MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Hermanus J. Lalenoh1, Emilzon Taslim2
Latar Belakang

MORTALITAS DAN MORBIDITASI

Seorang ibu meninggal disebabkan oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas setiap menit. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu diperkirakan sebanyak 500.000 kematian setiap tahun, 99% diantaranya terjadi di negara berkembang.1 Mortalitas matermal serta angka morbiditas pada kasus-kasus obstetric masih jarang dilaporkan. Sekalipun masih masih dalam tahap penilaian kembali, pemantauan angka mortalitas dan morbiditas tersebut masih harus terus dikembangkan untuk mengurangi angka kejadiannya yang cukup bermakna. Perubahan demografik dari populasi obstetrik seharusnya memungkinkan pemantauan yang berkelanjutan guna mengendalikan peningkatan angka mortalitas dan morbiditas yang cukup bermakna.1-6 Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Kecenderungan yang ada, AKI terus menurun, namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). Sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Namun, berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau (MDGs), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran pada tahun 2015.2 Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tidak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh.4,5 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti ) dan/atau komplikasi. Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.2 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah,

terus ditingkatkan. termasuk keluarga berencana. Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Dari semua target MDGs. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium (tujuan ke-5) yaitu meningkatkan kesehatan ibu.2 Hasil survei yang dilakukan. AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu. target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ risiko jumlah kematian ibu. fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan makin dekat dan mudah terjangkau oleh masyarakat. tantangan dalam menurunkan dan kebijakan yang dibuat pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia dalam rangka mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta berbagai gabungan kepustakaan lain yang menunjang. dan kualitas Puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.2 . namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus-menerus.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.MORTALITAS DAN MORBIDITASIjaringan. penyebab.000 kelahiran hidup. Demikian pula cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi. Angka kematian ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100. Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.3 Di sini akan dibahas mengenai tinggginya angka kematian ibu. kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. Dengan kebijakan ini.

Proporsi wanita 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan atau memakai alat keluarga berencana (%).000 kelahiran hidup. 2010. Proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan (%). b. c. Indikator Angka Kematian Ibu Indikator penilaian untuk penurunan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu tahun 1990 sampai 2015 ialah sebagai berikut: a. Angka kematian ibu melahirkan (AKI) per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003 bila dibandingkan dengan angka tahun 1994 .3 Keadaan dan Kecenderungan AKI Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 307 per 100. Kecenderungan nasional dan proyeksi Angka Kematian Ibu (1991-2025) Sumber: BAPPENAS.MORTALITAS DAN MORBIDITASI Gambar .

sedangkan target MDG pada tahun 2015 tersebut adalah 102. Pada tahun 1995. Tingkat sosial ekonomi.000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. Sementara pada tahun 2002 terdapat 17.7% pada tahun 2002 menjadi 77. 2010).3 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti) dan/atau komplikasi. Tetapi akibat komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.2. misalnya. Selain itu disparitas kematian ibu antarwilayah (provinsi) di Indonesia masih tinggi. Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih. dan tidak meratanya distribusi tenaga terlatih terutama bidan juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian ibu. persiapan persalinan. transportasi. tingkat pendidikan. tuberkulosis (TB).3%) tempat Persalinan: 60% di rumah . Pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 72. kekurangan energi kronik (KEK). serta HIV/AIDS. pencapaian target MDGs untuk AKI akan sulit dicapai.000 kelahiran hidup.6 % wanita usia subur yang menderita KEK.3 Pencapaian target MDGs akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. hepatitis. imunisasi. Persalinan ini sangat memengaruhi angka kematian Ibu dan bayi sekaligus. masih terdapat 20.3 Penyebab Kematian Ibu a. ketersediaan darah persalinan oleh tenaga kesehatan (72.3% pada tahun 2010 (Data Sementara Riskesdas. Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih meningkat dari 66. Dengan kondisi ini.41 persen pada tahun 2006 (Susenas). pencegahan unwanted pregnancy. akses terhadap sarana kesehatan.3 Risiko kematian ibu semakin besar dengan adanya anemia. BPS memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 kematian ibu melahirkan per 100. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65. jauh lebih tinggi dibandingkan dengan risiko 1 dari 1.100 di Thailand. informasi tanda bahaya. Faktor Penyebab Langsung Kematian Ibu • • • pelayanan antenatal: pemeriksaan kehamilan. dan penyakit menular seperti malaria.34% pada tahun 2009 (Susenas). Angka tersebut terus meningkat menjadi 82. prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 51% dan pada ibu nifas 45 %.MORTALITAS DAN MORBIDITASIyang mencapai 390 kematian per 100. faktor budaya.

menangani 31. dan pendekatan dalam pendidikan kesehatan reproduksi4.5%MORTALITAS DAN MORBIDITASI persalinan. o kawin muda. Faktor Dasar • keterbatasan pengetahuan o pengetahuan dan budaya kesehatan reproduksi o pendidikan kesehatan reproduksi o pendidik. Penyebab Tidak Langsung • Perlindungan dan perilaku dalam keluarga: o kekerasan & beban ganda. HIV/AIDS4. Faktor Yang Memperburuk • • • • anemia gizi besi: 40. metode. yodium.7% kekurangan zat gizi mikro: Vit A.• • dukun: 2 x lipat jumlah bidan.5 • Pemenuhan hak reproduksi: o kesertaan KB.5 b. o aborsi & perawatan persalinan.4.5 c.5 • Status Perempuan o taraf pendidikan perempuan o status sosial ekonomi perempuan . o peran kesetaraan pria • Akses dan penggunaan pelayanan kesehatan4.5 d. o akses dan kualitas pelayanan KB. dll malaria dan TBC. pelayanan obstetri emergency: ketersediaan Puskesmas PONEK dan RS PONED belum mencukupi. o pandangan budaya4.1% ibu hamil wanita usia subur yang kekurangan energi kronik: 19. o perilaku konsumsi.

terpencil. kadang-kadang kekurangan peralatan kesehatan. hambatan transportasi. Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil. . perbatasan dan kepulauan (DTPK).5 Tantangan dalam menurunkan AKI a. posyandu dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk. obat-obatan. dan persediaan darah yang diperlukan untuk menangani keadaan darurat persalinan. Persentase perempuan usia subur (15-45 tahun) yang mengalami kurang energi kronis masih cukup tinggi yaitu mencapai 13. Petugas kesehatan di DTPK sering kali tidak memperoleh pelatihan yang memadai.6 persen (Riskesdas 2007).3 b.2 c. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu. Sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan optimal. pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED). Beberapa indikator sosial ekonomi seperti tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta determinan faktor lainnya dapat memengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan serta berkontribusi pada angka kematian ibu di Indonesia. Ditambah lagi dengan kendala geografis.3 d. dan faktor budaya.5 2. terutama bidan. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah.MORTALITAS DAN MORBIDITASI • Kelembagaan o MORTALITAS DAN MORBIDITASI pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga4.2. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas. kualitas dan persebarannya. terutama bagi penduduk miskin di daerah tertinggal. Penyediaan fasilitas pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK).5 o kelembagaan KB dan pemberdayaan perempuan o Posyandu o institusi pendidikan dan keagamaan4.2.

karena sistem pencatatan penyebab kematian ibu masih belum adekuat. d. tingginya angka aborsi. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Untuk mendapatkan angka kematian ibu yang akurat dan penyebab kematian yang tepat dengan model statistik vital lengkap.3 f. rumah sakit sayang ibu dan bayi serta revitalisasi posyandu. Sejak tahun 1994. untuk mengatasi masalah tiga terlambat dan menyelamatkan nyawa ibu ketika terjadi komplikasi melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya. Memperkuat sistem rujukan. PONED. Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi dan tingginya unmet need. dan rendahnya angka pemakaian kontrasepsi. AKI diperoleh dari perkiraan usia spesifik yang bersifat langsung terkait kematian ibu yang didapat dari laporan dari saudara kandung ibu yang masih hidup (SDKI). Tingginya angka kemtian ibu melahirkan dipengaruhi oleh usia ibu (terlalu tua.6 Kebijakan Pemerintah dalam Menurunkan AKI Kebijakan yang akan dilaksanakan meliputi:2. Meningkatkan akses layanan keluarga berencana melalui pengembangan jaringan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu termasuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan KB berkualitas dengan perha an khusus pada daerah miskin dan tertinggal. selain meningkatkan risikoMORTALITAS DAN MORBIDITASI kesehatan bagi ibu hamil juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). terlalu muda).Rendahnya status gizi.3 e. (dapat dilakukan melalui registrasi kematian ataupun sensus penduduk) perlu segera diterapkan. termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun bayi serta memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat antara lain melalui posyandu dan poskesdes. e. 2. dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Pengukuran AKI masih belum tepat. Memperkuat fungsi bidan desa. . c.3 2.3 a. PONEK2. Memperkuat dukungan finansial melalui: PKH (Program Keluarga Harapan). 2. Meningkatkan pelayanan outreach berbasis fasilitas dengan meningkatkan kualitas dan jumlah puskesmas. 2. b.

kemitraan lintas program dan lintas guna menjamin terjadinya sinergi dalam pelaksanaan program. periode postnatal dan masa kanakkanak. dilakukan pendataan mortalitas maternal di Inggris dan telah dipublikasikan. k.MORTALITAS DAN MORBIDITASI f. dan penerapan skema tenaga kesehatan kontrak. Pada pertengahan abad. melalui pre-service dan in-services training bagi tenaga kesehatan strategis. (ii) fokus pada kelompok dan daerah yang memiliki risiko kematian ibu terbesar. tenaga paramedis). dari sini diperoleh informasi terbaik mengenai insidens dan penyebab . m. l. Menciptakan lingkungan kondusif yang mendukung manajemen dan partisipasi stakeholder dalam pengembangan kebijakan dan proses perencanaan serta mendorong kemitraan lintas program. dengan: (i) memperkenalkan metode-metode analisis untuk mengukur kematian ibu dengan memanfaatkan berbagai sumber data yang memiliki kualitas berbeda. spesialis. Meningkatkan upaya pencapaian indikator-indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang kesehatan dalam rangka menjamin pencapaian tujuan pembangunan kesehatan di tingkat pusat dan daerah (kabupaten/kota). baik jumlah. Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan. j. dan (iii) menyusun berbagai model untuk mengidentifikasi strategi-strategi safe motherhood yang efektif. evaluasi. Memperbaiki status gizi ibu hamil dengan menjamin kecukupan asupan gizi. terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil. lintas sektor. i. h. Morbiditas dan Mortalitas Maternal Informasi mengenai mortalitas maternal berasal dari beberapa sumber. Memperkuat sistem informasi. Meningkatkan pelayanan continuum of care yang mencakup penyediaan layanan terpadu bagi ibu dan bayi dari kehamilan hingga persalinan. perbatasan dan kepulauan. Disamping itu. serta pembiayaan. monitoring. kualitas dan persebarannya (dokter umum. g. dengan penekanan intensitas sasaran pada daerah tertinggal dan miskin. Memperkuat koordinasi dengan memperjelas peran dan tanggung jawab fungsi pusat dan daerah dalam rangka memperkuat survailans. bidan. swasta dan masyarakat guna menerapkan sinergi dalam advokasi dan penyediaan layanan. Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan keselamatan ibu ditingkat masyarakat dan rumah tangga.

terdapat enam kasus kematian yang berkaitan dengan anestesi. namun tidak ada yang berhubungan dengan gangguan kendali jalan nafas pada saat induksi. Hal tersebut memberikan informasi yang bermakna namun bukan sebagaimana registrasi di Amerika.000 wanita yang meninggal karena aspirasi pada periode dan fase melahirkan. ditemukan tiga kematian yang berkaitan dengan kegagalan jalan nafas pada pasien morbid obes periode postpartum. Sekalipun hal ini hanya menggambarkan sejumlah trauma maternal (seperti yang menghasilkan masalah-masalah hukum). Sama halnya pada tahun 1980. Pada akhirnya. dan . Dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 1950.6 Menurut laporan dari CEMACH dan Michigan. juga berkaitan dengan perbaikan tersebut.kejadian tragis tersebut. dan perbaikan algoritma jalan nafas emergensi. sekitar 1/42. termasuk pertolongan menggunakan laryngeal airway mask. kegagalan intubasi endotrakeal merupakan penyebab tersering dari mortalitas maternal yang berkaitan anestesi. terdapat delapan kematian yang berkaitan dengan kematian maternal namun tidak ada yang disebabkan oleh gangguan jalan nafas selama induksi. kesadaran dari peningkatan risiko kesulitan intubasi dalam obstetrik. The American Society of Anesthesiologists Closed Claims Project secara periodic melakukan review penyebab berbagai kasus malpraktrik. dua kasus di antaranya sesudah anestesi umum. yang meliputi tahun 2003-2005. Namun pada sebagian besar laporan CEMACH. perlu ekstra hati-hati dalam melakukan penatalaksanaan jalan nafas sesudah recovery dari anestesi. karena pencatatan masih dimandatkanMORTALITAS DAN MORBIDITASI pada tingkat nasional. Peningkatan penggunaan regional anestesi. hanya 2 kasus aspirasi yang terlihat pada pencatatan ASA Closed-Claims.6 Laporan dari Confidential Enquiries into Maternal Deaths (CEMD) sekarang disebut dengan Confidential Enquiry into Maternal and Child Health (CEMACH) sebagaimana diaudit oleh badan Inggris menunjukkan pola perbaikan pada keseluruhan mortalitas obstetrik dan mortalitas yang berhubugan dengan obstetrik anesthesia. sekalipun. pola cedera dan kematian masih dapat diperoleh. Pada laporan CEMACH. Peningkatan risiko mortalitas maternal akibat anestesi adalah 16 kali lebih tinggi pada anestesi umum dibanding anestesi regional dalam penelitian yang dilakukan di Amerika. dilaporkan tiga hal yang berdasarkan review data kematian dan beberapa yang berhubungan dengan pencatatan medis yang terlihat. Di Amerika Serikat. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian mortalitas maternal di Michigan di Amerika dari tahun 1985-2003.

Fraksi yang lebih kecil berhubungan dengan masalah jalan nafas dan aspirasi. kurangnya komunikasi antara tim obstetrik dan anestesiolog serta keterlambatan penatalaksanaan anestesi dihubungkan dengan cedera pada perawatan anesthesia. serta tromboembolik yang secara umum mulai meningkat. kerusakan otak maternal. lebih sedikitnya fasilitas perawatan yang di bawah standar.5 miliar kelahiran dari tahun 2000-2006 menunjukkan bahwa penyebab tersering adalah sama dari tahun ke tahun.6 Secara keseluruhan kasus mortalitas maternal (kecuali kasus yang berkaitan dengan anestesi) terlihat bahwa penyebab tersering adalah komplikasi dari preeclampsia yang mulai menurun pada periode dua decade terakhir. ASA Closed Claims melaporkan dua kali dalam dua decade terakhir untuk penyebab yang berkaitan dengan kasus obstetrik. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu perhatian khusus pada jalan nafas untuk kasus-kasus obstetrik yang harus diteruskan sampai periode postoperatif.6 .MORTALITAS DAN MORBIDITASIsatu sesudah anestesi spinal. dan bila memang perlu. Pada penelitian Michigan. angka morbiditas maternal yang cukup serius juga harus diperhatikan. dan lebih berkaitan dengan cedera saraf. karena lebih banyak etioloi obstetrik mayor tersebut. disebutkan bahwa kematian paling sering ditemukan pada operasi bedah sesar dibanding partus per vaginam. Laporan terkhir menunjukkan perkembangan terbesar dibanding yang dilaporkan sebelum dan sesudah 1990. Pembayaran tertinggi dibuat pada kasus kematian maternal. Pada kasus cedera otak neonatal. yaitu: preeclampsia> emboli cairan ketuban> perdarahan> penyakit jantung> tromboembolik. Kematian akibat perdarahan dan emboli cairan ketuban tetap memiliki angka kejadian yang sama. dan lebih sedikitnya pembayaran. lima kematian menunjukkan bahwa kehilangan jalan nafas periode postoperative. Kematian yang berkaitan dengan penyebab anestesi adalah sangat jarang. harus ditambahkan dengan monitoring khusus. Pada kedua sumber yang meneliti. lebih berkaitan dengan regional dibanding anestesi umum. Penelitian di Amerika pada sekitar 1. dan kerusakan otak neonatal.6 Selain mortalitas.

AKI terus menurun. meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. jaringan. Berdasarkan data dari departemen kesehatan rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian. dan kualitas puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Untuk mencapai sasaran tersebut. namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah.6 . Perlu perhatian yang lebih pada populasi obstetrik serta perawatan obstetrik untuk meneruskan pengembangan teknik penatalaksanaan perioperatif yang lebih aman.6 Penatalaksanaan anestesi hanya sedikit kontribusinya pada mortalitas maternal dan anestesiolog mengalami kemajuan dalam hal mengurangi angka mortalitas maternal dan morbiditas mayor yang disebabkan oleh perawatan anestesi.6 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009.MORTALITAS DAN MORBIDITASI Kesimpulan Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Kecenderungan yang ada.

5th ed. Segal S (Eds). Obstetric Anesthesia Handbook. / Badan Perencanaan Tujuan (BAPPENAS). Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. Maternal Mortality and Morbidity. Jakarta: Depkes RI. 2. 2010: 399-4 . Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kodali BS. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).int/mediacentre pada 05 Desember 2012. 2012. Angka Kematian Ibu Melahirkan. Depkes RI. Jakarta: Bappenas. Datta S. 2007.who. LLC.MORTALITAS DAN MORBIDITASI DAFTAR PUSTAKA 1. Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional Pembangunan Nasional 2010. Springer Science+Busines Media. Datta S. 2010. Laporan Pencapaian Millenium Development Goals 2007. 2010. Millennium Development Goals (MDGs). Rancang Bangun Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu untuk Mencapai Sasaran Millenium Development Goals. WHO. Download from http://www. Laporan Pencapaian Pembangunan Milenium Indonesia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. et al.