P. 1
Pengertian Aqidah Islam

Pengertian Aqidah Islam

|Views: 72|Likes:
Published by Imel Sukkie Kawaii

More info:

Published by: Imel Sukkie Kawaii on Mar 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2013

pdf

text

original

PENGERTIAN AQIDAH ISLAM

Diposkan oleh alipoetry, hukum sebagai petunjuk hidup saya... anda... dan mereka,,,,

PENGERTIAN AQIDAH ISLAM Di sunting oleh : HAMBALI IBNU RANIM aliranim@ymail.com Dalam Kamus al-Munawwir, secara etimologis, aqidah adalah berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi „aqidah berarti keyakinan. Menurut umber lain, kata aqidah yang kini sudah menjadi bagian dari kosakata bahasa indonesia, berasal dari bahasa arab yang memiliki arti “yang dipercayai hati”. Alasan digunakan kata aqidah untuk mengungkapkan makna kepercayaan atau keyakinan adalah karena kepercayaan merupakan pangkal dan sekaligus merupkan tujuan dari segala perbuatan mukallaf. Menurut Hasan al-Banna dalam kitab majmu‟ah ar-Rasa‟il. “Aqa‟id (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan” (al-Banna,1963, hal:465). “Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannyasecara pasti”. (al-Jazairy,1978, hal:21).

Uraian di atas sesuai dengan informasi yang terdapat di dalam al-Wur‟an bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini sudah menyatakan ikatan iman kepada Allah SWT. Kelima. sedang yang dimaksud dengan “sesuatu yang harus diyakini sebelum melakukan apa-apa” adalah bahwa keyakinan tersebut merupakan dasar pijakan serta tujuan dari segala perbuatannya serta menjadi landasan motivasi dan kekuatan kontrol terhadap semua gerak langkah dalam melakukan perbuatan tersebut. dan wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. bagi orang yang menjadi muslim karena kelahirannya. Dari pengertian tersebut. Dengan demikian hal ini mensyaratkan adanya keselarasan dan kesejajaran antara keyakinan yang bersifat lahiriah dan serta keyakinan yang bersifat batiniah. akal untuk menguji kebenaran. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen tersebut pada posisi yang sebenarnya.Sejalan dengan itu. keyakinan tidak boleh sedikitpun bercampur dengan keraguan. Pertama. dia akan mengalami lebih dahulu pertama syaqun. konsekuensinya ia harus sanggup membuang segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya. dan yakin akan adanya para malaikat beserta unsur-unsur lain yang terkumpuldalam rukun iman. ketiga. Kedua. aqidah harus mampu mendatangkan ketenteraman jiwa kepada orang yang meyakininya. Untuk itu keyakinan yang tidak didasarkan pada dalil akan mudah tergoyahkan oleh berbagai tantangan dan problema yang dihadapinya. gholabatu dzonni. apabila seseorang telah meyakinisuatu kebenaran. yakni sejak dapat mengenal seuatu dan dapat membedakan sesuatu dari sesuatu. Keyakinan yang sudah sampai ketingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah. yaaitu cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. indera untuk mencari kebenaran. Mahmud Syaltut (mantan rektor al-Azhar mesir) mendifinisikan aqidah islam adalah “suatu sistem kepercayaan dalam islam. tingkat keyakinan seseorang tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil. Berdasarkan pengertian yang diberikan beberapa ulama. harus sudah tertanam saat pertama seseorang berikrar menyatakan keislamannya. karena itu aqidah selalu ditautkan dengan rukun iman yang merupakan asas dari seluruh ajaran islam. Keempat. dan tanpa ada unsur yang mengganggu kebersihan keyakinan”. Ketiga. yaitu salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena adanya dalil yang menguatkannya. tanpa ada keraguan sedikitpun. Sehingga tidak didapatkan padanya suatu pertentangan antara sikap lahiriah dan batiniah. kedua. yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu ataupun menolaknya. dan sebelum melakukan apa-apa. sebelumseseorang sampai ketingkat yakin. dzonun. ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka mendapatkan suatu pemahaman mengenai aqidah yang lebih proporsional. yaitu pada saat . setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran. yakni sesuatu yang harus diyakini sebelum apaapa. dapat disimpulkan bahwa aqidah adalah iman atau keyakinan. atau sudah mulai ditanamkan sejak dini. serta kebenaran aturan-aturan yang dibuat-Nya. karena seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan. Yang disebut dengan “sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa” adalah bahwa keyakinan akan keberadaan Allah SWT dengan segala fungsinya untuk kehidupan manusia.

Sebagai contoh. Dengan demikian. yaitu alam yang hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. dunia dan pasca dunia. yakni sesuatu yang ada namun keberadaannya tidak dapat dijangkau serta diidentifikasi oleh panca indera dan imajinasi manusia. Pernyataan diri mengikatkan keimanan kepada Allah SWT itu selanjutnya dikenal dengan istilah bersyahadat. Namun. kehidupan akhirat berupa Surga dan Neraka berikut prosedur hisabnya. Pernyataan kesaksian tersebut selanjutnya diwujudkan di dalam ucapan dua kalimat syahadat yang berbunyi: “” yang artinya “aku bersaksi bahwasannya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah”. para Malaikat beserta fungsi-fungsinya. disampaikan lewat wahyu. hanya mungkin diterima dengan sikap percaya. Demikian pula dengan masalah aqidah ini terutama yang berkaitan dengan iman diyakini tanpa harus dibuktikan melaalui rekayasa teknologi. apalagi melihat atom yang paling kecil yang tidak dapat dideteksi oleh alat teknologi canggih. Hal ini dinyatakan di dalam al-Qur‟an surat al-A‟raaf. (Qs. Oleh karena itu. semua informasi tentang ajaran aqidah islam.7 : 172) Ikatan Aqidah yang dinyatakan di alam azali itu harus terus dipelihara hingga akhir hayatnya. kami menjadi saksi”. hal itu memang benar-benar ada. manusia tidak dapat melihat bakteri tanpa alat mikroskop. seperti rasul dan kitab suci yang dibawanya. umat manusia tidak akan mengetahui apa-apa tentang ajarannya itu serta tidak akan menerimanya dengan suatu keyakinan dan kebenaran semua itu.7 : 172 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhan-Mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah SWT mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “betul (Engkau Tuhan kami). karena tanpa informasi serta penegasan dari Allah SWT. Di samping itu. dan tentang qadla dan qadar. tapi pada segi sikap untuk menerima segala fungsi dan peranannya untuk kehidupan manusia. kitab suci. Itulah sebabnya pada saat manusia lahir kedunia. yang secara umum terbagi tiga.berada di dalam alam azali. dianjurkan agar dikumandangkan azan pada telinga kanannya dan di qomatkan pada telinga kirinya. dan keyakinan hati bahwa semua informasi tersebut adalah benar. Seseorang mungkin harus mempercayai alam ghaib yang tidak kasat mata. baik tentang wujud Allah SWT beserta segala atribut-Nya. sesuai dengan proses dan konsep kejadian manusia. AlA‟raaf. kecuali unsur-unsur yang nampak. yang penekanan kepercayaan bukan pada aspek ada atau tidaknya. maka ada bagian yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera serta imajinasi manusia. Hal 3-5 . Azan dan iqomat ini pada intinya mengingatkan manusia pada ikatan Aqidahnya. Panduan Lembar Kerja Siswa Hikmah Membina Kretifitas Dan Prestasi Aqidah Akhlak MA Kelas I Semester Gasal : Surakarta : Cv Pustaka Mulia. Informasi tentang proses dan kemungkinan keadaan kehidupan di luar dunia tersebut. yaitu pra-dunia. tentang ke-Rasulan. Roli A Rahman. objek keykinan hati atau keimanan tersebut pada umumnya adalah sesuatu yang ghaib.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->