`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

. 6. . . .Takut masuk karena tidak membuat tugas.Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat. Kemungkinan akibat : . .Tidak naik kelas.Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat. .Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai. . . .Dikeluarkan dari sekolah..Jarak antara rumah dan sekolah jauh. Terlambat masuk sekolah ( Kasus I.Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos. .Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. .Gagal dalam ujian.Merasa kurang mendapatkan perhatian guru.Kurang berminat terhadap mata pelajaran.Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki.Merasa dibeda-bedakan oleh guru. . .Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya. .Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai.Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya. .Merasa gagal dalam belajar.Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang. dan IV ) Gambaran yang terpeinci : . . .Proses belajar-mengajar membosankan. Kemungkianan sebab : . Kemungkinan sebab : .

Gangguan kesehatan. Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : . .Terlambat bangun. .Tidak menyukai suasana di sekolah. . . .Tidak naik kelas.Hubungan dengan kawan sekelas terganggu. Kemungkinan sebab : . .Kurang mau berbicara atau bertegur sapa. . Kemungkinan akibat : .Mengalami gangguan dengan organ bicara.Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah.Berwatak introvert.Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR). . 7.Malu atau takut pada orang lain. . .Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran.. .Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas. .Tidak ceria. . . . . .Nilai rendah.Mengalami kesulitan bahasa.Terlalu banyak kegiatan dirumah. .Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara.Kurang sehat.Kesulitan kendaraan.Kurang akrab terhadap teman atau guru. membantu orang tua.Kegiatan di luar kelas tidak terkendali. . .Hubungan dengan guru terganggu.

Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain.. Kemungkinan akibat : . .Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. .Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis. . 8.Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran. .Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ). .Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan. Kemungkinan akibat : . . .Tugas-tugas tidak sesuai.Nilai rendah. .Tertinggal dalam pelajaran. seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran.Semangat belajar menurun.Orang tua tidak mampu. Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . . Kemungkinan sebab : ..Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu. .Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran. .Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang.

Kemungkinan akibat : . . . . .Kerasa jagoan.Sering salah paham dengan kawan.Tidak mau menerima pendapat orang lain.Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ). .Hiperaktif. .Berurusan dengan polisi.Tidak mau dilarang.Tidak naik kelas. . Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : . . . Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . 10. .Dikeluarkan dari sekolah. .Seing terjadi salah paham dengan kawan.Pengendalian diri kurang.9.Mau menang sendiri.Luka.Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah. Kemungkinan Sebab : . . .Sombong. mengejek dan menantang orang lain.Tidak disukai kawan dan guru.Ditakuti kawan-kawannya. .Memperolokan. .Melalaikan pelajaran. .Nilai rendah. .

Sombong atau tinggi hati. .Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya. 11. . .Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain. . . .Berbicara tersendat-sendat. dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan sebab : .Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain.Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain. tidak bebas.Sering tertegun-tegun.Pergaulan sangat terbatas.. . .Curiga dan kurang percaya pada orang lain.Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain.Tidak mau menerima pendapat orang lain. . .Terlalu perasa. . . Kemungkinan akibat: .Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu.Mau menang sendiri.Diperlakukan terlalu keras.Suasana keluarga terlalu keras. . canggung. takut. gagap.Tidak pandai mengemukakan pendapat. .Salah tingkah. gugup ( Kasus III. Kemungkinan sebab : . kaku. tertekan. . Pemalu.Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain.

. seperti anak bungsu.Sering ditakut-takuti. anak tunggal. tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya. . Kemungkinan akibat : . satu-satunya laki-laki atau perempuan. .Ingin dipuji. . 12. .Kurang memahami sopan santun dan aturan. . sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang. dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : . Dimanjakan ( Kasus III. . .Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya. .Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga.Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ). . sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.Frustasi yang dalam. IV..Pergaulan terlalu bebas. bertindak semaunya sendiri.Tidak dapat mengatur diri sendiri. . Kemungkinan akibat . sehingga sukar diharapkan mandiri. tidak dapat dikendalikan.Pemboros dan suka berfoya-foya. sangat pintar.Kurang bergaul.Kurang bertenggang rasa. seperti sangat cantik. Kemungkinan sebab : .Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. .Terlalu bebas.Sosialitas kurang berkembang. satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya.

.Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut. Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Pendiam.Tampak lemah. .Sukar menyesuaikan diri.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil. digoda. . .Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok. Menyendiri.Seing memisahkan diri dari kawan. duduk sendiri. Kemungkinan akibat : . tertutup.Rendah diri. . Kemungkinan sebab : . pendapatnya diremehkan.Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek. harus patuh. . 13. . . 14. . tidak naik kelas.. ( khususnya orang yang lebih muda ). atau tidak disenangi oleh orang lain. tidak lulus ujian. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : . dipermainkan. . sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain.Suka termenung.Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain.Bersikap pemberontak.Tudak ceria. .Perkembangan sosialitas terganggu.Kurang pandai bergaul. .Tingkah laku memang kekanak-kanakan.

. . malu. .Suka mencaci maki orang lain.Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya. . Kemungkinan akibat : .Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain.Tidak mau minta maaf.Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar. . Berlaku kasar ( Kasus V.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam. .Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik.Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah. 15. . . . kecewa.Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya.Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya. . sedih.Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya.Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya.Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga.Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki.Kemungkinan sebab : . dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain. marah. .Diperlakukan terlalu keras. .Perkembangan sosialitas terganggu.Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak. Kemungkinan sebab : . . frustasi.Merasa rendah diri. . .

. .Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan.Frustasi karena kegagalan cinta. .Suka membaca buku cabul. . 16. dibenci oleh orang lain. . . . .Membawa buku-buku cabul.Dibenci orang lain. .Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya. . dikelurkan dari sekolah. Kemungkinan akibat : .Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. .Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal. disisihkan dari lingkungan sosial.Suka mengintip.Gangguan kepribadian/gangguan mental.Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain. .Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang.Sukar mencari teman bergaul.Mebuat coret-coret yang bernada cabul. .Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ).Suka berkata cabul.Memamerkan alat kelamin kepada orang lain.. . . kegagalan belajar. tidak naik kelas.Kurang perhatian atau kurang kasih sayang.Mengalami penyimpangan seksual.Merasa iri terhadap orang lain. Kemungkinan sebab : . . Kemungkinan akibat : . . Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : .Nilai rendah.

Kurang enak makan.Sring kali dimarahi.Kebiasaan hidup tidak sehat.Harus patuh pada perintah dan larangan. .Kurang bergairah. Kemungkinan akibat : .Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral. .Tidak suka berolah raga. .Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya. makan tidak teratur dan kurang gizi. Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . . di hokum. dikeluarkan dari sekolah. tidak ceria.Sering tidak enak badan (sakit).Mengidap penyakit tertentu. Kemungkinan sebab : . seperti kurang tidur. merokok. 18. terutama dengan jenis kelamin lain. .. .Berat badan merosot. .Kegiatan belajar terganggu. terganggu. Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Apabila yang bersangkutan bereaksi. lemah . bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik. tidak naik kelas.Hubungan dengan teman sebaya.Nilai rendah. . larangan dan hukuman malah diperkeras. . . 17.

kehilangan inisiatif. Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : .Anti sosial. . tidak mengenal kelembutan.Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan. .Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal. Kemungkinan akibat : . sehingga reaksi orang lain menjadi keras. . . . . .Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya. Kemungkinan sebab : .Harus tinggal di rumah sepulang sekolah.Harus tepat waktu pulang dari sekolah.Orang tua atau guru yang otoriter.Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua.Dilarang pergi kerumah teman.Menjadi pasrah. .Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain. .Berteman harus disukai orang tua. 19.Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter.Tidak diperbolehkan karyawisata. . . .Tidak diperbolehkan berpacaran. . . . .Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya.Selalu dicurigai kemana akan pergi.Mencari kompensasi.Kemungkinan sebab : .Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide. .Rendah diri.Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter. .

. . akan muncul perasaan rendah diri. dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah.Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya. di bungkus rapi. . .Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. 20. .Ingin mencoba ganja.Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya.Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal. Kemungkinan sebab : .Tidak luwes dalam bergaul.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar.Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah..Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan.Menyimpan daun ganja. belum pernah diapa-apakan. .Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya. . . Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kurang percaya terhadap dirinya sendiri. . . dan mau diapakan atau dikemanakan. meskipun belum terlaksana. . .Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya. Kemungkinan akibat : . . .Timbul reaksi melawan dan menentang.Daun ganja itu baru sekedar disimpan.Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah.Kurang berani berpendapat. .Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini.Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya.

.Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter. . . . . . Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kemudian pulang.Dorongan teman untuk berontak.Menyembunyikan diri di tempat family.Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan. 21.Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana.Menjadi korban tindakan criminal.Kemungkinan akibat : .Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua.Dimarahi oleh orang tua. .Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja. .Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan. karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. . .Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi.Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng. Kemungkinan sebab : .Keluarga menjadi risau. .Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya.Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya. .Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua. . .Tidak tahan akan kelakuan keluarga. . Kemungkinan akibat : . .Terjerumus pada tempat-tempat maksiat. .Tidak betah dengan suasana rumah. karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik.

Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan. Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan akibat : . .Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas.Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari.Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah. dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu. dikeluarkan dari sekolah.Berbuat demikian bersama “geng”-nya. .Sering minum-minuman sehingga mabuk.Berkelahi dengan teman.Membuat coret-coretan pada dinding sekolah.Nilai rendah. seperti agak “teller”.22. tidak naik kelas. Kemungkinan sebab : . .Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh. .Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah. Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kegelapan. . 23. di luar rumah. kekotoran.Mengganggu teman dalam belajar. muntah. . .Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah.Melawan kepada orang tua atau guru. . dan tidur berlama-lama. . .Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. . .

Berurusan dengan pihak yang berwajib. Kemungkinan akibat : . . . .Kegiatan belajar terganggu.Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal. . Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) . nilai-nilai dengan berbagai akibatnya.Dengan sengaja melanggar peraturan. . .Ingin di anggap jagoan. . atau barang-barang lainnya. . .Menjadi bahan pengujian orang lain.Merusak keindahan lingkungan. seperti peraturan lalu lintas.Menguji identitas diri.Mengakibatkan cidera fisik pada mereka. .Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh.Mencuri buah-buahan.Menggangu ketentraman umum.Disiplin yang terlalu keras. . 24.Mengganggu teman wanita.. .Jalannya peraturan sekolah terganggu. .Terjerumus pada tindakan criminal. Kemungkinan sebab : .Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan. . . Merasa disepelekan oleh lingkungannya. . peraturan sekolah.Merasa tidak puas dengan lingkungannya. .Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying. .Kompensasi atas kekurangannya. .Peralatan sekolah rusak.Ingin menarik perhatian orang lain.

Nilai pelajaran agama merah. Kemungkinan sebab : . jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain.Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan.Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat. 25.Pelajaran agama kurang menarik.Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu.Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas.Gambaran yang lebih rinci : . . .Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya. . atau bahkan melecehkan agama. . Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . . pengembangan religious terhambat. Kemungkinan akibat : . .Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama.Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari. .Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang.Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah. . .

.Tadinya rajin shalat.Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua. .Anak semakin tidak menghormati orang tua.Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur. . . Kemungkinan sebab : .Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat. sekarang tidak rajin. . tapi anak tidak menghiraukannya. .Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik.Hubungan antara orang tua semakin renggang. . Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . . Kemungkinan akibat : .Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu. Kemungkinan akibat : . bahkan tidak shalat sama sekali. serta berhenti shalat secara tetap.Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. 26.Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan .Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.Nilai-nilai keluarga semakin lemah.Orang tua terlalu keras memberikan teguran.Kemungkinan sebab : .

Sebagai contoh. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. Adalah suatu . (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. dua hal perlu mandapat perhatian utama. dan akhirnya. pusing kepalanya perlu dihilangkan. Dilihat secara lebih lanjut. penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. Dalam kaitan itu. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya.C. pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. “selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu. kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka.

(3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud. Sebagai gambaran umum. dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya. Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain. dan sebaliknya. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus. . Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat.kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. Demikian. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. Masalahnya sekarang ialah. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi.

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna. (Mathewson. .Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. (Crow & Crow.1960). (Mortensen & schmuller. (Tiedeman. 1976). dalam McDaniel. 1959). yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. (Lefever. …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna. Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu. 1969). 1969). rencana-rencana. 1959). membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. dalam McDaciel. (Smith. Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik. dalam Bernard & Fullmer. 1969). Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi. dalam Bernard & fullmer. (Bernard & fullmer. laki-laki atau perempuan. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik.

1959) a. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan. b. dalam Jones. Staffire & Stewart. 1959) a. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri. dalam McDaniel. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain.Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. . c. tetapi harus dikembangkan. d. Bimbingan membantu setiap individu. Rumusan 4 (Lefever. c. b. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. b. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. dalam McDaniel. e. (Jones. c. Rumusan 3 (Chiskolm. dalam McDaniek. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. 1959) a. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. Bimbignan diberikan kepada individu. 1951) a. 1970). jabatan. Bimbingan dilakukan secara sistematik. b. Bimbingan berusaha membantu individu. Bimbingan diberikan kepada anak muda. d.

dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. kemampuan. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. 1969) a. b. 1976) a. d. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. 1960) a. dalam Bernard & fullmer. e.Rumusan 5 (Smith. d. e. Rumusan 6 (Crow & crow. Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. Rumusan 7 (Tiederman. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara. d. c. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. b. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. c. b. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. c. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. rencana-rencana. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. dalam McDaniel. Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia. Bimbingan itu diberikan kepada individu. c. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. dan interpretasi-interpretasi. b. . Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. 1959) a. e. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat.

seperti masalah-masalah pendidikan.Rumusan 10 (Matehwson. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. Bimbingan merupakan proses bantuan. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri. sosial. . e. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. dan pribadi. c. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. Bimbingan ditekankan pada proses belajar. b. Rumusan 11 (Jones. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan. d. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. dkk. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. Dalam memilih jalan hidupnya. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. dalam Bernard & Fullmer) a. Bimbingan diberikan kepada individu. tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. f. 1970) a. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia. b. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain.

yang dihadapinya. . remaja. dan lain-lain. 3. tetapi meliputi semua usia. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor). serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri. serta sumbersumber yang dimilikinya. nasihat ataupun gagasan. dan lainlain). 4. interaksi. Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi.2. Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan. 6. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing. mulai dari anak-anak. di dalam keluarga. baik perseorangan maupun kelompok. Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. dan orang dewasa. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. informasi tentang jabatan. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. hadiah. Bantuan itu diberikan kepada individu. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. konselor maupun dari lingkungan. Dalam kaitan ini. dan di luar sekolah. dan akhirnya dapat mencapai 5. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian. sumbanagn. di sekolah. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja.

hokum. istilah konseling berasal dari bahasa latin. 2. 8. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon.7. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama. dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Ebagaimana istilah . berdasarkan norma-norma yang berlaku. sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain. adat. Norma tersebut berupa berbagai aturan. maupun dewasa. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat. Dalam kaitan ini. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. 9. remaja. isi dan tujuan. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. baik bentuk. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. upaya bimbingan. Pengertian Konseling Secara etimologis. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. baik anak-anak. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut.

(Jones. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. (Pepinsky & Pepinsky. Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. dalam Shertzer & Stone. yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. (Maclean. …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. (Smith. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. 1974). 1974). 1951). (Division of Conseling Psychology). Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan. 1974). atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya. rencana. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. Sherzer & Stone. dalam Sherzer & Stone. (b) terjadi dalam suasana yang professional. …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu.bimbingan. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. masing-masing disebut konselor dank lien. proses tersebut dapat terjadi setiap waktu.

demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya. dalam Shertzer & Stone. (Bernard & Fullmer.C. 1959). … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. (Blocher. 1956). . Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating. dalam Shertzer & Stone. (McDaniel. 1969). 1974). keadaanya sekarang. dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut. (A. (Tolbert. … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah.. proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . rencana. selanjutnya.secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. English. motivasi. 1974). menyediakan situasi belajar.

Rumusan 3 (Mclean. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan. b. 1974) a. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya. masingmasing disebut konselor dan klien. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. Rumusan 4 (Smith. dan rencana-rencana yang akan dibuat. b.1974) a. b. Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. c. Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. c. dalam Shertzer & Stone. dalam Shertzer & Stone. . 1974) a. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. 1974). serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. dalam Shertzer & Stone. (Lewis.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Dilakukan dalam suasana professional. e. b. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. 1951) a. d. dalam Shertzer & Stone. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka. Dilakukan oleh orang ahli (professional). semakin maju. c. Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky.

1959) a. b. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. membuat rencana untuk masa depan. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. c. Rumusan 7 (Tolbert. 1965) a. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri. d. Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. 1959) a. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. e. Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. c. c. b. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya. yaitu belajar memahami diri sendiri. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. Rumusan 6 (McDaniel. Rumusan 8 (Tolbert. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). b. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. b. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. 1969) . dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. d. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a.

Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan. b. kebebasan. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien). dalam Shertzer& Stone. Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. c. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. dan keterbukaan. b. e. Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. sebagai orang . Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. motivasi. b.a. dan potensi. Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. penerimaan. motivasi. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). Semua rumusan. yaitu sebagai berikut : a. d. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. 1974) a. Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. c. Rumusan 10 (lewis. baik langsung maupun tidak langsung. d. pemahaman. dan potensi-potensinya.

Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan. teratasinya masalah yang dihadapi klien. tentang perasaan-perasaannya. yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. d. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. . c.yang lebih tua. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. sebagai orang yang lebih matang. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien. Berlainan dengan pembicaraan biasa. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. masalah. f. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. Dipihak lain. b. kebingungan. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. gerakan-gerakan isyarat. pandangan mata. yaitu konselor dank lien saling berbicara. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. tentang perilaku-perilakunya. Keduanya terlibat dalam memikirkan. atau frustasi. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. dan banyak lagi tentang dirinya. dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana.

baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Istilah mana yang dipakai. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh. Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. B. Istilah mana yang sebaiknya dipakai.e. Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . penyuluhan atau konseling. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”.

berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. pemahaman. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. 1987). harus dimantapkan. pemahaman. antara penyuluhan gizi. Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. pemberantasan hama dan sebagainya. Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul. penggunaan pupuk. Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. khususnya petani. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau . Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. seperti cara-cara bertanam. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan.profesi tersebut. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. penyuluhan kesehatan. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. khususnya lingkungan sekolah. khusus dikalangan persekolahan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. penyuluhan keluarga berencana. sikap dan keterampilan warga masyarakat. memilih bibit. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. penyuluhan hokum. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat.

Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain. Padahal. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. penyuluh kesehatan dan sebagainya. pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu. Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. misalnya penyuluhan pertanian. Persamaanya memang ada. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling.mungkin tidak dikenal disatu pihak. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. Lebih jauh. Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern. Sejak tahun 1980-an. Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan.

Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. Berdasarkan uraian singkat terebut. seperti psikiater. Istilah baru ini. prinsip. remaja. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. pemuda. demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua. sebenarnya akan baik juga. yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor. Pertama. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. istilah ini. kalau memang ada. jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. kalau memang ada. Sayangnya. insinyur.memakai nama asli dari luar negeri. psikiater. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya. manajer? Dalam hal ini. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. atau dokter. Pelayanan terhadap anak-anak. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. Kedua. kiranya perlu dipakai satu istilah. Pengertian. . Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia.

Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. Dalam kaitan itu. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. yang umumnya disebut sebagai periode personian.C. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. 1975). Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja. Pada periode ketiga. pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada periode kedua. Pada kedua periode ini. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju. Perkembangan yang lebih lanjut . mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri. pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. lingkunga. terutama Amerika Serikat. dan masyarakat. Pada tahap awal ini. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan.

daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. tampak adanya dua arah yang berbeda. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. dengan keseluruhan totalitas perwujudannya. Berdasarkan uraian diatas secara praktis.pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain. Itu semua adalah pekerjaan konseling. langkah-langkah. serta segenap permasalahannya. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. yaitu konseling. (Belkin. Periode berikutnya. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. teknik. yang satu dapat dibedakan dari yang lain. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. 1975) secara tegas menolak konsep. Ia bahkan mengusulkan. . Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai. ditandai sebagai periode kelima. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama.

adalah pekerjaan konseling. Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir). Dengan demikian. Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga). profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok. Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas. Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima). Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas.

1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna. dalam Jones. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. penyesuaianpenyesuaian. padangan dan pemahaman-pemahaman. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. 1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.Nasional). namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. dalam Thompson & Rudolph. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. (Tiedeman. dalam McDaniel. D. (Hamrin & Clifford. dalam Bernard & Fullmer. (Coleman. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan. 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. 1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. serta keterampilan-keterampilan baru. .

dalam Thompson & Rudolph.Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor . penyembuhan. 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford. pandangan.Memberikan wawasan. .Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph. Rumusan 5 (Coleman. pengembangan kesadaran. dan penerimaan diri sendiri. 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna. dalam Bernard & Fullmer.Membuat pilihan-pilihan. pemahaman.Membuat penyesuaian-penyesuaian . .Melakukan pemecahan masalah . (Thompson dan Rudolph.Melakukan pengambilan keputusan. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : .Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif . dan pengembangan diri. pengembangan pribadi.pengembangan kesadaran. dalam Bernard Fullmer. 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben. 1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : . …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. keterampilan dan alternative baru . 1983).Memberikan dukungan . dalam Jones 1951) Agar individu dapat : .Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel. (Myers.

. Asas-asas Bimbingan dan Konseling . 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya. Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. serta masing-masing bersifat unik pula. dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. E. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. pandangan. pilihan. dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut. interpretasi.Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. status sosial-ekonomi). sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan. penyesuaian. serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. pendidikan. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. intensitas.Mengembangkan penerimaan diri . mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya). dan sangkut-pautnya. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Dalam kaitan ini.

1. ahli tangan. dan tut wuri handayani (Prayitno. kebebasan. dan keterbukaan. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. kekinian.Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak. serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). kegiatan. yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. 1987). kedinamisan. kenormatifan. sebaliknya. penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). keterbukaan. keahlian. atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. penerimaan. kemandirian. pemahaman. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. keterpaduan.

mereka takut meminta bantuan. malahan lebih dari. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. 3. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. maksudnya.baiknya. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. baik dari pihak di terbimbing atau klien. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. maupun dari pihak konselor. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan. 2. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. . Sebaliknya. data. Lebih jauh. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. serta mengungkapkan segenap fakta. menyampaikan masalah yang dihadapinya. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar. Apabila hal terakhir into terjadi.

dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien.Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. maka konselor hendaklah segera member bantuan. 5. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. Dalam usaha yang bersifat pencegahan. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada . Dari pihak konselor. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah. 4. maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain. Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini.

melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien. yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. . Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. yang bersifat monoton. dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling.konselor. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. 7. 6.

Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. Ditilik dari permasalahan klien. Disamping keterpaduan pada diri klien. 8. norma adat. juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. sesuatu yang lebih maju. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan. maupun kebiasaan sehari-hari. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu). Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku. norma hukum/Negara. baik ditinjau dari norma agama. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. norma ilmu. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. Demikian pula prosedur. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. . Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. 9. konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien.melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. teknik. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma.

12. bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling. maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II. juga kepada pengalaman. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan. Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai.10. Oleh karena itu. Asas Tutwuri Handayani . asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. 11. dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. ing madya mangun karso”. Lebih-lebih di lingkungan sekolah. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling. Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja. untuk. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling. Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien.

keterpaduan. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. keahlian. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. kemandirian. keterbukaan. hasil yang harus dicapai. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. prosedur kerja. peranan konselor. Tugas . serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. ahli tangan.lain. mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. minat dan nilai-nilai. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. kenormatifan. kemampuan. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. kekinian. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). yaitu asas kerahasiaan. kesukarelaan. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. kualifikasi keahlian. Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. dan tut wuri handayani. kegiatan.

Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret. nasihat. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. dalam suasana asuhan. b. dan gagasan. Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling.1. Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian. dengan mempergunakan bahan. pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri. interaksi. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . Yaitu : a. dan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha. . dengan cara yang laras. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a. untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut. dan manusiawi.Dengan demikian. yang bersifat keahlian. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi. (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. unik. Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c.

istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan.3. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a. Bimbingan dan konseling c. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. istilah mana yang lebih tepat dipakai. atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Pertimbangkanlah kembali. a. Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya. atau b. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. Bimbingan b. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5. konseling atau penyuluhan. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya.

Daftar Pustaka Prayitno. Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. sering melanggar tata tertib seklah. Siswa tersebut sering bolos. duduk di kelas I SMA di kota B. tetapi berlainan ibu. dan prestasi belajarnya rendah. KASUS II ES berumur 16 tahun. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. . yaitu rata-rata diatas 6. Di rumah. Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama. siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. (1987). laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. dia belajar di tempat tidurnya. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik.

sehingga tampak canggung. segan dan bahkan takut. ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. dia tampak gugup. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. bahkan cenderung rendah. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. An adalah satu-satunya yang perempuan. dan suaranya tidak jelas terdengar.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. gemetar. karena itu ibunya sering memanjakannya. . Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah. siswa tersebut sangat pemalu. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. Di rumah. Dalam keluarganya. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. Terhadap guru. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain.

bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya. .ahi dengan temantemannya. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. Ayahnya seorang anggota ABRI. berpangkat perwira menengah. Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. Karena kesibukannya. disamping kasar. Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. K pernah minggat dari rumah. Dia adalah siswa pindahan dari kota J. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. semester ini ia jarang masuk sekolah. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. Oleh sebab itu. ayahnya jarang dirumah. maka dia bereaksi dengan kasar. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. Dia suka berke. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. Demikian juga terhadap gurunya. Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara. dan nilainya berantakan. apabila guru menegurnya. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal. Demikian pula ibunya sering bepergian. kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. Mengetahui K seperti itu. Di rumah.

Msekipun hidupnya agak kurang teratur. Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . bahkan seringkali shalat berjamaah. Ternyata ia anak pandai. dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan. Siswa tersebut mengalami kebimbangan. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu.Kurang minat pada IPA . Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan. merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya. Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya. pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. dia mendapat nilai merah. KASUS VIII Seorang siswa STM. karena itu ia sangat dimanjakan. baik dirumah maupun di luar rumah. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. kedua tentang amarah orang tuanya. dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah. laki-laki.Prestasi belajar rendah .KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P.

Prestasi belajar sangat rendah .pendiam : : - Kasus III Individualitas : .nilai-nilai jelek : . kaku .Dimanjakan Moralitas : - .Melanggar tata tertib . canggung.Dimanjakan .Bentrok dengan guru : .Menyendiri.Sukar menyesuaikan diri .Gugup .Sosialitas Moralitas : .Pemalu.Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .Sering bertengkar . taku.membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . kurang bergaul .Hasil belajar cenderung rendah : .Kesulitan alat belajar Sosialitas : .

Nakal .Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Minggat .Diperlakukan dangat keras .Mendapat nilai merah : .Kurus dan pucat Sosialitas : .Kasar terhadap orang lain .Dimanjakan : - .Mabuk-mabukan .Nilai di bawah rata-rata : .Menyimpan ganja .Tidak bebas Moralitas : .Berlaku kasar : .Terlambat .Nilai rendah .Suka berkelahi .Jarang masuk sekolah .

Religiusitas : . yang pada umumnya dapat digolongkan atas : . Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. Secara umum. disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar. dan sebagainya. 1. Secara lebih laus. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah.Tidak lagi melakukan shalat D. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. tidak lulus ujian akhir. Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. seperti. masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu.Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Khawatir nilai merosot : . (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar.Tidak enak pada orang tua : : . tidak naik kelas. angka-angka rapor rendah.

d. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. seperti suka menunda-nunda tugas. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. e.a. c. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus. yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. tes kemampuan dasar. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. Siswa yang belum menguasai . Sangat lambat dalam belajar. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan. membenci guru. dan pengamatan. Ketercepatan dalam belajar. mengulur-ngulkur waktu. b. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. Kurang motivasi dalam belajar. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. Keterlambatan akademik. tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

atau dalam satu tingkatan kelas).bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. Tes Kemampuan Dasar . dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali. Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai. Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan.

dalam hal mengerjakan tugastugas.Normal atau rata-rata .di bawah rata-rata .bodoh Di bawah 70 .Q. kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar.Di atas rata-rata . dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. Misalnya. 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM). Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar. maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. membaca buku.sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya. Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC). . Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS).Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. Dalam banyak skala inteligensi. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya.Cerdas . Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra. membuat catatan.Sangat cerdas . Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku.

Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing. dan sebaliknya. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. Holtzman (versi 1954 dan 1960). makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. dibakukan. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. Apabila tes diagnostic disusun.h. Tujuannya sama. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara.F. . sikap dalam menerima pengajaran. Brown dan W. atau pemakaian rumus-rumus. sikap terhadap guru. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa.

Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. 2. atau rekaman video. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. dan lain sebagainya. Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. baik melalui tulisan. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut. (c) peningkatan motivasi belajar. Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. film. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan. maket. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung. analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. . serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka. (b) kegiatan pengayaan. Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa.dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. bentuk grafik atau gambar. bentuk tiga dimensi yang berupa model.

dan sebagainya. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor. dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. dan pengajaran yang berprogram lainnya. paket belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. . Dibandingkan dengan pengajaran biasa. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. sistem pengajaran dengan modul. Misalnya. bingung. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. bimbang. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. tidak tentera. Disamping itu. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. b. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar.a. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. cemas. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. karena bahan.

Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. dan sebagainya. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. dan sebagainya. Guru. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . jera. malas. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Mereka cenderung menjadi patah hati. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. tetapi sebagian lagi mungkin belum. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai. dan lain sebagainya. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Disisi lain. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. untuk belajar. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. maka akan diperoleh berbagai jawaban. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. tetapi menjadi pudar. tidak semangat. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. Sebaliknya. jera. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. c. Tingkah laku seperti kurang bersemangat.

4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. d. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan. 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. kemampuan dan minat siswa. . membingungkan.1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat. dan menyenangkan. serta antara murid dan murid. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. mengecewakan. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. merangsang. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya.

penasihat dan penyumbang data. baik disekolah maupun dirumah. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. 3) Mengatur waktu belajar. sedangkan konselor sebagai arstitek. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. kapan secara rinci. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik.3) Kata-kata. Konselor dapat membantu penyelenggaraan. Dalam hasil itu memang diharapkan . Lebih jauh. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. mengisi. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. teman atau siapa pun juga. dan orang tua siswa. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. kapan membaca secara garis besar. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. ungkapan-ungkapan. terutama oleh guru-guru konselor. seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. dan sebagainya. 4) Memilih waktu belajar yang baik. misalnya. tidak teratur. dan menunjang. dan rekreasi yang memadai. Sebagaimana disebutkan terdahulu. kesehatan yang baik. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru.

baik layanan individual maupun kelompok. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. Dalam kaitan itu. baik di sekolah maupun diluar sekolah. “tes buatan guru” adalah sangat penting. sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. ataupun kegiatan yang lainnya. minat. Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja. E. baik dalam bentuk lpenyajian individual.

maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. penempatan dan penyaluran. pencegahan. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. Sasaran (subjek penerima . terarah. pengentasan.menyeluruh. dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). teknik dan teknologinya). menghayati. terkontrol. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. serta bimbingan belajar. Atau dengan kata lain. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. 1. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. Hal itu dapat dimengerti karena. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa. Di samping itu. sebagaimana telah disebutkan terdahulu. serta pemeliharaan dan pengembangan. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. menerapkan. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya. Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling.

Layanan Lain.layanan). (b) keterbukaan. Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. kondisi. Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. . yaitu (a) kerahasiaan. dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling. Munro dkk. tujuan. dan (c) tanggung jawab pribadi klien. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi.

namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu. c. sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. Sebagaimana telah dikemukakan di depan. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. Dengan niat. b. dan apapun yang menjadi persepsi. d. danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. rahmat. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. e.Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. sebuah kondisi . maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. yaitu bahwa : a. Lebih jauh. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien.

Format apa pun yang terbentuk. Namun demikian. sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. kondisi . konselor. arak. d. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. b. format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. sambil tetap menjaga jarak. e. Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. Format konseling meliputi terutama jarak. c. maupun kondisi hubungan itu sendiri. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). standar atau hasil modifikasi. Klien dan konselor mudah bergerak. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. adat istiadat dan kebiasaan setempat. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. Sekali lagi format tersebut adalah format standar. Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. mimic. dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. Suara. dan sikap duduk konselor dan klien. baik ditinjau di sisi klien.

Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. 2. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Apliakasi metode khusus. b. Pemahaman masalah. unik. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya. Evaluasi. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu. Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. Tindak lanjut. c. e.kosial budaya. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. d. Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. dan kondisi konselor sendiri. kondisi ruangan dan peralatan yang ada.

tentang klien dan permasalahannya. Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. merendahkan atau menyesalkan. Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). “harus begini atau begitu”. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga. atau kata-kata yang mencemooh. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. “kok sampai begitu”. namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. Oleh karena itu.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. . sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka. dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. data dalam cumulative record. efektivitas. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. “tidak boleh begini atau beitu”. dan efisiensi proses konseling.

Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya. seperti “anda sebenarnya memang hebat”. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. masa bodoh. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. sebagaimana pernah disingung dimuka. “anda tidak berdosa”. Metode-metode khusus . sikap mempertahankan diri. bengga yang berlebihan atau sombong. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya. Tidak jarang terjadi. melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. perasaan tersinggung. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”. cemas. terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”. Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. Sebaliknya. “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah.menilai negative atau menyalahkan. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. Klien telah amat terbantu. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya. dan lain sebagainya). dapat menggugah hati serta pikiran klien. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata.

Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. Konselor . sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. dan harapan-harapannya. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan. dan konseling lebih lanjut. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir.bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh. ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri. desensitisasi. Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan. pemberian contoh. khususnya dengan masalah yang dihadapinya. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. 1982). lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja. latihan bersikap dan bertindak. samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. latihan merencana suatu kegiatan. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. Labih jauh lagi. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus.

Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. 3. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). tidak menyukai konselor. maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. dan yang lebih parah lagi. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya. Keefektifan pengentasan masalah. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya. klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. dapat diidentifikasi lima tahap. klien . apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala.

Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Kemungkinan yang lain adalah. Namun. Jangankan efektif. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri. Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud. konseling dapat berjalan pun tidak. bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. Pesoalannya adalah. Sebaliknya. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka. Namun keefektifan konseling tidak begitu saja. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua. Kalau individu berhenti disana. berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. keefektifan konseling tidak akan terwujud. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat . maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri.

keefektifan konseling. . pertanyaan yang masih tersisa ialah. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir. Setelah berakhirnya prose konseling. apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien. Dengan kata lain. Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya.

Aa G. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. Aa I. J. masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. konseling non-direktif. yaitu pendekatan konseling direktif. Aa A A F. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan. terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. 5. A Aa . Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. A H. 7. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. dan konseling elektrik. K. 8. bahkan disana-sini bertolak belakang.4. 6.