P. 1
Contoh Isi Buku: Pelangi Bahasa Sastra dan Budaya Indonesia (E-book)

Contoh Isi Buku: Pelangi Bahasa Sastra dan Budaya Indonesia (E-book)

|Views: 71|Likes:
Published by bisnis2030
Buku ini berisi sekumpulan makalah dan artikel Yuana Agus Dirgantara mengenai banyak hal dalam bingkai pendidikan Bahasa, Sastra dan Budaya Indonesia.
Buku ini berisi sekumpulan makalah dan artikel Yuana Agus Dirgantara mengenai banyak hal dalam bingkai pendidikan Bahasa, Sastra dan Budaya Indonesia.

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: bisnis2030 on Mar 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/10/2013

PELANGI BAHASA SASTRA

DAN

BUDAYA INDONESIA
KUMPULAn APRESIASI DAN TANGGAPAN

Yuana agus DIRganTaRa

2012
[1]

PELANGI BAHASA SASTRA dan BUDAYA INDONESIA Kumpulan Apresiasi dan Tanggapan Yuana Agus Dirgantara 14,5 x 21 cm : ISBN 978-979-18632-9-2 Penyunting : Jalu Sentanu Desain lay out dan cover : Jalu Sentanu Terbit : Januari 2012

Diterbitkan oleh Garudhawaca Digital Book and POD

© Garudhawaca 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang

http://garudhawaca.web.id http://garudhawaca.blogspot.com
email : garudhawaca@gmail.com

[2]

Ucapan Terima Kasih

“Alhamdulillahirrabbil’alamin; Matur sembah nuwun katur marang Gusti Allah SWT” sudah sepatutnya saya tulis dalam penerbitan buku “Pelangi Bahasa Sastra dan Budaya Indonesia Sebuah: Apresiasi dan Tanggapan” ini. Hanya berkat taufikNYA-lah ide ini muncul, sehingga saya dapat merangkai serpihan-serpihan tulisan menjadi seonggok buku bacaan. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Mas Jalidu atas komitmennya dalam penerbitan buku ini. Teman-teman pemerhati pendidikan, bahasa, sastra dan budaya, merekalah yang memecut saya untuk menyajikan topik-topik dalam buku ini. Pak Jono dan Bu Siti untuk panjenengan buku ini kuhadiahkan, dan kepada Almamater serta guru-guruku karya ini kudedikasikan.

Yogyakarta, 1 Desember 2011

[3]

DAFTAR ISI
Relevansi Permainan Tradisional dari Kacamata Popular Culture (7) Menyorot Teks dan Maksud dalam karya-karya Mural (23) Mengintip Etnografi dari Sudut Pandang Metode (37) Problematika Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah (47) Analisis Data dalam Penelitian Kelas (61) Menyoal Tentang Antonimi (71) Inovasi Pembelajaran Puisi Berbasis Cooperative Learning (85) Puisi Tradisional Jawa dalam Diktat Terbitan Siswa Sekar Kawedanan Hageng Punakawan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat : Sebuah Kajian Etika (101) Novel Ladang Perminus Karya Ramadhan K.H : Sebuah: Kajian Strukturalisme (129) Kritik Sastra: Sebuah Pendekatan Psikologi Sastra (141)

[4]

BUDAYA

[5]

[6]

Relevansi Permainan Tradisional dari Kacamata Popular Culture

Dewasa ini banyak orang tua yang sering mengeluh karena anaknya kecanduan game-game modern. Anak-anak sekarang banyak yang tidak lagi akrab dan bahkan kurang mengenal permainan tradisional, seperti gobak sodor, petak umpet, cublak-cublak suweng dan lain-lain. Sebagai gantinya, mereka asyik dengan PS 2, bercengkrama dengan game komputer dan suka nongkrong di game center berjam-jam lamanya. Mereka kecanduan game-game modern dan tak jarang pula orang tua dibuatnya menjadi berang. Counter Strike, Ragnarok On-line, Medal of Honor, Winning Eleven dan jenis game lainnya tentu tidak asing lagi bagi anak-anak dan kaum muda dewasa ini. Gamegame tersebut dengan mudah dapat ditemukan di game center atau tempat bermain playstation. Kemunculan game-game modern secara historis mulai marak di awal 1990-an, mulai dari Nintendo, Sega, playstation dan yang lantas hingga hari ini mendapat ruang dalam game center. Tidak mengherankan, kini game-game modern semakin merambat sampai ke pelosokpelosok desa. Kemajuan tehnologi membawa banyak kemudahan bagi manusia. Permainan-permainan baru dalam bentuk game komputer diciptakan. Permainan modern kayaknya manjadi semakin kaya sensasi, mengasyikkan dan penuh fantasi. Tidak mengherankan, permainan tradisional kini mulai ditinggalkan. Permainan tradisional yang kaya nilai digantikan dengan permainan modern produk tehnologi. Game-game modern menjadi lebih praktis karena tak memerlukan tanah lapang dan [7]

banyak teman. Cukup sendirian di depan layar pun seseorang bisa terjun dalam permainan yang mengasyikan. Penulis tidak menentang kehadiran game-game modern, hanya saja dihadapkan pada situasi maraknya kehadiran playstation dan game center yang akhir-akhir ini terus merambah ke desa-desa, kita mesti bisa melihatnya secara obyektif. Yang menjadi permasalahan kita, bagaimana eksistensi permainan tradisional di era sekarang ini? Masih relevankah? Ataukah akan hilang ditelan jaman. Mari kita santap bersama makalah ini dalam bingkai budaya. Selamat menikmati!!

Permainan yang Tergusur
Yo pra kanca dolanan neng njaba Padhang bulan, mbulane kaya rina Rembulane sing ngawe-awe Ngelingake aja padha turu sore

Sepenggal bait lagu dolanan anak yang sudah sangat asing ditelinga anak-anak zaman sekarang. Lagu tersebut mengingatkan kenangan penulis pada waktu masih kecil terutama. Setiap malam bulan purnama, anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, besar maupun kecil beramai-ramai keluar rumah menuju tanah lapang. Mereka akan menghabiskan malam yang terang oleh bulan purnama dengan segala keriangan dan keceriaan khas anakanak. Maklum, pada waktu itu listrik di daerah penulis belum banyak. Mereka dengan segenap energi memainkan segala macam permainan. Segala bentuk permainan pada waktu itu, seperti betengan, patil lele, gobag sodor, jamuran, bekelan, gatheng, dhakon, jethungan, congklak, dan permainan tradisional lainnya menjadi permainan yang asyik pada waktu itu. Ada juga [8]

yang hanya sakadar mendengkan lagu-lagu dolanan semacam jamuran, cublak-cublak suweng, ilir-ilir, padhang rembulan, dan lain sebagainya. Di zaman sekarang ini, semua permainan itu seakan-akan hilang ditelan bumi, bahkan nyaris permainan tersebut digemari anak anak jaman sekarang. Anak-anak lebih suka bermain playstation yang mudah dipahami oleh anak sekarang. Permaianan anak tradisional merupakan hasil budaya-budaya daerah yang mengandung nilai edukatif, terapis, rekreatif, normatif, kreatif dan lain-lain. Selain itu merupakan warisan yang disosialisasikan secara turun-temurun. Berbagai dampak, fungsi maupun manfaat dari permainan anak tradisional sebenarnya dapat digunakan sebagai media edukatif yang paling ampuh dalam menanamkan nilai-nilai moral, kepedulian sekitar (simpti dan empati), transformasi pengetahuan dan penanamn budi pekerti. Harus diakui memang bahwa mendidik budi pekerti anak merupakan masalah rumit sehingga banyak orang tua yang gagal mendidik anak. Jika penanaman budi pekerti belum tertata rapi, sekadar mengandalkan rutinitas dan naluriah, tentu bukan mustahil kalau keberhasilan pun dipertanyakan. Padahal, semua mengetahui bahwa keluarga di Indonesia jarang sekali yang dapat mengatur jadwal terstruktur dalam mendidik akhlak anak– anaknya. Persoalan baru juga mungkin timbul dalam keluarga, manakala sebuah keluarga anak-anaknya hanya hidup dengan pembantu rumah tangga. Belum lagi ditambah ayah atau ibu yang jarang di rumah, atau bahkan seminggu, sebulan, atau semester sekali kumpul dengan keluarga. Jika kemungkinan yang terakhir ini terjadi, sangat mungkin bahwa akhlak budi pekerti anak cenderung merujuk: akhlak pembantu. Tanpa mengecilkan watak [9]

pembantu ada yang berbudi pekerti luhur, namun perlu diingat bahwa pembantu ‘tetap orang lain’ dalam keluarga. Maksudnya, tanggung jawb moral pembantu terhadap anak kadang-kadang patut diragukan. Kehidupan keluarga di atas, juga memberikan peluang anak untuk mengadakan ‘gerakan televisi’. Anak-anak yang dirumah hanya akrab dengan dengan pembantu, menonton televise dengan ragam acara yang kurang diseleksi. Bermain playstation dengan beraneka ragam, dari perang-perangan, sepak bola, balapan motor dan mobil. Permainan tersebut, memang bukan tanpa kandungan moral akan tetapi hanya sedikit persentasenya. Namun, kalau mau mengakuinya, anak-anak pada umumnya akan menjadi lupa terhadap permainan tradisional yang syarat akan nilai budi pekerti, seperti betengan, patil lele, gobag sodor, jamuran, bekelan, gatheng, dhakon, jethungan, congklak,dan lain-lain. Bila kita diberi pertanyaan apakah menurut kita permainan tradisional seperti betengan, patil lele, gobag sodor, jamuran, bekelan, gatheng, dhakon, jethungan, congklak baik bagi anak-anak kita atau lebih dari itu bagi bangsa ini, tentunya ratarata atau bahkan semua orang akan menjawab ‘baik’. Tetapi inti persoalannya ialah bukan hanya ‘baik’ atau ‘tidak baik’, melainkan ‘mau’ atau ‘tidak mau’. Maukah kita melestarikan bingkisan kecil dari nenek moyang kita ini? jawabnya mungkin bukan ‘mau’ atau ‘tidak mau’, malainkan justru balik bertanya tentang apakah permainan tradisional itu. Bagaimana kita mau melestarikannya jika kita tidak tahu jenis-jenis permainan ini dan cara memainkannya. Kenyataan ini menjadi suatu hal yang wajar ketika kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa bangsa ini telah banyak berubah seiring berkembangnya teknologi modern. [10]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->