PENGELOLAAN
DAN
PENCEGAHAN

 DIABETES
MELITUS
TIPE
2

 DI
INDONESIA



 
 
 
 
 
 
 
 KONSENSUS



2011


 
 
 
 
 
 
 



 
 
 PERKUMPULAN
ENDOKRINOLOGI
INDONESIA


I.PENDAHULUAN
 
Buku panduan berikut berisikan konsensus pengelolaan dan pencegahan bagi penyandang diabetes yang merupakan revisi konsensus pengelolaan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia hasil kesepakatan para pakar DM nasional yang mulai dirintis PB PERKENI sejak pertemuan tahun 1993 di Jakarta. Revisi buku konsensus 2010 merupakan revisi buku konsensus pengelolaan DM yang keempat. Setelah revisi buku konsensus pertama tahun 1998 dan revisi kedua tahun 2002, dilakukan revisi ketiga yang diselesaikan tahun 2006. Mengingat sebagian besar penyandang diabetes adalah kelompok DM tipe 2, konsensus pengelolaan berikut terutama disusun untuk DM tipe 2, sedangkan untuk kelompok DM tipe 1 dan pengelolaan diabetes pada kehamilan, dibicarakan dalam buku panduan tersendiri. Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009, memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030. Laporan dari hasil penilitian di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980-an menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe 2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan di Manado. Hasil penelitian pada rentang tahun 1980-2000 menunjukkan peningkatan prevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh, pada penelitian di Jakarta (daerah urban), prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 naik menjadi 5,7% pada tahun 1993 dan meroket lagi menjadi 12,8% pada tahun 2001. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM sebesar 14,7% pada daerah urban dan 7,2%, pada daerah rural, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat sejumlah 8,2 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk yang

1
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2


berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan, menunjukkan bahwa prevalensi DM di daerah urban Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensi terkecil terdapat di Propinsi Papua sebesar 1,7%, dan terbesar di Propinsi Maluku Utara dan Kalimanatan Barat yang mencapai 11,1%. Sedangkan prevalensi toleransi glukosa terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% di Propinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi Papua Barat. Data-data di atas menunjukkan bahwa jumlah penyandang diabetes di Indonesia sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang ada. Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar, maka semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, sudah seharusnya ikut serta dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan. Pada strategi pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes, peran dokter umum menjadi sangat penting sebagai ujung tombak di pelayanan kesehatan primer,. Kasus DM sederhana tanpa penyulit dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter umum di pelayanan kesehatan primer. Penyandang diabetes yang berpotensi mengalami penyulit DM perlu secara periodik dikonsultasikan kepada dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolisme, dan diabetes di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi di rumah sakit rujukan. Demikian pula penyandang diabetes dengan glukosa darah yang sukar dikendalikan dan penyandang diabetes dengan penyulit. Pasien dapat dikirim kembali kepada dokter pelayanan primer setelah penanganan di rumah sakit rujukan selesai. Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. Dalam pengelolaan penyakit tersebut, selain dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain, peran pasien dan keluarga menjadi sangat penting. Edukasi kepada pasien dan keluarganya bertujuan dengan memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit, dan penatalaksanaan DM, akan sangat membantu meningkatkan keikutsertaan keluarga dalam usaha memperbaiki hasil

2
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2


besarnya bagi penyandang diabetes. 
 3
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .1. mengingat perkumpulan tersebut dapat membantu meningkatkan pengetahuan penyandang diabetes tentang penyakitnya dan meningkatkan peran aktif mereka dalam memodifikasi pengobatan DM. Definisi Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010. dan lain-lain menjadi sangat dibutuhkan. PEDI. Penyempurnaan dan revisi secara berkala standar pelayanan harus selalu dilakukan dan disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan ilmu mutakhir. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna. 
 I. sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar. atau kedua-duanya. diperlukan suatu standar pelayanan minimal bagi penyandang diabetes. Dalam konteks ini keberadaan organisasi perkumpulan penyandang diabetes seperti PERKENI. kerja insulin.pengelolaan. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. serta untuk menekan angka kejadian penyulit DM. PERSADIA.

2. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 4
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 
 . Klasifikasi Klasifikasi DM dapat dilihat pada tabel 1.I.


 
 Bagan Pengelolaan Diabetes Melitus 
 Tipe 2 2
 
 Hiperkoagulasi

 
 
 Hipertensi

 
 
 Penyakit
jantung
koroner
 
 
 
 
 
 Diagnosis

 
 
 
 Diagnosis:
 
 Komorbiditas
 
 
 Infeksi
lain

 Infeksi
paru

 Diagnosis:
 Komplikasi
 Neuropati
perifer
 Kelainan
pembuluh
darah

 daradarah
perifer
 5
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

1.Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 II. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM 2. II. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood). Guna penentuan diagnosis DM. gatal. Jika keluhan klasik ditemukan. Diagnosis Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. polifagia. serta pruritus vulvae pada wanita Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara: 1. Langkah-langkah diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa dapat dilihat pada bagan 1. Diagnosis diabetes melitus Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus. kesemutan. dan disfungsi ereksi pada pria. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini:  Keluhan klasik DM berupa: poliuria. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya  Keluhan lain dapat berupa: lemah badan. 3. pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena.1. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik. polidipsia. Kriteria diagnosis 6
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. vena. mata kabur.1. ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angkaangka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO.II.

Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11. DM untuk dewasa tidak hamil dapat dilihat pada tabel-2.1 mmol/L) Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir Atau 2.6 – 6. 2. GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL (5. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM. Cara pelaksanaan TTGO (WHO. jika dilakukan pada sarana laboratorium yang telah terstandardisasi dengan baik.5%) oleh ADA 2011 sudah dimasukkan menjadi salah satu kriteria diagnosis DM. bergantung pada hasil yang diperoleh. Kriteria diagnosis DM 
 1. 1994): • Tiga hari sebelum pemeriksaan. Tabel 2. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO ≥200 mg/dL (11. Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL (7. pasien tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa 7
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .1. * Pemeriksaan HbA1c (>6. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 – 199 mg/dL (7. menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.0 mmol/L) Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam Atau 3.1 mmol/L) TTGO yang dilakukan dengan standar WHO.0 mmol/L).8-11.9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula darah 2 jam < 140 mg/dL. maka dapat digolongkan ke dalam kelompok toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT).

Kedua keadaan tersebut juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit kardiovaskular dikemudian hari.75 gram/kgBB (anak-anak). 8
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .1. Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi glukosa. Pemeriksaan penyaring untuk tujuan penjaringan masal (mass screening) tidak dianjurkan mengingat biaya yang mahal. atau 1.2. Pemeriksaan penyaring Pemeriksaan penyaring dilakukan pada mereka yang mempunyai risiko DM (seperti terlihat pada halaman 33). merupakan tahapan sementara menuju DM. maupun GDPT. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Skema langkah-langkah pemeriksaan pada kelompok yang memiliki risiko DM dapat dilihat pada bagan 1. TGT.• • • • • • Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan penyaring dianjurkan dikerjakan pada saat pemeriksaan untuk penyakit lain atau general check-up. dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai Diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa Selama proses pemeriksaan. subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok II. sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. yang pada umumnya tidak diikuti dengan rencana tindak lanjut bagi mereka yang diketemukan adanya kelainan. Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan DM. namun tidak menunjukkan adanya gejala DM. minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan Diperiksa kadar glukosa darah puasa Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa).

Bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko lain. pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun. 
 
 
 
 9
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dilakukan ulangan tiap tahun.
 
 
 Catatan : Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil.Kadar glukosa darah sewaktu dan glukosa darah puasa sebagai patokan penyaring dapat dilihat pada tabel 3.

2.1. mempertahankan rasa nyaman.2. Langkah-langkah diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa II. dan mencapai target pengendalian glukosa darah. II. Tujuan penatalaksanaan  Jangka pendek: menghilangkan keluhan dan tanda DM. makroangiopati. 10
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes.Bagan 1.  Jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati. dan neuropati.

terutama infeksi kulit. gigi. tekanan darah.2. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.2. berat badan. perencanaan makan dan program latihan jasmani  Riwayat komplikasi akut (ketoasidosis diabetik. dan hipoglikemia)  Riwayat infeksi sebelumnya.1. II. saluran pencernaan. mata. termasuk obat yang digunakan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah. dan hasil pemeriksaan khusus yang terkait DM  Pola makan.`Evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama: Evaluasi medis meliputi:  Riwayat Penyakit  Gejala yang timbul. termasuk terapi gizi medis dan penyuluhan yang telah diperoleh tentang perawatan DM secara mandiri. dan riwayat perubahan berat badan  Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda  Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap. serta kepercayaan yang diikuti dalam bidang terapi kesehatan  Pengobatan yang sedang dijalani. dan profil lipid. status nutrisi. dan traktus urogenitalis serta kaki  Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik (komplikasi pada ginjal.Langkah-langkah penatalaksanaan penyandang diabetes II.2. A1C. melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.  Hasil pemeriksaan laboratorium terdahulu meliputi: glukosa darah.)  Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah 11
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dll. hiperosmolar hiperglikemia.2.

sedimen. dan riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan endokrin lain)  Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM  Pola hidup. termasuk jari  Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan insulin) dan pemeriksaan neurologis  Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe-lain Evaluasi Laboratoris / penunjang lain  Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial  A1C  Profil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total. obesitas. dan status ekonomi  Kehidupan seksual. dan protein dalam urin  Elektrokardiogram  Foto sinar-x dada  12
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dan kehamilan. riwayat penyakit jantung koroner. psikososial. HDL. dan trigliserida)  Kreatinin serum  Albuminuria  Keton. baik secara palpasi maupun dengan stetoskop  Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah. serta ankle brachial index (ABI). termasuk pengukuran tekanan darah dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik. penggunaan kontrasepsi. hipertensi. pendidikan. budaya. berat badan. Faktor risiko: merokok. dan lingkar pinggang  Pengukuran tekanan darah. untuk mencari kemungkinan penyakit pembuluh darah arteri tepi  Pemeriksaan funduskopi  Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid  Pemeriksaan jantung  Evaluasi nadi.  Pemeriksaan Fisik  Pengukuran tinggi badan. LDL.

Evaluasi medis secara berkala • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan.2. Rujukan Sistem rujukan perlu dilakukan pada seluruh pusat pelayanan kesehatan yang memungkinkan dilakukan rujukan. dan trigliserida  EKG  Foto sinar-X dada  Funduskopi II. Pilar penatalaksanaan DM 1. Latihan jasmani 4. Terapi gizi medis 3. Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. kolesterol LDL. Konsultasi lain sesuai kebutuhan II.2.2. spesialis perilaku (psikolog) atau spesialis lain sebagai bagian dari pelayanan dasar. Intervensi farmakologis Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). kolesterol HDL.3. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan 13
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Edukasi 2. atau pada waktu-waktu tertentu lainnya sesuai dengan kebutuhan • Pemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulan • Secara berkala dilakukan pemeriksaan:  Jasmani lengkap  Mikroalbuminuria  Kreatinin  Albumin / globulin dan ALT  Kolesterol total.2. Rujukan meliputi: Rujukan ke bagian mata Rujukan untuk terapi gizi medis sesuai indikasi Rujukan untuk edukasi kepada edukator diabetes Rujukan kepada perawat khusus kaki (podiatrist).

2.  Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi.1.3.atau suntikan insulin. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter. petugas kesehatan yang lain serta pasien dan keluarganya). dan adanya ketonuria. stres berat. Terapi Nutrisi Medis  Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total. sesuai indikasi. Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri.2. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan. II.  Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. insulin dapat segera diberikan. ahli gizi. tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien. 14
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dan jumlah makanan. keluarga dan masyarakat. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri. setelah mendapat pelatihan khusus. Berbagai hal tentang edukasi dibahas lebih mendalam di bagian promosi perilaku sehat di halaman 38. berat badan yang menurun dengan cepat. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat.2. dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. II. jenis. terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. misalnya ketoasidosis. Pada keadaan tertentu. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku.3. Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan.

 Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu penuh (whole milk).8 g/Kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi. Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.  Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain  Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. ayam tanpa kulit.A. kacang-kacangan. cumi. 15
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . daging tanpa lemak. Lemak  Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori.  Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan  Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.  Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori  Lemak tidak jenuh ganda < 10 %. selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari: Karbohidrat  Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. tahu.  Anjuran konsumsi kolesterol < 200 mg/hari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.  Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0. udang. produk susu rendah lemak.  Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula. dll). dan tempe.  Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan. asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake)  Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. Protein  Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.

Serat  Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan. dan neotame. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal. dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat.  Dalam penggunaannya. sakarin.  Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted Daily Intake / ADI) B. pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.  Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari. dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. serat.  Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara lain aspartam. lactitol. buah. mannitol. acesulfame potassium.  Mereka yang hipertensi. karena mengandung vitamin.  Sumber natrium antara lain adalah garam dapur. Kebutuhan kalori Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang diabetes.  Gula alkohol antara lain isomalt. Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa. vetsin. sukralose.  Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena efek samping pada lemak darah. dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. 16
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . soda.Natrium  Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 gram (1 sendok teh) garam dapur. Pemanis alternatif  Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori. sorbitol dan xylitol. mineral. pembatasan natrium sampai 2400 mg garam dapur. maltitol.

Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/ TB(m2) Klasifikasi IMT*  BB Kurang  BB Normal  BB Lebih o Dengan risiko o Obes I o Obes II < 18.0-24. aktivitas.9 > 30 *WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment. di atas usia 70 tahun.100) x 1 kg.  Aktivitas Fisik atau Pekerjaan 17
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . BB Normal : BB ideal ± 10 % Kurus : < BBI . Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sbb:  Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm . berat badan. rumus dimodifikasi menjadi : Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm .5-22. dll. Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB. umur.100) x 1 kg.ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor seperti: jenis kelamin. 
 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :  Jenis Kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69 tahun dan dikurangi 20%.9 25.0-29.10 % Gemuk : > BBI + 10 % Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).9 ≥ 23.  Umur Untuk pasien usia di atas 40 tahun.5 18.0 23.  Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm. kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun.

 Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%). C. siang (30%). dan sore (25%). serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan.  Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal perhari untuk pria. 30% dengan aktivitas sedang.  Berat Badan  Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan  Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.  Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat. dan 50% dengan aktivitas sangat berat. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien. pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya.Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Pilihan Makanan Pilihan makanan untuk penyandang diabetes dapat dijelaskan melalui piramida makanan untuk penyandang diabetes (lihat pada lampiran 1) 18
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

2. bersepeda santai. menggunakan tangga. Untuk mereka yang relatif sehat.II. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). Terapi farmakologis Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. 1. Obat hipoglikemik oral 19
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan.3. merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki. berkebun harus tetap dilakukan (lihat tabel 4). jogging.3. II. dan berenang. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar.4. intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan.3. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.2.

Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial. Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa. gangguan faal ginjal dan hati. dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Peningkat sensitivitas terhadap insulin: metformin dan tiazolidindion C. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid B. Pemicu Sekresi Insulin 1. Peningkat sensitivitas terhadap insulin  Tiazolidindion 20
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . 2. dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang.Berdasarkan cara kerjanya. tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. E. DPP-IV inhibitor A. Namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. B. kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua. OHO dibagi menjadi 5 golongan: A. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Penghambat glukoneogenesis (metformin) D.

5 mg/dL) dan hati. sepsis. renjatan. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. serta pasienpasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro-vaskular. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >1.Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-g). Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Metformin dapat memberikan efek samping mual. C. *golongan rosiglitazon sudah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya. gagal jantung). sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Penghambat glukoneogenesis  Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) 21
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa. D. Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara titrasi pada awal penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau efek samping obat tersebut.

Mekanisme kerja OHO. Berbagai obat yang masuk golongan DPP-4 inhibitor. Namun demikian.36)amide yang tidak aktif. GLP-1 merupakan perangsang kuat penglepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glukagon. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. atau memberikan hormon asli atau analognya (analog incretin=GLP-1 agonis). efek samping utama. secara cepat GLP-1 diubah oleh enzim dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4). E. serta pengaruh obat terhadap penurunan A1C dapat dilihat pada tabel 5. berat bahan aktif (mg) per tablet. Peningkatan konsentrasi GLP-1 dapat dicapai dengan pemberian obat yang menghambat kinerja enzim DPP-4 (penghambat DPP-4).Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus. mampu menghambat kerja DPP-4 sehingga GLP-1 tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu merangsang penglepasan insulin serta menghambat penglepasan glukagon. DPP-IV inhibitor Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormon peptida yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. menjadi metabolit GLP-1-(9. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. dan waktu pemberian dapat dilihat pada lampiran 2. sedangkan nama obat. Sekresi GLP-1 menurun pada DM tipe 2. 22
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . sehingga upaya yang ditujukan untuk meningkatkan GLP-1 bentuk aktif merupakan hal rasional dalam pengobatan DM tipe 2. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. lama kerja. dosis harian.

Cara Pemberian OHO. dapat diberikan sampai dosis optimal  Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan  Repaglinid. Agonis GLP-1/incretin mimetic 1. yakni: • Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) • Insulin kerja pendek (short acting insulin) • Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) • Insulin kerja panjang (long acting insulin) 23
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . insulin terbagi menjadi empat jenis. Suntikan 1. stroke) • Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan • Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat • Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO Jenis dan lama kerja insulin Berdasar lama kerja. terdiri dari:  OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah. IMA. Insulin 2. Nateglinid: sesaat sebelum makan  Metformin : sebelum / pada saat / sesudah makan  Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapan pertama  Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan.  DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atau sebelum makan. operasi besar. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan: • Penurunan berat badan yang cepat • Hiperglikemia berat yang disertai ketosis • Ketoasidosis diabetik • Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik • Hiperglikemia dengan asidosis laktat • Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal • Stres berat (infeksi sistemik. 2.

Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang fisiologis. Kombinasi insulin basal dengan 24
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Hal ini dapat dicapai dengan terapi oral maupun insulin. sebelum makan). maka dilakukan pengendalian glukosa darah prandial (meal-related). Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa. • Penyesuaian dosis insulin basal untuk pasien rawat jalan dapat dilakukan dengan menambah 2-4 unit setiap 3-4 hari bila sasaran terapi belum tercapai. sedangkan defisiensi insulin prandial akan menimbulkan hiperglikemia setelah makan. • Defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal. Insulin yang dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah prandial adalah insulin kerja cepat (rapid acting) atau insulin kerja pendek (short acting). insulin prandial atau keduanya. sedangkan A1C belum mencapai target. Efek samping terapi insulin • Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. • Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap defisiensi yang terjadi. • Penatalaksanaan hipoglikemia dapat dilihat dalam bab komplikasi akut DM. • Sasaran pertama terapi hiperglikemia adalah mengendalikan glukosa darah basal (puasa. kerja pendek dan menengah (premixed insulin). Jenis dan lama kerja insulin dapat dilihat pada lampiran 3.• Insulin campuran tetap. Dasar pemikiran terapi insulin: • Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi prandial. • Apabila sasaran glukosa darah basal (puasa) telah tercapai. • Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin. Insulin yang dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah basal adalah insulin basal (insulin kerja sedang atau panjang).

Terdapat sediaan insulin campuran (mixed insulin) antara insulin kerja pendek dan kerja menengah. Harus diperhatikan kesesuaian konsentrasi insulin dalam kemasan (jumlah unit/mL) dengan semprit yang dipakai (jumlah unit/mL dari semprit). Teknik pencampuran dapat dilihat dalam buku panduan tentang insulin. Cara Penyuntikan Insulin Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan). dapat dilakukan pencampuran sendiri antara kedua jenis insulin tersebut. dengan perbandingan dosis yang tertentu. demikian pula mengenai rotasi tempat suntik. atau 1 kali basal + 3 kali prandial (basal bolus). semprit insulin dan jarumnya dapat dipakai lebih dari satu kali oleh penyandang diabetes yang sama. Apabila diperlukan. cara penyuntikan maupun cara insulin harus dilakukan dengan benar. Terapi insulin tunggal atau kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respons individu. dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap cubitan permukaan kulit. atau 1 kali basal + 2 kali prandial (basal 2 plus). Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena secara bolus atau drip. yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian. Dianjurkan memakai konsentrasi yang tetap. Saat ini yang tersedia hanya U100 (artinya 100 unit/mL). sejauh sterilitas penyimpanan terjamin. atau penghambat penyerapan karbohidrat dari lumen usus (acarbose). Lokasi penyuntikan. Apabila tidak terdapat sediaan insulin campuran tersebut atau diperlukan perbandingan dosis yang lain. • • • • • • 
 25
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .• • insulin prandial dapat diberikan subkutan dalam bentuk 1 kali insulin basal + 1 kali insulin prandial (basal plus). Insulin basal juga dapat dikombinasikan dengan OHO untuk menurunkan glukosa darah prandial seperti golongan obat peningkat sekresi insulin kerja pendek (golongan glinid).

26
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . obat ini terbukti memperbaiki cadangan sel beta pankreas. Agonis GLP-1
 Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan pendekatan baru untuk pengobatan DM. Agonis GLP-1 bahkan mungkin menurunkan berat badan. Efek samping yang timbul pada pemberian obat ini antara lain rasa sebah dan muntah. Pada percobaan binatang. Efek agonis GLP-1 yang lain adalah menghambat penglepasan glukagon yang diketahui berperan pada proses glukoneogenesis.2. Agonis GLP-1 dapat bekerja sebagai perangsang penglepasan insulin yang tidak menimbulkan hipoglikemia ataupun peningkatan berat badan yang biasanya terjadi pada pengobatan dengan insulin ataupun sulfonilurea.

pemberian 3x/hari.4% Tidak ada kaitan Sering menimbulkan efek dengan berat badan gastrointestinal.0% Tidak ada kaitan dengan berat badan Penghambat glukosidasealfa Tiazolidindio n Flatulens.8% 0. hipoglikemia Dispepsia. mahal DPP-4 inhibitor Meningkatkan sekresi insulin. badan penggunaan jangka panjang tidak disarankan. lipid fraktur.. berpotensi (pioglitazon). dan mahal Insulin Menekan produksi glukosa hati.5-3. Perbandingan Golongan OHO 
 Sulfonilurea Cara kerja utama Meningkatkan sekresi insulin Meningkatkan sekresi insulin Menekan produksi glukosa hati & menambah sensitifitas terhadap insulin Menghambat absorpsi glukosa Menambah sensitifitas terhadap insulin Efek samping utama BB naik. BB naik 1.5% Sangat efektif Metformin 1. muntah 0. muntah 0.0% Penurunan berat Injeksi 2x/hari.0-2. meningkatkan lipid da sangat efektif berat badan. harganya mahal dan hipoglikemia Efek samping gastrointestinal.5-0. hipoglikemia (glibenklamid dan klorpropamid) Meningkatkan berat badan. CHF. asidosis laktat Reduksi A1C 1.0-2. harus memperbaiki profil dimonitor. hipoglikemia BB naik.5-1. diare.Tabel 4. Injeksi 1-4 kali/hari.berpoten menimbulkan infark si menurunkan infark miokard. menghambat sekresi glukagon Sebah. dan mahal miokard (pioglitazon) Tidak ada kaitan dengan berat badan Penggunaan jangka panjang tidak disarankan.5-1. hipoglikemia dan analognya mahal 27
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .5-1.5% Dosis tidak terbatas. 3x/hari dan mahal Memperbaiki profil Retensi cairan. stimulasi pemanfaatan glukosa Hipoglikemi. kontraindikasi pada insufisiensi renal Glinid 0.5-0.8% Inkretin analog/mimeti k Meningkatkan sekresi insulin. menghambat sekresi glukagon Sebah. tinja lembek Edema 0.0% Keuntungan Sangat efektif Kerugian Meningkatkan berat badan.

yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Algoritma pengobatan DM tipe 2 tanpa dekompensasi metabolik dapat dilihat pada bagan 2. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali. dan pemeriksaan penunjang. Untuk kombinasi OHO dan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai.3. kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. (lihat bagan 2 tentang algoritma pengelolaan DM tipe 2). untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah: 28
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . pemeriksaan jasmani.2. bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini.4. terapi dengan kombinasi tiga OHO dapat menjadi pilihan. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. 
 II. maka OHO dihentikan dan diberikan terapi kombinasi insulin. Penilaian hasil terapi Dalam praktek sehari-hari.00. harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai. Terapi dengan OHO kombinasi (secara terpisah ataupun fixed-combination dalam bentuk tablet tunggal). Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah. hasil pengobatan DM tipe 2 harus dipantau secara terencana dengan melakukan anamnesis. dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin.

yang disebut juga sebagai glikohemoglobin.2. Guna mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa.4. 2.II. merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Tes ini tidak dapat digunakan untuk menilai hasil pengobatan jangka pendek.4. glukosa 2 jam post prandial. minimal 2 kali dalam setahun. atau glukosa darah pada waktu yang lain secara berkala sesuai dengan kebutuhan. Pemeriksaan kadar glukosa darah Tujuan pemeriksaan glukosa darah: • Untuk mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai • Untuk melakukan penyesuaian dosis obat. Pemeriksaan A1C Tes hemoglobin terglikosilasi. 2.1. atau hemoglobin glikosilasi (disingkat sebagai A1C). Pemeriksaan A1C dianjurkan dilakukan setiap 3 bulan. bila belum tercapai sasaran terapi. 
 29
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . II.

Bagan 2. Algoritma pengelolaan DM tipe 2 tanpa disertai dekompensasi 
 Bagan 3. Algoritma pengelolaan DM tipe 2 tanpa disertai dekompensasi (alternatif terutama untuk internist) 
 30
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

Penyandang DM yang direncanakan mendapat terapi insulin
 .Penyandang DM dengan terapi insulin berikut 
 o Pasien dengan A1C yang tidak mencapai target setelah terapi
 o Wanita yang merencanakan hamil
 o Wanita hamil dengan hiperglikemia
 o Kejadian hipoglikemia berulang
 31
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Prosedur PGDM dapat dilihat pada tabel 5. dan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala). 2 jam setelah makan (menilai ekskursi maksimal glukosa).3. Waktu yang dianjurkan adalah pada saat sebelum makan. atau ketika mengalami gejala seperti hypoglycemic spells. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kaliberasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi.II. hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional. tergantung pada tujuan pemeriksaan yang pada umumnya terkait dengan terapi yang diberikan. menjelang waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia).2. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi insulin. Secara berkala.4. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler. Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. PDGM terutama dianjurkan pada: 
 .

Batas ekskresi glukosa renal rata-rata sekitar 180 mg/dL. Pemantauan Benda Keton Pemantauan benda keton dalam darah maupun dalam urin cukup penting terutama pada penyandang DM tipe 2 yang terkendali buruk (kadar glukosa darah >300 mg/dL).00
 
 
 II.4. bahkan pada pasien yang sama dalam jangka waktu lama. Prosedur pemantauan 
 *ADA menganjurkan pemeriksaan kadar glukosa darah malam hari (bedtime) dilakukan pada jam 22. dapat bervariasi pada beberapa pasien. Tes benda keton urin mengukur kadar asetoasetat. Pemeriksaan Glukosa Urin Pengukuran glukosa urin memberikan penilaian yang tidak langsung. Saat ini telah dapat dilakukan pemeriksaan kadar asam beta 32
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .4.2. Hanya digunakan pada pasien yang tidak dapat atau tidak mau memeriksa kadar glukosa darah.5. sementara benda keton yang penting adalah asam beta hidroksibutirat.2. Hasil pemeriksaan sangat bergantung pada fungsi ginjal dan tidak dapat dipergunakan untuk menilai keberhasilan terapi.4. II.Table 5. Pemeriksaan benda keton juga diperlukan pada penyandang diabetes yang sedang hamil.

mengacu pada batasan kriteria pengendalian sedang. Untuk pasien berumur lebih dari 60 tahun dengan komplikasi. apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan. Kriteria pengendalian DM Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. dapat mencegah terjadinya penyulit akut diabetes. diperlukan pengendalian DM yang baik yang merupakan sasaran terapi.0 mmol/L indikasi adanya KAD. di atas 1. khususnya KAD. Diabetes terkendali baik. II. dan lain-lain. Hal ini dilakukan mengingat sifat-sifat khusus pasien usia lanjut dan juga untuk mencegah kemungkinan timbulnya efek samping hipoglikemia dan interaksi obat. Demikian pula kadar lipid.6 mmol/L dianggap normal. Kriteria keberhasilan pengendalian DM dapat dilihat pada Tabel 6.
 
 33
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Demikian pula status gizi dan tekanan darah.0 mmol/L disebut ketosis dan melebihi 3. dan sesudah makan 145-180 mg/dL). tekanan darah.5.hidroksibutirat dalam darah secara langsung dengan menggunakan strip khusus. sasaran kendali kadar glukosa darah dapat lebih tinggi dari biasa (puasa 100-125 mg/dL. Kadar asam beta hidroksibutirat darah <0. Pengukuran kadar glukosa darah dan benda keton secara mandiri.2.

Target Pengendalian DM IMT (kg/m2) Risiko kardiiovaskular (-) 18.Tabel 6.0 ≤ 130 ≤ 80 < 7.5 .<23 Risiko kardiovaskular (+) Glukosa darah Puasa (mg/dL) < 100 2 jam PP (mg/dL) A1C (%) Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Profil Lipid Total kolesterol (mg/dL) Trigliserid (mg/dL) HDL kolesterol (mg/dL) LDL kolesterol (mg/dL) < 140 < 7.0 ≤ 130 ≤ 80 < 100 < 70 34
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes) Dalam menjalankan tugasnya. ahli gizi.2.3.II. yaitu kemampuan 35
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . • Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada. tenaga kesehatan memerlukan landasan empati. • Melakukan perawatan kaki secara berkala • Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat • Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana. dan tenaga kesehatan lain.1. • Meningkatkan kegiatan jasmani. dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes • Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan perubahan perilaku. Perilaku yang diharapkan adalah: • Mengikuti pola makan sehat.3. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter.3. Promosi Perilaku Sehat Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan kesehatan. Setiap kali kunjungan diingatkan kembali untuk selalu melakukan perilaku sehat. • Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman dan teratur. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi. II. II. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. perawat.

perhatikan keinginan pasien. Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan.memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium  Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima  Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan  Libatkan keluarga/pendamping dalam proses edukasi  Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan pasien dan keluarganya  Gunakan alat bantu audio visual Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat. perlu selalu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik. Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang: Materi edukasi pada tingkat awal adalah:  Materi tentang perjalanan penyakit DM 36
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dimulai dengan hal-hal yang sederhana  Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi  Diskusikan program pengobatan secara terbuka. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah:  Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya kecemasan  Memberikan informasi secara bertahap.

Seperti halnya dengan proses edukasi. Materi edukasi pada tingkat lanjut adalah :  Mengenal dan mencegah penyulit akut DM  Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM  Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain  Makan di luar rumah  Rencana untuk kegiatan khusus  Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir tentang DM  Pemeliharaan/perawatan kaki (elemen perawatan kaki dapat dilihat pada tabel-7) Edukasi dapat dilakukan secara individual dengan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah. perubahan perilaku memerlukan perencanaan yang baik. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan  Penyulit DM dan risikonya  Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan  Interaksi antara asupan makanan. dan obat hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obatan lain  Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia)  Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit. aktivitas fisik. evaluasi. atau hipoglikemia  Pentingnya latihan jasmani yang teratur  Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada kehamilan)  Pentingnya perawatan kaki  Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan. 37
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . implementasi. dan dokumentasi.

dan retak-retak serta kaku 2. jangan gunakan hak tinggi • Jangan gunakan bantal atau botol berisi air panas/batu untuk kaki. gunakan alas kaki yang dibuat khusus • Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau longgar.3. dan dilaporkan pada dokter apabila kulit terkeluapas. Kelainan bentuk dan warna kuku (kuku yang menebal. rapuh.3. Elemen kunci edukasi perawatan kaki Edukasi perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang dengan ulkus maupun neuropati perifer atau peripheral arterial disease • Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki. kemerahan. bersisik. tidak basah. Kaki yang terasa dingin Tabel 7. Kulit kaku yang kering. 38
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .Deteksi dini kelainan kaki risiko tinggi Kaki yang berisiko tinggi antara lain: 1. Bulu-bulu rambut kaki yang menipis 3. termasuk di pasir dan di air • Periksa kaki setiap hari. Perubahan bentuk jari-jari dan telapak kaki dan tulang-tulang kaki yang menonjol 6. tipiskan secara teratur • Jika sudah ada kelainan bentuk kaki. Kalus (mata ikan) terutama di telapak 5. semutan. dan mengoleskan krim pelembab ke kulit yang kering • Potong kuku secara teratur • Keringkan kaki. Kaki baal.II. ingrowing nail) 4. sela-sela jari kaki teratur setelah dari kamar mandi • Gunakan kaos kaki dari bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan pada ujung-ujung jari kaki • Kalau ada kalus atau mata ikan. atau luka • Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya • Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih. Bekas luka atau riwayat amputasi jari-jari 7. atau tidak terasa nyeri 8.

anion gap normal atau sedikit meningkat. terutama 39
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Catatan: kedua keadaan (KAD dan HNK) tersebut mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung lama. Penyulit akut 1. osmolaritas plasma sangat meningkat (330380 mOs/mL).4. tanpa tanda dan gejala asidosis. Penyulit Diabetes Melitus Dalam perjalanan penyakit DM. disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. plasma keton (+/-).1. Ketoasidosis diabetik (KAD) Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL). Hipoglikemia Hipoglikemia dan cara mengatasinya  Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL  Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia.II. 3. dapat terjadi penyulit akut dan menahun II. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengawasannya (24-72 jam atau lebih. Memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan penatalaksanaan yang memadai.4. sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja obat telah habis. Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap 2. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin. Hiperosmolar non ketotik (HNK) Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200 mg/dL).

 Pembuluh darah otak 2. Makroangiopati  Pembuluh darah jantung  Pembuluh darah tepi: penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes. gemetar. Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari. Glukagon diberikan pada pasien dengan hipoglikemia berat. diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 gram melalui intra vena. dan rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing. sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. II.  Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar.  Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar-debar.4. Bagi pasien dengan kesadaran yang masih baik. gelisah. banyak keringat. kesadaran menurun sampai koma). meskipun sering tanpa gejala. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa.2. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul. mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lambat dan memerlukan pengawasan yang lebih lama.  Hipoglikemia harus segera mendapatkan pengelolaan yang memadai.pada pasien dengan gagal ginjal kronik atau yang mendapatkan terapi dengan OHO kerja panjang). Mikroangiopati:  Retinopati diabetik 40
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Penyulit menahun 1. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal claudicatio intermittent. sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena terlebih dahulu sebagai tindakan darurat.

Neuropati  Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. dan lebih terasa sakit di malam hari.8 g/kgBB) juga akan mengurangi risiko terjadinya nefropati 3. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati  Nefropati diabetik  Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati  Pembatasan asupan protein dalam diet (0.  Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan duloxetine.  Apabila ditemukan adanya polineuropati distal. perawatan kaki yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. 4.  Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri.  Setelah diagnosis DM ditegakkan. antidepresan trisiklik. atau gabapentin. Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain. dengan monofilamen 10 gram sedikitnya setiap tahun. pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana. Dislipidemia pada Diabetes 41
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . berupa hilangnya sensasi distal.  Semua penyandang diabetes yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki. Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan memberatnya retinopati.

42
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dianjurkan diberi terapi statin untuk menurunkan LDL sebesar 3040% dari kadar awal • Pasien dengan usia <40 tahun dengan risiko penyakit kardiovaskular yang gagal dengan perubahan gaya hidup. wanita >50 mg/dL). target utamanya adalah penurunan LDL • Pada penyandang diabetes tanpa disertai penyakit kardiovaskular: LDL <100 mg/dL (2. HDL>50 mg/dL (laki-laki >40 mg/dL. dan penurunan kadar kolesterol HDL.  Perubahan perilaku yang tertuju pada pengurangan asupan kolesterol dan penggunaan lemak jenuh serta peningkatan aktivitas fisik terbukti dapat memperbaiki profil lemak dalam darah  Dipertimbangkan untuk memberikan terapi farmakologis sedini mungkin bagi penyandang diabetes yang disertai dislipidemia Target terapi: • Pada penyandang DM.  Perlu pemeriksaan profil lipid pada saat diagnosis diabetes ditegakkan. Dislipidemia pada penyandang diabetes lebih meningkatkan risiko timbulnya penyakit kardiovaskular. Sedangkan pada pasien yang pemeriksaan profil lipid menunjukkan hasil yang baik (LDL<100mg/dL. trigliserid <150 mg/dL). sedangkan kadar kolesterol LDL normal atau sedikit meningkat. Pada pasien dewasa pemeriksaan profil lipid sedikitnya dilakukan setahun sekali dan bila dianggap perlu dapat dilakukan lebih sering.6 mmol/L) • Pasien dengan usia >40 tahun. pemeriksaan profil lipid dapat dilakukan 2 tahun sekali  Gambaran dislipidemia yang sering didapatkan pada penyandang diabetes adalah peningkatan kadar trigliserida. dapat diberikan terapi farmakologis.

15 mmol/L) untuk pria dan >50 mg/dL untuk wanita Setelah target LDL terpenuhi.8 mmol/L) o Semua pasien diberikan terapi statin untuk menurunkan LDL sebesar 3040%.• • •       Pada penyandang DM dengan penyakit Acute Coronary Syndrome (ACS) atau telah diketahui penyakit pembuluh darah lainnya atau mempunyai banyak faktor risiko maka : o LDL <70 mg/dL (1. dengan memperhatikan peningkatan risiko timbulnya efek samping.7 mmol/L) atau HDL ≤ 40 mg/dL (1. Terapi kombinasi statin dengan obat pengendali lemak yang lain mungkin diperlukan untuk mencapai target terapi.51 mmol/L) perlu segera diturunkan dengan terapi farmakologis untuk mencegah timbulnya pankreatitis.15 mmol/L) dapat diberikan niasin atau fibrat Apabila trigliserida ≥ 400 mg/dL (4. jika trigliserida ≥ 150 mg/dL (1. Sasaran (target penurunan) tekanan darah: Tekanan darah <130/80 mmHg Bila disertai proteinuria ≥ 1gram / 24 jam : 43
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Niasin merupakan salah satu obat alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan HDL. namun pada dosis besar dapat meningkatkan kadar glukosa darah Pada wanita hamil penggunaan statin merupakan kontra indikasi Selanjutnya dapat dilihat pada buku Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada DM 5. Trigliserida < 150 mg/dL (1. Hipertensi pada Diabetes  Indikasi pengobatan :  Bila TD sistolik >130 mmHg dan / atau TD diastolik >80 mmHg.7 mmol/L) HDL > 40 mg/dL (1.

dapat diberikan terapi farmakologis secara langsung  Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat dicapai dengan monoterapi. serta mengurangi konsumsi garam  Farmakologis: Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat anti-hipertensi (OAH):  Pengaruh OAH terhadap profil lipid  Pengaruh OAH terhadap metabolisme glukosa  Pengaruh OAH terhadap resistensi insulin  Pengaruh OAH terhadap hipoglikemia terselubung Obat anti hipertensi yang dapat dipergunakan:  Penghambat ACE  Penyekat reseptor angiotensin II  Penyekat reseptor beta selektif. meningkatkan aktivitas fisik.Penghambat ACE.< 125/75 mmHg  Pengelolaan:  Non-farmakologis: Modifikasi gaya hidup antara lain: menurunkan berat badan. dosis rendah  Diuretik dosis rendah  Penghambat reseptor alfa  Antagonis kalsium  Pada pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau tekanan diastolik antara 80-89 mmHg diharuskan melakukan perubahan gaya hidup sampai 3 bulan. menghentikan merokok dan alkohol. Bila gagal mencapai target dapat ditambahkan terapi farmakologis  Pasien dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg atau tekanan diastolik >90 mmHg. penyekat reseptor angiotensin II (ARB = angiotensin II receptor blocker) dan 44
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Catatan .

demikian   pula kejadian DM dan gangguan toleransi glukosa pada obesitas cukup sering dijumpai Obesitas. 6. Terapi aspirin 75-160 mg/hari digunakan sebagai strategi pencegahan primer pada penyandang diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko kardiovaskular. Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah tercapai. hiperglikemia. termasuk pasien dengan usia > 40  45
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Bila tekanan darah terkendali. tekanan darah diturunkan secara bertahap. Obesitas pada Diabetes  Prevalensi obesitas pada DM cukup tinggi. Penghambat ACE dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular. tidak terbukti memperburuk toleransi glukosa. Pada orang tua. yang didasari oleh resistensi insulin Resistensi insulin pada diabetes dengan obesitas membutuhkan pendekatan khusus 7. Gangguan koagulasi pada Diabetes  Terapi aspirin 75-160 mg/hari diberikan sebagai strategi pencegahan sekunder bagi penyandang diabetes dengan riwayat pernah mengalami penyakit kardiovaskular dan yang mempunyai risiko kardiovaskular lain. Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang. hipertensi).- antagonis kalsium golongan non-dihidropiridin dapat memperbaiki mikroalbuminuria. setelah satu tahun dapat dicoba menurunkan dosis secara bertahap. terutama obesitas sentral secara bermakna berhubungan dengan sindrom dismetabolik (dislipidemia.

dislipidemia. seiring dengan peningkatan kejadian sindrom Reye  Terapi kombinasi aspirin dengan antiplatelet lain dapat dipertimbangkan pemberiannya pada pasien yang memiliki risiko yang sangat tinggi. menderita hipertensi.  Penggunaan obat antiplatelet selain aspirin dapat dipertimbangkan sebagai pengganti aspirin pada pasien yang mempunyai kontra indikasi dan atau tidak tahan terhadap penggunaan aspirin. atau albuminuria  Aspirin dianjurkan tidak diberikan pada pasien dengan usia di bawah 21 tahun.tahun yang memiliki riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan kebiasaan merokok. 46
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

 Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2).1.  Kurangnya aktivitas fisik.  Faktor risiko yang bisa dimodifikasi.5 kg. kurang dari 2. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.  Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG).  Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL) 47
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .1. yakni mereka yang belum terkena.1. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.  Riwayat lahir dengan berat badan rendah.1. Sasaran pencegahan primer: Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor risiko. tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa. Pencegahan Primer III. PENCEGAHAN DIABETES TIPE–2 (lihat juga buku panduan penatalaksanaan prediabetes dan pencegahan DM tipe-2) III.  Hipertensi (> 140/90 mmHg).1. Faktor risiko diabetes Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk intoleransi glukosa yaitu :  Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi :  Ras dan etnik  Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)  Umur.III. III. Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan meningkatnya usia.1.

 Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe 2. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :  Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin  Penderita sindrom metabolik memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya. Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK, atau PAD (Peripheral Arterial Diseases).

III.1.1.2. Intoleransi Glukosa  Intoleransi glukosa merupakan suatu keadaan yang mendahului timbulnya diabetes. Angka kejadian intoleransi glukosa dilaporkan terus mengalami peningkatan.  Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Department of Health and Human Services (DHHS) dan The American Diabetes Association (ADA). Sebelumnya istilah untuk menggambarkan keadaan intoleransi glukosa adalah TGT dan GDPT. Setiap tahun 4-9% orang dengan intoleransi glukosa akan menjadi diabetes.  Intoleransi glukosa mempunyai risiko timbulnya gangguan kardiovaskular sebesar satu setengah kali lebih tinggi dibandingkan orang normal.  Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan dengan pemeriksaan TTGO setelah puasa 8 jam. Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan apabila hasil tes glukosa darah menunjukkan salah satu dari tersebut di bawah ini :  Glukosa darah puasa antara 100–125 mg/dL  Glukosa darah 2 jam setelah muatan glukosa ( TTGO ) antara 140-199 mg/dL.

48
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2


Pada pasien dengan intoleransi glukosa anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan ditujukan untuk mencari faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

III.1.2. Materi pencegahan primer Materi pencegahan primer terdiri dari tindakan penyuluhan dan pengeloaan yang ditujukan untuk kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi glukosa. Skema tentang alur pencegahan primer dapat dilihat pada bagan-4.
 III.1.2.1. Penyuluhan ditujukan kepada: A. Kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi glukosa Materi penyuluhan meliputi antara lain: 1. Program penurunan berat badan. Pada seseorang yang mempunyai risiko diabetes dan mempunyai berat badan lebih, penurunan berat badan merupakan cara utama untukmenurunkan risiko terkena DM tipe 2 atau intoleransi glukosa. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe 2. 2. Diet sehat.  Dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai risiko.  Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.  Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang tinggi setelah makan.  Mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut. 3. Latihan jasmani.

49
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2


 Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah, mempertahankan atau menurunkan berat badan, serta dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL.  Latihan jasmani yang dianjurkan:  Dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut jantung maksimal), atau 90 menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung >70% maksimal). Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 x aktivitas/minggu. 4. Menghentikan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko timbulnya gangguan kardiovaskular. Meskipun merokok tidak berkaitan langsung dengan timbulnya intoleransi glukosa, tetapi merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2. B. Perencanaan kebijakan kesehatan agar memahami dampak sosioekonomi penyakit ini dan pentingnya penyediaan fasilitas yang memadai dalam upaya pencegahan primer. III.1.2.1. Pengelolaan yang ditujukan untuk:  Kelompok intoleransi glukosa  Kelompok dengan risiko (obesitas, hipertensi, dislipidemia, dll.) 1. Pengelolaan Intoleransi glukosa  Intoleransi glukosa sering berkaitan dengan sindrom metabolik, yang ditandai dengan adanya obesitas sentral, dislipidemia

50
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2


Penurunan berat badan sebesar 5-10% disertai dengan latihan jasmani teratur mampu mengurangi risiko timbulnya DM tipe 2 sebesar 58%. mengonsumsi diet sehat serta melakukan latihan jasmani yang cukup dan teratur. Sebagian besar penderita intoleransi glukosa dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup.    (trigliserida yang tinggi dan atau kolesterol HDL rendah). dilakukan pengendalian berat badan. Dislipidemia 51
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . tekanan darah dan profil lemak sehingga tercapai sasaran yang ditetapkan 2. Bila disertai dengan obesitas. Sedangkan penggunaan obat (seperti metformin. Hasil penelitian Diabetes Prevention Program menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup lebih efektif untuk mencegah munculnya DM tipe 2 dibandingkan dengan penggunaan obat obatan. tiazolidindion. acarbose) hanya mampu menurunkan risiko sebesar 31% dan penggunaan berbagai obat tersebut untuk penanganan intoleransi glukosa masih menjadi kontroversi. dan hipertensi. Obesitas b. hipertensi. dan dislipidemia. menurunkan berat badan. Hipertensi c. Pengelolaan berbagai faktor risiko (lihat bab IV tentang masalah khusus): a.

2.2.3.
 Bagan 4. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM.4. pada bab II. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat.1 dan materi tentang edukasi tingkat lanjut. Dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Materi penyuluhan pada tingkat pertama dan lanjutan dapat dilihat pada materi edukasi pada bab II.3. 52
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada setiap kesempatan pertemuan berikutnya. Algoritma pencegahan DM tipe 2 
 III. Untuk pencegahan sekunder ditujukan terutama pada pasien baru.

pengendalian berat badan. Selain pengobatan terhadap tingginya kadar glukosa darah.  Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. podiatris. Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati. mata. bedah ortopedi..) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier. sebelum kecacatan menetap. terutama di rumah sakit rujukan.  Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistik dan terintegrasi antar disiplin yang terkait. dll. 
 
 
 
 
 
 
 53
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . rehabilitasi medis. radiologi. III.3. yang merupakan penyebab utama kematian pada penyandang diabetes. Pencegahan Tersier  Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut. bedah vaskular. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan ginjal. gizi.Salah satu penyulit DM yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular. tekanan darah. profil lipid dalam darah serta pemberian antiplatelet dapat menurunkan risiko timbulnya kelainan kardiovaskular pada penyandang diabetes.

1. dan kadar glukosa darah yang tinggi meningkatkan kemudahan atau memperburuk infeksi. Infeksi jamur pada pernapasan oleh aspergillosis.  Penyandang diabetes lebih rentan terjangkit TBC paru. Menjaga 54
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Dapat mengakibatkan terjadinya pielonefritis dan septikemia.  Pneumonia pada diabetes biasanya disebabkan oleh: streptokokus.  Kulit pada daerah ekstremitas bawah merupakan tempat yang sering mengalami infeksi. Ulkus kaki terinfeksi biasanya melibatkan banyak mikro organisme. Infeksi jamur spesies kandida dapat menyebabkan sistitis dan abses renal. Masalah-Masalah Khusus IV. dan bakteri batang gram negatif. Pruritus vagina adalah manifestasi yang sering terjadi akibat infeksi jamur vagina. streptokokus. Pemeriksaan rontgen dada. Pada penyandang diabetes juga sering disertai dengan adanya resistensi obat-obat Tuberkulosis. Kuman penyebab yang sering menimbulkan infeksi adalah: Escherichia coli dan Klebsiella. memperlihatkan pada 70% penyandang diabetes terdapat lesi paru-paru bawah dan kavitasi. stafilokokus. Diabetes dengan Infeksi  Adanya infeksi pada pasien sangat berpengaruh terhadap pengendalian glukosa darah.IV.  Infeksi yang banyak terjadi antara lain:  Infeksi saluran kemih (ISK)  Infeksi saluran nafas: pneumonia.  Angka kejadian periodontitis meningkat pada penyandang diabetes dan sering mengakibatkan tanggalnya gigi. TB Paru  Infeksi kulit: furunkel. batang gram negatif dan kuman anaerob. Infeksi dapat memperburuk kendali glukosa darah. Kuman stafilokokus merupakan kuman penyebab utama. dan mucormycosis juga sering terjadi. abses  Infeksi rongga mulut: infeksi gigi dan gusi  Infeksi telinga: otitis eksterna maligna  ISK merupakan infeksi yang sering terjadi dan lebih sulit dikendalikan. yang sering terlibat adalah stafilokokus.

Klasifikasi albuminuria dapat dilihat pada tabel 10. Diagnosis  Diagnosis nefropati diabetik ditegakkan jika didapatkan kadar albumin > 30 mg dalam urin 24 jam pada 2 dari 3 kali 55
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Prinsip-prinsip perawatan ulkus kaki diabetes dapat dilihat pada tabel 9.2. pada akhirnya sering berlanjut menjadi gagal ginjal kronik stadium akhir. kebersihan rongga mulut dengan baik merupakan hal yang penting untuk mencegah komplikasi rongga mulut. IV. Ada penyandang diabetes. Diabetes dengan Nefropati Diabetik  Sekitar 20-40% penyandang diabetes akan mengalami nefropati diabetik  Didapatkannya albuminuria persisten pada kisaran 30-299 mg/24 jam (albuminuria mikro) merupakan tanda dini nefropati diabetik  Pasien yang disertai dengan albuminuria mikro dan berubah menjadi albuminuria makro ( >300 mg/24 jam). otitis eksterna maligna sering kali tidak terdeteksi sebagai penyebab infeksi.

 Apabila serum kreatinin >2. tanpa penyebab albuminuria lainnya Penapisan  Pada DM tipe 2 pada saat awal diagnosis  Jika mikroalbuminaria negatif.8 gram/kgBB per hari.pemeriksaan dalam kurun waktu 3.6 bulan. transplantasi).8 gram/kg BB per hari. 56
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .  Terapi dengan obat penyekat reseptor angiotensin II. atau kombinasi keduanya  Jika terdapat kontraindikasi terhadap penyekat ACE atau reseptor angiotensin. penghambat ACE. diet protein diberikan 0. Jika terjadi penurunan fungsi ginjal yang bertambah berat. dilakukan evaluasi ulang setiap tahun Metode Pemeriksaan  Rasio albumin/kreatinin dengan urin sewaktu  Kadar albumin dalam urin 24 jam  Micral test untuk mikroalbuminuria  Dipstik/reagen tablet untuk makroalbuminuria  Urin dalam waktu tertentu (4 jam atau urin semalam) Penatalaksanaan  Kendalikan glukosa darah  Kendalikan tekanan darah  Diet protein 0.6 – 0.0 mg/dL sebaiknya ahli nefrologi ikut dilibatkan  Idealnya bila klirens kreatinin <15 mL/menit sudah merupakan indikasi terapi pengganti (dialisis. dapat diberikan antagonis kalsium non dihidropiridin.

IDI. Diabetes dengan Kehamilan/Diabetes Melitus Gestasional  Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT. Bila didapat hasil glukosa darah sewaktu ≤ 200 mg/dL atau glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dL yang sesuai dengan batas diagnosis untuk diabetes.3. glukosuria. merokok. DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang berlangsung. adanya riwayat pernah mengalami DMG. Pada pasien dengan risiko DMG yang jelas perlu segera dilakukan pemeriksaan glukosa darah. 1999).  Perlu diidentifikasi berbagai obat yang dikonsumsi pasien yang berpengaruh mterhadap timbulnya atau memberatnya DE. tetapi jarang disampaikan kepada dokter oleh karena itu perlu ditanyakan pada saat konsultasi.  Upaya pengobatan utama adalah memperbaiki kontrol glukosa darah senormal mungkin dan memperbaiki faktor risiko DE lain seperti dislipidemia. obesitas dan hipertensi. maka perlu 57
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .4.  Pengobatan lini pertama ialah terapi psikoseksual dan obat oral antara lain sildenafil dan vardenafil.  DE sering menjadi sumber kecemasan penyandang diabetes.IV. IV.  Penilaian adanya risiko DMG perlu dilakukan sejak kunjungan pertama untuk pemeriksaan kehamilannya  Faktor risiko DMG antara lain: obesitas.  Pengelolaan DE pada diabetes dapat mengacu pada Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi (Materi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan. adanya riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau melahirkan bayi dengan berat > 4000 gram. angiopati dan problem psikis. GDPT. dan adanya riwayat preeklamsia. Diabetes dengan Disfungsi Ereksi (DE)  Prevalensi DE pada penyandang diabetes tipe 2 lebih dari 10 tahun cukup tinggi dan merupakan akibat adanya neuropati autonom. abortus berulang. DE dapat didiagnosis dengan menggunakan instrumen sederhana yaitu kuesioner IIEF5 (International Index of Erectile Function 5). adanya riwayat keluarga dengan diabetes.

Apabila sasaran kadar glukosa darah tidak tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. kesakitan dan kematian perinatal. spesialis obstetri ginekologi.
 IV. 58
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu.      dilakukan pemeriksaan pada waktu yang lain untuk konfirmasi. Apabila hanya dapat dilakukan 1 kali pemeriksaan glukosa darah maka lakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan. Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar glukosa darah puasa ≤ 95 mg/dL dan 2 jam sesudah makan ≤ 120 mg/dL. Pasien hamil dengan TGT dan GDPT dikelola sebagai DMG. 1 jam setelah beban < 180 mg/dL dan 2 jam setelah beban ≤ 155 mg/dL. DMG ditegakkan apabila ditemukan hasil pemeriksaan glukosa darah puasa ≤ 95 mg/dL. perlu dicermati adanya perubahan jadwal.5. sudah dapat didiagnosis sebagai DMG. Kemudian dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa. Hasil pemeriksaan TTGO ini dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya DM pada ibu nantinya Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. Diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan TTGO dilakukan dengan memberikan beban 75 gram glukosa setelah berpuasa 8–14 jam. Selama berpuasa Ramadhan. oleh karena itu dianjurkan minum yang cukup. 1 jam dan 2 jam setelah beban. Diabetes dengan Ibadah Puasa  Penyandang diabetes yang terkendali dengan pengaturan makan saja tidak akan mengalami kesulitan untuk berpuasa. jumlah dan komposisi asupan makanan.  Penyandang diabetes usia lanjut mempunyai kecenderungan dehidrasi bila berpuasa. ahli diet dan spesialis anak. bila didapatkan hasil glukosa darah ≥ 155 mg/dL. langsung diberikan insulin.

Hati-hati terhadap terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat OHO dengan dosis maksimal. Untuk pasien yang harus menggunakan insulin dosis multipel dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan. Bila terjadi gejala hipoglikemia. dipakai insulin kerja menengah yang diberikan saat berbuka saja. pengaturan dosis obat diberikan sedemikian rupa sehingga dosis sebelum berbuka lebih besar dari pada dosis sahur. Perlu pemantauan yang lebih ketat disertai penyesuaian dosis dan jadwal suntikan insulin. Penyandang diabetes yang cukup terkendali dengan OHO dosis tunggal. juga tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. Dengan berpuasa Ramadhan diharapkan adanya perubahan psikologis yang menciptakan rasa lebih sehat bagi penyandang diabetes. IV. kurangi aktivitas fisik pada siang hari dan bila beraktivitas fisik dianjurkan pada sore hari. oleh karena itu setiap operasi elektif pada penyandang diabetes harus dipersiapkan seoptimal mungkin (sasaran kadar glukosa darah puasa <150 mg/dL. Diperlukan kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipoglikemia pada penyandang diabetes pengguna insulin. Diabetes pada Pengelolaan Perioperatif  Tindakan operasi. Bagi yang terkendali dengan OHO dosis terbagi. Sebaiknya momentum puasa Ramadhan ini digunakan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan ketaatan berobat para penyandang diabetes. Untuk penyandang diabetes DM tipe 2 yang menggunakan insulin. OHO diberikan saat berbuka puasa.6. PERKENI 2002) 59
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . khususnya dengan anestesi umum merupakan faktor stres pemicu terjadinya penyulit akut diabetes. Untuk menghindarkan terjadinya hipoglikemia pada siang hari. puasa dihentikan. dianjurkan jadwal makan sahur mendekati waktu imsak/subuh.       Perlu peningkatan kewaspadaan pasien terhadap gejala-gejala hipoglikemia.

60
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . 
 Persiapan operasi elektif maupun non-elektif dapat dilihat pada pedoman terapi insulin di rumah sakit.

harus selalu ditetapkan target yang akan dicapai sebelum memulai pengobatan. Akhirnya. Diharapkan buku ini dapat benar-benar bermanfaat bagi para praktisi yang bertugas menangani para penyandang diabetes. Modifikasi gaya hidup sangat penting untuk dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan program pengobatan dan penyesuaian regimen terapi sesuai kebutuhan. Pada setiap penanganan penyandang DM.V. Sampai saat ini memang belum ditemukan cara atau pengobatan yang dapat menyembuhkannya diabetes secara menyeluruh. Namun harus diingat bahwa diabetes dapat dikendalikan. dengan cara : diet. olahraga dan dengan menggunakan obat antidiabetik. Penutup Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang sangat memengaruhi kualitas hidup penyandangnya sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Pengobatan Diabetes ini sangat spesifik dan individual untuk masing-masing pasien. dengan mengucap syukur kepada Tuhan YME atas tersusunnya buku revisi konsensus diabetes. 
 61
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . tidak hanya untuk mengontrol kadar glukosa darah namun bila diterapkan secara umum diharapkan dapat menurunkan prevalensi diabetes melitus baik di Indonesia maupun di dunia di masa yang akan datang.

Diab Care. 5. 2007. Supplement 1 American Diabetes Association: Clinical Practise Recommendations 2007. American Association of Clinical Endocrinologist (AACE) Diabetes Mellitus Clinical Practice Guidelines Task Force. Endo Pract. Therapy for Diabetes Mellitus and related disorder.Daftar Pustaka 1. 1998. ADA position statement: standard of medical care in diabetes-2006. Patogenesis dan Terapi Diabetes Melitus Tipe 2.1) 3. 2004. American Diabetes Association. USA. Diab Care. Medika FK UGM. 2005. American Diabetes Association.13(Supl 1) 2. 2010. ADA Clinical Series.30(Suppl. American Diabetes Association. Lebovitz HE (ed). American Diabetes Association.29 (Suppl. Diab Care. Supplement 1 American Diabetes Association: Clinical Practise Recommendations 2006. AACE Medical guidelines for clinical practice for the management of diabetes mellitus. Position statement: Standards of Medical Care in Diabetes 2010. American Diabetes Association. American Association of Clinical Endocrinologists and American College of Endocrinology.1) 6. 7. 2000. Medical Management of Type 2 Diabetes. 8. 1):S4-S42. The American Association of Clinical Endocrinologists medical guidelines for the management of Diabetes Mellitus: the AACE system of intensive diabetes selfmanagement-2002 Update. Health Communication Australia. Endo Practice. 11. January 2004. American Diabetes Association. 2002. 9. 1):4082. American Diabetes Association. 2002.8(suppl. Diab Care. ADA Inc. 10. Asia-Pasific Type 2 Diabetes Policy Group Type 2 Diabetes Practical Target Treatments. American Diabetes Association. 62
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . 27(Supl1):s88-s90 4. 4th ed. 2006.29(suppl. Yogyakarta.1). Asdie AH. Gestational diabetes mellitus. Diab Care. 2007.33(Suppl.

HKMJ 2000. International Diabetes Federation (IDF). Guide toType 2 Diabetes Mellitus. 4 ed. 2005 13. Feranini E. Global burden of diabetes. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. PERKENI. 16. Infect Dis Clin North Am. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Jakarta 2002. Alberti KGMM. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Acta Med Indones. 25. PERKENI.9:65-9. and projections. International Diabetes Institute. 2005. The epidemiology of diabetes mellitus in the AsiaPacific region. 19. 2004: 1741-54. Keen H. Type 2 Diabetes practical targets and treatments. Diabetes Atlas 2003. In Vivo Communications (Asia) Pte Limited. Belgium.6:43-52 14. Asia-Pasific Type 2 Diabetes policy Group. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 1998-1999. Aubert RE. Cockram CS. PB. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. International Diabetes Federation (IDF). Mihardja L. 22. 2004. International Diabetes Federation European Region. Soegondo S. Brussels. 20. Guidelines for Diabetes Care.3rd Ed. Herman WH. Jakarta 2006 26. PERKENI. In: DeFronzo RA. Chichester: John Wiley. Ghani L. PB. 21:1414–31 21. Zimmet P (eds). Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Manz HS. King H. Diab Care. 1995. European Diabetes Policy Group. 24. Singapore. Gill GV. 2009 Oct. 18. International Diabetes Federation. PB PERKENI Jakarta. Delima. 63
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . numerical estimates. 17.41(4):169-74. The care of the diabetic patient during surgery. 1995-2025 : Prevalence. Pulmonary complications of diabetes mellitus. The Asia Pasific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment. International Diabetes Institute. 2000. International Textbook of Diabetes Mellitus. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2. Jakarta 1998. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. Koziel MJ.Health Communication Australia Pty Limited.12. Prevalence and determinants of diabetes mellitus and impaired glucose tolerance in Indonesia (a part of basic health research / Riskesdas).Health Communication. Koziel H. 1998. Global guideline for Type 2 diabetes. 23. IDF Clinical Guidelines Task Force. a Desktop 15. Pneumonia. PB.

Garcia-Garcia M de L. Garcia-Sancho MC et al. PERKENI. Subekti I. Soetomo/FK UNAIR. 2003 The National Institute of Health Research and Development. Prevalence and predictors of undiagnosed diabetes mellitus in Indonesia. Suyono S. 2009 Oct.42(4):216-23. Sicree R. Adisasmita A. Diab Care. 23(1):S45 Once-de-Leon A. 28. I. Rahajeng E. West Java. 29. Global prevalence of diabetes : estimates for the year 2000 and projections for 2030. Soegondo. King H. Tohoku J Exp Med. Diab Care 27:1047–1053. 33. The pre-diabetic epidemiological study in Depok. Kusumawardani N. Acta Med Indones. Waspadji S. 2004 Yunir E. 35. 2005. 34. 31. Kodim N.Soewondo. West Java.27:1584-90. Naskahlengkap National Obesity Symposium I. 32. Supartondo S. Indonesia. Diabetes mellitus in an urban population in Jakarta. Jakarta 2002. Roglic G. Minisry of Health.41(4):181-5 64
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . Tuberculosis and diabetes in Southern Mexico. Rahajeng E. Republic of Indonesia. Dr. Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD. Incidence rate of type 2 diabetes mellitus in population with impaired glucose tolerant (IGT) and its determinant factors in Depok. Waspadji S.141 Suppl:219-28. Ranakusuma AB. Editor: Editor The Central Bureau of Statistics Indonesia. Setiati S. P. Soewondo P. Indonesia.27. Report on result of National Basic Health research (RISKESDAS) 2007. 2010 Oct. 2004. JAFES. Sukaton U. Subekti I. 30. Green A. Wild S. Editor: S. Sutrisna B. Subekti dkk. Oemardi M. Pramono LA. From Children to the Elderly from Adipocytokines-Mediators to the Promising Management of obesity. 1983 Dec. Yunir E. PB. 2002. Acta Med Indones.

Sumber vitamin dan mineral: sayuran 2-3 porsi/penukar. IV. Batasi konsumsi gula. II. Sumber protein: lauk hewani 3 porsi/penukar. lauk nabati 2-3 porsi/penukar sehari. buah 24 porsi/penukar sehari.Lampiran LAMPIRAN : 1 I. III. lemak / minyak dan garam. 
 
 
 Sumber karbohidrat dikonsumsi 3-7 porsi/penukar sehari (tergantung status gizi). 65
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

66
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

LAMPIRAN : 3 Farmakokinetik insulin eksogen berdasar waktu kerja (time course of action) 
 
 Nama dalam tanda kurung adalah nama dagang 67
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

LAMPIRAN-4: Beberapa Alternatif Farmakoterapi untuk Penyulit Diabetes 
 
 
 68
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 
 .


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 69
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 .

Prof. Soni Wibisono. dr. dr Karel Pandelaki.. Agung Pranoto.dr.Dr Sidartawan Soegondo. Prof. Prof. dr.L. Dr.Dr Wira Gotera. dr. Dr. Prof. Prof. Prof. Prof A. Prof. dr. dr. dr..DAFTAR NAMA PENANDATANGAN KONSENSUS PENGELOLAAN DAN PENCEGAHAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INDONESIA 2011 Slamet Suyono. dr. dr Asman Manaf. Prof.Prof Ari Sutjahjo. Ahmad Rudianto.dr. Imam Subekti. dr. dr. Soebagijo Adi.dr Aris Wibudi. dr.Dr Sarwono Waspadji. dr. Andi Makbul Aman. Prof Mardianto.A. dr. Prof. Dante Saksono Harbuwono. dr. dr. dr.dr. dr. Prof. dr Luthfan Budi Pramono.Dr Sri Hartini Kariadi. dr Asdie H.H. dr Sjafril Sjahbuddin.dr. Dr. dr. Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Bandung Bandung Bandung Bandung Bandung Bandung Semarang Semarang Samarinda Surakarta Medan Medan Tjokorda Gde Pamayun. Suharko Soebardi.G Budhiarta. Prof. Mardi Santoso. John MF Adam. Augusta Y...Dr Tony Suhartono.A.dr.dr.dr Adhiarta. Dwi Sutanegara. Prof. Gatut Semiardji. Soesilowati Soerachmad. Prof.Dr. Alwi Shabab. Masjhur.dr Djoko Hardiman. Nanang Soebijanto.. dr.. Dr.. dr. Dharmono.dr Ida ayu Kshanti.Dr Eva Decroli.Dr. dr. Heri Nugroho.Dr Pradana Soewondo.Dr Hikmat Permana. Bowo Pramono. Ketut Suastika. Prof.dr. Johan S.. K.. Nanny Nathalia Soetedjo.Dr Askandar Tjokroprawiro. Agus Sambo. Putu Moda Arsana. dr Yulianto Kusnadi. Djoko Wahono Soeatmadji.Dr. dr. dr Semarang Semarang Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta Surabaya Surabaya Surabaya Surabaya Surabaya Surabaya Malang Malang Malang Bali Bali Bali Bali Makassar Makassar Makassar Makassar Manado Palembang Palembang Padang Padang Padang 
 70
Konsensus
Pengelolaan
dan
Pencegahan
Diabetes
Melitus
Tipe
2
 . dr. Prof. Dharma Lindarto. dr Rochsismandoko. dr Hemi Sinorita. dr Benny Santosa Em Yunir.Dr. Arifin. Prof. Prof... Prof.. Djoko Moeljanto.Dr Sri Murtiwi.dr Harsinen Sanusi. dr Roy Panusunan Sibarani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful