Teori Orbital Molekul

Faktor elektronik yang menentukan ikatan dan struktur
Orbital atom adalah fungsi gelombang electron dalam suatu atom. Karena kebolehjadian menemukan elektron dalam orbital molekul sebanding dengan kuadrat fungsi gelombang, peta elektron nampak seperti fungsi gelombang. Suatu fungsi gelombang mempunyai daerah beramplitudo positif dan negatif yang disebut cuping (lobes). Tumpang tindih cuping positif dengan positif atau negatif dengan negatif dalam molekul akan memperkuat satu sama lain membentuk ikatan, tetapi cuping positif dengan negatif akan meniadakan satu sama lain tidak membentuk ikatan. Besarnya efek interferensi ini mempengaruhi besarnya integral tumpang tindih dalam kimia kuantum. Dalam pembentukan molekul, orbital atom bertumpang tindih menghasilkan orbital molekul yakni fungsi gelombang elektron dalam molekul. Jumlah orbital molekul adalah jumlah atom dan orbital molekul ini diklasifikasikan menjadi orbital molekul ikatan, non-ikatan, atau antiikatan sesuai dengan besarnya partisipasi orbital itu dalam ikatan antar atom. Kondisi pembentukan orbital molekul ikatan adalah sebagai berikut. Syarat pembentukan orbital molekul ikatan (1) Cuping orbital atom penyusunnya cocok untuk tumpang tindih. (2) Tanda positif atau negatif cuping yang bertumpang tindih sama. (3) Tingkat energi orbital-orbital atomnya dekat. Kasus paling sederhana adalah orbital molekul yang dibentuk dari orbital atom A dan B dan akan dijelaskan di sini. Orbital molekul ikatan dibentuk antara A dan B bila syarat-syarat di atas dipenuhi, tetapi bila tanda salah satu orbital atom dibalik, syarat ke-2 tidak dipenuhi dan orbital molekul anti ikatan yang memiliki cuping yang bertumpang tindih dengan tanda berlawanan yang akan dihasilkan (Gambar 2.15). Tingkat energi orbital

Simbol orbital yang tidak terdegenerasi adalah a atau b. p-d. Dua atau lebih orbital molekul yang berenergi sama disebut orbital terdegenerasi (degenerate). .16) dan ikatan pi dibentuk oleh tumpang tindih orbital p-p. Elektron menempati orbital molekul dari energi terendah ke energi yang tertinggi. semakin kuat ikatan. Semakin besar selisih energi orbital ikatan dan anti ikatan. Selain itu. orbital molekul yang dihasilkan adalah orbital non ikatan. Suatu orbital sigma mempunyai simetri rotasi sekeliling sumbu ikatan. s-d. sementara tingkat energi orbital molekul anti ikatan lebih tinggi dari tingkat energi orbital atom penyusunnya. Bilangan sebelum simbol simetri digunakan dalam urutan energi untuk membedakan orbital yang sama degenarasinya. Simbol g (gerade) ditambahkan sebagai akhiran pada orbital yang sentrosimetrik dan u (ungerade) pada orbital yang berubah tanda dengan inversi di titik pusat inversi. orbital-orbital itu dinamakan sigma (σ) atau pi(π) sesuai dengan karakter orbitalnya. yang terdegenerasi ganda e. p-d. Oleh karena itu. dan yang terdegenerasi rangkap tiga t. dan orbital pi memiliki bidang simpul. dan d-d (Gambar 2.molekul ikatan lebih rendah.17). ini Ken’ichi Fukui (pemenang Nobel 1981) menamakan orbital-orbital orbital-orbital terdepan (frontier). Orbital molekul terisi dan berenergi tertinggi disebut HOMO (highest occupied molecular orbital) dan orbital molekul kosong berenergi terendah disebut LUMO (lowest unoccupied molecular orbital). dan d-d (Gambar 2. ikatan sigma dibentuk oleh tumpang tindih orbital s-s. p-p. Bila tidak ada interaksi ikatan dan anti ikatan antara A dan B.

18). orbital molekul adalah kombinasi linear orbital atom (linear combination of the atomic orbitals (LCAO)) diungkapkan sebagai : Hanya orbital-orbital atom kulit elektron valensi yang digunakan dalam metoda orbital molekul sederhana. dan dua elektron σg mengisi orbital 2. Dalam molekul hidrogen. ikatan (Gambar Dalam molekul dua atom periode dua. tumpang tindih orbital 1s masingmasing atom hidrogen membentuk orbital ikatan σg bila cupingnya mempunyai tanda yang sama dan antiikatan σu bila bertanda berlawanan. dari litium Li2 sampai flourin F2. Pembentukan orbital molekul diilustrasikan di bawah ini untuk kasus sederhana molekul dua atom.Bila dua fungsi gelombang dari dua atom dinyatakan dengan φA dan φB. 1σg . H2. Semua tingkat di bawah HOMO terisi dan semua tingkat di atas LUMO kosong. bila sumbu z adalah sumbu ikatan.

Oleh karena itu. HF. sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 2. dan orbital molekul lebih dekat sifatnya pada orbital atom yang tingkat energinya lebih dekat. Orbital ikatan 1σ mempunyai karakter fluorin.21. dibentuk dari orbital 1s hidrogen dan orbital 2s dan 2p fluor. orbital ikatan mempunyai karakter atom dengan keelektronegativan lebih besar. tumpang tindih dengan orbital 2p fluor dengan karakter π tidak efektif. dan 2py.dan 1σu dibentuk oleh tumpang tindih orbital 2s dan 2σg dan 2σu dari orbital 2pz dan 1πu dan 1πg dari 2px. dan orbital 2p fluor . Tingkat energi orbital molekul dari Li2 sampai N2 tersusun dalam urutan 1σg Orbital molekul dua atom yang berbeda dibentuk dengan tumpang tindih orbital atom yang tingkat energinya berbeda. dan orbital 3σ anti ikatan memiliki karakter 1s hidrogen. lima orbital molekul dalam hidrogen fluorida. Tingkat energi atom yang lebih elektronegatif umumnya lebih rendah. Karena hidrogen hanya memiliki satu orbital 1s. Misalnya. dan orbital anti ikatan mempunyai karakter atom dengan ke-elektronegativan lebih kecil.

tingkat energi setiap orbital berbeda dari tingkat energi molekul nitrogen. orbital nonikatan ini menjadi HOMO. CO. Orbital antiikatan 2π dan 4σ memiliki karakter 2p karbon (Gambar 2. Dalam karbon monoksida. karbon dan oksigen memiliki orbital 2s dan 2p yang menghasilkan baik ikatan sigma dan pi. Karena HF memiliki delapan elektron valensi.menjadi orbital nonikatan. dan ikatan rangkap tiga dibentuk antar atomnya. . Walaupun 8 orbital molekulnya dalam kasus ini secara kualitatif sama dengan yang dimiliki molekul yang isoelektronik yakni N2 dan 10 elektron menempati orbital sampai 3σ.22). Orbital ikatan 1σ memiliki karakter 2s oksigen sebab oksigen memiliki ke-elektronegativan lebih besar.

d atom pusat dan orbital ligan dengan mengasumsikan logamnya di pusat koordinat dan ligan di sumbu-sumbu koordinat. orbital ikatan memiliki karakter ligan lebih besar dan orbital non-ikatan dan anti-ikatan lebih memiliki karakter logam. Akibat interaksi antara logam dan ligan terbentuk orbital molekul ikatan. non-ikatan dan anti-ikatan. Umumnya. Karena . Proses pembentukan orbital molekul σ dan π dideskripsikan tahap demi tahap berikut ini. Teori orbital molekul kompleks logam transisi Karakteristik ikatan logam transisi–ligan menjadi jelas dengan analisis orbital molekul dari logam 3d yang dikoordinasi oleh enam ligan yang identik. orde ikatannya adalah (8 – 2)/2= 3 dan nilai ini konsisten dengan struktur Lewisnya. dalam N2 atau CO. dalam kompleks [ML6]. Misalnya.Orde ikatan antar atom adalah separuh dari jumlah elektron yang ada di orbital ikatan dikurangi dengan jumlah yang ada di orbital anti ikatan. tingkat energi orbital ligans lebih rendah dari tingkat energi orbital logam. Orbital σ Pertama perhatikan ikatan M-L dan interaksi orbital s. p.

dyz. dz2) dan ligan di sudut oktahedral dari membentuk orbital σ tetapi set t2g (dxy. Ikatan π . tidak terdegenerasi) orbital px. Antara orbital logam eg dan kelompok orbital ligan dan orbital molekular ikatan dan anti-ikatan akan terbentuk.9). orbital s logam (a1g. py. Misalnya.ikatan σ tidak memiliki simpul sepanjang sumbu ikatannya. Hubungan ini ditunjukkan di Gambar 6. dxz) tetap non-ikatan sebab orbitalnya tidak terarahkan ke orbital σ. enam orbital atomik ligan dikelompokkan dengan mengkombinasikan linear sesuai dengan simetri orbital logamnya. yang cocok dengan orbital logam t1u adalah orbital ligan t1u(σ1−σ2. Perbedaan energi antara kedua tingkat tersebut berkaitan dengan pembelahan medan ligan splitting.2σ5+2σ6−σ1−σ2−σ3−σ4). terdegenerasi rangkap dua) akan cocok dengan simetri (tanda +. Gambar 6. 18 elektron valensi.-) dan bentuk orbital σ ligan (Gambar 6. menempati 9 orbital dari bawah ke atas. σ3−σ4. σ3 dan σ4 di sumbu y. dan t2g adalah HOMO dan eg* adalah LUMO. kompleks seperti [Co(NH3)6]3+. dz2 (eg.5. Jadi set eg (dx2-y2. dan σ5 dan σ6 di sumbu z. Bila orbitals ligan adalah σ1 dan σ2 di sumbu x. pz (t1u. Maka orbital yang cocok dengan orbital logam a1g adalah a1g ligan (σ1+σ2+σ3+σ4+σ5+σ6).10. σ5−σ6) dan yang cocok dengan orbital logam eg adalah orbital ligan eg (σ1+σ2−σ3−σ4. Urutan tingkat orbital molekul dari tingkat energi terendah adalah ikatan (a1g<t1u<eg) < non-ikatan (t2g) < anti-ikatan (eg*<a1g*<t1u*). 6 dari kobal dan 12 dari amonia. terdegenerasi rangkap tiga) dan orbital dx2-y2.

pengaruh interaksi σ dan π antara logam dan ligan pada orbital molekul secara kualitatif dapat dipahami.12 (b) terbentuk. atau ligand aqua.Bila orbital atomik ligan memiliki simetri π (yakni dengan simpul di sepanjang sumbu ikatan). Dalam ion halida. yang lebih tinggi dari orbital t2g. yang lebih rendah dari orbital t2g dan orbital molekul. X-. bila ligan memiliki orbital π anti ikatan dalam molekul. orbital eg (dx2-y2) bersifat non-ikatan dan orbital t2g (dxy. orbital π* cocok dengan bentuk dan simetri orbital t2g dan orbital energi molekul ditunjukkan di Gambar 6. perbedaan energi ∆o antara orbital eg dan anti-ikatan menjadi lebih kecil. H2O. terbentuk. orbital p bersimetri π memiliki energi lebih rendah daripada orbital logam t2g dan orbital molekul. Dengan tingkat orbital ikatan menurun dan ∆o menjadi besar. . Akibatnya. seperti karbon monoksida atau etilena.11). Di pihak lain. dxz) memiliki interaksi ikatan dengannya (Gambar 6. menggunakan pertimbangan orbital molekul sederhana ini. dyz. lebih Akibatnya.

.

1 Klasifikasi tingkat-tingkat energi elektron.2. . Tabel 6. Sebuah contoh nyata dari tipe ini adalah produksi ion H+ dari H dan H+ telah dipelajari dalam Bab 5. dengan catatan bahwa H. 1.ada. Sebuah ikatan pasangan elektron juga dapat dihasilkan melalui bentuk (4). Bentuk (1) adalah sebuah interaksi antara orbital kosong tanpa elektron yang memberikan bilangan okupasi nol dan tidak memberikan pembentukan ikatan. karena afinitas elektron dari atom H adalah positif.Teori orbital tentang kereaktifan Bilangan okupasi elektron dan kereaktifan Bilangan okupasi elektron dalam tingkat energi satu elektron dibatasi oleh 2. Sebagai contoh adalah interaksi antara orbital kosong 2s dari sebuah pasangan atom He. Bentuk selanjutnya (3) adalah sebuah interaksi antara dua elektron tidak berpasangan yang akan memberikan sebuah ikatan pasangan elektron (kovalen) dengan orde ikatan satu sebagaimana dapat dilihat dari contoh tipikal yaitu H+H → H 2. Bentuk (2) adalah sebuah interaksi antara sebuah orbital kosong dengan sebuah elektron yang tidak berpasangan dan dalam kasus ini sebuah elektron dalam orbital ikatan akan menghasilkan sebuah ikatan elektron tunggal dengan orde ikatan sebesar 1/2. yaitu sebuah interaksi antara orbital kosong dan sebuah pasangan elektron dan contohnya adalah H+ + H.1. Interaksi orbital juga dapat diklasifikasikan dalam enam bentuk yang ditunjukkan dalam Tabel 6. 0 menurut prinsip eksklusi Pauli dan bilangan ini diklasifikasikan dalam tiga kasus sebagaimana tertera dalam Tabel 6.→ H2.

Contoh tipikal jenis ini adalah He+ + He → He2+. khususnya pada kondisi-kondisi yang berkaitan dengan prinsip perbedaan energi dan tumpang-tindih antara orbital yang berinteraksi.3. energi disosiasi dan panjang ikatan dari He 2+ sangat mirip dengan H2 disebabkan oleh orde ikatannya yang bernilai 1/2 untuk keduanya. Dalam argumen yang telah disebutkan di atas. Terakhir adalah bentuk (6) yang mengandung interaksi antara pasangan-pasangan elektron dan dalam kasus ini karakter ikatan dari pasangan elektron berikatan akan dihilangkan oleh karakter anti ikatan dari pasangan elektron dalam orbital anti ikatan dan akan menyebabkan tidak terbentuknya ikatan. kita harus mempertimbangkan apakah interaksi orbital tersebut efektif atau tidak. Pada masalah yang sebenarnya. Sebuah analisis yang hati-hati terhadap bilang an okupasi dan orde ikatan untuk ke-enam bentuk dalam Tabel 6. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam Tabel 5. . Alasan mengapa tidak dapat dibuatnya sebuah molekul He2 dapat diberikan oleh bentuk (1) dan (6) dalam Tabel 6.2 Bentuk fundamental dari interaksi orbital dan orde ikatan Bentuk (5) terdiri dari sebuah interaksi antara sebuah elektron yang tidak berpasangan dan sebuah elektron berpasangan akan memberikan sebuah elektron dalam orbital anti ikatan selain orbital ikatan dan dengan demikian orde ikatan akan menjadi (2-1)/2 =1/2 sama dengan ikatan satu elektron. Interaksi antara pasangan elektron 1s dalam dua atom He adalah bentuk ini.Tabel 6.2. kita mengasumsikan bahwa dua orbital secara efektif berinteraksi satu dengan yang lainnya.2 akan memberikan kesimpulan bahwa kereaktifan ditentukan oleh kombinasi dari bilangan okupasi elektron yang diringkas sebagai berikut.

Ketika tingkat dari elektron yang tidak berpasangan memiliki sebuah pemisahan energi yang sangat besar atau memiliki tumpang tindih yang sangat kecil dengan orbital yang lainnya. Karenanya. Kestabilan molekul dengan sendirinya merupakan kestabilan fisik. Kestabilan kimia dari senyawa dengan demikian dinyatakan sebagai ketidakmudahan untuk bereaksi dan untuk menjaga dirinya tidak berubah dalam waktu yang sangat lama bahkan jika dia bertemu dengan spesies yang lain. radikal tidak berinteraksi dengan yang lainnya untuk dapat tetap ada dengan kestabilan kimia yang baik. disebabkan oleh elektron yang tidak berpasangan yang terdapat dalam produknya. .1. seperti pada kondisi vakum tinggi atau pada suhu sangat rendah. [Bentuk(2)(3)(5)] 3. produk dari reaksi bentuk (2) dan (5) juga memiliki elektron yang tidak berpasangan dan reaksi dapat berlanjut dalam banyak kasus. radikal yang dihasilkan oleh dekomposisi termal. Sebuah orbital kosong dan sebuah pasangan elektron dapat bereaksi. di mana probabilitas untuk bertemu dengan spesies yang lain dapat ditekan menjadi sangat rendah. [Bentuk(1)(6)] 2. Melalui suatu mekanisme tertentu. Radikal sering diproduksi oleh pemutusan beberapa ikatan kimia dalam senyawa kimia yang stabil. radikal secara kimia tidaklah stabil. biasanya mereka akan bereaksi secara langsung untuk menghasilkan spesies yang lain. Ketika radikal bertemu dengan spesies yang lain. Tidak ada reaksi yang terjadi antara orbital kosong atau antara pasangan elektron. Di pihak lain. radikal akan bertahan sebagaimana adanya. yang berbeda dengan kestabilan kimia. Dalam kasus yang khusus. fotolisis atau radiolisis molekul sering menghasilkan reaksi berantai atau bahkan ledakan. Reaksi-reaksi yang mengikuti bentuk (3) dan bentuk (4) akan berhenti pada kebanyakan kasus. Elektron yang tidak berpasangan dapat bereaksi dengan semua jenis yang lain. [Bentuk(4)] Atom dan molekul dengan elektron yang tidak berpasangan disebut sebagai radikal.

akan menyebabkan turunnya probabilitas pertukaran ikatan . di mana k adalah konstanta Boltzmann. karena bentuk (4) memberikan kemungkinan untuk proses reaksi tanpa elektron yang tidak berpasangan. ikatan dapat secara fisik menjadi tidak stabil kecuali jika energi ikatannya lebih besar dari energi titik nolnya. Secara kualitatif. Jika energi ikatan sangat kecil. Dekomposi si termal dapat terjadi ketika energi termal yang masuk ke dalam sistem cukup besar untuk memisahkan sebuah ikatan. Di sini kita harus mencatat kestabilan fisik dengan lebih detil. Ikatan-ikatan satu elektron secara kimia tidak stabil disebabkan oleh keberadaan elektron tidak berpasangan. orde ikatan yang lebih besar. Dalam buku teks untuk pengantar kimia. Sebagai tambahan. Bahkan jika sistem secara fisik sangat stabil. Kestabilan fisik akan membesar ketika energi disosiasi ((energi ikatan)(energi titik nol)) membesar. Lebih lanjut. sistem akan keluar dari sumur potensial oleh energi vibrasi titik nolnya.Ikatan satu elektron dalam bentuk (2) atau bentuk (5) memiliki kestabilan fisik yang lebih rendah disebabkan oleh orde ikatan yang lebih rendah dibandingkan dnegan ikatan pasangan elektron dalam bentuk (3) dan bentuk (4). dia tidak selalu stabil secara kimia. ikatan yang secara kimia stabil dinyatakan terbentuk oleh sebuah ikatan dari sebuah pasangan elektron. Petimbangan sistematik terhadap kondisi-kondisi yang mengatur kestabilan kimia akan dibuat setelah ini. Energi termal bergantung pada temperatur absolut T dan berada pada daerah sekitar nilai kT. Akan tetapi. kestabilan yang penting adalah kestabilan kimia. energi ikatan yang menjadi besar. Tidak ada elektron yang tidak berpasangan yang dapat ditinjau sebagai syarat perlu untuk kestabilan kimia kecuali untuk beberapa kasus yang khusus. tidak adanya elektron yang tidak berpasangan langsung berarti kestabilan kimia kecuali untuk kasus yang khusus. ikatan dapat menjadi tidak stabil ketika energi termal lebih besar dari energi ikatannya. Ini berarti bahwa suatu energi ikatannya positif. Ini akan menyebabkan bahwa sebuah ikatan dengan energi ikatan yang besar akan stabil secara termal. Berkaitan dengan hal ini. akan memberikan kestabilan fisik yang semakin besar.

Dalam transfer muatan. sebuah benda yang memberikan sebuah elektron disebut sebagai donor elektron dan sebuah benda yang menerima sebuah elektron disebut sebagai akseptor elektron. CN. Mekanisme ini berkaitan dengan interaksi orbital kosong H+. Zn2+. Faktor kunci yang mengatur pembentukan ikatan kimia yang baru melalui bentuk (4) adalah faktor yang sangat penting dan akan dipelajari lebih detail di akhir bagian ini. Sebuah fenomena dimana terdapat sebuah transfer distribusi elektron yang disebabkan oleh interaksi orbital disebut sebagai transfer muatan dan senyawa atau kompleks yang terbentuk oleh transfer muatan tersebut disebut sebagai senyawa transfer muatan atau kompleks transfer muatan. Pembentukan ikatan berkaitan dengan interaksi antara orbital kosong dan sebuah pasangan elektron. BF3 dengan pasangan elektron yang tidak berbagi dari NH3. Pembentukan ikatan ini diasosiasikan dengan sebuah transfer distribusi elektron dari sebuah pasangan elektron ke orbital kosong.kimia yang terjadi dalam sebuah keseimbangan termal.dan akan menghasilkan pembentukan kompleks oleh ikatan koordinat atau ikatan terkoordinasi. H2O. Jumlah elektron tidak berpasangan dan valensi Jumlah elektron yang tidak berpasangan dan jumlah ikatan yang stabil yang akan dibentuk saling berhubungan dikarenakan elektron yang tidak . Dalam bentuk (4) untuk interaksi antara orbital kosong dan sebuah pasangan elektron. energi yang lebih rendah memiliki probabilitas yang tinggi. sebuah orbital kosong akan berkoordinasi dengan sebuah pasangan elektron dan pasangan elektron akan diberikan pada orbital kosong tersebut. probabilitas untuk sebuah keadaan dengan energi E sebanding dengan e-E/kT. Dengan demikian energi ikatan yang semakin besar berarti bahwa keadaannya lebih stabil dan probabilitas dari perubahan menuju keadaan energi yang lebih tinggi menjadi berkurang. penerimaan sebuah elektron oleh orbital kosong dan juga sebuah pemberian elektron dari sebuah pasangan elektron.

Karenanya untuk mendapatkan nilai valensi biasa keadaan valensi dengan energi lebih tinggi perlu dibuat. Atom-atom Be. Jika energi stabilisasi diperoleh melalui pembentukan ikatan lebih besar dari energi promosi. beberapa perbedaan dari yang digunakan secara konvensional akan ditemui pada atom C dan Be. Energi promosi untuk kasus (b)-(e) di atas adalah sama karena mereka hanya mempromosikan sebuah elektron 2s hingga ke tingkat 2p. Konfigurasi sebabai elektron ini disebut keadaan valensi.1(a). Dengan hal yang sama. Jumlah dari elektron yang tidak berpasangan dapat berubah bergantung pada konfigurasi elektron dari atom-atom.1(c)-(e) memberikan empat elektron tidak berpasangan dan ini berkesesuaian memberikan juga valensi dengan normal valensi yang biasa. jumlah elektron valensi. B dan C benar-benar menunjukkan valensi biasa melalui keadan valensinya disebabkan oleh cukup besarnya energi ikatan yang lebih besar dari energi promosi. Proses yang demikian itu disebut sebagai promosi dan energi yang diperlukan disebut sebagai energi promosi.berpasangan dapat dipasangkan untuk membentuk sebuah pasangan elektron melalui bentuk (3) dalam Tabel 6. Dalam kasus atom C. Masalah ini akan dipecahkan dengan memperhatikan keadaan valensi yang diperkenalkan di bawah ini. Ketika kita hanya memperhatikan konfigurasi elektron dasar. reaksi melalui keadaan valensi dengan promosi dapat dimungkinkan secara energetika. Jika sebuah elektron tereksitasi menjadi konfigurasi elektron (b) dalam Gambar 6. . Tabel 6.2. konfigurasi elektronnya adalah (1s)2(2s)2(2p)2 dan atom C hanya memiliki dua elektron yang tidak berpasangan sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 6.3 memberikan daftar jumlah kulit elektron terluar. Ini juga berkaitan dengan jumlah dari elektron valensi dan valensinya.1 dan kita akan mendapatkan empat elektron yang tidak berpasangan dan ini berkesesuaian dengan valensi yang biasa kita temui yaitu empat. jumlah elektron yang tidak berpasangan dan valensi biasa dari atom dengan bilangan atom yang lebih kecil dari 11. konfigurasi elektron dengan hibridisasi sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 6.

Tabel 6. Dalam konfigurasi keadaan dasar tanpa pasangan-pasangan elektron.1 Keadaan valensi dari atom C dan promosi. Prinsip HOMO-LUMO dan teori orbital terdepan Jenis interaksi bentuk (4) ini antara sebuah orbital kosong dan sebuah pasangan elektron memerlukan kondisi yaitu pemisahan energi yang cukup kecil dan juga cukup tumpang tindih antar orbital.3 Jumlah elektron tidak berpasangan dan valensi Gambar 6. pasangan elektron akan menempati tingkat yang lebih rendah hingga mencapai HOMO dan tingkat yang lebih tinggi dari LUMO kosong sebagaimana dapat dilihat pada Gambar .

Gambar 6.6. Perbandingan yang dilakukan terhadap interaksi HOMO-LUMO pada berbagai senyawa mengindikasikan bahwa HOMO yang lebih tinggi dan LUMO yang lebih rendah memberikan pemisahan energi yang lebih kecil untuk menjadi sebuah kombinasi penerima elektron dan pemberi elektron untuk transfer muatan atau transfer elektron. Dengan demikian kondisi yang dipersyaratkan berupa pemisahan energi yang cukup kecil akan memberikan kesimpulan penting berikut. Hal ini dinyatakan sebagai prinsip HOMO-LUMO dan interaksi antara sebuah HOMO dan sebuah LUMO disebut sebagai interaksi HOMO-LUMO. Prinsip HOMO-LUMO Interaksi antara sebuah orbital kosong dan sebuah pasangan elektron terjadi secara efektif antara sebuah HOMO dari suatu spesies dan sebuah LUMO dari spesies yang lain.2 Interaksi HOMO-LUMO dan transfer muatan. Kecenderungannya dapat diringkas sebagai berikut: Prinsip interaksi transfer muatan .1.

LUMO yang lebih rendah (afinitas elektron yang lebih besar) memberikan kemampuan yang lebih kuat untuk menerima elektron dari spesies yang lain. Bilangan okupasi elektron dalam sebuah orbital elektron yang tidak berpasangan adalah tertentu yaitu setengah dari bilangan okupasi maksimum elektron dan dengan demikian jenis orbital ini disebut sebagai orbital molekul yang ditempati secara tunggal (Singly-occupied molecular orbital-SOMO). Ketiga jenis orbital ini disebut sebagai orbital terdepan (frontier orbital) dan teori yang mencatat peranan dari orbital-orbital ini disebut sebagai teori orbital terdepan yang diusulkan oleh Kenichi Fukui pada tahun 1951.1. 4. LUMO yang lebih tinggi dan HOMO yang lebih rendah akan memberikan kemampuan yang lebih rendah pada kemampuan untuk menerima atau memberikan elektron. 5. LUMO dan SOMO. Pemberian elektron pada spesies yang lain paling mudah terjadi pada HOMO. HOMO yang lebih tinggi (energi ionisasi yang lebih kecil) memberikan kemampuan yang lebih kuat untuk memberikan elektron pada spesies yang lain. . Kereaktifan yang khusus darri orbital elektron yang tidak berpasangan (SOMO) dengan jenis konfigurasi elektron biasa disamping prinsip HOMO-LUMO dan prinsip interaksi transfer muatan memberikan indikasi bahwa peranan kunci dalam reaksi kimia dimainkan oleh HOMO. 3. yang mengembangkan teori-teori kuantum untuk reaksi kimia bersama-sama de ngan R Hofman. 2. Penerimaan elektron dari spesies yang lain paling mudah terjadi pada LUMO.

blogspot.org/materi_kimia/kimia_kuantum/reaksi-kimia/teoriorbital-tentang-kereaktifan/ .html http://www.chem-is-try.com/2010/03/teori-orbital-molekul-faktorelektronik.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/kimialogam-transisi/teori-orbital-molekul-kompleks-logam-transisi/ http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/ikatandan-struktur/orbital-molekul/ http://iniblognyaromi.chem-is-try.Sumber : http://www.