PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA

Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional

Pedoman yang digunakan untuk membuat dan mengesahkan perjanjian internasional di Indonesia sebelum tahun 2000 terdapat dalam Surat Presiden No . Disamping itu. Hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya peraturan perundang. secara umum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional. yang mengatur mengenai pengesahan melalui undang. perjanjian internasional merupakan pelaksanaan pasal 11 uud 1945 dan perubahannya (1999).Hubungan luar negeri dan kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain . 21 Tahun 2000 berlaku masih terdapat kesimpang siuran dan belum terdapat keseragaman dan pedoman yang jelas mengenai tata cara pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional.undang atau Keputusan Presiden. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960 . Oleh karena itu Pemerintah Indonesia berusaha menyusun Rancangan Undang. Indonesia sebagai Negara merdeka dan berdaulat . sejalan dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Surat Presiden tersebut pada pokoknya membagi perjanjian internasional atas dua pengertian .24 Tahun 2000. 2826/HK/1960 Kepada ketua Dewan Perwakilan Rakyat mengenai penafsiran terhadap Pasal 11 UUD 1945 khususnya tentang masalah substansi perjanjian internasional .undang mengenai perjanjian internasional antara lain Pasal 11 UUD 1945 dan perubahannya (1999) dan UU No. dan subyek-subyek hukum internasional lain.masing .undang Perjanjian internasional . Undang – undang inilah yang menjadi dasar hukum dalam pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional di Indonesia. melaksanakan hubungan luar negeri serta kerjasama internasional berdasarkan pada asas kesamaan derajat. Sebelum UU No. Walupun surat presiden tersebut telah berlaku sebagai suatu pedoman dan menetapkan criteria perjanjian internasional yang termasuk dalam pengertian perjanjian terpenting namun dalam perkembangan dewasa ini terdapat ketidak jelasan atas bidang perjanjian yang dianggap sehingga pembuatan dan pengesahannya telah mengalami keracuan dan kesimpangsiuran . saling menghormati dan saling tidak mencampuri urusan dalam negeri masing.dan perjanjian internasional yang cukup disampaikan untuk diketahui saja oleh DPR.undangan sebagai pelaksana ketentuan Pasal 11 UUD 1945 .organisasi internasional . yang ada hanya Surat Presiden No . yang akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2000 disahakanlah Undangundang perjanjian internasional yaitu Undang –undang No. 37 . Hal ini sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 . yaitu perjanjian terpenting(treaties). dan perjanjian internasional yang membutuhkan persetujuan dan pengesahan oleh Dewan Perwakilan . yang akan disampaikan pemerintah kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan DPR dan perjanjian lain (agreements)yang akan disampaikan kepada DPR untuk diketahui setelah disahkan oleh presiden . Landasan hukum mengenai pembuatan Undang.

dan Bappenas mengenai masalah ini . Pembentukan kaidah hukum baru .sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan moneter . 24 Tahun 2000) : a.Landasan pemikiran tersebut didasarkan pada suatu pembicaraan dan pembahasan yang intensif dan komprehensif dengan Departemen keuangan .undang tersendiri . Masalah politik .undang apabila berkenaan dengan (Pasal 10 UU No. dalam prakteknya ada dua macam pengesahan perjanjian internasional di Indonesia.undang dan keputusan presiden . sementara pinjaman luar negeri yang diterima oleh bank Indonesia mengacu pada Undang. Hal ini telah dibicarakan dalam rapat pembahasan Rancangan UUPI dalam keterangan pemerintah mengenai RUUPI pada tanggal 22 Mei 2000 . Pinjaman luar negeri tidak dimasukkan dalam Rancangan Undang – undang tentang pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional dengan pertimbangan – pertimbangan sebagai berikut. ketika dijelaskan bahwa hal tersebut dikarenakan materi tentang “Pinjaman Luar Negeri”sifatnya khusus dan perlu diatur tersendiri. c. b. a. Dalam menentukan ratifikasi perjanjian internasional ( akan diratifikasi dengan Undangundang atau dengan keppres). Selain itu Undang –undang tersebut membuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional yang berlaku secara universal dan dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional . Hak asasi manusia dan lin gkungan hidup. 23 Tahun 1999 yang penggunaannya berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa . Pinjaman dan atau hibah luar negeri. . Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) . dilihat dari substansi atau materi perjanjian bukan berdasarkan bentuk dan nama (nonmenclature)perjanjian.Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri . e. Bank Indonesia . Saat ini pinjaman luar negeri pemerintah mengacu pada ketentuan dalam Indische Comptabilitets Wet/ICW. dan keamanan negara. yaitu dengan Undang. Klasifikasi menurut materi perjanjian dimaksud agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman atas bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan Undang – undang. f. Khusus mengenai pinjaman dan / hibah luar negeri berserta persetujuannya oleh Dewan Perwakilan Rakyat akan diatur oleh Undang. d. Perubahan wilayah dan penetapan batas wilayah Negara Republik Indonesia . perdamaian . dan dilakukan oleh Departement Luar Negeri . Pengesahan perjanjian internasional yang dilakukan dengan Undang.undang Bank Indonesia No. Kedaulatan atau hak berdaulat Negara.

jenis perjanjian yang termasuk dalam kategori ini . Dokumen – dokumen yang perlu dipersiapkan oleh lembaga pemrakarsa adalah (Pasal 12 UU No. 24 Tahub 2000). 24 Tahun 2000) . instansi/ departemen teknis terkait sebagai Vocal poin-nya menyiapkan bahan – bahan berupa dokumen.hambatan.dan kerjasama perlindungan penanaman modal . Setelah penandatanganan . maka mekanisme persetujuan DPR perlu diatur secara komprehensif sehingga memerlukan pengaturan secara khusus dalam UU tersendiri. efektif dan efisien . c.b. Jenis. sedangkan dasar hukum pengesahan melalui keputusan presiden ialah pasal 11 ayat (1) UU No. Selanjutnya pengesahan perjanjian internasional yang materinya tidak termasuk dalam pasal 10 tersebut dilaksanakan dengan keputusan presiden (pasal 11 ayat (1) UU No. niaga. kebudayaan .undang APBN . Pengesahan perjanjian melalui keputusan presiden dilakukan bagi perjanjian yang memasyarakatkan adanya pengesahan sebelum mulai berlakunya perjanjian tetapi memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi peraturan perundang-undangan nasional.undang APBN pada setiap tahun anggaran . Berdasarkan praktek yang berlaku selama ini . Untuk melaksanakan kebijakan ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam Bab IV TAP MPR No. 24 Tahun 2000) : . pagu (plafon) pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR berdasarkan disahkanya Undang.undang adalah Pasal 10 UU No. d. diantaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . 24 Tahun 2000. ekonomi . sehingga secara otomotis persetujuan DPR terhadap jumlah pinjaman luar negeri telah diperoleh pada saat disetujuinya Undang. IV /MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004 yang diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri Pemerintah sebagai kegiatan ekonomi yang produktif dan pelaksanaannya dilakukan secara transparan .dokumen yang telah di-Certified True Copy oleh departemen luar negeri . Berdasrkan ketentuan tersebut dimuka dapat diketahui bahwa dasar hukum pengesahan perjanjian internasional dengan Undang. pelayaran . penghindaran pajak berganda. perdagangan . maka Pemerintah sedang RUU yang mengatur mekanisme dan prosedur pinjaman luar negeri. teknik. serta perjanjian –perjanjian yang bersifat teknis(penjelasan atas UU No. 24 Tahun 2000. Oleh karena sifat perjanjian pinjaman luar negeri sangat khusus dan agar proses penerimaan pinjaman luar negeri yang dibutuhkan untuk menunjang pembangunan ekonomi Indonesia tidak mengalami hambatan.

Lembaga pemrakarsa dalam membuat rancangan Undang. c.a. perundingan .dan . Surat . Di samping itu ada pula dokumen lain . Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 5 Tahun 2000 Menurut pasal 5 UU No. yaitu surat kepercayaan yang dikeluarkan oleh menteri luar negeri untuk menghadiri . pembuatan perjanjian harus didahului dengan konsultasi dan koordinasi dengan menteri luar negeri dan posisi pemerintah harus dituangkan dalam suatu pedoman delegasi.undang (RUU) / rancangan keppres (RKP) pengesahan perjanjian . Perundingan suatu perjanjian nasional dilakukan oleh delegasi RI yang dipimpin oleh menteri atau pejabat lain sesuai dengan materi perjanjian dan lingkup kewenangan masing masing. biasanya hanya terdiri dari pasal yang berisi kalimat pengesahannya. lembaga pemrakarsa mengirimkannya ke departemen luar negeri untuk selanjutnya departemen luar negeri meneruskan ke secretariat negara dan memulai proses ratifikasi . atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasional. Rancagan Undang – undang / Rancangan keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional . Setelah menyiapkan semua dukumen yang dipersyaratkan dalam Pasal 12 . 24 tahun 2000 . Pembuatan pedoman delegasi diangap perlu agar terciptanya keseragaman posisi delegasi republik indonesia dan delegasi dan koordinasi antar departemen lembaga pemerintahan dalam pembuatan perjanjian internasional. Pembuatan perjanjian dapat dilakukan dengan surat kuasa penu. b. merundingkan . dilakukan bersama. Dokumen – dokumen lain yang diperlukan . Apabila terdapat reservasi / persyaratan .sama dengan departemen luar negeri atau dapat pula dilakukan oleh lembaga pemrakarsa itu sendiri dengan diketahui oleh departemen luar negeri. Terjemahan . Surat kuasa penuh diperlukan bagi seseorang yang mewakili pemerintahan untuk menerima atau menandatangani surat naskah. Sifat RUU/ RKP pengesahan perjanjian internasional adalah sangat sederhana . Tahapan dalam pembuatan perjanjian adalah penjajakan . penerimaan dan penandatanganan. d.Surat kuasa dikeluarkan oleh menteri luar negeri sesuai dengan praktik internasional yang telag dikukuhkan dalam Konvensi Wina tahun 1996. Salinan naskah perjanjian . perumusan naskah . sedangkan presiden dan menteri tidak memerlukan dokumen tersebut. Penandatangan suatu perjanjian internasional merupakan persetujuan atas naskah yang yang dihasilkan dna merupakan pernyataan untuk mengikatkan diri secara definitif. disebutkan dalam RUU/ RKP tersebut .

perdamaian pertahanan dan keamanan negara 2) Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah 3) Kedaulatan negara 4) Hak asasi manuia dan lingkungan hidup 5) Pembentukan kaidah hukum baru 6) Pinjaman atau hibah luar negeri Pengesahan perjanjian internasional bertujuan agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan undang undang. ekonomi dan teknik . Sebaliknya pengesahan perjanjian internasional yang tidak termasuk dalam kategori perjanjian internasional dilakukan dengan keputusan presiden ( pasal 11 ) dan salinanya disampaikan kepada DPR untuk dievaluasi. pelayaran niaga . serta perjanjian perjanjian yang bersifat teknis lainya. Pengesahan perjanjian internasional merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional karena pada tahap tersebut suatu negara menyatakan diri untuk terikat secara definitif. di antaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . dan kerjasama perlindungan pennaman modal . perdagangan kebudayaan . Pemberlakuan perjanjian internasional yang tidak disahkan dengan undang undang atau keputusan presiden . Selanjutnya setiap undang undang atau keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam lembaga negara republik indonesia. Jenis perjanjian yang pengesahanya melalui keputusan presiden pada umumnya memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam wanktu singka tanpa mempengaruhi peratutan perundang undangan nasional .kuasa tidak diperlukan jika penandatanganan suatu perjanjian internasional hanya bersifat kerjasama teknis sebagai pelaksanaan perjanjian yang sudah berlaku. pengesahan dilakukan dengan undang undang apabila berkenaan dengan hal hal berikut : 1) Masalah Politik .24 tahun 2000 . langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian atau nota diplomatik ataupun melalui cara cara sebagaimana disepakati oleh para . Pasal UU No. kemudian ditugaskan pada waktu dilakukanya pengesahan persyaratan dan pengesahan dapat ditarik kembali setiap saat melalui pernyataan tertulis. Undang Undang no 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional berisi ketentuan mengenai persyaratan atau pernyataan terhadap suatu perjanjian internasional terhadap suau peranjian internasional yang dapat dilakukan pada saat penandatanganan perjanjian .

pihak terkait. serta menyampaikan salinan naskah resmi dari setiap perjanjian internasional kepada lembaga negara . lembaga pemerintahan dan kepada sekertariat organisasi nasional.sosial budaya. pertanian .lingkungan hidup . membuat perdamaian . pariwisata. Proses Ratifikasi Perjanjian Internasional Menurut Pasal 11 UUD 1945 Pasal 11 UUD 1945 menyatakan bahwa “presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang . Perlu ditambahkan bahwa yang masuk kategori perjanjian yang langsung berlaku ini antara lain perjanjian yang secara teknis mengatur kerjasama di bidang pendidikan. Selanjutnya terdapat kemungkinan bagi indonesia untuk melakukan perubahan atas ketentuan suatu perjanjian internasional berrdasarkan psepakatan para pihak terkait melalui tata cara yang tekah ditetapkan dalam perjanjian dan disahkan dengan peraturan perundang undangan yang setingkat. Suatu perjanjian internasional berakhir apabila 1) Terdapat kesepakatn para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian 2) Tujuan perjanjian tersebut telah dicapai 3) Terdapat perubahan dasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian 4) Salahs atau pihak tidak melaksanakan atau melanggar keteentuan dalam poerjanjian 5) Adnya suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama 6) Munculnya norma norma baru dalam hukum internasional 7) Hilanngya oobjek perjanjian 8) Terdapat hal hl yang merugikan kepentingan nasional Selanjutnya pasal 19 UU No. Penyimpanan perjanjian internasional merujuk pada tanggungjawab menteri luar negeri untuk menyimpan dan memelihara naskah asli perjanjian internasional . penerangan kesehatan dan keluarga berencana. harus diperhatikan hal hal berikut : . kehutanan serta kerjasama persaudaraan antara provinsi dan kota. 24 tahun 2000 menegaskan bahwa perjanjian internasional yang berakhir sebelumw aktunya beradasrkan pihak terkait. tidak mempengaruhi penyellesaian setiap pengaturan yang menjadi bagian perjanjian dan belum dilksanakan secara penuh [ada saat berakhirnya perjanjian tersebut. dan perjanjian dengan negara lain” Untuk menjamin kelacaran dalam pelaksanaan kerjasam antara pemerintah dan DPR seperti dalam pasal 11 UUD 1945 .

Setelah dipelajari sekneg . 3. yaitu mulai Bagian Ratifikasi kepada Kepala Biro Hukum . hanya perjanjian perjanjian yang penting ( treaty ) yang disampaikan kepada DPR . selanjutnya diteruskan kepada presiden melalui tingkatan hierarkinya. Memo-memo beserta ampresnya(amanat presiden ) untuk ditandatangani oleh presiden . pasal 11 UUD 1945 tidak menentukan bentuk yuridis dari persetujuan DPR oleh karena itu . yang memberitahukan bahwa Pemerintah Indonesia telah . atau penetapan tapal batas 2. atau pinjaman uang. perjanjian perubaan wilayah . perjanjin kerjasama ekonomi .A) presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain B) presiden dalam membuat perjanjian internasional lainya yang dapat menimbulkan akibat lus dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara . Ikatan ikatan yang sedemikian rupa sifatnya dapat mempengaruhi haluan politik negara . sedangkan perjanjian lain ( aggrement) akan disampaikan kepada DPR hanya untuk diketahui. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang undang harus dengan persetujuan DPR C) ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang undang Berdasarkan hal tersebut . diteruskan kepada s/sesneg (Dulu ada Mensesneg). Ratifikasi / Pengesahan dengan Keppres Proses ratifikasi dengan keputusan presiden adalah sebagai berikut . disertai copynaskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh) copy. kemudian ke Deputi Eselon 1 . Setelah itu diberikan kepada presiden ketika diproses untuk diteruskan kepada presiden disertai dengan RKP (Rancangan Keppres ). Persoalan politik atau persoalan yang dapat mempengaruhi haluan politik negara . Sesuai dengan pertimbangan tersebut . plus 1 (satu) yang tekah di –Certified True Copy . pemerintah daapt berpendapat bahwa perjanjian yang harus disampaikan kepada DPR mendapat persetujuan sebelum disahkan oleh presiden ialah perjanjian perjanjian yang lazimnya berbentuk treaty dan mengandaung materi sebagai berikut : 1. Isi dari ampres tersebut ditujukan kepada ketua DPR . Persoalan yang menurut UUD atau menurut sistem perundang undangan haru diatur dengan undang undang seperti persoalan kewarganegaraan dan persoalan kehakiman. seperti perjanjian persehabatan . tidak ada keharusan bagi DPR untuk memberikan persetujuanya dalam bentuk Undang Undang. Departemen luar negeri mengajukan permohonan ratifikasi perjanjian internasional dengan keppres kepada secretariat Negara .

Tanggal 4-10-2001 Lembaran Negara No. untuk kemudian didistribusikan kepada Daftar A dan Daftar B . Lembaran Negara No. Pendistribusian ini disertai dengan autentifikasi yang dikeluarkan oleh kepala Biro Hukum . Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 2002 tentang pengesahan internasional Coffe Agreement 2001 ( Pengesahan Kopi Internasional 2001). 3. 60. Lembaran Negara No.Terhadap RKP yang telah ditandatangani oleh presiden dan telah menjadi keppres .rapat interdep terdahulu .mengesahkan perjanjian internasional tersebut dengan keppres. Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengesahan Convension on Nuclear Nafaty ( Konvensi tentang Keselamatan Nuklir ). 2. Tanggal 20-5-2002. Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan keputusan presiden . instansi teknis . Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2002 tentang pengesahan ILO Convention No. 4. Daftar A terdiri dari lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara . 1. 5.139. sejak berlakunya UU No. 45. Ratifikasi / Pengesahan dengan Undang – undang Proses ratifikasi dengan Undang –undang dapat dijelaskan sebagai berikut : Departemen luar negeri mengajukan permohonan ijin pemrakarsa penyusunan RUU (hanya sebagai formalitas . Tanggal 20-5-2002. diserahkan kembali ke Bagian Ratifikasi Sekneg melalui hierarki yang sama seperti sebelumnya dan dituangkan ke dalam Lembaga Negara oleh Sekneg . Lembaran Negara No. dan Daftar B adalah departemen – departemen / instansi terkait. Keputsan Presiden Nomer 26 Tahun 2002 tentang Pengesahan amandemen of the agreement relating to the internasional Telecommunication Satellite Organization “INTELSAT” ( Perubahan terhadap Perjanjian Berkaitan dengan Organisasi satelit Telekomunikasi Internasional “INTELSAT”)Tanggal 30-4-2002.88 mengenai Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja ). agar diketahui oleh DPR .1998( Instrumen Perubahan Koinstitusi dan Konvensi Perhimpunan Telekomunikasi Internasional Minneapolis 1998) Tanggal 30-4-2002. 44. Lembaran Negara No. Keputusan presiden Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pengesahan Instrumen Amending the Constution and the Convention of the Internasional Telecommunt – cottion union Minneapolis .88 Concerning the Organization of the Imployment Service ( Konvensi ILO No. 24 Tahun 2000 antara lain adalah sebagai berikut (Sumber Biro Hukum Setneg RI). 63. karena biasanya pada rapat.

pembahasan rancangan undang.Undang. selanjutnya .tetapi pada prakteknya dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah melalui prosedur singkat shortcut .Dalam pembicaraan di tingkat ini pemerintah memberikan keterangan atau penjelasan mengenai pokok –pokok materi Rancangan Undang –undang tersebut. teknik penyusunan diatur dalam Keppres No. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang . 16/DPRRI/1/1999-2000 yang ditetapkan pada tanggal 23 September 1999 . mengirimkannya ke DPR (Pasal 18 Keppres No.beserta departemen luar negeri telah menyusun terlebih dahulu RUU – nya). selanjutnya departemen luar negeri mengirimkan RUU yang disetujui dalam rapat tersebut ke Sekneg beserta naskah akademisnya. Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keppres. Setelah presiden menyetujui permohonan tersebut kemudian Sekneg Cq.undangan dan Bentuk Rancangan Undang. Sekneg kemudian akan meneruskan ke Presiden untuk kemudian Presiden mengeluarkan ampres yang telah ditandatanganinya (Ditujukan kepada ketua DPR .Selanjutnya departemen luar negeri beserta instansi teknis terkait dan juga setneg. yang isinya meminta agar DPR membahas RUU tersebut ). kemudian DPR mengadakan rapat pembahasan RUU. Jadi prosedur pembahasn yang dilalui dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah sebagai berikut : 1) Pembicaraan Tingkat I dalam Rapat Paripurna . yaitu tanpa melalui pembahasan Tingkat II dalam Rapat Paripurna . Selain itu .undang Dilakukan melalui 4 (empat) tingkat pembicaraan (Pasal 116 ayat (1)). Tata cara penyiapan RUU ini diatur dalam Keppres No. 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang. Setelah rapat interdep itu selesai . plus 1 (satu) yang telah di Certified True Copy . 188 Tahun 1998). kembali mengadakan rapat interdep untuk membahas RUU pengesahan yang biasanya telah dipersiapkan sebelum pengajuan permohonan dan tentang pelaksanaan perjanjian tersebut . Setelah DPR menerima ampres tersebut .Dilampirkan pula copy naskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh ) copy . Bagian Ratifikasi memberitahukan kepada departemen luar negeri . yang pada pasal 1 ayat (1)nya menyebutkan bahwa menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen dapat mengambil prakarsa dalam penyusunan RUU untuk menyangkut masalah yang menyangkut bidang tugasnya. termasuk . Menurut penjelasan pihak Biro Hukum DPR-RI No. 2) Pembicaran Tingkat III dalam Rapat Komisi (Komisil) Berupa Raker dengan menterimenteri dari departemen teknis pemrakarsa penyusunan RUU Pengesahan . Setelah dipelajari oleh Sekneg kemudian diteruskan kepada presiden melalui hierarki yang sama dengan pembuatan keppres .

2) Tingkat II dalam Rapat Paripurna . 24 Tahun 2001 sampai tanggal 17 April 2002 adalah sebagai berikut: 1) Undang – undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggaran Hukum yang Melarikan Diri (Agreement between the Government of Republic of Indonesia and The . Dalam pembicaraan Tingkat I dapat diadakan Rapat Dengar Penda[at atau Rapat Dengar Pendapat Uum . pembahasan materi. tanggapan pemerintah atas pengantar . Rapat Panitia Anggaran . Setelah DPR menyetujui RUU tersebut . sejak berlakunya UU No. 16/DPRRI/I/1999-2000. 188 Tahun 1998). diundang pula pimpinan lembaga /departemen yang terkait dengan materi Rancangan Undang. maka bentuk persetujan DPR adalah berupa surat dari ketua DPR kepada Presiden dan Keputusan DPR atas RUU tersebut . Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan Undang-undang . bersama-sama pemerintah.undang (Pasal 26 ayat (!) Keppres No. 3A/DPRRI/I/2001-2002 ini diatur dalam Pasal 120 yang membagi tahapan pembahasan RUU menjadi 2( dua ) tingkat pembicaraan . yang dikirimkan ke Sekneg untuk diteruskan kepada Presiden . RUU yang telah disetujui oleh DPR itu ditandatangani dan disahkan oleh presiden sehingga menjadi Undang. pengambilan keputusan sampai dengan penandatanganan Draft RUU. pendapat akhir fraksi-fraksi dan sambutan pemerintah. Rapat Badan Legislasi.kedalam jadwal acaranya adalah pengantar musyawarah fraksi-fraksi . yaitu : 1) Tingkat I dalam Komisi . sedangkan pada pembahasan Tingkat II dilakukan pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului oleh laporan hasil akhir pembicaraan Tingkat I . Pada tanggal 16 Oktober 2001 ditetapkan Peraturan Tata Tertib DPRRI yang baru No 03/A/DPRRI/I/2001-20002 menggantikan Tatib DPRRI No. Ketentuan tahap pembahasan RUU menurut Tatib DPRRI No. atau Rapat Panitia Khusus .undang. Pengambilan keputusan atas RUU pengesahan perjanjian internasional yang didahului oleh laporan hasil pembicaraan Tingkat III dan pendapat akhir dari fraksi-fraksi serta pemberian kesempatan kepada pemerintah untuk menyampaikan sambutan terhadap pengambilan keputusan tersebut.Tindakan selanjutnya dilakukan oleh Sekneg yang menuangkannya ke dalam Lembar Negara dan mendistribusikannya kepada Daftar A dan Daftar B. 3) Pembicaraan Tingkat IV dalam Rapat Paripurna . yang pembahasan materi RUU dan pengambilan keputusan serta penandatanganan naskah RUU dilakukan pada Tingkat I dalam Rapat Komisi . Pembahasan RUU pengesahan melalui kedua tahap pembicaraan tersebut .

Apabila perjanjian internasional yang dilakukan merupakan suatu konvensi yang diprakarsai oleh organisasi internasional .TLN 4195.Tanggal 8 Mei 2001 . 34. Lembaran Negara No. dan departemen –departemen terkait termasuk departemen luar negeri . Tanggal 8 April 2002 . 43. 2002:11). a. c. 2) Undang –undang Nomor 16 Tahun 2002 tentang Pengesahan Treaty on Principles Governing The Activities of States in The Exploration and Use of Outer Space. Biasanya pada perjanjian bilateral.Government of Hongkong for The Surrender of Fugitive Offender). 1967 (Traktat Mengenai PprinsipPrinsip yang Mengatur Kegiatan Negara. hal ini disebut dengan pertukaran Nota Diplomatik . berlaku terhitung sejak 30 hari setelah pemberitahuan terakhir . dan kemudian secretariat organisasi internasional itu akan memberitahukan negara. Including The Moon and Other Celestical Bodies. 1967). Lembaran Negara No. berlaku sejak pertukaran Piagam Pengesahan yang biasanya dilakukan oleh Duta Besar dengan Menlu setempat. Pemberlakuan suatu perjanjian dapat juga dilakukan sejak pertukaran nota (Exchange of Notes) . Cara pemberlakuan suatu perjanjian internasional yang ditentukan oleh perjanjian itu sendiri yang dapat berupa antara lain sebagai berikut (Departemen Luar Negeri . b.Negara lain bahwa Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut. TLN 4091. Setelah UU/ Keppres pengesahan tersebut didistribusikan kepada lembaga tertinggi dan tinggi negara . Untuk perjanjian internasional yang bersifat bilateral . maka departemen luar negeri akan mengirimkan Piagam Ratifikasi yang telah ditandatangani oleh Menlu kepada Sekretariat organisasi internasional tersebut. Termasuk Bulan dan Benda – Benda langit lainnya . selanjutnya departemen luar negeri Cq direktorat perjanjian internasional melakukakan pemberitahuan kepada mitra bahwa Indonesi telah meratifikasi.Negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa . mulai berlaku sejak Piagam Pengesahan didepositkan melalui perwakilan setempat pada negara pendeposit atau sekjen organisasi internasional /PBB. Untuk konvensi agreement yang bersifat multilateral . .

Dengan demikian Direktorat Perjanjian Internasional yang biasa menangani ratifikasi perjanjian internasional sekarang sudah tidak ada . . kesatu Direktorat Perjanjian Politik . dapat pula berlaku setelah memenuhi jumlah ratifikasi yang ditentukan dalam perjanjian. Sesuai dengan kebiasaan internasional .d.Keamanan dan Kewilayahan Departemen Luar Negeri RI. Diplomasi Publik dan Perjanjian Internasional.Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Departemen Luar Negeri RI.kedua. seluruh naskah asli perjanjian internasional yang telah ditandatangani oleh Pemerintah RI dengan negara lain seyogyanya disimpan pada Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional . Departemen Teknis cukup memegang copy dari perjanjian asli yang disahkan oleh Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional. dan diganti dua direktorat tersebut. Selanjutnya seiring restrukturisasi Departemen Luar Negeri Republik Indonesia maka direktorat yang mengurusi ratifikasi perjanjian internasional ada dua yaitu. Untuk konvensi . Kedua direktorat tersebut berada dibawah Direktorat Jenderal Informasi .

dfadeplu. Djenat Sidik Soerasaputra. 2000. Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global . Jakarta: Deplu RI.Jakarta:Sekretariat DPR RI. 22 Mei . Pengaturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 03A/DPRRI/2001-2002.go. Departemen Luar Negeri.DAFTAR PUSTAKA Budiono Kusumohamidjojo.go. Departemen Luar Negeri . 2002.2000. 14 Maret 2002. 3 November 2001.id> Surakarta 3 November 2001. Departemen Luar Negeri . Keterangan Pemerintah Atas Rancangan UndangUndang tentang Pembuatan dan Pengesahan Perjanjian Internasional . 1993. Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia . Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional . 2002.2 Agustus .id > Surakarta. Departemen Luar Negeri . Pengertian . 2000. <www. dfa-deplu. Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia . Pembuatan Perjanjian Internasional di Lingkiungan Departemen Pendidikan Nasional . Bandung : Bina Cipta . 1999.2000. Pemerintah dan DPR Sepakati Naskah Akhir Undang. Boer Mauna .Jakarta:Sekretariat DPR RI. 1986. Petunjuk Pelaksanaan Proses dan Prosedur Pembuatan Perjanjian Internasional . Bandung :Alumni. Jakarta :Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jenderal DPR-RI . Jakarta : Departemen Luar Negeri. <www.Undang tentang Perjanjian Internasional . Hukum Internasional . go. .id> Surakarta. 2002.Suatu Studi Terhadap Aspek Operasional Konvensi Wina Tahun 1969 Tentang Hukum Perjanjian Internasional . Peraturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 16 /DPRRI/1999-2002. <www. depdiknas.Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional . Kebijakan Ratifikasii Perjanjian Internasional Menurut Tiga UUD Indonesia .

London :Butterworths Sekretariat Negara Republik Indonesia . Bandung:Bina Cipta.1999. Jakarta:Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat DPR-RI. Sri S Suwardi. Ratifikasi Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Pasal 11 UUD 1945.1989. 1972. .1998.Pengantar Hukum Internasional .1993. Saduran .F.Jakarta:Setneg RI.G. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Taknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang. Starke. Hamid S. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jendral DPR-RI. Isjwara. J.4th edition . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undangundang. Bandung :Alumni.1993.Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden . Attamimi. Pengesahan / Ratifikasi Perjanjian Internasional .1982. Pengantar Hukum Internasional . Sekretariat Negara Republik Indonesia . Mochtar Kusumaatmaja. . Introduction to Internasional Law .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful