MEDITASI VIPASSANĀ

CERAMAH MENGENAI MEDITASI PANDANGAN TERANG

O L E H

SAYADAU U JANAKABHIVAMASA

CHANMYAY YEIKTHA YANGON, MYANMAR

I

DAFTAR ISI: Bab Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Bab I : Kebahagian Melalui Pengertian Benar Bab II : Instruksi Awal Bagi Yogi Bab III : Tujuh Manfaat Meditasi Vipassanā Bab IV : Empat Landasan Perhatian Penuh Bab V : Tujuh Tingkat Pemurnian Bab VI : Sembilan Cara Untuk Menajamkan Bab VII Lampiran I Lampiran II Kemampuan Mental : Lima Faktor Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Yogi 73 83 Halaman: I II 1 15 24 38 48 57 66

II

KATA PENGANTAR Sudassam Vajjamaññesam Attano pana duddasam Mudah terlihat kesalahan orang lain Sulit melihat kesalahan diri sendiri Dhpd. 252 Pernyataan ini sangatlah cocok untuk para yogi. Seorang yogi terus membuat kesalahan yang sama dan tetap tidak mengetahui hal itu, sampai seorang yang lebih pandai dan berpengalaman datang menunjukkannya. Kemudian selang beberapa waktu, kita mungkin lupa dan perlu diingatkan kembali. Pada tanggal 30 Maret sampai dengan 8 April 1983, kami sangat beruntung atas kedatangan seorang guru besar yang sangat berpengalaman memberikan retret di Pusat Meditasi Buddha Malaysia, Penang, untuk menuntun, mengajar, mengkoreksi dan mengingatkan kita tentang latihan meditasi vipassanā. Kita semua mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa dengan bimbingan beliau yang sangat detil, dan disiplin yang sangat tinggi serta katakata yang membangkitkan semangat. Kami di sini mempunyai komplikasi dari seluruh kegiatan retret tersebut untuk keuntungan para pencari keselamatan tertinggi. Kompilasi tersebut terdiri dari ceramah sore yang disampaikan oleh Sayadaw U Janakabhivamsa untuk keuntungan para yogi. Selain itu beberapa wejangan yang sebagian besar diambil dari wawancara antara Sayadaw dengan para yogi. Semua itu telah disusun berdasarkan kategori tertentu dan dijadikan sebuah buku kecil yang cukup lengkap. Beberapa pernyataan hanya dapat diterapkan dalam situasi tertentu dan tidak dapat diaplikasikan secara umum. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sayadaw yang telah mengijinkan kami untuk mencetak buku ini dan membantu untuk mengkoreksi buku ini sendiri. I

Kami juga sangat berterima kasih kepada mereka yang telah membantu mewujudkan buku ini. Venerable Sujiva Juni 1985.

II

Royce Willes.UCAPAN TERIMA KASIH Ini adalah kehormatan bagi saya bahwa kita dapat menerbitkan edisi baru dari buku Meditasi Vipassanā ini yang mana sejauh ini telah dicetak tiga kali di Malaysia & Myanmar. Saya berterima kasih sekali kepada mereka semua. Bhikkhu Pasala dari Vihara Burma di London. 5 November 1992. Malaysia. Maung Aung Gyi dan Maung Myint Oo. April 1983. Edisi baru ini disusun sewaktu saya mengadakan perjalanan Dhamma di Negara bagian Barat pada tahun 1992. Bhikkhu Malaysia. memberikan kepada saya seorang asisten yang tidak ternilai. Ashin Janakabhivamsa. Chanmyay Sayaday III . yang telah memperbaharui bahasa dalam naskah yang dimasukkan ke dalam komputer oleh U Dhammashubha. murid meditasi saya. Kami sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Bhikkhu Sujiva untuk usahanya yang tidak mengenal lelah dalam menyusun dan mengedit ceramah-ceramah dan wejangan-wejangan yang saya berikan untuk keuntungan semua yogi dalam retret yang diadakan di Penang.

Penyebab Penderitaan Sang Buddha menemukan sebab dari penderitaan (dukkha). Apapun yang ada di dunia ini mempunyai sebab. Beliau menemukan penyebab dari penderitaan adalah “kemelekatan” (tanhā). Salah satu agama terbaik di dunia adalah agama Buddha. nafsu. Tanhā muncul karena suatu sebab. yang menuntun orang pada berakhirnya penderitaan. Menurut ajaran Beliau. tidak ada sesuatu yang muncul tanpa sebab. Jadi. Cendikiawan agama Buddha menterjemahkan tanhā sebagai kemelekatan sehingga hal itu meliputi semua bentuk keinginan. Bila ada tanhā pasti ada penderitaan (dukkha). Jika tak ada sebab. kami menggunakan kata kemelekatan untuk tanhā. Ketika Sang Buddha yang Maha Tahu mencapai penerangan sempurna. segala sesuatu muncul karena suatu kondisi. Inilah sebabnya mengapa orang mencari jalan kebenaran yang menuntun mereka pada berakhirnya penderitaan. Ketika seseorang dapat melenyapkan tanhā. dan kesukaan. di dalam bahasa Indonesia. dia pasti dapat melenyapkan penderitaan (dukkha). Beliau harus menemukan penyebabnya. Ketika penyebabnya telah dimusnahkan.NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMĀSAMBUDDHASSA BAB I KEBAHAGIAAN MELALUI PENGERTIAN BENAR Setiap orang di dunia ini menginginkan kebahagian dan kedamainan. 1 . keinginan. Semua agama di dunia ini muncul karena alasan ini. Ketika Sang Buddha ingin menghentikan penderitaan (dukkha). pendambaan. Tanhā atau kemelekatan adalah penyebab dari penderitaan. maka tidak akan ada akibat. Pengertian dari kata tanhā adalah keserakahan.

Dalam agama Buddha aliran Theravada. hanya mengenal fenomena mental dan jasmani. maka kemelekatan tidak akan timbul. Kata mental lebih berhubungan dengan pikiran.tanhā tidak akan muncul. Ketika pandagan salah telah dimusnahkan. penderitaan adalah akibatnya. berhentinya penderitaan dicapai (Nirodha-sacca). Sang Buddha yang Maha Tahu menemukan bahwa penyebab dari kemelekatan adalah pandangan salah. maka tidak akan ada penderitaan. misalnya. pengertian benar ini akan membasmi ketidaktahuan/kebodohan. maka tidak akan ada pandangan salah terhadap jiwa. diri. ‘aku’ atau ‘kamu. sedangkan kata batin lebih berhubungan dengan jiwa (kamus bahasa Indonesia). Kemudian kita mengetahui. dan makhluk. Jadi sakkāya-ditthi atau atta-ditthi adalah sebab dari tanhā yang menyebabkan penderitaan (dukkha) muncul. diri. Ketika kemelekatan telah dimusnahkan. tidak ada jiwa/roh 2 . Pandangan salah sebagai sebab. Lalu apa apa yang menjadi sebab dari pandangan salah ini (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi)? Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa ketidaktahuan/kebodohan (moha atau avijjā) dari proses alamiah mental dan jasmani yang menjadi penyebab dari pandangan salah terhadap jiwa atau diri.’ kepribadian atau individu yang dikenal sebagai sakkāya-ditthi atau atta-ditthi. seseorang. pandangan salah terhadap jiwa. 1 Mental digunakan sebagai pengganti kata batin. Lalu kita mencapai tingkat dimana semua penderitaan tidak akan muncul. Tanhā adalah keadaan mental1 dan proses mental yang terkondisi. Ketika ketidaktahuan/kebodohan telah dibasmi. Sehingga dengan merealisasi atau pengertian benar tentang proses mental dan jasmani secara alamiah. jika proses mental dan jasmani dapat dimengerti dengan benar. pandangan salah (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi) adalah akibatnya. kita akan membasmi kebodohan. Kemudian kita dapat mengetahui hukum sebab dan akibat. Kita dapat menyimpulkan hubungan dari sebab dan akibat seperti ini: ketidaktahuan/kebodohan sebagai sebab.

atau makhluk. atau diri. hal itu akan membawa berbagai macam penderitaan. Kesedian adalah salah satu jenis penderitaan utama. kita khawatir akan rumah itu. Hal ini muncul disebabkan oleh pandangan salah terhadap seseorang atau makhluk. seperti telah saya jelaskan sebelumnya. sehingga kita menganggap proses mental dan jasmani ini sebagai seseorang. presiden dan yang lainnya. jiwa. Ketika kita melekat kepada anak-anak kita. ketika kita melekat terhadap saudara. ’aku’ atau ’kamu’ mempunyai keinginan untuk menjadi kaya. adalah kemelekatan.’ Jika kita ingin melenyapkan keinginan atau kemelekatan. jiwa atau diri. Jika rumah itu terbakar. perdana menteri atau konglomerat. makhluk. konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. makhluk tersebut. tidak ada muncul lagi kemelekatan atau keinginan untuk menjadi orang kaya. presiden dan seterusnya. Demikian juga. ‘aku’ atau ‘kamu. orang tersebut. jiwa atau diri. presiden. diri. katika pandangan salah ini telah dimusnahkan. ‘aku’ atau ‘kamu. Kemudian. seseorang.Sebab dari Pandangan Salah Kita harus mempertimbangkan bagaimana kebodohan dari proses mental dan jasmani menyebabkan pandangan salah tentang jiwa. kita harus melenyapkan penyebabnya. Apakah penyebabnya? Penyebab dari keinginan atau kemelekatan adalah. Saat kita melekat kepada rumah dan benda mati lainnya. Jadi. dan bagaimana pandangan salah ini menyebabkan munculnya kemelekatan. anak-anak atau orang tua kita. kita 3 . raja. mendapat atau memiliki sesuatu muncul karena konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. Keinginan untuk menjadi. ratu. Hal ini dikarenakan kita tidak mengerti dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebanarnya. teman-teman. kemelekatan ini juga menyebabkan kita menderita. kita menjadi sedih. Keinginan untuk menjadi ratu. raja. Penderitaan tersebut disebabkan oleh kemelekatan kita pada rumah kita. ‘aku’ atau ‘kamu’.’ Ketika keinginan atau kemelekatan itu muncul di dalam diri kita.

kita khawatir. saat melihat sebuah jam tangan. dan berperhatian penuh pada saat ’sesuatu’ tersebut terjadi. Penderitaan ini adalah penderitaan mental. tanpa berfilsafat.’ Jika konsep kepribadian dan individu ini telah dihancurkan. mempunyai waktu internasional. saya akan menganggap jam tangan itu merek Omega. Kita sudah menggunakan pemikiran yang ada ketika kita melihat jam tangan tersebut. mengawasi. Jadi. tanpa berlogika. kasihan. Kita harus sangat waspada dan perhatian penuh pada ’sesuatu’ tersebut sebagaimana adanya. rancangan. kemelekatan (tanhā) adalah sebab dari penderitaan. dan bentuknya. kita harus mengamati. tidak akan ada penderitaan. Tetapi jika kita tidak mengamatinya sebagaimana adanya. kita akan melihat merek. dan disebabkan oleh kemelekatan terhadap anak-anak kita. jadi pemikiran itulah yang menuntun 4 . Jika anak kita tidak lulus ujian. Darimana asal kemelekatan ini? Kemelekatan ini berasal dari konsep yang salah terhadap proses mental dan jasmani yang dianggap sebagai seseorang atau makhluk. Ketika kita ingin memahami ’sesuatu’ sebagaimana adanya. kita akan mengerti sifat alamiahah yang sesungguhnya. bila pengamatan kita dikombinasikan dengan ide-ide yang sudah ada seperti “saya pernah melihat jam tangan dan mereknya adalah Omega. jiwa atau diri. kita tidak memahami jam tangan tersebut sebagaimana adanya. Ketika kita tidak mengamati jam tangan dengan perhatian penuh dan hati-hati. pendidikan dan seterusnya. dan tanpa berprasangka.” lalu setiap kali saya melihat jam tangan. Kenapa? Karena kita tidak pernah mengamatinya dengan perhatian penuh dan dari dekat.khawatir akan kesehatan mereka. Sebagai contoh. tanpa menganalisanya. dan sedih. Melihat Sebagaimana Adanya Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa dengan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. maka tidak akan ada lagi kemelekatan. dan sebagainya. Bila tidak ada kemelekatan. ‘aku’ atau ‘kamu. Kita akan mengetahui bahwa itu adalah jam tangan merek Seiko. Jika kita mengamati dengan perhatian penuh dan dari dekat.

Ketika kita merasa sakit.kita kepada kesimpulan yang salah mengenai jam tangan tersebut. Pengertian benar ini akan memandu kita guna meyingkirkan kebodohan. kita harus berperhatian penuh pada perasaan duka tersebut sebagai berduka. kita harus mencatat perasaan panas itu sebagai perasaan panas. atau ide yang sudah ada. kita mencatatnya sebagai sakit. Kita mengerti sebagaimana adanya karena kita telah menyingkirkan ide ‘Omega’ sewaktu kita mengamati jam tangan tersebut. makhluk. Kita harus meninggalkan cara-cara di atas dan berperhatian penuh pada apa yang dari fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. Ketika kita merasa marah. sehingga kita dapat mengerti dengan benar berdasarkan sifat alamiahah yang sebenarnya. kita harus mencatat perasaan dingin itu sebagai perasaan dingin. kita tidak menganggap proses mental dan jasmani sebagai seseorang. dibuat di Jepang. Jika kita menganggap proses mental dan jasmani sebagai suatu proses alami. dan juga mempunyai waktu internasional. Ketika kita merasa berduka. Dengan cara yang sama. atau diri. Bila kita merasa dingin. ketika kita ingin mengetahui dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya atau sebagaimana adanya. Ketika kita merasa sedih atau kecewa. Ketika kita merasa bahagia. Setelah kebodohan disingkirkan. kita mencatat kemarahan sebagai kemarahan. kita terbebas dari semua jenis penderitaan dan mencapai keadaan terhentinya 5 . kita harus menyadari keadaan emosi dari kesedihan dan kekecewaan kita sebagaimana adanya. jiwa. Jika kemelekatan telah dihancurkan. maka tidak akan muncul kemelekatan. Kita juga tidak akan menggunakan alasan atau pengetahuan intelektual. kita tidak boleh menganalisa atau memikirkannya. Ketika kita merasa panas. Jika kita dapat menyingkirkan ide-ide yang sudah ada tersebut dan hnaya mengamati dengan perhatian penuh dari dekat. kita mencatatnya sebagai bahagia. kita akan mengetahuinya sebagaimana adanya: jam tangan tersebut adalah merek Seiko. Setiap proses mental dan jasmani harus diamati sebagaimana adanya.

” Dalam kotbah ini. sensasi sakit. itu berarti kita melekat terhadapnya. Inilah sebabnya Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan kotbah tentang ”Empat Landasan Perhatian Penuh. Perhatian penuh pada obyek-obyek pikiran (Dhammānupassanā Satipatthāna) Tak Ada Pilihan Untuk Kesadaran Ketika kita berperhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani. Sang Buddha mengajarkan kita untuk berperhatian penuh pada fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. Ketika rasa sakit hilang karena pengamatan yang mantap dan perhatian penuh. pikiran tidak bisa tetap memegang obyek tersebut jika ada rasa sakit yang lebih kuat atau jelas. Jadi kita tidak perlu memilih obyek tetapi harus mengamati obyek yang pikiran pilih. pikiran akan memilih 6 . Pikiran yang mencatat akan beralih ke sakit dan mengamatinya karena perasaan yang lebih jelas mengalihkannya dengan sangat kuat. atau gerakan kembung-kempisnya perut. Perhatian penuh pada perasaan atau sensasi (Vedanānupassanā Satipatthāna) 3. Perhatian penuh pada proses jasmani (Kāyānupassanā Satipatthāna) 2. Pikiran akan memilih obyek dengan sendirinya. Walaupun kita coba memfokuskan pikiran pada gerakan kembung-kempis perut. kita tidak perlu memilih apakah proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi kita. pikiran yang mencatat/mengamati akan memilih obyeknya sendiri. Jadi. Ada banyak cara untuk tetap berperhatian penuh pada proses mental dan jasmani. barangkali perasaan bahagia dari kesuksesan kita. Perhatian penuh pada pikiran (Cittānupassanā Satipatthāna) 4. perhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani sesuai sifat alamiahnya adalah jalan yang menuntun kita ke keadaan terhentinya penderitaan.penderitaan. tetapi semua itu dapat diringkas sebagai berikut: 1. Selama latihan meditasi. Jika kita memilih proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi.

gerakan menyendok itu harus diamati. kita harus menyadari gerakan merentang. setiap gerakan yang terjadi dalam kegiatan makan harus diamati sebagaimana adanya karena karena setiap proses jasmani harus dimengerti dengan penuh sehingga dapat menghancurkan kebodohan yang menyebabkan pandangan salah. saat kita mandi. Ketika tangan menyentuh sendok atau nasi. Jika perasaan bahagia lebih kuat dari gerakan kembung-kempisnya perut. setiap aktivitas yang terlibat dalam kegiatan makan. misalnya. dan menurunkan harus diamati dengan cermat dan tepat sebagaimana adanya. bahagia. pikiran akan memilih. Dalam hal ini. pikiran akan memilih perasaan bahagia sebagai obyek dan mengamatinya sebagai ‘bahagia. Ketika kita mencyendok kari. mendorong. bahagia. gerakan mencelup itu harus diamati. gatal. gerakan kembung-kempisnya perut sebagai obyek karena gerakan tersebut lebih jelas dari obyek yang lainnya. Sewaktu kita mengambil makanan. sensasi sentuhan harus diamati. tapi juga sangat efektif dalam mencapai tujuan kita . Meditasi vipassanā tidak hanya sederhana dan mudah. mengawasi atau berperhatian penuh pada semua fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. gerakan kaki seperti mengangkat.obyek lain yang lebih jelas.’ Jadi prinsip dari meditasi vipassanā atau medistasi perhatian penuh adalah mengamati.lenyapnya penderitaan. kita harus menyadari setiap gerakan. saat bekerja di kantor atau rumah. Ketika kita menrentangkan tangan. kita harus menyadari setiap gerakan yang terlibat. karena kekuatan perhatian penuh dan konsentrasi yang dalam. pikiran akan beralih ke perasaan gatal dan mengamatinya sebagai ‘gatal. Ketika kita mencelupkan sendok ke dalam kari. Jika perasaan gatal di punggung lebih jelas dari pada gerakan kembung-kempisnya perut. Jika kita memegang sendok.’ Ketika perasaan gatal hilang. Dengan cara yang sama. Sewaktu melatih meditasi jalan dalam retret. 7 . sensasi dari kegiatan memegang sendok harus diamati. gatal.

jhāna) 8 . hasil meditasi samatha adalah pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. pikiran sering berkelana. Pikiran harus mengikuti pergerakan kaki semaksimal mungkin sebagaimana adanya. yogi dapat mengembangkan konsentrasi lebih dalam dari sebelumnya. Hal ini juga sangat membantu yogi untuk memusatkan pikirannya pada obyek meditasi. Jadi. Tetapi. kita harus mencatat sebagai “dorong.” Samatha dan Vipassanā Di sini. Samatha berarti konsentrasi. turun. Jika pikiran terkonsentrasi dengan mendalam pada obyek meditasi. berpikir.” Pencatatan atau pemberian sebutan dapat mengarahkan pikiran kita ke obyek meditasi lebih dekat dan lebih tepat. kita harus mencatatnya sebagai “turun. Saat kita mengangkat kaki untuk berjalan. mungkin ada beberapa yogi yang tidak perlu mencatat atau menyebut obyek meditasinya. Jika yogi berpikir masalah keluarga. tanpa berpikir atau menganalisa. ketenangan. Jika pikiran berkelana. yogi harus meneruskan berjalan dan mencatat seperti semula “angkat. dorong. Tujuan meditasi samatha adalah untuk mencapai konsentrasi pikiran yang dalam pada satu obyek. Dengan cara ini. kita harus mencatatnya sebagai “angkat. pikiran menjadi tenang dan damai. dorong.” Dengan cara ini kita catat. kita harus mengetahui perbedaan antara meditasi samatha dan vipassanā.” Saat kita mendorong kaki ke depan. Pada permulaan latihan.” Setelah pikiran tersebut lenyap. turun. “angkat. kedamaian. pikiran tersebut harus diamati sebagaimana adanya dan catat “berpikir. angkat. dorong. turun. mereka hanya mengamatinya.” Saat kita menurunkan kaki.Labelling Kita mungkin perlu mencatat atau memberi sebutan jika kita sedang berperhatian penuh pada suatu obyek. berpikir. Mereka hanya harus mengamati gerakan kaki dari permulaan gerakan mengangkat hingga akhir dari gerakan menurunkan. yogi harus mengikuti pikiran dan mengamatinya.

jhāna) atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). Ketika pikiran terkonsentrasi dengan dalam pada obyek meditasi. Seorang yogi samatha harus membuat peralatan tertentu atau kasina sebagai obyek meditasi. yogi harus membuat lingkaran merah di dinding lebih kurang 2 kaki dari lantai. Jika pikiran berkelana. kesedihan. semua kekotoran mental seperti nafsu. dan sebagainya. hasil meditasi samatha adalah kebahagian dalam batas tertentu dikarenakan pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. dan halus. Konsentrasi ini dapat dicapai melalui perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan terhadap proses mental dan jasmani. merah. kesemutan. kesombongan. keinginan. kita memiliki berbagai macam obyek meditasi: kebahagian adalah sebuah obyek meditasi dan begitu juga dengan kemarahan. kemudian yogi harus duduk sekitar 2 kaki dari obyek tersebut. kebodohan mental dan seterusnya terlepas dari pikiran yang terserap pada obyek. Jadi. kita merasa tenang. sensasi rasa sakit. kebencian. Saat pikiran terbebas dari segala kekotoran mental atau rintangan mental. tapi yogi harus membawa pikirannya kembali ke obyek meditasi. kekakuan. Yogi harus memusatkan pikirannya pada lingkaran merah tersebut dan mengamatinya sebagai “merah. Bila kasina tersebut sudah jadi. rata. Menurut kitab komentar visuddhimagga. lihat dan berkonsentrasi pada kasina tersebut. keserakahan. tujuannya adalah untuk mencapai berhentinya penderitaan melalui pengertian yang benar terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. merah. Yogi harus membuat lingkaran merah sebesar piring dan warnanya harus merah murni. Oleh karena itu. kita memerlukan suatu tingkat konsentrasi tertentu. Tetapi meditasi samatha tidak membuat kita mengerti dengan benar tentang fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. Segala macam proses mental 9 . yogi tidak boleh mengikuti pikirannya. Sedangkan untuk meditasi vipassanā. contohnya. Untuk ini. dan bahagia.atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). untuk membuat kasina warna. damai. dalam hal ini adalah lingkaran merah.” Ini adalah keterangan singkat dari cara berlatih meditasi samatha.

pikiran mencatat sebagai angkat. karena kemelekatan tidak muncul. tidak akan ada kemelekatan atau keinginan yang menyebabkan penderitaan (dukkha). dan turun. Kita mencapai berhentinya penderitaan ketika mengalami proses gerakan mengangkat. jiwa atau diri. Jadi. dan menurunkan. kita mencatat gerakan kaki seperti biasa. demikian juga metodenya. ketika kaki didorong ke depan. mendorong. Ketika pikiran terkonsentrasi pada gerakan kaki dengan baik. Ketika kaki diangkat. mendorong. Gerakan mengangkat adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. pikiran kita tidak terkonsentrasi pada kaki dengan baik. dorong. kita mengamati pergerakan kaki. Kita harus kembali pada apa yang telah saya jelaskan sebelumnya. Pada permulaan latihan. yang kita catat adalah gerakan mengangkat. Kita mengerti dengan benar bahwa kedua proses ini adalah proses alami dari fenomena mental dan jasmani. Dengan cara ini. dan meletakkan sebagai proses yang alami. kita harus mengikuti dan mengamatinya hingga pikiran yang berkelana tersebut hilang.dan jasmani dapat dijadikan obyek meditasi. Gerakan mendorong adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. kita juga menyadari bahwa pikiran yang melakukan pencatatan. Hanya setelah pikiran yang berkelana itu hilang. ‘aku’ atau ‘kamu. kita mengerti sepenuhnya dua proses dari fenomena mental dan jasmani. 10 . Kita tidak menganggap mereka sebagai seseorang. Kita tidak boleh memperhatikan bentuk kaki atau bentuk badan selama berjalan. Tujuan dan hasil meditasi samatha dan vipassanā adalah berbeda. yaitu: angkat. pikiran mencatatnya sebagai turun. Saat pikiran berkelana. Ketika kita berjalan. ketika kaki diturunkan. tidak akan muncul penderitaan yang sebenarnya adalah hasil dari kemelekatan. makhluk.’ Kemudian tidak akan ada pandangan salah terhadap seseorang. Ketika pandangan salah ini telah dihancurkan. Ketika kita menyadari semua gerakan sebagai proses alamiah. individu. pikiran mencatat sebagai dorong.

Setiap proses gerakan adalah tidak kekal (annica). tidak ada jiwa. makhluk. yogi mencapai tingkat kesucian pertama.Seiring dengan berjalannya latihan. Ini adalah realisasi dari anatta. Saat mengalami hal tersebut. atau diri. Ketika konsentrasi menjadi dalam dan kuat. kita menjadi mengerti bahwa tidak ada proses yang kekal dan abadi. Setelah mencapai tingkat terakhir. Sehingga kita menyadari banyak rangkaian dari gerakan mengangkat yang muncul dan tenggelam satu per satu. yogi merealisasi empat kenenaran mulia: Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : kebenaran tentang penderitaan : kebenaran tentang asal-mula penderitaan : kebenaran tentang berhentinya penderitaan : kebenaran tentang jalan menuju berhentinya penderitaan 11 . dan menjadi kuat. Dengan perhatian penuh yang konstan dan kuat. Kemudian kita menyadari satu dari tiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. jadi hal ini bukanlah merupakan proses yang baik melainkan buruk. Dengan cara ini semua yogi melewati tingkat pengetahuan pandangan terang dari proses mental dan jasmani satu demi satu. kita tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang abadi . penderitaan (dukkha). konsentrasi menjadi lebih dalam dan kuat. ataupun ego. Jadi kita merealisasikan tiga karakteristik dari fenomena mental dan jasmani. hanya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. diri. perhatian penuh kita menjadi lebih konstan. tidak kekal (annica). Saat kita menyadari ketidakkekalan dan penderitaan adalah sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. kemudian pengertian atau pandangan terang kita terhadap proses mental dan jasmani menjadi jelas. dan tidak ada jiwa atau diri (anatta).seseorang. jiwa. sotāpatti-magga. berkesinambungan. muncul dan tenggelam dengan sangat cepat. Pada saat pencapaian tingkat kesucian pertama. yaitu penderitaan (dukkha).

Bagaimanapun besar usaha yang dilakukan 12 . ia harus melakukan usaha. usaha ini adalah “usaha benar” (sammā vayāmā). Sammā vayāmā : usaha benar 7. karena ini yang menuntun yogi kepada pengertian benar tentang proses proses mental dan jasmani. Karena usahanya itu. tetapi ketika konsentrasi menjadi berkesinambungan dan konstan. Adalah hal yang wajar bila pikiran mengembara saat permulaan latihan. perhatian ini terkonsentrasi pada gerakan kaki untuk sesaat. Sammā sankappa : pikiran benar 3. konsentrasi itulah yang disebut “konsentrasi benar” (sammā samādhi). bila yogi bisa melenyapkan kemelekatan maka yogi mencapai berhentinya penderitaan. Perhatian penuh inilah yang disebut “perhatian benar” (sammā sati). yogi sedang mengembangkan jalan mulia beruas delapan (walaupun tidak lengkap). Bagaimana? Ketika ia memfokuskan pikirannya pada gerakan kaki. Ketika perhatiannya terfokus pada gerakan kaki. Sammā sati : perhatian benar 8. kuat dan dalam. Sammā ditthi : pengertian benar 2. Realisasi Jalan Mulia Beruas Delapan Pada saat itu yogi telah mengembangkan dengan lengkap jalan mulia beruas delapan: 1. Jadi. Sammā kammanta : perbuatan benar 5. sebagai contoh: proses mental dan jasmani. Sammā vācā : ucapan benar 4. Sammā ājīva : penghidupan benar 6.Ketika yogi menyadari perubahan dari fenomena mental dan jasmani. yogi dapat berperhatian penuh pada gerakan kaki. berarti yogi telah menyadari penderitaan. Sammā samādhi : konsentrasi benar Sejak yogi dapat mengkonsentrasikan pikirannya pada tingkat yang lebih tinggi pada suatu obyek meditasi. Hasilnya. yogi mengetahui bahwa kemelekatan adalah sebab dari penderitaan.

Sammā sankappa : pikiran benar 5. kita telah mengembangkan lima faktor mental dari jalan mulia beruas delapan ketika kita berperhatian penuh pada gerakan kaki. Terhindar dari perbuatan yang tidak benar berarti “perbuatan benar” (sammā kammanta). Dengan demikian. Saat kita mengembangkan jalan mulai beruas delapan. Pengetahuan atau pengertian tentang proses gerakan jasmani sebagai proses alami adalah “pengertian benar” (sammā ditthi). Pada saat melatih meditasi pandangan terang. yaitu gerakan kaki. Karakteristik dari “pikiran benar” adalah mengarahkan pikiran pada obyek meditasi. dan penghidupan yang tidak benar. kita dapat menghilangkan pandangan salah (sakkāya-ditthi 13 . Jadi kita menjalani delapan faktor mental dalam jalan mulia beruas delapan jika kita berperhatian benar pada semua proses mental dan jasmani. perbuatan yang tidak benar. pada saat permulaan pikiran tidak dapat terpusat pada gerakan kaki. Dengan cara ini. mengetahui hal ini sebagai proses alami. Sammā samādhi : konsentrasi benar 4. Sammā ditthi : pengertian benar Kelima faktor mental ini sudah tercakup dalam perhatian penuh dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Terhindar dari penghidupan yang tidak benar berarti “penghidupan benar” (sammā ājīva). Sammā vayāmā : usaha benar 2. kita berusaha menghindar dari berbicara yang tidak benar. Kemudian. pikiran menjadi terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Sammā sati : perhatian benar 3. Kemudian. Yaitu: 1. konsentrasi tersebut menembus/menguak sifat alamiah dari proses gerakan jasmani.seorang yogi. Terhindar dari berbicara yang tidak benar berarti “berbicara benar” (sammā vācā). Keadaan mental yang membimbing pikiran ke obyek meditasi adalah “pikiran benar” (sammā sankappa). salah satu keadaan mental yang muncul bersamaan dengan perhatian benar pada gerakan kaki membimbing pikiran pada obyek meditasi (gerakan kaki).

salah satu faktor dari jalan mulia beruas delapan.atau atta-ditthi) dengan kekuatan pengertian benar (sammā ditthi). yaitu: dengan mengembangkan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Inilah caranya seorang yogi menyadari Empat Kebenaran Mulia. 14 . Jadi saat seorang yogi memasuki jalan kesucian yang pertama (sotapātti magga). jalan menuju berhentinya penderitaan. yogi tersebut telah mengembangkan jalan mulia beruas delapan (magga sacca) dengan lengkap.

Sīla keempat. yang dikenal dengan Patimokkha. Sama dengan sīla ketiga dan kelima. itu berarti mengendalikan perkataan dan perbuatan. kita menghindari pembunuhan. menghindari pencurian dan mengambil barang yang tidak diberikan pemiliknya. perbuatan asusila. Sīla kedua. contoh: setidaknya melatih lima sīla (pañcasīla) atau delapan sīla (atthanggasīla) untuk umat awam.BAB II INSTRUKSI AWAL BAGI YOGI Dalam ajaran Sang Buddha. contoh: menghindari perbuatan asusila dan mengkonsumsi zat yang dapat melemahkan kesadaran. berbohong. Ketika kita menghindari perkataan dan perbuatan tidak baik. dan mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran. kita menjalankan sīla dengan baik dan benar. pencurian. berarti menghidari perbuatan buruk. Sīla pertama. yogi harus menjalankan delapan sīla sehingga yogi dapat mencurahkan waktu lebih banyak untuk bermeditasi. Oleh karena itu. Sīla keenam berarti tidak makan setelah tengah hari (setelah jam 12:00 sampai besok pagi). terdapat tiga jenis latihan: * Latihan moral (sīla) * Latihan konsentrasi (samādhi) * Latihan kebijaksanaan (pañña) Ketika kita melatih sīla. Walaupun yogi tidak boleh makan 15 . jika kita menghindari ucapan dan perbuatan tidak baik. menghindari pembunuhan. menghindari berbohong yaitu menghindari ucapan tidak benar dan tidak baik. berarti menghidari perbuatan buruk. sīla kita telah dijalankan dengan baik. Ketika kita menjalankan lima sīla. Para bhikkhu dan bhikkhuni (sangha) melatih 227 sīla. Selama mengikuti latihan meditasi.

yogi harus menghindari menari. ‘vi’ mengacu pada tiga karakteristik dari mental dan jasmani. Sīla kedelapan adalah menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. Kitika kita melatih meditasi vipassanā atau meditasi pandangan terang. Sīla ketiga dari delapan sīla mengacu pada penghindaran dari dari segala aktivitas seksual. 16 . ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha). tujuannya adalah mengerti dengan benar tiga karakteristik umum (annica. menyanyi. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi melalui konsentrasi yang dalam. diri atau ego (anatta). Sīla visuddhi adalah persyaratan bagi seorang yogi untuk dapat maju dalam latihan meditasinya. bermain dan mendengarkan musik. Pelaksanaan delapan sīla berarti pemurnian moral (sīla visuddhi). ucapan dan perbuatan kita menjadi murni. Jadi vipassanā berarti pengertian benar tentang tiga karakteristik dari mental (nāma) dan jasmani (rūpa).’ Di sini. pikiran yogi menjadi stabil. anatta). bukan hanya menghindar dari perbuatan asusila. Dengan menghindari aktivitas-aktivitas tersebut. Apakah Vipassanā itu? Vipassanā adalah istilah Dhamma yang merupakan kombinasi dari dua kata. ‘vi’ dan ‘passanā. dengan demikian.dalam waktu yang telah ditentukan. mempercantik diri seperti memakai bunga. Kedelapan sīla ini harus dilaksanakan selama latihan meditasi. Untuk menjalankan sīla ketujuh. yogi dapat dengan mudah mencapai konsentrasi yang dalam (samādhi) yang mengakibatkan timbulnya kebijaksanaan pandangan terang (pañña). Ketika moralnya telah murni. dan tidak ada jiwa. wangi-wangian. yaitu: ketidakkekalan (annica). Dengan merealisasi tiga corak umum dari mental dan jasmani. dukkha. dan sebagainya. kita dapat membasmi kekotoran mental seperti: nafsu. yogi boleh minum madu dan berbagai macam jus buah seperti jus jeruk atau lemon.

unsur air (āpo-dhātu). kelesuan. kebencian. dan unsur angin (vāyo-dhātu). kita mencapai keadaan berhentinya penderitaan. unsur api (tejo-dhātu). niat jahat. ada bab yang membahas perhatian penuh pada empat unsur. pendambaan. kesombongan. semua penderitaan akan lenyap. kita pasti akan mengalami berbagai macam penderitaan (dukkha).keserakahan. Tidak hanya keempat unsur ini saja. kita harus merenungkan gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Yang Mulia Mahāsi Sayādaw. tetapi semua fenomena mental dan jasmani harus diperhatikan. kesedihan dan kekhawatiran.” khotbah tentang Empat Landasan Perhatian Penuh. Di dalam kitab suci disebutkan. artinya kita telah merasakan sifat alamiah atau karakteristik khusus dari unsur tanah (pathavī-dhātu). Kita harus memahami bahwa unsur tanah yang dimaksud bukanlah tanah dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu. kita harus mengamati setiap proses mental dan jasmani yang muncul pada saat itu. Dengan hancurnya semua kekotoran mental ini. 17 . seperti sifat keras dan lembut. Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk selalu berperhatian penuh pada empat unsur saat mereka muncul. melainkan sifat alamiah dari unsur tanah. Kekotoran mental (kilesa) adalah penyebab penderitaan. kemalasan. Dalam kotbah tersebut. ketika kita merealisasi sifat keras dan sifat lembut pada bagian manapun dari tubuh kita. serta kegelisahan dan penyesalan. “sifat keras dan sifat lembut adalah merupakan karakteristik khusus dari unsur tanah. keinginan. Perhatian Penuh Terhadap Empat Unsur Selama dalam latihan.” Jadi. Perenungan terhadap gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan “Mahā Satipatthāna Sutta. iri hati. Selama kita masih mempunyai kekotoran mental ini. Pada permulaan latihan. unsur tanah (pathavī-dhātu). jika kekotoran mental telah dibasmi. Unsur tanah adalah penamaan untuk mewakili karakteristik khususnya.

menyadari dan mengerti dengan benar sifat alamiah dari pergerakan. Panas dan dingin adalah karakteristik khusus dari unsur api (tejo-dhātu). Yogi harus memfokuskan perhatiannya pada gerakan perut. Begitu pula dengan unsur api. Karakteristik khusus dari unsure angina harus disadari sepenuhnya oleh para yogi. Jika kita merasa. Yang Mulia Mahāsi Sayadaw memberi petunjuk kepada para yogi untuk memulai dengan gerakan kembung kempis perut. mengempis. itu berarti kita menyadari unsur air. tetapi hanyalah istilah yang diberikan untuk menerangkan karakteristik khusus dari unsur angin. dan catat dalam hati sebagai “kembung. Fleksibel dan mengikat/melekat adalah karakteristik dari unsur air (āpo-dhātu). kita mungkin tidak mengetahui obyek apa yang harus diamati terlebih dahulu. perpindahan. Untuk mengatasi kesulitan ini. getaran atau topangan dibagian manapun dari tubuh. melainkan cerminan dari karakteristik khusus dari unsur air itu sendiri. Unsur angin (vāyodhātu) juga bukan angin. tetapi karakteristik khusus dari unsur api. Sang Buddha Yang Maha Tahu bersabda. Inilah perhatian penuh terhadap empat unsur. atau menopang dibagian manapun dari tubuh. atau jiwa. kita dapat merasakan gerakan keluar (kembung) dan kedalam (kempis) dari dinding perut. dan jika kita membuang nafas.” Ketika kita duduk pada suatu posisi yang menyenangkan dan mefokuskan perhatian kita pada proses mental dan jasmani. dinding perut mengempis. makhluk.” 18 . harus dicatat sebagai “mengembang” dan jika dinding perut mengempis. itu berarti kita meyadari unsur angin.Unsur air yang dimaksud bukanlah air dalam arti sesungguhnya. yaitu: pergerakan. dinding perut mengembang. catat sebagai “mengempis. Yogi harus mengamati gerakan keluar dan kedalam atau kembung dan kempisnya dinding perut. kembung. mengempis. Jika kita menarik nafas.” Dalam cara ini: “mengembang. mengembang. bukan sungguh-sungguh api. Jika kita menyadari keadaan fleksibel atau lekat dibagian manapun dari tubuh kita. Jika dinding perut mengembung. getaran. sehingga mereka dapat memusnahkan pandangan salah mengenai seseorang. kempis. perpindahan.” Dengan demikian. “semua proses mental dan jasmani harus disadari sebagaimana adanya. kempis.

Catatlah dalam hati. berikir. maka yogi harus mencatat. tidak bahagia. mendengar” sebanyak mungkin.” dan seterusnya. jadi yogi harus mencatat. maka yogi harus kembali pada obyek utama. 19 . yogi mungkin tidak dapat mengatasinya. Saat pikiran yang mencatat menjadi kuat. Akhirnya pikiran yang mencatat tidak lagi memiliki obyek untuk dicatat.Sewaktu merenungkan gerakan perut. mendengar. jika suaranya telah menghilang. keadaan mental harus diperhatikan sebagaimana adanya. yang harus diamati sebagaimana biasanya. tak terputus dan konstan.” Yogi harus berhati-hati pada tahapan ini. sedih.” Pada permulaan latihan. jika terdengar suara yang cukup keras untuk dicatat. Kadang-kadang suaranya berlangsung selama satu atau dua detik. bahagia” atau “tidak bahagia. “mendengar. keluarga. mendengar. Perhatian Terhadap Keadaan Mental dan Emosi Ketika yogi merasa bahagia atau tidak bahagia. “bahagia. yaitu gerakan kembung kempis perut. pikiran yang mencatat harus bersemangat. atau merasa menyesal dan sedih. catatlah dalam hati “berpikir. kamu harus meninggalkan perhatian terhadap gerakan dinding perut dan mengamati pikiran yang berkelana. “kembung” dan “kempis” yang harus yogi catat sebagaimana biasanya. Secara alami pikiran kembali pada gerakan perut yang harus dicatat sebagaimana biasanya. Kemudian. maka pikiran secara alami kembali pada obyek utama. atau sanak saudara. dan agak cepat. sehingga pengamatan menjadi berkesinambungan. ide atau proses berpikir akan “berhenti” dengan sendirinya. Jika dirasa sudah cukup untuk berhenti. tepat.” atau “sedih. “mendengar. berperhatian penuh. pikiran yang mencatat secara alamiah akan kembali pada gerakan dinding perut. Jika pikiran berkelana dan berpikir mengenai pekerjaan. Saat yogi mengamati suatu keadaan mental atau emosi. Setelah keadaan emosi menghilang.

Setelah mahir dalam bermeditasi. Yogi dapat mencapai tingkat konsentrasi tertentu dengan lebih mudah melalui meditasi jalan dibandingkan dengan meditasi duduk. • Jika kamu berbaring. 20 . Yogi dapat bermeditasi duduk dua atau tiga jam dan bermeditasi jalan satu jam. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berjalan sebagaimana adanya. • Jika kamu duduk. duduk. Kami memberi petunjuk pada para yogi untuk berlatih meditasi jalan dan duduk secara bergantian. yogi dapat berlatih meditasi duduk lebih lama dari meditasi jalan. • Jika kamu berjalan. berdiri. Setiap sesi meditasi duduk harus didahului dengan meditasi jalan. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berdiri sebagaimana adanya. Tetapi pada permulaan latihan. Pada tingkatan ini. sehingga mereka dapat berkonsentrasi lebih mudah dan lebih jauh mencapai pandangan terang pada proses jalan dan duduk. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas duduk sebagaimana adanya. Ketika yogi telah mencapai tingkat keenam dari pengetahuan pandangan terang. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berbaring sebagaimana adanya. • Jika kamu berdiri. yaitu: berjalan. yogi perlu melakukan meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. Jadi. gerakan kaki lebih jelas dari gerakan dinding perut saat meditasi duduk. karena yogi belum bisa bermeditasi duduk lama tapi dapat bermeditasi jalan lebih lama. pada setiap sikap. yogi mungkin memerlukan meditasi duduk yang lebih lama dibanbandingkan dengan meditasi jalan. dan berbaring. harus ada perhatian penuh. karena pada meditasi jalan. konsentrasi yogi cukup baik.Meditasi Jalan Sang Buddha bersabda bahwa perhatian penuh harus diterapkan pada empat sikap tubuh. dan kuat untuk menyadari lenyapnya fenomena mental dan jasmani (nāma dan rūpa). dalam.

Jika yogi melihat ke kakinya. yang pertama. Kemudian.” Dalam cara ini. harus dicatat ”ingin. catatlah dalam hati sebagai “kiri. 21 . Bila yogi melakukannya. Setelah keinginan itu lenyap.” Setelah itu. kanan. ubahlah posisi dengan sangat perlahan dan setiap gerakan yang terlibat di dalamnya harus diamati dengan perhatian penuh. yogi harus berlatih meditasi jalan dengan menyadari langkah kaki.” atau hanya “melangkah.” Ketika melangkah dengan kaki kanan. tetapi harus berperhatian penuh. Tangan harus disatukan di depan atau belakang. yogi tidak akan ingin melihat ke sekeliling lagi. melangkah. Jadi berhati-hatilah untuk tidak melihat ke sekeliling sehingga yogi dapat menjaga dan meningkatkan konsentrasi melalui meditasi jalan. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada gerakan kaki. Hal ini juga bisa menimbulkan sakit kepala atau pusing. mata tidak boleh dipejamkan. Yogi tidak boleh menundukan kepala terlalu rendah.” Pencatatan atau pemberian nama tidaklah sepenting pengamatan terhadap langkah kaki. Dalam berlatih meditasi jalan. kiri. yogi mencatat sebagai “kiri. Sebaiknya. Ketika melangkah dengan kaki kiri. Yogi harus mengutamakan kewaspadaan yang tajam terhadap gerakan kaki. yogi segera merasakan ketegangan pada leher dan bahu. kanan. Yogi mempunyai kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling ketika yogi merasakan ada yogi lain yang mendekat atau lewat di depannya.Jadi. boleh dilakukan. Jika yogi ingin mengubah posisi. Kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling harus diamati dengan perhatian penuh dan dicatat sebagai “kecenderungan” atau “ingin melihat” hingga keinginan itu lenyap. pikiran akan berkelana bersama mata dan konsentrasi menjadi terpecah. mata harus terpejam separuh (yang berarti tidak tegang dan menjaga mata dalam keadaan normal) dan yogi harus melihat ke bawah sekitar dua meter di depan kaki. ingin. yogi dapat menjaga konsentrasinya. Melihat ke sana. Yogi tidak boleh melihat ke kakinya. Bila harus merubah posisi tangan. Jika menundukan kepada terlalu rendah. catatlah dalam hati sebagai “kanan. ke sini atau ke sekeliling juga tidak diperbolehkan.

Yogi jangan menimbulkan suara dengan berjalan dengan 22 . lakukanlah dengan sangat perlahan dan waspada terhadap semua gerakan dan perbuatan yang terlibat dalam mengubah sikap duduk. Yogi harus melakukan segala seuatunya dengan suara yang amat kecil atau tanpa suara sama sekali. Kewaspadaan Ketenangan Pada retret meditasi. sehingga yogi dapat menerapkan perhatian penuh terhadap setiap gerakan tubuh yang kecil sekalipun. Itulah yang dimaksud dengan berperhatian penuh secara umum. yogi dilarang melakukan tindakan atau gerakan dengan cepat. bagi yogi yang telah mempunyai pengalaman berlatih meditasi. Setelah perubahan selesai dilakukan. ingin. Setelah posisi tangan diubah. teruskan mencatat gerakan kaki seperti sebelumnya. kembalilah ke pengamatan gerakan perut dan catat sebagaimana biasanya.yogi harus memperlambat semua tindakan dan gerakan karena yogi tidak ada tugas lain kecuali selalu berperhatian penuh pada semua aktivitas mental dan jasmani. Sebelum melakukan perubahan posisi. yogi akan merasakan dorongan untuk mengubah posisinya.” Bila tidak tertahankan dan harus merubahnya. Sedangkan bagi pemula. Berbeda dengan di rumah. catatlah keinginan untuk mengubah sikap tubuh sebagai “ingin. tapi lakukanlah dengan normal dan amati dengan perhatian penuh. Semua tindakan dan gerakan harus dilakukan secara perlahan sedapat mungkin. Yogi tidak boleh berbicara kecuali beberapa kata yang diperlukan pada rutinitas sehari-hari. yogi tidak perlu memperlambat semua tindakan dan gerakan. Dalam meditasi duduk. Beberapa kata tersebut juga harus diucapkan dengan perlahan dan lembut sehingga tidak mengganggu konsentrasi yogi lain. sebaiknya duduk setidaknya selama empat puluh lima menit tanpa mengubah posisi. Pada saat retret. Jika yogi tidak dapat mengatasi rasa sakit yang timbul.Tidak boleh lengah pada setiap gerakan atau aksi. Semua tindakan dan gerakan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana adanya. sebaiknya duduk paling tidak dua puluh – tiga puluh menit tanpa mengubah posisi.

timbul dan tenggelam. kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan.kasar dan berat. berpakaian. yogi tidak akan menimbulkan suara apapun ketika berjalan. semua kegiatan harus diperlambat dan amati gerakannya. Bila yogi berperhatian penuh terhadap gerakan kakinya. pandangan terang akan terbuka dengan sendirinya. Juga harus waspada terhadap segala macam aktivitas mental dan jasmani sebagaimana adanya. Ketika ingin duduk. Ketika ingin berdiri. waspadai seluruh gerakan saat duduk. ataupun minum. Saat konsentrasi menjadi dalam. lakukanlah dengan perlahan. Oleh karena itu. Saat makan. Oleh karena itu. harus berperhatian penuh terhadap semua tindakan dan gerakan dalam kegiatan makan. Begitu pula saat mandi. juga harus dilakukan dengan perlahan dan waspadai setiap gerakan karena kita ingin mengerti setiap proses mental dan jasmani yang sebenarnya. Yogi harus berperhatian penuh terhadap segala sesuatu yang muncul pada mental dan jasmani. 23 . yogi harus memperlamba semua tindakan dan gerakan. Ketika perhatian penuh menjadi berkesinambungan. muncul dan lenyap. konsentrasi menjadi dalam dengan sendirinya. Semua proses mental dan jasmani selalu berubah. Perhatian penuh dan konsentrasi akan membuka jalan untuk berkembangnya pandangan terang.

” kata ini juga tidak melingkupi arti saddhā yang sebenarnya. juga mempersembahkan makanan dan jubah. Sraddhā (dalam bahasa Sanskrit) atau Saddhā (dalam bahasa Pali). Kata saddhā susah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. Tetapi sebelum saya membahas hal itu. mempersembahkan bunga dan dupa. Jika kita melakukan perbuatan baik seperti itu. Aspek moral dalam agama Buddha 4. Bagi saya. Aspek praktek dalam agama Buddha (termasuk aspek pengalaman) Aspek pengabdian Aspek pengabdian dalam agama Buddha berarti “upacara dan ritual.BAB III TUJUH MANFAAT MEDITASI VIPASSANĀ Tujuh manfaat meditasi vipassanā seperti yang diajarkan Sang Buddha tertulis dalam Mahā Satipatthāna Sutta. kata “keyakinan” tidak melingkupi arti yang sesungguhnya. saddhā dapat diartikan sebagai percaya melalui pengertian yang benar terhadap Dhamma. Aspek etika dalam agama Buddha 3. Jika kita menterjemahkan saddhā sebagai keyakinan. Keempat aspek itu adalah: 1. Aspek pengabdian dalam agama Buddha 2.” membaca sutta dan parita. saya ingin menerangkan kepadamu secara singkat mengenai empat aspek dalam agama Buddha. Dan jika kita terjemahkan sebagai “kepercayaan. kita melakukannya dengan keyakinan. 24 . Kita tidak dapat menemukan satu kata pun dalam bahasa Indonesia yang dapat memberikan arti yang lengkap dari saddhā. tak ada kata dalam bahasa Indonesia yang sepadan.

Dengan cara yang sama. Sangha Mulia yang telah mencapai salah satu dari empat sang jalan (magga). Jika kita berkata Sangha. Dhamma (ajaran-Nya). Walaupun demikian. dan Beliau mengajarkan kita jalan yang menuju pada berhentinya segala macam penderitaan. bukan karena belajar Dhamma dari guru-guru lain. kita harus terus maju untuk berlatih aspek yang lebih tinggi. 25 . kita pasti akan hidup bahagia dan damai. arti utamanya adalah Ariya Sangha. Oleh karena itu. Melakukan perbuatan-perbuatan berjasa ini membentuk aspek pengabdian dalam agama Buddha. kita tidak boleh puas hanya dengan aspek pengabdian ini jika kita ingin menikmati intisari dari ajaran Sang Buddha dan terbebas dari segala macam penderitaan. Kita juga percaya bahwa dengan membacakan sutta dan paritta sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha. dan Sangha (kelompok siswa-siswi Sang Buddha). Kita yakin terhadap Buddha. Dhamma. juga mengacu pada Sammuti Sangha (mereka yang masih berjuang untuk menghancurkan kekotoran mental). Demikianlah kita memberikan penghormatan kepada tiga permata (Triratna) yaitu: Buddha. Tetapi dalam pengertian umum. Kita percaya bahwa jika kita mengikuti jalanNya atau ajaranNya. Untuk alasan ini. sehingga beliau layak dihormati (seorang Arahat). dan dapat melepaskan diri dari penderitaan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup bahagia dan damai. Kita memiliki pandangan bahwa Sang Buddha telah menghancurkan seluruh kekotoran mental melalui pencapaian pencerahan sempurna. kita melakukan dengan keyakinan terhadap tiga permata (Triratna).Ketika kita melakukan upacara agama. kita melakukan perbuatan berjasa yang akan membantu pada tercapainya keadaan berhentinya penderitaan. Beliau adalah seorang Buddha karena beliau telah berjuang dan mencapai penerangan sempurna berkat usaha sendiri. dan Sangha. kita percaya pada Sangha. Kita percaya kepada Sang Buddha dengan cara ini. kita percaya pada Dhamma.

Jika kita menghindari segala macam perbuatan buruk. kita harus melatih meditasi samatha dan vipassanā. tetapi kita tidak dapat menghilangkan penderitaan secara total. Aspek etika dalam agama Buddha adalah: 1. Memurnikan pikiran dari segala macam kekotoran mental. Menghidari segala macam perbuatan buruk atau jahat 2. Dengan mengikuti doktrin-doktrin ini. Ada banyak doktrin yang mengupas aspek etika dalam agama Buddha. kekotoran mental akan menyerang kita kembali. Melakukan perbuatan berjasa atau perbuatan baik 3. jika kita telah mengalami pengetahuan pandangan terang. Ini adalah tiga bagian dari aspek etika dari apa yang telah diajarkan oleh Sammā Sambuddha dan ini adalah nasehat dari semua Buddha. Jika kita memurnikan pikiran kita melalui realisasi dari proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. dan mental kita. kita tidak akan mengalami penderitaan karena hasil yang buruk. Artinya. kita dapat mencapai kehidupan yang bahagia baik dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. Vipassanā ñāna ini dapat mengatasi dan mengurangi beberapa aspek dari kekotoran mental seperti: keserakahan. Kekotoran mental tertentu yang telah dihancurkan oleh vipassanā ñāna tidak akan mampu menyerang kita lagi. kemarahan. dan lain-lain.Aspek Etika Aspek kedua dalam agama Buddha adalah aspek etika. Jika kita mengikuti ajaran ini. kekotoran mental tersebut tidak dapat kembali lagi. ucapan. kita dapat hidup bahagia dan damai karena agama Buddha ditemukan berdasarkan hukum sebab dan akibat. Hal ini mengikuti ajaran Sang Buddha mengenai pemurnian dari perbuatan. pengalaman 26 . Guna memurnikan pikiran dari kekotoran mental. Dengan meditasi samatha pikiran dapat dimurnikan hanya sewaktu kita berlatih meditasi. tetapi bila tidak dalam keadaan bermeditasi. Realisasi atau pandangan terang dari fenomena mental dan jasmani dikenal sebagai vipassanā ñāna (pengetahuan pandangan terang). khayalan.

ucapan. tingkat jalan kesucian Arahat. Penderitaan akan berhenti. pandangan terang ini akan muncul kembali. Contohnya: • Kamu harus tinggal di tempat yang sesuai di mana kamu dapat menjadi sejahtera dalam segala aspek karena telah malakukan perbuatan berjasa di kehidupan yang lampau. tidak akan muncul penderitaan lagi. Saya ingin mengingatkan para yogi megenai Ambalatthika Rahulovada Sutta (Majjhima Nikaya.tersebut tidak akan hilang atau lenyap dari diri kita. Tetapi bila kita memiliki saddhā yang tinggi. kita dapat memurnikan pikiran dari beberapa kekotoran mental. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental telah dihancurkan dan pikiran telah termurnikan sepenuhnya. kita memiliki berbagai aspek etika untuk diikuti sehingga kita dapat hidup bahagia dan damai. Sutta No. maka tak ada lagi penderitaan. • Kamu harus melakukan perbuatan berjasa sebanyak mungkin dalam kehidupan ini juga. 61) yang mungkin 27 . Pemurnian pikiran dari kekotoran mental ini berhubungan dengan aspek praktek dalam agama Buddha. ayat 258-269) dengan 38 jenis berkah utama. Sehingga. Dalam hal ini. Ada juga Manggala Sutta (Sutta Nipata. kekotoran mental yang telah dibasmi tidak akan muncul lagi. ucapan. Ketika kita merenungkan pengalaman pandangan terang yang telah dicapai dalam meditasi. Di dalam sutta ada beberapa etika yang harus diikuti yang dapat membuat kita hidup bahagia dan damai. Di sini kita dapat menghancurkan seluruh kekotoran mental. dan pikiran dengan pantas. kita akan berusaha keras dalam berlatih hingga mencapai magga keempat. dan pikiran agar bersih dari kekotoran mental. Dengan kekuatan pandangan terang ini. sedangkan dua bahasan sebelumnya berhubungan dengan aspek etika dalam agama Buddha. Ketika seluruh kekotoran mental. • Kamu harus memperhatikan perbuatan. Itu berarti. kita harus menjaga perbuatan.

dan untuk merenungkan terhadap apa yang telah dilakukan. Ada berbagai aspek etika yang tak terhitung yang dapat mendukung pada kehidupan yang bahagia dan damai. Dalam sutta tersebut Sang Buddha mengajarkan putra-Nya.tidak asing dengan yogi semua. untuk hidup dengan benar. yogi harus melaksanakan sīla. untuk waspada terhadap apa yang sedang dilakukan. Jika kita mencoba untuk mengerti etika-etika ini dan mengikutinya. Dengan cara ini. kita tak boleh puas hanya dengan aspek kedua dalam agama Buddha. umat awam setidaknya harus menjalankan lima sīla. dan damai. Tetapi jika perbuatan ini tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Aspek Moral Walaupun aspek etika sangat kondusif untuk membawa seseorang pada kehidupan bahagia dan damai. kamu harus berperhatian penuh terhadap apa yang akan kamu lakukan dan mempertimbangkan apakah perbuatan ini akan merugikan diri sendiri atau orang lain. Sang Buddha memberi petunjuk kepada Rāhula untuk mempertimbangkan apa yang akan dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari. Rāhula. Kita harus melanjutkan pada aspek yang lebih tinggi dalam agama Buddha. Sepuluh sīla adalah untuk calon bhikkhu (samanera). bisa 5. Rāhula. atau 10. bahagia. aspek ketiga yaitu aspek moral. Setelah mempertimbangkannya. Sang Buddha mengajarkan Rāhula untuk berhenti dan merenung jika ia memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. kamu tidak boleh melakukannya. Dalam aspek moral. Jadi etika ini juga merupakan cara terbaik untuk hidup bahagia dan damai dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan bhikkhu harus menjalankan 227 sīla. jika kamu menemukan bahwa perbuatan ini merugikan diri sendiri maupun orang lain. kamu boleh melakukannya. samanera berumur 7 tahun. 8. kita pasti akan hidup bahagia dan damai walaupun kita belum dapat melenyapkan semua penderitaan. 28 .

baik itu meditasi samatha ataupun meditasi vipassanā. kita dapat berlatih dua macam meditasi yang merupakan aspek praktek dalam agama Buddha. aspek praktek dalam agama Buddha. Sang Buddha menerangkan Empat Landasan Perhatian Penuh pada saat Beliau memberikan kotbah tentang Mahā Satipatthāna Sutta di propinsi Kuru.meditasi vipassanā. mencapai berhentinya segalam macam penderitaan. Dalam hal ini. Aspek Praktek Berikutnya adalah aspek keempat. Sang Buddha menerangkan tujuh manfaat yang bisa didapat seseorang yogi melalui pengalaman Dhammanya. Jika kita menerapakan perhatian penuh pada semua proses mental dan jasmani. yogi dapat berlatih meditasi dengan mudah. Ketika kita berlatih meditasi vipassanā. tenang. dipastikan kita akan mencapai nibbanā. seorang yogi dapat dengan mudah berkonsentrasi pada obyek meditasi dan mendapatkan konsentrasi yang dalam.Jika kita dapat menjalankan lima sīla dengan sempurna. Berdasarkan kemurnian kelakuan moral. Tujuh Manfaat Meditasi Pada permulaan syair sutta tersebut. ia dapat 29 . yogi harus mengikuti Mahā Satipatthāna Sutta. di mana pikiran menjadi jernih. Sang Buddha lebih menekankan pada meditasi tipe kedua . dan bahagia. Manfaat pertama adalah pemurnian dari semua kekotoran mental. tetapi meditasi vipassanā membawa ke pencapaian nibbanā melalui realisasi proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. Kita harus berlatih meditasi sehingga kita dapat melepaskan diri dari kekotoran mental dan sebagai akibatnya. Jika seseorang melatih meditasi vipassanā. Meditasi samatha dapat membawa ke pencapaian konsentrasi yang dalam. moral kita menjadi murni. Jika kelakuan moral telah murni. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh.

Ahirika 10. mendambakan. Hari ini. Anottappa Lobha berarti bukan hanya keserakahan tetapi juga keinginan. Thina-middha 8. Vicikichā 7. saya mengantuk. kehendak jahat atau ketidaksukaan. Moha adalah khayalan atau kebodohan mental Ditthi adalah pandangan salah Māna adalah kesombongan Vicikichā adalah keragu-raguan Thina-middha adalah kemalasan dan keengganan. 2.memurnikan pikirannya dari seluruh kekotoran mental (kilesa). 3. Mereka akan menemukan bahwa tidak terlalu susah untuk mengalahkan “teman lama” yang menghalangi kemajuan mereka pada konsentrasi dan juga pandangan terang. Kata bahasa Pali ’kilesa’ mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Thina-middha adalah “temen lama” dari para yogi dan juga dari mereka yang mendengarkan Dhamma. nafsu. setiap yogi harus berjuang karena belum terbiasa menjalankan meditasi vipassanā. Lohba Dosa Moha Ditthi Māna 6. Uddhacca-kukkucca 9. 30 . kemarahan. 4. 5.” Pada awal latihan. semua yogi akan baik kembali. Ini adalah keadaan kritis dalam meditasi. sewaktu wawancara. kemelekatan dan cinta. semua yogi melaporkan pengalamannya: “saya capek. Kekotoran mental ada 10 macam: 1. Dosa adalah kebencian. Kilesa diterjemahkan sebagai kekotoran mental oleh cendikiawan Budhhist. Saat salah satu keadaan mental ini muncul. pikiran menjadi tercemar. Sehingga hal ini bisa juga disebut sebagai kekotoran mental. mungkin hanya barlangsung selama dua atau tiga hari. tapi tidak akan bertahan lama. Setelah tiga hari. Mengantuk juga termasuk dari kategori ini.

Anottappa berarti tidak merasa takut. Walaupun belum mencapai jalan dan buah (magga dan phala). ataupun saudara anda meninggal. sedih terhadap kematian saudara. Yang berarti.Uddhacca-kukkuccā berarti kegelisahan dan kekawatiran. anda akan berperhatian penuh padanya sebagaimana adanya. atau kehilangan pekerjaan. Inilah manfaat pertama. Anda tidak akan merasa khawatir terhadap kegagalan. Ahirika berarti sifat yang tidak tahu malu. adalah sikap mental yang tidak merasa takut dalam melakukan perbuatan jahat melalui ucapan. anda tetap dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran dalam batas tertentu. Manfaat kedua dari vipassanā adalah mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. ia dapat mencapai tingakt kesucian arahat. pikiran. dan tindakan jasmani. anak. Ketika perhatian penuh menjadi kuat. Hal ini dikarenakan saat kesedihan atau kekhawatiran muncul. Perasaan tidak takut berbuat jahat ini adalah salah satu kekotoran mental. jika telah membersihkan diri sepenuhnya dari segala macam kekotoran mental. pikiran. tingkat kesucian Arahat pasti tercapai dan terbebas dari kekhawatiran dan kesedihan secara permanen. Dengan cara inilah kekhawatiran dan kesedihan dapat diatasi oleh meditasi vipassanā. Manfaat ketiga yaitu dapat mengatasi ratap tangis. Bila anda telah mengembangkan meditasi vipassanā sepenuhnya. ia akan bersih dari semua kekotoran mental. Anda tidak akan menyesal terhadap apapun jika anda berlatih meditasi vipassanā. kekhawatiran atau kesedihan akan berhenti dan hilang. Seseorang yang tidak merasa malu terhadap perubuatan buruk baik melalui ucapan. Sang Buddha bersabda: jika seseorang berlatih meditasi vipassanā. Semua itu adalah sepulauh macam kekotoran mental yang harus dilenyapkan atau dihilangkan dari pikiran kita dengan berlatih meditasi vipassanā. dan tindakan jasmani. Walaupun orang tua. anda tidak akan merasa sedih akan kematian mereka karena anda mengerti 31 .

sepenuhnya proses mental dan jasmani terhadap yang kita sebut ’anak’ atau ’orang tua.’ Dalam hal ini, ratap tangis dapat diatasi dengan berlatih meditasi vipassanā. Mengenai manfaat ketiga, ada komentar terhadap Mahā Satipatthāna Sutta yang mengisahkan sebuah cerita sebagai berikut: Seorang wanita, bernama Patacara, yang suami, kedua putra, orang tua, dan saudara-saudaranya meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Dia kemudian menjadi gila karena kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangis. Ia diliputi oleh kesedihan yang disebabkan oleh kematian orang-orang yang dicintainya. Komentar ini mengisahkan cerita tersebut sebagai bukti nyata bahwa orang dapat mengatasi kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis dengan meditasi vipassanā. Suatu hari, Sang Buddha memberikan kotbah kepada orangorang yang hadir di vihara Jetavana dekat Savatthi. Kemudian wanita yang tak waras ini pergi berjalan ke vihara dan melihat para hadirin mendengarkan kotbah, dan mendekati para hadirin. Seorang pria tua yang sangat baik kepada orang miskin, melepaskan jubah luarnya dan melemparkannya kepada wanita tersebut. Ia berkata “Anakku sayang, gunakanlah jubahku ini untuk menutupi tubuhmu.” Pada saat yang sama, Sang Buddha berkata kepadanya, “Saudari yang baik, sadarlah.” Karena kata-kata Sang Buddha yang lembut, kesadaran wanita tersebut kembali pulih. Ia kemudian duduk di salah satu sudut dan ikut mendengarkan kotbah. Sang Buddha yang mengetahui bahwa wanita tersebut telah pulih kesadarannya, mengarahkan kotbah itu kepadanya. Mendengar kotbah yang diberikan oleh Sang Buddha, wanita itu perlahan-lahan menyerap intisari Dhamma tersebut. Saat pikirannya telah siap untuk merealisasi Dhamma, Sang Buddha membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya 32

Magga-sacca

Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan

Empat kebenaran mulia mencakup nasehat bagaimana caranya untuk tetap berperhatian penuh pada apapun yang muncul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. Patacara, setelah pikirannya kembali normal, mengerti dengan baik teknik vipassanā, menerapkannya terhadap apapun yang muncul dari proses mental dan jasmani dan pada apapun yang didengar. Ketika perhatian penuhnya mencapai momentum, konsentrasinya juga menjadi lebih dalam dan kuat. Karena konsentrasi yang dalam, pengetahuan pandangan terangnya yang dapat menembus proses mental dan jasmani menjadi kuat. Akhirnya perlahan-lahan Patacara dapat merealisasi karakteristik khusus dan karakteristik umum dari fenomena mental dan jasmani. Oleh karena itu, Patacara dengan cepat mengalami semua tingkat-tingkat pengetahuan vipassanā sewaktu mendengarkan kotbah, dan ia mencapai jalan kesucian yang pertama (sotāpattimagga). Melalui pengalamannya terhadap Dhamma dari meditasi vipassanā, kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis yang dimilikinya menghilang total dari pikirannya dan ia menjadi “wanita baru.” Demikianlah, Patacara mengatasi kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangisnya melalui meditasi vipassanā. Komentar Mahā Satipatthāna Sutta menyebutkan, bukan hanya orang-orang di zaman Sang Buddha, tapi orang-orang di zaman sekarang juga dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran jika mereka berlatih meditasi vipassanā dan mencapai tahapan pandangan terang yang tinggi. Yogi semua juga termasuk orang yang dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran melalui meditasi vipassanā. Manfaat keempat adalah berhentinya penderitaan jasmani. Manfaat kelima adalah berhentinya penderitaan mental. Penderitaan jasmani seperti rasa sakit, kaku, gatal, kesemutan, dan 33

sebagainya dapat diatasi dengan berperhatian penuh pada saat retret meditasi dan begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika yogi memiliki beberapa pengalaman dalam latihan meditasi, yogi dapat mengatasi penderitaan mental dan jasmani dalam lingkup yang lebih besar. Jika kamu meluangkan waktu dan usaha yang cukup, kamu dapat melenyapkan penderitaan mental dan jasmani secara permanen (selamanya) ketika kamu mencapai tingkat kesucian arahat. Selama latihan meditasi, kamu dapat mengatasi rasa sakit, kaku, kesemutan, gatal, dan segala macam sensasi jasmani yang tak menyenangkan dengan mengamati sensasi tersebut secara cermat dan penuh perhatian. Oleh karena itu, yogi tak perlu takut terhadap rasa sakit, kaku, atau kesemutan karena mereka adalah “temen baikmu.” yang dapat membantu yogi mencapai nibbanā. Jika yogi mengamati rasa sakit dengan bersemangat, tepat, dan rapat, mungkin akan terasa lebih kuat intensitasnya. Hal itu dikarenakan yogi mengetahuinya dengan lebih jelas. Setelah yogi mengerti bahwa sensasi sakit itu tidak menyenangkan, yogi tidak akan menganggapnya sebagai bagian dari dirinya, karena sensasi tersebut dilihat hanya sebagai proses alami dari fenomena mental. Yogi tidak akan melekat pada sensasi rasa sakit sebagai ’aku’ atau ’milikku,’ atau ’seseorang’ atau ’makhluk.’ Dengan cara ini, yogi dapat menghapus pandangan salah tentang jiwa, diri, seseorang, makhluk, ’aku’ atau ’kamu.’ Jika akara dari segala macam kekotoran mental telah dihancurkan, contohnya: sakkāya-ditthi atau atta-ditthi telah dihancurkan, yogi pasti dapat mencapai jalan kesucian pertama, sotāpatti-magga. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihan untuk mencapai tiga tingkatan dari jalan dan buah kesucian yang lebih tinggi. Itulah sebabnya saya katakan bahwa sensasi jasmani yang tak menyenangkan seperti sensasi sakit, kaku, dan kesemutan sebagai “temen baikmu” yang dapat membantu yogi mencpai nibbanā. Dengan kata lain, kesemutan atau sensasi sakit ini adalah kunci pintu nibbanā. Ketika yogi merasakan sakit, yogi beruntung. Sakit adalah obyek meditasi yang sangat berharga karena dapat menarik ’pikiran yang mencatat’ untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama. ‘pikiran yang mencatat’ dapat berkonsentrasi dengan dalam dan 34

terserap pada sensasi sakit tersebut. Jika pikiran telah terserap sepenuhnya dalam sensasi sakit, yogi tidak lagi sadar akan bentuk badan atau dirinya. Ini berarti yogi merealisasi karakteristik khusus (sabhava-lakkhana) dari sensasi sakit (dukkha-vedanā). Dengan melanjutkan latihan, yogi akan dapat merealisasi karakteristik umum, ketidakkekalan, penderitaan, dan tidak ada jiwa or tidak ada diri dari fenomena mental dan jasmani. Akhirnya membawa yogi ke nibbanā. Jadi yogi beruntung mendapatkan rasa sakit. Di Burma, beberapa yogi, setelah melewati tingkat ketiga pandangan terang (sammasana-ñāna), hampir sepenuhnya dapat mengatasi rasa sakit. Walaupun demikian, mereka tidak puas karena mereka tidak memiliki rasa sakit diperhatikan. Sehingga mereka melipat kaki mereka di bawah badan dan menekannya guna mendapatkan rasa sakit. Mereka mencari “teman baik” yang dapat menuntun mereka menuju berhentinya penderitaan. Jika yogi merasa tidak bahagia, amatilah ketidakbahagiaan dengan penuh semangat, perhatian penuh, dan dengan rapat sebagai ‘tidak bahagia, tidak bahagia.’ Jika yogi merasa tertekan, tekanan mental itu harus diamati dengan berperhatian penuh dan tak kenal lelah. Bila perhatian penuh yogi menjadi kuat, ketidakbahagiaan dan tekanan mental akan berhenti. Jadi, mengatasi penderitaan mental adalah keuntungan kelima dari meditasi vipassanā. Manfaat keenam adalah pencapaian pencerahan, jalan dan buah kesucian (magga dan phala). Jika yogi mengabdikan usaha dan waktu yang cukup untuk berlatih meditasi vipassanā, yogi setidaknya akan mencapai jalan kesucian tingkat pertama (sotāpatti-magga). Inilah manfaat keenam dari meditasi vipassanā. Manfaat ketujuh adalah yogi pasti mencapai nibbāna, pembebasan, melalui latihan meditasi vipassanā. Jadi, inilah ketujuh manfaat dari meditasi vipassanā yang didapat oleh yogi melalui pengalaman langsung dalam Dhamma: 1. Pemurnian dari semua kekotoran mental. 35

maka tangannya akan bersih. 5. kitalah yang harus disalahkan. yang dapat menuntun pada berhentinya penderitaan. Berhentinya semua penderitaan mental. Walaupun ia tahu ia dapat mencuci kotorannya di kolam. Walaupun ia mengetahui hal itu. Dalam naskah-naskah pali ada perumpamaan: Ada sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih dan banyak bunga teratai di dalamnya. Oleh karen itu. 6. kita tidak dapat melenyapkan penderitaan. siapa yang harus disalahkan. 4. 3. yogi akan dapat memurnikan dirinya dari segala 36 . Jika kita tahu jalannya tetapi tidak melatih meditasi vipassanā ini. Seorang pengembara yang tangannya kotor mengetahui bahwa jika ia memcuci tangannya di kolam. Sang Buddha memulai Mahā Satipatthāna Sutta dengan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. Dalam naskah diajukan sebuah pertanyaan: “Jika pengembara itu tetap kotor. pengembaralah yang harus disalahkan. pengembara. Tapi kita tidak boleh puas. 7. Mengatasi ratap tangis. Ia melewati kolam dan meneruskan perjalanannya. tetapi ia tidak melakukannya.2. Mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. Jika yogi melatih meditasi vipassanā ini dengan usaha yang gigih. Dalam hal ini. atau diri kita sendiri? Ya. Berhentinya semua penderitaan jasmani. Siapa yang harus disalahkan? Sang Buddha. Sehingga yogi pasti mendapatkan ketujuh manfaat di atas jika berusaha dengan gigih dalam latihannya. Sang Buddha mengajarkan kita cara berperhatian penuh. kolam atau pengembaranya?” Jelas. Pencapaian pencerahan. meditasi vipassanā. Kita beruntung karena kita percaya pada Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna dan yang mengajarkan jalan yang benar. sehingga tangannya tetap kotor. ia tidak pergi ke kolam untuk mencuci tangannya. Pencapaian nibbāna.

37 .kekotoran mental dan melenyapkan semua penderitaan dengan mencapai ketujuh manfaat dari latihan meditasi vipassanā.

Sensasi atau perasaan yang menyenangkan disebut sukha vedanā (sukha berarti menyenangkan. Jika yogi tidak mengamati atau mencatat perasaan senang atau tidak senang. Beberapa yogi berpendapat bahwa perasaan yang tidak menyenangkan tidak perlu diamati karena hal itu tidak menyenangkan. Empat landasan perhatian penuh tersebut adalah: 1. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan. Vedanānupassanā Satipatthāna 3. yogi dipastikan akan melekat atau menolak perasaan tersebut. Vedanānupassana satipatthāna adalah perenungan terhadap sensasi atau perasaan. bukan menyenangkan. 38 . semua perasaan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka terjadi. yaitu: a. atau netral muncul. yogi harus berperhatian penuh terhadap perasaan tersebut sebagaimana adanya. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan. Saat perasaan menyenangkan. Sensasi atau perasaan yang netral. Kāyānupassanā Satipatthāna 2. juga bukan tidak menyenangkan). Dhammānupassanā Satipatthāna Kāyānupassanā satipatthāna berarti perenungan terhadap jasmani atau perhatian penuh terhadap semua proses jasmani sebagaimana adanya. yogi melekat pada perasaan tersebut. Cittānupassanā Satipatthāna 4. c. vedanā berarti sensasi atau perasaan). Saat yogi menyukai perasaan tertentu. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan disebut dukkha vedanā (dukkha berarti tidak menyenangkan) Dan sensasi atau perasaan yang netral disebut upekkhā vedanā (upekkhā berarti netral. b. tidak menyenangkan. Ada tiga macam sensasi atau perasaan. Sebenarnya.BAB IV EMPAT LANDASAN PERHATIAN PENUH Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan Empat Landasan Perhatian Penuh setelah menerangkan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā.

dan tekan. Saat konsentrasi yogi dalam dan kuat. kesombongan. ketenangan. khayalan. Jika yogi mengerti akan hal ini. mengangkat keseluruhan kaki (naik). Apapun yang dialaminya pada tingkatan ini. Yogi tidak dapat membedakan antara perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan. memajukan kaki (dorong). Dalam hal ini. Kemudian perasaan lain muncul dan tenggelam lagi. Jika yogi menikmati dan merasa puas dengan apa yang dialaminya. Jika yogi berlatih meditasi vipassanā dengan gigih dan tak kenal lelah. Jika seorang yogi berjalan dengan berperhatian penuh. Hal ini dikarenakan pikirannya pada saat itu cukup bersih dari segala kekotoran mental seperti keserakahan. perasaan yang menyenangkan adalah penyebab. Yogi yang tak kenal lelah ini telah mencapai tingkat pandangan terang yang sangat baik karena pikirannya sekarang menjadi damai dan tenang. yogi merasa bahagia dan mengalami kegiuran. Hanya dengan demikian. 39 . yogi dapat melewati tingkat pandangan terang ini. Pengalaman demikian dapat dicapai pada bagian pertama dari pandangan terang tingkat keempat. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. dan kemelekatan adalah akibat. atau kedamaian tidak akan muncul dalam dirinya dengan sangat jelas. yogi tidak dapat maju ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. kebahagiaan. yogi seharusnya hanya mengamati pengalaman yang telah dicapainya pada tingkat ini. sentuh. kemudian ia akan terlepas dari pengalamannya dan meneruskan latihannya untuk pandangan terang yang lebih tinggi. Ketika yogi mencatatnya dengan perhatian penuh dan terus-menerus. mencatat keenam tahapan langkahnya: mengangkat tumit kaki (angkat). menurunkan kaki (turun). Apa yang dialaminya pada saat itu hanyalah perasaan yang muncul dan tenggelam saja. Akibatnya. kebencian.Kemelekatan atau tanhā itu muncul bergantung kepada perasaan atau sensasi. itu berarti dia melekat pada kondisi tersebut. dan sebagainya. yogi tidak akan melekat jika yogi mengamati pengalamannya dengan perhatian penuh dan penuh semangat.

Kemelekatan ini muncul tergantung pada sensasi atau perasaan menyenangkan tentang pengalaman baiknya. dalam. Ketika pikiran yang mencatat menjadi konstan. karena ini adalah penglaman terbaik yang pernah didapatnya. dan oleh karena itu yogi melekat pada sensasi tersebut. yogi akan menemukan bahwa pengalamannya tidak kekal. Kapanpun yogi melakukan pencatatan. Dalam tahapan ini. Pikiran mulai merelalisasi bahwa pengalaman yang terjadi telah lenyap. yogi pasti akan melekat kepada perasaan itu. Bila yogi tidak mengamati pengalaman ini dengan perhatian penuh. misalnya keadaan mentalnya. Jika seorang yogi menikmati perasaan menyenangkan atau perasaan tidak menyenangkan mengenai penglaman baiknya tanpa berperhatian penuh. kemudian perasaan menyenangkan itu lenyap kembali. Akibatnya yogi tidak akan menyadari bentuk kakinya. yogi akan menyukai pengalaman ini dan menginginkan yang lebih besar lagi. pikiran mencatatnya. Hal ini dikarenakan yogi telah mengerti sifat alamiah ketidakkekalan melalui pengalaman Dhammanya sendiri. Gerakan kaki mungkin terasa ringan. Yogi hanya menyadari gerakan kakinya. Yogi harus waspada terhadap setiap pengalaman yang timbul. berkesinambungan. Jika perasaan menyenangkan itu muncul. yogi mungkin merasa seperti berjalan di udara. Yogi tidak boleh menganalisa atau berpikir mengenai hal ini. dan kuat. Yogi kemudian dapat menyimpulkan bahwa perasaan menyenangkan yang terjadi bersama pengalamannya bersifat tidak kekal (anicca). dan kuat. Yogi mungkin menjadi sangat puas dengan latihannya dan mungkin berpikir bahwa inilah nibbāna (berhentinya semua penderitaan). pikiran tersebut akan menembus sifat alamiah dari pengalamannya.konsentrasinya akan menjadi bagus. yogi mengalami pengalaman meditasi yang luar biasa. Jadi yogi harus mengamati dan waspada dengan perhatian penuh terhadap pengalaman apapun yang didapatnya pada tingkat ini. Dhamma berarti proses mental dan juga proses 40 . Semua ini dapat terjadi karena yogi tidak mengamati pengalaman menyenangkan yang dialaminya. maupun menyadari tubuh ataupun bentuk tubhnya. agar dapat merealisasi pengalaman terhadap proses mental atau keadaan mental yang juga tidak kekal. Di sini.

yogi tidak akan melekat padanya. Perbuatan yang dilakukan melalui pikiran. maka tidak akan ada perbuatan baik atau buruk. Jadi dengan cara ini. baik itu melalui pikiran. keterikatan2 (upādāna) tidak timbul. Kemelekatan itu sendiri dikondisikan oleh perasaan atau sensasi. Perbuatan baik melalui ucapan disebut kusala vaci-kamma dan perbuatan buruk melalui ucapan disebut akusala vaci-kamma. makhluk-makhluk terlahir kembali melalui perbuatannya yang baik ataupun yang tidak baik. Kemelekatan tidak akan muncul bila yogi telah mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari keadaan mental yang baik atau pengalaman yang baik. Karena yogi telah merealisasi bahwa perasaan menyenangkan dan pengalaman baiknya tidaklah kekal. ucapan. 41 .jasmani. Jika keterikatan tidak timbul. makhluk terlahir di kehidupan berikutnya untuk mengalami berbagai penderitaan karena dia tidak mengamati perasaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan yang timbul bersama pengalamannya. Sehingga disini diartikan sebagai ‘keterikatan’. Hubungan Sebab dan Akibat Bila kemelekatan (tanhā) tidak timbul. Perbuatan yang disebabkan oleh keterikatan dikenal sebagai kamma-bhava. Perbuatan baik melalui pikiran disebut kusala mano-kamma dan perbuatan buruk melalui pikiran disebut akusala mano-kamma. tidak dapat melepas. dan jasmani akan menjadi sebab. Perbuatan baik melalui jasmani disebut kusala kāya-kamma dan perbuatan buruk melalui jasmani disebut akusala kāya-kamma. Perbuatan itu disebabkan oleh keterikatan yang memiliki kemelekatan sebagai akarnya. ataupun tindakan jasmani. dan akibatnya dapat timbul dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang. perkataan. Dengan cara ini. Perbuatan-perbuatan ini atau kamma muncul karena keterikatan yang timbul sebagai akibat kemelekatan pada perasaan atau sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. 2 Upādāna (grasping) diterjemahkan sebagai mencengkeram. dapat berupa perbuatan baik atau perbuatan buruk.

Pada permulaan latihan. yaitu: 1. Perhatian Pernuh Terhadap Perasaan Perhatian penuh atau perenungan terhadap perasaan dikenal sebagai vedanānupassana satipatthāna. Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kepada kita agar berperhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi apapun. Pada permulaan latihan. Di sini kita perlu menjelaskan kembali tentang dua macam sensasi. bukan proses jasmani. seorang yogi biasanya mengalami sensasi mental dan jasmani yang tidak menyenangkan. dan tepat. yogi harus mengamatinya dengan perhatian penuh. baik itu menyenangkan. Kāyika-vedanā 2. Tetapi apapun sensasi yang dialaminya. dikenal sebagai kāyika-vedanā. yogi akan terbawa oleh hukum sebab-akibat yang saling berkaitan (paticcasamuppāda). sehingga yogi dapat mengerti sifat 42 .Oleh sebab itu. karena munculnya tergantung pada proses jasmani. kemudian perasaan tidak menyenangkan muncul. Tetapi kadangkadang perasaan atau sensasi yang muncul tergantung pada ketidaknyamanan terhadap proses jasmani. Jika perasaan atau sensasi tersebut timbulnya tergantung pada proses mental. biasanya yogi merasakan sensasi yang tidak menyenangkan baik itu di jasmani ataupun mental. Sebenarnya setiap perasaan atau sensasi adalah proses mental. Kita dapat menterjemahkannya sebagai perasaan jasmani atau perasaan tubuh. lahir kembali di kehidupan yang akan datang dan serta mengalami berbagai macam penderitaan. penuh semangat. jika yogi berpikir bahwa perasan itu tidak perlu diamati. tidak menyenangkan ataupun netral. Cetasika-vedanā Perasaan atau sensasi yang timbulnya tergantung pada proses jasmani. maka dikenal sebagai cetasika-vedanā. Kita dapat menyebutnya sebagai perasaan atau sensasi mental. Ketika seorang yogi merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. Sensasi tidak menyenangkan ini disebut kāyika-vedanā.

Menurut Abhidhamma.alamiah yang sebenarnya dari sensasi tersebut. Bahkan. Rasa sakit adalah proses alami yang seharus dimengerti sepenuhnya dengan mewaspadainya ketika rasa sakit itu muncul. harus dicatatnya sebagaimana saat hal itu muncul. pikiran. Ini adalah vedanānupassanā satipatthāna – perhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi. Singkatnya. tapi perasaan sakit bukanlah suatu proses yang harus ditakuti. yogi dapat mencapai pencerahan melalui sensasi sakit ini. Jika perasaan timbul. maka ia dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari rasa sakit secara umum dan khusus. tapi timbul bersama dengan hal yang berhubungan dengannya. Inilah yang dimaksud dengan cittānupassanā satipatthāna. Suatu hal yang alami bila yogi merasa takut pada sensasi jasmani yang tak menyenangkan yang dialaminya dalam latihan meditasi. ataupun keadaan mental yang muncul harus diamati dan dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka muncul. perasaan tersebut harus diamati dan dicatat sebagaimana ketika perasaan tersebut timbul. Ketika seorang yogi dapat dengan sukses mengamati rasa sakit dengan usaha yang gigih. Kemudian pandangan terang yang menembus pada sifat alamiah dari rasa sakit atau sensasi yang tidak menyenangkan akan menuntun yogi ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. Kesadaran tidak pernah timbul sendiri. kesadaran. Perhatian Penuh Terhadap Kesadaran Landasan perhatian penuh yang ketiga adalah cittānupassanā satipatthāna yang berarti perhatian penuh pada kesadaran (citta) dan bentuk-bentuk mental (cetasika) yang muncul bersama dengan kesadaran. Karakteristik khusus dan umum dari perasaan harus dimengerti sepenuhnya sehingga yogi tidak akan melekat pada perasaan tersebut ataupun menolaknya. setiap “pikiran” terdiri dari kesadaran dan hal yang berhubungan dengan kesadaran itu sendiri. Apapun itu. ketika kesadaran yogi tercemar oleh 43 . Oleh sebab itu. Keadaan mental yogi mungkin baik dan keadaan emosinya mungkin lebih baik.

Jika perhatian penuh kuat. Uddhacca-kukkucca: penyesalan. Aspak kedua: ketidakbahagiaan terhadap perbuatan yang telah dilakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. perasaan berat/kelambanan. suara. Vyāpāda: kemarahan atau niat jahat. 4.nafsu atau kemelekatan. Kesadaran tersebut dapat dicatat sebagai ‘kemarahan’ atau ‘marah’ sesuai dengan Mahā Satipatthāna Sutta. Kemarahan adalah salah satu bentuk mental yang dapat membawa yogi pada berhentinya penderitaan bila yogi mencatatnya dengan perhatian penuh. kekhawatiran atau ketidakbahagiaan terhadap apa yang pernah dilakukan. Vicikichā: keragu-raguan. Perhatian Penuh Terhadap Dhamma Landasan perhatian penuh yang keempat adalah dhammānupassanā satipatthāna. Kategori pertama adalah lima nivārana (lima rintangan mental). kemarahan itu muncul dan tenggelam. Thina-middha: kemalasan dan keengganan . Di sini Dhamma meliputi banyak kategori dari proses mental dan jasmani. Kāmacchanda: keinginan indera . Mengatasi kemarahan. Dengan mengamati kemarahan. 5. 1. dan sentuhan. Yogi kemudian menyadari bahwa kemarahan tidak bertahan lama. 44 . kemarahan akan hilang. 3. yogi harus mencatatnya sebagai kesadaran dengan kemarahan. rasa. yogi mendapatkan dua keuntungan: 1. bau. ketumpulan mental. 2. Jika kesadaran yogi tercemar dengan kemarahan. Contoh ini adalah perbuatan yang mengakibatkan karma buruk. Aspek pertama: ketidakbahagiaan terhadap kegagalan dalam melakukan sesuatu yang harus dilakukan di masa lampau. Merealisasi atau mengerti sifat alamiah kemarahan (muncul dan tenggelamnya kemarahan atau anicca).mengantuk. 2. yang berarti perenungan atau perhatian penuh terhadap Dhamma. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut sebagaimana adanya.keinginan terhadap obyekobyek bentuk.

Jika muncul 45 . Dua hal ini adalah ‘temen lama’ para yogi. mendengar. saat yogi mendengar lagu yang merdu. atau kecelakaan. Jadi apapun yang muncul dari kelima rintangan mental tersebut. keinginan itu akan hilang. Jika yogi mengetahui bahwa keinginan indera untuk mendengar lagu itu dapat membawanya pada keadaan yang tidak tidak diinginkan. Berperhatian penuh dengan cara seperti ini disebut dhammānupassanā satipatthāna atau perenungan terhadap obyekobyek pikiran. Contoh: jika yogi mendengar lagu yang merdu dari luar dan tidak mencatatnya. Hanya jika pikiran telah terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi (proses mental atau jasmani). yogi harus selalu waspada. Pikiran menjadi jernih dan dapat menembus/mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya.” Yogi mungkin masih terpengaruh oleh lagu tersebut jika perhatian penuhnya tidak cukup kuat. ia harus mencatatnya sebagai “mendengar. yogi tidak akan dapat proses mental dan jasmani. contohnya: perenungan terhadap rintangan mental (nivārana). Thina-middha. mungkin akan timbul keinginan untuk mendengarkan lagu tersebut.kāmacchanda. Jika yogi mengamati dan berperhatian penuh pada keinginan inderanya sebagaimana adanya. mencatatnya dalam hati ‘ingin. atau dapat menjadi penghalang kemajuan meditasinya. ingin. Jadi. kemalasan dan keengganan. Keinginan hilang karena telah diamati dengan penuh semangat dan perhatian penuh.’ maka ia telah mengikuti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Mahā Satipatthāna Sutta. hingga keinginannya hacur oleh perhatian penuh yang kuat. thina-middha akan menikmatinya.Selama pikiran tercemar. Saat perhatian penuh menjadi konstan dan kuat. yogi dapat terbebas dari kekotoran mental. Yogi mungkin ingin mendengarkan kembali lagu tersebut dan menikmatinya. ingin. yogi akan mencatat keinginannya sebagai ‘ingin. sebenarnya berarti mengantuk. saat yogi mengantuk. Keinginan untuk mendengarkan lagu adalah keinginan indera .

yogi tak bisa menyadarinya karena yogi menyukainya. atau berkelananya pikiran. sedangkan kukkucca adalah penyesalan. Ketika pikiran menjadi aktif dan siaga. yogi mungkin tidak dapat mengamati pikiran yang berkelana. Yogi berpikir bahwa pikirannya terfokus pada obyek meditasi. Itu sebabnya mengapa thina-middha atau perasaan ngantuk disebut sebagai ‘temen lama’ para yogi.sensasi menyenangkan dalam diri yogi. semangat. berkelana’ atau ‘berpikir. Penghalang mental kelima adalah vicikichā atau keraguraguan. Pada awal latihan. Yogi mungkin mempunyai keragu-raguan terhadap Buddha. yogi harus mencatat ‘berkelana. Keraguan apapun yang muncul. kita harus berusaha dan berjuang lebih keras dalam berlatih. yogi tak akan dapat mengatasinya. Jika yogi tak mampu mengamati rasa kantuknya. harus diamati dengan perhatian penuh. Jika pikiran berkelana. dalam hal ini gerakan dinding perut. inilah yang disebut sebagai uddhacca. berpikir. Shanga. sehingga yogi dapat membuat pikirannya aktif dan siaga. Uddhacca adalah kegelisahan atau gangguan. 46 . yogi harus waspada pada pikirannya sebagaimana adanya. ia akan mampu menyadarinya. Kecuali jika yogi telah mengerti sifat alamiah dari kemalasan dan keengganan (mengantuk). Yogi harus berperhatian penuh pada apapunsebagaimana adanya.’ Ini artinya uddhacca-kukkucca telah diamati. Kemudian yogi dapat mengatasi rasa kantuk. kegelisahan. Uddhacca-kukkucca adalah penghalang mental keempat. bukannya mencatat obyek meditasi. Dhamma. dan tepat. Dalam hal ini uddhacca berarti gangguan pikiran. Ketika pikiran berkelana atau berpikir sesuatu. Yogi bahkan tidak mengetahui bahwa pikirannya berkelana. Ketika yogi mengetahui bahwa pikirannya berkelana. pikiran akan terbebas dari rasa kantuk. Tetapi bila rasa kantuk yang timbul. yogi akan melekat serta menikmatinya. Hal ini membuat yogi berada dalam lingkaran kelahiran lebih lama. Artinya yogi harus mengamati dengan perhatian penuh. Jika kita mengantuk. Ini dikenal sebagai dhammānupassanā satipatthāna. atau teknik meditasi.

Cittānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap kesadaran dan segala yang berhubungan dengannya.Jadi inilah Empat Landasan Perhatian Penuh: 1. Kāyānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap fenomena tubuh atau jasmani. Dhammānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap Dhamma atau obyek-obyek pikiran. 3. 47 . 2. Vedanānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap perasaan. 4.

yogi menjadi tenang. bahagia. sedangkan sīla ketiga dari delapan sīla adalah menghindari semua perbuatan seksual. Hanya jika pikiran seorang yogi dalam keadaan murni dari segala rintangan mental.lima macam keinginan indera (kāmacchanda) dalam pikirannya. yogi dapat memurnikan perbuatan dan perkataannya yang merupakan pemurnian moral (sīla-visuddhi). obyek bau. salah satu murid Sang Buddha sakit dan terbaring di tempat tidur. Tentu saja akan lebih baik bila yogi dapat melaksanakan delapan sīla. Dengan melaksanakan delapan sīla. maka pikirannya pun akan dimurnikan sampai batas tertentu. dan obyek sentuhan . Sang Buddha mengunjuinya dan menanyakan kesehatannya. dan dapat berkonsentrasi pada obyek meditasi. sehingga yogi dapat mencapai pemurnian sīla. Setelah moralnya murni.BAB V TUJUH TINGKAT PEMURNIAN Untuk mencapai pencerahan. Jika yogi tidak menghindari hubungan seksual. Yogi harus melaksanakan paling sedikit lima sīla (lebih baik lagi delapan sīla). Bila pikirannya telah murni. Kemudian yogi mencapai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). obyek suara. obyek bentuk/rupa. Pemurnian Kelakuan Moral Tingkat permurnian pertama adalah pemurnian kelakuan moral (sīla-visuddhi). yogi harus melalui tujuh tingkat pemurnian (visuddhi). Bhante Uttiya menceritakan tentang 48 . Ketika bhante Uttiya. Sīla ketiga dari lima sīla adalah menghindari perbuatan asusila. Bila yogi tidak melaksanaan sīla. yogi dapat mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. pikirannya akan dicemari oleh rintangan mental dari keinginan indera (kāmacchanda-nivārana). damai. pemurnian tingkat kedua. yogi mungkin akan memiliki keinginan-keinginan untuk obyek rasa (makanan/ minuman).

atau hukum karma. maka kamu akan mencapai tingkat kesucian arahat. Jika kita ingin mencapai pengetahuan pandangan terang. Pandangan benar berarti menerima dan percaya hukum sebab dan akibat.sakitnya pada Sang Buddha: “Bhante. kamu harus membersihkan kelakuan moral dan pandangan benar-mu. Sang Buddha kemudian mengajukan pertanyaan. Kemudian.” Sang Buddha kemudian melanjutkan: Uttiya.” Kemudian Sang Buddha bersabda: Uttiya. Ketika kelakuan moral telah murni. aksi dan reaksi. pikiran menjadi tenang. “Di sini yang dimaksud dengan awal adalah pemurnian kelakuan moral (sīla) dan pandangan benar (sammā ditthi). damai. yogi akan dengan mudah berkonsentrasi pada semua obyek dari proses mental dan jasmani. Saya tidak tahu apakah saya dapat atau tidak dapat hidup hari ini atau besok. kamu harus membersihkan dari awal. Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan penekanan pada pemurnian sīla atau kelakuan moral karena itu merupakan syarat dasar untuk kemajuan dalam konsentrasi dan juga pandangan terang. pikiran 49 . berdasarkan kelakuan moral (sīla) yang murni. Jika awalnya sudah dibersihkan. “Apakah yang dimaksud dengan awal?” Kemudian Sang Buddha menjawabnya sendiri. Jika yogi mengembangkan perhatian penuh. Jadi saya ingin bermeditasi untuk menghancurkan segala macam kekotoran mental hingga mencapai tingkat kesucian keempat (arahat). sebelum saya meninggal. Jadi kemurnian kelakukan moral adalah persyaratan awal bagi yogi untuk maju. dan bahagia. Dengan berlatih demikian. Tolong berikan petunjuk singkat yang dapat membantu dalam mengembangkan latihan meditasi saya untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Pemurnian Pikiran Pemurnian kedua adalah pemurnian pikiran (citta-visuddhi). kamu akan mencapai berhentinya penderitaan. penyakit saya bukannya berkurang malah makin bertambah. kamu harus mengungkapkan Empat Landasan Perhatian Penuh.

yogi telah mencapai ditthi-visuddhi. Setiap tindakan selalu didahului dengan keinginan. Untuk mencapai pengetahuan ini. pengetahuan tentang sebab-akibat (paccaya-pariggaha-ñāna). pikiran dapat menembus sifat alamaiah dari proses mental dan jasmani. yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap kehidupan masa lampaunya. Kankhā berarti keraguan dan visuddhi berarti pemurnian. Jika seorang yogi menembus sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. wish or want 50 . kehendak. atau kemauan3 sebelum melakukan suatu tindakan atau gerakan. Maka dengan demikian yogi telah memurnikan pandangannya. kehendak. Pertama. yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa) melalui pengalamannya sendiri. atau kemauan. kehendak. Jika seorang yogi telah mencapai tingkat kedua dari pengetahuan pandangan terang.harus bersih dari segala macam kekotoran mental. Itulah sebabnya mengapa yogi 3 Keinginan. Ini dikenal sebagai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). Dengan pemurnian ini. terjemahan dari intention. Pengetahuan ini dikenal sebagai nāma-rūpa-pariccheda-ñāna – pengetahuan pandangan terang yang dapat membedakan antara mental dan jasmani. Pemurnian dengan Mengatasi Keraguan Tingkat pemurnian yang keempat adalah pemurnian dengan mengatasi keraguan (kankhā-vitarana-visuddhi) adalah. yogi tak akan menganggap kedua proses tersebut sebagai seseorang atau makhluk. Dengan demikian yogi telah mengatasi keraguan dan inilah yang disebut dengan pemurnian dengan mengatasi keraguan. pikiran akan bebas dari semua rintangan mental. yogi harus mengamati setiap keinginan. Pemurnian Pandangan Tingkat pemurnian yang ketiga adalah pemurnian pandangan (ditthi-visuddhi). Jika pikiran terkonsentrasi dengan baik pada fenomena mental dan jasmani. jiwa atau diri. atau kemauan.

yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. ingin. Yang pertama harus dilakukan. yang mana sebab dan yang mana akibat? Tindakan datang adalah akibat. Kemudian. apakah sikap duduk itu adalah seorang laki-laki. hal itu disebabkan keinginan untuk duduk di kursi. Ketika yogi mempunyai keinginan untuk mengangkat kakinya. pertama-tama catatlah keinginan. keinginan adalah sebabnya.’ Dalam proses membuka mulut. atau bhikkhu? Bukan semuannya. ingin.’ Semua gerakan dalam proses duduk harus diamati setelah mencatat keinginan.’ Ketika yogi hendak menekuk tangannya. buka.’ Jika konsentrasi kita cukup dalam. pertama-tama catatlah keinginan.harus berperhatian penuh terhadap setiap keinginan sebelum tindakan atau gerakan. kemudian catat gerakan menekuk tangan.’ kemudian ‘mengangkat. yogi harus mencatat ‘ingin.’ Ketika yogi sedang makan. Tanpa kehendak atau kemauan untuk datang ke sini. duduk. proses mental yang menyebabkan tindakan atau gerakan. Apakah ada yang duduk di kursi? Jika yogi pikir ada seseorang yang duduk di kursi. Ketika kita menekuk tangan. mengangkat. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. rentangkan. kemudian gerakan merentangkan tangan sebagai ‘rentangkan. ingin.’ kemudian ‘duduk. Ini hanyalah keinginan. rentangkan. tekuk. samanera. ingin.’ kemudian ‘tekuk. Duduk adalah proses jasmani. yogi mempunyai keinginan untuk membuka mulut untuk memasukkan makanan. mengapa yogi duduk di kursi? Benar. Mayat tidak dapat duduk di kursi karena tak punya keinginan. dapatkah yogi datang ke sini? Jadi. dan membuka mulut adalah akibat. Lalu.unsur angin dari dalam dan luar). keinginan adalah sebab.’ kemudian ‘buka. Ketika kita merentangkan tangan. ‘ingin. ada proses jasmani yang didukung oleh unsur angin (vāyodhātu . Pada sikap duduk. kita akan mengerti bahwa tak ada 51 . dengan menyadari keinginan dan tindakan yang mengikutinya. maka yogi harus membawa sesosok mayat dari rumah sakit dan mendudukkannya di kursi. Jadi jika kita ingin duduk. pertama-tama kita harus mencatat. wanita. duduk.

yogi mengatasi keraguan mengenai apakah ada seorang individu atau makhluk yang abadi dalam dirinya. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mendorong kaki. Ketika kita mengamati keinginan sebelum mengangkat kaki. Untuk mengamati. Beberapa yogi kesulitan untuk mengamati keinginan sebelum suatu tindakan dilakukan. inilah yang dikenal sebagai pemurnian dengan mengatasi keraguraguan (kankha-vitarana-visuddhi). tidak ada orang yang melakukan sesuatu. 52 . Kemudian.apapun yang timbul tanpa sebab. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mengangkat kaki. Dengan mengerti hal ini. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan menurunkan kaki. yang disebut seseorang. Lalu. Kemudian apa yang sesungguhnya ada hanyalah proses sebab dan akibat. Jadi. kita dapat dikatakan hampir mengerti sepenuhnya hukum sebab dan akibat. pria atau wanita adalah hanya suatu proses sebab dan akibat. yogi dapat mengatasi keragu-raguan pada kehidupan yang lampaunya. Oleh sebab itu. itu disebut sakkāya-ditthi atau atta-ditthi (pandangan salah mengenai seorang pelaku). Dengan cara inilah. apa yang ada di masa lampau? Hanyalah proses sebab dan akibat. karena yogi tidak cukup sabar. Ketika kita mengamati keinginan sebelum menurunkan kaki. Begitu juga ketika kita mengamati keinginan sebelum mendorong kaki. Tidak ada pelaku. sehingga kita dapat mengamati keinginan sebelum suatu tindakan atau gerakan dilakukan. apapun yang yogi sadari hanyalah suatu proses yang alami. Sehingga yogi tidak ragu akan kehidupannya dimasa lampau. tidak ada yang disebut dengan ’seseorang’ yang menjadi presiden ataupun raja. Jika yogi percaya ada orang yang duduk. Jika kita mengerti hubungan dari sebab dan akibat. Segala sesuatu muncul karena ada sebabnya. dan seterusnya. Jika yogi mengerti sepenuhnya hubungan sebab dan akibat. kita harus sabar dengan tindakan atau gerakan kita.

Dengan maksud memberikan penekanan pada penembusan. merasa ringan. ñāna berarti pengetahuan. usahanya stabil. Konsentrasinya dalam sehingga yogi mengalami kedamaian. Tapi ada juga yogi yang mencapai tingkat ini dalam seminggu. damai dan sebagainya. Jika seorang yogi menganggap ini adalah nibbāna. Ñāna dan dassana di sini berkenaan dengan perngertian yang sama. kebahagiaan. Kadang-kadang yogi merasa badannya menjadi ringan. Dengan pengalaman bagus tersebut. Yogi tidak boleh puas dengan pengalaman ini dan harus terus maju dengan latihannya. dan mantap. seperti telah terangkat atau seolah-olah seperti terbang di udara. ketenangan. dassana berarti pandangan. tidak terlalu kuat atau kaku.” Bila ini terjadi. ia akan keluar dari nibbāna. Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan Visuddhi yang keenam adalah patipadā-ñānadassanavisuddhi. Yogi berpikir bahwa bila ia melangkah lebih jauh. Untuk itu yogi harus meneruskan meditasinya dan berlatih dengan sungguhsungguh. yogi mungkin berpikir “Ini pasti nibbāna – ini luar biasa. tenang.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan dan Bukan Jalan Visuddhi yang kelima adalah pemurian pengetahuan dan pendangan terhadap jalan dan bukan jalan (maggāmaggañānadassana-visuddhi). sedang. bahagia. Pada tingkat pandangan terang ini. tidak lemah. Patipadā berarti jalan/arah latihan. naskah menggunakan dua 53 . Tingkat ini dapat dialami dalam dua minggu jika yogi berlatih dengan sungguh-sungguh. saya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. kegiuran. Ini adalah tingkat yang sangat baik yang harus dilalui oleh yogi. ini lebih baik daripada memiliki satu juta dollar – sekarang saya telah mencapai nibbāna. keseimbangan. yogi tidak dapat melangkah lebih jauh karena yogi melekat pada keadaan tersebut. Ini hanyalah pengalaman yang kecil dan tidak berarti. yogi mendapatkan pengalaman yang sangat baik. Perhatian penuh yogi sangat tajam. ini adalah salah jalan. dan sebagainya.

Jika yogi mencapai tingkat ini. yogi akan akan berhenti pada maggāmagga-ñānadassana-visuddhi. yogi berada di jalan yang benar yang menuntun menuju ke tingkat kesucian arahat atau berhentinya penderitaan. dilanjutkan dengan pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan yang benar dari latihan (patipadāñānadassana-visuddhi). karena pengalaman yogi sesuai dengan pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih rendah dan juga pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih tinggi. yogi harus melalui kesembilan tingkat pandangan terang dan mendekati tujuan. Ini berarti bahwa bila yogi telah melewati maggāmagga-ñānadassanavisuddhi. Jika yogi di perbatasan. Pengetahuan dari Kematangan Jika yogi meneruskan latihannya. akan dapat melihat ke depan dan belakang. Jika yogi berdiri di perbatasan. Dengan begitu yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap jalannya latihan. Jika yogi berada di jalan yang salah. Jadi patipadā-ñānadassana-visuddhi berarti pemurnian dari pengetahuan dan pandangan tentang jalan/arah dari latihan. yogi telah mencapai garis batas dan berdiri di sana. Jadi. yogi telah mencapai anumola-ñāna (pengetahuan adaptasi). Keraguan itu telah dihancurkan oleh pandangan dan pengetahuan tentang jalan dari latihan.kata dengan pengertian yang sama. perhatian yogi berarti ke depan. yaitu pengetahuan dan pandangan. Yang dimaksud dengan garis batas di sini adalah garis batas antara orang biasa (puthujjana) dan orang mulia/suci (ariya). Kemudian. tapi bila maju terus. apakah akan maju terus atau mundur? Jika mundur. semua penderitaan akan berhenti. jadi yogi dapat menilai bahwa arah latihannya adalah benar. Karena yogi berada di jalan yang benar. yogi akan sampai pada garis batas dalam waktu singkat. haruskah saya 54 . yaitu berhentinya segala macam unsur mental (nāma) dan unsur jasmani (rūpa). Di depan adalah berhentinya segala gabungan benda. “Jika saya maju terus. Dalam dua atau tiga momen pikiran. Kemudian yogi akan tahu. perhatian yogi ke masa lampau.

Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan 55 . karena telah memtong garis keturunan puthujjana. Pengetahuan mengenai garis perbatasan dikenal sebagai gotrabhu-ñāna. Kata ‘kappa’ berarti jumlah kehidupan yang tidak terhitung. muncul pengetahuan mengenai jalan (magga-ñāna) yang merealisasi empat kebenaran mulia sepenuhnya. Pada perbatasan. Saya kira ini sudah cukup. yogi menjadi makhluk mulia/suci (ariya). ’Gotra’ berarti puthujjana atau keturunan. ia menjadi seorang mulia/suci (ariya). Sebenarnya. Saya harus mengakhiri semua penderitaan ini.maju?” Yogi akan memikirkannya dan jawabannya adalah “ya” karena dia sudah menderita lama sekali (kappa). Segera setelah garis batas pengetahuan kematangan. yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. Yang Mulia Nyanaponika Thera menterjemahkan gotrabhu-ñāna sebagai pengetahuan mengenai kematangan karena pengetahuan yogi cukup matang untuk mencapai jalan kesucian. kita dapat menterjemahkannya sebagai pengetahuan yang telah memotong garis keturunan puthujjana. garis keturunan dari seorang puthujjana dipotong secara total. Setelah yogi melawati garis batas itu. Ketika garis keturunan puthujjana telah dipotong. Jika yogi berada di perbatasan. jadi tak ada lagi puthujjana.” Perhatian yogi kemudian akan ditujukan pada berhentinya penderitaan. “Saya sudah menderita dalam jumlah kehidupan yang tidak terhitung dalam siklus dukkha ini. dia akan merenungkan pengalaman masa lalunya.

pemurnian pengetahuan dan pandangan.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Karena yogi telah merealisasi empat kebenaran mulia ini. pengetahuan pertama mengenai jalan kesucian. Jadi. Hanya dengan demikianlah yogi telah mencapai ñānadassana-visuddhi – pemurnian pengetahuan dan pandangan. Jika yogi telah mencapai sotāpatti-ñāna. pengetahuan dan pandangannya mengenai kebenaran menjadi murni. jadi arti keseluruhannya adalah pemasuk arus. 56 . Jika yogi telah mencapai visuddhi ketujuh. Sotā berarti arus dan apanna berarti pemasuk. pengetahuan pandangan ini dikenal sebagai ñānadassanavisuddhi. berarti yogi telah mencapai arus jalan mulia beruas delapan. yogi telah menjadi seorang sotāpanna. Visuddhi ketujuh mengacu pada sotāpatti-ñāna.

Faktor mental yang utama yaitu sati (perhatian penuh). Sati harus kuat dan tajam. terus-menerus. Menyeimbangkan Kemampuan Mental Untuk membuat kelima kemampuan mental ini menjadi kuat. menonjol dan seimbang seperti yang disebutkan dalam kitab komentar visuddhimagga. pandangan terang atau penerangan Untuk meditasi. Samādhi (konsentrasi) harus seimbang dengan viriya (semangat atau usaha). Samādhi harus dalam dan paññā harus menembus. ini juga dikenal sebagai Pancabala (lima kekuatan mental). Sati harus konstan. seorang yogi tidak dapat mencapai pandangan terang dan pencerahan dari berhentinya penderitaan. dan tanpa henti. Jika kemampuan mental ini kuat tapi tidak seimbang. indriya berarti kemampuan). samādhi. kelima kemampuan mental ini harus kuat. dan paññā. viriya. ada sembilan panduan yang yogi harus ikuti. Saddhā harus kokoh. dan tak tergoyahkan. 57 . tajam dan seimbang. Saddhā berarti keyakinan yang didapat melalui pengertian benar atau yang disertai dengan pengertian benar Viriya berarti usaha yang tidak kenal lelah atau semangat Sati berarti perhatian penuh atau perhatian yang konstan (terus menerus) Samādhi berarti konsentrasi yang dalam Paññā berarti kebijaksanaan. sati.BAB VI SEMBILAN CARA UNTUK MENAJAMKAN KEMAMPUAN MENTAL Lima kemampuan mental seorang yogi adalah saddhā. tajam. tidak perlu seimbang dengan kemampuankemampuan yang lain. Saddhā (keyakinan) harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan). Kelima faktor ini dikenal sebagai pancindriya (panca berarti lima.

Hal ini disebabkan oleh pengetahuan analitisnya mengenai Dhamma atau pengalamannya. Tidak ada ruang untuk alasan-alasan logika. Menurut kitab komentar visuddhimagga. tujuan saya adalah untuk melihat apakah tekniknya benar. jadi kadang-kadang mereka menganalisa apa yang mereka alami dalam meditasi dan berbicara mengenai sesuatu yang bertentangan dengan realitas atau kenyataan. Jika seorang yogi percaya pada Sang Buddha atau ajaranNya. atau pikiran rasional. yogi akan menganalisanya. Sebelum saya memulai meditasi vipassanā. atau dimengerti. Dhamma dan Sangha. Jika Dhamma tidak ditembus dengan benar. seorang yogi mungkin akan memiliki sedikit keyakinan atau tidak percaya pada ajaran. pengetahuan analitis tersebut akan menghalangi konsentrasinya.Jika saddhā lemah dan paññā kuat. maka kebijaksanaannya atau pengetahuan pandangan terang. Dan akhirnya yogi akan memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha. berpikir rasional atau analisa yang bukan merupakan pengertian benar terhadap proses alami dari fenomena mental dan jasmani. Beberapa yogi ingin mempertunjukkan pengetahuan mereka mengenai ajaran Buddha atau Dhamma . Ketika saya pertama kali memulai meditasi vipassanā. Hanya setelah yogi menyelesaikan latihan meditasi dan mengalami pencerahan. terutama jika yogi memiliki pengetahuan Dhamma yang luas. Ketika sedang mengalami proses mental atau jasmani. dipahami. yogi akan dapat menganalisanya dengan cara apapun. karena pengetahuan yang didasari oleh pengalaman meditasinya. keyakinan harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan. Pada waktu itu saya belum bertemu dengan Yang Mulia Mahāsi Sayadaw 58 . kemudian konsentrasinya akan terpecah atau melemah. seimbang dengan keyakinan (saddhā) yang kuat. yogi mungkin akan menganalisa pengalamannya pada waktu meditasi. pengetahuan pandangan terang) dan sebaliknya. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihannya tanpa gangguan oleh pengetahuan atau alasan-alasan analiti. saya membaca dua jilid buku ’meditasi vipassanā’ yang ditulis oleh Yang Mulia Mahāsi Sayadaw. Ketika yogi menganalisa pengalamannya.

sejak saya menjadi sāmanera (calon bhikkhu). perhatian penuh pada pernafasan. teknik ini pasti benar. Walaupun saya pergi ke pusat meditasi Mahāsi dan memulai berlatih teknik tersebut. ketika saya berumur 17-24 tahun. maka yogi bisa menjadi percaya buta. Waktu itu adalah tahun 1953. saya tidak dapat menerimanya sebagai sesuatu yang memuaskan. Walaupun saat itu saya menganggap teknik Mahāsi Sayadaw benar. Hal itu dikarenakan saya melekat pada metode tradisional. Jika kebijaksanaan lemah dan keyakinan kuat. unsur api (tejo-dhātu). Dikatakan percaya buta karena yogi memiliki 59 .secara pribadi. Kamu harus mengesampingkan pengetahuan Dhamma dari buku jika kamu ingin mendapatkan sesuatu dari latihan meditasi ini. Tetapi perenungan terhadap gerakan kembungkempisnya perut. Setelah menerima nasehatnya. unsru air (āpo-dhātu) dan unsur tanah (pathavī-dhātu) juga termasuk di dalam gerakan perut. Ia berkata kepada saya: U Janaka. kamu telah melalui ujian yang lebih tinggi dan kamu sekarang adalah dosen di universitas. saya mengesampingkan pengetahuan Dhamma saya dan berlatih seperti yang dinasehatkan oleh guru saya. karena saya tidak menganalisa pengalaman atau teknik berdasarkan konsep awal atau pengetahuan yang saya telah pelajari dari buku. Saya berlatih dibawah bimbingan bhante U Nandavamsa. Dengan sendirinya keyakinan saya seimbang dengan kebijaksanaan. Pada waktu itu. saya melakukannya dengan banyak keraguan. Saya menerima teknik itu sebagai teknik yang benar karena saya mengetahui bahwa gerakan perut adalah vāyo-dhātu dan ketiga unsur yang lain. Secara tradisional. saat saya melewati masa vassa (musim hujan) di sana selama empat bulan melaksanakan program meditasi intensif. Saya berlatih ānāpānassati. yogi cenderung lebih menyukai metode meditasi pernafasan (ānāpānassati). Itulah sebabnya mengapa saya ingin menguji teknik Mahāsi Sayadaw yang dimulai dengan perenungan terhadap gerakan perut. adalah sangat sederhana (mudah dimengerti) bagi mereka yang telah mempelajari teknik meditasi dari buku. Karena yogi dapat merenungkan keempat unsur. saya adalah seorang dosen di Universitas Buddhist di Mandalay.

Jika seorang yogi percaya buta. konsentrasinya menjadi sangat dalam dan kuat. jika usaha yogi tidak cukup. otomatis dan seperti tanpa usaha. Akibatnya konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan dan keenganan atau mengantuk. yogi harus mengurangi usahanya.keyakinan tanpa disertai pengetahuan. Usaha harus seimbang dengan konsentrasi. ketika seorang yogi telah berlatih meditasi selama dua atau tiga minggu. Jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. tapi jangan terlalu bersemangat. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. tidak terlalu kuat atau lemah. saddhā harus seimbang dengan paññā. Untuk dapat melakukan hal itu. mencatat obyek dengan sendirinya. Kitab komentar mengatakan: jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. kebijaksanaan. konsentrasi yogi biasanya lemah dan sering berkelana. kitab komentar menyatakan: Jika konsentrasi terlalu kuat dan usaha terlalu lemah. Jika seorang yogi antusias pada pencapaian pandangan terang. karena konsentrasi ini usahanya akan stabil dan mantap. Dalam hal ini. mencatat apapun yang muncul di pikirandan jasmaninya dengan perhatian penuh. yogi harus mengikuti dan mengamati pikirannya sebagaimana adanya. pikiran yogi akan menjadi kacau dan gelisah (uddhacca). Kemudian secara perlahan-lahan yogi akan mencapai tingkat konsentrasi tertentu. saddhidriya dan paññindriya hasrus seimbang. pikiran yang mencatat perlahan-lahan akan menjadi tumpul dan berat. Samādhi (konsentrasi) dan viriya (usaha) juga harus seimbang. Jadi. Pikiran yang mencatat. ia bisa melakukan usaha yang berlebihan dalam latihannya dan menyebabkan pikiran menjadi kacau dan gelisah. Pada beberapa kasus. Di awal latihan. menjaga pikirannya agar stabil dan tenang. Oleh sebab itu. atau kecerdasan. dan cenderung untuk percaya dengan mudah segala teori atau doktrin. ia bisa jatuh pada doktrin atau teori yang menuntunnya ke jalan yang salah. Akan tetapi. maka konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan atau keengganan (thina-middha). pengetahuan atau kebijaksanaan. 60 .

Untuk menjaga agar konsentrasi seimbang dan usaha. bertahan lama. pikiran menjadi semakin tumpul. Sikap duduk yang pasif akan membuat pikirannya lebih terkonsentrasi pada obyek dan karena semakin sedikit usaha yang diperlukan. Walaupun konsentrasi yogi berkembang. terkondisi oleh muncul dan tenggelam (annica). Menurut visuddhimagga. konsentrasinya hanya dapat membuat yogi mencapai ketenangan dan kebahagian dalam batas tertentu. Tetapi.Jadi konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha (viriya). dapat dikatakan bahwa perhatian penuh (sati) tidak penah terlalu kuat dan tajam. Jadi. Jika konsentrasinya dalam. ada sembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental ini yang harus diikuti oleh seorang yogi. tak terganggu dan berkesinambungan. konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha. Oleh karena itu. yogi tidak dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Kadang-kadang seorang yogi tidak percaya bahwa setiap proses mental dan jasmani adalah tidak kekal. Cara pertama. tergantung pada situasi atau keadaan. Menurut kitab komentar. Ada juga beberapa yogi yang usahanya melebihi konsentrasinya. sehingga menimbulkan konsentrasi yang dalam. yogi harus ingat bahwa ia akan mengerti lenyapnya proses mental dan jasmani atau benda-benda terdiri dari gabungan beberapa unsur ketika ia melihat atau mengamati sebagaimana adanya. pandangan terang akan terbuka secara alami dan yogi akan mampu mengerti proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa). Karena konsep ini. Dalam kitab komentar dikatakan: seorang yogi harus ingat 61 . Lalu perhatian penuh menjadi konstan. kita tidak dapat mengatakan bahwa sati terlalu kuat atau tajam karena itu yang terbaik adalah yogi selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas mental dan jasmani dari waktu ke waktu. Hal ini harus menjadi sikap seorang yogi. hanya sedikit yogi yang mengalami konsentrasinya melebihi usahanya. yogi harus berlatih meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk.

Jika yogi kurang hormat pada teknik atau hasil dari meditasi. Kadang-kadang yogi sangat melekat pada kipas angin karena cuaca panas. seperti: ruang meaditasi yang cocok. Dengan perhatian penuh. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut. keadaan panas 62 .’ Jika merasa panas. baik itu panas. makanan. Cara kedua. yogi tidak dapat mengkonsentrasikan pikirannya dengan baik pada obyek meditasi dan yogi tidak bisa mengerti sifat alamiah sebenarnya dari nāma dan rūpa. Yogi ingin duduk di bawah kipas angin. bertahan lama. tujuh jenis kecocokan yang mana yogi tergantung padanya. yogi harus tetap berusaha dalam latihannya. Jika saya katakan ‘sati. yogi tidak boleh memilih. Jika yogi dapat melakukannya.’ berarti perhatian penuh yang konstan. dingin. maka yogi tidak akan berusaha sungguh-sungguh dalam latihannya. bertahan lama. dia harus secara konstan dan berkesinambungan untuk waspada terhadap apapun yang timbul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. tidak terganggu. Perhatian penuh sebenarnya adalah sumber dari segala pencapaian. dan berkesinambungan. contoh: yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan serius. Ini adalah situasi yang sangat penting yang harus diikuti oleh setiap yogi.bahwa dia akan mengerti ketidakkekalan dari suatu kehidupan atupun proses mental dan jasmani jika dia mengamatinya. cuaca. ia dapat mencapai konsentrasi yang dalam sehingga dapat mengembangkan pandangan terang yang menembus kepada sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan rasa hormat. Apakah kondisinya cocok atau tidak. ataupun hangat. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. dan tidak terganggu. Cara ketiga. Selalu berperhatian penuh sepanjang hari tanpa istirahat. Sebenarnya yogi haru netral kepada cuaca. Akibatnya. dan sebagainya. perhatian penuh yogi terhadap proses mental dan jasmani harus konstan. Hanya dengan demikian. bukan perhatian biasa. Cara keempat. Ketika yogi sedang terjaga.

sehingga rasa sakit tidak mengganggu konsentrasinya. Jadi. Jika yogi mengamati rasa sakit.’ Oleh karena itu. Tetapi jika yogi menyadari bahwa rasa sakit itu hanyalah proses mental dari perasaan yang tidak menyenangkan.tersebut perlahan-lahan menjadi ‘teman. Walaupun yogi mengetahuinya secara teori. penyelidikan Dhamma (Dhammavicaya) . usaha (viriya). Dia harus mengingat cara tersebut dan melatihnya berulang-ulang dengan kemampuan yang dimilikinya agar dapat mencapai konsentrasi yang dalam. yogi juga harus mengetahuinya secara praktek. Cara kelima. seorang yogi harus mengingat bagaimana caranya dia mencapai konsentrasi yang dalam. tapi ini hanyalah pikiran. sehingga nampaknya rasa sakitnya bertambah. dengan konsentrasi yang dalam. pikiran menjadi lebih peka. yogi tidak akan waspada lagi terhadap dirinya atau bentu tubuhnya.’ Yogi yang berperhatian penuh tidak memiliki musuh sama sekali di dunia. bukan rasa sakit itu yang menjadi lebih kuat. dan keseimbangan mental (upekkhā). Yogi harus mengembangkan ketujuh bhojjhanga ketika diperlukan. ketenangan (passaddhi). sumber dari semua pencapaian. Yogi dapat membedakan antara sensasi dan pikiran yang mencatatnya. Semua fenomena adalah ‘teman’ karena fenomena tersebut membantu yogi pada pencapaian pandangan terang atau pencerahan yaitu berhentinya semua penderitaan. konsentrasi (samādhi). yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. 63 . Yang yogi mengerti pada saat itu hanyalah sensasi rasa sakit dan pikiran yang mencatatnya. pikiran dapat merasakan rasa sakit itu dengan lebih jelas. seorang yogi harus mengembangkan tujuh faktor pencerahan (bhojjhanga). Tujuh faktor pencerahan tersebut adalah: perhatian penuh (sati). perhatian penuh adalah segalanya. Sebenarnya. kebahagiaan (pīti). konsentrasinya menjadi lebih kuat dan rasa sakit mungkin terasa semakin kuat. Cara keenam. Rasa sakit seperti seorang ’teman. Dia tidak lagi mengidentifikasikan rasa sakit dengan dirinya.’ Demikian juga dengan sakit. Dengan perhatian penuh.

Cara ketujuh. Ini berarti yogi tidak boleh berhenti berlatih meditasi vipassanā hingga yogi mencapai tingkat kesucian arahat. pengetahuan pandangan terang terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani tak akan tercapai. Sehingga yogi tidak membuat usaha yang cukup dalam latihannya dan perhatian penuhnya tidak akan konstan. Itulah sebabnya mengapa naskah kitab suci menganjurkan untuk mengasah kelima kemampuan mental ini. Hanya dengan cara demikianlah. dan tepat. Keantusiasan yogi untuk mencapai tingkat kesucian arahat akan membuat yogi tetap berlatih dengan usaha yang tepat sehingga membuat kelima kemampuan mentalnya menjadi kuat dan tajam. Yogi khawatir dan berpikir bahwa jika dia meneruskan perjuangannya dengan cara seperti ini selama sebulan. ada kecenderungan dan keinginan untuk merubah posisi sehingga rasa sakit itu hilang. berperhatian penuh. Seharusnya. dan bertahan lama. kapanpun rasa sakit mental dan jasmani yang muncul. Cara kedelapan. Jika konsentrasi lemah. yogi tidak boleh berhenti setengah-jalan dalam mencapai tujuan. dia akan mati karena kelelahan atau sakit. Jika rasa sakit muncul. konsentrasi yang dalam tidak akan timbul. berkesinambungan. Cara kesembilan. rasa sakit dapat menjadi ‘teman. tanpa mengkhawatirkan tubuh. Yogi tidak perlu cemas terhadap kesehatan dan tubuhnya. Jika perhatian penuh terputus. 64 . yogi tidak perlu cemas terhadap tubuhnya atau hidupnya. yogi harus berjuang untuk mencatatnya dengan berusaha lebih keras dalam berlatih. yogi harus berusaha lebih giat untuk mengatasi rasa sakit tesebut dengan waspada terhadap rasa sakit dengan penuh semangat. Berjuanglah sekuat mungkin dan berlatih dengan sungguh-sungguh sepanjang hari tanpa istirahat. karena yogi segan untuk mencatatnya. seorang yogi yang berjuang sangat keras bermeditasi dari jam empat pagi sampai jam sembilan atau sepuluh malam tanpa istirahat.’ karena rasa sakit dapat membantu yogi mencapai konsentrasi yang dalam dan pandangan terang yang jernih. Kadang kala. takut menjadi lelah.

Jangan berhenti setengah jalan dalam mencapai tujuanmu. Jangan cemas terhadap kesehatan jasmani dan hidupmu selama latihan meditasi. Mempertahankan perhatian penuh yang konstan. Melatih Dhamma dengan serius dan penuh rasa hormat. Ingatlah tujuan dari merealisasikan ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. Ingatlah bagaimana caranya mencapai konsentrasi yang telah dicapai sebelumnya. 2. 5. Kembangkanlah tujuh faktor pencerahan. Atasi rasa sakit jasmani (dukkha-vedanā) melalui usaha yang gigih dalam berlatih. 4. 6. 7. 65 . 8. 3. Tujuh macam keadaan yang cocok harus diikuti atau diamati. inilah kesembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental seorang yogi: 1. dan berkesinambungan dengan tetap waspada terhadap segala kegiatan sehari-hari dari waktu ke waktu tanpa henti sepanjang hari. Yogi harus terus berjuang sebelum mencapai tingkat kesucian arahat. tak tergganggu. 9.Ringkasannya.

Tapi yang paling utama adalah Dhamma yang mencakup teknik meditasi yang sedang dilatihnya. karena jika yogi menderita masalah pencernaan. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. Yogi dianggap sehat sejauh ia dapat mengamati proses mental dan jasmani. Seorang yogi harus mempunyai faktor yang satu ini agar berhasil dalam perjuangannya menuju kebebasan. Seorang yogi harus memiliki keyakinan yang kuat dan teguh pada Buddha. perhatian penuhnya menjadi berkesinambungan. Kejujuran adalah prosedur terbaik. Faktor keempat adalah energi/semangat/usaha (viriya). Ini berarti bahwa yogi tidak boleh berbohong pada guru atau temen berlatihnya (yogi lain). hasilnya 66 . atau sakit yang lainnya. sering pusing. Dhamma. dan teguh (padhāna). Jika yogi menderita sakit kepala. Makanan yang dimakannya harus dapat dicerna (yaitu: makanan yang tidak menyebabkan masalah lambung). Jika viriya atau padhāna meningkat. Faktor ketiga adalah yogi harus jujur dan apa adanya. Jika hal di atas tercapai. Yogi tidak boleh membiarkan semangat atau usahanya menurun.BAB VII LIMA FAKTOR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG YOGI Seorang yogi harus memiliki lima faktor untuk bisa mendapatkan kemajuan dalam meditasi pandangan terang. dia tidak akan mampu berlatih dengan baik. Faktor pertama adalah keyakinan (saddhā). Pandangan terang akan menjadi tajam dan menembus. perut. dan Sangha. Faktor kedua adalah yogi harus sehat mental dan jasmani. kuat. konstan dan tak terganggu. masalah lambung. tapi yogi harus terus-menerus memperbaiki atau meningkatkannya. ini bukan berarti yogi tidak sehat. Bukan semangat biasa tetapi semangat atau usaha yang tak tergoyahkan.

Pada awalnya seorang yogi mungkin tak memiliki faktor ini. Hal ini mengacu pada kebijakasanaan pandangan terang tentang timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani (udayabbaya-ñāna) yang merupakan tingkat keempat dari pengetahuan pandangan terang. yaitu anicca. dan anatta. Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan bahwa seorang yogi harus memiliki kebijaksanaan yang mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. tingkat kesucian pertama.pengetahuan yang menembus atau mengerti ketiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. Walaupun kita menggunakan kata kebijaksanaan. dia telah mencabut konsep jiwa atau diri. Jadi inilah kelima faktor yang harus dimiliki oleh seorang yogi. seseorang atau individu (sakkāya-ditthi) dan keraguan (vicikichā) 67 . Tingkat keempat adalah udayabbaya-ñāna . dukkha. Faktor kelima adalah kebijaksanaan (paññā). ini tidak mengacu pada kebijaksanaan biasa atau pengetahuan.pengetahuan mengenai timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. tetapi yogi harus berusaha dengan padhāna (semangat yang kuat dan teguh) untuk bermeditasi pada proses mental dan jasmani untuk mencapai pengetahuan pandangan terang keempat. Seorang yogi diharapkan memiliki faktor ini.pengetahuan yang dapat membedakan antara mental dan jasmani.pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat. Jadi Sang Buddha bersabda bahwa paññā di sini berkenaan dengan tingkat keempat pengetahuan pandangan terang yang menembus pada timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani. Jika seorang yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. Jika seorang yogi memiliki kebijaksanaan. Tingkat pertama adalah nāma-rūpa-pariccheda-ñāna .adalah pengertian yang jelas terhadap sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Tingkat kedua adalah paccayapariggaha-ñāna . yogi pasti mendapat kemajuan hingga mencapai paling tidak pengetahuan terhadap jalan kesucian yang terrendah yaitu sotāpatti-magga-ñāna. Tingkat ketiga adalah sammasana-ñāna .

yogi dapat menghancurkan sakkāyaditthi dan atta-ditthi. Jika yogi tidak sedang mengalami pandangan terang ini. seluruh dunia diciptakan oleh mahabrahma. brahma. dan ular-ular berbisa. ‘Pati’ berarti pencipta atau penguasa dan ‘Praja’ berarti makhluk hidup. yang merupakan bahaya yang besar bagi 68 . Dalam bahasa Pali disebut Paramatta. ini menjadi ‘parama’ dan ‘atma. Pada tingkat pandangan terang ini.kepada Tiratana. Jadi paramatma berarti jiwa yang paling suci. Mahabrahma ini memiliki banyak nama seperti Isvara. sakkāya-ditthi dan atta-ditthi akan datang kembali. Jika kita bagi kata paramatma ini menjadi dua kata. Sakkāya-ditthi hanya dapat dicabut atau dihancurkan sepenuhnya dengan pencapaian tingkat kesucian pertama atau sotāpatti-magga-ñāna. Ada juga yang menterjemahkan kata ini sebagai jiwa yang besar atau diri yang besar. dia telah mencabut sakkāya-ditthi dan atta-ditthi. dan hewan-hewan. dewa. Yogi yang telah mencapai kemurnian pikiran. ia menciptakan semua makhluk hidup – manusia. Dia bahkan menciptakan harimau. pikirannya menjadi cukup tajam untuk menembus sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Paramatma adalah istilah Hindu atau Sansekerta. yang tersuci dan atma berarti jiwa atau diri. Atta Dalam Paham Brahma Kita harus mengerti konsep sakkāya-ditthi dan atta-ditthi dari sudut pandang agama Hindu. Kemudian yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani dan juga mengerti karakteristik khusus dari fenomena mental dan jasmani. Jadi dia adalah penguasa makhluk hidup karena dia yang menciptakannya. singa. Menurut agama Hindu atau Brahma. walaupun tidak terlalu kuat. Ketika yogi dapat mengerti karakteristik khusus fenomena mental dan jasmani dan dapat membedakan nāma dan rūpa. Paramatma. Ketika kondisi dunia cukup bagus untuk makhluk hidup tinggal. dan Prajapati.’ Di sini parama berarti yang termulia. Inilah tingkat pandangan terang pertama. Jiwa ini cukup besar untuk menciptakan dunia dan makhluk hidup.

Atta dalam Agama Buddha Kita bukan Hindu tapi kita memiliki konsep mengenai jiwa walaupun konsepnya tidak terlalu kuat karena kita tidak sepenuhnya mengikuti ajaran Sang Buddha. Jadi siklus reinkarnasi akan terus berlangsung. Tetapi jika tubuhnya akan hancur. jiwa itu mengetahuinya. jiwa kecil atau diri timbul pada setiap makhluk hidup menurut paham Brahma. duduk. jivā-atta atau diri juga tidak dapat dihancurkan pada kehidupan yang akan datang. jwa. karena perbuatan berjasa adalah karma baik. karena didukung oleh mahabrahma atau prajapati. atau ego yang abadi disebut atta-ditthi. duduk. Kemudian semua makhluk bangun.manusia. dan sebagainya. makhluk tersebut seperti mayat. Inilah konsep yang diyakini oleh paham Brahma mengenai jiwa. yang disebut diri. Kita mengerti secara teori bahwa 69 . berdiri. kita menyebutnya sebagai reinkarnasi. Bahkan seekor serangga juga memiliki jiwa yang kecil di dalamnya. Ini adalah abadi dan tidak dapat dihancurkan dengan cara apapun. Tetapi jiw yang abadi tersebut. menurut menurut Brahma ada sesuatu yang abadi di dalam diri kita. Kepercayaan atau konsep mengenai sesuatu. jiwa or ego. diri. Ketika mahabrahma/paramatma menciptakan makhluk hidup untuk pertama kalinya. Secara singkat. Jiwa ini disebut jivā-atta. jadi jiwa tersebut harus bersiap-siap untuk meninggalkan tubuh tersebut dan bereinkarnasi pada tubuh yang lain. dan bergerak. Ketika jiwa tersebut menitis pada tunuh yang lain. bahkan dengan bom atom sekalipun. tidak bisa bergerak. ini dikarenakan tidak mengerti sifat alamiah dari proses alam. Ia harus menjalani kehidupan di dunia yang lebih rendah atau tinggi tergantung karma yang dilakukannya di kehidupan ini. atau berdiri. Kemudian mahabrahma ingin membuat makhluk cipataannya hidup. Dengan cara ini. maka ia memasukkan jiwa pada setiap makhluk ciptaannya. perbuatan berjasa tersebut akan menuntun jiwa ke kehidupan yang lebih tinggi. Jika jiwa itu melakukan perbuatanperbuatan berjasa di dalam kehidupan ini.

Tetapi kita juga percaya bahwa jika seseorang meninggal.tidak ada jiwa. kamu akan marah kepada saya. ketika seseorang belum mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena 70 . Ada kepercayaan umum bahwa jika kita tidak memberikan dana kepada para bhikkhu dan belum membagikan perbuatan jasa yang kita lakukan kepada orang-orang yang telah meninggal. Tetapi secara praktek. makhluk. Saya mungkin meninggal detik ini juga karena setiap fenomena bersifat tidak kekal. Berdasarkan konsep tersebut kita memiliki konsep mengenai orang. Kamu memegangnya karena kamu belum mengerti tentang timbul dan tenggelamnya dari proses fenomena mental dan jasmani. jiwa keluar dari tubuhnya dan berdiam dekat rumahnya. kamu tidak akan percaya bahwa mereka adalah kekal. Secara teori. ini disebut sakkāya-ditthi (sakkāya: nāma (mental) dan rūpa (jasmani). kita tetap memiliki konsep atta-ditthi. diri. dekat jenazahnya. “Apakah saya akan meninggal besok?” – kamu tidak berani menjawab pertanyaan ini. Jika saya katakan kamu akan meninggal besok. Sebenarnya. kamu bisa mengambil kesimpulan bahwa itu tidak kekal. kamu tidak percaya karena kamu belum mengerti sifat alamiah ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani. individu. maka jiwanya akan tetap tinggal di sekitar kita. paling tidak sampai besok. kamu mengerti bahwa tidak ada satupun dari proses mental dan jasmani yang bertahan walaupun hanya sedetik menurut ajaran Sang Buddha. sehingga menganggapnya abadi. Ya itulah ide tentang kekekalan. karena mempunyai anggapan bahwa proses mental dan jasmani adalah kekal. Kita memiliki konsep ini karena kita tidak mengerti karakteristik umum dan khusus dari proses mental dan jasmani. atau tidak ada sesuatu yang abadi. pria atau wanita. Jika kamu melihat timbul dan tenggelamnya dari fenomena mental dan jasmani yang konstan dan cepat. atau peti matinya. Hanya jika kamu memiliki pengalaman pribadi dalam Dhamma. Jika kamu bertanya pada dirimu sendiri. ditthi: pandangan salah). Walaupun kita percaya pada ajaran Sang Buddha.

timbul dan tenggelam. khayalan. atau suatu makhluk yang hidup? Jika kita tidak percaya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani yang kekal. Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas pikiran dan tubuh. ia akan menganggapnya kekal.” Siapakah ‘saya’? seorang bhikkhu. seorang pria. kesombongan. Ide tentang orang adalah berdasarkan kepercayaan pada sesuatu yang kekal dalam diri kita. Kecuali kita dapat mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. kemarahan. Pengetahuan pandangan terang ini menghancurkan konsep jiwa atau diri. sehingga kita dapat menyadari kedua proses tersebut sebagai suatu proses yang alami. “saya mengangkat tangan. yang menjadi penyebab utama kekotoran mental (kilesa) seperti keserakahan. atau setiap proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. maka tidak akan muncul kekotoran mental dan kita telah menyingkirkan penderitaan. orang atau makhluk. Kita tidak menganggap kedua proses ini sebagai orang. Pandangan terang ini disebut sabhava-lakkhana (pengertian benar mengenai karakteristik khusus atau individu dari fenomena mental dan jasmani). Jadi dapat kita katakan bahwa konsep mengenai jiwa atau diri adalah benih dari semua kekotoran mental. siapa yang mengangkat tangan? Saya akan mengatakan. Pandangan ini disebut sakkāya-ditthi. Jika kita telah memusnahkan benih ini. yaitu: sakkāya-ditthi pahanaya sato bhikkhu paribbaje. atau hewan. bisa berubah. 71 . Jika kita mengatakan. Jadi atta-ditthi dan sakkāya-ditthi adalah sama. anjing. “Sekarang saya mengangkat tangan saya. kita tidak akan menganggapnya sebagai makhluk. kita tidak akan mampu mengatasi atau menghancurkan pandangan salah ini.mental dan jasmani. makhluk.” Kemudian kamu bertanya kepada saya. kedua proses mental dan jasmani yang membentuk sesuatu yang disebut orang. tetapi kita tidak menyadarinya. dan sebagainya. Sebenarnya.

diri. Jadi seorang bhikkhu yang berperhatian penuh terhadap fenomena mental dan jasmani harus berjuang atau berlatih untuk mengatasi pandangan salah. Sadhu! Sadhu! Sadhu! 72 . Jadi kita harus berusaha untuk membasminya melalui pengertian benar terhadap proses mental dan jasmani dengan cara berlatih meditasi vipassanā. Sakkāya-ditthi ini adalah penyebab atau benih segala macam kekotoran mental. Jika ia dapat menghancurkan sakkāya-ditthi tersebut. Bhikkhu berarti rahib atau biarawan. Sato berarti perhatian penuh. ia pasti mampu membebaskan dirinya dari segala macam penderitaan.Sakkāya-ditthi pahanaya berarti mengatasi pandangan salah mengenai jiwa. Semoga kamu semua berlatih meditasi vipassanā ini dengan sungguh-sunguh dan mencapai berhentinya penderitaan. atau orang.

LAMPIRAN I PETUNJUK MEDITASI Moralitas Pembersihan moralitas adalah prasyarat bagi yogi untuk mencapai kemajuan dalam latihannya. Saya bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. Hanya dengan demikian. Saya bertekad akan melatih diri menghindari segala macam makanan danminuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. Pada retret meditasi. memakai bunga-bungaan. 6. yogi terbebas dari perasaan bersalah. wangi-wanginan. yaitu: 1. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. 2. 8. Vipassanā adalah 73 . Saya bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar. Saya bertekad akan melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari (setelah jam 12:00). dan alat-alat kosmetika untuk menghias dan mempercantik diri. Arti dari Vipassanā Jika seorang yogi tidak mengerti tujuan dari meditasi vipassanā. 7. menyanyi. 5. Saya bertekad akan melatih diri menghindari menari. dia tidak akan mencoba untuk menemukan sesuatu dengan mencatat proses mental dan jasmani. yogi diharuskan menjalankan delapan sīla. Saya bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan yang tidak suci. pergi melihat tontonan-tontonan. 3. 4. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. bermain musik. terlepas dan mampu berkonsentrasi dengan mudah.

ketidakpuasan. Jangan bersandar pada tembok atau penopang lainnya. “Mencatat” adalah teman perhatian penuh ketika konsentrasi lemah. 74 . Jika kamu mencari sesuatu saat berlatih. Mencatat dengan Perhatian Penuh Catatlah dengan perhatian penuh dan tepat. hiduplah saat ini. Hal ini akan melemahkan usaha benar (sammā-vayāmā) dan yogi akan merasa mengantuk. jangan lepaskan pencatatan. Kata-kata tidaklah penting tapi kadangkadang membantu. Kecuali pencatatan menjadi gangguan.M. perhatian penuh dan konsentrasi jangan sampai terpecah. ‘Vi’ berarti berbagai. Jika yogi tidak mencatat. terutama pada awal latihan.M. Penting untuk mencatat dengan tepat setiap proses mental dan jasmani yang perlu dimengerti dalam sifat alamiah yang sebenarnya. Sariputta dan Y. Duduk pada alas yang tinggi dan tertekan menyebabkan tubuh bungkuk ke depan dan menimbulkan rasa kantuk. Saat berubah dari meditasi jalan ke duduk. yogi cenderung akan kehilangan obyek. yaitu tiga karakteristik (ketidakkekalan. Meditasi Duduk Saat duduk. Y. tanpa jiwa). Pencatatan yang dangkal dapat membuat pikiran semakin kacau. Jadi vipassanā berarti pengertian langsung terhadap tiga karakteristik dari mental dan jasmani. Catatlah saat ini. Prinsip dasarnya adalah mengamati apapun pada saat hal itu timbul.gabungan dari dua kata. tubuh yogi harus seimbang. Setiap meditasi duduk harus didahului oleh meditasi jalan selama sejam (dapat dikurangi jika tidak dalam retret dan waktu yang tersedia terbatas). ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi dengan cara berperhatian penuh terhadap mental dan jasmani. ‘vi’ dan ‘passanā’. Moggallāna tidak menggunakan alas saat meditasi. maka pikiran akan berada dimasa depan.

Mahāsi Sayadaw mengajarkan bahwa seorang yogi dapat memulai dengan mengamati gerakan kembung dan kempisnya perut. Unsur air (āpo-dhātu) mempunyai sifat fleksibel/mudah berubah dan melekatkan/mempersatukan (kohesi) sebagai karakteristik khususnya. Jika gerakan perut menjadi lebih bertahap dan jelas. dan “kempis” saat mengamati gerakan perut ke dalam. Jika yogi berperhatian penuh dan mengerti gerakan perut. Setiap unsur memiliki karakteristik khusus atau individu.” Jika gerakannya menjadi rumit. contoh: “kembung. Bernafaslah dengan normal. tetapi hanya satu dari sekian banyak obyek meditasi vipassanā. kempis. Gerakan perut adalah vāyo-dhātu (unsur angin). catatlah sebagai ‘mendengar. Unsur angin (vāyo-dhātu) memiliki gerak. karena akan membuat lelah. catatlah secara umum. Pada tahap awal. kembung. jangan menarik nafas dengan cepat atau dalam. dan getaran sebagai karakteristik khususnya. seorang pemula mungkin bingung apa yang harus dicatat.M. Hal ini bukanlah obyek satu-satunya. kembung. dukungan. yogi dapat meletakkan tangannya pada perut jika yogi tidak dapat merasakan pergerakan perutnya. yogi tidak boleh melekat pada keadaan tersebut. Ini sesuai dengan bab tentang empat unsur dalam Mahā Satipatthāna Sutta. Unsur api (tejo-dhātu) memiliki sifat panas dan dingin sebagai karakteristik khususnya.” atau ”kempis.Pada permulaan latihan. Jika mendengar suara.’ Pada awalnya hal ini tidaklah 75 . kempis. Unsur tanah (pathavī-dhātu) memiliki kekerasan dan kelembutan sebagai karakteristik khususnya. frekuensi pencatatan dapat ditingkatkan. Y. Catat dalam hati “kembung” jika mengamati gerakan perut keluar. maka yogi dapat dikatakan mengerti dengan benar sifat alamiah dari unsur angin dan menghancurkan pandangan salah tentang diri. Walaupun yogi diajarkan untuk memulai dengan mengamati kembung dan kempisnya perut. Usahakan pikiran dan tubuh setenang mungkin /tidak tegang.

mudah.  Jangan puas hanya dengan satu jam duduk.’ ‘dorong. pikiran tentu berkelana beberapa kali. seseorang dapat mencapai tingkat kesucian arahat.’  Jangan membuka mata saat melakukan meditasi duduk. Hal penting yang perlu diingat:  Jika ada jeda antara ‘kembung’ dan ‘kempis’ isilah dengan mencatat ‘duduk’ dan/atau ‘sentuh. ini akan menyebabkan ketegangan dan pusing dalam waktu singkat. Saat mengikuti gerakan kaki. sebab konsentrasi akan terpecah. Jangan menunduk terlalu rendah.’ Terakhir dapat dilanjutkan menjadi ‘ingin. Pertama.’ ‘angkat. Hanya dengan melakukan meditasi jalan. yogi dapat mengamati langkah dalam satu tahapan selama kira-kira sepuluh menit. catat dalam hati ‘kanan’ dan ‘kiri.’ ‘dorong. 76 .’ turun. Obyek yang harus dicatat ditambah perlahan-lahan. Kemudian diikuti dengan tiga tahapan ‘angkat. Pada awalnya lakukan satu pencatatan dalam satu langkah.’ ‘turun. Meditasi Berjalan Lakukan meditasi jalan dengan serius. yogi boleh kembali kepada obyek meditasi yang utama (contohnya: ‘kembung’ dan ‘kempis’). dalam satu jam menditasi jalan. Jangan melihat ke kaki karena pikiran akan terpecah.M.’ dan ‘tekan.’ Jangan tutup mata tapi jagalah agar tetap setengah tertutup. Arahkanlah perhatian ke kaki selama meditasi jalan dan catatlah setiap gerakan dengan kewaspadaan yang tajam. dan melihat ke depan kira-kira empat atau lima kaki (30. yaitu jumlah tahapan langkah yang diamati perlahan-lahan ditambah.  Jangan merubah postur badan. duduklah selama mungkin. Subhadda. tapi yogi harus mencatatnya sebisa mungkin. Hanya jika perhatian penuh telah cukup.24 cm/kaki). siswa arahat Sang Buddha yang terakhir.’ ‘sentuh. jangan angkat kaki terlalu tinggi. Ambilah contoh Y.’ Harap diingat.

berarti mengucapkan selamat tinggal pada konsentrasi.M. seorang yogi dapat mengerti sifat dasar dari fenomena mental dan jasmani yang menuntunnya ke berhentinya dukkha. Hal ini akan menimbulkan konsentrasi yang dalam.Yogi tidak boleh melihat ke sekeliling selama melakukan meditasi jalan. Kesinambungan diperlukan untuk membuat perhatian penuh berkembang dari satu saat ke saat berikutnya. Perhatian terhadap Aktivitas Sehari-hari Meditasi vipassanā adalah cara hidup Sang Buddha. dan paññā. Yogi tak perlu terburu-buru. samādhi. Jika yogi melakukannya selama retret. Ada banyak hal baru yang akan ditemukan setiap harinya bila yogi memiliki perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. berarti yogi kehilangan hidupnya. Mahāsi Sayadaw membandingkan seorang yogi dengan orang sakit yang bergerak dengan sangat lambat. Dengan tidak mencatat aktivitas seharihari. Yogi yang tidak dapat berperhatian penuh terhadap aktivitas sehari-hari. Mata yang berkelana adalah suatu masalah yang sangat sulit bagi seorang yogi. Jadi. Yogi telah dan akan memiliki banyak waktu untuk melihat sekeliling. yang perlu yogi lakukan hanyalah berperhatian penuh. Dianjurkan untuk berlatih paling sedikit lima atau enam jam meditasi jalan dan duduk setiap harinya. Kewaspadaan terhadap aktivitas sehari-hari adalah kehidupan seorang yogi. Maksudnya ia bukanlah seorang yogi karena ia tidak memiliki sati. selama retret. keadaan tanpa perhatian penuh akan semakin lebar. Y. Hanya dengan konsentrasi yang dalam. Kemampuan perhatian penuh (satindriya) dari seorang yogi melibatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan sepanjang hari. Sekali yogi gagal mengamati aktivitasnya. yogi harus 77 . Catatlah ‘keinginan’ untuk melihat sekeliling. membuat pikiran menjadi terkonsentrasi. Melakukan sesuatu dengan sangat perlahan. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasinya. jangan mengharapkan kemajuan. Berperhatian penuhlah terhadap setiap aktivitas sehari-hari.

Saat yogi dikelilingi oleh orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Jika konsentrasi baik. sakit dapat membawa yogi ke nibbāna.dan menemukan sifat alamiah dari -rasa sakit tersebut. bila kipas itu berputar perlahan. yogi tidak bisa melihat kipas angin tersebut sebagaimana adanya (tidak bisa melihat jumlah bilah pada kipas angin tersebut). Jangan membaca. Sebaliknya. pikiran akan tercerap ke dalam. Rasa sakit diamati bukan untuk membuatnya menghilang. Berbicara adalah kegiatan yang berbahaya terhadap perkembangan pandangan terang. Ketiganya merupakan rintangan bagi kemajuan meditasi. Hal itu hanyalah suatu proses alamiah yang tidak berbeda dengan ‘kembung’ – ‘kempis. jangan menghindarinya. Rasa sakit adalah kunci ke nibbāna. karena temannya telah pergi. Jika kipas angin berputar dengan cepat. melafal. Rasa sakit tidak perlu memberitahu kedatangannya. langsung catat. yang ditimbulkan oleh perhatian penuh yang 78 . Rasa sakit dapat diatasi dengan konsentrasi yang dalam. Kesimpulannya. Jika menghilang. tapi untuk mengerti sifat alamiahnya. yogi dapat melihatnya sebagaimana adanya (dapat melihat dengan jelas jumlah bilah dari kipas tersebut). yogi harus melakukan semua aktifvitasnya dengan perlahan agar bisa melihat proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. ataupun mengingat. yogi mungkin akan menangis. Jika rasa sakit datang.terbiasa untuk perlahan-lahan. Mungkin saja rasa sakit itu tidak menghilang. Hanya diacuhkan jika rasa sakit terlalu kuat. Sakit dan Kesabaran Rasa sakit adalah teman seorang yogi. Beberapa yogi bahkan sengaja membuat rasa sakit dengan melipat kakinya di bawah badan.’ Jika yogi mengamati rasa sakit dengan perhatian penuh. rasa sakit bukanlah suatu masalah. Berbicara lima menit dapat menghancurkan konsentrasi sepanjang hari. yogi harus acuh terhadap sekeliling dan dengan semangat mencatat setiap aktivitas mental dan jasmani.

…” tidak pelan seperti. proses berpikir akan berhenti dengan sendirinya. pikir. sedih. itu berarti yogi belum melakukan pencatatan dengan semangat yang cukup. “pikir. kantuk. bahagia. Catatlah pikiran dengan cepat seperti memukulnya dengan sebatang tongkat: “pikir. Keantusiasan dan kekhawatiran mengenai pencapaian konsentrasi dapat menyebabkan pecahnya konsentrasi itu sendiri. Ketidaksabaran membawa yogi ke neraka. Jika yogi tidak waspada terhadap isi pikirannya. Pandangan terang datang bersama dengan konsentrasi yang dalam. Jika yogi waspada terhadap pikirannya. …” atau “kantuk. Kelelahan/rasa kantuk dapat diatasi dengan menambah usaha/semangat. …” kecuali jika yogi dapat mencatat pikiran yang berkelana. bersemangat. harus dilakukan dengan cepat. sedih. Keingintahuan dan pengharapan dengan pasti akan menghambat 79 . …” atau “kantuk. hal ini cenderung akan berlanjut. yogi kadang-kadang harus berhenti dan mencatatnya. bahagia.berkesinambungan. Sabarlah terhadap apapun yang merangsang pikiranmu. sehingga pikiran yang mencatat menjadi berkesinambungan dan kuat. pikir. dan tepat. Jika pikiran yogi tetap berkelana. maka yogi tidak memiliki harapan untuk mengkonsentrasikan pikiran. Kemampuan ini tidak dapat dikesampingkan. maka proses berpikirnya akan berhenti. …” atau “sedih. Aktivitas mencatat juga menolong. kantuk. Jangan terikat pada berpikir atau teori. datang bersama konsentrasi yang dangkal. Siapa bilang segala sesuatu dapat dinikmati? Mencatat Keadaan Mental dan Emosi Jika yogi mencatat keadaan mental atau emosi apapun. … kantuk. Sedangkan pikiran yang logis atau rasional. Kemudian. Kesabaran membawa yogi ke nibbāna. …” atau “bahagia. …pikir. Jika ada rasa sakit yang luar biasa ketika melakukan meditasi jalan.

Jika yogi optimis. maka bangunlah dan berjalan. Bila hal ini muncul. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasi. yogi harus bangun jam empat pagi). latihan sesungguhnya dimulai setelah itu. berikan kewaspadaan yang tajam. Manusia memiliki berbagai kekuatan dan kemampuan untuk melakukan banyak hal. Yogi harus BERJUANG. Viriyindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. Jika seorang yogi bangun jam tiga pagi. Lima Kemampuan Seorang Yogi (Pancindriya) Seorang yogi harus memiliki lima kemampuan ini dengan kokoh.kemajuan yogi. bukan MENCOBA! Jika yogi memberi usaha yang cukup. Kemudian. Sikap mental sangatlah penting. Catatlah rasa kantuk dengan penuh semangat dengan melakukan pencatatan yang cepat. maju mundur di bawah sinar matahari. berjalanlah dengan lebih cepat. jangan pesimis. tajam. Jika tidak. ada kepuasan dalam setiap situasi dan yogi juga memiliki sedikit gangguan. yogi akan menikmati tidur. Meditasi adalah kegiatan di luar batas ruang dan waktu. Yogi tidak boleh menunggu sampai jam empat pagi (selama retret. Jika yogi mengantuk. Jika yogi masih mengantuk ketika bangun. Satu minggu latihan hanyalah merupakan proses belajar. masalahnya adalah yogi enggan menggunakannya. kuat. yogi akan mencapai ke-empat jalan dan hasilnya. maka yogi harus menambah usahanya dalam berlatih. jadi jangan terikat oleh ruang & waktu. jangan diam bersamanya. 2. Itu bukanlah sikap yang tepat. Saddhindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. yogi memberikan kesempatan pada dirinya sendiri. dan seimbang. 80 . Sebenarnya semangat untuk mencatat selalu ada. yogi harus bangun untuk bermeditasi. Lima kemampuan tersebut yaitu: 1.

kecuali yogi memiliki alasan untuk melakukannya. : konsentrasi yang mendalam : kebijaksanaan yang menembus.3. memberi petunjuk lebih jauh atau memberikan semangat untuk kemajuan yang lebih baik. Oleh karena itu. jika tidak ada faktor yang menghalangi latihan meditasinya. tiap grup diberikan jadwal yang berbeda untuk melapor ke sayadaw. terutama jika masih banyak yogi lain yang menunggu. Keyakinan (saddhā) harus seimbang dengan kebijaksanaan (paññā). karena waktu sangat berharga. Kelima kemampuan di atas harus seimbang untuk mencapai pandangan terang. Ketika sedang menunggu giliran di dalam grup. yang dapat membawa keepat faktor yang lain ke tujuan. Samādhindriya 5. Satindriya 4. pandangan terang. Paññindriya : perhatian penuh yang berkesinambungan dan dapat bertahan lama. gugup. Perhatian penuh adalah kemampuan yang paling penting. Lapor dengan singkat dan tepat pada sasaran. Yogi harus penuh pengertian. Setelah melaporkan tentang apa yang yogi lakukan dan alami dalam meditasinya. Perhatian penuh tidak perlu seimbang dengan faktor yang lainnya. Sebaliknya. Pada waktu retret. instruktur akan memperbaiki. yogi bisa datang sesudah jadwal yang telah ditentukan. janganlah membuang waktu. Tenang dan terbuka. semangat harus seimbang dengan konsentrasi. Duduk dan berperhatian penuhlah sampai dipanggil. Wawancara atau Waktu Melapor Setiap hari. Yogi yang berikutnya harus siap disamping yogi yang sedang diwawancara. Jangan menjadi bersemangat. bicaralah dengan jelas dan 81 . atau takut. komunikasi yang efektif antara instruktur dan yogi sangatlah penting. yogi harus melapor ke instruktur meditasi untuk mengetahui perkembangan latihannya. Seorang yogi tidak boleh mencoba untuk datang sebelum waktu yang dijadwalkan.

Laporkanlah semua pengalaman walaupun pengalaman tersebut terihat tidak penting. Membuat catatan-catatan singkat segera setelah latihan meditasi dapat membantu. jangan berbicara mengenai hal lain. Jangan bergumam atau berbisik. Jika ada keraguan. Jawablah jika ditanya. Datang dan meninggalkan tempat wawancara dengan perhatian penuh. 82 . hanya setelah yogi selesai menceritakan pengalaman-pengalamannya. komentar akan diberikan. tetapi seorang yogi tidak boleh dan jangan membuat catatan itu sebagai suatu hal yang harus diingat selama meditasi.terdengar seluruh kalimatnya. Jangan menunggu komentar. tanyakanlah. Dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan ikuti instruksi dengan tepat dan rajin. karena hal ini dapat menggangu konsentrasi.

LAMPIRAN II JADWAL MEDITASI 03:00 03:00 – 04:00 04:00 – 05:00 05:00 – 06:00 06:00 – 07:00 07:00 – 08:00 08:00 – 09:00 09:00 – 10:00 10:00 – 11:00 11:00 – 12:00 12:00 – 13:00 13:00 – 14:00 14:00 – 15:00 15:00 – 16:00 16:00 – 17:00 17:00 – 18:00 18:00 – 19:00 19:00 – 20:00 20:00 – 21:00 21:00 Bel bangun pagi Meditasi jalan Metta chanting / meditasi duduk Meditasi jalan Makan pagi / mandi / bersih-bersih Meditasi jalan Meditasi duduk / interview Meditasi jalan / interview Meditasi duduk Makan siang Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Meditasi jalan / interview Meditasi duduk / interview Meditasi jalan Minum sore / mandi / bersih-bersih Dengar ceramah Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Istirahat 83 .