maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan. 19 . "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan."Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya. Ibnu Mundzir berkata. Yang dapat 1/4 . Suami dapat seperempat. (ketiga) seperdelapan. Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok. jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki. karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. kedua." (QS An Nisaa‘: 12). jika suami meninggalkan anak. Yang dapat 1/2: 1. dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456. yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya). Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. tanpa mempunyai saudara perempuan." (QS An Nisaa‘: 12). jika kamu tidak meninggalkan anak. bila si mayyit tidak meninggalkan anak. (kedua) seperempat. jika suami tidak meninggalkan anak. Seorang anak perempuan. A. ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. padahal ia tidak mempunyai anak. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu. 2. Cucu perempuan. ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham). (keempat) dua pertiga. Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. dan 5. dan (keenam) seperenam." (QS An Nisaa‘: 11). Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. 3. Isteri. dua orang. 79) 4. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. 1. jika mereka tidak meninggalkan anak. jika isteri yang wafat meninggalkan anak. C. 2. (kelima) sepertiga. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri). Muslim II: 1141 no: 1504." (QS An Nisaa‘: 12)." (QS An Nisaa‘: 12)." (Al Ijma‘ hal. Yang dapat 1/8. hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan. maka ia dapat separuh." (QS An Nisaa‘: 176) B.

2. Yang dapat 1/3." (QS An Nisaa‘: 11). dapat seperenam." (QS An Nisaa‘: 176)." (QS An Nisaa‘: 12). dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. Ibu. jika ia tidak mahjub (terhalang). dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. Yang dapat 2/3. maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. empat orang 1 dan 2. Cucu perempuan. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). E." Maka ia menjawab. "Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata. tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu." (QS An Nisaa‘: 11). bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Ibnul Mundzir menegaskan. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). baik laki-laki ataupun perempuan. dua orang: 1. maka bagi ibunya sepertiga. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. 84). F. bila si mayyit tidak meninggalkan ibu." (QS An Nisaa‘: 12). Ibu dapat seperenam. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). jika yang meninggal itu mempunyai anak. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam. 2. Seorang saudara seibu." (QS An Nisaa‘: 11). jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan. maka ibunya dapat seperenam. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu. jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak. ada tujuh orang: 1.D. Nenek. Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. 4. 3 dan 4." (Al Ijma‘ hal. 3. maka ibunya dapat sepertiga. Yang dapat 1/6. Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan.

" (Al Ijma‘ hal. 7. jika (anak itu) mempunyai anak. 6. maka Abu Musa kemudian berkomentar.sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah.. http://alislamu.‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya. (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi." (QS An Nisaa‘: 11).html ) 21 . ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian.com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan. jika si mayyit meninggalkan anak. Tirmidzi III: 285 no: 2173. namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir). "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan. hlm.808. Bapak dapat seperenam. Saudara perempuan sebapak. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan. ‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873. Fathul Bari XII: 17 no: 6736. karena dikiaskan kepada cucu perempuan. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya. dan sisanya untuk saudara perempuan. terj. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah). buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya).‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. 84). 797 . Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. 5. Datuk (kakek) dapat seperenam. atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. khususnya di zaman kiwari ini. ha`. Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. yaitu sesuatu yang digadaikan. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut. Karena itulah. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil. ―Huruf ra`.[2] Ibnu Faris menyatakan. Ironisnya. Definisi ar-Rahn Rahn. dengan dasar firman Allah. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). suburnya usaha-usaha pegadaian. Sebagai akibatnya. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain.‖ 4] 22 . di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia. ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. ―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Ada yang menyatakan. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri.” (Qs. Sehingga. dalam bahasa Arab.

Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya.” (Hr. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). 2513 dan Muslim no. “Sesungguhnya. ―Tidak 23 . karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn). baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap).‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian.[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. 1603) Demikian juga. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. as-Sunnah. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum. Akan tetapi.” (Qs.―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut. apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya. dan beliau menggadaikan baju besinya. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. Imam al-Qurthubi menyatakan. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dalil al-Quran adalah firman Allah. dan ijma‘ kaum muslimin.‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. Al-Bukhari no.

2512). maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn). Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. kecuali dalam keadaan safar. seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). [11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). Ia menyatakan. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian). ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. 24 .‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini. baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. Ibnu Qudamah berkata. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan.” (Hr. dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). dan Daud (az-Zahiri). Al-Bukhari no. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. Wallahu A‘lam. ad-Dhahak. al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim. sehingga tidak wajib untuk diserahkan. Malikiyah. Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan. Demikian juga. Selain itu. ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. karena ar-rahn adalah jaminan utang. ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. Ibnul Mundzir menyatakan.‖ Akan tetapi.ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. ‗Ar-rahn itu tidak ada. tidak wajib. Pendapat pertama. Syafi‘iyah. karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan. para ulama berselisih dalam dua pendapat. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. dan Hambaliyah). maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). tidak wajib pada keseluruhannya. [8] Demikian juga Ibnu Hazm. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Ibnu Qudamah menyatakan.

dia meminjam darinya. “Akan tetapi. terkadang di suatu waktu.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. Bisa jadi pula.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya. ada yang kaya dan ada yang miskin. dengan ketentuan. Wallahu a‘lam. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. 25 .‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). Namun dalam keadaan itu.” (Qs. sehingga wajib untuk mengamalkannya. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya. wajib dalam keadaan safar.Pendapat kedua. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya. Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. sehingga dia tertolak. padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. ―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda. Lalu.” (Hr. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah. maka dia batil walaupun ada seratus syarat. Al-Bukhari) Mereka menyatakan. Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang. AlBaqarah: 283) Demikian juga. hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya.

yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang).[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat. jenis. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. pemberi utangan (murtahin). dan melapangkan penguasa. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. dan sifatnya. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. [20] 3. Untuk rahin. memperkecil permusuhan. Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. yaitu: 1. yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . [15] 4. 3. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya. [19] c. Dua pihak yang bertransaksi. Shighah. berakal. menghilangkan kegundahan di hatinya. Adapun murtahin (pihak pemberi utang). dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i.Oleh karena itu. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib. 2. dan masyarakat. yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. Al-marhun bih (utang). Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn. [18] b.[17] 2. karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. Bila ia berniat baik. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia. dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur). Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). yaitu baligh. Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan). Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah.

Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―. Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. [22] Pendapat kedua. Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima). Ada kalanya pula. barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Demikian juga menurut Imam Malik. maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. Dalam ayat ini. ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. Dalam ayat ini. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. [23] Prof. Selain itu. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. dihitung bila barangnya dapat dihitung. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah.Pendapat pertama. Dr. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh). Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Dengan demikian. pertumbuhan barang gadai. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. 27 . sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. seperti rumah dan tanah. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. serta Mazhab Zahiriyah.

pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. karena itu adalah miliknya. maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut).pemanfaatan. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai. biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. ―Menurut kesepakatan ulama. pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (Hr. sebagaimana firman Allah. pemegang barang gadai. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai.‖ Demikian juga. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. TIrmidzi. Tentunya. hadits shahih) Kedua. kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas.” (Hr. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan. di antaranya: Pertama. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. pen).” (Qs. TIrmidzi. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. Pada asalnya barang.

” (Hr.(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. maka ia termasuk dalam barang gadai. Malikiyah. pemegang barang gadai (murtahin). Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan.‖ 27] Ketiga. karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak.karena dalil hadits shahih tersebut. maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah. Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai. dan hewan tersebut. maka murtahin mengambil manfaat. seperti (bertambah) gemuk. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). 2512).” (Hr. tanpa izin dari penggadai. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. Al-Bukhari. dengan kesepakatan 29 . analogi (qiyas). Sehingga. pertumbuhan barang gadai. serta untuk kemaslahatan penggadai. dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai. berdasarkan tuntutan keadilan. adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. no. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. Bila tergabung. yaitu mengendarai dan memeras susunya. “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya.

perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. serta yang menyepakatinya. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. Adapun bila dia terpisah. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. 30 . Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. Pada zaman jahiliyah dahulu. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya. namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. serta yang menyepakatinya. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. Karenanya.ulama. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. Abu hanifah dan Imam Ahmad. Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. [28] Keempat. Hanya saja. [29] Demikianlah. dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. Kemudian. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut. maka murtahin melepas barang tersebut.

Makkah. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. 3. cetakan tahun 1419 H. juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. tahun 1422 H. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. bahkan mungkin berlipat-lipat. Beirut. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. tahun 1423 H. tidak seperti realita yang banyak berlaku. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. Imam Nawawi. Riyadh. sampai ia menjual barang gadainya. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. Kairo. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. 5. Mesir. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. Maktabah al-Asadi. Penerbit Hajar. Prof. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. Mughni. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. KSA. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. dalam rangka meniadakan kezaliman. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. Dr. Qismul Muamalah. tahun 1412 H. Madar alWathani lin Nasyr. cetakan kedua. tahun 1425 H. cetakan kelima. cetakan pertama.Apabila dia tidak juga menjualnya. KSA. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah. Selain itu. 4. cetakan pertama. Referensi: 1. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. 2. Ibnu Qudamah. Wallahul Muwaffiq.Com 31 . disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. tahqiq Dr. Prof. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah. [30] Yang rajih. Artikel: EkonomiSyariat. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. Syekh Abdullah al-Bassam. Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. dan Dr. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. Dr.

Madar al-Wathani lin Nasyr. Maktabah al-Asadi. 116. tahun 1425H. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. KSA. 116. 116. atau berupa perbuatan. 117. 116. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. hlm. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. hlm. hlm. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. 117. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. [12]Al-Mughni: 6/444. dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. [10]Fathul Bari: 5/140. [22]Al-Mughni: 6/446. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. 6/102. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. tahun 1422 H. Dr. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. tahqiq Dr. Kairo. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. cetakan kelima. [26]Al-Fiqh al-Muyassar. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. al-Fiqh al-Muyassar hlm. [11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. Syekh Abdullah Al Bassam.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Mesir. Qismul Mu‘amalah. [2] Lisan al-Arab. 32 . [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. Prof. hlm. penerbit Hajar. Beirut. hlm. hlm. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. 4/460. Ibnu Qudamah. cetakan pertama. tahun 1412 H. Imam Nawawi. Prof. tahun 1423. [5] Lihat: Mughni. dan Dr. KSA. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. Riyadh. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107. 6/443. hlm. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. 12/299—300. cetakan pertama. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. 115. Makkah. cetakan tahun 1419 H. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. cetakan kedua. 119. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. 116.

[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi. Dalam akad ini. Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'. penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I. murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah. di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. II. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional. 3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. laba) dari harga asal yang telah disepakati. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. sehingga ia mencari jasa seorang perantara. kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. Dengan defenisi ini. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory).[3] Ivan Rahmawan A. mark up harga. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan).[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan. ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah. Dalam ilmu fiqh.[1] Secara terminologis. 2 bulan. 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd. Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'.[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri. 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 . maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Jadi. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". Dalam murabahah. yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan.

‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 .." 2... apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli." (H. 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk).S. bersabda.. R.. hendaklah kamu menuliskannya.. al-Maidah [5]: 1.S. ". Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini.. "Hai orang-orang yang beriman.. al-Baqarah [2]: 275. Q. hutang piutang. Hadis Nabi saw. adanya kerelaan di antara keduanya. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ ." . Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q. karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.... III. Ibnu Majah). Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang. bukan untuk dijual.. maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah.‫. al-Baqarah [2]: 282. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum.nasabah) atau dengan kata lain.[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh.S...." . muqaradhah (mudharabah).dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman..وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw.. mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] . َ ْ ...‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3.. Q.. Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan..[9] 1.

ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan. Demikian pula. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz)."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra.S. 3.‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. di sana terdapat hukum Allah. . ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ.S. Q. yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. 4." 6.S. Hadis tersebut adalah sebagai berikut. "Pada dasarnya.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ . 3. 5 (kaidah yang pertama). dan kaidah usul al-fiqh berikut.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. al-Maidah [5]: 1. an-Nisa' [4]: 29. bahwasanya Rasulullah saw.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Hadis Nabi saw. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'. yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih.S. Q. Kaidah Usul al-Fiqh. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Hadis Nabi saw. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah". Q. al-Baqarah [2]: 275. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya.. bersabda. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . Q." .[11] 1." 4. al-Maidah [5]: 2. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2." 5. 2. 5) Hadis Nabi saw. ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah". {سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6. فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ.

‫. ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. berkata. Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah. ٌِ‫.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut. 5) Ijab qabul (sigat). 2) Pembeli (musytari). 7. 3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain). 4) Harga (saman).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya.. Profil Singkat tentang Murabahah 1. 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i). 36 .[13] 2. maka Rasulullah saw. ‫. yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz). 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli).[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah." . Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu. 1) Para pihak (al-'aqidan.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'. 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). 1) Penjual (ba'i). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." 8. 3) Barang/ objek (mabi'). ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain.ٓ‫ىٌَ تَحو.)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd. Hadis Nabi saw.)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim). Kaidah Usul al-Fiqh. 'Wahai Nabi Allah. 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain). "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'.

Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual. Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. )[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. Dalam hal ini. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar). Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi. dan 4) pembayarannya ditangguhkan. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah). 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli.[18] I. misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan.[15] Di samping syarat-syarat di atas. membayar biaya overhead. 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas. bank harus 37 . 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya. dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. dan semacamnya. rekening listrik.[17] 3. 5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim).1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah). batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya. Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. terdapat juga syarat-syarat khusus.

ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli. nasabah wajib melunasi kekurangannya III. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 . Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. karena secara hukum. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati.memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II.

Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. murabahah yang naqdan tidak ada. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI. Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5. Oleh karena itu.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. Dalam penerapannya diperbankan. 1. 4. Australia. yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah.[20] No. 2. Adapun murabahah. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja). dapat dilihat tabel berikut. Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 . murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur. Jadi. di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A.(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Karim.[21] No. Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil". karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). tidak terdapat pembayaran secara kontan. Asia. Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2.   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil. atau berdasarkan kesepakatan. Eropa. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.

 Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan. yang besarnya merupakan anusitas. 5. 9.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada). harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan. sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. 4. maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat. 6. promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual.3. 7.  Berkurang sebesar pembayaran dsb. bank mengalami rugi. Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya. bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN). 10. 8. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap. floating. 11. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu.

73 % pembiayaannya adalah murabahah. 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa. Bahkan. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh.12. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang. 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya. demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan. karena bank bukanlah mitra nasabah. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 .[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah. bukan setelah penjualan dilakukan. sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. dst. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. meliputi 75% dari total kekayaan mereka. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran. di Pakistan. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS. V. Sejumlah alasan tersebut adalah. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an. uang muka  Jika dilaksanakan. yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. Sejak tahun 1984. pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. Oleh karena itu. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas. atau membayar pokok saja. dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. Pada kasus Dubai Islamic Bank.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. selama lebih 10 tahun periode pembiayaan. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar. bank Islam paling awal pada sektor swasta. bagi Islamic Development Bank (IDB).

2006 al-Mushlih.jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut. hlm. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. 2004 Sam. Yogyakarta: Pilar Media.T. terj. Dana Bhakti Prima Yasa. Jakarta: P. Jakarta: Gema Insani Press. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. Jakarta: Gema Insani Press. [1]Abdullah 42 . 2004 Perwataatmadja. saling menguntungkan. Ichwan dkk. terj. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. Intermasa. Heri. Ivan. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. hlm. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Yogyakarta: EKONISIA. Abu Umar Basyir. 2004). 2005 Saeed. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah. Apa dan Bagaimana Bank Islam. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. Daftar Pustaka Antonio.T. 25. M. 1999). Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah. Adiwarman A. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. Jakarta: Darul Haq. Yogyakarta: P. dan Muhammad Syafi'i Antonio. 2003 Sudarsono.. Arif Maftuhin. (ed. Yogyakarta: UII Press.. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. terj. Yogyakarta: UII Press. 198. 2001 Karim. Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong. 6. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P. 2004 Wiroso. 2001 Muhammad.T. Karanaen A. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah.[26] VI.). Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi.[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya. Muhammad Syafi'i. 1999 Rahmawan A. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. Jual Beli Murabahah. Dana Bhakti Prima Yasa. [2]Karanaen A. Jakarta: PARAMADINA. Abdullah.

hlm. Karim. 2005).cit.cit. [4]Ivan Rahmawan A. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. op. hlm. [17]Abdullah Saeed. hlm 120 dan Muhammad. 56. 126 dan Muhammad. tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum. 2004).... op.cit. (ed. 2006).T.. op. 2005). hlm. [10]Ibid. [3]Muhammad 43 . [18]Wiroso. 54-55. 198-199. [16]Ibid. [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. 121 dan Muhammad. hlm. Ichwan Sam dkk. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media. Intermasa. 123-124 dan Muhammad.. 94. 112-113. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA.cit.cit. hlm. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah.. op. hlm. [7]Ibid. op. [23]Ibid. hlm. 2004). hlm.cit. [24]Abdullah Saeed. op. [6]Abdullah Saeed. 49.. Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah.. hlm. [21]Ibid. Lihat ibid. [19]Adiwarman A.Syafi'i Antonio. hlm. hlm... 90.. hlm.cit.cit.. op.. terj. [26]Abdullah . 2001). 113. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press. hlm. [11]Ibid.). hlm. [9]M. op.52. Syamsul Anwar. 94-95. [15]Ibid.. 93. op... Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. 83-85. 121-122 dan Muhammad. [20]Wiroso. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. hlm. [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. hlm.. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. 146-148.cit. Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA. hlm. [14]Print out. 2003). 102... hlm. 58.cit. op. [5]Heri Sudarsono.cit. 59.. hlm. hlm. [13]Ivan.. 4749. hlm. 99-100..cit. 97. op. 62. 2001). 101. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis.. lo. [22]Abdullah Saeed.op. [25]Abdullah Saeed. 99-100.. hlm. hlm. hlm.cit.. hlm. 119. hlm.

(Muhammad asy-Syarbini. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin. al-Mughni. Mughni al-Muhtaj. DASAR HUKUM 1. Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. 2. Juz 5. 174) b. Al-Qur’an Allah Swt berfirman. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. hal. ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. (Alauddin al-Kasani. hal. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. Juz 4. hal. Juz 4. Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. B. PENGERTIAN 1.BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. 332) c. Juz 2. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah.S. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat). Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖. Sewa digunakan untuk benda. 44 . Menurut syara’ (terminologi) a. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. hal. (Q. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan).

rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. 45 . Adapun menurut jumhur ulama. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman. Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. RUKUN Menurut ulama Hanafiyah. al-isti‘jar. C. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D. al-ikhtira‘ dan al-ikra.S. (Q. (HR. As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja). „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. (HR. tidak disyaratkan harus baligh. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda. (HR. beritahukanlah upahnya‖. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita).S. Ujrah (upah) 4. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3.ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖. aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). ―Berbekamlah kamu. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. Al-Qashash 28 : 26) 2. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. (Q. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. (HR. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖.

(HR. (Q. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. hal. Mughni al-Muhtaj.S. Ibnu Majah) 4. (HR. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. (Syarh al-Kabir li Dardir. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. 3. Juz 4. (Muhammad asy-Syarbini. (Alauddin al-Kasani. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. hal. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. 2. sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. Juz 4. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. Juz 2. hal. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. 179) Allah Swt berfirman. seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh.

182) e. hal. Jadi. (Muhammad asy-Syarbini. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. seseorang tidak boleh berkata. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. 396) d. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. hal. Juz 1. (Abu Ishaq asy-Syirazi. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad. b. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. hal.. Juz 2. (Alauddin al-Kasani. sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘. Juz 4. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. (Ibnu Rusyd. Mughni al-Muhtaj. f. 218) g. c. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. al-Muhadzdzab. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah. Akad yang benar adalah dengan berkata. ―Saya sewa selama sebulan‖. Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. (Alauddin al-Kasani. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya. 195) .Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . h. Tidak sah dengan berkata. Para ulama sepakat melarang ijarah. hal. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. juz 2. Juz 4. hal. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya.

Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat. ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad. shaum dan lain-lain. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. hal. b. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. ijarah dipandang rusak. Jika tidak dijelaskan. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. d. (Alauddin al-Kasani. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. alMughni. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah.a. HUKUM IJARAH 1. 48 . hal. Juz 5. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a. . Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya. 449) E. baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. b. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad. (Ibnu Qudamah. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. Juz 4. dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. c.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya. Cara memanfaatkan barang sewaan .

Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa. d. pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a..Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G.Menyerahkan kunci. Adapun hal-hal kecil. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya.Jika yang disewa kendaraan.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut. haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya. hal. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. c. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat. Contohnya seperti jasa menjahit pakaian. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. jika yang disewa rumah . qamat dan menjadi imam. Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani. shaum. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Juz 4. shaum. haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. Rasulullah Saw bersabda. jika barang yang disewakan rusak. 49 . Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat. kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : . seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela. membangun rumah dan lain-lain. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b.Mempercepat tanpa adanya syarat . UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat. Rasulullah Saw bersabda. Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut. 209) . Hukumnya. azan. ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖.

3. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara. haji. maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. bahasa. Madzhab Maliki. hadits. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. H. sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an. fiqih. 4. (Q. shalat dan ibadah yang lainnya. maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. azan dan badal Haji. shaum. Bila tidak ada pekerjaan lain. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. fiqh. sastra. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung.S. hadits dan fiqih. shalat. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. qamat. membangun masjid. Allah Swt berfirman. mereka diberi upah. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an.Perbuatan seperti azan. Namun. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. menggali kuburan. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . mengajarkan Al-Qur‘an. khat. hadits. 2. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. qamat. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. apabila seorang muslim wafat.

kebakaran. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad. maka dia harus mempertanggungjawabkannya. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. baik disengaja ataupun tidak. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). Ibnu Majah) 2. gempa dll. (HR. bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. Bila ada kerusakan pada benda yang disewa. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. lebih kecil atau sama. sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. I. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. Jika menyewa barang. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda. J. Menurut madzhab Maliki. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. 51 . ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. Seperti penyewaan seekor kerbau. maka ulama berbeda pendapat.

blogspot. Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. Jika barang itu dapat dipindahkan. seperti rumah menjadi runtuh. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1.Misalnya menyewa mobil. Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5. Rusaknya barang yang disewakan.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah. PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir.html) 52 . Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2. kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L. 3. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap). musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. K. Menurut Hanafiyah. (Sumber http://pasar-islam.

fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya. Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan. persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima. Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. Abu Tsaur. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. Ahmad. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. Abu Hanifah. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 .BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak. maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. Akan tetapi. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya. apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah. Menurut Malik. dan Dawud. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia.salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. Oleh karena itu. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut.

Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit. HIBAH A. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C.‖ B. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu. Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela. Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu. Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya.

Menurut Malik. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. Harta yang diperjualbelikan 4. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. Ahmad. Apabila orang tersebut meninggal dunia. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. dan sekelompok fuqaha lainnya. apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Tanpa adanya pengganti 5. hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). Sah menerimanya 7. ats-Tsauri.1. hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. maka hibah tersebut batal. Syafi‘i. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. maka pemberi hibah tidak terikat. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah. selama umurku masih ada. Abu Hanifah. Ketiga. Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. Macam-macam Hibah 1. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). Apabila barang tidak diterima. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. 55 . Orang yang sah memilikinya 6. Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. D. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Tidak disertai syarat waktu 10. Menyempurnakan pemberian 9. untukmu dan keturunanmu‖. Terpilih dan sungguh-sungguh 3. dan mukallaf) 11. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. Hibah barang 2. dan minhah (pemberian). maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. ‗ariyyah (pinjaman). Kedua. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini.

a.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis. Dan hadis Malik dari Jabir r.a. ― Wahai golongan Anshar.‖ (HR. tahanlah untukmu hartamu. Hukum Hibah a. Oleh karena itu. hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan. hadis Abu Zubair dari Jabir r. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. jangan kalian berikan seumur hidup.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya.a. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini. b. Hanya saja. sebaliknya. Selain itu. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. Kedua. hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya. yang diberi hibah harus ridha. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. 56 . dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah. Sebab.‖ (HR. ada dua hal : Pertama.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. Dengan demkian. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli. E. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. Akan tetapi. Dalam hal ini. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali. tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik.a.‖ (HR.

Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4. b. Hanabilah.pemberian dalam rangka silaturahmi. 57 . seperti dijual kepada orang lain.yakni untuk memperolah keridaan Allah. sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi. 2. kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. 6. Barang yang dihibahkan rusak.‖ E. 3. Dalam pada itu. Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah. apabila ayah masih hidup. a. dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah. Salah seorang yang akad meninggal. Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang. Masalah Hibah 1. Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. Penerima membrikan ganti .pemberian dalam hubungan suami istri. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. b. seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan.pahala dari Allah. c. yaitu : yang melarang wahib 1.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil.pemberi yang disyaratkan dalam akad. Penerima maknawi .Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan. a. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. 5. Ulama Malikiyah. Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan. Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah .pengganti yang diakhirkan. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram).

3. hal. cet. Rachmat. Syafi‘I. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 3. 242246 Ibnu Rusyd. 3. 3 Karim. Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. 247249 Ibnu Rusyd. 2006. Bidayatul Mujtahid. 2. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan. 3 Syafe‘i. Bandung : Pustaka Setia. jilid. Jakarta : Putaka Amani. 73 Rachmat Syafe‘i. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. hal. Bidayatul Mujtahid. hal. Bidayatul Mujtahid. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh. hal. edisi 1. hal. menurut-islam. 96 Ibnu Rusyd. 351358 Rachmat Syafe‘i. 1997. 3. 2 Helmi Karim. Fiqh Muamalah. cet. 2007. Jakarta : Putaka Amani. 2007. edisi 1. 2. jilid. Jakarta : Putaka Amani. 2007. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. hal. 3. DAFTAR PUSTAKA Rusyd. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. cet. Menurut Malik. Fiqh Muamalah.com/2009/06/hibah- 58 . cet. cet. Bukhari dan Nasai) 2. Jakarta : Putaka Amani. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah. hal. 1997. Ahmad.html) http://puspitagiana. Bandung : Pustaka Setia. Helmi. jilid. Fiqh Muamalah.‖ (HR. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. Menurut Syafi‘I.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum).blogspot. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. 2006. Bidayatul Mujtahid. 374375 Helmi Karim. 350361 (Sumber: Puspita. Ibnu. 1997.‖ (HR. Fiqh Muamalah. 2007. edisi 1. cet.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. 3. Fiqh Muamalah. Bandung : Pustaka Setia. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2006. jilid. Fiqh Muamalah.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi.

Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. c. 59 . Allah SWT. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. menyembelih hewan kurban dan sebagainya. Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. b. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. Misalnya mewakilkan jual beli. Masalah / Urusan yang dikuasakan. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. 2. Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan. Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. menggadaikan barang. 3. memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR.Rukun dan Syarat Wakalah a. Rasulullah SAW. Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat. sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan.. Bukhari). mewakilkan memberi zakat. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa. WAKALAH 1. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra. Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. Al Kahfi : 19).

Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. 5. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai.d. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. SULHU 1. “Perdamaian itu amat baik” (QS. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama. Hikmah Wakalah a. Salah satu pihak meninggal dunia 2. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. 2. Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Habisnya Akad Wakalah 1. b. B. 60 . Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. c. An Nisa‟ : 128). 4. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4. Jika salah satu pihak menjadi gila 3. 2. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. 3. Akad (Ijab Qabul). Al Hujurat : 10). didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara.

Perdamaian antara suami istri. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. b. 4. c. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. Al Hujurat). 5. Jika dipandang perlu. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). sulhu macamnya sebagai berikut : 1. 5. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. angkara murka dan perselisihan diantara sesama. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. dapat menghadirkan pihak ketiga. maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. 3. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain. Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum.3. 61 . Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. 4. Perdamaian antar sesama muslim 2. Rukun dan Syarat Sulhu a. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. Dapat menghilangkan rasa dendam. 2. d. Hikmah Sulhu 1. Tidak ada paksaan. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). 5. 4.

Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional.BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. baik itu berbentuk imbalan.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. 2. B. yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. Penanggung. sebagaimana firman Allah SWT. Tertanggung. yang artinya:―Dan tidak 62 . sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. 4. Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. pihak penanggung dan pihak tertanggung. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. diantaranya adalah: 1. 3. dalam hal ini Perusahaan Asuransi.

dan Abd.  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis. temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. mencarinya dan mengikhtiarkannya. II.  Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba. · Saling menguntungkan kedua belah pihak. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi. S. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash. Wahab Khalaf. S.  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah. · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga. Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir). apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania).ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah). dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. 63 . yaitu: I. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum. akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan. Allah telah menyiapkan bahan mentah. bukan bahan matang. termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. S. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup.  Asuransi mengandung unsur riba/renten. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha).‖ (Q.‖ (Q. Manusia masih perlu mengolahnya. karena pemegang polis.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria).

saling menjamin. maka diselesaikan menurut syariat. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ). diantaranya adalah Sbb: 64 . Allah SWT berfirman.‖ 2. 4. adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. Kalau terjadi peristiwa. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. 6. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. B. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh. Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. tolong menolong. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. sehingga sukar untuk menentukan.Dari uraian di atas dapat dipahami. masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. Jalan alternatif baru yang ditawarkan. tentu jalan itulah yang pantas dilalui. 5.‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i.III.‖ (HR. Apabila uang itu akan dikembangkan. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah.Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo). Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh).Dalam keadaan begini. yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. 3.

Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. yaitu: 1. 65 .Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu.masing pihak. C. 3. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Atau jika tidak tabarru‘. 2. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. Jika diamati dengan seksama. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. 2. 4. 6. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. dengan tidak kurang dan tidak lebih. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota. 5. waktu. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. 5. 8. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. D. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). 3. dan kalau ada imbalan. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. Manfaat asuransi syariah. dan biaya. E. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. 4. 2. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. Pemerataan biaya.1. Sebagai tabungan. Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. Juga meningkatkan efesiensi. sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. diantaranya sbb: 1. 7. dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. 4. 1. Sedangkan dalam asuransi konvensional. Dari perbandingan di atas. 3. maka hal itu tidak mendapat perhatian. 6. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Sedangkan pada asuransi konvensional. Sedangkan pada asuransi konvensional.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . Sedangkan dalam asuransi konvensional. investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah.Dibandingkan asuransi konvensional. Jika tak ada klaim. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. Adapun dalam asuransi konvensional. 5. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. dengan prinsip bagi hasil. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.wordpress. 2. nasabah tak memperoleh apa-apa. keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful