Bimbingan Dan Konseling

`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai. Kemungkinan sebab : .Proses belajar-mengajar membosankan. .Merasa gagal dalam belajar.Gagal dalam ujian. Kemungkinan akibat : . .Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya.Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat. .Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya.Kurang berminat terhadap mata pelajaran. .Merasa dibeda-bedakan oleh guru. . . .Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai. .Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan. 6.Takut masuk karena tidak membuat tugas.Merasa kurang mendapatkan perhatian guru. Kemungkianan sebab : . . .Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. . .Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang. .Tidak naik kelas. . dan IV ) Gambaran yang terpeinci : . Terlambat masuk sekolah ( Kasus I.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos.Dikeluarkan dari sekolah.Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. .Jarak antara rumah dan sekolah jauh. .. .Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat.

. . . . membantu orang tua.Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah.Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran. 7.Nilai rendah. Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : . . . . . Kemungkinan akibat : . . .Mengalami kesulitan bahasa. .Hubungan dengan kawan sekelas terganggu.Kesulitan kendaraan. .Hubungan dengan guru terganggu. Kemungkinan sebab : .Kurang sehat.Terlambat bangun.Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara.Kurang mau berbicara atau bertegur sapa.Kegiatan di luar kelas tidak terkendali.Kurang akrab terhadap teman atau guru. . . ..Mengalami gangguan dengan organ bicara.Tidak naik kelas.Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas.Terlalu banyak kegiatan dirumah. . .Gangguan kesehatan.Malu atau takut pada orang lain.Berwatak introvert.Tidak menyukai suasana di sekolah.Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR). . . .Tidak ceria.

Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran. .Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain. . ... Kemungkinan sebab : . Kemungkinan akibat : . 8. Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . . .Tertinggal dalam pelajaran.Semangat belajar menurun.Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang.Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ). .Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu.Tugas-tugas tidak sesuai.Orang tua tidak mampu. .Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. . seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran. . Kemungkinan akibat : .Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan. .Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis.Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran.Nilai rendah. .

.Memperolokan. . .Pengendalian diri kurang.Sombong. .Tidak mau menerima pendapat orang lain.Sering salah paham dengan kawan.Hiperaktif. .Ditakuti kawan-kawannya. . . Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .9. .Dikeluarkan dari sekolah. 10.Kerasa jagoan.Mau menang sendiri. . .Tidak mau dilarang.Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah. .Berurusan dengan polisi. . mengejek dan menantang orang lain. .Nilai rendah.Tidak naik kelas.Luka.Seing terjadi salah paham dengan kawan. Kemungkinan akibat : .Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ).Tidak disukai kawan dan guru. Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : . . . . Kemungkinan Sebab : .Melalaikan pelajaran. .

gagap. Kemungkinan sebab : .Tidak mau menerima pendapat orang lain.Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya. .Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain.Suasana keluarga terlalu keras. gugup ( Kasus III. . tertekan. Kemungkinan sebab : . 11. . Pemalu.Curiga dan kurang percaya pada orang lain. .Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu.Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain.Sombong atau tinggi hati. . tidak bebas. takut.Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain. .Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain. kaku. . .Mau menang sendiri.Sering tertegun-tegun.Pergaulan sangat terbatas.Salah tingkah. dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : . . canggung. .Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain.Tidak pandai mengemukakan pendapat. . ..Terlalu perasa. .Diperlakukan terlalu keras.Berbicara tersendat-sendat. . . Kemungkinan akibat: .

12. . Kemungkinan sebab : .Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga.Ingin dipuji. anak tunggal. Kemungkinan akibat .Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya. .Pemboros dan suka berfoya-foya. seperti anak bungsu. . IV. . dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : . satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya.Kurang bertenggang rasa..Pergaulan terlalu bebas. . sangat pintar. . . tidak dapat dikendalikan. . satu-satunya laki-laki atau perempuan.Kurang bergaul. . sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang.Terlalu bebas. Kemungkinan akibat : .Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ).Sering ditakut-takuti. sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan. . tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya.Sosialitas kurang berkembang.Frustasi yang dalam.Tidak dapat mengatur diri sendiri. . sehingga sukar diharapkan mandiri.Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. . Dimanjakan ( Kasus III.Kurang memahami sopan santun dan aturan. bertindak semaunya sendiri. seperti sangat cantik.

. Menyendiri. 13.Tampak lemah. . tidak naik kelas.Suka termenung. . Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain. tidak lulus ujian.Seing memisahkan diri dari kawan.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil. harus patuh. ..Pendiam. duduk sendiri.Tudak ceria. .Rendah diri.Tingkah laku memang kekanak-kanakan. .Sukar menyesuaikan diri. . 14.Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain.Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok.Bersikap pemberontak. .Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut. digoda. .Kurang pandai bergaul.Perkembangan sosialitas terganggu. Kemungkinan sebab : . . . pendapatnya diremehkan.Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek. dipermainkan. Kemungkinan akibat : . ( khususnya orang yang lebih muda ). . tertutup. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : . atau tidak disenangi oleh orang lain.

Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya. malu.Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki.Suka mencaci maki orang lain.Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya. .Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya. kecewa. . . marah. Kemungkinan sebab : . . .Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga. . sedih.Merasa rendah diri.Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya.Perkembangan sosialitas terganggu. Berlaku kasar ( Kasus V. dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Tidak mau minta maaf. . . . 15. . .Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah. Kemungkinan akibat : .Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik. frustasi.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam.Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain. .Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain. .Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak. .Kemungkinan sebab : . .Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar.Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya.Diperlakukan terlalu keras.

.Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain. . kegagalan belajar.Merasa iri terhadap orang lain.Suka membaca buku cabul.Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal.Gangguan kepribadian/gangguan mental. .Dibenci orang lain.Mebuat coret-coret yang bernada cabul. .Sukar mencari teman bergaul. . .Membawa buku-buku cabul. .Kurang perhatian atau kurang kasih sayang. . .Suka mengintip. Kemungkinan sebab : . .Suka berkata cabul.Nilai rendah.Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya. Kemungkinan akibat : .Memamerkan alat kelamin kepada orang lain. dibenci oleh orang lain. dikelurkan dari sekolah. ..Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan. . . . Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : . 16. . tidak naik kelas. . .Frustasi karena kegagalan cinta.Mengalami penyimpangan seksual.Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ).Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang. Kemungkinan akibat : .Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. disisihkan dari lingkungan sosial.

tidak ceria. . terganggu. .Mengidap penyakit tertentu. . dikeluarkan dari sekolah. di hokum. lemah . makan tidak teratur dan kurang gizi. Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kebiasaan hidup tidak sehat. .Tidak suka berolah raga. Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . terutama dengan jenis kelamin lain. Kemungkinan sebab : .Sring kali dimarahi. . .Harus patuh pada perintah dan larangan. larangan dan hukuman malah diperkeras.Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Apabila yang bersangkutan bereaksi. . bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik.Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral.Kegiatan belajar terganggu.. seperti kurang tidur.Sering tidak enak badan (sakit). . .Hubungan dengan teman sebaya.Kurang bergairah.Kurang enak makan. . 17. tidak naik kelas. merokok. 18. .Nilai rendah. Kemungkinan akibat : .Berat badan merosot.

.Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain. . kehilangan inisiatif. . . . . sehingga reaksi orang lain menjadi keras.Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan.Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal. .Selalu dicurigai kemana akan pergi. tidak mengenal kelembutan. .Anti sosial.Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter.Orang tua atau guru yang otoriter.Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter. .Tidak diperbolehkan berpacaran. .Kemungkinan sebab : . .Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya.Harus tepat waktu pulang dari sekolah.Berteman harus disukai orang tua. 19. . .Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide. Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : . .Harus tinggal di rumah sepulang sekolah.Rendah diri. .Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua.Dilarang pergi kerumah teman. Kemungkinan akibat : .Mencari kompensasi. Kemungkinan sebab : . . .Menjadi pasrah. .Tidak diperbolehkan karyawisata.Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya.

Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya. . dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah. .Ingin mencoba ganja. . meskipun belum terlaksana. . . belum pernah diapa-apakan. .Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. Kemungkinan sebab : . dan mau diapakan atau dikemanakan.Timbul reaksi melawan dan menentang.Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah. .Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan. kurang percaya terhadap dirinya sendiri.Menyimpan daun ganja. . .Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya.Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya. . di bungkus rapi.Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal.Daun ganja itu baru sekedar disimpan. . . 20. Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kurang berani berpendapat. akan muncul perasaan rendah diri. . Kemungkinan akibat : .Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya.Tidak luwes dalam bergaul.Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar. . .Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini..Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah.

karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. . . . . . karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik. . kemudian pulang.Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter. .Kemungkinan akibat : .Dimarahi oleh orang tua. . . .Tidak betah dengan suasana rumah.Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya. .Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan.Menyembunyikan diri di tempat family.Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan.Dorongan teman untuk berontak.Tidak tahan akan kelakuan keluarga. .Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua. .Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja. . Kemungkinan akibat : . .Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya. . .Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi.Menjadi korban tindakan criminal.Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana.Terjerumus pada tempat-tempat maksiat.Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua.Keluarga menjadi risau.Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng. Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . 21. Kemungkinan sebab : .

Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. di luar rumah. . seperti agak “teller”. muntah. kekotoran.Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah. .Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan. . 23. dikeluarkan dari sekolah.Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas.Mengganggu teman dalam belajar. Kemungkinan akibat : . . .Sering minum-minuman sehingga mabuk. . dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu.Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari.Melawan kepada orang tua atau guru.22. . kegelapan. Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Berbuat demikian bersama “geng”-nya. .Berkelahi dengan teman.Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah. . tidak naik kelas. dan tidur berlama-lama. .Membuat coret-coretan pada dinding sekolah.Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh. Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . . Kemungkinan sebab : .Nilai rendah. .Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah.

Merasa tidak puas dengan lingkungannya.Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh.Menggangu ketentraman umum. Kemungkinan akibat : .Ingin di anggap jagoan. 24.Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal.Merusak keindahan lingkungan. .Jalannya peraturan sekolah terganggu.. .Mengakibatkan cidera fisik pada mereka. . .Peralatan sekolah rusak.Mencuri buah-buahan. . . seperti peraturan lalu lintas.Menguji identitas diri. .Disiplin yang terlalu keras. . . nilai-nilai dengan berbagai akibatnya. . peraturan sekolah. .Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan.Menjadi bahan pengujian orang lain.Terjerumus pada tindakan criminal. Merasa disepelekan oleh lingkungannya. Kemungkinan sebab : . .Dengan sengaja melanggar peraturan. .Kompensasi atas kekurangannya. .Berurusan dengan pihak yang berwajib.Mengganggu teman wanita.Kegiatan belajar terganggu. atau barang-barang lainnya.Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying. Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) . . . . .Ingin menarik perhatian orang lain. .

. .Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama.Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya.Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama.Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari. jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain. Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . .Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang. . . . atau bahkan melecehkan agama.Nilai pelajaran agama merah.Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas. Kemungkinan sebab : .Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah.Pelajaran agama kurang menarik.Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat.Gambaran yang lebih rinci : . . 25.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan. . . Kemungkinan akibat : .Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu. pengembangan religious terhambat.

Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik. .Hubungan antara orang tua semakin renggang. . Kemungkinan akibat : .Nilai-nilai keluarga semakin lemah. 26.Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat.Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua. . Kemungkinan akibat : .Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. .Orang tua terlalu keras memberikan teguran. .Tadinya rajin shalat. Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : .Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan . serta berhenti shalat secara tetap.Kemungkinan sebab : .Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu. .Anak semakin tidak menghormati orang tua. .Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur. sekarang tidak rajin. tapi anak tidak menghiraukannya. bahkan tidak shalat sama sekali. . Kemungkinan sebab : .

Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. Adalah suatu . Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka. Dalam kaitan itu. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya. dan akhirnya. Dilihat secara lebih lanjut. dua hal perlu mandapat perhatian utama. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. Sebagai contoh. “selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. pusing kepalanya perlu dihilangkan. Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu. (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan.C.

dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus. . Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat. Masalahnya sekarang ialah. Demikian. Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. (3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud.kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu. dan sebaliknya. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain. Sebagai gambaran umum.

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. (Lefever. membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. dalam Bernard & Fullmer. dalam Bernard & fullmer. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. laki-laki atau perempuan. (Crow & Crow. dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. dalam McDaniel. . 1969). (Bernard & fullmer. 1969). (Smith. 1959). 1959). Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi. (Mortensen & schmuller. tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna.Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. 1969). Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu.1960). yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik. dalam McDaciel. rencana-rencana. 1976). (Tiedeman. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna. (Mathewson.

Rumusan 3 (Chiskolm. dalam McDaniek. c. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. 1959) a. Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. Staffire & Stewart. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. dalam McDaniel. Bimbingan diberikan kepada anak muda. c. b. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). dalam Jones. Rumusan 4 (Lefever. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. 1970). e. b. b. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. c. d. jabatan. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. b. Bimbignan diberikan kepada individu. 1951) a. (Jones. dalam McDaniel. Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik. d. tetapi harus dikembangkan. Bimbingan membantu setiap individu. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. 1959) a. Bimbingan berusaha membantu individu. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan.Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bimbingan dilakukan secara sistematik. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri. 1959) a. .

Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. dan interpretasi-interpretasi. e. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. e. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. rencana-rencana. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara. . dalam Bernard & fullmer. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat. 1976) a. dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bimbingan itu diberikan kepada individu. 1959) a. e. 1960) a. d. c. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. Rumusan 7 (Tiederman. b.Rumusan 5 (Smith. c. b. b. b. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia. Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. 1969) a. c. dalam McDaniel. Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. Rumusan 6 (Crow & crow. c. d. d. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. kemampuan.

tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. b. sosial. Dalam memilih jalan hidupnya. d. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri. 1970) a. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. dalam Bernard & Fullmer) a. dkk. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. f. c. Rumusan 11 (Jones. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. dan pribadi. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan. seperti masalah-masalah pendidikan. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. Bimbingan ditekankan pada proses belajar. b. Bimbingan merupakan proses bantuan. . Bimbingan diberikan kepada individu.Rumusan 10 (Matehwson. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. e. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini.

Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. informasi tentang jabatan. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. tetapi meliputi semua usia. di sekolah. dan lainlain). mulai dari anak-anak. dan orang dewasa. di dalam keluarga. nasihat ataupun gagasan. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing. serta sumbersumber yang dimilikinya. dan lain-lain. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. 6. remaja. 4. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri.2. konselor maupun dari lingkungan. baik perseorangan maupun kelompok. data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan. sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. . yang dihadapinya. Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan. Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi. 3. Dalam kaitan ini. interaksi. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. sumbanagn. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. hadiah. dan di luar sekolah. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja. dan akhirnya dapat mencapai 5. Bantuan itu diberikan kepada individu. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor).

baik bentuk. berdasarkan norma-norma yang berlaku. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Dalam kaitan ini. istilah konseling berasal dari bahasa latin. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. 2. isi dan tujuan. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon. baik anak-anak. 8. Ebagaimana istilah . sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain. Norma tersebut berupa berbagai aturan. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. maupun dewasa. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat. remaja. Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut. dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan. upaya bimbingan. 9. hokum. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama. Pengertian Konseling Secara etimologis. adat.7.

(Smith. (Maclean. yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. 1974). (b) terjadi dalam suasana yang professional. (Jones. Sherzer & Stone. (Pepinsky & Pepinsky. (Division of Conseling Psychology). Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. rencana. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu. proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. 1951). dalam Sherzer & Stone. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan. 1974). masing-masing disebut konselor dank lien. dalam Shertzer & Stone.bimbingan. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. 1974). Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya.

secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah.. (Bernard & Fullmer. 1974). rencana. keadaanya sekarang. menyediakan situasi belajar. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. (A. atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. dalam Shertzer & Stone. demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. (Blocher. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. selanjutnya. dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. . English. (Tolbert. dalam Shertzer & Stone. 1956). (McDaniel. … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. 1969). motivasi. 1959). 1974). Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating.C.

b. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. Dilakukan oleh orang ahli (professional). Dilakukan dalam suasana professional. Rumusan 3 (Mclean.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky. Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. e. Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu. masingmasing disebut konselor dan klien. (Lewis. dalam Shertzer & Stone. dalam Shertzer & Stone. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya. dalam Shertzer & Stone. d. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. Rumusan 4 (Smith. 1974).1974) a. c. c. . semakin maju. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan. c. 1974) a. dan rencana-rencana yang akan dibuat. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. 1974) a. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik. serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. dalam Shertzer & Stone. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. b. b. 1951) a. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa. yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. b.

Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. b. d. Rumusan 7 (Tolbert. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. e. dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. 1969) . 1959) a. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. c. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. c. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). d. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. yaitu belajar memahami diri sendiri. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. b. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. membuat rencana untuk masa depan. Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. b. c. 1959) a. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri. b. Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. Rumusan 6 (McDaniel. Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a. Rumusan 8 (Tolbert. 1965) a. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya.

c. Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. 1974) a. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. dan potensi.a. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. motivasi. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. Rumusan 10 (lewis. kebebasan. motivasi. Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif. Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. b. b. e. b. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien). d. dalam Shertzer& Stone. sebagai orang . pemahaman. yaitu sebagai berikut : a. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. c. Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. dan keterbukaan. baik langsung maupun tidak langsung. Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. penerimaan. Semua rumusan. dan potensi-potensinya. d.

d. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. sebagai orang yang lebih matang. . pandangan mata. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan.yang lebih tua. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. f. atau frustasi. yaitu konselor dank lien saling berbicara. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. dan banyak lagi tentang dirinya. c. teratasinya masalah yang dihadapi klien. kebingungan. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. gerakan-gerakan isyarat. masalah. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. b. Keduanya terlibat dalam memikirkan. Dipihak lain. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. tentang perilaku-perilakunya. Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. Berlainan dengan pembicaraan biasa. tentang perasaan-perasaannya. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung.

yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”. penyuluhan atau konseling. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. B. penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh. Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien. Istilah mana yang dipakai. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri.e. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . Istilah mana yang sebaiknya dipakai. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa.

Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. penyuluhan kesehatan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. seperti cara-cara bertanam. 1987). khususnya petani. pemberantasan hama dan sebagainya. yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia. pemahaman. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. khusus dikalangan persekolahan. sikap dan keterampilan warga masyarakat. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau .profesi tersebut. penyuluhan keluarga berencana. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. penyuluhan hokum. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. harus dimantapkan. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat. antara penyuluhan gizi. khususnya lingkungan sekolah. Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan. pemahaman. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. memilih bibit. penggunaan pupuk. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an.

Sejak tahun 1980-an. Persamaanya memang ada. Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. Padahal. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air. misalnya penyuluhan pertanian. pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. Lebih jauh. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan. penyuluh kesehatan dan sebagainya. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi.mungkin tidak dikenal disatu pihak. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern.

Pengertian. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. Berdasarkan uraian singkat terebut. psikiater. Pelayanan terhadap anak-anak. kiranya perlu dipakai satu istilah. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. Istilah baru ini. . jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. seperti psikiater. prinsip. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. manajer? Dalam hal ini. yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. sebenarnya akan baik juga. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. kalau memang ada. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling. kalau memang ada. remaja. Pertama. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”. demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua. Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. Kedua. atau dokter.memakai nama asli dari luar negeri. istilah ini. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. insinyur. pemuda. Sayangnya. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor.

Dalam kaitan itu. terutama Amerika Serikat. yang umumnya disebut sebagai periode personian. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. Perkembangan yang lebih lanjut . pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan.C. Pada kedua periode ini. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju. dan masyarakat. pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. 1975). gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. Pada periode ketiga. Pada periode kedua. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan. lingkunga. pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. Pada tahap awal ini.

daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. yaitu konseling. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. (Belkin. Ia bahkan mengusulkan. ditandai sebagai periode kelima. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik.pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. langkah-langkah. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama. Periode berikutnya. tampak adanya dua arah yang berbeda. Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. dengan keseluruhan totalitas perwujudannya. Berdasarkan uraian diatas secara praktis. . 1975) secara tegas menolak konsep. serta segenap permasalahannya. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. Itu semua adalah pekerjaan konseling. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. yang satu dapat dibedakan dari yang lain. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling. teknik. Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling.

profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok.adalah pekerjaan konseling. Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir). Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima). Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas. Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas. Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga). Dengan demikian.

1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. (Hamrin & Clifford. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. penyesuaianpenyesuaian. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. dalam McDaniel. 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. padangan dan pemahaman-pemahaman. (Coleman. dalam Thompson & Rudolph. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. dalam Jones. dalam Bernard & Fullmer. (Tiedeman. namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling. .Nasional). Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. 1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. serta keterampilan-keterampilan baru. mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. D. 1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna.

keterampilan dan alternative baru .Melakukan pengambilan keputusan.Membuat penyesuaian-penyesuaian .Memberikan dukungan . 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna. 1983).Melakukan pemecahan masalah . 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : . pandangan. 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben. dalam Bernard Fullmer. pemahaman. penyembuhan.Membuat pilihan-pilihan. …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. 1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman. (Thompson dan Rudolph. dan penerimaan diri sendiri.Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel. pengembangan pribadi. Rumusan 5 (Coleman.pengembangan kesadaran.Memberikan wawasan. . (Myers. dan pengembangan diri. dalam Thompson & Rudolph. dalam Bernard & Fullmer.Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif . 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : . dalam Jones 1951) Agar individu dapat : . 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford. .Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor .Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph. pengembangan kesadaran.

intensitas. serta masing-masing bersifat unik pula. Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. pilihan. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu.. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan. status sosial-ekonomi). serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. dan sangkut-pautnya.Mengembangkan penerimaan diri . Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut. tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya).Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. Dalam kaitan ini. sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. pandangan. Asas-asas Bimbingan dan Konseling . menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. E. pendidikan. interpretasi. penyesuaian. 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya.

Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. kekinian. dan tut wuri handayani (Prayitno. kemandirian. penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. ahli tangan. keterpaduan. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). 1987). sebaliknya. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak. penerimaan. kebebasan. kedinamisan. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. 1. terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. pemahaman. kenormatifan. keterbukaan. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. dan keterbukaan. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. kegiatan. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan. keahlian.

Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar.baiknya. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. mereka takut meminta bantuan. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan. menyampaikan masalah yang dihadapinya. data. Apabila hal terakhir into terjadi. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. serta mengungkapkan segenap fakta. baik dari pihak di terbimbing atau klien. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. 3. . malahan lebih dari. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. maupun dari pihak konselor. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. Sebaliknya. 2. maksudnya. Lebih jauh. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan.

Dari pihak konselor.Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. 4. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. Dalam usaha yang bersifat pencegahan. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada . 5. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain. maka konselor hendaklah segera member bantuan. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini.

yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. 7. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. . Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. 6.konselor. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. yang bersifat monoton. minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri.

Untuk terselenggaranya asas keterpaduan.melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma. baik ditinjau dari norma agama. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. Disamping keterpaduan pada diri klien. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu). norma ilmu. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. sesuatu yang lebih maju. maupun kebiasaan sehari-hari. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. 9. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien. Ditilik dari permasalahan klien. norma hukum/Negara. Demikian pula prosedur. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. teknik. . 8. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. norma adat. serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku.

dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Asas Tutwuri Handayani . 11. sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik. maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. juga kepada pengalaman. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai.10. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan. bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. 12. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). Oleh karena itu. asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II.

untuk. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. ing madya mangun karso”. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien. Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Lebih-lebih di lingkungan sekolah. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan.

Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. hasil yang harus dicapai.lain. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. keterbukaan. kemampuan. keterpaduan. mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. kegiatan. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). Tugas . kesukarelaan. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. yaitu asas kerahasiaan. kekinian. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. kenormatifan. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. ahli tangan. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. kemandirian. minat dan nilai-nilai. prosedur kerja. jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. kualifikasi keahlian. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. keahlian. dan tut wuri handayani. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. peranan konselor. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus.

Yaitu : a. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . dan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling. Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret. b.1. dalam suasana asuhan. dengan mempergunakan bahan. dan gagasan. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian. interaksi. pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri. nasihat.

unik. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut.Dengan demikian. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2. . (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi. pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha. berdasarkan norma-norma yang berlaku. dengan cara yang laras. Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut. Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. dan manusiawi. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a. berdasarkan norma-norma yang berlaku. yang bersifat keahlian.

atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya. Bimbingan b. istilah mana yang lebih tepat dipakai. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. Pertimbangkanlah kembali. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5. istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. a. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a.3. konseling atau penyuluhan. Bimbingan dan konseling c. atau b. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya.

siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. yaitu rata-rata diatas 6. Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika. duduk di kelas I SMA di kota B. . dia belajar di tempat tidurnya. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Di rumah. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama.Daftar Pustaka Prayitno. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. (1987). dan prestasi belajarnya rendah. Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. tetapi berlainan ibu. laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. Siswa tersebut sering bolos. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. KASUS II ES berumur 16 tahun. Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa. sering melanggar tata tertib seklah.

Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil. dan suaranya tidak jelas terdengar. siswa tersebut sangat pemalu. dia tampak gugup.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terhadap guru. gemetar. Di rumah. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah. . ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. bahkan cenderung rendah. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya. karena itu ibunya sering memanjakannya. Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. An adalah satu-satunya yang perempuan. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial. Dalam keluarganya. sehingga tampak canggung. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. segan dan bahkan takut.

Ayahnya seorang anggota ABRI. K pernah minggat dari rumah. Di rumah. kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. semester ini ia jarang masuk sekolah. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. dan nilainya berantakan. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. maka dia bereaksi dengan kasar. Demikian juga terhadap gurunya. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. Demikian pula ibunya sering bepergian. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. Dia adalah siswa pindahan dari kota J. ayahnya jarang dirumah. .ahi dengan temantemannya. Mengetahui K seperti itu. apabila guru menegurnya. berpangkat perwira menengah. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Dia suka berke. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Oleh sebab itu. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal. Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. disamping kasar. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. Karena kesibukannya. Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara.

KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P. Ternyata ia anak pandai. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. Msekipun hidupnya agak kurang teratur. karena itu ia sangat dimanjakan.Prestasi belajar rendah .Kurang minat pada IPA . bahkan seringkali shalat berjamaah. Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . kedua tentang amarah orang tuanya. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan. dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah. KASUS VIII Seorang siswa STM. dia mendapat nilai merah. pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu. merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya. Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya. Siswa tersebut mengalami kebimbangan. baik dirumah maupun di luar rumah. Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. laki-laki.

pendiam : : - Kasus III Individualitas : .Prestasi belajar sangat rendah .nilai-nilai jelek : .membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Dimanjakan Moralitas : - .Sering bertengkar . kaku .Sosialitas Moralitas : .Dimanjakan .Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .Menyendiri. kurang bergaul . taku.Sukar menyesuaikan diri .Pemalu. canggung.Kesulitan alat belajar Sosialitas : .Melanggar tata tertib .Gugup .Hasil belajar cenderung rendah : .Bentrok dengan guru : .

Kurus dan pucat Sosialitas : .Nilai di bawah rata-rata : .Terlambat .Berlaku kasar : .Mendapat nilai merah : .Suka berkelahi .Nakal .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Diperlakukan dangat keras .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Menyimpan ganja .Minggat .Tidak bebas Moralitas : .Nilai rendah .Kasar terhadap orang lain .Jarang masuk sekolah .Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Dimanjakan : - .Mabuk-mabukan .

dan sebagainya. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. Secara umum.Religiusitas : . seperti. (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar.Tidak enak pada orang tua : : .Khawatir nilai merosot : . 1. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar.Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . yang pada umumnya dapat digolongkan atas : . Secara lebih laus. Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. angka-angka rapor rendah.Tidak lagi melakukan shalat D. disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah. masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. tidak lulus ujian akhir. tidak naik kelas.

yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. membenci guru. c. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. tes kemampuan dasar. b. tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. e. dan pengamatan. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. Kurang motivasi dalam belajar. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. Keterlambatan akademik. yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. Sangat lambat dalam belajar. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. Siswa yang belum menguasai . Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Ketercepatan dalam belajar. seperti suka menunda-nunda tugas.a. mengulur-ngulkur waktu. d.

Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali. Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. Tes Kemampuan Dasar . dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas. atau dalam satu tingkatan kelas). disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran.bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9. yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai.

Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra. Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM). membuat catatan.sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya.Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar.Sangat cerdas . Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC). Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya. dalam hal mengerjakan tugastugas.Normal atau rata-rata .bodoh Di bawah 70 . Dalam banyak skala inteligensi.Cerdas . membaca buku.Q. kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I. 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar.Di atas rata-rata . Misalnya. Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar. . Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas.di bawah rata-rata . Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS).

h. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. dibakukan. Holtzman (versi 1954 dan 1960). Tujuannya sama. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus. sikap dalam menerima pengajaran. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa. serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu.F. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing. sikap terhadap guru. makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. .Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. atau pemakaian rumus-rumus. Apabila tes diagnostic disusun. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. Brown dan W. dan sebaliknya.

dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. baik melalui tulisan. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. (c) peningkatan motivasi belajar. maket. atau rekaman video. Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. serta gerak dan suara. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. dan lain sebagainya. dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. . bentuk grafik atau gambar. bentuk tiga dimensi yang berupa model.dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). film. Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. (b) kegiatan pengayaan. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung. Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. 2. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut.

maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. Misalnya. Disamping itu. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. dan pengajaran yang berprogram lainnya. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. dan sebagainya. paket belajar. sistem pengajaran dengan modul. bingung. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. b. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor.a. Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. karena bahan. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. bimbang. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. tidak tentera. Dibandingkan dengan pengajaran biasa. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. . cemas.

dan sebagainya. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. tidak semangat.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. Disisi lain. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar. tetapi menjadi pudar. dan lain sebagainya. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai. c. tetapi sebagian lagi mungkin belum. jera. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. malas. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. Sebaliknya. jera. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian. maka akan diperoleh berbagai jawaban. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . dan sebagainya. Guru. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. untuk belajar. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. Tingkah laku seperti kurang bersemangat. Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. Mereka cenderung menjadi patah hati. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai.

lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. d. kemampuan dan minat siswa. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya. 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. merangsang. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik.1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. serta antara murid dan murid. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. . dan menyenangkan. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. membingungkan. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. 4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. mengecewakan.

teman atau siapa pun juga. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. dan menunjang. tidak teratur. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. kapan secara rinci. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. sedangkan konselor sebagai arstitek. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. Lebih jauh. Dalam hasil itu memang diharapkan . kesehatan yang baik. misalnya. kapan membaca secara garis besar. seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. 3) Mengatur waktu belajar. 4) Memilih waktu belajar yang baik. Sebagaimana disebutkan terdahulu. dan rekreasi yang memadai. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. mengisi. Konselor dapat membantu penyelenggaraan. Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. ungkapan-ungkapan. baik disekolah maupun dirumah. dan sebagainya. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman.3) Kata-kata. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. terutama oleh guru-guru konselor. dan orang tua siswa. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik. penasihat dan penyumbang data.

sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien. E. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja. konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya. baik layanan individual maupun kelompok. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. minat. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. ataupun kegiatan yang lainnya. Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. “tes buatan guru” adalah sangat penting. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. baik dalam bentuk lpenyajian individual. baik di sekolah maupun diluar sekolah. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. Dalam kaitan itu.

mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. menghayati. serta pemeliharaan dan pengembangan. apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya. Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). Sasaran (subjek penerima . maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. Di samping itu. terkontrol. Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. sebagaimana telah disebutkan terdahulu. serta bimbingan belajar. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi.menyeluruh. terarah. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. teknik dan teknologinya). menerapkan. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. Atau dengan kata lain. Hal itu dapat dimengerti karena. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa. penempatan dan penyaluran. pengentasan. perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. pencegahan. 1. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya.

Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar. yaitu (a) kerahasiaan. kondisi. (b) keterbukaan. . tujuan. dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. Layanan Lain.layanan). (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. Munro dkk. dan (c) tanggung jawab pribadi klien. dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling.

sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling.Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor. dan apapun yang menjadi persepsi. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. d. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. c. rahmat. sebuah kondisi . Lebih jauh. yaitu bahwa : a. wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. Dengan niat. e. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. Sebagaimana telah dikemukakan di depan. b. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu.

serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). kondisi . arak. konselor. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. c. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. standar atau hasil modifikasi. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien. dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. sambil tetap menjaga jarak. Suara. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain. agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. b. e. Klien dan konselor mudah bergerak. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain. Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. mimic. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. Namun demikian. maupun kondisi hubungan itu sendiri. d. adat istiadat dan kebiasaan setempat.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. Sekali lagi format tersebut adalah format standar. dan sikap duduk konselor dan klien. baik ditinjau di sisi klien. Format apa pun yang terbentuk. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. Format konseling meliputi terutama jarak.

Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. c. Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis. unik. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. Tindak lanjut. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. e. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. b. d.kosial budaya. Pemahaman masalah. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah. Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. kondisi ruangan dan peralatan yang ada. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . Evaluasi. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu. Apliakasi metode khusus. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. 2. dan kondisi konselor sendiri.

Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. efektivitas. Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. atau kata-kata yang mencemooh. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. “harus begini atau begitu”. namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan. merendahkan atau menyesalkan. Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka. tentang klien dan permasalahannya. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. Oleh karena itu. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. “kok sampai begitu”. dan efisiensi proses konseling. “tidak boleh begini atau beitu”. . data dalam cumulative record.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga.

Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. masa bodoh. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. Tidak jarang terjadi. cemas. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah.menilai negative atau menyalahkan. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata. dan lain sebagainya). “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”. terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. bengga yang berlebihan atau sombong. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. Klien telah amat terbantu. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri. perasaan tersinggung. Sebaliknya. sebagaimana pernah disingung dimuka. titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. sikap mempertahankan diri. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. seperti “anda sebenarnya memang hebat”. Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya. Metode-metode khusus . “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. “anda tidak berdosa”. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. dapat menggugah hati serta pikiran klien. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”.

ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri. Konselor .bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. dan konseling lebih lanjut. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan. 1982). atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir. pemberian contoh. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. Labih jauh lagi. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. desensitisasi. samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor. latihan bersikap dan bertindak. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. khususnya dengan masalah yang dihadapinya. latihan merencana suatu kegiatan. hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja. dan harapan-harapannya.

Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana. Keefektifan pengentasan masalah. Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. tidak menyukai konselor. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi. dapat diidentifikasi lima tahap. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). dan yang lebih parah lagi. klien . maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. 3.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama.

Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. Pesoalannya adalah. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. keefektifan konseling tidak akan terwujud. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri. Kemungkinan yang lain adalah. Jangankan efektif. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. Kalau individu berhenti disana. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. konseling dapat berjalan pun tidak. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri. Namun keefektifan konseling tidak begitu saja.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana. Sebaliknya. bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. Namun. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat .

Dengan kata lain. apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling.keefektifan konseling. hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir. . dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. Setelah berakhirnya prose konseling. Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. pertanyaan yang masih tersisa ialah.

5. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. konseling non-direktif. dan konseling elektrik. A H. Aa A A F. yaitu pendekatan konseling direktif. J. Aa G. 7. Aa I. A Aa .4. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. bahkan disana-sini bertolak belakang. 6. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. K. 8. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan. masing-masing memiliki pandangan yang berbeda.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful