PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI AKADEMIK DALAM MENINGKATKAN PROSES PEMBELAJARAN Oleh: Tarmizi Ramadhan (http://tarmizi.wordpress.

com) I. PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan (pre-service education) maupun program dalam jabatan (incervice education). Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan kualified (well training dan well qualified). Potensi sumber daya guru itu perlu terus-menerus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara profesional. Selain itu, pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Itulah sebabnya ulasan mengenai pelunya supervisi pendidikan itu betolak dari keyakinan dasar bahwa guru adalah suatu profesi. Suatu profesi selalu bertumbuh dan berkembang. Perkembangan profesi itu ditentukan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Menurut Sahertian (2000:2), guru yang profesional sekurang-kurangnya memiliki ciri-ciri antara lain:

1

dalam hal ini potensi manusia. Oleh karena itu. yaitu guru-guru. Kegiatan mencatat bahan pelajaran sampai habis masih saja terjadi. Salah satu tugas Kepala Sekolah adalah sebagai supervisor. Kemudian supervisi diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Jadi yang perlu ditingkatkan ialah potensi sumber daya guru. yaitu mensupervisi pekerjaan yang yang dilakukan oleh staf. Sejarah supervisi di negara maju seperti Amerika mula-mula supervisi diarahkan untuk memperbaiki pengajaran. kegiatan supervisi ini hendaknya rutin dilaksanakan di sekolah sebagai salah satu kegiatan yang dipandang positif dalam meningkatkan proses pembelajaran. Dan memang kegiatan utama sekolah adalah menyelenggarakan pembelajaran. Interaksi pembelajaran antara guru dan siswa tidak terlihat dengan jelas. (3) Memiliki rasa kesejawatan dan menghayati tugasnya sebagai suatu karier hidup serta menjunjung tinggi kode etik jabatan guru. Pentingnya pelaksanaan supervisi akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui proses pembelajaran yang baik. Jadi wajar jika tugas Kepala Sekolah dalam mensupervisi guru mengajar sangat penting.(1) Memiliki kemampuan sebagai ahli dalam bidang mendidik dan mengajar (2) Memiliki rasa tanggung jawab. baik yang bersifat personal maupun yang bersifat profesional. Berdasarkan data pendahuluan yang penulis dapatkan di salah satu sekolah Negeri Palembang bahwa proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas belum tampak secara nyata. terlihat pula ada beberapa guru kelas yang meninggalkan ruangan dalam 2 . Perbaikan pengajaran harus dimulai dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum yang menjadi sumber materi sajian pelajaran. yaitu mempunyai komitmen dan kepedulian terhadap tugasnya. Salah satu bagian pokok dalam supervisi tersebut adalah mensupervisi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Supervisi semacam itu biasanya disebut supervisi akademik. Kemudian.

kemudian dikelompokkan dan dianalisis. padahal hal itu sangat berguna bagi guru-guru sebagai umpan balik untuk memperbaiki kinerja guru di masa yang akan datang. Beberapa orang guru yang sudah disupervisi tidak dilakukan pembinaan lebih lanjut oleh Kepala Sekolah. tetapi sebenarnya supervisi haruslah merupakan kegiatan pertolongan yang berlangsung terus-menerus dan sistematis yang diberikan kepada guru-guru agar 3 . Hasil supervisi sepatutnya pula dievaluasi. guru-guru yang dikenai supervisi pun tidak seluruhnya dilakukan. Makalah ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Akibatnya. dijelaskan. yang terjadi adalah sebaliknya. penilaian dan mencaricari kelemahan. Pelaksanaan supervisi di sekolah tidak terjadwal dengan jelas. Menurut pengamatan penulis.waktu yang cukup lama. Pembahasan masalah dimulai dari pemaparan masalah. Pelaksanaan supervisi kepada guru-guru sangat penting dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran. Kegiatan ini berlangsung ada kaitannya dengan jarangnya kepala sekolah melaksanakan supervisi di dalam kelas. sedangkan siswa di dalam kelas disuruh mencatat bahan pelajaran. dan menympulkan. guru-guru yang mengajar hanya menunaikan tugasnya dan kurang memperhatikan akan pentingnya proses pembelajaran di dalam kelas. Namun. Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan dalam kalimat sebagai berikut: Bagaimana peranan supervisi akademik dalam meningkatkan proses pembelajaran di Sekolah? Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan supervisi akademik dalam meningkatkan proses pembelajaran di Sekolah. PEMBAHASAN Pada masa yang lalu kegiatan supervisi berlangsung secara otoriter dan lebih bersifat inspeksi yaitu lebih menekankah pada pengawasan. II. proses pembelajaran yang berlangsung selama ini belum menampakkan adanya kemajuan yang cukup berarti. Kemudian.

” Dengan kata lain bahwa servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya. Untuk itu. Dengan terciptanya suasana akrab tersebut pihak yang disupervisi tidak akan segan- 4 . Dalam hal ini Sahertian (2000:20) membagi supervisi dalam empat prinsip. (8) profesional. Dengan sebutan lain bahwa dalam pelaksanaannya supervisi dapat tercipta suasana kemitraan yang akrab. (6) didasarkan atas kebutuhan guru. (5) terpusat pada guru. (2) Prinsip demokratis. (3) kerja sama. (4) konstruktif. (2) ilmiah. (7) sebagai umpan balik. Di sisi lain Arikunto (2004:20) berpendapat bahwa dalam mengembangkan suasana demokratis hendaknya supervisi yang dijalankan berlangsung dengan adanya hubungan yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi. Berikut ini penulis uraikan satu persatu mengenai prinsip-prinsip supervisi tersebut. 1. yaitu: (1) Prinsip ilmiah (scientific). bukan berdasarkan atasan dan bawahan. kolegial Demokratis Terpusat pada guru Didasarkan pada kebutuhan guru Umpan balik Bersifat bantuan profesional Dari kedua pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa pelaksanaan supervisi harus memegang prinsip yaitu: (1) demokratis. Demokratis Sahertian (2000:20) mengemukakan bahwa “Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru. (4) Prinsip konstruktif dan kreatif Di sisi lain Depdiknas (2000:132) turut serta menyatakan bahwa ada enam prinsip dalam supervisi yaitu: (1) (2) (3) (4) (5) (6) Hubungan konsultatif. dalam kegiatan supervisi seorang supervisor haruslah mengikuti prinsip-prinsip yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam tugasnya. tapi berdasarkan rasa kesejawatan. (3) Prinsip kerja sama.mereka semakin bertumbuh dan berkembang dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah.

Sebagai kelanjutan dari suasana akrab ini adalah hubungan kerja sama yang baik dan berlanjut dengan kerja sama yang kompak. Ilmiah Menurut Sahertian (2000:20). guru-guru maupun karyawan yang lain bersama-sama saling menyumbang sesuai dengan fungsinya masing-masing. Prinsip demokratis ini juga diungkapkan oleh Lazaruth (1988:41) sebagai berikut: “Usaha pengembangan mutu sekolah adalah usaha bersama yang berdasarkan musyawarah. 2. Dengan kata lain supervisi harus dilaksanakan dalam suasana demokratis. Artinya dalam proses supervisi ini hubungan kepala sekolah dan guru-guru tetap dan harus didasarkan pada tempat dan fungsinya masingmasing. Oleh karena itu. c. kepala sekolah harus membangkitkan terlebih dahulu motivasi pada guru-guru sehingga mereka sadar sepenuhnya akan pentingnya perbaikan. Namun demikian supervisi ini juga mengandung pengertian bahwa hubungan antara kepala sekolah dan guruguru tetap bersifat fungsional. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis. Hal ini hanya dapat berlangsung apabila kepala sekolah menempatkan dirinya sebagai partner atau rekan kerja bagi guru-guru dengan kemampuan dan kewibawaannya untuk menolong mereka.” Dari pendapat di atas mengandung suatu pengertian bahwa perbaikan tidak mungkin terjadi dengan paksaan dari atas terlepas dari kemauan dan keinginan guruguru. sebelum pertolongan diberikan. Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar. dan gotong royong. Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data. mufakat. prinsip ilmiah (scientifc) ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut: a. seperti diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar. 5 . b.segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki. Baik kepala sekolah. berencana dan kontinyu.

Kerja Sama Menurut Sahertian (2000:20). yaitu pada keadaan guru-guru. prinsip kerja sama mengandung suatu pengertian bahwa apa yang dilakukan dalam kegiatan supervisi merupakan untuk mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi ‘sharing of idea. sehingga mereka memperoleh kepuasan dalam bekerja. 3. Konstruktif Lazaruth (1988:40) mengatakan bahwa kegiatan supervisi yang berfungsi konstruktif maksudnya adalah “kegiatan yang dilakukan untuk menolong guru-guru agar mereka senantiasa bertumbuh. 6 . Sebelum kepala sekolah melakukan kegiatan supervisi ia harus tahu terlebih dahulu sampai pada tingkat mana pengetahuan. Jika demikian kepala sekolah akan tahu pertolongan-pertolongan apa yang harus diberikan. agar mereka semakin mampu menolong dirinya sendiri. dan tidak tergantung kepada kepala sekolah. mendorong. sehingga kegiatan supervisi menjadi realistis. menstimulasi guru.Prinsip ilmiah mengandung suatu pengertian bahwa pelaksanaan supervisi harus bersifat realistis. Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Arikunto (2004:21) bahwa supervisi hendaknya didasarkan pada keadaan dan kenyataan yang sesuai dengan sebenar-benarnya terjadi sehingga kegiatan supervisi dapat terlaksana dengan realistis dan mudah dilaksanakan. tetapi harus didasarkan atas kenyataan yang sebenarnya. sharing of experience’. Karena itu kepala sekolah tidak boleh merencanakan hal-hal yang belum mampu dipahami serta dilakukan oleh para guru. Lazaruth (1988:41) mengemukakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak boleh muluk-muluk. 4. keterampilan serta sikap-sikap yang dimiliki oleh guru-guru yang disupervisinya.” Prinsip ini hanya dapat dicapai apabila kepala sekolah mampu menunjukkan segi-segi positif atau kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh guru-guru. memberi supprot. sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

Justru karena itu pertolongan harus diberikan sedemikian rupa sehingga akhirnya guru-guru mampu menolong dirinya sendiri.Kepuasan kerja ini akan memberi semangat pada mereka untuk terus-menerus berusaha mengembangkan diri. agar kualitas pembelajaran dapat meningkat. Arikunto (2004:21) menambahkan: “Supervisi yang bersifat konstruktif bahwa seyogyanya dari para supervisor dapat memberikan motivasi kepada pihak-pihak yang disupervisi sehingga tumbuh dorongan atau motivasi untuk bekerja lebih giat dan mencapai hasil yang lebih baik. Jika 7 . Didasarkan atas Kebutuhan Guru Prinsip ini mengandung suatu penekanan bahwa kegiatan supervisi yang akan dilakukan didasarkan atas kebutuhan guru. 6. Terpusat pada Guru Pelaksanaan supervisi yang terpusat pada guru merupakan sasaran pokok yang terdapat dalam kegiatan tersebut. Kebutuhan guru di sini berkaitan erat dengan beberapa keperluan yang harus dipenuhi guru dalam proses pembelajaran. 7. Kenyataan ini menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Untuk supervisor bisa memberi bantuan kepada guru bagaimana cara membuat dan menggunakan alat peraga agar proses pembelajaran lebih efektif. Menurut Arikunto (2004:33). “Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada personil sekolah pada umumnya dan khususnya guru. Misalnya guru yang mengajar tanpa dilengkapi dengan alat peraga. diharapkan dapat pula meningkatkan prestasi belajar siswa.” 5.” Sebagai dampak dalam meningkatnya kualitas pembelajaran. sebaliknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Dengan meningkatnya prestasi belajar siswa berarti meningkat pula kualitas lulusan sekolah itu. Sebagai Umpan Balik Apabila pengawas atau kepala sekolah merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik. dan menjadi semakin kreatif.

seorang supervisor dalam menjalankan tugas-tugasnya harus juga dituntut profesioanl. maka sasaran supervisi juga harus mengarahkan pada hal-hal yang menyangkut tugas mengajar itu. 8 .” Wujud konkret dari pernyataan tersebut yaitu adanya kesediaan untuk mengerjakan apa pun bentuknya yang secara hakikat berguna untuk membela nama baik sekolah. Profesional Menurut Soetjipto (1999:251). Menurut pendapat Nursisto (2002:11). dan pihak yang disupervisi akan menyadari kesalahan yang ditunjukkan dengan sukarela dan menerima sepenuhnya. Arikunto (2004:20) menegaskan bahwa dalam memberikan umpan balik sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Dengan demikian maka akan terjalin hubungan yang erat antara supervisor dengan yang disupervisi. Dalam hal ini kepala sekolah menempatkan posisi guru sebagai teman sejawat atau teman kerja. kata profesional menunjuk pada fungsi utama guru yang melaksanakan pengajaran secara profesioanl. “adanya rasa kebersamaan yang terpadu menyebabkan para guru dan pegawai mendorong untuk melaksanakan tugas. Asumsi dasar ini berhubungan erat dengan tugas pofesi guru yaitu mengajar. Dari uraian di atas jelas bahwa prinsip supervisi harus mengarahkan kepada keprofesionalan guru dalam mengajar. Hubungan kemitraan terjadi jika Kepala Sekolah tidak memberlakukan guru dengan semena-mena.jarak antara kejadian dengan umpan balik sudah terlalu lama. Dalam hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar merasakan hasil yang dapat berguna sebab keduanya sama-sama memahami akan tugas dan kewajibannya. yang terdapat di dalam bentuk praktiknya yang disebut pula dengan pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. 8. Oleh karena itu. pihak yang berbuat salah sudah tidak mampu lagi melihat hubungan antara keduanya.

75% kepala sekolah jarang melakukan bimbingan kepada guru dalam membuat alat peraga (tabel 16). Motif-motif ini muncul sebagai bentuk kesadaran guru itu sendiri sebagai orang yang diberi amanah 9 . sebanyak 56. Beberapa hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa guru-guru memiliki motif untuk mengembangkan diri sendiri dalam menjalankan tugas.00% hasil supervisi tidak diberitahukan kepada guru (tabel 20) dan 56. dan 62.25% guru menerima hasil supervisi akademik ini (tabel 21). sebab hal ini telah mengingatkan guru-guru dengan tugasnya dalam mengajar. Keamanan tempat bekerja bararti pula bahwa guru ingin terbebas dari segala bentuk ancaman dan pengaruh dari pihak luar sehingga dapat mengembangkan kemampuannya menurut kreativitasnya sendiri dan menginginkan adanya alam demokrasi. Pelaksanaan supervisi akademik oleh Kepala Sekolah membawa efek yang positif pada pelaksanaan proses pembelajaran.50% kepala sekolah tidak memberikan bimbingan kepada guru cara-cara menggunakan alat peraga (tabel 17).25% kepala sekolah tidak memberikan kesempatan kepada guru untuk bertanya (tabel 19).” Dari satu sisi guru telah memiliki usaha untuk mengembangkan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar. Mengutip pendapat Ali (2002:4) bahwa “apa yang akan dilakukan dalam pengajaran. Kemudian. Dalam teori Moslow yang dikutip oleh Tu’u (2004:97) rasa aman merupakan kebutuhan dasar tingkat kedua. dan tidak ada yang berbentuk penekanan dan pemaksaan terhadap dirinya. Hal ini didapat dari hasil pendapat guru dalam angket diketahui bahwa 50. namun di sisi lain penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah jarang dikembalikan kepada guru yang bersangkutan. Kendati demikian. adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar. akan tercipta suatu yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang dapat menghantarkan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. pada bagian lain juga ditemukan bahwa 43. Motif untuk mendapatkan rasa aman dapat menjadi suatu kebutuhan setiap orang. adanya keinginan guru yang menginginkan suasana aman di dalam mengembangkan tugas sebagai suatu motif untuk mengembangkan diri.Selanjutnya.

dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesuai dengan alenia IV dalam pembukaan UUD 1945. Interaksi edukatif ini perlu mendapat prioritas utama dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengalaman belajar (learning experience) adalah segala sesuatu yang diperoleh siswa sebagai hasil dari belajar.” Kegiatan belajar yang dilaksanakan siswa ini di bawah bimbingan guru. Dalam kaitan ini Mulyasa (2004:183) mengartikan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: Proses pembelajaran merupakan interaksi edukatif antara peserta didik dengan lingkungan sekolah. karena memperoleh pengalaman baru. Lebih lanjut dikemukakan oleh Sahertian yang mengutip dari pendapat Crombach bahwa belajar ditandai dengan pengalaman perubahan tingkah laku. Pengertian mengenai proses pembelajaran juga dikutip oleh Sahertian (2000:30) yang mengatakan bahwa. Berdasarkan pendapat di atas berarti pula bahwa ttitik berat proses pembelajaran terletak pada interaksi edukatif peserta didik terhadap lingkungan sekolah. karakteristik guru. Untuk mencapai tujuan itu guru merancang sejumlah pengalaman belajar siswa. 10 . sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Dengan kata lain bahwa melalui perolehan pengalaman belajar peserta didik memperoleh pengertian. kecakapan. kebiasaan. sikap penghargaan. metode. Sedangkan aktivitas belajar (learning activity) berarti perubahan aktivitas jiwa yang diperoleh dalam proses pembelajaran. “yang dimaksud dengan proses pembelajaran adalah seperangkat kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Guru bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada saat mengajar. dan lain-lainnya. dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Atas dasar itulah peran seorang supervisor sangat diperlukan agar memenuhi sasaran di atas. di mana sasaran hasil pembelajaran ditujukan pada kompetensi lulusan peserta didik. karakteristik siswa. dan teknik-teknik pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi.

seperti mengamati. b) Prinsip didasarkan atas kebutuhan guru. Memenuhi prinsip demokratis. 7. PENUTUP A. Saran Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat disarankan sebagai berikut: 1. Memenuhi prinsip profesioanl. Memenuhi prinsip ilmiah. 6. seorang supervisor harus mengetahui terlebih dahulu peranan dan fungsinya sebagai orang yang dapat menolong dan memberi bantuan kepada guru dalam meningkatkan proses pembelajaran di sekolah. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan. mendengarkan. III. yaitu: a) Prinsip sebagai umpan balik. Memenuhi prinsip konstruktif. Oleh karena itu. B. terutama pada prinsip umpan balik dan didasarkan atas kebutuhan guru. Pelaksanaan supervisi akademik di sekolah kiranya perlu dilaksanakan terus dan sedapat mungkin ditingkatkan lagi. dapat penulis simpulkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik dalam meningkatkan proses pembelajaran di Sekolah dilaksanakan sebagai berikut: 1. Ada dua prinsip yang kurang dipenuhi. berbicara. Memenuhi prinsip terpusat pada guru. menanggapi. Dari beberapa penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pelaksanaan supervisi akan meningkatkan proses pembelajaran jika hal ini dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip supervisi yang berlaku. kegiatan menerima. 4. 3. 2. 11 . dan kegiatan merasakan. Mememuhi Prinsip kerja sama. 5.

3. 12 . Guru-guru yang telah memiliki motivasi yang tinggi dalam mengembangkan diri pada tugasnya perlu dipertahankan.2. Sebaiknya dalam pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah mengembalikan hasil supervisi kepada guru sebagai umpan balik dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan guru.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritik untuk Praktik Profesional. Mulyasa. E. Metodologi Penelitian. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Arikunto.DAFTAR PUSTAKA Ali. Karakteristik. 1990. Oteng. Soewadji. Tu’u. Lazaruht.. dan Orang Tua. Suharsini. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Suryabrata. Panduan Manajemen Sekolah. Depdiknas. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan: dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. 2004. ________. Jakarta: Rineka Cipta. Yogyakarta: Andi of Frest. Sutisna. Nursisto. Peningkatanm Prestasi Sekolah Menengah: Acuan Peserta didik. Sahertian. 2002. 2004. Dasar. 2000. 2003. Sutrisno. 1993. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. 2004. 2000. Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabnya. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2002. Bandung: Angkasa. Muhammad. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep. Bandung: Alfabeta. 1988. Soetjipto dan Raflis Kosasi. Pendidikan.Dasar Supervisi. dan Implementasi. Tulus. 13 . Jakarta: Grasindo. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang Diamandemen. Metodologi Reserch. 1999. 2003. Sumadi. Ridwan. Jakarta: Bina Aksara. Piet A. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Hadi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Jakarta: Insan Cendekia. Yogyakarta: Kanisius. Profesi Keguruan.