P. 1
Makalah Klp. 7 BBL Bermasalah

Makalah Klp. 7 BBL Bermasalah

|Views: 803|Likes:
Published by Rzq Mlyn Rezmul

More info:

Published by: Rzq Mlyn Rezmul on Mar 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2015

pdf

text

original

MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2. dan post term.BAB II PEMBAHASAN A. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan . Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. Frematur 1. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. pascaterm. 2006): 1. Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. dismatur dapat terjadi dalam preterm. Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang. Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). 2005).Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). term. Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline). atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak. 2006). 2008).

Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0.8% seluruh kelahiran hidup. tetapi lebih parah Kulit lebih tipis.

tidak memiliki lemak. Etiologi 1) Faktor Ibu a. 2. diabetes mellitus. bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak. trauma fisik dan psikologis. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah. dan nefritis akut (Sitohang. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. toksemia gravidarum. Pada umumnya.dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. 2006). c. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. b. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik. d. makin medndekati nilai normal aterm. 2006). Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang.. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.. baik usia gestasi maupun berat lahirnya. 2005). 2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Sebab lain: ibu perokok. 2006).

dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar. kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perokok. Patofisiologi 4. apatis. alcohol. jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat. kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat.  Penyakit ibu 8.  Usia ibu 7. 3.  Keadaan gizi ibu 6. pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain. 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang. leher kaku. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang.Faktor ibu 5.Hidramnion. 2006). 2006). lemah. tidak mau minum.  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM.

Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik.4. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b. 2006): 1. Pneumonia. menelan. 2006): a. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. batuk belum sempurna d. Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang. Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5. 8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang. ASI merupakan makanan yang paling utama. sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Reflex menghisap masih lemah. Bila inkubator tidak ada. lambung kecil.6. 2006). maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. 2006). 2006). karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. tetapi frekuensi yang lebih sering. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. 2006). Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang. a. c. sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang. mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang. karena daya tahan tubuhnya masih lemah. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. enzim pencernaan belum matang. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. pemberian makanan dan bila perlu oksigen. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bila faktor menghisapnya kurang. b. Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius.

upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Oleh karena itu. Neurosensori  Tubuh panjang.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. pernapasan cuping hidung. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2. 4. dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32. retraksi suprastrenal atau substernal. lemas denga perut agak gendut. pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. Dengan demikian. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. koordinasi refles untuk menghisap. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. kurus. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi. 2006).  Edema kelopak mata umum terjadi.sempurna. tidak teratur. menelan.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar.  Pernapsan mungkin dangkal. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. sutura mungkin mudah digerakkan. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang.

adanya infeksi. warna mungkin merah muda atau kebiruan. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. 5. 11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menandakan sindrom distress pernapasan (RDS). kehamilan praterm sebelumnya. rentang kehamilan dekat. atau sianosis/pucat. dijual bebas atau obat jalanan. dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin. ketuban pecah dini (KPD). 6.profil paru janin. dengan klitoris menonjol. atau penggunaan obat yang diresepkan. Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). nutrisi buruk.  Kuku mungkin pendek. inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. akrosianosis.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. seperti usia muda. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh. dilatasi serviks premature. . testis pria mungkin tidak turun. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang. latar belakang social ekonomi rendah. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa. komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak. Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar. 1. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. gestasi multiple.

Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. sepsis. 14. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius. 19. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. 18. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. 9. 13. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). 16. 12. atau kesulitan napas yang lama. 15. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. Berat jenis urin: rentang antara 1.013. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. 7. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. 8. 17.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita).006 sampai 1. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat. Elektrolit (Na++. menunjukkan respons inflamasi akut. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. meningkat pada dehidrasi. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas. cedera ginjal. Produk split fibrin: Ada pada KID. 10. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. K+. 4. 6. 11. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses.2. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. 3.

ketidakadekuatan kadar surfaktan. TUJUAN PULANG 1. bebas dari displasia bronkopulmonal. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. anemia. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. 5. 4. dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. 3. Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. tipe kelahiran. bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . ketidakefektifan bersihan jalan napas. Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. dan stress dingin.21. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. takpne. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann. Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. Mempertahankan lingkungan termal yang netral. imaturitas otot arteriol pulmonal. 5. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. 4. Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. sianosis. Selain itu. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). agar skor. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. menderita RDS minimal. hipoksia. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. 2. 22. 3. 2. termasuk betametason. seperti lama persalinan. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. Intervensi Mandiri 1.

retraksi. Selain itu. mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. berat badan. Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA. Kaji status pernafasan. ronki. Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi .rendah. Rasional: menandakan distres [pernafasan . ubah sisi alat setiap 3-4 jam. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. mengorok. retraksi. atau krekels). (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g). khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. 5. 2. pernafasan cuping hidung . Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas. catat kadar tiap jam. Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS.( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan). Perhatian usia gestasi. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati.atau imaturotas otot areterior. 3. sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan. hipoksmia asedemia. Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pria 2 kali rentnnya dari pada wanita. yang mengontrol pernafasan. kemudian mencapai plateau. Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. 4. dan jenis kelamin.

5F).7F (dalam 0.Rujuk pada DK: termoregolasi. dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan. 10. 7. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi . Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental. resiko tinggi terhadap).Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis. penonjolan dndinng dada. Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS. penurunan atau tidak adanya bunyi napas. tidak efektifresiko tinggi terhadap). 11. 6. diare. Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler.atau disritmia jantung.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. bronkospasme. dapat meningkatkan asidosis. pergeseran btitik tampak maksimal. Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi . hipotensi. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. menyebabka bradikardi.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. 9. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. Tingkatan istirahat. atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. 8. biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi. hiposemia.tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks. Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. resiko tiggi terhadap. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Rasional : atelektasis. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi. kadar paco2 haru 35-45mmhg.kongesti. Rasional : hopoksemia. sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah. selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV).Rasional . berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka . dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). 16. diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. Hb/Ht. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan. pengulangan pengambilan sampel darah.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. Tinjau ulang seri sinar x dada. Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi. grafik seri GDA. 15.( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium). Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. Hiperkapnia . dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. 13. 17. dengan teta. Kolaborasi 12. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. pertumbuhan cepat. dengnanmasker kap. dan saturasi oksigen harus 92%-94%. 14. Pantau pemeriksaan laboratorium. imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn.

perhatikan toleransi bayi terhadap proedur. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal.kapiler. Mulai drainase postural. atau vibrasi lobus setiap 2jam. Surfaktan. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. penurunan energi. Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI. meningkatkan istirahat. sesuai indikasi. Aspirasi isi lambung untuk tes shake. Fisioterapi dada.. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam. B. 18. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. b. 22. keterbatasan perkembangan otot. bila tepat. Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. 21. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis. Natrium bikarbonat. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). atau pemasangan selang dada. 20. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis. Surfaktan(artifisial atau eksogen). Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. 19. POLA PENAPASAN. menghemat energi. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }.

3. khususnya pada adanya hipoksia. tonus jantung. Intervensi Mandiri 1. tonus otot. 2. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat). penggunaan bantuan otot. Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung . Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. tidak efektif. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi. asidosis metabolik. yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi. pernafasan cuping hidung. gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. Pertahankan suhu tubuh optimal. Berikan rangsangan taktil yang segera. 5. takipneaa. periode aonea. sianosis . Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. atau hipotonia. GDA abnormal. Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP.( mis. resiko tinggi terhadap). Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. Ikan 4. takikardia. dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. atau hiperkapnia. Anjurakan kontak orang tua. 6. Pergatikan adanya sianosis. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu.(rujuk pada DK: termoregulasi . Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . bradikardi. Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas.

10. Kalsium glukonat. Kolaborasi 8. 7. sesuai indikasi: a. kerusakan). Kadang-kadang. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis.Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. Tempatkan bayi pada matras bergelombang. Rasional.. Rasional: gerakan memberikann rangsangan.dan sepsis dapat memperberat serangan apneik. GDA. elekrolit. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka.mdan kadar obat) sesuai indikasi. resikotinggi terhadap). Larutan glukosa. Antibiotik. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. Aminoflin. perubahan. Berikan obat-obatan. e. yang dapat menurunkan kejadian apneik. f. asidosis metabolik. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. c. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pankuronium bromida (pavulon). yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama. menurunkan frekuensi apnea. glikosa serum. hipoglekimia. b. Rasional: hipoksia. Toksisitas obat. (Rujuk pada DK: nutrisi. Rasional: mencegah hipoglikemia. d. Berikan oksigen sesuai indikasi. bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . kurang dari kebutuhan tubuh. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida. hiperkapnia. Natrium bikarbonat. 9. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan.(rujukan pada DK: pertukaran gas. kultur. hipokalsemia. Rasional : memperbaiki asidosis.

Gunakan lampu pemanas selam prosedur. Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. seperti stetosko. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia). penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95. Rasional. selanjutnya. Objek pans dengan tubuh bayi. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat . Periksa suhu rektal pada awalnya. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. isolette. TIDAK EFEKTIF. dan pakaian. Rasional . keterbtasan simpanan lemak coklat . periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu.1 F(35. penurunan lemak subkutan . ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. Kaji suhu dengan sering. Tempatkan bayi pada penghangat. dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka. respons mati terhadap hipotermia. RESIKO TINGGI TERHADAP. Intervensi Mandiri 1. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. 3. mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang. linen.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin.) 2.999. atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua. TERMOLEGULASI.C.5-37. incubator. 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. Cadangan metabolik buruk. Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat.

Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. 8.6oF. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme. Pantau system pengatur suhu. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. atau kulit belang: bradikardia . menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi. 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .4. Pertahankan kelembapan relatif 50-80%. atau incubator. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. Kaji haluaran dan berat jenis urin. Pantau penambahan berat badan berturut-turut.) 9. atu latergi . menangis buruk. akrosianosis . yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. mencegah evaporasi berlebihan . Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. tergantung pada ukuran atau usia bayi). (pertahankan batas atas pada bayi 98. 10. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. penyebar hangat. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. 5. terlalu tinggi. Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. 11. dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. 6. 7. Bila penambahan berat badan tidak adekuat. evaluasi derajat dan lokasi ikterik. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). (catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol.

dan kadar bilirubin). Pantau dextrosix. GDA. kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). atau sinar matahari). 13. Rasional: kontak di luar tempat tidur. (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . Evaluiasi sumber eksternal ( mis.. Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera.alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97. warna kemerahan . serum. (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu. letarge. distensi abdomen. Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan. Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. diaforesis. Kaji bayi terhadp muntah. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: .20C). Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. Perhatikan perkembangan takikardia. Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. Kolaborasi 17. Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. 16. Glukosa. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis. memerlukan peningkatan suhu lingkungan.) 15. 14. foto terapi. lampu pemanas. Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator. khusunya dengan orangtua. atau pada suhu ruangan. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan. 12..apnea.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh . (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua. Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat.) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . elektrolit.70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan. koma atau aktifitas kejang . atau apatis.

Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. 20. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. 18. Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. b. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. D. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. bila diperlukan. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. Berikan obat-obatan. kurang lapisan lemak. Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat.Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. Fenobarbital. bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. peningkatan suhu lingkungan. dibawah 2500 g). Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. sesuai indikasi : a. 19. yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin).

013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. Ht. Rasional. Intervensi Mandiri 1. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori.013). kadar lebih besar dar 1. atau setiap 2-4 jam. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH. 2. 3. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari. dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. Rasional. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena.006 – 1. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium. berat jenis urin bervariasi. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran. sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan. dan berat jenis urin DBN.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan.

Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. membran mukosa kering. membran mukosa. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata).4. dan fontanel cekung. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. 8. 7. 5. distensi abdomen. menangis dengan nada tinggi. dan magnesium sulfat 50%. Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. nadi. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. hipotonia. Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. bayi lebih kecil. mis. TAR lebih rendah). Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. 9. Evaluasi turgor kulit. meningkatkan resiko dehidrasi. 6. suhu termonetral. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. atau aktivitas kejang. 10. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. Berikan kalium klorida. peningkatan apnea. kalsium glukonat 10%. glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . keadaan fontanel anterior. kedutan. Perhatikan letargi. sesuai indikasi. Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan. Pantau tekanan darah (TD). Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit.

Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. atau enterokolitis nekrotisan (NEC). asidosis. atau hipoglikemia. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah. dan stress karena hipoksia. kalsifikasi. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. c. displasia bronkopulmonal (BPD). Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah.jantung. Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. atau gagal ginjal. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 11. sepsis. Kolaborasi 13.53%. 12. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. Kalsium serum. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan. diare. Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. Kalsium serum dan magnesium serum. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar. dan nekrosis. ata muntah. 14. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). b. Berikan transfusi darah. bila diberikan melalui arteri umbilikal. depresi rangsang paratiroid. sesuai indikasi. khususnya pada PDA. sperti kerapuhan. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah. asidosis. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon. Berikan dopamin hidroklorida.

Bila tidak teratasi. E. perubahan. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. kacau mental. penonjolan atau ketegangan fontanel. (Rujuk DK: pertukaran gas. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. RISIKO TINGGI TERHADAP. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipotonia. flaksid kuadriparese. tidak berespons. Intervensi Mandiri 1. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. 3. Kaji upaya pernapasan. hipotensi. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. (Rujuk DK : Nutrisi. dan arefleksia. peningkatan bilirubin). KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. kejang mioklonik. postur tonik. kurang dari kebutuhan tubuh. glukosa serum. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. letargi. atau aktifitas kejang.PDA. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. Pantau kadar Dextrostix. atau mata terbalik). CEDERA. Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. meningkatkan resiko ruptur. kedutan. Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral. Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. mata terbalik. pernapasan yang sulit. perubahan faktor pembekuan. hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. dan sianosis. resiko tinggi terhadap). perpindahan elektrolit. kerusakan). 2. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. yang diikuti dengan apnea.

5. atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). dan opistotonus. Ukur lingkar kepala. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. Kolaborasi 6. 4. Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. sangat samar. GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen. Ht / Hb. hiperrefleksia. Pantau pemeriksaan laboratorium. Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak. yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural. c. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. Kaji warna kulit. sesuai indikasi. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi. kacau mental. meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia. b.Rasional: Trauma kelahiran. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK). Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu. Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. kapiler rapuh. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. syok hemoragi. 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sesuai indikasi : a.

Penempatan pirau ventrikuloperitoneal. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). d. natrium bikarbonat. b. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. ultrasonografi kranial. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi. 8. a. c. Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. b. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. magnesium. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. dan atau glukosa. e. Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel. Ventrikulopunksi atau tap.7. Berikan obat-obatan. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik. sesuai indikasi: Kalsium. a. meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil.

f. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak).c. refleks lemah. asetazolamid. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah). Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal. gag. tidak ada. e. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. 9. dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari. F. atau steroid. kerusakan SSP dengan perdarahan. atau palsi serebral). (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. PERUBAHAN. Intervensi Mandiri 1. Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. menghisap. Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. otot abdominal lemah. imaturitas sfingter kardia. menelan. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. dan batuk). Furosemid. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. kapasitas lambung kecil. NUTRISI. d. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim.

jadwal pemberian makan perlu diubah. Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi.Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. derajat kelelahan. 7. 5. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Auskultasi terhadap adanya bising usus. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. Kaji status fisik dan status pernapasan. cairan perenteral diindikasikan. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. 6. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. Bila > 2 ml diaspirasi. 4. dan cairan peroral harus ditunda. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. 3. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. peningkatan resiko aspirasi. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. Bila distress pernapasan ada. dan distensi abdomen. ibu dapat menggosok dot pada payudara. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. frekuensi pernapasan. 8. penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. 2. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. semua ini menurunkan status pernapasan. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit.

peningkatan suhu. biasanya septikemia Candida. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. residu lambung berlebihan. Rasional: Stress dingin. dengan tepat. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. Kolaborasi 14. 13. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung. glukosa. 12. Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. atau hasil positif dari tes guaiak. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. muntah. untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis. 9. dispnea. hipoksia. Mulai pemberian makan dengan air steril. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. atau sianosis). regurgitasi. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. (Rujuk pada DK: konstipasi. 10. dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. 11. muntah. Perhatikan adanya diare. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. resiko hipoglikemia meningkat. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. trombosis pembuluh darah. Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. resiko tinggi terhadap). Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. dan ASI atau formula. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan.

Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. C. 18. 15. Berikan vitamin dan mineral. mineral. Pertahankan kepatenan. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). khususnya vitamin A. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. nasojejunal. elektrolit. Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. dengan protein 3-4 g/kg/hari. 16. takipnea. sesuai indikasi. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. obstruksi. serta bahaya menekan ginjal imatur. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. dan zat besi. 19. Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). D. bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. glukosa. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. nasoduodenal).Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. 17. penyakit paru kronis. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ketergantungan respirator. sindrom malabsorpsi. dan E.

pemajangan lingkungan (KPD. jaringan trauma. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI. INFEKSI. CSS. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. Pantau pemeriksaan laboratorium. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru).nekrotisan. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz. dan tanda vital DBN. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. protein total. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. kulit rapuh. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. trombosit. prosedur invasif. elektrolit. Intervensi Mandiri 1. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. 20. Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. mis. kadar pH. dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap. urin. Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri. prematuritas yang ekstrem. pemajangan transplasental). glukosa serum. Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. Tinjau ulang catatan kelahiran. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. 2. lama pecah ketuban. kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan adanya korioamnionitis.

atau takipnea). kongesti nasal. infeksi pernapasan akut. distres pernapasan (apnea. 7. mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). 8. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi.ASI. dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. Rasional: Penggunaan alkohol lokal. Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). letargi atau perubahan perilaku. 4. herpes simpleks aktif (oral. 6. luka basah. genital. Buat kelompok bayi. bila mungkin. demam. petekie. ikterik. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. 3. atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . triplet dye. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. 5. Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi. atau paronisial). orangtua. dan pekerja lain perprotokol. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. sianosis. Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. dan herpes zoster. Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. atau drainase dari mata atau umbilikus. Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. gastroenteritis.

Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). stopkok. limfosit. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan. dan netrofil. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban. irigasi. Dapatkan specimen. Seri jumlah SDM dan diferensia. ambil spesimen darah pada waktu yang sama. 16.9. ketidakstabilan suhu. Berikan ASI untuk pemberian makan. Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13. Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. seperti bradikardia. bila tersedia. Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. 12. Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. darah. atau nebulasi. 11. iodin tingtur. edema. penurunan TD. 10. atau eritema pada dinding abdomen. malas. Perlakuan jalur arteri. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. 14. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan.000 sampai 225. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan. atau iodofor.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan buang setelah 24 jam. CSS. Kolaborasi 15. makrofag. Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. lesi kulit terlihat. atau sputum bila bayi diintubasi. nasofaring.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. Rasional: ASI mengandung IgA. Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. dan kateter sebagai daerah steril.

Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . 17. 19. b. hipoglikemi. dan PH DBN. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi. Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. 18. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. dan mengubah flora normal bayi baru lahir.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. selain itu. membatasi reabilitas diagnostic. 20. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. KELEBIHAN CAIRAN. sesuai kebutuhan. haluaran. anemia. Bantu dengan pungsi lumbal. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. tetapi pada bayi praterm. H. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial.000/mm3 c. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. atau syok. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. abnormalitas sushu. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin.hari ke hari.

Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. Kadar elektrolit dan PH. jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen. Ukur berat jenis urun.013. dispnea atau takipnea. Pantau haluaran. Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Nitrogen urea darah. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan. 3. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. dan timbang bayi per protocol. Evaluasi hidrasi. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. kadar asam urat. Kolaborasi 6. 4. kreatinin. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan. perhatikan adanya krekels. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal. Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . 7. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam.Intervensi Mandiri 1. atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. ronki. 5. lebih disukai dengan menimbang popok. Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. b. 2. resiko tinggi terhadap.006 sampai 1.

Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE. Perbaiki cairan. melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya. Auskultasi bising usus. elektrolit. dan gangguan asam basa. Pantau bayi terhadap toksisitas obat.8. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. Ukur lingkar abdomen. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. otot – otot abdomen. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. I. ketidakaktivan fisik. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. 9. 2. KONSTIPASI. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi. perubahan motalitas gastric. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan . perbaiki keadaan hipoksik. karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. Intervensi Mandiri 1.

dan tiodak adanya bising usus. seperti distensi abdomen. Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. dan kaki. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. 4. Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. Kolaborasi 9. berikan gosokan pada wajah. risiko tinggi terhadap : nutrisi.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses. Minimalkan penanganan bayi . Bicara pada bayi. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . risiko tinggi terhadap. kekurangan volume cairan . meludah berlebihan. syok dan KID 8. mengakibatkan sepsis.8% bayi praterm. kulit abdomen berkilau atau tegang. 5. Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis. kurang dari kebutuhan tubuh.3. Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. syok. perubahan. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. lengkung usus dapat dilihat. muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan. Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. tangan. 7. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. 6. nyeri tekan. biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. kekakuan. Tes residu gaster.

masa protrombin. penggunaan restrain. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan. 15. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. Siapkan untuk pembedahan. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. 14. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. Pasang selang orogastrik atau NG. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. sesuai kebutuhan. J. 11. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. dapat meningkatkan pemulihan usus. penebalan dinding. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan. 16. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric.10. perubahan status nutrisi. sesuai indikasi. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus. 17. bila diperlukan. KERUSAKAN. 13. INTEGRITAS KULIT. jumlah trombosit.

Minimalkan manipulasi kulit bayi. Inspeksi kulit. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang. jalur I. Hindari penggunaan agens topical keras. 6. Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal. Berikan latihan rentang gerak. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal. Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. Rasional : setelah 4 hari.dan sebagainya. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Intervensi Mandiri 1. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut.Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. perubahan posisi rutin. Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. 5. 3.melindungi pathogen invasive. Berikan jeli petroleum untuk bibir. dan kantung urin. 4. 2.V. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. dapat mengakibatkan sepsis. elektroda. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 7. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. Bebas dari cedera dermal.

tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan. kenalkan tekstur (spatel lidah. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. 4. apatis. iritabilitas. Bicara atau bernyanyi pada bayi. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. permainan. Berikan perawat primer untuk setiap shift. dapat membantu mencegah infeksi. Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. 2. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. efek – efek terapi. Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. 3. mainkan music lembut dalam ruang perawatan. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. khususnya pada waktu pemberian maka. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan. panggil nam.8. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. Bebas dari tanda kelebihan sensori. perubahan tengangan otot. Rasional : memberikan rangsangan taktil. Berikan saleb antibiotic pada hidung. waslap) bila tepat. Rasional : memberikan rangsangan auditorius. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perubahan rangsangan lingkungan. K.

bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori. Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi.5. meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. 7. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual. Gendong bayi setinggi wajah. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. 10. 8. memungkinkan kontak mata. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. 6. Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. Memberikan linea berwarna. Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. 9. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. Kaji respon bayi terhadap rangsangan. 11.

yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. menurunkan retensi lambung. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. Imaturitas. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. adanya beberapa anomaly congenital. 45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. dan kebutuhan /respon individu bayi. kondisi yang menyrtai. meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. dan peningkatan ini. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan. 14. 13. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual. Timbang berat badab bayinsetiap hari. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama. 12. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. 17. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. 16. prognosis. 15. Ukur lingkar kepala.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. tidakdiketahui : 1. yaitu preeclampsia dan eklampsi. c. Faktor ibu  Toksemia gravidarum. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. & Kusuma. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur.b. sifilis. faktor janin. hiperbilirunemia. akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi. Handayani. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu. solusio plasenta 2.  Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis. malaria)  Kronis (misalnya TBC. daya hisap yang lemah dan sebagainya. faktor plasenta. 2003). penyakit jantung. yaitu faktor ibu. misalnya sindrom gangguan pernapasan. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu.

10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. golongan darah ABO) 3. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. & Kusuma. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. telapak kaki halus. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. Handayani. 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. Surasmi. Testis belum turun ke dalam skrotum. 2010. yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . mengakibatkan reflek hisap. 2003). 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. untuk bayi perempuan klitoris menonjol. 11) Tumit mengkilap. 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. 13) Tonus otot lemah.

2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K. hipertensi dan hiperkapnea. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. kekurangan faktor pembeku seperti protombin. sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). faktor VII dan factor Christmas. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). otot yang tidak aktif. Akibatnya bayi menjadi hipoksia. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. Produksi urin yang sedikit. Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea. urea clearance yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2).berat badan. Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.

Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. kulit kering keriput dan mudah diangkat. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. small for dates. Handayani. Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. Setiap bayi baru lahir (prematur. Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants. Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. 2003). panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. distorsi dan parut retina menjadi buta. 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan. dysmature. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit. & Kusuma. fetal malnutrition. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. fibrosis.

umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. 53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang. limpa. 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. Perkembangan dari otak. perdarahan paru yang massif. 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan. 2010). 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya. 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. 2010). hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain). Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. berat hati.. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang.

3) Minum cukup Bagi bayi. susu adalah sumber nutrisi yang utama. Ototototnya juga relatif lebih lemah. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Selama belum bisa mengisap dengan benar. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama. Untuk itulah selama dirawat. Maka dengan demikian. Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. begitu pula dengan kuku dan tali pusat. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS.3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. minum susu digunakan menggunakan pipet. Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal.

Asuhan Keperawatan 1. bayi biasanya boleh dibawa pulang. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ).demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit.tidak ada infeksi.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit. DM. penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b.ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna. Pengkajian a. 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .lanugo dan verniks caseosa banyak. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan.  Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora. Namun. kelainan jantung. Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu .

panjang badan < 45 cm.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok . Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu. menandakan Respirasi Distress Syndrome 5. 3.sutura mungkin mudah digerakkan.lingkar kepala < 33 cm.pernafasan cuping hidung. Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr.2.fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama.kurus. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28.koordinasi refleks untuk mengisap. Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang. Edema kelopak mata umum terjadi .lingkar dada < 30 cm.menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32.lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh.

tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Diagnose Keperawatan a. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. elektrolit) Rasional : hipoksia. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipoglikemia. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. glukosa serum. jalan nafas paten. asidosis metabolic atau hiperkapnea. hipokalsemia. 3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. 2004) 1. yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. asidosis metabolic. khususnya adanya hipoksia. Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. hiperkapnea.

4-37. b. Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. incubator. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu). penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. isolette. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat. pertahankan kepala tetap tertutup. penurunan lemak sub kutan. Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia. periksa suhu rectal pada awalnya.4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan.

Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital. Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh. d.Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. c. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. natrium bikarbonat. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol. Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril. 2) Auskultasi bising usus. perhatikan adanya distensi abdomen. Tujuan : . kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap.

dapat membantu mencegah infeksi. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir. 6) Hindari penggunaan agen topical keras. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. e. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi. 3) Berikan latihan gerak. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang. tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural. Criteria : leukosit normal. yang dapat mengakibatkan sepsis. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung. 60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Intervensi 1) Inspeksi kulit.

Asfiksia Livida (biru) 2. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif.3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian. misalnya : suhu. (Mochtar. letargi tau perubahan perilaku. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran. 2. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. Asfiksia Neonatrum 1. yaitu : 1. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . penimbunan CO2 dan asidosis. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. 2001). 3. Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. 1989). ASI mengandung Ig A. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis. Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. (Saiffudin. makrofag.

Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b. yaitu: a. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c. Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b. Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR.

Tanda Dan Gejala 1. meliputi persalinan lama 3. tonus otot berkurang 6. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. meliputi disproporsi sefalopelvis. Bradikardia 5. Faktor janin. 6. Faktor uterus. dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. Warna kulit sianotik/pucat 7. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. Faktor ibu. obat-obatan. anemia. meliputi amnionitis. Hipoksia 2. diabetes. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). kesulitan kelahiran 5. solusio plasenta.Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak. kelainan congenital. Faktor plasenta. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. Faktor umbilical. Manifestasi Klinik a. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan.Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1. meliputi prolaps tali pusat. meliputi plasenta previa. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. insufisiensi plasenta 4. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. 2. lilitan tali pusat 5.

Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. b. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. c. keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a. hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. nistagmus 8.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit . Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. 64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates.

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a. menunjukkan hemolitik 10. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. 9. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3. kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah.24 menunjukkan status praasidosis.d. Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7.20 sampai 7. Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b.

mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.1. Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. ventilasi aktif harus segera dilakukan. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. 2. ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. usahakan mengikuti gerakan tersebut. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali.

menagndung 2 arteri dan 1 vena 2. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat. 3. 5. nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin. atau efek narkotik yang memanjang.skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. Bunyi jantung. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. edema.kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 11. Penampilan asimetris (molding. Pengkajian 1. sehat. Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit…….. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik). hematoma) Menangis kuat. 40-45mmHg (diastolic).5 menit…. hipoglikemia. Eliminasi Dapat berkemih saat lahir. kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak. apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. Asuhan keperawatan A. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif.

d. ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal). Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal.d. atau perubahan warna harlequin. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. secara umum tidakada sianosis.d. Resiko cedera b. Diagnosa Keperawatan 1. Bebas tanda distress pernapasan. pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat.6. atau pada oksipital). kurangnya suplai O2 dalam darah 3. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep). Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . Keamanan    Suhu terentang dari 36. produksi mucus yang berlebihan. oksigen). Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. bercak port-wine. fleksibel. Intervensi Keperawatan 1. antara alis mata. nevi telengiektatis (kelopak mata. warna merah muda atau kemerahan. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran.  Abrasi kulit kepala mungkin ada B.d. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. Perubahan proses keluarag b.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut. Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan.d. produksi mucus berlebihan 2.

meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. hipertensi karena kehamilan. Tinjau ulang status janin intrapartum. kadar pH kulit kepala. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7.20. termasuk denyut jantung janin (DJJ). dan warna serta jumlah cairan amniotic. oligohidramnion. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. atau deselerasi lambat. perubahan periodic pada DJJ. variabilitas denyut per denyut. Seperti komplikasi prenatal. Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. dan penurunan variabilitas DJJ. variable yang memanjang. kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. atau diabetes). atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus.

sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal. Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan. Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. merupakan yang paling sulit. Pernapasan pertama. Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran.atau distress. Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu.

krekels. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida.kelahiran). pernapasan mendengkur. Pantau nadi apical selama penghisapan. 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. Pada awalnya sehat. retraksi dada. memudahkan upaya pernapasan. meningkatkan PO2 alvolar dan . tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. atau ronki. yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. dan membantu mencegah aspirasi. Keringkan bayi dengan selimut hangat. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. sesuai kebutuhan. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. tempatkan stoking penutup kepala. Ronki menandakan aspirasi sekresi oral. cairan. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis. hisap nasofaring dengan perlahan. dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee.

Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Perhatikan adanya pandangan mata lebar. Akrosianosis. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer. terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. Menandakan hipoksia intrauterus kronis.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium. Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen. Kaji tonus otot. sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan nadi apical. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. namun.

Bila bercak mekonium ada.Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung. pada bayi baru lahir. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum. kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. Berikan tindakan resusitatif. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. Pada kasus hipoksia yang lama. Meningkatkan jalan napas paten. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. penghisapan dalam. diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)). perlu untuk mencegah aspirasi mekonium.

Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin.d. Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi. Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar. 2. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti. dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin. yang sakit. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin. kulit. sesuai indikasi. dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. Intervensi . Mencegah kehilangan panas melalui konduksi.fasilitas tingkat III/IV.

Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan. .kehilangan panas pad bayi baru lahir. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin. kulit lebih besar. Suhu kulit dipertahankan mendekati 36. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan.50C lebih tinggi dari suhu kulit. hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. Suhu inti (rectal) biasanya 0. melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. metabolism dan konsumsi oksigen). Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti. namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin. pertahankan suhu udara 1. ekstremitas fleksi.50C lebih hangat dari suhu tubuh. Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara.50C. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator). Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral. makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin.

vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. sianosis umum. mendengkur berat. bradikardia. Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). retraksi otot pernapasan.belang-belang atau pucat. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan. Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit. dan melepaskan katekolamin adrenal. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia. Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. kulit tangan dan kaki dingin. sesuai indikasi. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. dan pernapasan uping hidung). serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. dan penurunan pernapasan. asidosis. karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi. 3. Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. Resiko cedera b. Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. asidosis dan asfiksia. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali. menentukan usia gestasi. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis.meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus. sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta.d. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

introitus ibu. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi. Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran. Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia.d. Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan. yang mungkin ada pada janin lahir ibu. Perubahan proses keluarag b. 4. Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus.

neonates memungkinkan. dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). 4. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1. Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi. Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan. Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir. Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi.

dan gangguan pertahanan pada host.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. 3. a. f. atau masalahmasalah medis yang lain e. 2. polisitemia. Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. NEC terutama menyerang bayi prematur. kolonisasi bakteri pada intestine. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain.13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital.94% bayi yang terkena adalah bayi premature d. 62% . NEC terjadi pada 2% . malformasi gastrointestinal anatomik. meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. dan pemberian susu formula. Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates. faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain. Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. 7% . Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal.7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b. Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir. NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. seperti prematuritas.

b. lisozim. Pada saat lahir.mediator inflamasi (sitokin). Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. usus belum mampu mencerna makanan dengan baik. a. laktoferin. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. IgA. c. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis. terutama makanan-makanan formula. sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. ileum. IgA. Feeding process Pada neonatus. barrier mukosa belum berkembang dengan baik. Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. Ditambah lagi. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal. termasuk nekrosis dan ulserasi. Saat hal tersebut terjadi. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. radikal bebas. ulserasi. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. aliran darah ke abdomen. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. produk fermentasi bakteri dan toksin. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal. Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. diduga memperparah proses penyakit. dan lactobacillus bifidus growth factor.

5. dan kematian. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. apnea. dan hipoperfusi. dan eritema pada dinding abdomen. berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis. patogenesis NEC adalah multifaktor. karbon dioksida. Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen. Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen. 4. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. muntah empedu. gangguan otot (muscular guarding). Gambaran yang nyata meliputi letargi. Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. Saat NEC berkembang. Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. dan feses yang mengandung darah. dan adanya suatu substrat seperti formula. kolonisasi bakteri usus. meskipun demikian. yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar. syok. aspirasi gaster.membentuk asam organik. Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. perotinotis. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus.

Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut.Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa. Secara khas. komplikasi. Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. dan mortalitas penyakit. NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a. meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7. Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50. Komplikasi a. Komplikasi jangka panjang.6) Koagulasi intravaskular diseminata 6.000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b.

elektrolitserum. transfusi produk darah sesuai keperluan. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. khusunya pada NEC derajat awal. 1) NPO. teraba massa abdomen. istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap. dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. Penatalaksanaan a.b. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. kadar hydrogen dapat meningkat. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC. dan parasentesis yang positif lebih dari 0. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos. hitung platelet. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b.5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. analisis gas adarh. penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 8.

e. Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Abdomen yg distensi g. Dimulai dengan pengenalan awal b. d. elektrolit. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. Pantau tanda vital  perforasi usus. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. septikemia. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini. dan material tinja. 9. Pertimbangan keperawatan a. Pantau platelet. syok kardiovaskular. 2005). Mengontrol infeksi 5. cairan.c. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f. diberikan scr bertahap h. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. d. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. Sepsis Neonatrum 1. dan status asam-basa.

Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu. Neisseria meningitidis.Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes. Salmonella. (Vietha. 2000). Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus. 1. 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. bakteri (streptococcus B). Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi. Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. sering mengalami komplikasi. rubella). Listeria monocytogenes. 3. Sterptococcus pneumoniae. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. Haemophilus influenzae tipe B. 2. 2008) 2.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.

a. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. 4. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. dan kekacauan metabolik yang progresif. Proses kelahiran yang lama dan sulit. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. terhambatnya fungsi mitokondria. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. g. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. Perdarahan b. Demam yang terjadi pada ibu c. pemasangan sejumlah kateter. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. yang bila tidak segera dirawat. Infeksi pada uterus atau plasenta d. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium.

Ibu yang berstatus sosio. protozoa Toxoplasma. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Yang lebih umum. Setelah lahir.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. atau basilus Listeria monocytogenesis. yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. Kurangnya perawatan prenatal. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yaitu : a.Prosedurselamapersalinan. d. ras. dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif).Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu. dan syok. Ketuban pecah dini (KPD) e. 2) Defisiensi imun. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella. Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram). 2005). menyebabkan hipigamaglobulinemia berat.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. Faktor. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. asidosis metabolik.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. b. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun.

3) Kadang. Dengan adanya hal tersebut. paling sering akibat kontak tangan. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.colli.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial). spesies Lactbacillus dan E. aktifitas lintasan komplemen terlambat.colli ditemukan dalam tinjanya. Insidens sepsis pada bayi laki. koksaki. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. seperti steroid. hepatitis. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas. yaitu : 1. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. sitomegalo. bersama dengan penurunan fibronektin. sipilis.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. c. herpes. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. 4) Pada bayi yang minum ASI. dan toksoplasma. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara.tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . influenza. antara lain malaria. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda.

anoreksia. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. yaitu saat persalinan. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. Akibatnya. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . nafas cuping hidung. malas minum. Umum : panas (hipertermi). selang endotrakhea. dispnue. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Saluran cerna: distensi abdomen. Candida albican. kulit lembab. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan. takikardi. Hematologi: Ikterus. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. hipotensi. pucat. kejang.gonorrea..alat : penghisap lendir. perdarahan. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. retraksi. muntah. muntah. merintih. hiporefleksi. tremor. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. jaundice. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Cara lain. malas minum. letargi. purpura. Sistem syaraf pusat: iritabilitas. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. selang nasogastrik. sianosis 4. Infeksi paska atau sesudah persalinan. kejang. bradikardi 5. tidak kuat menghisap. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. diare. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu. Saluran nafas: apnoe. diare. 3. sklerema 2. Pada masa intranatal atau saat persalinan. takipnu. infus. hepatomegali 3.2003) 5.2. petekie. ubun-ubun membonjol 6. 1. botol minuman atau dot). terjadi amniotis dan korionitis. sianosis.dan N. pernapasan tidak teratur. splenomegali. Sistem kardiovaskuler: pucat.

7. rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus. Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. dan untuk menentukan prognosis. sitokin IL-6. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. memantau kemajuan pengobatan. dan hitung trombosit. nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. IL8. kemerahan. CRP. GCSF. dan hematological indices pada hari ke-0). tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. 6.Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a. Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. petunjuk untuk penggunaan antibiotik. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . CRP. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. kejang. dan panel skrining sepsis. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. neutrofil imatur. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. TNF. spesifisitas lebih dari 85%. IL6 (atau IL1-ra 0. Saat ini. kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR). G-CSF. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. hitung neutrofil. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). prokalsitonin.

dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i. foto polos dada.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis). Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. tak mau menghisap. trombosit. 2. pengecatan Gram). foto abdomen. urine dan feses (atas indikasi). 4. pemeriksaan CRP kuantitatif).v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). lengkap. 5. feses lengkap. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. transfusi tukar. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap. plasma. kejang. 6. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. pemeriksaan darah dan CRP normal. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. terapi oksigen/ventilasi mekanik. CRP tetap abnormal. kimia. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. analisa gas darah. terapi syok.v i. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.m (atas indikasi khusus). lemah. cairan serebrospinal. USG kepala dan lain-lain.m/i. Pengkajian a. urine. gula darah. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. letargi. terapi kejang. kultur darah.  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning. koreksi metabolik asidosis.1. 3. Asuhan Keperawatan A. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. Identitas klien b. transfusi darah. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

vascular frekuensi nadi. adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. 3. hematoma spontan. napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah.ekimosis. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

H. (2010). Buku saku keperawatan pediatric. Sinopsi obstetric. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2002. 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 1997. & Kusuma. Cecily Lynn. (2004). Sowden. LJ. Mochtar. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. et al. (2003). A. Linda A. E. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC.. 2001. Hawa. 2007. A. Jakarta: EGC. N.5.. Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. 2009. Edisi 6. Berkow & Beers. Carpenito. Edisi 2. Handayani. N. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. 2004. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Jakarta : EGC. Rahayu D P. Paulette S.hon. Surasmi.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik. Jakarta : EGC. S. edisi 4. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Doengoes. Ed. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro.DAFTAR PUSTAKA Betz. 2000. Saifuddin AB. Rustam. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. Jakarta: EGC. Marilyn E. Diagnosa Keperawatan. Adriaansz G. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. Sitohang. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. 1998. Jakarta: EGC. Aplikasi pada Praktek Klinis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->