Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya sebagai manusia saja yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia (Imam Khomeini) Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ? Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?” Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan al-nas. Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia. Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa. Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati. Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas 1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being) Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam) Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan, pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 67-68) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara naturalinstingtualnya.

kata ilaihi berarti kepada-Nya. 1982: 62) Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being). 1982: 69) Pertama. sejarah dan egonya. Menurut Shari’ati. . inilah gagasan pokok tentang “menjadi”. pasti dan tidak dapat berubah-rubah. masyarakat dan sejarah. Insan : Manusia Menjadi (Becoming) Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam. semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas. Oleh karena itu. kapan dan bagaimana. 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. sejarah dan masyarakat. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam. Sehingga. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya. (Shari’ati. maka insan berbeda. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh. kesadaran diri. Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Menurut Shari’ati. (Shari’ati. 1982: 64) Dalam QS. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya. yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan. karyakarya industri dan seni yang tak disediakan alam. kreativitas atau daya cipta. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. Kedua. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah.”tidak semua manusia adalah insan. (Shari’ati. yaitu kesadaran diri. namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. masyarakatnya. (Shari’ati. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. masyarakat. Tidak usah memandang di mana. dan Yang Maha Mutlak. ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. (Shari’ati. bukan di dalam-Nya. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas. “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Bagi Shari’ati. insan bebas memilih. kemauan bebas. dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Ketiga. ke arah kesempurnaan ideal. (Shari’ati.2. (Shari’ati. kemauan bebas dan kreativitas. Potensi kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda. barang dan alat. makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. semut selalu dalam keadaan yang sama. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam. Yang Maha Abadi. 1982: 7273) Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Dengan ilmu. 1982: 68-69). Insan memiliki tiga sifat pokok. dari yang paling kecil sampai yang kolosal. Ali Shari’ati menyatakan bahwa. mereka mengucapkan. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Sementara itu. atau dorongan-dorongan psikologisnya.

posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). Menurutnya. 1982: 99) Jadi. manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga. al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). Tiga sifat. menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan. Jadi. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). empat rantai yang mengikat manusia. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya. Manusia memakan buah tersebut. tapi dengan cinta. al-nas sebagai kutub sosial. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak.” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri dan ingin bersuara lantang. manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. Jadi. 3. 1979: 116-117) Dan. (Shari’ati. al-nas adalah massa. Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah). . insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya.” pekik Battista Mondin. Kedua. Menurut Shari’ati. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia. Allah. Al-Nas : Massa Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian. dia harus memilki satu hal : kesepian batin. kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. yaitu penjara alam. manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. dalam terminologi sosiologi. Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar. empat ikatan. Shari’ati. para kapitalis dan agamawan bejat). Sedangkan.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya. (Shari’ati. tidak dilawan dengan ilmu. posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk al-nas. berpihak pada alnas. 1979: 49) Akhir al-Kalam “Manusia adalah masalah puncak bagi manusia. (Shari’ati. memberontak. Jelas. bagi Shari’ati. tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. yang bentuk nyatanya adalah ilmu.” Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita. manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan. yakni penjara ego (diri). Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata alnas adalah kata massa. dalam penggunaannya. Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. Saat di firdaus. 1979: 17-18). Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). sejarah dan masyarakat. bagi Shari’ati. massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka. secara singkat. yaitu: Pertama.penjara terakhir manusia. Hingga tak aneh. Menurut Shari’ati. yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”. Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik. kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. (Shari’ati. penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Massa adalah rakyat itu sendiri. Secara unik. Tapi. ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. secara kreatif.

Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. bergantung kepada dirinya sendiri. Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”. manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya.Jadi. Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak. yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih. (Muthahhari. Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i . Ia tidak otomatis menjadi “manusia”. 1991: 79) Inilah insan sejati itu. Murtadha Muthahhari berpendapat. Manusia harus mengembangkan sifat-sifat kemanusiaannya.