5

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Layang Ikan layang merupakan salah satu hasil perikanan lepas pantai yang terdapat di Indonesia. Ikan ini termasuk jenis pemakan zooplankton, hidup di dekat

permukaan laut (pelagis), berkadar garam tinggi dan membentuk gerombolan besar. Klasifikasi ikan layang (Saanin 1984) adalah sebagai berikut: Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Percomorphi : Percoidea : Carangidae : Decapterus : Decapterus spp.

Bagian punggung ikan layang berwarna biru kehijauan dan bagian perutnya berwarna putih perak sedangkan sirip-siripnya berwarna kuning kemerahan. Bentuk tubuhnya memanjang dan dapat mencapai 30 cm. Pada umumnya, ratarata panjang badan ikan layang adalah 20-25 cm. Ikan layang memiliki dua sirip punggung, dua sirip tambahan di belakang sirip punggung kedua dan satu sirip tambahan di belakang sirip dubur. Ikan layang memiliki finlet yang merupakan

ciri khas dari genus Decapterus (Saanin 1984). Morfologi ikan layang disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Ikan layang ( Decapterus spp). Ikan layang termasuk ikan pelagis dan dikelompokkan sebagai ikan pelagis kecil berdasarkan ukurannya. Di perairan Indonesia, terdapat lima jenis (spesies)

Ikan pelagis memiliki proporsi daging merah yang tinggi yaitu berkisar antara 10-20%.13 9. Pada umumnya.58 1. Daerah penyebaran ikan layang di perairan Indonesia adalah Selat Bali. Noguchi 1992). jenis kelamin. Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. yaitu Decapterus ruselli.8-2% (Suzuki 1981). Ambon. Decapterus tabl dan Decapterus maruadsi (Burhanudin et al. Tabel 1 Komposisi kimia daging ikan layang ( Decapterus spp. protein 15-24%. Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu ± 32‰ (Hariati 2005).1-22%. Decapterus kurroides. ikan pelagis kecil berada di dasar perairan yang membentuk gerombolan yang padat dan kompak sedangkan pada malam hari ikan ini naik ke permukaan membentuk gerombolan yang menyebar (Suyedi 2001).6 (Shimizu et al. karbohidrat 1-3% dan bahan anorganik 0.6 ikan layang. Pada saat ikan mengalami post-mortem. Komposisi kimia daging ikan sangat bervariasi tergantung Matsumoto dan spesies. Pada siang hari.79 5. juga memiliki kandungan glikogen yang tinggi di dalam daging. Decapterus macrosoma.03 1. Komposisi kimia daging ikan layang ( Decapterus spp. akan cepat mengalami glikolisis membentuk dan mengakumulasi asam laktat yang menyebabkan pH daging ikan turun secara cepat. lemak 0.98 .) disajikan pada Tabel 1. mencapai pH 5. yaitu jenis ikan pemakan plankton dengan cara menyaring plankton yang masuk. 1983). komposisi kimia daging ikan terdiri dari air 66-84%. 1992. umur. musim dan kondisi lingkungan tempat ikan tersebut ditangkap.) dalam 100 g Parameter Kadar Air (% ) Kadar Abu (% ) Lemak ( % ) Protein ( % ) TVB (mg N/100g ) pH Sumber: Chairita (2008) Ikan Layang 78. Ikan pelagis pada umumnya merupakan filter feeder. dan Laut Jawa (Suyedi 2001).90 18.

Produksi tepung ikan di Indonesia mencapai 57. 1985). umumnya berwarna cokelat yang diperoleh setelah melalui proses pemasakan. Produksi pembuatan tepung ikan dalam jumlah yang besar menurut FAO PBB yaitu hampir 90% digunakan sebagai konsumsi makanan manusia (Green 2010). pengepresan.010 ton dengan nilai ekspornya adalah sebesar 39. Ikan Teri Sortasi Pengeringan Pemasakan Penggilingan Penggilingan basah Tepung ikan Segar Pengeringan Penggilingan kering Tepung ikan Gambar 2 Bagan alir pembuatan tepung ikan teri untuk pangan (Dullah et al. Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik. yaitu lisin dan metionin. Tepung ikan memiliki kadar air tidak lebih dari 4% ( BPOM 2006). pengeringan dan penggilingan.2 Tepung Ikan Tepung ikan adalah produk padat yang dihasilkan dengan jalan mengeluarkan sebagian besar air dan sebagian atau seluruh lemak dalam ikan (Ilyas 2003). .945 ton (BPS 2011).7 2. Tahap pembuatan tepung ikan teri untuk bahan pangan seperti terlihat pada Gambar 2. Tepung ikan mengandung nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein yang kaya akan asam amino esensial.

Komposisi kimia tepung ikan ditentukan oleh jenis ikan. baunya khas tepung ikan. sedangkan teknologi pengolahannya dapat ditentukan berdasarkan ketersediaan bahan mentah yang akan diolah.0 1. pemasakan. yaitu persiapan bahan baku. pengeringan dan penganginanginan. pengepresan.5-7. Pengolahan tepung ikan pada dasarnya adalah perubahan bentuk dari ikan utuh menjadi tepung ikan melalui tahap-tahap pemasakan.7 2-4 Tepung ikan akan lebih baik mutunya bila bahan mentah yang dipakai terdiri dari ikan yang tidak berlemak (lean fish).3 Mutu tepung Ikan Tepung ikan dengan mutu yang tinggi mempunyai tekstur tepung ikan halus. Tabel 2 Syarat mutu tepung ikan sebagai bahan pangan Zat gizi Air Lemak Protein Abu Serat Calcium (Ca) Fosfor NaCL Sumber: BSN (1996) Kandungan (%) 10-12 8-12 45-65 20-30 1. Proses pembuatan tepung ikan menggunakan metode konvensional. Proses pembuatan yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan rendemen tepung yang dihasilkannya sehingga dapat meningkatkan dan memenuhi kebutuhan tepung ikan dalam negeri (Annafi 2009). bebas benda asing dan serangga. Mutu tepung ikan yang dihasilkan tergantung pada jenis dan kesegaran bahan mentah yang diolah dan juga teknologi pengolahannya (Annafi 2009). yaitu bahan baku yang digunakan. pengepresan.8 2. metode pengolahan serta cara dan lama penyimpanan. pengeringan dan penggilingan (Mulki 2005). tepung yang dihasilkan akan banyak mengandung .5-3 2. Jika bahan mentah berasal dari ikan yang berlemak. Tepung ikan yang bermutu harus mempunyai komposisi seperti yang tercantum pada Tabel 2. mutu bahan baku yang digunakan dan cara pengolahannya. Mutu tepung ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. berwarna coklat kekuningan khas tepung ikan.6-4.

(2007). lemak 5-10% dan protein sebesar 60-65%. ubi kayu digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai makanan pokok seperti halnya beras dan jagung. Manu-Aduening et al. Singkong dikelompokkan menjadi singkong yang agak manis dan singkong yang agak pahit sehingga memerlukan pemrosesan yang lebih ekstensif sebelum dikonsumsi (Fregene et al. Tanaman yang akan digunakan sebagai bahan baku pati (tapioka) harus memiliki kandungan protein rendah. 2. (f) sekitar 500 juta orang bergantung padanya dan (g) memiliki umbi manis dan pahit (Laswai et al. kandungan pati tinggi. Umbi ubikayu dari setiap jenis dan cara pengolahan umbi sangat berpengaruh terhadap komposisi kimianya. 2003. dan kandungan serat rendah. (e) sumber terbesar karbohidrat.9 lemak (Ilyas 2003). Secara tradisional. seperti tanah masam. Menurut AgborEgbe dan Lape Mbome (2006) serta Aloys (2006). Ubi kayu di Indonesia terutama digunakan untuk bahan pangan (58%). Kandungan gizi ubi kayu. (c) rentang panen yang panjang. Tanaman singkong memiliki banyak kelebihan. Kebanyakan tepung ikan mengandung kadar air 18%. yakni (a) dapat tumbuh pada kondisi yang kurang baik dan iklim yang ekstrim. viskositas (kekentalan) pati tinggi. 2006. yakni antara 10 hingga 30 bulan. beras dan jagung. ekspor dalam bentuk gaplek (8%) dan pakan (2%) (DKU 2004). 2005). gaplek dan tepung tapioka yang .4 Singkong Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta CRANTZ) merupakan sumber utama kalori di daerah tropis dan biasanya terdapat pada daerah dataran tinggi. singkong merupakan sumber utama kalori di daerah tropis yang dapat diproses menjadi beberapa makanan dan mengandung senyawa sianogen. bahan baku industri (28%). (d) merupakan makanan pokok terbesar dunia setelah gandum. (b) mampu berproduksi pada tanah yang subur tetapi tetap menghasilkan pada tanah yang kurang atau tidak subur. Menurut Oluwole et al. Vessia 2008). Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan nomor tiga di Indonesia setelah padi dan jagung sekaligus sumber kalori pangan termurah dan cukup ketersediaannya. umbi singkong dapat diproses menjadi beberapa makanan.

75 %.00 125.00 1.50 83. beras giling.00 140. dan tepung tapioka yang dibandingkan dengan terigu Zat Makanan Kalori (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbihidrat (g) Zat Kapur (mg) Phospor (mg) Zat Besi (mg) Vitamin B1 (mg) Thiamine (mg) Vitamin C (mg) Singkong Beras Giling Gaplek 154.50 0.00 0.12 338.40 0 Terigu 365.00 60.00 1. bb %.00 106.12 0 0.00 40.80 0.2997.10 dibandingkan dengan beras dan terigu serta tepung ubi kayu untuk jelasnya disajikan pada Tabel 2 dan standar mutu tepung singkong menurut SNI No.00 0 0.06 20. 85 Maks.00 1.30 77.5 Enbal Enbal (dalam bahasa daerah Kei) merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Daerah Kei Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Enbal terbuat dari bahan ubi kayu yang telah diparut dan diperas untuk .30 80. 2.00 30.00 360.12 Sumber : Dir.20 89.5 Maks.00 1.10 0. 40 Min.70 81. 1.1992 Uraian Keadaan: Bau Rasa Warna Benda-benda asing Derajat putih Abu Air Derajat Asam Asam sianida Kehalusan Pati Sumber: (DKU 2004) Satuan Persyaratan Khas ubi kayu Khas ubi kayu Putih Tidak boleh ada Min . Gizi Depkes diacu dalam DKU (2004) Tabel 4 Standar mutu tepung singkong menurut SNI No. gaplek. bb Ml N NaOH/100g mg/Kg % %.00 1.00 6.b/b BaSO4 = 100 %0 %.20 0. 01. Tabel 3 Kandungan gizi dalam 100 g singkong.00 1.90 6.30 36. 01.80 33.00 0.90 1.00 1.1992 dapat dilihat pada Tabel 3. 12 Maks 3 Maks.90 0 0 0 Tapioka 363.00 8.10 0. 90 Min.80 0 0 0.2997.30 16.70 78.

11 mengeluarkan air dari patinya yang kemudian disebut enbal gepe. (komunikasi pribadi). Suasana seperti itu semakin terasa pada saat datang dari rantau. Enbal dijadikan makanan utama mengalahkan jenis makanan pokok lainnya (beras dan jagung) atau sebagai bekal perjalanan dan buah tangan untuk sesama masyarakat Maluku Tenggara (Tual).6 Pengeringan Pengeringan merupakan suatu cara untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan padat dengan cara menguapkan sebagian besar air yang dikandungnya menggunakan energi panas. niaga maupun setelah menyelesaikan pendidikan. 2. lalu diayak untuk mendapatkan tepung enbal. Bagi masyarakat Maluku Tenggara. enbal memiliki arti penting dan strategis. Proses pengolahan enbal secara tradisional disajikan pada Gambar 3. Enbal dijadikan makanan pokok sekaligus sebagai media keakraban dan persaudaraan. Singkong segar Pemarutan Tangan Pengepresan dengan papan penjepit Enbal mentah Pengayakan Penepungan Tepung enbal Gambar 3 Diagram alir pembuatan tepung enbal cara tradisional. .

Proses pengeringan terdiri dari tiga tahap. mengurangi berat dan volume sehingga menghemat ruang pengangkutan. tidak ada air bebas pada permukaan bahan. (2004). dimana mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi pada bahan (Muchtadi 2008). Semua panas yang diterima oleh bahan digunakan untuk proses Pada tahap ketiga. air bebas berada di permukaan bahan. penguapan telah terjadi di seluruh bagian permukaan sehingga terjadi penurunan kecepatan pengeringan sampai akhir waktu pengeringan yaitu saat terjadi kesetimbangan kadar air (Masuda et al. Makin tinggi suhu udara pengering maka proses pengeringan makin singkat. kerenyahan. 2006). Biaya pengeringan dapat ditekan pada kapasitas yang besar jika digunakan pada suhu tinggi. yaitu tahap sebelum pemanasan (preheating period). air bebas dan terikat masih berada dalam bahan dengan tidak mengalami perubahan. antara lain: 1) Suhu udara pengering Laju penguapan air bahan dalam pengering sangat ditentukan oleh kenaikan suhu. penguapan. kekenyalan. Bila suhu pengeringan dinaikkan maka panas yang dibutuhkan untuk penguapan air bahan menjadi berkurang. Pengeringan juga bertujuan untuk meningkatkan nilai sensori pada suatu produk pangan. Menurut Brooker et al. suhu bahan tetap konstan dan sebanding dengan suhu basah pada udara panas. Pada tahap kedua. dan parameter sensori lainnya (Berk 2009). selama suhu tersebut tidak sampai merusak bahan. . Tahap pertama. serta mempermudah transportasi. tahap kecepatan pengeringan konstan (constant drying-rate period) dan tahap penurunan kecepatan pengeringan (decreasing drying-rate period). Suhu udara pengering berpengaruh terhadap lama pengeringan dan kualitas bahan hasil pengeringan. pengepakan. beberapa parameter yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan dalam proses pengeringan. 2) Kelembaban relatif udara pengering Kelembaban relatif udara adalah perbandingan massa uap air aktual pada volume yang diberikan dengan masa uap air saturasi pada temperatur yang sama. Tujuan pengeringan pada suatu bahan pangan di antaranya adalah untuk mempertahankan daya awet dengan cara mengurangi aktivitas air (aw).12 Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai batas tertentu. yaitu aroma yang berbeda.

Pengeringan dapat dilakukan dengan memakai suatu alat pengering (artificial drying) atau dengan penjemuran (sun drying). sehingga perlu diketahui berapa persen kadar air pada bahan saat basah dan pada saat kering. Kelembaban relatif juga menentukan besarnya tingkat kemampuan udara pengering dalam menampung uap air di permukaan bahan. Semakin rendah RH udara pengering. maka semakin besar pula kemampuannya dalam membawa dan menampung air dari permukaan bahan. Pengeringan buatan (artificial drying) mempunyai keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan dapat ditentukan dan kebersihan dapat diawasi (Winarno dan Fardiaz 1973). tekstur. Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan bahan dan mencegah uap air tersebut menjadi jenuh di permukann bahan. makin cepat pula proses pengeringan yang terjadi karena mampu menyerap dan menampung uap air lebih banyak dari pada udara dengan RH yang tinggi. udara berfungsi sebagai pembawa panas untuk menguapkan kandungan air pada bahan serta mengeluarkan uap air tersebut. sering dijumpai adanya variasi jumlah kadar air pada bahan yang mana variasi kadar air ini akan mempengaruhi lamanya proses pengeringan. 3) Kecepatan udara pengering Pada proses pengeringan. Air dikeluarkan dari bahan dalam bentuk uap dan harus secepatnya dipindahkan dari bahan.7 Pengaruh pengeringan terhadap beberapa sifat bahan Pengeringan dapat menyebabkan perubahan warna. 4) Kadar air bahan Pada proses pengeringan. 2. aroma dan lainnya walaupun perubahan-perubahan tersebut dapat dibatasi seminimal mungkin dengan cara memberikan perlakuan pendahuluan terhadap bahan pangan . Bila tidak segera dipindahkan maka air akan menjenuhkan atmosfer pada permukaan bahan sehingga akan memperlambat pengeluaran air selanjutnya. Semakin besar volume udara yang mengalir.13 Kelembaban mutlak udara berpengaruh terhadap pemindahan cairan dari dalam ke permukaan bahan. yaitu pengeringan dengan menggunakan energi sinar matahari langsung.

Denaturasi protein adalah terjadinya modifikasi struktur sekunder. jika dibandingkan dengan bahan baku.14 yang akan dikeringkan. Reaksi browning nonenzimatik yang sering terjadi adalah reaksi antara asam-asam amino dengan gula pereduksi (Muchtadi 2008). Hal ini disebabkan suhu pengeringan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan bagian permukaan cepat mengering dan menjadi keras sehingga akan menghambat penyerapan air selanjutnya. baik enzimatik maupun non-enzimatik. sedangkan persentase kadar protein. lemak dan mineral-mineral pada bahan pangan terkonsentrasi lebih tinggi namun sejumlah vitamin dan zat warna pada umumnya menjadi rusak atau berkurang (Winarno dan Fardiaz 1973). pengemasan dan metode lain untuk mengukur dan meramalkan masa simpan produk makanan sangat penting dan . vitamin A. Pengurangan kadar air akan menyebabkan kandungan protein. Pada umumnya. Pemanasan yang berlebih pada proses pemasakan produk seafood kering dapat mengakibatkan hilangnya asam amino yang tidak stabil terhadap panas (Pan 1988 diacu dalam Shahidi dan Botta 1994). Perubahan warna tersebut disebabkan oleh reaksi- reaksi browning. bahan pangan yang dikeringkan berubah warnanya menjadi coklat. Pengeringan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan denaturasi protein. lemak.8 Umur Simpan Pengembangan teknologi pengolahan. potassium. serta fosfor mengalami kenaikan. Suatu tipe pengeringan memberikan pengaruh terhadap kualitas produk akhir. Menurut hasil penelitian Chukwu (2009). Jika pengeringan dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi maka dapat menyebabkan terjadinya case hardening yaitu suatu keadaan di mana bagian dalamnya masih basah. tersier dan kuartener dari protein tanpa menyebabkan pemutusan ikatan peptida dan perubahan sekuen asam amino pada struktur protein (Kusnandar 2010). Case hardening juga dapat disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan kimia tertentu. ikan jenis tilapia yang telah dikeringkan mengalami penurunan persentase kadar air. karbohidrat. misalnya terjadinya pengumpulan protein pada permukaan bahan karena adanya panas atau terbentuknya dekstrin dari pati yang dikeringkan (Winarno dan Fardiaz 1973). 2.

Reaksi deteriorasi dimulai dengan persentuhan produk dengan udara. uap air. cahaya akibat mekanis contoh vibrasi. mengeplotkan kadar air tersebut pada grafik kemudian menarik titik tersebut sesuai dengan kadar air kritis produk. Metode ESS sering digunakan untuk produk yang memiliki waktu kadaluarsa kurang dari 3 bulan. Semakin tinggi masa simpan produk makanan. semakin jauh jangkauan pemasarannya sehingga makin ekonomis. mengurangi ataupun menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Penentuan umur simpan produk dengan metode konvensional dapat dilakukan dengan menganalisis kadar air suatu bahan. . yaitu dengan Extended Storage Studies (ESS) dan Accelerated Storage Studies (ASS) (Floros dan Gnanasekharan 1993). Penentuan umur simpan suatu produk dilakukan dengan mengamati produk selama penyimpanan sampai terjadi perubahan yang tidak lagi dapat diterima oleh konsumen. yaitu: 1) Pendekatan kadar air kritis dengan teori difusi menggunakan perubahan kadar air dan aktivitas air sebagai kriteria kadaluarsa. Penyimpanan bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan mutu produk olahan yang disimpan dengan cara menghindari. Penentuan umur simpan produk dapat dipercepat dengan menggunakan metode Accelerated Storage Studies (ASS). kompresi. yaitu kondisi penyimpanan diatur di luar kondisi normal sehingga produk dapat lebih cepat rusak dan penentuan umur simpan dapat dilakukan ( Arpah dan Syarief 2000). dan abrasi (Arpah 2001). Perpotongan antara garis hasil pengukuran kadar air dan kadar air kritis ditarik garis ke bawah sehingga dapat diketahui nilai umur simpan produk (Herawati 2008). Umur simpan produk pangan dapat diduga dan kemudian diterapkan waktu kadaluarsanya dengan menggunakan dua konsep studi penyimpanan produk pangan. oksigen. Penentuan umur simpan produk dengan metode akselerasi dapat dilakukan dengan dua pendekatan (Herawati 2008).15 strategis. Metode ESS sering juga disebut sebagai metode konvensional adalah penentuan tanggal kadaluarsa dengan cara menyimpan suatu seri produk pada kondisi normal sehari-hari dan dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya sehingga mencapai tingkat mutu kadaluarsa.

16 2) Pendekatan semi empiris dengan bantuan persamaan Arrhenius. Penyimpangan mutu produk dari mutu awalnya disebut sebagai deteriorasi (Arpah 2001). kadar peroksida. biasanya ketengikan. Produk pangan mengalam deteriorasi segera setelah diproduksi. . enzimatis atau lainnya seperti proses fisik dalam bentuk penyerapan uap air atau gas dari lingkungan (Arpah 2001). Jenis parameter yang diuji tergantung pada jenis produknya. parameternya Produk yang disimpan dalam bentuk beku atau dalam kondisi dingin parameternya berupa pertumbuhan mikroba. total mikroba dan lain sebagainya. nilai gizi maupun mikrobiologis. produk pangan terbuka pada kondisi lingkungan. uap air. cahaya atau akibat perubahan suhu. warna. oksigen. tekstur. analisis kimia dan fisik serta pengamatan kandungan mikroba (Koswara 2004). bubuk atau kering yang diukur adalah kadar airnya. Reaksi ini dapat juga diawali oleh hentakan mekanis seperti vibrasi. Untuk produk berlemak. yaitu suhu. kandungan oksigen dan cahaya dapat memicu beberapa reaksi yang dapat menyebabkan penurunan mutu produk tersebut. uji cita rasa. Reaksi deteriorasi dimulai dari persinggungan produk dengan udara. uji organoleptik atau uji mikrobiologi seperti daya serap O2. yaitu harus ada parameter yang diukur secara kuantitatif dan parameter tersebut dapat berupa hasil pengukuran kimiawi. Hal ini akan meyebabkan perubahan-perubahan terhadap produk yang meliputi perubahan tekstur. Selama penyimpanan dan distribusi. penampakan fisik. tidak semua parameter yang diuji melainkan salah satunya saja. Reaksi deteriorasi pada produk pangan juga dapat disebabkan oleh faktor intrinsik maupun ekstrinsik yang selanjutnya akan memicu reaksi di dalam produk berupa reaksi kimia. Produk berwujud cair. kompresi dan abrasi. kelembaban. yaitu menggunakan teori kinetika yang pada umumnya menggunakan ordo nol atau satu untuk produk pangan. Data yang diperlukan untuk menentukan umur simpan produk yang dianalisis di laboratorium dapat diperoleh dari analisis atau evaluasi sensori. warna. flavor. Analisis penurunan mutu dengan metode akselerasi memerlukan beberapa pengamatan. Untuk satu produk. yakni parameter yang paling cepat yang mempengaruhi konsumen (Syarief dan Halid 1993). kadar vitamin C. Faktor-faktor lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful