Penalaran Induktif

Kalimat INDUKTIF bahasa Indonesia

A.

Pengertian Penalaran

Penalaran adalah proses berfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan penalaran deduktif. Perbedaan dasar diantara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif dengan progesi secara logis dari bukti – bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus sementara dengan induktif, dinamika logisnya justru sebaliknya dari bukti – bukti khusus kepada kebenaran atau kesimpulan yang umum. Perbedaan antara keduanya, dapat digambarkan sebagai berikut. Penalaran deduktif : Umum Umum Umum Penalaran induktif : Khusus Khusus Khusus Menurut tim balai pustaka istilah penalaran mengandung tiga pengertian diantaranya: 1. Cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis. umum khusus

2. Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan perasaan atau pengalman. 3. Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. B. 1. Penalaran Induktif Pengertian Penalaran Induktif

Penlaran induktif adalah proses penalaran untuk manari kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut

. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. data statistik. Macam – macam generalisasi : · Generalisasi sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Dalam pengembangan karangan. Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. dan lain-lain. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sentara. radio. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial. ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Macam – Macam Penalaran Induktif Ada 3 jenis penalaran induksi : a. Fakta – fakta diatas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan. 2. generalisasi dibuktikan dengan fakta. teori atau kaedah yang berlaku umum. Contoh generalisasi : Pemakaian bahasa Indonesia deseluruh daerah diindonesia dewasa ini belum dapat dikata seragam. · Generalisasi tidak sempurana Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Generalisasi Penalaran generalisasi dimulai dengan peristiwa – peristiwa khusus untuk untuk mengambil kesimpulan umum.Induksi. Sebelum teruji secara empiris. Para pemuka kita pun pada umumnya juga belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia yang terjaga baik. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki. Secara impirisme. dan TV pemakaian bahasa indonesia belum lagi dapat dikatakan sudah terjaga baik. ucapan terlihan dengan mudah. Perbedaan dalam struktur kalimat. Contoh penalaran induktif : Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. lagu kalimat. Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. contoh. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum. Diungkapkan persurat kabaran. bukan rincian. Proses penalaran ini bertolak dari sejumlah fenomena individual (khusus) menuju kesimpulan umum yang mengikat umum menuju kesimpulan umum yang mengikat umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.

Pada pembentukan kesimpulan dengan jalan analogi.Penalaran generalisasi bertolak dari satu atau sejumlah fakta (fenomena atau peristiwa) khusus yang mempunyai kemiripan untuk membuat sebuah kesimpulan. karena banyak persamaannya dengan bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. kemudian pada akhir paragraf diakhiri dengan kalimat yang berisi generalisasi dari peristiwa. kita meletakan suatu hubungan baru berdasarkan hubunganhubungan baru itu. kemudian bergerak menuju sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tadi. Sehingga harus melakukan PHK. Selain itu minimnya kahlian atau rendahnya kualitas SDM menjadi faktor penyebab banyaknya pengangguran diibukota Sumber: http://www. Jika bumi ada mahluk. Dan kita juga dapat menarik kesimpulan bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi. Dalam berfikir Analogis. bagaimana ribuan pencari kerja hars berdesakan bahkankan pingsan untuk mendapatkan pekerjaan. Maka sering kesimpulan yang diambil tidak logis. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti bumi.com/makalah-kalimat-deduktif-induktif-bahasaindonesia/#ixzz1sqVx8fkx . Menurut laporan media cetak hal ini terjadi karena dalam waktu dekat ini banyak perusahaan menufaktor yang akan tutup. Mars mempunyai atsmosfir seperti bumi. dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan yang sebelumnya. Contoh Analogi: Kita banyak tertarik dengan planel mars. Contoh : Masalah pengangguran merupakan masalah serius yang harus diselesaikan pemerintah. seperti beberapa waktu lalu diberitakan dimedia cetak dan ibu kota.perkuliahan. · Hubungan akibat sebab Hubungan akibat sebab merupakan suatu proses berfikir dengan bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat. Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi. Sejumlah peristiwa khusus dibuat dalam bentuk kalimat. Analogi juga dapat dikatakan sebagai proses membandingkana dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. jalan pikiran kita didasarkan atas persamaan suatu keadaan yang khusus lainnya. b. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup diplanet Mars. yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lain. dapat dikatakan bahwa penalaran analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan fakta atau kesamaan data. Peristiwa khusus yang disebutkan pada bagian awal. Dari penjabaran diatas. Karena pada dasarnya hanya membandingkan persamaan – persamaan dankemudian dicari hubungannya. Temperaturnya hampir sama dengan bumi. Analogi Adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaanya. ada persamaan pula dalam bidang yang lain.

Dari contoh sebelumnya misalkan kita menyusun silogisme sebagai berikut.PENALARAN DEDUKTIF Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Joko perlu makan untuk mempertahakan hidupnya (Kesimpulan) Kesimpulan yang diambil bahwa Joko juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah menurut penalaran deduktif. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi 1) premsi mayor dan 2) premis minor. sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika dapat didiefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Pertanyaan apakah kesimpulan ini benar harus dikembalikan kepada kebenaran premis- . Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pada kesempataan ini saya akan mencoba menerangkan Penalaran Deduktif : Penalaran Deduktif Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis. Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus. Dalam penalaran ilmiah. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu. Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. v Semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahanka hidupnya (Premis mayor) v Joko adalah seorang mahluk hidup (Premis minor) v Jadi. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis.

untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi. kompleks gejala maupun penyebabnya. Apabila kedua premis yang mendukungnya benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. dan 3) keabsahan penarikan kesimpulan. bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut. v The Problem. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori. Ø yaitu menyusun hipotesis. selanjutnya diteruskan dengan merumuskan. Mungkin saja kesimpulannya itu salah. meskipun kedua kedua premisnya benar. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut. 2) kebenaran premis minor. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap . karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis. antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Ø yaitu menetapkan masalah. hukum-hukum yang ada. sekiranya cara penarikkan kesimpulannya tidak sah. yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut : v The Felt Need. 19-20). Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. C. Dengan demikian. yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya. dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. v The Hypothesis. Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif Kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Ø yaitu merekam data untuk pembuktian. Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratannya tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditariknya akan salah. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005. menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut. Ø yaitu adanya suatu kebutuhan. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas. Tetapi dalam prakteknya. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi.premis yang mendahuluinya. v Collection of Data as Avidance. Dengan demikian maka ketepatan penarkkan kesimpulan tergantung dari tiga hal yaitu: 1) kebenaran premis mayor.

Dari premis yang positif. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. dan predikat simpulan disebut term minor. dan kesimpulan. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas. Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut: 1. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan. Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas. maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan. v Concluding Belief. Ø yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. 2. term penengah. Subjek simpulan disebut term mayor. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain. kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. 4. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor. tidak saja berwujud teori. tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Kemudian. SILOGISME KATEGORIAL Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K) Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. term minor. maka dibuatlah sebuah kesimpulan. kegiatan ini disebut dengan analisis. dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran. . Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain. simpulan pasti negatif. 1. 2. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis. Premis umum : Premis Mayor (My) 2. akan dihasilkan simpulan yang positif. juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. premis minor.tidak memadai. v General Value of The Conclusion. yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi. Premis khusus remis Minor (Mn) 3. Ø yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Bila salah satu premisnya negatif. 5. 3. rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan.

Penalaran deduksi yang kedua yaitu entimen. Penalaran induksi dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa khusus. Contoh silogisme Kategorial: My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA Mn : Badu adalah mahasiswa K : Badu lulusan SLTA My : Tidak ada manusia yang kekal Mn : Socrates adalah manusia K : Socrates tidak kekal My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA. premis yang kedua disebut premis khusus. Premis pertama disebut premis umum. Dari kedua premis tersebut. . simpulan akan bersifat khusus. kesimpulan itu dirumuskan. untuk kemusian dirumuskan sebuah kesimpulan. 7. Bila premisnya khusus.6. PK: Ikan paus binatang binatang mamalia. Contoh: Silogisme PU: Binatang mamalia melahirkan anak dan tidak bertelur. Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan. Silogisme memerlukan dua premis sebagai data. Penalaran deduksi terbagi atas dua bagian yaitu silogisme dan entimen. Yang termasuk ke dalam penalaran induksi yaitu generalisasi. K : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur. dan hubungan kausal. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan. Entimen Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur karena termasuk binatang mamalia. Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA K : Amir bukan mahasiswa a dua cara untuk menarik kesimpulan dari suatu teks atau wacana yakni melalui penalaran deduksi dan penalaran induksi. yang mencakup semua peristiwa-peristiwa khusus itu. Silogisme adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. analogi. Penalaran deduksi dilakukan terhadap data (pernyataan) umum untuk kemudian ditarik kesimpulan yang khusus.

besi memuai. Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dua hal yang memiliki sifat sama. Jika dipanaskan. Pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli obat. emas memuai. Hubungan Kausal Kemarin Badu tidak masuk kantor. jika dipanaskan. Oleh sebab itu. Karena itu. Contoh: Generalisasi Jika dipanaskan.wordpress. Cara ini didsarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi. Sumber : http://irabieber. Hubungan kausal adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang memiliki pola hubungan sebab-akibat.Generalisasi adalah proses penalaran yang menggunakan beberapa pernyataan yang mempunyai ciri-ciri tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum. semua logam akan memuai. pasti Badu sedang sakit. Jadi. maka akan ada persamaan pula dalam bidang lain.com/2011/10/26/penalaran-deduktif-dan-induktif . Jika dipanaskan. Analogi Arief seorang alumni SMUN 1 Tegal dapat diterima kerja di perusahaan Pak Subur. Hari ini pun tidak. Nani yang juga lulusan SMUN 1 Tegal pasti dapat pula diterima kerja di perusahaan pak Subur. tembaga memuai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful