P. 1
Hari Sabat Minggu

Hari Sabat Minggu

|Views: 33|Likes:
Published by RAH
Teologi-Liturgi Hari Minggu
Teologi-Liturgi Hari Minggu

More info:

Published by: RAH on Mar 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/10/2013

$0.99

USD

pdf

text

original

Hari Minggu

1

HARI SABAT = HARI MINGGU ?
Rewah Auriani Handayani

Pendahuluan
Hari Minggu dipahami sebagai hari ibadah bagi umat Kristiani yang sudah diterima secara luas. Namun tak jarang, umat Kristiani menganggap bahwa hari Minggu sebagai hari wajib ke gereja. Keadaan ini pada akhirnya menyebabkan hari Minggu jarang mendapat perhatian khusus dalam pembahasan teologis atau diskusidiskusi gerejawi. Padahal, dibalik penetapan hari Minggu sebagai hari ibadah umat Kristiani dikalangan ahli sejarah dan teolog ada banyak perdebatan yang hingga kini belum sepenuhnya tuntas.

Latar Belakang Praktek Perayaan Hari Minggu
Praktek perayaan hari Minggu yang saat ini dirayakan oleh umat Kristiani tidak terbentuk dengan sendirinya, apalagi ditetapkan langsung oleh Tuhan. Praktek perayaan hari Minggu sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman sejarah dalam kurun waktu tertentu dan sangat panjang. Dalam perjalanan sejarah gereja telah muncul banyak pandangan tentang perayaan hari Minggu. Puncak perdebatan pandangan tentang perayaan hari Minggu terjadi pada Zaman Patristik (zaman Bapabapa Gereja), suatu masa dimana gereja tengah merumuskan kembali dan menetapkan dogma-dogma Kristen (doktrin dan pegangan ajaran). Hal ini dilakukan selain karena kekristenan tengah menghadapi berbagai macam ajaran sesat, muridmurid Tuhan Yesus pun sudah tidak ada lagi. Keadaan seperti ini membutuhkan suatu pegangan ajaran yang jelas dan tegas. Walaupun demikian, Zaman Gereja Perdana pun memiliki peran yang sangat besar dalam penetapan praktek perayaan hari Minggu. Pada Zaman Gereja Perdana, terdapat dua macam praktek perayaan hari Minggu, yaitu praktek perayaan hari Minggu yang dilakukan oleh orang Kristen Yahudi dan praktek perayaan hari Minggu yang dilakukan oleh orang Kristen non-Yahudi. Bagi orang Kristen Yahudi, praktek perayaan hari Minggu merupakan hari yang baru untuk berbakti.1 Keputusan perayaan hari Minggu diambil untuk keperluan beribadah pada hari khusus selain juga tetap melakukan praktek keagamaan Yahudi

1

Bacchiocchi, Samuele, From Sabbath to Sunday- A Historical Investigation of the Rise of Sunday Observance in Eartly Chistianity (Roma: The Pontifical Gregorian University Press, 1977), hlm. 237

169.2 Penggabungan keyahudian dengan kekristenan pun dilakukan melalui praktek peribadahan yang dilakukan di Bait Allah (atau sinagoge) yang kemudian dilanjutkan dengan pemecahan roti dirumah-rumah secara bergiliran. hlm. Selain itu dasar Kitab Suci pun disesuaikan dengan merujuk pada pernyataan “pada hari pertama dalam minggu” sebagai hari Kristus bangkit dari antara orang mati. Samuele. Hari yang baru yaitu hari Minggu dipilih dan ditetapkan sebagai hari yang lain dari hari Sabat Yahudi. Cit. 154-155 5 Ibid. Rasid. 1980). 10-11 4 Bacchiocchi. hlm. 1999). 10. 1945). dimana komunitas Kristen Yahudi benar-benar terpisah dari orang Yahudi. 1956) 8 Ibid. Disatu pihak ada banyak orang Kristen yang memahami hari Minggu sebagai hari istirahat untuk memenuhi hukum ke-4 yaitu “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”. karena pada waktu itu Pakah belum ditetapkan pada satu hari Minggu tertentu dalam satu tahunnya. seperti pemahaman Sabat Yahudi.4 bahkan terusir dari sinagoge.9 Berdasarkan dua macam praktek perayaan hari Minggu yang dilakukan oleh orang-orang Kristen pada Zaman Gereja Perdana diatas. Oscar. 7 Cullmann. Apalagi diikuti dengan larangan segala macam praktek keagamaan Yahudi khususnya perayaan hari Sabat oleh Kaisar Hadrianus (117 – 138 M). Early Christian Worship (London: SCM Press. 159-164. Sedangkan dipihak lain ada juga orang Kristen yang 2 3 Dix.7 Oleh sebab itu bagi gereja mula-mula hari Minggu dipahami sebagai perayaan Paskah. Hal ini semakin memperkuat praktek perayaan hari Minggu sebagai pengganti hari Sabat Yahudi. hlm. praktek perayaan hari Minggu dilakukan lebih sebagai hasil pertentangan dengan orang Kristen Yahudi6 yang kemudian lebih disebabkan karena reaksi terhadap gerakan anti keyahudian.5 Sedangkan bagi orang Kristen non-Yahudi. Dom Gregory.8 Praktek perayaan hari Minggu pun masih dilakukan dengan sederhana dan dalam waktu yang singkat yaitu pada waktu sebelum (pagi) atau sesudah jam kerja (sore). Pengantar Sejarah Liturgi (Tangerang: Bintang Fajar. 231 .Hari Minggu 2 dengan datang ke sinagoge pada hari Sabat. 6 Ibid. Op. Divine Rest for Human Restlessness-Theological Study of The Good News of The Sabbath for Today (Roma: The Pontifical Gregorian University Press. Namun setelah peristiwa penghancuran Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 M. 9 Bacchiocchi. The Shape of The Liturgy (San Francisco: Haper & Row Publisher. 167. telah memaksa orang Kristen Yahudi untuk hanya merayakan hari Minggu di rumah-rumah.3 Penggabungan ini menjadikan praktek perayaan hari Minggu nampak sebagai penambahan atau kelanjutan dari praktek Sabat orang Yahudi. 337 Rachman. hlm. nampak bahwa praktek perayaan hari Minggu dewasa ini sangat dipengaruhi oleh keduanya. hlm. hlm. hlm.

Cit. kemudian disusul dengan Konsili Vatikan II. ditengah-tengah kenyataan bahwa praktek perayaan hari Minggu mulai kehilangan “greget”. dasar teologis bagi praktek perayaan hari Minggu kembali mendapat perhatian. dapat dilihat bahwa pemberian nama baru bagi hari Minggu (= hari Tuhan) oleh Gereja Perdana mau menyatakan bahwa isi perayaan hari Minggu adalah hari kebangkitan Kristus bukan hari Sabat Allah. antara lain Agustinus dan Thomas Aquinas. bahkan hari Minggu tak lebih dari hari yang biasa-biasa saja.10 Pemahaman Praktek Perayaan Hari Minggu Penetapan dasar teologis praktek perayaan hari Minggu oleh Bapa-bapa Gereja bagi kekristenan secara luas. Diawali dengan kemunculan gerakan liturgi di Prancis yang menuntut pembaharuan liturgi termasuk didalamnya praktek perayaan hari Minggu. penetapan praktek perayaan hari Minggu sebagai hari ibadah Kristiani pun dilakukan pada Zaman Patristik oleh wibawah Bapa-bapa Gereja.Hari Minggu 3 memahami hari Minggu sebagai hari Kristus bangkit. suatu konsili gereja-gereja 10 Dix. Pemahaman akan praktek perayaan hari Minggu berkembang menjadi suatu yang wajib dan mutlak. maka dengan demikian hari Minggu yang dirayakan berarti sebagai hari Kristus. Namun pada Zaman Reformasi Protestan pemahaman akan praktek perayaan hari Minggu sempat tidak begitu mendapat perhatian lagi. Akhirnya. cenderung kurang diminati dan sering diabaikan. Praktek perayaan hari Minggu hanyalah didasarkan pada tradisi yang sudah ada. melalui pemaparan yang jelas dan lengkap dari para pemikir gereja yang sangat berpengaruh. Praktek perayaan hari Minggu pun menjadi penting dan berpengaruh pada masa kaisar Konstantinus tahun 321M melalui penetapan hari Minggu sebagai hari libur. “kering” dan membosankan. Hal ini berbeda dengan pemahaman hari Allah di dalam keyahudiaan. ternyata lambat laun menjadi kabur dan kehilangan maknanya setelah kaisar Konstantinus menetapkan hari Minggu sebagai hari libur. gereja mulai mengkritisi kembali berbagai pemahaman dan ajaran Kristen yang utuh dan jelas bagi praktek perayaan hari Minggu. Walaupun pada Zaman Pertengahan. . banyak pula orang Kristen yang menggabungkan keduanya. Bahkan tak jarang. Akhir abad XIX merupakan tahun-tahun pencarian secara mendalam dan perumusan ulang dogma-dogma kristen. Hingga akhirnya pada Zaman Modern ini. Namun mengingat yang dirayakan dalam perayaan hari Minggu adalah kebangkitan Kristus. Secara tidak langsung. Op.

Hlm `.” Namun demikian banyak pula teolog dan ahli Sejarah Gereja melihat bahwa pengaruh anti keyahudian dalam praktek perayaan hari Minggu cukup kuat melalui maklumat Kaisar Hadrianus (117-138 M) yang melarang segala macam praktek keagamaan Yahudi. Selain itu usaha revitalisasi terhadap pemahaman orang-orang Kristen pada Zaman Gereja Perdana menjadi salah satu titik tolaknya. Hal ini dilakukan melalui usaha pemaknaan kembali praktek perayaan hari Minggu yang sudah ada. Eucharis and Ministry) yang dihasilkan. secara khusus perayaan hari Sabat. Penyebutan dari “hari pertama dalam minggu” yang berubah menjadi “hari Tuhan” (hari Kristus bangkit) 11 Bacchiocchi. 20:8-11) dan sesuai dengan hukum taurat ke-4 “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. dan Pelayanan Gereja secara ekumenis. Beberapa teolog dan ahli sejarah gereja mencoba menggali makna penetapan praktek perayaan hari Minggu bagi orang-orang Kristen pada Zaman Gereja Perdana. Kel.11 Selain memang karena orang-orang Kristen non Yahudi secara teratur merayakan hari Minggu sebagai hari khusus untuk beribadah. Dasar teologis bagi praktek perayaan hari Minggu pun mendapat perhatian yang cukup besar. suatu hari yang berbeda dari keyahudian.Hari Minggu 4 katolik seluruh dunia yang membahas dan merumuskan ulang dogma-dogma Gereja.World Council Church). 159-164. terdapat dua pemikiran yang cukup Kontroversial yang puncaknya pada tahun 1980-an. lalu diikuti dengan Konsili Gereja-gereja seluruh dunia (WCC. Berangkat dari penggalian makna penetapan praktek perayaan hari Minggu pada Zaman Gereja Perdana. Kedua pemikiran yang Kontroversial itu adalah bahwa hari Minggu merupakan transformasi tradisi Yahudi (penerusan Sabat Yahudi) dan bahwa hari Minggu merupakan reaksi terhadap gerakan anti Yahudi. Perjamuan Kudus. Hal ini menjadikan makna praktek perayaan hari Minggu seperti makna perayaan hari Sabat yaitu hari perhentian atau hari istirahat seperti kesaksian kisah penciptaan (bnd. Cit. Dokumen BEM (Baptism. . Op. suatu konsili gereja-gereja seluruh dunia dengan berbagai denominasi (ekumenis) yang berhasil merumuskan ulang pegangan ajaran gereja untuk pemahaman tentang Baptisan. Banyak teolog dan ahli Sejarah Gereja melihat bahwa pengaruh penerusan hari Sabat dalam praktek perayaan hari Minggu cukup besar mengingat pada kekristenan perdana terdapat orang-orang Kristen Yahudi yang masih mengikuti kebiasaan orang Yahudi merayakan Sabat. menunjukkan bahwa usaha menjawab makna dibalik penetapan hari Minggu sebagai hari ibadah bagi umat Kristiani mulai mendapat titik cerah.

. Hal ini berbeda dengan perjamuan makan Paska Yahudi. Kesaksian kitab suci pun dirujuk untuk memberi dasar bagi perayaan hari Minggu yang menyatakan hari Minggu sebagai hari Kristus yang bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid. Maka dari itu perayaan hari Minggu pun diikuti dengan pemecahan roti untuk merayakan Kristus yang bangkit yang pada malam sebelum kematian-Nya mengamanatkan para murid agar melakukan pemecahan roti.Hari Minggu 5 merupakan salah satu bukti bahwa perayaan hari Minggu memiliki makna yang berbeda dengan keyahudian. hari Tuhan. hari yang dapat menyegarkan dan memberi arti dan makna hidup yang baru bahkan memberi arah hidup yang jelas. Kesadaran akan perlunya suatu pengkajian yang serius terhadap makna praktek peribadahan hari Minggu dirasakan sangat mendesak demi memberi pijakan yang jelas bagi umat Kristiani. umat kristiani merayakan hari Minggu bukan lagi sebagai hari istirahat(holiday) tetapi sebagai hari yang Kudus (Holy Day). Penutup Dari dua pemikiran yang Kontroversial ini. Sudah seharusnyalah. hari Kristus Bangkit. nampaknya memerlukan suatu pengakuan yang jujur bahwa dasar teologis bagi penetapan praktek peribadahan hari Minggu masih perlu dikritisi secara khusus bagi Gereja-gereja Reformasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->