P. 1
Artikel

Artikel

5.0

|Views: 1,424|Likes:
Published by aabied

More info:

Published by: aabied on Mar 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

Stockholm, 24 Desember 2008

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr.

PENJELASAN & STATEMEN
MUHAMMAD YUSUF THOHIRY TENTANG ESTAFETA KEPEMIMPINAN NKA-NII TAHUN 1996

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ ‫الحمد ل نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بال من شرور انفسنا ومن سيئات اعما‬ ‫لنا, من يهده ال فل مضل له ومن يضلل فل هادي له, وأ شهد ان لاله الال وحده‬ ‫لشريك له وأ شهد ان محمدا عبده ورسو له . يأيها الذين ءامنوا اتقوا ال وقولوا‬ ‫قول شد يدا. يأيهاالذين ء اموا اتقوا ال حق تقاته ولتموتن إل و انتم مسلمون . إن‬ . ‫ال وملكته يصلون على النبى يأيها الذين ء ا منوا صلوا عليه وسلموا تسليما‬
Amma ba`du

“Hai orang beriman! Jadilah kamu orang yang yang benar- benar menegakkan keadilan, menjadi saksi semata –mata karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerbatmu. Sekalipun yang tergugat itu kaya atau miskin, maka Allah lebih mengutamakan persamaan hak dan kewajiban terhadap keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu untuk memperkosa keadilan. Dan kalau kamu memutarbalikkan kenyataan atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

“Hai orang yang beriman, kenapa kamu berkata hal-hal yang kamu tidak kerjakan?” Amat besar kemurkaan di sisi Allah, kalau kamu mengatakan apa- apa yang tidak kamu kerjakan.” Penjelasan Kesatu: Estafeta Kepemimpinan NKA-NII 1. Al Qur`an, Sunnah dan Konstitusi Negara Tidak dipungkiri bahwa sejak tertangkapnya Imam Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo tahun 1962, kelanjutan kepemimpinan Negara Islam Indonesia bagi sebagian besar masyarakat belum mengetahui kejelasannya. Ada yang mengatakan bawa NKA-NII telah berpecah-belah, karena adanya perselisihan dalam hal kepemimpinan, sehingga banyak yang mengatasnamakan Imam NKA-NII. Hal itu telah mengakibatkan adanya kebingungan atas sebagian Mujahidin NKA-NII pelanjutnya.

Jika dikaji dengan seksama, perihal kepemimpinan negara harus mengacu kepada undang-undang negaranya sebagai alat pemersatu. Jika mengacu langsung kepada undang-undang, maka sebenarnya tidak ada istilah “NKA-NII berpecah-pecah”. Adapun kenyataan adanya beberapa kelompok, yang masing-masing mengatasnamakan berada di bawah Imam NKA-NII, karena mereka mengangkat Imamnya tidak berdasarkan perundang-undangan NKA-NII. Sehubungan dengan itu, firman Allah SWT. menerangkan; “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Pengertian “ta’atkepada Allah” adalah merujuk kepada Al-Qur’an. Dan pengertian “ta’at kepada Rasul-Nya” adalah merujuk kepada sunnah Nabi Muhammad SAW., kemudian ta’at kepada Ulil Amri adalah kepada Ulil Amri yang ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasulullah-Nya serta merujuk kepada perundang-

undangan negara. Dengan demikian, satu-satunya jalan supaya tidak berselisih dalam menentukan Imam NKA-NII harus didasari oleh pedoman tersebut. Sebagai contoh: Pertama, Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 58 dinyatakan “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhaq menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Cukup jelas, bahwa yang disebut Amanat itu mencakup amanat kepemimpinan (Ulil Amri). Dan yang disebut Ahliha, berarti yang memiliki legalitas (sesuai dengan peraturan/hukum). Dengan demikian legalitas Imam NKA-NII kemunculnya berdasarkan peraturan-peraturan NKA-NII, sehingga yang berpegang padanya tidak berselisih; Kedua, Dalam Sunnah Rasulullah SAW., bahwa “Negara/Daulah” Islam di Madinah disertai undangundangnya (Shahifah Madinah), semua warganya diwajibkan untuk mentaatinya. Artinya, jika kembali kepada Sunnah Rasulullah SAW., maka pengangkatan Imam NKA-NII pun harus sesuai dengan undang-undang NKA-NII, sehingga tidak berselisih. Al-Qur’an memerintahkan supaya bermusyawarah dalam memilih pemimpin, maka yang bermusyawarah (menjalankan amanat) itu harus yang memiliki hak untuk itu, yakni posisinya yang memiliki kapasitas dan legalitas. Dengan demikian permusyawarahan itu tidak keluar dari koridor undang-undang. Kesimpulan dari dua contoh di atas, bahwa yang memilih pemimpin (Imam) berdasarkan undang-undang tidak disebut sedang berselisih. Jadi, yang masih memperselisihkan ‘keimaman NKA-NII’ itu, adalah mereka yang tidak kembali kepada undang-undang NKA-NII, artinya tidak berpedoman atau belum kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Perlu diresapi bahwa adanya perintah untuk kembali kepada AlQur’an dan Sunnah Rasul, tersirat adanya kemungkinan yang akan menjadi pemberontak. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor dalam hatinya, sehingga tidak mau merujuk kepada kebenaran Ilaahi. Dari itu yang disebut persatuan ummat, bukan berarti semua yang mengaku Islam akan bersatu! Sebab, pemberontak itu selalu ada! Dengan kata lain, akan ada saja yang tergoda setan. Jadi, yang menjadi barometer persatuan dalam Negara Islam Indonesia ialah perundang-undangan. Terhadap yang mengatakan Pedoman Dharma Bakti (PDB) membuat pusing kepala, berbeda-beda pendapat sehingga berpecah-pecah, hal itu sangat keliru! Sebab; Pertama, Justru berpedoman kepada PDB supaya tidak pusing, kecuali jika bagi yang belum bisa memahaminya. Atau bagi yang sudah memahami serta mengakui kebenaran PDB, sedang hatinya berat menerimanya. Itu satu di antara penyakit hati; mengakui kebenaran cuma di dalam hati, tetapi menolak dalam sikap. Ada dua penyebab bagi yang menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang sebenarnya, yaitu: 1) Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan undang undang;

2) Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas untuk mengakui kebenarannya, sehingga tidak jujur dalam mengemukakannya. Point yang kedua ini biasanya terjadi pada orang yang takut tergeser posisinya bila undangundang itu diaplikasikan. Atau karena gengsi, mungkin juga malu, jatuh wibawa karena terlanjur mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang membuat umat pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika bukan faktor ketidakmengertian, tentunya disebabkan oleh ketidakikhlasan sang penafsirnya. Perhatikan ayat di bawah ini yang bunyinya:

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya.” Pada ayat tersebut terdapat kata “Ulama”, dalam masa sekarang maksudnya tidak ditujukan kepada ulama Bani Isroil saja, melainkan kepada orang yang sudah mengerti. Berkaitan dengan itu lihat lagi ayat yang bunyinya:

“Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan, bahwa para pentolan musyrikin Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Sofyan dan Akhnas dalam hati mereka membenarkan; bahwa Muhammad SAW. itu nabi. Namun mereka menyembunyikannya dihadapan para pengikutnya, karena takut masingmasing kedudukannya jatuh. Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya niscaya akan didepak dari posisi kepemimpinannya. Atau jika terus terang mengakui kenabian Muhammad SAW., berarti para pentolan bangsawan itu akan dipimpin oleh seorang yang asalnya penggembala domba. Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy. Akan tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis tidak berhenti sampai sekarang. Iblis sudah berikrar untuk menyesatkan manusia dari segala segi

kehidupan sehingga seseorang tidak menyadarinya Menuntun ummat keluar dari undang-undang Ulil Amri yang haq sungguh suatu kebathilan, sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat. Sebab itu, waspadalah terhadap pintu masuknya Iblis! Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk neraka. Caranya berbeda-beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja dari segi sholat dan puasanya seseorang tidak tergoda, tapi keangkuhan dan gila hormat memperdayanya. Akibatnya terus membohongi ummat sehingga ummat tidak tahu dasar hukum kepemimpinnya; Sehingga umat dituntun kepada kepalsuan atau digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin. Sungguh berani jika infaqnya diambil sedangkan belum adanya pemimpin, atau adanya pemimpin tetapi tidak berdasarkan hukum karena diabaikan. Bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat? Padahal pihak thoghut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin. Apalagi dalam Islam, sebelum Khadijah, Abu Bakar serta Ustman bin Affan menginfaqkan harta mereka, juga sebelum Yassir dan Sumayyah dibunuh pihak lawan, serta Bilal bin Raba’ah disiksa, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinnya. Kedua, Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya tidak berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada undang-undang yang dibuat supaya di antara para pemegangnya berbeda-beda dan berpecah-belah. Ketiga, Berpegang pada undang-undang itu karena berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Sebagai contoh: Pertama, Di dalam AlQur’an ada ayat yang memerintahkan supaya menta’ati “Ulil Amri (para pemegang urusan)” yaitu pemimpin atau lembaga kepemimpinan. Artinya, kita diperintahkan untuk menta’ati peraturan/undang-undang yang ditetapkannya. Jadi, berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah itu wajib. Demikian halnya berpegang pada Qanun Azasi, Maklumat-maklumat, Strafrecht, Statement Pemerintah. Berkaitan dengan undang-undang, perhatikan ayat yang bunyinya:

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Robbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”. Dari ayat itu diwajibkan bermusyawarah dalam mengatur urusan, berarti musyawarah urusan kepemimpinan wajib merujuk kepada undangundang. Sebab, undang-undang itu merupakan hasil musyawarah. Jika tidak demikian, semua akan kacau, semua bisa ngaku telah bermusyawarah.

Bahkan hasil rekayasa “Thogut (musuh)” pun dianggap sebagai hasil musyawarah. Contoh Kedua, Al-Qur’an mewajibkan kita bersatu, sebagaimana diungkapkan dalam ayat yang bunyinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai, ...). Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila berpegang pada “Hablulloh (garis yang ditentukan Alloh)”, yaitu Al-Quran dan sunnah Nabi SAW. Sebagai bukti, pada awal berdirinya negara Islam di Madinah umat Islam sebagai minoritas dan terus menghadapi berbagai gangguan fisik dari dalam ataupun luar, namun tetap bersatu. Persatuan itu disebabkan semua umat berpegang pada undang undang (piagam/undang undang Madinah) sehingga seragam. Baik dalam hal kepemimpinan maupun dalam penentuan mana lawan dan mana kawan. Dengan demikian bisa disimpulkan, secara hukum bahwa yang disebut berpecah-belah adalah mereka yang tidak berundang-undang (inkonstitusional). Perhatikan sabda Nabi SAW:

‫ان ال ل يجتمع أ متى على ضللة . لن يجتمع أمتى ال على هداى . (رواه‬ ) ‫الترمدى‬
“Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Sesungguhnya Allah tidak menyatukan ummatku atas kesesatan. Tidak akan bersatu ummat kecuali dalam petunjuk (Hudaan).” [HR.Tirmidzi] Yang disebut “Hudaan ‫ “هداى‬yaitu petunjuk. Dan yang disebut petunjuk itu ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, seperti halnya Nabi membuat undang-undang negara di Madinah. Kemudian, Nabi Muhammad SAW. mewajibkan kepada ummat untuk menta’atinya. Apalah artinya ber-Ulil Amri jika tidak ta’at kepada undang-undangnya. Jadi, yang tidak ta’at pada undang-undang negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, merekalah yang tidak berpegang pada Hudaan. Contoh Ketiga, Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan Nabi di Madinah disebutkan antara lain:

. ‫و انه ليحول هذا الكتاب د و ن ظا لم او ا ثم‬

“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar ketentuan {undang-undang) tertulis ini kalau bukan penghianat dan pelaku kejahatan”. Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang pada undang-undang pemerintahan Islam di Madinah. Jadi, kita juga harus berpegang pada undang-undang NKA-NII yang berdasarkan Qur’an dan Hadist Shohih.

Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak berpegang pada satu rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat pada negara tapi lupa pada peraturannya, ingat pada ayat jihad lupa kewajiban ta’at pada undangundang yang dikeluarkan oleh Ulil Amri, maka terjadilah berfirqoh-firqoh (cerai-berai). Firman Allah SWT yang bunyi-Nya: “Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”. 2. Legalitas Imam NKA-NII Pasca SM. Kartosoewirjo Sebelum memahami legalitas pengangkatan Imam NKA-NII pasca SM. Kartosoewirjo, terlebih dulu perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang mengatur tentang hal itu. Dalam Qanun Azasi, Bab IV Pasal 12 ayat 2 berbunyi; “Imam dipilih oleh Majlis Sjuro dengan suara paling sedikit 2/3 daripada seluruh anggota”. Dan dalam Bab II Pasal 4 ayat 1 berbunyi; “Majlis Syuro terdiri atas wakil wakil rakyat ditambah dengan utusan golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undang undang”. Maka mekanisme pengangkatan Imam NKA-NII diselenggarakan oleh Majelis Syuro sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu. Sehubungan Majlis Syuro sesuai dengan maksud pasal 12 ayat 2 dan Undang-undang yang dimaksud pasal 4 ayat 1 belum ada, maka pengangkatan Imam berdasar-kan ketentuan undang-undang tersebut belum dapat dilaksanakan. Dalam Bab II pasal 3 ayat 2 yang berbunyi: “Jika keadaan memaksa, hak Majlis Suro boleh beralih kepada Imam dan Dewan Imamah”.Dengan demikian jika pada masa sekarang menginginkan pengangkatan Imam oleh wakil-wakil rakyat ditambah dengan utusan golongan, maka Dewan Imamah harus terlebih dulu membuat undang-

undangnya (maklumat). Sehingga dengan itu jelas ketentuan persyaratan serta lain–lain yang berkaitan dengannya. Hak Dewan Imamah dijamin oleh Bab XV, Pasal 34 dalam hal Cara Berputarnya Roda Pemerintah. Point 1 berbunyi ”Pada umumnya Roda Pemerintahan NKA-NII berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam Kanun Asasy dan sesuai dengan pasal 3 dari Kanun Asasy. Sementara belum ada Parlemen (Majlis Syuro), segala undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumatmaklumat yang ditandatangani oleh Imam“. Untuk pertama kalinya, Imam Negara Islam Indonesia yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terangkat melalui konferensi Cisayong tahun 1948. Pelaksanaan konferensi itu merupakan aplikasi dari sistem Syuro yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya. Dan melalui konferensi ini pula, Qanun Azasi (Undang-undang Dasar) Negara Islam Indonesia disahkan. Sistem pemerintahan NKA-NII yang harus dijalankan oleh Imam sesuai dengan Qanun Azasi dipengaruhi oleh kondisi yang dihadapi. Dimana Qanun Azasi telah melansir adanya dua kondisi yang akan dihadapi, yaitu kondisi normal dan kondisi darurat (perang). Dalam kondisi normal, lembaga tertinggi Negara yang harus ada salah satunya adalah Majelis Syuro. Lembaga inilah yang mempunyai hak, diantaranya untuk merubah Qanun Azasi, memilih Imam, menetapkan Haluan Negara dan menetapkan Undangundang. Secara general, bila Negara dalam kondisi normal, maka pemerintahan dijalankan sesuai dengan pasal-pasal yang termaktub dalam Qanun Azasi yang tidak mempunyai ilat darurat. Karena kondisinya tidak normal, maka Imam NKA-NII baik yang permulaan maupun yang seterusnya tidak terangkat melalui Majelis Syuro. Sistem pemerintahan yang pernah berjalan dalam NKA-NII dari sejak terbentuknya pemerintahan tahun 1948 hingga sekarang adalah sistem pemerintahan Dewan Imamah dan sistem pemerintahan Komandemen. Sejak ditetapkan dan diberlakkukan Maklumat No. 7 tertanggal 23 Desember 1948, sistem pemerintahan NKA-NII yang semula menggunakan sistem pemerintahan Dewan Imamah beralih kepada system pemerintahan Komandemen. Oleh karena perubahan sistem ini, maka produk perundangundangan dinamakan “Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT)” yang ditandatangani oleh Imam/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia (Imam/Panglima Tertinggi APNKA-NII). Adapun produk perundang-undangan dalam masa NKA-NII menggunakan sistem pemerintahan Dewan Imamah dinamakan dengan istilah “Maklumat” atau “Maklumat Pemerintah” dan ditandatangani oleh Imam (tidak dirangkai dengan jabatan Panglima Tertinggi APNKA-NII). Dua sistem pemerintahan yang pernah berjalan dalam NKA-NII merupakan representasi dari dua kondisi yang dihadapi. Walaupun tidak sepenuhnya normal kondisi yang dihadapi sejak terangkatnya Imam NKANII hingga tahun 1948, namun sistem pemerintahan yang diaplikasikan oleh Imam awal adalah sistem pemerintahan Dewan Imamah. Kemudian pasca diproklamasikannya NKA-NII tanggal 7 Agustus 1949, kondisi berubah

secara total, dimana kondisinya menjadi fi waqtil harb. Oleh karena itu, sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan sesuai pula dengan penjelasan proklamasi, bahwa Negara Islam Indonesia dalam masa perang (fi waqtil harb), maka system pemerintahan beralih sesuai dengan Maklumat No. 7 tahun 1948. Untuk lebih memperjelas system pemerintahan dalam masa perang, maka ditetapkan MKT No. 1, tertangal 3 Oktober 1949. Peperangan antara RI dan NKA-NII semakin berkobar hingga tahun 1959. Oleh karena peperangan semakin berkobar, maka sangat berpengaruh terhadap strategi yang harus diterapkan. Dan karena strategi perang telah berubah menjadi perang semesta, perang rakyat seluruhnya (jihad fardhu ’ain) maka susunan komando perang dalam NKA-NII diadakan penyempurnaan. Maka lahirlah MKT No. 11 Tahun 1959. Mengacu pada MKT inilah, kemudian susunan pemerintahan NKA-NII dalam masa perang disebut susunan komando perang “Sapta Palagan”. Secara esensi, lahirnya MKT No. 11 Tahun 1959 tidak berbeda dengan MKT No. 1 Tahun 1949, di mana kedua MKT ini tetap menyatakan berlakunya sistem pemerintahan NKA-NII adalah Komandemen. Salah satu faktor yang diatur dalam MKT No. 11 Tahun 1959 adalah berkenaan dengan peralihan kepemimpinan tertinggi NKA-NII. Dalam perundang-undangan (maklumat) sebelumnya yang mengatur peralihan kepemimpinan ini tidak ada, kecuali apa yang termaktub dalam Qanun Azasi. Dengan demikian, system yang mengatur peralihan (estafeta) kepemimpinan NKA-NII hanyalah MKT No. 11 Tahun 1959 sebagai undangundang di bawah Undang-undang Dasar (Qanun Azasi). Adalah sangat illegal (inkonstitusional) bila adanya estafeta kepemimpinan NKA-NII tidak mengacu kepada sistem yang termaktub dalam MKT No. 11 Tahun 1959. Dalam MKT ini dinyatakan, bahwa “K.P.S.I. dipimpin langsung oleh ImamPlm.T. A.P.N.I.I. Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh”. Selanjutnya teknis pelaksanaannya dinyatakan “Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggota-Anggota K.T., termasuk didalamnya K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukkannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggota Anggota K.T.”. Mengingat bahwa calon pengganti Panglima Perang Pusat yang tercantum dalam MKT No. 11 Tahun 1959, pasca syahidnya Imam (awal) SM. Kartosoewirjo, maka calon penggantinya tinggal satu yang diketahui keberadaannya, yaitu dari unsur KUKT (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi). Unsur-unsur lainnya, sebagian sudah Syahid dan sebagian lagi telah meninggalkan tugasnya atau desersi dari NKA-NII. Menurut asalnya, KUKT itu lebih dari satu, sesuai kesaksian Abdul Fatah Wirananggapati. Di mana Imam SM. Kartosoewirjo mengatakan kepadanya bahwa KUKT untuk Sulawesi telah diangkat, namun namanya tidak dijelaskan. Disebabkan namanya tidak dijelaskan serta tidak ada pengakuan atau tidak muncul orang yang mengaku telah diangkat sebagai KUKT selain AFW, maka sebagai bukti nyata bahwa KUKT itu tinggal satu. Sesuai dengan MKT No. 11 tahun

1959, di mana calon pengganti Imam yang tercantum dalam undangundang tersebut adalah dari unsur KUKT, maka KUKT yang tinggal satu itulah langsung menggantikan posisi Imam dengan purbawisesa penuh, tanpa pemilihan. Jika Abdul Fatah Wirananggapati tidak berstatus Imam/KPSI pasca SM. Kartosoewirjo, maka tidak akan lahir Imam berikutnya, “NKA-NII hanya tinggal dalam kenangan”. Mungkin pada masa jayanya NKA-NII, tidak terpikirkan bahwa para AKT (Anggota Komandemen Tertinggi) dan yang setarap dengannya akan berguguran, sehingga peralihan kepemimpinan dapat berjalan sesuai dengan mekanisme syuro antara unsur-unsur yang termaktub dalam MKT No. 11 Tahun 1959. Kesimpulan dari peraturan tersebut bahwa pengganti Imam yang berhalangan harus melalui pemilihan para AKT dan para panglima yang setarap dengannya. Karena calon pengganti hanya tinggal satu, maka secara mutlak AFW sebagai KUKT menggantikan Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo sebagai Imam/KPSI. Dalam hal ini, bagi mereka yang kedudukannya di bawah AKT atau yang tidak termasuk dalam unsur-unsur yang berhak sebagaimana dinyatakan dalam MKT No. 11 Tahun 1959 adalah tidak mempunyai hak sebagai calon, apalagi menggantikan langsung sebagai Imam. Calon pengganti Imam SM. Kartosoewirjo dari unsur KUKT hanya tinggal satu, itu disebabkan oleh kondisi. Oleh karena itu bermusyawarah dengan AKT dan para Panglima yang setarap dengan AKT sebagaimana yang dikehendaki MKT No. 11 Tahun 1959 tidak dapat dilakukan. Dalam hukum Islam, apabila adanya faktor keterpaksaan (darurat) adalah dibolehkan untuk tidak menepati sepenuhnya sesuatu yang sudah ditentukan sebatas yang diperlukan. Begitu juga dalam menjalankan undang-undang harus semaksimal mungkin, yang bisa dilakukan harus dijalankan dan tidak terhalang oleh faktor yang tidak bisa dilakukan. Qaidah ushul menyatakan; “Sesuatu yang tidak dapat dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya”. Kita diperintah ta’at kepada Allah SWT. semaksimal kemampuan. Bila diimplementasikan kepada pelaksanaan MKT No. 11 Tahun 1959 mengenai estapeta Imam, maka jika terpaksa tidak bisa dijalankan dengan mekanisme musyawarah karena yang berhak hanya tinggal satu (KUKT), maka yang satu itu langsung mengemban jabatan Imam/KPSI. Hal demikian adalah lebih memiliki dasar hukum. Tentunya para pembuat peraturan dalam NKA-NII, bukanlah manusia yang terjaga dari kekurangan. Sebagai manusia biasa dalam mencapai tujuannya akan melalui tahap pembelajaran. Oleh karena itu dalam menerapkan suatu peraturan buatan manusia tidak sekaligus dalam kesempurnaannya. Khalid bin Walid menjadi Panglima Perang sewaktu Perang Mu`tah diangkat oleh musyawarah sebab peraturannya demikian. Maksudnya, jika Zaid bin Harist bersama dua pengganti yang dicantumkan dalam aturan yang sudah ditetapkan yaitu Ja`far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah Syahid, maka pimpinan perang diserahkan kepada musyawarah para bawahan panglima. Berbeda dengan yang tertera dalam MKT No. 11 Tahun 1959, pelaku musyawarahnya telah ditentukan dan tidak disebutkan (diatur) bagi aparat bawahannya boleh melakukan syuro untuk

memilih pengganti Imam yang berhalangan. Seandainya semua calon yang termaktub dalam MKT No. 11 Tahun 1959 itu gugur, bagaimana pula menterapkan MKT 11 Tahun 1959? Maka solusinya adalah ijtihad para mujahid yang memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Untuk menghadapi sesuatu yang berada di luar jangkauan perudang-undangan yang telah ditetapkan, maka undang- undang pada suatu waktu menghendaki perubahan guna menghadapi kebutuhan di masa mendatang. Sehubungan adanya maklumat yang mengatur tentang pengangkatan Imam sehingga memiliki kapasitas dan legalitas, maka saya serukan kepada para pejuang Negara Islam Indonesia agar menta`ati dulu peraturan yang ada sebagaimana yang terhimpun dalam PDB, guna mempersatukan diri. Dengan demikian kita akan memperoleh kekuatan dalam segala bidang. Juga untuk perbaikan perjuangan sesuai dengan harapan, di mana kita harus dapat mengimbangi perkembangan kondisi dan keadaan. 3. Proses Abdul Fatah Wirananggapati sebagai KUKT Alhamdulillah, calon yang tercantum dalam MKT No.11 Tahun 1959 pasca Imam SM Kartosoewirjo dieksekusi pada September 1962, waktu itu masih ada KUKT yaitu Abdul Fatah Wirananggapati (AFW). Beliau dalam sejarahnya tertangkap pada 2 Mei 1953 di Jakarta setelah kembali dari Aceh mengangkat Tgk. Muhammad Daud Beureueh sebagai Panglima Wilayah V Divisi TII Cik Di Tiro, dan beliau sempat 15 hari tinggal bersama Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Dalam buku Peristiwa berdarah di Aceh, Meuraxe Dada, merupakan bukti sejarah yang benar bahwa Abdul Fatah Wirananggapati adalah KUKT. Perlu dipahami bahwa sebelum SMK (Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) mengangkat AFW sebagai KUKT, telah diutus seorang kurir yang bernama Mustofa Rasyid yang mempunyai tugas menyampaikan amanat kepada Tgk. Muhammad Daud Beureueh dengan membawa dokumen perjuangan NKA-NII. Kurir tersebut memperoleh surat jalan tahun 1952 dari Nawawi Dusky (wakil ketua GPII). Mustofa Rasyid berangkat ke Medan pada bulan April 1952 dan tertangkap di Sumatera Utara pada bulan April 1953. Jadi, sebelum AFW tertangkap, terlebih dulu Mustofa Rasyid tertangkap dan tersita pula beberapa dokumen yang berhubungan dengan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Pernyataannya Aceh telah menjadi wilayah bagian Negara Islam Indonesia, bukanlah dalam kondisi rahasia, melainkan secara terbuka, terdapat sebagian komandan dan prajurit TNI mengikuti jejak Tgk Muhammad Daud Beureueh hingga melepaskan seragam TNI dan diganti dengan seragam Tentara Islam Indonesia (TII). Diberitakan “bahwa di dalam peristiwa Aceh ini banyak bupati meninggalkan posnya, dan masih belum diketahui kemana mereka pergi”. Adanya keterangan, bahwa Mustofa Rasyid adalah kurir yang diutus oleh SMK, maka merupakan bukti bahwa Abdul Fatah Wirananggapati yang selama ini dianggap hanya sebagai kurir adalah suatu kesalahan. untuk itu penting dipertegas, bahwa Mustofa Rasyid bukanlah Abdul Fatah Wirananggapati. Jabatan KUKT untuk Aceh pada mulanya dirangkap oleh Imam, SM. Kartosoewirjo, hal itu didapat dari: 1) Dalam lembaran Manifesto tertanggal

7 Agustus 1952 tertulis nama Idharul Huda; 2) Berdasarkan keterangan dari Ateng Djaelani Setiawan bahwa Imam Kartosoewirjo mempunyai banyak nama samaran. Pada satu daerah tertentu ia memakai salah satu nama samarannja. Nama depan Kartosoewirjo “SM” adalah singkatan “Sekarmadji Maridjan”, jadi nama lengkapnja adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Nama samaran jang biasa dipakai adalah Kalipaksi (nama ini kemudian dipakai untuk sebuah resimennja), Idharul Huda (dipakai untuk sebuah bataljonnja yang biasanja disingkat “I.H.”), Him Cokro, Ahmad Djamaluddin, Hadi SU Darmawaskita, AT Ridjalulloh, Marsidi Ajuninggoro dan samaran yang baru adalah Widjaja. Dari dua keterangan itu jelas bahwa jabatan KUKT untuk Aceh sebelum dijabat oleh AFW, diemban oleh Imam sendiri. Namun, pada akhirnya Imam Awal membutuhkan seorang yang bisa memegang jabatan KUKT untuk bertugas keluar pulau Jawa. Dalam pencarian personal yang layak untuk jabatan itu, Imam Awal menghubungi Anwar Cokroaminoto seorang kepercayaan SMK yang aktiv di kalangan masyarakat umum tapi disembunyikan dalam kalangan NKA-NII. Dan Anwar Cokroaminoto dipercaya untuk mencari orang yang memenuhi persyaratan sebagai KUKT. Dalam hal itu Anwar Cokroaminoto menyebutkan nama Abdul Fatah Wirananggapati yang sudah dikenalnya sebagai aktivis GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Setelah data-data kompetensi dirinya dikemukakan, kemudian Anwar Cokroaminoto diperintahkan untuk menghubungi AFW. Setibanya Anwar Cokroaminoto di Cirebon, AFW tidak berada di tempat yang dituju sehingga tidak bertemu dengannya. Dalam keadaan itu Anwar Cokroaminoto menemui Agus Abdullah dan menyampaikan perintah dari Imam Awal bahwa AFW harus dipertemukkan dengan Imam Awal. Pada saatnya, Agus Abdullah mengantarkan AFW dan dipertemukannya sesuai perintah. Seminggu lamanya bersama Imam Awal dan berdikusi tentang NKA-NII lalu AFW dilantik sebagai KUKT, dan disaksikkan oleh Zaenal Abidin dan Baharudin. Kemudian oleh Imam Awal diperintahkan berangkat ke Aceh. Zaenal Abidin dalam kesaksiannya menjelaskan Abdul Fatah Wirananggapati diperkenalkan sebagai KUKT (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi) oleh almarhum SM. Kartosoewirjo dalam suatu pertemuan. Dalam kedudukannya sebagai KUKT itulah beliau diutus ke Aceh untuk melantik Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Keterangan AFW di pengadilan tahun 1953 menerangkan, “A, Fatah jang berumur 29 tahun djabatan terachir kuasa usaha Darul Islam dan pernah mendjadi ketua GPII daerah Tjirebon di dalam tahun 1949, dalam keterangannja di depan hakim menerangkan bahwa ia sudah kurang lebih setahun mendjadi anggauta D.I. diterangkannja bahwa ia sangat tertarik akan organisasi tsb. Dan pernah mendapat tugas membingbing perjuangan mendirikan negara Islam di Atjeh dari pemimpin D.I. Kartosoewirjo”. Keterangan di depan hakim itu posisi AFW bukan sebagai terdakwa melainkan sebagai saksi. Sampai saat ini tidak ditemukan referensi AFW diadili. Tatkala akan meninggalkan Aceh, dua pengawal, yaitu Tgk. Ilijas Leubai dan Hasan Gajo diperintah mengantarkannya oleh Tgk. Muhammad Daud Beureueh sampai Jakarta. Setibanya di Jakarta salah seorang dari

petugas membawanya ke rumah famili petugas itu untuk menginap. Dan pada malam itu juga terjadi penangkapan. Dalam penangkapan itu AFW sempat lolos. Pada kesempatan itu berusaha untuk bisa segera melaporkan tugasnya ke pusat. Namun, untuk itu perlu persiapan yang berkaitan dengan situasi dan kondisi waktu itu. Dalam keadaan demikian teringat pada seorang ummat yang tinggal di Manggarai kemudian menuju rumahnya. Tetapi, baru saja mandi serta ganti baju datang pula penggerebegan, AFW tertangkap kembali lalu dibawa ke penjara Cirebon. Dalam penjara tersebut pada waktu itu dihuni banyak orang komunis yang terlibat Pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun 1948. Sedangkan aparatur pemerintah RI di Cirebon pada waktu itu di antaranya orang-orang PKI maka diterimalah kabar oleh orang–orang komunis dalam penjara, datangnya orang kedua dari Kartosoewirjo maka sebagian orang PKI itu mengeroyok untuk membunuhnya. AFW sempat melawan, menangkis pisau dengan menggunakan handuk, juga perlawanan itu dibantu oleh Zaenal Hatomi, dia adalah pejuang NKA-NII yang lebih dulu tertangkap dan dimasukkan ke penjara Cirebon. Dirinya mengetahui datangnya orang kedua dari Kartosoewirjo kabar dari orang - orang komunis pada saat akan terjadi pengeroyokan. (Kejadian di penjara Cirebon ini keterangan dari Zaenal Hatomi, dalam wawancara dengannya Tahun 1992). AFW selamat, adapun Zaenal Hatomi kena luka di bagian kepalanya. AFW hanya singgah di penjara Cirebon, karena sesudah peristiwa pengeroyokan itu dipindahkan ke Nusakambangan. Di sana bertemu kembali dengan Baharuddin yang pernah menyaksikan pengangkatan AFW sebagai KUKT (Keterangan dari Baharudin). Sesudah Imam Awal dieksikusi bulan September, AFW dibebaskan pada tahun 1963. 4. Masa-masa Yang Penuh dengan Kecurigaan Sesudah terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh beberapa panglima, yakni mereka menyerahkan diri kepada musuh, bahkan ada yang membocorkan strategi perjuangan, yang selajutnya diikuti oleh Ikrar Bersama 1 Agustus 1962, dengan demikian sejak itu kondisi di antara para Mujahidin NKA-NII sudah terjadi saling kecurigaan. KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati yang diangkat pada tahun 1953 dan pada tahun itu juga tertangkap di Jakarta, setelah kembali dari Aceh melantik Tgk. Muhammad Daud Beureueh selaku Panglima Wilayah V Divisi TII Cik Di Tiro. Mendekam selama sepuluh tahun di Nusakambangan, membuat dirinya tidak banyak dikenal oleh warga NKA-NII apalagi dalam hal jabatan KUKT-nya. Lebih-lebih pada masa itu banyak yang tidak memahami perundangundangan NKA-NII sehingga umumnya tidak tahu siapa sebenarnya pelanjut dari Imam sesudah SM. Kartosoewirjo. Kondisi secara umum pada waktu itu jangankan orang memikirkan perundang-undangan NKA-NII, terhadap NKANII-nya saja sudah dianggap hancur lebur.

5. Memerlukan Proses Waktu Sesudah Imam SMK tertangkap, 4 Juni 1962 kemudian disusul oleh adanya “Ikrar Bersama” yang dilakukan oleh sebagian besar mantan pimpinan / Komandan TII dalam hal sumpah setia terhadap UUD 45 dan Pancasila serta menyesali diri dalam hal perjuangan NKA-NII, maka sungguh sulit pada tahun-tahun itu untuk memastikan siapa yang bisa diajak bicara tentang kelanjutan perjuangan NKA-NII. Sebab, terbetik pandangan bahwa para pemimpinnya saja sebagian besar sudah kembali menyerahkan diri ke RI, apalagi prajurit bawahannya serta masyarakat umum. Dalam kondisi sedemikian itu membutuhkan proses waktu untuk menjelaskan estapeta kepemimpinan NKA-NII. Adalah tidak mungkin menjelaskannya, jika orang yang akan dipimpinnya pun belum ditemukan. Serta, tidak tepat bila menjelaskan estapeta kepemimpinan NKA-NII kepada mereka yang sudah menyesali diri mengenai keterlibatan dalam perjuangan NKA-NII, serta mengakui kesesatannya, sehingga menjatuhkan martabat NKA-NII. Tentu, pada waktu itu masih ada pribadi-pribadi yang masih berkeinginan melanjutkan perjuangan NKA-NII, tetapi karena mereka sudah terpencar serta bercampur dengan sebagian yang sudah kompromi dengan penguasa RI, maka sukar bagi Abdul Fatah Wirananggapati mencari mereka yang masih setia terhadap perjuangan NKA-NII. Kondisi pada waktu itu hanyalah kecurigaan atau saling ketidakpercayaan antara mereka. Contohnya, sesudah Imam S\M. Kartosoewirjo tertangkap, waktu itu di Jawa Tengah masih ada pasukan sekitar seratus orang yang dipimpin oleh Ismail Pranoto yang tetap mengangkat senjata, terus mengadakan perlawanan sesuai dengan Amanat Imam Tahun 1959 dihadapan para panglimanya. Tetapi, begitu ketahuan oleh bekas kawan-kawannya kemudian dibujuk oleh tipuan bahwa di kota telah ada “Cease Fire” (gencatan senjata). Disebabkan mereka tidak mengikuti bujukan demikian maka akhirnya diultimatum oleh para pembujuk itu, bila tidak menyerah akan digempur. Dan nyata bahwa pasukan yang dipimpin Ismail Pranoto itu dikejar-kejar. Bukan saja oleh TNI, melainkan juga dibantu oleh bekas-bekas TII. Setelah pengejaran terhadap pasukan Ismail Pranoto, sisa dari pasukan itu terus bergerilya dan pimpinannya diambil alih oleh Kastolani, karena Ismail Pranoto pindah ke Yogya untuk mencari dukungan di daerah tersebut. Selanjutnya pada awal tahun 1965, Ismail Pranoto mengutus Hanif dan Safri (Salman Farisi) kepada Kastolani dengan pesan bahwa Ismail Pranoto akan berangkat ke Sumatera untuk mengusahakan tempat di sana sebagai basis baru bergerilya. Pada tahun 1967 pasukan yang dipimpin Kastolani tinggal 12 orang terdiri dari delapan orang militer dan empat orang sipil. Mereka sudah bertekad dengan pribahasa sekalipun menjadi ‘monyet’ (hidup di hutan bergerilya), tetap tidak akan menyerah kepada musuh. Hanya, mereka tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya di luar daerahnya. Di saatsaat demikian itu datanglah dua utusan dari Kadar Solihat yaitu Khaeruddin

salah seorang bekas komandan Kompi TII Kebumen, Jawa Tengah, yang satunya ialah Abdullah. Khaerudin memberitahukan masih adanya kekuatan Kahar Muzakar di Sulawesi serta Tgk. Muhammad Daud Beureueh di Aceh, juga di Jawa Barat Siliwangi separuhnya sudah NKA-NII. Dengan kalimatkalimat itu Kastolani dan Zaenal Asikin merasa pasukannya akan diperintahkan untuk pindah tempat bergerilya ke luar Jawa. Kedua utusan itu menjanjikan ada tiga pilihan tempat bergerilya, Apakah mau di Sulawesi,Aceh, atau mau di Jawa Barat. Tertipu oleh informasi demikian, Kastolani menuruti Khaeruddin, kemudian mengirimkan empat orang personilnya yang sipil dengan diantar oleh Khaeruddin ke Jawa Barat. Setelah satu minggu perjalanan dengan menginap di beberapa tempat, lalu sesuai dengan yang sudah ditentukan dijemput di stasion kereta api Bandung oleh Fajri seorang bekas komandan Resimen TII Banyumas. Para penjemput itu membawa mereka ke sebuah rumah mantan komandan resimen TII. Keempat orang itu mengikutinya dengan maksud dalam rangka bergerilya mencari kawan-kawan seperjuangan yang dalam dugaan sedang menyusun kekuatan di kota. Tetapi, karena tidak tahu mana yang masih setia terhadap NKA-NII dan mana yang sudah menyerah kepada musuh, maka secara tidak disadari ketika masuk rumah mantan komandan resimen TII; ketika itu juga masuk dalam perangkap musuh, selama satu minggu belum disadarinya. Kemudian setelah seminggu lamanya berada di rumah tersebut, mereka dibawa oleh bekas komandan resimen itu serta dikatakan kepada mereka akan dibawa ke Tasikmalaya. Mereka tidak curiga akan ditangkap, walau dibawa ke Brigif 13, karena informasi sebelumnya bahwa Siliwangi separuhnya sudah berpihak kepada NKA-NII, juga yang membawanya adalah seorang tokoh di kalangan NKA-NII. Mereka baru menyadari keadaan sedang ditangkap oleh musuh, sewaktu mereka dimasukkan ke dalam sel dan ketika akan mengambil air wudhu, melakukan sholat dikawal oleh anggota T N I dengan senjata otomatis. Sementara itu pasukan Kastolani yang di Jawa Tengah belum tahu adanya kejadian yang menimpa kepada empat orang anak buahnya yang di utus ke Jawa Barat. Tujuh belas hari sesudah kedatangan Abdullah dan Khairuddin atau setelah empat orang sipil tadi ditangkap musuh, datang lagi Khaeruddin mengantar Kadar Sholihat bersama salah seorang bekas komandan kompi TII di Jawa Barat, disertai tiga orang TNI yang menyamar dengan berpakaian preman yang sebelumnya tidak diketahui oleh Kastolani bahwa pada masing-masing pinggangnya terselip pistol. Sesudah bertemu dengan kedua bekas komandan TII serta tiga orang TNI yang menyamar itu, maka muncullah kira-kira seratus orang TNI dari tempat persembunyian. Sewaktu berlangsung pembicaraan, Kastolani bertanya kepada Kadar Sholihat, “Apakah hal ini tidak menggunakan sarana musuh (maksudnya tidak diketahui musuh)?” Dalam hal ini Kadar Sholihat meyakinkan bahwa mereka akan dimutasikan dalam rangka melanjutkan perjuangan. Kastolani percaya akan hal itu karena mengingat pesan dari Ismail Pranoto yang berusaha menyediakan tempat di Sumatera, dan ini dianggap sebagai

hasilnya. Selain itu juga Kastolani percaya bahwa di Siliwangi sudah banyak yang berpihak pada NKA-NII, sehingga tidak curiga ketika diperintahkan naik ke mobil pik up oleh Kadar Sholihat. Dengan itu delapan TII termasuk Kastolani, bersama keenam orang penjemput itu meninggalkan Brebes. Kastolani baru sadar bahwa dirinya sudah tertipu, tatkala mobil yang mereka tumpangi itu memasuki markas Brigif 13 Galuh, Tasikmalaya Jawa Barat. Sungguh jelas pada tahun-tahun itu sangat susah untuk saling percaya, sebab kawan dan lawan amat samar. 6. Kehati-hatian dalam Menyikapi dan Melangkah Pada Tahun 1971 AFW berkumpul bersama empat orang tokoh NKANII dari Jawa Barat yang siap menggalang kembali kekuatan NKA-NII. Dari pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa AFW harus pergi ke Aceh menemui Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Dalam pada itu AFW berpesan kepada empat orang yang akan ditinggalkan itu bahwa mujahid dibagi tiga kelas: 1) Mujahid yang bisa dibawa bicara dan dibawa kerja ialah seluruh mujahid yang tidak pernah khianat; 2) Dibawa bicara, tapi jangan dibawa kerja ialah mujahid yang diberi kesenangan kerena sangat akrab dengan Bakin; dan 3) Sama sekali jangan dibawa kerja dan jangan diajak bicara (diberi tahu). Kenyataannya, Tahun 1973 diadakan musyawarah di Jakarta. AFW menunggu di rumah Jabir. Kata Dodo M. Darda kepada AFW, “Bapak tunggu di sini”. Kira-kira jam 10 siang datang lagi Dodo M. Darda mengatakan kepada AFW, Abu Daud tidak datang. Lalu kata AFW, “Kalau gitu tidak jadi pertemuan itu, maka saya akan pulang ke Bandung. Sesudah meninggalkan Jakarta, tahu-tahunya jadi pertemuan itu dan diangkatnya Tgk. Muhammad Daud Beureueh sebagai Imam. Dalam hal itu ada yang bertanya kepada AFW, mengapa bapak tidak diikutsertakan dalam pertemuan itu? Jawabnya, ”Mungkin alasannya karena diadakan di rumah Adah Djaelani, serta penyandang dananya dari Ateng Djaelani Setiawan“. Apa yang menimpa kepada para mujahid di bawah pimpinan Kastolani pada Tahun 1967 sebagaimana telah diuraikan, terulang kembali pada tahun 1970-an dalam versi lain. Silahkan anda menilai kutipan ini, ”Dalam kesadaran terpepet itulah saksi Ateng Djaelani datang menemui Panglima Kodam IV Siliwangi, yang ketika itu dijabat Mayjen Himawan Sutanto. Segala yang direncanakan rekan-rekannya tentang DI/TII, dilaporkan kepada Mayjen Himawan. Ketika itu juga Panglima memerintahkan aparatnya untuk mengambil tindakan Sedangkan saksi sendiri, yang ketika itu datang bersama rekannya Zaenal Abidin, Kadar Solihat mengatakan kepada Mayjen Himawan bahwa mereka akan mempersiapkan operasi “pertentangan”. Saksi dan Zaenal Abidin akan berusaha menghubungi rekan-rekannya dan mengajak mereka untuk kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Salah seorang yang berhasil ditemui Ateng ketika itu adalah tertuduh Sukana Fachruroji. Hal itu dibenarkan tertuduh di persidangan hari itu.

Dari beberapa kejadian itu bisa disimpulkan; “tidak mudah bagi Abdul Fatah Wirananggapati untuk mengajak tokoh-tokoh yang sudah menyerahkan diri kepada musuh itu supaya menerima estapeta kepemimpinan berdasarkan undang-undang MKT No.11 Tahun 1959. Sebab, jangankan terhadap KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati yang tidak besamasama dengan mereka karena beda lapangan tugasnya, sedangkan terhadap yang sama-sama satu lapangan juga tega melaporkannya kepada aparat pemerintah RI. Jangan aneh bila anda dengar bahwa di antara para tokoh yang sudah menyerahkan diri kepada musuh itu telah melecehkan Abdul Fatah Wirananggapati, sebab beliau telah membuat At-Tibyaan yang menjelaskan mengenai estapeta kepemimpinan NKA-NII berdasarkan perturannya, serta menjelaskan mengenai nilai hukum berdasarkan Qur’an terhadap mereka yang sudah menyerahkan diri kepada musuh. Dalam kondisi sedemikian, langkah pertama yang bisa ditempuh oleh Abdul Fatah Wirananggapati, yaitu mengadakan pendekatan kepada masyarakat secara bertahap sehingga ditemukan kader-kader baru atau warga NKA-NII. Juga, berusaha menemukan personil TII yang masih utuh terlepas dari nilai kompromi dengan musuh. Adapun langkah kedua, yaitu menjelaskan kelanjutan perjuangan kepada yang ingin mengetahuinya. Sebab, masalah estapeta kepemimpinan NKA-NII pada awal kebangkitannya, hanya bisa dijelaskan kepada yang sudah benar-benar diketahui berkeinginan memahaminya. Dengan itu sangat terbatas. Hal demikian karena adanya beberapa faktor di antaranya ialah: Pertama, Kebanyakan ummat tidak memiliki wawasan mengenai perundang-undangan NKA-NII. Atau tidak menganggap penting, sehingga mereka mengakui pemimpin itu cuma berdasarkan idolanya masing masing atau ikut-ikutan; Kedua, Kebanyakannya tidak memahami nilai hukum mengenai yang sudah mundur dari NKA-NII, sehingga masih dianggap sebagai pimpinan; Ketiga, Adanya sebagian eks pimpinan TII yang tidak sadar dalam monitoring serta arahan dari pemerintah RI, sehingga terpancing memunculkan kepemimpinan, dengan tidak berdasar pada peraturan NKA-NII; Keempat, Banyak eks tokoh TII yang tidak mengakui kesalahan dalam hal “desersi” dari NKA-NII, sehingga yang sebenarnya menyerahkan diri kepada musuh, malah disebutnya sebagai ‘Hudaibiyah’; dan Kelima, Banyaknya eks pimpinan TII yang tidak mau taubat menurut prosedur hukum (tidak mau mengeterapkan Q.S.4:64), Sehingga menyepelekan Abdul Fatah Wirananggapati bahkan menjegal langkahnya. 7. Kekisruhan dan Proses Sejarah Kembali Kepada Undangundang Selama Abdul Fatah Wirananggapati mendekam dalam penjara dari tahun 1975 sampai tahun 1983, selama itu pula terjadi kekisruhan yang besar dalam tubuh ummat yang mengatas-namakan NKA-NII. Menurut kesaksian Adah Djaelani dalam persidangan “…NKA-NII di Indonesia ada tiga kelompok yaitu: kelompok yang Imam-nya Daud Beureuh, Wakilnya saksi, kelompok yang Imam-nya Djadja Sudjadi (Garut Timur) dan kelompok yang Imam-nya H Sobari (Rajaplah), Tasikmalaya). Sebab-sebab terjadinya pengelompokan karena masing- masing ingin memisahkan diri

dengan alasan seperti dikatakan oleh saksi: “H. Sobari menganggap kami yang menyerah th’62 sebagai pengkhianat sehingga ia membentuk NKA-NII sendiri, sedangkan kelompok Djadja Sudjadi menyayangkan kami mengaku Imam orang Sumatera sehingga ia membentuk NKA-NII sendiri. Adanya kelompok kelompok DI/TII yang semuanya ingin mewujudkan berdirinya NKA-NII merupakan faktor penghambat karena satu sama lain saling jegal menjegal dalam mengumpulkan masa, satu sama lain saling jelek menjelekkan (propokasi) dalam mempengaruhi masyarakat,...”. Hal tersebut di atas karena mereka tidak menggunakan perundangundangan mengenai estapeta kepemimpinan NKA-NII, sehingga ummat terbagi ke dalam banyak kelompok. Setiap kelompok mempunyai langkah (program) masing-masing. Karena itu antara satu kelompok dengan dengan kelompok lainnya bersinggungan. Yang paling tajam perbenturan antara kelompok adalah paham dalam hal mengenai siapa pemimpin sebenarnya dalam NKA-NII. Sesudah Abdul Fatah Wirananggapati bebas dari penjara tahun 1982, saya (Muhammad Yusuf Thohiry) bertemu dengan beliau tahun 1984. Kemudian AFW memberikan penjelasan-penjelasan, yang intinya “Bahwa estapeta kepemimpinan NKA-NII yang sebenarnya mesti berdasarkan undang-undang/MKT No. 11 Tahun 1959”. Didalamnya tercantum jabatan KUKT yang disandang olehnya. Ada juga sebagian ummat yang mengetahui posisi AFW sebagai pelanjut kepemimpinan NKA-NII hal itu bersumber dari keterangan Ajengan Masduki. Akan tetapi, karena Abdul Fatah Wirananggapati baru keluar dari tawanan dan dianggap masih sedikit pengikutnya, maka bagi yang maunya berpihak kepada banyaknya pengikut, mereka dengan cepat menolak penjelasan darinya. Lebih dari itu dikarenakan mereka tidak bisa menolak dengan hujjah, maka ada sebagiannya yang melemparkan fitnah dengan tuduhan ambisi kepemimpinan, serta lainnya. Sebaliknya, bagi yang berjihad ingin berdasarkan ilmu, dan berkehendak dipimpin oleh pemimpin yang keberadaannya didasari hukum/peraturan, maka menyambut dengan gembira terhadap penjelasan mengenai estapeta kepemimpinan yang berdasarkan undang-undang. Hal itu didasari ayat yang bunyinya:

“Dan janganlah kamu seperti mereka yang berpecah-belah dan berselisih, sesudah tanda bukti yang jelas datang kepada mereka Dan bagi mereka adalah siksaan yang berat.” Untuk memenuhi kebutuhan ummat dalam memahami nilai undangundang, AFW pada tahun 1987 menulis “At-Tibyaan” yang artinya “penjelasan”. Sungguh, apa yang diperbuat oleh AFW sebagai pemimpin

tertinggi NKA-NII adalah sesuai dengan batas kemampuan dirinya yang tidak terlepas dari proses kondisi dan situasi serta tidak luput dari berbagai rintangan. Jadi, bila penjelasan itu sampai kepada anda belum lama, atau baru sekarang saja, maka itu hanya merupakan proses sejarah diri kita semua, karena masing-masing diri punya sejarahnya. Bila terlambat, tidak harus bertanya atau protes “mengapa diri terlambat?” Sebab, termasuk diri anda juga harus menjawabnya ! Tentu, jika hati suci, maka akan menjawabnya, ”lebih baik terlambat daripada terlewatkan sama sekali!“. 8. Kembali kepada Sistem Proses proses pemahaman sejarah serta penilaian terhadap posisi para tokoh NKA-NII terus berkembang seiring berlanjutnya perjuangan. Konsolidasi antar mujahid berjalan sehingga pada tahun 80-an AFW bertemu dengan Kholil alias Pi’i bin Dahrodji. Kholil dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan RI dalam peristiwa Idul Adha 1962. Namun, sesudah peristiwa G.30 S. PKI, 1965 dirinya memperoleh keringanan diperbolehkan pulang. Dalam kesempatan itu ia melarikan diri tidak kembali ke penjara. Setelah bertemu dengan Kholil, AFW dipertemukan kembali dengan Zaenal Hatomi. Dari pertemuan itu AFW memperoleh keterangan dari Zaenal Hatomi bahwa Imam SM. Kartosoewirjo pernah menyatakan, bahwa para Petinggi/Komandan TII yang datang menyerahkan diri kepada pemerintah RI telah gugur dari kepemimpinannya. Adapun Kholil menceritakan, bahwa dirinya diperintahkan untuk mengeksikusi tiga bekas petinggi NKA-NII Jawa Barat yang menyerahkan diri kepada RI. Perintah itu akan dilaksanakan jika Soekarno sudah terbunuh. Selanjutnya sekitar tahun 1986-an AFW memperoleh dokumen lembaran “Ikrar Bersama,1 Agustus 1962” yang ditandatangani oleh 32 orang bekas para komandan TII yang isinya menyesali diri dalam perjuangan NKA-NII. Menurut Zaenal Haftomi, lembaran tersebut telah disodorkan kepada Imam SM. Kartosoewirjo setelah divonis mati oleh pengadilan RI. Tanggapan Imam pada waktu itu, “Mereka bukan saja telah batal, tapi juga menyeberang”. Dari penemuan barunya itu AFW mengambil sikap, bawa semua yang sudah menyerahkan diri kepada RI adalah batal termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh, walau dulunya memegang jabatan setarap AKT (Panglima KPWB). Manifesto politik AFW diungkapkan dalam tulisan dengan judul “At-Tibyaan”, 1987. Mujahid NII diharuskan beralih dari kepemimpinan lama setelah datang kepadanya penemuan baru tentang nilai dan sistem, bukan karena mengikuti seseorang yang sudah difigurkan, melainkan karena sistem, yakni seperti halnya MKT No.11, Tahun 1959 serta keutuhan nilai sebagai pemegang jabatan yang setaraf dengan -nya. Bila pemimpin salah melangkah karena ijtihadnya maka kewajiban kita mengembalikannya kepada sistem, sebab yang diikuti ialah sistem bukan figur. Begitu juga kekeliruan AFW atau keterlambatannya menentukan sikap sebagai estapeta K.P.S.I. sesuai dengan M.K.T. No. 11, Tahun 1959 karena terjegal oleh berbagai proses perjuangan serta pemikiran, maka dari hal itu kewajiban kita kembali kepada sitem / undang-undang.

9. Estapeta Kepemimpinan NKA-NII Tahun 1991 Sebelum Abdul Fatah Wirananggapati tertangkap tahun 1991, beliau belum sempat membentuk Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia (pemerintahan). Akan tetapi pada tahun 1987, beliau mengangkat para asisten untuk membantu tugasnya sebagai Imam/KPSI. Para Asisiten itu dikenal dengan nama ”team dua belas”, yang tak berapa lama dibubarkan. Adapun penyebab belum dibentuknya pemerintahan karena dalam membentuk pemerintahan dibutuhkan orang-orang yang betul-betul memahami perundang-undangan NKA-NII, serta memegang teguh undangundang tersebut. Secara resmi Abdul Fatah Wirananggapati menulis AtTibyaan, 1987 untuk menjelaskan estafeta kepemimpinan NKA-NII berdasarkan perundang-undangan. Akan tetapi sedikit sekali yang memahaminya, sehingga sangat lambat perkembangannya. Kondisi sedemikian ini dijadikan pertimbangan untuk tidak tergesa-gesa membentuk Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia. Pada tahun 1987 Abdul Fatah Wirananggapati sebagai Imam/KPSI dengan Purbawisesa penuh yang dimilikinya mengangkat Muhammad Yusuf Thohiry sebagai asisten Imam/KPSI bidang inventarisasi. Kemudian, pada tahun 1991 AFW dalam pengejaran musuh tertangkap kembali. Satu minggu sebelum tertangkap, Imam/KPSI Abdul Fatah Wirananggapati menunjuk Muhammad Yusuf Thohiry secara langsung untuk menggantikan dirinya, jika dirinya (AFW) tertawan musuh. Disebabkan pada waktu itu belum terbentuk Komandemen Tertinggi NKA-NII, yakni belum terangkatnya KSU, para AKT, KUKT, dan Para Panglima yang setarap dengan AKT. Maka, dalam keadaan itu Muhammad Yusuf Thohiry bersedia mengemban jabatan Imam / KPSI. Atas Ketidaklaziman dalam estafeta ini, bolehlah kita perhatikan wasiyat Imam Awal (SMK) tahun 1959 di hadapan para Panglima, yang menyatakan; “Djika kalian dalam berdjuang putus hubungan dengan para Panglima sedangkan jang ada hanja pradjurit petit, maka pradjurit petit tampil sebagai Imam”. Amanat yang diberikan secara langsung oleh AFW kepada MYT tidak dalam sebuah pertemuan dengan disaksikan oleh banyak yang hadir karena situasi dan kondisinya sangat genting. Peralihan kepemimpinan itu terjadi sekitar seminggu sebelum terjadi penangkapan terhadap AFW. Sekalipun peralihan kepemimpinan itu tidak normal, namun sebelumnya telah ada beberapa orang yang bertanya kepada Abdul Fatah Wirananggapati perihal peralihan kepemimpinan; ”Bagaimana jika bapak tertangkap, siapa yang menggantikan posisi pimpinan? Jawaban AFW; “Syahir Mubarok (Muhammad Yusuf Thohiry)”. Amanat yang diberikan saat itu belum sempat tertulis hitam di atas putih, namun tetap dijalankan atas dasar tanggung jawab yang disaksikan Allah SWT serta Malaikat-Nya. Setelah menerima peralihan kepemimpinan dan didasari tanggung jawab, juga karena adanya kebutuhan yang mendesak, Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI, segera membentuk pemerintahan. Pembentukan pemerintahan itu ditetapkan dengan keluarkannya Maklumat No. I Tahun 1994, tertanggal 14 Rajab 1415 H / 17 Desember 1994 M.

10. Mengutamakan Legitimasi Pengangkatan Sesudah pengangkatan aparat yang dilakukan Muhammad Yusuf Thohiry di diluar itu ada suara yang mengatakan,” Bahwa para AKT yang diangkat itu bukanlah para AKT yang riil, tidak seperti pada jaman Imam Awal yang militernya jelas bersenjata, sanggup menghadapi pertempuran di fron terbuka. Jadi, katanya kalau sekedar AKT-AKT-an semua orang juga bisa”. Boleh- boleh saja berkata demikian karena haknya. Namun, perlu diketahui bahwa bisanya disebut sebagai AKT yang sah atau benar jika terlebih dulu memiliki legalitas, artinya bahwa yang didahulukan, yakni terlebih dulu adanya pengangkatan yang dilakukan oleh yang berhak mengangkatnya yaitu yang memiliki legalitas pula. Dengan demikian tidak semua orang bisa diangkat sebagai AKT ! Juga, tidak setiap orang memiliki legitimasi mengangangkat AKT ! Nabi S.a.w. sebelum memimpin ummat atau ribuan pasukan bersenjata maka terlebih dulu adanya pengangkatan sebagai Nabi. Jadi, soal memiliki pengikut atau kekuatan bersenjata hal itu perkara berikutnya. Artinya, kepemimpinan dalam Islam itu terlebih dulu dimulai oleh pengangkatan dari yang memiliki legalitas. Jadi, soal memiliki pengikut atau kekuatan ribuan tentara hal belakangan. Juga, soal banyak atau sedikit pengikut tidak menjadi ukuran bagi legitimasi pemimpin. Coba perhatikan sejarah di antara para Nabi: Pengikut Nabi Nuh hanya tujuh puluh orang, Nabi Yunus yang pernah melakukan kesalahan, pengikutnya empat puluh lima orang, bahkan ada lagi yang ditinggalkan oleh sebagian pengikutnya. Tetapi, karena mempunyai legitimasi maka tetap saja sebagai Nabi. Hal demikian tida4aja terjadi kepada para nabi, tetapi terjadi pula kepada sahabat Nabi S.a.w. Ali bin Abi Thalib r.a, sewaktu berada diperkemahan, saat subuh dilihat pasukannya tinggal seribu lagi. Beliau berkata;"Biarlah mereka pergi cukup bagiku Alloh dan Rasulnya. Jelas dari ucapan Ali r.a.itu dapat diambil makna bahwa barometer sebagai pemimpin, bukanlah diukur oleh sedikit atau banyaknya pengikut, tetapi oleh legitimasinya. Suatu pemerintahan atau perjuangan negara bisa terjadi pasang surut bahkan defaktonya hilang. Tetapi, jika nilai estapeta kepemimpinannya sesuai dengan undangundangnya maka tetap memiliki nilai pemerintahan dan pada waktunya bisa kembali defakto. Contohnya, Abdul Aziz bin Su'ud (1880 - 1953) yang pernah mengalami tinggal di pengasingan, karena ayahnya seorang amir yang ten sir, digulingkan oleh Syarif Husein atas dukungan Inggeris. Namun, dalam pengasingan itu ayahnya menyerahkan kerajaan kepada Abdul Azis, anak ke empat ( karena yang lainnya tidak menyanggupi) .Dengan penyerahan itu dirinya memperoleh legitimasi sebagai Putera Mahkota, pelanjut pimpinan tertinggi sesuai dengan peraturannya. Dengan legalitas itu mula- mula dalam pengasingan itu diperolehnya hanya dua puluh orang pengikut, kemudian tiga ratus orang. Para pengikutnya itu yakin terhadap legitimasi pemimpinnya sehingga dari proses perjuangan mereka, akhirnya pada suatu malam mereka mengepung Istana dan menguasainya. Siang harinya Abdul Aziz mengumumkan kepada

rakyat yang berkumpul di depan Istana, mengenai legalitas estapeta dari ayahnya. Rakyat mendukungnya, siap menjadi tentara guna merebut keamiran lainnya. Sesudah semua yang direbutnya terkuasai kembali, akhirnya dekfaktolah Kerajaan Saudi Arabia. Harus dipahami, banyak rakyat di tiap keamiran mendukungnya tentu modal yang didahulukan yaitu memiliki legitimasi sebagai pelanjut pemimpin tertinggi pemerintahan. Adapun segala komponen penunjangnya adalah belakangan. Dan contoh yang disebutkan di atas itu jelas bahwa sekalipun para mentrinya sudah tidak ada, wilayahnya dikuasai lawan karena kekuatan militernya sama sekali sudah lenyap, namun estapeta pemimpinannya masih ada maka perjuangan menyusun kekuatan pemerintahan berlanjut untuk kembali defakto. Keberadaan struktur Dewan menteri atau kabinet tidak diisyaratkan oleh keadaan negaranya hams dalam situasi kondusif . Contohnya, seperti halnya pemerintah dalam pengasingan, negara berjuang, dan pemerintah darurat dsb. Walau departemen- departemennya tidak berpungsi, tidak memiliki kantor- kantor khusus, tidak memiliki markas militer dengan perlengkapan senjata, karena wilayahnya dikuasai musuh, namun kabinet atau struktur pemerintahan tetap didahulukan terbentuk sesuai legalitasnya. Banyak contoh seperti halnya yang pernah terjadi di Kamboja, Kuwait dan sebagainya yang terjadi dalam sejarah. Gelombang perjuangan suatu negara di manapun bisa terjadi pasang surut dalam berbagai bidang. Begitu juga NII yang wilayahnya dikuasai pihak lawan, namun penentuan kepemimpinannya tetap dalam satu jalur karena mengacu kepada undang-undang. Pasti bahwa Negara Islam Indonesia dalam keadaan tidak kondusif ini belum memiliki komponen-komponen yang menunjang kekuatan dalam arti pisik seperti halnya pada jaman Imam Awal. Namun, hal itu tidak menghalangi pengangkatan para A KT. serta jajaran aparat lainnya. Jutru dengan diangkatnya para AKT oleh yang memiliki legalitas itu guna tersusunnya kembali para AKT yang riil dengan segala perangkat kekuatannya sehingga bisa melawan kekuatan musuh secara fisik sebagaimana yang terjadi pada jaman Imam SM Kartosoewirjo.l 11. Kekeliruan dalam Estafeta Kepemimpinan Tahun 1996 Pada tanggal 2 Agustus 1996 Abdul Fatah Wirananggapati bebas dari hukuman pihak lawan. Para aparat dan ummat menyambut dengan gembira. Saya, Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI baru sempat menemuinya pada tanggal 25 Agustus 1996. Dalam pertemuannya dengan AFW, Muhammad Yusuf Thohiry melakukan kekeliruan langkah karena lupa dan tidak jeli yang berakibat fatal, yaitu Muhammad Yusuf Thohiry menyerahkan jabatan Imam/KPSI kepada AFW. Berawal dari kekeliruan yang fatal ini akhirnya berdampak kepada terjadinya kekeliruan berlanjut dalam menjalankan pemerintahan. Yang menjadi faktor penilaian kekeliruan dalam penyerahan jabatan Imam/KPSI dari MYT kepada AFW pada tahun 1996 adalah: Pertama, Penyerahan ini tidak merujuk kepada perundangundangan yang berlaku dalam NKA-NII; Kedua, Penyerahan jabatan

Imam/KPSI dari MYT kepada AFW juga dinilai keliru karena tidak berdasarkan syuro dengan AKT. Di mana setelah MYT menjabat Imam/KPSI melalui estafeta tahun 1991, telah mengangkat para AKT melalui Maklumat No. I tahun 1994 dan telah membentuk Komandement Tertinggi NKA-NII; Ketiga, Penilaian kekeliruan juga terkait dengan status AFW sebagai yang menerima jabatan Imam/KPSI yang diserahkan oleh MYT tahun 1996. Di mana AFW pada saat itu tidak berstatus sebagai AKT sesudah jabatannnya diserahkan kepada MYT tahun 1991. Dari itu jelas bahwa penyerahan tersebut inkonstitusional, yakni bertentangan dengan undang-undang; Keempat, Penilaian kekeliruan juga MYT tidak bisa berbuat tatkala melihat Nota Dinas diterbitkan. Baik secara esensi maupun substansi, Nota Dinas tertanggal 25 Agustus 1996 itu seharusnya tidak diterbitkan. Kekeliruan dalam arti lupa dan tidak fathonah sebagaimana tersebut di atas berimbas pada bentuk-bentuk kekeliruan lainnya. Kekeliruan ini baru saya sadari pada tanggal 22 Pebruari 2007 setelah mengadakan Muhasabatunnafsi, dan setelah mengevaluasi sejarah pasca bebasnya AFW dari penjara musuh, 2 Agustus 1996. Melalui penelaahan itu muncul pertanyaan pada diri saya, “Sebagai apa jabatan Abdul Fatah Wirananggapati pada waktu itu?”, “Bagaimana menurut peraturan yang ada dalam MKT No. 11 Tahun 1959, di mana orang yang berhak sebagai pengganti Imam/KPSI mestinya diambil dari dan di antara AKT sedangkan pada waktu penyerahan itu sudah terangkat para AKT, dan AFW bukan salah satu dari AKT?” Dari pengevaluasian tersebut baru sadar, bahwa saya telah melakukan kekeliruan dengan menyerahkan jabatan Imam/KPSI kepada Abdul Fatah Wirananggapati yang tidak berhak menerimanya. Setelah menyadari kekeliruan dan kesalahan, saya sampaikan hal itu secara lisan kepada beberapa orang yang dianggap perlu supaya dipikirkan dan dibahas oleh mereka yang sepatutnya membahas dalam pertemuan formal. Saya memahami jika untuk pembahasannya menunggu beberapa minggu mengingat jadwal pertemuan atau hadirnya personal yang harus hadir. Tetapi diluar dugaan sesudah datangnya waktu pertemuan, serta hadirnya personal yang diharapkan hal itu tidak dibahas dan bahkan ditutup. Hanya satu orang yang menyetujui untuk dibahas, namun tidak mampu mendesak agar persoalan dibahas dan tidak ditutup. Akan tetapi sangat ironis, persoalan ditutup, namun di luar timbul berbagai tanggapan negatif terhadap saya (MYT). Harapan adanya pembahasan ditingkat atas adalah agar persoalan tersebut tidak berpengaruh terhadap stabilitas politik -NKANII. Stabilitas politik yang menjadi harapan karena apabila terlebih dulu muncul polemik diantara ummat dapat dipastikan resiko dan ongkos politiknya besar dan cukup mahal. Tetapi, lain harapan lain pula kenyataan, hanya Robb-lah yang Maha Mengetahui segala yang akan menimpa kepada Hamba-Nya. Adanya penilaian terhadap kekeliruan yang saya lakukan, dianggap sebagai kebohongan publik, saya serahkan kepada Robb yang Maha Mengetahui segala yang terjadi serta sebenarnya yang sudah saya lakukan. Begitu juga terhadap tuduhan sebagai manuver untuk kembali menjadi Imam, karena melalui pemungutan suara tidak berhasil. Maka terhadap

semua itu bagi saya cukup Allah Subhanahu wata’ala Mengetahui niat sesungguhnya yang ada pada hati saya.

yang

Maha

Sungguh, dalam mencapai Mardhotillah, perjuangannya tidak bisa dihentikan oleh berbagai resiko yang menimpa diri. Sebab dari itu meskipun kekeliruan sudah berjalan bertahun- tahun (25 Agustus 1996 – Pebruari 2007), mengingat pertanggung-jawaban kepada Rabbull`alamiin di Akhirat kelak, juga secara moral kepada seluruh mujahid NKA-NII khususnya dan umat Islam umumnya maka saya kemukakan penjelasan untuk diketahui, dipahami dan mendapatkan maaf dari para Mujahid NKA-NII dimanapun adanya. Serta dengan ini saya istighfar kepada Allah Subhanahu Wata`ala. Untuk selanjutnya saya harus menyatakan sikap dan mendakwahkan kebenaran yang saya temukan.

Penjelasan Kedua: Untuk Mereka yang Mencari Kejelasan dan Kebenaran
Para praktisi politik dan birokrat NKA-NII dalam tataran praktis masih banyak yang tidak memahami esensi dan substansi peraturan perundangundangan. Bahkan termasuk di dalamnya banyak yang tidak memahami perbedaan makna antara istilah yang satu dengan istilah lainnya yang termuat dalam peraturan perundang-undangan. Salah satu yang perlu untuk jelaskan berkenaan dengan penggunaan istilah ”Dewan Imamah” dan istilah ”Komandemen Tertinggi”. Dua istilah ini, baik esensi maupun substansi memiliki makna yang sama, akan tetapi perbedaannya dalam aplikasi. Qanun Azasi NKA-NII, secara umum menjelaskan bahwa berjalannya pemerintahan dipengaruhi oleh dua kondisi, yaitu kondisi normal (aman) dan kondisi darurat (perang). Dua kondisi ini sangat berpengaruh terhadap sistem pemerintahan yang harus berjalan. Dalam Bab XV tentang Perubahan Qanun Azasi Pasal 34 menerangkan; “Cara Berputarnya Roda Pemerintah, “Pasal 1; Pada umumnya Roda Pemerintahan NII berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam “Kanun Azasy, dan sesuai dengan pasal 3 dari “Kanun Azasy, sementara belum ada Parlemen (Majlis Syura), segala Undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk MaklumatMaklumat yang di tandatangani oleh Imam”. Menurut Qanun Azasi itu, bahwa hak Dewan Imamah yaitu membuat Undang-undang dalam bentuk Maklumat yang ditandatangani oleh Imam, selama Majelis Syuro belum ada. Juga Dewan Imamah yang dikepalai oleh Imam mempunyai hak menjalankan Roda Pemerintahan NKA-NII. Sejak dikeluarkannya Maklumat No. 7 Tahun 1948, sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Imam telah beralih kepada sistem Komandemen. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan kondisi NKA-NII yang sedang berada dalam masa perang. Maka dari sejak saat itu hingga sekarang, sistem pemerintahan NKA-NII yang dijalankan oleh Imam adalah sistem pemerintahan Komandemen. Oleh karena itu, produk perundangundangan yang diterbitkan Komandemen Tertinggi NKA-NII tidak dinamakan ”Maklumat” atau ”Maklumat Pemerintah”, akan tetapi dinamakan ”Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT)”. Produk perundang-undangan Komandemen

Tertinggi, selain MKT juga ada yang dinamakan ”Penetapan Komandemen Tertinggi (PKT) dan Maklumat Militer (MM)”. Komandemen Tertinggi dalam menjalankan roda pemerintahan harus mengacu kepada Maklumat-maklumat yang sudah ditetapkannya, baik Maklumat yang diterbitkan pada masa berjalannya sistem pemerintahan Dewan Imamah atau dalam masa berjalannya sistem pemerintahan Komandemen. Hingga tahun 1996, Maklumat-maklumat yang mengatur tentang peralihan kepemimpinan hanya diatur oleh MKT No. 11 Tahun 1959. Penyerahan jabatan Imam/KPSI dari MYT kepada AFW pada tanggal 25 Agustus 1996 dapat dinyatakan tidak sah, karena tidak mengacu kepada MKT No. 11 Tahun 1959. Jabatan Imam/KPSI adalah jabatan negara yang dijamin oleh perundang-undangan. Dalam aplikasinya penyerahan jabatan tersebut, bukan seperti menyerahkan sesuatu makanan, bila sudah diberikan kepada yang lain bisa dikatakan sah. Yang dimaksud dengan istilah ”purbawisesa penuh” dalam MKT No. 11 Tahun 1959 ialah kekuasaan penuh dalam urusan kenegaraan, maka sah atau tidaknya tindakan Imam dilihat dari kaca mata peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perhatikan Kanun Azasy Bab IV Pasal 10 “Imam Negara Islam Indonesia memegang kekuasaan Pemerintah menurut Kanun Azasy sepanjang hukum Islam”. Dalam Islam dikenal istilah “Nasih dan mansuh”, bahkan Allah SWT. pun menggunakan istilah ini dalam hukumnya. Sebagai contoh tentang hukum Sholatul lail, semula shalat ini wajib, kemudian menjadi sunnah mu’akad. Demikian halnya dalam tata hukum kenegaraan bahwa undangundang baru berfungsi menggantikan undang-undang lama. Akan tetapi, sesuai dengan istilah nasih dan mansuh, bila perundang-undangan yang baru memansuh seluruh perundang-undangan yang lama, maka perundangundangan yang lama total tidak berlaku. Namun, bila perundang-undangan yang baru hanya memansuh sebagian isi dari perundang-undangan yang lama, maka perundang-undangan yang lama, sebagiannya masih tetap berlaku. Maklumat-maklumat yang ditetapkan oleh Imam/KPSI, Muhammad Yusuf Thohiry baru tiga, yaitu: 1) MKT No. I tertanggal Rajab 1415 H./17 Desember 1994 M. perihal Susunan Dewan Imamah; 2) MKT No. II tertanggal 1 Ramadhan 1415 H./ 1 February 1995 M. perihal Program Kerja; dan 3) MKT No. III tertanggal 17 Syawal 1415 H. / 19 Maret 1995 M. perihal Susunan Aparat serta Tugas dan Tanggung-jawabnya. Ketiga maklumat di atas tidak mengatur pergantian kepemimpinan. Oleh karena itu perundang-undangan yang mengatur estafeta kepemimpinan hingga sekarang masih mengacu kepada MKT No.11 Tahun 1959, bunyinya: “K.P.S.I. dipimpin oleh Imam – Plm.T. A.P.N.I.I. jika karena dan satu lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku Penggantinya dengan purbawisesa penuh.” dan “Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggota-Anggota K.T.. termasuk didalamnya K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggota-Anggota K.T..”

Dengan demikian cukup jelasnya, bahwa sebelum tanggal 25 Agustus 1996 belum ada perundang-undangan yang mengatur penyerahan Imam/KPSI kepada seseorang tanpa dipilih dari dan diantara (para Kepala Majlis) yang tercantum dalam MKT No. I, 17 Desember 1994. Perhatikan siapa-siapa saja yang tercantum dalam MKT tersebut. Pengertian “Purbawisesa Penuh” yaitu kekuasaan penuh, artinya yang tadinya setaraf dengan AKT, bila sudah ditunjuk maka memiliki kekuasaan penuh sebagaimana Imam. Namun, tetap bertindak dalam koridor perundang-undangan yang berlaku. Perihal asumsi AFW masih menyandang jabatan KUKT hingga tahun 1996 merupakan suatu kekeliruan yang sangat mendalam. Dalam MKT No. 11 Tahun 1959, cukup jelas bahwa apabila Imam berhalangan, penggantinya adalah dari unsur-unsur AKT, KSU, KUKT dan Para Panglima yang setarap dengan AKT. Dengan demikian AFW sejak saat itu, bukan lagi sebagai KUKT. Akan tetapi secara otomatis demi hukum beliau telah menjadi Imam/KPSI. Secara tertulis memang tidak terdapat surat/lembaran Negara tentang pemberhentian KUKT. Akan tetapi secara tersirat, jabatan KUKT AFW sudah berganti menjadi Imam/KPSI. Karena AFW memiliki kedudukan sebagai Imam/KPSI yang didasari oleh jabatan KUKT-nya. Kemudian jabatan Imam/KPSI-nya itu sudah diestafetakan kepada MYT. Bila ada asumsi bahwa jabatan KUKT selama dalam penjara musuh, tahun 1991-1996 hingga bebas masih disandang oleh AFW, maka tidak ada pergantian Imam, dan tentu MYT pun bukan Imam/KPSI, serta tidak akan ada MKT No.I Tahun 1994 yang ditandatangani oleh Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI. Sungguh tidak bisa disamakan posisi AFW sesudah keluar dari penjara Nusakambangan 1953–1962 dengan keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung tahun 1991–1996. Bukti secara tersirat adalah adanya MKT. No.I Tahun 1994 dan Muhammad Yusuf Thohiry yang menandatanganinya adalah sebagai Imam/KPSI, bahkan bukan “Atas Nama”. Bila dalam brosur TABTAPENI atau RUNISI 2, disebutkan tidak ada bukti pemberhentian terhadap KUKT Abdul Fatah Wirananggapati dari sejak diangkatnya tahun 1953 sampai tertangkapnya Imam S.M.Kartosoewirjo, 4 Juni 1962. posisi AFW pada waktu itu belum menjadi pengganti Imam, melainkan KUKT yang tugasnya diambil oleh Imam. Berbeda dengan keadaan sewaktu KUKT AFW sesudah posisinya menjadi Imam, maka jabatannya bukan lagi KUKT! Jadi, istilahnya bukan pemberhentian, tetapi penggantian jabatan. Bukti dirinya sebagai Imam karena dirinya telah menyatakan purbawisesa penuh! Artinya, jika masih sebagai KUKT, maka tidak purbawisesa penuh. Perhatikan, “ K.P.S.I. dipimpin oleh Imam – Plm. A.P.N.I.I. jika karena satu dan lain hal ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorangPanglimaPerang, selaku penggantinya dengan purbawisesa penuh.” Dari maklumat itu mengandung arti bahwa untuk purbawisesa penuh, syaratnya adalah terlebih dulu menjadi pengganti Imam yang berhalangan. Jadi, berdasarkan undang-undang itu bahwa hak purbawisesa penuh hanya pada Imam pengganti dalam masa darurat! Ada penggantian berarti ada pemberhentian, dan penggantian dijamin oleh undang- undang.

Bila ada pandangan bahwa AFW bukan Imam dengan alasan bahwa “AFW tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Imam. Beliau tetap sebagai KUKT yang dengan purbawisesa penuh mengangkat Dewan Imamah untuk melengkapi struktur Dewan Imamah yang tinggal satu orang”. Maka, siapapun yang mengatakan hal itu hanya pendapat pribadi, tidak berdasarkan undang-undang. Jika suatu pendapat tidak didasari undangundang (hukum), maka tidak dapat dijadikan rujukan karena senantiasa berubah sesuai dengan kepentingannya. Sebab itu kewajiban bagi setiap yang konsisten pada undang-undang, harus mengengembalikannya kepada yang sesuai dengan undang-undang. Kewajiban kembali mengikuti sistem (undang-undang). Dalam hal ini MYT menanggapi pernyataan AFW dalam At-Tibyaan, 1987. Bahwa dirinya sebagai “EKSEN DISINA” (Eksekutif Sentral Daulah Islam Indonesia), dalam arti lain adalah “Pimpinan Pusat Negara Islam Indonesia”. Mengenai hal itu pada mulanya MYT setuju dengan pendapat bahwa AFW bukan Imam, karena tidak menyatakan diri sebagai Imam, melainkan Eksekutif Sentral, yang maksudnya sama dengan Imam. Dalam arti tidak menggunakan kepemimpinnya dengan istilah Imam, melainkan dengan istilah “Eksekutif Sentral” yang sama dengan artinya bahwa KUKT AFW sudah menjadi KUKT yang berfungsi Eksekutif Sentral, sehingga memiliki nilai Imam. Akan tetapi, setelah saya melakukan penelaahan guna konsisten pada undang–undang, maka diketahui bahwa pernyataan sebagai “Eksekutif Sentral” hanyalah pernyataan pribadi dalam suatu keadaan. Dan itu tidak merujuk kepada perundang-undangan NII, di mana dalam perundang-undangan NKA-NII tidak didapati istilah “Eksekutif Sentral”, melainkan yang ada ialah istilah “Imam/KPSI”. Istilah “Eksekutif Sentral” yang bersifat temporer itu buktinya, dalam sebuah surat yang ditandatangani oleh Abdul Fatah Wirananggapati dalam bahasa Arab yang ditujukkan kepada Pemimpin Iran melalui perwakilnya di Jerman tertulis, “Amirul Harbi Daulatul Islami Indonesia”. Dan itu mengandung maksudnya sesuai dengan kalimat Komandemen Perang Seluruh Indonesia (KPSI) yang ada dalam MKT No.11 Tahun 1959, dan K.P.S.I. itu dipimpin oleh Imam. Jadi, setelah memahami bahwa hal itu tidak sesuai dengan undang-undang, maka kita harus mengembalikannya kepada yang sesuai dengan undangundang, yakni bahwa setelah para AKT atau yang setaraf dengannya tidak ditemukan, maka KUKT AFW langsung menduduki jabatan sebagai Imam/KPSI. Dengan itu bukan KUKT lagi, bukan pula “Eksekutif Sentral” yang memiliki nilai Imam, tetapi beliau adalah Imam sesungguhnya setelah SM. Kartosoewirjo. Dengan demikian sungguh salah bila AFW disebut sebagai Imam ketiga, dan MYT Imam kedua. Yang benar adalah Abdul Fatah Wirananggapati Imam kedua NKA-NII, dan Muhammad Yusuf Thohiry Imam ketiga NKA-NII. Mengapa demikian? Karena Muhammad Yusuf Thohiry menerima estapeta kepemimpinan dari dari Imam/KPSI Abdul Fatah Wirananggapati.

Soal keharusan kembali mengikuti sistem/undang-undang, hal demikian sudah dilakukan oleh para aparat yang dipimpin MYT sebelum adanya pengangkatan para AKT dalam MKT No.1 Tahun 1994. Pada tahun-tahun sebelum dikeluarkan maklumat tersebut telah terasa oleh para aparat kerancuan mengenai sebutan “KUKT dengan purbawisesa penuh”. Dari itu banyak anjuran bahwa sebutan itu harus dirobah dari KUKT menjadi Imam. Sebab, bila yang berhak menjadi Imam tinggal satu karena para AKT, atau yang setaraf dengannya tidak ada kecuali KUKT maka KUKT itu langsung sebagai Imam dengan purbawisesa penuh. Jadi, purbawisesa itu hak Imam. Sebagaimana urutan kata-kata dalam peraturannya,”...maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku Penggantinya dengan purbawisesa penuh”. Dengan itu jelas bahwa untuk purbawisesa penuh itu harus sudah menjadi pengganti Imam, yakni adanya pergantian jabatan dari KUKT menjadi Imam. Padahal sebelumnya saya merasa susah memikirkan ungkapan bahwa “AFW bukan Imam”, juga “KUKT dengan purbawisesa penuh”, dan “atas nama Imam”. Sehingga timbul pertanyaan, “Imam yang mana?” Dan mana Imam? Kalau begitu kapan menjalankan MKT No.11 Tahun 1959? Lebih pelik lagi ketika merencanakan pengangkatan para AKT. Saya diingatkan oleh seseorang, katanya, ”Masa iya KUKT mengangkat para AKT”. Maksudnya, kalau AFW masih KUKT, maka MYT juga sebagai estafetanya adalah KUKT dan tidak purbawisesa penuh. Sedangkan usulan dari bawah telah saatnya terbentuknya susunan para Kepala Majelis (AKT). Pada saat-saat itu saya teringat kepada prinsip bahwa yang harus diikuti ialah perundang-undangnya, bukan pernyataan dari seorang figur atau pemimpin, maknanya bila pernyataannya tidak sesuai dengan peraturan, maka jangan dituruti, bahkan harus diluruskan. Dengan prinsip tersebut, maka saya mengambil sikap sesuai dengan pengajuan para aparat, bahwa AFW adalah Imam, dan bukan KUKT lagi. Sesudah memiliki kepastian dalam hal AFW bukan KUKT lagi, kemudian saya mengadakan pertemuan aparat di Sadang SerangBandung. Sdr. Hasan pada saat itu tidak menghadiri, karena keberadaannya di luar Pulau Jawa. Dalam pertemuan itu MYT mengemukakan pernyataan bahwa AFW bukan KUKT lagi, melainkan Imam, karena para AKT atau yang setarap dengannya telah tiada. Mendengar pernyataan itu, peserta pertemuan merasa

lega, terdengar ucapan Alhamdulillah. Sesudah ada kesepakatan dalam hal penyebutan Imam dan bukan KUKT, kemudian dijadwalkan pengangkatan para Kepala Majelis.

Disebabkan keharusan adanya kesamaan persepsi dalam hal estafeta kepemimpinan bagi seluruh aparat dan ummat, beberapa bulan sebelum AFW bebas dari penjara musuh, MYT menulis brosur TABTAPENI yang pertama dikeluarkan Tahun 1996, isinya khusus menjelaskan estafeta kepemimpinan NII pasca Imam Awal. Dalam brosur tersebut dinyatakan, “Disebabkan calon pengganti Imam yang tercantum dalam undang-undang itu tinggal satu lagi yakni K.U.K.T., maka K.U.K.T. itulah yang langsung menjadi Imam tanpa adanya pemilihan dari manapun. K.U.K.T. yang satu itu ialah Abdul Fatah Wirananggapati. Undang-undang mengenai pemilihan Imam dalam Darurat Perang sudah dituangkan ke dalam M.K.T. No. 11, tahun 1959. Dengan demikian sekalipun dalam darurat sehingga Dewan Imamah tidak berfungsi karena anggotanya banyak yang gugur, maka penggantian Imam tetap berlangsung”. Begitu saya mendengar AFW bebas, segera saya sampaikan kepadanya beserta MKT No.1 Tahun 1994, MKT No. II Tahun 1995 dan MKT. No. III Tahun 1995 via orang lain. Penyampaian dengan segera kepadanya dimaksudkan supaya didapati pemahaman yang sama dengannya dalam hal estafeta Kepemimpinan NII menurut MKT No. 11 Tahun 1959. Alhamdulillah, hasilnya terdapat kesepakatan, bahkan dikatakan oleh AFW bahwa isinya bagus sekali. Saya menerima laporan itu dari Pak Kasid (Almarhum), setelah kembali dari pengecekannya. Dengan demikian sejak itu secara tersirat pernyataan sebagai “Eksekutif Sentral” dalam AtTibyaan, juga “Atas nama Imam”, sudah dihapus atau tidak diberlakukan dan diganti dengan satu kata yaitu Imam. Benar sekali laporan almarhum Pak Kasid, sebab ketika saya bertemu dengan AFW, dikatakan olehnya bahwa yang ada di buku itu harus dihapal (yang dimaksud ialah intinya). AFW mengetahui bahwa TABTAPENI sudah tersebar luas, dan AFW tidak pernah membantah isi buku itu, karena secara faktual peraturan, bahwa adanya purbawisesa itu setelah tampil sebagai Imam. Suatu pernyataan atau pendapat, bisa terus dipertahankan kebenarannya bukan karena keluarnya dari seorang figur pemimpin, melainkan karena sesuai dengan fakta dan selama masih bisa diterima secara logika sehingga realistis dalam mengaplikasikannya. Adapun terhadap sanggahan, bahwa tidak ada undang-undang penggantian Imam secara otomatis, jawabnya beberapa hal: 1. Harus dipaham bahwa para pembuat undang-undang itu manusia yang tidak sempurna, tidak terbayang bahwa para AKT atau yang setaraf dengannya akan tinggal satu lagi, sehingga tidak dibuat undang-undang Pengganti Imam secara otomatis, jika tinggal satu maka yang satu itu sebagai Imam.

2. Terjadinya Anggota Komandemen Tertinggi (AKT) atau yang setarap dengannya tinggal satu yaitu KUKT merupakan keterpaksaan kondisi sehingga tidak bisa bermusyawarah bersama yang setarap dengannya sebagaimana yang tertera dalam MKT NO.11 Tahun 1959. 3. Dalam hukum Islam bahwa keterpaksaan membolehkan tidak menepati sepenuhnya sesuatu yang sudah ditetapkan dengan sebatas yang diperlukan. Begitu juga menjalankan perundangundangan harus semaksimal mungkin, yakni yang bisa dilakukan harus dijalankan tidak terhalang oleh hal yang tidak bisa dilakukan. Dalam kaidah usulnya disebutkan,“Sesuatu yang tidak dapat dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya”. 4. Kita diperintahkan untuk taat kepada Alloh S.w.t. semaksimal usaha kemampuan (Q.64:16). Maknanya, harus melakukan yang bisa dikerjakan, jangan berdiam karena ada bagian yang tidak bisa dikerjakan. Dihubungkan dengan pelaksanaan pengantian Imam, jika tidak bisa dengan mekanisme ditunjuk dan diangkat karena yang menunjuk atau mengangkatnya tidak ada, maka calon itu langsung menjadi Imam. Sebenarnya, hal seperti ini lumrah terjadi dalam tata kehidupan bermasyarakat, bahwa keterpaksaan tidak selalu menunggu peraturan, atau tidak mesti sepenuhnya berdasarkan perundang- undangan. Sebab, waktu terus berjalan, Al Qur’an juga melegitimasi keharusan berbuat dengan semaksimal kemampuan, termasuk kepada para pembuat peraturan dengan kelebihan serta kekurangannya. 5. Sudah terbukti sesuai dengan urutan kata-kata bahwa purbawisesa itu jika sebagai pengganti Imam, yakni bukan masih sebagai KUKT. Dan sudah teruji bahwa sebutan “AFW sebagai KUKT bukan Imam”, sungguh rancu serta membingungkan dan tidak bisa diterapkan, sehingga sebutan itu dijadikan alasan bagi mereka yang menolak kepemimpinan AFW sebagai estafeta dari Imam Awal SM Kartosoewirjo. Padahal kita diharuskan mempermudah persoalan dan jangan mempersulit persoalan yang mengakibatkan terus menunggu- nunggu terbentuknya Imam hasil mekanisme musyawarah, karena tidak mau menggunakan mekanisme otomatis. Mereka lupa bahwa pembuat undang-undang itu adalah manusia yang wawasannya sesuai dengan kondisi jamannya. 6. Bagi mujahidin NII lebih mendahulukan berpegang kepada AlQur’an Surat 64 ayat 16, serta kaidah ushul hasil kesepakatan para ulama terdahulu yang sudah disepakat oleh semua pihak sampai dewasa ini daripada mengutik-ngutik tidak ada aturan mekanisme otomatis. Padahal, jika bisa mencermatinya bahwa Ayat Al-Qur’an serta kaidah usul yang disebutkan tadi secara tersirat mengandung makna “mekanisme otomatis”, yang bisa diterapkan dalam berbagai hal.

Kesimpulan dari semua poin di atas, meskipun penggantian Imam secara langsung dengan menggunakan mekanisme otomatis tidak terdapat dalam MKT. No.11 Tahun 1959, namun mekanisme otomatis itu tersirat dalam Al-Qur’an, karena sudah menjalankan undang-undang sebatas yang mampunya untuk dijalankan, seperti halnya, yaitu disebabkan calon pengganti Imam itu tinggal satu lagi yakni KUKT Abdul Fatah Wirananggapati, maka pengangkatan Imam itu tidak bisa dengan mekanisme diangkat dan ditunjuk karena yang mengangkat dan menunjuknya juga harus calon yang setarap dengannya. Dengan ketidakbisaan menggunakan mekanisme diangkat dan ditunjuk maka yang masih bisa (mampu dijalankkan) ialah dengan mekanisme otomatis yakni langsung KUKT. Abdul Fatah Wirananggapati otomatis sebagai Imam. Para pembuat undang-undang merupakan manusia biasa yang tidak sempurna dalam memprediksi kejadian masa mendatang sehingga tidak memperhitungkan bahwa calon Imam bakal tinggal satu lagi. Sebab itu, sesuai dengan Al-Qur’an bahwa sebagai mukminin diperintahkan menjalankan kewajibannya, menterapkan undang-undang dalam mengabdi kepada Rabb-nya sebatas yang bisa diterapkan. Sehubungan dengan itu maka para ulama salaf mengeluarkan kaidah ushul, “Sesuatu yang tidak bisa dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya”. Negara Islam Indonesia ini berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi S.a.w. maka penggantian Imam secara langsung, yakni Abdul Fatah Wirananggapati sebagai Imam, dan bukan KUKT lagi hal itu tidak menyalahi Al-Qur’an, karena sudah menjalankan sebatas yang bisa diterapkan dalam undang-undang. Dengan tidak menyalahi A Qur’an itu maka estafeta kepemimpinan Negara Islam Indonesia terus berlanjut sesuai dengan undang-undang sebatas yang bisa dijalankan.

Sungguh ijtihad MYT pada tanggal 25 Agustus 1996, menyerahkan kepemimpinan kepada AFW karena saat itu mengingat bahwa KSU (Kepala Staf Umum) Sanusi Partawidjaja pun pernah memegang kendali kepemimpinan NII, setelah menerima amanat dari SM Kartosoewirjo, kemudian sesudah Imam Awal itu kembali dari menunaikan tugasnya maka KSU menyerahkan kembali kendali kepemimpinan kepada Imam SM Kartosoewirjo. Adapun kasus 25 Agustus 1996, pada waktu itu tidak disadari oleh Muhammad Yusuf Thohiry bahwa hal yang terjadi pada AFW pada Tahun 1991 berbeda kasusnya dengan yang dilakukan oleh Imam Awal. Yaitu, bahwa Abdul Fatah Wirananggapati tertangkap musuh sehingga tidak bisa menunaikan tugasnya, sedangkan Imam SM Kartosoewirjo tidak dalam cengkraman musuh, melainkan sedang menunaikan tugasnya, posisinya tetap sebagai Imam. Jadi, yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf Thohiry berbeda dengan yang dilakukan oleh KSU Sanusi Partawidjaja dalam kasus. Dengan demikian yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf Thohiry adalah salah, yakni bertentangan dengan MKT No.11 Tahun 1959.

Dalam MKT No.1 Tahun 1994 tertera kalimat “Muhammad Yusuf Thohiry selaku pengganti K.P.S.I. karena K.P.S.I. yang berhak sedang berhalangan”. Pengertian “K.P.S.I. yang berhak”, dalam hal itu ditujukan kepada AFW sebelum dirinya berhalangan, yakni sebelum tertangkap musuh, atau sebelum kepemimpinannya beralih kepada MYT, sebab sebelum jabatan tersebut beralih dari AFW maka MYT bukan haknya sebagai KPSI. Ditanda-tanganinya MKT No. I Tahun 1994 merupakan tanggung jawab Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI. Bila AFW selama dalam penjara musuh, 1991-1996 masih dinyatakan sebagai KPSI yang berhak berarti MYT bukan KPSI, berati pula MKT No. I Tahun 1994 tidak sah sebab tidak ada KPSI dua dalam satu masa kekuasaan. Jadi, jelas bahwa pengertian kalimat ”K.P.S.I. yang berhak sedang berhalangan” itu ditujukan kepada AFW sebelum ada penggantinya. Perhatikan tandatangan MKT No. I Tahun 1994 bukan atas nama Imam, melainkan langsung Imam/KPSI. Kata “berhalangan” dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu mengacu kepada MKT No.11 Tahun 1959, bunyinya: “K.P.S.I. dipimpin oleh Imam- Plm.T. A.P.N.I. jika karena dan satu lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku Penggantinya dengan purbawisesa penuh”. Dalam keadaan purbawisesa penuh itu yang berhak sebagai KPSI hanya satu, juga tetap dalam koridor undang-undang. Dengan demikian bilamana ada pergantian KPSI, sedangkan Komandemen Tertinggi yang terdiri dari KSU, AKT atau yang setarap dengannya sudah terbentuk maka cara pengangkatannya harus melalui prosedur sesuai dengan MKT No.11 Tahun 1959, kecuali jika sudah ada pengganti peraturan tersebut. Saya (MYT), saat menandatangani MKT No.1 Tahun 1994 tidak mengatasnamakan Imam, melainkan langsung Imam. sebab berdasarkan sunnah, bila seorang Panglima Tertinggi dalam Islam yang konsisten dalam arti tidak seperti Amar bin Yasir, jika ditangkap musuh maka dirinya akan divonis mati seperti Nabi Ibrohim as. dan Zakaria as. Sehubungan dengan itu apa gerangan yang terjadi bila seorang Imam/KPSI ditangkap musuh kemudian dibebaskan setelah jatuh nilai dari kepemimpinannya sehingga menjadi ummat, sedangkan penggantinya hanya mengatasnamakan Imam, maka manakah Imam?. Dari itu seharusnya berdasarkan undang-undang, bila posisi seseorang telah menjadi ummat maka jika akan kembali lagi menjadi Imam/KPSI harus terlebih dulu diangkat sebagai KSU, AKT, KUKT atau yang setarap dengan AKT, kemudian ditunjuk dan diangkat diantara mereka yang ada. Tidak ada peraturannya dalam NKA-NII, seorang ummat dapat diangkat langsung sebagai Imam, sedangkan para AKT sudah ada sebagaimana termaktub dalam MKT No.1 Tahun 1994. Pada tahun 1997 terjadi pertemuan yang dihadiri oleh AFW, ZH, D, H, dan MYT di Bekasi. Pada saat itu ZH bertanya kepada MYT, mengapa AFW diadili dari hal pernyataannya mengenai Pancasila, padahal sebelum beliau keluar dari penjara telah menandatangani pernyataannya tentang Pancasila yang nilainya tidak kurang dari yang tertera dalam Majalah UMMAT, 9 Desember 1996? Dikatakan lagi olehnya sebagai tahanan politik tidak akan dibebaskan sebelum menandatangani pernyataan kesetiaan terhadap

ideologi Pancasila. (AFW divonis penjara 6 tahun sampai tahun 1996 di Kebon Waru dan Sukamiskin di Bandung dibebaskan bersyarat oleh Menkeh Utoyo Usman melalui pembuatan makalah mengenai Pancasila, jaminan keluarga dan uang Rp. 1.000.000. Pada 4 Desember 1999 ia dinyatakan bebas murni. Dari pertanyaan ZH, saya (MYT) menjawab, sewaktu bapak (AFW) masih dalam penjara musuh, posisi bapak bukan sebagai Imam, melainkan sebagai Amar bin Yasir (ummat), maka apa yang dinyatakan di dalam penjara itu tidak dipermasalahkan. Akan tetapi, dalam hal kasus pernyataan yang dimuat dalam Majalah UMMAT, posisi bapak sudah menjadi Imam. Bila menyangkal, saya akan membuktikannya (sambil MYT akan membuka tas). Namun, hal itu terhenti setelah AFW membenarkan jawaban MYT. Sesudah tuntas yang dipermasalahkan maka MYT bersama AFW pindah ke ruangan khusus guna memberikan tausyiah secara bergilir kepada hadirin yang sudah nunggu. Harus saya kemukakan di sini bahwa setelah saya mengetahui AFW bebas dari penjara musuh, pertama yang saya selidiki yaitu dengan cara apa AFW dibebaskan. Pada waktu itu jawaban yang saya dapati hanya dengan jaminan keluraga serta uang satu juta rupiah. Adapun pertanyaan saya mengenai Pancasila seperti halnya penandatanganan makalah Pancasila? Pada ketika itu jawabannya tidak! Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagai mana yang dikemukan ZH ketika di Bekasi, atau seperti tertera dalam majalah KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca sekarang ini. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya disebabkan penentuan nilai yang masih tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Robb juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya. Ijtihad atau pemikiran bisa berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi, meski perubahan itu terjadi sesudah lebih dari 10 tahun. Pasti hal itu tergantung kadar kompetensi para pelaku ijtihad. Karena itu didapat istilah Qaullun Qodim dan Qaullun Jadid. Kompetensi seseorang bisa mengalami perubahan sesuai pengalaman yang dijalaninya, seperti halnya : 1. Menerima pertanyaan yang belum terjawab dengan dasar hukum, dan terus mencarinya sehingga menemukan jawaban yang diyakininya. 2. Menghadapi langkah yang dianggap tidak realistis, tapi sulit dipecahkan karena berbenturan dengan peraturan yang sudah ditetapkan.

3. Menampung

beberapa masalah atau usulan yang semuanya terakumulasi sehingga mengadakan Muhasabatun Nafsi (pengengevaluasian diri) dalam melangkah yang berkaitan dengan lembaga negara.

Maka, bila pada awal-awal penyerahan tanggal 25 Agustus 1996 tidak ada masalah dan seolah-olah disepakati, karena pada waktu-waktu itu belum terdapat beberapa faktor yang mendorong untuk Muhasabah atau tidak ada yang mengkritisi secara langsung, atau juga penyerahan belum

teruji dalam perjalanannya. Bagi saya bersyukur kesalahan terungkap, pisik masih dalam kondisi segar bugar, masih bisa menjelaskan serta mengadakan perbaikan. Seandainya hal itu baru terungkap sesudah terasa ajal mendekat, jangankan untuk menulis, bicara pun tidak jelas? Alhamdulillah kesempatan perbaikan masih ada. Bagi yang bertujuan mencapai Mardhotillah tidak akan merasa rugi bila sudah bertahun-tahun baru diketahui ijtihadnya salah. Karena, jika ijtihadnya itu benar maka ganjarannya dua, dan jika salah maka satu. Dalam Islam tidak ada larangan bagi seseorang menuturkan ijtihad yang salah meski baru disadarinya sesudah masa lebih sepuluh tahun. Bahkan ada yang berkata jika hal yang salah tidak dijelaskan maka akan terus membawa ribuan orang tersesat berkelanjutan. Jika tidak dijelaskan bagaimana pertanggung-jawaban pelakunya di Akhirat? Soal menerima atau tidak bukan tanggung jawab yang menjelaskan! Para pakar politik dunia (internasional) telah memahami bahwa dalam negara berjuang senantiasa terjadi perubahan politik seiring perkembangan dalam segala hal. Sebab itu kepercayaan mereka terhadap sekedar informasi bukan harga mati. Mereka paham tentang makna propokasi dan propaganda, sehingga tidak semua tayangan lembaran yang telah dibaca akan sesuai dengan yang sebenarnya. Dan akhirnya yang mereka nilai yaitu yang sudah terbukti Idhar di lapangan, dan bukan sekedar baru tulisan dalam segala bentuk mekaniknya. Dengan demikian mereka paham pula bila isi dokumen dunia tentang negara berjuang manapun senantiasa berubah. Yang paling penting bahwa tanggung jawab para pejuang NII yang utama bukan kepada para pengamat politik dunia, tetapi kepada Allloh Subhanahu wata’ala, sehingga bila terdapat kekeliruan dalam melangkah maka wajib melakukan perbaikan. Selaku Khalifah fil Ardh maka dunia internasionallah yang harus dikendalikan ! Bukan mengikuti faktor keterlanjuran. Kekeliruan MYT yang baru terungkap sesudah sepuluh tahun adalah lumrah bila muncul berbagai tanggapan atau tuduhan negatif terhadap saya. Begitu pula adanya penilaian sebagai pemimpin yang tidak memilik kompetensi serta penilaian lain-lainnya maka semua tanggapan yang negatif serta macam-macam penilaian dengan segala konsekuensinya sama sekali tidak berarti, pasti dianggap sirna jika dibandingkan dengan beban di Akhirat dari hal menyembunyikan kekeliruan yang sudah disadari sehingga menjadi kebohongan terhadap publik. Yakni, mengaku berkonstitusi padahal sudah terdapat ganjalan hukum dalam perjalanannya. Perhatikan ayat “Hai orang-orang yang beriman, kenapa kamu berkata hal-hal yang kamu tidak kerjakan?”. “Amat besar kemurkaan disisi Alloh, kalau kamu hanya mengatakan tanpa memperbuatnya”.. Sehubungan dengan uraian dalam poin ini bisa diumpamakan kepada seseorang yang berada pada satu ruangan, dirinya dalam keadaan sama sekali tidak berbusana yang pasti akan merasa malu sekali bila keluar dari ruangan, sebab sangat takut dilihat banyak orang. Tetapi, jika dalam ruangan itu tiba-tiba api berkobar dengan perhitungan akan menghanguskan dirinya, tentu segera keluar dengan tidak memperdulikan malunya sekalipun banyak orang memperhatikannya. Begitu juga bagi yang tujuannya memperoleh Mardhotillah, rasa takut dengan

malunya akan dikalahkan oleh takutnya dengan api neraka. Sungguh rasa malu sekecil apapun penyebabnya merupakan hal yang ditakuti, tapi ada lagi yang lebih ditakuti yaitu kemurkaan dari Rabb yang pasti janji-Nya. Cepat memvonis dengan menerima informasi hanya dari sebelah pihak akan terjadi pemanipulasian dari yang sebenarnya sehingga menilai seseorang hanya dari segi kelemahannya, padahal setiap manusia tidak ada yang sempurna. Saya berhak menyatakan bahwa pernyataan dan penjelasan ini bukan karena kekecewaan! Sebab, ada Hadist Nabi SAW. yang menyatakan keharusan bersabar terhadap Imam/Amir. Namun, harus dipahami jika itu masih diyakini legalitasnya maka dari itu persoalannya bukanlah dari hal tidak bersabar, melainkan menempatkan posisi diri kembali berkepemimpinan sesuai dengan perundang-undangan, berdasarkan penemuan baru dalam ilmu. Wajib bersikap dengan ilmu sebagaimana ayat: ”Dan janganlah kamu mengikuti persoalan yang kamu tidak ketahui tentang dasar (ilmu)nya. Sesungguhnya setiap penglihatan, pendengaran dan pemikiran akan dipinta pertanggungan jawabnya”. Bagi yang berpegang pada ayat ini, tidak takut diungkap kelemahan-kelemahan pribadinya yang sekedar dirasakan di dunia fana. Perjuangan mengembalikan kepada undang-undang sehingga berdasarkan ilmu, terus maju sebab yang paling ditakuti ialah menghadapi pertanggung –jawaban di Akhirat abadi. Adanya tuduhan Gillan, kecewa, serta lainnya adalah hak bagi yang mengatakannya sesuai dengan niat serta kepentingan, juga wawasan yang dimilikinya. Akan tetapi, bagi yang menjelaskan pun mempunyai hak pula, mengatakan sebagai kewajiban dalam menjelaskan dan perbaikan. MYT pernah mengakui kepemimpinan Tgk. Muhammad Daud Beureueh, kemudian Adah Djaelani Tirtapradja, yang sudah terkenal dalam pengadilan RI tahun 1982 sebagai Imam NII. Komitmen dalam hal itu lebih sepuluh tahun. Kedua tokoh itu sudah terkenal dalam sejarah, bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri, karena sudah terbukti mengadakan perlawanan bersenjata, pernah menguasai daerah de facto dengan berkalikali pertempuran mungkin puluhan kali tidak terhitung. Akan tetapi setelah tahu bahwa kepemimpinan mereka diluar garis perundang-undangan, yakni suatu kekeliruan maka baik itu dengan perkataan maupun tulisan MYT mengungkapnya. Maka, bagaimana halnya bila kekeliruan yang dilakukan MYT pada tanggal 25 Agustus 1996 jika tidak diungkapnya...? Jika kepada pihak lain bisa menyalahkan, maka terhadap kesalahan diri sendiri pun harus bisa menyalahkannya sehingga adil. Perhatikan ayat “ Hai orangorang yang beriman ! jadilah kamu orang-orang yang benar menegakkan keadilan menjadi saksi semata-mata karena Alloh, biarpu terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Sekalipun yang tergugat itu kaya atau miskin, maka Alloh lebih mengutamakan persamaan hak dan kewajiban terhadap keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu untuk memperkosa keadilan. Dan kamu kalau memutarbalikkan kenyataan atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Daulah Bani Umayah yang dhohir dengan segala asset kekayaan serta kekuatan yang riil menguasai masyarakat dengan penerapan hukum

Islam secara nyata dirasakan tiap individu, dikhawatirkan oleh pihak Barat (thogut) sebagai ancaman besar. Meskipun awalnya tidak legal, namun sebagian besar para ulama mengikutinya. Karena bila menyusun kekuatan selainnya akan dianggap merusak tatanan masyarakat Islam dan membantu kekuatan kaum kuffar.Tegasnya, Daulah Bani Umayah kalau dimisalkan di Indonesia tentu puluhan propinsi serta ratusan kabupaten atau ribuan desa dikuasai pemerintah secara riil, bisa menterapkan undang-undang yang ditetapkannya, yakni bukan hanya di atas kertas serta tulisan. Juga mampu mempersatukan ummat dengan kekuatan senjata sehingga pantas bila menjadi kebanggaan untuk dipertahankan. Berbeda dengan hal itu, saat ditulisnya Penjelasan dan Statemen ini, semua yang mengaku NKA-NII dari kelompok atau fraksi manapun mengatasnamakannya, semuanya masih dalam berjuang. Jangankan mempersatukan ummat dengan kekuatan senjata, wilayahnya pun belum dikuasai. Jangankan menguasai wilayah, komponen-komponen untuk mengimbangi kekuatan musuh pun belum tersedia. Jadi, dalam keadaan begitu mau dengan apa mempersatukan ummat atau kelompok-kelompok? Apakah dengan memimpikan munculnya kekuatan seperti Bani Umayah? Apakah kekuatan pemerintahan seperti Bani Umayah itu bisa berdiri tanpa terlebih dulu adanya persatuan? Begitu juga apakah persatuan bagi mujahid NKA-NII akan terwujud tanpa menggunakan rujukan yang satu untuk bersama? Apakah bisa kembali kepada rujukan bersama, jika masing-masing sudah terlebih dulu membanggakan kelompoknya sehingga tidak kembali kepada undang undang NKA-NII sebagai perangkat persatuan? Sebab itu dalam Penjelasan dan Stetemen ini, saya tegaskan jangan memimpikan adanya kekuatan bisa de facto menguasai wilayah, bila tidak terwujud persatuan! Jangan menghayalkan persatuan, jika tidak kembali kepada undangan-sebagai rujukan bersama! Suatu perjuangan pemerintahan bisa dimulai oleh beberapa orang, hal itu bahkan bisa dimulai oleh seorang. Contohnya, Abdul Azis bin Su’ud (1880-1953) sebagaimana telah dikemukakan pada halaman terdahulu. Sekalipun dimulai oleh seorang optimis jika hal itu didasari dengan legalitas, karena dengan legalitas itu bisa dipertanggung-jawabkan baik itu di dunia maupun di Akhirat. Berbeda dengan sekedar dalam pengakuan telah berpemerintahan, tetapi legitimasinya sulit dipertanggungjawabkan, maka hal itu membuat pesimis. Sebab pada akhirnya akan terjadi perdebatan dalam mahkamah sejarah, dan kita tidak boleh menyembunyikan sejarah bahkan diharuskan menceritakan sejarah secara objektif. Dan sejarah kita pun akan dihakimi oleh generasi mendatang. Seseorang bisa berjuang jika pada dirinya ada rasa optimis. Sedangkan optimis yang sesungguhnya ialah bila kelak di akhirat segala yang dilakukan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmu. Dari itu jangan sampai terjebak oleh keterlanjuran waktu yang lama. dalam kekeliruan sekedar mengikuti sikap seseorang. Jadi, untuk optimisme berjihad dalam hal ini mengakui kesalahan yang terjadi. Hadapi segala eksesnya sebagai pengorbanan. Berjihad (berlembaga) hanyalah sarana mencapai Mardhotillah maka jika terjadi kesalahan dalam hal itu segera beristighfar sehingga siap mengadakan perbaikan. Ingat, bahwa negara adalah stabil,

tetapi pemerintahan bisa labil. Dan legalitas pemerintahan lebih bernilai dari pengorbanan yang telah lalu. Pada waktu terungkapnya kekeliruan tentang penyerahan, 25 Agustus 1996 ditakdirkan bahwa Muhammad Yusuf Thohiry dan sebagian dari AKTnya masih ada. Tentu dari hal itu ada pertanyaan, bagaimana seandainya kesalahan itu ditakdirkan terungkapnya sesudah MYT serta semua Anggota Komandemen Tertinggi yang tercantum dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu sudah tidak ada? Jawabannya, perhatikan amanat Imam pada tahun 1959 di hadapan para panglima, yang antara lain bunyinya: ”Djika kalian dalam berdjuang putus hubungan dengan para Panglima sedangkan jang ada hanja pradjurit petit, maka pradjurit petit tampil sebagai Imam”. Dari amanat itu menunjukkan estapeta kepemimpinan NII terus berlanjut! Amanat itu mengandung arti lebih luas. Yaitu, jika semua sudah tidak ada tentu masih banyak aparat bawahannya. Juga, seandainya tidak ditemukan lagi, karena semua aparat sudah dianggap habis, maka dikaitkan dengan amanat Imam pada tahun 1959 tadi, ummat (prajurit petit) pun berhak tampil sebagai Imam. Dan seandainya tidak ada yang siap tampil maka kembali kepada musyawarah ummat (mujahidin NII) melalui perwakilanperwakilannya untuk mengangkat Imam yang disepakati. Dalam keadaan demikian hasil musyawarah mengandung legitimasi perjuangan tidak keluar dari MKT No.11 Tahun 1959, jika yang diangkat dan mengangkatnya ialah pelanjut dari kepemimpinan realisasi undang-undang tersebut. Sebab, bahwa prajurit petit dalam hal itu ialah prajurit dari Negara Islam Indonesia berarti dalam koridor perundang-undangannya. Adapun terhadap pertanyaan, bukankah sebagian dari para Kepala Majlis yang tercantum dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu telah diangkat menjadi para Kepala Majlis, termasuk MYT pernah menjadi Kepala Majlis Dalam Negeri yang diangkat oleh. yang terkait dengan penyerahan 25 Agustus 1996? Benar, hal demikian sebelum disadari adanya kekeliruan tentang penyerahan tersebut! Akan tetapi, sesudah disadari bahwa penyerahan 25 Agustus 1996 itu tidak sah maka pengangkatan sebagai Kepala-Kepala Majlis-nya pun berarti tidak sah. Dengan ketidaksahannya itu maka mereka tetap menempati struktur Dewan Imamah sebagaimana dalam MKT 1 Tahun 1994. Ada kejadian sejarah yang tadinya tidak terpikirkan untuk dikemukakan dalam statemen MYT, tetapi pada Tanggal 15 September 2007 saya membaca sebagian surat yang ditujukkan kepada AFW tertanggal 14 Maret 1997, karena surat tersebut ditulis sesudah adanya Nota Dinas 25 Agustus 1996. Adapun bunyi kalimatnya yaitu “ Alhamdulillah, Allah Maha Bijaksana, sebelum majalah Ummat terbitan 9 Desember 1996 memuat wawancara Abdul Fattah Wirananggapati, Bapak sudah terlebih dulu menandatangani MKT No. IV, Tahun 1996 tanggal 15 Jumadil Ula 1417 H. Bertepatan 28 September 1996 mengenai pengangkatan Dewan Imamah NII, sehingga eksistensi kepemimpinan NII tetap berlangsung. Yakni adanya pengganti Abdul Fattah Wirananggapati diambil dari salah seorang anggota Dewan Imamah”.

Tatkala membaca kembali redaksi surat di atas itu, tiba-tiba saya merasa berdosa, jika hal ini tidak dijelaskan sebenarnya yang terjadi. Pada saat saya menulis surat itu tidak disadari terdapat kesalahan dalam redaksinya. Yang dimaksud dalam hal itu yakni pengangkatannya. Sebab, yang terjadi sebenarnya pada Tanggal 28 September 1996 itu hanyalah pengangkatan Dewan Imamah, adapun penandatanganannya yaitu sesudah beberapa lama dari terbitnya majalah Ummat, 9 Desember 1996, atau sesudah terjadinya keguncangan di kalangan ummat serta aparat terhadap isi wawancara AFW mengenai Pancasila. Tepat tanggal dan harinya saya lupa, tetapi yang jelas sesudah banyak yang membaca majalah Ummat, terbitan 9 Desember dan sebelum Tanggal 26 Desember diadakan Tabayun mengenai hal itu. Lembaran pengangkatan yang harus ditandatangani sudah lama diberikan, namun tiap ditanyakan supaya segera ditandatanganinya, tidak ada jawaban yang pasti. Akan tetapi, sesudah adanya keguncangan tersebut tadi maka MYT bersama tiga anggota Dewan Imamah yang sudah ditentukan, berusaha menghadirkan AFW guna menanyakan persoalan wawancaranya. Namun, setelah berkumpul dengannya hanya seorang anggota Dewan yang mempersoalkannya. MYT berusaha untuk tidak mempersoalkan tentang isi wawancara dalam majalah Ummat yang dimaksud, dengan pertimbangan pada waktu itu AFW belum menandatangani lembaran surat pengangkatan para A.K.T. sehingga Dewan Imamah tidak bisa memproses kasus yang terjadi pada AFW dalam hal wawancaranya. Dengan demikian pada waktu itu MYT hanya berusaha bagaimana caranya supaya AFW menandatangani MKT. No.IV /1996 pada hari itu juga. Kemudian setelah dikemukakan beberapa hal kepada AFW mengenai keharusan menandatangani MKT. tersebut maka AFW terlebih dulu meminta jaminan. Setelah jaminan disepakati, lalu salah seorang yang hadir pergi dulu membeli pulpen yang kegunaannya dianggap sesuai untuk menandatangani surat penting. Singkatnya, pada waktu pertemuan itulah MKT. No. IV / 1996 ditandatangani oleh Abdul Fattah W . Beberapa lama sesudah penandatanganan, diantara empat yang menyaksikannya ada yang mengungkapnya bahwa untuk penandatanganan surat tersebut di atas didahului dengan tawar- menawar mengenai jaminan......Sehingga dari terungkapnya itu ada yang ragu mengenai sah atau tidaknya penandatanganan lembaran pengangkatan aparat dalam MKT No.4/1996. Keraguannya disampaikan kepada saya. Pada waktu itu MYT menjawab, “Yang dipegang oleh saya ialah ucapan Pak Fattah setelah selesai pengangkatan, memerintahkan supaya dibuatkan surat pengangkatan yang kemudian akan ditandatangani, rekaman perkataannya juga ada”. Dengan jawaban dari MYT itu rupanya tidak puas, sebab orang itu menyanggahnya dengan berkata,”Perkataan itu beda nilainya dengan tandatangan”. Saya berusaha supaya AFW menandatangani lembaran pengangkatan aparat yang tercantum dalam MKT. No.4/1996, dimaksudkan sebagai penyelamatan eksistensi Dewan Imamah pada waktu itu, sebab keadaan aparat dan ummat sudah gelisah terhadap isi wawancara AFW dalam majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996, mereka mendesak supaya diadakan pemeriksaan. Pikiran saya membayangkan bila dilakukan

pemeriksaan, sedangkan lembaran pengangkatan Dewan Imamah belum ditandatangani, maka akan terjadi konplik antara aparat serta ummat dengan AFW, dan bisa-bisa pengangkatan Dewan Imamah pun akan dibatalkan. Tidak meleset dugaan itu, sesudah terjadinya pemeriksaan atau tabayyun, 9 Desember 1996 AFW berusaha mendatangi beberapa anggota Dewan Imamah meminta lembaran MKT.No.4/1996. Walaupun sudah mencarinya ke beberapa tempat lembaran aslinya tidak ditemukan, karena saya yang menyimpannya, dalam arti saya tidak memberikannya, karena saya memahaminya bila lembaran aslinya ke tangannya maka AFW bisa berbuat yang tidak dikehendaki para aparat yang sudah diangkatnya. Surat yang ditujukan kepada AFW, tanggal 14 Maret 1997 sebagian isinya juga menjelaskan tentang surat Nota Dinas kepada AFW tertanggal 9 April 1992, sedangkan adanya pengiriman surat tersebut adalah hasil musyawarah tanggal 4 Pebruari 1996, di Leuwi Gajah. Adapun redaksinya merupakan rekayasa politik, saya yang membuatnya tanpa konsultasi dengan yang lainnya, sedangkan dalam pengetikannya oleh aparat bagiannya. Sebagai konsep dibuat dengan ketikan tetapi dengan harapan bila ditandatangani oleh AFW dalam bentuk tulisan tangan, karena AFW-nya masih dalam penjara musuh. Sebenarnya saya ragu mengirimkan surat dalam situasi demikian, karena takut adanya salah pengertian dari AFW walau dilampiri surat pengantarnya, namun mengingat dalam musyawarah dikatakan bahwa sebelum AFW keluar bebas dari penjara, surat sudah harus diterima olehnya. Akhirnya, surat dikirimkan. Alhamdulilillah ”Rekayasa Politik” itu tidak ditandatangani oleh AFW. Keraguan saya terbukti, yakni akhirnya saya dituduh ambisi. Tapi, senjata penangkisnya yaitu cukup hanya Rabb- lah yang mengetahui segala niat saya. Dan kepada- Nya pula saya beristighfar. Saya sadar bahwa pada hakekatnya Rabb juga yang membukakan rahasia sejarah yang tadinya masih tersembunyi. Persilahkan kepada mahkamah sejarah baik itu sekarang maupun masa- masa mendatang bila akan menghakiminya. Kewajiban saya (MYT) menjelaskannya. Dan hanya demikianlah kemampuan (kompetensi) saya mengendalikan perjuangan Negara Islam Indonesia dalam kondisi waktu itu.

Statemen dan Seruan Muhammad Yusuf Thohiry
Bismillaahirrachmaanirrachiim, sekalipun ada perasaan berat dalam hati untuk membuat statemen yang mengandung konsekwensi dan resiko, namun konsekwensi dan resiko itu jauh dari berat bila dibandingkan dengan ancaman dari Allah SWT. sebagaimana yang termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur`an yang menyatakan: ”Amat murka Allah Subhanahuwat’ala terhadap yang mengatakan tanpa perbuatan”. Juga, kutukan terhadap yang memutarbalikan kalimat dari asalnya. Serta laknat bagi yang melanggar janjinya. Maka di bawah ini saya nyatakan: 1. Dengan sesadar-sadarnya dan dalam keadaan sehat serta tidak berada tekanan siapa dan apapun, bahwa kesalahan yang saya (Muhammad Yusuf Thohiry) lakukan bukanlah kesengajaan untuk menyimpang dari perundang-undangan, melainkan kealfaan sebagai manusia yang

mempunyai sifat lupa. Dan karena saya telah sadar dari kesalahan untuk itu saya harus segera kembali kepada kebaikan sebagaimana keterangan firman-Nya dalam QS. Ali Imran (3) :33 dan QS. Al-Maidah (5):39. Maka penyerahan jabatan Imam/ KPSI pada tanggal 25 Agustus 1996 saya nyatakan tidak sah. 2. Semua tanda tangan saya yang tertera dalam lembaran keputusan negara, atau sikap perbuatan saya yang didasari oleh penyerahan seperti tersebut dalam poin pertama di atas, saya nyatakan merupakan suatu kekeliruan. Tulisan- tulisan saya dalam bentuk buku, brosur- brosur dan dalam bentuk lainnya, yang isinya mengadung pembenaran terhadap tanda tangan dalam lembaran-lembaran negara, atau hal-hal sebagaimana yang disebutkan dalam poin kedua, saya nyatakan salah. Sebagai konsekwensi dari tiga poin di atas guna kelangsungan estapeta perjuangan dan kepemimpinan Negara Islam Indonesia, dan demi melakukan perbaikan (Q.S.11:8) saya akan berusaha terus melangkah semaksimal kemampuan guna berada pada koridor undang-undang NKA-NII. 5. Sungguh disadari bahwa adanya pernyataan sikap ini menimbulkan beban bagi sebagian aparat atau ummat, karena akan ada yang meninjaunya hanya dari segi perasaan atau hanya melihat dari eksesnya. Tetapi, di balik itu ada yang merasakan, bahwa ini merupakan perbaikan atau ujian bagi semua yang sudah mengaku berpegang pada konstitusi NKA-NII dalam hal konsistennya. Yakni, mereka yang sebelum hal ini terjadi, senantiasa menyerukan kepada yang lain untuk berkepemimpinan sesuai dengan konstitusi. Dan bila telah menyimpang dari undang-undang, harus segera kembali kepadanya meski sudah belasan tahun berada diluar koridor konstitusi! Inilah ujian, jangan hanya bisa menyerukan kepada orang lain, tapi harus bisa dipraktekkan oleh diri sendiri saat menyadari tidak menempati rel konstitusi NKA-NII. Bila orang lain yang diseru telah lulus dari ujian dengan siap meninggalkan posisi, tidak terpaku oleh hegemoni demi kembali kepada perundangundangan, maka apakah bisa pula bagi penyerunya jika terjadi seperti yang telah diseru? Lulus dari ujian dan beban berat atau ringan sesuai dengan kapasitas pelakunya adalah pengorbanan dari suatu perjuangan. 6. Ingatlah!, bahwa NKA-NII pada saat ini bukan dalam keadaan de facto seperti Bani Umayyah, Abbasyiah, atau negara-negara yang di dalamnya terdapat para pakar kenegaraan. Melainkan NKA-NII dalam masa berjuang dan fi waqtil harb. Kondisi ini, perubahan radikal maupun yang bersifat evolusi ke luar atau ke dalam senantiasa terjadi. Untuk itu dalam mencermati keadaan yang sedemikian, harus berdasarkan ilmu. Perhatikan kisah Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam, “Demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar Ibrahim termasuk orangorang yang benar-benar yakin “. Tatkala malam telah gelap, dilihatnya

3.

4.

sebuah bintang, dia berkata: “Inikah Tuhanku ?” Tetapi manakala bintang itu telah menghilang di balik kaki langit dia berkata: “Aku tidak suka kepada sesuatu yang dapat menghilang”. “Ketika dilihatnya bulan terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku ?. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata lagi: “Sekiranya tuhanku tidak memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat. Dan ketika dilihatnya matahari terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku ? Bahkan ia lebih besar dari yang tadi”. Tetapi setelah matahari itu terbenam pula, dia berkatalagi: “Hai kaumku ! sesungguhnya aku bebas dari apa yang kamu persekutukan”.(QS. 6: 75-78). Dari ayat-ayat tersebut disimpulkan bahwa suatu pengakuan akan berubah dengan datangnya pengetahuan baru yang lebih meyakinkan. Adapun kapan datangnya pengetahuan yang lebih meyakinkan, target waktunya diluar kemampuan seseorang, hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Dengan itu jika suatu kekeliruan, baru terungkap sesudah melalui proses lebih dari sepuluh tahun, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak dijelaskan. Bahkan bila tidak dijelaskan, mungkin akan berlanjut bukan hanya dalam kurun belasan tahun, tapi malahan puluhan tahun. Dan bagaimana tanggung jawab bagi yang sudah mengetahui kesalahan itu.

7. Dalam berijtihad, bisa saja hasilnya salah. Tapi jika sudah disadarinya bahwa ijtihad itu salah, maka tidak boleh ijtihad terdahulu dipertahankan atau dikatakan benar. Sebab, disitir oleh Al Qur’an sebagai orang-orang yang memutarbalikan kalimat dari asalnya yang ujungnya sehingga Alloh melaknatnya, perhatikan Qur’an Al-Maidah ayat 13, surat Al-Baqoroh ayat 46. Jelas sekali bahwa mengungkap kekeliruan dalam ijtihad tidak terhalang oleh waktu sepuluh tahun, tidak terintangi oleh bebagai penilaian atau tanggapan negatif. Sebab, mempersiapkan diri dalam menghadapi Hisaban di Akhirat mengalahkan segalanya (perhatikan Q.S.13:18). Segala yang dimiliki berkaitan dengan duniawi, termasuk predikat apapun yang melekat pada diri tidak akan menebus siksa di Hari Kiamat dari dosa (Perhatikan QS. 39: 47). 8. Setelah dipahami bahwa penyebab keluar dari perundangundangan, pangkalnya ialah penyerahan jabatan Imam/KPSI, 25 Agustus1996. Maka sebagai solusinya kepemimpinan NKA-NII harus kembali kepada pemegang estafeta 12 November 1991. Dan para AKT yang dilegalisir melalui Maklumat No. 1 Tahun 1994, jika tidak keberatan dalam hati, hendaklah kembali pada kebenaran estafeta. 9. Yang terakhir dari statemen ini, saya mengajak kepada segenap mujahid Negara Islam Indonesia sesuai dengan perannya untuk mengadakan koordinasi, konsolidasi dan mobilisasi atas segala potensi jihad, untuk bersatu menyamakan persepsi dan sikap dalam menghadapi perjuangan yang belum sampai pada sasaran dan tujuan perjuangan. Dan “Songsonglah kedatangan kembali Imam/Plm.T. A.P.N.I dengan realisasi MKT Nomor 11 Tahun 1959.”

Demikian statemen ini saya buat didasari kewajiban sebagai saksi dari sebagian sejarah kepemimpinan NKA-NII, dan sebagai usaha

maksimal dalam menghadapi pertanggung-jawaban kelak di Hadhirat Yang Maha Kuasa, juga di hadapan para mujahid NKA-NII baik yang sekarang maupun generasi mendatang.

Bismillaahi tawakaltu `alalloh walaa haula wala quwwata illa billah.


Mardhotillaah, 12 Ramadlan 1428 H. 27 September 2007 M. • • ttd

(Muhammad Yusuf Thohiry)

QS. An Nisa (4): 135. QS.Ash Shof (61): 2-3. QS. An-Nisa (4):59. QS. An-Nisa (4):58. QS. Asy Syuraa (42):32. QS. 26:197. QS. Al-An’am (6):33. QS. Al-A’raaf (7) :16-17. QS. 35:6. QS. 42:38. QS. 3:103. Kitab Sunan Tirmidzi juz 4 , halaman 68, nomor hadist 263. QS. Al-Maidah (5):14. Lihat: Qanun Azasi NKA-NII. Ibid. Ibid. Lihat: Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM. Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah), 1998. Lihat: Qanun Azasi NKA-NII.

Ibid. Ibid. Ibid. Ibid. lihat: Kaidah Ushul, “Adh-dharuratu tunbihul mahdhurati”. QS. 64:16. Lihat: Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad W, (Jakarta: Bulan Bintang), 1992. Peristiwa berdarah di Aceh, Meuraxe Dada, Pustaka Sedar, Medan,1956, halaman 31-

33.

Ibid. Merdeka, 23 Nopember 1953. Merdeka, … 1953. Merdeka, 25 September 1953. Pikiran Rakjat, 9 Mei 1962, hal.2 kol.3. Wawancara dengan Zaenal Hatomi. Keterangan dari Baharuddin Yang pada waktu itu sebagai Keuangan Resimen. Pikiran Rakyat, 1 April 1982. Harian Merdeka, 8 September 1953. Zaenal Hatami seorang mujahid yg dekat dgn SMK bertugas di kota, Wawancara dengan Kastolani Keterangan ini dari Ridwan, salah seorang dari empat utusan Kastolani. Berita Harian Gala 18 Maret 1982. Pikiran Rakyat 8 April 1982 QS. Al-Israa (17):36. QS. Ali Imran (3):105. Pikiran Rakyat, 13 September1962

(KIBLAT, edisi No. XIV /Mei 2002). QS. As-Shaff (61): 2-3. QS. Al-Israa (17):36. QS. Ali Imran (3): 33, dan Al-Maidah (5): 39. QS. An-Nisa (4): 135. QS. Al-A`raaf (7): 176. QS. Al-Israa (17):36. QS. Ash-Shaaf (61):3. QS. An-Nisa (4): 46. QS. Al-Maidah (5):1

Memahami Kembali Sejarah Darul Islam di Indonesia
Source:http://members.tripod.com/darul_islam/ Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim orde lama dan kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi serta menyesatkan kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya dalam memahami sejarah masa lalu negeri ini. Selama ini kita telah tertipu membaca buku-buku sejarah serta berbagai publikasi sejarah perjuangan umat Islam diIndonesia. Sukses besar yang diperoleh dua rezim penguasa di Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul Islam, adalah munculnya trauma politik di kalangan umat Islam. Hampir seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat untuk memperjuangkan agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi maupun seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera setelah itu mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.

Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : "Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari'at Islam". (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : "Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme". Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: "Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami". Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: "Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan". Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap isu negara Islam, melebihi ketakutan orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa segala isme (faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang meraih kekuasaan untuk mendirikan negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya. Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun terbitnya buku-buku yang mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan perbuatan luhur dalam meluruskan distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah bangsa. Sejak berdirinya Republik Indonesia, rakyat negeri umumnya, telah ditipu oleh penguasa, hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah mayoritas telah disesatkan pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Sudah seharusnya, di masa reformasi ini, umat Islam menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang berusaha membangun supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil diproklamasikan, 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarah tersebut dengan seenaknya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenal dengan jelas sejarah masa lalunya. Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis dan kontroversial di negara Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia dikenal sebagai pemberontak, harus kita luruskan.Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap seorang tokoh yang seharusnya dihormati. Semasa Orla berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara Islam Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang sebenarnya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagi bangsa Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekarno dan tokoh tokoh nasionalis

lainnya. Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesia hanya tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun, dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia, sehingga pada waktu itu nyaris Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara-negara serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syaratsyarat kenegaraan. Seperti Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya kelengkapan kenegaraan. Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti atmosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminologi al-Qur'an dengan menggunakan istilah "Hijrah" untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari medan perang. Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah"hijrah" sudah pernah diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma Gandhi dari India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif, berusaha untuk melawan kekuatan penjajah. Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan "hijrah" adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatansendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu

melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus Salim. Walaupun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan. Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satusatunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia. Melihat sambutan yang gemilang hangat dari saudara muslim lainnya, maka rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H. Nasuion, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang, tetapi ternyata mempumyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat dalam masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam mujahid Islam tersebut. Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit untuk dimaafkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan dosa syirik dalam pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena perilaku politik yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat. Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dzalim pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab," Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno".

Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: "Darul Islam dan Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal", mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam. Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sinilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu. Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenamya terjadi justru kebalikannya. Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 - 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat. Sebagai seorang tokoh nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo. Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik SoekarnoHatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya baru sosialisasi saja. Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya "Lahirnya Republik Indonesia". Pertanyaan Soekarno itu adalah: "Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita?" "Ya saya ingat, saya menjawab,"Tetapi tidak lengkap seluruhnya". "Tidak mengapa," Soekarno bilang, "Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya".

Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang saya ucapkan sebagai berikut : "Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan". Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, "Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?" Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah. "Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan: Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia? Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta? Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia ...? Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka? Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak. Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI." (Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).

Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam dan pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis para pembaca. Lebih dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara Islam Indonesia yang dilakukan semasa orla dan orba oleh para sejarawan merupakan suatu keberanian yang patut didukung, supaya pembaca mendapatkan informasi yang berimbang dari apa yang selama ini berkembang luas. Kami bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan Negara Islam dan berlakunya syari'at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Amin, Ya Arhamar Rahimin !

Darul Islam, antara harapan dan kenyataan
13-October-2006 Liputan6.com, Jakarta: Pernyataan pers Al Chaidar memang membuat kuping sebagian pihak merah. Bayangkan, tiga faksi garis keras di tubuh organisasi Darul Islam (DI) -bisa disebut Negara Islam Indonesia (NII), terlibat aksi peledakan. Mulai dari pengeboman di AIS dan Gereja Petra Koja, Jakarta Utara, beberapa waktu silam, hingga sejumlah pengeboman gereja di malam Natal, akhir 2000. Sayang, Al Chaidar enggan menunjuk hidung ketiga faksi tersebut. Namun yang pasti, menurut aktivis DI itu, motif teror peledakan berlatar belakang jihad untuk mendirikan Negara Islam. Jaringan kelompok DI atau NII memang pernah dianggap momok dalam percaturan politik di Indonesia. Benarkah DI-NII bangkit kembali? Sulit menjawab. Namun, dalam sebuah kesempatan, Al Chaidir menyatakan, gerakan NII tak pernah padam. Memang itu bukan hal yang berlebihan. Soalnya, selama obsesi mewujudkan NII belum terwujud, kelompok-kelompok tersebut akan selalu ada. Jelasnya, tujuan kelompok tersebut adalah mendirikan negara Islam. Terus terang, hingga kini, tak banyak yang mengetahui keberadaan kelompok-kelompok atau faksi-faksi NII. Sebab, aktivitas kelompok tersebut sukar dilacak. Markas kelompok ini pun kerap berpindah-pindah. Bahkan, terkadang pergerakannya cukup eksklusif. Makanya tak aneh, bila tak sembarang orang bisa masuk ke lingkaran mereka. Apalagi, seseorang harus disumpah setia kepada imam atau pemimpin (ba`iat) terlebih dulu sebelum menjadi anggota. Tak hanya itu, orang tersebut juga dilarang bercerita kepada

siapa pun, terkecuali sesama anggota kelompok “N-Sebelas” --sebutan lain untuk NII. Keberadaan NII adalah isu serius yang tak pernah hengkang. Goresan pena sejarah mencatat, NII pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949. Kala itu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi basis pertama NII. Selanjutnya, gerakan serupa meluas ke sejumlah daerah di Tanah Air, terutama Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Aceh. Misalnya pada Oktober 1950, terjadi pemberontakan di Kalsel yang dipimpin Ibnu Hadjar alias Haderi bin Umar, seorang bekas letnan dua TNI, yang menyatakan sebagai bagian dari DI pimpinan Kartosuwirjo. Lantas, gerakan ini berhasil dipadamkan setelah pemerintah melalui TNI berhasil meringkus Ibnu Hadjar pada 1959. Gerakan DI juga meluas hingga ke Sulsel di bawah pimpinan Kahar Muzakar, 20 Januari 1952. Setahun berselang, disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh pada 21 September 1953. Namun, sejumlah upaya pembentukan negara tersebut berhasil dipatahkan. Bahkan, Rezim Orde Baru melarang keras gerakan DI atau NII. Dalam kesempatan terpisah, Al Chaidar menyatakan, upaya mendirikan NII bakal terus dilakukan. Ia mengungkapkan, hingga kini, terdapat 14 faksi yang setia memperjuangkan berdirinya kembali NII. Di antaranya, Faksi Abdullah Sungkar, Abdul Fatah Wiranagapati, Mahfud Sidik, Aceh, Sulsel, Madura, Kahwi 7, dan Faksi Kahwi 9, serta beberapa kelompok lain. Sedangkan basis NII atau DI berada di tiga tempat. Untuk Pulau Jawa, basis NII berada di Jabar, kawasan Gunung Salak dan Subang. Sementara wilayah Sumatra berbasis di Aceh, dan untuk bagian Indonesia Timur berkedudukan di Sulawesi. Bahkan, NII mengklaim telah mempunyai pengikut sekitar 18 juta orang. Keanggotaannya terdiri dari berbagai kalangan. Sebut saja, mulai dari rakyat bisa, petani, mahasiswa, militer hingga pejabat. Kesemuanya tersebar di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara. Menurut Al Chaidar, faksi pertama hingga keenam adalah kelompok Islam radikal berlatar kekerasan. Sebaliknya, faksi ketujuh hingga ke-13 lebih memilih gerakan antikekerasan. Faksi pertama hingga ketiga memiliki kaitan dengan International Mujahidin Association (IMA). Sedangkan faksi keempat hingga keenam adalah pelaku pengeboman dan lebih banyak dimanfaatkan kalangan militer. Saat ditanya kenapa ia mengungkapkan hal itu, Chaidar mengatakan, pernyataan tersebut memang tergolong berisiko. Namun, dia berpendapat keadaan bakal lebih buruk andai dia memilih tutup mulut. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ternyata ke-14 faksi DI bertujuan menegakkan DI atau Negara Islam tanpa memandang batasan wilayah lagi. Namun untuk mencapainya, harus melalui tujuh fase. Fase pertama adalah hilful fudul atau saat Nabi Muhammad S.A.W. meraih kepercayaan dari berbagai kalangan di Kota Mekah, Arab Saudi. Di Indonesia, fase pertama itu terefleksikan dalam pendirian Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo, Jawa Tengah, oleh H. Samanhoedi pada 16 Oktober 1905. Selanjutnya, fase kedua dinamakan nubuwah atau awal mulanya penurunan Wahyu Ilahi, di Indonesia diibaratkan saat SDI berubah menjadi Sarekat Islam, hingga 1928. Sementara fase ketiga adalah hijriah atau diumpamakan kala SI berubah menjadi Partai

Sarekat Islam Indonesia hingga 1938. Fase berikutnya adalah fase Madinah, ketika Indonesia mengalami pergolakan di sejumlah daerah, sekitar 1949-1967. Selanjutnya, fase hubaidiyah atau masa perjanjian di Mekah. Fase futuh Mekah dan khalifiyah adalah urutan yang paling terakhir. Mengacu pada hal tersebut, sejumlah anggota DI berkeyakinan mereka tengah menghadapi fase hubadiyah. Karena itulah, mereka memandang gerakan harus mengedepankan non-violence atau antikekerasan. Malah, terbetik kabar bahwa sejumlah faksi DI --termasuk faksi Al Chaidar-- yang antikekerasan itu berencana mengegolkan kelompoknya menjadi suatu organisasi massa atau partai politik. Kendati demikian, Al Chaidar mengakui bahwa ada sejumlah kelompok sempalan DI yang “bandel” atau berseberangan dengan faksinya. Mungkin Al Chaidar betul. Tapi, pengamat sosial keagamaan Abdul Choliq Wijaya berpendapat lain. Menurut dia, saat ini, NII tinggal sebagai wacana umat Islam. Soalnya, gerakan NII atau DI tidak lagi di bawah tanah, tapi sudah tampil ke permukaan sejalan dengan era reformasi. Pada zaman keterbukaan, sejumlah parpol tak dilarang menggantikan asas Pancasila menjadi Islam. Pendapat itu didukung Dr Musalin Dahlan. Tokoh Islam yang dekat dengan kalangan NI ini menegaskan, saat ini NII cenderung tinggal wacana semata. Alasannya, kini, berbagai potensi umat Islam lebih mengangkat isu penegakan syariat Islam ketimbang isu NII.(ANS) Sumber: http://liputan6.com/view/8,24004,1,0,1160727282.html#

CHAIDAR CINTA ISLAM, GUS DUR SENANG SEKULARISME
By nourman

Tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan saudara Al Chaidar. SEKEJAP BERJUMPA DIUDARA DENGAN AL CHAIDAR Pada tanggal 6 dan 7 April 1999 tahun lalu pernah saya menerima email dari saudara Al Chaidar yang meminta tulisan-tulisan saya untuk dipelajarinya, apakah pemikiranpemikiran saya itu mengarah ke radikalisasi atau ke arah deradikalisasi. Karena menurut Al Chaidar beberapa tulisan-tulisan saya itu di Jakarta, Bandung, Lampung dan bahkan Padang, dibicarakan dengan sangat gempita. Kegembiraan mereka mendapatkan penyalurannya melalui rumusan-rumusan judul artikel-artikel saya yang sangat menarik dan sederhana, menurut Al Chaidar. (Al Chaidar, 6-7 April 1999). Saudara Al Chaidarpun menceritakan dalam emailnya itu bahwa selama ini telah menulis buku-buku tentang Negara Islam, tentang Darul Islam dan gerakan politik Islam lainnya. Diantaranya Reformasi Prematur: Jawaban Islam terhadap Reformasi Total; Wacana Ideologi Negara Islam: Studi Harakah Darul Islam dan Moro National Liberation Front; Aceh Bersimbah Darah: Mengungkap Penerapan Status Daerah Operasi Militer [DOM]

di Aceh 1989-1998; Pemilu 1999: Pertarungan Ideologis Partai-Partai Islam versus Partai-partai Sekuler; Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo. PENJELASAN DAN TANGGUNG JAWAB AL CHAIDAR TENTANG AKSI SEJUTA UMMAT Tanggal 26 Januari 2000 saya membaca tulisan Al Chaidar di Indopubs/Apakabar http://www.indopubs.com/varchives/0156.html yang isinya menyangkut Penjelasan dan Pertanggungjawaban Acara AKSI SEJUTA UMMAT yang ditujukan kepada Pemimpin Redaksi Media Massa Di Indonesia dan dikirimkan dari Kuala Lumpur, 18 Syawal 1420/26 Januari 2000. Dimana Al Chaidar, menjelaskan bahwa: 1. AKSI SEJUTA UMMAT telah berlangsung secara aman, damai, tertib dan sejahtera pada pagi hari tanggal 7 Januari 2000 di sektor Barat Monas, Jakarta. Aksi sejuta ummat untuk rahmatan lil’alamin ini merupkan aksi untuk menyatakan solidaritas dan empati atas perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh Muslim Ambon dan semua pihak yang menjadi korban kemanusiaan. 2. Tidak ada kerusuhan atau tindakan pembakaran dalam aksi demonstrasi damai tersebut. Tidak ada penghinaan terhadap pemerintah maupun pribadi atau golongan tertentu. Tidak ada provokasi, agitasi atau propaganda yang berlangsung di dalamnya. Namun kami, pihak panitia, menyaksikan banyak provokator dari pihak-pihak yang kami duga berasal dari pemerintah sendiri. 3. Saya selaku ketua panitia SC Aksi Sejuta Ummat di Monas itu sudah membuat berita acara yang saya sampaikan kepada semua panitia dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. 4. Yang kemudian menjadi masalah adalah ungkapan saya untuk mengganti ideologi bangsa (Pancasila) dengan ideologi negara Islam. Semua perkara tentang hal ini sepenuhnya menjadi tanggung-jawab saya pribadi dan akan saya jawab ketika saya menyelesaikan semua urusan rencana studi di Malaysia, Thailand, Afghanistan, Mindanao dan Pakistan. 5. Saya marah dengan semua tuduhan yang dilontarkan oleh Kapolda Brigjen Noegroho Djajoesman bahwa saya 2X tidak datang memenuhi panggilan polisi. Sampai menjelang keberangkatan saya ke KL seminggu lalu, tidak ada satu surat panggilan pun yang hinggap di alamat saya Jl. Batu I No. 26-A, Pejaten Timur, Jakarta 12510. 6. Saya juga menyatakan tidak terlibat dengan Peristiwa Mataram, Sulawesi Selatan, Aceh, Solo dan NTT. Justru saya ingin menyejukkan jiwa-jiwa rakyat yang gelisah di sana dengan menawarkan logika high politics bahwa kita butuh Negara Islam sebagai penawar panasnya letupan emosi akibat pembantaian umat Islam di Ambon. Saya

sebenarnya telah mengambil tugas Departemen Penerangan RI (yang telah dibubarkan itu). 7. Saya mengharapkan agar aparat pemerintah Republik Indonesia tidak melakukan provokasi kepada rakyat dengan menuduh-nuduh orang sebelum jelas suatu persoalan. Berilah penjelasan atau penerangan kepada rakyat dengan logika dan bahasa yang menyejukkan jiwa. Jangan dengan teror yang menakut-nakuti rakyat. 8. Demikian surat penjelasan ini saya buat untuk mengklarifikasi persoalan yang makin diperkeruh ini. Saya bisa dihubungi melalui e-mail: alchaidar@sociologist.com 9. Semoga Allah SWT meridhoi surat penjelasan ini dan semoga kiranya Ia memberikan tolong dan kurnia-Nya sehingga lenyap semua fitnah terhadap penolong-penolong agama-Nya. 10. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Wassalam bil khair, Al Chaidar

CHAIDAR MENGHENDAKI ISLAM, GUS DUR SENANG SEKULARISME Muslimin di Indonesia telah terpecah kedalam berbagai golongan, yang satu sama lain tidak ada kesamaan dalam visi dan misinya. Sehingga apabila ada salah seorang muslim seperti saudara Al Chaidar diatas yang mengungkapkan dan menyatakan bahwa ideologi bangsa (Pancasila) diganti dengan ideologi negara Islam timbullah pertentangan dan anggapan negatif kepada saudara Al Chaidar. Padahal bagi seorang muslim yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad saw tidak ada jalan lain selain mengikuti apa yang telah digariskan dalam Al Quran dan dicontohkan Rasulullah saw dalam sunnahnya. Justru yang merusakkan Islam adalah mereka yang menyatakan muslim dan menganut Islam tetapi kenyataannya adalah meruntuhkan Islam, contohnya Gus Dur yang lebih senang dan bebas apabila Islam tidak dilibatkan kedalam pemerintahan dan negara. Gus Dur adalah salah satu contoh Penguasa di negara yang meyoritas muslim yang tidak senang dengan Islam sebagai pegangan dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara. Padahal Rasulullah saw telah mencontohkannya di Madinah dengan Daulah Islam Rasulullah dan Undang Undang Madinahnya. Gus Dur lebih senang dan bahagia apabila sekularisme terus dijadikan acuan dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara. MENYATUKAN VISI DAN MISI

Saya selalu menyisipkan visi dan misi ini dalam sebagian tulisan-tulisan yang lalu. Karena dengan adanya kesamaan visi dan misi dari muslimin dimanapun berada akan memberikan suatu kemudahan untuk membangun kembali ummat muslim dalam naungan Daulah Islam Rasulullah (DIR). Dimana visi dan misi ini adalah membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras. Inilah sedikit tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan saudara Al Chaidar. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad ahmad@dataphone.se

Mengobok-obok Islam dengan Jubah NII
Reporter: anzep/widhie

Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Senin, 28/02/2000

Adil - Jakarta, Seorang pria dan dua wanita muda duduk bersila di pelataran Masjid Islamic Centre, Jl. Diponegoro, Bandung. Mereka terlihat sedang berdialog. Yang pria sambil memegang sebuah kitab tampak bersemangat berbicara, meski dengan nada setengah berbisik. Pembicaraan terhenti jika ada orang lain menghampiri. Kitab yang dipegang segera ditutupnya. Gerak-gerik seperti itu sering terlihat setiap Jumat dan Minggu sore, kantor pusat dakwah terbesar di Jawa Barat itu. Mereka terkesan tertutup dan kurang bersahabat terhadap orang lain. Adakalanya mereka muncul hanya sepasang muda-mudi. Tapi, sekalipun cuma ngobrol, keberadaan mereka di lingkungan masjid yang menjadi Pusat Dakwah Islam (Pusda'i) Jabar itu dinilai tak sedap. Pengurus Islamic Centre sering menegur pasangan muda-mudi yang berduaan itu. Keanehan lain, ketika datang waktu salat, mereka diam saja. Jika diingatkan kadang alasannya lucu, semuanya mengaku sedang 'berhalangan'. Praktek mereka sudah berlangsung lama. Pusda'i belakangan sadar, bahwa muda-mudi aneh itu adalah anggota gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Kehadiran kembali NII itu tak hanya mengagetkan pengurus Pusda'i. Sejak beberapa bulan terakhir ini masyarakat Bandung memang geger soal NII. Banyak orang tua resah karena anaknya terlibat. "Banyak mahasiswa, seperti di ITB dan Unpad, yang terjerat," kata K.H. Miftah Faridl, Direktur Pusat Dakwah Islam (Pusda'i) Jabar, yang juga Ketua Umum MUI Kodya Bandung, dan dosen ITB. Galamedia, salah satu koran di Bandung, dalam tiga minggu terakhir, gencar mengungkap 'kebangkitan' NII ini. Harian milik grup Pikiran Rakyat itu, mengungkapkan adanya 200 mahasiswa ITB yang terancam drop out (DO). Mereka mengalami kemerosotan prestasi akademis, dan malah diam-diam meninggalkan bangku kuliah, sambil menunggak SPP. Sebagian dari mereka, disinyalir terlibat kegiatan NII. Hasil penelusuran ADIL, menunjukkan NII memang lagi in di kampus-kampus. Rizal misalnya, sudah dua tahun tidak terlihat batang hidungnya sebagai mahasiswa Politeknik ITB. Anak seorang guru SMU swasta terkemuka di Kota Bandung itu, bukan saja lenyap dari kampus, tapi juga dari tengah-tengah keluarganya. Sesekali ia memberi kabar dirinya berada di Jakarta, ikut jemaah NII. Bisa jadi kabar dari Rizal itu benar. "Di Jakarta ini, gerakan yang mengatasnamakan NII itu, memang sudah lama beroperasi dan menyusup ke kampus-kampus perguruan tinggi negeri dan swasta," ungkap Iwan Ridwan, alumnus IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Menurut Andi Arifin, di sekitar kampus IAIN, di kawasan Ciputat bertebaran 'posko' NII gaya baru itu.

YANG HARAM DIHALALKAN Kebangkitan NII ini menghebohkan masyarakat sekitar Bandung. Bukan hanya soal nama 'NII' yang membuat warga kota kembang itu resah. Tapi, juga keganjilan perilaku pengikut neo NII itu. "Mereka menghalalkan nyontek. Alasannya, ini kan ilmu dunia. Akhirnya banyak dosen menyamakan tabiat aktivis Islam lainnya dengan tabiat pengikut NII," kata Anif, aktivis Islam dari ITB. Yang juga aneh, perilaku pengikut NII gadungan itu jauh dari ajaran asli gerakan NII yang bersumber pada Al-Quran dan Hadis. Dakwah mereka boleh dibilang bertolak belakang dengan ajaran Al-Quran dan Hadis. Contohnya, mereka membolehkan para pengikutnya untuk melawan orang tua, meninggalkan keluarga, mencuri, mabuk, dan berzina. Soal dosa, bisa diurus tobatnya oleh sang imam. Menurut Asep Rodi (39), mantan pengikut neo NII, ajaran itu didasarkan pada sirah (sejarah) Nabi Muhammad SAW. Dulu, ketika periode Mekkah, Nabi memang belum mewajibkan salat, zakat dan berbagai ibadah lainnya. Ini karena saat itu belum turun wahyu salat. Wahyu tentang ibadah itu baru turun semasa Nabi di Madinah (periode Madinah). "Ini yang dipahami secara sempit oleh pengikut neo NII sekarang," jelas Asep. "Makanya amalan NII pun jadi rancu. Mencuri dianggap ibadah fa'i (mengambil rampasan perang), dan salat tidak perlu dilakukan karena menyamakan diri dengan periode Mekkah, di mana belum ada wahyu kewajiban salat," papar mantan pengikut NII (1987-1997) itu. Dan seperti halnya kelompok Islam puritan lainnya, kelompok NII merasa sebagai penganut Islam yang paling benar. Maka tidak segan-segan mengkafirkan orang yang bukan kelompoknya. Ajaran menghalalkan segala cara, itu untuk --yang mereka bilang-mewujudkan sebuah cita-cita besar: mendirikan negara Islam! Menurut Asep, NII yang sekarang banyak berkembang di kampus-kampus itu sebenarnya merupakan salah satu pecahan dari faksi NII yang dulu pernah ada semasa dipimpin Kartosuwiryo. Kelompok NII ini menyebut dirinya sebagai NII Komandemen Wilayah 9 (KW 9). NII KW 9 ini merekrut pengikut dari kalangan Islam abangan atau yang sedang berupaya mendalami ajaran Islam. Setelah dicuci otak dengan sebuah doktrin yang membangkitkan semangat radikal, mereka di bawa ke sebuah tempat rahasia dengan sebuah kendaraan sambil matanya ditutup kain. Penutup mata baru dibuka di sebuah ruangan, tempat baiat dilangsungkan. Sumpah setia itu dilakukan oleh tiga atau empat orang pria berdasi. Lagak mereka seperti eksekutif. Proses baiat ini tidak gratis. Mereka dipungut 'infak' dalam jumlah tak terbatas. Pasarannya Rp 350.000 per orang. Jika ada yang cuma mampu Rp 50.000, pasti diledek. "Masak untuk perjuangan Islam setorannya kecil?" kata si 'imam' berpenampilan necis itu.

Sehabis mengikuti baiat selama sekitar tiga jam, mata mereka kembali ditutup kain, dan dikembalikan ke tempat asal. Setelah itu, kewajiban mereka membayar iuran bulanan, malah ada yang harian, dalam jumlah ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Alasannya untuk dana perjuangan. Ada juga yang sampai menyumbang mobil. MIRIP praktek MLM Untuk membesarkan jumlah pengikutnya, NII ini juga mewajibkan setiap anggotanya melebarkan sayap. Dalam sebulan ada yang ditugasi merekrut anggota baru sampai 10 orang. Keberhasilan rekrutmen itu akan menjadi tiket untuk naik pangkat. Misalnya, dari kelas RT menjadi RW, lurah, camat, dan penguasa daerah (setingkat bupati/walikota). Kehadiran anggota baru jelas akan menambah income organisasi. Bagi anggota yang punya andil besar menggemukkan anggota sehingga dapat meraih jabatan camat, diberi gaji sekitar Rp 300.000 per bulan. Cara kerjanya ini mirip jaringan multi level marketing (MLM). Ada downline (anak buah) ada upline (atasan). Cuma, berbeda dengan MLM semakin tinggi posisi di dalam jaringan bukannya semakin untung. Bahkan malah bisa lebih 'sial'. "Seorang camat, misalnya kendati mendapat gaji lebih, kewajiban iuran seorang camat jauh lebih besar lagi. Akibatnya, besar pasak daripada tiang," ungkap Asep. REKAYASA LAMA Kehadiran neo NII itu dinilai banyak kalangan amat mencurigakan. Soalnya NII baru ini benar-benar menyimpang dari 'pakem' NII yang pernah ada yakni NII Kartosuwiryo. Penyimpangan itu selain terlihat pada ajaran para pengikutnya juga tampak dari soal nama NII KW 9. Menurut seorang pengikut NII asli, NII tak pernah mengenal KW 9. Ketika Kartosuwiryo diberangus, terakhir KW yang tarbentuk adalah KW 6. Karena itulah mantan pengikut NII asli mengutuk ajaran sesat berkedok NII itu. "Masya Allah, itu provokasi dan dusta. Itu NII palsu, hasil rekayasa," ujar Abdul Fatah Wirananggapati (76), (bekas) Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi Angkatan Perang NII (KUKT/NII) pimpinan almarhum S.M. Kartosuwiryo. Siapa yang merekayasa? "Wallau a'lam," jawab Abu, nama panggilannya. "NII murni tidak seperti itu," tambah Andi Arifin (46), anak buah Abu yang terlibat di NII sejak 1974. Ia beranggapan, terutama sejak Orde Baru, telah terjadi manipulasi gerakan NII oleh tangan-tangan kotor penguasa. Kantung-kantung transmigrasi, konon, ikut menjadi sasaran 'proyek' intelijen itu. Di tangan mereka, masih tutur Andi, NII jadi gerakan menyeramkan dan melakukan permainan kotor. Padahal, 'NII murni' gerakannya tidak menyimpang dari ajaran Islam. Tapi NII ini memang divonis 'berdosa' pada negara dengan tuduhan memberontak pemerintah RI. Padahal yang dilakukannya 'cuma' melawan kaum penjajah.

"Orde Baru telah menyebarkan sekitar 6.000 anggota ABRI ke banyak daerah untuk menyamar sebagai imam NII. Lalu mereka melakukan pengkaderan, tapi mereka sendiri yang mengumpankan pengikutnya kepada aparat," kata Andi Arifin, bekas Penghubung Luar Negeri Angkatan Perang NII. Ia juga curiga, Warsidi --pimpinan kelompok Islam sempalan yang diberangus di Lampung-- perlu diteliti siapa dia sebenarnya. "Janganjangan dia juga anggota ABRI," jelasnya. Kejadian kasus Lampung, menurut Andi, juga terjadi di daerah Gununghalu, pinggiran kota Bandung, Jawa Barat. Di daerah itu disinyalir terdapat praktek rekayasa pengkaderan NII. Sesekali mereka digerebek, tapi kelestariannya dijaga, untuk 'diproyekkan' pada waktu-waktu tertentu. "Analoginya, ada kambing mengembik di depan harimau lapar, lantas diterkamnya. Ada juga kambing mengembik, tapi dibiarkan oleh sang harimau," kata Andi Arifin pula. Pengalaman Asep menguatkan sinyalemen Andi. Selama 10 tahun menjadi pengikut 'NII sesat', sering terdengar ada penangkapan terhadap jemaah dan imam NII. Tapi tidak lama kemudian mereka, terutama imamnya, dikeluarkan lagi, konon dengan bantuan orang dalam ABRI. "Mereka mengesankan seperti punya link khusus ke sana," katanya. Karena ada rekayasa semacam ini, wajah NII murni menjadi buruk di mata umat. KONTROVERSI BERITA Gencarnya pemberitaan NII di Bandung beberapa pekan terakhir sebenarnya sempat melahirkan kontroversi. Masalahnya, kabar itu terus menerus dilansir oleh koran Galamedia, salah satu perusahaan yang bernaung di bawah grup Pikiran Rakyat (PR). Pada mulanya, Galamedia rajin memberitakan fenomena NII ini. Walaupun tak ada koran lain yang mengikuti isu itu, saban hari mereka menulisnya di halaman depan. 'Rajinnya' Galamedia itu mendatangkan curiga, mengapa kok hanya Galamedia yang memberitakan kasus itu? Koran-koran lain di Bandung justru menulis indikasi adanya 'udang' di balik penulisan NII besar-besaran itu. Serta-merta Galamedia pun diisukan telah diperalat pihak Kodam III/Siliwangi. Maksudnya, Kodam sengaja memasok bahan-bahan tentang NII untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada isu tertentu yang sedang bergolak di negeri ini. Tujuan mereka ingin menciptakan ketakutan pada Islam. Masih menurut kabar angin itu, niat busuk ini, konon tak seperti yang diharapkan. Pemberitaan itu justru menimbulkan kecurigaan adanya rekayasa dalam kebangkitan neo NII. Tapi, betulkah Kodam telah 'bermain api' seperti itu? Pimpinan militer tertinggi di Jawa Barat menolak tudingan itu. "Anda jangan menuduh Kodam seperti itu!" ucap Mayjen TNI Slamet Supriadi, Pangdam III/Siliwangi, lantang dan penuh emosi kepada ADIL.

Dadan Hendaya, Koordinator Liputan Galamedia, juga menepis 'cibiran' PR dan tudingan telah diperalat Kodam. "Kami tidak membuat berita bohong, dan tidak bermain mata dengan Kodam. Sampai saat ini tidak ada yang komplain, malah banyak telepon dari para korban dan orang tuanya, mendukung pemberitaan itu," ujarnya. Yang jelas, neo NII ini tidak bisa dianggap nihil. "Faktanya ada. Mereka menjual 'gerakan khayalan', yang motifnya bisa ekonomi atau politis. Mereka tidak memiliki komitmen keislaman, malah ingin merusak citra Islam," kata K.H. Hilman Rosyad Syihab, Lc., pimpinan Majelis Ta'lim Ummul Quro (Bandung), yang sering berhubungan dengan mantan pengikut NII gadungan. Banyak cara, memang, untuk mengobok-obok Islam.
Date: Sat, 01 Apr 2000 09:07:56 PST From: "Usman Maine" <usman_maine@hotmail.com> To: is-lam@isnet.org

Sempalan Kelompok Islam Sesat
Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

/ | _ \ | | | _o_\_,_;_(_ ,o _\;__,_,_,_; : ( .. ( .. | / o_, !_\ ,_; / . o o || (_|_;: .. o_o__\ , o / /

/

ikhwah fiLlah, Allah telah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap suatu berita. Bagi yang ingin mengetahui buku putih tentang NII sebaiknya membaca Fakta dan Data Sejarah karangan Al Chaidar. Buku tersebut banyak dijual di toko-toko buku. Sesungguhnya adanya faksi-faksi bukan berarti NII terpecah. Faksi-faksi itu sesungguhnya mempunyai satu Imam. Namun, dengan adanya lebih dari satu fraksi, ternyata ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan NII dari dalam. Namun kita yakin terhadap janji Allah SWT bahwa Kebathilan pasti akan dikalahkan oleh yang Haq. Untuk itu, tujuan diketengahkannya berita ini hanyalah dalam rangka saling menasehati dalam yang haq.

Untuk itu, kami mengingatkan kita terhadap kelompok-kelompok yang mengaku akan mendirikan NII, bahkan kelompok itu dengan tanpa rasa bersalah menyebut kelompok mereka dengan NII. Berikut ciri-ciri kelompok yang mengatasnamakan NII :
• •

• •

• • • • •

Dalam menda'wahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat. Dan penutup itu baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan. Para calon yang akan mereka da'wahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah bahkan boleh dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang dinul Islam. Padahal kebanyakan akal merekalah yang berbicara dan bukan diinul Islam yang mereka ungkapkan. Calon utama mereka adalah mereka-mereka yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang. Pola Da'wah yang relatif singkat, hanya kurang lebih 3 kali pertemuan, sang calon dimasukkan kedalam anggota mereka. Sehingga yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan rata-rata, para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah sekali. Selama hari terakhir penda'wahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenak lidah mereka hingga sang calon mengatakan siap di bai'at... Ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar. Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya. Dengan alasan Kahfi. Tidak mewajibkan sholat 5 waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di madinah lah justru Rasul benar-benar menerapkan syri'at Islam. Dan justru Rasul wafat beberapa waktu setelah futuh mekkah. Sholat 5 waktu mereka ibaratkan dengan do'a dan da'wah. Sehingga jika mereka sedang berda'wah maka saat itu mereka sedang sholat. Sholat Jum'at diibaratkan dengan rapat / syuro. Sehingga pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka namakan sholat jum'at. Atau untuk pemula, mereka dibolehkan sholat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk 5 waktu sholat. Infaq yang dipaksakan perperiode ( per bulan), sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq. Adanya Qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun tak punya uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari Qiradh yang mereka janjikan tak akan pernah kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Qur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta hasil bagi itu menjadi hilang.

• • • •

Zakat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka mensejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafi'kan syari'at yang sesungguhnya. Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebetulnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq' padahal pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan (saking kelaparannya, dia melakukan shaum Daud. Bukan karena sunnah tapi memang enggak ada barang yang mesti dimakan) Belum berlakunya syari'at Islam dikalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman apapun. Mengkafirkan orang yang diluar kelompoknya bahkan menganggap halal berzina dengan orang diluar kelompoknya. Dihalalkannya mencuri / mengambil barang milik orang lain (mencuri). Menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan spt menipu / berbohong meskipun kepada orang tuanya sendiri.

Na'udzubilaahi min dzaalik. Jadi, bisa kita lihat dan kita nilai, sejauh mana omongan mereka dan gerak mereka yang katanya ingin berdinul Islam itu, tapi akhlaq dan perbuatannya jauh sekali dari diinul Islam. Berhati-hatilah saudaraku dalam mengambil yang haq. Data tersebut adalah hasil yang diperoleh dari orang-orang yang pernah mengalaminya yang mereka itu sekarang ini telah bergabung dengan NII yang sesungguhnya. Mohon maaf jika memang berita ini dianggap menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu. Mudah-mudahan informasi ini akan sangat bermanfaat bagi siapa saja atau bagi mereka yang ingin mencari NII yang sebenarnya. Dan mudah-mudahan mereka yang mengalaminya segera menyadari kesalahannya dan segera bertobat kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa yang haq hanya akan tegak dengan cara yang haq pula. Wallahua'alam bish showwab
Date: Wed, 15 Sep 1999 05:53:15 +0700 (JAVT) From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id> To: is-lam@isnet.org, is-lam@isnet.itb.ac.id

ISLAM SESAT KELOMPOK TOTO SALAM 1
Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Di lingkungan komunitas Islam ada sekelompok gerombolan di bawah pimpinan Toto Salam, yang oleh pengikutnya biasa dipanggil Abu Toto atau Abi Toto. Gerombolan ini punya garis perjuangan mentereng, yaitu mendirikan negara Islam di Indonesia. Ironisnya, perilaku kelompok ini justru bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka tidak mewajibkan shalat lima waktu, yang sebenarnya wajib. Mereka pun memiliki kriteria yang melenceng tentang ketentuan menutup aurat. Bahkan, mereka menilai kondisi saat ini sama dengan masa jahiliyah, masa kegelapan, oleh karenanya mereka merasa berhak mengambil harta siapapun (warga negara Indonesia, tak peduli pribumi atau non pribumi, begarama Islam atau non Islam) dengan dalih dan cara apapun. Gerombolan ini mengklaim memiliki outlet di 27 propinsi. Untuk wilayah Jakarta (mereka menyebutnya wilayah sembilan), dipimpin oleh seseorang bernama Suaifullah, salah seorang kader kepercayaan Toto Salam yang sangat loyal. Meski memiliki outlet di 27 propinsi, Toto Salam sendiri lebih cenderung ngendon di Jakarta (wilayah sembilan). Sebagai pimpinan puncak di kelompoknya, Toto Salam berhasil menjalin hubungan baik dengan kalangan Polisi dan Tentara. Jadi, kalau pada suatu hari ada salah seorang anak buahnya yang terpaksa berurusan dengan Polisi atau Tentara, Toto Salam tinggal menelepon petinggi kepolisian/tentara koleganya, maka urusan pun tuntas. Gerombolan Toto Salam ini punya dana yang cukup banyak. Terbukti, mereka mampu membangun kompleks pondok pesantren (boarding school) yang tergolong mewah bernama Pesantren Al-Zaytuna. Pesantren itu berdiri di atas lahan seluas 1.200 hektare, dan mampu menampung sekurang-kurangnya 1.500 santri (baca juga GATRA edisi 13 Februari 1999, halaman 36). Pesantren yang dilengkapi dengan ruangan ber-AC dan laboratorium ini, berlokasi di Desa Mekar Jaya, Haur Geulis, Indramayu, Jawa Barat. Selain itu, Pondok Pesantren yang pembangunannya menelan biaya miliaran rupiah itu, dilengkapi pula dengan sarana olahraga modern, rumah sakit, asrama santri, asrama pengajar, dan asrama pegawai yang jumlahnya 1.500 orang karyawan/wati, sebagaimana diberitakan SCTV 27 Agustus 1999, dan diresmikan Presiden Habibie. Cara-cara gerombolan ini mengumpulkan dana, selain ditempuh dengan cara mengambil harta siapapun, dengan dalih dan cara apapun, juga dengan menetapkan sejumlah target kepada setiap jemaatnya. Seorang Bapak pernah mengadukan perilaku anaknya yang setelah menjadi anggota gerombolan Toto Salam, justru jadi jarang kuliah (di salah satu perguruan tinggi di Bandung). Sang anak menurut penuturan Bapaknya, kini jadi getol berniaga atau melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang, ketimbang kuliah. Itu semua dilakukan sang anak bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi dalam rangka memenuhi target yang telah diberikan gerombolan Toto Salam. Rupanya setiap bulan ia ditargetkan mengumpulkan dana sebesar Rp 4.000.000,- (empat juta rupiah).

Kasus serupa terjadi juga di sebuah sekolah unggulan (setingkat SMU). Salah seorang siswinya (berusia 16-17 tahun) nampak begitu aktif mengumpulkan dana dari lingkungan siswa-siswi setempat. Cara-cara intimidasi pun ia lakukan, terutama kepada korban yang diangapnya lemah dan lebih junior. Bahkan untuk mencapai taget, ia memaksa beberapa kawannya untuk berbohong kepada orangtuanya masing-masing, agar orangtuanya itu mau mengirimkan sejumlah uang dengan alasan yang dibuat-buat. Untungnya, pihak sekolah cukup tanggap dan peka, sehingga aktifitasnya yang menyimpang itu pun segera bisa diketahui. Akhirnya, siswi tersebut dikembalikan kepada orangtuanya, di Malang, Jawa Timur. Setelah diselidiki, ternyata siswi tersebut anggota gerombolan Toto Salam, yang oleh kakak iparnya (yang juga seniornya) diberikan target sebesar sekian juta rupiah setiap bulannya. Karuan saja, ia pontang-panting memenuhi target setiap bulannya, bahkan dengan menempuh cara-cara yang sangat tidak patut sekalipun. Saking sibuknya mengumpulkan dana, maka kegiatan belajarnya pun terganggu, karena waktunya tersita habis untuk mengumpulkan dana 'perjuangan' untuk gerombolan Toto Salam. Eksistensi dan perilaku menyimpang gerombolan Toto Salam ini sebenarnya sudah pernah dilaporkan kepada lembaga terkait, juga ke aparat yang berwenang. Sayangnya, tidak cukup bukti. Apalagi, gerombolan ini pandai membangun hubungan baik dengan aparat, juga gemar memberikan 'oleh-oleh' kepada siapa saja yang dianggap layak dan berpengaruh. Disamping itu, gerombolan ini juga rajin membantu aparat. Untuk hal-hal tertentu mereka memang partner yang baik bagi aparat.
Date: Mon, 13 Sep 1999 23:02:26 +0700 (JAVT) From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id> To: is-lam@isnet.org

ISLAM SESAT KELOMPOK TOTO SALAM 2
Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Pada tanggal 27 Agustus 1999 lalu, di SCTV ditayangkan sebuah acara peresmian pondok pesantren Al-Zaytun, ponpes termodern, termegah, yang diresmikan oleh Presiden Habibie. Peresmian itu juga dipublikasikan cukup semarak oleh media cetak seperti koran dan majalah. Di SCTV itu, Presiden Habibie nampak akrab dengan sesepuh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yaitu Syekh Panji Gumilang alias Toto Salam, alias Abu Toto alias Abi Toto, pimpinan gerombolan Islam sesat yang tidak mewajibkan shalat. Saya yakin, Habibie tidak tahu siapa itu Toto Salam, karena pada dasarnya Habibie memang

tergolong awam mengenai Islam dan dinamika intern ummat Islam. Paling-paling yang dikenal Habibie cuma NU dan Muhammadiyah. Pada majalah Forum no. 22 edisi 5 September 1999, halaman 65, bisa dilihat sosok Toto Salam sang pemimpin gerombolan Islam sesat yang sangat pandai bersandiwara. Meski secara formal tidak mewajibkan shalat lima waktu, namun di hadapan orang yang dianggapnya 'belum paham' ia berpura-pura shalat dan sebagainya, tetap mendirikan mesjid atau mushalla di lingkungan pondok pesantrennya maupun di sekitar markasnya. Dan ia selalu menyikapi dengan dingin setiap hujatan yang ditujukan kepadanya, hingga yang menghujat lelah dengan sendirinya. Di ANTEVE pada acara "Fakta" edisi 31 Agustus 1999 lalu, ditayangkan adanya eksploitasi sekelompok gerombolan terhadap ibu-ibu rumahtangga dan pembantu rumah tangga untuk mengumpulkan dana. Kejadian yang diungkap "Fakta" di ANTEVE itu adalah salah satu aktivitas gerombolan Toto Salam di dalam mengumpulkan dana. Salah seorang pengurus pondok pesantren di kawasan Bekasi, pernah menangkap basah sekelompok remaja yang nampak giat mengumpulkan dana dengan membawa-bawa map berisi kotak amal. Sekelompok anak remaja itu menggunakan identitas ponpes yang ia pimpin, padahal ponpesnya itu tidak pernah mengerahkan massa untuk mengumpulkan dana dengan cara-cara seperti itu. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata mereka itu semua adalah anggota gerombolan Toto Salam. Di atas bis kota juga sering kita temui sejumlah orang yang naik-turun meminta sumbangan. Diantara mereka pastilah terdapat anggota gerombolan Toto Salam, karena cara itu merupakan salah satu upaya gerombolan Toto Salam mengumpulkan dana. Mengenai profil Toto Salam ada baiknya baca buku berjudul "Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo" karangan Al-Chaidar, khususnya halaman 228. Buku tersebut banyak terdapat di berbagai toko buku seperti Gramedia dan sebagainya. Buku tersebut, meski tidak terlalu rinci menyinggung profil Toto Salam dan gerombolannnya, namun sudah cukup membuat Toto Salam berang. Bahkan mereka memberikan label 'haram' kepada buku tersebut. Lucunya, mereka justru 'mewajibkan' anggotanya membaca karya Al-Chaidar lainnya yaitu "Reformasi Prematur". Sikap berang yang ditunjukkan gerombolan ini kepada Al-Chaidar bisa dimengerti, karena Al-Chaidar pernah bergaul akrab dengan komunitas Toto Salam. Mereka mengkhawatirkan, Al-Chaidar akan membongkar isi perut gerombolan mereka kepada publik. Pada akhir Agustus lalu, Al-Chaidar sempat diajak 'makan bersama' di Kalibata atas undangan seorang Jenderal berbintang dua. Di situ, Al-Chaidar sempat dinasehati agar jangan terlalu serius menulis tentang gerakan Islam. Rupanya tentara dan pemerintah sampai saat ini tidak bisa membedakan antara gerakan Islam yang murni dan yang palsu. Dulu, Rudini selaku Mendagri dan elite Golkar pernah

meresmikan LEMKARI dan menjadikannnya bagian dari Golkar. Padahal, Lemkari itu jelmaan Islam Jama'ah yang kini bernama LDII, yaitu aliran Islam sesat yang pernah dilarang Kejaksaan Agung (1971).
Date: Mon, 13 Sep 1999 23:05:53 +0700 (JAVT) From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id> To: is-lam@isnet.org

Aksi Sejuta Ummat, Al-Chaidar dan Amien Rais
Melalui 'apakabar' (edisi 26 Januari 2000) Al-Chaidar <alchaidar@sociologist.com> sebagai salah seorang 'aktivis' Aksi Sejuta Ummat, menjelaskan dari Kualalumpur, bahwa kegiatan itu berlangsung aman, damai, tertib, dan tidak ada kerusuhan yang menyertainya. Para tokoh Islam yang berbicara kala itu, sama sekali tidak menghina pemerintah, pribadi atau golongan tertentu. Bagi yang ketika itu hadir, dari acara Aksi Sejuta Ummat itu tidak tercium bau adanya provokasi, agitasi atau propaganda yang keluar dari mulut para tokoh. Namun demikian, secara kasat mata (bagi yang matanya normal), bisa dilihat bertebaran sejumlah (banyak) provokator, yang menurut analisa ahli lapangan, para provokator itu berasal dari pihak pemerintah atau tentara. Amien Rais tentu saja harus hadir pada acara itu, yang tujuan utamanya menunjukkan sikap kepedulian dan solidaritas terhadap nasib ummat Islam di Halmahera. Karena, Amien Rais adalah tokoh Islam. Sebelum ia menjadi Ketua MPR RI, dan bahkan kelak setelah ia pensiun dari jabatannya itu, Amien Rais tetaplah tokoh Islam. Sebagai tokoh Islam, maka citra dan kredibilitasnya akan jatuh di mata ummat Islam, bila ia tidak peduli terhadap nasib ummat Islam. Namun sejauh ini Amien tetaplah tokoh Islam yang proporsional. Ia bersuara lantang ketika Yayasan Doulos dibakar tentara, padahal ia tidak beragama Kristen. Amien juga lantang bersuara ketika kasus penjarahan Mei 1998 terjadi, padahal ia tidak punya toko (yang dijarah). Bandingkan dengan Matori Abdul Jalil yang turut melakukan demo bersama sejumlah orang yang manamakan dirinya masyarakat profesional untuk menghujat Habibie (Presiden kala itu). Padahal saat itu ia adalah petinggi negara. Namun terhadap Matori masyarakat 'apakabar' tidak menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak saja cenderung diskriminatif dan menggunakan standard ganda, juga sedang sakit berat. Masyarakat yang

sakit berat inilah yang kemudian melahirkan dwitunggal yang juga sakit. Presidennya buta, wakilnya bisu. Bahkan isteri Presidennya pun lumpuh. Mengapa terhadap Amien Rais sebagian kalangan begitu geram, padahal di Aksi Sejuta Ummat saja, yang sebenarnya sarat emosi, Amien Rais terkesan paling demokratis, paling netral, diantara sejumlah pembicara. Nuansa geram terhadap diri Amien Rais memang dihembuskan tentara (intelijen). Karena sejauh ini Amien Rais-lah yang paling konsisten menentang konsep dwifungsi ABRI (tentara dan polisi dan intelijen), terutama bila dibandingkan dengan sikap Gus Dur atau Megawati yang mencla-mencle. Dan sesungguhnya Amien Rais adalah musuh TNI, baik TNI Hijau maupun TNI Merah Putih. Selama hegemoni tentara masih mencekeram, selama supremasi militer masih kental, maka orang-orang seperti Amien Rais tidak bisa jadi Presiden. Untuk menjadi Ketua MPR saja, sulitnya bukan main, dan dalam hal ini tentara kecolongan bahkan kerampokan oleh strateginya Amien Rais. Lalu, mengapa forum Aksi Sejuta Ummat menjadi pemicu kemarahan sebagian kalangan dan menghubungkannya dengan kasus Mataram? Itu juga kerjaannya tentara, polisi dan intelijen. Karena, pada forum itu, Al-Chaidar salah seorang aktivis Darul Islam (alias NII) mengungkapkan untuk mengganti ideologi bangsa (Pancasila) dengan ideologi negara Islam. Karena, ideologi Pancasila sudah terbukti tidak mampu melindungi dan mensejahterakan bangsa (rakyat) Indonesia. Mengapa Al-Chaidar sampai mengungkapkan hal itu? Bila dilihat secara proporsional, ungkapannya itu memang wajar, karena Al-Chaidar adalah sarjana politik lulusan UI (1996) dengan skripsinya berjudul "Diskursus Politik Islam Dalam Gerakan Darul Islam dan Moro National Liberation Front". Kalau saja Al-Chaidar menulis skripsi tentang "Marxisme", maka kemungkinan besar yang dia usulkan di forum itu adalah menggantikan Pancasila (ideologi negara) dengan Marxisme. Sayangnya, Al-Chaidar sejauh ini memusuhi NII palsu ciptaan tentara (dan intelijen). Pada berbagai kesempatan (melalui penerbitan buku) Al-Chaidar selalu membuka borok dan kedok NII bughat bin palsu yang menjadi binaan tentara (dan intelijen) untuk merontokkan gerakan NII asli. NII palsu binaan tentara ini dimpimpin oleh Toto Salam. Jamaah NII palsu ini, sangat giat mengumpulkan dana dengan cara-cara yang haram sekalipun. The Jakarta Post, sebagaimana juga dikutip Siar, melansir adanya seorang baby sitter yang mencuri perhiasan majikannya yang bernilai 35 juta rupiah, dan ketika diselidiki ternyata ia adalah anggota NII (sesuai dengan kartu anggota yang dimilikinya). Begitulah cara NII palsu binaan tentara mencari dana. Merampok pun mereka lakukan. Tindakan mereka jauh dari ajaran Islam yang melarang merampok, menipu, mencuri, dan sebagainya.

Borok-borok NII palsu ini sudah terlalu sering diungkap Al-Chaidar melalui berbagai buku-buku yang pernah diterbitkannya. Ini berarti, di forum Aksi Sejuta Ummat lalu, tampil dua tokoh yang sangat dibenci tentara (baik tentara hijau maupun tentara merah putih) yaitu Amien Rais dan Al-Chaidar. Maka kemudian jadilah forum itu sebuah momentum menciptakan kerusuhan di tempat lain. Dalam keadaan normal, forum Aksi Sejuta Ummat tidak akan mampu menciptakan kerusuhan di Mataram. Namun tentara (dan intelijen) telah mengkait-kaitkannya sedemikian rupa, karena mereka punya sejumlah oknum yang siap bertindak sebagai provokator. Barangkali Eggy Sudjana adalah salah satu provokator itu. Mengingat Eggy adalah penggagas Pemuda Panca Marga, sebuah institusi kepemudaan ciptaan tentara juga, yang di back-up oleh keluarga Cendana. Masih banyak provokator lapangan lainnya selain Eggy. Untuk provokator lapangan, nampaknya tentara (dan intelijen) perlu dana dan tenaga ekstra. Sedangkan untuk provokator di cyber, tidak perlu dana dan usaha khusus, sebab masyarakat 'apakabar' secara sukarela menjadi provokator, menjadi antek-antek tentara (dan intelijen). Siapakah mereka itu? Mereka adalah posters yang sangat bersemangat mencaci-maki Amien Rais. Padahal Amien Rais adalah musuh nomor satu tentara (hijau dan merah putih sekaligus). Mereka itu, para provokator sukarelawan itu, antara lain, Lion, IM, Bum Liang, Haji dan sebagainya, yang enggan menggunakan akal sehatnya namun secara terus-menerus memposisikan Amien sebagai musuh mereka.

Al Chaidar Musuh Tentara
AL CHAIDAR akhirnya dijemput petugas kepolisian di Bandara, begitu ia mendarat dari Kuala Lumpur. Padahal, ketua panitia Aksi Sejuta Umat ini, sudah melaporkan diri ke KBRI Kuala Lumpur, dan bahkan Al Chaidar sudah menandatangani surat pernyataan bahwa ia akan melaporkan diri dan bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, sekembalinya dari luar negeri. Rupanya kepolisian punya motif lain. Sejauh ini, kepolisian memang masih 'anak-buahnya' tentara.dan badan intelijen. Penangkapan yang mereka lakukan tidak lepas dari rekomendasi pihak tentara dan badan intelijen. Karena, sampai sejauh ini Al Chaidar adalah salah satu musuh tentara (dan intelijen). Mengapa Al Chaidar dimusuhi, karena sampai saat ini Al Chaidar konsisten membongkar konspirasi antara tentara (dan badan intelijen) dengan sekelompok

orang yang menamakan dirinya NII (Negara Islam Indonesia) dibawah pimpinan Abu Toto Abdussalam, alias Toto Salam, alias Syekh A.S. Panji Gumilang. Toto Abdussalam alias Toto Salam sendiri, sebenarnya tidak pernah tercatat sebagai jamaah NII. Ia dengan keberaniannya yang luar biasa, mengklaim sebagai pewaris NII, padahal itu tidak benar. Yang sebenarnya terjadi, Toto Salam dimanfaatkan pemerintah orba dan tentara (juga badan intelijen) untuk membentuk institusi NII, tentu saja untuk tujuan-tujuan yang menguntungkan pemerintah dan tentara. Buku Al Chaidar yang terakhir mengupas secara tuntas apa itu NII palsu versi Toto Salam, termasuk praktek-praktek mengumpulkan dana yang mengharamkan segala cara. Buku itu berjudul "Serial Musuh-musuh Darul Islam: Sepak Terjang KW9 Abu Toto Menyelewengkan NKA-NII pasca S.M. Kartosoewiryo". Untuk sampai terbit, buku itu menempuh perjalanan yang panjang dan berliku serta penuh hambatan. Pertama, hambatan datang dari instansi militer. Ketika itu Al Chaidar pernah diajak "makan siang" oleh seorang Jenderal berbintang dua di kantor BIA. Jenderal Hijau ini pada intinya menasehati agar Al Chaidar tidak terlalu bersemangat menulis buku. Hambatan kedua, datang dari Kepala Bakin, yang waktu itu dijabat ZA Maulani, salah seorang Jenderal Hijau lainnya. Sang purnawirawan berbintang tiga ini, langsung mendatangi kantor Al Chaidar di pejaten, dan memberikan tekanan keras agar Al Chaidar sama sekali membatalkan rencana penerbitan buku berjudul di atas. Celakanya, selain dimusuhi oleh tentara hijau, Al Chaidar --sebagaimana Amien Rais-- juga dimusuhi oleh tentara merah-putih. Oleh karena itu Al Chaidar tetap saja diposisikan sebagai musuh bersama oleh tentara, polisi, dan badan intelijen sampai saat ini. Karena, Al Chaidar punya data yang akurat tentang adanya konspirasi antara tentara dengan NII palsu pimpinan Abu Toto. Bahkan, kemungkinan Al Chaidar juga punya data-data yang cukup akurat mengenai konspirasi serupa, antara tentara dengan kelompok Islam komersial lainnya. Ini berarti Al Chaidar memang membahayakan. Beberapa media nampaknya mendeskripsikan Al Chaidar secara keliru, Republika antara lain menuliskan Al Chaidar sebagai aktivis PK (Partai Keadilan), padahal Al Chaidar tidak suka dengan PK karena dinilai masih terlalu Pancasilais. Siar juga begitu. Antara lain Siar menyebutkan, bahwa Al Chaidar adalah aktivis "bawah tanah". Kalau Al Chaidar adalah seorang aktivis "bawah tanah", mana mungkin ia tampil di "atas tanah". Pada kenyataannya Al Chaidar memang bukan aktivis "bawah tanah", ia sering tampil di berbagai seminar. Ia sering tampil pada berbagai acara bedah buku. Ia juga mempublikasikan alamatnya secara jelas di Pejaten, yang baru-baru ini

digrebek aparat kepolisian. Rupanya Siar masih belum bisa membedakan antara minyak tanah dengan minyak kelapa. Date: Sat, 29 Jan 2000 04:43:03 -0800 (PST) From: Syaifuddin Bidakara <bidakara@...>

Antara Al Chaidar dan Pius Lustrilanang
Al Chaidar pada acara Aksi Sejuta Umat, di Monas, Jakarta, secara tegas menyampaikan gagasannya di hadapan peserta Tabligh Akbar itu, tentang perlunya mengganti sistem negara Pancasila menjadi sistem Negara Islam melalui sebuah Revolusi Islam yang integral (Islamic Integrative Revolution). Karena, menurut Al Chaidar pula, sistem negara Pancasila telah terbukti tidak bisa menyelesaikan berbagai krisis yang terjadi sehingga harus diganti dengan sistem alternatif, yaitu sistem Negara Islam. Pada kesempatan itu Al Chaidar juga mengusulkan, jika sampai batas waktu tertentu kasus Maluku tidak terselesaikan dengan baik, maka umat Islam perlu membentuk majelis syuro dalam rangka membentuk Negara Islam di Indonesia, menggantikan Negara Pancasila di bawah pimpinan Gus Dur dan Megawati yang mandul dalam menangani kasus pembantaian terhadap umat Islam. Apapun bentuk gagasan yang dikemukakan Al Chaidar, itu toh cuma sebuah gagasan. Tidak ada landasan hukum bagi aparat untuk menindak Al Chaidar hanya karena ia mengemukakan gagasannya. Sebagai sarjana ilmu politik yang memang menyoroti masalah daulah Islam, gagasan yang dikemukakan Al Chaidar sangatlah wajar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Menurut Munir dari Kontras yang bersama-sama Al Chaidar ke Malaysia, apa-apa yang dilakukan Al Chaidar tidak bisa masuk kategori melanggar hukum pidana, hanya karena ia menyampaikan pikiran dan pandangannya. Oleh karena itu, menurut Munir pula, bila Al Chaidar tidak melakukan tindakan kriminal, Polda harus segera melepas Al Chaidar. Ketika ditangkap, Munir ada bersama Al Chaidar di Bandara, dan menurut Munir, Al Chaidar ditangkap begitu saja berikut sejumlah barang-barang milik pribadinya, seperti dokumen, disket, dan buku-buku. Sementara itu, paman Al Chaidar yang menemaninya tak diberi tahu apa-apa, demikian pula keluarganya. Munir pun serta-merta memprotes dan menyesalkan cara-cara penangkapan yang dilakukan aparat kepolisian itu. Bandingkan dengan Pius Lustrilanang, yang menjelang proses pemilihan Presiden RI beberapa waktu lalu, mengerahkan massa ke bundaran HI sambil

memberikan tekanan politik, dengan slogan: "pilih mega atau revolusi!" Sampai sejauh ini Pius tidak sedetik pun dijemput aparat untuk memberikan keterangan di kantor kepolisian. Bahkan massa PDI-P memberikan ancaman serius, bila Mega tidak terpilih sebagai Presiden, maka mereka akan membuat aneka kerusuhan, sebagaimana terbukti di Pulau Bali dan beberapa tempat lainnya. Namun untuk hal ini pun aparat cuma diam saja. Hal ini menunjukkan bahwa aparat kita sudah mulai kambuh sifat orde barunya, yang cenderung menerapkan standard ganda dan represif.

Teungku M. Daud Beureueh
Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah salah satu tokoh ulama besar Aceh. Bersama ulama lain pada zamannya, beliau berjuang mengibarkan dan menegakkan panji-panji Islam di bumi Aceh. Sebagaimana yang pernah dituturkannya kepada Boyd R. Compton dalam sebuah wawancara, "Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya sebuah impian. Kami mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, pada masa Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman moderen. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu". (Boyd R. Compton, Surat-Surat Rahasia Boyd R. Compton, Jakarta: LP3ES, 1995) Siapakah Dia?

Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September 1899 di sebuah kampung bernama "Beureueh", daerah Keumangan, Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung heroik Islam, sama seperti kampung Tiro. Ayahnya seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari masyarakat setempat dengan sebutan "Imeuem (imam) Beureueh". Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu formative age yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat mengilhami langkah hidupnya kemudian.

Orang tuanya memberi nama Muhammad Daud (dua nama Nabiyullah yang diberikan kitab Alquran dan Zabur). Dari penamaan ini sudah terlihat, sesungguhnya yang diinginkan orang tuanya adalah bila besar nanti ia mampu mengganti posisi dirinya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap membela Islam. Karena itu, pada masa-masa usia sekolah, ayahnya tidak memasukkan beliau ke lembaga pendidikan resmi yang dibuat Belanda seperti: Volkschool, Goverment Indlandsche School, atau HIS. Namun lebih mempercayakan kepada lembaga pendidikan yang telah lama dibangun ketika masa kerajaan Islam dahulu semodel dayah/zawiyah. Yang menjiwai ayahnya adalah semangat anti-Belanda/penjajah yang masih sangat kuat. Apalagi ketika itu Aceh masih dalam suasana perang di mana gema Hikayat Perang Sabil masih nyaring di telinga masyarakat Aceh. Dalam pusat pendidikan semacam ini, Daud ditempa dan dididik dalam mempelajari tulis-baca huruf Arab, pengetahuan agama Islam (seperti fikih, hadis, tafsir, tasawuf, mantik, dsb), pengetahuan tentang sejarah Islam, termasuk sejarah tatanegara dalam dunia Islam di masa lalu, serta ilmu-ilmu lainnya. Dari latar belakang pendidikan yang diperolehnya ini, tidak disangsikan lagi, merupakan modal bagi keulamaannya kelak. Sekalipun tidak mendapatkan pendidikan Belanda, namun dengan kecerdasan dan kecepatannya berpikir, beliau mampu menyerap segala ilmu yang diberikan kepadanya itu, termasuk bahasa Belanda. Kebiasaannya mengkonsumsi ikan, yang merupakan kebiasaan masyarakat Aceh, telah membuatnya menjadi quick-learner (mampu belajar cepat). Kemampuan yang luar biasa ini, sebagian besar karena ia merasa menuntut ilmu adalah wajib. Maka belajar tentang segala sesuatu, dipersepsikannya hampir sama dengan "mendirikan shalat". Dalam usia yang sangat muda, 15 tahun, ia sudah menguasai ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan mempraktekkannya secara konsisten. Dengan segera pula ia menjadi orator ulung, sebagai "singa podium." Ia mencapai popularitas yang cukup luas sebagai salah seorang ulama di Aceh. Karena itu, beliau mendapat gelar "Teungku di Beureueh" yang kemudian orang tidak sering lagi menyebut nama asli beliau, tetapi nama kampungnya saja. Ketenaran seorang tokoh di Aceh senantiasa melekat pada kharisma kampungnya. Kampung adalah sebuah entitas politik yang pengaruhnya ditandai dengan tokoh-tokoh perlawanan. Dari

kenyataan ini, seorang yang terlahir dari sebuah entitas resisten, tidak akan pernah berhenti melawan sebelum cita-cita tercapai. Kendatipun pihak lawan menggunakan segala daya dan upaya untuk membungkam perlawanan tersebut. Dari PUSA Menuju Darul Islam

Untuk membungkam dan memadamkan perlawanan Muslim Aceh, Belanda, atas saran Snouk Hourgronje, melakukan pengaburan konsep tauhid dan jihad. Belanda membuat aturan pelarangan berdirinya organisasi-organisasi politik Islam. Restriksi ini membuat para ulama di Aceh berang dan ingin mengadakan pembaruan perjuangan melawan penjajah Belanda. Maka atas inisiatif beberapa ulama yang dipelopori oleh Teungku Abdurrahman, dibentuk sebuah organisasi yang bernama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di Matang Glumpang Dua. Dalam kongres pembentukannya, dipilihlah Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai ketua. Aceh adalah negeri sejuta ulama, dan mengetuai organisasi politik ulama berarti juga secara de facto menjadi "Bapak Orang-Orang Aceh". Semenjak itu, Daud Beureuh memegang peranan sangat penting di dalam pergolakan-pergolakan di Aceh, dalam mengejar cita-citanya menegakkan keadilan di bumi Allah dengan dilandasi ajaran syariat Islam. Sehingga, umat Islam dapat hidup rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang dulu pernah diperbuat oleh raja-raja Islam sebelum mereka. Menurut catatan Compton, "M Daud Beureueh berbicara tentang sebuah Negara Islam untuk seluruh Indonesia, dan bukan cuma untuk Aceh yang merdeka. Ia meyakinkan, kemerdekaan beragama akan dijamin di negara semacam itu, dengan menekankan contoh mengenai toleransi besar bagi penganut Kristen dalam negara-negara Islam di Timur Dekat. Kaum Kristen akan diberi kebebasan dan dilindungi dalam negara Islam Indonesia, sedangkan umat Islam tidak dapat merasakan kemerdekaan sejati kalau mereka tidak hidup dalam sebuah negara yang didasarkan atas ajaran-ajaran Alquran." Langkah awal dalam upaya itu adalah mengusir segala jenis penjajahan yang pernah dipraktekkan Belanda, Jepang, dan zaman revolusi fisik (1945-1949) pada awal kemerdekaan, maupun ketika Aceh berada di bawah kekuasaan Orde Lama Soekarno dan Orde Baru Soeharto. Sejak saat itulah, Teungku

Daud Beureueh diyakini oleh orang-orang sebagai "Bapak Darul Islam". Daud Beureueh dikenal luas sebagai Gubernur Militer Aceh selama tahun-tahun revolusi. Tetapi ketika jabatannya sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo dicabut oleh PM Mohammad Natsir, ia hidup tenang-tenang di desanya --tampaknya seperti pensiun. Setelah Aceh masuk ke dalam Republik Indonesia Komunis (RIK) di bawah panji Pancasila, Daud Beureueh diberi jabatan Gubernur Kehormatan dan diminta menetap di Jakarta sebagai penasihat di Kementerian Dalam Negeri. Ia tidak menerima penghormatan ini. Satu-satunya tindakan pentingnya yang diketahui umum adalah pada saat ia mengetuai Musyawarah Ulama Medan, April 1951. Setelah musyawarah itu, Daud Beureueh melakukan tur singkat keliling Aceh, memberikan ceramah-ceramah provokatif bernada mendukung ide Negara Islam. Ia kemudian kembali ke desanya, dan --membuat takjub penduduk Medan yang sudah maju-- membangun sebuah tembok besar dan masjid sungguhan dengan tangannya sendiri. Daud Beureueh lebih tampak sebagai pensiunan perwira militer ketimbang sebagai ahli agama, meskipun ia menyandang gelar teungku. Teungku Daud Beureueh adalah "Bapak Orang-Orang Aceh" yang tetap tegar meski dikecewakan oleh kaum fasiqun di Jakarta. Dengan postur tubuhnya yang kurus tapi kuat, ia adalah tipe manusia ideal. Sebagaimana dicatat oleh Compton, dari bawah pecinya, rambut kelabunya yang dipangkas pendek kontras dengan wajahnya yang muda dan coklat kemerahan. Bicaranya lugas, bahkan pernyataannya banyak yang blak-blakan. Misal: "Saya tanya, apakah pemerintahan seperti itu mampu mengatasi masalah-masalah Aceh sekarang ini? Ya, ambillah pengairan sebagai contoh. Pada zaman Iskandar Muda, dibuat saluran dari sungai yang jauhnya sebelas kilometer dari sini menuju laut. Daerah Pidie menjadi sangat makmur. Dibuat pula saluran lain tak jauh dari yang pertama, keduanya dikerjakan oleh ulama. Beda dengan ulama zaman sekarang, pemimpin-pemimpin di masa itu tak takut sarung mereka kena lumpur. Sekarang saluran-saluran itu sudah rusak, dan hasil panen padi merosot. Sebelum terjadi perang, Aceh biasa mengekspor beras untuk kebutuhan seluruh wilayah Mardhatillah Sumatera Timur. Sekarang kita mengimpor beras dari Burma".

Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di masa keemasan itu, hanya orang-orang yang benar-benar berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman modern ini, hampir setiap orang dengan bermodalkan "taplak meja dililitkan di leher" bisa mengaku berhak untuk disebut ulama. Daud Beureueh bicara dengan gelora dan kesungguhan tentang perlunya pembaruan. Setelah semua kemungkinan terbentuknya sistem politik Islam sirna dan janji-janji Soekarno akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam tidak pernah ditepati, maka jiwa jihad Teungku Daud Beureueh pun bergolak. Ia kemudian menjadikan Aceh sebagai "Negara Bagian Aceh-Negara Islam Indonesia" (NBA-NII) dan berjuang hingga tahun 1964 di gunung-gemunung Tanah Rencong. Soekarno, meskipun terkenal hebat di mata orang-orang Aceh, namun karena penipuannya terhadap orang Aceh, nama Soekarno identik dengan berhala yang harus ditumbangkan. Compton bisa memahami mengapa orang-orang membandingkan Daud Beureueh dengan Soekarno yang cemerlang sebagai orator massa. Seandainya keduanya berpidato di sebuah acara yang sama, konon Soekarno akan menjadi juara kedua jika pendengarnya orang Aceh, terutama kalau sang "Singa Aceh" sudah mulai gusar dan marah. Sementara ia terus bicara tentang pemerintahan Islam di Aceh, Compton merasa bahwa aneka kasak-kusuk yang ia bawa dari Medan menjelang Pemilu 1955 telah sangat menyesatkannya. Ketika Compton menanyakan apakah sikap ini tak mengandung semacam kontradiksi, Teungku Daud Beureueh menandaskan, sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia harus tunduk pada kehendak-kehendak mayoritas Muslim. Ia yakin partai-partai Islam akan menang besar dalam sebuah pemilihan umum. Daud Beureueh melihat ada tiga kelompok di Indonesia dewasa ini: kaum komunis yang menginginkan negara Marxis-ateistik, umat Islam yang menghendaki Negara Islam, dan golongan nasionalis tertentu yang mau menghidupkan kembali Hinduisme-Jawa (Negara Pancasila). Ia cemas bahwa golongan Hindu dan Marxis sedang mengakar, tapi mereka sendiri khawatir kalau pemilihan umum diadakan, sebab mereka pasti kalah. Karena alasan ini, menurut Daud Beureueh, mereka akan berusaha habis-habisan untuk menunda-nunda

pelaksanaan pemilu. Ketika itu Teungku Daud Beureueh masih berharap dengan Pemilu, namun setelah ia sendiri terjungkal oleh seorang Perdana Menteri yang merupakan output dari sistem pemilu, ia kemudian melabuhkan harapan hanya pada perjuangan fisik. Islam telah dikalahkan secara diplomatis oleh kemenangan-kemenangan Partai Islam yang tidak memberi manfaat apapun bagi asersi politik Islam. Akibat sikapnya ini, Teungku Abu Daud Beureueh kemudian dilumpuhkan secara sistematis oleh Pemerintah Orde Baru. Ia kemudian meninggal pada tahun 1987 dalam keadaan buta --buta yang disengaja oleh Orde Baru-- dan dalam suatu prosesi pemakaman yang sangat sederhana, tanpa penghormatan yang layak dari orang-orang Aceh yang sudah terkontaminasi oleh ide-ide sekuler. R William Liddle yang sempat menghadiri upacara pemakaman Teungku Daud Beureueh menggambarkan bagaimana mengenaskannya saat-saat terakhir dan pemakaman pemimpin Aceh yang terbesar di paruh kedua abad keduapuluh. "Saya hadir di situ, antara lain, sebagai ilmuwan sosial dan politik untuk mengamati sebuah kejadian yang bersejarah, yang mungkin akan melambangkan sesuatu yang lebih besar dan penting dari upacara pemakaman biasa. Namun, --menurut penglihatan Liddle sebagai pengamat asing-- dalam kenyataannya, meninggalnya Teungku Abu Daud Beureueh adalah "meninggalnya seorang suami dan ayah yang dicintai, seorang alim yang disegani, dan seorang pemimpin masyarakat sekitar yang dihormati." Tidak lebih dari itu. Seakan-akan dan memang inilah kesimpulan Liddle waktu itu bahwa zaman kepahlawanan Teungku Abu Daud Beureueh telah berlalu, hampir tanpa bekas. Bersamaan berpulangnya "Bapak Orang-Orang Aceh", maka Aceh kemudian memasuki babak baru pembangunan dan modernisasi yang gempita di mana kemaksiatan dan sekulerisme adalah agama baru yang disambut kalangan terpelajar perkotaannya secara sangat antusias. Martin van Bruinessen, "Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya" ("Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural background"), Ulumul Qur'an vol. III no. 1, 1992, 16-27.

Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia: Latar Belakang Sosial-Budaya

Martin van Bruinessen

Istilah "gerakan sempalan" beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran agama yang dianggap "aneh", alias menyimpang dari aqidah, ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini, agaknya, terjemahan dari kata "sekte" atau "sektarian",[1] kata yang mempunyai berbagai konotasi negatif, seperti protes terhadap dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. Di Indonesia ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. Karena itu, sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau gerakan oposisi politik. Hampir semua aliran, faham dan gerakan yang pernah dicap "sempalan", ternyata memang telah dilarang atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama. Beberapa contoh yang terkenal adalah: Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, Mujahidin'nya Warsidi (Lampung), Syi'ah, Baha'i, "Inkarus Sunnah", Darul Arqam (Malaysia), Jamaah Imran, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawwuf berfaham wahdatul wujud, Tarekat Mufarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah (Aceh). Serangkaian aliran dan kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam. Apakah ada kesamaan antara semua gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut? Tanpa pretensi memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan ini, makalah ini berusaha menyoroti gerakan sempalan dari sudut pandang sosiologi agama.[2] Gerakan sempalan: ada definisinya? Berbicara tentang "gerakan sempalan" berarti bertolak dari suatu pengertian tentang "ortodoksi" atau "mainstream" (aliran induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Tanpa tolok ukur ortodoksi, istilah "sempalan" tidak ada artinya. Untuk menentukan mana yang "sempalan", kita pertama-tama harus mendefinisikan "mainstream" yang ortodoks. Dalam kasus ummat Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, kemudian Majelis Tarjih Muhammadiyah, Syuriah NU, dan sebagainya.

Istilah "gerakan sempalan" memang lazim dipakai, secara normatif, untuk aliran agama yang oleh lembaga-lembaga tersebut dianggap sesat dan membahayakan. Akan tetapi, definisi ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk kajian selanjutnya. Misalnya, apakah Ahmadiyah Qadian atau Islam Jamaah baru merupakan gerakan sempalan setelah ada fatwa yang melarangnya? Atau, meminjam contoh dari negara tetangga, berbagai aliran agama yang pernah dilarang oleh Jabatan Agama pemerintah pusat Malaysia, tetap dianggap sah saja oleh Majelis-Majelis Ugama Islam di negara-negara bagiannya. Bagaimana kita bisa memastikan apakah aliran tersebut termasuk yang sempalan? Ortodoksi, kelihatannya, adalah sesuatu yang bisa berubah menurut zaman dan tempat, dan yang "sempalan" pun bersifat kontekstual. Pengamatan terakhir ini boleh jadi menjengkelkan. Dari sudut pandangan orang Islam yang "concerned", yang sesat adalah sesat, apakah ada fatwanya atau tidak. Dalam visi ini, Ahlus Sunnah wal Jama'ah merupakan "mainstream" Islam yang ortodoks, dan yang menyimpang darinya adalah sempalan dan sesat. Kesulitan dengan visi ini menjadi jelas kalau kita menengok awal abad ke-20 ini, ketika terjadi konflik besar antara kalangan Islam modernis dan kalangan "tradisionalis". Dari sudut pandangan ulama tradisional, yang memang menganggap diri mewakili Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kaum modernis adalah sempalan dan sesat, sedangkan para modernis justeru menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus. Kalau kita mencari kriteria yang obyektif untuk mendefinisikan dan memahami gerakan sempalan, kita sebaiknya mengambil jarak dari perdebatan mengenai kebenaran dan kesesatan. Gerakan sempalan tentu saja juga menganggap diri lebih benar daripada lawannya; biasanya mereka justeru merasa lebih yakin akan kebenaran faham atau pendirian mereka. Karena itu, kriteria yang akan saya gunakan adalah kriteria sosiologis, bukan teologis. Gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau gerakan yang sengaja memisahkan diri dari "mainstream" umat, mereka yang cenderung eksklusif dan seringkali kritis terhadap para ulama yang mapan. Dalam pendekatan sosiologis ini, "ortodoksi" dan "sempalan" bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi atau mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat -- atau lebih tepat, mayoritas ulama; dan lebih tepat lagi,

golongan ulama yang dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan - pergeseran yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan protes sosial atau politik. Faham aqidah Asy'ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa 'Abbasiyah pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu'tazili (yang waktu itu didukung oleh penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang sekarang dipandang sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis "gerakan sempalan". Bahwa akhirnya faham Asy'ari-lah yang menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin bukan contoh yang terbaik -- golongan Asy'ari tidak dengan sengaja memisahkan diri dari sebuah "mainstream" yang sudah mapan; faham yang mereka anut berkembang dalam dialog terus-menerus dengan para lawannya. Contoh yang lebih tepat adalah gerakan Islam reformis Indonesia pada awal abad ini (seperti Al Irsyad dan Muhammadiyah) yang dengan tegas menentang "ortodoksi" tradisional yang dianut mayoritas ulama, dan dari sudut itu merupakan gerakan sempalan. Sejak kapan mereka tidak bisa lagi dianggap gerakan sempalan dan menjadi bagian dari ortodoksi? Di bawah ini akan dibahas beberapa faktor yang mungkin berperan dalam proses perkembangan suatu sekte menjadi denominasi. Untuk sementara, dapat dipastikan bahwa penganut gerakan reformis pada umumnya tidak berasal dari kalangan sosial yang marginal, namun justru dari orang Islam kota yang sedang naik posisi ekonomi dan status sosialnya, dan bahwa dalam perkembangan sejarah telah terjadi proses akomodasi, saling menerima, antara kalangan reformis dan tradisional. Apakah di antara "gerakan sempalan" masa kini ada juga yang berpotensi menjadi "ortodoksi" di masa depan? Tidak satu orang pun yang akan meramal bahwa aliran seperti Bantaqiyah bisa meraih banyak penganut di Indonesia. Perbandingan antara gerakan reformis, apalagi madzhab aqidah Asy'ari, dan gerakan sempalan yang disebut di atas, terasa sangat tidak tepat. Orang Islam pada umumnya merasa (kecuali para penganut gerakan tersebut, barangkali), bahwa mereka secara fundamental berbeda. Tetapi ... apa

sebetulnya perbedaan ini, selain perasaan orang bahwa yang pertama mengandung kebenaran, sedangkan yang terakhir adalah sesat? Padahal, aliran tersebut menganggap dirinya sebagai pihak yang benar, semntara yang lain sesat! Sejauhmana penilaian kita obyektif dalam hal ini? Memang di antara gerakan sempalan tadi terdapat aliran yang kelihatannya punya dasar ilmu agama yang sangat tipis. Penganut aliran itu biasanya juga orang yang marginal secara sosial dan ekonomi, dan berpendidikan rendah. Tetapi tidak semua gerakan sempalan demikian. Baik dalam Islam Jama'ah maupun gerakan Syi'ah Indonesia, malahan juga dalam Ahmadiyah dan gerakan tasawwuf wahdatul wujud terdapat pemikir yang memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan pandai mempertahankan faham mereka dalam debat. Mereka sanggup menemukan nash untuk menangkis semua tuduhan kesesatan terhadap mereka, dan tidak pernah kalah dalam perdebatan dengan ulama yang "ortodoks" -- sekurang-kurangnya dalam pandangan mereka sendiri dan penganut-penganutnya. Mereka dapat dianggap "sempalan" karena mereka merupakan minoritas yang secara sengaja memisahkan diri dari mayoritas ummat. Sebagai fenomena sosial, tidak terlihat perbedaan fundamental antara mereka dengan, misalnya, Al Irsyad pada masa berdirinya. Dan perlu kita catat bahwa di Iran pun, Syi'ah berhasil menggantikan Ahlus Sunnah sebagai faham dominan baru kira-kira lima abad belakangan![3] Lalu, bagaimana dengan Darul Islam dan gerakan Usroh? Keduanya dapat dianggap gerakan sempalan juga, baik dalam arti bahwa mereka tidak dibenarkan oleh lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa mereka memisahkan diri dari mayoritas. Namun saya tidak pernah mendengar kritik mendasar terhadap aqidah dan ibadah mereka. Yang dianggap sesat oleh mayoritas umat adalah amal politik mereka. Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi Negara Islam Indonesia'nya Kartosuwiryo, merekalah yang menentukan ortodoksi dan membentuk "mainstream" Islam. Seandainya itu yang terjadi, tidak mustahil sebagian "mainstream" Islam sekarang inilah yang mereka anggap sebagai "sempalan". Klasifikasi gerakan sempalan

Untuk menganalisa fenomena gerakan sempalan secara lebih jernih, mungkin ada baiknya kalau kita merujuk kepada kajian sosiologi agama yang sudah ada untuk melihat apakah ada temuan yang relevan untuk situasi Indonesia. Hanya saja, karena sosiologi agama adalah salah satu disiplin ilmu yang lahir dan dikembangkan di dunia Barat, sasaran kajiannya lebih sering terdiri dari umat Kristen ketimbang penganut agamaagama lainnya. Oleh karena, itu belum tentu a priori temuannya benar-benar relevan untuk dunia Islam. Beberapa konsep dasar yang dipakai barangkali sangat tergantung pada konteks budaya Barat. Mengingat keterbatasan ini, biarlah kita melihat apa saja telah ditemukan mengenai muncul dan berkembangnya gerakan sempalan pada waktu dan tempat yang lain. Dua sosiolog agama Jerman mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai sekte selama abad ini, mereka adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch. Weber terkenal dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte protestan dalam perkembangan semangat kapitalisme di Eropa, dan dengan teorinya mengenai kepemimpinan karismatik. Troeltsch, teman dekat Weber, mengembangkan beberapa ide Weber dalam studinya mengenai munculnya gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.[4] Troeltsch memulai analisanya dengan membedakan dua jenis wadah um at beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu tipe gereja dan tipe sekte. Contoh paling murni dari tipe gereja barangkali adalah Gereja Katolik abad pertengahan, tetapi setiap ortodoksi (dalam arti sosiologis tadi) yang mapan mempunyai aspek tipe gereja. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha mencakup dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai wadah yang established (mapan), mereka cenderung konservatif, formalistik, dan berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan ekonomi. Di dalamnya terdapat hierarki yang ketat, dan ada golongan ulama yang mengklaim monopoli akan ilmu dan karamah, orang awam tergantung kepada mereka. Tipe sekte, sebaliknya, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama anggotanya biasanya egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya bersifat sukarela: orang tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte biasanya berpegang lebih keras (atau kaku) kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada

nilai moral yang ketat, dan mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material. Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih murni, lebih konsisten dengan wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam antara para penganutnya yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh kekurangan serta dosa. Seringkali, kata Troeltsch, sekte- sekte muncul pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan pendidikan rendah, dan baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering cenderung memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak budaya dan ilmu pengetahuan sekuler. Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul sebagai oposisi terhadap gereja (atau ortodoksi yang lain), yaitu gerakan mistisisme (tasawwuf). Sementara sekte memisahkan diri dari gereja karena mereka menganggap gereja telah kehilangan semangat aslinya dan terlalu berkompromi, gerakan- gerakan mistisisme merupakan reaksi terhadap formalitas dan "kekeringan" gereja. Gerakan mistisisme, menurut Troeltsch, memusatkan perhatian kepada penghayatan ruhani-individual, terlepas dari sikapnya terhadap masyarakat sekitar. (Oleh karena itu, Troeltsch juga memakai istilah "individualisme religius"). Penganutnya bisa saja dari kalangan establishment, bisa juga dari kalangan yang tak setuju dengan tatanan masyarakat yang berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik kepada ajaran agama yang formal, apalagi kepada lembaga-lembaga agama (gereja, dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka adalah hubungan langsung antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya). Analisa Troeltsch ini berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah gereja di Eropa, dan tidak bisa diterapkan begitu saja atas budaya lain. Organisasi "tipe gereja" tidak terdapat dalam setiap masyarakat, tetapi tanpa kehadiran suatu gereja pun sekte bisa saja muncul. Ketika tadi saya bertanya "gerakan sempalan itu menyempal dari apa?", saya sebetulnya mencari apakah ada sesuatu wadah umat yang punya ciri tipe gereja, dalam terminologi Troeltsch. Ortodoksi Islam Indonesia seperti diwakili oleh MUI dan sebagainya, tentu saja tidak sama dengan Gereja Katolik abad pertengahan; ia tidak mempunyai kekuasaan atas kehidupan pribadi orang seperti gereja. Situasi di Amerika Serikat masa kini, sebetulnya, sama saja. Hampir-hampir tidak ada wadah tipe gereja versi Troeltsch, yang begitu dominan terhadap seluruh masyarakat.

Yang ada adalah sejumlah besar gereja-gereja Protestan (sering disebut denominasi), yang berbeda satu dengan lainnya dalam beberapa detail saja, dan tidak ada di antaranya yang dominan terhadap yang lain. Denominasi-denominasi Protestan ini mempunyai baik ciri tipe sekte maupun ciri tipe gereja. Gerakan mistisisme, seperti yang digambarkan Troeltsch, beberapa dasawarsa terakhir ini sangat berkembang di dunia Barat dengan mundurnya pengaruh gereja. Para penganutnya seringkali dari kalangan yang relatif berada dan berpendidikan tinggi, bukan dari lapisan masyarakat yang terbelakang.[5] Kajian berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog agama dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya denominasi.[6] Teori yang diuraikan dalam karya ini sebetulnya agak mirip teori sejarah Ibnu Khaldun. Niebuhr melihat bahwa banyak sekte, yang pertama-tama lahir sebagai gerakan protes terhadap konservatisme dan kekakuan gereja (dan seringkali juga terhadap negara), lambat laun menjadi lebih lunak, mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak anggota yang telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota sudah tidak sama lagi, bibitbibit hierarki internal telah ditanam, kalangan pendeta- pendeta muncul, yang mulai mengklaim bahwa orang awam memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte itu sudah mulai menjadi semacam gereja sendiri, salah satu di antara sekian banyak denominasi. Dan lahirlah, sebagai reaksi, gerakan sempalan baru, yang berusaha menghidupkan semangat asli... dan lambat laun berkembang menjadi denominasi... dan demikianlah seterusnya. Teori Niebuhr ini sekarang dianggap terlalu skematis; sekte- sekte tidak selalu menjadi denominasi. Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap situasi Amerika Serikat yang sangat unik; semua gereja di sana memang merupakan denominasi yang pernah mulai sebagai gerakan sempalan dari denominasi lain. Siklus perkembangan yang begitu jelas, agaknya, berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat terdiri dari para immigran, yang telah datang gelombang demi gelombang. Setiap gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah; dengan datangnya gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik. Pendatang baru yang

miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal; dengan kenaikan status mereka sekte itu lambat laun menghilangkan radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru. Tigapuluh tahun sesudah Niebuhr, sosiolog Amerika yang lain, Milton Yinger, merumuskan kesimpulan dari perdebatan mengenai sekte dan denominasi, bahwa sekte yang lahir sebagai protes sosial cenderung untuk bertahan sebagai sekte, tetap terpisah dari mainstream, sedangkan sekte yang lebih menitikberatkan permasalahan moral pribadi cenderung untuk menjadi denominasi. Itu tentu berkaitan dengan dasar sosial kedua jenis sekte ini - sekte radikal cenderung untuk merekrut anggotanya dari lapisan miskin dan tertindas. Dengan demikian hubungan sekte ini dengan negara dan denominasi yang mapan akan tetap tegang. Jenis sekte yang kedua lebih cenderung untuk menarik penganut dari kalangan menengah, dan akan lebih mudah berakomodasi dengan, dan diterima dalam, status quo.[7] Pengamatan ini, agaknya, relevan untuk memahami perbedaan antara Al Irsyad atau Muhammadiyah di satu sisi dan sebagian besar gerakan sempalan masa kini di sisi lainnya. Klasifikasi sekte dalam beberapa jenis dengan sikap dan dinamika masing-masing dikembangkan lebih lanjut oleh seorang sosiolog Inggeris, Bryan Wilson. Ia berusaha membuat tipologi yang tidak terlalu tergantung kepada konteks budaya Kristen Barat. Tipologi ini disusun berdasarkan sikap sekte-sekte terhadap dunia sekitar.[8] Wilson melukiskan tujuh tipe ideal (model murni) sekte. Sekte-sekte yang nyata biasanya berbeda daripada tipe-tipe ideal ini, yang hanya merupakan model untuk analisa. Dalam kenyataannya, suatu sekte bisa mempunyai ciri dari lebih dari satu tipe ideal. Tetapi hampir semua tipe ideal Wilson terwakili oleh gerakan sempalan yang terdapat di Indonesia. Tipe pertama adalah sekte conversionist, yang perhatiannya terutama kepada perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan diperbaiki kalau moral individuindividu diperbaiki, dan kegiatan utama sekte ini adalah usaha untuk meng-convert, mentobat-kan orang luar. Contoh tipikal di dunia Barat adalah Bala Keselamatan; di dunia Islam, gerakan dakwah seperti Tablighi Jamaat mirip tipe sekte ini.

Tipe kedua, sekte revolusioner, sebaliknya mengharapkan perubahan masyarakat secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik. Gerakan messianistik (yang menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang Messias, Mahdi, Ratu Adil) dan millenarian (yang mengharapkan meletusnya zaman emas) merupakan contoh tipikal. Gerakan ini secara implisit merupakan kritik sosial dan politik terhadap status quo, yang dikaitkan dengan Dajjal, Zaman Edan dan sebagainya. Gerakan messianistik, seperti diketahui, banyak terjadi di Indonesia pada zaman kolonial -- dan memang ada sarjana yang menganggap bahwa gerakan jenis ini hanya muncul sebagai reaksi terhadap kontak antara dua budaya yang tidak seimbang.[9] Kalau harapan eskatologis tetap tidak terpenuhi, suatu gerakan yang semula revolusioner akan cenderung untuk tidak lagi bekerja untuk transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya sendiri - semacam uzlah kolektif. Mereka mencari kesucian diri sendiri tanpa mempedulikan masyarakat luas. Wilson menyebut gerakan tipe ini introversionis. Gerakan Samin di Jawa merupakan kasus tipikal gerakan mesianistik yang telah menjadi introversionis. Tipe keempat, yang dinamakan Wilson manipulationist atau gnostic ("berma'rifat") mirip sekte introversionis dalam hal ketidakpeduliannya terhadap keselamatan dunia sekitar. Yang membedakan adalah klaim bahwa mereka memiliki ilmu khusus, yang biasanya dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini, orang perlu melalui suatu proses inisiasi (tapabrata) yang panjang dan bertahap. Tipe ini biasanya menerima saja nilai-nilai masyarakat luas dan tidak mempunyai tujuan yang lain. Klaim mereka hanya bahwa mereka memiliki metode yang lebih baik untuk mencapai tujuan itu. Theosofie dan Christian Science merupakan dua contoh jenis sekte ini di dunia Barat. Di Indonesia, ada banyak aliran kebatinan yang barangkali layak dikelompokkan dalam kategori ini; demikian juga kebanyakan tarekat, yang mempunyai amalan-amalan khusus dan sistem bai'at. Tipe lainnya adalah sekte-sekte thaumaturgical, yaitu yang berdasarkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan atas alam gaib. Pengobatan secara batin, kekebalan, kesaktian, dan kekuatan "paranormal" lainnya merupakan daya

tarik aliran-aliran jenis ini, dan membuat para anggotanya yakin akan kebenarannya. Di Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran kebatinan dan sekte Islam, seperti Muslimin-Muslimat (di Jawa Barat). Tipe ke-enam adalah sekte reformis, gerakan yang melihat usaha reformasi sosial dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa pekerjaan sosial dianggap tidak cukup. Yang membedakan sekte-sekte ini dari ortodoksi bukan aqidah atau ibadahnya dalam arti sempit, tetapi penekanannya kepada konsistensi dengan ajaran agama yang murni (termasuk yang bersifat sosial). Gerakan utopian, tipe ketujuh, berusaha menciptakan suatu komunitas ideal di samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas. Mereka menolak tatanan masyarakat yang ada dan menawarkan suatu alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi mentransformasi seluruh masyarakat melalui proses revolusi. Tetapi mereka lebih aktivis daripada sekte introversionis; mereka berdakwah melalui contoh teladan komunitas mereka. Komunitas utopian mereka seringkali merupakan usaha untuk menghidupkan kembali komunitas umat yang asli (komunitas Kristen yang pertama, jami'ah Madinah), dengan segala tatanan sosialnya. Di Indonesia, kelompok Isa Bugis (dulu di Sukabumi, sekarang di Lampung) merupakan salah satu contohnya, Darul Arqam Malaysia dengan "Islamic Village"nya di Sungai Penchala adalah contoh yang lain. Gerakan sempalan Islam di Indonesia dan tipologi sekte Dalam tipologi sekte di atas ini, Wilson sudah menggambarkan suatu spektrum aliran agama yang lebih luas daripada spekrum gerakan sempalan Indonesia yang disebut di atas. Meski demikian, beberapa gerakan di Indonesia agak sulit diletakkan dalam tipologi ini. Kriteria yang dipakai Wilson adalah sikap sekte terhadap dunia sekitar, namun terdapat berbagai gerakan di Indonesia yang tidak mempunyai sikap sosial tertentu dan hanya membedakan diri dari "ortodoksi" dengan ajaran atau amalan yang lain. Satu tipe terdiri dari aliran-aliran kebatinan atau tarekat dengan ajaran yang "aneh", yang masih sering muncul di hampir setiap daerah. Sebagian aliran ini memang mirip sekte gnostic, dengan sistem bai'at, hierarki internal dan inisiasi bertahap dalam

"ilmu" rahasia, sebagian juga memiliki aspek thaumaturgical, dengan menekankan pengobatan dan kesaktian, tetapi aspek thaumaturgical jarang menjadi intisari aliran tersebut seperti dalam gerakan pengobatan ruhani di Amerika Serikat.[10] Sebagian besar tidak mempunyai ciri sosial yang menonjol, tidak ada penolakan terhadap norma-norma masyarakat luas. Mereka tidak mementingkan aspek sosial dan politik dari ajaran agama, melainkan kesejahteraan ruhani, ketentraman dan/atau kekuatan gaib individu. Penganutnya bisa berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, tetapi yang banyak adalah orang yang termarginalisir oleh perubahan sosial dan ekonomi. Suatu jenis lain terdiri dari gerakan pemurni, yang sangat menonjol dalam sejarah Islam: gerakan yang mencari inti yang paling asli dari agamanya, dan melawan segala hal (ajaran maupun amalan) yang dianggap tidak asli. Beberapa gerakan pemurni sekaligus adalah gerakan reform sosial, seperti Muhammadiyah, tetapi tidak semuanya berusaha mengubah masyarakat. Gerakan pemurni yang paling tegas di Indonesia, agaknya, Persatuan Islam (Persis). Dalam konteks ini perlu kita sebut kelompok yang dikenal dengan nama Inkarus Sunnah, karena mereka juga mengklaim ingin mempertahankan hanya sumber Islam yang paling asli saja. Seperti diketahui, mereka kurang yakin akan keasliannya hadits, dan menganggap hanya Qur'an saja sebagai sumber asli. Oleh karena itu, nama yang mereka sendiri pakai adalah Islam Qur'ani. Namun dalam kasus terakhir ini, saya tidak yakin apakah mereka layak disebut gerakan sempalan; mereka tidak cenderung untuk memisahkan diri dari ummat lainnya, dan saya belum jelas apakah mereka merupakan gerakan terorganisir. Gerakan Islam Jama'ah alias Darul Hadits juga merupakan suatu kasus yang tidak begitu mudah digolongkan. Dengan penekanannya kepada hadits (walaupun yang dipakai, konon, hadits-hadits terpilih saja), gerakan ini mengingatkan kepada gerakan pemurni (ini mungkin menjelaskan daya tariknya bagi orang berpendidikan modern). Namun beberapa ciri jelas membedakannya dari gerakan pemurni atau pembaharu dan membuatnya mirip sekte manipulationist / gnostic. Dari segi organisasi internal, Islam Jama'ah mirip tarekat atau malahan gerakan militer, dengan bai'at dan pola kepemimpinan yang otoriter dan sentralistis (amir). Tidak ada penolakan terhadap nilai-nilai masyarakat pada umumnya, dan tidak ada cita-cita politik atau sosial tertentu. Unsur protes tidak terlihat dalam

gerakan ini; mereka hanya sangat eksklusif dan menghindar dari berhubungan dengan orang luar. Faktor yang juga perlu disebut adalah kepemimpinan karismatik.[11] Pendiri dan amir pertama, Nur Hasan Ubaidah, dikenal sebagai ahli ilmu kanuragan dan kadigdayan yang hebat, dan dalam pandangan orang banyak, itulah yang membuat penganutnya tertarik dan terikat pada gerakan ini. Penganutnya pada umumnya tidak berasal dari kalangan bawah tetapi dari kalangan menengah; namun banyak diantara mereka, agaknya, pernah mengalami krisis moral sebelum masuk gerakan ini. Dari segi kepemimpinan, gerakan Darul Arqam di Malaysia (yang sekarang juga sudah mempunyai cabang di Indonesia) sedikit mirip Islam Jama'ah; gerakan ini sangat tergantung kepada pemimpin karismatik, Ustaz Ashaari Muhammad. Tetapi sikap Darul Arqam terhadap dunia sekitar sangat berbeda: mereka ingin mengubah masyarakat dan menawarkan model alternatif, yang dicontohkan dalam "Islamic Village" mereka. Dengan kata lain, inilah suatu gerakan utopian; melalui dakwah aktif mereka terus mempropagandakan alternatif mereka. Kegiatan sosialnya terbatas pada kalangan mereka sendiri; selain usaha konversi (dakwah: memasukkan penganut baru), mereka tidak banyak berhubungan dengan masyarakat sekitar -- walaupun dalam praktek mereka masih tergantung pada masyarakat luar untuk pendapatan mereka. Hubungan di dalam kelompok, antara sesama anggota, hangat dan intensif; kontrol sosial dinatara mereka juga tinggi. Namun, mereka menjauhkan diri dari ummat lainnya, sehingga sering dituduh terlalu eksklusif. Di samping sikap utopian ini, Darul Arqam juga merupakan gerakan messianis; mereka meyakini kedatangan Mahdi dalam waktu sangat dekat, dan mempersiapkan diri untuk peranan di bawah kepemimpinan Mahdi nanti.[12] Beberapa tahun terakhir ini aspek messianis ini telah menjadi semakin menonjol; gerakan ini lambat laun bergeser dari utopian menjadi revolusioner. Gerakan yang lebih murni aspek utopiannya adalah yang disebut gerakan Usroh di Indonesia. Saya tidak yakin apakah ini memang suatu gerakan terorganisir, dengan kepemimpinan dan strategi tertentu. Kesan saya, gerakan ini adalah suatu trend, suatu pola perkumpulan yang cepat tersebar, tanpa banyak koordinasi antara sesama usroh. Ini memang suatu gerakan protes politik (walaupun perhatiannya terutama kepada urusan agama dalam arti sempit, tidak kepada isu- isu politik umum). Namun mereka tidak

berharap mengubah tatanan masyarakat atau sistem politik secara langsung; para usroh ("keluarga") merupakan komunitas yang menganggap diri mereka sebagai alternatif yang lebih Islami. Ahmadiyah (Qadian), Baha'i dan Syi'ah tidak lahir dari rahim kalangan umat Islam Indonesia sendiri, tetapi "diimport" dari luar negeri ketika sudah mapan. Ketiganya merupakan faham agama yang sudah lama berdiri di negara lain sebelum masuknya ke Indonesia. Pada masa awalnya, ketiganya mempunyai aspek messianis, namun kemudian berubah menjadi introversionis, tanpa sama sekali menghilangkan semangat awalnya. Pemimpin karismatik aslinya (Ghulam Ahmad, Baha'ullah, Duabelas Imam) tetap merupakan titik fokus penghormatan dan cinta yang luar biasa. Dalam Syi'ah, semangat revolusioner kadang-kadang tumbuh lagi (seperti terakhir terlihat di Iran sejak 1977), dan itulah agaknya yang merupakan daya tarik utama faham Syi'ah bagi para pengagumnya di Indonesia. Sedangkan Ahmadiyah telah menampilkan diri (di India- Pakistan dan juga di Indonesia) terutama sebagai sekte reformis,[13] yang belakangan menjadi sangat introversionis dan menghindar dari kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Walaupun sekte Baha'i juga mempunyai beberapa penganut di Indonesia, mereka rupanya tidak berasal dari kalangan Islam, sehingga Baha'i di sini tidak dapat dianggap sebagai gerakan sempalan Islam (seperti halnya di negara aslinya, Iran). Tiga gerakan ini memain peranan sangat berlainan di Indonesia, dan meraih penganut dari kalangan yang berbeda. Gerakan Syi'ah adalah yang paling dinamis. Ia mulai sebagai gerakan protes, baik terhadap situasi politik maupun kepemimpinan ulama Sunni; pelopornya adalah pengagum revolusi Islam Iran. Kepedulian sosial (perhatian terhadap mustadl'afin) dan politik ditekankan. Dalam perkembangan berikut, penekanan kepada dimensi politik Syi'ah semakin dikurangi, dan minat kepada tradisi intelektual Syi'ah Iran ditingkatkan.[14] Dengan kata lain, gerakan Syi'ah Indonesia sudah bukan gerakan sempalan revolusioner lagi dan cenderung untuk menjadi introversionis. Tetapi gerakan ini tetap berdialog dan berdebat dengan golongan Sunni, mereka tidak terisolir. Di antara semua gerakan sempalan masa kini, hanya gerakan Syi'ah yang agaknya mempunyai potensi berkembang menjadi suatu denominasi, di samping gerakan pemurni dan pembaharu yang Sunni.

Gerakan sempalan: gejala krisis atau sesuatu yang wajar saja? Tinjauan sepintas ini menunjukkan bahwa gerakan sempalan Islam di Indonesia cukup berbeda satu dengan lainnya. Latar belakang sosial mereka juga berbeda-beda. Tidak dapat diharapkan bahwa kemunculannya bisa dijelaskan oleh satu dua faktor penyebab saja. Ada kecenderungan untuk melihat semua gerakan sempalan sebagai suatu gejala krisis, akibat sampingan proses modernisasi yang berlangsung cepat dan pergeseran nilai. Tetapi gerakan-gerakan seperti yang telah digambarkan di atas bukanlah fenomena yang baru. Prototipe gerakan sempalan dalam sejarah Islam adalah kasus Khawarij, yang terjadi jauh sebelum ada modernisasi. Gerakan messianis juga telah sering terjadi selama sejarah Islam, di kawasan Timur Tengah maupun Indonesia. Sedangkan tarekat sudah sering menjadi penggerak atau wadah protes sosial rakyat atau elit lokal antara 1880 dan 1915. Gerakan pemurni yang radikal juga telah sering terjadi, setidak- tidaknya sejak gerakan Padri. Timbulnya segala macam sekte dan aliran "mistisisme" juga bukan sesuatu yang khas untuk negara sedang berkembang. Justeru di negara yang sangat maju, seperti Amerika Serikat, fenomena ini sangat menonjol. Jadi, hipotesa bahwa gerakan sempalan di Indonesia timbul sebagai akibat situasi khusus ummat Islam Indonesia masa kini tidak dapat dibenarkan. Saya mengira juga, bahwa jumlah aliran baru yang muncul setiap tahun (sekarang) tidak jauh lebih tinggi ketimbang tiga dasawarsa yang lalu. Yang dipengaruhi oleh iklim sosial, ekonomi dan politik, agaknya, bukan timbulnya aliran-aliran itu sendiri, tetapi jenis aliran yang banyak menjaring penganut baru. Periode 1880 sampai 1915, misalnya, merupakan masa jaya tarekat di Indonesia; pengaruh dan jumlah penganutnya berkembang cepat. Gerakan atau aliran agama lainnya tidak begitu menonjol pada masa itu. Tarekat-tarekat telah menjadi wadah pemberontakan rakyat kecil terhadap penjajah maupun pamong praja pribumi, tidak karena terdapat sifat revolusioner pada tarekat itu sendiri, tetapi karena jumlah dan latar belakang sosial penganutnya, karena struktur organisasinya (vertikal-hierarkis), dan karena aspek "thaumaturgical"nya (kekebalan, kesaktian).[15]

Pada masa berikutnya, sekitar 1915-1930, semua tarekat mengalami kemerosotan pengaruh karena berkembangnya organisasi modern Islam bersifat sosial dan politik, terutama Sarekat Islam. Walaupun SI merupakan organisasi modern dengan pemimpinpemimpin berpendidikan barat, cabang-cabang lokalnya ada yang mirip sekte messianis atau tarekat, khususnya pada masa awalnya. Cokroaminoto kadang-kadang disambut sebagai ratu adil dan diminta membagikan air suci; ada juga kyai tarekat yang masuk SI dengan semua penganutnya dan berusaha mempergunakan SI sebagai wajah formal tarekatnya.[16] Fenomena yang paling menonjol pada masa itu, bahwa banyak aliran agama menunjukkan aktivisme politik dan sosial. Namun setelah pemberontakan-pemberontakan 1926 diberantas dan kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda menjadi lebih repressif (dan setelah pemimpin-pemimpin nasionalis dibuang), muncullah aliran-aliran agama baru yang introversionis, yaitu yang berpaling dari aktivitas sosial dan politik kepada penghayatan agama secara individual, dan yang bersifat mistis (sufistik). Dasawarsa 1930an melihat lahirnya berbagai aliran kebatinan yang masih ada sampai sekarang, seperti Pangestu dan Sumarah, dan juga masuk dan berkembangnya dua tarekat baru, yaitu Tijaniyah dan Idrisiyah. Korelasi antara represi politik dengan timbulnya aliran sufistik yang introversionis terlihat lebih jelas ketika partai Masyumi dibubarkan. Neo-tarekat seperti Shiddiqiyah, dan juga Islam Jama'ah timbul di kalangan bekas penganut Masyumi di Jawa Timur. Di daerah lainnya juga cukup banyak kasus bekas aktivis Masyumi yang masuk aliran mistik. Setelah penumpasan PKI, neo- tarekat Shiddiqiyah dan Wahidiyah, serta tarekat lama Syattariyah di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan pesat dengan masuknya tidak sedikit orang dari kalangan abangan. Mereka ketika itu ingin, dengan alasan yang dapat dimengerti, membuktikan identitasnya sebagai Muslim dan sikap nonpolitik mereka.[17] Dan pada lima tahun terakhir ini kita menyaksikan bahwa tarekat dan aliran mistik lainnya berkembang dengan pesat, dalam semua kalangan masyarakat suatu fenomena yang agaknya berkaitan erat dengan depolitisasi Islam.[18] Gerakan sempalan yang "radikal"

Di atas, saya lebih banyak menyebut aliran "introversionis" dan mistik daripada aliran yang radikal dan aktivis - "sekte" dalam arti sempitnya Troeltsch. Pertama-tama karena saya lebih mengetahui tentang aliran sufistik itu, tetapi juga karena aliran radikal relatif jarang terjadi di Indonesia, dan jumlah penganutnya, sejauh penilaian saya, agak kecil. Yang perlu kita tanyakan, mungkin, bukan kenapa terjadi gerakan sempalan yang radikal di Indonesia, tetapi kenapa gerakan demikian begitu jarang terjadi (dibandingkan, misalnya, dengan Amerika Serikat, India ataupun Malaysia). Dalam beberapa dasawarsa terakhir kita melihat beberapa perubahan dalam ortodoksi Islam Indonesia, yang dapat ditandai dengan istilah "akomodasi" dan "depolitisasi". Secara teoretis, kita bisa meramalkan bahwa setiap perubahan dalam ortodoksi akan menimbulkan beberapa reaksi dalam bentuk gerakan sempalan yang tujuannya berlawanan dengan perubahan tersebut. Makin dekat ortodoksi kepada establishment politik dan ekonomis, makin kuat kecenderungan kepada protes sosial dalam bentuk gerakan sempalan yang radikal, seperti kita bisa lihat dalam sejarah gereja di Eropa misalnya. Kita juga bisa meramal bahwa penganut gerakan sempalan itu tidak terutama berasal dari "mainstream" kalangan beragama (katakanlah, yang dibesarkan di keluarga NU atau keluarga Muhammadiyah, dalam kasus Indonesia), tetapi dari kalangan yang relatif marginal. Justeru orang yang masih baru berusaha menjalankan ajaran agama secara utuh, para mukallaf, dan orang berasal dari keluarga yang sekuler atau abangan yang mencari identitas dirinya dalam Islam. Kalangan "santri", karena mereka lebih dekat kepada tokoh-tokoh yang "ortodoks", lebih cenderung mengikuti perubahan sikap ortodoksi. Mereka juga, agaknya, sudah dibudayakan dalam tradisi Sunni, yang selalu akomodatif. Sedangkan orang "baru" justeru sering cenderung mencari ajaran yang "murni", sederhana dan tegas, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Gejala menonjol dalam beberapa gerakan sempalan yang radikal adalah latar belakang pendidikan dan pengetahuan agama banyak anggotanya yang relatif rendah, tetapi diimbangi semangat keagamaan yang tinggi. Sebagian besar mereka, sejauh pengamatan saya, sangat idealis dan sangat ingin mengabdi kepada agama dan masyarakat. Mereka adalah orang yang sadar akan kemiskinan dan korupsi, ketidakadilan dan maksiat di masyarakat sekitarnya; dalam kehidupan pribadi, banyak dari mereka

telah menghadap kesulitan untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang baik dan mengalami banyak frustrasi lainnya. Dan mereka yakin bahwa Islam sangat relevan untuk masalah-masalah sosial ini. Mereka tahu, yang sering dilontarkan tokoh-tokoh Islam, bahwa Islam tidak membenarkan sekularisme, bahwa agama dan masalah sosial dan politik tidak dapat dipisahkan. Tetapi mereka kecewa melihat bahwa kebanyakan tokohtokoh tadi senantiasa siap berkompromi dalam menghadapi masalah politik dan sosial. Para ulama tidak memberi penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab semua penyakit sosial tadi, apalagi memberikan jalan keluar yang konkrit dan jelas. Hal-hal yang diceramahkan dan dikhotbahkan oleh kebanyakan ulama terlalu jauh dari realitas yang dihadapi generasi muda. Karena adanya jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama dan kalangan muda yang frustrasi tetapi idealis ini, tokoh-tokoh tadi tidak mampu menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih moderat dan produktif. Pemuda-pemuda radikal, di pihak lain, justeru karena masih dangkalnya pengetahuan agama mereka, menganggap bahwa seharusnya Islam mempunyai jawaban yang sederhana, jelas dan kongkrit atas semua permasalahan -- inilah watak khas setiap sekte. Orang yang bilang bahwa permasalahan tidak sesederhana itu, bahwa dalam sikap Islam juga ada segala macam pertimbangan, dan bahwa jawaban yang keras dan tegas belum tentu yang paling benar, dianggap tidak konsisten atau malah mengkhianati agama yang murni. Tidak mengherankan kalau kritik dan serangan gerakan radikal terhadap ulama "ortodoks" kadang-kadang lebih keras daripada terhadap para koruptor dan penindas. Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan muda sebetulnya wajar saja, dan pada sendirinya bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Umat yang hanya terdiri dari satu ortodoksi yang monolitik berarti sudah kehilangan dinamika dan gairah hidup. Dalam sejarah gereja di dunia Barat, sekte-sekte radikal sering telah berfungsi sebagai hati nurani ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam sejarah umat Islam. Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer, dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang terus-menerus bermunculan. Bahaya baru muncul kalau komunikasi antara ortodoksi dan gerakan sempalan terputus dan kalau mereka

diasingkan. Karena kurangnya pengalaman hidup dan pengetahuan agama, mereka dengan sangat mudah bisa saja dimanipulir dan/atau diarahkan kepada kegiatan yang tidak sesuai dengan kepentingan umat. Gerakan sempalan sebagai pengganti keluarga Sebagai akibat urbanisasi dan monetarisasi ekonomi, banyak ikatan sosial yang tradisional semakin longgar atau terputus. Dalam desa tradisional, setiap orang adalah anggota sebuah komunitas yang cukup intim, dengan kontrol sosial yang ketat tetapi juga dengan sistem perlindungan dan jaminan sosial. Jaringan keluarga yang luas melibatkan setiap individu dalam sebuah sistem hak dan kewajiban yang -- sampai batas tertentu -menjamin kesejahteraannya. Dalam masyarakat kota modern, sebaliknya, setiap orang berhubungan dengan jauh lebih banyak orang lain, tetapi hubungan ini sangat dangkal dan tidak mengandung tanggungjawab yang berarti. Komunitas, seperti di desa atau di keluarga besar, sudah tidak ada lagi, dan kehidupan telah menjadi lebih individualis. Itu berarti bahwa dari satu segi setiap orang lebih bebas; tetapi dari segi lain, tidak ada lagi perlindungan yang betul-betul memberikan jaminan. Banyak orang merasa terisolir, dan merasa bahwa tak ada orang yang betul-betul bisa mereka percayai --- karena sistem kontrol sosial dengan segala sanksinya sudah tidak ada lagi, dan karena orang lain juga lebih mengutamakan kepentingan individual masing-masing. Dalam situasi ini, aliran agama sering bisa memenuhi kekosongan yang telah terjadi karena menghilangnya komunitas keluarga besar dan desa. Namun untuk dapat berfungsi sebagai komunitas, aliran ini mestinya cukup kecil jumlah anggotanya, sehingga mereka bisa saling mengenal. Aspek komunitas dan solidaritas antara sesama anggota diperkuat lagi kalau aliran ini membedakan diri dengan tajam dari dunia sekitarnya. Inilah, agaknya, daya tarik aliran yang bersifat eksklusif (yaitu menghindar dari hubungan dengan umat lainnya) atau gnostic (yang mengklaim punya ajaran khusus yang tidak dimengerti kaum awam dan menerapkan sistem bai'at). Dalam penelitian saya di sebuah perkampungan miskin di kota Bandung, saya sempat mengamati bagaimana berbagai aliran agama mempunyai fungsi psikologis positif yang sangat nyata. Baik tarekat maupun sekte memenuhi kebutuhan akan

komunitas dan memberi perlindungan sosial dan psikologis kepada anggotanya, sehingga mereka tidak terisolir lagi. Penganut-penganut aliran ini -- terlepas dari tipe aliran dan ajarannya - ternyata lebih mampu mempertahankan harga diri dan nilai-nilai moral daripada orang lain. Dalam berbagai tarekat dan aliran lain, para anggota saling memanggil "ikhwan", dan itu bukan sebutan simbolis belaka; mereka memang sering bertindak sebagai saudara sesama anggota. Pergaulan dan komunikasi antara para ikhwan tidak terbatas pada waktu sembahyang atau berdzikir saja; mereka saling mengunjungi di rumah dan saling menolong, misalnya, mencari pekerjaan. Di dalam aliran-aliran ini terdapat kontrol sosial yang kuat dan dorongan kepada konformisme, tetapi juga sistem tolong-menolong yang menjaminkan keamanan yang dibutuhkan. Walaupun lingkungan mereka dianggap penuh bahaya, maksiat dan penipuan, kepada sesama ikhwan mereka bisa saling percaya; di bawah perlindungan tarekat mereka merasa aman dari ancaman dan tantangan yang mereka alami di dunia sekitar. Ternyata bukan tarekat dan aliran kebatinan saja, tetapi juga kelompok sangat non-sufistik seperti jamaah Persis (yang merupakan minoritas kecil di sana dan berpendirian sektarian) mempunyai fungsi yang sama.[19] Di suatu lingkungan dimana egoisme, sinisme, curiga-mencurigai, iri hati dan pemerosoton semua nilai semakin berkembang, anggota aliran tadi bisa bertahan dan hidup lebih aman dan tenang. Demikian juga halnya mahasiswa (terutama yang berasal dari kota kecil atau desa) yang hidup di sebuah lingkungan kota yang serba baru dan aneh bagi mereka; kelompok-kelompok studi agama dan sebagainya memberikan perlindungan dan rasa aman, dimana mereka bisa merasa "at home". Lebih-lebih kalau kelompok itu bisa memberikan mereka sebuah kerangka analisa masyarakat sekitarnya dan keyakinan bahwa mereka sebetulnya sebuah minoritas yang lebih baik, murni dan suci, dan mempunyai misi menyebarkan kemurnian dan kesuciannya. Perasaan minder, yang sering dialami mahasiswa berlatarbelakang sederhana ketika berhadapan dengan sebuah lingkungan yang "canggih", mendapat kompensasi dalam "keluarga" baru mereka. Beberapa gerakan agama di kampus dapat dilihat sebagai gejala konflik budaya ("Islam yang konsisten" melawan "sekularisme yang bebas nilai") yang tak lepas dari perbedaan status sosial-ekonomis. Tidak mengherankan kalau di kalangan

pemuda/mahasiswa pernah muncul gerakan sempalan yang bersifat messianisrevolusioner, yang ingin merombak tatanan masyarakat dan/atau negara (seperti kasus Jama'ah Imran). Tapi itu tidak berarti bahwa semua anggota gerakan tersebut juga punya aspirasi revolusioner. Dalam kasus Jama'ah Imran misalnya, saya mempunyai kesan bahwa sebagian besar pengikutnya, berbeda dengan kelompok intinya, sebetulnya tidak tertarik kepada aspek revolusioner (atau subversif)nya.[20] Mereka pertama-tama masuk Jama'ah Imran didorong oleh rasa ingin tahu semata atau karena tertarik kepada ceramahceramahnya yang "pedas"; yang kemudian mengikat mereka adalah aspek komunitasnya. Aspek komunitas ini diperkuat oleh bai'at dan melalui suasana yang sangat emosional dalam pengajian, di mana para hadirin sering sampai menangis -- hal yang juga terjadi dalam banyak tarekat. Jamaah Imran telah menjadi keluarga baru untuk banyak pemuda dan pemudi, sampai terjadinya kegiatan kekerasan. Peristiwa Cicendo ternyata menghancurkan suasana keluarga, dan sebagian besar pengikut segera memutuskan semua hubungan dengan jamaah; yang tinggal hanya kelompok inti yang kecil saja. Kata penutup Sejauh yang sempat saya amati, gerakan sempalan Islam di Indonesia biasanya tidak muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di pinggirannya. Sebagiannya mungkin bisa dilihat sebagai aspek dari proses pengislaman yang sudah mulai berlangsung enam atau tujuh abad yang lalu dan masih terus berlangsung. Sebagian juga (terutama gerakan yang "radikal") bisa dilihat sebagai "komentar" terhadap ortodoksi yang telah ada, dengan usul koreksi terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang memadai. Selama dialog antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung, fenomena ini mempunyai fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan semakin terasingnya gerakan sempalan tadi mengandung bahaya. Kalau ortodoksi tidak responsif dan komunikatif lagi dan hanya bereaksi dengan melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan salah satu sebab penyimpangan "ekstrim" ini. Terlepas dari hubungan ortodoksi dengan umat "pinggiran", aliran-aliran agama mempunyai suatu fungsi sosial yang cukup penting untuk para penganutnya, yaitu sebagai pengganti ikatan keluarga dan pemberi perlindungan dan keamanan psikologisspiritual. Peran ini tidak dapat dimainkan oleh organisasi agama besar, justeru karena

yang diperlukan adalah hubungan intim dalam sebuah komunitas yang terpisah dari masyarakat/umat yang luas.

[1]

Istilah ini konon pertama kali dipakai oleh Abdurrahman Wahid sebagai pengganti kata "splinter group", kata yang tidak mempunyai konotasi khusus aliran agama, tetapi dipakai untuk kelompok kecil yang memisahkan diri (menyempal) dari partai atau organisasi sosial dan politik. Untuk "splinter group" yang merupakan aliran agama, kata "sekte" lazim dipakai.
[2]

Artikel ini berdasarkan makalah saya untuk seminar "Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia", yang diselenggerakan oleh Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah di Jakarta, 11 Februari 1989, kemudian diperbaiki dengan masukan dari diskusi dengan para peserta program S-2 di IAIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta) yang ikut kuliah saya tentang Sosiologi Agama.
[3]

Seperti diketahui, Syi'ah Itsna'asyariyah sekarang merupakan ortodoksi di Iran. Namun sampai abad ke10 hijriyah (abad ke-16 Masehi), mayoritas penduduk Iran masih menganut madzhab Syafi'i. Faham ini baru menjadi dominan setelah dinasti Safawiyah memproklamirkan Syi'ah sebagai agama resmi negara dan mendatangkan ulama Syi'i dari Irak Selatan.
[4]

Ernst Troeltsch, The Social Teachings of the Christian Churches. London, 1931 (aslinya diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1911). Lihat juga pengamatan Weber tentang sekte-sekte protestan di Amerika Serikat: "Sekte-sekte protestan dan semangat kapitalisme", dalam Taufik Abdullah, editor, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1979, hal. 41-78.
[5]

Pengamatan tajam dan menarik tentang fenomena sekte dan mistisisme di Amerika Serikat masa kini (dengan analisa yang bertolak dari tipologi Troeltsch) terdapat dalam: Robert Bellah dkk, Habits of the Heart: Individualism and Commitment in American Life. New York: Harper & Row, 1986, khususnya hal. 243-8.
[6]

H. Richard Niebuhr, The Social Sources of Denominationalism. New York: Holt, 1929.

[7]

Lihat: J. Milton Yinger, Religion, Society and the Individual. New York: MacMillan Co., 1957, khususnya hal. 147-55.
[8]

Salah satu tulisannya, "Tipologi sekte", telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam: Roland Robertson (ed.), Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis. Jakarta: Rajawali, 1988, hal. 431-462. Sayangnya, terjemahannya mengandung banyak kesalahan sehingga tulisan ini sulit difahami. Untuk lebih lengkap dan jelas, lihat bukunya Sects and Society (Heinemann / California University Press, 1961).
[9]

Beberapa tulisan Sartono Kartodirdjo merupakan kajian penting tentang gerakan millenarian di Indonesia, antara lain "Agrarian Radicalism in Java: its Setting and Development", dalam: Claire Holt (ed), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1972, hal. 71-125. Teori umum dan beberapa kasus penting dibahas dalam: Michael Adas, Prophets of Rebellion: Millenarian Protest Movements against the European Colonial Order. University of North Carolina Press, 1979 (terjemahan

Indonesia: Ratu Adil: Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa. Jakarta: Rajawali 1988).
[10]

Ada pengamatan menarik bahwa beberapa aliran kebatinan pada zaman revolusi mengembangkan latihan kesaktian (silat dengan tenaga dalam, "ilmu kontak", kekebalan dan sebagainya), yang pada masa kemudian dianggap terlalu kasar dan digantikan dengan latihan kejiwaan yang lebih halus. Lihat: Paul Stange, The Sumarah Movement in Javanese Mysticism, Ph.D. thesis, University of Wisconsin, Madison, 1980, bab 5. Berbagai tarekat juga (terutama Qadiriyah) menunjukkan aspek thaumaturgical pada masa revolusi, yang kemudian ditinggalkan lagi.
[11]

Saya memakai istilah karismatik di sini dalam arti asli kata: baik pemimpin karismatik maupun pengikutnya percaya bahwa ia dianugerahi karamah atau kesaktian.
[12]

Mereka menganggap almarhum Syeikh Muhammad bin Abdullah Suhaimi (seorang muslim Jawa di Singapura, mantan guru dari Ustaz Ashaari Muhammad) sebagai Mahdi. Walaupun sudah meninggal dunia, beliau diharapkan akan datang dalam waktu dekat. Syeikh Suhaimi konon telah bertemu dengan Nabi dalam keadaan jaga, dan menerima Aurad Muhammadiyah, yang diamalkan Darul Arqam, dari Beliau. Lihat: Ustaz Hj. Ashaari Muhammad, Aurad Muhammadiyah, Pegangan Darul Arqam. Kuala Lumpur: Penerangan Al Arqam, 1986; juga: Ustaz Ashaari Muhammad, Inilah pandanganku. Kuala Lumpur: Penerangan Al Arqam, 1988
[13]

Ahmadiyah pernah memainkan peranan penting dalam proses pengislaman (atau "pen-santri-an") kaum terdidik di Indonesia pada masa penjajahan. Dalam Jong Islamieten Bond dan Sarekat Islam pengaruhnya sangat berarti. Baru setelah organisasi modernis lainnya berkembang terus, Ahmadiyah menghilangkan fungsinya sebagai pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam. Berkembangnya kritik semakin keras terhadap faham kenabian Ahmadiyah Qadian bisa dilihat sebagai simptom konsolidasi ortodoksi Islam di Indonesia.
[14]

Pergeseran ini, antara lain, terlihat dalam urutan terjemahan karya penulis Syi'ah: Ali Syari'ati disusul oleh Murtadha Muthahhari dan kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli 'irfan (tasawwuf dan metafisika). Sekarang diskusidiskusi lebih sering berkisar sekitar filsafat atau persoalan 'ishmah (apakah para Imam Duabelas ma'shum?) daripada situasi politik Iran.
[15]

Lihat pengamatan tentang peranan tarekat dalam pemberontakan Banten dalam: Sartono Kartodirdjo, The Peasant's Revolt of Banten in 1888. The Hague: Nijhoff, 1966.
[16]

Lihat, antara lain, laporan tentang konflik antara kyai tarekat yang memimpin cabang lokal di Madura dengan pengurus pusat, dalam buku Sarekat Islam Lokal (editor Sartono Kartodirdjo). Jakarta: Arsip Nasional, 1975. Di Jambi, sebuah aliran kekebalan ("ilmu abang") meniru contoh SI dan menamakan diri Sarekat Abang, dan kemudian mencoba mengambil over cabang lokal SI. Tentang Cokroaminoto sebagai "ratu adil", lihat: A.P.E. Korver, Sarekat Islam 1912-1916. Universitas Amsterdam, 1982 (terjemahan Indonesia: Ratu Adil, Grafiti Pers).
[17]

Untuk pengamatan menarik tentang berkembangnya aliran tersebut, lihat artikel Moeslim Abdurrahman, "Sufisme di Kediri", dalam Sufisme di Indonesia [Dialog, edisi khusus, Maret 1978], hal. 23-40.
[18]

Suatu fenomena menarik adalah berkembangnya kecenderungan kepada mistisisme di kalangan menengah di ibukota, seperti dicerminkan dalam majalah Amanah. Mistisisme kelas menengah ini rupanya jarang terorganisir tetapi bersifat "individualisme religius" (menurut istilah Troeltsch; bandingkan komentar dalam catatan 5). Majalah tersebut sering menyoroti "pengalaman rohani" tokoh-tokoh terkenal. Rubrik renungan tasawwuf dalam majalah ini juga cenderung kepada individualisme, dengan menyinggung hubungan pribadi dengan Tuhan semata, dan sejenisnya.

[19]

Lihat: Martin van Bruinessen, "Duit, jodoh, dukun: Remarks on cultural change among poor migrants to Bandung", Masyarakat Indonesia XV, 1988, 35-65 (khususnya 55-60).
[20]

Kesan ini berdasarkan percakapan dengan mahasiswa-mahasiswa di Bandung pada tahun 1983, serta laporan pers tentang pengadilan anggota Jamaah Imran. Di antara buku-buku tentang kasus ini yang telah terbit, yang paling informatif adalah: Anjar Any, Dari Cicendo ke Meja Hijau: Imran Imam Jamaah. Solo: CV. Mayasari, 1982. Namun buku ini hanya menceritakan tentang kegiatan kekerasan kelompok inti saja, tidak banyak tentang pengikut biasa, yang tidak langsung terlibat dalam kegiatan ini.

Darul Sempalan Merakit Ledakan?
Darul Islam diduga terlibat pengeboman. Riwayat gerakan radikal ini memang sarat gejolak. SEJUMLAH bom meledak di Jakarta. Sampai kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab. Mendadak sontak muncul nama organisasi Islam radikal yang disebut-sebut terlibat: tiga faksi garis keras gerakan Darul Islam. Tokoh yang mengungkap mengaku sebagai juru bicara kelompok dari faksi antikekerasan. Dialah AlChaidar, pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 32 tahun silam, yang dikenal cukup produktif menulis pelbagai buku gerakan Islam. Polisi akhirnya meminta keterangan kontroversial ini Jumat pekan lalu. Boleh jadi, seperti disebut Chaidar—yang kemudian membuka diri untuk diwawancarai banyak media massa—faksi radikal itu juga berperan ketika bom meledak di Gereja Petra di Jakarta Utara dan Sekolah Internasional Australia di Jakarta Selatan, belum lama ini. Meski tak gampang membuktikannya, toh pernyataan itu bisa sedikit membuka jatidiri Darul Islam, yang selama ini dikenal getol berjuang di bawah tanah, serba menutup diri, dan jauh dari publikasi. Bagaimana sesungguhnya riwayat Darul Islam? Sejarah Darul Islam (DI) memang sarat pergulatan. Ia muncul sebagai buah perpecahan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) setelah H.O.S. Cokroaminoto, sang pendiri, meninggal dunia pada 1934. Salah satunya adalah sayap yang dipimpin Sukarmaji Marijan Kartosoewirjo. Di tangan tokoh ini, akar DI berkembang pada 1940-an. Tujuannya satu: membentuk Negara Islam Indonesia (NII) dengan cara apa pun. Karena pilihan itu, DI sering mengalami konflik, baik dengan negara maupun secara internal dalam tubuh organisasi. Perpecahan kian mencolok ketika pada 1949 Kartosoewirjo, sebagai imam tertinggi, membubarkan Dewan Imamah DI. Dewan yang berisikan elite petinggi ini diganti menjadi Komandemen Tertinggi. Kartosoewirjo menunjuk dirinya sebagai panglima tertinggi. Ia membawahkan lima komandan wilayah: tiga di Jawa, satu di Sulawesi Selatan, dan satunya lagi di Aceh. Perubahan ini memicu konflik antarpemimpin Darul. Daud Beureueh bersama Abdul Kahar Muzakar memilih berpisah di persimpangan jalan. Daud, yang menganggap Kartosoewirjo gagal menetapkan prioritas kebijakan di Aceh, lalu mendirikan NII Aceh. Sedangkan Kahar mendirikan NII Sulawesi Selatan.

Memang ada perbedaan mendasar antara Kahar Muzakar dan Kartosoewirjo. Kahar menghendaki kerangka negara federal sehingga asas Islam tak perlu diterapkan di seluruh wilayah negara. Sedangkan Kartosoewirjo memilih negara kesatuan di bawah payung Islam. "Kahar dan Daud kemudian bergabung dengan PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi Utara," kata Buhari Kahar Muzakar, anak tertua Kahar yang kini Wakil Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Sul-Sel. Meski berpisah jalan, ketiganya meneruskan mengangkat kapak perang melawan Republik untuk mendirikan NII. Tanpa kompromi. Nasib ketiganya berujung sama, dipatahkan militer Indonesia. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa tiga sayap inilah yang merupakan faksi-faksi utama dalam Darul Islam. Dari ketiganya, hanya Daud yang selamat dan meninggal karena usia tua. Sedangkan Kartosoewirjo dihukum mati militer pada 1962. Kahar tak kalah buruk nasibnya. Ia ditembak pasukan Kujang Batalyon TNI pada 1965. Sejak itu, Darul praktis kehilangan soko guru. Gerakannya memang masih menyala di sejumlah tempat, tapi umumnya hanya dipimpin seorang komandan wilayah. Konflik antarkomandan pun masih terjadi. Di Jawa Barat, misalnya, muncul Adah Djaelani, yang mengaku sebagai imam. Tapi ia ditolak tokoh NII lainnya, Abdul Fatah Wirananggapati. Di Sulawesi Selatan juga muncul NII Ali Hate. Namun, putra Kahar lainnya, Abdul Aziz Kahar, menafikan kelompok ini. "Sejak ayah saya wafat, tak ada lagi NII di Sulawesi Selatan," kata pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah di Jakarta Timur ini. Dalam peta yang digambarkan Chaidar, Darul masih ada. Memang tak sesolid dulu dan mereka terpecah dalam beberapa faksi. Menurut catatan penulis buku Wacana Ideologi Negara Islam: Studi Harakah Darul Islam dan Moro National Liberation Front itu, kini setidaknya terdapat 15 faksi yang digolongkan dalam dua kelompok. Kelompok pertama berorientasi perjuangan secara damai (fillah). Lainnya NII garis keras (sabilillah). Masuk dalam kelompok pertama adalah Toriqunna, Laskar Fatahillah, Khilafatul Muslimin, Lembaga Muslim Indonesia (LMI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Kompi Badar, dan Darul Islam. Sedangkan di kelompok keras tercatat faksi Tahmid, Abdul Fatah, Ali Hate, Mahfud Sidik, Kiai Masduki, Kadar Solihat, Abdullah Sungkar, dan Adah Jaelani. Dari kelompok kedua inilah, dalam perkiraan Chaidar, aksi kekerasan di Jakarta dan sejumlah tempat di Indonesia bersumber. Sejumlah sumber TEMPO membenarkan adanya kelompok sempalan ini. Bekas aktivis NII yang pernah menjadi tahanan politik akibat pembajakan pesawat Woyla, Umar Abduh, misalnya, tak membantah bahwa bibit mereka masih ada. Cuma, ia menolak jika mereka disebut faksi. Sebagai gerakan, NII dianggapnya sudah habis. "Kelompok sempalan itu cuma punya imam. Anggotanya paling be-berapa orang. Kebanyakan hanya klaim," ujarnya. Yang pasti, mereka tak mustahil bikin kekerasan. Prasidono L., Agus Hidayat, Syarief Amir

AWAL PERDEBATAN ISLAM DAN NEGARA DI INDONESIA
By Dedi Syaputra

Wacana tentang makna, penafsiran dan fungsi pancasila telah menjadi perdebatan sepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak bangsa ini merdeka, perdebatan ini selalu menjadi aktual di kalangan akademisi dan politisi Indonesia sampai saat ini. Apalagi didorong dengan lahirnya beberapa Partai Islam, permintaan diberlakukannya syariat Islam di Aceh (NAD), munculnya teroris-teroris yang berkedok Islam, laskar serta organisasi yang bernafaskan Islam kanan, di antaranya Laskar Jihad, Hizbu Tahrer, Jaringan Islamiyah dan Front Pembela Islam (FPI). Selain itu yang paling jelas menjadi indikator perlunya kejelasan relasi Islam dan negara dalam kehidupan berbangsa terlihat pada menguatnya ide-ide pencantuman Syari‘at Islam dalam amandemen UUD 45 setiap ST MPR hasil pemilu 1999.1 Hal ini juga sering terjadi dalam wacana politik Indonesia di penghujung tahun 1990-an yang juga sibuk memperdebatkan ideologi dan peristiwa-peristiwa politik yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, di antaranya mengenai hubungan Islam dan negara, peran ABRI dalam politik, dan bentuk demokrasi yang sesuai dengan negara ini.2 Dalam tulisan ini penyusun menitikberatkan pada masalah yang pertama yaitu mengenai hubungan Islam dan negara. Untuk memperjelas tahap-tahap perjuangan umat Islam Indonesia dalam merespon perdebatan Islam dan negara. M. Rusli Karim membagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 1912 hinggga proklamasi kemerdekaan, tahap kedua 1945-1955, tahap ketiga, 1955-1965 dan tahap keempat 1965 sampai sekarang.3 Akan tetapi dalam bab ini penyusun akan memfokuskan asal-usul lahirnya perdebatan Islam dan negara sepanjang sejarah perpolitikkan Indonesia secara global. Perdebatan ini mulai aktual sejak dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai upaya persiapan kemerdekaan yang diharapkan,4 dan telah disetujui oleh pemerintahan Jepang. Hal ini juga dinyatakan dalam pidato Perdana Menteri Kuniaki Koiso kepada Parlemen Jepang pada tahun 1944 yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dalam “waktu dekat”.5 Akan tetapi kalau kita teliti lebih dalam bahwa persinggungan antara Islam dan negara di Nusantara ini sudah berlangsung lama sebelum Indonesia merdeka yakni di bawah tekanan kolonial Belanda dan Jepang, namun demikian untuk melacak isu tentang istilah negara Islam di Indonesia bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena sejauh ini yang diketahui hanyalah pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI) seperti Surjopronoto dan Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang telah mewacanakan suatu kekuasaan atau pemerintahan Islam di akhir tahun 1920-an.6 Saat itu Surjopronoto menggunakan tema een Islamietsche regeering (Suatu Pemerintahan Islam) sementara Sukiman memakai istilah een eigen Islamietisch bestuur onder een eigen vlag (Suatu kekuassan Islam di bawah

benderanya sendiri) semua ini digunakan untuk menciptakan kekuasaan Islam di Indonesia yang substansinya sebagai alat mencapai kemerdekaan.7 Barangkali wacana dan teori tentang Negara Islam ini belum banyak ditulis secara terperinci oleh pemimpin Islam pada saat itu, sehingga dalam sidang BPUPKI pada 1945 wacana ini terkesan begitu aktual diperdebatkan karena secara resmi peristiwa ini muncul pertama kalinya dalam panggung politik Indonesia. Anggota BPUPKI ini terdiri dari berbagai macam kelompok ideologi yang akhirnya mengalami kesulitan dalam mencari titik temu (Kalimah as-Sawa’) posisi masing-masing anggota tersebut, di antaranya. Pertama, mereka yang ingin menegakkan demokrasi konstitusional sekuler. Kedua, mereka yang menganjurkan negara integralistik, dan ketiga. Yang paling emosional dan konfrontasional adalah mereka yang menginginkan Islam dijadikan dasar negara.8 Badan penyelidik ini mengadakan dua kali sidang, pada sidang pertama, dari 29 Mei - 2 Juni 1945 membahas masalah umum, dalam sidang ini Soekarno membuat pidato yang sangat berpengaruh tentang dasar negara dan kemudian dikenal dengan Lahirnya Pancasila.9 Sedangkan pada sidang kedua, 10-14 Juni 1945 membahas tentang isi konstitusi negara yang akan dibentuk.10 Dalam kedua pembahasan sidang ini menimbulkan perdebatan keras di antara para anggota penyelidik terutama kalangan Islam yang diwakili Abdoel Kahar Moezakkir dengan cita-cita ideologi Islamnya dan kalangan nasionalis diwakili oleh Soekarno yang cenderung netral terhadap agama. Masalah yang sangat krusial dan mengundang perdebatan dalam sidang ini adalah tentang “peletakkan dasar negara” sebab masalah ini berkaitan dengan integritas agama, budaya dan bangsa yang plural. Karena khawatir akan kegagalan Badan Penyelidik yang terus-menerus semakin memanas maka para anggota mengambil iniasiatif dengan membentuk panitia BPUPKI yang terdiri dari 9 orang.11 Semula anggota BPUPKI ini berjumlah 62 orang, lalu ditambah enam orang yang kebanyakan berasal dari Jawa dan satu orang lagi dari Jepang yakni Ichibangase yang menjabat sebagai ketua yunior dan anggota luar biasa, untuk mengamati secara lebih detail keanggotaan Badan Penyelidik ini maka penyusun paparkan pendapat Prawoto Mangkusasmito, dari 68 anggota BPUPKI, hanya 15 orang (+ 20%) yang menyuarakan aspirasi politik Islam yakni berasal dari nasionalisme-Islam, sedangkan 80 %-nya berasal dari kelompok nasionalis-sekuler.12 Statistik ini menunjukkan betapa tidak seimbangnya representasi dari masing-masing kelompok itu. Di antara wakil dari kelompok Islam yaitu; K. H. Mas Mansur, Abdul Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Masykur, K.H. A. Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosujoso, H. Agus Salim, Sukiman Wiryosanjoyo, K.H. A. Sanusi, dan K.H. Abdul Halim, sedangkan wakil dari kelompok nasionalis, antara lain, Rajiman Widiodiningrat, Soekarno, Mohammad Hatta, Prof. Soepomo, Wongsonegoro, Sartono, R. P. Soeroso, Dr. Buntaran Martoatmojo dan Muhammad Yamin, untuk Ketua dan wakil ketua BPUPKI dijabat oleh Rajiman Widiodiningrat dan R. P. Soeroso, ini menunjukkan bahwa kepemimpinan BPUPKI berada di tangan kelompok nasionalis. 13

Akan tetapi karena banyaknya anggota Badan Penyelidik yang malah dikhawatirkan akan membawa kegagalan Badan Penyelidik itu sendiri (atas perdebatan yang semakin memanas) maka dibentuklah Panitia Kecil BPUPKI yang hanya terdiri dari 9 orang itu, yaitu: empat orang dari kalangan Islam (H. Agus salim, K.H. Wahid Hasyim, Abikusno, dan Abdul Kahar Muzakkir) dan lima orang dari kalangan Naionalis (Soekarno, Mohammad Hatta, A. A. Maramis, Achmad Subarjo, dan M. Yamin).14 Dalam panitia ini, Islam politik mempunyai kepentingan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara, sebab menurutnya yang paling banyak berkorban dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah kelompok Islam. Kepentingan tersebut menimbulkan reaksi keras dari kelompok nasionalis sekuler yang memang secara kuantitatif anggota mereka dalam badan ini merupakan mayoritas, sebagai jalan tengah akhirnya Jepang membentuk “Panitia Sembilan” di atas. Pada tanggal 21 Juni 1945 BPUPKI menyetujui Piagam Jakarta yang rumusan sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan Syari‘at Islambagi pemeluk-pemeluknya”,15 kesepakatan ini merupakan hasil perjuangan Islam politik dalam kepentingannya saat itu, akan tetapi umat Islam terpaksa harus kecewa karena dalam UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 itu, ternyata telah menghapuskan Piagam Jakarta tersebut.16 Ini merupakan kekecewaan Islam politik yang pertama dalam perjuangan politiknya. Diterimanya pancasila sebagai asas dan ideologi negara merupakan puncak dari pertentangan dan sekaligus menunjukkan kekalahan kelompok Islam yang harus berkompromi dengan kepentingan lain. Umat Islam yang sebelumnya memperjuangkan ideologi Islam sebagai dasar negara dalam mukadimah UUD 1945 harus mengalah dengan pancasila. Keinginan keras umat Islam saat itu bisa dimaklumi, selain sebagai pejuang mayoritas kemerdekaan, pancasila sendiri menyimpan dua faktor yang sangat debatable. Pertama, tentang kandungan pancasila itu sendiri. Kedua, tentang makna penting pancasila jika dibanding dengan agama.17 Kompromi politik dalam bentuk Piagam Jakarta rupanya hanya mampu bertahan selama 57 hari, ini dikarenakan pengiring redaksi sila pertama yang mewajibkan umat Islam menjalankan Syari‘at Islamdirasakan oleh kawasan Timur Indonesia sebagai sikap diskriminatif terhadap pemeluk agama lain.18 Maka demi persatuan bangsa akhirnya para pemimpin politik Islam terpaksa menelan kekecewaan cita-cita politiknya pada 18 Agustus 1945 dengan menghilangkan anak kalimat tersebut dari pembukaan UUD 1945. Peristiwa ini dikenal sebagai sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang merupakan pengganti dari BPUPKI yang telah dibubarkan. Jumlah anggota PPKI semula sebanyak 21 orang, kemudian atas usul Soekarno akhirnya ditambah menjadi 27 orang, dan yang menarik dicermati dari total jumlah ini ternyata hanya tiga anggota dari organisasi Islam, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Wahid Hasyim dan Kasman Singodimedjo.19 Betapa ironisnya umat Islam sebagai mayoritas populasi dan penggerak melawan penjajah di negeri ini hanya diwakili oleh tiga anggota.

Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 bertujuan menetapkan UUD dan memilih presiden dan wakilnya, kebetulan presiden yang dipilih adalah ketua dan wakil PPKI saat itu yaitu Soekarno dan Hatta. Secara kultural Soekarno mewakili kultur Jawa sedangkan Hatta dari kultur Minang/Sumatera, terang saja latar belakang Hatta ini bisa dijadikan pelebur sikap keras Ki Bagus yang selalu bersekukuh mempertahankan rumusan Piagam Jakarta. Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi konsistensi Ki Bagus yang tetap bertahan dengan Piagam tersebut, maka melalui Hatta yang memanfaatkan Teuku Moehammad Hassan anggota PPKI dari Sumatera berhasil melunakan sikap keras Ki Bagus dan dalam waktu 15 menit anak kalimat pada sila Ketuhanan itu diganti dengan Yang Maha Esa.20 Akar perdebatan ini tidak lepas dari letupan pertarungan ideologi saat itu, yaitu Nasionalis dan Islam.21 Golongan nasionalis adalah kelompok yang berprinsip bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan negara) harus dipisahkan secara tegas dan proporsional, dengan keyakinan bahwa fungsi agama hanya mengurusi ajaran-ajaran yang berkaitan dengan kehidupan akhirat dan urusan pribadi saja, Sedangkan negara memang merupakan masalah politik yang berurusan dengan duniawi.22 Sementara itu golongan Islam saat itu berprinsip bahwa agama (dalam hal ini Islam) tidak dapat dipisahkan dari urusan kenegaraan, karena Islam menurut mereka tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan saja, melainkan juga hubungan sesama manusia, lingkungan dan alam semesta.23 Indikasi pertarungan ideologi ini bisa dilihat sejak tahun 1920-1930-an dari kasus retaknya hubungan Sarekat Islam (SI) dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI), kasus Jawi Hisworo, majalah Timboel, Swara Oemoem dan peristiwa itu perdebatan sengit antara tokoh Nasionalis-Muslim, seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Hassan dan M. Natsir dengan tokoh-tokoh Nasionalis-sekuler yang diwakili Tjipto Mangunkusumo, Soekarno dan lain-lain, Polemik inilah yang kemudian berlanjut sampai sekarang. 24 Di sisi lain, konsep “Piagam Madinah” dan praktek pemerintahan Islam pada zaman Rasulullah, sahabat dan komunitas muslim lainnya juga ikut mempengaruhi lahirnya perdebatan Islam dan negara di Indonesia, sebab munculnya terma Piagam Jakarta di Indonesia sedikit banyak terinspirasi dari konsep Piagam Madinah yang pasti tidak bisa lepas dari persinggungan wacana politik Islam yang telah berlaku di bangsa Arab itu. Selain itu praktik pemerintahan Negara Turki yang memisahkan negara dan agama juga ikut mewarnai perdebatan ini.25 Jadi, untuk memaparkan secara lebih jelas pemikiran politik tokoh Islam dan keterkaitan mereka dalam memperjuangkan negara berdasarkan Islam di Indonesia, perlu penyusun bahas secara singkat tentang teori-teori yang diajukan para intelektual muslim. Secara umum pemikiran politik Muslim bisa diklasifikasikan menjadi tiga teori.26 Pemikiran pertama berpendapat bahwa negara dan agama tidak harus dipisahkan, karena Islam merupakan agama yang integral dan komprehensif dalam mengatur kehidupan baik urusan duniawi maupun ukhrawi, oleh sebab itu menurut pandangan ini konstitusi negara harus didasarkan pada Islam. Tokoh teori ini antara lain , Abu A’la Maududi27 (1903-

1979) dari Pakistan yang memimpin Jamiy‘ah al-Isla>m, Sayyid Qutb28 (1906-1966) dan para ideolog lain Ikhwan al-Muslimin29 dari Mesir. Baik Jam‘iyah al-Islam maupun Ikhwan al-Muslimin dikenal sebagai gerakan Fundamentalis di Iran, Pakistan dan Saudi Arabia, hal ini bisa dilihat dari jargon politiknya bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan Negara) tidak bisa dipisahkan.30 Pandangan komprehensif ini dikutip dari nash alQur’an31: (٢٠٨: ‫.ياأيهاالذ ين أمنوا ادخلوا فىالسلم كّفة ول تتبعوا خطوات الشيطـن إ ّه لكم عدو ّبين!)البقرة‬ ‫ّم‬ ‫ن‬ ‫آ‬ Menurut teori yang kedua, agama dan negara harus dipisahkan, urusan agama sebatas pada urusan pibadi dan ukhrawi tidak perlu mencampuri urusan politik. Oleh sebab itu konstitusi negara dalam pandangan ini tidak harus didasarkan pada Islam, namun pada nilai sekuler, contoh konkret teori ini adalah negara Turki Modern. Teori ketiga, sepakat dengan adanya pemisahan antara agama dan negara dalam arti konstitusi negara tidak harus didasarkan Islam, akan tetapi nilai agama harus menjadi ruh kehidupan masyarakat bernegara, 32 Ketiga teori ini mewakili pilihan-pillihan yang dapat menentukan karakteristik struktur sosial dan politik negara-negara muslim dunia dalam menghadapi tantangan modernitas. Terutama teori pertama ini sangat kuat mewarnai pemikiran politik muslim Indonesia tahun 1940-an dan 1950-an, karena dalam sidang BPUPKI 1945 maupun konstituante (1956-1959) para pemimpin muslim berjuang keras agar Islam dijadikan dasar negara.33 Selain itu tidak ada indikasi yang tampak bahwa pemikiran politik nasionalis-muslim Indonesia saat itu, dipengaruhi oleh Kemal Attaturk ataupun Ali Abd al-Raziq (18881966) yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah berupaya membangun sebuah negara, beliau hanyalah seorang utusan yang dikirim oleh Tuhan semata. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, konflik ideologi antara kaum nasionalis-sekuler dan nasionalis-muslim bisa diperkirakan sejak menjelang kemerdekaan (Sidang BPUPKI). Melengkapi data sebelumnya, pada tanggal 31-Mei 1945 Soepomo lebih mendukung gagasan Hatta yang mengusulkan bentuk Indonesia sebagai negara kesatuan daripada keinginan umat Islam dalam meletakkan dasar negara , yakni memisahkan negara dari persoalan agama.34 Menurut Soepomo sendiri, jika negara Islam diciptakan di Indonesia maka sudah pasti persoalan minoritas, persoalan kelompok-kelompok kecil agama dan yang lainnya akan muncul. Meskipun Islam menjamin kelompok agama lain sebaik mungkin, kelompok kecil ini tidak akan merasakan keterlibatannya dalam negara, karena cita-cita negara Islam tidak sesuai dengan cita-cita negara kesatuan yang diharapkan bersama.35 Pada tahun 1953 Soekarno juga mengungkapkan kekhawatirannya secara terbuka tentang implikasi-implikasi negatif yang muncul, apabila umat Islam Indonesia tetap memaksakan kehendaknya (negara Islam), yakni pengakuan Islam secara legal formal di negara ini.36 Dengan mengingat kekhawatiran yang diungkapkan Hatta pada tahun 1945, Soekarno mengatakan bahwa ia cemas, kalau banyak bagian negara Republik Indonesia

memisahkan diri, atau negara bekas jajahan Hindia Belanda seperti Irian Barat juga tidak ikut menggabungkan diri dengan Indonesia yang ber-ruh Islami ini.37 Melihat keberatan kelompok nasionalis-muslim terhadap Negara Sekuler mengharuskan kita meninjau kembali sejarah Islam yang menyatukan pemahaman antara agama (di>n) dan negara (daulah). Istilah “negara” dalam bahasa Indonesia mempunyai arti; pertama, organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Kedua, kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.38 Dalam Bab ini penyusun merasa perlu mengkaji pula istilah-istilah dalam kajian politik Islam seperti daulah, khalifah, imamah dan kesultanan yang seringkali dikonotasikan dengan istilah negara. Di samping itu teori-teori tersebut paling tidak ikut mempengaruhi pemikiran politik Islam di Indonesia. a.Daulah. Istilah daulah berasal dari bahasa Arab yang bermakna bergilir, beredar dan berputar (rotate, alernate, take turns or Occur priodically).39 menurut Olaf Schuman istilah “daulah” sama dengan “dinasti atau wangsa” yang berarti sistem kekuasaan yang berpuncak pada seorang pribadi dan didukung oleh keluarganya atau clanya.40 Jadi dalam konteks sekarang istilah tersebut bisa diartikan negara, selain itu Paham ini juga erat dengan paham Da>r al-Islamyang bermakna bahwa kekuasaan tertinggi terletak di tangan seorang penguasa muslim yang memberlakukan Hukum Islam sebagai hukum utama di dalam wilayahnya.41 Menurut sejarah istilah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam ketika masa kemenangan kekhalifahan dinasti Abbasiyyah pada pertengahan abad delapan.42 Kalau memang istilah ini pernah ada, berarti masa itu terdapat pada daullah Umayyah yang kemudian begilir pada keluarga Bani Abbas (Daulah Abbasiyyah).43 b.Khilafah. Istilah “Khilafah” berasal dari bahasa arab yang bermakna perwakilan atau pergantian. Dalam perspektif politik sunni, khilafah didasarkan pada dua rukun, yaitu: konsensus elit politik (ijma‘) dan pemberian legitimasi (Bay‘ah).44 Oleh sebab itu sudah menjadi hal yang lazim dalam pemilihan pemimpin Islam bahwa pemilihan pemimpin ditetapkan oleh elit politik melalu ijma‘ kemudian baru di Bay‘ah , menurut Harun Nasution sistem ini menyerupai dengan sistem republik daripada sistem kerajaan, karena pemimpin dalam hal ini dipilih bukan merupakan sistem monarkhi yang bersifat turun-temurun.45 Sistem khilafah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam setelah Nabi Muhammad wafat, yaitu pada masa khalifah Abu Bakar, dalam pidato inagurasinya Abu Bakar menyatakan dirinya sebagai Khalifah Rasul Allah dalam artian sebagai “Pengganti Rasulullah” yang bertugas meneruskan misi-misinya.46 Sedangkan menurut Bernard

Lewis istilah khalifah muncul pertama kali pada masa pra-Islam abad ke-6 Masehi dalam suatu prasasti Islam di Arabia.47 c.Imamah. Selain kedua istilah di atas, “imamah” dalam kajian Islam juga sering digunakan sebagai teori yang menyerupai makna negara. Menurut Mawardi, imam bisa dimaknai khalifah, raja, sultan atau kepala negara, dengan demikian menurut Munawir Sjadzali, Mawardi memberikan ruang bagi agama suatu jabatan politik yaitu kepala negara.48 Sementara menurut Taqiyuddin an-Nabhani, imamah dan khilafah merupakan dua istilah yang sama maknanya, karena khilafah adalah suatu kepemimpinan yang berlaku secara umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at dan mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.49 Pada dasarnya teori imamah lebih banyak berkembang di aliran syi’ah daripada aliran sunni, dalam aliran Syi’ah Imama>h menekankan dua rukun, yaitu kekuasaan imam (wilayah) dan kesucian Imam (‘ismah).50 d.Kesultanan. Adapun istilah kesultanan seringkali diartikan kekuasaan dalam kitab al-Qur’an, menurut Lewis ada seorang penulis dari kelompok scribal, Abd Hamid, yang hidup pada awal abad kedelapan, secara umum menggunakan istilah sultan untuk pemerintah.51 Dari uraian di atas, tampak bahwa istilah negara dalam Islam memiliki beberapa sinonim di antaranya Daulah, Khilafah, Ima>mah dan S{ult}aniyyah, oleh sebab itu merupakan hal yang lazim kalau wacana Negara Islam selalu hangat untuk diperdebatkan, karena secara de facto ternyata Islam mempraktekkan beberapa istilah yang bersinonom dengan konsep negara, sedangkan secara konseptual atau de jure Islam memang tidak mengenal konsep negara yang detail. Namun demikian patut diteliti apakah teori-teori tersebut untuk konteks modern saat ini bisa dikategorikan sebuah konsep negara. Mengingat wacana negara Islam di Indonesia selalu menjadi perdebatan panjang dalam sejarah didirikannya negara ini, sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. Patut dicari apa sebenarnya yang membuat tokoh muslim berkeinginan keras meletakkan Islam sebagai dasar negara Indonesia? Salah satu jawaban atas pertanyaan ini, yaitu karena mereka bertujuan menerapkan Syari‘at secara efektif di seluruh penjuru wilayah negara, M. Natsir salah satu tokoh Islam yang kontra dengan gagasan Soekarno mengklaim bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu cita-cita Islam oleh sebab itu pencapaian kemerdekaan Indonesia merupakan bagian integral dari perjuangan Islam untuk menerapkan Syari‘at.52 Tampaknya klaim ini didasarkan pada kenyataan saat itu, bahwa umat Islam Indonesia sebagai kelompok mayoritas mempunyai peran yang sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Untuk mendukung opini ini bisa dilihat dari semangat jihad Islam yang terukir dalam sejarah tanah air ini, seperti Sultan Babullah

dari Ternate, Sultan Hasanuddin dari Makassar, Pangeran Diponegoro (pemimpin Perang Diponegoro 1825-1830, Imam Bonjol (pemimpin Perang Padri 1921-1937), Teuku Umar, Tjut Nya’Dien dan Tengku Tjhik di Tiro (pemimpin Perang Aceh tahun 1872-1912).53 Di samping itu terdapat juga ulama-ulama Jawa, salah satunya Syekh Hayim Asy’ari yang terkenal dengan “Resolusi Jihadnya”. Selain alasan di atas, kekecewaan umat Islam atas dihapuskannya “Piagam Jakarta” bisa juga dipahami melalui berbagai organisasi kultural dan ekonomis Islam yang telah didirikan jauh sebelum Indonesia merdeka, apalagi organisasi tersebut banyak memberi konstribusi dalam kemerdekaan ini, misalnya Sarekat Islam (didirikan tahun 1912), gerakan Modernis Muhammadiyah (yang juga didirikan tahun 1912, dan organisasi Tradisionalis NU (didirikan 1926).54 Menurut hemat penyusun organisasi ini merupakan alat konsolidasi yang sangat efektif saat itu. Meski dalam kenyataanya umat Islam merupakan mayoritas dalam bangsa ini dan organisasi Islam memainkan peran penting pada masa kemerdekaan, menurut Fred von den Mehden “Indonesia sebagai satu bangsa Islam tidak seluruhnya sepakat dengan apa yang harus dilakukan sebagai pemeluk Islam”.55 Hal ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan penafsiran dan praktik agama yang dikerjakan, sebagaimana yang dinyatakan Cliford Geertz bahwa rakyat Indonesia terbagi menjadi tiga aliran atau trikotomi, yaitu Priyayi, Santri dan Abangan.56 Perbedaan relegius dan politik dalam komunitas Muslim tampak jelas dalam wacana pancasila, Seperti halnya yang penyusun bahas di atas. Dengan demikian suatu dinamika “Islam versus Pancasila” telah mempengaruhi sebagian besar perdebatan dan wacana pemikiran politik Indonesia sepanjang tahun 1980-an sampai 1990-an.57 Sebagaimana yang akan dibahas dalam bab-bab berikut, dinamika ini memiliki implikasi-implikasi penting bagi perpolitikan nasional. Dalam catatan sejarah, tuntutan-tuntutan Islam politik atas negara sangat tampak dalam pemberontakkan Darul Islam melawan Pemerintahan Pusat antara tahun 1948-1962.58 Akibat serangan pemberontakan ini, bentuk konkret ancaman “ekstrem kanan” (istilah yang secara resmi dipakai untuk menunjuk fundamentalisme Islam di era Orde Baru) semakin jelas. Djohan Effendi menambahkan bahwa Darul Islam mempertinggi kecurigaan militer bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara partai-partai Islam dengan pemberontak Darul Islam. Satu-satunya perbedaan, menurut pihak militer adalah bahwa yang pertama memperjuangkan negara Islam dengan jalan legal, sedangkan yang kedua dengan kekuatan illegal.59 Deliar Noer, tidak sepakat dengan cara pandang militer ini, baginya cita-cita partai Islam ini dilakukan secara demokratis. Jadi tentu berbeda dengan gerakan Darul Islam yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo, gerakan ini menggunakan kekerasan dan mementingkan simbol-simbol, seperti nama Darul Islam, istilah Imam untuk Kepala negara dan lain sebagainya, Sedangkan partai Islam lebih pada substansi tujuan. Dalam kasus ini gerakan Kartosuwiryo tidak berkesempatan mengembangkan pemikiran substansi tujuannya karena terburu menggunakan kekerasan.60 Peristiwa ini sedikit

banyak menumbuhkan citra negatif pada sebagian kalangan bangsa kita dalam merespon hubungan Islam dan negara, yang kemudian berdampak negatif pula terhadap cita-cita dan perjuangan partai-partai Islam selama ini. Dan saat itu, citra negatif ini digunakan untuk mendeskriditkan kedudukan partai Masyumi61 dan umat Islam secara umum. Padahal dalam kasus DI ini secara perlahanlahan juga ditunggangi oleh golongan yang tidak bersimpati terhadap RI, di antaranya orang-orang Belanda seperti Jungschlager, Schmidt, dan Van Kleef. Selain itu masalah pemberontakan PRRI/Permesta (1958-1961) juga sering dihubungkan dengan cita-cita Islam sehingga membuat partai Masyumi dibubarkan (tahun 1960), walupun banyak orang Kristen yang terlibat di dalamnya karena tokoh-tokoh cabang Parkindo dan komandan daerah yang beragama Kristen jelas-jelas menyokong pemberontakan ini.62 Posisi Islam semakin mengkhawatirkan ketika Soekarno membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi, karena dituduh terlibat dalam pemberontakan regional berideologi Islam. Dalam usaha menyeimbangkan kekuatan-kekuatan ideologis antara Islam, nasionalisme, dan komunisme Soekarno tidak hanya menganjurkan konsep Pancasila, melainkan juga sebuah konsep NASAKOM,63 yang akhirnya malah menimbulkan struktur politis dan ideologis yang labil pada awal tahun 1960-an karena masing-masing kepentingan politisnya jelas saling berlawanan.64

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->