Materi

Pada laporan ini penulis akan menjelaskan as sunnah sebagai sumber ajaran islam yang kedua ke dalam tiga bahasan, yaitu hakikat sunnah rasul dan hadits, kedudukan dan fungsi sunnah rasul dan hadits, dan cara menyeleksi dan mengamalkan hadits.

A. Hakikat Sunnah Rasul dan Hadist
Sunnah menurut bahasa adalah thoriqoh atau jalan, baik mupun buruk sedangkan sunnah menurut istilah mempunyai beberapa istilah :  Berkata Ibnu Mandzur : “Di dalam hadis telah berulang-ulang disebutkan kata sunnah dan apa yang berhubungan dengannya, adapun asalnya adalah cara dan jalan. Dan jika diartikan secara syar‟i, maka yang di maksud dengan sunnah adalah apa-apa yang di perintahkan, dilarang dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw dari perkataan dan perbuatan yang tidak disebutkan Al Qur‟an, dengan demikian dikatakan bahwa adillah as syariyah adalah kitab dan sunnah yaitu Al Qur‟an dan As Sunnah.” Berkata Imam Syatibi : “Lafadz Sunnah juga diartikan sebagai lawan dari bid‟ah, maka dikatakan : si fulan diatas sunnah jika dia sesuai dengan apa yang dikerjakan Nabi saw, dan dikatakan : si fulan diatas kebid‟ahan apa bila dia beramal menyelesihi Nabi SAW”

Seiring dengan berkembangnya Ilmu islam, maka makna sunnah pun mempunyai perkembangan diantaranya :   Sunnah menurut Ulama‟ usul: apa-apa yang bersumber dari nabi Muhammad saw dari perkataan atau perbuatan atau penetapan (taqrir). Sunnah menurut Fuqoha‟ (ahli fiqh): segala sesuatu yang telah ditetapkan dari Nabi Muhammad saw dan bukan dalam perkara fardlu dan sunnah adalah jalan yang harus diikuti dalam agama dari selain fardlu. Sunnah menurut Ahli Hadis: segala sesuatu yang ditinggalkan Nabi Muhammad saw dari perkataan atau perbuatan atau perjalanan hidup beliau

Penggunaan kata As Sunnah sesuai dengan hadist berikut : “Dari sahabat Anas bin Malik rodhiallahu‟anhu, ia berkata : ada tiga orang yang menemui istri-istri Nabi shollallahu‟alaihiwasallam, mereka bertanya tentang amalan ibadah Nabi shollallahu‟alaihiwasallam. Dan tatkala mereka telah diberitahu, seakan-akan mereka menganggapnya sedikit, kemudian mereka balik berkata : Siapakah kita bila dibanding dengan Nabi shollallahu‟alaihiwasallam, Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, baik

1

lantas bersabda : Kaliankah yang berkata demikian-demikian? Ketahuilah. sungguh demi Allah. maka ia tidak termasuk golonganku” Menjalankan sunnah Nabi adalah makna yang dirasa oleh hati disaat jasad ini menjalankan sunnah Nabi. Keberlakuan hadist sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa Al-Qur`an hanya memberikan garis-garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia. dan tidak akan menikah selama-lamanya. Penetapan hadits sebagai sumber kedua ditunjukan oleh tiga hal. Maka barang siapa yang membenci sunnahku (ajaranku). Barangsiapa hanya berpegang pada salah satunya. kesepakatan (ijma`) ulama. karena Al-Qur‟an memerintahkan untuk berpegang dengan as-Sunnah demikian pula sebaliknya. maka berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya. yaitu al-Qur`an sendiri. melainkan juga as-Sunnah. Yang lain berkata : Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka (berhenti berpuasa). maka saya akan sholat malam selama-lamanya. Salah seorang dari mereka berkata : Kalau saya. Hal ini juga ditegaskan oleh Syaikh al-Albani bahwa syari‟at Islam bukan hanya al-Qur‟an saja. Kemudian Rasulullah shollallahu‟alaihiwasallam datang. hadist menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur`an. muncul fungsi hadist sebagai penafsir. Maktabah Syamilah) 2 . bahkan perilaku Nabi sebagai rasul harus diteladani oleh kaum muslimin. dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. B. pensyarah. Oleh karena itu. dan saya juga menikahi wanita. 16:44) Karena itu apa yang disampaikan Nabi harus diikuti.yang telah lampau atau yang akan datang. dan logika akal sehat (ma`qul). (manzilatus sunnahfil Islam. sholat (malam) dan juga tidur. Al-Quran menekankan bahwa Rasulullah SAW berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran. hal:14. akan tetapi saya berpuasa dan juga berbuka. Yang lain lagi berkata : Saya akan meninggalkan wanita. Hati yang merasakan kehadiran Nabi Muhammad SAW disaat menjalankan Sunnah Nabi adalah hatinya orang yang benar-benar menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedudukan dan Fungsi Sunnah Rasul dan Hadits Dalam hukum Islam. sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya diantara kalian. agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS.

Hadits sebagai penjelas maksud al-Qur`an dan penafsirnya. MaktabahSyamilah) 2.” Ayat ini diperkuat dengan hadits riwayat Abu Musa yang maknanya hampir sama.” (H. “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihataku sholat. sehingga datang al-Qur`an dan hadits pada satu hukum menunjukkan ada dan banyaknya dalil (semakin menguatkan). “Begitulah azab Tuhanmu. Menguatkan hukum yang ditetapkan al-Qur`an.R Bukhori) 3 . jumlah rakaatnya. 2. maka As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir. apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta‟ala akan menangguhkan siksaannya bagi orang yang berbuat zhalim. Contoh firman Allah Swt dalam surat Hud : 102. Dalam hubungan dengan Al-Qur‟an. Hadits menentukan satu hukum wajib atau haran pada sesuatu yang al-Qur`an diamkan. pensyarah. membatasi yang mutlak. a. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat surat Huud : 102” (H. Seperti menurut Syaikh „Imad Sayyid Muhammad Ismail Asy Syarbini mengatakan bahwa hubungan antara al-Qur‟an dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. hal: 613. syarat dan rukun. 3. mengkhususkan yang umum dan menjelaskan yang musykil. apabila Allah telah menghukumnya maka dia tidak akan pernah melepaskannya. Hadits sesuai dengan al-Qur`an dari berbagai segi.Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa hubungan hadits dengan alQur`an ada tiga : 1. Menjelaskan maksud al-Qur‟an.” Ayat ini hanya berisi tentang perintah sholat tapi tidak menjelaskan bagaimana pelaksanaannya. (Merinci yang mujmal) Contoh tentang kewajiban sholat dalam surat an-Nisa‟ :103 “Maka dirikanlah shalat itu sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. yaitu dengan cara merinci yang mujmal.R Muslim) (kitabaatu a‟dau al-islam wamunaqosyatuha. serta sebagainya sampai ada penjelasan terperinci dari Rasulullah Saw melalui sabdanya . dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu.

hal:614-620.” Wahai Rasulullah bukankah Allah berfirman : (Barangsiapa yang diberikan kitabnya sebelah kanan. Seperti ayat yang berkaitan tentang waris dalam surat An-Nisa‟ : 11 “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. melainkan ia akan dihisab. Yaitu: bahagikan seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” Ayat ini masih bersifat umum yang ditujukan kepada orang tua untuk mewariskan harta kepada anak-anak mereka. dan lain sebagainya. Mengkhususkan yang umum.” (H.R Bukhori) (kitabaatu a‟dau al-Islam wa munaqosyatuha. Maktabah Syamilah) 4 .b. Bahkan ini pernah terjadi pada „Aisyah ra terkait dengan kata ‫ ح ساب ا‬dalam surat Al-Insyiqaq : 8. Membatasi yang mutlak Contoh seperti ayat yang berkenaan potong tangan dalam surat Al-Maidah : 38 “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Rasulullah bersabda: Yang dimaksud ayat itu adalah amal yang diperlihatkan. Hadits ini bisa dilihat dalam kitab Sunan Al-Kubro Imam Baihaqi c. potonglah tangan keduanya…” Ayat ini dibatasi oleh hadits bahwa yang dipotong hanya sampai pada pergelangan tangan. dan tidaklah seseorang hisabnya diperdebatkan. Menjelaskan lafadz yang musykil Ada lafadz dalam Al-Qur‟an yang tidak diketahui maknanya secara jelas kecuali setelah mendengar keterangan dari Nabi Saw. maka ia akan mendapat hisab yang mudah). “ Dari „Aisyah. tapi kemudian Rasulullah mengkhususkan bahwa warisan hanya berlaku kepada sesama muslim. d. Rasul Saw bersabda: Tidak seorangpun yang dipaparkan hisabnya melainkan akan celaka.

Hadits hassan adalah hadits yang sanadnya bersambung dari awal hingga akhir. Nasai dan Ibnu Majah] C. Bukhari." (Bukhari . Mendirikan Shalat. Sesuai dengan sabda Rasulullah. Abu Dawud. tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal. : “Diharamkan karena hubungan susuan sebagaimana yang diharamkan karena hubungan nasab”. Shahih Lighairihi : hadits yang hakikatnya adalah hasan. b. hadits terdiri dari 1. Shahih Lidzatihi : hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya. Hadist hasan dibagi menjadi dua yaitu a. Karena dalam al-Qur‟an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk taat secara mutlak kepada apa yang diperintahkan dan dilarang Rasulullah Saw. Cara Menyeleksi dan Mengamalkan Hadits Berdasarkan tingkat keaslian hadits. disampaikan oleh pelapor (rawi) yang adil. Mengerjakan Haji ke Baitullah dan Puasa bulan Ramadhan. hal:612. sempurna kekuatan ingatan (dhabit) dari awal hingga akhir sanad. Serta mengancam orang yang menyelisinya. maka dia menjadi Shahih Lighairihi. Contoh hadist shahih adalah Dari Abi Abdurrahman Abdillah bin Umar bin Khattab ra. tak ada sebarang percanggahan (syaz) dan juga kecacatan (illah).Muslim) 2. [HR. Muslim.3. MaktabahSyamilah) Contohnya adalah pernikahan yahng haram karena ada hubungan sepesusuan. tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal. Ahmad. disampaikan oleh pelapor (rawi) yang adil. maka dia menjadi hasan Lighairihi. Menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan oleh al-Qur`an. 5 . kekuatan ingatan (dhabit) kurang sedikit daripada ingatan pelapor yang adil. dan karena didukung oleh hadits dla‟if yang lain. Hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung. berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Bangunan Islam itu atas lima perkara Mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu Utusan Allah. Mengeluarkan Zakat. dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain. b. Hasan Lidzatihi : hadits yang hasan berdasarkan persyaratan hasan yang ada di dalamnya. (kitabaatua‟dau al-Islam wa munaqosyatuha. tak ada kejanggalan (syaz) dan juga kecacatan (illah). Hadist shahih dibagi menjadi dua yaitu a. Hasan Lighairihi : hadits yang hakikatnya adalah dla‟if.

telah menceritakan kepada kamu ja‟far bin sulaiman. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. Contohnya adalah "Penduduk surga adalah belalang. kecuali Musa bin Imron. Hadits dhaif adalah hadits yang lemah. karena dia memiliki jenggot sampai ke pusarnya". ingatan pelapor. asli tidaknya hadits dapat dilihat dari sanad. hadits ini tidak menepati ciri-ciri hadits shahih.Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu‟afaa‟ (185). maupun kecacatan. Dan pada pengamalan hadits dhaif ada tiga pendapat: a. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Di antara mereka terdapat 6 . Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. karena semua perawi dalam hadits tersebut adil kecuali ja‟far bin sulaiman adh-dhuba‟i. 4. “Barangsiapa berpuasa di waktu pagi pada hari „Idul Fithri. dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy‟ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. dan Ar-Raziy dalam Al-Fawa‟id (6/111/1)]. Bab Abwabu Fadhailil jihadi). Derajat hadits tersebut adalah hasan. semuanya palsu dan tidak boleh disebut namanya kecuali hanya untuk menjelaskan keheranan terhadapnya ” Dari jenis keaslian hadits tersebut dapat dilihat bahwa. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (4/48). maupun hassan. yaitu Syaikhnya Ibnu Abi Kholid AlBashriy. nashehat atau peringatan. Ibnu Hibban rahimahullah berkata : “Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya sebanyak kurang lebih 200 hadits. Hadits Maudu adalah hadits yang dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. kisah-kisah.Contoh hadist hasan adalah “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah. Dalam pelaksanaannya hadits shahih dan hassan aman untuk dilakukan. Hadits maudu sebaiknya tidak dilaksanakan karena ada kemungkinan palsu. Baik masalah keutamaan (fadhilah). Pendeknya. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang suka memalsukan hadits.[HR. pelapor. Hadits ini adalah hadits batil yang palsu. dia bagaikan puasa sepanjang waktu” Ini adalah hadits palsu yang dibuat oleh Ibnu al-Bailami. dan tidak ada kejanggalan. Maka tak heran apabila syaikh Al-Albaniy mencantumkan hadits ini dalam kitabnya Adh-Dho‟ifah (704). At-Tirmidzi. Kelompok pertama adalah mereka yang secara mutlak menolak mentah-mentah semua hadits dhaif. 3.

pendiri mazhab Hanbali. atau anjuran amal tambahan. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Kelompok kedua adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Ibnul Mubarokdan yang lainnya.nama Al-Imam Al-Bukhari. Ibnul Mahdi. Abu Bakar Al-Arabi. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah kebanyakan ulama. Berdasarkan jumlah penutur. Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya iii. ii. iv. Yahya bin Mu‟in. Sedangkan hadits dha‟if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Bagi mereka. Hadits mutawatir. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Contohnya adalah ”Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku. juga bukan masalah hukum. Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. melainkan hanya sekedar berhati-hati. atau tertuduh sebagai pendusta. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Kelompok ketiga adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. kisah-kisah. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam AnNawawi rahimahumalah. asal bukan hadits palsu (maudhu‟). sedhai‟f-dha‟if-nya suatu hadits. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. maka tempat tinggalnya adalah neraka”. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. 7 . Ibnu Hazm dan lainnya. adalah: i. hadits terdiri dari 1. b. Al-Imam Muslim. c.

Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya. Hadits ahad. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yangakan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan". Hadits diatas dikatakan sebagai Hadits Marfu Qauli Tasrihan karena dengan terang-terangan “‫. bahkan mungkin ratusan. Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama. dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib. Awalnya mutawatir. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya. jelas merupakan hadits ahad. dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. kecuali Yahya bin Sa‟id Al Anshari. Gharib. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. Berdasarkan ujung sanad. Hadits ini. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) b.”ر سول ق ال هللا‬ 8 . karena tidak diriwayatkan. [Muttafaqun „alaih]. hadist terdiri dari 1. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Aziz. akhirnya ahad dan gharib. kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. bahkan menurut As-Syuyuti diriwayatkan lebih dari dua ratus sahabat. bahkan hampir sebagian besar ulama.Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari enam puluh dua sahabat dengan teks yang sama. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) c. Mashur. kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. 2. kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. Contoh hadist ini adalah Dari Jabir telah bersabda Nabi SAW: “baik pekerti adalah pelajaran dan buruk kelakuan itu adalah sial” (HR. Hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : a. Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW. ibnu asakir). Contoh hadist ahad di bawah ini dari Shahih Bukhari yaitu sebuah hadits ahad dan gharib. "Sesungguhnya amal itu dengan niat.

2. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. Contoh hadits Musnada adalah Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami dari Malik dari Abu Az-Zinad dari AlA‟raj dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Jika anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian. karena jika seseorang itu beriman. (R. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". dan jika seseorang itu kufur. Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah".. Abdullah Bin Mas`ud adalah seorang sahabat Nabi. ia pun ikut kufur”. 3.” 9 ..". "Kami dilarang untuk. maka hendaklah dia mencucinya sebanyak tujuh kali. maka ikut beriman... "Kami terbiasa. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. ia berkata : “jangan lah hendaknya salah seorang dari kamu taqlid agamanya dari seseorang. maka ucapan diatas disandarkan kepada Abdullah Bin Masu`ud. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW 1. Abu Na`im 1:136). jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Contoh hadist Mauquf adalah Dari Abdullah (Bin Mas`Ud).. Hadits Musnad. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar.".

4. Contohnya adalah “Jika kalian menyerahkan kepemimpinan kepada Abu Bakar. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 Contohnya: "Seorang pencatat hadits mengatakan.. Contohnya adalah “Hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya secara ma‟ruf (yang sesuai) dan tidak boleh dibebani pekerjaan." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). yaitu seperti ini : “… dari Malik dari Muhammad bin „Ajlan dari ayahnya dari Abu Hurairah” 5.Ini adalah hadits yang musnad. karena padanya terdapat dua orang rawi yang gugur berurutan antara Malik dan Abu Hurairah. Dikatakan munqati‟ karena Abdul Razzaq tidak mendengarnya dari Sofyan tetapi dari Nu‟man dari Sofyan. Hadits Mursal.. Dan juga hadits ini marfu‟ karena ujung sanadnya adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam. kecuali yang disanggupinya saja” Hadits ini adalah hadits Mu‟dhal. Setelah kita menyeleksi hadist yang akan kita amalkan. Begitu juga Sofyan tidak mendengar dari Abu Ishak tetapi dari Syuraik dari Abu Ishak. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW. 2. maka ia adalah orang yang kuat lagi amanah” Hadis ini diriwayatkan oleh Abdul Razzaq dari Sofyan AtsTsauri dari Ibnu Ishak dari Zaid dari Huzaifah. 3. dan kita sudah yakin hadist itu shahih maka kita amalkan hadist tersebut dengan sungguh-sungguh. Hadits Munqati'. sebagaimana yang telah dijelaskan pada edisi sebelumnya. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. karena sanadnya bersambung mulai dari AlBukhari rahimahullah sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan kita mengetahui bahwa padanya terdapat dua rawi yang gugur secara berurutan dari riwayat hadits pada selain kitab Muwaththo‟.. Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur empat atau tiga. Contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). 10 .

http://abizakii. diakses pada 24 Februari 2013.eramuslim.html.com/2010/05/pengertian-hadis-dansunnah.org/wiki/Hadits.wordpress.blogspot. http://id.com/2010/05/pengertian-hadis-dansunnah.html.US3he8Vv-So. http://muhakbarilyas. http://www. http://nanda-aceh. http://nanda-aceh. diakses pada 24 Februari 2013.wikipedia.com/hadits/mengamalkan-hadisdhaif. diakses pada 24 Februari 2013.blogspot. http://nanda-aceh.org/wiki/Hadits.blogspot. semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Sesungguhnya pendengaran. http://berkaryaasepsm. penglihatan dan hati. http://berkaryaasepsm.html.com/2012/04/k-r-i-t-i-k-h-d-i-t-skemunculan. diakses pada 24 Februari 2013.US3he8Vv-So.eramuslim.” [Al Israa:36] Daftar Pustaka                http://abizakii.Kesimpulan   Kita tidak bisa taqlid atau mengikuti begitu saja tanpa tahu dalil-dalil dari Al Qur‟an dan Hadits: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. diakses pada 24 Februari 2013. diakses pada 24 Februari 2013.html.html.html.blogspot. http://id. diakses pada 24 Februari 2013.htm#. http://muslims-says.com/2011/01/22/hakekat-menjalankan-sunnahnabi-muhammad-saw/.com/2012/05/makalah-kedudukan-dan-fungsihadist.com/hadits/mengamalkan-hadisdhaif. diakses pada 24 Februari 2013.com/2012/02/kedudukan-dan-fungsi-haditsterhadap-al.blogspot. http://referensiagama. diakses pada 24 Februari 2013. diakses pada 24 Februari 2013. diakses pada 24 Februari 2013. diakses pada 24 Februari 2013. http://www.com/2012/05/makalah-kedudukan-dan-fungsihadist.com/2010/07/02/hakikat-sunnah/. diakses pada 27 Februari 2013.html.blogspot.wordpress.htm#.html.blogspot.blogspot.com/2011/01/penelitian-matan-hadis. diakses pada 24 Februari 2013. diakses pada 27 Februari 2013.wikipedia.wordpress. 11 .com/2012/05/makalah-kedudukan-dan-fungsihadist. http://ahmadbinhanbal.com/2011/01/22/hakekat-menjalankan-sunnahnabi-muhammad-saw/.