P. 1
Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas

Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas

|Views: 250|Likes:
Published by Miftahul Jannah
obesitas
obesitas

More info:

Published by: Miftahul Jannah on Mar 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2015

pdf

text

original

PENGARUH OBESITAS TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

11

FEB

PENGARUH OBESITAS TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA Oleh : ASRIANTI DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR …….…………………………………………………………………………………1 DAFTAR ISI …….…………………………………………………………………………………..2 BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………3 I.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………………….3 I.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………….5 I.3 Tujuan ……………………………………………………………………………….6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………………………7 II. 1 Defenisi Obesitas……………………………………………………………………………….7 II.2 Gejala Klinis ……………………………………………………………………………….7 II.3 Penyebab Obesitas…………………………………………………………………………….8 II.4 Risiko Obesitas ……………………………………………………………………………….9 II.5 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Obesitas.………………………………………………..11 II.6 Obesitas Dan Produktivitas Kerja..…………………………………………………………..12 BAB III PEMBAHASAN …………………………………………………………………….14 III.1 Penyebab Obesitas Pada Pekerja…..………………………………………………………14 III.2 Dampak Obesitas Pada Pekerja…………………………………………………………….15 III.3 Obesitas Dan Kinerja…..……………………………………………………………………..17 III.4 Obesitas Dan Absensi………………………………………………………………………..19 III.5 Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas Kerja…..……………………………………19 III.6 Pengendalian Obesitas Pada Pekerja………………………………………………………20 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………………………..…..21 IV.1 Kesimpulan ………………………………………………………………….……..……21 IV.2 Saran ………………………………………………………………………………………………22 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………..23 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Obesitas Merupakan kelainan metabolisme yang paling sering diderita manusia. Penyakit ini merupakan salah satu kelainan metabolisme yang paling lama tercatat dalam sejarah seperti terlihat pada sebuah patung tanah liat yang berasal dari zaman lebih kurang 22.000 tahun sebelum masehi; patung itu menggambarkan seorang wanita setengah baya yang gemuk. Obesitas kemudian masih selalu tercatat sepanjang sejarah, sejak zaman mesir dan Yunani purba, bahkan juga sampai sekarang masih merupakan persoalan, baik dalam hal menjelaskan patogenesisnya, maupun dalam upaya mendapatkan pengobatan yang berhasil. (Sukaton,U. et.al. 1996) Obesitas dan kelebihan berat badan yang dimiliki dalam dekade terakhir menjadi masalah global – menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali pada tahun 2005 sekitar 1,6 miliar orang dewasa di atas usia 15 tahun kelebihan berat badan, setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas dan setidaknya 20 juta anak di bawah usia 5 tahun kelebihan berat badan. Para ahli percaya jika kecenderungan ini terus berlangsung pada tahun 2015 sekitar 2,3 miliar orang dewasa akan kelebihan berat badan dan lebih dari 700 juta akan obesitas. Skala masalah obesitas memiliki sejumlah konsekuensi serius bagi individu dan sistem kesehatan pemerintah. (News medical, 2012) Menurut laporan World Economic Forum tahun 2003-2004, daya saing dalam hal sumber daya manusia Indonesia

turun menjadi ranking ke-44 pada tahun 2000. ( Almatsier.4% dan 23% pada laki-laki dan 30. (Sumbodo DP. Peningkatan produktivitas terutama faktor total. 10. Orang yang mempunyai berat badan 40% lebih berat dari berat badan rata-rata populasi mempunyai risiko kematian 2 kali lebih besar dibandingkan orang dengan berat badan rata-rata (Lew & Garfinkel.1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25-27) dan 6. Chin & Deurenberg-Yap (2009) memperlihatkan bahwa kisaran prevalensi kegemukan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang relatif sama. 1996) Obesitas meningkatkan risiko kematian untuk semua penyebab kematian. menyebabkan adanya perubahan pola makan dan pola aktifitas yang mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita kegemukan dan obesitas.. USA. prevalensi kegemukan berkisar dari prevalensi terendah (2. jumlah penderita kegemukan (overweight) dan obesitas cenderung meningkat. Kenaikan mortalitas diantara penderita obes merupakan akibat dari beberapa penyakit yang mengancam kehidupan seperti diabetes tipe 2. terutama di perkotaan. yang berpendapatan rata-rata menengah dan rendah.5% penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13. Obesitas dapat memberikan risiko psikososial dan risiko medis. 2007) Produktivitas merupakan akar penentu tingkat daya saing. baik tingkat makro. Namun. sektoral industri. Prevalensi overweight dan obesitas meningkat sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik.8%. Review yang dilakukan Low. maupun global. perusahaan. prevalensi overweight adalah 12. penyakit kandung kemih.4% pada perempuan. Hal ini dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di negara-negara berkembang. Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial ekonomi tertentu.8% mengalami obesitas. besarnya gaji dan kenaikan pangkat dapat dipengaruhi oleh berat badan. 2004) Saat ini terdapat bukti bahwa prevalensi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas meningkat sangat tajam di seluruh dunia yang mencapai tingkatan yang membahayakan. 2007) Faktor-faktor diet dan pola aktivitas fisik mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keseimbangan energi dan dapat dikatakan sebagai faktor-faktor utama yang dapat diubah (modifiable factors) yang melalui faktor-faktor tersebut banyak kekuatan luar yang memicu pertambahan berat badan itu bekerja.5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1.al. (Low. diet tinggi lemak dan tinggi kalori dan pola hidup kurang gerak (sedentarylifestyles) adalah dua karakteristik yang sangat berkaitan dengan peningkatan prevalensi obesitas di seluruh dunia . maupun pada tingkat negara. 16% penduduknya mengalami overweight dan 4% mengalami obes.% pada laki-laki dan 14. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas kerja di Indonesia menurun drastis terutama bila dibandingkan dengan negaranegara ASEAN.3% dan 9.(Flegal et al. orang gemuk lebih sukar mencari pekerjaan. 70% dari penduduk dewasa Polynesia di Samoa masuk kategori obes (WHO.menduduki ranking ke-37 pada tahun 1999. Di Amerika. menurun lagi ke urutan 49 pada tahun 2001.4%) di Korea Selatan hingga prevalensi tertinggi (32. Bahkan sesudah diterima. (Inoue. kanker . (Sukaton. Lebih jelasnya. 1998). 20. yang makin meningkat di negara berkembang. (WHO. Di daerah perkotaan Cina. Peningkatan produktivitas pada tingkat individu menempati posisi yang sangat penting.2%) di AS. et. Di Indonesia. prevalensi kegemukan tertinggi di negara-negara berkembang terdapat pada kelompok umur yang lebih muda (40-50 tahun) dibandingkan dengan negaranegara maju (50-60 tahun).U. perusahaan. regional. menurun drastis pada tahun 2002 ke urutan 69 dan pada tahun 2003 mencapai peringkat terendah menjadi 72. Pada kelompok umur 40-49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing-masing 24. 2004) Kegemukan (obesity) dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia. Kejadian obesitas di negara-negara maju seperti di negara-negara Eropa. akan tetapi data obesitas pada orang dewasa yang tinggal di ibukota propinsi seluruh Indonesia cukup untuk menjadi perhatian kita. Gadis yang gemuk lebih sukar mendapatkan tempat di perguruan tinggi daripada yang berat badannya normal. Hampir semua perusahaan besar di sana mempunyai persyaratan tentang berat badan yang maksimal.5% mengalami obesitas. bila dilihat menurut kelompok umur. Di negara-negara maju. 2010) Akan tetapi hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju. Survei nasional yang dilakukan pada tahun 1996/1997 di ibukota seluruh propinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8. Sebagai contoh.5% tergolong obes. sedang di daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 5.6%) di Saudi Arabia. penyakit jantung. baik pada tingkat individu. sedangkan prevalensi kegemukan di negara-negara berkembang berkisar dari prevalensi terendah (2.S.(Sumbodo DP. 2000) Seiring dengan meningkatnya taraf kesejahteraan masyarakat.4%) di Indonesia sampai prevalensi tertinggi (35. 2000) Data tentang obesitas di Indonesia belum bisa menggambarkan prevalensi obesitas seluruh penduduk. Sebagai contoh. dan individu sangat menentukan kemampuan daya saing perusahaan pada tingkat dalam negeri. dan Australia telah mencapai tingkatan epidemi. Di Thailand. industri.4% dan 43% pada wanita. Chin & Deurenberg-Yap 2009). di beberapa negara berkembang obesitas justru telah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. 1979). (Depkes RI. masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gizi lebih ini mulai muncul pada awal tahun 1990-an.

risiko penyakit kantung empedu dan insidens gejala klinis batu empedu. Dari segi sosial. risiko kanker tertentu. (WHO. faktor penyebab obesitas.SN. kejadian kegemukan berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe-2. (Hidajat. 2 Gejala Klinis Berdasarkan distribusi jaringan lemak. 2011) Secara klinis obesitas mudah dikenali dengan adanya tanda dan gejala khas. dan ekonomi. Untuk penduduk barat.B.F. kegemukan akan berdampak terhadap perasaan rendah diri. (WHO 2000) II. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh. (Ganong W. dan meningkatkan pengeluaran kesehatan. Obesitas adalah suatu akumulasi lemak dalam jaringan adiposa yang abnormal/berlebihan hingga mencapai suatu taraf yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. faktor penyebab obesitas. dibedakan menjadi : Apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada dan pinggang) Pear shape body/gynecoid (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul dan paha) (Hidajat. kurang fashionable. Hidayati. faktor risiko.R. pengaruh obesitas terhadap produktivitas kerja. sedangkan untuk penduduk Asia. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Kegemukan atau obesitas merupakan kondisi ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi lemak dalam jaringan adiposa. Sedangkan menurut Dariyo (2004).B. bagaimana pengaruh obesitas terhadap produktivitas kerja dan bagaimana cara mengendalikan obesitas. risiko penyakit jantung koroner dan stroke. 2002) Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak. 2003) Obesitas adalah penimbunan jaringan lemak secara berlebihan akibat ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan pemakaian energi (energy expenditure). IMTnya >25 kg/m2 atau lingkar perut _90 cm pada pria dan _80 cm pada wanita. Irawan. seseorang dikatakan obesitas apabila IMT-nya _30 kg/m2 atau lingkar perut _102 cm pada pria dan _ 88 cm pada wanita.SN. Review yang dilakukan Swinburn et al (2004) menunjukkan. tekanan darah dan risiko hipertensi. Obesity adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik. yakni: Obesitas I. yang dimaksud dengan obesitas adalah kelebihan berat badan dari ukuran normal tubuh yang sebenarnya. 2011) Menurut Garrow (1988). 2000) Kegemukan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi kesehatan.3 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui obesitas. kadar kolesterol-total dan kolesterol-LDL. yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah Apa yang dimaksud dengan obesitas. kelambanan bergerak. Irawan. obesitas dibagi menjadi tiga kategori. antara lain: Wajah membulat Pipi tembem Dagu rangkap Relatif pendek Dada yang menggembung dengan payudara membesar mengandung jaringan lemak Perut buncit dan dinding perut berlipat-lipat .(Dorland. faktor risiko. hari produktif. Hidayati. I. arthritis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Orang obes juga mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita beberapa masalah kesehatan seperti back pain.gastrointestinal dan kanker yang sensitif terhadap perubahan hormon. kegemukan berisiko mengurangi produktivitas kerja.R. dan malu bergaul. sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. usia produktif.1 Definisi Obesitas Menurut Kamus Kedokteran Dorland. sosial.WA. Adapun berdasarkan distribusi lemak. baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian-bagian tertentu. dan fungsi psychososial yang menurun. obesitas dibagi menjadi dua kategori. yaitu: obesitas sentral dan obesitas umum. infertilitas. dan cara mengendalikan obesitas pada pekerja. Obesitas II dan Obesitas III. Adapun dari segi ekonomi. dan risiko gout. (Anonim 2011) I.

Terdapat beberapa kompartemen jaringan lemak pada trunkal. (Anonim. dan kebiasaan menonton televisi berjam-jam. perlu diketahui kelainan metabolik yang mungkin timbul pada obesitas. 2005) II. 2004). (Sukaton.al. (Sukaton. Tipe obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh dapat dibedakan menjadi obesitas tubuh bagian atas (upper body obesity) dan obesitas tubuh bagian bawah (lower body obesity). Individu yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah biasanya mengalami malnutrisi. oleh karena itu tipe obesitas ini lebih dikenal sebagai ―android obesity‖. angina. dan retroperitoneal.al. penyakit kantong empedu. Tipe obesitas ini berhubungan erat dengan gangguan menstruasi pada wanita. et. dan penyakit kardiovaskuler daripada obesitas tubuh bagian bawah.al. Pengeluaran biaya sehari-hari untuk pakaian dan makanan juga lebih banyak pada orang gemuk. Penimbunan lemak tersebut terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dikonsumsi dengan yang digunakan. gangguan fungsi pernapasan. dianggap sebagai penyebab langsung. sehingga mengurangi kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial. Selain itu. Obesitas tubuh bagian bawah merupakan suatu keadaan tingginya akumulasi lemak tubuh pada regio gluteofemoral. beberapa jenis kanker. Ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi mengakibatkan pertambahan berat badan. dan keturunan merupakan tiga faktor yang dianggap mengatur perlemakan tubuh dalam proses terjadinya kegemukan. diabetes dan merupakan beban penting pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Risiko Medis Orang gemuk cenderung sering sakit. Untuk lebih mudah mengerti secara keseluruhan adanya hubungan antara risiko dan obesitas. Faktor lingkungan antara lain pengaruh psikologi dan budaya. sosial dan psikologis. dua faktor pertama. Sementara obesitas itu merupakan salah satu faktor risiko penyakit degenaratif.MB. Menurut Soetrisno (1996). hipertensi. seperti menurunnya aktivitas fisik. hipertrigliseridemia. Kelainan metabolik yang terjadi pada obesitas tampaknya berhubungan dengan besarnya lapisan lemak. Baik faktor lingkungan maupun genetik berperan dalam terjadinya obesitas.genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan yang dapat menyebabkan laserasi kulit. dan yang akan menjadi normal kembali dengan pengurangan berat badan. 3 Penyebab Obesitas Faktor-faktor penyebab obesitas masih terus diteliti. Sebaliknya. individu dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi biasanya menderita obesitas. dan berbagai gangguan kulit. 1996) Banyak penyelidikan epidemiologis yang menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan angka kematian. Tipe obesitas ini berhubungan lebih kuat dengan diabetes.4 Risiko Obesitas Risiko Obesitas yang sudah banyak disadari oleh masyarakat adalah risiko psikosial. Obesitas yang muncul pada usia remaja cenderung berlanjut hingga ke dewasa dan lansia. 1996) Risiko Psikososial Obesitas memberikan hambatan-hambatan fisis. hubungan antara status sosial ekonomi dengan obesitas melemah karena prevalensi obesitas meningkat secara dramatis pada setiap kelompok status sosial ekonomi. et. dan Peningkatan kadar kolesterol darah.(Arisman. Meningkatnya obesitas tak lepas dari berubahnya gaya hidup. Orang gemuk mempunyai banyak kesulitan dalam melakukan aktivitas fisis. yaitu masukan makanan dan keluaran energi. (Zhang. (Sukaton. faktor genetik juga menentukan banyak dan ukuran sel adiposa serta distribusi regional lemak tubuh. diabetes mellitus.(Crawford et al. Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak tubuh. Hiperglikemia. Tipe obesitas ini lebih banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut ―gynoid obesity‖. Data dari Framingham menunjukkan bahwa . Kini diketahui bahwa sejak tiga dekade terakhir. sedang risiko medis masih kurang diyakini. hipertensi. Dahulu status sosial dan ekonomi juga dikaitkan dengan obesitas.U. keluaran energi. Kelainan metabolic tersebut umumnya berupa: Resistensi terhadap insulin. 1996) Terdapat saling keterkaitan antara obesitas dengan risiko peningkatan PJK. Faktor genetik menentukan mekanisme pengaturan berat badan normal melalui pengaruh hormon dan neural.U. arthritis. Masukan makanan.2009) II. et. Obesitas tubuh bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria. Regulasi growth hormone yang abnormal.U. semakin gemuk semakin sering sakit. yaitu trunkal subkutaneus yang merupakan kompartemen paling umum. 2007). Aktivitas lipoprotein lipase yang meningkat pada sel lemak yang hipertropik. dan semua gangguan metabolic yang berhasil diperiksa dapat diterangkan dengan penambahan lapisan lemak tersebut. intraperitoneal (abdominal). seperti penyakit kardiovaskular. Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominansi penimbunan lemak tubuh di trunkal .. stroke.. sedangkan keturunan sebagai penyebab tidak langsung. serta angka kesakitan dari berbagai penyakit tertentu.

dan sering terjadi juga penyakit batu empedu. beberapa hasil studi dengan rancangan penelitian lain menunjukkan bahwa rendahnya dan menurunnya aktivitas fisik merupakan faktor yang paling bertanggungjawab terjadinya . keracunan kehamilan. pekerjaan.5 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Obesitas Penelitian yang dilakukan oleh sudikno dkk. sedangkan sampel anggota rumah tangga semua berusia ≥18.47% (CI 95%: 12.5 mm Hg dan tekanan diastolic 1. Telah direkomendasikan bahwa untuk mengurangi risiko obesitas. Namun demikian.7% orang-orang gemuk tersebut menderita diabetes mellitus. hernia. Penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) Penelitian terhadap 74. Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa. pendidikan. 1994.. Selain itu kelebihan berat badan menimbulkan beragam gangguan kesehatan.000 karyawan di Amerika menunjukkan bahwa jelas terdapat hubungan antara bertambah beratnya badan dengan tekanan darah tinggi. 4. II. Pada penelitian ini ditemukan 6. 1994). SG.AG. Soegih (1988) merangkum hubungan kesehatan individu dengan kegemukan. pada pria gangguan pernapasan. sedangkan pada orang-orang yang tidak gemuk hanya 0. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi obesitas (IMT> 27kg/m2) pada orang dewasa adalah 12.5 kg/m2. disarankan untuk memiliki aktivitas fisik yang cukup seperti berjalan. variabel perancu (wilayah. kegemukan juga bisa mengurangi kegesitan gerak badan dan kerap lebih mudah menimbulkan kelelahan. dan bersepeda.5 mm Hg. Akan tetapi hubungan tersebut tidak bisa menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat dan sulit untuk menentukan apakah orang obes mempunyai aktivitas fisik kurang oleh karena obesitasnya atau aktivitas fisik yang kurang menjadikan mereka obes. Penelitian tersebut bertujuan untuk mempelajari hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa di Indonesia. dan kebiasaan merokok) dikontrol. Umur rata-rata seseorang Penelitian yang dilakukan oleh Metropolitan life Insurance terhadap 50. Terkait dengan hal ini Departemen Kesehatan perlu juga untuk mengembangkan pedoman aktivitas fisik yang cukup. keputihan. 5. lari. Penyakit-penyakit lain Masih banyak penyakit akibat kegemukan. dan BMI setidaknya 18. jenis kelamin. (Sudikno et al. 3. 2011) Beberapa data cross-sectional menunjukkan adanya hubungan negatif antara BMI dan aktivitas fisik (Rising et al. Walker. sedangkan untuk wanita gemuk 61% lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai berat badan normal. Regresi logistik digunakan untuk mempelajari hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas dewasa.apabila setiap individu mempunyai berat badan optimal. Populasi adalah anggota rumah tangga semua berusia ≥18 tahun. sehat jasmani dan rohani. Penelitian ini menggunakan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2007 data dengan desain cross-sectional. Penurunan berat badan 2 kg akan menurunkan tekanan darah sistolik 2. Shaper. keadaan yang akan normal kembali apabila berat badan turun. termasuk perubahan dalam kebiasaan makan dan penurunan kegiatan fisik menyebabkan peningkatan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas. jogging. varices. Penyakit jantung Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang dengan kelebihan berat badan lebih mudah terkena penyakit jantung dibandingkan dengan yang berat badan normal. Penyebab kenaikan tekanan darah ini tidak diketahui dengan pasti. Aktivitas fisik dinilai dengan pertanyaan tentang jenis nya (kuat dan moderat) dan durasinya per minggu. penyakit kulit di lipatan paha dan payudara. tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa pada orang gemuk terdapat peningkatan jumlah darah yang beredar sehingga tekanan darah meningkat. yang ringkasnya sebagai berikut : 1. Schulz & Schoeler.(Wannamethee. status perkawinan. akan terjadi penurunan insiden PJK sebanyak 25 % dan stroke/cerebro vascular accident (CVA) sebanyak 3. tentang hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada orang dewasa di Indonesia menyatakan bahwa peningkatan status sosial ekonomi dan perubahan gaya hidup. usia.28-12. rematik. Pada orang gemuk kerja jantung akan lebih besar dan akan dapat menyebabkan pembesaran jantung dan jadi lemah. Penyakit gula (diabetes mellitus) Dalam penelitian di Jakarta pada tahun 1982 ditemukan diabetes mellitus lebih banyak terdapat pada orang-orang yang gemuk dibandingkan dengan orang-orang yang tidak gemuk.5 %.M.000 orang menunjukkan bahwa angka kematian pria gemuk 79% lebih tinggi dari pada pria yang mempunyai berat badan normal.95%. 2005) Banyak orang beranggapan bahwa kegemukan dapat mengurangi kemolekan tubuh. 2. Jenis penyakit jantung yang sering terjadi yaitu aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Orang yang memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah memiliki risiko obesitas lebih dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi.66). yang menunjukkan bahwa orang obes atau gemuk mempunyai aktivitas kurang dibandingkan orang-orang yang ramping. seperti pada wanita kelainan haid dan kemandulan. tidak hamil.

2010) Kalangan pekerja. para peneliti mengungkap. 1985). sangatlah mudah bagi kita untuk menduga besarnya dampak yang timbul bila gangguan seperti penyakit jantung koroner ataupun stroke tersebut dialami oleh pekerja. (Kusriyana.301orang yang terdiri dari 63. Salah satu contoh studi yang paling baik yang menyokong hipothesis ini ialah yang dikemukakan oleh Prentice & Jebb (Prentice & Jebb.97%.37% pekerja perempuan sedangkan pada tahun 2006 pekerja laki-laki yang bekerja di industri pengolahan mencapai 44. Perusahaan juga akan mengalami kerugian besar bahwa mereka akan kehilangan seorang tenaga produktif. Mulai dari biaya pengobatan. ketidakhadiran.63% pekerja laki-laki dan 36. Menggunakan taksiran kasar tentang ketidak-aktifan seperti jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televisi atau jumlah mobil per-keluarga. 2012) BAB III PEMBAHASAN III. dan tingkat aktivitas fisik yang rendah pada orang dewasa dapat dijadikan sebagai prediktor penting penambahan berat badan yang substansial (>5 kg) dalam 5 tahun kedepan. 1991). Rissanen et al. Pasalnya. sama halnya dengan masyarakat umum.941. obesitas tidak terjadi pada para atlit yang aktif sedangkan para atlit yang berhenti melakukan latihan olah raga lebih sering mengalami kenaikan berat badan dan kegemukan (Williamso. 1996. sebaiknya berhati-hati dengan kebiasaan makan. yaitu dari 49. Sebagai contoh. 1991) . status kesehatan dan gizi pekerja pada umumnya belum mendapat perhatian yang berakibat pada penurunan produktivitas kerja dan biaya produksi menjadi tidak efisien. Lebih lanjut.obesitas. Berbagai literatur telah menjelaskan dengan gamblang bahwa obesitas berhubungan erat dengan produktivitas kerja di mana pekerja dengan obesitas cenderung memiliki angka absensi yang lebih tinggi dan produktivitas kerja yang lebih rendah. Namun.2011) Kegemukan dan masalah obesitas yang terkait dengan kesehatan mereka. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada perempuan juga mengalami peningkatan. Aktivitas yang sedikit Pekerjaan dengan banyak berfikir tentunya akan mengurangi aktivitas fisik di dalam pekerjaan dan kalori dalam tubuh tidak .65% pada tahun 2005. Belum lama ini. adalah sekelompok orang yang berisiko mengalami kelebihan berat badan akibat kompensasi kalori yang dibutuhkan tubuh.1 Penyebab Obesitas Pada Pekerja Para pekerja intelektual yang banyak berpikir dan kurang aktivitas fisik. Sebagai pekerja yang dituntut untuk banyak berpikir. Studi prospektif lain menunjukkan bahwa jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televeisi oleh anak-anak merupakan prediktor tinggi rendahnya BMI beberapa tahun kemudian (Dietz & Gortmarker. pekerja Indonesia di bidang industri pengolahan mencapai 7.R. Peningkatan jumlah pekerja ini berakibat positif pada pertambahan tenaga produktif. Stress akibat pekerjaan Pekerjaan dengan banyak berpikir akan sangat berpotensi menimbulkan stress berat yang menimbulkan meningkatnya nafsu makan sehingga pola makan tidak terkontrol dan terkendali akhirnya menjadi obes. memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap sistem kesehatan dan biaya medis yang terkait dengan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki biaya baik langsung dan tidak langsung – biaya medis langsung mungkin termasuk layanan pencegahan. tidaklah kebal terhadap berbagai gangguan kesehatan. Namun selain itu juga banyak faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada pekerja : a.(Prodia Occupational Health Institute. kegiatan berpikir dapat memacu selera makan. b. tekanan atau stress saat berpikir dapat menyebabkan kebiasaan makan berlebih karena para pemikir cenderung mencari lebih banyak kalori.6 Obesitas Dan Produktivitas Kerja Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2002. dan bahkan akibatnya akan lebih jauh berdampak kepada dirinya sendiri maupun perusahaan tempatnya bekerja. diagnostik. Untuk kondisi yang lebih berat. tanpa perlu kita hitung secara matematis. (News medical. 1995)..23% pada tahun 2004 menjadi 50. kecenderungan sekuler (Secular trend) dalam kenaikan prevalensi obesitas paralel dengan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan perilaku hidup kurang gerak yang selanjutnya disebut SEDENTARIAN (sedentary). II. Pekerjaan yang banyak berpikir lebih berpotensi terkena obesitas karena tidak membutuhkan mobilitas tubuh untuk bergerak. penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan aktivitas fisik dan atau peningkatan perilaku hidup sedentarian mempunyai peranan penting dalam peningkatan berat badan dan terjadinya obesitas. (Rissanen et al. kehilangan penghasilan sampai kemungkinan ketidakmampuan untuk bekerja kembali merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan.03% dan pekerja perempuan mencapai 55. dan pengobatan berhubungan dengan obesitas. aktivitas terbatas. hari cuti dan pendapatan hilang oleh kematian dini. sementara biaya tidak langsung berhubungan dengan hilangnya pendapatan dari produktivitas menurun.

Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu). hari cuti. yang dapat menempatkan hati pada risiko dan membuka jalan bagi timbulnya penyakit lain. Model-model multivariat membantu menyelidiki beberapa efek dengan mengendalikan faktor-faktor kondisi kesehatan dan perilaku. dan di Amerika Serikat.2005).(Cawley.J. biaya yang bakal berlebih akibat kegemukan yang dialami para karyawannya. peredaran darah. lutut dan pergelangan kaki). Jenis makanan yang di konsumsi Makanan yang disediakan diperusahaan yang tidak memperhatikan aspek makanan sehat sehingga makanan tersebut banyak mengandung kolesterol yang akan menyebabkan obesitas pada pekerja. agitasi dan insomnia pada malam hari. muskuloskeletal. Obesitas di tempat kerja dapat memiliki biaya ekonomi juga: Karyawan obesitas di Australia memiliki lebih sering dan lebih panjang absen bekerja (Australian Institute untuk Kesehatan dan Kesejahteraan 2005). Binge mirip dengan bulimia nervosa. hasil penelitian ini terdapat hubungan antara obesitas dan kinerja pekerjaan seperti terbatasnya aktivitas kerja.penyakit kandung empedu. (Arena et al. pekerja obesitas memiliki substansial prevalensi lebih tinggi metabolisme. dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak. Obesitas bukan merupakan penyakit tapi dapat berdampak buruk bagi kesehatan para pekerja. bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Meskipun banyak penelitian telah memandang obesitas sebagai masalah kesehatan. dan beberapa kanker (Brunner dkk. 90 juta hari tempat tidur dan 63 juta kunjungan dokter pada tahun 1994. Karena itu. dan gangguan kolesterol. Pola makan abnormal Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). Obesitas di tempat kerja merupakan fenomena yang berkembang. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki. Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti: . Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. makanan. sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Pada sindroma makan pada malam hari. d. banyak karyawannya yang mengalami obesitas. penelitian ini meneliti tren obesitas di antara pekerja dan melihat sosiodemografi dan angkatan kerja berkorelasi dengan obesitas. Studi internasional telah menemukan bahwa kombinasi dari pekerjaan. c.2007) III. jantung koroner. dan kebiasaan yang buruk sering menyebabkan obesitas. dan gangguan pernapasan (Thomson Kesehatan 2007).. Obesitas merupakan faktor risiko untuk diabetes tipe 2.akan terbakar dan akhirnya tertimbun sebagai lemak. Selain itu. adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan. termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul. Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. hipertensi. penyakit kardiovaskular. (Chenoweth . Sering ditemukan kelainan kulit. Menggunakan Survei Kesehatan Masyarakat Kanada (CCHS) dan Survei Kesehatan Penduduk Nasional (NPHS). tentu saja perusahaan yang menampung karyawan dengan berat badan berlebih pasti akan berhadapan dengan satu masalah. dengan dampak baik bagi pekerja dan majikan mereka. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru. tetapi menimbun penyakit. Kita bisa membayangkan bagaimana seandainya dalam satu perusahaan. Prevalensi indikator stres kerja juga diperiksa untuk menjelaskan hubungan antara obesitas dan stress di tempat kerja .Tekanan darah tinggi (hipertensi) . Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seorang pekerja.2 Dampak Obesitas Pada Pekerja Berlebihnya berat badan atau obesitas bukan saja membuat penampilan menjadi tidak sedap dipandang. meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. obesitas dikaitkan dengan kehilangan 39 juta hari kerja. sedikit yang diketahui tentang obesitas di kalangan pekerja Kanada dan implikasi ekonomi. sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas. 2006) Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik.Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa) . cedera kerja dan absen. 239 juta Pembatasan aktivitas hari. diabetes mellitus. 2007). Ada banyak penyakit yang bisa ditimbulkan karenanya seperti stroke. sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Kegemukan atau obesitas sekarang lebih cenderung dianggap sebagai penyakit dan bukan merupakan gejala. Akhirnya. Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan.

Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur. Penelitian telah menunjukkan bahwa obesitas.M. 83 persen dari pekerja obesitas dalam penelitian.3 Obesitas Dan Kinerja Obesitas dan kinerja pekerjaan yang jelas berkorelasi dalam data. Temuan para peneliti menunjukkan pengusaha bisa menghemat uang dengan berinvestasi dalam program peningkatan kesehatan bagi karyawan mereka.Batu kandung empedu dan batu kandung kemih . 2011) Selain berbahaya bagi kesehatan tubuh. apakah Anda memiliki pekerjaan atau bisnis sehingga Anda tidak hadir ?‖.. Peneliti di Belanda mempelajari hal ini dengan menganalisa 10. Pekerja Obesitas cenderung mengaku sakit atau membutuhkan istirahat selama 10-24 hari lebih banyak dibanding pekerja dengan berat badan normal.NP.Gagal jantung . M. SpGK. 2009) Hilangnya produktivitas karena biaya obesitas sebanyak pengeluaran medis untuk kondisi tersebut. depresi. (Wahyuningsih. dilaporkan memiliki setidaknya satu penyakit kronis. mungkin memiliki dampak negatif terhadap pekerjaan lebih .2004. Karenanya. serta nyeri sendi dan otot. Selain masalah absensi. M. Separuh dari mereka bahkan membutuhkan lebih dari 25 hari.A.. pekerja obesitas dalam penelitian ini 66 persen lebih banyak izin karena mengalami sakit dan masalah kesehatan.(Wahyuningsih. karyawan obesitas lebih sering mempunyai masalah khususnya bidang kesehatan dibanding karyawan dengan berat badan normal. perusahaan juga bakal mengeluarkan biaya tambahan karena berkewajiban memberikan biaya kesehatan. diabetes. underventilasi dan ngantuk). Menurut studi terbaru. World Health Organization (WHO) merekomendasikan cara tepat untuk menurunkan berat badan dengan tiga cara yaitu menerapkan diet dan pola hidup sehat. misalnya kanker prostat dan kanker usus besar) . Samuel Oetoro. 2010) III. dibandingkan dengan pekerja dengan berat badan lebih (Overweight) yang hanya 75% dan pekerja normal yang hanya 69%.S. (Pronk. Bagaimanapun.2010) Hasil Penelitian di Belanda mengatakan bahwa berat badan tampaknya menjadi faktor utama yang menurunkan produktivitas seseorang. memperhitungkan biaya medis. perubahan perilaku. hari sakit dan kesehatan yang berhubungan dengan produktivitas dan biaya yang terkait dengan obesitas.. otomatis tingkat absensi meningkat sehingga poduktivitas menurun. Para pekerja pria muda obesitas (18 sampai 34 tahun) kemungkinan untuk absen bekerja hampir empat kali lebih tinggi daripada mereka dengan berat badan normal. perlu dicari cara untuk mengatasi masalah ini. Para CCHS (Community Canadian Health Service) bertanya: ―Minggu lalu. dibandingkan dengan rekan kerja yang memiliki berat badan normal. termasuk penyakit jantung.Osteoartritis . obesitas atau kegemukan juga membuat orang lebih sulit untuk melakukan pekerjaan. Mereka yang tergolong obesitas ternyata 83% nya memiliki minimal sebuah penyakit.) Menurut Dr. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine. Sementara di tempat kerja – hanya akuntansi untuk hari sakit tambahan yang mereka ambil melewatkan bagian besar dari gambaran sebenarnya.Stroke .1 milyar per tahun. Goetzel et al. kata para peneliti. mereka absen dari bekerja dan mereka menunjukkan sendiri penyakit atau cedera sebagai alasan utama untuk tidak dianggap absen karena masalah kesehatan. Karena kesehatannya bermasalah. setelah faktor sosial ekonomi dan kesehatan yang berhubungan dikendalikan. (Lubis. yaitu rata-rata selama 10 hingga 24 hari kerja.Gout dan artritis gout . Dari hasil studi tersebut. Saat sedang bekerja pun pekerja obesitas 30 persen kurang poduktif ketimbang pekerja dengan berat badan normal. Hasilnya. dan pengobatan.. Untuk penelitian ini. Hal ini membuatnya menjadi kurang produktif. menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah) . olahraga. 2010.Serangan jantung (infark miokardium) . terutama bagi perempuan. seperti administrasi. Rodbark et al.Kanker (jenis kanker tertentu. efek obesitas di mana tidak ada penyakit yang tidak ditemukan di antara pria dan wanita yang lebih tua. 2005. berasal dari kenyataan bahwa orang gemuk cenderung kurang produktif dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal. HaI ini mungkin karena banyak orang gemuk yang lebih tua sudah keluar dari pasar tenaga kerja dan hanya mereka yang lebih sehat cenderung untuk terus bekerja. menurut sebuah studi baru yang pasak biaya obesitas di kalangan pekerja penuh waktu di Amerika Serikat pada $ 73. industri manufaktur dan konstruksi.674 pekerja di 49 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang.( Arterburn et al. Biaya tersembunyi obesitas.Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan. pekerja yang gemuk akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk sakit ketimbang rekan-rekannya yang lebih ramping.

Lightwood et al. dibandingkan dengan berat badan normal rekan-rekan mereka. (Gates. pria obesitas usia 55-64 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengurangi aktivitas bekerja mereka karena masalah kesehatan jangka panjang. Hal ini mengacu pada jumlah hari setiap melewati dua minggu di mana orang tersebut tinggal di tempat tidur setengah atau sepanjang hari (termasuk menginap di rumah sakit). 2009. Dibandingkan dengan perempuan berat badan normal.2009) III. Ricci dan Chee (2005) menjelaskan bahwa produktivitas ini berkurang karena perbedaan status kesehatan antara obesitas dan pekerja berat badan normal. Produktivitas di kantor sering diukur sendiri -melaporkan keterbatasan di tempat kerja atau keterbatasan dalam jumlah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. Tiga makalah memperkirakan nilai produktivitas berkurang. namun tidak sepenuhnya berfungsi. Ini didefinisikan sebagai. (Gates dkk.(Park. Namun. Hubungan antara cedera dan obesitas berhubungan dengan kelelahan. analisis menunjukkan bahwa obesitas memiliki efek yang gigih pada kinerja pekerjaan setelah merasa sehat. Seperti halnya kegiatan. 2005. Ricci dan Chee. 2008) Memang. keterbatasan fisik dan ergonomi (Pollack et al. kelebihan berat badan dapat mengurangi aktivitas kerja karena peningkatan kemungkinan cedera. Selain itu. kemungkinan kurang digunakan oleh karena kurangnya kenyamanan. (2005) adalah studi yang memperkirakan hanya biaya obesitas yang terkait secara langsung dengan ketidakhadiran. Biaya tidak langsung dari obesitas termasuk absensi pekerja. Yang lain menganggap biaya tidak langsung tetapi fokus ketat pada ketidakhadiran dan cuti.J. ‖ kerugian produktivitas yang terjadi ketika pekerja tetap bekerja. dan obesitas bertambah lima hari kerja per tahun. sebagian besar analis hanya melihat pada biaya medis langsung. Perkiraan lain untuk populasi tertentu menunjukkan ada beberapa variasi antara biaya. biaya tambahan yang terkait dengan penurunan produktivitas adalah $ 358 per pekerja obesitas. 2005).. atau upaya ekstra yang dibutuhkan dalam kegiatan sehari-hari karena sakit atau cedera.2008) Ketika mengukur biaya kehilangan produktivitas. 2005.. kesesuaian atau ketersediaan untuk pekerja obesitas.DM. wanita obesitas usia 35 sampai 64 tahun lebih cenderung kurang produktif dibandingkan dengan berat badan normal karena problem kesehatan jangka panjang. 2007. Semua studi menyimpulkan bahwa karyawan obesitas lebih mungkin absen bekerja sebagai akibat dari penyakit atau cedera dibanding karyawan dengan berat badan normal. Hanya satu studi mengenai produktivitas menggunakan dataset nasional representatif (Ricci dan Chee. 2005) III. Finkelstein et al. biaya $ 506 per pekerja obesitas per tahun. Akhirnya. perempuan cukup gemuk. Finkelstein et al.5 Pengaruh Obesitas Terhadap Produktivitas Kerja Pekerja adalah aset utama perusahaan. Penggunaan obat oleh para pekerja obes karena kondisi kronis mereka juga dapat meningkatkan risiko cedera. kantuk. Menggunakan data . 1996). Menggunakan data nasional yang representatif. kelebihan berat badan. (Chenoweth. Wolf dan Colditz. Ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa perempuan obesitas secara signifikan lebih mungkin terluka pada saat bekerja daripada berat badan di kisaran normal (Wilkins dan Mackenzie 2007). dan pekerja yang lebih rendah produktivitas.4 Obesitas Dan Absensi Lima studi tentang ketidakhadiran. mengurangi kegiatan normal. Dibandingkan pria dengan berat normal. mengurangi produktivitas pada pekerjaan) daripada ketidakhadiran. menggunakan dataset perwakilan nasional (Cawley.sering melalui presenteeism (yaitu. sangat gemuk. Perempuan Obesitas usia 35 sampai 64 secara bermakna lebih mungkin untuk mengambil hari cuti dibandingkan rekan mereka dengan berat badan normal. Para penulis menemukan bahwa orang obesitas cenderung untuk menjadi kurang produktif di tempat kerja daripada orang dengan berat badan normal. Ricci dan Chee (2005) memperkirakan bahwa setiap tahun. adalah mungkin peralatan pelindung pribadi. Baru ―presenteeism‖ telah ditambahkan ke persamaan produktivitas. yang diperkirakan biaya $ 43 milyar per tahun. didefinisikan sebagai jumlah hari kerja per tahun tidak hadir karena sakit atau cedera. Faktor nonkesehatan lebih lanjut dapat mencegah para pekerja obesitas untuk produktif. seperti sarung tangan dan kacamata . 2007). Obesitas jelas terkait dengan ketidakmampuan seseorang untuk bekerja karena gangguan kesehatan. Pada pekerja wanita yang obes usia 35-54 tahun secara bermakna telah dilaporkan lebih mungkin cedera bekerja selama satu tahun terakhir dibandingkan mereka dengan berat badan dalam range normal. Mirip dengan temuan berkurangnya aktivitas kerja pada wanita obesitas terkait dengan probabilitas mereka mengambil hari cuti. pria obesitas membutuhkan tambahan dua hari kerja per tahun. Tinggi rendahnya output yang dihasilkan baik berupa barang ataupun jasa semuanya tergantung dari produktivitas pekerjanya apakah produktivitasnya tinggi ataukah produktivitasnya rendah sedangkan baik buruknya produk yang dihasilkan tergantung dari pada kualitas pekerja di suatu perusahaan tersebut sehingga untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi dan produk yang berkualitas maka kesehatan pekerja sangat penting untuk diperhatikan.

sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. (2010) perkiraan biaya per pekerja obesitas menjadi $ 54.1 Kesimpulan Obesitas adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. Perusahaan juga akan mengalami kerugian besar karena mereka akan kehilangan seorang tenaga produktif. 2008) III. kehilangan penghasilan sampai kemungkinan ketidakmampuan untuk bekerja kembali merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Masukan makanan. dan keturunan merupakan tiga faktor yang dianggap mengatur perlemakan tubuh dalam proses terjadinya kegemukan. sedangkan keturunan sebagai penyebab tidak langsung. dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan manufaktur. Untuk kondisi yang lebih berat. sangatlah mudah bagi kita untuk menduga besarnya dampak yang timbul bila gangguan seperti penyakit jantung koroner ataupun stroke tersebut dialami oleh pekerja.rencana kesehatan anggota. Mulai dari biaya pengobatan. dan bahkan akibatnya akan lebih jauh berdampak kepada dirinya sendiri maupun perusahaan tempatnya bekerja. juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Pelayanan Kesehatan Penyediaan pelayanan kesehatan beserta dengan tenaga kesehatannya akan sangat membantu dalam menurunkan angka obesitas dalam perusahaan. sementara Gates dkk. .DM et al. Dua faktor pertama. sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas. dianggap sebagai penyebab langsung. Karena konsultasi tentang masalah obesitas bagi pekerja sangat diperlukan. Obesitas merupakan masalah penting karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu. keluaran energi. Karena dengan mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Sehingga program ini sangat sesuai jika banyak pekerja yang mengalami stress akibat pekerjaannya. Berbagai literatur telah menjelaskan dengan gamblang bahwa obesitas berhubungan erat dengan produktivitas kerja di mana pekerja dengan obesitas cenderung memiliki angka absensi yang lebih tinggi dan produktivitas kerja yang lebih rendah. Oleh karena itu. b. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru. Kalangan pekerja. perlu pemantauan secara berkesinambungan. tidaklah kebal terhadap berbagai gangguan kesehatan. (Gates. Peningkatan kualitas pangan oleh perusahaan Meningkatkan kualitas pangan yang mengacu pada syarat-syarat makanan sehat rendah kolesterol yang akan mencegah obesitaas pada pekerja c. 6 Pengendalian Obesitas Pada Pekerja Obesitas pada pekerja juga berdampak buruk bagi perusahaan sehingga perlu adanya beberapa program pengendalian yang bisa dilakukan : a. Penyediaan fasilitas olah raga di perusahaan Disediakannya fasilitas olah raga diperusahaan merupakan salah satu pendukung untuk menurunkan angka obesiatas pada pekerja diperusahaan. sama halnya dengan masyarakat umum. (2008) memperkirakan biaya akan menjadi $ 575. tanpa perlu kita hitung secara matematis. Penimbunan lemak tersebut terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dikonsumsi dengan yang digunakan. Obesitas bukan merupakan penyakit tapi dapat berdampak buruk bagi kesehatan para pekerja. sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Program traveling Pada perusahaan dengan aktivitas yang tinggi dengan intensitas pekerjaan yang tinggi pula sangat berpotensi menimbulkan stress pada pekerja dan dapat menimbulkan obesitas. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV. d. meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Goetzel et al. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu). yaitu masukan makanan dan keluaran energi.

Arisman. Jakarta: EGC. Dorland. DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. Gramedia Pustaka Utama. D et. International Journal of Obesity. Helmyati.et al.M. S52-8 Hidajat. Buku Ajar Ilmu Gizi. Depkes RI. Impact of Morbid Obesity on Medical Expenditures in Adults. (2005). Diakses Tanggal 31 Desember 2011.ac. Health Communication. V. 2007.SN. & Tsevat. R. 303(3).A.IV. Profil Kesehatan Indonesia 2001. 1317-1324. (Online). and Caterson I. ―Obesity and Presenteeism: The Impact of Body Mass Index on Workplace Productivity‖ Journal of Occupational Environmental Medicine 50 (1) (2008): 39-45. WF. Status Gizi Dan Motivasi Serta Hubungannya Dengan Produktivitas Pekerja Perempuan Pada Bagian Pencetakan Di Pabrik Bakpia Pathuk 25 Yogyakarta. M.al . Prinsip Dasar Ilmu Gizi.. Hal ini terutama penting bagi yang paling rentan dalam masyarakat – masyarakat miskin yang memiliki pilihan terbatas tentang makanan yang mereka makan dan lingkungan di mana mereka tinggal. Asupan Zat Gizi. 2011. 2004. Hidayati.2 Saran 1. Arena. Budiningsari. Gizi Dalam Daur Kehidupan. OBESITAS. 2011. 1118-1124. dan peningkatan kualitas pangan oleh perusahaan akan memberikan manfaat sosial dalam peningkatan kesehatan pribadi pekerja. et al. Pada tingkat yang lebih luas pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Occupation Specific Absenteeism Costs Associated With Obesity And Morbid Obesity. disarankan untuk memiliki aktivitas fisik yang cukup seperti berjalan. 2010. 2010. W. Cawley. Program traveling oleh perusahaan untuk mencegah stres pada pekerja. Ganong. 29. Anonim. Hal. Jakarta: EGC. J. 1988. Modifikasi gaya hidup merupakan pilar utama dalam penatalaksanaan obesitas melalui peningkatan kebiasaan olahraga.MB.. J. et al. Kusriyana. Journal of Occupational and Environmental Medicine. Promosi di tempat kerja untuk mencegah obesitas. Untuk mengurangi risiko obesitas.R.B. 2009. perubahan pola dan kebiasaan konsumsi makanan sehat. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ganong. Flegal. lari. Terkait dengan hal ini Departemen Kesehatan perlu juga untuk mengembangkan pedoman aktivitas fisik yang cukup. 2003. Tentu saja hal ini juga harus diikuti oleh pengontrolan kesehatan secara berkala kepada tenaga kesehatan. Jakarta. Untuk itu perlu penyediaan sarana pelayanan kesehatan oleh perusahaan. M. dan bersepeda. Inoue. D California Departmentof Health Services Public Health Institute April 2005 Crawford. 334-339. 2004.D. Prevalence And Trends In Obesity Among US Adults. Gates. 78. C. (Online) Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Arterburn.R. Menekan Karyawan Obes di perusahaan . 2004 Psikologi Perkembangan Remaja.depkes. Jakarta: EGC. Journal of Occupational and Environmental Medicine / American College of Occupational and Environmental Medicine. K. Jakarta. 1999-2008. Chenoweth. Zimmet P.unpad. Z. A Multi-Worksite Analysis Of The Relationships Among Body Mass Index. (Online) http://www. 2. intensitas sedang – lebih banyak aktivitas mungkin diperlukan untuk mengendalikan berat badan. Avalaible from: URL: http//:www. menghentikan kebiasaan buruk mengkonsumsi alkohol. 49(12). Goetzel. Jakarta: Ghalia Indonesia. dengan komitmen berkelanjutan. And Worker Productivity. 5. 52 Suppl 1. Journal of Occupational and Environmental Medicine.2005. termasuk program pemeliharaan berat badan dengan menyediakan fasilitas olah raga di perusahaan. Para ahli merekomendasikan setidaknya 30 menit aktivitas teratur. Jurnal Gizi Klinik .2. Kunci kesuksesan adalah untuk mencapai keseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori digunakan. 2007. Irawan. Dariyo. Edisi 22.id. Australia. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. The impact of body mass index on short-term disability in the workplace. dapat memainkan peran penting dalam membentuk lingkungan yang sehat dan membuat pilihan diet sehat terjangkau dan mudah diakses. Maciejewski.pediatrik. PT.com.JS. S. 2002. Journal of American Medical Association. 2006. The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and its treatment. Anonim. S. Ed.RD. Obesity Prevention and Public Health.go. 48. Garrow. London: Churchill Livingstone. Kesehatan bagi Pekerja Perempuan. Medical Utilization. http://blogs. 2000.235-241. jogging. et al. New York: Oxford University press.id. 4. D. 3. Health Implications of Obesity and Related Desease.

2011.detikhealth. Jurnal Ilmiah. Review On Epidemic Of Obesity. (Online). Besral. Rissanen. 12:16221632. . pp. 2007. (online). Tubuh Gemuk dan Rokok Bikin Orang Kurang Produktif. Diakses 1 Januari 2012. http://didiksumbodo. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. 2004. 2011. www.co. and Grandy. WHO. What is Obesity? (Online). No. Park. (Online) http://persagi.co.M Overweight and obesity and weight change in middle aged men: impact on cardiovascular dsease and diabetes. Geneva. 1.M. 706711. SG. Ann Acad Med Singapore. http://prodiaohi. 1996.U. M. Prodia Occupational Health Institute. 10 Ciri Pekerjaan Akan Membunuh Anda. Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic. Et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. 2000. Obesity On The Job. Cardiorespiratory Fitness. A. S (2009) Impact of Obesity on Work Productivity and Role Disability in Individuals With and at Risk for Diabetes Mellitus. K. Jan. NP. American Journal of Health Promotion: May/June 2009. Pronk. Obesity Research. Edisi ketiga. and Obesity. 5. Lubis. 23.news-medical.com. Hal. 45:419-430. Sukaton. 59: 134-139. 2012. et. http://www. 2011.statcan. Vol. (Online) http://waspada.al. Wannamethee. Juli 2010: 41-47 Low S.AG.38(1):57-9. 2009. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Eur J Clin Nutr. No. Sudikno. Zhang. Shaper. Daya Saing dan Produktivitas Indonesia dan Negara-negara ASEAN. J Epidemial Communit Health. The Association Between Work Performance and Physical Activity.net. 2010. Jurnal of Occupational & Environmental Medicine: January 2004 – Volume 46 – Issue 1 – pp 19-25. 1991 Determinants Of Weight Gain And Overweight In Adult Finns.ca.org. Wahyuningsih. detikHealth (Online) http://www. 2009.id. 2005. AM... Obesitas. 2004. Chin MC. Fox.blogspot. Sumbodo DP. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Obesitas Pada Orang Dewasa di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2007). 7. Deurenberg-Yap M.HW. Herdayanti. Trends In The Association Betwen Obesity Sosioeconomic Status In US Adults. Statistics Canada — Catalogue no.gc. Walker. Rodbard.Indonesia Vol.J.id. Diakses Tanggal 31 Desember 2011. News Medical.com. 353-360. Diakses Tanggal 1 Januari 2012. 75-001-X (Online). Diakses Tanggal 31 Desember 2011.

maupun penyakit degeneratif seperti Penyakit Jantung Koroner. Menjalani pola hidup vegetarian yang baik menjadi semakin penting untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal. dan Osteoporosis. Diabetes Melitus. Alasan kesehatan merupakan alasan utama bagi sebagian besar orang memilih vegetarian sebagai gaya hidup. Dan dari berbagai faktor penyebab penyakit yang umum ternyata faktor makanan menduduki tempat yang terpenting.Colin Campbell dari Cornell University dengan penelitian di China (China Project). Pola makan vegetarian juga dapat mencegah obesitas karena secara tidak lansung penganutnya sudah berdiet dengan cara alami. Dan disadari bahwa semakin sedikit kita mengkonsumsi diet hewani maka kita akan semakin sehat dan demikian juga sebaliknya. Hipertensi. Berbagai organisasi di dunia saat ini sudah mulai menyarankan pola hidup yang lebih ditekankan pada nabati. WHO dll. Sebut saja ADA (American Dietetic Association). Dengan menjadi seorang vegetarian. Sebenarnya semua penyakit degeneratif bisa dicegah bahkan hingga usia lanjut dengan menjalani pola hidup sehat dan menu vegetarian. Diet vegetarian selain dapat mencegah juga sekaligus bisa mengobati berbagai penyakit degeneratif tersebut.Hubungan Vegetarian dan Kesehatan KESEHATANVEGAN ♦ 16 SEPTEMBER 2009 ♦ 1 KOMENTAR Rate This Vegetarian dan kesehatan menjadi isu penting saat ini. Berbagai kalangan medis dan ahli gizi sudah setuju dengan konsep pola hidup vegetarian. ACS (American Cancer Society). Hal ini telah dibuktikan oleh Prof. berarti anda sudah mengurangi resiko terkena penyakit ringan sepertisembelit dan wasir. Hiperkolesterolemia. About these ads . Kanker.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->