P. 1
Analisis Potensi Pendapatan Asli Daerah Dan Strategi Peningkatan Kemampuan Keuangan Daerah

Analisis Potensi Pendapatan Asli Daerah Dan Strategi Peningkatan Kemampuan Keuangan Daerah

|Views: 5,256|Likes:
Published by bandi2340

More info:

Published by: bandi2340 on Mar 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2015

pdf

text

original

ANALISIS POTENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN STRATEGI PENINGKATAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH (Studi di Kabupaten Sumbawa) ANALYSIS

ORIGINAL INCOME POTENCY REGION AND STEP UP STRATEGY REGION ACCEPTANCE LIABILITY (Study at Regency Sumbawa) Subhan Purwadinata Program Studi Magister Ilmu Ekonomi (MIE) David Kaluge dan Asfi Manzilati Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ABSTRACT Jurisdictional basic to be performed its regions financial management by local government be was issued its Statute one gets bearing with autonomous region UU 32 th 2004 about Region Governance and UU 33 th 2004 about financial center and local government counter balance and UU 28 th 2009 about region taxes and region retributions. Law third that one becomes observational performing law basic that gets Analys title Original Income Potency Region and acceptance liability step up Strategy (Study at Regency Sumbawa). To the effect this research is: (1) To know region income potencies those are sighted from Region Original Income (PAD) and its supporting component, including region taxes administration, region acceptance liability zoom and (2 ) Role and local government strategy increase region acceptance liabilities. Observational methods that is utilized is by use of two approachings namely qualitative discriptive approachings and quantitative discriptive (Post Positivistic Research). Data that is utilized is primary data and secondary data with approaching indefth interview one that is done on elected informan namely main informan that utilizes tech snowball namely informan of head on duty and section head at DPKA, prominent society, academician, LSM and ordinary society to compare among the one source with another source. Interview started by afterwards key informan letting to wheel to succeeding informan. This elected informan can and gaining control about about problem which is analyzed and can laid at the door it and reasonably been made informan. This observational result is: (1) regency propertied Potencies Sumbawa is dominated from region retribution sectors whereas region taxes follows but entirely propertied still a lot of accomplished by counter balance fund of PAD center and contribution can't yet form region independences. (2) taxes administration Settlements region most constraints by was optimal performing and Socialization program socializations, to data,charge every day (SoMentari) in taxeses regressive activity region. (3) acceptance liabilities of PAD potencies very low and needs potency optimal exploits which had by regions. (4) PAD component Contribution that experience drastic decrease namely of sectorallies taxes, and its contribution goes away inferior of region retribution contribution. (5) policy deep Local Governments its veriority region acceptance of region taxes sectors. This observational conclusion is: (1) region propertied Potencies in this case Region Original Incomes (PAD) and its supporting sector at Sumbawa regency dominated by region retribution sector and region taxes sector. (2) effective region taxes Administrations for noticed especially in performing programs Socialization,charge every day (SoMentari) effectively and need IT energy increase to make based data region taxes. (3) Region acceptance liability lies on bottommost category and commanding common policy propertied area is by undertaking taxation and strategy intensification that is built in acceptances liability increasing program region be still under estimated and streamlines strategy that aims on SDM SKPD quality step-up, expense and cost estimate efficiency that adjusted by requirement and region fiscal capacity.

Key word: Financially Region, Acceptance liability, PAD potency. 1

ABSTRAK Dasar hukum dilaksanakannya pengelolaan keuangan daerah oleh pemerintah daerah adalah telah dikeluarkannya Undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah yakni Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan pusat dan pemerintah daerah dan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Ketiga Undang-undang tersebut yang menjadi dasar hukum pelaksanaan penelitian yang berjudul Analisis Potensi Pendapatan Asli Daerah dan Strategi Peningkatan Kemampuan Keuangan (Studi di Kabupaten Sumbawa). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui potensi pendapatan daerah yang ditinjau dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan komponen pendukungnya, termasuk administrasi pajak daerah, tingkat kemampuan keuangan daerah dan (2) Peran dan strategi pemerintah daerah meningkatkan kemampuan keuangan daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan kualitatif diskriptif dan kuantitatif diskriptif (Post Positivistic Research). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan pendekatan indefth interview yang dilakukan pada informan terpilih yakni informan utama yang menggunakan teknik snowball yakni informan dari Kepala Dinas dan Kepala Seksi di DPKA, pemuka masyarakat, akademisi, LSM dan masyarakat biasa untuk membandingkan antara sumber yang satu dengan sumber lainnya. Wawancara diawali dengan informan kunci setelah itu dibiarkan menggelinding kepada informan selanjutnya. Informan terpilih ini mampu dan menguasai tentang permasalahan yang diteliti dan mampu mempertanggung jawabkannya dan layak dijadikan informan. Hasil penelitian ini adalah: (1) Potensi pendapatan kabupaten Sumbawa didominasi dari sektor retribusi daerah sedangkan pajak daerah mengikuti tetapi keseluruhan pendapatan masih banyak dipenuhi oleh dana perimbangan dari pusat dan kontribusi PAD belum mampu membentuk kemandirian daerah. (2) Penataan administrasi pajak daerah terkendala oleh belum optimalnya pelaksanaan dan sosialisasi program Sosialisasi,Mendata,menagih tiap hari (SoMentari) dalam kegiatan pemungutan pajak daerah.(3) Kemampuan keuangan dari potensi PAD sangat rendah dan membutuhkan pemanfaatan optimal potensi yang dimiliki daerah. (4) Kontribusi komponen PAD yang mengalami penurunan drastis yakni dari sektor pajak, dan kontribusinya jauh lebih rendah dari kontribusi retribusi daerah. (5) Pemerintah daerah dalam kebijakannya memperioritaskan penerimaan daerah dari sektor pajak daerah. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Potensi pendapatan daerah dalam hal ini Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sektor pendukungnya di kabupaten Sumbawa didominasi oleh sektor retribusi daerah dan sektor pajak daerah.(2) Administrasi pajak daerah efektif untuk diperhatikan terutama dalam pelaksanaan program Sosialisasi,Mendata,menagih tiap hari (SoMentari) secara efektif dan membutuhkan penambahan tenaga IT untuk membuat data based pajak daerah.(3) Kemampuan keuangan daerah berada pada kategori sangat rendah dan kebijakan umum pemerintah bidang pendapatan adalah dengan melakukan intensifikasi perpajakan dan strategi yang dibangun dalam program peningkatan kemampuan keuangan daerah masih under estimated dan mengefektifkan strategi yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM SKPD, efisiensi belanja dan rencana anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas fiskal daerah.

Kata Kunci : Keuangan Daerah, Kemampuan Keuangan, Potensi PAD. 2

PENDAHULUAN Latar Belakang Cita-cita dan tujuan nasional memberikan arah bagi pelaksanaan pembangunan agar dapat berjalan dengan efektif, efisien, dan sesuai dengan sasarannya adalah dengan melaksanakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Tujuan dari pelaksanaan desentralisasi adalah untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis, maka diperlukan adanya kebijakan yang mampu merealisasikan cita-cita dan tujuan tersebut. Salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintah adalah dengan melaksanakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Desentralisasi pada dasarnya terdiri dari desentralisasi politik (political decentralization), desentralisasi administrasi (administrative decentralization), desentralisasi fiskal (fiscal decentralization), desentralisasi ekonomi (economic or market decentralization) (Depkeu,2008:1). Pelaksanaan desentralisasi diwujudkan melalui pemberian bantuan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat, ditambah dengan argumen untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menyebabkan lebih menguatnya sistem sentralisasi (Depkeu,2009:2). Sistem sentralisasi yang dijalankan oleh pemerintah pusat selama ini melahirkan krisis ekonomi dan kepercayaan yang melanda dan memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi upaya peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan memunculkan ketergantungan pemerintah daerah dalam hal penetapan kebijakan yang diambil di daerah dikarenakan selalu menanti kebijakan yang diatur dari pusat dan berlaku secara umum di daerah, termasuk di dalamnya adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat berupa subsidi dan transfer untuk pendanaan pembangunan yang dilakukan di daerah. Untuk itu diperlukan pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah (Mardiasmo,2004:3). Perubahan dari pola pikir sentralisasi ke pola pikir desentralisasi, dalam arti penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah otonom, sangat dibutuhkan saat ini. Kalau dulu untuk mengambil keputusan menunggu penunjuk dan pengarahan dari pusat dalam 3

bentuk usulan-usulan strategis, sejalan dengan itu memunculkan undang-undang untuk mengelola administrasi pemerintah daerah serta pemberdayaan keuangan daerah untuk lebih berguna bagi pembangunan daerah mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan serta pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusiannya merupakan salah satu instrumen untuk meningkatkan sumber pendapatan pembangunan daerah (Yustika,2006:99). Dalam pembenahan dan alternatif kebijakan, diperlukan adanya pemberian keleluasan kepada pemerintah daerah untuk menjalankan roda pemerintahan dan bertanggungjawab akan pelaksanaan pembangunan di daerah sesuai peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah melalui Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan UU Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan pemerintah daerah (Depkeu,2008:2). Sumber-sumber penerimaan daerah mengacu kepada undang-undang tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang besarnya disesuaikan dan diselaraskan dengan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah diberi hak untuk mendapatkan sumber keuangan berupa kepastian tersedianya pendanaan dari pemerintah sesuai urusan pemerintahan yang diserahkan yakni kewenangan memungut sekaligus mendayagunakan pajak dan retribusi daerah, hak untuk mendapatkan bagi hasil dari sumbersumber daya nasional yang berada di daerah dan dana perimbangan lainnya serta untuk mengelola kekayaan daerah dan mendapatkan sumbersumber pembiayaan dengan prinsip dasarnya uang mengikuti fungsi (Money Follow Function) (Yuwono,2008:46). Sumber penerimaan daerah seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD) diwujudkan di daerah dengan kewenangan memungut pajak dan retribusi daerah yang diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2000 dengan peraturan pelaksanaannya berupa PP Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah dan PP Nomor 66 Tahun 2001 tentang retribusi daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut daerah diberi kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak dan 28 jenis retribusi. Ditinjau dari kontribusi pajak daerah dan retribusi daerah sampai saat ini

terjadi ketimpangan yang relatif besar terhadap distribusi kewenangan perpajakan antara pusat dan daerah yang tercermin dari jumlah penerimaan pajak yang tidak berdampak besar bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).2000:50). Otonomi daerah dan desentralisasi membutuhkan kesiapan semua pihak di daerah baik eksekutif. sehingga ketergantungan kepada bantuan pemerintah pusat harus seminimal mungkin dapat ditekan. transparan dan akuntabel (Kaho. efisien. Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan daerah rata-rata Kabupaten di lima propinsi tersebut di atas dalam membiayai pembangunannya masih rendah (Radianto. efektif. karena pembiayaan kebutuhan di sebagian besar daerah pada kenyataannya hanya memiliki PAD kurang dari 10 % dan hal ini sangat bervariasi disetiap daerah yakni antara 10 % .2008:47). legislatif maupun masyarakat di daerah. propinsi yang rata-rata IKR-nya berada di bawah 10 persen yaitu Irian Jaya. Kegiatan ini hendaknya didukung juga oleh kebijakan perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah sebagai prasyarat dalam sistem pemerintahan negara (Koswara. Dengan dikuranginya ketergantungan kepada pemerintah pusat maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi sumber keuangan terbesar.50 % karena kewenangan perpajakan (taxing power) daerah sangat terbatas dan akhirnya akan bermuara pada rendahnya kemampuan keuangan daerah (Yuwono. Kabupaten Sumbawa berada di propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tentunya mengalami masalah tentang rendahnya kemampuan daerah dalam mendapatkan pendanaan dalam rangka membiayai pembangunan di daerah sehingga dibutuhkan upaya menggali potensi pendapatan yang diperoleh daerah.1995:9).1991:123) Indikator rendahnya kemampuan daerah dalam membiayai pembangunan dapat dilihat dari Indek Kemampuan Rutin (IKR) yang diperoleh dari besarnya rasio perubahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pengeluaran rutin daerah. rata-rata Indeks Kemampuan Rutin (IKR) Kabupaten masih sangat rendah dan cendrung menurun dari 25. Sulawesi Tenggara. berdasarkan data yang tersedia kurun waktu pelita V. Nusa Tenggara dan Jambi. Salah satu aspek penting pelaksanaan 4 otonomi daerah dan desentralisasi yang harus diatur secara hati-hati adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dengan menggali sumber-sumber potensi daerah yang belum dioptimalkan oleh daerah dalam wadah desentralisasi fiskal otonomi daerah di bawah desentralisasi yang luas. Berlandaskan data yang disampaikan dalam kurun waktu pelita V tersebut relevan dengan kondisi struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan daerah tidak sebanding dengan pertumbuhan belanja daerah secara keseluruhan baik belanja langsung maupun tidak langsung termasuk pengeluaran rutin daerah yang memperkuat Indeks Kemampuan Rutin (IKR) daerah sebagai indikator yang menegaskan kondisi kemampuan keuangan suatu daerah. Pemerintah daerah tidak saja menggali sumber-sumber keuangan akan tetapi juga sanggup mengelola dan menggunakan secara value for money dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah.1 persen pada tahun 1995/1996. nyata dan bertanggung jawab diperlukan manajemen keuangan daerah yang mampu mengontrol kebijakan keuangan daerah secara ekonomis. Ciri utama kemampuan suatu daerah adalah terletak pada kemampuan keuangan daerah artinya daerah otonom harus memiliki kewenangan dan kemampuan dalam menggali sumber keuangan sendiri untuk menjalankan fungsi pemerintahan faktor keuangan suatu hal yang sangat penting karena hampir tidak ada kegiatan pemerintahan yang tidak membutuhkan biaya.1997:40).5 persen tahun 1991/1992 menjadi 18. Kemampuan keuangan daerah diukur dengan melihat dua asfek penting yakni ditinjau berdasarkan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) dengan melihat perbandingan antara besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan besarnya penerimaan daerah secara keseluruhan dan selain itu juga dapat ditinjau berdasarkan Indeks Kemampuan Rutin (IKR) dengan melihat perbandingan persentase besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah dengan pengeluaran rutin daerah yang distandarkan dengan kriteria masing-masing akan tetapi daerah-daerah masih berada pada kisaran 10 % sampai 50% (Kuncoro. Adapun data perkembangan Pendapatan dan Belanja Daerah yang diperoleh dari struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumbawa ditunjukkan dalam tabel 1 berikut : . Maluku.

31% dan kemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya sebesar 13. Berangkat dari data perkembangan data pendapatan dan belanja daerah tersebut. Jumlah tersebut lebih banyak ditopang oleh dana perimbangan dari pemerintah pusat dan propinsi dalam membiayai seluruh belanja daerah untuk itu perlu upaya pemerintah dalam menggali potensi pendapatan daerah. sedangkan sisanya dibiayai dari dana perimbangan dan pendapatan lainnya (DPKA Kabupaten Sumbawa.33 570.27 38. setelah itu diikuti oleh sektor perdagangan dan hotel yang mencapai Rp 483 juta di tahun 2007 dan kenaikan tersebut dirasakan terjadi relatif cepat dari tahun ke tahun demikian dengan sektor-sektor yang lainnya dirasakan juga ikut berkembang. pemerintah daerah perlu berupaya melakukan program peningkatan kemampuan keuangan 5 Sumber:BPSKabupatenSumbawa Tabel 2 menjelaskan bahwa PDRB Kabupaten Sumbawa terdiri dari 9 jenis sektor pendukung.26 22.32 persen sedangkan pertumbuhan belanja daerah melebihi rata-rata pertumbuhan pendapatan yakni sebesar 22.2008). Kondisi sektor ekonomi tersebut dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.00 3 2007 485. karena itu diperlukan kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam .59 15.99 4.58 Pert (%) 40.71 4 2008 560.38 29. 2007 505.97 (Σ Rata-rata) 447.64 362. Hal tersebut juga diperjelas oleh upaya pemerintah daerah meningkatkan kemampuan peningkatan pendapatan daerah.93 350.01 33.30 22.84% dari target 90%.74 538. 2006 382. Potensi lainnya yang menguatkan upaya pemerintah perlu melihat dari sisi sektor ekonomi daerah yang tertuang dalam masing-masing sektor lapangan usaha dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah.87 Realisasi (%) 249. Hal tersebut juga mencerminkan kondisi pertumbuhan yang berbeda pula yakni pertumbuhan pendapatan rata-rata sebesar 22.65%.96 persen.Tabel 1 :Data Perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Sumbawa Tahun 20052008 (dalam milyaran rupiah) Realisasi (Rp) 254.88 18. Peranan dari PDRB tersebut memberikan dampak terhadap besarnya Indeks Penampilan PAD (IPP) yang menerangkan tentang kuat atau lemahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam membiayai pembangunan Kabupaten Sumbawa. Realisasi APBD daerah menegaskan kemampuan keuangan daerah mendanai belanja operasi hanya sebesar 6.97 23.88 3.87 Pert (%) 42.43 22.67 2.96 Sumber : Data Dinas PKA (diolah) No TA daerah dengan mengoptimal sumber-sumber pendapatan yang asli milik daerah yakni dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menjadi tulang punggung pendapatan yang diperoleh dari kekayaan yang dimiliki oleh daerah terutama potensi daerah dari Pendapatan Asli Daerah.58 (Σ Rata-rata) 416. 2008 621. dan berdasarkan data.78 22.32 No TA Belanja Pert (Rp) (%) 1.416. sektor yang lebih dominan yakni sektor pertanian sehingga dapat dikatakan sektor pertanian memberikan kontribusi yang cukup besar bagi peningkatan pendapatan di Kabupaten Sumbawa.29 500.13 Pendapatan Pert (Rp) (%) 1 2005 258. Rata-rata pendapatan daerah dari tahun 2005 sampai tahun 2008 sebesar Rp.30 Milyar.78 Milyar yang berbeda dengan rata-rata besarnya belanja daerah yakni sebesar Rp 447.87 455.97 2 2006 362.97 398.57 40. dilakukan upaya meningkatkan potensi pendapatan daerah yang mana tingkat realisasi baru mencapai 77.31 31.10 13. yakni sebagai berikut : Tabel 2 : PDRB Kabupaten Sumbawa ADHB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003-2007 (dalam jutaan rupiah) Tabel 1 menjelaskan bahwa ada perbedaan yang cukup mencolok antara pendapatan yang diperoleh dengan besarnya belanja daerah dengan jumlah rata-rata yang berbeda.82 36. 2005 279.23 421.

558 1.10 7.775 15.8 Milyar atau turun sebesar Rp 2.22 4 2007 4.mengkaji keterkaitannya dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sektor pajak daerah menjadi prioritas utama dalam program pemeritah daerah dalam meningkatkan pendapatan daerah yang dilaksanakan dengan program-program tertentu untuk meningkatkan jumlah pendapatan di sektor ini.259 -35. Untuk lebih mempertegas kondisi ketidakstabilan kontribusi pajak daerah tersebut.8 8. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya implikasi teoritis sesuai disiplin ilmu yang dimiliki yaitu Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan khususnya pada konsentrasi keuangan daerah. akan tetapi kontribusi tersebut masih belum sebanding dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah. maka perlu mengkaji kondisi kemampuan keuangan daerah sebagaimana dijabarkan dalam data perkembangan pendapatan dan belanja daerah.136 4.700 104 2.136 4.259.Pert Laba Dae(%) busi (%) BU No Thn rah Dae MD rah 1 2004 6.2 7.780 -5. Adapun kondisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumbawa adalah sebagai berikut : Tabel 3 : Rincian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan komponen pendukung PAD Kabupaten Sumbawa tahun 2004-2008 (dalam milyaran rupiah) No 1 2 3 Uraian Pajak Daerah Retribusi daerah Laba BUMD Total PAD 2004 6.564 2.77 5 2008 5.1 persen.7 Tabel 4 : Pertumbuhan Sektor Pendukung PAD Kabupaten Sumbawa 2004-2008 (dalam milyaran rupiah) Pjk Pert Retri.059 20.80 4.423 27.36 Sumber: Data Dinas PKA (diolah) Tabel 4 menegaskan bahwa pertumbuhan sektor-sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mengalami masalah terletak pada sektor pajak daerah yang rata-rata pertumbuhannya hanya 0.063 12. hal itu perlu diperbandingkan dengan kenyataan bahwa pijakan kegiatan utama pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan daerah adalah meningkatkan pendapatan di sektor pajak daerah yang menjadi skala prioritas.700 2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.635 8.6 2.564 -1.5 Milyar menjadi Rp 4.7 2.558 1.56 2007 4.661 12.10 17.258 2.6 Sumber : Dinas (DPKA) Kabupaten Sumbawa Tabel 3 menerangkan bahwa PAD Kabupaten Sumbawa setiap tahunnya mengalami peningkatan terutama pada sektor retribusi daerah dan laba BUMD sedangkan sektor pajak daerah terdapat ketidakstabilan kontribusi pajak daerah bahkan pada tahun 2006 menuju tahun 2007 mengalami penurunan yang sangat drastis yakni dari Rp 6.8 24.35 2005 5.7 13.6 3.258 -6. yang menguraikan tentang masih rendahnya kemampuan keuangan daerah propinsi Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Barat) dan lebih spesifik lagi Kabupaten Sumbawa.259 8.780 4.225 17.635.3 9.635 14. berikut kondisi pertumbuhan sektor-sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai mana terlihat dalam tabel 4 di bawah ini: .10 Tahun 2006 6.214 7. Untuk itu perlu mengidentifikasi dan mencari informasi yang lebih lengkap tentang fenomena masalah perpajakan secara lebih rinci disektor pajak daerah tersebut.42 9. Untuk itu keterkaitan dengan hal tersebut diperlukan strategi-strategi yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menggali potensi pendapatan daerah termasuk di dalamnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mendukung kemampuan keuangan daerah dan menjadi ujung tombak di daerah.59 2008 5.10 Σ Rata-rata 5. Kondisi tersebut lebih dipertegas lagi oleh data pertumbuhan di sektor tersebut yang mengalami penurunan signifikan. Bertitik tolak dari data kurun waktu pelita V di atas.06 3 2006 6.5 2.38 Milyar. 2. Sebagai penyumbang pemikiran kepada pembuat kebijakan pemerintah baik pusat 6 Pert (%) 24.8 8.647 0.21 3.7 11.66 2 2005 5.

dan penggunaan pajak yang dipungut oleh Pemerintah daerah dengan pengaturan dari daerah sendiri.1997:114). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam pajak juga dapat ditemukan pada pajak daerah (Davey. nyata dan bertanggungjawab kepada daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (Anonymus. Fungsi budgetair pajak mengemuka ketika pajak menjadi sumber pendanaan bagi Pemerintah untuk membiayai pengeluarannya baik pengeluaran rutin maupun pembangunan. Pajak Daerah. kemampuan organisasi pemerintahan daerah serta kondisi setiap daerah (Saragih. fungsi mengatur akan . namun ditujukan kepada kepentingan umum atau masyarakat (Meliala. sebagaimana terformulasikan dalam ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998. Sementara.2003:83). dasar pemungutan. merupakan landasan kuat untuk penyelenggaraan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. pemanfaatan hasil maupun evaluasi (Kaho. artinya dengan desentralisasi atau otonomi daerah tersebut. pelaksanaan. tentang penyelenggaraan otonomi daerah.3. aparat pemungut. Menjadi bagian dari literatur dan informasi bagi penelitian-penelitian sejenis lebih lanjut dan juga penelitian yang memiliki kontribusi bagi perkembangan dan pembangunan Kabupaten-Kabupaten di Indonesia pada umumnya dan pembangunan Kabupaten Sumbawa khususnya yang dilakukan secara berkesinambungan.1997:47).Terlihat berbeda menurut (Mardiasmo. maupun daerah. Komponen PAD. pengaturan. Retribusi Daerah dan Laba Usaha BUMD dalam Pembangunan Daerah Meskipun tiada jasa imbal yang bersifat kontraprestasi langsung yang harus diberikan Pemerintah kepada pembayar pajak atau rakyat. Hal ini berarti secara finansial tidak tergantung pada pemerintah pusat dengan jalan menggali sebanyak mungkin sumber Pendapatan Asli Daerah (Radianto. Pajak (termasuk pajak daerah) pada dasarnya mempunyai fungsi yang diperkenalkan sebagai fungsi anggaran (budgetair) dan fungsi mengatur (regulation). khususnya pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kebijakankebijakan pembangunan infrastruktur dan perkembangan kontribusi sektoral serta kebijakan dibidang fiskal terutama untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai pembangunan sesuai dengan tujuan adanya desentralisasi fiskal dalam kerangka otonomi daerah yang bertanggung jawab. namun menggarisbawahi bahwa Pemerintah tetap wajib memberikan jasa imbal yang bersifat tidak langsung kepada rakyat (pembayar pajak) dalam wujud pembangunan yang kegunaannya bukan secara individual.2004:98). Keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah juga sangat bergantung dari partisipasi aktif masyarakat dan membawa implikasi bagi masyarakat sebagai satu kesatuan integral dari pemerintah daerah yang sangat penting dari sistem pemerintahan.1999:157). KAJIAN PUSTAKA Implikasi Otonomi Daerah Terhadap Keuangan Daerah dan Desentralisasi Fiskal Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menganut azas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah berdasarkan Undang-undang Dasar 1945.1988:39). Partisipasi masyarakat dapat meliputi partisipasi dalam proses pembuatan keputusan. Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan konsep antara pajak secara umum dengan Pajak Daerah. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan.1991:8). karena penyelenggaraan otonomi ditujukan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Desentralisasi fiskal sebagai proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintah dalam pelayanan publik sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan. Bagaimana masing-masing daerah melaksanakan kewenangannya tergantung kepada daerah yang bersangkutan sesuai kreativitas. kewenangan daerah Kabupaten/kota kini menjadi lebih besar dibandingkan dengan provinsi atau pusat. 7 Otonomi daerah bisa diwujudkan apabila disertai dengan otonomi keuangan dan ekonomi yang baik.

maupun Subsidi/Bantuan dari Pemerintah Pusat. sebab hubungan tersebut telah didominasi oleh level pemerintah di atasnya. Dana perimbangan dapat digambarkan melalui dua pendekatan rasional pertama.2004:1) Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan. Di Indonesia. maka mereka harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk surcharge of taxes. Pelaksanaan desentralisasi fiskal tersebut akan berjalan dengan baik apabila terdapat pengawasan dan enforcement yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat yang kapabel. Dalam konsep desentralisasi intensifikasi dan ekstensifikasi penerimaan daerah terkait dengan intergovernmental relations. adil dalam hal perlakuan yang merata dan bersifat umum disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Selain PAD sumber pendanaan daerah berikutnya adalah dana perimbangan. sistem pemungutan pajak harus memudahkan dan mendorong masyarakat memenuhi kewajiban perpajakannya (Mardiasmo.2004:2). dalam hal ini pemerintah daerah bisa membuat kebijakan peningkatan PAD dengan memperhatikan daerah sekitar dalam usaha menjaga kestabilan. dan diberikan kebebasan dalam pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik. jika daerah tersebut memiliki sumber- . kebijaksanaan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah dilakukan dengan mengikuti 8 pembagian kewenangan atau money follows function. berarti memberikan jaminan hukum baik bagi daerah maupun warganya. dan (e) Sederhana. (c) Ekonomis. kepada pemerintah daerah diberikan seperangkat sumber-sumber keuangan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab pemerintah daerah yang dapat dilaksanakan sesuai dengan jumlah pembiayaan yang diterima tersebut kedua. Sebab pembangunan ekonomi. misalnya ketika pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi pola hidup konsumtif. pembagian tiugas dan tanggungjawab antara pemerintah pusat dan daerah ditentukan terlebih dahulu setelah itu baru ditetapkan pembagian sumber keuangannya (Yani. Pinjaman. dan terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggung jawab daerah dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan yang ada (Sidik. dan banding. didasarkan pada tujuan untuk menyusun perencanaan dan menciptakan kesejahteraan yang lebih baik dalam nuansa keterbatasan anggaran dan mahalnya teknologi. Retribusi misalnya hendaknya tidak berbeda jauh dengan retribusi daerah lain. Organisasi sosial dan politik yang didasarkan pada ikatan teritorial (kewilayahan) akan terkikis dan digantikan oleh dominasi kelompok berbasis kedudukan atau korporasi seperti halnya pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. daerah memperoleh kewenangan untuk memanfaatkan sumber keuangan sendiri dan didukung dengan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.2002:101) Dalam konsep otonomi daerah dijelaskan bahwa suatu daerah disebut sebagai daerah otonom.1985) Pada kenyataannya model hubungan antarpemerintah daerah yang selevel (intergovernmental relations) sulit terjadi. atau pengenaan pajak ekspor nol persen untuk mendorong ekspor produk lokal ke pasar global (Mardiasmo. Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. pemungutan pajak tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi sehingga tidak menimbulkan kelesuan ekonomi. Dominasi pemerintah pusat terhadap kondisi perekonomian. (b) Yuridis. biaya pemungutan pajak harus lebih rendah dari hasil pemungutannya. senantiasa mengarahkan penduduk untuk terkonsentrasi di daerah industri dan pada usaha yang menyerap tenaga kerja besar (Smith.menonjol ketika Pemerintah menggunakan pajak untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan di bidang sosial ekonomi untuk mencapai tujuan tertentu. Hal ini berarti bahwa hubungan keuangan antara pusat dan daerah perlu diberikan pengaturan sedemikian rupa. serta adil dalam hal memberikan kesempatan kepada wajib pajak untuk mengajukan keberatan. (d) Finansial.1982:120) harus memenuhi syarat (a) Keadilan. tidak menimbulkan arus urbanisasi besar-besaran. Potensi Daerah Sebagai Sumber Utama Untuk Meningkatkan PAD Dalam Pendanaan Pembangunan Daerah Apabila Pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif.2002:6-18). penundaan pembayaran. Demikian pula dengan investasi daerah. maka pemungutan pajak menurut Wagner yang dikutip (Soetrisno.

terutama sekali dalam mengkaji potensi pajak daerah. diharapkan. kemampuan organisasi pemerintahan daerah serta kondisi setiap daerah (Saragih. Dalam mengkaji dan mencari informasi terkait dengan hal tersebut perlu diidentifikasi alternatif langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat. UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah dan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Adapun informasi yang dapat digali dan dirasakan dapat memecahkan persoalan tersebut adalah mengetahui arah kebijakan pembangunan dan mendapatkan . kewenangan daerah Kabupaten/kota kini menjadi lebih besar 9 dibandingkan dengan provinsi atau pusat.2002:15). Hal tersebut diperlukan agar daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya pelimpahan wewenang kepada pemerintahan daerah dengan diikuti perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. karena dana ini murni digali sendiri dan dapat digunakan sepenuhnya untuk dimanfaatkan sesuai prioritas daerah dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah (Soeratno. atau sebut saja penggunaan anggaran sesuai fungsinya. karena kaitan tentang potensi pendapatan yang dimiliki oleh suatu daerah dijabarkan dalam Undang-undang tersebut.2003:83). dalam hal ini unsur yang dapat berperan yakni kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang mengarah kepada pengkajian potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). KERANGKA KONSEPTUAL Kerangka Pemikiran Pada dasarnya penelitian ini tetap mengacukan diri pada payung hukum yang terkait dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensinya berada di daerah dan dikelola oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Bagi banyak daerah. dan juga karena selama ini belum ada penelitian yang mengkaji tentang sejauh mana potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) khususnya di kabupaten ini. Salah satu sumber keuangan daerah adalah berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). retribusi daerah dan laba BUMD. tidak mungkin berlangsung. Bagaimana masing-masing daerah melaksanakan kewenangannya tergantung kepada daerah yang bersangkutan sesuai kreativitas. sehingga penelitian ini menemukan masalah dan mencari data dan informasi untuk memecahkan masalah potensi daerah yang dapat meningkatkan pendapatan daerah dan strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah dengan menggunakan langkah-langkah yang dirasakan tepat untuk menemukan solusi. karena dalam kebijakan umum pemerintah terdapat banyak data dan informasi yang dapat digali untuk menemukan suatu jawaban yang tersirat maupun tersurat. Tetapi mengingat desentralisasi di bidang administrasi juga berarti transfer personal (Pegawai Negeri Sipil) yang penggajiannya menjadi tanggung jawab daerah. hal ini terjadi karena Dana Alokasi Umum (DAU) yang menjadi sumber utama pendapatan daerah pada umumnya sebagian besar akan digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin.2005:1). Adapun masalah dan fokus jawaban yang dirasakan dapat memecahkan masalah tersebut dijabarkan sebagai berikut : Upaya-upaya meningkatkan potensi pendapatan daerah di kabupaten Sumbawa mutlak diperlukan demi peningkatan pendanaan pembangunannya.sumber keuangan. prinsip “money follows function”. pengeluaran untuk pembangunan tahun anggaran 2001 (setelah otonomi daerah/desentralisasi) lebih rendah dari pos pengeluaran yang sama tahun anggaran 2000 sebelum desentralisasi (Agustino. Proses Desentralisasi Fiskal dan Dampaknya Terhadap Kemandirian Keuangan Daerah Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 mengatur desentralisasi (pelimpahan wewenang dan tanggung jawab) di bidang administrasi dan di bidang politik kepada pemerintah daerah. PAD ini merupakan salah satu sumber pendapatan yang cukup diandalkan oleh pemerintah daerah Kabupaten/kota. sehingga anggaran untuk pembangunan menjadi kecil. Desentralisasi fiskal pada dasarnya suatu proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintah dalam pelayanan publik sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan artinya dengan desentralisasi atau otonomi daerah tersebut. pengelolaan dan penggunaan anggaran sesuai dengan prinsip “money follows function”.

sehingga daerah 10 mendapatkan informasi dan solusi bagi pembangunan daerah dari hasil penelitian ini. perlu mengetahui tingkat kemampuan keuangan daerah kabupaten Sumbawa dalam rangka memberikan informasi kepada daerah tentang kondisi kemampuan keuangan daerah yang dimiliki. Deskripsi yang lebih jelas mengenai hubungan antara masalah dan fokus penelitian dapat dilihat pada gambar berikut : UU No. maka kabupaten Sumbawa termasuk bagian penting menopang pembangunan propinsi Nusa Tenggara Barat terutama sekali dari sektor pertanian (lihat trend data PDRB Kabupatan Sumbawa). hal ini merupakan masalah. yakni rendahnya kemampuan keuangan daerah kabupaten Sumbawa dalam membiayai pembangunannya. 28 /2004 2009 Potensi Daerah Pendapatan Asli Kemampuan Keuangan Administrasi Pajak Tindakan Pemerintah Kebijakan Umum Strategi Peningkatan Kemandirian Berdasarkan gambar tersebut di atas dapat dilihat keterkaitan antara masalah dan fokus penelitian dan melahirkan kerangka fokus penelitian untuk menjawab masalah yang dirumuskan. Karena itu.32 /2004 UU No. faktor-faktor penghambat. dapat diuraikan sebagai berikut : . dibutuhkan identifikasi data dan informasi yang lebih akurat untuk mengetahui penyebab menurunnya perolehan dari sektor pajak daerah atau dibutuhkan pembenahan administrasi pajak daerah demi meningkatkan pendapatan dari sektor pajak daerah dan untuk memahami upaya normatif yang telah dilakukan pemerintah kabupaten Sumbawa. padahal jika ditinjau dari kontribusi yang diberikan kepada propinsi.33 /2004 UU No. Selain itu. karena itu diperlukan strategi-strategi yang diambil oleh pemerintah daerah untuk menemukan langkahlangkah yang relatif tepat mengatasi masalah tersebut tentunya dengan mengkaji faktor-faktor pendukung. Berdasarkan kondisi data pada kurun waktu pelita V menciptakan sebuah kondisi yang memperihatinkan bagi kabupaten kabupaten Sumbawa.informasi tentang kondisi keuangan daerah termasuk di dalamnya mengkaji potensi pendapatan daerah dalam memperkuat kondusifitas kondisi keuangan daerah sehingga dapat ditemukan dan mengidentifikasi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). diperlukan informasi dan data dari organisasi pelaksana pemungutan pajak daerah serta sistem dan prosedur administrasi pajak daerah. penjabaran lebih lanjut mengenai pendekatan analisis. justru dari sektor perpajakan sebenarnya dapat dijadikan ujung tombak dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan diperkuat dengan hasil kajian strategi-strategi yang telah digali dalam meningkatkan kemampuan keuangan tersebut. Berdasarkan data trend sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengindikasikan kontribusi sektor perpajakan mengalami penurunan yang relatif drastis. sosialisasi kebijakan dan pelaksanaan program terpadu dalam menggali potensi pendapatan dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah.

strategi pemerintah daerah meningkatkan kemampuan keuangan daerah dan tingkat kemampuan keuangan daerah kabupaten Sumbawa. PPAD = Σ PAD / Σ TPD x 100 % Keterangan : PPAD = Peranan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sumbawa Σ PAD = Pendapatan Asli Daerah Σ TPD = Total Penerimaan Daerah Berdasarkan Indeks Kemampuan Rutin (IKR) (Tumilar. bagaimanakah potensi-potensi daerah yang terkait dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Analisis Kuantitatif diskriptif Untuk mengukur kemampuan kemampuan keuangan daerah kabupaten Sumbawa dalam meningkatkan keuangan daerah digunakan dua pengukuran yaitu : Berdasarkan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) (Depdagri dan Fisip UGM. Kabupaten Sumbawa dikenal sebagai kabupaten di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki sumber daya alam yang relatif besar dan menjadi ibu kota kabupaten bahkan menjadi penyangga memperkuat kesiapan sumber daya propinsi NTB dan hal tersebut berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. perindustrian dan perdagangan dan memiliki potensi sumber daya yang sifatnya multidimensi serta sangat menarik untuk dikembangkan dan mengetahui potensi penerimaan daerah dengan memanfaatkan segala macam sumber daya daerah sebagai sumber penerimaan guna menunjang pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa. b. Selain itu. mendiskripsikan dan menganalisisnya dengan cara yang mendalam (Brannon. Lembaga pelaksana pajak daerah b.1987:12). Program yang dilakukan pemerintah dan sosialisasi sumber penerimaan daerah kepada masyarakat. administrasi pajak daerah. Pendekatan kuantitatif diskriptif dengan mengumpulkan data dan informasi dengan kritis dan mengukur variabel kemudian dianalisis secara mendalam dengan keterlibatan pendukung lainnya yang menambah keunikan penelitian dan menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif dalam rangka menjawab permasalahan penelitian atau menggunakan data yang dikumpulkan setelah semua peristiwa yang diperhatikan terjadi.1997:15) : IKR = PAD / Pengeluaran Rutin x 100 % Keterangan : IKR = Indeks Kemampuan Rutin PAD = Pendapatan Asli Daerah Metode Penelitian Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model penelitian post positivistik yaitu mengukur variabel dalam bentuk data persentase diskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan analisis dengan pendekatan kualitatif yang mengkaji secara mendalam sebuah fenomena faktual berdasarkan informasi dan 11 fakta yang ada pada suatu peristiwa nyata. Kebijakan umum pembangunan dan pendapatan daerah. maka yang menjadi objek penelitian atau lokasi penelitian adalah Kabupaten Sumbawa dengan pertimbangan dan alasan sebagai berikut : 1. target dan sebagainya.. b. disertai dengan keterlibatan asfek-asfek lain yang mendukung penelitian. 1991) :. karena itu perlu mengungkap. Strategi peningkatan SDM.Analisis Kualitatif diskriptif Untuk mengkaji secara mendalam masalah analisis terkait dengan potensi-potensi daerah diuraikan tentang sebagai berikut : Pengkajian mendalam tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Kajian mendalam tentang masalah pajak daerah diuraikan tentang informasi dan data terkait dengan : a. Sistem dan prosedur administrasi pajak daerah Untuk mengkaji secara mendalam masalah tindakan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah diuraikan tentang data dan informasi yang terkait sebagai berikut : a. Strategi pemerintah daerah ditinjau dari : a. Hasil survey lapangan bahwa sebagian besar stakeholder kabupaten Sumbawa mengharapkan pengembangan pembangunan daerah berdasarkan proyeksi hasil penelitian yang relevan dengan . Pada hakekatnya penelitian ini berupaya mengembangkan konsep dan fakta secara mendalam untuk menjawab pertanyaan. kabupaten ini telah mengorientasikan diri pada pengembangan dunia pendidikan. 2. Lokasi Penelitian Sesuai dengan judul yang dipilih oleh penulis dalam penulisan ini.

guna lebih memahami implementasi dari hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. yaitu melalui proses perkenalan yang natural (alamiah) melalui komunikasi dalam bentuk obrolan ringan dengan tujuan juga untuk menjalin kedekatan. yang sekaligus dimanfaatkan pula untuk mengamati karakteristik Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sementara itu. Jalur formal dengan menggunakan prosedur penelitian yang berlaku di kabupaten Sumbawa. 12 Melalui wawancara mendalam peneliti dapat memperoleh dan mengungkapkan informasi yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan informan yang eksplisit maupun implisit. Tahap logging the data merupakan tahap pengumpulan data yang dibutuhkan yang dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. yakni menjalin interaksi personal yang lebih mendalam dan harmonis dengan sumber informasi untuk memperoleh data-data yang relevan. getting along. termasuk opininya terkait dengan masalah penelitian. merupakan komponen pendukung penerimaan daerah yang berpotensi untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah sehingga penelitian terkait dengan hal tersebut sangat diperlukan di daerah. untuk lokasi penelitian non instansi Pemerintah proses memasukinya lebih sederhana. Dalam hal ini peneliti mengobservasi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Dinas Pendapatan kabupaten Sumbawa dan mengikuti pelaksanaan tugas pendataan dan sosialisasi. Bila dilihat dari proporsi penerimaan daerah khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten Sumbawa. Pada tahap getting in merupakan proses memasuki lokasi penelitian. Untuk memperoleh informasi dan opini yang tajam dan mendalam peneliti menciptakan suasana wawancara yang informal. Pada tahap getting along. Secara spesifik posisi peneliti adalah seperti yang dikategorikan (Junker dalam Moleong. yaitu diawali dengan pembuatan ijin penelitian di Badan Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang digunakan untuk memperoleh data di instansi Pemerintah Kabupaten Sumbawa. peneliti menghubungi contact-persons di masing-masing instansi Pemerintah yang dituju untuk melakukan perkenalan dan komunikasi awal guna menjalin kedekatan. administrasi pajak daerah dan kemampuan keuangan daerah dan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah terkait dengan Kebijakan umum . Kegiatan personal interaktif ini juga untuk lebih menumbuhkan kepercayaan dan kredibilitas terhadap peneliti. spontan dan alamiah. terutama mengenai hal-hal yang bersifat formal. Artinya. misalnya kebijakan serta sistem dan prosedur pembangunan daerah dan pajak daerah. Penentuan Informan Seperti telah disebutkan bahwa pada dasarnya penelitian ini menfokuskan pada Potensi daerah yang ditinjau dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam melakukan teknik observasi peneliti memperhatikan kenyataan bahwa mengingat peneliti bukan merupakan anggota kelompok yang diamati terutama di instansi pemerintah kabupaten Sumbawa maka peranan yang dapat dilakukan peneliti terbatas pada pengamatan/observasi yang tidak berperan serta. dan observasi. yaitu getting in. Komunikasi interpersonal yang persuasif juga dilakukan terutama untuk memperoleh informasi yang bersifat sensitif. misalnya penilaian (judgement) informan terhadap suatu kebijakan atau makna-makna yang tersembunyi.2004:176-7) yaitu pemeran serta sebagai pengamat. Aktivitas observasi tersebut dilaksanakan tanpa melakukan intervensi atau memberikan stimuli terhadap kegiatan atau peristiwa yang berlangsung. dan dampak yang muncul di lokasi penelitian. informan diposisikan sebagai pemecah masalah. Setelah ijin penelitian diperoleh. Dalam hal ini wawancara dikondisikan berjalan tidak terstruktur. dokumentasi. implementasi.menggunakan inovasi-inovasi program pembangunan yang kreatif dan sesuai dengan karakteristik daerah melalui pemanfaatan sumber daya/potensi lokal yang produktif. Teknik dokumentasi bermanfaat untuk memperoleh data dalam bentuk dokumen atau catatan yang terkait dengan konsep kebijakan. namun tetap dalam kerangka fokus penelitian. Metode Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan proses. dan logging the data. peneliti secara langsung mengamati kegiatan dan peristiwa yang berkaitan dengan penelitian termasuk memperoleh informasi yang tersirat. 3.

Penggalian informasi diawali dari penuturan informan awal yang kemudian menunjuk informan utama (key informan). Informan utama atau informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (DPKA) Pemerintah Daerah kabupaten Sumbawa yang pada saat penelitian dilakukan 13 bertanggung jawab dan pejabat lain di DPKA yang menurut informan awal atau informan kunci dinilai mengetahui. Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset (DPKA) Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa. juga dari sumber-sumber lain yang relevan.pendapatan daerah dan strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah. Adapun informannya dalam hal ini adalah Non Goverment Organization (NGO) yang sering melakukan advokasi kegiatan antara pemerintah dengan masyarakat. Kedua. Keputusan Bupati. Penelitian ini menggunakan data yang berasal dari suatu tempat atau area dimana peneliti memperoleh data dengan melakukan pengamatan (observasi) terhadap gejala dan peristiwa yang berkaitan dengan penelitian yang diperoleh dari beberapa sumber : 1. 2. Untuk memahami potensi daerah. menguasai. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten Sumbawa. dan peraturan perundangan lainnya yang terkait dengan masalah penelitian. dan memahami bahkan menghayati hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. pihak masyarakat sebagai stakeholder yang mengontrol segala kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. meskipun suatu data menarik tetapi karena tidak relevan maka tidak perlu dimasukkan dalam data yang dikumpulkan. Pejabat pemerintahan daerah khususnya di Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset (DPKA) sebagai informan terpilih yakni Kepala Dinas sebagai pimpinan tertinggi di dinas tersebut dan akan berlanjut kepada pejabat lain seperti kepala seksi yang membawahi beberapa kegiatan yang terkait dengan fokus penelitian dan mampu mengungkapkan informasi yang terkait dengan fokus penelitian. serta tempat dan peristiwa.2004:94) Secara spesifik fokus penelitian tersebut dapat dirinci sebagai berikut : Untuk mengkaji secara mendalam masalah analisis terkait dengan potensi-potensi daerah diuraikan tentang sebagai berikut : 1. dan kerincian data/informasi dapat diperoleh secara optimal. Jenis dan Sumber Data Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian menggunakan data sekunder yang dipublikasi oleh instansi tertentu dan data primer yang dikumpulkan dari lembaga atau instansi pemerintah dan informan di lapangan sebagai data pendukung yang diperoleh secara tidak langsung baik dari dokumendokumen ataupun laporan-laporan resmi. Fokus Penelitian Untuk menghindarkan penelitian dari data yang tidak relevan dengan masalah dan tujuan penelitian. perlu ditentukan fokus penelitian. Penelitian ini juga menggunakan data pendukung yang bersumber dari dokumen yaitu catatan yang berkaitan dengan masalah penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut. dokumen. informan yang dituju untuk proses pengambilan data penelitian ini adalah pertama. penelitian ini akan difokuskan pada potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan strategi peningkatan kemampuan keuangan Kabupaten Sumbawa (Moleong. pengusaha dan masyarakat biasa yang mendapatkan manfaat dari proses pembangunan sekaligus mengontrol segala kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Hal ini dilakukan agar variasi. sekaligus untuk membatasi agar pembahasan masalah tidak melebar. Fokus penelitian berfungsi untuk memilih data yang relevan. diantaranya adalah dokumen Rencana Strategis (Renstra) Pemerintah Kabupaten Sumbawa. kalangan akademis. Informasi dari informan utama selanjutnya diaktualkan dan diperkaya secara bergulir-menggelinding (snowballing) kepada informan berikutnya sampai dengan terjadi kejenuhan informasi. Pengkajian mendalam tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD) . kedalaman. penelitian ini perlu mendeskripsikan hal-hal yang terkait dengan fokus masalah potensi daerah yakni tentang: 1. Berdasarkan hal tersebut. Data penelitian diperoleh dari informan. serta Peraturan Daerah. Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendapatan. Informan adalah orang yang dianggap tepat dan bisa dipercaya untuk memberikan sumber data guna mengungkapkan suatu fenomena.

Kajian mendalam tentang masalah pajak daerah diuraikan tentang informasi dan data terkait dengan : a. Penarikan kesimpulan/Verifikasi. mencari informasi dan mencari jawaban atas masalah potensi-potensi daerah kaitan dengan potensi PAD. Untuk memeriksa kredibilitas dilakukan kegiatan sebagai berikut : Melakukan peer debriefing. Misalnya hasil penelitian akan setahap demi setahap didiskusikan dengan pembimbing yang dianggap memiliki pengetahuan metodologi dan teoritis secara akurat. Program yang dilakukan pemerintah dan sosialisasi sumber penerimaan daerah kepada masyarakat. penelitian ini difokuskan pada : a. Strategi peningkatan SDM. (Moleong.1994:173) menemukan bahwa ada 3 kriteria yang digunakan memeriksa keabsahan data : 1.. terutama pembimbing yaitu . Selanjutnya. Hasil kajian didiskusikan dengan orang lain yang mempunyai pengetahuan tentang pokok penelitian dan metode penelitian yang diterapkan. mengurutkan. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. Di dalam pendekatan kualitatif standar tersebut sering disebut dengan keabsahan data.2000) Teknik analisis data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua pendekatan analisis. Kredibilitas. 2. dengan demikian kajian tentang penelitian ini akan didiskusikan dengan pihak-pihak yang berkompeten. Reduksi Data.1992:15-20). 3. mengorganisasikannya ke dalam suatu pola. Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) b. kategori dan satuan uraian dasar dan secara lebih rinci yakni mengatur. Data yang diperoleh dari lokasi penelitian atau data lapangan dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan rinci. dapat diketahui secara pasti data mana yang diperlukan dan dikumpulkan dan data mana yang harus dihilangkan karena tidak relevan. strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah di 14 2. Untuk menunjukkan tingkat kemampuan keuangan daerah maka akan dilakukan pengukuran sebagai berikut : a. melalui beberapa tahap sebagai berikut : 1. Apabila ditemukan ketidaksesuaian maka akan dicari lagi data yang lebih valid. yaitu teknik analisis kuantitatif dan kualitatif diskriptif. Jadi data yang diperoleh dari lapangan akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ditetapkan oleh penelitian ini sesuai dengan fokus penelitian. Pengecekan Keabsahan Data Setiap penelitian memerlukan adanya standar untuk melihat derajad kepercayaan atau kebenaran terhadap hasil penelitian tersebut. Untuk mendiskripsikan strategi pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah. administrasi pajak daerah. 3. inkuisi-inkuisi atau masukan-masukan yang memberikan informasi di lapangan. 4. kajian tentang penelitian ini akan didiskusikan dengan pihak-pihak yang berkompeten. Lembaga pelaksana pajak daerah b. Indeks Kemampuan Rutin (IKR) Dengan penerapan fokus penelitian dimaksudkan untuk mengetahui kriteria-kriteria. Analisa Data Analisis data dilakukan dengan proses mengatur urutan data. merinci usaha secara formal untuk menemukan tema seperti yang disarankan oleh data dan memberikan bantuan pada tema. Dengan demikian. Penyajian Data (display data). kabupaten Sumbawa. fokus penelitian sangat berkaitan dengan rumusan masalah yang ditetapkan sebelumnya. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan. Melalui bimbingan dan arahan fokus penelitian. Verifikasi data dalam pendekatan kualitatif ini dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. target dan sebagainya. b. mengelompokkan. dengan cara mengambil yang diperlukan dan mengabaikan yang diperlukan. dengan kata lain mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola. Ini dimaksudkan agar mempermudah peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu tentang asfek tujuan penelitian yang akan diteliti. digunakan pendekatan analisa kualitatif diskriptif yang dikembangkan oleh (Miles at all. memberikan kode dan mengkategorikan (Patton dalam Moleong. terutama pembimbing. Sistem dan prosedur administrasi pajak daerah 2. Oleh sebab itu. kategori dan satuan uraian dasar. Analisa Kualitatif Diskriptif Untuk mengkaji secara mendalam.

Kebergantungan dan kepastian. keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Triangulasi dengan sumber . benar-benar bisa digunakan dalam situasi yang berbeda dengan situasi penelitian ini.MS. Dengan demikian. yang penting bisa mengetahui alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut (Patton 1987:331). peneliti berusaha untuk menyediakan data deskriptif tentang kondisi objek penelitian dengan fokus penelitian.(Pem.2. akademisi. Keteralihan. pelaksana dan pengawas pembangunan kaitannya dengan potensi daerah dan tindakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah yang diharapkan dapat diperoleh data (juga berfungsi sebagai uji validitas data) dari pemuka masyarakat. mengenai hasil temuan lapangan. misalnya dengan diadakan seminar ataupun publikasi yang lain mengenai hasil penelitian ini. Analisa Kuantitatif Diskriptif (Pengukuran Kemampuan Keuangan Daerah) Berdasarkan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) PPAD = Σ PAD / Σ TPD x 100 % Keterangan : PPAD = Peranan Pendapatan Asli Daerah ΣPAD = Pendapatan Asli Daerah ΣTPD = Total Penerimaan Daerah HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN LOKASI PENELITIAN DIKAITKAN DENGAN POTENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) Untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan fokus masalah penelitian adalah dengan menetapkan Informan yang dituju untuk proses pengambilan data penelitian yaitu pertama. Untuk mengecek apakah penelitian ini benar atau salah. mengenai konsep-konsep yang dihasilkan di 15 lapangan. pendapat atau pemikiran.MEc-Dev. . Kepala Dinas. dan membandingkan perspektif informan yang berbeda latar belakang mengenai suatu isu dengan tanpa mengharapkan hasil perbandingan merupakan kesamaan pandangan. Members Check. setahap demi setahap.II). peneliti akan mendiskusikannya dengan pembimbing. warga masyarakat sebagai penerima. membandingkan pernyataan informan di depan umum dengan pernyataan informan tersebut secara pribadi. pengusaha dan masyarakat biasa yang secara langsung ataupun tidak menerima dan melaksanakan sekaligus sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah kaitannya dengan potensi daerah dan tindakan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah. David Kaluge. Sehingga proses keteralihan hasil penelitian yang biasanya berkenaan dengan pertanyaan hingga manakah hasil penelitian ini dapat dipublikasikan atau digunakan dalam situasi lain.SE. Dioperasionalkan dalam bentuk membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda yang mana membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.I) dan Dr. Untuk melakukan keteralihan tersebut. membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen. maka peneliti berusaha mencari dan mengumpulkan data kejadian empiris dalam konteks yang sama. Misalnya peneliti akan melakukan pengecekan ulang mengenai validasi temuan data secara umum apakah sudah sesuai dengan yang dibutuhkan atau belum. Kepala Seksi di dinas Pendapatan Keuangan dan Aset (PKA) yang mengetahui tentang potensi daerah dan tindakan daerah dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah.SE. Asfi Manzilati. Kedua.PhD (Pem. Pada akhir wawancara peneliti akan melakukan member check atau pengecekan ulang secara garis besar berbagai hal yang telah disampaikan oleh informan berdasarkan catatan lapangan.ME.

Pak Imron.65 Milyar dari target sebesar Rp.560. sedangkan selebihnya berasal dari dana perimbangan/dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat dan propinsi yakni sebesar 95. Terdapat Pergeseran Kontribusi Sektor Pendukung di Bagian Sektor Tertentu Pada bagian ini akan mendiskripsikan gambaran umum lokasi penelitian dan kajian potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan temuan yang terjadi berkaitan dengan hal tersebut.42 Milyar. terealisasi sebesar Rp. Berdasarkan jumlah tersebut 3. Pak Rusdi pajak Kasi Penerimaan 10.5. Berdasarkan dari pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan lain-lain pendapatan yang sah yang ada dan dikelola di Kabupaten Sumbawa belum mampu membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan secara mandiri berlandaskan dari pendapatan sendiri.59 miliar.NO 1.62%.560. Haris.5.92 persen didapatkan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).SE NGO/LSM 14. Pak Imran Perenc. realisasi penerimaan sebesar Rp. baik dalam metode pengumpulan data yang berbeda (dalam hal ini wawancara secara mendalam dan observasi) maupun menggunakan informan-informan pendukung yang telah disebutkan sebelumnya. Jumlah pendapatan Kabupaten Sumbawa secara keseluruhan Tahun Anggaran (TA) 2008 dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp. Pak Muhaimin Program Kasi Pendapatan 9.Program Kasi Data dan 6. Pajak Kabid 5. pelaksana dan pengawas kegiatan pembangunan daerah. 4. maka peneliti menggunakan triangulasi (menggunakan beberapa sumber informasi guna memverifikasi dan memperkuat data). Pak Jambe Pengusaha Pak Andi Akademisi 15. Pajak daerah dengan target anggaran tahun 2008 setelah perubahan sebesar Rp. Pak Adi pajak Kasi Penyusunan 8. INFORMAN PENELITIAN JABATAN/ NAMA PROFESI Pak Baharuddin Pak Karim (Bukan nama asli) Pak Budiman (Bukan Nama Asli) Pak Abdul Hakim Kepala Dinas PKA Kasi Pendaftaran Pajak Kasi Analisa dan Evaluasi 3. 4.MP Perguruan Tinggi 13. Kasi Penetapan 4. Untuk memastikan data lapangan yang diperoleh tersebut valid.35 persen. Pak Yudi.72%.570.5 persen dan dan lain-lain pendapatan yang sah dengan kontribusi terhadap pendapatan Kabupaten sebesar 0. Pak Usman dan Aset Rakyat biasa/ 11. Pak Sukiman pelaporan Kasi Penagihan 7. 2. situasi yang sebenarnya dan memang relevan dan mengandung informasi penting. karena telah mengalami secara langsung tentang kondisi pemanfaatan potensi daerah terutama manfaat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam kebijakan yang dilakukannya dalam kegiatan pembangunan daerah sekaligus dapat menjadi uji validitas data yang dimunculkan dari pemerintah daerah. Kondisi Pajak Daerah Kabupaten Sumbawa Pendapatan pajak daerah tahun 2007. Potensi PAD.MPd Perguruan Tinggi Sumber : Diolah di Lapangan Berdasarkan uraian di atas para informan yang dijadikan sumber informasi dalam penelitian ini telah mewakili stakeholder masyarakat dari berbagai tingkatan dari pemerintah daerah (DPKA) dan masyarakat yang berperan sebagai penerima.25 Milyar atau realisasi 109. Tujuan dari pendiskripsian lokasi penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi daerah yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Sumbawa terkait dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kondisi sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terjadi berdasarkan pengamatan.23 Milyar atau 101. diperlukan pengumpulan data dan informasi mengenai 16 . dengan realisasi sebesar Rp.39%.56 Milyar atau 102. Ibu Imbo pedagang Akademisi 12.59 Milyar.SPd. Pendapatan Kabupaten Sumbawa pada tahun 2008 sebesar Rp.

000.000.75 102.000.00 14.992.500.21 Milyar.000.000.00 162.62 No Uraian Anggaran Setelah Perubahan Rp Realisasi % 98.00 3.475.625.00 52.792.948.633.No Uraian 1 Pajak Hotel 2 Pajak Restoran 3 Pajak Hiburan 4 Pajak Reklame 5 Pajak Penerangan jalan 6 Pajak Peng.350.000.125.000.00 3.566.450.506.572.00 % 122.48 148.00 8.214.00 2.00 407.633 ton meningkat 18% menjadi 287.00 157.37 67.32 100.30 52.140.710.00 420.19 80.000.00 77.257.400.00 106.00 262.900.00 20.00 468.850.00 137.600.00 13. realisasi penerimaan sebesar Rp.000.000.00 401.000.00 61.300.388.00 11.80 64.230.00 162.277.10 72.721.00 46.00 22.000.175.500.300.99 21.00 190.00 100.831.000.000.95 102.04 87.950.757.579.700.75 Milyar atau 95.000.72 105.00 1.00 1.580.000.00 4.478.00 50.000.000.00 52.000.50 90.000.000.599.19 126.00 30.000.00 18.00 212.984.000.000.802.00 107.00 83. C 7 Pajak Sarang Burung Walet Jumlah Anggaran setelah Perubahan 1.00 Kondisi Retribusi Daerah Kabupaten Sumbawa Retribusi daerah dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.000.508.000.00 11.000.00 53.Rincian atas penerimaan retribusi daerah tersebut sebagai berikut: Beberapa Temuan Penting Potensi hasil pertanian tahun 2008.653.400.00 32.855.00 Realisasi Rp 2.875.00 150.000.24 99.519.000.130.127.479.41 144.00 1.00 900.160.000.8 Milyar perkiraan penerimaan dana.400.04 RETRIBUSI JASA UMUM 1 Retribusi Pelayanan Kesehatan 2 Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan 3 Retribusi Penggantian Biaya KTP dan Akte Capil 4 Retribusi Pelayanan Parkir di tepi jalan umum 5 Retribusi Pelayanan Pasar 6 Retribusi Pengujian Kendaraan bermotor 7 Retribusi Pelayanan Kesehatan Ternak RETRIBUSI JASA USAHA 8 Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 9 Retribusi Pasar Grosir/Pertokoan 10 Retribusi Terminal 11 Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa 12 Retribusi Rumah Potong Hewan 13 Retribusi Pelayanan Kepelabuhan 14 Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga 15 Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah 16 Retribusi Sewa Kios/MCK/PKL Terminal RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU 17 Retribusi Izin Mendirikan Bangunan 18 Retribusi Izin Ganguan/Keramaian 19 Retribusi Izin Trayek 20 Retribusi Izin Usaha Perikanan 21 Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 22 Retribusi Izin Pengambilan Hasil Hutan Ikutan 23 Retribusi Izin Tanda Daftar Perusahaan 24 Retribusi Izin Tanda Daftar Gudang 25 Retribusi Izin Usaha Perdagangan 26 Retribusi Izin Usaha Penggilingan Padi 27 Retribusi Izin Usaha Perindustrian 28 Retribusi Izin Usaha Peternakan dan Pemotongan 29 Retribusi Izin Usaha Pertambagan Umum 30 Retribusi Izin Pengambilan dan Pemanfaatan ABT 31 Retribusi Izin Ketenagalistrikan 32 Retribusi Izin Usaha Sarana Pariwisata 33 Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi 34 Retribusi Izin Ketenagakerjaan Jumlah 220. yang terdiri dari kelompok belanja langsung sebesar Rp.97 70.00 29.44 81.000.000.624.385.35 102.9. Bahan Galian Gol.000. Kebutuhan fiskal daerah yang ditunjukkan oleh rencana belanja pemerintah daerah.201.00 1.00 510.58 25.907.00 3.801.00 9.45 82.000.000.00 53. produksi Gabah Kering Giling 242.00 8.900.496.07 227.00 21.062. 20.000.000.00 299.00 5.327.000.398.000.01 53.58 126.000.00 1.200.000.00 32.000.500.500.77 91.000.00 187.877.61 55.00 106.100.000.876.960.00 409.00 36.785.575.00 2.000.105.16 71.13 88.00 275.00 294.000.00 102.000.82 104.192 ton pada tahun 2009.018.000.00 513.42 102.000.131.00 6.000.63 108.000.455.000.000.00 2.00 1. Kebijakan untuk mengkaji potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yakni kemampuan fiskal daerah yang ditunjukkan oleh proyeksi pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp.000.530.364.000.000.765.00 27.00 4.850.500.423.716.200.860.75 95.001.000.00 150.500.34 84.000.424.00 550.710.150.200.8.424.04%.000.743.15 162.00 159.000.095.00 246.595.500.909.00 773.00 220.000.716.60 39.00 16.181.00 739.000.00 5.600.00 133.06 17 .000.00 247.350.073.00 126.00 18.59 116.422.000.965.500.936.000.815.71 133.400.00 65.085.100.35 85.100.00 1.851.874.305.000.000.000.000.00 747.00 84.00 145.640.996.100.01 40.589.500.

48 %. Kemampuan pembiayaan pemerintah daerah.46 Milyar dari target sebesar Rp. 6.77 Milyar atau realisasi sebesar 89. Pada sisi belanja.01 Milyar dan pengeluaran pembiayaan daerah sebesar Rp. Pendapatan Kabupaten Sumbawa pada tahun 2008 sebesar Rp.16 persen dan selanjutnya pada sisi pendapatan pajak daerah yang mencapai 101.25 Milyar atau realisasi 109.35 persen.59 Milyar pada tahun 2007 menjadi Rp. sedangkan selebihnya berasal dari dana perimbangan/dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat dan propinsi yakni sebesar 95. dengan realisasi sebesar Rp.97 Milyar pada tahun 2008.62 persen baru diikuti oleh pendapatan retribusi pajak daerah. Hal yang paling substansi. 4. Berdasarkan jumlah tersebut 3.76%.500.56 Milyar atau realisasi sebesar 79.59 Milyar.02%.Milyar dan belanja tidak langsung sebesar Rp.23 Milyar pada tahun 2008. Saldo SiLPA ini akan memberikan fleksibilitas pengelolaan APBD untuk tahun mendatang.39%.82.46 Milyar.10 % dengan uraian yakni pendapatan pajak daerah.11 Milyar atau 14. 20. Retribusi tertinggi diperoleh oleh retribusi pelayanan kesehatan yang mencapai angka Rp 2.4.560.86 Milyar dan setelah itu diikuti oleh retribusi izin usaha pertambangan umum yang mencapai Rp 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2007 terdiri dari pendapatan pajak daerah.48 Milyar dari target sebesar Rp. yang ditunjukkan oleh penerimaan pembiayaan daerah sebesar Rp. 2.560.30 Milyar atau realisasi 195.538.23 Milyar atau 101. realisasi pendapatan 2008 mengalami kenaikan sebesar Rp. 8. kontribusi SKPD dan lain-lain dengan realisasi sebesar Rp. 6.21 Milyar dari anggaran semula Rp.4.92 persen didapatkan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).5 persen dan dan lain-lain pendapatan yang sah dengan kontribusi terhadap pendapatan Kabupaten sebesar 0. 2.48 Milyar rupiah akan tetapi pengelolaan retribusi tersebut masih dikelola oleh masing-masing dinas sehingga pengelolaannya masih belum berjalan optimal apalagi pengelolaannya masih bersifat manual. 18.570.11 Milyar pada tahun 2007 menjadi Rp. retribusi daerah. pendapatan dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan tahun 2007 sebesar Rp.65 Milyar dari target sebesar Rp. bunga dana penyangga PD. pendapatan dari lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah tahun 2007 diperoleh dari jasa giro KASDA.72%. terealisasi sebesar Rp. 18 4. pendapatan denda. Kondisi-kondisi tersebut yang mendasari penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2008. Jumlah pendapatan Kabupaten Sumbawa secara keseluruhan Tahun Anggaran (TA) 2008 dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.78 Milyar.3 juta menjadi Rp.317.456.570. Dibandingkan dengan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2007.556.25 Milyar. Dari pelampauan anggaran pendapatan. efisiensi belanja serta defisit pembiayaan netto menghasilkan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun anggaran 2008 sebesar Rp. penerimaan bunga dana bergulir.90 Milyar atau 108. Anggaran pendapatan mengalami peningkatan sebesar Rp.76 %. terjadi pergeseran potensi kontribusi dari pajak daerah kepada retribusi daerah. terjadi kenaikan realisasi sebesar Rp. pendapatan retribusi daerah tahun 2007 sebesar Rp.04%. yaitu dari Rp. Sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) realisasi anggaran terbesar adalah pada sisi pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dengan realisasi sebesar 104.39%.30. 3.59 Milyar atau meningkat sekitar 0.BPR-LKP.92.83 Milyar dari target sebesar Rp.560.59 miliar. Kondisi pengelolaan kekayaan daerah tertinggi yang dikelola mendominasi pada sektor kredit perbankan yang didominasi oleh pendapatan modal daerah pada sektor pertanian .70. pendapatan dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah dengan total realisasi Rp. Retribusi pelayanan kesehatan merupakan pemberi kontribusi terbesar dalam konteks potensi retribusi daerah terhadap PAD akan tetapi pengelolaannnya masih dilakukan oleh Dinas Kesehatan atau adanya tumpang tindih kepengurusan. yaitu dari Rp. Ada perlakuan retribusi yang berbeda yang diberikan oleh daerah kepada sekelompok orang yang memiliki kemampuan dalam mengakses informasi dan kebijakan dari pemerintah daerah misalnya dalam implementasi retribusi pasar banyak pungutan liar yang mengatasnamakan retribusi yang tidak terkontrol.43 Milyar dari target Rp.37 Milyar atau 18.

penerapan Program SoMentari yang terkait dengan pajak daerah berupa kegiatan operasional yang dilaksanakan setiap hari untuk merealisasikan fungsi pemungutan pajak daerah. Fenomena yang ditemukan di lapangan dikala pemungutan pajak di tingkatan mikro subjek dan objek pajak menemukan permasalahan yang demikian komplek dikarenakan berhadapan dengan masyarakat yang tingkat sosial ekonominya rendah dan berbenturan dengan perusahaan-perusahaan yang dipengaruhi oleh kedekatannya dengan pihak penguasa baik pusat maupun daerah sehingga menimbulkan problem tersendiri sehingga daerah dianggap tidak memiliki pengaruh yang signifikan untuk melakukan pembenahan dan perbaikan perpajakan. Kendala SDM dan Fasilitas Berdampak Terhadap Penurunan Pendapatan di Sektor Pajak Daerah Pembaharuan sistem operasional pemungutan pajak daerah dalam konteks administrasi pajak daerah terdiri dari kegiatan yaitu pembuatan database pajak daerah." Pemerintah daerah dalam hal ini terutama dalam konteks pembangunan yang mengedepankan peningkatan pajak daerah dengan program intensifikasi sebagaimana yang ditegaskan sehingga pada kenyataannya satu sisi dapat menjadi beban bagi sekelompok masyarakat tertentu terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah." Perpajakan berbenturan dengan kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat yang mana masih belum menjiwai keadaan yang diinginkan dalam artian pajak daerah mencerminkan realitas potensi daerah yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lokal. sekitar 89.24 persen per tahun. guna meningkatkan kinerja terutama pemungutan pajak daerah. Administrasi Pajak Daerah. ." Pemerintah mengedepankan pemanfaatan potensi daerah yang mendukung PAD dan tetap optimis akan menyeimbangkan semuanya itu karena tahun 2010 ini akan diharapkan perolehan pendapatan dari PAD mencapai Rp 25 M lebih semoga.75 persen rata-rata setahun. Menguraikan lebih jauh tentang tanggapan masyarakat dalam mengkaji kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah terhadap masyarakat diperlukan keterlibatan sektor eksternal yang menjadi pengawas kebijakan sehingga kebijakan tersebut tidak sepihak terutama dalam mengedepankan kepentingan sekelompok elit kepentingan terutama yang lazim terjadi di kalangan penguasa atau pemerintah. Mendapatkan deviden BUMD dan selama ini kontribusinya dirasakan cukup baik sehingga dalam satu periode anggaran kontribusinya mencapai Rp 39 Milyar ke atas dengan harapan dapat menopang PAD kedepan. menagih setiap hari). peningkatan fungsi pemungutan pajak daerah dan Pajak Bumi dan Bangunan melalui kegiatan pendataan. mendata. Lain-lain pendapatan daerah yang sah dalam rinciannya didominasi oleh kontribusi jasa giro kas daerah yang mencapai angka Rp 4 Milyar. dan sosialisasi secara terpadu setiap hari yang dikenal dengan Program SoMentari (Sosialisasi.46 persen per tahun. penagihan. Pemerintah perlu menjelaskan tentang pajak daerah itu supaya masyarakat bisa paham untuk apa dan apa manfaat pajak apalagi diberikan kesempatan untuk menghitung pajak tersebut. dan administratif pada Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Kabupaten Sumbawa. Tergambarkan bahwa dalam lima tahun terakhir sejak tahun 2000 kontribusi PAD terhadap total realisasi belanja berkisar 17. Program SoMentari merupakan program yang memadukan tugas struktural.karena masyarakat Sumbawa didominasi oleh sektor pertanian setelah itu diikuti oleh PD BPR LKP dan PDAM. maka perbandingannya dengan realisasi belanja daerah baru mencapai 30. Masyarakat senantiasa jujur dalam membayar pajaknya secara teknis pajak yang akan dibayarkan oleh masyarakat diserahkan ke 19 kantor desa setempat untuk diberikan kepada wajib pajak dan sosialisasi pajak belum pernah dilakukan sehingga masyarakat dengan senang hati membayar pajaknya sesuai dengan ketentuan perhitungan pajak yang ditentukan oleh dinas bahkan jika tidak dibayarkan maka saya juga sebagai masyarakat mau tidak mau ikut dalam sistem seperti itu. Diharapkan dengan adanya Program SoMentari adalah peningkatan kinerja pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Apabila kontribusi PAD tersebut ditambahkan dengan kontribusi dari dana Bagi Hasil. sementara kontribusi Dana Perimbangan masih sangat besar. fungsional.

Di dalam setiap SKOSM dibentuk beberapa Kelompok Kerja Operasional SoMentari (KKOSM). . dan (b) Wilayah Kecamatan 20 untuk Kecamatan Kota. Masa kerja KKOSM wilayah Kecamatan Kota dan masa kerja KKOSM pada wilayah Cabang Dinas ditentukan berdasarkan kebijakan Kepala Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset yang juga menetapkan Koordinator dan Wakil Koordinator SKOSM. yang dimaksud dengan SKPOM adalah unit satuan kerja Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset yang bekerja secara struktural. Sementara itu. Program SoMentari didesain sebagai tindakan korektif. Kendala teknis tersebut adalah tidak adanya databased pajak daerah yang jelas dalam pengelolaan keuangan daerah terutama dari sektor pajak daerah. dan evaluatif yang dilatarbelakangi oleh adanya fakta empiris bahwa pada tahun 2006 dan 2007 ketika Program SoMentari diluncurkan. Selain itu tingkat kesadaran wajib pajak masih rendah karena sistem self assessment yang merupakan wujud tingginya tingkat kesadaran wajib pajak belum berjalan sebagaimana mestinya.Pemungutan pajak daerah sendiri merupakan kumpulan kegiatan mulai dari menghimpun data obyek pajak dan subyek pajak. dan sosialisasi pajak daerah secara terpadu yang dilaksanakan setiap hari. Untuk melakukan pembenahan lebih lanjut. anggota KKOSM. Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Kabupaten Sumbawa membentuk Satuan Kerja Operasional SoMentari (SKOSM) & Satuan Kerja Pendukung Operasional SoMentari (SKPOM). dan kurangnya antisipasi terhadap obyek dan subyek pajak daerah yang baru juga menjadi latar belakang diluncurkannya kegiatan terpadu pemungutan pajak daerah tersebut. penagihan. Beberapa Temuan Penting Pada dasarnya pemerintah Kabupaten Sumbawa mengalami kendala dalam hal fasilitas yang ada terkait dengan masalah teknis dalam pemungutan pajak daerah yang walaupun telah mengedepankan upaya intensifikasi pajak. dan sosialisasi secara terpadu setiap hari yang dikenal dengan Program SoMentari (Sosialisasi. maka diperlukan adanya tenaga Informatika dan Telekomunikasi (IT) yang handal yang membawa dampak kekuatan internal organisasi perpajakan dalam Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset (DPKA) Kabupaten Sumbawa. Hal ini yang kemungkinan menjadi penyebab mengapa perolehan pemungutan pajak daerah pada tahun tersebut mengalami penurunan selain itu juga faktor lain yang menjadi masalahnya adalah dikarenakan databased untuk pengelolaan pajak tersebut belum ada dan tenaga IT dalam pengaturan pajak belum ada sehingga pajak tidak dapat maksimal dalam perolehannya secara administrasi. SKOSM mempunyai wilayah kerja yang meliputi (a) Wilayah kerja Cabang Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset. peningkatan fungsi pemungutan pajak daerah dan Pajak Bumi dan Bangunan melalui kegiatan pendataan. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Kabupaten Sumbawa mengemukakan. Untuk mengoperasionalisasikan Program SoMentari. serta wilayah kerjanya. antisipatif. Pembaharuan sistem operasional pemungutan pajak daerah dalam konteks administrasi pajak daerah terdiri dari kegiatan yaitu pembuatan database pajak daerah. Demikian pula dengan kondisi pelaksanaan penagihan yang belum intensif. Lemahya perolehan pendapatan pada sektor pajak daerah terutama di tahun tertentu berdasarkan data PAD Kabupaten Sumbawa yang dipublikasi mengalami penurunan yang sangat drastis terutama pada tahun 2007 lebih diakibatkan oleh belum optimalnya implementasi program Sosialisasi Menagih Tiap Hari (SoMentari) oleh staf pemungut dan terkendala oleh lemahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pembayaran pajak walaupun sebenarnya pemerintah daerah ingin mengedepankan konsep pembayaran oleh wajib pajak dengan model self assesment. pelaksanaan pemungutan belum berjalan sebagaimana diharapkan. menagih setiap hari). dimana potensi obyek pajak daerah belum terdata secara benar sesuai kondisi aktual sehingga mengakibatkan penetapan besaran pajak daerah terutang belum mencerminkan kondisi obyek pajak yang sebenarnya. sebaran beban kerja belum merata. menentukan besarnya pajak daerah terutang. mendata. hingga kegiatan penagihan pajak daerah kepada wajib pajak serta pengawasan penyetorannya. penagihan. Program SoMentari diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pendataan.

Rendahnya tingkat pengetahuan juga mengakibatkan keengganan menyusun pembukuan sederhana. Jika nyaman untuk dipahami tentang PBB itu maka semua orang sebagai wajib pajak akan membayar pajak tapi malah kita masyarakat yang membayar orang untuk memahami tentang PBB itu karena rumit untuk dihitung. antisipatif. Kondisi pelaksanaan penagihan yang belum intensif. ditetapkan kebijaksanaan peningkatan fungsi koordinasi. Penyebab mengapa perolehan pemungutan pajak daerah pada tahun tersebut mengalami penurunan selain itu juga faktor lain yang menjadi masalahnya adalah dikarenakan databased untuk pengelolaan pajak tersebut belum ada dan tenaga IT dalam pengaturan pajak belum ada sehingga pajak tidak dapat maksimal dalam perolehannya secara administrasi. ditetapkan kebijaksanaan pemanfaatan sumber daya organisasi secara efektif dan efisien serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat meliputi kecepatan pelayanan maupun kemudahan memperoleh informasi tentang pajak daerah. Disini kejujuran wajib pajak sangat menentukan. sebaran beban kerja belum merata. Kalau penetapan secara jabatan itu karena wajib pajak tidak kunjung memasukkan SPTPD padahal telah disampaikan surat teguran. pengawasan dan evaluasi dalam proses pemungutan pajak daerah dalam rangka peningkatan PAD. Hasil pendataan setiap hari tersebut juga dapat memberikan informasi yang bersifat time series sehingga relatif lengkap untuk dijadikan acuan bagi penetapan tarif pajak agar sesuai dengan kemampuan riil wajib pajak daerah. Formulir yang digunakan dalam administrasi (sistem dan prosedur) pajak daerah pada setiap daerah di Indonesia sebelum adanya pembaharuan perpajakan adalah sama yang menegaskan tentang dokumen-dokumen yang digunakan untuk menata administrasi perpajakan didasarkan pada Kepmendagri Nomor 43 tahun 1999 tentang dokumen dalam sistem dan prosedur pajak daerah.Program SoMentari didesain sebagai tindakan korektif. dan untuk merealisasikan sasaran meningkatnya sumber daya organisasi Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset dan pelayanan prima serta meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pajak daerah. pengawasan dan evaluasi dalam proses pemungutan pajak daerah. antara lain kepatuhan terhadap jam kerja. Kegiatan self assessment wajib pajak lebih aktif dengan mengisi sendiri data pajak dan menentukan jumlah utang pajaknya berdasarkan data tadi." Hasil wawancara maupun hasil penelusuran dokumen mengenai faktor pendukung dan faktor penghambat yang diverifikasi oleh pengamatan di lapangan terhadap kegiatan di Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset. Untuk merealisasikan sasaran terlaksananya koordinasi. dan evaluatif yang dilatarbelakangi oleh adanya fakta empiris bahwa pada tahun 2006 dan 2007 ketika Program SoMentari diluncurkan. dan kurangnya antisipasi terhadap obyek dan subyek pajak daerah yang baru juga menjadi latar belakang diluncurkannya kegiatan terpadu pemungutan pajak daerah tersebut. sehingga tidak bisa diterapkan self assessment system. dan merespon kebutuhan masyarakat dan overlapping kegiatan antar dinas atau interaksi antar dinas dengan dinas lainnya. Sedangkan pada official assessment Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset lebih aktif daripada wajib pajak terutama dalam hal penentuan jumlah utang pajak yang harus dibayar. menemukan adanya indikasi 21 kedisiplinan dan tanggung jawab pegawai. Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset dalam kerangka pajak daerah menyusun strategi yang dicerminkan dalam kebijakan untuk merealisasikan sasaran terwujudnya sistem dan prosedur pajak daerah serta tercapainya target dan meningkatnya pendapatan dari pajak daerah. melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan selama jam kerja. Jika memang pemerintah selalu berupaya untuk selalu memperhatikan kepentingan masyarakat tentunya program SoMentari yang . selanjutnya membayar sesuai dengan jumlah yang telah dia hitung. Pajak yang dibayarkan masyarakat di daerah itu berupa SPPT dan berkas lainnya tapi sistem itu diberikan ke kantor desa setempat dan setelah itu orang kantor desa yang memberikannya kepada wajib pajak. ditetapkan kebijaksanaan peningkatan pajak daerah dengan cara intensifikasi. dimana potensi obyek pajak daerah belum terdata secara benar sesuai kondisi aktual sehingga mengakibatkan penetapan besaran pajak daerah terutang belum mencerminkan kondisi obyek pajak yang sebenarnya. pelaksanaan pemungutan belum berjalan sebagaimana diharapkan.

84% dari target 90%. pendaftaran dan pengolahan data obyek dan subyek pajak. Pada tahun 2008 telah dilaksanakan upaya intensifikasi PAD melalui pendataan obyek dan subyek pajak di 9 kecamatan. PDAM dan Perusda dalam rangka peningkatan kegiatan dan usaha perusahaan daerah. ditempuh melalui pelaksanaan kegiatan prioritas yaitu pendataan. Kemampuan Keuangan Daerah Rendah. menegaskan bahwa dalam rangka meningkatkan kemampuan pendapatan daerah. telah dilakukan upaya meningkatkan potensi. pendaftaran dan pengolahan data obyek dan subyek pajak. Adapun tingkat realisasi baru mencapai 77. 3. Lebih lanjut jika dibandingkan dengan kondisi pengukuran kemampuan daerah di propinsi NTB. realisasi dan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah. Hal ini merupakan salah satu upaya peningkatan kinerja perekonomian daerah disamping menjadi potensi penerimaan Pendapatan Asli Daerah.08 % dan 2. 3.diutamakan dalam kegiatan sosialisasi pajak telah banyak masyarakat yang sadar dan memberikan mosi percaya kepada pemerintahannya dan mereka akan semakin sadar dalam melakukan kewajibannya.21 % dan 3.81 %. Pada tahun 2008 telah dilaksanakan upaya intensifikasi PAD melalui pendataan obyek dan subyek pajak di 9 kecamatan. Fasilitasi Pengembangan Lembaga Keuangan Daerah dan Penyertaan Modal Daerah juga dilakukan dalam rangka pengembangan lembaga keuangan daerah. Hasil perhitungan kemampuan keuangan daerah atau kemandirian daerah yang ditinjau dari Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) dengan memformulasikan perbandingan besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Penerimaan Daerah (TPD) dari tahun 2006 sampai tahun 2008 secara berurutan adalah sebesar 4. Berdasarkan perhitungan pengukuran yang penulis lakukan relatif sama dengan pengukuran yang dilakukan di daerah. ditempuh melalui pelaksanaan kegiatan prioritas yaitu pendataan. peningkatan pengelolaan sumber-sumber pendapatan dan peningkatan PAD dan PBB. PD BPR-LKP. Berdasarkan Laporan pertanggungjawaban Bupati Sumbawa. menegaskan bahwa dalam rangka meningkatkan kemampuan pendapatan daerah.21 % dan 3.84% dari target 90%. Hasil perhitungan kemampuan keuangan daerah atau kemandirian daerah yang ditinjau dari Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) dengan memformulasikan perbandingan besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Penerimaan Daerah (TPD) dari tahun 2006 sampai tahun 2008 secara berurutan adalah sebesar 4.85 % dengan kategori yang sama pula yakni Sangat Kurang (SK) dan jelaslah bahwa dari sisi belanja rutin yang jika 22 dibandingkan dengan besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah belum mampu mengatasi pembiayaan pemerintah di daerah Kabupaten Sumbawa. telah dilakukan upaya meningkatkan potensi.16 % dengan kategori Sangat Kurang (SK) artinya tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan dari pemerintah pusat demikian pula halnya jika diukur dari Indeks Kemampuan Rutin (IKR) menghasilkan nilai ratarata di tahun 2006 sampai tahun 2008 adalah sebesar 5. Beberapa Temuan Penting Kebupaten Sumbawa jika ditinjau dari sisi kemampuan keuangan daerah relatif memiliki kondisi yang sama dengan Kabupaten yang lain di Indonesia yakni kemampuan daerahnya jika ditinjau dari kontribusi yang diberikan oleh sektor-sektor pendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah sangat kurang. Untuk itu di Tahun 2008.81 %. peningkatan pengelolaan sumber-sumber pendapatan dan peningkatan PAD dan PBB. Perlu Pemanfaatan Potensi Daerah yang Produktif Dalam Mendukung PAD Berdasarkan Laporan pertanggungjawaban Bupati Sumbawa. Kabupaten Sumbawa relatif masih lemah dari sisi kemampuan keuangan terbukti dari persentase kemampuan keuangan daerahnya. telah dilaksanakan kegiatan penyertaan modal usaha pada PT Bank NTB. realisasi dan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah. 3. Jika ditinjau lebih jauh kondisi ini lebih banyak disebabkan oleh pencapaian target yang underestimated ditambah dengan komposisi belanja SKPD yang masih belum efisien yang diakibatkan oleh ketidakpatuhan SKPD dalam menentukan dan menetapkan rencana anggaran dan belanja daerah.49 %. Adapun tingkat realisasi baru mencapai 77.16 % dengan kategori Sangat Kurang (SK) artinya tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan dari pemerintah pusat demikian pula halnya jika diukur dari Indeks Kemampuan Rutin (IKR) menghasilkan nilai ratarata di tahun 2006 sampai tahun 2008 adalah .

3. belanja dan pembiayaan dengan realisasinya selama satu periode akuntansi. Kebijakan Pemerintah Mengedepankan Kebijakan Prioritas Dalam Sektor Tertentu Yang Menghambat Perkembangan Sektor Lain Dalam kebijakan pendapatan dan Laporan keuangan pemerintah daerah ditemukan Nota Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yakni laporan yang menyajikan ikhtisar sumber. alokasi dan pemakaian sumber daya ekonomis sesuai dengan yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dalam satu periode.08 % dan 2. akan mendapatkan dampak dari aktifitas perusahaan pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara.NNT adalah sebesar Rp 10 Milyar lebih dan lebih dari setengah PAD daerah Kabupaten Sumbawa.49 %. Perencanaan Kemandirian dan kesejahteraan masyarakat sekitar dimasa yang akan datang adalah sesuatu yang harus diprioritaskan perusahaan mengingat bahwa komunitas sosial yang ada di wilayah lingkar tambang khususnya dan Kabupaten Sumbawa pada umumnya. tetapi kembali lagi ke pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan maksimal kepada pihak perusahaan asing ini dengan kebijakannya. yang jika potensi daerah dikelola secara transparan dan tidak ada bias-bias politik di tingkat birokrasi dan pihak PT NNT serta tidak adanya kecendrung-kecendrungan yang mengarah kepada korupsi di internal birokrasi. Nota Perhitungan APBD juga menggambarkan perbandingan antara anggaran pendapatan. Keperihatinan mendalam masyarakat ketika mengetahui bahwa aset yang dimiliki oleh koperasi PT. Jika ditinjau lebih jauh daerah telah berupaya terutama propinsi NTB telah mampu untuk berupaya keras dalam menjaring kerja sama yang harmonis dengan pihak NNT tentunya 23 akan berpengaruh dengan semakin meningkatnya kemampuan keuangan daerah.sebesar 5. artinya sebenarnya daerah punya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerahnya dengan memanfaatkan potensi daerah yang dimiliki terutama mengakses sumber anggaran dan bantuan dari PT NNT.85 % dengan kategori yang sama pula yakni Sangat Kurang (SK) Keterbukaan antara pemerintah dalam konsep pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah tidak transparan kepada masyarakat dalam kerangka Good Governace belum dapat berjalan dengan baik misalnya dari kontribusi royalti yang diberikan oleh PT Newmont dari besarnya serta sasaran dari anggaran yang diperoleh tersebut kepada masyarakat melalui sosialisasi program kegiatan pemerintah masih belum optimal dilakukan. perlindungan lingkungan dan tanggungjawab sosial. dapat diestimasi bahwa kemampuan keuangan daerah Kabupaten Sumbawa dapat meningkatkan kemampuan keuangan daerahnya dan mengurangi ketergantungan terhadap dana perimbangan yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan berimplikasi kepada tingginya ketergantungan daerah dan daerah selalu menjadi daerah yang relatif miskin. Perlu melihat potensi daerah di sektor peternakan seperti di kabupaten Sumbawa sekarang akan menjadi daerah dengan program sejuta sapi yang ditempatkan di area rumput desa Limung yang kemarin diresmikan oleh menteri terkait sepertinya ikut juga memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kemampuan daerah. penghargaan atas komitmen seluruh karyawan Newmont. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) merupakan Perusahaan tambang yang menempati peringkat 16 dari 100 perusahaan Coorporate terbaik dunia. memiliki nilai positif yang mampu merancang dan mensukseskan sebuah perencaan dengan baik sehingga dapat dijadikan sandaran dan harapan semua lapisan masyarakat. Lebih lanjut berkaitan dengan potensi daerah pada dasarnya daerah Kabupaten Sumbawa. . dan para pemegang saham yang terus menerus terhadap penerapan nilai-nilai perusahaaan dan perwujudan kepemimpinan kita dalam bidang keselamatan kerja. Keberadaan sebuah perusahaan yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat melalui program Coorporate Sosial Responsibility (CSR). Keberadaan PT NNT merupakan kekayaan sekaligus potensi daerah yang dimiliki oleh kabupaten Sumbawa dan hal tersebut paling tidak memberikan manfaat yang besar bagi rakyat Sumbawa dan kemiskinan tidak terjadi seperti dalam penelitian IRDA yang saya lakukan waktu itu menghasilkan bahwa kondisi kemampuan keuangan daerah masih rendah dan ini menjadi pertimbangan Sumbawa untuk bisa berkembang. manajemen. versi Majalah Pengakuan ini merupakan Responsibility.

pengawasan sampai dengan pertanggung jawabannya. dan terlihat potensi retribusi daerah yang justru patut diperioritaskan karena 24 tiap tahun selalu mengalami peningkatan. Akibat yang terjadi kemudian pencapaian target menjadi underestimated dalam menentukan besarnya target pencapaian pajak daerah. dimana pengelolaan keuangan daerah secara baik merupakan perwujudan amanat dari rakyat kepada pemerintah daerah yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik. jumlah wajib pajak akan meningkat selain secara absolut karena adanya kegiatan produksi. Pelaksanaan APBD Kabupaten Sumbawa telah memenuhi prosedur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sejak proses penyusunan. untuk itu butuh kebijakan yang memihak kepada peningkatan retribusi daerah. berdasarkan Permendagri Nomor 13 yaitu suatu sistem anggaran yang menitikberatkan pada upaya peningkatan hasil kerja dengan melihat sejauh mana program kegiatan pada satuan kerja perangkat daerah dapat mengakomodir semua tugas dan tanggung jawabnya secara baik. sehingga setiap aktivitas dalam berbagai kegiatan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat pada umumnya. harmonisasi pembangunan daerah yang saling mendukung antar sektor pembangunan merupakan keuntungan. juga secara potensial karena adanya penambahan jumlah faktor produksi yang mendukung usaha produksi yang utama. sehingga setiap aktivitas dalam berbagai kegiatan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat pada umumnya. Bagi kegiatan peningkatan pajak daerah. akhirnya pemerintah daerah melalui lembaga pengelola pendapatan daerah termasuk PAD lebih mengedepankan upaya intensifikasi pajak daerah. Kondisi yang berbeda justru terjadi publikasi data. Target pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Tahun 2010 akan ditargetkan sebesar Rp 25 Milyar dengan kebijakan yang lebih menggiatkan pada sektor pajak dengan lebih mengefektifkan program SoMentari yang tahun 2007 sempat terkendala dan mengajukan pagu anggaran untuk kebedaan IT profesional untuk membuat databased pajak daerah. Penyusunan APBD Kabupaten Sumbawa telah melaksanakan penerapan sistem Anggaran Kinerja. Kedua. Kebijakan umum bagian pendapatan dalam upaya mengoptimalkan pendapatan daerah dan Kebijakan Umum Pendapatan Daerah . Beberapa Temuan Penting Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa dalam hal kebijakan selalu mengedepankan potensi pendapatan terbesar berasal dari sektor pajak daerah sebagaimana disampaikan oleh Kepala dinas PKA Kabupaten Sumbawa. artinya sektor perpajakan masih merupakan primadona dalam pengambilan kebijakan daerah dalam hal peningkatan PAD. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. Salah satu indikator penting dalam Good Governance adalah adanya akuntabilitas pengelolaan Keuangan Daerah. Hal ini mengingat bahwa penyusunan APBD Kabupaten Sumbawa telah melaksanakan penerapan sistem Anggaran Kinerja.Tujuan dari Nota Perhitungan APBD ini adalah untuk mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah daerah yang memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan untuk melahirkan sebuah kebijakan keuangan di daerah. sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Arah dan kebijakan keuangan yang ditempuh dan tertuang dan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa yang mana arah dan kebijakan umum bagian pendapatan dalam upaya mengoptimalkan pendapatan daerah dan kebijakan umum pendapatan daerah yang dilaksanakan pada Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset daerah Kabupaten Sumbawa yakni mewujudkan peraturan Perundang-undangan atau kebijakan teknis di bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai dasar hukum pemungutan dikarenakan dengan adanya payung hukum yang kuat akan memudahkan pemerintah daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatan daerah yang tertuang dan Pendapatan Asli Daerah. sebab pertama dapat memperkuat data base perpajakan karena ada keterkaitan antar obyek pajak. pelaksanaan. berdasarkan Permendagri Nomor 13 yaitu suatu sistem anggaran yang menitikberatkan pada upaya peningkatan hasil kerja dengan melihat sejauh mana program kegiatan pada satuan kerja perangkat daerah dapat mengakomodir semua tugas dan tanggung jawabnya secara baik.

sehingga dalam kebijakannya seperti program peningkatan pajak daerah terutama ditingkatan implementasinya perlu mengkaji lebih jauh terutama secara teknis dengan mengkaji administrasinya yang jelas ditingkatan pedesaan artinya yang dilakukan sekarang ini berkasnya hanya diserahkan di kantor desa bukan diadakan pendekatan dengan masyarakat wajib pajak secara langsung. bahkan lebih rendah dari nilai yang diperoleh dengan pengukuran DDF dan kategorinya juga sama yakni Sangat Kurang (SK). Efisiensi Belanja dan Kepatuhan Rencana Kelayakan Anggaran Meningkatkan kemampuan keuangan daerah selalu menjadi keinginan setiap daerah karena tumpuannya untuk meningkatkan kemandirian daerah baik ditinjau dari Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) yang meninjau kemampuan daerah dari sisi perbandingan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total 25 Penerimaan Daerah (TPD). bahwa sangat dibutuhkan kesiapan program yang disesuaikan dengan target pencapaian program yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).85 persen. Strategi Pengkajian Target Program. Selanjutnya Kabupaten Sumbawa dalam kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah telah melakukan juga upaya dalam memberdayakan potensi-potensi sumber pendapatan melalui Intensifikasi. Masyarakat perlu mendapatkan ulasan yang lebih jelas sehingga masyarakat tidak memiliki mosi tidak percaya kepada pemerintah daerah. Beberapa Temuan Penting Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah yakni dengan menerapkan suatu strategi yang dikaji berdasarkan faktor-faktor yang menghambat keberhasilan program dan target. Dengan memperhatikan strategi dalam efisiensi belanja dan rencana program yang harus dibelanjakan harus benar-benar memberikan manfaat berlebih bagi pembangunan pada umumnya dikarenakan banyak SKPD yang . akan tetapi hal tersebut berbeda dengan kenyataan dalam implementasinya. Selain itu. Pengukuran lainnya yakni dengan mengukur Indeks Kemampuan Rutin (IKR) yang meninjau kemampuan keuangan daerah dari sisi perbandingan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan belanja rutin daerah dan berdasarkan hasil pengukuran kondisi yang sama juga terjadi yang nilai IKR di tahun 2008 senilai 2. diperlukan upaya peningkatan strategi dalam meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan pemilihan jurusan yang diperuntukkan untuk SKPD disesuaikan dengan kebutuhan daerah misalnya saja dalam bidang keuangan daerah atas administrasi daerah karena dengan itu akan sangat membantu pencapaian target. Karena itu dalam kaitan dengan peningkatan kemampuan keuangan tersebut termasuk pemerintah Kabupaten Sumbawa tentunya berupaya secara maksimal untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh daerah dalam peningkatan pendapatan daerah yang mengarah kepada peningkatan kemampuan dan kemandirian keuangan daerah. Berdasarkan wawancara dan observasi yang dilakukan diperlukan kebijakan yang memihak kepada wajib pajak daerah agar perolehan pendapatan daerah yang merupakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sekiranya dapat dioptimalkan di daerah. Kualitas SDM.16 persen dengan kategori Sangat Kurang (SK). Hendaknya sosialisasi program yang dijalankan di kabupaten Sumbawa dengan menjalankan hubungan fungsional yang lebih baik antara masyarakat dengan pemerintah secara terbuka agar masyarakat desa semakin mengetahui program-program yang dijalankan oleh pemerintah daerah. Untuk sementara kondisi kemampuan keuangan daerah ditinjau dari DDFnya hanya mencapai angka dibawah 10 persen yakni di tahun 2008 senilai 3.yang dilaksanakan pada Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset daerah Kabupaten Sumbawa yakni mewujudkan peraturan Perundangundangan atau kebijakan teknis di bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai dasar hukum pemungutan dikarenakan dengan adanya payung hukum yang kuat akan memudahkan pemerintah daerah dalam menggali sumbersumber pendapatan daerah yang tertuang dan Pendapatan Asli Daerah. Sangat dibutuhkan pencapaian target program yang relatif baik dalam artian sesuai dengan rencana program. sesuai dengan penyataan Kepala dinas Pendapatan Keuangan Dan Aset. kaitan dengan program intensifikasi perpajakan dengan menguatkan seluruh komponen yang terkait untuk dapat berperan aktif untuk mengintensifikasikan pemungutan.

Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi terhadap pengelolaan PBB daerah. organisasi kemasyarakatan.kurang patuh dan rencana dan penetapan anggaran. lembaga swadaya masyarakat. serta peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. maupun masyarakat miskin sendiri agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perbaikan kondisi sosial. Strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah hendaknya senantiasa melakukan upaya penanggulangan kemiskinan daerah dengan melakukan pendekatan yang terpadu. serta menuntut keterlibatan semua pihak baik pemerintah. Strategi peningkatan kepatuhan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam penyusunan rencana anggaran sesuai dengan kepatutan dan kelayakan belanja. pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. pemerintah daerah siapapun orangnya perlu mengkaji tentang masalah anggaran ini dan harus memang memberikan manfaat besar dan aneka macam kepentingan dapat diakomodir. Wawancara dan observasi peneliti menemukan sepertinya tolok ukur penetapan target pemerintah daerah dalam hal peningkatan sumber pendapatan daerah di Kabupaten Sumbawa ini dirasakan masih belum tepat sehingga menyebabkan over estimate atau under estimate dalam penetapan target penerimaan. Diperlukan strategi peningkatan pengawasan penerimaan daerah termasuk PAD 26 dengan diaktualisasikan dengan keberadaan teknologi informasi yang kreatif dan produktif sehingga ruang gerak ketimpangan anggaran akan sulit terjadi. realisasi dan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah yang ditempuh melalui pelaksanaan kegiatan prioritas yaitu pendataan. Strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah berdasarkan faktor penghambat tercapainya program daerah yakni pencapaian target strategi yang ditetapkan dalam meningkatkan penerimaan daerah terutama dari kelompok Pendapatan Asli Daerah yang mana perlu dilakukan perubahan terhadap target yang telah direncanakan. Dalam mengatasi hambatan ini dilakukan upaya peningkatan tenaga SKPD secara teknis mengusulkan tenaga IT untuk administrasi pajak agar pengelolaannya lebih baik dan program pemerintah secara umum telah meningkatkan jumlah SKPD yang akan melanjutkan studinya terutama kaitannya dengan administrasi dan keuangan daerah. Pemerintah daerah perlu meningkatkan kemampuan keuangannya yakni dengan memperhatikan fasilitas penunjang pengelolaan keuangan dengan menyiapkan tenaga profesional daerah baik yang bekerja secara teknis dan operasioanl. Dalam upaya mempertegas strategi yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Sumbawa dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah dilakukan justifikasi strategi terkait dengan peningkatan potensi. karena masyarakat pada umumnya masih belum memahami secara teknis tentang perhitungan PBB tersebut masih menggunakan jasa konsultan untuk mengetahui perhitungan PBB tersebut. dunia usaha. pendaftaran dan pengolahan data obyek dan subyek pajak. peningkatan pengelolaan sumber-sumber pendapatan dan peningkatan PAD dan PBB. Untuk itu. Sangat layak pemerintah daerah memantau lebih jauh kondisi anggaran yang digunakan termasuk belanja daerah yang selama ini berdasarkan pengamatan saya masih belum efisien karena setiap akhir tahun kegiatan dinas bahkan hampir setiap dinas melakukan pemutihan anggaran. Untuk itu perlu pelatihan yang terkait dengan kegiatan tugas dari perangkat daerah tersebut dan selalu membangun koordinasi antar perangkat daerah. hal ini berdasarkan observasi penyaluran keuangan daerah masih bersifat manual melalui mekanisme SP2D artinya pencairan keuangan masih dicairkan secara manual. Kondisi PAD belum mampu untuk membiayai kegiatan pembelanjaan daerah sepenuhnya dikarenakan strategi yang dilakukan untuk menggali potensi pendapatan daerah belum berjalan sepenuhnya yang walaupun ditargetkan 90 persen. ekonomi dan budaya. Kemiskinan merupakan permasalahan multidimensi. baik dari segi faktor penyebab . Perangkat daerah pada umumnya perlu melakukan pelatihan yang produktif dalam pengelolaan anggaran. dan berkesinambungan. Ketika saya menganalisa kesesuaian perangkat daerah saya rasa masih belum sesuai dengan dasar keilmuan yang dimiliki oleh perangkat daerah. Strategi peningkatan kualitas sumberdaya manusia pengelola penerimaan daerah yang masih perlu ditingkatkan. terencana.

Pemerintah daerah hendaknya dalam meningkatkan SDM SKPD melakukan program pelatihan atau pencangkokan tenaga untuk diberikan pendidikan non profesi khusus untuk memperdalam Informatika dan Telekomunikasi karena dengan demikian dapat mempermudah pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas SDM daerah dan juga dibutuhkan anggaran yang tidak terlalu besar yang tujuan akhirnya mengurangi rawannya penyimpangan di sektor pajak daerah karena databased pajak telah tersedia dan dilakukan oleh tenaga IT yang profesional.maupun dampak yang ditimbulkannya. untuk itu perlu upaya preventif pemerintah daerah dalam menggali potensi daerah dengan mengefektifkan potensi bantuan royalti dan CSR dari PT Newmont Nusa Tenggara dan menemukan potensi penerimaan yang ada di sektor peternakan dalam program sejuta sapi dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah. akibatnya rawan terhadap penyimpangan serta belum menjalankan program Sosialisasi Menagih tiap hari (SoMentari) pajak daerah secara efektif karena manajemen internal dinas terkendala dalam menyiapkan tenaga Informatika dan Telekomunikasi (IT) untuk membuat data based pajak daerah atau mekanisme full computerized. Kemampuan keuangan daerah kabupaten Sumbawa berada pada kategori sangat rendah. Mendata. Pemerintah daerah hendaknya memperhatikan kepentingan masyarakat lokal sebagai penguat basis ekonomi terutama retribusi daerah dan menjauhi adanya diskriminasi yang berlebihan terhadap pendatang yang memiliki kemampuan dalam mengakses informasi kepada birokrasi yang justru akhirnya menimbulkan konflik. Pemerintah hendaknya efektif dalam menjalan program SoMentari (Sosialisasi. 3. Pemerintah perlu melakukan tindakan dini dengan melihat potensi dan kekayaan daerah yang unik yang dimiliki daerah Kabupaten Sumbawa seperti PT NNT dan program sejuta sapi yang tidak dimiliki daerah lain yang dilakukan dengan pengawasan secara profesional dan mampu mengakses sebagian besar kebutuhan masyarakat lokal. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. 2. Penurunan pajak daerah disebabkan adanya gangguan administrasi pajak daerah karena tidak adanya fasilitas penunjang yang memadai seperti databased pajak yang tersistem di pemerintahan dan pengelolaannya dilakukan secara manual. Penanggulangan kemiskinan menuntut keterlibatan berbagai stakeholders pelaku pembangunan daerah untuk bekerja sama dalam pola kemitraan dalam suatu strategi yang tepat sehingga sasaran dan tujuan utama penanggulangan kemiskinan dapat tercapai. Rekomendasi Kebijakan 1. 3. Strategi peningkatan kemampuan keuangan yang diterapkan pemerintah daerah antara 27 rencana dan target kerja yang dibangun masih under estimated dan mengefektifkan pelaksanaan strategi yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM SKPD misalnya menyiapkan tenaga IT Profesional dan strategi peningkatan efisiensi belanja daerah dan kepatuhan SKPD dalam menyajikan rencana dan realisasi anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas fiskal daerah. menagih tiap hari) sebagai implementasi intensifikasi pajak berupa sosialisasi yang terarah dengan mendatangi masyarakat wajib pajak secara langsung dan tidak hanya menitipkannya di kantor desa setempat yang justru menimbulkan kerancuan dalam mekanisme pajak walaupun dalam prosesnya membutuhkan biaya yang harus dipertimbangkan dengan demikian kebijakan . Potensi Pendapatan Asli Daerah yang perlu dikembangkan di kabupaten Sumbawa adalah pada sektor retribusi daerah karena kontribusi yang diberikan lebih tinggi dari sektor pajak daerah sedangkan potensi sektor yang lain masih perlu mendapatkan perhatian pemerintah karena berdasarkan temuan pemerintah daerah terfokus pada program intensifikasi pajak daerah. 4. Kebijakan umum pemerintah bidang pendapatan telah menitikberatkan pada sektor-sektor peningkatan penerimaan seperti peningkatan sektor pajak daerah melalui program intensifikasi pajak dan telah mengedepankan aspirasi dan kebutuhan masyarakat lokal dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah. 2. 4. 5.

Yogyakarta: Pembaruan.pendapatan di sektor pajak daerah dapat lebih terarah dan menjauhkan mosi tidak percaya masyarakat kepada pemerintah daerah 5. Journal : Analisis CSIS. 8 September 1992. Yogyakarta Davey. Jakarta Badan Penelitian dan Pengembangan Depdagri dan Fisipol UGM. 13-25. dalam memberikan kontribusi secara sadar bagi peningkatan pendapatan daerah untuk dapat memutuskan. Roy Kelly. Boadway dan Wildasin. Depkeu RI. Kenneth Davey. 5-14. Anne. Jakarta Devas Nick. Boston. Jakarta Departemen Keuangan Republik Indonesia. No. Jamaluddin. terjemahan Amanullah. Litle Brown. Buku Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2009.75-92 Bryman. Journal LAN. 2001. Nurjaman. Jakarta Arsyad. hal. Quantity and Quality in Social Research. 2008. Makalah pada Munas ISEI VII. Alexander. FR. Junanto. Hubungan Fiskal Antar Pemerintahan di Indonesia. Studi Kasus DI Aceh. Kenneth. Modul Ekonometrika terapan. UI Press. Buku Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2009.2009. DAFTAR PUSTAKA Abe. 1992. Pengukuran Kemampuan Keuangan Daerah Tingkat II dalam Rangka Otonomi Daerah yang Nyata dan Bertanggung Jawab. “A Possible Concept for Equalization.A.A. UI Press. organisasi kemasyarakatan.1. Transisi. 2001. 1984. hal. Bryman. Brian Blinder Anne Booth. “Pungutan Pada Dunia Usaha”. Seri Kajian Fiskal dan Moneter.1988. Fuad. Strategic Management 6th Edt. Edisi ke V terjemahan Sumarno. Public Sector Economic.19. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Dalam Donald K Emmerson. Binder. Deny. Jakarta Departemen Keuangan Republik Indonesia. Torronto Booth. 2004. 1984.2000. Peranan dan Masalahnya. Penerbit BP Panca Usaha. Kinerja Keuangan dan Strategi Pembangunan Kota di Era Otonomi Daerah: Journal : CURES Working Paper No 05/01 January 2005. lembaga swadaya masyarakat. Surabaya Ahmad. Mixing methods: Qualitative and Quantitative Research. Ekonomi. Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.35. Agustino. 2005. Depkeu RI. Pemerintah daerah hendaknya memperhatikan strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah dalam upaya penanggulangan kemiskinan masyarakat dengan menuntut keterlibatan baik dunia usaha. Banjarmasin 28 . Indonesia Beyond Soeharto: Negara. Masalah dan Prospek Pembiayaan Pembangunan Daerah. Pelengkap Buku Pegangan Departemen keungan tentang Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Indonesia. The debate about quantitative and qualitative research : A question method or epistemology? The British Journal of Sociology. Pelengkap Buku Pegangan Departemen keungan tentang Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Indonesia. 1997. “Pembangunan: Keberhasilan dan Kekurangan”.E. Julia. London : Unwin Hyman Brannon. 1989.pp. Undang-Undang Republik Indonesia No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.1988. 1990. Desertasi Doktor UGM. Jakarta Djojosubroto. Second. Penterjemah Masri Maris. New Jersey: Prentice Hall. 1999. 12. Grant for Indonesia Ekonomi Regional Development”. 2005. Keuangan Indonesia. (Ed. Yogyakarta (Tidak Dipublikasikan) Aliman. Praktek dan Relevansinya bagi Dunia Ketiga. Perencanaan Daerah Partisipatif. Pembiayaan Pemerintah Daerah. 1984. mengawal dan mengawasi program yang dilaksanakan dalam meningkatkan pendapatan daerah.Yogyakarta Anonymus. Jawa timur dan DKI Jakarta.1991. (2002) Penerapan Desentralisasi Fiskal Untuk Meningkatkan Sektor Bunga Rampai Pariwisata. Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Masyarakat.). Jakarta David. Jakarta Bawazier. 1996. Briant. Pustaka Pelajar. Vol. Dono Iskandar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. PAU Studi ekonomi UGM.

Yogyakarta Moleong.J. LP3ES.Pascasarjana Unibraw. Beverly Hills : Sage Publications Prihanto Eko Y. Malang 29 . Kertajaya. “A Study of Organizational Effectiveness”. 1991.1997. Jakarta Munir. Malang. Alfian. Investors. PT Danar Wijaya. PT Gramedia Pustaka Utama. 19. dan Pengembangan”. Reading On Capability For Development. 2005. Jakarta Otonomi dan Manajemen Mardiasmo. 2003. Dasril. Tjip. Jakarta: Departemen Keuangan. Yogyakarta Kristiadi.1988. 1984. Miles B dan A Michall Huberman.2004.Michael Quinn. Mudrajat. Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka. Hermawan. Laporan Penelitian. Makalah. Prisma. Mudrajat. Pendapatan Asli Daerah Pasca UU No 18 Tahun 1997. Basil S. J Lexy. “Paradigms of Regional Development and Take Role Of Small Centers Development and Ekonomi dan Keuangan Change”. No. Penerbit : Andi Offset. J. 4. BPFE UNIBRAW. Journal CSIS XXIX Nomor 1.1992.2008. New York: United Nations. Manajemen Keuangan Daerah. Administrasi Keuangan Daerah : Pengelolaan dan Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tulis S. Nort Carolina. 2004. Musgrave Richard A and Musgrave Peggy B. dan Yuswohady. Analisa Sumber-sumber PAD yang Potensial Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kota Jayapura. KKD-FE UGM. Vol. Rustin.E. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Temu Alumni dan Seminar Nasional Manajemen Keuangan Daerah Dalam Era Global. 12. Bandung. Otonomi Daerah Dalam Transisi. MJ. Prisma No 12. Mamesah.1989. Yogyakarta Kuncoro.1995. Kamaluddin. dan Titus. Ichsan. Analisis Data Kualitatif. Hinderink. Malang Ismail. Attracting Tourist. Jakarta Mardiasmo. Keuangan Daerah. Research Triangle Institute. 1989. Dilema Otonomi dan Ketergantungan.2002. Jakarta Kuncoro. Halim. 2004. USA. UPP AMP YKPN. 4057.1987.Tidak dipublikasikan Patton. hal 17-31. 73-88. Journal : Analisis CSIS. “Peran Pendapatan Asli Daerah Sebagai Pendamping Dana Perimbangan Dalam Pembiayaan Pembangunan Guna Mewujudkan Kemandirian Daerah”. 1997 Sistem Administrasi Keuangan Daerah. Traders. Yogyakarta: YPAPI. 2008. Andi Offset. et al. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Mudrajat.2004. 1969. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2000. hal. Muhammad. Khusaini.1997. 2006.Victor. Metode Kuantitatif (Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi).B. et al.Georgopoulus. Dharma.2005. Journal : Prisma. Qualitative Evaluation Methods. Jakarta: Samitra Media Utama. Malang Koswara. Desentralisasi Fiskal di Indonesia. Menyongsong pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan undang-undang Nomor 22 tahun 1999: suatu telaahan dan menyangkut kebijakan. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Lewis.). IndonesiaI. “Keuangan Kotamadya Padang Panjang: Profil. Some Empirical Evidence On New Regional Taxes And Charges In Indonesia. Yogyakarta Mardiasmo. Perpajakan Dalam Teori dan Bandung: Yama Widya Praktek. Metodologi Penelitian Kualitatif. Pasalbessy. 2003. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Masalah Sekitar Pendapatan Daerah. Oentarto.. Vol. Potensi.3-17 Kuncoro. cetakan pertama.Perpajakan edisi revisi 2008. 2002. Tesis. No. dalam Amitai Etzioni (Ed.4. dkk. Brawijaya University Press. Blane D. 2001.. Kebijakan dan Manajemen Keuangan Daerah. CV. Ekonomi Publik (Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah). Public Finance Theory and Practice. pelaksanaan dan kompleksitasnya. Yogyakarta Meliala. 1985. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah (Serial Otonomi Daerah dan Good Governance).. dan Arnold S Tannebaum. Jakarta Lains. “Pendapatan Daerah Dalam Ekonomi Orde Baru”. Abdul. Laporan Penelitian. 12 April 1997.ANDI OFFSET. PT Remaja Rosdakarya. UI Press..

Otonomi Keuangan Daerah Tingkat II Suatu Studi di Maluku. Elia. Publishing. 2004. Hessel Nogi S. Pembangunan: Konsep. Jakarta: Erlangga Sumodiningrat. Edisi : Kedua. Penerbit Kuraiko Pratama.UPP STIM YKPN.1997. Sidik.Perekonomian Indonesia (deskripsi. Penerbit Ghalia Indonesia. Tesis PS IESP UGM. 1991.Ahmad Erani. Penerbit Kuraiko Pratama. Richard M. Tumilar.25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. “Format Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Yang Mengacu Pada Pencapaian Tujuan Nasional”.IX. VOL. Jakarta Sutrisno. Analisis Ekonometrika dan Statistika Eviews . Swasono. Penerbit Citra Umbara. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat.Sony. Yogyakarta Syahroni.2007. Bandung Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Penerbit Citra Umbara. Menggusur Kemiskinan”. Dimensi. B. PT RajaGrafindo Persada. Cetakan III. 2005. Otonomi Keuangan dan Ekonomi Daerah Tingkat II di Propinsi Sulawesi Utara.2006. Terjemahan.Radianto. Manajemen Publik. 1999. preskripsi dan kebijakan) Banyumedia Publishing. Hal 13-21 Steers. Gunawan. Economic Development in The Third World.1997. Machfud. makalah pada seminar bulanan ke 20 Pustep-UGM. 1982.. Michael P. Sri Edi. Jakarta: Grasindo. Jurnal Akuntansi dan Manajemen Edisi I. Jakarta Septiawan. Jakarta Yuwono. Jakarta Saragih. Pascasarjana Unibraw.C. Bandung Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Journal : Prisma. London: George Allen and Unwin Ltd. cetakan pertama. 1985. Memahami APBD dan Permasalahannya (Panduan Pengelolaan Bayumedia Keuangan Daerah).PH. 2008.Tidak dipublikasikan Administrasi Siagian. Josef. “Pembangunan Menggusur Orang Miskin Bukan Mimeo. 30 Tangkilisan. Dasar-dasar Ilmu Keuangan Negara. makalah Deputi Bidang Otonomi Daerah dan Pengembangan Regional. 1997. Juli Panglima. Urgensi Pajak Daerah dan Penghasilan Daerah dalam Struktur Pendapatan Asli Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.PT Raja Grafindo Persada. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. 1985. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. 2008. No. Jakarta: Departemen Keuangan Smith. 2003. Kemampuan Keuangan Daerah Ditinjau Dari Kontribusi Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Tesis. Sondang P. Penerbit Bina Reka. Todaro. Mimeo. BPFE UGM. Tatag. 2002. Jakarta: German Technical Cooperation (GTZ). 2003.. 2004. Decentralization: The Territorial Dimension Of State. Yogyakarta Wiranto. 1997 Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia. Bandung Undang-Undang No.. Ahmad. Daerah. Soeratno dan Suparmoko. Yani. Agustus 2002.3. Bandung Undang-Undang No 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wing Wahyu Winarno. Malang .RLH. Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Yogyakarta (tidak dipublikasikan) Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.Dwi. New York dan London: Longman Publishing. 2005. Pengertian Dasar dan Generik Tentang Perencanaan Pembangunan Daerah. Efektivitas Organisasi.24-37 Riwu Kaho. 2002. “Perencanaan Dalam Era Desentralisasi”. 4th edition. Malang. Jawa Timur Yustika. dan Strateginya. Pengelolaan Keuangan Daerah : Mendukung Pemberian Otonomi Daerah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

31 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->