P. 1
fungsi aqidah dalam keluarga

fungsi aqidah dalam keluarga

|Views: 145|Likes:
akidah bukan hanya sebagai fondasi keagamaan bagi seseorang. tetapi akidah juga memiliki fungsi dalam berkeluarga.
akidah bukan hanya sebagai fondasi keagamaan bagi seseorang. tetapi akidah juga memiliki fungsi dalam berkeluarga.

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Maulana Malik Ibrahim on Mar 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2013

pdf

text

original

1

FUNGSI AQIDAH DALAM KELUARGA
A. Aqidah
1. Pengertian Aqidah
Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-'aqdu yang berarti ikatan, at-
tautsiiqu keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan, dan ar-rabthu
biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istilah, akidah
adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang
yang meyakininya.
1
Jadi, Akidah Islamiah adalah keimanan yang teguh dan bersifat
pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid
2
dan taat kepada-
Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari
Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih
tentang prinsip-prinsip Agama, perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang
menjadi ijma' dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath'i, baik secara ilmiah
maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah
yang shahih serta ijma' Salaf as-Shalih
3
.


1
Lisaanul 'Arab (IX/311:دقع) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu'jamul Wasiith (II/614:دقع).
2
Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma' wa Shifat Allah.
3
Lihat Buhuuts fii 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin 'Abdul Karim al-'Aql, cet. II/
Daarul 'Ashimah/ th. 1419 H, 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd
dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah fil 'Aqiidah oleh Dr. Nashir bin 'Abdul Karim al-'Aql.
2

2. Pembagian Akidah Tauhid
Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan
umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu
para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam
pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk
rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di
antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:
1) Tauhid Al-Uluhiyyah, mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya
kepada Allah dan karenaNya semata.
2) Tauhid Ar-Rububiyyah, mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni
mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan
mengatur alam semesta ini.
3) Tauhid Al-Asma' was-Sifat, mengesakan Allah dalam asma dan sifat-Nya, artinya
mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma
maupun sifat.
Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam
Ahmad
4
berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Qadar adalah rahasia Allah yang-
tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada
Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir

4
Ahmad bin Hanbal (781 - 855 M, 164 - 241 AH), (Arab لبنح نب دمحأ ) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam
3

baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya,
kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.
5

Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah
Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang
baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal
ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki
dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah
masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah dan tidak boleh kita
beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat
Yusuf ayat 40.
6

B. Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah suatu unit sosial yang terdiri dari seorang suami dan seorang
istri atau dengan kata lain keluarga adalah perkumpulan halal anatara laki-laki dan
seorang perempuan yang bersifat terus menerus dimana yang satu merasa tentram

5
Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-
Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi'ul Awwal 1420H/Juni 1999M
6
Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka
At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M.

4

dengan yang lain sesuai dengan yang ditentukan oleh agama dan masyarakat
7
. Dan
ketika kedua seorang istri dikaruniai seorang anak atau lebih, maka anak-nak itu
menjadi unsur utama ketiga pada keluarga tersebut disamping dua unsur sebelumnya”.
2. Peranan keluarga
Keluarga mempunyai peranan yang besar sekali bagi tumbuh dan
berkembangnya seorang anak baik yang berkenaan dengan pertumbuhan intelektual,
moral dan agamanya
8
. Menurut beliau di antara peranan orang tua antara lain sebagai
berikut:
a) Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Melalui pendidikan keluarga kehidupan emosional anak atau kebutuhan akan
rasa kasih sayang anak akan dapat terpenuhi dan dapat tumbuh dengan baik hal ini
dikarenakan adanya hubungan jalinan darah antara orang tua dan anak di samping
fokus dan konsentrasi orang tua lebih ditekankan pada anak.
Kehidupan emosional merupakan faktor yang sangat signifikan dalam
membina kepribadian anak. Oleh karenanya pihak orang tua harus mampu
menciptakan suasana yang kondusif bagi anak melalui cerminan kasih sayang.
b) Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Penanaman dasar-dasar moral bagi anak dalam keluarga biasanya tercermin
dalam sikap dan prilaku orang tua sendiri. Anak akan cenderung mengikuti segala pola
dan tingkah laku orang tua. Misalnya cara berbuat dan berbicara. Dengan demikian

7
Hasan Langulung, 1995:346
8
Hasbullah, 2001: 41-43
5

prilaku yang baik dari orang tua akan melahirkan gejala identifikasi yang positif bagi
anak yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru.
c) Peletak Dasar Keagamaan
Pada dasarnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan
latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecil. Seseorang yang waktu kecilnya tidak
mendapat pendidikan agama, maka pada dewasanya ia tidak merasa penting akan
adanya agama dalam hidupnya. Lain dengan orang yang waktu kecilnya sudah
dikenalkan dengan pengalaman-pengalaman agama misalnya kedua orang tuanya taat
beragama, ditambah lagi dengan pendidikan sekolah, maka orang tersebut akan
dengan sendirinya mempunyai kecenderungan terhadap hidup yang taat mengikuti
peraturan-peraturan agama. Di samping itu juga terbiasa menjalankan ibadah, takut
larangan-larangan dan merasakan betapa nikmatnya hidup beragama.
Dalam kehidupan keluarga nilai-nilai ajaran agama bagi kehidupan seorang
anak akan mempengaruhi dan memberikan dampak yang positif terhadap
pembentukan karakter anak sejak ia kecil hingga ia dewasa kelak.
9
Peranan keluarga
dalam memberikan dasar-dasar pendidikan keagamaan pada anak yakni dalam rangka
untuk membentuk anak sholeh dan mengharap ridho Allah.
10

1) Membentuk anak sholeh
Anak yang sholeh adalah anak yang berkepribadian baik dalam
menjalin hubungan dengan Allah SWT. dan baik pula dalam berhubungan

9
Menurut Anshari, 1991: 73
10
Abdul Halim Nipan, 2003: 70-74
6

dengan sesama makhluk ciptaannya, terutama terhadap sesama manusia. Allah
SWT. mengisyaratkan dalam hal ini dalam firmannya:
;e4)O¬g Nªjg¯OÞU4N ¬O-¯g]~.-
4×^¯Ò¡ 4` W-EO¬¼´³¬¦ ·º)³ ¯¯:O4·±
=}g)` *.- ¯¯:EO4Ò =}g)` +EE4¯-
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia
11

Berdasarkan keterangan ayat diatas manusia selamanya dalam keadaan
hina di manapun berada, kecuali jika mau menjalin hubungan baik dengan
Allah SWT. maupun dengan sesama manusia. Demikian halnya dengan
pengertian anak shaleh.
2) Mengharap Ridho Allah SWT.
Manusia termasuk didalamnya para orang tua muslim tidak mampu
merubah takdir Ilahi. Manusia hanya berkewajiban berikhtiar, dan Allah–lah
yang mentakdirkan segala sesuatunya.
Sehubungan dengan itu, maka salah satu tujuan yang tidak boleh dilupakan
oleh para orang tua muslim dalam mendidik anaknya ialah bertujuan mengharap ridho
Allah. Hal tersebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang Dia
berikan berupa lahirnya seorang anak dan sekaligus sebagai pertanggung jawaban
dalam mengemban amanat yang Dia amanatkan.


11
Ali Imran 3 : 112
7

d) Fungsi Keluarga
Masyarakat adalah cerminan kondisi keluarga, jika keluarga sehat berarti
masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia berarti masyarakatnya juga bahagia.
Selain sebagai penentu kondisi masyarakat tersebut, keluarga juga mempunyai
beberapa fungsi lain dari sudut pandang yang berbeda, yaitu
12
:
 Fungsi Afektif. Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar
kekuatan keluarga. Didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling
mendukung dan saling menghargai antar anggota kelurga.
 Fungsi Sosialisasi. Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan
proses interaksi dalam keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan
keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.
 Fungsi Reproduksi. Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk
meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya
manusia.
 Fungsi Ekomomi. Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi
kebutuhan seluruh anggota keluarganya yaitu : sandang, pangan dan papan.
 Fungsi Perawatan Kesehatan. Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi
keluarga untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan dan merawat
anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.


12
Friedman 1998 (dalam Setiawati & Santun, 2008)
8

e) Pengertian Keluarga Sakinah
Menurut kaidah bahasa Indonesia
13
, sakinah mempunyai arti kedamaian,
ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna
keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi
yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.
Keluarga sakinah juga sering disebut sebagai keluarga yang bahagia. Menurut
pandangan Barat, keluarga bahagia atau keluarga sejahtera ialah keluarga yang
memiliki dan menikmati segala kemewahan material. Anggota-anggota keluarga
tersebut memiliki kesehatan yang baik yang memungkinkan mereka menikmati
limpahan kekayaan material. Bagi mencapai tujuan ini, seluruh perhatian, tenaga dan
waktu ditumpukan kepada usaha merealisasikan kecapaian kemewahan kebendaan
yang dianggap sebagai perkara pokok dan prasyarat kepada kesejahteraan.
14

Pandangan yang dinyatakan oleh Barat jauh berbeda dengan konsep keluarga
bahagia atau keluarga sakinah yang diterapkan oleh Islam. Asas kepada kesejahteraan
dan kebahagiaan keluarga di dalam Islam terletak kepada ketaqwaan kepada Allah
SWT. Keluarga bahagia adalah keluarga yang mendapat keredhaan Allah SWT. Allah
SWT redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah SWT
15
.
Firman Allah SWT:

13
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia:Jakarta. 1988.
14
Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993 : 15
15
Ibid hal. 19
9

;=/´@·O +.- ¯ª×gu+4N W-O¬¯4O4Ò +OuL4N _
Elg¯·O ;}E©g¯ =/´·E= +O+4O ^g÷
“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”
16
.
Keluarga bahagia ialah suatu kelompok sosial yang terdiri dari suami istri, ibu
bapak, anak pinak, cucu cicit, sanak saudara yang sama-sama dapat merasa senang
terhadap satu sama lain dan terhadap hidup sendiri dengan gembira, mempunyai
objektif hidup baik secara individu atau secara bersama, optimistik dan mempunyai
keyakinan terhadap sesama sendiri.
17

Dengan demikian, keluarga sakinah ialah kondisi sebuah keluarga yang sangat
ideal yang terbentuk berlandaskan Al-Quran dan Sunnah untuk mencapai kebahagiaan
di dunia dan di akhirat. Kebendaan bukanlah sebagai ukuran untuk membentuk
keluarga bahagia sebagaimana yang telah dinyatakan oleh negara Barat.
3. Ciri-Ciri Keluarga Sakinah
Pada dasarnya, keluarga sakinah sukar diukur karena merupakan satu perkara
yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumahtangga. Namun,
terdapat beberapa ciri-ciri keluarga sakinah, diantaranya :
a) Rumah Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah
Asas yang paling penting dalam pembentukan sebuah keluarga sakinah ialah
rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah
dan bukannya atas dasar cinta semata-mata. Ia menjadi panduan kepada suami istri

16
Surah Al-Baiyyinah 98 : 8
17
Menurut Paizah Ismail, 2003 : 147
10

sekiranya menghadapi perbagai masalah yang akan timbul dalam kehidupan
berumahtangga.
Firman Allah SWT :
Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.- W-EON44`-47
W-ON¬OgCÒ¡ -.- W-ON¬OgCÒ¡4Ò
4·O÷c·O¯- Oj¯Òq¡4Ò jO¯··- ¯¦7¯Lg` W
p)¯·· u®7+;N4O4L·> O)× ¡7¯/E* +ÞÒ·1NO··
OÞ¯)³ *.- ´·O÷c·O¯-4Ò p)³ u®7+47
4pONLg`u·¬> *.) g¬¯O4O^¯-4Ò
@O´=E- _ Elg¯·O ¬O¯OE= ÷}=O;OÒ¡4Ò
ECjÒ··> ^)_÷
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya)
18

b) Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)
Tanpa „al-mawaddah‟ dan „al-Rahmah‟, masyarakat tidak akan dapat hidup
dengan tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan. Dua perkara ini
sangat-sangat diperlukan kerana sifat kasih sayang yang wujud dalam sebuah rumah
tangga dapat melahirkan sebuah masyarakat yang bahagia, saling menghormati, saling
mempercayai dan tolong-menolong. Tanpa kasih sayang, perkawinan akan hancur,
kebahagiaan hanya akan menjadi angan-angan saja.
c) Mengetahui Peraturan Berumahtangga

18
An-Nisa‟ 4 : 59
11

Setiap keluarga seharusnya mempunyai peraturan yang patut dipatuhi oleh
setiap ahlinya yang mana seorang istri wajib taat kepada suami dengan tidak keluar
rumah melainkan setelah mendapat izin, tidak menyanggah pendapat suami walaupun
si istri merasakan dirinya betul selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak
menceritakan hal rumahtangga kepada orang lain. Anak pula wajib taat kepada kedua
orangtuanya selama perintah keduanya tidak bertentangan dengan larangan Allah.
Lain pula peranan sebagai seorang suami. Suami merupakan ketua keluarga
dan mempunyai tanggung jawab memastikan setiap ahli keluarganya untuk mematuhi
peraturan dan memainkan peranan masing-masing dalam keluarga supaya sebuah
keluarga sakinah dapat dibentuk.
d) Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak
Perkawinan bukanlah semata-mata menghubungkan antara kehidupan kedua
pasangan tetapi ia juga melibatkan seluruh kehidupan keluarga kedua belah pihak,
terutamanya hubungan terhadap ibu bapak kedua pasangan. Oleh itu, pasangan yang
ingin membina sebuah keluarga sakinah seharusnya tidak menepikan ibu bapak dalam
urusan pemilihan jodoh, terutamanya anak lelaki. Anak lelaki perlu mendapat restu
kedua ibu bapaknya karena perkawinan tidak akan memutuskan tanggungjawabnya
terhadap kedua ibu bapaknya. Selain itu, pasangan juga perlu mengasihi ibu bapak
supaya mendapat keberkatan untuk mencapai kebahagiaan dalam berumahtangga.
Firman Allah SWT :
4L^1O4Ò4Ò =}=Oee"- gOuCE³g¯4O)
4L¯ONO W p)³4Ò ¬C-E³E_E_ E´)O;¯+g¯
12

O). 4` "·^1·¯ El·¯ ·gO) Eª·UgN ºE··
.E©÷_u¬gC¬> _
“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya.
dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”
19
.


e) Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar
Antara tujuan ikatan perkawinan ialah untuk menyambung hubungan keluarga
kedua belah pihak termasuk saudara ipar kedua belah pihak dan kerabat-kerabatnya.
Karena biasanya masalah seperti perceraian timbul disebabkan kerenggangan
hubungan dengan kerabat dan ipar.
4. Cara Membangun Keluarga Sakinah
Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata upaya mewujudkan keluarga yang
sakinah bukanlah perkara yang mudah, ditengah-tengah arus kehidupan seperti ini.
Jangankan untuk mencapai bentuk keluarga yang ideal, bahkan untuk
mempertahankan keutuhan rumah tangga saja sudah merupakan suatu prestasi
tersendiri, sehingga sudah saat-nya setiap keluarga perlu merenung apakah mereka
tengah berjalan pada koridor yang diinginkan oleh Allah dalam mahligai tersebut,
ataukah mereka justru berjalan bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh-

19
al-Ankabut 29 : 8
13

Nya. Al-Qur‟an merupakan landasan dari terbangunnya keluarga sakinah, dan
mengatasi permasalahan yang timbul dalam keluarga dan masyarakat.
Sedangkan Konsep-konsep cara membangun keluarga sakinah adalah
20
:
a) Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat
Agar terciptanya keluarga yang sakinah, maka dalam menentukan kriteria
suami maupun istri haruslah tepat. Diantara kriteria tersebut misalnya beragama islam
dan shaleh maupun shalehah; berasal dari keturunan yang baik-baik; berakhlak mulia,
sopan santun dan bertutur kata yang baik; mempunyai kemampuan membiayai
kehidupan rumah tangga (bagi suami).
Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor:
Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat,
karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti
bahagia.”
b) Dalam keluarga Harus Ada Mawaddah dan Rahmah
Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”,
sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi
kepada yang dicintai.
Firman Allah SWT :
;}g`4Ò ¼·gOg-4C-47 upÒ¡ 4-ÞUE· 7¯·¯
;}g)` ¯ª7¯´O¬¼^Ò¡ ~w}4Ò^eÒ¡
W-EONL7¯¯O4g¢¯ E_^1·¯)³ ºE¬E_4Ò

20

14

ª¬:4LuO4 LEE14OE` OE©;O4O4Ò _ Ep)³
O)× Elg¯·O ±e4C±E ±¬¯O·³g¢¯
4pÒNO-¯E¼4-4C
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
21
.
c) Saling Mengerti Antara Suami-Istri
Seorang suami atau istri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing.
Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai
dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau
istri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat
egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu
pula istri. Seorang suami atau istri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :
 Perjalanan hidup masing-masing
 Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami istri berbeda suku dan atau
daerah)
 Kebiasaan masing-masing
 Selera, kesukaan atau hobi
 Pendidikan

21
Ar-Rum 30 : 21
15

 Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun
dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya,
dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
d) Saling Menerima
Suami istri harus saling menerima satu sama lain. Suami istri itu ibarat satu
tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si istri suka warna
putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna
merah dicampur dengan warna putih, maka aka terlihat keindahannya.
e) Saling Menghargai
Seorang suami atau istri hendaklah saling menghargai:
 Perkataan dan perasaan masingmasing
 Bakat dan keinginan masing-masing
 Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah
jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-istri.
f) Saling Mempercayai
Dalam berumahtangga seorang istri harus percaya kepada suaminya, begitu
pula dengan suami terhadap istrinya ketika ia sedang berada di luar rumah. Jika
diantara keduanya tidak adanya saling percaya, kelangsungan kehidupan rumah tangga
berjalan tidak seperti yang dicita-citakan yaitu keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Akan tetapi jika suami istri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan
akan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
g) Suami-Istri Harus Menjalankan Kewajibanya Masing-Masing
16

Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya,
tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin
dalam rumah tangga. Allah SWT dalam hal ini berfirman:
N·~E}@´O¯- ¬]ON`·O·~ OÞ>4N
g7.=Og)4¯- E©) º·_·· +.-
¯¦÷_º_u¬4 _OÞ>4N ¯*u¬4 .E©)4Ò
W-O¬³E¼^Ò¡ ;}g` ¯ª)_g¯4O^`Ò¡ _
¬eE·)UO¯·· 7e4-gL·~ ¬e·¬g¼EO
´U^O4¯·Ug¢¯ E©) E^g¼EO +.- _
/´®-¯-4Ò 4pO¬··CÒ` ·;¬-EeO¬=¬e
·;¬-OO¬g¬·· O}¬-ÒNO¬×u--4Ò O)×
;7´_º_E©^¯- O}¬-O+)O;g-4Ò W
up)¯·· ¯ª¬:4Lu¬·CÒ¡ ºE·· W-O7¯¯l·>
O}jg¯OÞU4N EO):Ec ¯ Ep)³ -.- ¬]~E
º1)U4N -LOO):º± ^@j÷
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan
Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu
Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita
17

yang kamu khawatirkan nusyuznya
22
, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah
mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka
mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar
23
”.
Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga
kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi
seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab
langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka
lahir-batin, dunia-akhirat. Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat
kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri
boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan
hukum syara‟, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.
h) Suami Istri Harus Menghindari Pertikaian
Pertikaian adalah salah satu penyebab retaknya keharmonisan keluarga, bahkan
apabila pertikaian tersebut terus berkesinambungan maka dapat menyebabkan
perceraian. Sehingga baik suami maupun istri harus dapat menghindari masalah-
masalah yang dapat menyebabkan pertikaian karena suami dan istri adalah fakkor
paling utama dalam menentukan kondisi keluarga.
i) Hubungan Antara Suami Istri Harus Atas Dasar Saling Membutuhkan

22
Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa
izin suaminya.
23
An-Nissa 4 : 34
18

Seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun
lahunna ( Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat:187), yaitu menutup aurat, melindungi diri
dari panas dan dingin, dan sebagai perhiasan. Suami terhadap istri dan sebaliknya
harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika istri mempunyai suatu
kekurangan, suami tidak menceriterakan kepadaorang lain, begitu juga sebaliknya.
j) Suami Istri Harus Senantiasa Menjaga Makanan yang Halal
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari
makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al
lahmi min al haram ahaqqu ila annar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil,
pakaian dan lain-lainnya.
k) Suami Istri Harus Menjaga Aqidah yang Benar
Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, majig
dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah
hidup tidak rasional, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
Membina suatu keluarga yang bahagia memang sangat sangat sulit. Akan
tetapi jika masing-masing pasangan mengerti konsep-konsep keluarga sakinah seperti
yang telah diuraikan di atas, Insya Allah cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia
dan kekal dalam aturan syari‟at Islam, yang disebutkan dengan “Rumahku adalah
surgaku” akan terwujud. Menurut Syekh Muhammad Abduh “Manusia hidup
menurut aqidahnya, bila aqidahnya benar maka akan benar pulalah jalan hidupnya
19

dan aqidah itu bisa betul apabila orang yang mempelajarinya dengan cara betul
pula”.
24

C. Peran Aqidah Dalam Rumah Tangga Islami
Rumah Tangga Islami merupakan dambaan bagi setiap insan yang
menginginkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sayangnya, banyak orang
yang ingin mendapatkan hasil tanpa mau membayar harganya. Membangun rumah
tangga islami memerlukan kerja keras dari seluruh anggota keluarga, yang
dikomandani oleh suami dan isteri sebagai pemimpin di dalam rumah tangga.
Yang dimaksud dalam rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang di
dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun
keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang
didirikan atas landasan aqidah. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling
menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada kebaikan
dan mencegah keburukan karena cinta mereka kepada Allah. Konsep ideal ini sepintas
sulit untuk diwujudkan, tetapi insya Allah seiring dengan berjalannya proses belajar
bagi suami, isteri dan seluruh anggota keluarga, rumah tangga seperti ini akan bisa
terwujud.
Berikut ini beberapa ciri rumah tangga Islami:
1) Rumah tangga didirikan dengan berlandaskan aqidah.

24
Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terj. Firdaus A.N, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, h. 22.
20

Ini dimulai dari sebelum pernikahan berlangsung, bahkan sejak kedua belah
pihak memilih pasangan. Proses yang berlangsung mulai dari memilih pasangan,
meminang sampai dengan pernikahan sebaiknya tidak dikotori oleh maksiat kepada
Allah. Hal ini sangan berpengaruh dalam membangun rumah tangga yang diliputi
dalam suasana ibadah. Dengan berpijak pada aqidah yang kokoh, insya Allah
permasalahan apapun akan mudah diselesaikan, karena keduanya tunduk pada aturan
Allah.
Aspek aqidah berperan sebagai landasan serta motivasi dari semua perbuatan
lahir, baik perbuatan hukum maupun akhlak. Sementara perbuatan-perbuatan tersebut,
merupakan rangkaian amaliyah yang akan diperhitungkan pahalanya kelak dihari
perhitungan, untuk menentukan posisi seseorang apakah disurga atau di neraka.
25

2) Nilai-nilai islam dapat terinternalisasi secara menyeluruh kepada setiap anggota
keluarga.
Peran ayah dan ibu sangat penting untuk menurunkan nilai-ilai islam ini kepaa
anak-anak. Oleh karena itu, selain ayah dan ibu harus terus menerus belajar menyerap
nilai-nilai islam ini ke dalam sikap dan tingkah lakunya, menjadi kewajiban mereka
juga untuk mengajarkan hal ini kepada seluruh anggota keluarga yang lainnya.
Termasuk khodimat/asisten rumah tangga.
3) Hadirnya Qudwah/teladan yang nyata

25
Muhammad Al-Ghazali, Aqidah Muslim, terj. Mahyudin Syaf, Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, h. 11.
21

Hal ini perlu dilakukan oleh pemimpin dalam rumah tangga. Terutama penting
bagi anak-anak. Mereka perlu contoh yang nyata dalam menerapkan nilai-nilai islam
dalam kehidupan sehari-hari.
4) Terbiasa saling tolong menolong dalam menegakkan adab-adab Islam.
Setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk membiasakan diri saling
tolong menolong dalam hal ini. Misalnya memberi nasihat dengan cara yang baik
kepada anggota keluarga yang melakukan kesalahan. Mengingatkan untuk sholat,
juga adab mengucapkan terima kasih / jazaakallah khoiran atas pertolongan setiap
anggota baik kepada yang masih kecil maupun yag sudah besar. Sayyid Sabiq
menyatakan, “tujuan hidup menurut pandangan Islam ialah amal shaleh, berbuat
kebajikan, bekerja dengan sebaik-baiknya dan menunjukkan karunia Tuhan”.
26

5) Rumah terkondisi bagi terlaksananya peraturan Islam.
Dalam hal disain rumah, perlu diperhatikan aturan-aturan khusus yang dapat
menjamin terlaksananya adab-adab pergaulan dalam Islam. Misalnya kamar ayah-ibu
yang terpisah dengan anak-anak, kamar anak laki-laki yang terpisah dengan kamar
anak perempuan.Hal ini untuk menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpangan
dalam perilaku sang anak. Juga untuk mengajarkan adab-adab pergaulan dengan setiap

26
Sayyid Sabiq, Unsur-Unsur Kekuatan dalam Islam, terj. Muhammad Abadi Rathony, Surabaya, Ahmad Nabhan,
1981, h. 207.
22

anggota keluarga, agar tetap terbangun keluarga yang bahagia sesuai dengan ajaran
Islam
27
.
6) Tercukupinya kebutuhan materi secara wajar
Ini menjadi tanggung jawab sang ayah untuk mencukupi kebutuhan materi
untuk membangun keluarga Islami. Bukan hanya sandang, pangan dan papan, tetapi
juga sarana pendidikan islami, seperti perpustakaan keluarga, juga bisa tercukupi.
Kalau mau yang ideal, termasuk di dalamnya terpenuhinya kebutuhan pendidikan
sekolah yang bagus dan bermutu bagi anak-anak.
7) Rumah tangga dihindarkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan semangat islam
Misalnya benda-benda klenik yang dapat merusak aqidah setiap anggota
keluarga. Tontonan atau bacaan hiburan yang dapat merusak aqidah dan akhlak anak-
anak. Hal ini perlu menjadi perhatian orang tua yang ingin mewujudkan rumah tangga
islami.
8) Anggota keluarga terlibat aktif dalam pembinaan masyarakat.
Lingkungan memiliki pengaruh yang besar bagi seluruh anggota keluarga. Bila
ayah atau ibu tidak berperan aktif membina masyarakat, dan membiarkan masyarakat
melakukan perbutan yang tidak sesuai dengan Islam, kemungkinan besar angota
keluarga terlarut dalam kondisi masyarakat tersebut.
9) Rumah Tangga dijaga dari pengaruh yang buruk

27
Achmad Mubarok , Guru Besar Psikologi Islam Uiniversitas Indonesia dan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
23

Bila hidup ditengah masyarakat yang sangat rusak, dan dikhawatirkan akan
berpengaruh terhadap aqidah dan perilaku anak, sementara upaya perbaikan sudah
tidak dapat dilakukan, maka “pindah” menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan
oleh keluarga ini.
10) Masing-masing anggota keluarga harus diposisikan sesuai syariat.
Isteri menghormati suami sebagai pemimpin dan mengambil keputusan. Suami
menyayangi dan menghargai isteri dengan cara mengajaknya bermusyawarah atas
segala keputusan. Allah swt. berfirman :
up)¯·· -E1-4OÒ¡ º=g· }4N ¯·-4O·>
4©×gu+g)` ¯ONÒ4=·>4Ò ºE·· EEE4N_
E©jg¯OÞU4N ¯ . . . ^g@@÷
“Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya
dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya
28
.

DAFTAR PUSTAKA.
 Afiqah, Abu. Amalan Ketika Mengandung & Setelah Bersalin Serta Panduan
Menamakan Bayi. Kuala Lumpur : Darul Nu‟man. 1996.

28
Al-Baqarah 2 : 233
24

 Ali, Hasan Hj.Mohd. 40 Kesilapan Mendidik Anak. Kuala Lumpur : Utusan. 1996.
 Al-'Aql, Nashir bin 'Abdul Karim. Buhuuts fii 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal
Jamaa'ah. Daarul 'Ashimah. 1998
 Al-Math, Muhammad, Faiz. 1100 Hadits Terpilih; Sinar Ajaran Baru
Muhammad. Jakarta: Gema Insani Press, 1991..
 Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad Shalih. Al-Qadha wal Qadar. Jakarta : Darul
Haq. 1999.
 Audah, Ali. Konkordansi al-Qur'an; Panduan Kata dalam Mencari Ayat al-
Qur'an. Bandung: Mizan, 1997.
 Baharom, Noresah Bt. Kamus Dewan Edisi keempat. Kuala Lumpur : Dewan
Bahasa dan Pustaka. 2005.
 Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: 1994.
 Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Jakarta: Pustaka At-Taqwa, 2004.
 Al-Bukhari, Muhammad Ismail. Shahih al-Bukhari. T.Tp: Dar wa Mathabi' al-
Syab, T.Th.
 Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim, (terj. & edit.). Moh. Rifai dari
judul asli Khuluq al-Muslim. Semarang: Wicaksana, 1993.
 Kurdi, M. Amin. Tanwir al-Qulub Fi Mualati Alam al-Ghuyub. Beirut: Dar al
Fikr, tt.
 Majah, Ibnu. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar al Fikr, t.t.
 Muslim, Ibn Hajjaj. Shahih Muslim. Kairo: al-Halabi wa Auladuh, T.Th.
25

 Tibi, Bassam. The Challenge of Fundamentalism; Political Islam and the New
World Disorder. California: University of California Press, 1998.
 J. Goode, William, SosiologiKeluarga, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
 Muhaimin, Pemikiran PendidikanIslam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar
Operasionalnya, Bandung:Trigenda Karya, 1993.
 Rahmat, Jalaluddin dan Muhtar Gandatama. KeluargaMuslim Dalam Masyarakat
Modern. Bandung:Remaja Rosdakarya, 1994.
 Ulwan, Abdullah Nashih..Pedoman Pendidikan Anak-Anak Dalam Islam. Selangor
: Klang Book Centre. 1989
 Thalib, Muhammad. 40 Peranan Ibu Bapa Mithali. Kuala Lumpur : Darul
Nu‟man. 1997.
 Thalib, Muhammad. 20 Sifat Fitrah Anak. Kuala Lumpur : Darul Nu‟man. 1997.
 Siraj, Saedah. Pendidikan Anak-anak. Kuala Lumpur : Alam Pintar Enterprise.
2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->