MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

pascaterm. Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. dan post term. 2005).BAB II PEMBAHASAN A. Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. 2006): 1. Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan . Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. 2. Frematur 1. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). 2008). Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang. 2006). dismatur dapat terjadi dalam preterm. Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). term.Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline).

8% seluruh kelahiran hidup. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tetapi lebih parah Kulit lebih tipis. lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0.Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas.

toksemia gravidarum.. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum.dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. trauma fisik dan psikologis. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. diabetes mellitus. 2006). c. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang. tidak memiliki lemak. ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik. Etiologi 1) Faktor Ibu a. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. 2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pada umumnya. 2006). Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah.. makin medndekati nilai normal aterm. 2006). baik usia gestasi maupun berat lahirnya. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang. Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. Sebab lain: ibu perokok. 2005). Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya. 2. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. b. dan nefritis akut (Sitohang. bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak. d.

jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat.Faktor ibu 5. kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat.Hidramnion. Patofisiologi 4. alcohol. 2006). kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain. apatis. lemah. perokok. 3.  Keadaan gizi ibu 6. 2006). 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang. leher kaku. tidak mau minum. dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar.  Usia ibu 7. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang.  Penyakit ibu 8.  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. batuk belum sempurna d. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. 2006): a. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b.4. Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang. menelan. 2006): 1. 8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5. Pneumonia.

c. karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang. maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung. 2006). sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. 2006). Reflex menghisap masih lemah. ASI merupakan makanan yang paling utama. pemberian makanan dan bila perlu oksigen. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. tetapi frekuensi yang lebih sering. sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. lambung kecil. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang. enzim pencernaan belum matang. karena daya tahan tubuhnya masih lemah. a. 2006). 2006). Bila inkubator tidak ada. Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. b. Bila faktor menghisapnya kurang. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang.6.

tidak teratur. pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi. kurus. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32. Dengan demikian. pernapasan cuping hidung. Neurosensori  Tubuh panjang.  Pernapsan mungkin dangkal. retraksi suprastrenal atau substernal.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar.  Edema kelopak mata umum terjadi. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28.sempurna. koordinasi refles untuk menghisap.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32. Oleh karena itu. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. sutura mungkin mudah digerakkan. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. lemas denga perut agak gendut. 4. menelan. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. 2006).

ketuban pecah dini (KPD). dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. 5.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak. komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae. testis pria mungkin tidak turun. rentang kehamilan dekat. latar belakang social ekonomi rendah. akrosianosis.profil paru janin. adanya infeksi. dilatasi serviks premature. gestasi multiple. 11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. menandakan sindrom distress pernapasan (RDS).  Kuku mungkin pendek. mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). kehamilan praterm sebelumnya. nutrisi buruk. inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. 6. dengan klitoris menonjol. 1. atau sianosis/pucat. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. dijual bebas atau obat jalanan. atau penggunaan obat yang diresepkan. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa. seperti usia muda. warna mungkin merah muda atau kebiruan. .

14. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .013. cedera ginjal. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. 19.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita). 4. menunjukkan respons inflamasi akut. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat. Berat jenis urin: rentang antara 1. 12. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. K+. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. Elektrolit (Na++. 15. 10. 6. Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. 3. 8. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. 7. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. 18. meningkat pada dehidrasi.2. 9. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis. sepsis. 16. 13. atau kesulitan napas yang lama. Produk split fibrin: Ada pada KID. 11. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas.006 sampai 1. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. 17.

4. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. 2. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann.21. anemia. 4. Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. ketidakadekuatan kadar surfaktan. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. tipe kelahiran. 2. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. Selain itu. hipoksia. Mempertahankan lingkungan termal yang netral. Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. takpne. Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. 22. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. sianosis. seperti lama persalinan. TUJUAN PULANG 1. 3. Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). agar skor. Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. 3. dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. 5. Intervensi Mandiri 1. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. 5. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. dan stress dingin. ketidakefektifan bersihan jalan napas. termasuk betametason. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. menderita RDS minimal. bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . imaturitas otot arteriol pulmonal. bebas dari displasia bronkopulmonal.

kemudian mencapai plateau. pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. mengorok. mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. retraksi. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan. Kaji status pernafasan. dan jenis kelamin. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati. ronki. khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. Rasional: menandakan distres [pernafasan . perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA. catat kadar tiap jam.rendah. Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. ubah sisi alat setiap 3-4 jam. Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .atau imaturotas otot areterior. retraksi. yang mengontrol pernafasan. pria 2 kali rentnnya dari pada wanita. 5. hipoksmia asedemia. pernafasan cuping hidung . Selain itu. 4. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. 2. Perhatian usia gestasi. (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g). khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas.( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan). atau krekels). 3. berat badan.

Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS.5F). 10. hiposemia.7F (dalam 0. penurunan atau tidak adanya bunyi napas. Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Tingkatan istirahat. hipotensi. Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental. diare.atau disritmia jantung. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat. resiko tiggi terhadap. resiko tinggi terhadap). 6. 11. tidak efektifresiko tinggi terhadap). pergeseran btitik tampak maksimal. dapat meningkatkan asidosis.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol. 9. 8. 7. dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan.Rujuk pada DK: termoregolasi. Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. menyebabka bradikardi. bronkospasme. penonjolan dndinng dada. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler.tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks. Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi . biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba.Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi .

pengulangan pengambilan sampel darah. dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka . diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. 16. Pantau pemeriksaan laboratorium.kongesti.( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium). imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn. berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. pertumbuhan cepat. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV). Hiperkapnia . sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah. 15. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. grafik seri GDA. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan. dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas. 14. Rasional : hopoksemia. Kolaborasi 12. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. dengnanmasker kap. dengan teta. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. 17. dan saturasi oksigen harus 92%-94%.Rasional . Rasional : atelektasis. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus. Tinjau ulang seri sinar x dada. 13. Hb/Ht. kadar paco2 haru 35-45mmhg.

atau pemasangan selang dada. Surfaktan.. yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam.kapiler. perhatikan toleransi bayi terhadap proedur. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. Natrium bikarbonat. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. penurunan energi. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan. Surfaktan(artifisial atau eksogen). 21. menghemat energi. 19. meningkatkan istirahat. Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas. Aspirasi isi lambung untuk tes shake. Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. Mulai drainase postural. sesuai indikasi. 20. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. POLA PENAPASAN. atau vibrasi lobus setiap 2jam. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI.(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis. 22. bila tepat. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis. B. 18. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). b. keterbatasan perkembangan otot. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a. Fisioterapi dada.

5. Berikan rangsangan taktil yang segera. periode aonea. Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. atau hiperkapnia. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Intervensi Mandiri 1. Pertahankan suhu tubuh optimal. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi. bradikardi. 2. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu. penggunaan bantuan otot. tonus jantung. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat).(rujuk pada DK: termoregulasi . dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. Pergatikan adanya sianosis. khususnya pada adanya hipoksia. tonus otot. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. pernafasan cuping hidung. Ikan 4. Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas. asidosis metabolik. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung . yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. atau hipotonia. takipneaa. Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN. gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . GDA abnormal. tidak efektif. resiko tinggi terhadap). takikardia. sianosis . 3. 6. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi.( mis. Anjurakan kontak orang tua.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea.

Berikan oksigen sesuai indikasi. d. resikotinggi terhadap). hipoglekimia. Kalsium glukonat. 10. perubahan. Toksisitas obat. Rasional. hiperkapnia. (Rujuk pada DK: nutrisi. Rasional: gerakan memberikann rangsangan. e. Aminoflin. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka.Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. Kolaborasi 8. Tempatkan bayi pada matras bergelombang. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. b. Kadang-kadang. hipokalsemia. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida. bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . 7. Berikan obat-obatan. Natrium bikarbonat. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis. Larutan glukosa. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. GDA. asidosis metabolik.(rujukan pada DK: pertukaran gas. kurang dari kebutuhan tubuh. f. yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama. Rasional: hipoksia. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. yang dapat menurunkan kejadian apneik. kerusakan). c.dan sepsis dapat memperberat serangan apneik. Antibiotik.. 9. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pankuronium bromida (pavulon). Rasional : memperbaiki asidosis.mdan kadar obat) sesuai indikasi. kultur. elekrolit. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan. sesuai indikasi: a. Rasional: mencegah hipoglikemia. menurunkan frekuensi apnea. glikosa serum.

respons mati terhadap hipotermia. TERMOLEGULASI. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. TIDAK EFEKTIF. Objek pans dengan tubuh bayi. Cadangan metabolik buruk.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin. atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua. Kaji suhu dengan sering. Intervensi Mandiri 1. Rasional. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat.999. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. seperti stetosko. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat. incubator. selanjutnya. Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. isolette. RESIKO TINGGI TERHADAP.C. penurunan lemak subkutan . tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat .1 F(35. Rasional . dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka.) 2. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. linen.5-37. Tempatkan bayi pada penghangat. Periksa suhu rektal pada awalnya. keterbtasan simpanan lemak coklat . 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang. Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia). Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95. Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. Gunakan lampu pemanas selam prosedur. dan pakaian. 3. ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan.

menangis buruk. saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol. mencegah evaporasi berlebihan . dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. atau kulit belang: bradikardia . 7. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme. Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin.4. 5. Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi. Bila penambahan berat badan tidak adekuat. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. evaluasi derajat dan lokasi ikterik.) 9. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi. Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. atu latergi . 10. 8. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. terlalu tinggi. 6. Kaji haluaran dan berat jenis urin. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. (catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. akrosianosis . menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. atau incubator. 11. penyebar hangat. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pantau penambahan berat badan berturut-turut.6oF. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). Pantau system pengatur suhu. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. (pertahankan batas atas pada bayi 98. tergantung pada ukuran atau usia bayi). Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. Pertahankan kelembapan relatif 50-80%.

alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97. Evaluiasi sumber eksternal ( mis. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh . (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua. atau sinar matahari). Perhatikan perkembangan takikardia. atau pada suhu ruangan. Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan. elektrolit. warna kemerahan . Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator.apnea..70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan. diaforesis. kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). 12. koma atau aktifitas kejang . Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. dan kadar bilirubin).. (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . khusunya dengan orangtua. Kolaborasi 17. distensi abdomen. Rasional: kontak di luar tempat tidur. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: . 13. Kaji bayi terhadp muntah. memerlukan peningkatan suhu lingkungan. 16. 14. Glukosa. foto terapi. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis.) 15. Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. lampu pemanas.20C). Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat. Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu. serum. Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera. Pantau dextrosix.) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau apatis. Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. GDA. letarge.

peningkatan suhu lingkungan. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. Fenobarbital. Berikan obat-obatan. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. kurang lapisan lemak. Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin). bila diperlukan. Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. dibawah 2500 g). 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. 19. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. sesuai indikasi : a. D. bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. 20. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat. 18.Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat. b. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN.

sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan.006 – 1.013). dan berat jenis urin DBN. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari.013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. berat jenis urin bervariasi. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. Intervensi Mandiri 1. Rasional. Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. 3. 2. Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam. Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan. Rasional. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori. Ht. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran. atau setiap 2-4 jam. kadar lebih besar dar 1.

Evaluasi turgor kulit. Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. meningkatkan resiko dehidrasi. Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. 9. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. membran mukosa kering. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. 10. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata). bayi lebih kecil. distensi abdomen. Pantau tekanan darah (TD). Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. Perhatikan letargi. menangis dengan nada tinggi. suhu termonetral. membran mukosa. dan magnesium sulfat 50%. 6. keadaan fontanel anterior. Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. nadi. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan. Berikan kalium klorida. Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sesuai indikasi. peningkatan apnea. TAR lebih rendah). glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. atau aktivitas kejang. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. 7. hipotonia. 8. kalsium glukonat 10%. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. mis. dan fontanel cekung. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. 5. kedutan.4.

dan stress karena hipoksia. c. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. depresi rangsang paratiroid. sepsis. 12.53%. khususnya pada PDA. 11. Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). Berikan dopamin hidroklorida. Kalsium serum.jantung. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. 14. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar. ata muntah. dan nekrosis. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah. sperti kerapuhan. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. kalsifikasi. atau hipoglikemia. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon. b. diare. sesuai indikasi. displasia bronkopulmonal (BPD). atau enterokolitis nekrotisan (NEC). atau gagal ginjal. Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah. bila diberikan melalui arteri umbilikal. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. Kolaborasi 13. asidosis. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. Kalsium serum dan magnesium serum. asidosis. Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. Berikan transfusi darah. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah.

Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang. dan arefleksia. yang diikuti dengan apnea. letargi. Kaji upaya pernapasan. peningkatan bilirubin). hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. (Rujuk DK: pertukaran gas. dan sianosis. RISIKO TINGGI TERHADAP. KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. 3. glukosa serum. hipotonia. atau aktifitas kejang. resiko tinggi terhadap). Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. kedutan. atau mata terbalik). penonjolan atau ketegangan fontanel. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . mata terbalik. kurang dari kebutuhan tubuh. kejang mioklonik. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. postur tonik. flaksid kuadriparese.PDA. (Rujuk DK : Nutrisi. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. E. Pantau kadar Dextrostix. tidak berespons. Bila tidak teratasi. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. 2. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. kacau mental. Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. perubahan faktor pembekuan. hipotensi. kerusakan). pernapasan yang sulit. Intervensi Mandiri 1. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. perpindahan elektrolit. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. perubahan. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. CEDERA. Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. meningkatkan resiko ruptur.

4. kapiler rapuh. b. dan opistotonus. kacau mental. yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural. sangat samar. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. Ht / Hb. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. 5. syok hemoragi. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. Kaji warna kulit. hiperrefleksia. Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak. sesuai indikasi. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu. Kolaborasi 6. (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada. Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK).Rasional: Trauma kelahiran. sesuai indikasi : a. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia. c. 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). Pantau pemeriksaan laboratorium. Ukur lingkar kepala. GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen.

a. c. Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel.7. b. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. sesuai indikasi: Kalsium. magnesium. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi. meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. ultrasonografi kranial. a. Penempatan pirau ventrikuloperitoneal. d. Berikan obat-obatan. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. b. 8. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. Ventrikulopunksi atau tap. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. e. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. natrium bikarbonat. yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. dan atau glukosa. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH.

Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. kerusakan SSP dengan perdarahan. e. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. f. F. imaturitas sfingter kardia. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. Furosemid. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. d. asetazolamid. atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari. menelan. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah). (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. atau steroid. Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. PERUBAHAN. Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. NUTRISI. Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. menghisap. gag. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak). Intervensi Mandiri 1. 9. otot abdominal lemah. refleks lemah. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . tidak ada. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. kapasitas lambung kecil. dan batuk).c. atau palsi serebral). Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan.

2. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. Bila distress pernapasan ada. jadwal pemberian makan perlu diubah.Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. dan cairan peroral harus ditunda. penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. 8. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. 4. Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. dan distensi abdomen. cairan perenteral diindikasikan. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Kaji status fisik dan status pernapasan. 5. Bila > 2 ml diaspirasi. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. 3. 6. Auskultasi terhadap adanya bising usus. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . derajat kelelahan. peningkatan resiko aspirasi. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. semua ini menurunkan status pernapasan. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. 7. ibu dapat menggosok dot pada payudara. frekuensi pernapasan.

Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. trombosis pembuluh darah. dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. atau hasil positif dari tes guaiak. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. (Rujuk pada DK: konstipasi. untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. muntah. Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. 12. Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. 11. hipoksia.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. Kolaborasi 14. muntah. 13. Mulai pemberian makan dengan air steril. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. dengan tepat. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung. Rasional: Stress dingin. residu lambung berlebihan. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. regurgitasi. dispnea. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). glukosa. biasanya septikemia Candida. 9. Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. dan ASI atau formula. peningkatan suhu. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. 10. atau sianosis). Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan adanya diare. resiko hipoglikemia meningkat. resiko tinggi terhadap). Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis.

Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). obstruksi. bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. dan zat besi. sesuai indikasi. Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. penyakit paru kronis. (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. Pertahankan kepatenan. 17. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. dengan protein 3-4 g/kg/hari. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. ketergantungan respirator. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. 18. nasoduodenal). 19.Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. C. glukosa. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. mineral. serta bahaya menekan ginjal imatur. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . elektrolit. dan E. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. sindrom malabsorpsi. takipnea. D. Berikan vitamin dan mineral. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. 15. nasojejunal. Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. 16. Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. khususnya vitamin A.

dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap. INFEKSI.nekrotisan. kadar pH. trombosit. protein total. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru). Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. urin. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. Pantau pemeriksaan laboratorium. CSS. prosedur invasif. 2. lama pecah ketuban. prematuritas yang ekstrem. glukosa serum. elektrolit. Intervensi Mandiri 1. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. kulit rapuh. pemajangan lingkungan (KPD. mis. jaringan trauma. Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. dan adanya korioamnionitis. pemajangan transplasental). kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. dan tanda vital DBN. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). 20. Tinjau ulang catatan kelahiran. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden.

kongesti nasal. atau drainase dari mata atau umbilikus. genital. atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. 3. sianosis. atau paronisial). infeksi pernapasan akut. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau takipnea). 5. seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. bila mungkin. Buat kelompok bayi. petekie. (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). demam. ikterik. herpes simpleks aktif (oral. luka basah. distres pernapasan (apnea. gastroenteritis. 4. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. dan herpes zoster. 7. Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. dan pekerja lain perprotokol. 8. letargi atau perubahan perilaku. suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. 6. Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. orangtua. dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara.ASI. Rasional: Penggunaan alkohol lokal. triplet dye.

000 sampai 225. Rasional: ASI mengandung IgA. dan buang setelah 24 jam. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam. Dapatkan specimen. CSS. Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan. dan kateter sebagai daerah steril. lesi kulit terlihat. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. iodin tingtur. Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan. Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. atau nebulasi. Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). Seri jumlah SDM dan diferensia.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. ketidakstabilan suhu. penurunan TD. bila tersedia. 12. malas. darah. 16. 10. 11. Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13. atau eritema pada dinding abdomen. seperti bradikardia. Kolaborasi 15. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. irigasi. dan netrofil. edema. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. limfosit. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban. Berikan ASI untuk pemberian makan.9. 14. Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. nasofaring. makrofag. Perlakuan jalur arteri. atau iodofor. atau sputum bila bayi diintubasi. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). ambil spesimen darah pada waktu yang sama. Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. stopkok.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia.

membatasi reabilitas diagnostic. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. 18. sesuai kebutuhan. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin. 20. hipoglikemi. anemia. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. haluaran. KELEBIHAN CAIRAN. Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas. tetapi pada bayi praterm. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. b. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . dan mengubah flora normal bayi baru lahir. ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. 17. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri.000/mm3 c.hari ke hari. dan PH DBN. Bantu dengan pungsi lumbal. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . abnormalitas sushu. Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi. H. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. atau syok.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. 19. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. selain itu.

7.006 sampai 1. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan. Pantau haluaran. Ukur berat jenis urun. Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. ronki. perhatikan adanya krekels. Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. Kolaborasi 6. dispnea atau takipnea. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam. kreatinin. dan timbang bayi per protocol. Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. 4. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat.013. kadar asam urat. 3.Intervensi Mandiri 1. resiko tinggi terhadap. lebih disukai dengan menimbang popok. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal. jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen. 2. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi. Evaluasi hidrasi. 5. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. Nitrogen urea darah. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan. Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. b. Kadar elektrolit dan PH.

melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya. KONSTIPASI. I. 9. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Intervensi Mandiri 1. elektrolit. Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. perbaiki keadaan hipoksik. 2. ketidakaktivan fisik. dan gangguan asam basa. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. Perbaiki cairan. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE.8. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. Pantau bayi terhadap toksisitas obat. perubahan motalitas gastric. otot – otot abdomen. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan . karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. Auskultasi bising usus. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi. Ukur lingkar abdomen. Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat.

Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis. biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama. perubahan. Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. kekakuan. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. mengakibatkan sepsis. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . syok dan KID 8. Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. risiko tinggi terhadap : nutrisi. Minimalkan penanganan bayi . kurang dari kebutuhan tubuh. kulit abdomen berkilau atau tegang. berikan gosokan pada wajah. nyeri tekan. Bicara pada bayi. muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan. Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . 5. Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen.8% bayi praterm. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . dan tiodak adanya bising usus.3. tangan. Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. meludah berlebihan. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. 4. dan kaki. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. 6. Kolaborasi 9. Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. syok. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. Tes residu gaster. 7. lengkung usus dapat dilihat. seperti distensi abdomen. kekurangan volume cairan . risiko tinggi terhadap.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses.

dapat meningkatkan pemulihan usus. J. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. KERUSAKAN. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. penebalan dinding. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric. Pasang selang orogastrik atau NG. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus. perubahan status nutrisi. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 11. INTEGRITAS KULIT. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. 13. 14. tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. sesuai indikasi. 16.10. penggunaan restrain. jumlah trombosit. sesuai kebutuhan. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12. 17. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan. bila diperlukan. Siapkan untuk pembedahan. masa protrombin. 15. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu.

Bebas dari cedera dermal. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis.V. 5. 6.Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. 7. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. jalur I. 4. 3. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. Inspeksi kulit. Berikan latihan rentang gerak. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit. dapat mengakibatkan sepsis. Hindari penggunaan agens topical keras. 2. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . perubahan posisi rutin. Rasional : setelah 4 hari. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. Intervensi Mandiri 1. elektroda. Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . Minimalkan manipulasi kulit bayi. Berikan jeli petroleum untuk bibir.dan sebagainya. dan kantung urin. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab.melindungi pathogen invasive. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang. Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal. Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal.

iritabilitas. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. dapat membantu mencegah infeksi. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. panggil nam. Bicara atau bernyanyi pada bayi. Berikan saleb antibiotic pada hidung. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. waslap) bila tepat. Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. khususnya pada waktu pemberian maka. mainkan music lembut dalam ruang perawatan. Bebas dari tanda kelebihan sensori. Rasional : memberikan rangsangan taktil. kenalkan tekstur (spatel lidah. perubahan rangsangan lingkungan. K. tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka. permainan. Berikan perawat primer untuk setiap shift. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan.8. apatis. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. 4. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. efek – efek terapi. Rasional : memberikan rangsangan auditorius. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. 2. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan. perubahan tengangan otot. 3.

Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 8. 11. bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. Gendong bayi setinggi wajah. Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. Kaji respon bayi terhadap rangsangan. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi. 10. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. memungkinkan kontak mata. Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi.5. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori. Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual. Memberikan linea berwarna. 7. 6. 9.

Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. kondisi yang menyrtai. 45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . adanya beberapa anomaly congenital. 15. 17. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. Ukur lingkar kepala. 16. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir. Imaturitas.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. menurunkan retensi lambung. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. 13. 14. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. 12. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan. yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. dan kebutuhan /respon individu bayi. prognosis. Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. Timbang berat badab bayinsetiap hari. dan peningkatan ini.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. solusio plasenta 2. malaria)  Kronis (misalnya TBC. sifilis. penyakit jantung. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. faktor janin. Handayani. yaitu faktor ibu.b. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi.  Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. 2003). hiperbilirunemia. yaitu preeclampsia dan eklampsi. misalnya sindrom gangguan pernapasan. Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella. c. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. faktor plasenta. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. & Kusuma. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. tidakdiketahui : 1. daya hisap yang lemah dan sebagainya. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. Faktor ibu  Toksemia gravidarum.

2003). 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. 13) Tonus otot lemah. golongan darah ABO) 3. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. Handayani. 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. untuk bayi perempuan klitoris menonjol. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2010. mengakibatkan reflek hisap. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. & Kusuma. telapak kaki halus. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 11) Tumit mengkilap. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. Surasmi. Testis belum turun ke dalam skrotum. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. 10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya.

kekurangan faktor pembeku seperti protombin. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin.berat badan. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya. 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia. Produksi urin yang sedikit. Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea. urea clearance yang rendah. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. hipertensi dan hiperkapnea. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur. faktor VII dan factor Christmas. 2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. otot yang tidak aktif. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2). 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K.

2003). Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. Setiap bayi baru lahir (prematur. panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. distorsi dan parut retina menjadi buta. Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants. Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit. yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. Handayani. kulit kering keriput dan mudah diangkat. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. dysmature. fibrosis. & Kusuma. 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. small for dates. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. fetal malnutrition.darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan.

yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang. 2010). hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain).. 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat. berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya. 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya. limpa. perdarahan paru yang massif. 2010). Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan. Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. berat hati. umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. Perkembangan dari otak. 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. 53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. susu adalah sumber nutrisi yang utama. begitu pula dengan kuku dan tali pusat. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. Maka dengan demikian. Untuk itulah selama dirawat. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal. Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Selama belum bisa mengisap dengan benar. Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Ototototnya juga relatif lebih lemah. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. 3) Minum cukup Bagi bayi. minum susu digunakan menggunakan pipet.

penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b. Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu .tidak ada infeksi.lanugo dan verniks caseosa banyak. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. Asuhan Keperawatan 1. Namun. kelainan jantung.demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan. 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . DM.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ).  Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora. bayi biasanya boleh dibawa pulang. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan. Pengkajian a.ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna.

Edema kelopak mata umum terjadi .lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. 3.koordinasi refleks untuk mengisap.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu.kurus. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menandakan Respirasi Distress Syndrome 5. Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr.2. Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28.pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok .menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4.pernafasan cuping hidung.lingkar dada < 30 cm.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu. Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang.sutura mungkin mudah digerakkan.lingkar kepala < 33 cm. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama.panjang badan < 45 cm.

Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas. tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. 2004) 1. asidosis metabolic. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Diagnose Keperawatan a. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung. hipokalsemia. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. hiperkapnea. jalan nafas paten. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. 3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. asidosis metabolic atau hiperkapnea. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. hipoglikemia. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. glukosa serum. elektrolit) Rasional : hipoksia. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. khususnya adanya hipoksia.

Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu). pertahankan kepala tetap tertutup. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan.4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . isolette. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. b. Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia. atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka. incubator.6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat. periksa suhu rectal pada awalnya.4-37. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan. penurunan lemak sub kutan.

Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia.Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum. Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh. kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. 2) Auskultasi bising usus. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. natrium bikarbonat. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap.Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. c. memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. perhatikan adanya distensi abdomen. Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital. d. Tujuan : .

Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. Criteria : leukosit normal. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. yang dapat mengakibatkan sepsis. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural. dapat membantu mencegah infeksi. tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. 60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. 6) Hindari penggunaan agen topical keras. perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. e. 3) Berikan latihan gerak.Intervensi 1) Inspeksi kulit.

yaitu : 1. Asfiksia Livida (biru) 2. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. 2001). 2. letargi tau perubahan perilaku. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian. misalnya : suhu. penimbunan CO2 dan asidosis. Asfiksia Neonatrum 1. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis. ASI mengandung Ig A. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran. limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. 1989). Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. (Mochtar. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. makrofag. (Saiffudin. 3.

Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d. Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR.Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. yaitu: a. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c. Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b.

Hipoksia 2. tonus otot berkurang 6. meliputi disproporsi sefalopelvis. kelainan congenital. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Faktor umbilical. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. obat-obatan. hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. meliputi amnionitis. RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Faktor ibu.Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1. 6. kesulitan kelahiran 5. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. solusio plasenta. Bradikardia 5. 2. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. diabetes. Warna kulit sianotik/pucat 7. anemia. Tanda Dan Gejala 1. meliputi persalinan lama 3. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. Faktor plasenta. dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). meliputi plasenta previa. Faktor janin. Faktor uterus. lilitan tali pusat 5. insufisiensi plasenta 4. meliputi prolaps tali pusat. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. Manifestasi Klinik a. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak.

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium. c.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a. keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. 64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates. b. nistagmus 8. hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit .

tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1.24 menunjukkan status praasidosis. Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. 9.d. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3. Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2. Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b. kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah.20 sampai 7. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . menunjukkan hemolitik 10. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a.

maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan.1. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. ventilasi aktif harus segera dilakukan. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. usahakan mengikuti gerakan tersebut. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. 2.

Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. hipoglikemia.kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pengkajian 1. Eliminasi Dapat berkemih saat lahir.5 menit…. 11. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik). atau efek narkotik yang memanjang. Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit……. Penampilan asimetris (molding. nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. 5. 40-45mmHg (diastolic). apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. sehat.skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. hematoma) Menangis kuat. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin. menagndung 2 arteri dan 1 vena 2. kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak.. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. 3. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Bunyi jantung. edema. Asuhan keperawatan A. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.

pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat. oksigen). atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. atau pada oksipital). Diagnosa Keperawatan 1. nevi telengiektatis (kelopak mata. produksi mucus yang berlebihan. Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran. atau perubahan warna harlequin. Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . antara alis mata.d. ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal). Keamanan    Suhu terentang dari 36. kurangnya suplai O2 dalam darah 3.d. fleksibel. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. Resiko cedera b. Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal. secara umum tidakada sianosis.6. produksi mucus berlebihan 2.  Abrasi kulit kepala mungkin ada B. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. Perubahan proses keluarag b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Bebas tanda distress pernapasan. Intervensi Keperawatan 1.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut.d.d.d. bercak port-wine. warna merah muda atau kemerahan. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep). Bersihan jalan nafas tidak efektif b.

variable yang memanjang.3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. dan warna serta jumlah cairan amniotic. atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. oligohidramnion. Tinjau ulang status janin intrapartum. hipertensi karena kehamilan. Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. kadar pH kulit kepala. atau deselerasi lambat. variabilitas denyut per denyut. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. perubahan periodic pada DJJ. atau diabetes). Seperti komplikasi prenatal. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. dan penurunan variabilitas DJJ.20. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7. termasuk denyut jantung janin (DJJ).

Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal. sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. Pernapasan pertama. Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . merupakan yang paling sulit. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran. Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu. Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal. Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan.atau distress.

Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. tempatkan stoking penutup kepala. Pada awalnya sehat. sesuai kebutuhan. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. retraksi dada. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida. atau ronki. Keringkan bayi dengan selimut hangat. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis. cairan. hisap nasofaring dengan perlahan. dan membantu mencegah aspirasi. yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. memudahkan upaya pernapasan. pernapasan mendengkur. Pantau nadi apical selama penghisapan. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. krekels. tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. meningkatkan PO2 alvolar dan .kelahiran). Ronki menandakan aspirasi sekresi oral.

Menandakan hipoksia intrauterus kronis. Perhatikan nadi apical. Kaji tonus otot. Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer. Akrosianosis. terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. namun.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Perhatikan adanya pandangan mata lebar. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium.

perlu untuk mencegah aspirasi mekonium. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. Berikan tindakan resusitatif. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum. penghisapan dalam. diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)). Pada kasus hipoksia yang lama. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. Meningkatkan jalan napas paten.Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung. Bila bercak mekonium ada. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. pada bayi baru lahir.

kulit. dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin. 2. Mencegah kehilangan panas melalui konduksi. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya.d. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi. Intervensi . Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi. dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin. sesuai indikasi. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti. Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.fasilitas tingkat III/IV. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin. pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat. yang sakit.

kehilangan panas pad bayi baru lahir. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator). pertahankan suhu udara 1. Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara. namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin. Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral.50C. pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat. Suhu inti (rectal) biasanya 0. Suhu kulit dipertahankan mendekati 36.50C lebih hangat dari suhu tubuh. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti.50C lebih tinggi dari suhu kulit. melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. kulit lebih besar. Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. ekstremitas fleksi. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. metabolism dan konsumsi oksigen). makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin. Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan. . hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan.

belang-belang atau pucat. mendengkur berat. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit. vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan. Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. asidosis. sesuai indikasi. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia. dan pernapasan uping hidung). Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia. serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. sianosis umum. retraksi otot pernapasan. kulit tangan dan kaki dingin. dan melepaskan katekolamin adrenal. bradikardia. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. dan penurunan pernapasan.

Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. asidosis dan asfiksia. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. 3. menentukan usia gestasi.d. Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi.meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus. Resiko cedera b. dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius. sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis.

d. Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir.introitus ibu. Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . 4. Perubahan proses keluarag b. Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua. yang mungkin ada pada janin lahir ibu. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan. Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran. Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus.

Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi. 4. dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir. Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi.neonates memungkinkan. dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan.

meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm.94% bayi yang terkena adalah bayi premature d. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. malformasi gastrointestinal anatomik. dan gangguan pertahanan pada host. f. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal. dan pemberian susu formula. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil. seperti prematuritas. atau masalahmasalah medis yang lain e. 3. 7% . Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates. NEC terjadi pada 2% . 62% . polisitemia. faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain. NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. kolonisasi bakteri pada intestine. Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir.7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b.13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital. NEC terutama menyerang bayi prematur. a. 2. Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal.

radikal bebas. terutama makanan-makanan formula. IgA. lisozim. sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. ileum. Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. dan lactobacillus bifidus growth factor. IgA. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. ulserasi. termasuk nekrosis dan ulserasi. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. Saat hal tersebut terjadi. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal. c. diduga memperparah proses penyakit. aliran darah ke abdomen. Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal. Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. Pada saat lahir. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. produk fermentasi bakteri dan toksin. ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. laktoferin. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ditambah lagi. b. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. usus belum mampu mencerna makanan dengan baik. Feeding process Pada neonatus. Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. a.mediator inflamasi (sitokin). barrier mukosa belum berkembang dengan baik. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis.

Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. karbon dioksida. Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. perotinotis. dan kematian. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. aspirasi gaster.membentuk asam organik. syok. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus. menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. meskipun demikian. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. apnea. dan adanya suatu substrat seperti formula. gangguan otot (muscular guarding). dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. 5. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. kolonisasi bakteri usus. mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. Gambaran yang nyata meliputi letargi. dan feses yang mengandung darah. Saat NEC berkembang. 4. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen. dan eritema pada dinding abdomen. terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. muntah empedu. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen. dan hipoperfusi. patogenesis NEC adalah multifaktor. Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis.

dan mortalitas penyakit. Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari. Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. Secara khas. komplikasi.Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa.

Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50.000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b.6) Koagulasi intravaskular diseminata 6. Komplikasi a. Komplikasi jangka panjang. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7.

khusunya pada NEC derajat awal. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid. teraba massa abdomen. kadar hydrogen dapat meningkat. dan parasentesis yang positif lebih dari 0. antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. Penatalaksanaan a. analisis gas adarh. Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC. elektrolitserum. 8.b. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik. 1) NPO. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus. dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. transfusi produk darah sesuai keperluan. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos.5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. hitung platelet.

Abdomen yg distensi g. d. Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. e. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. dan status asam-basa. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara. Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Pantau tanda vital  perforasi usus. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . elektrolit. dan material tinja. septikemia. cairan. Dimulai dengan pengenalan awal b. 2005). 9. d. Pantau platelet. Pertimbangan keperawatan a. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan. Sepsis Neonatrum 1. syok kardiovaskular. Mengontrol infeksi 5. Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. diberikan scr bertahap h. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini.c. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi.

dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. 3. Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. 2. antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. sering mengalami komplikasi. Listeria monocytogenes. (Vietha. Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Sterptococcus pneumoniae. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. Neisseria meningitidis. rubella). Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi. Haemophilus influenzae tipe B. bakteri (streptococcus B). Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. 2008) 2. dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan.75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus. 1. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). 2000). Salmonella. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu.

kadang-kadang dapat megarah ke sepsis.a. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. dan kekacauan metabolik yang progresif. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . g. terhambatnya fungsi mitokondria. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. yang bila tidak segera dirawat. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . Demam yang terjadi pada ibu c.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium. Proses kelahiran yang lama dan sulit. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. 4. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Perdarahan b. dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. pemasangan sejumlah kateter. Infeksi pada uterus atau plasenta d. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas.

d. yaitu : a. atau basilus Listeria monocytogenesis. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif). b. menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Setelah lahir. asidosis metabolik. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan.Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. Faktor. dan syok. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. ras. Kurangnya perawatan prenatal. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal.Prosedurselamapersalinan. Ketuban pecah dini (KPD) e. protozoa Toxoplasma. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Ibu yang berstatus sosio. 2005). dan latar belakang. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c. 2) Defisiensi imun.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Yang lebih umum. Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram).

sipilis. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. c. herpes. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. paling sering akibat kontak tangan.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial). 4) Pada bayi yang minum ASI. sitomegalo. Bakteri yang dapat melalui jalur ini. dan toksoplasma. influenza. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Insidens sepsis pada bayi laki. yaitu : 1. parotitis. hepatitis. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella. antara lain malaria. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar. spesies Lactbacillus dan E. seperti steroid. bersama dengan penurunan fibronektin. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan.tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. aktifitas lintasan komplemen terlambat. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin.colli.colli ditemukan dalam tinjanya. koksaki. Dengan adanya hal tersebut. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. 3) Kadang.

Candida albican. retraksi. merintih. Infeksi paska atau sesudah persalinan. ubun-ubun membonjol 6. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. muntah. sianosis. Hematologi: Ikterus. Sistem kardiovaskuler: pucat. petekie. malas minum. Akibatnya. infus. Saluran cerna: distensi abdomen. perdarahan. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Cara lain. Sistem syaraf pusat: iritabilitas. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. dispnue. kulit lembab.2. tremor. takikardi. anoreksia. bradikardi 5. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius. 1. takipnu. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. kejang. yaitu saat persalinan. sianosis 4.alat : penghisap lendir.. selang nasogastrik. Umum : panas (hipertermi).gonorrea. diare. malas minum. letargi. Saluran nafas: apnoe. selang endotrakhea. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hiporefleksi. jaundice. hipotensi. botol minuman atau dot). Pada masa intranatal atau saat persalinan. kejang. terjadi amniotis dan korionitis. purpura. sklerema 2. hepatomegali 3. pucat. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. 3.dan N. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. muntah. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. splenomegali. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan. pernapasan tidak teratur. tidak kuat menghisap. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. diare.2003) 5. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. nafas cuping hidung.

rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR). 6. nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. 7. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. GCSF. CRP. dan untuk menentukan prognosis. Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. memantau kemajuan pengobatan.Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a. Saat ini. TNF. sitokin IL-6. spesifisitas lebih dari 85%. tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. prokalsitonin. dan hitung trombosit. hitung neutrofil. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. petunjuk untuk penggunaan antibiotik. dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. IL8. G-CSF. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus. Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. IL6 (atau IL1-ra 0. nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. dan panel skrining sepsis. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . neutrofil imatur. kemerahan. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. dan hematological indices pada hari ke-0). dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. kejang. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. CRP.

Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi.v i. 6.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. 2.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. 5. USG kepala dan lain-lain. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. kejang. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. pengecatan Gram).v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari. Pengkajian a. foto abdomen. Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning. terapi kejang. letargi. terapi oksigen/ventilasi mekanik. dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i. lengkap. feses lengkap. kimia.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis).m/i. pemeriksaan CRP kuantitatif). CRP tetap abnormal.1. urine dan feses (atas indikasi). terapi hipoglikemi/hiperglikemi. plasma. gula darah. lemah. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i. 3. pemeriksaan darah dan CRP normal.m (atas indikasi khusus).  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Identitas klien b. trombosit. tak mau menghisap. kultur darah. transfusi darah. terapi syok. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel. urine. analisa gas darah. Asuhan Keperawatan A. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap. cairan serebrospinal. foto polos dada. 4. koreksi metabolik asidosis. transfusi tukar.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

hematoma spontan. napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah.ekimosis. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia. adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 3. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. vascular frekuensi nadi.

2007. Saifuddin AB. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. A. Diagnosa Keperawatan. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum.. Jakarta: EGC.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik.5. Sitohang. 2002. N. Cecily Lynn. edisi 4. Carpenito. Edisi 6. Adriaansz G. S. Edisi 2. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Buku saku keperawatan pediatric. Doengoes. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien.DAFTAR PUSTAKA Betz. 2000. E. et al. Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara.. LJ. Marilyn E. (2010). H. Rustam. Jakarta : EGC. (2003). 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Sinopsi obstetric. (2004). Jakarta: EGC. Hawa. A. Mochtar. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC. 2001. Sowden. Linda A. Jakarta: EGC. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro. 2009. 1997. Jakarta: EGC. 1998.hon. N. Paulette S. Ed. Rahayu D P. Handayani. 2004. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. Jakarta: EGC. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. & Kusuma. Surasmi. Berkow & Beers. Aplikasi pada Praktek Klinis. Perawatan Bayi Risiko Tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful