MEDITASI VIPASSANĀ

CERAMAH MENGENAI MEDITASI PANDANGAN TERANG

O L E H

SAYADAU U JANAKABHIVAMASA

CHANMYAY YEIKTHA YANGON, MYANMAR

I

DAFTAR ISI: Bab Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Bab I : Kebahagian Melalui Pengertian Benar Bab II : Instruksi Awal Bagi Yogi Bab III : Tujuh Manfaat Meditasi Vipassanā Bab IV : Empat Landasan Perhatian Penuh Bab V : Tujuh Tingkat Pemurnian Bab VI : Sembilan Cara Untuk Menajamkan Bab VII Lampiran I Lampiran II Kemampuan Mental : Lima Faktor Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Yogi 73 83 Halaman: I II 1 15 24 38 48 57 66

II

KATA PENGANTAR Sudassam Vajjamaññesam Attano pana duddasam Mudah terlihat kesalahan orang lain Sulit melihat kesalahan diri sendiri Dhpd. 252 Pernyataan ini sangatlah cocok untuk para yogi. Seorang yogi terus membuat kesalahan yang sama dan tetap tidak mengetahui hal itu, sampai seorang yang lebih pandai dan berpengalaman datang menunjukkannya. Kemudian selang beberapa waktu, kita mungkin lupa dan perlu diingatkan kembali. Pada tanggal 30 Maret sampai dengan 8 April 1983, kami sangat beruntung atas kedatangan seorang guru besar yang sangat berpengalaman memberikan retret di Pusat Meditasi Buddha Malaysia, Penang, untuk menuntun, mengajar, mengkoreksi dan mengingatkan kita tentang latihan meditasi vipassanā. Kita semua mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa dengan bimbingan beliau yang sangat detil, dan disiplin yang sangat tinggi serta katakata yang membangkitkan semangat. Kami di sini mempunyai komplikasi dari seluruh kegiatan retret tersebut untuk keuntungan para pencari keselamatan tertinggi. Kompilasi tersebut terdiri dari ceramah sore yang disampaikan oleh Sayadaw U Janakabhivamsa untuk keuntungan para yogi. Selain itu beberapa wejangan yang sebagian besar diambil dari wawancara antara Sayadaw dengan para yogi. Semua itu telah disusun berdasarkan kategori tertentu dan dijadikan sebuah buku kecil yang cukup lengkap. Beberapa pernyataan hanya dapat diterapkan dalam situasi tertentu dan tidak dapat diaplikasikan secara umum. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sayadaw yang telah mengijinkan kami untuk mencetak buku ini dan membantu untuk mengkoreksi buku ini sendiri. I

Kami juga sangat berterima kasih kepada mereka yang telah membantu mewujudkan buku ini. Venerable Sujiva Juni 1985.

II

5 November 1992. Chanmyay Sayaday III . yang telah memperbaharui bahasa dalam naskah yang dimasukkan ke dalam komputer oleh U Dhammashubha. memberikan kepada saya seorang asisten yang tidak ternilai. Kami sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Bhikkhu Sujiva untuk usahanya yang tidak mengenal lelah dalam menyusun dan mengedit ceramah-ceramah dan wejangan-wejangan yang saya berikan untuk keuntungan semua yogi dalam retret yang diadakan di Penang. Malaysia. Royce Willes. Saya berterima kasih sekali kepada mereka semua. murid meditasi saya. Maung Aung Gyi dan Maung Myint Oo. Ashin Janakabhivamsa. April 1983. Bhikkhu Pasala dari Vihara Burma di London.UCAPAN TERIMA KASIH Ini adalah kehormatan bagi saya bahwa kita dapat menerbitkan edisi baru dari buku Meditasi Vipassanā ini yang mana sejauh ini telah dicetak tiga kali di Malaysia & Myanmar. Edisi baru ini disusun sewaktu saya mengadakan perjalanan Dhamma di Negara bagian Barat pada tahun 1992. Bhikkhu Malaysia.

Beliau menemukan penyebab dari penderitaan adalah “kemelekatan” (tanhā).NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMĀSAMBUDDHASSA BAB I KEBAHAGIAAN MELALUI PENGERTIAN BENAR Setiap orang di dunia ini menginginkan kebahagian dan kedamainan. Pengertian dari kata tanhā adalah keserakahan. Tanhā atau kemelekatan adalah penyebab dari penderitaan. Ketika penyebabnya telah dimusnahkan. dia pasti dapat melenyapkan penderitaan (dukkha). Jika tak ada sebab. Penyebab Penderitaan Sang Buddha menemukan sebab dari penderitaan (dukkha). tidak ada sesuatu yang muncul tanpa sebab. Menurut ajaran Beliau. maka tidak akan ada akibat. Ketika Sang Buddha ingin menghentikan penderitaan (dukkha). yang menuntun orang pada berakhirnya penderitaan. Ketika Sang Buddha yang Maha Tahu mencapai penerangan sempurna. pendambaan. dan kesukaan. di dalam bahasa Indonesia. keinginan. Ketika seseorang dapat melenyapkan tanhā. Semua agama di dunia ini muncul karena alasan ini. Beliau harus menemukan penyebabnya. Cendikiawan agama Buddha menterjemahkan tanhā sebagai kemelekatan sehingga hal itu meliputi semua bentuk keinginan. Salah satu agama terbaik di dunia adalah agama Buddha. Jadi. Bila ada tanhā pasti ada penderitaan (dukkha). 1 . Inilah sebabnya mengapa orang mencari jalan kebenaran yang menuntun mereka pada berakhirnya penderitaan. segala sesuatu muncul karena suatu kondisi. Tanhā muncul karena suatu sebab. kami menggunakan kata kemelekatan untuk tanhā. nafsu. Apapun yang ada di dunia ini mempunyai sebab.

pengertian benar ini akan membasmi ketidaktahuan/kebodohan. Tanhā adalah keadaan mental1 dan proses mental yang terkondisi. Sehingga dengan merealisasi atau pengertian benar tentang proses mental dan jasmani secara alamiah. misalnya. Ketika kemelekatan telah dimusnahkan. Sang Buddha yang Maha Tahu menemukan bahwa penyebab dari kemelekatan adalah pandangan salah. Pandangan salah sebagai sebab. Kemudian kita dapat mengetahui hukum sebab dan akibat. penderitaan adalah akibatnya. diri. berhentinya penderitaan dicapai (Nirodha-sacca). pandangan salah (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi) adalah akibatnya. pandangan salah terhadap jiwa. Lalu apa apa yang menjadi sebab dari pandangan salah ini (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi)? Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa ketidaktahuan/kebodohan (moha atau avijjā) dari proses alamiah mental dan jasmani yang menjadi penyebab dari pandangan salah terhadap jiwa atau diri. Kemudian kita mengetahui. sedangkan kata batin lebih berhubungan dengan jiwa (kamus bahasa Indonesia). tidak ada jiwa/roh 2 . Ketika ketidaktahuan/kebodohan telah dibasmi. ‘aku’ atau ‘kamu. hanya mengenal fenomena mental dan jasmani. Lalu kita mencapai tingkat dimana semua penderitaan tidak akan muncul. dan makhluk. Dalam agama Buddha aliran Theravada. Kata mental lebih berhubungan dengan pikiran.’ kepribadian atau individu yang dikenal sebagai sakkāya-ditthi atau atta-ditthi. jika proses mental dan jasmani dapat dimengerti dengan benar.tanhā tidak akan muncul. maka tidak akan ada pandangan salah terhadap jiwa. diri. seseorang. Ketika pandagan salah telah dimusnahkan. maka tidak akan ada penderitaan. 1 Mental digunakan sebagai pengganti kata batin. Jadi sakkāya-ditthi atau atta-ditthi adalah sebab dari tanhā yang menyebabkan penderitaan (dukkha) muncul. kita akan membasmi kebodohan. Kita dapat menyimpulkan hubungan dari sebab dan akibat seperti ini: ketidaktahuan/kebodohan sebagai sebab. maka kemelekatan tidak akan timbul.

Penderitaan tersebut disebabkan oleh kemelekatan kita pada rumah kita. kita harus melenyapkan penyebabnya. mendapat atau memiliki sesuatu muncul karena konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. perdana menteri atau konglomerat. diri. anak-anak atau orang tua kita.Sebab dari Pandangan Salah Kita harus mempertimbangkan bagaimana kebodohan dari proses mental dan jasmani menyebabkan pandangan salah tentang jiwa. Hal ini muncul disebabkan oleh pandangan salah terhadap seseorang atau makhluk. Hal ini dikarenakan kita tidak mengerti dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebanarnya. ratu. dan bagaimana pandangan salah ini menyebabkan munculnya kemelekatan. konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. makhluk. tidak ada muncul lagi kemelekatan atau keinginan untuk menjadi orang kaya. presiden. raja. kita 3 .’ Ketika keinginan atau kemelekatan itu muncul di dalam diri kita. sehingga kita menganggap proses mental dan jasmani ini sebagai seseorang. kemelekatan ini juga menyebabkan kita menderita. Kesedian adalah salah satu jenis penderitaan utama. Ketika kita melekat kepada anak-anak kita.’ Jika kita ingin melenyapkan keinginan atau kemelekatan. Keinginan untuk menjadi ratu. Jika rumah itu terbakar. ketika kita melekat terhadap saudara. raja. presiden dan yang lainnya. orang tersebut. Kemudian. katika pandangan salah ini telah dimusnahkan. Saat kita melekat kepada rumah dan benda mati lainnya. makhluk tersebut. adalah kemelekatan. kita khawatir akan rumah itu. kita menjadi sedih. seseorang. atau makhluk. jiwa atau diri. hal itu akan membawa berbagai macam penderitaan. jiwa. Apakah penyebabnya? Penyebab dari keinginan atau kemelekatan adalah. jiwa atau diri. Demikian juga. Keinginan untuk menjadi. ’aku’ atau ’kamu’ mempunyai keinginan untuk menjadi kaya. atau diri. ‘aku’ atau ‘kamu. Jadi. teman-teman. presiden dan seterusnya. seperti telah saya jelaskan sebelumnya. ‘aku’ atau ‘kamu’. ‘aku’ atau ‘kamu.

Kenapa? Karena kita tidak pernah mengamatinya dengan perhatian penuh dan dari dekat. Bila tidak ada kemelekatan. Kita akan mengetahui bahwa itu adalah jam tangan merek Seiko. ‘aku’ atau ‘kamu. Ketika kita ingin memahami ’sesuatu’ sebagaimana adanya. jiwa atau diri. Kita sudah menggunakan pemikiran yang ada ketika kita melihat jam tangan tersebut. saat melihat sebuah jam tangan. dan bentuknya. jadi pemikiran itulah yang menuntun 4 . tanpa berfilsafat. dan sedih. Ketika kita tidak mengamati jam tangan dengan perhatian penuh dan hati-hati. dan berperhatian penuh pada saat ’sesuatu’ tersebut terjadi. bila pengamatan kita dikombinasikan dengan ide-ide yang sudah ada seperti “saya pernah melihat jam tangan dan mereknya adalah Omega. kita khawatir.” lalu setiap kali saya melihat jam tangan. Kita harus sangat waspada dan perhatian penuh pada ’sesuatu’ tersebut sebagaimana adanya. Jika anak kita tidak lulus ujian. Sebagai contoh. Tetapi jika kita tidak mengamatinya sebagaimana adanya. pendidikan dan seterusnya. kita akan melihat merek. Melihat Sebagaimana Adanya Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa dengan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. tanpa berlogika. kemelekatan (tanhā) adalah sebab dari penderitaan. dan tanpa berprasangka. kita tidak memahami jam tangan tersebut sebagaimana adanya. Jika kita mengamati dengan perhatian penuh dan dari dekat. Jadi. kita harus mengamati. Penderitaan ini adalah penderitaan mental. dan disebabkan oleh kemelekatan terhadap anak-anak kita. Darimana asal kemelekatan ini? Kemelekatan ini berasal dari konsep yang salah terhadap proses mental dan jasmani yang dianggap sebagai seseorang atau makhluk. saya akan menganggap jam tangan itu merek Omega. tidak akan ada penderitaan.khawatir akan kesehatan mereka. mengawasi. kita akan mengerti sifat alamiahah yang sesungguhnya. kasihan. mempunyai waktu internasional.’ Jika konsep kepribadian dan individu ini telah dihancurkan. tanpa menganalisanya. dan sebagainya. maka tidak akan ada lagi kemelekatan. rancangan.

kita harus mencatat perasaan panas itu sebagai perasaan panas. kita harus berperhatian penuh pada perasaan duka tersebut sebagai berduka. Dengan cara yang sama. dibuat di Jepang. Bila kita merasa dingin. kita akan mengetahuinya sebagaimana adanya: jam tangan tersebut adalah merek Seiko. Setelah kebodohan disingkirkan. kita tidak menganggap proses mental dan jasmani sebagai seseorang. jiwa. Ketika kita merasa bahagia. kita harus menyadari keadaan emosi dari kesedihan dan kekecewaan kita sebagaimana adanya. kita mencatatnya sebagai bahagia. kita harus mencatat perasaan dingin itu sebagai perasaan dingin. atau diri. kita terbebas dari semua jenis penderitaan dan mencapai keadaan terhentinya 5 . kita mencatatnya sebagai sakit. kita tidak boleh menganalisa atau memikirkannya. Ketika kita merasa sedih atau kecewa. atau ide yang sudah ada. Ketika kita merasa panas. Setiap proses mental dan jasmani harus diamati sebagaimana adanya. Jika kita dapat menyingkirkan ide-ide yang sudah ada tersebut dan hnaya mengamati dengan perhatian penuh dari dekat. dan juga mempunyai waktu internasional. sehingga kita dapat mengerti dengan benar berdasarkan sifat alamiahah yang sebenarnya. makhluk. Ketika kita merasa sakit. ketika kita ingin mengetahui dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya atau sebagaimana adanya. maka tidak akan muncul kemelekatan. kita mencatat kemarahan sebagai kemarahan. Kita harus meninggalkan cara-cara di atas dan berperhatian penuh pada apa yang dari fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya.kita kepada kesimpulan yang salah mengenai jam tangan tersebut. Jika kemelekatan telah dihancurkan. Ketika kita merasa marah. Ketika kita merasa berduka. Pengertian benar ini akan memandu kita guna meyingkirkan kebodohan. Kita juga tidak akan menggunakan alasan atau pengetahuan intelektual. Jika kita menganggap proses mental dan jasmani sebagai suatu proses alami. Kita mengerti sebagaimana adanya karena kita telah menyingkirkan ide ‘Omega’ sewaktu kita mengamati jam tangan tersebut.

pikiran tidak bisa tetap memegang obyek tersebut jika ada rasa sakit yang lebih kuat atau jelas. itu berarti kita melekat terhadapnya. Sang Buddha mengajarkan kita untuk berperhatian penuh pada fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. atau gerakan kembung-kempisnya perut. Jika kita memilih proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi. barangkali perasaan bahagia dari kesuksesan kita. pikiran akan memilih 6 . kita tidak perlu memilih apakah proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi kita. Walaupun kita coba memfokuskan pikiran pada gerakan kembung-kempis perut.penderitaan. Selama latihan meditasi. Perhatian penuh pada obyek-obyek pikiran (Dhammānupassanā Satipatthāna) Tak Ada Pilihan Untuk Kesadaran Ketika kita berperhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani. Ada banyak cara untuk tetap berperhatian penuh pada proses mental dan jasmani. Perhatian penuh pada proses jasmani (Kāyānupassanā Satipatthāna) 2. perhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani sesuai sifat alamiahnya adalah jalan yang menuntun kita ke keadaan terhentinya penderitaan. Pikiran akan memilih obyek dengan sendirinya. Jadi kita tidak perlu memilih obyek tetapi harus mengamati obyek yang pikiran pilih. sensasi sakit. Perhatian penuh pada pikiran (Cittānupassanā Satipatthāna) 4. Pikiran yang mencatat akan beralih ke sakit dan mengamatinya karena perasaan yang lebih jelas mengalihkannya dengan sangat kuat. Inilah sebabnya Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan kotbah tentang ”Empat Landasan Perhatian Penuh. Ketika rasa sakit hilang karena pengamatan yang mantap dan perhatian penuh. Perhatian penuh pada perasaan atau sensasi (Vedanānupassanā Satipatthāna) 3.” Dalam kotbah ini. tetapi semua itu dapat diringkas sebagai berikut: 1. pikiran yang mencatat/mengamati akan memilih obyeknya sendiri. Jadi.

Sewaktu melatih meditasi jalan dalam retret. saat bekerja di kantor atau rumah. Ketika kita menrentangkan tangan. gatal. karena kekuatan perhatian penuh dan konsentrasi yang dalam. misalnya. pikiran akan beralih ke perasaan gatal dan mengamatinya sebagai ‘gatal. setiap gerakan yang terjadi dalam kegiatan makan harus diamati sebagaimana adanya karena karena setiap proses jasmani harus dimengerti dengan penuh sehingga dapat menghancurkan kebodohan yang menyebabkan pandangan salah. mendorong. Ketika kita mencelupkan sendok ke dalam kari. Jika kita memegang sendok. bahagia. pikiran akan memilih. sensasi dari kegiatan memegang sendok harus diamati. gatal. gerakan menyendok itu harus diamati. Meditasi vipassanā tidak hanya sederhana dan mudah. Dalam hal ini. Dengan cara yang sama. mengawasi atau berperhatian penuh pada semua fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. saat kita mandi. bahagia. kita harus menyadari gerakan merentang. setiap aktivitas yang terlibat dalam kegiatan makan. pikiran akan memilih perasaan bahagia sebagai obyek dan mengamatinya sebagai ‘bahagia. gerakan kaki seperti mengangkat. kita harus menyadari setiap gerakan yang terlibat.’ Ketika perasaan gatal hilang. gerakan mencelup itu harus diamati.’ Jadi prinsip dari meditasi vipassanā atau medistasi perhatian penuh adalah mengamati. 7 . Jika perasaan gatal di punggung lebih jelas dari pada gerakan kembung-kempisnya perut. Sewaktu kita mengambil makanan.obyek lain yang lebih jelas. Ketika kita mencyendok kari. tapi juga sangat efektif dalam mencapai tujuan kita . Jika perasaan bahagia lebih kuat dari gerakan kembung-kempisnya perut. dan menurunkan harus diamati dengan cermat dan tepat sebagaimana adanya. kita harus menyadari setiap gerakan. gerakan kembung-kempisnya perut sebagai obyek karena gerakan tersebut lebih jelas dari obyek yang lainnya. sensasi sentuhan harus diamati.lenyapnya penderitaan. Ketika tangan menyentuh sendok atau nasi.

kita harus mencatat sebagai “dorong. kita harus mencatatnya sebagai “angkat. Mereka hanya harus mengamati gerakan kaki dari permulaan gerakan mengangkat hingga akhir dari gerakan menurunkan. kita harus mencatatnya sebagai “turun. turun. pikiran tersebut harus diamati sebagaimana adanya dan catat “berpikir. dorong.” Saat kita mendorong kaki ke depan. Hal ini juga sangat membantu yogi untuk memusatkan pikirannya pada obyek meditasi. kedamaian. berpikir. yogi harus mengikuti pikiran dan mengamatinya. Jika pikiran berkelana. dorong. tanpa berpikir atau menganalisa. Saat kita mengangkat kaki untuk berjalan. kita harus mengetahui perbedaan antara meditasi samatha dan vipassanā. Jika pikiran terkonsentrasi dengan mendalam pada obyek meditasi.” Pencatatan atau pemberian sebutan dapat mengarahkan pikiran kita ke obyek meditasi lebih dekat dan lebih tepat. hasil meditasi samatha adalah pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi.Labelling Kita mungkin perlu mencatat atau memberi sebutan jika kita sedang berperhatian penuh pada suatu obyek. ketenangan. Pikiran harus mengikuti pergerakan kaki semaksimal mungkin sebagaimana adanya. turun. pikiran menjadi tenang dan damai. Samatha berarti konsentrasi. Jadi.” Saat kita menurunkan kaki.” Setelah pikiran tersebut lenyap. jhāna) 8 . Jika yogi berpikir masalah keluarga. dorong. yogi dapat mengembangkan konsentrasi lebih dalam dari sebelumnya. Tetapi. mereka hanya mengamatinya. angkat. “angkat. pikiran sering berkelana. berpikir.” Dengan cara ini kita catat. Dengan cara ini. mungkin ada beberapa yogi yang tidak perlu mencatat atau menyebut obyek meditasinya. turun. Pada permulaan latihan.” Samatha dan Vipassanā Di sini. yogi harus meneruskan berjalan dan mencatat seperti semula “angkat. Tujuan meditasi samatha adalah untuk mencapai konsentrasi pikiran yang dalam pada satu obyek.

Menurut kitab komentar visuddhimagga. hasil meditasi samatha adalah kebahagian dalam batas tertentu dikarenakan pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. lihat dan berkonsentrasi pada kasina tersebut. Jika pikiran berkelana. dan sebagainya. kesedihan. kita memiliki berbagai macam obyek meditasi: kebahagian adalah sebuah obyek meditasi dan begitu juga dengan kemarahan. keinginan. kita merasa tenang. Seorang yogi samatha harus membuat peralatan tertentu atau kasina sebagai obyek meditasi. kekakuan. kebencian. Yogi harus memusatkan pikirannya pada lingkaran merah tersebut dan mengamatinya sebagai “merah. Bila kasina tersebut sudah jadi. tujuannya adalah untuk mencapai berhentinya penderitaan melalui pengertian yang benar terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. Untuk ini. Sedangkan untuk meditasi vipassanā. Oleh karena itu. dalam hal ini adalah lingkaran merah. contohnya. keserakahan. kebodohan mental dan seterusnya terlepas dari pikiran yang terserap pada obyek. kemudian yogi harus duduk sekitar 2 kaki dari obyek tersebut. yogi harus membuat lingkaran merah di dinding lebih kurang 2 kaki dari lantai.” Ini adalah keterangan singkat dari cara berlatih meditasi samatha. rata. Konsentrasi ini dapat dicapai melalui perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan terhadap proses mental dan jasmani. dan halus. Saat pikiran terbebas dari segala kekotoran mental atau rintangan mental. damai. merah.atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). yogi tidak boleh mengikuti pikirannya. Tetapi meditasi samatha tidak membuat kita mengerti dengan benar tentang fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. semua kekotoran mental seperti nafsu. kesemutan. sensasi rasa sakit. Jadi. kita memerlukan suatu tingkat konsentrasi tertentu. dan bahagia. Ketika pikiran terkonsentrasi dengan dalam pada obyek meditasi. jhāna) atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). tapi yogi harus membawa pikirannya kembali ke obyek meditasi. merah. untuk membuat kasina warna. Yogi harus membuat lingkaran merah sebesar piring dan warnanya harus merah murni. kesombongan. Segala macam proses mental 9 .

kita juga menyadari bahwa pikiran yang melakukan pencatatan. dan menurunkan. Kita tidak menganggap mereka sebagai seseorang. kita mencatat gerakan kaki seperti biasa. 10 . kita harus mengikuti dan mengamatinya hingga pikiran yang berkelana tersebut hilang. dorong. tidak akan muncul penderitaan yang sebenarnya adalah hasil dari kemelekatan. Hanya setelah pikiran yang berkelana itu hilang. ketika kaki diturunkan. Tujuan dan hasil meditasi samatha dan vipassanā adalah berbeda. Dengan cara ini. demikian juga metodenya. Ketika pikiran terkonsentrasi pada gerakan kaki dengan baik. ketika kaki didorong ke depan. Pada permulaan latihan. yaitu: angkat. karena kemelekatan tidak muncul. Saat pikiran berkelana. pikiran kita tidak terkonsentrasi pada kaki dengan baik. tidak akan ada kemelekatan atau keinginan yang menyebabkan penderitaan (dukkha). dan turun. pikiran mencatat sebagai dorong. Ketika kaki diangkat. kita mengamati pergerakan kaki. Jadi. Ketika pandangan salah ini telah dihancurkan. mendorong. makhluk. Kita mencapai berhentinya penderitaan ketika mengalami proses gerakan mengangkat. Gerakan mengangkat adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. pikiran mencatat sebagai angkat. dan meletakkan sebagai proses yang alami. kita mengerti sepenuhnya dua proses dari fenomena mental dan jasmani. individu.’ Kemudian tidak akan ada pandangan salah terhadap seseorang. jiwa atau diri. Ketika kita berjalan. yang kita catat adalah gerakan mengangkat. Ketika kita menyadari semua gerakan sebagai proses alamiah. Kita tidak boleh memperhatikan bentuk kaki atau bentuk badan selama berjalan. ‘aku’ atau ‘kamu. mendorong. Gerakan mendorong adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. Kita mengerti dengan benar bahwa kedua proses ini adalah proses alami dari fenomena mental dan jasmani.dan jasmani dapat dijadikan obyek meditasi. Kita harus kembali pada apa yang telah saya jelaskan sebelumnya. pikiran mencatatnya sebagai turun.

kita menjadi mengerti bahwa tidak ada proses yang kekal dan abadi. Kemudian kita menyadari satu dari tiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. kita tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang abadi . atau diri. yogi merealisasi empat kenenaran mulia: Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : kebenaran tentang penderitaan : kebenaran tentang asal-mula penderitaan : kebenaran tentang berhentinya penderitaan : kebenaran tentang jalan menuju berhentinya penderitaan 11 . perhatian penuh kita menjadi lebih konstan. Setiap proses gerakan adalah tidak kekal (annica). Dengan perhatian penuh yang konstan dan kuat.Seiring dengan berjalannya latihan. tidak kekal (annica). kemudian pengertian atau pandangan terang kita terhadap proses mental dan jasmani menjadi jelas. diri. jadi hal ini bukanlah merupakan proses yang baik melainkan buruk. yaitu penderitaan (dukkha). penderitaan (dukkha). sotāpatti-magga. berkesinambungan. Dengan cara ini semua yogi melewati tingkat pengetahuan pandangan terang dari proses mental dan jasmani satu demi satu. tidak ada jiwa. Setelah mencapai tingkat terakhir. yogi mencapai tingkat kesucian pertama. Ketika konsentrasi menjadi dalam dan kuat. Jadi kita merealisasikan tiga karakteristik dari fenomena mental dan jasmani. konsentrasi menjadi lebih dalam dan kuat. Saat kita menyadari ketidakkekalan dan penderitaan adalah sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. hanya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. Ini adalah realisasi dari anatta. muncul dan tenggelam dengan sangat cepat. ataupun ego. Saat mengalami hal tersebut. Pada saat pencapaian tingkat kesucian pertama. makhluk. dan tidak ada jiwa atau diri (anatta). Sehingga kita menyadari banyak rangkaian dari gerakan mengangkat yang muncul dan tenggelam satu per satu.seseorang. jiwa. dan menjadi kuat.

ia harus melakukan usaha. yogi sedang mengembangkan jalan mulia beruas delapan (walaupun tidak lengkap). Bagaimana? Ketika ia memfokuskan pikirannya pada gerakan kaki. bila yogi bisa melenyapkan kemelekatan maka yogi mencapai berhentinya penderitaan. Sammā ājīva : penghidupan benar 6. Realisasi Jalan Mulia Beruas Delapan Pada saat itu yogi telah mengembangkan dengan lengkap jalan mulia beruas delapan: 1. yogi dapat berperhatian penuh pada gerakan kaki. Sammā vācā : ucapan benar 4. Adalah hal yang wajar bila pikiran mengembara saat permulaan latihan. Sammā samādhi : konsentrasi benar Sejak yogi dapat mengkonsentrasikan pikirannya pada tingkat yang lebih tinggi pada suatu obyek meditasi. perhatian ini terkonsentrasi pada gerakan kaki untuk sesaat. Sammā sati : perhatian benar 8. yogi mengetahui bahwa kemelekatan adalah sebab dari penderitaan. Sammā ditthi : pengertian benar 2.Ketika yogi menyadari perubahan dari fenomena mental dan jasmani. Jadi. Sammā vayāmā : usaha benar 7. Ketika perhatiannya terfokus pada gerakan kaki. karena ini yang menuntun yogi kepada pengertian benar tentang proses proses mental dan jasmani. Sammā kammanta : perbuatan benar 5. Hasilnya. usaha ini adalah “usaha benar” (sammā vayāmā). sebagai contoh: proses mental dan jasmani. tetapi ketika konsentrasi menjadi berkesinambungan dan konstan. konsentrasi itulah yang disebut “konsentrasi benar” (sammā samādhi). Karena usahanya itu. Sammā sankappa : pikiran benar 3. berarti yogi telah menyadari penderitaan. Perhatian penuh inilah yang disebut “perhatian benar” (sammā sati). Bagaimanapun besar usaha yang dilakukan 12 . kuat dan dalam.

perbuatan yang tidak benar. Jadi kita menjalani delapan faktor mental dalam jalan mulia beruas delapan jika kita berperhatian benar pada semua proses mental dan jasmani. Dengan demikian. Pengetahuan atau pengertian tentang proses gerakan jasmani sebagai proses alami adalah “pengertian benar” (sammā ditthi). dan penghidupan yang tidak benar. Keadaan mental yang membimbing pikiran ke obyek meditasi adalah “pikiran benar” (sammā sankappa). pada saat permulaan pikiran tidak dapat terpusat pada gerakan kaki. kita berusaha menghindar dari berbicara yang tidak benar. salah satu keadaan mental yang muncul bersamaan dengan perhatian benar pada gerakan kaki membimbing pikiran pada obyek meditasi (gerakan kaki). Sammā sati : perhatian benar 3. Yaitu: 1. pikiran menjadi terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. mengetahui hal ini sebagai proses alami. Sammā samādhi : konsentrasi benar 4. Sammā ditthi : pengertian benar Kelima faktor mental ini sudah tercakup dalam perhatian penuh dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Terhindar dari penghidupan yang tidak benar berarti “penghidupan benar” (sammā ājīva). Sammā vayāmā : usaha benar 2. Terhindar dari berbicara yang tidak benar berarti “berbicara benar” (sammā vācā). Kemudian. Terhindar dari perbuatan yang tidak benar berarti “perbuatan benar” (sammā kammanta). Saat kita mengembangkan jalan mulai beruas delapan. Sammā sankappa : pikiran benar 5. Pada saat melatih meditasi pandangan terang. Kemudian. Karakteristik dari “pikiran benar” adalah mengarahkan pikiran pada obyek meditasi. konsentrasi tersebut menembus/menguak sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. kita telah mengembangkan lima faktor mental dari jalan mulia beruas delapan ketika kita berperhatian penuh pada gerakan kaki.seorang yogi. Dengan cara ini. yaitu gerakan kaki. kita dapat menghilangkan pandangan salah (sakkāya-ditthi 13 .

Jadi saat seorang yogi memasuki jalan kesucian yang pertama (sotapātti magga). salah satu faktor dari jalan mulia beruas delapan. jalan menuju berhentinya penderitaan. yogi tersebut telah mengembangkan jalan mulia beruas delapan (magga sacca) dengan lengkap.atau atta-ditthi) dengan kekuatan pengertian benar (sammā ditthi). 14 . Inilah caranya seorang yogi menyadari Empat Kebenaran Mulia. yaitu: dengan mengembangkan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya.

berarti menghidari perbuatan buruk. kita menghindari pembunuhan. terdapat tiga jenis latihan: * Latihan moral (sīla) * Latihan konsentrasi (samādhi) * Latihan kebijaksanaan (pañña) Ketika kita melatih sīla. Sīla kedua. Ketika kita menghindari perkataan dan perbuatan tidak baik. contoh: setidaknya melatih lima sīla (pañcasīla) atau delapan sīla (atthanggasīla) untuk umat awam. Ketika kita menjalankan lima sīla. Para bhikkhu dan bhikkhuni (sangha) melatih 227 sīla. pencurian. kita menjalankan sīla dengan baik dan benar. menghindari berbohong yaitu menghindari ucapan tidak benar dan tidak baik. yogi harus menjalankan delapan sīla sehingga yogi dapat mencurahkan waktu lebih banyak untuk bermeditasi. Oleh karena itu. Sīla keenam berarti tidak makan setelah tengah hari (setelah jam 12:00 sampai besok pagi). sīla kita telah dijalankan dengan baik. perbuatan asusila. itu berarti mengendalikan perkataan dan perbuatan. contoh: menghindari perbuatan asusila dan mengkonsumsi zat yang dapat melemahkan kesadaran. Sīla pertama. Selama mengikuti latihan meditasi. Sīla keempat. berarti menghidari perbuatan buruk.BAB II INSTRUKSI AWAL BAGI YOGI Dalam ajaran Sang Buddha. yang dikenal dengan Patimokkha. menghindari pencurian dan mengambil barang yang tidak diberikan pemiliknya. berbohong. menghindari pembunuhan. jika kita menghindari ucapan dan perbuatan tidak baik. dan mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran. Walaupun yogi tidak boleh makan 15 . Sama dengan sīla ketiga dan kelima.

dan tidak ada jiwa. yogi dapat dengan mudah mencapai konsentrasi yang dalam (samādhi) yang mengakibatkan timbulnya kebijaksanaan pandangan terang (pañña). Sīla visuddhi adalah persyaratan bagi seorang yogi untuk dapat maju dalam latihan meditasinya. anatta). ‘vi’ mengacu pada tiga karakteristik dari mental dan jasmani. Kitika kita melatih meditasi vipassanā atau meditasi pandangan terang. dukkha. diri atau ego (anatta). mempercantik diri seperti memakai bunga. ucapan dan perbuatan kita menjadi murni. bukan hanya menghindar dari perbuatan asusila. wangi-wangian. Dengan menghindari aktivitas-aktivitas tersebut. dengan demikian. Dengan merealisasi tiga corak umum dari mental dan jasmani. Untuk menjalankan sīla ketujuh. pikiran yogi menjadi stabil. yaitu: ketidakkekalan (annica). bermain dan mendengarkan musik. Jadi vipassanā berarti pengertian benar tentang tiga karakteristik dari mental (nāma) dan jasmani (rūpa). dan sebagainya. tujuannya adalah mengerti dengan benar tiga karakteristik umum (annica. Pelaksanaan delapan sīla berarti pemurnian moral (sīla visuddhi).’ Di sini. 16 . Sīla ketiga dari delapan sīla mengacu pada penghindaran dari dari segala aktivitas seksual.dalam waktu yang telah ditentukan. yogi boleh minum madu dan berbagai macam jus buah seperti jus jeruk atau lemon. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi melalui konsentrasi yang dalam. Sīla kedelapan adalah menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. yogi harus menghindari menari. menyanyi. ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha). Ketika moralnya telah murni. Kedelapan sīla ini harus dilaksanakan selama latihan meditasi. kita dapat membasmi kekotoran mental seperti: nafsu. Apakah Vipassanā itu? Vipassanā adalah istilah Dhamma yang merupakan kombinasi dari dua kata. ‘vi’ dan ‘passanā.

Di dalam kitab suci disebutkan. Oleh karena itu. melainkan sifat alamiah dari unsur tanah. “sifat keras dan sifat lembut adalah merupakan karakteristik khusus dari unsur tanah. Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk selalu berperhatian penuh pada empat unsur saat mereka muncul. 17 . Perhatian Penuh Terhadap Empat Unsur Selama dalam latihan. niat jahat. Pada permulaan latihan. Perenungan terhadap gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan “Mahā Satipatthāna Sutta. Dengan hancurnya semua kekotoran mental ini. serta kegelisahan dan penyesalan.” khotbah tentang Empat Landasan Perhatian Penuh. kita harus mengamati setiap proses mental dan jasmani yang muncul pada saat itu. Dalam kotbah tersebut. Selama kita masih mempunyai kekotoran mental ini. artinya kita telah merasakan sifat alamiah atau karakteristik khusus dari unsur tanah (pathavī-dhātu). iri hati. kesombongan.” Jadi. kesedihan dan kekhawatiran.keserakahan. kelesuan. Kekotoran mental (kilesa) adalah penyebab penderitaan. ada bab yang membahas perhatian penuh pada empat unsur. Unsur tanah adalah penamaan untuk mewakili karakteristik khususnya. kemalasan. tetapi semua fenomena mental dan jasmani harus diperhatikan. unsur api (tejo-dhātu). dan unsur angin (vāyo-dhātu). kita harus merenungkan gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Yang Mulia Mahāsi Sayādaw. kita mencapai keadaan berhentinya penderitaan. kebencian. semua penderitaan akan lenyap. unsur air (āpo-dhātu). seperti sifat keras dan lembut. pendambaan. keinginan. unsur tanah (pathavī-dhātu). kita pasti akan mengalami berbagai macam penderitaan (dukkha). jika kekotoran mental telah dibasmi. ketika kita merealisasi sifat keras dan sifat lembut pada bagian manapun dari tubuh kita. Tidak hanya keempat unsur ini saja. Kita harus memahami bahwa unsur tanah yang dimaksud bukanlah tanah dalam arti sesungguhnya.

dinding perut mengempis. kembung. Yang Mulia Mahāsi Sayadaw memberi petunjuk kepada para yogi untuk memulai dengan gerakan kembung kempis perut. Jika kita menyadari keadaan fleksibel atau lekat dibagian manapun dari tubuh kita. bukan sungguh-sungguh api.” 18 . itu berarti kita meyadari unsur angin. Panas dan dingin adalah karakteristik khusus dari unsur api (tejo-dhātu). atau jiwa. “semua proses mental dan jasmani harus disadari sebagaimana adanya. Sang Buddha Yang Maha Tahu bersabda. melainkan cerminan dari karakteristik khusus dari unsur air itu sendiri. kita mungkin tidak mengetahui obyek apa yang harus diamati terlebih dahulu. Yogi harus memfokuskan perhatiannya pada gerakan perut. kempis. mengembang. tetapi karakteristik khusus dari unsur api. makhluk. mengempis. Inilah perhatian penuh terhadap empat unsur. Jika kita menarik nafas.Unsur air yang dimaksud bukanlah air dalam arti sesungguhnya. tetapi hanyalah istilah yang diberikan untuk menerangkan karakteristik khusus dari unsur angin. itu berarti kita menyadari unsur air. Fleksibel dan mengikat/melekat adalah karakteristik dari unsur air (āpo-dhātu). Yogi harus mengamati gerakan keluar dan kedalam atau kembung dan kempisnya dinding perut. Untuk mengatasi kesulitan ini. kempis. perpindahan. menyadari dan mengerti dengan benar sifat alamiah dari pergerakan. catat sebagai “mengempis. Jika kita merasa. Unsur angin (vāyodhātu) juga bukan angin. perpindahan.” Dalam cara ini: “mengembang. Begitu pula dengan unsur api. harus dicatat sebagai “mengembang” dan jika dinding perut mengempis. kita dapat merasakan gerakan keluar (kembung) dan kedalam (kempis) dari dinding perut.” Ketika kita duduk pada suatu posisi yang menyenangkan dan mefokuskan perhatian kita pada proses mental dan jasmani. atau menopang dibagian manapun dari tubuh. sehingga mereka dapat memusnahkan pandangan salah mengenai seseorang. mengempis. getaran. getaran atau topangan dibagian manapun dari tubuh. Karakteristik khusus dari unsure angina harus disadari sepenuhnya oleh para yogi. yaitu: pergerakan. dinding perut mengembang. Jika dinding perut mengembung.” Dengan demikian. dan catat dalam hati sebagai “kembung. dan jika kita membuang nafas.

yogi mungkin tidak dapat mengatasinya. “mendengar. tak terputus dan konstan. maka pikiran secara alami kembali pada obyek utama. Kemudian. 19 . maka yogi harus kembali pada obyek utama. Setelah keadaan emosi menghilang. atau merasa menyesal dan sedih. catatlah dalam hati “berpikir. “mendengar. Perhatian Terhadap Keadaan Mental dan Emosi Ketika yogi merasa bahagia atau tidak bahagia.” dan seterusnya. tepat. maka yogi harus mencatat. yang harus diamati sebagaimana biasanya. sehingga pengamatan menjadi berkesinambungan. berperhatian penuh. atau sanak saudara. sedih.” Yogi harus berhati-hati pada tahapan ini.Sewaktu merenungkan gerakan perut. ide atau proses berpikir akan “berhenti” dengan sendirinya. bahagia” atau “tidak bahagia. jika suaranya telah menghilang. yaitu gerakan kembung kempis perut. Catatlah dalam hati. Secara alami pikiran kembali pada gerakan perut yang harus dicatat sebagaimana biasanya. Akhirnya pikiran yang mencatat tidak lagi memiliki obyek untuk dicatat. “kembung” dan “kempis” yang harus yogi catat sebagaimana biasanya. jika terdengar suara yang cukup keras untuk dicatat. keadaan mental harus diperhatikan sebagaimana adanya. Saat pikiran yang mencatat menjadi kuat. jadi yogi harus mencatat. Jika pikiran berkelana dan berpikir mengenai pekerjaan. keluarga.” atau “sedih. dan agak cepat. Kadang-kadang suaranya berlangsung selama satu atau dua detik. tidak bahagia. pikiran yang mencatat harus bersemangat. “bahagia. Saat yogi mengamati suatu keadaan mental atau emosi. mendengar. berikir. Jika dirasa sudah cukup untuk berhenti.” Pada permulaan latihan. pikiran yang mencatat secara alamiah akan kembali pada gerakan dinding perut. mendengar” sebanyak mungkin. mendengar. kamu harus meninggalkan perhatian terhadap gerakan dinding perut dan mengamati pikiran yang berkelana.

20 .Meditasi Jalan Sang Buddha bersabda bahwa perhatian penuh harus diterapkan pada empat sikap tubuh. sehingga mereka dapat berkonsentrasi lebih mudah dan lebih jauh mencapai pandangan terang pada proses jalan dan duduk. berdiri. konsentrasi yogi cukup baik. dalam. karena pada meditasi jalan. Ketika yogi telah mencapai tingkat keenam dari pengetahuan pandangan terang. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berbaring sebagaimana adanya. • Jika kamu berbaring. Tetapi pada permulaan latihan. Yogi dapat bermeditasi duduk dua atau tiga jam dan bermeditasi jalan satu jam. pada setiap sikap. yogi perlu melakukan meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berjalan sebagaimana adanya. • Jika kamu berdiri. • Jika kamu berjalan. dan berbaring. yogi dapat berlatih meditasi duduk lebih lama dari meditasi jalan. gerakan kaki lebih jelas dari gerakan dinding perut saat meditasi duduk. Setiap sesi meditasi duduk harus didahului dengan meditasi jalan. yaitu: berjalan. Yogi dapat mencapai tingkat konsentrasi tertentu dengan lebih mudah melalui meditasi jalan dibandingkan dengan meditasi duduk. Kami memberi petunjuk pada para yogi untuk berlatih meditasi jalan dan duduk secara bergantian. Jadi. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas duduk sebagaimana adanya. duduk. harus ada perhatian penuh. karena yogi belum bisa bermeditasi duduk lama tapi dapat bermeditasi jalan lebih lama. Pada tingkatan ini. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berdiri sebagaimana adanya. • Jika kamu duduk. dan kuat untuk menyadari lenyapnya fenomena mental dan jasmani (nāma dan rūpa). yogi mungkin memerlukan meditasi duduk yang lebih lama dibanbandingkan dengan meditasi jalan. Setelah mahir dalam bermeditasi.

” Dalam cara ini. catatlah dalam hati sebagai “kiri. Dalam berlatih meditasi jalan. yang pertama. kiri.” Ketika melangkah dengan kaki kanan. Ketika melangkah dengan kaki kiri. catatlah dalam hati sebagai “kanan. Hal ini juga bisa menimbulkan sakit kepala atau pusing. Jadi berhati-hatilah untuk tidak melihat ke sekeliling sehingga yogi dapat menjaga dan meningkatkan konsentrasi melalui meditasi jalan.Jadi. kanan. mata harus terpejam separuh (yang berarti tidak tegang dan menjaga mata dalam keadaan normal) dan yogi harus melihat ke bawah sekitar dua meter di depan kaki. melangkah. yogi tidak akan ingin melihat ke sekeliling lagi. Tangan harus disatukan di depan atau belakang. pikiran akan berkelana bersama mata dan konsentrasi menjadi terpecah. Kemudian. Jika yogi ingin mengubah posisi. boleh dilakukan. Kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling harus diamati dengan perhatian penuh dan dicatat sebagai “kecenderungan” atau “ingin melihat” hingga keinginan itu lenyap. Bila harus merubah posisi tangan. Jika yogi melihat ke kakinya.” Pencatatan atau pemberian nama tidaklah sepenting pengamatan terhadap langkah kaki. ubahlah posisi dengan sangat perlahan dan setiap gerakan yang terlibat di dalamnya harus diamati dengan perhatian penuh. yogi dapat menjaga konsentrasinya. ke sini atau ke sekeliling juga tidak diperbolehkan. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada gerakan kaki. yogi mencatat sebagai “kiri. Setelah keinginan itu lenyap. yogi harus berlatih meditasi jalan dengan menyadari langkah kaki. Sebaiknya. harus dicatat ”ingin.” atau hanya “melangkah. mata tidak boleh dipejamkan. Melihat ke sana. Yogi tidak boleh melihat ke kakinya. 21 . Yogi harus mengutamakan kewaspadaan yang tajam terhadap gerakan kaki. Yogi tidak boleh menundukan kepala terlalu rendah. Yogi mempunyai kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling ketika yogi merasakan ada yogi lain yang mendekat atau lewat di depannya. yogi segera merasakan ketegangan pada leher dan bahu. Jika menundukan kepada terlalu rendah.” Setelah itu. tetapi harus berperhatian penuh. ingin. Bila yogi melakukannya. kanan.

sebaiknya duduk paling tidak dua puluh – tiga puluh menit tanpa mengubah posisi. kembalilah ke pengamatan gerakan perut dan catat sebagaimana biasanya. Sedangkan bagi pemula. lakukanlah dengan sangat perlahan dan waspada terhadap semua gerakan dan perbuatan yang terlibat dalam mengubah sikap duduk. tapi lakukanlah dengan normal dan amati dengan perhatian penuh. sehingga yogi dapat menerapkan perhatian penuh terhadap setiap gerakan tubuh yang kecil sekalipun. Yogi tidak boleh berbicara kecuali beberapa kata yang diperlukan pada rutinitas sehari-hari. yogi tidak perlu memperlambat semua tindakan dan gerakan.” Bila tidak tertahankan dan harus merubahnya. Berbeda dengan di rumah. Semua tindakan dan gerakan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana adanya. Setelah perubahan selesai dilakukan.Tidak boleh lengah pada setiap gerakan atau aksi. bagi yogi yang telah mempunyai pengalaman berlatih meditasi. teruskan mencatat gerakan kaki seperti sebelumnya. sebaiknya duduk setidaknya selama empat puluh lima menit tanpa mengubah posisi. yogi dilarang melakukan tindakan atau gerakan dengan cepat. Jika yogi tidak dapat mengatasi rasa sakit yang timbul. Yogi harus melakukan segala seuatunya dengan suara yang amat kecil atau tanpa suara sama sekali. Pada saat retret. Kewaspadaan Ketenangan Pada retret meditasi. Yogi jangan menimbulkan suara dengan berjalan dengan 22 . Setelah posisi tangan diubah. ingin.yogi harus memperlambat semua tindakan dan gerakan karena yogi tidak ada tugas lain kecuali selalu berperhatian penuh pada semua aktivitas mental dan jasmani. Beberapa kata tersebut juga harus diucapkan dengan perlahan dan lembut sehingga tidak mengganggu konsentrasi yogi lain. Semua tindakan dan gerakan harus dilakukan secara perlahan sedapat mungkin. Dalam meditasi duduk. catatlah keinginan untuk mengubah sikap tubuh sebagai “ingin. Itulah yang dimaksud dengan berperhatian penuh secara umum. Sebelum melakukan perubahan posisi. yogi akan merasakan dorongan untuk mengubah posisinya.

Oleh karena itu. juga harus dilakukan dengan perlahan dan waspadai setiap gerakan karena kita ingin mengerti setiap proses mental dan jasmani yang sebenarnya. Juga harus waspada terhadap segala macam aktivitas mental dan jasmani sebagaimana adanya. harus berperhatian penuh terhadap semua tindakan dan gerakan dalam kegiatan makan. kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. 23 . pandangan terang akan terbuka dengan sendirinya. Semua proses mental dan jasmani selalu berubah. timbul dan tenggelam. Bila yogi berperhatian penuh terhadap gerakan kakinya. muncul dan lenyap. waspadai seluruh gerakan saat duduk. yogi harus memperlamba semua tindakan dan gerakan. Yogi harus berperhatian penuh terhadap segala sesuatu yang muncul pada mental dan jasmani. ataupun minum.kasar dan berat. Ketika perhatian penuh menjadi berkesinambungan. semua kegiatan harus diperlambat dan amati gerakannya. Oleh karena itu. Perhatian penuh dan konsentrasi akan membuka jalan untuk berkembangnya pandangan terang. berpakaian. Ketika ingin duduk. konsentrasi menjadi dalam dengan sendirinya. Begitu pula saat mandi. yogi tidak akan menimbulkan suara apapun ketika berjalan. Saat konsentrasi menjadi dalam. Saat makan. lakukanlah dengan perlahan. Ketika ingin berdiri.

Kata saddhā susah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Jika kita melakukan perbuatan baik seperti itu. Jika kita menterjemahkan saddhā sebagai keyakinan. Keempat aspek itu adalah: 1. kata “keyakinan” tidak melingkupi arti yang sesungguhnya. Dan jika kita terjemahkan sebagai “kepercayaan. Aspek pengabdian dalam agama Buddha 2. saddhā dapat diartikan sebagai percaya melalui pengertian yang benar terhadap Dhamma. Tetapi sebelum saya membahas hal itu. mempersembahkan bunga dan dupa. Bagi saya. Aspek praktek dalam agama Buddha (termasuk aspek pengalaman) Aspek pengabdian Aspek pengabdian dalam agama Buddha berarti “upacara dan ritual.BAB III TUJUH MANFAAT MEDITASI VIPASSANĀ Tujuh manfaat meditasi vipassanā seperti yang diajarkan Sang Buddha tertulis dalam Mahā Satipatthāna Sutta. tak ada kata dalam bahasa Indonesia yang sepadan. juga mempersembahkan makanan dan jubah. Aspek etika dalam agama Buddha 3. kita melakukannya dengan keyakinan.” membaca sutta dan parita. Aspek moral dalam agama Buddha 4. Kita tidak dapat menemukan satu kata pun dalam bahasa Indonesia yang dapat memberikan arti yang lengkap dari saddhā. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. Sraddhā (dalam bahasa Sanskrit) atau Saddhā (dalam bahasa Pali). 24 . saya ingin menerangkan kepadamu secara singkat mengenai empat aspek dalam agama Buddha.” kata ini juga tidak melingkupi arti saddhā yang sebenarnya.

kita melakukan dengan keyakinan terhadap tiga permata (Triratna). Untuk alasan ini. Sangha Mulia yang telah mencapai salah satu dari empat sang jalan (magga). kita tidak boleh puas hanya dengan aspek pengabdian ini jika kita ingin menikmati intisari dari ajaran Sang Buddha dan terbebas dari segala macam penderitaan. Dengan cara yang sama. Kita percaya bahwa jika kita mengikuti jalanNya atau ajaranNya. Dhamma. Beliau adalah seorang Buddha karena beliau telah berjuang dan mencapai penerangan sempurna berkat usaha sendiri. kita percaya pada Sangha. Jika kita berkata Sangha. kita pasti akan hidup bahagia dan damai. Dhamma (ajaran-Nya). Walaupun demikian. Melakukan perbuatan-perbuatan berjasa ini membentuk aspek pengabdian dalam agama Buddha. bukan karena belajar Dhamma dari guru-guru lain.Ketika kita melakukan upacara agama. Kita percaya kepada Sang Buddha dengan cara ini. dan Sangha (kelompok siswa-siswi Sang Buddha). Tetapi dalam pengertian umum. Kita yakin terhadap Buddha. kita percaya pada Dhamma. Oleh karena itu. 25 . sehingga beliau layak dihormati (seorang Arahat). Kita memiliki pandangan bahwa Sang Buddha telah menghancurkan seluruh kekotoran mental melalui pencapaian pencerahan sempurna. dan Sangha. dan Beliau mengajarkan kita jalan yang menuju pada berhentinya segala macam penderitaan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup bahagia dan damai. arti utamanya adalah Ariya Sangha. Kita juga percaya bahwa dengan membacakan sutta dan paritta sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha. kita harus terus maju untuk berlatih aspek yang lebih tinggi. dan dapat melepaskan diri dari penderitaan. Demikianlah kita memberikan penghormatan kepada tiga permata (Triratna) yaitu: Buddha. kita melakukan perbuatan berjasa yang akan membantu pada tercapainya keadaan berhentinya penderitaan. juga mengacu pada Sammuti Sangha (mereka yang masih berjuang untuk menghancurkan kekotoran mental).

Ini adalah tiga bagian dari aspek etika dari apa yang telah diajarkan oleh Sammā Sambuddha dan ini adalah nasehat dari semua Buddha. Kekotoran mental tertentu yang telah dihancurkan oleh vipassanā ñāna tidak akan mampu menyerang kita lagi. kekotoran mental tersebut tidak dapat kembali lagi. kita harus melatih meditasi samatha dan vipassanā. Jika kita mengikuti ajaran ini. dan lain-lain. tetapi kita tidak dapat menghilangkan penderitaan secara total. kita tidak akan mengalami penderitaan karena hasil yang buruk. Memurnikan pikiran dari segala macam kekotoran mental.Aspek Etika Aspek kedua dalam agama Buddha adalah aspek etika. kita dapat mencapai kehidupan yang bahagia baik dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. Artinya. pengalaman 26 . Dengan meditasi samatha pikiran dapat dimurnikan hanya sewaktu kita berlatih meditasi. dan mental kita. jika kita telah mengalami pengetahuan pandangan terang. Dengan mengikuti doktrin-doktrin ini. kemarahan. kita dapat hidup bahagia dan damai karena agama Buddha ditemukan berdasarkan hukum sebab dan akibat. Guna memurnikan pikiran dari kekotoran mental. Menghidari segala macam perbuatan buruk atau jahat 2. Melakukan perbuatan berjasa atau perbuatan baik 3. Realisasi atau pandangan terang dari fenomena mental dan jasmani dikenal sebagai vipassanā ñāna (pengetahuan pandangan terang). Vipassanā ñāna ini dapat mengatasi dan mengurangi beberapa aspek dari kekotoran mental seperti: keserakahan. Aspek etika dalam agama Buddha adalah: 1. khayalan. Jika kita memurnikan pikiran kita melalui realisasi dari proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. tetapi bila tidak dalam keadaan bermeditasi. kekotoran mental akan menyerang kita kembali. Hal ini mengikuti ajaran Sang Buddha mengenai pemurnian dari perbuatan. Jika kita menghindari segala macam perbuatan buruk. ucapan. Ada banyak doktrin yang mengupas aspek etika dalam agama Buddha.

kita akan berusaha keras dalam berlatih hingga mencapai magga keempat. Ketika kita merenungkan pengalaman pandangan terang yang telah dicapai dalam meditasi. sedangkan dua bahasan sebelumnya berhubungan dengan aspek etika dalam agama Buddha. 61) yang mungkin 27 . tidak akan muncul penderitaan lagi. ayat 258-269) dengan 38 jenis berkah utama. Itu berarti. Sutta No. kekotoran mental yang telah dibasmi tidak akan muncul lagi. Dengan kekuatan pandangan terang ini. Ada juga Manggala Sutta (Sutta Nipata. • Kamu harus melakukan perbuatan berjasa sebanyak mungkin dalam kehidupan ini juga. kita dapat memurnikan pikiran dari beberapa kekotoran mental. pandangan terang ini akan muncul kembali. kita harus menjaga perbuatan. Di sini kita dapat menghancurkan seluruh kekotoran mental. Di dalam sutta ada beberapa etika yang harus diikuti yang dapat membuat kita hidup bahagia dan damai. ucapan. Contohnya: • Kamu harus tinggal di tempat yang sesuai di mana kamu dapat menjadi sejahtera dalam segala aspek karena telah malakukan perbuatan berjasa di kehidupan yang lampau. Dalam hal ini. ucapan. Tetapi bila kita memiliki saddhā yang tinggi. Ketika seluruh kekotoran mental. Penderitaan akan berhenti.tersebut tidak akan hilang atau lenyap dari diri kita. dan pikiran dengan pantas. tingkat jalan kesucian Arahat. kita memiliki berbagai aspek etika untuk diikuti sehingga kita dapat hidup bahagia dan damai. Saya ingin mengingatkan para yogi megenai Ambalatthika Rahulovada Sutta (Majjhima Nikaya. • Kamu harus memperhatikan perbuatan. Sehingga. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental ini berhubungan dengan aspek praktek dalam agama Buddha. maka tak ada lagi penderitaan. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental telah dihancurkan dan pikiran telah termurnikan sepenuhnya. dan pikiran agar bersih dari kekotoran mental.

untuk hidup dengan benar. Sepuluh sīla adalah untuk calon bhikkhu (samanera).tidak asing dengan yogi semua. Ada berbagai aspek etika yang tak terhitung yang dapat mendukung pada kehidupan yang bahagia dan damai. Dalam sutta tersebut Sang Buddha mengajarkan putra-Nya. Tetapi jika perbuatan ini tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. aspek ketiga yaitu aspek moral. dan untuk merenungkan terhadap apa yang telah dilakukan. kamu harus berperhatian penuh terhadap apa yang akan kamu lakukan dan mempertimbangkan apakah perbuatan ini akan merugikan diri sendiri atau orang lain. kamu tidak boleh melakukannya. bisa 5. Rāhula. Dalam kehidupan sehari-hari. 8. Setelah mempertimbangkannya. Jadi etika ini juga merupakan cara terbaik untuk hidup bahagia dan damai dalam kehidupan sehari-hari. kita pasti akan hidup bahagia dan damai walaupun kita belum dapat melenyapkan semua penderitaan. Jika kita mencoba untuk mengerti etika-etika ini dan mengikutinya. kamu boleh melakukannya. jika kamu menemukan bahwa perbuatan ini merugikan diri sendiri maupun orang lain. sedangkan bhikkhu harus menjalankan 227 sīla. Aspek Moral Walaupun aspek etika sangat kondusif untuk membawa seseorang pada kehidupan bahagia dan damai. umat awam setidaknya harus menjalankan lima sīla. kita tak boleh puas hanya dengan aspek kedua dalam agama Buddha. dan damai. Rāhula. atau 10. yogi harus melaksanakan sīla. 28 . Sang Buddha mengajarkan Rāhula untuk berhenti dan merenung jika ia memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. untuk waspada terhadap apa yang sedang dilakukan. bahagia. Sang Buddha memberi petunjuk kepada Rāhula untuk mempertimbangkan apa yang akan dilakukan. Dengan cara ini. Dalam aspek moral. samanera berumur 7 tahun. Kita harus melanjutkan pada aspek yang lebih tinggi dalam agama Buddha.

Sang Buddha lebih menekankan pada meditasi tipe kedua . Ketika kita berlatih meditasi vipassanā. baik itu meditasi samatha ataupun meditasi vipassanā. di mana pikiran menjadi jernih. Kita harus berlatih meditasi sehingga kita dapat melepaskan diri dari kekotoran mental dan sebagai akibatnya. yogi dapat berlatih meditasi dengan mudah. moral kita menjadi murni. tetapi meditasi vipassanā membawa ke pencapaian nibbanā melalui realisasi proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. Sang Buddha menerangkan tujuh manfaat yang bisa didapat seseorang yogi melalui pengalaman Dhammanya. ia dapat 29 . dipastikan kita akan mencapai nibbanā. Dalam hal ini. Manfaat pertama adalah pemurnian dari semua kekotoran mental.Jika kita dapat menjalankan lima sīla dengan sempurna. kita dapat berlatih dua macam meditasi yang merupakan aspek praktek dalam agama Buddha. Aspek Praktek Berikutnya adalah aspek keempat. Berdasarkan kemurnian kelakuan moral. Jika kelakuan moral telah murni. tenang. Jika kita menerapakan perhatian penuh pada semua proses mental dan jasmani. Meditasi samatha dapat membawa ke pencapaian konsentrasi yang dalam. aspek praktek dalam agama Buddha. dan bahagia. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. mencapai berhentinya segalam macam penderitaan. yogi harus mengikuti Mahā Satipatthāna Sutta.meditasi vipassanā. seorang yogi dapat dengan mudah berkonsentrasi pada obyek meditasi dan mendapatkan konsentrasi yang dalam. Tujuh Manfaat Meditasi Pada permulaan syair sutta tersebut. Sang Buddha menerangkan Empat Landasan Perhatian Penuh pada saat Beliau memberikan kotbah tentang Mahā Satipatthāna Sutta di propinsi Kuru. Jika seseorang melatih meditasi vipassanā.

setiap yogi harus berjuang karena belum terbiasa menjalankan meditasi vipassanā. mungkin hanya barlangsung selama dua atau tiga hari. Ahirika 10. Vicikichā 7. kemarahan. nafsu. Dosa adalah kebencian.” Pada awal latihan. Thina-middha adalah “temen lama” dari para yogi dan juga dari mereka yang mendengarkan Dhamma. Mengantuk juga termasuk dari kategori ini. tapi tidak akan bertahan lama. mendambakan. Ini adalah keadaan kritis dalam meditasi. 30 . Kata bahasa Pali ’kilesa’ mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Anottappa Lobha berarti bukan hanya keserakahan tetapi juga keinginan. Setelah tiga hari. Kilesa diterjemahkan sebagai kekotoran mental oleh cendikiawan Budhhist. Saat salah satu keadaan mental ini muncul. semua yogi akan baik kembali. 4. kemelekatan dan cinta. 5. Lohba Dosa Moha Ditthi Māna 6. Uddhacca-kukkucca 9. Thina-middha 8. saya mengantuk. Sehingga hal ini bisa juga disebut sebagai kekotoran mental. semua yogi melaporkan pengalamannya: “saya capek. Hari ini. kehendak jahat atau ketidaksukaan. Moha adalah khayalan atau kebodohan mental Ditthi adalah pandangan salah Māna adalah kesombongan Vicikichā adalah keragu-raguan Thina-middha adalah kemalasan dan keengganan. 3. sewaktu wawancara. 2. Mereka akan menemukan bahwa tidak terlalu susah untuk mengalahkan “teman lama” yang menghalangi kemajuan mereka pada konsentrasi dan juga pandangan terang. pikiran menjadi tercemar.memurnikan pikirannya dari seluruh kekotoran mental (kilesa). Kekotoran mental ada 10 macam: 1.

Dengan cara inilah kekhawatiran dan kesedihan dapat diatasi oleh meditasi vipassanā. dan tindakan jasmani. dan tindakan jasmani. ia dapat mencapai tingakt kesucian arahat. ataupun saudara anda meninggal. tingkat kesucian Arahat pasti tercapai dan terbebas dari kekhawatiran dan kesedihan secara permanen. sedih terhadap kematian saudara. pikiran. anda tidak akan merasa sedih akan kematian mereka karena anda mengerti 31 . anda tetap dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran dalam batas tertentu. kekhawatiran atau kesedihan akan berhenti dan hilang. Bila anda telah mengembangkan meditasi vipassanā sepenuhnya. jika telah membersihkan diri sepenuhnya dari segala macam kekotoran mental. Anda tidak akan menyesal terhadap apapun jika anda berlatih meditasi vipassanā. Seseorang yang tidak merasa malu terhadap perubuatan buruk baik melalui ucapan. Sang Buddha bersabda: jika seseorang berlatih meditasi vipassanā.Uddhacca-kukkuccā berarti kegelisahan dan kekawatiran. anda akan berperhatian penuh padanya sebagaimana adanya. adalah sikap mental yang tidak merasa takut dalam melakukan perbuatan jahat melalui ucapan. atau kehilangan pekerjaan. ia akan bersih dari semua kekotoran mental. Inilah manfaat pertama. Semua itu adalah sepulauh macam kekotoran mental yang harus dilenyapkan atau dihilangkan dari pikiran kita dengan berlatih meditasi vipassanā. Ahirika berarti sifat yang tidak tahu malu. anak. Yang berarti. Perasaan tidak takut berbuat jahat ini adalah salah satu kekotoran mental. pikiran. Walaupun orang tua. Hal ini dikarenakan saat kesedihan atau kekhawatiran muncul. Ketika perhatian penuh menjadi kuat. Manfaat kedua dari vipassanā adalah mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. Anda tidak akan merasa khawatir terhadap kegagalan. Manfaat ketiga yaitu dapat mengatasi ratap tangis. Anottappa berarti tidak merasa takut. Walaupun belum mencapai jalan dan buah (magga dan phala).

sepenuhnya proses mental dan jasmani terhadap yang kita sebut ’anak’ atau ’orang tua.’ Dalam hal ini, ratap tangis dapat diatasi dengan berlatih meditasi vipassanā. Mengenai manfaat ketiga, ada komentar terhadap Mahā Satipatthāna Sutta yang mengisahkan sebuah cerita sebagai berikut: Seorang wanita, bernama Patacara, yang suami, kedua putra, orang tua, dan saudara-saudaranya meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Dia kemudian menjadi gila karena kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangis. Ia diliputi oleh kesedihan yang disebabkan oleh kematian orang-orang yang dicintainya. Komentar ini mengisahkan cerita tersebut sebagai bukti nyata bahwa orang dapat mengatasi kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis dengan meditasi vipassanā. Suatu hari, Sang Buddha memberikan kotbah kepada orangorang yang hadir di vihara Jetavana dekat Savatthi. Kemudian wanita yang tak waras ini pergi berjalan ke vihara dan melihat para hadirin mendengarkan kotbah, dan mendekati para hadirin. Seorang pria tua yang sangat baik kepada orang miskin, melepaskan jubah luarnya dan melemparkannya kepada wanita tersebut. Ia berkata “Anakku sayang, gunakanlah jubahku ini untuk menutupi tubuhmu.” Pada saat yang sama, Sang Buddha berkata kepadanya, “Saudari yang baik, sadarlah.” Karena kata-kata Sang Buddha yang lembut, kesadaran wanita tersebut kembali pulih. Ia kemudian duduk di salah satu sudut dan ikut mendengarkan kotbah. Sang Buddha yang mengetahui bahwa wanita tersebut telah pulih kesadarannya, mengarahkan kotbah itu kepadanya. Mendengar kotbah yang diberikan oleh Sang Buddha, wanita itu perlahan-lahan menyerap intisari Dhamma tersebut. Saat pikirannya telah siap untuk merealisasi Dhamma, Sang Buddha membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya 32

Magga-sacca

Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan

Empat kebenaran mulia mencakup nasehat bagaimana caranya untuk tetap berperhatian penuh pada apapun yang muncul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. Patacara, setelah pikirannya kembali normal, mengerti dengan baik teknik vipassanā, menerapkannya terhadap apapun yang muncul dari proses mental dan jasmani dan pada apapun yang didengar. Ketika perhatian penuhnya mencapai momentum, konsentrasinya juga menjadi lebih dalam dan kuat. Karena konsentrasi yang dalam, pengetahuan pandangan terangnya yang dapat menembus proses mental dan jasmani menjadi kuat. Akhirnya perlahan-lahan Patacara dapat merealisasi karakteristik khusus dan karakteristik umum dari fenomena mental dan jasmani. Oleh karena itu, Patacara dengan cepat mengalami semua tingkat-tingkat pengetahuan vipassanā sewaktu mendengarkan kotbah, dan ia mencapai jalan kesucian yang pertama (sotāpattimagga). Melalui pengalamannya terhadap Dhamma dari meditasi vipassanā, kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis yang dimilikinya menghilang total dari pikirannya dan ia menjadi “wanita baru.” Demikianlah, Patacara mengatasi kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangisnya melalui meditasi vipassanā. Komentar Mahā Satipatthāna Sutta menyebutkan, bukan hanya orang-orang di zaman Sang Buddha, tapi orang-orang di zaman sekarang juga dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran jika mereka berlatih meditasi vipassanā dan mencapai tahapan pandangan terang yang tinggi. Yogi semua juga termasuk orang yang dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran melalui meditasi vipassanā. Manfaat keempat adalah berhentinya penderitaan jasmani. Manfaat kelima adalah berhentinya penderitaan mental. Penderitaan jasmani seperti rasa sakit, kaku, gatal, kesemutan, dan 33

sebagainya dapat diatasi dengan berperhatian penuh pada saat retret meditasi dan begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika yogi memiliki beberapa pengalaman dalam latihan meditasi, yogi dapat mengatasi penderitaan mental dan jasmani dalam lingkup yang lebih besar. Jika kamu meluangkan waktu dan usaha yang cukup, kamu dapat melenyapkan penderitaan mental dan jasmani secara permanen (selamanya) ketika kamu mencapai tingkat kesucian arahat. Selama latihan meditasi, kamu dapat mengatasi rasa sakit, kaku, kesemutan, gatal, dan segala macam sensasi jasmani yang tak menyenangkan dengan mengamati sensasi tersebut secara cermat dan penuh perhatian. Oleh karena itu, yogi tak perlu takut terhadap rasa sakit, kaku, atau kesemutan karena mereka adalah “temen baikmu.” yang dapat membantu yogi mencapai nibbanā. Jika yogi mengamati rasa sakit dengan bersemangat, tepat, dan rapat, mungkin akan terasa lebih kuat intensitasnya. Hal itu dikarenakan yogi mengetahuinya dengan lebih jelas. Setelah yogi mengerti bahwa sensasi sakit itu tidak menyenangkan, yogi tidak akan menganggapnya sebagai bagian dari dirinya, karena sensasi tersebut dilihat hanya sebagai proses alami dari fenomena mental. Yogi tidak akan melekat pada sensasi rasa sakit sebagai ’aku’ atau ’milikku,’ atau ’seseorang’ atau ’makhluk.’ Dengan cara ini, yogi dapat menghapus pandangan salah tentang jiwa, diri, seseorang, makhluk, ’aku’ atau ’kamu.’ Jika akara dari segala macam kekotoran mental telah dihancurkan, contohnya: sakkāya-ditthi atau atta-ditthi telah dihancurkan, yogi pasti dapat mencapai jalan kesucian pertama, sotāpatti-magga. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihan untuk mencapai tiga tingkatan dari jalan dan buah kesucian yang lebih tinggi. Itulah sebabnya saya katakan bahwa sensasi jasmani yang tak menyenangkan seperti sensasi sakit, kaku, dan kesemutan sebagai “temen baikmu” yang dapat membantu yogi mencpai nibbanā. Dengan kata lain, kesemutan atau sensasi sakit ini adalah kunci pintu nibbanā. Ketika yogi merasakan sakit, yogi beruntung. Sakit adalah obyek meditasi yang sangat berharga karena dapat menarik ’pikiran yang mencatat’ untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama. ‘pikiran yang mencatat’ dapat berkonsentrasi dengan dalam dan 34

terserap pada sensasi sakit tersebut. Jika pikiran telah terserap sepenuhnya dalam sensasi sakit, yogi tidak lagi sadar akan bentuk badan atau dirinya. Ini berarti yogi merealisasi karakteristik khusus (sabhava-lakkhana) dari sensasi sakit (dukkha-vedanā). Dengan melanjutkan latihan, yogi akan dapat merealisasi karakteristik umum, ketidakkekalan, penderitaan, dan tidak ada jiwa or tidak ada diri dari fenomena mental dan jasmani. Akhirnya membawa yogi ke nibbanā. Jadi yogi beruntung mendapatkan rasa sakit. Di Burma, beberapa yogi, setelah melewati tingkat ketiga pandangan terang (sammasana-ñāna), hampir sepenuhnya dapat mengatasi rasa sakit. Walaupun demikian, mereka tidak puas karena mereka tidak memiliki rasa sakit diperhatikan. Sehingga mereka melipat kaki mereka di bawah badan dan menekannya guna mendapatkan rasa sakit. Mereka mencari “teman baik” yang dapat menuntun mereka menuju berhentinya penderitaan. Jika yogi merasa tidak bahagia, amatilah ketidakbahagiaan dengan penuh semangat, perhatian penuh, dan dengan rapat sebagai ‘tidak bahagia, tidak bahagia.’ Jika yogi merasa tertekan, tekanan mental itu harus diamati dengan berperhatian penuh dan tak kenal lelah. Bila perhatian penuh yogi menjadi kuat, ketidakbahagiaan dan tekanan mental akan berhenti. Jadi, mengatasi penderitaan mental adalah keuntungan kelima dari meditasi vipassanā. Manfaat keenam adalah pencapaian pencerahan, jalan dan buah kesucian (magga dan phala). Jika yogi mengabdikan usaha dan waktu yang cukup untuk berlatih meditasi vipassanā, yogi setidaknya akan mencapai jalan kesucian tingkat pertama (sotāpatti-magga). Inilah manfaat keenam dari meditasi vipassanā. Manfaat ketujuh adalah yogi pasti mencapai nibbāna, pembebasan, melalui latihan meditasi vipassanā. Jadi, inilah ketujuh manfaat dari meditasi vipassanā yang didapat oleh yogi melalui pengalaman langsung dalam Dhamma: 1. Pemurnian dari semua kekotoran mental. 35

4. maka tangannya akan bersih.2. Walaupun ia mengetahui hal itu. yogi akan dapat memurnikan dirinya dari segala 36 . tetapi ia tidak melakukannya. pengembara. ia tidak pergi ke kolam untuk mencuci tangannya. Oleh karen itu. Sang Buddha memulai Mahā Satipatthāna Sutta dengan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. Mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. Pencapaian pencerahan. 6. pengembaralah yang harus disalahkan. Ia melewati kolam dan meneruskan perjalanannya. Dalam naskah diajukan sebuah pertanyaan: “Jika pengembara itu tetap kotor. Jika kita tahu jalannya tetapi tidak melatih meditasi vipassanā ini. Tapi kita tidak boleh puas. Walaupun ia tahu ia dapat mencuci kotorannya di kolam. Seorang pengembara yang tangannya kotor mengetahui bahwa jika ia memcuci tangannya di kolam. Dalam hal ini. Kita beruntung karena kita percaya pada Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna dan yang mengajarkan jalan yang benar. atau diri kita sendiri? Ya. 3. Pencapaian nibbāna. 7. Berhentinya semua penderitaan jasmani. Siapa yang harus disalahkan? Sang Buddha. kolam atau pengembaranya?” Jelas. sehingga tangannya tetap kotor. Jika yogi melatih meditasi vipassanā ini dengan usaha yang gigih. kitalah yang harus disalahkan. 5. Sang Buddha mengajarkan kita cara berperhatian penuh. Berhentinya semua penderitaan mental. Sehingga yogi pasti mendapatkan ketujuh manfaat di atas jika berusaha dengan gigih dalam latihannya. meditasi vipassanā. yang dapat menuntun pada berhentinya penderitaan. kita tidak dapat melenyapkan penderitaan. siapa yang harus disalahkan. Mengatasi ratap tangis. Dalam naskah-naskah pali ada perumpamaan: Ada sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih dan banyak bunga teratai di dalamnya.

37 .kekotoran mental dan melenyapkan semua penderitaan dengan mencapai ketujuh manfaat dari latihan meditasi vipassanā.

tidak menyenangkan. Saat perasaan menyenangkan. Empat landasan perhatian penuh tersebut adalah: 1. Ada tiga macam sensasi atau perasaan. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan. Vedanānupassanā Satipatthāna 3. yaitu: a. Cittānupassanā Satipatthāna 4. Sebenarnya. juga bukan tidak menyenangkan). yogi dipastikan akan melekat atau menolak perasaan tersebut. Dhammānupassanā Satipatthāna Kāyānupassanā satipatthāna berarti perenungan terhadap jasmani atau perhatian penuh terhadap semua proses jasmani sebagaimana adanya. semua perasaan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka terjadi. yogi harus berperhatian penuh terhadap perasaan tersebut sebagaimana adanya. yogi melekat pada perasaan tersebut. Jika yogi tidak mengamati atau mencatat perasaan senang atau tidak senang. bukan menyenangkan. 38 . Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan.BAB IV EMPAT LANDASAN PERHATIAN PENUH Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan Empat Landasan Perhatian Penuh setelah menerangkan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. c. b. Kāyānupassanā Satipatthāna 2. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan disebut dukkha vedanā (dukkha berarti tidak menyenangkan) Dan sensasi atau perasaan yang netral disebut upekkhā vedanā (upekkhā berarti netral. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan disebut sukha vedanā (sukha berarti menyenangkan. Saat yogi menyukai perasaan tertentu. Beberapa yogi berpendapat bahwa perasaan yang tidak menyenangkan tidak perlu diamati karena hal itu tidak menyenangkan. atau netral muncul. Vedanānupassana satipatthāna adalah perenungan terhadap sensasi atau perasaan. Sensasi atau perasaan yang netral. vedanā berarti sensasi atau perasaan).

ketenangan. Yogi tidak dapat membedakan antara perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan. Jika yogi berlatih meditasi vipassanā dengan gigih dan tak kenal lelah. perasaan yang menyenangkan adalah penyebab. Jika seorang yogi berjalan dengan berperhatian penuh. yogi dapat melewati tingkat pandangan terang ini. kesombongan. dan sebagainya. itu berarti dia melekat pada kondisi tersebut. mengangkat keseluruhan kaki (naik). konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. Jika yogi mengerti akan hal ini. Dalam hal ini. mencatat keenam tahapan langkahnya: mengangkat tumit kaki (angkat). Akibatnya. Saat konsentrasi yogi dalam dan kuat. yogi seharusnya hanya mengamati pengalaman yang telah dicapainya pada tingkat ini. memajukan kaki (dorong). kebencian. Apa yang dialaminya pada saat itu hanyalah perasaan yang muncul dan tenggelam saja. kebahagiaan. Apapun yang dialaminya pada tingkatan ini. Jika yogi menikmati dan merasa puas dengan apa yang dialaminya. Kemudian perasaan lain muncul dan tenggelam lagi. yogi tidak dapat maju ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. kemudian ia akan terlepas dari pengalamannya dan meneruskan latihannya untuk pandangan terang yang lebih tinggi. yogi merasa bahagia dan mengalami kegiuran. menurunkan kaki (turun). Ketika yogi mencatatnya dengan perhatian penuh dan terus-menerus. dan kemelekatan adalah akibat. dan tekan. yogi tidak akan melekat jika yogi mengamati pengalamannya dengan perhatian penuh dan penuh semangat. Hal ini dikarenakan pikirannya pada saat itu cukup bersih dari segala kekotoran mental seperti keserakahan. 39 . sentuh. Hanya dengan demikian. atau kedamaian tidak akan muncul dalam dirinya dengan sangat jelas. khayalan. Yogi yang tak kenal lelah ini telah mencapai tingkat pandangan terang yang sangat baik karena pikirannya sekarang menjadi damai dan tenang.Kemelekatan atau tanhā itu muncul bergantung kepada perasaan atau sensasi. Pengalaman demikian dapat dicapai pada bagian pertama dari pandangan terang tingkat keempat.

Di sini. yogi akan menyukai pengalaman ini dan menginginkan yang lebih besar lagi. Dhamma berarti proses mental dan juga proses 40 . yogi akan menemukan bahwa pengalamannya tidak kekal. karena ini adalah penglaman terbaik yang pernah didapatnya. Kapanpun yogi melakukan pencatatan. Hal ini dikarenakan yogi telah mengerti sifat alamiah ketidakkekalan melalui pengalaman Dhammanya sendiri. Yogi hanya menyadari gerakan kakinya. misalnya keadaan mentalnya. Dalam tahapan ini. berkesinambungan. Jika seorang yogi menikmati perasaan menyenangkan atau perasaan tidak menyenangkan mengenai penglaman baiknya tanpa berperhatian penuh. Akibatnya yogi tidak akan menyadari bentuk kakinya. dan oleh karena itu yogi melekat pada sensasi tersebut. Kemelekatan ini muncul tergantung pada sensasi atau perasaan menyenangkan tentang pengalaman baiknya. Bila yogi tidak mengamati pengalaman ini dengan perhatian penuh. Jika perasaan menyenangkan itu muncul. Ketika pikiran yang mencatat menjadi konstan. Yogi tidak boleh menganalisa atau berpikir mengenai hal ini. dan kuat. Yogi harus waspada terhadap setiap pengalaman yang timbul. yogi pasti akan melekat kepada perasaan itu. kemudian perasaan menyenangkan itu lenyap kembali. dalam. maupun menyadari tubuh ataupun bentuk tubhnya. Yogi kemudian dapat menyimpulkan bahwa perasaan menyenangkan yang terjadi bersama pengalamannya bersifat tidak kekal (anicca). yogi mungkin merasa seperti berjalan di udara. Semua ini dapat terjadi karena yogi tidak mengamati pengalaman menyenangkan yang dialaminya. pikiran tersebut akan menembus sifat alamiah dari pengalamannya. pikiran mencatatnya. agar dapat merealisasi pengalaman terhadap proses mental atau keadaan mental yang juga tidak kekal.konsentrasinya akan menjadi bagus. Jadi yogi harus mengamati dan waspada dengan perhatian penuh terhadap pengalaman apapun yang didapatnya pada tingkat ini. dan kuat. Pikiran mulai merelalisasi bahwa pengalaman yang terjadi telah lenyap. yogi mengalami pengalaman meditasi yang luar biasa. Gerakan kaki mungkin terasa ringan. Yogi mungkin menjadi sangat puas dengan latihannya dan mungkin berpikir bahwa inilah nibbāna (berhentinya semua penderitaan).

makhluk-makhluk terlahir kembali melalui perbuatannya yang baik ataupun yang tidak baik. maka tidak akan ada perbuatan baik atau buruk. 2 Upādāna (grasping) diterjemahkan sebagai mencengkeram. Jika keterikatan tidak timbul. baik itu melalui pikiran. Hubungan Sebab dan Akibat Bila kemelekatan (tanhā) tidak timbul. dan akibatnya dapat timbul dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang. Perbuatan itu disebabkan oleh keterikatan yang memiliki kemelekatan sebagai akarnya. yogi tidak akan melekat padanya. Karena yogi telah merealisasi bahwa perasaan menyenangkan dan pengalaman baiknya tidaklah kekal.jasmani. dapat berupa perbuatan baik atau perbuatan buruk. Perbuatan yang disebabkan oleh keterikatan dikenal sebagai kamma-bhava. makhluk terlahir di kehidupan berikutnya untuk mengalami berbagai penderitaan karena dia tidak mengamati perasaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan yang timbul bersama pengalamannya. Sehingga disini diartikan sebagai ‘keterikatan’. Kemelekatan itu sendiri dikondisikan oleh perasaan atau sensasi. Perbuatan baik melalui pikiran disebut kusala mano-kamma dan perbuatan buruk melalui pikiran disebut akusala mano-kamma. Perbuatan baik melalui ucapan disebut kusala vaci-kamma dan perbuatan buruk melalui ucapan disebut akusala vaci-kamma. Kemelekatan tidak akan muncul bila yogi telah mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari keadaan mental yang baik atau pengalaman yang baik. dan jasmani akan menjadi sebab. keterikatan2 (upādāna) tidak timbul. 41 . Dengan cara ini. Perbuatan baik melalui jasmani disebut kusala kāya-kamma dan perbuatan buruk melalui jasmani disebut akusala kāya-kamma. Perbuatan-perbuatan ini atau kamma muncul karena keterikatan yang timbul sebagai akibat kemelekatan pada perasaan atau sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. ucapan. perkataan. Jadi dengan cara ini. Perbuatan yang dilakukan melalui pikiran. ataupun tindakan jasmani. tidak dapat melepas.

Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kepada kita agar berperhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi apapun. yogi harus mengamatinya dengan perhatian penuh. Sebenarnya setiap perasaan atau sensasi adalah proses mental. bukan proses jasmani. yogi akan terbawa oleh hukum sebab-akibat yang saling berkaitan (paticcasamuppāda). Perhatian Pernuh Terhadap Perasaan Perhatian penuh atau perenungan terhadap perasaan dikenal sebagai vedanānupassana satipatthāna. jika yogi berpikir bahwa perasan itu tidak perlu diamati. Tetapi kadangkadang perasaan atau sensasi yang muncul tergantung pada ketidaknyamanan terhadap proses jasmani. Pada permulaan latihan. maka dikenal sebagai cetasika-vedanā. dikenal sebagai kāyika-vedanā. Tetapi apapun sensasi yang dialaminya. dan tepat. Kāyika-vedanā 2. yaitu: 1. penuh semangat. Di sini kita perlu menjelaskan kembali tentang dua macam sensasi. seorang yogi biasanya mengalami sensasi mental dan jasmani yang tidak menyenangkan. tidak menyenangkan ataupun netral. Pada permulaan latihan. Sensasi tidak menyenangkan ini disebut kāyika-vedanā. Kita dapat menterjemahkannya sebagai perasaan jasmani atau perasaan tubuh. Cetasika-vedanā Perasaan atau sensasi yang timbulnya tergantung pada proses jasmani. biasanya yogi merasakan sensasi yang tidak menyenangkan baik itu di jasmani ataupun mental. Jika perasaan atau sensasi tersebut timbulnya tergantung pada proses mental.Oleh sebab itu. sehingga yogi dapat mengerti sifat 42 . lahir kembali di kehidupan yang akan datang dan serta mengalami berbagai macam penderitaan. kemudian perasaan tidak menyenangkan muncul. baik itu menyenangkan. karena munculnya tergantung pada proses jasmani. Ketika seorang yogi merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. Kita dapat menyebutnya sebagai perasaan atau sensasi mental.

Keadaan mental yogi mungkin baik dan keadaan emosinya mungkin lebih baik. Jika perasaan timbul. Singkatnya. kesadaran. setiap “pikiran” terdiri dari kesadaran dan hal yang berhubungan dengan kesadaran itu sendiri. Bahkan. Menurut Abhidhamma. maka ia dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari rasa sakit secara umum dan khusus. tapi perasaan sakit bukanlah suatu proses yang harus ditakuti. Oleh sebab itu. perasaan tersebut harus diamati dan dicatat sebagaimana ketika perasaan tersebut timbul. Kesadaran tidak pernah timbul sendiri. Ini adalah vedanānupassanā satipatthāna – perhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi. pikiran. Apapun itu. Rasa sakit adalah proses alami yang seharus dimengerti sepenuhnya dengan mewaspadainya ketika rasa sakit itu muncul. Perhatian Penuh Terhadap Kesadaran Landasan perhatian penuh yang ketiga adalah cittānupassanā satipatthāna yang berarti perhatian penuh pada kesadaran (citta) dan bentuk-bentuk mental (cetasika) yang muncul bersama dengan kesadaran. ataupun keadaan mental yang muncul harus diamati dan dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka muncul. ketika kesadaran yogi tercemar oleh 43 . yogi dapat mencapai pencerahan melalui sensasi sakit ini. Suatu hal yang alami bila yogi merasa takut pada sensasi jasmani yang tak menyenangkan yang dialaminya dalam latihan meditasi. Inilah yang dimaksud dengan cittānupassanā satipatthāna. Ketika seorang yogi dapat dengan sukses mengamati rasa sakit dengan usaha yang gigih. tapi timbul bersama dengan hal yang berhubungan dengannya. harus dicatatnya sebagaimana saat hal itu muncul. Kemudian pandangan terang yang menembus pada sifat alamiah dari rasa sakit atau sensasi yang tidak menyenangkan akan menuntun yogi ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. Karakteristik khusus dan umum dari perasaan harus dimengerti sepenuhnya sehingga yogi tidak akan melekat pada perasaan tersebut ataupun menolaknya.alamiah yang sebenarnya dari sensasi tersebut.

Aspek pertama: ketidakbahagiaan terhadap kegagalan dalam melakukan sesuatu yang harus dilakukan di masa lampau. Perhatian Penuh Terhadap Dhamma Landasan perhatian penuh yang keempat adalah dhammānupassanā satipatthāna. kemarahan itu muncul dan tenggelam. Contoh ini adalah perbuatan yang mengakibatkan karma buruk. suara.mengantuk. Dengan mengamati kemarahan. Mengatasi kemarahan. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut sebagaimana adanya. Kemarahan adalah salah satu bentuk mental yang dapat membawa yogi pada berhentinya penderitaan bila yogi mencatatnya dengan perhatian penuh. 4. dan sentuhan. perasaan berat/kelambanan. Uddhacca-kukkucca: penyesalan.nafsu atau kemelekatan. yang berarti perenungan atau perhatian penuh terhadap Dhamma. Kāmacchanda: keinginan indera . kekhawatiran atau ketidakbahagiaan terhadap apa yang pernah dilakukan. yogi mendapatkan dua keuntungan: 1. Vicikichā: keragu-raguan. bau. ketumpulan mental. 2. 3. 2. Di sini Dhamma meliputi banyak kategori dari proses mental dan jasmani. Aspak kedua: ketidakbahagiaan terhadap perbuatan yang telah dilakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan.keinginan terhadap obyekobyek bentuk. Merealisasi atau mengerti sifat alamiah kemarahan (muncul dan tenggelamnya kemarahan atau anicca). Jika perhatian penuh kuat. kemarahan akan hilang. 44 . 1. Kategori pertama adalah lima nivārana (lima rintangan mental). Jika kesadaran yogi tercemar dengan kemarahan. Kesadaran tersebut dapat dicatat sebagai ‘kemarahan’ atau ‘marah’ sesuai dengan Mahā Satipatthāna Sutta. Yogi kemudian menyadari bahwa kemarahan tidak bertahan lama. rasa. Vyāpāda: kemarahan atau niat jahat. yogi harus mencatatnya sebagai kesadaran dengan kemarahan. Thina-middha: kemalasan dan keengganan . 5.

Contoh: jika yogi mendengar lagu yang merdu dari luar dan tidak mencatatnya. Keinginan hilang karena telah diamati dengan penuh semangat dan perhatian penuh. Yogi mungkin ingin mendengarkan kembali lagu tersebut dan menikmatinya. contohnya: perenungan terhadap rintangan mental (nivārana). Jika yogi mengamati dan berperhatian penuh pada keinginan inderanya sebagaimana adanya. Saat perhatian penuh menjadi konstan dan kuat. ingin. Jika muncul 45 . mencatatnya dalam hati ‘ingin. yogi harus selalu waspada.kāmacchanda. Jika yogi mengetahui bahwa keinginan indera untuk mendengar lagu itu dapat membawanya pada keadaan yang tidak tidak diinginkan. Jadi. yogi tidak akan dapat proses mental dan jasmani. Hanya jika pikiran telah terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi (proses mental atau jasmani). kemalasan dan keengganan. Dua hal ini adalah ‘temen lama’ para yogi. saat yogi mendengar lagu yang merdu. saat yogi mengantuk. ingin.” Yogi mungkin masih terpengaruh oleh lagu tersebut jika perhatian penuhnya tidak cukup kuat. Pikiran menjadi jernih dan dapat menembus/mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Berperhatian penuh dengan cara seperti ini disebut dhammānupassanā satipatthāna atau perenungan terhadap obyekobyek pikiran. atau dapat menjadi penghalang kemajuan meditasinya. hingga keinginannya hacur oleh perhatian penuh yang kuat. yogi dapat terbebas dari kekotoran mental. Thina-middha. atau kecelakaan. mendengar.Selama pikiran tercemar. Jadi apapun yang muncul dari kelima rintangan mental tersebut. Keinginan untuk mendengarkan lagu adalah keinginan indera . sebenarnya berarti mengantuk. yogi akan mencatat keinginannya sebagai ‘ingin. thina-middha akan menikmatinya. keinginan itu akan hilang. mungkin akan timbul keinginan untuk mendengarkan lagu tersebut.’ maka ia telah mengikuti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Mahā Satipatthāna Sutta. ia harus mencatatnya sebagai “mendengar.

dalam hal ini gerakan dinding perut. Pada awal latihan. yogi harus mencatat ‘berkelana. Artinya yogi harus mengamati dengan perhatian penuh. pikiran akan terbebas dari rasa kantuk. ia akan mampu menyadarinya. yogi harus waspada pada pikirannya sebagaimana adanya. berkelana’ atau ‘berpikir. Uddhacca-kukkucca adalah penghalang mental keempat.sensasi menyenangkan dalam diri yogi. 46 . kegelisahan. yogi tak bisa menyadarinya karena yogi menyukainya. kita harus berusaha dan berjuang lebih keras dalam berlatih. Shanga. atau teknik meditasi. yogi mungkin tidak dapat mengamati pikiran yang berkelana. berpikir. Kecuali jika yogi telah mengerti sifat alamiah dari kemalasan dan keengganan (mengantuk). bukannya mencatat obyek meditasi. Yogi mungkin mempunyai keragu-raguan terhadap Buddha. Yogi berpikir bahwa pikirannya terfokus pada obyek meditasi. semangat. Ketika pikiran menjadi aktif dan siaga. harus diamati dengan perhatian penuh. Dalam hal ini uddhacca berarti gangguan pikiran. Ini dikenal sebagai dhammānupassanā satipatthāna. Jika kita mengantuk. dan tepat. Yogi harus berperhatian penuh pada apapunsebagaimana adanya. Ketika pikiran berkelana atau berpikir sesuatu. Penghalang mental kelima adalah vicikichā atau keraguraguan.’ Ini artinya uddhacca-kukkucca telah diamati. Keraguan apapun yang muncul. Jika yogi tak mampu mengamati rasa kantuknya. Dhamma. Itu sebabnya mengapa thina-middha atau perasaan ngantuk disebut sebagai ‘temen lama’ para yogi. yogi akan melekat serta menikmatinya. Yogi bahkan tidak mengetahui bahwa pikirannya berkelana. Hal ini membuat yogi berada dalam lingkaran kelahiran lebih lama. Jika pikiran berkelana. Kemudian yogi dapat mengatasi rasa kantuk. atau berkelananya pikiran. Tetapi bila rasa kantuk yang timbul. inilah yang disebut sebagai uddhacca. sedangkan kukkucca adalah penyesalan. Uddhacca adalah kegelisahan atau gangguan. Ketika yogi mengetahui bahwa pikirannya berkelana. sehingga yogi dapat membuat pikirannya aktif dan siaga. yogi tak akan dapat mengatasinya.

Cittānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap kesadaran dan segala yang berhubungan dengannya. Vedanānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap perasaan. 47 . Kāyānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap fenomena tubuh atau jasmani. 3. Dhammānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap Dhamma atau obyek-obyek pikiran.Jadi inilah Empat Landasan Perhatian Penuh: 1. 4. 2.

pikirannya akan dicemari oleh rintangan mental dari keinginan indera (kāmacchanda-nivārana). pemurnian tingkat kedua. sehingga yogi dapat mencapai pemurnian sīla. Sīla ketiga dari lima sīla adalah menghindari perbuatan asusila. obyek bentuk/rupa. Yogi harus melaksanakan paling sedikit lima sīla (lebih baik lagi delapan sīla). yogi harus melalui tujuh tingkat pemurnian (visuddhi). Ketika bhante Uttiya. yogi menjadi tenang. Kemudian yogi mencapai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). Hanya jika pikiran seorang yogi dalam keadaan murni dari segala rintangan mental. Pemurnian Kelakuan Moral Tingkat permurnian pertama adalah pemurnian kelakuan moral (sīla-visuddhi). Bhante Uttiya menceritakan tentang 48 . salah satu murid Sang Buddha sakit dan terbaring di tempat tidur. Dengan melaksanakan delapan sīla. dan dapat berkonsentrasi pada obyek meditasi. Bila yogi tidak melaksanaan sīla. Bila pikirannya telah murni. Sang Buddha mengunjuinya dan menanyakan kesehatannya. yogi dapat memurnikan perbuatan dan perkataannya yang merupakan pemurnian moral (sīla-visuddhi). sedangkan sīla ketiga dari delapan sīla adalah menghindari semua perbuatan seksual. Jika yogi tidak menghindari hubungan seksual. bahagia. obyek suara. dan obyek sentuhan . damai. maka pikirannya pun akan dimurnikan sampai batas tertentu.BAB V TUJUH TINGKAT PEMURNIAN Untuk mencapai pencerahan. Tentu saja akan lebih baik bila yogi dapat melaksanakan delapan sīla. yogi dapat mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani.lima macam keinginan indera (kāmacchanda) dalam pikirannya. obyek bau. Setelah moralnya murni. yogi mungkin akan memiliki keinginan-keinginan untuk obyek rasa (makanan/ minuman).

Pemurnian Pikiran Pemurnian kedua adalah pemurnian pikiran (citta-visuddhi). Dengan berlatih demikian. aksi dan reaksi. Pandangan benar berarti menerima dan percaya hukum sebab dan akibat. kamu harus mengungkapkan Empat Landasan Perhatian Penuh. atau hukum karma. Jika awalnya sudah dibersihkan. kamu harus membersihkan dari awal. berdasarkan kelakuan moral (sīla) yang murni. Jadi kemurnian kelakukan moral adalah persyaratan awal bagi yogi untuk maju. Saya tidak tahu apakah saya dapat atau tidak dapat hidup hari ini atau besok. “Apakah yang dimaksud dengan awal?” Kemudian Sang Buddha menjawabnya sendiri. “Di sini yang dimaksud dengan awal adalah pemurnian kelakuan moral (sīla) dan pandangan benar (sammā ditthi). dan bahagia. Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan penekanan pada pemurnian sīla atau kelakuan moral karena itu merupakan syarat dasar untuk kemajuan dalam konsentrasi dan juga pandangan terang.” Kemudian Sang Buddha bersabda: Uttiya. Kemudian. Sang Buddha kemudian mengajukan pertanyaan. sebelum saya meninggal. Jadi saya ingin bermeditasi untuk menghancurkan segala macam kekotoran mental hingga mencapai tingkat kesucian keempat (arahat). pikiran 49 . kamu akan mencapai berhentinya penderitaan. yogi akan dengan mudah berkonsentrasi pada semua obyek dari proses mental dan jasmani.” Sang Buddha kemudian melanjutkan: Uttiya. Jika yogi mengembangkan perhatian penuh. pikiran menjadi tenang. maka kamu akan mencapai tingkat kesucian arahat. Tolong berikan petunjuk singkat yang dapat membantu dalam mengembangkan latihan meditasi saya untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Jika kita ingin mencapai pengetahuan pandangan terang. Ketika kelakuan moral telah murni. damai.sakitnya pada Sang Buddha: “Bhante. penyakit saya bukannya berkurang malah makin bertambah. kamu harus membersihkan kelakuan moral dan pandangan benar-mu.

pengetahuan tentang sebab-akibat (paccaya-pariggaha-ñāna). Pertama. Setiap tindakan selalu didahului dengan keinginan. Dengan demikian yogi telah mengatasi keraguan dan inilah yang disebut dengan pemurnian dengan mengatasi keraguan. Jika pikiran terkonsentrasi dengan baik pada fenomena mental dan jasmani. Dengan pemurnian ini. kehendak. Untuk mencapai pengetahuan ini. kehendak. atau kemauan. Jika seorang yogi menembus sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. wish or want 50 .harus bersih dari segala macam kekotoran mental. Itulah sebabnya mengapa yogi 3 Keinginan. Pemurnian dengan Mengatasi Keraguan Tingkat pemurnian yang keempat adalah pemurnian dengan mengatasi keraguan (kankhā-vitarana-visuddhi) adalah. jiwa atau diri. Pengetahuan ini dikenal sebagai nāma-rūpa-pariccheda-ñāna – pengetahuan pandangan terang yang dapat membedakan antara mental dan jasmani. yogi telah mencapai ditthi-visuddhi. pikiran dapat menembus sifat alamaiah dari proses mental dan jasmani. terjemahan dari intention. yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa) melalui pengalamannya sendiri. yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap kehidupan masa lampaunya. atau kemauan3 sebelum melakukan suatu tindakan atau gerakan. Ini dikenal sebagai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). Jika seorang yogi telah mencapai tingkat kedua dari pengetahuan pandangan terang. yogi tak akan menganggap kedua proses tersebut sebagai seseorang atau makhluk. Kankhā berarti keraguan dan visuddhi berarti pemurnian. Pemurnian Pandangan Tingkat pemurnian yang ketiga adalah pemurnian pandangan (ditthi-visuddhi). kehendak. yogi harus mengamati setiap keinginan. atau kemauan. pikiran akan bebas dari semua rintangan mental. Maka dengan demikian yogi telah memurnikan pandangannya.

ingin. ‘ingin. Tanpa kehendak atau kemauan untuk datang ke sini. Ini hanyalah keinginan. Ketika kita menekuk tangan. ingin.harus berperhatian penuh terhadap setiap keinginan sebelum tindakan atau gerakan.’ Ketika yogi hendak menekuk tangannya. ingin.’ kemudian ‘mengangkat. keinginan adalah sebab. pertama-tama catatlah keinginan. kemudian catat gerakan menekuk tangan. Duduk adalah proses jasmani. Mayat tidak dapat duduk di kursi karena tak punya keinginan. yang mana sebab dan yang mana akibat? Tindakan datang adalah akibat. mengangkat. Ketika yogi mempunyai keinginan untuk mengangkat kakinya. ada proses jasmani yang didukung oleh unsur angin (vāyodhātu .’ Ketika yogi sedang makan. Kemudian. Pada sikap duduk. tekuk. Apakah ada yang duduk di kursi? Jika yogi pikir ada seseorang yang duduk di kursi. kita akan mengerti bahwa tak ada 51 .’ Dalam proses membuka mulut. hal itu disebabkan keinginan untuk duduk di kursi.’ Semua gerakan dalam proses duduk harus diamati setelah mencatat keinginan. buka. duduk. Jadi jika kita ingin duduk. samanera. yogi mempunyai keinginan untuk membuka mulut untuk memasukkan makanan. atau bhikkhu? Bukan semuannya. kemudian gerakan merentangkan tangan sebagai ‘rentangkan. dan membuka mulut adalah akibat. Ketika kita merentangkan tangan.’ kemudian ‘buka. proses mental yang menyebabkan tindakan atau gerakan. Yang pertama harus dilakukan. keinginan adalah sebabnya. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. rentangkan. yogi harus mencatat ‘ingin. dapatkah yogi datang ke sini? Jadi. rentangkan.unsur angin dari dalam dan luar).’ kemudian ‘tekuk. ingin. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. duduk. Lalu. wanita. apakah sikap duduk itu adalah seorang laki-laki. pertama-tama kita harus mencatat. pertama-tama catatlah keinginan.’ Jika konsentrasi kita cukup dalam. mengapa yogi duduk di kursi? Benar.’ kemudian ‘duduk. maka yogi harus membawa sesosok mayat dari rumah sakit dan mendudukkannya di kursi. dengan menyadari keinginan dan tindakan yang mengikutinya.

Oleh sebab itu. Dengan cara inilah. yogi dapat mengatasi keragu-raguan pada kehidupan yang lampaunya. kita dapat dikatakan hampir mengerti sepenuhnya hukum sebab dan akibat. Jika kita mengerti hubungan dari sebab dan akibat. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mengangkat kaki. karena yogi tidak cukup sabar. Sehingga yogi tidak ragu akan kehidupannya dimasa lampau. yogi mengatasi keraguan mengenai apakah ada seorang individu atau makhluk yang abadi dalam dirinya. 52 . itu disebut sakkāya-ditthi atau atta-ditthi (pandangan salah mengenai seorang pelaku). Jadi. Begitu juga ketika kita mengamati keinginan sebelum mendorong kaki.apapun yang timbul tanpa sebab. Kemudian. inilah yang dikenal sebagai pemurnian dengan mengatasi keraguraguan (kankha-vitarana-visuddhi). pria atau wanita adalah hanya suatu proses sebab dan akibat. Jika yogi percaya ada orang yang duduk. apapun yang yogi sadari hanyalah suatu proses yang alami. Untuk mengamati. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan menurunkan kaki. Beberapa yogi kesulitan untuk mengamati keinginan sebelum suatu tindakan dilakukan. Tidak ada pelaku. Jika yogi mengerti sepenuhnya hubungan sebab dan akibat. kita harus sabar dengan tindakan atau gerakan kita. Ketika kita mengamati keinginan sebelum mengangkat kaki. yang disebut seseorang. Segala sesuatu muncul karena ada sebabnya. tidak ada orang yang melakukan sesuatu. Dengan mengerti hal ini. apa yang ada di masa lampau? Hanyalah proses sebab dan akibat. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mendorong kaki. Kemudian apa yang sesungguhnya ada hanyalah proses sebab dan akibat. sehingga kita dapat mengamati keinginan sebelum suatu tindakan atau gerakan dilakukan. Ketika kita mengamati keinginan sebelum menurunkan kaki. Lalu. tidak ada yang disebut dengan ’seseorang’ yang menjadi presiden ataupun raja. dan seterusnya.

ia akan keluar dari nibbāna. yogi tidak dapat melangkah lebih jauh karena yogi melekat pada keadaan tersebut. naskah menggunakan dua 53 . tidak lemah. Patipadā berarti jalan/arah latihan. Tapi ada juga yogi yang mencapai tingkat ini dalam seminggu. ñāna berarti pengetahuan. ketenangan. Pada tingkat pandangan terang ini. damai dan sebagainya. Konsentrasinya dalam sehingga yogi mengalami kedamaian. seperti telah terangkat atau seolah-olah seperti terbang di udara. Dengan maksud memberikan penekanan pada penembusan. dassana berarti pandangan. Yogi tidak boleh puas dengan pengalaman ini dan harus terus maju dengan latihannya. ini adalah salah jalan. yogi mungkin berpikir “Ini pasti nibbāna – ini luar biasa. sedang. Tingkat ini dapat dialami dalam dua minggu jika yogi berlatih dengan sungguh-sungguh. merasa ringan. Yogi berpikir bahwa bila ia melangkah lebih jauh. yogi mendapatkan pengalaman yang sangat baik. ini lebih baik daripada memiliki satu juta dollar – sekarang saya telah mencapai nibbāna. saya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Ini adalah tingkat yang sangat baik yang harus dilalui oleh yogi. Perhatian penuh yogi sangat tajam.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan dan Bukan Jalan Visuddhi yang kelima adalah pemurian pengetahuan dan pendangan terhadap jalan dan bukan jalan (maggāmaggañānadassana-visuddhi). Dengan pengalaman bagus tersebut. tidak terlalu kuat atau kaku. tenang. dan sebagainya.” Bila ini terjadi. dan mantap. kegiuran. Jika seorang yogi menganggap ini adalah nibbāna. usahanya stabil. keseimbangan. Ñāna dan dassana di sini berkenaan dengan perngertian yang sama. bahagia. Untuk itu yogi harus meneruskan meditasinya dan berlatih dengan sungguhsungguh. Ini hanyalah pengalaman yang kecil dan tidak berarti. Kadang-kadang yogi merasa badannya menjadi ringan. Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan Visuddhi yang keenam adalah patipadā-ñānadassanavisuddhi. kebahagiaan.

Ini berarti bahwa bila yogi telah melewati maggāmagga-ñānadassanavisuddhi. karena pengalaman yogi sesuai dengan pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih rendah dan juga pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih tinggi. Kemudian yogi akan tahu. yogi harus melalui kesembilan tingkat pandangan terang dan mendekati tujuan. Yang dimaksud dengan garis batas di sini adalah garis batas antara orang biasa (puthujjana) dan orang mulia/suci (ariya). yogi berada di jalan yang benar yang menuntun menuju ke tingkat kesucian arahat atau berhentinya penderitaan. Karena yogi berada di jalan yang benar. semua penderitaan akan berhenti. yogi akan akan berhenti pada maggāmagga-ñānadassana-visuddhi. apakah akan maju terus atau mundur? Jika mundur. Keraguan itu telah dihancurkan oleh pandangan dan pengetahuan tentang jalan dari latihan. yaitu pengetahuan dan pandangan. akan dapat melihat ke depan dan belakang. Jadi patipadā-ñānadassana-visuddhi berarti pemurnian dari pengetahuan dan pandangan tentang jalan/arah dari latihan. Jadi. perhatian yogi ke masa lampau. Jika yogi berdiri di perbatasan. yogi akan sampai pada garis batas dalam waktu singkat. Dengan begitu yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap jalannya latihan. yogi telah mencapai garis batas dan berdiri di sana. Jika yogi di perbatasan. perhatian yogi berarti ke depan. Jika yogi berada di jalan yang salah. yaitu berhentinya segala macam unsur mental (nāma) dan unsur jasmani (rūpa). Pengetahuan dari Kematangan Jika yogi meneruskan latihannya. dilanjutkan dengan pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan yang benar dari latihan (patipadāñānadassana-visuddhi). Di depan adalah berhentinya segala gabungan benda. tapi bila maju terus. Dalam dua atau tiga momen pikiran. “Jika saya maju terus.kata dengan pengertian yang sama. jadi yogi dapat menilai bahwa arah latihannya adalah benar. yogi telah mencapai anumola-ñāna (pengetahuan adaptasi). Kemudian. Jika yogi mencapai tingkat ini. haruskah saya 54 .

Ketika garis keturunan puthujjana telah dipotong. ia menjadi seorang mulia/suci (ariya).maju?” Yogi akan memikirkannya dan jawabannya adalah “ya” karena dia sudah menderita lama sekali (kappa). Saya harus mengakhiri semua penderitaan ini. Kata ‘kappa’ berarti jumlah kehidupan yang tidak terhitung. kita dapat menterjemahkannya sebagai pengetahuan yang telah memotong garis keturunan puthujjana. Segera setelah garis batas pengetahuan kematangan. Sebenarnya. yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. ’Gotra’ berarti puthujjana atau keturunan. Saya kira ini sudah cukup.” Perhatian yogi kemudian akan ditujukan pada berhentinya penderitaan. jadi tak ada lagi puthujjana. yogi menjadi makhluk mulia/suci (ariya). Yang Mulia Nyanaponika Thera menterjemahkan gotrabhu-ñāna sebagai pengetahuan mengenai kematangan karena pengetahuan yogi cukup matang untuk mencapai jalan kesucian. Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan 55 . dia akan merenungkan pengalaman masa lalunya. karena telah memtong garis keturunan puthujjana. Pengetahuan mengenai garis perbatasan dikenal sebagai gotrabhu-ñāna. Jika yogi berada di perbatasan. garis keturunan dari seorang puthujjana dipotong secara total. muncul pengetahuan mengenai jalan (magga-ñāna) yang merealisasi empat kebenaran mulia sepenuhnya. Pada perbatasan. “Saya sudah menderita dalam jumlah kehidupan yang tidak terhitung dalam siklus dukkha ini. Setelah yogi melawati garis batas itu.

Jika yogi telah mencapai visuddhi ketujuh. Jadi. Jika yogi telah mencapai sotāpatti-ñāna. yogi telah menjadi seorang sotāpanna. jadi arti keseluruhannya adalah pemasuk arus. Sotā berarti arus dan apanna berarti pemasuk. Visuddhi ketujuh mengacu pada sotāpatti-ñāna. pengetahuan dan pandangannya mengenai kebenaran menjadi murni. pemurnian pengetahuan dan pandangan. pengetahuan pertama mengenai jalan kesucian.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Karena yogi telah merealisasi empat kebenaran mulia ini. berarti yogi telah mencapai arus jalan mulia beruas delapan. pengetahuan pandangan ini dikenal sebagai ñānadassanavisuddhi. Hanya dengan demikianlah yogi telah mencapai ñānadassana-visuddhi – pemurnian pengetahuan dan pandangan. 56 .

BAB VI SEMBILAN CARA UNTUK MENAJAMKAN KEMAMPUAN MENTAL Lima kemampuan mental seorang yogi adalah saddhā. samādhi. Samādhi harus dalam dan paññā harus menembus. Saddhā berarti keyakinan yang didapat melalui pengertian benar atau yang disertai dengan pengertian benar Viriya berarti usaha yang tidak kenal lelah atau semangat Sati berarti perhatian penuh atau perhatian yang konstan (terus menerus) Samādhi berarti konsentrasi yang dalam Paññā berarti kebijaksanaan. Saddhā harus kokoh. dan paññā. menonjol dan seimbang seperti yang disebutkan dalam kitab komentar visuddhimagga. Saddhā (keyakinan) harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan). viriya. ada sembilan panduan yang yogi harus ikuti. ini juga dikenal sebagai Pancabala (lima kekuatan mental). Menyeimbangkan Kemampuan Mental Untuk membuat kelima kemampuan mental ini menjadi kuat. tajam dan seimbang. Jika kemampuan mental ini kuat tapi tidak seimbang. dan tak tergoyahkan. Sati harus konstan. Sati harus kuat dan tajam. pandangan terang atau penerangan Untuk meditasi. Faktor mental yang utama yaitu sati (perhatian penuh). tajam. tidak perlu seimbang dengan kemampuankemampuan yang lain. seorang yogi tidak dapat mencapai pandangan terang dan pencerahan dari berhentinya penderitaan. indriya berarti kemampuan). kelima kemampuan mental ini harus kuat. sati. 57 . dan tanpa henti. Samādhi (konsentrasi) harus seimbang dengan viriya (semangat atau usaha). terus-menerus. Kelima faktor ini dikenal sebagai pancindriya (panca berarti lima.

yogi mungkin akan menganalisa pengalamannya pada waktu meditasi. Hanya setelah yogi menyelesaikan latihan meditasi dan mengalami pencerahan. saya membaca dua jilid buku ’meditasi vipassanā’ yang ditulis oleh Yang Mulia Mahāsi Sayadaw. seorang yogi mungkin akan memiliki sedikit keyakinan atau tidak percaya pada ajaran. Ketika sedang mengalami proses mental atau jasmani. seimbang dengan keyakinan (saddhā) yang kuat. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihannya tanpa gangguan oleh pengetahuan atau alasan-alasan analiti. yogi akan dapat menganalisanya dengan cara apapun. Sebelum saya memulai meditasi vipassanā. kemudian konsentrasinya akan terpecah atau melemah. Ketika yogi menganalisa pengalamannya. Jika Dhamma tidak ditembus dengan benar.Jika saddhā lemah dan paññā kuat. jadi kadang-kadang mereka menganalisa apa yang mereka alami dalam meditasi dan berbicara mengenai sesuatu yang bertentangan dengan realitas atau kenyataan. dipahami. Beberapa yogi ingin mempertunjukkan pengetahuan mereka mengenai ajaran Buddha atau Dhamma . atau dimengerti. Ketika saya pertama kali memulai meditasi vipassanā. Pada waktu itu saya belum bertemu dengan Yang Mulia Mahāsi Sayadaw 58 . tujuan saya adalah untuk melihat apakah tekniknya benar. Dhamma dan Sangha. yogi akan menganalisanya. berpikir rasional atau analisa yang bukan merupakan pengertian benar terhadap proses alami dari fenomena mental dan jasmani. Dan akhirnya yogi akan memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan analitisnya mengenai Dhamma atau pengalamannya. Jika seorang yogi percaya pada Sang Buddha atau ajaranNya. terutama jika yogi memiliki pengetahuan Dhamma yang luas. pengetahuan pandangan terang) dan sebaliknya. Menurut kitab komentar visuddhimagga. Tidak ada ruang untuk alasan-alasan logika. keyakinan harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan. pengetahuan analitis tersebut akan menghalangi konsentrasinya. karena pengetahuan yang didasari oleh pengalaman meditasinya. maka kebijaksanaannya atau pengetahuan pandangan terang. atau pikiran rasional.

Itulah sebabnya mengapa saya ingin menguji teknik Mahāsi Sayadaw yang dimulai dengan perenungan terhadap gerakan perut. saya tidak dapat menerimanya sebagai sesuatu yang memuaskan. Walaupun saat itu saya menganggap teknik Mahāsi Sayadaw benar. saya mengesampingkan pengetahuan Dhamma saya dan berlatih seperti yang dinasehatkan oleh guru saya. Saya berlatih ānāpānassati. unsru air (āpo-dhātu) dan unsur tanah (pathavī-dhātu) juga termasuk di dalam gerakan perut. Pada waktu itu. Karena yogi dapat merenungkan keempat unsur. Setelah menerima nasehatnya.secara pribadi. ketika saya berumur 17-24 tahun. Ia berkata kepada saya: U Janaka. saat saya melewati masa vassa (musim hujan) di sana selama empat bulan melaksanakan program meditasi intensif. sejak saya menjadi sāmanera (calon bhikkhu). Dengan sendirinya keyakinan saya seimbang dengan kebijaksanaan. Waktu itu adalah tahun 1953. adalah sangat sederhana (mudah dimengerti) bagi mereka yang telah mempelajari teknik meditasi dari buku. Hal itu dikarenakan saya melekat pada metode tradisional. saya melakukannya dengan banyak keraguan. Saya menerima teknik itu sebagai teknik yang benar karena saya mengetahui bahwa gerakan perut adalah vāyo-dhātu dan ketiga unsur yang lain. karena saya tidak menganalisa pengalaman atau teknik berdasarkan konsep awal atau pengetahuan yang saya telah pelajari dari buku. Saya berlatih dibawah bimbingan bhante U Nandavamsa. Jika kebijaksanaan lemah dan keyakinan kuat. unsur api (tejo-dhātu). teknik ini pasti benar. maka yogi bisa menjadi percaya buta. kamu telah melalui ujian yang lebih tinggi dan kamu sekarang adalah dosen di universitas. Walaupun saya pergi ke pusat meditasi Mahāsi dan memulai berlatih teknik tersebut. Secara tradisional. Kamu harus mengesampingkan pengetahuan Dhamma dari buku jika kamu ingin mendapatkan sesuatu dari latihan meditasi ini. saya adalah seorang dosen di Universitas Buddhist di Mandalay. Tetapi perenungan terhadap gerakan kembungkempisnya perut. Dikatakan percaya buta karena yogi memiliki 59 . perhatian penuh pada pernafasan. yogi cenderung lebih menyukai metode meditasi pernafasan (ānāpānassati).

kitab komentar menyatakan: Jika konsentrasi terlalu kuat dan usaha terlalu lemah. maka konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan atau keengganan (thina-middha). karena konsentrasi ini usahanya akan stabil dan mantap. atau kecerdasan. ia bisa melakukan usaha yang berlebihan dalam latihannya dan menyebabkan pikiran menjadi kacau dan gelisah. tidak terlalu kuat atau lemah. 60 . tapi jangan terlalu bersemangat.keyakinan tanpa disertai pengetahuan. ia bisa jatuh pada doktrin atau teori yang menuntunnya ke jalan yang salah. Di awal latihan. pikiran yang mencatat perlahan-lahan akan menjadi tumpul dan berat. menjaga pikirannya agar stabil dan tenang. Jika seorang yogi antusias pada pencapaian pandangan terang. Akan tetapi. Untuk dapat melakukan hal itu. mencatat obyek dengan sendirinya. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Jika seorang yogi percaya buta. ketika seorang yogi telah berlatih meditasi selama dua atau tiga minggu. mencatat apapun yang muncul di pikirandan jasmaninya dengan perhatian penuh. saddhā harus seimbang dengan paññā. pengetahuan atau kebijaksanaan. Pikiran yang mencatat. Usaha harus seimbang dengan konsentrasi. yogi harus mengurangi usahanya. yogi harus mengikuti dan mengamati pikirannya sebagaimana adanya. Pada beberapa kasus. Kitab komentar mengatakan: jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. Samādhi (konsentrasi) dan viriya (usaha) juga harus seimbang. Jadi. konsentrasi yogi biasanya lemah dan sering berkelana. Kemudian secara perlahan-lahan yogi akan mencapai tingkat konsentrasi tertentu. Akibatnya konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan dan keenganan atau mengantuk. Jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. otomatis dan seperti tanpa usaha. konsentrasinya menjadi sangat dalam dan kuat. Dalam hal ini. jika usaha yogi tidak cukup. saddhidriya dan paññindriya hasrus seimbang. kebijaksanaan. dan cenderung untuk percaya dengan mudah segala teori atau doktrin. pikiran yogi akan menjadi kacau dan gelisah (uddhacca). Oleh sebab itu.

kita tidak dapat mengatakan bahwa sati terlalu kuat atau tajam karena itu yang terbaik adalah yogi selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas mental dan jasmani dari waktu ke waktu. Menurut visuddhimagga. sehingga menimbulkan konsentrasi yang dalam. Untuk menjaga agar konsentrasi seimbang dan usaha. Karena konsep ini. hanya sedikit yogi yang mengalami konsentrasinya melebihi usahanya. dapat dikatakan bahwa perhatian penuh (sati) tidak penah terlalu kuat dan tajam. konsentrasinya hanya dapat membuat yogi mencapai ketenangan dan kebahagian dalam batas tertentu. Tetapi. terkondisi oleh muncul dan tenggelam (annica). ada sembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental ini yang harus diikuti oleh seorang yogi. pandangan terang akan terbuka secara alami dan yogi akan mampu mengerti proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa). yogi harus ingat bahwa ia akan mengerti lenyapnya proses mental dan jasmani atau benda-benda terdiri dari gabungan beberapa unsur ketika ia melihat atau mengamati sebagaimana adanya. bertahan lama. tergantung pada situasi atau keadaan. Sikap duduk yang pasif akan membuat pikirannya lebih terkonsentrasi pada obyek dan karena semakin sedikit usaha yang diperlukan. Walaupun konsentrasi yogi berkembang. tak terganggu dan berkesinambungan. Lalu perhatian penuh menjadi konstan.Jadi konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha (viriya). Jadi. Menurut kitab komentar. pikiran menjadi semakin tumpul. Kadang-kadang seorang yogi tidak percaya bahwa setiap proses mental dan jasmani adalah tidak kekal. Dalam kitab komentar dikatakan: seorang yogi harus ingat 61 . Cara pertama. yogi tidak dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Oleh karena itu. Jika konsentrasinya dalam. yogi harus berlatih meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. Ada juga beberapa yogi yang usahanya melebihi konsentrasinya. konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha. Hal ini harus menjadi sikap seorang yogi.

yogi tidak dapat mengkonsentrasikan pikirannya dengan baik pada obyek meditasi dan yogi tidak bisa mengerti sifat alamiah sebenarnya dari nāma dan rūpa. baik itu panas. Hanya dengan demikian. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. maka yogi tidak akan berusaha sungguh-sungguh dalam latihannya. Jika yogi dapat melakukannya. tidak terganggu. dan berkesinambungan. makanan. Yogi ingin duduk di bawah kipas angin. Cara keempat. Sebenarnya yogi haru netral kepada cuaca. ataupun hangat. Cara ketiga. Apakah kondisinya cocok atau tidak. dingin. dan sebagainya. Ketika yogi sedang terjaga. yogi tidak boleh memilih. perhatian penuh yogi terhadap proses mental dan jasmani harus konstan. seperti: ruang meaditasi yang cocok. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut. cuaca. yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan rasa hormat. Jika yogi kurang hormat pada teknik atau hasil dari meditasi. keadaan panas 62 . Ini adalah situasi yang sangat penting yang harus diikuti oleh setiap yogi. yogi harus tetap berusaha dalam latihannya.’ Jika merasa panas. dan tidak terganggu. contoh: yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan serius. Selalu berperhatian penuh sepanjang hari tanpa istirahat. Jika saya katakan ‘sati. dia harus secara konstan dan berkesinambungan untuk waspada terhadap apapun yang timbul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. bertahan lama.bahwa dia akan mengerti ketidakkekalan dari suatu kehidupan atupun proses mental dan jasmani jika dia mengamatinya. Kadang-kadang yogi sangat melekat pada kipas angin karena cuaca panas. Cara kedua. tujuh jenis kecocokan yang mana yogi tergantung padanya. bukan perhatian biasa.’ berarti perhatian penuh yang konstan. bertahan lama. Perhatian penuh sebenarnya adalah sumber dari segala pencapaian. Akibatnya. ia dapat mencapai konsentrasi yang dalam sehingga dapat mengembangkan pandangan terang yang menembus kepada sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Dengan perhatian penuh.

sehingga rasa sakit tidak mengganggu konsentrasinya. bukan rasa sakit itu yang menjadi lebih kuat. penyelidikan Dhamma (Dhammavicaya) . pikiran menjadi lebih peka. Rasa sakit seperti seorang ’teman. pikiran dapat merasakan rasa sakit itu dengan lebih jelas. ketenangan (passaddhi). dengan konsentrasi yang dalam. usaha (viriya). sehingga nampaknya rasa sakitnya bertambah. sumber dari semua pencapaian. Tujuh faktor pencerahan tersebut adalah: perhatian penuh (sati). konsentrasi (samādhi). Sebenarnya. kebahagiaan (pīti). Yogi harus mengembangkan ketujuh bhojjhanga ketika diperlukan. Yang yogi mengerti pada saat itu hanyalah sensasi rasa sakit dan pikiran yang mencatatnya. Jika yogi mengamati rasa sakit.’ Yogi yang berperhatian penuh tidak memiliki musuh sama sekali di dunia. Dia harus mengingat cara tersebut dan melatihnya berulang-ulang dengan kemampuan yang dimilikinya agar dapat mencapai konsentrasi yang dalam. seorang yogi harus mengembangkan tujuh faktor pencerahan (bhojjhanga).tersebut perlahan-lahan menjadi ‘teman. 63 . Jadi. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. Walaupun yogi mengetahuinya secara teori. konsentrasinya menjadi lebih kuat dan rasa sakit mungkin terasa semakin kuat. dan keseimbangan mental (upekkhā).’ Oleh karena itu. Dengan perhatian penuh. perhatian penuh adalah segalanya. yogi juga harus mengetahuinya secara praktek.’ Demikian juga dengan sakit. Tetapi jika yogi menyadari bahwa rasa sakit itu hanyalah proses mental dari perasaan yang tidak menyenangkan. Cara keenam. seorang yogi harus mengingat bagaimana caranya dia mencapai konsentrasi yang dalam. Cara kelima. Dia tidak lagi mengidentifikasikan rasa sakit dengan dirinya. Yogi dapat membedakan antara sensasi dan pikiran yang mencatatnya. tapi ini hanyalah pikiran. Semua fenomena adalah ‘teman’ karena fenomena tersebut membantu yogi pada pencapaian pandangan terang atau pencerahan yaitu berhentinya semua penderitaan. yogi tidak akan waspada lagi terhadap dirinya atau bentu tubuhnya.

Cara kesembilan. Kadang kala. Itulah sebabnya mengapa naskah kitab suci menganjurkan untuk mengasah kelima kemampuan mental ini. dan bertahan lama. tanpa mengkhawatirkan tubuh. yogi tidak perlu cemas terhadap tubuhnya atau hidupnya. Sehingga yogi tidak membuat usaha yang cukup dalam latihannya dan perhatian penuhnya tidak akan konstan. dan tepat.Cara ketujuh. kapanpun rasa sakit mental dan jasmani yang muncul. karena yogi segan untuk mencatatnya. Yogi khawatir dan berpikir bahwa jika dia meneruskan perjuangannya dengan cara seperti ini selama sebulan. konsentrasi yang dalam tidak akan timbul. 64 . berperhatian penuh. pengetahuan pandangan terang terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani tak akan tercapai. yogi harus berusaha lebih giat untuk mengatasi rasa sakit tesebut dengan waspada terhadap rasa sakit dengan penuh semangat. Hanya dengan cara demikianlah. seorang yogi yang berjuang sangat keras bermeditasi dari jam empat pagi sampai jam sembilan atau sepuluh malam tanpa istirahat. Cara kedelapan. Jika rasa sakit muncul. dia akan mati karena kelelahan atau sakit. Keantusiasan yogi untuk mencapai tingkat kesucian arahat akan membuat yogi tetap berlatih dengan usaha yang tepat sehingga membuat kelima kemampuan mentalnya menjadi kuat dan tajam. Seharusnya. Berjuanglah sekuat mungkin dan berlatih dengan sungguh-sungguh sepanjang hari tanpa istirahat. Ini berarti yogi tidak boleh berhenti berlatih meditasi vipassanā hingga yogi mencapai tingkat kesucian arahat. yogi harus berjuang untuk mencatatnya dengan berusaha lebih keras dalam berlatih. yogi tidak boleh berhenti setengah-jalan dalam mencapai tujuan. berkesinambungan. Yogi tidak perlu cemas terhadap kesehatan dan tubuhnya.’ karena rasa sakit dapat membantu yogi mencapai konsentrasi yang dalam dan pandangan terang yang jernih. takut menjadi lelah. Jika konsentrasi lemah. ada kecenderungan dan keinginan untuk merubah posisi sehingga rasa sakit itu hilang. rasa sakit dapat menjadi ‘teman. Jika perhatian penuh terputus.

6. dan berkesinambungan dengan tetap waspada terhadap segala kegiatan sehari-hari dari waktu ke waktu tanpa henti sepanjang hari. Jangan cemas terhadap kesehatan jasmani dan hidupmu selama latihan meditasi. 7. Yogi harus terus berjuang sebelum mencapai tingkat kesucian arahat. tak tergganggu. 2.Ringkasannya. Ingatlah tujuan dari merealisasikan ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. 4. 65 . Melatih Dhamma dengan serius dan penuh rasa hormat. Kembangkanlah tujuh faktor pencerahan. 5. inilah kesembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental seorang yogi: 1. Ingatlah bagaimana caranya mencapai konsentrasi yang telah dicapai sebelumnya. 9. Tujuh macam keadaan yang cocok harus diikuti atau diamati. Mempertahankan perhatian penuh yang konstan. Atasi rasa sakit jasmani (dukkha-vedanā) melalui usaha yang gigih dalam berlatih. Jangan berhenti setengah jalan dalam mencapai tujuanmu. 8. 3.

Tapi yang paling utama adalah Dhamma yang mencakup teknik meditasi yang sedang dilatihnya. Pandangan terang akan menjadi tajam dan menembus. Ini berarti bahwa yogi tidak boleh berbohong pada guru atau temen berlatihnya (yogi lain). sering pusing. Jika viriya atau padhāna meningkat. dan Sangha. hasilnya 66 . tapi yogi harus terus-menerus memperbaiki atau meningkatkannya. Jika hal di atas tercapai. Yogi tidak boleh membiarkan semangat atau usahanya menurun. masalah lambung. Seorang yogi harus mempunyai faktor yang satu ini agar berhasil dalam perjuangannya menuju kebebasan. Dhamma. Faktor ketiga adalah yogi harus jujur dan apa adanya. Bukan semangat biasa tetapi semangat atau usaha yang tak tergoyahkan. kuat. Yogi dianggap sehat sejauh ia dapat mengamati proses mental dan jasmani. dan teguh (padhāna).BAB VII LIMA FAKTOR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG YOGI Seorang yogi harus memiliki lima faktor untuk bisa mendapatkan kemajuan dalam meditasi pandangan terang. Seorang yogi harus memiliki keyakinan yang kuat dan teguh pada Buddha. konstan dan tak terganggu. Faktor keempat adalah energi/semangat/usaha (viriya). Jika yogi menderita sakit kepala. perut. dia tidak akan mampu berlatih dengan baik. Faktor pertama adalah keyakinan (saddhā). karena jika yogi menderita masalah pencernaan. ini bukan berarti yogi tidak sehat. Faktor kedua adalah yogi harus sehat mental dan jasmani. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. Kejujuran adalah prosedur terbaik. atau sakit yang lainnya. perhatian penuhnya menjadi berkesinambungan. Makanan yang dimakannya harus dapat dicerna (yaitu: makanan yang tidak menyebabkan masalah lambung).

Jadi Sang Buddha bersabda bahwa paññā di sini berkenaan dengan tingkat keempat pengetahuan pandangan terang yang menembus pada timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani. Tingkat ketiga adalah sammasana-ñāna . Tingkat pertama adalah nāma-rūpa-pariccheda-ñāna . yogi pasti mendapat kemajuan hingga mencapai paling tidak pengetahuan terhadap jalan kesucian yang terrendah yaitu sotāpatti-magga-ñāna. seseorang atau individu (sakkāya-ditthi) dan keraguan (vicikichā) 67 . Seorang yogi diharapkan memiliki faktor ini.pengetahuan yang dapat membedakan antara mental dan jasmani.adalah pengertian yang jelas terhadap sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani.pengetahuan yang menembus atau mengerti ketiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. Jika seorang yogi memiliki kebijaksanaan. Jadi inilah kelima faktor yang harus dimiliki oleh seorang yogi. tingkat kesucian pertama.pengetahuan mengenai timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. Faktor kelima adalah kebijaksanaan (paññā). Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan bahwa seorang yogi harus memiliki kebijaksanaan yang mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. Tingkat keempat adalah udayabbaya-ñāna . dukkha. Pada awalnya seorang yogi mungkin tak memiliki faktor ini. yaitu anicca.pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat. dia telah mencabut konsep jiwa atau diri. dan anatta. Jika seorang yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. Tingkat kedua adalah paccayapariggaha-ñāna . Walaupun kita menggunakan kata kebijaksanaan. ini tidak mengacu pada kebijaksanaan biasa atau pengetahuan. tetapi yogi harus berusaha dengan padhāna (semangat yang kuat dan teguh) untuk bermeditasi pada proses mental dan jasmani untuk mencapai pengetahuan pandangan terang keempat. Hal ini mengacu pada kebijakasanaan pandangan terang tentang timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani (udayabbaya-ñāna) yang merupakan tingkat keempat dari pengetahuan pandangan terang.

walaupun tidak terlalu kuat. Ada juga yang menterjemahkan kata ini sebagai jiwa yang besar atau diri yang besar. brahma. Pada tingkat pandangan terang ini. Menurut agama Hindu atau Brahma. ini menjadi ‘parama’ dan ‘atma. yang merupakan bahaya yang besar bagi 68 . Inilah tingkat pandangan terang pertama. dewa. Sakkāya-ditthi hanya dapat dicabut atau dihancurkan sepenuhnya dengan pencapaian tingkat kesucian pertama atau sotāpatti-magga-ñāna. Jadi paramatma berarti jiwa yang paling suci. dan ular-ular berbisa. yang tersuci dan atma berarti jiwa atau diri. Yogi yang telah mencapai kemurnian pikiran. Dalam bahasa Pali disebut Paramatta. dia telah mencabut sakkāya-ditthi dan atta-ditthi. sakkāya-ditthi dan atta-ditthi akan datang kembali. Paramatma. dan hewan-hewan. Dia bahkan menciptakan harimau. Ketika yogi dapat mengerti karakteristik khusus fenomena mental dan jasmani dan dapat membedakan nāma dan rūpa. ‘Pati’ berarti pencipta atau penguasa dan ‘Praja’ berarti makhluk hidup. Jika yogi tidak sedang mengalami pandangan terang ini. Ketika kondisi dunia cukup bagus untuk makhluk hidup tinggal. Jiwa ini cukup besar untuk menciptakan dunia dan makhluk hidup.’ Di sini parama berarti yang termulia. singa. yogi dapat menghancurkan sakkāyaditthi dan atta-ditthi. Atta Dalam Paham Brahma Kita harus mengerti konsep sakkāya-ditthi dan atta-ditthi dari sudut pandang agama Hindu. Kemudian yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani dan juga mengerti karakteristik khusus dari fenomena mental dan jasmani. dan Prajapati. Jika kita bagi kata paramatma ini menjadi dua kata. seluruh dunia diciptakan oleh mahabrahma. Paramatma adalah istilah Hindu atau Sansekerta. Mahabrahma ini memiliki banyak nama seperti Isvara. ia menciptakan semua makhluk hidup – manusia. pikirannya menjadi cukup tajam untuk menembus sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Jadi dia adalah penguasa makhluk hidup karena dia yang menciptakannya.kepada Tiratana.

Kepercayaan atau konsep mengenai sesuatu. karena didukung oleh mahabrahma atau prajapati. Tetapi jika tubuhnya akan hancur. jiwa itu mengetahuinya. Kemudian mahabrahma ingin membuat makhluk cipataannya hidup. menurut menurut Brahma ada sesuatu yang abadi di dalam diri kita. Jika jiwa itu melakukan perbuatanperbuatan berjasa di dalam kehidupan ini. perbuatan berjasa tersebut akan menuntun jiwa ke kehidupan yang lebih tinggi. dan bergerak. atau berdiri. Ia harus menjalani kehidupan di dunia yang lebih rendah atau tinggi tergantung karma yang dilakukannya di kehidupan ini. bahkan dengan bom atom sekalipun. berdiri. maka ia memasukkan jiwa pada setiap makhluk ciptaannya. karena perbuatan berjasa adalah karma baik. Inilah konsep yang diyakini oleh paham Brahma mengenai jiwa. jivā-atta atau diri juga tidak dapat dihancurkan pada kehidupan yang akan datang. duduk. diri. Kemudian semua makhluk bangun. yang disebut diri. jiwa or ego. jadi jiwa tersebut harus bersiap-siap untuk meninggalkan tubuh tersebut dan bereinkarnasi pada tubuh yang lain. Jiwa ini disebut jivā-atta. tidak bisa bergerak. atau ego yang abadi disebut atta-ditthi. Dengan cara ini. Ketika jiwa tersebut menitis pada tunuh yang lain. Ketika mahabrahma/paramatma menciptakan makhluk hidup untuk pertama kalinya. jwa. Kita mengerti secara teori bahwa 69 . ini dikarenakan tidak mengerti sifat alamiah dari proses alam. jiwa kecil atau diri timbul pada setiap makhluk hidup menurut paham Brahma. Ini adalah abadi dan tidak dapat dihancurkan dengan cara apapun. dan sebagainya.manusia. Atta dalam Agama Buddha Kita bukan Hindu tapi kita memiliki konsep mengenai jiwa walaupun konsepnya tidak terlalu kuat karena kita tidak sepenuhnya mengikuti ajaran Sang Buddha. Tetapi jiw yang abadi tersebut. Jadi siklus reinkarnasi akan terus berlangsung. duduk. makhluk tersebut seperti mayat. kita menyebutnya sebagai reinkarnasi. Bahkan seekor serangga juga memiliki jiwa yang kecil di dalamnya. Secara singkat.

ketika seseorang belum mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena 70 . dekat jenazahnya. “Apakah saya akan meninggal besok?” – kamu tidak berani menjawab pertanyaan ini. sehingga menganggapnya abadi. maka jiwanya akan tetap tinggal di sekitar kita. Kita memiliki konsep ini karena kita tidak mengerti karakteristik umum dan khusus dari proses mental dan jasmani. Tetapi kita juga percaya bahwa jika seseorang meninggal. kamu tidak percaya karena kamu belum mengerti sifat alamiah ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. kita tetap memiliki konsep atta-ditthi. Tetapi secara praktek. ini disebut sakkāya-ditthi (sakkāya: nāma (mental) dan rūpa (jasmani). kamu mengerti bahwa tidak ada satupun dari proses mental dan jasmani yang bertahan walaupun hanya sedetik menurut ajaran Sang Buddha. Jika saya katakan kamu akan meninggal besok. ditthi: pandangan salah). pria atau wanita. Kamu memegangnya karena kamu belum mengerti tentang timbul dan tenggelamnya dari proses fenomena mental dan jasmani. Jika kamu bertanya pada dirimu sendiri.tidak ada jiwa. atau peti matinya. kamu bisa mengambil kesimpulan bahwa itu tidak kekal. karena mempunyai anggapan bahwa proses mental dan jasmani adalah kekal. Ada kepercayaan umum bahwa jika kita tidak memberikan dana kepada para bhikkhu dan belum membagikan perbuatan jasa yang kita lakukan kepada orang-orang yang telah meninggal. Saya mungkin meninggal detik ini juga karena setiap fenomena bersifat tidak kekal. paling tidak sampai besok. Walaupun kita percaya pada ajaran Sang Buddha. Hanya jika kamu memiliki pengalaman pribadi dalam Dhamma. kamu tidak akan percaya bahwa mereka adalah kekal. diri. jiwa keluar dari tubuhnya dan berdiam dekat rumahnya. makhluk. Ya itulah ide tentang kekekalan. Secara teori. Sebenarnya. Jika kamu melihat timbul dan tenggelamnya dari fenomena mental dan jasmani yang konstan dan cepat. individu. kamu akan marah kepada saya. atau tidak ada sesuatu yang abadi. Berdasarkan konsep tersebut kita memiliki konsep mengenai orang.

atau setiap proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. sehingga kita dapat menyadari kedua proses tersebut sebagai suatu proses yang alami. Pandangan ini disebut sakkāya-ditthi. kedua proses mental dan jasmani yang membentuk sesuatu yang disebut orang. makhluk. bisa berubah. siapa yang mengangkat tangan? Saya akan mengatakan. Kecuali kita dapat mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani.” Siapakah ‘saya’? seorang bhikkhu. anjing.mental dan jasmani. kita tidak akan menganggapnya sebagai makhluk. ia akan menganggapnya kekal. dan sebagainya. yang menjadi penyebab utama kekotoran mental (kilesa) seperti keserakahan. Jadi atta-ditthi dan sakkāya-ditthi adalah sama. Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas pikiran dan tubuh. Jika kita mengatakan. Sebenarnya. maka tidak akan muncul kekotoran mental dan kita telah menyingkirkan penderitaan. kemarahan. timbul dan tenggelam. “Sekarang saya mengangkat tangan saya. yaitu: sakkāya-ditthi pahanaya sato bhikkhu paribbaje. kita tidak akan mampu mengatasi atau menghancurkan pandangan salah ini. Pandangan terang ini disebut sabhava-lakkhana (pengertian benar mengenai karakteristik khusus atau individu dari fenomena mental dan jasmani). Ide tentang orang adalah berdasarkan kepercayaan pada sesuatu yang kekal dalam diri kita. Jika kita telah memusnahkan benih ini. Jadi dapat kita katakan bahwa konsep mengenai jiwa atau diri adalah benih dari semua kekotoran mental. Pengetahuan pandangan terang ini menghancurkan konsep jiwa atau diri.” Kemudian kamu bertanya kepada saya. Kita tidak menganggap kedua proses ini sebagai orang. orang atau makhluk. khayalan. seorang pria. atau suatu makhluk yang hidup? Jika kita tidak percaya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani yang kekal. atau hewan. tetapi kita tidak menyadarinya. “saya mengangkat tangan. kesombongan. 71 .

atau orang. Semoga kamu semua berlatih meditasi vipassanā ini dengan sungguh-sunguh dan mencapai berhentinya penderitaan.Sakkāya-ditthi pahanaya berarti mengatasi pandangan salah mengenai jiwa. ia pasti mampu membebaskan dirinya dari segala macam penderitaan. diri. Sakkāya-ditthi ini adalah penyebab atau benih segala macam kekotoran mental. Jadi seorang bhikkhu yang berperhatian penuh terhadap fenomena mental dan jasmani harus berjuang atau berlatih untuk mengatasi pandangan salah. Sato berarti perhatian penuh. Jadi kita harus berusaha untuk membasminya melalui pengertian benar terhadap proses mental dan jasmani dengan cara berlatih meditasi vipassanā. Bhikkhu berarti rahib atau biarawan. Jika ia dapat menghancurkan sakkāya-ditthi tersebut. Sadhu! Sadhu! Sadhu! 72 .

wangi-wanginan. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. dan alat-alat kosmetika untuk menghias dan mempercantik diri. memakai bunga-bungaan.LAMPIRAN I PETUNJUK MEDITASI Moralitas Pembersihan moralitas adalah prasyarat bagi yogi untuk mencapai kemajuan dalam latihannya. Saya bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan yang tidak suci. Arti dari Vipassanā Jika seorang yogi tidak mengerti tujuan dari meditasi vipassanā. 6. yogi diharuskan menjalankan delapan sīla. pergi melihat tontonan-tontonan. Saya bertekad akan melatih diri menghindari segala macam makanan danminuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. Pada retret meditasi. Hanya dengan demikian. Saya bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. dia tidak akan mencoba untuk menemukan sesuatu dengan mencatat proses mental dan jasmani. 5. 7. 4. yaitu: 1. yogi terbebas dari perasaan bersalah. 3. Saya bertekad akan melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari (setelah jam 12:00). 2. terlepas dan mampu berkonsentrasi dengan mudah. menyanyi. Saya bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar. Saya bertekad akan melatih diri menghindari menari. bermain musik. 8. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. Vipassanā adalah 73 .

Mencatat dengan Perhatian Penuh Catatlah dengan perhatian penuh dan tepat. Penting untuk mencatat dengan tepat setiap proses mental dan jasmani yang perlu dimengerti dalam sifat alamiah yang sebenarnya. tubuh yogi harus seimbang. Jadi vipassanā berarti pengertian langsung terhadap tiga karakteristik dari mental dan jasmani. ‘vi’ dan ‘passanā’. Prinsip dasarnya adalah mengamati apapun pada saat hal itu timbul. ‘Vi’ berarti berbagai. Pencatatan yang dangkal dapat membuat pikiran semakin kacau. Jangan bersandar pada tembok atau penopang lainnya. Setiap meditasi duduk harus didahului oleh meditasi jalan selama sejam (dapat dikurangi jika tidak dalam retret dan waktu yang tersedia terbatas). Moggallāna tidak menggunakan alas saat meditasi. yaitu tiga karakteristik (ketidakkekalan. yogi cenderung akan kehilangan obyek. Duduk pada alas yang tinggi dan tertekan menyebabkan tubuh bungkuk ke depan dan menimbulkan rasa kantuk. perhatian penuh dan konsentrasi jangan sampai terpecah. Y. Hal ini akan melemahkan usaha benar (sammā-vayāmā) dan yogi akan merasa mengantuk. Catatlah saat ini. terutama pada awal latihan. Jika kamu mencari sesuatu saat berlatih. jangan lepaskan pencatatan.M. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi dengan cara berperhatian penuh terhadap mental dan jasmani. Jika yogi tidak mencatat.M. maka pikiran akan berada dimasa depan. Meditasi Duduk Saat duduk. Sariputta dan Y. Kata-kata tidaklah penting tapi kadangkadang membantu. tanpa jiwa). Saat berubah dari meditasi jalan ke duduk. 74 . Kecuali pencatatan menjadi gangguan. hiduplah saat ini. ketidakpuasan.gabungan dari dua kata. “Mencatat” adalah teman perhatian penuh ketika konsentrasi lemah.

Walaupun yogi diajarkan untuk memulai dengan mengamati kembung dan kempisnya perut. tetapi hanya satu dari sekian banyak obyek meditasi vipassanā. kembung. Ini sesuai dengan bab tentang empat unsur dalam Mahā Satipatthāna Sutta. frekuensi pencatatan dapat ditingkatkan. karena akan membuat lelah.” Jika gerakannya menjadi rumit.” atau ”kempis. Gerakan perut adalah vāyo-dhātu (unsur angin). dan getaran sebagai karakteristik khususnya. Usahakan pikiran dan tubuh setenang mungkin /tidak tegang. Jika yogi berperhatian penuh dan mengerti gerakan perut. kempis.M. Setiap unsur memiliki karakteristik khusus atau individu. Unsur tanah (pathavī-dhātu) memiliki kekerasan dan kelembutan sebagai karakteristik khususnya. seorang pemula mungkin bingung apa yang harus dicatat. Y. yogi dapat meletakkan tangannya pada perut jika yogi tidak dapat merasakan pergerakan perutnya. jangan menarik nafas dengan cepat atau dalam. catatlah secara umum. dukungan. catatlah sebagai ‘mendengar.Pada permulaan latihan. kempis. yogi tidak boleh melekat pada keadaan tersebut. Unsur angin (vāyo-dhātu) memiliki gerak. Hal ini bukanlah obyek satu-satunya.’ Pada awalnya hal ini tidaklah 75 . Pada tahap awal. kembung. Jika gerakan perut menjadi lebih bertahap dan jelas. maka yogi dapat dikatakan mengerti dengan benar sifat alamiah dari unsur angin dan menghancurkan pandangan salah tentang diri. dan “kempis” saat mengamati gerakan perut ke dalam. Unsur api (tejo-dhātu) memiliki sifat panas dan dingin sebagai karakteristik khususnya. Unsur air (āpo-dhātu) mempunyai sifat fleksibel/mudah berubah dan melekatkan/mempersatukan (kohesi) sebagai karakteristik khususnya. Mahāsi Sayadaw mengajarkan bahwa seorang yogi dapat memulai dengan mengamati gerakan kembung dan kempisnya perut. Bernafaslah dengan normal. Catat dalam hati “kembung” jika mengamati gerakan perut keluar. contoh: “kembung. Jika mendengar suara.

’ ‘angkat. Hanya dengan melakukan meditasi jalan.’ ‘dorong.’ Harap diingat. jangan angkat kaki terlalu tinggi. Obyek yang harus dicatat ditambah perlahan-lahan.’ ‘dorong. Jangan menunduk terlalu rendah. catat dalam hati ‘kanan’ dan ‘kiri. seseorang dapat mencapai tingkat kesucian arahat. yogi dapat mengamati langkah dalam satu tahapan selama kira-kira sepuluh menit. sebab konsentrasi akan terpecah.’ Terakhir dapat dilanjutkan menjadi ‘ingin. dalam satu jam menditasi jalan.’ ‘sentuh. Jangan melihat ke kaki karena pikiran akan terpecah. Kemudian diikuti dengan tiga tahapan ‘angkat. ini akan menyebabkan ketegangan dan pusing dalam waktu singkat.mudah. Pada awalnya lakukan satu pencatatan dalam satu langkah. Ambilah contoh Y. Saat mengikuti gerakan kaki.’ ‘turun. Meditasi Berjalan Lakukan meditasi jalan dengan serius. Hanya jika perhatian penuh telah cukup.24 cm/kaki). dan melihat ke depan kira-kira empat atau lima kaki (30.’ Jangan tutup mata tapi jagalah agar tetap setengah tertutup.’ dan ‘tekan. Pertama. duduklah selama mungkin. Subhadda. yaitu jumlah tahapan langkah yang diamati perlahan-lahan ditambah. tapi yogi harus mencatatnya sebisa mungkin. pikiran tentu berkelana beberapa kali. 76 . Hal penting yang perlu diingat:  Jika ada jeda antara ‘kembung’ dan ‘kempis’ isilah dengan mencatat ‘duduk’ dan/atau ‘sentuh.’  Jangan membuka mata saat melakukan meditasi duduk.  Jangan merubah postur badan. siswa arahat Sang Buddha yang terakhir.  Jangan puas hanya dengan satu jam duduk.’ turun. yogi boleh kembali kepada obyek meditasi yang utama (contohnya: ‘kembung’ dan ‘kempis’).M. Arahkanlah perhatian ke kaki selama meditasi jalan dan catatlah setiap gerakan dengan kewaspadaan yang tajam.

selama retret. berarti mengucapkan selamat tinggal pada konsentrasi. seorang yogi dapat mengerti sifat dasar dari fenomena mental dan jasmani yang menuntunnya ke berhentinya dukkha. Berperhatian penuhlah terhadap setiap aktivitas sehari-hari. membuat pikiran menjadi terkonsentrasi. Dengan tidak mencatat aktivitas seharihari. Kesinambungan diperlukan untuk membuat perhatian penuh berkembang dari satu saat ke saat berikutnya. Jika yogi melakukannya selama retret. Maksudnya ia bukanlah seorang yogi karena ia tidak memiliki sati. berarti yogi kehilangan hidupnya. Yogi telah dan akan memiliki banyak waktu untuk melihat sekeliling. Melakukan sesuatu dengan sangat perlahan. Dianjurkan untuk berlatih paling sedikit lima atau enam jam meditasi jalan dan duduk setiap harinya. Yogi tak perlu terburu-buru. samādhi. Mahāsi Sayadaw membandingkan seorang yogi dengan orang sakit yang bergerak dengan sangat lambat. Hal ini akan menimbulkan konsentrasi yang dalam.M. keadaan tanpa perhatian penuh akan semakin lebar. jangan mengharapkan kemajuan. Kemampuan perhatian penuh (satindriya) dari seorang yogi melibatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan sepanjang hari. Yogi yang tidak dapat berperhatian penuh terhadap aktivitas sehari-hari. Y. Ada banyak hal baru yang akan ditemukan setiap harinya bila yogi memiliki perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasinya. Sekali yogi gagal mengamati aktivitasnya. Kewaspadaan terhadap aktivitas sehari-hari adalah kehidupan seorang yogi. dan paññā. yogi harus 77 . Hanya dengan konsentrasi yang dalam. Jadi. yang perlu yogi lakukan hanyalah berperhatian penuh.Yogi tidak boleh melihat ke sekeliling selama melakukan meditasi jalan. Mata yang berkelana adalah suatu masalah yang sangat sulit bagi seorang yogi. Catatlah ‘keinginan’ untuk melihat sekeliling. Perhatian terhadap Aktivitas Sehari-hari Meditasi vipassanā adalah cara hidup Sang Buddha.

yang ditimbulkan oleh perhatian penuh yang 78 . Ketiganya merupakan rintangan bagi kemajuan meditasi. pikiran akan tercerap ke dalam. Mungkin saja rasa sakit itu tidak menghilang. Hal itu hanyalah suatu proses alamiah yang tidak berbeda dengan ‘kembung’ – ‘kempis. karena temannya telah pergi. sakit dapat membawa yogi ke nibbāna. Sakit dan Kesabaran Rasa sakit adalah teman seorang yogi.terbiasa untuk perlahan-lahan. Sebaliknya. yogi mungkin akan menangis. Kesimpulannya. Rasa sakit diamati bukan untuk membuatnya menghilang. yogi dapat melihatnya sebagaimana adanya (dapat melihat dengan jelas jumlah bilah dari kipas tersebut).dan menemukan sifat alamiah dari -rasa sakit tersebut. yogi tidak bisa melihat kipas angin tersebut sebagaimana adanya (tidak bisa melihat jumlah bilah pada kipas angin tersebut). yogi harus acuh terhadap sekeliling dan dengan semangat mencatat setiap aktivitas mental dan jasmani. Jika menghilang. Rasa sakit tidak perlu memberitahu kedatangannya. Saat yogi dikelilingi oleh orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa.’ Jika yogi mengamati rasa sakit dengan perhatian penuh. Jika kipas angin berputar dengan cepat. Jika konsentrasi baik. ataupun mengingat. Jika rasa sakit datang. Rasa sakit dapat diatasi dengan konsentrasi yang dalam. Hanya diacuhkan jika rasa sakit terlalu kuat. rasa sakit bukanlah suatu masalah. Beberapa yogi bahkan sengaja membuat rasa sakit dengan melipat kakinya di bawah badan. bila kipas itu berputar perlahan. tapi untuk mengerti sifat alamiahnya. langsung catat. Berbicara lima menit dapat menghancurkan konsentrasi sepanjang hari. jangan menghindarinya. Jangan membaca. Rasa sakit adalah kunci ke nibbāna. yogi harus melakukan semua aktifvitasnya dengan perlahan agar bisa melihat proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. melafal. Berbicara adalah kegiatan yang berbahaya terhadap perkembangan pandangan terang.

Keingintahuan dan pengharapan dengan pasti akan menghambat 79 . bahagia. Sedangkan pikiran yang logis atau rasional. Kelelahan/rasa kantuk dapat diatasi dengan menambah usaha/semangat. bersemangat. Sabarlah terhadap apapun yang merangsang pikiranmu. pikir. Keantusiasan dan kekhawatiran mengenai pencapaian konsentrasi dapat menyebabkan pecahnya konsentrasi itu sendiri. … kantuk. Kemampuan ini tidak dapat dikesampingkan. maka yogi tidak memiliki harapan untuk mengkonsentrasikan pikiran. Kesabaran membawa yogi ke nibbāna. dan tepat. sehingga pikiran yang mencatat menjadi berkesinambungan dan kuat. proses berpikir akan berhenti dengan sendirinya. Ketidaksabaran membawa yogi ke neraka. harus dilakukan dengan cepat. Pandangan terang datang bersama dengan konsentrasi yang dalam. …” tidak pelan seperti. …pikir. …” atau “bahagia. hal ini cenderung akan berlanjut. sedih. Jika yogi waspada terhadap pikirannya. Siapa bilang segala sesuatu dapat dinikmati? Mencatat Keadaan Mental dan Emosi Jika yogi mencatat keadaan mental atau emosi apapun. …” kecuali jika yogi dapat mencatat pikiran yang berkelana. itu berarti yogi belum melakukan pencatatan dengan semangat yang cukup. pikir. bahagia. Jika ada rasa sakit yang luar biasa ketika melakukan meditasi jalan. datang bersama konsentrasi yang dangkal. Kemudian. Jangan terikat pada berpikir atau teori. …” atau “kantuk. sedih. Jika pikiran yogi tetap berkelana. “pikir.berkesinambungan. Aktivitas mencatat juga menolong. …” atau “kantuk. …” atau “sedih. Jika yogi tidak waspada terhadap isi pikirannya. yogi kadang-kadang harus berhenti dan mencatatnya. kantuk. maka proses berpikirnya akan berhenti. kantuk. Catatlah pikiran dengan cepat seperti memukulnya dengan sebatang tongkat: “pikir.

bukan MENCOBA! Jika yogi memberi usaha yang cukup. yogi harus bangun untuk bermeditasi. 2. Manusia memiliki berbagai kekuatan dan kemampuan untuk melakukan banyak hal. jadi jangan terikat oleh ruang & waktu. Kemudian. Viriyindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. Jika yogi mengantuk. masalahnya adalah yogi enggan menggunakannya. tajam. Sikap mental sangatlah penting. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasi. Bila hal ini muncul. Jika yogi masih mengantuk ketika bangun. yogi harus bangun jam empat pagi). Jika yogi optimis. dan seimbang. maka bangunlah dan berjalan. Jika tidak. maka yogi harus menambah usahanya dalam berlatih. Meditasi adalah kegiatan di luar batas ruang dan waktu. berikan kewaspadaan yang tajam. maju mundur di bawah sinar matahari. Yogi harus BERJUANG. Catatlah rasa kantuk dengan penuh semangat dengan melakukan pencatatan yang cepat. yogi akan menikmati tidur. yogi akan mencapai ke-empat jalan dan hasilnya. latihan sesungguhnya dimulai setelah itu. jangan pesimis. Jika seorang yogi bangun jam tiga pagi. Itu bukanlah sikap yang tepat. jangan diam bersamanya. 80 . Lima Kemampuan Seorang Yogi (Pancindriya) Seorang yogi harus memiliki lima kemampuan ini dengan kokoh.kemajuan yogi. ada kepuasan dalam setiap situasi dan yogi juga memiliki sedikit gangguan. Saddhindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. kuat. Yogi tidak boleh menunggu sampai jam empat pagi (selama retret. Lima kemampuan tersebut yaitu: 1. berjalanlah dengan lebih cepat. yogi memberikan kesempatan pada dirinya sendiri. Satu minggu latihan hanyalah merupakan proses belajar. Sebenarnya semangat untuk mencatat selalu ada.

Yogi yang berikutnya harus siap disamping yogi yang sedang diwawancara. janganlah membuang waktu. Kelima kemampuan di atas harus seimbang untuk mencapai pandangan terang.3. Paññindriya : perhatian penuh yang berkesinambungan dan dapat bertahan lama. pandangan terang. Keyakinan (saddhā) harus seimbang dengan kebijaksanaan (paññā). Jangan menjadi bersemangat. memberi petunjuk lebih jauh atau memberikan semangat untuk kemajuan yang lebih baik. Perhatian penuh adalah kemampuan yang paling penting. : konsentrasi yang mendalam : kebijaksanaan yang menembus. atau takut. yogi bisa datang sesudah jadwal yang telah ditentukan. kecuali yogi memiliki alasan untuk melakukannya. Seorang yogi tidak boleh mencoba untuk datang sebelum waktu yang dijadwalkan. Perhatian penuh tidak perlu seimbang dengan faktor yang lainnya. yang dapat membawa keepat faktor yang lain ke tujuan. Samādhindriya 5. Lapor dengan singkat dan tepat pada sasaran. komunikasi yang efektif antara instruktur dan yogi sangatlah penting. Pada waktu retret. Setelah melaporkan tentang apa yang yogi lakukan dan alami dalam meditasinya. jika tidak ada faktor yang menghalangi latihan meditasinya. Sebaliknya. terutama jika masih banyak yogi lain yang menunggu. Tenang dan terbuka. Satindriya 4. Oleh karena itu. Ketika sedang menunggu giliran di dalam grup. Duduk dan berperhatian penuhlah sampai dipanggil. instruktur akan memperbaiki. gugup. karena waktu sangat berharga. semangat harus seimbang dengan konsentrasi. bicaralah dengan jelas dan 81 . Yogi harus penuh pengertian. yogi harus melapor ke instruktur meditasi untuk mengetahui perkembangan latihannya. Wawancara atau Waktu Melapor Setiap hari. tiap grup diberikan jadwal yang berbeda untuk melapor ke sayadaw.

tetapi seorang yogi tidak boleh dan jangan membuat catatan itu sebagai suatu hal yang harus diingat selama meditasi. hanya setelah yogi selesai menceritakan pengalaman-pengalamannya. Laporkanlah semua pengalaman walaupun pengalaman tersebut terihat tidak penting. 82 . Membuat catatan-catatan singkat segera setelah latihan meditasi dapat membantu. Jangan menunggu komentar.terdengar seluruh kalimatnya. Dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan ikuti instruksi dengan tepat dan rajin. jangan berbicara mengenai hal lain. tanyakanlah. Datang dan meninggalkan tempat wawancara dengan perhatian penuh. karena hal ini dapat menggangu konsentrasi. komentar akan diberikan. Jika ada keraguan. Jawablah jika ditanya. Jangan bergumam atau berbisik.

LAMPIRAN II JADWAL MEDITASI 03:00 03:00 – 04:00 04:00 – 05:00 05:00 – 06:00 06:00 – 07:00 07:00 – 08:00 08:00 – 09:00 09:00 – 10:00 10:00 – 11:00 11:00 – 12:00 12:00 – 13:00 13:00 – 14:00 14:00 – 15:00 15:00 – 16:00 16:00 – 17:00 17:00 – 18:00 18:00 – 19:00 19:00 – 20:00 20:00 – 21:00 21:00 Bel bangun pagi Meditasi jalan Metta chanting / meditasi duduk Meditasi jalan Makan pagi / mandi / bersih-bersih Meditasi jalan Meditasi duduk / interview Meditasi jalan / interview Meditasi duduk Makan siang Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Meditasi jalan / interview Meditasi duduk / interview Meditasi jalan Minum sore / mandi / bersih-bersih Dengar ceramah Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Istirahat 83 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful