P. 1
Pengamalan Pancasila Dalam Implementasi Otonomi Daerah

Pengamalan Pancasila Dalam Implementasi Otonomi Daerah

|Views: 81|Likes:
Published by Suli Gazatri
makalah
makalah

More info:

Published by: Suli Gazatri on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2013

pdf

text

original

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

• PENDAHULUAN
Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan dasar hukum pembentukan Pemeritahan Daerah,menghendaki pembagian Wilayah Indonesia atas daerah besar dan kecil,dengan bentuk dan susunan ditetapkan dengan Undangundang.Dan pembentukan daerah besar dan kecil tersebut harus tetap memperhatikan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Prof. Soepomo menyatakan bahawa Otonomi Daerah sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut riwayat adat dan sifat-sifat sendiri-sendiri,dalam kadar Negara kesatuan.Tiap daerah mempunyai histories dan sifat khusus yang berlainan dari riwayat dan sifat daerah lain.Karena itu,Pemerintah harus menjauhkan segala urusan yang bermaksud akan menguniformisir seluruh daerah menurut satu model. Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,yang dimaksud daerah otonom yang selanjutnya disebut daerah,adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Sedangkan yang dimaksud Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 1

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

Lebih

lanjut titik

Undang-undang berat otonomi

Nomor daerah

32 pada

Tahun Daerah

2004,meletakan

Kabupaten dan Daerah Kota,dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam arti daerah diberi kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah. Peletakan otonomi daerah pada Pemerintah Kabupaten Hatta,yang mendekatkan pengertian Kabupaten. Disamping itu juga prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab.Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan kewajiban senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh,hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.Sedangkan otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama darai tujuan nasional. Tujuan utama dari kebijakan otonomi daerah dan Kota bertujuan lebih mendekatkan apabila yang kita fungsi mau kepada dalm sebaikpelayanan kepada msyarakat.Hal ini sejalan dengan konsepsi mengemukakan demokrasi “pemerintah yang yang cita-cita bahwa lama bertanggung jawab tertanam

rakyat,melaksanakan

diperintah”,maka

baiknyalah titik berrat pemerintahan sendiri diletakan pada

(desentralisasi) adalah,disatu pihak,membebaskan pemerintah pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan domestic,sehingga ia berkesempatan untuk

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 2

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

mempelajari,memahami,merespon

berbagai

kecenderungan

global dan mengambil manfaat dari padanya pada saat yang sama,pemerintah pusat diharapkan lebih mampu berkonsentrasi pada perumusan kebijakan makro nasional yang bersifat strategis.Di lain pihak, dengan desentralisasi kewenangan ke daerah,maka daerah akan mengalami proses pemberdayaan yang signifikan.Kemampuan prakarsa dan kreativitas Kabupaten dan Kota akan terpacu,sehingga kapabelitas dalam mengatasi berbagai masalah domestik akan semakin kuat. Desentralisasi merupakan simbol “kepercayaan” dari pemerintah pusat, dalam sitem yang sentralistik mereka tidak biasa berbuat banyak dalam mengatasi berbagai masalah,dalam sistem otonomi mereka di tantang untuk secara kreatif menemukan solusi-solusi atas berbagai masalah yang dihadapi. Dengan Kota,maka titik berat telah otonomi pada Kabupaten dan

Indonesia

melakukan

transformasi

dalam

hubungan antara pemerintah pusat,provinsi dan kabupaten/kota yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 hanya merupakan kepanjangan tangan pusat di daerah.Dalam Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah dibuka saluran baru (kran) bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan umum kepada masyrakat setempat,untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Penyesuaian sudah memuat kewenangan baik dan fungsi penyedian teknis.Secara

pelayanan antara pemerintah pusat,provinsi, dan kabupaten/kota tujuan politis maupun politis,desentralisasi kewenangan pada masing-masing daerah

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 3

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

menjadi perwujudan dari tuntutan reformasi seperti direfleksikan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang Jangka untuk selanjutnya Menengah menjamin ditekankan kembali yang dalam harus Rencana

Nasional.Sedangkan secara teknis masih terdapat sejumlah besar langkah-langkah eefektif. Untuk menjamin proses desentralisasi berlangsung dan berkesinambungan,pada prinsipnya acuan dasar dari otonomi daerah telah diwujudkan melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan peraturan perundangan lainnya. Dalam membentuk kapasitas dan acuan suatu dasar tersebut setiap Negara daerah yang paket harus dengan majemuk otonomi dilaksanakan penyesuaian kewenangan dan fungsi-fungsi tersebut secara

paket

otonomi

yang

konsisten

kebutuhannya.Dalam itu dalam

seperti Indonesia ini, satu ukuran belum tentu cocok untuk semua.Oleh pemeritah karena daerah penyusunan perlu melibatkan komunitas-komunitas

lokal,termasuk DPRD.

SEKILAS OTONOMI SAAT INI
Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, yang dimaksud daerah otonom yang selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 4

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan yang dimaksud otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah merupakan kebijakan yang sangat bagus untuk diterapkan agar supaya daerah-daerah mempunyai peranan dalam mengatur rumah tangganya secara mandiri. Kebijakan otonomi daerah dengan maksud awal untuk mengubah orientasi pertumbuhan baik itu dibidang ekonomi, sosial budaya, maupun politik ke arah orientasi pemerataan pembangunan antar daerah seperti yang diungkapkan oleh Hadi (1993). Proyek ini selanjutnya ditindaklanjuti dengan keluarnya repelita, namun repelita saja tidak cukup sehingga keluarlah Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UndangUndang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Perundangan yang terbaru, Undang-Undang No. 32 tahun 2004 yang berisi pengaturan revisi otonomi daerah. Pratikno dikutip oleh Karim (2003) menegaskan sangat boleh jadi undang-undang tersebut bukan merupakan sebuah pilihan final. Untuk menjadikannya final, diperlukan sebuah penyepakatan komitmen untuk menjadikan desentralisasi itu sebagai referensi utama dalam penataan hubungan pusat dan daerah. Memang selama ini masih terjadi kebingungan pemerintah untuk mengatur perimbangan kekuasaan tersebut, masing-masing daerah tidak seragam dan sangat heterogen. Karim (2003) mengargumentasikan bahwa Indonesia senantiasa

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 5

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

kesulitan dalam mencari format ideal bagi desentralisasi politik dan otonomi daerah. Derajat heterogenitas geografis maupun sosial budaya yang cukup tinggi, maka daerah cenderung menuntut kekuasaan yang lebih besar. Padahal jika dirunut dalam manfaat, jika penerapan

desentralisasi melalui otonomi daerah dilaksanakan dengan baik dan tanpa hambatan, akan memberikan keuntungan yang lebih bagi daerah maupun pusat sebagai central government. Pratikno (2007) memaparkan keuntungan kerjasama antar daerah dalam konteks desentralisasi. Beberapa diantaranya yaitu manajemen konflik antar daerah, efisiensi dan standardisasi pelayanan, pengembangan ekonomi bersama, dan pengelolaan lingkungan yang menjadi incaran negara-negara maju saat ini. Namun dari manfaat yang akan didapat selama penerapan desentralisasi, faktanya untuk saat ini masih banyak masyarakat merasa kurang puas akan hasil yang dicapai otonomi daerah. Pengaturan yang dilakukan hendaknya perlu penanganan khusus dikarenakan kondisi Indonesia sangatlah kompleks. Sebagaimana pendapat Ratnawati (1993), mengatur dan melaksanakan desentralisasi di negara kesatuan seperti Indonesia tidaklah semudah seperti pada negara-negara kecil yang wilayahnya tidak begitu luas dengan kondisi sosial budaya yang relatif rendah heterogenitasnya. Sepakat dengan pendapat tersebut, terlepas dengan berbagai dugaan tentang keburukan otonomi daerah yang lain, perlu digarisbawahi pada aspek sosial budaya Indonesia.

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 6

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

PEMBAHASAN

 Permasalahan Pelaksanaan Otonomi Daerah
Proses implementasi otonomi daerah yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2000 yang lalu,dalam pelaksanaannya tidaklah berjalan mulus dan masih menghadapi kendalakendala,baik itu pada tataran konsepsional maupun praktekpraktek lapangan yang jika tidak dilakukan perbaikan segera akan menghambat tujuan otonomi itu sendiri. Berdasarkan evaluasi permasalaahan-permsalahan yang muncul dalam implementasi otomi daerah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Masih ada anggapan bahwa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah Undang-Undangnya Undang-Undang Departemen itu apabila Dalam sudah Negeri.Padahal

diundangkan diperlakukan untuk semua warga Negara,untuk semua institusi dan lembaga apapun. 2. Ada gejala cukup kuat dalam pelaksanaan otonomi

daerah,yaitu konflik horizontal yang terjadi antara pemerintah provinsi dengan pemerntah kabupaten /kota,sebagai akibat dari penekanan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 yang menekankan bahwa tidak ada hubungan hierarkhis antara pemerintah provinsi dengan pemerintah arogansi pemerintah kabupaten /kota kabupaten/kota,sehingga pemerintah provinsi.Ada

menganggap kedudukannya sama dan tidak ta’at kepada pemerintah kabupaten /kota,karena tidak ada sanksi apabila ada pelanggaran dari

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 7

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

pemerintah kabupaten /kota. 3. Dengan pelaksanaan otonomi daerah muncul gejala etnosentrisme atau fenomena primordial kedaerahan semakin kuat.Indikasi kebijakan di etno-sentrisme daearah ini terlihat dalam beberapa pemekaran yang menyangkut

daerah,pemilihan kepala daerah,rekrumen birokrasi local dan pembuatan kebijakan lainnya. 4. Ada kelemahan dalam kaitan pelaksanaan otonomi daerah yang memicu konflik dalam perspektif sosiologis.Pertama, pemerintah belum memiliki Rencana Umum Pembangunan Sosial Budaya.Kedua, pemerintah pusat kurang memberi perhatian terhadap pengembangan kelembagaan dalam bidang social budaya yang mampu membuat “critical analysis” yang bersifat holistic dan societal mengenai dampak berbagai macam kebijakan departemen yang bersifat sektoral maupun kebijakan daerah terhadap integrasi nasional.Ketiga, guna mencegah gerakan yang bersifat separatis perlu adanya sosialisasi yang menetralisir gerakan tersebut. 5. Pelaksanaan problematik otonomi seperti daerah masalah juga masih memunculkan kelembagaan,

kewenangan,

kepegawaian, dan keungan daerah.Sebagai misal mengenai kewenangan masih ada tarik ulur pemerintah pusat seperti kewenangan pertanahan, keluarga berencana dan lainlain’bahkan ada upaya lembaga pusat yang menghendaki sentralistik lagi dengan membentuk Unit Pelayanan Teknis (UPT) di daerah.Mengenai untuk kepegawaian ada karena sementara kewenangannya ada pada kabupaten/kota,maka kesulitan yang muncul pemerataan,kareana

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 8

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

daerah

yang

sumber

daya

manusianya

belum

memadai.Sementara itu, karena pengaturan dan pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota tergantung Bupati/Walikota,maka ada sementara daerah yang Bupati/Walikota nya lebih mementingkan membeli kendaraan dinas atau membiyai sepak bola dari pada untuk kepentingan masyarakat banyak. 6. Kewenangan DPRD untuk mewujudkan demokrasi tingkat lokal ternyata jauh dari harapan, karena para wakil rakyat lebih banyak memikirkan kepentingan sendiri daripada kepentingan masyarakat.Akibatnya partisipasi masyarakat yang semula tinggi jadi mengendur.Disamping juga belum ada lembaga kontrol DPR dan DPRD,sehingga meskipun sitem pemerintahan kita menganut kabinet presidensiil tapi kenyataannya apabila terjadi persengketaan yang menang selalu legislative. 7. Ada sementara orang yang melihat bahwa pelaksanaan otonomi daerah justru memindahkan korupsi dari pusat ke daerah dan menciptakan raja-raja kecil di daerah.Karena banyak kasus Kepala Daerah atau anggota DPRD yang belakangan terbukti menyalah gunakan kekuasaan. 8. Pelaksanaan otonomi daerah juga memunculkan kesulitan pemerataan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan kapasitas industri antar daerah yang antara yang satu dengan lainnya.

• PENGAMALAN

PANCASILA

DALAM

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 9

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

IMPLEMENTASI OTODA
Berdasarkan pengalaman, terbukti bahwa pola sentralisasi pemerintahan cenderung menimbulkan ekonomi biaya tinggi, akibat lambannya birokrasi.Selain itu, pola sentralisasi tidak mendorong kreativitas dan motivasi untuk membangun melalui pola pembangunan yang bersifat partisipatif.Lagi pula, kondisi geografis Indonesia dengan wilayah yang menyebar terpencar membuat masalah pada pada pembangunan dimensi nasional tidak dukungan demikian hanya dan kompleks.Dalam diorientasikan itu,pembangunan optimalisasi

pengembangan sumber daya di daerah, tetapi juga pada dimensi persatuan dan kesatuan. Kedua dimensi inilah yang menjadi dasar dari peletakan otonomi daerah pada kabupaten dan kota, melalui penyerahan sebagian urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.Di masa lalu, banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani konflik anggaran secara baik karena keterbatasan hutan, pusat, kewenangan pengelolaan penetapan pemerintah daerah di bidang itu.Ini berkenaan antara lain dengan pertanahan, dari dana kebakaran subsidi pertambangan, perijinan investasi, perusakan lingkungan, alokasi pemerintah prioritas pembangunan, penyusunan organisasi pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah, pengangkatan dalam jabatan struktural, perubahan batas wilayah administrasi, pembentukan kecamatan, kelurahan dan desa, serta pemilihan kepala daerah.Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, kewenangan itu didesentralisasikan ke daerah. Artinya pemerintah dan masyarakat di daerah dipersilahkan mengurus

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 10

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

rumah tangganya sendiri secara bertanggung jawab.Pemerintah pusat adalah tidak lagi mempatronase, supervise, apa lagi mendominasi dan mereka.Peran pemerintah pusat dalam konteks desentralisasi ini melakukan memantau, mengawasi mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah. Tadi telah disampaikan bahwa meskipun otonomi daerah telah dilaksanakan lebih dari sepuluh tahun namun masih dijumpai kendala-kendala dalam implementasinya.Pemecahan terhadap permasalahan implementasi otonomi daerah tadi, sudah barang tentu harus di dasarkan pada norma dasar, sebagaimana teori Hans Kelsen “Stufenbau des Recht- nya”(Zainudi Ali: 2005), yang di Indonesia adalah Pancasila.Ideologi Pancasilla ini, tentunya tidak bias dipisahkan dari UUD 1945,NKRI dan Bhinika Tunggal Ika,karena keempat-empatnya adalah merupakan pilarpilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun langkah-langkah pemecahan permasalahan

implementasi otonomi tersebut, dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Permasalahan adanya anggapan bahwa UU No 32 Tahun 2004,sebagai UU Departaman Dalam Negeri
Sebagaimana diketahui, undang-undang dibuat dalam suatu Negara di berlakukan secara universal, berlaku untuk semua warga Negara,bukan untuk golongan atau institusi tertentu.Karenanya adalah tidak benar adanya anggapan bahwa UU No 32 tahun 2004, adalah sebagai UU nya Departemen Dalam Negeri, tetapi merupakan UU nya seluruh warga Negara dan lembaga yang ada di Indonesia, sehingga ada kewajiban untuk melaksanakan dan mematuhinya.

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 11

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

Untuk itu sebenarnya ada pula kewajiban Departemen dan Lembaga Non Departemen yang ada di tingkat pusat untuk ikut mensosialisasikan keberadaan UU No 32 tahun 2004 ini kepada jajarannya, sehingga otonomi daerah dapat berjalan seperti yang diharapkan.Pada kenyataannya adanya anggapan ini sangat mengganggu penyelenggaraan otonomi daerah, karena ada sebagian Departemen dan Lembaga Non Departemen yang belum menyerahkan sebagian kewenangannya.Terhadap hal ini diperlukan adanya ketegasan dari pemerintah pusat kepada Departemen dan Lembaga Non Departemen yang belum menyerahkan kewenangan kepada daerah, bila perlu dengan pemberian sanksi kepada Menteri atau Pimpinannya,sehingga dapat ditegakan Negara Keatuan Republik Indonesia.

2. Permasalahan, Konflik antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota
Permasalahan ini berpangkal pada penekanan UU No 22 tahun 1999 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan hierarkhis antara Pemerintah ini pada Provinsi dengan Pemerintah menimbulkan rapat oleh Kabupaten/Kota.Hal pemerintah provinsi, kenyataannya misal undangan

arogansi pemerintah kabupaten/kota tidak ta’at asas dengan sebagai Gubernur jarang yang dihadiri oleh Bupati/Walikota secara pribadi, Bupati /Walikota sering ke pemerintah pusat tanpa melapor kepada Gurbernur.Bahkan ada seorang Bupati yang tidak mau diperiksa oleh Gubernur.Meskipun UU 22 tahun 1999 telah diubah dengan UU No 32 tahun 2004, keadaan semacam ini masih terjadi, sehingga muncul pandangan bahwa saat itu

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 12

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

pemerintah

provinsi

di

dzolimi

oleh

pemerintah

kabupaten/kota.Kondisi ini terdukung oleh, tidak diaturnya sanksi yang oleh UU No 32 tahun 2004 bagi Bupati/Walikota yang kinerjanya tidak baik serta tidak ta’at asas terhadap pemerintah provinsi. Permasalahan ini telah diupayakan pemecahannya oleh pemerintah pusat denga dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2010 tentang “Tata Cara Pelakanaan Tugas Dan Wewenang Serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Di Wilayah Propinsi”, Dalam pasal 3 PP 19 tahun 2010 tersebut disebutkan bahwa Gubernur sebagai wakil Pemerintah memiliki tugas melaksanakan urusan pemerintahan meliputi antara lain ; koordinasi penyelenggaraan pemerintahan antara pemerintah daerah provinsi dengan instansi vertikal dan antar instasi vertikal, koordinasi daerah penyelenggaraan provinsi daerah pemerintah antara pemerintah daerah kehidupan dengan pemerintah

kabupaten/kota,pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/kota,menjaga berbangsa dan bernegara serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,menjaga dan mengamalkan ideologi Pancasila dan kehidupan demokrasi,dan lain sebagainya. Pasal 4 PP 19 tahun 2010 tersebut,menyebutkan Gubernur sebagai wakil Pemerintah memiliki wewenang : mengundang rapat Bupati/Walikota beserta perangkat daerah dan pimpinan instansi vertikal,meminta kepada Bupati/Walikota beserta perangkat daearah dan pimpinan instansi vertikal untuk segera menangani permasalahan penting dan/atau mendesak yang

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 13

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

memerlukan penyelesaian cepat,memberikan penghargaan atau sanksi kepada Bupati/Walikota kewajiban, sekretaris dan daerah terkait dengan kinerja, sumpah sesuai pelaksanaan pelanggaran Kabupaten/Kota

janji,menetapkan

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,mengevaluasi rancangan peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah – pajak daerah – retribusi daerah – dan tata ruang wilayah kabupaten/kota, memberikan persetujuan tertulis terhadap penyidikan anggota DPRD kabupaten/kota,dan lainnya. Namun demikian,PP ini sampai sekarang belum ada

peraturan pelaksanaannya, sehingga efektif seperti yang diharapkan

pelaksanaannya belum

3. Permasalahan Munculnya Gejala Etno-Sentrisme atau Fenomena Kedaerahan
Fenomena etnosentrisme mulai berkembang, sejak awal tahun 2000 waktu pemilihan Kepala 22 Daerah Tahun berdasarkan 1999 mulai ketentuan Undang-Undang Nomor

ditetapkan.Masyarakat daerah setempat ramai-ramai menuntut calon gubernur,bupati dan walikota beserta para wakilnya berasal dari “PAD” (Putra Asli Daerah).Mereka menekan DPRD agar memenuhi Tata calon aspirasi tersebut, sehingga ada DPRD yang kebablasan mencantumkan persyaratan Putra asli Daerah dalam Tertib Pemilihan. Padahal dan dalam dikenal Undang-Undang masyarakat di Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 hanya diatur “sang mengenal daerahnya daerahnya” (Pasal 33 huruf j).

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 14

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

Mulai tahun 2000 aroma etnosentrisme juga merebak ke arena Laporan Pertanggung-jawaban etnik dibawa-bawa orang (LPJ) politik Kepala untuk Daerah.Kelompok

mendukung atau menolak LPJ yang menimbulkan efek jelek terhadap kualitas kehidupan bersama kelompok masyarakat, seperti tampak jelas dari kasus penyerangan Forum Betawi Rempuk (FBR) yang pro Gubernur Stiyoso terhadap kelompok Urban Poor Concortium (UPC) yang anti Gubernur Sutiyoso di Ibukota Jakarta akhir Maret 2002. Perkembangan penyakit etnosentrisme semakin meruyak manakala otonomi daerah dilaksanakan secara efektif terhitung 1 Januari 2001.Sebagian Pegawai Negeri Sipil (PNS) eks Kantor Wilayah (Kanwil) dan Kantor Departemen (Kandep) yang dilikwidasi ditolak pengalihannya oleh Pemda, gara-gara mereka bukan berasal dari etnik daerah yang bersangkutan.Atau kalau toh diterima, mereka menjadi PNS “kelas dua”.Misalnya ,jika Dana Alokasi Umum (DAU) kurang mereka lah yang pertamatama diancam akan dikorbankan.Yang lebih parah lagi, setelah Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Daerah (Pemda) ditetapkan, pejabat-pejabat yang dipromosikan yang dipromosikan menduduki struktur organisasi Pemda tersebut lebih diutamakan Putra Asli Daerah, kendatipun qualifikasi mereka belum mencukupi.Mereka yang memiliki kompetensi tetapi bukan Putra Asli Daerah tidak mendapat jabatan strategis atau bahkan di-non-job-kan.Begitu pula dalam penerimaan pegawai baru, orang-orang di daerah tersebut menuntut calon PNS harus berasal dari etnik daerah itu. Belakangan ini “wabah” etnosentrisme melanda pula

wilayah lembaga legislative daerah kita. Mulai terdengar suara

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 15

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

agar DPRD dipimpin dan diisi oleh anggota-anggota dari kalangan Putra kalau Asli Daerah.Mereka asal-usulnya yang terlihat bukan dari PAD rasa harus frustrasi disingkirkan.Walaupun suara itu belum cukup kencang,tetapi dicermati masyarakat daerah setempat yang calonnya dari kalangan PAD tidak gol menjadi KDH,karena lemahnya dukungan anggota dewan.Maka guna memenangi pemilihan KDH, jumlah anggota DPRD dari PAD harus dilipatgandakan. Selain itu , juga muncul fenomena anggota DPRD dari PAD juga mencuat pada waktu pengisian pemekaran.Sesuai Undang-Undang anggota dewan di daerah Pembentukan Daerah

Otonom, anggota DPRD Daerah Induk yang berasl dari daerah pemekara harus “pulang kandang”ke DPRD daerah pemekaran tempat di mana yang bersangkutan dicalonkan dalam Pemilihan Umum.Ada banyak kasus anggota dewan tersebut bukan PAD. Mereka ini kemudian ditolak pulang menjadi anggota dewan di daerah pemekaran oleh masyarakat setempat.Di beberapa tempat pemerintah terpaksa mengalah, supaya DPRD segera terbentuk. Sejak tahun 2000 daerah mulai otonom membuat kebijakan sesuai kewenangannya yang lumayan besar. Perda dapat dibuat dan dilaksanakan, tanpa menunggu pengesahan Pemerintah Pusat.Keputusan KDH biasa dijalankan tanpa menunggu Petunjuk Pelaksanaan dari berbagai instansi pemerintah tingkat atas. Mereka lalu tancap gas menjalankan fungsi pengaturan itu, tanpa bimbinga dan pengawasan pemerintahan yang memadai. Akibatnya, lahirlah kebijakan aneh-aneh yamg berbau etnis atau daerahisme seperti pengaturan tentang pendatang, persyaratan PAD bagi calon KDH, larangan perempuan keluar malam,

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 16

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

pengambil alihan BUMN, dan pembatalan kontrak investasi asing.Dengan otonomi seluas-luasnya, daerah provinsi seolaholah telah merdeka dari pusat atau bagi kabupaten/kota merdeka dari pengendalian provinsi, karena itu mereka merasa bebas berbuat apa saja. Untuk mencegah berkembangya bibit etnosentrisme lebih jauh, seyogyanya dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : a. Perlu politik, dilakukaan serta pemantapan tokoh dan perluasan masyarakat wawasan secara

kebangsaan para tokoh masyarakat, tokoh agama, para elit organisasi berkesinambungan. b. Pemerintah pusat perlu meempermantap rambu-rambu yang jelas, rinci, dan lengkap dalam mengatur otonomi daerah. c. Pemerintah pusat harus tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengawasi pelaksanaan otonomi daerah.Setiap pelanggaran harus dikoreksi, dan standar ganda tidak boleh terjadi d. Peningkatan peran Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sesuai PP Nomor 19 Tahun 2010, perlu segera dikeluarkan aturan pelaksanaannya. e. Sanksi bagi politisi yang melakukan tindakan tidak terpuji seyogyanya diperberat, supaya yang lainnya jera. f. Masyarakat dimilikinya setempat perlu beserta berbagai dan lembaga yang

dilibatkan

diberdayakan.Kegiatan

sosialisasi dan konsultasi dalam pembuatan kebijakan daerah wajib mengajak mereka.

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 17

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

g. Pendidikan anti-kekerasan perlu dipromosikan kepada warga daerah kita, disamping itu Forum lintas budaya perlu dihidupkan dalam komunitas lokal, di mana berbagai suku ketemu mendiskusikan masalah daerah.

4.

Permasalahan, munculnya Konflik Sosiologis
Berdasarkan pengamatan, bila dianatomi sumber konflik

di Indonesia adalah ;  Dari dimensi budaya antara lain : masih berkembangnya ideology primordialisme (suku, agama, ras), masyarakat masih melihat dengan kaca mata stereotype (menggeneralisasikan sifat-sifat suatu suku, bangsa, agama dsb. Tanpa landasan yang rasional), stock of knowledge sebagian masyarakat kita sudah teranjur terbentuk melalui sosialisasi di dalam keluarga, tempat ibadah, sekolah dsb.bila stock of knowledge ini merugikan perlu dilakukan gerakan “ de-edukasi” secara meluas dan medasar,system kepercayaan (agama, kepercayaan) sering merupakan sumber konflik – tetapi sering pula merupakan basis moral “anti konflik dan kekerasan”, ideologi Negara – sejak runtuhnya Orde Baru kita juga melupakan ideologi Pancasila – padahal ideologi ini penting untuk menjadi landasan solidaritas bangsa.  Dimensi sosial meliputi : sistem sosialisasi di berbagai pranata sosial seperti rumah, sekolah, tempat ibadah, media massa, ormas & orsospol yang masing-masing menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai “ non

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 18

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”
integrative” secara disadari maupun tidak; kesenjangan sosial bukan saja antar individu, tetapi juga golongan dan daerah.Hal ini menyulitkan terbentuknya solidaritas yang berskala nasional ; hukum yang tidak adil cenderung menciptakan situasi anomic (tidak jelas mana yang benar mana yang salah) terlalu ; matinya lembaga adat karena pemerintah menyeragamkan kelembagaan

pembangunan. Otonomi daerah tidak dengan mudah bias memperbaiki situasi yang ada ; pengangguran menciptakan sekelompok orang tidak memiliki status jelas dan tanggung jawab. Kelompok ini bias menjadi “rumput kering” yang siap dibakar oleh siapa saja; lemahnya kontrol sosial baik pada masyarakat maupun aparat; pembentukan sikap “fanatisme” terus berlangsung di masyarakat; terdapatnya gejala berkembangnya sifat agresifitas, frustasi dsb. karena kondisi sosial ekonomi yang merosot; ketidakpercayaan meluas baik pada tingkat individual, posisional, organisasional, institusional bahkan ontological.  Dimensi Biologis meliputi : berkembangnya kondisi biologis yang semakin tak tertahankan (rasa lapar, rasa sakit) di kalangan kelompok-kelompok amat miskin; rangsangan obat bius yang secara biologis tak dapat tertahankan lagi oleh orang-orang yang menjadi korban. Untuk memecahkan maslah tersebut perlu diupayakan langkah-langkah sebagai berikut : a. Di setiap daerah perlu dibentuk Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat, sehingga dapat dideteksi secara dini permasalahan-permasalahan di daerah, b. Perlu dikembangkan agen sosialisasi yang mampu

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 19

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

menetralisasi pola sosialisasi yang bersifat separatis (misalnya Gelanggang Remaja, Media massa, dan sebagainya), c. Setiap daerah (Kabupaten/Kota) sebaiknya memiliki dokumen Rencana Umum Pembangunan Sosial Budaya, agar permasalahan sosial budaya dapat lebih teridentifikasi dan tujuan lebih terumuskan, d. Pemerintah pusat perlu mengembangkan kelembagaan untuk pembangunan sosial-budaya yang mampu membuat “critical analysis” yang bersifat holistic dan societal mengenai dampak berbagai macam kebijakan departemen yang bersifat sektoral maupan kebijakan daerah terhadap integrasi nasional, e. Para ahli Ilmu Politik harus lebih memperhatikan analisis sosiologis saja. dalam memikirkan pengembangan politik nasional,jangan terlalu berorientasi pada tokoh atau golongan

5. Permasalahan dan Keuangan

Kewenangan,Kelembagaan,Kepegawaian

Dari dimensi kewenangan sebenarnya masih terdapat permasalahan yang perlu mendapat pemecahan. Apabila dalam UU Nomor 32 Tahun 2004, pasal 10 (3) disebutkan bahwa urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah adalah politik luar negeri, pertahanan, keamanan,yustisi, moneter dan fiscal nasional, serta agama, namun pada kenyataan masih ada departemen dan lembaga non departemen yang masih belum mau menyerahkan urusannya ke daerah, sebagai misal urusan pertanahan, urusan keluarga berencana dan lain sebagainya. Sudah barang tentu permasalahan cukup mengganggu dalam

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 20

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

penyelenggaraan adalah tanah.

otonomi

daerah,

utamanya

masalah

pertanahan, karena kendala utama pembangunan di daerah

Permasalahan berikutnya adalah masalah kelembagaan, yang muncul sebagai dampak belum diserahkannya beberapa urusan ke daerah serta perbedaan persepsi mengenai urgensi urusan di daerah tersebut yang membawa dampak terhadap penentuan esselonering suatu lembaga pada tiap-tiap daerah. Selanjutnya masalah keuangan,terutama terjadi karena euforia otonomi seluas-luasnya berdampak pada otoriterisme Bupati/Walikota yang menenentukan penggunaan APBD semaunya sendiri, sehingga ada yang terjadi lebih diutamakan pembelian kendaraan dinas atau pembangunan kantor Pemda, bahkan membiayai sepak bola daripada untuk kepentingan rakyat miskin. Masalah berikutnya adalah masalah kepegawaian, yang antara daerah satu dengan lainnya tidak sama tingkat kemampuan dan jumlahnya, disamping permasalahan mutasi antar daerah, sehingga mempengaruhi kinerja Pemda setempat. Permasalahan ini sudah mendapat perhatian secara khusus, dengan mengupayakan langkah-langkah : 1. Pemerinta pusat perlu menekankan kepada

Departemen atau Lembaga non Departemen yang belum menyerahkan urusannya ke daerah segera menyerahkan urusan tersebut ke daerah,mengingat bukan urusan pangkal pemerintah pusat, urusan tersebut

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 21

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

2.

Perlu ada bimbingan dan pembinaan secara mantap dari pemerintah lebih atas kepada Pemda Kab/Kota dalam pembentukan kelembagaan di daerah,

3.

Evaluasi rancangan Perda APBD dari Pemerintah atasan kepada Pemda Kab/Kota harus secara ketat dan tegas, bila perlu diberi sanksi, sehingga APBD benar-benar untuk rakyat,

4.

Untuk Pemerintah

pemerataan

sumber

daya

manusia

di

Kabupaten/Kota,

seyogyanya

urusan

kepegawaian diserahkan kepada Gubernur.

6.

Permasalahan Kewenangan DPRD yang Jauh Dari

Harapan
Ada sejumlah kasus yang menunjukkan kepada kita bahwa sebagian anggota dewan kita jauh dari harapan, diantaranya adalah: Pertama, belum mempunyai kemampuan (SDM) yang dapat tidak diandalkan punya kemampuan, untuk mengemban mungkin dia tugas biasa perwakilan/kelegislatifan. Kalau seorang anggota dewan yang bagaimana berargumentasi tentang suatu masalah untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya itu. Kedua, anggota dewan saat ini juga sangat akrab dengan berita money politics mulai dari proses pemilihan kepala daerah, proyek-proyek, meloloskan Perda sampai minta kenaikan

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 22

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

gaji.Ada

sejumlah

pengamat

menilai

bahwa

DPRD

tidak

memperjuangkan aspirasi rakyat.Dewan dinilai egois karena hanya memperjuangkan kepentingan parpol dan kepentingan pribadi.Sementara itu ada sebagian anggota dewan yang disoroti sebagai telah memperkaya diri secara masuk akal. Ketiga, anggota dewan juga sering kali mengecewakan masyarakat karena dinilai kurang biasa menyelesaikan konflik internal maupun eksternal. Keempat,masyarakat menilai anggota dewan kita malas,sebagai contoh pemberitaan banyak anggota dewan kita yang absen.Hal ini menunjukan secara transparan, bahwa sebagai anggota dewan tidak serius karena banyak yang absen,kalau toh hadir banyak yang tidur selama rapat-rapat berlangsung. Disamping keempat permasalahan tersebut, muncul permasalahan siapa yang mengontrol anggota dewan, karena sampai saat ini belum ada lembaga yang dapat mengontrol perilaku dan kinerja anggota dewan, sehingga akhir-akhir ini banyak kasus dilakukan anggota dewan. Sudah barang tentu permasalahan ini harus dicarikan pemecahannya, antara lain dengan upaya-upaya sebagai berikut: 1. Kemampuan anggota dewan perlu ditingkatkan melalui menyolok dan kurang

pelatihan-pelatihan baik yang dilakukan oeleh partai induknya maupun oleh pemerintah daerah seketika setelah dilantik, 2. Dewan yang hanya mementingkan dirinya sendiri perlu

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 23

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

mendapat

kontrrol

dan

kritikan

msyarakat

daerah

pemilihannya. Anggota dewan seperti ini jangan dipilih untuk periode berikutnya, 3. Dewan yang melakukan pelanggaran, termasuk yang tingkat absensi tinggi perlu diberi sanksi yang berat, sehingga dapat membuat jera yang bersangkutan dan yang lainya tidak meniru, 4. Kontrol dan pengawasan oleh masyarakat harus dilakukan secara ketat, bekerja sama dengan penegak hukum.

7. Permaslahan, Otonomi Daerah Memindahkan Korupsi Dari Pusat Ke Daerah
Ada sementara orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan otonomi daerah ternyata cenderung memindahkan korupsi dari Pusat ke daerah dan menciptakan raja-raja kecil didaerah.Ini dimungkinkan terjadi, karena kewenangan DPRD yang besar itu tidak digunakan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk kepentingan diri sendiri.Praktek money politics bukan lagi rahasia, sehingga pertanggungjawaban KDH seringkali lolos mulus dihadapan DPRD.Perilaku “aji mumpung” di oleh rasa kurang kalangan anggota DPRD dilatar belakangi

percaya diri, sehingga merasa tidak ada jaminan dirinya bakal terpilih kembali dalam pemilu berikutnya.Akibatnya fungsi control tidak berjalan,bahkan mereka bermain sendiri, sehingga clean governance di daerah sulit diwujudkan. Kondisi demikian ini memunculkan peluang korupsi baik

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 24

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

pada tataran eksekuttif maupan legislatif, terbukti akhir-akhir ini terjadi banyak Bupati/Walikota dan aparatnya serta beberapa anggota dewan yang dimejahijaukan. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya pemecahanya, dengan langkah-langkah, antara lain : 1. Penegakan hukum perlu lebih ditingkatkan lagi, dengan meningkatkan kerja sama masyarakat,lembaga pengawas fungsional dan penegak hokum. 2. Pengawasan melekat, pengawasan fungsional dan

pengawasan oleh masyarakat perlu lebih ditingkatkan, dengan memperluas jaringan dan informasi. 3. Perlu standart Pelayanan Minimal dan standart pengukuran kinerja yang jelas baik untuk eksekutif maupun untuk legislatif, sehingga capaian pelayanan dan kinerja setiap setiap tahunnya dapat diukur dengan jelas.

8. Potensi

Permaslahan Kesulitan Pemerataan Pemanfaatan

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa daerah di I ndonesia ini potensinya tidak sama antara satu dengan lainnya, sehingga dengan pelaksanaan otonomi daerah mucul permasalahan pemerataan pemanfaatan potensi. Sebagai contoh daerah-daerah di Pulau Jawa sudah barang tentu potensinya tidak sama dengan daerah-daerah dan di lainnya. Pulau Di Jawa Irian, saja Sulawesi,Kalimantan,Sumatera

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 25

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

potensinya berbeda antara kabupaten/kota yang satu dengan lainnya. Kondisi ini tentunya memerlukan pemikiran pengaturan secara sitematis dan terencana. Sehubungan dengan itu kiranya langkah-langkah pemecahan sebagai berikut : 1.Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya daerah perlu diarahkan untuk kepentingan rakyat, sebagaimana ditekankan pasal 33 UUD 1945, dengan meperhatikan persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, 2.Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dapat memfasilitasi kerjasama anatar daerah dalam provinsi maupun antar darah di luar provinsi, serta menarik kerja sama dengan investor, 3.Gubernur dapat membuat suatu kawasan pembangunan atau pengembangan berbatasan. dengan melibatkan daerah-daerah yang

KESIMPULAN
Otonomi darah telah berjalan sekitar sepuluh tahun. Banyak hasil yang dicapai, tetapi harus juga banyak kendala-kendala mengingat yang dipecahkan, adanya

perbedaan kondisi daerah,suku, ras, agama dan lainnya.
Untuk itu perlu langkah-langkah pemecahan secara

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 26

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

sistematis dengan

berlandaskan pada pilar-pilar kehidupan

berbangsa dan bernegara di Negara Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.Melalui upaya-upaya itu harapan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,dengan pelaksanaan otonomi daerah Insya Alllah akan dapat terwujut.

• DAFTAR PUSTAKA
www.google.co.id/otonomi daerah di indonesia. www.google.co.id/implementasi pancasila dalam otoda. www.google.co.id/permasalahan otonomi daerah. Arli Fauzi,Renungan Tentang Desentralisasi dan Otonomi

Daerah,PT Revka Petra Media, Sidoarjo2009. Afan Gafar,Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi,Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2006. Nyoman Sumaryadi,Efektivitas Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah, Citra Utama,Jakarta 2005. Rozali Abdulah,Pelaksanaan Otonomi Daerah & Isu Federalisme Sebagai Suatu Alternatif,PT Raja Grafindo, Jakarta 2003. Suko Wiyono,Otonomi Daerah Dalam Negara Hukum

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 27

“PENGAMALAN PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH”

Indonesia,Faza Media, Jakarta 2006. Soetandyo Wignjosubroto dkk,PASANG SURUT OTONOMI DAERAH Sketsa Perjalanan 100 Tahun,Institut for Local Development, Jakarta 2005. Syamsudin Haris,Desentralisasi & Otonomi Daerah,Desentralisasi, Demokrasi & Akuntabilitas Pemerintahan Daerah,LIPI Press,Jakarta 2007.

KELOMPOK 6, KELAS 1A

Page 28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->