HUKUM MUAMALAH DALAM ISLAM

Dihimpun oleh:

ABDURRAHMAN

MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG 2011

0

DAFTAR ISI

Pendahuluan: Kewajiban Mempelajari Fikih Muamalah (Fikih Ekonomi) ................... 2 Bagian 1 Hukum Jual Beli Dalam Islam ........................................................................ 7 Bagian 2 Jual Beli yang Terlarang ................................................................................. 10 Bagian 3 MLM Menurut Fiqh Muammalah .................................................................. 13 Bagian 4 Hukum Al-Faraidh (Warisan) ........................................................................ 16 Bagian 5 Hukum Ar-Rahnu (Pegadaian) Dalam Islam .................................................. 22 Bagian 6 Akad Murabahah Dalam Hukum Islam dan Problematika Penerapannya Pada Bank Syari'ah......................................................................................................... 33 Bagian 7 Ijarah (Sewa Menyewa dan Upah Mengupah) Bagian 8 hibah menurut hukum islam Bagian 9 Hukum wakalah dan sulhu Bagian 10 Hukum asuransi dalam islam

1

PENDAHULUAN: KEWAJIBAN MEMPELAJARI FIKIH MUAMALAH (FIKIH EKONOMI) Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Kitab-kitab Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fiqh membahas fiqh ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya. Namun dalam waktu yang panjang, materi muamalah (ekonomi Islam) cenderung diabaikan kaum muslimin, padahal ajaran muamalah bagian penting dari ajaran Islam, akibatnya, terjadilah kajian Islam parsial (sepotong-sepotong). Padahal orang-orang beriman diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah (menyeluruh).

‖Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) . Jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah 208). Akibat lainnya, ialah ummat Islam tertinggal dalam ekonomi dan banyak kaum muslimin yang melanggar prinsip ekonomi Islam dalam mencari nafkah hidupnya, seperti riba, maysir, gharar, haram, batil, dsb. Ajaran muamalah adalah bagian paling penting (dharuriyat) dalam ajaran Islam. Dalam kitab Al-Mu‘amalah fil Islam, Dr. Abdul Sattar Fathullah Sa‘id mengatakan :

Artinya : Di antara unsur dharurat (masalah paling penting) dalam masyarakat manusia adalah “Muamalah”, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegaiatan ekonomi. Karena itu syariah ilahiyah datang untuk mengatur

2

maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam:  Tidak boleh beraktifitas bisnis. ―Fiqh muamalah ekonomi. kecuali faham fikih muamalah  Tidak boleh beraktivitas perbankan. Husein Shahhatah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM.muamalah di antara manusia dalam rangka mewujudkan tujuan syariah dan menjelaskan hukumnya kepada mereka. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah. kecuali faham tentang fikih muamalah  Tidak boleh berdagang. kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam‖ (H. selanjutnya menulis. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas asuransi. namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah Oleh karena itu. seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari‘ah Allah. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas koperasi. maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pasar modal.Tarmizi) Berdasarkan ucapan Umar di atas. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt. Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata : ―Tidak boleh berjual-beli di pasar kita. ―Dalam bidang muamalah maliyah ini. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas reksadana. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas pegadaian. para ulama sepakat tentang mutlaknya ummat Islam memahami dan mengetahui hukum muamalah maliyah (ekonomi syariah) Artinya : Ulama sepakat bahwa muamalat itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah) Fardhu ‘Ain Husein Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku AlIltizam bi Dhawabith asy-Syar‘iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan. Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata‖ Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim. menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. tanpa ia sadari. Menurut ulama Abdul Sattar di atas. kecuali faham fiqh muamalah  Tidak boleh beraktifitas jual-beli.R. kecuali faham fiqh muamalah 3 . karena itu hukum mempelajarinya wajib ‗ain (fardhu) bagi setiap muslim.

apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. (Hud : 84. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Kami utus saudara mereka. “Hai Kaumku sembahlah Allah. Ia berkata.”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. 4 . Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. “Hai Syu‟aib. Artinya : Mereka berkata. Nabi Syu‘aib mengajarkan I‘tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”. Syu‟aib. Dalam konteks ini Allah berfirman: Artinya : „Dan kepada penduduk Madyan. Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya.Dan Syu‟aib berkata. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.85) Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu‘aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu‘aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini.Abdul Sattar menyimpulkan: Artinya : Dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah.Sehubungan dengan itulah Dr. sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan.

Prof Muhammad Akram Khan).Ayat ini berisi dua peringatan penting. Berdasarkan ayat-ayat di atas. Ash-Shulhu (perdamaian bisnis) 6. maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya. Syirkah (tentang perkongsian) 5 . Artinya : Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS. Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai―Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda‖atau lebih tepatnya ―aturan Islam tentang kegiatan ekonomi manusia‖ Ruang Lingkup Muamalah 1. Ar-Rahn (tentang pegadaian) 4. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Hak Milik.Yusuf Qardhawi. agar tak muncul salah faham tentang syariah. Prof Umar Chapra. asuransi) 7. Pengertian Muamalah Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas. yang disebut dengan syari‘ah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati.16). Fungsi Uang dan ‘Ukud (akad-akad) 2. sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma‘ mengharamkan bunga bank. (hlm. sebagaimana firman Allah: Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. Muamalah adalah Sunnah Para Nabi. Buyu‘ (tentang jual beli) 3. (Baca tulisan Prof. melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. tanpa aturan syari‘ah. Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Adh-Dhaman (jaminan. Hiwalah (pengalihan hutang) 5.Ali Ash-Sjabuni. Prof. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal. yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita‘ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia‖. Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. yaitu aqidah dan muamalaH. Harta.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Wakalah (tentang perwakilan) Wadi‘ah (tentang penitipan) ‗Ariyah (tentang peminjaman) Ghasab (perampasan harta orang lain dengan tidak shah) Syuf‘ah (hak diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah) Mudharabah (syirkah modal dan tenaga) Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun) Muzara‘ah (kerjasama pertanian) Kafalah (penjaminan) Taflis (jatuh bangkrut) Al-Hajru (batasan bertindak) Ji‘alah (sayembara, pemberian fee) Qaradh (pejaman) Ba‘i Murabahah Bai‘ Salam Bai Istishna‘ Ba‘i Muajjal dan Ba‘i Taqsith Ba‘i Sharf dan transaksi vala ‘Urbun (panjar/DP) Ijarah (sewa-menyewa) Riba, konsep uang dan kebijakan moneter Shukuk (surat utang atau obligasi) Faraidh (warisan) Luqthah (barang tercecer) Waqaf Hibah Washiat Iqrar (pengakuan) Qismul fa‘i wal ghanimah (pembagian fa‘i dan ghanimah) Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat) Ibrak (pembebasan hutang) Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur Baitul Mal dan Jihbiz Kebijakan fiskal Islam Prinsip dan perilaku konsumen Prinsip dan perilaku produse Keadilan Distribusi Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh) Jual beli gharar, bai‘ najasy, bai‘ al-‗inah, Bai wafa, mu‘athah, fudhuli, dll. Ihtikar dan monopoli Pasar modal Islami dan Reksadana Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain

(Sumber: Agustianto, Penulis adalah: Sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)

6

BAGIAN 1 HUKUM JUAL BELI DALAM ISLAM

Pengertian Jual Beli Menjual adalah memindahkan hak milik kepada orang lain dengan harga, sedangkan membeli yaitu menerimanya. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia demikian pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam sunnahnya yang suci beberapa hukum muamalah, karena butuhnya manusia akan hal itu, dan karena butuhnya manusia kepada makanan yang dengannya akan menguatkan tubuh, demikian pula butuhnya kepada pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya dari berbagai kepentingan hidup serta kesempurnaanya. Hukum Jual Beli Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas: Allah Ta'ala berfirman : " Dan Allah menghalalkan jual beli (Al Baqarah)" Allah Ta'ala berfirman : " tidaklah dosa bagi kalian untuk mencari keutaman (rizki) dari Rabbmu " (Al Baqarah : 198, ayat ini berkaitan dengan jual beli di musim haji). Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam shahih Jami no. 2886) Dan para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli, karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuaitu yang dihargai (barang dan jasa) dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki. . Akad Jual Beli Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan : • Bentuk perkataan terdiri dari Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan " saya jual" dan Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan "saya beli " • Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

7

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus : Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran 1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan " ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan "ambilah baju ini dengan bajumu", maka kemudian dia mengambilnya. 2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan) 3. Keduanya tidak mengucapkan lapadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai. Syarat Sah Jual Beli Sahnya suatu jual beli bila ada dua unsur pokok yaitu bagi yang beraqad dan (barang) yang diaqadi, apabila salah satu dari syarat tersebut hilang atau gugur maka tidak sah jual belinya. Adapun syarat tersebut adalah sbb : Bagi yang beraqad : 1. Adanya saling ridha keduanya (penjual dan pembeli), tidak sah bagi suatu jual beli apabila salah satu dari keduanya ada unsur terpaksa tanpa haq (sesuatu yang diperbolehkan) berdasarkan firman Allah Ta'ala " kecuali jika jual beli yang saling ridha diantara kalian ", dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "hanya saja jual beli itu terjadi dengan asas keridhan" (HR. Ibnu Hiban, Ibnu Majah, dan selain keduanya), adapun apabila keterpaksaan itu adalah perkara yang haq (dibanarkan syariah), maka sah jual belinya. Sebagaimana seandainya seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual barangnya guna membayar hutangnya, maka meskipun itu terpaksa maka sah jual belinya. 2. Yang beraqad adalah orang yang diperkenankan (secara syariat) untuk melakukan transaksi, yaitu orang yang merdeka, mukallaf dan orang yang sehat akalnya, maka tidak sah jual beli dari anak kecil, bodoh, gila, hamba sahaya dengan tanpa izin tuannya. (catatan : jual beli yang tidak boleh anak kecil melakukannya transaksi adalah jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa seperti jual beli rumah, kendaraan dsb, bukan jual beli yang sifatnya sepele seperti jual beli jajanan anak kecil, ini berdasarkan pendapat sebagian dari para ulama pent). 3. Yang beraqad memiliki penuh atas barang yang diaqadkan atau menempati posisi sebagai orang yang memiliki (mewakili), berdasarkan sabda Nabi kepada Hakim bin Hazam " Janganlah kau jual apa yang bukan milikmu" (diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkan olehnya). Artinya jangan engkau menjual seseuatu yang tidak ada dalam kepemilikanmu. Berkata Al Wazir Ibnu Mughirah Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak juga dalam kekuasaanya, kemudian setelah dijual dia beli barang yang lain lagi (yang semisal) dan diberikan kepada pemiliknya, maka jual beli ini bathil Bagi (Barang) yang diaqadi 1. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya secara mutlaq, maka tidak sah menjual sesuatu yang diharamkan mengambil manfaatnya

8

alat-alat musik. 3. maka tidak sah jual belinya.Saudi Arabia) 9 . atau tidak mampu untuk mengambilnya dari pencuri karena yang menguasai barang curian adalah pencurinya sendiri. Dan tidak sah menjual dengan mengundi (dengan krikil) seperti ucapan " lemparkan (kerikil) undian ini. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan hasil memegang dan melempar" (mutafaq alaihi). dan tidak sah juga membeli barang curian dari orang yang bukan pencurinya. maka apabila mengenai suatu baju. Dengan demikian tidak boleh membeli unta yang masih dalam perut. Barang yang diaqadi tersebut diketahui ketika terjadi aqad oleh yang beraqad. atau dia melihatnya akan tetapi dia tidak mengetahui (hakikat) nya. Dan tidak sah juga membeli sesuatu yang hanya sebab menyentuh seperti mengatakan "pakaian mana yang telah engkau pegang. mengharamkan bangkai dan harganya. mengharamkan babi dan harganya". sedangkan penipuan terlarang. seekor unta yang kabur. dan di dalam hadits mutafaq alaihi: disebutkan " bagaimana pendapat engkau tentang lemak bangkai. maka beliau berata. berdasarkan sabda Nabi " Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu (barang) mengharamkan juga harganya ".". bangkai berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam " Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual bangkai. maka bagimu harganya adalah sekian " (Sumber : Mulakhos Fiqhy Syaikh Sholeh bin Fauzan AL Fauzan Penerbit Dar Ibnul Jauzi ..seperti khomer. karena ketidaktahuan terhadap barang tersebut merupakan suatu bentuk penipuan. khomer. maka itu harus engkau beli dengan (harga) sekian " Dan tidak boleh juga membeli dengam melempar seperti mengatakan "pakaian mana yang engaku lemparkan kepadaku. meminyaki (menyamak kulit) dan untuk dijadikan penerangan". Tidak sah pula menjual minyak najis atau yang terkena najis. Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan " mengharamkan khomer dan harganya. karena sesuatu yang tidak dapat didapatkan (dikuasai) menyerupai sesuatu yang tidak ada. dan seekor burung yang terbang di udara. maka tidak sah membeli sesuatu yang dia tidak melihatnya. susu dalam kantonggnya. maka itu (harganya0 sekian. dan patung (Mutafaq alaihi). Yang diaqadi baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai mampu untuk didapatkan (dikuasai). 2. sesungguhnya lemak itu dipakai untuk memoles perahu. " tidak karena sesungggnya itu adalah haram. seperti tidak sah membeli seorang hamba yang melarikan diri.

pada waktu pagi dan waktu petang. Jual Beli Untuk Kejahatan Demikian juga Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah. jika kamu mengetahui akan maslahatnya. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua. Allah Ta‘ala berfirman ―Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah." (QS. Maka. Hal ini berdasarkan firman Allah ta‘ala ―Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan (Ai Maidah : 2)‖ Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan.BAGIAN 2 JUAL BELI YANG TERLARANG Allah Ta‘ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. Jual Beli Ketika Panggilan Adzan Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum‘at. Karena itu. Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. Al Jumu‘ah : 9). tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. 10 . Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum‘at. Kemudian Allah mengatakan ―dzalikum‖ (yang demikian itu)." (QS. Demikian juga shalat fardhu lainnya. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. 24:36-37-38). melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jumat adalah juga perkara yang diharamkan. yakni yang Aku telah sebutkan kepadamu dari perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum‘at adalah lebih baik bagimu. dan membayarkan zakat. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. mendirikan shalat. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. berdasarkan Firman Allah Ta‘ala :―Hai orang-orang yang beriman. Allah dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian. Allah mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang.

Ibnul Qoyim berkata "Telah jelas dari dalil-dalil syara‘ bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. Shahih Al Jami‘ 8603‖ 11 . Samsaran Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran. Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir.‖(Mutafaq alaihi). Atau perkataan ―Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula‖.. Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya. (Shahih Tirmidzi. seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh. begitupun sebaliknya. 4:141). pent). Allah ta‘ala telah berfirman ―Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orangorang yang beriman. Nabi Shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda ―Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Allah. (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota)." Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya. kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya. Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan. Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. Juga sabdanya: ―Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya (Mutfaq ‗alaih)‖." (QS. Shahih Al Jami‘ : 2778). Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah keta‘atan dan qurbah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam :―Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang dating ke kota)‖ Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata: ―Tidak boleh menjadi Samsar baginya‖(yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. ―Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan‖. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual dengan harga sembilan : ―Saya beli dengan harga sepuluh‖ Kini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya. 977. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda : ―Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya" (shahih dalam Al Irwa‘ : 1268.

dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram : 13) (Dikutip dari situs Zisonline. maka ini tidak dilarang‖ Jual Beli dengan ‘Inah Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara ‗inah. Lc. padahal intinya adalah riba. sehingga kalian meninggalkan jihad.php?id_artikel=66) 12 .Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang.or. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata ―Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan―.salafy. Adapun harga Rp 20. Diarsipkan al akh Fikri Thalib. Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah). Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya. Misalnya. Nabi shalallahu ‗alaihi wasallam bersabda: ―Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‗inah‘ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam). tulisan al Ustadz Qomar Su'aidi.000 dengan cara kredit. Shahih Abu Dawud : 2956) dan juga sabdanya ― Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli ― (Hadits Dha‘if . maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan. seseorang menjual barang seharga Rp 20.‖ (Silsilah As Shahihah : 11. sampai kalian kembail kepada agama kalian. kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit.id/print. yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. Sumber : Diambil dari Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13.000 kontan. http://www.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15.

Menurut data di internet. Konsep perusahaan ini adalah penyaluran barang (produk dan jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan keuntungan di dalam garis kemitraannya. Jika mitraniaga mengajak orang lain untuk menjadi anggota pula sehingga jaringan pelanggan/pasar semakin besar/luas. Perkembangan jual beli dan variasinya ini tentu saja menuntut kehati-hatian agar tidak bersentuhan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syariah. menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. tahunan ataupun bonus-bonus lainnya. di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1500an. Pada dasarnya MLM syariah merupakan konsep jual beli yang berkembang dengan berbagai macam variasinya. Al Baqarah ayat 282 dan An Nisa ayat 29. anggota dapat pula disebut sebagai distributor atau mitra niaga. itu artinya mitraniaga telah berjasa mengangkat omset perusahaan. Pada Al Baqarah ayat 275 Allah berfirman : ―Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. baik bonus bulanan. Dalam istilah MLM. Keadaan mereka yang demikian itu. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya.BAGIAN 3 MLM MENURUT FIQH MUAMMALAH Benarkah MLM haram ? (Kajian Fiqh Muamalah) Beberapa dekade belakangan ini. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Perusahaan MLM adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. baik pada produknya atau pada sistemnya. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Landasannya adalah terdapat pada surat Al Baqarah ayat 275. yang dibangun secara permanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. dengan menggunakan konsep syariah. Sedangkan menurut istilah ba‘i berarti pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus yang diperbolehkan. begitu pula di Malaysia.000 an. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk memberi sebagian keuntungannya kepada mitraniaga yang berjasa dalam bentuk insentif berupa bonus. Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. baik dari sistemnya maupun produk yang dijual. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Perusahaan MLM syariah adalah perusahaan yang menerapkan sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang berjenjang. Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM. misalnya riba dan gharar. 13 . gerakan perusahaan pemasaran berjenjang atau dikenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semakin berkembang pesat di tanah air. Menurut Syafei (2008:73) jual beli dalam bahasa Arab adalah ba‘i yang secara etimologi berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain.

mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan syari‘at Islam. akhlak. bermu‘amalah secara syari‘ah Islam. MLM konvensional yang berkembang pesat saat ini. Sedangkan misinya adalah: Pertama. baik jaringan produksi. dan urusannya (terserah) kepada Allah. kashbul halal wa intifa‘uhu (usaha halal dan menggunakan barang-barang yang halal). Keempat. mengutamakan produk dalam negeri. Kelahiran MLM Syari‘ah dilatar belakangi oleh kepedulian akan kondisi perekonomian umat Islam Indonesia yang masih terpuruk. Umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. pengawasan dan sebagainya. distribusi. sebab sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat Islam. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. sistem pengelolaan. kegiatan bisnisnya adalah penjualan atau pemasaran produk-produk Muslim yang halalan thayyiban yang dibidani oleh figur ulama dari MUI dan ICMI. agar pemberdayaan potensi bisnis umat Islam Indonesia. komoditi. Visi dan misi MLM bisa juga berbeda total dengan MLM syari‘ah. hukum muamalah. mengantisipasi dan meningkatkan strategi 14 . Kedua. Orang yang kembali (mengambil riba). Kemudian pada surat Al Baqarah ayat 282 Allah berfirman : ―Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli‖. memperkukuh ketahanan aqidah dari serbuan budaya dan idelogi yang tidak Islami. dimodifikasi dan disesuaikan dengan syari‘ah. harus menggunakan kekuatan jaringan. dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung‖. sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. mereka kekal di dalamnya‖. Dalam MLM Syari‘ah. Motivasi dan niat dalam menjalankan MLM Syari‘ah setidaknya ada empat macam.maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang harus dilakukan. membentuk jaringan ekonomi Islam dunia. Gerakan ini juga mendapat dukungan kuat dari pakar ekonomi Islam dan perguruan tinggi Islam yang mengembangkan kajian ekonomi syari‘ah di seluruh Indonesia. seperti perbedaan motivasi dan niat. Kelima. Keempat. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari‘ah yang berlandaskan tauhid. Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumuah ayat 10 : ―Apabila telah kamu ditunaikan shalat. prinsip. maka bertebaranlah kamu di muka bumi. MLM Syari‘ah juga sangat berbeda dengan MLM konvensional yang pernah ada dan berkembang di Indonesia saat ini. Dengan demikian. Rasul menjawab : ‖ Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur‖ (HR Bajjar. ]Adapun visi MLM Syari‘ah adalah mewujudkan Islam Kaffah melalui pengamalan ekonomi syari‘ah. Allah SWT juga memerintahkan manusia agar mengembara di muka bumi mencari karunia (nafkah) setelah melakukan ibadah shalat. mengangkat derajat ekonomi umat. Hakim menyahihkannya dari Rifaah ibnu Rafi‘). meningkatkan jalinan ukhuwah Islam di seluruh dunia. Pada as Sunnah Rasululah SAW pernah ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik. orientasi. Kedua. visi. bisa diwujudkan. Pertama. misi. Pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin. Perbedaan itu terlihat dalam banyak hal. Ketiga. maupun konsumennya. Ketiga.

meningkatkan ketenangan batin konsumen Muslim dengan tersedianya produkproduk halal dan thayyib. keberadaan Multi Level Marketing masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat ekonomi syari‘ah.menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas. Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Indonesia menganut agama Islam dan MLM yang dijalankan sesuai syari‘ah di Indonesia dan mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI hanya ada tiga yaitu PT Ahad-Net Internasional. Saat ini.com/mlm-menurut-fiqhmuammalah#more-1519). Selanjutnya dari segi fikh muamalah ada beberapa ulama yang belum berani memastikan apakah MLM dan MLM ‗syariah‘ tersebut halal dan thayib. Penulis tertarik untuk memeriksa MLM ini dengan rumusan masalah : Bagaimana keberadaan MLM dilihat dari segi sisi fiqh muamalah ? (Sumber: Zona Ekonomi Islam– http://zonaekis. Berbagai alasan menjadi penyebab keraguan masyarakat akan kehalalan MLM mengingat begitu banyaknya kejadian di masyarakat yang kontroversial dimana masyarakat yang menginginkan kemakmuran. maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan mencoba meneliti dari segi fikh muamalah. dan PT Exer Indonesia dengan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia No. Perusahaan MLM Syari‘ah diduga prospektif dan memiliki potensi besar untuk berkembang dimasa depan. kekayaan dan kesehatan dalam waktu relative singkat dan juga terdapat beberapa kejadian-kejadian yang menarik dan mengejutkan mengenai keberadaan MLM syariah ini. Keenam. U-299/DSN-MUI/XI/2007. PT UFO. 15 .

Peringatan Keras Agar Tidak Melampaui Batas dalam Masalah Warisan Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah. sedang mereka kekal di dalamnya. ketentuan. ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 11). Sedang menurut istilah syara‘ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. Irwa-ul Ghalil no: 1667. Allah swt berfirman: “(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (QS an-Nisaa‘: 11). sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki. Allah Ta‘ala memberi setiap yang punya hak akan haknya.” (QS alBaqarah: 237). khususnya dalam hal warisan. Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari‘at Allah. dan itulah kemenangan yang besar. Dan pernyataan Ali ra: “Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat. Tatkala Islam datang. dan kepada orang-orang dewasa. dan tidak diberikan kepada perempuan. maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya. dan disebut pula “Faridhah. barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Harta Mayyit Yang Sah Menjadi Warisan Manakala seseorang meninggal dunia. niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. lalu penyempurnaan wasiatnya. Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205). niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya. Allah swt berfirman: “Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya. lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris). Nasab Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Mendapat Warisan Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga: 1. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa‘: 12). dan tidak diberikan anak-anak kecil.BAGIAN 4 HUKUM AL-FARAIDH (WARISAN) Pengertian Faraidh Faraidh adalah bentuk jama‘ dari kata fariidhah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195.” (QS an-Nisaa‘: 13-14). dan baginya adzab yang menghinakan.” (QS al-Ahzaab: 6) 16 . Allah swt berfirman:“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah.

Tirmidzi III: 286 no: 2189. Allah swt berfirman: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas. Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645). bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Muslim III: 1400 no: 1776." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315.2. Berlainan agama: Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda. Ibnu Majah II: 911 no: 2729. “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim. 3 dan 4.” (QS an-Nisaa‘: 12) Sebab-Sebab yang Menghalangi Mendapat Warisan 1. Wala‘ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya): Dari Ibnu Umar dari Nabi saw.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764. 5 dan 6. maka ia menjadi milik tuannya juga. 2. Pembunuhan Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda. Baihaqi X: 292). Muslim III: 1233 no: 1614. Allah swt berfirman: 17 ." (QS An Nisaa‘: 11). 3. ia bersabda. Irwa-ul Ghalil no: 1672." (QS An Nisaa‘: 11). Perhambaan Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya. oleh karena itu Nabi saw bersabda: "Saya adalah anak Abdul Muthallib. Para Ahli Waris dari Pihak Lelaki Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang: 1 dan 2. Nikah Allah swt menegaskan: “Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. ―al-Walaa‘ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab. sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan. dan Tirmidzi III: 117 no: 1778). ‗Aunul Ma‘bud VIII: 120 no: 2892). Mustadrak Hakim IV: 341.” (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 4436. bukan menjadi miliknya. Dan datuk termasuk ayah. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah. “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. 3.‖ (Shahih: Shahihul Jami‘us Shaghir no: 7157. Allah swt berfirman: “Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah.

3 dan 4. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu. Perempuan yang memerdekakan budak. 9." (QS An Nisaa‘: 176). Muslim III: 1233 no: 1615. 5." (QS An Nisaa‘: 11)." (Muttafaqun‘alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732. bagi masing-masing seperenam. Sabda Nabi saw: "Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya. 7. Nabi saw bersabda: "Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak. 6. Sunan Ibnu Majah II: 915 no. Allah swt berfirman: "Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu. Laki-laki yang memerdekakan budak. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya. 2740). Paman dan anaknya serta seterusnya. kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit)." (QS An Nisaa‘: 11). Sabda Nabi saw: 18 ." (QS An Nisaa‘: 12). Allah swt berfirman: "Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan." Perempuan-Perempuan Yang Menjadi Ahli Waris Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh: 1 dan 2. Saudara perempuan. jika ia tidak mempunyai anak. Firman-Nya: "Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu." (QS An Nisaa‘: 12). Allah swt berfirman: "Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. ‗Aunul Ma‘bud VIII: 104 no: 2881. 10."Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Isteri. 7 dan 8. Suami. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak. Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud. Ibu dan nenek." (QS An Nisaa‘: 176).

hanya satu (yaitu): ] Istri dapat seperdelapan. ‘Aunul Ma‘bud X: 438 no: 3910. Muslim II: 1141 no: 1504. Yang dapat 1/4 . Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu. kedua. Firman-Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak. Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang. "Para ulama‘ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan." (Al Ijma‘ hal. jika kamu tidak meninggalkan anak. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki. tanpa mempunyai saudara perempuan. 2. Cucu perempuan." (QS An Nisaa‘: 12). Ibnu Mundzir berkata." (QS An Nisaa‘: 12). jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung lakilaki." (Muttafaqun‘alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456. Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia. (ketiga) seperdelapan."Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya." (QS An Nisaa‘: 12). Seorang anak perempuan. 79) 4. dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan. karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma‘ (kesepakatan) ulama‘. maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu. jika isteri yang wafat meninggalkan anak. jika suami tidak meninggalkan anak. ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham). 2. jika suami meninggalkan anak. Yang dapat 1/2: 1." (QS An Nisaa‘: 11). yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya). (kelima) sepertiga. 1. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak. Firman-Nya: "Tetapi jika kamu tinggalkan anak. Ibnu Majah II: 842 no: 2521). 19 . Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta‘ala ada enam: (pertama) separuh. Yang dapat 1/8. C. maka ia dapat separuh. (kedua) seperempat. bila si mayyit tidak meninggalkan anak. Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Warisan Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok. dan 5. dan (keenam) seperenam. A. (keempat) dua pertiga. 3. Firman-Nya: "Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan. maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. jika mereka tidak meninggalkan anak. Suami dapat seperempat. padahal ia tidak mempunyai anak." (QS An Nisaa‘: 176) B. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri)." (QS An Nisaa‘: 12). Isteri. maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan. dua orang.

"Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga). jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak. "Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan. Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang. Seorang saudara seibu." Maka ia menjawab. jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang. Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak." (QS An Nisaa‘: 11). Yang dapat 1/3. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. dua orang: 1. maka ibunya dapat sepertiga. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam. tetapi jika saudarasaudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu. F. 3 dan 4." (QS An Nisaa‘: 11). 2. maka bagi ibunya sepertiga." (QS An Nisaa‘: 12). bila si mayyit tidak meninggalkan ibu. maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan. "Para ulama‘ sepakat bahwa nenek dapat seperenam. Yang dapat 1/6. maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya). jika ia tidak mahjub (terhalang). bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Yang dapat 2/3. empat orang 1 dan 2. 3. bila si mayyit tidak meningalkan ibu. "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau 20 . dan temuilah Ibnu Mas‘ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas‘ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya. Ibnul Mundzir menegaskan. maka Ibnu Mas‘ud menjawab. Nenek. dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak. 4." (QS An Nisaa‘: 12)." (Al Ijma‘ hal." (QS An Nisaa‘: 11)." (QS An Nisaa‘: 176). 2. Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak. Ibu. Firman-Nya: "Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak. maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu. ada tujuh orang: 1. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki). baik laki-laki ataupun perempuan. dapat seperenam. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). E. Ibu dapat seperenam. tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu). 84). jika yang meninggal itu mempunyai anak.D. jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja). jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan: Dari Abu Qais. Cucu perempuan. maka ibunya dapat seperenam. ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata.

‘Aunul Ma‘bud VIII: 97 no: 2873.html ) 21 . Bapak dapat seperenam. lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas‘ud kepadanya. ‖Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian. dan sisanya untuk saudara perempuan. 797 . cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3)." (Al Ijma‘ hal. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah). terj. Firman-Nya: "Dan bagi dua ibu bapaknya. 6. Saudara perempuan sebapak. bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir). (Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi.‘ Kemudian kami datang menemui Abu Musa. Tirmidzi III: 285 no: 2173. jika si mayyit meninggalkan anak. jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3).sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan. buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya).com/muamalah/15-waris/317kitab-al-faraidh-warisan. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. "Para ulama‘ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh. hlm. atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. karena dikiaskan kepada cucu perempuan. 7.808. 84)." (QS An Nisaa‘: 11). maka Abu Musa kemudian berkomentar.‖ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863. http://alislamu. bila si mayyit meninggalkan anak perempuan.. Fathul Bari XII: 17 no: 6736. 5. jika (anak itu) mempunyai anak. Datuk (kakek) dapat seperenam.

Dari kata ini terbentuk kata ‗ar-rahn‘. suburnya usaha-usaha pegadaian. Ada yang menyatakan. khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain. dalam bahasa Arab. ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. khususnya di zaman kiwari ini.BAGIAN 5 HUKUM AR-RAHNU (PEGADAIAN) DALAM ISLAM Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia. Sebagai akibatnya. dijelaskan para ulama dengan ungkapan. Dalam rubrik fikih kali ini kita angkat permasalahan gadai (rahn) dalam tinjauan syariat Islam. memiliki pengertian ―tetap dan kontinyu‖. kata ―rahinah‖ bermakna ―tertahan‖. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama.‖ 4] 22 .[2] Ibnu Faris menyatakan. yaitu sesuatu yang digadaikan. Sehingga. Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari. ha`. karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka. kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari. dan kata bermakna nikmat yang tidak putus. baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). ―Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang. ―Huruf ra`. kata ―rahn‖ bermakna ―tertahan‖. terjadi kezaliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil.” (Qs. Karena itulah. Ironisnya. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri. Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka. banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. dan nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Al-Muddatstsir: 38) Pada ayat tersebut. sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia. 1] Dalam bahasa Arab dikatakan: apabila tidak mengalir. agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas perbuatan yang telah dikerjakannya.‖ 3] Adapun definisi rahn dalam istilah syariat. dengan dasar firman Allah. padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia. baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai ini. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. Definisi ar-Rahn Rahn.

Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dalil al-Quran adalah firman Allah. dan ijma‘ kaum muslimin.‖ 6] Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut.‖ 5] ―Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut. alBaqarah: 283) Walaupun terdapat pernyataan ―dalam perjalanan‖ namun ayat ini tetap berlaku secara umum. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. “Sesungguhnya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara berutang. karena kata ―dalam perjalanan‖ dalam ayat ini hanya menunjukkan keadaan yang biasanya memerlukan sistem ini (ar-rahn). Akan tetapi. ―Tidak 23 . baik ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim (menetap). 1603) Demikian juga.” (Hr. sebagaimana dikisahkan Ummul Mukminin Aisyah dalam pernyataan beliau. Al-Bukhari no. Hal ini pun dipertegas dengan amalan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang melakukan pegadaian.[7] Hukum ar-Rahn Utang-piutang dengan sistem gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan dengan dasar al-Quran. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. 2513 dan Muslim no. apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya. para ulama bersepakat menyatakan tentang disyariatkannya ar-rahn ini dalam keadaan safar (melakukan perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam keadaan tidak safar. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. dan beliau menggadaikan baju besinya.―Atau harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut. as-Sunnah. Imam al-Qurthubi menyatakan. Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. apabila si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. bila pihak berutang tidak mampu melunasinya. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis.” (Qs.

2512). Ibnul Mundzir menyatakan. tidak wajib pada keseluruhannya. Al-Bukhari no. Malikiyah. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. Ibnu Qudamah menyatakan. dan Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Pendapat pertama. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. maka demikian juga dengan penggantinya (yaitu ar-rahn). atau wajib dalam keadaan safar saja? Dalam hal ini. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). karena ar-rahn adalah jaminan utang. Selain itu. yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat mayoritas ulama. sehingga menunjukkan tidak wajibnya penyerahan ar-rahn (barang gadai). karena rahn ada ketika penulisan perjanjian utang sulit untuk dilakukan. karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman. karena ia adalah jaminan atas utang sehingga tidak wajib untuk diberikan. baik dalam perjalanan atau keadaan mukim. al-Hafidz Ibnu Hajar [10]. seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban). Syafi‘iyah. Wallahu A‘lam. maka bagaimanakah hokum ar-rahn pada keadaan yang berbeda? Apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim. Bila penulisan perjanjian utang tidak wajib untuk dilakukan. Ibnu Qudamah berkata. dan Daud (az-Zahiri). para ulama berselisih dalam dua pendapat.” (Hr. [11] Setelah jelas tentang pensyariatan ar-rahn dalam keadaan safar (perjalanan). dengan adanya dalil perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di atas dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. dan Hambaliyah). ―Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. 24 . tidak wajib. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. [8] Demikian juga Ibnu Hazm. ―Kami tidak mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. ―Penyerahan ar-rahn (barang gadai) itu tidak wajib. kecuali dalam keadaan safar. 9] Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah. sehingga tidak wajib untuk diserahkan.ada seorang pun yang melarang ar-rahn pada keadaan tidak safar kecuali Mujahid. ―Ar-rahn diperbolehkan dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian). seperti dhiman (jaminan pertanggungjawaban) dan kitabah (penulisan perjanjian utang). Demikian juga. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. Inilah pendapat Mazhab empat imam (Hanafiyah. ad-Dhahak.‖ Akan tetapi. ‗Ar-rahn itu tidak ada.‖ 12] Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ar-rahn dalam keadaan mukim di atas yang tidak menunjukkan adanya perintah. Ia menyatakan.

sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. Wallahu a‘lam. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya. dia meminjam darinya. maka dia batil walaupun ada seratus syarat.” Mereka menyatakan bahwa kalimat ―maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))‖ adalah berita yang bermakna perintah. terkadang di suatu waktu. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Bisa jadi pula.” (Qs. Serta tidak ada pensyaratan bahwa ar-rahn hanya dalam keadaan mukim. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Al-Bukhari) Mereka menyatakan.‖ 13] Yang rajih adalah pendapat pertama. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Hikmah Pensyariatannya Keadaan setiap orang berbeda. ―Pensyaratan ar-rahn dalam keadaan safar terdapat dalam al-Quran dan merupakan perkara yang diperintahkan. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah. AlBaqarah: 283) Demikian juga. 25 . Juga dengan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya. ada yang kaya dan ada yang miskin. Lalu. dengan ketentuan. dia memberikan barang gadai sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi utangnya. Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya dengan cara berutang. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). sehingga dia tertolak. padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. hukum asal dalam transaksi muamalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangannya.Pendapat kedua. sehingga wajib untuk mengamalkannya.‖ Pendapat ini dibantah dengan argumentasi bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud sebagai bimbingan bukan kewajiban. “Akan tetapi. “Semua syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah. dan di dalam permasalahan ini tidak ada larangannya. seseorang sangat membutuhkan uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. juga tidak ada penjamin yang menjaminnya. Namun dalam keadaan itu.” (Hr. wajib dalam keadaan safar.

karena arrahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. berakal. yaitu baligh. yang dengan itu menjadi sebab ia menjadi kaya. Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan). Shighah. Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis. maka dia mendapatkan pahala dari Allah. dan dia pun mendapatkan keuntungan syar‘i. karena pada hakikatnya dia adalah transaksi. 3. Sedangkan Mazhab Hanafiyah memandang ar-rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah. dan masyarakat. menghilangkan kegundahan di hatinya. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun (barang gadai) a. dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur). yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas. Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat. Syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi). [20] 3.Oleh karena itu. dan melapangkan penguasa. [19] c. yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (pemberi utang). Adapun murtahin (pihak pemberi utang). Al-marhun bih (utang). Dua pihak yang bertransaksi. Terdapat dua pendapat dalam hal ini: 26 . Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi utangnya. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran. pemberi utangan (murtahin). Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis. Untuk rahin. dalam hal apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya. [18] b. memperkecil permusuhan. [15] 4. baik barang atau nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya.[17] 2. [21] Kapan ar-Rahn (Gadai) Menjadi Keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ar-rahn. karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. yaitu: 1. 2. Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (rahin). Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang diizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. Syarat yang berhubungan dengan al-marhun bih (utang) adalah utang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib. jenis. dan sifatnya. ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya. serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut. Bila ia berniat baik. [16] Syarat ar-Rahn Dalam ar-Rahn terdapat persyaratan sebagai berikut: 1. dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya. yaitu memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia.[14] Rukun ar-Rahn (Gadai) Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat.

karena hal itu dapat merealisasikan faidah ar-rahn. serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. pertumbuhan barang gadai. sehingga serah terimanya disepakati dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. Ada kalanya pula. berupa pelunasan utang dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya. seperti rumah dan tanah. sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia. Dalam ayat ini. Ini pendapat Mazhab Hanafiyah. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rajih adalah arrahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi. barang gadai itu berupa barang yang dapat dipindahkan. ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi. serah terima adalah syarat keharusan terjadinya ar-rahn. ar-rahn juga merupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serahterima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. sehingga tidak diharuskan untuk menyerahkannya. [24] Kapan Serah Terima ar-Rahn Dianggap Sah? Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat dipindahkan. dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya. Dalam ayat ini. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ‖. Syekh Abdurrahman bin Hasan menyatakan. [22] Pendapat kedua. Demikian juga menurut Imam Malik. bila pihak yang menggadaikan menolak untuk menyerahkan barang gadainya. namun kebutuhan menuntut (keharusannya) tidak dengan serah-terima (al-qabdh). serta Mazhab Zahiriyah. Ini pendapat Mazhab Malikiyah dan riwayat dalam Mazhab Hambaliyah. ―Adapun firman Allah ‗ ‘ adalah sifat keumumannya. sehingga membutuhkan serahterima (al-qabdh) seperti utang. Hukum-hukum Setelah Serah Terima Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan). Allah mensifatkannya dengan ―dipegang‖ (serah terima). serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan bukan syarat sahnya. Dengan demikian. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan. maka dia dipaksa untuk menyerahkannya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya. Selain itu. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. [23] Prof. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang.Pendapat pertama. Dr. Allah menetapkannya sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterimakan). maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya: ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula. Syafi‘iyah dan riwayat dalam Mazhab Ahmad bin Hambal. 27 . dan ar-rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan. dihitung bila barangnya dapat dihitung. Juga karena hal itu adalah rahn (gadai) yang belum diserahterimakan. Dasar pendapat ini adalah firman Allah ― ―.

pen). karena itu adalah miliknya. pemegang barang gadai.pemanfaatan. dan murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya. Pada asalnya barang. Tentunya. di antaranya: Pertama.‖ Demikian juga. biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. hadits shahih) Syekh al-Basam menyatakan. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. TIrmidzi. “Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis. Hal ini di dasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. TIrmidzi. ―Menurut kesepakatan ulama. biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin). ―Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai.” (Hr. [25] Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan.” (Qs. hadits shahih) Kedua.” (Hr. serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai rusak atau hilang. Al-Baqarah: 283) Juga sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. maka murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut). pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas. dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. sebagaimana firman Allah. Bila ia mengizinkan murtahin 28 . “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).

dan Syafi‘iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat barang gadai. maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah yang dia berikan kepada barang gadai tersebut. tanpa izin dari penggadai. maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah. Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah. Malikiyah. no. pemegang barang gadai (murtahin). dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. ―Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. [26] Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan. 2512). Ini adalah pendapat Mazhab Hanabilah. “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan. dengan dalil sabda Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam. adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. maka murtahin mengambil manfaat. berdasarkan tuntutan keadilan. analogi (qiyas). seperti (bertambah) gemuk. pertumbuhan barang gadai. dan inilah pendapat yang rajih insya Allah. dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai. “Dia yang berhak memanfaatkannya dan wajib baginya menanggung biaya pemeliharaannya. Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak ditunggangi dan tidak diperas susunya. Bila tergabung.karena dalil hadits shahih tersebut. Ad-Daruquthni dan al-Hakim) Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. maka ia termasuk dalam barang gadai. maka dalam hal ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua hak. karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. Sehingga.” (Hr. dan hewan tersebut. karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat.‖ 27] Ketiga. yaitu mengendarai dan memeras susunya. Pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan utang) memiliki hak jaminan padanya. Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya dengan nafkah.” (Hr. dengan kesepakatan 29 .(pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman. serta dan menggantikan semua manfaat itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut). Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah dia digadaikan. Al-Bukhari. serta untuk kemaslahatan penggadai.

maka sisa penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang menggadaikan barang tersebut).ulama. Bila hasil penjualan barang gadai tersebut belum dapat melunasi utangnya. [28] Keempat. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya. (pertambahan dan pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya. maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Bila dia tidak mampu melunasi utangnya saat jatuh tempo. Kemudian. kecuali si peminjam tidak mampu melunasi utangnya tersebut. apabila pembayaran utang telah jatuh tempo. maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya. karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti utang tanpa gadai. Abu hanifah dan Imam Ahmad. maka pihak yang memberi pinjaman uang akan menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si peminjam uang). maka wajib bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual barang gadainya. Karenanya. Adapun bila dia terpisah. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya. Pada zaman jahiliyah dahulu. perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan barang gadai. kecuali dengan izin orang yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya. berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikut sertakan kepada barang gadai tersebut. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo. Islam membatalkan cara yang zalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di tangan pihak yang memberi pinjaman. pihak pemberi pinjaman tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk menjualnya. maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut. barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. Sedangkan Imam Syafi‘i dan Ibnu Hazm. maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan utang tersebut. [29] Demikianlah. Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya. berpandangan bahwa hal pertambahan atau pertumbuhan barang gadai tidak ikut serta bersama barang gadai. sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya. maka murtahin melepas barang tersebut. serta yang menyepakatinya. maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya. Hanya saja. Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya. karena Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui. 30 . namun menjadi milik orang yang menggadaikannya. dan murtahin didahulukan atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut. Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi‘i dalam hal kendaraan dan hewan menyusui. serta yang menyepakatinya.

Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. [30] Yang rajih. Ibnu Qudamah. Makkah. 2. Prof. Referensi: 1. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya maka selesailah utang tersebut. tahun 1412 H. yaitu pemilik piutang menyita barang gadai yang ada padanya. yang merupakan selisih antara nilai barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. cetakan pertama. walaupun nilainya lebih besar dari utang si pemilik barang gadai. Beirut. Abhaats Hai‟at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‟udiyah. dan bila tidak dapat menutupinya maka penggadai tersebut tetap memiliki utang. Syekh Abdullah al-Bassam. Dia wajib melunasi sisa utang tersebut. dengan penyempurnaan Muhamma Najib al-Muthi‘i. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah li Hai‘at Kibar al-Ulama. Riyadh. Ini jelas merupakan perbuatan jahiliyah dan sebuah bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. dalam rangka meniadakan kezaliman. tidak seperti realita yang banyak berlaku. 3. Inilah pendapat Mazhab Syafi‘iyah dan Hambaliyah. tahun 1422 H. bahkan mungkin berlipat-lipat. serta meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya. sampai ia menjual barang gadainya. Madar alWathani lin Nasyr. cetakan kedua. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. Qismul Muamalah. Kairo. dan Dr. cetakan kelima. Maktabah al-Asadi. Mesir. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. cetakan pertama. karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan penjualan barang gadai. Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya. Penerbit Hajar. 5. Imam Nawawi. 4. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. Dr. Wallahul Muwaffiq. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Mughni. serta boleh melunasi utang tersebut dengan hasil penjualannya. Kitab al-Fiqh al-Muyassarah. Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. tahun 1423 H. KSA. Selain itu. tahun 1425 H. Pemerintah hanya boleh memenjarakannya saja. pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai.Apabila dia tidak juga menjualnya. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai. KSA. tahqiq Dr. Dr.Com 31 . juga akan timbul dampak sosial yang negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjam uang) dipenjarakan. Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. Prof. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. Artikel: EkonomiSyariat. cetakan tahun 1419 H.

6/443. 116. hlm. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi. hlm. [27]Dinukil dari Taudhih al-Ahkam: 4/462. cetakan kelima. Mesir. atau berupa perbuatan. [2] Lisan al-Arab. [17]Lihat: Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab: 12/302. tahun 1423. Maktabah al-Asadi. Syekh Abdullah Al Bassam. Abdullah bin Abdul Muhsin atTurki dan Abdul Fatah Muhammad al-Hulwu. [10]Fathul Bari: 5/140. hlm. [3] Mu‟jam Maqayis al-Lughah: 2/452. [20]Taudhih al-Ahkam: 4/460. 115. dan Dr. Ibnu Qudamah. 32 . Prof. [18]Al-Fiqh al-Muyassar. dinukil dari Abhats Hai‘at Kibar al-Ulama bil Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah. Beirut.=== Catatan kaki: [1] Lihat: Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram. [4] Lihat: Al-Majmu‟ Syarhul Muhadzab. tahun 1422 H. cetakan pertama. [13]Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112—112. [15]Shighah adalah sesuatu yang menjadikan kedua transaktor dapat mengungkapkan keridhaannya dalam transaksi. [25]Lihat pembahasannya dalam Taudhih al-Ahkam: 4/462–477. Qismul Mu‘amalah. Madar al-Wathani lin Nasyr. [22]Al-Mughni: 6/446. Dr Abdullah bin Muhammad athThayar. disusun oleh al-Amanah al-‘Amah Lihai‘at Kibar al-Ulama. hlm. tahun 1412 H. baik berupa perkataan yaitu ijab qabul. karya Ibnu Mandzur pada kata ―rahana‖. al-Fiqh al-Muyassar hlm. 117. 6/102. 116. [8] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/107. 116. Muhammad bin Ibrahim Alu Musa. 117. Kairo. [14] Abhats Hai‟at Kibar Ulama: 6/112. [24]Al-Fiqh al-Muyassar. dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi‘i. Makkah. [5] Lihat: Mughni. 116. [23]Taudhih al-Ahkam: 4/464. cetakan kedua. Abdullah bin Muhammad al-Muthliq. dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. [7] Taudhih al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram : 4/460. [11]Adhwa‟ al-Bayan: 1/228. Prof. tahun 1425H. hlm. penerbit Hajar. Riyadh. hlm. dinukil dari kitab AlFiqh al-Muyassar. [6] Lihat: Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab al-„Aziz. [12]Al-Mughni: 6/444. 119. 4/460. [16]Al-Fiqh al-Muyassar. [28]Abhats Hai‟at Kibar Ulama 6/134-135 [29]Taudhih al-Ahkam: 4/467. [30]Al-Fiqh al-Muyassar. Imam Nawawi. tahqiq Dr. 12/299—300. 116. cetakan tahun 1419 H. [9] Lihat: Al-Mughni: 6/444 dan Taudhih al-Ahkam: 4/460. cetakan pertama. Dr. KSA. KSA. [21]Al-Fiqh al-Muyassar. [19]Taudhih al-Ahkam: 4/460 dan al-Fiqh al-Muyassar hlm. hlm. [26]Al-Fiqh al-Muyassar.

di mana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara. 2) Barang yang dibeli menggunakan harga asal. Pengertian Pengertian murabahah secara bahasa atau etimologis adalah berasal dari kata "ribh" yang artinya 'keuntungan' yaitu 'pertambahan nilai modal'. ia merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah perbankan syariah. mengatakan bahwa murabahah adalah "jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati". Produk ini sama dengan ba'i bi saman ajil. Dalam murabahah. Dalam ilmu fiqh.[1] Secara terminologis. tetapi berbeda dengan pembiayaan konsumen (consumer finance) yang ada pada perbankan konvesional. Pendahuluan Salah satu produk perbankan syariah yang dapat membantu nasabah dalam pengadaan barang adalah murabahah. maka murabahah identik dengan ba'i bitsaman ajil.[2] Muhammad Syafi'i Antonio mengutip Ibnu Rusyd. yang dimaksud dengan murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan (1 bulan. mendefinisikan murabahah sebagai suatu kontrak usaha yang didasarkan atas kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih dimana keuntungan dari kontrak usaha tersebut didapat dari mark up harga sebagaimana yang terjadi dalam akad jual beli biasa. murabahah diartikan 'menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas'. II. mark up harga.[6] Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok bahwa akad murabahah terdapat 1) pembelian barang dengan pembayaran yang ditangguhkan. murabahah artinya 'saling mendapatkan keuntungan'. Dalam akad ini. Makalah ini memaparkan tentang seluk beluk dari murabahah tersebut kaitannya dengan perbankan syariah dan problematika yang dihadapinya. sehingga ia mencari jasa seorang perantara. kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. 4) terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak (pihak bank dan 33 .[5] Udovitch via Abdullah Saeed mendefinisikan murabahah sebagai suatu bentuk jual beli dengan komisi. 3) Terdapat tambahan keuntungan (komisi. atau ketika si pembeli tidak mau susah-susah mendapatkannya sendiri. Kata murabahah merupakan bentuk mutual yang bermakna 'saling'. 3 bulan dan seterusnya tergantung kesepakatan).[3] Ivan Rahmawan A.BAGIAN 6 AKAD MURABAHAH DALAM HUKUM ISLAM DAN PROBLEMATIKA PENERAPANNYA PADA BANK SYARI'AH I. Dengan defenisi ini. laba) dari harga asal yang telah disepakati. Jadi. 2 bulan. penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli. Pembiayaan murabahah diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi (inventory).[4] Heri Sudarsono mendefinisikan murabahah sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.

" . dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah.. bukan untuk dijual..S.. Landasan Syari'ah Akad Murabahah Adapun landasan syari'ah murabahah[7] adalah Q. ". Ia bisa membeli barang dan menjualnya dengan keuntungan yang logis sesuai kesepakatan. Q. III. "Hai orang-orang yang beriman..وأَحو َّللاُ اىبٍَع وحشً اىشبَا‬ ِّ َ َّ َ َ َ ْ ْ َّ َّ َ َ Dan juga hadis Nabi saw. atau sewa menyewa dan sebagainya] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya] . muqaradhah (mudharabah). 5) Penjual harus menyebutkan harga barang kepada pembeli (memberi tahu harga produk)... yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari sahabat 'Amr bin 'Auf.‫. karena jual beli ini juga dilakukan di berbagai negeri dan setiap masa." . hutang piutang.‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ 34 .. al-Maidah [5]: 1. َ ْ .. Hadis Nabi saw... R. hendaklah kamu menuliskannya. adanya kerelaan di antara keduanya. maka landasan syari'ah yang dikemukakan adalah..S." 2... Orang yang tidak memiliki ketrampilan jual beli dapat bergantung kepada orang lain dan hatinya tetap merasa tenang." (H. apabila kamu bermu'amalah [seperti berjualbeli. al-Baqarah [2]: 275.. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ijma kaum muslimin menjadi landasan kebolehan murabahah ini...dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. bersabda.... Ibnu Majah)..‫ٌَا أٌَُّها اىَّزٌَِ آٍُْىا أَوفُىا بِاىعقُىد‬ ِ ُْ ِ َ ْ َ penuhilah aqad-aqad itu [Aqad (perjanjian) 3. Para ulama telah mengemukakan kehalalan murabahah karena keumuman dalil yang menjelaskan tentang dibolehkannya jual beli dalam skala umum. "Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh.[8] Landasan syari'ah berikutnya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang Uang Muka dalam Murabahah.ُٓ‫ٌَا أٌَها اىَّزٌَِ آٍُْىا إِرا تَذَاٌَْتٌُ بِذٌِ إِىَى أَجو ٍسَّى فَامتُبُى‬ َ ُ ٍ َ ِ َ ُّ ٍ َْ ْ ْ َ "Hai orang-orang yang beriman.nasabah) atau dengan kata lain. Q.S.[9] 1.. yang diriwayatkan oleh Suhaib ar-Rumi bahwa Rasulullah saw. dan kaum muslimin َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . al-Baqarah [2]: 282..

{سوآ اىبٍهقً وابِ ٍاجة وصححٔ ابِ حبا‬ ّ ُ ْ ْ َ َ ٍ َ 6.terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu Majah dan di-sahih-kan oleh Ibnu Hibban berikut. Ijma' ulama bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). ِ‫" حنٌ َّللا‬Di mana terdapat kemaslahatan. 5 (kaidah yang pertama).‫الَ ضشس والَ ضشاس‬ َ َ ِ َ َ َ َ "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." 6. bersabda." َْ ٌَّ‫عَِْ أَبًِ سعٍذ اىخذسي سضً َّللاُ عُْٔ أََُّ سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىِٔ وسي‬ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ُْ َ َ ِ َ ِّ ِ ْ ُ ْ ٍ ْ ِ َ ْ }ُ‫قَاه: إََِّّا اىبٍَع عَِْ تَشاض. maka yang dijadikan landasan syar'i-nya adalah.S. Hadis Nabi saw.S. Q. فَقَاىُىا: ٌَا َّبًِ َّللاِ. yang diriwayatkan oleh oleh Imam at-Tabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang mengatakan bahwa hadis ini sahih. 3." . yang diriwayatkan oleh oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat 'Ubadah bin Samit. dan kaidah usul al-fiqh berikut. إَِّّل أ‬ ٌُ‫َ ٍشتَ بِإِخشاجَْا وىََْا عيَى اىَّْاس دٌُى‬ َ َْ َ َ ْ ُ ِ َ ِ َ ْ ْ ِْ ٌ َ 35 . Q. Hadis Nabi saw. an-Nisa' [4]: 29. Kaidah Usul al-Fiqh. Q. 4. "Pada dasarnya. Hadis tersebut adalah sebagai berikut. al-Maidah [5]: 2. ketika difatwakan tentang "diskon dalam akad murabahah". ‫سوي ابُِ عبَّاس أََُّ اىَّْبً صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ ىََا أٍَش بِإِخشاج بًَِْ اىَّْضٍش‬ َ َّ ِ ٍ َ ْ َ ِ ُ ِ ِْ ٍ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ِ ِ َ ِ ْ َ َ‫جاءُٓ َّاس ٍْهٌُ. 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak'. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Ibnu 'Abbas dan Malik dari Yahya. di sana terdapat hukum Allah."[10] ُُْ "Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. Demikian pula." 4.S. ٌَ‫أٌَََْا وجذت اىَصيَحة ُ فَث‬ َ ْ َْ ِ َِ ُ َ ْ َّ Ketika MUI memberikan fatwa tentang "Potongan Pelunasan dalam Murabahah". ." 5.S.‫اىضشس ٌُزاه‬ ُ َ ُ َ َّ "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. 2. MUI juga mengutip landasan syar'i yang ada pada item no 2.‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلباحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ . segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 3. al-Baqarah [2]: 275.. bahwasanya Rasulullah saw.[11] 1. Q. al-Maidah [5]: 1. 5) Hadis Nabi saw.

yaitu: 1) Tamyiz (at-tamyiz).‫اْلَصو فًِ اىَعاٍَلت اْلبَاحةُ إِالَّ أَُْ ٌَذه دىٍِو عيَى تَحشٌَها‬ َ ٌ ْ َ َّ ُ َ ِِْ ْ َ ِْ ِ ََ َ ُ ْ ْ ُ ْ ْ IV. 2) Berbilang pihak (ta'addud at-tarfain). 1) Para pihak (al-'aqidan. ‫]21[)ٍىضىع اىعقذ‬ Ivan Rahmawan mengemukakan rukun murabahah antara lain. yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari Amr bin Auf sebagai berikut. 36 . datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan. ‫. 1) Penjual (ba'i). Syarat Murabahah Terdapat delapan syarat terbentuknya akad murabahah. 'Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat'.[14] Adapun syarat keabsahan murabahah adalah.ٓ‫ىٌَ تَحو.. Rukun Murabahah Murabahah mempunyai beberapa rukun yaitu. berkata.[13] 2. ketika memerintahkan mengusir Bani Nadhir. Hadis Nabi saw. 5) Ijab qabul (sigat).‫ششوطهٌ إِالَّ شَشطا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا‬ ْ َ َ َّ َ ْ ِْ ِ ْ ُ ُ "Pada dasarnya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.)صٍغة اىعقذ‬ 3) Obyek akad (mahall al-'aqd." 8. ٌِ‫. 4) Kesatuan majlis (ittihad at-tarfain) 5) Obyek ada pada waktu akad [dapat diserahkan] (wujud al-mal 'inda al-'aqd au al-qudrah 'ala at-taslim). maka Rasulullah saw. 8) Tidak bertentangan dengan ketentuan syariah ('adamu mukhalafah asy-syar'i). Kaidah Usul al-Fiqh. Profil Singkat tentang Murabahah 1. 6) Objek dapat ditransaksikan (salahiyah al-mal li at-ta'amuli). فَقَاه سسىه َّللاِ صيَّى َّللاُ عئٍَ وآىٔ وسيٌَّ: ضعىا وتَعجيُىا {سوا‬ َ ْ َّ َ َ ُ َ َّ ِ ْ ُ ُْ َ َ َ َ َ ِِ َ ِ ْ َ }ٔ‫اىطبشًّ واىحامٌ فً اىَستذسك وصحح‬ "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi saw. 4) Harga (saman). 3) Barang/ objek (mabi'). sesungguhnya Engkau telah memerintahkan mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo'.)ٍحو اىعقذ‬ 4) Tujuan akad (maudu al-'aqd." . 2) Pembeli (musytari). ‫. 7. 'Wahai Nabi Allah. "Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 3) Pertemuan kehendak atau kesepakatan (tatabuq al-iradatain). 7) Objek tertentu atau dapat ditentukan (at-ta'yin au qabiliyyah al-mahal li atta'amuli). َ َ َ َّ َ ْ ُ ‫اىصيح جائِز بٍَِْ اىَسيٍََِْ إِالَّ صيحا حشً حَلال أَو أَحو حشاٍا واىَسيَىَُ عيَى‬ َ ُِْْ ُْ َ َ َ َّ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُّ ِِْ ُْ َ َ َ َّ َ . segala bentuk mu'amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.) اىعاقذ‬ 2) Pernyataan kehendak (sigat al-'aqd.

Ciri dasar kontrak murabahah yang dimaksud adalah 1) si pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang. Dalam hal ini.[17] 3. bank harus 37 . dan semacamnya. 3) Bebas dari riba (al-khalw min ar-riba) 4) Bebas dari syarat fasid (al-khalw min asy-syurut al-fasidah). rekening listrik. dipaparkan tentang ketentuan umum murabahah sebagai berikut. 7) Komoditi obyek murabahah diperoleh dari pihak ketiga bukan dari pembeli murabahah bersangkutan (melalui jual beli kembali. yaitu: 1) Harus diketahui besarnya biaya perolehan komoditi. 3) Pokok modal harus berupa benda bercontoh atau berupa uang. Murabahah digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual.[15] Di samping syarat-syarat di atas. 3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh si penjual dan si penjual harus harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada si pembeli. terdapat juga syarat-syarat khusus. Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah adalah sebagai berikut: (1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba (2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam (3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya (4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atan nama bank sendiri.[18] I. 6) Komoditi bersangkutan harus telah berada dalam resiko penjual. 5) Tidak menimbulkan kerugian ketika penyerahan ('inda ad-darar 'inda attaslim). )[16] Abdullah Saeed mengemukakan ciri dasar kontrak murabahah yang kalau diteliti. 4) Murabahah hanya bisa digunakan dalam pembiayaan bilamana pembeli murabahah memerlukan dana untuk membeli suatu komoditi secara riil dan tidak boleh untuk lainnya termasuk membayar hutang pembelian komoditi yang sudah dilakukan sebelumnya. 2) apa yang dijual adalah barang atau komoditi dan dibayar dengan uang. 5) Penjual harus telah memiliki barang yang dijual dengan pembiayaan murabahah. membayar biaya overhead. 2) Bebas dari garar atau ketidakjelasan (al-khalw min al-garar). batas laba (mark up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga beserta biayabiayanya. misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang (6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan. Ketentuan Umum Murabahah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000. isinya tercakup dalam syarat murabahah yang telah dikemukakan di atas. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. 2) Harus diketahui keuntungan yang diminta penjual. dan 4) pembayarannya ditangguhkan.1) Bebas dari paksaan (al-khalw min al-ikrah).

Penundaan Pembayaran dalam Murabahah (1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya 38 . Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. karena secara hukum. bank dapat meminta kemnbali sisa kerugiannya kepada nasabah (7) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka. maka: (a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. agar nasabah serius dengan pesanannya (2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang IV. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank (2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut (6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan (5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank II. Ketentuan murabahah Kepada Nasabah (1) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank (2) Jika bank menerima permohonan tersebut.memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati (8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. nasabah wajib melunasi kekurangannya III. Jaminan dalam Murabahah (1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut: dan jika uang muka tidak mencukupi. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang (3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima atau membelinya sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. ia tinggal membayar sisa harga (b) Jika nasabah batal membeli. ia tidak wajib segera melunasi seluruhnya (3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. Hutang dalam Murabahah (1) secara prinsip. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran-pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan V. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah (9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga.

secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan lewat naqdan (tunai) atau bi saman ajil (tangguh tempo). sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang ba'i bi saman ajil". Asia. Produk ini hanya digunakan di Malaysia 2.   Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus Teknik  Digunakan di seluruh perbankan  Perbankan syariah yang berada di Timur Tengah. seperti yang dikemukakan oleh Adiwarman A. Jadi. 4.[20] No. karena sebagian orang menganggap bahwa murabahah adalah sama dengan pembiayaan konsumen (consumer finance). atau berdasarkan kesepakatan. di sini di kemukakan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel agar lebih mudah untuk dipahami. Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. dapat dilihat tabel berikut. tidak terdapat pembayaran secara kontan. Murabahah dan Ba'i bi Saman Ajil Murabahah sama dengan ba'i bi saman ajil. 1 Hal Fiqh Murabahah  Dalam sebuah kitab. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali. Oleh karena itu. Karim.(2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. murabahah  adalah salah satu bagian dari prinsip jual beli Ba'i bi Saman Ajil Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari murabahah Ba'i bi saman ajil adalah jual beli dengan cara angsur. Adapun murabahah. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.[21] No. Eropa. Masalah Jual Beli Murabahah Pembiayaan Konsumen Akad Jual beli   Pinjam meminjam  Harus ada barang  Belum tentu ada barangnya Obyek  Barang yang diperjualbelikan harus Uang yang akan dipergunakan penyerahan ada untuk membeli barang yang  Barang dapat diserahkan sewaktu dibutuhkan akad  Barang berupa harta yang jelas 39 . maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah VI. Ia mengatakan bahwa "sebenarnya produk pembiayaan ba'i bi saman ajil secara fiqh adalah ba'i bi saman ajil yang murabahah. yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. dan Amerika  Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja). Murabahah dan Perbedaannya dengan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) Penulis merasa penting mencantumkan bagian ini. murabahah yang naqdan tidak ada. Dalam penerapannya diperbankan. 1. Sama  kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat one shot deal 5. Bangkrut dalam Murabahah (1) Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. 2.[19] Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini. Australia.

bahkan tidak tahu harga perolehan barangnya Tanda bukti terima barang  Tanda  Tanda Terima Uang Tunai nasabah Nasabah (TTUTN). yang besarnya merupakan anusitas. sebagai supplier nasabah pendapatan non operasi  Diskon yang tidak jelas pemiliknya. harganya  Barang milik sendiri (punya bank) artinya terjaga Harga  Harus diberitahukan kepada nasabah  Tidak ada keharusan.) angsuran yang dilakukan (tidak  Berkurang sebesar pembayaran membedakan lagi unsur pokok dan angsuran pokok kredit dan keuntungan) pembayaran bunga (pada  Bagi nasabah tidak mengenal hutang umumnya bank mempergunakan pokok dan hutang margin sistem perhitungan anuitaspembayaran angsuran pokok kecil pada awalnya)  Ada hutang pokok dan hutang bunga Perhitungan Belum dikemukakan metode  Perhitungannya dari sisa/ keuntungan perhitungan keuntungan outstanding pokok kredit yang  Keuntungan harus disepakati diberikan kepada nasabah  Dilakukan sekali dari harga perolehan (biasanya bank mempergunakan barang setelah dikurangi uang muka sistem perhitungan anusitas(jika ada). floating. maka nasabah harus mengganti kerugian riil bank dari 40 . karena perolehan yang diserahkan uang bukan barang barang. 10. 4. Jika telah disepakati tidak bunga besar pada awalnya. 8. merupakan dana kebajikan Denda  Hanya kepada nasabah yang mampu. 9. yaitu harga  Pokok kredit ditambah dengan nasabah perolehan barang ditambah bunga (tergantung sistem bunga keuntungan yang disepakati yang dikenakan-tetap.3. bank mengalami rugi.  Berkurang sebesar pembayaran dsb. promise atau sejenisnya Hutang  Sebesar harga jual. 7. 6. sisa pokok kredit pada kebijakan bank awalnya tersisa besar dan secara bertahap menurun Jaminan  Nasabah dapat diminta untuk Nasabah harus menyerahkan memberikan jaminan jaminan Diskon dari  Pada prinsipnya menjadi milik  Menjadi milik bank. diperbolehkan berubah sampai akhir karena modalnya dipergunakan akad juga besar) Nasabah  Sebesar sisa hutangnya (hutang awal  Sebesar sisa pokok kredit dan melunasi dikurangi dengan pembayaran biasanya bunga yang belum sebelum angsuran) diterima sebagai potongan jatuh tempo  Bank syariah diperkenankan untuk pelunasan memberi potongan pelunasan  Dengan cara perhitungan dipercepat.  Bagi nasabah yang tidak tetapi tidak mau membayar membayar (tidak memperhatikan  Nasabah yang tidak mampu tidak mampu atau tidak mampu) diperkenankan dikenakan denda  Denda yang diterima diakui  Denda yang diterima merupakan sebagai pendapatan non operasi pendapatan non halal (dana bank kebajikan) Uang muka  Harus diserahkan kepada bank Dapat disetor langsung kepada syariah supplier (self financing)  Jika pesanan dibatalkan. 5. 11.

selama lebih 10 tahun periode pembiayaan. 73 % pembiayaannya adalah murabahah. Pada kasus Dubai Islamic Bank. karena bank bukanlah mitra nasabah. Praktek Akad Murabahah Pada Bank Syari'ah dan Problematikanya Bank-bank syariah pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang utama. dan dibandingkan dengan sistem Profit and Loss sharing (PLS). uang muka  Jika dilaksanakan.[24] Sejumlah alasan diajukan untuk mendukung sah-nya harga kredit yang lebih tinggi dalam pembayaran tunda. 1) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek. 3) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS.[23] Murabahah sebagai suatu jual beli dengan pembayaran tunda dapat terjadi pada harga tunai. Angka persentasi ini sesuai dengan banyak bank-bank syariah. bank Islam paling awal pada sektor swasta. 4) bahwa kenaikan harga dikenakan pada saat penjualan.12. bagi Islamic Development Bank (IDB). sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank syariah. dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran. pembiayaan jenis murabahah mencapai 87 % dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. Bahkan. dst. yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri. 5) bahwa kenaikan harga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pasar. seperti permintaan dan penawaran dan naik turunnya daya 41 . V. di Pakistan. ia tidak sama denga riba sebelum Islam datang yang dilarang dalam alQur'an. 2) komisi dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa. pembayaran dan bunga lebih besar dan angsuran adalah pengurang hutang akhirnya sebaliknya nasabah  Dimungkinkan untuk membayar bunga dulu. sebab hubungan mereka adalah hubungan antara kreditur dengan debitur. Sejumlah alasan tersebut adalah. Oleh karena itu. 2) terdapat perbedaan antara uang yang tersedia dengan sekarang dengan uang yang tersedia di masa yang datang. 4) murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah mencampuri manajemen bisnis. pembiayaan murabahah mencapai 82% dari total pembiayaan selama 1989. 3) bahwa kenaikan harga bukan sebagai imbalan waktu tunda pembayaran. bukan setelah penjualan dilakukan. atau dapat terjadi pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran. 1) bahwa teks-teks syariah tidak melarangnya. yaitu dengan jumlah bank) angsuran angsuranyang sama pada  Tidak dikenal pembayaran pokok awalnya possi pokok lebih kecil dulu atau margin dulu. demikian pula dengan sistem perbankan di Pakistan maupun di Iran. sebagai pengurang hutang nasabah Pembagian  Jika murabahah pembayarannya  Pada umumnya bank pokok dan dilakukan secara tangguh. meliputi 75% dari total kekayaan mereka. atau membayar pokok saja. maka membedakan porsi pokok dan keuntungan pembagian pokok dan margin harus bunga (untuk dilakukan secara proporsional merata  Pembagian dilakukan secara kepentingan dan tetap selama jangka waktu anusitas. Sejak tahun 1984.[22] Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan syari'ah.

1999). Fiqh Ekonomi Keuangan Islam. 2004 Wiroso. Jakarta: Gema Insani Press.T. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah. Penutup Setelah semua pembahasan dipaparkan dapatlah diketahui bahwa murabahah sudah banyak diterapkan pada perbankan syariah. Jakarta: Gema Insani Press. Daftar Pustaka Antonio. [2]Karanaen A. saling menguntungkan. [1]Abdullah 42 . Yogyakarta: P. Jakarta: P. Jakarta: Darul Haq. bahwa penjual sedang melakukan suatu aktivitas dagang dan yang produktif dan diakui. M. Jual Beli Murabahah. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. 7) bahwa penjual boleh menetapkan bunga berapapun yang dikehendakinya.. 2001 Karim. Fiqh Ekonomi Keuangan Islam.T.[26] VI. Yogyakarta: UII Press.. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek. Adiwarman A. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi'i Antonio. dan Muhammad Syafi'i Antonio. Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: P. Abu Umar Basyir. Dana Bhakti Prima Yasa. Ichwan dkk. Apa dan Bagaimana Bank Islam. Arif Maftuhin. sehingga sebagian sarjana berusaha menghindari setiap pengkaitan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tenggang waktu pembayaran. Jakarta: PARAMADINA. 2005 al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. Intermasa. Mungkin karena ada kemiripan antara kenaikan harga dalam murabahah dengan tambahan yang diberikan kepada kreditur sebagai imbalan perpanjangan waktu jatuhnya tempo hutang. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi. dan melindungi pihak-pihak yang lemah. Dari berbagai ketentuan yang dipaparkan tersebut terlihat semangat saling menolong. 2006 al-Mushlih. 25. 2001 Muhammad. Produk ini mempunyai ketentuan-ketentuan yang amat ketat yang bisa mengikat antara bank dan nasabah. terj. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq. Karanaen A. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. terj.). Yogyakarta: UII Press. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika mengadakan transaksi tersebut. 1999 Rahmawan A. 198. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional. Dana Bhakti Prima Yasa. (ed. Heri. Yogyakarta: Pilar Media. 2004 Sam.[25] Bank-bank syariah yang mendukung penggunaan murabahah dalam perbankan syariah tidak menganggap kenaikan dalam harga kredit mempunyai kemiripan dengan riba. Muhammad Syafi'i. 2004). terj. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah.T. 2004 Perwataatmadja. 6. 2003 Sudarsono. Abdullah. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. 2005 Saeed.jual-beli uang sebagai akibat inflasi dan deflasi. hlm. hlm. Ivan. Yogyakarta: EKONISIA.

Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis. 102. lo.cit... Arif Maftuhin (Jakarta: PARAMADINA.cit. Lihat ibid.cit. 146-148.cit. hlm. 121-122 dan Muhammad. Walaupun fatwa ini berkaitan dengan uang muka dalam murabahah. hlm. [5]Heri Sudarsono. [24]Abdullah Saeed. Intermasa. op. 59.... 83-85. hlm. op.cit.. 2004). 2001). terj. 99-100. 94-95. hlm. 2006). 97. hlm. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: EKONISIA. op. [9]M. 113. tetapi hal ini dianggap masih relevan dengan pembahasan tentang murabahah secara umum..Syafi'i Antonio. 2005).. 101. Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari'ah (Yogyakarta: UII Press. 54-55. [4]Ivan Rahmawan A.cit.. hlm. op. 93. 2004). op. [20]Wiroso.. hlm.. [19]Adiwarman A. Himpunan fatwa Dewan Syari'ah Nasional (Jakarta: P. hlm. [14]Print out.cit. [26]Abdullah . hlm. 2001). [23]Ibid. 123-124 dan Muhammad. [8]Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi. 62.cit. op... 58. [16]Ibid. [21]Ibid. hlm. 126 dan Muhammad.. hlm. Jual Beli Murabahah (Yogyakarta: UII Press. 119. hlm. hlm.cit. Ichwan Sam dkk. 2003). 198-199. 121 dan Muhammad.T. hlm.. hlm. hlm.. hlm..... hlm. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press. 4749.. hlm. Bank Islam: Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press.52.cit. op. hlm. Kamus Istilah Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: Pilar Media. [17]Abdullah Saeed.cit. hlm..). [10]Ibid.. 56.. hlm. [3]Muhammad 43 . [13]Ivan. Syamsul Anwar. op. op. [6]Abdullah Saeed. 90. op. [15]Ibid. op. 49. 99-100.cit. 2005). 94. 112-113. hlm.. hlm.cit. hlm 120 dan Muhammad. [22]Abdullah Saeed. Terdapat juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang menjelaskan tentang karakteristik murabahah. [25]Abdullah Saeed. [18]Wiroso. [12]Print out mata kuliah Hukum Transaksi Islam oleh H. [7]Ibid. [11]Ibid. hlm. (ed. hlm.op. Karim.

dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. Menurut bahasa (etimologi) Ijarah adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat).S. Juz 5. Ulama Hanafiyah : „aqdun „alal manaafi‟i bi „audhin. PENGERTIAN 1. ْ َْ ُ ‫أٌَُم َٔقسمُنَ رحْ متَ ربِّك وَحْ ه قَسمىَا بَٕىٍَُم معٕشخٍَُم فِٓ الحَٕاة الذوَٕا َرفَعىَا بَعضٍُم‬ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ ُّ ِ َ ْ ْ َ ِ َّ ُ ِ ْ ْ ْ ُ ْ َِ ٍ َ َ ٍ َ‫فَُْ ق بَعْض دَرجاث لَِٕخَّخذ بَعضٍُم بَعضًا سُخزًّٔا َرحْ مج ربِّك خٕز مما َٔجْ معُُن‬ َ َّ ِّ ٌ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ِ ْ َ ―Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. seperti ―para karyawan bekerja di toko dibayar upahnya per hari‖. 2) dan Hanabilah (Ibnu Qudamah. B.BAGIAN 7 IJARAH (SEWA MENYEWA DAN UPAH MENGUPAH) A. Ulama Malikiyah (Syarh al-Kabir li Dardir. 332) c. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. (Q. Az Zukhruf 43 : 32) Allah Swt berfirman. 398): ―Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti‖. artinya ―akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‖. al-Mughni. hal. Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ijarah. Menurut syara’ (terminologi) a. Juz 2. ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya. 44 . hal. seperti ―seseorang menyewa kamar untuk tempat tinggal‖. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. hal. Juz 4. Berdasarkan definisi-definisi di atas. hal. diterjemahkan menjadi sewa menyewa dan upah mengupah. (Muhammad asy-Syarbini. Sedangkan upah digunakan untuk tenaga. Al-Qur’an Allah Swt berfirman. Mughni al-Muhtaj. Sewa menyewa adalah ‫عف ل‬ ‫( ع‬menjual manfaat) dan upah mengupah adalah ‫( بيع القو ه‬menjual tenaga atau kekuatan). (Alauddin al-Kasani. DASAR HUKUM 1. Sewa digunakan untuk benda. Juz 4. 2. 174) b. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan‖. Ulama Syafi’iyah : ―Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‖.

―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. „Aqid (orang yang berakad) yaitu mu‟jir (orang yang menyewakan atau memberikan upah) dan musta‟jir (orang yang menyewa sesuatu atau menerima upah) 2. Al-Qashash 28 : 26) 2. SYARAT Syarat ijarah adalah sebagai berikut : 1. (HR. (HR. aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa membedakan antara haq dan bathil/minimal 7 tahun). tidak disyaratkan harus baligh. Adapun menurut jumhur ulama. ْ ُ ِ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َّ ‫قَالَج إِحْ ذَاٌُما َٔا أَبَج اسخَؤْجزْ يُ إِن خْٕز مه اسخَؤْجزْ ث القَُُّْ اْلَمٕه‬ ِ ْ ِ َ ―Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah Saw bersabda. (HR. rukun ijarah ada 4 yaitu : 1. Ma‟qud „alaih (Manfaat/barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan) D. (Q. Ijma Hampir semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam Islam. al-ikhtira‘ dan al-ikra. C. Abd Razaq dari Abu Hurairah) 3. RUKUN Menurut ulama Hanafiyah. (HR.ْ َّ َ َّ ‫فَإِن أَرْ ضعهَ لَكم فَآحٌُُُه أُجُُرٌُه‬ ُْ ْ َ ―Jika mereka telah menyusukan anakmu maka berilah upah mereka‖.S. kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada orang yang membekamnya‖. Shighat akad yaitu ijab kabul antara mu‟jir dan musta‟jir 3. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‖. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. (Q. As-Sunnah Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh.S. 45 . beritahukanlah upahnya‖. ―Berbekamlah kamu. Mu’jir dan musta’jir Menurut ulama Hanafiyah. Ath-Thalaq 65 : 6) Allah Swt berfirman. al-isti‘jar. rukun ijarah adalah ijab dan qabul antara lain dengan menggunakan kalimat : al-ijarah. Ibnu Majah) Rasulullah Saw bersabda. Ujrah (upah) 4. Bukhari dan Muslim) Rasulullah Saw bersabda. ―Barangsiapa yang meminta menjadi buruh (pekerja).

(Q. 332) Syarat yang lain adalah cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta) dan adanya keridhaan dari kedua belah pihak (aqid) karena ijarah dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta. hal. 3.S. 3) Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah mensyaratkan aqid harus mukallaf yaitu baligh dan berakal. (Alauddin al-Kasani. Ijab kabul upah mengupah misalnya mu‘jir berkata. ْ َ ُ ‫َٔا أٍََُّٔا الَّذٔهَ آمىُُا الَ حَؤْكلُُا أَمُالَكم بَٕىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن حَكُنَ حِجارةً عَه حَزاض‬ َ َ ِ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ ْ ُ ٍ َ ‫مىكم‬ ْ ُ ِّ ―Hai orang-orang yang beriman. Juz 4. ―Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering‖. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Dengan demikian akad mumayyiz adalah sah tetapi harus ada keridhaan walinya. hal. ―Aku terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari‖. Ibnu Majah) 4. (HR. Juz 2. 179) Allah Swt berfirman. An Nisaa' 4 : 29) Bagi aqid juga disyaratkan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adalah syarat ijarah dan jual beli. 2. Ma’qud ‘alaih (barang/manfaat) 46 . hal. Mughni al-Muhtaj. Lalu Rasulullah Saw melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan dinar dan dirham. sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. (HR. ―Aku sewakan motor ini kepadamu 1 dirham per hari‖ maka musta‘jir menjawab. ―Aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan‖. Badai‘ ash-Shanai‘ fi Tartib asy-Syura‘i. Juz 4. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah : a. (Syarh al-Kabir li Dardir. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‖. Ijab kabul sewa menyewa misalnya mu‘jir berkata. Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah. (Muhammad asy-Syarbini. seperti upah menyewa rumah dengan menempati rumah tersebut Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Berupa harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak b. Shighat ijab kabul Shighat ijab kabul antara mu‘jir dan musta‘jir. Ijab kabul sewa menyewa atau upah mengupah. ―Kuserahkan kebun ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari‖ kemudian musta‘jir menjawab. sedangkan anak mumayyiz belum dikategorikan ahli akad. Ahmad dan Abu Dawud) Sebaiknya upah diberikan per hari sesuai dengan hadits Rasulullah Saw bersabda.

(Ibnu Rusyd.. ―Saya menyewakan rumah ini setiap bulan 1 dinar‖ sebab pernyataan seperti ini membutuhkan akad baru setiap kali membayar. sedangkan pada bulan sisanya bergantung pada pemakaiannya. Juz 4. hal.Syarat manfaat dalam upah mengupah : 47 . Adanya penjelasan manfaat Penjelasan dilakukan agar benda yang disewa benar-benar jelas. hal. ―Saya sewa selama sebulan‖. (Alauddin al-Kasani. (Abu Ishaq asy-Syirazi. penyewa boleh memilih antara meneruskan dengan membayar penuh atau membatalkannya. Sewa bulanan Menurut ulama Syafi‘iyah. seseorang tidak boleh berkata. 195) . Juz 2. (Alauddin al-Kasani. sedangkan ulama Syafi‘iyah mensyaratkan sebab bila tak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidak tahuan waktu yang wajib dipenuhi. Jadi. Selain itu yang paling penting adalah adanya keridhaan dan kesesuaian dengan uang sewa. hal. Barang sewaan harus dapat memenuhi secara syara‘ Tidak boleh seperti menyewa pelacur untuk sekian waktu. Mughni al-Muhtaj. 218) g. Juz 1. hal. Juz 4. f.Syarat barang dalam sewa menyewa : a. seperti menyewakan rumah untuk tempat tinggal. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. ―Saya sewakan salah satu dari rumah ini‖ karena tidak jelas. Dalam kaidah fiqih dinyatakan ―menyewa untuk suatu kemaksiatan tidak boleh‖. Kemanfaatan dibolehkan secara syara‘ Pemanfaatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang dibolehkan secara syara‘. Barang harus dimiliki oleh aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah. c. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. baik benda maupun orang untuk berbuat maksiat atau berbuat dosa. Tidak sah dengan berkata. b. 182) e. Akad yang benar adalah dengan berkata. h. hal. Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. 349) Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan untuk penetapan awal waktu akad. al-Muhadzdzab. Barang sewaan terhindar dari cacat Jika terdapat cacat pada barang sewaan. Para ulama sepakat melarang ijarah. menyewa motor untuk bekerja dan lain-lain. Manfaat barang sesuai dengan keadaan yang umum Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat berlindung sebab tidak sesuai dengan manfaat pohon yang dimaksud dalam ijarah. dibolehkan selamanya dengan syarat asalnya masih tetap ada sebab tidak ada dalil yang mengharuskan untuk membatasinya. (Muhammad asy-Syarbini. 396) d. juz 2. Adanya penjelasan waktu Jumhur ulama tidak memberikan batasan maksimal atau minimal. Sedangkan menurut jumhur ulama akad tersebut dipandang sah akad pada bulan pertama.

hal. Badai‟ ashShana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. Cara memanfaatkan barang sewaan . ma‘qud ‗alaih (barang sewaan) harus diberikan setelah akad. b. Barang sewa diberikan setelah akad Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. alMughni. Hukum sewa menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah seperti rumah.Sewa rumah Jika seseorang menyewa rumah. 48 . hal. Penjelasan jenis pekerjaan Penjelasan tentang jenis pekerjaan sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan. Juga tidak mengambil manfaat dari sisa hasil pekerjaannya. d. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang yang disewa Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut adalah untuk dirinya. seperti menggiling gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya untuk dirinya. Ijarah terhadap benda atau sewa menyewa 2.a. Juz 4. (Ibnu Qudamah. Ulama Syafi‘iyah menyepakatinya. . Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya Contohnya adalah menyewa orang untuk shalat. HUKUM IJARAH 1. Hal itu didasarkan hadits yang diriwayatkan Daruquthni bahwa Rasulullah Saw melarang untuk mengambil bekas gilingan gandum. Ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah F. 192) Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadits di atas dipandang tidak shahih. Jika tidak dijelaskan. (Alauddin al-Kasani. b. dibolehkan untuk memanfaatkannya sesuai kemauannya. c. Juga dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya sebab hal itu merupakan kewajiban istri. baik dimanfaatkan sendiri atau dengan orang lain bahkan boleh disewakan lagi atau dipinjamkan pada orang lain. shaum dan lain-lain. Penjelasan waktu kerja Tentang batasan waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad. 449) E. ijarah dipandang rusak. PEMBAGIAN JENIS Ijarah terbagi 2 yaitu : 1. Juz 5. kamar dan lain-lain tetapi dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam akad ijarah (sewa menyewa) : a.Sewa tanah Sewa tanah diharuskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan ditanam atau bangunan apa yang akan didirikan di atasnya.

Mazdhab Hanafi berpendapat bahwa ijarah dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat.Sewa kendaraan Dalam menyewa kendaraan.Dengan membayar kemanfaatan sedikit demi sedikit G. jika yang disewa rumah . membangun rumah dan lain-lain.Menyerahkan kunci. Ijarah „ala al-a‟mal terbagi menjadi 2 yaitu : a. Hukumnya. d. orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberinya upah b. haji atau membaca Al-Qur‘an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti kepada arwah ibu bapak dari yang menyewanya. Juz 4. 209) . haram hukumnya mengambil upah dari pekerjaan tersebut. azan. c. pemiliknyalah yang berkewajiban memperbaikinya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk memperbaiki barangnya sendiri. Apabila penyewa bersedia memperbaikinya. Ijarah khusus Yaitu ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. Contohnya seperti jasa menjahit pakaian.Jika yang disewa kendaraan. Adapun hal-hal kecil. 49 . UPAH dalam PEKERJAAN IBADAH Upah dalam perbuatan ibadah (ketaatan) seperti shalat. ia tidak diberikan upah sebab dianggap sukarela.. Hukum upah mengupah Upah mengupah atau ijarah „ala al-a‟mal yakni jual beli jasa. jika barang yang disewakan rusak. Rasulullah Saw bersabda. Rasulullah Saw bersabda. Kewajiban penyewa setelah masa sewa habis Di antara kewajiban penyewa setelah masa sewa habis adalah : (Alauddin al-Kasani. baik hewan atau kendaraan lainnya harus dijelaskan salah satu diantara 2 hal yaitu waktu dan tempat. ―Bacalah olehmu Al-Qur‘an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu‖. qamat dan menjadi imam. ―Jika kamu mengangkat seseorang menjadi mu‘adzin maka janganlah kamu pungut dari adzan itu suatu upah‖. Juga harus dijelaskan barang yang akan dibawa atau benda yang akan diangkut. shaum. hal.Mensyaratkan upah untuk dipercepat dalam zat akad . kewajiban upah didasarkan pada 3 perkara : . Badai‟ ash-Shana‟i fi Tartib asy-Syara‟i. haji dan membaca Al-Qur‘an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini. shaum. seperti membersihkan sampah atau tanah merupakan kewajiban penyewa. ia harus menyimpannya kembali di tempat asalnya 2. Perbaikan barang sewaan Menurut ulama Hanafiyah. Ijarah Musytarik Yaitu ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama.Mempercepat tanpa adanya syarat . seperti pintu rusak atau dinding jebol dan lain-lain.

Bila tidak ada pekerjaan lain. H. qamat. sekalipun pembaca Al-Qur‘an berniat karena Allah. memandikan mayat dan membangun madrasah adalah boleh. 2. Pekerjaan ini batal menurut Islam karena membaca Al-Qur‘an bila bertujuan untuk memperoleh harta maka tak ada pahalanya. mereka diberi upah.S. maka pahala pembacaan ayat Al-Qur‘an untuk dirinya sendiri dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. Sementara Maliki berpendapat boleh mengambil imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur‘an. Menurut madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dan pekerjaan azan. sastra. Setelah selesai pembacaan Al-Qur‘an pada waktu yang telah ditentukan. haji. Hal yang sering terjadi di beberapa daerah di nusantara. Allah Swt berfirman. 4. Al-Baqarah 2 : 286) Beberapa pendapat ulama madzhab tentang upah dalam ibadah : 1. qamat. Dan haram mengambil upah yang termasuk kepada taqarrub seperti membaca Al-Qur‘an. fiqih. mengajarkan Al-Qur‘an. boleh mengambil upah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut jika termasuk kepada mashalih seperti mengajarkan Al-Qur‘an. PEMBAYARAN UPAH dan SEWA Jika Ijarah itu suatu pekerjaan maka kewajiban pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan. ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ‫لٍََا ما كسبَج َعلٍََٕا ما اكخَسبَج‬ 50 . Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan dan membawa jenazah boleh. maka keluarganya menyuruh para santri atau muslim lainnya untuk membaca Al-Qur‘an di rumahnya selama 3 malam atau malam ke-7 atau malam ke-40. Namun. Syafi‘I dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu karena ini termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan yang diketahui pula. shaum. shalat. hadits dan fiqih. ―Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya‖. hadits. badal haji dan shaum qadha adalah tidak boleh. Imam Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawat AlQur‘an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya dengan taat atau ibadah.Perbuatan seperti azan. bahasa. (Q. namun pengambilan upah memandikan mayat tidak boleh. Lantas apa yang akan dihadiahkan kepada mayit. Madzhab Maliki. apabila seorang muslim wafat. shalat dan ibadah yang lainnya. membaca Al-Qur‘an dan zikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah karenanya tidak boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya. Imam syafi‘i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran berhitung. diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut. 3. menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. khat. azan dan badal Haji. menggali kuburan. hadits. fiqh. membangun masjid.

bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta‘jir maka yang bertanggung jawab adalah musta‘jir itu sendiri. kemudian kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta‟jir kedua. ―Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu mengering‖. gempa dll. maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. uang sewaan dibayar ketika akad sewa terjadi kecuali bila dalam akad ditentukan lain. Ibnu Majah) 2. 51 . Sekiranya menjual jasa itu untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu. Hak menerima upah musta‘jir adalah sebagai berikut : 1. J. I. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa pekerja itu ikut bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Jika tidak maka tidak perlu diminta penggantinya dan jika ada unsur kelalaian atau kesengajaan. Jika mu‟jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta‟jir (penyewa). sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. maka dilihat dahulu permasalahannya apakah ada unsur kelalaian/kesengajaan atau tidak. Jika menyewa barang. apabila sifat pekerjaan itu membekas pada barang itu seperti binatu. manfaat barang yang diijarahkan mengalir selama penyewaan berlangsung. juru masak dan buruh angkut (kuli) maka baik sengaja maupun tidak. Ketika pekerjaan selesai dikerjakan Rasulullah Saw bersabda. apakah dengan cara mengganti atau sanksi lainnya yang disepakati kedua belah pihak.Menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad. segala kerusakan menjadi tanggung jawab pekerja itu dan wajib ganti rugi. maka ulama berbeda pendapat. Imam Abu Hanifah dan Syafi‘i berpendapat bahwa apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian maka pekerja itu tidak dituntut ganti rugi. maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu‘jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta‘jir. Harga penyewaan yang kedua ini boleh lebih besar. lebih kecil atau sama. ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah. baik disengaja ataupun tidak. Berbeda tentu kalau terjadi kerusakan di luar batas kemampuannya seperti banjir. ia berhak menerima bayarannya karena musta‟jir sudah menerima kegunaannya. Seperti penyewaan seekor kerbau. kebakaran. (HR. MENYEWAKAN BARANG SEWAAN Musta‟jir dibolehkan menyewakan lagi bawang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad. Sekiranya terjadi kerusakan atau kehilangan. Menurut madzhab Maliki. maka dia harus mempertanggungjawabkannya. TANGGUNG JAWAB ORANG yang DIGAJI/UPAH Pada dasarnya semua yang dipekerjakan untuk pribadi dan kelompok (serikat) harus mempertanggungjawabkan pekerjaan masing-masing. Bila ada kerusakan pada benda yang disewa.

berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan 5. (Sumber http://pasar-islam. boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak. ia wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong. PENGEMBALIAN SEWAAN Jika ijarah telah berakhir. Rusaknya barang yang disewakan.com/2010/10/bab-8-ijarah-sewa-menyewadan-upah. Jika sewaan itu tanah maka ia wajib menyerahkan kepada mu‘jir (pemiliknya) dalam keadaan kosong dari tanaman kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan musta‘jir 2. kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan pada tempat yang aman. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan.blogspot. musta‘jir berkewajiban mengembalikan barang sewaan. kemudian dagangannya ada yang mencuri maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu L. 3.Misalnya menyewa mobil.html) 52 . Rusaknya barang yang diupahkan (ma‘jur alaih) seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan 4. Menurut Hanafiyah. PEMBATALAN dan BERAKHIRNYA IJARAH Ijarah menjadi fasakh (batal) bila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya dan jika bentuk barang sewaan adalah ‗iqar (tetap). seperti musta‘jir menyewa toko untuk dagang. K. seperti rumah menjadi runtuh. Jika barang itu dapat dipindahkan.

Silang pendapat ini berpangkal pada apakah ketentuan tersebut hanya khusus berkenaan dengan alasan yang dikemukakan oleh syari atau tidak? Yaitu tidak meninggalkan ahli waris sebagai orang yang miskin yang memintaminta kepada orang banyak. Ulama Hanafiah dan sebagian ulama Hanabilah membolehkan berwasiat melebihi sepertiga harta kalau pihak yang berwasiat tidak mempunyai ahli waris sebab tidak ada pihak ahli waris yang dirugikan oleh wsiat tersebut. maka ahli waris diperkenankan memilih antara memberikan apa yang telah ditentukan oleh pemberi wasiat kepada orang yang diberi wasiat atau memberikan sepertiga dari seluruh harta si mayit. namun ada pula ulama yang berpendapat boleh mewariskan lebih dari sepertiga harta peninggalan.BAGIAN 8 HIBAH MENURUT HUKUM ISLAM PENDAHULUAN Fungsi harta bagi manusia sangat banyak.salah satu fungsi harta adalah mrmelihara keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. dan Dawud. Oleh karena itu. Mereka beralasan bahwa wasiat itu telah menjadi tetap bagi orang yang telah diberi wasiat dengan meninggalnya pemberi wasiat dan adanya penerimaan dari orang yang diberi wasiat. Menurut Malik. manusia selalu berusaha untuk memiliki dan menguasainya dan tidak jarang dengan memakai beragam cara yang dilarang syarabdan hukum negara atau ketetapan yang disepakati oleh manusia. berdasarkan kesepakatan fuqaha maka 53 . Abu Tsaur. maka wasiat itu tidak sah kecuali ada izin dan persetujuan seluruh ahli waris. Sedangkan dalam masalah hibah fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah kepada orang lain jika barang itu sah miiknya. Dalam masalah wasiat para ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan ahli waris tidak boleh memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. Abu Hanifah. Izin dan persetujuan ahli waris itu hendaklah diminta setelah pihak yang berwasiat meninggal dunia dan seluruh ahli waris yang memberikan persetujuan itu mestilah sudah cakap bertindak. persetujuan yang diberikan oleh ahli waris yang telah dewasa dan berakal sehat saja tidak bisa diterima. apabila hal itu terjadi menurut mereka hibah seperti itu sah. Pendapat Malik itu ditentang oleh Syafi‘I. harta dapat menunjang kegiatan manusia baik dalam kegiatan yang baik maupun yang buruk. Wasiat yang Lebih dari Sepertiga Harta Peninggalan Apabila seseorang berwasiat melebihi dari sepertiga harta peninggalannya. Apabila orang yang mewasiatkan sepertiga barang-barang yang diwasiatkan itu kemudian ahli warisnya bahwa barang-brang yang telah ditentukan itu ternyata lebih dari sepertiga hartanya. fuqaha juga sependapat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang yang bukan ahli warisnya dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang melebihkan hibah terhadap sebagian anaknya atau penghibahan seluruh hartanya kepada sebagian anaknya tanpa yang lain menurut fuqaha Amshar hibah seperti itu makruh hukumnya. Ahmad. Akan tetapi.

Yakni seharusnya penentuan tersebut batal jika para ahli waris disuruh untuk melaksanakan penentuan tersebut atau membiarkan seluruh jumlah sepertiga mka hal itu tentu saja memberatkan mereka. apabila ahli waris mengaku demikian maka mereka disuruh menjelaskannya. Apabila mereka tidak memperselisihkan bahwa harta yang diwasiatkan itu lebih dari sepertiga. Malik berpendapat bahwa para ahli waris diperkenankan memilih antara menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada yang diwasiati atau membebaskannya dri seluruh sepertiga harta si mayit. Jika sudah dapat ditetapkan jumlah harta si mayit seluruhnya maka orang yang diberi wasiat mengambil sepertiga dari harta itu. kata ini merupakan mashdar dari kata َ‫ َمَﺐ‬yang berarti pemberian. maka para ahli waris dipaksa untuk mencukupi kekurangan itu. HIBAH A.‖ B. rukun hibah adalah ijab dan qabul sebab keduannya termasuk akad seperti halnya jual-beli. Dalam hal ini pendapat Abu Umar bin Abdul Barr. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Syafi‘I orang yang diberi wasiat itu menerima sepertiga barang sedang selebihnya menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris berkenaan dengan seluruh peninggalan si mayit sehingga orang yang diwasiati menerima sepertiga penuh. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun hibah ada empat : Wahib (pemberi) Mauhud lah (penerima) Mauhud (barang yang dihibahkan) Ijab dan qabul C. Arti Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Syarat Hibah Syarat hibah menurut ulama Hanabilah ada 11 : 54 . Kemungkinan ia menjadi pemilik bersama dengan para ahli waris pada kelebihan dari yang sepertiga itu. yakni jenis sepertiga harta itu sendiri atau seluruh harta. Silang pendapat ini berpangkal pada wasiat yang barang-barangnya telah ditentukan oleh si mayit itu melebihi batas maksimal. Alasan Malik adalah kemungkinan ahli waris itu jujur dan benr dalam pengakuannya itu.bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi tetap bisa berpindah haknya tanpa persetujuan dan kerelaan hatinya dan tanpa adanya perubahan wasiat. َ Sedangkan pengertian hibah secara terminologi adalah : ‫خظُعا‬ ‫عقذ ٕﻔٕذ الخملٕك بﻼعُض حال اكٕاة‬ ― Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela. Rukun Hibah Menurut ulama Hanafiyah. jika dikatakan bahwa kelebihan dari wasiat maksimal itu terletak pada penentuan jenis barang maka pilihan yang terakhir itu lebih utama karena barangnya lebih dari sepertiga.

‗ariyyah (pinjaman). dan Abu Hanifah sependapat bahwa penerimaan itu termasuk syarat sahnya hibah. ats-Tsauri. Apabila orang tersebut meninggal dunia. Tanpa adanya pengganti 5. Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disebut hibah umri (hibah seumur hidup). Kedua. Terpilih dan sungguh-sungguh 3. pendapat ini dikemukakan oleh Syafi‘i. seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. dan sekelompok fuqaha lainnya. maka barang tersebut menjadi milik orang yang diberi hibah. Yakni bahwa hibah tersebut adalah hibah terhadap pokok barangnya (ar-raqabah). Sedangkan menurut Ahmad dan Abu Tsaur. bahwa apabila pemberi hibah berkata ―barang ini. Pendapat ini dikemukakan oleh Malik dan para pengikutnya. Tidak disertai syarat waktu 10. D.1. barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. bahwa hibah tersebut merupakan hibah yang terputus sama sekali. selama umurku masih ada. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat : Pertama. Syafi‘i. Menyempurnakan pemberian 9. Apabila barang tidak diterima. Sah menerimanya 7. Macam-macam Hibah 1. Menurut Malik. Hibah barang 2. dan mukallaf) 11. Pemberi sudah dipandang mampu tasharruf (merdeka. Harta yang diperjualbelikan 4. Ahmad. bahwa orang yang diberi hibah itu hanya memperoleh manfaatnya saja. dan minhah (pemberian). hibah menjadi sah dengan terjadinya akad sedangkan penerimaan tidak menjadi syarat sama sekali. apabila dalam aqad tersebut disebutkan keturunan sedangkan keturunannya sudah tidak ada maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. 55 . Jika dalam akad tersebut tidak disebut-sebut soal keturunan. Apabila penerima hibah memperlambat tuntutan untuk menerima hibah sampai pemberi hibah itu mengalami pailit atau menderita sakit. Ketiga. maka hibah tersebut batal. maka pemberi hibah tidak terikat. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat adalah hibah muajjalah (hibah bertempo). Mauhub harus berupa harta yang khusus untuk dikeluarkan Ulama berselisih pendapat. maka sesudah meninggalnya orang yang diberi hibah. Abu Hanifah. Orang yang sah memilikinya 6. apakah penerimaan itu menjadi syarat sahnya akad atau tidak? Ats-Tsauri. maka pokok barang tersebut kembali kepada pemberi hibah atau ahli warisnya. Walinya sebelum pemberi dipandang cukup waktu 8. hibah menjadi sah dengan adanya penerimaan dan calon penerima hibah boleh dipaksa untuk menerima seperti jaul beli. untukmu dan keturunanmu‖. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud dan Abu Tsaur. Hibah dari harta yang boleh di tasharrufkan 2.

dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Dari Abu Hurairah : ― Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti.Hukum Hibah Dasar dan ketetapan hbah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (pene rima hibah) tanpa adanya pengganti. Oleh karena itu. dalam hadis Malik terkesan pertentangan itu lebih sedikit. Barangsiapa memberikan suatu pemberian sesuatu hidupnya. Hukum Hibah a. 56 .a. bagi fuqaha yang lebih menguatkan syarat atas hadis Nabi akan memakai pendapat Malik. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa hibah seumur hidup itu kembali kepada pemberinya manakala ia tidak menyebutkan keturunan.‖ (HR. Hanya saja. hadis riwayat Abu Zubair dari Jabir r. hadis yang disepakati kesahihannya yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir r.a.a. ada dua hal : Pertama. Akan tetapi. maka hibah tersebut menjadi milik orang yang diberinya itu. yakni tidak bisa kembali kepada pemberi hibah. dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. akan memberlakukan hadis Abu Zubair dari Jabir r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : ‫إٔما زجل أعمز عمزِ لً َلعقبً فإىٍا للذْ ٕعظاٌا ال جﻊ إلّ الذْ أبذا أعظاٌا‬ ― Siapa saja yang memberikan hibah seumur hidup kepada orang lain dan keturunannya. hadis Abu Zubair dari Jabir r.‖ (HR. dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw. jangan kalian berikan seumur hidup. bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadis Nabi atas syarat. Muslim dan Nasai) Ketentuan tegas ini karena orang tersebut memberi suatu pemberian kepada seseorang sekaligus kepada ahli warisnya. juga bertentangan dengan syarat orang yang memberikan hibah seumur hidup.Sifat Hukum Hibah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. ia berkata : ― Rasulullah Saw bersabda. Selain itu. sebaliknya. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli. Ahmad dan Nasai) Dalam hal ini. maka sesuatu itu untuk orang yang diberi selama hidup (orang yang diberi) dan sesudah matinya.‖ (HR. Kedua. b. Sebab. ― Wahai golongan Anshar.a. Dan hadis Malik dari Jabir r. tidak kembali kepada orang yang memberi selamanya. Ibnu Majah dan Daruquthni) Dengan demikian. E.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya beberapa hadis yang berbeda dan pertentangan antara syarat dengan amal yang berlaku dalam hadis. bertentangan dengan persyaratan orang yang memberikan hibah seumur hidup. Dalam hal ini. yang diberi hibah harus ridha. tahanlah untukmu hartamu. penyebutan keturunan (al-‗aqid) mengesankan putusnya hibah. dan jika menyebut keturunan hibah itu tidak kembali. Dengan demkian.

Ulama hanafiyah berpendapat ada 6 perkara mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Ulama Mlikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan. jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil. Salah seorang yang akad meninggal. a.Pendapat ulama tentang pencabutan hibah Menurut fuqaha mencabut kembali hibah (al-i‘tishar) itu boleh.yakni untuk memperolah keridaan Allah. b. 2. Begitu pula seorang ibu boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. 57 . Dalam pada itu. dan Syafi‘iyah menganggap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah. Tambahan yang ada pada barang yang diberikan yang berasal dari pekerjaan mauhublah (orang yang diberi hibah) 4. seperti dijual kepada orang lain. 3. seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki utang. apabila ayah masih hidup. Penerima membrikan ganti . Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali pemberian yang dihibahkan kepada anaknya selama anak itu belum kawin atau belum membuat utang. 6. Tetapi ada riwayat dari Malik bahwa ibu tidak boleh mencabut hibahnya kembali. Jika belum bercampur dengan hak orang lain. Ulama Malikiyah. Fuqaha sependapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali hibahnya yang dimaksudkan sebagai sedekah . Ulama Hanabilah dan Syafi‘iyah berpendapt bahwa hibah tidak dapat dikembalikan.pengganti yang diakhirkan.pahala dari Allah. Hanabilah. 5.pemberian dalam hubungan suami istri. kecuali pemberian orang tua kepada anaknya.‖ E. Masalah Hibah 1. Ahmad dan fuqaha zhahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkannya. sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi. Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang boleh mencabut kembali pemberian yang telah dihibahkan kepada perempuan (dzawil arham) yang tidak boleh dikawini (mahram). Rasulullah Saw bersabda : ―Orang yang meminta kembali hibahnya seperti orang yang mengembalikan muntahnya. b. c. a. Barang yang dihibahkan rusak.pemberian dalam rangka silaturahmi. Penerima maknawi . Barang yang telah keluar dari kekuasaan penerima hibah. yaitu : yang melarang wahib 1.pemberi yang disyaratkan dalam akad.

hal.Pendapat para ulama tentang penghibahan barang yang tidak (belum) ada Menurut mazhab Malik bahwa menghibahkan barang yang tidak jelas (majhul) dan barang yang tidak (belum) ada (ma‘dum). 3 Karim. Jakarta : Putaka Amani. 3. 3. 2. cet. Fiqh Muamalah. 374375 Helmi Karim. jilid. Jakarta : Putaka Amani. Menurut Malik. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2006. Dan setiap barang yang tidak boleh dijual tidak boleh dihibahkan.‖ (HR.blogspot. cet. Fiqh Muamalah. edisi 1. 2006. Ahmad. 3. hal. 96 Ibnu Rusyd. Bidayatul Mujtahid. hal. Fiqh Muamalah. 242246 Ibnu Rusyd. hal. Fiqh Muamalah. Bandung : Pustaka Setia. jilid. 3. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. fuqaha yang melarang secara mutlak pencabutan kembali hibah beralasan dengan pengertian umum hadis sahih. juga setiap barang yang tidak sah diterima tidak sah pula dihibahkan seperti piutang dan gadai. Bandung : Pustaka Setia. hal. cet. Fuqaha yang berpegangan bahwa penerimaan hak milik bersama itu sah seperti penerimaan jual beli. cet. Ibnu. 1997. 2007. 350361 (Sumber: Puspita. dan Abu Tsaur bahwa hibah seperti ini sah.Silang pendapat ini berpangkal pada adanya pertentangan antara beberapa hadis. 3. setiap barang yang boleh dijual boleh pula dihibahkan seperti piutang. 73 Rachmat Syafe‘i. menurut-islam. 351358 Rachmat Syafe‘i.html) http://puspitagiana. 2007. yaitu sabda Nabi : ―Orang yang mencabut kembali hibahnya tak ubahnya seekor anjing yang menjilat kembali muntahnya.com/2009/06/hibah- 58 .Pendapat para ulama tentang penghibahan barang milik bersama Fuqaha berselisih pendapat tentang kebolehan menghibahkan barang milik bersama yang tidak bisa dibagi. 2007. 1997. Menurut Syafi‘I. Rachmat. 2. Jakarta : Putaka Amani.‖ (HR. cet. hal. edisi 1. Bidayatul Mujtahid. Bidayatul Mujtahid. Bidayatul Mujtahid. jilid. DAFTAR PUSTAKA Rusyd. cet. Syafi‘I. hal. 247249 Ibnu Rusyd. Helmi. Bandung : Pustaka Setia. 2006. Jakarta : Putaka Amani. sedang menurut Abu Hanifah tidak sah. sementara Abu Hanifah berpegangan bahwa penerimaan hibah itu tidak sah kecuali secara terpisah dan tersendiri seperti halnya gadai. Fiqh Muamalah. 1997. Bukhari dan Nasai) 2. 2 Helmi Karim. 2007. 3. Bukhari dan Muslim) Sementara fuqaha yang mengecualikan larangan tersebut bagi kedua orang tua beralasan terhadap sabda Nabi : ―Tidak halal bagi orang yang memberi hibah untuk mencabut kembali hibahnya kecuali ayah. Fiqh Muamalah. 3 Syafe‘i. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. edisi 1. jilid. tetapi dapat diperkirakan akan ada itu boleh.

Rukun dan Syarat Wakalah a. menggadaikan barang. Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu pekerjaan kepada orang lain. b.BAGIAN 9 HUKUM WAKALAH DAN SULHU A.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat beliau” (HR. Berfirman: ”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS. Sedangkan dalam bidang ‗Ubudiyah ada yang boleh dan ada yang dilarang. Sedangkan yang tidak boleh adalah mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan itu seperti wudhu. 2. Yang boleh misalnya mewakilkan haji bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara fisik. Masalah / Urusan yang dikuasakan. Pengertian Wakalah Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan. mewakilkan memberi zakat. Rasulullah SAW. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa.. Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah muamalah. Syaratnya jelas dan dapat dikuasakan. tetapi bisa menjadi haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh agama. Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat. WAKALAH 1. Misalnya mewakilkan jual beli. Allah SWT. memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain. Al Kahfi : 19). sedangkan menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa. 3. 59 . Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan tersebut. bersabda: ‫ل‬ ) ) ‫ل‬ “Dari Abu Hurairah ra. Bukhari). c. menyembelih hewan kurban dan sebagainya. Hukum Wakalah Asal hukum wakalah adalah mubah.

Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya. Salah satu pihak meninggal dunia 2. b. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan 1. karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. 2. 60 .d. Hikmah Wakalah a. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara sesama manusia. 2. Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan dendam. 3. B. 5. Al Hujurat : 10). c. persengketaan atau permusuhan (memperbaiki hubungan kembali). Jika salah satu pihak menjadi gila 3. sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau perintah Allah SWT. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama. 4. Pengertian Sulhu Sulhu menurut bahasa artinya damai. SULHU 1. Saling tolong menolong diantara sesama manusia. Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat menyembelih hewan qurbannya. Hukum Sulhu Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib. An Nisa‟ : 128). Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain. “Perdamaian itu amat baik” (QS. didalam Al-Qur‘an : “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi wewenang 4. Syaratnya dapat dipahami kedua belah pihak. Habisnya Akad Wakalah 1. Akad (Ijab Qabul). Memberikan kuasa pada orang lain merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain. sedangkan menurut istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang berselisih. tidak semua orang dapat belanja sendiri dan lainlain.

b. Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim 3. 5. Al Hujurat). dapat menghadirkan pihak ketiga. Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum. c. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain. Rukun dan Syarat Sulhu a. Macam-macam Perdamaian Dari segi orang yang berdamai. angkara murka dan perselisihan diantara sesama.3. Perdamaian antara suami istri. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. 5. 4. 2. 3. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan sesama manusia. Hikmah Sulhu 1. 4. Jika dipandang perlu. Dapat menghilangkan rasa dendam. Tidak ada paksaan. d. 61 . Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain. 5. sulhu macamnya sebagai berikut : 1. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Allah SWT berfirman : ‫ل‬ “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah). Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat (Pemberontak yang tidak mau tunduk kepada imam). maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. Seperti yang disintir dalam Al-Qur‘an An Nisa‘ : 35. 4. Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun kehidupan masyarakat. Perdamaian antar sesama muslim 2.

Akad asuransi ini adalah akad mu‘awadhah. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. yang artinya:―Dan tidak 62 . Tertanggung. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya. 3. 2. baik itu berbentuk imbalan. sebagaimana firman Allah SWT. Penanggung. yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda b.Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya.Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain: a. Akad asuransi konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. B.BAGIAN 10 HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional. dalam hal ini Perusahaan Asuransi. merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan ASURANSI KONVENSIONAL A. yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi. sebagai imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut (muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya. diantaranya adalah: 1. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. Akad asuransi ini adalah akad idz‘an (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. maka permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah. 4. Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi). pihak penanggung dan pihak tertanggung.

 Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth‗i (mufti Mesir‖). S. Wahab Khalaf. dan Abd. bukan bahan matang. Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari‗ah Universitas Syria). Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya. Hud: 6)―……dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)?……‖ (Q. Asuransi konvensional diperbolehkan Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd.  Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.‖ (Q.  Asuransi mengandung unsur riba/renten. adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan dan masa tua. S. II. Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:  Asuransi sama dengan judi  Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. 63 . karena pemegang polis. temasuk asuransi jiwa Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq.  Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis. An-Naml: 64)―Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup. Al-Hijr: 20)Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segalagalanya untuk keperluan semua makhluk-Nya. apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya. yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari. akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi. yaitu: I. dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam.  Asuransi mengandung unsur pemerasan. · Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak. Melibatkan diri ke dalam asuransi ini. Mereka beralasan: · Tidak ada nash (al-Qur‗an dan Sunnah) yang melarang asuransi. Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania). mencarinya dan mengikhtiarkannya. · Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen. · Saling menguntungkan kedua belah pihak. Allah telah menyiapkan bahan mentah. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash. Manusia masih perlu mengolahnya. sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga. · Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum. Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir). dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.‖ (Q. S. maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi.ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. · Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil) · Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‗awuniyah).

5. 6. Kalau terjadi peristiwa. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan. masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan.Dalam keadaan begini. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada Universitas Cairo).Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh.III. harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Ciri-ciri asuransi syari‘ah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri. Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan. Apabila uang itu akan dikembangkan. tentu jalan itulah yang pantas dilalui.‖ Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh). sehingga sukar untuk menentukan.Dari uraian di atas dapat dipahami. Asuransi syariat tidak bersifat mu‘awadhoh.Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan kelompok kedua. tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah Suatu asuransi diperbolehkan secara syar‘i. B. Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ). yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar. sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:―Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam. tetapi tabarru‘ atau mudhorobah. oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Allah SWT berfirman. tolong menolong. maka harus dijalankan menurut aturan syar‘i. Ahmad) ASURANSI SYARIAH A.‖ 2. Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. maka diselesaikan menurut syariat. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.‖ (HR. bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini. Sumbangan (tabarru‘) sama dengan hibah (pemberian). 4. diantaranya adalah Sbb: 64 . Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. saling menjamin. Jalan alternatif baru yang ditawarkan. 3.

Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong. dan biaya. ditemukan titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Sebagai tabungan. 5. 4. 4. 2. Juga meningkatkan efesiensi. 2. 8. 2.masing pihak. Akad asuransi syari‘ah adalah bersifat tabarru‘. waktu. karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus) 4. dengan tidak kurang dan tidak lebih.Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. yaitu: 1. D. karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak. atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja). sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Akad asuransi syari‘ah bersih dari gharar dan riba. Pemerataan biaya. sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama‘ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. 5. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing. E. Jika diamati dengan seksama. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu. 7. dan kalau ada imbalan. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari‘ah. 65 . dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.1. Dalam asuransi syari‘ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama‘ah seperti dalam asuransi takaful. 3. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota 3. maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota. C. 6. diantaranya sbb: 1. 3. Manfaat asuransi syariah. Atau jika tidak tabarru‘.

dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syar‘i yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). (Sumber: dalam-islam/) http://jacksite. Sedangkan dalam asuransi konvensional.com/2007/04/24/hukum-asuransi- 66 . keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. maka hal itu tidak mendapat perhatian.Dibandingkan asuransi konvensional. dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.wordpress. Sedangkan pada asuransi konvensional. 4. dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah. serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami paparkan di muka. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut. Adapun dalam asuransi konvensional. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah. Sedangkan pada asuransi konvensional. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. 2. 1. premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. dengan prinsip bagi hasil. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpanganpenyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). Sedangkan dalam asuransi konvensional. nasabah tak memperoleh apa-apa. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jualbeli antara nasabah dengan perusahaan). 6. Jika tak ada klaim. Dari perbandingan di atas. 3. 5. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola. Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful