PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA

Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional

melaksanakan hubungan luar negeri serta kerjasama internasional berdasarkan pada asas kesamaan derajat. Sebelum UU No.organisasi internasional . sejalan dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. yang ada hanya Surat Presiden No .24 Tahun 2000. Landasan hukum mengenai pembuatan Undang. yang akan disampaikan pemerintah kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan DPR dan perjanjian lain (agreements)yang akan disampaikan kepada DPR untuk diketahui setelah disahkan oleh presiden . yang mengatur mengenai pengesahan melalui undang. secara umum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional. 21 Tahun 2000 berlaku masih terdapat kesimpang siuran dan belum terdapat keseragaman dan pedoman yang jelas mengenai tata cara pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional. Hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya peraturan perundang. 2826/HK/1960 Kepada ketua Dewan Perwakilan Rakyat mengenai penafsiran terhadap Pasal 11 UUD 1945 khususnya tentang masalah substansi perjanjian internasional . Indonesia sebagai Negara merdeka dan berdaulat . Surat Presiden tersebut pada pokoknya membagi perjanjian internasional atas dua pengertian .undang Perjanjian internasional .undang atau Keputusan Presiden.Hubungan luar negeri dan kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain . Disamping itu.dan perjanjian internasional yang cukup disampaikan untuk diketahui saja oleh DPR. Hal ini sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 . Oleh karena itu Pemerintah Indonesia berusaha menyusun Rancangan Undang. yang akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2000 disahakanlah Undangundang perjanjian internasional yaitu Undang –undang No. dan perjanjian internasional yang membutuhkan persetujuan dan pengesahan oleh Dewan Perwakilan .undangan sebagai pelaksana ketentuan Pasal 11 UUD 1945 . 37 . yaitu perjanjian terpenting(treaties).masing . Walupun surat presiden tersebut telah berlaku sebagai suatu pedoman dan menetapkan criteria perjanjian internasional yang termasuk dalam pengertian perjanjian terpenting namun dalam perkembangan dewasa ini terdapat ketidak jelasan atas bidang perjanjian yang dianggap sehingga pembuatan dan pengesahannya telah mengalami keracuan dan kesimpangsiuran . Undang – undang inilah yang menjadi dasar hukum dalam pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional di Indonesia. Pedoman yang digunakan untuk membuat dan mengesahkan perjanjian internasional di Indonesia sebelum tahun 2000 terdapat dalam Surat Presiden No . 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960 . saling menghormati dan saling tidak mencampuri urusan dalam negeri masing.undang mengenai perjanjian internasional antara lain Pasal 11 UUD 1945 dan perubahannya (1999) dan UU No. perjanjian internasional merupakan pelaksanaan pasal 11 uud 1945 dan perubahannya (1999). dan subyek-subyek hukum internasional lain.

23 Tahun 1999 yang penggunaannya berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa .Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri . Saat ini pinjaman luar negeri pemerintah mengacu pada ketentuan dalam Indische Comptabilitets Wet/ICW. Bank Indonesia . dan dilakukan oleh Departement Luar Negeri . Pembentukan kaidah hukum baru .undang apabila berkenaan dengan (Pasal 10 UU No. dan keamanan negara.sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan moneter . Perubahan wilayah dan penetapan batas wilayah Negara Republik Indonesia . Pinjaman luar negeri tidak dimasukkan dalam Rancangan Undang – undang tentang pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional dengan pertimbangan – pertimbangan sebagai berikut.dan Bappenas mengenai masalah ini . Masalah politik . 24 Tahun 2000) : a. ketika dijelaskan bahwa hal tersebut dikarenakan materi tentang “Pinjaman Luar Negeri”sifatnya khusus dan perlu diatur tersendiri. Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) . Pengesahan perjanjian internasional yang dilakukan dengan Undang.undang Bank Indonesia No. f. a. c.Landasan pemikiran tersebut didasarkan pada suatu pembicaraan dan pembahasan yang intensif dan komprehensif dengan Departemen keuangan . d. Dalam menentukan ratifikasi perjanjian internasional ( akan diratifikasi dengan Undangundang atau dengan keppres). dalam prakteknya ada dua macam pengesahan perjanjian internasional di Indonesia. dilihat dari substansi atau materi perjanjian bukan berdasarkan bentuk dan nama (nonmenclature)perjanjian. Kedaulatan atau hak berdaulat Negara. Hak asasi manusia dan lin gkungan hidup. b. Khusus mengenai pinjaman dan / hibah luar negeri berserta persetujuannya oleh Dewan Perwakilan Rakyat akan diatur oleh Undang. Klasifikasi menurut materi perjanjian dimaksud agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman atas bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan Undang – undang. e. Pinjaman dan atau hibah luar negeri. . sementara pinjaman luar negeri yang diterima oleh bank Indonesia mengacu pada Undang. Selain itu Undang –undang tersebut membuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional yang berlaku secara universal dan dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional .undang dan keputusan presiden . Hal ini telah dibicarakan dalam rapat pembahasan Rancangan UUPI dalam keterangan pemerintah mengenai RUUPI pada tanggal 22 Mei 2000 .undang tersendiri . yaitu dengan Undang. perdamaian .

Berdasrkan ketentuan tersebut dimuka dapat diketahui bahwa dasar hukum pengesahan perjanjian internasional dengan Undang. teknik. efektif dan efisien .undang APBN pada setiap tahun anggaran .dokumen yang telah di-Certified True Copy oleh departemen luar negeri . 24 Tahub 2000). pagu (plafon) pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR berdasarkan disahkanya Undang. Pengesahan perjanjian melalui keputusan presiden dilakukan bagi perjanjian yang memasyarakatkan adanya pengesahan sebelum mulai berlakunya perjanjian tetapi memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi peraturan perundang-undangan nasional. 24 Tahun 2000) : . penghindaran pajak berganda. 24 Tahun 2000) .b. Untuk melaksanakan kebijakan ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam Bab IV TAP MPR No. 24 Tahun 2000. sehingga secara otomotis persetujuan DPR terhadap jumlah pinjaman luar negeri telah diperoleh pada saat disetujuinya Undang. diantaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . maka mekanisme persetujuan DPR perlu diatur secara komprehensif sehingga memerlukan pengaturan secara khusus dalam UU tersendiri. maka Pemerintah sedang RUU yang mengatur mekanisme dan prosedur pinjaman luar negeri. Berdasarkan praktek yang berlaku selama ini .hambatan.jenis perjanjian yang termasuk dalam kategori ini .dan kerjasama perlindungan penanaman modal . Setelah penandatanganan . Oleh karena sifat perjanjian pinjaman luar negeri sangat khusus dan agar proses penerimaan pinjaman luar negeri yang dibutuhkan untuk menunjang pembangunan ekonomi Indonesia tidak mengalami hambatan.undang APBN . sedangkan dasar hukum pengesahan melalui keputusan presiden ialah pasal 11 ayat (1) UU No. d. Jenis. serta perjanjian –perjanjian yang bersifat teknis(penjelasan atas UU No. IV /MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004 yang diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri Pemerintah sebagai kegiatan ekonomi yang produktif dan pelaksanaannya dilakukan secara transparan . perdagangan . Selanjutnya pengesahan perjanjian internasional yang materinya tidak termasuk dalam pasal 10 tersebut dilaksanakan dengan keputusan presiden (pasal 11 ayat (1) UU No. pelayaran . Dokumen – dokumen yang perlu dipersiapkan oleh lembaga pemrakarsa adalah (Pasal 12 UU No. c.undang adalah Pasal 10 UU No. niaga. instansi/ departemen teknis terkait sebagai Vocal poin-nya menyiapkan bahan – bahan berupa dokumen. kebudayaan . 24 Tahun 2000. ekonomi .

disebutkan dalam RUU/ RKP tersebut . Dokumen – dokumen lain yang diperlukan . pembuatan perjanjian harus didahului dengan konsultasi dan koordinasi dengan menteri luar negeri dan posisi pemerintah harus dituangkan dalam suatu pedoman delegasi. Salinan naskah perjanjian . Sifat RUU/ RKP pengesahan perjanjian internasional adalah sangat sederhana . 24 tahun 2000 . Pembuatan pedoman delegasi diangap perlu agar terciptanya keseragaman posisi delegasi republik indonesia dan delegasi dan koordinasi antar departemen lembaga pemerintahan dalam pembuatan perjanjian internasional. Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 5 Tahun 2000 Menurut pasal 5 UU No. Tahapan dalam pembuatan perjanjian adalah penjajakan . Surat . perundingan . c. perumusan naskah . Setelah menyiapkan semua dukumen yang dipersyaratkan dalam Pasal 12 . b.a.Surat kuasa dikeluarkan oleh menteri luar negeri sesuai dengan praktik internasional yang telag dikukuhkan dalam Konvensi Wina tahun 1996.sama dengan departemen luar negeri atau dapat pula dilakukan oleh lembaga pemrakarsa itu sendiri dengan diketahui oleh departemen luar negeri. biasanya hanya terdiri dari pasal yang berisi kalimat pengesahannya. lembaga pemrakarsa mengirimkannya ke departemen luar negeri untuk selanjutnya departemen luar negeri meneruskan ke secretariat negara dan memulai proses ratifikasi . Penandatangan suatu perjanjian internasional merupakan persetujuan atas naskah yang yang dihasilkan dna merupakan pernyataan untuk mengikatkan diri secara definitif. Pembuatan perjanjian dapat dilakukan dengan surat kuasa penu.dan . dilakukan bersama. d.undang (RUU) / rancangan keppres (RKP) pengesahan perjanjian . Perundingan suatu perjanjian nasional dilakukan oleh delegasi RI yang dipimpin oleh menteri atau pejabat lain sesuai dengan materi perjanjian dan lingkup kewenangan masing masing. yaitu surat kepercayaan yang dikeluarkan oleh menteri luar negeri untuk menghadiri . Apabila terdapat reservasi / persyaratan . Lembaga pemrakarsa dalam membuat rancangan Undang. Surat kuasa penuh diperlukan bagi seseorang yang mewakili pemerintahan untuk menerima atau menandatangani surat naskah. sedangkan presiden dan menteri tidak memerlukan dokumen tersebut. penerimaan dan penandatanganan. merundingkan . Rancagan Undang – undang / Rancangan keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional . Terjemahan . atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasional. Di samping itu ada pula dokumen lain .

perdagangan kebudayaan . langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian atau nota diplomatik ataupun melalui cara cara sebagaimana disepakati oleh para . kemudian ditugaskan pada waktu dilakukanya pengesahan persyaratan dan pengesahan dapat ditarik kembali setiap saat melalui pernyataan tertulis. pelayaran niaga . pengesahan dilakukan dengan undang undang apabila berkenaan dengan hal hal berikut : 1) Masalah Politik . di antaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . Jenis perjanjian yang pengesahanya melalui keputusan presiden pada umumnya memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam wanktu singka tanpa mempengaruhi peratutan perundang undangan nasional . Selanjutnya setiap undang undang atau keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam lembaga negara republik indonesia. Undang Undang no 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional berisi ketentuan mengenai persyaratan atau pernyataan terhadap suatu perjanjian internasional terhadap suau peranjian internasional yang dapat dilakukan pada saat penandatanganan perjanjian . dan kerjasama perlindungan pennaman modal . serta perjanjian perjanjian yang bersifat teknis lainya.24 tahun 2000 . Pengesahan perjanjian internasional merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional karena pada tahap tersebut suatu negara menyatakan diri untuk terikat secara definitif. Pasal UU No. Sebaliknya pengesahan perjanjian internasional yang tidak termasuk dalam kategori perjanjian internasional dilakukan dengan keputusan presiden ( pasal 11 ) dan salinanya disampaikan kepada DPR untuk dievaluasi. ekonomi dan teknik . Pemberlakuan perjanjian internasional yang tidak disahkan dengan undang undang atau keputusan presiden .kuasa tidak diperlukan jika penandatanganan suatu perjanjian internasional hanya bersifat kerjasama teknis sebagai pelaksanaan perjanjian yang sudah berlaku. perdamaian pertahanan dan keamanan negara 2) Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah 3) Kedaulatan negara 4) Hak asasi manuia dan lingkungan hidup 5) Pembentukan kaidah hukum baru 6) Pinjaman atau hibah luar negeri Pengesahan perjanjian internasional bertujuan agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan undang undang.

serta menyampaikan salinan naskah resmi dari setiap perjanjian internasional kepada lembaga negara . Selanjutnya terdapat kemungkinan bagi indonesia untuk melakukan perubahan atas ketentuan suatu perjanjian internasional berrdasarkan psepakatan para pihak terkait melalui tata cara yang tekah ditetapkan dalam perjanjian dan disahkan dengan peraturan perundang undangan yang setingkat. penerangan kesehatan dan keluarga berencana. dan perjanjian dengan negara lain” Untuk menjamin kelacaran dalam pelaksanaan kerjasam antara pemerintah dan DPR seperti dalam pasal 11 UUD 1945 . Proses Ratifikasi Perjanjian Internasional Menurut Pasal 11 UUD 1945 Pasal 11 UUD 1945 menyatakan bahwa “presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang . pertanian .sosial budaya. Perlu ditambahkan bahwa yang masuk kategori perjanjian yang langsung berlaku ini antara lain perjanjian yang secara teknis mengatur kerjasama di bidang pendidikan. Suatu perjanjian internasional berakhir apabila 1) Terdapat kesepakatn para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian 2) Tujuan perjanjian tersebut telah dicapai 3) Terdapat perubahan dasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian 4) Salahs atau pihak tidak melaksanakan atau melanggar keteentuan dalam poerjanjian 5) Adnya suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama 6) Munculnya norma norma baru dalam hukum internasional 7) Hilanngya oobjek perjanjian 8) Terdapat hal hl yang merugikan kepentingan nasional Selanjutnya pasal 19 UU No. 24 tahun 2000 menegaskan bahwa perjanjian internasional yang berakhir sebelumw aktunya beradasrkan pihak terkait. kehutanan serta kerjasama persaudaraan antara provinsi dan kota. lembaga pemerintahan dan kepada sekertariat organisasi nasional. membuat perdamaian .pihak terkait. pariwisata. harus diperhatikan hal hal berikut : . tidak mempengaruhi penyellesaian setiap pengaturan yang menjadi bagian perjanjian dan belum dilksanakan secara penuh [ada saat berakhirnya perjanjian tersebut. Penyimpanan perjanjian internasional merujuk pada tanggungjawab menteri luar negeri untuk menyimpan dan memelihara naskah asli perjanjian internasional .lingkungan hidup .

Setelah itu diberikan kepada presiden ketika diproses untuk diteruskan kepada presiden disertai dengan RKP (Rancangan Keppres ). Persoalan yang menurut UUD atau menurut sistem perundang undangan haru diatur dengan undang undang seperti persoalan kewarganegaraan dan persoalan kehakiman. perjanjian perubaan wilayah . pemerintah daapt berpendapat bahwa perjanjian yang harus disampaikan kepada DPR mendapat persetujuan sebelum disahkan oleh presiden ialah perjanjian perjanjian yang lazimnya berbentuk treaty dan mengandaung materi sebagai berikut : 1. diteruskan kepada s/sesneg (Dulu ada Mensesneg). atau penetapan tapal batas 2. Ikatan ikatan yang sedemikian rupa sifatnya dapat mempengaruhi haluan politik negara . 3. atau pinjaman uang. Sesuai dengan pertimbangan tersebut . hanya perjanjian perjanjian yang penting ( treaty ) yang disampaikan kepada DPR . Isi dari ampres tersebut ditujukan kepada ketua DPR . pasal 11 UUD 1945 tidak menentukan bentuk yuridis dari persetujuan DPR oleh karena itu . selanjutnya diteruskan kepada presiden melalui tingkatan hierarkinya. plus 1 (satu) yang tekah di –Certified True Copy . Memo-memo beserta ampresnya(amanat presiden ) untuk ditandatangani oleh presiden . Ratifikasi / Pengesahan dengan Keppres Proses ratifikasi dengan keputusan presiden adalah sebagai berikut . sedangkan perjanjian lain ( aggrement) akan disampaikan kepada DPR hanya untuk diketahui. yaitu mulai Bagian Ratifikasi kepada Kepala Biro Hukum . Persoalan politik atau persoalan yang dapat mempengaruhi haluan politik negara . Setelah dipelajari sekneg . dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang undang harus dengan persetujuan DPR C) ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang undang Berdasarkan hal tersebut . perjanjin kerjasama ekonomi . tidak ada keharusan bagi DPR untuk memberikan persetujuanya dalam bentuk Undang Undang. yang memberitahukan bahwa Pemerintah Indonesia telah . Departemen luar negeri mengajukan permohonan ratifikasi perjanjian internasional dengan keppres kepada secretariat Negara .A) presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain B) presiden dalam membuat perjanjian internasional lainya yang dapat menimbulkan akibat lus dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara . seperti perjanjian persehabatan . kemudian ke Deputi Eselon 1 . disertai copynaskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh) copy.

60.139. untuk kemudian didistribusikan kepada Daftar A dan Daftar B . Tanggal 4-10-2001 Lembaran Negara No. karena biasanya pada rapat.88 Concerning the Organization of the Imployment Service ( Konvensi ILO No. Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan keputusan presiden . Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengesahan Convension on Nuclear Nafaty ( Konvensi tentang Keselamatan Nuklir ). 2. diserahkan kembali ke Bagian Ratifikasi Sekneg melalui hierarki yang sama seperti sebelumnya dan dituangkan ke dalam Lembaga Negara oleh Sekneg . Daftar A terdiri dari lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara . 24 Tahun 2000 antara lain adalah sebagai berikut (Sumber Biro Hukum Setneg RI). 3. Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 2002 tentang pengesahan internasional Coffe Agreement 2001 ( Pengesahan Kopi Internasional 2001). dan Daftar B adalah departemen – departemen / instansi terkait.1998( Instrumen Perubahan Koinstitusi dan Konvensi Perhimpunan Telekomunikasi Internasional Minneapolis 1998) Tanggal 30-4-2002. 4. sejak berlakunya UU No. 63. Keputsan Presiden Nomer 26 Tahun 2002 tentang Pengesahan amandemen of the agreement relating to the internasional Telecommunication Satellite Organization “INTELSAT” ( Perubahan terhadap Perjanjian Berkaitan dengan Organisasi satelit Telekomunikasi Internasional “INTELSAT”)Tanggal 30-4-2002. 1. Lembaran Negara No. Tanggal 20-5-2002. Lembaran Negara No. Lembaran Negara No. 5.88 mengenai Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja ).Terhadap RKP yang telah ditandatangani oleh presiden dan telah menjadi keppres . agar diketahui oleh DPR . instansi teknis . Tanggal 20-5-2002. Pendistribusian ini disertai dengan autentifikasi yang dikeluarkan oleh kepala Biro Hukum . Keputusan presiden Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pengesahan Instrumen Amending the Constution and the Convention of the Internasional Telecommunt – cottion union Minneapolis . 45.rapat interdep terdahulu . Ratifikasi / Pengesahan dengan Undang – undang Proses ratifikasi dengan Undang –undang dapat dijelaskan sebagai berikut : Departemen luar negeri mengajukan permohonan ijin pemrakarsa penyusunan RUU (hanya sebagai formalitas .mengesahkan perjanjian internasional tersebut dengan keppres. 44. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2002 tentang pengesahan ILO Convention No. Lembaran Negara No.

Jadi prosedur pembahasn yang dilalui dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah sebagai berikut : 1) Pembicaraan Tingkat I dalam Rapat Paripurna .Undang. selanjutnya . kemudian DPR mengadakan rapat pembahasan RUU. Setelah rapat interdep itu selesai . Selain itu . teknik penyusunan diatur dalam Keppres No. kembali mengadakan rapat interdep untuk membahas RUU pengesahan yang biasanya telah dipersiapkan sebelum pengajuan permohonan dan tentang pelaksanaan perjanjian tersebut . yang isinya meminta agar DPR membahas RUU tersebut ). 16/DPRRI/1/1999-2000 yang ditetapkan pada tanggal 23 September 1999 .Dalam pembicaraan di tingkat ini pemerintah memberikan keterangan atau penjelasan mengenai pokok –pokok materi Rancangan Undang –undang tersebut. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang .undangan dan Bentuk Rancangan Undang. yang pada pasal 1 ayat (1)nya menyebutkan bahwa menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen dapat mengambil prakarsa dalam penyusunan RUU untuk menyangkut masalah yang menyangkut bidang tugasnya. Menurut penjelasan pihak Biro Hukum DPR-RI No. 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang. selanjutnya departemen luar negeri mengirimkan RUU yang disetujui dalam rapat tersebut ke Sekneg beserta naskah akademisnya. Bagian Ratifikasi memberitahukan kepada departemen luar negeri .Dilampirkan pula copy naskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh ) copy . Tata cara penyiapan RUU ini diatur dalam Keppres No. 188 Tahun 1998). mengirimkannya ke DPR (Pasal 18 Keppres No. Sekneg kemudian akan meneruskan ke Presiden untuk kemudian Presiden mengeluarkan ampres yang telah ditandatanganinya (Ditujukan kepada ketua DPR . plus 1 (satu) yang telah di Certified True Copy . 2) Pembicaran Tingkat III dalam Rapat Komisi (Komisil) Berupa Raker dengan menterimenteri dari departemen teknis pemrakarsa penyusunan RUU Pengesahan . Setelah presiden menyetujui permohonan tersebut kemudian Sekneg Cq.beserta departemen luar negeri telah menyusun terlebih dahulu RUU – nya). pembahasan rancangan undang. termasuk .undang Dilakukan melalui 4 (empat) tingkat pembicaraan (Pasal 116 ayat (1)).Selanjutnya departemen luar negeri beserta instansi teknis terkait dan juga setneg. yaitu tanpa melalui pembahasan Tingkat II dalam Rapat Paripurna . Setelah DPR menerima ampres tersebut .tetapi pada prakteknya dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah melalui prosedur singkat shortcut . Setelah dipelajari oleh Sekneg kemudian diteruskan kepada presiden melalui hierarki yang sama dengan pembuatan keppres . Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keppres.

Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan Undang-undang .Tindakan selanjutnya dilakukan oleh Sekneg yang menuangkannya ke dalam Lembar Negara dan mendistribusikannya kepada Daftar A dan Daftar B. 2) Tingkat II dalam Rapat Paripurna . yang pembahasan materi RUU dan pengambilan keputusan serta penandatanganan naskah RUU dilakukan pada Tingkat I dalam Rapat Komisi . pembahasan materi.kedalam jadwal acaranya adalah pengantar musyawarah fraksi-fraksi . 24 Tahun 2001 sampai tanggal 17 April 2002 adalah sebagai berikut: 1) Undang – undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggaran Hukum yang Melarikan Diri (Agreement between the Government of Republic of Indonesia and The . Pembahasan RUU pengesahan melalui kedua tahap pembicaraan tersebut . yang dikirimkan ke Sekneg untuk diteruskan kepada Presiden . sedangkan pada pembahasan Tingkat II dilakukan pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului oleh laporan hasil akhir pembicaraan Tingkat I . Dalam pembicaraan Tingkat I dapat diadakan Rapat Dengar Penda[at atau Rapat Dengar Pendapat Uum . 16/DPRRI/I/1999-2000. bersama-sama pemerintah. Rapat Badan Legislasi. pendapat akhir fraksi-fraksi dan sambutan pemerintah.undang. 3A/DPRRI/I/2001-2002 ini diatur dalam Pasal 120 yang membagi tahapan pembahasan RUU menjadi 2( dua ) tingkat pembicaraan . maka bentuk persetujan DPR adalah berupa surat dari ketua DPR kepada Presiden dan Keputusan DPR atas RUU tersebut . Ketentuan tahap pembahasan RUU menurut Tatib DPRRI No. Setelah DPR menyetujui RUU tersebut .undang (Pasal 26 ayat (!) Keppres No. atau Rapat Panitia Khusus . tanggapan pemerintah atas pengantar . RUU yang telah disetujui oleh DPR itu ditandatangani dan disahkan oleh presiden sehingga menjadi Undang. Rapat Panitia Anggaran . 3) Pembicaraan Tingkat IV dalam Rapat Paripurna . Pada tanggal 16 Oktober 2001 ditetapkan Peraturan Tata Tertib DPRRI yang baru No 03/A/DPRRI/I/2001-20002 menggantikan Tatib DPRRI No. Pengambilan keputusan atas RUU pengesahan perjanjian internasional yang didahului oleh laporan hasil pembicaraan Tingkat III dan pendapat akhir dari fraksi-fraksi serta pemberian kesempatan kepada pemerintah untuk menyampaikan sambutan terhadap pengambilan keputusan tersebut. yaitu : 1) Tingkat I dalam Komisi . 188 Tahun 1998). pengambilan keputusan sampai dengan penandatanganan Draft RUU. sejak berlakunya UU No. diundang pula pimpinan lembaga /departemen yang terkait dengan materi Rancangan Undang.

Untuk konvensi agreement yang bersifat multilateral . dan kemudian secretariat organisasi internasional itu akan memberitahukan negara. selanjutnya departemen luar negeri Cq direktorat perjanjian internasional melakukakan pemberitahuan kepada mitra bahwa Indonesi telah meratifikasi. Termasuk Bulan dan Benda – Benda langit lainnya . 43. Lembaran Negara No. c. Lembaran Negara No. maka departemen luar negeri akan mengirimkan Piagam Ratifikasi yang telah ditandatangani oleh Menlu kepada Sekretariat organisasi internasional tersebut. Tanggal 8 April 2002 . a. 2) Undang –undang Nomor 16 Tahun 2002 tentang Pengesahan Treaty on Principles Governing The Activities of States in The Exploration and Use of Outer Space. berlaku terhitung sejak 30 hari setelah pemberitahuan terakhir . 2002:11).Government of Hongkong for The Surrender of Fugitive Offender). 1967). 1967 (Traktat Mengenai PprinsipPrinsip yang Mengatur Kegiatan Negara. Apabila perjanjian internasional yang dilakukan merupakan suatu konvensi yang diprakarsai oleh organisasi internasional . . dan departemen –departemen terkait termasuk departemen luar negeri . 34.Tanggal 8 Mei 2001 . Pemberlakuan suatu perjanjian dapat juga dilakukan sejak pertukaran nota (Exchange of Notes) .Negara lain bahwa Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut. Cara pemberlakuan suatu perjanjian internasional yang ditentukan oleh perjanjian itu sendiri yang dapat berupa antara lain sebagai berikut (Departemen Luar Negeri . Setelah UU/ Keppres pengesahan tersebut didistribusikan kepada lembaga tertinggi dan tinggi negara .TLN 4195. b. mulai berlaku sejak Piagam Pengesahan didepositkan melalui perwakilan setempat pada negara pendeposit atau sekjen organisasi internasional /PBB. hal ini disebut dengan pertukaran Nota Diplomatik . Untuk perjanjian internasional yang bersifat bilateral . TLN 4091.Negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa . Biasanya pada perjanjian bilateral. Including The Moon and Other Celestical Bodies. berlaku sejak pertukaran Piagam Pengesahan yang biasanya dilakukan oleh Duta Besar dengan Menlu setempat.

Untuk konvensi .Keamanan dan Kewilayahan Departemen Luar Negeri RI.d. seluruh naskah asli perjanjian internasional yang telah ditandatangani oleh Pemerintah RI dengan negara lain seyogyanya disimpan pada Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional . dapat pula berlaku setelah memenuhi jumlah ratifikasi yang ditentukan dalam perjanjian. Dengan demikian Direktorat Perjanjian Internasional yang biasa menangani ratifikasi perjanjian internasional sekarang sudah tidak ada . Departemen Teknis cukup memegang copy dari perjanjian asli yang disahkan oleh Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional. Diplomasi Publik dan Perjanjian Internasional. dan diganti dua direktorat tersebut. .kedua. Sesuai dengan kebiasaan internasional .Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Departemen Luar Negeri RI. Kedua direktorat tersebut berada dibawah Direktorat Jenderal Informasi . kesatu Direktorat Perjanjian Politik . Selanjutnya seiring restrukturisasi Departemen Luar Negeri Republik Indonesia maka direktorat yang mengurusi ratifikasi perjanjian internasional ada dua yaitu.

Pemerintah dan DPR Sepakati Naskah Akhir Undang. Pengaturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 03A/DPRRI/2001-2002. Boer Mauna . Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia .go. 1986. Peraturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 16 /DPRRI/1999-2002.2000. 1999. Keterangan Pemerintah Atas Rancangan UndangUndang tentang Pembuatan dan Pengesahan Perjanjian Internasional . 2002. Jakarta: Deplu RI. Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional . Pembuatan Perjanjian Internasional di Lingkiungan Departemen Pendidikan Nasional . Bandung : Bina Cipta . Departemen Luar Negeri. 1993. <www. dfa-deplu. 2002.DAFTAR PUSTAKA Budiono Kusumohamidjojo.Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional . Pengertian . Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global .Undang tentang Perjanjian Internasional . Jakarta :Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jenderal DPR-RI . go. Djenat Sidik Soerasaputra. <www. 22 Mei . Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia .id > Surakarta. Kebijakan Ratifikasii Perjanjian Internasional Menurut Tiga UUD Indonesia . Departemen Luar Negeri .go. Hukum Internasional . <www. Departemen Luar Negeri .id> Surakarta 3 November 2001. 2002. Departemen Luar Negeri .Suatu Studi Terhadap Aspek Operasional Konvensi Wina Tahun 1969 Tentang Hukum Perjanjian Internasional . 2000.2000.id> Surakarta. 3 November 2001.2 Agustus . 14 Maret 2002. Bandung :Alumni. Jakarta : Departemen Luar Negeri.Jakarta:Sekretariat DPR RI.Jakarta:Sekretariat DPR RI. depdiknas. . Petunjuk Pelaksanaan Proses dan Prosedur Pembuatan Perjanjian Internasional . dfadeplu. 2000.

Bandung:Bina Cipta.1998.1982. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jendral DPR-RI. Starke.Jakarta:Setneg RI. Pengantar Hukum Internasional .G.F. . Introduction to Internasional Law .1993. London :Butterworths Sekretariat Negara Republik Indonesia . . J. Attamimi. Ratifikasi Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Pasal 11 UUD 1945. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Taknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang. Pengesahan / Ratifikasi Perjanjian Internasional .Pengantar Hukum Internasional . Jakarta:Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat DPR-RI. Hamid S.1993. Sri S Suwardi. Saduran . Isjwara.Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden . Sekretariat Negara Republik Indonesia . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undangundang.1999. Mochtar Kusumaatmaja. Bandung :Alumni.1989.4th edition . 1972.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful