DISTRIBUSI PEMERATAAN PENDAPATAN NASIONAL DAN INFLASI

I. DEFINISI PEMERATAAN PENDAPATAN
PENDAPATAN (income) Budiono (1992 : 180) mengemukkan bahwa pendapatan adalah hasil dari penjualan faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor produksi. Sedangkan menurut Winardi (1992 : 171) pendapatan adalah hasil berupa uang atau materi lainnya yang dapat dicapai dari pada penggunaan faktor-faktor produksi. Berdasarkan kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu badan usaha dalam suatu periode tertentu. Dua Jenis Pendapatan : Labor income, meliputi upah (wages) dan gaji (salaries), benefit serta berbagai jenis labor income lainnya Property Income, meliputi sewa (rent), bunga tabungan (interest paid on saving account), laba perusahaan (corporate profit), dan proprietors income atau disebut juga sebagai laba perusahaan perseorangan. Pemerataan pendapatan (redistribusi pendapatan/ distribution of income) merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah agar pendapatan masyarakat terbagi semerata mungkin diantara warga masyarakat. Pengertian merata di sini tidak berarti bahwa semua warga masyarakat pendapatannya dibuat sama, tetapi kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk memperoleh pendapatan. Tujuannya adalah agar tidak terjadi ketimpangan pendapatan dalam masyarakat sehingga dapat menimbulkan keresahan dan kecemburuan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas nasional.

Keterbatasan informasi pasar dan informasi teknologi untuk pengembangan produk unggulan. dan jaringan pemasaran dalam upaya pengembangan peluang usaha dan kerjasama investasi. Belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang berpihak kepada petani dan pelaku swasta.II.diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan. dukungan teknologi. baik pemerintah. 5. 2. propinsi. penyebabnya antara lain: 1. Belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berorientasi pada pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian daerah. Belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku pengembangan kawasan di daerah. swasta. Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi di daerah dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah. dan kerjasama. input produksi. . 4. Belum berkembangnya koordinasi. dan petani. Masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha kecil terhadap modal pengembangan usaha. sinergitas. PENYEBAB KETIMPANGAN Menurut Sarjono HW (2006) pada kontek mikro. 3. 6. 7. dan kabupaten atau kota dalam upaya peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan. serta antara pusat. lembaga non pemerintah. yang menjadi penyebab terjadinya ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah pada umumnya.

investasi dan pertumbuhan. Akan tetapi juga berupa ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional. Belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar daerah untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan Sementara pada aspek makro. Sedangkan faktor kedua karena strategi pembangunan yang tidak tepat_cenderung berorientasi pada pertumbuhan. Dumairy (1996). dapat dilihat berdasarkan perbedaan mencolok dalam aspek-aspek seperti penyerapan tenaga kerja. Faktor pertama ialah karena ketidaksetaraan anugerah awal (initial endowment) diantara pelakupelaku ekonomi. keahlian/keterampilan. sektor ekonomi. Kalau kita lihat secara objektif. Bukan pula semata-mata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah. sektor wilayah/daerah/kawasan). Ketidaksetaraan anugerah awal yang dimaksud adalah adanya kesenjangan antara bekal “resources” yang dimiliki oleh para pelaku ekonomi. begitu pula yang lain-lainnya seperti kapital. yakni antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan. bakat/potensi atau sarana dan prasarana. Ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional misalnya. . sumberdaya alam. keahlian/keterampilan serta bakan atau potensi. (growth). (pra)sarana ekonomi yang tersedia tidak sama antar daerah. kapital. Yang meliputi. atau dimensi. aspek. Sumberdaya alam yang dimiliki tidak sama antar daerah. ketimpangan pembangunan. Sedangkan pelaku ekonomi adalah perorangan. tetapi juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. misalnya dalam hal pendapatan perkapita. yang selama ini berlangsung dan berwujud khsususnya pada Negara berkembang adalah dalam berbagai bentuk.8. Bukan saja ketimpangan hasilhasilnya. alokasi dana perbankan. menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang layak dikemukakan untuk menerangkan mengapa ketimpangan pembangunan dan hasil-hasilnya dapat terjadi.

Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan misalnya. malah sebaliknya hanya memperkaya pelaku-pelaku ekonomi tertentu yang dekat dan mudah mendapatkan akses pembangunan secara gratis.Secara makro ketimpangan pembangunan yang terjadi di diberbagai daerah. tentunya karena lebih disebabkan oleh aspek strategi pembangunan yang kurang tepat. ternyata tidak mampu mengatasi persoala-persoalan yang terjadi di daerah. .

kriteria penilaian koefisien gini ratio adalah sebagai berikut :  Gini Ratio < 0 .5 tingkat ketimpangan tinggi . Secara lengkap. Kurva Lorenz dan Koefisien Gini Ratio Kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase jumlah penduduk penerima pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase pendapatan yang benar.benar mereka peroleh dari total pendapatan selama jangka waktu tertentu 2. Kumulatif pendapatan XPO % kumulatif penduduk Garis diagonal merupakan garis yang menunjukan keadaan pemerataan pendapatan yang sempurna (perfect equality) dalam distribusi pendapatan.4 < Gini Ratio < 0. maka distribusi pendapatan semakin tidak merata. maka distribusi pendapatan semakin merata.III. Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal maka tingkat pemerataan pendapatan semakin timpang (tidak merata distribusi pendapatannya). Kasus ekstrim dimana apabila hanya ada satu orang saja yang menerima seluruh distribusi pendapatan sementara orangorang lainnya sama sekali tidak menerima pendapatan tersebut akan diperlihatkan oleh titik kurva Lorenz yang berhimpit dengan sumbu horizontal sebelah kiri bawah atau kanan atas. sebaliknya bila mendekati angka 1. Jika angka koefisien gini mendekati nol. karena koefisien gini merupakan formula yang menghitung ratio luas bidang antara garis diagonal(perfect equality) dan kurva Lorenz. Koefisien gini ratio tidak bisa lepas pembahasannya dengan kurva Lorenz. INDIKATOR PENGUKURAN DISTRIBUSI PENDAPATAN Dasar dasar indikator distribusi pendapatan 1. kurva Lorenz menunjukkan deviasi dari suatu kondisi pemerataan sempurna kepada arah ketidakmerataan.4 tingkat ketimpangan rendah  0.5 tingkat ketimpangan moderat  Gini Ratio > 0. Di lain pihak.

11 39.244 0. yaitu :  40 persen penduduk yang berpendapatan rendah.195 0.2009 Kriteria Bank Dunia/ World Bank Criteria 40 % Penduduk Berpenghasilan Rendah/ Lower Income Population (40 %) (2) 23.59 34.230 0.19 34.02 39.06 41.77 35.04 41.75 23.255 0.254 0.15 37.13 20 % Penduduk Berpenghasilan Tinggi/ High Income Population (20 %) (4) 35.61 41.02 23.83 34.252 0.45 25.239 0.41 35. Kriteria bank dunia Menurut Suseno (1990) bahwa dalam melihat pemerataan pendapatan Bank Dunia menggolongkan penduduk dalam tiga kelompok.3.248 (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 .25 42.63 30.48 24.255 0.31 28.04 35.20 24.94 41.262 0.28 24.30 32.48 40.  20 persen penduduk yang berpendapatan tinggi.02 40 % Penduduk Berpenghasilan Sedang/ Medium Income Population (40 %) (3) 41.82 25.85 Gini Rasio/ Tahun/ Year Gini Ratio (5) 0.  40 persen penduduk yang berpendapatan menengah. DISTRIBUSI PENDAPATAN MENURUT KRITERIA BANK DUNIA DAN GINI RASIO Distribution of Income by World Bank Criteria and Gini Ratio 2000 .59 40.83 23.

yang merupakan sebab terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih parah lagi di kemudian hari. Bila penduduk pada kelompok ini menerima kurang dari 12 persen dari seluruh pendapatan. . yaitu pembangunan yang berorientasi ke daerah perkotaan. maka tingkat pembagian pendapatan adalah tinggi 2. seorang ekonom Inggris. Bila kelompok tersebut menerima 12-17 persen dari seluruh pendapatan penduduk. urban bias seringkali terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana alokasi sumbersumber daya lebih banyak diprioritaskan di daerah perkotaan daripada pertimbangan pemerataan atau efisiensi. pola pembangunan Indonesia memperlihatkan suatu urban bias. dengan tekanan yang berat pada sektor industri yang terorganisir.maka tingkat ketimpangan pendapatan tergolong sedang 3. Menurut Micahel Lipton. Bila penduduk pada kelompok ini menerima pendapatan lebih dari 17 persen maka tingkat ketimpangan penduduk tergolong rendah Menurut Gupta dari World Bank.Tingkat ketimpangan pembagian pendapatan menurut kriteria Bank kelompok 40 persen penduduk yang berpendapatan Dunia terpusat pada rendah dengan kriteria 1.

iii. meningkatkan kemalasan masyarakat untuk bekerja karena mendapatkan penghasilan yang memadai meskipun tanpa bekerja. . Program ini tidak dilaksanakan di Indonesia. v. Mengurangi insentif kerja iv. Macam-macam transfer tunai ini antara lain : A. Negative Income Tax Negative income tax adalah sebuah kebijakan pemerintah yang berakibat besar pembayaran transfer yang diterima oleh masyarakat seimbang dengan tingkat kemiskinan masyarakat tersebut. Terjadinya tax incidence. Munculnya anggapan ketidakadilan bagi masyarakat yang telah berpenghasilan relatif tinggi bahwa program ini dianggap tidak menghargai kerja keras. semakin miskin masyarakat maka akan semakin besar pembayaran transfer yang diterima. Dengan kata lain. Dampak-dampak dari program ini antara lain : i. Transfer tunai Bentuk tansfer tunai ini adalah metode pemerataan dengan instrumen uang atau pendapatan yang diterima.IV. ii. PENANGGULANGAN KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN Program-program pemerintah dalam rangka distribusi pendapatan pada umumnya terdiri dari: 1. Mengurangi tingkat upah netto atau mencipatakan welfare cost.

B. Subsidi Upah Subsidi upah yakni dengan meningkatkan upah netto yang diterima pekerja. 2. Mengurangi insentif kerja ii. Meningkatkan insentif kerja ii. Demogrant Demogrant adalah bentuk transfer tunai berdasarkan demografi tertentu. Adanya welfare cost yaitu mengurangi tingkat upah netto iii. . Contoh program ini salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Hal ini juga menambah jumlah pajak yang disetor kepada negara atas external benefits tersebut. Program semacam ini dapat dilihat dari tunjangan-tunjangan yang diterima pekerja di semua sektor khusunya pegawai negeri. Dampak-dampak dari penerapan program ini antara lain sebagai berikut : i. Dampak-dampak dari program ini antara lain : i. Sementara kelebihan yaitu meningkatkan konsumsi atas barang yang ditransfer sehingga terjadi external benefits produsen atas barang yang ditransfer. Program ini adalah program yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kelemahan dari program ini yaitu penerima transfer tidak bebas dalam membelanjakan transfer. Transfer barang Program transfer barang atau transfer innatura adalah program transfer dengan wujud yang ditransfer adalah barang fisik bukan uang. Terjadinya tax incidence C. Memperkecil adanya welfare cost.

subsidi bunga. Namun di sisi lain program ini akan mengurangi insentif kerja dan menyebabkan welfare cost yang besar sehingga tingkat upah netto akan berkurang dan penawaran tenaga kerja di sektor swasta akan berkurang. Salah satu contoh program ini yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarat (PNPM) Mandiri. Program kesempatan kerja Program kesempatan kerja adalah bentuk program distribusi pendapatan melalui penyediaan lapangan kerja. menetapkan upah minimum bagi para pekerja (buruh). memberi kesempatan kepada para pekerja untuk turut memiliki saham pada perusahaan. Mengubah distribusi secara fungsional Mengubah distribusi secara fungsional Mengubah distribusi pendapatan secara fungsional melalui pola kebijakan untuk mengubah harga-harga faktor secara pbsitif. Misalnya meningkatkan gaji pegawai negeri. . 5. Program ini adalah program yang paling baik dibandingkan program-program lainnya karena dengan adanya penyediaan lapangan kerja maka akan meningkatkan investasi riil yang akan mengurangi pengangguran dan meningkatkan GDP. 4.kemudahan investasi. Mengubah distribusi pendapatan melalui redistribusi progresif Mengubah distribusi pendapatan melalui redistribusi progresif pemilikan harta seperti meprioritaskan kredit komersil maupun bersubsidi bagi pengusaha kecil. Selain itu tax rate bagi produsen akan kian meningkat. dan lain sebagainya. keringanan beamasuk. serta pemberdayaan lembaga-lembaga ekonomi rakyat seperti koperasi. keringanan pajak. dan sebagainya.3.

Mengubah restribusi pendapatan golongan atas melalui pajak pendapatan Mengubah distribusi pendapatan golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif. .6. Dalam hal ini beban pajak dibuat sedemikian rupa sehingga beban yang lebih berat akan dikenakan pada golongan yang berpenghasilan tinggi.

Inflasi Karena Naiknya Permintaan Inflasi yang terjadi karena adanya gejala naiknya permintaan secara umum .V. upah tenaga kerja. Inflasi Yang Berasal Dari Luar Negeri Inflasi yang terjadi karena komoditi-komoditi yang kita import dari luar negeri adalah komoditi yang telah terkena inflasi di negara asalnya. Inflasi Karena Naiknya Biaya Produksi Inflasi yang terjadi karena akibat naiknya harga bahan baku dan penolong. 2. 4. misalnya peredaran uang di dalam negeri yang tertalu banyak. . sehingga sesuai dengan hukum permintaan maka harga pun secara umum akan cenderung naik. PENYEBAB INFLASI Sebab-Sebab Kemunculannya Dibagi Dalam : 1. 3. Inflasi Yang Berasal Dari Dalam Negeri Inflasi yang terjadi dikarenakan peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam negeri. dan sejenisnya. maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya inflasi di Indonesia.

Inflasi ini tergolong sangat berat berada di atas 100% per tahun. Inflasi berat berkisar antara 30-100% per tahun. masih mudah dikendalikan. orang cenderung menyimpan barang dan pada umumnya orang enggan untuk menabung. Inflasi Ringan Inflasi ringan adalah inflasi yang masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi. Inflasi Sedang Inflasi sedang belum membahayakan kegiatan ekonomi. sumber dan penyebabnya. Inflasi sedang berkisar antara 10-30% per tahun. Pada inflasi berai ini. . tetapi belum menimbulkan krisis dalam bidang ekonomi.VI. Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahan A. B. JENIS. C. Walaupun dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. D. Tetapi inflasi ini sudah menurunkan kesehjateraan orang-orang yang berpenghasilan tetap. Inflasi Berat Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Inflasi ini. Harga-harga naik secara umum. karena bunga tabungan yang ditawarkan jauh lebih rendah ketimbang laju inflasi.JENIS INFLASI Jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan. Inflasi Sangat Berat Inflasi jenis ini sangat mengacaukan kondisi perekonomian dan susah untuk dikendalikan. Inflasi ringan berada dibawah 10% per tahun.

tetapi rill berkurang. Produksi barang barang bertambah. DAMPAK INFLASI Dampak Positif Inflsi : 1. karena kenaikan pendaptan kecil Dampak Negatif Inflasi : 1. Kesadaran menabung masyarakat berkurang . Mendorong perekonomian menjadi lebih baIK 2. karena ke untungan pengusaha bertambah 4. Harga harga barang dan jasa naik 2. Peredaran / perputaran barang lebih cepat 3. Menimbulkan tindakan spekulasi 4. Kesempatan kerja bertambah karena terjadi tambahan investasi 5. Nilai dan kepercayaan terhadap uang akan turun / kurang 3.VII. Pendapatan nominal bertambah. Banyak proyek pembangunan macet / terlantar 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful