MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

2.Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). 2006). Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. 2008). Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. Frematur 1. Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang. Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. pascaterm. dismatur dapat terjadi dalam preterm.BAB II PEMBAHASAN A. dan post term. 2006): 1. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. term. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. 2005). Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline). atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan .

Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas. lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .8% seluruh kelahiran hidup. tetapi lebih parah Kulit lebih tipis.

dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. dan nefritis akut (Sitohang. d. ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang. Sebab lain: ibu perokok. Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya. 2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. 2006). trauma fisik dan psikologis. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang. baik usia gestasi maupun berat lahirnya. toksemia gravidarum. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. b. 2006). tidak memiliki lemak. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum. makin medndekati nilai normal aterm. Pada umumnya. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah. 2. diabetes mellitus. 2005). Etiologi 1) Faktor Ibu a.. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. 2006). bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak.. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. c.

kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat. 2006).Hidramnion.  Usia ibu 7.  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM. alcohol. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang. perokok.Faktor ibu 5. kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tidak mau minum. 2006). apatis. 3. pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain.  Keadaan gizi ibu 6. 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang. jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat. dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar. leher kaku. lemah.  Penyakit ibu 8. Patofisiologi 4.

Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. batuk belum sempurna d. Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik. Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. menelan. 2006): 1.4. 8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2006): a. Pneumonia. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3.

Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang. 2006). Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius. lambung kecil. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. a. karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang. sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang. sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. tetapi frekuensi yang lebih sering. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang.6. Reflex menghisap masih lemah. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. Bila faktor menghisapnya kurang. 2006). b. ASI merupakan makanan yang paling utama. 2006). Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. 2006). pemberian makanan dan bila perlu oksigen. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. c. maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Bila inkubator tidak ada. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . enzim pencernaan belum matang. karena daya tahan tubuhnya masih lemah.

 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar. komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. retraksi suprastrenal atau substernal.  Edema kelopak mata umum terjadi. kurus. tidak teratur. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi. 4. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. koordinasi refles untuk menghisap. sutura mungkin mudah digerakkan. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32.  Pernapsan mungkin dangkal. lemas denga perut agak gendut. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Dengan demikian.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. menelan.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2. 2006).sempurna. pernapasan cuping hidung. Oleh karena itu. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Neurosensori  Tubuh panjang. dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32.

 Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. kehamilan praterm sebelumnya.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak.  Kuku mungkin pendek. dilatasi serviks premature. Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S).profil paru janin. 11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. dijual bebas atau obat jalanan.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh. atau penggunaan obat yang diresepkan. 1. dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin. atau sianosis/pucat. nutrisi buruk. seperti usia muda. . adanya infeksi. dengan klitoris menonjol. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang. ketuban pecah dini (KPD). akrosianosis. menandakan sindrom distress pernapasan (RDS). komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae. 5. warna mungkin merah muda atau kebiruan. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. gestasi multiple. 6. testis pria mungkin tidak turun. latar belakang social ekonomi rendah. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. rentang kehamilan dekat. Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar.

6. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. sepsis. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses. K+. 11.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita). hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat. 13. Berat jenis urin: rentang antara 1. Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. 16. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). 12. 9.013.006 sampai 1. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. 14. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas. 10. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. meningkat pada dehidrasi. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. menunjukkan respons inflamasi akut. 4. 3. 18. Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. 8. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. 19. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. cedera ginjal. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. Produk split fibrin: Ada pada KID. atau kesulitan napas yang lama. 7.2. 15. 17. Elektrolit (Na++.

menderita RDS minimal. 2. ketidakefektifan bersihan jalan napas. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. TUJUAN PULANG 1. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. 5. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. termasuk betametason. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann. Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. bebas dari displasia bronkopulmonal. bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . imaturitas otot arteriol pulmonal. sianosis. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. Intervensi Mandiri 1. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. Selain itu. 4. Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). ketidakadekuatan kadar surfaktan. Mempertahankan lingkungan termal yang netral. anemia.21. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. 22. 2. dan stress dingin. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. 5. tipe kelahiran. hipoksia. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. 3. 4. dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. takpne. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. agar skor. 3. seperti lama persalinan.

sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. ronki. pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen.atau imaturotas otot areterior.( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan).rendah. (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g). Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA. perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas. ubah sisi alat setiap 3-4 jam. Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. berat badan. retraksi. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. retraksi. 4. mengorok. 5. atau krekels). 2. yang mengontrol pernafasan. pria 2 kali rentnnya dari pada wanita. dan jenis kelamin. Selain itu. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati. mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. catat kadar tiap jam. 3. Perhatian usia gestasi. kemudian mencapai plateau. pernafasan cuping hidung . Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. Kaji status pernafasan. hipoksmia asedemia. Rasional: menandakan distres [pernafasan . Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan.

dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan. menyebabka bradikardi. diare. 11.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. hiposemia. tidak efektifresiko tinggi terhadap). 8. 6. 9.7F (dalam 0.tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks. pergeseran btitik tampak maksimal. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat. Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. penurunan atau tidak adanya bunyi napas. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler. atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi.atau disritmia jantung. 10. 7. Tingkatan istirahat. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi . Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi . hipotensi. Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. dapat meningkatkan asidosis. resiko tiggi terhadap. resiko tinggi terhadap).Rujuk pada DK: termoregolasi. penonjolan dndinng dada.Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn.5F). bronkospasme.

kongesti. Rasional : atelektasis. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi. dengan teta. Rasional : hopoksemia. grafik seri GDA. Hb/Ht. dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka . sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah. dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. Hiperkapnia . berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dengnanmasker kap. Kolaborasi 12. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. dan saturasi oksigen harus 92%-94%. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). Pantau pemeriksaan laboratorium. 16. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi. diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. Tinjau ulang seri sinar x dada. 13.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus.Rasional . Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas. pertumbuhan cepat. kadar paco2 haru 35-45mmhg. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. 14. pengulangan pengambilan sampel darah. Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. 17. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian. imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn.( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium). selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV). 15.

Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. 18. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). 20. Natrium bikarbonat. keterbatasan perkembangan otot. B. b. perhatikan toleransi bayi terhadap proedur.. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis. yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. menghemat energi. 22. 19. Surfaktan(artifisial atau eksogen). Fisioterapi dada. POLA PENAPASAN. penurunan energi. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a. sesuai indikasi. TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan. bila tepat.kapiler. Mulai drainase postural. 21. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. meningkatkan istirahat. Aspirasi isi lambung untuk tes shake. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. atau vibrasi lobus setiap 2jam.(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. Surfaktan. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. atau pemasangan selang dada. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis.

Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. Berikan rangsangan taktil yang segera. Ikan 4. Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN. Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas.( mis.(rujuk pada DK: termoregulasi . Anjurakan kontak orang tua. Pertahankan suhu tubuh optimal. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat). Pergatikan adanya sianosis. penggunaan bantuan otot. atau hipotonia. tonus jantung. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi. 3. Intervensi Mandiri 1. Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. atau hiperkapnia. 5. tidak efektif. Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. asidosis metabolik. bradikardi. GDA abnormal. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. tonus otot. takikardia. gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. sianosis . dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu. pernafasan cuping hidung. resiko tinggi terhadap). yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. periode aonea. takipneaa. khususnya pada adanya hipoksia. 2. 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 6. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung .

Aminoflin. hiperkapnia. elekrolit. kultur. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Antibiotik. bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . hipoglekimia. resikotinggi terhadap).Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. 7.mdan kadar obat) sesuai indikasi. sesuai indikasi: a. Pankuronium bromida (pavulon). Kalsium glukonat. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka. yang dapat menurunkan kejadian apneik. glikosa serum. hipokalsemia. Rasional : memperbaiki asidosis. Berikan obat-obatan. menurunkan frekuensi apnea.. b. perubahan. Kadang-kadang.(rujukan pada DK: pertukaran gas. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama.dan sepsis dapat memperberat serangan apneik. 10. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan. Rasional: mencegah hipoglikemia. Rasional: hipoksia. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. Toksisitas obat. f. (Rujuk pada DK: nutrisi. Rasional: gerakan memberikann rangsangan. Larutan glukosa. Berikan oksigen sesuai indikasi. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida. d. kurang dari kebutuhan tubuh. 9. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. asidosis metabolik. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis. GDA. Kolaborasi 8. c. e. Rasional. kerusakan). Natrium bikarbonat. Tempatkan bayi pada matras bergelombang.

Rasional .999. Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95. 3. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia). Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat. Intervensi Mandiri 1.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin. periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. Objek pans dengan tubuh bayi. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat .) 2.C. ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. isolette. incubator. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua. TIDAK EFEKTIF. penurunan lemak subkutan . selanjutnya. Rasional. Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu. Gunakan lampu pemanas selam prosedur. 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . seperti stetosko. Periksa suhu rektal pada awalnya. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka. dan pakaian. Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. respons mati terhadap hipotermia. keterbtasan simpanan lemak coklat . Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). Cadangan metabolik buruk. Kaji suhu dengan sering. Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. linen. Tempatkan bayi pada penghangat.1 F(35. TERMOLEGULASI.5-37. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. RESIKO TINGGI TERHADAP.

terlalu tinggi. Pantau system pengatur suhu. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. Pantau penambahan berat badan berturut-turut. kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol.) 9. atau kulit belang: bradikardia . 8. saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. atau incubator. atu latergi . 6. 7.4. mencegah evaporasi berlebihan . Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi. 10. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. evaluasi derajat dan lokasi ikterik. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme. dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . 5. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menangis buruk. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin. Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. akrosianosis . Kaji haluaran dan berat jenis urin. penyebar hangat. Bila penambahan berat badan tidak adekuat. (pertahankan batas atas pada bayi 98. (catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. 11. tergantung pada ukuran atau usia bayi). Pertahankan kelembapan relatif 50-80%. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi.6oF.

Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan.alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97. (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua. memerlukan peningkatan suhu lingkungan.) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 16.20C).70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan. dan kadar bilirubin).. Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. Perhatikan perkembangan takikardia. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: . Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. GDA. khusunya dengan orangtua.apnea. Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. 13. 14. warna kemerahan . foto terapi. Kaji bayi terhadp muntah. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. Glukosa. lampu pemanas. kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). 12. Evaluiasi sumber eksternal ( mis.) 15. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis. (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu. distensi abdomen. Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator. Pantau dextrosix. serum. atau sinar matahari). Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat. Kolaborasi 17. atau apatis.. letarge. Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. atau pada suhu ruangan. Rasional: kontak di luar tempat tidur.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh . elektrolit. Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . koma atau aktifitas kejang . Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera. diaforesis. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan.

Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. peningkatan suhu lingkungan. Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat. D. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. sesuai indikasi : a. mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. dibawah 2500 g). bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. Fenobarbital. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin). 20. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. kurang lapisan lemak. Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. Berikan obat-obatan. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN. b. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. 19. 18. bila diperlukan. dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin.

Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. Ht. Intervensi Mandiri 1. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. atau setiap 2-4 jam.013). Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. 2. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kadar lebih besar dar 1.013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. dan berat jenis urin DBN. Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam. Rasional.006 – 1. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH. 3. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. berat jenis urin bervariasi. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari. Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena. Rasional. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan.

karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit. keadaan fontanel anterior. mis. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. atau aktivitas kejang. suhu termonetral. menangis dengan nada tinggi. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. bayi lebih kecil. 5. membran mukosa kering. Berikan kalium klorida. distensi abdomen. kalsium glukonat 10%. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan. membran mukosa. Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata). Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. kedutan. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. 6. nadi. Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. Perhatikan letargi. 10. meningkatkan resiko dehidrasi.4. Evaluasi turgor kulit. hipotonia. 7. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. TAR lebih rendah). 9. sesuai indikasi. dan fontanel cekung. dan magnesium sulfat 50%. peningkatan apnea. Pantau tekanan darah (TD). 8.

11. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. depresi rangsang paratiroid. asidosis. atau enterokolitis nekrotisan (NEC). ata muntah. c. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis.53%. diare. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). asidosis. displasia bronkopulmonal (BPD). bila diberikan melalui arteri umbilikal. Kalsium serum dan magnesium serum. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah. Kolaborasi 13. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar. atau gagal ginjal. khususnya pada PDA. 12. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan. Kalsium serum. Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 14. Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . sesuai indikasi. sperti kerapuhan.jantung. Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. atau hipoglikemia. dan nekrosis. b. Berikan transfusi darah. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah. kalsifikasi. Berikan dopamin hidroklorida. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. dan stress karena hipoksia. Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah. sepsis. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon.

perpindahan elektrolit. glukosa serum. Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang.PDA. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. Bila tidak teratasi. mata terbalik. resiko tinggi terhadap). Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. E. kejang mioklonik. KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. hipotensi. kurang dari kebutuhan tubuh. letargi. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. yang diikuti dengan apnea. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. CEDERA. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. atau mata terbalik). kedutan. meningkatkan resiko ruptur. 3. hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tidak berespons. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. dan sianosis. perubahan faktor pembekuan. pernapasan yang sulit. RISIKO TINGGI TERHADAP. Intervensi Mandiri 1. kerusakan). hipotonia. perubahan. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. (Rujuk DK : Nutrisi. penonjolan atau ketegangan fontanel. atau aktifitas kejang. (Rujuk DK: pertukaran gas. dan arefleksia. Pantau kadar Dextrostix. 2. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral. peningkatan bilirubin). postur tonik. kacau mental. flaksid kuadriparese. Kaji upaya pernapasan.

c. Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak. 5. GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen. syok hemoragi. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). 4. meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia.Rasional: Trauma kelahiran. sangat samar. Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK). Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. hiperrefleksia. Kaji warna kulit. kapiler rapuh. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi. sesuai indikasi : a. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural. Ht / Hb. dan opistotonus. b. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu. kacau mental. sesuai indikasi. Pantau pemeriksaan laboratorium. atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). Kolaborasi 6. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. Ukur lingkar kepala. 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada.

Penempatan pirau ventrikuloperitoneal.7. Ventrikulopunksi atau tap. a. sesuai indikasi: Kalsium. yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. ultrasonografi kranial. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. b. natrium bikarbonat. dan atau glukosa. e. d. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. a. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. c. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. 8. b. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik. magnesium. Berikan obat-obatan. meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi.

asetazolamid. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. gag. F. menghisap. Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. f. atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak). Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. NUTRISI. menelan. dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari.c. kapasitas lambung kecil. 9. Furosemid. refleks lemah. Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. PERUBAHAN. atau palsi serebral). Intervensi Mandiri 1. tidak ada. d. otot abdominal lemah. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan. Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah). imaturitas sfingter kardia. atau steroid. (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. dan batuk). kerusakan SSP dengan perdarahan. e.

Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. Bila distress pernapasan ada. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. 2. semua ini menurunkan status pernapasan. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. dan distensi abdomen. 7.Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. 4. 6. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. Bila > 2 ml diaspirasi. 8. 5. Kaji status fisik dan status pernapasan. Auskultasi terhadap adanya bising usus. ibu dapat menggosok dot pada payudara. peningkatan resiko aspirasi. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. dan cairan peroral harus ditunda. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. frekuensi pernapasan. cairan perenteral diindikasikan. jadwal pemberian makan perlu diubah. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. 3. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi. derajat kelelahan.

muntah. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. 9. Perhatikan adanya diare. hipoksia. trombosis pembuluh darah. Mulai pemberian makan dengan air steril. atau hasil positif dari tes guaiak. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . resiko tinggi terhadap). Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. residu lambung berlebihan. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). resiko hipoglikemia meningkat. Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung. Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. biasanya septikemia Candida. glukosa. untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. 11. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. atau sianosis). muntah. Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. (Rujuk pada DK: konstipasi. 12. 13. Kolaborasi 14. peningkatan suhu. dengan tepat. dispnea. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. 10. Rasional: Stress dingin. regurgitasi. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. dan ASI atau formula.

Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. sesuai indikasi. elektrolit. dengan protein 3-4 g/kg/hari. 19. Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. 18. sindrom malabsorpsi. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. khususnya vitamin A. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. mineral. Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. 17. Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. penyakit paru kronis. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). serta bahaya menekan ginjal imatur. takipnea. Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme. Berikan vitamin dan mineral. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . nasoduodenal). nasojejunal. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). glukosa. bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. dan E. D. 16. 15. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. obstruksi.Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. dan zat besi. Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. C. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). ketergantungan respirator. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. Pertahankan kepatenan.

Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. kadar pH. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz.nekrotisan. glukosa serum. INFEKSI. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru). prosedur invasif. Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. urin. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. 20. dan tanda vital DBN. kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pantau pemeriksaan laboratorium. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. pemajangan lingkungan (KPD. trombosit. lama pecah ketuban. CSS. jaringan trauma. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. kulit rapuh. dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap. 2. protein total. dan adanya korioamnionitis. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). Intervensi Mandiri 1. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden. Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. elektrolit. Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. prematuritas yang ekstrem. mis. pemajangan transplasental). Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. Tinjau ulang catatan kelahiran.

infeksi pernapasan akut. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi.ASI. genital. bila mungkin. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. gastroenteritis. luka basah. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. dan pekerja lain perprotokol. letargi atau perubahan perilaku. triplet dye. herpes simpleks aktif (oral. Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. atau drainase dari mata atau umbilikus. kongesti nasal. sianosis. 7. atau takipnea). ikterik. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara. 3. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Rasional: Penggunaan alkohol lokal. 6. 8. seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. petekie. demam. mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. atau paronisial). orangtua. 5. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi. dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. 4. Buat kelompok bayi. Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. dan herpes zoster. suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. distres pernapasan (apnea. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit.

Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan. Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia. 11. irigasi. Rasional: ASI mengandung IgA. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan. ambil spesimen darah pada waktu yang sama. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). nasofaring. makrofag. penurunan TD. Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. dan buang setelah 24 jam. 14. Seri jumlah SDM dan diferensia. 10. malas. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam. 12. Berikan ASI untuk pemberian makan.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kolaborasi 15. iodin tingtur. dan kateter sebagai daerah steril. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. bila tersedia. CSS. ketidakstabilan suhu. Dapatkan specimen. atau iodofor. Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan. atau sputum bila bayi diintubasi.000 sampai 225. Perlakuan jalur arteri. 16. stopkok. seperti bradikardia.9. Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. darah. lesi kulit terlihat. dan netrofil. limfosit. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. atau nebulasi. edema. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban. atau eritema pada dinding abdomen.

hipoglikemi. membatasi reabilitas diagnostic. 20. H. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. KELEBIHAN CAIRAN. dan mengubah flora normal bayi baru lahir. 19. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .hari ke hari. 18.000/mm3 c. selain itu. tetapi pada bayi praterm. haluaran. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. atau syok. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. dan PH DBN. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi. Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. sesuai kebutuhan. 17. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. Bantu dengan pungsi lumbal. b. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial. abnormalitas sushu. anemia.

Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. kreatinin. Evaluasi hidrasi. resiko tinggi terhadap. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. b. Pantau haluaran. Ukur berat jenis urun. 5. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perhatikan adanya krekels. Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. Nitrogen urea darah. lebih disukai dengan menimbang popok. 2.013. ronki. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan. Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1. 4. Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen.006 sampai 1. Kadar elektrolit dan PH.Intervensi Mandiri 1.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan. dispnea atau takipnea. dan timbang bayi per protocol. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam. 3. atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. 7. kadar asam urat. Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. Kolaborasi 6. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat.

perbaiki keadaan hipoksik. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya. otot – otot abdomen. karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan . Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. I.8. Perbaiki cairan. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. KONSTIPASI. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. Intervensi Mandiri 1. Ukur lingkar abdomen. 9. Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat. elektrolit. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perubahan motalitas gastric. Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. Pantau bayi terhadap toksisitas obat. 2. dan gangguan asam basa. Auskultasi bising usus. ketidakaktivan fisik. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi.

Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses. syok dan KID 8. tangan. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perubahan. Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. 5. 6. biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama. kurang dari kebutuhan tubuh. dan tiodak adanya bising usus. Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. risiko tinggi terhadap. berikan gosokan pada wajah. nyeri tekan. Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen. meludah berlebihan. Minimalkan penanganan bayi .8% bayi praterm. Bicara pada bayi. lengkung usus dapat dilihat. kekakuan. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. 4. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. Kolaborasi 9. mengakibatkan sepsis. seperti distensi abdomen.3. dan kaki. Tes residu gaster. 7. risiko tinggi terhadap : nutrisi. kekurangan volume cairan . kulit abdomen berkilau atau tegang. tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. syok. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis.

Pasang selang orogastrik atau NG. 16. 13. KERUSAKAN. perubahan status nutrisi. penggunaan restrain. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric. sesuai indikasi. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. bila diperlukan. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. 17. 15. INTEGRITAS KULIT.10. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. jumlah trombosit. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. 11. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus. masa protrombin. J. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. dapat meningkatkan pemulihan usus. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan. 14. Siapkan untuk pembedahan. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu. penebalan dinding. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12. sesuai kebutuhan. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan.

Berikan latihan rentang gerak. Bebas dari cedera dermal.dan sebagainya. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4.melindungi pathogen invasive. Inspeksi kulit. Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. Intervensi Mandiri 1. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit. Berikan jeli petroleum untuk bibir. Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal. 2. jalur I. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . dapat mengakibatkan sepsis. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis. perubahan posisi rutin. Minimalkan manipulasi kulit bayi. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. elektroda.V. 3. 7.Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. 6. Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Rasional : setelah 4 hari. Hindari penggunaan agens topical keras. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. 5. dan kantung urin.

permainan. K. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. Rasional : memberikan rangsangan auditorius. 3. Berikan perawat primer untuk setiap shift. dapat membantu mencegah infeksi. mainkan music lembut dalam ruang perawatan. tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. panggil nam. apatis. perubahan rangsangan lingkungan. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. khususnya pada waktu pemberian maka. kenalkan tekstur (spatel lidah. Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. perubahan tengangan otot. Berikan saleb antibiotic pada hidung. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. Bicara atau bernyanyi pada bayi. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. Bebas dari tanda kelebihan sensori. 2. waslap) bila tepat. iritabilitas. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. efek – efek terapi. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. 4. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan.8. Rasional : memberikan rangsangan taktil.

Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun. Memberikan linea berwarna. 11. Gendong bayi setinggi wajah. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. 8. Kaji respon bayi terhadap rangsangan. meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi. 6. bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. memungkinkan kontak mata. Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual.5. 10. 7. Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. 9.

Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir. 45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. 13. dan kebutuhan /respon individu bayi. 15. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. 16. prognosis. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. dan peningkatan ini. yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. Timbang berat badab bayinsetiap hari. Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. 17. kondisi yang menyrtai. Imaturitas. 14. adanya beberapa anomaly congenital. menurunkan retensi lambung. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. Ukur lingkar kepala. 12.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

 Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. tidakdiketahui : 1. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. yaitu preeclampsia dan eklampsi. 2003). malaria)  Kronis (misalnya TBC. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. misalnya sindrom gangguan pernapasan. Faktor ibu  Toksemia gravidarum. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. faktor plasenta. daya hisap yang lemah dan sebagainya. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. Handayani. c. faktor janin. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. yaitu faktor ibu. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu. solusio plasenta 2. hiperbilirunemia. penyakit jantung. & Kusuma.b. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella. sifilis.

yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. mengakibatkan reflek hisap. sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. 11) Tumit mengkilap. 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. telapak kaki halus. 13) Tonus otot lemah. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. untuk bayi perempuan klitoris menonjol. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. golongan darah ABO) 3. 10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. & Kusuma. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. Testis belum turun ke dalam skrotum. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2003). Handayani. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. 2010. 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. Surasmi. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm.

kekurangan faktor pembeku seperti protombin. 2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Produksi urin yang sedikit. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea. Akibatnya bayi menjadi hipoksia. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya.berat badan. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur. faktor VII dan factor Christmas. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik. hipertensi dan hiperkapnea. urea clearance yang rendah. sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2). 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. otot yang tidak aktif. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K.

yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. fetal malnutrition. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. & Kusuma. intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. kulit kering keriput dan mudah diangkat. Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan. 2003). Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. fibrosis. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit. dysmature. Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. Handayani. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. small for dates. Setiap bayi baru lahir (prematur. panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. distorsi dan parut retina menjadi buta. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%.

hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain). 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. 2010). 2010). 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang.. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. perdarahan paru yang massif. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. berat hati. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. 53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya. Perkembangan dari otak. yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur. limpa. yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat. cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya.

ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama. Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. 3) Minum cukup Bagi bayi. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. Ototototnya juga relatif lebih lemah. Maka dengan demikian. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Untuk itulah selama dirawat. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. susu adalah sumber nutrisi yang utama. minum susu digunakan menggunakan pipet. begitu pula dengan kuku dan tali pusat. Selama belum bisa mengisap dengan benar. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya.3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus. Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya.

Pengkajian a.  Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ). kelainan jantung. Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu . Namun. bayi biasanya boleh dibawa pulang.lanugo dan verniks caseosa banyak. Asuhan Keperawatan 1. 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan.ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna. DM.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit.demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit.tidak ada infeksi. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan.

sutura mungkin mudah digerakkan.2.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .koordinasi refleks untuk mengisap.fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.panjang badan < 45 cm.kurus.pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok . 3.menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu. Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang. Edema kelopak mata umum terjadi . Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.lingkar dada < 30 cm.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu.pernafasan cuping hidung.lingkar kepala < 33 cm. menandakan Respirasi Distress Syndrome 5.mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32.lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama.

Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. elektrolit) Rasional : hipoksia. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. khususnya adanya hipoksia. glukosa serum. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. jalan nafas paten. Diagnose Keperawatan a. tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. hiperkapnea. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung. hipokalsemia. hipoglikemia. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. asidosis metabolic atau hiperkapnea. 3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. asidosis metabolic. 2004) 1. yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan.

b. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu).6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat.4-37. Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. isolette. penurunan lemak sub kutan. periksa suhu rectal pada awalnya.4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka. pertahankan kepala tetap tertutup. incubator.

memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia.Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum. 2) Auskultasi bising usus.Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap. perhatikan adanya distensi abdomen. d. Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol. natrium bikarbonat. Tujuan : . c. 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril. kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar.

60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dapat membantu mencegah infeksi. yang dapat mengakibatkan sepsis. Criteria : leukosit normal. 3) Berikan latihan gerak. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. 6) Hindari penggunaan agen topical keras. tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. e. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi.Intervensi 1) Inspeksi kulit. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung.

Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . misalnya : suhu. Asfiksia Neonatrum 1. Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. Asfiksia Livida (biru) 2. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian. (Mochtar. penimbunan CO2 dan asidosis. ASI mengandung Ig A. makrofag. (Saiffudin. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran.3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. yaitu : 1. 2. Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. 3. 1989). 2001). limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. letargi tau perubahan perilaku. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut.

Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b. yaitu: a. Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d.Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c. Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b. Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4.

tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik. meliputi prolaps tali pusat. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. 6. Bradikardia 5. obat-obatan. meliputi amnionitis. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. anemia. kelainan congenital. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). Faktor umbilical. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . meliputi disproporsi sefalopelvis. Faktor janin. meliputi persalinan lama 3. meliputi plasenta previa. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. tonus otot berkurang 6. Tanda Dan Gejala 1. lilitan tali pusat 5. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara.Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1. diabetes. Hipoksia 2. solusio plasenta. Warna kulit sianotik/pucat 7. hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). insufisiensi plasenta 4. 2.Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak. Faktor plasenta. Faktor ibu. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Faktor uterus. kesulitan kelahiran 5. RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. Manifestasi Klinik a.

Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. 64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . b. halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. c.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit . Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a. nistagmus 8. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia.

tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit.24 menunjukkan status praasidosis.20 sampai 7.d. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menunjukkan hemolitik 10. Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a. Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b. Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7. 9.

sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. usahakan mengikuti gerakan tersebut. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.1. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. ventilasi aktif harus segera dilakukan. Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. 2. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks.

Eliminasi Dapat berkemih saat lahir. Penampilan asimetris (molding. Asuhan keperawatan A. Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4. Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. hipoglikemia. kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.. atau efek narkotik yang memanjang. 3. menagndung 2 arteri dan 1 vena 2.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin. 5. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik). Bunyi jantung.kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sehat. apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. Pengkajian 1. hematoma) Menangis kuat.5 menit…. edema.skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). 40-45mmHg (diastolic). Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit……. 11.

Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.6. Resiko cedera b. Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . atau perubahan warna harlequin. Intervensi Keperawatan 1. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. antara alis mata.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut. warna merah muda atau kemerahan. Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan. produksi mucus berlebihan 2. atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat.d. secara umum tidakada sianosis. oksigen). ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal).d. nevi telengiektatis (kelopak mata. produksi mucus yang berlebihan.d. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Perubahan proses keluarag b.d. pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat. Diagnosa Keperawatan 1. fleksibel. Keamanan    Suhu terentang dari 36. bercak port-wine. kurangnya suplai O2 dalam darah 3. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep).d. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran. atau pada oksipital).  Abrasi kulit kepala mungkin ada B. Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal. Bebas tanda distress pernapasan. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi.

variabilitas denyut per denyut. perubahan periodic pada DJJ. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. Seperti komplikasi prenatal. variable yang memanjang. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. Tinjau ulang status janin intrapartum. atau diabetes). kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. oligohidramnion. dan penurunan variabilitas DJJ.20.3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan. hipertensi karena kehamilan. atau deselerasi lambat. termasuk denyut jantung janin (DJJ). Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan warna serta jumlah cairan amniotic. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. kadar pH kulit kepala. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7.

Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal.atau distress. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan. merupakan yang paling sulit. sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran. Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal. Pernapasan pertama.

meningkatkan PO2 alvolar dan . 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. Keringkan bayi dengan selimut hangat. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. tempatkan stoking penutup kepala. pernapasan mendengkur. krekels. yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. memudahkan upaya pernapasan. sesuai kebutuhan. hisap nasofaring dengan perlahan. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis.kelahiran). dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida. atau ronki. dan membantu mencegah aspirasi. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. Ronki menandakan aspirasi sekresi oral. retraksi dada. Pantau nadi apical selama penghisapan. tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. Pada awalnya sehat. cairan.

Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen. sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Menandakan hipoksia intrauterus kronis. namun. terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. Perhatikan nadi apical. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan adanya pandangan mata lebar. Akrosianosis. Kaji tonus otot. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium.

pada bayi baru lahir.Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. Meningkatkan jalan napas paten. Bila bercak mekonium ada. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung. penghisapan dalam. perlu untuk mencegah aspirasi mekonium. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan tindakan resusitatif. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)). diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. Pada kasus hipoksia yang lama. Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum.

Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. sesuai indikasi. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin. Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. yang sakit. pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat.d. dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi. Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum. Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin. dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mencegah kehilangan panas melalui konduksi. Intervensi . 2. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti.fasilitas tingkat III/IV. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. kulit. Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar.

Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. kulit lebih besar. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator). namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin. Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan. pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat. melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. pertahankan suhu udara 1. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin.50C lebih tinggi dari suhu kulit. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti.50C. Suhu inti (rectal) biasanya 0. Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara.50C lebih hangat dari suhu tubuh. metabolism dan konsumsi oksigen). Suhu kulit dipertahankan mendekati 36. makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin. .kehilangan panas pad bayi baru lahir. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan. hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. ekstremitas fleksi.

Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. bradikardia. Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). asidosis. kulit tangan dan kaki dingin. retraksi otot pernapasan. karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .belang-belang atau pucat. Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit. dan melepaskan katekolamin adrenal. serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. sesuai indikasi. mendengkur berat. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. dan penurunan pernapasan. dan pernapasan uping hidung). sianosis umum. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan. peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia.

meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus. Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. asidosis dan asfiksia. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta. Resiko cedera b. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali. dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis. menentukan usia gestasi. 3.d. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius.

Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus.introitus ibu. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua. Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka.d. Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia. yang mungkin ada pada janin lahir ibu. Perubahan proses keluarag b. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan. 4. Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi.

Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi.neonates memungkinkan. Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. 4. Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir. dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1. Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan.

faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kolonisasi bakteri pada intestine. dan pemberian susu formula. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain. 7% . NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil. meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm. seperti prematuritas. dan gangguan pertahanan pada host. NEC terjadi pada 2% . f. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. 2.7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b. polisitemia.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. NEC terutama menyerang bayi prematur. NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain. a. 62% . Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir. atau masalahmasalah medis yang lain e. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal. 3.94% bayi yang terkena adalah bayi premature d.13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital. Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal. Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates. malformasi gastrointestinal anatomik.

sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. ulserasi. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. radikal bebas. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . lisozim. dan lactobacillus bifidus growth factor. usus belum mampu mencerna makanan dengan baik. Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. Pada saat lahir. diduga memperparah proses penyakit. Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. ileum. laktoferin. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. Saat hal tersebut terjadi. b. barrier mukosa belum berkembang dengan baik. terutama makanan-makanan formula. c. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal. a. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. IgA. IgA. termasuk nekrosis dan ulserasi. produk fermentasi bakteri dan toksin.mediator inflamasi (sitokin). Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. aliran darah ke abdomen. Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. Ditambah lagi. sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. Feeding process Pada neonatus.

kolonisasi bakteri usus. perotinotis. terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. meskipun demikian. gangguan otot (muscular guarding). Saat NEC berkembang. berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis. mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif. Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). apnea. Gambaran yang nyata meliputi letargi. dan kematian.membentuk asam organik. 4. 5. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. aspirasi gaster. menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. dan adanya suatu substrat seperti formula. dan eritema pada dinding abdomen. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. karbon dioksida. muntah empedu. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar. syok. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. patogenesis NEC adalah multifaktor. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan feses yang mengandung darah. Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen. dan hipoperfusi. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen.

komplikasi. Secara khas. NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. dan mortalitas penyakit. Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa. tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari. Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut.

000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50. Komplikasi jangka panjang. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Komplikasi a. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a. meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7. Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b.6) Koagulasi intravaskular diseminata 6.

istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap. Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC. Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus. penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. elektrolitserum.b. hitung platelet. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid. teraba massa abdomen. antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. kadar hydrogen dapat meningkat.5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. transfusi produk darah sesuai keperluan. 8. khusunya pada NEC derajat awal. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos. dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. 1) NPO. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan parasentesis yang positif lebih dari 0. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik. analisis gas adarh. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). Penatalaksanaan a.

Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. septikemia. cairan. Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. e. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan. Sepsis Neonatrum 1.c. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mengontrol infeksi 5. d. dan material tinja. diberikan scr bertahap h. 9. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. Pertimbangan keperawatan a. elektrolit. d. Pantau tanda vital  perforasi usus. Pantau platelet. Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini. syok kardiovaskular. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. Dimulai dengan pengenalan awal b.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. dan status asam-basa. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f. Abdomen yg distensi g. 2005).

Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. rubella). antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2000). Listeria monocytogenes. Haemophilus influenzae tipe B. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi. 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. Salmonella. dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes. Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes. (Vietha. Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. sering mengalami komplikasi. Sterptococcus pneumoniae. 3. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu. dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. 1. 2008) 2. 2. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. Neisseria meningitidis. bakteri (streptococcus B). Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir.

Proses kelahiran yang lama dan sulit.a. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pemasangan sejumlah kateter. yang bila tidak segera dirawat. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. Demam yang terjadi pada ibu c. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. g. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. 4. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Infeksi pada uterus atau plasenta d. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. terhambatnya fungsi mitokondria. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium. dan kekacauan metabolik yang progresif. dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. Perdarahan b. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran.

konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. dan syok. Faktor.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir. 2005). d. Ibu yang berstatus sosio. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. yaitu : a. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu.Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. b. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Yang lebih umum. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c. dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. asidosis metabolik. yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. 2) Defisiensi imun. protozoa Toxoplasma.Prosedurselamapersalinan. Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram). menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. ras. dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif). Ketuban pecah dini (KPD) e. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. atau basilus Listeria monocytogenesis. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. Kurangnya perawatan prenatal. dan latar belakang.

yaitu : 1. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas. 4) Pada bayi yang minum ASI. sipilis. herpes. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. sitomegalo. spesies Lactbacillus dan E. paling sering akibat kontak tangan.colli ditemukan dalam tinjanya. seperti steroid. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. koksaki. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar. c. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. bersama dengan penurunan fibronektin. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. antara lain malaria. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. dan toksoplasma. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. parotitis. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Dengan adanya hal tersebut. 3) Kadang.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial). Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. hepatitis.colli. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. aktifitas lintasan komplemen terlambat. Insidens sepsis pada bayi laki. influenza. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda.

nafas cuping hidung. takipnu. hiporefleksi. hipotensi. ubun-ubun membonjol 6. terjadi amniotis dan korionitis. kejang. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Cara lain. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan. kejang. kulit lembab. sklerema 2. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. merintih. diare. anoreksia. takikardi. selang endotrakhea. infus. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu. Hematologi: Ikterus. tidak kuat menghisap. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. jaundice.2003) 5. pernapasan tidak teratur. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. muntah. malas minum.dan N. sianosis 4. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. letargi. perdarahan. Infeksi paska atau sesudah persalinan. yaitu saat persalinan.alat : penghisap lendir. bradikardi 5. Akibatnya. retraksi. purpura. pucat. malas minum. muntah.. petekie.2. tremor. dispnue. splenomegali. botol minuman atau dot). hepatomegali 3. Pada masa intranatal atau saat persalinan. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Sistem syaraf pusat: iritabilitas. sianosis. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Saluran cerna: distensi abdomen. 3. Saluran nafas: apnoe. Umum : panas (hipertermi). 1. Sistem kardiovaskuler: pucat. diare.gonorrea. selang nasogastrik. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. Candida albican.

Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. dan panel skrining sepsis. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. dan untuk menentukan prognosis. rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). dan hitung trombosit. Saat ini. Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. GCSF. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. G-CSF. CRP. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. spesifisitas lebih dari 85%. hitung neutrofil. nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. prokalsitonin. Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. sitokin IL-6. mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR). CRP. 6.Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a. petunjuk untuk penggunaan antibiotik. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). IL6 (atau IL1-ra 0. Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. 7. neutrofil imatur. kejang. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . TNF. Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. dan hematological indices pada hari ke-0). kemerahan. kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. memantau kemajuan pengobatan. nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. IL8.

trombosit. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. transfusi tukar. lengkap. koreksi metabolik asidosis.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis). pemeriksaan CRP kuantitatif). USG kepala dan lain-lain. Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning.v i. 6. letargi. 5. kultur darah.  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi. pengecatan Gram). Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap. gula darah. terapi syok. feses lengkap. 2.m (atas indikasi khusus). lemah. dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). Pengkajian a. terapi oksigen/ventilasi mekanik. foto abdomen.1. kimia. tak mau menghisap.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. foto polos dada. CRP tetap abnormal. Identitas klien b.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. pemeriksaan darah dan CRP normal. terapi kejang. plasma. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel. urine. 3. analisa gas darah.m/i. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. urine dan feses (atas indikasi). kejang. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. cairan serebrospinal. 4. transfusi darah. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. Asuhan Keperawatan A.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia. napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah. 3. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. vascular frekuensi nadi. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .ekimosis. hematoma spontan.

Buku saku keperawatan pediatric. 2004. Marilyn E.hon. (2004). Sinopsi obstetric. N. Paulette S. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. S. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. Cecily Lynn. Rustam. N. 2001. E. 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Edisi 6. Surasmi. Ed. A.. (2003). Diagnosa Keperawatan. 1997. Jakarta: EGC. Saifuddin AB. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. 2000. Hawa. (2010). Linda A. Rahayu D P. Jakarta: EGC. 2007. Mochtar.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik. Jakarta : EGC. LJ. 2002. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat.5. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Adriaansz G. 1998. Doengoes. et al. & Kusuma. Edisi 2. H. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Aplikasi pada Praktek Klinis. 2009.. Carpenito. Handayani. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Berkow & Beers.DAFTAR PUSTAKA Betz. edisi 4. Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. A. Jakarta: EGC. Jakarta : EGC. Sowden. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Sitohang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful