MAKALAH SISTEM REPRODUKSI BAYI BARU LAHIR BERMASALAH (FREMATUR, BBLR, ASFIKSIA NEONATORUM, NECROLIZING ENTEROCOLITIS, SEPSIS

)

Disusun Oleh

Kelompok 7 :
Nur Aidal Fitri Jumrawati Rahim Sunyati Arwin Lebrina Rezkywati A.Hilmi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya lah sehingga Makalah Sistem Reproduksi ini yang berisi tentang “Bayi Baru Lahir Bermasalah” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai hasil pencarian kami dari beberapa referensi. Makalah ini didalamnya dipaparkan mengenai Bayi baru lahir bermasalah dengan serangkaian informasi dari berbagai sumber,serta di sertai dengan asuhan keperawatan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh kalangan mahasiswa maupun perawat. Kami menyampaikan banyak terima kasih pada ners-ners pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan kami, tentunya makalah ini tidak mungkin sempurna. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami perlukan untuk kedepannya. Terima kasih keperawatan, baik

Makassar,18 Februari 2013

Penulis

2

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

BAB I PENDAHULUAN Tujuan kelahiran bayi ialah lahirnya seorang individu yang sehat dari seorang ibu yang sehat. Bayi lahir sehat artinya tidak mempunyai gejala sisa atau tidak mempunyai kemungkinan mendapatkan gejala yang penyebabnya dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik. Sekarang telah banyak diketahui bahwa penyakit bayi baru lahir merupakan kelanjutan penyakit ibu atau disebabkan oleh kelainan pada kehamilan dan kelahiran. Khusus untuk masalah BBLR ,sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dengan berbagai penyebab. Dimana bayi BBLR akan mengalami banyak masalah yang akhirnya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi karena BBLR tersebut menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat., khususnya perawat anak dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan .

3

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Bayi premature berisiko karena sistem-sistem organnya tidak matur dan cadangannya kurang. term. Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua golongan (Sitohang. 2005) BAYI PREMATUR DI GARIS BATAS 37 minggu gestasi 2500 sampai 3250 gram 16% seluruh kelahiran hidup Biasanya normal 4 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . atau bayi pascamatur dengan berat badan yang sama (Bobak.Kecil Masa Kehamilan (NKBKMK). Defenisi Bayi prematur (preterm) yaitu bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi 37 minggu. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant (BBLR) (Sitohang. Dahulu neonate dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. 2006). dan post term.BAB II PEMBAHASAN A. 2. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan . pascaterm. 2006): 1. Perbedaan antara Bayi Prematur di Garis Batas (Borderline). Masalah-masalah potensial dan kebutuhan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari kebutuhan perawatan bayi aterm. Bayi Prematur Sedang dan Sanggat Prematur (Bobak. 2008). Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK). Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat yang dapat dibandingkan. dismatur dapat terjadi dalam preterm. 2005). Prematuritas murni adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK). Frematur 1. tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong. Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan.

8% seluruh kelahiran hidup.Masalah Ketidakstabilan Kesulitan menyusu Ikteris RDS mungkin muncul Penampilan Lipatan pada kaki lebih sedikit Payudara lebih kecil Banyak rambut halus Lanugo Genitalia kurang berkembang BAYI PREMATUR SEDANG 31 sampai 36 minggu gestasi 1500 sampai 2500 gram 6% sampai 7% seluruh kelahiran hidup Masalah Ketidakstabilan Pengaturan glukosa Keseimbangan cairan RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusui Penampilan Seperti pada bayi premature di garis batas. lebih banyak pembuluh darah BAYI SANGAT PREMATUR 24 sampai 40 minggu gestasi 500 sampai 1400 gram 0. tetapi lebih parah Kulit lebih tipis. tetapi hamper seluruh kematian neonatal 5 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

2) Faktor janin 6 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. 2006). 2005). Etiologi 1) Faktor Ibu a. makin medndekati nilai normal aterm. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi rendah. 2006). baik usia gestasi maupun berat lahirnya.dan deficit neuurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir Masalah Semua Penampilan Kecil. dan nefritis akut (Sitohang. c. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum. tidak memiliki lemak. d. kulit sangat tipis Kedua mata mungkin berdempetan Bayi premature mengalami kerugian yang berbeda saat mereka menghadapi transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. b. 2006). ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun (Sitohang. Pada umumnya... diabetes mellitus. Gangguan fisiologis dan kelainan malformasi juga mempengaruhi respons mereka terhadap pengobatan. bayi makin mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan eksternal (Bobak. 2. trauma fisik dan psikologis. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Usia ibu Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia > 20 tahun. dan multi gravid yang jarak kelahiran terlalu dekat. Tingkat kerugian bergantung terutama kepada tingkat maturitasnya. toksemia gravidarum. Sebab lain: ibu perokok. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah (Sitohang.

apatis. perokok. leher kaku. Patofisiologi 4. kemampuan hisap menurun Tanda:  Pucat. tidak mau minum.  Taksemia gravidarum  Perdarahan antepartum  DM.Faktor ibu 5. pre Klinik Manifestasieklamsia  Keadaan lain.  Penyakit ibu 8. 3) Faktor lingkungan Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat beracun (Sitohang. kehamilan ganda dan kelainan kromosom (Sitohang. 2006). jaringan lemak Hiperbilirubinemia      Resiko perubahan suhu Resiko kerusakan integritas kulit Masalah kolaborasi hipoglikemia Premature KDG < 20 mg/dl Matur KGD < 30 mg/dl Bilirubin indirek > 20 mg/dl Kemikterus  Letargi  Kejang tonus otot meningkat.  Usia ibu 7. lemah. kejang 7 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan narkotik  Social ekonomi rendah BBLR Imaturitas hepar Faktor janin  Hidrmion  Kehamilan ganda  Kelainan kromosom Faktor lingkungan  Tempat tinggal di dataran tinggi  Radiasi  Za-zat beracun  Sindrom aspirasi  Asfiksia intra uterin janin  Cairan amnion bercampur dengan mekonium dan lengket di paru janin Gangguan konjugasi hepar Defisit albumin  Bayi tampak kurus  Relatif lebih panjang  Kulit longgar.  Keadaan gizi ibu 6.Hidramnion. 2006). 3. alcohol.

8 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Manifestasi Klinik Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah (Sitohang. 2006): a. menelan. Pneumonia. Perdarahan intraventrikuler : perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik. Sistem muskuloskeletal  axifikasi tengkorak sedikit  ubun-ubun dan satura lebar  tulang rawan elastis kurang  otot-otot masih hipotonik  tungkai abduksi  sendi lutut dan kaki fleksi  kepala menghadap satu jurusan e. 2006): 1. Kulit dan kelamin  kulit tipis dan transparan  lanugo banyak  rambut halus dan tipis  genitalia belum sempurna c. Fisik  bayi kecil  pergrakan kurang dan masih lemah  kepala lebih besar dari pada badan  berat badan < 2500 gram b. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna 2. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur sebagai berikut (Sitohang. aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna 3.4. batuk belum sempurna d. Sistem syaraf  refleks moro  refleks menghisap. Sistem pernafasan  pernafasan belum teratur sering apnoe  frekwensi nafas bervariasi 5.

c. Bila inkubator tidak ada. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. sehingga panas badannya dapat dipertahankan (Sitohang. ASI merupakan makanan yang paling utama. karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan sonde menuju lambung.6. b. enzim pencernaan belum matang. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. lambung kecil. Pengaturan suhu Bayi prematuritas dengan cepar akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. kemampuan leukosit masih kurang dan pembentuakn antiboodi belum 9 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kb BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat(Sitohang. karena daya tahan tubuhnya masih lemah. bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas. Bila faktor menghisapnya kurang. Penatalaksanaan Bayi Prematur Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu dan lingkungan. 2006). 2006). pemberian makanan dan bila perlu oksigen. 2006). metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehinggan panas badannya mendekati dalam rahim. a. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari (Sitohang. tetapi frekuensi yang lebih sering. sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Bila bayi dirawata dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan 2000 gram adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2000 sampai 2500 gram adalah 33 sampai 34 derajat celcius. 2006). mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Sitohang. Menghindari infeksi Bayi premature mudah sekali terkena infeksi. Reflex menghisap masih lemah.

retraksi suprastrenal atau substernal.  Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Oleh karena itu. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. dan bernapas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32. Sirkulasi Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak teratur dalam batas normal (120 – 160 dpm) Murmur janutng yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (DPA) 2.sempurna. kurus. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. 10 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 2006). pernapasan diafragmatik intermiten atau periodik 40-60 x/menit)  Mengorok. Dengan demikian. Makanan/Cairan Berat badan kurang dari 2500 g 3. pernapasan cuping hidung. menelan.  Pernapsan mungkin dangkal. komponen pertama dari refleks Moro (ektensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32. tidak teratur. Neurosensori  Tubuh panjang. perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Sitohang. Asuhan Keperawatan Bayi Praterm Pengkajian Dasar Data Neonatus 1. sutura mungkin mudah digerakkan.  Edema kelopak mata umum terjadi. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. Pernapasan  Skor Apgar mungkin rendah. lemas denga perut agak gendut. koordinasi refles untuk menghisap. 4.  Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh. mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)  Refleks tergantung pada usia gestasi.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar.

. dijual bebas atau obat jalanan. 6. nutrisi buruk. 5. kehamilan praterm sebelumnya.  Ekstremitas mungkin tampak edema  Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebaian telapak. komplikasi obstetric seperti abrupsio plasentae. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. mungkin ada kaput suksedaneum  Kulit kemerahan atau tembus pandang.  Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh. 11 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . latar belakang social ekonomi rendah. Penyuluhan/Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberrat persalinan praterm. warna mungkin merah muda atau kebiruan. rentang kehamilan dekat. inkompatibilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis. atau sianosis/pucat. menandakan sindrom distress pernapasan (RDS). Studi cairan amniotik: untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). seperti usia muda. testis pria mungkin tidak turun. adanya infeksi. dilatasi serviks premature. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. ketuban pecah dini (KPD). Keamanan  Suhu berfluktuasi dengan mudah  Menangis mungkin lemah  Wajah mungkin memar. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder. atau penggunaan obat yang diresepkan.  Kuku mungkin pendek.profil paru janin.  Genitalia: labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. dengan klitoris menonjol. Seksualitas  Persalinan atau kelahiran mungkin tergessa-gesa. dan fosfatidilgliserol/fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin. gestasi multiple. akrosianosis. 1.

sepsis. Urinaisis III( pada specimen kedua ynag dikeluarkan): Mendeteksi abnormalitas. Elektrolit (Na++. Jumlah darah lengkap (JDL): penurunan pada hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil Dekstrostik kurang dari 45 mg/ml. atau kesulitan napas yang lama. yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. 7. Sel darah putih (SDP) mungkin kurang dari 10. 3. Laju sedeimetasi eritrosit (ESR): Meningkat. 12. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi. (Hasil menengah bila darah atau mekonium ada) 20. Cl-) : Biasanya dalam batas normal pada awalnya. Penetuan Rh dan Coomb langsung (bila ibu Rh-negatif dan ayah Rh-positif): Menentukan inkompatibilitas. 15. Berat jenis urin: rentang antara 1. Jumlah trombosit: Trambositopienia dapat menyertai sespsis. menunjukkan respons inflamasi akut.013. Kultur darah: Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungakan dengan sepsis. 11. Golongan darah: Dapat menyatakan potensial inkompatibiltas ABO. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis. Protein C-reaktif (beta globulin): Ada dalam serum sesuai dengan proporsi beratnya proses radang infeksius atau non-infeksius. Sinar-x dada (PA dan lateral) dengan bronkogram udara: Dapat menunjukkan penampilan ground-glass (RDS). Kadar fibrinogen: Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi. 8. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan/sedang. 6.006 sampai 1. 16. 12 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 9. 14.000/mm3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita). meningkat pada dehidrasi. Hemates: Memeriksa adanya darah pada feses.2. cedera ginjal. Gas darah arteri (GDA): PO2 munkin rendah. 13. 19. Dekstrostik: menyatakan hipoglikemia. 4. Produk split fibrin: Ada pada KID. Klinites/Klinistiks: Mengidentifikasi adanya gula dalam darah. 10. Kalsium serum: Mungkin rendah 5. 18. Tes shake aspirat lambung: Menentukana ada atau tidaknya surfaktan. K+. 17.

5. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Kemungkinan dibuktikan oleh: hiperkapnia. imaturitas otot arteriol pulmonal. Seri ultrasonografi cranial: Mendeteksi ada dan beratnya hemoragi intraverikuler (IVH). 4. 2. 3. hipoksia. ketidakadekuatan kadar surfaktan. Selain itu. ketidakefektifan bersihan jalan napas. agar skor. termasuk betametason. dan obat-obatan ibu yang di gunakan selama ke hamilan / kelahirann. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI A. imaturitas sistem saraf pusat (SSP) dan sistem neuromuscular. sianosis. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. Membantu mengembangkan unti keluarga sehat. dan stress dingin. kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran. TUJUAN PULANG 1. takpne. Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia. Mencegah atau menurunkan risiko terhadap potensial komplikasi. 2. Berat badan 4½ lb atau lebih besar tepat dengan usia atau kondisi. 22. Keluarga mengidentifikasi dan menggunakan sumber dengan tepat. 4. Mempertahankan homeostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi. 5. Mempertahankan lingkungan termal yang netral. Punksi lumbal: Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal (DBN). bayi yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran . tipe kelahiran. anemia.21. Komplikasi dicegah/teratasi atau ditangani secara mandiri. Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk mengatur peawatan bayi. Mempertahankan homeostasis fisiologis dengan dukungan yang minimal. Menignkatkan fungsi pernapasan optimal. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS Dapat berhubungan dengan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. menderita RDS minimal. Intervensi Mandiri 1. atau yang apgar skornya 13 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dengam penurunan kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas. 3. seperti lama persalinan. bebas dari displasia bronkopulmonal.

catat kadar tiap jam. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati. yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap peningkatan lkdar oksigen. Kaji status pernafasan. dan jenis kelamin. pria 2 kali rentnnya dari pada wanita. sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan nafas dengan kateter 5-10 detik. ubah sisi alat setiap 3-4 jam. Perhatian usia gestasi. (catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan < 1500 g).rendah. 2. atau krekels). hipoksmia asedemia.atau imaturotas otot areterior. Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. Selain itu. Rasional: menandakan distres [pernafasan .( catatAn : pemberian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelahiran membantu mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan). mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus. 5. Silia tidak berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 14 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . khususnya pada bayi yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk menghisap menelan. 3. retraksi. retraksi. Rasional: memberikan pemantaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen (Catatatn: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk 24-48 jam pertama. dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. pernafasan cuping hidung . pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. kemudian mencapai plateau. perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss . ronki. yang mengontrol pernafasan. berat badan. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi sebelum dan selam penghisapan berikan “kantung” ventilasi setelah penghisapan. mengorok. khususnya bila pernafasan lebih besar sri 60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk mempertahankan ekspensi alveolar. Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . 4. Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas. Krekels/ ronki dapat menandakan fasokontriksi pulmunal yang berhubungan dengan TDA.

5F). Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis. Tingkatan istirahat. Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal. 6. dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan.Posisikan bayi pada abdomen bila mungkin berikan matras”tidak rata” sesuai indikasi Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn. 9. pergeseran btitik tampak maksimal. tidak efektifresiko tinggi terhadap). 11. diare. 8. bronkospasme. Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol.jam pascapartum dapat meperberat kesulitan bayi dalam mengatasi vagus. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi . penonjolan dndinng dada. 15 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . resiko tiggi terhadap. 10. resiko tinggi terhadap). Memungkinkan ekspansi dada optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel. menyebabka bradikardi. dapat meningkatkan asidosis. biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi. Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental. 7.7F (dalam 0.tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn awitan pneomothoraks.minimalkan rangsangan dan pengunaan energi. hipotensi. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler. Kantung ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat. atau sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg. hiposemia.Rujuk pada DK: termoregolasi. Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi .atau disritmia jantung. penurunan atau tidak adanya bunyi napas. Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari RDS. Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba.

17. Rasional : hopoksemia. meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi. berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah 16 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . kadar paco2 haru 35-45mmhg. dan menyebabkan duktus arterious tetap terbuka . Hb/Ht. Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam. grafik seri GDA. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian. pengulangan pengambilan sampel darah. diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra individu. Rasional: hipoksemia asdemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan. bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS. meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi. 15. Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal. imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk mempertahankan pernapasn. Tinjau ulang seri sinar x dada. Kolaborasi 12. Rasional: jumlah oksigen yang di berikan. Pantau pemeriksaan laboratorium. dan saturasi oksigen harus 92%-94%. 13. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas. 14.( catatan: pemberian sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium). sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah.: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi keusus. pertumbuhan cepat. atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem akan anemik. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan. dengnanmasker kap.kongesti. Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran. 16. selang endotrakeal atau fentilasi mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari intermiten(IMV). Rasional : atelektasis. dengan teta. Hiperkapnia .Rasional . dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk gas. dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi.

Natrium bikarbonat. 19.(catatan: kadar ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. 22. Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan dengan ASI. Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak cukup untuk memperbaiki asidosis.kapiler. B. b. Surfaktan. Aspirasi isi lambung untuk tes shake. POLA PENAPASAN. penurunan energi. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal. TIDAK EFEKTIF Dapat berhubungan dengan: imatiritas pusat pernafasan. Surfaktan(artifisial atau eksogen). Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan metabolik. Mulai drainase postural. 17 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sesuai indikasi.. 18. menghemat energi. atau vibrasi lobus setiap 2jam. 21. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan retinal trolental fibropasial). Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen. Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam. keterbatasan perkembangan otot. perhatikan toleransi bayi terhadap proedur. dan menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk. bila tepat. Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang terjebak. Fisioterapi dada. yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-33. Rasional: memudahkan penghilangan sekresi. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen tindakan yang penuh setiap waktu). Berikan obat-obatan sesuai indikasi: a. Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas. Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan. meningkatkan istirahat. atau pemasangan selang dada. 20.

atau hiperkapnia. Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN. Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat). GDA abnormal. Anjurakan kontak orang tua. dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. tidak efektif. Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik. tonus jantung.( mis. periode aonea. Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan apneik sejati. Pertahankan suhu tubuh optimal. tonus otot. sianosis . 2. 5. takikardia. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi. Ikan 4. atau hipotonia. 3. 6. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu. asidosis metabolik.(rujuk pada DK: termoregulasi . khususnya pada adanya hipoksia. resiko tinggi terhadap). Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperektensi. Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung . 18 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea. pernafasan cuping hidung. Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. takipneaa. penggunaan bantuan otot. bradikardi.Kemungkinan di buktikan oleh: dispnea. Pergatikan adanya sianosis. Intervensi Mandiri 1. Berikan rangsangan taktil yang segera. yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30. Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas.

bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada . kerusakan). yang dapat menurunkan kejadian apneik. kurang dari kebutuhan tubuh. Tempatkan bayi pada matras bergelombang. e. Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea. Berikan oksigen sesuai indikasi. resikotinggi terhadap). f. Kadang-kadang. elekrolit. Rasional. Larutan glukosa. 9.. Aminoflin. Natrium bikarbonat. hipokalsemia. Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis.dan sepsis dapat memperberat serangan apneik. Kolaborasi 8.mdan kadar obat) sesuai indikasi. glikosa serum. sesuai indikasi: a. Antibiotik. kultur. hiperkapnia. Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap karbondiosida. Rasional : memperbaiki asidosis. Rasional: gerakan memberikann rangsangan. yang menekan fungsi pernafasan dapat terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat yang lama. c. asidosis metabolik. b. perubahan.Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan. 10. (Rujuk pada DK: nutrisi. 7. Berikan obat-obatan. Toksisitas obat. Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan. atau bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka. d. Rasional: mencegah hipoglikemia. Rasional: hipoksia. mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis. Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi. hipoglekimia. 19 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .(rujukan pada DK: pertukaran gas. GDA. Kalsium glukonat. Pankuronium bromida (pavulon). menurunkan frekuensi apnea.

Objek pans dengan tubuh bayi. TERMOLEGULASI. linen. Cadangan metabolik buruk. Periksa suhu rektal pada awalnya. periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. Rasional . Ulangi setiap 15 mnt selama penghangatan ulang.C. Kaji suhu dengan sering. selanjutnya. Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin. 3. Danmanipulasi dan intervensi medis/ keperawatan yang sering. keterbtasan simpanan lemak coklat . Gunakan lampu pemanas selam prosedur. menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan. RESIKO TINGGI TERHADAP. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat . mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan. respons mati terhadap hipotermia. dalam hubunganya dengan tempat tidur isolette atau tebuka. isolette. TIDAK EFEKTIF. seperti stetosko. Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk mendiagnosa aktual} Hasil yang di harapkan neonatal akan: Mempertahankan suhu kilt /aksila dalam 95.5-37. dan pakaian. Mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada. 20 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional. incubator. dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia).) 2. Tempatkan bayi pada penghangat. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup plastik atau kertas alumunium bil tepat. Gunakan bantalan pemanas di bawah bayi bila perlu. (catatan: penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik. Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu).999. atau tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua.3F) bebas dari tanda-tanda stres dingin. ini dapat menyebabkan depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. penurunan lemak subkutan . Intervensi Mandiri 1.1 F(35.

Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi. 21 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Bila penambahan berat badan tidak adekuat. Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin. dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin . 11. kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol.4. tergantung pada ukuran atau usia bayi). Pantau penambahan berat badan berturut-turut. penyebar hangat.6oF. Pantau system pengatur suhu. Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea. Membatasi kehilangan panas melalui radiasi. atau kulit belang: bradikardia . Pertahankan kelembapan relatif 50-80%. yang meninkatkan konsumsi oksigen dan kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik. 10. evaluasi derajat dan lokasi ikterik. (pertahankan batas atas pada bayi 98. mencegah evaporasi berlebihan . terlalu tinggi. Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak semestinya. akrosianosis . Pertahankan kepala bayi tetap tertutup. 8. Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme. 5. menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata. (catatan: warna kulit mungkin merah terang pada perifer. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C) Rasional. tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi. Kaji haluaran dan berat jenis urin. Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin. 7. 6. Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus. Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum. menangis buruk.) 9. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. atu latergi . Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin. saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. Rasional: menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir:hiperbilirubinemia). atau incubator.

GDA. khusunya dengan orangtua.70F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan. saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat Rasional: . memerlukan peningkatan suhu lingkungan. Pantau dextrosix. letarge. 14.. distensi abdomen. Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertermia. Glukosa. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi( mis. warna kemerahan . (rujuk pada DK: kerusakan pertukaran gas . Perhatikan perkembangan takikardia.alat buaian dapat di gunakan bila bayi dapat mempertahankan suhu tubuh stabil 97.20C). Berikan informasi termoregulasi kepada orangtua. Rasional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 990F ( 37. lampu pemanas. 13.. Kolaborasi 17. (catatan: hipertermia dapat terjadi bila bayi di gendong oleh orang tua. mungkin singkat saja bila dimungkinkan untuk mencegah stres dingin. Evaluiasi sumber eksternal ( mis.) 15. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan. 16. serum. atau sinar matahari).) 22 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. atau pada suhu ruangan. Batasi pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakan air hangat. 12. (catatan: bila hipertermia menetap setelah menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu.Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh . atau apatis. diaforesis.apnea. elektrolit. foto terapi. Kaji bayi terhadp muntah. Pastikan posisi yang tepat dari alat pengukur suhu bila digunakan. koma atau aktifitas kejang . kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejala putus zat narkotik harus dipertimbangkan). Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator. Rasional: kontak di luar tempat tidur. dan kadar bilirubin). Dapat berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi. Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang memrluksn intervensi segera.

19. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur. Rasional: Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh hipertermia. Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia. Fenobarbital. Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat. D. b. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada hipertermia. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena. sesuai indikasi : a. bayi akan menggunakan metabolisme anaerobik. 18. ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin). bila diperlukan. mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. 20.Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat menyebabkan masalah asam –basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat. peningkatan suhu lingkungan. Natrium bikarbonat Rasional: Memperbaiki asidosis. kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis. Berikan obat-obatan. kurang lapisan lemak. dengan asam lemak bersaig dengan bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. yang menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan. peningkatan kehilangan air yang tidak kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap oksigen dan glukosa. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat. 23 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Hipertermia karena penghangatan terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea. dibawah 2500 g). Hipotensi karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh. yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia.

Ht. Rasional. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori. kadar lebih besar dar 1. Intervensi Mandiri 1. Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1. memberikan tanda tingkat dehidrasi individu.Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. berat jenis urin bervariasi. dengan megaspirasi urin dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung penampung yang direkatkan. atau setiap 2-4 jam. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk tes laboratorium. Rasional. Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena.013). Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih. Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan.006 – 1. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht. Penurunan berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan total perhari. Kaji haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan / penghitungan popok. Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada waktu yang sama. Kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan. sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. 3. meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-3 pasca kelahiran. 2. dan berat jenis urin DBN. 24 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .013 menandakan ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH. Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam.

Perhatikan edema atau kegagalan masuknya cairan. bayi lebih kecil. dan fontanel cekung. 10. Tes urin dengan Dextrotix per protokol. dan magnesium sulfat 50%. Berikan kalium klorida. Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau 25 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai mengekskresikan glukosa. kalsium glukonat 10%. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat jarum. mis. atau aktivitas kejang. Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia. peningkatan apnea. Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia. Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. 9. Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian. nadi. Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit.4. Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. 5. Perhatikan letargi. Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat. TAR lebih rendah). hipotonia. Fototerapi atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai 50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. membran mukosa. dan menghangatkan atau melembabkan oksigen. meningkatkan resiko dehidrasi. yang paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan. keadaan fontanel anterior. 8. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata). karena pembuluh darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. suhu termonetral. Evaluasi turgor kulit. sesuai indikasi. Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi. distensi abdomen. 6. dan tekanan arterial rerata (TAR) Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB. menangis dengan nada tinggi. yang dapat menimbulkan diuresis osmotik. membran mukosa kering. terlihat oleh turgor kulit yang buruk. Pantau tekanan darah (TD). kedutan. Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum. 7.

Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik. 12. sepsis. Ht Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% . Berikan dopamin hidroklorida. sperti kerapuhan. c. sesuai indikasi. b. atau enterokolitis nekrotisan (NEC). Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : a. Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah. observasi lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema. Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah. ini dapat memperberat entrokolitits nekrotisan. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek tidak baik dari infiltrasi obat. dan stress karena hipoksia. perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular. atau hipoglikemia. atau gagal ginjal.53%. 14. Kalsium serum dan magnesium serum. khususnya pada PDA. Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan penggantian. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat menyebabkan nekrosis hepar.jantung. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis. khususnya bila berhubungan dengan pemberian Pavulon. Kolaborasi 13. (Catatan: Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium). depresi rangsang paratiroid. dan pirau kanan kekiri melalui 26 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan transfusi darah. Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah. Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah. 11. Kalsium serum. dan nekrosis. Berikan infus parenteral: dalam jumlah > 180 ml/kg. ata muntah. asidosis. asidosis. bila diberikan melalui arteri umbilikal. membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia. diare. kalsifikasi. displasia bronkopulmonal (BPD).

Bila tidak teratasi. Hasil yang diharapkan neonatal akan : Bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP. hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA. atau aktifitas kejang. kadar elektrolit dan bilirubin DBN. resiko tinggi terhadap). KERUSAKAN SSP Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan. Perhatikan adanya pucat atau sianosis. 2. dan sianosis. kacau mental. 3. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual]. Kaji upaya pernapasan. Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi. 27 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipotensi. glukosa serum.PDA. letargi. Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral. dan telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia bronkopulmonal. pernapasan yang sulit. kurang dari kebutuhan tubuh. otak dapat menderita kerusakan yang tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. kerusakan). Intervensi Mandiri 1. Pantau kadar Dextrostix. Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa. CEDERA. Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan. Hipokalsemia (kadar kalsium serum <7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan apnea dan kejang. Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku. postur tonik. atau mata terbalik). tidak berespons. yang diikuti dengan apnea. mata terbalik. RISIKO TINGGI TERHADAP. (Rujuk DK: pertukaran gas. meningkatkan resiko ruptur. perubahan. ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia. perubahan faktor pembekuan. dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia atau hipokalsemia pada bayi (mis. dan arefleksia. kejang mioklonik. flaksid kuadriparese. peningkatan bilirubin). perpindahan elektrolit. kedutan. E. penonjolan atau ketegangan fontanel. (Rujuk DK : Nutrisi. hipotonia.

Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH. sangat samar. Bayi gestasi < 32 minggu dapat menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan “mata menjelajahi” yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus. c. atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK). sesuai indikasi : a. perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan perilaku seperti letargi. 5. 28 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . b. (Rujuk pada MK: Bayi baru lahir: Hiperbilirubinemia). Kolaborasi 6. Berikan suplemen oksigen Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen. syok hemoragi. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus berkembang secara normal. Kadar bilirubin Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila tidak diatasi. Kaji warna kulit. Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati barier darah otak. kacau mental. Ukur lingkar kepala. sesuai indikasi. dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi beresiko terhadap IVH. hiperrefleksia. meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia.Rasional: Trauma kelahiran. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama dari IVH. kapiler rapuh. 4. Ht / Hb. atau tiba-tiba serta mengancam kehidupan). GDA Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen. yang dengan mudah membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Pantau pemeriksaan laboratorium. (Catatan: tanda-tanda klinis dan perkembangan IVH mungkin tidak ada. yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural. dan opistotonus. khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34 minggu.

Penempatan pirau ventrikuloperitoneal. d. ultrasonografi kranial. e. Transfusi tukar Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM). meskipun pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil. Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi. Punksi lumbal Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. dan atau glukosa. Fenobarbital Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru lahir. natrium bikarbonat. Berikan obat-obatan. b.7. sesuai indikasi: Kalsium. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik. Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel. intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah 29 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 8. Beberapa rumah sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus. c. sesuai indikasi : Skaning tomografi komputer. a. yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara. yang bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan. b. Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan hidrosefalus. Ventrikulopunksi atau tap. magnesium. Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus. a.

PERUBAHAN. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. e. refleks lemah. (Catatan: cairan mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas. Fenitoin atau diazepam Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol aktifitas kejang. Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial. penurunan produksi asam hidroklorik (menurunkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak). kapasitas lambung kecil. menelan. 30 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . otot abdominal lemah. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Imaturitas produksi enzim. dan batuk). Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. atau steroid. kerusakan SSP dengan perdarahan. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (mis. Vitamin E Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. Kemungkinan dibuktikan oleh: [tidak dapat diterapkan adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal. Intervensi Mandiri 1. Furosemid. Indometasin Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui penutupan duktus arteriosus paten. atau palsi serebral). dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari. F. menghisap. 9. gag.c. imaturitas sfingter kardia. NUTRISI. KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH. f. dan mengatasi efek-efek sekunder dari perdarahan. asetazolamid. d. atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. tidak ada. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah).

2. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. Kaji status fisik dan status pernapasan. Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. 6. Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan. semua ini menurunkan status pernapasan. Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat regurgitasi. jadwal pemberian makan perlu diubah. Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. Kaji pernapasan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi. Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/menit. cairan perenteral diindikasikan. dan cairan peroral harus ditunda. 4. Bila distress pernapasan ada. 3. Bila 1 ml atau kurang aspirasi dari lambung. Pemberian makan peroral tidak tepat bila frekuensi pernapasan > 60/menit. Ia dapat juga menggendong bayi selama pemberian makan. frekuensi pernapasan.Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. gunakn prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara kedalam lambung. Bila > 2 ml diaspirasi. Rasional: Penggunaan energi berlebihan selama makan menurunkan ketersediaan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat dapat menurunkan fungsi pernapasan. 7. peningkatan resiko aspirasi. Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. 8. derajat kelelahan. dan distensi abdomen. penjumlahan ini harus dikurangi dari makanan yang akan diberi dan dimasukan kembali kedalam selang. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan perselang. 31 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 5. Pengguanaan selang secara total atau sementara mungkin perlu untuk menurunkan kelelahan. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Auskultasi terhadap adanya bising usus. ibu dapat menggosok dot pada payudara. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan.

residu lambung berlebihan. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obstruksi atau perubahan posisi kateter. (Catatan: Bayi mungkin asimtomatik bahkan bila hasil Dextrostix serendah 20 mg/dl). Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. 13. atau hasil positif dari tes guaiak. dengan tepat. Rasional: Stress dingin. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. Mulai pemberian makan dengan air steril.Rasional: Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dan pemberian makan. Rasional: Pertumbuhan dan peningkatan BB adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. muntah. regurgitasi. Hipoglikemia dapat di diagnosa dengan kadar Dextrostix < 45 mg/dl. Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran BB setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. resiko tinggi terhadap). dispnea. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan BB. glukosa. (Rujuk pada DK: konstipasi. Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin. atau sianosis). dan ASI atau formula. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. hipoksia. resiko hipoglikemia meningkat. muntah. 11. peningkatan suhu. Pantau kadar Dextrosix dan Clinitest perprotokol. untuk menyesuaikan formula dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. Residu lambung > 2 ml (diaspirasi melalui selang nasogastrik[NG] sebelum pemberian makan) menunjukkan kebutuhan untuk menurunkan jumlah pemberian makan dan dapat menandakan absorpsi buruk atau enterokolitis nekrotisan. Rasional: Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. 12. 10. Rasional: Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. Perhatikan adanya diare. Pantau bayi terhadap reaksi lokal atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis. Kolaborasi 14. dan penanganan yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. trombosis pembuluh darah. 32 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . biasanya septikemia Candida. 9. Rasional: Menandakan kerusakan fungsi lambung.

sindrom malabsorpsi. yang perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. 16. C. Vitamin C dapat menurunkan kerentanan pada anemia hemolitik dan menghilangkan displasia bronkopulmonal dan fibroplasia retrolental. serta bahaya menekan ginjal imatur. khususnya vitamin A. Rasional: Masukan kalori harus cukup untuk mencegah katabolisme. perbaikan pembedahan dari anomali gastrointestinal (GI). Berikan makan NPT melalui pompa infus dengan menggunakan kateter indwelling kedalam vena kava atau jalur perifer. 19. 18. dan zat besi. bayi antara 1500 dan 1800 d (3 bl 8 oz – 4 lb) diberi makan setipa 3 jam. penyakit paru kronis. dengan protein 3-4 g/kg/hari. Rasional: Menggantikan simpanan nutrien rendah untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan resiko infeksi. nasoduodenal). Pertahankan kepatenan. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. dan vitamin mungkin perlu untuk bayi dengan diare kronis. Vitamin E membantu mencegah hemolisis SDM. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan BB bayi dan perkiraan kapasitas lambung. mineral. Infus emulsi lemak (intralipid) melalui jalur perifer. 17. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. atau enterokolitis 33 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . ketergantungan respirator. (Catatan: potensial resiko menyertai penggunaan selang indwelling ini harus dipertimbangkan terhadap keuntungannya). (Catatan : bayi yang sakit merupakan formula pembandingan setengah diawal dengan volume/konsentrasi ditambahkan > 1-10 hari sesuai toleransi bayi). elektrolit. 15. sesuai indikasi. obstruksi.Rasional: Pemberian makan dini mencegah penurunan cadangan. D. aspirasi berulang dengan pendekatan cara pemberian makan lain. Rasional: Bayi < 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2 jam. bantu dengan menggunakan selang makan indwelling (selang transpilorik. Rasional: Memberikan kontinuitas penginfusan formula pada bayi praterm yang sangat kecil yang memenuhi kriteria khusus: mis. Rasional: Infus NPT dari protein hidrolisat. glukosa. dan E. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. takipnea. nasojejunal. Berikan vitamin dan mineral.

pemajangan lingkungan (KPD. RISIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: Respon imun imatur. kadar pH. elektrolit. mis. urin. Sepsis awiatan-awal (terjadi dalam 2 hari pertama kehidupan) dipengaruhi oleh pertahanan hospes dan durasi pecah ketuban antepartum. kurang imunogloblin A (IgA) bila bayi tidak menerima 34 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Intervensi Mandiri 1. prematuritas yang ekstrem. protein total. jaringan trauma. Kemungkinan dibuktikan oleh: [Tidak dapat diterapkan. RISIKO TINGGI TERHADAP KONSTIPASI. kulit rapuh. lama pecah ketuban.nekrotisan. CSS. Pantau pemeriksaan laboratorium. glukosa serum. Infeksi transplasental didapat (yang mempengaruhi dua sepertiga dari semua bayi terinfeksi) juga merupakan ancaman. Perhatikan apakah tindakan resusitasi diperlukan. Infus intralipid memberikan asam lemak esensial kepada anak yang memrlukan NPT. Rasional: Kelahiran sebelum gestasi minggu ke-28 – 30 meningkatkan kerentanan abyi terhadap infeksi. Bayi yang telah diresusitasi dan yang telah mendapat intervensi invasif lebih cenderung kemasukan patogen dan infeksi. Tinjau ulang catatan kelahiran. (Catatan: keuntungan dari pengguanaan intralipid harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan resiko akumulasi lemak dalam paru). pemajangan transplasental). 2. dan adanya korioamnionitis. karena penurunan kemampuan SDP untuk menyerang bakteri. Tentukan usia gestasi janin dengan menggunakan kriteria Dubowitz. dan tanda vital DBN. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual] Hasil yang diharapkan neonatal akan: Mempertahankan serum negatif. 20. prosedur invasif. Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan oleh proses infeksi asenden. trombosit. INFEKSI. penurunan pemindahan imunoglobulin G (IgG ditransportasikan melewati plasenta terutama pada trimester ke-3). Rasional: Mengukur ketepatan NPT G. dan kultur nasofaringeal dengan hitung darah lengkap.

Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. Pantau staf dan pengunjung akan adanya lesi kulit. herpes simpleks aktif (oral. Rasional: Mencuci tangan adalah prktik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi dakam ruang perawatan. luka basah. (Catatan : Bayi yang menderita retardasi pertumbuhan intrauterus beresiko tinggi terhadap infeksi). Pengelompokkan ini merupakan tindakan yang penting dalam mengkontrol infeksi dengan embatasi jumlah dari kontak satu bayi dengan bayi yang rentan atau petugas lainnya. Rasional: Penularan penyakit pada neonatus dari pekerja atau pengunjung dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. dan pekerja lain perprotokol. seperti ketidakstabilan suhu (hipotermia atau hipertermia). distres pernapasan (apnea. atau terkolonisasi/terinfeksi dengan patogen yang sama. petekie. Gunakana antiseptik sebelum membantu dalam pembedahan atau prosedur invasif. demam. orangtua. dan berbagai antimikroba yang membantu mencegah kolonisasi.ASI. bila mungkin. atau takipnea). letargi atau perubahan perilaku. 8. dan herpes zoster. triplet dye. 35 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional: Bayi-bayi yang lahir dalam kerangka waktu yang sama (biasanya 24-48 jam). dan jamin bahwa perawat yang sama merawat bayi-bayi yang dikelompokkan bersama. Buat kelompok bayi. mungkin dikelompokkan bersama sampai pulang. suhu tubuh sendiri merupakan adalah cara yang tidak dpata dipercaya dalam mengkaji infeksi pada bayi praterm dengan kerusakan respons inflamasi dan mobilisasi SDP. gastroenteritis. atau drainase dari mata atau umbilikus. ikterik. sianosis. Rasional: Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi. kongesti nasal. Rasional: Memberikan jarak 4-6 kaki dengan bayi membantu mencegah penyebaran droplet atau infeksi melalui udara. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. Berikan jarak yang adekuat antara bayi atau antara unit isolette atau unit individu. genital. 4. atau paronisial). dan keratin kulit buruk dengan ketidakefektifan kualitas barier. 6. Lakukan perwatan tali pusat sesuai protokol rumah sakit. infeksi pernapasan akut. Gunakan ruangan isolasi terpisah dan teknik isolasi sesuai indikasi. 7. 3. Rasional: Penggunaan alkohol lokal. 5.

Gunakan teknik aseptik selama penghisapan. atau nebulasi.) Rasional : tes kultur/ sensitivitas perlu untuk mendiagnosa pathogen dan mengindentifikasi terapi yang tepat. 16. sesuai indikasi (mis: urin melalui aspirasi suprapubis. Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi : a. dan kateter sebagai daerah steril. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari 6. ketidakstabilan suhu. seperti bradikardia. dan buang setelah 24 jam. tetapi ini biasanya terjadi setelah minggu pertama kehidupan. iodin tingtur. Rasional : KID dapat terjadi dengan septicemia gram negatif. Rasional: Menurunkan kesempatan untuk masuknya bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan.9. Observasi terhadap tanda – tanda syok atau koagulasi intravascular diseminata (KID). limfosit. Pantau lokasi infus intravena dan lokasi jalur pemantauan invasif perprotokol. Jamin pembersihan rutin atau penggantian peralatan pernapasan.000 sampai 225. Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau infeksi. Rasional: Menurunkan insiden kemungkinan flebitis atau bakteremia. darah. ambil spesimen darah pada waktu yang sama. makrofag.000/mm3 dan dapat berubah dari 36 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . nasofaring. Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi secepat-cepatnya pada hari kelima. Rasional : prematuria menurunkan respon imun pada infeksi. yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. atau sputum bila bayi diintubasi. Rasional: ASI mengandung IgA. penurunan TD. Dapatkan specimen. Perlakuan jalur arteri. Rasional: Membantu mencegah bakteremia berkenaan dengan jalur arteri dan aksesnya yang langsung pada darah dan jaringan dalam. Berikan ASI untuk pemberian makan. edema. stopkok. bila tersedia. Siapkan lokasi tempat prosedur invasif dengan alkohol (70%). 11. 12. atau iodofor. Kolaborasi 15. irigasi. Tandatanda awitan lanjut infeksi kemungkinan disebabkan oelh bakteri yang didapat 13. atau eritema pada dinding abdomen. lesi kulit terlihat. CSS. Seri jumlah SDM dan diferensia. malas. Bubuhi tanggal pada larutan yang terbuka untuk pelembaban. 10. 14. dan netrofil.

dan mengubah flora normal bayi baru lahir.hari ke hari. KELEBIHAN CAIRAN. H. menunggu hasil tes kultur dan sensitivitas. Bantu dengan pungsi lumbal. 17. haluaran. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor resiko dapat meliputi: sistem ginjal imatur dan penurunan laju filtrasi glomelurus Kemungkinan dibuktikan: tidak dapat diterapkan : adanya tanda dan gejala untuk menegakkan diagnose aktual. hiperglikemi atau asodisis metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21 mEq/L ) menandakan infeksi. rentang trombosit normal mungkin hanya 60. 18. Rasional : kejadian fisiologis yang berhubungan dan gejala sisa mungkin mengancam hidup bayi karena infeksi itu sendiri. 37 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : penelitian menunjukkan Ig IV dapat meningkatkan laju kehidupan pada bayi septic. terapi profilaktik untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1500 g dapat menurunkan insiden awitan lanjut infeksi nosokomial. sesuai kebutuhan. membatasi reabilitas diagnostic. Bantu dengan tindakan untuk kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan infeksi : hipoksemia. Rasional : membantu mengidentifikasi organisme dan lokasi infeksi bila meningitis dicurigai. dan PH DBN. anemia. Berikan immunoglobulin intrvena dengan tepat. tetapi pada bayi praterm. Penggunaan antibiotic sistemik dengan sembarangan atau tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharpkan. membantu mengembangkan resitensi strain bakteri. selain itu. 19. 20. Peningkatan nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita menandakan infeksi.000/mm3 c. Glukosa dan kadar PH serum Rasional . Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan sensitivitas.000 (pada 3 hari pertama) sampai 100. ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. Jumlah trombosit Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit menurun. Hasil yang diharapkan : mempertahankan berat jenis urin. b. Rasional : antibiotic spectrum luas meliputi ampisilin dan aminoglikosida biasanya diindikasikan. abnormalitas sushu. hipoglikemi. atau syok.

2. resiko tinggi terhadap. Kolaborasi 6. Perhatikan adanya lokasi dan derajat edema Rasional : edema berlebihan menurunkan sirkulasi dan volume ginjal saat perpindahan cairan dari plasma ke jaringan. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi: a. atau dengan mengkaji satirasi popok dan jumlah popok yang digunakan perhari. kadar asam urat.013. Lakukan pengukuran untuk mencegah infeksi ( rujuk pada DK: infeksi. Nitrogen urea darah. ronki. Rasional : keterbatasan kemempuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan cairan meningkatkan risiko hidrasi berlebihan dengan gangguan jantung atau pernapasan. kreatinin. 7.Intervensi Mandiri 1. Ukur berat jenis urun. lebih disukai dengan menimbang popok. Rasional : mengkaji beratnya keterlibatan ginjal. jamin jumlah kosentrasi yang tepat dari formula suplemen. Kadar elektrolit dan PH. Rasional : keseimbangan cairan yang positif dan hubungan penambahan berat badan dengan kelebihan 20-30 g/hari menunjukkan kelebihan cairan. 5. perhatikan adanya krekels.) Rasional : infeksi menggantikan peningkatan kebutuhan pada sistem ginjal yang telah menurun. 4. Hitung keseimbangan cairan ( masukan total minus haluaran total) setiap 8 jam. Hipovolemia atau anuria atau oliguria dapat menyertai hipoksia berat. Pantau haluaran.006 sampai 1. Rasional : asidosis dan perubahan kadar elektrolit menunjukkan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis. 38 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 3. Evaluasi hidrasi. b. Ginjal mungkin tidak dapat mengatasi formula dengan konsentrasi larutan berlebihan. Rasional : haluaran harus 1 – 3 ml/kg/jam dan berat jenis urin harus 1. dispnea atau takipnea. Rasional : ASI mengandung sedikit larutan ginjal daripada susu sapi. Berikan makan dengan menggunakan ASI bila mungkin . dan timbang bayi per protocol.

karena menghalangi kapasitas ginjal mempredisposisikan bayi praterm pada asidosis metabolic. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor fisiko dapat meliputi: masukan diet/cairan. 2. perubahan motalitas gastric. Pemberian natrium bikarbonat mungkin perlu. Rasional : tindakan mungkin perlu untuk memperbaiki laju filtrasi glomelurus dan aliran darah ginjal setelah periode hipoksia dengan akumulasi asam laktat. Kemungkinan dibuktikan oleh: ( tidak dapat diterapkan . Pantau bayi terhadap toksisitas obat. Ukur lingkar abdomen. melaporkan peningkatan ukuran 1 cm atau lebih dari pengukuran sebelumnya. Rasional : penurunan fungsi usus dan motilitas GI mengakibatkan defekasi tidak sering dan distensi abdomen. dan gangguan asam basa. 39 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rasional : imaturitas ginjal menghambat atau memundurkan ekskresi obat sehingga pada bayi praterm. toksisitas dapat terjadi lebih cepat dengan kadar yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan. ) Hasil yang diharapkan neonatal akan: membantu kebiasaan defekasi tergantung pada tipe pemberian makan. Perbaiki cairan. perbaiki keadaan hipoksik. 9. dengan abdomen lunak dan tidak distensi bebas dari tanda – tanda enterokolitis nekrotisan. Perhatikan adanya faktor – faktor resiko seperti hipoksia. khususnya bayi menerima gentamisin atau nafsilin. KONSTIPASI. otot – otot abdomen. I.8. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. Auskultasi bising usus. Intervensi Mandiri 1. ketidakaktivan fisik. Temuan terbaru menunjukkan bahwa perkembangan enterokolitis nekrotisan dihubungkan dengan perkembangan dan usia gestasi. elektrolit. Pertimbangan frekuensi dan karakteristik feses delam hubungannya dengan usia bayi dan tipe pemberian makan. sepsis atau maslah sirkulasi berkenaan dengan PDA Rasional : kondisi ini dapat memperberat perkembangan enterokolitis nekrotisan. RESIKO TINGGI TERHADAP : DIARE.

3. Pertahankan untuk tetap mencuci tangan setelah memegang setiap bayi. Kaji status hidrasi dan masukan cairan dan haluaran ( rujuk pada DK . meludah berlebihan. muntahan berwarna empedu: kegagalan pemberian makanan per selang untuk diabsorsi atau residu lambung berlebihan. Pantau terhadap tanda – tanda enterokilitis nekrotisan. Thermometer rectal dapat menyebabkan trauma pada mukosa rectal. Kolaborasi 9.8% bayi praterm. Bicara pada bayi. lengkung usus dapat dilihat. seperti distensi abdomen. 4. Minimalkan penanganan bayi . dan tiodak adanya bising usus.) Rasional : ketidakadekuatan hidrasi dapat memperberat kurangnya air atau konstipasi feses. 40 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . syok. Hindari penggunaan popok dan thermometer rectal Rasional : popok meningkatkan tekanan abdomen bawah dan mencegah atau membatasi observasi terhadap abdomen. 7. mengakibatkan sepsis. 5. tes feses ( kecuali ada diare yang mengandung darah) dengan mengandung hematest atau guaiak. berikan gosokan pada wajah. perubahan. Pantau bayi terhadap tanda – tanda sepsis. kekurangan volume cairan . kurang dari kebutuhan tubuh. kekakuan. 6. dan dapat menurunkan risiko infeksi enteric atau terjadinya enterokolitis nekrotisan. Kebutuhan emosional dan sentuhan dapat dipenuhi dengan sentuhan ekstermitas dan kepala dan melalui percakapan. nyeri tekan. kulit abdomen berkilau atau tegang. Rasional : membantu mencegah terjadinya epidemic enterokolitis nekrotisan dalam ruang perawatan. biasanya ada dalam 2 minggu kehidupan pertama. risiko tinggi terhadap : nutrisi. Gunakan ASI untuk pemberian makan bilamana mungkin Rasional : ASI mudah dicerna menghasilkan feses yang lebih lunak. Rasional : enterokolitis nekrotisan merupakan komplikasi yang potensial mengancam kehidupan yang mempengaruhi 3% . Rasional : hindari trauma abdominal lanjut. tangan. atau KID Rasional : enterokolitis nekrotisan dapat berlanjut pada perforasi usus dengan peritonitis. risiko tinggi terhadap. Tes residu gaster. syok dan KID 8. dan kaki.

bila diperlukan. dan masa tromboplastin Rasional : peningkatan atau penurunan jumlah SDP atau pergeseran ke kiri menunjukkan sepsis. Kirimkan feses darah awal atau hematest positif pada laboratorium Rasional : tawas yang ditimbulkan pada tes toksoid diperlukan untuk membedakan darah bayi dari darah ibu. masa protrombin.) 41 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 15.10. 16. meningkatkan penyembuhan jaringan sambil memenuhi kebutuhan cairan dan kebutuhan nutrisi. Berikan makanan NPT Rasional : memungkinkan tes usus. INTEGRITAS KULIT. 13. dapat meningkatkan pemulihan usus. RESIKO TINGGI TERHADAP Faktor risiko yang meliputi: kulit tipis. Pasang selang orogastrik atau NG. Tingkatkan pengenceran formula supleman sesuai indikasi Rasional : diare dapat menandakan intoleransi terhadap konsentrasi formula. sesuai kebutuhan. sesuai indikasi. 14. Hentikan pemberian makan oral atau NG selama 7 sampai 10 hari. KERUSAKAN. dan sambungkan ke penghisap rendah kontinu. perubahan status nutrisi. Siapkan untuk pembedahan. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : jumlah SDP dan deferensial. Tinjau sinar X abdomen Rasional : adanya distensi lengkung usus. Trombositopeni atau masa pembekuan memanjang menunjukkan terjadinya KID 12. tidak ada lemak subkutan di atas penonjolan tulang. adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnose actual. kapiler rapuh dekan permukaan kulit. J. 11. 17. Berikan antibiotic sesuai indikasi Rasional : melawan infeksi enteric. Rasional : prosedur pembedahan mungkin perlu untuk menghilangkan segmen usus yang terinflamasi. jumlah trombosit. Kemungkinan dibuktikan oleh: (tidak dapat diterapkan. penggunaan restrain. Rasional : mungkin perlu untuk dekompresi lambung pada kasus kecurigaan enterokolitis nekrotisan atau setelah intervensi pembedahan. penebalan dinding. ketidakmampuan untuk mengubah posisi untuk menghilangkan titik penekanan. dan asites menunjukkan enterokolitis nekrotisan.

Hasil yang diharapkan neonatal akan: mempertahankan kulit utuh. perubahan posisi rutin. elektroda. menurunkan flora normal dan mekanisme pertahanan alamiah yang . Berikan jeli petroleum untuk bibir.V. 7. 3. Cuci hanya pada bagian tubuh yang benar benar kotor. dapat mengakibatkan sepsis. karena kohesi antara plester dan korneum sternum lebih kuat daripada antara dermis dan epidermis.melindungi pathogen invasive. dan kantung urin. Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dengan sabun ringan. Bebas dari cedera dermal. jalur I. kulit mengalami beberapa sifat bacterisidal karena PH asam. Rasional : setelah 4 hari. Minimalkan manipulasi kulit bayi. Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin swab. Intervensi Mandiri 1. cuci dengan hati – hati larutan povidon-iodin setelah prosedur Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan menghilangkan barier pelindung epidermal. dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis atau kurangnya lemak subkutan diatas tonjolan tulang. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. Berikan latihan rentang gerak. Rasional : melepaskan plester dapat juga melapas lapisan epidermal.dan sebagainya. Mandi sering menggunakan sabun alkalin atau pelembab dapat meningkatkan PH kulit. 5. 6. Inspeksi kulit. Ganti elektroda hanya bila perlu Rasional : penggantian yang sering dapat memperberat kerusakan kulit. Minimalkan penggunaan plester untuk mengamankan selang. Hindari penggunaan agens topical keras. 2. Rasional : membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir berkenaan dengan tidak adanya masukan oral atau efek kering dari terapi oksigen. Kolaborasi: 42 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . 4.

khususnya pada waktu pemberian maka. iritabilitas. Mendemonstrasikan respon yang diharapkan pada rangsangan visual. perubahan rangsangan lingkungan. Bebas dari tanda kelebihan sensori. 4. mulut dan bibir bila pecah atau teriritasi Rasional: meningkatkan pemulihan pecah – pecah dan iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. 43 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Berikan perawat primer untuk setiap shift. Berikan sentuhan lembut dan perhatian. apatis. Rasional : memberikan rangsangan taktil. Bicara atau bernyanyi pada bayi. perubahan tengangan otot. bebas dari tanda – tanda retinopati prematuritas (ROP) Intervensi Mandiri 1. Rasional : memberikan rangsangan auditorius. K. efek – efek terapi. 3. Berikan saleb antibiotic pada hidung. Bayi imatur secara neuromuscular tidak mampu mengubah posisi sendiri atau bergerak dalam isolette. permainan. 2. ( tugas perawat primer per bayi untuk memberikan informasi pada orang tua) Rasional : meningkatkan kontinuitas perawatan dan mengikuti program perkembangan. panggil nam. Adanya seorang perawat yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi membantu untuk menurunkan kejadian informasi dan kesalahan pemahaman orang tua. atau mainan suara orang tua yang direkam tipe. ukuran berubah pada ketajaman sensorium. PERUBAHAN SENSORI – PERSEPTUAL Dapat dihubungkan dengan: imaturitas sistem neurosensori.8. waslap) bila tepat. dapat membantu mencegah infeksi. yang berkenaan dengan penambahan berat badan dan khususnya penting bila bayi 40 minggu pascakonsepsi atau lebih. tape suara orang tua dapat meningkatkan pengenalan bayi terhadap mereka. Meningkatkan pengenalan perubahan perilaku dan kondisi bayi yang tidak kentara. Hasil yang diharapkan neonatal akan: berespon dengan tepat pada rangsangan khusus usia. Sering ganti popok bayi ( khususnya bila bayi mendapat SPAP nasal atau selang endotrakeal) Rasional : memberikan rangsangan kinesthesia. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan pada respon terhadap rangsangan. kenalkan tekstur (spatel lidah. mainkan music lembut dalam ruang perawatan.

Buat pola individual dari intervensi yang berdasarkan pada usia perkembangan dan kebutuhan bayi. Kaji respon bayi terhadap rangsangan. sehingga rangsangan yang diperlukan harus doberikan antara pemberian makan. dan mengganti desain atau gambar pada sisi incubator. Gendong bayi pada posisi ventral Rasional : merangsang orientasi visual. bayi menjadi terbiasa pada rangsangan yang tidak berubah. Wajah hitam dan putih dan desain checkerboard meningkatkan perhatian visual. Buka penutup mata secara berkala bila bayi menerima fototerapi. Rasional : rangsangan berlebihan dapat mengganggu pemberian makanan. 44 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Rencanakan aktivitas untuk memungkinkan periode tidur. memungkinkan kontak mata. 6. Rasional : rangsangan visual paling baik diberikan dengan objek yang ditempatkan pada 7-9 inci dari wajah. 9. meningkatkan rasa terhadaap siklus siang – malam pada bayi. dan menurunkan sinar secara intermiten dengan menutup incubator dengan handuk atau dengan menurunkan lampu ruangan. Rasional : tameng pelindung mata diperlukan pada fototerapi yang dengan berat menurunkan kesempatan rangsangan visual.5. 11. Melibatkan orang tua dalam kreasi rangsangan bayi membantu menjamin bahwa proses berlanjut setelah pulang. Memberikan linea berwarna. 10. Kurangi rangsangan sebelum pemberian makan. Minimalkan rangsangan interaksi social selain dari yang secara langsung berhubungan dengan pemberian makan bila bayi menunjukkan tanda – tanda kelebihan beban sensori. 7. 8. Rasional : membantu melindungi bayi dari rangsangan berlebihan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keadaan fisiologis secara negative. Cegah perubahan posisi tiba – tiba atau kebisingan. Rangsangan berlebihan sebelum pemberian makan dapat mempengaruhi penghisapan dan motilitas GI secara negative dan dapat menyebabkan muntah. Gendong bayi setinggi wajah. Kaji bayi terhadap tanda – tanda fisiologis dari kelebihan beban sensori Rasional : rangsangan berlebihan dapt mengakibatkan perubahan fisiologis. dan manganjurkan orang tua untuk membuat bentuk dari kertas dan talai yang bergerak segera setelah bayi mencapai usia pasca konsepsi 40 tahun.

16. 45 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Ukur lingkar kepala. menurunkan retensi lambung. dan kebutuhan /respon individu bayi. dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan intelektual. Rasional : rangsangan vagal yang dihasilakan oleh rangsangan taktil dan kinestasis yang tepat menaikkan penambahan berat badan. Rasional : korteks serebral dianggap meningkat pada berat badab dalam berespon terhadap rangsangan pada lingkungan. Berikan informasi pada orangtua mengenai kondisi. Menyadari bahwa bayi yang mengalami kerusakan visual mungkin tidak mengenal atau menunjukkan perasaan dengan perubahan ekspresi wajah mendorong orang tua untuk mengamati bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi diri yang dengan cara demikian menguatkan ikatan kedekatan. 14. kondisi yang menyrtai. dan peningkatan ini. Perhatikan frekuansi pemberian makan dan masukan serta frekuensi defekasi. meningkatkan persiktaktil dan pengeluaran produk sisa. Berikan tempat tidur yang tidak rata / air bila diindikasikan Rasional : bayi praterm yang kurangdari gestasi 34 minggu telah menunjukkan peningkatan ukuran kepala dan diameter bipariental dengan rangsangan bentuk ini. Timbang berat badab bayinsetiap hari. yang berlanjut pada periode pascanatal lanjut. 17. Perhatikan faktor – faktor fisiko berat badan lahir. 13. dan meningkatkan aktivitas pemberian makan. adanya beberapa anomaly congenital. 12. Imaturitas. dan berbagai terapi membuat bayi beresiko. Rasional : memperttahankan rangsangan dini adekuat dan tepat dapat membatasi masalah kongnitif dan emosional masa datang berhubungan dengan isu – isu lingkungan temasuk kekurangan rangsangan dan respon orang tua terlalu melindungi. Rasional : menurunkan ansietas berkenanan dengan ketidaktahuan. Berikan peningkatan penggunaan rangsngan auditorius dan taktil. 15. meningkatkan koping dan kemempuan pemecahan masalah. prognosis. dan terapi yang berhubungan Rasional : retinopati prematuria tidak lagi diyakini merupakan akibat tersendiri dari terapi oksigen tingkat lama.Rasional : masing – masing bayi berespon secara unik pada pola intervensi berdasarkan pada kebutuhan individual.

18. Pantau terapi oksigen dengan ketat,sesuai kadar dan pembatasan durasi dengan tepat Rasional : membantu mencegah atau membatasi perkembangan retinopati prematuria. 19. Periksakan fundus oftalmoskopik indirek Rasional : menganjurkan untuk senua bayi yang kurang dari gestasi minggu ke 36 atau dibawah 2000g dan menerima terapi oksigen. Biasanya dilakukan antara usia minggu ke 4 dan minggu ke-8 dan diulang sesuai indikasi untuk diagnosis/memantau kemajuan retinopati prematuria dan menentukan kebutuhan terapi. 20. Terapi laser atau krioterapi Rasional : mungkin bermanfaat dalam membatsi efek – efek merugikan berkanaan dalam tahap akut dari retinopati prematurias dengan obliterasi pembentukan pembuluh baru, penurunan traksi pada retina dan pelepasan selanjutnya. L. KOPING, INDIVIDUAL, TIDAK EFEKTIF Dapat dihubungkan dengan : imaturitas dan kerusakan SSP ( ambang rendah untuk rangsangan dan stress nyeri), kemampuan organisasi yang buruk, keterbatasan kemampuan untuk menguntrol lingkungan. Kemungkinan dibuktikan : diisorganisasi aktivitas motorik dan siklus bangun – tibur, iritabilitas, ketidakmampuan menyampaikan isyarat tapat pada pemberian perawatan sehingga stressor dapat dikurangi atau dihilangkan. Hasil yang diharapkan neonatal akan : meminimalkan/ menurunkan isyarat perilaku yang menandakan stress. Mkemajuan dengan tepat, sesui pola individu dalam pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi Mandiri: 1. Berikan perawatn primer kapan pun mungkin. Rasional : perawatn yang konsisten dan dapat diperkirakan memungkinkan bayi mengembangkan ras percaya pada pemberi perawatan, lingkunagan, dan diri sendiri serta memudahkankoping. Pemberian perawatan yang banyak membinggungkan bayi, meningkatkan distress selama makan, menyebabkan irribilitas dan mengganggu perhatian visual. 2. Kaji bayi terhadap isyarat perilaku yang menandakan stress, perhatikan faktor – faktor penyebab dan hilangkan atau kurangi stressor bila mungkin.
46 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Rasional : pengenalan dengan perilaku respon lazim dan sifat kepribadian bayi perlu untuk mengidentifikasi perubahan yang tidak nyata yang menandakan stress dan perlunya intervensi untuk menurunkan sters ini. 3. Buat suasana seperti didalam uterus bilamana mungkin menutupi isolette untuk periode lama dan menghidupkan bunyi – bunyian rekaman plasenta atau bunyi jantung maternal. Memberikan lingkungan gelap, tenag, menurunkan stress, meningkatkan adaptasi, dan didapati berhubungan secara positif dengan penambahan berat badan, penyapihan dini dari oksigen atau ventilator dan pulang lebih dini. Rasional : rekaman bunyi ibu cenderung menurunkan atau menghilangkan persepsi bayi tentang kebisingan dari isolette. 4. Ubah posisi bayi dengan menggunakan gulungan popok yanh ditempatkan pada punggung dan bagian depan bila bayi pada posisi miring atau pada sisinya bayi dapat mentoleransi posisi tengkurap. Rasional : imaturitas neuromuscular dapat merusak kemampuan bayi untuk mencari posisi yang nyaman atau menghilangkan stress dari perubahan posisi. Sulungan popok di sekitar bayi memberikan rasa aman dan mempunyai efek menenangkan. Posisi telungkup meningkatkan tidur dan relaksasi optimal. 5. Tutup bagian atas penyebar hangat dengan penutup plastic, bila dibutuhkan. Rasional : menurunkan stress lingkungan aliran dari udara, yang mengejutkan bayi saat petugas bergerak melewati penghangat. 6. Berikan orang tua informasi tentang isyarat perilaku bayi dan respon terhadap stressor. Rasional : orang tua harus meningkatkan keterampilan dalam pengenalan isyarat bayi yang tidak nyata menandakan stress sehingga mereka dapat secara efektif memberikan intervensi untuk meminimalkan stress dan memudahkan adaptasi positif bayi terhadap kehidupan akstrauterus.

2. Berat Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram (WHO, 1961 dalam Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan umur kehamilan atau masa gestasi

47

BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

1. Preterm infant atau bayi premature, yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan tidak mencapai 37 minggu. 2. Term infant atau bayi cukup bulan (mature/aterm), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan lebih daripada 37-42 minggu. 3. Post term infant atau bayi lebih bulan (posterm/postmature), yaitu bayi yang lahir pada umur kehamilan sesudah 42 minggu. Klasifikasi BBLR :

1) Prematuritis murni Prematuritis murni yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan, berat badan terletak antara persentil ke-10 sampai persentil ke-90 pada intrauterine growth curve Lubchenko (Surasmi, Handayani, & Kusuma, 2003). Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok (Rahayu D P, 2010), yaitu: a. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
48 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. tidakdiketahui : 1. & Kusuma. faktor janin. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu.  Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis. yaitu preeclampsia dan eklampsi. sistoma  Ibu yang menderita penyakit antara lain :  Akut dengan gejala panas tinggi (misal tifus abdominal. Faktor janin  Kehamilan ganda  Hidramnion  Ketuban pecah dini  Cacat bawaan  Infeksi (misalnya rubella. faktor plasenta. asal saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif. inkompeten serviks)  Tumor (misalnya mioma uteri. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan. sifilis. Handayani. daya hisap yang lemah dan sebagainya. toksoplasmosis)  Insufisiensi plasenta 49 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur. misalnya sindrom gangguan pernapasan. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu.b. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. sehingga bayi harus diawasi dengan seksama. Faktor-faktor yang merupakan prodisposisi terjadinya kelahiran premature (Surasmi. yaitu faktor ibu. penyakit jantung. Faktor ibu  Toksemia gravidarum. malaria)  Kronis (misalnya TBC. c. solusio plasenta 2. glomerulonefritis kronis)  Trauma pada masa kehamilan antar lain :  Fisik (misal jatuh)  Psikologis (misal stress)  Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun  Plasenta antara lain plasenta previa. 2003). hiperbilirunemia.

untuk bayi perempuan klitoris menonjol. Handayani. 6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. 2003). yaitu : 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 12) Alat kelamin bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. 7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. Testis belum turun ke dalam skrotum. 4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. & Kusuma. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. 13) Tonus otot lemah. permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan dengan 50 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sehingga seolaholah tidak teraba tulang rawan daun telinga. mengakibatkan reflek hisap. 16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit. sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang. Komplikasi bayi premature (Rahayu D P. labia minora belum tertutup oleh labia mayora. Surasmi. Faktor plasenta  Plasenta previa  Solusio plasenta Tanda dan gejala bayi premature (Rahayu D P. golongan darah ABO) 3. 2010) : 1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. telapak kaki halus. 5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas. 15) Jaringan kelenjar mamae kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. 8) Rambut lanugo masih banyak 9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. Inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhesus. 11) Tumit mengkilap. 2010. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram.

2) Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Akibatnya bayi menjadi hipoksia. Hal ini desebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur. 3) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia defisiensi vitamin K. kekurangan faktor pembeku seperti protombin. 5) Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile). otot yang tidak aktif. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan (rasio lesitin atau sfingomielin kurang dari 2). urea clearance yang rendah. tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik. produksi panas yang berkurang karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusar pengaturan suhu yang berfungsi sebagaimana mestinya.berat badan. 7) Peradangan intraventrikuler : lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. 8) Retrolental fibroplasias : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh 51 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . faktor VII dan factor Christmas. Bayi prematur relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik. Produksi urin yang sedikit. 6) Gangguan imunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. 4) Ginjal yang immature baik secara anatomis maupun fungsinya. hipertensi dan hiperkapnea. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah pernapasan periodik (periodic breathing) dan apnea disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur.

distorsi dan parut retina menjadi buta. Handayani. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. & Kusuma. fibrosis. matur dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. 2003). Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya. Bayi dismatur atau bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (intrauterine growth retardation = IUGR) seperti pseudopremature. Setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th persentil untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curve adalah bayi SGA. yaitu: 1) Proportionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulanbulan sebelum bayi lahir sehingga berat. fetal malnutrition. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. small for dates.darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini sebelum terbentuknya adipose tissue. Setiap bayi baru lahir (prematur. kulit kering keriput dan mudah diangkat. 2) Dismaturitis Dismaturitis yaitu bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan. bayi keliatan kurus dan lebih panjang. Kurva ini dapat pula dipakai untuk Standart Intrauterine Growth Chart of Low Birth Weight Indonesian Infants. dysmature. ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (Surasmi. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut Ada dua bentuk IUGR. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan dua liter per menit. 2) Disproportionate IUGR : terjadi akibat distres subakut. Pada 52 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .

2010). hipotermia cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down’s Turner dan lain-lain). 2) Bayi dismatur (KMK) mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin desebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. 2010). 3) Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat. cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya.. Insiden idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru. limpa. Stadium pada bayi dismatur (Rahayu D P. 4) Keadaan lain yang mungkin terjadi : asfiksia. kelenjar adrenal dan thymus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. 2010) Beberapa faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya bayi dismatur (Rahayu D P. yaitu : 1) Faktor ibu 2) Faktor uterus dan plasenta 3) Faktor janin 4) Keadaan ekonomi yang rendah 5) Tidak diketahui Berbagai masalah yang sering terjadi pada bayi dismatur.bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang. Perkembangan dari otak. 2) Stadium kedua : terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. yaitu: 1) Stadium pertama : bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang. Ini disebabkan distres yang sering dialami bayi dalam persalinan. ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya (Rahayu D P. yaitu: 1) Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit. perdarahan paru yang massif. 53 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . berat hati. berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan juga mengalami perubahan misalnya.

Akibat system pengaturan suhu dalm tubuh bayi belum sempurna. Orang tua terutama ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. Selama belum bisa mengisap dengan benar. 2) Pencegahan infeksi Mudahnya bayi BBLR terinfeksi menjadikan hal ini salah satu focus perawatan salama di RS. 4) Memberikan sentuhan Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan orang tua terputus.3) Stadium ketiga : terdapat tanda stadium kedua ditambah kulit yang berwarna kuning. Setelah suhunya stabil dan dipastikan 54 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Untuk itulah selama dirawat. pihak RS harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Ototototnya juga relatif lebih lemah. Perawatan di Rumah Sakit Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan lebih intensif. Hal ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Bayi BBLR yang mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika bayi jarang disentuh. begitu pula dengan kuku dan tali pusat. karena sebenarnya bayi masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan. Maka dengan demikian. 5) Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi. 3) Minum cukup Bagi bayi. perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal. minum susu digunakan menggunakan pipet. sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir normal. susu adalah sumber nutrisi yang utama. di rumah sakit bayi dengan BBLR biasanya akan mendapatkan perawatan sebagai berikut: 1) Dimasukkan dalam inkubator Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis.

Namun. kelainan jantung. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg. DM.lanugo dan verniks caseosa banyak.  Pergerakan kurang dan masih lemah ( tonus otot kurang )  Bayi laki-laki  Desensus testikulorum  Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora. dengan pemeriksaan  Kepala relative lebih besar dari pada badan  Kulit tipis transparan.demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik  Posisi masih posisi fetal ( dekubitus lateral )  Lipatanbawah kaki lebih sedikit. 55 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .tidak ada infeksi. Pengkajian a.lemak subkutan kurang  Oksifikasi tengkorak sedikit. Asuhan Keperawatan 1. ada juga sejumlah RS yang menggunakan standar berat badan.ubun – ubun dan sututra lebar  Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastic  Gusi : makroglosia  Jaringan mamae belum sempurna. bayi biasanya boleh dibawa pulang. Penentuan usia kehamilan 1) Usia kehamilan < 37 minggu . penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/ pengawasan antenatal tidak teratur b. Riwayat kehamilan        Mulai HPHT – umur kehamilan < 37 minggu Ibu menderita : hipertensi( toksemia gravidarum ).

Edema kelopak mata umum terjadi .lemah dengan perut agak gendur Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh.    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24 – 37 minggu. Neurosensori Pemeriksaan Refleks     Tubuh panjang.koordinasi refleks untuk mengisap. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu. Makanan / cairan  Refleks menelan masih lemah (kurang ) 56 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .kurus.pernafasan cuping hidung.2.komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke 32.mungkin merapat ( tergantung usis gestasi ) Refleks moro : komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke – 28. 3.fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Pemeriksaan fisik  Antropometri: Berat badan < 2500 gr.lingkar kepala < 33 cm. Sistem pernafasan  Frekuensi pernafasan bervariasi/ belum teratur terutama pada hari – hari   pertama. menandakan Respirasi Distress Syndrome 5.panjang badan < 45 cm.retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada  Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi .pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodic ( 40 – 60x/m)  Sering terjadi apnue Refleks batuk lemah  Mengorok .menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputer 4. Sirkulasi    Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24 – 48 jam Kulit tampak mengkilat dan licin Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.sutura mungkin mudah digerakkan.lingkar dada < 30 cm.

Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung. elektrolit) Rasional : hipoksia. khususnya adanya hipoksia. dan sepsis dapat memperberat serangan apnea. tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Deonges dalam Sitohang. asidosis metabolic. Tidak efektifnya pola pernafasan Tujuan : RR normal 40-60x/menit. 3) Pertahankan suhu tubuh optimal Rasional : hanya sedikit peningkatan atau penurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea. yaitu terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30 2) Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan. lakukan pemantauan jantung dan pernafasan kontinu. Rasional : posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnea. Kolaborasi: 5) Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. jalan nafas paten. hipokalsemia. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) Mekonium ( + ) B. 2004) 1. irama regular Intervensi 1) Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Rasional : menghilangkan mucus yang menyumbat jalan nafas. Rasional : membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan yang normal dari serangan apnea. asidosis metabolic atau hiperkapnea. glukosa serum. Eliminasi   Urine Pada bayi 24 jam I < 15 – 20 cc. hiperkapnea. 4) Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi. Refleks mengisap masih lemah  Kesulitan menyusui 8. 57 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . hipoglikemia. Diagnose Keperawatan a.

Rasional : pemberian dekstrose mungkin perlu untuk memperbaiki hipoglikemia. penurunan lemak sub kutan. pertahankan kepala tetap tertutup. Risiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi berhubungan dengan perkembangan SSP imatur (pusat regulasi suhu). atau tempat tidur terbuka dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih besar atau lebih tua gunakan bantalan pemanas pemanas di bawah bayi bila perlu dalam hubungannya dengan tempat tidur isolette atau terbuka. penurunan rasio masa tubuh terhadap area permukaan.4-37. incubator.6) Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernafasan. penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 (hiperkapnea) atau penurunan kadar O2 (hipoksia) 2) Tempatkan bayi pada penghangat. Ulangi setiap 15 menit selama penghangatan ulang. b. tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat. Mencegah kehilangan cairan melalui evaporasi Kolaborasi : 4) Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander volume secara intra vena bila diperlukan. periksa suhu rectal pada awalnya. hipotensi karena vasolidilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress panas. Rasional : hipotermia membuat bayi cenderung pada stress dingin. isolette. selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuka dan penyebab hangat. Rasional : mempertahankan lingkungan termo netral membantu mencegah stress dingin 3) Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. hipetermi dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi 3-4 kai lipat. Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36. 58 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .4) Intervensi : 1) Kaji suhu dengan sering.

Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit. memperbaiki asidosis yang yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia. Tujuan : mempertahankan kulit utuh bebas dari cedera dermal 59 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan immaturitas organ tubuh. adanya tangisan lemah yang diam bila dirangsang oral diberikan dan perilaku menghisap.Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr . Rasional : membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan SSP yang disebabkan oleh hipertermia. Rasional : pemberian makanan awal membantu memenuhi kebutuhan kalori dan cairan khususnya pada bayi yang laju metabolisme menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24 jam Kolaborasi : 4) Berikan glukosa dengan segera peroral atau intravena bila kadar dekstrosik kurang dari 45 mg/dl. berlanjut pada formula untuk bayi yang makan melalui botol. 2) Auskultasi bising usus. Rasional : Indicator yang menunjukkan neonates lapar. kemudian dextrose dan air sesuai protoko rumah sakit. Rasional : menetapkan kebutuhan kalori dan cairan sesuai dengan BB dasar yang sesuai yang sesuai/normal turun sebanyak 5%-10% dalam 3-4 hari dari kehidupan karena keterbatasan masukan oral. c. perhatikan adanya distensi abdomen. natrium bikarbonat. Tujuan : .Mempertahankan berat badan Intervensi 1) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari. Rasional : bayi mungkin memerlukan suplemen glukosa untuk meningkatkan kadar serum. 3) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 50-15 ml air steril.5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi fenobarbital. d.

tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi Intervensi : 1) Tingkatkan cara-cara mencuci tangan pada staf. cuci tangan dengan hati-hati dengan pofidon setelah prosedur. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur Tujuan : tidak terjadi infeksi. dapat membantu mencegah infeksi. perhatikan area kemerahan atau tekanan Rasional : mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal. Rasional : membantu mencegah kemungkinan nekrosis berhubungan dengan edema dermis di atas penonjolan tulang. Rasional : membantu mencegah kerusakan kulit dan kehilangan barier perlindungan epidural. Criteria : leukosit normal. orang tua dan pekerja lain Rasional : mencuci tangan adalah praktik yang penting untuk mencegah kontaminasi 2) Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit Rasional : penularan penyakit pada neonatus dari pengunjung dapat terjadi secara langsung. 2) Berikan perawatan mulut dengan menggunakan salin atau gliserin scrub Rasional : Membantu mencegah kekeringan dan pecah pada bibir. kolaborasi 5) Berikan saleb antibiotic Rasional : meningkatkan pemulihan pecah-pecah dari iritasi berkenaan dengan pemberian oksigen. 3) Berikan latihan gerak. 4) Mandikan bayi dengan menggunakan air steril dan sabun meminimalkan manipulasi kulit bayi Rasional : setelah beberapa (empat) hari. kulit mengalami beberapa bakterisidal karena pH asam. e. 60 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . yang dapat mengakibatkan sepsis. 6) Hindari penggunaan agen topical keras.Intervensi 1) Inspeksi kulit. perubahan posisi rutin dan bantal bulu domba atau terbuat dari bahan yang lembut.

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. Definisi Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernapas secara spontan dan terartu setelah dilahirkan. (Saiffudin. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah satu menit kelahiran. Mengatasi infeksi pernafasan atau sepsis. Asfiksia Neonatrum 1. 2.3) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi. 3. letargi tau perubahan perilaku. misalnya : suhu. ASI mengandung Ig A. (Mochtar. penimbunan CO2 dan asidosis. 2001). Jenis Asfiksia Ada dua jenis dari asfiksia. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif. 1989). Rasional : bermanfaat dalam mendiagnosa pasien 4) Lakukan perawatan tali pusat sesuai local rumah sakit Rasional : penggunaan local triple dye dapat membantu mencegah kolonisasi. Asfiksia Livida (biru) 2. yaitu : 1. Asfiksia pallida (putih) Perbedaan Asfiksia Livida dan Pallida : Perbedaan Warna kulit Tonus otot Asiksia Livida Kebiru-biruan Masih baik Asfiksia Pallida Pucat Sudah kurang 61 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. makrofag. limfosit dan netrofil yang memberikan beberapa perlindungan dari infeksi. bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak dan kematian.

Etiologi Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989): a. Asfiksia dalam persalinan 1) Kekurangan O2        Partus lama (rigid serviks dan atonia uteri) Ruptur uteri yang memberat Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta Pemberian obat bius terlalu banyak Perdarahan: plasenta previa dan solution plasenta 2) Paralisis pusat pernapasan Trauma dari luar seperti tindakan forsep Trauma dari dalam seperti obat bius 62 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Klasifikasi Asfiksia Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan nilai APGAR. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 b.Reaksi rangsangan Bunyi jantung Prognosis Positif Masih teratur Lebih baik Negatif Tak teratur Jelek 3. yaitu: a. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 4. Asfiksia ringan dengan nilaiAPGAR 4-6 c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 d. Asfiksia dalam kehamilan 1) Penyakit infeksi akut 2) Penyakit infeksi kronik 3) Keracunan oleh obat-obat bius 4) Anemia berat 5) Cacat bawaan 6) Trauma b.

Faktor janin. Hipoksia 2. 2. meliputi amnionitis. anemia. Manifestasi Klinik a. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas/transport O2 (menurunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik.Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak. dimana kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa (squele). meliputi persalinan lama 3. Pada kehamilan 63 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . diabetes. 6. obat-obatan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Faktor uterus. Tanda Dan Gejala 1. Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas 4. tonus otot berkurang 6. selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler. meliputi prolaps tali pusat. tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi metabolisme anaerob dalam tubuh bayi sehingga terjadi asidosis metabolik.Penyebab asfiksia menurut Stright (2004): 1. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernapasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Faktor umbilical. Faktor plasenta. hipertensi yang diinduksikan oleh kehamilan. Warna kulit sianotik/pucat 7. insufisiensi plasenta 4. Faktor ibu. kesulitan kelahiran 5. Bradikardia 5. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apneu. meliputi disproporsi sefalopelvis. RR> 60 x/mnt atau < 30 x/mnt 3. Patofisiologi Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. lilitan tali pusat 5. solusio plasenta. meliputi plasenta previa. kelainan congenital.

halus dan ireguler serta adanya pengeluara mekonium. keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium yang disertai dengan perubahan sirkulasi.Denyut jantung janin lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100x/menit . c. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. Kejang Pada bayi yang mengalami asiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 yang dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan yang tidak efektif. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal.    Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat b. 64 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. Edema otak dan perdarahan otak Pada penderita asfiksia neonatorum dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonates. Komplikasi Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum: a. Pada bayi setelah lahir 1) Bayi pucat dan kebiru-biruan 2) Usaha bernapas dan tidak ada 3) Hipoksia 4) Asidosis metabolic atau respiratori 5) Perubahan fungsi jantung 6) Kegagalan system multi organ 7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologic : kejang. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. nistagmus 8. b. Anuria atau Oligouria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada asfiksia.

Tindakan umum 1) Pengawasan suhu 2) Pembersihan jalan nafas b. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. Memulai pernapasan : Lakukan rangsangan taktil Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif 3. tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna Hemoglobin/hematokrit.24 menunjukkan status praasidosis. Memastika saluran nafas terbuka :      Meletakan bayi dalam posisi yang benar Menghisap mulut kemudian hidung k/p trakhea Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka 2.20 sampai 7. menunjukkan hemolitik 10. kadar Hb 15-20g dan Ht 43%-61% Tes Coombs langsung pada darah tali pusat:menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membrane sel darah merah. Pemeriksaan diagnostik    pH tali pusat : tingkat 7. 9.d. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 1) Tindakan khusus 65 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : a. Manajemen Terapi Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat tidak segera ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten. 2. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Asphyksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis jalan nafas.1. koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB. usahakan mengikuti gerakan tersebut. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. Kemudioan dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. ventilasi aktif harus segera dilakukan. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan 66 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Asphyksia sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba.

11. Neurosensori Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas Sadar dan aktif. Tekanan darah dari 60-80mmHg (sistolik).skor optimal harus 7-10 Rentang dari 30-60x/menit Bunyi napas bilateral. Eliminasi Dapat berkemih saat lahir. hipoglikemia. sehat. 40-45mmHg (diastolic). Makanan/Cairan        Berat badan dari 2500-4000 gram Panjang badan 44-55 cm Turgor kulit elastik 4. Bunyi jantung. apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. Pengkajian 1. mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahian (periode pertama reaktivitas). Pernapasan     67 Skor APGAR : 1 menit……. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. Asuhan keperawatan A.berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. 3. bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan. hematoma) Menangis kuat. edema. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.5 menit…. 5. menagndung 2 arteri dan 1 vena 2. Sirkulasi     Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 samapi 180x/menit. atau efek narkotik yang memanjang. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/IV Murmur biasa terjadi selama beberapa jam kehidupan Tali pusat putih dan bergelatin..kartilagixifoid menonjol BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Penampilan asimetris (molding. nada sedang (nada menagis tinggi menunjukkan abnormalitas genetic. kadang-kadang krekels umum pada awalnya Silindrik torak.

d. Bebas tanda distress pernapasan. atau pada oksipital). secara umum tidakada sianosis.d.  Abrasi kulit kepala mungkin ada B. fleksibel. warna merah muda atau kemerahan.6. oksigen). produksi mucus yang berlebihan. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan proses keluarag b. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga C. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. Resiko cedera b.50C sampai 370C Ada verniks Kulit:lembut. Skor total dari 068 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional . Intervensi Keperawatan 1. pemajanan pada agen-agen infeksius 4. Kriteria hasil :   Mempertahankan jalan napas patendengan frekuensi pernapasan dan jantung dalam batas normal. pengelupasan kulit tangan/kaki dapat terlihat.d. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misalnya kelahiran dengan forsep). Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Ukur skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 setelah kelahiran. bercak port-wine. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. produksi mucus berlebihan 2.d. nevi telengiektatis (kelopak mata. ptekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal). kurangnya suplai O2 dalam darah 3. atau perubahan warna harlequin.d. Membantu menentukan kebutuhan terhadap intervensi segera (missal penghisapan. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. antara alis mata. Keamanan    Suhu terentang dari 36. atau bercak Mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat.

termasuk denyut jantung janin (DJJ). variabilitas denyut per denyut. Skor 7-10 menandakan tidak ada kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. Tinjau ulang status janin intrapartum. dan penurunan variabilitas DJJ. kejadian pada intrapartum dapat membuat distress janin dan hipoksia yang menetap sampai pada periode segera dari pascapartum. Seperti komplikasi prenatal. atau cairan amniotic mengandung mekonium akan memerlukan upaya-upaya lebih besar untuk mencapai stabilisasi setelah kelahiran daripada janin tanpa hipoksia 69 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Skor 4-6 memperberat kesulitan beradaptasi terhadap kehidupan ekstrauterus. perubahan periodic pada DJJ. atau deselerasi lambat. hipertensi karena kehamilan. kadar pH kulit kepala. dan warna serta jumlah cairan amniotic. meningkatkan resiko kerusakan system saraf pusat dan memerlukan perbaikan setelah kelahiran. Komplikasi ini dapat mengakibatkan hipoksia kronis danasidosis. Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan/atau janin )missal kelainan jantung atau ginjal. variable yang memanjang. mengakibatkan upaya pernapasan tertekan atau tidak efektif. oligohidramnion. atau diabetes).20. Janin dengan kadar pH kulit kepala kurang dari 7.3 menunjukkan asfiksia berat atau kemungkinan disfungsi pada control neurologis dan kimia terhadap pernapasan.

Kompresi torakal selama lewatnya janin melalui jalan lahir membantu dalam membersihkan paru-paru kira-kira 80110ml cairan. Obat-obatan dapat menekan upaya pernapasan bayi dan mengurangi kemampuan bayi baru lahir untuk memberikan oksigen ke jaringan. Kegagalan untuk mencapai KRF membuat tiap pernapasan selanjutnya selelah dan sesulit pernapasan awal. sehingga 30%-40% jaringan paru tetap mengembang penuh asalkan ada kadar surfaktan yang adekuat. Takipnea (frekuensi pernapasan lebih besar dari 60x/menit) biasanya berhubungan dengan perubahan normal yang diantisipasi pada periode reaktivitas pertama (30 menit setelah 70 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pernapasan pertama. Bayi yang lahir melalui persalinan yang cepat (kurang dari 3 jam) atau kelahiran seksio sesaria mempunyai mucus berlebihan karena ketidakadekuatan kompresi torakal. menetapkan kapasitas residu fungsional (KRF). Kaji frekuensi dan upaya pernapasan awal.atau distress. merupakan yang paling sulit. Perhatian durasi persalinan dan tipe kelahiran. Perhatikan waktu dimana obat-obatan 9misal magnesium sulfat atau meperidin hidroklorida (Demerol)) diberikan pada ibu.

sesuai kebutuhan. Krekels dapat terdengar sampai cairan direabsorpsi dari paruparu. Membantu menghilangkan akumulasi Bersihan jalan napas. dapat menandakan distress pernapasan bila ini menetap. meningkatkan PO2 alvolar dan . dengan menggunakan spuit balon atau kateter penghisap DeLee. yang selanjutnya dapat menekan upaya pernapasan dan mengakibatkan asidosis saat bayi memaksa metabolism anaerobic dengan produk akhir asam laktat. Menurunkan efek-efek stress dingin (missal peningkatan kebutuhan oksigen) dan berhubungan dengan hipoksia. krekels. atau ronki.kelahiran). pernapasan mendengkur. retraksi dada. hisap nasofaring dengan perlahan. dan membantu mencegah aspirasi. Pantau nadi apical selama penghisapan. 71 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Memudahkan drainase mucus dari nasofaring dan trakea dengan gravitasi. tetapi Perhatikan adanya pernapasan cuping hidung. Ronki menandakan aspirasi sekresi oral. Tanda-tanda ini normal dan sementara pada periode reaktivitas pertama. tetapi dapat juga ada pada upaya menghilangkan karbon dioksida. tempatkan stoking penutup kepala. Pada awalnya sehat. Tempatkan bayi pada posisi Trendenlenburg yang dimodifikasi pada sudut 10 derajat. menangis kuat Perhatikan nada dan intensitas menangis. dan tempatkan di lengan orang tua atau unit pemanas. memudahkan upaya pernapasan. cairan. Penghisapan orofaring menyebabkan rangsangan vagal yang menimbulkan bradikardia. Keringkan bayi dengan selimut hangat.

terjadi normalnya pada 85% bayi baru lahir selama jam pertama. Observasi warna kulit terhadap lokasi dan luasnya sianosis. Menandakan hipoksia intrauterus kronis. Akrosianosis. 72 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . sianosis umum dan flaksiditas menunjukkan ketidakadekuatan oksigenasi jaringan. sehingga frekuensi jantung meningkat 175-180 dpm dan kemudian biasanya kembali ke normal dalam 4-6 jam berikutnya. yang kemungkinan dihubungkan dengan asidosis dan memerlukan tindakan resusitatif. Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat. Merangsang upaya pernapasan dan dapat meningkatkan inspirasi oksigen. Membantu mengurangi insiden pneumonia aspirasi pada periode awal neonates. menunjukkan lambatnya sirkulasi perifer. Perhatikan nadi apical. Perhatikan adanya pandangan mata lebar. Kaji tonus otot.menghasilkan perubahan kimia yang diperlukanuntuk mengubah sirkulasi janin menjadi sirkulasi bayi. namun. Takikardia (frekuensi jantung lebih besar dari 160 dpm) dapat menandakan asfiksia baru atau respons normal berkenaan dengan periode pertama reaktivitas. Frekuensi jantung kurang dari 100 dpm menandakan asfiksia berat dan kebutuhan terhadap resusitasi segera. Hisap isis lambung bila cairan amniotic mengandung mekonium.

kadar pH tali pusat mungkin diambil untuk memastikan adanya dan durasi asfiksia prenatal. Memberikan oksigen tambahan dan mendukung upaya bila pucat dan sianosis. sirkulasi janin mungkin bertahan karena peningkatan PO2 perlu untuk mengurangi tahanan vascular pulmoner. Bila bercak mekonium ada. dan meningkatkan tekanan pada sisi kiri jantung.Kolaborasi Berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7 L/mnt bila diindikasikan. dalam hubungannya dengan penghisapan saat kepala bayi di perineum. Bila terdapat indikasi distress pernapasan Bantu dalam mengambil darah tali pusat. meningkatkan aliran darah ke paru-paru. diberikan secara intravena atau melalui kateter pembuluh umbilicus. Bayi yang memerlukan upaya-upaya resusitatis luas harus diobservasi dan dirawat oleh petugas yang secara khusus terlatih untuk merawat bayi baru lahir 73 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . pada bayi baru lahir. dan siapkan untuk pemindahan bayi ke unti perawatanintensif neonates (NICU) atau Narcan adalah anatagonis narkotik kerja cepat mengatasi depresi pernapasan yang disebabkan pemajanan ibu pada anestetik atau narkotik. Meningkatkan jalan napas paten. yang menutup duktus artriosus dan foramen ovale. Berikan tindakan resusitatif. Pada kasus hipoksia yang lama. Lakukan penghisapan dalam bila bayi menunjukkkan bukti depresi pernapasan yang tidak berespons terhadap pengisapan perlahan atau rangsangan taktil perlahan. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (missal Naloxone (Narcan)). perlu untuk mencegah aspirasi mekonium. penghisapan dalam.

pakaikan stoking penutup kepala dan bungkus dalam selimut hangat. sesuai indikasi. 2. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru lahir. Digendong erat dekat tubuh orangtua dan kontak kulit dengan kulit menurunkan 74 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan membatasi stress akibat perpindahan lingkungan dari uterus yang hangat ke lingkungan yang lebih dingin. melindungi kelembapan bayi dari aliran udara atau pendingin undar. Tempatkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat atau pada lengan orangtuanya. dan aksila dan tanda-tanda vital DBN. sering menyebabkan penurunan suhu bayi yang berarti. Mencegah kehilangan panas melalui konduksi. kulit.d. Perhatikan adanya distress atau hipoksia pada janin. Bebas dari tanda distress pernapasan dan stress dingin. Magnesium sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi dan mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyerap panas. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b. Rasional Hipoksia janin atau penggunaan Demerol oleh ibu mengubah metabolism janin terhadap lemak coklat. kurangnya suplai O2 dalam darah Kriteria hasil:   Mempertahankan suhu inti. Mengurangi kehilangan panas akibat evaporasi dan konduksi.fasilitas tingkat III/IV. dimana panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang lebih dingin daripada bayi. Intervensi . yang sakit. Tindakan/Intervensi Mandiri Pastikan obat-obatan yang diterima ibu selama periode prenatal dan intrapartum.

kehilangan panas pad bayi baru lahir. makin cepat pemindahan makin cepat suhu ini menjadi dingin. Peningkatan suhu yang terlalu cepat dapat mengakibatkan apnea pada bayi yang mengalami stress dingin. tingkat aktivitas (meningkatkan laju peningkatan aktivitas. Suhu inti (rectal) biasanya 0.50C lebih tinggi dari suhu kulit. Penurunan dalam suhu lingkungan cukup untuk menggandakan konsumsi oksigen neonatal cukup bulan. Hilangkan aliran udara dan minimalkan penggunaan pendingin udara. Bila suhu lingkungan turun di bawah Observasi bayi terhadap tanda-tanda stress zona termonetral. ekstremitas fleksi. kulit lebih besar.50C lebih hangat dari suhu tubuh. pantau suhu kulit secara kontinu dengan alat pemerisa kulit dengan tepat. . pertahankan suhu udara 1. hangatkan oksigen bila diberikan melalui masker. Kehilangan panas Perhatiakn suhu lingkungan. metabolism dan konsumsi oksigen).50C. Kehilangan melalui radiasi terjadi bila panas dipindahkan dari bayi baru lahir ke objek atau permukaan yang tidak berhubungan langsung denga bayi baru lahir (missal sisi atau dinding Kaji suhu inti neonates. Suhu kulit dipertahankan mendekati 36. 75 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 incubator). melalui konveksi terjadi bila bayi kehilangan panas ke aliran udara yang lebih dingin. bayi meningkatkan dingin (missal penurunan suhu inti. namun perpindahan kontinu dari inti ke kulit terjadi sehingga perbedaan suhu inti dan Berikan penghangatan bertahap pada bayi yang mengalami stress dingin.

asidosis. bradikardia. peningkatan laju metabolic dan konsumsi glukosa mengakibatkan hipoglikemia. sianosis umum. vasokontriksi pulmoner mengakibatkan penurunan pernapasan dan sirkulasi janin menetap dengan kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale. Efek samping dari hipotermia lama dapat meliputi peningkatan konsumsi oksigen yang menimbulkan hipoksia. Tanda-tanda ini menandakan efek Perhatikan tanda-tanda distress pernapasn (missal apnea. dan pernapasan uping hidung). Vasokontriksi perifer menimbulkan asidosis metabolic. mendengkur berat. retraksi otot pernapasan. kulit tangan dan kaki dingin. dan penurunan pernapasan. karenanya 76 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan melepaskan katekolamin adrenal. yang meningkatkan pelepasan panas dari simpanan lemak coklat dan menyebabkan vasokontriksi selanjutnya mendinginkan kulit.belang-belang atau pucat. sesuai indikasi. negative stress dingin yang lama dan memerlukan pemantauan ketat. Kolaborasi Berikan dukungan metabolic (glukosa atau buffer). serta pelepasan asam lemak bebas dalam aliran darah yang bersaing ddengan sisi ikatan bilirubin pada albumin. ekstremitas fleksi menurunkan besar permukaan tubuh yang terpajan.

Hanya ada satu pembuluh darah arteri dihubungkan dengan abnormalitas genitourinarius. Kolaborasi Klem tali pusat umbilicus bayi baru lahir kira-kira ½ sampai 1 inci dari abdomen dalam 30 detik setelah kelahiran. kemungkinan memperberat Rasional 77 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap pemantauan ketat dan perawatan lebih intensif. perhatikan jumlah pembuluh darah tali pusat dan adanya nomali. pemajanan pada agen-agen infeksius Kriteria hasil : bebas dari cedera/komplikasi. Mencegah bayi baru lahir terkena virus hepatitis B atau dari menjadi karier kronis bila terpajan pada produk darah serum ibu saat melahirkan. 3. asidosis dan asfiksia.d. Pemberian glukosa atau bikarbonat dapat memperbaiki hipoglikemia. anomaly congenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi.meningkatkan resiko ikterik dan kernikterus. menentukan usia gestasi. sementara bayi berada sejajar dengan Menggendong bayi di bawah introitus atau keterlambatan mengklem tali pusat yang mengandung 50-100ml darah dari plasenta. Tali pusat mengandung tiga pembuluh darah. Resiko cedera b. Mandikan bayi baru lahir segera setelah kelahiran bila terpajan pada agen-agen infeksius telah terjadi. Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Lakukan pengkajian fisik rutin terhadap bayi baru lahir. Membantu mendeteksi abnormalitas dan efek neurologis.

Profilaksis mata mengeruhkan pandangan bayi. 4. Perubahan proses keluarag b. transisi perkembangan dan/atau penambahan anggota keluarga Kriteria hasil :   Memulai proses kedekatan dengan cara yang bermakna untuk anggota keluarga Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk meyakinkan hubungan keluarga yang benar Intervensi : Tindakan/Intervensi Mandiri Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonates segera dan perawatan yang diberikan. Membantu mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. polisitemia dan hiperbilirubinemia pada masa neonatus. Eritromisin secara efektif menghilangkan baik organism gonorrhoeae dan klamidia. Berikan profilaksis mata dalam bentuk salep eritromisin (Ilotycin) kira-kira 1 jam setelah kelahiran. menurunkan kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan orangtua.introitus ibu. Membantu orangtua untuk memahami rasional intervensi pada periode awal bayi baru lahir. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayahnya segera setelah kondisi 78 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 Rasional masa yang paling khusu bermakna untuk interaksi keluarga dimana ini dapat . yang mungkin ada pada janin lahir ibu. Menghilangkan ansietas orangtua berkenaan dengan kondisi bayi mereka.d.

Diskusikan kemapuan bayi untuk berinteraksi. dan tindakan actual atau potensial untuk dilakukan. Necrolizing Enterocolitis (NEC) merupakan gangguan multifocal melibatkan nekrosis iskemik pada traktus alimenter tanpa predisposisi kelainan anatomi dan fungsi. Membantu orangtua memandang bayi sebagai individu terpisah dengan karakteristik fisik yang unik. 4. Necrolizing Enterocolitis (Nec) 1.neonates memungkinkan. Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bayi baru lahir. dimana bagian dari ususnya mengalami kronis (kematian jaringan). Anjurkan orangtua untuk mengelus dan bicara pada bayi baru lahir. membantu menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin dilakukan untuk perawatan bayii dan meningkatkan kerjasama orangtua dengan tindakan kegawtdaruratan. meningkatkan awal kedekatan antara orangtua dan bayi serta penerimaan bayi baru lahir sebagai anggota keluarga baru. Membantu memudahkan interaksi orang tua-bayi. Mempertahankan orangtua tetap mendapat informasi tentang status perubahan bayi. anjurkan ibunya untuk menyusui bayi bila diinginkan. Kondisi ini kemungkinan merupakan satu dari respons akhir 79 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Definisi Necrolizing Enterocolitis (NEC) adalah kondisi medis terutama terlihat pada bayi yang premature. Berikan informasi yang tepat dalam kejadian komplikasi yang tidak diperkirakan atau kebutuhan terhadap pemindahan ke NICU Memberikan kesempatan untuk orangtua dan bayi baru lahir memulai pengenalan dan proses kedekatan.

7% dari semua bayi yang diamasukkan ke unit perwatan intensif neonatal b. polisitemia. NEC terjadi pada 2% . dan gangguan pertahanan pada host. dan pemberian susu formula. a. Angka mortalitas NEC secara berlawanan proporsional dengan berat badan pada saat lahir dan lebih dari 50% pada bayi yang memiliki berat badan kurang dari 1000 g saat lahir. 62% . NEC merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbesar. Insiden ini meningkat pada usia gestasi yang lebih kecil.94% bayi yang terkena adalah bayi premature d. kolonisasi bakteri pada intestine. 2. meskipun sekitar 10% diantaranya merupakan neonates aterm. keduanya diambil dari satu daerah geografis dan dari satu daerah ke daerah lain.potensial dalam jumlah terbatas yang muncul pada saluran cerna satelah satu atau lebih stress. Iskemia dan agen infeksi merupakan faktor predisposisi awal terjadinya NEC. 3. Insiden Necrolizing Enterocolitis (NEC) paling umum terjadi di ileum terminal dan kolom proksimal. NEC terutama menyerang bayi prematur. atau masalahmasalah medis yang lain e. seperti prematuritas. 7% . Jumlah seluruh insiden NEC adalah antara 1% dari 5% seluruh bayi yang masuk ke unit perawatan intensif neonates. dengan angka mortalitas keseluruhan sebanyak 10%-15%. NEC terjadi pada sekitar 12% neonates dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g c. faktor lainnya seperti 80 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .13% bayi yang terkena NEC adalah bayi cukup bulan Banyak dari bayi tersebut yang mendapatkan penanganan penyakit jantung kongenital. Etiologi Penyebab utama NEC adalah iskemi pada saluran intestinal. malformasi gastrointestinal anatomik. Insiden NEC sangat bervariasi dari tempat perawatan yangs satu ke tempat perawatan lainnya. f. Perkiraan ini tidak dapat secara akurat mencerminkan insiden yang sebenarnya karena inkonsistensi akurat mencerminkan insidens yang sebenarnya karena inkonsistensi dalam definisi dan dalam melaporkan kasus yang diperumit dengan variabel pengacau lain.

sehingga pada neonatus yang mengalami asfiksia. Aliran darah mesentrika berada pada prioritas yang sangat rendah saat terjadi hipoksia. diduga memperparah proses penyakit. Apabila terjadi gangguan regulasi di mesentrika menuju intestin. Ditambah lagi. barrier mukosa belum berkembang dengan baik. memiliki kemungkinan untuk terserang NEC. aliran darah ke abdomen. Iskemia dan kolonisasi bakteri Saat mengalami keterbatasan perfusi. terutama makanan-makanan formula. a.mediator inflamasi (sitokin). usus belum mampu mencerna makanan dengan baik. terjadi malabsorpsi parsial terhadap konstituen lemak dan karbohidrat pada susu akibat organ tubuh yang belum matur. maka akan terjadi hipoksia pada area organ tubuh yang mendapatkan aliran darah dari mesentrika yang mencetuskan terjadinya injuri dan disrupsi pada mukosa epitel intestinal. terjadi mekanisme pertahanan ubuh yang melindungi otak dan jantung dari kerusakan akibat iskemik. b. dan lactobacillus bifidus growth factor. Skema: Gangguan regulasi di mesentrika → bowel ischemia → injuri dan disrupsi mukosa epitel intestinal → bakteri masuk ke area injuri → kerusakan jaringan → nekrosis. dan koon menurun drastis selama episode tersebut. bakteri dapat dengan mudah masuk pada area injuri dan mengakibatkan kerusakan jaringan. termasuk nekrosis dan ulserasi. Pada saluran gastrointestinal yang belum matur. lisozim. ASI dapat mengurangi insiden dan keparahan NEC. laktoferin. mukosa usus bayi belum memiliki antibodi imunoprotektif utama di gastrointestinal. Feeding process Pada neonatus. c. IgA. bakteri-bakteri fermentasi 81 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . radikal bebas. Imunitas bayi Bayi yang memiliki imunitas rendah dan saluran GI yang belum matur. ulserasi. IgA. Saat hal tersebut terjadi. Karena ASI memiliki faktor protektif nonspesifik dan spesifik seperti sel imunokompeten. sehingga dapat terjadi translokasi bakteri dan antigen makanan yang tidak tercerna ke lamina propia sehingga mengaktivasi sel peradangan. Pada saat lahir. yaitu aliran darah di tubuh diprioritaskan untuk dialirkan ke dua organ tubuh tersebut dengan memindahkan aliran darah dari mesentrika dan renal. produk fermentasi bakteri dan toksin. ileum.

Bakteri yang berproliferasi dibantu oleh makanan enteral (substrat). menginvasi mukosa usus yang rusak sehingga terjadi kerusakan usus lebih lanjut karena pelepasan bakteri dan gas hidrogen. berkisar dari intoleransi terhadap pemberian makanan sampai kerusakan intraabdomen yang tiba-tiba disertai sepsis. mengakibatkan penurunan substansi pada feses dan hydrogenfilled cysts diantara mukosa usus. Nekrosis usus yang sangat tebal mengakibatkan perforasi dengan pelepasan udara bebas ke dalam ronga peritoneal (pneumoperitoneum) dan peritonitis. dan kematian. neonatus mengalami kehilangan karbohidrat yang besar pada intestine. Saat NEC berkembang. yang akan didistribusikan ke dalam sistem vena hepar. syok. dan adanya suatu substrat seperti formula. gangguan otot (muscular guarding). Gas tersebut juga dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala NEC sangat bervariasi. dan eritema pada dinding abdomen. perotinotis. karbon dioksida. Patofisiologi Patogenesis NEC sulit untuk dipahami dan kontroversial. Cedera hipoksik/iskemik menyebabkan aliran darah ke usus menurun. Ada tiga mekanisme patologis utama dalam proses terjadinya NEC: cedera iskemik pada usus. dan feses yang mengandung darah. Tiksin bakterial yang berkombinasi dengan iskemia mengakibatkan nekrosis. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk distensi abdomen. 82 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Gas mulanya membelah lapisan serosa dan submukosa usus (pneumatosis intestinalis). Temuan fisik yang tercatat pada serangkaian pemeriksaan meliputi nyeri tekan progresif pada abdomen.membentuk asam organik. Gambaran yang nyata meliputi letargi. meskipun demikian. 5. patogenesis NEC adalah multifaktor. Hipoperfusi usus ini selanjutnya merusak mukosa usus. terjadi perforasi dinding usus → gas masuk ke jaringan submukosa (pneumatosis instinalis) & dapat robek ke dalam bantalan vaskular mesentrika. kolonisasi bakteri usus. dan gas hidrogen hasil nutrient yang tersisa. Skema: Feeding process → Terbentuk gas hydrogen → gas hydrogen terpenetrasi. 4. apnea. dan hipoperfusi. muntah empedu. aspirasi gaster. dan sel mukosa yang melapisi usus menghentikan sekresi enzim protektif.

Secara khas. Penyakit dicirikan oleh suatu rentang tanda dan gejala luas yang menerminkan perbedaan keparahan. komplikasi. Tanda-tanda dan gejala yang berkaitan meliputi: 1) Kemunduran tanda-tanda vital 2) Adanya bukti syok septik 3) Edema dan eritema dinding abdomen 4) Massa dikuadran kanan bawah 5) Asidosis 83 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . NEC yang dicurigai (derajat I) terdiri ats temuan klinis tidak spesifik yang menggambarkan ketidakstabilan psikologis dan dapat menyerupai kondisi yang biasa lainnya pada bayi premature. Temuan klinis tersebut antara lain: 1) Ketidakstabilan suhu 2) Letargi 3) Kekambuhan apnea dan bradikardi 4) Hipoglikemia 5) Perfusi perifer buruk 6) Peningkatan residu gaster sebelum pemberian makanan melalui selang lambung 7) Intoleransi makan 8) Emesis 9) Distensi abdomen ringan 10) Hasil hematest positif NEC pasti (derajat II) terdiri atas temuan klinis non-spesifik yang telah disebutkan diatas ditambah: 1) Distensi abdomen berat 2) Nyeri tekan abdomen 3) Feses berdarah nyata 4) Lengkung usus teraba 5) Edema dinding abdomen 6) Bunyi usus yang mungkin tidak ada NEC lanjut (derajat III) terjadi bila bayi menjadi sakit akut. dan mortalitas penyakit. tetapi dapat terjadi seawal mungkin pada 24 jam keidupan atau sekitar mungkin pada usia 90 hari.Awitan NEC paling sering terjadi antara hari ke-3 dan hari ke-12 kehidupa.

Hasil laboratorium yang menggambar tanda-tanda sepsis meliputi: 1) Lukopenia (hitung sel darah putih total dibawah 6000/mm3) atau peningkatan sel darah putih dengan peningkatan hitung berkas 2) Trombositopenia (hitung trombosit dibawah 50. meliputi: 1) Striktur (25%-35%) 2) Sindrom usus pendek (9%-23) 3) NEC kambuhan (4%-6%) 4) Malabsorbsi 5) Kebocoran anastomosis 6) Kolestasis 7) Fistula enterokolitis (2%) 8) Atresia 9) Gagal tumbuh kembang 7. Komplikasi segera meliputi: 1) Sepsis (9%-23%) 2) Gagal napas (91%) 3) Gagal ginjal (85%) 4) Syok 5) Paten duktus arterious 6) Anemia 7) Koagulasi intravaskular diseminata 8) Trombositopenia 9) Perforasi b. feses atau urine positif 84 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .000/mm3 sebelum pembedahan) 3) Ketidakseimbangan elektrolit 4) Asidosis (metabolik dan/atau respiratorik 5) Hipoksia 6) Hiperkapnea 7) Hasil kultur darah. Komplikasi a. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik a.6) Koagulasi intravaskular diseminata 6. Komplikasi jangka panjang.

dan kultur darah) 3) Penggenatian cairan dan elektrolit agresif. radiografi abdominal serial setiap 6 sampai 8 jam b. Radiografi standar anteroposterior dan dekubitus lateral kiri (atau lateral melintang meja) dapat menunjukkan beberapa atau semua tanda berikut: 1) Distensi fokal atau gas nonspesifik pada lengkung usus 2) Penebalan dinding usus dari adanya edema 3) Pneumatosis intestinalis (gelembung udara subserosa pada dinding usus) 4) Lengkung usus yang berdilatasi secara persisten 5) Udara vena porta 6) Pneumoperitoneum (udara abdomen bebas) c. elektrolitserum. mendeteksi pneumatosis sebelum diidentifikasi dengan radiograf polos. dan parasentesis yang positif lebih dari 0. teraba massa abdomen. mendeteksi gelembung mikro pada vena porta sebelum dapat diidentifikasi pada radiograf polos 2) Uji kadar hydrogen dalam udara yang dikeluarkan. 1) NPO. adanya udara vena porta pada radiografi (kontroversial). antibiotik spektrum luas 4) Pemeriksaan fisik yang sering. penurunan klinis meskipun penanganan telah agresif. yang mengindikasikan adanya fermentasi bakteri 3) Seri gastrointestinal (GI) bagian atas dengan kontras metrizamid. lengkung usus dilatasi menetap pada radiografi. 8. Studi diagnostik lain muncul yang dapat menjadi keuntungan diagnostik.b. analisis gas adarh. khusunya pada NEC derajat awal. Terapi medis siportif: pendekatan yang mungkin bila tidak ada nekrosis dan perforasi usus. Intervensi bedah untuk indikasi berikut: pneumoperitoneum. transfusi produk darah sesuai keperluan. 85 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 .5 mL cairan kuning-coklat yang mengandung bakteri pada pewarnaan gram. istirahat dan dekompresi usus 2) Pantau pemeriksaan laboratorium (hitung sel darah lengkap. kadar hydrogen dapat meningkat. yang meliputi: 1) Ultrasonografi vena porta. hitung platelet. Temuan radiologis merupakan dasar untuk mengonfirmasi diagnosis NEC. Penatalaksanaan a.

dan material tinja. 9.c. Usaha dilakukan untuk mereseksi hanya usus yang jelas nekrosis atau perforasi dan mempertahankan katup ileosekal. d. cairan. Intervensi bedah meliputi laparatomi dengan reaksi usus nekrosis dan kemungkinan pembuatan ostomi. Pantau platelet. septikemia. haluaran berlebih dari stoma mengharuskan penutupan stoma yang lebih dini. Bayi dibiarkan tanpa popok & ditelentangkan atau miring  hindari tek. dan status asam-basa. diberikan scr bertahap h. elektrolit. 86 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pertimbangan keperawatan a. Penutupan stoma: bila bayi telah menoleransi makanan sampai 4 bulan atau lebih. 2005). Pemenuhan kebutuhan nutrisi  makanan oral diberikan 7 s. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak. Drainase peritoneal untuk pengobatan perforasi: pemasangan drain penrose di abdomen bawah (prosedur di tempat tidur) untuk mendekompresi udara.d 10 hr stlh diagnosis dan penanganan. Sepsis Neonatrum 1. syok kardiovaskular. e. Mengontrol infeksi 5. Pantau tanda vital  perforasi usus. Definisi Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Dimulai dengan pengenalan awal b. d. Upaya pencegahan penularan ke bayi lain e. Abdomen yg distensi g. Asidosis persisten menunjukkan adanya usus nekrotik f. Bila dicurigai  perawat membantu prosedur diagnostik & implementasi program terapeutik c. Terapi pascaoperasi 1) Dukungan pernapasan 2) Resusitasi cairan mungkin diperlukan sekunder akibat kehilangan dan sepsis 3) Observasi dinding abdomen dan stoma terhadap perubahan warna dan pembengkakan. Hindari pengukuran suhu rektal  perforasi f.

2008) 2. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada neonatus. Sepsis dapat dibagi menjadi dua yaitu. 1. Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. Neisseria meningitidis. Haemophilus influenzae tipe B. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi. rubella). Listeria monocytogenes. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion. biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi. bakteri (streptococcus B).75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. dan Streptococcus grup B merupakan penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai dengan 3 bulan. 2. Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes. antara lain: 87 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). (Vietha. Salmonella.Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman. 3. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. 2000) Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan. dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. 2000). Sepsis dini :terjadi 7 hari pertama kehidupan. Etiologi Bakteria seperti Escherichia coli. Epidemiologi Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok septik (Dongoes. sering mengalami komplikasi. Sterptococcus pneumoniae.

Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika. complment cascade 88 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Demam yang terjadi pada ibu c. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar.a. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. terhambatnya fungsi mitokondria. Patofisiologi Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. perubahan ambilan dan penggunaan oksigen. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Proses kelahiran yang lama dan sulit. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas . Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) f. tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. g. kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah. Infeksi pada uterus atau plasenta d. paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) e. dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. Perdarahan b. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium. pemasangan sejumlah kateter. yang bila tidak segera dirawat. yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. dan kekacauan metabolik yang progresif. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun. 4. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang.

Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian (Bobak. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan. merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. d. Faktor Neonatatal 1) Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram). Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. Faktor. yaitu : a. dan latar belakang. b. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Ketuban pecah dini (KPD) e. 2005). dari ibu selam proses persalinan ( infeksi Streptokokus group B atau infeksi kuman gram negatif ) atau secara horizontal dari lingkungan atau perawatan setelah persalinan ( infeksi Stafilokokus koagulase positif atau negatif). ras. IgG dan IgA 89 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . dapat terjadi infeksi transplasental seperti pada infeksi konginetal virus rubella.menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel.Prosedurselamapersalinan. infeksi didapatkan melalui jalur vertikel. Yang lebih umum. atau basilus Listeria monocytogenesis.Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan. protozoa Toxoplasma.factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok. menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. 2) Defisiensi imun. Ibu yang berstatus sosio. asidosis metabolik. Faktor Maternal 1) Status sosial-ekonomi ibu. Kurangnya perawatan prenatal. khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza.ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Setelah lahir. dan syok. 2) Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c.

sipilis. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. seperti steroid. bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas.laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. spesies Lactbacillus dan E. c.colli. dan toksoplasma. aktifitas lintasan komplemen terlambat. 3) Laki-laki dan kehamilan kembar. 90 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara. bersama dengan penurunan fibronektin. 4) Pada bayi yang minum ASI. dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. paling sering akibat kontak tangan. Faktor Lingkungan 1) Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif. parotitis. sitomegalo. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella.kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial).tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. herpes. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. yaitu : 1. 3) Kadang. Dengan adanya hal tersebut.colli ditemukan dalam tinjanya. sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E. antara lain malaria. Insidens sepsis pada bayi laki. 2) Paparan terhadap obat-obat tertentu. influenza. sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. koksaki. hepatitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini.

nafas cuping hidung. kejang. hepatomegali 3. Pada masa intranatal atau saat persalinan. kejang. letargi. Cara lain. Saluran nafas: apnoe. anoreksia. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis. pucat. malas minum. infus. Akibatnya. ubun-ubun membonjol 6. dan perut kembung 91 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . petekie. sianosis. Sistem syaraf pusat: iritabilitas.2. kulit lembab. takipnu. hiporefleksi. Hematologi: Ikterus. malas minum. 3. pernapasan tidak teratur. jaundice. Saluran cerna: distensi abdomen. selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi.gonorrea.dan N. takikardi. sklerema 2. selang nasogastrik. retraksi. Candida albican. splenomegali. yaitu saat persalinan. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS. Umum : panas (hipertermi). Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Infeksi paska atau sesudah persalinan. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. tremor. tidak kuat menghisap. botol minuman atau dot). selang endotrakhea. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut. perdarahan. sianosis 4. terjadi amniotis dan korionitis. muntah. 1. bradikardi 5. purpura. Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu. Sistem kardiovaskuler: pucat.. kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius.alat : penghisap lendir. diare. merintih. muntah. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan. diare. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat. hipotensi. dispnue. denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik.2003) 5.

kombinasi petanda terbaik untuk mendiagnosis sepsis adalah sebagai berikut: IL6. 6. nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat e. dan untuk menentukan prognosis. dan dapat mendeteksi infeksi pada tahap awal. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar b. dan hematological indices pada hari ke-0). IL8. dan CRP pada hari-hari berikutnya untuk memonitor respons terhadap terapi. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan. 7. Negative Probable Value (NPV) mendekati 100%. opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. Penatalaksanaan 92 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Pemeriksaan Penunjang Pertanda diagnostik yang ideal memiliki kriteria yaitu nilai cut off tepat yang optimal. petunjuk untuk penggunaan antibiotik. nilai diagnostik yang baik yaitu sesitivitas mendekati 100%. Pertanda hematologik yang digunakan adalah hitung sel darah putih total. rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total (I:T). IL6 (atau IL1-ra 0. spesifisitas lebih dari 85%. kejang. CRP. CRP. Tes laboratorium yang dikerjakan adalah CRP. memantau kemajuan pengobatan. kemerahan. dan IL1-ra untuk 1-2 hari setelah munculnya gejala. G-CSF. Positive Probable Value (PPV) lebih dari 85%. hitung neutrofil. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma. Saat ini. tes cepat (rapid test) untuk deteksi antigen. Tabel 3 menjelaskan sensitivitas dan spesifisitas dari berbagai uji laboratorium. GCSF. Kegunaan klinis dari pertanda diagnostik yang ideal adalah untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus. dan hitung trombosit. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena d. IL6 (atau GCSF dan hematological indices pada hari ke-1). dan panel skrining sepsis. neutrofil imatur. sitokin IL-6. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah. prokalsitonin. TNF. mikro Erytrocyte Sedimentation Rate (ESR).Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a.

v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.1. cairan serebrospinal. feses lengkap. terapi hipoglikemi/hiperglikemi. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap.m/i.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi. urine. 2. terapi oksigen/ventilasi mekanik. transfusi tukar. kejang. foto abdomen. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari. kimia. kultur darah.v harus diencerkan dan waktu pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan). pengecatan Gram). 3. terapi kejang. USG kepala dan lain-lain. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i. foto polos dada. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi. lengkap. pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel. koreksi metabolik asidosis. analisa gas darah. 4. dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. plasma.  Riwayat penyakit sekarang 93 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . transfusi darah. gula darah. trombosit. Riwayat penyakit  Keluhan utama Klien datang dengan tubuh berwarna kuning. CRP tetap abnormal.v i. 5. maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i. letargi. urine dan feses (atas indikasi). Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. tak mau menghisap. pemeriksaan darah dan CRP normal.m (atas indikasi khusus). Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi. pemeriksaan CRP kuantitatif). terapi syok.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3 dosis). 6. Identitas klien b. lemah. Pengkajian a. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Asuhan Keperawatan A. dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.

Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua, tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya refleks rooting, kekakuan pada leher, tonus otot mneningkat.   Riwayat penyakit dahulu Ibu klien mempunyai penyakit hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi Riwayat penyakit keluarga Orangtua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi

Hipertermi

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan demam.
94 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

Penggunaan

alcohol

tidak

dilakukan

karena

akan

menyebabkan

penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan

4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan untuk menurunkan panas dengan segera. jika panas tidak turun. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) 2. Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 100-180 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit) 3. Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam INTERVENSI 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan RASIONAL tanda-tanda vital yang

signifikan akan mempengaruhi proses regulasi tubuh. ataupun metabolisme dalam

2. Observasi adanya hipertermi, kejang Hipertermi dan dehidrasi.

sangat

potensial

untuk

menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang dan tidak dapat

diketahui

jumlahnya

menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi Kompres air hangat lebih cocok digunakan hipertermi, dan pertimbangkan untuk pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk langkah kolaborasi dengan memberikan menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi antipiretik. secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena
95 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

itu

pemberian

antipiretik

diperlukan

untuk

segera

menurunkan

panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan Pemberian jumlah ditentukan pemberian yang ASI/PASI sesuai jadwal

telah diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan volume bersirkulasi akibat dehidrasi Kriteria Hasil 1. Tercapai keseimbangan ai dalam suang interselular dan ekstraselular 2. Keadekuatan kontraksi otot untuk pergerakan 3. Tingkat pengaliran darah melalui pembuluh kecil ekstermitas dan memelihara fungsi jaringan INTERVENSI 1. perawatan sirkulasi (misalnya periksa nadi perifer,edema, pengisian perifer, warna, dan suhu ekstremitas) 2. pantau perbedaan ketajaman/tumpul dan panas/dingin 3. pantau status cairan 3. 2. mengetahui sensasi perifer, RASIONAL 1. meningkatkan sirkulasi arteri dan vena

kemungkinan parestesia mengetahui keseimbangan antara

asupan dan haluaran 4. PK: Trombositopenia a. Tujuan Perawat akan menangani dan mengurangi komplikasi penurunan trombosit. b. Intervensi dan Rasional INTERVENSI RASIONAL

1. Pantau JDL, hemoglobin, tes koagulasi Nilai ini membantu mengevaluasi respon dan jumlah trombosit klien terhadap pengobatan dan resiko terhadap pendarahan akibat dari sepsis. 2. Pantau tanda tau gejala pendarahan Pemantauan secara konstan sangat

spontan atau perdarahan hebat : ptekie, dibutuhkan untuk menjamin deteksi dini
96 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7

3. napas dan tekanan dan fungsi neurologis darah. perubahan status neurologis 97 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . adanya episode perdarahan perubahan tanda-tanda vital.ekimosis. Pantau tanda perdarahan sisemik atau Perubahan pada oksigen sirkulasi akan hipovolemia. hematoma spontan. seperti peningkatan mempengaruhi fungsi jantung. vascular frekuensi nadi.

Hawa.5. edisi 4. 1997. & Kusuma. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Berkow & Beers.. E. Sitohang. Jakarta: EGC. 1998. Saifuddin AB. 2002. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro. 2004. N. Linda A. 2000. Adriaansz G. Handayani. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. Rahayu D P. Carpenito. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah.. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC. Rustam. Sinopsi obstetric. Mochtar. Koping Ibu Terhadap Bayi Bayi BBLR yang Menjalani Perawatan Intensif Di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). A. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. et al. Cecily Lynn. 2007. Ed. Aplikasi pada Praktek Klinis. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. 2001.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum> Bobak & Lowdermik.hon. S. 2009. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Doengoes. A.DAFTAR PUSTAKA Betz. H. Jakarta: EGC. Surasmi. Medan: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Edisi 6. Paulette S. 98 BBL BERMASALAH | KELOMPOK 7 . Jakarta : EGC. Buku saku keperawatan pediatric. Edisi 2. Marilyn E. Sowden. Jakarta : EGC. (2003). (2010). LJ. diakses pada tanggal 18 februari 2013 <http://debussy. N. (2004). Rencana Perawatan Maternal/Bayi:Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful