Transformator

Oleh: Sudaryatno Sudirham
1. Transformator Satu Fasa Transformator banyak digunakan dalam teknik elektro. Dalam sistem komunikasi, transformator digunakan pada rentang frekuensi audio sampai frekuensi radio dan video, untuk berbagai keperluan. Kita mengenal misalnya input transformers, interstage transformers, output transformers pada rangkaian radio dan televisi. Transformator juga dimanfaatkan dalam sistem komunikasi untuk penyesuaian impedansi agar tercapai transfer daya maksimum. Dalam penyaluran daya listrik banyak digunakan transformator berkapasitas besar dan juga bertegangan tinggi. Dengan transformator tegangan tinggi ini penyaluran daya listrik dapat dilakukan dalam jarak jauh dan susut daya pada jaringan dapat ditekan. Di jaringan distribusi listrik banyak digunakan transformator penurun tegangan, dari tegangan menengah 20 kV menjadi 380 V untuk distribusi ke rumah-rumah dan kantor-kantor pada tegangan 220 V. Transformator daya tersebut pada umumnya merupakan transformator tiga fasa. Dalam pembahasan ini kita akan melihat transformator satu fasa lebih dulu. Kita telah mempelajari transformator ideal pada waktu membahas rangkaian listrik. Berikut ini kita akan melihat transformator tidak ideal sebagai piranti pemroses daya. Akan tetapi kita hanya akan membahas hal-hal yang fundamental saja, karena transformator akan dipelajari secara lebih mendalam pada pelajaran mengenai mesin-mesin listrik. Mempelajari perilaku transformator juga merupakan langkah awal untuk mempelajari konversi energi elektromekanik. Walaupun konversi energi elektromekanik membahas konversi energi antara sistem mekanik dan sistem listrik, sedangkan transformator merupakan piranti konversi energi listrik ke listrik, akan tetapi kopling antar sistem dalam kedua hal tersebut pada dasarnya sama yaitu kopling magnetik.

1

2. Teori Operasi Transformator Transformator Dua Belitan Tak Berbeban. Jika pada induktor Gb.1.5. kita tambahkan belitan ke-dua, kita akan memperoleh transformator dua belitan seperti terlihat pada Gb.1. Belitan pertama kita sebut belitan primer dan yang ke-dua kita sebut belitan sekunder. If φ + E1 −
1

Vs

2

+ E2 −

Gb.1. Transformator dua belitan. Jika fluksi di rangkaian magnetiknya adalah φ = Φ maks sin ωt , maka fluksi ini akan menginduksikan tegangan di belitan primer sebesar

e1 =
atau dalam bentuk fasor

1

dφ = dt

1Φ maks ω cos ωt

(1)

E1 = E1∠0 o =
Karena ω = 2π f maka

1ωΦ maks

∠0 o ;

2 2π f 2

E1 = nilai efektif

(2)

E1 =

1

Φ maks = 4.44 f

1Φ maks

(3)

Di belitan sekunder, fluksi tersebut menginduksikan tegangan sebesar

E 2 = 4.44 f
Dari (3) dan (4) kita peroleh

2 Φ maks

(4)

E1 = E2

1 2

≡ a = rasio transformasi

(5)

Perhatikan bahwa E1 sefasa dengan E2 karena dibangkitkan oleh fluksi yang sama. Karena E1 mendahului φ dengan sudut 90o maka E2 juga mendahului φ dengan sudut 90o. Jika rasio transformasi a = 1, dan resistansi belitan primer adalah R1 , diagram fasor tegangan dan arus 2 Sudaryatno Sudirham, Transformator

Tegangan induksi ini 90o mendahului φl1 (seperti halnya E1 90o mendahului φ) dan dapat dinyatakan sebagai suatu tegangan jatuh ekivalen. secara tersendiri akan membangkitkan tegangan induksi di belitan primer (seperti halnya φ menginduksikan E1). Selisih antara fluksi yang If dibangkitkan φ oleh belitan primer dengan E2 fluksi bersama (yaitu Vs φl1 fluksi yang melingkupi kedua belitan) disebut fluksi bocor.2. Fluksi bocor ini hanya melingkupi Gb. yang dapat dipandang sebagai terdiri dari dua komponen yaitu Iφ (90o dibelakang E1) yang menimbulkan φ dan Ic (sefasa dengan E1) guna mengatasi rugi inti. belitan primer saja dan Fluksi bocor belitan primer. Hal ini ditunjukkan dalam diagram fasor Gb.2. ada fluksi bocor a). tidak seluruhnya berada dalam inti transformator tetapi juga melalui udara. tidak semua fluksi magnit yang dibangkitkan tersebut akan melingkupi baik belitan primer maupun sekunder. (Lihat Gb. Dalam kenyataan. Dengan demikian fluksi bocor tidak mengalami gejala histerisis sehingga fluksi ini sefasa dengan arus magnetisasi. El1 . Resistansi belitan R1 dalam diagram fasor ini muncul sebagai tegangan jatuh IfR1.b. tak ada fluksi bocor Gb. Diagram fasor transformator tak berbeban Fluksi Bocor.adalah seperti ditunjukkan oleh Gb.2. Transformator tak berbeban. Ic Iφ φ If E1=E2 If R1 V1 Iφ φ If Ic φl E1=E2 IfR1 V1 jIfXl b).3. Oleh karena itu reluktansi yang dihadapi oleh fluksi bocor ini praktis adalah reluktansi udara.3). Fluksi di belitan primer transformator dibangkitkan oleh arus yang mengalir di belitan primer. ≈ Fluksi bocor. Arus If adalah arus magnetisasi. di rangkaian primer dan dinyatakan sebagai 3 .a.

4. Fluksi bocor ini. Transformator .b.4. Transformator berbeban. Seperti halnya untuk belitan primer. diperlihatkan oleh Gb. maka untuk rangkaian sekunder kita peroleh hubungan E 2 = V2 + I 2 R 2 + E l 2 = V2 + I 2 R 2 + j I 2 X 2 dengan V2 adalah tegangan pada beban RB. (8) Sesuai dengan hukum Lenz. Jadi arus primer yang dalam keadaan transformator tidak berbeban hanyalah 4 Sudaryatno Sudirham. tegangan El2 ini diganti dengan suatu besaran ekivalen yaitu tegangan jatuh ekivalen pada reaktansi bocor sekunder X2 di rangkaian sekunder. Hubungan tegangan dan arus di rangkaian primer menjadi V1 = E1 + I 1 R1 + E l1 = E1 + I 1 R1 + jI1 X 1 (7) Diagram fasor dengan memperhitungkan adanya fluksi bocor ini adalah Gb. Tegangan induksi E2 (yang telah timbul dalam keadaan tranformator tidak berbeban) akan menjadi sumber di rangkaian sekunder dan memberikan arus sekunder I2. arus sekunder membangkitkan fluksi yang melawan fluksi bersama. maka arus primer akan naik.E l1 = jI f X 1 (6) dengan X1 disebut reaktansi bocor rangkaian primer. Oleh karena itu fluksi bersama akan cenderung mengecil.2. Hal ini akan menyebabkan tegangan induksi di belitan primer juga cenderung mengecil. φl2 . Arus I2 ini membangkitkan fluksi yang berlawanan arah dengan fluksi bersama φ dan sebagian akan bocor (kita sebut fluksi bocor sekunder). Rangkaian transformator berbeban resistif. sefasa dengan I2 dan menginduksikan tegangan El2 di belitan sekunder yang 90o mendahului φl2. RB. I1 φ φl1 φl2 I2 V2 RB ≈ Vs Gb. Akan tetapi karena belitan primer terhubung ke sumber yang tegangannya tak berubah. Transformator Berbeban. Jika resistansi belitan sekunder adalah R2 .

Untuk menggambarkan arus magnetisasi If kita gambarkan lebih dulu φ yang tertinggal 90o dari E1. Dari (9) kita peroleh arus magnetisasi I f = I1 − 3. bertambah menjadi I1 setelah transformator berbeban. Dengan demikian maka persamaan rangkaian primer (7) tetap terpenuhi. I2 sefasa dengan V2. Dari V2 dan I2 kita dapat menggambarkan E2 sesuai dengan persamaan (8) yaitu E 2 = V2 + I 2 R 2 + E l 2 = V2 + I 2 R 2 + j I 2 X 2 Sampai di sini kita telah menggambarkan diagram fasor rangkaian sekunder. Diagram Fasor 2 1 (I 2 ) = I1 − I 2 a (10) Dengan persamaan (7) dan (8) kita dapat menggambarkan secara lengkap diagram fasor dari suatu transformator. 5 . Kemudian kita gambarkan If yang mendahului φ dengan sudut histerisis γ. Penggambaran kita mulai dari belitan sekunder dengan langkah-langkah: Gambarkan V2 dan I2 . Untuk beban resistif. Pertambahan arus primer dari If menjadi I1 adalah untuk mengimbangi fluksi lawan yang dibangkitkan oleh I2 sehingga φ dipertahankan. Selain itu kita dapat gambarkan I’2 = I2/a yaitu besarnya arus sekunder jika dilihat dari sisi primer. Selanjutnya arus belitan primer adalah I1 = If + I’2. Untuk rangkaian primer. Jadi haruslah 1 I1 ( −I f − ) 2 (I 2 ) = 0 (9) Pertambahan arus primer (I1 − If) disebut arus penyeimbang yang akan mempertahankan φ. Makin besar arus sekunder.arus magnetisasi If . Pertambahan arus ini haruslah sedemikian rupa sehingga fluksi bersama φ dipertahankan dan E1 juga tetap seperti semula. makin besar pula arus penyeimbang yang diperlukan yang berarti makin besar pula arus primer. karena E1 sefasa dengan E2 maka E1 dapat kita gambarkan yang besarnya E1 = aE2. Dengan cara inilah terjadinya transfer daya dari primer ke sekunder.

Dengan mengabaikan resistansi belitan. Transformator . Berapa persenkah pengurangan tersebut jika kita menerapkan tegangan 110 V (rms) pada setengah belitan primer? d). Jika jumlah lilitan di belitan sekunder adalah 40. Berapa persenkah pengurangan tersebut jika kita menerapkan tegangan 55 V (rms) pada setengah belitan primer? c). a > 1 If CO TOH-1 : Belitan primer suatu transformator yang dibuat untuk tegangan 220 V(rms) mempunyai jumlah lilitan 160. yang dibuat dengan mengambil rasio transformasi 1/ 2 = a > 1 V1 E2 jI2X2 I’2 φ γ E1 I1R1 jI1X1 I2 I1 V2 I2R2 Gb. bagaimanakah tegangan sekunder dalam kasuskasus tersebut di atas? Penyelesaian : a). Berapa persenkah besar fluksi maksimum akan berkurang jika tegangan yang kita terapkan pada belitan primer adalah 110 V(rms)? b). yaitu V1 = E1 + I1 R1 + E l1 = E1 + I1 R1 + jI1 X Dengan demikian lengkaplah diagram fasor transformator berbeban. Belitan ini dilengkapi dengan titik tengah (center tap). transformator berbeban resistif .5.Diagram fasor untuk rangkaian primer dapat kita lengkapi sesuai dengan persamaan (7). adalah contoh diagram fasor yang dimaksud. a). fluksi maksimum Φm adalah Φm = E1 2 V1 2 220 2 = = 160ω 1ω 1ω V1′ 2 110 2 = 160ω 1ω Jika tegangan 110 V diterapkan pada belitan primer. Diagram fasor lengkap. maka Φ′m = 6 Sudaryatno Sudirham.5. Gb.

c). Φ′m = Φm / 2.94 weber/m2 0.5 V. Jika frekuensi kerja adalah 50 Hz dan fluksi 7 .5 V. Jika belitan primer dihubungkan ke sumber 500 V (rms) yang frekuensinya 50 Hz. tegangan sekundernya 229. tegangan sekunder adalah 55 V.Penurunan fluksi m aksimum adalah 50 %. Dengan 1/ 2 = 160/40 = 4 maka jika tegangan primer 220 V. Φ′″m =Φm. Luas penampang inti efektif adalah 60 cm2. Jika tegangan 55 V diterapkan pada setengah belitan primer. Jika tegangan primer 110 V. maka V1 = 1ωΦ m 2 = 500 → Φ m = 500 2 = 0.00563 weber 400 × 2π × 50 → Kerapatan fluksi maksimum : Bm = 0. Jika tegangan 110 V diterapkan pada setengah belitan primer. tegangan sekunder adalah 55 V. b).00563 = 0. Φ″m = Φm / 2. tentukanlah kerapatan fluksi maksimum dalam inti serta tegangan di belitan sekunder. Jika tegangan 55 V diterapkan pada setengah belitan primer.006 1000 × 500 = 1250 V Tegangan belitan sekunder adalah V2 = 400 CO TH-3 : Dari sebuah transformator satu fasa diinginkan suatu perbandingan tegangan primer / sekunder dalam keadaan tidak berbeban 6000/250 V. Jika tegangan 110 V diterapkan pada setengah belitan maka ′′ Φ ′m = V1′′′ 2 110 2 220 2 = = (1 / 2) 1ω 80ω 160ω Tidak terjadi penurunan fluksi maksimum. CO TOH-2 : Sebuah transformator satu fasa mempunyai belitan primer dengan 400 lilitan dan belitan sekunder 1000 lilitan. tegangan sekunder adalah 27. ′ Φ ′m = V1′′ 2 55 2 110 2 = = (1 / 2) 1ω 80ω 160ω Penurunan fluksi maksimum adalah 50 %. Penyelesaian : Dengan mengabaikan resistansi belitan dan reaktansi bocor. d).

2 250 ⇒ 2= × 450 = 18. Secara umum. tentukan jumlah lilitan primer dan sekunder. yaitu persamaan (7). Jadi dapat kita tetapkan 6000 ⇒ 2 = 20 lilitan ⇒ 1= × 20 = 480 lilitan 250 4. Transformator .06 weber. Dengan melakukan pembulatan ke atas. rangkaian ekivalen hanyalah penafsiran secara rangkaian listrik dari suatu persamaan matematik yang menggambarkan perilaku suatu piranti. batas fluksi maksimum Φm tidak akan terlampaui.75 6000 Pembulatan jumlah lilitan harus dilakukan. I1 = I f + I ′2 dengan I ′2 = I I2 = 2 a 1 2 V1 = 1ωΦ m = 6000 → 1 = 6000 2 = 450 2π × 50 × 0. V1 = E1 + I 1 R1 + jI 1 X 1 . Rangkaian Ekivalen Transformator adalah piranti listrik. yang kita tulis lagi sebagai satu set persamaan (11). Penyelesaian : Pembatasan fluksi di sini adalah fluksi maksimum. (8). Dengan mengabaikan resistansi belitan dan reaktansi bocor. X 2 = a 2 X 2 (12) 8 Sudaryatno Sudirham.dalam inti transformator dibatasi sekitar 0.06 (11) Dengan hubungan E1 = aE2 dan I′2 = I2/a maka persamaan ke-dua dari (11) dapat ditulis sebagai E1 = V2 + aI ′2 R2 + jaI ′ X 2 2 a dengan ⇒ E1 = aV2 + I ′2 (a 2 R 2 ) + jI ′2 (a 2 X 2 ) ′ ′ = V2 + I ′ R 2 + jI ′2 X 2 2 ′ ′ ′ ′ V2 = aV 2 . R2 = a 2 R 2 . Dalam analisis. ada tiga persamaan yang menggambarkan perilakunya. piranti-piranti listrik biasanya dimodelkan dengan suatu rangkaian listrik ekivalen yang sesuai. Untuk transformator. dan (10). E 2 = V2 + I 2 R 2 + jI 2 X 2 .

7.6. dapat dinyatakan sebagai hubungan paralel antara suatu resistansi Rc dan impedansi induktif jXφ sehingga rangkaian ekivalen transformator secara lebih detil menjadi seperti Gb. kita lihat bahwa arus magnetisasi dapat dipandang sebagai terdiri dari dua komponen. I1 R1 jX1 ∼ I′2 If R′2 jX′2 B V1 E1 Z V′2=aV2 Gb. di bawah ini. Dari persamaan (13) dibangunlah rangkaian ekivalen transformator seperti Gb. E1 = aV2 + I ′ R 2 + jI ′2 X 2 . dan reaktansi sekunder yang dilihat oleh sisi primer.Dengan (12) maka (11) menjadi ′ V1 = E1 + I 1 R1 + jI1 X 1 . R′2 . I1 R1 jX1 ∼ I′2 If c V1 E1 R Ic R′2 Iφ jXc jX′2 B V′2=aV2 Gb. Pada transformator yang digunakan pada tegangan bolak-balik yang konstan dengan frekuensi yang konstan pula (seperti misalnya transformator pada sistem tenaga listrik). I 1 = I f + I ′2 2 ′ (13) I′2 .7. Rangkaian ekivalen transformator lebih detil.6. Ic sefasa dengan E1 sedangkan Iφ 90o dibelakang E1. besarnya arus magnetisasi hanya sekitar 2 sampai 5 persen dari arus beban penuh transformator. Rangkaian ekivalen diturunkan dari persamaan (13). Oleh karena itu. Pada diagram fasor Gb. Dengan demikian maka impedansi Z pada rangkaian ekivalen Gb. jika If diabaikan terhadap I1 kesalahan yang 9 .6. resistansi. Rangkaian Ekivalen Yang Disederhanakan. yaitu Ic dan Iφ . Keadaan ini bisa dicapai karena inti transformator dibangun dari material dengan permeabilitas magnetik yang tinggi.5. dan X′2 adalah arus.

terjadi dapat dianggap cukup kecil. impedansi masukan adalah V Z in = 1 = Re + a 2 R B + jX e I1 (15) 10 Sudaryatno Sudirham. Impedansi Masukan Resistansi beban B adalah RB = V2/I2.8. Transformator . I1=I′2 ∼ Re = R1+R′2 jXe =j(X1+ X′2) B V′2 V1 V1 V′2 jI′2Xe I′2Re I′2 Gb.10. Rangkaian ekivalen transformator disederhanakan dan diagram fasornya.8. 5. Dilihat dari sisi primer resistansi tersebut menjadi V′ aV 2 V ′ RB = 2 = = a 2 2 = a 2 RB ′ I2 I2 / a I2 (14) Dengan melihat rangkaian ekivalen yang disederhanakan Gb.29. Pengabaian ini akan membuat rangkaian ekivalen menjadi lebih sederhana seperti terlihat pada Gb.

Pengukuran di belitan tegangan tinggi dilakukan seperti halnya pada uji beban nol. Uji beban nol ini biasanya dilakukan pada sisi tegangan rendah karena catu tegangan rendah maupun alat-alat ukur tegangan rendah lebih mudah diperoleh. cos θ = Sr 2 Pr P = r S r Vr I r − Pr 2 → sin θ = ⇒ I cr = I r cos θ . Sisi tegangan rendah menjadi sisi masukan yang dihubungkan ke sumber tegangan sedangkan sisi tegangan tinggi terbuka. arus masukan It. R1 . X′2 . I φr = I r sin θ Sr (16) V Vr V Vr ⇒ Rcr = r = .6. dan daya (aktif) masukan Pt. Pada belitan tegangan rendah dilakukan pengukuran tegangan masukan Vr. terlihat ada enam parameter transformator yang harus ditentukan. Daya kompleks masukan : S r = Vr I r . dan Xφ . X1 . X φr = r = I φr I r sin θ I cr I r cos θ Uji Hubung Singkat. arus masukan Ir. Tegangan masukan harus cukup rendah agar arus di sisi tegangan rendah masih dalam batas nominalnya. Pendekatan yang kedua adalah mengabaikan kehilangan daya di resistansi belitan sehingga Pr menunjukkan kehilangan daya pada Rcr (Rc dilihat dari sisi tegangan rendah) saja. Resistansi belitan primer dan sekunder dapat diukur langsung menggunakan metoda jembatan. dan daya (aktif) masukan Pr. Pendekatan yang pertama adalah mengabaikan tegangan jatuh di reaktansi bocor sehingga Vr sama dengan tegangan induksi Er. R′2 . Sisi tegangan tinggi menjadi sisi masukan yang dihubungkan dengan sumber tegangan. Rc . Penentuan Parameter Transformator Dari rangkaian ekivalen lengkap Gb.7. Dengan 11 . Karena sisi primer terbuka. Uji hubung singkat dilakukan di sisi tegangan tinggi dengan si`si tegangan rendah dihubung-singkat. yaitu tegangan masukan Vt. Ir adalah arus magnetisasi yang cukup kecil sehingga kita dapat melakukan dua pendekatan. Tegangan masukan yang dibuat kecil mengakibatkan rugi-rugi inti menjadi kecil sehingga kita dapat membuat pendekatan dengan mengabaikan rugi-rugi inti. Uji Tak Berbeban ( Uji Beban ol ). Untuk menentukan empat parameter yang lain kita memerlukan metoda khusus seperti diuraikan berikut ini.

CO TOH-5 : Pada sebuah transformator 25 KVA. Transformator . Uji beban nol pada sisi tegangan rendah memberikan hasil Vr = 240 volt. dilakukan uji beban nol dan uji hubung singkat. Uji beban nol dilakukan di sisi tegangan rendah.4 amper. kita sebut Rcr dan Xφr. Untuk reaktansi. kita memperoleh nilai Xet = X1 + X′2 . Ir = 1.6 amper. Pt = I t2 Ret → Ret = Vt = I t Z et → Z et Pt I t2 . (17) V 2 2 = t → X e = Z et − Ret It Dalam perhitungan ini kita memperoleh nilai Ret = R1 + R′2 . Tentukanlah parameter transformator dilihat dari sisi tegangan tinggi. Jika sekiranya nilai reaktansi masing-masing belitan diperlukan kita dapat mengambil asumsi bahwa X1 = X′2 . yaitu rugi-rugi pada resistansi ekivalen yang dilihat dari sisi tegangan tinggi Ret. 2400/240 volt. Pt = 360 watt a). Kita tidak dapat memperoleh informasi untuk menentukan reaktansi masing-masing belitan.demikian kita dapat menggunakan rangkaian ekivalen yang disederhanakan Gb. Pr = 114 watt Uji hubung singkat yang dilakukan dengan menghubung-singkat belitan tegangan rendah memberikan hasil pengukuran di sisi tegangan tinggi Vt = 55 volt. Berapakah rugi-rugi inti dan rugi-rugi tembaga pada beban penuh ? Penyelesaian : a). 50 Hz. b). Jadi nilai Rc dan Xφ yang akan diperoleh dari hasil uji ini adalah dilihat dari tegangan rendah. It = 10. Daya Pt dapat dianggap sebagai daya untuk mengatasi rugi-rugi tembaga saja. Kondisi ini sesungguhnya benar adanya jika transformator dirancang dengan baik.9. 12 Sudaryatno Sudirham. Nilai resistansi masing-masing belitan dapat diperoleh dengan pengukuran terpisah sebagaimana telah disebutkan di atas.

sin θ = = 0.95 VI 240 × 1.33 = 360 W 2400 Karena pada uji hubung singkat arus sisi tegangan tinggi dibuat sama dengan arus beban penuh.3 . Besarnya arus primer pada beban penuh adalah sama dengan arus sisi tegangan tinggi pada percobaan hubung singkat.3 I φ 1. X et = 5. Rugi-rugi tembaga tergantung dari besarnya arus.4) 2 = 3.4 b).29 Ω → I t 10. maka rugi-rugi tembaga adalah penunjukan wattmeter pada uji hubung singkat. Jadi rugi-rugi inti pada pembebanan penuh adalah 114 Watt. Pada pembebanan penuh fluksi bersama dalam inti transformator hampir sama dengan fluksi dalam keadaan beban nol.cos θ = Rcr (240 × 1.6 × 0. yaitu I1 = S V1 = 25000 = 10.29 2 = 3.33 2 = 4.6) 2 − 114 2 P 114 = = 0.1 Ω V 55 Z et = t = = 5.6 V V 240 240 240 = = = = 500 Ω . 13 .8 kΩ Resistansi ekivalen dan reaktansi bocor ekivalen diperoleh dari uji hubung singkat.33 Ω .4) 2 × 3.4 A → Pcu = I 1 2 Ret = (10. Uji hubung singkat yang dilakukan di sisi tegangan tinggi ini memberikan 2 Ret = Pt It 2 = 360 (10. X φr = = = 158 Ω I c I cos θ 1.95 Jika dilihat dari sisi tegangan tinggi :  2400  Rct = a 2 Rcr =   × 500 = 50 kΩ  240  X φt = a 2 X φr = 15.6 240 × 1.6 × 0.

7.976 atau 97.474 KW a). Efisiensi dan Regulasi Tegangan Efisiensi suatu piranti didefinisikan sebagai η= daya keluaran [watt] daya masukan [watt] (18) Karena daya keluaran sama dengan daya masukan dikurangi rugi-rugi daya. Hitunglah efisiensinya. Jadi Regulasi Tegangan = = V2 beban nol − V2 beban penuh V2 beban penuh = V1 − aV2 aV2 ′ V − V2 = 1 ′ V2 (25) V1 / a − V2 V2 Dengan memperhatikan diagram fasor Gb. 14 Sudaryatno Sudirham. Untuk transformator rugi-rugi daya dapat segera diperoleh melalui uji beban nol dan uji hubung singkat.8.rugi daya [watt] daya masukan [watt] (19) Formulasi (19) ini lebih sering digunakan. Daya keluaran : Po = 25000 × 0.9. mencatu beban 25 KVA pada faktor daya 0. Mengambil V2 sebagai referensi : V′2 = 10×240 = 2400∠0o V. a). Regulasi tegangan transformator didefinisikan sebagai perubahan besarnya tegangan sekunder bila arus berubah dari beban penuh ke beban nol dengan tegangan primer dijaga tetap. yaitu jumlah rugi inti dan rugi tembaga.474 Efisiensi : η = 1 − = 0.6 % 20 b). Hitunglah regulasi tegangannya.8 = 20 KW 0. maka efisiensi dapat dinyatakan sebagai η =1− rugi . Penyelesaian : Total rugi daya : Pc + cu = 114 + 360 = 474 W = 0. maka (25) menjadi Regulasi Tegangan = ′ ′ V2 + I ′2 ( Re + jX e ) − V2 ′ V2 (26) CO TOH-6 : Transformator pada CONTH-5. Transformator . b).

Pembagian belitan seperti ini masih mungkin dilanjutkan untuk lebih menekan fluksi bocor. Tegangan = 2400∠0 o + 10. memperlihatkan konstruksi tipe sel.7. Gb. 15 . dengan beaya yang sudah barang tentu lebih tinggi. Gb.4∠ − 36. Konstruksi ini sesuai untuk tegangan tinggi karena masalah isolasi lebih mudah ditangani. T : jumlah lilitan tegangan tinggi R : jumlah lilitan tegangan rendah.9.8 o (3. kita melihat transformator dengan satu inti dua belitan. Untuk mengurang fluksi bocor.8 = 10.I ′2 = I 2 / a = (25000 / 240) / 10∠ − cos −1 0. R T/ 2 /2 R /2 T / 2 4 /2 T R/ 2 T/2 R/4 a). Belitan primer digulung pada salah satu kaki inti dan belitan sekunder digulung pada kaki inti yang lain.8 o Reg.a. R/ a). Dua tipe konstruksi transformator. Dua tipe konstruksi yang biasa digunakan pada transformator satu fasa adalah core type (tipe inti) dan shell type (tipe sel). belitan primer dan sekunder masing-masing dibagi menjadi dua bagian dan digulung di setiap kaki inti. Belitan tegangan rendah digulung dekat dengan inti yang kemudian dilingkupi oleh belitan tegangan tinggi. tipe sel.33 + j 4. Konstruksi Transformator Dalam pembahasan transformator. tipe inti.9. Konstruksi ini sesuai untuk transformator daya dengan arus besar. Gb.022 atau 2.b.9. Belitan primer dan sekunder digulung secara konsentris dengan belitan sekunder berada di dalam belitan primer.1) − 2400 2400 0.4∠ − 36.2 % 8. Inti pada konstruksi ini memberikan perlindungan mekanis lebih baik pada belitan. memperlihatkan konstruksi tipe inti dengan belitan primer dan sekunder yang terbagi dua. Dalam kenyataan tidaklah demikian. Dengan cara ini fluksi bocor dapat ditekan sampai hanya beberapa persen dari fluksi bersama.

VWO dengan nilai VFP . Transformator Pada Sistem Tiga Fasa Pada sistem tiga fasa. Untuk penyaluaran daya yang sama. VZO dengan nilai VFS. hubungan sekunder harus diperhatikan agar sistem tetap seimbang. VYO . dan tegangan fasa sekunder kita sebut VXO .9. dengan melihat pelayanan sistem tiga fasa melalui tiga unit transformator satu fasa. Misalnya beaya awal yang lebih rendah. Diagram hubungan ini diperlihatkan pada Gb. LP = FP = V LS V FP I LS I FS 3 a (27) 16 Sudaryatno Sudirham. Nilai arus saluran primer dan sekunder masing-masing kita sebut ILP dan ILS sedang nilai arus fasanya IFP dan IFS . Dengan mengabaikan rugi-rugi untuk hubungan ∆-∆ kita peroleh : V LP V FP I I 3 1 = = a . Fasa primer disebut dengan fasa U-V-W sedangkan fasa sekunder disebut fasa X-Y-Z. Pada dasarnya kedua cara adalah sama. Pada waktu menghubungkan tiga transformator satu fasa untuk melayani sistem tiga fasa. Hubungan ∆−∆. Terjadinya kerusakan pada salah satu unit tidak mengharuskan pemutusan seluruh penyaluran daya. jika untuk sementara beban dapat dilayani dengan dua unit saja dan unit ketiga ditambahkan jika penambahan beban telah terjadi. Transformator tiga fasa mempunyai inti dengan tiga kaki dan setiap kaki mendukung belitan primer dan sekunder. Akan tetapi penggunaan tiga unit transformator satu fasa juga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan satu unit transformator tiga fasa. Transformator . Pemilihan cara mana yang lebih baik. Rasio tegangan fasa primer terhadap sekunder VFP / VFS = a . (b) menggunakan satu unit transformator tiga fasa. penaikan dan penurunan tegangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (a) menggunakan tiga unit transformator satu fasa. Berikut ini kita akan melihat hubungan primer-sekunder transformator. lebih murah dan lebih efisien dibandingkan dengan tiga unit transformator satu fasa. penggunaan satu unit transformator tiga fasa akan lebih ringan. Fasor tegangan fasa primer kita sebut VUO . tergantung dari berbagai pertimbangan keadaan-khusus.10. VVO . Nilai tegangan saluran (tegangan fasa-fasa) primer dan sekunder kita sebut VLP dan VLS .

Hubungan ∆-Y Hubungan Y-Y. Perbandingan tegangan fasa-fasa primer dan sekunder adalah 17 . Hubungan ini diperlihatkan pada Gb. Tegangan fasa-fasa pimer sama dengan tegangan fasa primer.11. Dengan mengabaikan rugi-rugi kita peroleh V LP V I I 3 a 3 = FP = .U X VUO V VXO Y VUV = VUO VVO W VYO Z VXY = VXO VWO VZO Gb. Hubungan ∆-∆. Hubungan ini diperlihatkan pada Gb.12. U V X (28) VUO VVO VWO VXO Y VUV = VUO VZO VXY W VYO Z VXO VYO VZO Gb. tegangan fasa-fasa sekunder sama dengan √3 kali tegangan fasa sekunder dengan perbedaan sudut fasa 30o.11. LP = FP = V LS V FS 3 I LS I FS a 3 Fasor tegangan fasa-fasa sekunder mendahului primer 30o.10. Hubungan ∆-Y. Tegangan fasa-fasa pimer sama dengan √3 kali tegangan fasa primer dengan perbedaan sudut fasa 30o. sedangkan tegangan fasa-fasa sekunder sama dengan √3 kali tegangan fasa sekunder dengan perbedaan sudut fasa 30o.

V LP V FP 3 I I 1 = = a . Transformator . Hubungan ini terlihat pada Gb. LP = FP = V LS V FS 3 I LS I FS a (29) Antara fasor tegangan fasa-fasa primer dan sekunder tidak terdapat perbedaan sudut fasa. 18 Sudaryatno Sudirham. sedangkan tegangan fasa-fasa sekunder sama dengan tegangan fasa sekunder.13. Tegangan fasa-fasa pimer sama dengan √3 kali tegangan fasa primer dengan perbedaan sudut fasa 30o.12. V LS V FS I LP I 1 = FP = I LS I FS 3 a 3 (30) Fasor tegangan fasa-fasa primer mendahului sekunder 30o. Dengan mengabaiakan rugi-rugi diperoleh V LP V FP 3 = =a 3 . U X VUO V VXO Y VVO VYO W VWO VZO Z VWO VUV VZO VXY VUO VVO VYO Gb. Hubungan Y-Y VXO Hubungan Y-∆.

U X VUO V VXO Y VVO VYO W VWO VZO Z VWO VUV VXY = VXO VZO VUO VYO VVO Gb. arus saluran sekunder dan daya keluaran untuk hubunganhubungan berikut : (a) ∆-∆ . hitunglah tegangan saluran sekunder. Untuk hubungan ∆-∆ : V V 6600 V LS = V FS = FP = LP = = 550 V .13. Hubungan Y-∆ CO TOH-7 : Sebuah transformator penurun tegangan 3 fasa. tegangan primernya dihubungkan pada sumber 6600 V dan mengambil arus 10 A. (b) Y-Y . a a 12 I I LS = I FS 3 = aI FP 3 = a LP 3 = 12 × 10 = 120 A. (d) Y-∆ . 3 19 . (c) ∆-Y . Jika rasio transformasi adalah 12. Penyelesaian : a).

12 3 a I LS == I FS = aI FP = aI LP = 12 × 10 = 120 A. 20 Sudaryatno Sudirham.3 A. Dengan mengabaikan rugi-rugi daya keluaran sama dengan daya masukan.3 kVA. 12 a I 10 = 69. S keluaran = S masukan = V LP I LP 3 = 6. a a 3 12 3 I LS = I FS 3 = aI FP 3 = aI LP 3 = 12 × 10 × 3 = 208 A .b).6 × 10 3 = 114. I LS = I FS = aI FP = a LP = 12 3 3 d) Untuk hubungan Y-∆ : V 1 V LP 1 6600 V LS = V FS = FP = = = 318 V . V 6600 3 = LP 3 = 3 = 953 V . Transformator . Untuk hubungan ∆-Y : V V LS = V FS 3 = FP a V 3 6600 3 = LP = = 550 V . Untuk hubungan Y-Y : V V LS = V FS 3 = FP a c).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful