Sejarah gamelan Degung Sunda

1. 1.

Sejararah Gamelan Degung

Dalam sejarah gamelan degung (sunda), degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar pada akhir abad ke-18 atau pada awal abad ke-19. Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/ awal abad ke 19 Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat) Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat). Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, Kerajaan Galuhmisalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagulagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung. Masyarakat Sunda menduga dan mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata ―degung‖ dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah ―degung‖ pertama kali muncul tahun 1879, yaitu

Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung. yaitu dalam kamus susunan H. Waditra ini biasa disebut pula ―bende renteng‖ atau ―jenglong gayor‖. Oosting.J. Pada mulanya Degung berupa nama waditra berbentuk 6 buah gong kecil. misalnya bupati Bandung R. Arti Degung sebenarnya hampir sama dengan Gangsa di Jawa Tengah.J. disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879. Di dalam kamus ini. bahasa Belanda). wayang menjadikan degung seperti sekarang ini. Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran. Wiranatakusuma adalah salah seorang pejabat yang sangat menggemari Degung.J. Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H. melodi lagu dan bonang kadangkala sejajar kecuali untuk nada-nada yang tinggi dan rendah apabila tidak tercapai oleh Sekar. bahwa ketika .A.A. dsbnya. Gamelan merupakan sekelompok waditra dengan cara membunyikan alatnya kebanyakan dipukul. dimana lagu-lagu Ageung diberi rumpaka. Agung. Namun sebagaimana Jaap Kunst. seperti dimaklumi bahwa Gamelan Degung sangat digemari oleh para pejabat pada waktu itu. penambahan waditrapun berkembang dari jaman ke jaman. Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst. Oosting. Oosting di atas. waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak. Pada tahun 1958 barulah dalam bentuk pergelarannya degung menjadi bentuk sekar gending. mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Gong di Bali atau Goong di Banten yaitu Gamelan. Perkembangan menunjukan bahwa akhirnya nama ini digunakan untuk menyebut seperangkat alat yang disebut Gamelan Degung dimana pada awalnya gamelan ini berlaras Degung namun kemudian ditambah pula dengan nada sisipan sehingga menjadi laras yang lain (bisa Laras Madenda/Nyorog ataupun laras Mandalungan/Kobongan/Mataraman) Ada anggapan lain sementara orang bahwa kata Degung berasal dari kata ratu-agung atau tumenggung. biasanya digantungkan pada ―kakanco‖ atau rancak/ancak. Kata ―De gong‖ (gamelan. Dalam bahasa Sunda banyak terdapat kata-kata yang berakhiran gung yang artinya menunjukan tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat misalnya : Panggung. tari. yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi. bahkan beliaulah yang sempat mendokementasikan beberapa lagu Degung kedalam bentuk rekaman suara. Sehingga Degung memberikan gambaran kepada orang Sunda sebagai sesuatu yang agung dan terhormat yang digemari oleh Pangagung. Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung. Mula mula Degung merupakan karawitan gending. ―de gong‖ mengandung pengertian ―penclon-penclon yang digantung‖. 1934). Menurut beliau istilah ―gamelan Degung‖ diambil dari nama waditra tersebut. Tumenggung. Dalam studi literaturnya. Banyaknya kreasi-kreasi dalam sekar. Ada pula yang menyebutkan Degung berasal dari kata ―Deg ngadeg ka nu Agung‖ yang mengandung pengertian kita harus senantiasa menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1974: 7).dalam kamus susunan H.

di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. E. teknik memainkannya. maupun konteks sosialnya. Pada saat itu Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen- . mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi. dan ti (4)). lagu-lagunya. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro. 1. Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat. Pada tahun 1920 R. dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat. laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1). Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung. kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak. Machjar Angga Koesoemahdinata. bangsawan). yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. baik dari jenis instrumennya.‖ (1977: 69) Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman. Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat). bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng. yakni gamelan-degung.kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu. 1974). Istilah “Degung” Istilah ―degung‖ memiliki dua pengertian: pertama. disebutkan bahwa: ―Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. Dalam teori tersebut. 2. na (3).Sutisna. adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. 1984:15). maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak). gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. Dihubungkan dengan kirata basa. Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur.A. adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda. kedua. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung.A. Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda. katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda. Menurut riwayat. salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung ―Parahyangan‖. mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi. ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung.

Sementara waditra suling termasuk aerofon. yaitu Abah Idi. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. cecempres (saron/panerus). Lalu pada tahun 1962. kendang. ketika menggunakan gamelan Degung untuk mendukung gending karesmen berjudul ―Mundinglayadikusumah‖ garapan Wahyu Wibisana. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini. 3. yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. Gong yang terdiri dari 2 buah penclon. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass. ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang. menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan).momen yang sakral. dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain. yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung. kecuali waditra peking. dan suling. Abah Oyo. dan goong. dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Struktur waditra / instrumen Pada awal pemerintahan Dalem Haji sebagai bupati Bandung. ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Darya atau R. 1918) dan ―Purbasasaka‖ (Abah Oyo. Dilihat dari bentuknya. berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga). dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). kabupaten Bandung. waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. para seniman karawitan Bandung yang sudah membentuk grup ―Pamagersari‖ (Abah Idi. Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah. Ambitus .A. jenglong. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung. Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang). Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya. perangkatnya ditambah dengan: peking. Pada tahun 1961 oleh R. dan sulingyang masih bertahan sampai sekarang. Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6). Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah). yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). dan kendang termasuk membranofon. Nano S. Mandalakusuma (kepala RRI Bandung). dan Abah Atma. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi. Kempul berada di sebelah kiri pemain. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. waditra bonang. sementara goong di sebelah kanan pemain. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama. 1. kendang. penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang. jengglong (degung). dan goong berbentuk penclon. 1919). hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu. kecamatan Banjaran.A.

Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah. baik turun maupun naik. yakni: deretan nada-nada. maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok). cecempres. Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca. dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif. Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres. Begitupun dalam permainan suling. Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu. peking. Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah. jenglong.nada gong sangat rendah. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1‘ tinggi). Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan). Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang. Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat. bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. laras madenda/sorog. Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. yakni sebagai pengiring melodi. dan suling ini menjadi hal biasa. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya. Seperti halnya peking. sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‗tersaingi‘. Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok. dan seterusnya). kendang. waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam . apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok). peking merupakan waditra tambahan. Bahan dasar pembuatan bonang. Tugas peking agak berbeda dari cecempres. satu gembyang berjarak 1200 sen. Laras / Tangga Nada Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat. dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro. Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2. 2 ke 3. namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. yang dipukul dengan pola yang konstan. laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali). namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking. apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung. yaitu: laras pelog. 4.

ketuk tiluan. yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung. sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat. sementara kiliningan. beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup). kedua. eusi. ketuk tiluan. Namun dalam perkembangannya. Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang. sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). 5. 6. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan untuk mengiringi sekar. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik).buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut. Struktur ini sama dengan istilah overture. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu ageung‘. repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi. dan coda pada musik Barat. repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk). Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik menggunakan teknik dikemprang atau dicaruk. namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. Dalam tulisan ini. dan jaipongan. perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu alit‘. Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. dan madakeun. dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. ketuk tiluan. Jadi. dan jaipongan. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‗komando‘ pada orkestra ini. Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan. Ini menunjukkan bahwa nada . Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. Pola Tabuhan Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. Repertoar Degung Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama. seperti: kiliningan. Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat. interlude. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‗induk‘nya.

29) KunangKunang. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. Hj. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron. Naon Lepatna (1980). 3) Galatik Mangut. Perkembangan Gamelan degung Perkembangan dari kesenian Gamelan Degung (Sunda). Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang.A. Tamperan Kaheman (1981). 13) Palwa. 6. apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. 22) Mangu-Mangu Degung. 7) Kajajaden. 12) Jipang Prawa. 31) Renggong Buyut. Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro. 2) Maya Selas. 15) Banteng Wulung. dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). 7) Ayun Ambing. 11) Manintin. sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. 5) Lengser Midang. bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan. Wiranatakusumah V (1912-1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena hal itu membuat suasana menjadikurang serius (rucah). 4) Palsiun. Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX. 4) Kidang Mas. sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‗menyelamatkan‘ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung. 10) Lambang. 17) Kulawu. 14) Kadewan. 28) Banjaran.A. sehingga keasliannya terancam punah. 30) Celementre. maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa . 24) Gegot.A. 19) Ladrak. tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan. 8) Lambang Parahyangan. 23) Jipang Lontang. bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri. 21) Papalayon. 18) Padayungan. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. dan 4) Ujung Laut. yakni: 1) Sangkuratu. 5) Genye. 25) Sulanjana. 27) Gunung Sari. Namun sangat disayangkan. 16) Beber Layar. 26) Karang Mantri Kajineman. 6) Paturay. pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed). 6) Pulo Ganti. Anjeun (1984). Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R. 8) Sang Bango. Tarya lagu 1) Seler Degung. Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT. U. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari. 3) Pajajaran. 20) Balenderan. Puspita (1978). Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi. Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya. 2) Layungsari.2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung. dan 9) Purbasaka. 2) Duda. 3) Lalayaran. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung. dulu gamelan degung hanya dimainkan dengan cara ditabuh secara gendingan (instrumental). 9) Paksi Tuwung. Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda). Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R. Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. dengan grup ―Gentra Madya‖nya berupa album kaset Panglayungan (1977). Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung.A. Bupati Cianjur RT. dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana. Sementara Entjar Tjarmedi.

Selain itu. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda. Tarya. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal. mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Tjarmedi sekitar tahun 1958. dipimpin oleh Oyo. Ono Sukarna. dan goong satu buah. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa.bersama nayaganya. Anang Thayib. Idris Sastraprawira dan Rd. yang dipentaskan di Medan. cempres (saron panjang) 11 wilah. merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon. salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang. Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Sebelumnya. Melihat dan mendengarkan keindahan degung. dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka. misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi. dan E. tahun 1918 Rd. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. degung (jenglong) 6 penclon. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya. dipimpin oleh Idi. seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. Tjarmedi. degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo). Kruger produksi Java Film Company. Heuveldrop dan G. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. Gamelan degung kabupaten Bandung. bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diizinkan menggunakan degung dalam hajatannya. Setelah Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. Permohonan semacam itu semakin banyak. oleh L. sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat. Bandung. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Pada tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng. dan akhirnya permohonan itu diizinkannya. Selanjutnya E. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung. .

Pada tahun 1964. Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Barman Syahyana 2. Yus Wiradiredja 4. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya : 1. Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden.Kinteul Bueuk .Kalangkang. surupannya lebih tinggi.Ida Widawati 6. lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah. Tak kalah penting adalah Nano S. Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an). Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R.Euis Komariah 5. misalnya lagu Paksi Tuwung. Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara).Mamah Dasimah 8.Palwa 2. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri.Puspit (1978) 3. dengan grup Gentra Madya (1976). Beberapa lagu degung karya Nano S. Didin S.Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung. Tati Saleh dan sebagainya.Sang Bango 5.Panglayungan(1977) 2. dsb. Dibanding degung yang ada pada waktu itu. Lagu degung di antaranya: 1. Pada tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung. Tahun 1961 RS. Nano S. dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya.Palsiun 3. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini. baik pria maupun wanita. Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran. Tetapi hal ini tidak berkembang.Anjeun (1984) 6. Badjuri 3. Machyar. saron. di antaranya : 1. ronggeng).Tamperan Kaheman (1981) 5. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Kembang Kapas. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang. degung Gapura pimpinan Kustyara. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. L agu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987.Teti Afienti 7. dan rebab.Bima Mobos (Sancang) 4. Tapi sekarang para penyanyi degung sejak 1970-an kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran).Naon Lepatna (1980) 4. misalnya Nano S. yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986).

Jipang Lontang 10.Rumaos 8.Lalayaran 9.Karang Ulun 12. Paraguna (Jepang). ada sebuah set gamelan degung milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.Samar-samar 2.Pajajaran 7. dan sebagainya Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: 1. Australia.Sangkuratu 11. dilakukan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi. Di Melbourne.Ladrak 14.Ujung Laut 15. .Karangmantri 13.6. USA).Catrik 8. musisi Lou Harrison (US).Manintin 16.Tepang Asih 6. dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris). serta Evergreen. John Sidal (Kanada).Padayungan. dan sebagainya.Kadewan 18.Beber Layar 17.Kembang Ligar 3. Sedangkan Perkembangan Gamelan Degung (Sunda) di luar Indonesia.Kalangkang 7.Bentang Kuring.Surat Ondangan 4.Hariring Bandung 5. misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful