Skenario Biostatistik Epidemiologi 1

Di pagi tanggal 1 november, 1979, selama perjalanan haji ke makkah, Tim investigasi ditugaskan untuk menyelidiki kasus sakit perut dan diare yang dialami misi Kuwaiti medical di holy masjid sebelum mengelilingi KA’bah. Dia telah mempelajari bahwa kejadian yang sama telah berkembang ke anggota misi. Pada malam ke mina diia berinisiatif untuk melakukan penyelidikan. Tim investigasi telah menginterviu beberapa anggota misi yang sakit untuk mengettahui karakteritik yang sakit. Berdasarkan interviu ini, Tim secara cepat menyiapkan sebuah kuisioner dan mengadakan interviu dengan 112 anggota misi. Total dari 66 kasus yang sakit tadi diidentifikasi, 2 telah sakit di Kuwait sebelum dimulai perjalanan haji dan 64 telah mengalami sakit sejak sore 31 Oktober. Deskripsi perjalanan haji Misi Kuuwait medical, terdiri dari 112 anggota, menempuh perjalanan dengan bus dari Kuwait ke Mekkah. Pada 30 Oktober semua anggota misi telah menginap di Mina. Pada waktu matahari terbit 31 Oktober mereka telah berangkat ke Arafah, dimana pada pukul 8.00 a.m. mereka telah minum the dengan atau tanpa susu untuk minum pagi. Susu tadi telah disiapkan segera sebelum dikonsumsi dengan mencampur bubuk susu dengan air panas. Sisa hari mereka tadi telah digunakan untuk melaksanakan ibadah. Pada jam 2.00 p.m., makan siang disajikan untuk semua anggota misi yang ingin makan. Makanan khas Kuwait terdiri dari tiga jenis: nasi, daging, dan saus tomat. Sebagian besar anggota misi mengkonsumsi semua jenis makanan tadi. Makan siang telah disiapkan di Mina pada 30 Oktober dan diantar ke Arafah oleh truk pagi 31Oktober. Pada waktu matahari terbit 31 Oktober misi kembali ke Mina. Deskripsi klinis Investigator mengidentifikasi total 66 kasus GE. Onset kasus tadi akut, ditandai kebanyakan oleh diare dan nyeri perut. Nausea, vomitus, dan darah dalam tinja terjadi tidak sering. Tidak ada kasus pasien yang dilaporakan dengan demam. Semua pulih dalam 12-24 jam. Kira-kira 20% telah meminta pertolongan klinis. Invertigator tidak memperoleh specimen tinja untuk pemeriksaan. Investigator menemukan bahwa 64 kasus mulai sakit selama perjalanan haji, semua yang telah makan siang di Arafah pada pukul 2.00 p.m. pada 31 Oktober. 15 anggota misi tidan makan siang: tidak ada yang sakit.

Pada table 1 informasi yang telah dikumpulkanm oleh investigator. Dua anggota yang sakit sebelum 31 Oktober telah dikeluarkan. 15 anggota yang tidak makan tidak termasuuk dalam table tersebut. Makan siang yang tadi disajikan di Arafah pada pukul 2.00 p.m. pada 31 Oktober disiapkan pada pukul 10.00 p.m. malam sebelum ke Mina. Makanan itu terdiri dari nasi yang dimasak, sebongkah danging yang digoreng dengan minyak, dan saus tomat yang telah disiapkan dari tomat segar yang diiris. Nasi yang telah dimasak tadi ditempatkan di dalam dua pot besar dan daging dibagi diletakkan di atas pot. Saus tomat disimpan dalam pot ketiga. Pot dilapisi dengan tutup logam dan ditempatkan didalam tempat terbuka diantara beberapa batu dekat dapur sepanjang malam. Mereka beranggapan tidak ada yang akan menjamah selama waktu itu. Pagi-pagi tanggal 31 Oktober, pot-pot diantar ke Mina ke Arfah dimana makanan itu berada dalam truk sampai jam 2.00 p.m. temperature di Arafah paad waktu siang hari itu 35 derajat C. Makanan tidak didinginkan dari persiapan sampai waktu dikonsumsi. Juru masak dan orang lain yang menolong mempersiapkan makan tadi secara intensif diinterviu berkaitan dengan setiap kesakitan tadi sebelum atau pada waktu persiapan. Semua orang yang diinterviu menyangkai ada yang sakit dan telah mengetahiu tidak ada yang sakit diantara semua anggota yang menyiapkan makanan. Tidak ada specimen diperoleh untuk dari juru masak untuk pemeriksaan laboratorium. Anda sebagai dokter dalam Tim tsb, diminta untuk melakukan investigasi kasus ini. Table 1 Selected characteristics of Kuwait medical mission members who are ate lunch at Arafat, Saudi Arabia , October 31, 1979 Id # 3 1 7 7 8 1 8 6 1 5 1 Se Age x 36 28 33 29 38 48 M M M M M M Onset of Illness Date Hour Oct,31 5 p.m. Oct,31 5 p.m. Oct,31 10 p.m. Oct,31 10 p.m. Oct,31 10 p.m. Oct,31 10 p.m. Foods Sign/Symptom* Rice Meat TS* D C BS N x x x x x x x x x x x x x x D D D D D D C C C C BS C N BS V F

31 10 p.m Oct.31 11 p.m. 2 a.1 Nov.1 1 a.m. 3 a.m. 3 a.1 Nov.31 12 p.m.m Oct.1 Nov.m.m. 3 a.1 Nov.7 1 8 3 5 8 8 7 6 7 1 1 2 7 2 8 2 9 3 0 5 0 5 9 6 7 7 2 7 3 6 0 6 1 5 1 5 2 5 8 2 2 2 5 3 35 30 27 29 50 39 36 44 48 35 29 51 40 58 28 31 38 32 37 30 35 30 50 M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M Oct.m.m. 3 a.1 Nov.31 11 p. 3 a. x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x D D D D D D D D D D D D D C C C C C C C C C C C BS N BS V x x x x x D D D D D D C C C BS C V x x x x D D D D C C C C .m. 3 a.m.1 Nov. 2 a.m.31 11 p.m.1 1 a.1 Nov. Oct. 1 a.m.m. 3 a.1 Nov. 3 a. Nov.m.1 Nov.m.m. 3 a.1 Nov. 2 a. Nov.1 Nov.1 Nov.1 Nov. 2 a.m.1 Nov.m Oct. 1 a.m.m.1 Nov. 3 a.1 Nov.

m.1 Nov.1 Nov. 5 a.1 Nov.m.m. 4 a.1 Nov.2 3 8 7 9 8 0 3 7 6 5 6 6 8 7 8 9 9 0 9 1 9 2 7 0 2 2 1 4 0 7 8 8 2 8 3 8 4 1 4 1 6 9 3 9 26 29 28 30 34 45 41 43 43 38 37 31 34 38 38 27 39 40 34 52 40 30 39 M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M Nov.1 Nov. x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x D D D D D D C C C C C C C C C C C C BS x x x x x x x x x x x x D D D D D D D D D D D D D C C C C x x x x D D D D C C BS . 5 a. 5 a.1 Nov.m. 4 a.1 Nov. 4 a.m.m.m.1 Nov.1 Nov. 3 a.1 Nov.1 Nov. 5 a. 6 a.m.m. 6 a. 4 a. 6 a. 4 a.1 Nov.m.m. 4 a.m.1 Nov.1 Nov.m.1 Nov.m.m.m.1 Nov.m.m.1 Nov.m. 6 a. 5 a.1 Nov. 5 a.m. 5 a. 3 a.m.1 Nov. 4 a.1 Nov. 4 a.m.1 Nov. 5 a.m.1 Nov.1 3 a.

m.1 Nov.1 Nov.1 Nov.1 Nov. 2 p. 1 p.m.m.1 Well Well Well Well Well Well Well Well Well Well Well Well Well Well 7 a. 5 p.m x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x D D D D C C C C C C C C C x D D D x x x x x x x x x x x x x x x x D D D BS C . 10 a. 2 p.1 Nov.m.m. 9 a.m. 7 a.m.m.1 Nov.1 Nov.1 Nov.1 Nov.m. 7 a.1 Nov. 9 a.m.1 Nov.4 3 3 3 4 8 5 4 3 6 9 4 5 3 1 2 7 4 7 5 9 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 3 1 9 2 0 2 3 2 4 2 6 3 6 3 55 28 38 38 30 30 45 29 22 44 45 40 38 52 35 27 40 40 50 38 38 29 27 47 60 27 M M M M M F F F F M M M F F F F F F M M M M M M M M Nov. 10 a. 11 p.m.

BS: Blood in stool. F=Fever A.9 4 1 30 M Well 4 2 38 M Well 4 4 50 M Well 4 5 27 M Well 4 6 31 M Well 4 7 46 M Well 4 8 38 M Well 4 9 36 M Well 5 3 36 M Well 5 4 27 M Well 5 5 40 M Well 5 6 30 M Well 5 7 25 M Well 6 2 50 M Well 6 3 44 M Well 6 4 47 M Well 6 8 31 M Well TS* Tomato sauce. Klarifikasi Istilah 1. V=Vomiting. . x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x C=Cramps. D= Diarrhea. Nyeri perut Diare : Sensasi tidak menyenangkan di daerah abdomen. 2. : Frekuensi BAB lebih dari tiga kali dalam sehari dengan konsistensi tinja yang cair. N= Nausea.

usia Contoh kuisoner : Hari / Tanggal : NO. GE Nausea Vomitus Darah dalam tinja : Radang pada lambung dan usus. . Identifikasi masalah 1. 4. RESPONDEN : Kuesioner terdiri dari 5 soal yang berisi pilihan ganda. Apakah kasus tersebut sudah termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB) ? 2. beri tanda √ pada kolom IDENTITAS PRIBADI : . surat tugas dan - Konsultasi (peran masing-masing petugas yang turun ke lapangan) : Pembagian tugas yang jelas dan ada penanggung jawab untuk masing-masing tugas. : Keinginan untuk muntah. : Pengeluaran isi lambung dari mulut. 6. Penetapan Investigasi di Lapangan : - Menyiapkan pengetahuan ilmiah yang berkaitan dengan kasus (literature) sebagai landasan teori untuk mengetahui kemungkina penyebab yang paling berpengaruh dengan kasus. Apakah faktor penyebab dari KLB pada kasus ? C. - Administrasi (prosedur administrasi) perlengkapan : Membuat surat izin. Apakah jenis KLB pada kasus ? 3. - Membuat kuosioner : • Informasi Identitas : No kasus. Analisis masalah I. Menentukan siapa kontak person saat di lapangan. 5.3. : Darah yang beasal dari saluran pencenaan B.

• • Usia : Jenis Kelamin : 1. jenis kelamin. ras : Tanda dan gejala. Pengambilan Data : Pengambilan data untuk memastikan jumlah penderita dan menyimpulkan telah adanya KLB. Waktu serangan : 1 a. Keluhan bapak/ibu : (boleh lebih dari satu) Mual muntah nyeri perut diare ada darah dalam tinja demam 2. tanggal dan : Informasi kemungkinan penyebab • II.m Lainnya : 4.5jam Lainnya : 5.m 3 a.m 4 a. Kapan mulai merasakan keluhannya : 31 Oktober 1 November 3. Riwayat konsumsi makanan : (boleh lebih dari satu) Nasi daging saus tomat Lainnya : • • • Informasi Karakteristik demografi Informasi Klinis waktu timbul gejala Informasi Faktor resiko Informasi Pelapor : Umur. Lama serangan : 15mnt 30mnt 45mnt 1 jam 1.m 5 a. .m 2 a.

(2) Terdapat modus transmisi patogen yang cocok kepada individu-individu rentan. Besar deviasi yang masih berada dalam “ekspektasi normal” bersifat arbitrer. (3) Catatan morbiditas dan mortalitas di puskesmas. tempat. kota. jumlah kasus tidak harus luar biasa banyak dalam arti absolut. dan lingkungan: (1) Keberadaan patogen (agen yang menimbulkan penyakit) dalam jumlah cukup untuk menjangkiti sejumlah individu. kecamatan. atau institusi yang tertutup pada suatu periode waktu tertentu. Kriteria menentukan wabah/KLB . Outbreak terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara penjamu. bulan. Dalam menentukan outbreak perlu batasan yang jelas tentang komunitas. Untuk dapat dikatakan outbreak/ epidemi. Hakikatnya outbreak merupakan deviasi (penyimpangan) dari keadaan rata-rata insidensi yang konstan dan melebihi ekspektasi normal. (5) Catatan morbiditas upaya kesehatan sekolah (UKS). misalnya desa. melainkan luar biasa banyak dalam arti relatif. ketika dibandingkan dengan insidensi biasa pada masa yang lalu. dan waktu yang tidak biasa. di suatu tempat terbatas. perawat.Outbreak atau KLB adalah peningkatan insidensi kasus yang melebihi ekspektasi normal secara mendadak pada suatu komunitas. tergantung dari tingkat keseriusan dampak yang diakibatkan bagi kesehatan masyarakat di masa yang lalu. daerah. bidan. (3) Terdapat jumlah yang cukup individu-individu rentan yang terpapar oleh patogen. Sumber data kasus untuk menenetukan terjadinya outbreak: (1) Catatan surveilans dinas kesehatan. (2) Catatan morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. Segelintir kasus bisa merupakan epidemi jika muncul pada kelompok. agen. dan waktu terjadinya peningkatan kasus. kuartal. disebut tingkat endemis. tahun). Karena itu outbreak ditentukan dengan cara membandingkan jumlah kasus sekarang dengan rata-rata jumlah kasus dan variasinya di masa lalu (minggu. (4) Catatan praktik dokter.

Penagakan Dignosis dan Diagnosis Tujuan dalam pemastian diagnosis adalah : 1. III. Untuk menyingkirkan kemungkinan kesalahan laboratorium yang menyebabkan peningkatan kasus yang dilaporkan 3. dan mengembangkan definisi kasus 4. minggu) bergantung pada jenis penyakitnya • Adanya peningkatan kejadian kesakitan secara terus menerus selama 3 kurun waktu (jam.2% mengalami tanda dan gejala GE selama perjalanan haji. distribusi ini penting untuk menggambarkan spektrum penyakit. dari 110 anggota misi yang tidak mengalami tanda dan gejala GE sebelum perjalanan haji. hari.• • Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal di suatu daerah Adanya peningkatan kejadian kesakitan atau kematian dua kali atau lebih dibandingkan jumlah kesakitan atau kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam. 64 orang atau sebanyak 58. minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya Kriteria Untuk Wabah Akibat Keracunan Makanan • Ditemukannya dua atau lebih penderita penyakit serupa. Kejadian ini bisa dikatakan KLB jika persentase rata-rata kejadian yang sama (kasus GE) di masa lalu kurang dari angka tersebut. sesudah memakan makanan yang sama • Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan makanan sebagai sumber penularan Pada kasus. menentukan diagnosis. yang biasanya berupa gejala gangguan pencernaan (gastrointestinal). hari. Kunjungan terhadap satu atau dua penderita Sebagai diagnosis untuk mengetahui etiologi penyebab terjadinya KLB dengan penyakit GE yaitu : . Untuk memastikan bahwa masalah tersebut telah didiagnosis dengan patut 2. Semua temuan klinis harus disimpulkan dalam distribusi frekuensi .

kram perut. bersifat anaerob fakultatif. seperti telur dan daging ayam mentah serta akan bereproduksi bila proses pamasakan tidak sempurna. dan tidak menghasilkan spora. b. penyebab sakitnya seseorang adalah akibat masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh melalui konsumsi pangan yang telah tercemar bakteri. Gejala keracunan yaitu pada kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella. mual. orang lanjut usia. Salmonella bisa terdapat pada bahan pangan mentah.1. dan muntah. Beberapa bakteri patogen yang dapat menginfeksi tubuh melalui pangan sehingga menimbulkan sakit adalah: a. tetapi infeksi Salmonella ini juga dapat membahayakan jiwa terutama pada anak-anak. serta orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh. Banyak orang dapat pulih tanpa pengobatan. Cara penularan yang utama adalah dengan menelan bakteri dalam pangan yang berasal dari pangan hewani yang terinfeksi. Gejala lainnya adalah menggigil. gejala yang terjadi adalah diare. Penanganan untuk infeksi salmonella ini berupa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. binatang peliharaan dan hama. atau melalui kontaminasi silang akibat higiene yang buruk. Salmonella Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif. Dalam hal ini. Lalu segera bawa korban . Penularan dari satu orang ke orang lain juga dapat terjadi selama infeksi. Untuk menyebabkan penyakit. motil. Hal itu dinamakan dosis infeksi. sakit kepala. Pangan juga dapat terkontaminasi oleh penjamah yang terinfeksi. Bakerial Bakteri patogen dapat menginfeksi korbannya melalui pangan yang dikonsumsi. dan demam yang timbul 8-72 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar. Gejala dapat berlangsung selama lebih dari 7 hari. Sakit yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella dinamakan salmonellosis. jumlah bakteri yang tertelan harus memadai. Clostridium perfringens pertolongan yang dapat diberikan cairan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Di dalam usus. Kebanyakan strain tidak bersifat membahayakan.Clostridium perfringens merupakan bekteri Gram-positif yang dapat membentuk endospora serta bersifat anaerobik. Penanganan pada infeksi ini tidak ada penanganan spesifik. mual. kebanyakan bersifat motil (dapat bergerak) menggunakan flagela. seperti Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). dan cemaran fekal pada air dan pangan. ada yang mempunyai kapsul. daging yang dimasak setengah matang. Escherichia coli Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus kebanyakan hewan berdarah panas. dan dapat memfermentasi laktosa. tetapi pada kasus yang lebih berat dapat berlangsung selama 1-2 minggu (terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia). Clostridium perfringens dapat menghasilkan 5 enterotoksin yang tidak dihasilkan pada makanan sebelum dikonsumsi. berbentuk batang. tidak membentuk spora. demam. . sel-sel vegetatif bakteri akan menghasilkan enterotoksin yang tahan panas dan dapat menyebabkan sakit. Gejala dapat berlanjut selama 12-48 jam. dan muntah. tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap manusia. unggas. Bakteri ini terdapat di tanah. Gejala keracunan dapat terjadi sekitar 8-24 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar bentuk vegetatif bakteri dalam jumlah besar. diare (pada beberapa kasus dapat timbul diare berdarah). kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. c. dan bahan pangan kering. Gejala yang timbul berupa nyeri perut. E. Tindakan pengendalian khusus terkait keracunan pangan akibat bakteri ini bagi rumah tangga atau pusat penjual makanan antara lain dengan melakukan pendinginan dan penyimpanan dingin produk pangan matang yang cukup dan pemanasan ulang yang benar dari masakan yang disimpan sebelum dikonsumsi. Bakteri ini tergolong bakteri Gram-negatif. dan jarang disertai muntah. mual. Masa inkubasi berkisar 3-8 hari. usus manusia dan hewan. Gejala keracunan yang disebabkan oleh EHEC adalah kram perut. susu mentah. dapat menghasilkan gas dari glukosa. daging mentah.sedangkan pada kasus sedang berkisar antara 3-4 hari. misalnya daging mentah. coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui konsumsi pangan yang tercemar. diare. tetapi dihasilkan oleh bakteri di dalam usus. Escherichia coli O157:H7 merupakan tipe EHEC yang terpenting dan berbahaya terkait dengan kesehatan masyarakat.

maka gejala yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan bagian bawah berupa mual. bukan bakterinya. proses penggorengan pangan juga tidak akan menghancurkan toksin tersebut. Bakteri tumbuh pada pangan dan memproduksi toksin Jika pangan ditelan. disarankan untuk memasak pangan dalam jumlah yang sesuai untuk segera dikonsumsi. Keracunan akan timbul jika seseorang menelan bakteri atau bentuk sporanya. berupa mual dan muntah yang dimulai 1-6 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar.2. pangan yang mengandung pati. atau seseorang mengkonsumsi pangan yang telah mengandung toksin tersebut. yang terjadi 8-16 jam setelah mengkonsumsi pangan. tergolong bakteri Gram-positif. maka toksin tersebut yang akan menyebabkan gejala. Sedangkan bakteri penghasil toksin penyebab diare bisa mencemari sayuran dan daging. yaitu toksin yang menyebabkan diare dan toksin yang menyebabkan muntah (emesis). bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab muntah. dan tunas sayuran. Gejala keracunannya yaitu bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab diare. diare berair. dan dapat membentuk endospora. b. Clostridium Botulinum . Beberapa bakteri patogen yang dapat mengakibatkan keracunan pangan melalui intoksikasi adalah: a. kentang tumbuk. bersifat aerobik. Bakteri penghasil toksin penyebab muntah bisa mencemari pangan berbahan beras. Bila tidak tersedia lemari pendingin. nyeri perut seperti kram. Toksin yang berkaitan dengan sindrom muntah bersifat resisten terhadap panas dan pemanasan berulang. Intoksikasi Keracunan pangan yang disebabkan oleh produk toksik bakteri patogen (baik itu toksin maupun metabolit toksik) disebut intoksikasi. Tindakan pengendalian khusus bagi rumah tangga atau penjual makanan terkait bakteri ini adalah pengendalian suhu yang efektif untuk mencegah pertunasan dan pertumbuhan spora. kemudian bakteri bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam usus. Selanjutnya. Ada dua tipe toksin yang dihasilkan oleh Bacillus cereus. gejala yang timbul akan bersifat lebih parah dan akut serta berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas. Bacillus Cereus Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang.

tergolong dalam bakteri Gram-positif. seafood. misalnya pengalengan. ikan asap. pening. Pemanasan pangan sampai suhu 800 C selama 30 menit cukup untuk merusak toksin. nyeri perut. bersifat aerobik fakultatif. Toksin botulinum bersifat termolabil. dan madu. sakit kepala. lemah otot. Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum. fermentasi. bersifat anaerobik. Bakteri ini dapat mencemari produk pangan dalam kaleng yang berkadar asam rendah. dan tidak tahan asam tinggi. Bakteri dapat mati. Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang dipasteurisasi. Sedangkan spora bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal dan dapat bertahan hidup dalam pengeringan dan pembekuan. telur ikan fermentasi. pandangan berganda. pengasapan. Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara lain dengan memasak pangan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama 15 menit). Staphilococcus Aureus Terdapat 23 spesies Staphilococcus. pie beku. tenggorokan dan hidung terasa kering. dan tidak membentuk spora. . Hindari pula mengkonsumsi pangan kaleng yang kemasannnya telah menggembung. muntah.Clostridium botulinum merupakan bakteri Gram-positif yang dapat membentuk spora tahan panas. letih. Masa sakit dapat berlangsung selama 2 jam sampai 14 hari. Staphilococcus aureus merupakan bakteri berbentuk kokus/bulat. pengawetan dengan garam. kentang matang yang kurang baik penyimpanannya. pengawetan dengan asam atau minyak. c. Penanganan botulism ini tidak ada penanganan spesifik untuk keracunan ini. bersifat meracuni saraf (neurotoksik) yang dapat menyebabkan paralisis. paralisis. Kebanyakan keracunan dapat terjadi akibat cara pengawetan pangan yang keliru (khususnya di rumah atau industri rumah tangga). kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. Gejala dapat timbul 12-36 jam setelah toksin tertelan. dan pada beberapa kasus dapat menimbulkan kematian. simpan pangan dalam lemari pendingin terutama untuk pangan yang dikemas hampa udara dan pangan segar atau yang diasap. Gejala keracunan botulism berupa mual. tetapi Staphilococcus aureus merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal.

Pengobatan antidiare biasanya tidak diperlukan. hilangnya nafsu makan. dibandingkan dengan nausea. kram perut hebat. Parasite 4. Untuk menghindari dehidrasi pada korban. distensi abdominal. Toksin dapat rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30 menit. Penegakan diagnosis faktor penyebab KLB Pada kasus. e. pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah. produk pangan matang yang ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin. Pangan yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya protein. dan sandwich. penegakkan diagnosis dilakukan dengan memperhatikan gejala dan tanda yang ditimbulkan dengan onset kejadian yang akut. hubungi puskesmas atau rumah sakit terdekat. Untuk penanganan leboih . dan perubahan tekanan darah. Sedangkan tidak ada kasus pasien yang dilaporkan mengalami demam. seperti salad. susu. 3. vomitus dan darah dalam tinja yang jarang terjadi. larutan elektrolit yang banyak dijual sebagai minuman elektrolit dalam kemasan. kram otot. Dari 112 anggota misi. demam ringan. berikan air minum dan lanjut. maka dapat disimpulkan bahwa infeksi terjadi karena bakteri yang terdapat ada makanan yang dikonsumsi. Penanganan keracunannya adalah dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare. diare. Virus d. Diagnosis Berdasarkan dari hasil yang dilihat dari penegakkan diagnosis diatas. serta pangan yang tidak habis dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang. Onset gejala akut dan pulih dalam 12-24 jam. dan daging unggas. berupa mual. Gejala diare dan cramp paling sering ditemukan. didapatkan total 66 kasus GE. produk pangan yang terpapar pada suhu hangat selama beberapa jam. Pada beberapa kasus yang berat dapat timbul sakit kepala. muntah (lebih dari 24 jam).tetapi toksin akan tetap tertinggal. Gejala keracunan dapat terjadi dalam jangka waktu 4-6 jam. serta menentukan etiologi untuk penyebab terjadinya KLB pada penyakit GE dapat dilihat dari masa inkubasi dari bakteri penyebabnya karena tidak adanya specimen tinja untuk pemeriksaan laboratorium. puding. misalnya daging. ikan.

onset). dan (3) kasus pasti (confirmed case. IV. Definisi kasus yang baku memungkinkan dilakukannya perbandingan jumlah kasus penyakit yang terjadi di suatu waktu atau tempat dengan jumlah kasus yang terjadi di waktu atau tempat lainnya. maka individu yang diduga mengalami penyakit akan dimasukkan dalam salah satu klasifikasi kasus. baku. (2) Kriteria epidemiologis (karakteristik orang yang terkena. (2) kasus mungkin (probable case.sesuai dengan masa inkubasinya maka etiologi penyebab terjadinya GE pada kasus KLB ini berupa bakteri Clostridium perfringens. Definisi kasus yang baku dan seragam penting untuk memastikan bahwa setiap kasus didiagnosis dengan cara yang sama. tempat dan waktu terjadinya outbreak). dan sebaiknya seragam. konsisten. . (3) Kriteria laboratorium (hasil kultur dan waktu pemeriksaan) Definisi kasus harus valid (benar). Peneliti outbreak mendefinisikan kasus dengan menggunakan seperangkat kriteria sebagai berikut: (1) Kriteria klinis (gejala. kasus dapat diklasifikasikan menjadi: (1) kasus suspek (suspected case. tidak tergantung pada siapa yang mengidentifikasi kasus. Dengan menggunakan definisi kasus. presumptive case). maupun di mana dan kapan kasus tersebut terjadi. tanda. Membuat Definisi Kasus Peneliti melakukan verifikasi apakah kasus-kasus yang dilaporkan telah didiagnosis dengan benar (valid). definite case). Berdasarkan tingkat ketidakpastian diagnosis. syndromic case).

25 3.Tabel klasifikasi kasus menurut kriteria pemeriksaan klinis. dan darah didalam feses jarang terjadi. bisa berubah dan direvisi selama investigasi seiring dengan adanya tambahan informasi baru tentang sumber.25 6.1 12. . agen etiologi. Klasifikasi kasus bersifat dinamis.1 3. Nausea.9 81. vomitus. Tabel distribusi gejala dan tanda GE pada kasus Gejala dan tanda Diare Nyeri abdomen Diare + nyeri Abdomen Darah dalam tinja Diare+darah dalam tinja Diare+ nyeri abdomen+ darah dalam tinja Nausea Vomitus Demam Jumlah Kasus 62 52 50 8 4 4 2 2 0 Percent 96.5 6.3 78. epidemiologis. dan laboratoris. modus transmisi.1 0 Definisi kasus: • Klinis: kejadiannya akut berupa diare dan atau diare.

kontinu. status kesehatan. yang Jumlah orang yang makan Sakit Sehat Total Attack rate 62 63 50 31 25 26 93 88 76 66. dan populasi yang terkena outbreak. (4) Menunjukkan posisi populasi berisiko dalam perjalanan waktu epidemi. dan waktu.3% 73.7% 71. tepatnya setelah mengonsumsi makan siang yang telah disiapkan di Mina pada 30 Oktober. (5) Dapat dilakukan stratifikasi menurut . pekerjaan. Attack Rate) berbagai kelompok ditampilkan dalam tabel. menganalisis waktu. sumber bersama. peneliti mendeskripsikan data epidemi menurut karakteristik orang (kasus). Langkah pertama. Manfaat kurva epidemi: (1) Memberikan petunjuk tentang agen infeksi dan masa inkubasi. peneliti mendeskripsikan data outbreak menurut waktu. kelas sosial. Peneliti mempelajari perbedaan risiko kelompok-kelompok populasi yang terkena outbreak berdasarkan karakteristik umur. (2) Mengisyaratkan besarnya masalah dan perjalanan waktu outbreak. dan waktu. atau propagasi). luasnya daerah outbreak.• Waktu: kejadian atau onset terjadi pada tanggal 31 Oktober 1979 hingga 1 Novermber 1979. incidence rate. gender. menggambar kurva epidemi. mendeskripsikan kecenderungan (trends) kasus sepanjang waktu. (3) Menunjukkan pola penyebaran (yakni. dan sebagainya. Kurva epidemi adalah grafik yang menghubungkan tanggal onset atau masa inkubasi penyakit pada sumbu X dan jumlah kasus penyakit pada sumbu Y. • Tempat/orang: Kejadian ini terjadi pada anggota misi Kuwait yang sedang berada dalam perjalanan haji ke Mekkah Tabel Food Specific Attack Rate Food item disajikan Nasi Daging Saus tomat V.6% 65. tempat. Dengan epidemiologi deskriptif peneliti outbreak bisa mendapatkan menduga kausa dan sumber outbreak. dan risiko. peneliti outbreak mendeskripsikan distribusi kasus menurut orang. tempat. Distribusi risiko (dengan kata lain. Dengan menghitung jumlah kasus. Kurva epidemi.8% Jumlah orang yang tidak makan Sakit Sehat Total Attack rate 2 1 14 0 6 5 2 7 19 100.0% 14. Tabulasi. dengan membuat kurva epidemi. ras. Langkah kedua.7% Epidemiologi Deskriptif Tujuan epidemiologi deskriptif adalah mendeskripsikan frekuensi dan pola penyakit pada populasi menurut karakteristik orang.

adanya outlier). progressive) outbreak. sehingga memungkinkan peneliti untuk mempelajari variasi onset menurut tempat dan karakteristik orang. dan sebagainya). Kadang-kadang. ditandai oleh peningkatan jumlah kasus dengan tajam. tempat kerja. Gambar 6. biasanya selama satu masa inkubasi. . lalu menurun perlahan-lahan Gambar Common-source outbreak Common source outbreak terjadi jika agen penyebab ditularkan kepada orang-orang yang terjangkit dari sumber yang sama pada saat yang sama. (2) Continual. (6) Membantu peneliti dalam melakukan monitoring dan evaluasi. biasanya terjadi pada satu tempat. faktor-faktor berikut perlu diperhatikan untuk membantu menafsirkan outbreak: (1) pola keseluruhan epidemi. gender. Bentuk kurva ini umumnya meningkat dengan tajam dan memiliki puncak yang tegas. ras. selama periode waktu yang terbatas (pendek). Penularan ini disebut point source with secondary transmission (sumber titik dengan penularan sekunder). Dalam menganalisis sebuah kurva epidemi. (2) periode waktu orang terpapar. sehingga dapat dibedakan 3 jenis utama outbreak: (1) Common-source outbreak (point-source outbreak). (7) Memberikan petunjuk tambahan (misalnya. disusul dengan penurunan secara gradual. atau karakteristik individu (umur. sekolah).source outbreak. dan (3) Propagated (person-to-person.tempat (tempat tinggal. sejumlah kasus tampak seperti gelombang yang menyusul sumber titik selama satu masa inkubasi atau interval waktu. (3) keberadaan outlier. Dengan menggunakan kurva epidemi dapat dilihat pola penyebaran patogen.3 menyajikan kurva epidemi sebuah common-source outbreak.

Bentuk kurva terdiri dari sejumlah puncak. Gambar diatas menyajikan kurva epidemi continual-source outbreak. hingga tidak terdapat lagi orang yang rentan atau dimulainya upaya pengendalian. Paparan terhadap sumber infeksi yang berkepanjangan bisa berlangsung lebih dari satu masa inkubasi. sehingga penularan terus berlangsung. individu rentan terus terpapar sumber tersebut. bisa terjadi pada berbagai tempat.Gambar Continual-source outbreak Continual-source outbreak terjadi jika sumber outbreak terus terkontaminasi. Pada Kasus menggunaka kurva epidemiologi berupa Common-source outbreak. . dipisahkan oleh masa inkubasi. dengan karakteristik peningkatan kasus secara gradual lalu mendatar. Gambar di atas menyajikan kurva epidemi person-to-person outbreak. dan kasus-kasus berikutnya berperan sebagai sumber infeksi bagi kasus berikutnya lagi. progressive) outbreak terjadi jika sebuah kasus penyakit berperan sebagai sumber infeksi bagi kasus-kasus berikutnya. mencerminkan jumlah kasus yang meningkat melalui kontak orang ke orang. Gambar Propagation (person-to-person) outbreak Propagated (person-to-person.

Menentukan jumlah hitung minimum. maksimum. median. rata-rata sebagai periode inkubasi. mean. modus.VI. Tabel frekuensi (onset terjadinya penyakit) Jam/Onset Gejala 2 pm 3 pm 4 pm 5 pm 6 pm 7 pm 8 pm 9 pm 10 pm 11 pm 12 pm 1 am 2 am 3 am 4 am 5 am 6 am 7 am 8 am 9 am 10 am 11 am 12 am 1 pm 2 pm 3 pm 4 pm 5 pm 6 pm 7 pm 8 pm 9 pm 10 pm 11 pm Total Hitungan Jam 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Frekuensi Hitung Jam x Frekuensi 2 6 4 3 1 4 4 13 8 8 4 3 2 2 40 27 10 44 48 169 112 120 64 51 38 40 1 2 23 48 1 27 1 64 33 900 .

0624 14 jam 13 jam Berada di/pada interval 13-14 jam 5 jam . maka dapat ditemukan : Jumlah minimum Jumlah maksimum Rata-rata/Range Mean Modus Median Standar deviasi 95% CI= x ± 1.3 jam = 30 jam 900/64 = 14.96 SD = 14 ± 2*5 = 14 ± 10 = 4 – 24 jam  Artinya 95% kita percaya bahwa periode inkubasi antara 4-24 jam 3 jam 33 jam 33 jam.Dari data tabel diatas.

0% Daging Saos Tomat 73.7% Analisis data dengan Tabel 2x2 Sakit a c Tidak a+c 1. Tipe KLB adalah common source.7% 2 6 14 7 0 2 Sehat Total Attack jumlah orang yang makan jumlah orang yang tidak makan Sakit Sehat Total 71. Makan Nasi Sakit 62 2 (93)=66. tempat.7% 31 0 Sehat Total Attack Rate Ya 93 AR1= 62/ b+d B D Sehat Total Terapapar ‘a+b AR1=a/(a+b) ‘c+d AR2=c/(c+d) Attack Rate Ya 63 50 62 25 26 31 88 Rate 93 Rate 66. waktu: kurva epidemik mengindikasikan bahwa wabah/KLB telah mereda.6% 1 76 65. tidak ada kasus baru setelah tanggal 1 November.8% 14. Menilai/Menguji Hipotesis Design Studi : Cohort Tabel : foot specific attack rate Makanan yang disajikan Sakit Attack Nasi 100. VII.3% 5 19 RR=AR1/AR2 .Ringkasan menurut orang.

Tidak a+c b+d 2 AR2= 2/(2) = 100% RR=66. Makan Saus Tomat .67 Ho : Tidak ada hubungan antara makan nasi dengan kejadian KLB pada penyakit GE H1 : Ada hubungan antara makan nasi dengan kejadian KLB pada penyakit GE. 3.01 Ho : Tidak ada hubungan antara makan daging dengan kejadian KLB pada penyakit GE H1 : Ada hubungan antara makan daging dengan kejadian KLB pada penyakit GE.6%/14.05 ( 3.29%= 5. Hasil uji chi-square : Kriteria Ho di terima  bila nilai hitungan < nilai tabel dengan alfa 0.29% RR=71.67 < 3.841) Pada perhitungan nilai hitung = 5.841).6% AR2= 1/7 = 14.841 maka Ho diterima ( tidak ada hubungan antara makan Nasi dengan GE).841 makan Ho ditolak ( ada hubungan antara makan daginf dengan GE.01 > 3. Makan daging Sakit 63 1 Tidak a+c b+d 25 6 Sehat Total Attack Rate Ya 88 7 AR1= 63/88=71.05 ( 3. 2. Hasil uji chi-square : Kriteria Ho di terima  bila nilai hitungan < nilai tabel dengan alfa 0.7/100= 0. Pada perhitungan nilai hitung = 0.

misal pisau. Hal-hal yang harus ditanyakan sebagai bahan investigasi tambahan.841) Pada perhitungan nilai hitung = 0. Kesimpulan kasus :” Ada hubungan antara makan daging dengan kejadian KLB pada penyakit GE” VIII. Prosedur memasak.91 Ho : Tidak ada hubungan antara makan saus tomat dengan kejadian KLB pada penyakit H1 : Ada hubungan antara makan saus tomat dengan kejadian KLB pada penyakit GE.841 makan Ho diterima ( tidak ada hubungan antara makan daginf dengan GE. 4. Proses pencucian.91 < 3. Asal daging. Membuat daftar beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kontaminasi makanan. Penyimpanan sampai proses memasak.05 ( 3. tempat pemotongan.2%= 0. dan wadah. Hasil uji chi-square : Kriteria Ho di terima  bila nilai hitungan < nilai tabel dengan alfa 0. Memperbaiki Hipotesis dengan Melakukan Investigasi Tambahan Memperbaiki hipotesis dan melakukan penelitian tambahan • • Membuat rencana penyelidikan lebih lanjut yang mana harus dilakukan. dalam proses pemotongan yang biasanya sering terkontaminasi pada saat pemotongan karena faktor yang sulit dikontrol. yang biasanya gagal mencapai temperature masak yang adekuat.2% AR2= 13/18 = 72. 2. 3.2% RR=66. yaitu : 1. .Sakit 51 14 Tidak a+c GE b+d 26 5 Sehat Total Attack Rate Ya 76 19 AR1= 51/77 = 66. Suhu dan lama temperature optimum dari masakan. papan pemotongan.2%/72.

Secara tulisan yaitu berupa laporan dengan format yang ilmiah yaitu pendahuluan. Upaya pada pengendalian yaitu dilakukan pada tindakan pengendalian pada rantai infeksi seawal mungkin jika sudah diketahui adanya sumber wabah/KLB. Menyampaikan Hasil Penyelidikan atau Laporan Cara menyampaikan hasil laporan dilakukan dengan dua cara. Proses pemanasan makanan tidak dilakukan berulang-ulang. X. Sajikan segera atau pertahankan pada suhu > 140oF c. metode penelitian. Mencegah konsumsi sisa makanan yang menjadi sumber wabah. Melakukan prosedur pemasakan sampai penyajian makanan dengan benar. 8. Secara lisan. hasil. 6. Wadah atau tempat penyajian yang terkontaminasi. Melaksanakan Pengendalian dan Pencegahan 1. pembahasan dan rekomendasi. Semua sisa makanan harus dipanaskan kembali dan jaga pada suhu > 140oF untuk makanan yang telah dimasak.5. 9. 2. perfringens pada makanan : a. misalnya bisa berupa pertemuan singkat (briefing) atau penyuluhan dengan petugas kesehatan dan yang bertanggung jawab untuk pengendalian dan pencegahan menguraikan temuan sejelas mungkin dan meyakinkan. apa yang ditemukan dan apa yang seharusnya dikerjakan. Masak semua makanan dengan temperature internal minimal 165oF b. dan menyampaikan temuan secara ilmiah. melaporkan apa yang telah dikerjakan. latar belakang. Refrigerator atau penyimpanan makanan yang telah dimasak yang tidak adekuat. 3. Prosedur pemasakan dan temperatur pemasakan ulang setelah disimpan yang tidak adekuat. . Setiap sisa makanan harusnya dibuang atau segera didinginkan dan jaga pada suhu < 40oF menggunakan shallow pans d. IX. Tidak sesuainya suhu ketika penyajian. 1. Prinsip dasar untuk mencegah bakteri C. 2. 7.

DIARE Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. Vibrio parahemolitycus. and lebih sedikit disebabkan oleh Vibrio cholerae non-O1. Daging yang tercemar biasanya merupakan penyebab terjadinya keracunan makanan karena Clostridium perfringens Gastroenteritis yang terjadi biasanya ringan meskipun dapat menjadi berat dengan gejala berupa: • • • • • Nyeri perut Perut kembung karena penimbunan gas Diare berat Dehidrasi Syok Gastroenteritis akut. dan gejala klinis khas berupa nyeri kolik abdomen. Penyebab USAID (united state agency international development) (2007). Beberapa strain Clostridium menyebabkan penyakit ringan sampai sedang yang membaik tanpa pengobatan. Gastroenteritis ini disebabkan karena memakan makanan yang tercemar oleh toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium perfringens. yang sering berakibat fatal. Infeksi dari berbagai bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air minum. Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung dan usus. diarem dan tidak demam diduga disebabkan oleh Clostridium perfingens. Strain yang lainnya menyebabkan gastroenteritis berat. dalam program ESP (environment service program) menyebutkan bahwa penyebab diare adalah: 1. masa inkubasi selama 13 jam. Alergi makanan.coli . 2.sedangkan yang lainnya dapat. Beberapa racun tidak dapat dirusak oleh perebusan. Masa inkubasi ± 13 jam diduga Clostridium perfingens. Bacillus cereus. Sumber dari kontaminasi ini yaitu dari bahan makanan yang dikonsumsi pada saat makan siang di Arafah. khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu) 4. Infeksi berbagai macam virus 3. dan enterotoksin yang dihasilkan oleh E.

tingginya attack rate pada yang memakan. b. jenis makanan yang biasanya dikontaminasi. dan rendahnya attack rate pada yang tidak memakan menunjukkan ke daging sebagai penyebab wabah GE ini. .Tipe organisme. makanan yang telah dimasak. Masak semua makanan dengan temperature internal minimal 73oC Sajikan segera atau pertahankan pada suhu >60oC Setiap sisa makanan harusnya dibuang atau segera didinginkan dan jaga pada Semua sisa makanan harus dipanaskan kembali dan jaga pada suhu >60oC untuk suhu <4oC menggunakan shallow pans c. b. Prinsip dasar untuk mencegah Clostridium perfringens: a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful