A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

dan apa yang dilarangnya bagimu. Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. 2. maka ambillah ia. turunnya. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. puasa dan haji. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. maka tinggalkanlah”[12]. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. baik dari segi asal-usulnya. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. riwayatnya.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Di dalam al-Quran hanya . sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. 2. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. dst. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. memahami. 3. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. diantaranya: 1. Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri. ayat-ayatnya. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan. diantaranya: 1. Dengan penegasan al Quran di atas. Adapun secara istilah adalah kalam Allah. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi. yang diturunkan kepada Muhammad saw. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. kaedah jual beli.

2. Oleh karena itu. seperti: tadabbur. 1. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. orang yang tidur sampai bangun. 1. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20]. yakni bisa ada dan bisa hilang. Maka dalam hal ini. ta-aqqul dan lainnya.. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ".[13] b. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15]. (‫ :)انحكًت‬kebijakan. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang.dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih. tafakkur. ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). 2. Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17]. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21]. 3. 4. . Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir.. 3. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23]. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna. dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan. Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. dan lainnya[25]. 5. Masyhûr ataupun Mustafhîdh. 4. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18]. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24]. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19]. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. anak kecil sampai bermimpi.

Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ . malaikat-malaikat-Nya. a. b. dll[27]. Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. ilmu qiraah. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. Tafsir Al-Baidhawi. Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30]. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih. قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman. tidak dipengaruhi oleh keinginan. Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah). Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir. yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. kitab-kitab-Nya. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29].5. 2. ambisi atau kebencian dari emosi. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ . ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Tafsir Ar-Razi. ilmuilmu Al-Qur'an. hadits dan ilmu hadits. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang).

maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat. sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit.. dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah". maka tata surya mengalami goncangan yang kuat. seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang .. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir. karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah.. sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). a. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33].Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya.1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih). maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32]. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah. dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. a. Karena benturan tersebut. tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat". yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a.2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat."[35]. c.2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah.

Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). dan ini tidaklah mungkin. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut. 3. Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid. yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). baik dalil itu naqli ataupun 'aqli. sebagaimana kesepakatan para ulama. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan. salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. Apabila kedua-duanya itu qath'i. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. maka tidak boleh ada pertentangan.datang dari berbagai arah. Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya. Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. maka kedua-duanya mesti bersatu. baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan. Sedangkan Muhammad Abduh. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. Ini merupakan kesepakatan para ulama. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38].

Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. dan jumhur memilih naqli. karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). 7. Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. Naqli didahulukan atas 'aqli.1. 8. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt. tetapi saling menguatkan. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. 6. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. ambisi atau kebencian dari emosi. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. 9. tidak dipengaruhi oleh keinginan. maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. 4. sehingga muncul keteguhan. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. C. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan. DAFTAR PUSTAKA . tidak bersifat detail. 3. 5. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. tidak mudah goyah atau mendangkal. Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli. 2. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk.

Abdurrahim Said. Beirut: Alam al-Kutub.Si. Ibrahim bin Muhammad. Al-Manhaj. 17 September 2011. Az-Zaqlam. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. . 1414 H. [10] QS.wordpress. Ali. op. Yazid bin Abdul Qadir. Anas. Al-Anfāl: 1. 2000. hal. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Al-Hasyr: 7.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. Fatih Muhammad.blogspot. Makalah. M. Muhammad. Himam. Al-Buraikan. 2006.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. Daarus Sunnah. [14] Dr. 18. 'Amman: Dar Al-Furqan. 15.or. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. cet. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. Ibnu. Muhammad Amaan Bin Ali. Mochammad Asrukin. Al-Alusi. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Usul Al-Ahkam.. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. 2000. Al-Maktabah AsySyaamilah. 136. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. [6] Manaa' Al-Qathaan. 'Amman: Dar Al-Furqan. Al-Islam Wa An-Nashraniah. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Asrukin. hal. Maktabah Al-Ma'aarif. Manaa'.wikipedia/wiki. hal. [7] http//id. http//nyimpanilmu. 5. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Almaktabah Asy-Syamilah. Mochammad. 1992. [2] Malik Bin Anas. Ash-Shobuniy. jil. M. Al-Muwaththa. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. Muhammad. hal. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b. 2004. cit. [13] http//id. 2006. Taimiyah.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. cet 3. Ash-Shobuniy. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah.. http//latifabdullah. M. [8] Dr.. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. Jawas. 1414 H. 3. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. 10. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Al-Maktabah Asy-Syamilah. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. M. Al-Muwaththa. 17. 1391 H. Himam Abdurrahim Said. [3] Drs. Al-Ahzāb: 36. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Almaktabah Asy-Syamilah. Al-Jaamii. Abduh. hal. Al-Qathaan. Drs. 16 Oktober 2011. Al-Qiyaamah: 17. Maktabah Al-Ma'aarif. 40. hal. Dr. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. op. Malik Bin. http//id. Daarus Sunnah. 1992. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma. [12] QS. hal. hal. 3. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. hal. Tripoli: Dar Al-Fasifsa.files. Ali. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. II. 1985.Si. [11] QS. 5. 1323.. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Dr.com. Abduh. [5] QS. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Makalah.id. Usul Al-Ahkam. [4] Manaa' Al-Qathaan. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. cit. 2004.

(Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi). Al-Israa': 15. hal.com. 67.files. [31] Muhammad Ali Shabuni. [29] QS.[16] HR. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. [42] QS. Al-Mu'minuun: 5. op. cit. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. I. Daru Wa Mathabi' AlSya'b. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Al-Baqarah: 4.. Al-Israa’: 70. ji. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.or. 1391 H. hal. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. Al-Maktabah Asy-Syamilah.wordpress. [33] QS. Juz Amma. 6 Januari 2011. Al-Furqaan: 25. hal. 3703). [30] HR. h..com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. [23] Dr. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. 1985. Muslim. Beirut: Alam al-Kutub. [36] Muhammad Abduh. 52-53. hal. [32] QS. [28] http//latifabdullah. 4403). [24] QS. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). 209. [21] Dr. hal. 4403). cit. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Aly Ash-Shobuniy. [20] QS. 6. op. Al-Maktabah AsySyaamilah. 49. cit. hal. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 40. 22.or. hal. [41] QS. Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no.cit.id. Al-Haaqqah: 16. Al-Islam Wa An-Nashraniah. 49. Shaad: 43. [22] HR. [27] M. [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 45.. Al-Buruuj: 16. 40. 291. op. hal.. . Abu Dawud (no. [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas.id. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 41. [25] Dr. Al-Manhaj. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. [19] Dr. op. [34] QS. hal. Al-Manhaj. cit.. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi. [40] Dr. Al-Mulk: 10. [39] Muhammad Abduh. cit. [18] QS. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql.blogspot. hal. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [38] Ibnu Taimiyah. jil. Abu Dawud (no. 41. op. op. [37] http//nyimpanilmu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful