P. 1
a

a

|Views: 5|Likes:
a
a

More info:

Published by: Miftahul Khairat Musmar Elbama on Mar 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/20/2014

pdf

text

original

MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Hermanus J. Lalenoh1, Emilzon Taslim2
Latar Belakang

MORTALITAS DAN MORBIDITASI

Seorang ibu meninggal disebabkan oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas setiap menit. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu diperkirakan sebanyak 500.000 kematian setiap tahun, 99% diantaranya terjadi di negara berkembang.1 Mortalitas matermal serta angka morbiditas pada kasus-kasus obstetric masih jarang dilaporkan. Sekalipun masih masih dalam tahap penilaian kembali, pemantauan angka mortalitas dan morbiditas tersebut masih harus terus dikembangkan untuk mengurangi angka kejadiannya yang cukup bermakna. Perubahan demografik dari populasi obstetrik seharusnya memungkinkan pemantauan yang berkelanjutan guna mengendalikan peningkatan angka mortalitas dan morbiditas yang cukup bermakna.1-6 Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Kecenderungan yang ada, AKI terus menurun, namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). Sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Namun, berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau (MDGs), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran pada tahun 2015.2 Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tidak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh.4,5 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti ) dan/atau komplikasi. Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.2 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah,

MORTALITAS DAN MORBIDITASIjaringan. Dengan kebijakan ini.2 Hasil survei yang dilakukan.000 kelahiran hidup. termasuk keluarga berencana. namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus-menerus. AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu. Demikian pula cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi. terus ditingkatkan.2 . kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. penyebab. tantangan dalam menurunkan dan kebijakan yang dibuat pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia dalam rangka mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta berbagai gabungan kepustakaan lain yang menunjang. Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium (tujuan ke-5) yaitu meningkatkan kesehatan ibu. dan kualitas Puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Dari semua target MDGs. target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ risiko jumlah kematian ibu. fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan makin dekat dan mudah terjangkau oleh masyarakat. Angka kematian ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.3 Di sini akan dibahas mengenai tinggginya angka kematian ibu.

b. 2010. Angka kematian ibu melahirkan (AKI) per 100.000 kelahiran hidup. Proporsi wanita 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan atau memakai alat keluarga berencana (%). Proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan (%).000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003 bila dibandingkan dengan angka tahun 1994 .3 Keadaan dan Kecenderungan AKI Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 307 per 100. Kecenderungan nasional dan proyeksi Angka Kematian Ibu (1991-2025) Sumber: BAPPENAS.MORTALITAS DAN MORBIDITASI Gambar . Indikator Angka Kematian Ibu Indikator penilaian untuk penurunan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu tahun 1990 sampai 2015 ialah sebagai berikut: a. c.

34% pada tahun 2009 (Susenas).3% pada tahun 2010 (Data Sementara Riskesdas.3 Pencapaian target MDGs akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya.41 persen pada tahun 2006 (Susenas). jauh lebih tinggi dibandingkan dengan risiko 1 dari 1.100 di Thailand. imunisasi. faktor budaya. prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 51% dan pada ibu nifas 45 %. transportasi. hepatitis. Dengan kondisi ini. 2010). Faktor Penyebab Langsung Kematian Ibu • • • pelayanan antenatal: pemeriksaan kehamilan. misalnya. Sementara pada tahun 2002 terdapat 17. masih terdapat 20. Tetapi akibat komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani.2.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. serta HIV/AIDS. Pada tahun 1995. ketersediaan darah persalinan oleh tenaga kesehatan (72.000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. akses terhadap sarana kesehatan. informasi tanda bahaya. tingkat pendidikan.MORTALITAS DAN MORBIDITASIyang mencapai 390 kematian per 100.3 Risiko kematian ibu semakin besar dengan adanya anemia. pencegahan unwanted pregnancy. Tingkat sosial ekonomi. Angka tersebut terus meningkat menjadi 82.3 Penyebab Kematian Ibu a. Persalinan ini sangat memengaruhi angka kematian Ibu dan bayi sekaligus.7% pada tahun 2002 menjadi 77. pencapaian target MDGs untuk AKI akan sulit dicapai. Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih meningkat dari 66. dan penyakit menular seperti malaria. sedangkan target MDG pada tahun 2015 tersebut adalah 102. dan tidak meratanya distribusi tenaga terlatih terutama bidan juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian ibu. Pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 72. persiapan persalinan. tuberkulosis (TB).000 kelahiran hidup. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65. kekurangan energi kronik (KEK).6 % wanita usia subur yang menderita KEK. Selain itu disparitas kematian ibu antarwilayah (provinsi) di Indonesia masih tinggi.3%) tempat Persalinan: 60% di rumah . Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih. BPS memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 kematian ibu melahirkan per 100.3 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti) dan/atau komplikasi.

o peran kesetaraan pria • Akses dan penggunaan pelayanan kesehatan4.• • dukun: 2 x lipat jumlah bidan.5 • Status Perempuan o taraf pendidikan perempuan o status sosial ekonomi perempuan .5 b. o perilaku konsumsi. pelayanan obstetri emergency: ketersediaan Puskesmas PONEK dan RS PONED belum mencukupi. HIV/AIDS4. menangani 31. o kawin muda. o akses dan kualitas pelayanan KB. Penyebab Tidak Langsung • Perlindungan dan perilaku dalam keluarga: o kekerasan & beban ganda. Faktor Yang Memperburuk • • • • anemia gizi besi: 40.5%MORTALITAS DAN MORBIDITASI persalinan. Faktor Dasar • keterbatasan pengetahuan o pengetahuan dan budaya kesehatan reproduksi o pendidikan kesehatan reproduksi o pendidik. dll malaria dan TBC.5 d. dan pendekatan dalam pendidikan kesehatan reproduksi4.5 • Pemenuhan hak reproduksi: o kesertaan KB. yodium.4. metode. o pandangan budaya4. o aborsi & perawatan persalinan.7% kekurangan zat gizi mikro: Vit A.1% ibu hamil wanita usia subur yang kekurangan energi kronik: 19.5 c.

dan faktor budaya.5 2.3 b. pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED). Persentase perempuan usia subur (15-45 tahun) yang mengalami kurang energi kronis masih cukup tinggi yaitu mencapai 13. kadang-kadang kekurangan peralatan kesehatan. perbatasan dan kepulauan (DTPK).3 d. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas. Petugas kesehatan di DTPK sering kali tidak memperoleh pelatihan yang memadai. Penyediaan fasilitas pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK). Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu.5 o kelembagaan KB dan pemberdayaan perempuan o Posyandu o institusi pendidikan dan keagamaan4.2. terutama bidan.2 c. terutama bagi penduduk miskin di daerah tertinggal. kualitas dan persebarannya. terpencil. Ditambah lagi dengan kendala geografis.2.6 persen (Riskesdas 2007). posyandu dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk.5 Tantangan dalam menurunkan AKI a. hambatan transportasi. dan persediaan darah yang diperlukan untuk menangani keadaan darurat persalinan.MORTALITAS DAN MORBIDITASI • Kelembagaan o MORTALITAS DAN MORBIDITASI pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga4. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah. Beberapa indikator sosial ekonomi seperti tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta determinan faktor lainnya dapat memengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan serta berkontribusi pada angka kematian ibu di Indonesia. . Sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan optimal. obat-obatan.

dan rendahnya angka pemakaian kontrasepsi. 2. d.3 f. termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun bayi serta memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat antara lain melalui posyandu dan poskesdes. Meningkatkan akses layanan keluarga berencana melalui pengembangan jaringan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu termasuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan KB berkualitas dengan perha an khusus pada daerah miskin dan tertinggal. e. 2. PONEK2. selain meningkatkan risikoMORTALITAS DAN MORBIDITASI kesehatan bagi ibu hamil juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). karena sistem pencatatan penyebab kematian ibu masih belum adekuat. Memperkuat dukungan finansial melalui: PKH (Program Keluarga Harapan). c. Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi dan tingginya unmet need. Memperkuat sistem rujukan. dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). tingginya angka aborsi. Meningkatkan pelayanan outreach berbasis fasilitas dengan meningkatkan kualitas dan jumlah puskesmas.Rendahnya status gizi. (dapat dilakukan melalui registrasi kematian ataupun sensus penduduk) perlu segera diterapkan. untuk mengatasi masalah tiga terlambat dan menyelamatkan nyawa ibu ketika terjadi komplikasi melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya.6 Kebijakan Pemerintah dalam Menurunkan AKI Kebijakan yang akan dilaksanakan meliputi:2. b. terlalu muda). Untuk mendapatkan angka kematian ibu yang akurat dan penyebab kematian yang tepat dengan model statistik vital lengkap. Sejak tahun 1994. . 2. rumah sakit sayang ibu dan bayi serta revitalisasi posyandu.3 e. AKI diperoleh dari perkiraan usia spesifik yang bersifat langsung terkait kematian ibu yang didapat dari laporan dari saudara kandung ibu yang masih hidup (SDKI). Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). PONED. Pengukuran AKI masih belum tepat.3 a. Tingginya angka kemtian ibu melahirkan dipengaruhi oleh usia ibu (terlalu tua. Memperkuat fungsi bidan desa.3 2.

Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan. lintas sektor. Memperkuat sistem informasi. terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil. spesialis. dari sini diperoleh informasi terbaik mengenai insidens dan penyebab . monitoring. tenaga paramedis). bidan. (ii) fokus pada kelompok dan daerah yang memiliki risiko kematian ibu terbesar. dengan: (i) memperkenalkan metode-metode analisis untuk mengukur kematian ibu dengan memanfaatkan berbagai sumber data yang memiliki kualitas berbeda. Disamping itu. Meningkatkan upaya pencapaian indikator-indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang kesehatan dalam rangka menjamin pencapaian tujuan pembangunan kesehatan di tingkat pusat dan daerah (kabupaten/kota). dan (iii) menyusun berbagai model untuk mengidentifikasi strategi-strategi safe motherhood yang efektif. evaluasi. baik jumlah. serta pembiayaan. Morbiditas dan Mortalitas Maternal Informasi mengenai mortalitas maternal berasal dari beberapa sumber. swasta dan masyarakat guna menerapkan sinergi dalam advokasi dan penyediaan layanan. Meningkatkan pelayanan continuum of care yang mencakup penyediaan layanan terpadu bagi ibu dan bayi dari kehamilan hingga persalinan. kemitraan lintas program dan lintas guna menjamin terjadinya sinergi dalam pelaksanaan program. dan penerapan skema tenaga kesehatan kontrak.MORTALITAS DAN MORBIDITASI f. perbatasan dan kepulauan. Menciptakan lingkungan kondusif yang mendukung manajemen dan partisipasi stakeholder dalam pengembangan kebijakan dan proses perencanaan serta mendorong kemitraan lintas program. g. m. l. dengan penekanan intensitas sasaran pada daerah tertinggal dan miskin. Memperkuat koordinasi dengan memperjelas peran dan tanggung jawab fungsi pusat dan daerah dalam rangka memperkuat survailans. i. Memperbaiki status gizi ibu hamil dengan menjamin kecukupan asupan gizi. j. Pada pertengahan abad. dilakukan pendataan mortalitas maternal di Inggris dan telah dipublikasikan. periode postnatal dan masa kanakkanak. k. melalui pre-service dan in-services training bagi tenaga kesehatan strategis. Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan keselamatan ibu ditingkat masyarakat dan rumah tangga. h. kualitas dan persebarannya (dokter umum.

kegagalan intubasi endotrakeal merupakan penyebab tersering dari mortalitas maternal yang berkaitan anestesi. perlu ekstra hati-hati dalam melakukan penatalaksanaan jalan nafas sesudah recovery dari anestesi. kesadaran dari peningkatan risiko kesulitan intubasi dalam obstetrik.000 wanita yang meninggal karena aspirasi pada periode dan fase melahirkan. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian mortalitas maternal di Michigan di Amerika dari tahun 1985-2003. Pada akhirnya. The American Society of Anesthesiologists Closed Claims Project secara periodic melakukan review penyebab berbagai kasus malpraktrik. ditemukan tiga kematian yang berkaitan dengan kegagalan jalan nafas pada pasien morbid obes periode postpartum. dua kasus di antaranya sesudah anestesi umum. Pada tahun 1950. sekalipun. terdapat enam kasus kematian yang berkaitan dengan anestesi. hanya 2 kasus aspirasi yang terlihat pada pencatatan ASA Closed-Claims. Sekalipun hal ini hanya menggambarkan sejumlah trauma maternal (seperti yang menghasilkan masalah-masalah hukum). Peningkatan risiko mortalitas maternal akibat anestesi adalah 16 kali lebih tinggi pada anestesi umum dibanding anestesi regional dalam penelitian yang dilakukan di Amerika. yang meliputi tahun 2003-2005. karena pencatatan masih dimandatkanMORTALITAS DAN MORBIDITASI pada tingkat nasional. dan perbaikan algoritma jalan nafas emergensi. dan . juga berkaitan dengan perbaikan tersebut. namun tidak ada yang berhubungan dengan gangguan kendali jalan nafas pada saat induksi. Sama halnya pada tahun 1980. pola cedera dan kematian masih dapat diperoleh.kejadian tragis tersebut.6 Laporan dari Confidential Enquiries into Maternal Deaths (CEMD) sekarang disebut dengan Confidential Enquiry into Maternal and Child Health (CEMACH) sebagaimana diaudit oleh badan Inggris menunjukkan pola perbaikan pada keseluruhan mortalitas obstetrik dan mortalitas yang berhubugan dengan obstetrik anesthesia. Di Amerika Serikat.6 Menurut laporan dari CEMACH dan Michigan. Peningkatan penggunaan regional anestesi. Hal tersebut memberikan informasi yang bermakna namun bukan sebagaimana registrasi di Amerika. sekitar 1/42. Pada laporan CEMACH. termasuk pertolongan menggunakan laryngeal airway mask. Dalam 20 tahun terakhir. dilaporkan tiga hal yang berdasarkan review data kematian dan beberapa yang berhubungan dengan pencatatan medis yang terlihat. terdapat delapan kematian yang berkaitan dengan kematian maternal namun tidak ada yang disebabkan oleh gangguan jalan nafas selama induksi. Namun pada sebagian besar laporan CEMACH.

lima kematian menunjukkan bahwa kehilangan jalan nafas periode postoperative. yaitu: preeclampsia> emboli cairan ketuban> perdarahan> penyakit jantung> tromboembolik. lebih sedikitnya fasilitas perawatan yang di bawah standar. angka morbiditas maternal yang cukup serius juga harus diperhatikan. ASA Closed Claims melaporkan dua kali dalam dua decade terakhir untuk penyebab yang berkaitan dengan kasus obstetrik.MORTALITAS DAN MORBIDITASIsatu sesudah anestesi spinal. dan lebih sedikitnya pembayaran. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu perhatian khusus pada jalan nafas untuk kasus-kasus obstetrik yang harus diteruskan sampai periode postoperatif. dan bila memang perlu. dan lebih berkaitan dengan cedera saraf.6 Secara keseluruhan kasus mortalitas maternal (kecuali kasus yang berkaitan dengan anestesi) terlihat bahwa penyebab tersering adalah komplikasi dari preeclampsia yang mulai menurun pada periode dua decade terakhir. serta tromboembolik yang secara umum mulai meningkat. harus ditambahkan dengan monitoring khusus.6 Selain mortalitas. lebih berkaitan dengan regional dibanding anestesi umum. dan kerusakan otak neonatal. karena lebih banyak etioloi obstetrik mayor tersebut.5 miliar kelahiran dari tahun 2000-2006 menunjukkan bahwa penyebab tersering adalah sama dari tahun ke tahun. Kematian akibat perdarahan dan emboli cairan ketuban tetap memiliki angka kejadian yang sama. disebutkan bahwa kematian paling sering ditemukan pada operasi bedah sesar dibanding partus per vaginam. kurangnya komunikasi antara tim obstetrik dan anestesiolog serta keterlambatan penatalaksanaan anestesi dihubungkan dengan cedera pada perawatan anesthesia. Pembayaran tertinggi dibuat pada kasus kematian maternal. Pada penelitian Michigan. Penelitian di Amerika pada sekitar 1. Fraksi yang lebih kecil berhubungan dengan masalah jalan nafas dan aspirasi. Kematian yang berkaitan dengan penyebab anestesi adalah sangat jarang. Pada kasus cedera otak neonatal. kerusakan otak maternal.6 . Pada kedua sumber yang meneliti. Laporan terkhir menunjukkan perkembangan terbesar dibanding yang dilaporkan sebelum dan sesudah 1990.

namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah. Berdasarkan data dari departemen kesehatan rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian. meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini.6 Penatalaksanaan anestesi hanya sedikit kontribusinya pada mortalitas maternal dan anestesiolog mengalami kemajuan dalam hal mengurangi angka mortalitas maternal dan morbiditas mayor yang disebabkan oleh perawatan anestesi.6 . AKI terus menurun.6 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009. Untuk mencapai sasaran tersebut.MORTALITAS DAN MORBIDITASI Kesimpulan Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Kecenderungan yang ada. jaringan. Perlu perhatian yang lebih pada populasi obstetrik serta perawatan obstetrik untuk meneruskan pengembangan teknik penatalaksanaan perioperatif yang lebih aman. dan kualitas puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.

Laporan Pencapaian Millenium Development Goals 2007. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Springer Science+Busines Media. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.int/mediacentre pada 05 Desember 2012. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. Rancang Bangun Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu untuk Mencapai Sasaran Millenium Development Goals. Laporan Pencapaian Pembangunan Milenium Indonesia. Jakarta: Depkes RI. et al. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional Pembangunan Nasional 2010. Download from http://www. Maternal Mortality and Morbidity. Jakarta: Bappenas. WHO. Segal S (Eds). Obstetric Anesthesia Handbook.MORTALITAS DAN MORBIDITASI DAFTAR PUSTAKA 1. 2010: 399-4 . 5th ed. Datta S. Millennium Development Goals (MDGs).who. Depkes RI. / Badan Perencanaan Tujuan (BAPPENAS). 2012. Angka Kematian Ibu Melahirkan. 2010. LLC. Datta S. Kodali BS. 2010. 2. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->