MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

dan post term.BAB II PEMBAHASAN A. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. 2008). Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. 2006). Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan . Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak. Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. 2006): 1. term. pascaterm. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. dismatur dapat terjadi dalam preterm. Frematur 1. 2.Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang. Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline). Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. 2005). 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK).

8% seluruh kelahiran hidup. lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas. tetapi lebih parah Kulit lebih tipis.

2006). c.dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang. d. Pada umumnya. 2005). 2006). Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik.. 2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang. diabetes mellitus. toksemia gravidarum. 2006). bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak. Sebab lain: ibu perokok. trauma fisik dan psikologis. tidak memiliki lemak. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. dan nefritis akut (Sitohang. 2. b. makin medndekati nilai normal aterm. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. baik usia gestasi maupun berat lahirnya.. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum. Etiologi 1) Faktor Ibu a.

alcohol.  Keadaan gizi ibu 6. 2006). lemah. perokok. 3. kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang.  Penyakit ibu 8. kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Patofisiologi 4. apatis. 2006). 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang.  Usia ibu 7.Faktor ibu 5. jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat.  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM. tidak mau minum.Hidramnion. leher kaku. pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain. dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar.

Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang. 2006): 1.4. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3. batuk belum sempurna d. Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b. 2006): a. menelan. Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Pneumonia. 8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik.

pemberian makanan dan bila perlu oksigen. maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung. enzim pencernaan belum matang. Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius. c. lambung kecil. ASI merupakan makanan yang paling utama. 2006). Reflex menghisap masih lemah. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. 2006). Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. Bila faktor menghisapnya kurang. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. b. a. tetapi frekuensi yang lebih sering. 2006). sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang.6. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. 2006). Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. Bila inkubator tidak ada. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang. karena daya tahan tubuhnya masih lemah. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang.

komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28. retraksi suprastrenal atau substernal. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi.  Pernapsan mungkin dangkal. tidak teratur. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. kurus. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Dengan demikian. 2006). menelan.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. sutura mungkin mudah digerakkan. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32. 4. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar. Oleh karena itu. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas.sempurna.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. koordinasi refles untuk menghisap. Neurosensori  Tubuh panjang.  Edema kelopak mata umum terjadi. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. pernapasan cuping hidung. pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. lemas denga perut agak gendut. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32.

mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang. warna mungkin merah muda atau kebiruan. akrosianosis. Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). gestasi multiple. 6. nutrisi buruk.profil paru janin.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak. komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae. inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. atau sianosis/pucat. seperti usia muda. dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin.  Kuku mungkin pendek.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. rentang kehamilan dekat. kehamilan praterm sebelumnya. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. 1. dilatasi serviks premature. 5. . testis pria mungkin tidak turun. Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh. dengan klitoris menonjol. atau penggunaan obat yang diresepkan. latar belakang social ekonomi rendah. adanya infeksi. 11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menandakan sindrom distress pernapasan (RDS). dijual bebas atau obat jalanan. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa. ketuban pecah dini (KPD).

12. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita). 11. menunjukkan respons inflamasi akut. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). 7. 9. Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis. Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. Berat jenis urin: rentang antara 1. 8. Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. 17. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. 18.006 sampai 1. Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4. Produk split fibrin: Ada pada KID. Elektrolit (Na++. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius.2. 3. 10. 6. atau kesulitan napas yang lama. Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas. 13. 16. meningkat pada dehidrasi. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses.013. 19. sepsis. K+. 14. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. cedera ginjal. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. 15.

Mempertahankan lingkungan termal yang netral. 4. 2. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. 2. takpne. 22. Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann. dan stress dingin. Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. anemia. agar skor. Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. 3. termasuk betametason. seperti lama persalinan. Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . bebas dari displasia bronkopulmonal. Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. sianosis. imaturitas otot arteriol pulmonal. PRIORITAS KEPERAWATAN 1.21. hipoksia. TUJUAN PULANG 1. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. 3. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. 4. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. menderita RDS minimal. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. ketidakadekuatan kadar surfaktan. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Intervensi Mandiri 1. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. ketidakefektifan bersihan jalan napas. 5. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. tipe kelahiran. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. 5. Selain itu.

Perhatian usia gestasi. 3. atau krekels). Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. mengorok. hipoksmia asedemia. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. Selain itu. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati. 2. khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g). pria 2 kali rentnnya dari pada wanita. 4. Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas.atau imaturotas otot areterior. retraksi. Kaji status pernafasan. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. catat kadar tiap jam. pernafasan cuping hidung . mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan. Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA. ronki. Rasional: menandakan distres [pernafasan .rendah. perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . retraksi. yang mengontrol pernafasan. kemudian mencapai plateau. dan jenis kelamin. 5.( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan). Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . ubah sisi alat setiap 3-4 jam. berat badan.

Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi .Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn. Tingkatan istirahat. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. penonjolan dndinng dada. resiko tinggi terhadap). Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. bronkospasme. Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol. Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental. menyebabka bradikardi.tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks. biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi. 10. Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS. 9. tidak efektifresiko tinggi terhadap). Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis. 8. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat. pergeseran btitik tampak maksimal.5F). dapat meningkatkan asidosis.7F (dalam 0. 7. 6. diare. dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan. Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi .Rujuk pada DK: termoregolasi.atau disritmia jantung. resiko tiggi terhadap. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. hiposemia. Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. hipotensi. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. penurunan atau tidak adanya bunyi napas.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. 11.

dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka .( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium). dengan teta. 13. pertumbuhan cepat. 14. sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah. kadar paco2 haru 35-45mmhg.Rasional . dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn. Kolaborasi 12. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. Pantau pemeriksaan laboratorium. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas. diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. 16. dan saturasi oksigen harus 92%-94%. 17. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan. dengnanmasker kap. Rasional : atelektasis. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. Tinjau ulang seri sinar x dada. Hb/Ht.kongesti. Hiperkapnia . pengulangan pengambilan sampel darah.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus. berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi. selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV). grafik seri GDA. Rasional : hopoksemia. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. 15. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi.

Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal. sesuai indikasi. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. Aspirasi isi lambung untuk tes shake.kapiler. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis. Fisioterapi dada. 20. atau vibrasi lobus setiap 2jam. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI. menghemat energi. Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. 22. meningkatkan istirahat. 19. penurunan energi. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan. keterbatasan perkembangan otot. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. b. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis. POLA PENAPASAN. 18. perhatikan toleransi bayi terhadap proedur. bila tepat. 21. Natrium bikarbonat. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam. Surfaktan(artifisial atau eksogen). Mulai drainase postural. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Surfaktan. B. atau pemasangan selang dada.. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a. Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas.

Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN.( mis. tonus jantung. tonus otot. 6. takikardia. 2. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu. Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. atau hipotonia. pernafasan cuping hidung. sianosis . atau hiperkapnia. Anjurakan kontak orang tua. Pergatikan adanya sianosis. periode aonea. Berikan rangsangan taktil yang segera. gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. 5. Ikan 4. asidosis metabolik. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat). Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. khususnya pada adanya hipoksia. GDA abnormal. dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. bradikardi. takipneaa. Intervensi Mandiri 1. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea. 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi. Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. 3. tidak efektif. resiko tinggi terhadap). Pertahankan suhu tubuh optimal. penggunaan bantuan otot. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung . Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas.(rujuk pada DK: termoregulasi .

9. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. Toksisitas obat. bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . Berikan oksigen sesuai indikasi. Antibiotik. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. c. hipoglekimia.Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka. Larutan glukosa. glikosa serum. Rasional: hipoksia. GDA. d. kerusakan). Rasional: mencegah hipoglikemia. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan.mdan kadar obat) sesuai indikasi. 10. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. f. Kolaborasi 8. Tempatkan bayi pada matras bergelombang. yang dapat menurunkan kejadian apneik. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama. Aminoflin. hipokalsemia. (Rujuk pada DK: nutrisi. kultur. perubahan. hiperkapnia. sesuai indikasi: a.(rujukan pada DK: pertukaran gas. Kadang-kadang. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida. b. Rasional : memperbaiki asidosis. kurang dari kebutuhan tubuh. Pankuronium bromida (pavulon).. Rasional. asidosis metabolik. e. Berikan obat-obatan. Kalsium glukonat. menurunkan frekuensi apnea. elekrolit. Rasional: gerakan memberikann rangsangan. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis. 7. Natrium bikarbonat. resikotinggi terhadap).dan sepsis dapat memperberat serangan apneik.

Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. respons mati terhadap hipotermia. 3.999. RESIKO TINGGI TERHADAP. Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu. Objek pans dengan tubuh bayi. atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang. dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. TIDAK EFEKTIF. periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat . seperti stetosko. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. Kaji suhu dengan sering. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia).5-37. TERMOLEGULASI. keterbtasan simpanan lemak coklat .1 F(35. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat. mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. dan pakaian. 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Intervensi Mandiri 1. Rasional . penurunan lemak subkutan .) 2. incubator. Rasional. Periksa suhu rektal pada awalnya. selanjutnya. Tempatkan bayi pada penghangat. ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). linen. Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. Cadangan metabolik buruk. Gunakan lampu pemanas selam prosedur. isolette.C.

tergantung pada ukuran atau usia bayi). Kaji haluaran dan berat jenis urin. 7. Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi.6oF. terlalu tinggi. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. Pantau system pengatur suhu. 5. mencegah evaporasi berlebihan . menangis buruk. 10. atu latergi . 11. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. 6. akrosianosis . atau incubator. evaluasi derajat dan lokasi ikterik. yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. atau kulit belang: bradikardia . Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. Bila penambahan berat badan tidak adekuat. Pantau penambahan berat badan berturut-turut. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol.) 9. menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. (catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. penyebar hangat. 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin. Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi. (pertahankan batas atas pada bayi 98. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. 8. Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme.4. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi. Pertahankan kelembapan relatif 50-80%.

Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator. Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat. Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. warna kemerahan .. Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh .20C). foto terapi. Glukosa.alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97.) 15.70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan. Pantau dextrosix. elektrolit. Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. 13. (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera.apnea.) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . diaforesis. khusunya dengan orangtua. dan kadar bilirubin). 12. Kolaborasi 17. 16. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: . atau pada suhu ruangan. 14. letarge. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan.. koma atau aktifitas kejang . Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. serum. lampu pemanas. Evaluiasi sumber eksternal ( mis. distensi abdomen. Perhatikan perkembangan takikardia. (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu. GDA. atau apatis. atau sinar matahari). kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). memerlukan peningkatan suhu lingkungan. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis. Kaji bayi terhadp muntah. Rasional: kontak di luar tempat tidur.

Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. 20. peningkatan suhu lingkungan. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin). yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. bila diperlukan. sesuai indikasi : a. Berikan obat-obatan. Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. kurang lapisan lemak. Fenobarbital. 18. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat.Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. dibawah 2500 g). bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. b. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. D. 19.

Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari. Rasional.013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan.006 – 1. atau setiap 2-4 jam. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran. 3. 2. kadar lebih besar dar 1. Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan berat jenis urin DBN. berat jenis urin bervariasi. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Intervensi Mandiri 1. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam.013). Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena. Rasional. Ht. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan. dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan.

TAR lebih rendah). kedutan. Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata). Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. 7. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. bayi lebih kecil. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. Evaluasi turgor kulit. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. sesuai indikasi. dan fontanel cekung. Perhatikan letargi. glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. keadaan fontanel anterior. suhu termonetral. atau aktivitas kejang. 10. Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan. Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit. peningkatan apnea. distensi abdomen. Pantau tekanan darah (TD). Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . mis. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. Berikan kalium klorida. 8. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari.4. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. 5. dan magnesium sulfat 50%. hipotonia. meningkatkan resiko dehidrasi. Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. 9. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. membran mukosa kering. Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. menangis dengan nada tinggi. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. membran mukosa. 6. Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. nadi. Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. kalsium glukonat 10%.

sperti kerapuhan. b. atau enterokolitis nekrotisan (NEC). Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis. Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 11. Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. asidosis. sepsis. asidosis. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar. bila diberikan melalui arteri umbilikal. 14. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah.jantung. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. ata muntah. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. Kalsium serum dan magnesium serum. dan nekrosis. Kalsium serum. khususnya pada PDA. kalsifikasi. displasia bronkopulmonal (BPD). (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). Kolaborasi 13. atau gagal ginjal. depresi rangsang paratiroid. diare. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. dan stress karena hipoksia. Berikan transfusi darah. c. Berikan dopamin hidroklorida. Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. 12. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan.53%. atau hipoglikemia. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon. sesuai indikasi.

Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. penonjolan atau ketegangan fontanel. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. atau aktifitas kejang. yang diikuti dengan apnea. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang. atau mata terbalik). hipotonia. Intervensi Mandiri 1. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. 3. dan sianosis. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. flaksid kuadriparese. Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral.PDA. perpindahan elektrolit. hipotensi. Kaji upaya pernapasan. resiko tinggi terhadap). mata terbalik. dan arefleksia. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. kurang dari kebutuhan tubuh. glukosa serum. tidak berespons. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. Pantau kadar Dextrostix. pernapasan yang sulit. postur tonik. letargi. perubahan. 2. E. (Rujuk DK : Nutrisi. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. kacau mental. kejang mioklonik. (Rujuk DK: pertukaran gas. kerusakan). adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. peningkatan bilirubin). Bila tidak teratasi. perubahan faktor pembekuan. CEDERA. meningkatkan resiko ruptur. RISIKO TINGGI TERHADAP. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. kedutan.

GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). 5. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. 4. sesuai indikasi. Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak. b. c. Ht / Hb. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. sesuai indikasi : a. 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada. syok hemoragi. sangat samar. atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia. Kolaborasi 6. dan opistotonus. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi.Rasional: Trauma kelahiran. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK). Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. kacau mental. Kaji warna kulit. Ukur lingkar kepala. hiperrefleksia. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. Pantau pemeriksaan laboratorium. Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. kapiler rapuh. yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural.

yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik.7. dan atau glukosa. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). natrium bikarbonat. Penempatan pirau ventrikuloperitoneal. Ventrikulopunksi atau tap. Berikan obat-obatan. b. a. Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. c. b. sesuai indikasi: Kalsium. d. yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. ultrasonografi kranial. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi. magnesium. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil. a. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. e. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. 8.

atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. NUTRISI. Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal. Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. d. kerusakan SSP dengan perdarahan. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim. (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. 9. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak). dan batuk). otot abdominal lemah.c. Furosemid. tidak ada. menghisap. Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. e. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. gag. f. asetazolamid. kapasitas lambung kecil. imaturitas sfingter kardia. F. menelan. atau steroid. Intervensi Mandiri 1. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah). atau palsi serebral). dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. refleks lemah. PERUBAHAN.

Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. dan cairan peroral harus ditunda. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. peningkatan resiko aspirasi. jadwal pemberian makan perlu diubah. 3. cairan perenteral diindikasikan. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. 5. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. 6. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. derajat kelelahan. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. Bila distress pernapasan ada. Bila > 2 ml diaspirasi. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. Kaji status fisik dan status pernapasan. frekuensi pernapasan. 4. 8. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. Auskultasi terhadap adanya bising usus. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. dan distensi abdomen. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. 7. Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan.Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. semua ini menurunkan status pernapasan. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit. 2. ibu dapat menggosok dot pada payudara.

untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. atau sianosis). membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung. 10. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 12. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. Kolaborasi 14. peningkatan suhu.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. 11. trombosis pembuluh darah. Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. muntah. Perhatikan adanya diare. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. residu lambung berlebihan. Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. dan ASI atau formula. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. atau hasil positif dari tes guaiak. Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. 13. resiko hipoglikemia meningkat. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). hipoksia. Rasional: Stress dingin. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. dispnea. 9. glukosa. Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. (Rujuk pada DK: konstipasi. Mulai pemberian makan dengan air steril. Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. biasanya septikemia Candida. regurgitasi. muntah. resiko tinggi terhadap). dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. dengan tepat. Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis.

nasojejunal. Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. sindrom malabsorpsi. C. elektrolit. obstruksi. D. dengan protein 3-4 g/kg/hari. mineral. penyakit paru kronis.Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. 19. dan zat besi. 15. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). takipnea. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. 16. Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. sesuai indikasi. Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. 17. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . khususnya vitamin A. glukosa. 18. Berikan vitamin dan mineral. ketergantungan respirator. nasoduodenal). dan E. Pertahankan kepatenan. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. serta bahaya menekan ginjal imatur. Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme.

lama pecah ketuban. pemajangan lingkungan (KPD. kadar pH. Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pemajangan transplasental). Tinjau ulang catatan kelahiran. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz. 2. trombosit. kulit rapuh. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. dan tanda vital DBN. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. glukosa serum. dan adanya korioamnionitis. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri.nekrotisan. 20. CSS. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. mis. dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap. Intervensi Mandiri 1. prosedur invasif. Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru). Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. urin. INFEKSI. elektrolit. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden. protein total. jaringan trauma. prematuritas yang ekstrem. Pantau pemeriksaan laboratorium. Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI.

kongesti nasal. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. letargi atau perubahan perilaku. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi. 7. Buat kelompok bayi. Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. atau paronisial). Rasional: Penggunaan alkohol lokal. petekie. Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara. (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). 3. atau takipnea). 4. Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. 5. Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. luka basah. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ikterik. bila mungkin. orangtua. 6. dan herpes zoster. distres pernapasan (apnea. sianosis. dan pekerja lain perprotokol. infeksi pernapasan akut. Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. triplet dye. demam. 8. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi.ASI. Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. herpes simpleks aktif (oral. genital. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit. atau drainase dari mata atau umbilikus. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. gastroenteritis.

Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). edema. seperti bradikardia. Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. Perlakuan jalur arteri. dan kateter sebagai daerah steril. atau nebulasi. atau iodofor. nasofaring. Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan. malas. dan netrofil. Rasional: ASI mengandung IgA. irigasi. lesi kulit terlihat. Kolaborasi 15. atau eritema pada dinding abdomen. Seri jumlah SDM dan diferensia.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. Berikan ASI untuk pemberian makan. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. bila tersedia.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia. 16. Dapatkan specimen. Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). penurunan TD. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan. 12. 14. Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam.000 sampai 225. CSS. 11. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. ketidakstabilan suhu. dan buang setelah 24 jam. makrofag. stopkok. iodin tingtur. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. ambil spesimen darah pada waktu yang sama. atau sputum bila bayi diintubasi. 10. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban.9. Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. darah. Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. limfosit.

membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. Bantu dengan pungsi lumbal. 19. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. b. Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . H. membatasi reabilitas diagnostic. Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas. ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . 18. Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. hipoglikemi. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. dan PH DBN. 17. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. KELEBIHAN CAIRAN.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. haluaran. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri. sesuai kebutuhan. abnormalitas sushu. selain itu. 20. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. atau syok. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. anemia. tetapi pada bayi praterm. dan mengubah flora normal bayi baru lahir. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi.000/mm3 c.hari ke hari.

Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1. Nitrogen urea darah. Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . 3. kadar asam urat. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. b. perhatikan adanya krekels. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan timbang bayi per protocol.006 sampai 1. ronki. atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. 7.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal.Intervensi Mandiri 1. resiko tinggi terhadap. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat. Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. Kadar elektrolit dan PH.013. Pantau haluaran. Evaluasi hidrasi. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan. jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi. Ukur berat jenis urun. 2. kreatinin. 5. dispnea atau takipnea. Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. 4. Kolaborasi 6. Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan. lebih disukai dengan menimbang popok.

I. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. dan gangguan asam basa. perubahan motalitas gastric. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE. Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. Pantau bayi terhadap toksisitas obat. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya.8. Ukur lingkar abdomen. 9. otot – otot abdomen. KONSTIPASI. Perbaiki cairan. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. perbaiki keadaan hipoksik. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. Intervensi Mandiri 1. 2. Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat. Auskultasi bising usus. elektrolit. ketidakaktivan fisik. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan .

biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama.3. meludah berlebihan. Kolaborasi 9. perubahan. 4. berikan gosokan pada wajah. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. nyeri tekan. tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen. syok. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. mengakibatkan sepsis.8% bayi praterm. lengkung usus dapat dilihat. Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. tangan. kulit abdomen berkilau atau tegang. Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis. dan kaki. muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . Minimalkan penanganan bayi . Tes residu gaster. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. 5. kekakuan. risiko tinggi terhadap : nutrisi. kurang dari kebutuhan tubuh.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses. syok dan KID 8. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kekurangan volume cairan . Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. 6. seperti distensi abdomen. Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . Bicara pada bayi. 7. dan tiodak adanya bising usus. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. risiko tinggi terhadap.

Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. 11. 14. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. jumlah trombosit. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. 15. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 16. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan. masa protrombin. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. KERUSAKAN. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan. Pasang selang orogastrik atau NG. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. sesuai indikasi. penggunaan restrain. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. 17. dapat meningkatkan pemulihan usus. bila diperlukan. INTEGRITAS KULIT. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan.10. Siapkan untuk pembedahan. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12. 13. penebalan dinding. J. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. sesuai kebutuhan. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu. perubahan status nutrisi.

perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal.melindungi pathogen invasive.dan sebagainya. Minimalkan manipulasi kulit bayi. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. dan kantung urin. 7. Berikan jeli petroleum untuk bibir. Bebas dari cedera dermal. elektroda. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. 5. 6. 2. Intervensi Mandiri 1. Inspeksi kulit. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. Rasional : setelah 4 hari. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit.Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. Berikan latihan rentang gerak.V. 4. dapat mengakibatkan sepsis. Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal. 3. perubahan posisi rutin. jalur I. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Hindari penggunaan agens topical keras. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang.

permainan. waslap) bila tepat. kenalkan tekstur (spatel lidah. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. perubahan rangsangan lingkungan. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. 3. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. K. khususnya pada waktu pemberian maka. perubahan tengangan otot. Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. Bicara atau bernyanyi pada bayi. dapat membantu mencegah infeksi. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan. Rasional : memberikan rangsangan auditorius. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. Rasional : memberikan rangsangan taktil. Berikan perawat primer untuk setiap shift. Bebas dari tanda kelebihan sensori. panggil nam. Berikan saleb antibiotic pada hidung. mainkan music lembut dalam ruang perawatan. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. efek – efek terapi. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. iritabilitas. 4. tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka.8. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. 2. Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. apatis.

9. Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. Kaji respon bayi terhadap rangsangan. bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. 11. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual. Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun. Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur. 6. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. memungkinkan kontak mata. Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori.5. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. 8. Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. Gendong bayi setinggi wajah. Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. 7. Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. Memberikan linea berwarna. 10. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi.

45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. 13. 17. Ukur lingkar kepala. 14. kondisi yang menyrtai. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. 15. menurunkan retensi lambung. Imaturitas. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan. 12. Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual. prognosis. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan. yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. 16. dan peningkatan ini. dan kebutuhan /respon individu bayi. Timbang berat badab bayinsetiap hari. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. adanya beberapa anomaly congenital.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. 2003). solusio plasenta 2. daya hisap yang lemah dan sebagainya. faktor janin. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi. tidakdiketahui : 1. c. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. Handayani.  Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis.b. & Kusuma. penyakit jantung. akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. yaitu preeclampsia dan eklampsi. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. faktor plasenta. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu. Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella. misalnya sindrom gangguan pernapasan. hiperbilirunemia. sifilis. yaitu faktor ibu. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. malaria)  Kronis (misalnya TBC. Faktor ibu  Toksemia gravidarum.

untuk bayi perempuan klitoris menonjol. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. 2003). 2010. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 11) Tumit mengkilap. Surasmi. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. golongan darah ABO) 3. Testis belum turun ke dalam skrotum. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. Handayani. mengakibatkan reflek hisap. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. telapak kaki halus. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 13) Tonus otot lemah. 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. 10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. & Kusuma.

Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2). Akibatnya bayi menjadi hipoksia. 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea. urea clearance yang rendah. Produksi urin yang sedikit. sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. otot yang tidak aktif. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur. faktor VII dan factor Christmas. asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. hipertensi dan hiperkapnea. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik. 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). kekurangan faktor pembeku seperti protombin.berat badan. 2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR.

distorsi dan parut retina menjadi buta. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. 2003). Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit.darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. & Kusuma. small for dates. dysmature. Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. Handayani. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. fetal malnutrition. yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants. kulit kering keriput dan mudah diangkat. fibrosis. Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. Setiap bayi baru lahir (prematur. intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut.

53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . limpa. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. berat hati. yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang. perdarahan paru yang massif. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya.. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya. umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. 2010). Perkembangan dari otak. yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur. hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain). 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang. 2010). 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan.

di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. minum susu digunakan menggunakan pipet. Ototototnya juga relatif lebih lemah. Untuk itulah selama dirawat. susu adalah sumber nutrisi yang utama.3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. 3) Minum cukup Bagi bayi. Selama belum bisa mengisap dengan benar. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS. Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. begitu pula dengan kuku dan tali pusat. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus. ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama. Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. Maka dengan demikian.

Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu . Namun. penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan.lanugo dan verniks caseosa banyak. Pengkajian a. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ). Asuhan Keperawatan 1. 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .  Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora.demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit. bayi biasanya boleh dibawa pulang.tidak ada infeksi. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan. kelainan jantung.ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. DM.

lingkar dada < 30 cm. 3.koordinasi refleks untuk mengisap.panjang badan < 45 cm. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28. menandakan Respirasi Distress Syndrome 5. Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang.fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .2.menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4.sutura mungkin mudah digerakkan.lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh.lingkar kepala < 33 cm.kurus. Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu. Edema kelopak mata umum terjadi .pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok .pernafasan cuping hidung.

3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. asidosis metabolic atau hiperkapnea. asidosis metabolic. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. khususnya adanya hipoksia. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung. Diagnose Keperawatan a. hiperkapnea. 2004) 1. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. elektrolit) Rasional : hipoksia. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . glukosa serum. hipoglikemia. jalan nafas paten. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. hipokalsemia. Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas.

isolette. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan.4-37. penurunan lemak sub kutan. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. incubator. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu). Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat. Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. b.4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering. periksa suhu rectal pada awalnya.6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. pertahankan kepala tetap tertutup.

Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perhatikan adanya distensi abdomen. Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia. 2) Auskultasi bising usus. kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar.Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . Tujuan : . Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh. natrium bikarbonat. Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital. d. memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol.Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap. 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. c. Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum.

yang dapat mengakibatkan sepsis. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. 3) Berikan latihan gerak. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. dapat membantu mencegah infeksi. e.Intervensi 1) Inspeksi kulit. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural. 60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. 6) Hindari penggunaan agen topical keras. Criteria : leukosit normal. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang.

limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. 3. Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian. yaitu : 1. Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. (Saiffudin. (Mochtar. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. letargi tau perubahan perilaku. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Asfiksia Neonatrum 1. 1989). 2001). penimbunan CO2 dan asidosis. ASI mengandung Ig A. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran. misalnya : suhu. 2.3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. makrofag. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Asfiksia Livida (biru) 2.

Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR.Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4. Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b. yaitu: a. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c.

meliputi persalinan lama 3. diabetes. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid).Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1. Faktor plasenta. tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kesulitan kelahiran 5. meliputi plasenta previa. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Faktor janin. dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. obat-obatan. Faktor ibu. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. Faktor uterus. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. anemia. Warna kulit sianotik/pucat 7. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Tanda Dan Gejala 1. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. kelainan congenital. Hipoksia 2. Faktor umbilical. hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. Manifestasi Klinik a. solusio plasenta. lilitan tali pusat 5. Bradikardia 5. meliputi prolaps tali pusat. tonus otot berkurang 6. meliputi disproporsi sefalopelvis. insufisiensi plasenta 4. meliputi amnionitis. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. 6.Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak. 2.

64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit . hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. nistagmus 8. Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi. halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. c. b. Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a.

Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. menunjukkan hemolitik 10. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3.d. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2.24 menunjukkan status praasidosis. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a. 9.20 sampai 7. kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah. Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit. Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b.

ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. 2. ventilasi aktif harus segera dilakukan. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .1. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. usahakan mengikuti gerakan tersebut. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2.

5 menit…. 11. 3. Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit……. 5. hipoglikemia.. kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak.skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. hematoma) Menangis kuat.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat. Eliminasi Dapat berkemih saat lahir. Pengkajian 1. atau efek narkotik yang memanjang.kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding. menagndung 2 arteri dan 1 vena 2. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik). 40-45mmHg (diastolic). Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin. Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. sehat. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Asuhan keperawatan A. edema. Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif. Bunyi jantung.

pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. secara umum tidakada sianosis. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep). Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran. Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . Diagnosa Keperawatan 1. nevi telengiektatis (kelopak mata. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal.d.6. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. antara alis mata. Perubahan proses keluarag b.  Abrasi kulit kepala mungkin ada B.d.d.d. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. produksi mucus yang berlebihan. fleksibel.d. produksi mucus berlebihan 2. Resiko cedera b. Keamanan    Suhu terentang dari 36. Bebas tanda distress pernapasan. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. warna merah muda atau kemerahan. oksigen). ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal). Intervensi Keperawatan 1. bercak port-wine. atau pada oksipital). kurangnya suplai O2 dalam darah 3. atau perubahan warna harlequin.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut. atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat.

3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan. kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. kadar pH kulit kepala. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. dan warna serta jumlah cairan amniotic. atau diabetes). oligohidramnion. dan penurunan variabilitas DJJ. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7. atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau deselerasi lambat. hipertensi karena kehamilan. variable yang memanjang. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. perubahan periodic pada DJJ. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. Tinjau ulang status janin intrapartum. termasuk denyut jantung janin (DJJ).20. Seperti komplikasi prenatal. variabilitas denyut per denyut.

sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu.atau distress. Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal. merupakan yang paling sulit. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran. Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan. Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Pernapasan pertama. Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

pernapasan mendengkur. Pantau nadi apical selama penghisapan. 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida. Ronki menandakan aspirasi sekresi oral. krekels. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. atau ronki. dan membantu mencegah aspirasi. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. Pada awalnya sehat. tempatkan stoking penutup kepala.kelahiran). meningkatkan PO2 alvolar dan . yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee. memudahkan upaya pernapasan. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. Keringkan bayi dengan selimut hangat. hisap nasofaring dengan perlahan. Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. sesuai kebutuhan. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. retraksi dada. cairan.

Perhatikan adanya pandangan mata lebar. Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen. terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. Akrosianosis. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. namun. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer. Kaji tonus otot. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. Menandakan hipoksia intrauterus kronis. Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Perhatikan nadi apical. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan.

diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung. Pada kasus hipoksia yang lama. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum.Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. Berikan tindakan resusitatif. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)). penghisapan dalam. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. pada bayi baru lahir. perlu untuk mencegah aspirasi mekonium. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. Meningkatkan jalan napas paten. Bila bercak mekonium ada.

dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin. sesuai indikasi. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar. Mencegah kehilangan panas melalui konduksi. kulit. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi.fasilitas tingkat III/IV. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi. Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. 2. Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti. yang sakit. Intervensi . Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin.d. pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya.

Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan.50C lebih tinggi dari suhu kulit. pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat.50C lebih hangat dari suhu tubuh. Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. Suhu kulit dipertahankan mendekati 36. kulit lebih besar. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti. Suhu inti (rectal) biasanya 0. hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator).kehilangan panas pad bayi baru lahir. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin. metabolism dan konsumsi oksigen). pertahankan suhu udara 1. . namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin. Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin. ekstremitas fleksi. Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan.50C.

belang-belang atau pucat. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit. mendengkur berat. Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. kulit tangan dan kaki dingin. asidosis. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). sianosis umum. retraksi otot pernapasan. vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. dan pernapasan uping hidung). sesuai indikasi. karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan penurunan pernapasan. Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan. dan melepaskan katekolamin adrenal. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. bradikardia. serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia.

Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius. menentukan usia gestasi. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. asidosis dan asfiksia. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 3. dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta.d. Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. Resiko cedera b. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi.meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus.

transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan. Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi. Perubahan proses keluarag b. 4.d. Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir.introitus ibu. yang mungkin ada pada janin lahir ibu. Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia. Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.

dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir.neonates memungkinkan. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan. Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi. Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi. 4.

Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain. NEC terjadi pada 2% .94% bayi yang terkena adalah bayi premature d. 2. dan gangguan pertahanan pada host. 62% . kolonisasi bakteri pada intestine. atau masalahmasalah medis yang lain e. Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. 3. a. malformasi gastrointestinal anatomik. seperti prematuritas. Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal.7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil.13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital. keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain. NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm. NEC terutama menyerang bayi prematur. dan pemberian susu formula. NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. f. polisitemia. Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal. Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir. 7% . faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. IgA. c. usus belum mampu mencerna makanan dengan baik.mediator inflamasi (sitokin). aliran darah ke abdomen. dan lactobacillus bifidus growth factor. Saat hal tersebut terjadi. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. ileum. termasuk nekrosis dan ulserasi. Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. b. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis. radikal bebas. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal. Pada saat lahir. IgA. produk fermentasi bakteri dan toksin. Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. ulserasi. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . laktoferin. lisozim. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. terutama makanan-makanan formula. Ditambah lagi. sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. barrier mukosa belum berkembang dengan baik. Feeding process Pada neonatus. diduga memperparah proses penyakit. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. a. sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal.

dan feses yang mengandung darah. berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis. dan eritema pada dinding abdomen. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus. perotinotis. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . karbon dioksida. syok. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen. Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif. Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). Saat NEC berkembang. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar.membentuk asam organik. aspirasi gaster. dan adanya suatu substrat seperti formula. kolonisasi bakteri usus. Gambaran yang nyata meliputi letargi. menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. gangguan otot (muscular guarding). 4. apnea. Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. dan hipoperfusi. 5. terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. meskipun demikian. patogenesis NEC adalah multifaktor. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. dan kematian. muntah empedu.

Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa. NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. dan mortalitas penyakit. tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari. Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut. Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. Secara khas. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . komplikasi.

Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50. Komplikasi jangka panjang. meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a.6) Koagulasi intravaskular diseminata 6. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Komplikasi a.000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b.

teraba massa abdomen. Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC. elektrolitserum. dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. hitung platelet. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. analisis gas adarh. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap. Penatalaksanaan a. antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. 8. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. 1) NPO. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid.5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. khusunya pada NEC derajat awal. dan parasentesis yang positif lebih dari 0. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b. penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus.b. kadar hydrogen dapat meningkat. transfusi produk darah sesuai keperluan. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

9. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. e. Mengontrol infeksi 5. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. dan material tinja. diberikan scr bertahap h. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan.c. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . d. 2005). cairan. Sepsis Neonatrum 1. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. elektrolit. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. Pantau tanda vital  perforasi usus. Dimulai dengan pengenalan awal b. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara. Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. Pertimbangan keperawatan a. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi. d. Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini. syok kardiovaskular. septikemia. dan status asam-basa.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. Pantau platelet. Abdomen yg distensi g.

Sterptococcus pneumoniae. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Listeria monocytogenes. Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. sering mengalami komplikasi. 3. rubella). 2008) 2. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi. Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Neisseria meningitidis. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi. 2000). Haemophilus influenzae tipe B. (Vietha. Salmonella. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes. Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes.Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . bakteri (streptococcus B). Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. 2. 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. 1.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus.

dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas.a. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. Proses kelahiran yang lama dan sulit. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Perdarahan b. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . g. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Demam yang terjadi pada ibu c. kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e. terhambatnya fungsi mitokondria. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. 4. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. yang bila tidak segera dirawat. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. pemasangan sejumlah kateter. Infeksi pada uterus atau plasenta d. dan kekacauan metabolik yang progresif.

yaitu : a. menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. d. dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. asidosis metabolik.Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun.Prosedurselamapersalinan. Faktor. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram). atau basilus Listeria monocytogenesis. b. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. protozoa Toxoplasma. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. 2005). yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. 2) Defisiensi imun. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Kurangnya perawatan prenatal. dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif). 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c. Yang lebih umum. ras. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ketuban pecah dini (KPD) e. Setelah lahir.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. dan syok. Ibu yang berstatus sosio. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. dan latar belakang. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga.

Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik.tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. aktifitas lintasan komplemen terlambat. c. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. hepatitis. 4) Pada bayi yang minum ASI. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. bersama dengan penurunan fibronektin. Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu. influenza. koksaki. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas. seperti steroid. yaitu : 1. Dengan adanya hal tersebut. paling sering akibat kontak tangan.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial).colli ditemukan dalam tinjanya. sipilis. dan toksoplasma. 3) Kadang. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. herpes.colli. spesies Lactbacillus dan E. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sitomegalo. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Insidens sepsis pada bayi laki. antara lain malaria. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. parotitis. Pada masa antenatal atau sebelum lahir.

2003) 5. selang endotrakhea. sianosis. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. purpura. takipnu. infus. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. muntah. anoreksia. pucat. yaitu saat persalinan. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. Saluran cerna: distensi abdomen. letargi. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Sistem kardiovaskuler: pucat. Cara lain. hepatomegali 3. terjadi amniotis dan korionitis. splenomegali.. hiporefleksi. ubun-ubun membonjol 6. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu. nafas cuping hidung. Saluran nafas: apnoe. muntah. botol minuman atau dot). Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan.gonorrea. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pernapasan tidak teratur. malas minum. tremor. hipotensi. perdarahan. selang nasogastrik. petekie. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. 1. tidak kuat menghisap. kejang. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Pada masa intranatal atau saat persalinan. takikardi. sklerema 2. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. malas minum. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. retraksi. merintih. Hematologi: Ikterus. Candida albican. 3.alat : penghisap lendir. bradikardi 5.2. sianosis 4. Infeksi paska atau sesudah persalinan. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Akibatnya. diare. Sistem syaraf pusat: iritabilitas. dispnue. kulit lembab. jaundice. diare. kejang. Umum : panas (hipertermi).dan N.

Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. memantau kemajuan pengobatan. prokalsitonin. spesifisitas lebih dari 85%. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. CRP. kejang. kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. dan hitung trombosit. dan panel skrining sepsis. Saat ini. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR). 7. CRP. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. kemerahan. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. TNF. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. IL8. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. hitung neutrofil. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. petunjuk untuk penggunaan antibiotik.Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a. Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. neutrofil imatur. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. dan hematological indices pada hari ke-0). 6. G-CSF. dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. GCSF. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). sitokin IL-6. tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. IL6 (atau IL1-ra 0. nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. dan untuk menentukan prognosis. Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus.

pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel.v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). urine dan feses (atas indikasi).v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. terapi oksigen/ventilasi mekanik. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. 2.1. feses lengkap. pemeriksaan darah dan CRP normal. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. tak mau menghisap. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. Identitas klien b. Pengkajian a. cairan serebrospinal. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. terapi kejang. 3.  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 6. gula darah.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. pemeriksaan CRP kuantitatif). transfusi tukar. 5.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis). 4. transfusi darah. Asuhan Keperawatan A. kejang. lemah. kimia. analisa gas darah. kultur darah. koreksi metabolik asidosis. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya.v i.m/i. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap.m (atas indikasi khusus). letargi. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. trombosit. urine. lengkap. dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari. pengecatan Gram). USG kepala dan lain-lain.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i. terapi syok. Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning. CRP tetap abnormal. plasma. foto polos dada. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. foto abdomen.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

vascular frekuensi nadi. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital.ekimosis. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia. 3. hematoma spontan. napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

H. 1998. Sowden. 2007.DAFTAR PUSTAKA Betz. Paulette S. Sitohang. 2001. Buku saku keperawatan pediatric. Jakarta : EGC. Aplikasi pada Praktek Klinis. 2004.. 2009. 2002. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. A. Berkow & Beers. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Hawa.hon. Ed. (2003). N. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. 2000. Saifuddin AB. & Kusuma.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik. Surasmi.. (2004). Rahayu D P. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Linda A. edisi 4. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Jakarta: EGC. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. S. N. Rustam. Handayani. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro. Mochtar. Jakarta : EGC. 1997. (2010). Jakarta: EGC. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. Adriaansz G. Edisi 2. Marilyn E. Edisi 6. Diagnosa Keperawatan. A. 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Jakarta: EGC. E. Carpenito. Jakarta: EGC. Doengoes. Sinopsi obstetric.5. Cecily Lynn. Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Jakarta: EGC. Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. LJ. et al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful