KAK Identifikasi Peraturan Perundang-undangan Ttg UKM

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam upaya meningkatkan peranan UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia sejak lama telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui pemberian bantuan teknis dan berbagai penelitian yang mendukung pengembangan UMKM serta kegiatan-kegiatan yang mendorong terjadinya fungsi intermediasi perbankan terhadap UMKM. Secara umum, untuk mendirikan dan mengembangkan usaha khususnya UMKM, saat ini kondisinya kurang kondusif. Hal ini disebabkan adanya kendala akibat banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi oleh UMKM antara lain perijinan, retribusi atau kewajiban lainnya yang dikeluarkan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah baik sebelum maupun sesudah diberlakukannya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan UU No. 32 Tahun 2004. Peraturan dimaksud beberapa diantaranya tumpah tindih atau tidak terkoordinasi, baik antar instansi maupun antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat, sehingga pada akhirnya membebani UMKM untuk memulai atau meningkatkan usahanya. Selain itu, sesuai dengan hasil penelitian mengenai profil UMKM yang dilakukan oleh Biro Kredit pada tahun 2005, terungkap bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi oleh UMKM dalam mengakses kredit ke lembaga perbankan adalah kewajiban pemenuhan berbagai persyaratan dokumen antara lain Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dll. Salah satu rekomendasi penelitian tersebut yang telah disampaikan kepada pemerintah adalah bahwa dalam rangka mendorong pertumbuhan UMKM perlu penyederhanaan proses perijinan usaha antara lain dengan menerapkan prinsip one door policy dan bahkan perlu pengembangan UMKM melalui aspek legal dan peraturan yang mendukung seperti Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan pengaturan persaingan usaha. Sejak Juli 2006, pemerintah c.q. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah mengeluarkan Peraturan Mendagri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Namun dari sebagian kecil Pemerintah Daerah yang menerapkan pelayanan terpadu satu pintu tersebut, pelaksanaannya belum efektif.

Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM

1

Penelitian mengenai keberadaan perda-perda yang dikeluarkan oleh daerah baik yang diduga menghambat iklim dunia usaha ataupun tumpang tindih sudah dilakukan oleh beberapa instansi antara lain : a. b. International Finance Corporation (IFC) – Penyederhanaan Perijinan di Indonesia. The Asia Foundation – Memperbaiki Iklim Usaha di Jawa Timur : Pandangan Pelaku Usaha (bekerjasama dengan The World Bank); Mapping on Local Business Regulations (for the RIA program) – Kabupaten Madiun, Jawa Timur; Penyederhanaan Perijinan Usaha : Sebuah Evaluasi atau Dampak Pusat Pelayanan Perijinan Terpadu (PPPT); Pengembangan Iklim Usaha Melalui Perbaikan Proses Perijinan dan Kebijakan. c. Swisscontact – Better Regulations for Local Government (Reformasi Regulasi); Studi Mengenai Iklim Bisnis Di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara (2006); serta Implementasi Pengkajian Peraturan Daerah Kotamadya Yogyakarta (2005–sekarang). d. Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) – Daya Saing Investasi Kabupaten/Kota di Indonesia, 2005, Persepsi Dunia Usaha. Dengan latar belakang tersebut, maka pada tahun 2007 dilakukan “Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM”. Kajian yang dilakukan Bank Indonesia bertitik tolak dari hasil penelitian yang sudah ada. Sedangkan pendekatan yang dilakukan adalah melalui usaha di bidang komoditas unggulan dari suatu daerah. Pada pelaksanaannya, BI akan bekerjasama baik dengan lembaga-lembaga tersebut maupun dengan instansi terkait, antara lain Departemen Dalam Negeri (Depdagri), khususnya dengan Dirjen Bina Administrasi Keuangan Daerah, Departemen Keuangan (Depkeu).

1.2 Tujuan 1. Melakukan identifikasi peraturan-peraturan, baik di pusat maupun daerah yang menghambat pengembangan UMKM khususnya yang terkait dengan komoditas unggulan di suatu daerah. 2. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengkaji kembali penerapan peraturan-peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang diidentifikasi menimbulkan high cost economy bagi iklim pengembangan usaha UMKM apabila dibutuhkan.

2

Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM

1.3 Kerangka Pemikiran dan Ruang Lingkup Kajian Terdapat dua kegiatan (analisis) utama yang dilakukan dalam studi ini untuk memperoleh informasi yang akurat dan komprehensif, yaitu (1) Pemetaan Perturan Pusat dan Peraturan Daerah yang terkait dengan UMKM, dan (2) Studi persepsi UMKM terhadap berbagai Peraturan Daerah dan Peraturan Pusat yang terkait dengan kegiatan UMKM tersebut. Pemetaan Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang Peraturan Pusat dan Daerah yang terkait dengan dokumen/persyaratan kredit dan non perkreditan yang memberikan insentif dan diinsentif dalam pengembangan UMKM. Sementara itu, studi persepsi UMKM bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang persepsi UMKM terhadap Peraturan Pusat dan Daerah terkait usaha pada tahapan pendirian usaha maupun pada tahapan operasional usaha, dan iklim usaha secara umum. Disamping memuat tentang persepsi UMKM terhadap peraturan-peraturan yang terkait dengan perkreditan maupun non perkreditan, studi persepsi juga membuat berbagai kebijakan pemerintah lainnya yang bersifat memberikan insentif maupun bersifat disinsetif dalam pengembangan UMKM. Persepsi UMKM terhadap birokrasi dan pelayanan serta kondisi infrastruktur juga menjadi penekanan. Kerangka pemikiran dan analisis Studi Indentifikasi Peraturan Pusat dan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM disajikan pada gambar berikut ini. Berdasarkan Gambar 2.1 dalam melakukan maaping Perda, yaitu mengevaluasi (review) terhadap peraturan-peraturan pusat dan daerah yang menghambat atau mendorong aktivitas UMKM, digunakan Analisis Deviasi (secara detail akan disajikan pada bagian berikutnya). Sementara itu analisis persepsi UMKM dengan menggunakan Analisis Indeks Daya Saing Sektoral yang disajikan dalam bentuk Grafik Radar (Radar Chart), disamping memberikan informasi dalam bentuk tabel tabulasi silang. Tentang kondisi, pendapat, dan persepsi UMKM diambil dari hasil survey melalui wawancara terhadap 100 responden (mencakup UMKM, asosiasi usaha dan kadinda) di tiap kabupaten/kota yang didasarkan pada satu atau lebih jumlah komoditi unggulan. Analisis persepsi memberikan gambaran umum UMKM tentang kondisi iklim usaha, dan peringkat daya saing sektoral dari UMKM berdasarkan kategori dinamika usaha, formalisasi usaha, akses ke sumber permodalan, dan operasional dan pengembangan usaha. Grafik radar (radar chart) digunakan untuk menganalisis persepsi sektoral dari UMKM terhadap kondisi iklim usaha, dengan penekanan pada aspek legalitas. Walaupun aspek legalitas ditekankan dalam studi ini, namun berbagai

Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM

3

Dengan kata lain analisis persepsi UMKM ini bersifat multifaset. 4 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . dan meningkatkan yang bersifat insentif bagi pengembangan UMKM.aspek yang terkait dengan iklim usaha juga dipertimbangkan. Rekomendasi kebijakan difokuskan pada upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengeleminir peraturan pusat dan daerah yang bersifat disinsentif. Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran dan Analisis Studi Indentifikasi Peraturan Pusat dan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM Dengan merumuskan bersama hasil analisis pemetaan Perda dan studi persepsi akan dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan yang tepat dan komprehensif.

Kuesioner Diedarkan langsung pada pengusaha UMKM yang terpilih sebagai sampel. jumlah tenaga kerjanya dan sarana prasarana fisik. b. 2000).1 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. 1986). c. Peserta FGD di tingkat pusat adalah sebagai berikut: Departemen Dalam Negeri Departemen Perdagangan Kementerian Negara Koperasi dan UKM Departemen Keuangan Depertemen Perindustrian Departemen Perhubungan Departemen Tenaga Kerja Lembaga Keuangan (Bank Umum dan BPR) Kadin UMKM dan Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 5 . Wawancara Wawancara dilakukan dengan nara sumber yang merupakan pelaku asosiasi usaha yang terkait. pemasaran. Pengamatan Peneliti mengamati jenis produk unggulan UMKM. FGD (Focussed Group Discussion) yang akan dihadiri oleh pemerintah sebagai regulator. yaitu penelitian dengan menggunakan sampel yang diambil dari populasi dan alat pengumpul data yang cocok didasarkan pada kuesioner (Singarimbun & Effendi. Penelitian survei (explanatory atau confirmatory) yaitu memberikan penjelasan terhadap hubungan antar variabel melalui penelitian dan pengujian yang dirumuskan sebelumnya (Zikmund. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara: 1. d. perguruan tinggi dan asosiasi. Pengumpulan data primer yang meliputi: a.BAB 2 METODE PENELITIAN DAN ANALISIS 2. perbankan.

Asosiasi Perguruan Tinggi Lembaga Internasional Sedangkan peserta FGD di Tingkat Daerah (Kabupaten/Kota) adalah sebagai berikut: Bagian Hukum Kab. Dokumentasi Dokumentasi yang diperoleh yaitu kumpulan peraturan pusat dan daerah yang terkait dengan pengembangan UMKM. Pengumpulan data sekunder ke instansi terkait seperti: Badan Pusat Statistik Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Koperasi dan UKM 6 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . 2. Pengumpulan data sekunder a. b./Kota dan Bagian Perundang-undangan Bapeda Kabupaten/Kota Dinas/UPT/kantor perizinan Kabupaten/Kota Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten/Kota Bagian Ekonomi Sekda Kabupaten/Kota Dinas Perindagkop Kabupaten/Kota (tergantung struktur di Kabupaten/ Kota) Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten/Kota Badan Penanaman Modal Daerah (BMPD) Kabupaten/Kota Komisi Ekbang DPRD Kabupaten/Kota Dinas Perhubungan Dinas Kimpraswil (Dinas yang menangani lingkungan) Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank Kadinda Asosiasi yang terkait dengan komoditas unggulan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Jawa Timur.2 Penentuan Responden Responden terdiri dari UMKM dan Asosiasi dengan jumlah total 100 responden dengan rincian responden sebagai berikut : 1. Kabupaten atau Kota tersebut belum melaksanakan One Stop Service (OSS). Penentuan Kabupaten/Kota dilakukan dengan teknik purposive random sampling. Usaha Mikro (±30) Usaha Kecil (±45) Usaha Menengah (±15) Kadinda dan Asosiasi (10) Kriteria Responden ditetapkan sebagai berikut: 1. Komoditi Unggulan di wilayah Banten dan Jawa Timur berdasarkan BLS sebagaimana Lampiran 2.1. 2. Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara. 2. 3. Wilayah Jawa Barat dan Sumatera Utara belum melakukan BLS. yaitu Banten.1 Penentuan Lokasi Penelitian Kajian dilakukan di 5 (lima) wilayah provinsi. pada tahun 2006. Merupakan Kabupaten atau Kota dengan populasi UMKM terbanyak (berdasarkan BPS Kabupaten atau Kota). Masing-masing provinsi diwakili 2 (dua) Kabupaten atau Kota. 4. Bergerak di sektor komoditas unggulan di wilayahnya masing-masing. Kabupaten atau Kota tersebut memiliki komoditas unggulan daerah (berdasarkan Baseline Economic Survey/BLS yang dilakukan oleh Bank Indonesia atau berdasarkan penetapan Pemerintah Kabupaten atau Kota setempat). yaitu dengan kriteria sebagai berikut : 1. 3.2. Sedapat mungkin Kabupaten/Kota tersebut belum pernah dijadikan sampel untuk kajian serupa oleh lembaga lain. Sebagai informasi. Jawa Barat.2 Penentuan Sampel dan Responden 2. Status perijinan usaha: Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 7 . BLS telah dilakukan di wilayah Banten. 2. b.2. Responden UMKM a. Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.2. 4. sedangkan wilayah Nusa Tenggara Barat baru akan melakukan BLS pada tahun 2007.

Responden asosiasi terkait dengan komoditas unggulan. yang dilakukan melalui policy mapping terhadap peraturan daerah di daerah penelitian dan membandingkannya dengan peraturan pusat rujukan utama peraturan daerah.• Belum memiliki izin usaha • Sudah memiliki perijinan (minimal 10 responden). 2. 2. Untuk menggambarkan kondisi perekonomian daerah digunakan 2 indikator: 1. persepsi. Penggunaan kondisi tahun 2005 semata-mata karena data yang tersedia dan dapat diperbandingkan untuk semua lokasi. pengetahuan dan pengalaman dari pelaku usaha (UMKM). 2. yaitu untuk mengetahui dan menggambarkan keberadaan data primer maupun sekunder khususnya yang terkait dengan Peraturan Daerah (Perda). Deskriptif kualitatif. : 1. Data yang berupa dokumen Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah akan dianalisis dan dibandingkan dengan pelaksanaan di lapangan yang diperoleh melalui survei dan wawancara. Indikator yang digunakan adalah yang memenuhi minimal salah satu indikator berikut : 8 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . Tahap Pertama Dalam tahap ini diidentifikasi Perda Terkait dengan Kegiatan UMKM a. Policy Study.4 Tahapan dan Metode Analisis Kondisi Terkini Perekonomian Daerah Tahapan ini menguraikan tentang perkembangan perekonomian daerah pada tahun 2005 di sepuluh kabupaten yang menjadi sampel penelitian.4. antara lain dapat diperoleh melalui perbankan 2. Mengumpulkan dan mendokumentasikan seluruh Perda yang masih berlaku dan terkait dengan kegiatan UMKM b.1 Perkembangan PDRB Sektoral Kondisi Keuangan Daerah Tahapan Dan Metode Analisis “Mapping” Peraturan Pusat dan Daerah 1. 2. lembaga keuangan serta pembuat kebijakan. 2.3 Teknik Analisis Teknik analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah sbb.

iii. 2. Tahap Kedua Dalam tahap ini Perda dikelompokkan menjadi kelompok Perda Terkait usaha di daerah dokumen/persyaratan Kredit dan kelompok Perda Non Kredit: a. Analisis deviasi yang terjadi antara Perda dan peraturan di tingkat nasional yang menjadi rujukan utama Perda untuk Perda yang dihasilkan dari tahap ketiga. ii. Spesifik jenis kegiatan UMKM atau komoditi. Indikator yang digunakan adalah i. dan iv. Tahap Keempat Dalam tahap ini Perda dibandingkan dengan Peraturan di Tingkat Nasional yang Menjadi Rujukan Utama Perda a. b. Menciptakan penerimaan bagi Pemda yang bersumber dari kegiatan UMKM dan atau syarat mengurus legalitas usaha. retribusi. dan peraturan spesifik komoditi. Bersifat larangan yang menciptakan insentif bagi pelaku tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk pengurusan secara resmi yang tercantum dalam perda maupun dalam peraturan pusat. 4. b. Pengelompokan Perda terkait non perkreditan berdasarkan pada indikator Perda yang terkait pajak. Tahap Ketiga Dalam tahap ini Daftar Perda Terkait Persyaratan dan Mekanisme Penyaluran Kredit dan Non Kredit untuk Analisis Deviasi digunakan untuk a. Perda Terkait Kredit adalah dari Hasil Tahap 2. Pengelompokan Perda terkait perkreditan berdasarkan pada indikator Perda yang terkait persyaratan peminjaman dan mekanisme penyaluran kredit. Perdagangan). serta Perda lainnya yang tidak termasuk kelompok perkreditan. b. Bersifat larangan yang menciptakan disinsentif bagi pelaku usaha di daerah tersebut. 3. pengaturan perdagangan. Menentukan Perda Non Kredit yang berlaku Umum (Pertanian. baik Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 9 .i. Industri.

2 Tahapan dan Metode Analisis Persepsi UMKM Tahapan metode ini adalah sebagai berikut: 1. kesimpulan dan penyampaian saran. guna penyempurnaan temuan dalam penelitian identifikasi ini. iii. maksudnya untuk memilah data keluaran seperti yang diinginkan.4.5 Diseminasi Temuan Penting Studi Diseminasi dalam bentuk workshop dengan Bank Indonesia dan stakeholders dilaksanakan setelah draft awal laporan penelitian selesai dikerjakan. Jumlah dokumen yang harus dilengkapi untuk pengurusan sebuah izin sesuai ketentuan peraturan pusat dan peraturan daerah. 2. Membuat tabel output. 10 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .6 Penulisan Laporan dan Rekomendasi Penulisan laporan dan pembuatan rekomendasi untuk pemerintah kabupaten yang menjadi lokasi penelitian dilakukan setelah semua tahapan analisis selesai dilaksanakan. data di olah dengan program SAS (Statistical Analysis System) dan pembuatan gambar/grafik dengan menggunakan program Excel.ii. iv. Pengumpulan data berdasarkan kuesioner baik untuk UMKM dan KADIN/Asosiasi. Entry data oleh programmer dengan mengambil bahan dari kuesioner yang telah diedit oleh peneliti. 4. Editing dilakukan oleh peneliti dengan memperhatikan hasil kuesioner yang didapatkan dari lapangan. Untuk mempermudah analisis data dan mempermudah pembahasan. 2. Frekuensi (daftar ulang/waktu pembayaran) yang ditentukan oleh peraturan daerah dan peraturan pusat. 5. Tarif yang dikenakan secara resmi yang dimuat oleh ketentuan-ketentuan dalam peraturan pusat dan peraturan daerah. 3. Screening and cleaning data. 6. tahap ini dilakukan oleh programmer di bawah pengawasan tim peneliti dengan tujuan untuk mengurangi bias sehingga dapat menjamin ketepatan hasil penelitian. 2. tahap ini dilakukan bersama-sama oleh programmer dan tim peneliti. 2.

12% 7. masingmasing 48.27%. Komposisi PDRB Sektoral di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut.47% 2. dapat dinyatakan bahwa sektor dengan kontribusi terbesar merupakan sektor yang memimpin (leading sector) dalam perekonomian suatu daerah.65% 2.BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAERAH 3. sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur.31% 20. memperlihatkan pangsa sektor pertanian terhadap PDRB paling besar dibandingkan dengan 8 sektor lainnya (Tabel 3.91% 2.63% dan 7.64% dan 50.00% Di Kabupaten Malang. Sektor lainnya yang juga memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 11 .00% Kabupaten Garut 50.65%.59% 25.04% 100. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.66% 100. Tabel 3.12% 2.1. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.48% 7.72% 0. Komposisi PDRB pada dua kabupaten yang menjadi fokus studi di Provinsi Jawa Barat.1).79% 11. yaitu 29. Kontribusi sektor perdagangan. Pangsa sektor pertanian dalam pembentukan PDRB di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut.02% 3. dengan pangsa masing-masing 2. 2005 No.64% 0.1 Komposisi PDRB Sektoral Peranan penting suatu sektor dalam perekonomian suatu daerah (kabupaten/kota) dapat dilihat dari besar kecilnya kontribusi sektor tersebut dibandingkan dengan sektor lainnya dalam pembentukan PDRB suatu daerah. yaitu Kabupaten Cianjuar dan Kabupaten Garut.97% 4.72%. dengan pangsa masingmasing 20. hotel dan restoran juga cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut. Sementara itu.27% 0.89%.63% 1. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total Kabupaten Cianjur 48.48% dan 25. Dengan pendekatan sederhana ini. sektor pertanian juga merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.60% 7. kontribusi sektor industri pengolahan yang kontribusinya relatif kecil.

Sedangkan pangsa sektor perdagangan. didominasi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan. Sektor industri pengolahan juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Kota Surabaya. hotel dan restoran.00% Tidak demikian halnya di Kota Surabaya. yakni 35.Malang adalah sektor industri perdagangan. Dengan kata lain.2).13% 0.58% (Tabel 3.70% 5. dengan pangsa masing-masing 23.27% 18.69% 8. hotel dan restoran (Tabel 3.02% 1. Pangsa sektor pertanian dalam pembentukan PDRB di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur. Sektor pertanian tidak berkembang di wilayah perkotaan.89% 2. Komposisi PDRB Sektoral di Kabupaten Malang dan Kota Surabaya. yang pada prinsipnya berada pada wilayah kabupaten. karena mengacu pada teori ekonomi spasial. komposisi PDRB pada dua kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat. perdagangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total Kabupaten Malang 29. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. yaitu Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.84%. 2005 No. masing-masing 18.15% 2.3).12% 5. Tabel 3. sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB adalah sektor perdagangan. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.61% 9.97% 100. masing-masing 33. dengan pangsa sebesar 32. dimana kegiatan ekonominya pada umumnya didominasi oleh usaha-usaha di bidang industri pengolahan.00% Kota Surabaya 0. hotel dan restoran. Hal ini merupakan karakteristik wilayah perkotaan. Karakteristik sektor pertanian yang membutuhkan lahan yang luas membutuhkan investasi (modal) yang sangat besar apabila dikembangkan di wilayah perkotaan.12% 35.84%.67% 12.67% dan 39.01% 32. dan sektor industri pengolahan.18% 6. pengembangan sektor pertanian akan lebih feseable dilakukan di wilayah perdesaan. 12 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .35% 3.61%. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.98% 100.2.58% 2. nilai tanah di wilayah perkotaan relatif lebih mahal di bandingkan dengan wilayah perdesaan. Mirip dengan dua kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang telah dibahas sebelumnya.15%.81% dan 16.70% dan 18.54% 23. hotel dan restoran. hotel dan restoran di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.41% 7. Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 13 . Komposisi PDRB Sektoral di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.13% 18. dengan pangsa sebesar 58.00% Kabupaten Lombok Timur 39. Sektor industri pengolahan juga memberikan kontribusi yang cukup besar.17% 15.Tabel 3.56% 100.92%.81% 5.20% dan 13. Sektor lainnya yang juga memberikan kontribusi cukup besar adalah sektor pengangkutan dan komunikasi. dan jasa perusahaan.84% 5. dan sektor keuangan. sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian adalah sektor pertanian.22% 8.05% 7.40% 16.25%. sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian adalah sektor perdagangan.66% 4. 15.70% 12. yakni 16. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. persewaan. hotel dan restoran.98% 100. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.84% 5. sektor industri pengolahan.3.35%.15% 10. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total Kabupaten Lombok Tengah 33.88% (Tabel 3.19% 0.11%. Sementara itu di Kota Medan.84% 4.67% 3. Di Kabupaten Simalungun. dengan pangsa sebesar 27. masing-masing dengan pangsa sebesar 18. 2005 No. dua kabupaten/kota yang menjadi fokus studi memperlihatkan karakteristik yang berbeda dalam kontribusinya terhadap pembentukan PDRB.00% Di Provinsi Sumatera Utara.37% 0.4).

08% 51.88% 10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.06% 48.25% 0. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.74% 9.24% 1.73% 9.35% 13.74% 100. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total Kabupaten Simalungun 58.20% 1.4. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.00% Kota Medan 2.08% dan di Kabupaten Serang sebesar 48. Di Kabupaten Tangerang.64% 10.90% 3. 2005 No. Komposisi PDRB Sektoral di Kabupaten Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang.41% 4. Komposisi PDRB Sektoral di Kabupaten Simalungun dan Kota Medan.08% 7. Tabel 3. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.00% 14 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .73% dan sektor pertanian di Kabupaten Serang dengan pangsa sebesar 13.43% 1.00% Berbeda dengan kabupaten/kota dari 4 provinsi terdahulu.65% 0.61% 3.35% 16.72% 100.00% 15.5.10% 100. pangsa sektor industri pengolahan sebesar 51.63%. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.Tabel 3.63% 0.41%.27% 2. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total Sektor Kabupaten Tangerang 9.91% 6.75% 4.11% 18.31% 0.73% 27. sektor yang memiliki kontribusi dominan dalam pembentukan PDRB pada dua Kabupaten di Provinsi Banten adalah sektor industri pengolahan (Tabel 3. 2005 No.56% 1. Sektor lainnya yang juga memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Tangerang adalah sektor perdagangan. hotel dan restoran dengan pangsa sekitar 12.00% Kabupaten Serang 13.43% 10.75% 8.43% 100.5).10% 8.81% 12.13% 4.92% 0. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.

terdiri dari penerimaan dari pemerintah. Lebih dari 60% anggaran yang tersedia dialokasikan untuk belanja pegawai. pos retribusi daerah. dan belanja tidak tersangka. seluruh kabupaten/kota yang menjadi fokus dalam studi ini memperlihatkan bahwa sumber penerimaan daerah yang terbesar adalah dari dana perimbangan. penerimaan dari provinsi.6). yaitu: (1) bagian pendapatan asli daerah. dan pos dana alokasi khusus. (2) dana perimbangan. penerimaan daerah terdiri dari tiga kelompok. belanja daerah terdiri dari: belanja pegawai. namun juga dengan persentase yang beragam. lebih dari 80% penerimaan daerah bersumber dari dana perimbangan.2 Kondisi Keuangan Daerah Upaya untuk mewujudkan kondisi perekonomian yang baik dan sehat. belanja modal. namun dengan komposisi (persentase) yang bervariasi. belanja lain-lain. pos dana alokasi umum. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 15 . Pembahasan dari aspek belanja daerah ini akan difokuskan komposisi belanja daerah terkait dengan belanja pegawai dan lainnya dibandingkan dengan belanja modal. hanya sebagian kecil yang bersumber dari pendapatan asli daerah dan lain-lain penerimaan yang syah. Besar kecilnya anggaran sangat tergantung pada besarnya penerimaan daerah. Dalam format keuangan di Indonesia. Dari aspek belanja daerah. dana darurat. penerimaan dari kabupaten/kota lain.3. yang terdiri dari pos pajak daerah. Semakin besar anggaran yang dialokasikan pada belanja modal. pada hakekatnya menunjukkan perhatian Pemerintah Daerah yang besar untuk mewujudkan kondisi perekonomian yang lebih baik pada masa mendatang. belanja barang dan jasa. pos laba perusahaan milik daerah. sedangkan yang digunakan untuk biaya modal kurang dari 10% (Tabel 3. terdiri dari pos bagi hasil pajak. Di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut. sebagian besar dana oleh Pemerintah Daerah pada 10 kabupaten/kota dialokasikan pada belanja pegawai. belanja perjalanan dinas. sangat tergantung pada bagaimana Pemerintah Daerah mengalokasikan anggarannya. dan lain-lain. dan (3) bagian lain-lain penerimaan yang syah. Sementara itu. dan pos lain-lain pendapatan asli daerah yang syah. belanja pemeliharaan. pos bagi hasil bukan pajak sumberdaya alam. Dari aspek penerimaan daerah.

78% 61. lebih dari 60% anggaran dialokasikan untuk belanja pegawai.66 100.00% 366.00 0.75% 573.00% 46.666. APBD Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut (Juta Rupiah).86% 9. Tidak 16 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .351.82% 56.00% 45.38 4.990.536.846.00% 449.599.752.44 7.460.66 9.23 6.366.53% 12.44 1.374.43 69.00% 58.61 100.825.17% 50.56% 29.48 100.6.41% 593.47 2.007.730.39 9.63% 14.493.55 2.97% 642.92% 62.81 61.280.16 100.40% 383.93% 0.23 6.310.318.31% 0.473. lebih dari 80% penerimaan daerah di Kabupaten Malang bersumber dari dana perimbangan.28% 25.73 84.000.35% 9.87 19.17 Kabupaten Garut 642.950.90 10.95% 489. 2005 Kode 1 102 103 105 3 301 302 303 304 305 306 307 308 Uraian Total Penerimaan Bagian Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Bagian Lain-lain Penerimaan yang Syah TOTAL BELANJA Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Lain-lain Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Kabupaten Cianjur 578.00 0.64% 42.02% 15.410.090.31 7.33 89.440.40 7.04 4.00 6. dan biaya modal kurang dari 10%.579.83 3.00% 43.00 4 TOTAL PEMBIAYAAN 401 Penerimaan Daerah 402 Pengeluaran Daerah Sumber : Buku APBD Posisi data :2007-07-06 22:26:24 Tidak berbeda dengan kondisi di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut.44 7.00 1.53 9.87 1.246.079.Table 3.461.71% 10.086.483.

Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 17 . sumber penerimaan daerah dari dana perimbangan hanya 51. dan lain-lain pendapatan yang syah 15.38%. yaitu sebesar 14.56% di Lombok Tengah (Tabel 3. Alokasi anggaran untuk biaya pegawai hanya 35. Pemerintah Kota Surabaya cukup kreatif untuk memperoleh penerimaan dari sumber lainnya. alokasi anggaran untuk biaya modal lebih dari 10%.7). yaitu dari pendapatan asli daerah sebesar 33.24% di Kabupaten Lombok Timur dan 13. dan lebih dari 60% anggaran dialokasikan untuk belanja pegawai.40% dan 19. dan belanja pemeliharaan juga cukup besar. masing-masing sebesar 24.53%.06%. Namun demikian. Dari aspek belanja daerah.demikian halnya dengan di Kota Surabaya. yakni 12. dan alokasi anggaran untuk biaya modal lebih dari 10%.68%.56% (Tabel 3. alokasi anggaran yang dibelanjakan oleh Pemerintah Kota Surabaya juga memperlihatkan kecenderungan yang lebih baik dibandingkan dengan 3 kabupaten/kota lainnya yang telah di bahas sebelumnya dalam rangka mewujudkan kondisi perekonomian yang lebih baik pada masa mendatang. Lebih dari 80% penerimaan daerah di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur bersumber dari dana perimbangan.73%.8). Alokasi anggaran untuk belanja barang dan jasa.

00% 40.00% 426.86% 3.40% 14.67% 54.283.694.34 1.50% 46.87% 317.023.13 33.365.44 19.03 4 TOTAL PEMBIAYAAN 401 Penerimaan Daerah 402 Pengeluaran Daerah Sumber : Buku APBD Posisi data :2007-07-06 22:26:24 18 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .38% 695.41 84.38 24.7.41 6.68% 397.50 2. 2005 Kode 1 102 103 105 3 301 302 303 304 305 306 307 308 Uraian Total Penerimaan Bagian Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Bagian Lain-lain Penerimaan yang Syah TOTAL BELANJA Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Lain-lain Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Kabupaten Malang 649.079.787.00 0.15% 14.31 47.41 15.00% 45.63 100.76 0.28 35.00 0.07% 36.71 14.815.23 61.14% 316.438.58 334.48 100.17 100.162.63 2.65% 34.Table 3.35 8.73% 43.616.03 Kota Surabaya 1.06% 673.646.883.430.721.500.02 2.00% 239.050.90 5.00% 580.20% 0.21 100.38% 204.046.549.09 13.376.144.838.627.94% 549.420.34% 77.09 51.00% 433.177.575.170.56% 1.026. APBD Kabupaten Malang dan Kota Surabaya (Juta Rupiah).53% 0.184.87% 96.60 18.29 5.403.311.00 0.484.48 11.510.

61% 42.00 0.11% 17.245.00% 221.175.24% 40.35 9.17% 21. APBD Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah (Juta Rupiah).00 0.314.70 100.192.052.04% 814.40 100.68% 294.20% -1.156.28 2.14% 20.395.8.01% 17.56 26.846.696.330.961.56% 4.490.415.94 4.00 5.00% 47.96% 500.00 4.780.84 90.00% 34.323.509.165.64 12.32% 0.84 100.00% 15.783.405.27% 10.00 4 TOTAL PEMBIAYAAN 401 Penerimaan Daerah 402 Pengeluaran Daerah Sumber : Buku APBD Posisi data :2007-07-06 22:26:24 Komposisi sumber penerimaan dan pembiayaan di Kabupaten Simalungun sangat mirip dengan di Kabupaten Cianjur. Lebih dari 80% penerimaan daerah di kabupaten ini bersumber dari dana perimbangan.33 0. Kabupaten Garut dan Kabupaten Malang.37% 404.71 13.472.07 1.48 8.Table 3.58% 29. lebih dari 60% 19 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .48% 4.92% 0.69 1.88 61.607.460.13 5.56% 34.00% 249.437.487.70 10.55 8.149.18 13.67 86.392.46% 349.00% 49.165.00 0.650.31% 347.14 10.30 Kabupaten Lombok Tengah 327.56 6.59 12.28 100. 2005 Kode 1 102 103 105 3 301 302 303 304 305 306 307 308 Uraian Total Penerimaan Bagian Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Bagian Lain-lain Penerimaan yang Syah TOTAL BELANJA Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Lain-lain Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Kabupaten Lombok Timur 405.35 63.

20% 23.11% 0.437.06 2.00% 18.928.00 0.28 100.936. dan kurang dari 10% anggaran dialokasikan untuk biaya modal.65% 30.00% 309.00% 185.41 0.27% 223. Sementara itu.00% 282.895.41 7.000.15% 6. komposisi sumber penerimaan dan pembiayaan di Kota Medan mirip dengan kondisi di Lombok Tengah dan Lombok Timur (Tabel 3.471.996.36 9.156.052. Table 3.33% 146.446.46% 8.348.53% -20.37% 1.911.9).61% 355.322.535.00 20.88% 6.00 4.9.05% 34.88 0.anggaran dialokasikan untuk belanja pegawai.086.82 19.21 3.33 16. 2005 Kode 1 102 103 105 3 301 302 303 304 305 306 307 308 Uraian Total Penerimaan Bagian Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Bagian Lain-lain Penerimaan yang Syah TOTAL BELANJA Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Lain-lain Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Kabupaten Simalungun 407.57% 0.002.822.00 0.41 4 TOTAL PEMBIAYAAN 401 Penerimaan Daerah 402 Pengeluaran Daerah Sumber : Buku APBD Posisi data :2007-07-06 22:26:24 20 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .00 0.38 4.35 47.46 Kota Medan 1.00% 536.34% 602.32 12.68% 13.60 8.66 100.43 74.41% 823.50 2.31 1.995.79 24.200.135.273.829.67% 13.650.07 100.52 2.218.17% 10.514.613.46 8.44 87.08 2.00% 40. APBD Kabupaten Simalungun dan Kota Medan (Juta Rupiah).033.28 71.273.587.34% 414.87 100.22% 50.297.

57% 438.894.00 36. Namun demikian.28 100.307.00% 270.883.00% 65.90%.16% 550.37% 0.00 15.23 151.53 56.18 16.443.00 Kabupaten Tangerang 1.864.31% 54.00 0.75 15.415.57 13.27% 16.53 12. lebih dari 60% penerimaan daerah bersumber dari dana perimbangan.43% 21.980.060.883.770.250.834.619.16 13.69% 76.00% 311.23 4 TOTAL PEMBIAYAAN 401 Penerimaan Daerah 402 Pengeluaran Daerah Sumber : Buku APBD Posisi data :2007-07-06 22:26:24 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 21 .18 100. alokasi anggaran untuk biaya modal yang terbesar dari 10 kabupaten/kota yang dianalisis dalam studi ini.90% 68.10 9.97% 4.39 3.000.91 40.00% 168.57% 50.49 527.00% 366.00 0.25% -114. yakni 29.99% 0.73% 29.54% 693.856.89 1.65 100.00% 73.68 7.75 84.87% 7. anggaran yang dialokasikan untuk belanja pegawai kurang dari 60% dan alokasi anggaran untuk biaya modal lebih dari 10%.06% 156. 2005 Kode 1 102 103 105 3 301 302 303 304 305 306 307 308 Uraian Total Penerimaan Bagian Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Bagian Lain-lain Penerimaan yang Syah TOTAL BELANJA Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Lain-lain Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Kabupaten Serang 520.777.019. Table 3.63% 6.960.56% 2.841.00 0.10.Demikian juga halnya di Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang.315.00 0.00 3. APBD Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang (Juta Rupiah).74% 138. Khusus untuk di Kabupaten Tangerang.40% 904.915.466.450.32 0.349.352.973.656.00 68.49 29.194.963.87 5.65 29.881.18 100.

Selain itu diidentifikasi pula Perda apa saja yang terkait dengan persyaratan untuk pengajuan kredit ke lembaga keuangan. perdagangan dan industri). yaitu terkait dengan: (i) Perizinan. 22 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . (iii) Retribusi. Perda yang menjadi fokus analisis adalah Perda yang masih berlaku dan terkait dengan kegiatan usaha di masing-masing lokasi studi. Dengan demikian jumlah Perda di masing-masing lokasi berbeda-beda tergantung pada jenis Perda yang diberlakukan dan ketersediaan dokumen Perda di masing-masing lokasi studi. Malang – Jawa Timur Kota Surabaya .Jawa Timur Kab.Nusa Tenggara Barat TOTAL Jumlah Perda 41 21 33 18 26 19 9 13 24 30 234 Perda terkait kegiatan usaha yang dianalisis di semua daerah studi kemudian dibagi menjadi empat kelompok Perda.Provinsi Kab. (ii) Pajak. dan (iv) Lainnya.BAB 4 PEMETAAN PERATURAN DAERAH TERKAIT KEGIATAN USAHA Pemetaan peraturan daerah (Perda) terkait kegiatan usaha dimaksudkan untuk mengetahui peraturan apa saja yang berpengaruh terhadap kondisi iklim usaha di daerah. Pada bab ini akan dipaparkan gambaran umum jumlah dan jenis Perda terkait kegiatan usaha yang dianalisis di lokasi studi.Jawa Barat Kab. Serang .1. Garut . Jumlah Perda yang dianalisis di masing-masing lokasi studi dapat dilihat Pada Tabel 4.Banten Kab. Jumlah Perda yang Dianalisis di Masing-Masing Lokasi Studi No. Tangerang . Lombok Timur . dan Perda apa yang bersifat umum yaitu Perda yang terkait dengan seluruh sektor yang menjadi fokus studi (pertanian.Banten Kab. 4.1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kabupaten/Kota . serta Perda yang menjadi burning issues dan menghambat kegiatan usaha. Cianjur – Jawa Barat Kab. Lombok Tengah – Nusa Tenggara Barat Kab. Simalungun – Sumatera Utara Kota Medan – Sumatera Utara Kab.1 Jumlah dan Jenis Perda Terkait Kegiatan Usaha Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bagian metodologi. Tabel 4.

Ada 2 Perda yang merupakan retribusi izin 3) 8) Ada 13 Perda yang merupakan retribusi izin. Cianjur .Sumut Kota Medan . Ada 10 Perda yang merupakan retribusi izin 7) Ada 4 Perda yang merupakan retribusi izin. Retribusi dan Lainnya di Masing-Masing Lokasi Studi Kelompok Perda No. dan lain-lain.Hasil kompilasi seluruh Perda yang dianalisis di lokasi studi menunjukkan bahwa sebagian besar Perda yang ada di daerah adalah Perda yang terkait dengan retribusi.Sumut Kab.Jabar Kab.Jatim Kota Surabaya . retribusi izin gangguan. Ada 11 Perda yang merupakan retribusi izin 5) 10) Ada 6 Perda yang merupakan retribusi izin. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kabupaten/Kota Kab. Lombok Timur – NTB TOTAL Keterangan: Ada 12 Perda yang merupakan retribusi izin. Tangerang . Ada 1 Perda yang merupakan retribusi izin 4) 9) Ada 9 Perda yang merupakan retribusi izin. Hal ini mengindikasikan bahwa Perda yang berlaku dan terkait kegiatan usaha banyak membebani dunia usaha karena bersifat memungut uang dari dunia usaha atau masyarakat secara umum. Kondisi ini dapat menciptakan iklim usaha yang tidak kondusif baik bagi pengembangan usaha maupun ivestasi baru. seperti retribusi IMB.Banten Kab. Tabel 4. Serang . Malang .Jatim Kab. Hal ini semakin memperburuk kondisi iklim usaha karena sebagian besar tarif retribusi yang diterapkan tidak hanya semata-mata sebagai balas jasa atas pelayanan yang diberikan pemerintah daerah.2. Dari total 234 Perda yang dianalisis di sepuluh lokasi studi. Garut . tetapi sudah cenderung berorientasi untuk memperoleh PAD dari pemungutan retribusi kepada pengusaha atau masyarakat yang mengurus izin.2). Ada 9 Perda yang merupakan retribusi izin 2) Perizinan 5 1 3 5 2 16 6) Pajak 8 7 4 2 7 2 2 1 1 10 44 Retribusi Lainnya 23 1) 5 2) 14 3) 27 1 4) 16 15 5) 1 16 6) 1 7) 2 8) 2 8 23 9) 17 10) 155 3 19 TOTAL 41 21 33 18 26 19 9 13 24 30 234 1) Hal lain yang menarik untuk dikemukakan terkait dengan Perda retribusi adalah banyaknya Perda retribusi yang dikaitkan dengan pengurusan izin tertentu bagi pengusaha. Lombok Tengah – NTB Kab. Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 23 .Banten Kab.Jabar Kab. Jumlah Perda Menurut Kelompok Perizinan. retribusi izin usaha pariwisata. Pajak. Simalungun . sebanyak 155 Perda (66%) merupakan Perda terkait dengan retribusi (Tabel 4.

Oleh karena itu. yaitu Pertanian. mengambil contoh kasus di Kabupaten Serang. Perdagangan dan Industri. Adanya ketentuan bahwa harus ada minimal 30% dari profit digunakan untuk angsuran sebagai indikator dari kemampuan UMKM dalam membayar angsurang kredit. studi ini memfokuskan pada tiga sektor perekonomian. NPWP. Data pada Tabel 4. jasa transportasi. asosiasi pengusaha dan LSM di Kabupaten Serang diketahui bahwa secara umum persyaratan mengurus kredit bukan hanya terkait dengan perizinan dan agunan seperti yang sudah dipaparkan di atas. Syarat agunan juga dipandang sangat memberatkan. Sertifikat rumah. Disamping itu masih ada syarat tambahan yaitu berupa sertifikat kepemilikan tanah. Hasil FGD dengan pelaku usaha. Pembahasan lebih dalam terkait dengan persyaratan pengajuan kredit. KK. Memiliki Agunan (Sertifikat tanah. (iii) daftar perusahaan (TDP).Untuk mengetahui Perda yang terkait persyaratan kredit didasarkan pada dokumen standar dalam pengajuan kredit seperti (i) surat keterangan domisili/KTP. Perda yang terkait dengan persyaratan kredit secara umum berupa Perda perizinan dan Perda retribusi yang dikaitkan dengan pengurusan izin tertentu. sehingga pelaku usaha mengusulkan agar syarat tersebut jangan terlalu kaku. (ii) nomor pokok wajib pajak (NPWP). Syarat dan aspek lain yang dipertimbangkan pihak perbankan dalam memberikan kredit adalah: 1. dan izin usaha lain tergantung jenis usahanya). Historis/latar belakang nasabah. industri atau tanda daftar industri (TDI). TDP. Persyaratan terkait perizinan dianggap memberatkan bagi UMKM di Kabupaten Serang karena terkait dengan besarnya pungutan illegal yang harus dibayar ketika mengurus perizinan.3 menunjukkan bahwa secara umum Perda yang bersifat 24 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . Sejalan dengan metodologi survey yang dibangun. Karakter pengusaha 5. dan (iv) surat izin usaha (perdagangan (SIUP). juga dianggap sangat memberatkan bagi UMKM. dalam pemetaan Perda ini juga dilihat Perda mana yang bersifat umum yaitu terkait dengan tiga sektor tersebut. Berdasarkan uraian di atas. tetapi harus fleksibel disesuaikan dengan kondisi usaha (sertifikat jangan dijadikan sebagai tolak ukur). KTP 2. Kegiatan usahanya ada dan menguntungkan (minimal 30 % dari profit digunakan untuk angsuran/kemampuan membayar) 4. tetapi ada juga aspek lain yang dijadikan pertimbangan oleh perbankan dalam menentukan layak tidaknya UMKM memperoleh kredit. Memiliki SIUP. BPKB) 3. SITU.

3. 08/1999 b. Persoalan semakin buruk karena secara umum Perda terkait perizinan mempunyai sejumlah masalah. Serang a.3. Kab. 20/1999 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Retribusi ijin Peruntukan Tanah Retribusi Pasar Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah d. Retribusi Peruntukan Penggunaan Tanah. 09/2003 e.umum yakni terkait dengan sektor pertanian. Perubahan atas Perda No. Retribusi Pasar. 11/2002 f. 04/2005 Banten b. e. perdagangan dan industri. b. Penjelasan lebih jauh terkait dengan Perda perizinan ini akan dipaparkan pada sub bab berikutnya. 10/1995 c. Perdagangan. Perdagangan dan Industri) Menurut Lokasi Studi No/Tahun No. Kab. Retribusi IMB. Tabel 4. 13/2002 A Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 25 . Cianjur Jabar b. Tangerang No. Sekali lagi hal ini menunjukkan bahwa Perda perizinan dan Perda retribusi perizinan sangat berpengaruh terhadap kondusifitas iklim usaha di sektor pertanian. a. Kab. antara lain prosedur yang rumit. 02/1999 a. 3 Tahun 1999 tentang Pajak Reklame Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah. Retribusi Ijin Gangguan. Kabupaten/Kota Perda 1. 21/2002 g. Retribusi Ijin Usaha Industri. Kab. 21/2002 c. Gudang/Ruangan dan TDP Retribusi Pelayanan dan Ijin Ketenagakerjaan. d. 11/2001 b. b. a. 13/2003 Judul Perda Pajak Reklame Wajib Pasang Tanda Pengenal Perusahaan Ketentuan Penyelenggaraan Fasilitas Kesejahteraan Pekerja/Buruh Perusahaan Swasta di Kab.Jabar a. Simalungun . c. Daftar Perda yang bersifat umum (terkait sektor Pertanian. Garut . adalah perda yang terkait dengan perizinan (atau retribusi perizinan). 08/2000 h. 03/2005 a Kab. f. Pajak Reklame. Serang Retribusi Tanda Daftar Gudang Retribusi Perpanjangan Izin Penggunaan Tenaga Kerja Asing Retribusi Izin Mendirikan Bangunan Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah Retribusi Izin Gangguan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Retribusi Pelayanan Bidang Ketenagakerjaan Perubahan Perda Kab. biaya atau tarif yang tidak jelas dan proses pengurusan izin memerlukan waktu lama. 08/2004 23/2001 38/2001 09/2002 10/2002 13/2002 17/2002 22/2002 02/2004 05/2002 2. karena pelaku usaha harus mengeluarkan uang untuk mengurus izin usahanya. perdagangan dan industri. Tangerang Banten 5.Sumut Kota Medan Sumut a a a a a a. 4. 6.

Lombok Tengah . Perda yang menjadi burning issues dan dianggap menghambat kegiatan usaha di lokasi studi adalah Perda yang terkait dengan perizinan.No. 11/2005 a. d. 07/1988 16/2001 09/2004 07/2006 - Judul Perda 10. 8. jumlah persyaratan yang terlalu banyak dan kadang sulit dipenuhi. Kabupaten/Kota 7. serta adanya beban biaya tambahan (illegal) yang terpaksa harus dikeluarkan ketika mengurus izin. Malang Jatim Kota Surabaya Jatim Kab. terutama kalangan dunia usaha seperti asosiasi pengusaha dan pengusaha secara individu dari berbagai jenis usaha.2 Perda yang Menjadi ”Burning Issues” dan Menghambat Kegiatan Usaha 4.NTB a a Kab. tarif yang dianggap terlalu mahal. Kasus di Kabupaten Cianjur dan Garut.1 Perda yang secara umum menghambat kegiatan usaha Pada bagian ini. 9. Persoalan ini muncul di beberapa lokasi studi.2. b. c.NTB A a No/Tahun Perda a. yaitu tidak jelasnya prosedur. Hambatan yang muncul disebabkan oleh beberapa hal. Retribusi Tanda Daftar Perusahaan Retribusi Pemakaian kekayaan Daerah Retribusi Tanda Daftar Gudang dan Ruangan Pajak Reklame Pajak Pengiriman Barang Antar Pulau Retribusi Pasar Retribusi Izin Usaha Perikanan 4. secara umum terkait dengan aspek biaya. Secara umum. permasalahan yang dihadapi UMKM terkait dengan Perda perizinan dan dianggap menghambat perkembangan usaha. Lombok Timur . Selain itu pihak LSM dan akademisi juga menjadi bagian yang ikut berpartisipasi dalam FGD. 01/2005 c. waktu dan prosedur. waktu pengurusan izin lama. Kab. Kondisi ini juga telah memunculkan masalah baru berupa banyaknya 26 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . 26/2005 b. Hal ini terutama disebabkan karena tidak jelasnya aturan dan petunjuk pelaksanaan dari Perda tersebut. pembahasan mengenai Perda yang menghambat kegiatan usaha didasarkan pada analisis terhadap Perda yang bersangkutan ditambah dengan berbagai temuan dari hasil Focused Group Discussion (FGD) dengan pihak-pihak terkait dengan Perda yang dianalisis.

Kasus di Kabupaten Malang. dan pelayanan yang masih terpisah-pisah. Manfaat pertama. adalah merupakan syarat yang senantiasa dicantumkan oleh kalangan perbankan jika mengajukan kredit khususnya terhadap usaha yang memerlukan izin HO tersebut. biaya yang cukup mahal. Masalah muncul terkait dengan prosedur dari pengrusan izin yang rumit. Hal-hal yang menyebabkan hambatan bagi perkembangan dunia usaha di Kota Medan terutama berkaitan dengan adanya pungutan tidak resmi (illegal) yang menyebabkan biaya tambahan. persyaratan yang cukup banyak. Dalam Perda tersebut dikatakan bahwa Izin HO dikeluarkan Oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk. Perda perizinan yang dianggap paling memberatkan dunia usaha adalah Perda tentang Retribusi Izin Gangguan (izin HO). Padahal izin HO sangat diperlukan bagi pelaku usaha karena dianggap mempunyai manfaat ganda. Kasus di Kota Surabaya menunjukkan hal yang sama dengan di Kabupaten Malang. Namun demikian dalam ketentuan teknis dinas tersebut dinyatakan bahwa untuk mendapatkan Izin HO harus mendapatkan rekomendasi dari dinas-dinas terkait. Perda izin gangguan (HO) tidak mendukung dunia usaha. dinas tata kota kaitannya dengan zoning. terjadinya duplikasi dokumen. dan sekretaris kota. Dengan perlunya rekomendasi dari masing-masing pejabat terkait maka sangat menghambat proses mendapatkan izin HO tersebut. Pejabat yang ditunjuk tersebut adalah kepala Dinas Lingkungan. seperti Dinas Bangunan kaitannya dengan bangunan usaha. terkait dengan persoalan gangguan. Hal ini terkait dengan beberapa jenis izin yang menjadi syarat dalam mengajukan kedit ke lembaga keuangan.oknum yang memungut biaya tambahan yang semakin membebani pelaku usaha yang akan mengurus izin usaha. Ketika UMKM kesulitan untuk memperoleh izin. Manfaat kedua. Padahal. prosedur yang terlalu birokratis. Disamping itu objek Perdanya juga dikenakan pada kegiatan usaha yang seharusnya tidak perlu mengurus izin HO karena tidak Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 27 . Perda yang terkait dengan perizinan juga merupakan peraturan yang paling menghambat perkembangan UMKM di Kota Medan. Padahal izin HO ini sangat diperlukan bagi pelaku usaha UMKM baik untuk persyaratan perolehan kredit maupun untuk ketenangan usahanya. berarti sekaligus juga menjadi kesulitan untuk memperoleh akses kredit. sebagian besar UMKM di Kota Medan menganggap bahwa permodalan merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi. ijin HO akan bermakna sosial jika usaha yang bersangkutan berkaitan dengan gangguan dari kegiatan usaha terhadap lingkungan masyarakat sekitar tempat usaha.

66 tahun 2001 tentang Retribusi Daerah yang menjadi rujukan Perda. Kondisi tersebut tidak terlepas dari peraturan di tingkat pusat.Kasus di Kabupaten Serang juga menunjukkan hal yang sama. tetapi ketentuannya diserahkan pada Pemda (waktu. jumlah syarat. secara umum cenderung lebih berorientasi pada upaya peningkatan PAD dan tidak memperhatikan kepentingan dunia usaha sehingga dianggap memberatkan pengusaha. Kondisi ini menghambat aktivitas perekonomian dan kegiatan investasi di Kota Medan. serta frekuensi (daftar ulang/waktu pembayaran). biaya dan persyaratan untuk mengurus perizinan. 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. besaran tarif pajak maupun retribusi dianggap oleh pelaku usaha memberatkan. Hal ini terutama dirasakan oleh perusahaan skala mikro dan kecil dimana pungutan-pungutan yang ada sangat memberatkan dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Kondisi ini diperburuk dengan adanya Perda yang tidak rasional dan bertentangan dengan prinsip daya saing perekonomian. Perda tersebut dibuat untuk menciptakan pajak atau retribusi baru yang sebenarnya tidak ada dalam UU yang berlaku. Hal ini memberi keleluasaan Pemda untuk menetapkan ketentuanketenuan tersebut sesuai dengan keinginan Pemda. tarif. Dua Peraturan Pemerintah tersebut tidak mengatur semua jenis pajak dan retribusi dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. terutama terkait dengan retribusi. sehingga memicu konflik publik bahwa otonomi daerah dan desentralisasi dipandang hanya menciptakan imperium baru yang sibuk memungut pajak dari perusahaan yang berlokasi di daerahnya. Kasus yang terjadi di Kota Medan menunjukkan bahwa peraturan yang dianggap menghambat kegiatan usaha dan memberatkan bagi pengusaha adalah Perda yang terkait dengan penarikan retribusi dan pajak. Disamping itu Perda yang terkait dengan pungutan retribusi di Kota Medan menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Namun UMKM di Kabupaten Serang lebih menyoroti aspek minimnya sosialisasi peraturan oleh Pemda sehingga menyebabkan pengusaha tidak tahu secara jelas bagaimana prosedur. Secara umum. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakjelasan besaran tarif retribusi sehingga menimbulkan beban biaya yang lebih besar yang disebabkan 28 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . khususnya PP No. Perda yang menjadi burning issues di daerah juga terkait dengan Perda yang mengatur pajak dan retribusi. Disamping itu UMKM menilai masih ada ”ego sektoral” yang menyebabkan sulitnya Pemda melakukan koordinasi dengan dinas-dinas teknis terkait perizinan yang pada akhirnya menyulitkan bagi UMKM untuk mengurus perizinan. Ketentuan-ketentuan yang dibuat Pemda. Perda-perda ini ternyata jumlahnya lebih banyak.

Hal ini sangat memberatkan bagi dunia usaha. Semangat untuk memungut ini.munculnya biaya tambahan karena harus membayar lebih besar dari semestinya (adanya biaya illegal). Disamping itu Perda ini juga memuat ketentuan Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 29 . Perda tersebut tidak hanya memuat peraturan yang berkaitan dengan usaha. dengan semangat yang lebih menonjol. Perda yang dianggap paling bermasalah dan menghambat kegiatan usaha adalah Perda Nomor 13 tahun 2004 tentang Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang Sah. khususnya usaha yang masih berskala mikro dan kecil. sehingga pemegang izin merasa aman bahwa kegiatannya tidak melanggar hukum serta tidak akan diprotes oleh orang lain.2 Perda yang menghambat kegiatan usaha kasus spesifik di lokasi studi Pada bagian ini akan dipaparkan kasus-kasus spesifik terkait dengan Perda yang menghambat perkembangan kegiatan usaha di beberapa daerah yang menjadi lokasi studi. untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Agar kegiatan usaha berkembang. Perda di Kabupaten Simalungun sebagian besar adalah Perda yang berhubungan dengan pajak dan retribusi. Lahirnya Perda-perda seperti itu dapat memicu konflik publik. Kondisi di atas serupa dengan yang terjadi di Kota Surabaya. dimana pada era otonomi daerah Kota Surabaya telah mengeluarkan beberapa peraturan daerah yang mengatur beberapa jenis izin dengan disertai retribusi sebagai sarana. Pada prinsipnya para pengusaha daerah tidak mengeluhkan besarnya jumlah yang harus dibayar sepanjang itu sesuai dengan yang tertulis di dalam Perda. juga merupakan legitimasi atas kegiatan yang dilakukan bagi pemegang izin. dapat dikatakan ‘menyimpang’ dari maksud dan tujuan untuk apa sebuh izin dibuat. Akan tetapi keluhan mereka lebih banyak kepada ketidakpastian mengenai besarnya jumlah yang harus dibayar dan kerumitan administrasi yang ditimbulkan karena begitu banyak jenis pungutan dan pajak yang dianggap tidak rasional. seharusnya dunia usaha tidak diberatkan dengan pungutan-pungutan yang dapat menyebabkan ekonomi biaya tinggi. tetapi juga memuat retribusi untuk non usaha. Kasus di Kabupaten Lombok Timur.2. Oleh karena itu wajar apabila para pengusaha daerah dan investor potensial mengeluhkan keberadaan Perda-perda semacam itu. Selain sebagai sarana untuk mengendalikan masyarakat dalam beraktivitas agar tidak mengganggu tetangga dan lingkungannya. Kondisi ini juga dapat menghambat pertumbuhan investasi di daerah. 4. Disamping itu fakta di Kabupaten Simalungun menunjukkan bahwa sebagian dari Perda yang ada dibuat untuk menciptakan pajak atau retribusi baru yang sebenarnya tidak ada dalam Undang-Undang atau peraturan yang lebih tinggi di atasnya.

18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang telah dirubah dalam UU No 34 tahun 2000. dan (3) SIUP Besar dengan kekayaan di atas 500 juta rupiah tidak termasuk bangunan dan tanah tempat berusaha dengan retribusi sebesar Rp.150. 31 tahun 1995 tentang Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. (vi) kontribusi produksi tembakau virginia. Selain itu sumbangan pihak ketiga merupakan sumber pendapatan di luar pendapatan yang dibolehkan dalam Undang-undang No. Perda di Kabupaten Simalungun yang dinilai memberatkan adalah Perda Nomor 32 tahun 2001 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan. Dengan demikian Perda ini dibuat cenderung hanya sebagai alat untuk menggali PAD sebesar-besarnya tetapi tidak memperhatikan dampaknya yang negatif terhadap iklim usaha dan investasi di Kabupaten Lombok Timur. Jumlah retribusi tersebut sangat memberatkan pelaku UMKM bila harus mengurus SIUP.500. (2) SIUP Menengah dengan kekayaan antara 200 juta rupiah hingga 500 juta rupiah tidak termasuk bangunan dan tanah tempat berusaha dengan retribusi sebesar Rp.500. Berdasarkan paparan di atas. Perda tersebut menyebabkan ekonomi biaya tinggi terutama bagi Usaha Mikro dan Kecil. (ii) jasa atas pembayaran pekerjaan. Apabila usaha tersebut adalah usaha industri maka harus mengurus izin gangguan/HO. (iv) setoran kelebihan pembayaran kepada pihak ketiga. pelaku usaha harus mengurus dokumen seperti surat keterangan domisili/KTP. (iii) denda atas keterlambatan pekerjaan. Disamping itu.000. (vii) perizinan/rekomendasi. Perda tersebut mengatur tentang berbagai kontribusi pihak lain. (v) kontribusi badan usaha yang melakukan kegiatan badan usaha di daerah. dan (viii) jasa pelayanan administrasi dan legalisasi/pengesahan. Dalam Perda tersebut dibedakan tiga SIUP yaitu : (1) SIUP Kecil yaitu kegiatan yang memiliki kekayaan antara 0 sampai 200 juta rupiah tidak termasuk bangunan dan tanah tempat berusaha dengan retribusi sebesar Rp. pajak dan retribusi terkait dengan berbagai perizinan.1.000.000.pembayaran pajak atas: (i) jasa giro. surat kepala desa atau lurah termasuk NPWP. Perda yang dianggap bermasalah dan memberatkan kegiatan usaha di Kabupaten Lombok Tengah adalah Perda No. Walaupun frekuensinya 30 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . 8 tahun 1981 tentang pajak dan retribusi daerah sudah tidak berlaku lagi atau tidak up to date. usaha yang harus memiliki SIUP Kecil adalah Usaha Mikro dan Usaha Kecil sedangkan Usaha Menengah harus memiliki SIUP menengah atau SIUP Besar. untuk mendapatkan SIUP. Berdasarkan ketentuan tersebut. Peraturan daerah ini dianggap bermasalah karena peraturan nasional yang menjadi rujukan dari peraturan daerah tersebut yaitu Undang-Undang No.

27 tahun 2001 ditetapkan sebagai berikut: (1) tarif eksplorasi sebesar Rp. 66 tahun 2001 bahwa hari pengurusannya. Selanjutnya tarif pengambilan air permukaan setiap izin adalah Rp.100.600. Kasus Perda yang rujukan peraturan nasionalnya tidak up to date banyak ditemukan di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat (Tabel 4.400.150. Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 31 .400. salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengetahui apakah peraturan nasional yang dijadikan rujukan utama Perda di daerah masih up to date atau tidak. Tarifnya menurut PP No. Apabila peraturan nasional yang dijadikan rujukan Perda tidak up to date. izin perusahaan pengeboran air bawah tanah. Kemudian tarif pengambilan air bawah tanah per mata air untuk tiap adalah Rp.000 dan untuk pengeboran kedua sebesar Rp.000. Frekuensi daftar ulang/waktu pembayarannya adalah sebagai berikut: (1) eksplorasi selama 6 bulan.000.150. Dalam Perda No. Kasus Perda yang rujukan peraturan nasionalmya tidak up to date ditemukan di beberapa kabupaten/kota yang menjadi lokasi studi. Ketentuan-ketentuan tersebut dianggap oleh pelaku usaha di Kabupaten Simalungun sangat memberatkan dan menghambat pengembangan dunia usaha. Untuk mengurus perizinannya harus melampirkan dokumen seperti SIPPAT.000 dan perpanjangannya sebesar Rp. Kemudian Perda lain yang dianggap memberatkan di Kabupaten Simalungun adalah Perda No. dan pengambilan air bawah tanah/mata air dan permukaan tanah 5 tahun. pengeboran bawah tanah 3 bulan. namun dalam Perda itu juga disebutkan bila ada perluasan usaha/kegiatan usaha dimungkinkan penggantian SIUP. dan frekuensi pembayarannya diserahkan penentuannya kepada daerah.000.2. Dari sejumlah Perda yang masih berlaku dan terkait dengan kegiatan usaha di masing-masing lokasi studi. (2) tarif pengeboran pertama sebesar Rp.pembayarannya hanya sekali. jumlah dokumen. Menurut PP No. 4.000 dan perpanjangan izin sebesar Rp. serta surat izin juru bor.3 Perda terkait kegiatan usaha yang perlu ditinjau kembali Dalam metodologi pemetaan Perda.150.000. maka ketentuan-ketentuan yang ada dalam Perda berpotensi akan menyalahi atau tidak sesuai dengan peraturan nasional yang seharusnya menjadi rujukan Perda tersebut. 27 tahun 2001 tentang Retribusi Izin Pengambilan atau Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.4). Sebuah Perda yang merujuk pada peraturan nasional yang sudah tidak berlaku sebaiknya direvisi rujukannya sekaligus ditinjau substansinya agar disesuaikan dengan rujukan yang baru. 66 tahun 2001 tersebut adalah 20% untuk tarif air bawah tanah dan 10% untuk air permukaan.

Bahkan ada kasus di Kabupaten Lombok Timur dimana ada dua Perda yang tidak memiliki rujukan peraturan nasional. Kasus di Kabupaten Lombok Tengah. Perda tersebut adalah tentang Pajak Pendaftaran Perusahaan (No. misalnya. 3. Sedangkan di Kabupaten Lombok Timur. 2. 9/1974). Analisis deviasi adalah analisis terhadap substansi Perda yang dibandingkan dengan peraturan nasional yang dijadikan rujukan utama Perda. dari 30 Perda yang dianalisis. Perda yang Rujukan Peraturan Nasionalnya Tidak Up To Date di Lokasi Studi No. Disamping mengetahui Perda apa saja yang rujukan peraturan nasionalnya tidak up to date. 4. Perda bermasalah juga sangat berpotensi menghambat pengembangan iklim usaha di daerah tersebut. Malang – Jatim Kota Surabaya – Jatim Kab. Lombok Timur – NTB Jumlah Perda yang Dianalisis 41 21 33 18 26 19 9 13 24 30 Jumlah Perda yang Teridentifikasi Rujukannya Tidak “Up To Date” 6 3 1 16 14 1. Namun dua Perda tersebut masih berlaku sehingga seyogyanya ditinjau kembali dan disesuaikan dengan rujukan nasional yang saat ini berlaku. 7.Banten Kab. ada 14 Perda yang rujukan peraturan nasionalnya tidak up to date. Hasil analisis deviasi di lokasi studi menunjukkan bahwa secara umum Perda terkait kegiatan usaha tidak menyalahi peraturan nasional yang menjadi rujukan utamanya. Lombok Tengah – NTB Kab. 8. 6. 10. tidak ada Perda yang tarif retribusinya melebihi ketentuan tarif maksimum 32 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM . Sebagai contoh. ditemukan sebanyak 14 Perda yang rujukan peraturan nasionalnya tidak up to date. Tangerang .Tabel 4. 9. Serang – Banten Kab. Cianjur – Jabar Kab. maka Perda tersebut dipandang sebagai “Perda bermasalah” dan dianjurkan untuk ditinjau kembali dan direview substansinya agar tidak menyalahi peraturan nasional yang menjadi rujukannya.4. Simalungun – Sumut Kota Medan – Sumut Kab. Kabupaten/Kota – Provinsi Kab. Jika ada Perda yang substansinya menyalahi rujukan (misalnya. Dua Perda tersebut memang sudah sangat lama karena dikeluarkan pada tahun 70-an. dari 24 Perda yang dianalisis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada Perda yang menyalahi peraturan nasional yang menjadi rujukannya. 5. ketentuan tarif retribusi atau pajak dalam Perda lebih tinggi dari ketentuan tarif maksimum dalam peraturan nasional yang menjadi rujukannya). juga dilakukan analisis deviasi. Garut – Jabar Kab. 8/1972) dan tentang Pajak Radio (No.

yang ditetapkan dalam PP No. Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM 33 . dimana Pemda dalam menggunakan kewenangannya dalam menentukan tarif tidak memperhatikan kondisi dan kemampuan pelaku usaha di daerahnya sehingga dipandang memberatkan dunia usaha. Masalah yang banyak muncul lebih disebabkan oleh adanya kewenangan yang diberikan pemerintah pusat kepada Pemda untuk menentukan beberapa jenis tarif. 66 tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 34 Kajian Identifikasi Peraturan Pusat dan Peraturan Daerah Dalam Rangka Pengembangan UMKM .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful