M.

Nur Ihsan MEI RESUME BUKU Judul buku Pengarang Tahun terbit Metodologi : FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER : Jujun S. Suriasumantri : 2002 : Metode deskriptif BAB I PENDAHULUAN Buku yang berjudul FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER disusun oleh Jujun S. Suriasumantri. Buku ini terdiri dari sepuluh bab dengan 368 halaman, cetakan keempat belas (tahun 2002). Adapun mengenai sistematika dan kerangka penulisan buku ini sebagai berikut:
Daftar Isi Kata Pengantar oleh: Andi Hakim Nasution Sekapur Sirih I Ke Arah Pemikiran Filsafat 1. Ilmu dan Filsafat II Dasar-dasar Pengetahuan 1. Penalaran 2. Logika 3. Sumber Pengetahuan 4. Kriteria Kebenaran III Ontologi: Hakikat Apa yang dikaji 5. Metafisika 6. Asumsi 7. Peluang 8. Beberapa Asumsi dalam Ilmu 9. Batas-batas Penjelajahan Ilmu IV Epistimologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar 10. Jarum Sejarah Pengetahuan 11. Pengetahuan 12. Metode Ilmiah 13. Struktur Pengetahuan Ilmiah V Sarana Berpikir Ilmiah 14. Sarana Berpikir Ilmiah 15. Bahasa 16. Matematika 17. Statistika VI Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu 18. Ilmu dan Moral 19. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 20. Nuklir dan Pilihan Moral 21. Revolusi Genetika VII Ilmu dan Kebudayaan 22. Manusia dan Kebudayaan 23. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional 24. Dua Pola Kebudayaan VIII Ilmu dan Bahasa 25. Tentang Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetahuan atau Sains? 26. Quo Vadis? 1

27. Politik Bahasa Nasional Penelitian dan Penulisan Ilmiah 28. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah 29. Teknik Penulisan Ilmiah 30. Teknik Notasi Ilmiah X Penutup 31. Hakikat dan Kegunaan Ilmu Daftar Pustaka Indeks IX

BAB II ISI SEKAPUR SIRIH Buku ini disusun untuk mengisi kekosongan dalam bidang filsafat ilmu agar masyarakat mengenal bidang keilmuan dengan berbagai aspeknya. Fokus utama dari pembahasan buku ini adalah tema pokok yang hidup di sekitar masyarakat keilmuan, patokan-patokan dasar yang diterima oleh sebagian besar masyarakat keilmuan. Tujuan utama dari pengkajian dalam buku ini adalah untuk mengenal alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan, seperti usaha peningkatan penalaran, permasalahan moral dalam kegiatan keilmuan, kaitan ilmu dengan kebudayaan, perkembangan bahasa nasional, penerapan asas-asas keilmuan dalam kegiatan penelitian dan pembahasan tentang penulisan ilmiah. Pengetahuan kefilsafatan secara pragmatis ditujukan untuk kemampuan mendiagnosis persoalan dan mencari alternatif pemecahan. Diharapkan dengan adanya buku ini, cakrawala keilmuan dapat turut memperkaya jiwa pemuda dan mengantar ke alam kedewasaan. I Ke Arah Pemikiran Filsafat 1. Ilmu dan Filsafat Karakter berpikir filsafat: (a) menyeluruh, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari sudut pandang tertentu. Pemikiran filsafat ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain, moral, seni, tujuan hidup. (b) mendasar, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental/esensial objek yang dipelajarinya, sehingga dapat dijadikan dasar berpikir bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya pada periferis (kulit) saja, tetapi sampai tembus ke dalamnya. (c) spekulatif, hasil pemikiran apat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Jadi, tugas filsafat dalam hal ini menyiapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan bagi wilayah pengetahuan yang baru. Filsafat: Peneretas Pengetahuan Filsafat (menurut Will Durant) ibarat pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu-ilmu lain dan kembali menjelajah laut lepas; berpsekulasi dan meneratas. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat (nama asal fisika: natural philosophy, ekonomi: moral philosophy). Dalam perkembangan filsafat sebagai ilmu, maka terdapat taraf peralihan yang membuat bidang
2

tidak lagi menyeluruh. tetapi sektoral (moral berkembang menjadi ilmu ekonomi). filsafat ilmu. asas-asas ilmu yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif. Bidang Telaah Filsafat Selaras dengan dasarnya yang spekulatif. maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial. melainkan kombinasi secara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan hipotesis (metode logico-hypotetico-verifikatif). filsafat agama. filsafat pendidikan. pengetahuan apa saja) pada dasarnya memiliki ketiga landasan ini. sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjembatan dari ajaran religi. baik-buruk (etika). seni. dan positif. Walaupun demikian. etika (filsafat moral). epistimologis. Semua pengetahuan (ilmu. benar-salah (logika). Filsfat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu (ontologis). dan aksiologisnya 3 . metafisik. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada hakekat alamiah sebagaimana adanya. Ketiganya bertambah lagi yakni teori tentang ada (terangkum dalam ilmu metafisika) dan politik. Dalam menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini. indah-jelek (estetika). tidak terdapat perbedaan prinsipil antara ilmu alam dengan ilmu sosial-memiliki ciri keilmun yang sama. karena permasalahan teknis khusus. yakni epsitimologi (filsafat pengetahuan). Yang berbeda adalah materi perwujudan dan sejauh mana lanadasan-landaan dari ketiga aspek ini dikembangkan dan dilaksanakan. filsafat sejarah. filsafat hukum. maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif. Dari sinilah penyebutan ilmu sebagi pengetahuan yang aspek ontologis. Akan tetapi. Jadi. orang mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) wujud yang menjadi objek penelaahan yang bebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik tersebut. Pada tahap pertama.filsafat menjadi lebih sempit. dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat (ekonomi masih merupakan penerapan etika dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya). Auguste Comte (1798-1857) membagi tiga tingkat (tahap) perkembangan pengetahuan tersebut di atas ke dalam tahap religius. secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu alam dengan ilmu sosial. Kelima cabang utama itu kemudian bertambah lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang memiliki kajian yang lebih spesifik. asas religiuslah yang dijadikan postulat ilmiah. dan kegunaan ilmu (aksiologi). Metode yang digunakan adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang bersifat filsafat. Pada tahap kedua. Cabang-cabang Filsafat Pokok permasalahan yang dikaji dalam filsafat mencakup tiga segi. politik (filsafat pemerintahan). sumber ilmu/pengetahuan (epistimologis). maka dia (filsafat) menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah. Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat. metafisika. Akan tetapi. filsafat matematika. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang telaahnya dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. estetika (filsafat seni). Sebagaimana fungsinya sebagai pionir mempermasalahkan hal-hal pokok: filsafat menjawab masalah satu. kemudian merambah kepada masalah lain.

Berpikir itu sendiri merupakan kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. yakni bahasa. manusia memiliki penalaran yang mampu berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Pertama. logika. Hakekat Penalaran Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu simpulan yang berupa pengetahuan. sehingga menimbulkan konfrontasi yang menyedihkan. epistimologis. Jadi. pendidikan. Materi filsafat ilmu yang terkandung dalam buku ini merupakan kompromi ekletik dari berbagai aliran yang hidup dalam pemikiran filsafat. Akhir buku ini ditutup dengan pembahasan struktur penelitian dan penulisan ilmiah dengan harapan agar dapat membantu mereka yang berkarya dalam bidang keilmuan. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya. II Dasar-dasar Pengetahuan 2. Perbedaan antara manusia dengan binatang adalah manusia mampu berpikir nalar sedangkan binatang mampu berpikir saja. Kerangka Pengkajian Buku Buku ini mengulas beberapa persoalan pokok yang seharusnya diketahui pada tahap elementer. dan aksiologis keilmuan sambil membandingkan dengan beberapa pengetahuan lain. 4 . melainkan pengenalan menyeluruh. penalaran merupakan kegiatan yang memiliki ciri-ciri/karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran –sesuai dengan kriteria kebenaran itu sendiri. Pembahasan ini ditujukan bagi orang awam yang ingin mengetahui aspek kefilsafatan dari bidang keilmuan dan bukan ditujukan kepada mereka yang menjadikan ilmu sebagai satu bidang keahlian. pengertian ilmu sebagai disiplin yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan mainnya dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Pada dasarnya buku ini mencoba membahas aspek ontologis. ilmu dikonfrontasikan dengan agama).lebih berkembang dari pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Jadi. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh penerbitan buku ini ialah agar masyarakat tergerak hatinya untuk mencintai filsafat (dari yang terlihat angker menjadi santai dan menyenangkan). Tujuan utama dari buku yang bersifat pengantar ini bukan pendalaman yang bersifat teknis. Dalam kaitan-kaitan ini akan dikaji hakekat beberapa sarana berpikir ilmiah. dan kebudayaan. sosial. matematika. Kedua. Penalaran Manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekadar memenuhi kelangsungan hidupnya. Titik berat pembahasan diletakkan pada kesamaan dan bukan pada perbedaannya. Dari sini diharapkan dapat memanfaatkan kegunaan pengetahuan dan ilmu secara maksimal dan tidak salah dalam menggunakannya (ilmu dikacaukan dengan seni. Pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini. dan statistik. Setelah itu dibahas beberapa aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan keilmuan seperti aspek moral. tetapi tidak mampu berpikir nalar. Tema pokok dari filsafat ilmulah yang ingin dikemukakan dalam buku ini dan bukan variasi-variasi yang berkembang sekitar tema pokok tersebut. Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama. karena manusia memiliki bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.

Dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan. Ciri penalaran yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang memiliki ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Pengetahuan itu sendiri adalah esensi dari fakta-fakta kehidupan yang beraneka ragam tersebut. Pernyataan ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis. Terdapat cara penarikan simpulan. nonanalitik yang tidak berdasarkan pada suatu pola berpikir tertentu. secara luas dapat dikatakan bahwa cara berpikir masyarakat dapat dikategorikan kepada cara berpikir analitik yang berupa penalaran dan cara berpikir nonanalitik yang berupa perasaan dan intuisi.Ciri penalaran yang pertama adalah adanya suatu pola berpikir yang luas. Ketepatan penarikan simpulan bergantung pada tiga hal: kebenaran premis mayor.tidak tidak dapat memproduksikan betapa manisnya kopi dan pahitnya pil kina. Keuntungan dari simpulan penalaran ini. Logika Logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara shahih. Kehidupan yang beraneka ragam dapat direduksi menjadi beberapa pernyataan. yakni logika induktif (hal khusus ke hal umum) dari berbagai kasus yang bersifat individual dan logika deduktif (hal umum ke hal khusus). pengetahuan. Agar sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah. dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya. melainkan menekankan pada struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut. Keuntungan kedua. Pernyataan –bagaimanapun lengkap dan cermatnya. Perasaan merupakan suatu penarikan simpulan yang tidak berdasarkan penalaran. Jadi. Penalaran berbeda dengan perasaan dan intuisi. dan keabsahan penarikan/pengambilan simpulan. Adapun penalaran lainnya mempergunakan logikanya sendiri. Penarikan simpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. 3. jamak dapat disebut logika (sehingga penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah simpulan. maka dari berbagai pernyataan dapat ditarik pernyataan yang lebih bersifat umum lagi. Pernyatan yang mendukung silogisme itu disebut premis (ada premis mayor dan premis minor). menurut pola/logika tertentu). kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terdapat dua jenis cara penarikan simpulan. pernyataan yang bersifat umum tersebut memiliki sifat ekonomis. Simpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Pengetahuan cukup puas denga pernyataan elementer yang bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan pil kina pahit. Selain itu. kebenaran premis minor. Sifat analitik itu sendiri merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Dengan demikian. Artinya penalaran adalah suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. tidak semua berpikir bersifat logis dan analisis. Penalaran secara deduktif adalah cara bepikir yang menarik pernyataan yang bersifat umum kepada simpulan yang berupa pernyataan yang bersifat khusus. 5 . pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dari objek tertentu. Intuisi adalah kegiatan berpikir yang tidak berdasarkan penalaran. pertama. sehingga memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fundamental. penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah/dengan langkah-langkah berpikir tertentu. baik secara induktif maupun secara deduktif. Secara induktif.

yakni animisme (percaya adanya rohroh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda). Aliran monistik berpendapat bahwa pikiran dan zat (objek yang dipikirkan) itu sama 6 . 5. Metafisika Beberapa Tafsiran Metafisika Pertama. Fahamnya disebut faham naturalisme. Teori kebenaran pragmatis (fungsional) menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis (memiliki kegunaan praktis). terdapat wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pencetus teori ini adalah Charles S. Kedua. Kriteria Kebenaran Terdapat beberapa kriteria kebenaran. Plato dan Aristoteles mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya. hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan prosesnya sendiri. gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika belaka. Misalnya yang terkait supernatural ini adalah faham yang paling tua umurnya. Leucippus. Teori kebenaran koherensi menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (berdasarkan logika deduktif). kebenaran koherensi. Kaum rasionalis mengembangkan faham yang dikenal dengan rasionalisme-menggunakan metode deduktif dan kaum yang mendasarkan diri kepada pengalaman (empiris) mengembangkan faham yang dikenal dengan empirisme-menggunakan metode induktif. Misalnya pernyataan "Ibu kota Indonesia adalah Jakarta". Demikian pun mengenai masalah pikiran (kesadaran) dan zat (objek yang dipikirkan). Misalnya pernyataan yang berupa aksioma atau matematika. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipstik (hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang berpikir tersebut) dan bersifat subjektif. Sumber Pengetahuan Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan: mendasarkan kepada rasio dan mendasarkan kepada pengalaman. kebenaran korespondensi. sehingga evaluasi semacam ini tidak dapat dilakukan. Prinsip-prinsip ini dikembangkan oleh Democritus dengan mengembangkan teori atom yang didapat dari gurunya. dan kebenaran pragmatis. Sedangkan bagi kaum vitalistik. Peirce. Teori kebenaran korespondensi menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila (materi pengetahuan yang dikandung dalam) pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. III Ontologi: Hakikat Apa yang dikaji 6. Bagi kaum mekanistik. Terdapat pendapat berbeda bila gejala alam didekati dari segi proses kimia-fisika. Bertrand Russel adalah eksponen teori ini. terdapat wujud yang bersifat materi (tidak gaib).4. karena premis-premis itu semuanya bersumber pada penalaran nasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalamanm. yakni. gejala-gejala alam disebabkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari yang akhirnya dapat diketahui. Adapun materialisme merupakan faham berdasarkan naturalisme. Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis (berupa ide) yang digunakannya dalam penalaran deduktif. Ide bagi kaum rasionalis bersifat apriori dan prapengalaman yang didapatkan manusia melalui penalaran rasional.

Dalam kaitannya dengan analisis mekanistik (empat komponen analisis utama) terdapat asumsi berbeda. Beberapa Asumsi dalam Ilmu Terdapat asumsi dalam ilmu. John Locke. tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama (yang memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dari kehidupan) dan juga keunikan personal dan individual seperti upaya seni yang tidak bersifat praktis. Ia bisa menganut faham mekanistik. 7. Sedangkan Einstein berasumsi bahwa keempat komponen tersebut bersifat relatif. tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif. Dalam kaitannya dengan gejala alam terdapat faham yang berbeda. Jadi. sampai tahap tertentu ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi. vitalistik. posisi tengah antara hukum kejadian berlaku bagi seluruh manusia atau khusus bagi manusia secara individul saja). materialistik Thomas Hobbes atau idealitik George Berkeley.substansinya. Dalam kaitannya dengan ilmu. lempeng lilin yang licin tempat pengalaman indera melekat pada lempeng tersebut. dan waktu bersifat absolut. ilmu menjatuhkan pilihannya terhadap penafsiran yang bersifat probalistik. maka saya ada). Titik pertemuan kaum ilmuwan dari semua itu adalah sifat pragmatis dari ilmu. Tokoh aliran ini adalah Christian Wolff. Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu. gerak. Jadi. yang membedakan adalah gejala yang disebabkan oleh proses yang berlainan. gejala alam akibat pilihan bebas manusia tanpa kendali hukum alam). 8. Bagi Descartes. Juga lawan dari faham aliran bebas yang menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya. Faham determinisme dikembangkan oleh Willian Hamilton dari doktrin Thomas Hobbes yang menyimpulkan bahwa pengetahuan itu bersifat empiris. sedangkan menurut amuba bergelombang. Newton berpendapat zat. Berkeley sendiri berpendapat bahawa hakekat ada adalah disebabkan persepsi (to be is to be perceived). yang bersifat nyata adalah pikiran karena dengan berpikir manusia itu ada. Locke menganggap pikiran manusia pada mulanya ibarat tabula rasa. di antara kutub determinisme dan kutub pilihan bebas. Mereka berpendapat bahwa apa yang ditangkap manusia. 7 . dan faham probalistik (berupa peluang. faham undeterminisme (pilihan bebas. Menurut manusia atap rumah itu datar. Peluang Sebagaimana sebelumnya posisi ilmu berada pada posisi probalistik (bersifat berpeluang). Asumsi Asumsi adalah dugaan. yakni faham determinisme (gejala alam dikendalikan oleh hukum alam yang bersifat universal). dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Sedangkan aliran dualistik berpendapat bahwa pikiran (kesadaran) dan zat itu berbeda secara substantif. Asumsi manusia terhadap atap rumah dengan asumsi amuba berbeda. dan George Berkeley. 9. termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia bersifat mental. cogito ergo sum (saya berpikir. Ilmu digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang keputusan itu harus didasarkan pada penafsiran simpulan ilmiah yang bersifat relatif. Tokoh aliran ini adalah Rene Descartes. pada dasarnya tiap ilmuwan boleh memiliki filsafat individual yang berbeda. Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis seharihari. Ilmu tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak.

moral. Jarum Sejarah Pengetahuan Objek pengetahuan pada mulanya menyatu dalam satu kesamaan/kesatuan dalam batas-batas yang belum jelas. agama. Sedangkan mengenai baik-buruk diserahkan pada moral dan indahjelek diserahkan pada estetik. sebab mempergunakan asumsi yang berbeda. dan estetik. pengetahuan mencakup juga humaniora (seni. ruang. Pertama. Makin ciutnya kapling disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah. Kedua. Batas-batas Penjelajahan Ilmu Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia (yang bersifat empiris). asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya (asumsi yang mendasari telaah ilmiah). ilmu tetap perlu bimbingan agama. yang tiap disiplin ilmu dengan otonominya masing-masing saling menyumbangkan analisisnya dalam kajian objek yang menjadi telaah bersama. Mulailah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan. Setelah Perang Dunia II (PD II) muncullah paradigma "konsep sistem" yang diharapkan menjadi alat untuk mengadakan pengkajian bersama antardisiplin keilmuan. asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Lalu tiap cabang ilmu tersebut berkembang menjadi beberapa cabang lagi. Ilmu alam bercabang menjadi dua. harus diperhatikan beberapa hal. Konsep dasarnya baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya abad pertengahan (abad ke-17 M). Dengan berkembangnya abad pertengahan. berarti mempergunakan konsep pemikiran yang berbeda pula. Seorang ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya. bergantung pada konteks. dan waktu. Ilmu hanya membatasi hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman manusia. sosiologi. sehingga jika berbicara masalah di luar pengalaman manusia perlu ditanyakan kepada agama. Juga harus bersifat operasional dan menjadi dasar dari pengkajian teoretis. Cabang utamanya yakni antropologi. maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada perbedaan.Jadi. asumsi yang ada itu dapat bersifat terbatas bagi manusia. filsafat. bahasa. ilmu politik. Ilmu sosial pun bercabang. psikologi. dan sejarah) serta matematika (cara berpikir deduktif). Tetapi. ilmu alam sendiri dan ilmu hayat. IV Epistimologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar 11. tetapi berfederasi dalam pendekatan multidisipliner. bukan bagaimana keadaan yang seharusnya (asumsi yang mendasari telaah moral). Untuk memecahkan masalah tersebut digunakan pendekatan interdisipliner dengan tidak mengaburkan otonomi masing-masing disiplin keilmuan yang telah berkembang berdasarkan rutenya masing-masing. Ialu bersifat otonom dalam bidang kajiannya masing-masing. ekonomi. demikian pun dengan cabang-cabangnya. Pendekatan interdisipliner dijadikan seperti federasi yang diikat oleh suatu pendekatan tertentu. Diperkirakan terdapat 650 cabang keilmuwan yang sebagaian besar belum diketahui oleh orang-orang awam. 10. sebab dalam kehidupan nyata justru menimbulkan masalah. Ilmu hanya berwenang menentukan benar-salah suatu pernyataan dalam batas pengalaman manusia. 8 . Di samping ilmu-ilmu alam dan sosial. Cabang-cabang Ilmu Ilmu berkembang dengan pesat. Dengan demikian dalam mengembangkan asumsi ini. Pada mulanya ilmu-ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang berkembang menjadi ilmu alam dan filsafat sosial yang berkembang menjadi ilmu sosial.

Metodologi secara filsafati termasuk dalam epistimologi (pembahasan bagaimana memperoleh pengetahuan). Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Dengan cara bekerja pikiran ini. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Secara sederhana semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama: (a) harus konsisten dengan teori sebelumnya yang tidak memungkinkan terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan dan (b) harus cocok dengan fakta-fakta empiris. dan sistemik serta bersifat umum dan impersonal. dan aksiologi. termasuk di dalamnya adalah ilmu. Metode ilmiah merupakan ekspresi cara bekerja pikiran. (4) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. empiris. Dalam hal ini. Dalam langkah-langkah metode ilmiah. Dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah. ilmu bagian dari pengetahuan. pengetahuan dihasilkan dan memiliki sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Jadi. (3) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dan kerangka berpikir yang dikembangkan. Jadi. objektif. yang memiliki langkah-langkah sistematis. (2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. logika ilmiah merupakan gabungan antara logika dediktif dan logika induktif yang rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan dalam sebuah sistem dengan mekanisme korektif. Jadi. metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif (berdasarkan kriteria kebanaran koherensi) dan induktif (berdasarkan kebenaran korespondensi) dalam membangun tubuh pengetahuannya. Hanya suatu pengetahuan disebut ilmu jika memiliki sistematika ontologi. Adapun kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batasbatasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya. 13. Metode Ilmiah Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. Syarat pengetahuan menjadi ilmu tercantum dalam metode yang disebut metode ilmiah.12. 9 . Manusia masih memerlukan pengetahuan untuk memperkaya dan memenuhi kehidupannya bagaimanapun majunya ilmu secara hakiki. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak. sebab ilmu terbatas dan tidak lengkap. epistimologi. Pengetahuan Pengetahuan adalah segenap apa yang diketahui oleh manusia tentang suatu objek tertentu. pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris.

seperti hukum sebab-akibat sebuah gejala. Sedangkan hukum untuk meramalkan tentang apa yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan disebut teori. maka hipotesis itu diterima. pengetahuan ilmiah adalah istilah lain dari struktur ilmu.akibat. tetapi bersifat dinamis. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. fungsional atau teleologis (meletakkan unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan). meramalkan. yakni menjelaskan. yakni mempunyai kerangka penjelasan konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. yakni penjelasan deduktif. Pengetahuan ilmiah pada hakekatnya memiliki tiga fungsi. Dari pengetahuan inilah dikenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan. Secara garis besar. Hubungan langkah satu dengan langkah lainnya tidak terikat secara statis. dan genetik (mengaitkan faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian). dan mengontrol. sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah. Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada. yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi. Perbedaan metode ilmiah dengan metode pengetahuan lainnya menurut Jacob Bronowski bahwa metode ilmiah bersifat sistemik dan eksplisit. maka hipotesis itu ditolak. Struktur Pengetahuan Ilmiah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Secara mudah dapat dikatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan mengapa suatu gejala terjadi. Pada dasarnya ilmu dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit para ilmuwan memberikan sumbangannya menurut kemampuannya masing-masing. dalam teori keilmuan juga dikenal kategori pernyataan yang disebut prinsip. Keduanya harus memiliki tingkat keumuman yang tinggi atau secara idealnya bersifat universal. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis. Hukum itu sendiri pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih alam suatu kaitan sebab.(5) Penarikan simpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Di samping hukum. terdapat empat jenis pola penjelasan. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan alat yang dipergunakan untuk mengontrol gejala alam. Selain itu. Pengertian kebenaran di sini harus ditafsirkan pragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya. 14. Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoretis baru dapat dikembangkan jika konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. langkah-langkah metode ilmiah ini harus dijadikan dasar dan sesuatu yang penting bagi ilmuwan dalam melancarkan kritik terhadap suatu penyelidikan dan dalam mendidik calon ilmuwan. Prinsip adalah pernyataan yang berlaku umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu. probabilistik (yang ditarik secara induktif). Sedangkan struktur pengetahuan ilmiah adalah struktur/bangunan yang dibentuk dari proses yang berdasarkan metode ilmiah. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis. 10 .

Asumsi kebenarannya harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Bahasa mengkomunikasikan tiga hal. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya diterima tanpa dituntut pembuktiannya. kekurangan bahasa terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Adapun sarana-sarana ilmiah yang membantu proses metode ilmiah yaitu berupa bahasa. Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Bahasa Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi. Ketiga. emotif. Sarana ilmiah memiliki fungsi-fungsi khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh. Sebuah postulat dapat diterima jika ramalan yang bertumpu kepada postulat itu kebenarannya dapat dibuktikan. Bahasa terus berkembang seiring dengan pengalaman dan pemikiran manusia. majemuk. Akan tetapi. Matematika Matematika sebagai Bahasa Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dan pernyataan yang ingin disampaikan. matematika. buah pikiran. Lambang-lambang matematika bersifat artificial. Sarana ilmiah dalam proses pendidikan merupakan bidang studi tersendiri. yang baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Tanpa kemampuan bahasa. Keempat. sebuah kata dapat memiliki lebih dari satu arti. konotasi bahasa yang bersifat emosional sebagaimana disinggung sebelumnya. Kedua. sarana ilmiah yang dimaksud adalah sarana berpikir ilmiah yang mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Berbeda dengan asumsi. V Sarana Berpikir Ilmiah 15. Jadi informasi yang disampaikan pada dasarnya mengandung unsur emotif (perasaan). Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kabur. Demikian pun perasaan yang diungkapkan mengandung unsur informatif (informasi). perasaan. dan statistika.Dalam menyusun teorinya. Bahasa memiliki aspek informatif dan emotif yang tercermin dalam bahasa yang dipergunakan. Sarana adalah alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan tertentu. logika. dan afektif. emotif. 16. 11 . bersifat antiseptik dan reproduktif. dan emosional dari bahasa verbal. bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik. Manusia dapat berpikir dengan baik karena ia mempunyai bahasa. Sarana ilmiah pun diperuntukan untuk melakukan penelitian ilmiah secara baik. lambang yang kemudian lambanglambang disusun dan disebut dengan perbendaharaan kata. maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi yang selanjutnya. Dalam komunikasi ilmiah. dan afektif. Kekurangan bahasa sendiri berkaitan dengan multifungsi bahasa sebagai sarana komunikasi simbolik. sifat bahasa yang majemuk (plural). Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dengan mentransformasikan objek-objek faktual menjadi simbol-simbol yang abstrak. 17. beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan postulat. yang lebih menonjol adalah unsur simbolik. dan sikap atau seperti dinyatakan Kneller. Sarana Berpikir Ilmiah Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah.

Euclid pada 300 SM mengumpulkan semua pengetahuan ilmu ukur dalam bukunya Elements-dengan penyajian secara sistematis dari berbagai postulat. Orang Yunani sangat memperhatikan ilmu ukur sebagaimana tercermin dalam bukunya Euclid tersebut. Walaupun demikian. pertanian. Dengannya matematika dapat meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Kemudian berkembang menjadi matematika yang merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Kaum cendekiawan Yunani. dari budayaan Mesir Kuno ini. aspek estetik juga dikembangkan matematika sebagai kegiatan intelektul dalam kegiatan berpikir yang penuh kreatif. Matematika: Sarana Berpikir Deduktif Matematika memiliki peranan penting dalam cara berpikir deduktif (proses pengambilan simpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan) untuk mendapatkan pengetahuan. Di samping kegunaan praktis ini. Para pendeta Mesir Kuno mempunyai keahlian dalam bidang matematika yang sangat dihargai dalam masyarakat yang mengaitkan aspek praktis dan matematika dengan aspek mistik keagamaan. Tahap yang pertama dimulai dengan matematika yang berkembang pada peradaban Mesir Kuno dan daerah sekitarnya seperti Babylonia dan Mesopotamia. Babak perkembangan matematika selanjutnya terjadi di Timur pada sekitar tahun 1000. Matematika mendapatkan momentum baru dalam peradaban yang sangat memperhatikan aspek estetik dari matematika. dan teorema. India. Waktu itu matematika dipergunakan dalam perdagangan. definisi. Perkembangan Matematika Matematika pada mulanya adalah sebuah logika deduktif. Mereka mendapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta membagi kegunaan praktis dan ilmu hitung dari aljabar tersebut. Matematika megembangkan bahasa numerik yang memungkinkan manusia melakukan pengukuran secara kuantitatif. terutama mereka yang kaya. Ditemukanlah di antaranya kalkulus diferensial yang memungkinkan kemajuan ilmu yang cepat di abad ke-17 dan revolusi industri di abad ke-18. 12 . Gagasan-gagasan orang Yunani dan penemuan ilmu hitung dan aljabar itu dikaji kembali dalam zaman Renaissance yang meletakkan dasar bagi kemajuan matematika modem selanjutnya. bangunan. sehingga ilmu dapat memberikan jawaban bersifat eksak yang memungkinkannya memecahkan masalah secara lebih tepat dan cermat. Hal yang sama juga berlangsung dalam peradaban di Mesopotamia dan Babylonia yang turut mengembangkan kegunan praktis dari matematika. mempunyai budak belian mengerjakan pekerjaan kasar termasuk hal-hal yang praktis seperti melakukan pengukuran. maka ilmu hitung dan aljabar ini telah dipergunakan dalam transaksi pertukaran. Griffits dan Howson (1974) membagi sejarah perkembangan matematika menjadi empat tahap. dan Cina mengembangkan ilmu hitung dan aljabar. bangsa Arab. Waktu perdangan antara Timur dan Barat berkembang pada Abad Pertengahan. Dengan demikian. aspek praktis dari matematika inilah yang merupakan tujuan utama. Dapat dikatakan bahwa peradaban Yunanilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai bentuk definisi tertentu. mengontrol alam seperti banjir.Sifat Kuantitatif dari Matematika Matematika memiliki kelebihan dibanding bahasa lain. maka kaum cendekiawan ini memusatkan perhatiannya kepada aspek estetik dari matematika yang merupakan simbol status dari golongan atas waktu itu.

13 . sederhana. melainkan bersifat jamak. Matematika merupakan alat yang memungkinkan ditemukan serta dikomunikasikannya kebenaran ilmiah lewat berbagai disiplin keilmuan. Kriteria kebenaran dari matematika adalah konsistensi dari berbagai postulat. tetapi juga singkat. Perubahan salah satu postulat Euclid tersebut yang semula berbunyi dari satu titik di luar sebuah garis hanya dapat ditarik satu garis sejajar dengan garis tersebut menjadi dari satu titik di luar sebuah garis dan ditarik ganis-garis sejajar dengan garis tersebut yang jumlahnya tak terhingga. Matematika bukanlah merupakan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan cara berpikir untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Jadi. sebagai ratu matematika merupakan bentuk tertinggi dari logika. Di satu pihak. Adanya dua sistem ilmu ukur yang keduanya bersifat konsisten ini bukan berarti bahwa sistem Ilmu Ukur Euclid atau Ilmu Ukur Non-Euclid ini bersifat benar atau salah. dan berbagai aturan permainan lainnya. Dengan mengubah salah satu postulatnya umpamanya. Ilmu Ukur Non-Euclid ini mulanya hanya merupakan sesuatu yang bersifat akademis dan baru menemukan kegunaannya waktu Einstein menyusun Teori Relativitas. dan ekonomis. maka jelas bahwa Ilmu ukur nonEuclid ini tidak dapat digunakan.Bagi dunia keilmuan matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat. Matematika dalam hubungannya dengan komunikasi ilmiah mempunyai peranan ganda. Jika objek yang ditelaah itu mempunyai ciri yang cocok dengan postulat Euclid umpamanya dalam bidang mekanika kiasik Newton. seperti juga logika. Sebagaimana sarana ilmiah maka matematika itu sendiri tidak mengandung kebenaran tentang sesuatu yang bersifat faktual mengenai dunia empiris. definisi.1804) yang berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori yang eksistensi matematika bergantung pada pancaindera serta pendapat dan aliran yang disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika ini merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. yakni sebagai ratu dan sekaligus pelayanan ini. Akhir-akhir ini filsafat Kant tentang matematika ini mendapat momentum baru dalam aliran yang disebut intuisionis dengan eksponen utamanya adalah seorang ahli material berkebangsaan Belanda bernama Jan Brouwer (1881-1966). malah menimbulkan sistem matematika baru yang sama sekali berbeda dengan ilmu ukur Euclid. sedangkan di lain pihak. yakni dari Immanuel Kant (1724 . maka dalam hal ini berpaling kepada ilmu ukur non-Euclid. matematika sendiri tidak bersifat tunggal. kedua sistem ilmu ini berlaku bergantung dari postulat yang dipergunakannya. ternyata tidak menimbulkan inkonsistensi. Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika Ada dua pendapat tentang matematika. Sistem matematika yang baru ini dikenal sebagai Ilmu Ukur Non-Euclid yang sudah dikemukakan oleh Gauss (1777-1855) pada tahun 1979 dan dikembangkan oleh Lobachevski (1793-1856). cahaya menjadi garis lengkung bersama tarikan gravitasi dan jarak terdekat antara dua objek tidak lagi merupakan garis lurus. Sedangkan dalam pengkajian mengenai alam semesta. tetapi juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk model matematik. maka dapat dikembangkan sistem matematika yang baru sekali bila dibandingkan dengan sistem sebelumnya. sebagai pelayan matematika mencirikan bukan saja sistem pengorganisasian ilmu yang bersifat logis. Untuk itu. Semula memang dianggap bahwa hanya terdapat satu sistem matematika yang perubahan dari postulat-postulatnya akan mengakibatkan terjadinya inkonsisten. kata Fehr. hal ini ternyata tidak benar sebagaimana terjadi dengan ilmu ukur Euclid. Matematika bukan saja menyampaikan informasi secara jelas dan tepat. sebab hal ini harus dilihat dalam ruang lingkupnya masing-masing. Bolyai (1802-1860) dan Riemann (1826-1866). Namun.

Kaum formalis menekankan kepada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang (sign-language) dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang. Hal ini menyebabkan banyak sekali bagian dari matematika secara kumulatif telah diterima harus ditolak dan matematika itu sendiri harus ditulis kembali secara rumit sekali. yang satu aliran memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut Black sebagai kompromi yang bersifat eklektik (eclectic compromise). tampak jelas bahwa tidak satu pun dari ketiga aliran dalam filsafat matematika ini sepenuhnya berhasil dalam usahanya. Russel dan Whitehead. maka pernyataan George Cantor (1845-1918) yang menyatakan bahwa lebih banyak bilangan nyata (real number) dibandingkan bilangan asli (natural number) ditolak oleh kaum intusionis. Pengetahuan kita tentang bilangan. Bagi mereka matematika merupakan pengetahuan tentang struktur formal dan lambang. Para pendeta mereka adalah ahli matematika yang pertama. perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika. kata Frege. Matematika dan Peradaban Matematika dapat dikatakan hampir sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. matematika menyebabkan perkembangan yang sangat cepat. Mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah dalam bidang logika yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan matematika. Russell Whitehead berhasil menyelesaikan pembuktian ini. Kaum logistik mempergunakan sistem simbol yang diperkembangkan oleh kaum formalis dalam kegiatan analisisnya. Tesis utama kaum logistik adalah bahwa matematika murni merupakan cabang dari logika. 14 . Kaum formalis menolak anggapan kaum logistik ini yang menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksikan menjadi konsep logika. Walaupun demikian. Sekitar 3500 tahun SM bangsa Mesir Kuno telah mempunyai simbol yang melambangkan angka-angka. Dengan demikian. Hakekat sebuah bilangan harus dapat dibentuk melalui kegiatan intuitif dalam berhitung (counting) dan menghitung (calculating). lewat pemahamannya masing-masing. meskipun di sistem bilangan mereka dituduh mengembangkan berbagai asumsi yang kurang dapat diterima. justru sebaliknya. merupakan pengertian rasional yang bersifat apriori yang dipahami lewat ―mata penalaran‖ (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalam &struktur hakikat bilangan. Bagi ilmu sendiri.Di samping dua aliran ini terdapat pula aliran ketiga yang dipelopori oleh David Hubert (1862-1943) dan terkenal dengan sebutan kaum formalis. Hal ini ditentang oleh kaum intuisionis yang menyatakan lewat Brouwer bahwa intuisi murni dari berhitung merupakan titik tolak tentang matematika bilangan. Dengan demikian. Ketiga pendekatan dalam matematika ini. Matematika tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Tesis ini mula-mula dikemnbangkan oleh Gottlob Frege (1848-1925) yang menyatakan bahwa hukum bilangan (the law number) dapat direduksikan ke dalam proposisi-proposisi logika. Mereka menyembunyikan pengetahuan matematika dan menyebutnya pengetahuan keramat untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Usaha kaum formalis ini belum banyak membawa basil. melangkah lebih jauh dari Frege dan mencoba untuk membuktikan bahwa matematika seluruhnya dapat direduksikan ke dalam proposisi logika. memperkukuh matematika sebagal sarana kegiatan berpikir deduktif. Kaum intuisionis memberikan titik tolak dalam mempelajari matematika dalam perspektif kebudayaan suatu masyarakat tertentu yang memungkinkan diperkembangkannya filsafat pendidikan matematika yang sesuai. dalam bukunya Principia Mathematica.

tetapi secara sosial agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan secara baik dan benar oleh masyarakat secara luas. Jadi. perlu dilakukan pengujian kembali dengan mengumpulkan fakta atau contoh-contoh yang cukup. menerima pendapat orang lain. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian tinggi dengan semakin banyaknya contoh yang diambil. mungkin salah juga mungkin benar. Ilmuwan – terutama pada masa krisis multidimensi ini. maka tingkat keberhasilan untuk berpikir induktif dan simpulan atau peluang yang didapat akan baik pula. Ilmuwan ikut bertanggung jawab tidak hanya secara individual.harus menjadi suri teladan dan harus tampil di depan memberi contoh bagaimana bersifat objektif. Tanggung jawab Sosial Ilmuwan Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Dalam penalaran induktif. sehingga simpulan yang ditarik secara induktif. Berbeda denga deduktif. ketelitian simpulannya akan semakin tinggi pula terhadap permasalahan yang beragam.18. 20. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan simpulan induktif (dari kasus-kasus yang bersifat individual ke yang umum sifatnya) secara lebih seksama. sedangkan ilmuwan sendiri tidak. 15 . karena ilmuwan dipengaruhi oleh nilai-nilai tertentu. meskipun premis yang dipakainya benar dan penalaran induktifnya benar. Kelebihan ilmuwan yang memiliki jalan pikiran yang teratur dan cermat inilah yang menyebabkan ilmuwan memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menyampaikan penjelasan kepada orang-orang awam agar mereka tidak keliru dalam memahami dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapai. sehingga mendapat tingkat peluang yang sangat tinggi dan tingkat kekeliruan yang sangat kecil. VI Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu 19. Tanpa moral. Lalu ilmu itu dimanfaatkan oleh masyarakat. Ilmu dan Moral Sebenarnya sejak pertumbuhan ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik simpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Dengan demikian. Dapat dikatakan bahwa ilmu itu netral. maka simpulannya belum tentu benar. Penciptaan ilmu itu sendiri bersifat individual sedangkan penggunaan ilmu itu bersifat sosial. Dengan penguasaan statistika yang baik. tetapi simpulan itu dapat dikatakan berpeluang untuk benar secara eksak. seperti halnya penemuan lampu pijar oleh Thomas Alfa Edison. Peranan individu ilmuwan begitu menonjol hingga mempengaruhi peradaban manusia. Karakteristik Berpikir Induktif Logika induktif tidak memberikan kepastian. berani menerima kesalahan. Oleh karena itu. meskipun premis-premisnya benar dan porosedur penarikan simpulannya sah. maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual. namun dalam perspektif yang berbeda. tetapi sekadar tingkat peluang bahwa untuk pemis-premis tertentu dapat ditarik. Statistika Statistika dan Cara Berpikir Induktif Statistika memiliki peranan penting dalam cara berpikir induktif. tetapi simpulannya belum tentu benar. kukuh dalam pendirian yang dianggapnya benar. menerima kritik. terbuka.

tetapi moral atau amal perbuatannya. dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan. padahal derajat manusia tidak ditentukan oleh atribut fisiknya. baik terkait naluri maupun jasmani.Taylor. baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik). empirisme. Simpulan yang dapat ditarik bahwa revolusi genetika pada manusia harus ditolak. Nuklir dan Pilihan Moral Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Kebudayaan dan Pendidikan Keseluruhan fase kebudayaan sebelumnya memiliki kaitan sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Revolusi genetika pada jasad manusia pun merupakan sesuatu yang baru. Definisi kebudayaan menurut Kuntjaraningrat tidak berbeda jauh. sistem pengetahuan. 16 . dan metode ilmiah). karena materi yang terkandung dalam kebudayaan dari generasi ke generasi diperoleh manusia secara sadar melalui proses belajar. Akan tetapi. yakni nilai teori (hakekat penemuan kebenaran melalui berbagai metode seperti rasionalisme.B. nilai politik (berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh. Vernon. kesenian. Kemudian nilai-nilai budaya menjadi jiwa bagi kebudayaan dan segenap wujud kebudayaannya. VII Ilmu dan Kebudayaan 23.21. yang merupakan produk dari kebudayaan itu sendiri. dan agama (merengkuh penghayatan yang bersifat mistik dan transendental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi). Allport. yakni mencakup sistem religi. khususnya dengan E. Revolusi Genetika Revolusi genetika merupakan babak baru dalam sejarah keilmuan manusia. Manusia dan Kebudayaan Kebudayaan didefinisikan pertama kali oleh E. adat-kebiasaan. Meskipun revolusi genetika akan dipergunakan dengan itikad baik untuk keluhuran manusia. nilai sosial (berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur). nilai estetika (berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut bentuk. harmoni. kemudian Kroeber dan Kluckholn.Taylor. bahasa. Hanya saja Kuntjaraningrat menambahkan dengan sistem teknologi dan peralatan. Oleh karena itu. Wujud kebudayaan salah satunya diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. nilai ekonomi (mencakup kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia). jika digunakan untuk kepentingan individual dan untuk tujuan destruktif tentu tidak ada garansinya. dan sistem mata pencaharian. Nilai budaya dan tata hidup itu ditopang oleh wujud kebudayaan lain yang berbentuk sarana fisik kebudayaan. sistem dan organisasi kemasyarakatan. Kebudayaan muncul karena manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang banyak sekali. Sejarah telah mencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahan yang menurut mereka melanggar asas-asas kemanusiaan. dan wujud kesenian lain yang memeberi kenikmatan bagi manusia). upacara keagamaan. malah semakin besar keburukannya karena genetik manusia dijadikan percobaan. 22. Revolusi genetika pada manusia menjadikan manusia sebagai objek eksperimen. Pada prinsipnya definisi kebudayaan yang didefinisikan oleh mereka semua sama. Ilmu pengetahuan dan teknologi (dalam hal ini nuklir) bagai pisau bermata dua. diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara konstruktif untuk kemaslahatan manusia.B. Pilihan nilai budilah yang menentukan tujuan dan isi kebudayaannya. sehingga membawa kepada permasalahan moral yang tak berkesudahan.

agama tanpa ilmu adalah lumpuh. ilmu. ilmu tanpa agama adalah buta. yang sebagian besar aspek kehidupan masyarakat didasarkan pada asas efisiensi. terutama ditinjau dari pengembangan potensi manusiawi dan masalah survival. mengharuskan siapa pun untuk mengkaji masalah nilai-nilai budaya yang harus dikembangkan. baik bersifat teknis maupun ekonomis. bukan saja merupakan ekspresi yang menyimak keindahan yang memperkaya khazanah batin. dan teknologi (b) lebih bersifat individual daripada komunal. Kenyataan yang ada masyarakat sekarang umumnya lebih cenderung kepada intuisi. Untuk menentukan nilai-nilai mana yang patut mendapatkan perhatian. yang hidup dengan keseluruhan kemanusiaan secara intens. Dalam proses pengembangan kebudayaan. Hal ini harus dilakukan karena a) nilai—nilai budaya yang hendak dikembangkan harus relevan dengan kurun zaman b) usaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan untuk lebih eksplisit dan definitif. terdidik. nilai estetika memiliki kedudukan yang khusus. memiliki usaha keras untuk maju dengan usaha sendiri. Dibandingkan dengan masyarakat tradisional. bermoral luhur.Pendidikan yang dapat diartikan secara luas sebagai usaha sadar dan sistematis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran. maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang rural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industri (2) Pengemabangan kebudayaan ditujukan ke arah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia. memiliki estetika. Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Indikator ini memberikan tempat penting kepada nilai teori dan nilai ekonomi. Indikator ini menimbulkan pergeseran dalam nilai sosial dan nilai kekuasaan (politik). Hakekat semua kebudayaan manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia agar tidak terjadi dekadensi moral. Seni yang bersifat nisbi dan agama yang bersifat absolut dengan ilmu saling melengkapi. Untuk mewujudkannya diperlukan nilai khusus yang bernama kreativitas (kemampuan baru untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah). Kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak memberikan kebahagiaan hakiki menyebabkan manusia kembali kepada nilai-nilai agama. sehingga perlu pengenalan dan pendalaman yang sadar agar tidak menerima aspek kebudayaan begitu saja tanpa filter. maka pertama kali harus dapat memperkirakan skenario dari masyarakat pada masa yang akan datang. Skenario masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada. Menurut Albert Einstein. dan kemampuan fisiknya. 17 . perlu dipersiapkan generasi manusia modern yang bertakwa. dan tradisi. Sedangkan masyarakat modern secara khusus lebih dominan menggunakan kekuatan berpikir dibandingkan intuisi. terutama terkait aspek penalaran. kepribadian. Kedua nilai harus lebih berorientasi kepada kepercayaan pada diri sendiri serta keberanian untuk mengambil keputusan sendiri. karena gejala kebudayaan yang besifat tersembunyi. Oleh karena itu. perasaaan. Nilai ini bersifat mendorong ke arah pengembangan segenap potensi kebudayaan dalam mewujudkan peradaban yang khas. cenderung memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) Memperhatkan tujuan dan strategi pembangunan nasional. Dalam hal ini agama memberikan kompas dan tujuan. Pengembangan kebudayaan nasional ditujukan ke arah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. dan tradisi. perasaan. maka masyarakat modern memiliki indikator-indikator: (a) lebih bersifat analitik. namun juga berfungsi sebagai media yang memperhalus budi pekerti.

(4) mekanisme yang terbuka terhadap koreksi. tata hidup. Pertama. Proses pengembangan kebudayaan ini pada dasarnya merupakan penafsiran kembali dari nilai-nilai konvensional agar sesuai dengan tuntutan zaman serta penumbuhan nilai-nilai baru yang fungsional. Ilmu Sebagai Asas Moral Secara sederhana ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran yang universal. (3) pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif. dalam masyarakat yang telah terdidik pun ilmu masih merupakan koleksi teori-teori yang bersifat akademik yang sama sekali tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Pengembangan kebudayaan nasional pada hakekatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi dan tujuan nasional. logis. menjadi sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional dan menjadi sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu ialah sifat rasional. Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan Disadari bahwa keadaan masyarakat kita sekarang masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi kepada ilmu. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dengan demikian. terbuka. yang menjadi asas moralnya dari ilmu itu adalah kebenaran dan keuniversalan. dan terbuka. Ilmu pun merupakan cara berpikir dalam menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan Dari hakekat berpikir ilmiah dapat ditarik simpulan beberapa karakteristik ilmu itu: (1) ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. menjunjung kebenaran dan pengabdian universal (nilai-nilai ilmiah). Bahkan. (2) alur jalan pikiran yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telah ada. Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut berpikir ilmiah. logis.24. Untuk terlaksananya kedua proses dalam pengembangan kebudayaan nasional tersebut diperlukan sifat kritis. objektif. baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Dengan demikian. dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling bergantung dan saling mempengaruhi. ilmu mempunyai peranan ganda yang saling terpadu dan sukar dibedakan. objektif. ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkahlangkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat. 18 . Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional. Oleh karena itu. Kebudayaan di sini merupakan seperangkat sistem nilai. diperlukan langkah-langkah yang sistematik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagaimana tercakup di bawah ini. Pengkajian pengembangan kebudayaan nasional ini tidak dapat dilepaskan dari pengembangan ilmu. rasional. Adapun kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa.

Keenam. asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut. 25. disamping cara-cara lain yang sah sesuai dengan lingkup pendekatan dan permasalahannya masingmasing. Kelima. Dapat pula knowledge ini disebut pengetahuan yang merupakan terminologi generik. Dalam bahasa Inggris sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge. pengalaman. dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk "ketahuan" umpamanya kebiasaan. biologi. seperti filsafat ilmu. Keempat. Kriteria ini disebut objek epistimologis. sehingga mencakup segenap bentuk yang diketahui. yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Tentang Terminologi: Ilmu. Bagi yang menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan yang mencakup ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. sejarah. maka dualisme kebudayaan ini harus dibongkar atau dihilangkan. seni. pikiran. pancaindra. Dasar ontologis. seperti filsafat. pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat. matematika. Hal ini dicerminkan adanya jurusan Pasti-Alam dan Sosial-Budaya. Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok pengetahuan ini.Kedua. cara menyulam. Ilmu-ilmu sosial memiliki lebih banyak variabel karena permasalahan manusia yang lebih kompleks. Dua Pola Kebudayaan Tak dapat disangkal terdapat dua pola perbedaan kebudayaan berdasarkan kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu ke dalam dua golongan. epistimologis. pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral. terutama yang menyangkut keilmuan. akal sehat. perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. misalnya mengukur aspirasi dan emosi seorang manusia dibandingkan mengukur panjang sebuah logam. bela diri. Akan tetapi. Ketiga. dan aksiologis dari kedua ilmu tersebut sama. seperti perasaan. kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. dan filsafat. dan lain-lain. Ilmu Pengetahuan atau Sains? Dua Jenis Ketahuan Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya. 19 . VIII Ilmu dan Bahasa 26. terdapat tiga kriteria sebagai berikut: (a) Apakah objek yang ditelaah yang membuahkan pengetahuan tersebut? Kriteria ini disebut objek ontologis. bukan terlepas sama sekali dari kontrol pemerintah dan masyarakat. seni. Hanya saja ilmu-ilmu alam lebih maju dalam analisis kuantitatif dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial. ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. (b) Cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan tersebut (bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu?). Terminologi ketahuan ini adalah terminologi artifisial yang bersifat sementara sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu. (c) Untuk apa pengetahuan ini dipergunakan atau nilai kegunaan apa yang dipunyai olehnya? Kriteria ini disebut landasan aksiologis. Akan tetapi. demikian pun metode yang dipergunakannya. Adanya dua kebudayaan yang terbagi ke dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial ini sayangnya masih terdapat di Indonesia. ekonomi.

Beberapa Alternatif Alternatif pertama adalah menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge seperti yang umum digunakan sekarang ini. sedangkan fisika disebut ilmu pengetahuan alam. Sains: Adopsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan Sains adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa Inggris. maka social science dapat diterjemahkan dengan ilmuilmu sosial (termasuk humaniora: seni. sedangkan ke-ilmu-pengetahu-an rasanya terlampau dilebih-lebihkan. maka harus diadakan beberapa penyesuaian antara lain (1) metode ilmiah harus diganti dengan metode pengetahuan. (2) ilmu-ilmu sosial (the social science) harus diganti dengan pengetahuan-pengetahuan sosial atau ilmu-ilmu 20 . dsb) dan natural science dengan ilmuilmu alam. Alternatif kedua didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah dua kata benda. Konsekuensinya adalah bahwa kita tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam ini. ilmu untuk knowledge dan pengetahuan untuk science. pengetahuan (knowledge) yang memiliki ketiga kriteria di atas dalam bahasa Inggris disebut science (ilmu pengetahuan). yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat pancaindera atau alat yang membantu kemampuan panca indera. Dengan menggunakan ilmu pengetahuan untuk scientific knowledge. pengetahuan yang bersifat spesifik (khusus). (2) Landasan epistimologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hypotetico-verifikasi. Adopsi ini dianggap tidak perlu. Science. Ahli dalam bidang keilmuan adalah ilmuwan. Pengetahuan ilmiah dapat diartikan scientific knowledge yang dalam bahasa Inggris sama dengan science. melainkan hanya mampu menunjukkan bahwa itu adalah nonsensical. Kata sifat dari ilmu adalah ilmiah atau keilmuan. (3) Landasan aksiologis: kemaslahatan manusia artinya segenap wujud pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia. Oleh karena itu. yakni ilmu dan pengetahuan. Quo Vadis? Ketidakkonsistenan penggunaan ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge tampak pada penggunaan kata ilmu kebatinan yang sebetulnya bukan ilmu. Keduanya dianggap tidak memiliki struktur dan logika bahasa yang jelas. 27. Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. bahasa. Dengan demikian. melainkan pengetahuan. karena pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains ini adalah agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia. biologi disebut ilmu hayat. yakni science.Salah satu bentuk pengetahaun ditandai dengan: (1) objek ontologis: pengalaman manusia. adalah ke-sains-an atau saintifik. namun nonsensical. filsafat. Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan dalam filsafat ditimbulkan oleh kegagalan kita untuk memahami logika dari bahasa kita sendiri. baiknya menyimak pendapat Wittgenstein: Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan yang terkandung dalam karya filsafat adalah tidak salah. atau preferensi utama penggunaan kata science adalah untuk ilmu-ilmu alam. Selain itu tidak konsekuennya mempergunakan terminologi ilmu pengetahuan untuk science. Jadi. Keberatan kedua adalah ilmu-ilmu sosial bukanlah science. sekiranya sains adalah sinonim dengan science. Scientist adalah sainswan atau saintis (sic). Metode yang digunakan dalam kegiatan ilmiah (keilmuan) adalah metode ilmiah (keilmuan).

maka bahasa Indonesia harus diarahkan agar menghimpun khasanah kata-kata yang terabaik dari seluruh bahasa daerah di Indonesia. (b) berkonotasi sikap (afektif). terminologi-terminologi yang berkaitan dengan dunia keilmuan secara tuntas dapat dijernihkan. Perkembangan bahasa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sektor-sektor lain yang juga tumbuh dan berkembang. Agar dapat mencerminkan kemajuan zaman. pembaca. yakni fungsi komunikatif dan fungsi kohesif memiliki kaitan erat dan bahkan harus diprioritaskan untuk semua kelompok daripada fungsi afektif dan emotif yang hanya diterima oleh satu kelompok. Untuk itu penulis buku menyarankan kepada LIPI untuk melakukan tindak lanjut dari KIPNAS III dengan mengadakan pertemuan secara lebih khusus membahas masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam konferensi lalu. asalkan dilakukan dengan cara konsisten. masalah yang dikaji. Sekiranya bahasa berkembang terisolasi dari perkembangan sektor-sektor lain. Dengan demikian. IX Penelitian dan Penulisan Ilmiah 29. melainkan memahami dasar pikiran yang melandasinya. Tema tersebut dijabarkan secara logis dan kronologis dari metode keilmuan. Untuk itu. bergantung selera dan preferensi. dan (3) ilmuwan harus diganti dengan ahli pengetahuan. Bangsa Indonesia telah memilih bahasa Indonesia sebagai nasional untuk lebih menekankan fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengintegrasikan berbagai suku ke dalam satu bangsa. Politik Bahasa Nasional Bahasa pada hakekatnya mempunyai dua fungsi utama. yakni (a) sebagai sarana komunikasi antarmanusia (disebut juga fungsi komunikatif) dan (b) sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut (disebut juga fungsi kohesif dan integratif). Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya. hanya membahas rambu-rambu pikiran yang merupakan tema pokok sebuah proses penelitian. Berdasarkan pemikiran tersebut. harus ada upaya untuk lebih memasyarakatkan ilmu di kalangan masyarakat luas dan kaum muda agar tercipta keadilan atau kesetaraan penggunaan bahasa antara ilmuwan dengan masyarakat.pengetahuan sosial. dicoba untuk membahas alur-alur jalan pikiran yang terdapat dalam sebuah penelitian ilmiah yang dikaitkan dengan proses penelitian. Dengan demikian yang lebih penting adalah bukan saja teknikteknik pelaksanaannya. Fungsi kedua terwujud pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. yakni Indonesia. maka bahasa mungkin bersifat tidak berfungsi dan bahkan kontra produktif. yakni (a) bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif). dan (3) berkonotasi pikiran (penalaran). Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah Banyak sekali bentuk dan cara penulisan keilmuan yang dapat ditemui dalam berbagai pedoman penulisan. serta untuk tujuan apa karya ilmiah disampaikan. Oleh karena itu. Bentuk luarnya dapat berbeda. Keadaan ini jauh lebih baik daripada kekacauan semantik sekarang dengan terminologi ilmu pengetahuan yang bersifat ambivalen. Sebagai alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup unsur. tetapi jiwa dan penalarannya adalah sama. Kedua fungsi bahasa. Dengan kata lain. 28. Adapun st 21 . maka fungsi komunikasi bahasa harus secara terus-menerus dikembangkan.

sehingga dapat benar-benar mengetahui hakekat dan fungsi format tersebut. Perumusan masalah (pertanyaan tersurat. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. sehingga dapat diidentifikasi faktor apa saja yang termasuk ke dalam lingkup masalah dan yang tidak) 4. Sebetulnya terdapat kaitan yang erat antara keenam kegiatan tersebut. Syarat yang utama adalah teori-teori yang digunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan-perkembangan terbaru yang paling representatif sesuai bidang yang dikaji. Tujuan penelitian (pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan) 6. lengkap. Pengajuan Masalah Pengajuan masalah merupakan langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah. Kegunaan penelitian (manfaat yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang didapat dari penelitian). Secara ringkas. Penyusunan Kerangka Teoretis Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik. Oleh karena itu. melainkan mengetahui dasar pikiran yang melatarbelakangi langkahlangkah itu. Keseluruhan langkah dalam kegiatan keilmuan terpadu secara utuh dalam suatu logika ilmiah. Secara kronologis dapat disimpulkan enam kegiatan dalam langkah pengajuan masalah sebagaimana berikut: 1. misalnya kaitan yang bersifat apriori antara latar belakang masalah dengan kegunaan penelitian. Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis. Agar sebuah kerangka teortis dapat disebut meyakinkan. yang harus benar-benar difahami bukanlah sekadar mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan. langkah-langkah dalam penyusunan kerangka teoretis dan pengajuan hipotesis ini dapat dibagi ke dalam kegiatan-kegiatan berikut: Penyusunan Kerangka Teoretis dan Pengajuan Hipotesis 1. maka argumentasi yang disusun tersebut harus dapat memenuhi beberapa syarat. Pembatasan masalah (penetapan batas-batas masalah yang jelas ruang lingkupnya. Identifikasi masalah (penguasaan masalah dan pengenalan objek dalam situasi jalinan situasi tertentu sebagai suatu masalah) 3. dan prinsip yang dipergunakan (bila diperlukan). dan terperinci berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah untuk dicarikan jawabannya) 5. yakni dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan agar mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan. Dalam hal ini cara yang digunakan adalah cara ilmiah. 3. maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. 2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis dengan mempergunakan premispremis sebagai tercantum dalam butir (1) dan (2) dengan menyatakan secara tersurat postulat. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan. Latar belakang masalah (faktor yang menimbulkan kontelasi pada situasi tertentu) 2. asumsi.ruktur penulisan ilmiah yang logis dan kronologis yang mencerminkan kerangka ilmiah diharapkan dapat memahami logika dan arsitektur penulisan ilmiah dan memudahkan penguasaaan hal-hal yang bersifat teknis. 22 .

Metodologi Penelitian Metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode. teknik pengukuran. tingkat keumuman. 3. dan teknik mendapatkan data. teknik pengumpulan data. Jadi. Teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan. 23 . sedangkan teknik adalah cara spesifik dalam memecahkan masalah tertentu yang ditemui dalam melaksankan prosedur. Tempat dan waktu penelitian yang akan dilakukan generalisasi mengenai variabelvariabelyang akan diteliti. Hasil Penelitian Secara singkat. Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan. hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan berikut: 1. instrumen. sumber data. 4. Perumusan hipotesis. dan metode penelitian. Metode penelitian ini ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. metodologi. 2. Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasikan variabel-variabel dan karakteristik hubungan yang akan diteliti. Teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan dan ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya mempergunakan statistika. 4. Menyatakan teknik analisis data 3. hipoteis. Mendeskripsikan hasil analisis data 4. 5. Salah satu metode yang harus ditentukan dalam metodologi penelitian ini adalah metode penelitian. Menyimpulkan pengujian hipoteis apakah ditolak atau diterima. Mengajukan saran. Secara ringkas langkah dalam penyusunan metodologi penelitian mencakup kegiatankegiatan sebagai berikut: Metodologi Penelitian 1. Jadi. Mengkaji implikasi penelitian. Ringkasan dan Simpulan Ringkasan dan simpulan dapat diperinci ke dalam langkah-langkah berikut: 1. suatu metode penelitian memiliki beberapa teknik yang termasuk di dalamnya . kerangka teoretis. teknik pengukuran. Pembahasan simpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang relevan. dan teknik analisis data. 3. Simpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut di atas. Metode sendiri merupakan prosedur atau cara yang ditempuh dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Memberikan penafsiran terhadap simpulan analisi data 5. 5. Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian. maka tuliskan hipotesis nol dan hipotesis tandingan: H0/H1). dan penemuan penelitian. metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian. 2. Menyatakan variabel-variabel yang diteliti 2. 6.4. seperti teknik pengambilan contoh. Deskripsi singkat mengenai masalah.

sebab hal ini baru akan dilakukan. seperti halaman judul. Catatan Akhir Langkah-langkah dalam penelitian ilmiah ini dapat dijadikan sebagai kerangka pembahasan yang lebih mendalam mengenai filsafat ilmu. masing-masing dalam paragraf tersendiri. yakni judul penelitian. ucapan terima kasih. Sedangkan proses penyusunan hipotesis dan pengujian secara empiris dapat dikaitkan dengan epistimologi keilmuan yang pembahasan dipusatkan pada metode ilmiah dengan berbagai aspek pemikiran yang mendasarinya. Dalam penetapan masalah. Riwayat Hidup Riwayat hidup merupakan deskripsi dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan penulisan ilmiah yang disampaikan. personalia peneliti serta aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan penelitian. pembahasannya dapat dikaitkan dengan objek penelitian ilmiah yang dibatasi oleh jangkauan pengalaman empiris serta kajian metafisis yang bertujuan untuk menggali hakekat realitas yang bersifat sebagaimana adanya (das Sein). iv. penyusunan kerangka teoretis. Tiap bagian ditulis secara utuh dan ringkas. dan x). hipoteis. metodologi. Cara-cara ini biasanya dilengkapi dengan berbagai teknik dan format seperti yang telah dihadirkan sebelumnya dalam bentuk struktur penulisan ilmiah yang mencerminkan cara berpikir ilmiah. Daftar Pustaka Daftar pustaka merupakan sumber referensi bagi seluruh kegiatan penelitian. Lain-lain Sebelum memasuki tubuh utama laporan sebuah tulisan ilmiah.Abstrak Abstrak merupakan ringkasan seluruh kegiatan penelitian yang paling banyak terdiri dari tiga halaman. Pada hakekatnya ia merupakan inventarisasi dari seluruh publikasi ilmiah maupun nonilmiah yang dipergunakan sebagai dasar bagi pengkajian yang dilakukan. biasanya didahului oleh beberapa informasi yang bersifat pengantar. dan abstrak yang semua halamannya diberi nomor halaman dengan mempergunakan angka latin yang ditulis dengan huruf kecil (misalnya i. Penutup Mengkomunikasikan gagasan-gagasan dalam cara-cara yang dapat diterima oleh bidang keilmuan yang merupakan jiwa dari sebuah karya ilmiah. abstrak mencakup keseluruhan pokok pernyataan penelitian mengenai masalah. daftar isi yang dilengkapi daftar tabel dan daftar gambar. lembar persetujuan pembimbing/promotor. Riwayat hidup dicantumkan pada halaman terakhir sebuah laporan tanpa diberi nomor halaman. dan pengajuan hipotesis serta metodologi penelitian. Usulan penelitian biasanya dilengkapi dengan jadwal kegiatan. seperti pembiayaan. Dalam abstrak terdapat satu judul. Usulan Penelitian Usulan penelitian mengandung seluruh langkah penelitian tersebut di atas tanpa hasil penelitian. Usulan penelitian hanya mencakup langkah pengajuan masalah. seperti 24 . Sesuai dengan langkah-langkah dalam kegiatan penelitian. Semua hal yang bersifat penting diringkas dalam satu atau dua halaman tulisan. dan simpulan penelitian.

cara penarikan simpulan menurut logika tertentu.2 Pendapat lain dikemukakan oleh Conant yang mengidentifikasikan ilmu sebagal serangkaian konsep basil pengamatan dan percobaan. Teknik Penulisan Ilmiah Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek. hlm.3 Kalimat yang dikutip harus dituliskan sumbernya secara tesurat dalam catatan kaki sebagai berikut: 1)Harold A. sehingga penerima betul-betul mengerti isi pesan yang disampaikan kepadanya. kriteria kebenaran. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai angka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. 25. Demikian juga hakekat saran berpikir ilmiah. seperti bahasa. Lambang tersebut harus berbeda untuk tiap catatan kaki yang berada dalam halaman yang sama. hlm. Larrabee. Teknik Notasi Ilmiah Teknik notasi ilmiah merupakan cara mencantumkan (1 nama orang yang membuat pernyataan dalam tulisan ilmiah (2 media komunikasi ilmiah (3 lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah beserta waktu dan tempat penerbitan dilakukan. hlm. Jika kalimat di atas dijadikan menjadi tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung sebuah kutipan. 2)Maurice N.sumber pengetahuan. Umpamanya: Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan1 sedangkan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode2 dan Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai basil dan pengatnatan dan percobaan 3. 31. Bahasa yang digunkan pun harus jelas. 3)James B. 30. Science and Common Sense (New Haven: Yale Universuty Press. Dalam keadaan seperti ini. Conant. 15. Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip dengan mempergunakan angka Arab yang diketik naik setengah spasi. 4.. 1 Atau bisa saja tiap catatan kaki diberi lambang yang bukan berupa angka. yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber data pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Relable Knowledge (Boston: Houghton Miffin. Teknik notasi ilmiah dalam bagian ini menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki. logika. dan statistika dapat dibahas dengan mengaitkannya kepada proses berpikir ilmiah. dsb. 25 . Akhirnya kegunaan yang diperoleh dari penelitian dapat dikaitkan dengan aksiologi keilmuan yang membahas nilai kegunaan ilmu sekaligus membahas berbagai aspek moral dan sosial.1 Sedangkan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode. Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir. 1961). Jr. asalkan dilakukan secara konsisten. matematika. 1972). maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup: Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan ilmiah. maka tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup. Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal. 1964). Richter. Sedangkan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup kalimat. 1 Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki jika kalimat itu terdiri dari beberapa kalimat.

Seperti dalam contoh berikut: 14)Ibid.F. (ibidem: dalam tempat yang sama). 12 26 . Suprapto. Pustaka. ―Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan‖. (loco citato: dalam tempat yang telab dikutip). ed. cit. cit. Suprapto. (Anonymous) di depan nama buku tersebut. Schumacher. 4. 131. 1978) hIm. 11-14. 11)Liek Wilardjo. LIPI. koran. 13)B. maka dipergunakan notasi ibid. (halaman). Sekiranya kita mengulang kutipan M. 12)M. 4)William 5. 12 Desember 1981. Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah. loc. Newman (ed). Sahakian. Suprapto seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 meskipun dengan nomor halaman yang berbeda. kumpulan karangan atau disampaikan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip yang disertai dengan informasi mengenai makalah tersebut: 10)Karlina. th. hlm. Shakian dan Mabel L. maka kita tidak mempergunakan ibid. hlm. melainkan loc. Keluar dari Kemelut. makalah disampaikan dalain Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III. Kutipan yang diambil dan halaman tertentu disebutkan halamannya dengan singkatan p (pagina) atau hlm. al. Jakarta.. Jujun S. maka langsung saja dituliskan nama bukunya atau dituliskan Anom. Realms of Philosophy (Cambridge: Schkenkman. maka ditulis pp.: 16)Wilardjo. Sastrapratedja dalam catatan kaki nomer 12 terhalang oleh karangan B. maka nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sebuah buku yang diterjemahkah harus ditulis. Curt J. ―Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam Kaitannya dengan Agama dan Kebudayaan‖. op. Blake. Jika nama pengarangnya tidak ada. Kompas. 9)James R. ―Sebuah Tanggapan: Hipotesis dan Setengah ilmuwan‖.al. terjemahan Mochtar Pabotinggi (Jakarta LP3ES. 1973). 8)E. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselang oleh pengarang lain. cit. him.Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap. Madden. Ducasse and Edward H. 15-19 September 1981. Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan op cit. III No. 129-133. 1-5. 6)Sukarnos et. baik pengarang maupun penerjemah buku tersebut. 1-5 atau hlm. Sastrapratedja. 3. dan ibid. Suriasumartri (Jakarta: Gramedia. Artinya kita mengulangi kutipan dari karangan B. 5)Ralph M. 1976). Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit. Untuk pengulangan. Theories of Scientific Method (Seattle: the University of Washington Press. cit. hIm. 1981). sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pengarang pertama ditambah kata et.. 1966). Dasar-Dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bhratara. Ilmu dalam Perspektip. ―Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam‖. What is Science? (New York: Simon and Schustcr. 1955). sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya seperti contoh berikut: 7)Rencana Strategi Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Departemen Pèndidikan dan Kebudayaan. (opere citato: dalam karya yang telah dikutip). April 1979. Sekiranya kutipan itu disarikan dari beberapa halaman umpamanya dan halaman 1 sampai dengan 5. 1965). seperti contoh di bawah ini: 15)Sastrapratedja. loc. (et all: dan lain-lain).

Theories of Scientific Method (Seattle: The University of Washington Press. Hal ini dikecualikan untuk kutipan yang kita dapatkan dan sumber kedua sebagaimana tampak dalam catatan kaki nomor 18. 11-14. 3. maka untuk tidak membingungkan sebagai pengganti loc. CT: B. nama pengarang harus disusun berdasarkan abjad huruf awal nama familinya. Eugene Ehrlich dan Daniel Murphy yang berjudul Writing and Researching Term Papers and Reports (New 27 .‖ hlm. et al. 77-97.). catatan kaki (CT) nomor 1. Kate L. Untuk standar yang bersifat internasional. Suprapto. tujuan utama dari daftar pustaka adalah mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri. dan Sahakian. Reliable Knowledge (Boston: Houghton Mifflin. 1963). ―Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan".. Curt J. seperti: 17)Larrabee. Sedangkan dalam daftar pustaka. B. Ralph M. ed. Pembahasan secara lebih terpeninci dapat dibaca dalam buku pedoman penulisan yang secara khusus mengkaji masalah ini dengan berbagai variasinya. Untuk itu. maka dapat dilakukan penyingkatan selama itu mampu menunjukkan identifikasi judul karangan yang lengkap. 1955). Semua kutipan tersebut di atas. hlm. Tujuan utama dari catatan kaki adalah mengidentifikasikan lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip. cit atau op. Suriasumantri (Jakarta: Gramedia. Richter. hlm. dan 13 bila dimasukkan ke dalam daftar pustaka (DP) berubah sebagai berikut: (1) (4) (5) CT: Harold A. 114. (6) (9) (11) (13) Daftar pustaka itu kemudian diurut berdasarkan huruf pertama dari nama famili pengarangnya. 1978). 9. ―Aturan Permainan dalam Ilmu-Ilmu Alam‖. 11.).Jika dalam kutipan dipergunakan seorang pengarang yang menulis beberapa karangan. Dalam catatan kaki nama pengarang dituliskan lengkap dengan tidak mengalami perubahan apa-apa. Mabel L. 1972). What is Science? New York: Simond and Schuster. William S. DP : Blake. Ducasse. Newman (ed. Jakarta: Gramedia. Turabian yang berjudul Student’s Guide for Writing College Papers (Chicago: The University of Chicago Press. 1965. Larrabee. CT: Liek Wilardjo. ―The Ambivalence ol Scientist. 6. 5. Dasar-dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bharata. Sahakian. Jr. 1973). baik yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung. Reliable Knowledge. Pustaka. Edward H. April 979. maka dapat dibaca umpamanya buku karangan Jacques Barzun dan Henry F. 1966. 129-133. Graff yang berjudul The Modern Researcher (New York: Harcourt. llmu dalam Perspektif. Dipihak lain. Terdapat perbedaan notasi bagi penulisan sumber dalam referensi pada catatan kaki dan referensi daftar pustaka. hlm. Demikianiah secara singkat telah dibahas salah satu contoh teknik notasi ilmiah yang biasa dipergunakan dalam penulisan ilmiah.133. Bila judul karangan itu panjang. Seatle: The University of Washington Press. Theories of Scientific Method. DP: Newman. 1966). Curt J. Blake. dan Madden. 1970). cit dituliskan judul karangannya. 1964 CT : William S. Jakarta: Bharata. 1978. Cambridge: Schenkman. ―Aturan Permainan dalam Ilmu-Ilmu Alam". hlm. maka dalam daftar pustaka tanda kurung yang membatasi penerbit dan domisili penerbit tersebut dihilangkan serta demikian juga lokasi halaman. Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman.. maka kedua sumber itu dituliskan sebagai berikut: I8) Robert K. CT: Ralph M. Madden. 1955). 1964). hlm. Suriasumantri. 4. DP : Suprapto. ed. Jujun S. 6.. Reliable Knowledge. Sahakian dan Mabel L. Realms of Philosophy (Cambridge: Schenkman. (ed.. 1973. Harlod A. Boston: Houghton Mifflin. Realms of Philosophy. Ducasse dan Edward H. DP: Sahakian. Th. What is Science? New York: New York: Simond and Schuster. CT: James R. III No. James R. 129. dikutip langsung (atau tidak langsung) oleh Maurice N. Brace & World. Dengan demikian. 1965).. Jujun S. Ilmu dalam Perspektif. 4 DP : Larrabee. DP: Sukarno. Untuk itu. Dasar-dasar Pendidikan Science. Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan yang lain. Merton. sumbernya kemudian kita sertakan dalam daftar pustaka. CT: Sukarno et al.

yang disebut ilmiah adalah sesuatu yang bersifat positivis atau empiris. Dalam sifat berpikir filsafat disebutkan salah satunya spekulatif. sebagaimana berikut: 1. Disebutkan bahwa pada dasarnya sumber pengetahuan itu ada dua: rasio dan empiris. 4. Publikasi dalam bahasa Indonesia mengenai pembahasan metode penelitian secara lengkap umpamanya dapat dibaca dalam buku karangan Winarno Surakhmad yang berjudul Pengantar Penelitian Ilmiah (Edisi ke-7: Bandung: Tarsito. Effendi (ed. termasuk Islam. Komentar: Dari hasil resume sebelumnya. Akan tetapi. di sana terdapat konsep benar-salah yang hanya dibatasi dalam batas pengalaman manusia (yang bersifat empiris. tanpa memberi porsi pembahasan wahyu. dan estetik. 1980) dan Koencaraningrat (ed. berkaitan dengan sifat atau karakter filsafat. X Penutup Hakikat dan Kegunaan Ilmu Ilmu merupakan sesutu yang penting bagi cara berpikir masyarakat dan jika diamalkan (tidak hanya dihafal) berguna bagi mereka untuk menjelaskan. moral. berkaitan dengan cabang-cabang filsafat dan kebenaran. 1980) dan S. berkaitan dengan sumber pengetahuan. sehingga masalah kehidupan nyata dapat diselesaikan secara baik dan benar. meramal (mengukur). Sepintas penjelasan tersebut tidak bermasalah. bukan didasarkan pada agama. dan mengatasi masalah kehidupan mereka. 1973). berkaitan dengan tingkat perkembangan pengetahuan manusia Auguste Comte. ilmu tetap perlu bimbingan agama. Tetapi.) yang berjudul Pedoman Penulisan Laporan Penelitian (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Padahal ia meletakkan agama sebagai jenis pengetahuan yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau empirisme. 1968) dan Peyton Hurt yang berjudul Bibliography and Footnotes (Berkeley: University of Calofornia Press. Suriasumantri ini memang merupakan buku populer yang meskipun cukup tebal. Dijelaskan bahwa ilmu hanya berwenang menentukan benar-salah suatu pernyataan dalam batas pengalaman manusia. 3. sehingga agama tidak termasuk ke dalam hal yang ilmiah. tetapi lebih ringan dibaca dan difahami daripada buku Filsafat Ilmu lainnya karena menggunakan bahasa populer dan humor. ada beberapa hal utama yang perlu disoroti. Meskipun isi teori Filsafat Ilmu dalam buku ini tidak lengkap dan bersifat mendalam –sebagaimana yang telah disampaikan 28 . BAB III PENUTUP A. mengontrol. Sedangkan baik-buruk diserahkan pada moral dan indahjelek diserahkan pada estetika. 1968). Simpulan Buku Filsafat Ilmu karya Jujun S.York: Bantam. Sedangkan mengenai baik-buruk diserahkan pada moral dan indah-jelek diserahkan pada estetik. sehingga disimpulkan bahwa kebenaran agama itu kebenarannya relatif. 2. Berangkat dari sana. inderawi) yang sangat terbatas.) yang berjudul Metodologi Penelitian Masyarakat (Jakarta: LIPI. Sedangkan pembahasan yang mengkhususkan diri kepada penulisan ilmiah umpamanya dapat dibaca dalam buku karangan Slamet Suseno yang berjudul Teknik Penulisan Imiah Populer (Jakarta: Gramedia. 1979).

Karena buku ini ditujukan untuk pemula dan tidak semua simpulan tiap bab dalam buku ini dijabarkan secara jelas. maka pembaca perlu membaca buku filsafat Ilmu lain yang selamat. Saran Membaca buku ini perlu secara menyeluruh karena terdapat ide penting termasuk ide berbahaya yang terselip di antara paragraf yang ada. Selain itu.penulisnya. konsep filsafat ilmu dalam buku tersebut berangkat dari konsep filsafat sekuler yang tidak mendasari konsepnya pada Islam. porsi materi yang berkaitan dengan penelitian dan penulisan ilmiah dapat membantu untuk para calon peneliti guna mengadakan penelitian ilmiah. Di sini letak problem filsafat ilmunya. 29 . Akan tetapi. B. sehingga mendukung pembaca untuk menjadi sekuler. yakni buku filsafat ilmu dalam perspektif Islam. tetapi menjadi sebuah buku pengantar yang elementer bagi masyarakat yang masih awam agar mereka mencintai filsafat dan memiliki paradigma keilmuan dalam kehidupannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful