OBAT ANTI JAMUR

Obat-obat anti jamur juga disebut dengan obat anti mikotik, dipakai untuk mengobati dua jenis infeksi jamur : infeksi jamur superficial pada kulit atau selaput lender dan infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf pusat. Infeksi jamur dapat ringan, seperti pada tinea pedis (atlete’s food) atau berat, seperti pada paru-paru atau jamur seperti candida spp, (ragi), merupakan bagian dari flora normal pada mulut, kulit, usus halus dan vagina. Kandidiasis dapat terjadi sebagai infeksi oportunistik jika mekanisme pertahanan tubuh terganggu. Obat-obat seperti anti biotic, kontrasepsi oral dan imonusupre dif, dapat juga mengubah mekanisme pertumbuhan tubuh. Infeksi jamur oportunistik dapat ringan (infeksi ragi pada vagina) atau berat (Infeksi Jamur Sistematik).

ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI SISTEMIK

AMFOTERISIN B

ASAL DAN KIMIA. Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi Streptomyces nodosus. Sembilan puluh delapan persen campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas antijamur. Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning jingga, tidak berbau dan tidak berasa ini merupa kan antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu diatas 37°C tetapi dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu 4°C. AKTIVITAS ANTIJAMUR Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Aktivitas anti jamur nyata pada pH 6,0-7,5: berkurang pada pH yang lebih rendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. Dengan kadar 0,3-1,0 µg/mL antibiotik ini dapat menchambat aktivitas Histoplasma capsulaium, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, dan beberapa spesies Candida, Tondopsis glabrata, Rhodotorula, Blastomyces dermatitidis, Paracoccidioides braziliensis, beberapa spesies Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum audiouini dan spesies Trichophyton. Secara in vitro bila rifampisin atau minosiklin diberikan bersama amfoterisin B terjadi sinergisme terhadap beberapa jamur tertentu. MEKANISME KERJA. Amfoterisin B berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. Bakteri, virus dan riketsia tidak dipengaruhi oleh antibiotik ini karena jasad renik ini tidak mempunyai gugus sterol pada membran selnya. Pengikatan kolesterol pada sel hewan dan manusia oleh antibiotic ini diduga merupakan salah satu penyebab efek toksiknya. Resistensi terhadap amfoterisin B ini mungkin disebabkan terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel.

In vitro pemberian flusitosin bersama amfoterisin B akan menghasilkan efek supraaditif terhadap C. Coccidioides immitis. tropicalis dan C. sedikit larut dalam air tapi mudah larut dalam alkohol. Spektrum antijamur flusitosin agak sempit. Infeksi saluran kemih bagian bawah oleh Candida yang sensitif dapat diobati dengan flusitosin saja karena kadar obat ini dalam urin sangat tinggi. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun nonsistemik efektif terhadap Candida. torulopsis dan aspergilosis. albicans yang sensitif. C. . Obat ini berbentuk kristal putih tidak berbau. B. Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik dengan struktur mirip mikonazol dan klotrimazol. Empat puluh sampai 50% Candida sudah resisten sejak semula pada kadar 100 µg/mL flusitosin. kandidiasis. AKTIVITAS ANTIJAMUR. Cryptococcus neoformans. capsulatum. MEKANISME KERJA. H. dermatitidis. Obat ini bersifat liofilik dan larut dalam air pada pH asam. dan mempunyai persamaan struktur dengan fluorourasil dan floksuridin. Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. AKTIVITAS ANTIJAMUR. IMIDAZOL DAN TRIAZOL KETOKONAZOL ASAL DAN KIMIA. Keadaan ini tidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubah menjadi fluorourasil. 5FC) merupakan antijamur sintetik yang berasal dari fluorinasi pirimidin. Obat ini efektif untuk pengobatan kriptokokosis. Cryptococcus dan Candida dapat menjadi resisten selama pengobatan dengan flusitosin. Flusitosin (5-fluorositosin. Aspergillus dan Sporothrix spp. kromomikosis. neofor mans.FLUSITOSIN ASAL DAN KIMIA.

Untuk pasien dengan berat badan kurang dari 40 kg diberikan dosis pemeliharaan 2 kali 100 mg sehari. Itrakonazol suspensi diberkan dalam keadaan lambung kosong dengan dosis dua kali 100 mg sehari. secepatnya harus dialihkan ke pemberian oral. seperti golongan azol lainnya. juga berinteraksi dengan enzim mikrosom hati. Farmakokinetik obat ini tidak linier akibat terjadinya saturasi metabolisme. Flukonazol berguna untuk mencegah relaps meningitis yang disebabkan oleh Cryptococcus pada pasien AIDS setelah pengobatan dengan amfoterisin B. Flukonazol tersebar rata ke dalam cairan tubuh juga dalam sputum dan Gangguan saluran cema merupakan efek samping yang paling banyak ditemukan. gangguan fungsi hati yang ter spmbunyi dan trombositopenia. Obat ini diserap sempuma melalul saluran cema tanpa dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman lambung. Pengobatan lalu dilanjutkan dengan pemberian oral 200 mg tiap 12 jam bagi pasien dengan berat badan > 40 kg. Itrakonazol IV diberikan untuk infeksi berat melalui infus dengan dosis muat dua kali 200 mg sehari. sindrome Stevens-Johnson. histoplasmosis. Rifampisin akan mengurarangi kadar plasmaitrakonazol. Itrakonazol diserap lebih sempuma melalui saluran cerna bila diberikan bersama makanan. Aktivitas antijamumya lebih lebar sedangkan efek samping yang ditimbul kan lebih kecil dibandingkan dengan ketokonazol. Dosis must oral irat juga diberikan hanya 2 kali dengan interval 12 jam. Kadar plasma setelah pemberian per oral sama dengan kadar plasma setelah pemberian IV. Obat ini juga mempunyai efektivitas yang baik terhadap Candida sp. Juga efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada pasien AIDS. Infus diberikan dalam waktu satu jam. Itrakonazol. VORIKONAZOL Obat ini adalah antijamur baru golongan triazol yang diindikasika. Dosis muat oral untuk pasien dengan berat badan > 40 kg ialah 400 mg dan untuk pasien yang berate nya < 40 kg diberikan 200 mg. Itrakonazol memberikan hasil mernuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis. koksidioidomikosis. . FLUKONAZOL Ini adalah suatu fluorinated bis-triazol dengan khasiat farmakologis yang baru. itrakonazol juga memberikan efek terapi terhadap aspergilosis di luar SSP. Lamanya pengobatan biasanya 2-4 mirggu. Cryptococcus sp dan Dermatophyte sp. Pada pasien AIDS ditemukan urtikaria. sariawan pada mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor.ITRAKONAZOL Antijamur sistemik turunan triazol ini erat hubungannya dengan ketokonazol. untuk aspergiiosis sistemik dan Infeksi jamur berat yang disebabkan olhe Scedosporium apiosperrnun dan Fusarium sp. diikuti satu kali 200 mg sehari selama 12 hari. Obat ini dapat diberikan per oral dan IV. dan sebaiknya dikumur dahulu sebelum ditelan untuk mengoptimalken efek topikalnya. tetapi tidak sebanyak ketokonazol. eosinofilia. Berbeda dari ketokonazol. termasuk untuk infeksi kandida yang resisten terhadap flukonazol. Pengobatan yang dimulai dengan pemberian IV ini.

Terbinafin dimetabolisme di hati menjadi metabolit yang tidak aktif dan diekskresikan di urin. TERBINAFIN ASAL DAN KIMIA. blastomikosis dan kriptokokosis pada paru yang sehat tidak membutuhkan pengobatan.3)-Dglukan. suatu komponen esensial yang membentuk dinding sel jamur. Kandidiasis orofarings 4. Waktu paruh awalnya adalah sekitar 12 jam dan berkisar antara 200 sampai 400 jam bila telah mencapai kadar mantap. Kandidiasis esofagus 3. koksidio idomikosis. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis.KASPOFUNGIN Kaspofungin adalah antijamur sistemik dari suatu kelas baru yang disebut ekinokandin. FARMAKOKINETIK. Dalam darah 97% obat terikat protein dan masa paruh eliminasinya 9-11 jam. Aspergilosis invasif yang sudah refrakter terhadap antijamur lainnya. Terbinafin tidak di indikasikan untuk pasien azotemia atau gagal hati karena dapat terjadi peningkatan kadar terbinafin yang sulit diperkirakan. 2. Namun. Keamanan obat ini belum diketahui pada wanita hamil dan anak berumur kurang dari 18 tahun. Ekskresinya melalui urin hanya sedikit sekali. pada pengobatan kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor. Kemoterapi baru dibutuhkan bila ditemukan pneumonia yang berat. Terbinafin diserap baik melalui saluran cerna.hari. Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis beta (1. Pasien AIDS atau pasien penyakit imunosupresi lain biasanya membutuhkan . PENGOBATAN INFEKSI JAMUR SISTEMIK Infeksi oleh jamur patogen yang terinhalasi dapat sembuh spontan. Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin. Kaspofungin diindikasikan untuk infeksi jamur sebagai berikut: 1. terbinafin biasanya dikombinasikan dengan golongan imidazol atau triazol karena penggunaannya sebagai monoterapi kurang efektif. Pengobatan umumnya diberikan selama 14. Kandidiasis invasif. tetapi bioavailabilitasnya menurun hingga 40% karena mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Histoplasmosis. kuku dan jaringan lemak. Obat ini terikat dengan protein plasma lebih dari 99% dan terakumulasi di kulit. atau bila disangsikan terjadi penyebaran atau adanya risiko penyakit akan menjadi lebih parah. termasuk kandidemia pada pasien neutropenia atau nonneutropenia. Obat ini dimetabolisme secara lambat dengan cara hidrolisis dan asetilasi. infeksi cenderung menjadi kronis. Obat in masih dapat ditemukan dalam plasma hingga 4-8 minggu setelah pengobatan yang lama. terutama onikomikosis.

HISTOPLASMOSIS. tulang dan jaringan lunak pada pasien dengan fungsi imunologik normal.tidak memberi respons yang memuaskan terhadap pengobatan dengan antijamur. dosis dapat ditingkatkan sampai dua kalinya. Hasil serupa juga dapat dicapai dengan pemberian itrakonazol 200-400 mg sekali sehari.3 mg/kg/13B. Kadangkala dibutuhkan tindakan operatif untuk mengalirkan nanah dari sekitar lesi.7 hari. . Obat terpilih untuk kasus ini adalah ketokonazol per oral 400 mg sehari selama 6 .kemoterapi untuk mengatasi pneumonia karena jamur atau oleh sebab lain. Di samping penyebarannya yang lebih baik ke dalam jaringan sakit.5 mgtkgBB/hari.4-0. Flukonazol banyak digunakan untuk terapi supresi pada pasien AIDS. Amfoterisin B dicadangkan untuk pasien yang tidak dapat menerima ketokonazol.5-1. Obat terpilih adalah amfoterisin B IV dengan dosis 0. pasien harus diobati dengan amfoterisin B IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lain. flusitosin diduga bekerja aditif terhadap amfoterisin sehingga dosis amfoterisin B dapat dikurangi dan dapat mengurangi terjadinya resistensi terhadap flusitosin.4 mg/kgBB/hari selama 10 minggu. yang membutuhkan tindakan reseksi. Untuk mencegah kekambuhan penyebaran histoplasmosis pada pasien AIDS yang sudah diobati dengan ketokonazol dapat ditambahkan pemberian amfoterisin B IV sekali seminggu. juga pada pasien dengan penyakit imunosupresi dan AIDS. amfoterisin B IV bermanfaat untuk penyakit berat ini. Ketokonazol diberikan untuk terapi supresi jangka panjang terhadap lesi kulit. infeksinya sangat progresif atau infeksi menyerang SSP. Kateterisasi ataupun manipulasi instrument lain dapat memperburuk kandidiasis. Obat pilihan adalah amfoterisin B IV dengan dosis 0. Bila invasi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup dengan amfoterisin B 50 µg/mL dalam air steril selama 5 . Pengobatan dilanjutkan sampai hasil pemeriksaan kultur negatif. KANDIDIASIS. diberikan selama 10 minggu. Penambahan flusitosin dapat mengurangi pemakaian amfoterisin B menjadi 0. KRIPTOKOKOSIS. Amfoterisin B IV juga dapat. ASPERGILOSIS. BLASTOMIKOSIS.12 bulan. Invasi aspergilosis paru sering terjadi pada pasien penyakit imunosupresi yang berat dan.400 mg sekali sehari pada beberapa kasus. Bila ada kelainan parenkim ginjal. Untuk meningitis yang disebabkan oleh Coccidioides obat terpilih ialah amfoterisin B yang diberikan secara intratekal. Bila terdapat penyebaran ekstrapulmonar. Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk mukormikosis paru kronis. dosis obat dapat ditingkatkan.0 mg/kgBB setiap hari dalam infus lambat. KOKSIDIOIDOMIKOSIS. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari juga cukup efektif. Dosis yang dianjurkan 0. Bila penyakit progresif. Itrakonazol juga efektif dengan dosis 200 . Ditemukannya kavitas tunggal di paru atau adanya infiltrasi fibrokavitas yang tidak responsif terkadap kemoterapi merupakan ciri yang khas dari penyakit kronis koksidioidomikosis. Pasien dengan histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan r ketokonazol 400 mg per hari selama 6-12 bulan. Mukormikosis kraniofasial juga diberikan amfoterisin B IV di samping melakukan debridement dan kontrol diabetes melitus yang sering menyertainya. Untuk infeksi berat. MUKORMIKOSIS.

tidak bewama dan tidak berbau. Pada tahun 1946. mempunyai spektrum antijamur yang lebar terhadap jamur dermatofit. Ketokonazol 400 mg per hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama 6-12 bulan. IMIDAZOL DAN TRIAZOL Antijamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selarna 5 hari. Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda. tetapi dari jamur kandida paling sering terjadi. Keringat dan hilangnya cairan transepidermal memegang peranan penting dalam penyebaran obat ini pada stratum korneum kadar yang ditemukan dalam cairan dan jaringan tubuh lainnya kecil sekali. Griseofulvin diisolasi dari Penicillium griseovulyum dierckx. Griseofulvin in vitro efektif terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti Trichophyton. menemukan bahan yang menyebabkan susut dan mengecilnya hifa yang disebut sebagai curling factor kemudian temyata diketahui bahwa bahan yang mereka isolasi dari Penicillin janczewski adalah griseofulvin. jamur lain dan ragi. ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI DERMATOFIT DAN MUKOKUTAN GRISEOFULVIN ASAL DAN KIMIA. MIKONAZOL ASAL DAN KIMIA. Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam. Actinomyces dan Nocardia. AKTIVITAS ANTIJAMUR. Brian dkk. Ketokonazol yang juga termasuk golongan imidazol telah dibahas pada pembicaraan mengenai antijamur untuk infeksi sistemik. . sebagian kecil larut dalam air tapi lebih larut dalam pelarut organic. Epidermophyton dan Microsporum. Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin. terikat kuat dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan jamur. Antibiotik ini dapat ditemukan dalam lapisan tanduk 4-8 jam setelah pemberian per oral. Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil. Obat ini berbentuk kristal putih. Obat ini akan dihimpun dalam sel pembentuk keratin. Resistensi terhadap imidazol dan triazol sangat jarang terjadi dari jamur penyebab dermatofitosis. maka hanya mikonazol dan klotrimazol yang akan dibahas. Terhadap sel muda yang sedang berkembang griseofulvin bersifat fungisidal. Kulit yang sakit mem punyai afinitas yang tinggi terhadap obat ini. Pada keadaan yang berat dapat ditambahkan amfoterisin B. Keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel yang normal. Obat ini tidak efektif terhadap bakteri. lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi.PARAKOKSIDIOIDOMIKOSIS. juga itrakonazol (golongan triazol).

Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4 hari. Namun karena spektrumnya yang sempit. sukar larut dalam kloroform dan eter. Obat yang berupa bubuk wama kuning kemerahan ini bersifat higroskopis.AKTIVITAS ANTIJAMUR. canis dan untuk tinea versikolor. Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja mirip mikonazol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis . sedikit larut dalam eter. TOLSIKLAT. floccosum dan M. Tolnaftat adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk pengobatan sebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida. kulit maupun vagina. Mikonazol menghambat aktivitas jamur Trichophyton. mentagrophytes. AKTIVITAS ANTIJAMUR. Mikonazol in vitro efektif terhadap beberapa kuman Gram positif. antijamur ini tidak banyak digunakan lagi. KLOTRIMAZOL Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwama yang praktis tidak larut dalam air. Tolsiklat merupakan antijamur topikal yang diturunkan dan tiokarbamat. Candida dan Malassezia furfur. rubrum. kruris dan korporis yang disebabkan oleh T. Nistatin merupakan suatu antibiotik polien yang dihasilkan oleh Streptomyces noursei. nistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik. NISTATIN ASAL DAN KIMIA. Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya. Nistatin tidak diserap melalui saluran cema. Mungkin pula terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menyebabkan kerusakan. Larutannya mudah terurai dalam air atau plasma. Microsporum. Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap bakteri. Sekalipun nistatin mempunyai struktur kimia dan mekanisme kerja mirip dengan amfoterisin B. T. Epidermophyton. Juga untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis yang disebabkan oleh C. protozoa dan virus. tinea versikolor dan kandidiasis mukokutan. telapak dan kuku sebaiknya dipakai griseofulvin. . E. TOLNAFTAT DAN TOLSIKLAT TOLNAFTAT. larut dalam alkohol dan kloroform. berbau khas. Untuk dermatofitosis sedang atau berat yang mengenai kulit kepala. Mikonazol masuk ke dalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel me ningkat. Mikonazol topikal diindikasikan untuk dermatofitosis. albicans.

tropicalis. Obat ini dapat menghambat pertumbuhan jamur pada tinea pedis. vesikel. meluasnya maserasi dan sensitisasi. Dalam hal ini seng berperan untuk menekan luasnya peradangan. ASAM UNDESILENAT Asam undesilenat merupakan cairan kuning dengan bau khas yang tajam. Dosis biasa dari asam ini hanya menimbulkan efek fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan pemakaian yang lama dapat memberikan efek fungisidal. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotik ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil. Sensitisasi mungkin merupakan pertanda cepatnya respons pengobatan sebab toksin yang dilepaskan kadang-kadang memperburuk lesi. stellatiodes mulai resisten. Aktivitas antijamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran sel jamur atau ragi terutama sekali ergosterol. Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. tetapi efektivitasnya tidak sebaik mikonazol. Reaksi iritatif dapat terjadi walaupun jarang. guillermondi dan C. Haloprogin sedikit sekali diserap melalui kulit. Trichophyton. bahkan sekaligus menjadi tidak sensitif terhadap amfoterisin B. C. TERBINAFIN Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin. Penggunaan kliniknya ialah untuk dermatofitosis. Selama pemakaian obat ini dapat timbul iritasi lokal. rasa terbakar. Di samping itu obat ini juga digunakan untuk tinea versikolor. Miciosporum dan Malassezia furfur . ANTIJAMUR TOPIKAL LAINNYA ASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingannya 2 : 1 (biasanya 6% dan 3%) ini dikenal sebagai salep Whitfield. haloprogin atau tolnaftat. Obat ini bersifat fungisidal terhadap Epidermophyton. Obat ini . Karena asam benzoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya. sukar larut dalam air tetapi larut dalam alkohol. Siklopiroks olamin tersedia dalam bentuk krim 1% yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari. sehingga pemakaian obat ini membutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. Candida albicans hampir tidak memperlihatkan resistensti terhadap nistatin. Dapat terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian. kandidiasis dan tinea versikolor.. namun resistensi ini biasanya tidak terjadi in vivo. HALOPROGIN Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik. berbentuk kristal putih kekuningan. SIKLOPIROKS OLAMIN Obat ini merupakan antijamur topikal berspektrum luas. Salep ini banyak digunakan untuk pengobatan tinea pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. tetapi C. daiam tubuh akan terurai menjadi triklorofenol. juga ada keluhan kurang menyenangkan dari para pemakainya karena salep ini berlemak. Asam benzoat memberikan efek fungistatik sedangkan asam Salisilat memberikan efek keratolitik.MEKANISME KERJA.

Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat tersebut pada kulit yang terkelupas dapat menimbulkan rasa terbakar. Misalnya betadine yang dicampur dengan solusi alkohol. Harus dibedakan antara antiseptik dengan antibiotik yang berperan untuk membunuh kuman di dalam tubuh dan desinfektan. Rivanol juga tidak dapat digunakan untuk mengatasi virus. dengan konsentrasi optimum 70%. POVIDON IODIN Merupakan kelompok obat antiseptik yang dikenal dengan iodophore. Rivanol lebih bagus untuk mengompres luka atau mengompres bisul. jamur. Senyawa itu digunakan pada jaringan hidup atau kulit untuk mengurangi kemungkinan infeksi atau berkembangnya kuman. Salah satu penggunaannya adalah untuk melakukan rendam duduk pada penderita bisul yang berada di dekat anus. Terbinafin topikal tersedia dalam bentuk krim 1 % dan gel 1%. Sifatnya tidak terlalu menimbulkan iritasi dibandingkan dengan povidon iodin. atau spora bakteri. sebaiknya bersihkan dulu dengan air mengalir. jamur. Kulit manusia biasanya tidak terpengaruh oleh alkohol. dengan menggunakan kassa tutup luka tersebut. sehingga relatif aman untuk kulit. sehingga kuman mati. Dengan demikian tidak efektif untuk mengatasi infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman tuberkolusis. dan pemilihan penggunaan antiseptik adalah dengan povidon iodin. namun tidak dapat digunakan untuk mengatasi kuman jenis tuberkolusis.digunakan untuk terapi dermatofitosis. bukan melarutkan. ada juga yang hanya menghambat pertumbuhan bakteri. sehingga kulit tidak mengalami penggumpalan protein. Keuntungan lain alkohol adalah kemampuannya dalam mematikan kuman dengan cara meracuni. Biasanya lebih efektif pada kuman gram positif daripada gram negatif. karena dosis rendahnya saja dapat mengakibatkan masalah penglihatan dan gangguan saraf. Terdapat berbagai bentuk sediaan betadine. Jangan salah menggunakan jenis metil alkohol atau dikenal dengan metanol. Jenis alkohol yang digunakan biasanya adalah jenis etil alkohol atau etanol. antiseptik yang dapat berperan dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman seperti bakteri. sedangkan povidon iodin lebih bagus untuk mencegah infeksi. RIVANOL Adalah zat kimia (etakridinlaktat) yang mempunyai sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman). termasuk bakteri. protozoa. Alkohol jenis itu biasanya digunakan dalam industri dan tidak boleh digunakan sebagai antiseptik. biasanya digunakan untuk pembersih kulit . Zat kimia itu bekerja secara perlahan mengeluarkan iodine. virus. dan protozoa. Beberapa jenis antibiotik ada yang berperan membunuh bakteri. struktur penting sel yang ada pada kuman. Rivanol digunakan bila luka tidak terlalu kotor. namun setidaknya alkohol dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan kuman. dan juga digunakan secara topikal untuk dermatofitosis. yaitu senyawa yang membunuh kuman dari benda mati. OBAT ANTISEPTIK Antiseptik berasl dari bahasa Yunani yang secara singkat berarti kuman. virus. terutama onikomikosis. biasanya orang mengenalnya sebagai betadine.1% berperan dalam membunuh bakteri. Tidak semua kuman mati dengan pemberian alkohol. Terbinafin topikal digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu. Alkohol berperan dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakkan banyak jenis mikroorganisme. sehingga sebaiknya dihindari. Serbuk rivanol berwarna kuning dengan konsentrasi sekitar 0. Jika luka sangat kotor. Bekerja dengan cara menggumpalkan protein. ALKOHOL Merupakan jenis antiseptik yang cukup poten. Antiseptik tersebut sering digunakan untuk membersihkan luka. Kegunaan antiseptik itu untuk membersihkan luka borok dan bernanah.

HIDROGEN PEROKSIDA Digunakan dalam kadar 6% untuk membersihkan luka. sebaiknya menghindari penggunaan obat tersebut. Biasanya digunakan untuk mengatasi jenis kuman anaerob atau yang tidak membutuhkan oksigen. Jika masih ada yang menggunakan obat itu sebaiknya segera dihentikan. Karena mengandung merkuri. dapat menimbulkan jaringan parut setelah luka sembuh. Sedangkan sediaannya dalam bentuk salep mata juga mengandung 0. karena jenis kuman yang dapat diatasi variasiny lebih banyak. Efek samping penggunaan hidrogen peroksida. selain itu juga berguna untuk mencuci luka.3 % zat aktif. Senyawa itu merangsang kulit dan sering menimbulkan alergi. Dalam kadar 1-2% biasanya digunakan untuk keperluan membersihkan luka yang sering terjadi di rumah. Sublimat berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Tanda alergi di antaranya kulit menjadi merah. Antiseptik jenis ini memiliki keunggulan dengan antiseptik jenis lain. Sedangakan pada kondisi teradapat darah atau nanah. Selain itu bisa memperpanjang masa penyembuhan. Merkurokrom (obat merah) dahulu sering digunakan. TOBRAMYCIN Tersedia dalam bentuk sediaan tetes mata dengan kandungan zat aktif (Tobramisin) 3 mg/mL atau 0. Hal tersebut yang harus diperhatikan. Betadine tidak boleh digunakan jika terbukti alergi terhadap yodium. Yodium yang terserap. bengkak. Di luar negeri obat merah sudah dilarang karena mengandung merkuri dan berbahaya untuk tubuh. Padahal kadar tersebut diperlukan untuk menentukan terapi yang diberikan. Karena merkuri diyakini dapat mengakibatkan berbagai jenis efek samping yang serius. betadine masih memiliki efek jika warnanya masih tampak. artinya pembersihan luka menggunakan betadine harus diulang kembali. Selain itu manfaatnya dalam menghambat perkembangan bakteri juga lemah. ANTISEPTIK YANG MENGANDUNG MERKURI Di antaranya adalah sublimat dan merkurokrom (obat merah). atau terasa gatal. Sehingga jika luka diberikan betadine. Hidrogen peroksida sebaiknya digunakan dengan air mengalir dan sabun untuk menghindari paparan berlebihan pada jaringan manusia. dan jaringan yang mati. Seseorang yang sedang mengalami masalah dengan kelenjat tiroid dan perlu melakukan pemeriksaan kadar yodium dalam tubuh sebaiknya menghindari penggunaan betadine. dan masih muncul nanh. kemungkinan dapat mengaburkan kadar pasti yodium di dalam tubuh.sebelum tindakan operasi. Misalnya terkena pisau.3%. karena dapat mempercepat keringnya luka. Penggunaan yang sering dan terus-menerus harus dihindari jika pada saat yang bersamaan penderita juga mengkonsumsi obat lithium (biasanya mereka yang mengalami gangguan jiwa). atau luka lainnya. .

Charcot) R/ KBr NaBr NH4Br Aq.sol S u e Obat cuci mata 3 100 Mixtura Brometorum (Sol.mixt 305 4 4 2 50 Lotio Kummerfeldi R/ Camphora Sulfur Praecipitatum 3 20 . Aq.Dest.ad Mf.PENULISAN RESEP STANDAR Penulisan resep suspensi dan mixtura agitanda : Sol. Acidi Borici (Boorwater) R/ Ac.p Aq.m.f. ad m.boric.comm.

Simplex m.1 15 0.l.5 14 Penulisan resep obat saturasi dan naturalisasi : Potio Riveri .Hydrastis Calcici Aqua Rosarum Mf.s 100 R/ Ol. emuls ad 10 0. Cinnamomi PGA Hypofosfit Na Hypofosfit Ca Aqua m.A.4 10 125 R/ Ol.a emuls S loco Scott Emulsion 40 0.a emuls S laxans 30 q. Lotio kumerfeldi S ue 10 134 133 Penulisan resep emulsi : R/ Ol.Chlor metil cellulosa Sol.f. Jecoris Aselli Ol. f.a.5 0. Olivarum Camphorae Sir. Ricini G.f.l.l.

5 q. Citric Spir. Citri Sir.5 qs 10 50 mg 100 mg 100 Penulisan resep infus : R/ Fol. X No. saturatio S.f. I b.f.s 300 Penulisan resep guttae : a. Na m. haust 5 5 25 6 R/ Ac. Natr Sir.efferv 2.pot. Tartrat Bic. Simplex HCL Morfin Extr Opii Aq. Ad m. Sebagai obat dalam : R/ selvigon drops fl S 3 dd gtt. Simplex Bic.I . Orthosiphon Aqua m. sebagai obat luar : R/ Garasone eye drops fl No.f infusa 1.R/ Ac.

Ad 50 mg 1 ml Penulisan resep cream : R/ Daktarin cream 2% 10 gr tube I S ue R/ Gyno-Daktarin Cream 2 % 40 g tube I S 1 dd I applic Penulisan resep bubuk : R/ Sacch.o. X S 3 dd pulv I Ferri redcti qs 0.lact Mf pulv dtd no.b.1 mg .S.h gtt I \OD Penulisan resep injeksi : R/ Ephedrine HCl 5 % Aqua pro inj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful