PENGARUH OBESITAS TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

11

FEB

PENGARUH OBESITAS TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA Oleh : ASRIANTI DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR …….…………………………………………………………………………………1 DAFTAR ISI …….…………………………………………………………………………………..2 BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………3 I.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………………….3 I.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………….5 I.3 Tujuan ……………………………………………………………………………….6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………………………7 II. 1 Defenisi Obesitas……………………………………………………………………………….7 II.2 Gejala Klinis ……………………………………………………………………………….7 II.3 Penyebab Obesitas…………………………………………………………………………….8 II.4 Risiko Obesitas ……………………………………………………………………………….9 II.5 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Obesitas.………………………………………………..11 II.6 Obesitas Dan Produktivitas Kerja..…………………………………………………………..12 BAB III PEMBAHASAN …………………………………………………………………….14 III.1 Penyebab Obesitas Pada Pekerja…..………………………………………………………14 III.2 Dampak Obesitas Pada Pekerja…………………………………………………………….15 III.3 Obesitas Dan Kinerja…..……………………………………………………………………..17 III.4 Obesitas Dan Absensi………………………………………………………………………..19 III.5 Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas Kerja…..……………………………………19 III.6 Pengendalian Obesitas Pada Pekerja………………………………………………………20 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………………………..…..21 IV.1 Kesimpulan ………………………………………………………………….……..……21 IV.2 Saran ………………………………………………………………………………………………22 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………..23 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Obesitas Merupakan kelainan metabolisme yang paling sering diderita manusia. Penyakit ini merupakan salah satu kelainan metabolisme yang paling lama tercatat dalam sejarah seperti terlihat pada sebuah patung tanah liat yang berasal dari zaman lebih kurang 22.000 tahun sebelum masehi; patung itu menggambarkan seorang wanita setengah baya yang gemuk. Obesitas kemudian masih selalu tercatat sepanjang sejarah, sejak zaman mesir dan Yunani purba, bahkan juga sampai sekarang masih merupakan persoalan, baik dalam hal menjelaskan patogenesisnya, maupun dalam upaya mendapatkan pengobatan yang berhasil. (Sukaton,U. et.al. 1996) Obesitas dan kelebihan berat badan yang dimiliki dalam dekade terakhir menjadi masalah global – menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali pada tahun 2005 sekitar 1,6 miliar orang dewasa di atas usia 15 tahun kelebihan berat badan, setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas dan setidaknya 20 juta anak di bawah usia 5 tahun kelebihan berat badan. Para ahli percaya jika kecenderungan ini terus berlangsung pada tahun 2015 sekitar 2,3 miliar orang dewasa akan kelebihan berat badan dan lebih dari 700 juta akan obesitas. Skala masalah obesitas memiliki sejumlah konsekuensi serius bagi individu dan sistem kesehatan pemerintah. (News medical, 2012) Menurut laporan World Economic Forum tahun 2003-2004, daya saing dalam hal sumber daya manusia Indonesia

sektoral industri.. 70% dari penduduk dewasa Polynesia di Samoa masuk kategori obes (WHO. prevalensi kegemukan tertinggi di negara-negara berkembang terdapat pada kelompok umur yang lebih muda (40-50 tahun) dibandingkan dengan negaranegara maju (50-60 tahun). Di negara-negara maju. et. regional. (Sumbodo DP. Hampir semua perusahaan besar di sana mempunyai persyaratan tentang berat badan yang maksimal. Peningkatan produktivitas terutama faktor total. menurun drastis pada tahun 2002 ke urutan 69 dan pada tahun 2003 mencapai peringkat terendah menjadi 72. Lebih jelasnya.5% penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13. Chin & Deurenberg-Yap (2009) memperlihatkan bahwa kisaran prevalensi kegemukan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang relatif sama. Prevalensi overweight dan obesitas meningkat sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik. (Low.2%) di AS. Obesitas dapat memberikan risiko psikososial dan risiko medis. terutama di perkotaan. prevalensi overweight adalah 12. Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial ekonomi tertentu. Kenaikan mortalitas diantara penderita obes merupakan akibat dari beberapa penyakit yang mengancam kehidupan seperti diabetes tipe 2. Orang yang mempunyai berat badan 40% lebih berat dari berat badan rata-rata populasi mempunyai risiko kematian 2 kali lebih besar dibandingkan orang dengan berat badan rata-rata (Lew & Garfinkel. 1979). (Depkes RI.5% tergolong obes. sedang di daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 5. Bahkan sesudah diterima. 2000) Data tentang obesitas di Indonesia belum bisa menggambarkan prevalensi obesitas seluruh penduduk. kanker . Di Amerika. Survei nasional yang dilakukan pada tahun 1996/1997 di ibukota seluruh propinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8. ( Almatsier. orang gemuk lebih sukar mencari pekerjaan.4%) di Indonesia sampai prevalensi tertinggi (35. bila dilihat menurut kelompok umur.al. yang makin meningkat di negara berkembang.4% dan 43% pada wanita.% pada laki-laki dan 14.1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25-27) dan 6. Gadis yang gemuk lebih sukar mendapatkan tempat di perguruan tinggi daripada yang berat badannya normal. perusahaan.(Flegal et al. Sebagai contoh. jumlah penderita kegemukan (overweight) dan obesitas cenderung meningkat.3% dan 9. menyebabkan adanya perubahan pola makan dan pola aktifitas yang mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita kegemukan dan obesitas.S. penyakit jantung. sedangkan prevalensi kegemukan di negara-negara berkembang berkisar dari prevalensi terendah (2. diet tinggi lemak dan tinggi kalori dan pola hidup kurang gerak (sedentarylifestyles) adalah dua karakteristik yang sangat berkaitan dengan peningkatan prevalensi obesitas di seluruh dunia . Di daerah perkotaan Cina. Peningkatan produktivitas pada tingkat individu menempati posisi yang sangat penting. 10. maupun global.4% pada perempuan.menduduki ranking ke-37 pada tahun 1999. (WHO.4% dan 23% pada laki-laki dan 30. (Inoue. Hal ini dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di negara-negara berkembang. akan tetapi data obesitas pada orang dewasa yang tinggal di ibukota propinsi seluruh Indonesia cukup untuk menjadi perhatian kita. maupun pada tingkat negara. dan individu sangat menentukan kemampuan daya saing perusahaan pada tingkat dalam negeri. baik pada tingkat individu. Sebagai contoh. 1998). industri. 2004) Kegemukan (obesity) dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia. Kejadian obesitas di negara-negara maju seperti di negara-negara Eropa. Di Thailand. 1996) Obesitas meningkatkan risiko kematian untuk semua penyebab kematian. 2000) Seiring dengan meningkatnya taraf kesejahteraan masyarakat. (Sukaton. perusahaan. Chin & Deurenberg-Yap 2009).5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1. Namun. Review yang dilakukan Low. 2007) Faktor-faktor diet dan pola aktivitas fisik mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keseimbangan energi dan dapat dikatakan sebagai faktor-faktor utama yang dapat diubah (modifiable factors) yang melalui faktor-faktor tersebut banyak kekuatan luar yang memicu pertambahan berat badan itu bekerja. prevalensi kegemukan berkisar dari prevalensi terendah (2.8% mengalami obesitas.8%. menurun lagi ke urutan 49 pada tahun 2001.6%) di Saudi Arabia.(Sumbodo DP. masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gizi lebih ini mulai muncul pada awal tahun 1990-an. 2010) Akan tetapi hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju.4%) di Korea Selatan hingga prevalensi tertinggi (32. 2007) Produktivitas merupakan akar penentu tingkat daya saing. di beberapa negara berkembang obesitas justru telah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. besarnya gaji dan kenaikan pangkat dapat dipengaruhi oleh berat badan. Di Indonesia. USA. baik tingkat makro.U. dan Australia telah mencapai tingkatan epidemi. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas kerja di Indonesia menurun drastis terutama bila dibandingkan dengan negaranegara ASEAN. 20.5% mengalami obesitas. turun menjadi ranking ke-44 pada tahun 2000. 2004) Saat ini terdapat bukti bahwa prevalensi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas meningkat sangat tajam di seluruh dunia yang mencapai tingkatan yang membahayakan. 16% penduduknya mengalami overweight dan 4% mengalami obes. yang berpendapatan rata-rata menengah dan rendah. penyakit kandung kemih. Pada kelompok umur 40-49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing-masing 24.

F. dan cara mengendalikan obesitas pada pekerja. arthritis. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh. kejadian kegemukan berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe-2. Adapun dari segi ekonomi. faktor penyebab obesitas. usia produktif. faktor risiko. Review yang dilakukan Swinburn et al (2004) menunjukkan.WA. 2002) Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Kegemukan atau obesitas merupakan kondisi ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi lemak dalam jaringan adiposa.1 Definisi Obesitas Menurut Kamus Kedokteran Dorland. sosial. Hidayati.3 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui obesitas. infertilitas. yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak.B. Adapun berdasarkan distribusi lemak. Dari segi sosial. Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak. Untuk penduduk barat.gastrointestinal dan kanker yang sensitif terhadap perubahan hormon. Irawan. Sedangkan menurut Dariyo (2004). kegemukan berisiko mengurangi produktivitas kerja. baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian-bagian tertentu. kadar kolesterol-total dan kolesterol-LDL. I. obesitas dibagi menjadi dua kategori.B. 2011) Secara klinis obesitas mudah dikenali dengan adanya tanda dan gejala khas. risiko kanker tertentu. Orang obes juga mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita beberapa masalah kesehatan seperti back pain. (Hidajat. pengaruh obesitas terhadap produktivitas kerja. (Ganong W. obesitas dibagi menjadi tiga kategori.R. (WHO 2000) II.R. kurang fashionable. kegemukan akan berdampak terhadap perasaan rendah diri. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hidayati. Obesitas adalah suatu akumulasi lemak dalam jaringan adiposa yang abnormal/berlebihan hingga mencapai suatu taraf yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. dan malu bergaul. bagaimana pengaruh obesitas terhadap produktivitas kerja dan bagaimana cara mengendalikan obesitas. yaitu: obesitas sentral dan obesitas umum. faktor risiko. dan risiko gout. tekanan darah dan risiko hipertensi. risiko penyakit kantung empedu dan insidens gejala klinis batu empedu. IMTnya >25 kg/m2 atau lingkar perut _90 cm pada pria dan _80 cm pada wanita.SN. 2011) Menurut Garrow (1988). dan meningkatkan pengeluaran kesehatan. 2003) Obesitas adalah penimbunan jaringan lemak secara berlebihan akibat ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan pemakaian energi (energy expenditure). yang dimaksud dengan obesitas adalah kelebihan berat badan dari ukuran normal tubuh yang sebenarnya. dibedakan menjadi : Apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada dan pinggang) Pear shape body/gynecoid (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul dan paha) (Hidajat. (Anonim 2011) I. seseorang dikatakan obesitas apabila IMT-nya _30 kg/m2 atau lingkar perut _102 cm pada pria dan _ 88 cm pada wanita. 2000) Kegemukan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi kesehatan. hari produktif. Obesitas II dan Obesitas III. (WHO.(Dorland. Obesity adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik. antara lain: Wajah membulat Pipi tembem Dagu rangkap Relatif pendek Dada yang menggembung dengan payudara membesar mengandung jaringan lemak Perut buncit dan dinding perut berlipat-lipat . 2 Gejala Klinis Berdasarkan distribusi jaringan lemak. kelambanan bergerak. sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. dan ekonomi. risiko penyakit jantung koroner dan stroke. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. faktor penyebab obesitas. Irawan. sedangkan untuk penduduk Asia.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah Apa yang dimaksud dengan obesitas. yakni: Obesitas I. dan fungsi psychososial yang menurun.SN.

hipertrigliseridemia.al.(Crawford et al. Kini diketahui bahwa sejak tiga dekade terakhir. dua faktor pertama.. hubungan antara status sosial ekonomi dengan obesitas melemah karena prevalensi obesitas meningkat secara dramatis pada setiap kelompok status sosial ekonomi. arthritis. dan semua gangguan metabolic yang berhasil diperiksa dapat diterangkan dengan penambahan lapisan lemak tersebut. 2004). Penimbunan lemak tersebut terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dikonsumsi dengan yang digunakan. Aktivitas lipoprotein lipase yang meningkat pada sel lemak yang hipertropik. sedangkan keturunan sebagai penyebab tidak langsung. Kelainan metabolic tersebut umumnya berupa: Resistensi terhadap insulin. perlu diketahui kelainan metabolik yang mungkin timbul pada obesitas. Meningkatnya obesitas tak lepas dari berubahnya gaya hidup. Tipe obesitas ini berhubungan erat dengan gangguan menstruasi pada wanita.al. stroke. dan keturunan merupakan tiga faktor yang dianggap mengatur perlemakan tubuh dalam proses terjadinya kegemukan. dan kebiasaan menonton televisi berjam-jam. intraperitoneal (abdominal).MB. et. dianggap sebagai penyebab langsung. hipertensi. Masukan makanan. penyakit kantong empedu. diabetes dan merupakan beban penting pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Faktor genetik menentukan mekanisme pengaturan berat badan normal melalui pengaruh hormon dan neural. (Zhang.4 Risiko Obesitas Risiko Obesitas yang sudah banyak disadari oleh masyarakat adalah risiko psikosial. Tipe obesitas ini berhubungan lebih kuat dengan diabetes. angina. yaitu trunkal subkutaneus yang merupakan kompartemen paling umum. Risiko Medis Orang gemuk cenderung sering sakit. (Anonim.2009) II. sehingga mengurangi kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial. Terdapat beberapa kompartemen jaringan lemak pada trunkal. Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak tubuh. Sebaliknya. Dahulu status sosial dan ekonomi juga dikaitkan dengan obesitas. Menurut Soetrisno (1996). (Sukaton. semakin gemuk semakin sering sakit.(Arisman. 1996) Terdapat saling keterkaitan antara obesitas dengan risiko peningkatan PJK. Tipe obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh dapat dibedakan menjadi obesitas tubuh bagian atas (upper body obesity) dan obesitas tubuh bagian bawah (lower body obesity). Regulasi growth hormone yang abnormal.U. faktor genetik juga menentukan banyak dan ukuran sel adiposa serta distribusi regional lemak tubuh. Obesitas tubuh bagian bawah merupakan suatu keadaan tingginya akumulasi lemak tubuh pada regio gluteofemoral. sedang risiko medis masih kurang diyakini. yaitu masukan makanan dan keluaran energi. serta angka kesakitan dari berbagai penyakit tertentu.U. Obesitas yang muncul pada usia remaja cenderung berlanjut hingga ke dewasa dan lansia. beberapa jenis kanker. Tipe obesitas ini lebih banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut ―gynoid obesity‖. Data dari Framingham menunjukkan bahwa . hipertensi. et. dan retroperitoneal. individu dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi biasanya menderita obesitas.U. Untuk lebih mudah mengerti secara keseluruhan adanya hubungan antara risiko dan obesitas. Obesitas tubuh bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria. oleh karena itu tipe obesitas ini lebih dikenal sebagai ―android obesity‖. Kelainan metabolik yang terjadi pada obesitas tampaknya berhubungan dengan besarnya lapisan lemak. dan yang akan menjadi normal kembali dengan pengurangan berat badan. Baik faktor lingkungan maupun genetik berperan dalam terjadinya obesitas. diabetes mellitus. 2007). Selain itu. Hiperglikemia. 3 Penyebab Obesitas Faktor-faktor penyebab obesitas masih terus diteliti. 1996) Risiko Psikososial Obesitas memberikan hambatan-hambatan fisis. dan Peningkatan kadar kolesterol darah. Individu yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah biasanya mengalami malnutrisi. dan berbagai gangguan kulit.genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan yang dapat menyebabkan laserasi kulit. Sementara obesitas itu merupakan salah satu faktor risiko penyakit degenaratif. 1996) Banyak penyelidikan epidemiologis yang menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan angka kematian. Ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi mengakibatkan pertambahan berat badan. seperti penyakit kardiovaskular. sosial dan psikologis. dan penyakit kardiovaskuler daripada obesitas tubuh bagian bawah. Orang gemuk mempunyai banyak kesulitan dalam melakukan aktivitas fisis.. (Sukaton. et.al. seperti menurunnya aktivitas fisik. keluaran energi. gangguan fungsi pernapasan. (Sukaton. Faktor lingkungan antara lain pengaruh psikologi dan budaya. 2005) II. Pengeluaran biaya sehari-hari untuk pakaian dan makanan juga lebih banyak pada orang gemuk. Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominansi penimbunan lemak tubuh di trunkal .

Walker. Akan tetapi hubungan tersebut tidak bisa menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat dan sulit untuk menentukan apakah orang obes mempunyai aktivitas fisik kurang oleh karena obesitasnya atau aktivitas fisik yang kurang menjadikan mereka obes. Soegih (1988) merangkum hubungan kesehatan individu dengan kegemukan. 3.5 mm Hg. seperti pada wanita kelainan haid dan kemandulan. keputihan. Penyakit gula (diabetes mellitus) Dalam penelitian di Jakarta pada tahun 1982 ditemukan diabetes mellitus lebih banyak terdapat pada orang-orang yang gemuk dibandingkan dengan orang-orang yang tidak gemuk. Orang yang memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah memiliki risiko obesitas lebih dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi.7% orang-orang gemuk tersebut menderita diabetes mellitus. sedangkan sampel anggota rumah tangga semua berusia ≥18.AG. Penelitian tersebut bertujuan untuk mempelajari hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa di Indonesia. jenis kelamin. Pada orang gemuk kerja jantung akan lebih besar dan akan dapat menyebabkan pembesaran jantung dan jadi lemah. sedangkan pada orang-orang yang tidak gemuk hanya 0.5 kg/m2. (Sudikno et al. tidak hamil. Umur rata-rata seseorang Penelitian yang dilakukan oleh Metropolitan life Insurance terhadap 50. sehat jasmani dan rohani. pendidikan. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi obesitas (IMT> 27kg/m2) pada orang dewasa adalah 12. 5. varices. Aktivitas fisik dinilai dengan pertanyaan tentang jenis nya (kuat dan moderat) dan durasinya per minggu. Namun demikian. lari. SG. 4. 1994.. akan terjadi penurunan insiden PJK sebanyak 25 % dan stroke/cerebro vascular accident (CVA) sebanyak 3. Selain itu kelebihan berat badan menimbulkan beragam gangguan kesehatan. variabel perancu (wilayah. kegemukan juga bisa mengurangi kegesitan gerak badan dan kerap lebih mudah menimbulkan kelelahan.28-12. 2. Penyebab kenaikan tekanan darah ini tidak diketahui dengan pasti. Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa. termasuk perubahan dalam kebiasaan makan dan penurunan kegiatan fisik menyebabkan peningkatan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas. Pada penelitian ini ditemukan 6. Jenis penyakit jantung yang sering terjadi yaitu aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah).5 %. dan kebiasaan merokok) dikontrol. dan sering terjadi juga penyakit batu empedu. 2011) Beberapa data cross-sectional menunjukkan adanya hubungan negatif antara BMI dan aktivitas fisik (Rising et al. jogging. disarankan untuk memiliki aktivitas fisik yang cukup seperti berjalan. tentang hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa di Indonesia menyatakan bahwa peningkatan status sosial ekonomi dan perubahan gaya hidup. Schulz & Schoeler.95%. Penurunan berat badan 2 kg akan menurunkan tekanan darah sistolik 2.47% (CI 95%: 12. Terkait dengan hal ini Departemen Kesehatan perlu juga untuk mengembangkan pedoman aktivitas fisik yang cukup. Regresi logistik digunakan untuk mempelajari hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa. Shaper. sedangkan untuk wanita gemuk 61% lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai berat badan normal.(Wannamethee. Telah direkomendasikan bahwa untuk mengurangi risiko obesitas. pekerjaan.000 karyawan di Amerika menunjukkan bahwa jelas terdapat hubungan antara bertambah beratnya badan dengan tekanan darah tinggi. keracunan kehamilan. rematik. Penyakit jantung Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang dengan kelebihan berat badan lebih mudah terkena penyakit jantung dibandingkan dengan yang berat badan normal. penyakit kulit di lipatan paha dan payudara. dan BMI setidaknya 18. beberapa hasil studi dengan rancangan penelitian lain menunjukkan bahwa rendahnya dan menurunnya aktivitas fisik merupakan faktor yang paling bertanggungjawab terjadinya .5 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Obesitas Penelitian yang dilakukan oleh sudikno dkk.M.66). keadaan yang akan normal kembali apabila berat badan turun. Penelitian ini menggunakan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2007 data dengan desain cross-sectional. yang ringkasnya sebagai berikut : 1. tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa pada orang gemuk terdapat peningkatan jumlah darah yang beredar sehingga tekanan darah meningkat. pada pria gangguan pernapasan. 1994).5 mm Hg dan tekanan diastolic 1. Populasi adalah anggota rumah tangga semua berusia ≥18 tahun. II. yang menunjukkan bahwa orang obes atau gemuk mempunyai aktivitas kurang dibandingkan orang-orang yang ramping.apabila setiap individu mempunyai berat badan optimal. usia. dan bersepeda. status perkawinan. 2005) Banyak orang beranggapan bahwa kegemukan dapat mengurangi kemolekan tubuh. hernia.000 orang menunjukkan bahwa angka kematian pria gemuk 79% lebih tinggi dari pada pria yang mempunyai berat badan normal. Penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) Penelitian terhadap 74. Penyakit-penyakit lain Masih banyak penyakit akibat kegemukan.

1985). para peneliti mengungkap. ketidakhadiran. Studi prospektif lain menunjukkan bahwa jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televeisi oleh anak-anak merupakan prediktor tinggi rendahnya BMI beberapa tahun kemudian (Dietz & Gortmarker. (Kusriyana. Stress akibat pekerjaan Pekerjaan dengan banyak berpikir akan sangat berpotensi menimbulkan stress berat yang menimbulkan meningkatnya nafsu makan sehingga pola makan tidak terkontrol dan terkendali akhirnya menjadi obes. Pasalnya.6 Obesitas Dan Produktivitas Kerja Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2002.. aktivitas terbatas. (Rissanen et al. kecenderungan sekuler (Secular trend) dalam kenaikan prevalensi obesitas paralel dengan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan perilaku hidup kurang gerak yang selanjutnya disebut SEDENTARIAN (sedentary). Perusahaan juga akan mengalami kerugian besar bahwa mereka akan kehilangan seorang tenaga produktif. sangatlah mudah bagi kita untuk menduga besarnya dampak yang timbul bila gangguan seperti penyakit jantung koroner ataupun stroke tersebut dialami oleh pekerja.97%.R. dan pengobatan berhubungan dengan obesitas.941. Rissanen et al. (News medical. Sebagai contoh. Mulai dari biaya pengobatan.(Prodia Occupational Health Institute. kegiatan berpikir dapat memacu selera makan. Salah satu contoh studi yang paling baik yang menyokong hipothesis ini ialah yang dikemukakan oleh Prentice & Jebb (Prentice & Jebb.2011) Kegemukan dan masalah obesitas yang terkait dengan kesehatan mereka. 2012) BAB III PEMBAHASAN III.301orang yang terdiri dari 63. adalah sekelompok orang yang berisiko mengalami kelebihan berat badan akibat kompensasi kalori yang dibutuhkan tubuh. sementara biaya tidak langsung berhubungan dengan hilangnya pendapatan dari produktivitas menurun. 1995). tekanan atau stress saat berpikir dapat menyebabkan kebiasaan makan berlebih karena para pemikir cenderung mencari lebih banyak kalori.63% pekerja laki-laki dan 36. Lebih lanjut. b. 1991).37% pekerja perempuan sedangkan pada tahun 2006 pekerja laki-laki yang bekerja di industri pengolahan mencapai 44. Berbagai literatur telah menjelaskan dengan gamblang bahwa obesitas berhubungan erat dengan produktivitas kerja di mana pekerja dengan obesitas cenderung memiliki angka absensi yang lebih tinggi dan produktivitas kerja yang lebih rendah. sama halnya dengan masyarakat umum. 1996. dan tingkat aktivitas fisik yang rendah pada orang dewasa dapat dijadikan sebagai prediktor penting penambahan berat badan yang substansial (>5 kg) dalam 5 tahun kedepan. kehilangan penghasilan sampai kemungkinan ketidakmampuan untuk bekerja kembali merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. tidaklah kebal terhadap berbagai gangguan kesehatan. penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan aktivitas fisik dan atau peningkatan perilaku hidup sedentarian mempunyai peranan penting dalam peningkatan berat badan dan terjadinya obesitas. yaitu dari 49.23% pada tahun 2004 menjadi 50. tanpa perlu kita hitung secara matematis. Pekerjaan yang banyak berpikir lebih berpotensi terkena obesitas karena tidak membutuhkan mobilitas tubuh untuk bergerak. pekerja Indonesia di bidang industri pengolahan mencapai 7. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada perempuan juga mengalami peningkatan. dan bahkan akibatnya akan lebih jauh berdampak kepada dirinya sendiri maupun perusahaan tempatnya bekerja. Aktivitas yang sedikit Pekerjaan dengan banyak berfikir tentunya akan mengurangi aktivitas fisik di dalam pekerjaan dan kalori dalam tubuh tidak . Peningkatan jumlah pekerja ini berakibat positif pada pertambahan tenaga produktif.2010) Kalangan pekerja. sebaiknya berhati-hati dengan kebiasaan makan. memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap sistem kesehatan dan biaya medis yang terkait dengan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki biaya baik langsung dan tidak langsung – biaya medis langsung mungkin termasuk layanan pencegahan.1 Penyebab Obesitas Pada Pekerja Para pekerja intelektual yang banyak berpikir dan kurang aktivitas fisik. Belum lama ini. diagnostik.65% pada tahun 2005. Sebagai pekerja yang dituntut untuk banyak berpikir. obesitas tidak terjadi pada para atlit yang aktif sedangkan para atlit yang berhenti melakukan latihan olah raga lebih sering mengalami kenaikan berat badan dan kegemukan (Williamso. Namun. 1991) . Menggunakan taksiran kasar tentang ketidak-aktifan seperti jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televisi atau jumlah mobil per-keluarga. II. hari cuti dan pendapatan hilang oleh kematian dini.obesitas. status kesehatan dan gizi pekerja pada umumnya belum mendapat perhatian yang berakibat pada penurunan produktivitas kerja dan biaya produksi menjadi tidak efisien. Namun selain itu juga banyak faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada pekerja : a.03% dan pekerja perempuan mencapai 55. Untuk kondisi yang lebih berat.

penyakit kandung empedu. bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. c. banyak karyawannya yang mengalami obesitas. Karena itu. sedikit yang diketahui tentang obesitas di kalangan pekerja Kanada dan implikasi ekonomi.. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu). Menggunakan Survei Kesehatan Masyarakat Kanada (CCHS) dan Survei Kesehatan Penduduk Nasional (NPHS). Obesitas bukan merupakan penyakit tapi dapat berdampak buruk bagi kesehatan para pekerja. Binge mirip dengan bulimia nervosa.akan terbakar dan akhirnya tertimbun sebagai lemak. agitasi dan insomnia pada malam hari. penyakit kardiovaskular. Sering ditemukan kelainan kulit. dan gangguan pernapasan (Thomson Kesehatan 2007). Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. 239 juta Pembatasan aktivitas hari. dan di Amerika Serikat. dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak. Studi internasional telah menemukan bahwa kombinasi dari pekerjaan. (Arena et al. dan beberapa kanker (Brunner dkk.2005). dengan dampak baik bagi pekerja dan majikan mereka. biaya yang bakal berlebih akibat kegemukan yang dialami para karyawannya. Obesitas di tempat kerja dapat memiliki biaya ekonomi juga: Karyawan obesitas di Australia memiliki lebih sering dan lebih panjang absen bekerja (Australian Institute untuk Kesehatan dan Kesejahteraan 2005).Tekanan darah tinggi (hipertensi) . Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti: . Obesitas merupakan faktor risiko untuk diabetes tipe 2.2007) III. tetapi menimbun penyakit. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seorang pekerja. Prevalensi indikator stres kerja juga diperiksa untuk menjelaskan hubungan antara obesitas dan stress di tempat kerja . Akhirnya. (Chenoweth . hari cuti. adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan. Kita bisa membayangkan bagaimana seandainya dalam satu perusahaan. pekerja obesitas memiliki substansial prevalensi lebih tinggi metabolisme.2 Dampak Obesitas Pada Pekerja Berlebihnya berat badan atau obesitas bukan saja membuat penampilan menjadi tidak sedap dipandang. 90 juta hari tempat tidur dan 63 juta kunjungan dokter pada tahun 1994. Jenis makanan yang di konsumsi Makanan yang disediakan diperusahaan yang tidak memperhatikan aspek makanan sehat sehingga makanan tersebut banyak mengandung kolesterol yang akan menyebabkan obesitas pada pekerja. Selain itu. Kegemukan atau obesitas sekarang lebih cenderung dianggap sebagai penyakit dan bukan merupakan gejala. 2006) Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik. dan kebiasaan yang buruk sering menyebabkan obesitas. makanan. Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. penelitian ini meneliti tren obesitas di antara pekerja dan melihat sosiodemografi dan angkatan kerja berkorelasi dengan obesitas. hasil penelitian ini terdapat hubungan antara obesitas dan kinerja pekerjaan seperti terbatasnya aktivitas kerja. 2007). termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul.(Cawley. yang dapat menempatkan hati pada risiko dan membuka jalan bagi timbulnya penyakit lain.Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa) . cedera kerja dan absen. sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. peredaran darah. hipertensi. jantung koroner. dan gangguan kolesterol. muskuloskeletal. sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas di tempat kerja merupakan fenomena yang berkembang. obesitas dikaitkan dengan kehilangan 39 juta hari kerja. Pada sindroma makan pada malam hari. Pola makan abnormal Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). d. Ada banyak penyakit yang bisa ditimbulkan karenanya seperti stroke. Meskipun banyak penelitian telah memandang obesitas sebagai masalah kesehatan.J. sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas. tentu saja perusahaan yang menampung karyawan dengan berat badan berlebih pasti akan berhadapan dengan satu masalah. Model-model multivariat membantu menyelidiki beberapa efek dengan mengendalikan faktor-faktor kondisi kesehatan dan perilaku. diabetes mellitus. lutut dan pergelangan kaki).

. dan pengobatan. karyawan obesitas lebih sering mempunyai masalah khususnya bidang kesehatan dibanding karyawan dengan berat badan normal.Serangan jantung (infark miokardium) .Batu kandung empedu dan batu kandung kemih . efek obesitas di mana tidak ada penyakit yang tidak ditemukan di antara pria dan wanita yang lebih tua. M.M. menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah) . yaitu rata-rata selama 10 hingga 24 hari kerja.A. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine. (Pronk. HaI ini mungkin karena banyak orang gemuk yang lebih tua sudah keluar dari pasar tenaga kerja dan hanya mereka yang lebih sehat cenderung untuk terus bekerja. menurut sebuah studi baru yang pasak biaya obesitas di kalangan pekerja penuh waktu di Amerika Serikat pada $ 73. SpGK. M. Dari hasil studi tersebut. dilaporkan memiliki setidaknya satu penyakit kronis. 2010. dibandingkan dengan rekan kerja yang memiliki berat badan normal..S. seperti administrasi. 2010) III. 2005. perusahaan juga bakal mengeluarkan biaya tambahan karena berkewajiban memberikan biaya kesehatan.1 milyar per tahun. Samuel Oetoro.3 Obesitas Dan Kinerja Obesitas dan kinerja pekerjaan yang jelas berkorelasi dalam data. diabetes.Stroke . olahraga. Peneliti di Belanda mempelajari hal ini dengan menganalisa 10. Para CCHS (Community Canadian Health Service) bertanya: ―Minggu lalu. depresi. perubahan perilaku. Sementara di tempat kerja – hanya akuntansi untuk hari sakit tambahan yang mereka ambil melewatkan bagian besar dari gambaran sebenarnya.Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur. mereka absen dari bekerja dan mereka menunjukkan sendiri penyakit atau cedera sebagai alasan utama untuk tidak dianggap absen karena masalah kesehatan. perlu dicari cara untuk mengatasi masalah ini. otomatis tingkat absensi meningkat sehingga poduktivitas menurun.NP. Bagaimanapun. Temuan para peneliti menunjukkan pengusaha bisa menghemat uang dengan berinvestasi dalam program peningkatan kesehatan bagi karyawan mereka.Gagal jantung . memperhitungkan biaya medis.(Wahyuningsih. Goetzel et al. pekerja yang gemuk akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk sakit ketimbang rekan-rekannya yang lebih ramping. Mereka yang tergolong obesitas ternyata 83% nya memiliki minimal sebuah penyakit.2004. serta nyeri sendi dan otot. underventilasi dan ngantuk). 2009) Hilangnya produktivitas karena biaya obesitas sebanyak pengeluaran medis untuk kondisi tersebut. Hal ini membuatnya menjadi kurang produktif. termasuk penyakit jantung. Rodbark et al.. Separuh dari mereka bahkan membutuhkan lebih dari 25 hari.674 pekerja di 49 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Hasilnya. Para pekerja pria muda obesitas (18 sampai 34 tahun) kemungkinan untuk absen bekerja hampir empat kali lebih tinggi daripada mereka dengan berat badan normal. industri manufaktur dan konstruksi.) Menurut Dr.Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan. World Health Organization (WHO) merekomendasikan cara tepat untuk menurunkan berat badan dengan tiga cara yaitu menerapkan diet dan pola hidup sehat. apakah Anda memiliki pekerjaan atau bisnis sehingga Anda tidak hadir ?‖. misalnya kanker prostat dan kanker usus besar) . kata para peneliti. 83 persen dari pekerja obesitas dalam penelitian. berasal dari kenyataan bahwa orang gemuk cenderung kurang produktif dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal. (Wahyuningsih. Biaya tersembunyi obesitas. Menurut studi terbaru.Osteoartritis . terutama bagi perempuan. hari sakit dan kesehatan yang berhubungan dengan produktivitas dan biaya yang terkait dengan obesitas.. Penelitian telah menunjukkan bahwa obesitas. pekerja obesitas dalam penelitian ini 66 persen lebih banyak izin karena mengalami sakit dan masalah kesehatan. Untuk penelitian ini. Karena kesehatannya bermasalah. setelah faktor sosial ekonomi dan kesehatan yang berhubungan dikendalikan. Karenanya.( Arterburn et al. obesitas atau kegemukan juga membuat orang lebih sulit untuk melakukan pekerjaan. mungkin memiliki dampak negatif terhadap pekerjaan lebih . Pekerja Obesitas cenderung mengaku sakit atau membutuhkan istirahat selama 10-24 hari lebih banyak dibanding pekerja dengan berat badan normal. 2011) Selain berbahaya bagi kesehatan tubuh.Kanker (jenis kanker tertentu. (Lubis.2010) Hasil Penelitian di Belanda mengatakan bahwa berat badan tampaknya menjadi faktor utama yang menurunkan produktivitas seseorang. Selain masalah absensi.Gout dan artritis gout . dibandingkan dengan pekerja dengan berat badan lebih (Overweight) yang hanya 75% dan pekerja normal yang hanya 69%. Saat sedang bekerja pun pekerja obesitas 30 persen kurang poduktif ketimbang pekerja dengan berat badan normal.

dan pekerja yang lebih rendah produktivitas. Dibandingkan pria dengan berat normal. Ricci dan Chee (2005) memperkirakan bahwa setiap tahun. ‖ kerugian produktivitas yang terjadi ketika pekerja tetap bekerja. kesesuaian atau ketersediaan untuk pekerja obesitas. 2007. sangat gemuk. namun tidak sepenuhnya berfungsi. Pada pekerja wanita yang obes usia 35-54 tahun secara bermakna telah dilaporkan lebih mungkin cedera bekerja selama satu tahun terakhir dibandingkan mereka dengan berat badan dalam range normal. wanita obesitas usia 35 sampai 64 tahun lebih cenderung kurang produktif dibandingkan dengan berat badan normal karena problem kesehatan jangka panjang. Hubungan antara cedera dan obesitas berhubungan dengan kelelahan. Ricci dan Chee. mengurangi kegiatan normal. kelebihan berat badan. Dibandingkan dengan perempuan berat badan normal. Wolf dan Colditz. kemungkinan kurang digunakan oleh karena kurangnya kenyamanan. Tiga makalah memperkirakan nilai produktivitas berkurang. 2008) Memang. pria obesitas usia 55-64 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengurangi aktivitas bekerja mereka karena masalah kesehatan jangka panjang. (Chenoweth. kelebihan berat badan dapat mengurangi aktivitas kerja karena peningkatan kemungkinan cedera. Namun. analisis menunjukkan bahwa obesitas memiliki efek yang gigih pada kinerja pekerjaan setelah merasa sehat.sering melalui presenteeism (yaitu. didefinisikan sebagai jumlah hari kerja per tahun tidak hadir karena sakit atau cedera. 2007). biaya tambahan yang terkait dengan penurunan produktivitas adalah $ 358 per pekerja obesitas. Menggunakan data . Obesitas jelas terkait dengan ketidakmampuan seseorang untuk bekerja karena gangguan kesehatan. 2005) III. kantuk. 2005.J. biaya $ 506 per pekerja obesitas per tahun. Hanya satu studi mengenai produktivitas menggunakan dataset nasional representatif (Ricci dan Chee. 2009. (2005) adalah studi yang memperkirakan hanya biaya obesitas yang terkait secara langsung dengan ketidakhadiran.(Park. Yang lain menganggap biaya tidak langsung tetapi fokus ketat pada ketidakhadiran dan cuti. perempuan cukup gemuk. 1996). adalah mungkin peralatan pelindung pribadi. Produktivitas di kantor sering diukur sendiri -melaporkan keterbatasan di tempat kerja atau keterbatasan dalam jumlah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan.2009) III.DM.4 Obesitas Dan Absensi Lima studi tentang ketidakhadiran. Ricci dan Chee (2005) menjelaskan bahwa produktivitas ini berkurang karena perbedaan status kesehatan antara obesitas dan pekerja berat badan normal. Finkelstein et al. Biaya tidak langsung dari obesitas termasuk absensi pekerja. Faktor nonkesehatan lebih lanjut dapat mencegah para pekerja obesitas untuk produktif. menggunakan dataset perwakilan nasional (Cawley. Akhirnya. Lightwood et al. Perkiraan lain untuk populasi tertentu menunjukkan ada beberapa variasi antara biaya. 2005). (Gates dkk. Finkelstein et al.. seperti sarung tangan dan kacamata . Semua studi menyimpulkan bahwa karyawan obesitas lebih mungkin absen bekerja sebagai akibat dari penyakit atau cedera dibanding karyawan dengan berat badan normal. dan obesitas bertambah lima hari kerja per tahun. Selain itu. Perempuan Obesitas usia 35 sampai 64 secara bermakna lebih mungkin untuk mengambil hari cuti dibandingkan rekan mereka dengan berat badan normal. Para penulis menemukan bahwa orang obesitas cenderung untuk menjadi kurang produktif di tempat kerja daripada orang dengan berat badan normal. mengurangi produktivitas pada pekerjaan) daripada ketidakhadiran. Ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa perempuan obesitas secara signifikan lebih mungkin terluka pada saat bekerja daripada berat badan di kisaran normal (Wilkins dan Mackenzie 2007). 2005. Ini didefinisikan sebagai. Menggunakan data nasional yang representatif. pria obesitas membutuhkan tambahan dua hari kerja per tahun.. yang diperkirakan biaya $ 43 milyar per tahun. Tinggi rendahnya output yang dihasilkan baik berupa barang ataupun jasa semuanya tergantung dari produktivitas pekerjanya apakah produktivitasnya tinggi ataukah produktivitasnya rendah sedangkan baik buruknya produk yang dihasilkan tergantung dari pada kualitas pekerja di suatu perusahaan tersebut sehingga untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi dan produk yang berkualitas maka kesehatan pekerja sangat penting untuk diperhatikan. (Gates. Hal ini mengacu pada jumlah hari setiap melewati dua minggu di mana orang tersebut tinggal di tempat tidur setengah atau sepanjang hari (termasuk menginap di rumah sakit). Penggunaan obat oleh para pekerja obes karena kondisi kronis mereka juga dapat meningkatkan risiko cedera.5 Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas Kerja Pekerja adalah aset utama perusahaan. sebagian besar analis hanya melihat pada biaya medis langsung. Baru ―presenteeism‖ telah ditambahkan ke persamaan produktivitas. dibandingkan dengan berat badan normal rekan-rekan mereka. atau upaya ekstra yang dibutuhkan dalam kegiatan sehari-hari karena sakit atau cedera. Mirip dengan temuan berkurangnya aktivitas kerja pada wanita obesitas terkait dengan probabilitas mereka mengambil hari cuti.2008) Ketika mengukur biaya kehilangan produktivitas. Seperti halnya kegiatan. keterbatasan fisik dan ergonomi (Pollack et al.

keluaran energi. b. sedangkan keturunan sebagai penyebab tidak langsung. meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Dua faktor pertama. Berbagai literatur telah menjelaskan dengan gamblang bahwa obesitas berhubungan erat dengan produktivitas kerja di mana pekerja dengan obesitas cenderung memiliki angka absensi yang lebih tinggi dan produktivitas kerja yang lebih rendah. Pelayanan Kesehatan Penyediaan pelayanan kesehatan beserta dengan tenaga kesehatannya akan sangat membantu dalam menurunkan angka obesitas dalam perusahaan. sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru. juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. dan keturunan merupakan tiga faktor yang dianggap mengatur perlemakan tubuh dalam proses terjadinya kegemukan. Karena dengan mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Penyediaan fasilitas olah raga di perusahaan Disediakannya fasilitas olah raga diperusahaan merupakan salah satu pendukung untuk menurunkan angka obesiatas pada pekerja diperusahaan. 2008) III. (Gates. sementara Gates dkk. Obesitas merupakan masalah penting karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu. Perusahaan juga akan mengalami kerugian besar karena mereka akan kehilangan seorang tenaga produktif.rencana kesehatan anggota. Kalangan pekerja. tanpa perlu kita hitung secara matematis. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV. Masukan makanan. sangatlah mudah bagi kita untuk menduga besarnya dampak yang timbul bila gangguan seperti penyakit jantung koroner ataupun stroke tersebut dialami oleh pekerja. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. dianggap sebagai penyebab langsung. 6 Pengendalian Obesitas Pada Pekerja Obesitas pada pekerja juga berdampak buruk bagi perusahaan sehingga perlu adanya beberapa program pengendalian yang bisa dilakukan : a. Obesitas bukan merupakan penyakit tapi dapat berdampak buruk bagi kesehatan para pekerja. d.1 Kesimpulan Obesitas adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik. tidaklah kebal terhadap berbagai gangguan kesehatan. (2010) perkiraan biaya per pekerja obesitas menjadi $ 54. Oleh karena itu. Sehingga program ini sangat sesuai jika banyak pekerja yang mengalami stress akibat pekerjaannya. yaitu masukan makanan dan keluaran energi. sama halnya dengan masyarakat umum. (2008) memperkirakan biaya akan menjadi $ 575. Peningkatan kualitas pangan oleh perusahaan Meningkatkan kualitas pangan yang mengacu pada syarat-syarat makanan sehat rendah kolesterol yang akan mencegah obesitaas pada pekerja c. dan bahkan akibatnya akan lebih jauh berdampak kepada dirinya sendiri maupun perusahaan tempatnya bekerja.DM et al. Goetzel et al. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu). Mulai dari biaya pengobatan. Karena konsultasi tentang masalah obesitas bagi pekerja sangat diperlukan. . kehilangan penghasilan sampai kemungkinan ketidakmampuan untuk bekerja kembali merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas. Program traveling Pada perusahaan dengan aktivitas yang tinggi dengan intensitas pekerjaan yang tinggi pula sangat berpotensi menimbulkan stress pada pekerja dan dapat menimbulkan obesitas. Untuk kondisi yang lebih berat. Penimbunan lemak tersebut terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dikonsumsi dengan yang digunakan. sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. perlu pemantauan secara berkesinambungan. dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan manufaktur.

2010. Journal of Occupational and Environmental Medicine / American College of Occupational and Environmental Medicine. Kusriyana. J. Jakarta: EGC. Hidayati. ―Obesity and Presenteeism: The Impact of Body Mass Index on Workplace Productivity‖ Journal of Occupational Environmental Medicine 50 (1) (2008): 39-45.depkes. Jurnal Gizi Klinik . et al.go. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.al . Jakarta.235-241. Chenoweth.id.unpad. 2007. Terkait dengan hal ini Departemen Kesehatan perlu juga untuk mengembangkan pedoman aktivitas fisik yang cukup. 2009. 78. Gates. Maciejewski. D California Departmentof Health Services Public Health Institute April 2005 Crawford. 2. Depkes RI. Tentu saja hal ini juga harus diikuti oleh pengontrolan kesehatan secara berkala kepada tenaga kesehatan. 52 Suppl 1. The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and its treatment.SN. PT. http://blogs. 1317-1324. (2005). Asupan Zat Gizi. 2000. Australia. 2007. (Online) http://www. Gizi Dalam Daur Kehidupan..ac. Inoue. Journal of Occupational and Environmental Medicine. 2011. (Online) Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Dariyo. 1118-1124. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. dapat memainkan peran penting dalam membentuk lingkungan yang sehat dan membuat pilihan diet sehat terjangkau dan mudah diakses. 29.R. Untuk mengurangi risiko obesitas.et al.2005. intensitas sedang – lebih banyak aktivitas mungkin diperlukan untuk mengendalikan berat badan. 2011. 2004. Program traveling oleh perusahaan untuk mencegah stres pada pekerja. Budiningsari. Zimmet P. A Multi-Worksite Analysis Of The Relationships Among Body Mass Index. Cawley.id. Flegal. Profil Kesehatan Indonesia 2001. Anonim. S52-8 Hidajat. 2002.JS. 1988. Dorland. (Online). Irawan.M. Untuk itu perlu penyediaan sarana pelayanan kesehatan oleh perusahaan. OBESITAS. Hal. et al. Jakarta: EGC. Garrow. K. jogging. Arena. The impact of body mass index on short-term disability in the workplace. Hal ini terutama penting bagi yang paling rentan dalam masyarakat – masyarakat miskin yang memiliki pilihan terbatas tentang makanan yang mereka makan dan lingkungan di mana mereka tinggal.2 Saran 1. DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. Journal of Occupational and Environmental Medicine. 48. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Pada tingkat yang lebih luas pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Buku Ajar Ilmu Gizi. Status Gizi Dan Motivasi Serta Hubungannya Dengan Produktivitas Pekerja Perempuan Pada Bagian Pencetakan Di Pabrik Bakpia Pathuk 25 Yogyakarta. Para ahli merekomendasikan setidaknya 30 menit aktivitas teratur. dan bersepeda. Jakarta: EGC. New York: Oxford University press. Health Implications of Obesity and Related Desease. Kesehatan bagi Pekerja Perempuan. D et. V. Modifikasi gaya hidup merupakan pilar utama dalam penatalaksanaan obesitas melalui peningkatan kebiasaan olahraga. Promosi di tempat kerja untuk mencegah obesitas. WF. termasuk program pemeliharaan berat badan dengan menyediakan fasilitas olah raga di perusahaan. Medical Utilization. Helmyati. 4. lari.IV. M. And Worker Productivity. dan peningkatan kualitas pangan oleh perusahaan akan memberikan manfaat sosial dalam peningkatan kesehatan pribadi pekerja. Occupation Specific Absenteeism Costs Associated With Obesity And Morbid Obesity. M. Z. 303(3). disarankan untuk memiliki aktivitas fisik yang cukup seperti berjalan. Avalaible from: URL: http//:www. Impact of Morbid Obesity on Medical Expenditures in Adults. 2004. Kunci kesuksesan adalah untuk mencapai keseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori digunakan. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ganong. Ganong. W. Anonim. S. perubahan pola dan kebiasaan konsumsi makanan sehat. Jakarta. Prevalence And Trends In Obesity Among US Adults. D. R. Obesity Prevention and Public Health. & Tsevat.B..2. 3. Gramedia Pustaka Utama. 334-339.pediatrik. and Caterson I.D. C.RD. Edisi 22. 2010. 2004 Psikologi Perkembangan Remaja.MB. Ed. Arisman. Journal of American Medical Association. et al.com. 1999-2008. dengan komitmen berkelanjutan.R. J. London: Churchill Livingstone. S. 5. International Journal of Obesity. Health Communication. Jakarta: Ghalia Indonesia.A. 2006. Goetzel. 2003. Menekan Karyawan Obes di perusahaan . Arterburn. 49(12). menghentikan kebiasaan buruk mengkonsumsi alkohol.

(Online). Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic.blogspot. 7. 2010. Cardiorespiratory Fitness.Indonesia Vol. S (2009) Impact of Obesity on Work Productivity and Role Disability in Individuals With and at Risk for Diabetes Mellitus. www. Jurnal of Occupational & Environmental Medicine: January 2004 – Volume 46 – Issue 1 – pp 19-25. Rissanen. 2005. Deurenberg-Yap M. Walker. 2004. 353-360. 2011. AM. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I.co. Shaper. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Obesitas Pada Orang Dewasa di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2007). News Medical. and Obesity.detikhealth. pp. (Online) http://persagi. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. (online). Hal. Sumbodo DP.com.statcan.news-medical.id. Chin MC. Sukaton. 2011.38(1):57-9. Rodbard. and Grandy. 45:419-430. Obesitas. Trends In The Association Betwen Obesity Sosioeconomic Status In US Adults. Wannamethee. Obesity Research. 23. Jan. 75-001-X (Online). Juli 2010: 41-47 Low S. Besral. Park. 1996. 2007. http://prodiaohi. SG. Eur J Clin Nutr.com. WHO. 59: 134-139. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Review On Epidemic Of Obesity. Geneva. 2012. 12:16221632. Ann Acad Med Singapore. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. 5. 1.U. 2009.org. Diakses 1 Januari 2012. Et al. Edisi ketiga. A.al.net.M. Diakses Tanggal 1 Januari 2012. Daya Saing dan Produktivitas Indonesia dan Negara-negara ASEAN. Herdayanti. 2004. Fox.ca. Obesity On The Job.M Overweight and obesity and weight change in middle aged men: impact on cardiovascular dsease and diabetes. Tubuh Gemuk dan Rokok Bikin Orang Kurang Produktif.. Statistics Canada — Catalogue no.J.gc. What is Obesity? (Online). K. J Epidemial Communit Health. 10 Ciri Pekerjaan Akan Membunuh Anda.co. detikHealth (Online) http://www. Wahyuningsih.. 1991 Determinants Of Weight Gain And Overweight In Adult Finns.AG. Zhang. 2011. No. http://www. 706711. The Association Between Work Performance and Physical Activity. NP. 2009. Vol.HW. M. Prodia Occupational Health Institute. Pronk. et.id. http://didiksumbodo. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. . (Online) http://waspada. Lubis. Sudikno. No. Jurnal Ilmiah. American Journal of Health Promotion: May/June 2009. 2000. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Colin Campbell dari Cornell University dengan penelitian di China (China Project). ACS (American Cancer Society). Dan dari berbagai faktor penyebab penyakit yang umum ternyata faktor makanan menduduki tempat yang terpenting. Hiperkolesterolemia. Hipertensi. Alasan kesehatan merupakan alasan utama bagi sebagian besar orang memilih vegetarian sebagai gaya hidup. Pola makan vegetarian juga dapat mencegah obesitas karena secara tidak lansung penganutnya sudah berdiet dengan cara alami. Dengan menjadi seorang vegetarian.Hubungan Vegetarian dan Kesehatan KESEHATANVEGAN ♦ 16 SEPTEMBER 2009 ♦ 1 KOMENTAR Rate This Vegetarian dan kesehatan menjadi isu penting saat ini. dan Osteoporosis. Sebut saja ADA (American Dietetic Association). maupun penyakit degeneratif seperti Penyakit Jantung Koroner. Kanker. WHO dll. Sebenarnya semua penyakit degeneratif bisa dicegah bahkan hingga usia lanjut dengan menjalani pola hidup sehat dan menu vegetarian. About these ads . Berbagai kalangan medis dan ahli gizi sudah setuju dengan konsep pola hidup vegetarian. Dan disadari bahwa semakin sedikit kita mengkonsumsi diet hewani maka kita akan semakin sehat dan demikian juga sebaliknya. Diet vegetarian selain dapat mencegah juga sekaligus bisa mengobati berbagai penyakit degeneratif tersebut. berarti anda sudah mengurangi resiko terkena penyakit ringan sepertisembelit dan wasir. Berbagai organisasi di dunia saat ini sudah mulai menyarankan pola hidup yang lebih ditekankan pada nabati. Hal ini telah dibuktikan oleh Prof. Diabetes Melitus. Menjalani pola hidup vegetarian yang baik menjadi semakin penting untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful