`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat. . . . .Merasa dibeda-bedakan oleh guru.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos.Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. . .Proses belajar-mengajar membosankan.Takut masuk karena tidak membuat tugas. Kemungkinan sebab : . . Kemungkianan sebab : . . . .Merasa kurang mendapatkan perhatian guru.Tidak naik kelas. dan IV ) Gambaran yang terpeinci : .Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat. Kemungkinan akibat : .Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan.Dikeluarkan dari sekolah. .Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. Terlambat masuk sekolah ( Kasus I.Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai. .Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai. .Jarak antara rumah dan sekolah jauh. .Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya. 6.Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang.Merasa gagal dalam belajar.Gagal dalam ujian..Kurang berminat terhadap mata pelajaran. . .Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya. .

.Terlalu banyak kegiatan dirumah.Berwatak introvert. Kemungkinan sebab : . .Gangguan kesehatan.Kurang akrab terhadap teman atau guru.Mengalami gangguan dengan organ bicara. Kemungkinan akibat : . . .Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran. . . membantu orang tua.Nilai rendah.Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas.Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara. . . .Tidak ceria. . . .Kurang mau berbicara atau bertegur sapa.Hubungan dengan kawan sekelas terganggu.Tidak menyukai suasana di sekolah. . .Kurang sehat. . . .Kegiatan di luar kelas tidak terkendali.Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah.Hubungan dengan guru terganggu. . 7.Mengalami kesulitan bahasa. .. .Malu atau takut pada orang lain. Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : .Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR).Terlambat bangun.Kesulitan kendaraan.Tidak naik kelas.

. .Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan.Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. Kemungkinan sebab : .Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain.Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis.Tertinggal dalam pelajaran.Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu. . seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran.Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang. . . Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . .Nilai rendah.. .Tugas-tugas tidak sesuai.Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran. 8. .Semangat belajar menurun.Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.Orang tua tidak mampu..Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran. . . Kemungkinan akibat : . . Kemungkinan akibat : .Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ).

.Nilai rendah. .Dikeluarkan dari sekolah.Hiperaktif. . Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : . .Mau menang sendiri.Sering salah paham dengan kawan.Tidak disukai kawan dan guru.Memperolokan. . Kemungkinan Sebab : . . .Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah.Berurusan dengan polisi.9. .Tidak mau dilarang. .Ditakuti kawan-kawannya.Kerasa jagoan.Seing terjadi salah paham dengan kawan.Tidak mau menerima pendapat orang lain. . . mengejek dan menantang orang lain.Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ). . . Kemungkinan akibat : . . . . 10. Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Pengendalian diri kurang. .Sombong.Melalaikan pelajaran.Luka.Tidak naik kelas.

Pergaulan sangat terbatas. dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : . .Tidak pandai mengemukakan pendapat.Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain. . . .Salah tingkah. Kemungkinan sebab : .Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain. .Sombong atau tinggi hati. . . . .Mau menang sendiri.Diperlakukan terlalu keras.Terlalu perasa. tidak bebas.Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain. Pemalu. . .Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain.Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya. .Curiga dan kurang percaya pada orang lain.Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu. . takut. . tertekan. gagap. kaku. Kemungkinan sebab : . gugup ( Kasus III.Tidak mau menerima pendapat orang lain. canggung.Sering tertegun-tegun.Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain.Suasana keluarga terlalu keras. Kemungkinan akibat: .Berbicara tersendat-sendat.. 11. .

Tidak dapat mengatur diri sendiri. . .Kurang bertenggang rasa. satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya.Frustasi yang dalam.Pergaulan terlalu bebas. anak tunggal.Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. Kemungkinan akibat . tidak dapat dikendalikan. seperti anak bungsu.Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ).Ingin dipuji. seperti sangat cantik. . sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang. Kemungkinan sebab : . sangat pintar. bertindak semaunya sendiri. Kemungkinan akibat : . sehingga sukar diharapkan mandiri. Dimanjakan ( Kasus III.Sering ditakut-takuti. .Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga. . . 12. IV.. satu-satunya laki-laki atau perempuan. tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya. .Terlalu bebas.Kurang memahami sopan santun dan aturan.Sosialitas kurang berkembang.Kurang bergaul. sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.Pemboros dan suka berfoya-foya. . dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : . . . .Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya. .

digoda. . tidak naik kelas. .Tudak ceria. tidak lulus ujian. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : .Suka termenung.Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok. . . . dipermainkan. Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Tampak lemah. . pendapatnya diremehkan. 14. .Seing memisahkan diri dari kawan. .Pendiam. sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain.Sukar menyesuaikan diri.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil. Menyendiri.Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain.Bersikap pemberontak. .. ( khususnya orang yang lebih muda ). Kemungkinan akibat : .Kurang pandai bergaul. atau tidak disenangi oleh orang lain.Rendah diri.Tingkah laku memang kekanak-kanakan. harus patuh. .Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut.Perkembangan sosialitas terganggu. tertutup. 13. duduk sendiri. . .Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek. Kemungkinan sebab : .

Perkembangan sosialitas terganggu. . .Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik.Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya. 15.Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak. kecewa.Diperlakukan terlalu keras.Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain. malu.Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah. . . Kemungkinan sebab : . .Kemungkinan sebab : . dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya. . . .Suka mencaci maki orang lain. Berlaku kasar ( Kasus V. .Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar.Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain. marah.Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya. Kemungkinan akibat : .Merasa rendah diri. .Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya.Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki. . . frustasi.Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga. . .Tidak mau minta maaf. sedih.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam. .Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya.

. . .Membawa buku-buku cabul.Merasa iri terhadap orang lain. Kemungkinan sebab : .Mebuat coret-coret yang bernada cabul.. dikelurkan dari sekolah. .Nilai rendah.Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain.Kurang perhatian atau kurang kasih sayang. disisihkan dari lingkungan sosial.Memamerkan alat kelamin kepada orang lain.Suka membaca buku cabul. . . . . tidak naik kelas.Mengalami penyimpangan seksual.Dibenci orang lain.Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya. . .Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ). Kemungkinan akibat : .Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan. Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : .Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang. 16. Kemungkinan akibat : .Suka mengintip. dibenci oleh orang lain.Gangguan kepribadian/gangguan mental. .Sukar mencari teman bergaul. .Suka berkata cabul. . . .Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal. . kegagalan belajar. .Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya.Frustasi karena kegagalan cinta.

terganggu.Apabila yang bersangkutan bereaksi.Hubungan dengan teman sebaya. di hokum. Kemungkinan sebab : .Nilai rendah. Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . . .Kegiatan belajar terganggu. larangan dan hukuman malah diperkeras. . merokok.Kebiasaan hidup tidak sehat.Kurang bergairah.Berat badan merosot.Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral. tidak naik kelas. makan tidak teratur dan kurang gizi.Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya. 18. lemah . tidak ceria. 17. bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik.Harus patuh pada perintah dan larangan.Tidak suka berolah raga.Sering tidak enak badan (sakit). ..Mengidap penyakit tertentu.Sring kali dimarahi. Kemungkinan akibat : . . seperti kurang tidur. . . . dikeluarkan dari sekolah. . . . Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kurang enak makan. terutama dengan jenis kelamin lain.

.Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya. . . .Harus tinggal di rumah sepulang sekolah. .Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter.Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain.Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua.Orang tua atau guru yang otoriter. . kehilangan inisiatif. tidak mengenal kelembutan. .Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal.Tidak diperbolehkan karyawisata.Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide.Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan. . .Mencari kompensasi. .Kemungkinan sebab : . .Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya. . .Rendah diri.Berteman harus disukai orang tua.Dilarang pergi kerumah teman.Selalu dicurigai kemana akan pergi.Tidak diperbolehkan berpacaran. . Kemungkinan sebab : . . . 19.Anti sosial.Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter. . Kemungkinan akibat : .Menjadi pasrah. sehingga reaksi orang lain menjadi keras. Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : .Harus tepat waktu pulang dari sekolah. .

meskipun belum terlaksana.Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. Kemungkinan akibat : .Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya.Ingin mencoba ganja.Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya. .Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah. kurang percaya terhadap dirinya sendiri. . . belum pernah diapa-apakan.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar. Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Daun ganja itu baru sekedar disimpan. . dan mau diapakan atau dikemanakan. . . Kemungkinan sebab : .. .Timbul reaksi melawan dan menentang. 20. di bungkus rapi. .Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal.Menyimpan daun ganja.Kurang berani berpendapat. .Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya. dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah.Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya.Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya. . . . akan muncul perasaan rendah diri.Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan.Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini.Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah. . . .Tidak luwes dalam bergaul.

kemudian pulang. karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. . . . Kemungkinan akibat : . . . . . Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Keluarga menjadi risau. .Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya. . 21. karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik.Dimarahi oleh orang tua.Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan. . . .Kemungkinan akibat : .Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua.Menjadi korban tindakan criminal. .Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter. .Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana. .Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan.Terjerumus pada tempat-tempat maksiat.Menyembunyikan diri di tempat family.Tidak tahan akan kelakuan keluarga. Kemungkinan sebab : .Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua.Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng.Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi.Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya.Tidak betah dengan suasana rumah. .Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja. .Dorongan teman untuk berontak.Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.

23.Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. .Mengganggu teman dalam belajar.Sering minum-minuman sehingga mabuk. Kemungkinan akibat : . .Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari. . . muntah. Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah. dan tidur berlama-lama.Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan. dikeluarkan dari sekolah. di luar rumah. seperti agak “teller”. kekotoran.Berbuat demikian bersama “geng”-nya. . kegelapan. . .Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh. tidak naik kelas. dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu.Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah.22. . Kemungkinan sebab : . Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Membuat coret-coretan pada dinding sekolah. . .Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah.Nilai rendah.Melawan kepada orang tua atau guru. .Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas.Berkelahi dengan teman.

Menggangu ketentraman umum. .Menguji identitas diri.Mencuri buah-buahan.Ingin di anggap jagoan. peraturan sekolah.Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh.Merusak keindahan lingkungan. .Kompensasi atas kekurangannya.Mengakibatkan cidera fisik pada mereka. nilai-nilai dengan berbagai akibatnya. .Mengganggu teman wanita.Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal. Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) . Kemungkinan sebab : . . .Ingin menarik perhatian orang lain. .Kegiatan belajar terganggu. .Berurusan dengan pihak yang berwajib. seperti peraturan lalu lintas.Disiplin yang terlalu keras.Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan. . Merasa disepelekan oleh lingkungannya. .Jalannya peraturan sekolah terganggu. .Merasa tidak puas dengan lingkungannya. . . 24.Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying. . . ..Dengan sengaja melanggar peraturan.Peralatan sekolah rusak. atau barang-barang lainnya. . . . Kemungkinan akibat : .Terjerumus pada tindakan criminal.Menjadi bahan pengujian orang lain. .

. jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain. . . . . .Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya. Kemungkinan sebab : . Kemungkinan akibat : .Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu.Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan.Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang. Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : .Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama. . pengembangan religious terhambat.Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat.Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah. . atau bahkan melecehkan agama.Nilai pelajaran agama merah. 25. .Pelajaran agama kurang menarik.Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas.Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari.Gambaran yang lebih rinci : .

Kemungkinan sebab : . serta berhenti shalat secara tetap.Nilai-nilai keluarga semakin lemah. Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . .Anak semakin tidak menghormati orang tua.Tadinya rajin shalat.Orang tua terlalu keras memberikan teguran. . . tapi anak tidak menghiraukannya.Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik. .Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. . bahkan tidak shalat sama sekali. sekarang tidak rajin.Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur. Kemungkinan akibat : . 26. . Kemungkinan sebab : .Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu.Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua.Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat. .Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan . Kemungkinan akibat : . .Hubungan antara orang tua semakin renggang.Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.

pusing kepalanya perlu dihilangkan. “selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka. (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu. Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan. Adalah suatu . Dilihat secara lebih lanjut. Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya. dan akhirnya.C. Sebagai contoh. Dalam kaitan itu. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. dua hal perlu mandapat perhatian utama.

Sebagai gambaran umum. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. dan sebaliknya. penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu. . Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus.kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. Demikian. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. Masalahnya sekarang ialah. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. (3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain.

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. (Smith. …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna. Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi. 1969). dalam Bernard & Fullmer. (Mortensen & schmuller. (Lefever. 1959). yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. 1969). tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna. rencana-rencana. 1959). (Crow & Crow. (Mathewson. (Tiedeman.Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. laki-laki atau perempuan. dalam McDaciel. Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. . Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu. dalam Bernard & fullmer. dalam McDaniel. (Bernard & fullmer.1960). dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. 1976). 1969).

Staffire & Stewart. . 1959) a. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. Bimbingan berusaha membantu individu. dalam McDaniel. Bimbingan membantu setiap individu. Rumusan 4 (Lefever. c. Bimbingan dilakukan secara sistematik. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri. Bimbingan diberikan kepada anak muda. e. b. Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. (Jones. 1970). c. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. jabatan. b. dalam Jones. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. tetapi harus dikembangkan. d. d. dalam McDaniek. 1959) a. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). 1959) a. dalam McDaniel. b. Bimbignan diberikan kepada individu. Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. Rumusan 3 (Chiskolm. b. c. 1951) a.Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik.

Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia. b. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. c. e. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat.Rumusan 5 (Smith. Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. c. Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. 1969) a. d. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. dalam McDaniel. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. dalam Bernard & fullmer. 1959) a. kemampuan. c. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Rumusan 6 (Crow & crow. 1960) a. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. b. Bimbingan itu diberikan kepada individu. 1976) a. b. e. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. c. d. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. rencana-rencana. dan interpretasi-interpretasi. d. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. . e. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. Rumusan 7 (Tiederman. b.

Bimbingan ditekankan pada proses belajar. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain. Rumusan 11 (Jones. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri. Bimbingan merupakan proses bantuan. tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. e. f. b. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. d. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini. dan pribadi. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. Bimbingan diberikan kepada individu. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. dalam Bernard & Fullmer) a. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. seperti masalah-masalah pendidikan. . b. dkk. sosial. Dalam memilih jalan hidupnya. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. 1970) a. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan. c.Rumusan 10 (Matehwson. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia.

tetapi meliputi semua usia. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing. di dalam keluarga. Dalam kaitan ini. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. mulai dari anak-anak. serta sumbersumber yang dimilikinya. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian. konselor maupun dari lingkungan. Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan. yang dihadapinya. Bantuan itu diberikan kepada individu. informasi tentang jabatan. 6. sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. sumbanagn. di sekolah. interaksi. dan di luar sekolah. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor). . nasihat ataupun gagasan. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri. dan lain-lain. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. remaja. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. baik perseorangan maupun kelompok. dan akhirnya dapat mencapai 5. 4. 3. data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. dan orang dewasa. dan lainlain).2. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. hadiah. Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan.

Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama. 2. dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Dalam kaitan ini. remaja. Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. 8. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. Norma tersebut berupa berbagai aturan. baik anak-anak. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. hokum. istilah konseling berasal dari bahasa latin. Ebagaimana istilah . berdasarkan norma-norma yang berlaku. adat. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. isi dan tujuan. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon. maupun dewasa. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat.7. Pengertian Konseling Secara etimologis. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. baik bentuk. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. upaya bimbingan. 9. bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut. sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain.

1974). 1974). rencana. Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya. dalam Sherzer & Stone. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. dalam Shertzer & Stone. (Maclean. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. (Jones. 1951). …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu. 1974). proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. (Pepinsky & Pepinsky. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan. Sherzer & Stone. masing-masing disebut konselor dank lien. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. (b) terjadi dalam suasana yang professional.bimbingan. …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. (Smith. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. (Division of Conseling Psychology).

secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. . yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . menyediakan situasi belajar.C. keadaanya sekarang. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. motivasi. … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah. 1959). English. dalam Shertzer & Stone. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating. 1974). 1969). (A. dalam Shertzer & Stone. dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut. demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya.. proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. (Blocher. 1956). (McDaniel. (Bernard & Fullmer. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. rencana. selanjutnya. (Tolbert. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. 1974). Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya.

dalam Shertzer & Stone.1974) a. 1974) a. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa. Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. (Lewis. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu. b. Dilakukan oleh orang ahli (professional). Rumusan 3 (Mclean. d. e. . dalam Shertzer & Stone. b. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. Dilakukan dalam suasana professional. b. serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. c. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. dalam Shertzer & Stone. 1974). 1974) a. Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. dalam Shertzer & Stone. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik. dan rencana-rencana yang akan dibuat. Rumusan 4 (Smith. b. Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka. c. masingmasing disebut konselor dan klien. c. semakin maju. yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. 1951) a. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya.

1969) . Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. Rumusan 6 (McDaniel. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . Rumusan 8 (Tolbert. c. yaitu belajar memahami diri sendiri. 1965) a. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya. Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. c. d. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. membuat rencana untuk masa depan. d.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a. 1959) a. b. b. b. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. 1959) a. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. b. Rumusan 7 (Tolbert. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. c. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. e.

dan potensi. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien). Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. dan potensi-potensinya. yaitu sebagai berikut : a. d. dan keterbukaan. d. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. motivasi.a. e. b. motivasi. Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. b. Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. Rumusan 10 (lewis. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. b. baik langsung maupun tidak langsung. c. kebebasan. Semua rumusan. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). dalam Shertzer& Stone. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. 1974) a. sebagai orang . Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif. Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. pemahaman. c. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. penerimaan.

dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana. yaitu konselor dank lien saling berbicara. Berlainan dengan pembicaraan biasa. kebingungan. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. Dipihak lain.yang lebih tua. dan banyak lagi tentang dirinya. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. masalah. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. . f. d. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. Keduanya terlibat dalam memikirkan. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. c. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. pandangan mata. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. teratasinya masalah yang dihadapi klien. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. sebagai orang yang lebih matang. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan. b. tentang perilaku-perilakunya. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. atau frustasi. gerakan-gerakan isyarat. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung. tentang perasaan-perasaannya. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. yaitu perubahan kearah yang lebih baik.

Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. penyuluhan atau konseling. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. Istilah mana yang sebaiknya dipakai. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. Istilah mana yang dipakai. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”. Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri.e. B. penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh.

khusus dikalangan persekolahan. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. memilih bibit.profesi tersebut. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau . Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. 1987). Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. sikap dan keterampilan warga masyarakat. Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. pemahaman. Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. harus dimantapkan. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. penggunaan pupuk. khususnya lingkungan sekolah. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul. pemberantasan hama dan sebagainya. berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia. seperti cara-cara bertanam. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat. penyuluhan kesehatan. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan. penyuluhan keluarga berencana. khususnya petani. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. penyuluhan hokum. pemahaman. antara penyuluhan gizi.

Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. Sejak tahun 1980-an. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern.mungkin tidak dikenal disatu pihak. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. Padahal. Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain. penyuluh kesehatan dan sebagainya. disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. misalnya penyuluhan pertanian. Lebih jauh. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. Persamaanya memang ada. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air.

Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling. Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. sebenarnya akan baik juga. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. remaja. insinyur.memakai nama asli dari luar negeri. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. prinsip. seperti psikiater. Berdasarkan uraian singkat terebut. pemuda. psikiater. Pelayanan terhadap anak-anak. Istilah baru ini. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua. yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. Pengertian. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. Sayangnya. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. Kedua. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. kiranya perlu dipakai satu istilah. kalau memang ada. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. Pertama. manajer? Dalam hal ini. kalau memang ada. istilah ini. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor. jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. . atau dokter.

Pada periode kedua. gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. dan masyarakat. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. Pada tahap awal ini. pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Perkembangan yang lebih lanjut . Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri. 1975). Pada kedua periode ini. terutama Amerika Serikat. lingkunga. mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. yang umumnya disebut sebagai periode personian. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan. Pada periode ketiga. Dalam kaitan itu. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju.C.

yang satu dapat dibedakan dari yang lain. Periode berikutnya. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai. Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling. Ia bahkan mengusulkan. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. 1975) secara tegas menolak konsep. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain. Itu semua adalah pekerjaan konseling. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. (Belkin. .pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. serta segenap permasalahannya. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama. tampak adanya dua arah yang berbeda. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. langkah-langkah. teknik. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. Berdasarkan uraian diatas secara praktis. yaitu konseling. dengan keseluruhan totalitas perwujudannya. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. ditandai sebagai periode kelima. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling.

profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok.adalah pekerjaan konseling. sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima). Dengan demikian. Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga). Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas. Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir). Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas.

dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. 1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. (Tiedeman. . serta keterampilan-keterampilan baru. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. 1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. (Hamrin & Clifford. (Coleman.Nasional). Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. padangan dan pemahaman-pemahaman. dalam McDaniel. dalam Jones. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. dalam Thompson & Rudolph. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan. 1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. D. mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. dalam Bernard & Fullmer. penyesuaianpenyesuaian. 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.

1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman.Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif .Melakukan pengambilan keputusan. penyembuhan.Memberikan wawasan.Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph. . …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. dan pengembangan diri.Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel.Membuat penyesuaian-penyesuaian . dalam Bernard & Fullmer. 1983).Memberikan dukungan .Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor . 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : . dalam Jones 1951) Agar individu dapat : . 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben. dan penerimaan diri sendiri. pandangan. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : . dalam Bernard Fullmer. pengembangan kesadaran. Rumusan 5 (Coleman. dalam Thompson & Rudolph. pemahaman. pengembangan pribadi. (Myers. (Thompson dan Rudolph.Melakukan pemecahan masalah .pengembangan kesadaran.Membuat pilihan-pilihan. 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna. 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford. . keterampilan dan alternative baru .

dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut. Dalam kaitan ini. mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. intensitas. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. penyesuaian. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. pandangan. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya). 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya.Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. pilihan. dan sangkut-pautnya. pendidikan. E.Mengembangkan penerimaan diri . status sosial-ekonomi). serta masing-masing bersifat unik pula.. Asas-asas Bimbingan dan Konseling . Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. interpretasi. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan.

yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. keterbukaan. penerimaan. terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . kebebasan. penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. 1987). Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. kemandirian. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. kekinian. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. kegiatan. atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. kedinamisan. maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. 1. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. ahli tangan. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan.Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. sebaliknya. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. keahlian. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. pemahaman. dan keterbukaan. serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). keterpaduan. kenormatifan. dan tut wuri handayani (Prayitno.

baik dari pihak di terbimbing atau klien. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. maksudnya. malahan lebih dari. data. . maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. 2. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. menyampaikan masalah yang dihadapinya. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. serta mengungkapkan segenap fakta. Sebaliknya.baiknya. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. 3. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. maupun dari pihak konselor. Lebih jauh. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar. Apabila hal terakhir into terjadi. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. mereka takut meminta bantuan.

4. Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. Dari pihak konselor. pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada . masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain. dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. maka konselor hendaklah segera member bantuan. 5. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah.Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. Dalam usaha yang bersifat pencegahan.

dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling. yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. 7. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. . Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. 6.konselor. yang bersifat monoton.

Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku. juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. norma hukum/Negara. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. Demikian pula prosedur. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. baik ditinjau dari norma agama. teknik. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu). Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan. . konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. 9. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien. norma adat. sesuatu yang lebih maju. Disamping keterpaduan pada diri klien. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. Ditilik dari permasalahan klien. maupun kebiasaan sehari-hari.melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma. 8. norma ilmu. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada.

dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). 11. asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. Asas Tutwuri Handayani . maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling. sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai. Oleh karena itu. juga kepada pengalaman. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. 12. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik.10. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan.

Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan. Lebih-lebih di lingkungan sekolah. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. untuk. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien. Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari. ing madya mangun karso”. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja.

prosedur kerja. yaitu asas kerahasiaan. hasil yang harus dicapai. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. ahli tangan. kemampuan. peranan konselor. kenormatifan. serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. minat dan nilai-nilai. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. keterpaduan. dan tut wuri handayani. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus.lain. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. kegiatan. jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). kualifikasi keahlian. kekinian. keterbukaan. Tugas . kemandirian. keahlian. kesukarelaan. mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri.

dan berdasarkan norma-norma yang berlaku. dan gagasan. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . interaksi. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. nasihat. b. pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri. Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian. Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling.1. Yaitu : a. dengan mempergunakan bahan. dalam suasana asuhan. Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret.

Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. berdasarkan norma-norma yang berlaku. dengan cara yang laras. Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2. untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut. unik. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a. dan manusiawi. yang bersifat keahlian. (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi.Dengan demikian. . berdasarkan norma-norma yang berlaku.

atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . atau b. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama.3. Pertimbangkanlah kembali. Bimbingan dan konseling c. a. konseling atau penyuluhan. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan. istilah mana yang lebih tepat dipakai. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Bimbingan b. istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya.

Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa. dan prestasi belajarnya rendah. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik. dia belajar di tempat tidurnya. Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. duduk di kelas I SMA di kota B. (1987). Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. yaitu rata-rata diatas 6. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. Di rumah. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. Siswa tersebut sering bolos.Daftar Pustaka Prayitno. Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. sering melanggar tata tertib seklah. Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. . Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. KASUS II ES berumur 16 tahun. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. tetapi berlainan ibu. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya.

bahkan cenderung rendah. dia tampak gugup. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. karena itu ibunya sering memanjakannya. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. An adalah satu-satunya yang perempuan. . Terhadap guru. Di rumah. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. segan dan bahkan takut.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah. siswa tersebut sangat pemalu. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. gemetar. dan suaranya tidak jelas terdengar. Dalam keluarganya. sehingga tampak canggung. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial. Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil.

Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. Oleh sebab itu. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. ayahnya jarang dirumah. Karena kesibukannya. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. apabila guru menegurnya. berpangkat perwira menengah. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya. maka dia bereaksi dengan kasar. semester ini ia jarang masuk sekolah. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain. Demikian juga terhadap gurunya. dan nilainya berantakan. Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan. Dia suka berke. . kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. K pernah minggat dari rumah. Dia adalah siswa pindahan dari kota J. Ayahnya seorang anggota ABRI.ahi dengan temantemannya. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. Demikian pula ibunya sering bepergian. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. disamping kasar. Mengetahui K seperti itu. Di rumah. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya.

dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah. bahkan seringkali shalat berjamaah. pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya.Prestasi belajar rendah . Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan. dia mendapat nilai merah. Siswa tersebut mengalami kebimbangan. Msekipun hidupnya agak kurang teratur. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. KASUS VIII Seorang siswa STM. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. Ternyata ia anak pandai. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu. kedua tentang amarah orang tuanya.Kurang minat pada IPA . dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . baik dirumah maupun di luar rumah. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. laki-laki. Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya.KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan. merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya. karena itu ia sangat dimanjakan.

Dimanjakan .Menyendiri.Sukar menyesuaikan diri .Kesulitan alat belajar Sosialitas : . taku.Gugup . kaku .Pemalu.Sering bertengkar .Bentrok dengan guru : .Dimanjakan Moralitas : - .nilai-nilai jelek : .Sosialitas Moralitas : . canggung.pendiam : : - Kasus III Individualitas : . kurang bergaul .Hasil belajar cenderung rendah : .membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Prestasi belajar sangat rendah .Melanggar tata tertib .Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .

Nakal .Terlambat .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Tidak bebas Moralitas : .Dimanjakan : - .Diperlakukan dangat keras .Suka berkelahi .Mendapat nilai merah : .Kurus dan pucat Sosialitas : .Nilai di bawah rata-rata : .Menyimpan ganja .Jarang masuk sekolah .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Nilai rendah .Minggat .Kasar terhadap orang lain .Mabuk-mabukan .Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Berlaku kasar : .

Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. dan sebagainya. Secara lebih laus.Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. tidak lulus ujian akhir. Secara umum. masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu. disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. yang pada umumnya dapat digolongkan atas : . Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. angka-angka rapor rendah. (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar.Tidak lagi melakukan shalat D. tidak naik kelas. 1.Khawatir nilai merosot : . seperti.Tidak enak pada orang tua : : . Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi.Religiusitas : .

mengulur-ngulkur waktu. Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. tes kemampuan dasar.a. dan pengamatan. c. yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. seperti suka menunda-nunda tugas. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. Sangat lambat dalam belajar. e. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. Keterlambatan akademik. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. Kurang motivasi dalam belajar. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa yang belum menguasai . membenci guru. yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. Ketercepatan dalam belajar. b. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. d.

dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan. Tes Kemampuan Dasar . Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9. yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas.bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. atau dalam satu tingkatan kelas). dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali.

Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar.Di atas rata-rata . Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC).Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM).sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya. maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar. .Sangat cerdas . Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar. Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS).di bawah rata-rata . Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra.Cerdas . Dalam banyak skala inteligensi. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula.Normal atau rata-rata . Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas.Q. membaca buku. Misalnya.bodoh Di bawah 70 . Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. dalam hal mengerjakan tugastugas. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya. kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . membuat catatan.

Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing.h. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa.Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. dibakukan. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. . Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. sikap terhadap guru. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. Holtzman (versi 1954 dan 1960). serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu. Brown dan W. dan sebaliknya. makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu. Apabila tes diagnostic disusun. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan.F. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Tujuannya sama. atau pemakaian rumus-rumus. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. sikap dalam menerima pengajaran.

Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut. atau rekaman video. Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. bentuk tiga dimensi yang berupa model. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung. .dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. (b) kegiatan pengayaan. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. dan lain sebagainya. baik melalui tulisan. sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. bentuk grafik atau gambar. maket. 2. dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. (c) peningkatan motivasi belajar. film. serta gerak dan suara. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan.

Dibandingkan dengan pengajaran biasa.a. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. dan pengajaran yang berprogram lainnya. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. bingung. dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar. . Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. bimbang. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. cemas. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. Misalnya. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. dan sebagainya. tidak tentera. Disamping itu. b. sistem pengajaran dengan modul. karena bahan. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. paket belajar. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik.

maka akan diperoleh berbagai jawaban. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. Disisi lain. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. tetapi sebagian lagi mungkin belum. dan sebagainya. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. jera. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. dan lain sebagainya. tetapi menjadi pudar. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai. Mereka cenderung menjadi patah hati. dan sebagainya. jera. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Guru. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. c. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. Sebaliknya. untuk belajar. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar. tidak semangat. malas. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Tingkah laku seperti kurang bersemangat. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat.

serta antara murid dan murid. dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. mengecewakan. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. d. . 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. membingungkan. kemampuan dan minat siswa. 4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan.1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. dan menyenangkan. merangsang. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat.

teman atau siapa pun juga. Konselor dapat membantu penyelenggaraan.3) Kata-kata. mengisi. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. ungkapan-ungkapan. Dalam hasil itu memang diharapkan . Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. baik disekolah maupun dirumah. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. kesehatan yang baik. dan rekreasi yang memadai. sedangkan konselor sebagai arstitek. 3) Mengatur waktu belajar. kapan membaca secara garis besar. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik. Lebih jauh. dan orang tua siswa. 4) Memilih waktu belajar yang baik. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. tidak teratur. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. terutama oleh guru-guru konselor. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. dan menunjang. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. penasihat dan penyumbang data. seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. misalnya. Sebagaimana disebutkan terdahulu. dan sebagainya. kapan secara rinci.

Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. baik di sekolah maupun diluar sekolah. sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. E. baik dalam bentuk lpenyajian individual. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas. minat. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. “tes buatan guru” adalah sangat penting. sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. Dalam kaitan itu. baik layanan individual maupun kelompok. ataupun kegiatan yang lainnya. Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien.

serta pemeliharaan dan pengembangan. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. pengentasan. Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. menghayati. terkontrol.menyeluruh. serta bimbingan belajar. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. penempatan dan penyaluran. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Atau dengan kata lain. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. Di samping itu. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. sebagaimana telah disebutkan terdahulu. dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). teknik dan teknologinya). Sasaran (subjek penerima . 1. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya. Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. Hal itu dapat dimengerti karena. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. terarah. maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. pencegahan. mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. menerapkan.

Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. kondisi. Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. yaitu (a) kerahasiaan. Munro dkk. (b) keterbukaan. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. Layanan Lain. Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. tujuan.layanan). . dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. dan (c) tanggung jawab pribadi klien. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi. dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling. Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar.

yaitu bahwa : a. d. e. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. rahmat. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. b. dan apapun yang menjadi persepsi. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. Dengan niat. wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. Lebih jauh. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu.Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor. Sebagaimana telah dikemukakan di depan. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. sebuah kondisi . c. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling.

Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. b. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. sambil tetap menjaga jarak. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. Format apa pun yang terbentuk. baik ditinjau di sisi klien. Sekali lagi format tersebut adalah format standar. dan sikap duduk konselor dan klien. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. kondisi . dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. c. Format konseling meliputi terutama jarak. Suara. format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). arak. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien. mimic. Klien dan konselor mudah bergerak. konselor. Namun demikian. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain. dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). adat istiadat dan kebiasaan setempat. standar atau hasil modifikasi. e. d. maupun kondisi hubungan itu sendiri.

Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. Tindak lanjut. Evaluasi. Apliakasi metode khusus. Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. kondisi ruangan dan peralatan yang ada. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis. Pemahaman masalah. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya. d. dan kondisi konselor sendiri.kosial budaya. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. c. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. unik. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. e. 2. Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. b.

Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. atau kata-kata yang mencemooh. tentang klien dan permasalahannya. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. data dalam cumulative record. Oleh karena itu. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih. efektivitas. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. “kok sampai begitu”. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. dan efisiensi proses konseling.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. “harus begini atau begitu”. Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. “tidak boleh begini atau beitu”. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. . namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. merendahkan atau menyesalkan. pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka.

terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya. dapat menggugah hati serta pikiran klien. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. masa bodoh. “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. Sebaliknya. perasaan tersinggung. sikap mempertahankan diri. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”. dan lain sebagainya). seperti “anda sebenarnya memang hebat”. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah. Tidak jarang terjadi. setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. Metode-metode khusus . “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri. sebagaimana pernah disingung dimuka. Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. “anda tidak berdosa”.menilai negative atau menyalahkan. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata. cemas. titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. Klien telah amat terbantu. bengga yang berlebihan atau sombong. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya.

1982). khususnya dengan masalah yang dihadapinya. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. latihan bersikap dan bertindak. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. dan harapan-harapannya. Konselor . Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan. dan konseling lebih lanjut. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. Labih jauh lagi. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses.bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir. pemberian contoh. hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh. Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan. lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja. sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. latihan merencana suatu kegiatan. konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor. desensitisasi. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri.

klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. klien . maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. dan yang lebih parah lagi. Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya. dapat diidentifikasi lima tahap. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala. Keefektifan pengentasan masalah. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. 3.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. tidak menyukai konselor. Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana.

bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana. Kemungkinan yang lain adalah. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri. Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. Namun. keefektifan konseling tidak akan terwujud. Jangankan efektif. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Sebaliknya. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. Kalau individu berhenti disana. Pesoalannya adalah. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. Namun keefektifan konseling tidak begitu saja. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat . konseling dapat berjalan pun tidak. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud.

keefektifan konseling. pertanyaan yang masih tersisa ialah. Dengan kata lain. Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien. . apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. Setelah berakhirnya prose konseling. dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir.

A H. Aa I. A Aa . bahkan disana-sini bertolak belakang. konseling non-direktif. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. 5. terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. Aa A A F. J. masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. 8. yaitu pendekatan konseling direktif.4. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. 6. 7. dan konseling elektrik. Aa G. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan. K.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful