MEDITASI VIPASSANĀ

CERAMAH MENGENAI MEDITASI PANDANGAN TERANG

O L E H

SAYADAU U JANAKABHIVAMASA

CHANMYAY YEIKTHA YANGON, MYANMAR

I

DAFTAR ISI: Bab Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Bab I : Kebahagian Melalui Pengertian Benar Bab II : Instruksi Awal Bagi Yogi Bab III : Tujuh Manfaat Meditasi Vipassanā Bab IV : Empat Landasan Perhatian Penuh Bab V : Tujuh Tingkat Pemurnian Bab VI : Sembilan Cara Untuk Menajamkan Bab VII Lampiran I Lampiran II Kemampuan Mental : Lima Faktor Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Yogi 73 83 Halaman: I II 1 15 24 38 48 57 66

II

KATA PENGANTAR Sudassam Vajjamaññesam Attano pana duddasam Mudah terlihat kesalahan orang lain Sulit melihat kesalahan diri sendiri Dhpd. 252 Pernyataan ini sangatlah cocok untuk para yogi. Seorang yogi terus membuat kesalahan yang sama dan tetap tidak mengetahui hal itu, sampai seorang yang lebih pandai dan berpengalaman datang menunjukkannya. Kemudian selang beberapa waktu, kita mungkin lupa dan perlu diingatkan kembali. Pada tanggal 30 Maret sampai dengan 8 April 1983, kami sangat beruntung atas kedatangan seorang guru besar yang sangat berpengalaman memberikan retret di Pusat Meditasi Buddha Malaysia, Penang, untuk menuntun, mengajar, mengkoreksi dan mengingatkan kita tentang latihan meditasi vipassanā. Kita semua mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa dengan bimbingan beliau yang sangat detil, dan disiplin yang sangat tinggi serta katakata yang membangkitkan semangat. Kami di sini mempunyai komplikasi dari seluruh kegiatan retret tersebut untuk keuntungan para pencari keselamatan tertinggi. Kompilasi tersebut terdiri dari ceramah sore yang disampaikan oleh Sayadaw U Janakabhivamsa untuk keuntungan para yogi. Selain itu beberapa wejangan yang sebagian besar diambil dari wawancara antara Sayadaw dengan para yogi. Semua itu telah disusun berdasarkan kategori tertentu dan dijadikan sebuah buku kecil yang cukup lengkap. Beberapa pernyataan hanya dapat diterapkan dalam situasi tertentu dan tidak dapat diaplikasikan secara umum. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sayadaw yang telah mengijinkan kami untuk mencetak buku ini dan membantu untuk mengkoreksi buku ini sendiri. I

Kami juga sangat berterima kasih kepada mereka yang telah membantu mewujudkan buku ini. Venerable Sujiva Juni 1985.

II

Royce Willes. 5 November 1992. Kami sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Bhikkhu Sujiva untuk usahanya yang tidak mengenal lelah dalam menyusun dan mengedit ceramah-ceramah dan wejangan-wejangan yang saya berikan untuk keuntungan semua yogi dalam retret yang diadakan di Penang. Bhikkhu Malaysia. Bhikkhu Pasala dari Vihara Burma di London. April 1983. Chanmyay Sayaday III . Ashin Janakabhivamsa. memberikan kepada saya seorang asisten yang tidak ternilai. murid meditasi saya. Malaysia. yang telah memperbaharui bahasa dalam naskah yang dimasukkan ke dalam komputer oleh U Dhammashubha.UCAPAN TERIMA KASIH Ini adalah kehormatan bagi saya bahwa kita dapat menerbitkan edisi baru dari buku Meditasi Vipassanā ini yang mana sejauh ini telah dicetak tiga kali di Malaysia & Myanmar. Edisi baru ini disusun sewaktu saya mengadakan perjalanan Dhamma di Negara bagian Barat pada tahun 1992. Saya berterima kasih sekali kepada mereka semua. Maung Aung Gyi dan Maung Myint Oo.

Menurut ajaran Beliau. pendambaan. Jadi. yang menuntun orang pada berakhirnya penderitaan. dan kesukaan. Ketika Sang Buddha yang Maha Tahu mencapai penerangan sempurna. Jika tak ada sebab. Inilah sebabnya mengapa orang mencari jalan kebenaran yang menuntun mereka pada berakhirnya penderitaan. keinginan. tidak ada sesuatu yang muncul tanpa sebab. Cendikiawan agama Buddha menterjemahkan tanhā sebagai kemelekatan sehingga hal itu meliputi semua bentuk keinginan. dia pasti dapat melenyapkan penderitaan (dukkha). maka tidak akan ada akibat. Beliau menemukan penyebab dari penderitaan adalah “kemelekatan” (tanhā).NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMĀSAMBUDDHASSA BAB I KEBAHAGIAAN MELALUI PENGERTIAN BENAR Setiap orang di dunia ini menginginkan kebahagian dan kedamainan. Ketika seseorang dapat melenyapkan tanhā. Pengertian dari kata tanhā adalah keserakahan. nafsu. Tanhā muncul karena suatu sebab. Ketika Sang Buddha ingin menghentikan penderitaan (dukkha). Salah satu agama terbaik di dunia adalah agama Buddha. segala sesuatu muncul karena suatu kondisi. Tanhā atau kemelekatan adalah penyebab dari penderitaan. di dalam bahasa Indonesia. Penyebab Penderitaan Sang Buddha menemukan sebab dari penderitaan (dukkha). 1 . Apapun yang ada di dunia ini mempunyai sebab. kami menggunakan kata kemelekatan untuk tanhā. Beliau harus menemukan penyebabnya. Bila ada tanhā pasti ada penderitaan (dukkha). Semua agama di dunia ini muncul karena alasan ini. Ketika penyebabnya telah dimusnahkan.

Kata mental lebih berhubungan dengan pikiran. Pandangan salah sebagai sebab. pandangan salah (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi) adalah akibatnya. Sang Buddha yang Maha Tahu menemukan bahwa penyebab dari kemelekatan adalah pandangan salah. Ketika kemelekatan telah dimusnahkan. Kemudian kita dapat mengetahui hukum sebab dan akibat. Sehingga dengan merealisasi atau pengertian benar tentang proses mental dan jasmani secara alamiah. diri. Dalam agama Buddha aliran Theravada. 1 Mental digunakan sebagai pengganti kata batin. pandangan salah terhadap jiwa. maka tidak akan ada penderitaan. seseorang. Kita dapat menyimpulkan hubungan dari sebab dan akibat seperti ini: ketidaktahuan/kebodohan sebagai sebab. hanya mengenal fenomena mental dan jasmani. tidak ada jiwa/roh 2 . Lalu kita mencapai tingkat dimana semua penderitaan tidak akan muncul. penderitaan adalah akibatnya. jika proses mental dan jasmani dapat dimengerti dengan benar. maka tidak akan ada pandangan salah terhadap jiwa. Jadi sakkāya-ditthi atau atta-ditthi adalah sebab dari tanhā yang menyebabkan penderitaan (dukkha) muncul. Ketika pandagan salah telah dimusnahkan. pengertian benar ini akan membasmi ketidaktahuan/kebodohan. Ketika ketidaktahuan/kebodohan telah dibasmi. maka kemelekatan tidak akan timbul. kita akan membasmi kebodohan. dan makhluk. berhentinya penderitaan dicapai (Nirodha-sacca). sedangkan kata batin lebih berhubungan dengan jiwa (kamus bahasa Indonesia). ‘aku’ atau ‘kamu. misalnya. Lalu apa apa yang menjadi sebab dari pandangan salah ini (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi)? Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa ketidaktahuan/kebodohan (moha atau avijjā) dari proses alamiah mental dan jasmani yang menjadi penyebab dari pandangan salah terhadap jiwa atau diri. Tanhā adalah keadaan mental1 dan proses mental yang terkondisi. diri. Kemudian kita mengetahui.tanhā tidak akan muncul.’ kepribadian atau individu yang dikenal sebagai sakkāya-ditthi atau atta-ditthi.

jiwa atau diri. ’aku’ atau ’kamu’ mempunyai keinginan untuk menjadi kaya. kita khawatir akan rumah itu. orang tersebut. kemelekatan ini juga menyebabkan kita menderita. ‘aku’ atau ‘kamu. Hal ini muncul disebabkan oleh pandangan salah terhadap seseorang atau makhluk. ‘aku’ atau ‘kamu.’ Jika kita ingin melenyapkan keinginan atau kemelekatan. mendapat atau memiliki sesuatu muncul karena konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. Keinginan untuk menjadi. ratu. atau diri. sehingga kita menganggap proses mental dan jasmani ini sebagai seseorang. raja. anak-anak atau orang tua kita. seperti telah saya jelaskan sebelumnya. makhluk tersebut. adalah kemelekatan. Saat kita melekat kepada rumah dan benda mati lainnya. raja. perdana menteri atau konglomerat. Jadi. kita 3 . Ketika kita melekat kepada anak-anak kita. tidak ada muncul lagi kemelekatan atau keinginan untuk menjadi orang kaya. konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. makhluk. ketika kita melekat terhadap saudara. Kesedian adalah salah satu jenis penderitaan utama. hal itu akan membawa berbagai macam penderitaan. katika pandangan salah ini telah dimusnahkan. atau makhluk. Keinginan untuk menjadi ratu. Demikian juga. Penderitaan tersebut disebabkan oleh kemelekatan kita pada rumah kita. Hal ini dikarenakan kita tidak mengerti dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebanarnya. dan bagaimana pandangan salah ini menyebabkan munculnya kemelekatan. jiwa. jiwa atau diri. presiden dan seterusnya. diri.’ Ketika keinginan atau kemelekatan itu muncul di dalam diri kita. presiden dan yang lainnya. seseorang. presiden. Apakah penyebabnya? Penyebab dari keinginan atau kemelekatan adalah. teman-teman. Jika rumah itu terbakar. kita menjadi sedih.Sebab dari Pandangan Salah Kita harus mempertimbangkan bagaimana kebodohan dari proses mental dan jasmani menyebabkan pandangan salah tentang jiwa. Kemudian. ‘aku’ atau ‘kamu’. kita harus melenyapkan penyebabnya.

Darimana asal kemelekatan ini? Kemelekatan ini berasal dari konsep yang salah terhadap proses mental dan jasmani yang dianggap sebagai seseorang atau makhluk. dan berperhatian penuh pada saat ’sesuatu’ tersebut terjadi. Jadi. tanpa berlogika. Jika anak kita tidak lulus ujian. rancangan. Jika kita mengamati dengan perhatian penuh dan dari dekat. mempunyai waktu internasional. kita khawatir.’ Jika konsep kepribadian dan individu ini telah dihancurkan. Ketika kita tidak mengamati jam tangan dengan perhatian penuh dan hati-hati. Kita sudah menggunakan pemikiran yang ada ketika kita melihat jam tangan tersebut. Tetapi jika kita tidak mengamatinya sebagaimana adanya. Kita harus sangat waspada dan perhatian penuh pada ’sesuatu’ tersebut sebagaimana adanya. tanpa berfilsafat. ‘aku’ atau ‘kamu. dan disebabkan oleh kemelekatan terhadap anak-anak kita. Melihat Sebagaimana Adanya Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa dengan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. kemelekatan (tanhā) adalah sebab dari penderitaan. dan sedih. kasihan. saya akan menganggap jam tangan itu merek Omega. Kita akan mengetahui bahwa itu adalah jam tangan merek Seiko. pendidikan dan seterusnya. dan tanpa berprasangka. Penderitaan ini adalah penderitaan mental.khawatir akan kesehatan mereka. jadi pemikiran itulah yang menuntun 4 . jiwa atau diri. kita akan mengerti sifat alamiahah yang sesungguhnya. maka tidak akan ada lagi kemelekatan. kita harus mengamati. saat melihat sebuah jam tangan. mengawasi. Sebagai contoh. bila pengamatan kita dikombinasikan dengan ide-ide yang sudah ada seperti “saya pernah melihat jam tangan dan mereknya adalah Omega. Bila tidak ada kemelekatan. kita akan melihat merek. Kenapa? Karena kita tidak pernah mengamatinya dengan perhatian penuh dan dari dekat. kita tidak memahami jam tangan tersebut sebagaimana adanya.” lalu setiap kali saya melihat jam tangan. tidak akan ada penderitaan. dan bentuknya. dan sebagainya. tanpa menganalisanya. Ketika kita ingin memahami ’sesuatu’ sebagaimana adanya.

Ketika kita merasa marah. kita harus mencatat perasaan panas itu sebagai perasaan panas. makhluk. Jika kemelekatan telah dihancurkan. kita mencatatnya sebagai bahagia. kita terbebas dari semua jenis penderitaan dan mencapai keadaan terhentinya 5 . Jika kita menganggap proses mental dan jasmani sebagai suatu proses alami. Pengertian benar ini akan memandu kita guna meyingkirkan kebodohan. maka tidak akan muncul kemelekatan. Ketika kita merasa panas. Setiap proses mental dan jasmani harus diamati sebagaimana adanya. ketika kita ingin mengetahui dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya atau sebagaimana adanya. Jika kita dapat menyingkirkan ide-ide yang sudah ada tersebut dan hnaya mengamati dengan perhatian penuh dari dekat. kita harus mencatat perasaan dingin itu sebagai perasaan dingin.kita kepada kesimpulan yang salah mengenai jam tangan tersebut. Ketika kita merasa bahagia. dan juga mempunyai waktu internasional. Kita mengerti sebagaimana adanya karena kita telah menyingkirkan ide ‘Omega’ sewaktu kita mengamati jam tangan tersebut. Ketika kita merasa berduka. jiwa. sehingga kita dapat mengerti dengan benar berdasarkan sifat alamiahah yang sebenarnya. Bila kita merasa dingin. kita tidak boleh menganalisa atau memikirkannya. Kita juga tidak akan menggunakan alasan atau pengetahuan intelektual. kita harus menyadari keadaan emosi dari kesedihan dan kekecewaan kita sebagaimana adanya. atau ide yang sudah ada. Dengan cara yang sama. Kita harus meninggalkan cara-cara di atas dan berperhatian penuh pada apa yang dari fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. kita mencatatnya sebagai sakit. Ketika kita merasa sakit. kita mencatat kemarahan sebagai kemarahan. atau diri. kita tidak menganggap proses mental dan jasmani sebagai seseorang. kita akan mengetahuinya sebagaimana adanya: jam tangan tersebut adalah merek Seiko. dibuat di Jepang. Setelah kebodohan disingkirkan. kita harus berperhatian penuh pada perasaan duka tersebut sebagai berduka. Ketika kita merasa sedih atau kecewa.

” Dalam kotbah ini.penderitaan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk berperhatian penuh pada fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. itu berarti kita melekat terhadapnya. Perhatian penuh pada proses jasmani (Kāyānupassanā Satipatthāna) 2. pikiran yang mencatat/mengamati akan memilih obyeknya sendiri. Walaupun kita coba memfokuskan pikiran pada gerakan kembung-kempis perut. sensasi sakit. Selama latihan meditasi. perhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani sesuai sifat alamiahnya adalah jalan yang menuntun kita ke keadaan terhentinya penderitaan. kita tidak perlu memilih apakah proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi kita. Ada banyak cara untuk tetap berperhatian penuh pada proses mental dan jasmani. Jadi. tetapi semua itu dapat diringkas sebagai berikut: 1. Perhatian penuh pada obyek-obyek pikiran (Dhammānupassanā Satipatthāna) Tak Ada Pilihan Untuk Kesadaran Ketika kita berperhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani. Ketika rasa sakit hilang karena pengamatan yang mantap dan perhatian penuh. Jika kita memilih proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi. barangkali perasaan bahagia dari kesuksesan kita. Inilah sebabnya Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan kotbah tentang ”Empat Landasan Perhatian Penuh. atau gerakan kembung-kempisnya perut. Pikiran yang mencatat akan beralih ke sakit dan mengamatinya karena perasaan yang lebih jelas mengalihkannya dengan sangat kuat. Jadi kita tidak perlu memilih obyek tetapi harus mengamati obyek yang pikiran pilih. pikiran akan memilih 6 . Perhatian penuh pada pikiran (Cittānupassanā Satipatthāna) 4. Perhatian penuh pada perasaan atau sensasi (Vedanānupassanā Satipatthāna) 3. pikiran tidak bisa tetap memegang obyek tersebut jika ada rasa sakit yang lebih kuat atau jelas. Pikiran akan memilih obyek dengan sendirinya.

Jika perasaan bahagia lebih kuat dari gerakan kembung-kempisnya perut. Ketika kita menrentangkan tangan. gerakan menyendok itu harus diamati.’ Jadi prinsip dari meditasi vipassanā atau medistasi perhatian penuh adalah mengamati. Ketika kita mencelupkan sendok ke dalam kari. Jika kita memegang sendok. 7 . Jika perasaan gatal di punggung lebih jelas dari pada gerakan kembung-kempisnya perut. Ketika kita mencyendok kari. pikiran akan memilih perasaan bahagia sebagai obyek dan mengamatinya sebagai ‘bahagia. gerakan kaki seperti mengangkat. sensasi sentuhan harus diamati. Meditasi vipassanā tidak hanya sederhana dan mudah. Sewaktu kita mengambil makanan. kita harus menyadari setiap gerakan. tapi juga sangat efektif dalam mencapai tujuan kita . misalnya.’ Ketika perasaan gatal hilang. Dalam hal ini. saat kita mandi. karena kekuatan perhatian penuh dan konsentrasi yang dalam. pikiran akan beralih ke perasaan gatal dan mengamatinya sebagai ‘gatal. gerakan kembung-kempisnya perut sebagai obyek karena gerakan tersebut lebih jelas dari obyek yang lainnya. sensasi dari kegiatan memegang sendok harus diamati. Ketika tangan menyentuh sendok atau nasi. mendorong. Dengan cara yang sama. mengawasi atau berperhatian penuh pada semua fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. saat bekerja di kantor atau rumah. kita harus menyadari gerakan merentang. gatal.lenyapnya penderitaan. kita harus menyadari setiap gerakan yang terlibat. gatal. bahagia. bahagia. setiap aktivitas yang terlibat dalam kegiatan makan. pikiran akan memilih. Sewaktu melatih meditasi jalan dalam retret. dan menurunkan harus diamati dengan cermat dan tepat sebagaimana adanya.obyek lain yang lebih jelas. setiap gerakan yang terjadi dalam kegiatan makan harus diamati sebagaimana adanya karena karena setiap proses jasmani harus dimengerti dengan penuh sehingga dapat menghancurkan kebodohan yang menyebabkan pandangan salah. gerakan mencelup itu harus diamati.

dorong. dorong. Pikiran harus mengikuti pergerakan kaki semaksimal mungkin sebagaimana adanya. kita harus mencatatnya sebagai “turun. Tujuan meditasi samatha adalah untuk mencapai konsentrasi pikiran yang dalam pada satu obyek. pikiran tersebut harus diamati sebagaimana adanya dan catat “berpikir. kita harus mencatat sebagai “dorong. turun. pikiran menjadi tenang dan damai. mungkin ada beberapa yogi yang tidak perlu mencatat atau menyebut obyek meditasinya. Jadi. yogi harus meneruskan berjalan dan mencatat seperti semula “angkat. Dengan cara ini. Mereka hanya harus mengamati gerakan kaki dari permulaan gerakan mengangkat hingga akhir dari gerakan menurunkan.” Pencatatan atau pemberian sebutan dapat mengarahkan pikiran kita ke obyek meditasi lebih dekat dan lebih tepat. Jika pikiran terkonsentrasi dengan mendalam pada obyek meditasi.” Dengan cara ini kita catat. yogi dapat mengembangkan konsentrasi lebih dalam dari sebelumnya.” Setelah pikiran tersebut lenyap. turun. jhāna) 8 . Hal ini juga sangat membantu yogi untuk memusatkan pikirannya pada obyek meditasi.” Samatha dan Vipassanā Di sini. kita harus mengetahui perbedaan antara meditasi samatha dan vipassanā. Tetapi.” Saat kita mendorong kaki ke depan. Saat kita mengangkat kaki untuk berjalan. “angkat. angkat. Jika pikiran berkelana. yogi harus mengikuti pikiran dan mengamatinya. berpikir. kita harus mencatatnya sebagai “angkat. hasil meditasi samatha adalah pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. kedamaian. tanpa berpikir atau menganalisa. pikiran sering berkelana. dorong. berpikir. Jika yogi berpikir masalah keluarga. mereka hanya mengamatinya. Samatha berarti konsentrasi. turun. ketenangan. Pada permulaan latihan.Labelling Kita mungkin perlu mencatat atau memberi sebutan jika kita sedang berperhatian penuh pada suatu obyek.” Saat kita menurunkan kaki.

kita merasa tenang. Menurut kitab komentar visuddhimagga. Yogi harus memusatkan pikirannya pada lingkaran merah tersebut dan mengamatinya sebagai “merah. merah. keserakahan. Saat pikiran terbebas dari segala kekotoran mental atau rintangan mental. Untuk ini. merah. dan bahagia. kita memiliki berbagai macam obyek meditasi: kebahagian adalah sebuah obyek meditasi dan begitu juga dengan kemarahan. kita memerlukan suatu tingkat konsentrasi tertentu.atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). Tetapi meditasi samatha tidak membuat kita mengerti dengan benar tentang fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. untuk membuat kasina warna. Konsentrasi ini dapat dicapai melalui perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan terhadap proses mental dan jasmani. hasil meditasi samatha adalah kebahagian dalam batas tertentu dikarenakan pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. sensasi rasa sakit. rata. yogi harus membuat lingkaran merah di dinding lebih kurang 2 kaki dari lantai. Oleh karena itu. kesombongan. Ketika pikiran terkonsentrasi dengan dalam pada obyek meditasi. dalam hal ini adalah lingkaran merah. contohnya. keinginan. kebodohan mental dan seterusnya terlepas dari pikiran yang terserap pada obyek. Jika pikiran berkelana. jhāna) atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). kekakuan. damai. dan halus. lihat dan berkonsentrasi pada kasina tersebut. Segala macam proses mental 9 . tapi yogi harus membawa pikirannya kembali ke obyek meditasi. Seorang yogi samatha harus membuat peralatan tertentu atau kasina sebagai obyek meditasi. semua kekotoran mental seperti nafsu.” Ini adalah keterangan singkat dari cara berlatih meditasi samatha. tujuannya adalah untuk mencapai berhentinya penderitaan melalui pengertian yang benar terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. Sedangkan untuk meditasi vipassanā. kesemutan. kemudian yogi harus duduk sekitar 2 kaki dari obyek tersebut. Yogi harus membuat lingkaran merah sebesar piring dan warnanya harus merah murni. yogi tidak boleh mengikuti pikirannya. Jadi. kebencian. Bila kasina tersebut sudah jadi. kesedihan. dan sebagainya.

dan turun. Saat pikiran berkelana. makhluk. dan menurunkan. Ketika pandangan salah ini telah dihancurkan. yaitu: angkat. mendorong. tidak akan muncul penderitaan yang sebenarnya adalah hasil dari kemelekatan. Jadi. demikian juga metodenya. yang kita catat adalah gerakan mengangkat. tidak akan ada kemelekatan atau keinginan yang menyebabkan penderitaan (dukkha). Ketika pikiran terkonsentrasi pada gerakan kaki dengan baik. individu. kita harus mengikuti dan mengamatinya hingga pikiran yang berkelana tersebut hilang. mendorong. dorong. ‘aku’ atau ‘kamu.’ Kemudian tidak akan ada pandangan salah terhadap seseorang. dan meletakkan sebagai proses yang alami. Ketika kita berjalan. Kita mencapai berhentinya penderitaan ketika mengalami proses gerakan mengangkat. Kita harus kembali pada apa yang telah saya jelaskan sebelumnya. jiwa atau diri. Gerakan mendorong adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. Ketika kita menyadari semua gerakan sebagai proses alamiah. ketika kaki didorong ke depan. Ketika kaki diangkat.dan jasmani dapat dijadikan obyek meditasi. Kita tidak boleh memperhatikan bentuk kaki atau bentuk badan selama berjalan. kita mengamati pergerakan kaki. Gerakan mengangkat adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. kita mengerti sepenuhnya dua proses dari fenomena mental dan jasmani. karena kemelekatan tidak muncul. pikiran mencatat sebagai dorong. Hanya setelah pikiran yang berkelana itu hilang. pikiran kita tidak terkonsentrasi pada kaki dengan baik. Kita tidak menganggap mereka sebagai seseorang. 10 . pikiran mencatat sebagai angkat. pikiran mencatatnya sebagai turun. Tujuan dan hasil meditasi samatha dan vipassanā adalah berbeda. Kita mengerti dengan benar bahwa kedua proses ini adalah proses alami dari fenomena mental dan jasmani. kita mencatat gerakan kaki seperti biasa. Pada permulaan latihan. kita juga menyadari bahwa pikiran yang melakukan pencatatan. ketika kaki diturunkan. Dengan cara ini.

Ketika konsentrasi menjadi dalam dan kuat. yaitu penderitaan (dukkha). Jadi kita merealisasikan tiga karakteristik dari fenomena mental dan jasmani. Saat kita menyadari ketidakkekalan dan penderitaan adalah sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. Dengan perhatian penuh yang konstan dan kuat. tidak ada jiwa. dan tidak ada jiwa atau diri (anatta). Setelah mencapai tingkat terakhir. sotāpatti-magga. penderitaan (dukkha). diri. Pada saat pencapaian tingkat kesucian pertama.Seiring dengan berjalannya latihan. atau diri. Saat mengalami hal tersebut. kita menjadi mengerti bahwa tidak ada proses yang kekal dan abadi. kemudian pengertian atau pandangan terang kita terhadap proses mental dan jasmani menjadi jelas. Kemudian kita menyadari satu dari tiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. jiwa. yogi mencapai tingkat kesucian pertama. Ini adalah realisasi dari anatta. hanya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. muncul dan tenggelam dengan sangat cepat. ataupun ego. berkesinambungan. yogi merealisasi empat kenenaran mulia: Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : kebenaran tentang penderitaan : kebenaran tentang asal-mula penderitaan : kebenaran tentang berhentinya penderitaan : kebenaran tentang jalan menuju berhentinya penderitaan 11 .seseorang. konsentrasi menjadi lebih dalam dan kuat. jadi hal ini bukanlah merupakan proses yang baik melainkan buruk. Dengan cara ini semua yogi melewati tingkat pengetahuan pandangan terang dari proses mental dan jasmani satu demi satu. tidak kekal (annica). perhatian penuh kita menjadi lebih konstan. kita tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang abadi . makhluk. Sehingga kita menyadari banyak rangkaian dari gerakan mengangkat yang muncul dan tenggelam satu per satu. dan menjadi kuat. Setiap proses gerakan adalah tidak kekal (annica).

berarti yogi telah menyadari penderitaan.Ketika yogi menyadari perubahan dari fenomena mental dan jasmani. Sammā vayāmā : usaha benar 7. ia harus melakukan usaha. Perhatian penuh inilah yang disebut “perhatian benar” (sammā sati). sebagai contoh: proses mental dan jasmani. Sammā ditthi : pengertian benar 2. yogi mengetahui bahwa kemelekatan adalah sebab dari penderitaan. yogi sedang mengembangkan jalan mulia beruas delapan (walaupun tidak lengkap). Karena usahanya itu. Sammā samādhi : konsentrasi benar Sejak yogi dapat mengkonsentrasikan pikirannya pada tingkat yang lebih tinggi pada suatu obyek meditasi. Sammā kammanta : perbuatan benar 5. usaha ini adalah “usaha benar” (sammā vayāmā). tetapi ketika konsentrasi menjadi berkesinambungan dan konstan. konsentrasi itulah yang disebut “konsentrasi benar” (sammā samādhi). Sammā sati : perhatian benar 8. yogi dapat berperhatian penuh pada gerakan kaki. Bagaimanapun besar usaha yang dilakukan 12 . karena ini yang menuntun yogi kepada pengertian benar tentang proses proses mental dan jasmani. Sammā ājīva : penghidupan benar 6. Adalah hal yang wajar bila pikiran mengembara saat permulaan latihan. Jadi. Realisasi Jalan Mulia Beruas Delapan Pada saat itu yogi telah mengembangkan dengan lengkap jalan mulia beruas delapan: 1. perhatian ini terkonsentrasi pada gerakan kaki untuk sesaat. Ketika perhatiannya terfokus pada gerakan kaki. kuat dan dalam. Bagaimana? Ketika ia memfokuskan pikirannya pada gerakan kaki. Sammā vācā : ucapan benar 4. Hasilnya. Sammā sankappa : pikiran benar 3. bila yogi bisa melenyapkan kemelekatan maka yogi mencapai berhentinya penderitaan.

Yaitu: 1. kita berusaha menghindar dari berbicara yang tidak benar. yaitu gerakan kaki. Jadi kita menjalani delapan faktor mental dalam jalan mulia beruas delapan jika kita berperhatian benar pada semua proses mental dan jasmani. Dengan cara ini. Pada saat melatih meditasi pandangan terang. Sammā ditthi : pengertian benar Kelima faktor mental ini sudah tercakup dalam perhatian penuh dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Dengan demikian. Kemudian. Kemudian. Sammā samādhi : konsentrasi benar 4. konsentrasi tersebut menembus/menguak sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. salah satu keadaan mental yang muncul bersamaan dengan perhatian benar pada gerakan kaki membimbing pikiran pada obyek meditasi (gerakan kaki). Saat kita mengembangkan jalan mulai beruas delapan. dan penghidupan yang tidak benar. Sammā sankappa : pikiran benar 5. Sammā vayāmā : usaha benar 2. Pengetahuan atau pengertian tentang proses gerakan jasmani sebagai proses alami adalah “pengertian benar” (sammā ditthi). mengetahui hal ini sebagai proses alami. Terhindar dari perbuatan yang tidak benar berarti “perbuatan benar” (sammā kammanta). pada saat permulaan pikiran tidak dapat terpusat pada gerakan kaki. Keadaan mental yang membimbing pikiran ke obyek meditasi adalah “pikiran benar” (sammā sankappa). kita dapat menghilangkan pandangan salah (sakkāya-ditthi 13 . pikiran menjadi terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Terhindar dari penghidupan yang tidak benar berarti “penghidupan benar” (sammā ājīva). Sammā sati : perhatian benar 3.seorang yogi. perbuatan yang tidak benar. Karakteristik dari “pikiran benar” adalah mengarahkan pikiran pada obyek meditasi. Terhindar dari berbicara yang tidak benar berarti “berbicara benar” (sammā vācā). kita telah mengembangkan lima faktor mental dari jalan mulia beruas delapan ketika kita berperhatian penuh pada gerakan kaki.

jalan menuju berhentinya penderitaan. Inilah caranya seorang yogi menyadari Empat Kebenaran Mulia. yogi tersebut telah mengembangkan jalan mulia beruas delapan (magga sacca) dengan lengkap. Jadi saat seorang yogi memasuki jalan kesucian yang pertama (sotapātti magga). 14 . salah satu faktor dari jalan mulia beruas delapan. yaitu: dengan mengembangkan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya.atau atta-ditthi) dengan kekuatan pengertian benar (sammā ditthi).

Sīla kedua. itu berarti mengendalikan perkataan dan perbuatan. jika kita menghindari ucapan dan perbuatan tidak baik. Selama mengikuti latihan meditasi. menghindari berbohong yaitu menghindari ucapan tidak benar dan tidak baik. Ketika kita menjalankan lima sīla. pencurian. Oleh karena itu. terdapat tiga jenis latihan: * Latihan moral (sīla) * Latihan konsentrasi (samādhi) * Latihan kebijaksanaan (pañña) Ketika kita melatih sīla. kita menjalankan sīla dengan baik dan benar. contoh: menghindari perbuatan asusila dan mengkonsumsi zat yang dapat melemahkan kesadaran. Walaupun yogi tidak boleh makan 15 . contoh: setidaknya melatih lima sīla (pañcasīla) atau delapan sīla (atthanggasīla) untuk umat awam. Sama dengan sīla ketiga dan kelima. sīla kita telah dijalankan dengan baik. yogi harus menjalankan delapan sīla sehingga yogi dapat mencurahkan waktu lebih banyak untuk bermeditasi. berbohong. Sīla keenam berarti tidak makan setelah tengah hari (setelah jam 12:00 sampai besok pagi). Para bhikkhu dan bhikkhuni (sangha) melatih 227 sīla. yang dikenal dengan Patimokkha. Ketika kita menghindari perkataan dan perbuatan tidak baik. perbuatan asusila. kita menghindari pembunuhan.BAB II INSTRUKSI AWAL BAGI YOGI Dalam ajaran Sang Buddha. Sīla keempat. berarti menghidari perbuatan buruk. menghindari pencurian dan mengambil barang yang tidak diberikan pemiliknya. Sīla pertama. menghindari pembunuhan. berarti menghidari perbuatan buruk. dan mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran.

yogi harus menghindari menari. anatta).dalam waktu yang telah ditentukan. Sīla kedelapan adalah menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. dukkha. mempercantik diri seperti memakai bunga. yogi dapat dengan mudah mencapai konsentrasi yang dalam (samādhi) yang mengakibatkan timbulnya kebijaksanaan pandangan terang (pañña). Ketika moralnya telah murni. Kitika kita melatih meditasi vipassanā atau meditasi pandangan terang. Jadi vipassanā berarti pengertian benar tentang tiga karakteristik dari mental (nāma) dan jasmani (rūpa). Dengan merealisasi tiga corak umum dari mental dan jasmani. wangi-wangian. ucapan dan perbuatan kita menjadi murni. dan sebagainya. kita dapat membasmi kekotoran mental seperti: nafsu. Sīla visuddhi adalah persyaratan bagi seorang yogi untuk dapat maju dalam latihan meditasinya. Apakah Vipassanā itu? Vipassanā adalah istilah Dhamma yang merupakan kombinasi dari dua kata. diri atau ego (anatta). yaitu: ketidakkekalan (annica). pikiran yogi menjadi stabil. bukan hanya menghindar dari perbuatan asusila. dengan demikian. ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha).’ Di sini. Kedelapan sīla ini harus dilaksanakan selama latihan meditasi. 16 . Pelaksanaan delapan sīla berarti pemurnian moral (sīla visuddhi). Dengan menghindari aktivitas-aktivitas tersebut. yogi boleh minum madu dan berbagai macam jus buah seperti jus jeruk atau lemon. Sīla ketiga dari delapan sīla mengacu pada penghindaran dari dari segala aktivitas seksual. tujuannya adalah mengerti dengan benar tiga karakteristik umum (annica. menyanyi. Untuk menjalankan sīla ketujuh. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi melalui konsentrasi yang dalam. bermain dan mendengarkan musik. ‘vi’ mengacu pada tiga karakteristik dari mental dan jasmani. dan tidak ada jiwa. ‘vi’ dan ‘passanā.

Kita harus memahami bahwa unsur tanah yang dimaksud bukanlah tanah dalam arti sesungguhnya. dan unsur angin (vāyo-dhātu). seperti sifat keras dan lembut. unsur tanah (pathavī-dhātu). semua penderitaan akan lenyap. Unsur tanah adalah penamaan untuk mewakili karakteristik khususnya. artinya kita telah merasakan sifat alamiah atau karakteristik khusus dari unsur tanah (pathavī-dhātu). Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk selalu berperhatian penuh pada empat unsur saat mereka muncul. unsur air (āpo-dhātu). kita harus merenungkan gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Yang Mulia Mahāsi Sayādaw.” khotbah tentang Empat Landasan Perhatian Penuh. 17 . Tidak hanya keempat unsur ini saja. jika kekotoran mental telah dibasmi. kebencian. ketika kita merealisasi sifat keras dan sifat lembut pada bagian manapun dari tubuh kita. Perhatian Penuh Terhadap Empat Unsur Selama dalam latihan. kita pasti akan mengalami berbagai macam penderitaan (dukkha). niat jahat. Oleh karena itu. kesedihan dan kekhawatiran. Perenungan terhadap gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan “Mahā Satipatthāna Sutta. Di dalam kitab suci disebutkan. iri hati. pendambaan. kita mencapai keadaan berhentinya penderitaan. tetapi semua fenomena mental dan jasmani harus diperhatikan. melainkan sifat alamiah dari unsur tanah. kesombongan. kita harus mengamati setiap proses mental dan jasmani yang muncul pada saat itu. Kekotoran mental (kilesa) adalah penyebab penderitaan. kemalasan. kelesuan. Pada permulaan latihan. Dengan hancurnya semua kekotoran mental ini. ada bab yang membahas perhatian penuh pada empat unsur. “sifat keras dan sifat lembut adalah merupakan karakteristik khusus dari unsur tanah. keinginan.” Jadi. Dalam kotbah tersebut.keserakahan. unsur api (tejo-dhātu). Selama kita masih mempunyai kekotoran mental ini. serta kegelisahan dan penyesalan.

” Dengan demikian. makhluk.” 18 . getaran atau topangan dibagian manapun dari tubuh. dan catat dalam hati sebagai “kembung. dinding perut mengempis. Yogi harus memfokuskan perhatiannya pada gerakan perut. perpindahan.” Ketika kita duduk pada suatu posisi yang menyenangkan dan mefokuskan perhatian kita pada proses mental dan jasmani. Fleksibel dan mengikat/melekat adalah karakteristik dari unsur air (āpo-dhātu). mengembang.Unsur air yang dimaksud bukanlah air dalam arti sesungguhnya. mengempis. harus dicatat sebagai “mengembang” dan jika dinding perut mengempis. getaran. catat sebagai “mengempis. kempis. itu berarti kita meyadari unsur angin. dan jika kita membuang nafas. Yogi harus mengamati gerakan keluar dan kedalam atau kembung dan kempisnya dinding perut. kembung. Karakteristik khusus dari unsure angina harus disadari sepenuhnya oleh para yogi. tetapi hanyalah istilah yang diberikan untuk menerangkan karakteristik khusus dari unsur angin. menyadari dan mengerti dengan benar sifat alamiah dari pergerakan. Jika dinding perut mengembung. Untuk mengatasi kesulitan ini. atau menopang dibagian manapun dari tubuh. Sang Buddha Yang Maha Tahu bersabda. kempis. melainkan cerminan dari karakteristik khusus dari unsur air itu sendiri. “semua proses mental dan jasmani harus disadari sebagaimana adanya.” Dalam cara ini: “mengembang. yaitu: pergerakan. Unsur angin (vāyodhātu) juga bukan angin. kita mungkin tidak mengetahui obyek apa yang harus diamati terlebih dahulu. Begitu pula dengan unsur api. sehingga mereka dapat memusnahkan pandangan salah mengenai seseorang. tetapi karakteristik khusus dari unsur api. itu berarti kita menyadari unsur air. Jika kita menyadari keadaan fleksibel atau lekat dibagian manapun dari tubuh kita. dinding perut mengembang. Panas dan dingin adalah karakteristik khusus dari unsur api (tejo-dhātu). Jika kita menarik nafas. perpindahan. Inilah perhatian penuh terhadap empat unsur. mengempis. kita dapat merasakan gerakan keluar (kembung) dan kedalam (kempis) dari dinding perut. Jika kita merasa. atau jiwa. Yang Mulia Mahāsi Sayadaw memberi petunjuk kepada para yogi untuk memulai dengan gerakan kembung kempis perut. bukan sungguh-sungguh api.

mendengar. Jika dirasa sudah cukup untuk berhenti. maka pikiran secara alami kembali pada obyek utama. Kemudian. tidak bahagia. Akhirnya pikiran yang mencatat tidak lagi memiliki obyek untuk dicatat. Saat yogi mengamati suatu keadaan mental atau emosi. Secara alami pikiran kembali pada gerakan perut yang harus dicatat sebagaimana biasanya.” Yogi harus berhati-hati pada tahapan ini. 19 . yogi mungkin tidak dapat mengatasinya. bahagia” atau “tidak bahagia. kamu harus meninggalkan perhatian terhadap gerakan dinding perut dan mengamati pikiran yang berkelana. maka yogi harus kembali pada obyek utama. yaitu gerakan kembung kempis perut. pikiran yang mencatat secara alamiah akan kembali pada gerakan dinding perut. mendengar” sebanyak mungkin. sedih. maka yogi harus mencatat. Perhatian Terhadap Keadaan Mental dan Emosi Ketika yogi merasa bahagia atau tidak bahagia. “mendengar. keadaan mental harus diperhatikan sebagaimana adanya. berikir. tak terputus dan konstan.” atau “sedih. atau sanak saudara. ide atau proses berpikir akan “berhenti” dengan sendirinya.” Pada permulaan latihan. yang harus diamati sebagaimana biasanya. dan agak cepat. “mendengar. catatlah dalam hati “berpikir. jika suaranya telah menghilang. Saat pikiran yang mencatat menjadi kuat. berperhatian penuh.” dan seterusnya. sehingga pengamatan menjadi berkesinambungan. pikiran yang mencatat harus bersemangat. jika terdengar suara yang cukup keras untuk dicatat. mendengar. “bahagia. jadi yogi harus mencatat. “kembung” dan “kempis” yang harus yogi catat sebagaimana biasanya. tepat. Catatlah dalam hati.Sewaktu merenungkan gerakan perut. Kadang-kadang suaranya berlangsung selama satu atau dua detik. Jika pikiran berkelana dan berpikir mengenai pekerjaan. Setelah keadaan emosi menghilang. atau merasa menyesal dan sedih. keluarga.

Ketika yogi telah mencapai tingkat keenam dari pengetahuan pandangan terang. Yogi dapat mencapai tingkat konsentrasi tertentu dengan lebih mudah melalui meditasi jalan dibandingkan dengan meditasi duduk. dan berbaring. yaitu: berjalan. 20 . pada setiap sikap. yogi perlu melakukan meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. • Jika kamu berjalan. karena pada meditasi jalan. Jadi. yogi mungkin memerlukan meditasi duduk yang lebih lama dibanbandingkan dengan meditasi jalan. Pada tingkatan ini. dalam. duduk. harus ada perhatian penuh. dan kuat untuk menyadari lenyapnya fenomena mental dan jasmani (nāma dan rūpa). • Jika kamu berbaring. berdiri. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berdiri sebagaimana adanya. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berjalan sebagaimana adanya. Kami memberi petunjuk pada para yogi untuk berlatih meditasi jalan dan duduk secara bergantian. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas duduk sebagaimana adanya. • Jika kamu duduk. sehingga mereka dapat berkonsentrasi lebih mudah dan lebih jauh mencapai pandangan terang pada proses jalan dan duduk. Tetapi pada permulaan latihan. karena yogi belum bisa bermeditasi duduk lama tapi dapat bermeditasi jalan lebih lama. Setelah mahir dalam bermeditasi.Meditasi Jalan Sang Buddha bersabda bahwa perhatian penuh harus diterapkan pada empat sikap tubuh. konsentrasi yogi cukup baik. • Jika kamu berdiri. yogi dapat berlatih meditasi duduk lebih lama dari meditasi jalan. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berbaring sebagaimana adanya. Setiap sesi meditasi duduk harus didahului dengan meditasi jalan. gerakan kaki lebih jelas dari gerakan dinding perut saat meditasi duduk. Yogi dapat bermeditasi duduk dua atau tiga jam dan bermeditasi jalan satu jam.

21 . yogi segera merasakan ketegangan pada leher dan bahu. Melihat ke sana. catatlah dalam hati sebagai “kiri. kanan. Yogi tidak boleh menundukan kepala terlalu rendah. kanan. Bila yogi melakukannya. ke sini atau ke sekeliling juga tidak diperbolehkan. Sebaiknya. ingin. yogi dapat menjaga konsentrasinya. Bila harus merubah posisi tangan. Yogi tidak boleh melihat ke kakinya. catatlah dalam hati sebagai “kanan. Kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling harus diamati dengan perhatian penuh dan dicatat sebagai “kecenderungan” atau “ingin melihat” hingga keinginan itu lenyap. Jika yogi melihat ke kakinya. mata tidak boleh dipejamkan. Jadi berhati-hatilah untuk tidak melihat ke sekeliling sehingga yogi dapat menjaga dan meningkatkan konsentrasi melalui meditasi jalan. yang pertama. Jika menundukan kepada terlalu rendah. mata harus terpejam separuh (yang berarti tidak tegang dan menjaga mata dalam keadaan normal) dan yogi harus melihat ke bawah sekitar dua meter di depan kaki. Ketika melangkah dengan kaki kiri. Hal ini juga bisa menimbulkan sakit kepala atau pusing. yogi tidak akan ingin melihat ke sekeliling lagi.” Setelah itu.” atau hanya “melangkah.” Pencatatan atau pemberian nama tidaklah sepenting pengamatan terhadap langkah kaki. yogi harus berlatih meditasi jalan dengan menyadari langkah kaki.” Ketika melangkah dengan kaki kanan. tetapi harus berperhatian penuh. pikiran akan berkelana bersama mata dan konsentrasi menjadi terpecah. boleh dilakukan. yogi mencatat sebagai “kiri.Jadi. Yogi mempunyai kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling ketika yogi merasakan ada yogi lain yang mendekat atau lewat di depannya. Tangan harus disatukan di depan atau belakang. Dalam berlatih meditasi jalan. kiri. harus dicatat ”ingin. Yogi harus mengutamakan kewaspadaan yang tajam terhadap gerakan kaki. ubahlah posisi dengan sangat perlahan dan setiap gerakan yang terlibat di dalamnya harus diamati dengan perhatian penuh. melangkah. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada gerakan kaki. Setelah keinginan itu lenyap. Jika yogi ingin mengubah posisi. Kemudian.” Dalam cara ini.

Semua tindakan dan gerakan harus dilakukan secara perlahan sedapat mungkin. kembalilah ke pengamatan gerakan perut dan catat sebagaimana biasanya. sebaiknya duduk setidaknya selama empat puluh lima menit tanpa mengubah posisi. Yogi tidak boleh berbicara kecuali beberapa kata yang diperlukan pada rutinitas sehari-hari. yogi tidak perlu memperlambat semua tindakan dan gerakan. Itulah yang dimaksud dengan berperhatian penuh secara umum. lakukanlah dengan sangat perlahan dan waspada terhadap semua gerakan dan perbuatan yang terlibat dalam mengubah sikap duduk. yogi akan merasakan dorongan untuk mengubah posisinya. yogi dilarang melakukan tindakan atau gerakan dengan cepat. Setelah perubahan selesai dilakukan. Semua tindakan dan gerakan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana adanya. sebaiknya duduk paling tidak dua puluh – tiga puluh menit tanpa mengubah posisi. bagi yogi yang telah mempunyai pengalaman berlatih meditasi. Setelah posisi tangan diubah. ingin. Sebelum melakukan perubahan posisi.” Bila tidak tertahankan dan harus merubahnya. catatlah keinginan untuk mengubah sikap tubuh sebagai “ingin. Pada saat retret. Sedangkan bagi pemula. Berbeda dengan di rumah. teruskan mencatat gerakan kaki seperti sebelumnya. Dalam meditasi duduk. Yogi harus melakukan segala seuatunya dengan suara yang amat kecil atau tanpa suara sama sekali. Kewaspadaan Ketenangan Pada retret meditasi. sehingga yogi dapat menerapkan perhatian penuh terhadap setiap gerakan tubuh yang kecil sekalipun.yogi harus memperlambat semua tindakan dan gerakan karena yogi tidak ada tugas lain kecuali selalu berperhatian penuh pada semua aktivitas mental dan jasmani. tapi lakukanlah dengan normal dan amati dengan perhatian penuh. Yogi jangan menimbulkan suara dengan berjalan dengan 22 . Jika yogi tidak dapat mengatasi rasa sakit yang timbul.Tidak boleh lengah pada setiap gerakan atau aksi. Beberapa kata tersebut juga harus diucapkan dengan perlahan dan lembut sehingga tidak mengganggu konsentrasi yogi lain.

Perhatian penuh dan konsentrasi akan membuka jalan untuk berkembangnya pandangan terang. harus berperhatian penuh terhadap semua tindakan dan gerakan dalam kegiatan makan. Oleh karena itu. Bila yogi berperhatian penuh terhadap gerakan kakinya. yogi tidak akan menimbulkan suara apapun ketika berjalan. Ketika ingin berdiri. yogi harus memperlamba semua tindakan dan gerakan. konsentrasi menjadi dalam dengan sendirinya. Saat makan. Ketika ingin duduk. pandangan terang akan terbuka dengan sendirinya. berpakaian. 23 . lakukanlah dengan perlahan. Begitu pula saat mandi. Semua proses mental dan jasmani selalu berubah. Saat konsentrasi menjadi dalam. waspadai seluruh gerakan saat duduk.kasar dan berat. Ketika perhatian penuh menjadi berkesinambungan. muncul dan lenyap. Yogi harus berperhatian penuh terhadap segala sesuatu yang muncul pada mental dan jasmani. ataupun minum. kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. juga harus dilakukan dengan perlahan dan waspadai setiap gerakan karena kita ingin mengerti setiap proses mental dan jasmani yang sebenarnya. Oleh karena itu. Juga harus waspada terhadap segala macam aktivitas mental dan jasmani sebagaimana adanya. timbul dan tenggelam. semua kegiatan harus diperlambat dan amati gerakannya.

juga mempersembahkan makanan dan jubah. kata “keyakinan” tidak melingkupi arti yang sesungguhnya. Dan jika kita terjemahkan sebagai “kepercayaan. Tetapi sebelum saya membahas hal itu. Bagi saya.” kata ini juga tidak melingkupi arti saddhā yang sebenarnya. Kita tidak dapat menemukan satu kata pun dalam bahasa Indonesia yang dapat memberikan arti yang lengkap dari saddhā. mempersembahkan bunga dan dupa. kita melakukannya dengan keyakinan. Kata saddhā susah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. 24 . Aspek moral dalam agama Buddha 4. tak ada kata dalam bahasa Indonesia yang sepadan. Sraddhā (dalam bahasa Sanskrit) atau Saddhā (dalam bahasa Pali). Jika kita melakukan perbuatan baik seperti itu.” membaca sutta dan parita.BAB III TUJUH MANFAAT MEDITASI VIPASSANĀ Tujuh manfaat meditasi vipassanā seperti yang diajarkan Sang Buddha tertulis dalam Mahā Satipatthāna Sutta. Keempat aspek itu adalah: 1. Jika kita menterjemahkan saddhā sebagai keyakinan. Aspek etika dalam agama Buddha 3. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. saddhā dapat diartikan sebagai percaya melalui pengertian yang benar terhadap Dhamma. saya ingin menerangkan kepadamu secara singkat mengenai empat aspek dalam agama Buddha. Aspek praktek dalam agama Buddha (termasuk aspek pengalaman) Aspek pengabdian Aspek pengabdian dalam agama Buddha berarti “upacara dan ritual. Aspek pengabdian dalam agama Buddha 2.

kita percaya pada Dhamma. Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup bahagia dan damai. dan Sangha. Walaupun demikian. Oleh karena itu. 25 . Dhamma (ajaran-Nya). dan Sangha (kelompok siswa-siswi Sang Buddha). bukan karena belajar Dhamma dari guru-guru lain. Kita percaya kepada Sang Buddha dengan cara ini. Dengan cara yang sama. Dhamma. arti utamanya adalah Ariya Sangha. kita melakukan dengan keyakinan terhadap tiga permata (Triratna). dan Beliau mengajarkan kita jalan yang menuju pada berhentinya segala macam penderitaan. Kita percaya bahwa jika kita mengikuti jalanNya atau ajaranNya. Demikianlah kita memberikan penghormatan kepada tiga permata (Triratna) yaitu: Buddha. kita melakukan perbuatan berjasa yang akan membantu pada tercapainya keadaan berhentinya penderitaan. Untuk alasan ini. Sangha Mulia yang telah mencapai salah satu dari empat sang jalan (magga). Beliau adalah seorang Buddha karena beliau telah berjuang dan mencapai penerangan sempurna berkat usaha sendiri. Kita juga percaya bahwa dengan membacakan sutta dan paritta sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha. Jika kita berkata Sangha. kita pasti akan hidup bahagia dan damai. kita harus terus maju untuk berlatih aspek yang lebih tinggi. Melakukan perbuatan-perbuatan berjasa ini membentuk aspek pengabdian dalam agama Buddha. kita tidak boleh puas hanya dengan aspek pengabdian ini jika kita ingin menikmati intisari dari ajaran Sang Buddha dan terbebas dari segala macam penderitaan. sehingga beliau layak dihormati (seorang Arahat). dan dapat melepaskan diri dari penderitaan. Tetapi dalam pengertian umum. juga mengacu pada Sammuti Sangha (mereka yang masih berjuang untuk menghancurkan kekotoran mental). Kita yakin terhadap Buddha. Kita memiliki pandangan bahwa Sang Buddha telah menghancurkan seluruh kekotoran mental melalui pencapaian pencerahan sempurna. kita percaya pada Sangha.Ketika kita melakukan upacara agama.

ucapan. Realisasi atau pandangan terang dari fenomena mental dan jasmani dikenal sebagai vipassanā ñāna (pengetahuan pandangan terang). kekotoran mental akan menyerang kita kembali. kita dapat mencapai kehidupan yang bahagia baik dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. tetapi bila tidak dalam keadaan bermeditasi. Memurnikan pikiran dari segala macam kekotoran mental. Menghidari segala macam perbuatan buruk atau jahat 2. Guna memurnikan pikiran dari kekotoran mental. Hal ini mengikuti ajaran Sang Buddha mengenai pemurnian dari perbuatan. kekotoran mental tersebut tidak dapat kembali lagi. dan lain-lain. kemarahan. Jika kita mengikuti ajaran ini. Artinya. Dengan meditasi samatha pikiran dapat dimurnikan hanya sewaktu kita berlatih meditasi. Ada banyak doktrin yang mengupas aspek etika dalam agama Buddha. Jika kita memurnikan pikiran kita melalui realisasi dari proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. Ini adalah tiga bagian dari aspek etika dari apa yang telah diajarkan oleh Sammā Sambuddha dan ini adalah nasehat dari semua Buddha. dan mental kita. jika kita telah mengalami pengetahuan pandangan terang. Kekotoran mental tertentu yang telah dihancurkan oleh vipassanā ñāna tidak akan mampu menyerang kita lagi. Melakukan perbuatan berjasa atau perbuatan baik 3. kita harus melatih meditasi samatha dan vipassanā. tetapi kita tidak dapat menghilangkan penderitaan secara total. Jika kita menghindari segala macam perbuatan buruk.Aspek Etika Aspek kedua dalam agama Buddha adalah aspek etika. Dengan mengikuti doktrin-doktrin ini. kita tidak akan mengalami penderitaan karena hasil yang buruk. Aspek etika dalam agama Buddha adalah: 1. kita dapat hidup bahagia dan damai karena agama Buddha ditemukan berdasarkan hukum sebab dan akibat. pengalaman 26 . khayalan. Vipassanā ñāna ini dapat mengatasi dan mengurangi beberapa aspek dari kekotoran mental seperti: keserakahan.

Ketika seluruh kekotoran mental. maka tak ada lagi penderitaan. sedangkan dua bahasan sebelumnya berhubungan dengan aspek etika dalam agama Buddha. ucapan. Penderitaan akan berhenti. Ketika kita merenungkan pengalaman pandangan terang yang telah dicapai dalam meditasi. tidak akan muncul penderitaan lagi. Ada juga Manggala Sutta (Sutta Nipata. dan pikiran agar bersih dari kekotoran mental. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental telah dihancurkan dan pikiran telah termurnikan sepenuhnya. Di dalam sutta ada beberapa etika yang harus diikuti yang dapat membuat kita hidup bahagia dan damai. kita harus menjaga perbuatan. Saya ingin mengingatkan para yogi megenai Ambalatthika Rahulovada Sutta (Majjhima Nikaya. 61) yang mungkin 27 . kita memiliki berbagai aspek etika untuk diikuti sehingga kita dapat hidup bahagia dan damai. Dalam hal ini. tingkat jalan kesucian Arahat. kekotoran mental yang telah dibasmi tidak akan muncul lagi. • Kamu harus melakukan perbuatan berjasa sebanyak mungkin dalam kehidupan ini juga. kita dapat memurnikan pikiran dari beberapa kekotoran mental. pandangan terang ini akan muncul kembali. Dengan kekuatan pandangan terang ini. Itu berarti. Tetapi bila kita memiliki saddhā yang tinggi. Sutta No. Sehingga. • Kamu harus memperhatikan perbuatan. kita akan berusaha keras dalam berlatih hingga mencapai magga keempat. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental ini berhubungan dengan aspek praktek dalam agama Buddha. Di sini kita dapat menghancurkan seluruh kekotoran mental. dan pikiran dengan pantas. Contohnya: • Kamu harus tinggal di tempat yang sesuai di mana kamu dapat menjadi sejahtera dalam segala aspek karena telah malakukan perbuatan berjasa di kehidupan yang lampau. ayat 258-269) dengan 38 jenis berkah utama. ucapan.tersebut tidak akan hilang atau lenyap dari diri kita.

Jika kita mencoba untuk mengerti etika-etika ini dan mengikutinya. kita pasti akan hidup bahagia dan damai walaupun kita belum dapat melenyapkan semua penderitaan. yogi harus melaksanakan sīla. sedangkan bhikkhu harus menjalankan 227 sīla. Jadi etika ini juga merupakan cara terbaik untuk hidup bahagia dan damai dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi jika perbuatan ini tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam aspek moral. Sang Buddha mengajarkan Rāhula untuk berhenti dan merenung jika ia memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. untuk waspada terhadap apa yang sedang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari. samanera berumur 7 tahun. atau 10. Sepuluh sīla adalah untuk calon bhikkhu (samanera). kamu harus berperhatian penuh terhadap apa yang akan kamu lakukan dan mempertimbangkan apakah perbuatan ini akan merugikan diri sendiri atau orang lain. Kita harus melanjutkan pada aspek yang lebih tinggi dalam agama Buddha. 28 . Setelah mempertimbangkannya. jika kamu menemukan bahwa perbuatan ini merugikan diri sendiri maupun orang lain. untuk hidup dengan benar. bahagia. Sang Buddha memberi petunjuk kepada Rāhula untuk mempertimbangkan apa yang akan dilakukan. Aspek Moral Walaupun aspek etika sangat kondusif untuk membawa seseorang pada kehidupan bahagia dan damai. Rāhula.tidak asing dengan yogi semua. kamu boleh melakukannya. kamu tidak boleh melakukannya. dan damai. Dalam sutta tersebut Sang Buddha mengajarkan putra-Nya. umat awam setidaknya harus menjalankan lima sīla. bisa 5. Dengan cara ini. aspek ketiga yaitu aspek moral. dan untuk merenungkan terhadap apa yang telah dilakukan. Ada berbagai aspek etika yang tak terhitung yang dapat mendukung pada kehidupan yang bahagia dan damai. kita tak boleh puas hanya dengan aspek kedua dalam agama Buddha. 8. Rāhula.

Jika kelakuan moral telah murni. Sang Buddha menerangkan tujuh manfaat yang bisa didapat seseorang yogi melalui pengalaman Dhammanya. di mana pikiran menjadi jernih. ia dapat 29 . Sang Buddha lebih menekankan pada meditasi tipe kedua . Jika kita menerapakan perhatian penuh pada semua proses mental dan jasmani. seorang yogi dapat dengan mudah berkonsentrasi pada obyek meditasi dan mendapatkan konsentrasi yang dalam. Tujuh Manfaat Meditasi Pada permulaan syair sutta tersebut. Berdasarkan kemurnian kelakuan moral.Jika kita dapat menjalankan lima sīla dengan sempurna. Sang Buddha menerangkan Empat Landasan Perhatian Penuh pada saat Beliau memberikan kotbah tentang Mahā Satipatthāna Sutta di propinsi Kuru. tetapi meditasi vipassanā membawa ke pencapaian nibbanā melalui realisasi proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. mencapai berhentinya segalam macam penderitaan. yogi harus mengikuti Mahā Satipatthāna Sutta. aspek praktek dalam agama Buddha. tenang. kita dapat berlatih dua macam meditasi yang merupakan aspek praktek dalam agama Buddha. yogi dapat berlatih meditasi dengan mudah. Aspek Praktek Berikutnya adalah aspek keempat. baik itu meditasi samatha ataupun meditasi vipassanā. moral kita menjadi murni. dan bahagia. Manfaat pertama adalah pemurnian dari semua kekotoran mental. Meditasi samatha dapat membawa ke pencapaian konsentrasi yang dalam. Ketika kita berlatih meditasi vipassanā. Jika seseorang melatih meditasi vipassanā.meditasi vipassanā. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. dipastikan kita akan mencapai nibbanā. Dalam hal ini. Kita harus berlatih meditasi sehingga kita dapat melepaskan diri dari kekotoran mental dan sebagai akibatnya.

Uddhacca-kukkucca 9. 3. Setelah tiga hari. kehendak jahat atau ketidaksukaan. 5. Lohba Dosa Moha Ditthi Māna 6. Saat salah satu keadaan mental ini muncul. Thina-middha 8.memurnikan pikirannya dari seluruh kekotoran mental (kilesa). saya mengantuk. setiap yogi harus berjuang karena belum terbiasa menjalankan meditasi vipassanā. Moha adalah khayalan atau kebodohan mental Ditthi adalah pandangan salah Māna adalah kesombongan Vicikichā adalah keragu-raguan Thina-middha adalah kemalasan dan keengganan. semua yogi akan baik kembali. nafsu. Kata bahasa Pali ’kilesa’ mungkin tidak asing lagi bagi kalian. 2. Dosa adalah kebencian. Kilesa diterjemahkan sebagai kekotoran mental oleh cendikiawan Budhhist. tapi tidak akan bertahan lama. kemarahan. Vicikichā 7. 30 . Anottappa Lobha berarti bukan hanya keserakahan tetapi juga keinginan. Kekotoran mental ada 10 macam: 1. Ahirika 10. pikiran menjadi tercemar. mungkin hanya barlangsung selama dua atau tiga hari. mendambakan. Ini adalah keadaan kritis dalam meditasi. Sehingga hal ini bisa juga disebut sebagai kekotoran mental. Mereka akan menemukan bahwa tidak terlalu susah untuk mengalahkan “teman lama” yang menghalangi kemajuan mereka pada konsentrasi dan juga pandangan terang. semua yogi melaporkan pengalamannya: “saya capek. 4. Mengantuk juga termasuk dari kategori ini. Thina-middha adalah “temen lama” dari para yogi dan juga dari mereka yang mendengarkan Dhamma. kemelekatan dan cinta. Hari ini. sewaktu wawancara.” Pada awal latihan.

atau kehilangan pekerjaan. Walaupun belum mencapai jalan dan buah (magga dan phala). Perasaan tidak takut berbuat jahat ini adalah salah satu kekotoran mental. tingkat kesucian Arahat pasti tercapai dan terbebas dari kekhawatiran dan kesedihan secara permanen. sedih terhadap kematian saudara. kekhawatiran atau kesedihan akan berhenti dan hilang. Ketika perhatian penuh menjadi kuat. Sang Buddha bersabda: jika seseorang berlatih meditasi vipassanā. anda akan berperhatian penuh padanya sebagaimana adanya. Dengan cara inilah kekhawatiran dan kesedihan dapat diatasi oleh meditasi vipassanā.Uddhacca-kukkuccā berarti kegelisahan dan kekawatiran. anda tidak akan merasa sedih akan kematian mereka karena anda mengerti 31 . ia akan bersih dari semua kekotoran mental. Anda tidak akan merasa khawatir terhadap kegagalan. adalah sikap mental yang tidak merasa takut dalam melakukan perbuatan jahat melalui ucapan. Bila anda telah mengembangkan meditasi vipassanā sepenuhnya. anda tetap dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran dalam batas tertentu. Walaupun orang tua. dan tindakan jasmani. Inilah manfaat pertama. Manfaat kedua dari vipassanā adalah mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. Semua itu adalah sepulauh macam kekotoran mental yang harus dilenyapkan atau dihilangkan dari pikiran kita dengan berlatih meditasi vipassanā. Anda tidak akan menyesal terhadap apapun jika anda berlatih meditasi vipassanā. pikiran. Anottappa berarti tidak merasa takut. dan tindakan jasmani. Manfaat ketiga yaitu dapat mengatasi ratap tangis. ia dapat mencapai tingakt kesucian arahat. Yang berarti. anak. ataupun saudara anda meninggal. Seseorang yang tidak merasa malu terhadap perubuatan buruk baik melalui ucapan. jika telah membersihkan diri sepenuhnya dari segala macam kekotoran mental. pikiran. Hal ini dikarenakan saat kesedihan atau kekhawatiran muncul. Ahirika berarti sifat yang tidak tahu malu.

sepenuhnya proses mental dan jasmani terhadap yang kita sebut ’anak’ atau ’orang tua.’ Dalam hal ini, ratap tangis dapat diatasi dengan berlatih meditasi vipassanā. Mengenai manfaat ketiga, ada komentar terhadap Mahā Satipatthāna Sutta yang mengisahkan sebuah cerita sebagai berikut: Seorang wanita, bernama Patacara, yang suami, kedua putra, orang tua, dan saudara-saudaranya meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Dia kemudian menjadi gila karena kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangis. Ia diliputi oleh kesedihan yang disebabkan oleh kematian orang-orang yang dicintainya. Komentar ini mengisahkan cerita tersebut sebagai bukti nyata bahwa orang dapat mengatasi kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis dengan meditasi vipassanā. Suatu hari, Sang Buddha memberikan kotbah kepada orangorang yang hadir di vihara Jetavana dekat Savatthi. Kemudian wanita yang tak waras ini pergi berjalan ke vihara dan melihat para hadirin mendengarkan kotbah, dan mendekati para hadirin. Seorang pria tua yang sangat baik kepada orang miskin, melepaskan jubah luarnya dan melemparkannya kepada wanita tersebut. Ia berkata “Anakku sayang, gunakanlah jubahku ini untuk menutupi tubuhmu.” Pada saat yang sama, Sang Buddha berkata kepadanya, “Saudari yang baik, sadarlah.” Karena kata-kata Sang Buddha yang lembut, kesadaran wanita tersebut kembali pulih. Ia kemudian duduk di salah satu sudut dan ikut mendengarkan kotbah. Sang Buddha yang mengetahui bahwa wanita tersebut telah pulih kesadarannya, mengarahkan kotbah itu kepadanya. Mendengar kotbah yang diberikan oleh Sang Buddha, wanita itu perlahan-lahan menyerap intisari Dhamma tersebut. Saat pikirannya telah siap untuk merealisasi Dhamma, Sang Buddha membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya 32

Magga-sacca

Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan

Empat kebenaran mulia mencakup nasehat bagaimana caranya untuk tetap berperhatian penuh pada apapun yang muncul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. Patacara, setelah pikirannya kembali normal, mengerti dengan baik teknik vipassanā, menerapkannya terhadap apapun yang muncul dari proses mental dan jasmani dan pada apapun yang didengar. Ketika perhatian penuhnya mencapai momentum, konsentrasinya juga menjadi lebih dalam dan kuat. Karena konsentrasi yang dalam, pengetahuan pandangan terangnya yang dapat menembus proses mental dan jasmani menjadi kuat. Akhirnya perlahan-lahan Patacara dapat merealisasi karakteristik khusus dan karakteristik umum dari fenomena mental dan jasmani. Oleh karena itu, Patacara dengan cepat mengalami semua tingkat-tingkat pengetahuan vipassanā sewaktu mendengarkan kotbah, dan ia mencapai jalan kesucian yang pertama (sotāpattimagga). Melalui pengalamannya terhadap Dhamma dari meditasi vipassanā, kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis yang dimilikinya menghilang total dari pikirannya dan ia menjadi “wanita baru.” Demikianlah, Patacara mengatasi kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangisnya melalui meditasi vipassanā. Komentar Mahā Satipatthāna Sutta menyebutkan, bukan hanya orang-orang di zaman Sang Buddha, tapi orang-orang di zaman sekarang juga dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran jika mereka berlatih meditasi vipassanā dan mencapai tahapan pandangan terang yang tinggi. Yogi semua juga termasuk orang yang dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran melalui meditasi vipassanā. Manfaat keempat adalah berhentinya penderitaan jasmani. Manfaat kelima adalah berhentinya penderitaan mental. Penderitaan jasmani seperti rasa sakit, kaku, gatal, kesemutan, dan 33

sebagainya dapat diatasi dengan berperhatian penuh pada saat retret meditasi dan begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika yogi memiliki beberapa pengalaman dalam latihan meditasi, yogi dapat mengatasi penderitaan mental dan jasmani dalam lingkup yang lebih besar. Jika kamu meluangkan waktu dan usaha yang cukup, kamu dapat melenyapkan penderitaan mental dan jasmani secara permanen (selamanya) ketika kamu mencapai tingkat kesucian arahat. Selama latihan meditasi, kamu dapat mengatasi rasa sakit, kaku, kesemutan, gatal, dan segala macam sensasi jasmani yang tak menyenangkan dengan mengamati sensasi tersebut secara cermat dan penuh perhatian. Oleh karena itu, yogi tak perlu takut terhadap rasa sakit, kaku, atau kesemutan karena mereka adalah “temen baikmu.” yang dapat membantu yogi mencapai nibbanā. Jika yogi mengamati rasa sakit dengan bersemangat, tepat, dan rapat, mungkin akan terasa lebih kuat intensitasnya. Hal itu dikarenakan yogi mengetahuinya dengan lebih jelas. Setelah yogi mengerti bahwa sensasi sakit itu tidak menyenangkan, yogi tidak akan menganggapnya sebagai bagian dari dirinya, karena sensasi tersebut dilihat hanya sebagai proses alami dari fenomena mental. Yogi tidak akan melekat pada sensasi rasa sakit sebagai ’aku’ atau ’milikku,’ atau ’seseorang’ atau ’makhluk.’ Dengan cara ini, yogi dapat menghapus pandangan salah tentang jiwa, diri, seseorang, makhluk, ’aku’ atau ’kamu.’ Jika akara dari segala macam kekotoran mental telah dihancurkan, contohnya: sakkāya-ditthi atau atta-ditthi telah dihancurkan, yogi pasti dapat mencapai jalan kesucian pertama, sotāpatti-magga. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihan untuk mencapai tiga tingkatan dari jalan dan buah kesucian yang lebih tinggi. Itulah sebabnya saya katakan bahwa sensasi jasmani yang tak menyenangkan seperti sensasi sakit, kaku, dan kesemutan sebagai “temen baikmu” yang dapat membantu yogi mencpai nibbanā. Dengan kata lain, kesemutan atau sensasi sakit ini adalah kunci pintu nibbanā. Ketika yogi merasakan sakit, yogi beruntung. Sakit adalah obyek meditasi yang sangat berharga karena dapat menarik ’pikiran yang mencatat’ untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama. ‘pikiran yang mencatat’ dapat berkonsentrasi dengan dalam dan 34

terserap pada sensasi sakit tersebut. Jika pikiran telah terserap sepenuhnya dalam sensasi sakit, yogi tidak lagi sadar akan bentuk badan atau dirinya. Ini berarti yogi merealisasi karakteristik khusus (sabhava-lakkhana) dari sensasi sakit (dukkha-vedanā). Dengan melanjutkan latihan, yogi akan dapat merealisasi karakteristik umum, ketidakkekalan, penderitaan, dan tidak ada jiwa or tidak ada diri dari fenomena mental dan jasmani. Akhirnya membawa yogi ke nibbanā. Jadi yogi beruntung mendapatkan rasa sakit. Di Burma, beberapa yogi, setelah melewati tingkat ketiga pandangan terang (sammasana-ñāna), hampir sepenuhnya dapat mengatasi rasa sakit. Walaupun demikian, mereka tidak puas karena mereka tidak memiliki rasa sakit diperhatikan. Sehingga mereka melipat kaki mereka di bawah badan dan menekannya guna mendapatkan rasa sakit. Mereka mencari “teman baik” yang dapat menuntun mereka menuju berhentinya penderitaan. Jika yogi merasa tidak bahagia, amatilah ketidakbahagiaan dengan penuh semangat, perhatian penuh, dan dengan rapat sebagai ‘tidak bahagia, tidak bahagia.’ Jika yogi merasa tertekan, tekanan mental itu harus diamati dengan berperhatian penuh dan tak kenal lelah. Bila perhatian penuh yogi menjadi kuat, ketidakbahagiaan dan tekanan mental akan berhenti. Jadi, mengatasi penderitaan mental adalah keuntungan kelima dari meditasi vipassanā. Manfaat keenam adalah pencapaian pencerahan, jalan dan buah kesucian (magga dan phala). Jika yogi mengabdikan usaha dan waktu yang cukup untuk berlatih meditasi vipassanā, yogi setidaknya akan mencapai jalan kesucian tingkat pertama (sotāpatti-magga). Inilah manfaat keenam dari meditasi vipassanā. Manfaat ketujuh adalah yogi pasti mencapai nibbāna, pembebasan, melalui latihan meditasi vipassanā. Jadi, inilah ketujuh manfaat dari meditasi vipassanā yang didapat oleh yogi melalui pengalaman langsung dalam Dhamma: 1. Pemurnian dari semua kekotoran mental. 35

Dalam naskah diajukan sebuah pertanyaan: “Jika pengembara itu tetap kotor. Kita beruntung karena kita percaya pada Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna dan yang mengajarkan jalan yang benar. kitalah yang harus disalahkan. sehingga tangannya tetap kotor. pengembara. Sang Buddha mengajarkan kita cara berperhatian penuh. Dalam naskah-naskah pali ada perumpamaan: Ada sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih dan banyak bunga teratai di dalamnya. Walaupun ia tahu ia dapat mencuci kotorannya di kolam. kolam atau pengembaranya?” Jelas. 4. 5. Oleh karen itu. Siapa yang harus disalahkan? Sang Buddha. Mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. siapa yang harus disalahkan.2. Jika yogi melatih meditasi vipassanā ini dengan usaha yang gigih. ia tidak pergi ke kolam untuk mencuci tangannya. Sang Buddha memulai Mahā Satipatthāna Sutta dengan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. Jika kita tahu jalannya tetapi tidak melatih meditasi vipassanā ini. Ia melewati kolam dan meneruskan perjalanannya. pengembaralah yang harus disalahkan. Seorang pengembara yang tangannya kotor mengetahui bahwa jika ia memcuci tangannya di kolam. Berhentinya semua penderitaan jasmani. Pencapaian nibbāna. Dalam hal ini. kita tidak dapat melenyapkan penderitaan. atau diri kita sendiri? Ya. meditasi vipassanā. maka tangannya akan bersih. yang dapat menuntun pada berhentinya penderitaan. Tapi kita tidak boleh puas. Walaupun ia mengetahui hal itu. Mengatasi ratap tangis. 3. tetapi ia tidak melakukannya. Pencapaian pencerahan. 7. Sehingga yogi pasti mendapatkan ketujuh manfaat di atas jika berusaha dengan gigih dalam latihannya. yogi akan dapat memurnikan dirinya dari segala 36 . 6. Berhentinya semua penderitaan mental.

kekotoran mental dan melenyapkan semua penderitaan dengan mencapai ketujuh manfaat dari latihan meditasi vipassanā. 37 .

vedanā berarti sensasi atau perasaan). Jika yogi tidak mengamati atau mencatat perasaan senang atau tidak senang. semua perasaan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka terjadi.BAB IV EMPAT LANDASAN PERHATIAN PENUH Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan Empat Landasan Perhatian Penuh setelah menerangkan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. c. 38 . Cittānupassanā Satipatthāna 4. Vedanānupassanā Satipatthāna 3. atau netral muncul. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan. Sebenarnya. Saat perasaan menyenangkan. juga bukan tidak menyenangkan). Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan disebut dukkha vedanā (dukkha berarti tidak menyenangkan) Dan sensasi atau perasaan yang netral disebut upekkhā vedanā (upekkhā berarti netral. Ada tiga macam sensasi atau perasaan. Dhammānupassanā Satipatthāna Kāyānupassanā satipatthāna berarti perenungan terhadap jasmani atau perhatian penuh terhadap semua proses jasmani sebagaimana adanya. b. Beberapa yogi berpendapat bahwa perasaan yang tidak menyenangkan tidak perlu diamati karena hal itu tidak menyenangkan. yogi dipastikan akan melekat atau menolak perasaan tersebut. Saat yogi menyukai perasaan tertentu. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan. Empat landasan perhatian penuh tersebut adalah: 1. yogi melekat pada perasaan tersebut. tidak menyenangkan. Vedanānupassana satipatthāna adalah perenungan terhadap sensasi atau perasaan. Sensasi atau perasaan yang netral. yogi harus berperhatian penuh terhadap perasaan tersebut sebagaimana adanya. bukan menyenangkan. Kāyānupassanā Satipatthāna 2. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan disebut sukha vedanā (sukha berarti menyenangkan. yaitu: a.

dan sebagainya. Jika seorang yogi berjalan dengan berperhatian penuh. Pengalaman demikian dapat dicapai pada bagian pertama dari pandangan terang tingkat keempat. kemudian ia akan terlepas dari pengalamannya dan meneruskan latihannya untuk pandangan terang yang lebih tinggi. yogi dapat melewati tingkat pandangan terang ini. Yogi tidak dapat membedakan antara perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan. menurunkan kaki (turun). mengangkat keseluruhan kaki (naik). atau kedamaian tidak akan muncul dalam dirinya dengan sangat jelas. Hal ini dikarenakan pikirannya pada saat itu cukup bersih dari segala kekotoran mental seperti keserakahan. yogi merasa bahagia dan mengalami kegiuran. kebahagiaan. khayalan. 39 . kebencian. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. kesombongan. yogi seharusnya hanya mengamati pengalaman yang telah dicapainya pada tingkat ini. memajukan kaki (dorong). Saat konsentrasi yogi dalam dan kuat. Dalam hal ini. yogi tidak akan melekat jika yogi mengamati pengalamannya dengan perhatian penuh dan penuh semangat. yogi tidak dapat maju ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. dan tekan. Yogi yang tak kenal lelah ini telah mencapai tingkat pandangan terang yang sangat baik karena pikirannya sekarang menjadi damai dan tenang. Kemudian perasaan lain muncul dan tenggelam lagi. sentuh. dan kemelekatan adalah akibat. Jika yogi mengerti akan hal ini. Jika yogi menikmati dan merasa puas dengan apa yang dialaminya. Apa yang dialaminya pada saat itu hanyalah perasaan yang muncul dan tenggelam saja. Akibatnya. mencatat keenam tahapan langkahnya: mengangkat tumit kaki (angkat). perasaan yang menyenangkan adalah penyebab.Kemelekatan atau tanhā itu muncul bergantung kepada perasaan atau sensasi. Hanya dengan demikian. Jika yogi berlatih meditasi vipassanā dengan gigih dan tak kenal lelah. ketenangan. Apapun yang dialaminya pada tingkatan ini. Ketika yogi mencatatnya dengan perhatian penuh dan terus-menerus. itu berarti dia melekat pada kondisi tersebut.

maupun menyadari tubuh ataupun bentuk tubhnya. Pikiran mulai merelalisasi bahwa pengalaman yang terjadi telah lenyap. Yogi mungkin menjadi sangat puas dengan latihannya dan mungkin berpikir bahwa inilah nibbāna (berhentinya semua penderitaan). Yogi tidak boleh menganalisa atau berpikir mengenai hal ini. Semua ini dapat terjadi karena yogi tidak mengamati pengalaman menyenangkan yang dialaminya. Jika seorang yogi menikmati perasaan menyenangkan atau perasaan tidak menyenangkan mengenai penglaman baiknya tanpa berperhatian penuh. dan oleh karena itu yogi melekat pada sensasi tersebut. karena ini adalah penglaman terbaik yang pernah didapatnya. pikiran mencatatnya. Jika perasaan menyenangkan itu muncul. Yogi hanya menyadari gerakan kakinya. yogi akan menyukai pengalaman ini dan menginginkan yang lebih besar lagi. Yogi harus waspada terhadap setiap pengalaman yang timbul. yogi mungkin merasa seperti berjalan di udara. Ketika pikiran yang mencatat menjadi konstan. agar dapat merealisasi pengalaman terhadap proses mental atau keadaan mental yang juga tidak kekal. yogi akan menemukan bahwa pengalamannya tidak kekal. yogi mengalami pengalaman meditasi yang luar biasa. Kapanpun yogi melakukan pencatatan. Bila yogi tidak mengamati pengalaman ini dengan perhatian penuh. Yogi kemudian dapat menyimpulkan bahwa perasaan menyenangkan yang terjadi bersama pengalamannya bersifat tidak kekal (anicca). kemudian perasaan menyenangkan itu lenyap kembali. dan kuat. Hal ini dikarenakan yogi telah mengerti sifat alamiah ketidakkekalan melalui pengalaman Dhammanya sendiri. Dhamma berarti proses mental dan juga proses 40 . berkesinambungan. Gerakan kaki mungkin terasa ringan. Akibatnya yogi tidak akan menyadari bentuk kakinya. Kemelekatan ini muncul tergantung pada sensasi atau perasaan menyenangkan tentang pengalaman baiknya. dalam. yogi pasti akan melekat kepada perasaan itu. misalnya keadaan mentalnya. Jadi yogi harus mengamati dan waspada dengan perhatian penuh terhadap pengalaman apapun yang didapatnya pada tingkat ini. Dalam tahapan ini. dan kuat.konsentrasinya akan menjadi bagus. Di sini. pikiran tersebut akan menembus sifat alamiah dari pengalamannya.

Perbuatan baik melalui jasmani disebut kusala kāya-kamma dan perbuatan buruk melalui jasmani disebut akusala kāya-kamma. 41 . Perbuatan baik melalui pikiran disebut kusala mano-kamma dan perbuatan buruk melalui pikiran disebut akusala mano-kamma. Perbuatan yang disebabkan oleh keterikatan dikenal sebagai kamma-bhava. keterikatan2 (upādāna) tidak timbul. Hubungan Sebab dan Akibat Bila kemelekatan (tanhā) tidak timbul. Perbuatan baik melalui ucapan disebut kusala vaci-kamma dan perbuatan buruk melalui ucapan disebut akusala vaci-kamma. 2 Upādāna (grasping) diterjemahkan sebagai mencengkeram. ataupun tindakan jasmani.jasmani. dan akibatnya dapat timbul dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang. Perbuatan-perbuatan ini atau kamma muncul karena keterikatan yang timbul sebagai akibat kemelekatan pada perasaan atau sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. makhluk-makhluk terlahir kembali melalui perbuatannya yang baik ataupun yang tidak baik. Kemelekatan tidak akan muncul bila yogi telah mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari keadaan mental yang baik atau pengalaman yang baik. Perbuatan itu disebabkan oleh keterikatan yang memiliki kemelekatan sebagai akarnya. makhluk terlahir di kehidupan berikutnya untuk mengalami berbagai penderitaan karena dia tidak mengamati perasaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan yang timbul bersama pengalamannya. Dengan cara ini. Karena yogi telah merealisasi bahwa perasaan menyenangkan dan pengalaman baiknya tidaklah kekal. baik itu melalui pikiran. Kemelekatan itu sendiri dikondisikan oleh perasaan atau sensasi. tidak dapat melepas. perkataan. Sehingga disini diartikan sebagai ‘keterikatan’. Perbuatan yang dilakukan melalui pikiran. dapat berupa perbuatan baik atau perbuatan buruk. ucapan. yogi tidak akan melekat padanya. maka tidak akan ada perbuatan baik atau buruk. dan jasmani akan menjadi sebab. Jadi dengan cara ini. Jika keterikatan tidak timbul.

bukan proses jasmani. yogi akan terbawa oleh hukum sebab-akibat yang saling berkaitan (paticcasamuppāda). biasanya yogi merasakan sensasi yang tidak menyenangkan baik itu di jasmani ataupun mental. Kita dapat menyebutnya sebagai perasaan atau sensasi mental. dikenal sebagai kāyika-vedanā. baik itu menyenangkan. tidak menyenangkan ataupun netral. Cetasika-vedanā Perasaan atau sensasi yang timbulnya tergantung pada proses jasmani. Ketika seorang yogi merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. Kita dapat menterjemahkannya sebagai perasaan jasmani atau perasaan tubuh. Tetapi apapun sensasi yang dialaminya. maka dikenal sebagai cetasika-vedanā. seorang yogi biasanya mengalami sensasi mental dan jasmani yang tidak menyenangkan. Pada permulaan latihan. dan tepat. karena munculnya tergantung pada proses jasmani. Pada permulaan latihan. sehingga yogi dapat mengerti sifat 42 . Sebenarnya setiap perasaan atau sensasi adalah proses mental. Tetapi kadangkadang perasaan atau sensasi yang muncul tergantung pada ketidaknyamanan terhadap proses jasmani. Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kepada kita agar berperhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi apapun.Oleh sebab itu. lahir kembali di kehidupan yang akan datang dan serta mengalami berbagai macam penderitaan. penuh semangat. Perhatian Pernuh Terhadap Perasaan Perhatian penuh atau perenungan terhadap perasaan dikenal sebagai vedanānupassana satipatthāna. kemudian perasaan tidak menyenangkan muncul. Kāyika-vedanā 2. Sensasi tidak menyenangkan ini disebut kāyika-vedanā. jika yogi berpikir bahwa perasan itu tidak perlu diamati. Jika perasaan atau sensasi tersebut timbulnya tergantung pada proses mental. yaitu: 1. Di sini kita perlu menjelaskan kembali tentang dua macam sensasi. yogi harus mengamatinya dengan perhatian penuh.

ataupun keadaan mental yang muncul harus diamati dan dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka muncul. ketika kesadaran yogi tercemar oleh 43 . Jika perasaan timbul. Kemudian pandangan terang yang menembus pada sifat alamiah dari rasa sakit atau sensasi yang tidak menyenangkan akan menuntun yogi ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. tapi timbul bersama dengan hal yang berhubungan dengannya. Apapun itu. setiap “pikiran” terdiri dari kesadaran dan hal yang berhubungan dengan kesadaran itu sendiri. pikiran. Ketika seorang yogi dapat dengan sukses mengamati rasa sakit dengan usaha yang gigih. Keadaan mental yogi mungkin baik dan keadaan emosinya mungkin lebih baik. Inilah yang dimaksud dengan cittānupassanā satipatthāna. Suatu hal yang alami bila yogi merasa takut pada sensasi jasmani yang tak menyenangkan yang dialaminya dalam latihan meditasi. perasaan tersebut harus diamati dan dicatat sebagaimana ketika perasaan tersebut timbul. Menurut Abhidhamma. Ini adalah vedanānupassanā satipatthāna – perhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi. maka ia dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari rasa sakit secara umum dan khusus. yogi dapat mencapai pencerahan melalui sensasi sakit ini. tapi perasaan sakit bukanlah suatu proses yang harus ditakuti. Oleh sebab itu.alamiah yang sebenarnya dari sensasi tersebut. Karakteristik khusus dan umum dari perasaan harus dimengerti sepenuhnya sehingga yogi tidak akan melekat pada perasaan tersebut ataupun menolaknya. harus dicatatnya sebagaimana saat hal itu muncul. Perhatian Penuh Terhadap Kesadaran Landasan perhatian penuh yang ketiga adalah cittānupassanā satipatthāna yang berarti perhatian penuh pada kesadaran (citta) dan bentuk-bentuk mental (cetasika) yang muncul bersama dengan kesadaran. Bahkan. Kesadaran tidak pernah timbul sendiri. Singkatnya. kesadaran. Rasa sakit adalah proses alami yang seharus dimengerti sepenuhnya dengan mewaspadainya ketika rasa sakit itu muncul.

yang berarti perenungan atau perhatian penuh terhadap Dhamma. Vyāpāda: kemarahan atau niat jahat. Di sini Dhamma meliputi banyak kategori dari proses mental dan jasmani. Uddhacca-kukkucca: penyesalan. yogi harus mencatatnya sebagai kesadaran dengan kemarahan. ketumpulan mental. Kategori pertama adalah lima nivārana (lima rintangan mental). Mengatasi kemarahan. Contoh ini adalah perbuatan yang mengakibatkan karma buruk. kekhawatiran atau ketidakbahagiaan terhadap apa yang pernah dilakukan. Jika perhatian penuh kuat.nafsu atau kemelekatan. bau. rasa. Kemarahan adalah salah satu bentuk mental yang dapat membawa yogi pada berhentinya penderitaan bila yogi mencatatnya dengan perhatian penuh. 1.keinginan terhadap obyekobyek bentuk. kemarahan akan hilang. dan sentuhan. 2. kemarahan itu muncul dan tenggelam. 44 . suara. 5. 3.mengantuk. Yogi kemudian menyadari bahwa kemarahan tidak bertahan lama. Jika kesadaran yogi tercemar dengan kemarahan. Aspek pertama: ketidakbahagiaan terhadap kegagalan dalam melakukan sesuatu yang harus dilakukan di masa lampau. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut sebagaimana adanya. Vicikichā: keragu-raguan. Aspak kedua: ketidakbahagiaan terhadap perbuatan yang telah dilakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. yogi mendapatkan dua keuntungan: 1. Merealisasi atau mengerti sifat alamiah kemarahan (muncul dan tenggelamnya kemarahan atau anicca). perasaan berat/kelambanan. 4. 2. Kesadaran tersebut dapat dicatat sebagai ‘kemarahan’ atau ‘marah’ sesuai dengan Mahā Satipatthāna Sutta. Perhatian Penuh Terhadap Dhamma Landasan perhatian penuh yang keempat adalah dhammānupassanā satipatthāna. Dengan mengamati kemarahan. Kāmacchanda: keinginan indera . Thina-middha: kemalasan dan keengganan .

Keinginan hilang karena telah diamati dengan penuh semangat dan perhatian penuh. mendengar. contohnya: perenungan terhadap rintangan mental (nivārana).kāmacchanda. ingin. Jika yogi mengamati dan berperhatian penuh pada keinginan inderanya sebagaimana adanya. kemalasan dan keengganan. Dua hal ini adalah ‘temen lama’ para yogi. yogi tidak akan dapat proses mental dan jasmani. saat yogi mengantuk. Pikiran menjadi jernih dan dapat menembus/mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. saat yogi mendengar lagu yang merdu. hingga keinginannya hacur oleh perhatian penuh yang kuat. yogi akan mencatat keinginannya sebagai ‘ingin. Hanya jika pikiran telah terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi (proses mental atau jasmani). Berperhatian penuh dengan cara seperti ini disebut dhammānupassanā satipatthāna atau perenungan terhadap obyekobyek pikiran. keinginan itu akan hilang. Jadi apapun yang muncul dari kelima rintangan mental tersebut. atau dapat menjadi penghalang kemajuan meditasinya. mungkin akan timbul keinginan untuk mendengarkan lagu tersebut. Yogi mungkin ingin mendengarkan kembali lagu tersebut dan menikmatinya. ingin.” Yogi mungkin masih terpengaruh oleh lagu tersebut jika perhatian penuhnya tidak cukup kuat. mencatatnya dalam hati ‘ingin. Keinginan untuk mendengarkan lagu adalah keinginan indera . thina-middha akan menikmatinya. ia harus mencatatnya sebagai “mendengar. sebenarnya berarti mengantuk.’ maka ia telah mengikuti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Mahā Satipatthāna Sutta. Jika muncul 45 . Jika yogi mengetahui bahwa keinginan indera untuk mendengar lagu itu dapat membawanya pada keadaan yang tidak tidak diinginkan. Contoh: jika yogi mendengar lagu yang merdu dari luar dan tidak mencatatnya. yogi harus selalu waspada. atau kecelakaan. Thina-middha. Jadi. yogi dapat terbebas dari kekotoran mental. Saat perhatian penuh menjadi konstan dan kuat.Selama pikiran tercemar.

yogi tak akan dapat mengatasinya. 46 . berkelana’ atau ‘berpikir. atau teknik meditasi. yogi mungkin tidak dapat mengamati pikiran yang berkelana. Uddhacca adalah kegelisahan atau gangguan. yogi harus mencatat ‘berkelana. harus diamati dengan perhatian penuh. Dhamma. atau berkelananya pikiran. Yogi berpikir bahwa pikirannya terfokus pada obyek meditasi. Penghalang mental kelima adalah vicikichā atau keraguraguan. Ketika yogi mengetahui bahwa pikirannya berkelana. yogi tak bisa menyadarinya karena yogi menyukainya. dan tepat. Tetapi bila rasa kantuk yang timbul. Jika kita mengantuk. Ini dikenal sebagai dhammānupassanā satipatthāna. sedangkan kukkucca adalah penyesalan. inilah yang disebut sebagai uddhacca. ia akan mampu menyadarinya. Ketika pikiran menjadi aktif dan siaga. yogi harus waspada pada pikirannya sebagaimana adanya. yogi akan melekat serta menikmatinya. Kemudian yogi dapat mengatasi rasa kantuk.sensasi menyenangkan dalam diri yogi. dalam hal ini gerakan dinding perut. Jika yogi tak mampu mengamati rasa kantuknya.’ Ini artinya uddhacca-kukkucca telah diamati. kita harus berusaha dan berjuang lebih keras dalam berlatih. bukannya mencatat obyek meditasi. Hal ini membuat yogi berada dalam lingkaran kelahiran lebih lama. Dalam hal ini uddhacca berarti gangguan pikiran. kegelisahan. pikiran akan terbebas dari rasa kantuk. Ketika pikiran berkelana atau berpikir sesuatu. berpikir. Jika pikiran berkelana. Shanga. Pada awal latihan. Yogi mungkin mempunyai keragu-raguan terhadap Buddha. Artinya yogi harus mengamati dengan perhatian penuh. sehingga yogi dapat membuat pikirannya aktif dan siaga. Uddhacca-kukkucca adalah penghalang mental keempat. semangat. Yogi harus berperhatian penuh pada apapunsebagaimana adanya. Kecuali jika yogi telah mengerti sifat alamiah dari kemalasan dan keengganan (mengantuk). Yogi bahkan tidak mengetahui bahwa pikirannya berkelana. Itu sebabnya mengapa thina-middha atau perasaan ngantuk disebut sebagai ‘temen lama’ para yogi. Keraguan apapun yang muncul.

3. Kāyānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap fenomena tubuh atau jasmani. 4.Jadi inilah Empat Landasan Perhatian Penuh: 1. Cittānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap kesadaran dan segala yang berhubungan dengannya. Vedanānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap perasaan. 47 . 2. Dhammānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap Dhamma atau obyek-obyek pikiran.

Bila pikirannya telah murni. Jika yogi tidak menghindari hubungan seksual. Sīla ketiga dari lima sīla adalah menghindari perbuatan asusila. yogi menjadi tenang. maka pikirannya pun akan dimurnikan sampai batas tertentu. obyek suara. Sang Buddha mengunjuinya dan menanyakan kesehatannya. obyek bentuk/rupa. bahagia. Setelah moralnya murni. Pemurnian Kelakuan Moral Tingkat permurnian pertama adalah pemurnian kelakuan moral (sīla-visuddhi). pemurnian tingkat kedua. obyek bau. Ketika bhante Uttiya. Tentu saja akan lebih baik bila yogi dapat melaksanakan delapan sīla. Kemudian yogi mencapai pemurnian pikiran (citta-visuddhi).lima macam keinginan indera (kāmacchanda) dalam pikirannya. yogi harus melalui tujuh tingkat pemurnian (visuddhi). Dengan melaksanakan delapan sīla. Bhante Uttiya menceritakan tentang 48 .BAB V TUJUH TINGKAT PEMURNIAN Untuk mencapai pencerahan. sedangkan sīla ketiga dari delapan sīla adalah menghindari semua perbuatan seksual. dan dapat berkonsentrasi pada obyek meditasi. salah satu murid Sang Buddha sakit dan terbaring di tempat tidur. yogi dapat mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. sehingga yogi dapat mencapai pemurnian sīla. Bila yogi tidak melaksanaan sīla. Hanya jika pikiran seorang yogi dalam keadaan murni dari segala rintangan mental. pikirannya akan dicemari oleh rintangan mental dari keinginan indera (kāmacchanda-nivārana). yogi dapat memurnikan perbuatan dan perkataannya yang merupakan pemurnian moral (sīla-visuddhi). dan obyek sentuhan . Yogi harus melaksanakan paling sedikit lima sīla (lebih baik lagi delapan sīla). yogi mungkin akan memiliki keinginan-keinginan untuk obyek rasa (makanan/ minuman). damai.

sakitnya pada Sang Buddha: “Bhante. atau hukum karma. Pemurnian Pikiran Pemurnian kedua adalah pemurnian pikiran (citta-visuddhi). kamu akan mencapai berhentinya penderitaan. Saya tidak tahu apakah saya dapat atau tidak dapat hidup hari ini atau besok. Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan penekanan pada pemurnian sīla atau kelakuan moral karena itu merupakan syarat dasar untuk kemajuan dalam konsentrasi dan juga pandangan terang. kamu harus mengungkapkan Empat Landasan Perhatian Penuh. maka kamu akan mencapai tingkat kesucian arahat. Pandangan benar berarti menerima dan percaya hukum sebab dan akibat. aksi dan reaksi. sebelum saya meninggal. Sang Buddha kemudian mengajukan pertanyaan. “Apakah yang dimaksud dengan awal?” Kemudian Sang Buddha menjawabnya sendiri. berdasarkan kelakuan moral (sīla) yang murni. Jika yogi mengembangkan perhatian penuh.” Sang Buddha kemudian melanjutkan: Uttiya. pikiran menjadi tenang. damai. kamu harus membersihkan kelakuan moral dan pandangan benar-mu. pikiran 49 . Jadi kemurnian kelakukan moral adalah persyaratan awal bagi yogi untuk maju. Jika awalnya sudah dibersihkan. “Di sini yang dimaksud dengan awal adalah pemurnian kelakuan moral (sīla) dan pandangan benar (sammā ditthi). Jika kita ingin mencapai pengetahuan pandangan terang. Kemudian. yogi akan dengan mudah berkonsentrasi pada semua obyek dari proses mental dan jasmani. Tolong berikan petunjuk singkat yang dapat membantu dalam mengembangkan latihan meditasi saya untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Dengan berlatih demikian. penyakit saya bukannya berkurang malah makin bertambah. Ketika kelakuan moral telah murni. kamu harus membersihkan dari awal. Jadi saya ingin bermeditasi untuk menghancurkan segala macam kekotoran mental hingga mencapai tingkat kesucian keempat (arahat).” Kemudian Sang Buddha bersabda: Uttiya. dan bahagia.

wish or want 50 . Pertama. Maka dengan demikian yogi telah memurnikan pandangannya. yogi harus mengamati setiap keinginan. Jika seorang yogi telah mencapai tingkat kedua dari pengetahuan pandangan terang. terjemahan dari intention. Itulah sebabnya mengapa yogi 3 Keinginan. yogi telah mencapai ditthi-visuddhi. kehendak. atau kemauan. Dengan pemurnian ini. Pemurnian dengan Mengatasi Keraguan Tingkat pemurnian yang keempat adalah pemurnian dengan mengatasi keraguan (kankhā-vitarana-visuddhi) adalah. pikiran dapat menembus sifat alamaiah dari proses mental dan jasmani. Kankhā berarti keraguan dan visuddhi berarti pemurnian. Pengetahuan ini dikenal sebagai nāma-rūpa-pariccheda-ñāna – pengetahuan pandangan terang yang dapat membedakan antara mental dan jasmani. Dengan demikian yogi telah mengatasi keraguan dan inilah yang disebut dengan pemurnian dengan mengatasi keraguan. atau kemauan3 sebelum melakukan suatu tindakan atau gerakan. yogi tak akan menganggap kedua proses tersebut sebagai seseorang atau makhluk. Jika pikiran terkonsentrasi dengan baik pada fenomena mental dan jasmani. Setiap tindakan selalu didahului dengan keinginan. Pemurnian Pandangan Tingkat pemurnian yang ketiga adalah pemurnian pandangan (ditthi-visuddhi). yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa) melalui pengalamannya sendiri. atau kemauan. pengetahuan tentang sebab-akibat (paccaya-pariggaha-ñāna). kehendak. Untuk mencapai pengetahuan ini.harus bersih dari segala macam kekotoran mental. pikiran akan bebas dari semua rintangan mental. jiwa atau diri. Ini dikenal sebagai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). kehendak. Jika seorang yogi menembus sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap kehidupan masa lampaunya.

Tanpa kehendak atau kemauan untuk datang ke sini. Pada sikap duduk.’ kemudian ‘mengangkat.’ kemudian ‘buka. rentangkan.’ Jika konsentrasi kita cukup dalam. Ketika kita merentangkan tangan. ada proses jasmani yang didukung oleh unsur angin (vāyodhātu . ‘ingin. dengan menyadari keinginan dan tindakan yang mengikutinya. duduk. pertama-tama kita harus mencatat. ingin. yogi mempunyai keinginan untuk membuka mulut untuk memasukkan makanan. Kemudian. wanita. proses mental yang menyebabkan tindakan atau gerakan. dapatkah yogi datang ke sini? Jadi.’ Dalam proses membuka mulut. Ketika kita menekuk tangan. hal itu disebabkan keinginan untuk duduk di kursi.’ Ketika yogi sedang makan. Duduk adalah proses jasmani. pertama-tama catatlah keinginan. kemudian catat gerakan menekuk tangan. tekuk. duduk. kita akan mengerti bahwa tak ada 51 .’ Ketika yogi hendak menekuk tangannya. pertama-tama catatlah keinginan. mengangkat. rentangkan. samanera. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. maka yogi harus membawa sesosok mayat dari rumah sakit dan mendudukkannya di kursi.’ Semua gerakan dalam proses duduk harus diamati setelah mencatat keinginan. Ketika yogi mempunyai keinginan untuk mengangkat kakinya. Apakah ada yang duduk di kursi? Jika yogi pikir ada seseorang yang duduk di kursi. yang mana sebab dan yang mana akibat? Tindakan datang adalah akibat. keinginan adalah sebab. buka. mengapa yogi duduk di kursi? Benar. ingin. Mayat tidak dapat duduk di kursi karena tak punya keinginan.’ kemudian ‘duduk. Yang pertama harus dilakukan. dan membuka mulut adalah akibat. apakah sikap duduk itu adalah seorang laki-laki. kemudian gerakan merentangkan tangan sebagai ‘rentangkan. Jadi jika kita ingin duduk. keinginan adalah sebabnya.’ kemudian ‘tekuk. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. atau bhikkhu? Bukan semuannya. Lalu. ingin. Ini hanyalah keinginan. ingin. yogi harus mencatat ‘ingin.unsur angin dari dalam dan luar).harus berperhatian penuh terhadap setiap keinginan sebelum tindakan atau gerakan.

Jadi. Jika yogi mengerti sepenuhnya hubungan sebab dan akibat. pria atau wanita adalah hanya suatu proses sebab dan akibat. Dengan mengerti hal ini. sehingga kita dapat mengamati keinginan sebelum suatu tindakan atau gerakan dilakukan. Lalu. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mengangkat kaki.apapun yang timbul tanpa sebab. Tidak ada pelaku. Segala sesuatu muncul karena ada sebabnya. itu disebut sakkāya-ditthi atau atta-ditthi (pandangan salah mengenai seorang pelaku). 52 . apa yang ada di masa lampau? Hanyalah proses sebab dan akibat. karena yogi tidak cukup sabar. Dengan cara inilah. kita harus sabar dengan tindakan atau gerakan kita. Beberapa yogi kesulitan untuk mengamati keinginan sebelum suatu tindakan dilakukan. dan seterusnya. Jika kita mengerti hubungan dari sebab dan akibat. Untuk mengamati. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan menurunkan kaki. yang disebut seseorang. Jika yogi percaya ada orang yang duduk. tidak ada orang yang melakukan sesuatu. Begitu juga ketika kita mengamati keinginan sebelum mendorong kaki. Kemudian apa yang sesungguhnya ada hanyalah proses sebab dan akibat. Ketika kita mengamati keinginan sebelum menurunkan kaki. kita dapat dikatakan hampir mengerti sepenuhnya hukum sebab dan akibat. apapun yang yogi sadari hanyalah suatu proses yang alami. yogi mengatasi keraguan mengenai apakah ada seorang individu atau makhluk yang abadi dalam dirinya. tidak ada yang disebut dengan ’seseorang’ yang menjadi presiden ataupun raja. Kemudian. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mendorong kaki. Oleh sebab itu. inilah yang dikenal sebagai pemurnian dengan mengatasi keraguraguan (kankha-vitarana-visuddhi). yogi dapat mengatasi keragu-raguan pada kehidupan yang lampaunya. Ketika kita mengamati keinginan sebelum mengangkat kaki. Sehingga yogi tidak ragu akan kehidupannya dimasa lampau.

usahanya stabil. naskah menggunakan dua 53 . kegiuran. Dengan pengalaman bagus tersebut. Pada tingkat pandangan terang ini. Perhatian penuh yogi sangat tajam. Ñāna dan dassana di sini berkenaan dengan perngertian yang sama. ñāna berarti pengetahuan. Jika seorang yogi menganggap ini adalah nibbāna. sedang.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan dan Bukan Jalan Visuddhi yang kelima adalah pemurian pengetahuan dan pendangan terhadap jalan dan bukan jalan (maggāmaggañānadassana-visuddhi).” Bila ini terjadi. yogi mungkin berpikir “Ini pasti nibbāna – ini luar biasa. kebahagiaan. Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan Visuddhi yang keenam adalah patipadā-ñānadassanavisuddhi. Untuk itu yogi harus meneruskan meditasinya dan berlatih dengan sungguhsungguh. tidak lemah. damai dan sebagainya. ini adalah salah jalan. tidak terlalu kuat atau kaku. yogi tidak dapat melangkah lebih jauh karena yogi melekat pada keadaan tersebut. tenang. yogi mendapatkan pengalaman yang sangat baik. Patipadā berarti jalan/arah latihan. ini lebih baik daripada memiliki satu juta dollar – sekarang saya telah mencapai nibbāna. Tingkat ini dapat dialami dalam dua minggu jika yogi berlatih dengan sungguh-sungguh. Ini adalah tingkat yang sangat baik yang harus dilalui oleh yogi. dan mantap. Kadang-kadang yogi merasa badannya menjadi ringan. ia akan keluar dari nibbāna. saya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi ada juga yogi yang mencapai tingkat ini dalam seminggu. dassana berarti pandangan. Yogi tidak boleh puas dengan pengalaman ini dan harus terus maju dengan latihannya. Dengan maksud memberikan penekanan pada penembusan. ketenangan. merasa ringan. Konsentrasinya dalam sehingga yogi mengalami kedamaian. Yogi berpikir bahwa bila ia melangkah lebih jauh. dan sebagainya. keseimbangan. seperti telah terangkat atau seolah-olah seperti terbang di udara. bahagia. Ini hanyalah pengalaman yang kecil dan tidak berarti.

yaitu berhentinya segala macam unsur mental (nāma) dan unsur jasmani (rūpa). Jika yogi mencapai tingkat ini. yogi berada di jalan yang benar yang menuntun menuju ke tingkat kesucian arahat atau berhentinya penderitaan. Kemudian yogi akan tahu. perhatian yogi ke masa lampau. Dalam dua atau tiga momen pikiran. yogi akan akan berhenti pada maggāmagga-ñānadassana-visuddhi. Yang dimaksud dengan garis batas di sini adalah garis batas antara orang biasa (puthujjana) dan orang mulia/suci (ariya). semua penderitaan akan berhenti. Jika yogi berada di jalan yang salah. Jadi patipadā-ñānadassana-visuddhi berarti pemurnian dari pengetahuan dan pandangan tentang jalan/arah dari latihan. Keraguan itu telah dihancurkan oleh pandangan dan pengetahuan tentang jalan dari latihan. yogi harus melalui kesembilan tingkat pandangan terang dan mendekati tujuan. Pengetahuan dari Kematangan Jika yogi meneruskan latihannya. Jadi. yogi akan sampai pada garis batas dalam waktu singkat. haruskah saya 54 . akan dapat melihat ke depan dan belakang. yaitu pengetahuan dan pandangan. perhatian yogi berarti ke depan. Karena yogi berada di jalan yang benar. Kemudian. jadi yogi dapat menilai bahwa arah latihannya adalah benar. tapi bila maju terus. Jika yogi berdiri di perbatasan. apakah akan maju terus atau mundur? Jika mundur. Jika yogi di perbatasan. Di depan adalah berhentinya segala gabungan benda. “Jika saya maju terus. dilanjutkan dengan pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan yang benar dari latihan (patipadāñānadassana-visuddhi). Dengan begitu yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap jalannya latihan. yogi telah mencapai anumola-ñāna (pengetahuan adaptasi). Ini berarti bahwa bila yogi telah melewati maggāmagga-ñānadassanavisuddhi. yogi telah mencapai garis batas dan berdiri di sana.kata dengan pengertian yang sama. karena pengalaman yogi sesuai dengan pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih rendah dan juga pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih tinggi.

Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan 55 . Jika yogi berada di perbatasan. Pengetahuan mengenai garis perbatasan dikenal sebagai gotrabhu-ñāna. Saya harus mengakhiri semua penderitaan ini. kita dapat menterjemahkannya sebagai pengetahuan yang telah memotong garis keturunan puthujjana.” Perhatian yogi kemudian akan ditujukan pada berhentinya penderitaan. ’Gotra’ berarti puthujjana atau keturunan. Yang Mulia Nyanaponika Thera menterjemahkan gotrabhu-ñāna sebagai pengetahuan mengenai kematangan karena pengetahuan yogi cukup matang untuk mencapai jalan kesucian. jadi tak ada lagi puthujjana.maju?” Yogi akan memikirkannya dan jawabannya adalah “ya” karena dia sudah menderita lama sekali (kappa). Kata ‘kappa’ berarti jumlah kehidupan yang tidak terhitung. “Saya sudah menderita dalam jumlah kehidupan yang tidak terhitung dalam siklus dukkha ini. yogi menjadi makhluk mulia/suci (ariya). Ketika garis keturunan puthujjana telah dipotong. Sebenarnya. Pada perbatasan. yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. dia akan merenungkan pengalaman masa lalunya. garis keturunan dari seorang puthujjana dipotong secara total. Saya kira ini sudah cukup. ia menjadi seorang mulia/suci (ariya). Segera setelah garis batas pengetahuan kematangan. karena telah memtong garis keturunan puthujjana. Setelah yogi melawati garis batas itu. muncul pengetahuan mengenai jalan (magga-ñāna) yang merealisasi empat kebenaran mulia sepenuhnya.

pengetahuan pandangan ini dikenal sebagai ñānadassanavisuddhi. pengetahuan pertama mengenai jalan kesucian. Jika yogi telah mencapai visuddhi ketujuh. pengetahuan dan pandangannya mengenai kebenaran menjadi murni.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Karena yogi telah merealisasi empat kebenaran mulia ini. yogi telah menjadi seorang sotāpanna. Hanya dengan demikianlah yogi telah mencapai ñānadassana-visuddhi – pemurnian pengetahuan dan pandangan. 56 . Visuddhi ketujuh mengacu pada sotāpatti-ñāna. jadi arti keseluruhannya adalah pemasuk arus. pemurnian pengetahuan dan pandangan. berarti yogi telah mencapai arus jalan mulia beruas delapan. Jika yogi telah mencapai sotāpatti-ñāna. Jadi. Sotā berarti arus dan apanna berarti pemasuk.

BAB VI SEMBILAN CARA UNTUK MENAJAMKAN KEMAMPUAN MENTAL Lima kemampuan mental seorang yogi adalah saddhā. Saddhā (keyakinan) harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan). Samādhi (konsentrasi) harus seimbang dengan viriya (semangat atau usaha). tajam. terus-menerus. menonjol dan seimbang seperti yang disebutkan dalam kitab komentar visuddhimagga. Samādhi harus dalam dan paññā harus menembus. Saddhā harus kokoh. Menyeimbangkan Kemampuan Mental Untuk membuat kelima kemampuan mental ini menjadi kuat. dan tak tergoyahkan. Kelima faktor ini dikenal sebagai pancindriya (panca berarti lima. Sati harus kuat dan tajam. sati. pandangan terang atau penerangan Untuk meditasi. dan tanpa henti. seorang yogi tidak dapat mencapai pandangan terang dan pencerahan dari berhentinya penderitaan. viriya. samādhi. ini juga dikenal sebagai Pancabala (lima kekuatan mental). tajam dan seimbang. 57 . Faktor mental yang utama yaitu sati (perhatian penuh). Jika kemampuan mental ini kuat tapi tidak seimbang. tidak perlu seimbang dengan kemampuankemampuan yang lain. dan paññā. Saddhā berarti keyakinan yang didapat melalui pengertian benar atau yang disertai dengan pengertian benar Viriya berarti usaha yang tidak kenal lelah atau semangat Sati berarti perhatian penuh atau perhatian yang konstan (terus menerus) Samādhi berarti konsentrasi yang dalam Paññā berarti kebijaksanaan. Sati harus konstan. kelima kemampuan mental ini harus kuat. ada sembilan panduan yang yogi harus ikuti. indriya berarti kemampuan).

Sebelum saya memulai meditasi vipassanā. seorang yogi mungkin akan memiliki sedikit keyakinan atau tidak percaya pada ajaran. seimbang dengan keyakinan (saddhā) yang kuat. Jika Dhamma tidak ditembus dengan benar. Ketika sedang mengalami proses mental atau jasmani. Menurut kitab komentar visuddhimagga. Hanya setelah yogi menyelesaikan latihan meditasi dan mengalami pencerahan. Dhamma dan Sangha. Tidak ada ruang untuk alasan-alasan logika. yogi mungkin akan menganalisa pengalamannya pada waktu meditasi. pengetahuan analitis tersebut akan menghalangi konsentrasinya. jadi kadang-kadang mereka menganalisa apa yang mereka alami dalam meditasi dan berbicara mengenai sesuatu yang bertentangan dengan realitas atau kenyataan. yogi akan dapat menganalisanya dengan cara apapun. Ketika yogi menganalisa pengalamannya. kemudian konsentrasinya akan terpecah atau melemah. Dan akhirnya yogi akan memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha. keyakinan harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan. yogi akan menganalisanya. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan analitisnya mengenai Dhamma atau pengalamannya. Beberapa yogi ingin mempertunjukkan pengetahuan mereka mengenai ajaran Buddha atau Dhamma . tujuan saya adalah untuk melihat apakah tekniknya benar. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihannya tanpa gangguan oleh pengetahuan atau alasan-alasan analiti. atau pikiran rasional. Jika seorang yogi percaya pada Sang Buddha atau ajaranNya.Jika saddhā lemah dan paññā kuat. atau dimengerti. terutama jika yogi memiliki pengetahuan Dhamma yang luas. berpikir rasional atau analisa yang bukan merupakan pengertian benar terhadap proses alami dari fenomena mental dan jasmani. karena pengetahuan yang didasari oleh pengalaman meditasinya. saya membaca dua jilid buku ’meditasi vipassanā’ yang ditulis oleh Yang Mulia Mahāsi Sayadaw. Pada waktu itu saya belum bertemu dengan Yang Mulia Mahāsi Sayadaw 58 . maka kebijaksanaannya atau pengetahuan pandangan terang. dipahami. Ketika saya pertama kali memulai meditasi vipassanā. pengetahuan pandangan terang) dan sebaliknya.

teknik ini pasti benar. kamu telah melalui ujian yang lebih tinggi dan kamu sekarang adalah dosen di universitas. Walaupun saat itu saya menganggap teknik Mahāsi Sayadaw benar. Jika kebijaksanaan lemah dan keyakinan kuat. karena saya tidak menganalisa pengalaman atau teknik berdasarkan konsep awal atau pengetahuan yang saya telah pelajari dari buku. Ia berkata kepada saya: U Janaka. unsru air (āpo-dhātu) dan unsur tanah (pathavī-dhātu) juga termasuk di dalam gerakan perut. Tetapi perenungan terhadap gerakan kembungkempisnya perut. Karena yogi dapat merenungkan keempat unsur. Setelah menerima nasehatnya. Dengan sendirinya keyakinan saya seimbang dengan kebijaksanaan. Saya menerima teknik itu sebagai teknik yang benar karena saya mengetahui bahwa gerakan perut adalah vāyo-dhātu dan ketiga unsur yang lain. sejak saya menjadi sāmanera (calon bhikkhu). Itulah sebabnya mengapa saya ingin menguji teknik Mahāsi Sayadaw yang dimulai dengan perenungan terhadap gerakan perut. unsur api (tejo-dhātu). Pada waktu itu. Secara tradisional. Kamu harus mengesampingkan pengetahuan Dhamma dari buku jika kamu ingin mendapatkan sesuatu dari latihan meditasi ini. saat saya melewati masa vassa (musim hujan) di sana selama empat bulan melaksanakan program meditasi intensif. Hal itu dikarenakan saya melekat pada metode tradisional. saya tidak dapat menerimanya sebagai sesuatu yang memuaskan. maka yogi bisa menjadi percaya buta. Walaupun saya pergi ke pusat meditasi Mahāsi dan memulai berlatih teknik tersebut. Waktu itu adalah tahun 1953. ketika saya berumur 17-24 tahun. perhatian penuh pada pernafasan.secara pribadi. Saya berlatih ānāpānassati. Dikatakan percaya buta karena yogi memiliki 59 . saya melakukannya dengan banyak keraguan. Saya berlatih dibawah bimbingan bhante U Nandavamsa. saya adalah seorang dosen di Universitas Buddhist di Mandalay. yogi cenderung lebih menyukai metode meditasi pernafasan (ānāpānassati). adalah sangat sederhana (mudah dimengerti) bagi mereka yang telah mempelajari teknik meditasi dari buku. saya mengesampingkan pengetahuan Dhamma saya dan berlatih seperti yang dinasehatkan oleh guru saya.

keyakinan tanpa disertai pengetahuan. pikiran yogi akan menjadi kacau dan gelisah (uddhacca). menjaga pikirannya agar stabil dan tenang. Pikiran yang mencatat. Akan tetapi. Samādhi (konsentrasi) dan viriya (usaha) juga harus seimbang. ia bisa melakukan usaha yang berlebihan dalam latihannya dan menyebabkan pikiran menjadi kacau dan gelisah. konsentrasinya menjadi sangat dalam dan kuat. kebijaksanaan. Jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. Usaha harus seimbang dengan konsentrasi. tidak terlalu kuat atau lemah. kitab komentar menyatakan: Jika konsentrasi terlalu kuat dan usaha terlalu lemah. Oleh sebab itu. Dalam hal ini. saddhā harus seimbang dengan paññā. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Akibatnya konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan dan keenganan atau mengantuk. atau kecerdasan. ia bisa jatuh pada doktrin atau teori yang menuntunnya ke jalan yang salah. karena konsentrasi ini usahanya akan stabil dan mantap. Jadi. pikiran yang mencatat perlahan-lahan akan menjadi tumpul dan berat. konsentrasi yogi biasanya lemah dan sering berkelana. yogi harus mengikuti dan mengamati pikirannya sebagaimana adanya. maka konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan atau keengganan (thina-middha). Kemudian secara perlahan-lahan yogi akan mencapai tingkat konsentrasi tertentu. Kitab komentar mengatakan: jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. pengetahuan atau kebijaksanaan. Di awal latihan. Jika seorang yogi percaya buta. yogi harus mengurangi usahanya. ketika seorang yogi telah berlatih meditasi selama dua atau tiga minggu. mencatat apapun yang muncul di pikirandan jasmaninya dengan perhatian penuh. Pada beberapa kasus. tapi jangan terlalu bersemangat. Untuk dapat melakukan hal itu. mencatat obyek dengan sendirinya. jika usaha yogi tidak cukup. Jika seorang yogi antusias pada pencapaian pandangan terang. otomatis dan seperti tanpa usaha. 60 . saddhidriya dan paññindriya hasrus seimbang. dan cenderung untuk percaya dengan mudah segala teori atau doktrin.

yogi harus berlatih meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. Dalam kitab komentar dikatakan: seorang yogi harus ingat 61 . Jika konsentrasinya dalam. pikiran menjadi semakin tumpul. hanya sedikit yogi yang mengalami konsentrasinya melebihi usahanya.Jadi konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha (viriya). konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha. Cara pertama. Oleh karena itu. bertahan lama. konsentrasinya hanya dapat membuat yogi mencapai ketenangan dan kebahagian dalam batas tertentu. Walaupun konsentrasi yogi berkembang. tergantung pada situasi atau keadaan. Ada juga beberapa yogi yang usahanya melebihi konsentrasinya. dapat dikatakan bahwa perhatian penuh (sati) tidak penah terlalu kuat dan tajam. yogi harus ingat bahwa ia akan mengerti lenyapnya proses mental dan jasmani atau benda-benda terdiri dari gabungan beberapa unsur ketika ia melihat atau mengamati sebagaimana adanya. Menurut visuddhimagga. kita tidak dapat mengatakan bahwa sati terlalu kuat atau tajam karena itu yang terbaik adalah yogi selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas mental dan jasmani dari waktu ke waktu. Sikap duduk yang pasif akan membuat pikirannya lebih terkonsentrasi pada obyek dan karena semakin sedikit usaha yang diperlukan. Kadang-kadang seorang yogi tidak percaya bahwa setiap proses mental dan jasmani adalah tidak kekal. Lalu perhatian penuh menjadi konstan. terkondisi oleh muncul dan tenggelam (annica). Tetapi. ada sembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental ini yang harus diikuti oleh seorang yogi. Karena konsep ini. Untuk menjaga agar konsentrasi seimbang dan usaha. Jadi. yogi tidak dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Hal ini harus menjadi sikap seorang yogi. sehingga menimbulkan konsentrasi yang dalam. Menurut kitab komentar. tak terganggu dan berkesinambungan. pandangan terang akan terbuka secara alami dan yogi akan mampu mengerti proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa).

tujuh jenis kecocokan yang mana yogi tergantung padanya. Akibatnya. yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan rasa hormat. Ketika yogi sedang terjaga. ia dapat mencapai konsentrasi yang dalam sehingga dapat mengembangkan pandangan terang yang menembus kepada sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. yogi tidak dapat mengkonsentrasikan pikirannya dengan baik pada obyek meditasi dan yogi tidak bisa mengerti sifat alamiah sebenarnya dari nāma dan rūpa. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman.’ Jika merasa panas. Jika saya katakan ‘sati. keadaan panas 62 . bertahan lama.’ berarti perhatian penuh yang konstan. Selalu berperhatian penuh sepanjang hari tanpa istirahat. Jika yogi dapat melakukannya. Cara ketiga. seperti: ruang meaditasi yang cocok. Sebenarnya yogi haru netral kepada cuaca. dingin. dan tidak terganggu. bukan perhatian biasa. yogi harus tetap berusaha dalam latihannya. contoh: yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan serius.bahwa dia akan mengerti ketidakkekalan dari suatu kehidupan atupun proses mental dan jasmani jika dia mengamatinya. perhatian penuh yogi terhadap proses mental dan jasmani harus konstan. Yogi ingin duduk di bawah kipas angin. bertahan lama. Apakah kondisinya cocok atau tidak. Ini adalah situasi yang sangat penting yang harus diikuti oleh setiap yogi. Cara kedua. dan berkesinambungan. Perhatian penuh sebenarnya adalah sumber dari segala pencapaian. Hanya dengan demikian. ataupun hangat. Cara keempat. Jika yogi kurang hormat pada teknik atau hasil dari meditasi. yogi tidak boleh memilih. baik itu panas. Dengan perhatian penuh. makanan. Kadang-kadang yogi sangat melekat pada kipas angin karena cuaca panas. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut. tidak terganggu. cuaca. dia harus secara konstan dan berkesinambungan untuk waspada terhadap apapun yang timbul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. maka yogi tidak akan berusaha sungguh-sungguh dalam latihannya. dan sebagainya.

tapi ini hanyalah pikiran. sehingga nampaknya rasa sakitnya bertambah. Tetapi jika yogi menyadari bahwa rasa sakit itu hanyalah proses mental dari perasaan yang tidak menyenangkan. dengan konsentrasi yang dalam. usaha (viriya). Dia harus mengingat cara tersebut dan melatihnya berulang-ulang dengan kemampuan yang dimilikinya agar dapat mencapai konsentrasi yang dalam. Jika yogi mengamati rasa sakit.’ Demikian juga dengan sakit. seorang yogi harus mengingat bagaimana caranya dia mencapai konsentrasi yang dalam. bukan rasa sakit itu yang menjadi lebih kuat. pikiran dapat merasakan rasa sakit itu dengan lebih jelas. Yang yogi mengerti pada saat itu hanyalah sensasi rasa sakit dan pikiran yang mencatatnya. yogi juga harus mengetahuinya secara praktek. Dengan perhatian penuh.’ Oleh karena itu. perhatian penuh adalah segalanya. sumber dari semua pencapaian.’ Yogi yang berperhatian penuh tidak memiliki musuh sama sekali di dunia.tersebut perlahan-lahan menjadi ‘teman. Rasa sakit seperti seorang ’teman. seorang yogi harus mengembangkan tujuh faktor pencerahan (bhojjhanga). pikiran menjadi lebih peka. Walaupun yogi mengetahuinya secara teori. dan keseimbangan mental (upekkhā). sehingga rasa sakit tidak mengganggu konsentrasinya. Cara kelima. konsentrasi (samādhi). penyelidikan Dhamma (Dhammavicaya) . Cara keenam. konsentrasinya menjadi lebih kuat dan rasa sakit mungkin terasa semakin kuat. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. Yogi harus mengembangkan ketujuh bhojjhanga ketika diperlukan. kebahagiaan (pīti). Dia tidak lagi mengidentifikasikan rasa sakit dengan dirinya. ketenangan (passaddhi). Sebenarnya. Semua fenomena adalah ‘teman’ karena fenomena tersebut membantu yogi pada pencapaian pandangan terang atau pencerahan yaitu berhentinya semua penderitaan. Tujuh faktor pencerahan tersebut adalah: perhatian penuh (sati). Jadi. 63 . yogi tidak akan waspada lagi terhadap dirinya atau bentu tubuhnya. Yogi dapat membedakan antara sensasi dan pikiran yang mencatatnya.

tanpa mengkhawatirkan tubuh. karena yogi segan untuk mencatatnya. yogi harus berjuang untuk mencatatnya dengan berusaha lebih keras dalam berlatih. kapanpun rasa sakit mental dan jasmani yang muncul. Kadang kala.Cara ketujuh. takut menjadi lelah. Seharusnya. Yogi tidak perlu cemas terhadap kesehatan dan tubuhnya.’ karena rasa sakit dapat membantu yogi mencapai konsentrasi yang dalam dan pandangan terang yang jernih. Cara kedelapan. dan tepat. Berjuanglah sekuat mungkin dan berlatih dengan sungguh-sungguh sepanjang hari tanpa istirahat. Hanya dengan cara demikianlah. Jika perhatian penuh terputus. berperhatian penuh. berkesinambungan. yogi tidak perlu cemas terhadap tubuhnya atau hidupnya. Keantusiasan yogi untuk mencapai tingkat kesucian arahat akan membuat yogi tetap berlatih dengan usaha yang tepat sehingga membuat kelima kemampuan mentalnya menjadi kuat dan tajam. konsentrasi yang dalam tidak akan timbul. ada kecenderungan dan keinginan untuk merubah posisi sehingga rasa sakit itu hilang. pengetahuan pandangan terang terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani tak akan tercapai. seorang yogi yang berjuang sangat keras bermeditasi dari jam empat pagi sampai jam sembilan atau sepuluh malam tanpa istirahat. Yogi khawatir dan berpikir bahwa jika dia meneruskan perjuangannya dengan cara seperti ini selama sebulan. rasa sakit dapat menjadi ‘teman. Itulah sebabnya mengapa naskah kitab suci menganjurkan untuk mengasah kelima kemampuan mental ini. 64 . dan bertahan lama. yogi tidak boleh berhenti setengah-jalan dalam mencapai tujuan. Jika konsentrasi lemah. dia akan mati karena kelelahan atau sakit. Cara kesembilan. Ini berarti yogi tidak boleh berhenti berlatih meditasi vipassanā hingga yogi mencapai tingkat kesucian arahat. yogi harus berusaha lebih giat untuk mengatasi rasa sakit tesebut dengan waspada terhadap rasa sakit dengan penuh semangat. Jika rasa sakit muncul. Sehingga yogi tidak membuat usaha yang cukup dalam latihannya dan perhatian penuhnya tidak akan konstan.

Jangan cemas terhadap kesehatan jasmani dan hidupmu selama latihan meditasi. Melatih Dhamma dengan serius dan penuh rasa hormat. 4. Tujuh macam keadaan yang cocok harus diikuti atau diamati. Kembangkanlah tujuh faktor pencerahan. Atasi rasa sakit jasmani (dukkha-vedanā) melalui usaha yang gigih dalam berlatih. 6. dan berkesinambungan dengan tetap waspada terhadap segala kegiatan sehari-hari dari waktu ke waktu tanpa henti sepanjang hari. 8. Mempertahankan perhatian penuh yang konstan. Ingatlah bagaimana caranya mencapai konsentrasi yang telah dicapai sebelumnya. Jangan berhenti setengah jalan dalam mencapai tujuanmu. 5. 3. inilah kesembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental seorang yogi: 1. 2. 9.Ringkasannya. Ingatlah tujuan dari merealisasikan ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. 65 . 7. tak tergganggu. Yogi harus terus berjuang sebelum mencapai tingkat kesucian arahat.

Dhamma. Seorang yogi harus memiliki keyakinan yang kuat dan teguh pada Buddha. Faktor ketiga adalah yogi harus jujur dan apa adanya. perhatian penuhnya menjadi berkesinambungan. Faktor kedua adalah yogi harus sehat mental dan jasmani. Bukan semangat biasa tetapi semangat atau usaha yang tak tergoyahkan. ini bukan berarti yogi tidak sehat. Faktor pertama adalah keyakinan (saddhā). masalah lambung.BAB VII LIMA FAKTOR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG YOGI Seorang yogi harus memiliki lima faktor untuk bisa mendapatkan kemajuan dalam meditasi pandangan terang. atau sakit yang lainnya. Yogi tidak boleh membiarkan semangat atau usahanya menurun. Tapi yang paling utama adalah Dhamma yang mencakup teknik meditasi yang sedang dilatihnya. Faktor keempat adalah energi/semangat/usaha (viriya). konstan dan tak terganggu. Yogi dianggap sehat sejauh ia dapat mengamati proses mental dan jasmani. tapi yogi harus terus-menerus memperbaiki atau meningkatkannya. Kejujuran adalah prosedur terbaik. Pandangan terang akan menjadi tajam dan menembus. Makanan yang dimakannya harus dapat dicerna (yaitu: makanan yang tidak menyebabkan masalah lambung). perut. Jika viriya atau padhāna meningkat. hasilnya 66 . karena jika yogi menderita masalah pencernaan. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. Ini berarti bahwa yogi tidak boleh berbohong pada guru atau temen berlatihnya (yogi lain). kuat. sering pusing. Jika hal di atas tercapai. dan teguh (padhāna). dia tidak akan mampu berlatih dengan baik. Seorang yogi harus mempunyai faktor yang satu ini agar berhasil dalam perjuangannya menuju kebebasan. dan Sangha. Jika yogi menderita sakit kepala.

Tingkat keempat adalah udayabbaya-ñāna . dan anatta. Jadi inilah kelima faktor yang harus dimiliki oleh seorang yogi. Faktor kelima adalah kebijaksanaan (paññā). dia telah mencabut konsep jiwa atau diri.adalah pengertian yang jelas terhadap sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Tingkat kedua adalah paccayapariggaha-ñāna . Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan bahwa seorang yogi harus memiliki kebijaksanaan yang mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. ini tidak mengacu pada kebijaksanaan biasa atau pengetahuan. tingkat kesucian pertama. Jika seorang yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. Pada awalnya seorang yogi mungkin tak memiliki faktor ini.pengetahuan yang dapat membedakan antara mental dan jasmani.pengetahuan yang menembus atau mengerti ketiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. tetapi yogi harus berusaha dengan padhāna (semangat yang kuat dan teguh) untuk bermeditasi pada proses mental dan jasmani untuk mencapai pengetahuan pandangan terang keempat. Tingkat ketiga adalah sammasana-ñāna . Jadi Sang Buddha bersabda bahwa paññā di sini berkenaan dengan tingkat keempat pengetahuan pandangan terang yang menembus pada timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani. Hal ini mengacu pada kebijakasanaan pandangan terang tentang timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani (udayabbaya-ñāna) yang merupakan tingkat keempat dari pengetahuan pandangan terang.pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat. seseorang atau individu (sakkāya-ditthi) dan keraguan (vicikichā) 67 . yaitu anicca. Seorang yogi diharapkan memiliki faktor ini. dukkha. yogi pasti mendapat kemajuan hingga mencapai paling tidak pengetahuan terhadap jalan kesucian yang terrendah yaitu sotāpatti-magga-ñāna. Tingkat pertama adalah nāma-rūpa-pariccheda-ñāna . Walaupun kita menggunakan kata kebijaksanaan.pengetahuan mengenai timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. Jika seorang yogi memiliki kebijaksanaan.

Jika yogi tidak sedang mengalami pandangan terang ini. Jadi paramatma berarti jiwa yang paling suci. sakkāya-ditthi dan atta-ditthi akan datang kembali. Ketika kondisi dunia cukup bagus untuk makhluk hidup tinggal. dan hewan-hewan. Mahabrahma ini memiliki banyak nama seperti Isvara. ia menciptakan semua makhluk hidup – manusia.kepada Tiratana. Jiwa ini cukup besar untuk menciptakan dunia dan makhluk hidup. singa. brahma. Jika kita bagi kata paramatma ini menjadi dua kata. yogi dapat menghancurkan sakkāyaditthi dan atta-ditthi. Pada tingkat pandangan terang ini. dewa. yang merupakan bahaya yang besar bagi 68 . Sakkāya-ditthi hanya dapat dicabut atau dihancurkan sepenuhnya dengan pencapaian tingkat kesucian pertama atau sotāpatti-magga-ñāna. dan Prajapati. ‘Pati’ berarti pencipta atau penguasa dan ‘Praja’ berarti makhluk hidup. Kemudian yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani dan juga mengerti karakteristik khusus dari fenomena mental dan jasmani. Inilah tingkat pandangan terang pertama. yang tersuci dan atma berarti jiwa atau diri. Ada juga yang menterjemahkan kata ini sebagai jiwa yang besar atau diri yang besar. ini menjadi ‘parama’ dan ‘atma. Yogi yang telah mencapai kemurnian pikiran.’ Di sini parama berarti yang termulia. Paramatma. walaupun tidak terlalu kuat. dia telah mencabut sakkāya-ditthi dan atta-ditthi. pikirannya menjadi cukup tajam untuk menembus sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. seluruh dunia diciptakan oleh mahabrahma. Paramatma adalah istilah Hindu atau Sansekerta. dan ular-ular berbisa. Jadi dia adalah penguasa makhluk hidup karena dia yang menciptakannya. Menurut agama Hindu atau Brahma. Dia bahkan menciptakan harimau. Ketika yogi dapat mengerti karakteristik khusus fenomena mental dan jasmani dan dapat membedakan nāma dan rūpa. Dalam bahasa Pali disebut Paramatta. Atta Dalam Paham Brahma Kita harus mengerti konsep sakkāya-ditthi dan atta-ditthi dari sudut pandang agama Hindu.

dan sebagainya. tidak bisa bergerak. Dengan cara ini. Ketika mahabrahma/paramatma menciptakan makhluk hidup untuk pertama kalinya. makhluk tersebut seperti mayat. Tetapi jika tubuhnya akan hancur. kita menyebutnya sebagai reinkarnasi. berdiri. Jika jiwa itu melakukan perbuatanperbuatan berjasa di dalam kehidupan ini. Tetapi jiw yang abadi tersebut. jiwa or ego. Secara singkat. jwa. Ini adalah abadi dan tidak dapat dihancurkan dengan cara apapun. diri. bahkan dengan bom atom sekalipun. ini dikarenakan tidak mengerti sifat alamiah dari proses alam. karena didukung oleh mahabrahma atau prajapati. jadi jiwa tersebut harus bersiap-siap untuk meninggalkan tubuh tersebut dan bereinkarnasi pada tubuh yang lain. jiwa kecil atau diri timbul pada setiap makhluk hidup menurut paham Brahma. Jiwa ini disebut jivā-atta. Kemudian semua makhluk bangun. duduk. Ia harus menjalani kehidupan di dunia yang lebih rendah atau tinggi tergantung karma yang dilakukannya di kehidupan ini. maka ia memasukkan jiwa pada setiap makhluk ciptaannya. perbuatan berjasa tersebut akan menuntun jiwa ke kehidupan yang lebih tinggi. dan bergerak. yang disebut diri. menurut menurut Brahma ada sesuatu yang abadi di dalam diri kita.manusia. atau berdiri. jiwa itu mengetahuinya. atau ego yang abadi disebut atta-ditthi. Ketika jiwa tersebut menitis pada tunuh yang lain. Atta dalam Agama Buddha Kita bukan Hindu tapi kita memiliki konsep mengenai jiwa walaupun konsepnya tidak terlalu kuat karena kita tidak sepenuhnya mengikuti ajaran Sang Buddha. Inilah konsep yang diyakini oleh paham Brahma mengenai jiwa. Kepercayaan atau konsep mengenai sesuatu. duduk. karena perbuatan berjasa adalah karma baik. Bahkan seekor serangga juga memiliki jiwa yang kecil di dalamnya. Kita mengerti secara teori bahwa 69 . jivā-atta atau diri juga tidak dapat dihancurkan pada kehidupan yang akan datang. Kemudian mahabrahma ingin membuat makhluk cipataannya hidup. Jadi siklus reinkarnasi akan terus berlangsung.

Secara teori. individu. “Apakah saya akan meninggal besok?” – kamu tidak berani menjawab pertanyaan ini. maka jiwanya akan tetap tinggal di sekitar kita. dekat jenazahnya. Jika kamu melihat timbul dan tenggelamnya dari fenomena mental dan jasmani yang konstan dan cepat. Tetapi kita juga percaya bahwa jika seseorang meninggal. atau peti matinya. Saya mungkin meninggal detik ini juga karena setiap fenomena bersifat tidak kekal. karena mempunyai anggapan bahwa proses mental dan jasmani adalah kekal. kamu tidak akan percaya bahwa mereka adalah kekal. Hanya jika kamu memiliki pengalaman pribadi dalam Dhamma. atau tidak ada sesuatu yang abadi. kamu bisa mengambil kesimpulan bahwa itu tidak kekal. Ya itulah ide tentang kekekalan. ditthi: pandangan salah). jiwa keluar dari tubuhnya dan berdiam dekat rumahnya. Sebenarnya. kamu akan marah kepada saya. Ada kepercayaan umum bahwa jika kita tidak memberikan dana kepada para bhikkhu dan belum membagikan perbuatan jasa yang kita lakukan kepada orang-orang yang telah meninggal. makhluk. Kita memiliki konsep ini karena kita tidak mengerti karakteristik umum dan khusus dari proses mental dan jasmani. ini disebut sakkāya-ditthi (sakkāya: nāma (mental) dan rūpa (jasmani). Kamu memegangnya karena kamu belum mengerti tentang timbul dan tenggelamnya dari proses fenomena mental dan jasmani. kamu mengerti bahwa tidak ada satupun dari proses mental dan jasmani yang bertahan walaupun hanya sedetik menurut ajaran Sang Buddha. pria atau wanita. diri. Tetapi secara praktek. Walaupun kita percaya pada ajaran Sang Buddha. kita tetap memiliki konsep atta-ditthi. Jika saya katakan kamu akan meninggal besok. kamu tidak percaya karena kamu belum mengerti sifat alamiah ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. Jika kamu bertanya pada dirimu sendiri.tidak ada jiwa. ketika seseorang belum mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena 70 . Berdasarkan konsep tersebut kita memiliki konsep mengenai orang. sehingga menganggapnya abadi. paling tidak sampai besok.

yang menjadi penyebab utama kekotoran mental (kilesa) seperti keserakahan. atau setiap proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. bisa berubah.” Kemudian kamu bertanya kepada saya. “Sekarang saya mengangkat tangan saya. sehingga kita dapat menyadari kedua proses tersebut sebagai suatu proses yang alami. Jika kita mengatakan. Jadi dapat kita katakan bahwa konsep mengenai jiwa atau diri adalah benih dari semua kekotoran mental. Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas pikiran dan tubuh. tetapi kita tidak menyadarinya. kemarahan. orang atau makhluk. Ide tentang orang adalah berdasarkan kepercayaan pada sesuatu yang kekal dalam diri kita. makhluk. “saya mengangkat tangan. kesombongan. Kecuali kita dapat mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. kita tidak akan mampu mengatasi atau menghancurkan pandangan salah ini. 71 . Pengetahuan pandangan terang ini menghancurkan konsep jiwa atau diri. dan sebagainya. kedua proses mental dan jasmani yang membentuk sesuatu yang disebut orang. Pandangan terang ini disebut sabhava-lakkhana (pengertian benar mengenai karakteristik khusus atau individu dari fenomena mental dan jasmani). ia akan menganggapnya kekal.mental dan jasmani. Jika kita telah memusnahkan benih ini. maka tidak akan muncul kekotoran mental dan kita telah menyingkirkan penderitaan.” Siapakah ‘saya’? seorang bhikkhu. Kita tidak menganggap kedua proses ini sebagai orang. atau suatu makhluk yang hidup? Jika kita tidak percaya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani yang kekal. timbul dan tenggelam. atau hewan. seorang pria. Pandangan ini disebut sakkāya-ditthi. khayalan. Jadi atta-ditthi dan sakkāya-ditthi adalah sama. Sebenarnya. anjing. kita tidak akan menganggapnya sebagai makhluk. siapa yang mengangkat tangan? Saya akan mengatakan. yaitu: sakkāya-ditthi pahanaya sato bhikkhu paribbaje.

Bhikkhu berarti rahib atau biarawan. Jika ia dapat menghancurkan sakkāya-ditthi tersebut. ia pasti mampu membebaskan dirinya dari segala macam penderitaan. Jadi kita harus berusaha untuk membasminya melalui pengertian benar terhadap proses mental dan jasmani dengan cara berlatih meditasi vipassanā.Sakkāya-ditthi pahanaya berarti mengatasi pandangan salah mengenai jiwa. Sato berarti perhatian penuh. atau orang. diri. Sakkāya-ditthi ini adalah penyebab atau benih segala macam kekotoran mental. Sadhu! Sadhu! Sadhu! 72 . Jadi seorang bhikkhu yang berperhatian penuh terhadap fenomena mental dan jasmani harus berjuang atau berlatih untuk mengatasi pandangan salah. Semoga kamu semua berlatih meditasi vipassanā ini dengan sungguh-sunguh dan mencapai berhentinya penderitaan.

6.LAMPIRAN I PETUNJUK MEDITASI Moralitas Pembersihan moralitas adalah prasyarat bagi yogi untuk mencapai kemajuan dalam latihannya. menyanyi. Saya bertekad akan melatih diri menghindari menari. dan alat-alat kosmetika untuk menghias dan mempercantik diri. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Saya bertekad akan melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari (setelah jam 12:00). 3. 4. memakai bunga-bungaan. terlepas dan mampu berkonsentrasi dengan mudah. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. bermain musik. pergi melihat tontonan-tontonan. Vipassanā adalah 73 . 5. Saya bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. yogi terbebas dari perasaan bersalah. Arti dari Vipassanā Jika seorang yogi tidak mengerti tujuan dari meditasi vipassanā. yaitu: 1. yogi diharuskan menjalankan delapan sīla. Saya bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan yang tidak suci. 7. Saya bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar. 2. Saya bertekad akan melatih diri menghindari segala macam makanan danminuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. dia tidak akan mencoba untuk menemukan sesuatu dengan mencatat proses mental dan jasmani. 8. Pada retret meditasi. wangi-wanginan. Hanya dengan demikian.

Jadi vipassanā berarti pengertian langsung terhadap tiga karakteristik dari mental dan jasmani. perhatian penuh dan konsentrasi jangan sampai terpecah. maka pikiran akan berada dimasa depan. tanpa jiwa). Jika kamu mencari sesuatu saat berlatih. Hal ini akan melemahkan usaha benar (sammā-vayāmā) dan yogi akan merasa mengantuk. Duduk pada alas yang tinggi dan tertekan menyebabkan tubuh bungkuk ke depan dan menimbulkan rasa kantuk. Y. tubuh yogi harus seimbang. Kecuali pencatatan menjadi gangguan. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi dengan cara berperhatian penuh terhadap mental dan jasmani. yaitu tiga karakteristik (ketidakkekalan. jangan lepaskan pencatatan. Meditasi Duduk Saat duduk. Pencatatan yang dangkal dapat membuat pikiran semakin kacau. Jika yogi tidak mencatat.M. ‘vi’ dan ‘passanā’. ketidakpuasan. 74 . Mencatat dengan Perhatian Penuh Catatlah dengan perhatian penuh dan tepat. Moggallāna tidak menggunakan alas saat meditasi. Saat berubah dari meditasi jalan ke duduk. Prinsip dasarnya adalah mengamati apapun pada saat hal itu timbul. ‘Vi’ berarti berbagai. Setiap meditasi duduk harus didahului oleh meditasi jalan selama sejam (dapat dikurangi jika tidak dalam retret dan waktu yang tersedia terbatas). Catatlah saat ini. “Mencatat” adalah teman perhatian penuh ketika konsentrasi lemah.gabungan dari dua kata. terutama pada awal latihan. Sariputta dan Y.M. Jangan bersandar pada tembok atau penopang lainnya. yogi cenderung akan kehilangan obyek. Kata-kata tidaklah penting tapi kadangkadang membantu. Penting untuk mencatat dengan tepat setiap proses mental dan jasmani yang perlu dimengerti dalam sifat alamiah yang sebenarnya. hiduplah saat ini.

karena akan membuat lelah. kempis. Unsur tanah (pathavī-dhātu) memiliki kekerasan dan kelembutan sebagai karakteristik khususnya. contoh: “kembung. Walaupun yogi diajarkan untuk memulai dengan mengamati kembung dan kempisnya perut.” Jika gerakannya menjadi rumit. kempis. jangan menarik nafas dengan cepat atau dalam.” atau ”kempis. Setiap unsur memiliki karakteristik khusus atau individu. Usahakan pikiran dan tubuh setenang mungkin /tidak tegang. Jika mendengar suara. Jika yogi berperhatian penuh dan mengerti gerakan perut. kembung. Y. Pada tahap awal. catatlah sebagai ‘mendengar. dan getaran sebagai karakteristik khususnya. Gerakan perut adalah vāyo-dhātu (unsur angin). Unsur api (tejo-dhātu) memiliki sifat panas dan dingin sebagai karakteristik khususnya. catatlah secara umum.’ Pada awalnya hal ini tidaklah 75 . Hal ini bukanlah obyek satu-satunya.M. Bernafaslah dengan normal.Pada permulaan latihan. yogi tidak boleh melekat pada keadaan tersebut. Unsur air (āpo-dhātu) mempunyai sifat fleksibel/mudah berubah dan melekatkan/mempersatukan (kohesi) sebagai karakteristik khususnya. Unsur angin (vāyo-dhātu) memiliki gerak. Jika gerakan perut menjadi lebih bertahap dan jelas. Ini sesuai dengan bab tentang empat unsur dalam Mahā Satipatthāna Sutta. maka yogi dapat dikatakan mengerti dengan benar sifat alamiah dari unsur angin dan menghancurkan pandangan salah tentang diri. dukungan. Catat dalam hati “kembung” jika mengamati gerakan perut keluar. kembung. dan “kempis” saat mengamati gerakan perut ke dalam. seorang pemula mungkin bingung apa yang harus dicatat. yogi dapat meletakkan tangannya pada perut jika yogi tidak dapat merasakan pergerakan perutnya. tetapi hanya satu dari sekian banyak obyek meditasi vipassanā. frekuensi pencatatan dapat ditingkatkan. Mahāsi Sayadaw mengajarkan bahwa seorang yogi dapat memulai dengan mengamati gerakan kembung dan kempisnya perut.

Meditasi Berjalan Lakukan meditasi jalan dengan serius. jangan angkat kaki terlalu tinggi. Subhadda.’ ‘angkat. Hanya jika perhatian penuh telah cukup.’ Terakhir dapat dilanjutkan menjadi ‘ingin.’ dan ‘tekan. yogi dapat mengamati langkah dalam satu tahapan selama kira-kira sepuluh menit.’ ‘dorong. catat dalam hati ‘kanan’ dan ‘kiri.’ turun. Obyek yang harus dicatat ditambah perlahan-lahan. Jangan menunduk terlalu rendah. tapi yogi harus mencatatnya sebisa mungkin.  Jangan merubah postur badan. siswa arahat Sang Buddha yang terakhir.’ Jangan tutup mata tapi jagalah agar tetap setengah tertutup. Hal penting yang perlu diingat:  Jika ada jeda antara ‘kembung’ dan ‘kempis’ isilah dengan mencatat ‘duduk’ dan/atau ‘sentuh. Pertama. 76 .24 cm/kaki). Ambilah contoh Y. pikiran tentu berkelana beberapa kali. Saat mengikuti gerakan kaki.’ Harap diingat. Pada awalnya lakukan satu pencatatan dalam satu langkah. Arahkanlah perhatian ke kaki selama meditasi jalan dan catatlah setiap gerakan dengan kewaspadaan yang tajam.’  Jangan membuka mata saat melakukan meditasi duduk. sebab konsentrasi akan terpecah. Hanya dengan melakukan meditasi jalan.  Jangan puas hanya dengan satu jam duduk.mudah.’ ‘sentuh. duduklah selama mungkin.M. dan melihat ke depan kira-kira empat atau lima kaki (30. dalam satu jam menditasi jalan.’ ‘dorong. seseorang dapat mencapai tingkat kesucian arahat. Jangan melihat ke kaki karena pikiran akan terpecah.’ ‘turun. yaitu jumlah tahapan langkah yang diamati perlahan-lahan ditambah. Kemudian diikuti dengan tiga tahapan ‘angkat. ini akan menyebabkan ketegangan dan pusing dalam waktu singkat. yogi boleh kembali kepada obyek meditasi yang utama (contohnya: ‘kembung’ dan ‘kempis’).

Maksudnya ia bukanlah seorang yogi karena ia tidak memiliki sati. Yogi telah dan akan memiliki banyak waktu untuk melihat sekeliling. Mata yang berkelana adalah suatu masalah yang sangat sulit bagi seorang yogi. yang perlu yogi lakukan hanyalah berperhatian penuh. Kewaspadaan terhadap aktivitas sehari-hari adalah kehidupan seorang yogi. Sekali yogi gagal mengamati aktivitasnya.Yogi tidak boleh melihat ke sekeliling selama melakukan meditasi jalan. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasinya. selama retret. Ada banyak hal baru yang akan ditemukan setiap harinya bila yogi memiliki perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. Hanya dengan konsentrasi yang dalam. Y.M. Yogi yang tidak dapat berperhatian penuh terhadap aktivitas sehari-hari. keadaan tanpa perhatian penuh akan semakin lebar. Mahāsi Sayadaw membandingkan seorang yogi dengan orang sakit yang bergerak dengan sangat lambat. Melakukan sesuatu dengan sangat perlahan. Kesinambungan diperlukan untuk membuat perhatian penuh berkembang dari satu saat ke saat berikutnya. Hal ini akan menimbulkan konsentrasi yang dalam. membuat pikiran menjadi terkonsentrasi. Jadi. dan paññā. seorang yogi dapat mengerti sifat dasar dari fenomena mental dan jasmani yang menuntunnya ke berhentinya dukkha. Berperhatian penuhlah terhadap setiap aktivitas sehari-hari. Dengan tidak mencatat aktivitas seharihari. yogi harus 77 . Catatlah ‘keinginan’ untuk melihat sekeliling. samādhi. berarti mengucapkan selamat tinggal pada konsentrasi. Kemampuan perhatian penuh (satindriya) dari seorang yogi melibatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan sepanjang hari. Dianjurkan untuk berlatih paling sedikit lima atau enam jam meditasi jalan dan duduk setiap harinya. berarti yogi kehilangan hidupnya. Perhatian terhadap Aktivitas Sehari-hari Meditasi vipassanā adalah cara hidup Sang Buddha. Jika yogi melakukannya selama retret. Yogi tak perlu terburu-buru. jangan mengharapkan kemajuan.

Rasa sakit tidak perlu memberitahu kedatangannya. Jangan membaca. ataupun mengingat. Ketiganya merupakan rintangan bagi kemajuan meditasi. yogi harus acuh terhadap sekeliling dan dengan semangat mencatat setiap aktivitas mental dan jasmani.terbiasa untuk perlahan-lahan. Mungkin saja rasa sakit itu tidak menghilang. Berbicara adalah kegiatan yang berbahaya terhadap perkembangan pandangan terang. yang ditimbulkan oleh perhatian penuh yang 78 . rasa sakit bukanlah suatu masalah. sakit dapat membawa yogi ke nibbāna. yogi tidak bisa melihat kipas angin tersebut sebagaimana adanya (tidak bisa melihat jumlah bilah pada kipas angin tersebut). Jika konsentrasi baik. Sebaliknya.dan menemukan sifat alamiah dari -rasa sakit tersebut. melafal. jangan menghindarinya. Hanya diacuhkan jika rasa sakit terlalu kuat. Berbicara lima menit dapat menghancurkan konsentrasi sepanjang hari. yogi dapat melihatnya sebagaimana adanya (dapat melihat dengan jelas jumlah bilah dari kipas tersebut). Jika rasa sakit datang. bila kipas itu berputar perlahan. karena temannya telah pergi. Kesimpulannya. Jika menghilang. Rasa sakit adalah kunci ke nibbāna. tapi untuk mengerti sifat alamiahnya. Beberapa yogi bahkan sengaja membuat rasa sakit dengan melipat kakinya di bawah badan. Rasa sakit dapat diatasi dengan konsentrasi yang dalam.’ Jika yogi mengamati rasa sakit dengan perhatian penuh. Hal itu hanyalah suatu proses alamiah yang tidak berbeda dengan ‘kembung’ – ‘kempis. Sakit dan Kesabaran Rasa sakit adalah teman seorang yogi. yogi mungkin akan menangis. langsung catat. Rasa sakit diamati bukan untuk membuatnya menghilang. pikiran akan tercerap ke dalam. Jika kipas angin berputar dengan cepat. yogi harus melakukan semua aktifvitasnya dengan perlahan agar bisa melihat proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Saat yogi dikelilingi oleh orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa.

… kantuk. Kelelahan/rasa kantuk dapat diatasi dengan menambah usaha/semangat. datang bersama konsentrasi yang dangkal. …” atau “kantuk. Ketidaksabaran membawa yogi ke neraka. …” atau “bahagia. Jika ada rasa sakit yang luar biasa ketika melakukan meditasi jalan. Keingintahuan dan pengharapan dengan pasti akan menghambat 79 . sedih.berkesinambungan. sedih. dan tepat. kantuk. Kemampuan ini tidak dapat dikesampingkan. …” kecuali jika yogi dapat mencatat pikiran yang berkelana. bahagia. maka proses berpikirnya akan berhenti. bahagia. Jika pikiran yogi tetap berkelana. Kesabaran membawa yogi ke nibbāna. Pandangan terang datang bersama dengan konsentrasi yang dalam. Jika yogi waspada terhadap pikirannya. itu berarti yogi belum melakukan pencatatan dengan semangat yang cukup. Keantusiasan dan kekhawatiran mengenai pencapaian konsentrasi dapat menyebabkan pecahnya konsentrasi itu sendiri. Jangan terikat pada berpikir atau teori. yogi kadang-kadang harus berhenti dan mencatatnya. pikir. kantuk. …” atau “kantuk. …” atau “sedih. Jika yogi tidak waspada terhadap isi pikirannya. Sabarlah terhadap apapun yang merangsang pikiranmu. …” tidak pelan seperti. pikir. bersemangat. proses berpikir akan berhenti dengan sendirinya. Sedangkan pikiran yang logis atau rasional. Aktivitas mencatat juga menolong. Catatlah pikiran dengan cepat seperti memukulnya dengan sebatang tongkat: “pikir. hal ini cenderung akan berlanjut. Kemudian. maka yogi tidak memiliki harapan untuk mengkonsentrasikan pikiran. Siapa bilang segala sesuatu dapat dinikmati? Mencatat Keadaan Mental dan Emosi Jika yogi mencatat keadaan mental atau emosi apapun. sehingga pikiran yang mencatat menjadi berkesinambungan dan kuat. “pikir. harus dilakukan dengan cepat. …pikir.

Manusia memiliki berbagai kekuatan dan kemampuan untuk melakukan banyak hal. ada kepuasan dalam setiap situasi dan yogi juga memiliki sedikit gangguan. dan seimbang. Viriyindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. Jika seorang yogi bangun jam tiga pagi. Kemudian. Sikap mental sangatlah penting. berikan kewaspadaan yang tajam. 2. Saddhindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. maka bangunlah dan berjalan. Jika yogi mengantuk. 80 . kuat. Satu minggu latihan hanyalah merupakan proses belajar. masalahnya adalah yogi enggan menggunakannya. berjalanlah dengan lebih cepat. Meditasi adalah kegiatan di luar batas ruang dan waktu. Jika tidak. Catatlah rasa kantuk dengan penuh semangat dengan melakukan pencatatan yang cepat. yogi akan mencapai ke-empat jalan dan hasilnya. latihan sesungguhnya dimulai setelah itu. yogi akan menikmati tidur. Jika yogi optimis. jangan pesimis. Lima Kemampuan Seorang Yogi (Pancindriya) Seorang yogi harus memiliki lima kemampuan ini dengan kokoh. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasi. jangan diam bersamanya. Lima kemampuan tersebut yaitu: 1. Itu bukanlah sikap yang tepat. yogi memberikan kesempatan pada dirinya sendiri. maju mundur di bawah sinar matahari. Bila hal ini muncul. jadi jangan terikat oleh ruang & waktu. Yogi harus BERJUANG.kemajuan yogi. maka yogi harus menambah usahanya dalam berlatih. Yogi tidak boleh menunggu sampai jam empat pagi (selama retret. Sebenarnya semangat untuk mencatat selalu ada. tajam. bukan MENCOBA! Jika yogi memberi usaha yang cukup. Jika yogi masih mengantuk ketika bangun. yogi harus bangun jam empat pagi). yogi harus bangun untuk bermeditasi.

Yogi harus penuh pengertian. komunikasi yang efektif antara instruktur dan yogi sangatlah penting. kecuali yogi memiliki alasan untuk melakukannya. semangat harus seimbang dengan konsentrasi. Perhatian penuh adalah kemampuan yang paling penting. janganlah membuang waktu. yogi harus melapor ke instruktur meditasi untuk mengetahui perkembangan latihannya. Paññindriya : perhatian penuh yang berkesinambungan dan dapat bertahan lama. Tenang dan terbuka. Yogi yang berikutnya harus siap disamping yogi yang sedang diwawancara. Setelah melaporkan tentang apa yang yogi lakukan dan alami dalam meditasinya. Samādhindriya 5. yogi bisa datang sesudah jadwal yang telah ditentukan. Perhatian penuh tidak perlu seimbang dengan faktor yang lainnya. Duduk dan berperhatian penuhlah sampai dipanggil. Oleh karena itu. : konsentrasi yang mendalam : kebijaksanaan yang menembus. bicaralah dengan jelas dan 81 . gugup. tiap grup diberikan jadwal yang berbeda untuk melapor ke sayadaw. atau takut. jika tidak ada faktor yang menghalangi latihan meditasinya. instruktur akan memperbaiki. Kelima kemampuan di atas harus seimbang untuk mencapai pandangan terang. yang dapat membawa keepat faktor yang lain ke tujuan. Pada waktu retret. Satindriya 4. Seorang yogi tidak boleh mencoba untuk datang sebelum waktu yang dijadwalkan. Ketika sedang menunggu giliran di dalam grup. terutama jika masih banyak yogi lain yang menunggu. karena waktu sangat berharga.3. Sebaliknya. Wawancara atau Waktu Melapor Setiap hari. Lapor dengan singkat dan tepat pada sasaran. pandangan terang. Keyakinan (saddhā) harus seimbang dengan kebijaksanaan (paññā). Jangan menjadi bersemangat. memberi petunjuk lebih jauh atau memberikan semangat untuk kemajuan yang lebih baik.

tanyakanlah. karena hal ini dapat menggangu konsentrasi. hanya setelah yogi selesai menceritakan pengalaman-pengalamannya. komentar akan diberikan. Dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan ikuti instruksi dengan tepat dan rajin. Jangan menunggu komentar. Laporkanlah semua pengalaman walaupun pengalaman tersebut terihat tidak penting. Jika ada keraguan. Jawablah jika ditanya. Datang dan meninggalkan tempat wawancara dengan perhatian penuh. 82 . Jangan bergumam atau berbisik.terdengar seluruh kalimatnya. Membuat catatan-catatan singkat segera setelah latihan meditasi dapat membantu. tetapi seorang yogi tidak boleh dan jangan membuat catatan itu sebagai suatu hal yang harus diingat selama meditasi. jangan berbicara mengenai hal lain.

LAMPIRAN II JADWAL MEDITASI 03:00 03:00 – 04:00 04:00 – 05:00 05:00 – 06:00 06:00 – 07:00 07:00 – 08:00 08:00 – 09:00 09:00 – 10:00 10:00 – 11:00 11:00 – 12:00 12:00 – 13:00 13:00 – 14:00 14:00 – 15:00 15:00 – 16:00 16:00 – 17:00 17:00 – 18:00 18:00 – 19:00 19:00 – 20:00 20:00 – 21:00 21:00 Bel bangun pagi Meditasi jalan Metta chanting / meditasi duduk Meditasi jalan Makan pagi / mandi / bersih-bersih Meditasi jalan Meditasi duduk / interview Meditasi jalan / interview Meditasi duduk Makan siang Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Meditasi jalan / interview Meditasi duduk / interview Meditasi jalan Minum sore / mandi / bersih-bersih Dengar ceramah Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Istirahat 83 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful