P. 1
Definisi Naqli dan Aqli

Definisi Naqli dan Aqli

|Views: 1,449|Likes:
Published by winsan_1
Definisi ilmu Naqli dan ilmu Aqli
Definisi ilmu Naqli dan ilmu Aqli

More info:

Published by: winsan_1 on Mar 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2014

pdf

text

original

A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. dan apa yang dilarangnya bagimu. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. dst. Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. maka ambillah ia. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. diantaranya: 1. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi. 3. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. 2. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". turunnya. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut. diantaranya: 1. Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan. 2. baik dari segi asal-usulnya. Dengan penegasan al Quran di atas. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. yang diturunkan kepada Muhammad saw. Di dalam al-Quran hanya . Adapun secara istilah adalah kalam Allah. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. riwayatnya. puasa dan haji. ayat-ayatnya. Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. maka tinggalkanlah”[12]. kaedah jual beli. memahami.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt.

dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya.. 2. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. 3. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15]. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna. Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. Oleh karena itu. 2. ta-aqqul dan lainnya. ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). . 4. yakni bisa ada dan bisa hilang. 1. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18]. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19]. tafakkur.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. Masyhûr ataupun Mustafhîdh. sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. 3. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24].dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih.[13] b. 4. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir. anak kecil sampai bermimpi. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21].. Maka dalam hal ini. orang yang tidur sampai bangun. 5. (‫ :)انحكًت‬kebijakan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ". seperti: tadabbur. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23]. dan lainnya[25]. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20]. 1. Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17].

إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ .1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ . yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. a. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. ambisi atau kebencian dari emosi. malaikat-malaikat-Nya. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29]. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30].1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. dll[27]. Tafsir Ar-Razi. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul. Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi. 2. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. ilmu qiraah. Tafsir Al-Baidhawi. tidak dipengaruhi oleh keinginan. قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih.5.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah). hadits dan ilmu hadits. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a. b. Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir. ilmuilmu Al-Qur'an. kitab-kitab-Nya.

Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33]. seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas. Karena benturan tersebut. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah. seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang . maka tata surya mengalami goncangan yang kuat. c. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah".2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah. maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. a. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya.. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi. sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit. dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a. sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya. karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat. maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani. a.2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat."[35]. tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih).1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan.. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32].. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat".

Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan.datang dari berbagai arah. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli. karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid. maka kedua-duanya mesti bersatu. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. sebagaimana kesepakatan para ulama. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . Apabila kedua-duanya itu qath'i. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. dan ini tidaklah mungkin. maka tidak boleh ada pertentangan. maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38]. Sedangkan Muhammad Abduh. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. Ini merupakan kesepakatan para ulama. sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya. 3. baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut.

9. karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. 6. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. Naqli didahulukan atas 'aqli. tidak bersifat detail. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. ambisi atau kebencian dari emosi. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). dan jumhur memilih naqli. Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. tidak dipengaruhi oleh keinginan. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. 8. C. 3. sehingga muncul keteguhan. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. DAFTAR PUSTAKA . Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. tetapi saling menguatkan. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. 5.1. maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. tidak mudah goyah atau mendangkal. 4. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. 7. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. 2.

136. hal. 2006. Maktabah Al-Ma'aarif. 10. Usul Al-Ahkam.com. Al-Hasyr: 7. Al-Buraikan. 2004. 3. 17. II. [6] Manaa' Al-Qathaan.wikipedia/wiki. Al-Ahzāb: 36.Si. 1414 H. Beirut: Alam al-Kutub. [10] QS. 2006. hal. Ash-Shobuniy. Taimiyah. Al-Anfāl: 1. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. hal. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. Drs. Asrukin. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. 2000.. M. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. 1992.. 'Amman: Dar Al-Furqan. cet. M. Malik Bin.. cit. http//id. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Al-Jaamii.wikipedia/wiki/Al-Qur'an.id. jil. [8] Dr. Himam Abdurrahim Said. Al-Maktabah AsySyaamilah. Anas. Mochammad. Dr. 1414 H. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Almaktabah Asy-Syamilah. Jawas. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. Muhammad. [11] QS. [12] QS. Fatih Muhammad. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. Ali. Daarus Sunnah. Makalah. Tripoli: Dar Al-Fasifsa.. 16 Oktober 2011.Si. http//latifabdullah. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma. 5.files. 40. Makalah. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Almaktabah Asy-Syamilah. Al-Qiyaamah: 17. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. . Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. Ibrahim bin Muhammad. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Maktabah Al-Ma'aarif. 3. Al-Islam Wa An-Nashraniah. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. [5] QS. 'Amman: Dar Al-Furqan. hal. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b. hal. Al-Manhaj. Abduh. Usul Al-Ahkam. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. 1992. [14] Dr. M. Al-Alusi.blogspot.Abdurrahim Said. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. 2000. Al-Muwaththa. [7] http//id. M. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. hal. Ibnu. Al-Maktabah Asy-Syamilah. Muhammad. cet 3. 5. [4] Manaa' Al-Qathaan. Al-Muwaththa.or. 15. cit. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. 17 September 2011. op. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. 18. Ali. http//nyimpanilmu. hal. [13] http//id. op. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Himam. Abduh. Mochammad Asrukin. Al-Qathaan. 2004. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Muhammad Amaan Bin Ali.wordpress. 1323. Manaa'. Ash-Shobuniy. Yazid bin Abdul Qadir. 1985. hal. Daarus Sunnah. Dr. [3] Drs. hal. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Az-Zaqlam.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. [2] Malik Bin Anas. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. 1391 H.

[36] Muhammad Abduh. op. (Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi). Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no. hal.or. Al-Manhaj. op. hal. [19] Dr. [32] QS. [31] Muhammad Ali Shabuni. Al-Islam Wa An-Nashraniah. 3703). 41. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [22] HR. h.blogspot. [20] QS. 22. 4403). [37] http//nyimpanilmu.[16] HR. 6 Januari 2011. 209. [27] M. Al-Buruuj: 16.com. hal. [40] Dr. 49. [39] Muhammad Abduh. Al-Haaqqah: 16. 45. [24] QS. Aly Ash-Shobuniy. hal. Shaad: 43. cit. Al-Israa’: 70. [41] QS. Al-Maktabah Asy-Syamilah. Al-Baqarah: 4. 1391 H. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [28] http//latifabdullah. 52-53.id. Abu Dawud (no. [25] Dr.. Al-Mulk: 10. Juz Amma. [30] HR. hal. [29] QS. . [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Al-Furqaan: 25. 6. 41. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. op. [42] QS. [23] Dr. cit. 40.. hal.wordpress. ji. op. hal. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah.. [18] QS. cit. Al-Manhaj.cit. 49. cit. 40. 1985. hal. [21] Dr. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah.or.. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim.. 291. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql.id. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. Abu Dawud (no. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. op. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. jil. [38] Ibnu Taimiyah. Al-Israa': 15. hal. [34] QS. Al-Mu'minuun: 5. Al-Maktabah AsySyaamilah. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Daru Wa Mathabi' AlSya'b. 4403). [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas.. hal. Beirut: Alam al-Kutub. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [33] QS. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. op. 67. I. Muslim.files. cit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->