P. 1
Sejarah gamelan Degung

Sejarah gamelan Degung

|Views: 966|Likes:
Published by Syaepudin Ardy
tentang gamelan
tentang gamelan

More info:

Published by: Syaepudin Ardy on Mar 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2014

pdf

text

original

Sejarah gamelan Degung Sunda

1. 1.

Sejararah Gamelan Degung

Dalam sejarah gamelan degung (sunda), degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar pada akhir abad ke-18 atau pada awal abad ke-19. Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/ awal abad ke 19 Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat) Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat). Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, Kerajaan Galuhmisalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagulagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung. Masyarakat Sunda menduga dan mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata ―degung‖ dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah ―degung‖ pertama kali muncul tahun 1879, yaitu

Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung. Mula mula Degung merupakan karawitan gending. biasanya digantungkan pada ―kakanco‖ atau rancak/ancak. disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879. Di dalam kamus ini. penambahan waditrapun berkembang dari jaman ke jaman.dalam kamus susunan H. Arti Degung sebenarnya hampir sama dengan Gangsa di Jawa Tengah. bahwa ketika . 1974: 7). Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung.A. Oosting. Oosting di atas. Dalam bahasa Sunda banyak terdapat kata-kata yang berakhiran gung yang artinya menunjukan tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat misalnya : Panggung.A. Sehingga Degung memberikan gambaran kepada orang Sunda sebagai sesuatu yang agung dan terhormat yang digemari oleh Pangagung. Wiranatakusuma adalah salah seorang pejabat yang sangat menggemari Degung. Dalam studi literaturnya. Agung. bahasa Belanda). melodi lagu dan bonang kadangkala sejajar kecuali untuk nada-nada yang tinggi dan rendah apabila tidak tercapai oleh Sekar. Banyaknya kreasi-kreasi dalam sekar. yaitu dalam kamus susunan H. Waditra ini biasa disebut pula ―bende renteng‖ atau ―jenglong gayor‖.J. Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst. Menurut beliau istilah ―gamelan Degung‖ diambil dari nama waditra tersebut.J. wayang menjadikan degung seperti sekarang ini. seperti dimaklumi bahwa Gamelan Degung sangat digemari oleh para pejabat pada waktu itu. Kata ―De gong‖ (gamelan. Tumenggung. ―de gong‖ mengandung pengertian ―penclon-penclon yang digantung‖.J. dimana lagu-lagu Ageung diberi rumpaka. Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran. Gamelan merupakan sekelompok waditra dengan cara membunyikan alatnya kebanyakan dipukul. Ada pula yang menyebutkan Degung berasal dari kata ―Deg ngadeg ka nu Agung‖ yang mengandung pengertian kita harus senantiasa menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gong di Bali atau Goong di Banten yaitu Gamelan. Pada mulanya Degung berupa nama waditra berbentuk 6 buah gong kecil. Namun sebagaimana Jaap Kunst. mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak. Oosting. dsbnya. Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H. tari. yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi. bahkan beliaulah yang sempat mendokementasikan beberapa lagu Degung kedalam bentuk rekaman suara. 1934). Pada tahun 1958 barulah dalam bentuk pergelarannya degung menjadi bentuk sekar gending. Perkembangan menunjukan bahwa akhirnya nama ini digunakan untuk menyebut seperangkat alat yang disebut Gamelan Degung dimana pada awalnya gamelan ini berlaras Degung namun kemudian ditambah pula dengan nada sisipan sehingga menjadi laras yang lain (bisa Laras Madenda/Nyorog ataupun laras Mandalungan/Kobongan/Mataraman) Ada anggapan lain sementara orang bahwa kata Degung berasal dari kata ratu-agung atau tumenggung. misalnya bupati Bandung R.

Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.‖ (1977: 69) Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman. adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda. maupun konteks sosialnya. Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat).A. Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat. Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung.kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu. na (3). kedua. gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. 2. E. 1. mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). baik dari jenis instrumennya. Dalam teori tersebut. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung. dan ti (4)). Pada saat itu Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen- . Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro. katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda. Dihubungkan dengan kirata basa. maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak). disebutkan bahwa: ―Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung ―Parahyangan‖. teknik memainkannya. Istilah “Degung” Istilah ―degung‖ memiliki dua pengertian: pertama. di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. Pada tahun 1920 R. dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat. mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi. Machjar Angga Koesoemahdinata. 1974). bangsawan).Sutisna.A. bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng. laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1). Menurut riwayat. yakni gamelan-degung. lagu-lagunya. adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur. kata ―degung‖ berasal dari kata ―ngadeg‖ (berdiri) dan ―agung‖ (megah) atau ―pangagung‖ (menak. 1984:15). Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi. ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung.

momen yang sakral. ketika menggunakan gamelan Degung untuk mendukung gending karesmen berjudul ―Mundinglayadikusumah‖ garapan Wahyu Wibisana. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. para seniman karawitan Bandung yang sudah membentuk grup ―Pamagersari‖ (Abah Idi. Dilihat dari bentuknya. dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. dan sulingyang masih bertahan sampai sekarang. perangkatnya ditambah dengan: peking. sementara goong di sebelah kanan pemain. kendang. Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah). yaitu Abah Idi. kendang. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass. Lalu pada tahun 1962. 1919). Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya. Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah. jengglong (degung). Kempul berada di sebelah kiri pemain. Gong yang terdiri dari 2 buah penclon.A. dan goong. ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang. dan goong berbentuk penclon. Darya atau R. Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang). penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung. dan Abah Atma. 1918) dan ―Purbasasaka‖ (Abah Oyo. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu. berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. kecuali waditra peking. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan). Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6). Ambitus . waditra bonang. ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Pada tahun 1961 oleh R. dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain. Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga).A. dan kendang termasuk membranofon. 3. waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. dan suling. Sementara waditra suling termasuk aerofon. 1. kecamatan Banjaran. Abah Oyo. cecempres (saron/panerus). kabupaten Bandung. yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung. menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini. Nano S. yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). Mandalakusuma (kepala RRI Bandung). yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. Struktur waditra / instrumen Pada awal pemerintahan Dalem Haji sebagai bupati Bandung. dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). jenglong. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama.

apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung. dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). dan seterusnya). maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. baik turun maupun naik. disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. dan suling ini menjadi hal biasa. Begitupun dalam permainan suling. sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‗tersaingi‘. waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking.nada gong sangat rendah. tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan). Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat. Tugas peking agak berbeda dari cecempres. Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah. namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). cecempres. apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok). Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif. yakni: deretan nada-nada. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda. Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya. yakni sebagai pengiring melodi. Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca. jenglong. Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro. 2 ke 3. Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali). dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). Bahan dasar pembuatan bonang. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu. yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1‘ tinggi). peking. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam . Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. laras madenda/sorog. namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres. Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok. bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok). yaitu: laras pelog. Laras / Tangga Nada Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat. Seperti halnya peking. yang dipukul dengan pola yang konstan. Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang. peking merupakan waditra tambahan. satu gembyang berjarak 1200 sen. kendang. Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah. 4.

sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). 6. Ini menunjukkan bahwa nada . Jadi. beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup). interlude. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‗komando‘ pada orkestra ini. dan jaipongan. dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian. Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang. yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung.buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut. kedua. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu ageung‘. Dalam tulisan ini. namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung. dan coda pada musik Barat. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik). Pola Tabuhan Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan. karena itu sering disebut juga dengan ‗lagu alit‘. ketuk tiluan. Struktur ini sama dengan istilah overture. 5. seperti: kiliningan. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‗induk‘nya. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan untuk mengiringi sekar. Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. dan madakeun. Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik menggunakan teknik dikemprang atau dicaruk. ketuk tiluan. Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. Repertoar Degung Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama. Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat. repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi. ketuk tiluan. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. sementara kiliningan. eusi. dan jaipongan. Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan. sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro. repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk). Namun dalam perkembangannya.

bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan. U. 6. 7) Kajajaden. tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan. Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda). Anjeun (1984). 11) Manintin. 14) Kadewan. pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed). apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. Puspita (1978). Sementara Entjar Tjarmedi. 29) KunangKunang. 2) Maya Selas. 28) Banjaran. 21) Papalayon. Tamperan Kaheman (1981). 6) Pulo Ganti. 24) Gegot. Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. 17) Kulawu. Bupati Cianjur RT. 2) Duda. 20) Balenderan. 26) Karang Mantri Kajineman. 19) Ladrak. 9) Paksi Tuwung. Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi. bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri. 18) Padayungan. Tarya lagu 1) Seler Degung. 2) Layungsari. dulu gamelan degung hanya dimainkan dengan cara ditabuh secara gendingan (instrumental).A. 8) Lambang Parahyangan. Naon Lepatna (1980). 25) Sulanjana. 31) Renggong Buyut. sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‗menyelamatkan‘ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. Perkembangan Gamelan degung Perkembangan dari kesenian Gamelan Degung (Sunda). Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT.A. Wiranatakusumah V (1912-1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena hal itu membuat suasana menjadikurang serius (rucah). dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). Namun sangat disayangkan. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari. 3) Pajajaran. Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro. 3) Lalayaran.A.2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung. 30) Celementre. 22) Mangu-Mangu Degung. 12) Jipang Prawa. 16) Beber Layar. 8) Sang Bango. Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R. 13) Palwa. dan 4) Ujung Laut. Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung. sehingga keasliannya terancam punah. 15) Banteng Wulung. 23) Jipang Lontang. 6) Paturay. Hj. 7) Ayun Ambing. Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung. dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana. Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. dan 9) Purbasaka. Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya. dengan grup ―Gentra Madya‖nya berupa album kaset Panglayungan (1977). 4) Palsiun. yakni: 1) Sangkuratu. 4) Kidang Mas. 3) Galatik Mangut. Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron. 5) Lengser Midang. 10) Lambang. maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa .A. 27) Gunung Sari. 5) Genye.

Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda. seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. dipimpin oleh Idi. dan E. Kruger produksi Java Film Company. Ono Sukarna. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931. Sebelumnya. dipimpin oleh Oyo. oleh L. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Melihat dan mendengarkan keindahan degung. dan akhirnya permohonan itu diizinkannya. salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang. . Gamelan degung kabupaten Bandung. Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diizinkan menggunakan degung dalam hajatannya. Bandung. degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo). Anang Thayib. mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Idris Sastraprawira dan Rd. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada. misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. degung (jenglong) 6 penclon. cempres (saron panjang) 11 wilah. sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Tjarmedi. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tarya. Permohonan semacam itu semakin banyak. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung. Pada tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng. merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.bersama nayaganya. yang dipentaskan di Medan. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. tahun 1918 Rd. Heuveldrop dan G. dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka. Selain itu. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Selanjutnya E. Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Setelah Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. dan goong satu buah. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa.

Machyar. Pada tahun 1964. L agu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini.Euis Komariah 5.Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung. Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R.Sang Bango 5. Kembang Kapas. Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas.Palsiun 3.Kinteul Bueuk . Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana. Tak kalah penting adalah Nano S. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya : 1.Palwa 2. lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah. dan rebab. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. Tahun 1961 RS. Tapi sekarang para penyanyi degung sejak 1970-an kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran). Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara). dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang. Didin S. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog.Puspit (1978) 3. dsb. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang.Bima Mobos (Sancang) 4. yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986).Panglayungan(1977) 2. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan.Naon Lepatna (1980) 4. degung Gapura pimpinan Kustyara. Lagu degung di antaranya: 1. Pada tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung.Ida Widawati 6. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. ronggeng).Mamah Dasimah 8. misalnya Nano S. Barman Syahyana 2.Kalangkang.Teti Afienti 7. para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden. misalnya lagu Paksi Tuwung. Tetapi hal ini tidak berkembang. di antaranya : 1. Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an). dengan grup Gentra Madya (1976). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Dibanding degung yang ada pada waktu itu. baik pria maupun wanita. Tati Saleh dan sebagainya.Anjeun (1984) 6. Yus Wiradiredja 4. Beberapa lagu degung karya Nano S. surupannya lebih tinggi. Badjuri 3.Tamperan Kaheman (1981) 5. saron. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri. Nano S.

USA). dan sebagainya Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: 1.Manintin 16. ada sebuah set gamelan degung milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.Lalayaran 9. .Kalangkang 7.Beber Layar 17. Di Melbourne. Paraguna (Jepang). serta Evergreen. dilakukan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi.Ladrak 14.Padayungan. misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz.Pajajaran 7.Ujung Laut 15.Jipang Lontang 10.Kadewan 18.Karang Ulun 12. John Sidal (Kanada).Karangmantri 13.Bentang Kuring.Kembang Ligar 3.6. dan sebagainya.Tepang Asih 6.Sangkuratu 11.Catrik 8. dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris). Sedangkan Perkembangan Gamelan Degung (Sunda) di luar Indonesia.Samar-samar 2. musisi Lou Harrison (US). Australia.Rumaos 8.Surat Ondangan 4.Hariring Bandung 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->