P. 1
LP ISK

LP ISK

|Views: 41|Likes:
Published by Yeche Minoz

More info:

Published by: Yeche Minoz on Mar 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/09/2015

pdf

text

original

Sections

  • BAB I LANDASAN TEORI
  • A. MEDIS
  • 1. Pengertian
  • 2. Anatomi Fisiologi
  • 3. Klasifikasi
  • 4. Etiologi
  • 5. Patofisiologi
  • Pathway ISK
  • 6. Tanda dan Gejala
  • 7. Pemeriksaan Penunjang
  • 8. Penatalaksanaan
  • 9. Prognosis
  • 10. Komplikasi
  • 11. Pencegahan
  • B. ASUHAN DASAR KEPERAWATAN
  • 1. Pengkajian
  • 2. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul
  • 3. Intervensi Keperawatan
  • BAB II PENGELOLAAN KASUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN
  • Mahasiswa/NIM : Yessika Puspitasari / 1002112
  • Tanggal : 07 Januari 2013
  • Jam : 12.00 WIB
  • A. Identitas
  • B. Riwayat Kesehatan Pasien
  • C. Pola Fungsi Kesehatan
  • D. Pengkajian Fisik
  • E. Diagnostik Test
  • F. PROGRAM PENGOBATAN
  • G. Analisa Obat
  • H. Analisa Data
  • I. Diagnosa Keperawatan
  • K. CATATAN PERKEMBANGAN
  • NO DIAGNOSA TGL/JAM IMPLEMENTASI PARAF

BAB I LANDASAN TEORI A. MEDIS 1.

Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001).

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998).

Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius, dengan atau tanpa disertai gejala. (Smeltzer & Bare, 2002, 1428).

2. Anatomi Fisiologi

Gambar I Sistem Perkemihan (sumber anatomi fisiologi)

1

a. GINJAL Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan. Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.

Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler glumerolus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.

Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.

2

1) Bagian - Bagian Ginjal Bila sebuah ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).

Gambar II Ginjal (sumber anatomi fisiologi) a) Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyaringan darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.

b) Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu 3

piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.

c) Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).

2) Fungsi Ginjal: a) Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen, misalnya amonia. b) Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna). c) Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi. d) Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.

4

3) Peredaran Darah Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi oleh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.

4) Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan sebuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.

b. URETER Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.

5

Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis. VESIKULA URINARIA (Kandung Kemih) Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran. Lapisan tengah otot polos c. Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). 6 . terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. pembuluh darah. saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. c. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat. berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.Gambar III Dinding Ureter (sumber anatomi fisiologi) Lapisan dinding ureter terdiri dari : a.

vesika seminalis dan prostate. diikuti oleh relaksasi spinter eksternus. tunika submukosa. b) Korpus. dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus. Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih. Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu. dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis. Distensi kandung kemih. dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent. peritonium (lapisan sebelah luar). 2) Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).1) Bagian vesika urinaria terdiri dari : Gambar IV Vesika Urinaria (sumber anatomi fisiologi) a) Fundus. c) Verteks. 7 . yaitu bagian antara verteks dan fundus. tunika muskularis. yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah. oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi).

kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Uretra membranosa c. Pada laki. Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Kontraksi spinter eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Uretra kavernosa 8 . Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Uretra Prostaria b. Uretra pada laki – laki terdiri dari : a.laki uretra berjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis panjangnya ± 20 cm. d. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal. URETRA Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom.

panjangnya ± 3 – 4 cm. atoni kandung kemih.Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam). Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas. misalnya batuk. Ginjal (pielonefritis) Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut. dibedakan menjadi: 1. lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena. anatomic maupun fungsional normal. Prostat (prostatitis) d. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar). paraplegia. dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). 9 . Klasifikasi Jenis Infeksi Saluran Kemih. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. 2. Kandung kemih (sistitis) b. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. dan lapisan submukosa. kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika. Kelainan abnormal saluran kencing. kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. sering terjadi bakterimia. Uretra (uretritis) c. antara lain: a. 3. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas.Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi. ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik. reflex vesiko uretral obstruksi. sepsis dan shock.

(Tessy Agus. asending dan hematogen. enterococci. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. hematogen. Secara asending yaitu: a. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih. staphylococcus epidemidis. antara lain: 1) Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif 2) Mobilitas menurun 3) Nutrisi yang sering kurang baik 4) Sistem imunitas menurun. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease. Suwanto. limfogen.b. Klebsiella : penyebab ISK complicated 3) Enterobacter. dan-lain-lain.2001) 5. Gangguan daya tahan tubuh d. baik seluler maupun humoral 5) Adanya hambatan pada aliran urin 6) Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat (Tessy Agus. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut. Ada dua jalur utama terjadinya ISK. Ardaya. c. antara lain: 1) Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) 2) Pseudomonas. Proteus. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat. Etiologi a. factor tekanan urine 10 . b. Ardaya. 2001) 4. Suwanto. antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi.

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri.1999) 11 . keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri. yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih. b. (Parsudi. Imam A. b. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. dan lain-lain. batu. neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun. pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik. kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Mobilitas menurun c.saat miksi.1995) Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: a. kontaminasi fekal. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. bendungan intrarenal akibat jaringan parut. antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Adanya hambatan pada saluran urin f. pemakaian kateter). Selain itu. Sylvia Andrson. beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK. adanya dekubitus yang terinfeksi. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal. Nutrisi yang sering kurang baik d. System imunnitas yng menurun e. (Price.

Limfatogen. E. Sylvia Andrson. pili P Alat DC Masuk VU Menempel di VU ISK Ureter Ginjal Ascending Infeksi Saluran Kemih (Price.1995) 12 . coli Faktor Anatomi Hematogen.Organ sekitar yang terinfeksi Pertahanan Lokal Tubuh Inadekuat Koloni kuman di Uretra Bakteri pili 1.Pathway ISK Organisme patogen: ex.

Menggigil c. Pemeriksaan Penunjang a. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.6. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih 2) Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Suzanne C. Spasme pada area kandung kemih dan suprapubis c. Mual dan muntah (Smeltzer.2001) 7. Malaise f. Pusing g. Demam b. Nyeri punggung dapat terjadi Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) a. b. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 13 . Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih b. Hematuria d. Nyeri ketika berkemih e. Nyeri panggul dan pinggang d. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis): a. Bakteriologis 1) Mikroskopis 2) Biakan bakteri c. Urinalisis 1) Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK.

Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: a. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic. Tes pengurangan nitrat. e. 2) Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal. 3) Tes. Griess positif terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. adanya batu. Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari c.2001) 8. Terapi dosis rendah untuk supresi 14 . neisseria gonorrhoeae.tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Terapi antibiotika dosis tunggal b.d. Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu d. (Smeltzer. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100. Tes esterase leukosit positif: maka pasien mengalami piuria. massa renal atau abses. hodronerosis atau hiperplasie prostate. Metode tes 1) Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Pielografi (IVP). sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. dan jika ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius. Suzanne C. herpes simplek). msistografi. klamidia trakomatis.

Suzanne C. Setelah penanganan dan sterilisasi urin. factor kausatif (mis: batu. Efek samping obat d. abses). Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin). Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: a. (Nugroho. Pyridium. Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan? (Smeltzer. trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ.2001) 9. harus segera ditangani. Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malah membahanyakan c. Interansi obat c. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan b.2000) 15 .Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. jika muncul salah satu. Efek toksisitas obat Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut: a. terapi preventif dosis rendah. septra). Wahyudi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi. Efek nefrotosik obat b. tetapi E. kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan. Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan? d. Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/ b. bactrim. Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: a. suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Prognosis Prognosis infeksi saluran kemih adalah baik bila dapat diatasi faktor pencetus dan penyebab terjadinya infeksi tersebut.

Abses perinefrik (Smeltzer. b. Sistitis emfisematosa : sering terjadi pada pasien DM. infeksi kandung kemih. Suzanne C. fetal death. b. Minum banyak cairan (air) setiap hari akan membantu pengeluaran bakteri melalui sistem urine. Pregnancy-induced hypertension c.10. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang tidak diobati: pielonefritis. bila setelah buang air besar atau air kecil bersihkan dengan cara membersihkan dari depan ke belakang. pertumbuhan bayi lambat. d. Mengosongkan kandung kemih segera setelah terjadi dorongan untuk buang air kecil juga bisa membantu mengurangi risiko infeksi kandung kemih atau ISK. Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang adalah terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal kronik. dan infeksi ginjal adalah menjaga kebersihan diri . Buang air kecil sebelum dan setelah melakukan hubungan seks dapat flush setiap bakteri yang mungkin masuk ke uretra selama hubungan seksual. dan mencuci kulit di sekitar dan antara rektum dan vagina setiap hari. 16 . obstruksi saluran kemih. ISK pada kehamilan: retardasi mental. c. dan gangguan fungsi ginjal. Pielonefritis emfisematosa syok septik dan nefropati akut vasomotor. e. d. anemia. Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih. Beberapa hal paling penting untuk mencegah infeksi saluran kencing. Pencegahan a. infeksi kuman yang multisistem.2001) 11. Mencuci sebelum dan sesudah berhubungan seksual juga dapat menurunkan resiko seorang wanita dari ISK. Cerebral palsy. sepsis. Komplikasi a. bayi prematur. f.

Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: 1) Adakah riwayat infeksi sebelumnya? 2) Adakah obstruksi pada saluran kemih? c. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih 1) Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan. Hindari pemakaian celana dalam yang dapat membuat keadaan lembab dan berpotensi berkembang biaknya bakteri.e. warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? 7) Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah 8) Adakah nyeri pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas 17 . (Parsudi. dan jumlah) 2) Adakah disuria? 3) Adakah urgensi? 4) Adakah hesitancy? 5) Adakah bau urine yang menyengat? 6) Bagaimana haluaran volume orine. 3) Apakah terjadi inkontinensia urine? d. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh b.1999) B. frekuensi. Pengkajian a. Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial. f. ASUHAN DASAR KEPERAWATAN 1. 1) Bagaimana dengan pemasangan kateter foley? 2) Imobilisasi dalam waktu yang lama. Vitamin C membuat urin asam dan membantu mengurangi jumlah bakteri berbahaya dalam sistem saluran kemih. Imam A.

tidak nyeri pada perkusi panggul Intervensi: a. baud an pola berkemih. Intervensi Keperawatan Dx 1 : Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna. masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul a. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri 18 . kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. prognosis. Marilyn E. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. b. Hipertermi berhubungan dengan penyakit. 1999) 3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Pengkajian psikologi pasien: 1) Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. 1999) 2. Catat lokasi. Marilyn E.9) Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. e. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. Kriteria evaluasi: Tidak nyeri waktu berkemih. e. lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. c. Infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. (Doenges. (Doenges. d.

jingga gelap. menetes setelah berkemih. berikan perawatan kateter 2 nkali per hari. Buat berbagai variasi sediaan minum. Kriteria Evaluasi: Pola eliminasi membaik. Berikan tindakan nyaman. tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi. termasuk air segar . Berikan perawatan perineal Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra f. perasaan ingin kencing. oliguri. berkabut atau keruh. Nyeri menetap atau bertambah sakit Rasional: Temuan. Jika dipaang kateter indwelling. sring berkemih dengan jumlah sedikit. e. Berikan antibiotic. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. d.temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas  Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri h. disuria) 19 . menurunkan tegangan otot. g. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot. Rasional: meningkatkan relaksasi. Kolaborasi:  Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning. Pla berkemih berubah. seprti pijatan punggung. lingkungan istirahat. Pemberian air sampai 2400 ml/hari Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih Dx 2: Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.c.

Observasi suhu tubuh pasien. Kaji keluhan kandung kemih penuh Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal) e. kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal  Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin.Intervensi: a. Rasional: mengetahui apakah pasien mengalami hipertermi. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. tidak ada perubahan warna kulit dan pusing. Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. perilaku atau tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat f. elektrolit. BUN. 20 . Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. d. Observasi perubahan status mental:. Kolaborasi:  Awasi pemeriksaan laboratorium. nadi dan respirasi dalam rentan normal. Dx 3: Hipertermi berhubungan dengan penyakit. Intervensi: a. Kriteria Evaluasi: suhu 36-370 C. Tentukan pola berkemih pasien c. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam Rasional: untuk mencegah statis urin g.

jumlah leukosit dalam batas normal. Rasional: mengetahui apakah pasien mengalami hipertermi. c. Tingkatkan cairan intake dan nutrisi. Ajarkan pasien dan keluarga tanda-gejala infeksi. c. Rasional: menentukan intervensi selanjutnya. panas. Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi. Rasional: istirahat cukup dapat mengurangi terjadinya infeksi.b. Dorong istirahat yang cukup. Rasional: mengetahui tanda infeksi lebih dahulu.5 Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. Rasional: menurunkan panas tubuh pasien yang hipertermi. e. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. Inspeksi membrane mukosa terhadap kemerahan.4 Infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. 21 . Kriteria Evaluasi: klien bebas dari gejala infeksi. b. Dx. e. prognosis. Monitor warna kulit dan suhu kulit. dan tindakan perawatan diri preventif. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik. status imun normal dan menunjukkan perilaku hidup sehat. Intervensi: a. d. Kolaborasi dengan farmasi dalam pemberian parasetamol. Rasional:mengurangi adanya infeksi oleh bakteri. Rasional: agar pasien dan keluarga memahami saat terjadi tanda-gejala infeksi. Rasional: menurunkan panas tubuh pasien. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi. Rasional: menyeimbangkan suhu tubuh pasien. Ajarkan untuk mengompres pada lipatan paha dan axial. Dx. d. rencana pengobatan. dan drainase. pemeriksaan diagnostic.

Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri e. tindakan untuk mencegah penyebaran. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. pemeriksaan diagnostic: tujuan. jelaskna pemberian antibiotic. Kaji ulang prose pemyakit dan harapan yang akan datanng Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m. inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri. b. persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan. Cairan menolong membilas ginjal. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka. Berikan informasi tentang: sumber infeksi. Marilyn E. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan. 1999) 22 . c.embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan d. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik. (Doenges. jika tanda-tanda penyakit mereda. gambaran singkat. perawatan sesudah pemeriksaan.Intervensi: a.

Jakarta Timur : Belum menikah : Jawa : Katolik : S1 : Mahasiswa : 06-01-2013 : 01-93-9X-XX :E : Infeksi Saluran Kemih : Yessika Puspitasari / 1002112 : 07 Januari 2013 : 12. Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Tgl. Keluarga / Penanggungjawab Nama Umur Hubungan Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn.Y : 23 tahun : Teman : S1 : Mahasiswa : Sleman 23 .B : 22 tahun : Perempuan : Pasar Rebo.00 WIB 2. Masuk RS No.BAB II PENGELOLAAN KASUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN Mahasiswa/NIM Tanggal Jam A. Identitas 1.RM Ruang Diagnosis kerja/medis : Nn.

Ureum Creatinin dan diberi obat Ceftriaxone 1gr/IV. b. lemas dan pusing. karena semakin hari demamnya tidak turun kemudian pada tanggal 6 Januari 2013 pasien datang ke RS Bethesda. Kemudian pasien dirawat di Ruang E dan diberi terapi cairan Aminofluid. Primperan 10mg/IV. dilakukan pemeriksaan RO Thorax. Keluhan tambahan saat dikaji : Untuk menelan sakit. batuk. Alasan utama masuk Rumah Sakit : Pasien mengatakan panas hampir 1 bulan untuk menelan sakit. SGPT. Riwayat penyakit yang lalu : Pasien pernah mengalami ISK 2 bulan yang lalu. mual. terapi obat tambahan Pamol dan Diit BB. f. c.B. batuk. mual. Naper 1cth/oral dan Cataflam 50mg/oral. Di IGD pasien diberi terapi cairan RL. SGOT. Kesehatan Pasien : a. e. Rantin 25mg/IV. Riwayat Kesehatan Pasien 1. Pemeriksaan Lab PDL. lemas dan pusing. Kesehatan Keluarga : Dalam keluarga tidak riwayat penyakit Infeksi Saluran Kemih 24 . Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengatakan demam sejak tanggal 2 Januari 2013. GDS. Keluhan utama saat dikaji : Pasien mengatakan panas. d. xillo:dell = 1:1/IM. Alergi : Jenis Reaksi Tindakan : Tidak ada alergi : Tidak ada alergi : Tidak ada alergi 2.

± 200cc/gelas= 900cc Jenis minuman Keluhan : Air putih :Mual. Selama sakit: Jenis makanan Frekuensi makan Porsi makan yang dihabiskan : BB : 3x sehari : Saat dikaji pasien menghabiskan 1 porsi makan Banyaknya minum dalam sehari : 4 gelas sehari.200cc/gelas= 800/1000cc/hari : Air putih dan teh : Hampir semua minuman suka : Semua suka Perubahan BB 6 bulan terakhir : Tetap 47 kg b. Pola Fungsi Kesehatan 1. ganggua menelan dan sedikit haus 25 . Sebelum sakit : Frekuensi makan Jenis makanan/diet Porsi yang dihabiskan Makanan yang disukai Makanan yang tidak disukai Makanan pantang Makanan tambahan/vitamin Kebiasaan makan Nafsu makan : 3x sehari : Nasi dan sayur : Satu porsi : Semua suka : Hampir semua makanan disukai : Daging : Tidak ada : Di rumah dan di warung : Baik. Pola Nutrisi-Metabolik a. karena setiap porsi yang diberikan dapat dihabiskan oleh pasien Banyaknya minum Jenis minuman Minuman yang tidak disukai Minuman yang disukai : 4-5 gelas.C. tidak nafsu makan.

Selama sakit 1) Buang air besar (BAB) Frekuensi Waktu Warna Konsistensi Keluhan Upaya yang dilakukan : 1-2x sehari (kadang-kadang) : Pagi hari : Kuning kecoklatan : Lunak : Tidak ada : Tidak ada 26 .2. Sebelum sakit 1) Buang air besar (BAB) Frekuensi Waktu Warna Konsistensi Posisi BAB Penghantar untuk BAB : 1x sehari : Pagi hari : Kuning : Padat : Duduk : Pasien mengatakan tidak pernah memakai penghantar waktu BAB Pemakaian obat Keluhan lain Upaya yang dilakukan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada 2) Buang air kecil (BAK) Frekunsi (dalam sehari) Jumlah (cc/24 jam) Warna Bau Keluhan Upaya yang dilakukan : 8x sehari : 800cc/24jam : Kuning : Khas urine : Tidak ada keluhan : Tidak ada b. Pola Eliminasi a.

dan bersih Alat bantu untuk memenuhi : Pasien tidak selalu memakai alat bantu untuk kebutuhan Apakah aktifitas sehari-hari dapat dilakukan sendiri. bantuan alat. orang lain. Sebelum sakit 1) Keadaan aktifitas sehari-hari Kebiasaan olahraga : Pasien tidak teratur untuk berolahraga Jenis olahraga Lingkungan rumah : Lari-lari : Lingkungan rumah cukup luas. sangat tergantung : AKTIVITAS Mandi Eliminasi Berpakaian/berdandan Mobilisasi di tempat tidur Pindah Ambulansi Naik tangga Memasak Belanja Merapikan rumah 0 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 27 .2) Buang air kecil (BAK) Frekuensi Jumlah Warna Bau Keluhan : ±5x sehari : 600cc/24 jam : Kuning : Khas urine : Tidak ada keluhan 3. Pola aktifitas istirahat-tidur a.

o Ket : 0 : mandiri 1 : dibantu sebagian 2 : perlu bantuan orang lain 3 : perlu bantuan orang lain dan alat 4 : tergantung total 2) Kebutuhan tidur Jumlah tidur dalam sehari Tidur siang Tidur malam Tidur yang diutamakan Kebiasaan pengantar tidur Pasien tidur dengan Perangkat yang digunakan Keluhan : ± 7 jam : Tidak tentu (± 2 jam) : ± 5 jam : Tidur malam : Tidak ada : Sendiri : Selimut. bantal. Selama sakit 1) Keadaan aktifitas AKTIVITAS Mandi Makan/minum Berpakaian/berdandan Toileting Mobilisasi di TT √ 0 1 2 √ √ √ √ 3 4 28 .guling : Tidak ada 3) Kebutuhan istirahat Kapan Berapa lama Kegiatan waktu luang Menyediakan waktu istirahat : Siang hari : ± 2 jam : Santai : Ada Dalam suasana apa pasien bisa istirahat : Tenang b.

Kebersihan Rambut Mencuci rambut dengan Keluhan : shampoo : Tidak ada keluhan c. Pola Kebersihan Diri (sebelum sakit) a.Ambulansi/ROM Berpindah o Ket : 0 : mandiri 1 : dibantu sebagian 2 : perlu bantuan orang lain √ √ 3 : perlu bantuan orang lain dan alat 4 : tergantung total 2) Kebutuhan tidur Jumlah tidur dalam sehari Tidur siang Tidur malam Penghantar untuk tidur Keluhan tidur Pasien kesakitan : ± 2 jam : ± 7 jam : Tidak ada : Tidak ada : TIdak 3) Kebutuhan istirahat Perasaan pasien : Pasien mengatakan lemas dan pusing Pasien merasa terganggu dengan lingkungan baru : Tidak Alat-alat medik yang mengganggu : Tidak ada 4. Kebersihan Kulit Kapan kebiasaan mandi Mandi menggunakan Keluhan : 2x sehari. Kebersihan Telinga Kapan merawat telinga : Membersihkan telinga saat 29 . pagi dan sore hari : Sabun : Tidak ada keluhan b.

Perkembangan karakteristik sekunder : - 30 . Alkohol Pasien mengatakan tidak pernah minum alkohol d.Kapan memotong kuku . Kebersihan Mata Kebiasaan membersihkan mata Keluhan : Saat mandi : Tidak ada keluhan e. Kebersihan Mulut Berapa kali menggosok gigi Menggunakan pasta gigi Keluhan : Kadang 2x sehari : Iya : Tidak ada keluhan f. Pola Reproduksi-Seksualitas a.mandi Menggunakan alat pendengar Keluahan : Tidak : Tidak ada keluhan d. Kebersihan Kuku . Gangguan hubungan seksual b.Keluhan : Bila kuku sudah panjang : Sering menggunakan cat kuku : Tidak ada keluhan 5. NAPZA Pasien mengatakan tidak pernah memakai NAPZA c. Pola Pemeliharaan Kesehatan a. pencegahan penyakit yang diderita 6.Cat kuku . Pemahaman fungsi seksual : Tidak ada gangguan :- c. Intelektual Pasien hanya mengetahui penyakit yang diderita Pasien tidak mengerti perawatan. Penggunaan tembakau Pasien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi tembakau b.

d. Identitas diri : Pasien mampu menyebutkan nama dan tempat tinggalnya b. Masalah menstruasi e. Pola Konsep Diri a. Upaya yang dilakukan : Memadai : Tidak ada keluhan : Baik : Tidak : Nyeri kepala : Teman pasien mengajak bicara dan menyuruh pasien beristirahat 8. Keadaan mental b. Berbicara c. Penglihatan k. Gambaran diri e. Ideal diri : Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan segera pulang c. Harga diri : Pasien tidak merasa malu ketika kerabat berkunjung ke rumah sakit d. Pap smear terakhir f. Nyeri m. Pemerikasaan payudara : Tidak ada masalah ::- 7. Kemampuan membaca e. Pola Kognitif-Persepsi/Sensori a. Vertigo l. Kemampuan berkomunikasi : Sadar : Jelas : Indonesia dan Inggris : Baik : Bisa berkomunikasai dengan baik f. Keterampilan berkomunikasi i. Kemampuan memahami informasi : Pasien memahami setiap informasi g. Peran diri : Pasien sangat senang saat bisa bercerita : Pasien sebagai keluarga biasa 31 . Tingkat ansietas : Sedang. Pendengaran j. karena sudah pernah mengalami ISK h. Bahasa yang dikuasai d.

Klien berkecimpung dalam organisasi masyarakat : Tidak d. System pendukung e. Jenis pekerjaa : Tidak bekerja :- c. Pola Koping a.9. Dukungan keluarga di Rumah Sakit : Teman dan orang tua : Keluarga dan teman sangat baik dalam memberi dukungan f. Status pekerjaan b. saat jam kunjung ada teman yang menengok Hubungan dengan pasien lain. Pola Peran-Berhubungan a. Pola Nilai dan Keyakinan a. Hal-hal yang dilakukan jika mempunyai masalah : Mencari pertolongan 10. Selama sakit Hubungn dengan anggota keluarga : Baik Hubungan dengan masyarakat : Baik. Pengambilan keputusan : Dibantu orang lain. teman dan keluarga b. Kesulitan dalam keluarga Hubungan dengan orang tua Hubungan dengan anak saudara Hubungan perkawinan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada g. anggota kesehatan lain : Komunikatif 11. Sebelum sakit Agama Larangan agama : Katolik : Tidak ada 32 .

Pengukuran TB 2. Tingkat kesadaran : Compos mentis GCS : 15 E: 4 V: 5 M: 6 33 .- Kegiatan keagamaan   Macam Frekuensi : : Pergi kegereja : Setiap hari minggu b. Repirasi : Tangan kanan (vena radialis) : Kuat : 38. Tanda vital 1.90 C : Axila : 22x/menit Regular/ireguler : Reguler Tipe pernafasan : Dada 4. Suhu Diukur di 4. Pengkajian Fisik 1. Tekanan darah Diukur di Posisi pasien Ukuran manset 2. Pengukuran BB 3. Selama sakit Kegiatan keagamaan yang ingin dilakukan : Berdoa Membutuhkan bantuan Membutuhkan kunjungan rohaniawan : Iya : Iya D. Nadi : 100/70 mmHg : Tangan kanan (vena brachioradialis) : Fowler : Dewasa : 100 x/menit : 157cm : 47kg Regular/ireguler : Reguler Diukur di Kualitas 3.

bisa berkomunikasi dengan baik dengan perawat dan teman Terpasang infuse RL 20 tetes/menit di tangan kanan tanggal 06-01-2013 6. Kepala 1) Rambut a) Rambut pasien berwarna hitam. Keadaan umum : Pasien tampak sakit ringan Pasien tampak lemah. Pemeriksaan fisik a. rambut berminyak b) Bentuk kepala bulat c) Tidak terdapat bekas luka pada kulit kepala d) Tidak terdapat nyeri tekan pada kepala e) Terdapat finger print pada dahi 2) Mata a) Wajah pasien berwarna sawo matang kemerahan dan berminyak b) Mata kiri dan kanan pasien simetris c) Pupil kana-kiri isokor d) Sclera berwarna putih keruh e) Konjungtiva berwarna merah pucat f) Reflek cahaya kanan (+) kiri (+) 3) Telinga a) Telinga kanan dan kiri simetris b) Tidak terdapat luka pada daun telinga kanan dan kiri c) Tidak terdapat nyeri tekan pada telinga kanan dan kiri 34 .5.

c) Perkusi : terdengar sonor pada lapang paru. d) Auskultasi : tidak ada suara tambahan disemua lapang paru. simetris dada kanan dan kiri. ictus cordis pada ICS 5 b) Palpasi : pernafasan dada kiri dan kanan simetris. tidak terdapat nyeri tekan pada dada. tidak terdapat bekas luka pada dada. 35 . vocal rensonan teraba sama di semua bagian.4) Hidung a) Septum tepat berada di tengah b) Lubang hidung kiri dan kanan simetris c) Terdapat sedikit kotoran pada kedua lubang hidung 5) Mulut dan Tenggorokan a) Kemampuan bicara jelas b) Bibir berwarna merah pucat c) Membran mukosa kering d) Tonsil T1 e) Uvula berada di tengah 6) Leher a) Leher berwarna sawo matang b) Tidak terdapat bekas luka pada leher c) Tidak terdapat nyeri tekan pada leher d) Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid 7) Dada a) Inspeksi : dada berwarna sawo matang.

8) Abdomen a) Inspeksi : perut berwarna sawo matang. : suara tympani pada abdomen. turgor kulit tidak elastis. tidak terdapat kelainan jari pada tangan kanan dan kiri. umbilicus tepat di tengah. c) Palpasi : terdapat nyeri tekan pada kwadran kanan bawah dan kiri bawah d) Perkusi 9) Genetalia Tidak terpasang DC. 11) Integument Turgor kulit pasien tidak elastic. warna kulit sawo matang. terpasang infus RL-500 20 tetes/menit di tangan kanan. kotor. tidak terdapat kelainan jari pada kaki kanan dan kiri. 10) Anus Tidak terdapat hemoroid. turgor kulit tidak elastis. tidak terdapat bekas luka pada perut. b) Auskultasi : peristaltic usus : 19x/menit. kekuatan otot kaki kanan dan kiri 5/5 36 . kekuatan otot kanan-kiri : 5/5 b) Bawah Anggota gerak lengkap. warna kulit sawo matang. 12) Ekstremitas a) Atas Anggota gerak lengkap.

00-121.8 35.50 29.0 O 16.20 13.50-11.20 29.0-5. besar cor dalam batas normal.63 12.0-32.0-0.5 4. Thorax Corakan grondhovaskuler kasar.00 0.0 4. Diagnostik Test 1. air bronchogram minimal.E.0-46.2 0.00 3.0 4.7 0.50-0.10-5.23 0.00 westegram 17 18 19 20 21 LED 2 jam Golongan Darah SGOT (AST) SGPT (ALT) Glukosa sewaktu 55. 2.0-14.0 Satuan mg/dL mg/dL gr/dl Rbu/mmk % % % % % % Juta/mmk % Fl pg g/dl mm Normal 10.9 16.00 31.30 11.0 0.0 0.60-14.00 29.0 0.2 47. Hasil Pemeriksaan Laboratorium a) Tanggal 06 Januari 2013 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Pemeriksaan Ureum Creatinin Hemoglobin Leukosit Eosinofil Basofil Segmen Limfosit Monosit Hematokrit Eritrosit RDW MCV MCH MCHC LED 1 jam Hasil 9.00-37.0 70-140 mm 37 .1 105 u/L u/L mg/dL 0.0 36.90 12. Ro.0-40.0-80.00 84.5 8.0 2.1 76.0 13.0-50.80 35.0-32. suspek bronchitis.0 6.0-11.00-36.9 12.80 92.0-18.

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Warna Urin BJ pH Bakteri Leko Pucat Sel Gliter Leko Gelap Eritrosit Epitel Ca Oxalat Urat Silinder Hialin Granular Epitel Kuning 1. Terapi cairan a. Ceftriaxone 2x1 tablet b. Parenteral a. Tidak menggunakan O2 6. Diet BB. Rantin 2x1 tablet c.0 + sedikit 1+ 2+ 2+ 2+ - F. Pamol 3x1 tablet e. Aminofluid 500 ml 38 . Primperan 2x1 tablet d. PROGRAM PENGOBATAN 1. Cataflam 2x1 tablet 3. Infus RL 20 tetes /menit b.020 6. Pasien bedrest 5. 3x sehari 4. Non parenteral a. Cernavit 1x1 fl b. Aminofluid 1x1 fe 2.

asidosis laktat. hiperkalemia. intoksikasi air. elektrolit dan air sebelum dan sesudah. Hipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi alergi silang). Kenaikan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase selama pemberian bolus Intra Vena. Ruam kulit. Hipervitaminosis atau hipersensitif terhadap vitamin B1 (tiamin). hipermagnesemia. gangguan metabolisme elektrolit yang abnormal. atau resiko koma hepatik. pruritus. demam. Ceftriaxone Vitamin parenteral untuk dewasa dan anak usia lebih dari 11 tahun yang tidak mungkin atau tidak cukup diberikan secara oral. nyeri vaskuler. menggigil. Nama Obat Indikasi Kontraindikasi Hipernatremia. palpiasi edema serebral. asidosis berat. Analisa Obat No 1. gagal jantung kongestif. Efek samping 2. asidosis. sakit pada pemberian injeksi Intra Muskular.G. pada individu dengan hipoproteinemia atau malnutrisi ringan karena kurangnya asupan oral. pulmoner dan perifer. Reaksi hipersensitivitas (urticaria. hiperfosfatemia. nyeri dada. hiperkalsemia. Infus RL 20 Mengembalikan tetes /menit keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Aminofluid Suplai asam amino. reaksi parah seperti anaphilaxis 39 . kelainan ginjal. gangguan ginjal berat atau azotemia. alergi. kerusakan sel hati. Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap Ceftriaxone. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik. ruam. seperti: infeksi Koma hepatik. Cernevit 4. rasa hangat dan sakit kepala. hiperkalemia. flebitis. karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob. 3.

depresi. anoreksia (kehilangan nafsu makan). 7. ulkus peptikum.5. Untuk meringankan: Rasa sakit atau nyeri. sakit kepala. efek samping yang tidak spesifik pada pemakaian Paracetamol pernati 40 . Primperan Keadaan dimana jika terjadi perangsangan saluran pencernaan bisa membahayakan. stenosis pilorik (bersifat ringan). pusing. 6. keganasan lambung. nyeri pada ulu hati. mabuk perjalanan. gangguan saluran pencernaan. hamil. Ulkus duodenum aktif. dispepsia sesudah gastrektomi. Reaksi ekstrapiramidal. meningitis. profilaksis perioperatif. Gangguan fungsi Jarang terjadi. mual di pagi hari. keresahan/kegelisahan. infeksi THT. sakit gigi. infeksi tulang. hipertensi. dispepsia. pusing. Pamol Penderita yang hipersensitif terhadap Paracetamol. kembung. mengantuk. epilepsi. infeksi genital (termasuk gonore). infeksi saluran kemih. sendi dan jaringan lunak. Sakit kepala. seperti penyumbatan usus. Disfungsi ginjal & hati. misalnya : sakit kepala. anak-anak. ulkus lambung aktif yang tidak membahayakan dan kondisi hipersekretori pathologikal seperti Sindroma ZollingerEllison. gastroduodenitis. endoskopi. dan infeksi pada pasien dengan gangguan pertahanan tubuh. ruam kulit. feokromositoma. Rantin saluran nafas. menyusui. gangguan pencernaan. sesudah bisa terjadi) efek GI (diare/radang usus besar) efek lainnya (infeksi candidal). Gangguan lambungusus. dan intubasi. infeksi intra abdominal. sepsis. rasa lelah. mual dan muntah karena obat.

sebagai tambahan pada infeksi THT yang meradang yang disertai nyeri hebat. perdarahan saluran pencernaan. Mual. Jarang : Ulkus peptikum.pencabutan gigi. Demam misalnya karena imunisasi. diaforesis. vertigo. hati berat. peradangan atau nyeri setelah operasi. 41 . Pada dosis besar dan pemakaian lama dapat menyebabkan kerusakan hati. muntah. sakit kepala. dilaporkan. Cataflam Keadaan meradang setelah traumatic yang disertai rasa sakit atau nyeri . Hipersensitif terhadap Diklofenak atau obatobat anti radang non steroid lainnya. hepatitis. nyeri pada otot. diare. pusing. hipersensitifitas. peningkatan serum transaminase. 8. reumatisme non artikular. kemerahan pada kulit. Kadang-kadang: Gangguan lambung usus. pallor dan sakit perut. Sindroma nyeri pada tulang belakang. abnormalitas fungsi ginjal.

Wajah menyeringai saat berkemih DS: .Suhu 38.Pasien mengatakan demam . DO: .Turgor kulit tidak elastic .Membrane mukosa kering Masalah Nyeri akut Penyebab Agen inflamasi 2 Hipertermi Penyakit 3 Kekurangan volume cairan Intake tidak adekuat 42 .Suhu 38.90 C .Pasien mengatakan lemas .H.Nadi 100 x/mnt .Pasien mengatakan sedikit nyeri saat berkemih.90 C .Pasien mengatakan sedikit haus DO: . Analisa Data No 1 Data DS: .Pasien mengatakan merasa pusing DO: .Tekanan Darah 100/70 mmHg .Nadi 100 x/mnt DS: .Kulit teraba hangat .Kulit kemerahan .

DO: . Diagnosa Keperawatan No Diagnosis Keperawatan 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen inflamasi ditandai dengan: DS: .Pasien mengatakan sedikit haus DO: .Suhu 38.Pasien mengatakan lemas .Suhu 38.Kulit teraba hangat .Pasien mengatakan demam .I.Membrane mukosa kering 43 .90 C .90 C .Turgor kulit tidak elastic .Nadi 100 x/mnt .Tekanan Darah 100/70 mmHg .Nadi 100 x/mnt 3 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat ditandai dengan: DS: .Kulit kemerahan .Wajah menyeringai saat berkemih 2 Hipertermi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan: DS: .Pasien mengatakan sedikit nyeri saat berkemih.Pasien mengatakan merasa pusing DO: .

.00 WIB. frekuensi. mengobservasi apabila terjadi perubahan GCS.Mampu mengontrol nyeri . Kaji nyeri kepala setiap 2. Untuk mengetahui 6 jam sekali.adanya hipertensi / Hipotensi dapat terjadi karena hipotensi syok (kolaps sirkulasi vaskuler). dialami pasien.00 WIB. DO: . jam 12. 3. baik itu derajat/tingkat nyeri yang intensitas.Tanda vital dalam rentang normal . sebagai akibat adanya kerusakan otak. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan: DS: . dan setiap 6 jam sekali.Tekanan Darah 100/70 mmHg .Pasien mengatakan sedikit nyeri saat berkemih. Kaji keadaan umum 1.B Umur Ruangan No : 22 th : E/10 B Tindakan Keperawatan Tujuan Dan Kriteria Hasil Tgl 07 Januari 2013.Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang .00 WIB. Mengetahui keadaan umum pasien dan pantau GCS pasien. Hipotensi postural dapat vital: menjadi faktor pencetus. jam 12. tingkat kesakitan.00 WIB. jantung . Pantau tanda-tanda 3. . jam 12. 1.frekuensi dan irama Peningkatan TIK dapat terjadi.Perubahan terutama adanya .pola dan irama dari bradikardia dapat terjadi pernapasan.Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri . Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria: . Rencana Keperawatan Nama Pasien : Nn.Nadi 100 x/mnt . jam 12.J. durasi.Tidak mengalami gangguan tidur Tindakan Rasional Diagnosis keperawatan & Data Penunjang 1 Tgl 07 Januari 2013. lokasi. .Wajah menyeringai saat berkemih Tgl 07 Januari 2013.Ketidakteraturan 44 . 2. Tgl 07 Januari 2013.

Misal : ceftriaxone dan cataflam. Mengidentifikasi terjadinya peningkatan suhu tubuh. jam hipertermi dapat teratasi 2.00 WIB. Tgl 07 Januari 2013. Berikan obat analgetika. Ajarkan teknik relaksasi kepada pasien. Anjurkan untuk tirah baring dan batasi aktivitas yang menambah nyeri kepala. jam 12. 6. misal : jangan banyak bicara dulu. jam 12.Pasien mengatakan demam . 6. 5. lokasi kerusakan serebral / peningkatan TIK. 5.00 WIB.4. jam 12. Tgl 07 Januari 2013.00 WIB. Untuk mengalihkan perhatian pasien pada nyeri sehingga pasien tidak merasa nyeri. Observasi suhu keperawatan selama 3 X 24 sesering mungkin. 2. jam 12. Observasi warna dan dengan kriteria: suhu kulit. Tekanan darah. Observasi tekanan rentang normal darah nadi dan Tidak ada perubahan respirasi. 4. warna kulit pernapasan dapat memberikan gambaran.Pasien mengatakan merasa pusing Tgl 07 Januari 2013. 0 Suhu pasien 36-37 C Nadi dan respirasi dalam 3. 3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan: DS: . 1. Mengidentifikasi adanya kemerahan pada kulit mengetahui bila pasien masi mengalami hipertermi. Untuk mengurangi nyeri kepala dan mencegah makin luasnya infark akibat meningkatnya aktivitas. Setelah dilakukan tindakan 1. Untuk mengurangi nyeri pada pasien.00 WIB. nadi dan respirasi yang normal merupakan indikasi tidak 45 . 2 Tgl 07 Januari 2013.

jam 12. terjadinya hidrasi pada pasien.Suhu 38. membrane mukosa lembab. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam kekuranagn volume cairan dapat teratasi dengan kriteria klien dapat: . c.00 WIB. jam 12. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat ditandai dengan: DS: .Pasien mengatakan lemas .90 C .Kulit teraba hangat . Tgl 07 Januari 2013.Suhu 38.Kulit kemerahan .90 C . menurunkan suhu tubuh pasien. 5.Intake oral dan intravena adekuat 46 .Tekanan darah. Berikan cairan oral. Observasi TTV . Cairan oral dapat menyeimbangkan cairan dalam tubuh. Kolaborasi dalam 6. elastic turgor kulit baik.00 WIB. suhu tubuh dalam batas normal . tidak ada rasa haus yang berlebih . jam 12. jam 12. menggambarkan tidak nadi adekuat). b. d. 6. Pemasukan intake adekuat dapat membantu pasien mengatasi terjadinya 3 Tgl 07 Januari 2013.Nadi 100 x/mnt Tidak ada pusing dan merasa nyaman terjadinya hipertermi.00 WIB.DO: . Pemberian obat dapat pemberian pamol.Pasien mengatakan sedikit haus DO: . Dorong keluarga untuk 5. Monitor hasil lab yang 2. suhu tubuh menurun. a. Kompresan pada lipat paha dan kompres pada lipat axila pada pasien hipertermi paha dan axila dan dapat menurunkan suhu tubuh memberikan minum pasien. 4. e. Cairan intravena akan membuat intravena.Tidak ada tanda dehidrasi. nadi. Berikan cairan 4.Turgor kulit tidak elastic . deficit volume cairan atau tidak. Tgl 07 Januari 2013.Membrane mukosa Tgl 07 Januari 2013. Observasi status hidrasi 1. Kelembaban mukosa dan (kelembaban adanya nadi yang adekuat membrane mukosa.00 WIB. Ajarkan keluarga untuk 5. Tanda-tanda vital dalam rentang normal menandakan pasien tidak mengalami deficit cairan. Hasil lab dapat menentukan sesuai dengan retensi apakah pasien masih mengalami cairan. sedikit-sedikit tapi sering. 3. 4.

kekurangan volume cairan. makan. 6. 47 . Cairan intravena dapat meningkatkan volume cairan tubuh pasien. Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena.kering f.

Mengobservasi KU pasien KU : gelisah.30 12. DX.30 13.40 2.K.GCS : 15 ( E:4.90C N : 80x/mnt R : 22x/mnt I: .90 C .Observasi suhu pasien 38.00 48 . pasien gelisah.40 12.2 07 Januari 2013 12.Mengajarkan tekhnik nafas dalam . CATATAN PERKEMBANGAN Nama Pasien : Nn.90C R :22x/mnt .50 13.Mengobservasi tekanan darah 100/70mmHg dan respirasi 22x/mnt . DIAGNOSA DX.30 12.B Ruangan : E/10 B NO 1.30 12.Mengobservasi KU pasien. V:5.20 IMPLEMENTASI I: . M :6 ) . pusing .Menganjurkan pasien untuk istirahat E: DS : Pasien mengatakan sedikit sakit untuk BAK DO : TD : 100/70mmHg S : 38.Mengobservasi kemerahan pada kulit pasien .Mengobservasi tanda vital sign pasien: TD : 100/70mmHg N : 84x/mnt S : 38.1 TGL/JAM 07 Januari 2013 12. kesadaran CM.Mengecek pemasukan oral pasien PARAF 12.30 13.pusing.

90 C I: .13.Memberi obat per oral ceftriaxone 2x1 tablet dan cataflam 2x1 tablet.5.Mengobservasi KU pasien.80C R : 20x/mnt . .30 08.10 12.4. pasien gelisah E: DS : pasien mengatakan nyeri suprapubik berkurang.00 08.40 13.6 I: .Memberikan minum kepada pasien .50 3.Kes Compos Mentis A : Masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi 1. pusing berkurang .1 08 Januari 2013 07. DX.Balance cairan pasien CM: 700cc CK: 500cc BC:+200cc E: DS :Pasien mengatakan minta minum karena haus DO : Klien lemes.Mengobservasi membrane mukosa pasien kering .00 13. DO : pasien gelisah 4.45 49 .Mengkaji tanda vital: TD : 100/60mmHg N :95x/mnt S :37. DX . turgor kulit tidak elastic dan membrane mukosa kering S : Pasien mengatakan masih nyeri O : KU sedang .Mengobservasi turgor kulit pasien tidak elastic .3.30 E: DS :Pasien mengatakan kepala pusing DO :Suhu pasien 38.2.Mengobservasi KU klien Klien gelisah.00 13.3 07 Januari 2013 12.

kulit teraba hangat S: O : mulut pasien terlihat masih kering A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi1-6 I .3 07 Januari 2013 08.10 12.30 08.30 09.Mengkaji suhu pasien 380C .Membantu memberikan minum pada pasien .Nadi pasien 95x/mnt .00 08.30 6 DX. .00 10.Mengobservasi mukosa pasien kering .Memberikan obat pamol.Membantu pasien untuk minum .Memotivasi keluarga untuk memberikan minum sedikitsedikit tetapi sering E: DS : pasien mengatakan masih sedikit pusing DO : suhu pasien 380C.00 13.00 08.Mengecek cairan intravena pasien .Balance cairan pada pasien CM:900cc CK:750cc BC:+150 50 .00 TD : 100/60mmHg N : 95x/mnt R :20x/mnt S :380C S :Pasien mengatakan masi merasa sedikit demam O: Kulit pasien teraba hangat dan kemerahan A:Masalah belum teratasi P:lanjutkan intervensi 1-6 I: .40 08.Mengajarkan pada keluarga untuk memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering .00 13.5 Dx 2 08 Januari 2013 07.

membrane mukosa kering.13. Balance cairan pada pasien CM:900cc CK:750cc BC:+150 Diagnosa Medis : Infeksi Saluran Kemih 51 .30 E: DS : DO : nadi pasien 95x/mnt.

kehilangan kelemahan/kelelahan umum. perumusan diagnosa keperawatan. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan tonus/kontrol dengan otot kerusakan fasial/oral. Pada tinjauan teori menurut Merlynn E Doengoes. paralisis spastis. 3. analisa data. 5. Peningkatan suhu tubuh ( hipertermi ) berhubungan dengan proses penyakit ( viremia ) 52 . Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan. 2000. 3. Hipertermi berhubungan dengan infeksi. menentukan rencana tindakan keperawatan.B ditemukan beberapa diagnosa keperawatan yaitu : 1. 2.BAB III PEMBAHASAN Bab ini membahas tentang pasien kelolaan Nn. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi. 2000. B dengan Infeksi Saluran Kemih. evaluasi sampai pendokumentasian kasus kelolaan. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis. 2003 dan Effendy. yaitu B. A. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan nyeri. K diperoleh data hasil. neuromuskuler. flaksid/paralisis hipotonik (awal). 1995 dan disesuaikan dengan NANDA 2009-2011 adalah : 1. Tanda tanda tersebut sesuai dengan karakteristik Infeksi Saluran Kemih menurut teori pengkajian Merlyn E Doengoes. Pengkajian Keperawatan Dari pengkajian yang telah dilakukan pada klien Ny. Diagnosa Keperawatan Dalam pengelolaan kasus Nn. Risiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi. melakukan implementasi. nyeri pada supra pubik dan nyeri saat pasien berkemih. 2. yang telah dikelola dua hari di ruang E Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada 7-8 Januari 2013 dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan mulai dari pengkajian. 4. klien mengalami demam. parestesia.

anoreksia. C. ada tiga diagnosa sama dan ada 11 diagnosa yang tidak diangkat karena kurang sesuai dengan keadaan klien. Ajarkan teknik relaksasi kepada pasien. f. Observasi keadaan umum pasien dan pantau GCS setiap 6 jam sekali b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. d. durasi. Nyeri akut berhubungan dengan agen inflamasi. baik itu intensitas. Berikan obat analgetika. muntah. Tindakan yang sudah dilakukan antara lain a. Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit 7. Perencanaan Dilakukan penulisan perencanaan dengan menyesuaikan teori Doengoes 2000 dan NANDA 2011 : 1. Perubahan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah 9. 11. frekuensi. 8. Kecemasan ringan sedang sehubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. Misal : ceftriaxone dan cataflam. Anjurkan untuk tirah baring dan batasi aktivitas yang menambah nyeri kepala. Resiko infeksi sehubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus / NGT). Kaji nyeri kepala setiap 6 jam sekali. c. Gangguan proses keluarga sehubungan dengan anggota keluarga dirawat di rumah sakit. lokasi. e.6. 53 . Pantau tanda-tanda vital:    Adanya hipertensi / hipotensi Frekuensi dan irama jantung Pola dan irama dari pernapasan. 10. misal : jangan banyak bicara dulu. Dari tiga diagnosa yang muncul pada kasus kelolaan.

f. 3. b. durasi. frekuensi. Implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana tindakan keperawatan 1. 54 . c. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan. Hipertermi berhubungan dengan penyakit. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. Tindakan yang sudah dilakukan antara lain a. e. Berikan cairan intravena. 7-8 Januari 2013. Observasi TTV . Nyeri akut berhubungan dengan agen inflamasi. e. Pantau tanda-tanda vital:    Adanya hipertensi / hipotensi Frekuensi dan irama jantung Pola dan irama dari pernapasan. Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena. c. d. Observasi status hidrasi (kelembaban membrane mukosa. Berikan cairan oral.2. Kaji nyeri kepala setiap 6 jam sekali. baik itu intensitas. Kolaborasi dalam pemberian pamol. Kaji Observasi suhu sesering mungkin. Observasi keadaan umum pasien dan pantau GCS setiap 6 jam sekali b. lokasi. D. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan. Tindakan yang sudah dilakukan a. f. Observasi tekanan darah nadi dan respirasi. c. Observasi warna dan suhu kulit. Tindakan yang sudah dilakukan a. b. Ajarkan keluarga untuk kompres pada lipat paha dan axila dan memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering. nadi adekuat). Implementasi Tahap implementasi asuhan keperawatan dilaksanakan selama dua hari. d.

3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. b. d. Kolaborasi dalam pemberian pamol. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan. 55 . Misal : ceftriaxone dan cataflam. Kaji Observasi suhu sesering mungkin. nadi adekuat). Berikan obat analgetika. Observasi status hidrasi (kelembaban membrane mukosa. Berikan cairan intravena. Suhu tubuh pasien 380C. b. e. Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena. Observasi warna dan suhu kulit. mulai teratasi karena pasien mengatakan nyeri pada area supra pubik mulai berkurang. c. c. 3. e. Hipertermi berhubungan dengan penyakit. Evaluasi 1. Observasi tekanan darah nadi dan respirasi. e. Hipertermi berhubungan dengan penyakit.d. Berikan cairan oral. 2. d. Tindakan yang sudah dilakukan a.mulai teratasi karena Balance Cairan pasien +150cc namun membrane mukosa pasien masih kering. belum teratasi karena klien mengataan badan masih demam dan pusing. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. E. 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen inflamasi. Observasi TTV . Tindakan yang sudah dilakukan a. Ajarkan teknik relaksasi kepada pasien.

Kesimpulan 1. mulai teratasi karena pasien mengatakan nyeri pada area supra pubik mulai berkurang.mulai teratasi karena Balance Cairan pasien +150cc namun membrane mukosa pasien masih kering. Nyeri akut berhubungan dengan agen inflamasi. 3. Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Pertahankan kwalitas pelayanan perawatan kepada pasien. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. STIKES BETHESDA Melanjutkan kegiatan dan pertahankan kualitas pengajaran pada mahasiswa. 56 . Hipertermi berhubungan dengan penyakit. B.BAB IV PENUTUP A. 4. 2. Suhu tubuh pasien 380C. Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam dua diagnosa memperoleh hasil masalah teratasi sebagian dan masih ada diagnosa yang belum teratasi. belum teratasi karena klien mengataan badan masih demam dan pusing. Saran 1. 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->