BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Bunyi sila ke 4 Pancasila mengatakan: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Kalimat ini mengandung 3 kandungan pokok yaitu Pertama, kerakyatan merupakan objek yang bersifat umum. Diharapkan para petinggi negara dan kebijakan atau perundangan yang dibuat dapat berpihak kepada rakyat. Serta memberikan kesempatan yang lebih baik bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses pembuatan kebijakan, tanpa mendekatkan mereka dengan (konflik) politik. Kedua, dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, rakyat pada dasarnya terserah dan mengikuti pemimpin. Hikmat adalah sesuatu yang apabila digunakan atau diperhatikan akan menghalangi terjadinya keburukan sehingga mendatangkan kebaikan dan kemudahan. Dan diharapkan pemimpin Negara ini bijaksana. Ketiga, permusyawaratan perwakilan. Permusyawaratan adalah pembeda yang paling mendasar dibandingkan dengan demokrasi karena permusyawaratan merupakan kuasa atau pengganti pembuatan segala keputusan. Maka dalam demokrasi permusyawaratan yang telah dikandung dalam prinsip Negara ini, diharapkan pemerintah dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang mendasari sikap demokratisasi sehingga menciptakan suatu Negara yang melibatkan rakyatnya dalam memajukan Negara Indonesia tercinta ini.

1.2

Tujuan Tujuan dari mengetahui Demokrasi Permusyawaratan yang juga berhubungan dengan

Pancasila dalam sila yang keempat, yaitu demokrasi permusyawaratan menyediakan wahana bagi perwujudan semangat kekeluargaan dan keadilan sosial di bawah bimbingan hikmatkebijaksanaan. Hal ini juga dipertimbangkan dengan tradisi gotong-royong masyarakat Indonesia, watak multikultural kebangsaan Indonesia, dan pengalaman keterjajahan yang

ditimbulkan oleh kolonialisme sebagai perpanjangan dari kapitalisme dan individualisme. Itu semua membuat masyarakat mengetahui cita-cita kerakyatan dan permusyawaratan. Demokrasi permusyawaratan juga bertujuan agar rakyat mendapatkan kebajikan dan kesentosaan masa depan. Selain itu demokrasi permusyawaratan dipandang sebagai nostrum, obat bagi segala masalah kebangsaan. Demokrasi yang berdasarkan nilai persatuan dan keadilan, dituntut untuk dapat melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasarkan atas persatuan dengan mewujudkan keadilan social bagi seluruh Rakyat Indonesia. Demokrasi yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab bertujuan untuk para penyelenggara Negara dalam memelihara budipekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat yang luhur.

Ketiga. Hatta juga memandang stimulus Islam sebagai salah satu sumber yang menghidupkan citacita demokrasi sosial di kalbu para pemimpin pergerakan kebangsaan. Prinsip Tawhid adalah . Kedua. Pertama. 1 Perspektif Historis Menurut Hatta. paham sosialis Barat. mufakat. gotong-royong. paham kedaulatan rakyat sebenarnya sudah tumbuh sejak lama di bumi Nusantara. memang merupakan fenomena baru di negeri ini. Dalam pandangan Tan Malaka. Stimulus Islam atas Demokrasi Dalam pandangan Soekarno.demokrasi asli Nusantara itu dapat terus bertahan di bawah feodalisme karena di banyak tempat Nusantara. tradisi kolektivisme dari permusyawaratan desa. oleh rakyat dan untuk rakyat.BAB 2 KONSEP INTI 2. Kelima analisir demokrasi asli itu: rapat. terutama di lingkungan para pemimpin pergerakan. yang menarik perhatian para pemimpin pergerakan kebangsaan karena dasar-dasar perikemanusiaan yang dibelanya dan menjadi tujuannya (Hatta. ajaran Islam menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi dalam masyarakat serta persaudaraan antara manusia sebagai makhluk Tuhan. Stimulus Demokrasi Desa Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dari rakyat. yang muncul sebagai ikutan dari formasi negara Republik Indonesia Merdeka. hak mengadakan protes bersama dan hak menyingkir dari daerah kekuasaan raja. setidaknya ada tiga sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi dalam kalbu bangsa Indonesia. Menurut analisis Hatta. pengaruh Islam di Nusantara membawa transformasi masyarakat feodal menuju masyarakat yang lebih demokratis. 1992: 121). melainkan dimiliki bersama oleh masyarakat desa. yang akan dijadikan dasar pemerintahan Indonesia merdeka di masa datang. tanah sebagai faktor produksi yang terpenting bukanlah kepunyaan raja. dipuja dalam lingkungan pergerakan nasional sebagai pokok yang kuat bagi demokrasi sosial. Dalam perkembangannya.

membawa dua-sisi dari koin peradaban Barat: sisi represi imperialisme-kapitalisme dan sisi humanismedemokratis. melahirkan kolonialisme di Asia. semuanya memiliki titik-temu dalam gagasan-gagasan demokrasi sosialistik (kekeluargaan). Kehadiran kolonialisme Eropa. Penyejarahan nilai-nilai demokratis sebagai pancaran prinsip Tawhid itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad sejak awal pertumbuhan komunitas politik Islam di Madina. hal ini diwakili oleh pandangan Tan Malaka. Konflik eksternal ini pada gilirannya meluber ke luar dunia Barat. melainkan juga konflik eksternal antarnegara-bangsa dalam ekspansi kapitalisme. .S. ajaran Islam. pengertian “bangsa” (nation) itu dalam bahasa Arab sering diungkapkan dengan istilah “ummah” (ummatun. dan Sutan Sjahrir. umat). Tjokroaminoto. secara etimologis berasal dari bahasa Yunani. Negosiasi antarsumber Nilai menuju Demokrasi-Sosialistik Sumber inspirasi dari anasir demokrasi desa. Mohammad Hatta. Pertumbuhan nasionalisme dan demokrasi di dunia Barat bersahutan dengan perkembangan industrialisasi dan ekspansi kapitalisme. Afrika. memberikan landasan persatuan dari keragaman.O. yang bercorak keagamaan maupun sekuler. yang melarang adanya perendahan martabat dan pemaksaan kehendak/pandangan antarsesama manusia. untuk memperebutkan sumber daya dan pasar. dan sosio-demokrasi Barat. sedang konvergensi seluruh komunitas bangsa ke dalam suatu kesatuan politik dan tatanan hidup bersama disebut “al-Umam al-Muttahidah” (umat-umat bersatu). istilah demokrasi. Dalam pemahaman yang lazim berkembang. Stimulus Barat atas Demokrasi Masyarakat Eropa memiliki akar demokrasi yang panjang. Menurut Madjid (2003). bahwa dengan segala keragaman ideologipolitik yang dikembangkan. dan Amerika Latin. yaitu “demos” yang berarti rakyat dan “kratos/cratein” yang berarti pemerintahan. khususnya Belanda. dengan mengembangkan cetakan dasar dari apa yang kemudian dikenal sebagai “bangsa”. di Indonesia. Dari perspektif golongan Islam. Konsekuensinya bukan hanya menimbulkan konflik internal antarkelas dalam suatu negara-bangsa.paham persamaan (kesederajatan) manusia di hadapan Tuhan. idealisasi terhadap gagasan demokrasi-sosialistik itu diwakili oleh pandangan H. dan secara umum menolak individualisme. dari perspektif golongan sekuler.

perlu dijaga keseimbangan kekuasaan dengan membaginya menjadi tiga: pertama. Penekanannya atas semangat kekeluargaan ini terancam setidaknya sejak dia menerbitkan tulisan pada 1926 yang berjudul “Nasionalisme. yang menjadi nyawa pergerakan rakyat di Indonesia. dan kemerdekaan merupakan prinsip yang integral di dalam ajaran Islam sejak dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Soekarno menekankan . Pandangan Soekarno Gagasan demokrasi dengan semangat kekeluargaan (gotong-royong) lebih kuat diartikulasikan oleh Soekarno. dan Marxisme”. rakyat akan memiliki kedaulatan atas negara. ketiga. meskipun maksudnya sama. kekuasaan untuk menjalankan undang-undang yang diberikan pada badan eksekutif. prinsip persamaan. demokrasi yang dikembangkan bercorak sosialistik yang menekankan kerjasama. dia mencoba menguraikan dasar-dasar sosialisme yang ada di dalam ajaran Islam. keempat. Dalam pemikirannya. Tjokro mengidealiskan prinsip-prinsip demokrasi-sosial sebagai dasar perjuangan Islam dan dasar kehidupan bernegara. Islam. dia berusaha menunjukkan bahwa perintah atau anjuran di dalam Islam memiliki ciri yang bersifat sosial. Kedua. 1951) dan juga tulisan-tulisan lainnya. Islam juga mewajibkan para penganutnya untuk selalu memerhatikan sesama manusia dengan membantu mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan. yang kedaulatannya berada di tangan seorang raja. menurutnya. Tjokroaminoto Dalam Islam dan Sosialisme (1924. bentuk negara yang dicita-citakan bangsa Indonesia bukanlah sebuah negara monarki.Pandangan H. kekuasaan untuk membuat undang-undang yang diberikan pada badan legislatif. persaudaraan. menurutnya. Baginya.O.S. dan Marxistis. Islamistis. Pandangan Tan Malaka Dalam pandangannya. karena dengan bentuk ini. kekuasaan untuk mengawasi undang-undang yang diberikan pada badan yudisial. Untuk menjamin kedaulatan rakyat dalam republik. Pertama. Dalam gagasan republikanisme Tan Malaka. kedua. Tulisan ini mengidealiskan pentingnya pertautan di antara tiga kekuatan revolusioner yang disebutnya sebagai “Roh Asia” (Spirit of Asia). Tjokro menguraikan kesalinghubungan antara paham sosialisme dengan ajaran Islam. Ketiga kekuatan tersebut. individualisme dan perpanjangannya dalam bentuk kapitalisme secara apriori ditolak. mempunyai tiga sifat: Nasionalistis. bentuk negara republik adalah cita-cita yang harus diperjuangkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Dan ketiga.

menurut Hatta. “yang tidak mencari „gebyarnya‟ atau kilaunya negeri keluar saja. Sosio-nasionalisme yang dia maksudkan adalah semanagat kebangsaan yang menjunjung tinggi perikemanusiaan ke dalam dan keluar. Adapun sosio-demokrasi adalah demokrasi yang memperjuangkan keadilan sosial. yang dia namakan sebagai “sosio-nasionalisme” dan “sosio-demokrasi”. penyelidikannya atas praktik sosio-demokrasi. karena perhatiannya yang lebih besar pada kebebasan individu. yang tidak hanya memedulikan hak-hak sipil dan poilitik.perlunya bangsa kita memiliki konsepsi nasionalisme dan demokrasinya sendiri. Pandangan Sutan Sjahrir Sjahrir adalah figur yang paling muda dan sekaligus paling liberal. serta penghayatannya atas tradisi permusyawaratan dan gotong royong dari masyarakat desa (khususnya nagari) di Indonesia. melainkan juga hak ekonomi. Salah satu proses penting dalam demokrasi menurut Bung Hatta adalah soal prinsip kedaulatan rakyat. Yang dimaksudkan kedaulatan rakyat adalah bahwa kekuasaan untuk mengatur negeri berada di tangan rakyat. melainkan demokrasi yang cocok dengan karakter keindonesiaan sendiri. Salah satu institusi penting dari demokrasi dalam menjembatani aspirasi rakyat ke dalam pemerintahan adalah partai politik. yakni demokrasi kekeluargaan berlandaskan permusyawaratan. Semakin baik kemampuan partai dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana aspirasi. semakin tinggi pula rasa keterlibatan rakyat dalam pemerintahan. model demokrasi yang dikembangkan hendaknya bukan demokrasi yang sekedar menjiplak budaya masyarakat Barat secara mentah-mentah. menjadi latar yang kuat dalam mengkonseptualisasikan model demokrasi yang cocok bgi masa depan bangsanya. Paham sosialisme yang diusung oleh Sjahrir adalah paham yang tetap menghormati kemerdekaan dan kebebasan invidu dengan rasionalitas yang dimiliki namun juga harus peduli pada masalah bersama sebagai makhluk . adalah sarana untuk mengorganisasikan opini publik agar rakyat bisa belajar dan merasakan tanggungjawab sebagai warga dari sebuah negara anggota dari sebuah masyarakat. Pergulatannya yang intens dengan tradisi demokrasi di Eropa. Oleh karena itu. Partai politik. Hatta menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia tidak mengenal paham individualisme sebagaimana yang ada di Barat. Pandangan Mohammad Hatta Gagasan demokrasi sosial dalam konteks Indonesia mendapatkan formulasi secara lebih jelas dari Mohammmad Hatta. tetapi ia haruslah mencari selamatnya semua manusia”.

Oleh karena itu sistem Negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar harus berdasar atas Kedaulatan Rakyat . Hasil prinsip demokrasi dalam Pidato Soekarno menempati urutan ke-3. Demokrasi dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi Kedaulatan rakyat penting dalam semangat kekeluargaan (permusyawaratan). Dari ungkapan para anggota rakyat. intinya adalah asas permusyawaratan penting dan harus adanya kekeluargaan di negara. “semua untuk satu”. Pengertian Negara Indonesia ialah. teori yang dapat dinamakan teori integralistik. Pokok yang ketiga yang terkandung dalam „Pembukaan‟ ialah Negara yang berkedaulatan rakyat. akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai persatuan. Sjahrir mendukung sistem parlementer yang dipandangnya sebagai wujud pengabdian pada perkembangan kemanusiaan. Negara Indonesia bukan satu Negara untuk satu orang. bukan satu Negara untuk satu golongan walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan Negara “semua untuk semua”. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. dia memasukkan prinsip “mufakat atau demokrasi” sebagai dasar ketiga. “satu untuk semua”. Redaksinya disempurnakan menjadi. kesetaraan (keadilan) dan persaudaraan (kekeluargaan). Permusyawaratan diharapkan dapat dibimbing oleh semangat kekeluargaan berdasarkan hikmah kebijaksanaan agar dapat mencapai sintesis yang bermutu bagi kebaikan semua. Dalam uraiannya mengenai dasar falsafah Negara Indonesia merdeka (philosofiscche granslag). dasar permusyawaratan. Soekarno menyampaikan pidatonya pada Rapat Besar 1 Juni 1945. dalam semangat permusyawaratan. berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Ungkapan ini diungkapakan oleh Muhammad Yamin ketika meletakkan dasar kedaulatan rakyat sebagai tujuan kemerdekaan dan permusyawaratan. lalu mengalami pergeseran menjadi prinsip (sila) keempat dari dasar Negara (Pancasila).sosial. Demokrasi yang memperjuangkan keseimbangan pencapaian kebebasan. Dengan segala variasi pemikirannya. tokoh-tokoh pendiri bangsa tersebut memiliki persamaan dalam idealisasinya terhadap demokrasi yang bercorak sosialistik. Dasar itu ialah dasar mufakat. Negara ialah tidak untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan. Sjahrir juga berkeyakinan bahwa sistem demokrasi parlementer adalah syarat yang harus dipenuhi untuk sampai pada negara kesejahteraan.

Demokrasi dipandang sebagai nostrum. 3. Demokrasi dalam semangat permusyawaratan. suatu bentuk pemerintah Negara yang mengatasi paham perseorangan dan golongan. dan untuk rakyat” (government of the people. Kekuasaan pemerintah berasal dari rakyat yang diperintah (the nation that a government deriving its powers from the consent of the governed). . and for the people). oleh rakyat. Dengan kata lain.dan berdasarkan permusyawaratan perwakilan. by people. 2. Konsepsi Negara kekeluargaan ini tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 alinea terakhir yang mengandung kehendak untuk “membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. 2. Pemerintahan demokratis itu memerlukan prasyarat yang mendukung sedikitnya tiga ide pokok sebagai berikut: 1. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia. artinya harus cukup kuat untuk dapat menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien. obat bagi segala masalah kebangsaan. Demokrasi identik dengan kebajikan dan kesentosaan masyarakat masa depan. Roeslan Abdoelgani menyatakan bahwa toleransi yang dikehendaki Pancasila adalah suatu kompromi dalam konteks toleransi yang positif karena senantiasa dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Semangat demokrasi musyawarah-mufakat ini selaras dengan arus utama pemikiran politik Indonesia saat itu yang mengidealisasikan konsepsi Negara kekeluargaan. Kekuasaan itu harus dibatasi (limited government). Hal ini berimplikasi bahwa semua tindakan yang mengarah pada ideal-ideal kehidupan kebangsaan dipandang sebagai ekspresi demokrasi. Pemerintah harus berdaulat (sovereign). Demokrasi dengan semangat musyawarah-mufakat inilah yang akan mewarnai rancang-bangun ketatanegaraan Indonesia dalam pembahasan yang terkait dengan Rancangan Undang-Undang Dasar.kekeluargaan diidealkan sebagai salah satu prinsip nasional.2 Perspektif Teoretis-Komparatif Menurut Abraham Lincoln secara sederhana mendefinisikan demokrasi sebagai ” pemerintahan dari rakyat. Demokrasi pada umumnya dipandang sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar sebagai sarana.

dan tentunya procedural. dan kewarganegaraan inklusif. pemilihan umum yang bebas. Kelima kriteria berbentuk proses itu meliputi: 1. didekati secara berbeda oleh orang-orang yang berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Pendekatan konstitusional menekankan pada bagaimana konstitusi dibentuk. substantif. Dimensi kualaitas . Pendekatan berorientasi proses kerap diasosiasikan dengan pemikiran Robert Dahl. Dahl juga menyebutkan 6 prasyarat institusi demokrasi yaitu pejabat terpilih. Pemahaman tercerahkan (enlightened understanding) Setiap warga harus memiliki kesempatan yang setara dan efektif untuk mempelajari alternative kebijakan yang relevan serta kemungkinan akibatnya. Dahl menggariskan lima kriteria minimum agar suatu Negara bisa dianggap demokrastis. diberlakukan. Pendekatan procedural berkisar pada pembahasan bagaimana secara sederhana. 2. Partisipasi efektif (effectif participation) Setiap warga harus memiliki kesempatan yang setara dan efektif untuk membuat pandangan-pandangannya diketahui oleh warga yang lain. pemerintahan demokratis itu dibentuk dan dijalankan. dan berorientasi proses. adil.Dalam perkembangannya. Pendekatan substantive memberikan perhatian lebih pada bagaimana suatu pemerintah memajukan kondisi kehidupan dan kehidupan politik. Perlibatan setiap orang dewasa (inclusion of adults) Setiap warga yang sudah dewasa harus diberi hak secara penuh untuk keempat kriteria diatas. dan berkala. procedural. dan diamalkan oleh suatu pemerintahan sehubungan dengan aktivitas politik. 4. muncul berbagai bentuk dan model demokrasi sesuai dengan ruang dan waktunya. Kesetaraan memilih (voting equality) Setiap warga harus memiliki kesempatan yang setara dan efektif untuk memilih dan seluruh pilihan harus dihitung secara setara. pengertian dari demokrasi dibagi kedalam empat kategori pendekatan yaitu konstitusional. 5. kebebasan berbicara. tersedianya sumber-sumber informasi alternative. suatu pemerintahan digolongkan sebagai suatu demokrasi. otonomi berserikat. 3. Pengendalian agenda (control of the agenda) Setiap warga harus memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana dan apa saja yang harus ditempatkan dalam agenda kebijakan. Akibatnya. Menurut Charles Tilly.

Faktanya bahwa jarang sekali Negara yang menjalankan model “majoratian democracy” . Making Democracy Work. demokrasi deliberative meletakkan keutamaan diskusi dan musyawarah dengan kekuatan argumentasi berlandaskan daya-daya consensus. berdaulat. moral. baik langsung maupun representative. Meskipun ada kesamaan secara prinsipil. dan dengan semangat itu pula demokrasi diarahkan untuk mencapai masyarakat yang merdeka. antropologis. Robert Putnam dalam bukunya. Penganut demokrasi deliberative menganggap bahwa demokrasi yang berkembang. adil. dan makmur. diatas keputusan yang berdasarkan voting. “demokrasi yang efektif berhubungan erat dengan modernitas sosio-ekonomi”. demokrasi secara garis besar dibedakan kedalam dua model yaitu “majoratian democracy” (demokrasi yang lebih mengutamakan suara mayoritas) dan “consensus democracy” (demokrasi yang lebih mengutamakan consensus). demokrasi itu tidaklah berwajah tunggal. bersatu. dan psikologis. cenderung mencerminkan pertempuran kepentingan pribadi yang tidak membawa perbaikan mutu. yang dalam istilah Soekarno disebut “sosio-demokrasi”. oleh karena itu sangat mengidealiskan keselarasan antara demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Para pendiri bangsa Indonesia menghayati sepenuhnya dampak buruk represi politik dan eksploitasi ekonomi yang ditimbulkanoleh kolonialisme dan kapitalisme. melainkan menampilkan dirinya secara beragam. sosiologis. ekonomis. mereka berjuang meraih kemerdekaan dan membentuk Negara-nasional. Pendekatan politik yang difokuskan untuk meningkatkan kualitas demokrasi dengan memperbaiki karakteristik dan bentuk partisipasi politik bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Alexis de Tocqueville menegaskan bahwa demokrasi merupakan suatu subjek multidimensional. Para pendukung demokrasi deliberative berpendapat bahwa musyawarah meningkatkan kualitas dan akseptabilitas keputusan kolektif. Sebagai alternative. karena harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu agar dapat mengakar dalam beragam jenis masyarakat.menjadi penentu dan pembanding apakah suatu Negara lebih demokratis disbanding dengan Negara lain. menekankan dengan tegas namun lugas. Dengan semangat persatuankekeluargaan itulah. Dalam pandangan Arend Lijphart. yang meliputi aspek-aspek politik. Mereka juga enyadari bahwa kemajemukan Indonesia secara social-budaya dan social-ekonomi memerlukan semangat kekeluargaan dalam mengatasi berbagai kesenjangan yang ada.

hanya United Kingdom. juga Amerika Serikat. ia harus memastikan bahwa musyawarah (dan bukan kompetisi) yang menjadi penentu dalam struktur ataupun proses pengambilan keputusan dalam berdemokrasi. Demokrasi didefinisikan sebagai suatu metode atas pengaturan institusi guna mendapatkan keputusan politik di mana individu mempunyai kekuasaan untuk memutuskan melalui cara perjuangan kompetisi demi suara pemilih. Demokrasi adalah persaingan antar elite. Robyn Eckersley mengambil kesimpulan bahwa kunci transformasi politik hijau ialah penyebarluasan dan penghayatan budaya ekosentris (berporos pada ekologi). diatas struktur politik yang sudah hijau. Sifat terbuka dari prosedur demokrasi musyawarah yang lebih mementingkan rasionalitas argument dan kearifan menempatkan kemungkinan lebih besar diterimanya nilai-nilai dan pemikiran ekologis. Lijphart menunjukkan bahwa penekanan model majoratian pada “majority rule” dalam politik ditafsirkan tidak demokratis karena mengandung prinsip-prinsip pengucilan (exclusion). serta bersandar pada prosedur musyawarah sebagai cita-cita kebenaran politik. Demokrasi elitis adalah suatu konsep yang disodorkan oleh Joseph Schumpeter sehingga dikenal pula sebagai Demokrasi Schumpeterian. bekas koloni Inggris di wilayah Karibia. . dan kini telah merambah dunia politik. Lijphart menilai bahwa “consensus democracy” bisa dipandang lebih demokratis ketimbang “majoratian democracy” dalam banyak hal. Demokrasi di Indonesia tidak sejalan dengan model “demokrasi elitis”. Teori kedaulatan dari Bodin menekankan perlunya Negara memiliki rumusan “kedaulatan tertinggi” sebagai ekspresi tertinggi rakyat secara keseluruhan. Demokrtasi elitis ini dikenal juga sebagai demokrasi procedural minimalism.secara murni. Kebanyakn pemerintahan demokratis lebih menganut model consensus. Berdasarkan dari argument Arthur Lewis. Superkapitalisme adalah suatu konsep yang menggambarkan semakin menguatnya kompetisi di dunia bisnis dalam memperebutkan konsumen dan investor. New Zealand. Apabila demokrasi benar-benar ingin memasukkan pertimbangan lingkungan. Demokrasi musyawarah menempatkan esensi demokrasi bukan pada voting tetapi didasarkan pada musyawarah kolektif dan prosedur pengambilan keputusan yang terbuka. Demokrasi musyawarah dibangun berlandaskan akal-kearifan ketimbang kuasa. dan dalam taraf yang berbeda. bukan ekspresi sebagian dari kekuatan rakyat. Lebih dari tiu. Krisis demokrasi merupakan konsekuensi dari apa yang disebutnya sebagai “superkapitalisme”.

melainkan juga cerminan alam kejiwaan. atau apa yang disebut Saward “mengakar” (to take root). Menurut Barber. selain membagi dunia ke dalam kubu berada dan tidak berada. secara kekeluargaan. Sila keempat Pancasila. Gould pada tataran internasional. Cita hikmat kebijaksanaan merefleksikan orientasi etis. semakin besar pula tenaga yang diperlukan untuk mempertahankan kesinambungan kehidupan demokrasi.Dalam pandangan Carol C. Dalam ungkapan Soekarno. disebutkan bahwa kedaulatan itu berdasar atas “kerakyatan” dan “pemusyawaratan”. tetapi juga secara kejiwaan. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” mengandung beberapa ciri dari alam pemikiran demokrasi di Indonesia. Selain kedua cirri tersebut. “Demokrasi yang harus kita jalankan adalah demokrasi Indonesia. kedaulatan rakyat bukan sekadar alat saja. Jika tidak bisa berpikir demikian itu. Dengan kata lain. Tetapi di dalam cara pemikiran kita. ekonomi kapitalis sekarang. demokrasi itu hendaknya mengandung ciri kerakyatan (daulat rakyat) dan pemusyawaratan (kekeluargaan). atau lebih tegas lagi di dalam cara keyakinan dan kepercayaan kita. Kita berpikir dan berasa bukan sekadar hanya secara teknis. masalah normative yang ditimbulkan kapitalisme global setidaknya menyangkut dua hal yaitu deficit keadilan global dan deficit demokrasi global. kita nanti tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan dari rakyat itu”. Demokrasi dalam alam pikiran Indonesia bukan sekadar alat teknis. dan cita-cita nasional. Membumikan Demokrasi Permusyawaratan dalam Kerangka Pancasila Gagasan “demokrasi pemusyawaratan” berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila merupakan usaha sadar dari para pendiri bangsa untuk melakukan apa yang disebut Putnam “making democracy work”. Salah satu dampak utama dari penetrasi kapitalisme ke dalam kehidupan berdemokrasi adalah meredupnya kekuatan kewargaan. kepribadian. semakin besar ketimpangan itu. dalam konteks keindonesiaan. membawa kepribadian Indonesia sendiri. Akan tetapi. juga menumbuhkan etos baru. Benar bahwa demokrasi dan kewarganegaraan tetap bisa bertahan walaupun terjadi ketimpangan ekonomi. secara psikologis nasional. Inti dari uraian para teorikus demokrasi tersebut adalah bahwa kondisi demokrasi politik terkait erat dengan kondisi perekonomian. sebagaimana dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 bahwa susunan Negara Republik Indonesia yang . demokrasi Indonesia juga mengandung cirri “hikmat kebijaksanaan”. Dalam pokok pikiran ketiga dari Pembukaan UUD 1945.

yang konsepsi kedaulatannya mengikuti teori James Madison yang menganut paham “pemisahan kekuasaan”.berkedaulatan rakyat itu hendaknya didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. dan keadilan-perdamaian. bukan demi kepentingan perseorangan atau golongan. permusyawaratan. dengan melibatkan dan mempertimbangkan pendapat semua pihak (minoritas kecil sekalipun) secara inklusif. yang dapat menangkal dikte-dikte minoritas elite penguasa dan pengusaha serta klaim mayoritas. demokrasi Indonesia mengembangkan sistem pemerintahan yang member peran penting pada Negara dalam mengembangkan kesejahteraan rakyat. Asas yang digunakan dalam sistem pemerintah Negara Indonesia adalah “pembagian kekuasaan secara tidak ketat” (partial separation of powers). dengan mengakui adanya lembaga permusyawaratan tertinggi (MPR) sebagai penjelmaan dari ekspresi kedaulatan rakyat tertinggi (locus of sovereignty). persatuan. Dengan tidak menganut sistem pemisahan kekuasaan secara ketat (trias politica). Hal ini berbeda dengan asas “pure separation of powers” seperti di Amerika Serikat. Harus didasarkan pada asasn rasionalitas dan keadilan bukan hanya berdasarkan subjektivitas ideologis dan kepentingan. Bersifat imparsial. bukan demi kepentingan jangka pendek melalui akomodasi transaksional yang bersifat destruktif (toleransi negative). pengetahuan. Selain itu. Demokrasi Indonesia menganut konsepsi kedaulatan yang menyerupai teori Jean Bodin. tidak berarti bahwa sistem pemerintah Negara Indonesia tidak mengandung mekanisme “pengecekan dan keseimbangan” (check and balances). Didedikasikan bagi kepentingan orang banyak. 2. 1. . perikemanusiaan.suatu keputusan politik dikatakan benar jika memenuhi setidaknya empat prasyarat. 3. Dalam demokrasi permusyawaratan . Berorientasi jauh kedepan. dan keadilan. sistem pemerintahan Negara Indonesia tidak mengenal pemisahan kekuasaan yang ketat seperti dalam paham Trias Politica. Sebagai ekspresi dari demokrasi yang bersemangat keadilan. kesejahteraan. 4. Basis legitimasi Negara-pengurus (Negara kesejahteraan ala Indonesia) ini bersumber pada empat jenis tanggung jawab yaitu perlindungan.

Dengan dimuliakannya aspirasi rakyat dalam proses demokrasi politik di lembaga perwakilan. yang memahami hak dan kewajibannya. .Demokrasi dalam alam Pancasila dilandasi oleh nilai-nilai teosentris yang mengangkat kehidupan politik dari tingkat sekuler ke tingkat moral spiritual dan nilai aposentris yang memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. rakyat juga dituntut untuk menjadi warga Negara yang bijaksana. serta bertanggung jawab dalam menjalankan partisipasi politiknya. yang menghargai perbedaan berlandaskan semangat kesetaraan dan persaudaraan. dengan mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada Stimulus Islam atas demokrasi. Kelima analisir itu mengandung arti yang sangat mendalam bagi kelangsungan pemerintahan Indonesia di masa yang akan datang. sehingga diperlukan analisir satu lagi yaitu moral. gotong royong. ajaran Islam yang menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi sebagai makhluk Tuhan dan yang Ketiga adalah paham sosialis Barat yang menarik perhatian para pemimpin pergerakan kebangsaaan. Namun. di sana tertulis menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” . Karena dengan adanya moral yang baik pasti akan terjadi suatu hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintah sehinnga terjalin komunikasi yang serasi dan aspirasi rakyat di dengarkan demi menjunjung tinggi suatu demokrasi di Indonesia. hal tersebut dapat .BAB 3 ANALISIS 1. terutama di lingkungan para pemimpin pergerakan.Pertama. yaitu social . demokrasi merupakan suatu bentuk aspirasi rakyat kepada Negara ini sehingga kata-kata “pemerintahan dari rakyat. Stimulus Islam yang dijadikan suatu stimulus demokrasi akan “Ketuhanan dengan kewajiban mengarah ke beberapa bidang . politik. oleh rakyat dan untuk rakyat” merupakan suatu fenomena di negri ini. Perspektif Hisotris Menurut Hatta. pada awalnya stimulus ini sangatlah baik . . dalam kenyataannya sekarang kebanyakan mengadakan hak protes bersama sangatlah minim karena aspirasi rakyat sangatlah minim didengarkan oleh pemerintahan. Pada Stimulus Demokrasi Desa. setidaknya ada 3 sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi dalam bangsa Indonesia. Demokrasi memiliki 5 anilisir yaitu: rapat. Contohnya Piagam Jakarta. Kedua. Dari perspektif historis dapat dilihat juga pengalaman Bangsa Indonesia yang dijajah oleah bangsa lain dimana Bangsa Indonesia tidak bisa memberikan pendapatnya dan kebanyakan dibodohi oleh penjajah. hak mengadakan protes dan hak menyingkir dari daerah kekuasaaan raja. dan dipuja di pergerakan nasional sebagai pokok demokrasi social. mufakat. dari pengalaman ini bisa menjadi sumber ke masa depan agar bangsa Indonesia sendiri tidak menjajah Bangsanya sendiri maupun dijajah oleh bangsa lain. jika dipikirkan dampak nya di masa depan akan menimbulkan suatu pertentangan. tradisi kolektivitasdari permusyawaratan desa.

kebanyakan merupakan sumber demokrasi di berbagai negara termasuk Indonesia.Sehingga sangatlah baik ketiga isi pertama piagam Jakarta diubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” di sila 1 Pancasila sehingga adanya hak-hak agama lain untuk memiliki jabatan di negri ini dan terwujudnya demokrasi pada semua ras. Padahal pada kenyataannya urusan Negara dan Agama harus dipisahkan karena memiliki suatu pertentangan .namun demokrasi stimulus Barat ini kecenderungan bersifat saing dalam memperebutkan sumber daya dan pasar. menurut H. hal itu legislatif. yaitu dengan cara Membagi kekuasaan kedaulatan rakyat . Pada Stimulus Barat atas demokrasi .menimbulkan suatu dominasi di berbagai bidang . Tan malaka Keseimbangan kekuasaaan di negara sangatlah diperlukan .O. 2.S Tjokroaminoto Dasar perjuangan Islam dan dasar kehidupan bernegara sebaiknya hanyalah dijadikan suatu inspirasi . pemilihan presiden. yudisial. Terdapat idelisasai terhadap demokrasi-sosialistik: 1. maka pasti terjadi suatu pemaksaan penurunan presiden . Pandangan Soekarno Inti dari demokrasi adalah menjunjung tinggi keadilan social dan perikemanusiaan 4. Pandangan Moh.suku dan agamadi negri ini.semua presiden di Indonesia merupakan penganut agama Islam. dan eksekutif untuk menjamin dan menjunung tinggi .dapat dilihat juga contoh. karena bila dijadikan suatu prinsip maka agama tersebut bisa menjadi suatu dominasi . bagaimana jika pada pemilu nanti presiden penganut agama lain menjadi presiden? Bila piagam Jakarta tidak diubah maka akan terjadi sebuah pertentangan di Negara ini pasti akan banyak kontroversial Karena di Indonesia kebanyakan penganut Islam. Hatta merupakan pandangan paling baik karena dia melihat pemegang penuh dalam neagra ini adalah kedaulatan rakyat. Perspektif golongan Islam . sperti bidang politik yang sekarang lagi marak-maraknya. Namun. Hatta Pandangan Moh. Golongan sekuler. 3. Negosiasi antarsumber Nilai menuju Demokrasi-Sosialistik Suatu titik temu adalah suatu tujuan dari persatuan keragaman yang becorak agama maupun sekuler demi terwujudnya suatu demokrasi kekeluargaan.

namun dalam membentuk Negara demokrasi yang diperlukan adalah suatu kerjasama dalam membangun Negara. obat bagi segala masalah kebangsaan. justru pemerintahlah yang mendominasi. dan untuk rakyat” (government of the people. oleh rakyat. 5. Demokrasi dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi Kedaulatan rakyat penting dalam semangat kekeluargaan (permusyawaratan). permusyawaratan. dimana di sila ke-4 memiliki arti yaitu nilai moral terdapat pada kata “Kebijaksanaan” dan “permusyawaratn/perwakilan” adalah teknis. Demokrasi pada umumnya dipandang sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar sebagai sarana. dalam prakteknya sekarang . Sutan Syahrir Menurut Sutan Syahrir. Demokrasi dipandang sebagai nostrum. Demokrasi identik dengan kebajikan. Perspektif Teoretis-Komparatif Menurut Abraham Lincoln secara sederhana mendefinisikan demokrasi sebagai ” pemerintahan dari rakyat. sehingga diperlukan suatu rombakan pola pikir di negri dengan kembali ke UUD sehingga demokrasi akan berjalan sbeagaimana fungsinya. suatu bentuk pemerintah Negara yang mengatasi paham perseorangan dan golongan. Demokrasi dalam semangat permusyawaratan.hanyalah menjadi kata mutiara di jaman sekarang . kebijaksanaan dan kesentosaan masyarakat masa depan. Di Indonesia maka dibentuklah sila ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. adalah paham yang tetap menghormati kemerdekaan dan kebebasan invidu dengan rasionalitas yang dimiliki namun juga harus peduli pada masalah bersama sebagai makhluk social. . Meskipun hal tersebut telah di tuliskan di pasal 1 ayat 2 UUD 1945.kekeluargaan diidealkan sebagai salah satu prinsip nasional. 2. Hal ini berimplikasi bahwa semua tindakan yang mengarah pada ideal-ideal kehidupan kebangsaan dipandang sebagai ekspresi demokrasi. Pandangan Sutan Syahrir memiliki suatu kekuatan untuk membentuk suatu Negara yang sejahtera . Demokrasi kesetaraan yang memperjuangkan dan keseimbangan pencapaian dalam kebebasan semangat (keadilan) persaudaraan (kekeluargaan).

Karena itu. sosiologis . oleh karena itu sangat mengidealiskan keselarasan antara demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. otonomi berserikat. ekonomi. Dengan adanya suatu teori demokrasi . pemilihan umum yang bebas. Perlibatan setiap orang dewasa (inclusion of adults). Di Indonesia kecenderungan pada aspek politik. adil. artinya harus cukup kuat untuk dapat menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien. setidaknya para-para pelaku demokrasi haruslah kembali melihat masa lalu ketika para pendiri bangsa Indonesia menghayati sepenuhnya dampak buruk represi politik dan eksploitasi ekonomi yang ditimbulkanoleh kolonialisme dan kapitalisme. Menurut Alexis de Tocqueville. dapat dilihat sekarang banak partai-partai politik yang berlomba-lomba untuk mendapatkan jabtan di negri tanpa adanya suatu demokrasi yang adil. dan berkala. 3. Pemerintahan demokratis itu memerlukan prasyarat yang mendukung sedikitnya tiga ide pokok sebagai berikut: 1. moral dan social. Ide pokok yang sangat penting adalah suatu sikap kebijaksanaan dari pemerintah untuk mendengarkan aspirasi rakyat untuk menjalankan pemerintahan demokratis. ekonomi . yang dalam istilah Soekarno disebut “sosio-demokrasi”. Kekuasaan itu harus dibatasi (limited government). maka pembentukan demokrasi di Indonesia di buat berdasarkan teori tokoh. kebebasan berbicara. antropologis dan psikologis. Kekuasaan pemerintah berasal dari rakyat yang diperintah (the nation that a government deriving its powers from the consent of the governed). Kesetaraan memilih (voting equality). demokrasi adalah suatu objek multidimensional yang meliputi aspek-aspek politik. Mereka juga . 2. and for the people). Menurut Robert Dahl terdapat 5 kriteria bentuk proses demokratis yaitu: Partisipasi efektif (effectif participation).by people. Namun yang benar-benar condong adalah bidang politik. Pemahaman tercerahkan (enlightened understanding). tersedianya sumber-sumber informasi alternative. moral. Pengendalian agenda (control of the agenda). dan kewarganegaraan inklusif agar tidak terjadi penyelewengan atau adanya uang suap untuk memilih suatu parpol itu sendiri. pengalaman hidup di masyarkat. dan keragaman di Indonesia.Di Indonesia juga menerapkan proses demokratis tersebut di pemilihan umum namun banyak terjadi penyelewengan yang terjadi maka dari itu di perlukan 6 prasyarat instusi demokrasi yaitu pejabat terpilih. Pemerintah harus berdaulat (sovereign).

bersatu. Demokrasi di Indonesia seharusnya sejalan dengan model “demokrasi elitis”.menyadari bahwa kemajemukan Indonesia secara social-budaya dan social-ekonomi memerlukan semangat kekeluargaan dalam mengatasi berbagai kesenjangan yang ada. berdaulat. Demokrasi didefinisikan sebagai suatu metode atas pengaturan institusi guna mendapatkan keputusan politik di mana individu mempunyai kekuasaan untuk memutuskan melalui cara perjuangan kompetisi demi suara pemilih. Gagasan demokrasi permusyawaratn haruslah berdasarkan prinsip-prinsp pancasila Karena merupakan suatu usaha sadar dan bangkit dari pendiri bangsa. mereka berjuang meraih kemerdekaan dan membentuk Negara-nasional.dan psikologis nasional. “Demokrasi yang harus kita jalankan adalah demokrasi Indonesia. kita nanti tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan dari rakyat itu”. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” mengandung beberapa ciri dari alam pemikiran demokrasi di Indonesia. Dengan kata lain. Jika tidak bisa berpikir demikian itu. membawa kepribadian Indonesia sendiri. disebutkan bahwa kedaulatan itu berdasar atas “kerakyatan” dan “pemusyawaratan”. Namun yang terjadi di Indonesia terjadi penyeleweangan terjadi persaingan yang tak sehat sehingga membuat Indonesia secara teoritis tidak sejalan dengan Demokrasi Schumpeterian. Demokrasi adalah suatu kesadaran bagi masyarakat Indonesia yang bersifat terbuka. demokrasi itu hendaknya mengandung ciri kerakyatan (daulat rakyat) dan pemusyawaratan (kekeluargaan). Sila keempat Pancasila. Demokrasi elitis adalah suatu konsep yang disodorkan oleh Joseph Schumpeter sehingga dikenal pula sebagai Demokrasi Schumpeterian. Demokrasi adalah persaingan antar elite. adil. serta sifat pengambilan keputusan yang terbuka. Dengan semangat persatuan-kekeluargaan itulah. dan makmur. dan dibangun berlandaskan akal-kearifan. Membumikan Demokrasi Permusyawaratan dalam Kerangka Pancasila Dalam ungkapan Soekarno. dan dengan semangat itu pula demokrasi diarahkan untuk mencapai masyarakat yang merdeka. Demokrasi musyawarah yang baik adalah demokrasi yang mendengarkan aspirasi masyarakat dengan cara votting. kekeluargaan . . Dalam pokok pikiran ketiga dari Pembukaan UUD 1945.

Demokrasi Indonesia menganut konsepsi Jean Bodin . pengetahuan. namun di Indonesia mengenal check and balances. Demokrasi di Pancasila dilandasi oleh nilai-nilai teosentris yang mengangkat kehidupan politik dari tingkat sekuler ke tingkat moral spiritual dan nilai aposentris yang memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. Karen itu di perlukan / ditanamkan suatu sikap “Kebijkasaan” terhadap masyarakat Indonesia secara dini. yang memahami hak dan kewajibannya. sebagaimana dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 bahwa susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat itu hendaknya didasarkan pada nilainilai ketuhanan. serta bertanggung jawab dalam menjalankan partisipasi politik. maka yang terjadi adalah suatu kebohongan pada aspirasi masyarakat Karena banyak kemungkinan terjadi penyelewengan dan badan MPR/DPR yang hanya melakukan hal “Gaji Buta” yaitu bekerja tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat serta menghilangkan kepercayaan masyarakt terhadap DPR/MPR tersebut sehingga demokrasi yang dijunjung tinggi hanya menjadi suatu kebohongan belaka. yang menghargai perbedaan berlandaskan semangat kesetaraan dan persaudaraan. social. persatuan. Tetapi. rakyat juga dituntut untuk menjadi warga Negara yang bijaksana. perikemanusiaan. permusyawaratan. dengan mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. demokrasi Indonesia mengembangkan sistem pemerintahan yang member peran penting pada Negara dalam mengembangkan kesejahteraan rakyat.Selain kedua cirri tersebut. bila organisasi tersebut tidak memiliki nilai moral yang baik dan diakui. dan keadilanperdamaian. demokrasi Indonesia juga mengandung cirri “hikmat kebijaksanaan”. Dengan dimuliakannya aspirasi rakyat dalam proses demokrasi politik di lembaga perwakilan. dan keadilan. kesejahteraan. dengan mengakui adanya MPR sebagai oragnisasi dari ekspresi keadulaatan rakyat tertinggi sebagai ekspresi dari demokrasi yang bersifat bersemangat keadilan . Basis legitimasi Negara-pengurus (Negara kesejahteraan ala Indonesia) ini bersumber pada empat jenis tanggung jawab yaitu perlindungan. Dalam Demokrasi di Indonesia tidak mengenal trias politica. dan ekonominya demi kelangsungan Pancasila dan Negara Indonesia yang sejahtera ini. hikmat kebijaksanaan merefleksikan orientasi etis dan nilai moral. .

Semua hal tersebut dilandaskan oleh sila keempat Pancasila.1 Kesimpulan Dalam praktiknya permusyawaratan sulit menghindari kecenderungan elitisme. Sebagai Negara demokrasi Indonesia menjunjung kebebasan atas mengemukakan pendapat. Tentu saja dalam kehidupan bernegara yang jauh lebih luas dari contoh kecil yang di atas musyawarah tidak mudah diterapkan. . 2 Relevansi Sebagai warga negara dan warga masyarakat.BAB 4 PENUTUP 4. Sulit mengharapkan setiap warganegara memiliki kepedulian politik yang sama dan setara. Mendorong warganegara untuk selalu memiliki kesadaran politik yang tinggi dan selalu memperkaya diri dengan pengetahuan tentang perkembangan masyarakatnya. hak dan kewajiban yang sama. setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan. Kehadiran sila keempat sampai jaman modern ini tetap saja diperlukan bahkan dari hal sepele seperti menentukan makan bersama pun kita tetap menggunakan musyawarah. Sering timbul rasa ingin melakukan „oposisi‟ namun agar bangsa ini tetap utuh diperlukan penerapan yang baik dan harmonis pada sila keempat. Mendorong warganegara untuk selalu memikirkan kepentingan bersama. Tak dapat dipungkiri bahkan kemerdekaan 66 tahun silam tak lepas dari peran musyawarah dari pejuang bangsa. Memerlukan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan sarana komunikasi yang modern 4. Sampai saat ini gagasan tersebut tentu saja masih relevan dan mempunyai kedudukan yang tinggi di masyarakat Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful