MEDITASI VIPASSANĀ

CERAMAH MENGENAI MEDITASI PANDANGAN TERANG

O L E H

SAYADAU U JANAKABHIVAMASA

CHANMYAY YEIKTHA YANGON, MYANMAR

I

DAFTAR ISI: Bab Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Bab I : Kebahagian Melalui Pengertian Benar Bab II : Instruksi Awal Bagi Yogi Bab III : Tujuh Manfaat Meditasi Vipassanā Bab IV : Empat Landasan Perhatian Penuh Bab V : Tujuh Tingkat Pemurnian Bab VI : Sembilan Cara Untuk Menajamkan Bab VII Lampiran I Lampiran II Kemampuan Mental : Lima Faktor Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Yogi 73 83 Halaman: I II 1 15 24 38 48 57 66

II

KATA PENGANTAR Sudassam Vajjamaññesam Attano pana duddasam Mudah terlihat kesalahan orang lain Sulit melihat kesalahan diri sendiri Dhpd. 252 Pernyataan ini sangatlah cocok untuk para yogi. Seorang yogi terus membuat kesalahan yang sama dan tetap tidak mengetahui hal itu, sampai seorang yang lebih pandai dan berpengalaman datang menunjukkannya. Kemudian selang beberapa waktu, kita mungkin lupa dan perlu diingatkan kembali. Pada tanggal 30 Maret sampai dengan 8 April 1983, kami sangat beruntung atas kedatangan seorang guru besar yang sangat berpengalaman memberikan retret di Pusat Meditasi Buddha Malaysia, Penang, untuk menuntun, mengajar, mengkoreksi dan mengingatkan kita tentang latihan meditasi vipassanā. Kita semua mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa dengan bimbingan beliau yang sangat detil, dan disiplin yang sangat tinggi serta katakata yang membangkitkan semangat. Kami di sini mempunyai komplikasi dari seluruh kegiatan retret tersebut untuk keuntungan para pencari keselamatan tertinggi. Kompilasi tersebut terdiri dari ceramah sore yang disampaikan oleh Sayadaw U Janakabhivamsa untuk keuntungan para yogi. Selain itu beberapa wejangan yang sebagian besar diambil dari wawancara antara Sayadaw dengan para yogi. Semua itu telah disusun berdasarkan kategori tertentu dan dijadikan sebuah buku kecil yang cukup lengkap. Beberapa pernyataan hanya dapat diterapkan dalam situasi tertentu dan tidak dapat diaplikasikan secara umum. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sayadaw yang telah mengijinkan kami untuk mencetak buku ini dan membantu untuk mengkoreksi buku ini sendiri. I

Kami juga sangat berterima kasih kepada mereka yang telah membantu mewujudkan buku ini. Venerable Sujiva Juni 1985.

II

Royce Willes. Kami sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Bhikkhu Sujiva untuk usahanya yang tidak mengenal lelah dalam menyusun dan mengedit ceramah-ceramah dan wejangan-wejangan yang saya berikan untuk keuntungan semua yogi dalam retret yang diadakan di Penang. April 1983. 5 November 1992. Maung Aung Gyi dan Maung Myint Oo. Bhikkhu Malaysia. yang telah memperbaharui bahasa dalam naskah yang dimasukkan ke dalam komputer oleh U Dhammashubha. murid meditasi saya. Bhikkhu Pasala dari Vihara Burma di London. Chanmyay Sayaday III . Ashin Janakabhivamsa. Saya berterima kasih sekali kepada mereka semua. Malaysia. Edisi baru ini disusun sewaktu saya mengadakan perjalanan Dhamma di Negara bagian Barat pada tahun 1992. memberikan kepada saya seorang asisten yang tidak ternilai.UCAPAN TERIMA KASIH Ini adalah kehormatan bagi saya bahwa kita dapat menerbitkan edisi baru dari buku Meditasi Vipassanā ini yang mana sejauh ini telah dicetak tiga kali di Malaysia & Myanmar.

kami menggunakan kata kemelekatan untuk tanhā. Penyebab Penderitaan Sang Buddha menemukan sebab dari penderitaan (dukkha). Pengertian dari kata tanhā adalah keserakahan. dan kesukaan. Ketika seseorang dapat melenyapkan tanhā. Jadi. tidak ada sesuatu yang muncul tanpa sebab. Beliau menemukan penyebab dari penderitaan adalah “kemelekatan” (tanhā). Apapun yang ada di dunia ini mempunyai sebab.NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMĀSAMBUDDHASSA BAB I KEBAHAGIAAN MELALUI PENGERTIAN BENAR Setiap orang di dunia ini menginginkan kebahagian dan kedamainan. Tanhā atau kemelekatan adalah penyebab dari penderitaan. Tanhā muncul karena suatu sebab. Ketika Sang Buddha ingin menghentikan penderitaan (dukkha). di dalam bahasa Indonesia. dia pasti dapat melenyapkan penderitaan (dukkha). keinginan. Inilah sebabnya mengapa orang mencari jalan kebenaran yang menuntun mereka pada berakhirnya penderitaan. maka tidak akan ada akibat. Bila ada tanhā pasti ada penderitaan (dukkha). nafsu. segala sesuatu muncul karena suatu kondisi. pendambaan. yang menuntun orang pada berakhirnya penderitaan. Menurut ajaran Beliau. Ketika penyebabnya telah dimusnahkan. Semua agama di dunia ini muncul karena alasan ini. Beliau harus menemukan penyebabnya. Ketika Sang Buddha yang Maha Tahu mencapai penerangan sempurna. Cendikiawan agama Buddha menterjemahkan tanhā sebagai kemelekatan sehingga hal itu meliputi semua bentuk keinginan. Jika tak ada sebab. 1 . Salah satu agama terbaik di dunia adalah agama Buddha.

1 Mental digunakan sebagai pengganti kata batin. Sang Buddha yang Maha Tahu menemukan bahwa penyebab dari kemelekatan adalah pandangan salah. pengertian benar ini akan membasmi ketidaktahuan/kebodohan. Ketika ketidaktahuan/kebodohan telah dibasmi. Kata mental lebih berhubungan dengan pikiran. Sehingga dengan merealisasi atau pengertian benar tentang proses mental dan jasmani secara alamiah. berhentinya penderitaan dicapai (Nirodha-sacca). dan makhluk. pandangan salah terhadap jiwa. hanya mengenal fenomena mental dan jasmani. Dalam agama Buddha aliran Theravada. pandangan salah (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi) adalah akibatnya. ‘aku’ atau ‘kamu. maka tidak akan ada penderitaan. Lalu kita mencapai tingkat dimana semua penderitaan tidak akan muncul. tidak ada jiwa/roh 2 . kita akan membasmi kebodohan. penderitaan adalah akibatnya. Kemudian kita dapat mengetahui hukum sebab dan akibat. Lalu apa apa yang menjadi sebab dari pandangan salah ini (sakkāya-ditthi atau atta-ditthi)? Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa ketidaktahuan/kebodohan (moha atau avijjā) dari proses alamiah mental dan jasmani yang menjadi penyebab dari pandangan salah terhadap jiwa atau diri. seseorang. Ketika pandagan salah telah dimusnahkan. misalnya. maka tidak akan ada pandangan salah terhadap jiwa. Jadi sakkāya-ditthi atau atta-ditthi adalah sebab dari tanhā yang menyebabkan penderitaan (dukkha) muncul. diri. Ketika kemelekatan telah dimusnahkan. Tanhā adalah keadaan mental1 dan proses mental yang terkondisi. Pandangan salah sebagai sebab.’ kepribadian atau individu yang dikenal sebagai sakkāya-ditthi atau atta-ditthi. diri. Kita dapat menyimpulkan hubungan dari sebab dan akibat seperti ini: ketidaktahuan/kebodohan sebagai sebab. jika proses mental dan jasmani dapat dimengerti dengan benar. maka kemelekatan tidak akan timbul. sedangkan kata batin lebih berhubungan dengan jiwa (kamus bahasa Indonesia). Kemudian kita mengetahui.tanhā tidak akan muncul.

atau makhluk. konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. ‘aku’ atau ‘kamu’. seseorang. ketika kita melekat terhadap saudara. tidak ada muncul lagi kemelekatan atau keinginan untuk menjadi orang kaya. Keinginan untuk menjadi. ‘aku’ atau ‘kamu. kita menjadi sedih. Hal ini muncul disebabkan oleh pandangan salah terhadap seseorang atau makhluk. Keinginan untuk menjadi ratu. Kesedian adalah salah satu jenis penderitaan utama.’ Ketika keinginan atau kemelekatan itu muncul di dalam diri kita. ’aku’ atau ’kamu’ mempunyai keinginan untuk menjadi kaya. kemelekatan ini juga menyebabkan kita menderita. teman-teman. Kemudian. jiwa atau diri. makhluk. seperti telah saya jelaskan sebelumnya. Penderitaan tersebut disebabkan oleh kemelekatan kita pada rumah kita. Ketika kita melekat kepada anak-anak kita. hal itu akan membawa berbagai macam penderitaan. makhluk tersebut. mendapat atau memiliki sesuatu muncul karena konsep atau pandangan salah tentang seseorang atau makhluk. Apakah penyebabnya? Penyebab dari keinginan atau kemelekatan adalah. diri. perdana menteri atau konglomerat. Jadi. orang tersebut. kita 3 . adalah kemelekatan. jiwa.’ Jika kita ingin melenyapkan keinginan atau kemelekatan. raja. Demikian juga. raja. katika pandangan salah ini telah dimusnahkan. kita harus melenyapkan penyebabnya. presiden. atau diri. presiden dan yang lainnya. sehingga kita menganggap proses mental dan jasmani ini sebagai seseorang. Saat kita melekat kepada rumah dan benda mati lainnya. ‘aku’ atau ‘kamu. Hal ini dikarenakan kita tidak mengerti dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebanarnya. presiden dan seterusnya. anak-anak atau orang tua kita.Sebab dari Pandangan Salah Kita harus mempertimbangkan bagaimana kebodohan dari proses mental dan jasmani menyebabkan pandangan salah tentang jiwa. kita khawatir akan rumah itu. ratu. jiwa atau diri. Jika rumah itu terbakar. dan bagaimana pandangan salah ini menyebabkan munculnya kemelekatan.

Kita harus sangat waspada dan perhatian penuh pada ’sesuatu’ tersebut sebagaimana adanya. dan sebagainya. Bila tidak ada kemelekatan.’ Jika konsep kepribadian dan individu ini telah dihancurkan. Ketika kita tidak mengamati jam tangan dengan perhatian penuh dan hati-hati. kita harus mengamati. Melihat Sebagaimana Adanya Sang Buddha yang Maha Tahu menunjukkan bahwa dengan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Kita akan mengetahui bahwa itu adalah jam tangan merek Seiko. jadi pemikiran itulah yang menuntun 4 . rancangan. Jadi. kasihan. Darimana asal kemelekatan ini? Kemelekatan ini berasal dari konsep yang salah terhadap proses mental dan jasmani yang dianggap sebagai seseorang atau makhluk. Kenapa? Karena kita tidak pernah mengamatinya dengan perhatian penuh dan dari dekat. Tetapi jika kita tidak mengamatinya sebagaimana adanya.” lalu setiap kali saya melihat jam tangan. dan bentuknya. tanpa menganalisanya. Jika anak kita tidak lulus ujian. mengawasi.khawatir akan kesehatan mereka. tidak akan ada penderitaan. Kita sudah menggunakan pemikiran yang ada ketika kita melihat jam tangan tersebut. Sebagai contoh. kita khawatir. dan tanpa berprasangka. pendidikan dan seterusnya. kita akan mengerti sifat alamiahah yang sesungguhnya. Jika kita mengamati dengan perhatian penuh dan dari dekat. dan disebabkan oleh kemelekatan terhadap anak-anak kita. saya akan menganggap jam tangan itu merek Omega. dan berperhatian penuh pada saat ’sesuatu’ tersebut terjadi. maka tidak akan ada lagi kemelekatan. jiwa atau diri. Penderitaan ini adalah penderitaan mental. Ketika kita ingin memahami ’sesuatu’ sebagaimana adanya. ‘aku’ atau ‘kamu. dan sedih. mempunyai waktu internasional. bila pengamatan kita dikombinasikan dengan ide-ide yang sudah ada seperti “saya pernah melihat jam tangan dan mereknya adalah Omega. kemelekatan (tanhā) adalah sebab dari penderitaan. kita tidak memahami jam tangan tersebut sebagaimana adanya. kita akan melihat merek. tanpa berlogika. saat melihat sebuah jam tangan. tanpa berfilsafat.

Ketika kita merasa berduka. jiwa. kita akan mengetahuinya sebagaimana adanya: jam tangan tersebut adalah merek Seiko. Bila kita merasa dingin. maka tidak akan muncul kemelekatan. kita tidak boleh menganalisa atau memikirkannya. Ketika kita merasa sedih atau kecewa. dan juga mempunyai waktu internasional. Setiap proses mental dan jasmani harus diamati sebagaimana adanya. ketika kita ingin mengetahui dengan benar proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya atau sebagaimana adanya. Kita harus meninggalkan cara-cara di atas dan berperhatian penuh pada apa yang dari fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. kita terbebas dari semua jenis penderitaan dan mencapai keadaan terhentinya 5 . kita harus mencatat perasaan panas itu sebagai perasaan panas. Ketika kita merasa marah. kita mencatatnya sebagai bahagia. Dengan cara yang sama. kita harus mencatat perasaan dingin itu sebagai perasaan dingin. Ketika kita merasa panas. atau ide yang sudah ada. Ketika kita merasa bahagia.kita kepada kesimpulan yang salah mengenai jam tangan tersebut. makhluk. kita tidak menganggap proses mental dan jasmani sebagai seseorang. kita harus menyadari keadaan emosi dari kesedihan dan kekecewaan kita sebagaimana adanya. Jika kita menganggap proses mental dan jasmani sebagai suatu proses alami. sehingga kita dapat mengerti dengan benar berdasarkan sifat alamiahah yang sebenarnya. kita harus berperhatian penuh pada perasaan duka tersebut sebagai berduka. Kita mengerti sebagaimana adanya karena kita telah menyingkirkan ide ‘Omega’ sewaktu kita mengamati jam tangan tersebut. kita mencatat kemarahan sebagai kemarahan. Jika kemelekatan telah dihancurkan. kita mencatatnya sebagai sakit. dibuat di Jepang. Kita juga tidak akan menggunakan alasan atau pengetahuan intelektual. Ketika kita merasa sakit. atau diri. Pengertian benar ini akan memandu kita guna meyingkirkan kebodohan. Jika kita dapat menyingkirkan ide-ide yang sudah ada tersebut dan hnaya mengamati dengan perhatian penuh dari dekat. Setelah kebodohan disingkirkan.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk berperhatian penuh pada fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. Perhatian penuh pada pikiran (Cittānupassanā Satipatthāna) 4.penderitaan. Jadi. Ada banyak cara untuk tetap berperhatian penuh pada proses mental dan jasmani. Ketika rasa sakit hilang karena pengamatan yang mantap dan perhatian penuh. Pikiran akan memilih obyek dengan sendirinya. barangkali perasaan bahagia dari kesuksesan kita. kita tidak perlu memilih apakah proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi kita. Perhatian penuh pada proses jasmani (Kāyānupassanā Satipatthāna) 2. pikiran tidak bisa tetap memegang obyek tersebut jika ada rasa sakit yang lebih kuat atau jelas. itu berarti kita melekat terhadapnya. Jadi kita tidak perlu memilih obyek tetapi harus mengamati obyek yang pikiran pilih. atau gerakan kembung-kempisnya perut. Jika kita memilih proses mental atau jasmani sebagai obyek meditasi. Selama latihan meditasi.” Dalam kotbah ini. Pikiran yang mencatat akan beralih ke sakit dan mengamatinya karena perasaan yang lebih jelas mengalihkannya dengan sangat kuat. pikiran yang mencatat/mengamati akan memilih obyeknya sendiri. Walaupun kita coba memfokuskan pikiran pada gerakan kembung-kempis perut. sensasi sakit. Perhatian penuh pada obyek-obyek pikiran (Dhammānupassanā Satipatthāna) Tak Ada Pilihan Untuk Kesadaran Ketika kita berperhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani. pikiran akan memilih 6 . Inilah sebabnya Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan kotbah tentang ”Empat Landasan Perhatian Penuh. tetapi semua itu dapat diringkas sebagai berikut: 1. Perhatian penuh pada perasaan atau sensasi (Vedanānupassanā Satipatthāna) 3. perhatian penuh terhadap proses mental dan jasmani sesuai sifat alamiahnya adalah jalan yang menuntun kita ke keadaan terhentinya penderitaan.

karena kekuatan perhatian penuh dan konsentrasi yang dalam. Ketika kita mencyendok kari. setiap aktivitas yang terlibat dalam kegiatan makan. gerakan mencelup itu harus diamati.’ Jadi prinsip dari meditasi vipassanā atau medistasi perhatian penuh adalah mengamati. saat kita mandi. sensasi sentuhan harus diamati. bahagia. Sewaktu kita mengambil makanan. dan menurunkan harus diamati dengan cermat dan tepat sebagaimana adanya.lenyapnya penderitaan. bahagia. Jika perasaan bahagia lebih kuat dari gerakan kembung-kempisnya perut. Jika perasaan gatal di punggung lebih jelas dari pada gerakan kembung-kempisnya perut. gatal. gerakan kaki seperti mengangkat. Ketika tangan menyentuh sendok atau nasi. pikiran akan memilih perasaan bahagia sebagai obyek dan mengamatinya sebagai ‘bahagia. saat bekerja di kantor atau rumah. pikiran akan memilih. Ketika kita mencelupkan sendok ke dalam kari. gatal. mendorong. kita harus menyadari setiap gerakan. gerakan menyendok itu harus diamati. Jika kita memegang sendok. Dalam hal ini. Meditasi vipassanā tidak hanya sederhana dan mudah.obyek lain yang lebih jelas. sensasi dari kegiatan memegang sendok harus diamati. mengawasi atau berperhatian penuh pada semua fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. pikiran akan beralih ke perasaan gatal dan mengamatinya sebagai ‘gatal. setiap gerakan yang terjadi dalam kegiatan makan harus diamati sebagaimana adanya karena karena setiap proses jasmani harus dimengerti dengan penuh sehingga dapat menghancurkan kebodohan yang menyebabkan pandangan salah. 7 .’ Ketika perasaan gatal hilang. Dengan cara yang sama. Ketika kita menrentangkan tangan. kita harus menyadari setiap gerakan yang terlibat. gerakan kembung-kempisnya perut sebagai obyek karena gerakan tersebut lebih jelas dari obyek yang lainnya. Sewaktu melatih meditasi jalan dalam retret. tapi juga sangat efektif dalam mencapai tujuan kita . kita harus menyadari gerakan merentang. misalnya.

Jika yogi berpikir masalah keluarga. berpikir. angkat. kita harus mencatat sebagai “dorong. Mereka hanya harus mengamati gerakan kaki dari permulaan gerakan mengangkat hingga akhir dari gerakan menurunkan. Jadi. kita harus mengetahui perbedaan antara meditasi samatha dan vipassanā. dorong.” Setelah pikiran tersebut lenyap. Hal ini juga sangat membantu yogi untuk memusatkan pikirannya pada obyek meditasi. Dengan cara ini. mungkin ada beberapa yogi yang tidak perlu mencatat atau menyebut obyek meditasinya. Jika pikiran terkonsentrasi dengan mendalam pada obyek meditasi.” Saat kita menurunkan kaki.” Dengan cara ini kita catat. hasil meditasi samatha adalah pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. kedamaian. Saat kita mengangkat kaki untuk berjalan. Tetapi. “angkat. Jika pikiran berkelana. dorong. yogi harus mengikuti pikiran dan mengamatinya. turun. turun. jhāna) 8 . yogi harus meneruskan berjalan dan mencatat seperti semula “angkat. pikiran tersebut harus diamati sebagaimana adanya dan catat “berpikir. kita harus mencatatnya sebagai “turun. pikiran sering berkelana. dorong.” Samatha dan Vipassanā Di sini. ketenangan. yogi dapat mengembangkan konsentrasi lebih dalam dari sebelumnya.Labelling Kita mungkin perlu mencatat atau memberi sebutan jika kita sedang berperhatian penuh pada suatu obyek. Pikiran harus mengikuti pergerakan kaki semaksimal mungkin sebagaimana adanya. pikiran menjadi tenang dan damai. turun. Samatha berarti konsentrasi. tanpa berpikir atau menganalisa. kita harus mencatatnya sebagai “angkat. mereka hanya mengamatinya. Pada permulaan latihan. berpikir.” Pencatatan atau pemberian sebutan dapat mengarahkan pikiran kita ke obyek meditasi lebih dekat dan lebih tepat. Tujuan meditasi samatha adalah untuk mencapai konsentrasi pikiran yang dalam pada satu obyek.” Saat kita mendorong kaki ke depan.

kebencian. Oleh karena itu. merah. Seorang yogi samatha harus membuat peralatan tertentu atau kasina sebagai obyek meditasi. yogi harus membuat lingkaran merah di dinding lebih kurang 2 kaki dari lantai. Segala macam proses mental 9 . Bila kasina tersebut sudah jadi. Saat pikiran terbebas dari segala kekotoran mental atau rintangan mental. tujuannya adalah untuk mencapai berhentinya penderitaan melalui pengertian yang benar terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. Sedangkan untuk meditasi vipassanā. Konsentrasi ini dapat dicapai melalui perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan terhadap proses mental dan jasmani. untuk membuat kasina warna. jhāna) atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). damai. kemudian yogi harus duduk sekitar 2 kaki dari obyek tersebut. sensasi rasa sakit. dan bahagia. rata. keinginan. kita memiliki berbagai macam obyek meditasi: kebahagian adalah sebuah obyek meditasi dan begitu juga dengan kemarahan. Untuk ini. kekakuan. Yogi harus membuat lingkaran merah sebesar piring dan warnanya harus merah murni. Menurut kitab komentar visuddhimagga. kesombongan. Jika pikiran berkelana. lihat dan berkonsentrasi pada kasina tersebut.” Ini adalah keterangan singkat dari cara berlatih meditasi samatha. semua kekotoran mental seperti nafsu. Ketika pikiran terkonsentrasi dengan dalam pada obyek meditasi. Jadi. dalam hal ini adalah lingkaran merah. tapi yogi harus membawa pikirannya kembali ke obyek meditasi. Tetapi meditasi samatha tidak membuat kita mengerti dengan benar tentang fenomena mental dan jasmani sebagaimana adanya. kita merasa tenang. merah. kita memerlukan suatu tingkat konsentrasi tertentu. hasil meditasi samatha adalah kebahagian dalam batas tertentu dikarenakan pencapaian konsentrasi yang dalam seperti pencerapan (appanā samādhi. kebodohan mental dan seterusnya terlepas dari pikiran yang terserap pada obyek. Yogi harus memusatkan pikirannya pada lingkaran merah tersebut dan mengamatinya sebagai “merah. kesedihan. contohnya. dan halus. yogi tidak boleh mengikuti pikirannya. dan sebagainya.atau konsentrasi tetangga (upacāra samādhi). keserakahan. kesemutan.

Jadi. dan turun. Kita tidak boleh memperhatikan bentuk kaki atau bentuk badan selama berjalan. Ketika kita berjalan. tidak akan muncul penderitaan yang sebenarnya adalah hasil dari kemelekatan. makhluk. mendorong. Ketika kita menyadari semua gerakan sebagai proses alamiah. Kita harus kembali pada apa yang telah saya jelaskan sebelumnya. yaitu: angkat. Ketika kaki diangkat. Kita tidak menganggap mereka sebagai seseorang. tidak akan ada kemelekatan atau keinginan yang menyebabkan penderitaan (dukkha). Kita mengerti dengan benar bahwa kedua proses ini adalah proses alami dari fenomena mental dan jasmani. kita juga menyadari bahwa pikiran yang melakukan pencatatan. ketika kaki diturunkan. dan menurunkan. individu. Ketika pandangan salah ini telah dihancurkan. dorong. yang kita catat adalah gerakan mengangkat. Gerakan mendorong adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. kita mengamati pergerakan kaki. Ketika pikiran terkonsentrasi pada gerakan kaki dengan baik. Kita mencapai berhentinya penderitaan ketika mengalami proses gerakan mengangkat. mendorong. pikiran mencatatnya sebagai turun. Gerakan mengangkat adalah suatu proses dan pikiran yang mencatatnya adalah proses yang lain. Tujuan dan hasil meditasi samatha dan vipassanā adalah berbeda. Saat pikiran berkelana. pikiran kita tidak terkonsentrasi pada kaki dengan baik. ketika kaki didorong ke depan. kita mengerti sepenuhnya dua proses dari fenomena mental dan jasmani. pikiran mencatat sebagai dorong. 10 . demikian juga metodenya. Hanya setelah pikiran yang berkelana itu hilang. kita harus mengikuti dan mengamatinya hingga pikiran yang berkelana tersebut hilang. dan meletakkan sebagai proses yang alami. pikiran mencatat sebagai angkat.’ Kemudian tidak akan ada pandangan salah terhadap seseorang. Dengan cara ini. jiwa atau diri. Pada permulaan latihan.dan jasmani dapat dijadikan obyek meditasi. ‘aku’ atau ‘kamu. kita mencatat gerakan kaki seperti biasa. karena kemelekatan tidak muncul.

Saat mengalami hal tersebut. Jadi kita merealisasikan tiga karakteristik dari fenomena mental dan jasmani. dan tidak ada jiwa atau diri (anatta). hanya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. Setiap proses gerakan adalah tidak kekal (annica). yogi merealisasi empat kenenaran mulia: Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : kebenaran tentang penderitaan : kebenaran tentang asal-mula penderitaan : kebenaran tentang berhentinya penderitaan : kebenaran tentang jalan menuju berhentinya penderitaan 11 . Setelah mencapai tingkat terakhir. Kemudian kita menyadari satu dari tiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. sotāpatti-magga. diri. Ketika konsentrasi menjadi dalam dan kuat. muncul dan tenggelam dengan sangat cepat. tidak ada jiwa. kita tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang abadi .Seiring dengan berjalannya latihan. perhatian penuh kita menjadi lebih konstan. yogi mencapai tingkat kesucian pertama. Dengan perhatian penuh yang konstan dan kuat. atau diri. berkesinambungan. Saat kita menyadari ketidakkekalan dan penderitaan adalah sifat alamiah dari proses gerakan jasmani. konsentrasi menjadi lebih dalam dan kuat. makhluk. dan menjadi kuat. yaitu penderitaan (dukkha). ataupun ego. Pada saat pencapaian tingkat kesucian pertama. Ini adalah realisasi dari anatta. Dengan cara ini semua yogi melewati tingkat pengetahuan pandangan terang dari proses mental dan jasmani satu demi satu. penderitaan (dukkha). jiwa. kemudian pengertian atau pandangan terang kita terhadap proses mental dan jasmani menjadi jelas. tidak kekal (annica). Sehingga kita menyadari banyak rangkaian dari gerakan mengangkat yang muncul dan tenggelam satu per satu.seseorang. jadi hal ini bukanlah merupakan proses yang baik melainkan buruk. kita menjadi mengerti bahwa tidak ada proses yang kekal dan abadi.

yogi sedang mengembangkan jalan mulia beruas delapan (walaupun tidak lengkap). ia harus melakukan usaha. Sammā ditthi : pengertian benar 2. Sammā vayāmā : usaha benar 7. Bagaimana? Ketika ia memfokuskan pikirannya pada gerakan kaki. karena ini yang menuntun yogi kepada pengertian benar tentang proses proses mental dan jasmani. Sammā kammanta : perbuatan benar 5. yogi dapat berperhatian penuh pada gerakan kaki. Ketika perhatiannya terfokus pada gerakan kaki. Hasilnya. Jadi. yogi mengetahui bahwa kemelekatan adalah sebab dari penderitaan. Adalah hal yang wajar bila pikiran mengembara saat permulaan latihan. Realisasi Jalan Mulia Beruas Delapan Pada saat itu yogi telah mengembangkan dengan lengkap jalan mulia beruas delapan: 1. Sammā vācā : ucapan benar 4. bila yogi bisa melenyapkan kemelekatan maka yogi mencapai berhentinya penderitaan. perhatian ini terkonsentrasi pada gerakan kaki untuk sesaat. tetapi ketika konsentrasi menjadi berkesinambungan dan konstan. Perhatian penuh inilah yang disebut “perhatian benar” (sammā sati). Sammā samādhi : konsentrasi benar Sejak yogi dapat mengkonsentrasikan pikirannya pada tingkat yang lebih tinggi pada suatu obyek meditasi. berarti yogi telah menyadari penderitaan. Sammā sankappa : pikiran benar 3. Sammā sati : perhatian benar 8. sebagai contoh: proses mental dan jasmani.Ketika yogi menyadari perubahan dari fenomena mental dan jasmani. Bagaimanapun besar usaha yang dilakukan 12 . Karena usahanya itu. Sammā ājīva : penghidupan benar 6. kuat dan dalam. usaha ini adalah “usaha benar” (sammā vayāmā). konsentrasi itulah yang disebut “konsentrasi benar” (sammā samādhi).

Sammā ditthi : pengertian benar Kelima faktor mental ini sudah tercakup dalam perhatian penuh dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. kita berusaha menghindar dari berbicara yang tidak benar. Terhindar dari berbicara yang tidak benar berarti “berbicara benar” (sammā vācā). Dengan demikian. Kemudian. Jadi kita menjalani delapan faktor mental dalam jalan mulia beruas delapan jika kita berperhatian benar pada semua proses mental dan jasmani. mengetahui hal ini sebagai proses alami. dan penghidupan yang tidak benar. Terhindar dari perbuatan yang tidak benar berarti “perbuatan benar” (sammā kammanta). Sammā vayāmā : usaha benar 2. pada saat permulaan pikiran tidak dapat terpusat pada gerakan kaki. Karakteristik dari “pikiran benar” adalah mengarahkan pikiran pada obyek meditasi. Kemudian. Keadaan mental yang membimbing pikiran ke obyek meditasi adalah “pikiran benar” (sammā sankappa). Pada saat melatih meditasi pandangan terang. Sammā sati : perhatian benar 3. Terhindar dari penghidupan yang tidak benar berarti “penghidupan benar” (sammā ājīva). Sammā samādhi : konsentrasi benar 4. yaitu gerakan kaki. pikiran menjadi terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Yaitu: 1. salah satu keadaan mental yang muncul bersamaan dengan perhatian benar pada gerakan kaki membimbing pikiran pada obyek meditasi (gerakan kaki). kita dapat menghilangkan pandangan salah (sakkāya-ditthi 13 . kita telah mengembangkan lima faktor mental dari jalan mulia beruas delapan ketika kita berperhatian penuh pada gerakan kaki. Sammā sankappa : pikiran benar 5. Dengan cara ini. perbuatan yang tidak benar. Saat kita mengembangkan jalan mulai beruas delapan. Pengetahuan atau pengertian tentang proses gerakan jasmani sebagai proses alami adalah “pengertian benar” (sammā ditthi).seorang yogi. konsentrasi tersebut menembus/menguak sifat alamiah dari proses gerakan jasmani.

atau atta-ditthi) dengan kekuatan pengertian benar (sammā ditthi). jalan menuju berhentinya penderitaan. yogi tersebut telah mengembangkan jalan mulia beruas delapan (magga sacca) dengan lengkap. Inilah caranya seorang yogi menyadari Empat Kebenaran Mulia. yaitu: dengan mengembangkan perhatian penuh pada proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. salah satu faktor dari jalan mulia beruas delapan. Jadi saat seorang yogi memasuki jalan kesucian yang pertama (sotapātti magga). 14 .

Ketika kita menjalankan lima sīla. Para bhikkhu dan bhikkhuni (sangha) melatih 227 sīla. berarti menghidari perbuatan buruk. Sīla keenam berarti tidak makan setelah tengah hari (setelah jam 12:00 sampai besok pagi). menghindari pencurian dan mengambil barang yang tidak diberikan pemiliknya. Sama dengan sīla ketiga dan kelima. Ketika kita menghindari perkataan dan perbuatan tidak baik. menghindari pembunuhan.BAB II INSTRUKSI AWAL BAGI YOGI Dalam ajaran Sang Buddha. dan mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran. perbuatan asusila. terdapat tiga jenis latihan: * Latihan moral (sīla) * Latihan konsentrasi (samādhi) * Latihan kebijaksanaan (pañña) Ketika kita melatih sīla. Oleh karena itu. itu berarti mengendalikan perkataan dan perbuatan. kita menjalankan sīla dengan baik dan benar. Sīla pertama. menghindari berbohong yaitu menghindari ucapan tidak benar dan tidak baik. contoh: setidaknya melatih lima sīla (pañcasīla) atau delapan sīla (atthanggasīla) untuk umat awam. sīla kita telah dijalankan dengan baik. berarti menghidari perbuatan buruk. kita menghindari pembunuhan. pencurian. Sīla kedua. Sīla keempat. yogi harus menjalankan delapan sīla sehingga yogi dapat mencurahkan waktu lebih banyak untuk bermeditasi. contoh: menghindari perbuatan asusila dan mengkonsumsi zat yang dapat melemahkan kesadaran. Walaupun yogi tidak boleh makan 15 . berbohong. yang dikenal dengan Patimokkha. Selama mengikuti latihan meditasi. jika kita menghindari ucapan dan perbuatan tidak baik.

dan sebagainya. tujuannya adalah mengerti dengan benar tiga karakteristik umum (annica. diri atau ego (anatta). ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha). yogi boleh minum madu dan berbagai macam jus buah seperti jus jeruk atau lemon. Pelaksanaan delapan sīla berarti pemurnian moral (sīla visuddhi). menyanyi. Jadi vipassanā berarti pengertian benar tentang tiga karakteristik dari mental (nāma) dan jasmani (rūpa). mempercantik diri seperti memakai bunga. pikiran yogi menjadi stabil. Dengan merealisasi tiga corak umum dari mental dan jasmani. yogi dapat dengan mudah mencapai konsentrasi yang dalam (samādhi) yang mengakibatkan timbulnya kebijaksanaan pandangan terang (pañña). Kedelapan sīla ini harus dilaksanakan selama latihan meditasi. yogi harus menghindari menari.dalam waktu yang telah ditentukan. kita dapat membasmi kekotoran mental seperti: nafsu. anatta).’ Di sini. Ketika moralnya telah murni. Apakah Vipassanā itu? Vipassanā adalah istilah Dhamma yang merupakan kombinasi dari dua kata. dukkha. ‘vi’ mengacu pada tiga karakteristik dari mental dan jasmani. dengan demikian. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi melalui konsentrasi yang dalam. Kitika kita melatih meditasi vipassanā atau meditasi pandangan terang. yaitu: ketidakkekalan (annica). Sīla ketiga dari delapan sīla mengacu pada penghindaran dari dari segala aktivitas seksual. bukan hanya menghindar dari perbuatan asusila. dan tidak ada jiwa. ucapan dan perbuatan kita menjadi murni. wangi-wangian. Untuk menjalankan sīla ketujuh. bermain dan mendengarkan musik. ‘vi’ dan ‘passanā. Sīla kedelapan adalah menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. 16 . Dengan menghindari aktivitas-aktivitas tersebut. Sīla visuddhi adalah persyaratan bagi seorang yogi untuk dapat maju dalam latihan meditasinya.

Dalam kotbah tersebut. 17 . melainkan sifat alamiah dari unsur tanah. seperti sifat keras dan lembut. Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk selalu berperhatian penuh pada empat unsur saat mereka muncul.” khotbah tentang Empat Landasan Perhatian Penuh. kita mencapai keadaan berhentinya penderitaan. Oleh karena itu. tetapi semua fenomena mental dan jasmani harus diperhatikan. keinginan. “sifat keras dan sifat lembut adalah merupakan karakteristik khusus dari unsur tanah. semua penderitaan akan lenyap. Kita harus memahami bahwa unsur tanah yang dimaksud bukanlah tanah dalam arti sesungguhnya. kita pasti akan mengalami berbagai macam penderitaan (dukkha). kebencian. unsur air (āpo-dhātu). iri hati. kita harus mengamati setiap proses mental dan jasmani yang muncul pada saat itu. kesombongan.” Jadi. dan unsur angin (vāyo-dhātu). kita harus merenungkan gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Yang Mulia Mahāsi Sayādaw. Kekotoran mental (kilesa) adalah penyebab penderitaan. serta kegelisahan dan penyesalan. kemalasan. Tidak hanya keempat unsur ini saja. kesedihan dan kekhawatiran. Di dalam kitab suci disebutkan. niat jahat. Unsur tanah adalah penamaan untuk mewakili karakteristik khususnya. kelesuan.keserakahan. jika kekotoran mental telah dibasmi. artinya kita telah merasakan sifat alamiah atau karakteristik khusus dari unsur tanah (pathavī-dhātu). Perenungan terhadap gerakan kembung-kempisnya perut sesuai dengan “Mahā Satipatthāna Sutta. Selama kita masih mempunyai kekotoran mental ini. ketika kita merealisasi sifat keras dan sifat lembut pada bagian manapun dari tubuh kita. Dengan hancurnya semua kekotoran mental ini. ada bab yang membahas perhatian penuh pada empat unsur. Pada permulaan latihan. unsur tanah (pathavī-dhātu). Perhatian Penuh Terhadap Empat Unsur Selama dalam latihan. pendambaan. unsur api (tejo-dhātu).

Jika kita menarik nafas. kita dapat merasakan gerakan keluar (kembung) dan kedalam (kempis) dari dinding perut. kempis. dinding perut mengempis. dan catat dalam hati sebagai “kembung. “semua proses mental dan jasmani harus disadari sebagaimana adanya. Karakteristik khusus dari unsure angina harus disadari sepenuhnya oleh para yogi. mengempis. Yogi harus mengamati gerakan keluar dan kedalam atau kembung dan kempisnya dinding perut. Jika dinding perut mengembung. Begitu pula dengan unsur api.Unsur air yang dimaksud bukanlah air dalam arti sesungguhnya. getaran atau topangan dibagian manapun dari tubuh. sehingga mereka dapat memusnahkan pandangan salah mengenai seseorang. Yang Mulia Mahāsi Sayadaw memberi petunjuk kepada para yogi untuk memulai dengan gerakan kembung kempis perut. atau jiwa.” 18 . mengembang.” Dengan demikian. makhluk. Jika kita menyadari keadaan fleksibel atau lekat dibagian manapun dari tubuh kita. Sang Buddha Yang Maha Tahu bersabda. menyadari dan mengerti dengan benar sifat alamiah dari pergerakan. tetapi karakteristik khusus dari unsur api.” Dalam cara ini: “mengembang. itu berarti kita meyadari unsur angin. kita mungkin tidak mengetahui obyek apa yang harus diamati terlebih dahulu. kembung. mengempis. atau menopang dibagian manapun dari tubuh. perpindahan. tetapi hanyalah istilah yang diberikan untuk menerangkan karakteristik khusus dari unsur angin. kempis. itu berarti kita menyadari unsur air. Inilah perhatian penuh terhadap empat unsur. perpindahan. Jika kita merasa. Untuk mengatasi kesulitan ini. dinding perut mengembang. melainkan cerminan dari karakteristik khusus dari unsur air itu sendiri. Panas dan dingin adalah karakteristik khusus dari unsur api (tejo-dhātu). catat sebagai “mengempis. harus dicatat sebagai “mengembang” dan jika dinding perut mengempis. Unsur angin (vāyodhātu) juga bukan angin. Fleksibel dan mengikat/melekat adalah karakteristik dari unsur air (āpo-dhātu). dan jika kita membuang nafas. bukan sungguh-sungguh api. getaran.” Ketika kita duduk pada suatu posisi yang menyenangkan dan mefokuskan perhatian kita pada proses mental dan jasmani. yaitu: pergerakan. Yogi harus memfokuskan perhatiannya pada gerakan perut.

maka yogi harus kembali pada obyek utama.” dan seterusnya. 19 . sedih. mendengar” sebanyak mungkin.” Yogi harus berhati-hati pada tahapan ini. Perhatian Terhadap Keadaan Mental dan Emosi Ketika yogi merasa bahagia atau tidak bahagia. pikiran yang mencatat harus bersemangat.Sewaktu merenungkan gerakan perut. Jika pikiran berkelana dan berpikir mengenai pekerjaan. keluarga. jika suaranya telah menghilang. ide atau proses berpikir akan “berhenti” dengan sendirinya. Saat yogi mengamati suatu keadaan mental atau emosi. “kembung” dan “kempis” yang harus yogi catat sebagaimana biasanya. jika terdengar suara yang cukup keras untuk dicatat. Jika dirasa sudah cukup untuk berhenti. keadaan mental harus diperhatikan sebagaimana adanya. bahagia” atau “tidak bahagia.” atau “sedih. Saat pikiran yang mencatat menjadi kuat. catatlah dalam hati “berpikir. yaitu gerakan kembung kempis perut. berikir. maka yogi harus mencatat. Setelah keadaan emosi menghilang. “bahagia. jadi yogi harus mencatat. sehingga pengamatan menjadi berkesinambungan. berperhatian penuh. Akhirnya pikiran yang mencatat tidak lagi memiliki obyek untuk dicatat. mendengar. yang harus diamati sebagaimana biasanya. “mendengar. tidak bahagia. Catatlah dalam hati. yogi mungkin tidak dapat mengatasinya. maka pikiran secara alami kembali pada obyek utama. tak terputus dan konstan. “mendengar. atau sanak saudara. atau merasa menyesal dan sedih. tepat. Secara alami pikiran kembali pada gerakan perut yang harus dicatat sebagaimana biasanya. Kadang-kadang suaranya berlangsung selama satu atau dua detik. dan agak cepat.” Pada permulaan latihan. mendengar. pikiran yang mencatat secara alamiah akan kembali pada gerakan dinding perut. kamu harus meninggalkan perhatian terhadap gerakan dinding perut dan mengamati pikiran yang berkelana. Kemudian.

yogi mungkin memerlukan meditasi duduk yang lebih lama dibanbandingkan dengan meditasi jalan. dalam. harus ada perhatian penuh. karena pada meditasi jalan. Kami memberi petunjuk pada para yogi untuk berlatih meditasi jalan dan duduk secara bergantian. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berbaring sebagaimana adanya. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berjalan sebagaimana adanya. karena yogi belum bisa bermeditasi duduk lama tapi dapat bermeditasi jalan lebih lama. Yogi dapat bermeditasi duduk dua atau tiga jam dan bermeditasi jalan satu jam. dan berbaring. • Jika kamu berdiri. 20 . Jadi. Setelah mahir dalam bermeditasi. yaitu: berjalan. Pada tingkatan ini. berdiri. yogi dapat berlatih meditasi duduk lebih lama dari meditasi jalan. pada setiap sikap. • Jika kamu berbaring. duduk. • Jika kamu berjalan. sehingga mereka dapat berkonsentrasi lebih mudah dan lebih jauh mencapai pandangan terang pada proses jalan dan duduk. Ketika yogi telah mencapai tingkat keenam dari pengetahuan pandangan terang. gerakan kaki lebih jelas dari gerakan dinding perut saat meditasi duduk.Meditasi Jalan Sang Buddha bersabda bahwa perhatian penuh harus diterapkan pada empat sikap tubuh. konsentrasi yogi cukup baik. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas duduk sebagaimana adanya. Yogi dapat mencapai tingkat konsentrasi tertentu dengan lebih mudah melalui meditasi jalan dibandingkan dengan meditasi duduk. kamu harus berperhatian penuh pada aktivitas berdiri sebagaimana adanya. dan kuat untuk menyadari lenyapnya fenomena mental dan jasmani (nāma dan rūpa). • Jika kamu duduk. Tetapi pada permulaan latihan. Setiap sesi meditasi duduk harus didahului dengan meditasi jalan. yogi perlu melakukan meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk.

Dalam berlatih meditasi jalan. Tangan harus disatukan di depan atau belakang. Jika yogi ingin mengubah posisi. Bila yogi melakukannya.” Pencatatan atau pemberian nama tidaklah sepenting pengamatan terhadap langkah kaki. harus dicatat ”ingin. Kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling harus diamati dengan perhatian penuh dan dicatat sebagai “kecenderungan” atau “ingin melihat” hingga keinginan itu lenyap.” Dalam cara ini. kiri. boleh dilakukan. kanan. Ketika melangkah dengan kaki kiri. yogi mencatat sebagai “kiri. melangkah.” Setelah itu. kanan. Bila harus merubah posisi tangan. Yogi tidak boleh menundukan kepala terlalu rendah. ingin. mata harus terpejam separuh (yang berarti tidak tegang dan menjaga mata dalam keadaan normal) dan yogi harus melihat ke bawah sekitar dua meter di depan kaki. catatlah dalam hati sebagai “kiri. 21 . ubahlah posisi dengan sangat perlahan dan setiap gerakan yang terlibat di dalamnya harus diamati dengan perhatian penuh. yogi harus berlatih meditasi jalan dengan menyadari langkah kaki. mata tidak boleh dipejamkan. ke sini atau ke sekeliling juga tidak diperbolehkan. Hal ini juga bisa menimbulkan sakit kepala atau pusing. Yogi harus mengutamakan kewaspadaan yang tajam terhadap gerakan kaki. yogi segera merasakan ketegangan pada leher dan bahu. Jika menundukan kepada terlalu rendah. Jadi berhati-hatilah untuk tidak melihat ke sekeliling sehingga yogi dapat menjaga dan meningkatkan konsentrasi melalui meditasi jalan. Yogi mempunyai kecenderungan atau keinginan untuk melihat ke sekeliling ketika yogi merasakan ada yogi lain yang mendekat atau lewat di depannya. Jika yogi melihat ke kakinya. yang pertama. Sebaiknya. yogi tidak akan ingin melihat ke sekeliling lagi. Kemudian. pikiran akan berkelana bersama mata dan konsentrasi menjadi terpecah. yogi dapat menjaga konsentrasinya. tetapi harus berperhatian penuh. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada gerakan kaki.” atau hanya “melangkah. Melihat ke sana. Setelah keinginan itu lenyap. catatlah dalam hati sebagai “kanan.” Ketika melangkah dengan kaki kanan. Yogi tidak boleh melihat ke kakinya.Jadi.

Sebelum melakukan perubahan posisi. yogi dilarang melakukan tindakan atau gerakan dengan cepat. bagi yogi yang telah mempunyai pengalaman berlatih meditasi. Yogi tidak boleh berbicara kecuali beberapa kata yang diperlukan pada rutinitas sehari-hari. Pada saat retret. sebaiknya duduk setidaknya selama empat puluh lima menit tanpa mengubah posisi.” Bila tidak tertahankan dan harus merubahnya. Itulah yang dimaksud dengan berperhatian penuh secara umum. Kewaspadaan Ketenangan Pada retret meditasi. Yogi jangan menimbulkan suara dengan berjalan dengan 22 . Setelah posisi tangan diubah. sehingga yogi dapat menerapkan perhatian penuh terhadap setiap gerakan tubuh yang kecil sekalipun. yogi akan merasakan dorongan untuk mengubah posisinya.Tidak boleh lengah pada setiap gerakan atau aksi. Beberapa kata tersebut juga harus diucapkan dengan perlahan dan lembut sehingga tidak mengganggu konsentrasi yogi lain. Berbeda dengan di rumah. sebaiknya duduk paling tidak dua puluh – tiga puluh menit tanpa mengubah posisi. Semua tindakan dan gerakan harus dilakukan secara perlahan sedapat mungkin. Semua tindakan dan gerakan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana adanya. Dalam meditasi duduk. catatlah keinginan untuk mengubah sikap tubuh sebagai “ingin. Sedangkan bagi pemula. kembalilah ke pengamatan gerakan perut dan catat sebagaimana biasanya. Jika yogi tidak dapat mengatasi rasa sakit yang timbul. lakukanlah dengan sangat perlahan dan waspada terhadap semua gerakan dan perbuatan yang terlibat dalam mengubah sikap duduk. Setelah perubahan selesai dilakukan. teruskan mencatat gerakan kaki seperti sebelumnya. yogi tidak perlu memperlambat semua tindakan dan gerakan. tapi lakukanlah dengan normal dan amati dengan perhatian penuh.yogi harus memperlambat semua tindakan dan gerakan karena yogi tidak ada tugas lain kecuali selalu berperhatian penuh pada semua aktivitas mental dan jasmani. ingin. Yogi harus melakukan segala seuatunya dengan suara yang amat kecil atau tanpa suara sama sekali.

Perhatian penuh dan konsentrasi akan membuka jalan untuk berkembangnya pandangan terang. juga harus dilakukan dengan perlahan dan waspadai setiap gerakan karena kita ingin mengerti setiap proses mental dan jasmani yang sebenarnya. pandangan terang akan terbuka dengan sendirinya. Yogi harus berperhatian penuh terhadap segala sesuatu yang muncul pada mental dan jasmani. waspadai seluruh gerakan saat duduk. Oleh karena itu. Begitu pula saat mandi. Ketika ingin duduk. semua kegiatan harus diperlambat dan amati gerakannya.kasar dan berat. Bila yogi berperhatian penuh terhadap gerakan kakinya. yogi harus memperlamba semua tindakan dan gerakan. Semua proses mental dan jasmani selalu berubah. lakukanlah dengan perlahan. Saat konsentrasi menjadi dalam. Oleh karena itu. ataupun minum. timbul dan tenggelam. yogi tidak akan menimbulkan suara apapun ketika berjalan. berpakaian. 23 . harus berperhatian penuh terhadap semua tindakan dan gerakan dalam kegiatan makan. Ketika ingin berdiri. kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. Ketika perhatian penuh menjadi berkesinambungan. Juga harus waspada terhadap segala macam aktivitas mental dan jasmani sebagaimana adanya. konsentrasi menjadi dalam dengan sendirinya. muncul dan lenyap. Saat makan.

” membaca sutta dan parita. Aspek praktek dalam agama Buddha (termasuk aspek pengalaman) Aspek pengabdian Aspek pengabdian dalam agama Buddha berarti “upacara dan ritual. Aspek moral dalam agama Buddha 4. 24 . Kata saddhā susah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Bagi saya. kata “keyakinan” tidak melingkupi arti yang sesungguhnya. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. Kita tidak dapat menemukan satu kata pun dalam bahasa Indonesia yang dapat memberikan arti yang lengkap dari saddhā. Sraddhā (dalam bahasa Sanskrit) atau Saddhā (dalam bahasa Pali). kita melakukannya dengan keyakinan. Keempat aspek itu adalah: 1. juga mempersembahkan makanan dan jubah. Jika kita menterjemahkan saddhā sebagai keyakinan.” kata ini juga tidak melingkupi arti saddhā yang sebenarnya. tak ada kata dalam bahasa Indonesia yang sepadan. Dan jika kita terjemahkan sebagai “kepercayaan. saddhā dapat diartikan sebagai percaya melalui pengertian yang benar terhadap Dhamma. Aspek etika dalam agama Buddha 3. mempersembahkan bunga dan dupa. Tetapi sebelum saya membahas hal itu. saya ingin menerangkan kepadamu secara singkat mengenai empat aspek dalam agama Buddha. Aspek pengabdian dalam agama Buddha 2.BAB III TUJUH MANFAAT MEDITASI VIPASSANĀ Tujuh manfaat meditasi vipassanā seperti yang diajarkan Sang Buddha tertulis dalam Mahā Satipatthāna Sutta. Jika kita melakukan perbuatan baik seperti itu.

Beliau adalah seorang Buddha karena beliau telah berjuang dan mencapai penerangan sempurna berkat usaha sendiri. Oleh karena itu. dan Beliau mengajarkan kita jalan yang menuju pada berhentinya segala macam penderitaan. juga mengacu pada Sammuti Sangha (mereka yang masih berjuang untuk menghancurkan kekotoran mental). Kita juga percaya bahwa dengan membacakan sutta dan paritta sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha. kita tidak boleh puas hanya dengan aspek pengabdian ini jika kita ingin menikmati intisari dari ajaran Sang Buddha dan terbebas dari segala macam penderitaan. Kita yakin terhadap Buddha.Ketika kita melakukan upacara agama. Kita percaya kepada Sang Buddha dengan cara ini. Sangha Mulia yang telah mencapai salah satu dari empat sang jalan (magga). dan dapat melepaskan diri dari penderitaan. kita percaya pada Sangha. Dhamma. Jika kita berkata Sangha. Walaupun demikian. dan Sangha. kita melakukan dengan keyakinan terhadap tiga permata (Triratna). arti utamanya adalah Ariya Sangha. Tetapi dalam pengertian umum. kita pasti akan hidup bahagia dan damai. kita harus terus maju untuk berlatih aspek yang lebih tinggi. kita melakukan perbuatan berjasa yang akan membantu pada tercapainya keadaan berhentinya penderitaan. Kita percaya bahwa jika kita mengikuti jalanNya atau ajaranNya. Dengan cara yang sama. Dhamma (ajaran-Nya). Melakukan perbuatan-perbuatan berjasa ini membentuk aspek pengabdian dalam agama Buddha. dan Sangha (kelompok siswa-siswi Sang Buddha). Untuk alasan ini. Kita memiliki pandangan bahwa Sang Buddha telah menghancurkan seluruh kekotoran mental melalui pencapaian pencerahan sempurna. Demikianlah kita memberikan penghormatan kepada tiga permata (Triratna) yaitu: Buddha. bukan karena belajar Dhamma dari guru-guru lain. 25 . kita percaya pada Dhamma. sehingga beliau layak dihormati (seorang Arahat). Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup bahagia dan damai.

khayalan. Jika kita menghindari segala macam perbuatan buruk. kita tidak akan mengalami penderitaan karena hasil yang buruk. kekotoran mental tersebut tidak dapat kembali lagi. Melakukan perbuatan berjasa atau perbuatan baik 3. kita harus melatih meditasi samatha dan vipassanā. ucapan. tetapi bila tidak dalam keadaan bermeditasi. kekotoran mental akan menyerang kita kembali. Artinya.Aspek Etika Aspek kedua dalam agama Buddha adalah aspek etika. dan lain-lain. Menghidari segala macam perbuatan buruk atau jahat 2. Kekotoran mental tertentu yang telah dihancurkan oleh vipassanā ñāna tidak akan mampu menyerang kita lagi. kemarahan. kita dapat hidup bahagia dan damai karena agama Buddha ditemukan berdasarkan hukum sebab dan akibat. Memurnikan pikiran dari segala macam kekotoran mental. jika kita telah mengalami pengetahuan pandangan terang. dan mental kita. Aspek etika dalam agama Buddha adalah: 1. Jika kita mengikuti ajaran ini. Realisasi atau pandangan terang dari fenomena mental dan jasmani dikenal sebagai vipassanā ñāna (pengetahuan pandangan terang). Ini adalah tiga bagian dari aspek etika dari apa yang telah diajarkan oleh Sammā Sambuddha dan ini adalah nasehat dari semua Buddha. Guna memurnikan pikiran dari kekotoran mental. Hal ini mengikuti ajaran Sang Buddha mengenai pemurnian dari perbuatan. Ada banyak doktrin yang mengupas aspek etika dalam agama Buddha. Dengan mengikuti doktrin-doktrin ini. pengalaman 26 . Vipassanā ñāna ini dapat mengatasi dan mengurangi beberapa aspek dari kekotoran mental seperti: keserakahan. Jika kita memurnikan pikiran kita melalui realisasi dari proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. kita dapat mencapai kehidupan yang bahagia baik dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. Dengan meditasi samatha pikiran dapat dimurnikan hanya sewaktu kita berlatih meditasi. tetapi kita tidak dapat menghilangkan penderitaan secara total.

kita akan berusaha keras dalam berlatih hingga mencapai magga keempat. Saya ingin mengingatkan para yogi megenai Ambalatthika Rahulovada Sutta (Majjhima Nikaya. tingkat jalan kesucian Arahat. Di sini kita dapat menghancurkan seluruh kekotoran mental. Dalam hal ini. Tetapi bila kita memiliki saddhā yang tinggi. Ketika seluruh kekotoran mental. Dengan kekuatan pandangan terang ini. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental ini berhubungan dengan aspek praktek dalam agama Buddha. kekotoran mental yang telah dibasmi tidak akan muncul lagi. Ketika kita merenungkan pengalaman pandangan terang yang telah dicapai dalam meditasi. 61) yang mungkin 27 . Itu berarti. maka tak ada lagi penderitaan. Contohnya: • Kamu harus tinggal di tempat yang sesuai di mana kamu dapat menjadi sejahtera dalam segala aspek karena telah malakukan perbuatan berjasa di kehidupan yang lampau. • Kamu harus memperhatikan perbuatan. tidak akan muncul penderitaan lagi. Sutta No. Ada juga Manggala Sutta (Sutta Nipata. dan pikiran agar bersih dari kekotoran mental. Di dalam sutta ada beberapa etika yang harus diikuti yang dapat membuat kita hidup bahagia dan damai. sedangkan dua bahasan sebelumnya berhubungan dengan aspek etika dalam agama Buddha. ucapan. kita dapat memurnikan pikiran dari beberapa kekotoran mental. Pemurnian pikiran dari kekotoran mental telah dihancurkan dan pikiran telah termurnikan sepenuhnya. • Kamu harus melakukan perbuatan berjasa sebanyak mungkin dalam kehidupan ini juga. kita memiliki berbagai aspek etika untuk diikuti sehingga kita dapat hidup bahagia dan damai. ayat 258-269) dengan 38 jenis berkah utama. ucapan. Sehingga. kita harus menjaga perbuatan. Penderitaan akan berhenti.tersebut tidak akan hilang atau lenyap dari diri kita. dan pikiran dengan pantas. pandangan terang ini akan muncul kembali.

untuk waspada terhadap apa yang sedang dilakukan. Dalam aspek moral. Dalam sutta tersebut Sang Buddha mengajarkan putra-Nya. samanera berumur 7 tahun. dan damai. kamu boleh melakukannya. Rāhula. Setelah mempertimbangkannya. Sang Buddha mengajarkan Rāhula untuk berhenti dan merenung jika ia memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari. Aspek Moral Walaupun aspek etika sangat kondusif untuk membawa seseorang pada kehidupan bahagia dan damai. Sepuluh sīla adalah untuk calon bhikkhu (samanera). untuk hidup dengan benar. Ada berbagai aspek etika yang tak terhitung yang dapat mendukung pada kehidupan yang bahagia dan damai. 28 . kita tak boleh puas hanya dengan aspek kedua dalam agama Buddha. dan untuk merenungkan terhadap apa yang telah dilakukan. Kita harus melanjutkan pada aspek yang lebih tinggi dalam agama Buddha. sedangkan bhikkhu harus menjalankan 227 sīla. umat awam setidaknya harus menjalankan lima sīla. kamu harus berperhatian penuh terhadap apa yang akan kamu lakukan dan mempertimbangkan apakah perbuatan ini akan merugikan diri sendiri atau orang lain. yogi harus melaksanakan sīla. atau 10. Jadi etika ini juga merupakan cara terbaik untuk hidup bahagia dan damai dalam kehidupan sehari-hari. bisa 5. Dengan cara ini. 8. Sang Buddha memberi petunjuk kepada Rāhula untuk mempertimbangkan apa yang akan dilakukan. kamu tidak boleh melakukannya. kita pasti akan hidup bahagia dan damai walaupun kita belum dapat melenyapkan semua penderitaan. bahagia. Tetapi jika perbuatan ini tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Rāhula. jika kamu menemukan bahwa perbuatan ini merugikan diri sendiri maupun orang lain.tidak asing dengan yogi semua. aspek ketiga yaitu aspek moral. Jika kita mencoba untuk mengerti etika-etika ini dan mengikutinya.

Dalam hal ini. Ketika kita berlatih meditasi vipassanā. tetapi meditasi vipassanā membawa ke pencapaian nibbanā melalui realisasi proses mental dan jasmani dalam sifat alamiah yang sebenarnya. kita dapat berlatih dua macam meditasi yang merupakan aspek praktek dalam agama Buddha. Sang Buddha menerangkan tujuh manfaat yang bisa didapat seseorang yogi melalui pengalaman Dhammanya. Meditasi samatha dapat membawa ke pencapaian konsentrasi yang dalam. tenang. Aspek Praktek Berikutnya adalah aspek keempat. moral kita menjadi murni. Kita harus berlatih meditasi sehingga kita dapat melepaskan diri dari kekotoran mental dan sebagai akibatnya. Manfaat pertama adalah pemurnian dari semua kekotoran mental. Berdasarkan kemurnian kelakuan moral. baik itu meditasi samatha ataupun meditasi vipassanā. Sang Buddha lebih menekankan pada meditasi tipe kedua . aspek praktek dalam agama Buddha.Jika kita dapat menjalankan lima sīla dengan sempurna. dipastikan kita akan mencapai nibbanā. yogi harus mengikuti Mahā Satipatthāna Sutta.meditasi vipassanā. mencapai berhentinya segalam macam penderitaan. seorang yogi dapat dengan mudah berkonsentrasi pada obyek meditasi dan mendapatkan konsentrasi yang dalam. ia dapat 29 . yogi dapat berlatih meditasi dengan mudah. Sang Buddha menerangkan Empat Landasan Perhatian Penuh pada saat Beliau memberikan kotbah tentang Mahā Satipatthāna Sutta di propinsi Kuru. kotbah mengenai Empat Landasan Perhatian Penuh. Jika kita menerapakan perhatian penuh pada semua proses mental dan jasmani. Jika seseorang melatih meditasi vipassanā. Jika kelakuan moral telah murni. di mana pikiran menjadi jernih. dan bahagia. Tujuh Manfaat Meditasi Pada permulaan syair sutta tersebut.

tapi tidak akan bertahan lama. Moha adalah khayalan atau kebodohan mental Ditthi adalah pandangan salah Māna adalah kesombongan Vicikichā adalah keragu-raguan Thina-middha adalah kemalasan dan keengganan. mungkin hanya barlangsung selama dua atau tiga hari. setiap yogi harus berjuang karena belum terbiasa menjalankan meditasi vipassanā. semua yogi akan baik kembali. kemelekatan dan cinta. Uddhacca-kukkucca 9. saya mengantuk. kehendak jahat atau ketidaksukaan. 5.” Pada awal latihan.memurnikan pikirannya dari seluruh kekotoran mental (kilesa). Setelah tiga hari. nafsu. sewaktu wawancara. Saat salah satu keadaan mental ini muncul. Mengantuk juga termasuk dari kategori ini. Ahirika 10. Hari ini. 4. Sehingga hal ini bisa juga disebut sebagai kekotoran mental. Mereka akan menemukan bahwa tidak terlalu susah untuk mengalahkan “teman lama” yang menghalangi kemajuan mereka pada konsentrasi dan juga pandangan terang. 3. 30 . Ini adalah keadaan kritis dalam meditasi. 2. Kekotoran mental ada 10 macam: 1. pikiran menjadi tercemar. Anottappa Lobha berarti bukan hanya keserakahan tetapi juga keinginan. Kata bahasa Pali ’kilesa’ mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Lohba Dosa Moha Ditthi Māna 6. Dosa adalah kebencian. mendambakan. Thina-middha adalah “temen lama” dari para yogi dan juga dari mereka yang mendengarkan Dhamma. semua yogi melaporkan pengalamannya: “saya capek. Thina-middha 8. kemarahan. Kilesa diterjemahkan sebagai kekotoran mental oleh cendikiawan Budhhist. Vicikichā 7.

pikiran. anda tetap dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran dalam batas tertentu. tingkat kesucian Arahat pasti tercapai dan terbebas dari kekhawatiran dan kesedihan secara permanen. dan tindakan jasmani. Seseorang yang tidak merasa malu terhadap perubuatan buruk baik melalui ucapan. ataupun saudara anda meninggal. atau kehilangan pekerjaan. Ahirika berarti sifat yang tidak tahu malu. Perasaan tidak takut berbuat jahat ini adalah salah satu kekotoran mental. pikiran. dan tindakan jasmani. Hal ini dikarenakan saat kesedihan atau kekhawatiran muncul. Walaupun belum mencapai jalan dan buah (magga dan phala). jika telah membersihkan diri sepenuhnya dari segala macam kekotoran mental. Yang berarti. ia akan bersih dari semua kekotoran mental. Inilah manfaat pertama. anak. Sang Buddha bersabda: jika seseorang berlatih meditasi vipassanā. adalah sikap mental yang tidak merasa takut dalam melakukan perbuatan jahat melalui ucapan. Anda tidak akan menyesal terhadap apapun jika anda berlatih meditasi vipassanā. ia dapat mencapai tingakt kesucian arahat. anda akan berperhatian penuh padanya sebagaimana adanya. Manfaat ketiga yaitu dapat mengatasi ratap tangis. Anda tidak akan merasa khawatir terhadap kegagalan.Uddhacca-kukkuccā berarti kegelisahan dan kekawatiran. anda tidak akan merasa sedih akan kematian mereka karena anda mengerti 31 . kekhawatiran atau kesedihan akan berhenti dan hilang. Anottappa berarti tidak merasa takut. Bila anda telah mengembangkan meditasi vipassanā sepenuhnya. sedih terhadap kematian saudara. Semua itu adalah sepulauh macam kekotoran mental yang harus dilenyapkan atau dihilangkan dari pikiran kita dengan berlatih meditasi vipassanā. Manfaat kedua dari vipassanā adalah mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. Ketika perhatian penuh menjadi kuat. Dengan cara inilah kekhawatiran dan kesedihan dapat diatasi oleh meditasi vipassanā. Walaupun orang tua.

sepenuhnya proses mental dan jasmani terhadap yang kita sebut ’anak’ atau ’orang tua.’ Dalam hal ini, ratap tangis dapat diatasi dengan berlatih meditasi vipassanā. Mengenai manfaat ketiga, ada komentar terhadap Mahā Satipatthāna Sutta yang mengisahkan sebuah cerita sebagai berikut: Seorang wanita, bernama Patacara, yang suami, kedua putra, orang tua, dan saudara-saudaranya meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Dia kemudian menjadi gila karena kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangis. Ia diliputi oleh kesedihan yang disebabkan oleh kematian orang-orang yang dicintainya. Komentar ini mengisahkan cerita tersebut sebagai bukti nyata bahwa orang dapat mengatasi kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis dengan meditasi vipassanā. Suatu hari, Sang Buddha memberikan kotbah kepada orangorang yang hadir di vihara Jetavana dekat Savatthi. Kemudian wanita yang tak waras ini pergi berjalan ke vihara dan melihat para hadirin mendengarkan kotbah, dan mendekati para hadirin. Seorang pria tua yang sangat baik kepada orang miskin, melepaskan jubah luarnya dan melemparkannya kepada wanita tersebut. Ia berkata “Anakku sayang, gunakanlah jubahku ini untuk menutupi tubuhmu.” Pada saat yang sama, Sang Buddha berkata kepadanya, “Saudari yang baik, sadarlah.” Karena kata-kata Sang Buddha yang lembut, kesadaran wanita tersebut kembali pulih. Ia kemudian duduk di salah satu sudut dan ikut mendengarkan kotbah. Sang Buddha yang mengetahui bahwa wanita tersebut telah pulih kesadarannya, mengarahkan kotbah itu kepadanya. Mendengar kotbah yang diberikan oleh Sang Buddha, wanita itu perlahan-lahan menyerap intisari Dhamma tersebut. Saat pikirannya telah siap untuk merealisasi Dhamma, Sang Buddha membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya 32

Magga-sacca

Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan

Empat kebenaran mulia mencakup nasehat bagaimana caranya untuk tetap berperhatian penuh pada apapun yang muncul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya. Patacara, setelah pikirannya kembali normal, mengerti dengan baik teknik vipassanā, menerapkannya terhadap apapun yang muncul dari proses mental dan jasmani dan pada apapun yang didengar. Ketika perhatian penuhnya mencapai momentum, konsentrasinya juga menjadi lebih dalam dan kuat. Karena konsentrasi yang dalam, pengetahuan pandangan terangnya yang dapat menembus proses mental dan jasmani menjadi kuat. Akhirnya perlahan-lahan Patacara dapat merealisasi karakteristik khusus dan karakteristik umum dari fenomena mental dan jasmani. Oleh karena itu, Patacara dengan cepat mengalami semua tingkat-tingkat pengetahuan vipassanā sewaktu mendengarkan kotbah, dan ia mencapai jalan kesucian yang pertama (sotāpattimagga). Melalui pengalamannya terhadap Dhamma dari meditasi vipassanā, kesedihan, kekhawatiran, dan ratap tangis yang dimilikinya menghilang total dari pikirannya dan ia menjadi “wanita baru.” Demikianlah, Patacara mengatasi kesedihan, kekhawatiran dan ratap tangisnya melalui meditasi vipassanā. Komentar Mahā Satipatthāna Sutta menyebutkan, bukan hanya orang-orang di zaman Sang Buddha, tapi orang-orang di zaman sekarang juga dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran jika mereka berlatih meditasi vipassanā dan mencapai tahapan pandangan terang yang tinggi. Yogi semua juga termasuk orang yang dapat mengatasi kesedihan dan kekhawatiran melalui meditasi vipassanā. Manfaat keempat adalah berhentinya penderitaan jasmani. Manfaat kelima adalah berhentinya penderitaan mental. Penderitaan jasmani seperti rasa sakit, kaku, gatal, kesemutan, dan 33

sebagainya dapat diatasi dengan berperhatian penuh pada saat retret meditasi dan begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika yogi memiliki beberapa pengalaman dalam latihan meditasi, yogi dapat mengatasi penderitaan mental dan jasmani dalam lingkup yang lebih besar. Jika kamu meluangkan waktu dan usaha yang cukup, kamu dapat melenyapkan penderitaan mental dan jasmani secara permanen (selamanya) ketika kamu mencapai tingkat kesucian arahat. Selama latihan meditasi, kamu dapat mengatasi rasa sakit, kaku, kesemutan, gatal, dan segala macam sensasi jasmani yang tak menyenangkan dengan mengamati sensasi tersebut secara cermat dan penuh perhatian. Oleh karena itu, yogi tak perlu takut terhadap rasa sakit, kaku, atau kesemutan karena mereka adalah “temen baikmu.” yang dapat membantu yogi mencapai nibbanā. Jika yogi mengamati rasa sakit dengan bersemangat, tepat, dan rapat, mungkin akan terasa lebih kuat intensitasnya. Hal itu dikarenakan yogi mengetahuinya dengan lebih jelas. Setelah yogi mengerti bahwa sensasi sakit itu tidak menyenangkan, yogi tidak akan menganggapnya sebagai bagian dari dirinya, karena sensasi tersebut dilihat hanya sebagai proses alami dari fenomena mental. Yogi tidak akan melekat pada sensasi rasa sakit sebagai ’aku’ atau ’milikku,’ atau ’seseorang’ atau ’makhluk.’ Dengan cara ini, yogi dapat menghapus pandangan salah tentang jiwa, diri, seseorang, makhluk, ’aku’ atau ’kamu.’ Jika akara dari segala macam kekotoran mental telah dihancurkan, contohnya: sakkāya-ditthi atau atta-ditthi telah dihancurkan, yogi pasti dapat mencapai jalan kesucian pertama, sotāpatti-magga. Kemudian yogi dapat melanjutkan latihan untuk mencapai tiga tingkatan dari jalan dan buah kesucian yang lebih tinggi. Itulah sebabnya saya katakan bahwa sensasi jasmani yang tak menyenangkan seperti sensasi sakit, kaku, dan kesemutan sebagai “temen baikmu” yang dapat membantu yogi mencpai nibbanā. Dengan kata lain, kesemutan atau sensasi sakit ini adalah kunci pintu nibbanā. Ketika yogi merasakan sakit, yogi beruntung. Sakit adalah obyek meditasi yang sangat berharga karena dapat menarik ’pikiran yang mencatat’ untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama. ‘pikiran yang mencatat’ dapat berkonsentrasi dengan dalam dan 34

terserap pada sensasi sakit tersebut. Jika pikiran telah terserap sepenuhnya dalam sensasi sakit, yogi tidak lagi sadar akan bentuk badan atau dirinya. Ini berarti yogi merealisasi karakteristik khusus (sabhava-lakkhana) dari sensasi sakit (dukkha-vedanā). Dengan melanjutkan latihan, yogi akan dapat merealisasi karakteristik umum, ketidakkekalan, penderitaan, dan tidak ada jiwa or tidak ada diri dari fenomena mental dan jasmani. Akhirnya membawa yogi ke nibbanā. Jadi yogi beruntung mendapatkan rasa sakit. Di Burma, beberapa yogi, setelah melewati tingkat ketiga pandangan terang (sammasana-ñāna), hampir sepenuhnya dapat mengatasi rasa sakit. Walaupun demikian, mereka tidak puas karena mereka tidak memiliki rasa sakit diperhatikan. Sehingga mereka melipat kaki mereka di bawah badan dan menekannya guna mendapatkan rasa sakit. Mereka mencari “teman baik” yang dapat menuntun mereka menuju berhentinya penderitaan. Jika yogi merasa tidak bahagia, amatilah ketidakbahagiaan dengan penuh semangat, perhatian penuh, dan dengan rapat sebagai ‘tidak bahagia, tidak bahagia.’ Jika yogi merasa tertekan, tekanan mental itu harus diamati dengan berperhatian penuh dan tak kenal lelah. Bila perhatian penuh yogi menjadi kuat, ketidakbahagiaan dan tekanan mental akan berhenti. Jadi, mengatasi penderitaan mental adalah keuntungan kelima dari meditasi vipassanā. Manfaat keenam adalah pencapaian pencerahan, jalan dan buah kesucian (magga dan phala). Jika yogi mengabdikan usaha dan waktu yang cukup untuk berlatih meditasi vipassanā, yogi setidaknya akan mencapai jalan kesucian tingkat pertama (sotāpatti-magga). Inilah manfaat keenam dari meditasi vipassanā. Manfaat ketujuh adalah yogi pasti mencapai nibbāna, pembebasan, melalui latihan meditasi vipassanā. Jadi, inilah ketujuh manfaat dari meditasi vipassanā yang didapat oleh yogi melalui pengalaman langsung dalam Dhamma: 1. Pemurnian dari semua kekotoran mental. 35

Sang Buddha memulai Mahā Satipatthāna Sutta dengan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. atau diri kita sendiri? Ya. Siapa yang harus disalahkan? Sang Buddha. Pencapaian nibbāna. Kita beruntung karena kita percaya pada Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna dan yang mengajarkan jalan yang benar. Dalam naskah-naskah pali ada perumpamaan: Ada sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih dan banyak bunga teratai di dalamnya. pengembaralah yang harus disalahkan. Berhentinya semua penderitaan jasmani. 6. Sang Buddha mengajarkan kita cara berperhatian penuh. tetapi ia tidak melakukannya. pengembara. kolam atau pengembaranya?” Jelas. Dalam hal ini. Mengatasi kesedihan dan kekhawatiran. 7. Seorang pengembara yang tangannya kotor mengetahui bahwa jika ia memcuci tangannya di kolam. Oleh karen itu. siapa yang harus disalahkan. ia tidak pergi ke kolam untuk mencuci tangannya. 4. Walaupun ia mengetahui hal itu. yogi akan dapat memurnikan dirinya dari segala 36 . Dalam naskah diajukan sebuah pertanyaan: “Jika pengembara itu tetap kotor. sehingga tangannya tetap kotor. Jika yogi melatih meditasi vipassanā ini dengan usaha yang gigih. Walaupun ia tahu ia dapat mencuci kotorannya di kolam. Tapi kita tidak boleh puas. Ia melewati kolam dan meneruskan perjalanannya. 3. Pencapaian pencerahan. Mengatasi ratap tangis. kita tidak dapat melenyapkan penderitaan. yang dapat menuntun pada berhentinya penderitaan. 5.2. meditasi vipassanā. Berhentinya semua penderitaan mental. Sehingga yogi pasti mendapatkan ketujuh manfaat di atas jika berusaha dengan gigih dalam latihannya. Jika kita tahu jalannya tetapi tidak melatih meditasi vipassanā ini. maka tangannya akan bersih. kitalah yang harus disalahkan.

kekotoran mental dan melenyapkan semua penderitaan dengan mencapai ketujuh manfaat dari latihan meditasi vipassanā. 37 .

yogi dipastikan akan melekat atau menolak perasaan tersebut. semua perasaan harus dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka terjadi. 38 . Beberapa yogi berpendapat bahwa perasaan yang tidak menyenangkan tidak perlu diamati karena hal itu tidak menyenangkan. yogi melekat pada perasaan tersebut. atau netral muncul. Saat yogi menyukai perasaan tertentu. bukan menyenangkan. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan disebut sukha vedanā (sukha berarti menyenangkan. Dhammānupassanā Satipatthāna Kāyānupassanā satipatthāna berarti perenungan terhadap jasmani atau perhatian penuh terhadap semua proses jasmani sebagaimana adanya. juga bukan tidak menyenangkan). tidak menyenangkan.BAB IV EMPAT LANDASAN PERHATIAN PENUH Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan Empat Landasan Perhatian Penuh setelah menerangkan tujuh manfaat dari meditasi vipassanā. yogi harus berperhatian penuh terhadap perasaan tersebut sebagaimana adanya. Empat landasan perhatian penuh tersebut adalah: 1. Jika yogi tidak mengamati atau mencatat perasaan senang atau tidak senang. yaitu: a. b. c. vedanā berarti sensasi atau perasaan). Vedanānupassana satipatthāna adalah perenungan terhadap sensasi atau perasaan. Kāyānupassanā Satipatthāna 2. Ada tiga macam sensasi atau perasaan. Sebenarnya. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan. Saat perasaan menyenangkan. Cittānupassanā Satipatthāna 4. Sensasi atau perasaan yang tidak menyenangkan disebut dukkha vedanā (dukkha berarti tidak menyenangkan) Dan sensasi atau perasaan yang netral disebut upekkhā vedanā (upekkhā berarti netral. Vedanānupassanā Satipatthāna 3. Sensasi atau perasaan yang netral. Sensasi atau perasaan yang menyenangkan.

kebencian. memajukan kaki (dorong). dan sebagainya. ketenangan. sentuh. perasaan yang menyenangkan adalah penyebab. Jika seorang yogi berjalan dengan berperhatian penuh. kebahagiaan. Jika yogi menikmati dan merasa puas dengan apa yang dialaminya. khayalan. Hal ini dikarenakan pikirannya pada saat itu cukup bersih dari segala kekotoran mental seperti keserakahan. Apa yang dialaminya pada saat itu hanyalah perasaan yang muncul dan tenggelam saja. kesombongan. yogi tidak dapat maju ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. dan tekan. Pengalaman demikian dapat dicapai pada bagian pertama dari pandangan terang tingkat keempat. mencatat keenam tahapan langkahnya: mengangkat tumit kaki (angkat). Yogi yang tak kenal lelah ini telah mencapai tingkat pandangan terang yang sangat baik karena pikirannya sekarang menjadi damai dan tenang. yogi dapat melewati tingkat pandangan terang ini. kemudian ia akan terlepas dari pengalamannya dan meneruskan latihannya untuk pandangan terang yang lebih tinggi. Apapun yang dialaminya pada tingkatan ini.Kemelekatan atau tanhā itu muncul bergantung kepada perasaan atau sensasi. yogi seharusnya hanya mengamati pengalaman yang telah dicapainya pada tingkat ini. menurunkan kaki (turun). atau kedamaian tidak akan muncul dalam dirinya dengan sangat jelas. Jika yogi berlatih meditasi vipassanā dengan gigih dan tak kenal lelah. Jika yogi mengerti akan hal ini. Kemudian perasaan lain muncul dan tenggelam lagi. Saat konsentrasi yogi dalam dan kuat. Akibatnya. mengangkat keseluruhan kaki (naik). Yogi tidak dapat membedakan antara perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ketika yogi mencatatnya dengan perhatian penuh dan terus-menerus. itu berarti dia melekat pada kondisi tersebut. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. Dalam hal ini. yogi merasa bahagia dan mengalami kegiuran. Hanya dengan demikian. dan kemelekatan adalah akibat. 39 . yogi tidak akan melekat jika yogi mengamati pengalamannya dengan perhatian penuh dan penuh semangat.

Semua ini dapat terjadi karena yogi tidak mengamati pengalaman menyenangkan yang dialaminya. Pikiran mulai merelalisasi bahwa pengalaman yang terjadi telah lenyap. yogi pasti akan melekat kepada perasaan itu. karena ini adalah penglaman terbaik yang pernah didapatnya. pikiran tersebut akan menembus sifat alamiah dari pengalamannya. dan kuat.konsentrasinya akan menjadi bagus. Ketika pikiran yang mencatat menjadi konstan. Jadi yogi harus mengamati dan waspada dengan perhatian penuh terhadap pengalaman apapun yang didapatnya pada tingkat ini. dan kuat. yogi mungkin merasa seperti berjalan di udara. Yogi hanya menyadari gerakan kakinya. Jika perasaan menyenangkan itu muncul. agar dapat merealisasi pengalaman terhadap proses mental atau keadaan mental yang juga tidak kekal. yogi akan menemukan bahwa pengalamannya tidak kekal. Yogi tidak boleh menganalisa atau berpikir mengenai hal ini. Bila yogi tidak mengamati pengalaman ini dengan perhatian penuh. Dalam tahapan ini. Dhamma berarti proses mental dan juga proses 40 . maupun menyadari tubuh ataupun bentuk tubhnya. pikiran mencatatnya. Kapanpun yogi melakukan pencatatan. dan oleh karena itu yogi melekat pada sensasi tersebut. yogi akan menyukai pengalaman ini dan menginginkan yang lebih besar lagi. Di sini. berkesinambungan. Akibatnya yogi tidak akan menyadari bentuk kakinya. Jika seorang yogi menikmati perasaan menyenangkan atau perasaan tidak menyenangkan mengenai penglaman baiknya tanpa berperhatian penuh. Yogi kemudian dapat menyimpulkan bahwa perasaan menyenangkan yang terjadi bersama pengalamannya bersifat tidak kekal (anicca). dalam. Hal ini dikarenakan yogi telah mengerti sifat alamiah ketidakkekalan melalui pengalaman Dhammanya sendiri. Yogi harus waspada terhadap setiap pengalaman yang timbul. yogi mengalami pengalaman meditasi yang luar biasa. Yogi mungkin menjadi sangat puas dengan latihannya dan mungkin berpikir bahwa inilah nibbāna (berhentinya semua penderitaan). misalnya keadaan mentalnya. Kemelekatan ini muncul tergantung pada sensasi atau perasaan menyenangkan tentang pengalaman baiknya. Gerakan kaki mungkin terasa ringan. kemudian perasaan menyenangkan itu lenyap kembali.

Kemelekatan tidak akan muncul bila yogi telah mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari keadaan mental yang baik atau pengalaman yang baik. Perbuatan baik melalui pikiran disebut kusala mano-kamma dan perbuatan buruk melalui pikiran disebut akusala mano-kamma. 2 Upādāna (grasping) diterjemahkan sebagai mencengkeram. maka tidak akan ada perbuatan baik atau buruk. Perbuatan-perbuatan ini atau kamma muncul karena keterikatan yang timbul sebagai akibat kemelekatan pada perasaan atau sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. keterikatan2 (upādāna) tidak timbul. Jadi dengan cara ini. Perbuatan baik melalui jasmani disebut kusala kāya-kamma dan perbuatan buruk melalui jasmani disebut akusala kāya-kamma. 41 . tidak dapat melepas. ucapan. Dengan cara ini. perkataan. Jika keterikatan tidak timbul.jasmani. Sehingga disini diartikan sebagai ‘keterikatan’. makhluk-makhluk terlahir kembali melalui perbuatannya yang baik ataupun yang tidak baik. baik itu melalui pikiran. Kemelekatan itu sendiri dikondisikan oleh perasaan atau sensasi. dan akibatnya dapat timbul dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang. dapat berupa perbuatan baik atau perbuatan buruk. Perbuatan baik melalui ucapan disebut kusala vaci-kamma dan perbuatan buruk melalui ucapan disebut akusala vaci-kamma. Karena yogi telah merealisasi bahwa perasaan menyenangkan dan pengalaman baiknya tidaklah kekal. Perbuatan yang disebabkan oleh keterikatan dikenal sebagai kamma-bhava. makhluk terlahir di kehidupan berikutnya untuk mengalami berbagai penderitaan karena dia tidak mengamati perasaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan yang timbul bersama pengalamannya. Perbuatan yang dilakukan melalui pikiran. dan jasmani akan menjadi sebab. yogi tidak akan melekat padanya. Perbuatan itu disebabkan oleh keterikatan yang memiliki kemelekatan sebagai akarnya. ataupun tindakan jasmani. Hubungan Sebab dan Akibat Bila kemelekatan (tanhā) tidak timbul.

Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kepada kita agar berperhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi apapun. sehingga yogi dapat mengerti sifat 42 . dan tepat. yaitu: 1. bukan proses jasmani. biasanya yogi merasakan sensasi yang tidak menyenangkan baik itu di jasmani ataupun mental. Kita dapat menyebutnya sebagai perasaan atau sensasi mental. maka dikenal sebagai cetasika-vedanā. Jika perasaan atau sensasi tersebut timbulnya tergantung pada proses mental. kemudian perasaan tidak menyenangkan muncul. Sensasi tidak menyenangkan ini disebut kāyika-vedanā. dikenal sebagai kāyika-vedanā. jika yogi berpikir bahwa perasan itu tidak perlu diamati. Tetapi kadangkadang perasaan atau sensasi yang muncul tergantung pada ketidaknyamanan terhadap proses jasmani. lahir kembali di kehidupan yang akan datang dan serta mengalami berbagai macam penderitaan. yogi harus mengamatinya dengan perhatian penuh. Di sini kita perlu menjelaskan kembali tentang dua macam sensasi.Oleh sebab itu. Ketika seorang yogi merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. Perhatian Pernuh Terhadap Perasaan Perhatian penuh atau perenungan terhadap perasaan dikenal sebagai vedanānupassana satipatthāna. seorang yogi biasanya mengalami sensasi mental dan jasmani yang tidak menyenangkan. tidak menyenangkan ataupun netral. Kāyika-vedanā 2. Pada permulaan latihan. penuh semangat. baik itu menyenangkan. Tetapi apapun sensasi yang dialaminya. karena munculnya tergantung pada proses jasmani. Pada permulaan latihan. Cetasika-vedanā Perasaan atau sensasi yang timbulnya tergantung pada proses jasmani. Kita dapat menterjemahkannya sebagai perasaan jasmani atau perasaan tubuh. yogi akan terbawa oleh hukum sebab-akibat yang saling berkaitan (paticcasamuppāda). Sebenarnya setiap perasaan atau sensasi adalah proses mental.

Inilah yang dimaksud dengan cittānupassanā satipatthāna. kesadaran. Perhatian Penuh Terhadap Kesadaran Landasan perhatian penuh yang ketiga adalah cittānupassanā satipatthāna yang berarti perhatian penuh pada kesadaran (citta) dan bentuk-bentuk mental (cetasika) yang muncul bersama dengan kesadaran. Kemudian pandangan terang yang menembus pada sifat alamiah dari rasa sakit atau sensasi yang tidak menyenangkan akan menuntun yogi ke tingkat pandangan terang yang lebih tinggi. Apapun itu. maka ia dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari rasa sakit secara umum dan khusus. Rasa sakit adalah proses alami yang seharus dimengerti sepenuhnya dengan mewaspadainya ketika rasa sakit itu muncul. tapi timbul bersama dengan hal yang berhubungan dengannya. Bahkan. Kesadaran tidak pernah timbul sendiri. Karakteristik khusus dan umum dari perasaan harus dimengerti sepenuhnya sehingga yogi tidak akan melekat pada perasaan tersebut ataupun menolaknya. pikiran. Jika perasaan timbul. Menurut Abhidhamma. perasaan tersebut harus diamati dan dicatat sebagaimana ketika perasaan tersebut timbul. Suatu hal yang alami bila yogi merasa takut pada sensasi jasmani yang tak menyenangkan yang dialaminya dalam latihan meditasi. tapi perasaan sakit bukanlah suatu proses yang harus ditakuti. Ini adalah vedanānupassanā satipatthāna – perhatian penuh terhadap perasaan atau sensasi. setiap “pikiran” terdiri dari kesadaran dan hal yang berhubungan dengan kesadaran itu sendiri. Oleh sebab itu. ataupun keadaan mental yang muncul harus diamati dan dicatat dengan perhatian penuh sebagaimana mereka muncul. Ketika seorang yogi dapat dengan sukses mengamati rasa sakit dengan usaha yang gigih. harus dicatatnya sebagaimana saat hal itu muncul.alamiah yang sebenarnya dari sensasi tersebut. ketika kesadaran yogi tercemar oleh 43 . yogi dapat mencapai pencerahan melalui sensasi sakit ini. Keadaan mental yogi mungkin baik dan keadaan emosinya mungkin lebih baik. Singkatnya.

bau. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut sebagaimana adanya.mengantuk. 1. Kategori pertama adalah lima nivārana (lima rintangan mental). suara. 2. kekhawatiran atau ketidakbahagiaan terhadap apa yang pernah dilakukan. Yogi kemudian menyadari bahwa kemarahan tidak bertahan lama. 3. 44 . Uddhacca-kukkucca: penyesalan. yang berarti perenungan atau perhatian penuh terhadap Dhamma. Merealisasi atau mengerti sifat alamiah kemarahan (muncul dan tenggelamnya kemarahan atau anicca). yogi harus mencatatnya sebagai kesadaran dengan kemarahan. 4. Aspek pertama: ketidakbahagiaan terhadap kegagalan dalam melakukan sesuatu yang harus dilakukan di masa lampau. perasaan berat/kelambanan. Contoh ini adalah perbuatan yang mengakibatkan karma buruk. Vicikichā: keragu-raguan. Thina-middha: kemalasan dan keengganan . dan sentuhan. Vyāpāda: kemarahan atau niat jahat. Aspak kedua: ketidakbahagiaan terhadap perbuatan yang telah dilakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. yogi mendapatkan dua keuntungan: 1. Jika perhatian penuh kuat. kemarahan akan hilang. 2. 5. Perhatian Penuh Terhadap Dhamma Landasan perhatian penuh yang keempat adalah dhammānupassanā satipatthāna. Kesadaran tersebut dapat dicatat sebagai ‘kemarahan’ atau ‘marah’ sesuai dengan Mahā Satipatthāna Sutta. ketumpulan mental. rasa. Jika kesadaran yogi tercemar dengan kemarahan. kemarahan itu muncul dan tenggelam. Mengatasi kemarahan. Kāmacchanda: keinginan indera . Kemarahan adalah salah satu bentuk mental yang dapat membawa yogi pada berhentinya penderitaan bila yogi mencatatnya dengan perhatian penuh.nafsu atau kemelekatan.keinginan terhadap obyekobyek bentuk. Di sini Dhamma meliputi banyak kategori dari proses mental dan jasmani. Dengan mengamati kemarahan.

Jadi apapun yang muncul dari kelima rintangan mental tersebut.kāmacchanda. atau dapat menjadi penghalang kemajuan meditasinya. mendengar. Jika yogi mengamati dan berperhatian penuh pada keinginan inderanya sebagaimana adanya.’ maka ia telah mengikuti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Mahā Satipatthāna Sutta. atau kecelakaan. yogi harus selalu waspada. contohnya: perenungan terhadap rintangan mental (nivārana). thina-middha akan menikmatinya. Pikiran menjadi jernih dan dapat menembus/mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. yogi tidak akan dapat proses mental dan jasmani. saat yogi mengantuk. Jika muncul 45 . Contoh: jika yogi mendengar lagu yang merdu dari luar dan tidak mencatatnya. saat yogi mendengar lagu yang merdu. ia harus mencatatnya sebagai “mendengar. ingin. Keinginan untuk mendengarkan lagu adalah keinginan indera . ingin. mungkin akan timbul keinginan untuk mendengarkan lagu tersebut. Jadi. keinginan itu akan hilang. mencatatnya dalam hati ‘ingin. Berperhatian penuh dengan cara seperti ini disebut dhammānupassanā satipatthāna atau perenungan terhadap obyekobyek pikiran. yogi dapat terbebas dari kekotoran mental. Jika yogi mengetahui bahwa keinginan indera untuk mendengar lagu itu dapat membawanya pada keadaan yang tidak tidak diinginkan. yogi akan mencatat keinginannya sebagai ‘ingin. Yogi mungkin ingin mendengarkan kembali lagu tersebut dan menikmatinya. Thina-middha. Keinginan hilang karena telah diamati dengan penuh semangat dan perhatian penuh. Hanya jika pikiran telah terkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi (proses mental atau jasmani). kemalasan dan keengganan.” Yogi mungkin masih terpengaruh oleh lagu tersebut jika perhatian penuhnya tidak cukup kuat. Saat perhatian penuh menjadi konstan dan kuat. sebenarnya berarti mengantuk.Selama pikiran tercemar. Dua hal ini adalah ‘temen lama’ para yogi. hingga keinginannya hacur oleh perhatian penuh yang kuat.

Pada awal latihan.’ Ini artinya uddhacca-kukkucca telah diamati. Jika kita mengantuk. yogi akan melekat serta menikmatinya. kita harus berusaha dan berjuang lebih keras dalam berlatih. kegelisahan. Artinya yogi harus mengamati dengan perhatian penuh. Jika pikiran berkelana. sedangkan kukkucca adalah penyesalan. Keraguan apapun yang muncul. berkelana’ atau ‘berpikir. Hal ini membuat yogi berada dalam lingkaran kelahiran lebih lama. Penghalang mental kelima adalah vicikichā atau keraguraguan. Itu sebabnya mengapa thina-middha atau perasaan ngantuk disebut sebagai ‘temen lama’ para yogi. pikiran akan terbebas dari rasa kantuk. Ini dikenal sebagai dhammānupassanā satipatthāna. atau berkelananya pikiran. semangat. Jika yogi tak mampu mengamati rasa kantuknya. 46 . harus diamati dengan perhatian penuh. bukannya mencatat obyek meditasi. Yogi berpikir bahwa pikirannya terfokus pada obyek meditasi. Tetapi bila rasa kantuk yang timbul. ia akan mampu menyadarinya. atau teknik meditasi. Yogi mungkin mempunyai keragu-raguan terhadap Buddha. Uddhacca adalah kegelisahan atau gangguan. yogi harus waspada pada pikirannya sebagaimana adanya. yogi tak bisa menyadarinya karena yogi menyukainya. Dalam hal ini uddhacca berarti gangguan pikiran. Yogi harus berperhatian penuh pada apapunsebagaimana adanya. Ketika pikiran menjadi aktif dan siaga. Dhamma. Yogi bahkan tidak mengetahui bahwa pikirannya berkelana. Kemudian yogi dapat mengatasi rasa kantuk. dan tepat. Kecuali jika yogi telah mengerti sifat alamiah dari kemalasan dan keengganan (mengantuk). Ketika yogi mengetahui bahwa pikirannya berkelana. Uddhacca-kukkucca adalah penghalang mental keempat. berpikir. yogi harus mencatat ‘berkelana. dalam hal ini gerakan dinding perut. Shanga. yogi tak akan dapat mengatasinya. inilah yang disebut sebagai uddhacca.sensasi menyenangkan dalam diri yogi. yogi mungkin tidak dapat mengamati pikiran yang berkelana. Ketika pikiran berkelana atau berpikir sesuatu. sehingga yogi dapat membuat pikirannya aktif dan siaga.

47 . Kāyānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap fenomena tubuh atau jasmani. Dhammānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap Dhamma atau obyek-obyek pikiran. Vedanānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap perasaan. 3. Cittānupassanā Satipatthāna: perenungan terhadap kesadaran dan segala yang berhubungan dengannya. 4. 2.Jadi inilah Empat Landasan Perhatian Penuh: 1.

damai. Sīla ketiga dari lima sīla adalah menghindari perbuatan asusila. Sang Buddha mengunjuinya dan menanyakan kesehatannya. yogi dapat memurnikan perbuatan dan perkataannya yang merupakan pemurnian moral (sīla-visuddhi). Yogi harus melaksanakan paling sedikit lima sīla (lebih baik lagi delapan sīla). Bila pikirannya telah murni. pemurnian tingkat kedua. obyek suara. Ketika bhante Uttiya. Kemudian yogi mencapai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). dan obyek sentuhan . Pemurnian Kelakuan Moral Tingkat permurnian pertama adalah pemurnian kelakuan moral (sīla-visuddhi).BAB V TUJUH TINGKAT PEMURNIAN Untuk mencapai pencerahan. Bhante Uttiya menceritakan tentang 48 . Setelah moralnya murni. pikirannya akan dicemari oleh rintangan mental dari keinginan indera (kāmacchanda-nivārana). yogi dapat mengerti sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. yogi menjadi tenang. salah satu murid Sang Buddha sakit dan terbaring di tempat tidur. sedangkan sīla ketiga dari delapan sīla adalah menghindari semua perbuatan seksual. Jika yogi tidak menghindari hubungan seksual. sehingga yogi dapat mencapai pemurnian sīla. maka pikirannya pun akan dimurnikan sampai batas tertentu. yogi harus melalui tujuh tingkat pemurnian (visuddhi). Hanya jika pikiran seorang yogi dalam keadaan murni dari segala rintangan mental. dan dapat berkonsentrasi pada obyek meditasi. obyek bentuk/rupa. yogi mungkin akan memiliki keinginan-keinginan untuk obyek rasa (makanan/ minuman). obyek bau. Dengan melaksanakan delapan sīla.lima macam keinginan indera (kāmacchanda) dalam pikirannya. Tentu saja akan lebih baik bila yogi dapat melaksanakan delapan sīla. Bila yogi tidak melaksanaan sīla. bahagia.

kamu harus membersihkan kelakuan moral dan pandangan benar-mu. Saya tidak tahu apakah saya dapat atau tidak dapat hidup hari ini atau besok. Jika yogi mengembangkan perhatian penuh.” Kemudian Sang Buddha bersabda: Uttiya. Kemudian. Pandangan benar berarti menerima dan percaya hukum sebab dan akibat. atau hukum karma. berdasarkan kelakuan moral (sīla) yang murni. yogi akan dengan mudah berkonsentrasi pada semua obyek dari proses mental dan jasmani. Jika kita ingin mencapai pengetahuan pandangan terang. maka kamu akan mencapai tingkat kesucian arahat. Dengan berlatih demikian. dan bahagia. kamu harus membersihkan dari awal. Jadi saya ingin bermeditasi untuk menghancurkan segala macam kekotoran mental hingga mencapai tingkat kesucian keempat (arahat). damai. Pemurnian Pikiran Pemurnian kedua adalah pemurnian pikiran (citta-visuddhi). penyakit saya bukannya berkurang malah makin bertambah. Sang Buddha kemudian mengajukan pertanyaan. kamu harus mengungkapkan Empat Landasan Perhatian Penuh. Ketika kelakuan moral telah murni. kamu akan mencapai berhentinya penderitaan.sakitnya pada Sang Buddha: “Bhante. pikiran 49 . Jika awalnya sudah dibersihkan. pikiran menjadi tenang. “Apakah yang dimaksud dengan awal?” Kemudian Sang Buddha menjawabnya sendiri. Sang Buddha yang Maha Tahu memberikan penekanan pada pemurnian sīla atau kelakuan moral karena itu merupakan syarat dasar untuk kemajuan dalam konsentrasi dan juga pandangan terang. aksi dan reaksi. Tolong berikan petunjuk singkat yang dapat membantu dalam mengembangkan latihan meditasi saya untuk mencapai tingkat kesucian arahat. sebelum saya meninggal. “Di sini yang dimaksud dengan awal adalah pemurnian kelakuan moral (sīla) dan pandangan benar (sammā ditthi).” Sang Buddha kemudian melanjutkan: Uttiya. Jadi kemurnian kelakukan moral adalah persyaratan awal bagi yogi untuk maju.

Jika pikiran terkonsentrasi dengan baik pada fenomena mental dan jasmani. atau kemauan. pengetahuan tentang sebab-akibat (paccaya-pariggaha-ñāna). Setiap tindakan selalu didahului dengan keinginan. Untuk mencapai pengetahuan ini. Maka dengan demikian yogi telah memurnikan pandangannya. Jika seorang yogi telah mencapai tingkat kedua dari pengetahuan pandangan terang. kehendak. pikiran dapat menembus sifat alamaiah dari proses mental dan jasmani. Pertama. yogi harus mengamati setiap keinginan. Itulah sebabnya mengapa yogi 3 Keinginan. Kankhā berarti keraguan dan visuddhi berarti pemurnian. Ini dikenal sebagai pemurnian pikiran (citta-visuddhi). atau kemauan3 sebelum melakukan suatu tindakan atau gerakan. Pengetahuan ini dikenal sebagai nāma-rūpa-pariccheda-ñāna – pengetahuan pandangan terang yang dapat membedakan antara mental dan jasmani. Pemurnian dengan Mengatasi Keraguan Tingkat pemurnian yang keempat adalah pemurnian dengan mengatasi keraguan (kankhā-vitarana-visuddhi) adalah. Jika seorang yogi menembus sifat alamiah dari proses mental dan jasmani. yogi telah mencapai ditthi-visuddhi. kehendak. yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap kehidupan masa lampaunya. yogi tak akan menganggap kedua proses tersebut sebagai seseorang atau makhluk. Pemurnian Pandangan Tingkat pemurnian yang ketiga adalah pemurnian pandangan (ditthi-visuddhi). jiwa atau diri. terjemahan dari intention. pikiran akan bebas dari semua rintangan mental. Dengan pemurnian ini.harus bersih dari segala macam kekotoran mental. kehendak. atau kemauan. Dengan demikian yogi telah mengatasi keraguan dan inilah yang disebut dengan pemurnian dengan mengatasi keraguan. yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa) melalui pengalamannya sendiri. wish or want 50 .

Pada sikap duduk. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin.’ Semua gerakan dalam proses duduk harus diamati setelah mencatat keinginan. buka. yogi mempunyai keinginan untuk membuka mulut untuk memasukkan makanan. pertama-tama catatlah keinginan. Jadi jika kita ingin duduk. Ketika kita merentangkan tangan. Duduk adalah proses jasmani.’ Ketika yogi hendak menekuk tangannya. Kemudian. Ini hanyalah keinginan. duduk.unsur angin dari dalam dan luar). mengapa yogi duduk di kursi? Benar. keinginan adalah sebabnya. mengangkat. ingin. Yang pertama harus dilakukan. Lalu.’ kemudian ‘duduk. Ketika yogi mempunyai keinginan untuk mengangkat kakinya. Mayat tidak dapat duduk di kursi karena tak punya keinginan. dapatkah yogi datang ke sini? Jadi. pertama-tama kita harus mencatat. yogi harus mencatatnya sebagai ‘ingin. keinginan adalah sebab. hal itu disebabkan keinginan untuk duduk di kursi. pertama-tama catatlah keinginan.’ kemudian ‘buka. rentangkan. dan membuka mulut adalah akibat. Ketika kita menekuk tangan. ‘ingin. yang mana sebab dan yang mana akibat? Tindakan datang adalah akibat. Apakah ada yang duduk di kursi? Jika yogi pikir ada seseorang yang duduk di kursi. ingin.’ Dalam proses membuka mulut. yogi harus mencatat ‘ingin. ingin. duduk.’ kemudian ‘mengangkat. Tanpa kehendak atau kemauan untuk datang ke sini. proses mental yang menyebabkan tindakan atau gerakan. atau bhikkhu? Bukan semuannya. rentangkan. samanera. ada proses jasmani yang didukung oleh unsur angin (vāyodhātu . tekuk. apakah sikap duduk itu adalah seorang laki-laki. ingin. wanita.harus berperhatian penuh terhadap setiap keinginan sebelum tindakan atau gerakan. maka yogi harus membawa sesosok mayat dari rumah sakit dan mendudukkannya di kursi.’ Jika konsentrasi kita cukup dalam. dengan menyadari keinginan dan tindakan yang mengikutinya. kemudian catat gerakan menekuk tangan. kita akan mengerti bahwa tak ada 51 .’ kemudian ‘tekuk. kemudian gerakan merentangkan tangan sebagai ‘rentangkan.’ Ketika yogi sedang makan.

yogi mengatasi keraguan mengenai apakah ada seorang individu atau makhluk yang abadi dalam dirinya. Begitu juga ketika kita mengamati keinginan sebelum mendorong kaki. Kemudian apa yang sesungguhnya ada hanyalah proses sebab dan akibat. 52 . Kemudian. Beberapa yogi kesulitan untuk mengamati keinginan sebelum suatu tindakan dilakukan. apapun yang yogi sadari hanyalah suatu proses yang alami. Jika yogi mengerti sepenuhnya hubungan sebab dan akibat. Jika kita mengerti hubungan dari sebab dan akibat. Oleh sebab itu. yogi dapat mengatasi keragu-raguan pada kehidupan yang lampaunya. Untuk mengamati. Tidak ada pelaku. Lalu. Jadi. itu disebut sakkāya-ditthi atau atta-ditthi (pandangan salah mengenai seorang pelaku). apa yang ada di masa lampau? Hanyalah proses sebab dan akibat. dan seterusnya. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mengangkat kaki. pria atau wanita adalah hanya suatu proses sebab dan akibat. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan mendorong kaki. Jika yogi percaya ada orang yang duduk. Sehingga yogi tidak ragu akan kehidupannya dimasa lampau. Ketika kita mengamati keinginan sebelum mengangkat kaki. Dengan mengerti hal ini. kita dapat dikatakan hampir mengerti sepenuhnya hukum sebab dan akibat. kita akan mengerti bagaimana keinginan berhubungan dengan gerakan menurunkan kaki. kita harus sabar dengan tindakan atau gerakan kita. tidak ada orang yang melakukan sesuatu. sehingga kita dapat mengamati keinginan sebelum suatu tindakan atau gerakan dilakukan. tidak ada yang disebut dengan ’seseorang’ yang menjadi presiden ataupun raja. Ketika kita mengamati keinginan sebelum menurunkan kaki. Dengan cara inilah. Segala sesuatu muncul karena ada sebabnya. inilah yang dikenal sebagai pemurnian dengan mengatasi keraguraguan (kankha-vitarana-visuddhi).apapun yang timbul tanpa sebab. karena yogi tidak cukup sabar. yang disebut seseorang.

dan sebagainya. Untuk itu yogi harus meneruskan meditasinya dan berlatih dengan sungguhsungguh. yogi tidak dapat melangkah lebih jauh karena yogi melekat pada keadaan tersebut. Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan Visuddhi yang keenam adalah patipadā-ñānadassanavisuddhi. Dengan pengalaman bagus tersebut. yogi mendapatkan pengalaman yang sangat baik. Tapi ada juga yogi yang mencapai tingkat ini dalam seminggu. kebahagiaan. bahagia. Ini hanyalah pengalaman yang kecil dan tidak berarti. ketenangan. Jika seorang yogi menganggap ini adalah nibbāna. Ñāna dan dassana di sini berkenaan dengan perngertian yang sama. Kadang-kadang yogi merasa badannya menjadi ringan. Patipadā berarti jalan/arah latihan. tidak terlalu kuat atau kaku. saya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. kegiuran. Yogi berpikir bahwa bila ia melangkah lebih jauh. keseimbangan. ini adalah salah jalan. dan mantap. Konsentrasinya dalam sehingga yogi mengalami kedamaian. usahanya stabil. naskah menggunakan dua 53 . Pada tingkat pandangan terang ini. yogi mungkin berpikir “Ini pasti nibbāna – ini luar biasa. ñāna berarti pengetahuan. Yogi tidak boleh puas dengan pengalaman ini dan harus terus maju dengan latihannya. sedang. tenang. Perhatian penuh yogi sangat tajam. merasa ringan. Tingkat ini dapat dialami dalam dua minggu jika yogi berlatih dengan sungguh-sungguh. seperti telah terangkat atau seolah-olah seperti terbang di udara. dassana berarti pandangan.” Bila ini terjadi. ia akan keluar dari nibbāna. damai dan sebagainya. Ini adalah tingkat yang sangat baik yang harus dilalui oleh yogi. Dengan maksud memberikan penekanan pada penembusan.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Tentang Jalan dan Bukan Jalan Visuddhi yang kelima adalah pemurian pengetahuan dan pendangan terhadap jalan dan bukan jalan (maggāmaggañānadassana-visuddhi). ini lebih baik daripada memiliki satu juta dollar – sekarang saya telah mencapai nibbāna. tidak lemah.

yogi akan sampai pada garis batas dalam waktu singkat. semua penderitaan akan berhenti. akan dapat melihat ke depan dan belakang. yogi telah mencapai garis batas dan berdiri di sana. Jika yogi berada di jalan yang salah. Dengan begitu yogi tidak lagi memiliki keraguan terhadap jalannya latihan. Karena yogi berada di jalan yang benar. yogi telah mencapai anumola-ñāna (pengetahuan adaptasi). Jika yogi mencapai tingkat ini. Yang dimaksud dengan garis batas di sini adalah garis batas antara orang biasa (puthujjana) dan orang mulia/suci (ariya). tapi bila maju terus. Ini berarti bahwa bila yogi telah melewati maggāmagga-ñānadassanavisuddhi. “Jika saya maju terus. yogi harus melalui kesembilan tingkat pandangan terang dan mendekati tujuan. haruskah saya 54 . Jika yogi di perbatasan. apakah akan maju terus atau mundur? Jika mundur. karena pengalaman yogi sesuai dengan pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih rendah dan juga pengetahuan pandangan terang tingkat yang lebih tinggi. Di depan adalah berhentinya segala gabungan benda. yogi berada di jalan yang benar yang menuntun menuju ke tingkat kesucian arahat atau berhentinya penderitaan. dilanjutkan dengan pemurnian pengetahuan dan pandangan tentang jalan yang benar dari latihan (patipadāñānadassana-visuddhi). Kemudian yogi akan tahu. Pengetahuan dari Kematangan Jika yogi meneruskan latihannya. Dalam dua atau tiga momen pikiran. Jadi patipadā-ñānadassana-visuddhi berarti pemurnian dari pengetahuan dan pandangan tentang jalan/arah dari latihan. Kemudian.kata dengan pengertian yang sama. yogi akan akan berhenti pada maggāmagga-ñānadassana-visuddhi. Keraguan itu telah dihancurkan oleh pandangan dan pengetahuan tentang jalan dari latihan. perhatian yogi berarti ke depan. yaitu berhentinya segala macam unsur mental (nāma) dan unsur jasmani (rūpa). yaitu pengetahuan dan pandangan. perhatian yogi ke masa lampau. Jika yogi berdiri di perbatasan. Jadi. jadi yogi dapat menilai bahwa arah latihannya adalah benar.

kita dapat menterjemahkannya sebagai pengetahuan yang telah memotong garis keturunan puthujjana. Ketika garis keturunan puthujjana telah dipotong. garis keturunan dari seorang puthujjana dipotong secara total. jadi tak ada lagi puthujjana.maju?” Yogi akan memikirkannya dan jawabannya adalah “ya” karena dia sudah menderita lama sekali (kappa). Dukkha-sacca Samudaya-sacca Nirodha-sacca Magga-sacca : Kebenaran Mulia Mengenai Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Penyebab Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Berhentinya Penderitaan : Kebenaran Mulia Mengenai Jalan Menuju Berhentinya Penderitaan 55 . yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. dia akan merenungkan pengalaman masa lalunya. muncul pengetahuan mengenai jalan (magga-ñāna) yang merealisasi empat kebenaran mulia sepenuhnya.” Perhatian yogi kemudian akan ditujukan pada berhentinya penderitaan. Saya harus mengakhiri semua penderitaan ini. Jika yogi berada di perbatasan. Pada perbatasan. Kata ‘kappa’ berarti jumlah kehidupan yang tidak terhitung. Segera setelah garis batas pengetahuan kematangan. Pengetahuan mengenai garis perbatasan dikenal sebagai gotrabhu-ñāna. yogi menjadi makhluk mulia/suci (ariya). karena telah memtong garis keturunan puthujjana. ’Gotra’ berarti puthujjana atau keturunan. ia menjadi seorang mulia/suci (ariya). Saya kira ini sudah cukup. Setelah yogi melawati garis batas itu. “Saya sudah menderita dalam jumlah kehidupan yang tidak terhitung dalam siklus dukkha ini. Sebenarnya. Yang Mulia Nyanaponika Thera menterjemahkan gotrabhu-ñāna sebagai pengetahuan mengenai kematangan karena pengetahuan yogi cukup matang untuk mencapai jalan kesucian.

Hanya dengan demikianlah yogi telah mencapai ñānadassana-visuddhi – pemurnian pengetahuan dan pandangan. pengetahuan pertama mengenai jalan kesucian. pengetahuan dan pandangannya mengenai kebenaran menjadi murni. berarti yogi telah mencapai arus jalan mulia beruas delapan. yogi telah menjadi seorang sotāpanna. pengetahuan pandangan ini dikenal sebagai ñānadassanavisuddhi. Jika yogi telah mencapai visuddhi ketujuh.Pemurnian Pengetahuan dan Pandangan Karena yogi telah merealisasi empat kebenaran mulia ini. jadi arti keseluruhannya adalah pemasuk arus. Visuddhi ketujuh mengacu pada sotāpatti-ñāna. 56 . pemurnian pengetahuan dan pandangan. Sotā berarti arus dan apanna berarti pemasuk. Jadi. Jika yogi telah mencapai sotāpatti-ñāna.

terus-menerus. tajam.BAB VI SEMBILAN CARA UNTUK MENAJAMKAN KEMAMPUAN MENTAL Lima kemampuan mental seorang yogi adalah saddhā. Sati harus konstan. sati. Samādhi (konsentrasi) harus seimbang dengan viriya (semangat atau usaha). Jika kemampuan mental ini kuat tapi tidak seimbang. kelima kemampuan mental ini harus kuat. dan paññā. ini juga dikenal sebagai Pancabala (lima kekuatan mental). Menyeimbangkan Kemampuan Mental Untuk membuat kelima kemampuan mental ini menjadi kuat. samādhi. Faktor mental yang utama yaitu sati (perhatian penuh). pandangan terang atau penerangan Untuk meditasi. tidak perlu seimbang dengan kemampuankemampuan yang lain. seorang yogi tidak dapat mencapai pandangan terang dan pencerahan dari berhentinya penderitaan. Sati harus kuat dan tajam. ada sembilan panduan yang yogi harus ikuti. indriya berarti kemampuan). Saddhā berarti keyakinan yang didapat melalui pengertian benar atau yang disertai dengan pengertian benar Viriya berarti usaha yang tidak kenal lelah atau semangat Sati berarti perhatian penuh atau perhatian yang konstan (terus menerus) Samādhi berarti konsentrasi yang dalam Paññā berarti kebijaksanaan. viriya. 57 . menonjol dan seimbang seperti yang disebutkan dalam kitab komentar visuddhimagga. Kelima faktor ini dikenal sebagai pancindriya (panca berarti lima. dan tanpa henti. Saddhā harus kokoh. Saddhā (keyakinan) harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan). Samādhi harus dalam dan paññā harus menembus. dan tak tergoyahkan. tajam dan seimbang.

Kemudian yogi dapat melanjutkan latihannya tanpa gangguan oleh pengetahuan atau alasan-alasan analiti. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan analitisnya mengenai Dhamma atau pengalamannya. Menurut kitab komentar visuddhimagga. maka kebijaksanaannya atau pengetahuan pandangan terang. berpikir rasional atau analisa yang bukan merupakan pengertian benar terhadap proses alami dari fenomena mental dan jasmani. Tidak ada ruang untuk alasan-alasan logika. tujuan saya adalah untuk melihat apakah tekniknya benar. jadi kadang-kadang mereka menganalisa apa yang mereka alami dalam meditasi dan berbicara mengenai sesuatu yang bertentangan dengan realitas atau kenyataan. Ketika yogi menganalisa pengalamannya. keyakinan harus seimbang dengan paññā (kebijaksanaan. atau pikiran rasional. Dan akhirnya yogi akan memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha. dipahami. Jika Dhamma tidak ditembus dengan benar. seorang yogi mungkin akan memiliki sedikit keyakinan atau tidak percaya pada ajaran. yogi akan menganalisanya. Hanya setelah yogi menyelesaikan latihan meditasi dan mengalami pencerahan. saya membaca dua jilid buku ’meditasi vipassanā’ yang ditulis oleh Yang Mulia Mahāsi Sayadaw. yogi mungkin akan menganalisa pengalamannya pada waktu meditasi. Sebelum saya memulai meditasi vipassanā. terutama jika yogi memiliki pengetahuan Dhamma yang luas. pengetahuan pandangan terang) dan sebaliknya. Ketika sedang mengalami proses mental atau jasmani. Ketika saya pertama kali memulai meditasi vipassanā.Jika saddhā lemah dan paññā kuat. Jika seorang yogi percaya pada Sang Buddha atau ajaranNya. atau dimengerti. yogi akan dapat menganalisanya dengan cara apapun. karena pengetahuan yang didasari oleh pengalaman meditasinya. kemudian konsentrasinya akan terpecah atau melemah. Dhamma dan Sangha. Pada waktu itu saya belum bertemu dengan Yang Mulia Mahāsi Sayadaw 58 . Beberapa yogi ingin mempertunjukkan pengetahuan mereka mengenai ajaran Buddha atau Dhamma . seimbang dengan keyakinan (saddhā) yang kuat. pengetahuan analitis tersebut akan menghalangi konsentrasinya.

saat saya melewati masa vassa (musim hujan) di sana selama empat bulan melaksanakan program meditasi intensif. Tetapi perenungan terhadap gerakan kembungkempisnya perut. Dikatakan percaya buta karena yogi memiliki 59 . kamu telah melalui ujian yang lebih tinggi dan kamu sekarang adalah dosen di universitas. Itulah sebabnya mengapa saya ingin menguji teknik Mahāsi Sayadaw yang dimulai dengan perenungan terhadap gerakan perut. Secara tradisional. yogi cenderung lebih menyukai metode meditasi pernafasan (ānāpānassati). unsru air (āpo-dhātu) dan unsur tanah (pathavī-dhātu) juga termasuk di dalam gerakan perut. unsur api (tejo-dhātu). Dengan sendirinya keyakinan saya seimbang dengan kebijaksanaan. saya adalah seorang dosen di Universitas Buddhist di Mandalay. maka yogi bisa menjadi percaya buta. teknik ini pasti benar. Jika kebijaksanaan lemah dan keyakinan kuat. Pada waktu itu. Saya menerima teknik itu sebagai teknik yang benar karena saya mengetahui bahwa gerakan perut adalah vāyo-dhātu dan ketiga unsur yang lain. sejak saya menjadi sāmanera (calon bhikkhu). perhatian penuh pada pernafasan. Waktu itu adalah tahun 1953. saya tidak dapat menerimanya sebagai sesuatu yang memuaskan. Setelah menerima nasehatnya. Karena yogi dapat merenungkan keempat unsur. Walaupun saat itu saya menganggap teknik Mahāsi Sayadaw benar. saya melakukannya dengan banyak keraguan. ketika saya berumur 17-24 tahun. karena saya tidak menganalisa pengalaman atau teknik berdasarkan konsep awal atau pengetahuan yang saya telah pelajari dari buku. adalah sangat sederhana (mudah dimengerti) bagi mereka yang telah mempelajari teknik meditasi dari buku. Ia berkata kepada saya: U Janaka.secara pribadi. Saya berlatih ānāpānassati. Walaupun saya pergi ke pusat meditasi Mahāsi dan memulai berlatih teknik tersebut. Hal itu dikarenakan saya melekat pada metode tradisional. Kamu harus mengesampingkan pengetahuan Dhamma dari buku jika kamu ingin mendapatkan sesuatu dari latihan meditasi ini. Saya berlatih dibawah bimbingan bhante U Nandavamsa. saya mengesampingkan pengetahuan Dhamma saya dan berlatih seperti yang dinasehatkan oleh guru saya.

Akibatnya konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan dan keenganan atau mengantuk. ia bisa jatuh pada doktrin atau teori yang menuntunnya ke jalan yang salah. Akan tetapi. Di awal latihan. Kitab komentar mengatakan: jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. konsentrasi yogi biasanya lemah dan sering berkelana. tapi jangan terlalu bersemangat. dan cenderung untuk percaya dengan mudah segala teori atau doktrin. yogi harus mengikuti dan mengamati pikirannya sebagaimana adanya. Usaha harus seimbang dengan konsentrasi. jika usaha yogi tidak cukup. tidak terlalu kuat atau lemah. konsentrasinya menjadi sangat dalam dan kuat. atau kecerdasan. maka konsentrasi itu berubah menjadi kemalasan atau keengganan (thina-middha). pikiran yang mencatat perlahan-lahan akan menjadi tumpul dan berat. Samādhi (konsentrasi) dan viriya (usaha) juga harus seimbang. Pikiran yang mencatat. pikiran yogi akan menjadi kacau dan gelisah (uddhacca). Jika viriya lebih kuat dan tajam dari samādhi. kitab komentar menyatakan: Jika konsentrasi terlalu kuat dan usaha terlalu lemah. ia bisa melakukan usaha yang berlebihan dalam latihannya dan menyebabkan pikiran menjadi kacau dan gelisah. Jika seorang yogi percaya buta. Kemudian secara perlahan-lahan yogi akan mencapai tingkat konsentrasi tertentu. mencatat apapun yang muncul di pikirandan jasmaninya dengan perhatian penuh. karena konsentrasi ini usahanya akan stabil dan mantap.keyakinan tanpa disertai pengetahuan. Oleh sebab itu. yogi harus mengurangi usahanya. yogi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik pada obyek meditasi. Dalam hal ini. saddhidriya dan paññindriya hasrus seimbang. otomatis dan seperti tanpa usaha. Jika seorang yogi antusias pada pencapaian pandangan terang. menjaga pikirannya agar stabil dan tenang. Untuk dapat melakukan hal itu. Jadi. 60 . saddhā harus seimbang dengan paññā. mencatat obyek dengan sendirinya. kebijaksanaan. Pada beberapa kasus. pengetahuan atau kebijaksanaan. ketika seorang yogi telah berlatih meditasi selama dua atau tiga minggu.

dapat dikatakan bahwa perhatian penuh (sati) tidak penah terlalu kuat dan tajam. Menurut visuddhimagga. bertahan lama. Jadi. pandangan terang akan terbuka secara alami dan yogi akan mampu mengerti proses mental dan jasmani (nāma dan rūpa). Jika konsentrasinya dalam. terkondisi oleh muncul dan tenggelam (annica). yogi harus ingat bahwa ia akan mengerti lenyapnya proses mental dan jasmani atau benda-benda terdiri dari gabungan beberapa unsur ketika ia melihat atau mengamati sebagaimana adanya.Jadi konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha (viriya). ada sembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental ini yang harus diikuti oleh seorang yogi. Untuk menjaga agar konsentrasi seimbang dan usaha. Karena konsep ini. kita tidak dapat mengatakan bahwa sati terlalu kuat atau tajam karena itu yang terbaik adalah yogi selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas mental dan jasmani dari waktu ke waktu. Oleh karena itu. Walaupun konsentrasi yogi berkembang. hanya sedikit yogi yang mengalami konsentrasinya melebihi usahanya. tergantung pada situasi atau keadaan. yogi tidak dapat mengerti sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Lalu perhatian penuh menjadi konstan. Menurut kitab komentar. pikiran menjadi semakin tumpul. konsentrasinya hanya dapat membuat yogi mencapai ketenangan dan kebahagian dalam batas tertentu. konsentrasi harus dijaga agar seimbang dengan usaha. Dalam kitab komentar dikatakan: seorang yogi harus ingat 61 . Kadang-kadang seorang yogi tidak percaya bahwa setiap proses mental dan jasmani adalah tidak kekal. Hal ini harus menjadi sikap seorang yogi. yogi harus berlatih meditasi jalan lebih lama dari meditasi duduk. Cara pertama. Sikap duduk yang pasif akan membuat pikirannya lebih terkonsentrasi pada obyek dan karena semakin sedikit usaha yang diperlukan. Tetapi. tak terganggu dan berkesinambungan. sehingga menimbulkan konsentrasi yang dalam. Ada juga beberapa yogi yang usahanya melebihi konsentrasinya.

Sebenarnya yogi haru netral kepada cuaca. bukan perhatian biasa. dingin. contoh: yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan serius. bertahan lama. Dengan perhatian penuh. yogi tidak dapat mengkonsentrasikan pikirannya dengan baik pada obyek meditasi dan yogi tidak bisa mengerti sifat alamiah sebenarnya dari nāma dan rūpa. Cara kedua. Apakah kondisinya cocok atau tidak. Hanya dengan demikian. Akibatnya. yogi harus tetap berusaha dalam latihannya. yogi harus berperhatian penuh pada keadaan tersebut. yogi tidak boleh memilih. Ini adalah situasi yang sangat penting yang harus diikuti oleh setiap yogi. Perhatian penuh sebenarnya adalah sumber dari segala pencapaian. Yogi ingin duduk di bawah kipas angin.’ Jika merasa panas. Jika yogi dapat melakukannya. dia harus secara konstan dan berkesinambungan untuk waspada terhadap apapun yang timbul dalam mental dan jasmani sebagaimana adanya.’ berarti perhatian penuh yang konstan. Jika saya katakan ‘sati. Cara ketiga. Cara keempat. cuaca. tujuh jenis kecocokan yang mana yogi tergantung padanya. perhatian penuh yogi terhadap proses mental dan jasmani harus konstan. maka yogi tidak akan berusaha sungguh-sungguh dalam latihannya. dan tidak terganggu. baik itu panas. Jika yogi kurang hormat pada teknik atau hasil dari meditasi. bertahan lama. dan sebagainya. makanan. Selalu berperhatian penuh sepanjang hari tanpa istirahat. Kadang-kadang yogi sangat melekat pada kipas angin karena cuaca panas. seperti: ruang meaditasi yang cocok. ia dapat mencapai konsentrasi yang dalam sehingga dapat mengembangkan pandangan terang yang menembus kepada sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. yogi harus berlatih meditasi vipassanā dengan rasa hormat. tidak terganggu. keadaan panas 62 . yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman. Ketika yogi sedang terjaga.bahwa dia akan mengerti ketidakkekalan dari suatu kehidupan atupun proses mental dan jasmani jika dia mengamatinya. ataupun hangat. dan berkesinambungan.

usaha (viriya). Dia tidak lagi mengidentifikasikan rasa sakit dengan dirinya. perhatian penuh adalah segalanya. pikiran menjadi lebih peka. seorang yogi harus mengingat bagaimana caranya dia mencapai konsentrasi yang dalam. dan keseimbangan mental (upekkhā). Yogi harus mengembangkan ketujuh bhojjhanga ketika diperlukan. sehingga nampaknya rasa sakitnya bertambah. Rasa sakit seperti seorang ’teman. Yang yogi mengerti pada saat itu hanyalah sensasi rasa sakit dan pikiran yang mencatatnya. Walaupun yogi mengetahuinya secara teori. 63 . dengan konsentrasi yang dalam. seorang yogi harus mengembangkan tujuh faktor pencerahan (bhojjhanga). Tetapi jika yogi menyadari bahwa rasa sakit itu hanyalah proses mental dari perasaan yang tidak menyenangkan. tapi ini hanyalah pikiran. penyelidikan Dhamma (Dhammavicaya) . yogi tidak akan waspada lagi terhadap dirinya atau bentu tubuhnya. Tujuh faktor pencerahan tersebut adalah: perhatian penuh (sati). sumber dari semua pencapaian. bukan rasa sakit itu yang menjadi lebih kuat. Cara keenam. Jadi. yogi dapat mengubah ‘musuh’ menjadi ‘teman.tersebut perlahan-lahan menjadi ‘teman. yogi juga harus mengetahuinya secara praktek. Dengan perhatian penuh. pikiran dapat merasakan rasa sakit itu dengan lebih jelas.’ Yogi yang berperhatian penuh tidak memiliki musuh sama sekali di dunia. kebahagiaan (pīti).’ Demikian juga dengan sakit. sehingga rasa sakit tidak mengganggu konsentrasinya. konsentrasi (samādhi). Yogi dapat membedakan antara sensasi dan pikiran yang mencatatnya. Cara kelima. Jika yogi mengamati rasa sakit. Dia harus mengingat cara tersebut dan melatihnya berulang-ulang dengan kemampuan yang dimilikinya agar dapat mencapai konsentrasi yang dalam.’ Oleh karena itu. ketenangan (passaddhi). konsentrasinya menjadi lebih kuat dan rasa sakit mungkin terasa semakin kuat. Semua fenomena adalah ‘teman’ karena fenomena tersebut membantu yogi pada pencapaian pandangan terang atau pencerahan yaitu berhentinya semua penderitaan. Sebenarnya.

Berjuanglah sekuat mungkin dan berlatih dengan sungguh-sungguh sepanjang hari tanpa istirahat.’ karena rasa sakit dapat membantu yogi mencapai konsentrasi yang dalam dan pandangan terang yang jernih. yogi tidak boleh berhenti setengah-jalan dalam mencapai tujuan. kapanpun rasa sakit mental dan jasmani yang muncul. takut menjadi lelah. Seharusnya. rasa sakit dapat menjadi ‘teman. dan tepat. Jika konsentrasi lemah. Cara kedelapan. karena yogi segan untuk mencatatnya. berperhatian penuh. Sehingga yogi tidak membuat usaha yang cukup dalam latihannya dan perhatian penuhnya tidak akan konstan. dan bertahan lama. berkesinambungan. pengetahuan pandangan terang terhadap sifat alamiah dari proses mental dan jasmani tak akan tercapai. Jika rasa sakit muncul. ada kecenderungan dan keinginan untuk merubah posisi sehingga rasa sakit itu hilang. konsentrasi yang dalam tidak akan timbul. yogi harus berjuang untuk mencatatnya dengan berusaha lebih keras dalam berlatih. Yogi tidak perlu cemas terhadap kesehatan dan tubuhnya. Jika perhatian penuh terputus. dia akan mati karena kelelahan atau sakit. Kadang kala.Cara ketujuh. yogi tidak perlu cemas terhadap tubuhnya atau hidupnya. seorang yogi yang berjuang sangat keras bermeditasi dari jam empat pagi sampai jam sembilan atau sepuluh malam tanpa istirahat. Keantusiasan yogi untuk mencapai tingkat kesucian arahat akan membuat yogi tetap berlatih dengan usaha yang tepat sehingga membuat kelima kemampuan mentalnya menjadi kuat dan tajam. yogi harus berusaha lebih giat untuk mengatasi rasa sakit tesebut dengan waspada terhadap rasa sakit dengan penuh semangat. Ini berarti yogi tidak boleh berhenti berlatih meditasi vipassanā hingga yogi mencapai tingkat kesucian arahat. 64 . Cara kesembilan. tanpa mengkhawatirkan tubuh. Hanya dengan cara demikianlah. Itulah sebabnya mengapa naskah kitab suci menganjurkan untuk mengasah kelima kemampuan mental ini. Yogi khawatir dan berpikir bahwa jika dia meneruskan perjuangannya dengan cara seperti ini selama sebulan.

Ingatlah tujuan dari merealisasikan ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani.Ringkasannya. Kembangkanlah tujuh faktor pencerahan. inilah kesembilan cara untuk menajamkan kelima kemampuan mental seorang yogi: 1. Tujuh macam keadaan yang cocok harus diikuti atau diamati. 9. 4. dan berkesinambungan dengan tetap waspada terhadap segala kegiatan sehari-hari dari waktu ke waktu tanpa henti sepanjang hari. tak tergganggu. 5. Jangan berhenti setengah jalan dalam mencapai tujuanmu. 8. Atasi rasa sakit jasmani (dukkha-vedanā) melalui usaha yang gigih dalam berlatih. Jangan cemas terhadap kesehatan jasmani dan hidupmu selama latihan meditasi. 65 . 2. 3. Melatih Dhamma dengan serius dan penuh rasa hormat. Yogi harus terus berjuang sebelum mencapai tingkat kesucian arahat. 6. 7. Ingatlah bagaimana caranya mencapai konsentrasi yang telah dicapai sebelumnya. Mempertahankan perhatian penuh yang konstan.

karena jika yogi menderita masalah pencernaan. Dhamma. Bukan semangat biasa tetapi semangat atau usaha yang tak tergoyahkan. Pandangan terang akan menjadi tajam dan menembus. dan teguh (padhāna). Faktor keempat adalah energi/semangat/usaha (viriya). Yogi dianggap sehat sejauh ia dapat mengamati proses mental dan jasmani. Jika viriya atau padhāna meningkat. Makanan yang dimakannya harus dapat dicerna (yaitu: makanan yang tidak menyebabkan masalah lambung). dan Sangha. Faktor kedua adalah yogi harus sehat mental dan jasmani. dia tidak akan mampu berlatih dengan baik. hasilnya 66 . Ini berarti bahwa yogi tidak boleh berbohong pada guru atau temen berlatihnya (yogi lain). atau sakit yang lainnya. Yogi tidak boleh membiarkan semangat atau usahanya menurun. konsentrasinya menjadi dalam dan kuat. perhatian penuhnya menjadi berkesinambungan. Jika yogi menderita sakit kepala. perut. tapi yogi harus terus-menerus memperbaiki atau meningkatkannya. Faktor pertama adalah keyakinan (saddhā). Kejujuran adalah prosedur terbaik. Jika hal di atas tercapai. Faktor ketiga adalah yogi harus jujur dan apa adanya. sering pusing. kuat. masalah lambung. Seorang yogi harus mempunyai faktor yang satu ini agar berhasil dalam perjuangannya menuju kebebasan. ini bukan berarti yogi tidak sehat. Tapi yang paling utama adalah Dhamma yang mencakup teknik meditasi yang sedang dilatihnya. konstan dan tak terganggu.BAB VII LIMA FAKTOR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG YOGI Seorang yogi harus memiliki lima faktor untuk bisa mendapatkan kemajuan dalam meditasi pandangan terang. Seorang yogi harus memiliki keyakinan yang kuat dan teguh pada Buddha.

pengetahuan yang menembus atau mengerti ketiga karakteristik dari proses mental dan jasmani. Jika seorang yogi memiliki kebijaksanaan. Pada awalnya seorang yogi mungkin tak memiliki faktor ini. Seorang yogi diharapkan memiliki faktor ini. seseorang atau individu (sakkāya-ditthi) dan keraguan (vicikichā) 67 . Tingkat kedua adalah paccayapariggaha-ñāna . tingkat kesucian pertama. dukkha. dia telah mencabut konsep jiwa atau diri. ini tidak mengacu pada kebijaksanaan biasa atau pengetahuan. Tingkat ketiga adalah sammasana-ñāna . Tingkat pertama adalah nāma-rūpa-pariccheda-ñāna . Jika seorang yogi telah mencapai sotāpatti-magga-ñāna. yogi pasti mendapat kemajuan hingga mencapai paling tidak pengetahuan terhadap jalan kesucian yang terrendah yaitu sotāpatti-magga-ñāna. Tingkat keempat adalah udayabbaya-ñāna . yaitu anicca.pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat.adalah pengertian yang jelas terhadap sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. tetapi yogi harus berusaha dengan padhāna (semangat yang kuat dan teguh) untuk bermeditasi pada proses mental dan jasmani untuk mencapai pengetahuan pandangan terang keempat. Walaupun kita menggunakan kata kebijaksanaan.pengetahuan yang dapat membedakan antara mental dan jasmani. Jadi inilah kelima faktor yang harus dimiliki oleh seorang yogi.pengetahuan mengenai timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani. dan anatta. Faktor kelima adalah kebijaksanaan (paññā). Hal ini mengacu pada kebijakasanaan pandangan terang tentang timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani (udayabbaya-ñāna) yang merupakan tingkat keempat dari pengetahuan pandangan terang. Jadi Sang Buddha bersabda bahwa paññā di sini berkenaan dengan tingkat keempat pengetahuan pandangan terang yang menembus pada timbul dan tenggelamnya mental dan jasmani. Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan bahwa seorang yogi harus memiliki kebijaksanaan yang mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena mental dan jasmani.

Jika yogi tidak sedang mengalami pandangan terang ini. yang tersuci dan atma berarti jiwa atau diri. seluruh dunia diciptakan oleh mahabrahma. dan Prajapati. ini menjadi ‘parama’ dan ‘atma. yang merupakan bahaya yang besar bagi 68 . Jadi paramatma berarti jiwa yang paling suci. yogi dapat menghancurkan sakkāyaditthi dan atta-ditthi. Inilah tingkat pandangan terang pertama.kepada Tiratana. Menurut agama Hindu atau Brahma. dia telah mencabut sakkāya-ditthi dan atta-ditthi. brahma. ‘Pati’ berarti pencipta atau penguasa dan ‘Praja’ berarti makhluk hidup. Dia bahkan menciptakan harimau. dan hewan-hewan. Ketika kondisi dunia cukup bagus untuk makhluk hidup tinggal. Atta Dalam Paham Brahma Kita harus mengerti konsep sakkāya-ditthi dan atta-ditthi dari sudut pandang agama Hindu. Jiwa ini cukup besar untuk menciptakan dunia dan makhluk hidup. Dalam bahasa Pali disebut Paramatta. Ada juga yang menterjemahkan kata ini sebagai jiwa yang besar atau diri yang besar. Yogi yang telah mencapai kemurnian pikiran. Mahabrahma ini memiliki banyak nama seperti Isvara. Paramatma adalah istilah Hindu atau Sansekerta. Jika kita bagi kata paramatma ini menjadi dua kata. Pada tingkat pandangan terang ini. ia menciptakan semua makhluk hidup – manusia. pikirannya menjadi cukup tajam untuk menembus sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani.’ Di sini parama berarti yang termulia. singa. Ketika yogi dapat mengerti karakteristik khusus fenomena mental dan jasmani dan dapat membedakan nāma dan rūpa. Kemudian yogi dapat membedakan antara proses mental dan jasmani dan juga mengerti karakteristik khusus dari fenomena mental dan jasmani. sakkāya-ditthi dan atta-ditthi akan datang kembali. Sakkāya-ditthi hanya dapat dicabut atau dihancurkan sepenuhnya dengan pencapaian tingkat kesucian pertama atau sotāpatti-magga-ñāna. Jadi dia adalah penguasa makhluk hidup karena dia yang menciptakannya. dewa. walaupun tidak terlalu kuat. Paramatma. dan ular-ular berbisa.

dan bergerak. jwa. Kemudian mahabrahma ingin membuat makhluk cipataannya hidup. karena didukung oleh mahabrahma atau prajapati. Ini adalah abadi dan tidak dapat dihancurkan dengan cara apapun. Dengan cara ini. jivā-atta atau diri juga tidak dapat dihancurkan pada kehidupan yang akan datang. berdiri. Tetapi jika tubuhnya akan hancur. Jadi siklus reinkarnasi akan terus berlangsung. diri. Jiwa ini disebut jivā-atta. Kepercayaan atau konsep mengenai sesuatu. Inilah konsep yang diyakini oleh paham Brahma mengenai jiwa. Secara singkat. karena perbuatan berjasa adalah karma baik. jiwa or ego. yang disebut diri. jadi jiwa tersebut harus bersiap-siap untuk meninggalkan tubuh tersebut dan bereinkarnasi pada tubuh yang lain. duduk. dan sebagainya. maka ia memasukkan jiwa pada setiap makhluk ciptaannya. Ia harus menjalani kehidupan di dunia yang lebih rendah atau tinggi tergantung karma yang dilakukannya di kehidupan ini. Tetapi jiw yang abadi tersebut. Ketika mahabrahma/paramatma menciptakan makhluk hidup untuk pertama kalinya. menurut menurut Brahma ada sesuatu yang abadi di dalam diri kita. jiwa itu mengetahuinya. ini dikarenakan tidak mengerti sifat alamiah dari proses alam. jiwa kecil atau diri timbul pada setiap makhluk hidup menurut paham Brahma. kita menyebutnya sebagai reinkarnasi. bahkan dengan bom atom sekalipun. tidak bisa bergerak. atau berdiri. makhluk tersebut seperti mayat. Kita mengerti secara teori bahwa 69 . perbuatan berjasa tersebut akan menuntun jiwa ke kehidupan yang lebih tinggi. Kemudian semua makhluk bangun. duduk. Atta dalam Agama Buddha Kita bukan Hindu tapi kita memiliki konsep mengenai jiwa walaupun konsepnya tidak terlalu kuat karena kita tidak sepenuhnya mengikuti ajaran Sang Buddha. atau ego yang abadi disebut atta-ditthi. Ketika jiwa tersebut menitis pada tunuh yang lain. Bahkan seekor serangga juga memiliki jiwa yang kecil di dalamnya.manusia. Jika jiwa itu melakukan perbuatanperbuatan berjasa di dalam kehidupan ini.

makhluk. Jika kamu bertanya pada dirimu sendiri. ketika seseorang belum mengerti timbul dan tenggelamnya fenomena 70 . kamu bisa mengambil kesimpulan bahwa itu tidak kekal. Secara teori. Walaupun kita percaya pada ajaran Sang Buddha. Kita memiliki konsep ini karena kita tidak mengerti karakteristik umum dan khusus dari proses mental dan jasmani. atau peti matinya. Tetapi kita juga percaya bahwa jika seseorang meninggal. Berdasarkan konsep tersebut kita memiliki konsep mengenai orang. ditthi: pandangan salah). paling tidak sampai besok. Sebenarnya. kamu akan marah kepada saya. Hanya jika kamu memiliki pengalaman pribadi dalam Dhamma. kamu tidak akan percaya bahwa mereka adalah kekal. kamu mengerti bahwa tidak ada satupun dari proses mental dan jasmani yang bertahan walaupun hanya sedetik menurut ajaran Sang Buddha. “Apakah saya akan meninggal besok?” – kamu tidak berani menjawab pertanyaan ini. ini disebut sakkāya-ditthi (sakkāya: nāma (mental) dan rūpa (jasmani). Jika saya katakan kamu akan meninggal besok.tidak ada jiwa. karena mempunyai anggapan bahwa proses mental dan jasmani adalah kekal. dekat jenazahnya. Saya mungkin meninggal detik ini juga karena setiap fenomena bersifat tidak kekal. maka jiwanya akan tetap tinggal di sekitar kita. kita tetap memiliki konsep atta-ditthi. individu. atau tidak ada sesuatu yang abadi. sehingga menganggapnya abadi. Ya itulah ide tentang kekekalan. Jika kamu melihat timbul dan tenggelamnya dari fenomena mental dan jasmani yang konstan dan cepat. Ada kepercayaan umum bahwa jika kita tidak memberikan dana kepada para bhikkhu dan belum membagikan perbuatan jasa yang kita lakukan kepada orang-orang yang telah meninggal. Kamu memegangnya karena kamu belum mengerti tentang timbul dan tenggelamnya dari proses fenomena mental dan jasmani. diri. jiwa keluar dari tubuhnya dan berdiam dekat rumahnya. pria atau wanita. Tetapi secara praktek. kamu tidak percaya karena kamu belum mengerti sifat alamiah ketidakkekalan dari proses mental dan jasmani.

mental dan jasmani. orang atau makhluk. yaitu: sakkāya-ditthi pahanaya sato bhikkhu paribbaje. Kecuali kita dapat mengerti dengan benar sifat alamiah yang sebenarnya dari proses mental dan jasmani. Ide tentang orang adalah berdasarkan kepercayaan pada sesuatu yang kekal dalam diri kita. dan sebagainya. bisa berubah. Pengetahuan pandangan terang ini menghancurkan konsep jiwa atau diri. Sebenarnya. tetapi kita tidak menyadarinya. Pandangan ini disebut sakkāya-ditthi. Pandangan terang ini disebut sabhava-lakkhana (pengertian benar mengenai karakteristik khusus atau individu dari fenomena mental dan jasmani). “Sekarang saya mengangkat tangan saya. atau suatu makhluk yang hidup? Jika kita tidak percaya sifat alamiah dari proses mental dan jasmani yang kekal. Jika kita mengatakan. kita tidak akan mampu mengatasi atau menghancurkan pandangan salah ini. atau hewan. Jadi atta-ditthi dan sakkāya-ditthi adalah sama. 71 .” Siapakah ‘saya’? seorang bhikkhu. Jika kita telah memusnahkan benih ini. seorang pria.” Kemudian kamu bertanya kepada saya. siapa yang mengangkat tangan? Saya akan mengatakan. anjing. khayalan. kedua proses mental dan jasmani yang membentuk sesuatu yang disebut orang. Jadi dapat kita katakan bahwa konsep mengenai jiwa atau diri adalah benih dari semua kekotoran mental. kesombongan. timbul dan tenggelam. ia akan menganggapnya kekal. maka tidak akan muncul kekotoran mental dan kita telah menyingkirkan penderitaan. atau setiap proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. kita tidak akan menganggapnya sebagai makhluk. kemarahan. makhluk. sehingga kita dapat menyadari kedua proses tersebut sebagai suatu proses yang alami. Kita tidak menganggap kedua proses ini sebagai orang. “saya mengangkat tangan. Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu berperhatian penuh pada setiap aktivitas pikiran dan tubuh. yang menjadi penyebab utama kekotoran mental (kilesa) seperti keserakahan.

atau orang. Semoga kamu semua berlatih meditasi vipassanā ini dengan sungguh-sunguh dan mencapai berhentinya penderitaan.Sakkāya-ditthi pahanaya berarti mengatasi pandangan salah mengenai jiwa. Sadhu! Sadhu! Sadhu! 72 . Sakkāya-ditthi ini adalah penyebab atau benih segala macam kekotoran mental. Sato berarti perhatian penuh. diri. Jadi seorang bhikkhu yang berperhatian penuh terhadap fenomena mental dan jasmani harus berjuang atau berlatih untuk mengatasi pandangan salah. Jadi kita harus berusaha untuk membasminya melalui pengertian benar terhadap proses mental dan jasmani dengan cara berlatih meditasi vipassanā. ia pasti mampu membebaskan dirinya dari segala macam penderitaan. Jika ia dapat menghancurkan sakkāya-ditthi tersebut. Bhikkhu berarti rahib atau biarawan.

Saya bertekad akan melatih diri menghindari segala macam makanan danminuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. Saya bertekad akan melatih diri menghindari menari. 6. yogi diharuskan menjalankan delapan sīla. Vipassanā adalah 73 . memakai bunga-bungaan. terlepas dan mampu berkonsentrasi dengan mudah. pergi melihat tontonan-tontonan. Saya bertekad akan melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari (setelah jam 12:00).LAMPIRAN I PETUNJUK MEDITASI Moralitas Pembersihan moralitas adalah prasyarat bagi yogi untuk mencapai kemajuan dalam latihannya. Arti dari Vipassanā Jika seorang yogi tidak mengerti tujuan dari meditasi vipassanā. 2. wangi-wanginan. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. 7. menyanyi. Saya bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar. yogi terbebas dari perasaan bersalah. bermain musik. Pada retret meditasi. yaitu: 1. 5. Saya bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. dan alat-alat kosmetika untuk menghias dan mempercantik diri. 4. Saya bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah. Hanya dengan demikian. 8. dia tidak akan mencoba untuk menemukan sesuatu dengan mencatat proses mental dan jasmani. 3. Saya bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan yang tidak suci.

“Mencatat” adalah teman perhatian penuh ketika konsentrasi lemah. Duduk pada alas yang tinggi dan tertekan menyebabkan tubuh bungkuk ke depan dan menimbulkan rasa kantuk. Mencatat dengan Perhatian Penuh Catatlah dengan perhatian penuh dan tepat. tanpa jiwa). Moggallāna tidak menggunakan alas saat meditasi. 74 . Hal ini akan melemahkan usaha benar (sammā-vayāmā) dan yogi akan merasa mengantuk. ‘vi’ dan ‘passanā’. Jadi vipassanā berarti pengertian langsung terhadap tiga karakteristik dari mental dan jasmani. ketidakpuasan. Meditasi Duduk Saat duduk.M. yogi cenderung akan kehilangan obyek. Kata-kata tidaklah penting tapi kadangkadang membantu. ‘Passanā’ berarti pengertian benar atau realisasi dengan cara berperhatian penuh terhadap mental dan jasmani.gabungan dari dua kata. Sariputta dan Y. hiduplah saat ini. Jika yogi tidak mencatat. Catatlah saat ini. maka pikiran akan berada dimasa depan. Jangan bersandar pada tembok atau penopang lainnya. Kecuali pencatatan menjadi gangguan. Penting untuk mencatat dengan tepat setiap proses mental dan jasmani yang perlu dimengerti dalam sifat alamiah yang sebenarnya. jangan lepaskan pencatatan. yaitu tiga karakteristik (ketidakkekalan. Y. terutama pada awal latihan. Prinsip dasarnya adalah mengamati apapun pada saat hal itu timbul. Pencatatan yang dangkal dapat membuat pikiran semakin kacau.M. Setiap meditasi duduk harus didahului oleh meditasi jalan selama sejam (dapat dikurangi jika tidak dalam retret dan waktu yang tersedia terbatas). perhatian penuh dan konsentrasi jangan sampai terpecah. Saat berubah dari meditasi jalan ke duduk. tubuh yogi harus seimbang. ‘Vi’ berarti berbagai. Jika kamu mencari sesuatu saat berlatih.

M. Walaupun yogi diajarkan untuk memulai dengan mengamati kembung dan kempisnya perut. jangan menarik nafas dengan cepat atau dalam. frekuensi pencatatan dapat ditingkatkan. maka yogi dapat dikatakan mengerti dengan benar sifat alamiah dari unsur angin dan menghancurkan pandangan salah tentang diri. Unsur tanah (pathavī-dhātu) memiliki kekerasan dan kelembutan sebagai karakteristik khususnya. Bernafaslah dengan normal. kembung. Setiap unsur memiliki karakteristik khusus atau individu. dan getaran sebagai karakteristik khususnya. Y. dukungan. kembung. kempis. seorang pemula mungkin bingung apa yang harus dicatat. Usahakan pikiran dan tubuh setenang mungkin /tidak tegang. yogi dapat meletakkan tangannya pada perut jika yogi tidak dapat merasakan pergerakan perutnya. yogi tidak boleh melekat pada keadaan tersebut. catatlah sebagai ‘mendengar. tetapi hanya satu dari sekian banyak obyek meditasi vipassanā. Unsur api (tejo-dhātu) memiliki sifat panas dan dingin sebagai karakteristik khususnya. Catat dalam hati “kembung” jika mengamati gerakan perut keluar. dan “kempis” saat mengamati gerakan perut ke dalam.” Jika gerakannya menjadi rumit. catatlah secara umum. Pada tahap awal. contoh: “kembung. Ini sesuai dengan bab tentang empat unsur dalam Mahā Satipatthāna Sutta.Pada permulaan latihan. Hal ini bukanlah obyek satu-satunya. Jika mendengar suara. Unsur angin (vāyo-dhātu) memiliki gerak. karena akan membuat lelah. Jika gerakan perut menjadi lebih bertahap dan jelas. kempis. Mahāsi Sayadaw mengajarkan bahwa seorang yogi dapat memulai dengan mengamati gerakan kembung dan kempisnya perut. Gerakan perut adalah vāyo-dhātu (unsur angin). Unsur air (āpo-dhātu) mempunyai sifat fleksibel/mudah berubah dan melekatkan/mempersatukan (kohesi) sebagai karakteristik khususnya.” atau ”kempis. Jika yogi berperhatian penuh dan mengerti gerakan perut.’ Pada awalnya hal ini tidaklah 75 .

Hanya dengan melakukan meditasi jalan. Pertama. 76 .mudah. Saat mengikuti gerakan kaki. pikiran tentu berkelana beberapa kali.’  Jangan membuka mata saat melakukan meditasi duduk. Kemudian diikuti dengan tiga tahapan ‘angkat.’ Terakhir dapat dilanjutkan menjadi ‘ingin. siswa arahat Sang Buddha yang terakhir. Jangan menunduk terlalu rendah.M. Obyek yang harus dicatat ditambah perlahan-lahan.’ ‘sentuh.’ ‘turun.’ Jangan tutup mata tapi jagalah agar tetap setengah tertutup.24 cm/kaki). Arahkanlah perhatian ke kaki selama meditasi jalan dan catatlah setiap gerakan dengan kewaspadaan yang tajam. Ambilah contoh Y.’ ‘dorong.’ ‘dorong. dalam satu jam menditasi jalan. Hal penting yang perlu diingat:  Jika ada jeda antara ‘kembung’ dan ‘kempis’ isilah dengan mencatat ‘duduk’ dan/atau ‘sentuh.  Jangan puas hanya dengan satu jam duduk. seseorang dapat mencapai tingkat kesucian arahat. dan melihat ke depan kira-kira empat atau lima kaki (30. tapi yogi harus mencatatnya sebisa mungkin. ini akan menyebabkan ketegangan dan pusing dalam waktu singkat.’ ‘angkat.’ dan ‘tekan. catat dalam hati ‘kanan’ dan ‘kiri. jangan angkat kaki terlalu tinggi. Meditasi Berjalan Lakukan meditasi jalan dengan serius.’ turun. yogi boleh kembali kepada obyek meditasi yang utama (contohnya: ‘kembung’ dan ‘kempis’). yaitu jumlah tahapan langkah yang diamati perlahan-lahan ditambah. sebab konsentrasi akan terpecah. yogi dapat mengamati langkah dalam satu tahapan selama kira-kira sepuluh menit.’ Harap diingat.  Jangan merubah postur badan. duduklah selama mungkin. Jangan melihat ke kaki karena pikiran akan terpecah. Pada awalnya lakukan satu pencatatan dalam satu langkah. Subhadda. Hanya jika perhatian penuh telah cukup.

Melakukan sesuatu dengan sangat perlahan. Ada banyak hal baru yang akan ditemukan setiap harinya bila yogi memiliki perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan. Hanya dengan konsentrasi yang dalam. Berperhatian penuhlah terhadap setiap aktivitas sehari-hari. Kesinambungan diperlukan untuk membuat perhatian penuh berkembang dari satu saat ke saat berikutnya. yang perlu yogi lakukan hanyalah berperhatian penuh. Yogi tak perlu terburu-buru. samādhi. keadaan tanpa perhatian penuh akan semakin lebar. berarti yogi kehilangan hidupnya. membuat pikiran menjadi terkonsentrasi. Catatlah ‘keinginan’ untuk melihat sekeliling. selama retret. berarti mengucapkan selamat tinggal pada konsentrasi. Dianjurkan untuk berlatih paling sedikit lima atau enam jam meditasi jalan dan duduk setiap harinya. dan paññā. yogi harus 77 . jangan mengharapkan kemajuan. Yogi telah dan akan memiliki banyak waktu untuk melihat sekeliling. Mata yang berkelana adalah suatu masalah yang sangat sulit bagi seorang yogi. Kemampuan perhatian penuh (satindriya) dari seorang yogi melibatkan perhatian penuh yang konstan dan berkesinambungan sepanjang hari.Yogi tidak boleh melihat ke sekeliling selama melakukan meditasi jalan. Perhatian terhadap Aktivitas Sehari-hari Meditasi vipassanā adalah cara hidup Sang Buddha. Jika yogi melakukannya selama retret. Yogi yang tidak dapat berperhatian penuh terhadap aktivitas sehari-hari. Dengan tidak mencatat aktivitas seharihari. seorang yogi dapat mengerti sifat dasar dari fenomena mental dan jasmani yang menuntunnya ke berhentinya dukkha. Mahāsi Sayadaw membandingkan seorang yogi dengan orang sakit yang bergerak dengan sangat lambat. Hal ini akan menimbulkan konsentrasi yang dalam. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasinya. Jadi. Y.M. Sekali yogi gagal mengamati aktivitasnya. Kewaspadaan terhadap aktivitas sehari-hari adalah kehidupan seorang yogi. Maksudnya ia bukanlah seorang yogi karena ia tidak memiliki sati.

yang ditimbulkan oleh perhatian penuh yang 78 . ataupun mengingat. Sebaliknya.terbiasa untuk perlahan-lahan. bila kipas itu berputar perlahan. yogi harus melakukan semua aktifvitasnya dengan perlahan agar bisa melihat proses mental dan jasmani sebagaimana adanya. Sakit dan Kesabaran Rasa sakit adalah teman seorang yogi. Jika konsentrasi baik. Beberapa yogi bahkan sengaja membuat rasa sakit dengan melipat kakinya di bawah badan. melafal. Rasa sakit diamati bukan untuk membuatnya menghilang. yogi tidak bisa melihat kipas angin tersebut sebagaimana adanya (tidak bisa melihat jumlah bilah pada kipas angin tersebut). Jika menghilang. Rasa sakit adalah kunci ke nibbāna. Berbicara adalah kegiatan yang berbahaya terhadap perkembangan pandangan terang. rasa sakit bukanlah suatu masalah. karena temannya telah pergi. sakit dapat membawa yogi ke nibbāna. Jika rasa sakit datang. jangan menghindarinya. tapi untuk mengerti sifat alamiahnya. Jika kipas angin berputar dengan cepat. Rasa sakit tidak perlu memberitahu kedatangannya. pikiran akan tercerap ke dalam. Ketiganya merupakan rintangan bagi kemajuan meditasi. Saat yogi dikelilingi oleh orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. yogi mungkin akan menangis. langsung catat. Kesimpulannya. Hanya diacuhkan jika rasa sakit terlalu kuat. Jangan membaca. Berbicara lima menit dapat menghancurkan konsentrasi sepanjang hari. Rasa sakit dapat diatasi dengan konsentrasi yang dalam. Mungkin saja rasa sakit itu tidak menghilang. yogi dapat melihatnya sebagaimana adanya (dapat melihat dengan jelas jumlah bilah dari kipas tersebut).dan menemukan sifat alamiah dari -rasa sakit tersebut.’ Jika yogi mengamati rasa sakit dengan perhatian penuh. yogi harus acuh terhadap sekeliling dan dengan semangat mencatat setiap aktivitas mental dan jasmani. Hal itu hanyalah suatu proses alamiah yang tidak berbeda dengan ‘kembung’ – ‘kempis.

…” atau “kantuk. Jika yogi tidak waspada terhadap isi pikirannya. Catatlah pikiran dengan cepat seperti memukulnya dengan sebatang tongkat: “pikir. Jika yogi waspada terhadap pikirannya. bahagia. sehingga pikiran yang mencatat menjadi berkesinambungan dan kuat. kantuk. itu berarti yogi belum melakukan pencatatan dengan semangat yang cukup. … kantuk. Kesabaran membawa yogi ke nibbāna. maka yogi tidak memiliki harapan untuk mengkonsentrasikan pikiran. Jangan terikat pada berpikir atau teori. …” kecuali jika yogi dapat mencatat pikiran yang berkelana. …” tidak pelan seperti. pikir. …pikir. Kemudian. Pandangan terang datang bersama dengan konsentrasi yang dalam. Jika ada rasa sakit yang luar biasa ketika melakukan meditasi jalan. sedih. bahagia. Kemampuan ini tidak dapat dikesampingkan. yogi kadang-kadang harus berhenti dan mencatatnya. maka proses berpikirnya akan berhenti. Aktivitas mencatat juga menolong. …” atau “sedih. Ketidaksabaran membawa yogi ke neraka. harus dilakukan dengan cepat.berkesinambungan. Kelelahan/rasa kantuk dapat diatasi dengan menambah usaha/semangat. Sabarlah terhadap apapun yang merangsang pikiranmu. Sedangkan pikiran yang logis atau rasional. datang bersama konsentrasi yang dangkal. dan tepat. Keantusiasan dan kekhawatiran mengenai pencapaian konsentrasi dapat menyebabkan pecahnya konsentrasi itu sendiri. sedih. kantuk. …” atau “bahagia. Siapa bilang segala sesuatu dapat dinikmati? Mencatat Keadaan Mental dan Emosi Jika yogi mencatat keadaan mental atau emosi apapun. “pikir. pikir. …” atau “kantuk. bersemangat. hal ini cenderung akan berlanjut. proses berpikir akan berhenti dengan sendirinya. Keingintahuan dan pengharapan dengan pasti akan menghambat 79 . Jika pikiran yogi tetap berkelana.

Catatlah rasa kantuk dengan penuh semangat dengan melakukan pencatatan yang cepat. Jika yogi optimis. ada kepuasan dalam setiap situasi dan yogi juga memiliki sedikit gangguan. latihan sesungguhnya dimulai setelah itu. yogi akan menikmati tidur. Jika tidak. Jika yogi mengantuk. yogi harus bangun untuk bermeditasi.kemajuan yogi. jangan pesimis. masalahnya adalah yogi enggan menggunakannya. Yogi harus BERJUANG. Lima Kemampuan Seorang Yogi (Pancindriya) Seorang yogi harus memiliki lima kemampuan ini dengan kokoh. Manusia memiliki berbagai kekuatan dan kemampuan untuk melakukan banyak hal. maka yogi harus menambah usahanya dalam berlatih. Meditasi adalah kegiatan di luar batas ruang dan waktu. dan seimbang. Sikap mental sangatlah penting. Jika yogi ingin mencapai sesuatu dalam meditasi. yogi harus bangun jam empat pagi). berikan kewaspadaan yang tajam. jangan diam bersamanya. bukan MENCOBA! Jika yogi memberi usaha yang cukup. Sebenarnya semangat untuk mencatat selalu ada. tajam. Yogi tidak boleh menunggu sampai jam empat pagi (selama retret. Saddhindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. maka bangunlah dan berjalan. kuat. 2. Itu bukanlah sikap yang tepat. yogi memberikan kesempatan pada dirinya sendiri. Viriyindriya : keyakinan yang kuat dan mantap berdasarkan pengertian benar. Satu minggu latihan hanyalah merupakan proses belajar. Kemudian. berjalanlah dengan lebih cepat. maju mundur di bawah sinar matahari. Jika yogi masih mengantuk ketika bangun. yogi akan mencapai ke-empat jalan dan hasilnya. Jika seorang yogi bangun jam tiga pagi. jadi jangan terikat oleh ruang & waktu. Bila hal ini muncul. 80 . Lima kemampuan tersebut yaitu: 1.

tiap grup diberikan jadwal yang berbeda untuk melapor ke sayadaw. yogi harus melapor ke instruktur meditasi untuk mengetahui perkembangan latihannya. komunikasi yang efektif antara instruktur dan yogi sangatlah penting. Duduk dan berperhatian penuhlah sampai dipanggil. Ketika sedang menunggu giliran di dalam grup. Pada waktu retret. atau takut. bicaralah dengan jelas dan 81 . Perhatian penuh adalah kemampuan yang paling penting. Wawancara atau Waktu Melapor Setiap hari. Paññindriya : perhatian penuh yang berkesinambungan dan dapat bertahan lama. Lapor dengan singkat dan tepat pada sasaran. Jangan menjadi bersemangat. janganlah membuang waktu. Kelima kemampuan di atas harus seimbang untuk mencapai pandangan terang. Seorang yogi tidak boleh mencoba untuk datang sebelum waktu yang dijadwalkan. semangat harus seimbang dengan konsentrasi. yang dapat membawa keepat faktor yang lain ke tujuan. pandangan terang. Tenang dan terbuka. memberi petunjuk lebih jauh atau memberikan semangat untuk kemajuan yang lebih baik. instruktur akan memperbaiki. Sebaliknya. : konsentrasi yang mendalam : kebijaksanaan yang menembus. Keyakinan (saddhā) harus seimbang dengan kebijaksanaan (paññā). Oleh karena itu. yogi bisa datang sesudah jadwal yang telah ditentukan. Satindriya 4. karena waktu sangat berharga. gugup. terutama jika masih banyak yogi lain yang menunggu. Yogi yang berikutnya harus siap disamping yogi yang sedang diwawancara. jika tidak ada faktor yang menghalangi latihan meditasinya. kecuali yogi memiliki alasan untuk melakukannya. Samādhindriya 5. Perhatian penuh tidak perlu seimbang dengan faktor yang lainnya. Yogi harus penuh pengertian. Setelah melaporkan tentang apa yang yogi lakukan dan alami dalam meditasinya.3.

Jangan bergumam atau berbisik. hanya setelah yogi selesai menceritakan pengalaman-pengalamannya. Laporkanlah semua pengalaman walaupun pengalaman tersebut terihat tidak penting. Jangan menunggu komentar. tetapi seorang yogi tidak boleh dan jangan membuat catatan itu sebagai suatu hal yang harus diingat selama meditasi. jangan berbicara mengenai hal lain.terdengar seluruh kalimatnya. Datang dan meninggalkan tempat wawancara dengan perhatian penuh. komentar akan diberikan. Dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan ikuti instruksi dengan tepat dan rajin. karena hal ini dapat menggangu konsentrasi. Membuat catatan-catatan singkat segera setelah latihan meditasi dapat membantu. Jawablah jika ditanya. 82 . Jika ada keraguan. tanyakanlah.

LAMPIRAN II JADWAL MEDITASI 03:00 03:00 – 04:00 04:00 – 05:00 05:00 – 06:00 06:00 – 07:00 07:00 – 08:00 08:00 – 09:00 09:00 – 10:00 10:00 – 11:00 11:00 – 12:00 12:00 – 13:00 13:00 – 14:00 14:00 – 15:00 15:00 – 16:00 16:00 – 17:00 17:00 – 18:00 18:00 – 19:00 19:00 – 20:00 20:00 – 21:00 21:00 Bel bangun pagi Meditasi jalan Metta chanting / meditasi duduk Meditasi jalan Makan pagi / mandi / bersih-bersih Meditasi jalan Meditasi duduk / interview Meditasi jalan / interview Meditasi duduk Makan siang Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Meditasi jalan / interview Meditasi duduk / interview Meditasi jalan Minum sore / mandi / bersih-bersih Dengar ceramah Meditasi jalan Meditasi duduk bersama panitia di hall Istirahat 83 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful