P. 1
Makalah (Penurunan Titik Beku) Revisi

Makalah (Penurunan Titik Beku) Revisi

|Views: 2,855|Likes:
Published by Lisa Maharani Lubis
penurunan titik beku
penurunan titik beku

More info:

Published by: Lisa Maharani Lubis on Mar 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2014

pdf

text

original

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM LABORATORIUM KIMIA FISIKA

PENURUNAN TITIK BEKU
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai pada Praktikum Kimia Fisika Program Studi Teknik Kimia

Disusun oleh Arifin Hadiur Rossa Dwi Aryani Shelvi Agustina Moriz Geovani Lisa Maharani Lubis 114110005 114110006 114110023 114110028 114110040

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA INSITUT TEKNOLOGI INDONESIA SERPONG 2012

ABSTRAK Perubahan fase zat cair ke padat disebut membeku. Hal ini banyak terjadi di lingkungan sekitar kita, terutama di negara yang memiliki musim dingin. Setiap zat mengalami pembekuan dengan waktu yang berbeda-beda, sebab titik beku yang dimiliki oleh masing-masing zat berbeda. Semakin tinggi titik bekunya maka zat tersebut akan semakin cepat untuk membeku. Tujuan dari praktikum Penurunan Titik Beku adalah menentukan berat molekul suatu zat yang tidak menguap (non volatil) dengan cara metoda titik beku dengan menggunakan zat terlarut yaitu asam oksalat dan naphtalen dan zat pelarutnya adalah asam asetat glasial. Variabel percobaan yang digunakan adalah variasi massa zat asam oksalat (1:1,5:2) gram dan massa zat napthalen (1;1,5;2) gram dan parameter percobaan yang digunakan adalah nilai konstanta penurunan titik beku (Kf) dan berat molekul (BM) asam oksalat. Nilai titik beku asam asetat glasial yaitu 16,70C. Nilai titik beku dari asam asetat glasial dan naphtalen masing-masing adalah 100C ; 70C ; 40C. Sedangkan, nilai titik beku dari asam asetat glasial dan asam oksalat masing-masing adalah 80C ; 50C ; 30C. Dari hasil percobaan yang dilakukan untuk menentukan nilai Kf dan berat molekul asam oksalat didapatkan nilai Kf (asam asetat glasial dan naphtalen) 1 gram ; 1,5 gram ; 2,0 gram masingmasing sebesar 22,593 ; 21,806 ; 21,4163. Dan untuk nilai Berat Molekul Asam Oksalat( 1 gram ; 1,5 gram ; 2,0 gram) yaitu 107,34 gram/mol ; 248,640gram/mol ; 542,65gram/mol. Nilai Kf dari masing- masing zat terlarut bergantung dari tingkat suatu zat untuk menguap. Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa titik beku yang didapatkan lebih rendah dari titik beku pelarutnya, hal ini sesuai dengan teori dimana bahwa titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarutnya dikarenakan adanya penghalang antar partikel (penghalang??yang timbul dari???). Adanya pelarut sejenis di dalam larutan sehingga diperlukannya suhu yang yang lebih rendah dari pelarut agar partikelpartikel di dalam larutan dapat membeku.

(1.coba d cek lagi huruf awal dr tiap kata yg berada di tengah, jgn tiba2 membesar padahal bukan kalimat baru!! 2.pada awal abstrak tdk menjadi soal penulisan bahan kimia dgn kata2 namun alangkah lebih baik jika pada kalimat2 berikutnya bahan kimia tersebut ditulis dengan rumus molekulnya)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan rahmat terindah yang selalu diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul penurunan titik beku .Kami menyadari penulisan ini hanyalah setitik ilmu yang diberikan Tuhan dari hamparan ilmu-Nya yang luas. Makalah ini berisi tentang hasil percobaan dengan metode titik beku. Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk tugas kimia fisika. Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapatkan dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang selalu membantu kami dan memberikan semangat kepada kami yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak demi perbaikan di masa mendatang. Kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Serpong,19 Desember 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Perubahan fase zat cair ke padat disebut membeku. Hal ini banyak terjadi dilingkungan sekitar kita, terutama di negara yang memiliki musim dingin. Setiap zat memiliki titik beku dengan waktu yang berbeda-beda, sebab titik beku yang dimiliki oleh masing-masing zat berbeda (mengulang kata yg sebelumnya bukan menjelaskn knp titik beku berbeda beda!!). Semakin tinggi titik bekunya maka zat tersebut akan cepat mengalami pembekuan. Negara yang bermusim dingin mengalami proses pembekuan yang berlangsung cepat sekali, mulai dari air yang berada di alam bebas maupun air dalam radiator kendaraan bermotor, karena hal itu sangat merugikan maka untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan penurunan titik beku. Penurunan titik dengan cara menambahkan suatu zat anti beku kedalam radiator. Penurunan titik beku terjadi karena terjadi kenaikan tekanan cairan dalam radiator, sehingga cairan membeku dalam suhu yang lebih rendah dari pelarutnya. Penurunan titik beku larutan encer sebanding dengan konsentrasi massanya. Oleh karena itu, untuk mengetahui cara menentukan tetapan titik beku dan menentukan berat molekul zat non volatil dilakukan percobaan “Penurunan Titik Beku Larutan” ini. 1.2 TUJUAN Untuk menentukan berat molekul suatu zat yang tidak mudah menguap (non-volatil) dengan cara metode titik beku.

1.3 Batasan masalah Batasan masalah pada percobaan kali ini yaitu menentukan Berat Molekul dari suatu zat yang tidak mudah menguap (non-volatil) dengan cara metode titik beku. Dimana zat terlarut adalah Asam Oksalat dan Naphtalen.Sedangkan zat pelarutnya adalah Asam Asetat Glasial (beritahu massa zat terlarut dann pelarutnya

1.4 Hipotesa Nilai Titik Beku pelarut lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai titik beku zat terlarutnya hal ini dikarenakan adanya penghalang antar partikel dan adanya pelarut sejenis di dalam larutan sehingga diperlukannya suhu yang yang lebih rendah dari pelarut agar partikel-partikel di dalam larutan dapat membeku. (sesuaikn dengan tujuan kalian..jgn asal.....ex: Terdapat hubungan antara jumlah terlarut dengan .......)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Larutan Larutan adalah campuran homogen dari molekul atom maupun ion dari dua zat atau lebih. Larutan disebut campuran karena susunannya berubah-ubah. Larutan disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Dalam campuran heterogen, permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah. Meskipun semua campuran fase gas bersifat homogen dan karena itu disebut larutan, molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tak dapat saling menarik dengan efektif. Larutan fase padat sangat dikenal dan sangat berguna. Contoh : - Perunggu (tembaga dan zink sebagai penyusun utama)
- Emas perhiasan (biasanya campuran emas dan tembaga)

(masukkan kedalam paragraf saja!!) Biasanya, larutan berfase cair. Salah satu komponen larutan yaitu pelarut harus berfase cair sedangkan zat terlarut dapat berbentuk gas, padatan, atau larutan ( cairan ).( Keenan, 1990 ) 2.2 Sifat Koligatif Larutan Sifat koligatif karutan adalah sifat-sifat larutan yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel dalam larutan dan tidak tergantung kepada jenis partikelnya. (Sukardjo, 1985). Sifat-sifat tersebut ialah penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik yang semuanya dinamakan sifat-sifat koligatif. Kegunaan sifat-sifat koligatif

banyak dan beragam. Sifat-sifat tersebut juga memainkan peranan penting dalam metoda penetapan bobot molekul dan pengembangan teori larutan. ( Petrucci, 1987 )

Gambaran Sifat Koligatif ( Chemistry.org, 2009 )

2.2.1 Sifat Koligatif Larutan Elektrolit Pada konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan elektrolit memliki nilai yang lebih besar daripada sifat koligatif larutan non elektrolit. Banyaknya partikel zat terlarut hasil reaksi ionisasi larutan elektrolit dirumuskan dalam faktor Van't Hoff. Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor Van't Hoff :

Keterangan :

= faktor Van't Hoff n = jumlah koefisien kation = derajat ionisasi Empat macam sifat koligatif larutan elektrolit adalah: a. Penurunan tekanan uap, DP = i.P0.XA b. Kenaikan titik didih, Dtb = i.kb.m c. Penurunan titik beku, Dtf = i.kf.m d. Tekanan osmose, π= i.M.R.T (http://kimiamifkho.wordpress.com/2009/07/22/sifat-koligatiflarutan-elektrolit/) 2.2.2 Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit Sifat larutan berbeda dengan sifat pelarut murninya. Terdapat empat sifat fisika yang penting yang besarnya bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut tetapi tidak bergantung pada jenis zat terlarutnya. Keempat sifat ini dikenal dengan sifat koligatif larutan. Sifat ini besarnya berbanding lurus dengan jumlah partikel zat terlarut. Sifat koligatif tersebut adalah -

tekanan uap titik didih titik beku tekanan osmosis.

-

Menurut hukum sifat koligatif, selisih tekanan uap, titik beku, dan titik didih suatu larutan dengan tekanan uap, titik beku, dan titik didih pelarut murninya, berbanding langsung dengan konsentrasi molal zat Kebanyakan larutan mendekati ideal hanya jika sangat (http://www.scribd.com/doc/39685524/Larutan-Dan-Kelarutan) terlarut. encer. Larutan yang bisa memenuhi hukum sifat koligatif ini disebut larutan ideal.

2.3 Jenis-jenis Sifat Koligatif Larutan 2.3.1 Penurunan Tekanan Uap Tekanan uap adalah ukuran kecenderungan molekul-molekul suatu cairan untuk lolos menguap. Makin mudah molekul-molekul cairan uap, makin besar tekanan uapnya. Besarnya tekanan uap bergantung pada jenis zat dan suhu. Suatu zat yang memiliki gaya tarik antara partikelnya relative besar, berarti sukar menguap dan akan mempunyai tekanan uap kecil. Contoh,gula. Sebaliknya zat yang memiliki gaya tarik menarik antara partikelnya lemah, berarti mudah menguap atau atsiri ( volatile ) dan akan mempunyai tekanan uap relatif besar. Contoh, eter. Harga tekanan uap suatu zat juga makin besar bila suhu dinaikkan. Bila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang sukar menguap, maka tekanan uap larutannya menjadi lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murninya. Hal ini disebabkan pada permukaan larutan terdapat interaksi antar zat terlarut dan pelarut, sehingga laju penguapan pelarut berkurang. Akibatnya tekanan larutan menjadi turun. Selisih antara tekanan uap pelarut murni dengan tekanan uap larutan disebut penurunan tekanan uap ( Δp ). ΔP = P°-P Menurut Roult, jika zat terlarut sukar menguap, maka penurunan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol terlarut, sedangkan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol pelarut. P = Xpel . P° ΔP = P° - (Xpel . P°) = P° –(1-Xter)P°

= P°-P°+(Xter . P°) ΔP = Xter . P° ( Yazid, 2005 )

2.3.2 Kenaikan Titik Didih Titik didih suatu cairan adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan udara luar. Biasanya yang dimaksud dengan titik didih adalah titik didih normal, yaitu titik didih pada tekanan udara luar 1 atm. Titik didih normal air adalah 100°C. Pada suhu yang sama, adanya solut yang sukar menguap menyebabkan tekanan uap larutan lebih rendah, akibatnya titik didih larutan menjadi lebih tinggi dibandingkan titik didih pelarut murninya. Jika air murni dipanaskan pada 100°C, air tersebut akan mendidih dan tekanan uap permukaannya sebesar 1 atm. Agar larutan mendidih tekanan uap permukaannya harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat dilakukan dengan menaikkan suhu larutan.

( Chemistry.org, 2009 ) Keterangan : A = titik didih air pada suhu 100°C dan tekanan uap 1 atm B = titik pada 100°C dan tekanan uap kurang dari 1 atm, dimana larutan belum mendidih

C = titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih besar dari 100°C, dimana larutan mendidih. Suhu pada saat akan tercapai tekanan uap larutan 1 atm, maka larutan akan mendidih. Harga titik didih ini lebih besar dari 100°C, atau lebih tinggi dari titik didih pelarutnya disebut kenaikan titik didih (ΔTb). ΔTb = Tb - Tb° ΔTb = Kb . m

ΔTb = Kb .

Keterangan : Tb°= titik didih pelarut Tb = titik didih larutan Kb = tetapan kenaikan titik didih molekul M = berat molekul zat terlarut W = massa zat terlarut P = massa zat pelarut ( Yazid, 2005 ) 2.3.3 Penurunan Titik Beku Titik beku adalah suhu pada saat larutan mulai membeku pada tekanan luar 1 atm. Titik beku normal air adalah 0°C. Jika air murni didinginkan pada suhu 0°C, maka air tersebut akan membeku

dan tekanan uap permukaannya sebesar 1 atm. Tetapi, bila kedalamnya dilarutkan zat terlarut yang sukar menguap, maka pada suhu 0°C ternyata belum membeku dan tekanan uap permukaannya lebih kecil dari 1 atm. Supaya larutan membeku tekanan uap permukaannya harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat dicapai bila suhu larutan diturunkan. Setelah tekanan uap larutan uap mencapai 1 atm, larutan akan membeku.besarnya titik beku larutan ini lebih rendah dari 0°C atau lebih rendah dari titik beku pelarutnya. Turunnya titik beku larutan dari titik beku pelarutnya disebut penurunan titik beku ( ΔTf ). Menurut Roult untuk larutan yang sangat encer berlaku: Tf = Kf.m Kf = Tetapan penurunan titik beku molal ( °C/mol )

A : titik beku air pada 0°C dan tekanan uap pada 1 atm B : titik pada 0°C dan tekanan uap kurang dari 1 atm, dimana larutan belum membeku

C : titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih kecil dari 0°C, dimana larutan membeku. ( Yazid, 2005 ) 2.3.4 Tekanan Osmotik Larutan Osmosis adalah suatu perpindahan / merambatnya molekul pelarut dari larutan yang konsentrasinya rendah (encer) menuju larutan yang konsentrasinya tinggi melalui selaput semipermeabel, sedangkan tekanan osmotik adalah besarnya tekanan larutan yang digunakan untuk mempertahankan perpindahan pelarut pada peristiwa osmotik, dirumuskan :

Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut isotonik. Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih besar disebut hipertonik, sedangkan larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah disebut hipotonik. (Sukardjo, 1985) 2.4 Pelarut dan Zat Terlarut Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan

lebih mudah menguap, meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan. Untuk membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya terdapat dalam jumlah yang lebih besar. Zat terlarut adalah komponen yang jumlahnya sedikit dalam larutan. (http://wikipedia.org) 2.5 Pengaruh Zat Terlarut dalam Larutan Pada dasarnya larutan merupakan campuran yang homogen sehingagga setiap bagiannya mempunyai perbandingan yang tetap antara zat terlarut dan zat pelarutnya. Zat pelarut mempunyai jumlah lebih banyak dan dapat menguraikan zat terlarut menjadi ukuran lebih kecil atau lebih sederhana. Banyak dijumpai sifat larutan dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang ditimbulkan oleh jenis dan kepekatan zat atau jumlah partikel zat terlarutnya. Sifat larutan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Sifat larutan yang ditentukan oleh jenis zat terlarut seperti rasa,

warna, viskositas, dan pH. Contoh: larutan gula terasa manis, larutan garam terasa asin.
b) Sifat larutan yang ditentukanoleh jumlah partikel zat terlarut

dalam larutan. Hal itu berarti larutan yang mempunyai konsentrasi sama akan mempunyai sifat yang sama juga, walaupun jenis zat terlarutnya berbeda. Sifat larutan tersebut adalah seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik. (Suyatno, 2007) 2.6 Titik leleh Titik leleh merupakan salah satu sifat fisik yang penting untuk karakterisasi suatu senyawa. Titik leleh ( melting point ) dari suatu senyawa

adalah temperatur yang menunjuk tepat pada saat proses transformasi senyawa tersebut antara fasa padat dan cair. ( Wade, 1999 )

2.7 Molalitas Molalitas adalah banyaknya mol zat terlarut yang dilarutkan dalam 1 kg (1000g) pelarut, artinya :

Molalitas

(Chang,2009)

2.8 Fraksi Mol Lambang x, ukuran banyaknya komponen dalam campuran. Fraksi mol komponen A adalah xA = , dengan nA adalah banyaknya zat A dan N

adalah jumlah seluruh zat campuran. ( Daintith, 1994)

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat : 1. Termostat 2. Tabung reaksi 3. Propipet 4. Stopwatch 5. Kaca arloji 6. Termometer 3.1.2 Bahan : 1. Asam Asetat Glasial 2. Napthalen (Kamfer) 3. Asam Oksalat 4. Es batu 5. Garam

3.1.3 Variabel dan Parameter 1. Variabel Percobaan Massa zat asam oksalat (1:1,5:2) gram dan massa zat napthalen (1;1,5;2) gram.

2. Parameter Percobaan Nilai konstanta penurunan titik beku (Kf) dan berat molekul (BM) asam oksalat.

3.2 PROSEDUR PERCOBAAN 3.4.1 Menghitung titik beku asam asetat glasial Dipipet 5 ml asam asetat Dimasukkan kedalam tabung reaksi Disiapkan termostat Dimasukkan tabung reaksi kedalam termostat Dicatat penurunan temperatur setiap 30 detik sampai didapat titik beku konstan

3.4.2 Menghitung titik beku asam asetat glasial + asam oksalat Diambil asam oksalat dengan perbandingan massa 1;1,5;2 gram

Dipipet 5 ml asam asetat glasial ke dalam masing-masing 3 tabung reaksi

Dimasukkan asam oksalat ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah berisi asam asetat glasial dengan perbandingan massa 1;1,5;2 gram Disiapkan temostat Dimasukkan tabung reaksi ke dalam termostat

Dicatat penurunan temperatur setiap 30 detik sampai didapat titik beku konstan 3.4.2 Menghitung titik beku asam asetat glasial + napthalen Diambil napthalen dengan perbandingan massa 1;1,5;2 gram Dipipet 5 ml asam asetat glasial ke dalam masing-masing 3 tabung reaksi Dimasukkan napthalen ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah berisi asam asetat glasial dengan perbandingan massa 1;1,5;2 gram Disiapkan termostat Dimasukkan tabung reaksi kedalam termostat Dicatat penurunan temperatur setiap 30 detik sampai didapat titik beku konstan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DATA PERCOBAAN
a. Menghitung titik beku asam asetat glasial No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. Waktu(s) 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 Temperatur(0C) 29,3 27,5 25 22 20,5 18,8 17,3 16,9 16,7 16,7 16,7

b. Menghitung titik beku asam asetat glasial + napthalen No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Waktu (S) 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 1 gram 29 26,3 25 22,3 18,5 16,8 14,3 12,8 10 10 10 Napthalen 1,5 gram Temperatur (0C) 29 25,6 22 18,8 16 13,5 10,3 8,9 7 7 7 2 gram 29 25,5 21 18 15,5 12 9,1 6,3 4 4 4

c. Menghitung titik beku asam asetat glasial + zat X (Asam oksalat) No Waktu 1 gram Asam oksalat 1,5 gram Temperatur (0C) 2 gram

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 4.2 PEMBAHASAN

(S) 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330

29 26 23,4 19,5 16 14 12 10 8 8 8

29 25,5 22 16,5 12,5 11 8,5 6 5 5 5

28,5 25 21,5 16 12 10 8,5 4,5 3 3 3

Pada praktikum penurunan titik beku yang mempunyai tujuan yaitu menentukan berat molekul suatu zat yang tidak menguap (non volatil) dengan cara metoda titik beku . Variabel percobaan pada praktikum ini adalah masssa zat asam oksalat (1;1,5;2) gram dan massa zat naphtalen (1;1,5;2) gram sedangkan parameter yang diukur pada praktikum ini adalah nilai konstanta penurunan titik beku (Kf) dan berat molekul (BM) asam oksalat. Dalam praktikum kali ini digunakan asam asetat sebagai zat pelarut dan sebagai zat terlarut digunakan naphtalen (C8H10) dan zat X (asam oksalat) (C2H2H10). Pada praktikum ini penambahan zat terlarut non volatil (yang tidak mudah menguap) ke dalam suatu pelarut menyebabkan terjadi perubahan yaitu penurunan titik beku. Asam asetat glasial yang digunakan sebagai pelarut murni akan membeku dan zat terlarut seperti naftalen dan zat X (Asam oksalat) tidak akan membeku ketika larutan tersebut mengalami pembekuan. Perlakuan pertama adalah menentukan densitas dari asam asetat glasial. Dari perlakuan pertama didapatkan densitas dari asam asetat glasial adalah 1,05 gr/cm3. Dari data yang didapatkan bahwa hasil yang didapatkan sesuai dengan hasil yang terdapat pada literatur (terlampir). Selanju tnya adalah menentukan tititk beku asam asetat glasial dengan naphtalen. Beaker glass yang telah berisi es batu

(termostat) diberi termometer untuk melihat perubahan suhu yang terjadi sampai didapatkan suhu konstan. Es batu berfungsi sebagai penurun titik beku air, air yang awalnya berupa es akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan titik beku air murni. Fungsi garam disini digunakan sebagai penstabil suhu di dalam termostat. Beaker glass berfungsi untuk mencegah agar proses pendinginan berjalan terlalu cepat . Didapatkan bahwa titik beku konstan dari asam asetat glasial adalah 16,70C . Pada saat massa dari naphtalen 1 gram didapatkan bahwa titik beku konstan adalah 10oC. Pada massa naphtalen 1,5 didapatkan bahwa titik beku konstan adalah 7oC sedangkan pada massa zat X (asam oksalat) dimasukkan ke dalam asam asam asetat glasial sebanyak 2 gram didapatkan bahwa titik beku konstan adalah 4oC. Dalam percobaan kali ini titik beku yang paling rendah adalah titik beku dengan massa 2 gram, hal ini sesuai dengan teori dimana bahwa titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarutnya dikarenakan adanya penghalang antar partikel. Adanya pelarut sejenis di dalam larutan sehingga diperlukannya suhu yang yang lebih rendah dari pelarut agar partikel-partikel di dalam larutan dapat membeku. Perlakuan selanjutnya adalah penentuan titik beku zat terlarut (asam oksalat). Dari hasil percobaan didapatkan bahwa titik beku dengan massa 1 gram asam oksalat memiliki titik beku 80C, massa asam oksalat 1,5 gram memiliki titik beku 50C dan massa asam oksalat 2 gram memiliki titik beku yang paling rendah yaitu 30C. Semakin besar konsentrasi massa yang diberikan ke dalam zat pelarut maka semakin rendah pula nilai dari titik beku yang didapatkan. Dari nilai Kf yang didapatkan maka dapat dicari Berat Molekul dari Asam Oksalat. Berat Molekul yang didapatkan untuk konsentrasi massa 1 gram adalah 107,34 gram/mol, untuk konsentrasi massa 1,5 gram adalah 248,64 gram/mol. Sedangkan, untuk konsentrasi massa 2 gram adalah 542,65 gram/mol. Jika dibandingkan dengan data dari literatur,

untuk data yang didapatkan dari hasil percobaan berbeda sangat jauh dengan data di lieratur (90,04 gram/mol). Perbedaan data yang didapatkan dikarenakan kurang ketelitian pada saat perhitungan dan pembacaan skala termometer.

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari hasil praktikum Penurunan Titik Beku adalah : • • • Untuk As. Oksalat 1 gram, Untuk As. Oksalat 1,5 gram, Untuk As. Oksalat 1 gram, BM = 107,34 gram/mol BM = 248,640 gram/mol BM = 542, 65 gram/mol

5.2 SARAN • Sebaiknya, sebelum dan sesudah melakukan percobaan praktikum, alat-alat laboratorium terlebih dahulu dibersihkan agar alat bersih untuk menghindari kesalah pada saat melakukan percobaan.

Dalam penentuan titik beku seharusnya alat yang digunakan adalah termostat bukan Beaker Glass.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kimiamifkho.wordpress.com/2009/07/22/sifat-koligatiflarutan-elektrolit/ http://www. prof-chem-blogspot.com/2012/04/penentuan-berat-molekul-

mr-berdasarkan.html http://www.scribd.com/doc/39685524/Larutan-Dan-Kelarutan http://www.scribd.com/doc/45772642/penurunan-titik-beku http://www.solehanhans.blogspot.com/2012/11/laporan-praktikumpenurunan-titik-beku.html http://wikipedia.org http://www.worldofanimeducation.blogspot.com/2012/10/laporanpenurunan-titik-beku.html http://www.solehanhans.blogspot.com/2012/11/laporan-praktikumpenurunan-titik-beku.html

BERI KETERANGAN HALAMAN UNTUK TIAP HALAMAN DAN DAFTAR ISI)

LAMPIRAN
1. Hasil Perhitungan

= =
= 1,0524 gr/ml Massa Asam Asetat + Glasial • 1 gram: ∆Tf 6,7 Kf = = = 22,593

∆Tf = Tof – Tf = 16,7 -10 = 6,7 oC • 1,5 gram:

∆ Tf = Tof – Tf = 16,7 – 17 = 9,7 oC • 2 gram:

∆Tf 9,7 Kf

= = = 21,806

∆ Tf = Tof – Tf = 16,7- 4

∆Tf 12,7

= =

= 12,7 oC

Kf

= 21,4103

Massa Asam Asetat + Asam Oksalat • 1 gram: ∆Tf =

∆ Tf = Tof – Tf

= 16,7- 4

8 oC

=

= 12,7 oC
Mr. Asam Oksalat =

107,34

1,5 gram: ∆Tf =

∆ Tf = Tof – Tf

= 16,7- 4

5 oC

=

= 12,7 oC

Mr. Asam Oksalat

= 248,640

2 gram: ∆Tf =

∆ Tf = Tof – Tf

= 16,7- 4

3 oC

=

= 12,7 oC

Mr. Asam Oksalat

= 542,65

2. Air

MSDS Bahan

Nama IUPAC adalah Dihidrogen monoksida, Oksida. Nama Lain dari air adalah Hidroksilik acid, Hidrogen Hidroxida. Rumus Molekulnya H2O. Massa molar 18,01528 g/mol. Berupa cairan tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau pada keadaan standar, memiliki massa jenis 0,998 g/cm3 (cairan pada 200C), 0,92 g/cm3 (padatan). Titik lelehnya 0 °C, 32 °F (273.15 K) dan memiliki titik didih 100 °C, 212 °F (373.15 K). Kalor jenis air adalah 4184 J/(kg•K) (cairan pada 20 °C). Viskositas : 0.001 cP pada 20 °C. Bentuk molekulnya hexagonal. (Anonim,2011) Asam Asetat Asam asetat, CH 3 COOH adalah asam organik yang memberikan cuka rasa asam dan aroma yang tajam dan merupakan asam lemah , dalam hal ini hanya sebagian dipisahkan asam dalam larutan. Nama lainnya : Asetil hidroksida, Ethylic acid, Hidrogen asetat, Methanecarboxylic acid. Sifat fisik : Rumus molekul C2H4O2, massa molar 60,05 g mol -1, penampilannya cair , density kepadatan 1,049 g / cm 3 ( l ) 1,266 g / cm 3 ( s ), titik lebur : 16,5 ° C, 290 K, 62 ° F, titik didih :118,1 ° C, 391 K, 245 ° F, larut dalam air, memiliki keasaman : 4.76 dan viscosity : 1,22 mpas. Asam asetat pekat adalah korosif, karena itu harus ditangani dengan perawatan yang tepat, dapat menyebabkan luka bakar kulit, kerusakan mata permanen, dan iritasi pada selaput lendir. Asam ini tidak

kompatibel, disarankan untuk menjaga asam asetat dari asam kromat, glikol etilen, asam nitrat, perklorat asam, permanganates, peroksida dan hidroksil. (Anonim, 2011) Garam Natrium klorida, juga dikenal sebagai garam, garam dapur yang merupakan senyawa ionik dengan rumus NaCl. Garam yang biasa dimakan itu biasanya digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan. Adapun sifat fisika dan kimia dari Natrium Klorida adalah sebagai berikut: berbentuk kristal, tidak berwarna, higroskopis, sedikit larut dalam alkohol dan larut dalam air dan gliserol, memiliki berat molekul 58,44 g/mol, berbentuk padatan putih dengan struktur bongkahan kristal, titik lelehnya 801oC, titik didihnya 1,413oC. (Anonim, 2011) Naftalen Naftalen juga dikenal sebagai nafthalin, tar kapur, tar putih, albokarbon, atau nafthene. Sifat fisik naftalen : rumus kimia C10H8, massa molar 128.17 g/mol, density 1.14 gcm-3, tidak dapat larut dalam air, alkohol, larut dalam eter dan benzen, titik cair 80.5 °C, titik didih 128,17 gmol-1, Berwarna putih kristal dan memiliki bau yang kuat. Naftalen mudah menguap dan mudah terbakar. Naftalen merupakan hidrokarbon padat berwarna putih, yang diperoleh dari penyulingan fraksional batu bara. Sebagian besar naftalen yang diproduksi digunakan sebagai bahan baku pembuatan resin alkil untuk pembuatan plastik. Sebagian kecil untuk zat warna dan bahan kimia lain. Penggunaan langsung adalah sebagai pengusir ngengat. (Anonim,2011)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->