P. 1
makalah 3 forensik

makalah 3 forensik

|Views: 192|Likes:
makalah 3 forensik 2012
makalah 3 forensik 2012

More info:

Published by: Senida Ayu Rahmadika on Mar 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

BAB II LAPORAN KASUS Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit.

Pada suatu sore hari datang seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan anaknya tersebut baru saja pulang ”dibawa lari” oleh teman laki-laki yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah ’’disetubuhi” lakilaki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.

BAB III PEMBAHASAN
 KRONOLOGIS Pada suatu sore hari datang seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan anaknya tersebut baru saja pulang ”dibawa lari” oleh teman laki-laki yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah ’’disetubuhi” laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya. Korban yang berusia 14 tahun mengaku bahwa dia diajak pacarnya yang berusia 18 tahun pergi berjalan-jalan.Tanpa diduga oleh korban,ternyata sang pacar membawanya jalan jalan ke luar kota dan korban pun tidak berdaya menolak karena takut hubungannya diakhiri oleh pacarnya tersebut. Mereka bermalam di villa milik sang pacar,pada malam kedua ketika korban diberi minuman oleh sang pacar,setelah itu korban tidak sadarkan diri. Setelah terbangun korban langsung menangis dan sangat terpukul karena tubuhnya sudah dalam keadaan tanpa busana, namun sang pacar berusaha menenangkan dan berjanji semuanya akan baik-baik saja,korban shock dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sehingga dia hanya diam tak berdaya selama perjalanan pulang ke rumah bersama sang pacar. Dokter memberi penjelasan mengenai aspek hukum yang terkait kasus dan tatacara pengaduan masalah ini ke kantor polisi.Mendengar hal tersebut Ayahnya ingin mengadukan hal yang dialami putrinya ke Polisi.Dokter menyarankan supaya ayah beserta sang anak melakukan pengaduan ke pihak berwenang dan mengajukan tuntutan bagi tersangka.Dokter juga mengatakan bahwa pemeriksaan untuk kepentingan peradilan lebih baik diminta secara resmi oleh tim penyidik kepolisian supaya dapat menjadi alat bukti yang sah.Mendengar hal tersebut ayah dari korban langsung menurut dan mengadukan masalahnya ke kepolisian setempat,dan kembali lagi bersama polisi berpangkat pembantu letnan II yang memberikan surat permintaan pembuatan visum et repertum.

 PROSEDUR MEDICO-LEGAL Peraturan Medikolegal diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Dimana didalamnnya memuat tatalaksana bagaimana suatu perkara pidana itu harus ditangani. Penanganan Kasus Pidana itu sendiri antara lain: I. Penemuan dan Pelaporan Penemuan dan pelaporan dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengethui atau mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindak pidana. Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib dan dalam hal ini yaitu Kepolisian RI, dll. Pelaporan juga bisa dilakukan melalui instansi pemerintah terdekat seperti RT (Rukun Tetangga) atau RW(Rukun Warga). Hak dan kewajiban pelaporan ini diatur didalam pasal 108 KUHAP.

II. Penyelidikan Yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknnya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur oleh undang-undang. Penyelidik yang dimaksud adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia yang tertera didalam Pasal 4 KUHAP. Didalam Pasal 5 KUHAP disebutkan wewenang dan tindakan yang dilakukan oleh penyelidik: (1) Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4: a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang: 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana 2. Mencari keterangan dan barang bukti 3. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri

4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan 2. Pemeriksaan dan penyitaan surat 3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang 4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik (2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebgaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan b kepada penyidik.

III.Penyidikan Adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang idatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersngkanya. Penyidikan dilakukan oleh penyidik yaitu pejabat polisi Negara RI dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang sebagaimana diatur di dalam pasal 6 KUHAP. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli dan didalm hal kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran forensik. Kewajiban seorang dokter antara lain: 1. Melakuakan pemeriksaan kedokteran forensik atas korban apabila diminta secara resmi oleh penyidik. 2. Menolak melakuak kedokteran pemeriksaan kedokteran forensik tersebut diatas dapat dikenai pidana penjara , selama lamanya 9 bulan.

Kewajiban untuk membantu peradilan sebagai seorang dokter forensik itu diatur dalam asal 133 KUHAP dimana seperti yang disebutkan diatas penyidik berwenang muntuk mengajukan permintaan keterangan ahli pada dokter forensik atau kedokteran kehakiman. Untuk Hak dokter menolak menjadi saksi/ahli diatur dalam Pasal 120,168,170 KUHAP. Sedangkan sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter diatur di dalam Pasal 216,222,224,522 KUHP. Untuk melakukan prosedur Bedah mayat klinis, anatomis, dan transplantasi oleh seorang dokter forensik diatur menurut peraturan pemerintah No.18 Tahun1981. Dan bagi seorang dokter forensik yang membuat sebuah keterangan palsu didalam hasil akhir pemeriksaan dikenakan Pasal 267 KUHP dan pasal 7 KODEKI.

IV. Pemberkasan Perkara Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Dan nanti hasil berkas perkara inin diteruskan ke penuntut umum.

V. Penuntutan Yatitu tindakan penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim disidang Pengadilan.

VI. Persidangan Didalam persidangan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. Dimana didalam persidangan itu dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan juga para ahli. Dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak

selaku saksi ahli atau selaku dokter pemeriksan. Dokter pun berhak menolak menjadi saksi/ahli yang sebagaimana diatur di dala pasal 120,168,179 KUHAP.

VII. Vonis Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan sebagai berikut: • Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut

Keyakinan Hakin Harus Ditunjang oleh sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah yang diatur dalam pasal 184 KUHAP ( keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa).

Kasus yang terjadi pada korban merupakan delik aduan.Pada kasus ini prosedur medikolegalnya telah sampai pada penyidikkan ,karena telah ada permintaan untuk dilakukan visum et repertum.

 ASPEK HUKUM Pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pasal 286

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 287 (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. Pasal 288 (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seormig wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus didugunya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pasal 289 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 290

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun: 1. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin; 3. barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain. Pasal 291 (1) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 286, 2 87, 289, dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun; (2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 285, 2 86, 287, 289 dan 290 mengakibatkan kematisn dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 292 Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Pasal 293

(1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu. (3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing-masing sembilan bulan dan dua belas bulan. Pasal 294 (1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaanya, pendidikan atau penjagaannya diannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Diancam dengan pidana yang sama: 1. pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya, 2. pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pen- didikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya. Pasal 295 (1) Diancam:

1. dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain; 2. dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang tersebut dalam butir 1 di atas., yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain. (2) Jika yang melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga. Pasal 296 Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.  PROSEDUR HUKUM Mengungkap suatu kasus dugaan perkosaan pada tahap penyidikan, akan dilakukan serangkaian tindakan oleh penyidik untuk mendapatkan bukti-bukti yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi, berupaya membuat terang tindak pidana tersebut, dan selanjutnya dapat menemukan pelaku tindak pidana perkosaan. Terkait dengan peranan dokter dalam membantu penyidik memberikan keterangan medis mengenai keadaan korban perkosaan, hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan bukti atau tanda pada diri korban yang dapat menunjukkan bahwa telah benar terjadi suatu tindak pidana persetubuhan dan tanda kekerasan.

Keterangan dokter yang dimaksudkan tersebut dituangkan secara tertulis dalam bentuk surat hasil pemeriksaan medis yang disebut dengan visum et repertum. Menurut pengertiannya, visum et repertum diartikan sebagai laporan tertulis untuk kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang berwenang, yang dibuat oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaikbaiknya. Pada kasus ini dokter sebaiknya menjelaskan manfaat pemeriksaan, serta tindakantindakan apa yang akan dilakukan pada korban terutama pada kasus dugaan pemerkosaan. Dokter sebaiknya meminta ijin tertulis untuk pemeriksaan kepada korban atau orang tua/walinya. Pada saat orang tua korban datang sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan tuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak tersebut karena pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi, dalam hal ini dokter dapat menyarankan pada keluarga pasien untuk melakukan pengaduan terlebih dahulu kepada polisi yang berwenang untuk kemudian mendapatkan surat pengajuan visum bersama dengan pihak yang berwenang sehingga nantinya dapat menjadi bukti yang sah menurut hukum apabila memang benar terbukti telah terjadi pemerkosaan. Karena jika terbukti telah terjadi persetubuhan dengan paksaan atau tanpa paksaan pelaku akan memberikan hukuman pidana yang berbeda menurut KUHP sesuai dengan hasil proses peradilan.

 PEMERIKSAAN MEDIS Anamnesis Anamnesis yang dilakukan adalah dengan cara autoanamnesis, yaitu anamnesis langsung ditanyakan kepada anak perempuan yang berumur 14 tahun.

Berdasarkan penyebab seorang ayah yang membawa anaknya yang berumur 14 tahun datang ke IGD, maka anamnesis yang dapat ditanyakan adalah sebagai berikut: A. Identitas: Nama Usia Jenis kelamin : Rosalinda : 14 tahun : perempuan

Tempat, tanggal lahir : jakarta, 3 agustus 1998 Alamat Pekerjaan Status perkawinan : jl. Kayumanis no 7 RT 05/ RW 03 pasar minggu : pelajar : belum menikah

Anamnesis: 1. Kapan waktu peristiwa tersebut terjadi? 2. Di mana tempat terjadinya? 3. Dengan siapa saja korban pergi ke tempat tersebut? 4. Apakah korban pingsan? 5. Apakah telah terjadi kekerasan yang dilakukan pada korban? Jika iya, apakah korban melawan? 6. Apakah telah terjadi penetrasi dan ejakulasi? Jika iya, apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi dan berganti pakaian? 7. Apakah pasien memiliki riwayat sakit atau luka sebelumnya? (hal ini untuk menghindari kerugian yang dapat menimpa korban maupun orang yang diduga bersalah)

Interpretasi: Korban yang berusia 14 tahun mengaku bahwa dia diajak pacarnya yang berusia 18 tahun pergi berjalan-jalan.Tanpa diduga oleh korban,ternyata sang pacar membawanya jalan jalan ke luar kota dan korban pun tidak berdaya menolak karena takut hubungannya diakhiri oleh pacarnya tersebut. Mereka bermalam di villa milik sang pacar,pada malam kedua ketika korban diberi minuman oleh sang pacar,setelah itu korban tidak sadarkan diri. Setelah terbangun korban langsung menangis dan sangat terpukul karena tubuhnya sudah dalam keadaan tanpa busana . Pemeriksaan Pakaian Pakaian yang diperiksa adalah pakaian yang dipakai korban saat kejadian termasuk pakaian dalam korban. Yang perlu dilakukan untuk pemeriksaan pakaian korban seandainya pakaian korban belum dicuci adalah: 1. Bercak, kotoran, atau debu , pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa

apakah ada trace evidence yang selanjutnya dikirim ke laboratorium kriminologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 2. Robekan pada baju. Robekan lama atau baru. Sepanjang jahitan atau

melintang pada pakaian. 3. 4. Kancing terputus akibat tarikan. Bercak darah, cairan mani, untuk memeriksa apakah telah terjadi

kekerasan dan persetubuhan pada korban. Interpretasi: Tidak ditemukan bercak kotoran atau debu pada pakaian korban. Tidak ditemukan adanya robekan pada baju ataupun kancing terputus pada korban. Bercak darah, cairan mani tidak ditemukan pada pakaian korban. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan pada tubuh korban meliputi pemeriksaan umum:

-

Kesadaran umum Tekanan darah Nadi Berat badan

: compos mentis : 110/80 mmHg : 90x/menit :-

- Tinggi badan : - Pernapasan : 20x/menit - Suhu : 36°C

-

Kepala dan leher : dalam batas normal Mata : refleks cahaya positif Telinga : dalam batas normal Hidung : dalam batas normal Tenggorokan : dalam batas normal Thorax : Jantung : dalam batas normal Paru dalam batas normal Abdomen : hepar lien tidak teraba, dalam batas normal

Genitalia eksterna : clitoris , labium mayor, labium minor, vestibulum vagina, glandula bartholini, orificium vagina dan hymen. Ekstremitas : dalam batas normal Interpretasi : Dalam kasus tindak kejahatan seksual, pemeriksaan fisik yang penting pertama adalah apakah benar telah terjadi persetubuhan atau tidak . Pada pemeriksaan genitalia eksterna korban diketahui bahwa ada tanda-tanda hiperemi. Pada pemeriksaan hymen (selaput dara) juga didapatkan rupture hymen sampai dasar yang baru di arah jam 5 . Pada pemeriksaan sekitar genitalia dan di rambut kemaluan korban juga ditemukan adanya rambut kemaluan yang saling melekat. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi persetubuhan.

Kemudian pemeriksaan fisik selanjutnya adalah memeriksa pada kulit korban apakah terdapat tanda-tanda kekerasan seperti: Luka memar atau lecet terutama pada paha bagian dalam, tangan, kepala, mulut

leher hingga seluruh tubuh. Luka bekas cakaran atau bekas gigitan (bite marks) yang terdapat pada tubuh

korban (apabila korban juga mencakar pelaku dapat diperiksa kerokan kuku yang diambil dari bawah kuku korban untuk pemeriksaan selanjutnya). Luka bekas jeratan pada tangan apabila korban diikat tangannya.

Interpretasi : Pada tubuh korban ditemukan adanya memar dan bekas gigitan di payudara, leher dan selangkangan .Tidak terdapat kelainan didaerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kekerasan pada tubuh korban.  PEMERIKSAAN LABORATORIUM • Toksikologi Dilakukan dengan mengambil darah dan urin korban untuk memeriksa apakah adanya kemungkinan diberikan obat bius/obat tidur. Interpretasi : Terdapat hasil positif di urin terdapat metamfetamin,yang mengindikasikan bahwa di tubuh korban telah masuk metamfetamin yang member pengaruh berupa rasa kantuk dan lemas. • Pemeriksaan Cairan Mani Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya suatu persetubuhan perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sebagai berikut: a) Dengan Pewarnaan

Dibuat sediaan apus dan difiksasai dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala apipulas dengan HE,Methylen Blue atau malachite green dan yang paling mudah dan baik ialah memakai malachite green,keuntungan dengan pulasan ini adalh inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi,sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai kepala sperma tampak merah dan lehernya merah muda,ekornya berwarna hijau. Interpretasinya : Ditemukan sperma di swab vagina tersebut.
b) Penentuan Cairan Mani(kimiawi)

Kelompok kami menggunakan Reaksi fosfatase asam Dasar reaksinya adalah melihat aktifitas enzim fosfatase asam yang dihasilkan oleh kelenjar prostat.Reagennsnya adalah : -larutan a : brentamin fast blue b -natrium acetat trihyrate -glacial acetat acid -aquadest -larutan b : - natrium alfa naphtyl phosphate - aquadest Campuran larutan a dan b tersebut disaring cepat dan dimasukkan dalam botol gelap lalu disimpan di lemari es reagen ini dpaat bertahan berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi. Prinsip : enzim fosfatase asam menghidrolisis Na-alfa naftilfosfat; alfa naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru-ungu.

Cara pemeriksaannya : bahan yang dicurigai (cairan vagina) ditempelkan pada kertas saring yang telah terlebih dahulu dibasahi dengan aquadest selama beberapa menit.Kemudian kertas saring diangkat dan disemprot dengan reagens.Ditentukan waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu. 30 detik : adanya cairan mani 30-60 : indikasi sedang dan harus ada pemeriksaan elektroforesis >65 detik: tidak ada cairan mani. Interpretasi : Terdapat perubahan warna ungu saat 30 detik yang merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. c) Pemeriksaan Becak Mani pada Pakaian 1. Uji pewarnaan Baecchi Bercak yang dicurigai digunting sebesar 5 mmx5 mm pada bagian pusat bercak,bahan dibilas denagan reagen baechiselama 2-5 menit,dicuci dalam HCL 15% dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alcohol absolute,lalu dijernihkan dengan xylol,kemudian keringkan diantara kertas saring Denagan jarum diambil 1-2 helai benang letakkan pada gelas obyek dan diuraikan sampai serabut-serabut saling terpisah tutup denagn gelas tutup dan balsam kanada periksa dengan mikroskoppembesaran 400 x .serabut pakaian tidak mengambil warna spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyakmenempel pada serabut benang. Interpretasi : Tidak terdapat spermatozoa ,hal ini diakibatkan baju tidak terkena cairan sperma saat persetubuhan. • Pemeriksaan Rambut

Pemeriksaan labortorium terhadap rambut meliputi pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik Makroskopik Pada dijumpai. Interpretasi : warna : hitam panjang : 5cm bentuk : keriting saling melekat satu sama lain Mikroskopik 1. Rambut manusia atau Rambut hewan 2. Asal tunggu rambut 3. Rambut utuh atau rusak Selain itu dapat dilakukan metode pemeriksaan dengan : 1. Rambut pubis lepas 2. Rambut pubis cabut Apabila terdapat 2 helai rambut yang berbeda bentuk dan panjangnya dilakukan pemeriksaan laboraturium untuk memastikan golongan darah dan asal dari rambut itu. Interpretasi : pemeriksaan makroskopik dicatat keadaan

warna,panjang,bentuk(lurus,ikal,keriting)dan zat pewarna rambut yang mungkin

Pada rambut pubis lepas dan cabut terdapat yang berbeda dan saat di cek, golongan darah korban O sedangankan yang ditemukan ada juga golongan darah A dan B.  PERAN LSM Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam kasus kejahatan seksual: 1. Memberikan pendampingan terhadap korban baik sebelum pengadilan selama pengadilan dan setelah pengadilan 2. Memperjuangkan hak-hak dan memberi perlindungan terhadap anak-anak dengan korban kekerasan seksual 3. Memberi konseling selama berlangsungnya proses penyidikan sampai proses vonis oleh hakim 4. Memberi dukungan psikis bagi korban maupun keluarga
 PSIKOSOSIAL

Psikososial pada Korban Perkosaan : 1. Korban perkosaan harus mendapatkan konseling agar tidak jatuh dalam keadaan depresi. 2. Keluarga dan teman terdekat korban dapat memberikan dukungan moriil untuk korban sehingga korban tidak merasa sendiri. 3. Keluarga dan teman terdekat harus membantu membangun eksistensi diri korban kembali agar ia dapat menerima dirinya dan dapat melanjutkan kehidupannya. 4. Jika hal layak ramai sudah mengetahui tentang perkosaan tersebut maka lebih baik untuk mengkondisikan lingkungan tempat korban banyak menghabiskan waktu untuk tidak semakin memojokkan kondisinya tetapi justru mendukungnya disinilah peran serta masyarakat dapat ikut membantu membangun kondisi mental korban menjadi lebih baik, cth : sekolah, lingkungan rumah.

VISUM et REPERTUM

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta 11440 Jakarta, 18 Oktober 2011 Nomor: 3422-SK.III/5434/2-10-----------------------------------Lamp.: Satu sampul tersegel------------------------------------Perihal:--------------------------------------------------------

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Bambang Hernandez, dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Barat No. Pol.: B/154/VR/IX/11/Serse tertanggal enam belas oktober tahun dua ribu sebelas, maka pada

tanggal tujuh belas oktober dua ribu sebelas, pukul sepuluh lebih dua puluh lima menit waktu Indonesia Barat telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor rekam medis nol satu nol lima tiga sembilan empat satu yang berdasarkan surat tersebut-------------------------------------------------------Nama Jenis kelamin Umur : Nona Rosalinda---------------------------: Perempuan--------------------------------: Empat belas tahun-------------------------

Kewarganegaraan: Indonesia--------------------------------Pekerjaan Alamat : Pelajar---------------------------------: jl.Kayumanis no 7 RT 05/ RW 03 pasar minggu

Pada pemeriksaan ditemukan:
a. Perempuan

tersebut adalah seorang wanita berumur empat belas tahun dengan kesadaran baik, gelisah, rambut rapi, penampilan bersih, sikap selama pemeriksaan membantu--------------------b. Pakaian rapi, tanpa robekan----------------------------------c. Tanda kelamin sekunder sudah berkembang----------------------d. Keadaan umum jasmaniah baik, tekanan darah seratus sepuluh per tujuh puluh milimeter air raksa, denyut nadi sembilan puluh kali per menit, pernapasan dua puluh kali per menit--------Luka-luka : ditemukan adanya memar dan bekas gigitan pada leher kedua payudara dan selangkangan------------------------e. Alat kelamin dan kandungan: Mulut alat kelamin: Pada kedua bibir kecil kemaluan tampak kemerahan ---------------------------------------------------Selaput dara : Terdapat robekan baru pada selaput dara hingga ke dasar sesuai dengan arah jarum jam lima ------------------Liang senggama :-------------------------------------------Mulut leher rahim :------------------------------------------Rahim :--------------------------------------Lainnya dijumpai :-------------------------------------------f. Pada pemeriksaan tes kehamilan PPT hasilnya negatif----------g. Pemeriksaan laboratorium untuk sel mani positif. Dalam urin ditemukan adanya metamfetamin positif, dan pada usapan vagina dengan pulasan malachite green ditemukan adanya sperma--------

h. Benda bukti yang polisi:--------------------

diserahkan

kepada

Kesimpulan Robekan baru selaput dara pada arah jam lima dan ditemukannya sperma pada usapan vagina menandakan memang telah terjadi persetubuhan---------------------------------------------------Ditemukannya memar dan bekas gigitan pada leher kedua payudara dan leher serta terdapat kandungan metamfetamin positif pada urin menandakan adanya tanda-tanda kekerasan.------------------Demikian Visum et Repertum ini saya buat dengan sebenar-benarnya dengan mengingat sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana----------------------------------------------

Jakarta, 6 oktober dua ribu duabelas Dokter yang memeriksa,

dr. Bambang Hernandez NIP 1345434 BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

 PEMERIKSAAN MEDIS Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et repertum delik kesusilaan adalah : Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal dan empat lahir, status perkawinan, sikluks haid, untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin dan penyakit kandungan serta adanya penyakit lain: epilepsi, katalepsi, syncope. Cari tahu pula apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom?

-

Waktu kejadian seperti tanggal dan jam juga perlu diketahui. Bila waktu antara kejadian dan pelaporan yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan.

-

Tanya juga dimana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian, misalnya rumput, tanah, dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian atau tubuh korban.

-

Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan denan teliti. Seperti ada robekan yang lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian. Kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur dsb yang berasal dari tempat kejadian.

-

Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum ; lukisan penampilannya (rambut dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosionalm tenang atau sedih/gelisah dsb

-

Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) melihat ada tidaknya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mongering, gunting untuk pemeriksaan laboraturium.

-

Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema, memar, dan luka lecet (goresan kuku).

-

Periksa juga jenis selaput darah, apaka ada rupture atau tidak. Teliti sampai ke insertio atau tidak.

-

Periksa juga apakah frenulum labiorum pudendi dan commisurra laborium posterior utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan speculum, bila keadaan alat genital mengijinkan. Dan adakah tanda penyakit kelamin.

 PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan Cairan Mani (Semen) Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan berbau khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian enzim proteolitik menjadi cair dalam waktu yang singkat (10-20 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3-5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan PH 7,2-7,6. Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermin dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan berbagai macam pemeriksaan laboratorium seperti: 1. Reaksi fosfatase asam Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar prostat. Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm2 bercak, dapat ditentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan. Aktifitas 25 U K.A per 1cc ekstrak yang diperoleh dari 1 cm 2 bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani. Reagens untuk pemeriksaan ini: Larutan A : Brentamin Fast Blue B Natrium acetat trihyrate Galcial acetat acid Aquadest 1 g (1) 20 g (2) 10 ml (3) 100 ml (4)

(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan PH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan penyangga tersebut. Larutan B : Natrium alfa naphtyl phosphate 800 mg 10 ml

Aquadest

89 ml larutan A ditambah 1ml larutan B, lalu disaring cepat ke dalam botol yang berwarna gelap. Jika disimpan di lemari es reagen ini dapat bertahan bermingguminggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi. Prinsip: enzim fosfatase asam menghidrolisis Na-alfa naftil fosfat; alfa-naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. Cara pemeriksaan: bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang telah terlebih dahulu dibasahi dengan akuades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan disemprot dengan reagens. Ditentukan waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu. Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberi warna dengan serentak dengan intensitasnya tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim fosfatase, memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur. 2. Reaksi Florence Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya kholin Reagens: larutan lugol yang dapat dibuat dari: Kalium yodida 1,5 g Yodium 2,5 g Akuades 30 ml Cara pemeriksaan: bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca obyek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet di bawah kaca penutup. Bila terdapat mani, tampak kristal kholin peryodida berwarna coklat, berbentuk jarum dengan ujung sering terbelah.

Tes ini tidak khas untuk cairan mani karena ekstrak jaringan berbagai organ, putih telur dan ekstrak serangga akan memberikan hasil serupa. Sekret vagina kadangkadang memberikan hasil positif. Sebaliknya bila cairan mani belum cukup berdegradasi, maka hasilnya mungkin negatif. Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermi dan cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan. 3. Reaksi Berberio Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya spermin dalam semen. Reagens: larutan asam pikrat jenuh. Cara pemeriksaan: sama seperti pada reaksi Florence. Hasil positif memperlihatkan adanya kristal spermin pikrat yang kekuning-kuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul, dan kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid. Reaksi tersebut mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa. 4. Uji pewarnaan Baecchi Uji ini dilakukan untuk menentukan adanya spermatozoa pada serat benang. Reagens Baecchi dibuat dari: •

Asam fukhsin 1% Biru metilena 1% Asam klorida 1%

1 ml 1 ml 40 ml

Bercak yang dicurigai, digunting sebesar 5mm x 5mm, pada bagian pusat bercak. Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2-5 menit, dicuci dalam HCL 1% dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70%, 80% dan 95-100% (absolut) lalu dijernihkan dalam xylol (2x). Kemudian keringkan di antara kertas saring.

Dengan jarum diambil 1-2 helai benang, letakkan pada gelas obyek dan diuraikan sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan gelas tutup dan balsem kanada, periksa dengan mikroskop pembesaran 400x. Serabut pakaian tidak mengambil warna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut benang.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA
1. Staf

Pengajar

Bagian

Kedokteran

Forensik

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia.Ilmu Kedokteran Forensik.edisi 1st .Jakarta: Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;1997.p.147-58.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun’im TWA, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu

Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. p.186-91.
3. Staf

Pengajar

Bagian

Kedokteran

Forensik

Fakultas

Kedokteran

Universitas : Bagian

Indonesia.Peraturan

perundang-undangan

bidang

kedokteran.Jakarta:

Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;1994.p.33-37.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->