MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. pascaterm. Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. term.Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). 2006). 2005). 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan post term. Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang.BAB II PEMBAHASAN A. 2006): 1. Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. dismatur dapat terjadi dalam preterm. Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). 2. Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline). Frematur 1. Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan . Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. 2008). atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak.

Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas. lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .8% seluruh kelahiran hidup. tetapi lebih parah Kulit lebih tipis.

diabetes mellitus. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. baik usia gestasi maupun berat lahirnya. 2006).. 2006). Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah. Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. 2006). dan nefritis akut (Sitohang. Pada umumnya. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. d. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum. toksemia gravidarum. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. 2. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang. ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik. b. Sebab lain: ibu perokok. trauma fisik dan psikologis. makin medndekati nilai normal aterm. Etiologi 1) Faktor Ibu a. 2005). bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak. 2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . c. Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya.dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.. tidak memiliki lemak. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang.

Patofisiologi 4. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang.  Keadaan gizi ibu 6. dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar. 2006). tidak mau minum. lemah. perokok. kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat.Hidramnion. 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang. apatis. pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain. alcohol. jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat. kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM.  Penyakit ibu 8.Faktor ibu 5. leher kaku. 3. 2006).  Usia ibu 7.

Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. batuk belum sempurna d. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Pneumonia. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b. 2006): 1. Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik. menelan. 8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2006): a. Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang.4. Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3.

Reflex menghisap masih lemah. 2006). pemberian makanan dan bila perlu oksigen. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang. 2006). sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius. mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Bila inkubator tidak ada. Bila faktor menghisapnya kurang. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang. Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. enzim pencernaan belum matang. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. lambung kecil. 2006). 2006).6. tetapi frekuensi yang lebih sering. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. karena daya tahan tubuhnya masih lemah. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. ASI merupakan makanan yang paling utama. sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang. b. a. karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung. c.

Dengan demikian. menelan. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32. retraksi suprastrenal atau substernal. Oleh karena itu. 4. komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28.  Pernapsan mungkin dangkal. sutura mungkin mudah digerakkan. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32. tidak teratur. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.sempurna.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.  Edema kelopak mata umum terjadi. kurus. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. pernapasan cuping hidung. lemas denga perut agak gendut.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Neurosensori  Tubuh panjang. koordinasi refles untuk menghisap. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. 2006).

11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . warna mungkin merah muda atau kebiruan. rentang kehamilan dekat. dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin.  Kuku mungkin pendek. dijual bebas atau obat jalanan. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. kehamilan praterm sebelumnya. adanya infeksi. komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae. dilatasi serviks premature. dengan klitoris menonjol. menandakan sindrom distress pernapasan (RDS). seperti usia muda. nutrisi buruk. atau sianosis/pucat.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak. 1. 6. inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. atau penggunaan obat yang diresepkan. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar. ketuban pecah dini (KPD). .profil paru janin. akrosianosis. Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). latar belakang social ekonomi rendah. 5. gestasi multiple. mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang. testis pria mungkin tidak turun. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.

PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. 12. 19. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius. 15. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. 6. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). 4. sepsis. 7. Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. atau kesulitan napas yang lama. 18. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas. cedera ginjal. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. menunjukkan respons inflamasi akut. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat.006 sampai 1. 16. 13. Berat jenis urin: rentang antara 1. meningkat pada dehidrasi. Elektrolit (Na++. 17. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis.2. 10. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat. Produk split fibrin: Ada pada KID. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses.013.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita). Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. 3. 9. Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. 14. K+. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. 8. Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. 11. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis.

5. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. agar skor. Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. hipoksia. ketidakadekuatan kadar surfaktan. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). imaturitas otot arteriol pulmonal. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. sianosis. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. 22. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. 5. termasuk betametason. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. TUJUAN PULANG 1. ketidakefektifan bersihan jalan napas. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. 3. dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. 4. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. dan stress dingin. Selain itu. Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. takpne. menderita RDS minimal. seperti lama persalinan. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. Intervensi Mandiri 1. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. 2.21. Mempertahankan lingkungan termal yang netral. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. bebas dari displasia bronkopulmonal. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. 4. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. tipe kelahiran. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. 3. 2. Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann. anemia.

Kaji status pernafasan. Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g). Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pria 2 kali rentnnya dari pada wanita.( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan). yang mengontrol pernafasan. Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. ronki. hipoksmia asedemia. Rasional: menandakan distres [pernafasan .atau imaturotas otot areterior. 3. 4. Perhatian usia gestasi. pernafasan cuping hidung . perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . catat kadar tiap jam.rendah. berat badan. sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. dan jenis kelamin. ubah sisi alat setiap 3-4 jam. mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. kemudian mencapai plateau. Selain itu. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan. 2. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. retraksi. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati. mengorok. pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. retraksi. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA. 5. atau krekels). Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas.

atau disritmia jantung.5F). 6. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. hiposemia.Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. 9. Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi . dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan. bronkospasme. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. 10. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi .tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks. 7. pergeseran btitik tampak maksimal. Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis. penonjolan dndinng dada.7F (dalam 0. Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tidak efektifresiko tinggi terhadap). resiko tiggi terhadap. resiko tinggi terhadap). menyebabka bradikardi. Tingkatan istirahat. 11. Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. penurunan atau tidak adanya bunyi napas.Rujuk pada DK: termoregolasi. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler. 8. hipotensi. biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi. dapat meningkatkan asidosis. diare. Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS. Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental.

imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. kadar paco2 haru 35-45mmhg.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus. Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi. dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka . selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV). Rasional : atelektasis. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. 13. 15. 16. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan saturasi oksigen harus 92%-94%. 17. Rasional : hopoksemia. grafik seri GDA. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. pengulangan pengambilan sampel darah. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). Kolaborasi 12. Hb/Ht. Tinjau ulang seri sinar x dada. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi. Pantau pemeriksaan laboratorium. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan.kongesti. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. dengnanmasker kap. dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas.( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium).Rasional . 14. Hiperkapnia . dengan teta. pertumbuhan cepat. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian.

Natrium bikarbonat. Fisioterapi dada. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a.kapiler. Mulai drainase postural. Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal. Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI. menghemat energi. 22. Surfaktan(artifisial atau eksogen). ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). perhatikan toleransi bayi terhadap proedur. 21. POLA PENAPASAN. Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. atau vibrasi lobus setiap 2jam. b. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis. Aspirasi isi lambung untuk tes shake.. B. sesuai indikasi. TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan.(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. 20. Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. bila tepat. penurunan energi. meningkatkan istirahat. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau pemasangan selang dada. 19. keterbatasan perkembangan otot. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. 18. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis. yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Surfaktan.

Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. resiko tinggi terhadap).( mis. tonus jantung. atau hiperkapnia. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi. penggunaan bantuan otot. khususnya pada adanya hipoksia. tidak efektif. takipneaa. 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. tonus otot. bradikardi. periode aonea. yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. 2. Berikan rangsangan taktil yang segera. Pergatikan adanya sianosis. pernafasan cuping hidung. Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. Anjurakan kontak orang tua. Intervensi Mandiri 1. 5. atau hipotonia. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung .(rujuk pada DK: termoregulasi . GDA abnormal.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea. Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas. takikardia. 3. asidosis metabolik. Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. 6. Pertahankan suhu tubuh optimal. Ikan 4. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat). Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu. sianosis .

hipoglekimia. Kolaborasi 8. f. perubahan. Rasional. Tempatkan bayi pada matras bergelombang. c. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida.Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. kurang dari kebutuhan tubuh. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kalsium glukonat. Berikan oksigen sesuai indikasi. Larutan glukosa. menurunkan frekuensi apnea. Natrium bikarbonat. 7.mdan kadar obat) sesuai indikasi.dan sepsis dapat memperberat serangan apneik. (Rujuk pada DK: nutrisi. sesuai indikasi: a. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. kultur.(rujukan pada DK: pertukaran gas. Pankuronium bromida (pavulon). glikosa serum. kerusakan). GDA. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka. Kadang-kadang. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis. yang dapat menurunkan kejadian apneik. Rasional : memperbaiki asidosis. 10. hipokalsemia. Antibiotik. resikotinggi terhadap). Berikan obat-obatan. hiperkapnia. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan. Aminoflin. e.. asidosis metabolik. yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama. Rasional: hipoksia. Rasional: mencegah hipoglikemia. elekrolit. b. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. 9. bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . Toksisitas obat. Rasional: gerakan memberikann rangsangan. d.

tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat . atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. respons mati terhadap hipotermia. dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka. 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang. penurunan lemak subkutan . Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. dan pakaian. TIDAK EFEKTIF. isolette. keterbtasan simpanan lemak coklat . TERMOLEGULASI. selanjutnya. Intervensi Mandiri 1. ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. Cadangan metabolik buruk. Rasional.1 F(35. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat. Periksa suhu rektal pada awalnya.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin.) 2. linen. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia). Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95. Gunakan lampu pemanas selam prosedur.C. 3. Kaji suhu dengan sering. Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen.5-37. RESIKO TINGGI TERHADAP. Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. Rasional . seperti stetosko.999. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. incubator. Objek pans dengan tubuh bayi. Tempatkan bayi pada penghangat.

(catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. Pantau penambahan berat badan berturut-turut. Pantau system pengatur suhu. terlalu tinggi. akrosianosis .6oF. Kaji haluaran dan berat jenis urin. menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. 6. 11. Pertahankan kelembapan relatif 50-80%. 10. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. 5. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. (pertahankan batas atas pada bayi 98. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi. saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. 7. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. menangis buruk. evaluasi derajat dan lokasi ikterik. kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol.) 9. mencegah evaporasi berlebihan . penyebar hangat. atau kulit belang: bradikardia .4. atu latergi . Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. atau incubator. yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. Bila penambahan berat badan tidak adekuat. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme. 8. dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . tergantung pada ukuran atau usia bayi). Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi.

) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . koma atau aktifitas kejang . Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. Perhatikan perkembangan takikardia. khusunya dengan orangtua. Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat. atau pada suhu ruangan. letarge. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu. 13. distensi abdomen. warna kemerahan . Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. atau sinar matahari). Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera. Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. lampu pemanas.apnea. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan. GDA.70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan.20C). 12. Rasional: kontak di luar tempat tidur. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis. (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . 16. Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan. diaforesis.) 15.. Evaluiasi sumber eksternal ( mis.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh . dan kadar bilirubin). atau apatis. serum. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: . Pantau dextrosix. Glukosa. Kolaborasi 17. foto terapi.alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97. memerlukan peningkatan suhu lingkungan.. 14. Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator. elektrolit. Kaji bayi terhadp muntah. (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua.

Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. 20. sesuai indikasi : a. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. b. mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat. Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. 19. kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. bila diperlukan. 18. Fenobarbital. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. dibawah 2500 g). Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. kurang lapisan lemak. Berikan obat-obatan. D. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin). peningkatan suhu lingkungan. 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam. atau setiap 2-4 jam. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari. Intervensi Mandiri 1. 3. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium.013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH. Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Ht. 2. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari.006 – 1. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena. berat jenis urin bervariasi. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori. kadar lebih besar dar 1.013). dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan. Rasional. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam. dan berat jenis urin DBN. Rasional. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual].

glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. peningkatan apnea. sesuai indikasi. atau aktivitas kejang. Berikan kalium klorida. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata). TAR lebih rendah). Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. meningkatkan resiko dehidrasi. Pantau tekanan darah (TD). Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. 5. 6. 9. Perhatikan letargi. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. menangis dengan nada tinggi. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. 10. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. 7. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. keadaan fontanel anterior. membran mukosa. Evaluasi turgor kulit. nadi. suhu termonetral. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. dan magnesium sulfat 50%. membran mukosa kering. distensi abdomen. Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. 8. kedutan. Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit. hipotonia. mis. dan fontanel cekung. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. bayi lebih kecil. kalsium glukonat 10%. Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan.4.

sepsis. 14. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. Berikan transfusi darah. atau hipoglikemia.53%. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. khususnya pada PDA. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . Berikan dopamin hidroklorida. atau gagal ginjal. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. dan nekrosis. ata muntah. Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon. bila diberikan melalui arteri umbilikal. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. b. (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. Kolaborasi 13. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah.jantung. Kalsium serum dan magnesium serum. depresi rangsang paratiroid. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah. c. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan. asidosis. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. Kalsium serum. dan stress karena hipoksia. asidosis. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar. atau enterokolitis nekrotisan (NEC). diare. 11. sperti kerapuhan. Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah. displasia bronkopulmonal (BPD). Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. kalsifikasi. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis. 12. sesuai indikasi.

Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral. postur tonik. resiko tinggi terhadap). yang diikuti dengan apnea. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. Pantau kadar Dextrostix. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Intervensi Mandiri 1. kurang dari kebutuhan tubuh. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. tidak berespons. atau aktifitas kejang. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. letargi. KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. kejang mioklonik. dan arefleksia. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. kerusakan). 2. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. CEDERA. flaksid kuadriparese. Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. peningkatan bilirubin). perpindahan elektrolit. (Rujuk DK: pertukaran gas. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. glukosa serum. hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. mata terbalik. Kaji upaya pernapasan. penonjolan atau ketegangan fontanel. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. kacau mental. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. perubahan faktor pembekuan. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau mata terbalik). dan sianosis. pernapasan yang sulit. hipotensi. meningkatkan resiko ruptur. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. RISIKO TINGGI TERHADAP. (Rujuk DK : Nutrisi. Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang. 3. perubahan. kedutan.PDA. hipotonia. Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. Bila tidak teratasi. E.

Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi. GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen. meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu. hiperrefleksia. Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. 4. 5. Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. syok hemoragi. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK). 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan opistotonus. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada. Kaji warna kulit. atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. Pantau pemeriksaan laboratorium. Ht / Hb. b. Ukur lingkar kepala. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. sangat samar. kacau mental. c. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. sesuai indikasi.Rasional: Trauma kelahiran. kapiler rapuh. Kolaborasi 6. sesuai indikasi : a. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak.

Ventrikulopunksi atau tap. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. natrium bikarbonat. c. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. a. meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sesuai indikasi: Kalsium. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi. a.7. b. 8. yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. Berikan obat-obatan. dan atau glukosa. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). ultrasonografi kranial. b. magnesium. yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. e. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel. d. Penempatan pirau ventrikuloperitoneal.

menghisap. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. atau steroid. f. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. kapasitas lambung kecil. Furosemid. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. Intervensi Mandiri 1. Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. PERUBAHAN. menelan. NUTRISI. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. e. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan. dan batuk). Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah). otot abdominal lemah. F. refleks lemah. kerusakan SSP dengan perdarahan.c. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak). (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. d. imaturitas sfingter kardia. tidak ada. gag. atau palsi serebral). asetazolamid. dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari. 9. Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal.

semua ini menurunkan status pernapasan. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi. Auskultasi terhadap adanya bising usus. jadwal pemberian makan perlu diubah. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. 6. derajat kelelahan. 5. 3. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. 8. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. 2. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. 7. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit. ibu dapat menggosok dot pada payudara. peningkatan resiko aspirasi. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. dan distensi abdomen. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. 4. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Bila distress pernapasan ada. cairan perenteral diindikasikan. Kaji status fisik dan status pernapasan. frekuensi pernapasan. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. dan cairan peroral harus ditunda. Bila > 2 ml diaspirasi.

biasanya septikemia Candida. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. 10. glukosa. 11. Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. hipoksia. Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. dengan tepat. resiko hipoglikemia meningkat. 13. Kolaborasi 14.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. dispnea. Perhatikan adanya diare. Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis. peningkatan suhu. untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. trombosis pembuluh darah. (Rujuk pada DK: konstipasi. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. regurgitasi. muntah. 12. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung. Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. dan ASI atau formula. 9. Mulai pemberian makan dengan air steril. atau hasil positif dari tes guaiak. Rasional: Stress dingin. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . residu lambung berlebihan. atau sianosis). muntah. dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. resiko tinggi terhadap).

Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. 18. serta bahaya menekan ginjal imatur. mineral. C. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. sindrom malabsorpsi. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). dengan protein 3-4 g/kg/hari. Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. nasoduodenal). dan zat besi. takipnea. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. 16. Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme.Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. D. elektrolit. penyakit paru kronis. 19. Pertahankan kepatenan. ketergantungan respirator. (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. 15. khususnya vitamin A. glukosa. obstruksi. sesuai indikasi. 17. dan E. nasojejunal. Berikan vitamin dan mineral.

dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. urin. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. pemajangan transplasental). protein total. mis. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). INFEKSI. Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. jaringan trauma. Tinjau ulang catatan kelahiran. lama pecah ketuban. pemajangan lingkungan (KPD. 2. Pantau pemeriksaan laboratorium. kulit rapuh. Intervensi Mandiri 1. trombosit. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden. prematuritas yang ekstrem. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz. Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. prosedur invasif. CSS. glukosa serum. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri.nekrotisan. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru). elektrolit. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. dan adanya korioamnionitis. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI. 20. Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. dan tanda vital DBN. Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. kadar pH.

herpes simpleks aktif (oral. kongesti nasal. triplet dye. mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi. orangtua. atau paronisial). dan pekerja lain perprotokol. atau takipnea). Buat kelompok bayi. infeksi pernapasan akut. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. 6. ikterik. distres pernapasan (apnea. dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. atau drainase dari mata atau umbilikus. Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). demam. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). gastroenteritis.ASI. atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. 5. seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit. 3. Rasional: Penggunaan alkohol lokal. Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. petekie. genital. 4. 7. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara. luka basah. dan herpes zoster. 8. letargi atau perubahan perilaku. bila mungkin. dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. sianosis. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi.

Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. dan netrofil. Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia. dan kateter sebagai daerah steril. limfosit. CSS. 14. makrofag. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam.9. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. Dapatkan specimen. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. dan buang setelah 24 jam. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. atau sputum bila bayi diintubasi. 10. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan. atau nebulasi. Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13. irigasi. 16. penurunan TD. Kolaborasi 15. Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. atau eritema pada dinding abdomen. 12. 11. atau iodofor. ambil spesimen darah pada waktu yang sama. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. Berikan ASI untuk pemberian makan. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban. lesi kulit terlihat. Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan. Seri jumlah SDM dan diferensia.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: ASI mengandung IgA. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan. iodin tingtur.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. bila tersedia. seperti bradikardia. malas. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. Perlakuan jalur arteri. stopkok.000 sampai 225. darah. nasofaring. edema. ketidakstabilan suhu.

anemia. b. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. KELEBIHAN CAIRAN. hipoglikemi. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. H. selain itu. tetapi pada bayi praterm. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . haluaran. 20.hari ke hari. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri. ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial. Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. atau syok.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. Bantu dengan pungsi lumbal.000/mm3 c. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . membatasi reabilitas diagnostic. membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. dan mengubah flora normal bayi baru lahir. 19. Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. 18. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi. abnormalitas sushu. 17. dan PH DBN. sesuai kebutuhan.

Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. kadar asam urat. Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. dan timbang bayi per protocol. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. Kadar elektrolit dan PH. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. perhatikan adanya krekels. b. ronki. lebih disukai dengan menimbang popok. atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. 2. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat. Evaluasi hidrasi. Ukur berat jenis urun. 7. Pantau haluaran. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .013. 3.006 sampai 1. kreatinin. Kolaborasi 6. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam.Intervensi Mandiri 1. Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. Nitrogen urea darah. 5. 4. dispnea atau takipnea. resiko tinggi terhadap. Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1. jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan.

Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. Pantau bayi terhadap toksisitas obat. ketidakaktivan fisik. I. Ukur lingkar abdomen. Perbaiki cairan. Auskultasi bising usus. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE. karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. dan gangguan asam basa. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual.8. Intervensi Mandiri 1. Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. perubahan motalitas gastric. KONSTIPASI. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. elektrolit. melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan . perbaiki keadaan hipoksik. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. 9. Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. otot – otot abdomen.

kekakuan. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. 5. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. Kolaborasi 9. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. seperti distensi abdomen.8% bayi praterm. kurang dari kebutuhan tubuh. 6. biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses. lengkung usus dapat dilihat. syok dan KID 8. tangan. berikan gosokan pada wajah. Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis. kulit abdomen berkilau atau tegang. Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . dan tiodak adanya bising usus. meludah berlebihan. perubahan. Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen.3. Tes residu gaster. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. nyeri tekan. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. 4. 7. Bicara pada bayi. muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan. mengakibatkan sepsis. syok. kekurangan volume cairan . Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. risiko tinggi terhadap. Minimalkan penanganan bayi . Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . risiko tinggi terhadap : nutrisi. dan kaki.

17. 15. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. sesuai indikasi. penebalan dinding. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. sesuai kebutuhan. masa protrombin. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus.10.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dapat meningkatkan pemulihan usus. Siapkan untuk pembedahan. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric. 14. tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. 11. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. jumlah trombosit. 13. 16. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12. Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. penggunaan restrain. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. INTEGRITAS KULIT. Pasang selang orogastrik atau NG. perubahan status nutrisi. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu. bila diperlukan. J. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan. KERUSAKAN.

Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Hindari penggunaan agens topical keras. Intervensi Mandiri 1. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. Bebas dari cedera dermal. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal. Minimalkan manipulasi kulit bayi. Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab.melindungi pathogen invasive. perubahan posisi rutin. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . Inspeksi kulit. 2.Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. elektroda.dan sebagainya. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. 4.V. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal. dan kantung urin. 7. 3. Berikan jeli petroleum untuk bibir. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. jalur I. Rasional : setelah 4 hari. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit. 5. Berikan latihan rentang gerak. 6. dapat mengakibatkan sepsis. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis.

panggil nam. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. K. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : memberikan rangsangan auditorius. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan. 4. Bicara atau bernyanyi pada bayi. dapat membantu mencegah infeksi. efek – efek terapi. waslap) bila tepat. permainan. kenalkan tekstur (spatel lidah. Berikan saleb antibiotic pada hidung. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. perubahan tengangan otot. apatis. khususnya pada waktu pemberian maka. 3. perubahan rangsangan lingkungan.8. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. 2. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka. Bebas dari tanda kelebihan sensori. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. Berikan perawat primer untuk setiap shift. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori. iritabilitas. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan. Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. Rasional : memberikan rangsangan taktil. mainkan music lembut dalam ruang perawatan.

Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. 8. Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. memungkinkan kontak mata. Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. 11. 10. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kaji respon bayi terhadap rangsangan. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual. Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur.5. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori. 9. Memberikan linea berwarna. bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. Gendong bayi setinggi wajah. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. 7. meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi. 6.

12. Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan. menurunkan retensi lambung. dan peningkatan ini. kondisi yang menyrtai. prognosis. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. 45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama. Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. dan kebutuhan /respon individu bayi. adanya beberapa anomaly congenital. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. Imaturitas. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. 15. Timbang berat badab bayinsetiap hari. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. 17. 16. 14.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual. Ukur lingkar kepala. meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. 13. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

hiperbilirunemia. daya hisap yang lemah dan sebagainya. solusio plasenta 2.  Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis. c. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. 2003).b. yaitu faktor ibu. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. faktor plasenta. malaria)  Kronis (misalnya TBC. yaitu preeclampsia dan eklampsi. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. penyakit jantung. inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. & Kusuma. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. tidakdiketahui : 1. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. sifilis. misalnya sindrom gangguan pernapasan. Handayani. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. faktor janin. Faktor ibu  Toksemia gravidarum. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella.

Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. 2003). 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. telapak kaki halus. 13) Tonus otot lemah. 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. untuk bayi perempuan klitoris menonjol. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. golongan darah ABO) 3. Testis belum turun ke dalam skrotum. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. & Kusuma. 10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. Handayani. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 2010. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. mengakibatkan reflek hisap. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. Surasmi. 11) Tumit mengkilap. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang.

kekurangan faktor pembeku seperti protombin. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur. otot yang tidak aktif. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). urea clearance yang rendah. asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2). 2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya bayi menjadi hipoksia. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. faktor VII dan factor Christmas. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. Produksi urin yang sedikit. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik. 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. hipertensi dan hiperkapnea.berat badan. Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea.

Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. Handayani. kulit kering keriput dan mudah diangkat. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. dysmature. small for dates. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut. fibrosis. fetal malnutrition. yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. 2003). Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants.darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. Setiap bayi baru lahir (prematur. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. & Kusuma. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. distorsi dan parut retina menjadi buta. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya.

yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang. Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang. 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. limpa. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat. 2010). Perkembangan dari otak. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. perdarahan paru yang massif.. 53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur. hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain). cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. berat hati. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan. 2010). berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya.

begitu pula dengan kuku dan tali pusat. 3) Minum cukup Bagi bayi. minum susu digunakan menggunakan pipet. susu adalah sumber nutrisi yang utama. Untuk itulah selama dirawat. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama.3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. Selama belum bisa mengisap dengan benar. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. Maka dengan demikian. Ototototnya juga relatif lebih lemah. di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil.

 Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit. penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b. Namun. DM. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. Pengkajian a. kelainan jantung. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan.lanugo dan verniks caseosa banyak.demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ). bayi biasanya boleh dibawa pulang. Asuhan Keperawatan 1. Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu . 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna.tidak ada infeksi.

Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang. menandakan Respirasi Distress Syndrome 5.lingkar dada < 30 cm.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .sutura mungkin mudah digerakkan.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama.mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .2. Edema kelopak mata umum terjadi .fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4.kurus.lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu. Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr.pernafasan cuping hidung.pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok .panjang badan < 45 cm. Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.koordinasi refleks untuk mengisap.lingkar kepala < 33 cm. 3.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu.

irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. 2004) 1. asidosis metabolic. Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. glukosa serum. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. hipokalsemia. elektrolit) Rasional : hipoksia. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . asidosis metabolic atau hiperkapnea. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. khususnya adanya hipoksia. hiperkapnea. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. hipoglikemia. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. jalan nafas paten. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas. yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. Diagnose Keperawatan a. 3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung.

penurunan lemak sub kutan. b. pertahankan kepala tetap tertutup.4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan. Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia.4-37. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat. isolette. incubator. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. periksa suhu rectal pada awalnya.6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu). tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka.

Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap.Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. c. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. perhatikan adanya distensi abdomen. Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . d. 2) Auskultasi bising usus. memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital.Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia. natrium bikarbonat. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar. Tujuan : . 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril. kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol.

dapat membantu mencegah infeksi. e. yang dapat mengakibatkan sepsis. 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi. Criteria : leukosit normal. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang. 3) Berikan latihan gerak. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural.Intervensi 1) Inspeksi kulit. 6) Hindari penggunaan agen topical keras. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung. 60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir.

ASI mengandung Ig A. makrofag. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. Asfiksia Livida (biru) 2. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. 2001). Asfiksia Neonatrum 1. Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian. 3. (Mochtar. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. 1989). (Saiffudin. limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran. misalnya : suhu. penimbunan CO2 dan asidosis. 2. letargi tau perubahan perilaku. yaitu : 1. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis.

Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yaitu: a. Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR.Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d. Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4.

Hipoksia 2. meliputi amnionitis. Faktor umbilical. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). Faktor ibu.Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Bradikardia 5. kesulitan kelahiran 5. meliputi prolaps tali pusat. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. 6. obat-obatan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. kelainan congenital. hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. Faktor plasenta. Tanda Dan Gejala 1. diabetes. Warna kulit sianotik/pucat 7. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Faktor uterus. lilitan tali pusat 5. insufisiensi plasenta 4. anemia. meliputi disproporsi sefalopelvis. Manifestasi Klinik a. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Faktor janin. meliputi plasenta previa. solusio plasenta. RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. meliputi persalinan lama 3. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. 2. tonus otot berkurang 6. tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik.Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1.

Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a. halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium. c. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. 64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates. b. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. nistagmus 8.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit . hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.

kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah. Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7.d. Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3. 9. tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a.20 sampai 7. menunjukkan hemolitik 10. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .24 menunjukkan status praasidosis. Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b.

Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. ventilasi aktif harus segera dilakukan. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas. Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. usahakan mengikuti gerakan tersebut. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. 2. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali.1.

apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. Pengkajian 1.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. 11. Bunyi jantung. edema. hematoma) Menangis kuat. Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit……. Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. 5.kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat. Asuhan keperawatan A. Eliminasi Dapat berkemih saat lahir.5 menit….. Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4. menagndung 2 arteri dan 1 vena 2. atau efek narkotik yang memanjang. 3. hipoglikemia.skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. Penampilan asimetris (molding. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik). kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak. nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin. sehat. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). 40-45mmHg (diastolic).

d.d. bercak port-wine. produksi mucus yang berlebihan.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut.d. ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal). Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan. secara umum tidakada sianosis.d. Diagnosa Keperawatan 1.6. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. fleksibel. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep). Intervensi Keperawatan 1. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. Bebas tanda distress pernapasan. nevi telengiektatis (kelopak mata. atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. atau pada oksipital). kurangnya suplai O2 dalam darah 3.d. antara alis mata. Perubahan proses keluarag b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. produksi mucus berlebihan 2. Keamanan    Suhu terentang dari 36. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal.  Abrasi kulit kepala mungkin ada B. Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . atau perubahan warna harlequin. pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. warna merah muda atau kemerahan. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran. Resiko cedera b. oksigen).

Seperti komplikasi prenatal. meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. dan penurunan variabilitas DJJ. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. variable yang memanjang. Tinjau ulang status janin intrapartum. atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . oligohidramnion. kadar pH kulit kepala.3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. dan warna serta jumlah cairan amniotic. atau deselerasi lambat. atau diabetes). perubahan periodic pada DJJ. termasuk denyut jantung janin (DJJ). variabilitas denyut per denyut. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7. Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus.20. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. hipertensi karena kehamilan.

merupakan yang paling sulit. sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran. Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal. Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pernapasan pertama. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan. Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu.atau distress. Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal.

dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee. dan membantu mencegah aspirasi. retraksi dada. Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. hisap nasofaring dengan perlahan. tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. pernapasan mendengkur. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. memudahkan upaya pernapasan. Pada awalnya sehat. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. sesuai kebutuhan. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. cairan. Ronki menandakan aspirasi sekresi oral. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis. meningkatkan PO2 alvolar dan .kelahiran). Pantau nadi apical selama penghisapan. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. tempatkan stoking penutup kepala. Keringkan bayi dengan selimut hangat. 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. krekels. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. atau ronki.

terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. Menandakan hipoksia intrauterus kronis. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. Akrosianosis. Perhatikan nadi apical. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium. sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. Kaji tonus otot. Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. Perhatikan adanya pandangan mata lebar. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . namun. Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen.

penghisapan dalam. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. Bila bercak mekonium ada. Berikan tindakan resusitatif. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung. Pada kasus hipoksia yang lama. pada bayi baru lahir. dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. Meningkatkan jalan napas paten. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)).Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. perlu untuk mencegah aspirasi mekonium. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum.

kulit. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi. Intervensi . 2. Mencegah kehilangan panas melalui konduksi. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar. Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin. Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat.d. yang sakit. dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya. Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. sesuai indikasi. Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin.fasilitas tingkat III/IV.

pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat. namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin. Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral. ekstremitas fleksi. makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin. pertahankan suhu udara 1.kehilangan panas pad bayi baru lahir. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin. melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan. Suhu inti (rectal) biasanya 0. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator).50C lebih tinggi dari suhu kulit. metabolism dan konsumsi oksigen).50C lebih hangat dari suhu tubuh. Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara. Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan.50C. Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. . Suhu kulit dipertahankan mendekati 36. kulit lebih besar.

Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia.belang-belang atau pucat. Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). asidosis. kulit tangan dan kaki dingin. dan melepaskan katekolamin adrenal. serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia. retraksi otot pernapasan. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. mendengkur berat. bradikardia. sesuai indikasi. Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. sianosis umum. vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit. karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan pernapasan uping hidung). dan penurunan pernapasan.

Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. 3. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis. Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali.meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus. sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi.d. Resiko cedera b. Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. asidosis dan asfiksia. menentukan usia gestasi.

Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia. Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir. Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran.introitus ibu. Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka.d. Perubahan proses keluarag b. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . 4. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua. Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi. yang mungkin ada pada janin lahir ibu. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan.

dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan. 4. membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1. Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi.neonates memungkinkan.

2. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain. dan gangguan pertahanan pada host. dan pemberian susu formula. Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir. NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .94% bayi yang terkena adalah bayi premature d. atau masalahmasalah medis yang lain e. Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal. polisitemia. 62% . Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal. NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. f. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil.7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b. a. Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. NEC terjadi pada 2% . Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. 3.13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital. kolonisasi bakteri pada intestine. malformasi gastrointestinal anatomik. NEC terutama menyerang bayi prematur. seperti prematuritas. keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain. 7% .

IgA. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis. lisozim.mediator inflamasi (sitokin). Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. Saat hal tersebut terjadi. Feeding process Pada neonatus. dan lactobacillus bifidus growth factor. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. usus belum mampu mencerna makanan dengan baik. Ditambah lagi. laktoferin. barrier mukosa belum berkembang dengan baik. b. c. aliran darah ke abdomen. radikal bebas. ileum. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. produk fermentasi bakteri dan toksin. termasuk nekrosis dan ulserasi. IgA. terutama makanan-makanan formula. sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal. ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. ulserasi. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. Pada saat lahir. a. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. diduga memperparah proses penyakit. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal.

Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. muntah empedu. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. dan feses yang mengandung darah. dan hipoperfusi. yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar. Saat NEC berkembang. 4. dan kematian.membentuk asam organik. meskipun demikian. dan eritema pada dinding abdomen. dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif. kolonisasi bakteri usus. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus. berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis. mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). apnea. aspirasi gaster. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. dan adanya suatu substrat seperti formula. patogenesis NEC adalah multifaktor. perotinotis. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. 5. Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen. syok. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen. menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. gangguan otot (muscular guarding). Gambaran yang nyata meliputi letargi. terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. karbon dioksida.

tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. dan mortalitas penyakit. NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut. komplikasi. Secara khas.Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa.

6) Koagulasi intravaskular diseminata 6. Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b. Komplikasi a.000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a. meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7. Komplikasi jangka panjang. Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. transfusi produk darah sesuai keperluan. Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. Penatalaksanaan a. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). khusunya pada NEC derajat awal. 8. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC.b. 1) NPO. dan parasentesis yang positif lebih dari 0. istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap.5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. teraba massa abdomen. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. hitung platelet. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid. antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos. analisis gas adarh. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. kadar hydrogen dapat meningkat. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik. elektrolitserum.

e. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f. cairan. septikemia. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. dan material tinja. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. Pantau tanda vital  perforasi usus. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi. diberikan scr bertahap h.c. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini. Abdomen yg distensi g. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan status asam-basa. Pantau platelet. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. Sepsis Neonatrum 1. d. d. Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara. Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. 2005). Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Dimulai dengan pengenalan awal b. syok kardiovaskular. Mengontrol infeksi 5. Pertimbangan keperawatan a. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. 9. elektrolit.

1. Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. 2008) 2. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan. Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. Neisseria meningitidis. antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. Salmonella.Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus. 3. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi. 2000). rubella). Haemophilus influenzae tipe B. dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. Sterptococcus pneumoniae. Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. bakteri (streptococcus B). 2. (Vietha. 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. Listeria monocytogenes. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). sering mengalami komplikasi. Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.

Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. Demam yang terjadi pada ibu c.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Proses kelahiran yang lama dan sulit. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. yang bila tidak segera dirawat. Infeksi pada uterus atau plasenta d. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika.a. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . Perdarahan b. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. terhambatnya fungsi mitokondria. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. g. pemasangan sejumlah kateter. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. dan kekacauan metabolik yang progresif. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. 4. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e.

Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Setelah lahir. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. atau basilus Listeria monocytogenesis. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif). Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram). yaitu : a.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu. dan syok.Prosedurselamapersalinan. 2) Defisiensi imun. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella. b. asidosis metabolik. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. Yang lebih umum. Ibu yang berstatus sosio. Faktor. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. dan latar belakang. Kurangnya perawatan prenatal. 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel.Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Ketuban pecah dini (KPD) e. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. 2005). d. ras. protozoa Toxoplasma. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih.

Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. antara lain malaria. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. bersama dengan penurunan fibronektin. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. influenza.colli. 3) Kadang. 4) Pada bayi yang minum ASI. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sipilis. sitomegalo. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. paling sering akibat kontak tangan. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. herpes. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. c.tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. seperti steroid. parotitis.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. Insidens sepsis pada bayi laki.colli ditemukan dalam tinjanya. aktifitas lintasan komplemen terlambat. dan toksoplasma. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. koksaki. Dengan adanya hal tersebut.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial). Pada masa antenatal atau sebelum lahir. yaitu : 1. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar. spesies Lactbacillus dan E. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas. hepatitis.

hepatomegali 3.dan N. nafas cuping hidung. purpura. letargi. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. sianosis 4.gonorrea. Hematologi: Ikterus. pernapasan tidak teratur.2. terjadi amniotis dan korionitis. infus. Akibatnya. sklerema 2. ubun-ubun membonjol 6. petekie. malas minum. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. 3. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu.. bradikardi 5. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. tidak kuat menghisap. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. takikardi. yaitu saat persalinan. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Pada masa intranatal atau saat persalinan. kejang. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Candida albican. sianosis. perdarahan. Infeksi paska atau sesudah persalinan. Saluran cerna: distensi abdomen. muntah. pucat. merintih. Saluran nafas: apnoe. diare. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. diare. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .alat : penghisap lendir. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan. hipotensi. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. Cara lain. hiporefleksi. splenomegali. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. anoreksia. tremor. Umum : panas (hipertermi). Sistem kardiovaskuler: pucat. jaundice. muntah. takipnu. selang endotrakhea.2003) 5. kulit lembab. botol minuman atau dot). 1. malas minum. kejang. selang nasogastrik. dispnue. retraksi. Sistem syaraf pusat: iritabilitas.

dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. hitung neutrofil. dan panel skrining sepsis. kemerahan. memantau kemajuan pengobatan. CRP. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. Saat ini. prokalsitonin. sitokin IL-6. GCSF. IL6 (atau IL1-ra 0. TNF. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. dan hitung trombosit. Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR). nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. kejang. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). dan hematological indices pada hari ke-0). nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. CRP. petunjuk untuk penggunaan antibiotik. 6. 7. G-CSF. Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. spesifisitas lebih dari 85%. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. IL8. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. dan untuk menentukan prognosis. neutrofil imatur. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a.

Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. 6. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. lengkap. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. Identitas klien b. transfusi darah. letargi. trombosit. CRP tetap abnormal. terapi kejang.v i. plasma. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. 3.v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). cairan serebrospinal. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi. feses lengkap.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel. foto polos dada. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap. 2.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. 5.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i. Pengkajian a. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. kultur darah.m (atas indikasi khusus). pemeriksaan darah dan CRP normal. foto abdomen. USG kepala dan lain-lain. gula darah.1.m/i. tak mau menghisap. Asuhan Keperawatan A. 4. lemah. terapi syok. koreksi metabolik asidosis. pengecatan Gram).  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning. urine. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis). dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i. kimia. transfusi tukar. analisa gas darah. pemeriksaan CRP kuantitatif). Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. urine dan feses (atas indikasi). kejang. terapi oksigen/ventilasi mekanik. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah. adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . vascular frekuensi nadi. 3. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia.ekimosis. hematoma spontan.

Mochtar. Aplikasi pada Praktek Klinis. Jakarta: EGC. Sowden. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. 2007. Rustam. LJ. Jakarta : EGC. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Paulette S. Sinopsi obstetric. Sitohang. 2000. Ed. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Hawa. 2009. (2004). 2001. 1998. Edisi 2. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . S. 2004. N. N. Doengoes. Jakarta : EGC. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Carpenito. Edisi 6. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro. Berkow & Beers. Surasmi. Rahayu D P. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. 1997. A. Adriaansz G.. Marilyn E.. (2003).ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik. E.hon. Diagnosa Keperawatan. & Kusuma. (2010). Jakarta: EGC. Saifuddin AB. Jakarta: EGC. 2002. Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum.5. Buku saku keperawatan pediatric. Jakarta: EGC. Handayani. Jakarta: EGC. H. Linda A. edisi 4.DAFTAR PUSTAKA Betz. Cecily Lynn. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. et al. Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. A.