P. 1
Materi Ips

Materi Ips

|Views: 218|Likes:
materi IPS
materi IPS

More info:

Published by: Kasang Heru Cokro Febrianto on Mar 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2015

pdf

text

original

Keduduan ips dlm keilmuan ( materi 10

)

KONSEP ITM DALAM PENDIDIKAN IPS
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam masyarakat majemuk dan bangsa besar, Pendidikan dan Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki peran yang sangat strategis baik ditinjau dari aspek akademik maupun kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara akedemik pendidikan dan pengajaran IPS dapat membekali anak didik pada pemahaman konsep-konsep dasar ilmu-ilmu sosial sebagai basis dari pendidikan dan pengajaran IPS. Melalui pendidikan dan pengajaran IPS diharapkan siswa yang memiliki bakat dan minat terhadap ilmu-ilmu sosial akan lebih tertarik untuk mempelajari IPS secara akademik yang kelak akan melahirkan pakar-pakar ilmu sosial. Dari kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara pendidikan dan pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial harus diberikan pada seluruh jenjang pendidikan mulai dari tingkat pendidikan taman kanak-kanak sampai pada tingkat pendidikan di perguruan tinggi. Pendidikan dan pengajaran IPS di Indonesia sudah mendapat landasan hukum yang kuat sebagaimana tertuang pada Bab III, Pasal 2 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional RI bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriaman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Atas dasar itulah maka dari lembaga pendidikan TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMP/MA, kita mengenal adanyanya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang secara implisit dan eksplisit tertuang didalam Permen Diknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan pada lembaga pendidikan tinggi melalui Surat Keputusan Dirjen Dikti No. 30/DIKTI/KEP/2003, telah ditetapkan rambu-rambu pelaksanaan kelompok mata kuliah berkehidupan

bermasyarakat di Perguruan Tinggi. Diantanya dalam SK tersebut pada pasal 3 telah

dirumuskan kompetensi Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Dasar (ISBD) beserta pokok-pokok subtansi kajian ISBD. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak azasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan kepada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Kalau kita kaji kedudukan IPS dalam pendidikan di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka sudah sewajarnya dan seharusnya bahwa pendidikan dan pengajaran mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak (stake holder). Carut marutnya kondisi bangsa dan negara yang samapai saat ini belum juga kondusif, mungkin salah satu indikator terjadinya kegagalan dalam sistem pendidikan IPS di sekolah. Seiring dengan mementum bangsa Indonesia yang ingin memperbaiki sistem

pendidikannasional kita, baik yang menyangkut kualitas proses belajar mengajar maupun out come dan out put, serta komponen-komponen lainnya, maka jadikan momentum tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas dan out come dari Pendidikan dan Pembelajaran IPS.

B. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalahnya antara lain: 1. Bagaiman kedudukan konsep ilmu, teknologi, dan masyarakat dalam pendidikan IPS? 2. Bagimana strategi pembelajaran konsep lmu, teknologi dan masyarakat pendidikan IPS? 3. Bagaiamana dampak dari Ilmu, teknologi dan masyarakat bagi kehidupan?

C. TUJUAN MASALAH Adapun tujuan msalahnya antara lain: 1. Mengetahui kedudukan konsep ilmu, teknologi dan masyarakat pendidikan IPS. 2. Mengetahui strategi pembelajaran konsep ilmu, teknologi dan masyarakat pendidikan IPS. 3. Mengetahui dampak yang di timbulkan dari konsep ilmu, teknologi dan masyarakat pendidikan IPS.

D. MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat utama penulisan pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut, yaitu: 1. Untuk memenuhi tugas kelompok dari mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar.

2.

Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang Ilmu Pengetahuan Dan Metode Ilmiah.

3. Bagi peneliti lain, sebagai bahan acuan dan bahan perbandingan dalam penelitian yang akan sejenis pada masa akan datang.

BAB II KONSEP ILMU, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN IPS

A. KONSEP ILMU, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT PENDIDIKAN IPS 1. Penegertian Ilmu, Teknologi dan Masyarakat Ilmu adalah kemampuan manusia memanfaatkan akal fikir yang diberikan Allah/Tuhan dalam bentuk pengetahuan guna mengelola alam dunia dan memanfaatkannya. hanya Tuhan yang punya ilmu. Teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti seni (art) atau keterampilan. Menurut Dictionary of Science, teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalahmasalah praktis danTeknologi akan memberikan pengaruh dalam kelangsungan hidup manusia dan manusia pun terus mempengaruhi maju atau tidaknya teknologi. Pengertian Masyarakat Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.  Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama menghasilkan kebudayaan.  Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.  Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. dan

2. Kedudukan Konsep Ilmu, Teknologi dan masyarakat dalam Pembelajaran IPS

Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakt atau disingkat dengan ITM diperlukan dalam pembelajaran IPS sebab masalah-masalah kemasyarakatan pada era kini tidak dapat dipecahkan hanya dengan mengandalkan satu disiplin ilmu semata, tetapi saling keterkaitan dengan disiplin ilmu lainnya dikarenakan permasalahan masyarakat makin komplek. Kedudukan konsep ilmu, teknologi dan kemasyarakatan semakin penting dalam era masyarakat modern yang banyak menimbulkan masalah-masalah kompleks. Kenyataan ini akan semakin dirasakan apabila dalam penjelasanya memberi informasi lebih jauh bahwa pemecahan masalah-masalah tersebut menghendaki adanya kedudukan dari berbagai disiplin ilmu Menurut Remy, konsep ITM memberikan kontribusi secara langsung terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga negara sebagai berikut:  Memahami ilmu pengetahuan di masyarakat. Mereka harus memahami masalah-masalah sosial yang kompleks yang berkaitan dengan ilmu dan tehnologi yang menimbulkan masalah ketidak jelasan nilai yg “benar” dan nilai yg “salah”  Pengambilan keputusan warga negara. penggunaan langkah-langkah pengambilan keputusan yang sistematis dalam mempelajari isu-isu ITM dalam pembelajaran IPS dapat membantu mengembangkan intelektual siswa, kemampuan memecahkan masalah (problem-solving skill), dan kemampuan berpikir dalam mengmbil keputusan secara fleksibel namun terorganisir, hal ini penting mengingat sampai saat ini belum banyak guru yang memberikan kemampuan-kemampuan seperti ini kepada siswanya.  Membuat koneksi antar pengetahuan . Kecakapan demikian merupakan suatu tanda kemampuan kognisi dan belajar yang tinggi dan merupakan tujuan IPS yang paling berharga.  Mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab.Bung Karno pernah megatakan bahwa “hanya bangsa yang besar yang menghormati jasa-jasa para pahlawan

Konsep ITM dimasukkan dalam pembelajaran IPS memberikan kontribusi secara langsung terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga Negara sebagai berikut :  Memahami ilmu pengetahuan di masyarakat.  Pengambilan keputusan warga Negara.  Membuat koneksi antar pengetahuan.  Mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab

Konsep ITM dalam IPS sesuai Project Analysis yang dikemukakan oleh Noris Harms adalah:  Konsep ITM menfokuskan pada kebutuhan-kebutuhan pribadi siswa.  ITM menfokuskan pada isu-isu kemasyarakatan.  ITM memfokuskan pada masalah pekerjaan dan karir

B. PENDEKATAN STRATEGI KONSEP ILMU DAN MASYARAKAT PENDIDIKAN IPS Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran IPS untuk proses pembelajaran ITM adalah interdisipliner atau multidisipliner. Artinya dalam proses belajar mengajar di kelas IPS, para siswa seyogianya diajak, dibina dan didorong agar dalam mengkaji atau memecahkan masalah atau topik, dipandang dari berbagai disiplin ilmu. Ada dalam pengajaran IPS, yakni: 1) Infusi ITM ke dalam mata pelajaran yang ada, 2) Perluasan melalui topik kajian dalam mata pelajaran, 3) Penciptaan/pembuatan mata pelajaran yang baru. Sedangkan karakteristik dari program integral ITM dalam IPS terdiri atas empat kategori sebagai berikut: 1) Hasilnya dinyatakan secara jelas, 2) Strategi organisasi, 3) Sistem dukungan, 4) Strategi instruksional. Pendekatan ITM (Ilmu-Teknologi dan Masyarakat) Pendekatan ITM (Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat) atau juga disebut STS (ScienceTechnology-Society) muncul menjadi sebuah pilihan jawaban atas kritik terhadap pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang bersifat tradisional (texbook), yakni berkisar masih pada pengajaran tentang fakta-fakta dan teori-teori tanpa menghubungkannya dengan dunia nyata yang integral. ITM dikembangkan kemudian sebagai sebuah pendekatan guna mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan lingkungan nyata dengan cara melibatkan peran aktif peserta didik dalam mencari informasi untuk meemcahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan kesehariannya. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut peserta didik menjadi lebih aktif dalam menggali permasalahan berdasarkan pada pengalaman sendiri hingga mampu melahirkan kerangka pemecahan masalah dan tindakan yang dapat dilakukan secara nyata. Karena itu, pendekatan

ITM dipandang dapat memberi kontribusi langsung terhadap misi pokok pembelajaran pengetahuan sosial, khusus dalam mempersiapkan warga negara agar memiliki kemampuan:  Memahami ilmu pengetahuan di masyarakat  Mengambil keputusan sebagai warga negara  Membuat hubungan antar pengetahuan  Mengingat sejarah perjuangan dan peradaban luhur bangsanya.  Langkah – langkah Pendekatan ITM 1) Menekankan pada paham kontruktivisme, bahwa setiap individu peserta didik, telah memiliki sejumlah pengetahuan dari pengalamannya sendiri dalam kehidupan faktual di lingkungan keluarga dan masyarakat. 2) Peserta didik dituntut untuk belajar dalam memecahkan permasalahan dan dapat menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahan-bahan lainnya) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. 3) Pola pembelajaran bersifat kooperatif (kerja sama) dalam setiap kegiatan pembelajaran serta menekankan pada keterampilan proses dalam rangka melatih peserta didik berfikir tingkat tinggi. 4) Peserta didik menggali konsep-konsep melalui proses pembelajaran yang ditempuh dengan cara pengamatan (observasi) terhadap objek-objek yang dipelajarinya. 5) Masalah-masalah aktual sebagai objek kajian, dibahas bersama guru dan peserta didik guna menghindari terjadi kesalahan konsep. 6) Pemilihan tema-tema didasarakan urutan integratif. 7) Tema pengorganisasian pokok dari sejumlah unit ITM adalah isu dan masalah sosial yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.  Tahapan Metode Pendekatan ITM 1) Tahap Eksplorasi Kegiatan eksplorasi merupakan tahap pengumpulan data lapangan dan data yang berkaitan dengan nilai. Peserta didik dengan bantuan LKS secara berkelompok melakukan pengamatan langsung. Eksplorasi dilakukan guna membuktikan konsep awal yang mereka miliki dengan konsep ilmiah. 2) Tahap Penjelasan dan Solusi Dari data yang telah terkumpul berdasarkan hasil pengamatan, diharapkan peserta didik mampu memberikan solusi sebagai alternatif jawaban tentang persoalan lingkungan. Peserta

didik didorong untuk menyampaikan gagasan, menyimpulkan, memberikan argumen dengan tepat, membuat model, membuat poster yang berkenaan dengan pesan lingkungan, membuat puisi, menggambar, membuat karangan, serta membuat karya seni lainnya. 3) Tahap Pengambilan Tindakan Peserta didik dapat membuat keputusan atau mempertimbangkan alternatif tindakan dan akibat-akibatnya dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperolehnya. Berdasar pengenalan masalah dan pengembangan gagasan pemecahannya, mereka dapat bermain peran (Role Playing) membuat kebijakan strategis yang diperlukan untuk mempengaruhi publik dalam mengatasi permasalahan lingkungan tersebut. 4) Diskusi dan Penjelasan Berikutnya guru dan peserta didik melakukan diskusi kelas dan penjelasan konsep melalui tahapan sebagai berikut:  Masing-masing kelompok melaporkan hasil temuan pengamatan lingkungannya.  Guru memberikan kesempatan kepada anggota kelas lainnya untuk memberikan tanggapan atau informasi yang relevan terhadap laporan kelompok temannya.  Guru bersama peserta didik menyimpulkan konsep baru yang diperoleh kemudian mereka diminta melihat kembali jawaban yang telah disampaikan sebelum kegiatan eksplorasi.  Guru membimbing peserta didik merkonstruksi kembali pengetahuan langsung dari objek yang dipelajari tentang alam lingkungannya. 5) Tahap Pengembangan dan Aplikasi Konsep  Guru bertanya pada peserta didik tentang hal-hal yang diliahat dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan aplikasi konsep baru yang telah ditemukan.  Guru dan peserta didik mendiskusikan sikap dan kepedulian yang dapat mereka tumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan konsep baru yang telah ditemukan. 6) Tahap Evaluasi Pada tahapan evaluasi, guru memperlihatkan gambar suasana lingkungan yang berbeda yaitu lingkungan yang terpelihara dan yang tidak terpelihara. Kemudian menggunakan pertanyaan pancingan pada peserta didik sehingga mampu memberikan penilaian sendiri tentang keadaan kedua lingkungan tersebut. 7) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup merupakan kegiatan penyimpulan yang dilakukan guru dan peserta didik dari seluruh rangkaian pembelajaran. Sebagai bagian penutup, guru menyampaikan pesan moral. C. DAMPAK ILMU, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT DALAM KEHIDUPAN.

Perkembangan dunia iptek yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia. Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan. Dampak positif dan dampak negative dari perkembanganteknologi dilihat dari berbagai bidang: 1. Bidang Informasi dan komunikasi Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positipnya antara lain:  Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet.  Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone .  Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah. Dan lain-lain Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain:  Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas).  Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu.

 Kerahasiaan alat tes semakin terancam Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet.  Kecemasan teknologi. Selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer. Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi. Rusaknya modem internet karena disambar petir.

2. Bidang Ekonomi dan Industri Dalam bidang ekonomi teknologi berkembang sangat pesat. Dari kemajuan teknologi dapat kita rasakan manfaat positifnya antara lain:  Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi.  Terjadinya industrialisasi.  Produktifitas dunia industri semakin meningkat. Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi. Di masa depan, dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan bahwa akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko.  Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.Kecenderungan perkembangan teknologi dan ekonomi, akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah tersebut.  Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi Meskipun demikian ada pula dampak negatifnya antara lain;1. terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan2. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan

juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental “instant”. 3. Bidang Sosial dan Budaya Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat sebagai berikut:  Perbedaan kepribadian pria dan wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.Data yang tertulis dalam buku Megatrend for Women:From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene & John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya.  Meningkatnya rasa percaya diri. Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia.  Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras. Meskipun demikian kemajuan teknologi akan berpengaruh negatip pada aspek budaya:  Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.  Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolongmenolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.  Pola interaksi antar manusia yang berubah. Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telpon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet

(warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja. 4. Bidang Pendidikan Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain:  Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.  Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat abstrak.  Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka. Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain.Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses pendidikan antara lain:  Kerahasiaan alat tes semakin terancam Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.  Penyalah gunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita tahu bahwa kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tingi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan lain-lain. 5. Bidang politik  Timbulnya kelas menengah baru. Pertumbuhan teknologi dan ekonomi di kawasan ini akan mendorong munculnya kelas menengah baru. Kemampuan, keterampilan serta gaya hidup mereka sudah tidak banyak berbeda dengan kelas menengah di negara-negera Barat. Dapat diramalkan, kelas menengah baru ini akan menjadi pelopor untuk menuntut kebebasan politik dan kebebasan berpendapat yang lebih besar.

 Proses regenerasi kepemimpinan. Sudah barang tentu peralihan generasi kepemimpinan ini akan berdampak dalam gaya dan substansi politik yang diterapkan. Nafas kebebasan dan persamaan semakin kental.  Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh berkembangnya regionalisme. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi telah menghasilkan kesadaran regionalisme. Ditambah dengan kemajuan di bidang teknologi transportasi telah menyebabkan meningkatnya kesadaran tersebut. Kesadaran itu akan terwujud dalam bidang kerjasama ekonomi, sehingga regionalisme akan melahirkan kekuatan ekonomi baru.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Kedudukan konsep ilmu, teknologi dan kemasyarakatan semakin penting dalam era masyarakat modern yang banyak menimbulkan masalah-masalah kompleks. Kenyataan ini akan semakin dirasakan apabila dalam penjelasanya memberi informasi lebih jauh bahwa pemecahan masalah-masalah tersebut menghendaki adanya kedudukan dari berbagai disiplin ilmu. Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran IPS untuk proses pembelajaran ITM adalah interdisipliner atau multidisipliner. Dalam Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakat tidak luput dari dampak positif dan dampak negative sehingga mempengaruhi perkembangan dunia IPTEK.

B. SARAN Adapun saran yang bisa penulis berikan 1. Kepada semua pembaca bila mendapat kekeliruan dalam makalah ini harap bisa meluruskannya. 2. Untuk supaya bisa membaca kembali literatur-literatur yang berkenaan dengan pembahasan ini sehingga diharapkan akan bisa lebih menyempurnakan kembali pembahasan materi dalam makalah ini.

Eko Jarwanto
Sabtu, 15 Oktober 2011
MENGAPLIKASIKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN DALAM PEMBELAJARAN IPS
( Review dari Buku Expectations of Excellence: Curiculum Standards for Social Studies. Developed by NCSS / Ntional Council for the Social Studies )

Pembelajaran IPS di sekolah menuntut untuk dicapainya standar-standar terbaik demi pengembangan kemampuan siswa, baik dalam ranah kognitif, afektif, serta psikomotor. Proses pembelajaran IPS di kelas hendaknya juga dapat mengarahkan, membimbing, dan mempermudah mereka dalam penguasaan sejumlah konsep dasar sehingga mereka dapat membentuk struktur ilmu pengetahuannya sendiri. Tugas ini sebenarnya tidak mudah mengingat kemampuan siswa sekolah memiliki latar belakang kemampuan dan lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencarian dan langkah-langkah penerapan model pembelajaran yang tepat agar proses belajar mengajar lebih berkualitas.

Bagaimana

cara

para

guru

dalam

melaksanakan pembelajaran yang mampu mencapai standar kompetensi yang diinginkan ?. Untuk menjawab hal ini, maka perlu dipahami terkait dimensi dan struktur Pendidikan IPS itu sendiri. Dalam buku Expectations of Excellence: Curiculum Standards for Social Studies. Developed by NCSS / Ntional Council for the Social Studies dijelaskan bahwa untuk mencapai hal tersebut salah satunya ialah dengan mengaplikasikan Knowledge

(Pengetahuan), Skill (keterampilan), Values (nilai-nilai), dan Civic Action (tindakan). Sebenarnya, keempat dimensi tersebut dalam praktek pembelajaran tidak saling terpisah, namun saling terkait satu sama lain.

A. Dimensi Knowledge (Pengetahuan). Di dalam buku NCSS tersebut, dijelaskan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui pembelajaran dimana para siswa menerima informasi-informasi baru di dalam pikirannya. Pengetahuan juga dapat diperoleh melalui pengalaman, perasaan, dan hubungan diantara intelektual/cara berpikir di dalam keberadaan lingkungan siswa, serta pembangunan rasa emosional diri siswa. Secara umum dan khusus, bahwa keberadaan pengetahuan sangatlah banyak dan luas, akan tetapi tidak semuanya selalu dapat dikembangkan dalam situasi pemahaman konteks siswa yang sedang belajar. Karena itu maka para guru harus mampu memilih tema-tema yang cocok bagi siswa sesuai dengan karakteristiknya. Pengetahuan yang harus dipilih tersebut dapat beupa ide/pikiran, prinsip hidup, konsep, serta informasi dari sejumlah pengetahuan yang relevan dengan topik pembelajaran. Dari penjelasan buku NCSS tersebut, nampak bahwa proses pencapaian pengetahuan melalui kegiatan rekonstruksi sangat ditekankan. Proses rekonstruksi dapat dilaksanakan dengan mengambil beberapa tema penting terkait kehidupan sekitar siswa. Namun disisi lain, belum dijelaskan terkait cakupan pengetahuan secara konseptual. Dalam buku Sapriya berjudul Pendidikan IPS [1] dijelaskan bahwa secara umum, setiap orang memiliki wawasan tentang pengetahuan sosial yang berbeda-beda. Namun, secara konseptual, pengetahuan (knowledge) hendaknya mencakup: (1) Fakta; (2) Konsep; dan (3) generalisasi yang dipahami oleh siswa. Fakta adalah data yang spesifik tentang peristiwa, objek, orang dan hal-hal yang terjadi (peristiwa). Dalam pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat mengenal berbagai jenis fakta khususnya yang terkait dengan kehidupan. Pada dasarnya fakta yang disajikan untuk para siswa hendaknya disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan berfikirnya. Secara umum, fakta untuk siswa SD hendaknya berupa peristiwa, objek, dan hal-hal yang bersifat konkret. Konsep merupakan kata-kata atau frase yang mengelompok, berkatagori, dan memberi arti terhadap kelompok fakta yang berkaitan. Konsep merujuk pada suatu hal atau unsur kolektif yang diberi label. Namun konsep akan selalu direvisi disesuaikan dengan konsep menurut disiplin ilmu-ilmu sosial, Contoh konsep sbb:

tradisi perubahan kontinuitas konflik kooperasi nasionalisme kolonialisme imperalisme SEJARAH POLITIK pengambilan keputusan otoritas kekuasaan negara

perilaku lokasi kerja kelompok pola ruang hubungan antar- jarak kelompok saling persepsi wilayah fungsi individu distribusi keragaman lingkungan pengembangan perubahan PSIKOLOGI GEOGRAFI Pendidikan IPS SOSIOLOGI masyarakat sosialisasi peran status stratifikasi social

budaya tradisi keyakinan akulturasi kekerabatan adaptasi ritual perubahan ANTROPOLOGI EKONOMI produksi distribusi spesialisasi pembagian kerja konsumsi

Gener alisasi merupakan suatu pernyataan dari dua atau lebih konsep yang saling terkait. Generalisasi memiliki tingkat

kompleksitas isi, disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Pengembangan konsep dan generalisasi adalah proses mengorganisir dan memaknai sejumlah fakta dan cara hidup bermasyarakat. Merumuskan generalisasi dan mengembangkan konsep merupakan tujuan pembelajaran IPS yang harus dicapai oleh siswa dengan bimbingan guru. Hubungan antara generalisasi dan fakta bersfat dinamis. Memperkenalkan informasi baru yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan generalisasi merupakan cara yang baik untuk menkondisikan terjadinya proses belajar bagi siswa. Dengan informasi baru, pada siswa dapat mengubah dan memperbaiki generalisasi yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Di dalam pembelajaran IPS, para guru hendaknya mendesain secara luas dari sejumlah disiplin ilmu untuk merekonstruksi pengalaman siswa secara terus-menerus agar mereka menjadi aktif menghubungkan pengetahuan dengan pemahaman keberadaan mereka di lingkungannya. Apabila kita ingin membuat para siswa kita menjadi lebih baik dalam berpikir dan membuat keputusan-keputusan, maka mereka harus memiliki kemampuan dalam

menghubungkan dengan kebiasaan berpikir secara urut, jelas, serta logis. Sebagai pendidik, kita harus mendorong para siswa untuk menjadi kritis dan memiliki kemampuan membaca informasi dari media masa, media cetak, isi video dan audio, hasil-hasil karangan tulisan, serta kritis terhadap fenomena-fenomena sosiial di sekitar. Disisi lain, kita juga harus mendorong mereka agar memiliki kesadaran dalam menghubungkan antara isi pelajaran IPS, keterampilan, dan situasi belajar. Hal ini bertujuan agar mereka dapat secara reflektif melakukan penyelidikan-penyelidikan sosial. Perencanaan menuju cara berpikir reflektif

seperti ini sangat penting untuk membentuk masyarakat yang berpikir dan bertindak secara demokratis.

2.

Dimensi Keterampilan (Skills) Kecakapan mengolah dan menerapkan informasi merupakan keterampilan yang

sangat penting untuk mempersiapkan siswa menjadi warganegara yang mampu berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Oleh karena itu, dalam buku NCSS diuraikan uraian sejumlah keterampilan yang diperlukan sehingga menjadi unsur dalam dimensi IPS dalam proses pembelajaran, yaitu keterampilan meneliti (acquiring information and manipulating data), keterampilan berkomunikasi (developing and presenting policies, argument, and stories), keterampilan berpikir (constructing new knowledge), serta keterampilan berpartisipasi sosial (participating groups). Semua keterampilan tersebut sebenarnya tidak terpisah, namun menjadi satu/saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Artinya masing-masing dimensi tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Namun untuk memudahkan pemahaman kita, maka dijelaskan secara bagian demi bagian.

a. Keterampilan Meneliti Dalam buku NCSS dijelaskan bahwa untuk mengembangkan keterampilan meneliti, maka pendidikan IPS harus di desain untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca, belajar, serta mencari informasi dengan menggunakan teknik metode ilmu sosial, serta kemampuan menggunakan komputer dan alat elektronik lainnya. Keterampilan ini diperlukan untuk mengumpulkan dan mengolah data. Dalam buku NCSS tidak dijelaskan secara detail tentang indikator keterampilan meneliti, namun di dalam buku Sapriya Pendidikan IPS digambarkan bahwa secara umum penelitian mencakup sejumlah aktivitas sebagai berikut:
       

Mengidentifikasi dan mengungkapkan masalah atau isu Mengumpulkan dan mengolah data Menafsirkan data Menganalisis data Menilai bukti-buki yang ditemukan Memyimpulkan Menerapkan hasil temuan dan konteks yang berbeda Membuat pertimbangan nilai

b. Keterampilan Berkomunikasi Pengembangan keterampilan berkomunikasi merupakan aspek yang penting dari pendekatan pembelajaran IPS khususnya dalam inkuiri sosial. Dalam buku NCSS dijelaskan bahwa untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam pembelajaran IPS, maka para guru harus mendorong kemampuan siswa untuk menulis, mengklasifikasi,

menginterpretasi, menganalisis, merangkum, mengevaluasi, dan mempresentasikan informasi dengan alasan-alasan yang baik demi mendukung pengambilan keputusan diantara kehidupan idividu dan sosial. Setiap siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemahaman dan perasaannya secara jelas, efektif, dan kreatif. Walaupun bahasa tulis dan lisan telah menjadi alat berkomunikasi yang paling biasa, guru hendaknya selalu mendorong para siswa untuk mengungkapkan gagasannya dalam bentuk lain, seperti dalam film, drama, seni (suara, tari, lukis), pertunjukkan, foto, bahkan dalam bentuk peta. Para siswa hendaknya dimotivasi agar menjadi pembicara dan pendengar yang baik.

c. Keterampilan Berpikir Dalam buku NCSS dijelaskan bahwa pengembangan kemmapuan berpikir dapat dilakukan dengan mendesain pembelajaran yang mendorong kemampuan siswa untuk memahami konsep/kategori informasi, hubungan dari sebab akibat, membedakan antara informasi dan pendapat, dan mengembangkan suatu cerita baru, model, gambar, atau menambahkan pemahaman ide siswa dalam sebuah penlitian sosial. Sejumlah keterampilan berpikir banyak berkontribusi terhadap pemecahan masalah dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat secara efektif. Untuk mengembangkan keterampilan berfikir pada diri siswa, perlu ada pengusaan terhadap bagian-bagian yang lebih khusus dari keterampilan berfikir tersebut serta melatihnya di kelas. Beberapa keterampilan berfikir yang perlu dikembangkan oleh guru di kelas untuk para siswa meliputi:
     

Mengkaji dan menilai data secara kritis Merencanakan Merumuskan faktor sebab dan akibat Memprediksi hasil dari sesuatu kegiatan atau peristiwa Menyarankan apa yang akan ditembulkan dari suatu peristiwa atau perbuatan Curah pendapat (brainstorming)

  

Berspekulasi tentang masa depan Menyarankan berbagai solusi alternatif Mengajukan pendapat dan perspektif yang berbeda

d. Keterampilan Partisipasi Sosial Dalam belajar IPS, siswa perlu dibelajarkan bagaiman berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain. Keahlian bekerja dalam kelompok sangat penting karena dalam kehidupan bermasyarakat begitu banyak orang menggantungkan hidup melalui kelompok. Buku NCSS menjelaskan bahwa keterampilan berpartisipasi sosial dapat dilaksanakan dengan mendesain pembelajaran yang mendorong kemampuan siswa untuk membuat alasan pribadi di dalam kelompok, selalu mengingat tenggang rasa di dalam kelompok, berpartisipasi dalam proses negosiasi konflik dan menjaga posisi individu dalam kelompok. Hal ini karena dasar dari tenggang rasa, pijakan utama dalam bekerja kelompok, dan penerimaan secara penuh dalam hubungannya dengan kewarganegaraan yang demokratis. Meskipun demikian, perlu ditambahkan pada buku NCSS bahwa beberapa keterampilan partisipasi sosial yang perlu dibelajarkan oleh guru meliputi:
     

Mengidentifikasi akibat dari perbuatan & pengaruh ucapan terhadap orang lain Menunjukkan rasa hormat dan perhatian kepada orang lain Berbuat efektif sebagai anggota kelompok Mengambil berbagai peran kelompok Menerima kritik dan saran Menyesuaikan kemampuan dengan tugas yang harus diselesaikan

Dapat disimpulkan, bahwa dalam buku NCSS telah dijelaskan bahwa dimensi pengetahuan (knowledge) dan dimensi keterampilan (skill) memegang peranan penting dalam pembelajaran IPS. Dijelaskan pula bahwa masing-masing dimensi tidak dapat dipisahkan, Namun dalam buku NCSS belum dijabarkan secara rinci tentang aspek pengetahuan yang meliputi fakta, konsep, dan generalisasi. Disisi lain dalam dimensi keterampilan memang telah diuraikan empat aspeknya, namun juga belum dijelaskan indikator dari keterampilan tersebut. NCSS hanya menjelaskan tentang strategi umum mencapai keterampilan yang dimaksud (berpikir, meneliti, partisipasi sosial, dan berkomunikasi).

Anda belum login. (Login)

You are here
  

Klinik Pembelajaran / ► Ali Syaban / ► Blogs

Ali Syaban
  

Profil Forum posts Blog

Keterampilan ICT dari Ali Syaban - Tuesday, 31 January 2012, 12:17 Anyone on this site KETERAMPILAN ICT Keterampilan merupakan kemampuan perseptual, apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan benda produk kerajinan dan atau produk teknologi. Keterampilan juga menjadikan seseorang akan terampilan membiasakan keahlian dibidangnya. Menjadi ahli dalam suatu keahlian di bidangnya harus melalui keterampilan proses, menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007 : 1.9-1.10) menyatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan- kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.

Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri seseorang (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14). Dimyati dan Mudjiono (Sumantri, 1998/1999: 113) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses bukanlah tindakan instruksional yang berada diluar jangkauan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini justru bermaksud mengembangkan kemampuan- kamapuan yang dimiliki dari dalam diri peserta didik.
Keterampilan proses inilah yang menjadikan keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan- kemampuan mental, fisik,dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi, sehinggal kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan yang terampil. Terampil tersebut menjadikan seseorang memiliki kompetensi yang handal. Keterampilan ICT adalah keterampilan perseptual, apresiatif dan kreatif produktif dalam mengerakan psikomotoriknya yang mejadikan lebih ahli atau keterampilan yang membiasakan budayanya mengunakan ICT dalam segala aktivitas yang postif.

Permalink
[ Mengubah: Tuesday, 31 January 2012, 12:18 ]

PENDIDIKAN IPS SECARA GLOBAL dari Ali Syaban - Friday, 10 June 2011, 20:09 Anyone on this site

PENDIDIKAN IPS SECARA GLOBAL
Rudy Gunawan Ali Sya'ban

Pembelajaran IPS harus ber-perspektif global. Perspektif global merupakan pandangan dimana guru dan siswa secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu

yang berkaitan dengan isu global. (Idealnya tercermin dalam motto “thingking globally and act locally”). Kumpulan para pakar ilmu sosial seluruh dunia yang berpusat di Amerika yang tergabung dalam wadah “National Council for the Social Studies“ ( NCSS) pada tahun 1994 memberikan sejumlah rambu-rambu kapan pembelajaran IPS akan menjadi sangat kuat (powerful) apabila; 1) Terasa bermakna, yaitu bila siswa mampu menghubungkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dipelajari di sekolah dan luar sekolah, penyampaian bahan ajar ditujukan pada pemahaman, apresiasi dan aplikasinya dalam kehidupan, 2) Pendekatan Integratif, yaitu terintegrasi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, kepercayaan dan keperbuatan nyata, 3) Berbasis nilai, khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan, 4) Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan. dan 5) Bersifat aktif, memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas yang dapat ditemui di lingkungan sosial. Ketika pembelajaran IPS dikelola secara bermakna, menantang dan berbasis nilai (value), diharapkan pandangan miring siswa dan masyarakat tentang IPS dapat direduksi. Penting sekali memahami pengetahuan sosial sehingga kita tahu realitas sosial dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, itulah esensi kontribusi kita terhadap dunia pendidikan. Maka jangan berkecil hati manakala IPS tidak masuk dalam mata ujian Nasional , masih sangat bermakna Pendidikan global adalah upaya untuk menanamkan suatu pandangan (prespective globalisasi) tentang dunia kepada siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar budaya, umat manusia dan kondisi planet bumi. Tujuan pendidikan setiap mata pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berfikir kritis, namun ada hal yang unik dalam pendidikan global, yakni fokus substansinya yang berasal dari hal-hal yang mendunia yang semakin bercirikan pluralisme. Tujuan pendidikan global adalah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber daya alamnya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme budaya dan semakin saling ketergantungan.

Gambar Globalisasi sumber: sepriblog.blogspot.com Perlunya meningkatkan orientasi para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Meskipun di wilayah Indonesia, upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu diberdayakan. Kemajuan teknologi, perdagangan antarnegara, pertukaran budaya, pariwisata, kepedulian terhadap lingkungan, persaingan pasar, kelangkaan dalam sumber alam dan semakin kompleks. Adanya saling ketergantungan antar bangsa dan negara menimbulkan bentuk-bentuk kerjasama di segala bidang yang sekaligus pula menimbulkan berbagai persaingan dan konflik. Misalnya; kerja sama di bidang ekonomi telah menciptakan model-model blok-blok ekonomi negara-negara seperti Eropa berdiri Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), di Asia Pasifik berdiri APEC. Akibat dari perkembangan dalam teknologi yang diiringi pula oleh munculnya permasalahan, sedikit demi sedikit, disadari ataupun tidak telah menimbulkan adanya kontak singgungan budaya antarbangsa. Peristiwa atau proses kejadian di atas dinamakan proses globalisasi yang berpengaruh pula Dengan Proses Pendidikan. The American Association Of Colleges For The Teacher Education (AACTE,1994) mengemukakn bahwa „globalization is said to necesssiate changes in teaching, such as more attention to diserve and universal human values global system, global issues, involment of different kinds of world actors, and global history. National Council for the Social Studies (NCSS,1982) mengemukakan beberapa gejala atau fenemona proses globalisasi sebagai berikut: 1. Adanya evolusi dalam sistem komunikasi dan transportasi global. 2. Penggabungan perekonomian lokal, regional dan nasional menjadi perekonomian global.

3. Meningkatnya intensitas interaksi antar masyarakat yang menciptakan budaya global sebagai panduan dari budaya lokal, regional dan nasional yang beragam. 4. Munculnya sistem international yang mengikis batas-batas tradisi politik internasioanal dan politik nasional. 5. Meningkatkan dampak aktifitas manusia terhadap ekosistem di bumi. 6. Meningkatnya kesadaran global yang menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia di bumi sebagai anggota makhluk manusia, sebagai penduduk di bumi dan sebagai anggota dalam sistem global. Pandangan suatu bangsa atau negara yang berpaling dari pandangan global hanya akan membuat negara atau bangsa itu terisolir maka dari itu globalisasi telah menuntut setiap warga dunia untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menghadapi persaingan karena dalam era seperti itu hanya manusia yang berkualitaslah yang akan dapat bertahan atau mengisolisasi diri dari pengaruh globalisasi.

Permalink
[ Mengubah: Saturday, 11 June 2011, 10:12 ]

PENDIDIKAN MULTIKUTURALISME dari Ali Syaban - Friday, 10 June 2011, 14:07 Anyone on this site

PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
Rudy Gunawan Ali Sya'ban

A. Pendahuluan
Indonesia adalah salah satu negeri multikultural. Kenyataan ini dapat dilihat dari keragaman sosial, kelompok etnis, budaya, agama, aspirasi politik, dan lain-lain. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan. Oleh karena itu pendidikan multikulturalisme berperan penting dalam penyelesaian persoalan tersebut serta pembangunan di Indonesia. Pemahaman serta konsep multikulturalisme sebenarnya sudah muncul sejak negara Republik Indonesia berdiri. Tapi pada realitas yang ada sekarang ini, konsep multikulturalisme menjadi asing. Konsep multikulturalisme belum terwujud karena kesadaran tentang konsep tersebut dipendam atas nama persatuan dan stabilitas negara yang kemudian memunculkan paham mono-kulturalisme yang menjadi

tekanan utama. Dan memaksakan pola yang berkarakteristik “penyeragaman” dalam berbagai aspek. Contohnya penyeragaman dalam satu kebudayaan. Sebenarnya konsep multikulturisme menekankan keanekaragaman dalam kesederajatan. Keanekaragaman dalam kesederajatan yang dimaksud seperti persamaan HAM, prinsip etika dan moral, penegakan hukum, dan keadilan tanpa membedakan suatu ras. Dalam konteks ini pula, kita harus bersedia menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan suku bangsa, agama, budaya, gender, bahasa, kebiasaan ataupun kedaerahan. Multikultural memberi penegasan, bahwa segala berbedaan itu dan sama di dalam ruang publik. Dalam ruang publik siapapun boleh dan bebas mengambil peran, disini tidak ada perbedaan gender dan kelas. Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan hanya mungkin terwujud dalam praktis nyata apabila ada perantara sosial, terutama ada perantara hukum, yang merupakan mekanisme kontrol secara ketat dan adil yang mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip demokrasi dalam kehidupan nyata. Konsep multikulturalisme dapat dijelaskan dan dipahami melalui pendidikan multikulturalisme. Pada dasarnya pendidikan multikulturalisme dapat ditempuh melalui pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan formal di Indonesia maupun diberbagai negara lain menunjukkan keragaman tujuan yang menerapkan strategi dan sarana yang dipakai untuk mencapainya. Penambahan materi multikulturalisme dalam pendidikan formal sebenarnya sebenarnya sangat penting dalam pengembangan konsep yang menerangkan tentang pentingnya multikulturalisme sejak dini. Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa gagasan pendidikan multikulturalisme itu sepi dari tantangan dan hambatan. Hambatan yang paling serius dalam penerapannya justru datang dari lingkungan paling kecil. Lingkungan kecil yang dimaksud adalah keluarga. Harus diakui bahwa keluarga sangat berperan penting dalam menyukseskan konsep pendidikan multikulturalisme. Dalam hal ini, seharusnya orang tua menanamkan nilai multikulturalisme sejak awal kepada anak-anaknya. Penanaman nilai dapat dilakukan melalui hal kecil, seperti anak mulai diajarkan bagaimana bersikap kepada teman yang berbeda suku, bahasa, bahkan agama. Keteladanan dan konsisten orang tua dalam menerapkan ide serta nilai multikulturalisme sangat penting disini. Namun ironisnya justru orang tua sering merasa khawatir terhadap penerapan ide pendidikan multikulturalisme. Apalagi kalau sudah menyangkut aspek agama. Aspek inilah yang sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih serius.

B. GAGASAN PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
Masyarakat multikulturalisme adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai kultur (budaya banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran atau paham). Jadi multikulturalisme adalah masyarakat dimana setiap manusia secara individu diakui harkat dan martabatnya yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan masing-masing. Sedangkan kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan dan dikembangkan karena dan

melalui pendidikan. Contohnya dalam penggunaan bahasa. Contoh lain, setiap masyarakat mempunyai persamaan dan perbedaan dalam berpakaian. Menurut Parsudi Suparlan (2002) akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang berfungsi sebagai pedoman kehidupan manusia. Multikulturalisme adalah sebuah ideologi untuk meningkatkan derajat manusia. Untuk dapat memahami berbagai konsep tentang multikulturalisme, maka dibentuklah pendidikan multukulturalisme.

Gambar 1. Kerjasama orang kulit putih dan orang kulit hitam Sumber: herdica.wordpress.com

Multikulturalisme merupakan suatu ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan suatu landasan. Landasan tersebut adalah pendidikan. Pendidikan merupakan suatu sistem dan cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan juga merupakan suatu usaha sadar yang dibutuhkan untuk manusia demi menunjang perannya di masa depan. Pada posisi ini, pendidikan multikulturalisme memegang peranan penting. Sebab pendidikan merupakan lapangan sentral dalam upaya menerjemahkan serta mensosialisasikan gagasan multikulturalisme, sehingga menjadi kenyataan pada perilaku. Sedangkan pendidikan multikulturalisme adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah masyarakat yang plural. Dengan pendidikan multikulturalisme diharapkan adanya kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak. Pendidikan multikultural yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran yang dirancang untuk budaya dari ras yang berbeda dalam sistem pendidikan. Pendekatan ini untuk mengajar dan belajar didasarkan pada pembangunan konsensus, menghormati, dan mendorong pluralisme budaya dalam masyarakat ras. pendidikan multikultural mengakui dan menggabungkan keistimewaan ras positif ke dalam atmosfer kelas. Sebenarnya pendidikan multikulturalisme merupakan fenomena yang relatif baru didalam dunia pendidikan. Alhasil, dapat dikatakan sampai saat ini, bahwa wawasan multikulturalisme di Indonesia masih rendah. Sehingga sering terjadi konflik dan

benturan tentang ras karena kurangnya pemahaman multikulturalisme.

Gambar 2. konflik di Indonesia Sumber: besteasyseo.blogspot.com

Untuk itu dipandang sangat penting memberikan porsi pendidikan multikulturalisme sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan Indonesia agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah yang berakar pada suatu perbedaan. Pendidikan multikulturalisme mengajarkan tentang konsep dasar multikulturalisme. Sebenarnya konsep multikulturalisme menekankan keanekaragaman dalam kesederajatan. Keanekaragaman dalam kesederajatan yang dimaksud seperti persamaan HAM, prinsip etika dan moral, penegakan hukum, dan keadilan pada setiap orang dari berbagai keragaman sosial, kelompok etnis, budaya, dan agama. Selanjutnya James Banks (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan :

Content Integration

Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu.

The Knowledge Construction

ProcessMembawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin).

An Equity Paedagogy

Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya ataupun sosial.

Prejudice Reduction

Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka.

C. PERSPEKTIF TENTANG PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
Wacana multikulturalisme untuk konteks di Indonesia menemukan momentumnya ketika sistem nasional yang otoriter-militeristik tumbang seiring dengan jatuhnya rezim Soeharto. Saat itu, negara menjadi kacau balau dengan berbagai konflik antar suku, antar golongan, yang menimbulkan keterkejutan dan kengerian pada anggota masyarakat.

Gambar 3. Reformasi tahun 1998 Sumber: amriawan.blogspot.com

Selain itu wacana tentang pendidikan multikultural, secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefenisikan sebagai "pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". Hal ini sejalan dengan pendapat Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan "menara gading" yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya, harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya. Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnik, ras, budaya, strata sosial dan agama. Kondisi yang demikian semakin mempertanyakan kembali sistem apa yang cocok bagi Indonesia, sistem apa yang membuat masyarakat bisa hidup damai. Dan bagaimana untuk meminimalisirkan potensi konflik. Menurut Tilaar, pendidikan multikulturalisme berawal dari berkembangnya gagasan

dan kesadaran tentang multikulturalisme. Ini terkait dengan perkembangan politik dan sosial. Menurut Sosiolog UI Parsudi Suparlan, Multikulturalisme adalah konsep yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman dengan alasan multikulturalisme membagirupakan sebuah ideologi yang mengagungkan perbedaan atau sebuah keyakinan yang mengakui dan mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai kehidupan masyarakat. Menurut Nieto, bahwa pendidikan multikulturalisme bertujuan untuk sebuah pendidikan yang bersifat anti rasis yang memperhatikan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar bagi warga dunia. Menurut Banks, mendeskripsikan pendidikan multikuluralisme dalam empat fase. Yang pertama, ada upaya untuk mempersatukan kajian-kajian etnis pada setiap kurikulum. Kedua, hali ini diikuti oleh pendidikan multi etnis sebagai usaha untuk menerapkan persamaan pendidikan melalui reformasi keseluruhan sistem pendidikan. Yang ketiga, kelompok-kelompok marginal seperti perempuan, orang cacat, homo dan lesbian, mulai menuntut perubahan-perubahan mendasar dalam fase pendidikan. Fase keempat, perkembangan teori, riset dan praktik, perhatian pada hubungan antar ras, kelamin, dan kelas telah menghasilkan tujuan bersama bagi kebanyakan ahli teoretis, jika bukan praktisi dari pendidikan multikulturalisme.

D. IMPLEMENTASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Uraian sebelumnya telah mempertebal keyakinan kita betapa paradigma pendidikan multikulturalisme sangat bermanfaat untuk soliditas diantara keragaman etnik, ras, budaya, dan kebutuhan kita. Paparan di atas juga memberi dorongan dan spirit bagi lembaga pendidikan untuk menanamkan sikap kepada peserta didik untuk menghargai orang, budaya, agama, dan keyakinan orang lain. Harapannya, dengan implementasi pendidikan yang berwawasan multikulturalisme dapat membantu siswa mengerti, menerima, menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya dan nilai kepribadian. Lewat penanaman semangat multikulturalisme disekolah-sekolah akan menjadi media pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, ras, etnis, dan kebutuhan diantara sesama dan mau hidup bersama secara damai. Dalam implementasinya, paradigma pendidikan multikultural dituntut untuk memegang prinsip berikut ini :

Pendidikan multikultural harus menawarkan beragam kurikulum yang merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang. Pendidikan multikulturalisme harus didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penafsiran tunggal terhadap kebenaran sejarah. Kurikulum dicapai sesuai dengan penekanan analisis komparatif dengan sudut pandang kebudayaan yang berbeda-beda. Pendidikan multikulturalisme harus mendukung prinsip-prinsip pokok dalam memberantas pandangan klise tentang ras, budaya, dan agama.

E. PENDEKATAN DALAM PROSES PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikulturalisme yang perlu diantisipasi, yaitu : Pertama, pendidikan sebagai “transmisi kebudayaan” yang dapat membebaskan pendidikan dari asumsi bahwa tanggung jawab primer mengembangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada ditangan mereka. Tapi justru tanggung jawab pihak lain yang terkait dengan pembelajaran informal diluar sekolah. Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan dengan kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. Secara tradisional para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok sosial tertentu. Dalam konteks pendidikan multikulturalisme, pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan dikalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik. Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu kebudayaan baru biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi. Keempat, kemungkinan bahwa pendidikan baik formal maupun nonformal akan meningkatkan kompetensi dalam beberapa budaya. Pada konteks ini dapat dikatakan, tujuan utama dari pendidikan multikulturalisme adalah untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Lebih jauh lagi, penganut agama dan budaya yang berbeda dapat belajar untuk melawan atau setidaknya tidak setuju dengan ketidak-toleran seperti perang agama, dIskriminasi, dan hegomoni budaya. Dalam sejarahnya, pendidikan multikulturalisme sebagai sebuah konsep atau pemikiran tidak muncul dalam ruangan kosong, namun ada interes politik, sosial, ekonomi, dan intelektual yang mendorong kemunculannya. Ide pendidikan multikulturalisme akhirnya menjadi komitmen global sebagaimana direkomendasikan UNESCO pada bulan Oktober 1954 di Jenewa. Rekomendasi itu diantaranya memuat empat pesan. Pertama, pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinekaan pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan budaya serta mengembangkan untuk berkomunikasi, berbagi, bekerja sama dengan yang lain. Kedua, pendidikan meneguhkan jati diri dan mendorong konvergensi gagasan dan penyelesaian yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan, solidaritas antar pribadi dan masyarakat. Ketiga, pendidikan hendaknya meningkatkan kemampuan menyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan. Karena itu, pendidikan hendaknya juga meningkatkan pengembangan kedamaian dalam diri pikiran peserta didik sehingga dengan demikian mereka mampu membangun secara kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan memelihara.

F. MANFAAT PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME

Manfaat pendidikan multikulturalisme bagi seluruh peserta didik adalah : 1. Memberi pendidikan kepada peserta didik bahwa suatu perbedaan itu adalah

wajar. 2. Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa. 3. Persamaan dan keadilan dalam perlakuan tanpa membedakan suku, agama, etnis, kelompok sosial. Dari uraian di atas diharapkan gagasan dan konsep pendidikan multikulturalisme dapat menjadi kenyataan. Sehingga peserta didik dapat menghargai perbedaan, toleransi terhadap sesama manusia, mampu mengatur diri sendiri, bebas dari paksaan, ancaman dan kekerasan.

Permalink
[ Mengubah: Friday, 10 June 2011, 19:53 ]

Anda belum login. (Login)

You are here
  

Klinik Pembelajaran / ► Ali Syaban / ► Blogs

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->