P. 1
Keamanan DARAHDI INDONESIA; Potret Keamanan Transfusi Darahdi Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan

Keamanan DARAHDI INDONESIA; Potret Keamanan Transfusi Darahdi Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan

|Views: 152|Likes:
Pelayanan Darah diatur melalui Peraturan Pemerintah RI nomor 7 tahun 2011 tentang. Pelayanan transfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang meliputi perencanaan, pengerahan dan pelestarian pendonor darah, penyediaan darah, pendistribusian darah, dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pada pasal 2 disebutkan bahwa pengaturan pelayanan darah bertujuan: a). memenuhi ketersediaan darah yang aman untuk kebutuhan pelayanan kesehatan; b). memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan darah; c). memudahkan akses memperoleh darah untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan; dan d). memudahkan akses memperoleh informasi tentang ketersediaan darah.

Kenyataan di lapangan, penyediaan darah oleh PMI baru tercapai 0,7 % dari jumlah penduduk (1,7 juta kantung, tahun 2008) dan persediaan darah baru mencukupi kebutuhan 2 hari. Target WHO yakni 2 % jumlah penduduk atau 4 juta kantung per tahun dan persediaan darah mencukupi kebutuhan 4 hari. Peralatan, baik jumlah maupun kualitas belum memenuhi standar. Dari sisi tenaga, jumlah ataupun kompetensinya kurang. Dokter purnawaktu baru terpenuhi 20 persen. Teknisi transfusi darah baru 4 orang/UTD dari jumlah optimal 13 orang per UTD. Dari aspek darah yang dikumpulkan menunjukkan bahwa Dari 1,7 juta kantung darah, sebanyak 2,71 persen darah yang dikumpulkan tidak dapat digunakan karena HIV (+) 0,07 persen, hepatitis B (+) sebanyak 1,78 persen, hepatitis C (+) sebanyak 0,59 persen, dan sifilis (+). Subsidi reagensia HIV dari APBN baru mulai ada lagi Januari 2010, sedangkan subsidi reagensia HbsAg, HCV, dan Sifilis untuk 2010 nihil. Subsidi reagensia dari APBN tidak terjamin keberlangsungannya. Kantung darah juga memerlukan biaya yang cukup tinggi, sehingga biaya pengelolaan darah (Service Cost) menjadi tinggi.
Pelayanan Darah diatur melalui Peraturan Pemerintah RI nomor 7 tahun 2011 tentang. Pelayanan transfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang meliputi perencanaan, pengerahan dan pelestarian pendonor darah, penyediaan darah, pendistribusian darah, dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pada pasal 2 disebutkan bahwa pengaturan pelayanan darah bertujuan: a). memenuhi ketersediaan darah yang aman untuk kebutuhan pelayanan kesehatan; b). memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan darah; c). memudahkan akses memperoleh darah untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan; dan d). memudahkan akses memperoleh informasi tentang ketersediaan darah.

Kenyataan di lapangan, penyediaan darah oleh PMI baru tercapai 0,7 % dari jumlah penduduk (1,7 juta kantung, tahun 2008) dan persediaan darah baru mencukupi kebutuhan 2 hari. Target WHO yakni 2 % jumlah penduduk atau 4 juta kantung per tahun dan persediaan darah mencukupi kebutuhan 4 hari. Peralatan, baik jumlah maupun kualitas belum memenuhi standar. Dari sisi tenaga, jumlah ataupun kompetensinya kurang. Dokter purnawaktu baru terpenuhi 20 persen. Teknisi transfusi darah baru 4 orang/UTD dari jumlah optimal 13 orang per UTD. Dari aspek darah yang dikumpulkan menunjukkan bahwa Dari 1,7 juta kantung darah, sebanyak 2,71 persen darah yang dikumpulkan tidak dapat digunakan karena HIV (+) 0,07 persen, hepatitis B (+) sebanyak 1,78 persen, hepatitis C (+) sebanyak 0,59 persen, dan sifilis (+). Subsidi reagensia HIV dari APBN baru mulai ada lagi Januari 2010, sedangkan subsidi reagensia HbsAg, HCV, dan Sifilis untuk 2010 nihil. Subsidi reagensia dari APBN tidak terjamin keberlangsungannya. Kantung darah juga memerlukan biaya yang cukup tinggi, sehingga biaya pengelolaan darah (Service Cost) menjadi tinggi.

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

Darah disimpan di blood refrigerator yang

mempunyai suhu 1-60

C. Untuk FFP dan Plasma beku

digunakan blood Freezer suhu -180

C sampai dengan 300

C selama satu tahun dan pada suhu (-650

C ) sampai
dengan 7 tahun. Untuk sel darah merah beku disimpan
pada suhu -650

C sampai -800

C , dapat disimpan sampai

dengan 10 tahun

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->