Sejarah gamelan Degung Sunda

1. 1.

Sejararah Gamelan Degung

Dalam sejarah gamelan degung (sunda), degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar pada akhir abad ke-18 atau pada awal abad ke-19. Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/ awal abad ke 19 Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat) Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat). Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, Kerajaan Galuhmisalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagulagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung. Masyarakat Sunda menduga dan mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata ―degung‖ dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah ―degung‖ pertama kali muncul tahun 1879, yaitu

Oosting di atas. disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879. Dalam studi literaturnya. Wiranatakusuma adalah salah seorang pejabat yang sangat menggemari Degung.J. tari. Gamelan merupakan sekelompok waditra dengan cara membunyikan alatnya kebanyakan dipukul. Dalam bahasa Sunda banyak terdapat kata-kata yang berakhiran gung yang artinya menunjukan tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat misalnya : Panggung.J. misalnya bupati Bandung R. Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung. dimana lagu-lagu Ageung diberi rumpaka. Arti Degung sebenarnya hampir sama dengan Gangsa di Jawa Tengah. waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak.A. Mula mula Degung merupakan karawitan gending. Tumenggung. bahwa ketika . Namun sebagaimana Jaap Kunst. Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H. Banyaknya kreasi-kreasi dalam sekar. mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. bahasa Belanda). yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi. dsbnya. melodi lagu dan bonang kadangkala sejajar kecuali untuk nada-nada yang tinggi dan rendah apabila tidak tercapai oleh Sekar. Oosting. Di dalam kamus ini. Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran.J. Kata ―De gong‖ (gamelan. 1974: 7). biasanya digantungkan pada ―kakanco‖ atau rancak/ancak. Ada pula yang menyebutkan Degung berasal dari kata ―Deg ngadeg ka nu Agung‖ yang mengandung pengertian kita harus senantiasa menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. seperti dimaklumi bahwa Gamelan Degung sangat digemari oleh para pejabat pada waktu itu. Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst. wayang menjadikan degung seperti sekarang ini. 1934). Perkembangan menunjukan bahwa akhirnya nama ini digunakan untuk menyebut seperangkat alat yang disebut Gamelan Degung dimana pada awalnya gamelan ini berlaras Degung namun kemudian ditambah pula dengan nada sisipan sehingga menjadi laras yang lain (bisa Laras Madenda/Nyorog ataupun laras Mandalungan/Kobongan/Mataraman) Ada anggapan lain sementara orang bahwa kata Degung berasal dari kata ratu-agung atau tumenggung. bahkan beliaulah yang sempat mendokementasikan beberapa lagu Degung kedalam bentuk rekaman suara. Pada mulanya Degung berupa nama waditra berbentuk 6 buah gong kecil. penambahan waditrapun berkembang dari jaman ke jaman. yaitu dalam kamus susunan H. Waditra ini biasa disebut pula ―bende renteng‖ atau ―jenglong gayor‖. ―de gong‖ mengandung pengertian ―penclon-penclon yang digantung‖.A. Menurut beliau istilah ―gamelan Degung‖ diambil dari nama waditra tersebut. Agung. Sehingga Degung memberikan gambaran kepada orang Sunda sebagai sesuatu yang agung dan terhormat yang digemari oleh Pangagung. Oosting. Gong di Bali atau Goong di Banten yaitu Gamelan. Pada tahun 1958 barulah dalam bentuk pergelarannya degung menjadi bentuk sekar gending.dalam kamus susunan H. Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung.

yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda. 1984:15). Machjar Angga Koesoemahdinata. Pada saat itu Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen- . salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung ―Parahyangan‖. Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.Sutisna. di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda. bangsawan). yakni gamelan-degung. 1. 2. maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak). gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro. Dalam teori tersebut. teknik memainkannya. dan ti (4)). laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1). Pada tahun 1920 R. na (3).A. dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat. adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng. Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung. E.‖ (1977: 69) Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman. maupun konteks sosialnya. Menurut riwayat. 1974). Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur.A. Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat. disebutkan bahwa: ―Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati).kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu. mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi. Dihubungkan dengan kirata basa. ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung. baik dari jenis instrumennya. Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat). lagu-lagunya. Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi. kedua. Istilah “Degung” Istilah ―degung‖ memiliki dua pengertian: pertama.

yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6). Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang). ketika menggunakan gamelan Degung untuk mendukung gending karesmen berjudul ―Mundinglayadikusumah‖ garapan Wahyu Wibisana. Dilihat dari bentuknya. waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. 1919). Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya. 1. ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. Lalu pada tahun 1962. Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah). jenglong. perangkatnya ditambah dengan: peking. kabupaten Bandung. jengglong (degung). berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass. kecamatan Banjaran. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. 1918) dan ―Purbasasaka‖ (Abah Oyo. Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga). dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). Abah Oyo. sementara goong di sebelah kanan pemain. Kempul berada di sebelah kiri pemain. waditra bonang. Darya atau R. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung.A. dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain. 3. yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. dan sulingyang masih bertahan sampai sekarang. dan goong. dan goong berbentuk penclon. dan suling. dan Abah Atma. Sementara waditra suling termasuk aerofon.A. menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini. yaitu Abah Idi. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama. cecempres (saron/panerus). Ambitus . yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Struktur waditra / instrumen Pada awal pemerintahan Dalem Haji sebagai bupati Bandung. dan kendang termasuk membranofon. Pada tahun 1961 oleh R. kendang. Gong yang terdiri dari 2 buah penclon. dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan). Nano S. penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang. kendang. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi.momen yang sakral. ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang. Mandalakusuma (kepala RRI Bandung). kecuali waditra peking. para seniman karawitan Bandung yang sudah membentuk grup ―Pamagersari‖ (Abah Idi. hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini. Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah.

Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca. waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah. baik turun maupun naik. Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. yaitu: laras pelog. Bahan dasar pembuatan bonang. dan suling ini menjadi hal biasa. apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung. Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang. laras madenda/sorog. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1‘ tinggi).nada gong sangat rendah. peking. sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‗tersaingi‘. maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat. Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. satu gembyang berjarak 1200 sen. yakni: deretan nada-nada. 2 ke 3. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking. Laras / Tangga Nada Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat. maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok). yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Begitupun dalam permainan suling. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu. kendang. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam . dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). yang dipukul dengan pola yang konstan. Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2. Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda. dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). yakni sebagai pengiring melodi. apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok). namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif. 4. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu. peking merupakan waditra tambahan. tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. jenglong. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya. namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok. disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. dan seterusnya). Tugas peking agak berbeda dari cecempres. bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah. Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres. Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan). Seperti halnya peking. laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali). cecempres.

Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu alit‘. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan untuk mengiringi sekar. ketuk tiluan. Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik). eusi. interlude. beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup). dan jaipongan. Pola Tabuhan Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan. dan madakeun. Dalam tulisan ini. dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian. Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang. Struktur ini sama dengan istilah overture. Jadi. Ini menunjukkan bahwa nada . seperti: kiliningan. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi. Repertoar Degung Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung. Namun dalam perkembangannya. sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro. Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat. yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‗induk‘nya. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu ageung‘. dan coda pada musik Barat. kedua.buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut. 5. ketuk tiluan. dan jaipongan. namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. 6. sementara kiliningan. repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi. Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik menggunakan teknik dikemprang atau dicaruk. repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk). sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. ketuk tiluan. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‗komando‘ pada orkestra ini. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat.

Naon Lepatna (1980). Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R. Anjeun (1984). 12) Jipang Prawa. 30) Celementre. 3) Pajajaran. 21) Papalayon. 7) Ayun Ambing. 19) Ladrak.A. 6. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan. Bupati Cianjur RT. 26) Karang Mantri Kajineman. U. Puspita (1978). Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda). 8) Lambang Parahyangan. apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. 2) Layungsari. 28) Banjaran. Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX. Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung. 17) Kulawu. 2) Duda. Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang. 16) Beber Layar. pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed). dan 4) Ujung Laut. 2) Maya Selas. Tarya lagu 1) Seler Degung. bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan. 27) Gunung Sari. Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. dan 9) Purbasaka. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung.A. 23) Jipang Lontang. dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana. 31) Renggong Buyut. 11) Manintin.2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung. 4) Palsiun. dulu gamelan degung hanya dimainkan dengan cara ditabuh secara gendingan (instrumental). maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa . Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya. Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT. Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R. 7) Kajajaden. Tamperan Kaheman (1981). 15) Banteng Wulung. 6) Pulo Ganti. Namun sangat disayangkan. 20) Balenderan. sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. 3) Galatik Mangut.A. 24) Gegot. Sementara Entjar Tjarmedi. 18) Padayungan. Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi. 13) Palwa. 9) Paksi Tuwung. sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‗menyelamatkan‘ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung. 29) KunangKunang. dengan grup ―Gentra Madya‖nya berupa album kaset Panglayungan (1977). 25) Sulanjana. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron. sehingga keasliannya terancam punah. 10) Lambang. Hj. 6) Paturay. yakni: 1) Sangkuratu. 8) Sang Bango. dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). 5) Genye. 22) Mangu-Mangu Degung. 4) Kidang Mas. 3) Lalayaran. Wiranatakusumah V (1912-1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena hal itu membuat suasana menjadikurang serius (rucah). Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro. 5) Lengser Midang. Perkembangan Gamelan degung Perkembangan dari kesenian Gamelan Degung (Sunda).A. 14) Kadewan. bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari.

seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata. Gamelan degung kabupaten Bandung. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat. merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Bandung. Permohonan semacam itu semakin banyak. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. degung (jenglong) 6 penclon. Idris Sastraprawira dan Rd. oleh L. dipimpin oleh Oyo. yang dipentaskan di Medan. . Pada tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal. Tjarmedi. salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang. Kruger produksi Java Film Company. dan E. Selanjutnya E. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931. dipimpin oleh Idi. Tarya. Melihat dan mendengarkan keindahan degung. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. cempres (saron panjang) 11 wilah. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diizinkan menggunakan degung dalam hajatannya. tahun 1918 Rd. maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi. Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Heuveldrop dan G. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. dan goong satu buah. Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Selain itu. degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo). Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada. Setelah Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung.bersama nayaganya. Sebelumnya. dan akhirnya permohonan itu diizinkannya. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda. Anang Thayib. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya. Ono Sukarna.

Pada tahun 1964.Ida Widawati 6. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana.Anjeun (1984) 6. Tapi sekarang para penyanyi degung sejak 1970-an kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran). degung Gapura pimpinan Kustyara. lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah. Machyar. para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Didin S. misalnya Nano S. Yus Wiradiredja 4.Tamperan Kaheman (1981) 5. baik pria maupun wanita.Teti Afienti 7.Bima Mobos (Sancang) 4.Kalangkang. Beberapa lagu degung karya Nano S. Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R. Barman Syahyana 2. dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang. Kembang Kapas. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit.Sang Bango 5. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan.Palsiun 3. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini.Kinteul Bueuk . Tak kalah penting adalah Nano S. Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an). ronggeng). Pada tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung. di antaranya : 1. Badjuri 3. Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran. Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas.Mamah Dasimah 8. Lagu degung di antaranya: 1. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang. Dibanding degung yang ada pada waktu itu. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya : 1.Panglayungan(1977) 2. dengan grup Gentra Madya (1976). Tetapi hal ini tidak berkembang. dsb.Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung.Puspit (1978) 3. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog. L agu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987. Nano S. surupannya lebih tinggi. dan rebab. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri.Euis Komariah 5. Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara). Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana.Palwa 2. saron. misalnya lagu Paksi Tuwung. yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986). Tati Saleh dan sebagainya. Tahun 1961 RS.Naon Lepatna (1980) 4.

Kalangkang 7.6. Australia.Beber Layar 17. Di Melbourne. dan sebagainya.Rumaos 8. dilakukan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi. USA). Paraguna (Jepang).Padayungan. dan sebagainya Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: 1. .Tepang Asih 6. ada sebuah set gamelan degung milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.Karang Ulun 12. serta Evergreen.Lalayaran 9.Sangkuratu 11. misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz.Ladrak 14.Kadewan 18.Surat Ondangan 4.Kembang Ligar 3. dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris).Catrik 8.Jipang Lontang 10.Bentang Kuring. Sedangkan Perkembangan Gamelan Degung (Sunda) di luar Indonesia.Hariring Bandung 5.Manintin 16.Ujung Laut 15. John Sidal (Kanada).Pajajaran 7.Samar-samar 2.Karangmantri 13. musisi Lou Harrison (US).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful