P. 1
Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam

Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam

|Views: 32|Likes:
Published by Dewanti Isnaini

More info:

Published by: Dewanti Isnaini on Mar 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2013

pdf

text

original

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

1) Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan merupakan sebuah usaha yang di lakukan dengan penuh kesadaran dan tersetruktur
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara aktif untuk mengembangkan
potensi diri yang memiliki spiritual keagamaan, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri,
akhlak mulia, serta memiliki keterampilan oleh masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan
karakter sendiri merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum,
tata- krama, budaya, dan adat istiadat. Menurut Mortiner J. Adler mengartikan pendidikan adalah
proses di mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat
di pengaruhi oleh pembiasaan yang baik melalui sarana yang artistik dibuat dan di pakai oleh
siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang di tetapkan yaitu
kebiasaan yang baik.
Pendidikan Islam, secara sederhana dapat diartikan sebagai “proses pembimbingan,
pembelajaran dan atau pelatihan terhadap manusia (anak generasi muda) agar nantinya menjadi
orang Islam, yang berkehidupan serta mampu melaksanakan peranan dan tugas-tugas hidup
sebagai “muslim”, yang jika di Indonesiakan menjadi orang muslim atau orang Islam”. Dari
beberapa nama tersebut mempunyai arti masing-masing, di mana salah satu arti tersebut
mengarah pada manusia yang memiliki potensi (fitrah). Fitrah merupakan citra asli manusia,
yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pada pilihannya. Fitrah yang
baik merupakan citra asli yang primer, sedangkan fitrah yang buruk merupakan citra asli yang
sekunder. Fitrah adalah citra asli yang dinamis, yang ada pada sistem-sistem psikofisik manusia,
dan dapat di aktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Fitrah ini ada sejak zaman azali di mana
penciptaan jasad manusia belum ada. Seluruh manusia memiliki fitrah yang sama, meskipun
perilakunya berbeda. Fitrah manusia yang paling esensial adalah penerimaan terhadap amanah
untuk menjadi khalifah dan hamba Allah di muka bumi.
Fitrah lain yang di miliki manusia yaitu sebagai makhluk Allah yang di lahirkan dengan
membawa potensi dapat di didik dan dapat mendidik. Dari hal tersebut di jelaskan mengapa
Allah memberikan amanah kepada manusia untuk menjadi khalifah fill Ar’d. Fitrah ini di
lengkapi berupa bentuk atau wadah yang dapat di isi dengan berbagai kecakapan dan
keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang
mulia. pikiran, perasaan, dan kemampuannya berbuat merupakan komponen dari fitrah tersebut,
firman Allah dalam QS. Al-Rum [30]: 30 sebagai berikut:
……#-!÷ 9e:¢=(, ?o7|e~ e 4 |t=v|kt- #-9Z•-•} (o:ot #-9vA© #-!÷
(e:(tN,
“….Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah
yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…”.
Dari firman Allah tersebut manusia harus senantiasa dapat berpikir, merasa dan bertindak dan
dapat terus berkembang. Untuk itu, usaha yang paling tepat untuk mengoptimalkannya yaitu
dengan melalui kegiatan pendidikan. Dalam Islam, pendidikan merupakan suatu kewajiban yang
harus di lakukan oleh setiap umat Islam, karena melalui pendidikan umat Islam mampu
memahami syariat Islam dengan baik dan benar. Hal ini tidak terlepas dari tujuan hidup umat
Islam itu sendiri, yaitu untuk mewujudkan kehidupan yang selamat, damai, harmonis dan
bahagia, sejahtera di dunia maupun di akhirat kelak. Dengan demikian, kesadaran akan tujuan
hidup umat Islam akan menjadi pendukung yang positif dalam mewujudkan cita-citanya menuju
keridhaan Allah. Maka dengan adanya pendukung yang positif tersebutlah seorang muslim akan
mampu mengaflikasikannya melalui sarana pendidikan Islam yang dapat mengantarkannya
kepada keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.
2) Karakter
Karakter adalah watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan. Karakter adalah cara berfikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Akar kata karakter dapat di lacak dari kata kharakter,
kharassein dan kharax, yang maknanya tools for marking, to engrave dan pointed stake. Kata ini
mulai di gunakan kembali dalam bahasa prancis caractere, sebelum akhirnya menjadi bahasa
Indonesia karakter. Sedangkan pengertian karakter adalah dalam kamus Poerdaminta karakter di
artikan sebagai tabiat watak sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang daripada yang lain. Karakter itu sama dengan Akhlak dalam pandangan Islam ialah
kepribadian. Kepribadian itu komponennya tiga, yaitu tahu (pengetahuan), sikap, dan prilaku.
Yang dimaksud dengan kepribadian utuh ialah bila pengetahuan sama dengan sikap dan sama
dengan perilaku. Kepribadian pecah ialah bila pengatahuan sama dengan sikap tetapi tidak sama
dengan perilakunya; atau pengetahuan tidak sama dengan sikap, tidak sama dengan perilaku. Dia
tahu jujur itu baik, dia siap menjadi orang jujur, tetapi perilakunya sering tidak jujur. Manusia
berasal dari unsur materi dan immateri, di muliakan, makhluk educandum dan educandus, di beri
amanah taklif (pembebanan), berfungsi ubudiyah dan khalifah (co creator), makhluk mukhayar
(kebebasan memilih), makhluk yang bertanggungjawab dan di beri berbagai daya yang penuh
keajaiban (ajaib) dan misteri (garaib) serta di beri peluang untuk mencapai kemajuan. Sifat dasar
bawaan manusia ialah tauhid dualis dan proses perkembangannya bersifat interaktif/responsif.
Lingkungan yang buruk merupakan agen eksternal mendorong fitrah dualis yang negativ dan
melengkapinya fitrah tauhid dan dualis yang positif. Manusia dalam pandangan Islam tidak
terlepas dari keunggulan dan kelemahannya. Apa yang membedakan manusia dengan makhluk
lain. Ternyata manusia di beri karunia perangkat yang lebih lengkap di banding makhluk lain.
Yaitu, insting, gerak reflex, panca indra, nafsu, akal (dalam konsep Islam, akal tidak hanya rasio,
ia meliputi pula intuisi, hati, dan hati nurani) dan potensi beragama.
Pendidikan karakter, pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti dapat di katakan sebagai
proses untuk penyempurnaan diri manusia, merupakan usaha manusia untuk menjadikan dirinya
sebagai manusia yang berakhlak mulia, manusia yang berkeutamaan. Di katakan manusia
berkeutamaan maka pada diri manusia itu mengalir kebiasaan-kebiasaan atau perilaku yang baik
sebagai hasil dari proses internalisasi nilai-nilai utama atau nilai-nilai positif seperti keyakinan
kepada sang pencipta, jujur, saling menghormati antar sesama, peduli, sabar dan berlaku sopan
santun, percaya diri, tahan uji dan bermoral tinggi, tertib dan disiplin, demokratis dan
bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian pendidikan karakter
merupakan pembudayaan manusia.
Pendidikan karakter juga dapat di katakan sebagai pendidikan untuk “membentuk” kepribadian
seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya dalam tindakkan nyata seseorang, yaitu
tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan
sebagainya. Russels Williams menggambarkan bahwa karakter adalah ibarat “otot”, dimana
“otot-otot” karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah di latih, dan akan kuat dan kokoh
apabila sering di pakai. Seperti seorang binaragawan yang terus menerus berlatih untuk
membentuk ototnya, “otot-otot” karakter akan terbentuk dengan praktik latihan yang akhirnya
akan menjadi sebuah kebiasaan.
Sedangkan pendidikan karakter yang diuraikan oleh Dr. Maksudin, M.Ag dalam bukunya yang
berjudul “Pendidikan Nilai Komperhensif Teori dan Praktik” yang di kutip dari bukunya James
Rachels dengan judul “Filsafat Moral” di sebutkan bahwasanya ada beberapa pendidikan
karakter yang dapat di ajarkan dan di tanamkan kepada peserta didik sejak di usia dini di
antaranya adalah: percaya diri, disiplin diri, bersahabat, baik hati, bernalar, terus terang,
penguasaan diri, belas kasih, sadar, jujur, suka bekerja sama, terampil, mandiri, berani, adil,
santun, setia, berkepedulian, toleran, bijaksana dan kesatria.
3) Islam
Islam kata turunan (jadian) yang berarti ketundukkan, ketaatan, kepatuhan (kepada kehendak
Allah) berasal dari kata salama artinya patuh atau menerima; berakar dari huruf sin lam mim (s-l-
m). Kata dasarnya adalah salima yang berarti sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu
terbentuk kata masdar salamat (yang dalam bahasa Indonesia menjadi selamat). Dari akar kata
itu juga terbentuk kata-kata salm, silm yang berarti kedamaian, kepatuhan, penyerahan (diri).
Kata “Islam” berasal dari bahasa Arab yang memiliki beberapa makna. Pertama, Islam
merupakan akar kata aslama-yuslimu-islaman, yang berarti tunduk, pasrah, menyerah,
ketundukan, atau penyerahan diri. Hal ini berarti segala sesuatu, baik pengetahuan, sikap,
perilaku maupun gaya hidup yang menunjukkan ketundukan dan kepatuhan terhadap kehendak
Allah, adalah Islam, dan hakikat dari penyerahan diri kepada Allah SWT adalah bersifat mutlak,
bulat dan total, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-
Nya. Dari pengertian tersebut bahwasanya setiap makhluk yang ada di alam dunia ini tunduk dan
patuh terhadap setiap Qadha dan Qadhar Allah SWT.
Kedua, kata Islam berasal dari kata salima artinya selamat. Selamat di sini dapat di artikan
selamat dunia dan akhirat. Karena, Islam merupakan jalan keselamatan bagi manusia untuk
meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini telah di singgung dalam firman Allah Q.S. Al-
Baqarah [2]: 201 sebagai berikut:
_.· #-9Z•-_ ©tç#>, µu°e+o- µ¢T,ZutZ #-¢u,©to_ µu¸e µ¢T,ZutZ
#-9P|u- ¸e 'u#?e+o- u/|+o-! t)^uA© B• µuBe+|¸¹O

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia
dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.”
Al-Buqhari meriwayatkan dari Mu’mar, dari Anas bin Malik, katanya Rasululllah SAW pernah
berdo’a:
ر ان لا ب ا ذع ان ق و ةن س ح ةزخ ءلا ي فو ةن س ح اي ند لا ى ف ان ت ا ء ان بر مهل ل اا
“Ya Allah, ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta
peliharalah kami dari adzab Neraka.”
Do’a ini meliputi berbagai kebaikan di dunia dan menjauhkan segala kejahatan. kebaikan di
dunia mencakup segala permintaan yang bersifat duniawi. Mengenai kebaikan di akhirat, maka
yang tertinggi adalah masuk surga dan segala cakupannya berupa rasa aman dari ketakutan yang
sangat dahsyat, kemudian hisab dan berbagai kebaikan urusan akhirat lainnya. Sedangkan
keselamatan dari api neraka, berarti juga kemudahan dari berbagai faktor penyebabnya di dunia,
yaitu berupa perlindungan dari berbagai larangan dan dosa, terhindar dari berbagai syubhat dan
hal-hal yang haram.
Diposkan oleh NASRI KURNIALLOH di 19:00
http://nasrikurnialloh.blogspot.com/2011/12/pendidikan-karakter-dalam-perspektif.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->