P. 1
LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA

|Views: 173|Likes:
Published by dsuliz
LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA
LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: dsuliz on Mar 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTURE CLAVICULA LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pendahuluan Tulang merupakan alat penopang dan sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa tulang tubuh tidak akan tegak berdiri. Fungsi tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal maupun aspek fisiologikal. Dari aspek mekanikal, tulang membina rangka tubuh badan dan memberikan sokongan yang kokoh terhadap tubuh. Sedangkan dari dari aspek fisiologikal tulang melindungi organorgan dalam seperti jantung, paru-paru dan lainnya. Tulang juga menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai tempat penyimpanan kalsium, fosfat, dan garam magnesium. Namun karena tulang bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah, sehingga menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan. Patah tulang atau fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan. Peristiwa ini dapat terjadi karena : 1. Peristiwa trauma tunggal. Patah tulang pada peristiwa ini biasanya dikarenakan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan dapat berupa pemukulan, penekukan, pemuntiran ataupun penarikan. 2. Tekanan yang berulang-ulang. Tekanan yang berulang-ulang dapat menimbulkan keretakan. Sebagai contoh seorang pelari yang menempuh jarak jauh dapat mengalami retak tulang pada daerah tibia, fibula maupun metatarsal.

misalnya tumor. Pada anak-anak sekitar 10–16 % dari semua kejadian patah tulang. Pada peristiwa ini tulang mengalami patah oleh tekanan yang normal dikarenakan tulang tersebut lemah atau rapuh. Etiologi Faktur Klavikula Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar (outstreched hand) dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan sampai klavikula. Data ini dikemukankan oleh Nowak et a. Kasus patah tulang klavikula termasuk kasus yang paling sering dijumpai.3. Patofisiologi Klavikula adalah tulang pertama yang mengalami proses pengerasan selama perkembangan embrio minggu ke-5 dan 6. . Patah tulang klavikula karena jatuh dengan posisi lengan tertarik keluar (outstreched hand) hanya 6% terjadi pada kasus.6–5 %. Pada bagian proksimal tulang clavikula bergabung dengan sternum disebut sebagai sambungan sternoclavicular (SC). Kasus patah tulang ini ditemukan sekitar 70% adalah hasil dari trauma dari kecelakaan lalu lintas. sedangkan pada orang dewasa sekitar 2. B.l Nordqvist dan Peterson. dan ke belakang thorax. Fraktur patologik. ke luar. sedangkan yang lainnya karena trauma bahu. tulang humerus bagian proksimal dan tulang skapula bersama-sama membentuk bahu. Tulang klavikula. Pada bagian distal klavikula bergabung dengan acromion dari skapula membentuk sambungan acromioclavicular (AC). Banyak sekali kasus patah tulang yang terjadi dan berbeda-beda pada daerah patah tulang tersebut. Pada kasus ini akan dibahas mengenai patah tulang bagian klavikula . Bisa disebabkan oleh penyakit tertentu. C. namun baru-baru ini telah diungkapkan bahwa sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang klavikula adalah hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras. Tulang klavikula juga membentuk hubungan antara anggota badan atas dan Thorax. Tulang ini membantu mengangkat bahu ke atas.

Patah tulang klavikula terjadi akibat dari tekanan yang kuat atau hantaman yang keras ke bahu. Karena posisinya yang teletak dibawah kulit maka tulang ini sangat rawan sekali untuk patah. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar. kulit masih utuh. yang membagi patah tulang klavikula menjadi 3 kelompok. tulang tidak menonjol malalui kulit. . Energi tinggi yang menekan bahu ataupun pukulan langsung pada tulang akan menyebabkan fraktur. Klasifikasi Klasifikasi patah tulang secara umum adalah : 1. Fraktur tidak lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang. karena adanya hubungan dengan lingkungan luar. 2. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi. D.Patah tulang klavikula pada umumnya mudah untuk dikenali dikarenakan tulang klavikula adalah tulang yang terletak dibawak kulit (subcutaneus) dan tempatnya relatif di depan. Fraktur lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain. meliputi: 1. sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh). maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. 2. FL Allman tahun 1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968. Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr.

1. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%) Pada kejadian ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler. a. Dapat juga terlihat kulit yang menonjol akibat desakan dari fragmen patah tulang. Tipe 4. Tipe 2 A. dan ligament coracoclavicular masih melekat pada fragmen. Terjadi ganguan ligament. e. Tipe 2 B. Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yang melibatkan AC joint. Pembengkakan lokal akan terlihat disertai perubahan warna lokal pada kulit sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur. a. b. conoid dan trapezoid). Pasien merasakan rasa sakit bahu dan diperparah dengan setiap gerakan lengan. sedangkan fragmen proksimal berpindah keatas. E. . b. 3. Tipe 3. Tipe 5. Gambaran Klinis Gambaran klinis pada patah tulang klavikula biasanya penderita datang dengan keluhan jatuh atau trauma. Salah satunya terkoyak ataupun kedua-duanya. Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%). Umumnya terjadi pada pasien yang muda. Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen. Pada pemeriksaan fisik pasien akan terasa nyeri tekan pada daerah fraktur dan kadang-kadang terdengar krepitasi pada setiap gerakan. Ligament tetap utuk melekat pata perioteum. Tipe 1. Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular. Pada daerah ini tulang lemah dan tipis. Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni (yakni. f. Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang. c. 2. d. Kelompok 1: patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula (insidensi kejadian 7580%).

Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi. menarik bahu ke belakang. yang harus ditangani dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna. hilangnya fungsi. Tanda klinis penyatuan tulang adalah berkurangnya rasa sakit atau . Perawatan nonoperative dengan cara mengurangi gerakan di daerah patah tulang. akan terjadi pergeseran. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus dipantau. Bila fraktur 1/3 distal disertai dengan terputusnya ligamen korakoklavikular. ketiak harus diberi bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus brakhialis dan arteri aksilaris. F. tetapi akan lebih baik dilakukan pada saat proses penyatuan tulang yang biasanya dapat dilihat pada minggu ke 4 sampai minggu ke 6 (pada saat fase remodeling pada proses penyembuhan tulang). luas dan jenis fraktur. Selama imobilisasi pasien diperkenankan melakukan latihan gerakan tapi harus menghindari aktivitas yang berat. CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak. Bila dipergunakan strap klavikula. dan sisa kelainan bentuk. Tujuan penanganan adalah menjaga bahu tetap dalam posisi normalnya dengan cara reduksi tertutup dan imobilisasi.Untuk memperjelas dan menegakkan diagnosis pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah : a. b. Tindak lanjut perawatan dilakukan dengan pemantauan yang dijadwalkan 1 hingga 2 minggu setelah cedera untuk menilai gejala klinis dan kemudian setiap 2 hingga 3 minggu sampai pasien tanpa gejala klinis. Pemeriksaan foto rontgen tidak perlu selama proses perawatan. Modifikasi spika bahu (gips klavikula) atau balutan berbentuk angka delapan atau strap klavikula dapat digunakan untuk mereduksi fraktur ini. Fraktur 1/3 distal klavikula tanpa pergeseran dan terpotongnya ligamen dapat ditangani dengan sling dan pembatasan gerakan lengan. Scan tulang. dan mempertahankan dalam posisi ini. Kebanyakan patah tulang klavikula telah berhasil ditangani dengan metode tanpa operasi. Penanganan Pada prinsipnya penangan patah tulang klavikula adalah untuk mencapai penyembuhan tulang dengan minimum tingkat morbiditas.

Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya. dapat melakukan gerakan bahu secara penuh. namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal. dan kekuatan kembali normal. Pneumouthorax c. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan . Cedera pembuluh darah b. Rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion). Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih. b. Tidakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal berikut : a. Haemothorax Komplikasi lambat : a. e. Komplikasi Komplikasi akut: a. d. Pemberian obat pada kasus patah tulang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri. Fraktur comminuted. Masalah kosmetik. Terdapat cedera neurovaskuler. G. Prognosis Patah tulang akan sembuh dengan baik jika dilakukan tindakan operative. f. karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya (malunion).rasa sakit hilang. c. G. Obatobat yang dapat digunakan adalah obat kategori analgesik antiinflamasi seperti acetaminophen dan codeine dapat juga obat golongan NSAIDs seperti ibuprofen. b. Fraktur terbuka.

klien dapat istirahat dan tidur d. tekanan dan disuse 3. jam tingkat kenyamanan klien meningkat. frekuensi. Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan. karakteristik. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul: 1. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma.H. prosedur invasive 5. . Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3 b. 4. imunitas tubuh primer menurun. b. RENPRA FRAKTUR 1. terbatasnya kognitif I. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang 6. Nyeri akut b/d agen injuri fisik. c. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur) 2. Ekspresi wajah tenang c. fraktur Setelah dilakukan Asuhan keperawatan …. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap informasi. tingkat nyeri terkontrol dg KH: a. v/s dbn Manajemen nyeri : a. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas. kualitas dan faktor presipitasi. Kaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. durasi.

j. Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan. Tentukan analgetik pilihan. Menilai integritas kulit pasien. h. jenis.d. Berikan posisi yang aman untuk pasien dengan meningkatkan obsevasi pasien. Monitor TV e. Evaluasi efektifitas analgetik. Cek program pemberian analgetik. a. f. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis). Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri. dan frekuensi. f. Administrasi analgetik :. dosis. 2. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi. pencahayaan. rute pemberian dan dosis optimal. c. Resiko terhadap cidera b/d kerusakan neuromuskuler. d. . tekanan dan disuse Setelah dilakukan askep … jam terjadi peningkatan Status keselamatan Injuri fisik Dg KH : a. b. distraksi dll) untuk mengetasi nyeri. beri pengaman tempat tidur b. Bebas dari cidera b. e. g. Menilai ROM pasien d.. Periksa sirkulasi periper dan status neurologi c. Pencegahan Cidera Memberikan posisi yang nyaman untuk Klien: a. i. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil. tanda dan gejala efek samping. kebisingan. Kurangi faktor presipitasi nyeri. Cek riwayat alergi.

melakukan aktivitas sehari-hari. berpakaian. b. AL normal c. toileting dan makan c. Kebersihan diri pasien terpenuhi Bantuan perawatan diri a. Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin 4.e. Tdk ada tanda-tanda infeksi b. fraktur Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam tidak terdapat faktor risiko infeksi dan infeksi terdeteksi dg KH: a. Beri bantuan sampai pasien mempunyai kemapuan untuk merawat diri d. Monitor kebutuhan akan personal hygiene. fraktur Setelah dilakukan akep … jam kebutuhan ADLs terpenuhi dg KH: a. Libatkan banyak orang dalam memidahkan pasien. Risiko infeksi b/d imunitas tubuh primer menurun. e. . Batasi pengunjung bila perlu. Sindrom defisit self care b/d kelemahan. Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan sesudahnya. Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya f. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. prosedur invasive. V/S dbn Konrol infeksi : a. Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri b. Pasien dapat b. c. atur posisi 3. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. c.

Dorong istirahat yang cukup. Inspeksi kondisi luka. Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan. k. berikan antibiotik sesuai program. Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat. Jelaskan tanda gejala infeksi dan anjurkan u/ segera lapor petugas l. f. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Monitor kerentanan terhadap infeksi. f. Peningkatan aktivitas fisik Terapi ambulasi a. Monitor V/S Proteksi terhadap infeksi a. g. i. Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung. dresing infus dan dan kateter setiap hari. drainase. d. insisi bedah. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang Setelah dilakukan askep … jam terjadi peningkatan Ambulasi :Tingkat mobilisasi. dainage. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan ambulasi b.d. Monitor hitung granulosit dan WBC. Lakukan perawatan luka. e. Dorong peningkatan mobilitas dan latihan sesuai indikasi 5. panas. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. Kolaborasi dg fisioterapi untuk perencanaan ambulasi c. e. h. c. Ambil kultur. Tingkatkan intake nutrisi dan cairan j. b. i.. dan laporkan bila hasil positip jika perlu h. Perawtan diri Dg KH : a. Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. g. Latih pasien ROM pasif-aktif sesuai kemampuan . Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.

d. Berikan reinforcement positip atas usaha yang dilakukan pasien. b. Diskusikan pilihan terapi f. e. keterbatan kognitif Setelah dilakukan askep …. Evaluasi pasien dalam kemampuan ambulasi Pendidikan kesehatan a. Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan. 6. Berikan penjelasan tentang pentingnya ambulasi dini g. tanda gejala serta komplikasi yang mungkin terjadi c. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap informasi. Kaji pengetahuan klien. Jelaskan proses terjadinya penyakit. Klien kooperatif saat dilakukan tindakan Pendidikan kesehatan : proses penyakit a.d. Klien dapat mengungkapkan kembali yg dijelaskan. Edukasi pada pasien dan keluarga tahap ambulasi c. jelaskan komplikasi kronik yang mungkin akan muncul . Ajarkan pasien berpindah tempat secara bertahap e. Jam pengetahuan klien meningkat dg KH: a. Edukasi pada pasien dan keluarga pentingnya ambulasi dini b. b. Berikan informasi pada keluarga tentang perkembangan klien.

Jakarta.htm Clavicle Fractures. 2006.HTM Jeffrey A. http://www. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Applay Edisi 7. Jakarta. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Clavicle Injuries.com/sports/TOPIC25. http://www. 2008. Jakarta. John E. Anatomi Klinik Edisi 6. Kevin J Eerkes. Snell. Kuhn. Richard S. .com/issues/2003/1203/housner.Daftar Pustaka A Graham Appley.physsportsmed.htm. 1995. Yarsif Watampone. 2003. Widya Medika. Clavicle Fractures. Chairuddin Rasjad.emedicine. http://www. 2007. 2006. Housner.emedicine.com/orthoped/topic50. L Joseph Rubino. EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->