1

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Bab 7

A.

FLOOR PRICE DAN CEILLING PRICE 1. Floor Price
Kebijakan harga dasar yang ditetapkan oleh pemerintah yang bertujuan untuk melindungi produsen.
P Pf p E1 E E2 S

D

0

Qd

Qs

Q

1. Ceilling Price Kebijakasanaan harga tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah yang ditujukan untuk melindungi konsumen.2. Harga tertinggi Keterangan: Pcp : Harga tertinggi 0Qs : barang yang dijual oleh produsen QsQd : barang yang dijual oleh pemerintah . P S Pcp D 0 Qs Qd Q Gambar 13. Floor Price Keterangan: Pfp : Harga dasar ditetapkan 0Qd : Barang yang dibeli oleh konsumen 0Qs : Barang yang dibeli oleh pemerintah 2.2 Gambar 13.

Harga subsidi Kebijakan harga yang ditetapkan oleh pemerintah yang bertujuan melindungi konsumen dan produsen. Pengaruh Pajak – Spesifik Terhadap Keseimbangan Pasar Pengenaan pajak atau pemberian subsidi atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang . PAJAK 1.3.3 3. Subsidi Harga Q Keterangan: Pj : Harga jaminan Pc : Harga Konsumen Qj : Barang yang dijual Subsidi : PcPjE1E2 B. P PJ E PC E1 E2 D S 0 QJ Gambar 13.

sedangkan penawarannya P = 3 + 0. titik keseimbanganpun akan bergeser menjadi lebih tinggi. yaitu dengan jalan menawarkan harga jual yang lebih tinggi. Berapa harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan sebelum pajak dan berapa pula harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan sesudah pajak ? .4 tersebut. Dengan kurva penawaran yang lebih tinggi. Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut naik. mempengaruhi harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan. Kasus 1 Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P15 – Q. maka sesudah pajak ia akan menjadi P = a + bQ + t = (a + t) + bQ. Sebab setelah dikenakan pajak. terhadap barang tersebut dikenakan pajak sebesar 3 per unit. Pengenaan pajak sebesar t atas setiap unit barang yang dijual menyebabkan kurva penawaran bergeser ke atas.5 Q. produsen akan berusaha mengalihkan (sebagian) beban pajak tersebut kepada konsumen. Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta di pasar menjadi lebih tinggi daripada harga keseimbangan sebelum pajak. di lain pihak jumlah keseimbangannya menjadi lebih sedikit. dengan penggal yang lebih besar (lebih tinggi) pada sumbu harga. Jika sebelum pajak persamaan penawarannya P = a + bQ. cateris paribus.

persamaan penawarannya berubah dan kurvanya bergeser ke atas. Pe = 7 dan Qe = 8.5 Q + 3 P = 6 + 0. Penawaran sebelum pajak: P = 3 + 0. harga jual yang ditawarkan oleh produsen menjadi lebih tinggi.5 Sebelum pajak. sesudah pajak: P′ e = 9 dan Q′ e = 6 P 15 Qs’ (sesudah pajak) 9 7 E′ E Qs (sebelum pajak) .5 Q → Q = -12 + 2 P Sedangkan persamaan permintaannya tetap : P = 15 – Q → Q = 15 – P Keseimbangan pasar: Qd = Qs 15 – P = -12 + 2 P → 27 = 3 P.5 Q Penawaran sesudah pajak: P1 = 3 + 0. P = 9 Q = 15 – P = 15 – 9 = 6 Jadi. sesudah pajak.

dari pajak sebesar 3 per unit barang.4. sebesar 2 (atau 67 %) pada akhirnya menjadi tanggungan konsumen. Karena produsen mengalihkan sebagian pajak tadi kepada konsumen. tk = P'e – Pe Beban pajak yang ditanggung produsen. Penawaran sebelun dan sesudah pajak Beban pajak yang ditanggung oleh konsumen. Dalam kasus 1 di atas.6 6 3 0 6 8 Qd 15 Q Gambar 13. Dengan perkataan lain. pada akhirnya beban pajak tersebut ditanggung bersama baik oleh produsen maupun konsumen. Berarti dari setiap unit barang yang dibelinya konsumen menanggung beban (membayar) pajak sebesar 2. malalui harga jual yang lebih tinggi. Besarnya bagian dari beban pajak yang ditanggung oleh konsumen (tk) adalah selisih antara harga keseimbangan sesudah pajak (P'e) dan harga keseimbangn sebelum pajak (Pe). tk = 9 – 7 = 2. tp = te – tk . Besarnya bagian dari beban pajak yang ditanggung oleh produsen (tp) adalah selisih antara besarnya pajak per unit barang (t) dan bagian pajak yang menjadi tanggungan konsumen.

pajak yang disetorkan oleh rakyat kepada pemerintah akhirnya kembali ke rakyat lagi dalam bentuk lain. beban pajak yang ditanggung oleh pihak produsen ini hanya sebesar 33 %. tp = 3 – 2 = 1. Jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah. membayar cicilan hutang pada negara lain. T = 6 x 3 = 18. Jadi. Jika dalam melunasi pajak anda memainkan “persetujuan rahasia” dengan petugas . T = Q'e x t Dalam kasus ini. Penerimaan dari pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah. dihitung dalam satuan persen. membiayai pegawai-pegawainya. Berarti dari setiap unit barang yang diproduksi dan dijualnya produsen menanggung beban (membayar) pajak sebesar 1. lebih sedikit daripada yang ditanggung oleh pihak konsumen. membangun proyek-proyek sarana publik seperti rumah sakit dan sekolah. membangun prasarana publik seperti jalan dan jembatan. Besarnya jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah (T) dapat dihitung dengan mengalikan jumlah barang yang terjual sesudah pengenaan pajak (Q'e) dengan besarnya pajak per unit barang (t).7 Dalam kasus 1 tadi. bahkan merupakan sumber pendapatan utama. Dengan inilah pemerintah menjalankan roda kegiatannya seharihari. juga membeli perlengkapan pertahanan. Jadi meskipun pajak tersebut dipungut oleh pemerintah melalui pihak produsen. namun sesungguhnya pihak konsumenlah yang justru lebih berat menanggung bebannya.

a + P – t . sebab : a 1 Q = − + (P − t) b b a 1 t Q=− + P− b b b bQ = . Dalam hal ini rumusannya adalah: a 1 Q = − + (P − t) b b Hasilnya tidak akan berbeda. Apabila persamaan penawarannya berbentuk Q = f (P).8 pajak. misalnya: a 1 Q=− + P b b Kita pun dapat memasukkan unsur pajak tersebut secara lansung. tanpa harus mengubah dulu fungsi penawaran yang berbentuk Q = f (P) menjadi bentuk P = f (Q). yakni jika semula P = a + bQ maka sesudah pajak menjadi P = a + bQ + t. tidak menghiraukan masa depan negara dan bangsa (termasuk anak cucu anda sendiri). Catatan tentang sesudah pajak persamaan penawaran Dalam contoh di depan kita memasukkan unsur pajak ke dalam persamaan yang berbentuk P = f (Q). berarti anda berbagi “rejeki” dengan sang oknum pajak hanya untuk merasakan keuntungan jangka pendek.

namun analisisnya sedikit berbeda. persamaan penawaran yang baru akan menjadi (t = pajak proporsional dalam %): P = a + bQ +tP P – tP = a + bQ (1 – t)P = a + bQ a b a (1 − t ) P= + Q atau Q = − + b (1 − t ) (1 − t ) b b . menaikkan harga keseimbangan dan mengurangi jumlah keseimbangan. sebagaimana yang diuraikan sebelumnya. Jika pengenaan pajak spesifik menyebabkan kura penawaran bergeser ke atas sejajar dengan kurva penawaran sebelum pajak. Meskipun pengaruhnya serupa dengan pajak spesifik. maka pajak proporsional menyebabkan kurva penawaran memiliki lereng yang lebih besar daripada kurva penawaran sebelum pajak.9 P = a + bQ + t 2. Jika persamaan penawaran semula: a 1 P = a + bQ (atau Q = − + P b b maka dengan dikenakannya pajak proporsional sebesar t% dari harga jual. Pengaruh Pajak – Proporsional Terhadap Keseimbangan Pasar Pajak proporsional ialah pajak yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari harga jual. dengan kata lain lereng kurvanya tetap. bukan ditetapkan secara spesifik (misalnya 3 rupiah) per unit barang.

5 P. persamaan penawarannya akan berubah. dengan t = 25% = 0. Sesudah pajak.6.5Q + 0. sementara persamaan permintaannya tetap. yakni permintaan P = 15 – Q dan penawaran P = 3 + 0.75 P = 3 + 0. Untuk melihat pengaruhnya terhadap keseimbangan pasar. kemudian. semula hanya a} dan juga lereng yang lebih besar {sekarang b/(1 – t). Pe = 7 dan Qe = 8.25 P 0.5 Q. ikutilah contoh berikut. P = 8. pemerintah mengenakan pajak sebesar 25% dari harga jual. yaitu P = 15 – Q atau Q = 15 – P. Hitunglah harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan tanpa pajak serta dengan pajak.4 = 6.4 Q = 15 – P = 15 – 8. Penawaran sesudah pajak. . semula hanya b}.10 Dari sini terlihat kurva penawaran P = f (Q) sesudah pajak proporsional mempunyai penggal vertikal yang lebih tinggi {sekarang a/(1 – t). sesudah pajak : P'e = 8.6 Jadi.5 Q P = 4 + 2 Q atau Q = -6 = 1. Kasus 2 Andaikan kita memiliki data yang sama seperti pada kasus sebelumnya.5 P 3 Keseimbangan pasar Qd = Qs 15 – P = -6 + 1.5 P → 21 = 2.4 dan Q'e = 6. Sebelum pajak.25 P = 3 + 0.

Besarnya beban pajak yang ditanggung oleh konsumen untuk setiap unit barang yag dibeli adalah tk = P'e – Pe = 8.86 P Qs’ Qs 8.4 = 0.25 x 8.4 (atau 67%) Sedangkan yang ditanggung oleh produsen adalah tp = t – tk = 2.1.6 8 .1 – 1.4 – 7 = 1.11 Patut dicatat.7 (atau 33%) Adapun jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah dari perdagangan barang ini adalah T = Q'e x t = 6.1 = 13.6 x 2. dalam hal ini besarnya pajak yang diterima oleh pemerintah dari setiap unit barang adalah: t x P'e = 0.4 = 2.4 7 E' E Qd Q 0 6.

Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta di pasar lebih rendah daripada harga keseimbangan sebelum .12 Gambar 13. oleh karena itu ia sering juga disebut pajak negatif. produsen merasa ongkos produksinya menjadi lebih kecil sehingga ia bersedia menjual lebih murah. Dalam buku ini hanya diuraikan subsidi yang bersifat spesifik. Subsidi yang diberikan atas produksi/penjualan sesuatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut menjadi lebih rendah. bahwa pada akhirnya pihak konsumen juga yang menanggung beban lebih berat dari pajak penjualan. Permintaan dan penawaran sebelum dan sesudah pajak Dari perhitungan-perhitungan di sini kita dapat menyimpulkan. Seiring dengan itu. C. sehingga kita bisa menganalisisnya seperti ketika menganalisis pengaruh pajak. SUBSIDI Pengaruh Subsidi Terhadap Keseimbangan Pasar Subsidi merupakan kebalikan atau lawan dari pajak.5. pengaruhnya terhadap keseimbangan pasar berbalikan dengan pengaruh pajak. Telaah mengenai subsidi proporsional dapat anda coba sendiri berdasarkan analogi pajak proporsional. Subsidi dapat bersifat spesifik dan dapat pula bersift proporsional. Dengan adanya subsidi.

titik keseimbangan pun akan bergeser menjadi lebih rendah. maka sesudah subsidi ia akan menjadi P = a + bQ – s = (a – s) + bQ. Jika sebelum subsidi persaman penawarannya P = a + bQ. Pemerintah memberikan subsidi sebesar 1.5Q → Q = -3 + 2P Karena persamaan permintaan tetap P = 15 – Q atau Q = 15 – P. Dengan kurva penawaran yang lebih rendah. Dengan subsidi spesifik sebesar s kurva penawaran bergeser sejajar ke bawah. Kasus 3 Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P = 15 Q. Pe = 7 dan Qe = 8.5 P = 1.5 + 0. maka keseimbangan pasar sesudah subsidi: Qd = Qs . dengan penggal yang lebih kecil (lebih rendah) pada sumbu harga. Penawaran tanpa subsidi : P = 3 + 0. Berapa harga keseimbangan serta jumlah keseimbangan tanpa dan dengan subsidi ? Tanpa subsidi. persamaan penawaran berubah dan kurvanya bergeser turun. cateris paribus.13 atau tanpa subsidi. harga jual yang ditawarkan oleh produsen menjadi lebih rendah.5 Q. Dengan subsidi. dan jumlah keseimbangannya menjadi lebih banyak. sedangkan penawarannya P = 3 + 0.5 atas setiap unit barang yang diproduksi.5Q Penawaran dengan subsidi : P = 3 + 0.5Q – 1.

6. Karena ongkos produksi yang dikeluarkan oleh produsen lebih kecil.5 Q 0 89 15 Gambar 13. Perbedaan antara ongkos produksi nyata dan ongkos produksi yang dikeluarkan merupakan bagian subsidi yang dinikmati oleh produsen. Subsidi produksi yang diberikan oleh pemerintah menyebabkan ongkos produksi yang dikeluarkan oleh produsen menjadi lebih sedikit daripada ongkos sesungguhnya untuk menghasilkan barang tersebut.14 15 – P = -3 + 2 P → 18 = 3 P. secara tidak langsung. ia bersedia menawarkan harga jual yang lebih rendah. sehingga sebagian dari subsidi tadi dinikmati pula oleh konsumen. Keseimbangan pasar sebelum dan sesudah subsidi Qs Q's E Qd Bagian subsidi yang dinikmati oleh konsumen. oleh konsumen (sk) adalah . dengan adanya subsidi : P'e = 6 dan Q'e = 9. Besarnya bagian dari subsidi yang diterima. P = 6 Q = 15 – P = 15 – 6 = 9 Jadi. P 15 E' 7 6 3 1.

atau 67% dari subsidi per unit barang. sp = s – sk Dalam kasus di atas. sk = 7 – 6 = 1.5 – 1 = 0. sk = Pe – P'e Dalam kasus di atas. S = Q'e x s Dalam kasus ini. S = 9 x 1. Besarnya bagian subsidi yang dinikmati oleh produsen (sp) adalah selisih antara besarnya subsidi per unit brang (s) dan bagian subsidi yang dinikmati oleh konsumen (sk). Bagian subsidi yang dinikmati oleh produsen.5 = 13. .5 atau 33% dari subsidi per unit barang. Besarnya jumlah subsidi yang diberikan oleh pemerintah (s) dapat dihitung dengan mengalikan jumlah barang yang terjual sesudah subsidi (Q') dengan besarnya subsidi per unit barang (s). Berarti dari setiap unit barang yang dibelinya konsumen secara tidak langsung menerima subsidi sebesar 1.5. sp = 1. Jumlah subsidi yang dibayarkan oleh pemerintah.5. Berarti dari setiap unit barang yang diproduksi dan dijualnya produsen menerima subsidi sebesar 0.15 selisih antara harga keseimbangan tanpa subsidi (Pe) dan harga keseimbangan dengan subsidi (P'e).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful