`Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkandung di dalam Setiap Kasus

1.

Prestasi belajar rendah ; di bawah rata-rata ; merosot ( Kasus I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII ) Gambaran yang lebih rinci : - Nilai rapor banyak merahnya; - Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah; - Dari waktu ke waktu nilai menurun; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran; - Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

Kemungkinan sebab : - Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; - Malas belajar; - Kurang minat dan perhatina; - Kekurangan sarana belajar; - Kekurangan kesempatan, atau waktu untuk belajar; - Suasana sosio-emosional dirumah kurang memungkinkan untuk belajar lebih baik; - Proses belajar – mengajar di sekolah kurang merangsang; - Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa belajar dengan baik;

Kemungkinan akibat : - Minat belajar semakin berkurang; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah; - Frustasi yang mendalam;

- Tidak mampu melanjutkan pelajaran; - Kesulitan mencari kerja.

2.

Kurang berminat pada program studi tertentu ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut; - Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut; - Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut; - Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut; - Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan; - Dengan guru kurang menyenangkan; - Siswa sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya selalu rendah; - Dorongan dari guru dan sekolah kurang; - Sarana belajar kurang menunjang; - Memilih bidang tersebut dari ikut-ikutan, atau dorongan orang tua atau orang lain.

Kemungkinan akibat : - Pindah jurusan; - Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa; - Kegiatan untuk bidang studi lain menjadi terganggu.

3.

Bentrok dengan guru ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut; - Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;

- Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut; - Memakai kata-kata ataupun bersikap tidak sopan terhadap guru tersebut; - Mempengaruhi kawan-kawannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut.

Kemungkinan sebab : - Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan guru tersebut; - Siswa berbuat kesalahan dan ketika di tegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu; - Berwatak pembangkang; - Kurang memahami aturan dan sopan santun yang berlaku di sekolah; - Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan ( dan di rumah ) berbeda dengan yang berlaku dirumah.

Kemungkinan akibat : - Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan; - Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-gurulain menjadi terganggu; - Tidak naik kelas; - Dikeluarkan dari sekolah.

4.

Melanggar tata tertib ( Kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Sejumlah tata tertib disekolah tidak dipatuhi, misalnya : tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugastugas; - Perlanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja; - Pelanggaran dilakukan berkali-kali.

Kemungkinan sebab :

- Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehinga siswa hanya terpaksa mengikuti; - Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun masyaraka; - Tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar( Negatif ); - Cirri khusus perkembangan remaja agak “sukar diatur” tetapi “belum dapat mengatur diri sendiri”; - Ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada

pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Kemungkinan akibat : - Tingkah laku siswa makin tidak terkendali; - Terjadi kerenggangan antara guru dan murid; - Suasana di sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa; - Proses belajar-mengajar terganggu; - Kegiatan belajar siswa terganggu; - Nilai rendah; - Tidak naik kelas, di keluarkan dari sekolah.

5.

Membolos ( kasus I ) Gambaran yang lebih rinci : - Berhari-hari tidak masuk sekolah; - Tidak masuk sekolah tanpa izin; - Sering keluar pada jam pelajaran tertentu; - Tidak masuk kembali seteleh izin; - Masuk sekolah berganti hari; - Mengajak teman-teman untuk keluar pada mata pelajaran yang tidak disenangi; - Minta izin keluar dengan berpura-pura sakit atau alasan yang lainnya;

.Terpengaruh oleh teman yang suka membolos.Tidak masuk kelas lagi setelah istirahat.Sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah dimulai.Penguasaan terhadap materi pelajaran tertinggal dari teman-teman lainnya. dan IV ) Gambaran yang terpeinci : .Merasa dibeda-bedakan oleh guru. . 6. Kemungkianan sebab : .Takut masuk karena tidak membuat tugas. .Tidak membayar kewajiban (SPP) tepat pada waktunya.Minat terhadap pelajaran akan semakin berkurang. . .Merasa gagal dalam belajar. Kemungkinan akibat : . . . Kemungkinan sebab : .Tidak senang dengan sikap dan perilaku guru. .Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki.Dikeluarkan dari sekolah. . Terlambat masuk sekolah ( Kasus I.Tidak naik kelas. .Mengirimkan surat izin tidak masuk dengan alas an yang dibuat-buat. .. . .Gagal dalam ujian. .Proses belajar-mengajar membosankan. . .Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang telah ditentukan.Sering tiba disekolah setelah jam pelajaran dimulai.Merasa kurang mendapatkan perhatian guru.Kurang berminat terhadap mata pelajaran. .Jarak antara rumah dan sekolah jauh.

Berwatak introvert. .Tidak menyukai datu atau lebih mata pelajaran. . . .Nilai rendah.Kurang mau berbicara atau bertegur sapa. . 7. . .Mengalami gangguan dengan organ bicara. . .Tidak ceria. .Terlambat bangun. .Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara. . .Terlalu banyak kegiatan dirumah. ..Tidak menyukai suasana di sekolah. . Pendiam ( Kasus II ) Gambaran yang lebih rinci : . .Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas.Malu atau takut pada orang lain. . Kemungkinan sebab : .Kegiatan di luar kelas tidak terkendali.Gangguan kesehatan. Kemungkinan akibat : .Kesulitan kendaraan.Tidak naik kelas.Terlalu asyik dengan kegiatan diluar sekolah. .Hubungan dengan kawan sekelas terganggu. . .Kurang sehat.Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR).Hubungan dengan guru terganggu.Mengalami kesulitan bahasa.Kurang akrab terhadap teman atau guru. membantu orang tua.

Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran. . . . Kemungkinan akibat : . . Kesulitan alat pelajaran ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Tertinggal dalam pelajaran.Kurang akrab dengan kawan sehingga tidak dapat meminjam alat pelajaran yang diperlukan dari kawan. . 8. seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran. Kemungkinan sebab : .Pemborosan sehingga uang yang tersedia untuk alat-alat pelajaran terbelanjakan untuk yang lain.Nilai rendah. Kemungkinan akibat : . . .Semangat belajar menurun.Tidak disukai kawan dan pergaulan teganggu.Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran.Tugas-tugas tidak sesuai.Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada ( misalnya perpustakaan ).Kurang rapid an teliti sehingga alat-alat pelajaran yang dimiliki lekas rusak atau hilang.Orang tua tidak mampu. . .Sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam.Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis.. ..Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan. .

Sering salah paham dengan kawan. . Kemungkinan Sebab : .Memperolokan. .Suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati ( permisif ). Kemungkinan akibat : . Sukar menyesuaikan diri ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .Tidak mau menerima pendapat orang lain. . .Tidak disukai kawan dan guru.Ditakuti kawan-kawannya.Hiperaktif. .Sombong.Membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah.Dikeluarkan dari sekolah. mengejek dan menantang orang lain. . . 10.Pengendalian diri kurang.Luka. . .Kerasa jagoan.Tidak mau dilarang.Berurusan dengan polisi. .Mau menang sendiri. .Nilai rendah.Melalaikan pelajaran. Bertengkar atau berkelahi Gambaran yang lebih rinci : . .Tidak naik kelas. . .Seing terjadi salah paham dengan kawan. . .9. .

. Pemalu. tidak bebas. gugup ( Kasus III. canggung.Sombong atau tinggi hati. . Kemungkinan sebab : .Tidak pandai mengemukakan pendapat.Sering tertegun-tegun.Terlalu perasa.Memiliki standar yang berbeda dengan standar orang lain. . .Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain.Salah tingkah. tertekan.Berbicara tersendat-sendat.Pergaulan sangat terbatas.. . . gagap. takut. Kemungkinan akibat: . . .Mau menang sendiri. dan IV ) Gambaran yang lebih rinci : . . . . kaku. 11. Kemungkinan sebab : .Tidak berani bertatap muka dan berwawancara dengan orang lain.Banyak mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang lain. . .Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya.Suasana keluarga terlalu keras.Suka membanding-bandingkan dan menjelekan orang lain.Terlalu bergaul lama dengan sekelompok orang orang dalam suasana tertentu.Tidak mau menerima pendapat orang lain.Diperlakukan terlalu keras. . .Curiga dan kurang percaya pada orang lain.

Kemungkinan akibat : . IV.Pemboros dan suka berfoya-foya. tidak dapat dikendalikan. Dimanjakan ( Kasus III. bertindak semaunya sendiri.Tidak dapat mengatur diri sendiri.Mempunyai keistimewaan yang di bangga-banggakan orang tuanya.Sosialitas kurang berkembang.Kurang memahami sopan santun dan aturan. Kemungkinan sebab : . .Kurang bergaul. sangat pintar. satu-satunya cucu tersayang yang dipelihara neneknya.Kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tidak dapat berkembang secara optimal. .Pergaulan terlalu bebas. . seperti sangat cantik.Memiliki kedudukan khusus dalam keluarga. . satu-satunya laki-laki atau perempuan. . . anak tunggal.Selalu berada dalam keadaan kekurangan ( misalnya dalam status sosialekonomi ).Kurang bertenggang rasa. .. . Kemungkinan akibat . 12. . . seperti anak bungsu.Frustasi yang dalam. . tidak ada yang dapat ditonjolkan pada dirinya.Ingin dipuji. sehingga sukar diharapkan mandiri. sering dirugikan dalam berhubungan dengan orang.Terlalu bebas. . sehingga menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan. dan VII ) Gambaran yang lebih rinci : .Sering ditakut-takuti.

Tudak ceria. pendapatnya diremehkan.Tingkah laku memang kekanak-kanakan. harus patuh. . duduk sendiri.Tampak lemah. atau tidak disenangi oleh orang lain. kurang bergaul ( Kasus IV ) Gambaran yang lebih rinci : . . tertutup.Orang lain mengganggu dan memperlakukannya seperti anak kecil. 13. .. digoda.Kurang mau dibawaserta dalam kegiatan kelompok.Suka termenung.Tinggal ditempat orang-orang yang kurang menghargai dan menyayangi orang lain. .Seing memisahkan diri dari kawan. . . Menyendiri. . Kemungkinan akibat : .Bersikap pemberontak. sehingga timbul dua jenis kontra-reaksi : makin dipermainkan oleh orang lain.Rendah diri. ( khususnya orang yang lebih muda ). 14.Perkembangan sosialitas terganggu. . . dipermainkan. .Sukar menyesuaikan diri. . Kemungkinan sebab : .Pelajaran yang terlalaikan dengan akibat nilai jelek.Pendiam. . tidak lulus ujian.Kurang pandai bergaul.Mereaksi negative terhadap perlakuan orang tersebut. tidak naik kelas. Diperlakukan seperti anak kecil ( Kasus III ) Gambaran yang lebih rinci : .

Suka memojokan orang lain dengan kata-kata yang tidak senonoh untuk memperlihatkan kelemahannya. marah. .Perkembangan sosialitas terganggu.Kemungkinan sebab : .Suka melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain.Terbiasa diperlakukan secara kasar dalam keluarga. kecewa. Kemungkinan akibat : . .Suka menyampaikan kata-kata kotor pada orang lain bila marah. Kemungkinan sebab : . . . .Tidak mau minta maaf. .Pelajaran terabaikan dengan berbagai akibatnya. . dan VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Suka memberikan hukuman yang bersifat fisik. .Kompensasi terhadap kelemahan yang dia miliki. .Suka mencaci maki orang lain. Berlaku kasar ( Kasus V. . . 15.Diperlakukan terlalu keras.Sedang mengalami suasana emosional yang cukup mendalam. . .Sering bergaul dengan orang-orang yang kasar.Suka menyerang orang lain untuk mempertahankan dirinya. sedih.Merasa mendapat pengalaman sukses dengan cara berlaku kasar dalam mencapai tujuannya. . . malu.Menolak dengan kata-kata keji permintaan maaf orang lain. . frustasi.Merasa rendah diri.Suka dimarahi orang lain di depan orang banyak.Sering diperlakukan secara kasar dalam pergaulannya.

Dipencilkan dari pergaulan oleh masyarakat atau lingkungan.Sukar mencari teman bergaul. . Kemungkinan sebab : . . Tidak senonoh ( Kasus V ) Gambaran yang lebih rinci : . . . disisihkan dari lingkungan sosial. .Suka berkata cabul. . . tidak naik kelas. Kemungkinan akibat : .Suka mengintip.Mebuat coret-coret yang bernada cabul.Nilai rendah. .Terpengaruh dengan teman sebaya atau lingkungan tempat tinggal. . .Membawa buku-buku cabul.Frustasi karena kegagalan cinta. .Bisa mengalami stress dan darah tinggi karena hidupnya tidak tenang. dibenci oleh orang lain. 16. . .Dibenci orang lain.Kurang perhatian atau kurang kasih sayang. Kemungkinan akibat : . kegagalan belajar.Gangguan kepribadian/gangguan mental.Menggoda dengan kasar jenis kelamin lain.Tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan oleh lingkungannya. dikelurkan dari sekolah.Merasa iri terhadap orang lain..Merasa tidak dihargai atau mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. . .Memamerkan alat kelamin kepada orang lain.Mengalami penyimpangan seksual.Untuk melindungi dirinya dari kesalahan yang dia lakukan ( mekanisme pertahanan diri ).Suka membaca buku cabul. . .

dikeluarkan dari sekolah.Apabila yang bersangkutan bereaksi.Kurang enak makan. tidak naik kelas. . . di hokum. 17. Diperlakukan sangat keras ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : .Kebiasaan hidup tidak sehat. tidak ceria.Kurang bergairah. seperti kurang tidur. . Kemungkinan sebab : .Terbiasa dengan perbuatan kiji atau amoral. makan tidak teratur dan kurang gizi. . Kurus dan pucat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Mengidap penyakit tertentu. bahkan kadang-kadang di hokum secara fisik. . . 18.Berat badan merosot.Sring kali dimarahi. merokok. terganggu.Minat belajar berkurang dan pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya. .Nilai rendah. . . Kemungkinan akibat : .Tidak suka berolah raga. lemah . .Hubungan dengan teman sebaya.Sering tidak enak badan (sakit).. larangan dan hukuman malah diperkeras.Harus patuh pada perintah dan larangan.Kegiatan belajar terganggu. terutama dengan jenis kelamin lain.

. Tidak bebas ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci adalah : . .Dilarang pergi kerumah teman.Orang tua atau guru yang otoriter. sehingga reaksi orang lain menjadi keras. Kemungkinan sebab : . . . .Menjadi pasrah.Orang tua terlalu ketat menerapkan disiplin dan otoriter.Terbawa menjadi bersikap dan berperilaku keras pada orang lain. .Kemungkinan sebab : .Selalu dicurigai kemana akan pergi.Orang tua selalu menuntut patuh ateu menurut perintahnnya.Harus tinggal di rumah sepulang sekolah.Tidak diperbolehkan karyawisata.Tidak diperbolehkan berpacaran.Anti sosial.Tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide. . tidak mengenal kelembutan. .Sekolah terlalu ketat menerapkan disiplin dan guru otoriter. kehilangan inisiatif. Kemungkinan akibat : .Mencari kompensasi. . . .Selalu diatur tentang apa yang akan dikerjakan. .Tidak mendapat kesempatan bergaul dengan teman sebaya. . . .Rendah diri.Sejak awalnya yang bersangkutan memang nakal.Pilihan sekolah lanjutan ditentukan oleh orang tua. . .Berteman harus disukai orang tua. .Harus tepat waktu pulang dari sekolah. 19.

.Daun ganja itu dari seseorang yang tidak diketahui namanya. . Kemungkinan akibat : . . . .Sebagai akibat pergaulan dengan “gang” sesama anak nakal. . Menyimpan ganja ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . .Sebagai kompensasi lebih lanjut ataupun pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini.Daun ganja itu baru sekedar disimpan.Orang tua kurang mengerti tentang aktivitas yang dilakukan di sekolah. . . 20.Dia hendak dijadikan alat untuk pengedar ganja di lingkungan pelajar. . .Tidak luwes dalam bergaul. kurang percaya terhadap dirinya sendiri. .Timbul reaksi melawan dan menentang.Pernah berdusta sehingga tidak dipercaya.Cenderung pasif atau bekerja cenderung menunggu perintah. akan muncul perasaan rendah diri.Menyimpan daun ganja.Kurang berani berpendapat. . . dalam lipatan buku yang tidak pernah di keluarkan dari tas sekolah.Ingin mencoba ganja.Orang tua menginginkan anaknya seperti apa yang mereka dambakan. belum pernah diapa-apakan. di bungkus rapi.Orang tua sangat menyayangi sehingga khawatir atas kesehatan dan keselamatannya.Belum tahu apa sebenarnya barang yang disimpannya. Kemungkinan sebab : .. meskipun belum terlaksana. .Bakat akan tidak terealisasikan secara optimal.Orang tua kurang mengerti tentang kebutuhan anaknya. dan mau diapakan atau dikemanakan.

. . .Malu yang berlebihan karena berbuat kesalahan.Meninggalkan rumah beberapa hari/ bulan.Tidak betah dengan suasana rumah.Kalau ternyata sudah menghisap ganja harus berurusan dengan dokter.Meninggalkan rumah tanpa izin/ pemberitahuan mau kemana. karena pengedar ganja dan sejenisnya adalah tindak kriminal. . .Terperangkap ke dalam jaringan pengedar ganja.Dimarahi oleh orang tua. . .Ingin bergabung dengan suatu kelompok/geng. . kemudian pulang. . .Kemungkinan akibat : .Pelajaran akan sangat terganggu dengan segenap implikasinya.Keluarga menjadi risau.Menampilkan ketidaksetujuan terhadap keputusan orang tua. . Kemungkinan sebab : .Dorongan teman untuk berontak. . . .Tidak tahan akan kelakuan keluarga.Kalau ternyata terlibat dalam jaringan pengedar ganja mesti berurusan dengan polisi. .Mencoba-coba hidup diluar pengawasan orang tua. .Menjadi korban tindakan criminal.Terjerumus pada tempat-tempat maksiat.Pelajaran terganggu dengan berbagai akibatnya.Mulai menghisap ganja dengan segala akibatnya. Minggat ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . karena hal itu dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fisik. . Kemungkinan akibat : . 21.Menyembunyikan diri di tempat family.

.Nilai rendah.Terjerumus lebih dalam lagi dalam dunia “geng” yang penuh dengan kekerasan.Berkelahi dengan teman. Kemungkinan akibat : .Dapat memperoleh minuman yang demikian meskipun tidak diberi uang dari rumah.Tidak mau membayar sewa mobil secara bersama-sama sepulang sekolah.Mabuk-mabukan di pinggir jalan pada malam hari. muntah. . dorongan dan penguatan untuk berbuat demikian itu. .Terlambatnya pengembangan pribadi secara menyeluruh. . .Pengaruh kawan se-“geng”-nya yang member fasilitas. dikeluarkan dari sekolah.22. . Kemungkinan sebab : . . di luar rumah. dan tidur berlama-lama. . Nakal ( Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kegelapan.Berbuat demikian bersama “geng”-nya. .Sering minum-minuman sehingga mabuk.Melawan kepada orang tua atau guru. .Sebagai kompensasi atau pelarian dari kehidupan keras dan mengecewakan yang dialaminya selama ini. seperti agak “teller”.Membuat coret-coretan pada dinding sekolah.Mengganggu teman dalam belajar.Gejala mabuk kadang-kadang terbawa pulang kerumah. tidak naik kelas. . Mabuk-mabukan (Kasus VI ) Gambaran yang lebih rinci : . kekotoran. . 23.

Gangguan emosional atau gangguan mental ringan atau salah asuh. . . Kemungkinan sebab : . .Kegiatan belajar terganggu.Kompensasi atas kekurangannya.Peralatan sekolah rusak. peraturan sekolah.Menjadi bahan pengujian orang lain. . .Merusak keindahan lingkungan. .Mengakibatkan cidera fisik pada mereka.Berurusan dengan pihak yang berwajib. . Merasa disepelekan oleh lingkungannya.Mencuri buah-buahan. 24. .Tidak mendapat perhatian atau perlakuan yang baik dari guru dan kawankawan. . . seperti peraturan lalu lintas.Merasa tidak puas dengan lingkungannya.Menguji identitas diri.Mengganggu teman wanita.Pengaruh lingkungan sebaya yang nakal.Ingin menarik perhatian orang lain. Kemungkinan akibat : . .Kurang perhatian dari keluarga atau kurang kasih saying. nilai-nilai dengan berbagai akibatnya.Ingin di anggap jagoan.Menggangu ketentraman umum. . . . . . atau barang-barang lainnya.Terjerumus pada tindakan criminal. .. .Jalannya peraturan sekolah terganggu. Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama ( Kasus VII ) .Dengan sengaja melanggar peraturan. .Disiplin yang terlalu keras.

Tidak mengetahui konsekuensi kalau nilai agama merah. . Kemungkinan sebab : .Gambaran yang lebih rinci : .Penunaian kewajiban agama oleh anak kurang menjadi perhatian orang tuanya. .Tidak memahami kaitan antara kehidupan keagamaan dengan hidup sehari-hari. .Anak mereaksi agak negative terhadap sikap dan tindakan orang tuanya itu. . . 25. pengembangan religious terhambat.Orang tua mereaksi terlalu keras terhadap tingkah laku anaknya yang dianggap menyimpang. Tidak enak kepada orang tua ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . . . Kemungkinan akibat : . . atau bahkan melecehkan agama.Pelajaran agama kurang menarik.Nilai pelajaran agama merah.Perhatina terhadap pelajaran agama disepelekan.Kalau ketentuan “nilai mati” untuk pelajaran agama tetap diberlakukan secara konsekuen maka siswa tersebut akan tidak naik kelas.Belum tertanam kebiasaan menunaikan kewajiban agama.Contoh dan control dari orang tua tentang penunaian kewajiban agama kurang kuat. jauh diselakang perhatiannya terhadap pelajaran-pelajaran lain. .Dikhawatirkan siswa tersebut akan makin kurang peduli terhadap keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penunaian kewajiban agama.

Orang tua terlalu keras memberikan teguran. tapi anak tidak menghiraukannya. .Nilai-nilai keluarga semakin lemah. . . 26.Tadinya rajin shalat.Teguran awal yang cukup lunak mungkin telah terlebih dahulu dikemukakan oleh orang tua.Refkesi dari gejolak perkembangan remaja yang ingin berdiri sendiri tapi sebenarnya belum mampu. . .Melupakan sama sekali kehidupan keberagamaan dan melakukan pada kehidupan keduniaan .Melemahnya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaan kewajiban agama.Belum tertanam secara kuat pemahaman makna shalat yang sesungguhsungguhnya sehingga terkena bias tertentu sedikit saja sudah luntur. serta berhenti shalat secara tetap.Kemungkinan sebab : . Tidak melakukan shalat ( Kasus VIII ) Gambaran yang lebih rinci : . Kemungkinan akibat : . . .Makin terkikisnya kebiasaan dan pemahaman makna shalat yang sudah ada sebelumnya. bahkan tidak shalat sama sekali. sekarang tidak rajin. . Kemungkinan sebab : .Anak semakin tidak menghormati orang tua.Anak kurang memahami makna teguran orang tua dan tidak menerimanya secara wajarsebagai teguran yang tujuannya baik.Tingkah laku anak yang menyimpang itu di anggap orang tua terlalu berat. Kemungkinan akibat : .Hubungan antara orang tua semakin renggang.

Setelah diadakan pernjelajahan lanjut terhadap permasalahan yangdihadapi oleh mahasiswa itu. “selalu mengingat orang tua” merupakan hal yang amat penting bagi anak. Sebagai contoh. pusing kepalanya perlu dihilangkan. dan akhirnya. (4) Mengupayakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan seumber pokok permasalahan itu.C. Adalah suatu . pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah : upaya apakah yang perlu dilakukan agar keadaan “sering pusing” itu dapat diatasi? Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penannganan kasus tersebut. Apabila mahasiswa tersebut tidak lagi diganggu oleh pusing kepala yang acap kali menimpanya. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi : (1) Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan). penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan. Penanganan Kasus Penanganan kasus pada umunya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. dua hal perlu mandapat perhatian utama. ternyata sumber pokok permasalahan ialah “keadaaan sering pusing kalau ia teringat orang tuany. sangat mungkin dihadapkan kegiatan belajarnya dapat berjalan lebih baik. Dalam kaitan itu. Dalam menangani inti permasalahan mahasiswa itu. keadaan sering pusing ini sangat mengganggu kegiatan belajaranya”. dan kedua ia harus tetap mengingat orang tuanya. (2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu. Sepintas lalu kedua hal itu bertentangan : bukankah teringat pada orang tua itu menimbulkan sakit kepala? Namun demikian. kita lihat kembali kasus mahasiswa yang telah dibicarakan dimuka. (3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut. Dilihat secara lebih lanjut.

adalah suatu nilai tambah tersendiri apabila anak selalu mengingat orang tuanya. (2) Ide-ide tentang rincian permasalahan. serta penerapan/pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu. Masalahnya sekarang ialah. (3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkanduing pada kasus yang dimaksud. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah. Dengan teknik ini mahasiswa itu akan dibawa untuk tetap mampu teringat kepada orang tuanya tanpa dampak timbulnya pusing kepala. pelayanan konseling menyediakan tejnik yang disebut desensitisasi. penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum. bagaimana menghilangkan gejala pusing atau sakit kepala pada mahasiswa itu tanpa menghilangkan ingatannya kepada orang tuanya? Dengan kata lain. matrik 2 di halaman 79 memperlihatkan urutan penanganan kasus dalam pengertiannya yang umum sampai dengan penanganan secara khusus delapan buah kasus para pembaca dapat membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui : (1) Deskripsi awal kasus.kebahagiaan bagi orang tua apabila anaknya selalu teringat kepada orang tuanya. dan sebaliknya. Sebagai gambaran umum. pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu. bagaimana agar mahasiswa itu tetap teringat kepada orang tuanya tetapi kepalanya tidak pusing? Untuk menjawab pertanyaan itu. kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yangsifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani itu. dan (4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya. Mengingat (dan menghormati) orang tua merupakan sesuatu yang wajib bagi anank menurut adat ketimuran. Demikian. .

Seperti disinggung pada awal bab ini, perjelajahan masalah atau studi kasus yang elbih menyeluruh dan lengkap dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti wawancara, analisis onecdotal report, casehistory, cumulative records, oto biografi, deskripsi tingkah laku dan perkembangannya serta melakuakn case conference.

Matriks 2 Keterkaitan Antara Permaslahan Awal, Konsep/Ide-ide Tentang Rincian, Kemungkinan Sebab dan Akibat, Serta Penanganan Masalah Secara Khusus

KASUS

Sesuai dengan deskripsi awal

Bayangan/ide tentang rincian sebab dan akibat

Hasil penjelajahan lebih lanjut

Penanganan secara khusus

Prestasi belajar rendah Bentrok dengan guru KASUS I Melanggar tata tertib Membolos Terlambat masuk sekolah KASUS II Nilai-nilai Pendiam Prestasi belajar rendah Kesulitan alat pelajaran Sering bertengkar Sukar menyesuaikan diri KASUS III Dimajakan Pemalu, taku, canggung, kaku Diperlukan seperti anak kecil …………….. ? ? …………….. ? ? ……………… ? ?

Prestasi belajar cenderung rendah KASUS IV Menyendiri, kuarang bergaul Gugup Dimanjakan Nilai di bawah rata-rata KASUS V Berlaku kasar Terlambat Tidak senonoh KASUS VI Nilai rendah Kurus dan pucat Suka berkelahi Kasar Diperlakukan amat keras Tidak bebas Jarang masuk sekolah Menyimpan ganja Minggat Mabuk-mabukan Nakal KASUS VII Mendapat nilai merah Dimanjakan Perhatian kehidupan dipertanyakan KASUS VIII Khawatir nilai merosot Tidak enak pada orang tua Tidak shalat lagi melakukan …………….. ? ? terhadap beragama …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ? …………….. ? ?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelatanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi

kemanusiaannya. Untuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut di selenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu atau kelompok. Oleh manusia mengandung pengertian penyelenggaraan kegiatan itu oleh manusia dengan segenap derajat, martabat, dan keunikan masing-masing yang terlibat didalamnya. Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas, yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsure yang ada itu. Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan instruksi. Prosess bimbingan dapat pula terjadi melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televise, film, video, tele komperensi, tele diskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana seperti itu dapat disebut sebagai bimbingan informal yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata. Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) dormal itu mempunyai rumusan yang nyata.

Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.

1.

Pengertian Bimbingan Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya

sejak awal abad ke-20, yaitu sebagaimana telah di singgung di atas, sejak dimulainya bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembanagn pelayanan bimbingan itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Berbagai rumusan tersebut dikemukakan sebagai berikut : Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam Jones, 1951). …bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959). Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959).

1960). . Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap dan individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi. rencana-rencana. dalam Bernard & Fullmer. 1959). Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu. (Crow & Crow. dalam McDaciel. membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. …bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna. (Smith. (Bernard & fullmer. (Mathewson. (Mortensen & schmuller. (Tiedeman. tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna. mengembangkan pandangan hidupnya sendiri. 1969). dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. dalam Bernard & fullmer. Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individuindividu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihanpilihan. 1976). 1969). (Lefever. yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri. Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekan proses belajar yang sistematik.Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat. 1959). 1969). laki-laki atau perempuan. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang. dalam McDaniel.

Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan. jabatan. Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri. b. b. Staffire & Stewart. Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah : Rumusan 1 (Frank Parson. c. Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan. Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller. dalam McDaniel. 1951) a. Bimbingan membantu setiap individu. b. Bimbingan berusaha membantu individu. 1959) a. Bimbingan dilakukan secara sistematik. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi). Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik. Bimbingan menyiapkan individu agar lebih mencapai kemajuan dalam jabatan. (Jones. tetapi harus dikembangkan. 1959) a. d. c. Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan. b. 1970). c. Rumusan 4 (Lefever. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hiudpnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan. dalam Jones. dalam McDaniel. . Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri. 1959) a. Bimbignan diberikan kepada individu. Rumusan 3 (Chiskolm. d.Bimbingan adalah bantuan yang dierikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. e. dalam McDaniek. Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna. Bimbingan diberikan kepada anak muda.

c. b. Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Bimbingan merupakan suatu proses layanan. d. c. Bimbingan memberikan bantuan kepada individu. c. Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri. Rumusan 6 (Crow & crow. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat. Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu. Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal. Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan. d. b. . d. b. kemampuan. dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. 1969) a.Rumusan 5 (Smith. e. b. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seorang laki-laki atau perempuan. Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik. rencana-rencana. 1969) Bimbingan membantu seseorang menjadi berguna. 1959) a. Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan. dan interpretasi-interpretasi. e. Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara. Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan. 1960) a. dalam McDaniel. e. c. Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan. dalam Bernard & fullmer. Bimbingan itu diberikan kepada individu. Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik. Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli. 1976) a. Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat. Rumusan 7 (Tiederman. Bimbingan untuk klien diberikan sembarang usia.

Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. dapat dikemukakan unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut : 1. sosial. f. b. Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi. Merangkum keseluruhan isi yang terdapat didalam semua rumusan tentang bimbingan diatas. . e. Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri.Rumusan 10 (Matehwson. b. 1970) a. Bimbingan merupakan proses bantuan. dalam Bernard & Fullmer) a. seperti masalah-masalah pendidikan. individu tidak boleh mencampuri hak orang lain. c. malainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini. Memperhatikan hal-hal pokok yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan diatas. d. Dalam memilih jalan hidupnya. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi. Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan. Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana. Bimbingan diberikan kepada individu. melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan. dkk. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia. Bimbingan ditekankan pada proses belajar. yaitu dari hanya sekedar mempersiapkan seseorang memasuki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam pengentasan maslah-masalah di berbagai bidang. dan pribadi. Rumusan 11 (Jones.

di dalam keluarga. sumbanagn. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. Dengan demikian bimbingan dapat diberikan di semua lingkungan kehidupan. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja. serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri. remaja. konselor maupun dari lingkungan. Sasaran pelayanan bimbingan adalah orang yang diberi bantuan. Dalam interaksi ini dapat berkembang dan dipetik hal-hal yang menguntungkan bagi individu yang dibimbing.2. informasi tentang jabatan. Dalam kaitan ini. sedangakn gagasan dapat muncul baik dari pembimbing maupun dari orang yang dibimbing. dan di luar sekolah. interaksi. “bantuan” disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang. tujuan bimbingan adalah memperkembangkan kemampuan klien (orang yang dibimbing) untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah kemandirian. Nasihat biasanya berasal dari orang yang membimbing (konselor). dan lainlain). nasihat ataupun gagasan. Bantuan itu diberikan kepada individu. . hadiah. baik orang serang secara indicidual maupun kelompok. dan lain-lain. 6. dan akhirnya dapat mencapai 5. Bimbingan dilaksanakn dengan menggunakan berbagai bahan. baik perseorangan maupun kelompok. serta sumbersumber yang dimilikinya. 3. dan orang dewasa. mulai dari anak-anak. yang dihadapinya. tetapi meliputi semua usia. Interaksi dimaksudkan suasana hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya. sedangkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungannya dapat berupa informasi tentang pendidikan. informasio tentang keadaan sosial-budaya dan latar belakang kehidupan keluarga. Bahan-bahan yang berasal dari klien sendiri dapat berupa masalah-masalah yang sedang dihadapi. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. 4. data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan. melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing. di sekolah.

berdasarkan norma-norma yang berlaku. dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan. yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. ilmu dan kebiasaan yang diberlakukan dan berlaku di masyarakat. baik bentuk. baik anak-anak. serta aspekaspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. adat. Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dalam kaitan ini. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli. istilah konseling berasal dari bahasa latin. Pengertian Konseling Secara etimologis. remaja.7. hokum. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon. bahkan justru menunjang kemampuan klien untuk dapat mengikuti norma-norma tersebut. upaya bimbingan. Ebagaimana istilah . Apakah yang dimaksud dengan konseling? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. apalagi jika jawaban itu harus dapat diterima dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dengan istilah tersebut. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri. agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri. Norma tersebut berupa berbagai aturan. 8. 2. sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain. 9. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu. isi dan tujuan. istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. maupun dewasa. nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama.

(Smith. dalam Shertzer & Stone. yaitu yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi. …suatu proses dimana konselor membantu kenseli mambuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan dengan pilihan. istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. (Maclean. …suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena madalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang professional. rencana. …suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya . (Jones. masing-masing disebut konselor dank lien. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. dalam Sherzer & Stone. atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya. 1974). …interaksi yang (a) terjadi antara dua orang indovidu. 1951). 1974). Sherzer & Stone. Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkebangan dirinya. (Pepinsky & Pepinsky. …konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. (b) terjadi dalam suasana yang professional. (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan0perubahan dalam tingkah laku klien. proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang prograsif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.bimbingan. (Division of Conseling Psychology). Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling. dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. 1974).

(Tolbert.secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. 1969). (Blocher. English. keadaanya sekarang. … membantu individu agar dapat manyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami dirinya sendiri. motivasi. . demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat.C. yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan tingkah laku yang . (McDaniel. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam masa konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya. 1974). rencana. dan kemungkiann keadaanya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhuan-kebutuhan. 1959). proes dalam mana konselor membantu konseli membuat interpretasiinterpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan denga pilihan. atau penyesuaian yang perlu dibuatnya. dalam Shertzer & Stone. membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku di masa yang akan dating. (A. … proses mengenai seseorang individu yang sedang mengalami masalah (klien) dibantu untuk merasa dan bertingkah laku dalam suasana yang lebih menyenangkan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak bermasalah. 1974). menyediakan situasi belajar. 1956). dalam Shertzer & Stone. dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut.. selanjutnya. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menentukan kebutuhan-kebutuhan yang akan dating. (Bernard & Fullmer.

Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling teresebut adalah sebagai berikut : Rumusan 1 (Jones. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka.memungkinkannyaberperan secara lebih efektif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalahmasalah yang dihadapinya. Bantuan itu diberikan escara langsung kepada siswa. dan rencana-rencana yang akan dibuat. Individu yang konseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah. b. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu. masingmasing disebut konselor dan klien. b. khususnya yang menyangkut pilihan-pilihan. c. baik mengenai diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya. . semakin maju. yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan. dalam Shertzer & Stone. dalam Shertzer & Stone. 1974). Rumusan 2 (Pepinsky & Pepinsky. Dilakukan dalam suasana professional. Dilakukan oleh orang ahli (professional). b. c. Konseling terdiri atas kegiatan : pengungkapan fakta atau data tentang siswa. dalam Shertzer & Stone. (Lewis. 1974) a. 1974) a. c. Rumusan 3 (Mclean. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah/gangguan. Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik.1974) a. Konseling merupakan suatu proses memberikan bantuan Bantuan itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data. Rumusan 4 (Smith. b. d. 1951) a. dalam Shertzer & Stone. e.

b. e. dan dapat mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya. d. Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu. 1959) a. dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. c. Rumusan 8 (Tolbert. membuat rencana untuk masa depan. Konseling dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang. baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. Konseling merupakan wahana proses belajar bagi klien. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. Rumusan 6 (McDaniel.Rumusan 5 (Devision of Counseling Psychology ) a. yaitu belajar memahami diri sendiri. dapat memberikan reaksi (tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. Tujuan dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli (memiliki kemampuan khusus dibidang konseling). Hasil-hasil konseling harus dapat mewujudkan keejahteraan. b. b. 1965) a. Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal. 1969) . c. Bantaun yang diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. d. Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu . Rumusan 7 (Tolbert. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya. c. Pemahaman diri dan perbuatanrencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan klien itu sendiri. Rumusan 9 (Bernard & Fullmer. Konseling merupakan proses pemberian bantuan. b. 1959) a. Tujuan konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri.

kebebasan. pemahaman. d. c. Dengan memperhatikan satu-persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut. sebagai orang . d. 1974) a. b. Konselin merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang sekuinsial menuju kearah pencapaian suatu tujuan. dan keterbukaan. menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. Konseling bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasi kebutuhan. Berguna bagi diri pribadi dan masyarakat. motivasi. b. Konseling meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan. b. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seseorang klien).a. baik langsung maupun tidak langsung. dan potensi-potensinya. yaitu sebagai berikut : a. e. terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling. dan potensi. c. Semua rumusan. Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (koselor dan klien) konselor sebagai ahli. Rumusan-rumusan itu pada umunya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan. penerimaan. motivasi. sedangkan pada definisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling lebih dari seorang klien. dalam Shertzer& Stone. Rumusan 10 (lewis. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif (yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta) sedangkan definisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap perilaku-perilaku). Dilakukan dalam suasana yang menyenangkan klien. Konselor memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klirn untuk bertingkah laku secara efektif.

kebingungan. biasanya disatu segi dapat bersifat seketika. . Keduanya terlibat dalam memikirkan. masalah. mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. Model interaksi didalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal. Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien. konselor mendengarkan dan menanggapi hal-hal yang dikemukakan klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut. d. Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. yaitu konselor dank lien saling berbicara. teratasinya masalah yang dihadapi klien. atau frustasi. f. sebagai orang yang lebih matang. Berlainan dengan pembicaraan biasa. dan di segi lain dapat melantur ke mana-mana. misalnya pembicaraan antara dua orang yang sudah bersahabat dan sudah lama tidak bertemu. berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. arah pembicaraan dua sahabat itu bisa menjadi tidak begitu jelas dan tidak begitu disadari. sebagai orang yang memiliki pengetahuan. Dipihak lain. Hamper semua urusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien. pandangan mata. c. tentang perilaku-perilakunya. tentang perasaan-perasaannya. Interaksi antara konselor dank lien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah kepada pencapaian tujuan. namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. dan banyak lagi tentang dirinya. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.yang lebih tua. dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu. gerakan-gerakan isyarat. Kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pkok berikut ini : a. sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan. b. Klien berbicara tentang pikiranpikirannya. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung. yaitu perubahan kearah yang lebih baik.

Dengan cirri-ciri pokok demikian itu dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling. baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Istilah Penyuluhan dan Konseling Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan. Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing “Guidance dan Counseling”. yaitu : Konseling adalah proses pemberian batuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien. yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien. yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”. Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor. Istilah mana yang sebaiknya dipakai. Konseling disadari atas penerimaan konselor sacara wajar tentang diri klien.e. maka kesatuan istilah yang dipakai semua pihak yang bergerak dalam . penyuluhan atau konseling? Apabila profesi bimbingan dan konseling akan ditegakan secara kukuh. Istilah mana yang dipakai. penyuluhan atau konseling. dan konselor menciptakan seuasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa. B. memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian diantara berbagai pihak. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. sehingga masalahnyaitu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terpasang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat diharapkan dinamika kehidupan klien kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif. Proses konseling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu.

pemahaman. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah peyuluhan dalam arti konseling itu ternyata steril. maka satu istilah untuk satu pengertian yang amat mejadi dalah paham. dalam arti konseling makin tertinggal dan terkukung dalam lingkungannya sendiri. Namun sejak awal tahun 1970an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali diluar pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno. khusus dikalangan persekolahan. penyuluhan hokum. kurang mampu memantapkan diri sendiri maupun pelayanannya kepada masyarakat. Dalam “perlombaan” ini dapat dimengerti bahwa penyuluhan dalam arti yang kedua lebih memperoleh pasaran. seperti cara-cara bertanam. Istilah penyuluhan memang secara historis telah dipakai sejak tahun 1960-an. Penggunaan istilah penyuluhan dalam arti “Konseling” dan penuyuluhan dalam arti “Pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing. sikap dan keterampilan warga masyarakat. antara penyuluhan gizi. 1987). pemahaman. memilih bibit. khususnya petani. penyuluhan kesehatan. harus dimantapkan. baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran. Apabila profesi bimbingan dan konseling hendak ditawarkan secara jelas kepada masyarakat luas. penyuluhan keluarga berencana. pemberantasan hama dan sebagainya. “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan. Istilah ini dipakai terus menerus sampai sekarang. Tidak disangsikan bahwa di masa mendatang berbagai penyuluhan yang lain akan diperkenalkan dan dilancarkan di tengah-tengah masyarakat. khususnya lingkungan sekolah. seikap dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu. penggunaan pupuk. Dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan pengertian penyuluhan dalam arti konseling makin luntur atau . berkenaan dengan aspek pertanian tertentu. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat. Misalnya “penyuluhan pertanian” bermaksud meningkatkan kesadaran. Demikian berbagai usaha “penyuluhan” muncul.profesi tersebut. yaitu tahun-tahun awal dimulainya gerakan bimbingan di Indonesia.

Bukankah banyak diantara jabatan ateu pekerjaan yang bergengsi . disamping itu mereka terpaksa mengingikan suatu “status quo”. sedangkan kehendak yang lain mengacu pada ketetapan makna arti konseling dari satu segi. dan pihak lain penggunaan penyuluhan dalam arti yang lainnya makin meluas dan sama sekali tidak dapat dibendung. Adalah semacam kemustahilan apabila ada orang yang mengharapkan agar masyarakat dididik supaya mereka memahami perbedaan antara penyuluhan dalam “bimbingan dan penyuluhan” dan penyuluhan dalam arti kata lain. Akibat yang lebih jauh adalah masyarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan dalam arti yang lin itu. Persamaanya memang ada.mungkin tidak dikenal disatu pihak. misalnya penyuluhan pertanian. pekerjaan konseling dan pekerjaan penyuluhan pertanian dan sebagainya itu sangat berbeda. Lebih jauh. Padahal. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnyadari usaha yang dimaksudkan itu. dan di segi lain mengingat sudah dipakainya secara meluas istilah penyuluhan untuk kegiatan non-konseling di masyarakat. pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non-konseling. yang satu artinyanya konseling sedang lain pembinaan. Sejak tahun 1980-an. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) diseklah adalah sama seperti tugas para penyuluh pertanian. yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan. tetapi perbedaanya lebih menonjol dan substansial dari pada persamaannya itu. Digalakan penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air. Keinginan yang pertama bertumpu pada alas an kesejahteraan dan kemurnian istilah yang khas di Indonesia. penyuluh kesehatan dan sebagainya. Alas an lain yang kiranya mendasari kehendak lain mereka yang lebih menyukai istilah konseling adalah istilah itu tampak lebih modern. sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling. gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling.

memakai nama asli dari luar negeri. tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya. kiranya perlu dipakai satu istilah. prinsip. Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi dalam praktek bimbingan. pemuda. yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani. sebenarnya akan baik juga. dan juga orang dewasa harus disesuaikan dengan keadaan pribadi dan lingkungan orang yang dilayani itu. Istilah baru ini. demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua. jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. insinyur. tampaknya akan lebih menarik dan bergengsi pula memakai nama konselor sekolah atau konselor pendidikan daripada petugas BP atau guru BP. dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. Berdasarkan uraian singkat terebut. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. . Pertama. istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan. psikiater. Jalan tengah yang kedua adalah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. kalau memang ada. Kedua. Masih dalam rangka ketidaksepakatan dam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”. seperti psikiater. berdasarkan mereka sama derajatnya dengan psikolog. belum di tampilkan secara luas dan memasyarakat. Istilah yang dimaksud disini adalah konseling. dan konseling harus diantisipasi melalui variasi kompetensi seorang konselor. Tidak disangsikan bahwa kedudukan seorang konselor. Pelayanan terhadap anak-anak. remaja. Sayangnya. atau dokter. ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. kalau memang ada. karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa di sekolah dasar / menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. istilah ini. manajer? Dalam hal ini. Pengertian. asas dan aspek-aspek penyelenggaraannya pada dasarnya sama. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling.

gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Pada kedua periode ini. kedua jenis keterangan itu kemudian dipasang dicocokan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan. pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. lingkunga. Pada periode inilah rumusan rumusan tentang konseling dimunculkan. Perkembangan yang lebih lanjut . Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Di negara-negara yang bimbingan dan kenselingnya telah maju. Dalam kaitan itu.C. Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga itu secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya. Dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diitegerasikan kedalam upaya pendidikan. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan “bukan hanya sekedar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan. Pada periode kedua. Pada tahap awal ini. perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan. yang umumnya disebut sebagai periode personian. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. melainkan juga bagi meningkatkan kehidupan mental. terutama Amerika Serikat. seperti bimbignan jabatan dan bimbingan pendidikan. bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tantang individu dan tentang jabatan. tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja. rumusan tentang konseling belum dimunculkan. mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin. dan masyarakat. Pada periode ketiga. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson. 1975). pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri.

Periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Periode berikutnya. yaitu konseling. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap pendekatan. 1975) secara tegas menolak konsep. Perkembangan yang lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama. tampak adanya dua arah yang berbeda. peralatan dan berbagai bahan dan sarana lain yang di gunakan untuk membantu klien. rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan istilah konseling. Pada dua tahap yang terakhir itu Nampak tumpang tindihnya pengertian bimbingan dan konseling. . daripada meletakan konseling sebagai bagian dari bimbingan. Seluruh pengertian bimbingan dilebur kedalam pengertian konseling. adalah akan lebih baik dan menguntungkan untuk membangun rumusan tentang konseling yang meliputi juga segala sesuatu yang selama ini disebutkan sebagai pelayanan bimbingan. langkah-langkah. dengan keseluruhan totalitas perwujudannya. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah. Dalam kaitan ini tidak dapat dielakan bahwa para konselor tidak mau terlibat dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan individu. sampaisampai konseling dianggap sebagai jantung hatinya bimbingan. Berdasarkan uraian diatas secara praktis. teknik. yaitu kecenderungan yang ingin kembai ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu. Ia bahkan mengusulkan. Istilah bimbingan tidak lagi dipakai. (Belkin. serta segenap permasalahannya. ditandai sebagai periode kelima. yang satu dapat dibedakan dari yang lain. tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisilain.pada periode ketiga itu bahkan lebih menonjolkan bagi peranan pentingnya konseling diantara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan. Itu semua adalah pekerjaan konseling. tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok. sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. Dengan digunakannya konseling engan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu. melainkan meluas sampai meliputi pekerjaan dengan sasaran keseluruhan kehidupan kemanusiaan di masyarakat luas. Untuk menggambarkan perkembangan gerakan bimbingan dan konseling dari waktu ke waktu perhatikanlah gambar berikut ini : Gambar 6 Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling Keterangan : Gambar 1 = pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua) Gambar 2 = pelayanan bimbingan yang sudah meliputi konseling sebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan ( periode ketiga). Bagaimanakah di Indonesia? Apakah sudah perlu mengganti rangkaian istilah bimbingan dan konseling dengan konseling saja? Mengingat perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia belum cukup mantap (ingat istilah bimbingan baru diakui secara legal dalam undang-undang Sistem Pendidikan . Gambar 4 = Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir).adalah pekerjaan konseling. Lebih jauh kegiatan konseling tidak hanya terikat dan terbatas pada lingkungan sekolah saja. Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih luas. Dengan demikian. Gambar 3 = Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima).

(Hamrin & Clifford. namun segi pelayanannya hendaknya menekankan porsi yang lebih besar pada konseling. (Coleman. 1983) Tujuan konseling dapat terentang dari sekedar klien mengikuti kemauankemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling. dalam Bernard & Fullmer. padangan dan pemahaman-pemahaman. beserta perangkat perundangan pelaksanaanya. . 1956) … untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna. penyesuaianpenyesuaian. dalam McDaniel. dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan. D. maka istilah bimbingan dan konseling masih perlu dipertahankan.Nasional). dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. (Tiedeman. mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya. 1969) Dengan proses konseling klien dapat : Mendapat dukungan selafi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. serta keterampilan-keterampilan baru. Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri. kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuantujuan yang dikehendaki. dalam Jones. tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. 1951) … untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshow. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini : … untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan. Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative. dalam Thompson & Rudolph.

.Membuat pilihan-pilihan.Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor . pengembangan kesadaran.pengembangan kesadaran.Membuat interpretasi-interpretasi Rumusan 2 (Broadshow dalam McDaniel. …pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling.Mengatasi permasalahan yang di hadapi Rumusan 6 (Thompson & Rudolph. dalam Bernard & Fullmer. dan penerimaan diri sendiri.Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif . 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan : . 1956) Memperkuat fungsi-fungsi pendidikan Rumusan 3 (Shoben. 1969) Membantu orang agar menjadi insan yang berguna.Membuat penyesuaian-penyesuaian . . keterampilan dan alternative baru . pengembangan pribadi. dalam Thompson & Rudolph. 1983). penyembuhan. (Thompson dan Rudolph. pandangan.Memberikan dukungan . Rumusan 5 (Coleman.Memberikan wawasan. dan pengembangan diri.Melakukan pengambilan keputusan. 1983) Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien : . (Myers. 1969) Rekonstruksi budaya sekolah Rumusan 4 (Tiedeman. pemahaman. 1992) Setiap rumusan tujuan tersebut mngandung hal-hal pokok sebagai berikut : Rumusan 1 (Hamrin & Clifford.Melakukan pemecahan masalah . dalam Jones 1951) Agar individu dapat : . dalam Bernard Fullmer.

status sosial-ekonomi). 1992) Membantu individu untuk memperkembangkan dirinya. serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal. tampak bahwa tujuan umu bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengantahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya). dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya. dalam arti mengadakan perubahan-perubahan positif pada diri individu tersebut.Memberikan pengukuhan Rumusan 7 (Myers. serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. serta masing-masing bersifat unik pula. penyesuaian. pilihan. Hal ini semua dalam rangka pengembangan keemapt perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. intensitas. E.. berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga. pandangan. sesuai dengan kompleksitas permaslahannya itu. dan sangkut-pautnya. bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan.Mengembangkan penerimaan diri . Insane seperti itu adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secarea tepat dan objektif. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis. mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Asas-asas Bimbingan dan Konseling . Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. Dalam kaitan ini. mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut. interpretasi. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis. pendidikan. Adapun tujuan khusus bimbingan dan kknseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan.

kebebasan. 1. maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak.Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. ahli tangan. kenormatifan. pemahaman. keahlian. dan tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan disegi lain (yaitu antara lain suasana konseling ditandai oleh adanya kehangatan. bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan. kegiatan. dan tut wuri handayani (Prayitno. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan disatu segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan tingkat perkembangan klien). Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaanm kesukarelaan. apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling. Sesuai dengan makna uraian tentang pamahaman. serta berbagai sumber daya yang perlu diaktifkan). terutama penerima bimbingan klien sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik- . kemandirian. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan gan konseling. Asas kerahasiaan Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. kedinamisan. pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektifitas proes dan lain-lainnya. yaitu ketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. kekinian. Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan adan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling. penanganan dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognitif. keterpaduan. afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus. dan keterbukaan. sebaliknya. penerimaan. serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. keterbukaan. 1987).

diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Lebih jauh. data. Sebaliknya. keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya pun terbuka. jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik. menyampaikan masalah yang dihadapinya. baik dari pihak di terbimbing atau klien. serta mengungkapkan segenap fakta. maka tamatlah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu. Asas Kesukarelaan Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan. . maksudnya. dan seluk-beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. maupun dari pihak konselor. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan.baiknya. baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. malahan lebih dari. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa. dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan si terbimbing dapat dilaksanakan. 2. 3. atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar. mereka takut meminta bantuan. maka hilanglah kepercayaan klien dan para calon klien. si terbimbing telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Apabila hal terakhir into terjadi. sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. Asa keterbukaan Dalam pelaksanaan bimbingan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan.

Dia harus mendahulukan kepentingan klien daripada yang lain-lain. Dalam usaha yang bersifat pencegahan. keterbukaan terwujud dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini. 4. Dari pihak konselor. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini konselor). maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien. masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain. Apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan dating yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu. Asas Kemandirian Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri. tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada . Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu. pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar belakang dari masalah yangdihadapi sekarang. pada dasarnya pertanyaan yang perlu di jawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarangsehingga kemungkinan kurang baik dimasa datang dapat dihindari. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas terlihat misalnya adanya siswa yang mengalami masalah. dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Konselor tidak selanyaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan dating. Asas Kekijian Masalah individu yang di tanggulangi adalah masalah-masalah yang sedang dirasakan bukan masalah yang sudah lampau. 5.Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan. maka konselor hendaklah segera member bantuan.

minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya. Kemandirian dengan cirri-ciri umum diatas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. 6. yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling. dan hali itu didasari baik oleh konselor maupun klien. melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. Asas Kedinamisan Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembiacaraan dalam konseling. Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. dan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu : (a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya. (c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri. (d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu. . 7.konselor. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara. Asas kegiatan Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak melakukan kegiatan dalam pencapaian tujuan bimbingan dan konseling. yang bersifat monoton. (b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.

juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang. namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma. serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. Disamping keterpaduan pada diri klien. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Demikian pula prosedur. kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling. sesuatu yang lebih maju. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain. maupun kebiasaan sehari-hari. Ditilik dari permasalahan klien. norma hukum/Negara. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan. baik ditinjau dari norma agama. dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. Asas Kenormatifan Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma- norma yang berlaku. dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. norma ilmu. Asas Keterpaduan Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien. 8. serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. teknik. .melainkan perubahan yang selalu ke suatu pembaruan. 9. norma adat. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. barangkali pada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu).

asas alih tangan jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan.10. juga kepada pengalaman. 12. namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan. Asas Keahlian Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur. Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana dibidang bimbingan dan konseling). Pelayanan bimbingan dan konseling adlah pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk perkejaan itu. seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseing secara baik. Oleh karena itu. sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak jasmani dan rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal dataupun perdata. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada Bab II. dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. 11. Di samping itu asas alih tangan juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani maslah-masalah individu dengan kewenangan petugas yang bersangkutan. Asas Tutwuri Handayani . tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang memadai. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya. maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Asas Alih Tangan Dalam pemberian palayan bimbingan dan konseling.

Untuk itu menimbulkan kerancuan diantara istilah0istilah professional dalam bidang bimbingan dan konseling. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur. istilah yang hendaknya dipakai dalam pengembangan dan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia adalah istilah konseling. padahal istilah penyuluhan telah terlanjur digunakan secara luas di masyarakat untuk pengertian-pengertian yang tidak begitu relevan dengan makna konseling yang sebenarnya. untuk. Kensepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo. dan sekaligus untuk memurnikan pengertian konseling itu sendiri maka. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri dan tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja. namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu. Untuk pengertian konseling sering digunakan istilah penyuluhan. dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Lebih-lebih di lingkungan sekolah.Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan kesekuruhan antara konselor dank lien. ing madya mangun karso”. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang . Rangkuman Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari.

keterpaduan. serta membuat keputusan dan rencana yang relistik. kualifikasi keahlian. mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya. kekinian. Sesuai dengan tuntutan keilmuan dan prosedur pelaksanaannya. kenormatifan. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien. dan tut wuri handayani. Pada perkembangan yang lebih lanjut istilah konseling berdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan. minat dan nilai-nilai. serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. bimbingan dan konselingdiselenggarakan menurut berbagai asas. serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat. keahlian. Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. kegiatan. kemandirian. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. prosedur kerja.lain. hasil yang harus dicapai. peranan konselor. Termasuk kedalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mendiri dengan cirri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lungkungannya. kesukarelaan. keterbukaan. Tugas . jenis pemberian bantuan dan karakteristik masalah yang ditangani. Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan. Asas-asas ini perlu terlaksana dengan baik demi kelancaran penyelenggaraan serta tercapainya tujuan bimbingan dan koneling yang diharapkan. kemampuan. yaitu asas kerahasiaan. ahli tangan.

Untuk memahami kedua istilah itu dengan leih konkret. pengertian bimbingan adalah : bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri. nasihat. dengan mempergunakan bahan. Pengertian tentang bimbingan dan konseling merupakan dasar bagi pemahaman lebih lanjut tentang seluk-beluk bimbingan dan konseling. Yaitu : a. ada orang yang menggunakan akronim tertentu. interaksi. Konseling (1) Huruf-huruf penyuluhan dijadikan akronim dengan arti : P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma . dalam suasana asuhan. b. dan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Bimbingan Huruf-huruf bimbingan dijadikan akronim dengan arti : B I = bantuan = individu M = mandiri B I N G A N = bahan = interaksi = nasihat = gagasan = asuhan = norma Dengan demikian. dan gagasan.1.

. pengertian konseling adalah : kontak antara dua orang (yaitu konselor dank lien) untuk menangani masalah klien. dan apakah pengertian yang dibawakannya tepat ? apa dasar anda menilai tepat atau tidak tepat ? diskusikanlah! 2. Tujuan khusus berkenaan dengan masalah nyata yang dialami oleh individu tersebut. pengertian penyuluhan adalah : pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha. (2) Huruf-huruf konseling dijadikan akronim dengan arti : K = kontak O = orang N = menangani S = masalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G = guna Dengan demikian. Tujuan umum berkenaan kemandirian individu tersebut c. berdasarkan norma-norma yang berlaku. yang bersifat keahlian. Kemudian rumuskanlah tujuan-tujuan yang hendak dicapai apabila pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan terhadap masalah itu : a. Carilah sebuah masalah yang pernah dialami oleh seseorang. berdasarkan norma-norma yang berlaku. untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien.Dengan demikian. dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi. Tujuan umum berkenaan dengan perkembangan individu tersebut b. Tugas : Bagaimanakah pendapat anda tentang pemakaian akronim tersebut. dan manusiawi. unik. dengan cara yang laras.

3. istilah mana yang lebih tepat dipakai. jelaskanlah untuk memenuhi tuntutan yang mana (a. Konseling Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 5. a. dan (b) Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing asas bimbingan dan konseling itu tidak terselenggara dengan baik ? uraikan jawaban anda unutk masing-masing asas dengan disertai contoh-contoh! 7. Bimbingan b. Pertimbangkanlah kembali. Mempelajari kembali perkembangan konsep bimbingan dan konseling dari satu period eke periode lainnya. Apakah yang akan terjadi apabila masing-masing kesalahpahaman it uterus berlanjut? Jelaskan masing-masing jawaban anda dengan disertai contoh! b. Asas-asas bimbingan dan konseling dilaksanakan untuk memenuhi dua tuntutan utama. Untuk keduabelas asas bimbingan dan konseling yang diuraikan pada Bab III. yaitu : (a) Keilmuan bimbingan dan konseling. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling perlu dicegah dan diluruskan. apabila kita hendak mengembangkan profesi bimbingan dan konseling secara mantap? Jelaskan jawaban anda dengan alasan-alasan dan contoh! 4. konseling atau penyuluhan. atau b. Usaha apakah yang perlu dilakukan untuk mencegah dan/atau meluruskan masing-masing kesalahpahaman itu ? jelaskan masingmasing jawaban disertai dengan contoh! . istilah menakah yang sebaiknya dipakai untuk mewadahi segenap seluk-beluk (teori dan praktek) bimbingan dan konseling? Pilihlah : a. atau a dan b) masing-masing asas tersebut! Lengkapilah jawaban anda disertai dengan contoh! 6. Bimbingan dan konseling c.

Nilai yang diperoleh ES sangat jelek dalam mata pelajaran matematika dan fisika. tetapi berlainan ibu. Di rumah. KASUS II ES berumur 16 tahun. yaitu rata-rata diatas 6. disana ia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya yang seayah. Ibu kandungnya tinggal di kota P sebagai pedagang. terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Siswa yang bersangkutan sebenarnya kurang berminat terhadap bidang studi IPa. KASUS I Seorang siswa SMA kelas III-IPS. sedangkan dalam mata pelajaran lain nilainya cukup baik. Dalam menyelesaikan salah satu tugas rumahnya pernah terjadi bentrok dengan salah seorang gurunya. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Hasil tes bakat menunjukan bahwa ia cukup baik dalam penalaran berhitung. Dia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Pada akhir tahun yang lalu yang bersangkutan termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. dia belajar di tempat tidurnya. duduk di kelas I SMA di kota B. dan prestasi belajarnya rendah. Menurut guru-gurunya siswa tersebut termasuk anak pendiam dan selalu mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. sering melanggar tata tertib seklah. (1987). Data lain menunjukan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak keenam dari sebelas saudara. penalaran mekanika dan penalaran abstrak. Ia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering kali terlambat masuk sekolah. Tiga orang saudaranya sudah berada di perguruan tinggi. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. dan salah seorang adiknya di kelas III bagian IPA disekolah yang sama.Daftar Pustaka Prayitno. Kecerdasannya (berdasarkan hasil tes PM) tergolong sedikit diatas rata-rata. . laki-laki menunjukan gejala jarang masuk sekolah. Siswa tersebut sering bolos. Dalam rumah tersebut tinggal pula ibu tirinya. siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri.

Orang tuanya bercita-cita agar anak itu menjadi seorang dokter yang berhasil. bahkan cenderung rendah. Dia jarang mau bermain dengan teman-teman sekelasnya. Di rumah. Jika sekali-sekali dia keluar rumah dan bermain. segan dan bahkan takut. sehingga tampak canggung. siswa tersebut sangat pemalu. ia tampak sangat kaku dan sering diperlakukan seperti anak kecil. Siswa tersebut sukar sekali diajak berbicara. gemetar. ia sering dimanjakan oleh kakak-kakak dan neneknya. baik untuk bermain dengan teman-temannya maupun untuk keperluan lain. KASUS IV An (13 tahun) siswa SMP di kota M. dia tampak gugup. Dalam keluarganya.KASUS III Seorang siswa di kota J memeroleh prestasi belajar sangat kurang. An adalah satu-satunya yang perempuan. tetapi An sering tidak dibenarkan keluar rumah. Pada waktu istirahat dia lebih suka bermain sendirian. Dia sering bertengkar dengan teman-teman sekelasnyadan sukar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Yang bersangkutan adalah siswa jurusan A1 (fisika). memperoleh prestasi belajar sedang-sedang saja. Tingkat ekonomi orang tuanya tergolong sedang sehingga ia sering mendapat kesulitan dalam memenugi alat-alat pelajarannya. . karena itu ibunya sering memanjakannya. Demikian juga hubungannya dengan orang-orang dewasa lainnya. apabila oleh sesuatu hal dia menangis maka ibunya langsung campur tangan dan tidak jarang memarahi temannya itu. terutama dalam mata pelajaran ilmu sosial. Terhadap guru. Kalau tiba gilirannya untuk tampil di depan kelas. dan suaranya tidak jelas terdengar.

Sepulang sekolah ia tidak boleh keluar rumah. Di rumah. Dikota P dia tinggal bersama dengan tantenya. semester ini ia jarang masuk sekolah. . Dia bersama kawan-kawannya sering terlihat mabuk-mabukan dan kekerasan. Dengan perlakuan seperti ini dia merasa dirinya berada dalam penjara. Oleh tantenya K diperlakukan dengan sangat keras. orang tuanya mengirimkannya ke kota P agar bersekolah dengan baik disana. bahkan sering marah-marah apabila K berada di rumah. M adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Oleh sebab itu. Dia sering berlaku kasar bila ditegur oleh teman-temannya.KASUS V Seorang siswa SMA sering terlambat dating ke sekolah. dan nilainya berantakan. berpangkat perwira menengah. Karena kesibukannya. di kota ini dia tinggal bersama dengan orang tuanya. sejak saat itu dia jarang sekali pulang ke rumah. Demikian pula ibunya sering bepergian. K pernah minggat dari rumah. kebanyakan teman-teman sekelasnya enggan bergaul dengan M. Nilai rapor semester yang batu lalu kebanyakan berada dibawah nilai rata-rata kelas. Perasaan yang dideritanya itu sering dilampiaskannya kepada kawan-kawan dan gurunya. Pada waktu diadakan razia disekolahnya. apabila guru menegurnya. Ayahnya seorang anggota ABRI. Segala urusan rumah tangga diserahkan kepada pembantu. Dia adalah siswa pindahan dari kota J. Demikian juga terhadap gurunya. Mengetahui K seperti itu. kedapatan daun ganja dalam amplop yang diselipkan dalam buku pelajarannya. ayahnya jarang dirumah. Di sekolah dia di cap sebagai anak nakal.ahi dengan temantemannya. KASUS VI K murid kelas II SMA di kota P. dia juga sering mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menyinggung perasaan orang lain. Dia suka berke. Dia tampak kurus dan mukanya pucat. dan ibunya kurang memberikan perhatian yang penuh terhadapnya. maka dia bereaksi dengan kasar. Ayahnya sering tidak dirumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. disamping kasar.

laki-laki. Perhatian ES terhadap kehidupan beragama dipertanyakan. Bagaimana kesan anda tentang masing-masing kasus tersebut? Kesan umum yang dapat kita tangkap adalah bahwa pada masing-masing kasus ada permasalahan tertentu yang perlu mendapat perhatian dan ditangani secara seksama. karena itu ia sangat dimanjakan. Tadinya ia rajin shalat tepat pada waktunya. ia merupakan anak tunggal dalam keluarganya.KASUS VII ES berumur 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tuanyadi kota P. gara-gara tidak lagi melakukan shalat sebagaimana mestinya. Msekipun hidupnya agak kurang teratur.Kurang minat pada IPA . kedua tentang amarah orang tuanya. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan bagi siswa itu. KASUS VIII Seorang siswa STM. dan juga bagi owing tua dan guru-gurunya adalah nilai pelajaran agama. pertama alasannya untuk menghentikan atau memulai shalat lagi. Dalam rangka itu permasalahan utama yang secara langsung ditampilkan deskripsi masing-masing kasus itu dapat dicatatkan sebagai berikut : Kasus I Individualitas : . dan ketiga kalau-kalau kebimbangannya itu mempengaruhi prestasinya di sekolah. dia mendapat nilai merah. Ternyata ia anak pandai. Permasalahan yang ada pada masing-masing kasus itu dapat dilihat dalam kaitannya dengan keempat dimensi kemanusiaan.Prestasi belajar rendah . bahkan seringkali shalat berjamaah. baik dirumah maupun di luar rumah. merasa tidak enak larena dimarahi oleh orang tuanya. namun prestasinya di sekolah cukup dibanggakan. Siswa tersebut mengalami kebimbangan.

Hasil belajar cenderung rendah : .Bentrok dengan guru : .Sosialitas Moralitas : .Melanggar tata tertib .Gugup . kurang bergaul . canggung.Sukar menyesuaikan diri .Dimanjakan Moralitas : - .nilai-nilai jelek : .Pemalu.membolos Religiusitas : Kasus II Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . taku.Prestasi belajar sangat rendah .Diperlakukan bagai anak kecil Moralitas Religiusitas : : - Kasus IV Individualitas Sosialitas : .Menyendiri.Dimanjakan .pendiam : : - Kasus III Individualitas : . kaku .Sering bertengkar .Kesulitan alat belajar Sosialitas : .

Tidak senonoh Religiusitas : - Kasus VI Individualitas : .Kasar Religiusitas : - Kasus VII Individualitas Sosialitas Moralitas : .Kasar terhadap orang lain .Religiusitas : - Kasus V Individualitas Sosialitas Moralitas : .Terlambat .Nilai di bawah rata-rata : .Dimanjakan : - .Jarang masuk sekolah .Mendapat nilai merah : .Diperlakukan dangat keras .Berlaku kasar : .Nilai rendah .Mabuk-mabukan .Suka berkelahi .Kurus dan pucat Sosialitas : .Nakal .Tidak bebas Moralitas : .Menyimpan ganja .Minggat .

Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya. yang pada umumnya dapat digolongkan atas : .Religiusitas : .Khawatir nilai merosot : . masalah belajar terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu. Secara umum. siswa-siswa yang mengalami masalah belajar.Tidak enak pada orang tua : : .Kurang perhatian terhadap kehidupan beragama Kasus VIII Individualitas Sosialitas Moralitas Religiusitas : . (b) pengungkapan sebabsebab tuimbulnya masalah belajar. Layanan Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan disekolah. dan (c) pemberian bantuan pengetasan masalah belajar. tidak lulus ujian akhir. Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar. Secara lebih laus. seperti. tidak naik kelas. angka-angka rapor rendah. 1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Disekolah. dan sebagainya.Tidak lagi melakukan shalat D. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalankegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. disamping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar.

tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memnuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. mereka seolah-olah tampak jera dan malas. Siswa yang belum menguasai . yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangay dalam belajar. dan pengamatan. membenci guru. skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya. yaitu presentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. e. Ketercepatan dalam belajar. Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar. Sangat lambat dalam belajar. Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi eaktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mampelajari bahan yang disajikan. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya. Kurang motivasi dalam belajar. tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal. c. Keterlambatan akademik. d. seperti suka menunda-nunda tugas. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih. mengulur-ngulkur waktu. yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus. yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. b. tes kemampuan dasar. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan.a.

Sebaliknya yang berada di ujung kurva sebelah kiri tergolong lambat. dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan. Tes Kemampuan Dasar . Nilai yang terletak ditengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolonga sedang. Gambar 9 Kurva hasil belajar Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva.bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan. disolongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Dengan pertolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan khusus. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir. atau dalam satu tingkatan kelas). Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan. dan yang berada diujung sebelah kanan tergolong amat pandai. dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar adalah dengan memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas. Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. dan yang diujung kiri termasuk lambat sekali. Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva seperti tampak pada gambar 9. yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai.

Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. Misalnya.Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensi tertentu. . 140 ke atas 120 – 139 110 – 129 90 – 109 80 – 89 70 – 79 . Sikap skala dan kebiasaan belajar Sikap dan kebiasaan merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS). Dari berbagai penelitian yang pernah diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan belajar dengan hasil belajar.di bawah rata-rata . Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula.Normal atau rata-rata . Wechler Intelligence Scale (WAIS dan WISC).Sangat cerdas . Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain adalah progressive Matrics (PM). membuat catatan.sangat bodoh Hasil belajar yang dicapai siswa seyogianya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya. dan kegiatan-kegiatan lain yangberhubungan dengan belajar siswa. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yyang dilakukan siswa dalam belajar. Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Dalam banyak skala inteligensi. dalam hal mengerjakan tugastugas.Di atas rata-rata .bodoh Di bawah 70 . membaca buku.Cerdas .Q. kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut : I. maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Bilamana seseorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya.

Tujuannya sama. Analisa Hasil belajar atau Karya Analisa hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. sikap dalam menerima pengajaran. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing. Tes Diagnostik Tes diagnostic merupakan untuk mengungkapkan adanya kesalahankesalahan yan dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostic. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika akan dijumpai kesalahan-kesalahan dalam oprasi berhitung. Dengan tes diagnostic sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa. makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan. Brown dan W. yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia.Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala sikap dan kebiasaan nelajar”. Salah satu di antaranya yang paling popular adalah Survey of StudyHabits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W. untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. . dan sebaliknya. yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar. atau pemakaian rumus-rumus. sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus.h. Holtzman (versi 1954 dan 1960). sikap terhadap guru. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarnya sudah memadai dan perlu terus dipelihara. dibakukan. Apabila tes diagnostic disusun. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimasud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu.F. serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu.

(b) kegiatan pengayaan. Dari hasil analisis karya (tertulis) siswa misalnya. maket. . dapat diketahui sampai seberapa jauh siswa telah memahami dan mampu menggunakan tata bahasa dan ejaan secara tepat pada karangan mereka. 2. dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya. bentuk tiga dimensi yang berupa model. film. Analisis hasil karya seni rupa (seperti gambar. atau rekaman video. Analisis hasil pengerjaan soal berhitung atau matematika secara terurai akan memperlihatkan sampai berapa jauh siswa telah memahami operasi hitung atau pemakaian rumus-rumus berkenaan dengan soal tersebut. dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar secara efektif. sedangakan kelemahan-kelemahan merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki. serta gerak dan suara.dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian tes tertulis). dan lain sebagainya. Upaya membantu Siswa yang mengalami Masalah Belajar Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. patung) akan memperlihatkan kelemahan (dan sekaligus kekuatan) siswa yang bersangkutan dalam menggambar atau mematung. bentuk grafik atau gambar. Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto. analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan. (c) peningkatan motivasi belajar. Kekuatan akan dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan criteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dilakukan. Perbandingan hasil pengamatan terhadap criteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan di pembuat hasil karya itu. baik melalui tulisan.

dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran dikelas biasa. paket belajar. b. Dibandingkan dengan pengajaran biasa. karena bahan. Kalau didalam kelas biasa unsure emosional dapat dikurangi sedemikian rupa. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Disamping itu. Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seesorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. tidak tentera. dan sebagainya. sistem pengajaran dengan modul. sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. Siswa yang amat cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugastugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan belajar dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik.a. bingung. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahpengertian. metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis. cemas. pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus. Ia (mereka) mungkin dihinggapi berbagai perasaan – takut. Apabila kesalahankesalahan diperbaiki. bimbang. dan pengajaran yang berprogram lainnya. Misalnya. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. . Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor. maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cerdas dalam belajar.

tetapi menjadi pudar. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain. Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif siswa apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan tihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. c. Selanjutnya ia akan berusaha dan potensi yang dimilikinya. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. untuk belajar. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka. Disisi lain. Tingkah laku seperti kurang bersemangat. jera. Jadi alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Si Badrun mengatakan ia belajar karena ingin lulus dalam ujian. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan : . dan sebagainya. tidak semangat. tetapi sebagian lagi mungkin belum. malas. Dampaknya dapat positif dan dapat negative. Sebaliknya. jera. dan lain sebagainya. Si Candra mungkin mengatakan ia belajar karena melihat teman-teman semuanya belajar. siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. mungkin juga ada siswa yang semula motifnya sangat kuat. Mereka cenderung menjadi patah hati. Disekolah sebagian siswa mengkin telah memiliki motif yang kuat.Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar mereka. Peningkatan Motivasi Belajar Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong ( atau motif) siswa untuk belajar. dapat dijadikan indicator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar. Si Ani mengatakan ia belajar karena ingin pandai. Guru. dan sebagainya. konselor dan staff sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. maka akan diperoleh berbagai jawaban. kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan di hargai.

merangsang. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang Baik. Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu. 2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat. 2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur. serta antara murid dan murid. karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan yang keras. lebih dari sekedar membaca bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks. dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahankelemahannya itu. 6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana tidak menentu (seperti Susana yang menakutkan. dan menyenangkan. Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. 3) Menciptakan suswana pembelajaran yang menantang. membingungkan. menjengkelkan) 7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar. Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. maka dikhawatirkan siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik. Siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapainya. Utntuk itu siswa hendaknya didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar dibawah ini: 1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh.1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. . 4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu* 5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dinamis antara guru dan murid. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharakan dan tidak efektif. d. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar. kemampuan dan minat siswa. mengecewakan.

seperti buku-buku teks dan referensi yang lainnya. 6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati yang aman.3) Kata-kata. Dalam hasil itu memang diharapkan . terutama oleh guru-guru konselor. 3) Mengatur waktu belajar. dan orang tua siswa. melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana. Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu. kesehatan yang baik. 2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik. sedangkan konselor sebagai arstitek. 4) Memilih waktu belajar yang baik. kapan secara rinci. 4) Sebagai bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau menggunakan seluruh metode belajar. dan rekreasi yang memadai. Sebagaimana disebutkan terdahulu. ungkapan-ungkapan. mengisi. tidak teratur. 5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik. dan sebagainya. mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar. Untuk itu hendaklah siswa di bantu dalam hal : 1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar. 6) Membaca secara baik sesuai dengan kebutuhan. masukan dan pertimbangan bagi diterapkannya layanan bimbingan belajar. teman atau siapa pun juga. baik disekolah maupun dirumah. guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa. sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan. penasihat dan penyumbang data. dan kalimat-kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian. 5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. misalnya. dan menunjang. kapan membaca secara garis besar. 7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru. Konselor dapat membantu penyelenggaraan. tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. Lebih jauh.

sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri. Keadaan yang lebih dikehendaki adalah apabila kedua pihak selalu bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar. Dalam kaitan itu. Dalam hubungan itu masalah klien disermati dan diupayakan pengentasannya. minat. “tes buatan guru” adalah sangat penting. Konselor membantu merancang dan memberikan pertimbangan tentang penyelenggaraan tes diagnostic dan analisis hasil kerja.adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan. sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan motivasi. Konselor secara langsung menyelenggarakan tes dan skala itu (dengan bantuan guru) sampai didapatkannya hasil dan penafsiran yang dapat diterapkan bagi pelayanan bimbingan belajar. konseling dianggap sebagai upaya layanan paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. ataupun kegiatan yang lainnya. baik layanan individual maupun kelompok. Layanan Koseling Perorangan Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. karena materi kedua instrument/prosedur itu secara langsung terkait pada hasil usaha pembelajaran yang dikelola oleh guru. Tes kemampuan dasar (inteligensi) dan skala sikap dan kebiasaan belajar harus dibakukab terlebih dahulu. konselor dan guru merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya. baik dalam bentuk lpenyajian individual. E. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru masingmasing atau bersama-sama tergantung pada materi layana. tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu. baik di sekolah maupun diluar sekolah. Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrument/prosedur di atas. Tes diagnostic dan analisis hasil belajar lebih banyak dilakukan oleh guru. Layanan yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran (seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menuntut peranan guru lebih besar. sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara . Pada bagian ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien.

teknik dan teknologinya). Di samping itu. maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar. apabila jejak itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu. sebagaimana telah disebutkan terdahulu. maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Keterkaitan antara layanan konseling dan berbagai layanan lainnya serta fungsi bimbingan dan konseling tampak pada gambar 1. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis. maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upayaupaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman. terkontrol. konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan usaha mutu yang benar-benar tinggi.menyeluruh. Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah. pengentasan. Sasaran (subjek penerima . Untuk dapat menguasai “jantung hati” bimbingan sebagaimana dijabarkan di atas konselor perlu mempelajari. Hal itu dapat dimengerti karena. serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. Dalam hubunganitu semua dapat dimengerti bahwa layanan koseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan bimbingan lainnya. menjangkau aspek-aspek yang lebih luas daripada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. 1. Hal itu berarti agaknya bahwa apabila layan konseling telah memberikan jasanya. menghayati. dan berpengalaman luas dalam layanan konseling itu dengan segenap seluk-beluknya (lihat gambar 10). penempatan dan penyaluran. mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami. dan dengan segenap fungsi bimbingan konseling. terarah. Atau dengan kata lain. menerapkan. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi. pencegahan. serta pemeliharaan dan pengembangan. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur. perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”. apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa. serta bimbingan belajar.

Adalah tanggung jawab dan kewajiban konselor sepenuhnya untuk mengusahakan terlaksananya ketiga dasar ketiga konseling itu. Apabila rambu-rambu pokok dalam Gambar 10 Keterkaitan Antara layanan Konseling. Konseling yang berhasil dan bersifat etis hanya apabila didasarkan pada ketiga hal itu. dan Fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling Pelaksanaan layanan konseling. Munro dkk. kondisi. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling. Layanan Lain. (b) keterbukaan. dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digariskan dengan jelas. Tidaklah pelayanan konseling bersifat etis apabila kerahasiaan klien terlanggar. tujuan. demikian pula tidaklah etis suatu layanan konseling apabila tanggung jawab klien atas tingkah lakunya sendiri dikebiri atau dikurangi.layanan). Pelaksanaan asa bimbingan dan konseling sebagaimana tersebut pada Bab III dengan baik hanya mungkin apabila ketiga dasar etika konseling itu telah diamalkan sebagaimana mestinya. yaitu (a) kerahasiaan. . dan (c) tanggung jawab pribadi klien.

Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada tujuan tersebut. tujuan konseling umum bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien seutuhnya. maka mantaplah kesengajaan konselor dalam mengawasi upaya layanan konseling. Ketika akan mengawali hubungan konseling konselor perlu memasang niat dengan motivasi yang kuat untuk mambantu klien. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja. Dengan niat. Kpentingan dan kebahagiaan klien menjadi arah layanan konseling secar langsung mengacu kepada pemeliharaan pengembangan klien itu. maka niat itu dibarengi dengan permohonan rida. Ucapan “dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang” menyertai niat yang tulus itu. d. yaitu bahwa : a. sifat “resmi” layanan konseling ditandai dengan adanya cirri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. b. dan apapun yang menjadi persepsi. sikap dan tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. c. e. danpetunjuk dari tuhan agar layanan yang akan segera dilakukan itu berjalan dengan lancer dan memberikan hasil dengan manfaat yang sebesar-besarnya. Lebih jauh. Sebagaimana telah dikemukakan di depan. namun terikautkan pula berbagai wawasan dan seikap positif tentang klien dan seluk-beluk serta dimensi metodologi layanan itu sendiri yang sejak semula telah tertanam pada dirikonselor. Niat itu merupakan wujud kesengajaan yang bersifat batiniah yang kalau diikuti oleh kesadaran yang mendalam akan mampu memberikan arah yang tepat bagi pekerjaan yang akan dilakukan. rahmat. Sebagai refleksi landasan keagamaan dalam konseling. Bekal konselor dalam mengawali layanan konselingnya tentulah tidak hanya niat yang tulus sendiri itu saja. sebuah kondisi . wawasan dan sikap serta dimensi teknologi layanan yang ada pada diri konselor. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut.

Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain. mimic. Format konseling meliputi terutama jarak. b. sebenarnya format standar berkenaan dengan duduk dan tahapan wajah itu adalah konselor dan klien duduk berhadap-hadapan. efek yang diharapkan dari terbentuknya format adalah : a. Format apa pun yang terbentuk. baik ditinjau di sisi klien. c. d. Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi tidak sama untuk semua kliennya. dan sikap duduk konselor dan klien. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan permasalahannya. kondisi . format standar itu dapat dimodifikasi tanpa mengurangi tujuan dari pengembangan format hubungan konseling yang tepat. konselor. dan wajah konselor menatap klien tanpa adu pandang antara konselor dank lien. maupun kondisi hubungan itu sendiri. standar atau hasil modifikasi. dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak lain.yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung dan berbagai kemungkinan implikasinya. serta aspek-aspek sosial budaya lainnya. mengingat berbagai alasan yang menyangkut keunikan klien. tidak lain adalah untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. sambil tetap menjaga jarak. Namun demikian. Klien dan konselor mudah bergerak. e. Format standard an berbagai modofikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien. Apabila format standar itu dapat diterapkan tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada pihak klien. dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor – dalam ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi). Sekali lagi format tersebut adalah format standar. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada) klien. konselor duduk denga “sikap sempurna” (tidak membungkuk ataupun menyandarkan pinggang ke kursi). agakanya manfaat yang dapat diberikannya cukup banyak. adat istiadat dan kebiasaan setempat. Suara. arak.

Mengingat bahwa hubungan konseling merupakan proses dinamis.kosial budaya. cirri-ciri kedinamisan dan keunikan tetap mewarnai upaya tindak lanjut itu. unik. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah : a. maka penilaian hasil konseling memiliki kekhasan sendiri yang menampung cirri-ciri kedinamisan dan keunikan. kondisi ruangan dan peralatan yang ada. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah. Evaluasi. Tindak lanjut. Karena layanan konseling bukan layanan acak ataupun layanan yang dapat diselenggarakan sambil lalu. Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah dibahas pada bagian terdahulu. maka sebagai konsekuensinya ialah bahwa layanan itu perlu dievaluasi dan diberikan tindak lanjutnya. 2. e. Demikian juga dengan upaya tindak lanjutnya. Kondisi (dan juga hasil) hubungan konselor amat ditentukan oleh metodologi (dan teknologi) konseling yang dimiliki dan diterapkan oleh konselor. Pengentasan Masalah melalui Konseling Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya dapat dientaskan. Pemahaman masalah. sedapat-dapatnya secara lengkap dan rinci. Variasi masalah dan keunikan klien itu menuntut variasi dalam metode yang kaya itu tidak mudah. dan tidak terprogram sebagaimana kegiatan mengajar ataupun kegiatan darmawisata misalnya. dan kondisi konselor sendiri. memerlukan upaya pembelajaran dan pengalaman yang cukup lama. b. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Pemahaman maslah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan . Apliakasi metode khusus. Konselor yang berhasil pada umumnya adalah konselor yang memiliki khasanah metode dan cara-cara yang kaya dalam mengembangkan hubungan konseling dan sekaligus dalam menangani masalah klien. d. c.

“kok sampai begitu”.pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. tentang klien dan permasalahannya. Unsure-unsur pengenalan klien dan masalahnya yang diperoleh konselor di luar proses konseling (misalnya laporan pihak ketiga. kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. Permasalahan tersebut dan sebab-sebabnya harus benar-benar dialami. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah”. khususnya yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dibahas. Meskipun upaya pemahaman masalah dan pengkajian tentang sumber-sumebr penyebabnya dapat dipilih. harus dicek kebenarannya kepada klien sendiri dalam proses konseling. Masalah dan sumber penyebab yang sebenarnya sering kali berada berbeda dari deskripsi awal itu. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis anatara klien dan konselor. dan efisiensi proses konseling. Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan. Untuk itu perlu diterapkan berbagai teknik konseling oleh konselor. “harus begini atau begitu”. Oleh karena itu. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang dumber penyebab masalah itu. . keterangan dari klien sendirisebelum proses konseling). dalam rangka memahami masalah klien (beserta sebab-sebabnya) konselor tidak boleh terpukau oleh deskripsi awal masalah yang dikemukakan klien (atau yang dikemukakan oleh pihak ketiga). pembahasan tentang masalah yang dihadapi itu beserta sumber-sumber penyebabnya antara klien dan konselorperlu dilakukan secara intensif dan terbuka. apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga. namun pembahasan keduanya sering kali sukar dipisahkan. “tidak boleh begini atau beitu”. merendahkan atau menyesalkan. Konselor tidak seyogianya meyakini kebenaran suatu pendapat konselot sendiri. efektivitas. sbelum dicek terlebih dahulu kepada klien yang bersangkutan. klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah klien. Dengan mengkaji sebabsebab tibul masalah. Sebagaimana telah dibahas pada Bab III. Hal itu perlu justru untuk menjamin ketetapan. atau kata-kata yang mencemooh. data dalam cumulative record.

setelah ia pahami secara mendalam seluk-beluk masalah dan sumber-sumber penyebabnya. perasaan tersinggung. Contoh-contoh tersebut sengaja dikemukakan untuk menekan betapa pentingnya isi dan suasana wawancara konseling itu. dapat menggugah hati serta pikiran klien. Sebaliknya. atau kata-kata yang mencela dan bermakna negative lainnya. “anda tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. “anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”. tanpa menimbulkan reaksi-reaksi negative pada diri klien (seperti ragu-ragu. Tidak jarang terjadi. Hali itu semua dapat terjadi berkat keterampilan konselor menyelenggarakan proses konseling dengan teknik-teknik yang jitu. dan lain sebagainya). titik awal itu menjadi pemicu yang menggelindingkan sendiri kekuatan klien. terutama bagi klien yang cerdas dan motivasinya amat kuat untuk memecahkan masalah. Dengan demikian ia merasa proses konseling sudah dapat diakhiri. “saya tidak mau mencampuri urusan anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu. Ia menyatakan kepada konselor bahwa dirinya telah sanggup memecahkan masalahnya sendiri.menilai negative atau menyalahkan. “anda tidak berdosa”. juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah anda”. Klien telah amat terbantu. Tergugahnya hati dan pikiran klien itulah yang merupakan awal pengetasan masalah secara nyata. Wawancara konseling bukanlah pembicaraan biasa. melainkan dialog teraputik untuk membantu klien. cemas. seperti “anda sebenarnya memang hebat”. Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya masalah. sikap mempertahankan diri. “anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”. yang akan menanggung resiko kan anda sendiri”. besarlah harapan kekuatan yang ada di dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan permasalahan yang dialaminya. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan sengan penerapan metode sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber penyebabnya. bengga yang berlebihan atau sombong. masa bodoh. Metode-metode khusus . Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah. sebagaimana pernah disingung dimuka.

hal-hal apa yang sudah dan belum ia peroleh. termasuk didalamnya kemungkianan penerapan hasil-hasil konseling (seperti beberapa alternative tindakan untuk mancapai tujuan. sambil sekaligus mengasakan penilaian atas kelancaran. latihan bersikap dan bertindak. dan lebih khusus lagi untuk mengetahui keaktifan metode khusus yang dipakai. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. 1982). latihan merencana suatu kegiatan. desensitisasi. Penerapan metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana pernah disinggung pada bab terdahulu. peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka pemecahan masalah). Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh. Labih jauh lagi. ketepantan dan kebermaknaan prose situ sendiri. atas hasil penilaian itukonselor diharapkan secara bijaksana dapat memberikan tindak lanjut agar proses konseling yang dijalankannya itu tetap berlangsung dengan sebaikbaiknya sampai akhir. latihan-latihan bertingkah laku) dalam kehidupan * sehari-hari. Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses” konselor dapat meminta klien mnyampaikan kesan-kesan dan perasaannya terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya. pemberian contoh. dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan. Demikian juga ketika berlangsungnya penerapan metode-metode khusus. yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih lanjut klien. khususnya dengan masalah yang dihadapinya. Penilaian dalam proses dilakukan ketika proses konseling masih berjalan. dan harapan-harapannya. Penialaian ini sangat memerlukan keterampilan konselor. dan konseling lebih lanjut. Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan.bervariasi dari pengembangan penalaran dan kata hati. samapi dengan penerapan program-program computer dalam konseling (Brammer & Shostrom. Konselor . konselor dituntut secara simultan melancarkan dialog dengan klien dalam suasana seperti digambarkan diatas. lebih-lebih dengan klien-klien yang berada diluar lembaga tempat konselor bekerja.

Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. dan khususnya untuk mengentaskan masalah klien. sehingga keefektifan pengentasan masalah tidak meningkat kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi. Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan keteladanannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. mengingat apabila kklien tidak menyadari bahwa dirinya tidak bermasalah (padahal sebenarnya bermasalah). Dari keadaan awal itu sampai konseling yang paling akhir nantinya pada waktu masalah klien terentaskan. Bahkan mungkin justru sebaliknya yang terjadi.sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar dilakukan. Ini adalah tingkat keefektifan yang pertama. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam pertemuan terjadwal dengan masingmasing klien. tidak menyukai konselor. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan kehidupan klien pada umumnya. maupun bagi penyusutan program-program pelayanan periodeperiode berikutnya. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga dapat dilakukan. atau melalui pihak ketiga yang mengenal klien. apalagi kalau untuk mereka disediakan program pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur pertemuan berskala. dan yang lebih parah lagi. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana. maka konseling yang diberikan kepada klien yang merasa dirinya tidak bermasalah itu tidak akan member hasil apa-apa. 3. Untuk klien-klien yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih mungkin dilaksanakan. Keefektifan pengentasan masalah. Dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya memang menjalani tahap dan tidak melanjutkannya ketahap berikutnya. klien . dapat diidentifikasi lima tahap. klien bersikap antagonistic dan menolak pelayanan konseling.

Namun keefektifan konseling tidak begitu saja. Lebih baik lagi apabila mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. Berhenti dan membiarkan masalah itu sebagaimana adanya dengan kemungkinan akibat akan menimbulkan kesulitan atau kerugian tertentu. Disinilah tampilnya tahap keefektifan yang ketiga. Syukur kalau masalahnya itu teratasi dengan usaha sendiri. dan keefektifan konseling boleh jadi akan terwujud. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat . Pesoalannya adalah. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan kedua. Konseling degan orang-orang yang tidak menyadari masalah jelas tidak efektif. Individu-individu yang menyadari bahwa dirinya bermasalah agaknya memiliki kemungkinan yag lebih baik dalam hal pemecahan masalahnyaitu. apabila diri sendiri tidak mampu mengatasi masalah itu. Kemungkinan yang lain adalah. Usaha pemecahan masalah selesaisudah. Kalau individu berhenti disana. Mula-mula mungkin ia akan menimbang-nimbang bagaimana masalah itu dapat diatasi. kalau individu itu memang gigih dalam mengupayakan pemecahan masalahnya. Bagaimana selanjutnya? Ada dua kemungkinan. mungkin ia akan mencoba mengatasi masalahnya itu sendiri. berarti riwayat pemecahan masalah hanya samapi disana.mempertahankan diri dengan menutupi rapat-rapat atau bertingkah laku edemikian rupa agar tampak oleh orang lain dirinya tidak bermasalah. bagaimana seterusnya? Apakah individu memang mencari orang lain untuk membantunya?? Atau hanya sekedar berhenti pada “kesadaran akan perlunya bantuan orang lain”. terbukalah bagi klien kemungkinan untuk memecahkan masalah itu. Namun. Jangankan efektif. Individu tersebut menutup dari bagi kemungkinan pemecahan masalah. Sebaliknya. keefektifan konseling tidak akan terwujud. konseling dapat berjalan pun tidak. individu menyadari bahwa dirinya tidak mampu memcahkan masalah dan menyadari pula bahwa ia memerlukan bantuan orang lain. Klien dituntut untuk aktif dalam proses konseling. maka ia benar-benar mencari orang lain untuk membantu dirinya. Dengan mencapai (dan menemukan) orang lain yang dapat membantunya. Proses pemecahan masalah tetap etrbuka.

apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang kelima. Setelah berakhirnya prose konseling. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut (diagram 1). Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yag telah dicapai melalui konseling dalam kehidupan sehari-hari klien.keefektifan konseling. pertanyaan yang masih tersisa ialah. Partisipasi aktif klien itu diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu dinyatakan berakhir. Dengan kata lain. dan dengan demikian masalah klien secara berangsur-angsur teratasi. . Pemahaman masalah baru terjadi dalam proses konseling. hsil koneling itu benar-benar mengubah tingkah laku klien. Diagram 2 Lima Tahap Keefektifan Konseling Catatan : sering kali individu dating kepada konselor tanpa memahami masalah yang sebenarnya ada pada dirinya.

masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. terutama tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. 8. bahkan disana-sini bertolak belakang. Pendekatan-pendekatan itu terutama pendekatan direktif dan non-direktif. Apabila ditilik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga pendekatan. Pendekatan dan Teori Konseing Pada bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori konseling. A H. A Aa . Aa G. Aa A A F. 5. K. 6.4. konseling non-direktif. J. dan konseling elektrik. Aa I. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya yang secara langsung diterapkan terhadap klien. yaitu pendekatan konseling direktif. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful