Nama : Novia Indrawati NIM : 0432950109031 LAPORAN PENDAHULUAN HEMODIALISA A.

Pengertian Menurut Price dan Wilson (1995) dialisa adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari kompartemen cair menuju kompartemen lainnya. Hemodialisa dan dialisa peritoneal merupakan dua tehnik utama yang digunakan dalam dialisa. Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama yaitu difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu. Sedangkan menurut Tisher dan Wilcox (1997) hemodialisa didefinisikan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermeabel (dializer) ke dalam dialisat. Dializer juga dapat dipergunakan untuk memindahkan sebagian besar volume cairan. Pemindahan ini dilakukan melalui ultrafiltrasi dimana tekanan hidrostatik menyebabkan aliran yang besar dari air plasma (dengan perbandingan sedikit larutan) melalui membran. Dengan memperbesar jalan masuk pada vaskuler, antikoagulansi dan produksi dializer yang dapat dipercaya dan efisien, hemodialisa telah menjadi metode yang dominan dalam pengobatan gagal ginjal akut dan kronik di Amerika Serikat (Tisher & Wilcox, 1997). Hemodialisa memerlukan sebuah mesin dialisa dan sebuah filter khusus yang dinamakan dializer (suatu membran semipermeabel) yang digunakan untuk membersihkan darah, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh. Hemodialisa memerlukan jalan masuk ke aliran darah, maka dibuat suatu hubungan buatan antara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan (NKF, 2006). B. Indikasi Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang jelas berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan harus dimulai. Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan kesehatan penderita yang terus diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan. Pengobatan biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja purna waktu, menderita neuropati perifer atau

memperlihatkan gejala klinis lainnya. Pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika kadar kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria , 4 mg/100 ml pada wanita dan glomeluro filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak dilakukan lagi. Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik. Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding dengan kadar kreatinin serum 8–10 mg/dL. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan hemodialisa. Selanjutnya Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan bahwa indikasi relatif dari hemodialisa adalah azotemia simtomatis berupa ensefalopati, dan toksin yang dapat didialisis. Sedangkan indikasi khusus adalah perikarditis uremia, hiperkalemia, kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik (oedem pulmonum), dan asidosis yang tidak dapat diatasi. C. Kontraindikasi Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom otak organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI, 2003). D. Tujuan Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :

E. Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat adanya banyak tabung kapiler (Price & Wilson. Darah mengalir dari arah yang berlawanan dengan arah darah ataupun dalam arah yang sama dengan arah aliran darah. 1995). karakteristik dan ukuran membran dalam alat dialisa. bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. 4. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal. mengalirkan dialisat dan aliran darah melewati suatu membran semipermeabel. Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel yang terdiri dari dua bagian. Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil ini. dan sisa metabolisme yang lain. dan cairan dialisat membasahi bagian luarnya. Darah dan dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi maksimal dari pemindahan larutan. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik. Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer. Proses Hemodialisa Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi mempersiapkan cairan dialisa (dialisat). 2006). yang digunakan untuk menyaring dan membersihkan darah dari ureum. Komposisi dialisat. 3. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillary dializer yang terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler sebagai tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa (NKF. yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. kreatinin. 2. seperti ureum. dan memantau fungsinya termasuk dialisat dan sirkuit darah korporeal.1. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain. dan kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi pemindahan larutan (Tisher & Wilcox. . Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi. 1997).

Darah mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/blood line). Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah pasien. Sirkuit darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl 0. sehingga keduanya terjadi difusi. Perbedaaan tekanan hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi solut. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan meningkatkan resistensi terhadap aliran vena. atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan quick blood (QB) (sekitar 200 sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan yang baik. sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan darah pasien mungkin cukup untuk mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh). Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel (dializer) yang terdiri dari dua ruangan. Selanjutnya Price dan Wilson (1995) juga menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit. dan ultrafiltrasi.9 %. . Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer. satu untuk darah dan satu lagi untuk cairan dialisa. Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi sepanjang membran semipermeabel dari hemodializer melalui proses difusi. melalui dializer hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur vena. Cairan dialisa membentuk saluran kedua. maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitormonitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter (Price & Wilson.Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh. dimana cairan akan mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Air kran difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan suhu tubuh. osmosis. Untuk menjamin keamanan pasien. Heparin secara terusmenerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan darah. 1995). Setelah darah selesai dilakukan pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui arterio venosa shunt (AV-shunt). atau dengan menimbulkan efek vakum dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat. kemudian dicampur dengan konsentrat dengan perantaraan pompa pengatur. sehingga terbentuk dialisat atau bak cairan dialisa. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan yang lain dialirkan dialisat.

Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3 – 5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Tiap hemodialisa dilakukan 4 – 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10 – 15 jam/minggu dengan QB 200–300 mL/menit. keseimbangan garam. air. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa.Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. dan pH sudah tidak normal lagi. Pada akhir interval 2 – 3 hari diantara hemodialisa. Gambar skema hemodialisa .

Komplikasi Hemodialisa Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi. Hipotensi Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat. Kram otot Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. neuropati otonomik. dan kelebihan tambahan berat cairan. Aritmia .F. 2. Kram otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi. rendahnya dialisat natrium. 3. antara lain: 1. penyakit jantung aterosklerotik.

7. Pengkajian Keluhan utama pada pasien hemodialisa adalah a.Hipoksia. G. sindrom uremia . Penggunaan heparin selama hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler. Ganguan pencernaan Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang disebabkan karena hipoglikemia. Fungsi trombosit dapat dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. 4. Sindrom ketidakseimbangan dialisa Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat dibandingkan dari darah. Perdarahan Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Hipoksemia Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar. dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat. 6. 9. 8. magnesium. Asuhan Keperawatan 1. hipotensi. penurunan kalsium. kalium. penghentian obat antiaritmia selama dialisa. yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemenkompartemen ini. Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit kepala. 5.

muntah. PK : Hiperkalemia e. Diagnosa keperawatan a. f. Lambung . Perikarditis. pruritus atau gatal-gatal b. edema paru f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan melemah b. Pusing. perdarahan GI. cardiar aritmia e.b. Rambut : kering dan rapuh d. sakit kepala. Kuku . kuku tipis dan rapuh c. PK : Hipoglikemia . Mual. koma. Kulit : kulit kekuningan. Hipertensi Manifestasi klinik a. d. kering dan bersisik. psikologis atau ekonomi. nafas kusmaul. PK : Perdarahan d. gangguan tidur. Neurologic . perdarahan gusi e. Pulmonary . muntah. halitosis / faktor uremic. letih. anoreksia. pucat. gastritis ulceration. Hematologi : about it. Asam basa . Edema. perdarahan 2. gagal jantung. gangguan otot : pegal i. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis. mual. Oral . uremic “lung” atau pnemonia g. asidosis metabolik h. c. c.

Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles. dan PCWP e. MAP. Pertahankan catatan acid base balance b. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian h.f. Fluid balance c. osmolalitas urin ) d. Berikan diuretik sesuai interuksi . asites) g. Monitor status hemodinamik termasuk CVP. Hmt . Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN . CVP . Pasang urin kateter jika diperlukan c. Monitor status nutrisi i. Electrolit and intervensi Fluid management a. edema. Rencana Keperawatan No Dx keperawatan 1 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan melemah Tujuan a. PK : Anemia 3. distensi vena leher. Monitor vital sign f. PK : Asidosis g. PAP. Hydration intake dan output yang akurat b.

Monitor berat badan d. disfungsi hati. Monitor serum dan elektrolit urine e. HR. dll ) c. Monitor parameter hemodinamik infasif . Monitor BP. terapi diuretik.j. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak seimbangan cairan (Hipertermia. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi b. diaporesis. kelainan renal. Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l k. gagal jantung. Monitor serum dan osmilalitas urine f. dan RR g. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk Fluid Monitoring a. Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung h.

rinchi. Monitor tanda dan gejala kekurangan cairan g. Catat secara akutar intake dan output Monitor adanya distensi leher. Monitor komplikasi yang mungkin terjadi selama hemodialisa e. Nutritional Nutrition Management a. Lakukan program ultrafiltration goal sesuai kenaikan berat badan d. Beri obat yang dapat meningkatkan output urin Hemodialysis therapy a. eodem perifer dan penambahan BB j. Kaji adanya alergi Status : food and Fluid Intake makanan . Ukur berat badan sebelum hemodialisa b. Monitor tanda dan gejala dari odema l.i. Monitor tanda dan gejala kelebihan cairan f. Monitor vital sign setiap jam atau bila diperlukan c. Ukur berat badan setelah hemodialisa 2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh a. k.

psikologis atau ekonomi. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi g. c. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi k. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan . Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe d.d faktor biologis. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori j.berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi b. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C e. Nutritional b. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) h. Weight control ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. Kolaborasi dengan Status : nutrient Intake c. b. Berikan substansi gula f. i. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

BB pasien dalam batas normal b. dan mudah patah j. dan kadar Ht l. Monitor makanan kesukaan m. kemerahan. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan g. Monitor adanya penurunan berat badan c. Monitor kekeringan. Monitor lingkungan selama makan f. Monitor mual dan muntah k.Nutrition Monitoring a. Monitor pertumbuhan dan perkembangan n. total protein. Hb. rambut kusam. Monitor pucat. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan e. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi h. dan . Monitor turgor kulit i. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan d. Monitor kadar albumin.

Monitor vital sign d. Monitor tanda dan gejala perdarahan f. Monitor laboratorium darah rutin ( hemoglobin) post hemodialisa bila perlu g. Jaga posisi jarum tetap aman dan paten. scarlet 3 Perdarahan Perawat dapat menangani dan meminimalkan terjadinya perdarahan. hipertonik papila lidah dan cavitas oral. hiperemik.kekeringan jaringan konjungtiva o. Berikan dosis antikoagulan waktu 4 Hiperkalemia Perawat dapat menangani dan meminimalkan hemodialisa sesai dosis. Jelaskan tentang tanda dan gejala perdarahan e. c. Monitor ketidakseimbangan . q. Catat adanya edema. Monitor kalori dan intake nuntrisi p. Kaji keadaan luka insisi penusukan jarum AV Fistula hemoidalisa b. Kontrol perdarahan a. Catat jika lidah berwarna magenta. Management elektrolit a.

jika perlu g. Pertahankan keakuratan data intake dan out put.terjadinya hiperkalemia. spironolakton). jika diperlukan h. Pertahankan patensi jalan masuk intra vena d. Monitor dampak- dampak dari ketidakadekuatan/ ketidak seimbangan elektrolit c. jika perlu j. Dapatkan spesimen untuk analisis laborat . dan IV) sesuai resep. Pertahankan cairan intraa vena berisi elektrolit dalam aliran tetap. hemat elektrolit (ex. f. sesuai instruksi. Berikan tambahan elektrolit (secara oral. jika ada/tersedia b. Berikan cairan. jika diperlukan e. Konsultasikan dengahn dokter dalam pemberian pengoabtan. Berikan ikatan elektrolit atau penguat (ex: kogeoxalat). serum elektrolit. NGT. jika perlu i.

pemberian antiopirektik) jika. diare. Adakan pengukuran untuk mengontrol kehilangan lektrolit berlebihan/banyak sekali (ex : dengan istirahat usus. urin. potasiium. rendah karbohidrat) o. drainage luka. Minimalkan jumlah oral intake yang dikonsumsi oleh pasien dengan saluran gastrik yang dihubungkan dengan suction n. Berikan diet yang tepat untuk pasien . serum) k. m. plesbotomi drainase. section. terutama keseimbangan elektrolit (kaya. perubahan tipe elektrolit. perlukan. dan diaporosis) l. Monior kehilangan elektrolit kaya cairan (NGT.dari level elektrolit (AGD. rendah sodium. Instruksikan pasien atau famili dalam modifikasi diit secara .

Konsultasikan dengan dokter jika tanda dan gejala dari ketidakseimbanga elektrolit bertahan lama atau memburuk t. Ajarkan pasien dan keluarga tentang tipe. penyebab dan perawatan ketidakseimbangan elektrolit s. Monitor respon pasien untuk terapy elektrolit sesuai instruksi u. Berikan pengamanan lingkungan untuk pasien dengan gangguan neurologi dan neuromuscular.spesifik p. Monitor efek samping pemberian elektrolit tambahan (ex: Gastrointestinal irigasi) v. Peningkatan orientasi r. Monitor secara pasti level serum potasium pada pasien yang mendapat digitalis . akibat ketidakseimbangan elektrolit q.

Obati/rawat aritmia jhantung. Siapkan pasien untuk dialisis (ex: bantu dengan pemasangan kateter untuk dialisis). takikardi. jika perlu x. Pantau kadar gula darah sebelum pemberian obat hipoglikemik dan atau sebelum makan dan satu jam sebelum tidur b. cola atau semacam golongan jahe setiap 15 menit sampai kadar . bingung. Jika klien dapat menelan.dan diuretik w.peka terhadap rangsang. berikans etengah gelas jus jeruk. mudah mengantuk) c. kulit dingin. Berikan/pasang monitor jantung. tidak sadar. 5 Hipoglikemia Perawat dapat menangani dan meminimalkan episode hipoglikemi Management hipo/hiperglikemi a. tidak terkoordinasi. sesuai kebijakan y. Pantau tanda dan gejala hipoglikemi (kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl. lembab dan pucat.

mengantuk •kalsium serum meningkat •klorida serum meningkat •penurunan HCO3 b. Pantau tanda dan gejala asidosis metabolik •pernafasan cepat dan lambat •sakit kepala •mual dan muntah •bikarbonat plasma dan pH arteri darah rendah •perubahan tingkah laku.glukosa darahnya meningkat diatas 69 mg/dl d. Jika klien tidak dapat menelan. berikanglukagon hidroklorida subkutan 50 ml glukosa 50% dalam air IV sesuai 6 Asidosis Perawat mampu menangani dan meminimalkan episode asidosis protocol Asidosis Metabolik a. Untuk klien klien dengan asidosis metabolik •mulai dengan penggantian cairan IV sesuai program .

Asidosis Respiratorik a. dan alkalosis setelah asidosisnya terkoreksi •Lakukan koreksi pada setiap gangguan ketidakseimbangan elektrolit sesuai dengan program dokter •Pantau nilai gas darah arteri dan pH urine.tergantung dari penyebab dasarnya. rujuk pada PK: hipo/hiperglikemia •Kaji tanda dangejala hipokalsemia. hipokalemia. •Jika etiologinya DM. Pantau tanda dan gejala asidosis respiratorik •Takikardi •Disritmia •Berkeringat •Mual/muntah •Gelisah •Dyspneu •Peningkatan usaha .

nafas •Penurunan frekuensi pernafasan •Peningkatan PCO2 •Peningkatan kalsium serum •Penurunan natrium klorida b. latihan nafas dalam •Konsul kemungkinan penggunaan ventilasi mekanis •Berikan oksigen setelah klien dapat bernafas dengan baik •Tingkatkan pemberian hidrasi 7 Anemia Perawat dapat melakukan pencegahan untuk meminimalkan terjadinya anemia berkelanjutan yang optimal Management Anemia a. Pantau tanda dan gejala anemia •Adanya letargi •Adanya kelemahan •Keletihan •Peningkatan pucat •Dyspneu saat . Untuk klien klien dengan asidosis respiratorik •Perbaiki ventilasi melalui pengubahan posisi pada semifowler.

Edisi 3.. Guyton. Edisi-3. Terdapat pada: http://www. D. 2005. J. 1998. R. Hemodialysis: Patient information. EGC. C. Jakarta. T. A. 2006. L. Ganong.com. NKF..org. & Terra. M. 1997.M. C.C. Edisi 17. A. Sumarwati. Availabel on: www. ..I.uptodate. Jakarta. Guidelines for hemodialysis adequacy. B.. & Wilcox.. Terdapat pada: http://www. Terdapat pada: http://www. Kariasa. C. & Wilson. Edisi 9. Cipto Mangunkusumo.M. Geissler. EGC. 199. Jakarta. Edisi 7. Buku ajar: Fisiologi kedokteran. & Hall.kidneyatlas. M. C. Tisher. L.N. S. & Post. 2001. C.patients. 1993. P.E. F. Hemodialysis. EGC.. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. W. Buku ajar: Fisiologi kedokteran. A. A. Havens. NKF.nkf. Edisi 4. 2006. Jakarta. RGC.. Rose.M. Monitor kadar Hb c. PERNEFRI. Konsensus dialisis. EGC. S. Johnson. Jakarta.com. Buku ajar: Fisiologi kedokteran.Minurse.kidneyatlas. Kolaborasi perlunya pemberian transfusi Daftar pustaka Doenges. Price. Jakarta. Buku saku nefrologi.. Nursing Outcomes Classification. Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi–Bagian Ilmu Penyakit dalam... W. Guyton. Moorhouse.melakukan aktivitas b. Terdapat pada: http://www. E. EGC. 1995. 1995.org. 1997. FKUI-RSUPN Dr. Mass.com. Jakarta.. Alih bahasa. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien. Hemodialysis.F.

Philadelphia. Bulecheck. EGC. Judith. St. Mosby. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.. Louise. Nursing Intervention Classsification (NIC). . 2002. Joanne C. Wilkinson. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002). Jakarta. NANDA. 2007. Gloria M.McCloskey. 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful