PERCOBAAN III KELARUTAN

O L NAMA NIM KELAS : : :

E H

NINING ANGGRIANI 821410021 B S1 FARMASI 2010 METRIYANTI TUNGGALI, S.Si

PROGRAM STUDI : ASISTEN :

LABORATORIUM FARMASETIKA JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2011

BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Didalam kehidupan sehari-hari sering kita menggunakan minyak dan air dalam hal pencampuran. Contoh kecilnya dapat kita lihat pada saat memasak. Sering kali kita mencampur minyak dan air dalam suatu masakan. Pencampuran air dan minyak juga sering kita dapati dalam kebutuhan kita sehari-hari yaitu berupa sabun cair, shampoo, hand and body dan lain sebagainya yang berbentuk pencampuaran air dan minyak yang dikenal dalam bidang farmasi yaitu Emulsi. Emulsi sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena memiliki beberapa keuntungan, satu diantaranya yaitu dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari minyak. Selain itu, dapat digunakan sebagai obat luar misalnya untuk kulit atau bahan kosmetik maupun untuk penggunaan oral Sistem emulsi dijumpai banyak penggunaannya dalam farmasi. Dibedakan antara emulsi cairan, yang ditentukan untuk kebutuhan dalam (emulsi minyak ikan, emulsi paraffin) dan emulsi untuk penggunaan luar yaitu emulsi kental (dalam peraturannya dari jenis M/A), juga sediaan obat seperti salep dan krim dapat menggambarkan suatu emulsi. Emulsi sebagai suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamis, dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur. Bagi ahli teknologi pengembangan produk, adalah lebih bermanfaat untuk menganggap emulsi sebagai campuran dua cairan yang tidak saling bercampur. Bagi ahli teknologi pengembangan produk adalah lebih bermanfaat untuk menganggap emulsi sebagai

campuran dua cairan yang tidak saling bercampur, yang menunjukkan suatu shellife yang dapat diterima, mendekati temperature kamar.
I. 2. Maksud dan tujuan I. 2. 1. Maksud Percobaan

Mengetahui dan memahami segala hal yang berhubungan dalam pembuatan emulsi.
I. 2. 2. Tujuan Percobaan

1. Menetukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi
2. Menghitung

jumlah emulgator golongan surfaktan yang digunakan

dalam pembuatan emulsi 3. Membuat emulsi dengan menggunakan emulgator golongan surfaktan 4. Mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi

adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Emulsi digolongkan menjadi dua macam.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air). 2. Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (air dalam minyak). Dalam pembuatan suatu emulsi. Teori Emulsi adalah sistem dua fase. yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil (3). adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi kedalam air. 1. Salah satu emulgator yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal (4). Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal. pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal (4). yaitu: 1. Mekanisme kerjanya adalah .

Hal ini terjadi karena pada proses pembuatannya. Sistem tersebut. Amfoter : sabun alkali.akan selalu berusaha untuk memantapkan diri agar energi bebas bisa menjadi nol yaitu dengan cara penggabungan globul. Nonionik 4. lesitin (4). Flokulasi dan creaming Fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi bebas permukaan saja. . Berdasarkan hal tersebut diatas dikenal beberapa fenomena emulsi yaitu : a.menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya. luas permukaan salah satu fasa akan bertambah berkali-kali lipat. Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat akan berada disebelah atas atau disebelah bawah tergantung dari bobot jenis fasa yang terdispersi (6). Anionik 2. Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbedabeda didalam suatu emulsi. Na-lauril sulfat : senyawa ammonium kuartener : tween dan span : protein. Flokulasi adalah terjadinya kelompokkelompok globul yang letaknya tidak beraturan didalam suatu emulsi. Kationik 3. (1) Emulgator tersebut dikelompokkan menjadi : 1. Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil karena adanya energi bebas permukaan yang besar.

Lanolin anhidrat (3. snakehead murrel. Uraian Bahan II. 1. berbau amis. 2. terpisah kembali menjadi dua cairan yang tidak bercampur. Koalesensi dan Demulsifikasi Fenomena ini terjadi bukan semata-mata karena energi bebas permukaan tapi juga karena tidak semua globul terpisah oleh film antar permukaan. II. Ekstrak kering ikan gabus Nama Latin Nama lain : Ophiopcephalus strectum : Common snakehead. 2.b. Kedua fenomena ini tidak dapat diperbaiki kembali dengan pengocokan (6). 2. c. striped snakehead dan juga aruan. Pemerian Kegunaan : warna kecoklatan. bersifat higroskopis. 5) Nama Latin Nama Kimia : Adeps lanae : Anhydrous lanolin . Koalesensi adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar. II. : mengobati luka bakar atau luka pasca operasi. sedangkan demulsifikasi adalah merupakan proses lebih lanjut dari pada koalesen dimana kedua fasa. Sifatnya irreversible (4). chevron snakehead. 2. Infers fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya.

dan kloroform. lanolina. Kegunaan : Selain digunakan dalam formulasi topical dan kosmetik. 5) Nama Latin : Alcoholum Cetylicum . bau khas. HLB butuh Bobot Jenis : 10. dan dalam kloroform. Kelarutan : Lanolin anhidrat tidak larut dalam air tapi dapat larut dalam air dengan jumlah dua kali berat lanolin. agak sukar larut dalam etanol dingin. Berat Molekul Pemerian : : Massa seperti lemak. E913. Penyimpanan : Lanolin dapat mengalami autooksidasi selama dalam penyimpanan. lanolin. purified lanolin. benzene. 3 Setil Alkohol (3.Sinonim : Adeps lanae. dapat bercampur dengan air lebih kurang 2 kali beratnya. refined wool fat. cera lanae.945 g/cm3 at 15oC II. : 0. lebih larut dalam etanol (95%) panas dan sangat larut dalam eter. lengket.932–0. Kelarutan : Tidak larut dalam air. Protalan anhydrous. dapat sebagai basis salep. 2. sedikit larut dalam etanol (95%) dingin. juga sebagai emulsifying agent. warna kuning. mudah larut dalam eter. lebih larut dalam etanol panas.

805-0. larut dalam etanol dan dalam eter. Avol. 4 Asam Stearat (5) : 15 Nama Latin : Stearic acid Nama Kimia : asam oktadekanoat Sinonim Berat Molekul Pemerian : Acidum stearicum. kristal atau serbuk . : 242. Cachalot.44 : Serpihan putih licin. graul. bau khas lemah. 2. atau kubus putih. cetylacetic acid. putih atau kuning samar-samar berwarna. : 284.815 g/cm3 for Speziol C16 Pharma. Bobot Jenis : 0. Crodacid. kelarutan bertambah dengan naiknya suhu. 0.Nama Kimia Sinonim Berat Molekul Pemerian : 1-Heksadekanol [124-29-8. rasa lemah Kelarutan : Tidak larut dalam air.908 g/cm3.36653-82-4] : Alcohol cetylicus. agak mengkilap padat. Rumus Kimia Rumus Struktur : C16H34O CH3(CH2)14CH2OH : HLB Butuh II.47 : Asam keras.

praktis tidak larut dalam air. kosmetika. Kelarutan : Larut 1 dalam 5 benzena bagian. . plastik. Bobot Jenis : 0.847 g/cm3 at 70oC Rumus Molekul : C18H36O2 Rumus Struktur : Kegunaan : Bahan pembuatan lilin. tidak berwarna. sabun. 1 dalam 2 bagian. dan untuk melunakkan karet.Ini memiliki sedikit bau (ambang batas bau dengan 20 ppm) dan rasa menyarankan lemak. 5 Tween 80 (5) : Dalam wadah tertutup pada suhu kamar. transparan. 2.putih putih atau kekuningan. tween : Cairan kental. 1 dari 6 karbon bagian tetraklorida. kloroform 1 dalam 15 bagian etanol. 1 di 3 eter bagian. : 13 Nama resmi Nama lain Pemerian : Polysorbatum 80 : Polisorbat 80. hampir tidak mempunyai rasa. Penyimpanan HLB butuh II.

Sorbitan Palmitate. Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat bercampur dengan alkohol sedikit larut dalam minyak biji kapas. 2. dalam etanol (95%)P dalam etil asetat P dan dalam methanol P.01 Rumus Molekul : C3O6H27Cl17 Rumus Struktur : . Sorbitan Sesquioleate Pemerian : Larutan berminyak. tidak berwarna. sukar larut dalam parafin cair P dan dalam biji kapas P Kegunaan Penyimpanan HLB Butuh II.Kelarutan : Mudah larut dalam air. Sorbitan Trioleate. bau karakteristik dari asam lemak. Bobot Jenis : 1. Sorbitan Stearate. Sorbitan Oleate. 6 Span 80 (5) Nama resmi Nama lain Sinonim : Sebagai emulgator fase air : Dalam wadah tertutup rapat : 15 : Sorbitan monooleat : Sorbitan atau span 80 : Sorbitan Laurate.

dalam hampir semua jenis minyak lemak hangat. tidak berasa. paraffinum solidum : Hablur tembus cahaya atau agak buram. dalam eter. . tidak berbau. dalam minyak menguap. tidak berwarna atau putih. sukar larut dalam etanol mutlak.89 g/cm3 at 20oC : Digunakan dalam kosmetik untuk tujuan medis. agak berminyak.3 : Parafin cair : Paraffinum : Paraffinum durum. mudah larut dalam kloroform. Mineral yang sangat sangat halus putih Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol. Bobot Jenis Kegunaan Penyimpanan : 0.Kegunaan Penyimpanan HLB Butuh II. : Dalam wadah tertutup rapat : 4. : Dalam wadah tertutup rapat. 2.84–0. 7 Parafin cair (3) Nama resmi Nama lain Sinonim Pemerian : Sebagai emulgator dalam fase minyak.

Berat Molekul Pemerian : 270. 2. terutama asam miristat. Isopropylmyristat. alkohol lemak. HallStar IPM-NF. dan lilin. etil asetat. lemak. cairan tak berbau praktis dari viskositas rendah yang mengental pada sekitar 58C. etanol (95%).5 : Jelas tidak berwarna. 8 Isopropil myristat (5) Nama Latin Nama Kimia Sinonim : Isopropyl Myristate : 1-Methylethyl tetradecanoate : Estol IPM. hidrokarbon cair. toluena. Larut malam banyak. minyak tetap. dan air. isopropyl ester of myristic acid. Praktis tidak larut dalam gliserin. Rumus Molekul : C47H34O2 Rumus Struktur : HLB Butuh : 11. atau lanolin.HLB Butuh : 12 II. glikol. Ini terdiri dari ester dari propan-2-ol dan jenuh asam lemak berat molekul tinggi. kloroform. Kelarutan : Larut dalam aseton.5 . kolesterol.

tidak berbau. Nipagin M. methyl p- hydroxybenzoate. dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida. mudah larut dalam etanol dandalam eter. CoSept M. Methyl Chemosept. 2. Tegosept M. metagin.352 g/cm3 Rumus Molekul : C8H8O3 Rumus Struktur : Kegunaan : Pengawet makanan dan kosmetika. 5) Nama Latin Nama Kimia Sinonim : Methyls Parabenum : Metil p-hidroksibenzoat : Aseptoform M. methylis parahydroxybenzoas. Solbro M. Uniphen P-23. 4-hydroxybenzoic acid methyl ester. putih. Methyl Parasept. Bobot jenis : 1. 9 Metil paraben (3.II. atau berbau khas lemah.15 : Hablur kecil. E218. Kelarutan : Sukar larut dalam air. Berat Molekul Pemerian : 152. mempunyai sedikit rasa terbakar. . tidak berwarn atau serbuk hablur.

CoSept P. todak berwarna : Sangat sukar larut dalam air. 2.20 : Serbuk putih atau hablur kecil. . propagin. Nipagin P. 5) Nama latin Nama Kimia Sinonim : Propylis Parabenum : Propil p-hidroksibenzoat : Aseptoform P. dan kering. II. dan kering. 4-hydroxybenzoic acid propy ester. E216. mudah larut dalam etanol. dan dalam eter. Nipasol M.288 g/cm3 Rumus Molekul : C10H12O3 Rumus Struktur : Kegunaan Penyimpanan : Bahan baku kimia pengawet kosmetik : Simpan pada tempat yang tertutup rapat.Penyimpanan : Simpan pada tempat yang tertutup rapat. sejuk. sejuk. 10 Propil paraben (3. sukar larut dalam air mendidih Bobot Jenis : 1. Berat Molekul Pemerian Kelarutan : 180.

7.dengan minyak nabati dan dengan kloroform. dla-tocopherol.larut dalam etanol. Berat Molekul Pemerian Kelarutan : 430.8-Tetramethyl-2(40.sukar larut dalam larutan alkali.dengan aseton.72 : berbentuk cairan seperti minyak : Alfa Tokoferol asam suksinat tidak larut dalam air.120-trimethyltridecyl)-6-chromanol Rumus Struktur : Kegunaan : Antioksidan .80.40RS.II. all-rac-a-tocopherol. Rumus Molekul : (_)-(2RS. tetramethyl-2-(4.4-dihydro-2.larut dalam etanol. E307. 11 α-tokoferol (3.5.7.8-trimethyltocol.8. sangat mudah larut dalam kloroform.12benzopyran-6-ol.7. 2.80RS)-2.dalam aseton dan dalam minyak nabati.8trimethyltridecyl)-2H-1RRR-a-tocopherolum. synthetic alpha tocopherol. 5.Bentuk vitamin E lain tidak larut dalam air.5. (_)-3. 5) Nama resmi Nama lain Sinonim : Alfa-tocoferolp : Vitamin E : Copherol F1300.dapat bercampur dengan eter.

tidak mempunyai rasa.Penyimpanan HLB Butuh II. Kegunaan Penyimpanan : sebagai emulgator fase cair. . molekul Pemerian : Dalam wadah tertutup rapat. : dalam wadah tertutup baik.terlindung dari cahaya. 2 . tidak berwarna. tidak berbau.12 Aquadest (2) Nama latin R. : - : Aqua destilata : H2O : jernih.

Alat dan Bahan III.1. 1.BAB III METODE KERJA III. 1 Alat • Batang pengaduk • Botol Vial • Cawan penguap • Gelas kimia 100 ml • Gelas ukur 10 ml • Kaca Arloji • Kertas Perkamen • Mixer • Pipet Tetes • Sendok tanduk .

6 gr 0. 2 Bahan • Air • Asam stearat • Ekstrak kering ikan gabus • Isopropyl myristat • Lanolin anhidrat • Metil paraben • Propil paraben • Setil alcohol • Span 80 • Tween 80 • ad.• Stopwatch • Timbangan Neraca Analitik • Tissue rol • Water Bath III.5 gr 2.tokoferol ( vit E ) III. 2. Disiapkan alat dan bahan. . Cara kerja 1.1. 4 gr 5 gr 2 gr 2 gr 100 mg 50 mg 2 gr 0.05 gr .

10. isopropil miristat sebanyak 2 g. Di hitung jumlah Tween dan Span yang dibutuhkan untuk masingmasing harga HLB butuh. ditetesi -tokoferol (vit. 9. lanolin anhidrat sebanyak 2 g. Setelah semua bahan selesai di timbang. span 80 sebanyak 0. Setelah lebur fase minyak.6 g. span 80 sebanyak 0.2. 8. dilebur fase minyak menggunakan water bath. propil paraben sebanyak 50 mg ke dalam cawan porselen sambil di aduk pada saat di masukkan setiap satu bahan ke dalam cawan porselen yang dipanaskan pada water batch sampai pada suhu 70oC. 7. Dilebur fase minyak yaitu asam stearat sebanyak 4 g. Kemudian di lanjutkan dengan penimbangan fase cair. E) sebanyak 3 tetes pada fase minyak sebagai antioksidan. Kemudian di timbang fase cairnya juga. 4. Di timbang metil paraben sebanyak 100 mg. Ditimbang semua formula fase minyak . parafin cair sebanyak 5 ml. setil alkohol sebanyak 2 g. Pada waktu bersamaan fase cair juga di buat dengan cara panaskan aquadest dalam gelas kimia 100 ml sampai pada suhu 70oC dengan menggunakan water bath. setil alkohol sebanyak 2 g. tween 80 sebanyak 2. 5. 3.5 g. Ditimbang asam stearat sebanyak 4 g. ekstrak kering ikan gabus sebanyak 0. lanolin anhidrat sebanyak 2 g. .5 g. propil paraben sebanyak 50 mg. 6. isopropil miristat sebanyak 2 g. di mulai dari yang memiliki titik lebur yang tinggi. parafin cair sebanyak 5 ml.5 g.

5 g di dalam gelas kimia 100 ml kemudian di panaskan dengan menggunakan water bath. III. dilarutkan fase cair yaitu metil paraben sebanyak 50 mg. dan fase minyak diemulsikan ke dalam fase air sedikit. perubahan volume dan pemisahan fase.11. Ditentukan kestabilan emulsi berdasarkan perubahan warna. Jika suhu pelarut (aquadest) sudah pada 70 C.6 g. Stearat Tween 80 Span 80 Parafin cair Isopropil miristat 0. 16. 15. 13. Sebagian dari sisa emulsi yang tersisa di masukkan ke dalam botol vial sebanyak 5 ml kemudian ditetesi metilen blue untuk uji kestabilan emulsi. Setelah mencapai suhu 70oC pemanasan dihentikan. tween 80 sebanyak 2. Dilakukan pengamatan selama 5 hari.5% 2% 2% 4% 2% 2% 5% 2% . dan ekstrak kering ikan gabus sebanyak 0. Resep R/ Eks kering Ikan Gabus Lanolin anhidrat Setil alkohol As. 14. 12. lalu dikocok menggunakan mixer selama 2 menit dan didiamkan selama 20 detik sebanyak 3 kali berturut-turut. Emulsi dimasukkan ke dalam gelas ukur 10 ml. 3.

59 12.59 10 ml 10 ml 10 ml 5°c dan 25°c 5°c dan 25°c 5°c dan 25°c Suhu (°T) Ket .Metil parabean Propil parabean α tokoferol air ad 100 mg 50 mg 0.05% 100 ml BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.59 12. 1. Hasil Pengamatan Hari Ke HLB Volume (Ml) Tinggi Flokulasi (cm) 1 2 3 12.

5 : 12 : 13 .4 : 0.4 5 12. 2.5 : 0. Stearat Isopropil Myristat Parafin Cair Setil Alkohol : 0.2 : 0.2 : 10 : 15 : 11.2 : 0.59 12. Perhitungan Diketahui : B (HLB Butuh) Lanolin anhidrat As. Stearat Isopropil Myristat Parafin Cair Setil Alkohol A (gram) Lanolin anhidrat As.59 10 ml 10 ml - 5°c dan 25°c 5°c dan 25°c IV.

Stearat Setil alkohol Isopropil miristat Total 2 10 20 1.3 8.59 15 12.73 2 11.Fase Minyak A (gram) B (HLB Butuh) AxB AxB JumlahA (gram) Lanolin anhidrat Parafin cair As.33 5 4 2 12 15 13 60 60 26 4 4 1.59 = 15 = 4.5 23 1.59 Fase O/w HLB butuh Tween 80 HLB butuh span 80 Tween 80 : 15 12.29 .

terakhir ditambahkan α tokoferol sebanyak 3 tetes. Setelah semua bahan selesai ditimbang.7 x 2% x 100 ml = 0.54 g Span 80 : 2.45 g IV. Tipe emulsi yang digunakan pada praktikum ini adalah tipe emulsi o/w. Pertama-tama yang dilakukan dalam pembuatan emulsi yaitu menghitung jumlah HLB Butuh surfaktan golongan nonionik yaitu tween 80 dan span 80. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. formula yang termasuk dalam fase minyak dileburkan terlebih dahulu menggunakan waterbath.41 x 2% x 100 ml = 1. Jika semua fase minyak telah lebur. E) karena α tokoferol bersifat antioxidant yang dapat menghilangkan bau ekstrak kering ikan gabus .Span 80 Tween 80 : 4.7 2. yaitu dimulai dengan meleburkan bahan yang memiliki titik lebur yang lebih tinggi. 3. Dimana Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air). Tujuan ditambahkannya α tokoferol (vit. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan Emulsifikasi. adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi kedalam air.41 10.3 : 8. Kemudian dilanjutkan dengan menimbang semua formula menggunakan neraca analitik.29 10.

karena metilen biru larut dalam air. metilen merah dan amaranth juga dapat digunakan untuk emulsi o/w karena memberikan warna merah (4). Setelah dilakukan pengocokkan. dan itu dinamakan siklus pertama. untuk memberikan kesempatan kepada minyak untuk terdispersi kedalam air dengan baik serta emulgator dapat membentuk lapisan film pada permukaan fase terdispersi agar membentuk emulsi yang stabil. Dimana. karena dapat memberikan warna biru pada emulsi tipe o/w. ataupun mengalami ketidakstabilan emulsi. Pada vial. Setelah itu. kemudian fase minyak ditambahkan ke dalam fase air. Setelah melewati lima siklus tersebut. Selain metilen biru. untuk uji ketidakstabilan emulsi. dan dikocok menggunakan mixer selama 2 menit kemudian didiamkan selama 20 detik. Begitupun seterusnya sampai pada siklus lima. selama lima hari berturut-turut. Ditambahkannya larutan metilen biru. dan diulang sebanyak 3 kali. ditetesi metilen biru sebanyak 3 tetes. emulsi di simpan dalam lemari pendingin selama 12 jam dan dikeluarkan kembali disimpan dalam suhu kamar selama 12 jam juga.Pada waktu yang bersamaan fase air dilarutkan dalam aquades yang telah dipanaskan yang dicukupkan sampai 100 ml. Tujuan dilakukannya pengocokan. Apabila semua bahan telah larut pada fase-fase tersebut. Flokulasi dan creaming adalah fenomena ketidakstabilan emulsi yang terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi . sambil diaduk-aduk. seperti flokulasi dan creaming. ternyata emulsi tidak mengalami perubahan apapun. dan inversi fase. krim yang terbentuk dimasukkan kedalam gelas ukur 10 ml dan sebagiannya lagi dimasukkan kedalam vial. koalesensi dan demulsifikasi.

krim ikan gabus tidak mengalami penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi bebas permukaan. . seperti yang telah dijelaskan. dari hasil pengamatan yang didapat. Dan hasil pengamatannya pun tidak mengalami Koalesensi dan Demulsifikasi. Koalesensi adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar. Sifatnya irreversible (4). Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat akan berada disebelah atas atau atau disebelah bawah tergantung dari bobot jenis fasa yang terdispersi (6). sedangkan Demulsifikasi adalah merupakan proses lebih lanjut dari pada koalesen dimana kedua fasa. Kedua fenomena ini tidak dapat diperbaiki kembali dengan pengocokan (6). Dan pada Koalesensi dan Demulsifikasi adalah Fenomena yang terjadi bukan semata-mata karena energi bebas permukaan tapi juga karena tidak semua globul terpisah oleh film antar permukaan. Flokulasi adalah terjadinya kelompok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan didalam suatu emulsi. yaitu adanya penggabungan globul-globul yang menjadi besar maupun pemisahan fase. Jadi. dimana infers fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tibatiba atau sebaliknya. Serta krim yang terbentuk tersebut tidak mengalami Inversi fase. dihasilkan adalah emulsi tipe o/w ( minyak dalam air). Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda didalam suatu emulsi.bebas permukaan saja. terpisah kembali menjadi dua cairan yang tidak bercampur. Sedangkan hasil dari pengamatan yang dilakukan selama 5 hari berturut-turut tersebut.

Kesimpulan 1.59 2.54 g dan span 80 adalah 0. Jumlah HLB yang diperoleh dari hasil perhitungan. adalah HLB butuh surfaktan nonionik yaitu tween 80 adalah 1. .45 g.BAB V PENUTUP V. Pada percobaan ini diperoleh emulsi tipe M/A karena memiliki nilai HLB butuh lebih dari 8 yaitu HLB 12. 1.

2. LAMPIRAN 1.3. Sebaiknya ditambah persediaan alat-alat laboratorium seperti timbangan analitik agar praktikum yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan tidak memerlukan waktu lama karena saling bergantian alat diantara praktikan. Disarankan kepada laboran. Berdasarkan pengamatan selama 5 hari berturut-turut dapat dilihat bahwa hasil yang diperoleh Stabil. Sebaiknya sediaan bahan obat yang akan digunakan dalam praktikum harus diatur dan disusun sesuai alfabetis agar praktikan tidak akan bingung dalam mencari bahan yang akan digunakan dalam praktikum. 2. Saran 1. V. Krim ikan gabus dalam lemari pendingin .

Krim ikan gabus dalam suhu kamar 3.2. Krim ikan gabus dengan uji kestabilan menggunakan metilen biru .

Krim ikan gabus DAFTAR PUSTAKA .4.

EGC:Jakarta 5. C. DITJEN POM. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Ilmu Resep cetakan 1. Ansel. R. 1995.E Quinn. H. Farmakope Indonesia Edisi III. 2011.2009. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta 3. C. DITJEN POM.1979. Marian. Universitas Negeri Gorontalo:Gorontalo. Sheskey. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta 4. Syamsuni. H. 2005.1. Penerbit Buku Kedokteran. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. A. Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association:American 6. Universitas Indonesia Press:Jakarta 2. . Paul. Handbook of Pharmaceutical Excipients Six The Edition. Farmakope Indonesia Edisi IV. 2008. J. Rowe. Tungadi. R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful