PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA

Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional

undang mengenai perjanjian internasional antara lain Pasal 11 UUD 1945 dan perubahannya (1999) dan UU No.organisasi internasional . 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960 . perjanjian internasional merupakan pelaksanaan pasal 11 uud 1945 dan perubahannya (1999). yang akan disampaikan pemerintah kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan DPR dan perjanjian lain (agreements)yang akan disampaikan kepada DPR untuk diketahui setelah disahkan oleh presiden .undang Perjanjian internasional . yang ada hanya Surat Presiden No . yaitu perjanjian terpenting(treaties). sejalan dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. 2826/HK/1960 Kepada ketua Dewan Perwakilan Rakyat mengenai penafsiran terhadap Pasal 11 UUD 1945 khususnya tentang masalah substansi perjanjian internasional . Undang – undang inilah yang menjadi dasar hukum dalam pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional di Indonesia.24 Tahun 2000. saling menghormati dan saling tidak mencampuri urusan dalam negeri masing. Walupun surat presiden tersebut telah berlaku sebagai suatu pedoman dan menetapkan criteria perjanjian internasional yang termasuk dalam pengertian perjanjian terpenting namun dalam perkembangan dewasa ini terdapat ketidak jelasan atas bidang perjanjian yang dianggap sehingga pembuatan dan pengesahannya telah mengalami keracuan dan kesimpangsiuran . Pedoman yang digunakan untuk membuat dan mengesahkan perjanjian internasional di Indonesia sebelum tahun 2000 terdapat dalam Surat Presiden No .dan perjanjian internasional yang cukup disampaikan untuk diketahui saja oleh DPR. Landasan hukum mengenai pembuatan Undang.Hubungan luar negeri dan kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain .undangan sebagai pelaksana ketentuan Pasal 11 UUD 1945 . Hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya peraturan perundang.undang atau Keputusan Presiden. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia berusaha menyusun Rancangan Undang. Indonesia sebagai Negara merdeka dan berdaulat . Hal ini sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 . yang mengatur mengenai pengesahan melalui undang. dan perjanjian internasional yang membutuhkan persetujuan dan pengesahan oleh Dewan Perwakilan . melaksanakan hubungan luar negeri serta kerjasama internasional berdasarkan pada asas kesamaan derajat. 37 .masing . dan subyek-subyek hukum internasional lain. secara umum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional. Surat Presiden tersebut pada pokoknya membagi perjanjian internasional atas dua pengertian . 21 Tahun 2000 berlaku masih terdapat kesimpang siuran dan belum terdapat keseragaman dan pedoman yang jelas mengenai tata cara pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional. Sebelum UU No. yang akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2000 disahakanlah Undangundang perjanjian internasional yaitu Undang –undang No. Disamping itu.

Selain itu Undang –undang tersebut membuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional yang berlaku secara universal dan dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional . Kedaulatan atau hak berdaulat Negara. sementara pinjaman luar negeri yang diterima oleh bank Indonesia mengacu pada Undang. b. Pinjaman dan atau hibah luar negeri. Hak asasi manusia dan lin gkungan hidup. ketika dijelaskan bahwa hal tersebut dikarenakan materi tentang “Pinjaman Luar Negeri”sifatnya khusus dan perlu diatur tersendiri. d. Pinjaman luar negeri tidak dimasukkan dalam Rancangan Undang – undang tentang pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional dengan pertimbangan – pertimbangan sebagai berikut. Khusus mengenai pinjaman dan / hibah luar negeri berserta persetujuannya oleh Dewan Perwakilan Rakyat akan diatur oleh Undang.Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri . dilihat dari substansi atau materi perjanjian bukan berdasarkan bentuk dan nama (nonmenclature)perjanjian.undang dan keputusan presiden .Landasan pemikiran tersebut didasarkan pada suatu pembicaraan dan pembahasan yang intensif dan komprehensif dengan Departemen keuangan . Perubahan wilayah dan penetapan batas wilayah Negara Republik Indonesia . Bank Indonesia . dan dilakukan oleh Departement Luar Negeri . e. a. c.undang apabila berkenaan dengan (Pasal 10 UU No.sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan moneter . Masalah politik .undang tersendiri . Klasifikasi menurut materi perjanjian dimaksud agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman atas bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan Undang – undang. Saat ini pinjaman luar negeri pemerintah mengacu pada ketentuan dalam Indische Comptabilitets Wet/ICW. Pengesahan perjanjian internasional yang dilakukan dengan Undang. Dalam menentukan ratifikasi perjanjian internasional ( akan diratifikasi dengan Undangundang atau dengan keppres). Hal ini telah dibicarakan dalam rapat pembahasan Rancangan UUPI dalam keterangan pemerintah mengenai RUUPI pada tanggal 22 Mei 2000 . . yaitu dengan Undang. 24 Tahun 2000) : a. dan keamanan negara.undang Bank Indonesia No. perdamaian . Pembentukan kaidah hukum baru . f.dan Bappenas mengenai masalah ini . 23 Tahun 1999 yang penggunaannya berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa . dalam prakteknya ada dua macam pengesahan perjanjian internasional di Indonesia. Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) .

24 Tahun 2000. kebudayaan . sedangkan dasar hukum pengesahan melalui keputusan presiden ialah pasal 11 ayat (1) UU No.jenis perjanjian yang termasuk dalam kategori ini . IV /MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004 yang diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri Pemerintah sebagai kegiatan ekonomi yang produktif dan pelaksanaannya dilakukan secara transparan . maka Pemerintah sedang RUU yang mengatur mekanisme dan prosedur pinjaman luar negeri. niaga. c. 24 Tahun 2000) . 24 Tahub 2000). Pengesahan perjanjian melalui keputusan presiden dilakukan bagi perjanjian yang memasyarakatkan adanya pengesahan sebelum mulai berlakunya perjanjian tetapi memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi peraturan perundang-undangan nasional.undang adalah Pasal 10 UU No. teknik. Selanjutnya pengesahan perjanjian internasional yang materinya tidak termasuk dalam pasal 10 tersebut dilaksanakan dengan keputusan presiden (pasal 11 ayat (1) UU No. Berdasarkan praktek yang berlaku selama ini . instansi/ departemen teknis terkait sebagai Vocal poin-nya menyiapkan bahan – bahan berupa dokumen. Oleh karena sifat perjanjian pinjaman luar negeri sangat khusus dan agar proses penerimaan pinjaman luar negeri yang dibutuhkan untuk menunjang pembangunan ekonomi Indonesia tidak mengalami hambatan. Setelah penandatanganan .undang APBN pada setiap tahun anggaran . serta perjanjian –perjanjian yang bersifat teknis(penjelasan atas UU No. Untuk melaksanakan kebijakan ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam Bab IV TAP MPR No.dokumen yang telah di-Certified True Copy oleh departemen luar negeri . d. Dokumen – dokumen yang perlu dipersiapkan oleh lembaga pemrakarsa adalah (Pasal 12 UU No. 24 Tahun 2000. pelayaran . pagu (plafon) pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR berdasarkan disahkanya Undang. sehingga secara otomotis persetujuan DPR terhadap jumlah pinjaman luar negeri telah diperoleh pada saat disetujuinya Undang.hambatan. Berdasrkan ketentuan tersebut dimuka dapat diketahui bahwa dasar hukum pengesahan perjanjian internasional dengan Undang. penghindaran pajak berganda. maka mekanisme persetujuan DPR perlu diatur secara komprehensif sehingga memerlukan pengaturan secara khusus dalam UU tersendiri. 24 Tahun 2000) : . diantaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . efektif dan efisien . ekonomi .dan kerjasama perlindungan penanaman modal . Jenis. perdagangan .b.undang APBN .

Proses Ratifikasi Hukum Internasional Menurut UU no 5 Tahun 2000 Menurut pasal 5 UU No. Lembaga pemrakarsa dalam membuat rancangan Undang. Perundingan suatu perjanjian nasional dilakukan oleh delegasi RI yang dipimpin oleh menteri atau pejabat lain sesuai dengan materi perjanjian dan lingkup kewenangan masing masing.undang (RUU) / rancangan keppres (RKP) pengesahan perjanjian . yaitu surat kepercayaan yang dikeluarkan oleh menteri luar negeri untuk menghadiri . atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasional. merundingkan .a. disebutkan dalam RUU/ RKP tersebut . Sifat RUU/ RKP pengesahan perjanjian internasional adalah sangat sederhana . b. pembuatan perjanjian harus didahului dengan konsultasi dan koordinasi dengan menteri luar negeri dan posisi pemerintah harus dituangkan dalam suatu pedoman delegasi.Surat kuasa dikeluarkan oleh menteri luar negeri sesuai dengan praktik internasional yang telag dikukuhkan dalam Konvensi Wina tahun 1996. perundingan . Surat . Tahapan dalam pembuatan perjanjian adalah penjajakan . dilakukan bersama. Terjemahan . Surat kuasa penuh diperlukan bagi seseorang yang mewakili pemerintahan untuk menerima atau menandatangani surat naskah. Dokumen – dokumen lain yang diperlukan . penerimaan dan penandatanganan. c. lembaga pemrakarsa mengirimkannya ke departemen luar negeri untuk selanjutnya departemen luar negeri meneruskan ke secretariat negara dan memulai proses ratifikasi .sama dengan departemen luar negeri atau dapat pula dilakukan oleh lembaga pemrakarsa itu sendiri dengan diketahui oleh departemen luar negeri. Penandatangan suatu perjanjian internasional merupakan persetujuan atas naskah yang yang dihasilkan dna merupakan pernyataan untuk mengikatkan diri secara definitif. sedangkan presiden dan menteri tidak memerlukan dokumen tersebut. Salinan naskah perjanjian . biasanya hanya terdiri dari pasal yang berisi kalimat pengesahannya. Pembuatan pedoman delegasi diangap perlu agar terciptanya keseragaman posisi delegasi republik indonesia dan delegasi dan koordinasi antar departemen lembaga pemerintahan dalam pembuatan perjanjian internasional. Pembuatan perjanjian dapat dilakukan dengan surat kuasa penu. Apabila terdapat reservasi / persyaratan . 24 tahun 2000 . perumusan naskah . d. Setelah menyiapkan semua dukumen yang dipersyaratkan dalam Pasal 12 . Rancagan Undang – undang / Rancangan keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional .dan . Di samping itu ada pula dokumen lain .

di antaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . Jenis perjanjian yang pengesahanya melalui keputusan presiden pada umumnya memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam wanktu singka tanpa mempengaruhi peratutan perundang undangan nasional . perdagangan kebudayaan . serta perjanjian perjanjian yang bersifat teknis lainya. Undang Undang no 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional berisi ketentuan mengenai persyaratan atau pernyataan terhadap suatu perjanjian internasional terhadap suau peranjian internasional yang dapat dilakukan pada saat penandatanganan perjanjian .24 tahun 2000 . pengesahan dilakukan dengan undang undang apabila berkenaan dengan hal hal berikut : 1) Masalah Politik . Sebaliknya pengesahan perjanjian internasional yang tidak termasuk dalam kategori perjanjian internasional dilakukan dengan keputusan presiden ( pasal 11 ) dan salinanya disampaikan kepada DPR untuk dievaluasi. Pemberlakuan perjanjian internasional yang tidak disahkan dengan undang undang atau keputusan presiden . perdamaian pertahanan dan keamanan negara 2) Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah 3) Kedaulatan negara 4) Hak asasi manuia dan lingkungan hidup 5) Pembentukan kaidah hukum baru 6) Pinjaman atau hibah luar negeri Pengesahan perjanjian internasional bertujuan agar terciptanya kepastian hukum dan keseragaman bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan undang undang. kemudian ditugaskan pada waktu dilakukanya pengesahan persyaratan dan pengesahan dapat ditarik kembali setiap saat melalui pernyataan tertulis.kuasa tidak diperlukan jika penandatanganan suatu perjanjian internasional hanya bersifat kerjasama teknis sebagai pelaksanaan perjanjian yang sudah berlaku. pelayaran niaga . Selanjutnya setiap undang undang atau keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam lembaga negara republik indonesia. langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian atau nota diplomatik ataupun melalui cara cara sebagaimana disepakati oleh para . dan kerjasama perlindungan pennaman modal . ekonomi dan teknik . Pasal UU No. Pengesahan perjanjian internasional merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional karena pada tahap tersebut suatu negara menyatakan diri untuk terikat secara definitif.

Proses Ratifikasi Perjanjian Internasional Menurut Pasal 11 UUD 1945 Pasal 11 UUD 1945 menyatakan bahwa “presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang . pertanian . harus diperhatikan hal hal berikut : . pariwisata. tidak mempengaruhi penyellesaian setiap pengaturan yang menjadi bagian perjanjian dan belum dilksanakan secara penuh [ada saat berakhirnya perjanjian tersebut. membuat perdamaian . Selanjutnya terdapat kemungkinan bagi indonesia untuk melakukan perubahan atas ketentuan suatu perjanjian internasional berrdasarkan psepakatan para pihak terkait melalui tata cara yang tekah ditetapkan dalam perjanjian dan disahkan dengan peraturan perundang undangan yang setingkat. kehutanan serta kerjasama persaudaraan antara provinsi dan kota. 24 tahun 2000 menegaskan bahwa perjanjian internasional yang berakhir sebelumw aktunya beradasrkan pihak terkait. Perlu ditambahkan bahwa yang masuk kategori perjanjian yang langsung berlaku ini antara lain perjanjian yang secara teknis mengatur kerjasama di bidang pendidikan. serta menyampaikan salinan naskah resmi dari setiap perjanjian internasional kepada lembaga negara .lingkungan hidup .sosial budaya. Suatu perjanjian internasional berakhir apabila 1) Terdapat kesepakatn para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian 2) Tujuan perjanjian tersebut telah dicapai 3) Terdapat perubahan dasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian 4) Salahs atau pihak tidak melaksanakan atau melanggar keteentuan dalam poerjanjian 5) Adnya suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama 6) Munculnya norma norma baru dalam hukum internasional 7) Hilanngya oobjek perjanjian 8) Terdapat hal hl yang merugikan kepentingan nasional Selanjutnya pasal 19 UU No. lembaga pemerintahan dan kepada sekertariat organisasi nasional. dan perjanjian dengan negara lain” Untuk menjamin kelacaran dalam pelaksanaan kerjasam antara pemerintah dan DPR seperti dalam pasal 11 UUD 1945 . penerangan kesehatan dan keluarga berencana.pihak terkait. Penyimpanan perjanjian internasional merujuk pada tanggungjawab menteri luar negeri untuk menyimpan dan memelihara naskah asli perjanjian internasional .

seperti perjanjian persehabatan .A) presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain B) presiden dalam membuat perjanjian internasional lainya yang dapat menimbulkan akibat lus dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara . plus 1 (satu) yang tekah di –Certified True Copy . 3. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang undang harus dengan persetujuan DPR C) ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang undang Berdasarkan hal tersebut . Departemen luar negeri mengajukan permohonan ratifikasi perjanjian internasional dengan keppres kepada secretariat Negara . diteruskan kepada s/sesneg (Dulu ada Mensesneg). Persoalan yang menurut UUD atau menurut sistem perundang undangan haru diatur dengan undang undang seperti persoalan kewarganegaraan dan persoalan kehakiman. Sesuai dengan pertimbangan tersebut . kemudian ke Deputi Eselon 1 . Ratifikasi / Pengesahan dengan Keppres Proses ratifikasi dengan keputusan presiden adalah sebagai berikut . selanjutnya diteruskan kepada presiden melalui tingkatan hierarkinya. Memo-memo beserta ampresnya(amanat presiden ) untuk ditandatangani oleh presiden . Ikatan ikatan yang sedemikian rupa sifatnya dapat mempengaruhi haluan politik negara . sedangkan perjanjian lain ( aggrement) akan disampaikan kepada DPR hanya untuk diketahui. pasal 11 UUD 1945 tidak menentukan bentuk yuridis dari persetujuan DPR oleh karena itu . pemerintah daapt berpendapat bahwa perjanjian yang harus disampaikan kepada DPR mendapat persetujuan sebelum disahkan oleh presiden ialah perjanjian perjanjian yang lazimnya berbentuk treaty dan mengandaung materi sebagai berikut : 1. Persoalan politik atau persoalan yang dapat mempengaruhi haluan politik negara . perjanjin kerjasama ekonomi . atau pinjaman uang. Setelah dipelajari sekneg . Isi dari ampres tersebut ditujukan kepada ketua DPR . disertai copynaskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh) copy. Setelah itu diberikan kepada presiden ketika diproses untuk diteruskan kepada presiden disertai dengan RKP (Rancangan Keppres ). atau penetapan tapal batas 2. hanya perjanjian perjanjian yang penting ( treaty ) yang disampaikan kepada DPR . tidak ada keharusan bagi DPR untuk memberikan persetujuanya dalam bentuk Undang Undang. perjanjian perubaan wilayah . yang memberitahukan bahwa Pemerintah Indonesia telah . yaitu mulai Bagian Ratifikasi kepada Kepala Biro Hukum .

3. 60.rapat interdep terdahulu . Ratifikasi / Pengesahan dengan Undang – undang Proses ratifikasi dengan Undang –undang dapat dijelaskan sebagai berikut : Departemen luar negeri mengajukan permohonan ijin pemrakarsa penyusunan RUU (hanya sebagai formalitas . karena biasanya pada rapat. Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengesahan Convension on Nuclear Nafaty ( Konvensi tentang Keselamatan Nuklir ). Daftar A terdiri dari lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara .88 Concerning the Organization of the Imployment Service ( Konvensi ILO No.Terhadap RKP yang telah ditandatangani oleh presiden dan telah menjadi keppres . 1. 63. Tanggal 20-5-2002. 4. Lembaran Negara No. sejak berlakunya UU No.139. Lembaran Negara No. Lembaran Negara No. Tanggal 4-10-2001 Lembaran Negara No. dan Daftar B adalah departemen – departemen / instansi terkait. Tanggal 20-5-2002. Keputsan Presiden Nomer 26 Tahun 2002 tentang Pengesahan amandemen of the agreement relating to the internasional Telecommunication Satellite Organization “INTELSAT” ( Perubahan terhadap Perjanjian Berkaitan dengan Organisasi satelit Telekomunikasi Internasional “INTELSAT”)Tanggal 30-4-2002. instansi teknis . 2. Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan keputusan presiden .mengesahkan perjanjian internasional tersebut dengan keppres. 44. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2002 tentang pengesahan ILO Convention No. Lembaran Negara No. Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 2002 tentang pengesahan internasional Coffe Agreement 2001 ( Pengesahan Kopi Internasional 2001). 5. agar diketahui oleh DPR . 24 Tahun 2000 antara lain adalah sebagai berikut (Sumber Biro Hukum Setneg RI). 45.88 mengenai Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja ). diserahkan kembali ke Bagian Ratifikasi Sekneg melalui hierarki yang sama seperti sebelumnya dan dituangkan ke dalam Lembaga Negara oleh Sekneg . Keputusan presiden Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pengesahan Instrumen Amending the Constution and the Convention of the Internasional Telecommunt – cottion union Minneapolis . Pendistribusian ini disertai dengan autentifikasi yang dikeluarkan oleh kepala Biro Hukum . untuk kemudian didistribusikan kepada Daftar A dan Daftar B .1998( Instrumen Perubahan Koinstitusi dan Konvensi Perhimpunan Telekomunikasi Internasional Minneapolis 1998) Tanggal 30-4-2002.

termasuk .Undang. yang isinya meminta agar DPR membahas RUU tersebut ). Tata cara penyiapan RUU ini diatur dalam Keppres No. 16/DPRRI/1/1999-2000 yang ditetapkan pada tanggal 23 September 1999 . Setelah DPR menerima ampres tersebut . 188 Tahun 1998). Bagian Ratifikasi memberitahukan kepada departemen luar negeri . Setelah presiden menyetujui permohonan tersebut kemudian Sekneg Cq. teknik penyusunan diatur dalam Keppres No. Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keppres.undangan dan Bentuk Rancangan Undang.Selanjutnya departemen luar negeri beserta instansi teknis terkait dan juga setneg. kemudian DPR mengadakan rapat pembahasan RUU. yang pada pasal 1 ayat (1)nya menyebutkan bahwa menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen dapat mengambil prakarsa dalam penyusunan RUU untuk menyangkut masalah yang menyangkut bidang tugasnya. kembali mengadakan rapat interdep untuk membahas RUU pengesahan yang biasanya telah dipersiapkan sebelum pengajuan permohonan dan tentang pelaksanaan perjanjian tersebut . pembahasan rancangan undang.tetapi pada prakteknya dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah melalui prosedur singkat shortcut . selanjutnya . selanjutnya departemen luar negeri mengirimkan RUU yang disetujui dalam rapat tersebut ke Sekneg beserta naskah akademisnya. Jadi prosedur pembahasn yang dilalui dalam membahas RUU pengesahan perjanjian internasional adalah sebagai berikut : 1) Pembicaraan Tingkat I dalam Rapat Paripurna . Selain itu . mengirimkannya ke DPR (Pasal 18 Keppres No. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang . Setelah dipelajari oleh Sekneg kemudian diteruskan kepada presiden melalui hierarki yang sama dengan pembuatan keppres . Sekneg kemudian akan meneruskan ke Presiden untuk kemudian Presiden mengeluarkan ampres yang telah ditandatanganinya (Ditujukan kepada ketua DPR . yaitu tanpa melalui pembahasan Tingkat II dalam Rapat Paripurna .Dilampirkan pula copy naskah perjanjian sebanyak 30(tiga puluh ) copy . 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang. plus 1 (satu) yang telah di Certified True Copy . Menurut penjelasan pihak Biro Hukum DPR-RI No.undang Dilakukan melalui 4 (empat) tingkat pembicaraan (Pasal 116 ayat (1)).Dalam pembicaraan di tingkat ini pemerintah memberikan keterangan atau penjelasan mengenai pokok –pokok materi Rancangan Undang –undang tersebut. 2) Pembicaran Tingkat III dalam Rapat Komisi (Komisil) Berupa Raker dengan menterimenteri dari departemen teknis pemrakarsa penyusunan RUU Pengesahan .beserta departemen luar negeri telah menyusun terlebih dahulu RUU – nya). Setelah rapat interdep itu selesai .

pendapat akhir fraksi-fraksi dan sambutan pemerintah. atau Rapat Panitia Khusus . 3A/DPRRI/I/2001-2002 ini diatur dalam Pasal 120 yang membagi tahapan pembahasan RUU menjadi 2( dua ) tingkat pembicaraan . sejak berlakunya UU No. yaitu : 1) Tingkat I dalam Komisi . Rapat Badan Legislasi. tanggapan pemerintah atas pengantar . 3) Pembicaraan Tingkat IV dalam Rapat Paripurna . Pembahasan RUU pengesahan melalui kedua tahap pembicaraan tersebut .undang (Pasal 26 ayat (!) Keppres No. Dalam pembicaraan Tingkat I dapat diadakan Rapat Dengar Penda[at atau Rapat Dengar Pendapat Uum . Pada tanggal 16 Oktober 2001 ditetapkan Peraturan Tata Tertib DPRRI yang baru No 03/A/DPRRI/I/2001-20002 menggantikan Tatib DPRRI No.kedalam jadwal acaranya adalah pengantar musyawarah fraksi-fraksi . 24 Tahun 2001 sampai tanggal 17 April 2002 adalah sebagai berikut: 1) Undang – undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggaran Hukum yang Melarikan Diri (Agreement between the Government of Republic of Indonesia and The . bersama-sama pemerintah. maka bentuk persetujan DPR adalah berupa surat dari ketua DPR kepada Presiden dan Keputusan DPR atas RUU tersebut .undang. Rapat Panitia Anggaran . yang dikirimkan ke Sekneg untuk diteruskan kepada Presiden . RUU yang telah disetujui oleh DPR itu ditandatangani dan disahkan oleh presiden sehingga menjadi Undang. 2) Tingkat II dalam Rapat Paripurna . Setelah DPR menyetujui RUU tersebut . Ketentuan tahap pembahasan RUU menurut Tatib DPRRI No. Pengambilan keputusan atas RUU pengesahan perjanjian internasional yang didahului oleh laporan hasil pembicaraan Tingkat III dan pendapat akhir dari fraksi-fraksi serta pemberian kesempatan kepada pemerintah untuk menyampaikan sambutan terhadap pengambilan keputusan tersebut. sedangkan pada pembahasan Tingkat II dilakukan pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului oleh laporan hasil akhir pembicaraan Tingkat I . 188 Tahun 1998). Adapun perjanjian yang telah diratifikasi dengan Undang-undang . diundang pula pimpinan lembaga /departemen yang terkait dengan materi Rancangan Undang. pengambilan keputusan sampai dengan penandatanganan Draft RUU. yang pembahasan materi RUU dan pengambilan keputusan serta penandatanganan naskah RUU dilakukan pada Tingkat I dalam Rapat Komisi . 16/DPRRI/I/1999-2000.Tindakan selanjutnya dilakukan oleh Sekneg yang menuangkannya ke dalam Lembar Negara dan mendistribusikannya kepada Daftar A dan Daftar B. pembahasan materi.

hal ini disebut dengan pertukaran Nota Diplomatik . 2) Undang –undang Nomor 16 Tahun 2002 tentang Pengesahan Treaty on Principles Governing The Activities of States in The Exploration and Use of Outer Space. 1967 (Traktat Mengenai PprinsipPrinsip yang Mengatur Kegiatan Negara.Negara lain bahwa Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut. Cara pemberlakuan suatu perjanjian internasional yang ditentukan oleh perjanjian itu sendiri yang dapat berupa antara lain sebagai berikut (Departemen Luar Negeri . Untuk konvensi agreement yang bersifat multilateral . 34. Untuk perjanjian internasional yang bersifat bilateral . 1967). mulai berlaku sejak Piagam Pengesahan didepositkan melalui perwakilan setempat pada negara pendeposit atau sekjen organisasi internasional /PBB. dan kemudian secretariat organisasi internasional itu akan memberitahukan negara. maka departemen luar negeri akan mengirimkan Piagam Ratifikasi yang telah ditandatangani oleh Menlu kepada Sekretariat organisasi internasional tersebut. TLN 4091. c. Setelah UU/ Keppres pengesahan tersebut didistribusikan kepada lembaga tertinggi dan tinggi negara . Pemberlakuan suatu perjanjian dapat juga dilakukan sejak pertukaran nota (Exchange of Notes) . Including The Moon and Other Celestical Bodies. Tanggal 8 April 2002 . berlaku terhitung sejak 30 hari setelah pemberitahuan terakhir . Lembaran Negara No. Termasuk Bulan dan Benda – Benda langit lainnya . 2002:11).Tanggal 8 Mei 2001 . .TLN 4195.Negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa . a. dan departemen –departemen terkait termasuk departemen luar negeri .Government of Hongkong for The Surrender of Fugitive Offender). 43. Lembaran Negara No. b. Biasanya pada perjanjian bilateral. Apabila perjanjian internasional yang dilakukan merupakan suatu konvensi yang diprakarsai oleh organisasi internasional . berlaku sejak pertukaran Piagam Pengesahan yang biasanya dilakukan oleh Duta Besar dengan Menlu setempat. selanjutnya departemen luar negeri Cq direktorat perjanjian internasional melakukakan pemberitahuan kepada mitra bahwa Indonesi telah meratifikasi.

Untuk konvensi . Kedua direktorat tersebut berada dibawah Direktorat Jenderal Informasi . dan diganti dua direktorat tersebut.Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Departemen Luar Negeri RI. Sesuai dengan kebiasaan internasional . .kedua.d. Diplomasi Publik dan Perjanjian Internasional.Keamanan dan Kewilayahan Departemen Luar Negeri RI. Dengan demikian Direktorat Perjanjian Internasional yang biasa menangani ratifikasi perjanjian internasional sekarang sudah tidak ada . dapat pula berlaku setelah memenuhi jumlah ratifikasi yang ditentukan dalam perjanjian. seluruh naskah asli perjanjian internasional yang telah ditandatangani oleh Pemerintah RI dengan negara lain seyogyanya disimpan pada Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional . Selanjutnya seiring restrukturisasi Departemen Luar Negeri Republik Indonesia maka direktorat yang mengurusi ratifikasi perjanjian internasional ada dua yaitu. kesatu Direktorat Perjanjian Politik . Departemen Teknis cukup memegang copy dari perjanjian asli yang disahkan oleh Departemen Luar Negeri Cq Direktorat Perjanjian Internasional.

id > Surakarta.Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional . <www. depdiknas.Undang tentang Perjanjian Internasional . Hukum Internasional . Boer Mauna . Departemen Luar Negeri . Petunjuk Pelaksanaan Proses dan Prosedur Pembuatan Perjanjian Internasional . 2002. Peraturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 16 /DPRRI/1999-2002. Bandung :Alumni.Jakarta:Sekretariat DPR RI.2000. Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia .go. 14 Maret 2002. dfadeplu. 2002. Djenat Sidik Soerasaputra.DAFTAR PUSTAKA Budiono Kusumohamidjojo.id> Surakarta 3 November 2001. Kebijakan Ratifikasii Perjanjian Internasional Menurut Tiga UUD Indonesia . <www. Jakarta : Departemen Luar Negeri. 1986. Jakarta: Deplu RI. 1999. 2000. 22 Mei . Pembuatan Perjanjian Internasional di Lingkiungan Departemen Pendidikan Nasional . Departemen Luar Negeri. 3 November 2001.Jakarta:Sekretariat DPR RI. 2000. . Pengaturan Tata Tertib DPR-RI Nomer 03A/DPRRI/2001-2002. Departemen Luar Negeri . Bandung : Bina Cipta .Suatu Studi Terhadap Aspek Operasional Konvensi Wina Tahun 1969 Tentang Hukum Perjanjian Internasional . 2002. go.go.2000. Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia . Pemerintah dan DPR Sepakati Naskah Akhir Undang. Keterangan Pemerintah Atas Rancangan UndangUndang tentang Pembuatan dan Pengesahan Perjanjian Internasional . <www. Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional . Departemen Luar Negeri . Jakarta :Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jenderal DPR-RI . 1993. Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global .id> Surakarta. Pengertian . dfa-deplu.2 Agustus .

1989.F. Mochtar Kusumaatmaja. Jakarta:Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat DPR-RI.1982. Attamimi. Pengesahan / Ratifikasi Perjanjian Internasional .1998.1993.1999. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undangundang.Jakarta:Setneg RI. Isjwara. Ratifikasi Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Pasal 11 UUD 1945.1993. Saduran . Introduction to Internasional Law . Bandung:Bina Cipta. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pelayanan Informasi Sekretariat Jendral DPR-RI.G. Hamid S. . .4th edition . London :Butterworths Sekretariat Negara Republik Indonesia .Pengantar Hukum Internasional . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Taknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang.Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden . Sri S Suwardi. 1972. Bandung :Alumni. Sekretariat Negara Republik Indonesia . Starke. Pengantar Hukum Internasional . J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful