A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. memahami. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. puasa dan haji. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. 2. Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. dan apa yang dilarangnya bagimu. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. Adapun secara istilah adalah kalam Allah. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. 3. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. yang diturunkan kepada Muhammad saw. turunnya. jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. maka tinggalkanlah”[12]. ayat-ayatnya. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. baik dari segi asal-usulnya. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. riwayatnya. dst. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. 2. maka ambillah ia. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan. sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. kaedah jual beli. Di dalam al-Quran hanya . Dengan penegasan al Quran di atas. diantaranya: 1. diantaranya: 1. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu".

dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ". . Masyhûr ataupun Mustafhîdh. 2. orang yang tidur sampai bangun. Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20]. yakni bisa ada dan bisa hilang. seperti: tadabbur. Oleh karena itu. 3. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. 2. ta-aqqul dan lainnya. 3. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21]. dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. tafakkur. 1. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17]. 4. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya. Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). (‫ :)انحكًت‬kebijakan. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. Maka dalam hal ini. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23]. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15]. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr. Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran.. Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. 5. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19].. ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. 4. 1. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna.[13] b. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18].dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. dan lainnya[25]. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. anak kecil sampai bermimpi. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24]. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan.

Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. hadits dan ilmu hadits. Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. a. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ . ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah). serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29]. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. ambisi atau kebencian dari emosi. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi.5. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30]. kitab-kitab-Nya. Tafsir Ar-Razi. قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman. ilmuilmu Al-Qur'an. Tafsir Al-Baidhawi. malaikat-malaikat-Nya. ilmu qiraah. tidak dipengaruhi oleh keinginan. 2. b.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ . Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a. Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). dll[27]. Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih.

"[35].Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. a. dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang .2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah". a. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32]. maka tata surya mengalami goncangan yang kuat. yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah. seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih).1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya. karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33]. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah.. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir. maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit.. maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. Karena benturan tersebut.. seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas.2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat". tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat. c. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya.

Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38]. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. dan ini tidaklah mungkin. Sedangkan Muhammad Abduh. Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut. maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). Ini merupakan kesepakatan para ulama. atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). sebagaimana kesepakatan para ulama. 3. Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid. Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. maka tidak boleh ada pertentangan. maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. maka kedua-duanya mesti bersatu. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan. sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan.datang dari berbagai arah. Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan. baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. Apabila kedua-duanya itu qath'i. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli.

tetapi saling menguatkan. 6. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. 7. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli. tidak mudah goyah atau mendangkal. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. DAFTAR PUSTAKA . 2. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. dan jumhur memilih naqli. 8. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. 5. sehingga muncul keteguhan. 3. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. 9.1. Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. 4. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. tidak bersifat detail. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt. karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. ambisi atau kebencian dari emosi. C. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. Naqli didahulukan atas 'aqli. tidak dipengaruhi oleh keinginan. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan.

1414 H. Muhammad Amaan Bin Ali. Al-Hasyr: 7. Almaktabah Asy-Syamilah. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. 5. Al-Buraikan. 40. Al-Muwaththa. Beirut: Alam al-Kutub. Ibrahim bin Muhammad. M. Usul Al-Ahkam.Si. cet. Drs. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. hal. Al-Anfāl: 1. [11] QS. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Yazid bin Abdul Qadir.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. [8] Dr. 'Amman: Dar Al-Furqan.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. Taimiyah. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. 17. Al-Alusi. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. hal.wordpress. Al-Muwaththa.. jil. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Al-Maktabah AsySyaamilah. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Makalah.blogspot. Daarus Sunnah. 1992. M. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Muhammad. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Anas. Maktabah Al-Ma'aarif. 1391 H. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b. 18. [3] Drs. Az-Zaqlam. [10] QS. M. http//latifabdullah.. Jawas. [5] QS. [7] http//id. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Al-Islam Wa An-Nashraniah. Al-Maktabah Asy-Syamilah. http//id.. cit. 2004. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. Al-Qathaan. 17 September 2011. Mochammad. Ali. Usul Al-Ahkam. hal. hal.files. hal. 2004. Al-Ahzāb: 36. 2000. Ash-Shobuniy. 1985. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Himam Abdurrahim Said. Ali. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka.id. 'Amman: Dar Al-Furqan. Manaa'. Al-Qiyaamah: 17. hal. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. Asrukin. Malik Bin. Himam. hal. [14] Dr. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. [6] Manaa' Al-Qathaan. II. [12] QS. 2000. hal.or. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Maktabah Al-Ma'aarif. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. http//nyimpanilmu. [13] http//id. 2006. Abduh. 136.com. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. cet 3. Dr. 15.. 1992. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Fatih Muhammad. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Al-Manhaj. 5. Abduh. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. Muhammad. cit. 2006. Daarus Sunnah.Si. 16 Oktober 2011. Almaktabah Asy-Syamilah. Ash-Shobuniy. 3. Al-Jaamii. M. op. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma.wikipedia/wiki. Mochammad Asrukin. 1414 H. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. hal.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. [2] Malik Bin Anas. 10. Ibnu. [4] Manaa' Al-Qathaan. Dr. Makalah. op. 3.Abdurrahim Said. . 1323.

6. [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. h. [20] QS. 49.. [38] Ibnu Taimiyah. Abu Dawud (no. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. [18] QS. 41. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). hal. [19] Dr. 4403). Shaad: 43. [31] Muhammad Ali Shabuni. Al-Israa': 15. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. jil. 1985. cit.files. [29] QS. hal.id. [25] Dr. 52-53. 67. Al-Islam Wa An-Nashraniah. [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. [40] Dr. [21] Dr. [24] QS. [41] QS. ji. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. [30] HR. 49.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Al-Haaqqah: 16. 22. Al-Buruuj: 16. hal. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. hal. 45. hal. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.blogspot. Al-Israa’: 70. [32] QS. 4403). Aly Ash-Shobuniy. Al-Furqaan: 25. 3703). [33] QS.or. hal. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [36] Muhammad Abduh. hal. 41. hal. cit. Al-Mulk: 10. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [39] Muhammad Abduh. 6 Januari 2011.or. 40. 40.cit.com.. op. 1391 H. [42] QS. [22] HR. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. (Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi). Al-Maktabah AsySyaamilah. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. op.[16] HR. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. [27] M. [23] Dr. . Abu Dawud (no. op. Al-Baqarah: 4. [28] http//latifabdullah. Daru Wa Mathabi' AlSya'b. Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no. Juz Amma. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Al-Mu'minuun: 5. op.. cit.id. 291. [37] http//nyimpanilmu. cit. 209. Al-Manhaj. hal. op. Beirut: Alam al-Kutub.wordpress. hal. Al-Manhaj. Muslim. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani... op. I.. Al-Maktabah Asy-Syamilah. [34] QS. cit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful