P. 1
Makalah Nahdlatul Ulama

Makalah Nahdlatul Ulama

|Views: 1,475|Likes:
Published by Riswan Hanafi

More info:

Published by: Riswan Hanafi on Mar 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. Paham keagamaan
  • B. Basis pendukung
  • C. Misi dan Strategi Dakwah

1

NAHDLATUL ULAMA (NU)

TOKOH GAGASAN DAN GERAKAN

PENDAHULUAN

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan
yang eksistensinya memainkan peran penting bagi kehidupan bangsa. NU sebagai
salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ikut bertanggung jawab untuk
memberikan kontribusi dalam membangun cita-cita bangsa. Hal tidak ini tidak

lain karena kontribusi NU tidak hanya dialamatkan kepada jama‟ah NU, tetapi

lebih besar dari itu bagaimana NU bisa berkontribusi kepada bangsa.

Sesuai khittah An-Nahdliyyah 1926, NU bertujuan : ikut membangun,
mengembangkan insan dan masyarakat Indonesia yang bertaqwa kepada Allah
SWT, cerdas, terampil, adil, berakhlak mulia, tenteram dan sejahtera.1

Disamping

itu, NU juga telah merumuskan konsep mabadi‟ khoiro ummat (prinsip dasar umat
terbaik) yang didasarkan pada orientasi moral untuk perubahan sosial ekonomi
masyarakat. Pengukuhan moralitas sebagai landasan dalam kehidupan sosial dan
ekonomi masyarakat bertumpu pada ash-shidq (kejujuran) dan al-amanah
(tanggung jawab) sehingga tata laku masyarakat dilandasai oleh moralitas yang
agung, bukan nafsu serakah menumpuk kekayaan dan kepentingan ego pribadi.2

NU juga merumuskan dasar-dasar keagamaan yang menumbuhkan sikap
kemasyarakatan yang bercirikan :

Sikap tawasuth dan i‟tidal. Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang
menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus ditengah kehidupan bersama.

1

Kiprah PB NU 2000-2001 Analisa dan Evaluasi Pemberitaan tentang KH. Hasyim

Muzadi

2

Khamami Zada, A. Fawaid Sjadzili : Editor, Nahdlatul Ulama, Dinamika Ideologi Dan
Politik Kenegaraa
n,
(Jakarta : Gramedia, 2010), h.x

2

Sikap tasamuh. Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan, baik dalam masalah
keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu‟ atau menjadi masalah khilafiyah,
serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

Sikap tawazun. Sikap seimbang dalam berkhidmat. Menyerasikan khidmat kepada
Allah, khidmat kepada sesama manusia, serta pada lingkungan hidupnya.
Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Sikap amar ma‟ruf nahi munkar. Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong
perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama serta
menolak dan mencegah semua hal yang dapt menjerumuskan , merendahkan nilai-
nilai kehidupan.3

Dengan rumusan dasar ini, NU telah berhasil melahirkan generasi bangsa yang
mengedepankan hidup dalam suasana yang toleran dan moderat, bukan dengan
kekerasan.

Dalam kaitan dengan suasana hidup yang toleran dan moderat ini, fondasi besar
sudah diletakkan oleh NU ketika memelopori penerimaan Pancasila sebagai asas
bernegara dan bermasyarakat yang mesti diterima oleh umat Islam. Konsepsi ini
diperkuat dengan kesetiaan NU terhadap ide-ide kebangsaan yang menjadi titik
tolak dalam mendesain negara Indonesia. Tak berlebihan jika NU terus menerus
melestarikan negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara yang
paling ideal bagi bangsa Indonesia.4

Lebih jauh, bagaimana dinamika NU dalam mengiringi perjalanan sejarah bangsa
dan siapa saja tokoh-tokoh NU yang berpengaruh, bagaimana gagasan dan
gerakannya dapat kita lihat dalam paparan berikut ini.

DINAMIKA NU

Sejarah Lahirnya NU

3

Nur Khalik Ridwan,NU &Bangsa 1914-2010 Pergulatan Politik & Kekuasaan,
(Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2010), h. 463

4

Khamami Zada, A. Fawaid Sjadzili : Editor, Op.cit., h.xi

3

Sejarah formal NU dimulai sejak ia didirikan 31 Januari 1926 di Surabaya oleh

KH Hasyim Asy‟ari bersama beberapa ulama sepaham seperti KH Wahab

Hasbullah serta beberapa ulama pesantren lain. Namun berdirinya jam‟iyah ini
sesungguhnya hanyalah pelembagaan tradisi keagamaan yang telah lama
mengakar.5

Jauh sebelum lahir sebagai organisasi, NU telah ada dalam bentuk komunitas
(jamaah) yang diikat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter
Ahlussunnah wal jamaah. Wujudnya sebagai organisasi tak lain adalah

“penegasan formal dari mekanisme informal para ulama sepaham.” Arti penting

dibentuknya organisasi ini tidak lepas dari konteks waktu itu, terutama berkaitan
dengan upaya menjaga eksistensi jamaah tradisional berhadapan dengan arus
paham pembaharuan Islam.

Masuknya paham pembaharuan ke Indonesia diawali oleh semakin banyaknya
umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, sejak
dibukanya Terusan Suez (1869). Bersamaan dengan itu, di Timur Tengah sedang
merebak ajaran pembaharuan dan purifikasi ajaran Islam, seperti gerakan
pembaharuan Muhammad Abdul Wahab yang kemudian dikenal sebagai
Wahabiyah, maupun pemikiran Pan Islamisme Jamaluddin Al-Afghani yang
dilanjutkan Muhammad Abduh. Tak pelak, kontak pemikiran intensif antara para
jamaah haji Indonesia dengan paham pembaharuan ini berlangsung. Ketika
kembali ke tanah air, para haji membawa pemikiran itu untuk memurnikan ajaran
Islam dari unsur-unsur yang dianggap berasal dari tradisi di luar Islam.

Tak semua kalangan menerima paham pembaharuan itu secara bulat-bulat.
Sekelompok ulama pesantren, menilai bahwa penegakan ajaran Islam secara
murni tidak selalu berimplikasi perombakan total terhadap tradisi lokal. Tradisi ini
bisa saja diselaraskan dengan ajaran Islam secara luwes. Kalangan yang dikenal
sebagai kelompok ulama tradisional ini mengamati upaya purifikasi ajaran Islam
itu dengan cemas. Sebab tak mustahil jika hal itu dilakukan secara frontal dan
radikal akan mengguncang masyarakat. Perkembangan inilah yang dinilai sebagai
ancaman terhadap kelestarian paham Ahlussunnah wal Jamaah yang mereka anut.

5

Kacung Marijan, Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926, (Jakarta : Erlangga,

1992), h.1

4

Karena itu, mereka berupaya membuat pengimbang bagi arus gerakan
pembaharuan itu, dan dalam alur inilah, antara lain, NU terbentuk.

Arti penting lain pembentukan NU adalah berkaitan dengan upaya pemupukan
semangat nasionalisme di tengah iklim kolonialisme saat itu. Sulit dibantah bahwa
perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Beslanda tidak hanya membawa wacana
politik tapi juga keagamaan. Dalam wacana keagamaan itulah peran
kepemimpinan ulama menjadi penting (sebut saja Perang Diponegoro 1825-1830,
Perang Paderi 1321-1837, perlawanan rakyat Aceh 1872-1912). Ketika pada abad
XX nada perlawanan terhadap penjajah bergeser dari perjuangan bersenjata
menjadi pergerakan nasional, para ulama tidak mau ketinggalan. Sepuluh tahun
sebelum berdirinya NU, KH Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan
(kebangkitan tanah air) yang berusaha menumbuhkan rasa nasionalisme melalui
pendidikan. Organisasi ini adalah langkah kongkret dari forum diskusi Taswirul
Afkar (konsepsi pemikiran) yang sebenarnya merupakan antisipasi Wahab
Hasbullah menghadapi ekses gerakan pembaharuan yang menjadi ancaman bagi
eksistensi tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam perkembangannya, Nahdlatul
Wathanlah sebenarnya dapur pemikiran lahirnya NU.6

Perluasan NU di Zaman Awal (1926-1937)

NU dimasa-masa awal, dicerminkan dari kongres-kongres yang diadakan
diberbagai daerah, dimaksudkan untuk menghimpun sebanyak-banyaknya ulama
dan dukungan umat Islamuntuk bergabung dengan NU. Pada tahun 1930, Cabang
pertama yang didirikan di luar Jawa adalah di Pulau Kalimantan.

Pada masa-masa awal , kongres NU terlaksana merupakan hal yang luar biasa,
karena dimana-mana terjadi perang dan penjajahan. Berbagai pemberontakan
daerah dilakukan untuk mengusir penjajah, juga mengakibatkan banyak
keterlibatan kyai dalam pemberontakan-pemberontakan itu. Keputusan-keputusan
kongres disamping soal agama, juga menyangkut soal masyarakat.

Meningkatknya Kesadaran Politik: 1934-1952

6

A. Gaffar Karim, Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar bekerjasama dengan LkiS, 1995), h.48

5

Selama beberapa waktu, orientasi politik dalam diri NU masih bersifat laten,
dalam pengertian bahwa NU tidak terlibat dalam gerakan politik praktis. Lahan
politik menjadi garapan kalangan nasionalis dan kalangan Islam modernis yang
berada di SI.7

Langkah konkret dari tumbuhnya orientasi politik itu adalah bergabungnya NU ke

dalam Majlisul Islam A‟la Indonesia (MIAI) pada 1939. MIAI dibentuk pada

1937 atas dasar keinginan untuk memperkuat tali persatuan umat Islam Indonesia.
Sekalipun dua dari empat tokoh pendiri MIAI berasal dari NU, namun mereka
hadir atas nama pribadi. Baru dua tahun kemudian NU turut bergabung di
dalamnya.

Dalam perkembangannya, MIAI menyentuh wilayah perjuangan politik,
meskipun awalnya dimaksudkan untuk federasi kerjasama di luar bidang politik.
Salah satunya ditunjukkan ketika MIAI menyetujui rencana GAPI (Gabungan
Politik Indonesia) agar Indonesia berparlemen.

Pola interaksi yang dialami dalam MIAI membawa pengaruh besar terhadap NU.
Muktamar NU XV (1940) di Surabaya menjadi ajang penegasan tuntutan-tuntutan
yang dilontarkan MIAI, termasuk tuntutan Indonesia berparlemen. Hal-hal lain
yang juga dituntut oleh NU antara lain adalah dilakukannya perbaikan-perbaikan
seperti diberikannya pertolongan terhadap jemaah haji Indonesia yang
terperangkap di Mekkah akibat perang Belanda-Jerman, mencabut Guru
Ordonantie 1925 yang dianggap merugikan umat Islam, termasuk hal yang
menyangkut siapa yang menjadi kepala negara di negara Indonesia merdeka nanti.
Dalam sebuah rapat tertutup yang dihadiri oleh 17 orang tokoh NU, dihasilkan
keputusan dua orang calon presiden: Sukarno dan Mohammad Hatta, dengan 10
suara untuk Sukarno dan satu suara untuk Hatta.16 Tak satupun tuntutan-tuntutan
yang diajukan itu terpenuhi.8

7

Ibid., h.51

8

Ibid., h.53

6

Ketika pendudukan Jepang dua tahun kemudian membuat persoalan-persoalan itu
tidak relevan lagi. Regim kolonial baru ini segera tampak jauh lebih represif
daripada regim sebelumnya: semua organisasi politik dibekukan, dan setiap
kegiatan politik dilarang sama sekali. Umat Islam yang semula menaruh harapan

pada “saudara tua” yang membebaskan mereka dari kekuasaan “kafir” Belanda itu

segera menemukan kekecewaan yang dalam. Lebih lagi karena ternyata bagi
Jepang, sebagaimana Belanda, terpisahnya Islam dari politik adalah salah satu
bagian dari rencana umumnya, dan karena itu mereka tetap mengawasi secara
ketat organisasi-organisasi Islam, terutama terhadap pendidikan Islam.

Tindakan selanjutnya adalah mengupayakan terbentuknya sebuah organisasi
federasi Islam yang antara lain ditujukan untuk menggantikan MIAI yang
berkesan anti-kolonial. Maka dibentuklah Majelis Syuro Muslimin Indonesia
(Masyumi) pada tahun 1943 di mana NU, sebagaimana dalam MIAI,
tersubordinasi di dalamnya. Pada masa ini NU sebenarnya memperoleh beberapa
konsesi. Seperti Yang tampak dalam pengangkatan Rais Akbar NU, Hadratus

Syeikh, KH Hasyim Asy‟ari, sebagai Kepala Shumubu (menyusul Husein

Djajadiningat yang menggantikan Horrie) serta sebagai Ketua Umum pengurus
Masyumi yang pertama, sehingga NU dimungkinkan untuk memainkan peran
yang cukup berarti. Keuntungan ini kalau boleh disebut demikian– dimungkinkan
setidaknya oleh dua hal. Pertama sikap NU kepada Jepang cenderung lunak.
Berbeda dengan sikapnya terhadap Belanda, maka terhadap Jepang NU bersikap
lebih kooperatif NU bersedia duduk dalam Chou Sangiin, sementara untuk badan
serupa di Jaman Helanda, Volksraad sama sekali menolak.

Berkaitan dengan politik jepang untuk menggalang semua kekuatan anti Belanda
ke pihaknya, sehingga mereka perlu memperlakukan dengan baik, serta
memenuhi keinginan secara baik pula terhadap umat Islam khususnya yang
berbasis di pedesaan. NU mau tak mau adalah kuncinya. Suatu manfaat lain yang
bisa diperoleh NU dengan siasat sikap lunaknya kepada Jepang adalah berupa
pelatihan ketrampilan militer bagi para santri dan kyai di pesantren, yang
kemudian melahirkan milisi-milisi revolusioner Hizbullah dan Sabilillah. Kedua
milisi ini, pada awal kemerdekaan turut menjadi kompartemen TNI. Kalangan NU
pada umumnya memandang bahwa saham mereka dalam pejuangan fisik
mempertahankan kemerdekaan disumbangkan melalui kedua milisi itu. Sementara
di panggung perjuangan politik, peran NU tersalur melalui Masyumi, yang
dibentuk beberapa bulan setelah proklamasi. Yang disebut terakhir ini adalah
sebuah partai politik resmi yang berbeda dan terlepas sama sekali dari organisasi

7

dengan nama yang sama di jaman Jepang, kecuali dalam hal tujuan moralnya.
Partai Masyumi terbentuk sebagai buah dari keputusan Muktamar Islam Indonesia
di Yogyakarta (7-8 Nopember 1945), yang juga memutuskan bahwa Masyumi
adalah satu-satunya partai politik bagi umat islam di Indonesia. NU bersama
Muhammadiyah, perserikatan umat Islam dan Persatuan umat Islam, adalah
organisasi-organisasi pertama memasuki Masyumi.9

Aktualisasi Peran Politik : 1952-1984

Struktur pimpinan pusat Masyumi terdiri dari pimpinan partai (yang
melaksanakan tugas eksekutif sehari-hari) dan Majelis Syuro (semacam dewan
pertimbangan dan pemberi fatwa). Pimpinan Partai dalam garis besar tindakan
partai). Secara tradisional posisi penting dalam majelis Syuro dipegang oleh tokoh
ulama NU. Sementara pimpinan partai, yang sangat dominan, diisi oleh kalangan
pembaharu yang biasanya para intelektual. Sebenarnya struktur kepemimpinan
semacam ini lebih banyak menimbulkan persoalan dari pada menguntungkan,
Suasana hubungan antara keduanya sangat kondusif bagi munculnya konflik, di
mana akhinya Majelis Syuro terus-menerus digiring ke arah peran yang semakin
tidak berarti menjadi “dewan penasehat” yang seringkali tidak begitu diindahkan
Di sinilah bersumber kekecewaan NU terhadap Masyumi.

Sumber lain adalah berkaitan dengan jabatan Menteri Agama dalam Kabinet
Wilopo. Dalam klaim NU, kursi Menteri Agama adalah bagian mereka. Sebab di
samping sudah demikian adanya sejak awal kemerdekaan, NU menilai dirinya
sebagai cermin dari mayoritas umat Islam Indonesia. Namun karena
pertimbangan-pertimbangan lain, Masyumi mengajukan nama Fakih Usman
(Muhammadiyah) kepada formatur kabinet untuk jabatan itu.

Sebab-sebab itulah yang umumnya dipandang sebagai faktor pendorong keluarya
NU dari Masyumi. Tapi Zamakhsyari Dhofier melihat suatu penyebab lain yang
lebih menentukan, yaitu dinamika internal NU sendiri. KH Wahid Hasyim, Ketua
Umum PB NU waktu itu, memandang bahwa organisasi yang dipimpinnya telah
semakin condong ke dalam percaturan politik. Tokoh-tokoh NU muda seperti
Idham Chalid, Saifuddin Zuhri, Syaichu dan lain-lainnya semakin memerlukan

9

Ibid., h.55

8

ruang gerak yang cukup luas dalam arena politik. Dan hal itu akan dapat terbuka
dengan lebih leluasa setelah NU dapat berdiri sebagai partai politik.

Perubahan NU menjadi parpol membawa umat Islam Indonesia kedalam dikotomi
kepemimpinan politik : kepemimpinan politik kaum modernis di Masyumi, dan
kepemimpinan politik kyai (ulama) tradisional di NU. Lebih jauh lagi, hal itu
juga membawa perubahan dalam perimbangan kekuatan politik Indonesia saat itu.
Hasil-hasil Pemilu 1955 menggambarkan dengan jelas tentang perimbangan
kekuatan baru itu. Di sini, NU dengan perolehan suara sebesar 6.955.141 (18,4 %
dari keseluruhan suara yang masuk) dan 45 kursi di parlemen, menempatkan diri
pada posisi ketiga setelah PNI dan Masyumi, dan setingkat di atas PKI.

Mengingat NU adalah partai yang relatif baru, sehingga persiapan untuk
menghadapi pemilu boleh dikatakan kurang jika dibandingkan dengan partai-
partai lain, maka perolehan suara NU yang menempatkannya pada posisi ketiga di
atas sungguh di luar dugaan.

Berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan

Ketika stabilitas politik diterima sebagai prasyarat pembangunan ekonomi, maka
regim Orde Baru sangat intens menciptakan semua pra kondisi yang diperlukan
untuk pemantapan stabilitas itu, serta mengeliminasi, setidaknya meminimalkan
semua kemungkinan ke arah sebaliknya. Salah satu bentuk upaya ini adalah
tindakan restruktunsasi partai politik –kiat manajemen konfllik yang sebenarnya
diwarisi dari regim sebelumnya dengan berbeda pola pelaksanaannya. Proses
kearah penyederhanaan partai ini pada dasarnya sudah dimulai sejak awal 1970,
sebelum pemilu pertama dilaksanakan.

Pada Pebruari 1970, di depan para pimpinan ke-9 parpol dan Golkar Presiden
Suharto, menyampaikan saran tentang pengelompokan partai-partai. Tujuannya
adalah untuk mempermudah kampanye pemilu, dan selanjutnya mempermudah
sistem administrasi seperti penyusunan fraksi di DPR kelak, bukan untuk
melenyapkan partai-partai itu sendiri. Setelah melalui tahap dialog antara
pemerintah dan partai-partai, seruan Suharto itu memperoleh tanggapan positif.
Maka pada bulan berikutnya terbentuklah pengelompokan dimaksud. PNI, IPKI,
Murba, Parkindo dan Partai Katolik bergabung dengan kelompok nasionalis.

9

Sedang NU, Parmusi, PSII dan Perti membentuk kelompok spiritual. Kelompok
pertama disebut Kelompok Demokrasi Pembangunan, dan yang kedua disebut
Kelompok Persatuan Pembangunan. Sebenarnya Parkindo dan Partai Katolik
dapat bergabung dalam kelompok spiritual. Tapi karena alasan perbedaan agama,
sementara untuk membentuk kelompok tersendiri kurang dimungkinkan, mereka
lebih memilih kelompok nasionalis. Pengelompokan ini selanjutnya menjadi dasar
penyusunan fraksi di DPR, sehingga badan ini memiliki lima fraksi: Fraksi
Persatuan Pembangunan, Fraksi Demokrasi Pembangunan atau Demokrasi
Indonesia, Fraksi Karya Pembangunan, dan Fraksi ABRI.

Kemenangan Gemilang Golkar dalam Pemilu 1971 di sisi lain juga semakin

memudahkan „penguasaan‟ pemerintah terhadap DPR. Pemerintah kemudian

mengusulkan RUU Kepartaian. Dalam rancangan itu disebutkan bahwa hanya tiga
partai politik yang akan diakui di Indonesia. Dengan demikian, pemilu berikutnya
hanya akan diikuti oleh dua parpol dan Golkar. Semakin jelas bahwa
penyederhanaan partai sulit ditolak oleh kalangan partai. Maka Kelompok
Persatuan Pembangunan yang berbentuk konfiderasi terus menerus mengadakan
pendekatan intensif dalam rangka mendahului realisasi fusi, sebelum hal itu
dipaksakan oleh UU Parpol dan Golkar. Langkah ke arah fusi itu bukannya tanpa
hambatan, sebab partai-partai Islam pada mulanya berbeda pendapat tentang fusi
itu : Parmusi dan Perti sejak semula mendukung gagasan fusi, namun tidak
demikian halnya NU dan PSII.

Namun ketika semakin pasti bahwa fusi partai tidak mungkin ditolak, maka pada
5 Januari 1973 keempat partai Islam itu berfusi ke dalam Partai Persatuan
Pembangunan, ditandai dengan penandatanganan sebuah deklarasi di Jakarta.
Struktur kepemimpinan PPP diusahakan agar dapat menampung semua partai
pendukung secara proporsional, agaknya dengan mempertimbangkan
perimbangan kekuatan dalam Pemilu 1971. Itulah sebabnya, dominasi NU dalam
partai ini terasa dominan pada awalnya, seperti yang tampak dari diborongnya
posisi penting dalam kepengurusan pusat PPP oleh NU. Tak heran jika pada awal
berdirinya pikiran-pikiran NU banyak mewarnai keputusan-keputusan PPP
terutama bila berhadapan dengan kebijaksanaan pemerintah. Dalam hal ini PPP
tampak begitu kompak, seperti tercermin jelas dalam respons penolakan atas RUU
Perkawinan 1974. Alasan utama penolakan itu adalah karena secara prinsipil
RUU itu bertentangan dengan ajaran Islam. Sekalipun anggota PPP hanya sedikit
di DPR (94 dari 460 orang anggota), namun mereka dapat memaksakan revisi
yang cukup mendasar sebelum RUU itu disahkan menjadi UU No. 1 Tahun 1974.

10

Sukses itu dimungkinkan karena kekompakan elit PPP, di samping adanya
gelombang reaksi keras dari massa Islam di luar partai terhadap RUU itu.67
Namun PPP tampak mulai kurang utuh setelah Pemilu 1977. Keretakan di FPP
mulai muncul ketika mereka harus membahas Rantap MPR tentang P-4 dan
dimasukkannya aliran kepercayaan dalam GBHN. Sekalipun secara esensial
semua unsur di FPP menolak dimasukkannya P-4 sebagai Tap MPR dan aliran
kepercayaan ke dalam GBHN, namun mereka berbeda dalam strategi dan taktik
yang dipakai. Ketika MPR sulit menemukan kata sepakat dalam pembahasan
tersebut, maka dipilih cara voting. Di sini perbedaan muncul. Unsur MI
menginginkan FPP ikut dalam voting sekalipun mungkin kalah, sementara SI
mengusulkan agar abstain saja, sedangkan NU bersikeras menolak voting dan
memilih walk out dari ruang sidang.

Retak kedua muncul dalam pembahasan RUU tentang perubahan UU Pemilu No.
15 Tahun 1969 di DPR. RUU ini memperoleh tentangan keras dari FPP dan FDI,
terutama menyangkut keikutsertaan parpol di LPU (Lembaga Pemilihan Umum)
sampai KPPS, tuntutan pengurangan jumlah anggota DPR yang diangkat, dan
sebagainya. Lagi-lagi, unsur-unsur dalam FPP berbeda strategi sekalipun sikap
mereka terhadap RUU itu sama. Dan NU kembali menunjukkan sikap kerasnya.
Ketika semua unsur lain pada akhirnya terpaksa menerima KUU itu, NU tetap
bersikukuh menolaknya, sehingga RUU itu disahkan tanpa kehadiran anggta FPP
dari unsur NU dalam sidang pleno bulan Pebruari 1980.

Retaknya kekompakan ini barangkali sebenarnya tidak terlalu berdampak buruk
bagi partai. Hanya saja pada waktu yang nyaris bersamaan mulai muncul bibit
kekecewaan NU terhadap PPP yang, sebagaimana terhadap Masyumi dulu,
berkisar dalam masalah distribusi kekuasaan.

Terjadinya penyingkiran orang-orang NU di PPP, tekanan pemerintah terhadap
ormas dan Partai Politik dan munculnya generasi muda NU yang diwakili oleh
Gus Dur ditandai adanya polarisasi antara dua kubu (1982). Yaitu Kubu
Situbondo dan Kubu Cipete. Kelompok pertama dipimpin oleh empat ulama

senior yaitu KH As‟ad Syamsul Arifin, KH Ali Ma‟shum, KH Masykur dan KH

machrus Ali. Sedangkan kelompok kedua dibawah otoritas KH Idham Khalid
yang terdiri dari para politisi dan birokrat NU di Jakarta.

11

Kelompok Situbondo menginginkan bahwa Syuriah adalah adalah pemegang
kekuasaan tertinggi dan NU perlu kembali ke khittah sebagai gerakan diniyyah
ijtima‟iyyah. Untuk mengokohkan gerakan itu, syuriah sendiri kemudian
menunjuk Abdurrahman Wahid sebagai panitia Munas Alim Ulama di Situbondo
pada 1983.

Dalam Munas ini ada tiga komisi yang dibuat, yaitu : Komisi I mengenai Masa‟il
Diniyah, Komisi II mengenai Pemulihan Khittah 1926 dan komisi III mengenai
al-syu‟un ijtima‟iyah.

Selanjutnya pada tanggal 8 sd 12 Desember 1984 diselenggarakan Muktamar NU
yang ke-27. Muktamar ini dianggap muktamar yang bersejarah karena di
muktamar inilah NU dikembalikan kepada khittah sebagai gerakan diniyah
ijtimaiyah. Juga dibahasnya pancasila sebagai asas tunggal, dengan menyebutkan
bahwa NU secara sadar mengambil posisi yang aktif dalam proses perjuangan
bangsa, untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, karenanya setiap
warga NU diharapkan menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi
Pancasila dan UUD 1945. Putusan lain yang terpenting menghasilkan duet
Abdurrahman Wahid (Ketua Umum Tanfidziyah) dan KH Achmad Shidiq (Rais
Am Syuriyah PBNU).

Memasuki Era Baru NU

Mengiri tema kembali ke khittah, dalam Muktamar juga dibahas sub-sub tema
reorientasi program. Reorientasi program, setelah sekian lama dalam kiprah
politik praktis, NU kini kembali ke orientasi semula, yaitu memperhatikan
masalah-masalah kemasyarakatan secara lebih luas. Itu berarti meliputi segala
aspek politik, sosial, ekonomi, budaya dan agama.

Regenerasi, NU akan melakukan pergantian pimpinan dari generasi tua kepada
generasi muda yang dilakukan dengan tetap memelihara keserasian dan
keselarasan hubungan antar generasi. Kombinasi antara generasi tua dan generasi
muda dalam merupakan komposisi yang menarik untuk membawa kepada sebuah
NU baru. Generasi tua diwakili Abdurrahman Wahid.

12

Pendapat lain menyatakan bahwa, salah satu alasan pokok kembalinya NU ke
khittah pada saat itu, diantara alasan-alasan lain yang cukup banyak dan
kompleks, ada dua : Pertama, NU ingin kembali mengurus garapan sosial
keagamaan yang terlantar tak karuan ketika organisasi ini menjadi partai politik
sejak tahun 1952. Kedua, keberadaan NU sebagai salah satu unsur dalam PPP saat
itu telah membuat dakwah NU hanya terbatas pada golongan tertentu, dan tidak
bisa menembus ke lingkungan yang lebih luas. Selain itu, NU juga harus
mengalami kerugian besar karena konfrontasi dengan Golkar sebagai partai yang
berkuasa.

Pada tahun 1998 lahirlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang difasilitasi oleh
sebagian pengurus PBNU. Banyak kalangan menganggap bahwa keputusan ini
sebagai keputusan yang tepat, karena dengan terbentuknya PKB aspirasi politik
warga NU ada wadahnya. Maski bisa disangkal bahwa keputusan ini akan
dianggap mencederai prinsip equi distance yang diambil oleh NU terhadap semua
kekuatan partai politik.

Akan tetapi, warga NU yang sekarang di luar PKB menuntut agar NU tetap
berada di jalur khittah 1926, mereka menuntut perlakuan yang sama dengan warga
NU di PKB.

Perdebatan muncul saat warga NU berhadapan dengan kawasan abu-abu. Sebagai
contoh tidak jelas apakah seorang Ketua Umum PBNU diperbolehkan untuk
mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden. Sebab pada tahun 1984,
saat AD/ART yang baru disusunkembali mewadahi kehendak dan semangat
kembali ke khittah, tidak ada satupun pengurus NU yang berani bermimpi bahwa
suatu ketika ada warga NU yang akan dilamar menjadi presiden atau wakil
presiden. Walaupun dari segi aturan main organisasi , tidak ada larangan formal
bagi pengurus harian NU untuk melakukan hal-hal tersebut.

TUJUAN DAN USAHA ORGANISASI, BASIS PENDUKUNG, STRUKTUR,
JARINGAN

Berdasar situs resmi PBNU dalam www. nu.online didapatkan data :

Tujuan Organisasi

13

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah di tengah-
tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI)

Usaha Organisasi

Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa
persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-
nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur,
berpengetahuan luas.

Di bidang sosial-budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan
yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.

Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati
hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.

Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Basis Pendukung

Jumlah warga Nahdlatul Ulama (NU) atau basis pendukungnya diperkirakan
mencapai lebih dari 40 juta orang, dari beragam profesi. Sebagian besar dari
mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki
kohesifitas yang tinggi karena secara sosial-ekonomi memiliki masalah yang
sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah.
Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang
merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan
dan perkembangan industrialisasi. Warga NU di desa banyak yang bermigrasi ke
kota memasuki sektor industri. Jika selama ini basis NU lebih kuat di sektor
pertanian di pedesaan, maka saat ini, pada sektor perburuhan di perkotaan, juga
cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis
intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas
sosial yang terjadi selama ini.

14

Struktur

Pengurus Besar (tingkat Pusat)

Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)

Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota)

Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan)

Pengurus Ranting (tingkat Desa/Kelurahan)

Untuk tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap
kepengurusan terdiri dari:

Mustasyar (Penasehat)

Syuriah (Pimpinan Tertinggi)

Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk tingkat Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

Syuriaah (Pimpinan tertinggi)

Tanfidziyah (Pelaksana harian)

Jaringan

Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) meliputi:

31 Pengurus Wilayah

339 Pengurus Cabang

12 Pengurus Cabang Istimewa

2.630 Majelis Wakil Cabang

37.125 Pengurus Ranting

15

Lembaga

Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
Lembaga ini meliputi:

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU)

Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama ( LPKNU )

Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)

Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU)

Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI)

Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU)

Lembaga Takmir Masjid Indonesia ( LTMI )

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM)

Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI)

Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH)

Lajnah Bahtsul Masail (LBM-NU)

Lajnah

Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan
penanganan khusus. Lajnah ini meliputi:

Lajnah Falakiyah (LF-NU)

Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN-NU)

Lajnah Auqaf (LA-NU)

Lajnah Zakat, Infaq, dan Shadaqah (Lazis NU)

16

Badan Otonom

Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat
tertentu. Badan Otonom ini meliputi:

Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah

Muslimat NU

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)

Fatayat NU

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)

Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (IPS Pagar Nusa)

Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH)

TOKOH GAGASAN DAN GERAKAN

Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy‟ari lahir pada 24 Dzulqa`dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M
di Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara
pasangan Kiai Asy`ari bin Kiai Usman dari Desa Tingkir dan Halimah binti
Usman.

Ia lahir dari kalangan elite santri. Ayahnya pendiri Pesantren Keras. Kakek dari
pihak ayah, Kiai Usman, pendiri Pesantren Gedang. Buyutnya dari pihak ayah,

17

Kiai Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas. Semuanya pesantern itu berada di
Jombang.

Sampai umur 13 tahun, Hasyim belajar kepada orangtuanya sendiri sampai pada
taraf menjadi badal atau guru pengganti di Pesantren Keras. Muridnya tak jarang
lebih tua dibandingkan dirinya.

Pada umur 15 tahun, ia memulai pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di
Jawa dan Madura: Probolinggo (Pesantren Wonokoyo), Tuban (Pesantren
Langitan), Bangkalan, Madura (Pesantren Trenggilis dan Pesantren Kademangan),
dan Sidoarjo (Pesantren Siwalan Panji).

Pada pengembaraannya yang terakhir itulah, ia, setelah belajar lima tahun dan
umurnya telah genap 21 tahun, tepatnya tahun 1891, diambil menantu oleh Kiai
Ya`kub, pemimpin Pesantren Siwalan Panji. Ia dinikahkan dengan Khadijah.

Namun, dua tahun kemudian, 1893, saat pasangan ini tengah berada di Makkah,
Khadijah meninggal di sana ketika melahirkan Abdullah. Dua bulan kemudian
Abdullah pun menyusul ibunya. Kala itu Hasyim tengah belajar dan bermukim di
tanah Hijaz.

Tahun itu juga, Hasyim pulang ke tanah air. Namun tak lama kemudian, ia
kembali ke Makkah bersama adiknya, Anis, untuk dan belajar. Tapi si adik juga
meninggal di sana. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar.

Tahun 1900, ia pulang kampung dan mengajar di pesantren ayahnya. Tiga tahun
kemudian, 1903, ia mengajar di Pesantren Kemuring, Kediri, sampai 1906, di
tempat mertuanya, Kiai Romli, yang telah menikahkan dirinya dengan putrinya,
Nafisah.

18

Selama di Makkah ia belajar kepada Syaikh Mahfudz dari Termas (w. 1920),
ulama Indonesia pertama pakar ilmu hadits yang mengajar kitab hadits Shahih Al-
Bukhari di Makkah. Ilmu hadits inilah yang kemudian menjadi spesialisasi
Pesantren Tebuireng, yang kelak didirikannya di Jombang sepulangnya dari
Tanah Suci.

Selama hidupnya, K.H. Hasyim menikah tujuh kali. Selain dengan Khadijah dan
Nafisah, antara lain ia juga menikahi Nafiqah, dari Siwalan Panji, Masrurah, dari
Pesantren Kapurejo, Kediri.

Tahun 1899, 12 Rabi‟ul Awwal 1317, ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Lewat

pesantren inilah K.H. Hasyim melancarkan pembaharuan sistem pendidikan
keagamaan Islam tradisional, yaitu sistem musyawarah, sehingga para santri
menjadi kreatif. Ia juga memperkenalkana pengetahuan umum dalam kurikulum
pesantren, seperti Bahasa Melayu, Matematika, dan Ilmu Bumi. Bahkan sejak
1926 ditambah dengan Bahasa Belanda dan Sejarah Indonesia.

Kiai Cholil Bangkalan, gurunya, yang juga dianggap sebagai pemimpin spiritual
para kiai Jawa, pun sangat menghormati dirinya. Dan setelah Kiai Cholil wafat,
K.H. Hasyim-lah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual para kiai.

Menghadapi penjajah Belanda, K.H. Hasyim menjalankan politik non-kooperatif.
Banyak fatwanya yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Fatwa yang

paling spektakuler adalah fatwa jihad, yaitu, “Wajib hukumnya bagi umat Islam
Indonesia berperang melawan Belanda.” Fatwa ini dikeluarkan menjelang

meletusnya Peristiwa 10 November di Surabaya.

Dalam paham keagamaan, pikiran yang paling mendasar Hasyim adalah
pembelaannya terhadap cara beragama dengan sistem madzhab. Paham
bermadzhab timbul sebagai upaya untuk memahami ajaran Al-Quran dan sunnah
secara benar. Pandangan ini erat kaitannya dengan sikap beragama mayoritas

muslim yang selama ini disebut Ahlussunnah wal Jama‟ah.

Menurut Hasyim, umat Islam boleh mempelajari selain keempat madzhab yang
ada. Namun persoalannya, madzhab yang lain itu tidak banyak memiliki literatur,
sehingga mata rantai pemikirannya terputus. Maka, tidak mungkin bisa

19

memahami maksud yang dikandung Al-Quran dan hadits tanpa mempelajari
pendapat para ulama besar yang disebut imam madzhab.

NU didirikan antara lain untuk mempertahankan paham bermadzhab, yang ketika
itu mendapat serangan gencar dari kalangan yang anti-madzhab.

Kiai Hasyim wafat pada 7 Ramadhan 1366 atau 25 Juli 1947 pada usia 76 tahun.

Abdul Wahab Hasbullah

Dari Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dari Kiai
Abdus Salam. Ayahnya, Chasbullah, adalah pengasuh Pondok Pesantren
Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah.

Pendidikannya dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban),
Mojosari, Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko,
Tawangsari (Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura),
langsung berguru kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil kemudian menganjurkannya
belajar ke Pesantren Tebuireng (Jombang).

Pada umur 27, ia pergi ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar
Indonesia yang bermukim di sana, seperti Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muhtarom
Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Kiai Bakir Yogya, Kiai Asy`ari
Bawean. Ia juga belajar kepada tokoh-tokoh besar lain di sana yang bukan orang
Indonesia, seperti Syaikh Sa`id Al-Yamani dan Syaikh Umar Bajened.

Tahun 1921, sewaktu menunaikan ibadah haji bersama istri, sang istri meninggal
di Makkah. Kemudian ia menikah dengan Alawiyah binti Alwi. Setelah
melahirkan seorang anak, istri kedua ini juga meninggal. Setelah itu ia menikah
berturut-turut dengan tiga wanita yang semuanya tidak memberikan keturunan.
Empat anak diperolehnya dari istri berikutnya, Asnah binti Kiai Said.

20

Setelah Asnah meninggal, ia menikah lagi dengan Fatimah binti H. Burhan,
seorang janda yang punya anak bernama Syaichu, yang kelak menjadi ketua DPR
pada masa Orde Baru. Sesudah itu ia menikah lagi dengan Masnah, dikaruniai
seorang anak, lalu dengan Ashikhah binti Kiai Abdul Majid (Bangil), meninggal
di Makkah setelah memberinya empat anak, dan yang terakhir dengan Sa`diyah,
kakak sang istri, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan memberinya
keturunan lima anak.

Sedikit mundur ke belakang, tahun 1914, ketika berumur 26 tahun, ia mendirikan
kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) bersama K.H. Mas
Mansur.

Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan
Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari banyak ulama tradisional muda,
seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H. Abdullah Ubaid (1899-1938),
yang di kemudian hari memainkan peranan penting di NU.

Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy‟ari (1871-1947), ia
mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk
kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang.
Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan untuk
menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr.
Soetomo.

Sejak 1924, Wahab Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan
ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis.

Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Hasyim Asy`ari, ia mengundang para
ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis ke Surabaya untuk mengesahkan
terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim delegasi ke kongres di Makkah
untuk mempertahankan praktek-praktek keagamaan yang dianut kaum
tradisionalis. Pertemuan 15 kiai terkemuka dari Jawa dan Madura itu dilakukan di
rumah Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya.

21

Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan mendirikan NU,
sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan memperkukuh Islam
tradisional di Hindia Belanda.

Kemudian, MIAI (Majelis Islam A‟la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di

Indonesia), yang terbentuk pada September 1937, juga merupakan gagasan
Wahab Chasbullah dan Ahmad Dahlan Kebondalem (NU), Mas Mansur
(Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI). Federasi organisasi Islam ini
bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama di antara umat Islam.

Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan dibentuklah Masyumi pada
November 1943. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai ketua umum dan Whab
Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya.

Meski Masyumi adalah organisasi non-politik, pada kenyataannya fungsinya
setengah politis, dimaksudkan untuk memperkuat dukungan umat Islam terhadap
pemerintahan Jepang.

November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi satu-
satunya kendaraan politik umat Islam. Hasyim Asy`ari menjadi ketua umum
Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), Wahid Hasyim, putra Hasyim
Asy`ari, menjadi wakilnya, dan Wahab Chasbullah menjadi anggota dewan.

Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat muktamar
di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni Wahid
Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang Wahab
Chasbullah menjadi anggota DPA.

Tahun 1947, Wahab Chasbullah menjabat rais am NU.

Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu Wahab
Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar
mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU
menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17
September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di

22

antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin. Mereka kemudian
membentuk partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar.
“Gelar” itu jatuh ke tangan PNI.

Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga setelah PNI dan
Masyumi. Sejak itu kesibukan Wahab Chasbullah lebih banyak pada bidang
politik praktis di Jakarta, terutama sebagai anggota parlemen dan rais am NU.

K.H. Wahab Chasbullah wafat tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di
rumahnya di Kompleks Pesantren Tambakberas, Jombang.

Bisri Syansuri

KH Ahmad Shiddiq

KH Wahid Hasyim

KH Ilyas Ruchiyat

KH M A Sahal Mahfudz

KH Idham Chalid

Ali ma’sum

KH Abdurrahman Wahid

23

PENUTUP

PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan sekalian, yang telah menjadikan manusia
dari yang tak wujud, memberikan kemulyaan Ilmu sebagai jalan kesempurnaan
bagi manusia sebagai nikmat-Nya.

Sholawat serta salam semoga tercurahkan ke pangkuan Nabi yang pertama kali
diciptakan sekaligus sebagai pamungkas, sebagai wasilah para Nabi dan Rasul,
dan rahmatan lil alamin, dan semoga tercurahkan kepada segenap ahl albait,para
sahabat dan seluruh ummatnya yang setia hingga hari akhir.

Ringkasan materi ini kami susun berdasarkan kurikulum dan silabi yang telah
ditentukan oleh dosen pengampu mata kuliah Sejarah Dakwah. Hal ini merupakan
semata-mata sebagai bahan untuk pembahasan sejarah dakwah dan untuk
menambah kekhasanahan pengetahuan kami dan pembaca. Meski ini hanya
merupakan bagian kecil dari pembahasan sejarah dakwah, namun semoga terdapat
setitik pencerahan yang dapat dipetik dari dalamnya.

Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih terdapat banyak kekeliruan dan
kekurangannya, kami berharap sumbang saran dan juga kritik yang membangun
tertujukan pada kami sebagai pembaik sehingga setidak-tidaknya mendekati
kesempurnaan.

BAB I

PENDAHULUAN

Kehadiran Nahdlatul Ulama dimaksudkan untuk mengembangkan dan
mempertahankan ortodoksi Islam yang dipegang teguh oleh mayoritas ulama‟
Indonesia. Ortodoksi yang dimaksud adalah Ahlussunnah.

Mempertahankan ortodoksi ini perlu digarisbawahi karena kelahiran NU adalah
respon terhadap upaya-upaya penggusuran terhadap tradisi ahlussunnah wal
jama‟ah yang dilakukan oleh penguasa Saudi Arabia yang berpaham Wahabi[1].

اديهش مكيلع لىسّرلا نىكيو ساّنلا ىلعءادهش اىنىكتل اطسو ةّما مكنلعج كل ذكو

24

Dan demikian Kami telah menjadikan kamu ummat yang moderat (berilmu
pengetahuan, disiplin, berbudaya) supaya kamu berperan terhadap manusia dan
menjadikan Rasul (Muhammad) sebagai teladan bagi (perbuatan) kamu. (Al
Baqarah; 143)

A. Pengertian NU

Nadlatul Ulama berasal dari dua suku kata dalam bahasa Arab Nahdlotun yang
berarti kebangkitan dan Al Ulama artinya orang-orang yang memiliki ilmu
(pengetahuan).

Nahdlotul Ulama yang kemudian lebih dikenal dengan NU adalah merupakan
sebuah organisasi masa yang bergerak dibidang sosial keagamaan. NU adalah
salah satu organisasi masa terbesar di Indonesia dimana basis masa mereka adalah
dari kalangan muslim yang berhaluan Alussunnah Wal Jamaah.

B. Sejarah Lahirnya NU

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami
bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah
menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa
ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut
dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus
menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan
ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai
organisasi pendidikan dan pembebasan.

Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon
kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan,
seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada
tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri"
(kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikanNahdlatut Tujjar,
(pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki
perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar,
selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang
berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni
mazhab Wahabi di Mekkah, kalangan pesantren yang selama ini membela
keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan
peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren
dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925.

25

Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam
Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan
mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim
Asy'ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab
serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren
terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai
oleh K.H. Wahab Hasbullah. Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun
dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia,
maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah
bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah
peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan
kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan
peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad
hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih
mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka
setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk
membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama)
pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H.
Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari
merumuskan kitab Qanun Asasi(prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab
I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan
dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam
berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.[2]

C. Rumusan Masalah

1. Apa sebenarnya faham Ahlussunnah Wal Jamaah?

2. Mengapa NU Memiliki massa begitu banyak di Indonesia?

3. Sejauh mana pengaruh faham Ahlussunnah Wal Jamaah dengan banyaknya
jumlah massa NU saat ini?

BAB II

LANDASAN MATERI

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->