P. 1
Bimbingan Dan Konseling

Bimbingan Dan Konseling

|Views: 6|Likes:
Published by Nayz Ifumi

More info:

Published by: Nayz Ifumi on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • di dalam Setiap Kasus
  • C. Penanganan Kasus
  • Matriks 2
  • Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian,
  • Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus
  • A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
  • B. Istilah Penyuluhan dan Konseling
  • C. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling
  • Gambar 6
  • Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling
  • D. Tujuan Bimbingan dan Konseling
  • E. Asas-asas Bimbingan dan Konseling
  • Rangkuman
  • Daftar Pustaka
  • KASUS I
  • KASUS II
  • KASUS III
  • KASUS IV
  • KASUS V
  • KASUS VI
  • Kasus I
  • KASUS VII
  • KASUS VIII
  • Kasus II
  • Kasus III
  • Kasus IV
  • Kasus V
  • Kasus VI
  • Kasus VII
  • Kasus VIII
  • D. Layanan Bimbingan Belajar
  • 1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
  • Gambar 9 Kurva hasil belajar
  • E. Layanan Koseling Perorangan
  • Gambar 10
  • Diagram 2
  • Lima Tahap Keefektifan Konseling
  • F. Aa
  • G. A
  • H. Aa
  • I. A
  • J. Aa

`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

. .Dikeluarkan dari sekolah.Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya.Proses belajar-mengajar membosankan.Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat.Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai.Merasa dibeda-bedakan oleh guru. . dan IV ) Gambaran yang terpeinci : .. . . . Kemungkinan sebab : . . Terlambat masuk sekolah ( Kasus I. 6.Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang. . . .Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai. .Kurang berminat terhadap mata pelajaran.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos. . .Merasa gagal dalam belajar.Takut masuk karena tidak membuat tugas. Kemungkianan sebab : .Jarak antara rumah dan sekolah jauh. .Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki.Tidak naik kelas. Kemungkinan akibat : .Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan.Gagal dalam ujian.Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat. . .Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya.Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. .Merasa kurang mendapatkan perhatian guru.

Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas. . .Hubungan dengan guru terganggu. . . .Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR).Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran. .Terlambat bangun.Mengalami kesulitan bahasa.Tidak ceria.Kegiatan di luar kelas tidak terkendali.Terlalu banyak kegiatan dirumah.Mengalami gangguan dengan organ bicara. Kemungkinan sebab : . 7. Kemungkinan akibat : . . Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : . .Berwatak introvert.Malu atau takut pada orang lain.Hubungan dengan kawan sekelas terganggu. membantu orang tua. .Kurang sehat. . . . . . .Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah. .Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara. .Kurang akrab terhadap teman atau guru. .Tidak naik kelas.Nilai rendah.Gangguan kesehatan.Kesulitan kendaraan. ..Tidak menyukai suasana di sekolah. .Kurang mau berbicara atau bertegur sapa.

Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain.Orang tua tidak mampu.Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran. .Tertinggal dalam pelajaran.Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. . Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . 8. ..Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu. Kemungkinan akibat : . ..Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis.Semangat belajar menurun. .Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan. . Kemungkinan akibat : . .Nilai rendah.Tugas-tugas tidak sesuai. .Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan. .Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang. . seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran. Kemungkinan sebab : . .Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ).Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran.

Hiperaktif.Tidak naik kelas. 10. Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : .Dikeluarkan dari sekolah. . .9. Kemungkinan Sebab : .Sering salah paham dengan kawan. .Seing terjadi salah paham dengan kawan. .Mau menang sendiri. . . . .Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah.Luka.Tidak mau menerima pendapat orang lain. . Kemungkinan akibat : . . . . mengejek dan menantang orang lain.Ditakuti kawan-kawannya.Berurusan dengan polisi.Tidak mau dilarang.Sombong. .Memperolokan.Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ).Kerasa jagoan.Pengendalian diri kurang. Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . .Melalaikan pelajaran.Tidak disukai kawan dan guru.Nilai rendah. . . .

Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu. .Berbicara tersendat-sendat. gugup ( Kasus III.Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain. . . Kemungkinan sebab : . .Salah tingkah. Kemungkinan sebab : . Pemalu.Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain.Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya.Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain. . . . . . dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : . tidak bebas.Tidak pandai mengemukakan pendapat.Mau menang sendiri.Suasana keluarga terlalu keras. gagap.Sering tertegun-tegun. canggung. . . . .Sombong atau tinggi hati.Tidak mau menerima pendapat orang lain.Terlalu perasa.Diperlakukan terlalu keras. kaku. .. tertekan. 11.Curiga dan kurang percaya pada orang lain.Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain. .Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain. takut.Pergaulan sangat terbatas. Kemungkinan akibat: .

.Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya.Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. tidak dapat dikendalikan. satu-satunya laki-laki atau perempuan. satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya. Kemungkinan sebab : . .Ingin dipuji. sehingga sukar diharapkan mandiri. 12. IV. seperti anak bungsu.Pemboros dan suka berfoya-foya.Kurang memahami sopan santun dan aturan. sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.Pergaulan terlalu bebas. bertindak semaunya sendiri. . . . . . dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : .Kurang bergaul. . . Kemungkinan akibat .Frustasi yang dalam. .Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ).Sosialitas kurang berkembang.Terlalu bebas..Sering ditakut-takuti. tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya. Kemungkinan akibat : . Dimanjakan ( Kasus III. anak tunggal. sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang. .Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga. seperti sangat cantik.Kurang bertenggang rasa. . sangat pintar.Tidak dapat mengatur diri sendiri.

. Kemungkinan sebab : .Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek. . ( khususnya orang yang lebih muda ). tidak lulus ujian. . pendapatnya diremehkan.Suka termenung.Tingkah laku memang kekanak-kanakan. sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain. . digoda.Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok. .Kurang pandai bergaul. atau tidak disenangi oleh orang lain.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil.Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut. tertutup.Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain.Pendiam.Tudak ceria.Perkembangan sosialitas terganggu.Seing memisahkan diri dari kawan.Bersikap pemberontak. . Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . 14. Menyendiri. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : . tidak naik kelas.Rendah diri. . 13. Kemungkinan akibat : .Tampak lemah. . dipermainkan. duduk sendiri. . . . .Sukar menyesuaikan diri. harus patuh. .

Suka mencaci maki orang lain. . . .Tidak mau minta maaf. .Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar.Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah.Merasa rendah diri.Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain. frustasi. sedih.Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya. . malu. . Kemungkinan akibat : .Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya. .Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam. kecewa. . Kemungkinan sebab : .Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak.Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga. 15.Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya. . . . . . Berlaku kasar ( Kasus V. . dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki. marah.Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya.Diperlakukan terlalu keras. .Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya.Kemungkinan sebab : .Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik. .Perkembangan sosialitas terganggu.

. tidak naik kelas.Merasa iri terhadap orang lain. kegagalan belajar. dibenci oleh orang lain.Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain. .Mengalami penyimpangan seksual. Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan akibat : .Mebuat coret-coret yang bernada cabul. 16.Dibenci orang lain. . Kemungkinan sebab : .Suka berkata cabul.Frustasi karena kegagalan cinta. .Nilai rendah.Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. . Kemungkinan akibat : .Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal. . . .Suka mengintip.Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang.. .Gangguan kepribadian/gangguan mental.Membawa buku-buku cabul. .Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ). . disisihkan dari lingkungan sosial. dikelurkan dari sekolah. . .Suka membaca buku cabul.Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan. .Sukar mencari teman bergaul. . .Kurang perhatian atau kurang kasih sayang. .Memamerkan alat kelamin kepada orang lain.Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya.

. makan tidak teratur dan kurang gizi.Sering tidak enak badan (sakit).Kurang enak makan.Nilai rendah. . . dikeluarkan dari sekolah. di hokum. . . . lemah . tidak naik kelas.Kegiatan belajar terganggu.Sring kali dimarahi.. . Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . seperti kurang tidur.Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral.Hubungan dengan teman sebaya. terutama dengan jenis kelamin lain. .Berat badan merosot.Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Kebiasaan hidup tidak sehat. bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik. .Apabila yang bersangkutan bereaksi.Mengidap penyakit tertentu. Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . 18.Kurang bergairah. Kemungkinan sebab : .Harus patuh pada perintah dan larangan. merokok. larangan dan hukuman malah diperkeras. 17. . . terganggu. Kemungkinan akibat : . tidak ceria.Tidak suka berolah raga.

. .Rendah diri.Selalu dicurigai kemana akan pergi.Tidak diperbolehkan karyawisata.Orang tua atau guru yang otoriter. .Harus tepat waktu pulang dari sekolah.Kemungkinan sebab : .Tidak diperbolehkan berpacaran. sehingga reaksi orang lain menjadi keras. .Menjadi pasrah.Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya. 19. Kemungkinan akibat : . kehilangan inisiatif. .Dilarang pergi kerumah teman.Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide.Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter. . tidak mengenal kelembutan. .Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan. . .Harus tinggal di rumah sepulang sekolah.Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya. . .Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua.Berteman harus disukai orang tua.Anti sosial.Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain.Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter. . Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : . . Kemungkinan sebab : . .Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal. . . .Mencari kompensasi. .

Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya.Ingin mencoba ganja.Timbul reaksi melawan dan menentang. .Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar. Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya. dan mau diapakan atau dikemanakan.Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan. .Kurang berani berpendapat. kurang percaya terhadap dirinya sendiri..Menyimpan daun ganja.Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. . . . . meskipun belum terlaksana. akan muncul perasaan rendah diri. . belum pernah diapa-apakan.Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya. .Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. . di bungkus rapi. Kemungkinan akibat : . Kemungkinan sebab : . . . dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah.Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah.Daun ganja itu baru sekedar disimpan. . .Tidak luwes dalam bergaul. .Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya.Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah.Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya. . 20.

Kemungkinan akibat : .Menjadi korban tindakan criminal.Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan. .Dimarahi oleh orang tua.Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua. . . .Menyembunyikan diri di tempat family. .Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya. Kemungkinan sebab : .Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan.Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi. .Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter.Kemungkinan akibat : . . .Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya.Tidak betah dengan suasana rumah. karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. 21.Tidak tahan akan kelakuan keluarga.Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua. .Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja.Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana. . . karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik.Keluarga menjadi risau. . . . kemudian pulang.Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng. .Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya. .Terjerumus pada tempat-tempat maksiat. Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Dorongan teman untuk berontak.

muntah. . . Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . . .22. .Sering minum-minuman sehingga mabuk. Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . . .Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas. .Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah. tidak naik kelas.Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh.Berbuat demikian bersama “geng”-nya. dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu. di luar rumah. dikeluarkan dari sekolah. 23. . .Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah.Mengganggu teman dalam belajar. kekotoran. Kemungkinan akibat : .Melawan kepada orang tua atau guru.Nilai rendah. .Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan.Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari. dan tidur berlama-lama.Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah. Kemungkinan sebab : .Berkelahi dengan teman.Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. seperti agak “teller”. . kegelapan.Membuat coret-coretan pada dinding sekolah.

Kegiatan belajar terganggu. .Mengganggu teman wanita.Dengan sengaja melanggar peraturan. Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) .Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying. 24.Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal.Ingin menarik perhatian orang lain. Kemungkinan akibat : .Merusak keindahan lingkungan. nilai-nilai dengan berbagai akibatnya.Menjadi bahan pengujian orang lain. seperti peraturan lalu lintas. .. Merasa disepelekan oleh lingkungannya. . .Terjerumus pada tindakan criminal. peraturan sekolah. .Kompensasi atas kekurangannya.Disiplin yang terlalu keras.Peralatan sekolah rusak.Menggangu ketentraman umum.Ingin di anggap jagoan. . . . .Mengakibatkan cidera fisik pada mereka. . Kemungkinan sebab : . . . .Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan. .Merasa tidak puas dengan lingkungannya. . .Jalannya peraturan sekolah terganggu.Menguji identitas diri.Mencuri buah-buahan.Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh. atau barang-barang lainnya. . .Berurusan dengan pihak yang berwajib. .

Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu. . . jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain.Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari.Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah.Nilai pelajaran agama merah.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan.Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama. .Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas.Gambaran yang lebih rinci : .Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang. atau bahkan melecehkan agama.Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat. 25. .Pelajaran agama kurang menarik.Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya. . Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . . Kemungkinan akibat : . pengembangan religious terhambat. . .Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama. Kemungkinan sebab : . .

. . Kemungkinan sebab : . sekarang tidak rajin. Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : .Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua. Kemungkinan akibat : .Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan . bahkan tidak shalat sama sekali. . tapi anak tidak menghiraukannya.Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur.Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.Nilai-nilai keluarga semakin lemah.Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. serta berhenti shalat secara tetap.Kemungkinan sebab : . . Kemungkinan akibat : . .Anak semakin tidak menghormati orang tua.Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik.Hubungan antara orang tua semakin renggang. . .Orang tua terlalu keras memberikan teguran.Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat.Tadinya rajin shalat.Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu. . 26.

“selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. dan akhirnya. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. Dilihat secara lebih lanjut. pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu. kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka. Sebagai contoh. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan. Dalam kaitan itu. pusing kepalanya perlu dihilangkan.C. dua hal perlu mandapat perhatian utama. Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. Adalah suatu . Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu.

Sebagai gambaran umum. penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus. . Demikian. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. Masalahnya sekarang ialah. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu.kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. (3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud. dan sebaliknya. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya.

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. 1969). (Bernard & fullmer. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. (Tiedeman. 1976). . 1959). Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi.1960). Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. (Crow & Crow. tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna. (Smith. 1959). dalam Bernard & fullmer. (Lefever. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. (Mortensen & schmuller. 1969). (Mathewson. Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu. yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna.Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. laki-laki atau perempuan. membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik. 1969). dalam Bernard & Fullmer. rencana-rencana. dalam McDaciel. dalam McDaniel.

Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. jabatan. 1959) a. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. Bimbingan dilakukan secara sistematik. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). dalam McDaniek. dalam Jones. b. tetapi harus dikembangkan. Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik. Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. Rumusan 3 (Chiskolm. Bimbignan diberikan kepada individu. dalam McDaniel. (Jones. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. c. c. e. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. b. 1970). Bimbingan berusaha membantu individu. Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. Bimbingan membantu setiap individu. Staffire & Stewart. 1959) a. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri. 1951) a. b. Rumusan 4 (Lefever. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan. b. . d. c. 1959) a. d. Bimbingan diberikan kepada anak muda. dalam McDaniel. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain.

Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. 1969) a. kemampuan. Bimbingan itu diberikan kepada individu. dalam McDaniel. b. 1976) a. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. e. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. c. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara.Rumusan 5 (Smith. Rumusan 7 (Tiederman. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. d. e. b. 1960) a. b. d. d. e. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. c. Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. rencana-rencana. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. . c. Rumusan 6 (Crow & crow. Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. dalam Bernard & fullmer. b. 1959) a. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat. Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. dan interpretasi-interpretasi. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. c.

. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. b. sosial.Rumusan 10 (Matehwson. d. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. dkk. f. Bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan merupakan proses bantuan. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. 1970) a. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri. dalam Bernard & Fullmer) a. dan pribadi. Bimbingan ditekankan pada proses belajar. e. Rumusan 11 (Jones. b. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. Dalam memilih jalan hidupnya. seperti masalah-masalah pendidikan. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. c. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan.

serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri. baik perseorangan maupun kelompok. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian.2. 4. informasi tentang jabatan. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. Bantuan itu diberikan kepada individu. dan orang dewasa. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. interaksi. nasihat ataupun gagasan. di sekolah. data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja. remaja. 6. serta sumbersumber yang dimilikinya. 3. Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. di dalam keluarga. sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. konselor maupun dari lingkungan. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. dan lain-lain. . dan di luar sekolah. mulai dari anak-anak. tetapi meliputi semua usia. dan lainlain). Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. sumbanagn. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing. Dalam kaitan ini. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. hadiah. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor). Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan. dan akhirnya dapat mencapai 5. Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi. yang dihadapinya. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan.

adat. 9. upaya bimbingan. baik bentuk. sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. remaja. Dalam kaitan ini. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon. isi dan tujuan. Ebagaimana istilah . dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan. istilah konseling berasal dari bahasa latin. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. berdasarkan norma-norma yang berlaku. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. 8. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. maupun dewasa. Pengertian Konseling Secara etimologis. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. baik anak-anak.7. Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut. 2. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama. hokum. Norma tersebut berupa berbagai aturan. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat.

proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. (Smith. (Division of Conseling Psychology). (b) terjadi dalam suasana yang professional. (Maclean. 1974). …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu. (Pepinsky & Pepinsky. (Jones. Sherzer & Stone. rencana. dalam Shertzer & Stone. Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya. 1974).bimbingan. …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . dalam Sherzer & Stone. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. masing-masing disebut konselor dank lien. 1951). 1974).

yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . English. (Blocher. 1956). dalam Shertzer & Stone. proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. (Tolbert. 1969). 1974). 1974).. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating. keadaanya sekarang. motivasi. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. (Bernard & Fullmer. 1959). Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. dalam Shertzer & Stone. selanjutnya.C. demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya.secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. (A. (McDaniel. dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah. … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. menyediakan situasi belajar. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. . rencana.

Rumusan 3 (Mclean. 1974) a. dalam Shertzer & Stone. masingmasing disebut konselor dan klien. Dilakukan oleh orang ahli (professional). Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. dalam Shertzer & Stone. Dilakukan dalam suasana professional. . b. Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. c. dan rencana-rencana yang akan dibuat. Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky. dalam Shertzer & Stone. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik. 1951) a. b. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan. c. serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. c. d. Rumusan 4 (Smith. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. (Lewis. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. b. 1974). b. dalam Shertzer & Stone. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya. e. 1974) a. semakin maju. yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka.1974) a. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa.

Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. b. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). c. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. b. c. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. d. Rumusan 7 (Tolbert. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. 1959) a. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . b. Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. 1959) a. yaitu belajar memahami diri sendiri.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a. d. b. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. c. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri. dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. Rumusan 8 (Tolbert. Rumusan 6 (McDaniel. Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. e. 1969) . 1965) a. membuat rencana untuk masa depan.

penerimaan. c. kebebasan. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif. b. Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. d. motivasi. Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. b. dan potensi. Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. Semua rumusan. sebagai orang . Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. c. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. d. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. 1974) a. dan keterbukaan. baik langsung maupun tidak langsung.a. dan potensi-potensinya. b. pemahaman. yaitu sebagai berikut : a. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien). Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). e. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. dalam Shertzer& Stone. Rumusan 10 (lewis. motivasi.

. Dipihak lain. tentang perilaku-perilakunya. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. atau frustasi. Keduanya terlibat dalam memikirkan. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. f.yang lebih tua. dan banyak lagi tentang dirinya. gerakan-gerakan isyarat. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. teratasinya masalah yang dihadapi klien. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. pandangan mata. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. c. masalah. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. kebingungan. b. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. d. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. yaitu perubahan kearah yang lebih baik. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana. Berlainan dengan pembicaraan biasa. Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. sebagai orang yang lebih matang. yaitu konselor dank lien saling berbicara. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. tentang perasaan-perasaannya. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan.

Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”.e. B. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh. Istilah mana yang dipakai. penyuluhan atau konseling. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Istilah mana yang sebaiknya dipakai. Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling.

penyuluhan hokum. penggunaan pupuk. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. harus dimantapkan. khususnya petani. 1987).profesi tersebut. Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul. pemahaman. khususnya lingkungan sekolah. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia. seperti cara-cara bertanam. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. sikap dan keterampilan warga masyarakat. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan. antara penyuluhan gizi. pemahaman. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat. memilih bibit. pemberantasan hama dan sebagainya. berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. penyuluhan kesehatan. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. penyuluhan keluarga berencana. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau . khusus dikalangan persekolahan.

Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . Padahal.mungkin tidak dikenal disatu pihak. pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. Lebih jauh. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern. Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu. disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. misalnya penyuluhan pertanian. Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. Persamaanya memang ada. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. Sejak tahun 1980-an. penyuluh kesehatan dan sebagainya. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain.

yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. pemuda. seperti psikiater. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua.memakai nama asli dari luar negeri. Kedua. insinyur. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya. . Sayangnya. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling. Berdasarkan uraian singkat terebut. prinsip. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. kiranya perlu dipakai satu istilah. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. kalau memang ada. Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. kalau memang ada. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. atau dokter. Pengertian. istilah ini. psikiater. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. remaja. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. Pelayanan terhadap anak-anak. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. Pertama. manajer? Dalam hal ini. jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. sebenarnya akan baik juga. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. Istilah baru ini. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”.

pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada periode kedua. pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. Pada kedua periode ini. Pada periode ketiga. dan masyarakat. Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. Dalam kaitan itu. Pada tahap awal ini. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja.C. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. Perkembangan yang lebih lanjut . Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. lingkunga. yang umumnya disebut sebagai periode personian. terutama Amerika Serikat. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. 1975). Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson.

langkah-langkah. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. Berdasarkan uraian diatas secara praktis. tampak adanya dua arah yang berbeda. . Ia bahkan mengusulkan. Itu semua adalah pekerjaan konseling. 1975) secara tegas menolak konsep. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. teknik. yaitu konseling. Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling. Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Periode berikutnya. dengan keseluruhan totalitas perwujudannya.pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. serta segenap permasalahannya. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. yang satu dapat dibedakan dari yang lain. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. (Belkin. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. ditandai sebagai periode kelima. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling.

Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir). sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya.adalah pekerjaan konseling. Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . Dengan demikian. profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok. Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas. Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas. Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima). Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga).

1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna. (Tiedeman. D. . mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. serta keterampilan-keterampilan baru. padangan dan pemahaman-pemahaman. 1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. 1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. (Hamrin & Clifford. dalam Bernard & Fullmer. dalam Thompson & Rudolph. (Coleman. penyesuaianpenyesuaian. dalam McDaniel.Nasional). dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. dalam Jones. Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan.

Membuat penyesuaian-penyesuaian . dalam Bernard Fullmer. 1983). (Thompson dan Rudolph.Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph.Memberikan wawasan.Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif . …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. keterampilan dan alternative baru . dalam Thompson & Rudolph.Membuat pilihan-pilihan. 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford.Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel. dalam Bernard & Fullmer. dan pengembangan diri. pemahaman. Rumusan 5 (Coleman. 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna. dalam Jones 1951) Agar individu dapat : . .pengembangan kesadaran.Melakukan pengambilan keputusan. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : . dan penerimaan diri sendiri. 1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman. pengembangan pribadi. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : . penyembuhan.Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor . pengembangan kesadaran. pandangan. .Melakukan pemecahan masalah . (Myers. 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben.Memberikan dukungan .

Asas-asas Bimbingan dan Konseling . tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya). interpretasi. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.Mengembangkan penerimaan diri . serta masing-masing bersifat unik pula. Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. pandangan. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. penyesuaian.Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. intensitas. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya. dan sangkut-pautnya. pilihan.. dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut. dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. E. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan. pendidikan. sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. status sosial-ekonomi). Dalam kaitan ini.

yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. keterbukaan. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. kegiatan. Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. kekinian. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. sebaliknya. kebebasan. kemandirian. maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak. 1987).Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. pemahaman. penerimaan. ahli tangan. kedinamisan. dan keterbukaan. dan tut wuri handayani (Prayitno. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. kenormatifan. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. 1. keahlian. keterpaduan.

data. Apabila hal terakhir into terjadi. diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. 3. Sebaliknya. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan. Lebih jauh. serta mengungkapkan segenap fakta. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan. malahan lebih dari. baik dari pihak di terbimbing atau klien. maksudnya. menyampaikan masalah yang dihadapinya. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik.baiknya. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. mereka takut meminta bantuan. . maupun dari pihak konselor. 2. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan.

maka konselor hendaklah segera member bantuan. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain. maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. Dari pihak konselor. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini.Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada . pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. 5. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah. Dalam usaha yang bersifat pencegahan. 4.

yang bersifat monoton. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari.konselor. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. 6. yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. . Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling. 7. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien.

Disamping keterpaduan pada diri klien. norma adat. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma. teknik. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu). Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. 9. baik ditinjau dari norma agama. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Demikian pula prosedur. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan. maupun kebiasaan sehari-hari. 8. Ditilik dari permasalahan klien. konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. norma hukum/Negara. juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku.melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. . serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. norma ilmu. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. sesuatu yang lebih maju.

bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan. juga kepada pengalaman. sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Asas Tutwuri Handayani .10. Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. 11. tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai. 12. Oleh karena itu. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling. dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik.

Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. ing madya mangun karso”. cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. untuk. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien. Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan. Lebih-lebih di lingkungan sekolah. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling.

kemandirian. Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. hasil yang harus dicapai. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. keterbukaan. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. keahlian. Tugas . kualifikasi keahlian. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. minat dan nilai-nilai. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). kemampuan. mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. prosedur kerja. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. kekinian. kenormatifan. serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. yaitu asas kerahasiaan. keterpaduan. peranan konselor. dan tut wuri handayani. kegiatan.lain. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. kesukarelaan. ahli tangan.

dan berdasarkan norma-norma yang berlaku. dalam suasana asuhan. interaksi. nasihat. Yaitu : a. Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian. Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret. b. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri. Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling. dan gagasan.1. dengan mempergunakan bahan.

yang bersifat keahlian. berdasarkan norma-norma yang berlaku. (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. berdasarkan norma-norma yang berlaku. . untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. unik. Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha.Dengan demikian. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut. dan manusiawi. dengan cara yang laras. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a. Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2.

Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a.3. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. Pertimbangkanlah kembali. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan. istilah mana yang lebih tepat dipakai. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama. a. Bimbingan b. atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a. Bimbingan dan konseling c. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. atau b. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. konseling atau penyuluhan.

. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. (1987). laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. dan prestasi belajarnya rendah. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik. duduk di kelas I SMA di kota B. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. tetapi berlainan ibu. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika.Daftar Pustaka Prayitno. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. dia belajar di tempat tidurnya. sering melanggar tata tertib seklah. Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa. yaitu rata-rata diatas 6. siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri. KASUS II ES berumur 16 tahun. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. Di rumah. Siswa tersebut sering bolos.

dan suaranya tidak jelas terdengar. segan dan bahkan takut. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. sehingga tampak canggung. gemetar. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). siswa tersebut sangat pemalu. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. Terhadap guru. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. Dalam keluarganya. dia tampak gugup. An adalah satu-satunya yang perempuan. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya. ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. bahkan cenderung rendah. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. . Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. Di rumah. karena itu ibunya sering memanjakannya. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah.

kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. K pernah minggat dari rumah. . Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Demikian pula ibunya sering bepergian. disamping kasar. Dia suka berke. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. dan nilainya berantakan. apabila guru menegurnya. bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. berpangkat perwira menengah. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya.ahi dengan temantemannya. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. ayahnya jarang dirumah. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. Demikian juga terhadap gurunya. Ayahnya seorang anggota ABRI. semester ini ia jarang masuk sekolah. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal. Karena kesibukannya. Dia adalah siswa pindahan dari kota J. maka dia bereaksi dengan kasar. Di rumah. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. Oleh sebab itu. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. Mengetahui K seperti itu. Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan.

Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . Ternyata ia anak pandai. KASUS VIII Seorang siswa STM.Kurang minat pada IPA . bahkan seringkali shalat berjamaah. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya. laki-laki. Siswa tersebut mengalami kebimbangan. kedua tentang amarah orang tuanya.Prestasi belajar rendah . Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu. Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan. pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya. dia mendapat nilai merah. baik dirumah maupun di luar rumah. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan.KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P. Msekipun hidupnya agak kurang teratur. karena itu ia sangat dimanjakan. dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah.

Dimanjakan Moralitas : - . canggung.membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Pemalu.nilai-nilai jelek : .pendiam : : - Kasus III Individualitas : .Dimanjakan .Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .Sering bertengkar . kaku . kurang bergaul .Melanggar tata tertib .Sukar menyesuaikan diri .Kesulitan alat belajar Sosialitas : . taku.Prestasi belajar sangat rendah .Menyendiri.Gugup .Hasil belajar cenderung rendah : .Bentrok dengan guru : .Sosialitas Moralitas : .

Minggat .Nakal .Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Nilai di bawah rata-rata : .Kurus dan pucat Sosialitas : .Mendapat nilai merah : .Jarang masuk sekolah .Kasar terhadap orang lain .Tidak bebas Moralitas : .Mabuk-mabukan .Diperlakukan dangat keras .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Terlambat .Dimanjakan : - .Berlaku kasar : .Menyimpan ganja .Nilai rendah .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Suka berkelahi .

disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar.Khawatir nilai merosot : . Secara lebih laus. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . seperti. angka-angka rapor rendah. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar. Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. tidak naik kelas. tidak lulus ujian akhir. yang pada umumnya dapat digolongkan atas : . masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu.Tidak enak pada orang tua : : . (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar.Tidak lagi melakukan shalat D. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar.Religiusitas : . Secara umum. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. 1. dan sebagainya.

tes kemampuan dasar. membenci guru. dan pengamatan. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. Ketercepatan dalam belajar. d. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. b. e. yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. c. mengulur-ngulkur waktu. Keterlambatan akademik. seperti suka menunda-nunda tugas. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Sangat lambat dalam belajar. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. Kurang motivasi dalam belajar. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.a. tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. Siswa yang belum menguasai . yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.

Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. Tes Kemampuan Dasar . Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan. Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. atau dalam satu tingkatan kelas). Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9. dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali. yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar.bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas.

membaca buku.Di atas rata-rata . kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya.di bawah rata-rata .bodoh Di bawah 70 . Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM).Q. Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. Dalam banyak skala inteligensi.Normal atau rata-rata . Misalnya.Cerdas . Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC). Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. .Sangat cerdas . Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar. Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra. 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar. membuat catatan. Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS). Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. dalam hal mengerjakan tugastugas. Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar.sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya.Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu.

sikap terhadap guru. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa.F. . Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. Brown dan W. Holtzman (versi 1954 dan 1960).h. sikap dalam menerima pengajaran. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostic disusun. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing. dan sebaliknya. dibakukan. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung. Tujuannya sama. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan.Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. atau pemakaian rumus-rumus. makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara.

serta gerak dan suara. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. (c) peningkatan motivasi belajar. maket. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. 2. baik melalui tulisan. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. bentuk tiga dimensi yang berupa model. dan lain sebagainya. Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung.dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. film. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan. bentuk grafik atau gambar. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. (b) kegiatan pengayaan. . Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. atau rekaman video. Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka.

Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. bingung.a. Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. tidak tentera. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. dan pengajaran yang berprogram lainnya. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar. paket belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. Misalnya. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. b. cemas. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor. . dan sebagainya. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. bimbang. sistem pengajaran dengan modul. Dibandingkan dengan pengajaran biasa. karena bahan. Disamping itu.

Tingkah laku seperti kurang bersemangat. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. Disisi lain. Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. dan lain sebagainya. jera. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. jera. dan sebagainya. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian. tidak semangat. malas. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai. Sebaliknya. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. maka akan diperoleh berbagai jawaban. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat. tetapi menjadi pudar. Mereka cenderung menjadi patah hati. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. tetapi sebagian lagi mungkin belum. Guru. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai. untuk belajar. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . dan sebagainya. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. c.

1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. 4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur. mengecewakan. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. d. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya. . menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. membingungkan. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik. merangsang. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat. kemampuan dan minat siswa. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. dan menyenangkan. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. serta antara murid dan murid.

3) Mengatur waktu belajar. Konselor dapat membantu penyelenggaraan.3) Kata-kata. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik. dan rekreasi yang memadai. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. dan orang tua siswa. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. ungkapan-ungkapan. baik disekolah maupun dirumah. mengisi. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru. seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. kapan secara rinci. kapan membaca secara garis besar. Dalam hasil itu memang diharapkan . tidak teratur. Sebagaimana disebutkan terdahulu. kesehatan yang baik. penasihat dan penyumbang data. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. dan sebagainya. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. dan menunjang. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. terutama oleh guru-guru konselor. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. sedangkan konselor sebagai arstitek. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. teman atau siapa pun juga. Lebih jauh. misalnya. 4) Memilih waktu belajar yang baik.

baik dalam bentuk lpenyajian individual. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. “tes buatan guru” adalah sangat penting. ataupun kegiatan yang lainnya. baik di sekolah maupun diluar sekolah. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. minat. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. Dalam kaitan itu. E. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. baik layanan individual maupun kelompok. Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya. Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien.

apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa. Atau dengan kata lain. teknik dan teknologinya). mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. menerapkan. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya.menyeluruh. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. Di samping itu. Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. Sasaran (subjek penerima . perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. menghayati. pengentasan. serta bimbingan belajar. pencegahan. 1. sebagaimana telah disebutkan terdahulu. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. terarah. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. penempatan dan penyaluran. serta pemeliharaan dan pengembangan. Hal itu dapat dimengerti karena. terkontrol.

layanan). Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar. dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi. . Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. (b) keterbukaan. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. kondisi. Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. Munro dkk. tujuan. dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. dan (c) tanggung jawab pribadi klien. yaitu (a) kerahasiaan. Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. Layanan Lain.

wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. Sebagaimana telah dikemukakan di depan.Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. dan apapun yang menjadi persepsi. sebuah kondisi . danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. d. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. c. Dengan niat. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. b. maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. e. Lebih jauh. sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu. yaitu bahwa : a. rahmat.

konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). sambil tetap menjaga jarak. maupun kondisi hubungan itu sendiri. kondisi . agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. c. d. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain. b. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. standar atau hasil modifikasi. e. Sekali lagi format tersebut adalah format standar. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. arak. Format apa pun yang terbentuk. konselor. mimic. Klien dan konselor mudah bergerak. sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien. adat istiadat dan kebiasaan setempat.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. dan sikap duduk konselor dan klien. Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. Namun demikian. Format konseling meliputi terutama jarak. Suara. format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. baik ditinjau di sisi klien.

Analisis sebab-sebab timbulnya masalah. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. b. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. 2. Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu. Pemahaman masalah. d. Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. Apliakasi metode khusus. Tindak lanjut. Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis. c. Evaluasi. kondisi ruangan dan peralatan yang ada. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya.kosial budaya. e. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. dan kondisi konselor sendiri. unik. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien.

Oleh karena itu. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. merendahkan atau menyesalkan. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. data dalam cumulative record. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka. atau kata-kata yang mencemooh. “harus begini atau begitu”.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. tentang klien dan permasalahannya. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. efektivitas. “kok sampai begitu”. dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). “tidak boleh begini atau beitu”. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. dan efisiensi proses konseling. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih. . Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan.

bengga yang berlebihan atau sombong. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri. melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya. sebagaimana pernah disingung dimuka. seperti “anda sebenarnya memang hebat”. “anda tidak berdosa”. terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. masa bodoh. “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. dapat menggugah hati serta pikiran klien. dan lain sebagainya). Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. perasaan tersinggung. Tidak jarang terjadi. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. cemas. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata. Metode-metode khusus . setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya.menilai negative atau menyalahkan. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. sikap mempertahankan diri. Sebaliknya. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”. Klien telah amat terbantu. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya.

Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor.bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. dan konseling lebih lanjut. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan. sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. Konselor . samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. Labih jauh lagi. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri. Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. dan harapan-harapannya. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan. latihan bersikap dan bertindak. atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir. khususnya dengan masalah yang dihadapinya. lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. 1982). latihan merencana suatu kegiatan. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. desensitisasi. pemberian contoh. hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh.

klien . Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. dan yang lebih parah lagi. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi. dapat diidentifikasi lima tahap. klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya. dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. tidak menyukai konselor. maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. 3. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. Keefektifan pengentasan masalah. maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya.

terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua. Pesoalannya adalah. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. Kemungkinan yang lain adalah. maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. Namun keefektifan konseling tidak begitu saja. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. keefektifan konseling tidak akan terwujud. berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana. Namun. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. Kalau individu berhenti disana. Jangankan efektif. konseling dapat berjalan pun tidak. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri. Sebaliknya. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat .

Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. Dengan kata lain. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir.keefektifan konseling. apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. Setelah berakhirnya prose konseling. . pertanyaan yang masih tersisa ialah. Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling. Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien.

8. bahkan disana-sini bertolak belakang. 5. Aa A A F. 7. Aa I. 6. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. Aa G. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. dan konseling elektrik. yaitu pendekatan konseling direktif. terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan.4. J. masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. A H. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. K. A Aa . konseling non-direktif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->