P. 1
e030104

e030104

|Views: 861|Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003, ISSN: 1411-4402  2003 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.

Keanekaragaman Makrobentos di Bendungan Bapang dan Bendungan Ngablabaan, Sragen
The diversity of macro-benthic fauna in Bapang and Ngablabaan Dams, Sragen
DIAN PERMANA, PRABANG SETIYONO, KUSUMO WINARNO
Jurusan Bioloogi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126. Diterima: 27 Pebruari 2003. Disetujui: 11 Maret 2003.

Abstract. The aim of the research was to know about diversity of macrobenthos in Bapang Dam and Ngablabaan Dam Sragen, to know the relationship among the parameters: pH, temperature, substrate type, magnesium, calcium, nitrate, phosphate, DO, the speed of the stream, the clarity of waters with distribution and abundances of macrobenthos, to know influence stratum to density and diversity, to know the good habitat for macrobenthos lives. This research investigated macrobenthos ecology of distribution and abundances of macrobenthos have relation with density and diversity, which have direct connection with parameters: pH, temperature, substrate type, magnesium, calcium, nitrate, phosphate, DO, the speed of the stream, the clarity of waters. The trial was carried out by dividing the Dam in to 3 stratums on left and right either on the up side or under side of the Dam. Sample were taken by stratified random sampling, data were analyzed by macrobenthos diversity index calculation, correlation and regression test, ANOVA test, with level of significance 0,05 and continued with DMRT 5%. The research resulted in 11 species in Bapang Dam and 7 species in Ngablabaan Dam. Both of dam have different distribution and abundances and did not spread evenly. The prefer habitat for macrobenthos development was found out in this research in habitat have a content nitrate 0,01-1,825 mg/l, phosphate 0,04-3,58 mg/l, magnesium 2,05-2,08 mg/l, calcium 11,27-14,39 mg/l, pH 6,8-7,6, temperature 27oC-30oC, the clear of water 35 cm-64 cm, DO 4,9-9,2 mg/l, dust 20,49-46,46%, clay 10,3963,83%, sand 4,25-63,12%. Key word: macrobenthos, density, diversity, Bapang Dam, Ngablabaan Dam.

PENDAHULUAN Di pulau Jawa, banyak terdapat sungai baik sungai besar maupun kecil, yang mengalir melewati perkampungan, perkotaan, dan areal pertanian. Air dari sungai tersebut kemudian dimanfaatkan untuk berbagai macam kegunaan. Bendungan mempunyai bermacam-

macam fungsi, misalnya pengairan dan pembangkit tenaga listrik. Sungai Cemoro merupakan salah satu sungai di Sangiran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen yang alirannya berasal dari lereng Gunung Merbabu dan melewati lahan persawahan. Sungai Cemoro mempunyai sebuah bendungan yang disebut Bendungan Bapang. Sungai ini mempunyai anak sungai bernama Sungai Kalijambe yang juga mempunyai sebuah bendungan bernama Bendungan Ngablabaan. Aliran Sungai Cemoro membawa lumpur dan bahan organik hasil pengkisan dasar sungai, tebing sungai, dan sawah di sekitarnya. Lumpur ini pada akhirnya akan mengendap di Bendungan Bapang dan Bendungan Ngablabaan. Bendungan merupakan habitat ikan, plankton, nekton, dan bentos. Bentos merupakan organisme yang hidupnya pada permukaan atau di dalam dasar perairan dengan cara menempel pada batu, pasir atau lumpur (Syamsudin dan Komar, 1982). Kemelimpahan mahluk hidup di lingkungan perairan sangat dipengaruhi faktor fisik, kimia, dan biologi. Faktor mempengaruhi kemelimpahan bentos antara lain: tipe dasar sungai, kecepatan arus, kekeruhan, dan unsur hara (Barners, 1980). Aliran sungai yang terhalang oleh suatu bendungan mempunyai karakteristik aliran air yang berbeda antara bagian atas dan bawah, begitu juga dengan substrat yang mengendap, sehingga organisme yang menghuni perairan bagian atas dan bawah mempunyai keanekaragaman makrobentos yang berbeda. Keanekaragaman mahluk hidup di perairan sungai seringkali merupakan petunjuk adanya perubahan lingkungan. Distribusi dan kemelimpahan organisme memiliki arti penting dalam kajian organisme tingkat komunitas.

PERMANA dkk. – Makrobentos di bendungan Bapang dan Ngablabaan, Sragen

19

Penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kemelimpahan organisme sangat penting dalam kajian ekologi. Setiap organisme hidup dalam ruang dan waktu yang merupakan satu kesatuan. Dengan demikian kajian mengenai distribusi dan kemelimpahan tidak dapat dipisah-pisahkan (Krebs, 1989). Mc Naughton dan Wolf (1990), mengatakan perbedaan tipe ekosistem menyebabkan perbedaan karakteristik komposisi spesies dan distribusinya. Kepadatan dan kemelimpahan populasi suatu spesies dalam suatu ekosistem dipengaruhi faktor-faktor yang sangat komplek, di antaranya kompetisi interspesies, cuaca, dan ketersediaan makanan. Makrobentos merupakan salah satu indikator kualitas lingkungan akuatikyang dapat diandalkan. Fauna ini hidup di dalam sedimen, bersentuhan langsung dengan tanah dan terkena air yang masuk melalui pori-pori sedimen. Sifat fauna bentos di suatu tempat tergantung sifat fisik substratnya (Bayard dan Robert, 1983). Penelitian kemelimpahan biota sungai relatif masih jarang termasuk di sungaisungai kecil. Umumnya penelitian hanya berkaitan dengan ikan dan manfaat budidayanya (Warwick, 1993 dalam Winarno dkk., 2000). Bendungan Bapang merupakan suatu ekosistem perairan yang belum banyak menerima aliran limbah industri. Lingkungan di sekitar Bendungan Bapang merupakan areal persawahan yang produktif dan dikerjakan secara intensif, sehingga diperkirakan dapat menambah pasokan bahan-bahan organik ke dalam bendungan. Sedangkan lingkungan di sekeliling Bendungan Ngablabaan merupakan daerah persawahan yang cenderung kurang produktif dan diolah kurang intensif. Oleh karena itu perlu kiranya diadakan suatu penelitian keanekaragaman makrobentos, serta faktor–faktor yang mempengaruhi diversitas dan densitasnya baik faktor fisik maupun non fisik. BAHAN DAN METODE Bahan dan alat Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah: indikator metil orange, HCl 0,1 N, NaCl, H2SO4 pekat, larutan campuran brusin dan asam sulfanilat, HNO3 pekat, air suling, indikator fenolptalin, larutan NaOH 1N, H2SO4 5 N, NaOH 1 N, KCN 10%,

indikator mureksid, mureksid tirturat, serbuk EBB-R, larutan EDTA, indikator EBT, larutan EDTA 0,01 M, formalin 4%.H2O2 30%, HCl 2 N, HCl 0,2 N, NaOH 1 N, serta larutan standar Ca, nitrat, dan fosfat. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: buret, pH meter elektrik, pengaduk magnet, labu ukur, labu erlenmeyer, gelas ukur, pipet, spektrofotometer, gelas piala, gelas ukur, labu mikro kjeldahl, surber, mikroskop stereo, mikroskop elektrik, botol koleksi, botol air mineral 500 ml, Eijkman grab, meteran, ayakan bertingkat, DO meter elektrik, termometer elektrik, secchi disk, Winkler kit, stopwatch, timbangan, gelas arloji, corong gelas, dan kertas saring. Cara kerja Pengambilan sampel Pengambilan sampel menggunakan metode stratified random sampling. Dalam pengelompokan sampel populasi statistik, N dibagi ke dalam sub populasi. Jadi N = N1 + N2 + N3 + ……….+ NL L = Nomor total populasi Berat stratum:

Wh =

Nh N

Nh = ukuran stratum h (nomor kemungkinan sampel dalam unit lapisan h). N = ukuran keseluruhan populasi statistik. Keseluruhan rata-rata per unit sampel untuk keseluruhan populasi diperkirakan dengan:

χST =

∑L=1Nhχh h
N

χST pengelompokan rata-rata per sampel Nh = ukuran stratum h h = nomer stratum (1, 2, 3, ……L) χh = rata- rata pengamatan untuk stratum h N = ukuran populasi keseluruhan = Σ Nh Densitas sampel per unit dihitung dengan: XST = N χST XST = Keseluruhan populasi N = Nomor unit sampel seluruh populasi χST = pengelompokan rata-rata per sampel. Dengan variansi:

 L W 2 h S 2 h = ∑  (1 − f h ) χ ST h =1    nh 

20

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003

Wh = berat stratum. S2h = variansi pengamatan pada stratum h nh = ukuran sampel dalam stratum h fh = fraksi sampel dalam lapisan h = nh / Nh S2 didapat dengan menghitung perkiraan rata-rata dan total populasi dengan:

x=

∑ xi
n

Dari data hasil pengukuran parameter lingkungan dan perhitungan nilai densitas, serta diversitas makrobentos dilakukan analisis statistik korelasi (hubungan) y = f (x) antara densitas dan diversitas makrobentos dengan parameter lingkungan (x) dan dilanjutkan dengan regresi (Indrawati, 2001). Uji anava Perbedaan diversitas dan densitas makrobentos dalam populasi antar stratum diuji dengan Anava pada tingkat signifikasi α = 0,05 dan dilanjutkan DMRT 5% (Indrawati, 2001). HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman makrobentos Dalam penelitian di Bendungan Bapang Kalijambe dan Bendungan Ngablabaan Plupuh, Kabupaten Sragen diperoleh 12 spesies makrobentos yang semuanya berasal dari Phyllum Mollusca, yaitu: Melanoides tuberculata, Brotia testudinaria, Melanoides granifera, Digoniostoma truncatum, Melanoides costellaris, Belamya javanica, Corbicula moltkiana, Corbicula subplanata, Corbicula rivalis, Clea helena, dan Pila scutata, Assiminea bedaliensis. Spesies yang berasal dari Kelas Bivalvia adalah: Corbicula moltkiana, Corbicula subplanata, dan Corbicula rivalis, sedang sisanya berasal dari Kelas Gastropoda. Makrobentos yang ditemukan di Bendungan Ngablabaan bagian atas adalah: B. testudinaria, M. graniferae, B. javanica, C. moltkiana, M. costellaris, C. subplanata, sedang di bagian bawah adalah: B. testudinaria, M. graniferae, M. costellaris, B. javanica, C. moltkiana, dan A. bedaliensis. Jenis yang hanya ditemukan di bagian bawah adalah A. bedaliensis dan C. Subplanata (Tabel 1 dan 2). Jumlah total populasi dari keseluruhan spesies pada Bendungan Ngablabaan bagian atas tepi kanan menurut perhitungan dengan metode stratified random sampling adalah 42 makrobentos per 100 m, begitu juga dengan bagian atas tepi kiri yang mempunyai jumlah sama dengan bagian atas tepi kanan. Hal ini berarti bahwa sepanjang 100 m dapat diperoleh sekitar 42 makrobentos dalam berbagai spesies. Untuk bagian bawah jumlah total makrobentos pada bagian tepi kanan adalah 14 makrobentos per 35 m dan tepi kiri adalah 15 makrobentos per 35 m. Hal ini ber-

x = rata-rata populasi xi = nilai pengamatan x dalam sampel i n = ukuran sampel Ukuran variansi diukur dengan:

S2 =

∑ (xi − x )
n −1
2

2

Standar error rata-rata populasi x dengan:

Sx =

S n

( 1− f )

Sx = Standar error rata- rata x S2 = Variansi pengukuran n = Ukuran sampel f = Fraksi sampel = n/N Perkiraan populasi total: X = N. x X = Perkiraaan populasi total N = Ukuran populasi total x = Nilai rata-rata populasi Dengan standar error: Sx = N SX Sx = Standar error populasi total N = Ukuran keseluruhan dari populasi SX = Standar error dari rata-rata populasi Dengan variasi:

χ ST = Variansi χ ST

(Krebs,1989)

Analisis Data Indek diversitas Perhitungan indek diversitas dilakukan berdasarkan metode penentuan indek diversitas (ID) Simpson (Krebs,1989) dengan:

D=

N( N − 1) ∑ n (n − 1)

D = Indeks diversitas simpson N = Densitas total seluruh individu n = Densitas suatu individu Uji korelasi dan regresi

PERMANA dkk. – Makrobentos di bendungan Bapang dan Ngablabaan, Sragen

21

arti bahwa sepanjang 35 m dapat ditemukan 14 dan 15 makrobentos dari berbagai spesies.
Tabel 1. Spesies makrobentos di Bendungan Ngablabaan, Plupuh dan Bendungan Bapang Kalijambe, Sragen bagian atas dan bagian bawah pada masing-masing stratum. Bendungan Ngablabaan, Plupuh Nama Spesies Atas Bawah Bendungan Bapang, Kalijambe Atas Bawah

Tepi kiri Tepi kanan Tepi kiri Tepi kanan Tepi kiri Tepi kanan Tepi kiri Tepi kanan A B C A B C A B C A B C A B C A B C A B C A B C * 1 2 * 1 * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 1 * * * * * * * * * * * * * 1 * * * * * 1 3 2 4 * * * * 1 * 3 1 7 * * 1 * * * * * * 2 * 1 * * 1 1 1 1 * * * * * * * * * * * * 3 * 5 * * * * * * 1 * * * * * * 1 1 * * 1 * * * 1 * * * * * 2 * 1 2 2 7 * * * * * 1 * * * * * * * * * 2 * * 5 2 6 * * 2 * * * * * * * * 2 * * * * * * * * * * 1 * 9 1 * 1 * * * 1 * * * * * * * * * * 1 * * * * * * * * * * * * *

1Assiminea bedaliensis 2Belamya javanica 3Brotia testudinaria 4Clea helena 5Corbicula moltkiana 6Corbicula rivalis 7Corbicula subplanata 8Digoniostoma truncatum 9Melanoides costellaris 1Melanoides graniferae 1Melanoides tuberculata 1Pila scutata Densitas total spesies

4 4 10 2 2 4 3 1 8 * * 1

1 *

2 1 *

1 * 1 * * * * * *

* 4 * * 1 * * * * * * * * * *

1 1 * 5 1 8 * * * * * *

12 4 1 9

9 1 6 6 2 5

4 2 11 8 4 9

16 10 5 21 13 4 14 9 4 15 10 4 16 10 5 22 13 5 16 11 4 17 10 4

Keterangan: * = Tidak ditemukan makrobentos pada ulangan berikutnya Tabel 2. Indek diversitas makrobentos di Bendungan Ngablabaan, Plupuh, dan Bendungan Bapang, Kalijambe, Kabupaten Sragen. Bendungan Ngablabaan Atas Bawah Tepi Tepi Tepi Tepi kanan kiri kanan kiri A 2.817 1.791 2.763 3.37 B 2.052 4.23 3.461 C 6 1.666 6 Stratum Bendungan Bapang Atas Bawah Tepi Tepi Tepi Tepi kanan kiri kanan kiri 2.783 3.529 3.675 2.608 4.5 1.25 4.23 10 6 3

2 2.516 6 1.666

Kedelapan spesies yang ditemukan di Bendungan Ngablaabaan baik pada bagian atas maupun bawah, didominasi M. graniferae diikuti B. testudinaria. Pada Didominasi kelas gastropoda ini kemungkinan disebabkan oleh faktor substrat dasar perairan, kecepatan arus, dan faktor pendukung lainnya. Untuk Bendungan Bapang makrobentos yang ditemukan di bagian atas yang termasuk tepi kiri dan tepi kanan adalah: B. testudinaria, M.

graniferae, D. truncatum, M. costellaris, C. moltkiana, C. subplanata, B. javanica, C. helena, C. rivalis, dan P. Scutata. Untuk bagian bawah, makrobentos yang ditemukan adalah: B. testudinaria, M. graniferae, D. truncatum, M. costellaris, B. javanica, M. tuberculata, C. moltkiana. Jadi ada spesies yang tidak ditemukan d ibagian atas tetapi ditemukan dibagian bawah, begitu juga sebaliknya, untuk yang ditemukan di atas tetapi tidak dijumpai di bawah adalah C. subplanata, C. helena, C. rivalis, dan P. scutata, sedangkan yang tidak ada di bagian atas tetapi ditemukan di bagian bawah adalah M. tuberculata. Jumlah total populasi keseluruhan spesies pada Bendungan Bapang bagian atas tepi kanan adalah 40 makrobentos per 100 m dan pada bagian atas tepi kiri adalah 39 makrobentos per 100 m. Hal ini berarti sepanjang 100 m dapat ditemukan 40 dan 39 makrobentos dan pada bagian bawah tepi kiri adalah 39 makrobentos per 100 m dan bagian bawah tepi kanan adalah 47 makrobentos per

22

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003

100 m. Hal ini berarti sepanjang 100 m dapat ditemukan 39 dan 47 makrobentos.

PERMANA dkk. – Makrobentos di bendungan Bapang dan Ngablabaan, Sragen

23

24

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003

Makrobentos yang ditemukan di Bendungan Bapang kebanyakan dari Kelas Gastropoda. Apabila dibandingkan dengan makrobentos di Bendungan Ngablabaan, maka spesies yang tidak ditemukan di Bendungan Ngablabaan adalah P. scutata, C. helena, D. truncatum, M. tuberculata, dan C. rivalis. Padahal secara geografis Bendungan Ngablabaan merupakan kelanjutan aliran dari Bendungan Bapang. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya perbedaan faktor fisikkimia, mengingat gastropoda merupakan fauna yang mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan perairan, sebagai dekomposer segala sesuatu yang mengendap di dasar sungai (Jazanul, 1984). Menurut Krebs (1989), struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara spesies penyusun komunitas tersebut terpencar didalamnya. Pola penyebaran bergantung pada sifat fisik-kimia lingkungan dan keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Hadir tidaknya suatu spesies di suatu tempat menunjukan adanya distribusi, dan hadirnya suatu spesies di suatu tempat ditentukan oleh faktor dispersal, artinya suatu tempat mudah didatangi atau tidak ada rintangan atau hambatan untuk mencapainya, adanya seleksi habitat karena organisme lain seperti kompetisi, predasi, dan parasitisme, serta faktor fisik-kimia seperti temperatur, cahaya, oksigen, salinitas, alkalinitas, dan pH. Parameter lingkungan Berdasarkan hasil analisis dari parameter yang diukur, dimana pengukuran ini dilakukan pada setiap stratum, terhadap beberapa faktor yang dikategorikan sebagai faktor pembatas kehadiran makrobentos seperti nitrat, fosfat, magnesium, kalsium, CO2 bebas, pH, suhu, kejernihan perairan, kecepatan arus, dan DO, serta tekstur substrat pada kedua bendungan, didapat hasil bahwa paramater-parameter yang diukur masih di bawah batas maksimal kecuali pada beberapa lokasi yang hasil parameternya lebih dari normal. Hubungan parameter lingkungan sebenarnya bersifat simultan dan kontinyu yaitu berlangsung secara bersamaan karena kondisi ini merupakan interaksi alami antara organisme dengan lingkungan (Ehrlich et al.,1997).

Kandungan nitrat Pada Bendungan Ngablabaan bagian atas tepi kanan keseluruhan stratum diperoleh kandungan nitrat (Tabel 3) yang masih di bawah batas maksimal, kecuali untuk bagian atas tepi kiri pada stratum B yang melebihi batas maksimal yaitu 0,408 mg/l. Untuk bagian bawah tepi kiri keseluruhan statum kandungan nitratnya masih di bawah batas normal kecuali untuk stratum A pada tepi kanan yaitu 0,492 mg/l. Batas maksimal nitrat di perairan adalah 0,02 mg/l, hal ini dikarenakan bahwa pada stratum B bagian atas tepi kanan dimungkinkan terdapat persenyawaan nitrogen yang besar dari pupuk di sawah. Untuk stratum A pada bagian bawah tepi kanan dimungkinan juga terdapat persenyawaan nitrogen yang besar yang berasal dari pupuk di sawah yang kemudian mengalir terbawa arus dan dikarenakan pada bagian bawah tersebut tidak ada arus sama sekali,maka terjadi penumpukan di stratum A. Untuk Bendungan Bapang kandungan nitratnya pada bagian atas tepi kanan dan kiri masih di bawah ambang batas maksimal. Di bagian bawah tepi kiri juga masih di bawah batas normal kecuali untuk ketiga stratum(A, B, C) pada tepi kanan melebihi batas maksimal yaitu untuk A = 1,825 mg/l, B = 1,884 mg/l dan C = 0,221 mg/l. Tepi kanan dan kiri Bendungan Bapang merupakan lokasi lokasi pertanian yang masih aktif, jadi tingginya nitrat pada bagian tepi kanan tersebut disebabkan oleh tingginya kandungan persenyawaan nitrogen yang berada di tepi kanan dan kurangnya arus yang meyebarkan keseluruh tempat, sehingga penyebarannya tidak merata. Menurut Sastrawijaya (1991) sumber persenyawaan nitrogen dalam air dapat berasal dari limbah pertanian, pemupukan atau industri, atau buangan lain yang mengandung substansi nitrogen yang dapat berupa bahan organik protein dan senyawa organik seperti pupuk nitrogen. Kandungan fosfat Kandungan fosfat (Tabel 3) dikedua Bendungan, Bendungan Ngablabaan dan Bapang dihasilkan kandungan fosfat yang belum melebihi batas normal, terkecuali untuk stratum A dan stratum C pada bagian atas tepi kanan. Bendungan Ngablabaan yaitu A = 3,584 mg/l dan C = 2,054 mg/l batas normal kandungan fosfat dalam ekosistem perairan

PERMANA dkk. – Makrobentos di bendungan Bapang dan Ngablabaan, Sragen

25

menurut Boyd (1979) tidak lebih dari 0,1 mg/l. Menurut Sastrawijaya (1991), organisme air membutuhkan suplai fosfat secara teratur alami dari bebatuan dan tanah yang sebagian besar akan cepat hilang terbawa air, demikian pula penguraian organisme yang mati oleh mikroorganisme, siklus fosfat yang alami akan tertanggu oleh masuknya limbah, pupuk, pestisida dan limbah rumah tangga diketahui mengandung fosfat dalam jumlah besar. Kandungan magnesium dan kalsium Kandungan magnesium (Tabel 3) di perairan Bendungan Ngablabaan untuk bagian bawah berada pada kisaran 2.043 mg/l-2.079 mg/l dan untuk bagian atas 2.053 mg/l-2.083 mg/l, sedang di Bendungan Bapang untuk bagian bawah kandungan magnesiumnya berada pada kisaran 2.070 mg/l-2.089 mg/l dan untuk bagian atas berada pada kisaran 2.049 mg/l-2.080 mg/l. Kandungan kalsium (Tabel 3) di Bendungan Bapang dan Bendungan Ngablabaan masih berada di bawah batas maksimal kalsium di perairan yaitu sekita 10 mg/l, sedangkan untuk kandungan magnesium dalam perairan tawar lebih besar dari pada jumlah kalsium(Rompas, 1998). Kandungan magnesium di Bendungan Ngablabaan bagian atas berada pada kisaran 11.279 mg/l-13.669 mg/l, untuk bagian bawah 13.767 mg/l-14.466 mg/l. Kandungan kalsium Bendungan Bapang bagian atas pada kisaran 12.431 mg/l-13.383 mg/l dan bagian bawah pada kisaran 13.241 mg/l-19.324 mg/l. Pengukuran kalsium dan magnesium dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh langsung keadaan morfologi terhadap makrobentos dan sekaligus sebagai bahan mineral yang dikonsumsi oleh makrobentos. Kalsium merupakan salah satu unsur yang ikut menyusun pembentuk concha (cangkang) gastropoda sehingga dapat mendukung kekerasan cangkang. Masuknya air yang mengandung kalsium secara fisiologis dapat membantu CaCO3 yang berfungsi membentuk cangkang. Begitu juga konsentrasi magnesium yang bersenyawa dengan garam-garam bionik dapat mendukung pembentukan cangkang. Dari pengamatan terhadap morfologi cangkang dari keseluruhan makrobentos yang diperoleh dari kedua bendungan menunjukkan bahwa kebutuhan kalsium dan magnesiumnya tercukupi, terbukti makrobentos mempunyai cangkang yang keras dan tidak patah-patah.

Derajat keasaman Keadaan pH (Tabel 4) untuk kedua Bendungan (Ngablabaan dan Bapang) baik bagian atas maupun bawah yang mencakup tepi kanan dan kiri pada saat pengukuran menunjukan pH normal (6-7,5). Menurut Krebs (1989) pH antara 7-8 dapat menyokong kehidupan akuatik yang beraneka ragam dengan baik, dan dikatakan juga oleh Tebutt (1977) dalam Wiryanto (1997) bahwa pH adalah tolok ukur kritis untuk produktifitas biologis, dan aktivitas biologis biasanya berada pada kisaran pH 6-8. Jadi perairan kedua Bendungan yaitu Bendungan Ngablabaan dan Bendungan Bapang yang mempunyai kisaran pH 6-7,5 masih baik untuk kehidupan biota akuatik. Keragaman yang sangat kecil pada hasil pengukuran pH setiap stratum, dapat ditafsirkan bahwa limbah domestik di daerah penelitian tidak cukup memberikan pengaruh terhadap nilai pH perairan. Suhu Untuk keadaan suhu (Tabel 4) dikedua Bendungan yaitu Bendungan Ngablabaan dan Bendungan Bapang pada saat dilakukan pengukuran untuk lokasi Bendungan Ngablabaan bagian atas dan bawah berada pada kisaran 27oC-30oC dan di Bendungan Bapang Pada bagian atas dan bawah berkisar antara 27oC-30oC, kisaran suhu tersebut masih dalam kisaran yang cocok untuk kehidupan makrobentos diperairan tersebut dan belum terlalu panas, menurut Syamsudin dan Komar (1982) menyatakan bahwa suhu air yang berkisar antara 20oC-30oC masih dapat dipandang sebagai air yang cukup baik bagi kehidupan organisme akuatik. Soetjipto (1993), menyebutkan bahwa perubahan suhu di air mengalir akan mempengaruhi kehidupan biota dan menjadi faktor pembatas. Perubahan suhu di air secara alami dipengaruhi oleh kecepatan arus, angin, suhu udara dan musim. Relatif kecilnya perbedaan suhu pada setiap stratum dapat ditafsirkan bahwa limbah domestik baik yang berasal dari sawah maupun dari daerah perkampungan sekitarnya tidak potensial mengubah suhu secara dramatis. Alabaster dan Lloyd (1982) dalam Teknosains (2000) menyatakan pada daerah tropik secara umum suhu maksimal 30oC masih mungkin untuk kehidupan ikan, amplitudo suhu harian optimal bagi kelangsungan hidup biota perairan adalah

26

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003

lebih kecil atau sama dengan 5oC, dengan demikian, suhu pada seluruh stratum berada pada interval optimum yang tidak berbahaya terhadap kehidupan biota perairan. Kejernihan perairan Kejernihan perairan (Tabel 4) di Bendungan Ngablabaan untuk bagian bawah berkisar antara 48 cm-65 cm dan untuk bagian atas berkisar antara 36 cm-50 cm dan untuk Bendungan Bapang untuk bagian atas kejernihan perairannya berkisar antara 64 cm73 cm dan bagian bawahnya adalah berkisar antara 25 cm-50 cm. Kegunaan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kemampuan cahaya matahari mampu menembus kedalam perairan. Menurut Wetzel dan Likens (1991) kekeruhan yang tinggi dalam suatu perairan hal tersebut dapat mempengaruhi dari kualitas air tersebut, karena semakin tinggi tingkat kekeruhannya semakin susah cahaya matahari dapat masuk kedalam perairan sehingga transfaransi berkurang, penurunan ini akan menurunkan kebutuhan DO biota dasar. Hadisusanto (1992) juga menyatakan bahwa penetrasi cahaya akan mempengaruhi kesuburan substrat dasar perairan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan komunitas benthik sehingga secara tidak langsung turbiditas akan mempengaruhi densitas organisme bentos. Kecepatan arus Kecepatan arus (Tabel 4) untuk kedua Bendungan masih tergolong kecil dan bahkan pada Bendungan Ngablabaan untuk bagian bawah tidak ada arus sama sekali. Untuk Bendungan Ngablabaan bagian atas kecepatan arus berkisar antara 13-45 detik/meter, untuk Bendungan Bapang bagian atas kecepatan arusnya berkisar antara 12-18 detik/meter, bagian bawah berkisar antara 1035 detik/ meter. Arus merupakan faktor yang sangat berhubungan erat dengan kehidupan organisme akuatik terutama bentos, dimana bentos merupakan organisme yang hidup didasar air apabila arus sangat besar maka kemungkinan besar kehidupan bentos akan terganggu didaerah tersebut dikarenakan arus erat hubungannya dengan dasar perairan, semakin kuat arus yang terjadi semakin banyak endapan didasar sungai yang terbawa.

Oksigen terlarut (DO) Pengukuran DO (Tabel 4) untuk setiap stratum mengasilkan hasil yang berbeda-beda untuk setiap stratum, perbedaan ini menurut Odum (1993) dipengaruhi oleh faktor fisika, kimia dan biologi, dan Odum juga menyatakan oksigen terlarut dalam air umumnya tidak melebihi dari 10 mg/l. Pengukuran ini juga dilakukan untuk mengetahui kisaran oksigen yang terlarut diperairan tersebut. Di Bendungan Ngablabaan untuk bagian atas DO nya berkisar antara 5.1 mg /l-7.9 mg/l dan untuk bagian bawah berkisar antara 2.5 mg/l5.0 mg/l, hasil pengukuran DO pada bagian bawah di Bendungan Ngablabaan ini menurut Odum (1993) termasuk kedalam titik kritis bagi kehidupan air, rendahnya DO pada bagian bawah ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena tidak arus yang mengalir sehingga tidak adanya pergantian air yang mengandung oksigen yang banyak dan segar. DO untuk Bendungan Bapang bagian bawah adalah berkisar 9 mg/l-10 mg/l sedangkan bagian atas adalah berkisar antara 5.5 mg/l-8.1 mg/l. Hasil pengukuran tersebut memang ada yang termasuk kedalam DO yang kritis bagi kehidupan organisme akuatik, tetapi DO yang kritis tersebut belum memberikan dampak atau pengaruh yang nyata bagi kemelimpahan makrobentos ditempat tersebut. Faktor-faktor lingkungan yang telah diuraikan di atas keseluruhannya merupakan faktor-faktor yang diasumsikan sebagai faktor pembatas, tetapi dari keseluruhan faktor tersebut itdak semuanya memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap distribusi dan kemelimpahan di dua Bendungan tersebut. Untuk nilai indek diversitas makrobentos dari kedua Bendungan nilai yang didapat menunjukan angka yang lebih dari pada satu. Menurut Indek diversitas dari shannon Wienner bahwa indek diversitas yang lebih dari pada dua bahwa perairan tersebut belum tercemar, hal ini menyatakan bahwa kedua Bendungan Bapang dan Bendungan Ngablabaan tersebut belum tercemar. Tekstur substrat Tekstur substrat (Tabel 5) di kedua bendungan, apabila dilihat sekilas kebanyakan mengan-dung lumpur, tetapi setelah diadakan analisis tentang jenis substrat dilaboratorium lumpur-lumpur tersebut terbagi menjadi lempung, debu, pasir. Berdasarkan hasil

PERMANA dkk. – Makrobentos di bendungan Bapang dan Ngablabaan, Sragen

27

analisis tekstur substrat dikedua Bendungan tersebut didominasi oleh lempung dan sisanya oleh debu dan pasir, jenis substrat ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan makrobentos, karena pada substratlah makrobentos mendapatkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Menurut Allan (1995), Substrat merupakan aspek fisik yang komplek dan dapat mempengaruhi organisme yang hidup di substrat tersebut. Analisis statistik Untuk mengetahui pengaruh parameter lingkungan terhadap densitas dan diversitas makrobentos di dua bendungan, maka dilakukan uji korelasi yang dilanjutkan uji regresi. Lalu uji anava pada tingkat signifikasi α = 0,05 dan dilanjutkan dengan DMRT 5%, yaitu untuk melihat pengaruh letak stratum terhadap densitas dan diversitas. Hasil uji korelasi antar parameter lingkungan di Bendungan Bapang, menunjukkan adanya pengaruh yang kuat terhadap densitas dan diversitas dari makrobentos, namun untuk parameter yang dikorelasikan dengan densitas (Y2) tidak memperlihatkan korelasi yang kuat diantara beberapa parameter yang dikorelasikan, serta tidak ditemukan parameter dominan yang mempengaruhi densitas. Untuk parameter yang dikorelasikan dengan diversitas (Y1) ada tiga parameter yang cukup signifikan mempengaruhi diversitas di Bendungan Bapang di antaranya adalah: X3 (magnesium), X5 (pH), X9 (DO). Ketiga parameter tersebut sangat mempengaruhi diversitas, untuk X3 (magnesium) mempunyai nilai korelasi 0,692 dengan persamaan regresi Y1 = 332 +158.499 X3. Nilai korelasi tersebut mempunyai arti bahwa semakin tinggi jumlah magnesium, maka akan mempengaruhi tingginya diversitas. Untuk X5 (pH) mempunyai nilai korelasi 0.073 dengan persamaan regresi Y1 = 421.465 + 6.433 X5 dengan nilai korelasi yang mempunyai arti semakin tinggi nilai pH akan semakin berpengaruhnya terhadap diversitas di Bendungan Bapang. Untuk X9 (DO) mempunyai nilai korelasi 0.365 dengan persamaan regresi Y1 = 269.502-1.072 X9 nilai korelasi tersebut mempunyai arti bahwa semakin tinggi nilai korelasi akan mempengaruhi semakin tingginya diversitas makrobentos di Bendungan Bapang. Dalam hal ini DO sangat berpengaruh sekali terhadap

kehidupan organisme akuatik terutama bentos maka tinggi DO sangat baik sekali terhadap diversitas makrobentos. Untuk Bendungan Ngablabaan setelah dilakukan uji korelasi antara parameter dengan densitas dan diversitas makrobentos, untuk korelasi antara diversitas dengan parameter tidak diperoleh hasil yang signifikan atau tidak adanya parameter yang dominan. Sedangkan untuk korelasi antara densitas dengan parameter di peroleh 1 parameter yang berkorelasi kuat dengan densitas yaitu X4 (kalsium), dan untuk nilai korelasi X4 (kalsium) mempunuyai nilai korelasi 0.590 yang mempunyai arti bahwa semakin tinggi jumlah kalsium akan menyebabkan semakin tingginya densitas makrobentos di Bendungan Ngablabaan, yang mempunyai persamaan regresi Y2 = 49.933 + 2.978 X4. Dalam hal ini peranan kalsium di perairan membantu makrobentos dalam pembentukan cangkang. Kekurangan kalsium menurut Winarno (1997) akan mengakibatkan cangkang tipis, mudah pecah, cacat, dan pucat atau bentuknya tidak sesuai dengan bentuk aslinya, hal ini membuktikan bahwa apabila hal ini terjadi dapat menimbulkan suatu kematian dan tentunya akan berpengaruh terhadap densitas makrobentos di Bendungan Ngablabaan. Dari hasil pengukuran parameter dan telah dikorelasikan dan tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan diversitas dan densitas bukan berarti tidak ada pengaruh sama sekali tetapi pengaruh yang ditimbulkan tidak kuat dibandingkan dengan parameter yang signifikan terhadap densitas maupun diversitas setelah dilanjutkan dengan uji regresi, dimana hasil signifikasi lebih besar dari pada α = 0,05. Uji anava diversitas di Bendungan Ngablabaan diperoleh hasil yang tidak mempunyai pengaruh signifikan antar stratum, karena Fhitung yang diperoleh kurang dari F-tabel sehingga tidak perlu untuk dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT. Pada Bendungan Bapang pada uji anava diversitas hasil yang diperoleh sama dengan Bendungan Ngablabaan yaitu tidak ada pengaruh yang signifikan antar stratum, karena F-hitung lebih yang diperoleh kurang dari F-tabel. Jadi letak stratum tidak berpengaruh terhadap diversitas makrobentos di Bendungan Ngablabaan dan Bapang. Uji anava pada Bendungan Ngablabaan diperoleh hasil yang signifikan terhadap

28

ENVIRO 3 (1): 18-27, Maret 2003

densitas yaitu faktor stratum karena F-hitung lebih besar dari pada F-tabel dan untuk faktor letak tidak punya pengaruh yang signifikan karena F-hitung yang diperoleh kurang dari Ftabel, jadi stratum mempunyai pengaruh terhadap densitas di Bendungan Ngablabaan. Untuk uji anava densitas Bendungan Bapang diperoleh hasil yang signifikan terhadap densitas yaitu faktor stratum dan faktor letak, karena F-hitung kedua-duanya mempunyai nilai yang lebih besar dari pada F-tabel, jadi faktor stratum mempunyai pengaruh terhadap densitas makrobentos di Bendungan Bapang. KESIMPULAN Di Bendungan Bapang, Kalijambe, Sragen ditemukan 11 species makrobentos yaitu: Brotia testudinaria, Melanoides graniferae, Digoniostoma truncatum, Melanoides costellaris, Belamya javanica, Melanoides tuberculata, dan Corbicula moltkiana. Di Bendungan Ngablabaan, Plupuh, Sragen ditemukan 7 spesies makrobentos yaitu: Brotia testudinaria, Melanoides graniferae, Belamya javanica, Corbicula moltkiana, Melanoides costellaris, Corbicula subplanata, dan Assimenia bedaliensis. Spesies yang tidak ditemukan di Bendungan Ngablabaan, tetapi ditemukan di Bapang adalah: Pila scutata, Clea helena, Digoniostoma truncatum, Melanoides tuberculata, dan Corbicula rivalis. Berdasarkan uji korelasi pada parameter lingkungan dengan diversitas dan densitas di Bendungan Bapang dan Ngablabaan, hubungan yang signifikan antara parameter lingkungan dengan diversitas di Bendungan Bapang adalah magnesium, pH, DO, sedangkan hubungan antara parameter dengan densitas tidak yang signifikan sedang sisanya tidak signifikan. Untuk Bendungan Ngablabaan hubungan yang signifikan diperoleh antara kalsium dengan densitas, sedangkan diversitas dengan parameter lingkungan tidak ada yang signifikan. Stratum berpengaruh terhadap densitas di kedua bendungan, yaitu Bendungan Bapang dan Bendungan Ngablabaan, sedangkan terhadap diversitas stratum tidak menunjukan pengaruh. Berdasarkan banyaknya makrobentos yang diperoleh di setiap stratum maka habitat yang cocok untuk makrobentos

adalah habitat yang mempunyai kandungan nitrat 0,01-1,825 mg/l, fosfat 0,04-3,58 mg/l, magnesium 2,05-2,08 mg/l, kalsium 11,2714,39 mg/l, pH 6,8-7,6, suhu 27oC-30oC, kejernihan perairan 35 cm-64 cm, DO 4,9-9,2 mg/l, debu 20,49-46,46%, lempung 10,3963,83%, dan pasir 4,25-63,12%. DAFTAR PUSTAKA
Allan. 1995. Substrate influence. http:// www. Chebucto. ns. ca. /science/SWCS/ZOOBENTH/ PRIMER/ [17 Feb 2002] Bayard, H.M.C. dan Robert 1983. Pengantar Biologi Laut. Toronto: The C.V. Mosby Company. Barners, R.K. 1980. Ivertebrate Zoology. USA, Saunders College Publishing. Boyd, C.E. 1979. Water Quality in Warm Water Fish Pound. Alabama: Craft Malter, Inc. Ehrlich, P.R, A.H. Ehrlich, and J.P. Holdrew. 1997, Ecoscience:Population Resources, Environment. San Francisco: W.H. Freeman and Company. Hadisusanto. 1992. Kajian kerapatan dan keanekaragaman zoobentos di Waduk Panjalin Bumiayu, Jawa Tengah. Berkala ilmiah Biologi UGM 1 (4): Indrawati, M. 2001. Jenis dan Pola Distribusi Gastrpoda di Sungai Pepe Surakarta. Skripsi. Biologi, F MIPA. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Jazanul. 1984. Ekologi Sistem Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Krebs, J.C. 1989. Ecologycal Methodology. Harper Collins Publisher, University of British Of Columbia. Mc Naughton, S.J. dan L. Wolf. 1990. Ekologi Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi (terjemahan) edisi ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sastrawijaya, 1991. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Soetjipto. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta: Depdikbud Dirjen Dikti. Syamsudin dan Komar. 1982. Biologi Perikanan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan: Depdikbud. Teknosains. 13 (3) September 2000. ISSn 1411-6162. Berkala Penelitian Pasca Sarjana Ilmu-ilmu Teknik dan Sains. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Wetzel, R.G dan G.E Likens.1991. Limnology Analiysis. 2nd edition. New York USA. Springer-Verlag. Winarno, K., O.P. Astirin, dan A.D. Setyawan. 2000. Biomonitoring kualitas perairan Rawa Jabung melalui keanekaragaman dan kekayaan komunitas bentos. BioSMART 2 (1): 40 - 46. Winarno, K. dan Ashadi. 1997. Bioindikator Ca dan Mg Pada Perairan Sumber Air Jernih di Cokrotulung Kabupaten Klaten. Surakarta: Sub Lab Kimia, UPT Lab Pusat. Universitas Sebelas Maret. Wiryanto. 1997. Pengaruh Limbah Cair Industri Tekstil PT. TYFOUNTEX Indonesia Kartosuro Sukoharjo Terhadap Perubahan DO,BOD,Suhu, pH, Kadar Logam, dan Plankton di Sungai Kudusan Sukoharjo dan Premulung Surakarta. Surakarta: FMIPA UNS.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->