Menyelesaikan sengketa bisnis melalui pengadilan agama, kiranyamerupakan kultur (budaya) hukum baru bagi masyarakat Indonesia.

Betapa pun kultur ini merupakan paradigma baru dalam bidang hukum penyelesaian sengketa. Tidak dapat dipungkiri hal ini akan sangat mewarnai pola-pola pencarian keadilan dengan ditetapkannya pengadilan agama sebagai salah satu lembaga peradilan yang memiliki kompetensi absolut untuk menyelesaikan sengketa bisnis berbasis syariah. Kompetensi ini merupakan tambahan atas kompetensi peradilan agama yang secara konvensional telah disandang selama ini. Sebagai konsekuensi ditambahnya kompetensi absolut pengadilan agama, maka

kewenangan pengadilan agama setara dengan pengadilan negeri dalam memeriksa sengketa-sengketa bisnis yang diajukan kepadanya. Satu hal yang secara prinsipil membedakan pengadilan agama dengan pengadilan negeri dalam memeriksa sengketa bisnis adalah basis sengketanya, yaitu lembaga ekonomi syariah.

Sedangkan apabila sengketa yang timbul itu mengenai hak milik atau keperdataan lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006, maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan negeri dalam lingkungan Peradilan Umum.[7]

Apabila ditelusuri, liku-liku perjalanan peradilan agama sejak masa kemerdekaan, pengadilan agama memiliki sejarah panjang. Pada mulanya secara kelembagaan peradilan agama berada di bawah lingkup Departemen Agama. Setelah diundangkan UndangUndang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, akhirnya peradilan agama dialihkan ke dalam lingkungan Mahkamah Agung. Sejak saat itulah, pengadilan agama, baik harus dari sisi kewenangan oleh maupun kelembagaan diatur oleh sebuah peraturan perundangan yang secara eksplisit merinci tentang pelayanan peradilan yang standar yang diberikan lembaga peradilan agama tersebut.[8]

Namun demikian, kewenangan yang dimiliki peradilan agama ketika itu memang masih sangat terbatas. Penyelesaian sengketa yang menjadi kompetensi peradilan agama masih berkisar penyelesaian masalah nikah, talaq, dan rujuk (NTR) saja. Oleh karena itu, diundangkannya Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undangundang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, merupakan kemajuan yang luar biasa. Sebuah perwujudan cita-cita yang sangat didambakan oleh umat Islam di Indonesia pada umumnya serta hakim agama khususnya, setelah melewati perjalanan sejarah yang amat panjang. Sebenarnya, pembaharuan peradilan agama sudah dimulai sejak ditetapkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970,[9] namun ketika itu masih jauh dari harapan. Hal itu sangat tampak terutama persoalan independensinya, mengingat UU No. 14 Tahun 1970 masih menganut sistem dua atap (double roof system),[10] seperti ditegaskan pada Pasal 11 ayat (1).

Masuknya pihak eksekutif ke dalam kekuasaan kehakiman disinyalir sebagai salah satu sebab mengapa kekuasaan kehakiman di negeri ini tidak independen.[11] Alasan itulah antara lain yang menyebabkan status dan kedudukan peradilan agama belum bisa dikatakan sebagai peradilan yang independen, mandiri, dan kokoh, selama masa Orde

Oleh karena itu. karena Indonesia bukan Negara Islam. Untuk memperbaiki kondisi tersebut. sehingga independensi dan kemandirian institusionalnya bias meningkat. maka kewenangan Peradilan Agama tidak menyangkut seluruh persoalan umat Islam. sesungguhnya sangat terkait erat dengan persoalan kehidupan umat Islam. Sebagaimana dikemukakan Paulus E. karena kewenangan tersebut menjadi sui generis-nya. apabila ditelusuri berdasarkan kedudukan dan statusnya. Friedman dalam teori three elements law system. Salah satu indikator kepercayaan dari masyarakat pencari keadilan adalah tingkat kepuasan (consumer satisfaction) pengguna/masyarakat terhadap Peradilan Agama. Lotulung bahwa. yakni pengadilan. Inilah perubahan signifikan yang terjadi pada peradilan agama di era reformasi. langkah awal yang harus dilakukan adalah perbaikan system melalui perubahan dan penyempurnaan peraturan-peraturan yang mendasari penegakan hukum. Menurutnya. yang penghapusannya hanya mungkin kalau ada perubahan UUD. Statusnya sudah sangat kuat secara konstitusional. sesungguhnya keadaan tersebut merupakan sesuatu yang sulit dibayangkan akan terjadi. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang. Bila dilihat dari aspek struktur.7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Namun demikian. status dan kedudukan peradilan agama sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman di era reformasi sudah kuat. Peradilan Agama adalah pranata konstitusional. undangundang tersebut masih belum bebas dari intervensi kekuatan eksekutif. pada tanggal 8 Desember 1988 Presiden RI menyampaikan Rancangan Undang-Undang Peradilan Agama (RUU PA) kepada Dewan Perwakilan Rakyat. efektif atau tidaknya penegakan hokum antara lain ditentukan oleh kuat tidaknya struktur hukum (legal structure). Menjalankan peradilan agama menjadi tanggungjawab dan kewajiban konstitusional.[13] Setelah Undang-undang Tentang Peradilan Agama disahkan. struktur adalah bagian dari sistem hukum yang bergerak di dalam suatu mekanisme. Pengadilan Agama sebagai salah satu bagian dari struktur hukum akan memberikan pengaruh terhadap kuat tidaknya struktur pelaksana hukum di Indonesia. Untuk itu. Namun. sesungguhnya adalah berkaitan dengan status dan kedudukannya sebagai salah satu pelaksana dari struktur kekuasaan kehakiman. termasuk kepercayaan dari masyarakat pencari keadilan. peradilan agama harus kuat status dan kedudukannya sehingga dapat memberikan kepastian hukum kepada para pencari keadilan.Baru.[12] Upaya tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melakukan perubahan sekaligus perbaikan sistem. yang lebih diutamakan dari reformasi peradilan agama. Kondisi tersebut diharapkan tidak lagi mengundang perdebatan mengenai kehadirannya dalam sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia. Dari situlah titik tolak kebijakan dan politik penegakan hukum harus dilakukan. Sebagai institusi penegak hukum. Kedudukan peradilan agama sudah sama dengan badan-badan peradilan lainnya.[15] Struktur bagaikan foto diam yang menghentikan gerak. ternyata substansi Undangundang tersebut jauh lebih maju dari ketentuan undangundang yang ada sebelumnya. Dalam konteks tersebut di atas. Kewenangan Peradilan Agama di Indonesia.[14] menyatakan bahwa. Kewenangan peradilan agama hanya terkait .[16] Oleh karena itu. akhirnya RUU PA tersebut disahkan menjadi UU No.

shadaqoh. Pasal 2 UU No.[17] maka kewenangan peradilan agama dibatasi.dengan persoalan hukum keluarga (ahwal al-syakhsiyah) ditambah sedikit persoalan muamalah. dapat dipahami bahwa dengan kewenangan tersebut dimungkinkan untuk menyelesaikan perkara pidana. hibah. dan rujuk. Kompetensi juga sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan hukum Islam di Indonesia. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.[19] Perubahan signifikan menyangkut kewenangan peradilan agama. kompetensi peradilan agama hanya seputar perceraian. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undangundang No. nafkah. infaq. Kemudian materi yang merupakan penambahan kewenangan baru[22] tersebut adalah. Sejak sebelum kemerdekaan sesungguhnya hukum Islam telah berlaku di Indonesia. 3 Tahun 2006.[24] Oleh karena itu. dan ekonomi syari’ah. perluasan antara kewenangan mengingat cara yang “…harus dan ada kesinambungan yang simetris antara perkembangan masyarakat dengan pengaturan hukum. Bagi Peradilan Agama. dan ekonomi syari’ah.”[25] perkembangan masyarakat meniscayakan munculnya permasalahan bias diselesaikan melalui jalur hukum. infaq. perkawinan. tidak dengan cara main . “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu. maka tidak mengherankan jika dewasa ini. Akan tetapi. peradilan agar agama tidak mengalami ada Dalam gap arti. Artinya. zakat. tidak lagi menangani masalah waris karena dianggap belum menjadi hukum adat.” Memperhatikan ketentuan tersebut. waris. hukum positif hanya akan efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. talaq. maka segala persoalannya juga ditangani dan menjadi kompetensi peradilan agama.[18] Atas dasar keterpengaruhan dari teori ini. Seperti diungkapkan Eugen Ehrlich bahwa “…hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup di masyarakat. Meskipun demikian. akibat pengaruh pemahaman terhadap teori receptie Christian Snouck Hurgronye. secara konstitusional diperoleh melalui Undang-undang No. peradilan agama memperoleh kewenangan baru dalam bidang ekonomi syariah yakni. Perluasan kewenangan tersebut sesuai dengan perkembangan hokum dan kebutuhan hukum masyarakat. dalam perspektif sosiologi hukum. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Kenyataan tersebut tidak bisa dipisahkan dari persoalan politik penguasa. zakat.”[23] Ehrlich juga menyatakan bahwa. ketika hokum Islam dilaksanakan. wasiat. 3 tahun 2006 menegaskan.[21] Kemudian berdasarkan Pasal 49 UU No. persoalan dengan tempat penyelesaiannya. dalam istilah antropologi dikenal sebagai pola-pola kebudayaan (culture pattern). khususnya masyarakat muslim. kewenangan (absolute competence) dan wilayah yurisdiksi pengadilan (relative competence) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. dalam sejarahnya justru kompetensi itulah yang menjadi penentu eksistensi badan peradilan termasuk peradilan agama. menjadi hukum yang hidup di masyarakat. pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. wakaf. Undang-undang tersebut bersifat diagnostic[20] atau dalam istilah lain UU organik akibat adanya UU No. meskipun untuk kewenangan relatif lebih ajeg dari pada status dan kedudukan yang sering mengalami pasang dan surut.

kewenangan peradilan agama tidak hanya terbatas pada persoalan-persoalan tersebut. Oleh sebab itu. sekuritas syariah. tetapi juga menyangkut persoalan hukum Islam lainnya yang selama ini telah dipraktikkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. sampai pada masalah ekonomi syari’ah. Perluasan wewenang pengadilan agama setelah diundangkannya Undang-undang No 3 tahun 2006 tentang perubahan Undang-undang No. obligasi dan surat berjangka menengah syariah. Misalnya.. legal substance adalah aturan. Bahkan semestinya. dimana pertimbangan utamanya adalah “. dan pola perilaku nyata manusia yang berada dalam sebuah sistem. Artinya. asuransi syariah. Perluasan kewenangan tersebut. antara lain meliputi ekonomi syariah.bahwa ekonomi syariah adalah bidang perdata yang secara sosiologis merupakan kebutuhan umat Islam”.[26] Substansi juga berarti produk yang dihasilkan. tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi aparatur peradilan agama. Hal ini seperti yang dijadikan alasan oleh anggota DPR ketika mengesahkan kewenangan ekonomi syariah dalam UU No. berbanding lurus dengan kewenangannya sebagai legal substance. sepanjang itu pula seharusnya kewenangannya dimiliki oleh peradilan agama. pegadaian syariah. baik menyangkut tentang perkawinan. waris. aturan baru yang disusun. dan bukan hanya aturan yang ada dalam kitab undang-undang atau law in books. Friedman menyatakan. keberadaan Peradilan Agama sebagai sebuah legal structure. Sepanjang hukum Islam itu hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. reasuransi syariah. beberapa kewenangan yang selama ini dimiliki oleh Peradilan Agama. pembiayaan syariah. maka keadaan semacam itu ibarat sebuah bangunan hampa yang tidak ada isinya. Substansi juga mencakup hukum yang hidup (living law). perluasan kewenangan Peradilan Agama juga sesuai dengan teori three elements law system Friedman. reksa dana syariah.[27] Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. Penyebutan ekonomi syariah menjadi penegas bahwa kewenangan pengadilan agama tidak dibatasi dengan menyelesaikan sengketa di bidang perbankan saja. terutama tentang legal substance. melainkan juga di bidang ekonomi syariah lainnya. dana pensiun lembaga keuangan syariah dan bisnis syariah. maka perluasan beberapa kewenangan peradilan agama merupakan sebuah keniscayaan.hakim sendiri. zakat. wakaf. ternyata dimiliki bukan hasil dari sebuah perencanaan strategis dari para pengelola atau pihak yang berwenang. kesemuanya merupakan sesuatu yang telah melekat pada masyarakat muslim. norma. akan tetapi lebih karena persoalan tersebut secara sosiologis telah dipraktikkan oleh masyarakat. Di samping itu.[28] Namun demikian. Hal ini sesuai adagium ius curia novit (hakim dianggap . 3 Tahun 2006.. hukum Islam yang menjadi bagian dari kewenangan peradilan agama selama ini telah menjadi hukum yang hidup (living law) dan diamalkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. terutama hakim. mengingat semua yang menjadi wewenang peradilan agama. Para hakim dituntut untuk memahami segala perkara yang menjadi kompetensinya. lembaga keuangan mikro syariah. apabila legal structure-nya kuat tetapi legal substance-nya lemah. Mengingat. mencakup keputusan yang dikeluarkan.

pengadilan agama bias meng-cover perkara perdata dan pidana. hibah. Memang. ada beberapa hal penting dalam konteks kewenangan Peradilan Agama berkenaan dengan kompetensi barunya untuk menangani sengketa perekonomian syariah.[31] Sesungguhnya Pasal 3A UU No. setiap hakim pengadilan agama dituntut untuk lebih mendalami dan menguasai masalah-masalah perekonomian syariah. lembaga keuangan mikro syariah.[29] Keniscayaan hakim untuk selalu memperkaya pengetahuan hukum. Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut: Pertama. juga sebagai sebuah pertanggungjawaban moral atas klaim bahwa apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap benar (res judicata pro veriate habetur). Kedua. Paling tidak. reksadana syariah. waris. wasiat. secara eksplisit disebutkan dalam penjelasan pasal tersebut yang dimaksud pengkhususan pengadilan adalah Mahkamah Syar’iyah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dibentuk berdasarkan Undangundang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. sehingga hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara dengan dalih hukumnya tidak atau kurang jelas. waqaf dan shadaqah yang selama ini ditanganinya. Mereka juga harus memahami pembiayaan syariah.[30] Memang persoalan sengketa dalam bidang ekonomi syariah berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 ditetapkan menjadi salah satu kompetensi pengadilan agama. Oleh karena itu. para hakim pengadilan agama harus mempunyai wawasan memadai tentang produk layanan dan mekanisme operasional dari perbankan syariah. para hakim pengadilan agama harus terus meningkatkan wawasan hukum tentang perekonomian syariah dalam bingkai regulasi Indonesia dan aktualisai fiqh Islam. para hakim agama juga perlu meningkatkan wawasan hokum tentang prediksi terjadinya sengketa dalam akad yang berbasis ekonomi syariah. sekuritas syariah. perlu pula peningkatan wawasan dasar hukum dalam peraturan dan perundang-undangan. maka wawasan yang dimiliki para hakim pengadilan agama juga tentu masih terbatas. pegadaian syariah. Namun demikian. pengadilan agama tidak menangani sengketa yang terkait dengan perekonomian syariah. obligasi dan surat berharga berjangka menengah syariah. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan memberi contoh penerapannya di Aceh. 3 Tahun 2006 ini jika dibaca penjelasannya akan tampak jelas bahwa yang dimaksud dengan pengkhususan pengadilan yang diatur dengan Undang-undang itu untuk ranah pidana. Namun demikian. sepanjang yang sudah diatur di dalam . UU No. dana pensiun lembaga keuangan syaraiah. Sejalan dengan itu. masih cukup jauh dibandingkan dengan wawasannya mengenai masalah sengketa perkawinan. termasuk dalam hal ini adalah pengadilan syariah Islam yang diatur dengan Undang-undang. juga konsepsi dalam fiqh Islam. Selain itu. sekalipun Pasal 3A UU Peradilan Agama menggariskan bahwa di lingkungan peradilan agama dapat diadakan pengkhususan pengadilan yang diatur dengan Undangundang.mengetahui hukumnya). Jadi. Tetapi tidak semua perkara pidana bisa dicakup. Bahwa Mahkamah Syar’iyah di sana dapat menyidangkan perkara pidana. 3 Tahun 2006 itu sejatinya hanya berkutat di wilayah perdata. Ketiga. Namun karena selama ini. Wawasan para hakim agama tentang perekonomian syariah. menurut UU Peradilan Agama yang baru. para hakim pengadilan agama telah memiliki latar belakang pendidikan hukum Islam. dan bisnis syariah.

MA juga bekerja sama dengan Bank Muamalat. diharapkan praktik-praktik umat Islam yang selama ini sudah berjalan di masyarakat mempunyai kekuatan yuridis. yaitu persoalan ekonomi syariah. Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Peradilan Agama (Tuada Dilag) Andi Syamsul Alam mengemukakan bahwa MA sudah mempersiapkan sumber daya dimaksud. MA sendiri sudah menyiapkan sebuah kurikulum tepatguna dan berhasilguna untuk mengantisipasi perluasan kewenangan peradilan agama. dan bisa memenuhi rasa keadilan serta kebenaran. Hakim-hakim agama sudah lama diikutsertakan dalam pelatihan mengenai ekonomi syariah. Dengan penambahan sejumlah bidang yang menjadi kewenangan dalam UU Peradilan Agama yang baru tersebut. misalnya tentang reksadana. yakni telah cukup banyak personil yang lulusan pascasarjana hukum bisnis. Memang pesatnya bisnis berbasis ekonomi syariah dan perluasan kewenangan pengadilan agama untuk menangani sengketa di dalamnya. memberi konsekuensi tersendiri bagi pengadilan agama. Hal itu dikuatkan pula oleh sumberdaya yang ada di Mahkamah Agung. akuntabel. ekonomi syariah termasuk masalah yang kompleks dan tidak mudah. asuransi dan perbankan syariah. Berkenaan dengan bisnis berdasarkan prinsip syariah yang berkembang pesat pada dekade ini. khalwat (berduaan bukan muhrim). mengatakan bahwa perluasan itu membawa konsekuensi pada sumber daya manusia di lingkungan peradilan agama. seperti halnya masalah khamr (minuman keras). Perlu pengetahuan luas. dan sejumlah perguruan tinggi hukum. apabila terjadi sengketa ekonomi syari’ah antara para pihak yang beragama Islam bisa dilakukan pencarian keadilan melalui lembaga peradilan agama. SUMBERDAYA MANUSIA PENDUKUNG PERADILAN AGAMA Hakim-hakim agama tidak lagi semata-mata berkutat dengan masalah kawin cerai dan kasus perebutan harta warisan. Itu berarti perkara pidana dalam dunia perbankan syariah masih menjadi kewenangan peradilan umum. Selain melatih para hakim agama di Pusdiklat. Bank Indonesia. M. Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Peradilan Agama memiliki keyakinan bahwa dengan persiapan yang telah dijalani pelaksanaan kompetensi dan tugas judisial para hakim pengadilan agama tidak akan banyak hambatan yang berarti dari sisi sumberdaya manusianya. masih belum ada pengaturan di dalam Qonun-nya. Oleh karena itu. peradilan agama juga harus tampil bersih. transparan. keuangan mikro. Bahkan tidak kurang dari 11 (sebelas) macam persoalan baru yang menjadi kewenangan di bidang ekonomi syariah tersebut.[32] III.Qonun. Masalah-masalah muamalah akan menjadi kewenangan absolute peradilan agama. para hakim juga dituntut lebih responsif terhadap perkembangan manajemen peradilan yang lebih modern. Sedangkan untuk perkara pidana dalam dunia perbankan syariah. Menurut Andi Syamsul Alam. dana pensiun. Ketua Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI). Selain itu. atau maysir (berjudi). Selain harus memiliki hakim-hakim khusus yang kapabel dalam menangani sengketa ekonomi syariah. Taufik. bisnis tersebut membuka ruang serta memungkinkan bagi siapa pun untuk . Setelah diundangkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 hakim pengadilan agama menghadapi tugas-tugas baru yang lebih memerlukan perhatian khusus. Dalam kaitan dengan tugas semacam itu.

Kompetensi absolut pengadilan agama dapat diketahui dari ketentuan Pasal 49 dan Pasal 50.terlibat di dalamnya. Penjelasan Pasal 50 Ayat (1) Undang-undang Nomo 3 Tahun 2006 menyebutkan Cukup jelas. khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam 1. 2. objek sengketa tersebut diputuskan oleh Pengadilan Agama bersamasama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. Zakat. 7. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subjek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. Yang dimaksud dengan “antara orang-orang yang beragama Islam” adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal tersebut. Perkembangan tersebut terutama menyangkut ekonomi syariah seiring kehadiran Undangundang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Hibah. Sebagai konsekuensi logisnya. penjelasan Pasal 49 huruf menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “ekonomi syariah” adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah. Sedangkan penjelasan ayat (2) ketentuan ini memberi wewenang kepada Pengadilan Agama untuk sekaligus memutuskan sengketa milik atau keperdataan lain yang terkait dengan objek sengketa yang diatur dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 apabila subjek sengketa antar orang-orang yang beragama Islam. 4. bahwa penyelesaian sengketa tidak dibatasi di bidang perbankan syariah. Pasal 49 menyebutkan bahwa pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa. antara lain meliputi: bank syariah. 3. Waris. lembaga keuangan mikro syariah. dana pensiun lembaga keuangan syariah. Pasal 50 Undang-undang Nomo 3 Tahun 2006 menyebutkan bahwa: (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. dan bisnis syariah. pembiayaan syariah. 6. dan Syariah. Penjelasan Pasal 49 Undang-undang Nomo Shadaqah. Kemudian terkait ekonomi syariah. obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah. melainkan juga di bidang ekonomi syariah lainnya. reksadana syariah. 8. Wakaf. Ekonomi 3 Tahun 2006 menyebutkan di bidang: Perkawinan. Wasiat. Infaq. 5. reasuransi syariah. Hal itu menghindari . pegadaian syariah. kompetensi absolute[33] peradilan agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman mengalami perubahan strategis sebagai respon atas perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat. sekuritas syariah. 9. asuransi syariah.

upaya memperlambat atau mengulur waktu penyelesaian sengketa karena alas an adanya sengketa milik atau keperdataan lainnya tersebut sering dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan. c. Oleh sebab itu. asas hukum dalam sengketa yang ekonomi syariah meliputi: Islam.[36] Kehadiran orang yang beragama bukan Islam menjadi subyek hukum dalam perkara ekonomi syariah menunjukkan suatu perkembangan hukum. sudah tepat kiranya apabila masalah ekonomi syariah itu diserahkan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 kepada Pengadilan Agama dan ditetapkan menjadi kompetensi absolut pengadilan agama. Apabila para pihak yang bersengketa beragama Islam maka peradilan agama mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Islam. Sebaliknya apabila subjek yang mengajukan sengketa hak milik atau keperdataan lain tersebut bukan yang menjadi subjek yang bersengketa di pengadilan agama.[34] Berdasarkan ketentuan Pasal 49 beserta penjelasannya tersebut. Penangguhan dimaksud hanya dilakukan jika pihak yang berkeberatan telah mengajukan bukti ke pengadilan agama bahwa telah didaftarkan gugatan di Pengadilan Negeri terhadap objek sengketa di pengadilan agama. Badan hukum ketentuan yang melakukan 50 kegiatan usaha berdasarkan hukum bahwa Islam. Orang-orang beragama Orang-orang yang beragama bukan Islam namun menundukkan diri terhadap hukum Sedangkan Pasal beserta penjelasannya menunjukkan personalitas keislaman terkait agama yang dianut oleh pihak yang bersengketa dalam sengketa keperdataan mengenai hak milik dikedepankan dalam menentukan kewenangan absolut peradilan yang menangani sengketa tersebut. sengketa di pengadilan agama ditunda untuk menunggu putusan gugatan yang diajukan ke pengadilan di lingkungan peradilan umum. yaitu: Pertama. dapat dipahami bahwa subyek a. Adapun penyelesaian melalui non-litigasi dapat dilakukan . Ketentuan ini mempunyai relevansi yang erat dengan penyelesaian sengketa ekonomi syariah terkait jaminan kebendaan. ada dua asas untuk menentukan kompetensi absolut pengadilan agama. sehingga kegiatan usaha yang mendasarkan pada prinsip syariah tidak hanya diminati oleh orang-orang Islam saja. b. dan/atau Kedua. semisal mengenai hak tanggungan[35] dan fiducia. suatu sengketa yang timbul dari suatu perbuatan atau peristiwa hukum yang dilakukan atau terjadi berdasarkan hukum Islam atau berkaitan erat dengan status hukum sebagai muslim. banyak ditemui para nasabah yang menikmati produk maupun jasa perbankan syarian adalah orang-orang yang beragama bukan Islam. Dalam praktiknya. yang Menurut Mukti Arto. terhadap objek Pengadilan sengketa agama tidak perlu menangguhkan tidak terkait putusannya dimaksud. Dalam hal objek sengketa lebih dari satu objek dan yang tidak terkait dengan objek sengketa yang diajukan keberatannya. Jelas sudah bahwa tatkala kegiatan usaha dilaksanakan berdasarkan prinsip syariah terdapat sengketa maka muara penyelesaian sengketa secara litigasi adalah menjadi kompetensi pengadilan agama. apabila suatu perkara menyangkut status hukum seorang muslim.

dan menyelesaikan setiap perkara dalam bidang ekonomi syariah dapat dikategorikan ke dalam dua macam hambatan. Hal itu disebabkan mereka harus berbagi penugasan dengan pelaksanaan tugas-tugas judisialnya di pengadilan agama dalam rangka memeriksa dan memutus setiap sengketa yang masuk. mediasi musyawarah. Berdasarkan informasi yang dihimpun sebagai hasil wawancara dengan pimpinan pengadilan agama yang dipilih menjadi informan. d. Padahal. menentukan dalam Pasal 55: (1) Penyelesaian perbankan syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama. (2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yakni hambatan yang sifatnya substantif dan hambatan yang bersifat metodologis. Peradilan agama yang berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 mempunyai kompetensi menangani perkara ekonomi syariah yang di dalamnya termasuk perkara perbankan syariah ternyata dikurangi oleh perangkat hukum lain yang notabene sebenarnya dimaksudkan untuk memudahkan penanganan perkara ekonomi syariah. diperoleh informasi sebagai berikut. untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para hakim pengadilan agama tentang prinsip-prinsip bisnis berbasis syariah. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. (3) Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Apabila disimak dengan saksama. khususnya di bidang perbankan syariah. perbankan. dan/atau melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Hambatan atau kendala yang bersifat substantif dapat dilihat sebagai berikut: Pendidikan dan pelatihan tentang ekonomi syariah maupun perbankan syariah tidak mudah untuk bisa diikuti oleh para hakim pengadilan agama. melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga arbritase lain. Adapun penjelasan Pasal 55 ayat (2) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad” adalah upaya sebagai berikut: a. penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad. Hambatan-hambatan yang dirasakan hakim pengadilan agama dalam pelaksanaan tugastugas memeriksa. Persoalan yang muncul kemudian adalah tatkala Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah memberikan kompetensi atau kewenangan kepada pengadilan dalam lingkungan peradilan umum untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah. tidak ada pilihan lain kecuali para hakim pengadilan agama diikutsertakan secara periodik dan berjenjang dalam setiap kesempatan pendidikan . c. menunjukkan adanya reduksi kompetensi absolut peradilan agama di bidang perbankan syariah. dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariah. memutus.melalui lembaga arbitrase dalam hal ini Basyarnas (Badan Arbitrase Syariah Nasional) dan alternatif penyelesaian sengketa dengan memperhatikan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). ternyata ketentuan Pasal 55 ayat (2) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah beserta penjelasannya tersebut di atas. b.

dan/atau pelatihan mengenai ekonomi dan/atau perbankan syariah tersebut. Hal tersebut mutlak harus dilakukan. tentu saja harus diiringi dengan berbagai upaya penyesuaian. Pasal 1 angka 8 mengenai pengadilan khusus dan Pasal 1 angka 9 tentang hakim ad hoc. jelas merupakan ketentuan yang disiapakan dalam rangka mengantisipasi pelaksanaan tugas-tugas peradilan agama yang kompetensinya bertambah luas. maupun secara eksternal berupa peraturan perundang-undangan yang mendukungnya. Sedangkan hambatan yang dapat dikategorikan sebagai hambatan metodologis antara lain. Perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tersebut tentu saja merupakan konsekuensi logis-yuridis bertambah luasnya kompetensi absolut peradilan agama. maka salah satu solusi . baik secara internal di dalam tubuh peradilan agama sendiri termasuk menyiapkan sumberdaya manusianya. memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang ekonomi syariah. Oleh karena itu. Semuanya itu harus menjadi prioritas agar tugas-tugas baru peradilan agama tidak menjadi beban dan kendala bagi hakim dalam menjalankan tugasnya. IV. Pelatihan yang terpadu dengan sistem pendidikan dan pelatihan merupakan kebutuhan yang harus terus menerus dilakukan. hakim pengadilan agama juga masih memiliki kendala dalam memahami manajemen peradilan. Oleh karena itu. Hal ini dapat dilihat terutama para hakim yang berlatar belakang pendidikan bukan sarjana hukum. sehingga pada tanggal 29 Oktober 2009 telah disahkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.. Di dalam Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 telah nampak adanya regulasi baru yang diharapkan menjadi solusi bagi peradilan agama dalam menghadapi kompetensi absolutnya yang harus menangani dan menyelesaikan sengketa di bidang ekonomi syariah.” Bertambah luasnya kompetensi absolut peradilan agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tersebut.. Apabila sumberdaya manusia yang ada pada peradilan agama belum cukup siap untuk menghadapi tugas-tugas memeriksa dan memutus sengketa di bidang ekonomi syariah. bersih dari segala purbasangka atau celaan publik masih terus harus dilakukan secara berkesinambungan. masih dirasakan kurang optimalnya keterampilan serta pemahaman para hakim pengadilan agama tentang beracara maupun kemampuan menerapkan hukum (menemukan hukum) secara tepat untuk memuaskan pencari keadilan. Pemerintah segera tanggap.pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa. kemampuan mengelola administrasi peradilan atau manajemen peradilan untuk mewujudkan peradilan yang efisien. Di samping kedua hal tersebut. PENGADILAN KHUSUS DAN HAKIM AD HOC DI LINGKUNGAN PERADILAN AGAMA Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa di dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Pertama Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama telah terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap kompetensi absolut peradilan agama. efektif. Dari Pasal 49 huruf (i) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dapat diketahui antara lain bahwa ”.

Masalah-masalah muamalah menjadi kewenangan absolut peradilan agama. yaitu persoalan ekonomi syariah. perluasan kompetensi tersebut telah membawa konsekuensi pada perlunya peningkatan kapasitas keilmuan para hakim sebagai salah satu komponen utama pendukung kelancaran penyelesaian kasus-kasus di lingkungan peradilan agama. maka kompetensi absolut peradilan agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman mengalami perubahan strategis sebagai respon atas perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat tersebut. yang membutuhkan keahlian dan pengalaman dalam bidang tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Bahkan tidak kurang dari 11 (sebelas) macam persoalan baru yang menjadi kewenangan di bidang ekonomi syariah tersebut. Dari penjelasan Pasal 3A ayat (3) semakin jelas diketahui maksudnya. Diakui atau tidak. ternyata bisnis tersebut membuka ruang serta memungkinkan bagi siapa pun untuk terlibat di dalamnya. Setelah diundangkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 hakim pengadilan agama menghadapi tugas-tugas baru yang lebih memerlukan perhatian khusus. Hakim-hakim agama tidak lagi semata-mata berkutat dengan masalah sengketa kawin cerai dan kasus perebutan harta warisan. Dalam praktiknya. keahlian untuk itu maupun kaidah hokum acaranya. Kedua. Sebagai konsekuensi logis dari keadaan seperti ini. perluasan kompetensi absolut pengadilan agama sedikit banyak telah membawa pengaruh terhadap tugas judisial para hakim pengadilan agama. PENUTUP Simpulan Menutup paparan ini. Oleh karena itu. baik sumberdaya manusia yang memiliki V. yakni bahwa: Tujuan diangkatnya ”hakim ad hoc” adalah untuk membantu penyelesaian perkara yang membutuhkan keahlian khusus misalnya kejahatan perbankan syariah dan yang dimaksud dalam ”jangka waktu tertentu” adalah bersifat sementara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. dan memutus perkara. Semakin jelaslah bahwa bertambah luasnya kompetensi absolute peradilan agama. berikut ini disampaikan beberapa simpulan dan saran-saran sebagai berikut: Pertama. Seiring dengan pesatnya perkembangan praktik bisnis berdasarkan prinsip syariah pada dekade ini. Kehadiran orang yang beragama bukan Islam menjadi subyek hukum dalam perkara ekonomi syariah menunjukkan suatu perkembangan hukum dimana kegiatan usaha yang mendasarkan pada prinsip syariah tidak hanya diminati oleh orang-orang Islam saja. Kemudian dari Pasal 3A ayat (3): Pada pengadilan khusus dapat diangkat hakim ad hoc untuk memeriksa. melainkan orang-orang yang bukan beragama Islam pun ikut menikmati produk-produk bisnis yang berbasis syariah ini. Ketiga. banyak ditemui para nasabah yang menikmati produk maupun jasa perbankan syariah adalah orang-orang yang beragama bukan Islam. Bisnis tersebut tidak hanya diminati oleh orang-orang Islam saja.yang disiapkan dalam Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 adalah sebagaimana diketahui dari Pasal 3A ayat (1): Di lingkungan peradilan agama dapat dibentuk pengadilan khusus yang diatur dengan undang-undang. mengadili. A. semakin diperlukan perangkat pendukungnya. Hambatan utama yang sangat dirasakan oleh para hakim pengadilan agama dalam memeriksa dan memutus perkara dalam bidang ekonomi syariah antara lain belum seluruh .

Ketiga. Dr. pembentukan lembaga penelitian dan pengembangan ekonomi syariah di dalam setiap pengadilan agama juga menjadi sangat penting untuk dilakukan. Jakarta: Kamis. bahwa untuk mempersiapkan hakim-hakim pengadilan agama agar memilki pengetahuan yang memadai dalam bidang-bidang ekonomi syariah. H. latihan bidang ekonomi syariah secara Peradilan Agama. asuransi. Dikemukakannya. sehingga perlu dipahamkan secara berkesinambungan. Hal itu diakui oleh beberapa Ketua Pengadilan Agama (KPA) yang menjadi informan dalam penelitian ini. Meskipun demikian.*** . Keadaan tersebut menarik untuk diikuti oleh karena kita tidak tahu sudah sampai seberapa jauh sebenarnya efek dari perkembangan di tingkat bawah itu mempengaruhi penataan hukum nasional. melainkan lewat keputusan-keputusan pemerintah. Auditorium Universitas YARSI. pada acara Sharia Economic Research Day dengan Tema: “Penguatan Peran Peradilan Agama dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis Syariah Guna Mendukung Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah”. memang telah periodik. Eman Suparman. Upaya ini menjadi mutlak perlu untuk dilakukan apabila hendak memperkaya serta senantiasa meng-update pengetahuan hakim-hakim agama dalam menghadapi tugas baru dengan tambahan kompetensi yang sangat rumit dan kompleks tersebut. tetapi pada dataran yang lebih rendah perubahan tersebut berlangsung dengan intensif. Kegiatan itu pun sangat penting terutama untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan masalah berkaitan dengan belum memadainya hukum Endnoot: [1] Makalah disampaikan oleh Prof. dan perbankan syariah..M. & Agama. keuangan mikro.H. dalam Problema Globalisasi – Perspektif Sosiologi Hukum. Paket-paket deregulasi tidak terjadi melalui undang-undang.Diselenggarakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat. pengadilan agama perlu melakukan pembenahan sarana dan prasarana berupa pengadaan perpustakaan dengan konten berbagai literature hukum di bidang ekonomi syariah. Saran-Saran diupayakan untuk terus menerus mengikutsertakan para hakim agama dalam pendidikan intensif. Ekonomi. [2] Kendati pada dataran perundang-undangan primer kita tidak dapat melihat terjadinya perubahan besar. 10 Juni 2010. tentang reksadana. Kedua. pasca amandemen Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang dan B.hakim pengadilan agama memahami seluk beluk bidang-bidang hukum bisnis yang berbasis syariah seperti berikut ini. Pertama. hakim pengadilan agama secara pribadi maupun kolektif hendaknya senantiasa melakukan penemuan hukum (rechtsfinding/ijtihad) dengan senantiasa menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Lihat Satjipto Rahardjo. memang bukan persoalan yang mudah. Surakarta: Muhammadiyah materiil di bidang ekonomi syariah.H. “Pembangunan Hukum di Indonesia dalam Konteks Situasi Global”. agar putusan-putusan yang dijatuhkan para hakim pengadilan agama dalam bidang ekonomi syariah senantiasa memberikan rasa keadilan yang substansial serta bermartabat bagi setiap pencari keadilan. Hal itu pun mengingat bidang-bidang ekonomi syariah meliputi cakupan yang sangat luas dan kompleks.S. dan berjenjang. dana pensiun.

tidak efisien dan efektif. mahal. 22-23 Januari 1991.” Lihat. maupun kesadaran hukum. hlm. Pembangunan dan Pengkajian. [6] Lihat Eman Suparman. No. 1 Januari 2007. Hak Asasi Manusia. [29-37] 31. . 4. Jakarta. finansial. justicial. 60. 2006. Dalam buku.. yang kemudian menimbulkan krisis kewibawaan dan kepercayaan pada pengadilan. Pakpahan. [10] Hal ini disebabkan karena pembinaan terhadap lembaga peradilan ada dua badan Departemen Kehakiman dan Departemen Agama yang melakukan pembinaan secara administratif. kondisi-kondisi manusia. Pengawasan Himpunan Hasil Tahun secara teknis 1970. 58-69. hlm. maka dikeluarkan yang bertindak UU selaku pembina.” Lihat Adi Sulistiyono. Politik dan Sistem Peradilan Pidana. [11] Kantor Menteri Pendayagunaan Apartur organisatoris. Paradigma baru perluasan kompetensi absolute peradilan agama berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006. Linda Rachmainy & Anita Afriana.14 Tahun 1970. “Pembaharuan Hukum di Bidang Kegiatan Ekonomi. Vol. Undang-Undang ini menggantikan semua Peraturan yang tidak sesuai dengan UUD 1945 dan UU Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman No. [3-19] 13. dan hasil putusan hakim yang seringkali mengecewakan pencari keadilan.Yang disebut hukum nasional dalam era globalisasi di samping mengandung “local characteristics” seperti Ideologi bangsa.. hlm. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. [5] Lihat Penjelasan Pasal 49 (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 63. 2000. Jakarta: T. juga harus mengandung kecenderungan-kecenderungan internasional (international trends) yang diakui oleh masyarakat dunia yang beradab. Semarang: PDIH. [9] UU tersebut merupakan perubahan atas UU No. yaitu 14 Mahkamah Agung dan Bidang RI. hlm. [4] Lihat Normin S. Negara Koordinator Negara [12] RUU tersebut disahkan menjadi UU No. 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman. Disertasi. alam dan tradisi bangsa. 140. Mengembangkan Paradigma Penyelesaian Sengketa Non-Litigasi dalam Rangka Pendayagunaan Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis/Hak Kekayaan Intelektual. karena tidak sesuai lagi dengan keadaan. “. [13] Paulus E. 4 No.P. 10 Tahun Undangundang Peradilan Agama. Lotulung. Puncak dari kekecewaan tersebut telah menyebabkan masyarakat tidak menaruh hormat. dalam Jurnal [8] Penegakan Hukum Loc. 1999.University Press. [3] Sementara itu implikasi terhadap lembaga hukum tampak antara lain dari persepsi pihakpihak pelaku bisnis terhadap lembaga pengadilan negeri yang dianggap kurang mampu memenuhi harapan mereka. Panitia Seminar Nasional 10 Tahun Undang-undang Peradilan Agama kerjasama Ditbinbapera Islam. Yang menjadi masalah adalah sampai berapa jauh kecenderungan-kecenderungan internasional ini memberikan warna di dalam kehidupan hukum nasional. perilaku hakim yang memihak. 7 Tahun 1989 pada tanggal 29 Desember 1989.” Makalah pada Temu Karya Hukum Perseroan dan Arbitrase.[21-35] 26. Muladi. baik dalam pembentukan hukum. hlm. fakta tersebut dapat disimak dari pernyataan berikut ini: “…Ternyata dalam perkembangnnya. penyelesaian sengketa menggunakan pengadilan negeri dihinggapi formalitas yang berlebihan. penegakan hukum. dalam Jurnal Penegakan Hukum Volume 3 Nomor 2. Fakultas Hukum UI dan PPHIM. “Reformasi Penegakan Hukum”. 1997. hlm. hlm. 2002. hlm. Cit. [7] Lihat. Perkembangan Doktrin Penyelesaian Sengketa di Indonesia. Juli 2006.

Qadri Azizy. [33] Kompetensi absolut adalah wewenang badan pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan pengadilan lain. [15] Ghalia Nirwono dan Norton & Ibid. 21. hlm. A. ”Kesiapan Pengadilan Agama Tangani Sengketa Ekonomi Syari’ah”. AE. American Law. 610. 131. Shrode and Dan Voich.82//artikel/31635. [30] Muhaemin. Cit. Basic System Concepts. dalam Adam Podgorecki dan Christopher J. hlm. Keterpurukan Hukum di Indonesia Penyebab dan Solusinya. lainnya. [26] Legal substance menurut Friedman adalah. second edition. Kewenangan Pengadilan Agama di Jawa dan Madura diubah dengan Staatsblad 1937 No. Jakarta: LP3ES. 1985. 75.116 dan No. [16] Achmad Ali.. 155. Wasiat. hlm.W. 2002. Schiff. [31] Lihat Pasal 3A Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Penjelasan Pasal 3A . [25] David N. Perspektif Teoritis Studi Hukum dalam [24] Soerjono Soekanto. hlm. Jakarta: Rajawali. penetapan hasil hisab/rukyat dan Masyarakat. Whelan “Sociological Approaches to Law”. Op. 2. 21. [29] Lihat Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Pokok Kehakiman No. William A. 287. 14. [27] Friedman. 1998. Wakaf. baik dalam lingkungan peradilan yang sama maupun dalam dalam lingkungan peradilan yang On Line. Hibah. hlm. Yogyakarta: Gema Meida. Organization and Management. Infak. Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Penetapan pengangkatan anak. [22] Ada 22 macam kewenangan yang diatur dalam penjelasan Pasal 49 UU No. terj. Volume 8 No.. Indonesia. Systema’ yang berarti “Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (whole compound of several parts). “Hukum Sebagai Suatu Fenomena Sosial”. Shadaqah. American Law: an Introduction. Jakarta: Rajawali. hlm. Hukum dan Politik di Indonesia: Kesinambungan dan Perubahan.78.shtml. Irwin Book Co. Diantaranya adalah. hlm. [21] Misalnya pelanggaran atas UU Perkawinan (UUP) dan peraturan pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syar’iyah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah. Elektisisme Hukum Nasional. [18] Kompetensi Pengadilan Agama di Jawa dan Madura sebagaimana diatur dalam Staatsblad 1882 No.610. dalam Republika tersebut. 9. hlm. terj. diakses tanggal 17 Maret 2006. hlm. Waris. “Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) bagi Para Hakim” dalam Jurnal Ahkam. Pendekatan Sosiologis Terhadap Hukum. Malaysia. 1974. 14 Tahun 1970. New York: W.152 mengalami perubahan sehubungan dengan munculnya teori Receptie di atas. Kompetisi antara Hukum Islam dan Hukum Umum. [23] Eugen Ehrlich dalam Soerjono Soekanto. 1991. Friedman. Widyaningsih dan Kartasapoetra.. Priyono. [28] Legal Stucture dan legal substance merupakan satu kesatuan sistem. 1990. 37. Jakarta: 2006.152 sebagaimana telah diubah dan disempurnakan oleh Staatsblad 1937 No.116 dan No. 3 Tahun 2006. 424-438. 115. Jakarta: Bina Aksara. Company. Ekonomi Syari’ah. hlm. [19] Dinyatakan dalam Pasal 2 Staatsblad 1882 No. the substance is composed of substantive rules and rules about how institutions should be have. Rnc. American Law. Jakarta: [17] Daniel S.[14] Lawrence Meir Friedman. Zakat. 2002. [32] Sumber: http://202. [20] Abdul Gani Abdullah. 1987. hlm.195. Lev. hlm. Perkawinan. 19.

Mukti A. Ichtiar Meida. Dalam buku. 2002. Linda & Anita Afriana. “Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) bagi Para Hakim” dalam Jurnal Ahkam. Daniel S. Arbitrase. adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Mertokusumo. Yurisprudensi Agung Yogyakarta: Indonesia Agung tentang Survai.. 1985. Yogyakarta: Liberty. 2002. Jakarta: Indonesia. Qadri. Gema Jakarta: PT Proyek LP3ES. American Law: an Introduction. Hukum Acara Perdata Indonesia.lain. Pokok-pokok Sosiologi Hukum. 2004. Jakarta: Rajawali. 10 Tahun Undangundang Peradilan Agama. Yogyakarta: Pustaka [35] Hak Tanggungan. Keterpurukan Hukum di Indonesia Penyebab dan Solusinya. Pelajar. Jakarta: Rajawali. 1989. 2. Perspektif Teoritis Studi Hukum dalam Masyarakat. Jakarta: Ghalia Indonesia. Jakarta: 2006. Daftar Pustaka & Sri Mamudji. 2000.W. Volume 8 No. 2002. Yogyakarta: Pustaka Azizy. Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama. hlm. 1995. Pelajar. Metode Mahkamah Republik Arbitrase. Paulus E. 2002. Umum. Penelitian Hukum Normatif. Lev. 22-23 Januari 1997. Hukum dan Politik di Indonesia: Kesinambungan dan Perubahan. Elektisisme Hukum Nasional. Panitia Seminar Nasional 10 Tahun Undang-undang Peradilan Agama kerjasama Ditbinbapera Islam. Putusan 1989. Paradigma baru perluasan kompetensi absolut peradilan . 6.. 214. Semarang: Badan Penerbit Universitas Temu Karya Hukum Perseroan dan Diponegoro. Ali. Hukum Acara Perdata Indonesia.P. Intermanual Himpunan Yurisprudensi. Norton Company. Lawrence Meir. Abdul Gani Abdullah. 1998. halaman Effendi. Normin S “Pembaharuan Hukum di Bidang Kegiatan Ekonomi. Fakultas Hukum UI dan PPHIM. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. 1991. R. 1990. 2000. Nirwono dan Jumat.” Makalah. Desember Jakarta: LP3ES. berikut atau tidak berikut benda benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu. Sudikno Mertokusumo. Moleong. Erlyn. Bandung: CV Remaja Karya. hlm. [36] Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Achmad. Arto.” Makalah pada Rachmainy. Pasal 1 angka 1 Undangundang Nomor 4 Tahun 1996. Yogyakarta: Liberty. Lexy J. Pascasarjana Universitas Diponegoro. Sofian & Chris Manning. Lotulung. Jakarta: T. 1991. untuk pelunasan utang tertentu. [34] A. Jakarta: Rajawali. Sudikno.. Jakarta. Kompetisi antara Hukum Islam dan Hukum Badan Pengumpulan Dan Pengolahan Data Peradilan Dan Hukum (JDB) Mahkamah Agung Dokumen: Mahkamah al. & 3. AE. Hak Asasi Manusia. Baru van Hoeve. A. 1 Priyono. 2004. Indarti. Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999. 1990. New York: W. terj. Muladi. Pakpahan. second edition. Mukti Arto. Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama. “Prinsip-prinsip Analisa Data” dalam Masri Singarimbun et Penelitian [213-244] Friedman. “PARADIGMA: Jati Diri Cendekia.I. “Reformasi Penegakan Hukum”. 78. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. Disampaikan pada Diskusi Ilmiah Program Doktor Ilmu Hukum. 1982. Semarang. Abdullah. 1999.

William A. dalam Adam Podgorecki dan Christopher J. Eman Suparman. Ritzer. Eman. Soetandyo. David N. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. 2. 1992. Satjipto. “Perkembangan Doktrin Penyelesaian Sengketa di Indonesia”. George.. Jakarta: UI Press. Irwin Pengantar Alternatif Book Penelitian Hukum. Basic System Concepts. Adi. and Dan Voich. Intelektual.agama berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006. 4 No. Hakim dan Peradilan di Indonesia dalam Beberapa Aspek Kajian. Makalah pada Jakarta. Widyaningsih dan Kartasapoetra. Al. 3 Nomor FH-UI Sengketa Bisnis/Hak PDIH. Co. Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung . terj.. Ekonomi. 1997. Hukum dan Metoda-Metoda Kajiannya. Soekanto. dalam Jurnal Penegakan Hukum Vol.  Prof. 1982. 1974. Rahardjo. Rangka Soerjono. 2006. 1987. Shrode. Pembangunan Hukum di Indonesia dalam Konteks Situasi Global. dalam Problema Globalisasi – Perspektif Sosiologi Hukum. Jakarta: Bina Aksara. Whelan “Sociological Approaches to Law”. Wisnubroto. Rnc. Surakarta: Muhammadiyah Jakarta: University Rajawali Press. Jurnal Penataran Penegakan Metode Disertasi. Pers. “Hukum Sebagai Suatu Fenomena Sosial”. 1992. Sulistiyono. Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata. 2000. Malaysia.H. & Agama. Juli Juli Kekayaan 2002. 1 Januari 2007. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya. Pendekatan Sosiologis Terhadap Hukum. H. 1997. Hukum Penelitian Suparman.S. Mengembangkan Paradigma Penyelesaian Sengketa Non-Litigasi dalam Pendayagunaan Penyelesaian Semarang: Volume Hukum. (Alimandan: Penyadur). dalam Wignjosoebroto. Organization and Management.M. Bandung: Alumni.H. Dr.. Setiawan. Schiff.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful