`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. .Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. . Terlambat masuk sekolah ( Kasus I. . .Gagal dalam ujian. .Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat. .Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat. . . .Proses belajar-mengajar membosankan. Kemungkinan sebab : .Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai. .Kurang berminat terhadap mata pelajaran.Merasa kurang mendapatkan perhatian guru.Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya.Takut masuk karena tidak membuat tugas. .Jarak antara rumah dan sekolah jauh. dan IV ) Gambaran yang terpeinci : .Merasa dibeda-bedakan oleh guru. . .Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos.. 6.Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya. Kemungkinan akibat : .Dikeluarkan dari sekolah. . Kemungkianan sebab : .Tidak naik kelas.Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan. . .Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang. .Merasa gagal dalam belajar.

. . Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : . membantu orang tua.Kesulitan kendaraan. . . .Hubungan dengan kawan sekelas terganggu.. 7.Tidak naik kelas.Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas.Terlambat bangun.Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR).Nilai rendah.Berwatak introvert.Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara.Malu atau takut pada orang lain.Hubungan dengan guru terganggu.Tidak ceria. . Kemungkinan sebab : .Tidak menyukai suasana di sekolah.Mengalami kesulitan bahasa. Kemungkinan akibat : .Mengalami gangguan dengan organ bicara. .Terlalu banyak kegiatan dirumah. .Kurang sehat. .Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah. . .Kurang mau berbicara atau bertegur sapa. . . .Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran.Kegiatan di luar kelas tidak terkendali. . . .Gangguan kesehatan.Kurang akrab terhadap teman atau guru. . . .

Kemungkinan akibat : .Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam. Kemungkinan akibat : . .Tertinggal dalam pelajaran. . .Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu. seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran..Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan.Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran.Nilai rendah. . . . . Kemungkinan sebab : .Semangat belajar menurun.Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis. Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ).Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang.Tugas-tugas tidak sesuai. . .Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan. 8. . .Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain..Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran.Orang tua tidak mampu.

10. .Luka. Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : . . .Tidak mau menerima pendapat orang lain.Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah.Tidak disukai kawan dan guru. .Tidak mau dilarang. .9.Pengendalian diri kurang. . Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : .Seing terjadi salah paham dengan kawan. Kemungkinan akibat : .Memperolokan.Nilai rendah. . .Mau menang sendiri. .Tidak naik kelas. mengejek dan menantang orang lain. . Kemungkinan Sebab : .Hiperaktif.Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ). . . .Melalaikan pelajaran.Sering salah paham dengan kawan. .Sombong.Berurusan dengan polisi. .Kerasa jagoan.Ditakuti kawan-kawannya. .Dikeluarkan dari sekolah. .

.Curiga dan kurang percaya pada orang lain. Kemungkinan akibat: . . .Diperlakukan terlalu keras.Pergaulan sangat terbatas. .Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya. . .Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain. gagap.Tidak pandai mengemukakan pendapat. Kemungkinan sebab : .Suasana keluarga terlalu keras. .Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu. tertekan. 11.Berbicara tersendat-sendat. . . Pemalu. Kemungkinan sebab : . . gugup ( Kasus III.Terlalu perasa.Tidak mau menerima pendapat orang lain.Salah tingkah.Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain. . . dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : .Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain.Sering tertegun-tegun.Sombong atau tinggi hati. takut. tidak bebas.Mau menang sendiri. . canggung. .Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain. .. kaku.Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain.

satu-satunya laki-laki atau perempuan. Kemungkinan akibat : . dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : .Sering ditakut-takuti. . seperti sangat cantik. 12.Ingin dipuji. satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya. anak tunggal. Kemungkinan sebab : .Sosialitas kurang berkembang.Frustasi yang dalam. tidak dapat dikendalikan. .Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ). . .Kurang memahami sopan santun dan aturan. .Kurang bertenggang rasa.Tidak dapat mengatur diri sendiri. bertindak semaunya sendiri. Kemungkinan akibat .. .Pemboros dan suka berfoya-foya.Terlalu bebas. sehingga sukar diharapkan mandiri. IV. sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang.Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga. seperti anak bungsu. .Pergaulan terlalu bebas.Kurang bergaul. tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya. sangat pintar. . . . Dimanjakan ( Kasus III. .Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya. sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. .

duduk sendiri. dipermainkan. . Kemungkinan akibat : . harus patuh. ( khususnya orang yang lebih muda ). tidak naik kelas. .Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok. . . pendapatnya diremehkan. 14.Tampak lemah. . tertutup. .Tudak ceria.Pendiam. . sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain. Kemungkinan sebab : .Bersikap pemberontak. tidak lulus ujian. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : . Menyendiri.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil..Suka termenung. 13.Tingkah laku memang kekanak-kanakan.Kurang pandai bergaul. digoda.Sukar menyesuaikan diri. . Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain. .Perkembangan sosialitas terganggu. atau tidak disenangi oleh orang lain.Seing memisahkan diri dari kawan. . . .Rendah diri.Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut.Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek.

. 15. dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kecewa. Kemungkinan akibat : . . .Merasa rendah diri. .Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah. . . malu.Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya.Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya.Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar. . .Diperlakukan terlalu keras. . . . . Berlaku kasar ( Kasus V. Kemungkinan sebab : . .Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya.Tidak mau minta maaf. marah. .Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam.Suka mencaci maki orang lain. frustasi.Perkembangan sosialitas terganggu. .Kemungkinan sebab : .Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga.Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya.Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak.Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain. . sedih.Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain.Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki.Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik.

.Suka berkata cabul.Membawa buku-buku cabul. 16. .Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang. . . .Suka membaca buku cabul.Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. tidak naik kelas.Merasa iri terhadap orang lain.Memamerkan alat kelamin kepada orang lain. Kemungkinan sebab : . .Kurang perhatian atau kurang kasih sayang. . .Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ).Mebuat coret-coret yang bernada cabul. disisihkan dari lingkungan sosial.Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal. . Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : . dikelurkan dari sekolah. . kegagalan belajar. dibenci oleh orang lain. .Nilai rendah.Frustasi karena kegagalan cinta. Kemungkinan akibat : .Suka mengintip. . . .Gangguan kepribadian/gangguan mental. .Mengalami penyimpangan seksual.Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya.Dibenci orang lain. Kemungkinan akibat : . .Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain..Sukar mencari teman bergaul. .Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan.

Sring kali dimarahi. . . Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kurang enak makan. 18. . tidak ceria. bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik. .Apabila yang bersangkutan bereaksi. Kemungkinan akibat : .Hubungan dengan teman sebaya. .Tidak suka berolah raga.Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral. . larangan dan hukuman malah diperkeras. makan tidak teratur dan kurang gizi. dikeluarkan dari sekolah. Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . lemah .Sering tidak enak badan (sakit).Mengidap penyakit tertentu.Nilai rendah. tidak naik kelas. . . .Kurang bergairah. Kemungkinan sebab : . 17. terutama dengan jenis kelamin lain. seperti kurang tidur. terganggu. di hokum.Berat badan merosot.Kebiasaan hidup tidak sehat.. . .Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Kegiatan belajar terganggu. merokok.Harus patuh pada perintah dan larangan.

.Berteman harus disukai orang tua.Orang tua atau guru yang otoriter.Rendah diri.Menjadi pasrah.Mencari kompensasi.Harus tinggal di rumah sepulang sekolah. . . Kemungkinan sebab : . sehingga reaksi orang lain menjadi keras. .Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain. tidak mengenal kelembutan. . Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : .Anti sosial. . Kemungkinan akibat : . .Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter.Tidak diperbolehkan karyawisata.Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan. kehilangan inisiatif.Selalu dicurigai kemana akan pergi. .Dilarang pergi kerumah teman.Tidak diperbolehkan berpacaran.Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya.Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide. . .Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya. .Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal.Harus tepat waktu pulang dari sekolah.Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua. . . . . 19. .Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter.Kemungkinan sebab : . . .

. . belum pernah diapa-apakan.Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya. dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah.Daun ganja itu baru sekedar disimpan. .Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah. .Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya. . akan muncul perasaan rendah diri. . . dan mau diapakan atau dikemanakan.Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini.Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar. Kemungkinan akibat : . . .Ingin mencoba ganja. kurang percaya terhadap dirinya sendiri.Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya.Kurang berani berpendapat. 20.. Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah. . .Menyimpan daun ganja. .Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan.Timbul reaksi melawan dan menentang. di bungkus rapi. .Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya.Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. .Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal. Kemungkinan sebab : .Tidak luwes dalam bergaul. meskipun belum terlaksana. .

Dorongan teman untuk berontak. .Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua.Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan.Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi.Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng. Kemungkinan sebab : . . karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. . . . . .Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua. . kemudian pulang. Kemungkinan akibat : . 21. . .Keluarga menjadi risau.Dimarahi oleh orang tua.Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja. . .Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya.Menjadi korban tindakan criminal. .Kemungkinan akibat : .Tidak tahan akan kelakuan keluarga. .Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter.Tidak betah dengan suasana rumah. karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik. Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Menyembunyikan diri di tempat family.Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya.Terjerumus pada tempat-tempat maksiat.Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan.Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana. . . .

muntah. . . Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . di luar rumah.Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari. Kemungkinan sebab : .Melawan kepada orang tua atau guru.Membuat coret-coretan pada dinding sekolah. . . kekotoran.Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah.Mengganggu teman dalam belajar. Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . tidak naik kelas.Berkelahi dengan teman. . dan tidur berlama-lama. dikeluarkan dari sekolah.Sering minum-minuman sehingga mabuk. .Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan. 23.Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas. dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu.Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah. . .Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh.Berbuat demikian bersama “geng”-nya. Kemungkinan akibat : . . seperti agak “teller”.22. .Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. kegelapan. . .Nilai rendah.Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah.

. . . . . .Dengan sengaja melanggar peraturan.Menggangu ketentraman umum. .Merasa tidak puas dengan lingkungannya. . atau barang-barang lainnya.Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying.Mengganggu teman wanita. .Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan.Kompensasi atas kekurangannya. .Kegiatan belajar terganggu. .Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal. .Terjerumus pada tindakan criminal.Jalannya peraturan sekolah terganggu. .Menguji identitas diri. Merasa disepelekan oleh lingkungannya. .Menjadi bahan pengujian orang lain. . . seperti peraturan lalu lintas. Kemungkinan sebab : . .Mengakibatkan cidera fisik pada mereka. 24.Ingin di anggap jagoan.Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh. . nilai-nilai dengan berbagai akibatnya.Mencuri buah-buahan. . Kemungkinan akibat : .Merusak keindahan lingkungan. .Peralatan sekolah rusak. Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) .Disiplin yang terlalu keras.Berurusan dengan pihak yang berwajib. peraturan sekolah.Ingin menarik perhatian orang lain.

Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat. Kemungkinan akibat : .Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas.Gambaran yang lebih rinci : . . Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan sebab : . jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan.Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah.Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya.Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu.Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari. atau bahkan melecehkan agama.Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama. . .Pelajaran agama kurang menarik. .Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama.Nilai pelajaran agama merah. . pengembangan religious terhambat. . .Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang. . . 25.

.Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan sebab : . Kemungkinan akibat : .Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua. sekarang tidak rajin. .Anak semakin tidak menghormati orang tua.Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik. Kemungkinan akibat : . . . 26.Tadinya rajin shalat. . bahkan tidak shalat sama sekali. .Hubungan antara orang tua semakin renggang.Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu.Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur.Orang tua terlalu keras memberikan teguran.Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.Nilai-nilai keluarga semakin lemah.Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan .Kemungkinan sebab : . . tapi anak tidak menghiraukannya. serta berhenti shalat secara tetap. .Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat.

Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka. dua hal perlu mandapat perhatian utama. Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. Adalah suatu . “selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu. pusing kepalanya perlu dihilangkan. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. Sebagai contoh.C. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu. Dilihat secara lebih lanjut. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan. Dalam kaitan itu. Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. dan akhirnya.

kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. dan sebaliknya. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. Masalahnya sekarang ialah. . penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. Sebagai gambaran umum. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu. (3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. Demikian. dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat.

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

(Mathewson. (Lefever. dalam Bernard & fullmer. Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. dalam McDaciel. Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik. 1959). membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. dalam Bernard & Fullmer. rencana-rencana. Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi. 1959). …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna. (Tiedeman. (Mortensen & schmuller. 1969). laki-laki atau perempuan. tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna.Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. (Bernard & fullmer. 1969). 1969). (Smith. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu. dalam McDaniel. (Crow & Crow. 1976).1960). .

c. Bimbingan dilakukan secara sistematik. 1951) a. d. Bimbingan membantu setiap individu. c. dalam McDaniel. Rumusan 4 (Lefever. b. Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. 1970). e. Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik. b. d. b. c. b. Bimbingan berusaha membantu individu. (Jones. Staffire & Stewart. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. tetapi harus dikembangkan. 1959) a. Bimbingan diberikan kepada anak muda. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. dalam Jones. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. dalam McDaniek. 1959) a. 1959) a. .Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. dalam McDaniel. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. jabatan. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan. Rumusan 3 (Chiskolm. Bimbignan diberikan kepada individu. Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri.

b. Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. b. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. dalam McDaniel. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Rumusan 7 (Tiederman. 1969) a. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. c. c. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. d. 1960) a. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. rencana-rencana. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. 1976) a.Rumusan 5 (Smith. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. e. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat. Bimbingan itu diberikan kepada individu. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. b. . e. d. dalam Bernard & fullmer. e. c. d. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. b. kemampuan. Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. Rumusan 6 (Crow & crow. c. dan interpretasi-interpretasi. 1959) a.

b. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. f. Bimbingan ditekankan pada proses belajar. dalam Bernard & Fullmer) a. Dalam memilih jalan hidupnya. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan. dkk. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia. d. tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. seperti masalah-masalah pendidikan.Rumusan 10 (Matehwson. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. . Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. Bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan merupakan proses bantuan. c. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain. b. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. dan pribadi. sosial. 1970) a. e. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. Rumusan 11 (Jones.

Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi. . data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. hadiah.2. serta sumbersumber yang dimilikinya. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. di dalam keluarga. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. dan orang dewasa. Dalam kaitan ini. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. remaja. dan lainlain). serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri. dan lain-lain. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. 3. baik perseorangan maupun kelompok. konselor maupun dari lingkungan. tetapi meliputi semua usia. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing. Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan. 4. mulai dari anak-anak. nasihat ataupun gagasan. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. yang dihadapinya. informasi tentang jabatan. dan akhirnya dapat mencapai 5. interaksi. Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. 6. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor). sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. Bantuan itu diberikan kepada individu. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan. dan di luar sekolah. sumbanagn. di sekolah.

maupun dewasa. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain. Norma tersebut berupa berbagai aturan. adat. remaja. baik bentuk. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. 2.7. upaya bimbingan. hokum. Dalam kaitan ini. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon. Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. istilah konseling berasal dari bahasa latin. isi dan tujuan. baik anak-anak. Ebagaimana istilah . bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama. Pengertian Konseling Secara etimologis. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. 8. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. berdasarkan norma-norma yang berlaku. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat. 9. dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan.

masing-masing disebut konselor dank lien. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu. 1974). (Smith. 1974). dalam Sherzer & Stone. (Jones. (Pepinsky & Pepinsky. 1951). (Division of Conseling Psychology). …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya. Sherzer & Stone. proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. dalam Shertzer & Stone. Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. rencana. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. (Maclean. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.bimbingan. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. 1974). atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. (b) terjadi dalam suasana yang professional.

motivasi. (Blocher. … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah.. selanjutnya. rencana. 1974). dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut. 1959). atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. keadaanya sekarang. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. (Tolbert. yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . dalam Shertzer & Stone. (Bernard & Fullmer. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating. menyediakan situasi belajar.C. (McDaniel. 1969). dalam Shertzer & Stone. English. demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. . 1956).secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. 1974). (A. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya.

Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka. e. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu. b. masingmasing disebut konselor dan klien.1974) a. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. 1951) a. Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya. c. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. dalam Shertzer & Stone. dalam Shertzer & Stone. b. Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. dalam Shertzer & Stone. 1974) a. 1974). dan rencana-rencana yang akan dibuat. b. dalam Shertzer & Stone. 1974) a. Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. . c. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa. Dilakukan oleh orang ahli (professional). yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. b. Rumusan 3 (Mclean. serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. c. (Lewis. Dilakukan dalam suasana professional. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik. semakin maju. d. Rumusan 4 (Smith.

Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. Rumusan 6 (McDaniel. Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. b. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. Rumusan 8 (Tolbert.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a. b. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. c. 1965) a. Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. yaitu belajar memahami diri sendiri. c. b. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. d. c. b. 1959) a. 1969) . Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. membuat rencana untuk masa depan. Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. Rumusan 7 (Tolbert. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. d. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. e. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). 1959) a.

c. dalam Shertzer& Stone. sebagai orang . b. pemahaman. Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. b. dan potensi-potensinya. d. dan potensi. dan keterbukaan. Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. penerimaan. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. motivasi. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. Semua rumusan. Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif.a. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. b. d. c. kebebasan. baik langsung maupun tidak langsung. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). e. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien). Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. 1974) a. Rumusan 10 (lewis. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. motivasi. yaitu sebagai berikut : a. Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan.

tentang perilaku-perilakunya. teratasinya masalah yang dihadapi klien. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. tentang perasaan-perasaannya. Berlainan dengan pembicaraan biasa.yang lebih tua. yaitu konselor dank lien saling berbicara. b. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung. sebagai orang yang lebih matang. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. atau frustasi. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan. dan banyak lagi tentang dirinya. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. yaitu perubahan kearah yang lebih baik. . masalah. Dipihak lain. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. f. dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana. c. pandangan mata. gerakan-gerakan isyarat. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. d. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. kebingungan. Keduanya terlibat dalam memikirkan. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda.

Istilah mana yang sebaiknya dipakai. B.e. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. penyuluhan atau konseling. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien. Istilah mana yang dipakai. Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri.

Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul. penyuluhan kesehatan. pemahaman. berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. penyuluhan keluarga berencana. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau . yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia.profesi tersebut. sikap dan keterampilan warga masyarakat. seperti cara-cara bertanam. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. pemahaman. harus dimantapkan. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat. khusus dikalangan persekolahan. Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. 1987). khususnya petani. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan. penggunaan pupuk. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. pemberantasan hama dan sebagainya. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. memilih bibit. antara penyuluhan gizi. khususnya lingkungan sekolah. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. penyuluhan hokum.

Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. Persamaanya memang ada. pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. misalnya penyuluhan pertanian. Lebih jauh. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu.mungkin tidak dikenal disatu pihak. disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. Padahal. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. Sejak tahun 1980-an. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. penyuluh kesehatan dan sebagainya. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi. Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain.

Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. . demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. Pelayanan terhadap anak-anak. Sayangnya. Kedua. kalau memang ada. yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. remaja. istilah ini. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. sebenarnya akan baik juga. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. psikiater. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. manajer? Dalam hal ini. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. pemuda. prinsip. Pengertian.memakai nama asli dari luar negeri. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. insinyur. seperti psikiater. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. kalau memang ada. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling. kiranya perlu dipakai satu istilah. Berdasarkan uraian singkat terebut. Pertama. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. atau dokter. Istilah baru ini. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya.

C. terutama Amerika Serikat. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. Pada tahap awal ini. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. lingkunga. Pada periode ketiga. yang umumnya disebut sebagai periode personian. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. Perkembangan yang lebih lanjut . Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson. Pada kedua periode ini. mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri. 1975). Dalam kaitan itu. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. Pada periode kedua. Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan. dan masyarakat.

dengan keseluruhan totalitas perwujudannya. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain. daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. ditandai sebagai periode kelima. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. Ia bahkan mengusulkan. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. yang satu dapat dibedakan dari yang lain. Itu semua adalah pekerjaan konseling. Periode berikutnya. Berdasarkan uraian diatas secara praktis. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama. serta segenap permasalahannya. 1975) secara tegas menolak konsep. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. (Belkin. teknik. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai.pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. langkah-langkah. yaitu konseling. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. tampak adanya dua arah yang berbeda. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. . Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu.

adalah pekerjaan konseling. Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga). Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas. Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . Dengan demikian. Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima). profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok. sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir).

1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. dalam McDaniel. Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. (Tiedeman. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. D. . 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. padangan dan pemahaman-pemahaman. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. penyesuaianpenyesuaian.Nasional). dalam Bernard & Fullmer. 1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. 1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. dalam Thompson & Rudolph. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. serta keterampilan-keterampilan baru. dalam Jones. (Coleman. (Hamrin & Clifford. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling.

Membuat penyesuaian-penyesuaian . dalam Jones 1951) Agar individu dapat : . (Thompson dan Rudolph. .Melakukan pemecahan masalah .Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel. …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. pengembangan pribadi. (Myers. Rumusan 5 (Coleman. 1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman. 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben. pengembangan kesadaran.Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor . dan penerimaan diri sendiri. dan pengembangan diri. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : . .Melakukan pengambilan keputusan.Memberikan wawasan.Memberikan dukungan . 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna. pandangan. 1983). dalam Bernard Fullmer. 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford. penyembuhan. keterampilan dan alternative baru .Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph. pemahaman.Membuat pilihan-pilihan. dalam Thompson & Rudolph.pengembangan kesadaran. dalam Bernard & Fullmer.Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif . 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : .

interpretasi. Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya. pandangan. mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. Asas-asas Bimbingan dan Konseling . Dalam kaitan ini.Mengembangkan penerimaan diri . dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. status sosial-ekonomi). Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. dan sangkut-pautnya. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.. pilihan. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. pendidikan. penyesuaian. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. intensitas. sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. serta masing-masing bersifat unik pula. dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut. E.Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya).

Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. kekinian. yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. penerimaan. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan. 1987). 1. kenormatifan. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. kebebasan. ahli tangan. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. kegiatan. Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. dan tut wuri handayani (Prayitno. maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak. serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). keterbukaan.Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. keterpaduan. sebaliknya. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. kedinamisan. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. keahlian. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. kemandirian. pemahaman. dan keterbukaan.

Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar. baik dari pihak di terbimbing atau klien. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. Sebaliknya. Lebih jauh. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. 3. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. malahan lebih dari. . Apabila hal terakhir into terjadi. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. data. diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. mereka takut meminta bantuan. maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan. maksudnya. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. serta mengungkapkan segenap fakta. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. 2.baiknya. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. menyampaikan masalah yang dihadapinya. maupun dari pihak konselor.

Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. maka konselor hendaklah segera member bantuan. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. 5. pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. 4. Dalam usaha yang bersifat pencegahan. dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah. pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. Dari pihak konselor. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada .Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini. maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain.

dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.konselor. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. . yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. 7. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. yang bersifat monoton. 6. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.

Disamping keterpaduan pada diri klien. konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. sesuatu yang lebih maju. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu). teknik. norma ilmu. . 9. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. norma adat. Demikian pula prosedur. 8. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. norma hukum/Negara. maupun kebiasaan sehari-hari.melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien. baik ditinjau dari norma agama. Ditilik dari permasalahan klien. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku.

12. Oleh karena itu. asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan. bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. Asas Tutwuri Handayani . dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II. sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik. Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. 11.10. juga kepada pengalaman.

Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien. Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari. Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja. untuk. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . Lebih-lebih di lingkungan sekolah. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling. cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. ing madya mangun karso”.

keahlian. peranan konselor. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. yaitu asas kerahasiaan. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. kegiatan. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. kemampuan. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. prosedur kerja.lain. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. dan tut wuri handayani. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. kemandirian. minat dan nilai-nilai. serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. kualifikasi keahlian. ahli tangan. hasil yang harus dicapai. kesukarelaan. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. Tugas . kenormatifan. kekinian. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. keterbukaan. keterpaduan.

Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling. dengan mempergunakan bahan. dalam suasana asuhan. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian.1. b. dan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Yaitu : a. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. nasihat. dan gagasan. interaksi. Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret. pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri.

Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c. yang bersifat keahlian. unik. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. berdasarkan norma-norma yang berlaku. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien. dan manusiawi. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut.Dengan demikian. (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. berdasarkan norma-norma yang berlaku. pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha. dengan cara yang laras. . Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a.

Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Bimbingan b. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan. istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a. istilah mana yang lebih tepat dipakai. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. a. atau b. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling c. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. Pertimbangkanlah kembali. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya.3. konseling atau penyuluhan. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5.

Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa.Daftar Pustaka Prayitno. Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika. siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri. KASUS II ES berumur 16 tahun. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. (1987). sering melanggar tata tertib seklah. dia belajar di tempat tidurnya. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. dan prestasi belajarnya rendah. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik. duduk di kelas I SMA di kota B. . Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. yaitu rata-rata diatas 6. tetapi berlainan ibu. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. Siswa tersebut sering bolos. Di rumah.

. sehingga tampak canggung. memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. siswa tersebut sangat pemalu. An adalah satu-satunya yang perempuan. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah. segan dan bahkan takut. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. dan suaranya tidak jelas terdengar. ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Di rumah. Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain. gemetar. Dalam keluarganya. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. dia tampak gugup. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. bahkan cenderung rendah. karena itu ibunya sering memanjakannya. Terhadap guru.

Dia suka berke. Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal. Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan. kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. Demikian juga terhadap gurunya. Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. berpangkat perwira menengah. kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. disamping kasar. apabila guru menegurnya. Mengetahui K seperti itu. Karena kesibukannya. dan nilainya berantakan. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. maka dia bereaksi dengan kasar. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain.ahi dengan temantemannya. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. Demikian pula ibunya sering bepergian. Ayahnya seorang anggota ABRI. ayahnya jarang dirumah. Dia adalah siswa pindahan dari kota J.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. semester ini ia jarang masuk sekolah. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. Di rumah. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Oleh sebab itu. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara. K pernah minggat dari rumah. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. .

Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya. dia mendapat nilai merah. bahkan seringkali shalat berjamaah. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. KASUS VIII Seorang siswa STM. Siswa tersebut mengalami kebimbangan. Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. kedua tentang amarah orang tuanya. Msekipun hidupnya agak kurang teratur. laki-laki. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya.KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P. Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu.Prestasi belajar rendah . Ternyata ia anak pandai. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan. karena itu ia sangat dimanjakan. baik dirumah maupun di luar rumah.Kurang minat pada IPA . merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya.

Sukar menyesuaikan diri .Dimanjakan Moralitas : - .Gugup .Sosialitas Moralitas : . canggung.nilai-nilai jelek : .Menyendiri.Hasil belajar cenderung rendah : .Melanggar tata tertib .Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Kesulitan alat belajar Sosialitas : . kurang bergaul . taku.Sering bertengkar .Dimanjakan .Prestasi belajar sangat rendah .Pemalu. kaku .Bentrok dengan guru : .pendiam : : - Kasus III Individualitas : .

Nakal .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Nilai rendah .Nilai di bawah rata-rata : .Tidak bebas Moralitas : .Diperlakukan dangat keras .Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Mabuk-mabukan .Mendapat nilai merah : .Kurus dan pucat Sosialitas : .Terlambat .Dimanjakan : - .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Suka berkelahi .Berlaku kasar : .Kasar terhadap orang lain .Menyimpan ganja .Minggat .Jarang masuk sekolah .

Religiusitas : . Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah.Tidak lagi melakukan shalat D. tidak lulus ujian akhir. Secara umum. disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. dan sebagainya. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. tidak naik kelas. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar. (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu.Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : .Tidak enak pada orang tua : : . yang pada umumnya dapat digolongkan atas : . 1. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar.Khawatir nilai merosot : . Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. angka-angka rapor rendah. seperti. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. Secara lebih laus.

c. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. membenci guru. b. dan pengamatan. Sangat lambat dalam belajar. Keterlambatan akademik. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Siswa yang belum menguasai .a. tes kemampuan dasar. d. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. Ketercepatan dalam belajar. yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. e. seperti suka menunda-nunda tugas. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. mengulur-ngulkur waktu. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. Kurang motivasi dalam belajar.

Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. Tes Kemampuan Dasar . yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai. Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. atau dalam satu tingkatan kelas). Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali.bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas. Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9.

Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS). Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC).Normal atau rata-rata . Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM).Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I.Di atas rata-rata . Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar. dalam hal mengerjakan tugastugas.di bawah rata-rata .Sangat cerdas . Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya.Q. dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra. Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar. membuat catatan. Misalnya. 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . membaca buku. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. Dalam banyak skala inteligensi.sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya. .bodoh Di bawah 70 .Cerdas .

makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung.F. Brown dan W. sikap terhadap guru. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostic disusun. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara. Holtzman (versi 1954 dan 1960). dibakukan. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing.h. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu.Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. Tujuannya sama. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. atau pemakaian rumus-rumus. dan sebaliknya. . sikap dalam menerima pengajaran.

Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. . analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. serta gerak dan suara. dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. film.dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). baik melalui tulisan. Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. maket. atau rekaman video. (b) kegiatan pengayaan. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut. Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. 2. dan lain sebagainya. bentuk grafik atau gambar. sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. bentuk tiga dimensi yang berupa model. (c) peningkatan motivasi belajar. dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu.

Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. tidak tentera. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor. Misalnya. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. bingung. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar. b. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. paket belajar. Dibandingkan dengan pengajaran biasa. dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. dan sebagainya. .a. sistem pengajaran dengan modul. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. dan pengajaran yang berprogram lainnya. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. Disamping itu. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. karena bahan. bimbang. cemas.

Guru. maka akan diperoleh berbagai jawaban. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. Tingkah laku seperti kurang bersemangat. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. malas. Sebaliknya. dan lain sebagainya. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. jera. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. untuk belajar. tetapi menjadi pudar. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. Disisi lain. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. tidak semangat. tetapi sebagian lagi mungkin belum. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . c. Mereka cenderung menjadi patah hati. dan sebagainya. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. jera. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. dan sebagainya.

1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat. merangsang. membingungkan. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. serta antara murid dan murid. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. kemampuan dan minat siswa. 4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. d. . dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. mengecewakan. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh. menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. dan menyenangkan. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur.

4) Memilih waktu belajar yang baik. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. dan rekreasi yang memadai. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. dan menunjang. terutama oleh guru-guru konselor. Dalam hasil itu memang diharapkan . tidak teratur. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. kesehatan yang baik. seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik. baik disekolah maupun dirumah. dan orang tua siswa. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. dan sebagainya. Sebagaimana disebutkan terdahulu. Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. teman atau siapa pun juga. misalnya. Konselor dapat membantu penyelenggaraan. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya.3) Kata-kata. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. 3) Mengatur waktu belajar. kapan secara rinci. ungkapan-ungkapan. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. Lebih jauh. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. sedangkan konselor sebagai arstitek. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman. mengisi. penasihat dan penyumbang data. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. kapan membaca secara garis besar.

Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien. ataupun kegiatan yang lainnya. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar. “tes buatan guru” adalah sangat penting. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. baik di sekolah maupun diluar sekolah. E. konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. baik layanan individual maupun kelompok. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. minat. sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi. baik dalam bentuk lpenyajian individual. Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. Dalam kaitan itu.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut.

dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). sebagaimana telah disebutkan terdahulu. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi. menghayati. teknik dan teknologinya). pencegahan. Hal itu dapat dimengerti karena. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. terarah. pengentasan. serta pemeliharaan dan pengembangan. Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. 1. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. Sasaran (subjek penerima . Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. Di samping itu. mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. serta bimbingan belajar. Atau dengan kata lain. apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya.menyeluruh. penempatan dan penyaluran. terkontrol. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. menerapkan. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa.

dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling. Munro dkk. . dan (c) tanggung jawab pribadi klien. Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar. Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi. kondisi. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. tujuan. Layanan Lain.layanan). Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. (b) keterbukaan. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. yaitu (a) kerahasiaan.

Sebagaimana telah dikemukakan di depan. danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. Dengan niat. yaitu bahwa : a. maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. e. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling. c. wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. b. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. dan apapun yang menjadi persepsi. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. Lebih jauh. sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. sebuah kondisi . rahmat. d.Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor.

serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain. c. konselor. adat istiadat dan kebiasaan setempat. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. mimic. dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). Format konseling meliputi terutama jarak. kondisi . Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. standar atau hasil modifikasi. sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. b. e. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. baik ditinjau di sisi klien. Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. arak. Suara. Sekali lagi format tersebut adalah format standar. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. Klien dan konselor mudah bergerak. d. dan sikap duduk konselor dan klien. Namun demikian. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. Format apa pun yang terbentuk. maupun kondisi hubungan itu sendiri. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. sambil tetap menjaga jarak.

d. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. e. Pemahaman masalah. 2. Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis. kondisi ruangan dan peralatan yang ada. c. Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . dan kondisi konselor sendiri. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. Evaluasi. Tindak lanjut. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. unik. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah.kosial budaya. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. Apliakasi metode khusus. b. Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu.

sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. tentang klien dan permasalahannya. namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. dan efisiensi proses konseling. . “kok sampai begitu”. apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga. pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. “tidak boleh begini atau beitu”. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). merendahkan atau menyesalkan. “harus begini atau begitu”. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. efektivitas. dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). atau kata-kata yang mencemooh. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. data dalam cumulative record. Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. Oleh karena itu. Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih.

Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. bengga yang berlebihan atau sombong. “anda tidak berdosa”. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya. Tidak jarang terjadi. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya. terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. Metode-metode khusus . melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. perasaan tersinggung. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. sebagaimana pernah disingung dimuka. titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. cemas. setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. dan lain sebagainya). Sebaliknya. seperti “anda sebenarnya memang hebat”. sikap mempertahankan diri. masa bodoh. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”. Klien telah amat terbantu. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”.menilai negative atau menyalahkan. Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. dapat menggugah hati serta pikiran klien. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri. “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”.

khususnya dengan masalah yang dihadapinya. Labih jauh lagi. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. Konselor . atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. desensitisasi. Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan.bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja. Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan. Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. dan harapan-harapannya. ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri. pemberian contoh. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh. latihan merencana suatu kegiatan. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. 1982). konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). latihan bersikap dan bertindak. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. dan konseling lebih lanjut.

Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya. dapat diidentifikasi lima tahap. Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. tidak menyukai konselor. Keefektifan pengentasan masalah. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. 3. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala. dan yang lebih parah lagi. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana. maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. klien . Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling. Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah.

Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. Namun keefektifan konseling tidak begitu saja. Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. Kalau individu berhenti disana. Kemungkinan yang lain adalah.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat . berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Pesoalannya adalah. Sebaliknya. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. konseling dapat berjalan pun tidak. Jangankan efektif. keefektifan konseling tidak akan terwujud. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. Namun. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri.

hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien. dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. . Setelah berakhirnya prose konseling. Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir.keefektifan konseling. Dengan kata lain. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). pertanyaan yang masih tersisa ialah.

terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah.4. Aa G. bahkan disana-sini bertolak belakang. A Aa . 6. A H. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. J. K. dan konseling elektrik. 7. konseling non-direktif. 5. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. 8. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan. Aa I. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. Aa A A F. yaitu pendekatan konseling direktif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful