5

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Layang Ikan layang merupakan salah satu hasil perikanan lepas pantai yang terdapat di Indonesia. Ikan ini termasuk jenis pemakan zooplankton, hidup di dekat

permukaan laut (pelagis), berkadar garam tinggi dan membentuk gerombolan besar. Klasifikasi ikan layang (Saanin 1984) adalah sebagai berikut: Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Percomorphi : Percoidea : Carangidae : Decapterus : Decapterus spp.

Bagian punggung ikan layang berwarna biru kehijauan dan bagian perutnya berwarna putih perak sedangkan sirip-siripnya berwarna kuning kemerahan. Bentuk tubuhnya memanjang dan dapat mencapai 30 cm. Pada umumnya, ratarata panjang badan ikan layang adalah 20-25 cm. Ikan layang memiliki dua sirip punggung, dua sirip tambahan di belakang sirip punggung kedua dan satu sirip tambahan di belakang sirip dubur. Ikan layang memiliki finlet yang merupakan

ciri khas dari genus Decapterus (Saanin 1984). Morfologi ikan layang disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Ikan layang ( Decapterus spp). Ikan layang termasuk ikan pelagis dan dikelompokkan sebagai ikan pelagis kecil berdasarkan ukurannya. Di perairan Indonesia, terdapat lima jenis (spesies)

Pada saat ikan mengalami post-mortem. juga memiliki kandungan glikogen yang tinggi di dalam daging. Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu ± 32‰ (Hariati 2005). Komposisi kimia daging ikan sangat bervariasi tergantung Matsumoto dan spesies. Tabel 1 Komposisi kimia daging ikan layang ( Decapterus spp. mencapai pH 5. akan cepat mengalami glikolisis membentuk dan mengakumulasi asam laktat yang menyebabkan pH daging ikan turun secara cepat. ikan pelagis kecil berada di dasar perairan yang membentuk gerombolan yang padat dan kompak sedangkan pada malam hari ikan ini naik ke permukaan membentuk gerombolan yang menyebar (Suyedi 2001).58 1. 1992. Pada siang hari. musim dan kondisi lingkungan tempat ikan tersebut ditangkap.03 1. umur. yaitu jenis ikan pemakan plankton dengan cara menyaring plankton yang masuk. dan Laut Jawa (Suyedi 2001). Noguchi 1992). protein 15-24%.8-2% (Suzuki 1981). karbohidrat 1-3% dan bahan anorganik 0.6 ikan layang.79 5. Decapterus tabl dan Decapterus maruadsi (Burhanudin et al. Daerah penyebaran ikan layang di perairan Indonesia adalah Selat Bali. lemak 0.6 (Shimizu et al.13 9. yaitu Decapterus ruselli. Decapterus kurroides. jenis kelamin. Decapterus macrosoma. Pada umumnya.1-22%.) dalam 100 g Parameter Kadar Air (% ) Kadar Abu (% ) Lemak ( % ) Protein ( % ) TVB (mg N/100g ) pH Sumber: Chairita (2008) Ikan Layang 78. Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. komposisi kimia daging ikan terdiri dari air 66-84%. Komposisi kimia daging ikan layang ( Decapterus spp. 1983).90 18. Ikan pelagis memiliki proporsi daging merah yang tinggi yaitu berkisar antara 10-20%. Ambon.98 .) disajikan pada Tabel 1. Ikan pelagis pada umumnya merupakan filter feeder.

1985). Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik.2 Tepung Ikan Tepung ikan adalah produk padat yang dihasilkan dengan jalan mengeluarkan sebagian besar air dan sebagian atau seluruh lemak dalam ikan (Ilyas 2003). Ikan Teri Sortasi Pengeringan Pemasakan Penggilingan Penggilingan basah Tepung ikan Segar Pengeringan Penggilingan kering Tepung ikan Gambar 2 Bagan alir pembuatan tepung ikan teri untuk pangan (Dullah et al. yaitu lisin dan metionin. Tepung ikan memiliki kadar air tidak lebih dari 4% ( BPOM 2006). Tepung ikan mengandung nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein yang kaya akan asam amino esensial. Produksi pembuatan tepung ikan dalam jumlah yang besar menurut FAO PBB yaitu hampir 90% digunakan sebagai konsumsi makanan manusia (Green 2010).010 ton dengan nilai ekspornya adalah sebesar 39. Produksi tepung ikan di Indonesia mencapai 57.945 ton (BPS 2011). umumnya berwarna cokelat yang diperoleh setelah melalui proses pemasakan.7 2. pengeringan dan penggilingan. Tahap pembuatan tepung ikan teri untuk bahan pangan seperti terlihat pada Gambar 2. pengepresan. .

Proses pembuatan yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan rendemen tepung yang dihasilkannya sehingga dapat meningkatkan dan memenuhi kebutuhan tepung ikan dalam negeri (Annafi 2009). Tabel 2 Syarat mutu tepung ikan sebagai bahan pangan Zat gizi Air Lemak Protein Abu Serat Calcium (Ca) Fosfor NaCL Sumber: BSN (1996) Kandungan (%) 10-12 8-12 45-65 20-30 1. Proses pembuatan tepung ikan menggunakan metode konvensional.3 Mutu tepung Ikan Tepung ikan dengan mutu yang tinggi mempunyai tekstur tepung ikan halus.6-4. Komposisi kimia tepung ikan ditentukan oleh jenis ikan. tepung yang dihasilkan akan banyak mengandung . pengeringan dan penggilingan (Mulki 2005). pengepresan. sedangkan teknologi pengolahannya dapat ditentukan berdasarkan ketersediaan bahan mentah yang akan diolah. baunya khas tepung ikan. metode pengolahan serta cara dan lama penyimpanan.7 2-4 Tepung ikan akan lebih baik mutunya bila bahan mentah yang dipakai terdiri dari ikan yang tidak berlemak (lean fish).5-7. Tepung ikan yang bermutu harus mempunyai komposisi seperti yang tercantum pada Tabel 2. pengeringan dan penganginanginan. pemasakan.5-3 2. yaitu persiapan bahan baku. mutu bahan baku yang digunakan dan cara pengolahannya. pengepresan.0 1. Mutu tepung ikan yang dihasilkan tergantung pada jenis dan kesegaran bahan mentah yang diolah dan juga teknologi pengolahannya (Annafi 2009).8 2. Pengolahan tepung ikan pada dasarnya adalah perubahan bentuk dari ikan utuh menjadi tepung ikan melalui tahap-tahap pemasakan. Jika bahan mentah berasal dari ikan yang berlemak. bebas benda asing dan serangga. yaitu bahan baku yang digunakan. berwarna coklat kekuningan khas tepung ikan. Mutu tepung ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

singkong merupakan sumber utama kalori di daerah tropis yang dapat diproses menjadi beberapa makanan dan mengandung senyawa sianogen. lemak 5-10% dan protein sebesar 60-65%. Secara tradisional. Ubi kayu di Indonesia terutama digunakan untuk bahan pangan (58%). bahan baku industri (28%). 2003. (b) mampu berproduksi pada tanah yang subur tetapi tetap menghasilkan pada tanah yang kurang atau tidak subur. Menurut AgborEgbe dan Lape Mbome (2006) serta Aloys (2006). Kebanyakan tepung ikan mengandung kadar air 18%. Umbi ubikayu dari setiap jenis dan cara pengolahan umbi sangat berpengaruh terhadap komposisi kimianya.9 lemak (Ilyas 2003). ekspor dalam bentuk gaplek (8%) dan pakan (2%) (DKU 2004). Kandungan gizi ubi kayu. (e) sumber terbesar karbohidrat. viskositas (kekentalan) pati tinggi. kandungan pati tinggi. 2005). ubi kayu digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai makanan pokok seperti halnya beras dan jagung. yakni antara 10 hingga 30 bulan. (2007). Tanaman yang akan digunakan sebagai bahan baku pati (tapioka) harus memiliki kandungan protein rendah. yakni (a) dapat tumbuh pada kondisi yang kurang baik dan iklim yang ekstrim. Menurut Oluwole et al. (c) rentang panen yang panjang. 2. Singkong dikelompokkan menjadi singkong yang agak manis dan singkong yang agak pahit sehingga memerlukan pemrosesan yang lebih ekstensif sebelum dikonsumsi (Fregene et al. Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan nomor tiga di Indonesia setelah padi dan jagung sekaligus sumber kalori pangan termurah dan cukup ketersediaannya. gaplek dan tepung tapioka yang . Vessia 2008). (f) sekitar 500 juta orang bergantung padanya dan (g) memiliki umbi manis dan pahit (Laswai et al. seperti tanah masam. beras dan jagung. umbi singkong dapat diproses menjadi beberapa makanan. (d) merupakan makanan pokok terbesar dunia setelah gandum. Tanaman singkong memiliki banyak kelebihan. 2006. dan kandungan serat rendah.4 Singkong Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta CRANTZ) merupakan sumber utama kalori di daerah tropis dan biasanya terdapat pada daerah dataran tinggi. Manu-Aduening et al.

10 0. 2.30 36. bb %.20 0.00 8.5 Enbal Enbal (dalam bahasa daerah Kei) merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Daerah Kei Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.12 0 0. gaplek.b/b BaSO4 = 100 %0 %.00 1.50 83.00 1. 1.00 1. Tabel 3 Kandungan gizi dalam 100 g singkong.80 0 0 0. 75 %.06 20.00 60.80 33. 85 Maks.90 6.00 30.00 1.00 6.70 78.00 1.50 0. beras giling.80 0.2997.30 16.00 106. 12 Maks 3 Maks.90 1.1992 Uraian Keadaan: Bau Rasa Warna Benda-benda asing Derajat putih Abu Air Derajat Asam Asam sianida Kehalusan Pati Sumber: (DKU 2004) Satuan Persyaratan Khas ubi kayu Khas ubi kayu Putih Tidak boleh ada Min .30 80. Gizi Depkes diacu dalam DKU (2004) Tabel 4 Standar mutu tepung singkong menurut SNI No.5 Maks.90 0 0 0 Tapioka 363.00 0 0.40 0 Terigu 365.70 81. 01.2997.00 0.00 40.10 0.10 dibandingkan dengan beras dan terigu serta tepung ubi kayu untuk jelasnya disajikan pada Tabel 2 dan standar mutu tepung singkong menurut SNI No.00 0. Enbal terbuat dari bahan ubi kayu yang telah diparut dan diperas untuk . dan tepung tapioka yang dibandingkan dengan terigu Zat Makanan Kalori (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbihidrat (g) Zat Kapur (mg) Phospor (mg) Zat Besi (mg) Vitamin B1 (mg) Thiamine (mg) Vitamin C (mg) Singkong Beras Giling Gaplek 154. bb Ml N NaOH/100g mg/Kg % %.00 125.20 89. 90 Min.12 Sumber : Dir.00 1.30 77.00 360. 01.1992 dapat dilihat pada Tabel 3. 40 Min.12 338.00 140.00 1.

lalu diayak untuk mendapatkan tepung enbal. enbal memiliki arti penting dan strategis. Proses pengolahan enbal secara tradisional disajikan pada Gambar 3. 2. Suasana seperti itu semakin terasa pada saat datang dari rantau.6 Pengeringan Pengeringan merupakan suatu cara untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan padat dengan cara menguapkan sebagian besar air yang dikandungnya menggunakan energi panas. Singkong segar Pemarutan Tangan Pengepresan dengan papan penjepit Enbal mentah Pengayakan Penepungan Tepung enbal Gambar 3 Diagram alir pembuatan tepung enbal cara tradisional. (komunikasi pribadi). niaga maupun setelah menyelesaikan pendidikan. .11 mengeluarkan air dari patinya yang kemudian disebut enbal gepe. Enbal dijadikan makanan utama mengalahkan jenis makanan pokok lainnya (beras dan jagung) atau sebagai bekal perjalanan dan buah tangan untuk sesama masyarakat Maluku Tenggara (Tual). Bagi masyarakat Maluku Tenggara. Enbal dijadikan makanan pokok sekaligus sebagai media keakraban dan persaudaraan.

tidak ada air bebas pada permukaan bahan. penguapan telah terjadi di seluruh bagian permukaan sehingga terjadi penurunan kecepatan pengeringan sampai akhir waktu pengeringan yaitu saat terjadi kesetimbangan kadar air (Masuda et al. dan parameter sensori lainnya (Berk 2009). yaitu aroma yang berbeda. Tahap pertama. air bebas berada di permukaan bahan. air bebas dan terikat masih berada dalam bahan dengan tidak mengalami perubahan. selama suhu tersebut tidak sampai merusak bahan. . mengurangi berat dan volume sehingga menghemat ruang pengangkutan. Biaya pengeringan dapat ditekan pada kapasitas yang besar jika digunakan pada suhu tinggi. kekenyalan. Makin tinggi suhu udara pengering maka proses pengeringan makin singkat. yaitu tahap sebelum pemanasan (preheating period). kerenyahan. Semua panas yang diterima oleh bahan digunakan untuk proses Pada tahap ketiga. penguapan. Tujuan pengeringan pada suatu bahan pangan di antaranya adalah untuk mempertahankan daya awet dengan cara mengurangi aktivitas air (aw). 2006). serta mempermudah transportasi. Pada tahap kedua.12 Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai batas tertentu. suhu bahan tetap konstan dan sebanding dengan suhu basah pada udara panas. Proses pengeringan terdiri dari tiga tahap. Suhu udara pengering berpengaruh terhadap lama pengeringan dan kualitas bahan hasil pengeringan. tahap kecepatan pengeringan konstan (constant drying-rate period) dan tahap penurunan kecepatan pengeringan (decreasing drying-rate period). Pengeringan juga bertujuan untuk meningkatkan nilai sensori pada suatu produk pangan. Bila suhu pengeringan dinaikkan maka panas yang dibutuhkan untuk penguapan air bahan menjadi berkurang. dimana mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi pada bahan (Muchtadi 2008). antara lain: 1) Suhu udara pengering Laju penguapan air bahan dalam pengering sangat ditentukan oleh kenaikan suhu. (2004). 2) Kelembaban relatif udara pengering Kelembaban relatif udara adalah perbandingan massa uap air aktual pada volume yang diberikan dengan masa uap air saturasi pada temperatur yang sama. pengepakan. beberapa parameter yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan dalam proses pengeringan. Menurut Brooker et al.

Pengeringan buatan (artificial drying) mempunyai keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan dapat ditentukan dan kebersihan dapat diawasi (Winarno dan Fardiaz 1973). Kelembaban relatif juga menentukan besarnya tingkat kemampuan udara pengering dalam menampung uap air di permukaan bahan. 2.13 Kelembaban mutlak udara berpengaruh terhadap pemindahan cairan dari dalam ke permukaan bahan.7 Pengaruh pengeringan terhadap beberapa sifat bahan Pengeringan dapat menyebabkan perubahan warna. tekstur. Air dikeluarkan dari bahan dalam bentuk uap dan harus secepatnya dipindahkan dari bahan. makin cepat pula proses pengeringan yang terjadi karena mampu menyerap dan menampung uap air lebih banyak dari pada udara dengan RH yang tinggi. yaitu pengeringan dengan menggunakan energi sinar matahari langsung. Semakin rendah RH udara pengering. Bila tidak segera dipindahkan maka air akan menjenuhkan atmosfer pada permukaan bahan sehingga akan memperlambat pengeluaran air selanjutnya. Semakin besar volume udara yang mengalir. udara berfungsi sebagai pembawa panas untuk menguapkan kandungan air pada bahan serta mengeluarkan uap air tersebut. maka semakin besar pula kemampuannya dalam membawa dan menampung air dari permukaan bahan. Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan bahan dan mencegah uap air tersebut menjadi jenuh di permukann bahan. 4) Kadar air bahan Pada proses pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan memakai suatu alat pengering (artificial drying) atau dengan penjemuran (sun drying). aroma dan lainnya walaupun perubahan-perubahan tersebut dapat dibatasi seminimal mungkin dengan cara memberikan perlakuan pendahuluan terhadap bahan pangan . 3) Kecepatan udara pengering Pada proses pengeringan. sehingga perlu diketahui berapa persen kadar air pada bahan saat basah dan pada saat kering. sering dijumpai adanya variasi jumlah kadar air pada bahan yang mana variasi kadar air ini akan mempengaruhi lamanya proses pengeringan.

14 yang akan dikeringkan. Jika pengeringan dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi maka dapat menyebabkan terjadinya case hardening yaitu suatu keadaan di mana bagian dalamnya masih basah. Pengurangan kadar air akan menyebabkan kandungan protein. karbohidrat. Menurut hasil penelitian Chukwu (2009). lemak. Pada umumnya. lemak dan mineral-mineral pada bahan pangan terkonsentrasi lebih tinggi namun sejumlah vitamin dan zat warna pada umumnya menjadi rusak atau berkurang (Winarno dan Fardiaz 1973). tersier dan kuartener dari protein tanpa menyebabkan pemutusan ikatan peptida dan perubahan sekuen asam amino pada struktur protein (Kusnandar 2010). Suatu tipe pengeringan memberikan pengaruh terhadap kualitas produk akhir. jika dibandingkan dengan bahan baku. pengemasan dan metode lain untuk mengukur dan meramalkan masa simpan produk makanan sangat penting dan . serta fosfor mengalami kenaikan.8 Umur Simpan Pengembangan teknologi pengolahan. potassium. Case hardening juga dapat disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan kimia tertentu. ikan jenis tilapia yang telah dikeringkan mengalami penurunan persentase kadar air. Denaturasi protein adalah terjadinya modifikasi struktur sekunder. Hal ini disebabkan suhu pengeringan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan bagian permukaan cepat mengering dan menjadi keras sehingga akan menghambat penyerapan air selanjutnya. bahan pangan yang dikeringkan berubah warnanya menjadi coklat. misalnya terjadinya pengumpulan protein pada permukaan bahan karena adanya panas atau terbentuknya dekstrin dari pati yang dikeringkan (Winarno dan Fardiaz 1973). sedangkan persentase kadar protein. baik enzimatik maupun non-enzimatik. Pengeringan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh reaksi- reaksi browning. 2. vitamin A. Pemanasan yang berlebih pada proses pemasakan produk seafood kering dapat mengakibatkan hilangnya asam amino yang tidak stabil terhadap panas (Pan 1988 diacu dalam Shahidi dan Botta 1994). Reaksi browning nonenzimatik yang sering terjadi adalah reaksi antara asam-asam amino dengan gula pereduksi (Muchtadi 2008).

Penentuan umur simpan produk dengan metode akselerasi dapat dilakukan dengan dua pendekatan (Herawati 2008). mengeplotkan kadar air tersebut pada grafik kemudian menarik titik tersebut sesuai dengan kadar air kritis produk. yaitu dengan Extended Storage Studies (ESS) dan Accelerated Storage Studies (ASS) (Floros dan Gnanasekharan 1993). Reaksi deteriorasi dimulai dengan persentuhan produk dengan udara. cahaya akibat mekanis contoh vibrasi. Penentuan umur simpan produk dapat dipercepat dengan menggunakan metode Accelerated Storage Studies (ASS). Penentuan umur simpan produk dengan metode konvensional dapat dilakukan dengan menganalisis kadar air suatu bahan. semakin jauh jangkauan pemasarannya sehingga makin ekonomis. Metode ESS sering juga disebut sebagai metode konvensional adalah penentuan tanggal kadaluarsa dengan cara menyimpan suatu seri produk pada kondisi normal sehari-hari dan dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya sehingga mencapai tingkat mutu kadaluarsa. kompresi. Penyimpanan bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan mutu produk olahan yang disimpan dengan cara menghindari. . yaitu kondisi penyimpanan diatur di luar kondisi normal sehingga produk dapat lebih cepat rusak dan penentuan umur simpan dapat dilakukan ( Arpah dan Syarief 2000). yaitu: 1) Pendekatan kadar air kritis dengan teori difusi menggunakan perubahan kadar air dan aktivitas air sebagai kriteria kadaluarsa. oksigen. mengurangi ataupun menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut.15 strategis. uap air. Perpotongan antara garis hasil pengukuran kadar air dan kadar air kritis ditarik garis ke bawah sehingga dapat diketahui nilai umur simpan produk (Herawati 2008). dan abrasi (Arpah 2001). Umur simpan produk pangan dapat diduga dan kemudian diterapkan waktu kadaluarsanya dengan menggunakan dua konsep studi penyimpanan produk pangan. Semakin tinggi masa simpan produk makanan. Penentuan umur simpan suatu produk dilakukan dengan mengamati produk selama penyimpanan sampai terjadi perubahan yang tidak lagi dapat diterima oleh konsumen. Metode ESS sering digunakan untuk produk yang memiliki waktu kadaluarsa kurang dari 3 bulan.

oksigen. nilai gizi maupun mikrobiologis. flavor. kelembaban. yaitu menggunakan teori kinetika yang pada umumnya menggunakan ordo nol atau satu untuk produk pangan. tekstur. parameternya Produk yang disimpan dalam bentuk beku atau dalam kondisi dingin parameternya berupa pertumbuhan mikroba. uji organoleptik atau uji mikrobiologi seperti daya serap O2. yakni parameter yang paling cepat yang mempengaruhi konsumen (Syarief dan Halid 1993). Reaksi ini dapat juga diawali oleh hentakan mekanis seperti vibrasi. Data yang diperlukan untuk menentukan umur simpan produk yang dianalisis di laboratorium dapat diperoleh dari analisis atau evaluasi sensori. penampakan fisik. kadar vitamin C. biasanya ketengikan. Produk pangan mengalam deteriorasi segera setelah diproduksi. kandungan oksigen dan cahaya dapat memicu beberapa reaksi yang dapat menyebabkan penurunan mutu produk tersebut. Reaksi deteriorasi pada produk pangan juga dapat disebabkan oleh faktor intrinsik maupun ekstrinsik yang selanjutnya akan memicu reaksi di dalam produk berupa reaksi kimia. warna. kompresi dan abrasi. enzimatis atau lainnya seperti proses fisik dalam bentuk penyerapan uap air atau gas dari lingkungan (Arpah 2001). Untuk satu produk. produk pangan terbuka pada kondisi lingkungan.16 2) Pendekatan semi empiris dengan bantuan persamaan Arrhenius. cahaya atau akibat perubahan suhu. uap air. analisis kimia dan fisik serta pengamatan kandungan mikroba (Koswara 2004). Hal ini akan meyebabkan perubahan-perubahan terhadap produk yang meliputi perubahan tekstur. bubuk atau kering yang diukur adalah kadar airnya. Faktor-faktor lingkungan. Jenis parameter yang diuji tergantung pada jenis produknya. Penyimpangan mutu produk dari mutu awalnya disebut sebagai deteriorasi (Arpah 2001). Analisis penurunan mutu dengan metode akselerasi memerlukan beberapa pengamatan. yaitu suhu. warna. . tidak semua parameter yang diuji melainkan salah satunya saja. yaitu harus ada parameter yang diukur secara kuantitatif dan parameter tersebut dapat berupa hasil pengukuran kimiawi. Reaksi deteriorasi dimulai dari persinggungan produk dengan udara. kadar peroksida. uji cita rasa. total mikroba dan lain sebagainya. Untuk produk berlemak. Produk berwujud cair. Selama penyimpanan dan distribusi.