PROSES PEMBENTUKAN UU di DPR

Oleh: Rachmat Trijono

UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2009

DPD. 3. Rancangan Undang-Undang (RUU) dapat berasal dari: DPR. . 1. 4. Masyarakat. Presiden.. 2.Setiap Rancangan Undang-Undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.

bersama-sama Pemerintah. (3) Sebelum dilakukan pembicaraan Tingkat I dan Tingkat II. Tingkat Il dalam Rapat Paripurna. Rapat Panitia Anggaran. 2001-2002 (1) Pembahasan RUU dilakukan melalui dua tingkat pembicaraan. dan b. . atau Rapat Panitia Khusus. (2) Dua tingkat pembicaraan.TINGKAT PEMBICARAAN Ps. Tingkat I dalam Rapat Komisi. 120 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. diadakan Rapat Fraksi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). adalah: a. Rapat Badan Legislasi.

. 2001-2002 • Apabila ada dua RUU yang diajukan mengenai hal yang sama dalam satu Masa Sidang. sedangkan RUU dari Pemerintah atau masyarakat. dipergunakan sebagai bahan sandingan. yang dibicarakan adalah RUU dari DPR.RUU GANDA Pasal 118 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th.

Pembicaraan Tingkat I meliputi : a. pembahasan RUU oleh DPR dan Pemerintah dalam rapat kerja berdasarkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM). b. pemandangan umum Fraksi terhadap RUU yang berasal dari Pemerintah atau tanggapan Pemerintah terhadap RUU yang berasal dari DPR. pimpinan Panitia Anggaran. dan c. 20012002. . jawaban Pemerintah atas pemandangan umum Fraksi atau jawaban pimpinan Komisi. pimpinan Badan Legislasi. atau pimpinan Panitia Khusus atas tanggapan Pemerintah.PEMBICARAAN TINGKAT I Pasal 121 (1) Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th.

Pasal 121 (2) Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. 2001-2002 Dalam Pembicaraan Tingkat I dapat : a. dan/ataL! c. diadakan rapat intern. diundang pimpinan lembaga tinggi negara atau lembaga-negara yang lain apabila ma'-eri RUU berkaitan dengan lembaga tinggi negara atau lembaganegara yang lain. diadakan Rapat Dengar Pendapat atau Rapat Dengar Pendapat Umum. b. .

dan b. Pembicaraan Tingkat II meliputi pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna. penyampaian sambutan Pemerintah. dapat pula disertai dengan catatan tentang sikap fraksinya.PEMBICARAAN TINGKAT II Pasal 122 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. yang didahului oleh: 1) laporan hasil pembicaraan Tingkat I. 20012002 a. apabiia dipandang perlu. . 2) pendapat akhir Fraksi yang disampaikan oleh anggotanya.

Pimpinan DPR mengirim surat kepada presiden untuk meminta penjelasan.RUU yang sudah disetujui bersama antara DPR dengan Presiden 1. Apabila RUU yang sudah disetujui bersama tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak RUU tersebut disetujui bersama. Apabila setelah 15 (lima belas) hari kerja. RUU tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib diundangkan. . RUU yang sudah disampaikan kepada Presiden belum disahkan menjadi undang-undang. paling lambat 7 (tujuh) hari kerja disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi undang-undang. 3. 2.

pembuatan perdamaian. Pasal 126 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. 2001-2002 RUU yang berasal dari Pemerintah dapat ditarik kembali sebelum pembicaraan Tingkat I berakhir. Pasal 121. dibahas dan diselesaikan menurut ketentuan sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 120. dan Pasai 122. dan perjanjian dengan negara lain serta meratifikasi perjanjian internasional yang disampaikan oleh Presiden kepada DPR.Pasal 125 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. 2001-2002 • RUU untuk memberikan persetujuan atas pernyataan perang. .

RUU DARI PEMERINTAH Pasal 123 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. 2001-2002 (1) RUU beserta penjelasan/keterangan. dan/atau naskah akademis yang berasal dari Pemerintah disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan DPR dengan Surat Pengantar Presiden. (2) Surat Pengantar Presiden. . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menyebut juga Menteri yang mewakili Pemerintah dalam melakukan pembahasan RUU tersebut.

(2) Pimpinan DPR menyampaikan RUU beserta penjelasan/keterangan. 20012002 (1) Dalam Rapat Paripurna berikutnya.Pasal 124 Peraturan Tata Tertib DPR-RI Th. ketua rapat memberitahukan kepada Anggota masuknya RUU tersebut. setelah RUU diterima oleh Pimpinan DPR. . kemudian membagikannya kepada seluruh Anggota. dan/atau naskah akademis dari pengusul kepada media massa dan Kantor Berita Nasional untuk disiarkan kepada masyarakat. dan Pasal 122. (3) Terhadap pembahasan dan penyelesaian selanjutnya berlaku ketentuan. Pasal 121. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120.

3. 2. pengelolaan sumber daya alam. serta 5. yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.DPD dapat mengajukan RUU kepada DPR yang berkaitan dengan: 1. . pembentukan. dan penggabungan daerah. otonomi daerah. 4. pemekaran. dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat dan daerah.

Pimpinan DPR memberitahukan kepada Anggota masuknya RUU tersebut. setelah RUU diterima oleh DPR.RUU YANG BERASAL DARI DPD: 1. 2. kemudian dalamRapat Paripurna berikutnya. RUU beserta penjelasan/keterangan. 3. dan atau naskah akademis disampaikan secara tertulis oleh Pimpinan DPD kepada Pimpinan DPR. Selanjutnya Pimpinan DPR menyampaikan surat pemberitahuan kepada Pimpinan DPD mengenai tanggal pengumuman RUU yang berasal dari DPD tersebut kepada Anggota dalam Rapat Paripurna. . kemudian membagikannya kepada seluruh Anggota.

Presiden menunjuk Menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam pembahasan RUU bersama DPR. 6. RUU yang telah dibahas kemudian disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden dengan permintaan agar Presiden menunjuk Menteri yang akan mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan RUU tersebut bersama DPR dan kepada Pimpinan DPD untuk ikut membahas RUU tersebut. Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja. Komisi atau Badan Legislasi mengundang anggota alat kelengkapan DPD sebanyak banyaknya 1/3 (sepertiga) dari jumlah Anggota alat kelengkapan DPR. dan mengagendakan pembahasannya. 5. untuk membahas RUU Hasil pembahasannya dilaporkan dalam Rapat Paripurna. Dalam waktu 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya surat tentang penyampaian RUU dari DPR.4. Kemudian RUU dibahas dalam dua tingkat pembicaraan di DPR. . 7. Bamus selanjutnya menunjuk Komisi atau Baleg untuk membahas RUU tersebut.

RUU berasal dar Masyarkat Dasar hukumnya adalah: .UU 10/2004. khususnya dalam Pasal 54 ditegaskan bahwa "Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan Peraturan Daerah" .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful