P. 1
Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum

Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum

|Views: 196|Likes:
Published by Pramudya Ardianto
jurnal
jurnal

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Pramudya Ardianto on Mar 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2015

pdf

text

original

JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN

PENERAPAN PASAL 288 UU NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DALAM MENANGGULANGI PELANGGARAN LALU LINTAS DI KOTA MAKASSAR NUR FITRIYANI B11108326 Universitas Hasanuddin Dibimbing Oleh H. M. Imran Arief, S.H., M.S Universitas Hasanuddin Hj. Nur Azisa, S.H., M.H

ABSTRAK Nur Fitriyani (B 111 08 326) Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin : Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar di bawah bimbingan M.Imran Arief selaku dosen pembimbing I dan Nur Azisa selaku dosen pembimbing II. Penelitian ini adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui Apakah Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angukatan Jalan telah efektif menanggulangi pelanggaran lalu lintas di Kota Makassar, yang dilihat dari jumlah pelanggar lalu lintas per tahun dan dilihat dari penerapan sanksi pidana denda bagi pelanggar, serta peran aparat kepolisisan Polrestabes Makassar.

Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di Polrestabes Makassar dan pengadilan Negeri Makassar dengan melakukan wawancara dengan petugas serta membagikan daftar pertanyaaan kepada 50 orang pelanggar lalu lintas. Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang dilihat dari jumlah pelanggar lalu lintas per tahun dan dilihat dari penerapan sanksi pidana denda bagi pelanggar, belum efektif menanggulangin pelanggaran lalu lintas di Kota

Makassar. Ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah pelanggar lalu lintas di setiap tahunnya yang disebabkan oleh sikap apatis dari para pengemudi kendaraan bermotor, sering mengabaikan peraturan berlalu lintas, ketidakdisiplinan dan faktor lupa. Sedangkan dari segi penerapan sanksi pidana denda terhadap pelanggara dapat dikatakan belum efektif, karena sanksi pidana denda dapat dibayar atau ditangguhkan oleh pihak ketiga, sehingga pidana yang dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh si pelanggar sendiri, pidana denda lebih menguntungkan bagi orang-orang yang mampu serta pidana denda tidak menimbulkan cap atau stigma sebagai penjahat bagi pelanggar. Upaya-upaya yang dilakukan pihak kepolisian Polrestabes Makassar dalam menanggulangi pelanggaran lalau lintas di kota Makassar yaitu terdiri dari upaya preventif dan upaya represif. Upaya preventif berupa mengadakan penyuluhan hukum, pembagian brosur tertib lalau lintas, pelatihan berlalu lintas dan sebagainya. Upaya represif berupa pemberian surat teguran dan surat tilang kepada pelanggar lalu lintas.

Pelanggaran lalu lintas sudah membudaya dimasyarakat. mempunyai posisi dan peran yang sangat penting dan strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi. Menurut pihak kepolisisan. Pembangunan yang dilaksanakan Indonesia adalah pembangunan disegala bidang yang merupakan suatu bagian dari proses modernisasi untuk mencip0takan kesejahteraan dan ketentraman bagi masyarakat Indonesia. terletak memanjang digaris khatulistiwa. Permasalahan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan yang berskala nasional yang berkembang seirama dengan perkembangan masyarakat. . Pelanggaran ringan yang kerap kali terjadi salah satunya adalah pelanggaran lalu lintas tertentu atau yang lebih dikenal dengan tilang Permasalahan ini sudah tidak asing lagi dikalanagan masyarakat khususnya dikota Makassar. tidak sedikit pengendara yang mengabaikan keselamatan dan kenyaman saat di jalan raya serta tidak menyadari bahwa kecelakaan bermula dari pelanggran lalu lintas. Latar Belakang Masalah Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dianugrahi sebagai negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau. Banyak sekali dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran hukum.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB I PENDAHULUAN A. mulai dari yang ringan hingga yang berat khususnya di Kota Makassar yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi selatan. serta diantara dua benua dan dua samudera. sehingga setiap kali dilakukan operasi tertib lalu lintas dijalan raya yang dilakukan oleh polantas pasti banyak terjaring kasus pelanggaran lalu lintas. Lalu lintas merupakan salah satu sarana komunikasi masyarakat yang memegang peranan vital dalam memperlancar pembangunan yang kita laksanakan.

semangat untuk menjaga ketertiban. B. Selain itu. Akibat pemikiran yang menyesatkan itu maka dengan sangat muda dijumpai berbagai pelanggaran lalu lintas seperti menerobos lampu merah. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang. dengan langkah-langkah penegakan hukum oleh polri diharapkan akan tercipta keadaan tertib hukum dibidang lalu lintas dan angkutan jalan raya sehingga berbagai pelanggaran lalu linta dapat ditekan jumlahnya seminimal mungkin. Bagaimanakah Peran Aparat Kepolisian Polrestabes Makassar dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar ? . kalau tidak ada polisis. Apakah Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah efektif Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar ? 2. Oleh karena itu penting pula kiranya bahwa kepolisian pun perlu meningkatkan kedisiplinan anggotanya. memarkir kendaraan ditempat yang memiliki rambu-rambu dilarang parkir. dan menghormati hak orang lain dalam berlalu lintas. Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan penulis di atas. dan lainlainnya. dengan seenaknya memasuki jalan dan rambu/tanda dilarang masuk. berkeendaraan melawan arus.Selama ini secara implisit muncul pendirian dan anggapan yang sangat menyesatkan dan mungkin juga berbahaya disebagian masyarakat bahwa melakukan pelanggaran lalu lintas itu tidak apa-apa dan boleh-boleh saja asal tidak ketahuan polisi. Mengingat pentingnya ketertiban lalu lintas demi kelancaran dan keamanan para pengguna jalan pada umumnya. maka perlu terus diupayakan tumbuhnya semangat menaati aturan. maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar”. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila telah ada kesadaran hukum masyarakat berlalu lintas. dan tidak perlu menaati ramburambu lalu lintas. maka dapat dirumuskan permasalahan yang sebagai berikut: 1.

Kejelasan tujuan yang hendak dicapai 2. kesannya). Kejelasan strategi pencapaian tujuan 3. Tersedianya sarana dan prasarana 7. efektivitas merupakan tolak ukur dalam menilai efektivitas penegakan hukum.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyusunan program yang mantap 6. Pengertian Efektivitas Secara etimologi kata efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya (akibatnya. Sementara dalam konteks penegakkan hukum. hal mulai berlakunya (tentang undang-undang. Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan secara efektif atau tidak yaitu antara lain : 1. Perencanaan yang mantap 5. berhasil guna (tentang usaha atau tindakan). Kejelasan analisa dan perumusan kebijaksanaan yang mantap 4. Pelaksanaan yang secara efektif dan efisien 8. pengaruh. manjur atau mujarab (tentang obat). peraturan). Efektivitas adalah perbandingan positif antara hasil yang dicapai dengan masukan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktunya untuk mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan. dapat membawa hasil. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik. dimana pendekatan tolak ukur efektivitas tersebut dapat .

dan masih banyak jenis kepentingan lain. faktor masyarakat dan faktor kebudayaan. Berbeda kalau ketaatannya berdasarkan kepentingan yang bersifat internalization. . tergantung pada kepentingannya.dilihat dari : faktor hukumya sendiri. Dan itu ada bermacammacam. maka derajat ketaatannya adalah yang tertinggi. internalization. seseorang menaati atau tidak menaati suatu aturan hukum. maka kita pertama-tama harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati. Cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut c. karena membutuhkan pengawasan yang terus-menerus. b. maka derajat ketaatannya sangat rendah. yang ketaatannya karena aturan hukum tersebut benar-benar cocok dengan nilai intrinsik yang dianutnya. faktor sarana dan prasarana. Sebagaiamana yang telah diuraikan sebelumnya. yang diistilakan oleh Gunnar Myrdall sebagai sweep legislation (undang-undang sapu). sekalipun dapat dikatakan aturan yang ditaati itu efektif. Bagaiamana proses lahirnya suatu perundang-undangan. diantaranya yang bersifat compliance. Ketika kita ingin mengetahui sejauh mana efektivitas dari hukum. tetapi kita tetap masih dapat mempertanyakannya lebih jauh derajat efektivitasnya. Pengetahuan tentang susbstansi (isi) perundang-undangan. Jika ketaatan sebagian besar masyarakat terhadap suatu aturan umum hanya karena kepentingan yang bersifat compliance atau hanya takut sanksi. jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya. yang memiliki kualitas buruk dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. faktor penegak hukum. kita dapat mengatakan bahwa aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif. Institusi yang terkait dengan ruang lingkup perundang-undangan di dalam masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dari suatu aturan hukum atau perundangundangan adalah sebagai berikut : a. Tentu saja. yang tidak boleh dilahirkan secara tergesa-gesa untuk kepentingan instansi (sesaat). d. identification. Namun demikian.

Semuanya diserahkan kepada ilmu pengetahuan untuk memberikan dasarnya. Jika seorang Indonesia yang melakukan delik diluar negeri yang digolongkan sebagai delik pelanggaran di Indonesia.Pada umumnya. tetapi tidak ada penjelasan mengenai apa yang disebut kejahatan dan pelanggaran. Kriteria lain yang diajukan. Percobaan dan membantu melakaukan delik pelnggaran tidak dipidana. Dalam KUHP menempatkan kejahatan didalam Buku II dan pelanggaran dalam Buku III. terhadap anak dibawah umur tergantung pada . B. sedangkan pelanggaran itu hanya membahayakan in abstracto saja. Pelanggaran dapat dibedakan dengan kejahatan melalui sanksi yang diberikan. kejahatan ialah delik-delik yang melanggar kepentingan umum dan juga membahayakan secara konkret. maka dipandang tidak perlu dituntut. wewenang dan fungsi dari para penegak hukum. yang jelas bahwa seseorang menaati ketentuan perundangundangan adalah karena terpenuhinya suatu kepentingannya (interest) oleh perundang-undangan tersebut. Pelanggran adalah delik undang-undang yaitu perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah ada undang-undang yang mengatur. 3. Secara kuantitatif pembuat undang-undang membedakan delik kejahatan dan pelanggaran itu : 1. Pada pemidanaan atau pemidanaan apakah itu kejahatan atau pelanggaran. Pasal 5 KUHP hanya berlaku bagi perbuatan-perbuatn yang merupakan kejahatan di Indonesia. baik didalam menjelaskan tugas yang dibebankan terhadap diri mereka maupun dalam menegakkan perundang-undangan tersebut. 2. Perbedaan Kejahatan dan Pelanggaran Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dijelaskan mengenai arti pelanggaran. tetapi tampaknya tidak ada sepenuhnya memuaskan. faktor yang mempengaruhi efektivitas suatu perundang-undangan adalah profesional dan optimal pelaksanaan peran.

yang dapat dipidana hanyalah terhadap percobaan melakukan kejahatan saja. Hapusnya hak negara untuk melakukan penuntutan pidana karena telah dibayarnya secara sukarela denda maksimum sesuai yang direncanakan serta biaya-biaya yang telah dikeluarkan jika penuntutan telah dimulai. yang pasti jenis pelanggran itu lebih ringan dari pada kejahatan. dan tidak pada jenis pelanggaran. terdapat konsekuensi berikutnya dalam hukum pidana materil antara lain sebagai berikut : a. yang dapat dipidana hanyalah pembantuan dalam hal kejahatan. Dalam ketentuan perihal syarat pengaduan bagi penuntutan pidana terhadap tindak pidana (aduan) hanya berlaku pada jenis kejahatan saja. jika tidak. pengurus atau anggota pengurus atau para komisaris hanya dipidana apabila pelanggaran itu terejadi adalah atas sepengetahuan mereka (Pasal 59 KUHP). Dengan dibedakannya tindak pidana antara kejahatan dan pelanggran secara tajam dalam KUHP. Asas personaliteit hanya berlaku pada warga negara RI yang melakukan kejahatan (bukan pelanggaran) diluar wilayah hukum RI yang menurut hukum pidana negara asing tersebut adalah berupa perbuatan yang diancam pidana (Pasal 5 ayat 1 sub 2 KUHP) d.Apapun alasan pembenar antara kejahatan dan pelanggaran. pengurus. Dalam hal melakukan pelanggaran. Hal ini tidak berlaku pada kejahatan. Dalam hal tenggang waktu kadaluarsa hak negara untuk menuntut pidana dan menjalankan pidana pada pelanggaran relatif lebih pendek dari pada kejahatan (Pasal 78 dan Pasal 84 KUHP). e. dan tidak dalam hal pelanggaran ( Pasal 56 KUHP) c. dan tidak pada percobaan pelanggarn (Pasal 53 dan Pasal 54 KUHP) b. sedangkan pada kejahatan lebih didominasi dengan ancaman piadana penjara. f. g. hanyalah berlaku pada pelanggaran saja (Pasal 82 ayat 1 KUHP). Mengenai pembantuan. anggota pengurus atau komisaris itu tidak dipidana. Hal ini dapat diketahui dari ancaman pidana pada pelanggran tidak ada yang diancam dengan pidana penjara. . tetapi berupa pidana kurungan dan denda. Dalam hal percobaan.

Lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang di Ruang Lalu Lintas Jalan. kendaraan.h. melawan. Lalu lintas (traffic) adalah pertalian dengan angkutan dan harta benda di jalan dan meliputi perjalanan. laga. serta pengelolaannya. prasarana lalu lintas dan angkutan jalan. landa. pengemudi. dan/atau barang yang berupa jalan dan fasilitas pendukung. “Melanggar” artinya menubruk. . menyerang. tubruk. menabrak. benda objek penadahan haruslah diperoleh dari kejahatan saja. C. Dalam ketentuan mengenai penyertaan dalam hal tindak pidana yang dilakukan dengan alat percetakan hanya berlaku bagi kejahatan-kejahatan saja (Pasal 61 dan Pasal 62 KUHP). gerak dari kendaraan penarikan benda-benda yang dapat bergerak. Menurut Perinkins. menumbuk. dan bukan pada pelanggran (Pasal 480 KUHP). orang. pengguna jalan. j. arus pejalan kaki. dan ditambah dengan beberapa kegiatan yang berhubungan penggunaan jalan umum 2. Pelanggaran Lalu Lintas 1. angkutan jalan. k. jaringan lalu lintas dan angkutan jalan. angkutan penumpang. i. menyalahi. Ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan. Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia hanya diberlakukan bagi setiap pegawai negeri yang diluar wilayah Indonesia melakukan kejahatan jabatan (Pasal 7 KUHP). Dalam hal penadahan. Pengertian Lalu Lintas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas lalu lintas. Dalam hal menjatuhkan pidana perampasan barang tertentu dalam pelanggaranpelanggaran hanya dapat dilakukan jika dalam UU bagi pelanggran tersebut ditentukan dapat dirampas (Pasal 39 ayat 2). Pengertian Pelanggaran Lalu Lintas Pelanggaran berasal dari kata “langgar” yang berarti tempat beribadah. dan bukan pelanggran jabatan.

. orang yang menggunakan kendaraan bermotor maupun pejalan kaki”. Pelanggaran lalu lintas adalah pelangaran-pelangaran yang khusus dilakukan oleh pengemudi kendaraan bermotor dijalan raya. Pengertian mengenai pelanggran lalu lintas dapat disimak dalam brosur penyuluhan hukum VIII tentang pelaksanaan lalu lintas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Peradilan Umum Departemen Kehakiman edisi 1 Tahun 1993 yang selengkapnya berbunyi: “ Pelanggaran lalu lintas adalah setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemakai jalan baik terhadap rambu-rambu lalu lintas maupun dalam cara mengemudi jalan. Sedangkan pelanggaran merupakan tindak pidana yang ancaman hukumannya lebih ringan dari pada kejahatan.atau melanda.

2) Data sekunder yakni data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait sehubungan dengan penulisan skripsi ini. Di Pengadilan Negeri Makassar. Jenis dan Sumber Data Data yang terhimpun dari hasil penelitian ini. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan dalam Wilayah Hukum Kota Makassar. B. dan buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini. penulis memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan melalui metode : . penelitian bertujuan untuk mewawancarai Hakim dan para pelanggar pada hari jumat. pada lokasi penelitian.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB III METODE PENELITIAN A. baik penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan. karya tulis. dalam hal ini bertempat di Kantor Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar dan di Pengadilan Negeri Makassar. C. Penelitian dilakukan di kantor Polrestabes Makassar khususnya di bagian Satlantas dengan pertimbangan bahwa Satlantas Polrestabes Makassar adalah instansi yang berwenang dan memiliki kompeten dalam memberikan keterangan-keterangan atau pun data-data yang sangat akurat dalam penelitian untuk penulisan skripsi ini. Teknik Pengumpulan Data Dalam penyusunan skripsi ini. dapat digolongkan ke dalam dua jenis data yaitu : 1) Data primer adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan seperti peraturan perundang-undangan.

Hasil wawancara/studi kepustakaan tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif kemudian disajikan secara deskriptif. yaitu menjelaskan menguraikan dan mengagambarkan permasalahan yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini untuk memperoleh sebuah kesimpulan.1) Metode Penelitian Kepustakaan (library research) yakni penelitian yang dilakukan dengan membaca buku-buku. . Teknik Analisa Data Setelah penulis memperoleh data primer dan data sekunder seperti yang tersebut diatas. kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif. 2) Metode Penelitian Lapangan (field research) yakni penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yakni melalui wawancara langsung dengan pihakpihak yang terkait dengan penulisan skripsi ini. peraturan perundang-undangan. D. karya tulis. serta data-data yang didapatkan dari penulisan melalui media internet atau media lain yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. dianalisis secara kualitatif.

Untuk mengetahui seberapa efektif penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009. Tentu saja. Polsek Tamalanrea. dan PJR (Polisi Jalan Raya). kita dapat mengatakan bahwa aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif. maka kita pertama-tama harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh keterangan bahwa jumlah pelanggar lalu lintas dari januari 2010 – agustus 2012 di Polrestabes Makassar adalah sebanyak 23. Polsek Bontoala. dengan rincian sebagaimana terlihat dalam tabel dibawah ini : .840 kasus. Ditlantas Polda. dan Polsek Tamalate. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 dilihat dari Jumlah Pelanggar Lalu Lintas Per Tahun. Sedangkan data yang ada di Pengadilan Negeri Makassar merupakan data dari Polrestabes Makassar. Polsek Rappocini. Polres Pelabuhan. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dapat ditinjau dari dua aspek yaitu : 1. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dari suatu aturan hukum atau perundangundangan. jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya. penulis telah melakukan penelitian di Polrestabes Makassar dan Pengadilan Negeri Makassar. Polsek Biringkanaya. Polsek Manggala.571 kasus. Polsek Ujung Pandang. Polsek Mariso. Polsek Panakukkang. Polsek Mamajang.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB IV PEMBAHASAN A. Polsek Makassar. terdapat perbedaan jumlah kasus karena data yang ada di Polrestabes merupakan data yang diperoleh dari penyetoran 12 polsek yaitu Polsek Tallo. dan di Pengadilan Negeri Makassar adalah sebanyak 30.

508 2.113 2. 10. 5.840.901 5. Tabel 2 : Data Pelanggar Lalu Lintas di Pengadilan Negeri Makassar dari Tahun 2010-2012 No.989 1. Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 8.553 1. 1. Bulan Januari 2010 253 2011 475 2012 595 Total 1. 2.201 1.834 Total 2.499 2. Jumlah pelanggar lalu lintas pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yaitu sebanyak 1. 3.548 9.548. 9.571 Februari 483 570 Maret 381 404 April 593 906 Mei 655 478 Juni 825 637 Juli 831 1739 Agustus 1573 1658 September 346 1267 Oktober 1517 1342 November 897 1304 Desember 277 1677 Total 8. 11.859 2. 5. pada tahun 2011 sebanyak 9. 9. 4.613 2.954 30.841 2. 6.323 1.391 Sumber : Data Primer Januari 2010-Agustus 2012. 4. 7.193 2.353.840 Februari 517 348 890 Maret 370 800 671 April 838 1009 661 Mei 575 874 991 Juni 1002 957 540 Juli 882 905 548 Agustus 1175 1005 495 September 592 555 Oktober 1137 852 November 750 803 Desember 457 1318 Total 8. 3.818 12. 6.440 2.755 1. 12. 2.Tabel 1 : Data Pelanggar Lalu Lintas di Polrestabes Makassar dari Tahun 2010-2012 No. Bulan Januari 2010 440 2011 937 2012 702 1060 1575 1062 1060 1501 916 958 8.901 dan pada tahun 2012 sebanyak 5.486 4. 10. 7.391 hingga bulan Agustus.360 2.189 1.919 Sumber : Data Primer Januari 2010-Agustus 2012 .561 2. 8.079 2. 1.963 3.775 23. Jumlah total pelanggar lalu lintas dari januari 2010 – Agustus 2012 adalah sebanyak 23.147 1.675 1. 11. 12. 8.335 2.

Jumlah total pelanggar lalu lintas di Pengadilan Negeri Makassar dari Januari 2010 – Agustus 2012 adalah sebanyak 30. Januari Februari Maret April Mei Juni Rp.565.Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 8.650.13.050. pada tahun 2011 sebanyak 12. 2.9. 4. Jenis pelanggaran ini terjadi karena pengemudi kendaraan bermotor sering mengabaikan peraturan dalam berlalu lintas dan adanya sikap apatis (acuh) serta Kebiasaan melanggar peraturan lalu lintas yang anggap biasa kemudian menjadi budaya melanggar peraturan.101. 3.8.256.525.000 Rp. maka penulis melakukan penelitiaan dan memperoleh data sebagai berikut : Tabel 3: Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2010 No Bulan Jumlah kasus 440 483 381 593 655 825 Hadir sidang 101 237 171 203 245 321 Verstek (putusan tanpa hadir) 339 246 210 390 410 504 Jumlah Denda 1. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 dilihat dari Pemberian Sanksi Pidana Denda. Faktor lain yang menjadi penyebab adalah faktor ketidakdisiplinan dan faktor lupa 2.000 Rp. Untuk mengetahui kasus-kasus pelanggaran lalu lintas khususnya terhadap pelanggaran Pasal 288 UU Nomor 22 tahun 2009 yang diselesaikan melalui persidangan atau pemeriksaan cepat di Pengadilan Negeri Makassar.7. maka rata-rata pengendara tidak membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) atau Surat Ijin Mengemudi (SIM) atau tidak menggunakan helm. Jumlah pelanggar lalu lintas pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yaitu sebanyak 4. 6.571.919 dan pada tahun 2012 sebanyak 8.000 Rp.00 Rp.000 Rp.3.8.050. Salah satu contohnya yaitu ketika seseorang pengendara yang ingin menuju kesuatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediamannya.000 .834 hingga bulan Agustus. 5.818.

000 Rp.000 Rp. 3.745.000 Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 8.260.765. Bulan Jumlah kasus Hadir sidang 507 209 200 406 172 307 709 808 607 541 603 670 5.620. Table 5 :Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2012 No.Juli 831 Agustus 1573 September 346 Oktober 1517 November 897 Desember 277 Total 8.741.4.597 yang mengikuti persidangan dan 5.180 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir).5. 11.000 Rp.210. jumlah total denda selama tahun 2011 adalah sebanyak Rp.000 Rp. 11.000 Rp.115.620.364.919 Sumber : Data Primer Tahun 2011.3.818 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar.000 Rp.14.362.1.261.000 Rp.364. 7. 5.000 Rp.000 Rp.000 Rp.98. 9.000 Rp. 9.597 501 903 240 807 501 170 5.000 Rp.13. jumlah total denda selama tahun 2010 adalah sebanyak Rp.500.221 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir). 10.830.8. 330 670 106 710 396 107 3.850. 8.11.000 Rp.462.146.461.000 Rp.88.559.739 yang mengikuti persidangan dan 7.660.180 Jumlah Denda Januari 937 Februari 570 Maret 404 April 906 Mei 478 Juni 637 Juli 1739 Agustus 1658 September 1267 Oktober 1342 November 1304 Desember 1677 Total 12.000 Rp.81.15. 12.000 Rp. 10. Rp.11.426. 1. terdapat 5. 12. 8.14.739 Verstek (putusan tanpa hadir) 430 361 204 500 306 330 1030 850 660 801 701 1007 7. 2.334.11.221 Rp. Bulan Jumlah Hadir Verstek Jumlah Denda .362.115.260.452.000. terdapat 3. 4.000 Rp.800.000 Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 12.919 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar. Table 4: Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2011 No.86.818 Sumber : Data Primer tahun 2010 7.000 Rp.000.67. 6.

000 Rp. sehingga pidana yang dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh si pelanggar sendiri.000 Sumber : Data Primer 2012.60. terdapat 4.482.36. Alasanya bahwa sanksi denda mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain : 1. Jumlah Denda pelanggaran Lalu Lintas juga mengalami peningkatan. Kasus-kasus ini disidangkan dengan pemeriksaan cepat. .Agustus 2012 adalah sebanyak Rp.070. 3.98.000 Rp. 4.834 401 459 626 562 544 700 516 375 4. Dari segi efektivitas penjatuhan pidana denda terhadap pelanggar.571 kasus. Pidana denda dapat dibayar atau ditangguhkan oleh pihak ketiga. jumalh total denda dari Januari 2012.165 yang mengikuti persidangan dan 4.000 Rp.482. 2.320.000 Rp.000 Rp. Dari ke tiga tabel di atas.000 Rp.54. 2.33.952. 8.450.420.000 Rp.165 301 601 950 500 516 801 400 601 4.470 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir).370.000 Rp.389.800.42. Bahwa pidana denda itu lebih menguntungkan bagi orang-orang yang mampu. 7. 6. 5.000. terdapat 17 orang yang takut melakukan pelanggaran lalu lintas dan 33 orang yang tidak takut melakukan pelanggaran lalu lintas kembali.470 Rp.389.32.kasus sidang (putusan tanpa hadir) 1. Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 8.835 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar.100.31. dapat dilihat bahwa jumlah kasus pelanggar lalu lintas dari Januari 2010 – Agustus 2012 di Pengadilan Negeri Makassar sebanyak 30. Kasus-kasus yang diterima tersebut seluruhnya dijatuhi sanksi pidana denda tanpa ada satupun kasus yang divonis dengan pidana kurungan. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Total 702 1060 1575 1062 1060 1501 916 958 8.

seperti contoh mall panakukkang. misalnya saja pelayanan pembuatan SIM juga telah hadir di beberapa mall Makassar sehingga mempermudah warga dalam pengurusan SIM.3. 1. 2. Peran Aparat Kepolisian Polrestabes Makassar dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar. baliho. Pelatihan berlalu lintas Pelatihan ini ditujukan kepada seluruh tukang parker yang ada di kota Makassar. Pelayanan pembuatan SIM Pelayanan pembuatan SIM telah dilaksanakan dengan baik. 4. Upaya Represif Upaya represif (penindakan) merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sesudah terjadinya kejahatan atau perlanggaran. B. 3. Upaya preventif yang telah dilakukan oleh Kesatuan Lalu Lintas Polrestabes Makassar antara lain : 1. Pemasangan spanduk. Penyuluhan tentang berlalu lintas 2. dan penyebaran brosur Hal ini dapat kita lihat disepanjang jalan di kota Makassar seperti anjuran untuk memakai helm standar. Pidana denda tidak menimbulkan stigma atau cap sebagai penjahat bagi pelanggar. pamphlet. Pemasangan rambu-rambu peringatan dengan bekerja sama dengan jasa raharja. 5. Polisi menyapa masyarakat yang dilaksanakan secara rutin tiap hari minggu di sekitar anjungan pantai losari Makassar. 6. Upaya Preventif Upaya preventif (pencegahan) dimaksudkan sebagai usaha untuk mengadakan perubahanperubahan yang bersifat positif terhadap kemungkinan terjadinya gangguan-gangguan dalam ketertiban dan keamana (stabilitas hukum). Seiring dengan palaksanaan .

surat-surat.penanggulangan pelanggaran lalu lintas di kota Makassar yang bersifat preventif. . Hal ini dapat kita lihat ketika ada operasi/sweping yang dilakukan oleh polisi lalu lintas dimana banyak terjaring pelaku pelanggaran lalu lintas. maka perlu dilaksanakan upaya penangulangan yang bersifat represif. Penindakan dengan pemberian surat tilang Setiap pengendara kendaraan bermotor yang kedapatan melanggar lalu lintas maka akan ditindaki dengan tilang. Penindakan dengan pemberian surat teguran atau lisan Penindakan dengan teguran hanya diberikan kepada palanggar yang tidak terlalu fatal seperti mengendarai kendaraan dengan membawa anak atau diberikan bagi anak sekolah dibawah umur yang melakukan pelanggaran. b. maupun marka/rambu. Upaya represif yang dilakukan adalah : a. baik itu mengenai perlengkapan kendaraan.

belum efektif menanggulangi pelanggran lalu lintas di kota Makassar. Hal ini disebabkan : (1) Pidana denda dapat dibayar atau ditangguhkan oleh pihak ketiga. Upaya preventif yang dilakukan yaitu : penyuluhan hukum. pemasangan spanduk. Peran aparat kepolisian polrestabes Makassar dalam menanggulangi pelanggaran lalu lintas di kota Makassar adalah upaya preventif (pencegahan) dan upaya represif (penindakan). (3) Pidana denda tidak menimbulkan stigma atau cap sebagai penjahat bagi pelanggar.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB V PENUTUP A. sehingga pidana yang dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh si pelanggar sendiri. Kesimpulan. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Upaya represif yang dilakukan yaitu : penindakan dengan teguran dan penindakan dengan tilang . Dari segi penjatuhan pidana denda terhadap pelaku pelanggaran lalu lintas ternyata belum efektif. 3. polisi menyapa masyarakat. pelatihan tentang lalu lintas. pelayanan pembuatan SIM. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pelanggar lalu lintas yang mengalami peningkatan pada setiap tahunnya baik data di Polrestabes Makassar maupun di Pengadilan Negeri Makassar. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. baliho. pamphlet. 2. Penerapan pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. karena masih banyak masyarakat yang tidak takut untuk melakukan pelanggaran lalu lintas kembali. dan penyebaran brosur. Pelanggaran ini terjadi karena pengemudi kendaraan bermotor sering mengabaikan peraturan dalam berlalu lintas dan adanya sikap apatis (acuh) yang sudah menjadi kebiasaan. (2) Bahwa pidana denda itu lebih menguntungkan bagi orang-orang yang mampu.

yang tidak hanya melingkupi mereka yang biasa menangani masalah-masalah lalu lintas. akan tetapi kadang-kadang juga ada psikologinya maupun ahli ilmu-ilmu sosial lainnya. memerlukan kemampuan dan ketrampilan professional. Saran 1.B. Penanganan terhadap para pelanggar. yang paling pokok adalah sikap dari instruktur. Untuk mengurangi tindak pidana pelanggaran lalu lintas di kota Makassar. serta pengetahuan dan pemahaman hukum yang cukup besar. Instruktur harus mampu menciptakan suatu suasana dimana murid-muridnya dengan konsentrasi penuh menerima pelajarannya. sekolah mengemudi merupakan suatu lembaga pendidikan yang tujuan utamanya adalah menghasilkan pengemudi-pengemudi yang cakap dan terampil di dalam mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. diharapkan kepada aparat kepolisian menempatkan personilnya disegala sudut dan perempatan jalan di kota Makassar supaya pengendara tidak melakukan pelangaran lalu lintas. Oleh karena itu. 4. Di dalam sekolah pendidikan pengemudi tersebut. bukanlah sikap professional di dalam menangani masalah-masalah lalu lintas. maka para penegak hukum harus mempunyai pendidikan formal dengan taraf tertentu. Diharapkan kepada pemerintah agar memasukkan pelajaran berlalu lintas ke kurikulum sekolah dan perguruan tinggi agar masyarakat sadar akan pentingnya berlalu lintas. 3. juga merupakan salah satu cara dalam menangani para pelanggar lalu lintas. 2. Sekolah-sekolah tersebut dikelola oleh para ahli. . Pengutamaan kekuatan fisik. Pada masyarakat lain di luar Indonesia. Pendidikan bagi pengemudi.

Polisi dan Lalu Lintas (cetakan kedua). Adami. 2008 . Ali. 2009. Djajoesman. Bandung: PT. dan Hukum Pidana). Hamzah. Prodjodikoro. Jakarta : PT. Sondang. Chazawi.Asas-asas Hukum Pidana (edisi revisi 2008). Asas-asas Hukum Pidinan di Indonesia. Teori Perundang-undangan (Prinsip-prinsip Legislasi. 2009. A. 2010. Jakarta : PT Rineka Cipta. Jakarta: Bina Aksara. Teguh.Rajagrafindo Persada. Filsafat Administrasi. Bandung : Nuansa. Jakarta : kencana Prenada Media Group. 1991. Siagi. Jeremy. Jakarta: Bina Cipta. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Pengantar Kriminologi. . Wirjono. Achmad. Pelajaran Hukum Pidana I Bagian I. Makassar : Pustaka Refleksi. Moeljatno. 1996. Prasetyo. 2010.JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN DAFTAR PUSTAKA Alam. 1991.S.Refika Aditama. 2007. Hukum Pidana Edisi Revisi. 2011. Hukum Perdata. Jakarta : Gunung Agung. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia.Andi. Menguak Teori Hukum (legal theory) dan Teori Peradilan (Judiclalprudence). Bentham.

Jakarta : Pradnya Paramita. Kamus Hukum.Raja Grafindo Persada.id. Jakarta :PT.wikipedia. Marwan & Jimmy P. M. 2009. Jakarta : Widyatamma. 8 september 2010 . Subekti.org.Tijtrosoedibio.2005. 2008. 2009. Kamus Hukum. Sumber Lain Tri Rama K.Soekanto.Purba.R. Sosiologi Suatu PengantarI. www. Kamus Hukum Internasional & Indonesia. Michael R. Surabaya : Reality Publisher. Perundang-undangan Kitab Undang-undanng hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ( UU No. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Soerjono .8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Agung Media Mulia.R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->