199 Pengaruh Profesionalisme Guru dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru (Studi Kasus Pada SMA Muhammadiyah

2 Surakarta).
Diposting oleh rulam | Tanggal: December 21st, 2011 | Kategori: Artikel 1. A. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa, yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Suatu usaha menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas seperti yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional diatas, maka kualitas pendidikan di Indonesia harus selalu ditingkatkan. Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus didukung dengan adanya peningkatan kualitas tenaga kependidikannya. Adapun yang dimaksud dengan tenaga kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola dan memberikan pelayanan teknis dalam bidang kependidikan (Hamalik 2003 : 9). Guru merupakan tenaga kependidikan yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, melatih, serta mengarahkan peserta didik agar memiliki kesiapan dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat dengan bangsa lain. Oleh karena itu kedudukan guru sebagai tenaga professional sangatalah penting dalam terwujudnya visi dan misi penyelenggaraan pembelajaran pada satuan pendidikan dimana ia melaksanakan tugasnya.

1

Guru profesional adalah guru yang mengedepankan mutu dan kualitas layanandan produknya, layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa, dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No.19/2005 dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi professional dan kompetensi sosial. Semua kompetensi tersebut harus dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan kegiatan mengajar di sekolah. Guru yang bermutu adalah guru yang profesional dalam pekerjaannya karena guru yang profesional senantiasa dapat meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menguasai kompetensi tersebut sehingga peserta didik dapat dengan mudah menyerap ilmu yang didapat. Dewasa ini pendidikan di Indonesia berkembang dengan pesat, dengan kondisi seperti ini guru dituntut memeliki wawasan yang luas dalam perkembangan pendidikan. Peran dari seorang guru dipandang dari sisi tugas dan tanggung jawabnya tidaklah ringan. Untuk itu seorang guru selayaknya mendapatkan perhatian yang ideal.

Kinerja seorang guru dikatakan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur, dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya. Membahas masalah kualitas dari kinerja guru tidak terlepas dari pencapaian hasil belajar. Hal ini karena kinerja guru sangat menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif dan efisien srhingga tujuan pendidikan dapat tercapai dan terwujud dari hasil belajar siswa yang baik yang pada akhirnya dapat mencetak lulusan yang berkualitas. Menurut Robet Bacal (2005:3) kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus menerus, yang dilaksanakan kemitraan, antara seorang guru dan siswa dengan terjadinya proses komunikasi yang baik antar kepala sekolah dengan guru, dan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru, dan ini merupakan suatu sistem kinerja yang memberi nilai tambah bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas siswa dalam belajar. “Kinerja sebagai suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”(Hasibuan (2003:34). Selain itu, kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dalam usaha seseorang guru yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Kinerja yang optimal merupakan harapan semua pihak namun kenyataan dilapangan menunjukkan masih ada beberapa guru yang kinerjanya optimal. Berdasarkan observasi di SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA pada bulan September tahun 2010 terlihat bahwa kinerja guru dirasakan masih belum memuaskan. Dalam realitas sehari-hari masih diketemukan adanya gejala-gejala antara lain : 1) pembuatan kerangka KBM belum optimal bahkan hanyacopy paste perangkat tahun lalu dengan mengganti tahunnya , 2) kurangnya kemauan guru menciptakan pembelajaran yang variatif, 3) masih banyaknya siswa yang tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru sehingga mereka tidak menyerap pelajaran yang didapat, 4) dan masih diketemukan adanya siswa yang tidak lulus ujian akhir nasional yang disebabkan nilai mereka tidak memenuhi standar kelulusan. Belum optimalnya kinerja guru tersebut bukan tanggung jawab sekolah saja, melainkan tanggung jawab bersama antara pihak Depdikanas dan Pemerintah. Menurut Mathis dan Robert L. Jackson (2001:82) banyak faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja, antara lain : 1) kemampuan, 2) motivasi, 3) dukungan yang diterima, 4) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan 5) hubungan mereka dengan organisasi. Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan kinerja guru antara lain dengan peningkatan profesionalitas guru melalui pelatihan-pelatihan, seminar, kursus-kursus atau pendidikan formal yang tinggi serta pembinaan dan pengembangan untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Dalam pelaksanaannya kita tidak hanya menuntut keahlian dari para ahli pengembang kompetensi guru saja melainkan juga harus memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja seorang guru. Dalam tugasnya guru pasti akan menghadapi berbagai masalah. Dalam kondisi seperti itu guru dituntut untuk dapat menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut profesionalitas seorang guru sangat diperlukan. Tuntutan dan pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian global karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era

penghargaan dan meningkatkan dirinya dalam melaksanakan tugas kegiatan mengajar. aspek intelektual. Apabila para guru mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Sekolah sekarang sudah dihadapkan pada persaingan dan teknologi yang tidak bersekala nasional akan tetapi sudah internasional. . Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. adanya keinginan dan hasrat yang lebih mengarah pada tingkah laku yang berorientasi pada tercapainya standar of excellent. layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat. Seorang guru harus menunjukkan perilaku yang kuat yang diarahkan untuk menuju suatu tujuan tertentu. Untuk itu perlu didukung pula pola kerja yang saling mendukung. Guru perlu semangat dan keinginan yang tinggi untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. dipundaknya dibebani suatu tanggung jawab atas mutu pendidikan. sosial. semakin rendah motivasi seseorang maka semakin rendah pula kinerjanya.hiperkompetisi. Keberadaan ini menunjukkan bahwa motivasi guru perlu didukung oleh perangkat yang mengarah pada kebutuhan untuk meningkatkan prestasi yang mengarah pada kinerja guru yang berkualitas. Selain itu hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai kinerja guru yang tinggi diperlukan adanya motivasi dari guru untuk meningkatkan kinerjanya secara utuh. Namun seiring dengan perkembangan dan perubahan seringkali posisi guru dihadapkan pada tantangan yang cukup krusial. Maka dari itu profesionalitas seorang guru harus diikuti oleh motivasi kerja guru dalam mengembangkan kurikulum disekolah akan berguna. Demikian keterkaitan antara profesionalisme. dan mengevaluasi kurikulum yang berlaku disekolah sehingga memperoleh hasil kerja yang maksimal. Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja guru. Dengan demikian semakin tinggi motivasi seseorang maka semakin tinggi pula kinerjanya begitu pula sebaliknya. Motivasi merupakan kekuatan pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu kegitan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata. apabila guru mempunyai keinginan. Tugas guru adalah membantu anak didik agar mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya. 2) Kompetensi Paedagogik. Motivasi kerja guru juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi kinerja guru untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah suasana lingkungan kerja dalam organisasi dimana guru mengaktualisasikan diri. Maka dari itu guru harus mengembangakan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Aspek penghargaaan terhadap guru sering kali tidak sesuai dengan tuntutan dan peran guru dalam mengemban amanah.19/2005. Orientasi tersebut mengarah pada peran guru yang sering kali diposisikan sebagai faktor penting untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan profesi. Setidaknya guru sebagai status sosial yang seringkali tersingkir oleh kepentingan dasar yang ada pada setiap guru. motivasi dan lingkungan kerja merupakan faktor yang saling mempengaruhi terhadap kinerja. Pemberdayaan peserta didik itu meliputi aspek-aspek keperibadian. 3) Kompetensi Profesional. Guru memilki peran yang sangat besar dalam pendidikan. mereka akan terdorong dan berusaha meningkatkan kemampuannya dalam merencanakan. bertanggung jawab. dan ketrampilan Guru profesional adalah guru yang ingin mengedepankan mutu dan kualitas layanandan produknya.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. minat. bangsa dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan pesrta didikberdsar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. dan 4) Kompetensi Sosial. Dapat diartikan bahwa linkungan pembelajaran di kelas maupun di sekolah mempengaruhi baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan belajar mengajar. yaitu adalah : 1) Kompetensi Kepribadian. melaksanakan. emosional. baik sekolah negeri maupun swata. aspek yang kurang diperhatikan adalah tingkat kesejahteraan yang seringkali dihadapkan pada standarisasi yang memaksa. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No. Kemampuan dan motivasi yang tinggi didasarkan pada keinginan yang kuat dari setiap guru untuk berkarya.

B. lingkungan kerja terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. kompetensi professional dan kompetensi sosial. 2. . 3. kebutuhan akan pengakuan. maka yang dijadikan pokok masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme. Perumusan Masalah Perumusan masalah atau sering disebut problematika merupakan bagian penting yang harus ada dalam penulisan karya ilmiah. 3. Berdasarkan latar belakang masalah diatas. Hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian tentang pengaruh profesionalime dan motivasi terhadap kinerja. pekerjaan itu sendiri. kompetensi pedagogik. 1. 2. Berdasarakan latar belakang SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA”. 3. Oleh karena itu perlu adanya pemabatasan masalah guna menghindari kesalahpahaman sehingga timbul penafsiran yang berbeda-beda yang akan mengakibatkan penyimpangan judul diatas. motivasi dan lingkungan kerjanya. C. tanggung jawab. motivasi kerja. 2. Bagaimana pengaruh profesionalisme terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? Bagaimana pengaruuh motivasi terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? Bagaiamana pengaruh profesionalisme dan motivasi secara bersama-sama terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? 1. Oleh karena itu sebelum melakukan penelitian. Kinerja guru dibatasi pada faktor kualitas kerja. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:57) “problematika adalah bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian”. harus diketahui lebih dahulu permasalahannya akan lebih terarah dan terfokus. Profesionalisme guru di batasi pada kompetensi kepribadian. kecepatan atau ketepatan dan inisiatif dalam bekerja. Untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. D. Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. dan kebutuhan akan kemajuan/berkembang. 1. Dalam hal ini penulis membatasi ruang lingkup dan fokus masalah yang diteliti sebagai berikut : 1.Demikian halnya dengan kinerja guru ditentukan oleh tingkat sejauhmana profesionalime guru. Motivasi dibatasi pada kebutuhan akan prestasi. sehingga tidak mungkin dari lapangan permasalahan-permasalahan itu dapat terjangkau dan terselesaikan semua. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan diatas maka tujuan yang hendak dicapai antara lain: 1. Pembatasan Masalah masalah diatas maka dalam penelitian ini mengambil judul : “PENGARUH PROFESIONALIME GURU DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU Pembatasan yang dikaitkan dengan judul diatas sangatlah luas.

pemaaf. obyektif. motivasi kerja dan kinerjanya. Berkaitan erat dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Performance merupakan kata benda. maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para akademis dan para praktisi pendidikan. Manfaat Praktis 1. disiplin. mata atau pandangan. kepercayaan diri. suara. Memberi masukan kepada guru untuk selalu meningkatkan profesionalisme. Memberikan masukan kepada sekolah dan diknas sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan upaya peningkatan profesionalisme. Salah satu entry-nya adalah “thing done” (sesuatu hasil yang telah dikerjakan). sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tiga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai sebagai berikut: 1) kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang. Jadi arti Performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. Manfaat Teoritis Menambah khasanah ilmu pengetahuan serta meemberi masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsep-konsep baru terutama untuk pengembangan pemikiran dalam memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan kinerja guru bagi para peneliti berikutnya. optimis. E. rajin. Landasan Teori 1. dan rasional. pakaian. 1. 1. Kinerja Guru 1. Definisi Kinerja Dalam bahasa Inggris istilah kinerja adalah performance. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. demokratis. bersifat adil. 1. tanggung jawab. Tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian penghargaan yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat mereka bekerja. Pemberian penghargaan yang tidak tepat dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang.1. jujur. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. ramah. 3) kemampuan profesional sebagaimana dirumuskan oleh P3G yang meliputi 10 kemampuan profesional guru yaitu: menguasai bidang studi dalam kurikulum sekolah dan menguasai bahan pendalaman/aplikasi . 1. suka menolong. 2. 2) kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka. bersifat membangun. kreatif. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. F. intelek. dan hal yang bersifat psikis seperti humor. memiliki dedikasi. motivasi kerja dan kinerja guru. sopan. dan cinta anak didik. pendengaran. kesehatan. kritis. Menurut Mangkunegara (2001:67) kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. sabar. tertib.

dan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Diknas sampai saat ini belum melakukan perubahan yang mendasar tentang standar kinerja guru. Menurut Robet Bacal (2005:3) kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus menerus. yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan proses belajar mengajar. yang dilaksanakan kemitraan. dan ini merupakan suatu sistem kinerja yang memberi nilai tambah bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas siswa dalam belajar. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.mengelola kelas. Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugastugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu. 2003:34). memahami prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan mengajar menurut. (2) melaksanakan pembelajaran. menilai prestasi siswa untuk kepentingan pendidikan. (6) Memahami kebijakan pendidikan. (3) menilai prestasi belajar. Penilaian pelaksanaan pekerjaan ini adalah suatu proses yang dipergunakan oleh organisasi untuk menilai pelaksanaan pekerjaan pegawai. mengenal fungsi dan program bimbingan penyuluhan. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya mengadakan penilaian terhadap kinerja organisasi merupakan hal yang penting. 1. Untuk mengetahui apakah tugas. Penilaian Kinerja Kinerja mempunyai hubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan usaha untuk mencapai tingkat produktivitas organisasi yang tinggi. menggunakan media dan sumber. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban. (11) Menguasai keilmuan dan ketrampilan sesuai materi pembelajaran. (5) memahami landasan kependidikan. kejujuran. 2004:7). mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah. pengalaman dan kesungguhan serta waktu” (Hasibuan. tanggung jawab. (9) Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan. mengelola interaksi belajar mengajar. Dengan demikian kinerja guru adalah persepsi guru terhadap prestasi kerja guru yang berkaitan dengan kualitas kerja. Masih mengacu pada rumusan 12 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru yaitu: (1) menyusun rencana pembelajaran. (10) Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. tanggung jawab dan wewenang guru sudah dilaksanakan atau belum maka perlu adanya penilaian objektif terhadap kinerja. kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya. (7) memahami tingkat perkembangan siswa. antara seorang guru dan siswa dengan terjadinya proses komunikasi yang baik antar kepala sekolah dengan guru. (4) melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi bbelajar peserta didik. kerjasama dan prakarsa. menguasai landasan-landasan kependidikan.bidang studi. Penilaian kinerja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sesuai dengan standar yang dibakukan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi pekerja sendiri untuk dapat mengetahui kelemahan. dan secara garis besar. mengelola program belajar mengajar. . “Kinerja sebagai suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan. dan (12) Mengembangkan profesi (Depdikbud. (8) Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran.

et al (2006 : 89) dalam Yamin ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja. kepecayaan diri. latar belakang (keluarga. Melaksanakan dan mengelolah proses belajar mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Menurut Mathis dan Robert L. yaitu : (1) Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran. (2) Kemampuan guru dalam mengajar di kelas. c) Faktor tim. faktor tersebut adalah : a) Faktor Personal/individual. dan keeratan anggota tim. 3) dukungan yang diterima. kekompakan. yaitu: 1) Variabel individual meliputi kemampuan dan ketrampilan (mental dan fisik). Ketiga variabel tersebut berhubungan satu sama lain dan saling pengaruh-mempengaruhi. organisasi. arahan. . belajar dan motivasi. tingkat sosial. Menurut Syafri Mangkuprawira dan Aiada Vitayala dalam Yamin (2007 : 155). Menurut Sudjana (2002:17) kinerja guru dapat dilihat dari kompetensinya melaksanakan tugas-tugas guru. (3) Kemampuan guru dalam mengadakan hubungan antar pribadi. kepercayaan terhadap sesema anggota tim. semangat. meliputi aspek kualitas manajer dan team leader dalam memberikan dorongan. Aspekaspek APKG secara umum dapat dikelompokkan kedalam tiga kemampuan.motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru. meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim. sikap. Menilai kemajuan proses belajar mengajar dan Menguasai bahan pelajaran. imbalan. Menurut Gibson. kepemimpinan. asal-usul. b) Faktor kepemimpinan. jenis kelamin) 2) Variabel organisasional meliputi sumber daya. Kinerja merupakan suatu kontruksi multi dimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya.Ke dua belas kompetensi inilah yang dapat dilihat melalui alat penilaian kemampuan guru (APKG). 2) motivasi. Merencanakan proses belajar mengajar. kemampuan. kepribadian. dan psikologis sangat menentukan bagaimana seseorang mengaktualisasikan diri. meliputi unsur pengetahuan. Jackson (2001:82) banyak faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja. penggajian) dan demografis (umur. antara lain : 1) kemampuan. dan dukungan kerja pada guru. dan desain pekerjaan 3) Variabel psikologis meliputi persepsi. keterampilan (skill). yaitu: 1) 2) 3) 4) 1. struktur. Gabungan variabel individu. 4) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan 5) hubungan mereka dengan organisasi.

proses organisasi dan kultur kerja dalam organisasi (sekolah). Definisi profesionalisme Professional berasal dari kata profesi (profession) yang diartikan sebagai jenis pekerjaan khas yang mana memerlukan pengetahuan. instansi atau lembaga. bangsa dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. keahlian atau ilmu pengetahuan yang digunakan dalam aplikasi untuk berhubungan dengan orang lain. Dari pengertian diatas. dikemukakan bahwa professional guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksnakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Memiliki bakat. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No.19/2005. e) Faktor kontekstual (situasional). Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. dan juga dapat berasal dari luar atau faktor situasional. layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat. 1. 2. dan akhlak mulia Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesinalan Memperoleh penghasilan yang ditentukan seuai dengan prestasi kerja Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat 8) 9) Memilki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalisme Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan. keimanan.d) Faktor system. Profesionalisme 1. Disamping itu. fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah. meliputi system kerja. panggilan jiwa dan idealisme Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal. ketakwaan. minat. yaitu adalah : . maka guru professional adalah guru yang ingin mengedepankan mutu dan kualitas layanan dan produknya. Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa banyak faktor dan variabel yang mempengaruhi kinerja guru. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. kinerja dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuan individu.

dan . Kompetensi Paedagogik : Pemahaman wawasan atau landasan pendidikan Pemahaman terhadap peserta didik Pengembangan kurikulum/silabus Perancangan pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik Evaluasi hasil belajar Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya Kompetensi professional : Konsep struktur dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar Materi ajar ada dalam kurikulum sekolah Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.1) a) b) c) d) e) f) g) h) i) 2) a) b) c) d) e) f) g) 3) a) b) c) d) Kompetensi Kepribadian : Mantap Stabil Dewasa Arif dan bijaksana Berwibawa Berakhlak mulia Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat Mengevaluasi kinerja sendiri. dan Mengembangkan diri secara berkelanjutan.

yang mempunyai arti suatu perangsang. motivasi berasal dari kata dasar motif. Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama dengan efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. Menurut Fattah (2003:19). Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. 2002:146). motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual.e) Kompetensi secara professional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai adan budaya nasional 4) a) b) c) Kompetensi Sosial : Berkomunikasi lisan dan tulisan Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional Bergaul secara efektif dengan peserta didik sesama pendidik. Menurut Hasibuan (2003:95). orang tua/wali peserta didik. 2003:94). Berbagai sikap secara santun dengan masyarakat sekitar 3. Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan suatu pekerjaan (Hasibuan. Dan tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu. mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk. Motivasi kerja guru akan mensuplai energi untuk bekerja / mengarahkan aktivitas selama bekerja. kerja merupakan kegiatan dalam melakukan sesuatu. hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia. Sedangkan menurut Robbins (2001:166). Definisi motivasi kerja Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya potensi bawahan agar mau bekerja secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Motivasi kerja terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan kerja. . Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud motivasi kerja adalah sesuatu yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap pekerjaan guna mencapai tujuan. Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan. dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. dan menyebabkan seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya. tenaga kependidikan. Motivasi 1. yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter. dan d) 1. Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6).

kemajuan. kondisi kerja dan kehidupan pribadi. dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (penghargaan dan aktualisasi diri). Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya (Hasibuan. tantangan (Challenge). Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai kebutuhan “need” dapat mendorongnya mencapai sasaran. teknik supervisi. tanggungjawab.1. motivasi seseorang akan ditentukan motivatornya. pengembangan (Development). d) e) Kemajuan (advencement) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier (jabatan). hal itu terjadi karena yang dipelajari adalah perilaku manusia yang komplek. kebijakan administratif. Teori-teori motivasi Teori-teori motivasi kerja banyak lahir dari pendekatan–pendekatan yang berbeda–beda. 1) Teori motivasi dua faktor atau teori iklim sehat oleh Herzberg. Pekerjaan itu sendiri (the work it self) adalah kebutuhan untuk dapat menangani pekerjaan secara aktif sesuai minat dan bakat. faktor-faktor motivator meliputi: prestasi. rasa aman. 2003 : 115-116) 2) Teori motivasi prestasi kerja David Mc Clelland. keterlibatan (Involvement). Menurut siswanto (1990:137). pengakuan. . pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang. a) Prestasi (achievment) adalah kebutuhan untuk memperoleh prestasi di bidang pekerjaan yang ditangani. f) Kemungkinan berkembang (the possibility of growth) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier. Herzberg berpendapat bahwa ada dua faktor ekstrinsik dan instrinsik yang mempengaruhi seseorang bekerja. c) Tanggung jawab (responbility) adalah kebutuhan untuk memperoleh tanggungjawab dibidang pekerjaan yang ditangani. Sedangkan faktor instrinsik (motivator) adalah faktor yang kehadirannya dapat menimbulkan kepuasaan kerja dan meningkatkan prestasi atau hasil kerja individu. Jadi teori–teori ini perlu bagi organisasi dalam memahami karyawan (guru) dan mengarahkan karyawannya (guru) untuk melakukan sesuatu. b) Pengakuan (recoqnition) adalah kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari pimpinan atas hasil karya/hasil kerja yang telah dicapai. tanggungjawab(Responsibility). Dalam teori motivasi Herzberg. dan kesempatan (Opportunity). penghargaan (Recognition). Termasuk dalam faktor ekstrinsik (hygienes) adalah hubungan interpersonal antara atasan dengan bawahan. yang meliputi: prestasi (Achievement). Frederick Herzberg memilah herarki kebutuhan maslow menjadi kebutuhan tigkat rendah (fisiologis.

Jika guru mempunyai motivasi kerja tinggi maka ia akan bekerja dengan keras. dengan pendapatan yang besar ia dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhannya. bila motivasi kerjanya tinggi maka akan berpengaruh pada kinerja yang tinggi dan sebaliknya jika motivasinya rendah maka akan menyebabkan kinerja yang dimiliki seseorang tersebut rendah. Implikasi teori ini ialah bahwa seorang pekerja mempunyai persepsi berkarya tidak hanya sekedar mencari nafkah. Pada dasarnya motivasi kerja seseorang itu berbeda-beda. G. senang hati. asalkan kemungkinan untuk hal itu diberi kesempatan. Harapan dan keberhasilannya. bagaimanapun kebutuhan itu dikategorisasikan. Herzberg mengatakan bahwa memberikan seseorang kenaikan gaji atau kondisi kerja yang baik tidak dapat memotivasinya karena kebutuhan tingkat rendah dapat dipenuhi secara cepat. Kebutuhan akan Prestasi. (4). seseorang menyadari bahwa dengan hanya mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Ego manusia yang ingin berkuasa lebih dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. Kedudukan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja Motivasi kerja merupakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan. Nilai insentif yang terletak pada tujuan. karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi. maka pada penelitian ini yang sesuai adalah teori dua faktor Herzberg untuk yang motivator. 1. (b). dan ia sangat dinilai tinggi oleh orang-orang yang memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan. Menurut Mc Clelland kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah kerja dikelompokkan menjadi tiga yaitu: a) Kebutuhan akan prestasi. sebagai alat untuk membeli prestise atau mengendalikan pihak lain (Winardi. 1. akan tetapi sebagai wahana untuk memuaskan berbagai kepentingan dan kebutuhannya. dan (5). tekun. (2). bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan yaitu: (a). 2001:156). Motivasi kerja erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang. kebutuhan ini merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seorang karyawan. Ada motivasi kerjanya tinggi dan ada motivasi kerjanya rendah. dan (c). Berdasarkan pada dua teori di atas. Kebutuhan akan pengakuan. b) Kebutuhan akan afiliasi seseorang karena kebutuhan afiliasi akan memotivasi dan mengembangkan diri serta memanfaatkan semua energinya. penting sebagai suatu sumber umpan balik kinerja untuk kelompok karyawan yang berprestasi tinggi (High Achivers) ia dapat bersifat atraktif bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan tinggi akan afiliasi. persaingan ini oleh manajer ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya supaya termotivasi untuk bekerja giat. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. apabila hal tersebut diberikan sebagai bonus kelompok. Clelland gaji/upah. c) Kebutuhan akan kekuasaan. (3). Pekerjaan itu sendiri. dan dengan dedikasi tinggi sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Karena Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. Kerangka Pemikiran .Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Tanggung jawab. Pada teori yang dicapai dari Mc. Kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat. Indikator dalam penelitian ini meliputi: (1).

H. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif pada dasarnya dapat digunakan dari salah satu metode-metode yang ada. 3. I. Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Motivasi berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Profesionalisme guru dan motivasi kerja secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta 1. maka terlebih dahulu perlu dikemukakan gambaran yang berupa kerangka pemikiran sebagai berikut : Profesionalisme guru (X1) Motivasi Kerja (X2) Kinerja Guru (Y) Gambar Kerangka Pemikiran Keterangan : Uraian kerangka diatas dapat dijelaskan bahwa antara profesionalisme guru (X1). Menurut Sugiono (2003:47) kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting Dalam penelitian ini untuk mewujudkan arah dari pemecahan dan penganalisa masalah yang dihadapi. mutu dan profesionalitas maka pada akhirnya akan diperoleh kinerja guru yang optimal. Penelitian komparatif adalah: suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Penelitian asosiatif adalah: merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. 2. . Metode Penelitian 1. oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan”. 3. motivasi kerja (X2) dan kinerja guru (Y) mempunyai hubungan yang dapat dipisahkan artinya apabila proses pembelajaran didukung dengan pemahaman. 2. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. Pada penelitian ini dikemukakan hipotesis sebagai berikut : 1. Menurut Sugiono (2003:10-11) mengklasifikasikan metode penelitian menjdai tiga bagian sebagai 1. Hipotesis Menurut Sugiono (2008:93) “hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.Kerangka berfikir merupakan alur penalaran yang didasarkan pada tema masalah penelitian yang digambarkan secara menyeluruh dan sistematis setelah mempelajari teori yang mendukung judul penelitian. 1. berikut : Penelitian deskriptif adalah :penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri.

Sampling 1. analisa data bersifat kuantitatif atau statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. 2. Sampel. faktual dan akurat yang mengenai fakta-fakta. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kaulitas dan karasteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajarai dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono.Dalam penelitian ini penulis menganalisa masalah yang ada pada saat sekarang dan membuat gambaran secara sistematis terhadap objek penelitian. ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang untuk membuat diskripsi. 1. Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA. Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 39 guru SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA 1. suatu sistem pemikiran. mereka dapat menentukan kurang lebih 2550% dari subyek tersebut. 1. teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random. bahwa : Penelitien diskriptif adalah suatu metode dalam meniliti suatu kelompok manusia. Sampel Menurut Suharsimi Arikunto (2006:73) berpendapat bahwa sampel hanyalah untuk sekedar ancer-ancer jika peneliti mempunyai beberapa ratus subyek dalam populasi. pengumpulan data menggunakan instrument penelitian. sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. suatu obyek. Dalam penelitian ini semua populasi yaitu guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta semua diteliti. Dari penjelasan diatas maka penelitian ini termasuk jenis penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif atau bisa disebut diskriptif kuantitatif karena pada penelitian ini peneliti menganilisis dan mengklasifikasikan dengan menggunakan angket dan mengungkapan suatu fenomena dengan menggunakan dasar perhitungan. gambaran atau lukisan yang sistematis. suatu kondisi. maka penelitian ini adalah penelitian diskriptif. . Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta yang berjumlah 39 orang. Seperti yang diungkapkan oleh Sugiyono (2008 : 10) “penelitian diskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud memperoleh data yang berbentuk angka atau data kuantitatif yang diangkakan” Penelitian ini mengukur tentang kinerja guru yang ditinjau dari profesionalisme guru dan motivasi kerjapada guru SMA Muhammadiyah 2 Suarakarta. Subyek Penelitian dan Obyek Penelitian 1. seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Nasir (2003 : 47). 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data penelitian yang diperoleh menggunakan angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. Pada pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk penelitian adalah populasi atau sampel tertentu. Populasi. 2008:115).

karena penelitian ini adalah penelitian populasi. karena tidak menggunakan sampel. Jika jawaban selalu maka skornya adalah 4 . Variabel Bebas Menurut Sugino (2008:59) “variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat”. Metode Angket (Quisioner) Menurut Suharsini Arikunto (2006:151) “angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diatrik kesimpulannya Sugiono (2008:59). Dalam penelitian ini metode angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang profesionalisme guru dan motivasi kerja terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta angket tersebut terdiri atas pertanyaan dengan empat pilihan jawaban responden yang dikenai angket harus memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam angket. 1. fovarable dan unfovarable”. Variabel terikat Menurut Sugiono (2008:59) “variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kinerja guru (Y). Tehnik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian. maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah profesionalisme guru (X1) dan motivasi kerja (X2). J. 1. Menurut Sugiono (2005:74) “Penelitian angket mampu mengacu pada skala likert 1 sampai 4 yang dikelompokan menjadi. Dalam penelitian ini scoring masing-masing item favorabel (positif) adalah: 1). Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang. dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui”. Sampling Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel.Dalam penelitian ini tidak menggunakan sampel. Dalam penelitian ini tidak ada sampling. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. 1. 1. Untuk menentukan sampel yanga akan digunakan dalam penelitian terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan Sugiono (2008:116).

Inisiatif dalam bekerja − Memberi materi ajar sesuai dengan karakter yang dimiliki.2 5. Jika jawaban sering maka skornya adalah 3 3).8 9.5 siswa − Merencanakan pembelajaran dengan 1.2 3 − Bekerja dengan harapan ingin diakui 3.3 4. Kebutuhan akan prestasi − Kebutuhan akan pengakuan Pekerjaan itu sendiri Tanggung jawab Kebutuhan akan − Senang dengan apa yang dikerjakan 5. Jika jawaban jarang maka skornya adalah 2 4). 3. 3. Motivasi 1. − Menggunakan media dan sumber belajar − Melaksanakan penilaian prestasi belajar 4. 1. − Selalu melaksanakan tugas dengan kemajuan/ berkembang sungguh-sungguh tepat . 4. Indikator Kompetensi Paedagogik − Kompetensi Sosial − Kompetensi Profesional − Mampu memahami dan menghargai 7. Kualitas kerja Kecepatan atau ketepatan kerja 1.2.9.5 Kompetensi Kepribadian peserta didik standar isi mata pelajaran yang tertera.8.2). 10 perbedaan − Memahami standar kompetensi dan Mampu berinteraksi dan berkomunikasi 6. 2.4 Selalu berusaha menjadi yang terbaik 1. Konsep ini dijabarkan dalam variabel-variabel dan indikator yang disesuaikan dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai.6 7. 4.7 Sub indikator Memahami potensi dan keberagaman Butir soal 1.10 − Keinginan selalu ingin maju/berkembang dalam berbagai hal Kinerja guru 1. Jika jawaban tidak pernah maka skornya adalah 1 Sebelum menyusun angket terlebih dahulu dibuat konsep alat ukur yang mencerminkan isi kajian teori. Adapun kisi-kisi angket sebagai berikut : Variabel Profesionalisme guru 1. 2.

buku. K. 1. Variasi jenis instrument yang baik harus memenuhi dua persyaratan yaitu valid dan reliabel. lengkap dan sistematis yang mudah diolah”. transkrip. agenda. notulan rapat dan sebagainya”. Cara mengukur validitas dengan rumus product moment angka kasar sebagai berikut: Rumusnya Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara varibel x dan y n x y = jumlah responden = skor butir = skor total Karena dengan angka kasar relative lebih mudah dan akan dapat mennghindari angka pecahan. Uji . surat kabar. Metode dokumentasi Menurut Suharsimi arikunto (2006:154) “dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan. Sedangkan mengenai perhitungan korelasinya berdasarkan ketentuan bahwa jika rxy > rtable signifikasi 5% berarti item (butir soal) dinyatakan valid.− Menggunakan berbagai metode pembelajaran 1. Uji Reliabilitas Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 178) “Uji reliabilitas adalah suatu instrument yang cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik”. Uji Instrumen Menurut Suharsimi Arikunto (2005:97) “instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh paneliti dalam menngumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik dalam arti yang lebih cermat. Uji validitas Menurut Suharsimi Arikunto (200:208) “Validitas adalh ukuran yang menunjang tingkat kevaliditan dan atau keapsahan suatu instrument”. 1. 1. majalah. Suharsimi Arikunto (2002:208) juga menyatakan “Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan”. Sebaliknya jika rxy < rtable maka butir soal tidak valid sekaligus tidak memiliki persyaratan.

Uji Prasyarat Analisis Uji Normalitas Data Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. L. Dikatakan tidak realibel jika angka korelasi < rtabel pengujian.60 0. X2.40 < r11 ≤ 0.20 reliabilitas sangat tinggi reliabilitas tinggi reliabilitas cukup reliabilitas rendah reliabilitas sangat rendah.Zn dengan rumus : .20 < r11 ≤ 0. langkah-langkahnya sebagai berikut : a) Hipotesis Ho= Sampel dari populasi berdistribusi normal HI= Sampel dari populasi tidak berdistribusi normal b) 1) Prosedur Pengujian Hipotesis X1. Menurut Sudjana (2002:466-467). Adapun pengujian normalitas ini liliefors.Xn dijadikan bilangan baku Z1.. Dikatakan reliabilitas jika antara korelasi yang diperoleh > rtabel taraf signifikan 5%. Z2.40 0.0.…….00 0.reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu instrument dapat memberikan hasil pengukuran yang konsisten apabila pengukuran dilakukan berulang-ulang.……. Uji ini di uji cobakan pada subyek penelitian. Reliabilitas dalm penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows 15.60 < r11 ≤ 0. 1.80 0.80 < r11 ≤ 1.00 < r11 ≤ 0. Pengukuran reliabillitas tersebut dilakukan menggunakan rumus: rii = Keterangan : rii = koefisien relliabilitas instrument k = banyaknya soal = jumlah varians butir = varians total Kriteria besarnya koefisien reliabilitas menurut Suharsimi arikunto (2006: 276) adalah 0. 2.

Pengujian uji normalitas butir soal dalam penelitian ini penggunakan bantuan SPSS for Windows 15.0 1. Adapun menurut Sudjana (2002 : 330-337) adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) a) Fhitung = Ftabel = (1 – α) (k – 2. dihitung peluang : F (Zi0 = p (Zi≥Z)) 3) Menghitung proporsi Z1.Dimana Zi = Bilangan baku Keterangan : Z = Angka Baku = rata-rata S = simpangan baku sampel Dari data sampel tersebut diurutkan dari skor terendah ke skor tertinggi. Z2. 6) Kesimpulan Dalam penentuan ditolak atau diterima ditentukan dengan kriteria : a) b) Jika L0hitung > Ltabel maka Hoditerima sebagai distribusi sebaran data tidak normal. 2) Dengan data distribusi normal baku.Zn ≤ Z dinyatakan dengan : S (Z1) Maka S(Zi) =banyaknya 4) 5) Menghitung selisih F (Zi) –S (Zi) dan menentukan harga mutlaknya Mengambil harga yang terbesar diantara harga mutlak selisih tersebut dan harga mutlak tersebut disebut Lo. Jika L0hitung < Ltabel maka Hoditerima sebagai distribusi sebaran data normal.…. Uji Linieritas Data Uji linieritas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model persamaan yang kita peroleh cocok atau tidak. maka Ho ditolak berarti persamaannya tidal linier .k)s Menghitung : Jika Fhitung > Ftabel.N.

2) 3) Level of significant α = 5% Kriteria pengujian . Menentukan formulasi Ho dan H1 Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara variable independen dengan variable depanden secara terpisah.0 M. Regresi Linier Berganda Digunakan untuk mengetahui pengaruh profesionalisme guru dan motivasi kerja guru terhadap kinerja guru SMA Muhamaddiyah 2 Surakarta. sehingga sudah bisa diketahui apakah dugaan yang sudah ada dapat diterima atau ditolak. Adapun menurut Sudjana (2002 : 69) rumusnya adalah sebagi berikut: Y = α + b1X1 + b2X2 Keterangan : Y = Kinerja guru α = Konstanta b1 = Koefisien regresi untuk X1 b2 = Koefisien regresi untuk X1 X1 = Profesionalisme guru X2 = Motivasi kerja 1. Langkah-langkahnya : 1. Uji Parsial (Uji t) Digunakan untuk mengetahui signifikasi ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial atau sendiri-sendiri. Tehnik Analisis Data 1. H1 :β ≠0 : berarti ada pengaruh antara variable independen dengan varibel dependen secara terpisah. 1) Uji t profesionalisme kerja (X1) dengan kinerja guru (Y).b) Jika Fhitung < Ftabel. maka Ho diterima berarti persamaannya linier Pengujian uji linieritas dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS for Windows 15.

12 = galat baku taksiran dalam populasi Ri2 = koefisien antara X1 dan X2 5) Kesimpulan dengan t maka dapat diketahui ada tidaknya pengaruh profesionalisme Membandingkan antara t hitung tabel kerja (X1) dan kinerja guru (Y). Menentukan formulasi Ho dan H1 . 1) Uji t motivasi kerja (X2) dengan kinerja guru (Y).-t (a/2.0 1. n-k-1) -t (a/2. Pangujian uji t dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS for Wondows V 15.t tabel Pengujian nilai t Sudajana (2003 : 70 – 94) Sbi = S2y.12 = Keterangan : Sbi = galat baku koefisien bi S2Y. n-k-1) Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima H0 diterima apabila –t Ho ditolak apabila t 4) t= tabel ≤t hitung ≤t tabel hitung >t tabel atau t hitung >.

12 = galat baku taksiran dalam populasi Ri2 = koefisien antara X1 dan X2 5) Kesimpulan .Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara variabel independen dengan variable depanden secara terpisah.12 = Keterangan : Sbi = galat baku koefisien bi S2Y. n-k-1) -t (a/2. H1 :β ≠0 : berarti ada pengaruh antara variable independen dengan varibel dependen secara terpisah. 2) 3) Level of significant α = 5% Kriteria pengujian -t (a/2.t tabel Pengujian nilai t Sudajana (2003 : 70 – 94) Sbi = S2y. n-k-1) Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima H0 diterima apabila –t Ho ditolak apabila t 4) t= tabel ≤t hitung ≤t tabel hitung >t tabel atau t hitung >.

1.0 1.Membandingkan antara t hitung dengan t tabel maka dapat diketahui ada tidaknya pengaruh profesionalisme kerja (X1) dan kinerja guru (Y). dengan: JKR = JKT = Σy2 JKG = JKT – JKR Dimana : k n F = jumlah variable independent = jumlah sampel = F hitung Perhitungan nilai F . Uji F Uji F digunakan untuk mengetahui signifikasi pengaruh variabel profesionalisme guru (X1) dan motivasi kerja (X2) secara bersama-sama terhadap kinerja guru (Y).05 Daerah tolak H0 0 Daerah terima H0 6. Penentuan level of significance 5%. 2. Pangujian uji t dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS for Wondows V 15. Kriteria pengujian Ho diterima apabila :Fhitung ≤ Ftabel Ho ditolak apabila :Fhitung ≥ Ftabel 1. Menentukan formulasi Ho dan H1 Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara profesionalisme (X1) dan motivasi (X2) terhadap kinerja (Y) H1 : β ≠ 0 : berarti ada pengaruh antara profesionalisme (X1) dan motivasi (X2) terhadap kinerja (Y) 1. dipilih α = 0.

X2 x R2 . Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Keterangan: R2 = Koefisien determinasi a Y = Koefisien regresi = kinerja guru X1 = profesionalisme guru X2 = motivasi kerja 1. Sumbangan relatif adalah untuk mengetahui seberapa besar sumbangan masing-masing prediktor terhadap kriterium Y dengan rumus : Untuk Untuk 1. Sumbangan efektif adalah sumbangan untuk mengetahui seberapa besar sumabangan yang diberikan masing-masing prediktor terhadap kriterium terlebih dahulu dicari efektif garis regresi dengan rumus : R2 = SE = X 100% Mencari hubungan efektif X1 terhadap Y SE%X1 =SR%. 1. 2000: 284-285) Pangujian uji F dilakukan dengan menggunakn bantuan program SPSS for Wondows V 15.0.1. (Budiyono. Koefisien Determinasi Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan yang diberikan variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditunjukkan dalam prosentase. Apabila H0 ditolak berarti ada pengaruh variabel hitung tebel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Nilai F Kesimpulan diperoleh kemudian dibandingkan dengan F .X1 x R2 Mencari hubungan efektif X2 terhadap Y SE%X2 =SR%. Mencari Sumbangan Relatif (SR) dan Sumbangan Efektif (SE) X1 dan X2 terhadap Y 1.

N. rumusan masalah. BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://www. Sistematika Laporan Sistematika ini merupakan isi yang ada didalam penelitian yang akan dilakukan. populasi. uji instrument. sampel. definisi profesionalisme guru. indicator.com/199-pengaruh-profesionalisme-guru-dan-motivasi-kerjaterhadap-kinerja-guru-studi-kasus-pada-sma-muhammadiyah-2-surakarta.Dimana R2 = efektif garis regresi 1. definisi motivasi kerja. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi penjelasan mengenai definisi kinerja guru.infodiknas. tempat penelitian. sistematika laporan dan jadwal penelitian. sampling. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang ganbaran umun pengumpulan data. try out angket. jenis penelitian. teknik pengumpulan data. manfaat penelitian dan sistematika laporan.html . Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagi berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang masalah. variabel penelitian. sumbe data. uji prasyarat analisis. dan teknik analisa data. kerangka pemikiran dan hipotesis. tujuan penelitian. pembatasan masalah. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan tentang metode penlitian.