P. 1
Eksternalitas

Eksternalitas

|Views: 279|Likes:
Published by Gunawan Pramono

More info:

Published by: Gunawan Pramono on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Zaman Mesolitikum Peninggalan atau bekas kebudayaan Indonesi zaman Mesolitikum, banyak ditemukan

di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Kehidupannya masih dari berburu dan menangkap ikan. Bekas-bekas tempat tinggal manusia zaman Mesolitikum ditemukan di goagoa dan di pinggir pantai yang biasa disebut Kyokkenmoddinger (di tepi pantai) dan Abris Sous Roche (di goa-goa). Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Zaman Neolitikum Periode Neolithic (3000 – 2000 SM) penduduk asli Indonesia yang disebut sebagai Wajak, hidup secara promitif dengan cara menangkap ikan dan berburu. Manusia Wajak adalah manusia modern (Homo Sapiens) yang fosilnya ditemukan di daerah Wajak, Jawa Timur. Manusia Wajak ini disebut sebagai manusia Homo Sapiens yang paling arkaik atau manusia modern paling kuno yang dalam perkembangannya melahirkan populasi aktual Selain itu, penangkapan ikan hiu juga telah dilakukan ribuan tahun silam oleh penduduk asli Indonesia terutama mereka yang berada di wilayah timur Indonesia. Sejarah Ekonomi Perikanan Abad Ke 15 Dan 16 ( Etnis Bajo, Bajini ) Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut tulisan perjalanan antropolog Perancis Francois Robert Zacot Orang Bajo: Suku Pengembara Laut Pengalaman Seorang Antropolog, dikatakan bahwa dari legenda Bajo Sulawesi Selatan suku ini dipercaya berasal dari sebutir telur. Ada juga legenda lain yang mengatakan bahwa di tempat orang Bajo dulu tinggal, banyak burung bertelur di atas pohon sehingga semua pohon tumbang dan menyebabkan banjir. Orang Bajo lantas memakai kayu pohon tersebut untuk membuat perahu agar bebas banjir. Inilah cerita yang mendasari kenapa orang Bajo lekat dengan sebutan manusia perahu (suku laut yang senang tinggal di Soppe). Kelompok etnis yang disebut Bajini, Makassar, Bugis, dan Bajo merintis perdagangan tripang dan trochus untuk diperdagangkan dengan kelompok pedagang asal Cina. Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebutsebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Namun, terlepas dari dua legenda asal-muasalnya, suku Bajo telah terkenal sejak abad 16 sebagai sea nomads, yakni suku laut yang senang berpindah-pindah tempat. Mereka 1

menyisiri lautan dengan rumah perahu mereka (Soppe) dan hidup di atas rumah perahu. Kegiatan sehari-hari seperti tidur, makan bahkan beranak-pinak mereka lakukan di atas rumah. Meski tak jarang juga mereka pergi ke daratan untuk berjualan hasil tangkapan laut. Bahkan, mereka telah lama terlibat dalam arus perdagangan internasional dengan menjual hasil-hasil tangkapan laut mereka, misalnya ke Australia. Zacot mengatakan dalam bukunya, kehidupan setiap pelaut terutama Bajo merupakan jalinan dari berbagai keberangkatan, ketidakhadiran dan resiko. Bagi masyarakat Bajo, kehidupan sangat dinamis mulai dari pikiran yang bisa tiba-tiba berubah saat melaut, peran khusus anak-anak, jadwal yang menentukan kegiatan, rute-rute laut yang harus diperhatikan sampai tempat-tempat bermukim baru yang mesti ditemukan. Pola nomaden inilah yang kemudian tertanam dalam psikologis dari suku Bajo, bahwa kehidupan ibaratnya angin yang berubah-ubah. Sejak abad ke 19 hingga tahun 1960 nelayan Bajau telah berlayar ke wilayah utara Australia untuk menangkap teripang tanpa adanya pengawasan daripemerintah Australia. Pada tahun 1974, untuk melindungi sumberdaya hayati perairan wilayah utara Australia, Pemerintah Australia dan Indonesia membuat nota kesepahaman (MOU) untuk menetapkan lima lokasi (Ashmore Reef, Cartier Islet, Scott Reef, Seringapatam Reef and Browse Islet) di perairan utara Australia dimana nelayan Indonesia diperbolehkan menangkap teripang, lola, kerang hijau, sponge dan semua molluska. Menurut sebuah laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), spesies tropis dan sub-tropis yang sangat dieksploitasi secara global dan populasi yang terancam habis meliputi Holothuria fuscogilva, H. whitmaei, H. scabra dan T. ananas, dan spesies yang banyak ditangkap di negara-negara tertentu termasuk Asia adalah: A.echinites, H. scabra versicolor, A. lecanora, A. miliaris, A. mauritiana, S. herrmanni, S.horrens dan S. chloronotus. Spesies berada di bawah ancaman potensial penangkapan ikan adalah B. argus dan H. fuscopunctata.. Di daerah beriklim sub tropis, teripang termasuk A. japonicus juga telah dilaporkan akan habis di Korea Utara dan Rusia. Pada akhir tahun 1980 dan awal tahun 1990 nelayan Bajau di pulau Wanci kepulauan Tukang Besi beralih ke penangkapan ikan hiu karena tingginya harga sirip hiu dan semakin kurangnya hasil tangkapan teripang. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Abad Ke 20

2

Pada abad ke 20, perairan Indonesia memiliki tidak kurang dari 1.500 sampai 2.000 jenis ikan, khususnya Laut Jawa mempunyai potensi; yaitu 738,320 ton/tahun untuk ikan demersal dan 624,840 ton/tahun untuk ikan pelagic. Oleh karena itu, di sepanjang pantai utara Jawa dan Madura sudah lama dikenal daerah-daerah yang mempunyai banyak ikan, dengan beraneka jenis.Di samping kekayaan ikan, aneka biotik laut dan lingkungan alam juga menjadi faktor yang turut menentukan berlangsungnya usaha penangkapan. Bahwa pantai utara Jawa dengan pantai yang landai, berlumpur, banyak muara sungai, menjadikan banyak tempat di sepanjang pantai dapat digunakan sebagai tempat pendaratan ikan. Demikian juga dengan dua angin muson yang berlangsung secara teratur dalam setiap tahunnya, menjadikan nelayan di kawasan ini sudah sejak lama meng gunakan perahu yang dilengkapi dengan berbagai macam alat tangkap. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1215 Regulasi perikanan sendiri mengalami sejarah perjalanan yang cukup panjang. Pada masa awal – awal sejarah peradaban manusia, sebagian besar sumber daya alam memang awalnya masih dianggap sebagai Ferae Naturae atau disediakan alam sehingga siapa pun boleh memanfaatkan tanpa aturan yang harus membatasinya. Namun kemudian dalam derajat tertentu, pembiaran terhadap pengambilan sumber daya ikan tersebut telah menyebabkan banyak konflik, sehingga aturan – aturan non formal yang mengikat kemudian banyak diadopsi untuk menghindari konflik pemanfaatan sumber daya alam termasuk ikan, agar bisa dimanfaatkan secara lebih adil. Dalam catatan resmi, regulasi formal mengenai perikanan tercatat pertama kali pada abad ke enam pada masa kekaisaran Bizantium. Dalam kodifikasi hukum yang disebut “ Digest of Justinian “, kekaisaran Bizantium mengatur akses publik terhadap perikanan ( Fenn, 1925 ). Pada masa itu hak atas perikanan khususnya perikanan tuna yang dimiliki oleh seseorang diatur dan dipisahkan atas hak kepemilikan terhadap suatu kawasan. Sebelum ada hukum ini, hak atas perikanan biasanya diberikan secara cuma – cuma atau dijual oleh kekaisaran pada pihak – pihak tertentu. Meski pada abad ke enam ini overfishing dan overcapacity bukanlah masalah besar dalam perikanan, dokumen ini sudah menunjukan adanya “ political will “ dari penguasa ketika itu untuk mengatur pengelolaan sumber daya ikan. Hak publik atas sumber daya ikan ini kemudian juga dikuatkan oleh piagam Magna Carta yang ditandatangani tahun 1215 di Inggris. 3

Regulasi perikanan di zaman modern dimulai ketika konflik atas akses dan pemanfaatan sumber daya ikan semakin marak karena keinginan yang besar untuk menguasai sumber daya ikan. Selain itu, tidak adanya aturan yang jelas bisa menyebabkan sumber daya ikan terkuras habis karena dianggap sebagai barang bebas. Kekhawatiran inilah yang kemudian pada abad ke – 18 melahirkan Treaty of Paris tahun 1783, dimana inggris memberikan hak pada daerah koloni – koloni nya ( termasuk Amerika ) untuk memperoleh hak atas penangkapan ikan di wilayah laut utara. Semenjak perjanjian ini berbagai regulasi perikanan digulirkan oleh beberapa negara dan juga antar negara untuk mengatur dan mengelola sumber daya ikan agar tidak terjadi “ tragedy of the common “ sebagaiman disinyalir oleh Garet Hardin pada tahun 1968. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1400an-1600an (Age of Commerce ) Abad ke-7 dan ke-8 perdagangan telah menjadi ciri dari beberapa wilayah seperti di Selat Malaka dan Laut Jawa. Perkembangan ekonomi dan formasi negara bahkan sangat terkait dengan aktivitas ini. Hal tersebut juga tergambar dari hikayat yang berkembang yang menunjukkan hubungan dialektis antara penguasa dan pedagang. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1450 - 1680 Periode 1450-1680 menjadi periode emas ekonomi pesisir, atau Reid menyebut “age of commerce”. Puncak keemasan ekonomi nusantara merupakan hasil dari spesialisasi ekonomi yang tinggi (misalnya produk pangan untuk pasar domestik dan beberapa hasil pertanian, hutan dan hasil laut, serta emas untuk pasar global), jaringan perdagangan yang luas, merebaknya monetisasi dan urbanisasi.Perdagangan mutiara dan kerang-kerangan cukup penting, namun keterangan Zuhdi tentang perikanan Cilacap yang hanya menggunakan alat tangkap sederhana dan nelayan mengolah hasilnya untuk dibarter dengan wilayah pedalaman menjadi panduan kondisi lain perikanan di era ini.

Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1800an-Pertengahan 1900an ( Pasang – Surut Perikanan )

4

Tarik-menarik politik pesisir dan pedalaman menandai maju-mundurnya peran ekonomi wilayah ini. Di Jawa misalnya, Houben membagi menjadi tiga periode yaitu 1) 1600-1755 dimana terjadi perubahan orientasi politik dari pesisir ke pedalaman atau dari perdagangan ke pertanian yang ditandai naik-turunnya kekuasaan Mataram; 2) periode 17551830 Jawa terpecah belah dan berakhir dengan perang. Belanda memanfaatkan momen ini melalui serial kerjasama pengembangan pertanian tanaman ekspor dengan para penguasa Jawa, sehingga tahun 1757 Belanda telah menguasai daerah pedalaman. 3) 1830-1870 merupakan periode menguatnya kolonialisme. Periode ini ditandai dengan diberlakukannya tanam paksa pada tahun 1830. Untuk mendukung ekspor pemerintah membangun pelabuhan, namun pelabuhan yang tumbuh berkarakter menghisap potensi alam dan bumiputera. Keuntungan tanam paksa tidak diterima rakyat, tetapi oleh orang Eropa, pedagang China, importir dan eksportir selain pemerintah Belanda. Tanam paksa juga diperkirakan mendorong penurunan tampilan industri perkapalan. Sejak akhir 1800an perikanan telah berorientasi pada pasar yang ditandai dengan pertumbuhan spektakuler usaha pengolahan dan pemasaran ikan. Bahkan, pada awal abad ke20 Kota Bagan Si Api Api di mulut Sungai Rokan telah menjadi salah satu pelabuhan perikanan terpenting di dunia dengan kegiatan utama ekspor perikanan. Jawa dengan populasi 1/4 dari total penduduk Asia Tenggara pada tahun 1850 telah menjadi pasar terpenting produk perikanan khususnya ikan kering (asin) dan terasi. Merujuk pada data van der Eng , kontribusi perikanan terhadap total PDB pada tahun 1880 dan 1890 mencapai di atas 2% atau tertinggi yang pernah dicapai perikanan dari seluruh periode antara 1880-2002. Pasang-surut perikanan tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, permasalahan ketersediaan sumberdaya, ekologi, ekonomi dan sosial. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Masa Penjajahan Belanda Hingga Awal Kemerdekaan ( Tahun 1850 – 1966 ) Periode 1850-1966 adalah periode pelembagaan institusi-institusi yang menangani urusan masyarakat bagi pemapanan penjajahan Belanda atas negeri Indonesia. Begitu pula halnya dengan urusan-urusan masyarakat pantai yang menyandarkan kegiatan ekonomi pada bidang kelautan. Pengembangan kelautan dimulai pada 1911 dengan dibentuknya Bugerlijk Openbare Werken yang berubah menjadi Departemen Verkeer en Waterstaat pada 1931. 5

Kurun waktu hingga kemerdekaan tercapai, merupakan fase pasang surut pertumbuhan organisasi kelautan dalam struktur pemerintahan kolonial maupun Republik Indonesia merdeka. Unit-unit warisan kolonial Belanda inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan kementerian yang mengelola aspek kelautan di masa sekarang. Lembaga yang menangani kegiatan-kegiatan perikanan semasa pemerintahan kolonial Belanda masih berada dalam lingkup Departemen van Landbouw, Nijverheid en handel yang kemudian berubah menjadi Departemen van Ekonomische Zaken. Kegiatan-kegiatan ekonomi perikanan masa itu digolongkan sebagai kegiatan pertanian. Meski demikian, terdapat suatu organisasi khusus yang mengurusi kegiatan perikanan laut di bawah Departemen van Ekonomische Zaken. Organisasi tersebut adalah Onderafdeling Zee Visserij dari Afdeling Cooperatie en Binnenlandsche Handel. Sedangkan untuk menyediakan kegiatan penelitian dan pengembangan perikanan laut terdapat suatu institut penelitian pemerintah kolonial yang bernama Institut voor de Zee Visserij. Pada masa ini juga telah ditetapkan UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda melalui Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939, yang menetapkan bahwa lebar laut wilayah Hindia Belanda ditetapkan pada masing-masing pulau sampai sejauh 3 mil. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1870 - 1930 Pertumbuhan industri perikanan periode 1870an sampai 1930an oleh Butcher disebut sebagai menangkap ikan lebih banyak dengan teknologi yang sama. Periode ini diikuti oleh perubahan teknologi dan perluasan daerah penangkapan sebagai akibat modernisasi perikanan dan semakin langkanya ikan di daerah pinggir (1890an-1930an). Peran nelayan Jepang dalam hal ini patut dicatat karena mereka masuk ke Indonesia dengan profesi salah satunya sebagai nelayan. Butcher menilai nelayan-nelayan ini datang dengan dukungan subsidi pemerintahan Meiji yang sedang giat menggalakan industrialisasi. Teknologi perikanan yang lebih maju membuat nelayan Jepang mendapat keuntungan yang lebih besar dari exploitasi sumberdaya ikan.

Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1951 - 2001 Pertumbuhan perikanan dalam jangka waktu 50 tahun terakhir (1951-2001) cukup dinamis (Tabel 2). Pertumbuhan yang tinggi selama periode 1959-1965 diperkirakan tidak 6

terlepas dari upaya untuk medorong perikanan sebagai salah satu penggerak ekonomi, walaupun produktivitas perikanan secara nominal cenderung menurun. Sementara, pertumbuhan produksi yang tinggi selama orde baru terjadi pada era pertenggahan 1970an sampai awal 1980an akibat pesatnya motorisasi perikanan yang mencapai rata-rata di atas 15% per tahun. Pertumbuhan ini sayangnya harus dibayar dengan berbagai konflik. Pertumbuhan produksi dua periode terakhir orde baru semakin mengkhawatirkan karena nelayan tumbuh melampaui produksi perikanan. Pertumbuhan produtivitas nelayan pun negatif dalam dua periode ini (masing-masing -0,3%). Periode tahun 1999-2001 juga tidak terlalu berbeda jauh. Gambaran ini menguatkan dugaan bahwa sumberdaya ikan semakin terbatas untuk pertumbuhan secara berkelanjutan ekonomi pesisir. Tabel 2. Keadaan Umum Perikanan Indonesia, 1951-2001
Produksi Periode ( Ton ) 1951-1955 1956-1958 1959-1965 1966-1967 1968-1973 1974-1978 1979-1983 1984-1988 1989-1993 1994-1998 1999-2001 375 418 526 694 810 1.083 1.459 2.041 2.552 3.419 3.819 (%) 4,9 1,0 7,4 -5,9 3,5 5,3 5,0 4,8 4,9 3,9 2,5 389.2 537.667 825.286 866.5 n.a. 825.825 1.165.433 1.358.172 1.650.517 2.045.477 2.486.144 Pertumbuhan Nelayan (%) 7.5 13.1 2.8 -3.5 n.a 0.9 5.8 0.9 5.2 4.2 2.1 ( Unit ) 97.34 141.533 206.6 244.65 279.734 253.581 286.599 316.06 367.729 407.018 458.003 (%) 0,5 1,0 2,5 3,4 2,9 7,3 21,8 30,4 35,0 41,2 48,0 Pertumbuhan Kapal Ikan Motorisasi

Kini, eksploitasi perikanan terus meningkat dengan pesat bahkan meliputi tiga dimensi dari daerah penangkapan ikan, sementara upaya konservasi dan rehabilitasi masih terbatas. Transformasi struktur perikanan masih tetap menjadi tantangan, sebagaimana juga upaya pengembangan alternatif pendapatan untuk menurunkan tekanan exploitasi sumberdaya. Menuju samudra tidak hanya dibatasi oleh kondisi ini, juga akan oleh berbagai perangkat pengelolaan perikanan dunia misal oleh “Indian Ocean Tuna Commission” (IOTC) dan “International Commission for the Conservation of Atlantic Tunas” (ICCAT). Sementara, 7

keterbatasan armada perikanan nasional juga menjadi penyebab intensifnya penangkapan ikan ilegal. SEAPA melaporkan setiap tahun 3.000 kapal ikan illegal dari Thailand menangkap ikan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Laut Arafura.

Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Awal Kemerdekaan Dan Akhir Orde Lama ( Pertarungan Politik ) Kebijakan ekonomi era ini banyak yang tidak dilaksanakan karena berbagai pergolakan politik. Strategi pemulihan terus dilaksanakan hingga tahun 1957, namun penampilan memburuk pada waktu Ekonomi Terpimpin yang akhinya menghasilkan kemunduran secara struktural ekonomi Indonesia antara tahun 1940 dan 1965. Di pertengahan 1960an ekonomi sangat merosot dengan inflasi mendekati 500%. Diantara wacana politik ekonomi perikanan dan kelautan adalah 1) perjuangan Konsepsi Archipelago sesuai deklarasi Desember 1957, 2) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5/1960, dan 3) perikanan sebagai salah satu “mainstream” pembangunan nasional. Konsepsi archipelago diperkuat dengan UU No. 4 prp. 1960 tentang Perairan Indonesia, yang diikuti Keppres 103/1963 untuk memberikan pengertian lebih luas tentang lingkungan maritim. UU tersebut tidak hanya memperkokoh konsep wawasan nusantara, bagi perikanan perangkat kebijakan ini menguntungan karena secara prinsip kapal ikan asing tidak dibenarkan beroperasi di dalam lingkungan maritim Indonesia. Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan di atur dalam UUPA (pasal 47 ayat 2). Walaupun sejarah penyusunannya tidak diwarnai debat antara konsep “kepemilikan bersama” dan “kepemilikan tunggal” sebagaimana di Jepang yang memperkuat konsep hak atas sumberdaya ikan dalam perundangan perikanannya, konsepsi ini menurut Saad memberikan ruang bagi pengakuan “kepemilikan tunggal”. Sayangnya, peraturan pemerintah yang dimaksud dalam UUPA belum atau tidak ditetapkan sampai saat ini dan juga tidak menjadi acuan lahirnya UU No. 9/1985 tentang perikanan ataupun UU Perikanan No. 31/2004. Sejak ekonomi terpimpin dicanangkan di tahun 1959, bersama minyak bumi dan hasil hutan, perikanan menjadi harapan pengerak ekonomi nasional seperti tertuang dalam Perencanaan Pembangunan Delapan Tahunan yang disusun Dewan Perantjang Nasional 8

(Depernas, sekarang Bappenas) di tahun 1961. Target pendapatan dari ekstraksi sumberdaya perikanan menurut Pauker mencapai US$ 500 juta, namun karena ekspektasi yang sangat berlebihan, target tersebut akhirnya direvisi menjadi US$ 12,5 juta dalam sidang kabinet. Data yang dilaporkan Krisnandhi dapat menjadi acuan perikanan era ini. Setelah mengimpor ikan pada era awal kemerdekaan, produksi perikanan terus meningkat dari 320 ribu ton pada tahun 1940 menjadi 324 ribu ton pada tahun 1951, dan kemudian menjadi 661 ribu ton pada tahun 1965. Pertumbuhan produksi tertinggi 7,4% per tahun dicapai pada periode 1959-1965, namun produktivitas per kapal menurun dari 4 ton di tahun 1951 menjadi 2,8 ton pada tahun 1965. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1960 – an Meskipun secara potensi Laut Jawa merupakan wilayah perairan yang kaya ikan, baik dari jenis maupun jumlahnya, namun demikian sampai awal tahun 1960-an, hasil tangkapnya tidak dapat mencukupi kebutuhan ikan dari penduduk yang tinggal di Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan dengan mendatangkan ikan tangkapan nelayan dari pulaupulau lain dan impor. Dengan melihat potensi ikan yang melimpah ruah, dan di sisi lain pemenuhan kebutuhan ikan melalui impor, memperlihatkan adanya suatu ketimpangan. Dalam hal Impor ikan di Jawa, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan struktur usaha perikanan dan metode penangkapannya. Sudah lama aneka jenis alat tangkap dikenal dan digunakan oleh nelayan Jawa, namun sebagian besar berupa alat tangkap yang dapat dikategorikan sebagai alat tangkap yang bersifat tetap / pasif. Alat tersebut ditaruh secara tetap sebagai perangkap ikan dengan memanfaatkan air pasang surut, seperti sero, jermal dan sejenisnya. Hanya sepersepuluhnya saja yang dapat dikategorikan sebagai nelayan dengan alat tangkap yang bersifat aktif, yaitu alat yang dapat digerak untuk mengejar tangkapannya. Sumber kekayaaan ikan laut Jawa luar biasa, akan tetapi peralatan yang digunakan tidak memadai. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Orde Baru Hill dalam studinya tentang ekonomi Indonesia sejak 1966 mencatat berbagai keberhasilan orde baru seperti kemampuan memanfaatkan “durian runtuh” harga minyak yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang berlanjut, perbaikan pendidikan, kesehatan dan gizi, selain beberapa catatan tantangan bagi masa depan. Wie memberikan catatan lain diantara 9

keberhasilan tersebut seperti meluasnya disparitas ekonomi antara yang kaya dan miskin, desa dan kota, bagian barat dan timur Indonesia, dan meningkatnya kroni-konglomerat. Pengelolaan sumberdaya alam yang buruk mendapat sorotan Hill khususnya pengelolaan hutan. Produksi ikan meningkat menjadi 3.724 ribu ton tahun 1998. Setelah mengalami pertumbuhan negatif dalam periode peralihan (1966-1967), laju pertumbuhan produksi perikanan meningkat dari 3,5% (1968-1973) menjadi 5,3% per tahun (1974-1978). Periode berikutnya pertumbuhan produksi perikanan cenderung menurun. Produktivitas perikanan dalam era ini walaupun tumbuh dengan laju yang berfluktuasi (khususnya kapal), secara nomimal meningkat dari rata-rata 4,3 ton/kapal periode 1974-1978 menjadi 8,4 ton per kapal periode 1994-1998. Motorisasi perikanan merupakan salah satu penyebab peningkatan produksi sektor ini. Tahun 1966 motorisasi hanya meliputi 1.4% dari total armada perikanan sebanyak 239.900 unit, menjadi 5,8% pada tahun 1975, dan mencapai 16% dari total armada pada tahun 1980. Pada tahun 1998 armada perikanan bermotor telah mencapai 45,8% dari total sebanyak 412.702 unit, namun data tahun ini menunjukkan hanya 21% berupa kapal motor (“inboard motor”), dan bagian terbesar adalah perahu motor tempel dan perahu tanpa motor. Dengan demikian, basis perikanan masih dominan di wilayah pantai. Konflik antara perikanan skala besar dan skala kecil mewarnai sejarah perikanan laut orde baru sebagai akibat dualisme struktur perikanan. Dualisme perikanan ditunjukkan oleh Bailey pada dua kasus penting yaitu 1) introduksi trawl dan purse seine dan 2) pengembangan budidaya udang. Kasus trawl menguatkan tesis Hardin tentang tragedi sumberdaya kepemilikan bersama. Ketika nelayan skala kecil dengan produktivitas rendah (1,4-6,7 ton/unit alat) semakin tersingkirkan oleh nelayan skala besar (trawl dan purse seine) dengan produktivitas masing-masing mencapai 70,4 ton/unit dan 38 ton/unit di tahun 1980, respon nelayan skala kecil adalah melawan dengan berbagai cara termasuk menggunakan bom molotov. Kondisi ini yang mendorong pemerintah melarang penggunaan trawl secara bertahap melalui Keppres 39/1980 yang diikuti Inpress 11/1982 dan SK Menteri Pertanian No. 545/Kpts/Um/8/1982 tentang penghapusan jaring trawl di seluruh perairan Indonesia terhitung mulai 1 Januari 1983.

10

Pelanggaran – pelanggaran terhadap praktik – praktik hak ulayat laut justru dilakukan oleh orang luar, yang didukung atau tanpa dukungan negara. Selama masa orde baru, hak ulayat laut masyarakat secara umum diabaikan dan ditindas oleh negara dalam rangka mengembangkan sentralisasi pengelolaan sumber daya perikanan yang bersifat monopolis. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 2000 Laporan FAO pada akhir 2000, mensinyalir adanya penurunan produksi perikanan yang sangat tajam secara global dari puncak produksi yang dicapai pada 1996. Lebih lanjut, FAO dalam SOFA ( State of Fisheries and Aquaculture ) 2000 menyatakan bahwa saat ini hampir lebih dari 70 % sumber daya perikanan dalam kondisi fully dan over – exploited. Secara umum dikatakan bahwa penurunan produksi secara global ini terjadi karena kemampuan sumber daya perikanan untuk menyuplai kebutuhan produksi dan permintaan dunia menurun, dikarenakan miss management di sektor perikanan. Salah satu bentuk mismanagement dalam perikanan adalah subsidi perikanan cukup besar, namun tidak dilakukan secara cermat dengan mengacu pada karakteristik sumber daya perikanan. Subsidi besar – besaran tersebut ternyata menyebabkan ekspansi effort yang tidak terkendali, yang pada akhirnya mengakibatkan keseimbangan input dan output perikanan berkurang ( Fauzi, 2003 ). Hal mendasar lainnya yang merupakan pressure bagi sumber daya perikanan adalah meningkatnya permintaan produk perikanan, seiring dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan “ quick yielding production “, yaitu mengeksploitasi sumber daya perikanan secara tidak bertanggung jawab dan tidak mengikuti kaidah – kaidah pemanfaatan sumber daya yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan berkelanjutan. Kondisi seperti ini terjadi terutama di negara – negara berkembang. Pada awal 1990 – an, mulai berkembang instrumen yang didesain langsung pada pengendalian sumber daya alam, yaitu berupa penentuan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi atau marin reserve atau Marine Protected Area ( MPA ). Pada kawasan ini, input dan output pada produksi perikanan diatur dengan menutup sebagian kawasan untuk daerah perlindungan. Walaupun mulai berkembang pada 1990 – an, sebenarnya MPA telah ada sejak pemerintah Finlandia membangun suatu kawasan lindung. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun Pasca Reformasi ( Harapan Menjadi Prime Mover ) 11

Struktur perikanan laut di era terakhir ini juga belum banyak bergeser dimana perikanan skala kecil masih dominan yang ditunjukkan oleh 75% armada perikanan adalah perahu tanpa motor dan perahu motor tempel. Produksi perikanan dalam periode 1999-2001 tumbuh 2,5% per tahun, sedangkan armada perikanan mulai tumbuh terbatas yaitu di bawah 1% per tahun. Pertumbuhan nelayan lebih tinggi dari armada perikanan dan mendekati pertumbuhan produksi (2,1%). Jika periode ini dibandingkan periode sebelumnya (1994-1998), produksi perikanan tumbuh lebih rendah (2,5%), demikian juga produktivitas kapal baik secara nomimal maupun laju pertumbuhan. Rata-rata produktivitas perikanan periode 1994-1998 mencapai 8,4 ton/kapal dan 1.7 ton/nelayan turun menjadi 8,3 ton/kapal dan 1,5 ton/nelayan periode tahun 1999-2001. Laju pertumbuhan produktivitas kapal mencapai 3,0% periode 1994-1998, turun menjadi 1,6% periode 1999-2001. Kini, pada masa reformasi, merupakan kesempatan yang baik bagi masyarakat adat untuk melakukan reposisi terhadap negara dengan mengembangkan seluruh potensi dan strategi yang dimiliki dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya. Mereka bisa merevitalisasi dan menginterprestasi kedudukan dan fungsi pranta – pranata yang ada atau menciptakan pranata – pranata baru sesuai dengan kebutuhan kontekstual. Di kawasan – kawasan pesisir yang menghadapi kondisi kelangkaan sumber daya perikanan atau kerusakan lingkungan laut, muncul kesadaran sebagian masyarakatnya tentang konservasi. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 2007 Berdasarkan data Food Outlook (FAO 2007) produksi perikanan tangkap Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,55 persen. Penurunan tersebut lebih besar dari rata-rata penurunan produksi perikanan dari sepuluh negara produser perikanan dunia, yaitu sebesar 2,37 persen. Pada tahun yang sama (2007), FAO mempublikasikan bahwa kondisi sumberdaya ikan di sekitar perairan Indonesia, terutama di sekitar perairan Samudera India dan samudera pasifik sudah menujukan kondisi full exploited. Bahkan di perairan Samudera Hindia kondisinya cenderung mengarah kepada overexploited. Artinya bahwa dikedua perairan tersebut saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan ekspansi penangkapan ikan secara besar-besaran. Hal ini memperkuat dugaan para ahli selama ini bahwa kondisi sumberdaya ikan di beberapa wilayah perairan sudah mengalami degradasi. 12

Berdasarkan hal tersebut maka pemeritah perlu secara cepat melakukan berbagai upaya guna menyelamatkan sumberdaya perikanan di wilayah perairan Indonesia. Hal yang cukup menggembirakan terjadi pada produksi perikanan budidaya nasional. Menurut catatan FAO (2007) tersebut terlihat bahwa produksi perikanan budidaya nasional mengalam peningkatan sebesar 16,67 persen. Peningkatan ini jauh lebih besar dari rata-rata peningkata produksi perikanan budidaya di sepuluh negara produser perikanan budidaya dunia yang hanya mencapai sekitar 2,03 persen. Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 2009 Data BKPM (2009) menunjukan pertumbuhan nilai realisasi investasi sektor perikanan dalam kurun waktu 2006 – Pebruari 2009 mengalami penurunan sebesar 5,39 persen per tahun. Nilai investasi sektor perikanan tahun 2006 mencapai Rp. 33.000.000.000 dengan 99,39 persen bersumber dari Penanaman Modal Asing (PMA). Sementara tahun 2008 nilai investasi sektor perikanan hanya mencapai Rp. 2.400.000.000 dengan 100 persen bersumber dari Penanaman Modal Asing (PMA). Sepanjang Januari – Pebruari 2009 nilai investasi sektor perikanan masih belum ada (Lihat Gambar 1). Hal ini menunjukan bahwa sektor perikanan ternyata tidak mendapatkan perhatian yang baik dari para pemodal dalam negeri. Pemerintah terlihat belum dapat menyakinkan para pemodal dalam negeri untuk menanamkan investasinya di sektor perikanan. Penurunan nilai investasi tersebut sangat berpengaruh terhadap penurunan kegiatan usaha sektor perikanan. Berdasarkan survey kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (2009) menunjukan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang mengalami penurunan. Data survey tersebut menunjukan bahwa nilai saldo besih tertimbang (SBT) untuk sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan nilainya negatif 1,48 persen. Penurunan kinerja usaha sektor perikanan juga dapat dilihat dari kapasitas produksi yang terpakai. Data survey BI tersebut menunjukan bahwa kapasitas produksi yang terpakai pada usaha sektor perikanan dalam kurun waktu tahun 2006-2009 rata-rata sekitar 67,47 persen saja. Selain itu juga, dampak menurunnya iklim investasi dan kinerja usaha sektor perikanan telah menurunkan kinerja neraca pergadangan ekspor impor produk perikanan Indonesia. Data BPS (2009) menunjukan bahwa pertumbuhan nilai neraca perdagangan ekspor impor produk perikanan Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 mengalami 13

penurunan sebesar 2,47 persen per tahun, sementara itu pertumbuhan neraca volume perdagangan ekspor impor produk perikanan Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,02 persen per tahun. Sejarah Ekonomi Perikanan Tahun 2010 - 2011 Pembangunan ekonomi perikanan tahun 2010 merupakan periode yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dimulainya kesepakatan perdagangan bebas antara China dan ASEAN (Free Trade Agremeent China–ASEAN (CAFTA). Sebagai dampak dari tidak adanya persiapan dan perencanaan yang sistematis tahun-tahun sebelumnya, implementasi CAFTA di sektor perikanan menjadi tonggak kembalinya kekuatan asing dalam menguasai sektor perikanan. Menurunnya investasi dalam negeri dan meningkatnya investasi asing di sektor perikanan sejalan dengan tidak konsistennya kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kalau kita kembali melihat dorongan pemangku kepentingan sektor perikanan sejak 2007 untuk membatasi kepentingan asing di sektor perikanan sangat tinggi, puncaknya ketika Menteri Kelautan dan Perikanan mengesahkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) No 5 Tahun 2008 tentang izin usaha perikanan tangkap. Dipertegas kembali dengan disahkannya revisi UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menjadi UU No 45 Tahun 2009 tentang Perikanan pada masa akhir periode Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid I dan DPR periode 2004-2009. Pada kedua peraturan perundang-undangan tersebut kepentingan asing di sektor perikanan sangat diperketat dan lebih mendorong keterlibatan nelayan, pembudi daya ikan, investor dalam negeri, dan pengusaha ikan nasional. Akibatnya, investasi asing pada sektor perikanan tahun 2008 dan 2009 menurun drastis, dan minat investasi dalam negeri cenderung meningkat. Data BKPM (2011) menunjukkan bahwa PMA tahun 2007 mencapai US$ 24,7 juta dan menurun drastis pada 2008 hanya mencapai US$ 2,4 juta dan akhir 2009 kembali meningkat menjadi US$ 5,1 juta. Sementara itu, pascakeluarnya Permen KP No 5 Tahun 2008 minat investasi dalam negeri mulai tumbuh. Data BKPM (2011) menunjukkan bahwa PMDN tahun 2007 hanya sebesar Rp 3,1 miliar menjadi Rp 24,7 miliar pada 2009.

14

Kedua, besarnya laju pertumbuhan impor ikan nasional. Data UN-Comtrade (2011) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan nilai impor ikan dan produk perikanan Indonesia tahun 2010 meningkat tajam sebesar 31,13 persen dibandingkan 2009. Sementara itu, laju pertumbuhan nilai ekspor ikan dan produk perikanan Indonesia tahun 2010 hanya meningkat sebesar 15,18 persen dibandingkan tahun 2009. Pascaimplementasi CAFTA, ikan impor dari China sangat mendominasi ikan impor yang masuk ke Indonesia, yaitu mencapai 38,41 persen dari total impor ikan Indonesia (UN-Comtrade 2011).

Jenis – Jenis Eksternalitas Dalam Perikanan Secara Umum. 1. Efek Atau Dampak Satu Produsen Terhadap Produsen Lain ( Effects Of Producers On Other Producers ). Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up costs) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah-residu-produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai, danau, atau semacamnya, sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak 15

negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan, dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain. 2. Efek Atau Dampak Samping Kegiatan Produksi Terhadap Konsumen ( Effects Of Producers On Consumers ). Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumahtangga (konsumen). Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Dalam hal ini, suatu agen ekonomi (perusahaan-produsen) yang menghasilkan limbah (wasteproducts) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. 3. Efek Atau Dampak Dari Suatu Konsumen Terhadap Konsumen Lain ( Effects Of Consumers On Consumers ). Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang lain. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. 4. Efek Akan Dampak Dari Suatu Konsumen Terhadap Produsen ( Effects Of Consumers On Producers ). Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan 16

mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep eksternalitas dalam dua pengertian yang berbeda : I. Eksternalitas Yang Bisa Habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu, barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain. II. Eksternalitas Yang Tidak Habis (an udeplatable externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang, dan juga bagi orang lain. Dengan kata lain, besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya.

Contoh – Contoh Eksternalitas Dalam Perikanan Secara Umum. 1. Misalkan ada dua kegiatan, yang satu adalah perusahaan penambangan emas tradisional yang berbasis di hulu dan yang lain adalah perikanan ( misalnya karamba ) yang berbasis di hilir. Keduanya menggunakan satu sumber daya alam ( sungai ) sebagai faktor yang menghubungkan kedua kegiatan ekonomi tersebut. Perusahaan penambang emas tradisional, kita sebut saja G memproduksi emas ( g ) dan bahan pencemar mercuri ( x ) yang dibuang ke sungai. Usaha perikanan F menghasilkan ikan ( f ), namun dalam produksinya tergantung dari adanya polutan yang dibuang oleh industri G. Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa fungsi biaya dari usaha perikanan sebagai CF ( f, x ), artinya biaya produksi dari usaha perikanan akan tergantung dari banyaknya ikan dan banyaknya bahan pencemar. 2. Rusaknya sumber daya ikan dan laut sekarang ini akibatnya tidak adanya rencana pengelolaan yang jelas di era sebelumnya, baik ditingkat nasional maupun di tingkat lokal. Selain itu, kuatnya hegemoni negara ( pemerintah pusat ) dalam sistem pemerintahan Indonesia di era orde baru telah mempunyai andil yang sangat besar dalam menciptakan kerusakan kawasan pesisir dan laut, khususnya sumber daya ikan. 17

Hegemoni negara tersebut tercermin dalam konfigurasi kebijakan perikanan pada tahun – tahun sebelumnya yang ditandai dengan tiga ciri utama, yaitu: didasarkan pada doktrin milik bersama ( common property ), sentralistik ( proses produksi dan substansinya ), mengabaikan atau anti pluralisme hukum. Kebijakan perikanan yang didasarkan pada doktrin milik bersama, seperti tidak adanya batasan siapa, kapan, dimana, dan bagaimana kegiatan penangkapan ikan seharusnya dilakukan, telah menyebabkan wilayah perairan laut nasional menjadi arena pertarungan bagi pelaku – pelaku perikanan ( stakeholder ) di bawah kekuasaan “ hukum rimba atau hukum samudera “. Akibatnya, kebijakan pengelolaan perikanan seperti itu telah terbukti gagal dalam memberikan perlindungan hukum, baik kepada pelaku – pelaku perikanan, khususnya nelayan kecil maupun bagi sumber daya ikan dan laut itu sendiri. Sentralisme kebijakan dan anti – pluralisme hukum tidak kalah destruktifnya, karena keduanya secara sinergis telah menciptakan konflik antar pelaku perikanan dan tumpang tindihnya wilayah penangkapan ikan ( fishing ground ). Dimata nelayan kecil, kebijakan perikanan di era sentralistis dipahami sebagai legalisasi persengkongkolan kaum komprador, yaitu pemerintah, pengusaha dan aparat penegak hukum dalam rangka pengurasan ( eksploitasi ) sumber daya ikan, tanpa memperdulikan kepentingan nelayan kecil. Dengan demikian, masalah besar yang ditimbulkan dari praktek rezim pengelolaan terpusat adalahnya munculnya eksternalitas negatif di bidang perikanan, yaitu: gejala tangkap lebih ( over fishing ), rusaknya terumbu karang akibat aktivitas pengeboman dan penggunaan potasium sianida, rusaknya hutan mangrove, dan lain sebagainya. 3. Degdradasi sungai Citarum, di Jawa Barat, Sungai Siak dan Kampar di Riau, menurunnya kualitas air Danau Toba di Sumatera Utara, diakibatkan oleh eksternalitas yang dihasilkan oleh kegiatan produksi berbagai macam barang. Jika limbah ini dibuang ke sungai tentu saja akan merugikan pengusaha perikanan yang ada dihilirnya. Usaha pertambangan emas tidak memasukan kerugian yang diderita pengusaha perikanan sebagai biaya yang harus ia tanggung. Sebaliknya, hal tersebut dianggapnya sebagai biaya sosial. 4. Penggunaan air tanah oleh pihak industri di Kabupaten Bandung, Jawa Barat merupakan contoh lain kasus eksternalitas. Kegiatan ini menghasilkan eksternalitas negatif berupa menurunnya permukaan air tanah, semakin dalamnya sumur-sumur 18

penduduk dan mengeringnya sumur-sumur tersebut di musim kemarau. Industri pengguna air tanah hanya memperhitungkan biaya pengambilan air tanah sementara ia lepas terhadap kerugian masyarakat akibat dari kegiatan pengambilan air tanah oleh industri tersebut. 5. Sebuah contoh eksternalitas negatif ialah penggunaan pestisida pada usaha tani padi di lahan ber – irigrasi. Pestisida digunakan pada tanaman padi, yang pada masa tertentu harus digenangi air. Sisa – sisa bahan kimia dari pestisida tersebut tetap berada dalam air ketika air tersebut dibuang. Orang lain, yang berlokasi di bagian hilir, kemudian menggunakan air tersebut untuk minum, irigasi, usaha peternakan, atau beternak ikan di kolam. Para pengguna air yang telah tercemar tersebut akan menanggung biaya bila air tersebut berakibat buruk bagi kesehatan, baik bagi manusia maupun bagi produksi hewan peliharaan. Namun, orang – orang yang terkena dampak negatif dari eksternalitas ini tidak mungkin menagih beban biaya kepada pengguna pestisida di bagian hulu yang telah mencemari air. Dalam kasus ini, pasar telah gagal memasukkan biaya eksternalitas negatif dari pestisida pada biaya produksi padi para petani di bagian hulu. Sehubungan dengan itu diperlukan peranan pemerintah untuk melakukan intervensi guna memperbaiki eksternalitas negatif tersebut. Jenis – Jenis Eksternalitas Dalam Perikanan Tangkap Secara Khusus. 1. Resource Stock Externalities. Terjadi jika biaya untuk menangkap ikan dengan menggunakan kapal nelayan menurun, yang mana populasi ikan meningkat. 2. Eksternalitas Mesh. Terjadi jika ukuran mesh (atau jenis lain dari variabel selektivitas gigi) mempengaruhi tidak hanya biaya swasta dan pendapatan nelayan tetapi juga perilaku pertumbuhan populasi ikan. 3. Crowding Externalities. Jika populasi ikan cukup terkonsentrasi untuk menyebabkan kemacetan jalur kapal dan dengan demikian, biaya operasi kapal meningkat untuk menangkap populasi ikan tersebut. 19

4. Brief Discussion On Externalities. Kegiatan seorang nelayan dapat mengenakan eksternalitas pada nelayan lain yang baik beroperasi dalam perikanan yang sama atau beroperasi dalam perikanan yang saling terkait. Keterkaitan menyiratkan bahwa tindakan yang diambil dalam satu perikanan mempengaruhi kesejahteraan nelayan di bidang perikanan yang lain. Sebagai contoh, spesies target dua di fishing ground yang sama dapat berinteraksi dalam beberapa cara biologis. Sebuah eksternalitas negatif terjadi ketika seorang agen menimbulkan biaya pada agen lain tanpa kompensasi agen lain untuk itu. Sebuah eksternalitas positif terjadi ketika agen melimpahkan manfaat pada agen lain tanpa dibayar untuk itu. Ketika stok ikan atau kelompok saham biologis terkait secara komersial dimanfaatkan oleh lebih dari seorang nelayan.

5. Eksternalitas Waktu. Akibat ketiadaan hak pemilikan maka setiap nelayan berusaha untuk mengambil ikan sebanyak – banyaknya dan ini bisa dilakukan jika mereka melakukan penangkapan ikan lebih awal dari pihak lain. Intersepsi waktu juga bisa terjadi terhadap stok ikan itu sendiri, sebagai contohnya pada kasus perikanan udang dengan siklus hidup yang relatif pendek maka sebenarnya tidak menguntungkan untuk menangkap udang dengan ukuran yang kecil, namun jika mereka menunggu sampai mencapai ukuran besar, pihak lain akan melakukan penangkapan udang lebih dahulu, sehingga untuk menghindari hal tersebut, nelayan melakukan intersepsi waktu terhadap siklus hidup udang. 6. Eksternalitas Teknologi. Eksternalitas teknologi terjadi manakala teknologi penangkapan suatu alat mengubah struktur dinamika populasi dari spesies target dan by catch yang kemudian menimbulkan dampak negatif bagi alat lain. Eksternalitas teknologi ini dapat dogolongkan ke dalam dua tiper yakni eksternalitas sekuensial dan eksternalitas eccdental. Eksternalitas sekuensial terjadi ketika nelayan skala kecil dan nelayan skala besar mengeksploitasi stok ikan pada siklus hidup yang berbeda. Jadi ketika nelayan skala kecil menangkap ikan pada umur yang masih juvenil, hal ini akan menimbulkan 20

dampak eksternalitas pada nelayan industri yang mengkap ikan pada siklus hidup ikan dewasa. Eksternalitas accidental terjadi ketika secara teknologi ada ketergantungan antara dua alat tangkap dalam menangkap ikan. Misalnya dalam perikanan udang, by catch ikan demersal yang dihasilkan dari perikanan demersal. 7. Eksternalitas Dinamik. Eksternalitas dinamis terjadi ketika peningkatan usaha penangkapan atau panen oleh seorang nelayan yang mengurangi jumlah ikan yang tersedia untuk nelayan lainnya. Eksternalitas dinamis terjadi penurunan jumlah ikan yang tersedia untuk nelayan lain pada titik waktu dan karena penurunan ukuran sekarang saham negatif dapat mempengaruhi ukuran masa depan saham. Clark (1980), analisis model dengan eksternalitas dinamis ketika masuk ke perikanan terbatas pada jumlah tetap nelayan. Dia menunjukkan nelayan yang akan panen lebih daripada yang optimal secara sosial karena mereka tidak memperhitungkan cangkul panen mereka mengurangi kemampuan nelayan lain untuk panen dari bidang perikanan. Kehadiran dan tingkat eksternalitas dinamis bergantung pada perilaku "spesies dan teknologi memancing yang digunakan oleh nelayan”. Spesies yang diberi label sebagai wisata perikanan biasanya dipanen menggunakan modal - teknologi intensif seperti purse seine, yang jaring besar yang digunakan untuk mengelilingi sekolah atau jaring pukat, yang diseret di belakang kapal. 8. Eksternalitas Pasar. Kehadiran eksternalitas pasar mempengaruhi perilaku nelayan dengan mengubah kondisi keuangan mereka (permintaan yang mereka hadapi). Eksternalitas pasar terjadi ketika kuantitas panen oleh seorang nelayan mempengaruhi kompensasi (harga) nelayan lain yang menerima. Kekuatan pasar nelayan masing-masing tergantung pada ukuran panen nelayan relatif terhadap penawaran pasar dan bagaimana mengintegrasikan pasar untuk spesies ini ( komoditas ikan yang didagangkan ). Oleh karena itu, seorang nelayan kelompok kecil yang beroperasi dalam perikanan yang menghasilkan bagian besar dari pasokan pasar dunia bisa memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Hal ini mungkin dapat terjadi misalnya, Samudera Pasifik Barat Tengah, yang dieksploitasi oleh beberapa DFWNs dan menurut Lodge (1998), nelayan menyediakan lebih dari 40% ikan tuna di dunia. 21

Karena jumlah nelayan meningkatkan kompetisi antara mereka, maka kekuatan pasar masing-masing nelayan menurun. Dalam akses terbuka jumlah nelayan bisa menjadi begitu besar sehingga tidak ada nelayan punya kekuatan pasar. Nelayan juga dapat memiliki kekuatan pasar yang cukup besar jika pasar untuk spesies ini ( komoditas ikan yang didagangkan ) tidak terintegrasi dengan baik bahkan jika mereka tidak memberikan porsi yang besar dari total pasar. Jika pasar untuk komoditas yang ia perdagangkan menjadi lebih terintegrasi, maka kekuatan pasar nelayan masingmasing akan jatuh. Demikian pula, jika agen yang membeli ikan dari nelayan memiliki kekuatan pasar signifikan mereka mungkin bisa menurunkan harga tawaran dari spesies dan karena itu melemahkan kekuatan pasar nelayan. Campbell (1996) menunjukkan bahwa prosesor mungkin memiliki kekuatan pasar yang cukup besar dalam industri tuna. Ketika nelayan memiliki kekuatan untuk panen, maka nelayan tersebut menciptakan eksternalitas pasar untuk nelayan lainnya. Nelayan memainkan Cournot - Nash permainan yang mirip dengan permainan dibayangkan oleh Cournot (1838) untuk menganalisis interaksi strategis antara dua duopolies. Ketika seorang nelayan meningkatkan panen, ia meningkatkan pasokan pasar komoditas yang ia dagangkan dan dengan demikian menurunkan harga pasar. Penurunan harga pasar menurun apabila, pendapatan marjinal nelayan lainnya mengurangi hasil panen mereka. 9. Eksternalitas Informasi. Memiliki informasi mengenai keberadaan ikan sangatlah bermanfaat bagi nelayan, dan salah satu cara hidup seorang nelayan adalah bagaimana memperoleh pengetahuan ini beik lewat pengalaman maupun lewat intuisinya sebagi seorang nelayan. Namun jika informasi ini diberikan pula kepada pihak lain maka setiap nelayan akan berada di lokasi yang diketahui tersebut. Dan jika ini terjadi maka keuntungan nelayan akan berkurang. Konsekuensi dari eksternalitas ini akan menimbulkan insentif bagi para pelaku perikanan (nelayan untuk menyembunyikan informasi tersebut ). 10. Eksternalitas Ruang. Untuk meminimumkan biaya penangkapan, pelaku perikanan kebanyakan ingin menangkap ikan di sekitar wilayah yang dekat dengan pelabuhan (wilayah pantai) 22

namun jika ini dilakukan oleh hampir sebagian besar nelayan maka akan menimbulkan crowding effect di sekitar pantai yang kemudian akan menghabiskan stok di sekitar wilayah pantai. Konsekuensi dari crowding effect ini kemudian akan membuat nelayan untuk semakin pergi menangkap jauh dari pelabuhan dan pantai untuk mengintersepsi stok ikan sebelum ditangkap oleh nelayan lainya. 11. Eksternalitas Spillover Dan Produksi. Eksternalitas spillover terjadi ketika aktivitas yang terjadi dalam satu bidang perikanan mempengaruhi kapasitas nelayan untuk memanen ikan di bidang perikanan lainnya. Eksternalitas spillover dapat berupa negatif, seperti halnya dengan polusi, atau possitive, seperti dalam kasus dengan peningkatan (perbaikan kondisi lingkungan yang ada). Polusi atau peningkatan dalam satu perikanan dapat mempengaruhi kesehatan dan tingkat pertumbuhan spesies dalam perikanan lainnya. Kapal penangkap ikan dapat mencemari daerah tangkapan ikan oleh minyak membuang dan limbah ke dalam air dan merusak terumbu karang dengan jaring dan jangkar. Jadi, panen untuk satu spesies dapat merusak lingkungan air dan membahayakan spesies lain di fishing ground yang sama. Sebagai contoh, beberapa ikan (ikan sturgeon) menetas telur mereka di air pantai, sementara ikan lainnya (ikan salmon) melakukan perjalanan hingga aliran perairan untuk menetaskan telur mereka. Polusi penetasan dapat mengganggu kesehatan spesies dan mengurangi jumlah spesies yang matang gonad dan spesies yang telah bertelur tersebut kembali ke laut terbuka di mana mereka dipanen oleh nelayan lainnya.

12. Intersespsi Mobilitas. Intersepsi ini sering juga disubut sebagai intersepsi alat (gear interseption) dimana mobilitas suatu alat tangkap harus bersaing dengan mobilitas alat tangkap lain. Jika yang dihadapi adalah jenis ikan bergerombol dengan pergerakan yang relatif lebih mudah dideteksi (misalnya sardin), maka alat tangkap yang memiliki kekuatan dan kecepatan lebih justru tidak diuntungkan oleh alat yang mobilitasnya dirancang untuk menangkap ikan bergerombol. Konsekuensi dari ekternalitas ini menimbulkan terbuangknya sumberdaya ekonomi. 23

13. Multiple Externalities. Interaksi strategis antara nelayan bisa sangat kompleks. Tindakan yang diambil oleh seorang nelayan dapat mengenakan aneka eksternalitas tidak hanya pada nelayan lain dalam bidang perikanan yang sama tetapi juga pada nelayan di bidang perikanan saling terkait. Fischer dan Mirman (1996) menguji model dengan baik eksternalitas eksternalitas dinamis dan biologi dengan mempertimbangkan kasus di mana dua nelayan panen. Mereka menemukan bahwa eksternalitas dinamis mendominasi eksternalitas biologis. Fischer dan Mirman berpendapat bahwa kehadiran eksternalitas positif biologis (seperti konsumsi saling mangsa yang sama oleh dua spesies sasaran) mengurangi tetapi tidak pernah menghilangkan atas - memancing disebabkan oleh eksternalitas dinamis. Sebaliknya, kehadiran eksternalitas biologis negatif (contoh: simbiosis antara dua spesies sasaran) memperburuk di atas - ikan yang disebabkan oleh eksternalitas dinamis. Contoh – Contoh Eksternalitas Dalam Perikanan Tangkap Secara Khusus. 1. Perikanan tangkap merupakan aktivitas ekonomi yang unik bila dibandingkan dengan aktivitas lain. Hal ini berkaitan dengan kondisi sumber daya ikan dan laut itu sendiri yang sering dianggap sebagai common pool resources. Karakteristik ini sering menimbulkan masalah eksternalitas diantara nelayan sebagai akibat proses produksi yang interindependent dari setiap individu nelayan, dimana hasil tangkapan dari satu nelayan akan sangat tergantung pada tangkapan nelayan lain. Selain itu, hasil tangkapan dari nelayan juga akan sangat tergantung dari kondisi sumber daya ikan yang merupakan fungsi dari eksternalitas berbagai aktivitas non produksi lain, seperti kondisi kualitas perairan itu sendiri. 2. Terumbu karang dari segi ekologi, berperan sebagai tempat pemijahan, pembesaran dan mencari makan dari sebagian ikan ekonomis penting, sehingga kerusakan akibat aktivitas pembangunan yang dilakukan telah memberikan dampak negatif yang cukup nyata terhadap keberadaan dan kualitas sumber daya. Meskipun kerusakan terumbu karang dapat disebabkan oleh faktor – faktor fisika, kimia, dan biologi, namun secara umum, kerusakan terumbu karang dapat dibedakan menjadi: kerusakan karena kejadian alam dan kerusakan karena aktivitas manusia atau antropogenik. Lebih lanjut Cesar ( 1998 ) mengemukakan bahwa terdapat lima aktivitas manusia yang 24

merupakan ancaman utama terhadap kerusakan terumbu karang di Indonesia, yaitu: penggunaan racun ( cyanide fishing ), penggunaan bom ( blast fishing ), penambangan koral ( coral mining ), sedimentasi dan polusi, serta kelebihan eksploitas. 3. Konflik kelas, yaitu konflik yang terjadi antar kelas sosial nelayan dalam memperebutkan wilayah penangkapan (fishing ground), seperti konflik nelayan trawl di perairan pesisir yang sebenarnya wilayah tangkapan nelayan tradisional. 4. Konflik orientasi, yaitu konflik yang terjadi antar nelayan yang memiliki perbedaan orientasi (jangka pendek dan jangka panjang) dalam pemanfaatan sumberdaya, seperti konflik horizontal antara nelayan yang menggunakan born atau potassium cyanide dengan nelayan lain yang alat tangkapnya ramah lingkungan. 5. Konflik agraria, yaitu konflik yang terjadi akibat perebutan fishing ground. Konflik ini dapat terjadi pada nelayan antar kelas maupun nelayan dalam kelas sosial yang sama. 6. Konflik primordial, seperti yang telah disebutkan di atas. Namun jika ditelusuri lebih jauh, konflik identitas tersebut tidak bersifat murni, melainkan tercampur dengan konflik kelas maupun konflik orientasi yang sebenarnya kerap terjadi sebelum diterapkannya otonomi daerah. 7. Doktrin milik bersama (commont property) yang mengakibatkan laut bersifat open acces, dimana tidak adanya batasan alat tangkap yang boleh digunakan, kapan dan dimana boleh melakukan penangkapan ikan, berapa jumlah tangkapan yang diperbolehkan serta siapa saja yang mempunyai hak itu. Akibat kebijakan seperti ini, laut menjadi ajang pergulatan keserakahan para pemodal besar (kapitalis), dimana nelayan yang selalu menjadi korban ketidakbijakan pembangunan selama ini disertai dengan terjadinya degradasi lingkungan, over fishing, dan masalah-masalah lain yang kerap memicu terjadinya konflik. 8. Antipluralisme hukum, padahal di beberapa wilayah pesisir Indonesia terdapat aturanaturan lokal atau lebih dikenal Hak Ulayat Laut (HUL) yang dapat menjamin terciptanya kelestarian SDKP yang sudah berlaku secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan mempunyai kekuatan hukum yang sangat mengikat.

25

KESIMPULAN
• Semakin beriringnya zaman perkembangan ekonomi pun semakin meningkat dimulai dari berburu secara tradisional hingga modern, dahulu pembayaran mulai dari sistem barter, dan ada yang membayar dengan memakai ikan sebagai alat pembayaran. • Dengan zaman yang terus berjalan, pemanfaatan sumber daya khususnya perikanan pun semakin dimanfaatkan dengan baik dan benar hal ini dapat dilihat tentang adanya aturan-aturan yang mengaturnya. Jenis – Jenis Eksternalitas Dalam Perikanan Secara Umum ada: • • • • Efek Atau Dampak Satu Produsen Terhadap Produsen Lain ( Effects Of Producers On Other Producers ). Efek Atau Dampak Samping Kegiatan Produksi Terhadap Konsumen ( Effects Of Producers On Consumers ). Efek Atau Dampak Dari Suatu Konsumen Terhadap Konsumen Lain ( Effects Of Consumers On Consumers ). Efek Akan Dampak Dari Suatu Konsumen Terhadap Produsen ( Effects Of Consumers On Producers ).

Jenis – Jenis Eksternalitas Dalam Perikanan Tangkap Secara Khusus ada: • • • • • • • • • • Resource Stock Externalities. Eksternalitas Mesh. Crowding Externalities. Brief Discussion On Externalities. Eksternalitas Waktu. Eksternalitas Teknologi. Eksternalitas Dinamik. Eksternalitas Pasar. Eksternalitas Informasi. Eksternalitas Ruang. 26

• • •

Eksternalitas Spillover Dan Produksi. Intersespsi Mobilitas. Multiple Externalities.

27

DAFTAR PUSTAKA
http://books.google.co.id/books? id=MlfyU_iU2oAC&pg=PA254&dq=sejarah+ekonomi+perikanan&hl=id#v=onepage&q=sej arah%20ekonomi%20perikanan&f=false http://www.google.co.id/search?q=sejarah+ekonomi+perikanan+1870+1900&hl=id&biw=1366&bih=665&prmd=ivns&ei=12N0TpbqKoqrrAfloOy_Aw&start=0&s a=N http://buntuminnya.blogspot.com/2011/03/status-perikanan-teripang-di-indonesia.html http://nasional.jurnas.com/halaman/17/2011-05-15/169794 http://www.indomarine.or.id/index.php? option=com_content&view=article&id=138:pembangunan-perikanan-untuk-kesejahteraanbangsa&catid=44:article&Itemid=93 http://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/sutejo_k_widodo_menuju_ekonomi_berdi kari_di_sektor_perikanan_.pdfhttp://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/sutejo_k_w idodo_menuju_ekonomi_berdikari_di_sektor_perikanan_.pdf http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/28/menelusuri-pola-pertumbuhan-industriperikanan-laut-indonesia-beberapa-catatan/ http://pk2pm.wordpress.com/2009/05/29/laporan-perkembangan-ekonomi-perikananindonesia-triwulan-1-2009/ http://books.google.co.id/books? id=QwQj3ZjPKiMC&pg=PA72&dq=sejarah+ekonomi+perikanan&hl=id#v=onepage&q=sej arah%20ekonomi%20perikanan&f=false http://books.google.co.id/books? id=46vKFj3pFZ0C&pg=PA139&lpg=PA139&dq=sejarah+ekonomi+perikanan&source=bl& ots=jEPhsy7w4L&sig=0lopem8HfvsCCqfXv4MdPbm4cgA&hl=id#v=onepage&q&f=false http://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Kelautan_dan_Perikanan_Indonesia http://gagasanhukum.wordpress.com/2011/05/02/ekonomi-perikanan-cafta-dan-mea-2015/ 28

http://jessicaekapratiwi.blogspot.com/2011/06/eksternalitas-penangkapan-ikan.html http://jessicaekapratiwi.blogspot.com/2011_06_01_archive.html http://www.google.co.id/search? hl=id&biw=1366&bih=641&gs_sm=e&gs_upl=14643l37301l0l37402l57l57l6l34l3l3l392l29 47l0.3.7.2l13l0&q=jenis%20eksternalitas%20dalam%20fisheries&spell=1&sa=X http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/eksternalitas/ http://books.google.co.id/books?id=-e7BdKgC40C&pg=PT37&lpg=PT37&dq=eksternalitas+publik+perikanan&source=bl&ots=bbxmlo I0NO&sig=rEgsvpnSYCOvJtO0XQAJYIY-gwM&hl=id#v=onepage&q=eksternalitas %20publik%20perikanan&f=false http://ikanbijak.wordpress.com/2008/03/14/desentralisasi-kelautan-dan-kesejahteraannelayan/ http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/36673/buku%20hal%202.pdf? sequence=2 http://books.google.co.id/books?id=-e7BdKgC40C&pg=PT37&lpg=PT37&dq=contoh+eksternalitas+perikanan+umum&source=bl&ots =bbxmlnOWTO&sig=UGgjp97sdTCV6kQ3cFT0OcAjRQc&hl=id#v=onepage&q&f=false http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/41289/Bab%201%20%202008alu2.pdf?sequence=3 http://books.google.co.id/books? id=z6SQYG1D7xQC&pg=PA104&lpg=PA104&dq=contoh+eksternalitas+perikanan+secara +umum&source=bl&ots=C10AxZdLuL&sig=vgHO8KK0pFPHGwRK2vB6CGM_5k&hl=id#v=onepage&q&f=false

29

http://www.aw-bc.com/info/bruce/ch04_bruce.pdf http://www.soest.hawaii.edu/PFRP/soest_jimar_rpts/wachsman03.pdf

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->