HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana. kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. ―Fiqh muamalah ekonomi. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. Husein Shahhatah. seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal. maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis.R. ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. tanpa ia sadari. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. kecuali faham fiqh muamalah 3 . Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas. karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. selanjutnya menulis.

Ia berkata. apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Syu‟aib. “Hai Syu‟aib. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi).Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.Dan Syu‟aib berkata. Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. 4 . Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Artinya : Mereka berkata.Sehubungan dengan itulah Dr. (Hud : 84. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah. karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan. “Hai Kaumku sembahlah Allah. Kami utus saudara mereka. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya.

Adh-Dhaman (jaminan. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank.Yusuf Qardhawi. agar tak muncul salah faham tentang syariah. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖.16). Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4. Harta. Muamalah adalah Sunnah Para Nabi. Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2.Ayat ini berisi dua peringatan penting. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. (hlm.Ali Ash-Sjabuni. asuransi) 7. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. yang disebut dengan syari‘ah. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6. Syirkah (tentang perkongsian) 5 . tanpa aturan syari‘ah. Hiwalah (pengalihan hutang) 5. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas. Prof. Prof Umar Chapra. Hak Milik. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. Prof Muhammad Akram Khan). yaitu aqidah dan muamalaH. Berdasarkan ayat-ayat di atas. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. (Baca tulisan Prof.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis. khomer. karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai). Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya..". bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai.Saudi Arabia) 9 . karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. dan patung (Mutafaq alaihi). sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. susu dalam kantonggnya. berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ". Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). maka beliau berata. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad. mengharamkan babi dan harganya". seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri. sedangkan penipuan terlarang. atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya. maka itu (harganya0 sekian. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi . 2. maka tidak sah jual belinya. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram. maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku. maka apabila mengenai suatu baju.seperti khomer. alat-alat musik. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". mengharamkan bangkai dan harganya. maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. dan seekor burung yang terbang di udara. 3. atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri. seekor unta yang kabur.

yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu. Demikian juga shalat fardhu lainnya. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. 10 . Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. pada waktu pagi dan waktu petang. 24:36-37-38). Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu). maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. mendirikan shalat. Karena itu. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. dan membayarkan zakat. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah. Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian." (QS." (QS. tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Al Jumu‘ah : 9). Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Maka. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat.

Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya. Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖. begitupun sebaliknya. Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman. (Shahih Tirmidzi.‖(Mutafaq alaihi). Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah." (QS. Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya. 977. Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir.. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268. Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan. (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota)." Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah. Shahih Al Jami‘ : 2778). pent). Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran. Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖. 4:141).

Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if .Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). seseorang menjual barang seharga Rp 20. Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13. sehingga kalian meninggalkan jihad. padahal intinya adalah riba. Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah).‖ (Silsilah As Shahihah : 11. Adapun harga Rp 20. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. Misalnya.salafy.000 dengan cara kredit. Lc.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya. tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi.000 kontan. maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan.or. dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline. kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. Diarsipkan al akh Fikri Thalib.php?id_artikel=66) 12 . dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam).id/print. http://www. sampai kalian kembail kepada agama kalian.

13 . di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. dengan menggunakan konsep syariah. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). baik bonus bulanan. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. Menurut data di internet. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. Dalam istilah MLM. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM. Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. baik pada produknya atau pada sistemnya. misalnya riba dan gharar. Keadaan mereka yang demikian itu. yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus. gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. begitu pula di Malaysia. tahunan ataupun bonus-bonus lainnya.000 an. Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10.BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan.

dan urusannya (terserah) kepada Allah. memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. orientasi. komoditi. Ketiga. Kedua. Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. seperti perbedaan motivasi dan niat. Ketiga. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. Dengan demikian. Keempat. mengutamakan produk dalam negeri. Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖. maupun konsumennya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. misi. Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. mereka kekal di dalamnya‖. akhlak. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). baik jaringan produksi. dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. Keempat. Orang yang kembali (mengambil riba).maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Kelima. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘). Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. pengawasan dan sebagainya. ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. prinsip. maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Kedua. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. Dalam MLM Syari‘ah. distribusi. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. Sedangkan misinya adalah: Pertama. hukum muamalah. harus menggunakan kekuatan jaringan. adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. visi. bisa diwujudkan. Pertama. mengangkat derajat ekonomi umat. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. sistem pengelolaan. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia.

meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan. Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran. 15 .menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. U-299/DSN-MUI/XI/2007. Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. Saat ini. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No. PT UFO. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah. Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis. Keenam.com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini. Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional.

Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir. Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah. lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205). sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 .” (QS an-Nisaa‘: 11). Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah.” (QS alBaqarah: 237). ketentuan. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya.” (QS an-Nisaa‘: 13-14). lalu penyempurnaan wasiatnya. khususnya dalam hal warisan. sedang mereka kekal di dalamnya. Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). Irwa-ul Ghalil no: 1667. Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah. dan baginya adzab yang menghinakan. niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Tatkala Islam datang. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat. dan kepada orang-orang dewasa. dan itulah kemenangan yang besar. dan tidak diberikan kepada perempuan. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. dan disebut pula “Faridhah. dan tidak diberikan anak-anak kecil. Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12).

bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Baihaqi X: 292). Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315." (QS An Nisaa‘: 11). Allah swt berfirman: 17 . Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. 3 dan 4. dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. Dan datuk termasuk ayah.” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris.2. 5 dan 6. Irwa-ul Ghalil no: 1672. Muslim III: 1233 no: 1614.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764. 3. ia bersabda. Tirmidzi III: 286 no: 2189. Muslim III: 1400 no: 1776. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda. 2. Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645). ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892). maka ia menjadi milik tuannya juga. “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim.‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157. 3. Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah. Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436. bukan menjadi miliknya. Mustadrak Hakim IV: 341. sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan." (QS An Nisaa‘: 11).

Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. 6. Laki-laki yang memerdekakan budak. Saudara perempuan. Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan. Suami. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud." (QS An Nisaa‘: 176). Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. 2740). Perempuan yang memerdekakan budak. Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881. Ibu dan nenek. 5." (QS An Nisaa‘: 11). Paman dan anaknya serta seterusnya." (QS An Nisaa‘: 12). 7 dan 8. bagi masing-masing seperenam." (QS An Nisaa‘: 12). 10. kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit). Muslim III: 1233 no: 1615." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. jika ia tidak mempunyai anak. Sabda Nabi saw: 18 . maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. 3 dan 4." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). 7. Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak." (QS An Nisaa‘: 176). Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak." (QS An Nisaa‘: 11). Isteri. 9. Sunan Ibnu Majah II: 915 no.

" (QS An Nisaa‘: 12). karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. (kedua) seperempat. dan 5. Ibnu Mundzir berkata. Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. jika mereka tidak meninggalkan anak." (QS An Nisaa‘: 176) B. jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki. Cucu perempuan. hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan. 19 . Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. Yang dapat 1/4 . Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan." (QS An Nisaa‘: 12). Muslim II: 1141 no: 1504. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. Seorang anak perempuan." (QS An Nisaa‘: 12). dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan. yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya). Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. jika suami meninggalkan anak. Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). padahal ia tidak mempunyai anak. dua orang. C." (QS An Nisaa‘: 11). (ketiga) seperdelapan." (QS An Nisaa‘: 12). maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. Suami dapat seperempat. Isteri. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. maka ia dapat separuh. tanpa mempunyai saudara perempuan. (kelima) sepertiga. bila si mayyit tidak meninggalkan anak. 2. "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. 3. dan (keenam) seperenam. 2. (keempat) dua pertiga. jika isteri yang wafat meninggalkan anak. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. 79) 4. jika suami tidak meninggalkan anak. A. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri). jika kamu tidak meninggalkan anak. Yang dapat 1/8. 1."Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya." (Al Ijma‘ hal. Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. kedua." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456. Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia. Yang dapat 1/2: 1. ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham).

baik laki-laki ataupun perempuan. bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan.D. dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak." (Al Ijma‘ hal." (QS An Nisaa‘: 11). maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu." (QS An Nisaa‘: 11). maka ibunya dapat seperenam. Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. maka ibunya dapat sepertiga. F. "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. Seorang saudara seibu. 84). Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang. Cucu perempuan." (QS An Nisaa‘: 11). Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. jika yang meninggal itu mempunyai anak. 2. 4. Yang dapat 1/3. Ibu." (QS An Nisaa‘: 12). 3. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata. empat orang 1 dan 2. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. dua orang: 1." (QS An Nisaa‘: 176). Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. dapat seperenam. ada tujuh orang: 1. Nenek. "Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). Ibu dapat seperenam. Yang dapat 1/6. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. Yang dapat 2/3. Ibnul Mundzir menegaskan. jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara." (QS An Nisaa‘: 12). dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. maka bagi ibunya sepertiga. 2. E. bila si mayyit tidak meninggalkan ibu. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak." Maka ia menjawab. jika ia tidak mahjub (terhalang). 3 dan 4.

808. 6. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan. ‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya). Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah).. terj. atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3). hlm.sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. Tirmidzi III: 285 no: 2173. bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh. Fathul Bari XII: 17 no: 6736. Saudara perempuan sebapak. karena dikiaskan kepada cucu perempuan.‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah. Bapak dapat seperenam.html ) 21 . ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian. jika si mayyit meninggalkan anak." (Al Ijma‘ hal." (QS An Nisaa‘: 11). dan sisanya untuk saudara perempuan. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan. namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir). 7. 5. maka Abu Musa kemudian berkomentar. 797 . http://alislamu.‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya. Datuk (kakek) dapat seperenam. (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi.com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan. 84). Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya. jika (anak itu) mempunyai anak.

Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖.” (Qs. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). dalam bahasa Arab. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. ―Huruf ra`. di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia. khususnya di zaman kiwari ini.[2] Ibnu Faris menyatakan.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. suburnya usaha-usaha pegadaian. Sehingga. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama. Sebagai akibatnya.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. ha`. Ada yang menyatakan. dengan dasar firman Allah. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. ―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang. kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari. yaitu sesuatu yang digadaikan. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain. Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut. Karena itulah. ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya.‖ 4] 22 . Ironisnya. Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. Definisi ar-Rahn Rahn. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini. kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖.

[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. 2513 dan Muslim no. Akan tetapi. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya.‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut.‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian. Imam al-Qurthubi menyatakan.” (Qs. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dalil al-Quran adalah firman Allah. as-Sunnah. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). dan beliau menggadaikan baju besinya. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain.―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut. 1603) Demikian juga. ―Tidak 23 . “Sesungguhnya. karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn). bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. dan ijma‘ kaum muslimin. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap).” (Hr. Al-Bukhari no. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya.

‖ Akan tetapi. 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. Syafi‘iyah. [11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). [8] Demikian juga Ibnu Hazm. sehingga tidak wajib untuk diserahkan. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. Ibnul Mundzir menyatakan. Malikiyah. maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. karena ar-rahn adalah jaminan utang. 2512).ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. tidak wajib pada keseluruhannya. ‗Ar-rahn itu tidak ada. dan Daud (az-Zahiri). tidak wajib. dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam.” (Hr. seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama. 24 . dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan. Ibnu Qudamah berkata. dan Hambaliyah). Ia menyatakan. Al-Bukhari no. Selain itu. Wallahu A‘lam. ad-Dhahak. Pendapat pertama. al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). para ulama berselisih dalam dua pendapat. ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn). Ibnu Qudamah menyatakan. ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. kecuali dalam keadaan safar. dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian). atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini.‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Demikian juga. Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan.

―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. sehingga wajib untuk mengamalkannya. padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya. terkadang di suatu waktu. “Akan tetapi. Bisa jadi pula.” (Hr. wajib dalam keadaan safar. Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah. dengan ketentuan. Wallahu a‘lam. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). 25 . Lalu. Al-Bukhari) Mereka menyatakan. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya.Pendapat kedua. dia meminjam darinya.” (Qs. sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. AlBaqarah: 283) Demikian juga. maka dia batil walaupun ada seratus syarat. dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya. Namun dalam keadaan itu. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. sehingga dia tertolak. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang. ada yang kaya dan ada yang miskin.

dan masyarakat. Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). Dua pihak yang bertransaksi. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang). Adapun murtahin (pihak pemberi utang). Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. yaitu: 1. jenis. Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis. dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. Shighah. berakal.[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat. Bila ia berniat baik. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan). Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib. 2. yaitu baligh. Al-marhun bih (utang). Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. [18] b. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur). yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah.[17] 2. dan melapangkan penguasa.Oleh karena itu. [20] 3. menghilangkan kegundahan di hatinya. karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. 3. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. memperkecil permusuhan. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn. dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i. dan sifatnya. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. [15] 4. Untuk rahin. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. pemberi utangan (murtahin). [19] c.

Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―. Dalam ayat ini. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Dalam ayat ini. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). Selain itu. barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh).Pendapat pertama. ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima). seperti rumah dan tanah. dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. Dengan demikian. [23] Prof. serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. [22] Pendapat kedua. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. Ada kalanya pula. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. dihitung bila barangnya dapat dihitung. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. serta Mazhab Zahiriyah. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang. karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. Dr. Demikian juga menurut Imam Malik. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya. 27 . berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. pertumbuhan barang gadai.

biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan.” (Hr. hadits shahih) Kedua.” (Hr. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai. ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam.‖ Demikian juga. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . TIrmidzi. Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Pada asalnya barang. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. ―Menurut kesepakatan ulama. sebagaimana firman Allah.” (Qs. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. pemegang barang gadai. pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. di antaranya: Pertama. pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.pemanfaatan. pen). karena itu adalah miliknya. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. Tentunya. TIrmidzi. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut). [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan. kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan.

dan hewan tersebut. Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. Al-Bukhari. yaitu mengendarai dan memeras susunya. ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. serta untuk kemaslahatan penggadai. pemegang barang gadai (murtahin). maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). maka murtahin mengambil manfaat.” (Hr. Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. dengan kesepakatan 29 .‖ 27] Ketiga. maka ia termasuk dalam barang gadai. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah. “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya. no.karena dalil hadits shahih tersebut. [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. analogi (qiyas).” (Hr. seperti (bertambah) gemuk. maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. pertumbuhan barang gadai. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai. Malikiyah.(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. 2512). maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. berdasarkan tuntutan keadilan. Sehingga. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. tanpa izin dari penggadai. karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat. dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai. Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. Bila tergabung.

maka murtahin melepas barang tersebut. Karenanya. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. Kemudian. kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. Hanya saja. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. serta yang menyepakatinya. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. Abu hanifah dan Imam Ahmad. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya.ulama. Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. 30 . Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. Pada zaman jahiliyah dahulu. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut. berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. [29] Demikianlah. maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut). [28] Keempat. Adapun bila dia terpisah. maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui. serta yang menyepakatinya. namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman.

tahqiq Dr. tidak seperti realita yang banyak berlaku. dan Dr. Beirut. 4. Penerbit Hajar. bahkan mungkin berlipat-lipat. Qismul Muamalah. Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. Prof.Apabila dia tidak juga menjualnya. Madar alWathani lin Nasyr. tahun 1425 H. Artikel: EkonomiSyariat. sampai ia menjual barang gadainya. Wallahul Muwaffiq. Prof. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. Imam Nawawi. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. tahun 1423 H. tahun 1422 H. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. cetakan kedua. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah. Dr. Mesir. dalam rangka meniadakan kezaliman. Syekh Abdullah al-Bassam. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. 2. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. KSA. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. Riyadh. Referensi: 1. [30] Yang rajih.Com 31 . Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. Dr. tahun 1412 H. Selain itu. Ibnu Qudamah. Makkah. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. cetakan kelima. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. KSA. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. cetakan tahun 1419 H. cetakan pertama. Maktabah al-Asadi. Kairo. maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. cetakan pertama. 5. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Mughni. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. 3.

dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. 6/443. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. KSA. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. 12/299—300. al-Fiqh al-Muyassar hlm. [2] Lisan al-Arab. 116. cetakan kedua. hlm. 116. [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. [10]Fathul Bari: 5/140. 116. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. 117. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. tahun 1423. Mesir. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. [26]Al-Fiqh al-Muyassar. KSA. hlm. tahun 1412 H. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. cetakan pertama. Riyadh. 6/102. dan Dr. 117. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. Dr. [11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. tahun 1422 H. [5] Lihat: Mughni. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. [22]Al-Mughni: 6/446. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. tahqiq Dr. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. cetakan pertama. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. Prof. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. atau berupa perbuatan. 119. tahun 1425H. Maktabah al-Asadi. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. hlm. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. Madar al-Wathani lin Nasyr. 115. Kairo. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. Ibnu Qudamah. Syekh Abdullah Al Bassam. hlm. [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. hlm. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. 32 . Qismul Mu‘amalah. Imam Nawawi. 116. Beirut. hlm. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. Prof. 116. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. 4/460. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. [12]Al-Mughni: 6/444. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. cetakan kelima. Makkah. hlm. cetakan tahun 1419 H. penerbit Hajar.

yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya.[1] Secara terminologis. ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil. laba) dari harga asal yang telah disepakati. 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 . Dalam ilmu fiqh. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan). 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal. Dengan defenisi ini. Jadi.[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'.[3] Ivan Rahmawan A. murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. sehingga ia mencari jasa seorang perantara. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah. di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. Dalam murabahah. Dalam akad ini. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri. mark up harga. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory). Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil. II. kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'. 2 bulan.[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan.[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd. 3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional.

Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan. muqaradhah (mudharabah). Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman.S.. Ibnu Majah). hendaklah kamu menuliskannya... Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q. bukan untuk dijual.. "Hai orang-orang yang beriman. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. al-Maidah [5]: 1. karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh..." . maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah. َ ْ ... "..nasabah) atau dengan kata lain.. Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini..." 2..‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 . 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk). mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] . apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli. al-Baqarah [2]: 275.[9] 1.dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." ...‫.وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw..[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah. adanya kerelaan di antara keduanya.S..‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3. Hadis Nabi saw.. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf." (H. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah. bersabda... R.. Q. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw. Q.. al-Baqarah [2]: 282. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. III.S. hutang piutang.

" . dan kaidah usul al-fiqh berikut. "Pada dasarnya. 4.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ . فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ. 5) Hadis Nabi saw. bahwasanya Rasulullah saw. Hadis Nabi saw.S.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan." 4. 2. 5 (kaidah yang pertama). segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. {سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah. Demikian pula.S. an-Nisa' [4]: 29. Q. .. 3. Kaidah Usul al-Fiqh. al-Baqarah [2]: 275.S.S. yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). al-Maidah [5]: 1. ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. bersabda. ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan. Hadis tersebut adalah sebagai berikut."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah". Q.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya. Q. ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah"." 5. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . 3.‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." 6. di sana terdapat hukum Allah. yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. Hadis Nabi saw. Q. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut.[11] 1. al-Maidah [5]: 2.

3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain). فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i)." . ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz).[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah. 36 . ٌِ‫.. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan. 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli). 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). 1) Penjual (ba'i). "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Hadis Nabi saw.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV. 5) Ijab qabul (sigat).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya. ‫.)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd. segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut. 3) Barang/ objek (mabi'). 4) Harga (saman)." 8. Kaidah Usul al-Fiqh. 'Wahai Nabi Allah. ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain. Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah.ٓ‫ىٌَ تَحو. 7. berkata. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim). 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain). Profil Singkat tentang Murabahah 1. 2) Pembeli (musytari). ‫.)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd.[13] 2. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'. َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . maka Rasulullah saw. Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu. 1) Para pihak (al-'aqidan. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

)[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti. batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas. membayar biaya overhead. 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual. rekening listrik. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah).1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah). 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi. 5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim). dan semacamnya. 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli. dan 4) pembayarannya ditangguhkan. misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan. bank harus 37 .[17] 3. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri. dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang. 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar).[18] I. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. terdapat juga syarat-syarat khusus. Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual. Dalam hal ini.[15] Di samping syarat-syarat di atas.

Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 . karena secara hukum. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. nasabah wajib melunasi kekurangannya III. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank.memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli.

4. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali. Asia. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil. dapat dilihat tabel berikut. Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. Adapun murabahah. tidak terdapat pembayaran secara kontan. Jadi. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). 1. sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil".(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 . Dalam penerapannya diperbankan. seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A. atau berdasarkan kesepakatan.[21] No. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah.[20] No. Australia. di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. Oleh karena itu. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab. Karim. Eropa. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja).   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. 2. murabahah yang naqdan tidak ada. Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI. Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2. murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur.

4. 11. yang besarnya merupakan anusitas. 5.3. bank mengalami rugi. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap. 9. maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya.  Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan.  Berkurang sebesar pembayaran dsb. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu. 6. 8. 10.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada). karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. 7. floating. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank. promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual. bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN). sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan. diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat.

bukan setelah penjualan dilakukan. uang muka  Jika dilaksanakan. Sejumlah alasan tersebut adalah. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama. di Pakistan. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. dst. bagi Islamic Development Bank (IDB). V. pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. bank Islam paling awal pada sektor swasta. 73 % pembiayaannya adalah murabahah. Pada kasus Dubai Islamic Bank. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. Oleh karena itu. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. Sejak tahun 1984. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an.[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. atau membayar pokok saja. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas. dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar.12. yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 . yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. Bahkan. 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran. demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989. karena bank bukanlah mitra nasabah. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. meliputi 75% dari total kekayaan mereka. selama lebih 10 tahun periode pembiayaan. 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang.

Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi. M. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah. Daftar Pustaka Antonio. 2004 Wiroso. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut. 1999). Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah. hlm.T. 2003 Sudarsono. Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong. Heri. 2001 Muhammad. Yogyakarta: UII Press. Dana Bhakti Prima Yasa. saling menguntungkan. 25.T. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. Arif Maftuhin. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. terj. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis.[26] VI. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. Jakarta: Gema Insani Press. dan Muhammad Syafi'i Antonio. 1999 Rahmawan A. Abdullah. [2]Karanaen A.. Jakarta: Gema Insani Press. Yogyakarta: P. Dana Bhakti Prima Yasa. 2001 Karim. terj. Ichwan dkk. Ivan. Jual Beli Murabahah. Jakarta: P.). Jakarta: Darul Haq. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. 6. terj.. Abu Umar Basyir. 2004). Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P.T. hlm. 2004 Sam. (ed. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. 2006 al-Mushlih. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. Yogyakarta: UII Press. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. Muhammad Syafi'i. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah. Apa dan Bagaimana Bank Islam. 2004 Perwataatmadja. Intermasa. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. Jakarta: PARAMADINA. [1]Abdullah 42 .jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. Adiwarman A. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. Yogyakarta: EKONISIA. 2005 Saeed. Yogyakarta: Pilar Media. 198. Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang.[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Karanaen A. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi.

hlm. Ichwan Sam dkk. 58. 2001). 2005).. 2004). [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. op. [21]Ibid.cit. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. 121-122 dan Muhammad. [5]Heri Sudarsono..op.. [24]Abdullah Saeed. hlm. 99-100. tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum. hlm.. [7]Ibid... [26]Abdullah . [3]Muhammad 43 . Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. [23]Ibid.. op. [15]Ibid. 119..cit.cit. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media.. Lihat ibid. hlm. hlm.. hlm. hlm.cit. 93.cit. [25]Abdullah Saeed.. [22]Abdullah Saeed.cit. Intermasa.52. 198-199. Syamsul Anwar. op. 62.. hlm.cit.. hlm. [18]Wiroso. 146-148. hlm. hlm. hlm. hlm. 123-124 dan Muhammad.. op. op. 49..cit. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. hlm.. 97. hlm. 90.cit. hlm 120 dan Muhammad. [19]Adiwarman A. [10]Ibid. hlm. hlm. 59. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. op. 101.. (ed.).cit. 2006). 102. 2005).. [13]Ivan. [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. 54-55. [20]Wiroso. Karim..cit. hlm. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press. 112-113. 56. hlm.. 83-85. 94-95. op.. [6]Abdullah Saeed. Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah. [17]Abdullah Saeed. [11]Ibid.. 99-100. hlm.Syafi'i Antonio.cit. hlm.. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA. lo. [14]Print out.. hlm. terj. 113. hlm. op. 2004). 126 dan Muhammad. op. 4749. 121 dan Muhammad. [16]Ibid. 2003). op. 2001)..cit. op. hlm.T. hlm. Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA. [9]M. hlm. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. 94. [4]Ivan Rahmawan A.

B. hal. hal. Menurut syara’ (terminologi) a. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖. 44 . (Alauddin al-Kasani. Juz 4. Al-Qur’an Allah Swt berfirman. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan). ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. hal. Juz 5. al-Mughni. 332) c. hal. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin.BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. (Muhammad asy-Syarbini. DASAR HUKUM 1. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat). 174) b. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. Mughni al-Muhtaj. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. 2. PENGERTIAN 1. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah. Berdasarkan definisi-definisi di atas. dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. (Q. Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. Juz 4. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. Juz 2. Sewa digunakan untuk benda.S. Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah.

aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). tidak disyaratkan harus baligh. „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman.S. Adapun menurut jumhur ulama. RUKUN Menurut ulama Hanafiyah.S. (HR. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3. Ujrah (upah) 4.ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja). Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. al-isti‘jar. As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. al-ikhtira‘ dan al-ikra. 45 . Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D. C. (Q. beritahukanlah upahnya‖. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖. (HR. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda. ―Berbekamlah kamu. (HR. (Q. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. Al-Qashash 28 : 26) 2. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. (HR.

2. (Syarh al-Kabir li Dardir. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda. Juz 2. Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Mughni al-Muhtaj. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. (Q. Ibnu Majah) 4. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta.S. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. hal. (HR. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. (HR. (Muhammad asy-Syarbini. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. hal. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. 3. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. Juz 4. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. (Alauddin al-Kasani. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . Juz 4. 179) Allah Swt berfirman. sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. hal.

Juz 4. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya. Juz 4. hal. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. hal. (Abu Ishaq asy-Syirazi. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan. hal. (Alauddin al-Kasani. 218) g. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah.Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . Mughni al-Muhtaj. (Alauddin al-Kasani. Tidak sah dengan berkata. h. Juz 2. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Juz 1. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi. 182) e. al-Muhadzdzab. (Muhammad asy-Syarbini. b. hal. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. ―Saya sewa selama sebulan‖. Akad yang benar adalah dengan berkata. Jadi. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad. Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. 396) d. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. 195) . Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. c. f. seseorang tidak boleh berkata. hal. Para ulama sepakat melarang ijarah. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama. (Ibnu Rusyd. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. juz 2.. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘.

alMughni. HUKUM IJARAH 1. hal. d. hal. (Alauddin al-Kasani. (Ibnu Qudamah. shaum dan lain-lain. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. 48 . ijarah dipandang rusak. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a. Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat. Juz 4. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad. Cara memanfaatkan barang sewaan . Jika tidak dijelaskan. ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. Juz 5. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya.a. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. . dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya. c. baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. 449) E. b. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. b. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya. Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah.

haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. Rasulullah Saw bersabda. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah.Jika yang disewa kendaraan. seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. Contohnya seperti jasa menjahit pakaian.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan. shaum. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa. qamat dan menjadi imam. Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖. hal.Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G.Menyerahkan kunci. Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani. 49 .. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut. Hukumnya. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . Rasulullah Saw bersabda. Adapun hal-hal kecil. ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela. membangun rumah dan lain-lain. jika barang yang disewakan rusak. Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat. pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat. Juz 4. d. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya. seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b. kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : . shaum. jika yang disewa rumah . haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya. Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. 209) . c. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja.Mempercepat tanpa adanya syarat . ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖. azan.

(Q. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. Allah Swt berfirman. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. hadits. membangun masjid. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. 2. maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. haji. H. menggali kuburan. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara. Namun. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. Madzhab Maliki. fiqih. maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. shalat dan ibadah yang lainnya. hadits dan fiqih.Perbuatan seperti azan. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. apabila seorang muslim wafat. sastra. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an. bahasa.S. shalat. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. shaum. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. mengajarkan Al-Qur‘an. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. qamat. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. 3. khat. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. hadits. Bila tidak ada pekerjaan lain. qamat. mereka diberi upah. 4. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. azan dan badal Haji. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah. fiqh. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung.

TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. J. maka ulama berbeda pendapat. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. 51 . Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. baik disengaja ataupun tidak. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. Seperti penyewaan seekor kerbau. Bila ada kerusakan pada benda yang disewa. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. gempa dll. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. I. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). Ibnu Majah) 2. kebakaran. lebih kecil atau sama. Jika menyewa barang. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. Menurut madzhab Maliki. bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. (HR. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. maka dia harus mempertanggungjawabkannya. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad.

K. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan. berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. Rusaknya barang yang disewakan. 3. seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. (Sumber http://pasar-islam. PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir. musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap).blogspot. Menurut Hanafiyah.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah. Jika barang itu dapat dipindahkan. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman. seperti rumah menjadi runtuh. Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1.Misalnya menyewa mobil. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L.html) 52 . Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2.

Menurut Malik. persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima. Akan tetapi. apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah. fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut.salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 . maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya. Oleh karena itu. dan Dawud. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit.BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak. Ahmad. Abu Tsaur. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I. Abu Hanifah. Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia.

Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr. Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela. Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya. Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu.‖ B.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga. Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. HIBAH A. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian.

Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. dan mukallaf) 11. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. dan sekelompok fuqaha lainnya. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. Syafi‘i. maka pemberi hibah tidak terikat. Tanpa adanya pengganti 5. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. D. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini. selama umurku masih ada. Kedua. ‗ariyyah (pinjaman). Terpilih dan sungguh-sungguh 3. Harta yang diperjualbelikan 4. Apabila orang tersebut meninggal dunia. hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. Ketiga. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). 55 .1. Hibah barang 2. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. Ahmad. Apabila barang tidak diterima. dan minhah (pemberian). apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. ats-Tsauri. Menurut Malik. Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). maka hibah tersebut batal. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Orang yang sah memilikinya 6. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2. Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. Macam-macam Hibah 1. Tidak disertai syarat waktu 10. Abu Hanifah. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. Sah menerimanya 7. Menyempurnakan pemberian 9. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. untukmu dan keturunanmu‖. hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli.

Akan tetapi. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan. ― Wahai golongan Anshar. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. sebaliknya. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini. 56 . hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r. Hukum Hibah a. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli. Oleh karena itu. hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. Dan hadis Malik dari Jabir r. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup.a. Dengan demkian. Kedua. ada dua hal : Pertama.a. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya. tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. b. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r.a. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit. Hanya saja. hadis Abu Zubair dari Jabir r.‖ (HR.‖ (HR. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. Dalam hal ini. jangan kalian berikan seumur hidup.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. tahanlah untukmu hartamu. yang diberi hibah harus ridha. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik. Sebab. E.‖ (HR.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis.a. dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat. Selain itu.

c. Barang yang dihibahkan rusak.pengganti yang diakhirkan. yaitu : yang melarang wahib 1. dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah. Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang. kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. Hanabilah.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh. 3. Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. apabila ayah masih hidup. Masalah Hibah 1. Ulama Malikiyah.‖ E. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram). Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4. Salah seorang yang akad meninggal. Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah.Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan. a. b. Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. Dalam pada itu. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil.yakni untuk memperolah keridaan Allah. 2. seperti dijual kepada orang lain.pemberi yang disyaratkan dalam akad. Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan. Penerima maknawi . seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan. b.pemberian dalam rangka silaturahmi. 57 . Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah . a. sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. 5. 6.pemberian dalam hubungan suami istri. Penerima membrikan ganti .pahala dari Allah. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali.

Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Jakarta : Putaka Amani. hal. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. jilid. Jakarta : Putaka Amani. cet. 2. Bandung : Pustaka Setia. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. cet. 350361 (Sumber: Puspita. edisi 1. Rachmat. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya. 3 Karim. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta : Putaka Amani. 3. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. 96 Ibnu Rusyd. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Fiqh Muamalah. hal. Fiqh Muamalah. jilid.html) http://puspitagiana. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. 3. Fiqh Muamalah. 2006. cet. Bandung : Pustaka Setia. DAFTAR PUSTAKA Rusyd. 2007. hal. 73 Rachmat Syafe‘i. 1997. Helmi. Ahmad. 2 Helmi Karim. 3. hal. hal. Bidayatul Mujtahid. cet. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. 2007. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan. 3. 351358 Rachmat Syafe‘i. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. Ibnu. Menurut Syafi‘I. cet.blogspot.‖ (HR. Bidayatul Mujtahid. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh. edisi 1.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi. Bidayatul Mujtahid. Fiqh Muamalah. 247249 Ibnu Rusyd.‖ (HR. 2. 3. 374375 Helmi Karim. Bukhari dan Nasai) 2. 1997. Bandung : Pustaka Setia. jilid. Fiqh Muamalah. 3. 242246 Ibnu Rusyd. cet. Menurut Malik. Bidayatul Mujtahid. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. hal. menurut-islam. Syafi‘I. hal. 2006. 2006. jilid. Jakarta : Putaka Amani. 3 Syafe‘i. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah.com/2009/06/hibah- 58 . Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. 1997. edisi 1.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum). 2007.

Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan. 59 . Rasulullah SAW. memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. mewakilkan memberi zakat. Bukhari). 3. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. 2. Allah SWT. menggadaikan barang.. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra.Rukun dan Syarat Wakalah a. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. b. Misalnya mewakilkan jual beli. Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. c. Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. WAKALAH 1. Masalah / Urusan yang dikuasakan. Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat. menyembelih hewan kurban dan sebagainya. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa. Al Kahfi : 19).

3. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. Al Hujurat : 10). Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. SULHU 1. Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain. Salah satu pihak meninggal dunia 2. “Perdamaian itu amat baik” (QS. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. 5. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. b. 4. Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Jika salah satu pihak menjadi gila 3. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. 2. Hikmah Wakalah a. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4. An Nisa‟ : 128). 60 . Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. Akad (Ijab Qabul). Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai. sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. 2.d. c. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa. Habisnya Akad Wakalah 1. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. B. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama.

Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. angkara murka dan perselisihan diantara sesama. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. 4. sulhu macamnya sebagai berikut : 1. d. 5. Tidak ada paksaan. Dapat menghilangkan rasa dendam. 3. dapat menghadirkan pihak ketiga. 2.3. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). Jika dipandang perlu. Perdamaian antar sesama muslim 2. c. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). 61 . Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain. 5. 4. Perdamaian antara suami istri. Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. Al Hujurat). 4. maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. 5. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. b. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. Rukun dan Syarat Sulhu a. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai. Hikmah Sulhu 1.

2. yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b.BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. pihak penanggung dan pihak tertanggung. Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. Tertanggung. baik itu berbentuk imbalan. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. 4. Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional. dalam hal ini Perusahaan Asuransi. yang artinya:―Dan tidak 62 . Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. sebagaimana firman Allah SWT. 3. diantaranya adalah: 1. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. B.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. Penanggung.

 Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.‖ (Q. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. dan Abd. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya. Allah telah menyiapkan bahan mentah. S. karena pemegang polis. Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania). Manusia masih perlu mengolahnya. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum. 63 .  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. bukan bahan matang. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. Wahab Khalaf. S. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria). yaitu: I. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah).‖ (Q. Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir). · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi.ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). mencarinya dan mengikhtiarkannya. II. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash. dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. S. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. · Saling menguntungkan kedua belah pihak.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi.  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis. termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua.  Asuransi mengandung unsur riba/renten. dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga.

dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh). bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo). oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Jalan alternatif baru yang ditawarkan. harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah.Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ).‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu.III. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. maka diselesaikan menurut syariat. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah. B. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh. maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i.Dari uraian di atas dapat dipahami. Allah SWT berfirman.‖ (HR. yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar. tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. 5. masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan. saling menjamin. 6. 3. tolong menolong. 4. Kalau terjadi peristiwa.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). diantaranya adalah Sbb: 64 .Dalam keadaan begini. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. sehingga sukar untuk menentukan. adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. Apabila uang itu akan dikembangkan.‖ 2.

Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Juga meningkatkan efesiensi. 2. 3. 2. yaitu: 1. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. Pemerataan biaya. E. Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. 5. dan biaya. Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. dan kalau ada imbalan. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4. 3. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. 2. Manfaat asuransi syariah.masing pihak. D. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu.1.Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. 4. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. Atau jika tidak tabarru‘. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota. dengan tidak kurang dan tidak lebih. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. 4. dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti. sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). 7. C. Sebagai tabungan. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong. diantaranya sbb: 1. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. 8. waktu. Jika diamati dengan seksama. 6. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. 5. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. 65 . Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba.

Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan. keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Jika tak ada klaim. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Dari perbandingan di atas.wordpress. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola. 1. investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.Dibandingkan asuransi konvensional. Sedangkan dalam asuransi konvensional. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Sedangkan dalam asuransi konvensional. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. 6. premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite. dengan prinsip bagi hasil. dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. 3. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. Sedangkan pada asuransi konvensional. nasabah tak memperoleh apa-apa. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. maka hal itu tidak mendapat perhatian. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. Sedangkan pada asuransi konvensional. 2. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Adapun dalam asuransi konvensional. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. 4. 5. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful